Istana Pulau Es Jilid 21

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

EPISODE ISTANA PULAU ES JILID 21

DUA ORANG kepala rampok itu membelalakkan mata dan terkejut bukan main ketika melihat puluhan ekor ular berbisa telah berada di situ dan dengan ganas menyerang anak buah mereka! Ketika mereka memandang, tak jauh dari situ berdiri seorang pemuda tampan yang dengan tenangnya meniup sebatang suling yang bentuknya aneh. Mengertilah mereka bahwa laki-laki muda itulah yang menggerakkan ular-ular itu dengan suara sulingnya. Sambil berseru marah keduanya meloncat ke arah laki-laki itu dengan cambuk dan golok di tangan.

“Tar! Tar!” Dua batang cambuk menghantam kepala laki-laki itu, namun dengan tenang laki-laki itu mengulur tangan kiri, menangkap kedua ujung cambuk dan sekali renpgut kedua batang cambuk itu putus tengahnya!

Dua orang kepala rampok makin marah. Golok mereka membacok, namun pemuda itu hanya menggeser kaki dan dua batang golok itu luput, lalu tiba-tiba tampak sinar berkelebat dua kali dan robohlah dua orang kepala rampok dengan dada terbuka mengucurkan darah. Pemuda itu melakukan semua itu dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan tetap memegang suling yang ditiup. Kini dengan tenangnya ia menyimpan kembali pedang yang tadi ia pergunakan membunuh dua orang kepala rampok itu.

Liang Bi dan Cui Leng melihat bahwa peniup suling itu bukan lain adalah Si Pemuda Tampan yang telah mengaku sahabat mereka! Cui Leng berseru girang, akan tetapi Liang Bi mengerutkan alisnya. Betapa pun juga, kedua orang dara perkasa ini mengamuk lebih hebat sehingga dalam waktu sebentar saja robohlah semua gerombolan perampok, tidak ada seorang pun yang dapat lolos. Sebagian roboh oleh pedang kedua pendekar wanita ini, sebagian lagi oleh ular-ular yang mengamuk.



Pemuda yang bukan lain adalah Suma Hoat itu, menghentikan ‘lagu’ sulingnya dan meniup suling dengan suara meninggi dan pendek-pendek. Ular-ular itu merayap pergi seolah-olah diusir oleh bunyi pendek-pendek ini dan sebentar saja tidak tampak seekor pun ular di situ.

Ada pun Liang Bi dan Cui Leng cepat-cepat menjauhkan diri ke tempat yang bersih, duduk bersila dan mengerahkan sinkang untuk melawan racun yang menjalar ke tubuh mereka melalui luka di tubuh yang terkena senjata rahasia.

“Syukur bahwa Ji-wi selamat. Memang perampok-perampok di sini amat berbahaya,” terdengar Suma Hoat berkata.

Liang Bi dan Cui Leng membuka mata, yang pertama memandang dengan alis berkerut, yang kedua dengan mata berseri.

“Kalau tidak cepat engkau datang bersama barisan ularmu yang hebat, tentu kami telah tewas, sobat baik!” kata Cui Leng tersenyum lalu menggigit bibir menahan rasa sakit.

Liang Bi makin tak senang, akan tetapi ia pun cepat berkata, “Terima kasih atas pertolongan Kongcu.”

Suma Hoat tentu saja melihat perbedaan sambutan ini dan ia tersenyum, senyum yang khas dipelajarinya untuk menundukkan hati wanita-wanita muda. Ia melihat sinar kagum dan gembira di mata Cui Leng, akan tetapi Liang Bi tetap memandang dingin.

“Perampok-perampok ini mempunyai sarang di dalam hutan, tak jauh dari sini. Marilah Ji-wi beristirahat di sana.”

Cui Leng sudah hendak menjawab, akan tetapi Liang Bi mendahuluinya, “Terima kasih, tidak usahlah. Kami akan beristirahat di sini dan menyembuhkan luka...”

“Aihhh...! Ji-wi terluka? Aduh celaka...” Itu adalah Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah)! Berbahaya sekali!” tiba-tiba Suma Hoat berseru.

Liang Bi menjawab dingin, “Tidak mengapa, Kongcu. Kami sanggup mengobatinya dengan sinkang...”

“Wah, mana bisa? Sedikit-sedikit aku mengerti tentang pengobatan! Racun Ang-tok-ciam amat lihai. Biar pun dapat dilawan dengan sinkang dan tidak sampai merampas nyawa, namun akibatnya akan membuat muka menjadi bopeng dengan totol merah yang tidak dapat diobati lagi. Coba Ji-wi rasakan, benar tidak. Bukankah di tempat yang terkena luka itu terasa gatal-gatal dan di sekitar kelilingnya kaku dan rasa panas menjalar naik perlahan dari situ dan pertama-tama rasa panas itu menjalar naik? Bagi orang yang tidak mempunyai sinkang, tentu akan tewas dalam waktu dua belas jam. Ji-wi yang memiliki sinkang tinggi akan dapat menyelamatkan nyawa, akan tetapi hawa panas yang naik ke atas itu akan keluar dari lubang-lubang kulit muka dan menimbulkan totol-totol merah! Marilah ikut bersamaku ke sarang perampok, dan aku akan mengobati Ji-wi.”

“Suci...,” Cui Leng memandang suci-nya dengan wajah membayangkan kengerian mendengar betapa racun jarum beronce merah itu akan membuat wajahnya yang cantik menjadi bopeng dengan totol-totol merah!

Akan tetapi, dengan sikap dingin Liang Bi menggeleng kepala dan berkata kepada Suma Hoat, “Terima kasih atas kebaikanmu, Kongcu. Akan tetapi kami akan beristirahat di sini saja dan mengobati sendiri luka-luka kami.”

Suma Hoat menarik napas panjang, menggerakkan kedua pundak dan berkata, “Agaknya Ji-wi Lihiap merasa curiga kepadaku dan menerima salah maksud baikku. Maafkan kalau aku telah berlaku lancang dengan melakukan pembayaran dan membelikan kuda yang tidak ada artinya dan yang kumaksudkan hanya untuk bersahabat itu. Tentu saja aku tidak dapat memaksa, akan tetapi... aku akan menanti di dalam hutan, di bekas rumah perampok kalau-kalau Ji-wi Lihiap berubah pikiran dan suka kuobati agar racun itu tidak mengakibatkan cacat pada muka Ji-wi. Selamat berpisah.” Ia lalu membalikkan tubuh dan meninggalkan kedua orang gadis itu. Sebentar saja ia sudah lenyap karena cuaca mulai gelap, bayangannya menyelinap ke dalam hutan tak jauh di depan.

“Suci, engkau sungguh keterlaluan! Orang berniat baik akan tetapi engkau selalu menolak. Bagaimana kalau muka kita menjadi bopeng?” Cui Leng segera menegur kakak seperguruannya setelah bayangan pemuda itu lenyap.

Liang Bi menoleh ke arah adiknya. “Cui Leng-sumoi, apa artinya muka bopeng bagi seorang gagah? Kalau hanya bopeng mukanya, tidak mengapa, asal jangan bopeng dan cacat hatinya. Aku masih tidak percaya kepada orang itu. Sinar matanya mengandung kepalsuan.”

“Suci, aku...!”

“Cukup, Sumoi! Mengapa sejak bertemu dengan laki-laki itu engkau selalu membantah kata-kataku? Kita mesti cepat bersemedhi menghimpun hawa murni dan menggunakan sinkang untuk melawan racun!” Setelah berkata demikian, Liang Bi sudah melanjutkan semedhinya dan memejamkan kedua mata, sebentar saja dia sudah tenggelam ke alam semedhi, napasnya panjang-panjang teratur seperti napas orang tidur nyenyak.

Cui Leng berusaha untuk meniru suci-nya, namun ia selalu gelisah dan tak dapat tenang. Sukar baginya untuk mengumpulkan panca indera memusatkan kemauan dan segala perasaan untuk menghimpun hawa murni. Bayangan wajah tampan Suma Hoat selalu tampak, terutama sekali ucapannya tentang cacat bopeng yang mengancam mukanya dan penawaran pemuda itu untuk mengobatinya sehingga dia akan terbebas dari ancaman mengerikan itu selalu terngiang di telinganya.

Sejam kemudian, setelah merasa yakin bahwa suci-nya telah ‘pulas’ dalam semedhi, Cui Leng tak dapat menahan diri dari ancaman bahaya bopeng, maka diam-diam ia meninggalkan suci-nya memasuki hutan dengan maksud menjelang pagi, sebelum suci-nya sadar kembali dari semedhi, dia akan kembali ke situ sehingga kepergiannya tidak diketahui suci-nya.

Mudah saja bagi Cui Leng untuk mendapatkan rumah bekas tempat tinggal kepala rampok itu karena rumah itu cukup megah di tengah hutan dan tampak cahaya penerangan dari rumah itu! Dengan jantung berdebar dia meloncat ke depan pintu yang segera terbuka dan muncullah pemuda itu sambil tersenyum amat tampannya.

“Ah, selamat malam, Nona. Syukur bahwa Lihiap suka datang...”

Berhadapan dengan pemuda itu, tiba-tiba Cui Leng merasa kikuk dan malu-malu. “Aku... aku hendak minta obat... aku tidak mau menjadi bopeng...”

“Tentu saja! Sayang, sekali kalau Lihiap sampai menjadi bopeng. Eh, mana suci-mu, mengapa tidak datang?”

“Dia... dia tidak mau, dia... sedang siu-lian, kutinggalkan di sana. Harap kau suka menolongku dan aku akan berterima kasih sekali, kemudian aku akan segera kembali agar dia tidak tahu bahwa aku melanggar perintahnya. Dia galak sekali.”

“Masuklah Lihiap. Aku akan mengobatimu, jangan kahwatir. Rumah ini kosong, beberapa orang sisa perampok telah kuusir pergi.”

Cui Leng memasuki rumah itu yang ternyata cukup bersih dengan perabot rumah lengkap. Dia dipersilakan duduk di atas bangku dan Suma Hoat berkata, “Lihiap, orang yang terkena jarum Ang-tok-ciam harus cepat diberi obat dan jarum itu dicabut ke luar, kemudian lukanya harus disedot agar racun yang mengeram di bawah kulit dapat dibersihkan. Engkau terluka di manakah?”

Wajah Cui Leng mendadak menjadi merah sekali. “Di... sedot...? Akan tetapi aku... aku terluka di sini...” dia menuding ke arah dada kanan, sedikit di bawah pundak, kemudian menyambung cepat, “Biarlah kucabut dan kusedot sendiri lukanya, baru kau obati.”

Suma Hoat memandang ke arah dada itu dan tersenyum. “Lihiap, mana mungkin engkau menyedot luka di tempat itu? Mulutmu tidak akan dapat mencapainya dan... ah, sungguh aku orang yang tidak beruntung, selalu dicurigai. Agaknya Lihiap juga masih tidak percaya kepadaku. Dalam keadaan seperti ini, perlukah menggunakan rasa sungkan-sungkan lagi? Ingat bahwa aku hanya mengobati, tidak mempunyai niat buruk yang lain. Terserah kepada Lihiap, kalau tidak mau, aku pun tentu saja tidak berani memaksa.”

Pemuda itu membalikkan tubuh, membelakangi Cui Leng dan menambah kayu di tempat perapian sehingga tempat itu menjadi makin terang dan hawanya menjadi hangat. Memang dia sengaja memberi kesempatan kepada Cui Leng untuk mengambil keputusan.

Ia mendengar gadis itu menghela napas panjang berulang-ulang, kemudian terdengar suaranya lirih agak gemetar, “Baiklah... Kongcu... biar engkau yang menyedot dan mengobatinya. Apa boleh buat, aku tidak sudi menjadi bopeng.”

Suma Hoat tersenyum, senyum penuh kemenangan, akan tetapi ketika ia membalikkan muka menghadapi Cui Leng, wajahnya tampak tenang dan biasa saja, bahkan dia berkata, ”Engkau tidak usah khawatir, Lihiap. Dengan kepandaianmu yang tinggi, aku bisa berbuat apakah terhadapmu? Aku hanya seorang pelajar yang mengerti sedikit ilmu pengobatan dan yang mengandung maksud baik.”

Ia lalu menghampiri buntalan pakaiannya, mengambil seguci arak dan cawannya. Sambil menuangkan arak dia berkata dengan sembarangan, “Harap kau suka membuka bagian yang terluka. Setelah minum obat penawar racun ini, baru akan kucabut jarum dan kusedot darahnya yang terkena racun.”

Ia menanti sampai Cui Leng dengan jari-jari gemetar membuka bajunya, melepaskan kancing tiga buah dari bagian atas, kemudian menguak baju dalamnya yang juga berwarna merah sehingga tampaklah dada bagian atasnya yang berkulit putih kemerahan dan di bawah pundak kanan itu tampak ujung gagang jarum yang beronce merah, terhujam dalam-dalam di kulit dan daging.

“Aku sudah siap, Kongcu,” kata gadis itu perlahan.

“Baik, sekarang minumlah dulu obat ini.” Suma Hoat menyerahkan cawan yang penuh arak obat kepada gadis itu yang segera menerima dan menenggaknya.

Gadis itu terbatuk. “Ughh-ughh...! Aihhh, obat ini rasanya harum dan manis akan tetapi keras sekali seperti arak yang sudah amat tua!” serunya sambil memandang arak dalam cawan yang berwarna merah.

“Memang obat itu dicampur dengan arak. Akan tetapi bukanlah obat sembarangan, Lihiap. Sudah disimpan puluhan tahun lamanya, namun khasiatnya amat hebat. Jangan ragu-ragu minumlah!”

Cui Leng duduk di atas bangku pendek dan Suma, Hoat berlutut. Pemuda ini menggunakan kuku jari tangan yang agak panjang terpelihara seperti kuku sastrawan, menjepit ujung gagang jarum di antara kedua kukunya dan dengan gerakan tiba-tiba ia mencabut jarum itu.

“Aihhh!” Cui Leng merintih karena luka itu terasa perih dan nyeri.

“Sakit sedikit, Lihiap. Sekarang aku akan menyedot lukanya. Engkau tidak keberatan bukan?” Sambil bertanya demikian Suma Hoat mengangkat muka dan memandang.

Cui Leng menunduk sehingga mereka berpandangan dengan muka terpisah tidak jauh. Wajah itu demikian tampan, sepasang mata itu demikian bagus dan bibir itu tersenyum amat ramah sehingga Cui Leng menjadi percaya sepenuhnya. Lenyaplah semua kecurigaan dan keraguan, dan jantungnya berdebar. Dia merasa sesuatu yang amat aneh yang membuat jantungnya berdebar keras. Mengapa wajah pemuda ini sekarang luar biasa tampannya? Mengapa dia merasa amat senang berdekatan dengannya?

Ia tersenyum malu-malu dan mengangguk, “Lakukanlah...”

Seluruh bulu dan rambut di tubuh Cui Leng seperti berdiri ketika ia merasa betapa bibir yang basah hangat itu menempel di kulit dada bagian atas. Jantungnya berdebar makin keras ketika bibir itu menyedot luka di dadanya. Ia merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dialaminya, perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, campur baur penuh rasa senang, gembira, malu, nikmat dan membuat ia ingin menjatuhkan kepalanya di atas pundak pemuda itu.

Tubuhnya seperti tak bertulang lagi, lemas dan lenyap seluruh kemauan, adanya hanya rasa cinta kasih yang menggelora terhadap pemuda itu. Suma Hoat meludahkan darah yang disedotnya, kemudian menyedot lagi, meludah lagi. Setelah ia menyedot tiga kali, Cui Leng tak dapat menahan lagi amukan perasaan yang menggelora di hatinya. Tubuhnya gemetar dan kedua matanya setengah terpejam, mulutnya agak terbuka, terengah memberi jalan ke luar pada hawa yang mendesak dan menyesakkan dadanya yang bergelombang.

Melihat tanda ini, diam-diam Suma Hoat tersenyum. ‘Arak obat’ yang diberikannya tadi sudah bekerja baik. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman matang, dia maklum bahwa arak yang sebetulnya adalah obat perangsang itu mempunyai daya melumpuhkan semua pertahanan susila di hati wanita dan tentu saja seperti obat-obat perangsang lain, hanya akan manjur terhadap wanita yang memang sudah mengandung hati tertarik kepadanya. Maka kini perlahan-lahan bibirnya bergeser, bukan lagi luka itu yang dikecupnya, melainkan naik ke leher.

Cui Leng merasakan hal ini, dan ia terkejut sekali, namun apa daya, semua kemauannya telah lenyap, bahkan dia merasa dirinya seperti terapung di angkasa, demikian menyenangkan. Dia hanya dapat mengeluh panjang, napasnya makin terengah dan kini kedua matanya bahkan dipejamkan sama sekali. Tak lama kemudian, ketika pemuda itu merangkul dan menciumi pipi dan bibirnya, dia merintih dan kedua lengannya merangkul leher pemuda itu tanpa disadarinya. Cui Leng telah lupa dan mabok. Perasaannya terhadap pemuda itu hanya bahwa pemuda itu amat baik, amat tampan, amat gagah perkasa dan sepatutnya menjadi jodohnya!

Seperti dalam mimpi ia menyerah, menurut dan memenuhi apa saja yang dikehendaki pemuda itu. Satu-satunya percakapan di antara mereka adalah pertanyaan Si Pemuda.
“Kekasihku, siapakah namamu?”

Pertanyaan yang aneh. Belum juga mengenal nama, sudah menyerahkan segalanya! Namun pada saat itu, Cui Leng yang sudah mabok dan lupa daratan itu tidak merasai keanehan ini dan menjawab lirih, “Namaku Kim Cui Leng... dan kau, Koko...?”

“Panggil saja aku Hoat.”

“Hoat-ko... aku cinta padamu...”

Dengan ucapan ini, Cui Leng kehilangan segala-galanya. Ia telah serahkan jiwa raganya kepada seorang pria yang sama sekali tidak diketahui riwayat dan keadaannya! Bahkan namanya pun hanya diketahui dengan sebuah huruf ‘Hoat’ saja! Dia seorang gadis yang tidak mempunyai pengalaman sama sekali, masih hijau, dan yang mempermainkannya adalah seorang ‘Jai-hwa-sian’ yang pandai merayu, tentu saja Cui Leng benar-benar jatuh!

Barulah pada keesokan harinya, ketika sadar dari tidurnya yang nyenyak berbantal lengan dan dada Suma Hoat, Cui Leng menjerit, teringat akan segala yang terjadi dan ia menangis tersedu-sedu.

Suma Hoat memeluknya. “Ah, Leng-moi, kekasihku, dewi pujaan hatiku. Kenapa menangis? Apakah engkau menyesal mempunyai kekasih seperti aku?”

“Tidak...! Tidak...! Aku cinta padamu, Koko, akan tetapi...”

Suma Hoat menciuminya. “Mengapa menangis?”

“Aku takut! Kalau Suci tahu, celakalah aku. Aku tentu akan dibunuhnya! Ini merupakan pelanggaran kami!”

Suma Hoat tertawa, “Ha-ha-ha! Mengapa takut kepadanya? Jangankan baru dia, biar seluruh tokoh Siauw-lim-pai datang, jangan takut. Ada aku di sini, Leng-moi. Percayalah, aku tidaklah selemah yang kau kira. Lihat ini!” Suma Hoat menggerakkan tangan kiri dengan jari terbuka ke arah lantai.

“Plak! Plak!” terdengar suara dan Cui Leng memandang lantai dengan mata terbelalak, melihat betapa telapak tangan pemuda itu membuat bekas yang amat dalam dan begitu jelas sehingga tampak garis telapak tangannya.

“Eh... itu... Tiat-ciang-kang (Telapak Tangan Besi)!” serunya kagum.

“Dan lihat ini!” Kembali tangannya didorongkan ke depan, ke arah guci arak di atas meja dan...

“Wuuuuttt!” guci arak itu terbang melayang ke arah tangannya, disambut dan pemuda itu menenggak araknya!

“Wah, Koko...! Sinkang-mu hebat bukan main!”

“Nah, masih takutkah engkau? Biar suci-mu datang, dia tidak dapat mengganggumu, apa lagi membunuhmu.”

“Akan tetapi, namaku akan ternoda, Koko, bagaimana baiknya...?” Wajah gadis itu menjadi pucat.

“Karena ketahuan suci-mu? Ha-ha, Leng-moi, kekasihku. Jalan satu-satunya hanyalah mengusahakan agar suci-mu mau bermain cinta denganku, mau melayaniku. dengan demikian, engkau mempunyai teman dan dapat saling menyimpan rahasia!”

“Kau...!” Tangan Cui Leng menyambar hendak menampar muka Suma Hoat, akan tetapi pemuda itu menangkap tangan itu sambil tertawa-tawa dan betapa pun Cui Leng meronta sambil mengerahkan tenaga, tetap saja dia tidak mampu melepaskan tangannya.

“Leng-moi, jangan begitu. Ingatkah kita melakukan permainan cinta atas dasar suka sama suka, bukan? Tidak ada yang memaksa! Aku adalah seorang laki-laki yang takkan menolak cinta kasih wanita mana pun. Aku mengusulkan agar suci-mu suka bermain cinta denganku semata-mata untuk menolongmu, yaitu agar rahasiamu tetap aman tersimpan. Bagaimana?”

Cui Leng terisak. “Kau... kau... mata keranjang!”

“Ha-ha-ha!” Suma Hoat tertawa. “Laki-laki mana di dunia ini yang tidak mata keranjang? Asal diberi kesempatan tidak akan ada laki-laki yang menolak kasih sayang wanita cantik! Dan suci-mu juga cantik jelita, sungguh pun tidak sepanas engkau. Bagaimana?”

Cui Leng memang merasa menyesal dan khawatir. Kalau sampai diketahui suci-nya bahwa dia telah menyerahkan kehormatannya kepada pria itu, tentu dia akan celaka dan selama hidupnya takkan merasa aman. Akan tetapi, kalau suci-nya juga ‘terjun’ dan ikut basah, sama-sama basah seperti dia, tentu saja mereka berdua akan dapat saling menjaga rahasia masing-masing.

“Jadi kau... kau tidak akan memperisteri aku?”

“Moi-moi? Jangan bodoh! Hubungan kita bukanlah hubungan suami isteri, kita melakukannya karena suka sama suka, bukan? Kita sama-santa menikmatinya, bukan? Tadinya pun aku tidak pernah berjanji untuk mengambilmu sebagai isteri.”

“Mengapa?” dalam suara Cui Leng terkandung putus harapan.

“Mengapa? Karena aku sudah bersumpah selamanya tidak akan beristeri! Itulah! Sekarang bagaimana, maukah engkau membiarkan aku membujuk suci-mu agar keadaannya sama denganmu ataukah harus kutinggalkan engkau begini saja?”

“Tidak, jangan tinggalkan aku. Baiklah, lakukan apa yang kau kehendaki kepada suci kalau... kalau... itu merupakan satu-satunya jalan...”

Melihat betapa wajah yang cantik dan biasanya berseri itu kini berkerut tanda susah, Suma Hoat tertawa, merangkul dan memondong Cui Leng. “Leng-moi, hidup satu kali mengapa berduka dan berkhawatir? Tidak pantas wajahmu yang cantik berduka. Mari kita bergembira!”

Dia membawa Cui Leng lari ke luar rumah itu menuju ke sebuah sungai. Tak lama kemudian, kedua orang itu sudah tertawa-tawa, mandi bertelanjang bulat di dalam sungai itu, saling menyirami air, berkejaran penuh kegembiraan, saling mencurahkan cinta kasih secara bebas seperti sepasang angsa. Cui Leng kembali menjadi gembira, lupa sama sekali akan kekhawatirannya tadi, terbuai mabok dalam rayuan Suma Hoat yang amat pandai menguasai hati dan tubuhnya.

“Sumoi...!”

Bentakan Liang Bi mengejutkan Cui Leng dan ia menengok dengan wajah pucat ke arah suci-nya yang sudah berdiri di tepi sungai, sedangkan Suma Hoat malah tersenyum-senyum. Kekagetan Cui Leng tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan rasa kaget yang memukul hati Liang Bi ketika ia mencari sumoi-nya dan mendapatkan sumoi-nya sedang mandi bersama pemuda penolong mereka dalam keadaan telanjang bulat seperti itu.

“Ha-ha, kebetulan sekali engkau datang Lihiap. Marilah ikut bersama kami, di sini segar dan nyaman. Tanggalkan pakaianmu!” kata Suma Hoat.

Saking bingung dan takutnya melihat suci-nya penuh kemarahan, Cui Leng berkata di luar kesadarannya, “Benar suci! Mari kita mandi bersama Hoat-koko...!”

“Sumoi, engkau murid yang murtad! Tidak malu melakukan perbuatan terkutuk!” dengan kemarahan meluap Liang Bi mencabut pedangnya. “Manusia-manusia macam kalian harus kubunuh!”

“Suci...!”

“Tenanglah, Leng-moi, biar aku yang menundukkannya!” Setelah berkata demikian, sekali melompat tubuh Suma Hoat yang telanjang bulat melayang ke darat, ke depan Liang Bi.

Selama hidupnya yang dua puluh tahun lamanya, dalam mimpi pun belum pernah Liang Bi melihat seorang laki-laki dewasa telanjang. Kini ada seorang laki-laki dewasa bertelanjang bulat berdiri di depannya, tentu saja hal ini merupakan pengalaman yang amat hebat, yang membuat seluruh tubuhnya menggigil dan ia hampir pingsan saking malunya. Akan tetapi kemarahannya mengatasi segala perasaan lain. Dengan teriakan ganas ia menerjang dengan pedangnya, membacok laki-laki itu penuh kebencian.

Akan tetapi, selain tingkat ilmu kepandaian Suma Hoat sudah amat tinggi, juga menghadapi seorang pria yang telanjang bulat itu membuat Liang Bi merasa ngeri sehingga gerakannya terganggu dan dengan mudah Suma Hoat menghindarkan diri dari serangan pedang yang bertubi-tubi.

“Ah, Nona yang manis, mengapa engkau hendak membunuhku yang tidak berdosa? Sumoi-mu dan aku sama-sama menikmati cinta kasih dan marilah, engkau ikut pula menikmatinya. Tegakah engkau membunuh aku yang tidak berdosa?” Suma Hoat membujuk sambil mengelak dengan mempergunakan ginkang-nya yang tinggi.

“Manusia hina! Terkutuk! Mampuslah!”

Liang Bi menerjang lagi dengan mata setengah terpejam karena dia tidak tahan menyaksikan tubuh yang telanjang bulat begitu dekat dengannya itu.

Kembali Suma Hoat mengelak. “Aihh, betapa tega hatimu, Nona. Akan tetapi aku tidak tega untuk mencelakaimu. Aku cinta padamu, manis!”

Ucapan merayu ini seperti minyak disiramkan pada api, membuat kemarahan Liang Bi makin berkobar. Kalau pria ini mencinta sumoi-nya, bagaimana sekarang di depan sumoi-nya berani mengeluarkan kata-kata mencintanya?

“Keparat biadab!” Liang Bi memaki makin marah, pedangnya diputar cepat sekali menjadi segulung sinar menyilaukan yang menyambar-nyambar.

“Aduh, cantik dan gagah sekali engkau!” Suma Hoat kembali memuji dan cepat ia mengelak.

Tiba-tiba Liang Bi menendang dan paha kiri Suma Hoat yang mengelak masih diserempet ujung sepatu. Suma Hoat terguling!

“Mampuslah engkau!” Liang Bi menubruk dan menusuk, Suma Hoat menggulingkan tubuhnya mengelak dari tusukan yang bertubi-tubi.

“Suci...!” Cui Leng yang sudah naik ke darat dan mengenakan pakaian menjerit namun Liang Bi tidak peduli, terus mengejar dan menusuk ke arah tubuh yang bergulingan itu. Makin panas hatinya karena tusukannya tidak pernah mengenai orang yang dibencinya.

Tiba-tiba Suma Hoat tertawa dan ketika kembali Liang Bi menusuk, ia berguling dan tiba-tiba, pada saat ujung pedang Liang Bi menyentuh tanah, tubuh Suma Hoat mencelat ke atas dan tahu-tahu ia telah memeluk tubuh Liang Bi, meringkus tubuh itu dengan melingkarkan kedua lengan menelikung lengan gadis itu. Liang Bi menjerit ngeri ketika merasa betapa tubuh yang telanjang bulat itu memeluknya begitu erat. Ia menggigil dan merasa seluruh tubuh lemas maka ia pun roboh terguling bersama Suma Hoat. Mereka roboh di atas tanah berumput, pedang terlepas dari tangan Liang Bi dan gadis ini hampir pingsan ketika merasa betapa lehernya, pipinya dan bibirnya dicium oleh pemuda yang telanjang bulat itu!

“Aku cinta padamu, Nona. Aihh, betapa cantik manis engkau...!” Suma Hoat berbisik-bisik.

“Bunuh aku...! Bunuh saja aku...!” Liang Bi merintih dan akhirnya ia tak ingat diri, pingsan oleh rasa jijik dan ngeri ketika merasa betapa tangan pemuda itu menggerayangi tubuhnya.

Kalau saja Suma Hoat tidak ingat bahwa Liang Bi adalah murid Siauw-lim-pai, dan terutama sekali tidak ingat untuk menjaga nama Cui Leng, tentu dia akan memperkosa atau membunuh Liang Bi di saat dan di tempat itu juga. Akan tetapi dia tidak ingin menyusahkan Cui Leng yang sudah bersikap baik kepadanya!

Kalau dia memperkosa Liang Bi, gadis yang keras hati ini akhirnya tentu akan membunuh diri dan nama baik Cui Leng akan ternoda. Dia harus mencari akal untuk menguasai hati dan tubuh Liang Bi tanpa paksaan sehingga gadis itu akan berada dalam keadaan yang sama dengan sumoi-nya, sehingga mereka akan dapat saling menjaga rahasia masing-masing. Kalau sudah demikian, dia akan dapat meninggalkan mereka berdua sebagai seorang sahabat dan bekas kekasih! Dan dia tidak perlu bermusuhan dengan pihak Siauw-lim-pai yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan!

Melihat Liang Bi pingsan, Suma Hoat melepaskannya, mengenakan pakaiannya dan berkata kepada Cui Leng yang tadi menonton dengan penuh kekhawatiran. “Suci-mu keras hati, akan tetapi aku harus menundukkannya, demi menjaga nama baikmu. Aku akan membuat dia suka melayaniku, akan tetapi engkau harus membantuku. Semua ini kita lakukan demi kebaikanmu.”

Cui Leng tak dapat berkata lain kecuali menarik napas panjang dan mengangguk. Diam-diam ia menyesali perbuatannya, akan tetapi betapa pun juga harus dia akui bahwa belum pernah selama hidupnya ia merasakan kebahagiaan dan kesenangan seperti sekarang, dan pula dia pun mengerti bahwa kalau suci-nya sudah terjun pula seperti yang telah dia lakukan, rahasianya tentu akan tertutup dan ia aman.

Ketika siuman dari pingsannya, Liang Bi mendapatkan dirinya berada di dalam sebuah rumah yang cukup bersih dan megah, terikat pada dipan kayu, terbelenggu kaki tangannya. Suma Hoat yang berpakaian rapi, bersisir dan kelihatan tampan sekali duduk di pinggir pembaringan. Cui Leng tidak tampak dan pemuda itu tersenyum memandangnya ketika ia membuka mata.

“Jahanam...!” Kata-kata yang pertama keluar dari mulut Liang Bi adalah makian, namun hatinya agak lega bahwa ia masih tetap berpakaian dan dirinya belum ternoda.

Suma Hoat tersenyum. “Bi-moi, engkau sungguh cantik sesuai dengan namamu. Aku cinta padamu, Bi-moi,” Suma Hoat merayu dan mengusap dagu yang halus itu.

Liang Bi membuang muka dengan gerakan kasar. “Jangan sentuh aku! Lebih baik kau bunuh saja!” teriaknya dan dua butir air mata meloncat ke luar dari sepasang matanya.

“Aihh, sayang sekali kalau dibunuh. Aku tidak akan membunuhmu, tidak akan mencelakakanmu. Aku cinta padamu. Mengapa engkau berkeras kepala? Aku hanya ingin engkau membalas cintaku! Bukankah sudah cocok sekali kalau seorang gadis jelita seperti engkau dan seorang pemuda tampan seperti aku saling mencinta?”

“Phuih! Manusia terkutuk! Jangan mengira bahwa semua wanita akan semudah itu kau permainkan! Aku lebih baik mati dari pada melakukan perbuatan terkutuk!”

Akan tetapi Suma Hoat tertawa dan dengan gerakan mesra mulailah ia membelai dan menciumi. Liang Bi meronta-ronta, memaki-maki dan menangis. Melihat betapa gadis itu sama sekali tidak tergerak hatinya oleh cumbu rayunya, Suma Hoat menghentikan perbuatannya.

“Hemm, engkau benar keras hati dan keras kepala. Hendak kulihat sampai di mana kekerasanmu!” Pemuda yang kalau berhadapan dengan wanita menjadi keji dan ganas seperti iblis itu lalu mengambil secawan arak, yaitu obat perangsang yang sudah dipersiapkan. “Kau minumlah arak obat ini, manis!”

“Tidak sudi! Engkau telah menipu, menjatuhkan hati Sumoi yang lemah dengan tipuanmu. Jarum itu sama sekali tidak mengandung racun berbahaya. Tanpa pengobatan pun akan lenyap sendiri rasa gatal dan panas, namun engkau membohongi Sumoi. Engkau katakan bahwa racun itu akan membuat muka menjadi bopeng, buktinya aku tidak apa-apa! Aku tidak sudi minum obatmu yang terkutuk!” Liang Bi membuang muka ke samping.

Akan tetapi sambil tertawa Suma Hoat menggunakan tangan kiri memegang dagu, dengan jari-jari tangannya yang kuat ia memaksa mulut Liang Bi terbuka dan ia menuangkan isi cawan ke dalam mulut dara itu. Liang Bi gelagapan terpaksa menelan arak obat itu sampai habis. Ia terbatuk-batuk dan memaki-maki.

“Binatang! Iblis! Aku bersumpah untuk membunuhmu! Engkau telah menghina murid-murid Siauw-lim-pai!” ia meronta-ronta dan memandang penuh kebencian kepada Suma Hoat yang tertawa-tawa.

Suma Hoat hanya duduk dan memandang sambil tersenyum. Tak lama kemudian obat itu mulai bekerja. Liang Bi menjadi gelisah. Seluruh tubuhnya terasa panas dan jantungnya berdegup kencang, pandang matanya kabur, kepalanya pening. Makin lama makin panas rasanya sehingga ia mengira bahwa tubuhnya telah kemasukan racun dan ia akan mati. Akan tetapi ia tidak peduli.

Yang amat mengganggu hatinya adalah perasaan aneh yang mendorong-dorongnya, menimbulkan rangsangan birahi, membuat ia seolah-olah dipaksa dari dalam untuk menyerah, untuk menerima pemuda itu yang kelihatan amat tampan dan menggairahkan. Namun karena pada dasarnya dia tidak sudi melakukan perbuatan yang dianggapnya terkutuk itu, dia dapat melawan perasaan aneh ini dan dia memejamkan mata agar tidak melihat wajah yang tampan dan senyum manis itu.

“Suci, mengapa Suci tidak mau menurut? Hoat-koko orangnya amat baik, Suci. Aku... aku cinta padanya dan kalau Suci menurut, Suci pun akan jatuh cinta padanya!”

Mendengar suara sumoi-nya ini, Liang Bi membuka mata dan menoleh. “Perempuan hina! Perempuan rendah! Orang macam engkau ini seribu kali lebih baik membunuh diri saja, tidak ada harganya untuk hidup!”

Muka Cui Leng menjadi merah, akan tetapi Suma Hoat sudah memeluknya sambil tertawa, “Leng-moi, suci-mu lebih suka mati, lebih suka menderita. Biarlah, kita berdua lebih senang untuk memilih hidup dan bersenang, ha-ha-ha!”

Suma Hoat lalu menarik tangan Cui Leng ke atas pembaringan di mana Liang Bi terbelenggu, kemudian ia mulai membelai Cui Leng. Tanpa malu-malu, di depan mata Liang Bi dia mengajak Cui Leng bermain cinta! Biar pun Cui Leng merasa sungkan dan malu sekali, akan tetapi karena dia maklum bahwa perbuatan ini dilakukan oleh kekasihnya untuk menggerakkan hati suci-nya dan dia amat memerlukan suci-nya ikut terjun dalam permainan yang akan menyelamatkan rahasianya, maka ia pun menurut saja.

Dapat dibayangkan betapa tersiksa rasa hati Liang Bi yang dipaksa menyaksikan adegan yang dianggap terkutuk itu berlangsung di depan matanya! Dia memejamkan mata dan membuang muka, namun telinganya masih mendengar. Ia tersiksa sekali karena rangsangan di dalam tubuhnya makin menghebat, nafsu birahinya menggelora dengan disuguhkannya adegan yang amat dekat itu, dan ia memaksa batinnya sekuat tenaga untuk melawan godaan yang datangnya dari dalam.

Di luar kehendaknya, karena rangsangan yang amat hebat, beberapa kali ia menoleh, membuang mata dan memandang mereka. Kalau sudah tidak kuat, ia mengeluh dan memaksa kedua matanya untuk dipejamkan. Ia merintih-rintih dan berkali-kali bersambat, “Bunuhlah aku... bunuhlah... ahhh, terkutuk kalian... bunuhlah aku...!” Lalu diakhiri dengan tangis terisak-isak dengan air mata bercucuran di atas kedua pipinya.

Suma Hoat melakukan perbuatan tak tahu malu itu dengan niat untuk menggerakkan hati Liang Bi. Ia turun dari pembaringan, menghampiri Liang Bi dan menciumnya, mengusap air matanya. “Bimoi... aku pun mencintamu seperti aku mencinta Leng-moi... kau menurutlah sayang dan kita bertiga hidup bahagia...”

Jari tangannya membelai dan hampir saja Liang Bi tidak kuat menahan, hampir runtuh batinnya. Namun dia menggigit bibir dan menggeleng kepala dengan mata dipejamkan, tak kuasa menjawab. Suma Hoat menjadi jengkel. Belum pernah ia menjumpai seorang gadis yang begini keras pertahanan hatinya. Arak obatnya tidak mempan, juga adegan yang ia pamerkan tidak!

“Hemmm, kau berkeras, ya? Kau lebih senang tersiksa? Baiklah!” Ia lalu menotok tubuh Liang Bi, melepaskan belenggunya dan memondong tubuhnya keluar dari rumah itu.

“Hoat-ko...!” Cui Leng cepat mengejar, khawatir karena menyangka bahwa pemuda itu hendak membunuh suci-nya. “Marilah, Leng-moi. Aku ingin melihat sampai di mana keteguhan dan kekerasan hatinya!”

Pemuda itu membawa tubuh Liang Bi ke belakang rumah dan meletakkannya di atas rumput. Kemudian ia mengeluarkan sulingnya dan meniup suling aneh itu. Cui Leng memandang penuh perhatian dengan mata terbelalak. Terdengarlah bunyi lengking yang aneh, disusul bunyi berkerasakan di antara rumpun alang-alang dan rumput. Tak lama kemudian, muncullah tiga ekor ular hijau yang beracun, merayap mendekati Liang Bi!

“Hoat-ko...!” Cui Leng menjerit.

Akan tetapi Suma Hoat memandang kepadanya sambil menggeleng kepala dan melanjutkan tiupan sulingnya. Mengertilah Cui Leng bahwa kekasihnya hanya hendak menakut-nakuti Liang Bi. Yang menyiksa dan mengkhawatirkan hati Cui Leng adalah bahwa suci-nya itu paling jijik dan takut melihat ular. Kini ada tiga ekor ular merayap mendekatinya, tentu saja suci-nya menjadi takut setengah mati. Mata Liang Bi terbelalak, melirik ke arah ular-ular itu dan wajahnya pucat sekali.

Suma Hoat menghentikan tiupan sulingnya dan dengan sulingnya ia mencegah ular-ular itu datang terlalu dekat. “Bagaimana, Bi-moi? Kalau kau tidak mau menyerah, ular-ular ini akan menggigitmu dan sekali gigit saja tubuhmu akan bengkak-bengkak!”

Liang Bi sudah tertotok, tubuhnya lemas dan lumpuh. Akan tetapi ia masih dapat berkata ketus, “Bunuhlah aku! Aku tidak sudi!”

Suma Hoat makin panasaran, ditiupnya lagi sulingnya dan kini tiga ekor ular itu mendekati tubuh Liang Bi yang menjadi makin ketakutan. Lidah-lidah ular yang merah dan bergerak-gerak keluar masuk itu, taring yang putih mengkilap dan melengkung ke dalam, mata yang merah dan liar, benar-benar membuat ia hampir pingsan saking takutnya. Betapa mudahnya untuk mengucapkan kata-kata menyerah dan ia akan terbebas dari ancaman ular-ular ini!

Dia menikmati cinta kasih seperti yang diiihatnya tadi dinikmati sumoi-nya. Akan tetapi dia mengeraskan hatinya, bertekad lebih baik mati dari pada menyerah dan terperosok ke dalam pecomberan yang berupa perbuatan melanggar susila yang terkutuk dan menjijikkan. Tidak, dia tidak akan menyerah. Bagi seorang gagah, kehormatan seribu kali lebih berharga dari pada nyawa! Seribu kali lebih baik mati sebagai seorang pendekar wanita yang bersih dari pada hidup sebagai seorang perempuan ternoda!

“Bunuhlah! Aku tidak takut mati!” ia berteriak.

Sinar yang buas terpancar keluar dari pandang mata Suma Hoat. Dia mulai marah dan dia lupa akan janjinya kepada Cui Leng, maka kini dia meniup sulingnya dengan nada makin tinggi. Tiga ekor ular itu mendesis-desis, siap menerjang dan menggigit tubuh wanita yang terbujur di atas tanah.

“Crat-crat-crat!”

Sinar putih menyilaukan mata itu lenyap dan di situ telah berdiri dua orang wanita dengan pedang di tangan dan tiga ekor ular tadi telah putus kepalanya, tinggal tubuhnya yang menggeliat-geliat dalam sekarat.

Cui Leng dan Suma Hoat terkejut sekali, akan tetapi dengan tenang Suma Hoat mengangkat kepala memandang. Yang muncul dan membunuh tiga ekor ular dengan pedang itu adalah dua orang wanita yang usianya antara tiga puluh lima sampai empat puluh tahun, keduanya bersikap gagah perkasa dan masih nampak cantik. Melihat persamaan wajah mereka, mudah diduga bahwa mereka ini tentulah kakak beradik. Kini wanita yang lebih tua menudingkan pedangnya kepada Suma Hoat dan membentak,

“Penjahat keji, perbuatanmu melampaui batas peri-kemanusiaan. Sekarang setelah kami datang, bersiaplah untuk mati!” Setelah berkata demikian, tubuhnya mencelat ke depan, menyerang Suma Hoat yang cepat menggunakan sulingnya menangkis.

“Dan engkau wanita kejam patut mampus, juga!” teriak wanita kedua yang juga cepat sekali gerakannya menerjang Cui Leng. Terpaksa gadis, ini mencabut pedang menangkis.

“Cringgg..., tranggg...!”

Pertemuan pedang kedua orang wanita gagah itu dengan suling Suma Hoat dan pedang Cui Leng menimbulkan bunga api yang muncrat menyilaukan mata. Wanita yang lebih tua terkejut bukan main karena tangannya yang memegang pedang tergetar hebat, tanda bahwa pemuda tampan yang memegang suling itu memiliki sinkang yang amat kuat. Ada pun wanita kedua juga merasa bahwa dara cantik yang menjadi teman pemuda itu pun memiliki gerakan yang tangkas dan kuat. Namun keduanya tidak gentar dan cepat menyerang dengan dahsyat.

Namun Suma Hoat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dapat mengimbangi permainan pedang lawan sehingga mereka telah bertanding dengan seru. Diam-diam ia kagum karena ternyata wanita baju hijau yang usianya sekitar empat puluh tahun ini memiliki kepandaian yang luar biasa. Maka dia pun cepat melolos pedangnya dan balas menyerang.

Di lain pihak, Cui Leng kewalahan menghadapi lawannya yang lihai. Terpaksa Cui Leng mengeluarkan seluruh ilmu kepandaiannya memainkan ilmu pedang Siauw-lim-pai yang mempunyai daya tahan kokoh kuat.

“Tahan...!” Tiba-tiba wanita yang melawan Cui Leng berteriak dan melompat mundur diikuti enci-nya. Wanita ini memandang Cui Leng dan bertanya, “Bukankah engkau murid Siauw-lim-pai? Ilmu pedangmu adalah ilmu pedang Siauw-lim-pai!”

Cui Leng menjadi bingung, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Kalau tidak dalam keadaan seperti sekarang, tentu tanpa ragu-ragu ia akan mengaku. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, ingin ia menyembunyikan kenyataan bahwa dia adalah murid Siauw-lim-pai. Namun Suma Hoat sudah mendahuluinya, tertawa sambil memandang kedua wanita itu.

“Tidak salah dugaan Ji-wi Toanio yang cantik dan gagah! Dia dan suci-nya itu adalah murid-murid Siauw-lim-pai, dan aku adalah sahabatnya. Kami bertiga sedang main-main, mengapa Ji-wi membunuh ular-ularku dan menyerang kami?”

Kedua orang wanita itu saling pandang, kelihatan terkejut sekali dan terheran. Tanpa mempedulikan ucapan Suma Hoat yang main-main, juga panggilan dengan embel-embel ‘yang cantik dan gagah’ yang pada saat lain tentu akan menimbulkan kemarahan mereka, kini wanita tertua menghadapi Cui Leng dan bertanya.

“Engkau... dan suci-mu... apakah wakil-wakil dari Siauw-lim-pai untuk bertemu dengan Beng-kauw?”

Cui Leng menjadi makin bingung. Dia tidak tahu siapa kedua orang wanita itu, akan tetapi dia menduga bahwa mereka tentulah orang-orang Beng-kauw, maka dia menjadi makin bingung. “Aku... aku...” Sukar sekali dia melanjutkan kata-katanya.

“Kembali Ji-wi Toanio benar. Adik Kim Cui Leng dan adik Liang Bi ini adalah wakil Siauw-lim-pai. Ji-wi siapakah? Biarlah aku mewakili kedua adikku tercinta ini untuk berunding. Mari kita ke rumah kami.” Suma Hoat berkata dan senyumnya amat menarik.

“Aihhh..., bagaimana ini? “Wanita yang lebih muda, berpakaian biru berkata dan kelihatan bingung.

“Hui-moi, mari kita pergi!” kata wanita baju hijau yang lebih tua. Adiknya mengangguk dan keduanya berkelebat pergi meninggalkan tempat itu.

Cui Leng membanting-bantingkan kakinya. “Celaka, Koko. Kenapa Koko mengaku bahwa kami berdua adalah orang-orang Siauw-lim-pai? Kita tidak tahu mereka itu siapa!”

Suma Hoat tertawa, “Takut apa, Moi-moi? Ada aku di sini, mengapa takut?”

Cui Leng memandang suci-nya yang masih rebah telentang, dan ternyata suci-nya telah pingsan saking ngerinya tadi ketika akan digigit ular-ular itu.

“Wah, bagaimana ini? Kau belum juga berhasil dengan suci, dan sekarang ada dua orang wanita itu. Rahasia tentu akan terbongkar...!”

“Ha-ha-ha, jangan khawatir, Suci-mu takut ular, aku masih ada jalan lain.”

Setelah berkata demikian, Suma Hoat memondong tubuh Liang Bi dan kembali ke dalam rumah diikuti oleh Cui Leng yang amat gelisah hatinya dan menduga-duga siapa gerangan kedua orang wanita yang lihai itu. Mereka itu lihai dan kalau mereka bertempur terus, belum tentu dia dan Suma Hoat akan mampu menandingi mereka. Akan tetapi mengapa mereka berdua tadi terus lari pergi setelah mendengar bahwa dia adalah murid dan wakil Siauw-lim-pai? Siapakah mereka?

Ya, siapakah mereka? Dua orang wanita itu adalah tokoh-tokoh Beng-kauw yang selama belasan tahun bersembunyi di Ta-liang-san. Mereka adalah cucu dari pendiri Beng-kauw yang selama hampir dua puluh tahun bersembunyi di Ta-liang-san, menggembleng diri dengan ilmu silat di bawah pimpinan paman kakek mereka, yaitu Kauw Bian Cinjin seorang tokoh besar Beng-kauw. Kakak beradik ini bernama Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui, dan mereka ini bukan lain adalah kedua orang kakak dari Kam Han Ki! Mereka adalah puteri dari Kam Bu Sin adik tiri Suling Emas, sedangkan ibu mereka adalah Liu Hwe, keturunan ketua Beng-kauw!

Kedua orang kakak beradik ini tadinya sudah menikah dengan dua orang pendekar ternama di selatan, akan tetapi kedua suami mereka telah gugur ketika berjuang melawan musuh-musuh Beng-kauw. Mereka belum mempunyai keturunan dan selama ini hidup sebagai janda-janda yang tekun melatih diri di puncak Ta-liang-san dan menanti kesempatan untuk membangun kembali Beng-kauw yang sudah hancur. Mereka merasa prihatin sekali ketika anak buah Beng-kauw kini jatuh ke dalam cengkeraman seorang pendeta dari Tibet yang amat lihai dan yang membangun sarang di Pegunungan Heng-toan di lembah Sungai Ci-sha.

Pendeta Tibet ini berjuluk Hoat Bhok Lama, seorang pendeta berjubah merah yang amat lihai, yang melanjutkan perkumpulan Agama Beng-kauw dan memaksa bekas anak buah Beng-kauw menjadi anak buahnya. Akan tetapi, dengan pimpinan di tangannya Beng-kauw diselewengkan dan dia tidak segan melakukan perbuatan yang jahat. Namun karena lihainya, segala usaha keturunan pendiri Beng-kauw mendiang Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, yaitu kedua orang wanita she Kam itu, selalu gagal. Bahkan suami mereka pun tewas di tangan Hoat Bhok Lama! Juga Kauw Bian Cinjin yang sudah amat tua, paman kakek guru mereka, juga tewas di tangan Hoat Bhok Lama!

Demikianlah, dalam usaha mereka untuk menentang Hoat Bhok Lama, bukan semata-mata membalas dendam kematian suami dan keluarga mereka, melainkan dalam usaha mereka untuk merampas kembali Beng-kauw dan membersihkan perkumpulan itu dari penyelewengan, Kam Sian Kui dan Kam Siang Hui menghubungi Siauw-lim-pai untuk mohon pertolongan Ketua Siauw-lim-pai.

Tentu saja mereka segera turun tangan ketika menyaksikan seorang gadis disiksa dan akan dibunuh dengan ular-ular beracun. Akan tetapi ketika mendengar bahwa gadis-gadis itu adalah murid-murid Siauw-lim-pai yang katanya akan dikirim oleh Ketua Siauw-lim-pai sebagai wakil, dan yang kini malah membantu pemuda tampan itu, kedua orang kakak beradik ini menjadi segan mencampuri. Mereka mengharapkan bantuan Siauw-lim-pai, kalau mereka kini bentrok dengan murid Siauw-lim-pai, apa jadinya? Maka mereka bergegas pergi mencari Ketua Siauw-lim-pai untuk melaporkan peristiwa yang mereka lihat di hutan itu.

Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui mendengar akan nasib buruk yang menimpa keluarga keturunan Suling Emas, pek-hu (uwa) mereka. Akan tetapi mereka hanya dapat menangis mendengar akan kematian Raja Talibu, Mutiara Hitam dan Kam Liong yang menjadi saudara-saudara misan mereka. Mereka tidak berdaya berbuat sesuatu karena mereka sendiri pun mengalami nasib yang tidak baik. Suami mereka gugur, Beng-kauw dirampas orang dan diselewengkan.

Mereka tidak dapat mengharapkan bantuan saudara-saudara lain karena mereka menganggap bahwa adik mereka, Kam Han Ki, telah tewas. Mereka tidak tahu bahwa adik mereka itu masih hidup. Maka satu-satunya harapan mereka adalah Siauw-lim-pai yang mereka tahu memiliki banyak orang pandai dan yang selalu siap membela kebenaran. Apa lagi karena perampas Beng-kauw adalah seorang pendeta, sedikit banyak hal ini akan mencemarkan pula nama Siauw-lim-pai yang menjunjung tinggi Agama Buddha.

Demikianlah, mereka bergegas mencari ketua Siauw-lim-pai, Kian Ti Hosiang, untuk melaporkan dan sekalian untuk berunding dengan ketua itu sendiri mengenai urusan mereka menghadapi Hoat Bhok Lama yang amat lihai. Kebetulan sekali bahwa pada waktu itu, Kian Ti Hosiang berada di kota Cun-ek, di kaki Pegunungan Cing-lai, di dalam sebuah kuil cabang Siauw-lim-pai tidak jauh dari situ.

Kian Ti Hosiang menerima kedatangan mereka, dengan sabar dan tenang hwesio ini mendengarkan penuturan mereka. Biar pun di dalam hatinya hwesio yang berwajah tenang ini terkejut sekali mendengar akan keadaan kedua orang muridnya, namun dengan sikap tenang ia berkata, “Omitohud... Ji-wi Toanio telah bertindak tepat dengan memberitahukan kepada pinceng. Mereka masih muda dan belum berpengalaman. Pinceng tak dapat menduga apakah yang terjadi dan siapa laki-laki muda itu. Biarlah pinceng sendiri yang akan menengok mereka.”

“Sebaiknya begitu Locianpwe. Mari kami antarkan Locianpwe mengunjungi tempat itu,” kata Kam Siang Kui yang merasa tidak enak sekali karena dia menduga bahwa tentu dua orang murid Siauw-lim-pai itu jatuh ke tangan seorang yang amat jahat dan keji, penjahat berwajah tampan dan bersikap ramah yang lihai itu.

Biar pun Kian Ti Hosiang sudah tua, namun betapa pun dua orang tokoh Bengkauw itu menggunakan seluruh kepandaian berlari cepat, hwesio yang kelihatan melangkah seenaknya itu selalu berada di samping mereka. Hal ini menlmbulkan rasa hormat dan kagum dalam hati mereka dan diam-diam mereka harus mengakui bahwa dalam hal ilmu lari cepat, biar mendiang Kauw Bian Cinjin guru dan paman kakek mereka sendiri tidak akan dapat menandingi Ketua Siauw-lim-pai ini.

Di dalam perjalanan ini, kedua orang wanita tokoh Beng-kauw itu menceritakan keadaan Beng-kauw dan kembali mereka mengajukan permohonan agar Ketua Siauw-lim-pai itu suka membantu mereka untuk menghadapi Hoat Bhok Lama yang lihai. Kian Ti Hosiang mendengarkan dengan penuh kesabaran, kemudian menjawab bahwa urusan itu akan mereka bicarakan setelah perkara kedua muridnya selesai, dan akan dirundingkan dengan para pemimpin Siauw-lim-pai.

“Saya rasa bahwa Locianpwe seorang saja yang akan mampu menolong kami,” Kam Siang Kui berkata penuh permohonan. “Lama itu lihai bukan main, dan kiranya hanya Locianpwe seorang di dunia ini yang akan dapat mengalahkannya.”

Ketua Siauw-lim-pai itu menghela napas panjang. “Nanti kita lihat sajalah, Toanio. Pinceng sudah lama menghentikan pendirian bahwa kejahatan harus diakhiri dengan kekerasan dan pembunuhan. Pinceng tidak tahu siapakah yang lebih jahat antara penjahat yang dibunuh dengan orang yang membunuhnya!”

Mendengar ucapan ini, Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui saling pandang penuh keheranan dan tidak berani lagi bicara tentang permohonan bantuan sebelum hwesio ini selesai menolong murid-muridnya. Perjalanan dilakukan dengan cepat dan sunyi, seolah-olah mereka bertiga tenggelam dalam lamunan masing-masing yang dibangkitkan oleh ucapan terakhir hwesio itu.

Liang Bi terikat kaki tangannya pada sebatang tiang di ruangan rumah bekas kepala rampok. Ia memandang dengan sinar mata penuh kebencian kepada Suma Hoat dan Kim Cui Leng. Dilihatnya Suma Hoat yang tersenyum-senyum meloncat pergi meninggalkannya setelah selesai mengikat tubuhnya dan menotok jalan darah di pundaknya sehingga tubuhnya menjadi lemas dan tidak mampu menggunakan sinkang untuk melepaskan diri.

Cui Leng memandang kepada suci-nya dengan sinar mata penuh penyesalan dan kekhawatiran. Kemudian ia melangkah maju, membujuk, “Suci, mengapa engkau berkeras? Suci, Hoat-koko benar-benar mencinta kita, dia tidak bermaksud jahat. Dia mencinta kita dan dia baik sekali. Suci, di dunia ini sukarlah berternu dengan seorang pria seperti dia. Tampan, berilmu tinggi, menarik hati dan... dan... engkau tentu akan merasa bahagia sekali kalau suka melayani dan membalas cinta kasihnya. Suci, ke mana-mana kita berdua, kita mengalami suka-duka berdua, mengalami bahaya maut berdua. Sekarang... aku menikmati kebahagiaan, aku pun ingin agar kita menikmatinya berdua...”

“Cihh! Perempuan rendah! Cui Leng, tidak malukah engkau? Apakah sudah hilang harga dirimu? Engkau menyeret nama dan kehormatanmu ke pecomberan! Aihhh, bagaimana engkau sampai dapat terperosok serendah ini?”

“Suci, apakah artinya malu? Kalau kita suka melakukan suatu perbuatan tanpa merugikan orang lain, mengapa mesti malu? Pula, malu kepada siapakah? Tidak ada orang lain yang akan mengetahuinya! Suci, kau sambutlah Hoat-koko, dan kita bertiga akan hidup bahagia, dan dengan kita bertiga menjadi satu, kita takut kepada siapakah? Hoat-koko amat lihai, aku sudah membuktikan betapa ia memiliki sinkang yang amat kuat, memiliki pukulan-pukulan lihai seperti Tiat-ciang-kang dan memiliki ilmu aneh-aneh. Kalau kita berbaik kepadanya kita dapat belajar ilmu dari dia, alangkah senangnya!”

“Sumoi! Aku masih dapat memaafkan engkau karena kau telah terbujuk. Kau lepaskan aku, mari kita pergi dari tempat terkutuk ini, Sumoi. Marilah, selagi dia tidak ada. Engkau belum tersesat terlalu jauh...”

Akan tetapi Cui Leng menggeleng kepala. “Tidak mungkin, Suci. Aku tidak dapat mundur lagi. Kalau engkau suka melayaninya seperti yang telah kulakukan dan kita menikmati kebahagiaan bersama, setelah itu... tentu Hoat-koko tidak akan mengganggumu lagi dan kita dapat hidup bersama dia atau meninggalkannya dengan hati aman...”

Liang Bi membelalakkan matanya. Gadis ini tidak mengerti mengapa sumoi-nya bersikeras minta agar dia melayani niat keji pemuda itu!

Senja telah mendatang ketika dari jauh terdengar suara suling yang membuat bulu tengkuk Liang Bi berdiri meremang. Dia merasa ngeri karena teringat bahwa suara itu adalah suara suling Si Pemuda yang pandai menguasai ular dengan sulingnya. Padahal, di antara segala makhluk di dunia ini, ular adalah binatang yang paling ia takuti. Sejak kecil ia merasa jijik dan takut kepada ular sehingga biar pun kini telah menjadi seorang pendekar wanita yang lihai, tetap saja dia merasa jijik dan ngeri kalau melihat ular. Wajahnya menjadi pucat dan napasnya terengah.

Cui Leng juga mendengar suara ini dan ia melangkah mundur, memandang dengan sinar mata aneh dan bibirnya tersenyum. “Engkau mencari sengsara sendiri, Suci. Ingin aku melihat apakah engkau mampu melawan Hoat-koko!”

Makin pucat wajah Liang Bi ketika ia melihat Suma Hoat datang berjalan perlahan sambil meniup sulingnya dan... di depan pemuda itu tampak seekor ular besar dan panjang merayap maju mengerikan! Ular ini lebih dari dua meter panjangnya, sebesar betis orang, kulitnya mengkilap berwarna hijau kekuningan, matanya merah. Setelah tiba di ruangan itu, Suma Hoat menghentikan tiupannya dan ular itu pun berhenti, mengangkat kepala menoleh ke kanan kiri seperti bingung mengapa suara suling itu lenyap.

“Bi-moi, bagaimana? Apakah engkau masih keras kepala? Sekali lagi kuminta engkau suka menerima cintaku seperti yang dilakukan sumoi-mu, dan kita bertiga hidup bahagia.”

“Tidak sudi. Lebih baik mati!”

“Begitukah? Hemm... biarlah ularku yang akan menjawab pertanyaanmu ini. Kalau engkau sudah merasa cukup dan tidak keras kepala lagi, katakan saja bahwa engkau menyerah. Akan tetapi kalau engkau lebih suka memilih mati, engkau akan mati dengan nyawa masih penuh rasa takut dan jijik sehingga rohmu akan berkeliaran dikejar ketakutan hebat!”

Suma Hoat lalu meniup sulingnya. Terdengarlah suara melengking aneh dan ular itu mengangkat tubuh atas tinggi-tinggi, kemudian berlenggak-lenggok seperti menari dan perlahan-lahan merayap mendekati kaki Liang Bi dengan lidah bergerak-gerak keluar masuk mulutnya yang merah.

Liang Bi memandang ular itu dengan wajah pucat dan mata terbelalak, bibirnya menggigil dan dadanya bergelombang. Rasa jijik dan takut hampir membuat ia menjerit. Ia berusaha menguatkan hatinya, akan tetapi ketika ular itu mulai merayap dari kakinya terus ke atas melalui betisnya, pahanya, perutnya... Liang Bi hampir pingsan. Dia hanya mengharapkan ular itu menggigitnya agar dia lekas mati. Bagi seorang gagah seperti dia kematian bukan apa-apa dan akan dihadapinya dengan mata terbuka. Akan tetapi bukan kematian yang membuat ia takut kepada ular, melainkan rasa geli dan jijik.

Namun celaka baginya. Suma Hoat meniup sulingnya terus dan ular itu sama sekali tidak menggigitnya, melainkan melingkari tubuhnya dengan kuat. Liang Bi merasa betapa tubuh ular itu berdanyut-danyut dingin sekali, licin dan menggelikan, menjijikkan, kemudian kepala ular itu bergerak-gerak di depan mukanya, lidahnya keluar dan menjilat-jilat! Liang Bi memejamkan mata, membuang muka akan tetapi ia masih merasa betapa lidah ular itu menjilat-jilat mukanya, pipinya, bibirnya, lehernya. Ia bergidik. Ular itu seolah-olah sedang menciumnya penuh nafsu! Ia muak, jijik dan seluruh tubuhnya menggigil.

“Bunuh aku... iihhhh... bunuh aku... uhu-hu-huu... suruh dia pergi...!” Akhirnya ia merintih.

Akan tetapi Suma Hoat tidak menghentikan tiupan sulingnya dan si ular terus menggerayangi muka dan leher Liang Bi dengan moncongnya yang menjijikkan. Liang Bi menggeliat-geliat, hampir pingsan. Kalau dia pingsan atau mati seperti yang ia harapkan dia akan terbebas. Akan tetapi celaka, dia masih sadar dan harus merasakan penderitaan yang amat menyiksa hatinya. Kalau dia disiksa dengan rasa nyeri, disayat sedikit demi sedikit kulit dagingnya, dia akan menghadapinya dengan tabah. Akan tetapi perasaan jijik ini benar-benar hampir tidak kuat ia menahannya.

“Suci, menyerahlah...!” Terdengar suara Cui Leng membujuk.

Gadis ini berdiri di dekat meja tinggi, menaruh lengan kiri di atas meja, lengan kanan bertolak pinggang, menonton pertunjukan itu dengan hati ngeri dan iba kepada suci-nya. Akan tetapi karena ia maklum bahwa sebelum suci-nya menyerah dia takkan pernah merasa aman hatinya, maka ia menguatkan hatanya. Dia pun tidak menjadi benci kepada Suma Hoat yang menyiksa suci-nya seperti itu, karena dia menganggap bahwa Suma Hoat melakukan itu untuk membujuk suci-nya agar suka menerima cintanya, dan Si Pemuda ini terpaksa melakukan hal ini atas permintaannya, dengan maksud untuk menyelamatkannya!

Yah, apa saja yang takkan dilakukan oleh makhluk yang disebut manusia kalau dia sudah tercengkeram oleh nafsu! Sikap yang diperlihatkan Cui Leng hanyalah sebuah di antara sikap-sikap keji yang banyak dilakukan wanita yang sudah mabok oleh nafsu birahi dan didasari rasa iba diri, diselimuti oleh rasa ingin mendapatkan kawan kalau dirinya sendiri terperosok! Sifat buruk ini sebuah di antara banyak sekali sifat buruk lain yang timbul dari sayang diri dan iba diri, hampir mencengkeram watak semua manusia, merupakan semacam penyakit yang sukar diobati, yaitu sifat yang selalu ingin minta kawan dalam derita!

Dari anak-anak pun sudah mulai tampak gejala sifat buruk ini. Seorang anak kecil yang jatuh dan menangis akan berhenti tangisnya, bahkan bisa tertawa kalau kita pura-pura jatuh pula di dekatnya dan mengeluh kesakitan! Menyaksikan penderitaan orang lain yang lebih besar merupakan semacam hiburan bagi seorang yang sedang menderita. Memang amatlah buruk sekali sifat ini, namun tanpa disadarinya, penyakit ini telah diderita oleh banyak sekali manusia di dunia ini


Perbuatan Suma Hoat amat keji. Tentu saja hal ini tidak terasa olehnya sendiri. Perbuatan-perbuatannya terhadap wanita timbul dari rasa bencinya terhadap wanita, dan dia hendak melampiaskan rasa bencinya itu dengan menggunakan nafsu birahinya untuk merusak wanita sebanyak mungkin! Karena bencinya timbul sifat kejam dan dia merasa gembira melihat korbannya tersiksa, terutama sekali tersiksa batinnya! Dia menganggap bahwa batinnya sendiri sudah hancur lebur karena wanita! Bahkan, melihat wanita tersiksa seperti yang dialami Liang Bi sekarang ini membuat nafsu birahinya berkobar! Makin hebat seorang wanita tersiksa, makin menggairahkan bagi Jai-hwa-sian, Si Dewa Pemetik Bunga ini!...


BERSAMBUNG KE JILID 22


Thanks for reading Istana Pulau Es Jilid 21 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »