Istana Pulau Es Jilid 17

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

EPISODE ISTANA PULAU ES JILID 17

KETIKA melihat Siauw Bwee, mereka tidak begitu kaget dan heran karena mereka segera mengerti bahwa dara perkasa itu sebetulnya belum mati ketika tadi dimasukkan ke kamar jenazah. Akan tetapi berbeda lagi dengan Cia Cen Thok yang sudah tiga tahun menjadi mayat, dan dahulu mereka ikut pula mengeroyok dan membunuh orang ini. Dan pakaian Cia Cen Thok yang hanya berupa cawat itu menambah keseraman.

Setelah melihat dua orang itu jauh dan lenyap bayangannya, Siauw Bwee tertawa nyaring. Pedangnya dilempar ke atas tanah dan tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir balik beberapa kali. Selagi semua orang berdongak dan mengikuti gerakan luar biasa itu, tubuh Siauw Bwee telah lari jauh dan dia menyusul ke arah larinya Hok Sun dan Cia Cen Thok. Orang-orang berkaki buntung mengejar cepat, namun mereka itu bukanlah tandingan Siauw Bwee dalam hal ilmu berlari cepat sehingga sebentar saja tubuh dan bayangan Siauw Bwee telah lenyap dari pandang mata mereka.

Tak lama kemudian Siauw Bwee telah dapat mengejar Hok Sun dan Cen Thok. Dia heran melihat dua orang itu berhenti dan kelihatan bingung. “Kenapa kalian berhenti di sini?” Siauw Bwee menegur.

“Wah, celaka, Lihiap!” Kini Hok Sun yang amat kagum akan kelihaian Siauw Bwee tidak segan-segan menyebut lihiap (pendekar wanita), “Semua jalan ke luar sudah dihadang setan-setan buntung itu!”

Siauw Bwee memandang kepada Cen Thok dan bekas mayat hidup ini mengangguk.

“Memang benar, Lihiap. Jalan menuju ke tempat tinggal kaum lengan buntung sudah dihadang semua dan penuh perangkap dan jerat yang dipasang mereka. Satu-satunya jalan hanya melalui rawa, daerah yang dianggap berbahaya dan tidak pernah ada yang berani melalui tempat itu. Aku sendiri sama sekali tidak mengenal daerah itu, Lihiap.” Ucapan terakhir ini seolah-olah minta keputusan dan nasehat Siauw Bwee yang biar pun paling muda namun mereka anggap sebagai orang yang lebih tinggi kedudukan dan tingkatnya dari pada mereka.

“Kalau begitu, kita melalui rawa!” kata Siauw Bwee dengan suara tetap, ”Bagaimana pun juga kita harus dapat keluar dari daerah berbahaya ini!”

“Baik, kalau begitu marilah ikut bersamaku!” Cen Thok berkata dan mendahului lari. Hok Sun dan Siauw Bwee juga meloncat dan lari mengikuti orang bercawat itu. Tak lama kemudian mereka tibalah di daerah yang penuh rawa, daerah luas dan mati.

“Ke mana jalannya?” tanya Siauw Bwee, agak ngeri juga menyaksikan daerah luas dan mati, rawa yang seolah-olah tanpa tepi sehingga amat mengerikan keadaannya.

“Aku sendiri pun tidak tahu, Lihiap. Kita harus mencari jalan, akan tetapi hati-hatilah. Rawa ini kabarnya berbahaya sekali, banyak terdapat bagian-bagian yang pada permukaannya kelihatan rumput dan tanah, akan tetapi di bawahnya adalah lumpur yang menyedot dan ada kalanya air amat dalam.”

Siauw Bwee yang mengandalkan ginkang-nya segera mengambil keputusan, “Biarlah aku mencari jalan. Dengan keringanan tubuh, kiranya aku tidak akan terancam bahaya.”

Tanpa menanti jawaban ia lalu mulai menyeberangi rawa, memilih bagian yang cukup tebal dan kuat. Kalau kakinya salah injak bagian yang tipis, sebelum ia terjeblos ia sudah dapat meloncat lagi. Melihat ini, dua orang itu selain merasa kagum juga ngeri karena kalau kurang tinggi ilmu ginkang-nya, tentu sekali terjeblos akan berarti bahaya maut!



MATAHARI telah condong ke barat dan mereka masih belum menemukan jalan ke luar dari daerah itu karena jalan penyeberangan rawa yang mereka tempuh membelak-belok harus memilih bagian yang aman.

Tiba-tiba Hok Sun berteriak, “Aihh, apa itu...?”

Dua orang temannya menengok dan berdongak memandang ke atas, arah yang ditunjuk oleh Hok Sun. Tampak awan hitam memenuhi udara, akan tetapi jelas bukan awan yang bergerak terbawa angin karena gerakan awan itu cepat sekali.

“Burung-burung...!” Siauw Bwee berseru ngeri karena belum pernah ia melihat burung-burung terbang berkelompok sebanyak itu sehingga merupakan awan hitam yang bergerak cepat.

“Eh, dia ke sini...!” Cen Thok berseru kaget.

“Mereka meluncur turun...!” Hok Sun berteriak pula.

Benar saja. Sekumpulan burung itu seolah-olah menerima pertanda rahasia dan mereka kini meluncur turun ke arah tiga orang ini dan segera mereka diserang oleh ratusan ekor burung elang!

Tiga orang ini menjadi repot sekali menghadapi penyerangan ribuan ekor burung di tengah rawa yang amat berbahaya itu. Hok Sun menggerak-gerakkan kedua tangannya menangkis dan menghantam burung-burung yang menyerangnya. Juga Cen Thok sibuk membela diri dan membunuhi burung-burung yang tak terhitung banyaknya. Namun mereka ini kewalahan, bingung dan panik, apa lagi setelah kulit-kulit tangan mereka mulai berdarah oleh patukan-patukan burung yang kuat itu. Mereka bertanding melawan keroyokan burung-burung sambil berteriak-teriak.

Tak lama kemudian Siauw Bwee terpisah dari mereka. Dara perkasa ini pun repot menghadapi pengeroyokan binatang-binatang yang kelihatannya marah, haus darah dan buas itu. Sampokan-sampokan kedua tangan dara ini sekaligus membunuhi banyak burung, akan tetapi binatang-binatang itu sungguh ganas. Mati lima datang sepuluh, mati sepuluh datang dua puluh.

Kepanikan menyerang hati Siauw Bwee. Dia merasa jijik dan ngeri sekali karena para pengeroyoknya ini seperti bukan burung-burung biasa, begitu nekat dan agaknya mereka kelaparan semua. Bajunya mulai robek-robek, bahkan pundak dan kedua lengannya mulai berdarah. Serangan datangnya seperti hujan, sukar untuk dihindarkan semua. Dia tidak lagi dapat memperhatikan dua orang temannya dan teriakan-teriakan mereka sudah tidak terdengar lagi karena mereka saling berpisah makin jauh setelah Siauw Bwee mulai berloncatan untuk menghindarkan burung-burung itu.

Dia menggunakan ginkang-nya, meloncat tinggi dan jauh dengan maksud melarikan diri. Akan tetapi burung-burung itu tetap mengejarnya. Sampai jauh Siauw Bwee melawan sambil berloncatan menjauhi dan kemarahannya timbul sehingga ketika dia menggerakkan kedua tangan, makin banyaklah burung-burung itu menjadi bangkai, memenuhi rawa.

Entah berapa jam lamanya Siauw Bwee bertanding melawan burung-burung itu, akan tetapi kini matahari sudah makin doyong ke barat dan sinarnya mulai menyuram. Entah berapa ratus ekor burung telah dibunuhnya. Kepalanya menjadi pening oleh suara burung yang menjerit-jerit sambil menyerang, pandang matanya berkunang oleh bayangan burung-burung yang tiada hentinya menyambar di depan mukanya. Dia mulai lelah, kepalanya pening dan patukan burung mulai banyak mengenai kulit lengannya. Celaka, pikirnya, tidak pernah mengira bahwa dia akan tewas oleh pengeroyokan burung-burung. Betapa memalukan dan menyedihkan. Tewas oleh pengeroyokan burung-burung!

Tiba-tiba di antara suara mencicitnya burung yang memekakkan telinga, terdengar suara manusia! Lirih saja, akan tetapi amatlah jelas seolah-olah ada yang berbisik di dekat telinganya.

“Sungguh keberanian dan kenekatan yang bodoh! Masa manusia kalah cerdik oleh burung? Kalau berlindung ke air bersembunyi di balik alang-alang, bukankah lebih mudah dari pada melawan dengan nekat?”

Siauw Bwee terkejut. Tidak, dia bukan sedang mimpi, juga tidak mendengar suara setan rawa! Dia mendengar suara manusia, seorang manusia yang berilmu tinggi dan yang menolongnya dengan nasehat itu. Suara itu adalah suara yang dikirim dari tempat jauh menggunakan Ilmu Coan-im-jip-bit yang hanya dapat dilakukan dengan pengerahan khikang yang amat kuat! Suheng-nya dapat melakukan hal itu, dan dia pun kalau mau melatih diri, menggabungkan sinkang dengan khikang, tentu akan dapat melakukannya pula.

Suheng-nya! Jantung Siauw Bwee berdebar. Suheng-nyakah orang itu? Ah, tidak mungkin. Suheng-nya selalu bicara dengan halus dan ramah kepadanya, sedangkan suara orang itu sama sekali tidak halus dan ramah, bahkan setengah memakinya bodoh dan kalah cerdik oleh burung! Siapa pun adanya orang itu, jelas bahwa nasehatnya patut diperhatikan.

Maka ia lalu mencari bagian rawa yang penuh alang-alang dan yang airnya agak dalam. Setelah menggerakkan kedua tangannya membunuh burung-burung yang menyerangnya, ia lalu menjatuhkan diri ke dalam air rawa, menyembunyikan tubuhnya ke dalam air di bawah alang-alang sampai ke atas mulut. Hidungnya mencium bau busuk alang-alang yang membusuk, membuatnya muak, akan tetapi ia tahankan. Benar saja, burung-burung itu hanya beterbangan di atas alang-alang, tidak ada lagi yang menyerangnya.

Siauw Bwee merasa lega dan berterima kasih. Akan tetapi burung-burung itu tetap saja beterbangan di atas alang-alang, agaknya menunggu sampai dia muncul kembali dan siap menyerang. Burung sialan, ia memaki. Merendam diri di dalam air lumpur kotor itu sungguh bukan hal yang menyenangkan, apa lagi baunya amat tidak enak dan tubuhnya mulai merasa gatal-gatal.

Dua jam kemudian, setelah matahari makin turun ke barat dan sinarnya sudah hampir tidak ada tenaganya lagi, setelah Siauw Bwee hampir tidak kuat bertahan dan ingin mengamuk lagi, tiba-tiba burung-burung itu terbang pergi meninggalkan Siauw Bwee dan meninggalkan rawa yang banyak bangkai burungnya. Siauw Bwee meloncat dan keluar dari dalam air. Tiba-tiba ia menjerit-jerit dan tubuhnya mengkirik, menggigil dengan jijik dan geli ketika ia melihat bahwa puluhan ekor lintah telah menempel di tubuhnya dan menggigit, menghisap darahnya tanpa ia rasakan tadi!

Dengan bulu tengkuk berdiri dan mengkirik ia sibuk mencabuti dan meremas serta membanting lintah-lintah itu sehingga darah binatang-binatang itu berceceran ke mana-mana. Bukan darah binatang-binatang itu melainkan darahnya yang telah dihisap mereka! Siauw Bwee sampai hampir menelanjangi tubuhnya sendiri karena lintah-lintah itu ada yang menyelinap memasuki baju dan celananya, menggigit dan menghisap darah tanpa memilih tempat.

“Setan! Bedebah! Kurang ajar!” Siauw Bwee memaki-maki dan membunuhi lintah-lintah itu, dan setelah memeriksa semua tubuh dan pakaiannya, barulah ia memakai kembali pakaiannya. Sementara itu, matahari telah tenggelam. Ketika Siauw Bwee memandang ke sekeliling, dia tidak melihat lagi adanya dua orang temannya tadi, juga tidak dapat menduga ke mana larinya mereka yang tadi ketakutan dikeroyok burung.

Siauw Bwee mulai melangkah lagi melanjutkan usahanya keluar dari tempat itu. Dia tidak lagi dapat mencari kedua orang temannya, maka dia pun kini harus mengingat keadaannya sendiri. Dia harus dapat keluar dari daerah rawa yang amat luas ini. Dia mulai mencari-cari, akan tetapi tetap saja tidak dapat keluar, bahkan beberapa kali ia lewat lagi di tempat di mana dia dikeroyok burung karena di situ terdapat banyak bangkai burung berserakan di atas rawa!

“Tempat celaka! Neraka dunia!” Ia mengomel karena kini malam sudah mulai tiba, cuaca mulai gelap.

Tiba-tiba terdengar suara air berkecipakan. Dia memandang ke depan dan bukan main kagetnya ketika melihat serombongan ular berenang menyeberangi rawa menuju ke arah dia berdiri! Ular-ular yang besar kecil beraneka warna, ada yang putih, hijau, coklat, hitam dan merah! Kembali bulu tengkuk Siauw Bwee berdiri. Teringatlah ia akan ular-ular merah di bawah Istana Pulau Es. Tak jauh dari tempat ia berdiri terdapat sebatang pohon yang sudah tumbang tengahnya, tinggal merupakan tonggak, akan tetapi tingginya masih ada dua meter.

Cepat Siauw Bwee mengayun tubuh meloncat ke atas tonggak itu, berdiri tegak dan memandang ke bawah. Betapa ngeri hatinya ketika ia melihat ular-ular itu mulai berebut, memperebutkan bangkai-bangkai burung. Bangkai-bangkai burung yang terapung di atas air itu mereka serang, moncong-moncong ular dibuka lebar dan bangkai-bangkai dicaploki dan ditelan berikut bulu-bulunya sehingga tak lama kemudian beratus buah bangkai burung itu telah habis, pindah ke dalam perut ular-ular yang kini menggembung.

Pemandangan ini amat mengerikan hati Siauw Bwee sehingga tonggak yang ia injak bergoyang-goyang, tanda bahwa kakinya menggigil terbawa oleh hati yang ngeri. Baiknya dara perkasa ini sudah memiliki ginkang yang luar biasa, kalau tidak, ada bahayanya ia terguling jatuh dan dikeroyok ular saking ngerinya.

Malam telah tiba dan keadaan gelap sekali. Selagi Siauw Bwee kebingungan karena tidak mungkin kini ia berdiri terus semalam suntuk di atas tonggak, juga tidak mungkin dia meloncat turun tanpa mengetahui lebih dulu apakah ular-ular itu tidak berada di situ, tiba-tiba tampak olehnya sinar terang dari jauh.

Dari atas tonggak itu ia dapat menduga bahwa sinar itu adalah obor-obor yang dipegang orang. Karena rawa itu luas dan sinar obor-obor yang bersatu itu cukup terang, maka sebagian sinarnya dapat mencapai tempat Siauw Bwee. Giranglah hati Siauw Bwee ketika melihat bahwa ular-ular yang sudah kekenyangan itu kini merayap pergi, agaknya takut akan sinar obor.

Dengan bantuan sinar yang datang dari obor-obor itu, Siauw Bwee dapat meloncat turun ke tempat yang tidak ada ularnya, kemudian mulailah ia berlari dengan hati-hati menuju ke arah orang-orang yang membawa obor. Tadinya ia mengira bahwa kedua orang temannya yang membawa obor itu, akan tetapi kini tampak olehnya bahwa yang membawa obor adalah tiga orang, jadi jelas bukan dua orang temannya itu. Tiga orang itu membawa enam buah obor, masing-masing dua buah yang disatukan di satu tangan.

Apakah orang-orang berkaki buntung yang masih berusaha mengejar dan mencarinya? Siauw Bwee menggigit bibirnya dengan gemas. Aku telah menderita karena mereka, pikirnya. Dikeroyok burung, hampir dikeroyok ular dan benar-benar telah dikeroyok lintah! Dan merendam tubuhnya di air kotor berbau! Kalau dia bukan bekas penghuni Pulau Es, tentu sekarang telah menderita kedinginan luar biasa pula! Biarlah, mereka hanya bertiga, mungkin pimpinan mereka dan sekali ini aku akan membikin mereka tahu rasa!

Dengan hati gemas dan marah Siauw Bwee mempercepat larinya, berloncatan menghampiri tiga orang yang membawa obor itu dan setelah dekat ia tercengang karena tiga orang itu tidak memakai tongkat dan kini tampak jelaslah bahwa mereka bukan tiga orang berkaki buntung, melainkan tiga orang berlengan buntung sebelah! Kiranya mereka itu adalah tiga orang dari kaum lengan buntung!

Hati Siauw Bwee tertarik sekali dan juga girang. Sekarang ia mendapat kesempatan untuk keluar dari daerah rawa yang berbahaya itu! Diam-diam ia membayangi mereka dan benarlah dugaannya, tiga orang berlengan kiri buntung itu membawanya keluar dari daerah rawa dan memasuki sebuah hutan yang tandus.

Karena keadaan gelap dan penerangan obor itu tidaklah cukup menerangi daerah sekitarnya, maka Siauw Bwee tidak tahu jalan apa yang mereka tempuh sehingga dapat keluar dari daerah rawa, akan tetapi ternyata untuk keluar dari daerah rawa itu mereka telah menghabiskan waktu semalam suntuk!

Mereka telah memadamkan obor dan membuangnya karena malam telah terganti pagi ketika tiga orang itu berjalan cepat sekali menuju ke sebuah pondok bambu yang berdiri di tengah hutan tandus. Gerak kaki mereka ketika berlari itu cepat bukan main dan diam-diam Siauw Bwee kagum sekali. Gerakan orang-orang berlengan kiri buntung itu ternyata amat hebat dan dalam hal berlari cepat, jelas bahwa orang-orang berkaki buntung bukanlah lawan mereka ini! Dia sendiri harus mengerahkan ginkang-nya dan berlari cepat-cepat untuk dapat membayangi mereka agar tidak tertinggal.

Ketika tiga orang itu menghampiri pondok, Siauw Bwee menyelinap dan bersembunyi sambil mengintai. Pakaiannya sudah kering kembali, akan tetapi robek-robek di bagian lutut, paha, betis dan lengan kanan kiri. Burung-burung sialan, ia memaki. Bekal pakaiannya masih tertinggal di atas punggung kuda hitamnya yang sekarang entah bagaimana nasibnya.

Siauw Bwee memandang heran ketika melihat seorang laki-laki tua renta dan bertubuh kurus kering duduk di atas bangku bambu depan pondok itu. Laki-laki itu keadaannya amat menyedihkan. Kedua kakinya buntung sebatas paha, lengan kirinya juga buntung seperti tiga orang pendatang itu dan yang tinggal hanyalah lengan kanannya yang kurus dan yang memegang sebatang tongkat seperti milik para anggota kaum kaki buntung. Siauw Bwee memandang heran dan menduga. Termasuk golongan manakah kakek itu?

Lengan kirinya buntung seperti tiga orang pendatang itu, akan tetapi belum tentu dia merupakan anggota kaum lengan buntung karena kakinya juga buntung, tidak hanya kaki kanan, bahkan kedua-duanya! Dan kakek itu duduk tanpa kaki seperti orang sedang bersila. Tangan kanannya memegang tongkat yang melintang di depannya, lengan baju kiri tergantung lepas tanpa isi, kedua matanya terpejam seolah-olah dia tidak tahu akan kedatangan tiga orang itu.

Siauw Bwee mengalihkan pandangnya. Di antara tiga orang lengan buntung ini tidak seorang pun pernah dilihatnya di antara mereka yang dulu pernah dilihatnya ketika lima orang lengan buntung membawa tawanan seorang kaki buntung. Yang seorang adalah seorang nenek yang mukanya masam dan kelihatan galak. Yang ke dua adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan, lebih muda dari pada Si Nenek, sikapnya gagah dan agaknya dia yang memimpin rombongan tiga orang itu. Orang ke tiga adalah seorang laki-laki bermuka tampan akan tetapi membayangkan kesombongan. Ketiganya kini berdiri di depan kakek tua renta itu, kemudian terdengarlah laki-laki tinggi tegap yang memimpin rombongan itu berkata,

“Twa-supek, kami diperintah oleh Suhu untuk memperingatkan Supek yang terakhir kalinya agar supek suka memberitahukan rahasia gerak tangan kilat kaum kaki buntung!” Biar pun laki-laki itu menyebut twa-supek (uwa guru tertua), namun nada suaranya amat tidak menghormat, bahkan mengandung ancaman dan kekerasan.

Kakek itu membuka matanya dan terkejutlah Siauw Bwee menyaksikan betapa sinar mata kakek tua renta itu mengandung penderitaan seperti mata orang yang sakit berat! Kemudian terdengar kakek itu berkata lirih, “Sudah kukatakan bahwa aku tidak sudi mencampuri permusuhan terkutuk itu! Pergilah kalian!”

“Twa-supek! Kalau begitu benar keterangan para penyelidik bahwa supek menerima kedatangan orang-orang berkaki buntung, tentu supek telah membuka rahasia ilmu kami!”

“Benar, mereka datang pula ke sini membujuk, akan tetapi aku tidak sudi pula membantu mereka. Seperti juga kaum lengan buntung, kaum kaki buntung adalah anak muridku pula. Betapa aku sudi membantu mereka yang saling bermusuhan sendiri?”

“Twa-supek! Kiranya sampai sekarang, setelah menerima kutukan dari roh para nenek moyang, Twa-supek masih saja mengkhianati sumpah...”

“Sudahlah, tutup mulutmu!” Kakek itu membentak.

Orang itu melotot marah. “Orang tua, biar pun engkau terhitung supek sendiri, akan tetapi engkau telah hampir mati, hanya mempunyai sebuah lengan saja. Kalau kami turun tangan, apakah kau sanggup melawan kami?”

Kakek itu menundukkan kepalanya. “Hanya kesesatan itu yang belum kalian lakukan, kalau kalian hendak membunuhku, silakan!”

Siauw Bwee terkejut ketika mendengar suara kakek itu. Teringatlah ia akan suara yang dikirim dengan ilmu Coan-im-jip-bit dan yang telah menolongnya dari serangan burung-burung liar. Kini mendengar ancaman laki-laki lengan buntung, Siauw Bwee tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia menggenjotkan kakinya dan tubuhnya melayang cepat sekali, tahu-tahu telah berdiri di depan laki-laki tinggi tegap yang menyerang kakek itu dengan kata-kata keras tadi.

“Engkau manusia yang tak tahu aturan!” Siauw Bwee tidak memberi kesempatan kepada tiga orang itu untuk pulih kembali dari rasa kaget mereka melihat munculnya seorang dara yang gerakannya seperti burung walet. “Tidak menghormati supek sendiri, dan tidak menghiraukan alasan-alasan yang begitu bijaksana, melainkan bersikap seperti tiga ekor kerbau gila yang hanya bertindak karena dorongan nafsu bermusuhan dan haus darah! Kalian hendak membunuh Locianpwe ini? Hi-hik, bicara sih mudah! Baru melawan aku saja kalian sudah takkan bisa menang, apa lagi melawan Locianpwe ini!”

Tiba-tiba muncul seorang dara jelita yang masih remaja dan datang-datang memaki-makinya membuat laki-laki tinggi tegap bertangan satu itu tercengang dan sejenak tak dapat berkata-kata. Akan tetapi kemudian timbul kemarahannya. Dia tadi hanya mengancam saja dan sama sekali bukan bermaksud menyerang, apa lagi membunuh kakek itu. Karena ancamannya itu kini disaksikan orang luar, tentu saja hal ini amat memalukan dan merendahkan dirinya, maka dia amat marah.

“Bocah siluman dari mana berani mencampuri urusan kami?!” bentaknya.

“Bocah dari mana tak perlu kau tahu. Pendeknya, lekas kau mentaati petintah Locianpwe ini untuk segera angkat kaki dari tempat ini, kalau tidak, jangan sesalkan aku menggunakan kekerasan mengusir kalian bertiga!”

Ucapan ini tekebur sekali dan tentu saja murid kepala kaum lengan buntung itu saking marahnya sampai memandang dengan mata mendelik. “Bocah kurang ajar! Engkau ada hubungan apakah dengan kakek itu?”

“Bukan sanak bukan teman, akan tetapi aku akan melindunginya dari keganasan kalian!”

“Hemm, kulihat engkau masih amat muda, masih bocah. Ingat lebih baik jangan mencampuri urusan kaum lengan buntung kalau kau sayang nyawamu.”

“Tentu saja aku sayang nyawaku, akan tetapi aku siap membelanya dengan nyawaku karena aku yakin nyawaku tidak akan apa-apa kalau hanya melawan orang-orang kejam macam kalian!”

“Keparat!” Laki-laki itu tak dapat menahan kesabarannya lagi dan ia sudah menerjang dengan sambaran lengan baju kirinya ke arah muka Siauw Bwee dan tangan kanannya sudah cepat mengirim susulan dengan tonjokan ke arah leher! Gerakannya ini cepat sekali, namun terlalu lambat bagi Siauw Bwee yang sudah dapat mengelak dengan jalan menarik muka ke belakang, kemudian menggerakkan tangan kiri menangkis tangan kanan yang memukul.

“Plakk!” Tubuh laki-laki itu hampir terjengkang ke belakang sehingga ia mengeluarkan seruan kaget dan heran.

Siauw Bwee tidak peduli dan sudah menerjang maju dengan tamparan kedua tangannya susul-menyusul. Akan tetapi kini dara ini yang merasa kaget karena tubuh laki-laki itu dengan amat indah dan cepatnya sudah bergerak dan semua tamparannya luput! Kiranya laki-laki itu mempunyai gerak langkah yang amat luar biasa dan tiba-tiba saja kaki kiri laki-laki itu menyambar amat dahsyat dan cepatnya!

Siauw Bwee makin terkejut dan hanya dengan loncatan ke samping secara cepat ia dapat menghindar. Namun dengan langkah-langkah yang aneh dan berputar, laki-laki itu telah berada di belakangnya dan lengannya mencengkeram kepala, disusul tendangan lagi yang akan melontarkan tubuh seekor kerbau bunting saking kuatnya!

“Ayaaaa...!” Siauw Bwee berteriak dan tubuhnya mencelat ke atas tinggi sekali, kemudian dari atas, ketika tubuhnya meluncur turun, dia telah menggerakkan kedua tangannya melakukan gerakan mendorong.

Laki-laki itu kagum sekali menyaksikan ginkang yang begitu sempurna, akan tetapi ia juga girang karena kalau tubuh itu turun ia akan dapat menyambut dengan serangan dahsyat. Siapa kira, dari telapak kedua tangan dara itu menyambar hawa yang kuat dan ketika ia berusaha menangkis, hawa dingin yang luar biasa membuat tubuhnya menggigil dan dia terhuyung-huyung.

“Aihhh...!” Laki-laki itu berseru keras dan kini kedua orang saudara seperguruannya sudah menerjang maju mengeroyok Siauw Bwee.

“Bagus, majulah semua kalian orang-orang tak tahu malu!” Siauw Bwee mengejek, akan tetapi segera ia mendapat kenyataan bahwa dikeroyok tiga oleh orang-orang itu benar-benar merupakan lawan amat berat!

Tingkat sinkang dan ginkang mereka tidaklah seberapa hebat, akan tetapi dia dibikin bingung oleh gerak langkah mereka yang amat luar biasa itu. Teringatlah ia akan penuturan Cia Cen Thok bahwa kaum lengan buntung ini telah mencipta semacam ilmu silat yang disebut gerak kaki kilat. Siauw Bwee harus mengerahkan seluruh kepandaiannya dan kini dia terdesak terus. Sungguh pun dengan ilmu silatnya yang tinggi, sinkang-nya yang kuat dan ginkang-nya yang sempurna dia dapat selalu mengelak atau menangkis, namun dia tidak diberi kesempatan membalas sama sekali. Terkejutlah dara perkasa itu karena mendapat kenyataan bahwa kaum lengan buntung ini benar-benar memiliki keistimewaan seperti yang dimiliki kaum kaki buntung dengan gerak tangan kilat mereka!

Tiba-tiba terdengar kelepak sayap yang riuh-rendah dan tiba-tiba udara di situ menjadi gelap tertutup bayangan dari atas. Tiga orang lengan buntung itu memandang ke atas dan seketika wajah mereka menjadi pucat sekali. Kini kelepak sayap itu ternyata bukanlah sayap melainkan suara cecowetan separti suara kera yang banyak sekali dan dari mulut tiga orang lengan buntung itu terdengar jerit ketakutan.

“Celaka...! Kelelawar siang!”

Siauw Bwee menjadi heran sekali melihat tiga orang itu menjatuhkan diri berlutut dan menutupi kepala mereka dengan tubuh menggigil ketakutan. Dia mendongak dan apa yang dilihatnya membuat ia hampir menjerit. Yang disebut kelelawar siang itu memang sesungguhnya kelelawar, akan tetapi banyaknya bukan main, sama banyaknya dengan burung-burung yang menyerangnya kemarin! Dan yang hebat, kelelawar-kelelawar itu agaknya berbeda dengan kelelawar biasa, tidak takut sinar matahari dan tubuh mereka hitam seperti arang! Biar pun merasa ngeri sekali, akan tetapi Siauw Bwee tidak mau bersikap penakut seperti tiga orang bekas lawan itu, maka ia masih berdiri tegak dan siap melakukan perlawanan.

“Nona, lekas berlutut serendah mungkin. Kelelawar-kelelawar itu tidak akan menyerang lebih tinggi dari satu meter di atas tanah, dan gigitannya seekor saja cukup membuat manusia menjadi gila!”

Mendengar suara lirih di dekat telinganya yang sama dengan suara ketika dia dikeroyok burung, Siauw Bwee terkejut. Pada saat itu beberapa ekor kelelawar sudah menyambar turun mengarah kepalanya! Menjadi gila kalau digigit? Dia makin ngeri dan tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut seperti yang dilakukan tiga orang lengan buntung, hanya dia tidak menutup kepalanya melainkan memandang ke atas penuh perhatian.

Tiba-tiba terdengar bunyi melengking tinggi dan nyaring. Siauw Bwee menoleh dan melihat bahwa suara itu keluar dari mulut Si Kakek Tua, suara yang dikeluarkan dengan pengerahan sinkang yang tinggi. Aneh sekali, ketika terdengar suara melengking tinggi penuh getaran ini, kelelawar-kelelawar itu menjadi kacau-balau terbangnya, menabrak sana sini dan kelihatan panik. Akan tetapi, sebelum suara itu cukup kuat untuk mengusir semua kelelawar, suara itu makin melemah dan Siauw Bwee melihat kakek itu terengah-engah kehabisan tenaga.

Siauw Bwee adalah seorang dara yang cerdik. Melihat ini, maklumlah bahwa cara mengeluarkan lengkingan itu adalah cara untuk mengusir binatang-binatang mengerikan itu dan bahwa pada saat itu Si Kakek yang lihai sedang menderita sakit, maka pengerahan sinkang yang kuat membuatnya kehabisan tenaga. Maka dia lalu mengerahkan sinkang dan keluarlah suara melengking tinggi dengan getaran kuat dari dalam dada Siauw Bwee.

Dia hampir menari kegirangan ketika melihat hasil tiruannya. Binatang-binatang itu menjadi makin panik dan kacau, beterbangan membubung setinggi mungkin, agaknya untuk menghindari getaran lengkingan maut itu dan tak lama kemudian mereka sudah terbang tinggi dan jauh, lenyap dari pandangan mata. Barulah Siauw Bwee menghentikan lengkingannya dan ia meloncat berdiri memandang tiga orang lengan buntung yang juga sudah berdiri dengan muka pucat.

“Mau dilanjutkan?” Siauw Bwee menantang berani.

“Kalian bertiga tidak lekas pergi? Melawan Nona ini berarti mencari mati sia-sia!” kata Si Kakek Tua.

Tiga orang itu sudah melihat bukti kelihaian Siauw Bwee. Selain merasa gentar, juga mereka tahu bahwa berkat pertolongan gadis itulah maka mereka lolos dari bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut, maka tanpa berkata-kata mereka lalu berlari pergi.

Siauw Bwee membalikkan tubuh memandang kakek tua itu. “Locianpwe, kau sedang menderita sakit.”

Kakek itu mengangguk, tersenyum dan lengan tunggalnya melambai. “Ke sinilah, anak baik. Siapa namamu?”

“Nama saya Khu Siauw Bwee, Locianpwe.”

“Ha-ha-ha, jangan menyebut locianpwe. Kepandaianmu lebih hebat dari pada sedikit ilmu yang kumiliki. Sungguh sukar dipercaya bahwa seorang dara semuda engkau telah memiliki sinkang yang sedemikian hebat. Siapakah gurumu?”

Siauw Bwee sudah mendapat pesan suheng-nya bahwa mereka bertiga tidak boleh menyebut-nyebut nama Bu Kek Siansu, sesuai dengan pesan kakek manusia dewa itu. Maka dia menjawab menyimpang, “Guruku tidak boleh disebut namanya, aku hanya belajar dari suhengku yang bernama Kam Han Ki. Locianpwe jangan terlalu memuji dan membuatku menjadi bangga dan sombong.”

Kembali kakek itu tertawa. “Engkau benar-benar masih bocah. Eh, Nona yang baik, engkau selain lihai juga rendah hati, dan hatimu amat baik penuh budi dan welas asih. Engkau belum mengenal aku akan tetapi engkau berani mempertaruhkan nyawa untuk membelaku mati-matian.”

Siauw Bwee tertawa manis dan dia berkata, “Aihhh, Locianpwe membikin aku merasa malu saja. Aku tidaklah sebaik yang Locianpwe katakan. Tentu saja aku membela mati-matian kepada Locianpwe yang telah menolongku kemarin.”

Mata kakek itu terbelalak. “Menolongmu? Apa maksudmu, Nona?”

“Waah, Locianpwe pandai berpura-pura lagi. Siapakah yang kemarin menggunakan ilmu Coan-im-jip-bit menyelamatkan aku dari serangan burung-burung gila? Kalau tidak ada pertolongan Locianpwe, agaknya aku akan mati di tengah rawa!”

“Ah, engkaukah orangnya? Aku tidak mengenal siapa orangnya karena dari jauh. Aku kebetulan berjalan-jalan di dekat rawa dan melihat orang dikeroyok burung elang. Kiranya engkaukah orangnya?”

Hati Siauw Bwee menjadi geli. Orang tidak mempunyai sebuah kaki pun, bagaimana bisa berjalan-jalan? Ingin dia menyaksikan bagaimana orang tak berkaki bisa berjalan.

“Akulah orangnya, Locianpwe. Dan aku mengucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu itu,” Siauw Bwee menjura dengan hormat.

Kakek itu tertawa bergelak dan sejenak wajahnya yang muram itu berseri gembira. “Wah, pengakuanmu ini meningkatkan pandanganku terhadap dirimu, Nona. Di samping segala kebaikanmu, engkau jujur dan ingat budi pula! Engkaulah orangnya. Ya, engkaulah orangnya yang akan dapat menolong kedua kaum yang saling bermusuhan sehingga setiap tahun mengorbankan banyak nyawa manusia tidak berdosa. Aku mohon kepadamu, Nona. Sukakah engkau mewakili aku menyelamatkan mereka!”

Siauw Bwee mengerutkan alisnya. Sikap kakek itu benar-benar patut dikasihani. Dalam keadaan seperti itu masih mementingkan keselamatan orang lain, keselamatan kaum buntung kaki dan buntung lengan yang memperlakukannya dengan buruk.

“Apakah maksudmu, Locianpwe? Mereka itu saling bermusuhan dan kedua pihak amat lihai. Bagaimana aku dapat mencampuri dan betapa mungkin aku dapat menolong dua pihak yang saling bermusuhan?”

“Duduklah, Nona, dan dengarkan ceritaku.”

Siauw Bwee memang tertarik sekali akan permusuhan kedua kaum yang cacat itu, yang sebagian sudah ia dengar dari Cia Cen Thok, maka ia lalu duduk di atas dipan bambu di sebelah kakek itu.

“Tahukah engkau mengapa kedua kaum yang bercacat itu saling bermusuhan, Nona?”

Siauw Bwee mengangguk. “Permusuhan mereka ditanam oleh kedua orang saudara seperguruan yang bermusuhan dan dalam pertandingan, seorang kehilangan kaki kanan dan yang seorang lagi kehilangan lengan kiri.”

“Benar, dan aku tadinya adalah seorang di antara kaum lengan buntung itu. Akan tetapi, sejak dahulu aku tidak menyetujui permusuhan antara saudara sendiri, karena kaum kaki buntung dan kaum lengan buntung sebenarnya adalah saudara-saudara seperguruan. Apa lagi cara mereka menerima murid-murid yang harus dibuntungi kaki atau lengannya seperti kaum mereka, benar-benar merupakan perbuatan yang amat keji. Aku adalah suheng dari The Bian Le dan aku berusaha membujuk sute-ku yang menjadi ketua kaum lengan buntung sekarang untuk berdamai dengan pihak kaki buntung. Pada waktu itu akulah yang menjadi ketua kaum lengan buntung. Usul itu diterima dengan penuh kemarahan dan mereka memberontak. Aku yang menjadi ketua mereka malah mereka anggap pengkhianat sumpah leluhur dan aku dikeroyok, kemudian kaki kananku mereka buntungkan dan aku diusir dengan kata-kata menghina bahwa aku berpihak kepada kaum kaki buntung.”

Kakek itu menundukkan mukanya dan menarik napas panjang, Siauw Bwee mengepal tangannya dan berkata, “Betapa kejamnya!”

Kakek itu menggeleng kepala, “Mereka patut dikasihani, Nona. Aku tidak menyesal karena kakiku dibuntungi sebelah, melainkan menyesal bahwa usahaku itu gagal sama sekali. Aku lalu pergi ke tempat kaum kaki buntung. Biar pun kaki kananku sudah buntung seperti lengan kiriku, aku tidak putus harapan dan berusaha menghubungi Liong Ki Bok, ketua mereka yang sebenarnya kalau diperhitungkan malah sute-ku sendiri pula. Akan tetapi, karena tadinya aku adalah ketua kaum lengan buntung, aku dicurigai dan malah di sana aku dikeroyok dan kaki kiriku dibuntungi pula.”

“Ahhh... Biadab! Jahat benar mereka itu!”

Kembali kakek itu menggeleng kepala. “Mereka, kedua pihak telah dibikin mabok oleh dendam permusuhan. Akulah orangnya yang patut disesalkan karena berusaha mendamaikan mereka. Akan tetapi aku malah tetap penasaran dan aku takkan dapat mati dengan meram kalau belum berhasil mendamaikan mereka.” Kakek itu kelihatan berduka sekali dan diam-diam Siauw Bwee merasa terharu dan kasihan, juga kagum menyaksikan iktikad baik yang tak kunjung padam dari hati kakek yang tubuhnya sudah cacat seperti itu.

“Apa hubungannya semua itu dengan aku, Locianpwe? Kalau engkau sendiri yang tadinya adalah ketua kaum lengan buntung sama sekali tidak dapat mendamaikan mereka bahkan dianggap pengkhianat, bagaimana aku akan dapat mengusahakannya?”

“Dengan jalan lain pasti dapat, Khu-lihiap. Akan tetapi dengarlah dulu ceritaku. Aku terasing di antara mereka kedua pihak. Dengan tekad untuk tetap hidup dan terus berusaha mendamaikan mereka, aku dapat menyeret tubuhku dengan hanya lengan kanan ini sampai ke tempat ini, terpencil dan terasing. Sepuluh tahun lamanya aku berdiam di sini, menggembleng diri dan terutama sekali mempelajari rahasia ilmu-ilmu kedua pihak yang sesungguhnya memang sesumber. Dan ketekunanku selama sepuluh tahun ini berhasil baik, Nona! Aku telah memecahkan kedua ilmu mereka, maksudku aku telah menemukan cara pemecahannya dan cara untuk menundukkan ilmu gerak tangan kilat dari kaum kaki buntung dan ilmu gerak kaki kilat dari kaum lengan buntung. Dengan ilmu ini mereka tentu akan dapat ditundukkan kalau perlu dengan kekerasan!”

Wajah Siauw Bwee berseri, dia ikut merasa gembira akan hasil kakek itu yang akan dapat memenuhi cita-cita hidupnya, yaitu menundukkan dan mendamaikan kedua kaum yang bersaudara akan tetapi permusuhan itu. “Bagus sekali, Locianpwe. Kalau begitu, Locianpwe pergunakan saja ilmu itu untuk menghajar orang-orang keras kepala itu!” serunya.

“Nona, lihatlah keadaanku. Aku hanya mempunyai sebuah lengan dan aku... karena terlalu tekun menggembleng diri dengan ilmu-ilmu itu, aku menderita sakit jantung yang hebat dan takkan terobati lagi. Biar pun semua teori silat mereka sudah berada di telapak tanganku kalau aku hanya mempunyai satu lengan saja, bagaimana mungkin aku dapat menghadapi mereka?”

“Ohhh... Maafkan aku, Locianpwe,” Siauw Bwee berkata dengan muka merah karena dalam kegembiraannya tadi ia sampai lupa bahwa kakek itu tubuhnya tidak lengkap lagi.

“Tidak apa, Nona. Bahkan akulah yang minta maaf kepadamu karena berani minta engkau seorang luar untuk mewakili aku...”

“Maksudmu...?”

“Ilmu kepandaianmu hebat, Nona. Baik Liong Ki Bok mau pun The Bian Le, malah aku sendiri tidak akan dapat menandingimu. Engkau tentu murid seorang yang amat sakti. Akan tetapi, kalau engkau dikeroyok dan menghadapi ilmu silat gerak tangan sakti dan gerak kaki sakti, engkau yang masih kurang pengalaman tentu akan menjadi bingung sehingga keadaanmu akan berbahaya. Akan tetapi kalau engkau kuberi pelajaran rahasia tentang kedua ilmu itu dan pemecahannya, dengan mudah engkau akan dapat mengalahkan mereka. Nona, sudikah engkau memenuhi permintaan seorang tua yang sudah hampir mati dan sudikah engkau membiarkan aku mati dalam keadaan meram dan tenang karena menyaksikan kedua kaum itu telah dapat dipaksa berdamai?” Kakek itu suaranya seperti orang akan menangis dan disambungnya dengan suara parau. “Andai kata aku memiliki dua buah kaki, aku akan berlutut memohon kepadamu, Khu-lihiap!”

Siauw Bwee merasa terharu sekali. Dia memiliki watak yang halus dan perasa, penuh welas asih, bagaimana mungkin ia dapat menolak permintaan itu? “Aihh, Locianpwe harap jangan terlalu sungkan. Aku sudah Locianpwe tolong dari ancaman maut dikeroyok burung-burung liar dan aku belum dapat membalas budi itu. Tentu saja aku akan berusaha untuk memenuhi permintaanmu.”

“Terima kasih, Lihiap! Semoga Tuhan memberkatimu! Dan jangan bicara tentang budi pertolongan dariku, karena aku tahu bahwa tanpa kunasehatkan untuk menyelam juga, burung-burung gila itu mana mungkin dapat menjatuhkan seorang seperti Lihiap? Nah, marilah kita mulai dengan latihan ilmu-ilmu tangan kilat dan kaki kilat, Nona. Waktu untuk pibu (mengadu ilmu) di antara mereka tiga bulan lagi, cukup lama bagimu untuk menguasai kedua ilmu itu dan kelak, dalam pertandingan pibu Nona dapat maju dan mengalahkan mereka. Kalau ketua mereka kalah olehmu, tentu mereka tidak berani membantah dan akan memenuhi permintaan Lihiap untuk berdamai dan bersumpah mengubur semua permusuhan di antara kedua kaum!”

Waktu tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar dan berarti bahwa perjalanan akan tertunda selama tiga bulan. Akan tetapi waktu itu tidak dibuang sia-sia, dan sebagai seorang ahli silat seperti Siauw Bwee, tentu saja akan girang sekali menerima pelajaran dua macam ilmu yang demikian hebat. Apa lagi kalau diingat bahwa dia sedang melakukan tugas yang mulia, yaitu berusaha mendamaikan permusuhan semua saudara sehingga kalau berhasil berarti dia telah menyelamatkan entah berapa banyak nyawa yang setiap tahun pasti ada yang jatuh menjadi korban pibu.

Demikianlah, mulai hari itu, Siauw Bwee menerima petunjuk-petunjuk kakek cacat itu, melatih diri dengan ilmu gerak tangan kilat dan gerak kaki kilat. Karena dasar ilmu silatnya malah lebih tinggi tingkatnya dari pada kedua ilmu itu, dia dapat melatih diri dengan mudah dan hasilnya amat hebat, lebih hebat dari pada kalau kedua ilmu itu dilatih oleh tubuh Si Kakek sendiri andai kata dia tidak bercacat!

******************


Terpaksa kita tinggalkan dulu Siauw Bwee yang setiap hari tekun berlatih kedua macam ilmu silat istimewa itu dan sebaiknya kita mengikuti perjalanan Kam Han Ki, karena hal ini untuk memperlancar jalannya cerita.

Telah kita ketahui betapa Kam Han Ki merana hatinya, seolah-olah kehilangan semangat dan gairah hidup ketika kedua orang sumoi-nya meninggalkan Istana Pulau Es sehingga dia tinggal seorang diri di Pulau Es. Karena tidak dapat menahan kesepian yang menggerogoti hatinya, juga karena khawatir akan keadaan kedua orang sumoi-nya, Han Ki lalu membuat sebuah perahu dan berlayarlah dia meninggalkan Pulau Es dengan maksud hendak mencari kedua orang sumoi-nya, atau setidaknya, seorang di antara mereka.

Setelah mendarat di tepi pantai daratan Tiongkok, pemuda ini menjadi bingung karena dia tidak tahu di sebelah mana kedua orang sumoi-nya mendarat dan ke mana pula mereka pergi. Akan tetapi dia berjalan terus ke barat dan di sepanjang jalan dia berusaha menemukan jejak kedua orang sumoi-nya dengan bertanya-tanya kepada orang-orang yang dijumpainya di jalan.

Akan tetapi sampai berpekan-pekan ia melakukan perjalanan, belum juga ia mendapatkan jejak kedua orang sumoi-nya. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang ditanyainya pernah melihat dua orang gadis itu, sebaliknya, Han Ki mendengar akan keadaan kerajaan baru yang makin luas saja wilayahnya, yaitu Kerajaan Cin yang dibangun oleh bangsa Yucen.

Kini di daerah utara hampir seluruh wilayah Kerajaan Sung telah terjatuh ke tangan Kerajaan Cin. Dan dia mendengar pula tentang pergolakan di Kerajaan Sung, tentang para pembesar yang memberontak dan berdiri sendiri-sendiri menguasai wilayah masing-masing. Mendengar pula akan pergerakan bangsa Mancu di samping bangsa Yucen.

Ketika ia mendengar bahwa dia memasuki daerah yang telah dikuasai bangsa Yucen yang mulai mengangkat pejabat-pejabat daerah sebagai pegawai Kerajaan Cin, teringatlah Han Ki akan kekasihnya, Sung Hong Kwi yang dahulu akan dikawinkan dengan Raja Yucen. Timbul hasrat hatinya untuk mendengar berita tentang kekasihnya itu, dan kalau mungkin... menjumpainya! Masih hidupkah Hong Kwi kekasihnya itu? Apakah kini telah menjadi seorang yang mulia di Kerajaan Cin? Ataukah hanya menjadi selir rendahan saja?

Hatinya terasa perih kalau ia mengingat akan cerita betapa raja-raja yang berkuasa, seperti halnya Kaisar Kerajaan Sung, paling suka mempermainkan wanita dan setiap hari berganti wanita, yang lama dicampakkan begitu saja. Jangan-jangan seperti itu pula nasib Hong Kwi. Kekhawatiran ini mendorong hasratnya untuk menyelidiki keadaan Hong Kwi.

Akhirnya karena dorongan hasrat ingin bertemu bekas kekasihnya tak dapat ditahannya lagi, Han Ki mendatangi kota raja Yucen dan pada suatu malam berhasil menyelundup masuk ke taman Istana Raja Yucen! Dilihatnya bahwa dia telah memasuki harem (keputren, tempat selir-selir raja) dan ketika ia melihat beberapa orang wanita cantik berpakaian indah bersendau-gurau di dekat kolam ikan, ia lalu melompat ke dekat mereka. Wanita-wanita itu terkejut dan menjerit, akan tetapi Han Ki mengangkat tangannya dan berkata halus,

“Harap kalian jangan takut. Aku datang tidak berniat buruk, hanya ingin bertemu dengan Sung Hong Kwi. Adakah dia di sini?”

Ketika melihat bahwa yang muncul seperti setan itu adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, lenyaplah rasa takut wanita-wanita itu dan di antara mereka bahkan ada yang tersenyum-senyum dan melirik-lirik tajam. Mereka adalah wanita-wanita yang selalu dikurung dan hanya kadang-kadang melayani Raja Yucen yang sudah tua, tentu saja jantung mereka berdebar tegang dan aneh ketika berhadapan dengan seorang pemuda tampan dan gagah seperti itu.

Seorang di antara mereka yang paling berani segera berkata, “Engkau sungguh berani mati memasuki tempat ini. Bagaimanakah engkau tidak ditangkap dan dibunuh oleh para pengawal yang menjaga di luar?”

“Hal itu tidak penting. Yang penting, adakah Sung Hong Kwi di sini? Aku ingin berjumpa dengan dia.”

“Siapa itu Sung Hong Kwi? Kami tidak mengenalnya dan tidak pernah mendengar namanya.”

Han Ki mengerutkan kening. Salahkah dugaannya bahwa kekasihnya itu diboyong oleh Raja Yucen? “Lima tahun yang lalu, ada seorang puteri Kerajaan Sung dikawinkan dengan Raja Yucen...”

“Ohhh! Kau maksudkan dia?” Seorang selir yang usianya paling tua, kurang lebih tiga puluh tahun akan tetapi masih amat cantik segera berkata, “Puteri yang rewel itu? Dia tidak menjadi selir sribaginda, akan tetapi diberikan kepada Pangeran Dhanu yang tergila-gila kepadanya. Aihhh, kasihan Pangeran Dhanu yang tampan, rela tidak memelihara selir akan tetapi isterinya itu selalu merongrongnya!”

Han Ki terkejut. “Pangeran Dhanu? Di mana istananya?”

Wanita itu tertawa. “Mana ada waktu beristirahat dengan tenang di istana? Isterinya, Puteri Sung itu terlalu rewel, bahkan kini kabarnya sakit sehingga diajak tetirah ke Hutan Bunga Bwee di tepi sungai.”

“Di mana tempat itu?”

“Ihh, mau apa sih engkau mencari puteri yang sakit-sakitan? Di sini banyak...”

“Lekas katakan!” Han Ki membentak marah ketika mendengar wanita-wanita itu mulai tertawa memikat. “Kalau tidak terpaksa aku akan membunuh kalian!” Ia sengaja mengancam dan berhasillah dia karena wanita-wanita itu menjadi pucat dan ketakutan.

“Di luar kota raja, di sebelah utara, dekat sungai ada hutan penuh bunga bwee dan sudah beberapa hari mereka di sana... aihhh...!” Wanita itu dan teman-temannya menjerit ketika tiba-tiba tubuh Han Ki berkelebat dan pemuda gagah itu sudah lenyap dari depan mereka.

“Setan...! Siluman...!” Mereka berteriak-teriak sambil melarikan diri. Ada yang terkencing-kencing ketakutan dan bahkan ada yang pingsan di tempatnya! Semenjak malam itu sampai beberapa lama pemuda itu menjadi bahan percakapan para selir dengan penuh rasa ngeri dan juga rindu!

Akan tetapi ketika Han Ki tiba di hutan yang dimaksud, ia terkejut menyaksikan bekas-bekas pertempuran dan mendapat kabar bahwa malam tadi tempat itu diserbu oleh gerombolan pasukan Mancu yang memang telah bermusuhan dengan pihak Yucen. Di sana tergeletak banyak mayat-mayat bangsa Mancu dan Yucen, dan ketika dia tiba di situ, pasukan Yucen sedang mengangkuti mayat-mayat itu dan melakukan penjagaan ketat. Namun, dengan kepandaiannya yang tinggi Han Ki berhasil mendekati sampai di luar perkemahan yang ditinggali Pangeran Dhanu dan isterinya. Di luar perkemahan dia dihadang oleh para pengawal.

“Berhenti! Siapa engkau dan ada keperluan apa?” bentak pengawal-pengawal itu. ”Aku hendak berjumpa dengan Pangeran Dhanu. Aku adalah... seorang saudara dari isterinya, hendak menengoknya karena kabarnya ia sedang sakit.”

Para pengawal mengepungnya dengan pandang mata curiga. “Sang Pangeran sedang sibuk, Sang Puteri sakit keras...”

Tiba-tiba Han Ki meloncat ke dalam kemah, gerakannya amat cepat sehingga para pengawal itu sejenak melongo karena kehilangan pemuda itu. Baru mereka tahu bahwa pemuda itu menerobos masuk ketika mendengar pemuda itu menjerit, “Hong-Kwi...!”

Mendengar kekasihnya sakit keras, pemuda itu seperti gila dan nekat menerobos sambil memanggil nama kekasihnya.

“Han Ki Koko...? Ohhh...”

Suara ini cukup bagi Han Ki. Dia mengerahkan tenaganya dan tubuhnya berkelebat memasuki sebuah kamar di dalam perkemahan besar itu dan dia berdiri pucat dengan mata terbelalak memandang tubuh kekasihnya yang rebah telentang seperti mati di atas pembaringan. Di kepala pembaringan itu duduk seorang laki-laki yang berkumis tipis berpakaian indah dan bersikap gagah namun wajahnya diliputi kedukaan besar. Laki-laki ini meloncat bangun dan tangannya meraba gagang pedangnya. Seorang pelayan wanita mundur-mundur ketakutan memandang Han Ki.

Wajah Hong Kwi pucat sekali, matanya sayu dan rambutnya yang hitam itu terurai lepas, tubuhnya kelihatan lemah. Dia memandang Han Ki, beberapa kali bibirnya bergerak namun tidak ada suara keluar. Air mata seperti butiran-butiran mutiara menetes turun dan akhirnya dia dapat juga bersuara,

“Han Ki Koko... kau datang...? Ahh, Koko... bawalah aku pergi... bawalah...!” Kedua lengannya diangkat lemah, diulurkan ke arah Han Ki, akan tetapi tiba-tiba kedua lengannya terkulai kembali di atas pembaringan. Mukanya yang tadinya menghadap ke Han Ki itu tergolek ke kiri, matanya terpejam, hanya mulutnya yang masih agak terbuka seolah-olah dia belum selesai bicara.

“Hong Kwi...!” Han Ki tidak mengenal suaranya sendiri, suara yang terhenti di kerongkongannya.

“Isteriku...!” Pangeran Dhanu, laki-laki gagah itu menubruk dan menangis. Ia kemudian meloncat bangun, memandang Han Ki dan berkata dengan air mata masih menetes-netes, “Jadi engkaukah Kam Han Ki, laki-laki kejam yang menghancurkan hati isteriku? Engkau datang hanya untuk menyaksikan kematiannya? Betapa kejam engkau!”

Ucapan ini bagaikan petir menyambar karena seolah-olah Han Ki baru tahu bahwa kekasihnya telah meninggal dunia. Dia menubruk ke depan, dipegangnya tangan kanan Hong Kwi, diguncang-guncangnya pundak mayat itu. “Hong Kwi... Hong Kwi...! Ini aku Kam Han Ki! Aku telah datang. Hong Kwi...! Hong Kwi, bukalah matamu, pandanglah aku, bicaralah...!”

Menyaksikan sikap pemuda itu, Pangeran Dhanu agak berkurang kemarahannya dan memandang dengan kening berkerut. Di belakang Han Ki, Si Pelayan menangis sesenggukan dan di luar kamar itu, seorang pengawal berdiri tegak menjaga dalam keadaan siap seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar, sungguh pun alisnya berkerut menandakan bahwa dia ikut prihatin terharu.

“Hong Kwi... kekasihku... Hong Kwi, aku berdosa padamu! Ah, kekasihku, kau bawalah aku...!” Han Ki yang biasanya tenang itu kini tidak dapat menahan pukulan batin yang amat hebat itu. Dia masih mencinta Hong Kwi, bahkan belum pernah dia berhenti mencintanya. Kini melihat kekasihnya mati setelah bertemu dengannya, dia merasa berdosa dan berduka.

“Hemm, dia sudah mati baru engkau datang dan bicara seperti itu. Kam Han Ki, engkau bukan seorang laki-laki yang patut dipuji!”

Ucapan yang bernada keras ini membuat Han Ki sadar bahwa dia telah berada di tempat orang, bahkan sadar bahwa mayat yang dipeluknya itu adalah mayat isteri orang lain. Dia bangkit, menekan perasaannya, berdiri lemas dan dengan mata merah dan pipi basah, lalu ia memandang Pangeran Dhanu. Sejenak kedua orang laki-laki itu saling berpandangan.

“Engkau tentu Pangeran Dhanu...,” katanya perlahan.

“Benar! Akulah Pangeran Dhanu, laki-laki yang mencintanya dengan seluruh jiwa ragaku, yang selama bertahun-tahun ikut menderita bersamanya, yang berusaha menghiburnya, yang memenuhi segala permintaannya. Akan tetapi, pada saat terakhir, namamulah yang diucapkannya!” Di dalam ucapan pangeran itu terdapat kegetiran yang hebat sehingga diam-diam Han Ki merasa kasihan dan bersalah.

“Pangeran, selama bertahun-tahun aku berpisah darinya, dipisahkan dengan kekerasan, akan tetapi engkau... selama itu berada di sampingnya. Akulah yang lebih menderita dari pada engkau.”

“Aku sudah mendengar akan namamu, dia bercerita tentang dirimu. Akan tetapi kumaafkan dia asal dia dapat membalas dan menerima cintaku. Akan tetapi... dia selalu berduka, teringat kepadamu, selalu sakit-sakitan... kuajak tetirah ke mana-mana untuk menghiburnya, kukorbankan tugas-tugasku. Semalam anjing-anjing Mancu menyerbu perkemahan, biar pun dapat dipukul mundur akan tetapi isteriku menderita kaget yang hebat. Jantungnya lemah... dan... kemudian kau datang... ah, isteriku...!” Pangeran itu mengusap air matanya.

“Pangeran, maafkan aku. Betapa pun juga, engkau yang mencintanya telah menjadi suaminya selama lima tahun. Engkau telah memiliki dia sebagai isteri yang tercinta...”

“Memang aku memiliki tubuhnya akan tetapi tidak memiliki hatinya. Engkau telah merampas hatinya, keparat!”

“Dan orang-orang Mancu telah merampas nyawanya. Aku akan membalas ini!”

“Orang she Kam! Tidak perlu menimpakan kesalahan kepada orang lain. Engkaulah yang telah membunuh isteriku! Engkaulah yang menghancurkan hidupnya, dan engkau pula yang merampas kebahagiaan hidupku! Pengawal, tangkap orang ini!”

Belasan orang pengawal menerjang masuk dengan tombak di tangan. Han Ki berseru, “Hong Kwi, kalau rohmu masih di sini, dengarlah sumpahku. Aku tidak akan menikah dengan wanita lain di dunia ini!” Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat ke luar dan robohlah enam orang pengawal yang menghadangnya.

Dia tidak membunuh karena dia maklum betapa hancur hati Pangeran Dhanu, maklum pula bahwa pangeran itu betul-betul mencinta Hong Kwi. Dia hanya marah kepada orang-orang Mancu karena andai kata malam tadi orang-orang Mancu tidak menyerbu sehingga tidak mengagetkan hati Hong Kwi yang jantungnya lemah karena sakit, tentu pertemuannya dengan bekas kekasihnya itu tidak berakhir dengan kematian Hong Kwi!
Biar pun Pangeran Dhanu yang marah, berduka dan sakit hati itu mengerahkan semua sisa pasukannya, namun mereka tidak dapat mencegah Han Ki melarikan diri dan keluar dari hutan itu dengan gerakan cepat seperti menghilang.

Han Ki berlari cepat meninggalkan Kerajaan Yucen. Ingin sekali ia dapat menggabungkan diri dengan barisan Kerajaan Sung, melupakan semua peristiwa yang membuat ia menjadi orang buruan. Ingin ia membela Sung dan menghajar musuh-musuh besarnya. Akan tetapi, tentu dia akan ditangkap begitu muncul di kota raja! Ah, biar pun tanpa pasukan, dia tetap berusaha untuk membalas kematian Hong Kwi kepada bala tentara Mancu! dengan keputusan bulat, Han Ki melanjutkan perjalanannya, hatinya makin merana.

Dia tidak saja kehilangan Maya dan Siauw Bwee, bahkan kini ditinggal mati Hong Kwi yang sampai detik terakhir masih mencintanya! Kenyataan ini makin memberatkan hatinya, dan ia selalu merasa telah berbuat dosa yang amat besar kepada Hong Kwi. Cinta kasih di antara mereka yang terenggut putus, yang disangkanya hanya membuat dia seorang menderita sengsara, kiranya lebih menyiksa lagi bagi Hong Kwi sampai dibawanya mati! Hati Han Ki menjadi kosong dan ia merasa dirinya sudah tua sekali. Padahal pada waktu itu, usia Han Ki baru tiga puluh satu atau tiga puluh dua tahun.

******************


MAYA membuka matanya. Sudah matikah dia? Pertama yang berkelebat dalam pikirannya adalah bahwa dia terseret ke dalam air yang gelap lalu ia tidak ingat apa-apa lagi. Tentu sudah mati. Akan tetapi mengapa dia berada di atas perahu? Dan ada enam orang prajurit di perahu itu, perahu yang didayung cepat. Tidak! Dia tentu belum mati.

Ataukah perahu ini perahu yang akan menyeberangkannya ke alam baka dan enam orang itu malaikat-malaikat? Tak mungkin. Mana ada malaikat berpakaian seperti prajurit dunia! Keparat, tentu mereka ini yang membuat ia terjatuh ke air dan mereka yang menyeretnya ke dalam air sehingga dia pingsan dan tertawan. Dia menjadi marah dan menggerakkan tangan... akan tetapi kedua tangan dan kedua kakinya tidak dapat digerakkan. Terbelenggu! Ia mengerahkan tenaga, akan tetapi dia lelah sekali sehingga tenaganya masih belum cukup untuk mematahkan belenggu, dan ketika ia memandang, kiranya belenggu itu terbuat dari pada baja yang tebal dan kuat sekali! Maya pura-pura masih pingsan dan tidak bergerak, diam-diam mengumpulkan hawa murni ke lengannya.

Perahu itu kini menempel pada sebuah perahu besar. Dia membuka mata memperhatikan.

“Wah, dia sudah sadar!” kata seorang di antara mereka yang kebetulan menengok dan melihat Maya membuka mata.

Karena sudah ketahuan, Maya tidak berpura-pura lagi. Dengan gerakan tubuhnya, ia berhasil bangun duduk. “Siapa kalian? Mengapa aku kalian tangkap?” Akan tetapi ketika melihat pakaian seragam mereka adalah tentara laut Kerajaan Sung, ia lalu berkata, “Hemm... kalian tentu anjing-anjing Kerajaan Sung!”

“Perempuan liar. Bangunlah dan ikut kami menghadap panglima, atau engkau lebih suka kami seret ke atas perahu?”

Karena belum mendapat kesempatan mematahkan belenggunya, Maya bangkit berdiri dan tiba-tiba kedua kakinya membuat gerakan menendang sambil meloncat. Akibatnya, dua orang prajurit terlempar ke dalam air!

“Wah! Wah! Awas... betina ini liar sekali!” Seru seorang di antara mereka dan kini dari atas perahu besar meloncat turun banyak prajurit.

Tubuh Maya diringkus dan dia dipaksa naik ke atas perahu besar. Dua orang prajurit yang bertubuh kuat memegang ujung rantai yang membelenggu kedua tangannya, dan setengah diseret Maya dibawa memasuki ruangan besar di atas perahu. Biarlah, pikirnya, biar aku dihadapkan panglima mereka. Kalau nanti ada kesempatan, dia akan membasmi anjing-anjing ini!

Dengan dada membusung dan kepala tegak Maya berjalan memasuki ruangan dengan terpincang-pincang karena kedua kakinya dibelenggu. Matanya terbelalak ketika ia melihat dua orang panglima duduk di atas kursi dalam ruangan itu. Ia mengenal mereka! Mereka adalah panglima-panglima perahu besar yang telah ditolongnya! Bahkan panglima muda yang kini sudah bangkit berdiri adalah panglima muda yang ditolongnya dari tangan Si Dampit yang lihai.

Juga panglima besar yang berjenggot itu memandang dengan kaget. "Engkau...? Engkau pendekar wanita penolong kami...!" Ia lalu membentak anak buahnya, "Apakah kalian ini buta dan gila semua? Hayo cepat lepaskan belenggunya!"

"Krek! Krekkk!" Sekali mengerahkan tenaga yang telah berhasil dikumpulkan kembali, Maya telah mematahkan belenggu kaki tangannya! Sambil tersenyum dia melangkah maju. "Cangkun, selamat berjumpa!"


BERSAMBUNG KE JILID 18


Thanks for reading Istana Pulau Es Jilid 17 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »