Istana Pulau Es Jilid 11

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

EPISODE ISTANA PULAU ES JILID 11

Siauw Bwee tidak membantah dan Han Ki diam-diam melirik ke arah Maya yang berjalan di sebelah kirinya. Ia melihat wajah Maya muram dan mulut yang bentuknya indah itu cemberut seperti orang marah. Diam-diam Han Ki merasa heran dan untuk menyenangkan hati Maya, ia lalu memegang tangan Maya itu seperti ia memegang dan menggandeng tangan Siauw Bwee.

Akan tetapi tiba-tiba Maya merenggut lepas tangannya sambil berkata, ”Suheng, aku bukan anak kecil yang harus digandeng-gandeng!”

Han Ki tersenyum dan tidak berkata apa-apa, akan tetapi di dalam hatinya timbul kekhawatiran bahwa kelak bila sampai terjadi hal-hal yang memusingkan, tentu dari Maya datangnya. Anak ini memiliki watak yang aneh dan keras, berbeda dengan Siauw Bwee yang wataknya halus dan sabar.

“Kuharap saja kalian akan selalu taat kepadaku seperti yang dipesankan Suhu agar semua berjalan beres,” katanya perlahan.

“Engkau adalah Suheng kami, pengganti Suhu, tentu saja aku akan taat kepadamu, Suheng. Akan tetapi Khu sumoi yang lebih muda harus pula taat kepadaku karena aku suci-nya.”

Han Ki mengerutkan kening. Dia tidak mengerti mengapa Maya berkata begitu. Ketika ia melirik ke arah Siauw Bwee, ia melihat sumoi nya ini hanya menunduk dan wajahnya tetap tenang tidak membayangkan sesuatu. Diam-diam ia kagum kepada Siauw Bwee dan heran akan sikap Maya yang sukar diselami itu. “Sumoi, seorang saudara tua tidak hanya ingin ditaati oleh adik seperguruannya, melainkan juga harus melindunginya.”

“Tentu saja!” jawab Maya cepat. “Suheng melindungi aku, dan aku melindungi Sumoi, itu sudah semestinya.”

“Hemm..., melindungi yang bagaimana maksudmu, Sumoi?”

“Melindungi dan membela. Kalau ada orang jahat menggangguku, Suheng akan membelaku. Kalau ada orang mengganggu Khu-sumoi aku yang akan membelanya. Tentu saja masih ada Suheng yang melindungi kami berdua.”

Han Ki mengangguk-angguk. Kiranya Maya ini agaknya hanya tidak mau kalah oleh Siauw Bwee karena merasa lebih tua! Ia menoleh ke arah Siauw Bwee dan bertanya, “Siauw Bwee Sumoi, bagaimana pendapatmu?”

Siauw Bwee menoleh dan memandang sebentar kepada Han Ki. Mengerutkan alisnya yang kecil hitam, kemudian memandang Maya dan menjawab halus, “Aku adalah seorang saudara muda, sudah tentu dalam segala hal aku akan mendengar dan taat akan petunjuk Suheng dan Suci, karena aku yakin bahwa petunjuk dari Suci, terutama dari Suheng, tentu baik dan tidak akan mencelakakan aku.”

Mendengar ucapan ini, Han Ki memandang penuh perhatian, hatinya kagum karena dari jawaban itu dia dapat mengerti bahwa gadis cilik ini berwatak halus, suka mengalah, tahu diri akan tetapi juga cerdik sekali, dapat mempergunakan keadaan yang tadinya merugikan menjadi menguntungkan! Mulailah hati pemuda ini tertarik sekali kepada dua orang sumoinya.



Keduanya merupakan keturunan orang-orang luar biasa dan gagah perkasa. Maya adalah puteri Khitan, anak atau anak angkat kakak sepupunya, yaitu Raja Talibu putera supeknya, Suling Emas. Ada pun Siauw Bwee juga bukan anak sembarangan, melainkan puteri tunggal Khu Tek San yang telah tewas mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan dia! Kalau teringat akan ini, mau tidak mau timbul perasaan kasihan dan berterima kasih di dalam hati Han Ki kepada Siauw Bwee.

Anak ini telah ditinggal mati ayahnya, ditinggal pergi ibunya tanpa diketahui ke mana. Keluarganya berantakan. Bukankah semua itu terjadi karena dia? Karena ayahnya membela dia? Dia harus membalas semua kebaikan itu, dia harus memimpin Siauw Bwee dan kalau perlu menyediakan nyawa untuk membela dan melindungi Siauw Bwee seperti telah dilakukan ayah anak ini kepadanya.

“Kalian berdua benar. Memang kita bertiga harus saling mencinta dan membela seperti tiga kakak beradik yang baik, memenuhi pesan Suhu. Akan tetapi marilah kita mempercepat perjalanan agar dapat menemukan perahu itu. Kalian harus tahu bahwa Pulau Es yang disebut Suhu merupakan sebuah pulau rahasia yang tadinya hanya terkenal dalam sebuah dongeng saja. Marilah, kedua Sumoi-ku yang baik, mudah-mudahan saja semangat Suhu akan membimbing kita sehingga dapat menemukan Pulau Es yang dimaksudkan Suhu.”

“Mari kita lari cepat. Sumoi, mari kita berlomba!” Maya berkata dan menantang Siauw Bwee.

“Baik, marilah, Suci!” Siauw Bwee menjawab tegas dan larilah kedua orang gadis cilik itu di sepanjang pantai laut ke utara, secepat mungkin.

Melihat ini Han Ki menggeleng-geleng kepala dan tersenyum. Kiranya mereka itu masih seperti anak-anak, pikirnya, sama sekali tidak sadar bahwa perlombaan lari itu merupakan pertanda bahwa di dalam hati kedua orang gadis cilik itu telah terpendam bibit persaingan yang akan menimbulkan banyak keruwetan dalam hidupnya! Han Ki tersenyum dan ia pun berkelebat mengejar, membayangi kedua orang sumoinya dari belakang sambil memperhatikan cara mereka berlari cepat.

Ke dua orang gadis cilik itu dapat beriari cukup baik, dan kecepatan mereka berimbang. Han Ki yang memperhatikan dari belakang melihat bahwa dasar ilmu lari cepat mereka adalah dari satu sumber, yaitu ilmu lari cepat Liok-te-hui-teng. Akan tetapi jelas tampak olehnya bahwa Maya lebih terlatih dan agaknya bekas Puteri Khitan itu memang sering kali mempergunakan ilmu lari cepat sehingga setelah Siauw Bwee mulai tampak lelah, Maya masih dapat berlari dengan seenaknya.

Han Ki melihat betapa Siauw Bwee dengan nekat mempercepat larinya agar dapat mengimbangi kecepatan Maya. Ia merasa kasihan karena maklum bahwa sebentar lagi Siauw Bwee tentu akan kehabisan napas dan akan kalah. Maka ia lalu mempercepat gerakan kakinya, melampaui mereka dan berkata tertawa.

“Wah, kalau kalian berlari begini lambat, sampai kapan kita bisa menemukan perahu itu? Mari kugandeng tangan kalian, Sumoi!” Han Ki menyambar tangan Maya dan Siauw Bwee dengan kedua tangannya, kemudian mengerahkan ginkangnya dan berlari cepat sekali, membuat Maya dan Siauw Bwee kagum bukan main sehingga mereka melupakan perlombaan mereka tadi.

“Suheng, larimu cepat sekali!” Maya berseru kagum.

“Seperti Suhu ketika membawa lari aku dan Suci. Suheng ilmu lari apakah ini?” Siauw Bwee juga berkata.

“Inilah yang disebut Cio-siang-hui!” jawab Han Ki.

“Suheng, kau harus ajarkan ilmu ini kepadaku!” Maya berseru dengan kagum karena ilmu ‘terbang di atas rumput’ ini hanya ia dengar saja dan baru sekali ini dia melihatnya.

“Tunggu sampai kita dapat menemukan Pulau Es. Tidak ada ilmu yang takkan kuajarkan kepada kalian berdua. Sekarang diamlah dan tutup matamu agar jangan merasa ngeri.”

Setelah berkata demikian, tiba-tiba gerakan kaki Han Ki berubah dan larinya makin cepat karena tidak seperti tadi hanya lari biasa, melainkan kadang-kadang melompat jauh ke depan sehingga larinya menjadi cepat bukan main. Maya dan Siauw Bwee tadinya menaati pesan suheng-nya dan memejamkan mata. Mereka mendengar angin berdesir di kanan kiri telinga dan merasa betapa tubuh mereka terangkat sehingga kedua kaki mereka kadang-kadang melayang dan kadang-kadang hanya menyentuh tanah sedikit saja. Rasa ingin tahu membuat dua orang gadis cilik itu membuka mata dan akhirnya mereka membelalakkan mata dan memandang penuh kagum, bahkan Maya berteriak girang.

“Suheng, ajarkan ilmu ini kepadaku!”

Melihat betapa kedua orang sumoinya sama sekali tidak merasa ngeri, bahkan membuka mata dan kegirangan, diam-diam Han Ki menjadi girang sekali. Memang pilihan suhunya untuk mengambil murid dua orang anak perempuan ini benar-benar tepat. Keduanya memiliki bakat yang amat baik, dan lebih-lebih lagi, keduanya memiliki ketabahan yang merupakan syarat terpenting bagi seorang calon ahli silat. Ketabahan mendatangkan ketenangan dan betapa pun pandai seseorang dalam ilmu silat, kalau dia tidak memiliki ketabahan dan tidak dapat bersikap tenang, berarti dia sudah kehilangan setengah ilmunya.

“Bersabarlah engkau, Maya moi. Lihat, di depan itulah agaknya tebing yang dimaksudkan Suhu. Mari kita mencari perahu itu!”

Ucapan ini membuat Maya dan Siauw Bwee tertarik sekali. Mereka bertiga lalu menuruni tebing yang terjal dan Han Ki tetap menggandeng tangan kedua orang sumoinya karena menuruni tebing itu merupakan pekerjaan yang cukup berbahaya. Namun ginkang yang dimiliki Han Ki telah mencapai tingkat tinggi. Biar pun menggandeng dua orang sumoinya, ia dapat mengajak mereka turun dengan cepat.

Tak lama kemudian mereka tiba di bawah tebing, di bagian pantai di mana terdapat banyak goa yang tercipta oleh gempuran ombak setiap hari ke arah dinding karang. Dan di sebuah di antara goa-goa ini, tampaklah perahu yang dimaksudkan Bu Kek Siansu, sebuah perahu kecil yang terbuat dari kayu yang kuat, bentuknya meruncing dan di tengahnya terdapat atap yang membuat ruangan kecil itu cukup untuk tempat berteduh dari terik matahari.

“Ini perahu Suhu!” Han Ki berseru girang. “Marilah!”

Maya dan Siauw Bwee ikut menjadi girang melihat perahu itu dan mereka membantu Han Ki melepaskan ikatan perahu pada batu karang, kemudian melihat Han Ki menarik ke luar perahu dari dalam goa dan mendorongnya ke atas air laut.

Setelah kedua orang sumoinya naik ke atas perahu dan duduk di bangku bawah atap, Han Ki mulai mendayung perahunya, mengambil arah ke timur. Perahu yang ujungnya runcing itu meluncur cepat sekali. Air laut tenang sehingga mereka merasa nyaman duduk di atas perahu, sedikit pun tidak terguncang, hanya meluncur cepat ke depan seperti terbang.

Maya dan Siauw Bwee tertarik melihat Han Ki mendayung perahu. Mereka minta belajar dan tak lama kemudian, dua orang gadis cilik itu menggantikan Han Ki mendayung. Perahu meluncur dikemudikan oleh Han Ki dan mereka bercakap-cakap.

“Suheng, kelak kalau aku sudah tamat belajar, aku akan pergi mencari Ibu.”

Han Ki memandang sumoinya yang kecil itu. Ah, kiranya diam-diam anak ini selalu memikirkan ibunya. Betapa kuat hatinya karena dapat menutupi kerinduannya. Ia mengangguk. “Tentu saja, Sumoi. Dan aku akan membantumu mencari sampai dapat. Kurasa kalau kelak kita menyelidiki ke kota raja, akan ada kenalan orang tuamu yang tahu akan rahasia itu, tahu ke mana Ibumu pergi mengungsi dengan sembunyi.”

“Suheng, kalau aku sudah pandai kelak, aku akan membalas dendam kematian Raja dan Ratu Khitan!”

Kini Han Ki mengerutkan alis ketika memandang Maya. “Hemmm... orang tuamu gugur dalam perang. Kepada siapakah engkau akan membalasnya, Sumoi?”

“Kepada siapa lagi kalau tidak kepada Kerajaan Yucen, Sung dan kerajaan Mongol!”

Diam-diam Han Ki terkejut. Dendam yang begitu hebat, ditujukan kepada kerajaan-karajaan tiga negara, bagaimana akan membalasnya? Kiranya cara membalasnya hanya satu, yaitu dalam perang! Diam-diam ia merasa ngeri, akan tetapi tidak mau bertanya lagi karena maklum bahwa sumoi-nya yang seorang ini amat keras hati dan mudah tersinggung, apa lagi dalam urusan membalas dendam. Karena ayah puteri ini merupakan saudara sepupunya pula, maka ia hanya berkata tenang, “Cita-citamu itu amat sukar dilaksanakan, akan tetapi kau belajarlah yang tekun, Sumoi.”

“Dan engkau sendiri, bagaimana urusanmu dengan puteri Kaisar yang dipaksa kawin dengan Raja Yucen itu, Suheng?” tiba-tiba Maya bertanya.

Han Ki tersentak kaget, memandang terbelalak dengan wajah pucat. Tak disangkanya bahwa sumoinya tahu akan hal itu. Dia tidak mengerti bahwa berita-berita tentang hubungan-hubungan gelap, apa lagi yang menimpa diri puteri Kaisar, merupakan berita yang tak dapat ditutup tutupi karena setiap mulut suka membicarakannya.

Siauw Bwee diam-diam menyentuh tangan sucinya. Ketika sucinya memandang, ia berkedip dan menggerakkan muka ke arah Han Ki yang menundukkan muka. Maya mengerti bahwa pertanyaannya tadi menyinggung Han Ki, maka ia pun tidak bertanya lagi, hanya mengangkat sedikit pundaknya kemudian melanjutkan gerakan tangannya mendayung. Mulutnya yang kecil mulai bersenandung, menyanyikan sebuah lagu Khitan dengan lirih. Siauw Bwee memandang dan mendengarkan dengan kagum karena suara Maya memang merdu sekali, apa lagi menyanyikan sebuah lagu asing yang terdengar makin aneh mempesona, dinyanyikan di atas perahu yang berada di tengah lautan dan dalam keadaan seperti itu.

Ketika mendengar nyanyian ini, Han Ki yang perasaannya mendapat pukulan hebat oleh pertanyaan tiba-tiba tadi merasa makin nelangsa. Pikirannya melayang-layang dan teringatlah ia akan segala yang terjadi semenjak mengadakan pertemuan dengan Sung Hong Kwi sampai dia ketahuan, dikeroyok, ditangkap dan akhirnya ditolong dengan pengorbanan nyawa oleh Kam Liong dan Khu Tek San, kemudian dibawa pergi suhunya.

Teringatlah dia akan nasehat dan wejangan suhunya yang membuka matanya dan menyadarkannya sehingga dia dapat menerima peristiwa itu dengan hati tidak terlalu menderita. Akan tetapi, pertanyaan tiba-tiba dari Maya membuat ia terkejut dan terpukul. Terbayang wajah Sung Hong Kwi yang dicintanya, timbullah rasa rindu yang tak tertahankan dan rasa sakit di hati mengingat betapa kekasihnya itu dirampas oleh orang lain!

“Hong Kwi...!” Hatinya mengeluh akan tetapi mulutnya berkata dengan suara dingin seperti suara yang keluar dari balik kubur, sama sekali tidak mengandung semangat kehidupan. “Maya dan Siauw Bwee, kuminta kalian selamanya jangan menyebut-nyebut lagi namanya....”

Melihat keadaan Han Ki, Maya menjadi terkejut dan menyesal mengapa tadi ia bertanya-tanya tentang Puteri Sung Hong Kai itu. “Baik, Suheng,” jawabnya.

“Baik, Suheng,” kata pula Siauw Bwee.

Dengan kekuatan batinnya sebentar saja Han Ki sudah dapat mengatasi perasaan hatinya yang tertekan, maka perahu kembali meluncur dengan lancar dan cepatnya ke timur. Suara ujung perahu memecah air laut, mengumandangkan nasehat Bu Kek Siansu kepada Han Ki bahwa pemuda itu sebaiknya mengasingkan diri ke Pulau Es bersama dua orang sumoi-nya. Kalau dia muncul di dunia ramai, tentu akan teringat terus akan peristiwa di Kerajaan Sung dan dia akan selalu menjadi seorang buronan.

Kini Han Ki dapat memikirkan dan merasai tepatnya nasehat itu. Dia masih muda dan berdarah panas, mudah dikuasai nafsunya sehingga kalau dia bertemu lagi dengan Hong Kwi, agaknya tidak akan dapat menahan diri dan akan menimbulkan kegemparan-kegemparan baru, mungkin pelanggaran-pelanggaran yang tidak semestinya dilakukan orang baik-baik. Hong Kwi telah menjadi milik orang lain, dan dia harus dapat melupakannya. Satu-satunya jalan untuk melupakannya secara baik adalah tinggal di pulau yang terasing dan menggembleng diri dengan ilmu-ilmu yang lebih tinggi.

“Hei...! Ikan banyak sekali...!” tiba-tiba Maya berseru sambil menuding ke air. Siauw Bwee dan Han Ki cepat memandang, dan memang benar.

Di dalam air, bersinar bagai matahari tampak ikan sebesar paha berenang ke sana ke mari banyak sekali. Pemandangan ini amat menarik hati. Ketiganya tak menggerakkan dayung, membuat perahu terhenti dan mereka menikmati pemandangan yang memang indah itu. Matahari sudah naik tinggi dengan sinar cemerlang dan air laut tenang, maka melihat ikan-ikan dengan sisik mengkilap itu berenang di sekitar perahu amatlah mempesonakan.

“Ah, kalau ada alat pancing, tentu menyenangkan sekali memancing di sini,” kata Siauw Bwee.

“Itu ada perahu datang!” Han Ki berkata.

Mereka memandang dan dari jauh tampak sebuah perahu kecil meluncur datang dengan cepat sekali. Setelah dekat tampak oleh mereka bahwa perahu itu ditumpangi seorang laki-laki yang berkepala gundul.

“Seperti seorang hwesio!” kata Siauw Bwee.

“Bukan,” bantah Maya. “Lihat, biar pun gundul, dia tidak memakai baju! Mana ada hwesio tidak berjubah?”

Han Ki sudah berdiri di atas papan perahunya dan memandang tajam penuh perhatian. “Bukan hwesio, akan tetapi dia aneh sekali. Kepalanya gundul, pakaiannya hanya cawat, kumisnya kecil melintang. Heran, orang apakah dia? Melihat perahunya, tentu perahu nelayan dan melihat cara dia mendayung, tentu dia bukan orang sembarangan. Harap kalian hati-hati, jangan-jangan dia bukan orang baik-baik.”

Perahu itu kini telah datang dekat dan orang yang berada di perahu agaknya tidak mempedulikan mereka, melainkan memandang ke air di mana terdapat banyak ikan. Tiba-tiba ia mengeluarkan seruan girang, perahunya dihentikan dan ia membuang jangkar besi yang diikat dengan tali panjang. Kemudian, setelah memandang ke air penuh perhatian sampai tubuhnya yang hanya bercawat itu membungkuk di luar bibir perahu, tiba-tiba orang itu meloncat ke dalam air dengan gerakan indah. Air hanya muncrat sedikit saja dan tubuhnya sudah lenyap ditelan air.

“Wah, dia gila...!” Maya berseru.

“Dia bisa celaka...!” Siauw Bwee berkata penuh keheranan.

“Hemm, kurasa tidak. Melihat cara dia meloncat, dia adalah seorang yang ahli dalam air dan loncatannya tadi membayangkan bahwa dia memiliki ilmu kepandaian tinggi. Hanya aneh sekali, aku heran apa yang dicarinya di dalam air? Dan bagaimana ia dapat bertahan menyelam sampai begini lama?”

Pertanyaan Han Ki itu segera mendapat jawaban yang merupakan pemandangan aneh sekali. Tiba-tiba air bergelombang dan... dari dalam air tadi meloncatlah orang tadi ke dalam perahunya, tangannya memondong seekor ikan sebesar tubuhnya sendiri! Ikan itu dilemparnya ke dalam perahu, menggelepar-gelepar dan Si Gundul yang luar biasa itu sudah meloncat lagi ke dalam air. Tak lama kemudian, kembali ia meloncat ke perahu membawa seekor ikan besar.

Ketika untuk ketiga kalinya ia meloncat ke air, Han Ki berkata, “Bukan main! Selama hidupku, mendengar pun belum apa lagi menyaksikan seorang nelayan menangkap ikan secara itu! Dia benar-benar hebat luar biasa. Mari kita dekati, aku ingin berkenalan dengan dia!” Han Ki berseru dan mendayung perahu mendekat.

Pada saat itu air kembali bergelombang, kini lebih hebat dari tadi, dan Maya berteriak sambil menuding ke bawah, “Lihat...!”

Mereka terbelalak ketika tiba-tiba muncul kepala yang gundul akan tetapi tenggelam lagi. Ternyata bahwa orang aneh itu sedang bergumul melawan seekor ikan yang besar, lebih besar dari pada tubuhnya dan dua kali lebih besar dari ikan-ikan yang telah ditangkapnya tadi. Han Ki, Maya dan Siauw Bwee memandang penuh kekhawatiran melihat orang itu bergulat dan bergulung-gulung di air yang makin keras berombak karena kibasan-kibasan ekor ikan yang amat kuat.

“Suheng, bantulah dia...!” Siauw Bwee berteriak sambil menuding ke air dengan hati penuh kekhawatiran akan keselamatan orang gundul itu, sedangkan Maya menonton dengan amat tertarik sampai berdiri membungkuk di pinggir perahu.

“Tidak perlu, Sumoi. Lihat!”

Ketika Siauw Bwee memandang, ia kagum sekali melihat Si Gundul itu kini telah meloncat ke atas perahunya, mengempit kepala ikan besar itu yang memukul-mukul dengan ekornya. Begitu melempar ikan besar ke perahu, orang itu sekali pukul membikin pecah kepala ikan itu yang berhenti memukul-mukul dengan ekornya, akhirnya hanya dapat menggelepar lemah.

“Lopek, kepandaianmu mengagumkan sekali!” Han Ki berseru ke arah orang gundul itu, dan ketika orang gundul itu membalikkan tubuh memandang, Han Ki cepat merangkapkan kedua tangannya di depan dada memberi hormat.

Akan tetapi orang itu tidak membalas penghormatannya, memandang tak acuh lalu berkata dengan logat asing, setengah Mongol akan tetapi jelas bahwa dia pandai menggunakan bahasa Han. “Kepandaian begitu saja apa artinya? Kalau kalian tidak mempunyai kepandaian, perlu apa berkeliaran di sini mencari mampus?” Setelah berkata demikian, dia sudah terjun kembali ke dalam air.

“Celaka! Orangnya sombong seperti setan!” Maya memaki marah. “Hayo kita pergi saja, Suheng. Buat apa berkenalan dengan orang macam itu?”

“Lopek, awas...! Ikan hiu...!” Tiba-tiba Han Ki berteriak ke arah orang yang masih berenang dan agaknya sedang mencari-cari dan memandang ke dalam air itu.

“Suheng... dia bisa celaka...!” Siauw Bwee berseru.

“Biarkan saja, Suheng. Orang sombong biar tahu rasa!” Maya juga berseru.

Seekor ikan hiu yang ganas dan liar sebesar manusia menyambar dari belakang orang gundul itu. Dia ini cepat sekali membalik dan dengan gerakan indah telah membuang diri ke kiri sehingga serangan ikan liar itu luput. Cepat Si Gundul menangkap ekor ikan dan mencengkeram sirip ikan, kemudian memutar dengan kekuatan luar biasa sehingga tubuh ikan itu membalik. Orang gundul itu menangkap moncong ikan dengan kedua tangan, membetot dan... robeklah mulut ikan hiu itu yang setelah dilepas lalu berkelojotan sekarat, air di sekitarnya menjadi merah oleh darahnya.

“Lopek, naiklah ke perahu. Banyak ikan hiu...!” Han Ki berteriak lagi ketika melihat banyak sekali sirip atas ikan hiu meluncur datang.

Ikan-ikan hiu amat tajam penciumannya akan darah, maka begitu ada darah di air, mereka berdatangan seperti berlomba! Sebentar Si Gundul dan bangkai ikan hiu itu telah dikurung belasan ekor ikan hiu yang besar-besar. Sebagian ikan ini menyerbu bangkai kawannya dengan ganas, dan ada tiga ekor yang menyerang Si Gundul!

Siauw Bwee menjerit ngeri menyaksikan bangkai ikan hiu itu hancur lebur dan robek-robek, ngeri karena tubuh orang gundul itu pasti akan disayat-sayat oleh gigi ikan-ikan buas itu. Sedangkan Maya memandang dengan wajah berseri, agaknya ia girang melihat orang sombong itu terancam bahaya.

Akan tetapi orang gundul itu benar-benar amat lihai. Biar pun diserang oleh tiga ekor ikan buas, ia tidak mau naik ke perahu, dan memang untuk kembali ke perahunya sudah tidak keburu lagi. Dengan gerakan tangkas ia memukul ikan terdekat.

“Desss!” Pukulan itu amat hebat. Biar pun tubuh ikan yang kuat dan licin tidak remuk dan ikannya tidak mati, namun terlempar sampai dua meter jauhnya.

“Pukulan Pek-lek Sin-jiu (Pukulan Halilintar)! Dari mana dia mempelajarinya?” Han Ki makin terheran-heran ketika mengenal pukulan itu, sebuah pukulan sakti yang pernah ia pelajari dari Bu Kek Siansu!

Akan tetapi tidak ada yang dapat menjawabnya dan perhatian Han Ki tertarik oleh bahaya maut yang mengancam diri kepala gundul itu. Ikan yang dipukulnya tidak tewas, dan sudah berbalik menerjang didahului oleh dua ekor ikan lain yang menerjang dari kanan kiri. Orang gundul itu berhasil memukul dua ekor ikan, tetapi terjangan ikan yang pertama tadi tak mungkin dapat ia hindarkan.

Melihat ini Han Ki mengeluarkan pekik melengking, tubuhnya mencelat ke depan, tangan kirinya menyambar lengan orang gundul, kakinya menginjak kepala ikan hiu yang menyerang dari belakang. Sekali menggerakkan tangan, dengan menginjak kepala ikan sebagai landasan, Han Ki berhasil melontarkan tubuh laki-laki itu ke perahunya, sedangkan dia sendiri kembali mengenjotkan kakinya meloncat ke perahu terdekat, yaitu perahu Si Gundul di mana pemiliknya sudah berdiri dengan mata terbelalak, heran memandang ke arah Han Ki.

“Kau... kau siapa?” Kini orang gundul itu hilang kesombongannya dan memandang Han Ki dengan sinar mata penuh heran dan kagum.

Han Ki tersenyum, kembali memberi hormat yang tak juga dibalas oleh Si Gundul sambil memperkenalkan diri! “Namaku Han Ki, dan mereka itu adalah dua orang sumoi-ku, Maya dan Khu Siauw Bwee. Siapakah Lopek yang pandai ini dan di mana tempat tinggal lopek?”

Laki-laki tua yang usianya sudah ada lima puluh tahun lebih, akan tetapi masih nampak kuat itu, memandang Han Ki dengan penuh perhatian, kemudian menghela napas panjang dan berkata, “Sungguh tak kusangka di dunia ini ada seorang pemuda yang begini lihai! Orang muda, engkau telah menolong nyawaku, maka sudah sepatutnya menjadi tamu agung dari Pulau Nelayan kami. Aku hanyalah seorang nelayan biasa dari keluarga kami di Pulau Nelayan. Kebetulan aku berhasil menangkap tiga ekor ikan yang besar dan lezat dagingnya. Kalau engkau dan dua orang sumoi mu suka, aku undang kalian untuk mengunjungi pulau kami dan ikut berpesta menikmati daging ikan.”

“Baiklah dan terima kasih, Lopek. Aku akan senang sekali bertemu dengan keluargamu.” Han Ki amat tertarik untuk mengetahui keadaan nelayan gundul itu karena tadi ia menyaksikan bahwa nelayan itu memiliki ilmu pukulan yang ia kenal sebagai ilmu pukulan gurunya.

Ia mengenjotkan kakinya dan tubuhnya melayang ke arah perahunya sendiri. Gerakan ini hanya membuat perahu Si Nelayan tergoyang sedikit sehingga nelayan itu makin kagum karena perbuatan pemuda itu membuktikan kepandaian yang tinggi.

“Suheng, buat apa kita mengunjungi pulaunya?” Maya menegur Han Ki dengan mulut cemberut.

“Sumoi, dia memiliki ilmu pukulan yang sama dengan yang pernah kupelajari. Aku ingin sekali mengetahui keadaan keluarganya. Tentu ada hubungannya antara mereka dengan Suhu,” Han Ki berkata lirih.

“Orang muda she Kam! Marilah ikut perahuku!” Nelayan itu berseru dan tanpa menengok lagi ia sudah mendayung perahunya meluncur cepat sekali karena dia memang mengerahkan tenaganya dan agaknya dia hendak menguji Han Ki.

Melihat ini Han Ki cepat menyambar dua batang dayung sambil mengerahkan tenaga pula mengejar perahu Si Nelayan itu menuju ke utara. Kurang lebih dua jam kemudian perahu itu mendarat di sebuah pulau kecil yang ditumbuhi pohon-pohon besar dan sekelilingnya merupakan tebing batu karang yang curam. Nelayan itu mendaratkan perahu di bawah tebing dan mengikat perahunya.

Ketika ia menoleh dan melihat betapa Han Ki juga sudah mendarat dan mengikatkan perahu, ia berkata, “Engkau memang orang muda hebat dan pantas menjadi tamu kami! Mari ikut aku!” Ia mengikat mulut tiga ekor ikan besar tadi, memanggulnya dan mulai mendaki tebing.

“Benar-benar seorang yang aneh dan ilmunya cukup hebat,” Han Ki memuji. “Kalian berpeganglah pada tali ini baik-baik karena tebing itu berbahaya.”

Han Ki menggunakan sebagian tali perahu yang dipegang kedua ujungnya oleh Maya dan Siauw Bwee, kemudian ia sendiri memegang tengah-tengah tali dan dengan demikian ia menuntun kedua orang sumoi-nya mendaki tebing mengikuti nelayan gundul itu. Kagum ia melihat nelayan itu mendaki tebing sambil memanggul tiga ekor ikan yang amat berat itu.

Ketika tiba di atas tebing, ternyata pulau itu cukup subur dan mereka itu disambut oleh dua puluh orang lebih terdiri dari laki-laki dan wanita yang kesemuanya berpakaian sederhana. Yang laki-laki sebagian besar bercawat atau memakai celana yang sudah robek-robek tanpa baju, sedangkan yang wanita memakai pakaian dari kulit batang pohon atau kulit ikan yang dikeringkan dan dilemaskan. Anehnya, yang laki-laki semua botak atau gundul, agaknya kepala botak dan gundul merupakan ‘mode’ bagi mereka!

Ketika melihat Han Ki dan dua orang sumoi-nya, mereka menjadi gempar dan mengurung tiga orang muda ini, memandang seperti sekumpulan anak-anak mengagumi barang mainan baru! Apa lagi ketika nelayan gundul itu menceritakan betapa Han Ki menolongnya dan betapa pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, orang-orang itu makin tertarik dan memuji-muji.

“Karena kulihat dia patut menjadi tamu kita, maka dia kuundang untuk berpesta bersama kita,” demikian Si Nelayan Gundul menutup ceritanya.

Setelah membiarkan dia dan kedua orang sumoi-nya menjadi barang tontonan beberapa lama sambil memperhatikan orang-orang itu yang kehidupannya amat sederhana, Han Ki lalu berkata, “Siapakah di antara Cu-wi yang menjadi Tocu (Majikan Pulau)?”

“Apa Tocu? Tidak ada tocu di sini,” jawab Si Nelayan Gundul.

“Kumaksudkan ketua kalian. Pemimpin. Siapakah pemimpin kalian? Aku ingin menyampaikan hormatku dan ingin bicara.”

Orang-orang yang berada di situ tertawa dan Si Nelayan Gundul menjawab, “Kami sekeluarga tidak mempunyai pemimpin, kami memimpin diri kami masing-masing. Siapa membutuhkan pemimpin?”

Han Ki terheran-heran. “Kalau begitu kalian dahulu datang dari manakah? Apakah turun temurun terus berada di sini?”

Si Nelayan Gundul mengangkat pundak, kemudian menuding ke arah seorang laki-laki tua yang berkepala botak. “Aku tidak tahu. Dia mungkin tahu.”

Laki-laki berkepala botak itu menggerakkan tongkatnya, jalan terpincang menghampiri Han Ki. Tiba-tiba tongkatnya membuat beberapa gerakan berputar dan tongkat itu lenyap berubah menjadi gulungan sinar yang mengurung tubuh Han Ki. Pemuda ini terkejut bukan main, bukan karena penyerangan yang tak disangka-sangka itu, melainkan karena mengenal bahwa gerakan tongkat ini sebenarnya adalah gerakan ilmu pedang yang amat dikenalnya, yaitu ilmu Pedang Thian-te It-kiam yang juga merupakan ilmu pedang yang pernah ia pelajari dari Bu Kek Siansu! Cepat ia mengelak dan berseru.

“Apakah kalian murid Bu Kek Siansu? Aku adalah muridnya!”

Akan tetapi kakek bertongkat tidak menjawab, juga di antara dua puluh orang lebih itu tidak ada yang menjawab, seolah-olah nama Bu Kek Siansu belum pernah mereka mendengarnya. Dan kini ujung tongkat kakek itu meluncur dengan kecepatan kilat menotok ke arah jalan darah di pundak Han Ki!

Han Ki cepat mengelak dan tahulah ia bahwa kakek ini benar-benar telah menguasai Thian-te It-kiam dengan sempurna dan bahwa kakek itu hanya ingin mengujinya karena gerakan asli dari jurus itu adalah menusuk tenggorokan yang berarti merupakan serangan maut, akan tetapi oleh kakek itu diubah menjadi gerakan yang hanya menotok pundak. Timbul kegembiraannya dan ia cepat mencabut pedangnya.

“Srattt!” tampak sinar berkilau ketika pedang pemuda itu tercabut dan ia lalu memutar pedangnya sambil berseru. “Baiklah, orang tua yang gagah. Mari kita menguji ilmu Pedang Thian-te It-kiam!”

Ia lalu mainkan jurus Thian-te It-kiam yang amat lihai. Kakek itu berseru girang, juga semua orang yang berada di situ berseru, kaget karena segera mengenal gerakan pedang pemuda itu. Kakek itu nampak makin bersemangat dan terjadilah adu ilmu pedang yang lebih menyerupai latihan karena selalu keduanya, mainkan jurus-jurus yang sama, juga keduanya jelas tidak ingin saling bunuh!

Han Ki menjadi makin kagum ketika mendapat kenyataan bahwa kakek itu benar-benar telah menguasai ilmu pedang itu, bahkan tidak kalah baiknya oleh dia sendiri. Juga sinkang kakek itu amat hebat! Dia pun mengerti bahwa orang-orang yang mengaku penghuni Pulau Nelayan dan kelihatannya liar dan biadab ini ternyata bukanlah orang-orang kejam dan tidak mempunyai niat membunuhnya.

Seratus jurus lebih mereka bertanding. Akhirnya kakek itu meloncat mundur dan berseru, “Pemuda ini adalah keluarga sendiri!”

Diam-diam Han Ki menjadi terharu dan ia maklum bahwa sekumpulan keluarga aneh ini telah memiliki tingkat ilmu kepandaian yang hebat, yang kalau diberi kesempatan di dunia ramai, mereka akan menjadi jago-jago kang-ouw yang sukar ditandingi. Maka ia cepat menyimpan pedangnya, kembali dan menjura.

“Locianpwe, maafkan kekurang-ajaranku. Seperti telah kukatakan tadi, aku adalah murid Bu Kek Siansu, demikian pula kedua orang sumoi-ku itu. Locianpwe yang memiliki Ilmu Pedang Thian-te It-kiam dan saudara nelayan yang memiliki pukulan Pek-lek Sin-jiu tadi tentu mempunyai hubungan dengan Bu Kek Siansu guruku.”

“Kami tidak mengenal Bu Kek Siansu,” kata kakek itu.

Han Ki makin terheran karena menduga bahwa kakek itu agaknya tidak membohong. “Kalau begitu, dari manakah kalian mendapatkan ilmu-ilmu itu?”

Kakek itu mengangkat pundak. “Dari nenek moyang kami yang tinggal di pulau ini.”

“Locianpwe, sukakah Locianpwe menceritakan siapa nenek moyang Locianpwe, dan bagaimana dapat tinggal turun-temurun di tempat seperti ini?”

Wajah kakek itu kelihatan jemu akan percakapan mengenai nenek moyangnya.

“Aku tidak tahu, aku yang paling tua tidak tahu, tentu saja mereka semua pun tidak tahu. Sudahlah, orang muda. Kami adalah nelayan-nelayan di Puau Nelayan ini, selama turun-temurun menjadi nelayan dan tidak mau mencampuri urusan manusia-manusia lain. Tempat ini jarang didatangi orang asing dan engkau sekarang menjadi tamu kami. Marilah kau menikmati penyambutan kami seadanya. Kau boleh tinggal di sini selama kau dan sumoi-sumoi-mu menyukai, dan boleh pergi ke mana saja. Hanya pesanku, engkau dan sumoi-mu sama sekali tidak boleh melanggar batas puncak batu karang sana itu. Tempat itu adalah tempat keramat bagi kami, tak seorang pun boleh mengunjunginya. Mengertikah, orang muda?”

Han Ki mengangguk dan memandang ke arah bukit karang di ujung timur pulau itu dengan hati penuh ingin tahu. Tempat itu disebut tempat keramat dan tidak boleh didatangi orang.

Tiba-tiba Maya berkata kepada kakek itu, “Kakek, tempat apakah itu yang kau sebut tempat keramat?”

Han Ki terkejut akan kelancangan Maya dan merasa khawatir kalau-kalau kakek dan keluarganya yang aneh itu akan marah. Akan tetapi kakek itu agaknya berwatak sabar sekali, malah menjawab halus, “Anak perempuan yang cantik jelita, kalau engkau mau tahu, tempat itu adalah kuburan nenek moyang kami. Sudahlah, aku sudah tidak bisa bercerita banyak, dan aku tidak berani bicara banyak pula mengenai tempat yang kami anggap suci itu. Mari kita berpesta!”

Orang-orang itu lalu bersorak sambil mengangkut tiga ekor ikan besar, kemudian mereka mengajak Han Ki dan dua orang sumoi-nya meninggalkan pantai pergi ke tengah pulau di mana terdapat sebuah dusun kecil dengan pondok-pondok kayu yang sederhana pula. Beberapa anak-anak yang telanjang bulat menyambut kedatangan mereka sambil bersorak-sorak gembira.

Tak lama kemudian anak-anak itu mengelilingi Maya dan Siauw Bwee, memandang terheran-heran dan tertawa-tawa sehingga akhirnya Maya dan Siauw Bwee merasa suka kepada mereka. Biar pun mereka itu kelihatan tak berpakaian dan sederhana, namun mereka sama sekali tidaklah bodoh, dan juga tidak nakal. Di samping itu, semenjak kecil anak-anak ini sudah digembleng dengan ilmu silat sehingga gerakan mereka tangkas dan tubuh mereka kuat.

Setelah daging ikan di panggang dan diberi bumbu yang sedap baunya, tiga orang tamu itu ikut makan daging ikan dan buah-buahan, minum semacam arak buatan penghuni pulau itu sendiri yang rasanya seperti sari buah. Mereka semua bersikap ramah dan wajar sehingga Maya sendiri yang biasanya rewel kini merasa senang di pulau itu. Yang amat mengherankan di antara semua keanehan pada keluarga itu adalah bahwa mereka itu tidak mempunyai nama! Agaknya keluarga yang terasing dari dunia ramai ini telah kehilangan kebiasaan memberi nama pada anak mereka yang baru lahir sehingga sampai tua mereka tidak bernama.

Keadaan mereka yang aneh, kepandaian mereka yang tinggi dan satu sumber dengan ilmu yang diajarkan Bu Kek Siansu membuat hati Han Ki tertarik sekali untuk membuka rahasia yang menyelimuti keadaan keluarga nelayan ini. Maka tinggallah dia bersama kedua orang sumoi-nya untuk beberapa hari lamanya di pulau itu. Diam-diam ia melakukan penyelidikan dan akhirnya ia menduga bahwa letak rahasianya agaknya berada di daerah keramat di pulau itu.

Karena ia menduga keras bahwa keluarga ini tentu masih mempunyai hubungan dengan suhu-nya, Han Ki bertekad bulat untuk melakukan penyelidikan ke tempat keramat itu dan agaknya hal itu akan dapat ia lakukan dengan mudah karena keluarga nelayan itu memberi kebebasan sepenuhnya kepadanya. Sedangkan Maya dan Siauw Bwee setiap hari bergembira bersama anak-anak para nelayan itu, menangkap ikan di pantai pulau dan belajar renang dari anak-anak yang amat pandai berenang....

******************


SUDAH lama kita meninggalkan Tang Hauw Lam yang ditinggal pergi isterinya, yaitu Kam Kwi Lan Si Mutiara Hitam. Telah diceritakan di bagian depan betapa Mutiara Hitam, pendekar wanita yang gagah perkasa itu meninggalkan suami dan dua orang muridnya pergi menuntut balas atas kematian saudara kembarnya, yaitu Raja Talibu. Semenjak mendengar berita bahwa kakak kembarnya itu gugur dalam perang melawan tentara Mongol, hati pendekar wanita itu tidak pernah merasa tenteram lagi. Bayangan Raja Talibu, saudara kembarnya, selalu muncul dan menggodanya, menuntut dibalaskan kematiannya.

Dengan hati hancur akan tetapi tak dapat menahan gelora hatinya, Mutiara Hitam Kam Kwi Lan meninggalkan suami yang dicintanya untuk melaksanakan tugasnya yang menyiksa jiwanya. Maka berangkatlah ia seorang diri ke Mongol untuk menuntut balas atas kematian saudara kembarnya, tugas yang dia dan suaminya tahu takkan mungkin dapat dilakukan dengan berhasil, yaitu membunuh Raja Mongol!

Sungguh sengsara rasa hati Hauw Lam ketika isterinya yang tercinta itu meninggalkannya. Semenjak menikah dengan Mutiara Hitam, Pendekar Golok Sinar Putih ini tak pernah terpisah sehari pun dari isterinya, maka dapat dibayangkan betapa dunia ini berubah menjadi sunyi senyap, semua kegembiraan lenyap dari hatinya ketika Mutiara Hitam pergi dan dia terpaksa menanti dengan hati gelisah di Gunung Merak di daerah Khitan bersama dua orang muridnya.

Pendekar yang di waktu mudanya terkenal sebagai seorang yang selalu gembira dan jenaka ini kehilangan gairah hidupnya seperti matahari tertutup awan gelap. Dia kini berubah menjadi seorang pendiam dan murung, bahkan keras terhadap dua orang muridnya yang ia paksa untuk tekun mempelajari ilmu-ilmu dari kitab-kitab peninggalan isterinya.

Berbulan-bulan ia menunggu. Di lubuk hatinya Tang Hauw Lam maklum bahwa lebih tepat kalau dikatakan bahwa dia menunggu berita kematian isterinya dari pada menunggu kembalinya isterinya yang dicintainya itu. Siapakah seorang yang akan mampu membunuh seorang raja, apa lagi Raja Mongol yang pada waktu itu sedang kuat-kuatnya?

Gunung Merak merupakan bukit kecil dan tanah kuburan Raja-raja Khitan berada di lereng bukit itu. Tang Hauw Lam memilih tempat tinggal tidak jauh dari arah kuburan, sesuai dengan pesan isterinya. Jenazah Talibu dan isterinya pun oleh Pangilma Khitan yang setia sempat diselamatkan dan dimakamkan di tempat itu pula. Pendekar ini membangun sebuah pondok kecil di sebelah atas tanah kuburan dan hidup sebagai pertapa di tempat itu bersama dua orang muridnya.

Kurang lebih lima bulan kemudian, pada suatu pagi ketika Tang Hauw Lam sedang duduk bersemedhi, dia disadarkan teriakan dua orang muridnya.

“Suhu! Ada orang membongkar kuburan!”

Tang Hauw Lam membuka matanya yang kini tampak sayu dan muram. Wajahnya kurus sekali karena pendekar ini jarang sekali makan. Berita yang mengejutkan itu diterimanya dengan tenang.

“Ceritakan yang betul, apa yang terjadi?” katanya kepada dua orang muridnya yang sudah berlutut di depannya.

“Teecu dan Sumoi pergi ke kuburan untuk bermain-main dan berlatih. Di sana sudah terdapat seorang laki-laki bongkok yang menakutkan. Dia sedang menggali tanah kuburan. Ketika teecu menegurnya dan bertanya ia membentak teecu berdua dan mengusir,” kata Can Ji Kun.

“Dia pasti orang jahat, Suhu. Mukanya menakutkan dan dia galak sekali, mengusir teecu seperti anjing saja!” Ok Yan Hwa menyambung dengan suara penuh kemarahan.

Tang Hauw Lam maklum akan kenakalan kedua orang muridnya, maka ia bertanya sambil memandang tajam. “Apakah kalian tidak bersikap kurang ajar kepadanya? Apakah dia tidak memberitahukan nama dan apa keperluannya menggali tanah kuburan?”

Melihat sinar mata gurunya penuh selidik, Can Ji Kun tidak berani membohong lalu menceritakan dengan jelas apa yang telah ia alami bersama sumoi-nya....

******************


MEREKA melihat seorang laki-laki bongkok menggali tanah kuburan menggunakan sebuah cangkul. Karena mereka menduga bahwa orang itu tentu tidak berniat baik terhadap kuburan keluarga Raja Khitan yang juga menjadi kuburan keluarga subo mereka itu, dengan marah Ok Yan Hwa meloncat ke dekat laki-laki bongkok itu sambil membentak.

“Haii! Engkau tentu maling yang hendak merampok isi kuburan!”

“Mau apa kau membongkar tanah kuburan? Siapa engkau?” Can Ji Kun juga membentak marah.

Laki-laki bongkok itu menunda pekerjaannya menggali tanah, menoleh dan memandang mereka dengan mata terheran karena sesungguhnya dia tidak mengira akan bertemu dengan dua orang anak-anak di tempat sunyi itu, kemudian berkata nyaring. “Kalian anak-anak tahu apa? Pergilah bermain di tempat lain, jangan di tempat keramat ini!”

Dan dia melanjutkan pekerjaannya menggali tanah. Tiap kali cangkulnya menghunjam tanah, sebongkah tanah yang besar terangkat dan ternyata tenaga laki-laki itu besar sekali. Akan tetapi dua orang anak yang seperti dua ekor anak harimau itu tidak melihat kenyataan ini.

Merasa tidak dihiraukan, Can Ji Kun lalu membentak, “Maling kurang ajar, pergilah!” Ia lalu menerjang dengan pukulan tangan kanannya ke arah punggung yang bongkok.

“Dukk!” Pukulan Can Ji Kun yang baru berusia sebelas tahun itu amat keras karena dia terlatih semenjak kecil. Akan tetapi akibat pukulan itu membuat dia terjengkang dan roboh bergulingan, tangannya terasa nyeri.

Melihat suhengnya roboh, Ok Yan Hwa membentak keras, “Maling hina! Berani kau merobohkan Suheng-ku?” anak perempuan ini menerjang pula dengan pukulan tangan miring ke arah tengkuk Si laki-laki Bongkok yang masih terus menggali tanah tanpa mempedulikan mereka.

“Plakk! Aduh...!” Seperti halnya Can Ji Kun, begitu tangannya mengenai tengkuk laki-laki itu, Ok Yan Hwa terpelanting dan memegang tangannya yang terasa panas dan nyeri.

Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa yang merasa kesakitan tangannya itu masih belum kapok, bahkan kini keduanya mengambil sebuah batu besar dan berbareng menyerang laki-laki itu dengan batu di tangan.

“Hemm... anak-anak nakal!” Laki-laki itu membalik dan sekali tangkap ia telah merampas dua buah batu itu, kemudian meremas dengan tangan dan dua buah batu itu hancur lebur. Melihat ini, Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa menjadi pucat, kemudian membalikkan tubuh dan lari untuk melapor kepada suhu mereka....

“Demikianlah, Suhu. Teecu lalu lari ke sini. Orang itu jahat dan lihai sekali!”

“Agaknya dia bukan manusia, Suhu. Mungkin setan! Kalau manusia, perlu apa membongkar kuburan?” kata Ok Yan Hwa.

Hati Tang Hauw Lam tertarik sekali. Kalau ada orang kuat menahan pukulan muridnya yang masih kecil, bukanlah hal yang mengherankan. Juga meremas hancur batu-batu itu bukan hal aneh. Dalam keadaan biasa, tentu ia akan menegur dua orang muridnya yang dianggapnya lancang. Akan tetapi laki-laki bongkok itu membongkar tanah kuburan keluarga Raja Khitan! Hal ini amat mencurigakan.

Maka ia bangkit berdiri dan berkata, “Akan kutemui dia, akan tetapi kalian hanya boleh menonton saja, jangan sekali-kali lancang mencampuri.”

Dua orang murid itu lalu mengikuti guru mereka sambil berjalan membusungkan dada. Kini Si Bongkok itu akan tahu rasa, pikir mereka karena hati mereka sakit kalau memikirkan kekalahan mereka tadi.

Ketika Tang Hauw Lam tiba di tanah kuburan itu, laki-laki bongkok masih menggali tanah sehingga legalah hati pendekar ini karena ternyata bahwa dua orang muridnya itu tidak membohong. Akan tetapi dia juga lega melihat bahwa laki-laki itu sama sekali bukan membongkar kuburan karena yang digalinya adalah tanah kosong, sungguh pun tidak jauh dari kuburan raja Khitan. Ia memperhatikan orang itu.

Seorang laki-laki yang bongkok berpunuk, pakaiannya sederhana seperti pakaian pelayan, wajahnya buruk dan kelihatan berduka. Di atas tanah, tak jauh dari makam Raja Khitan, tampak dua buah guci perak tempat abu jenazah. Makin tertarik hati Tang Hauw Lam dan ia pun merasa kurang senang karena jelas agaknya bahwa orang ini sedang menggali tanah untuk mengubur abu jenazah. Hal ini dianggapnya amat lancang. Mana mungkin abu jenazah sembarang orang dimakamkan di tanah kuburan keluarga Raja Khitan?

“Sobat, apa yang kau lakukan di sini?” Ia menegur.

Si Bongkok itu kembali menunda pekerjaannya dan menoleh dengan alis berkerut. Agaknya ia tidak senang sekali pekerjaannya yang dilakukan dengan tekun itu selalu terganggu. Akan tetapi ketika melihat seorang laki-laki setengah tua yang tampan dan gagah, biar pun kurus dan agak pucat, ia menghentikan pekerjaannya, membalikkan tubuh dan berdiri menghadapi Tang Hauw Lam. Setelah memperhatikan Hauw Lam dan merasa yakin tidak pernah bertemu dengan laki-laki gagah itu, ia menjawab singkat.

“Kalau engkau suhu dari dua orang anak nakal tadi, lebih baik engkau pergi dan nasehati murid-muridmu agar jangan mencari urusan orang lain. Apa yang kulakukan di sini adalah urusanku dan tiada sangkut pautnya denganmu. Pergilah, aku sedang sibuk!”

Tang Hauw Lam mengerutkan keningnya. Orang ini jelas bukan orang Khitan, melainkan bersuku bangsa Han yang sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan keluarga Raja Khitan. Jawaban orang ini ketus dan tidak ramah, bahkan memandang rendah kepadanya.

“Kalau begitu, aku pun tidak mau tahu siapa yang kau kubur di sini, akan tetapi yang sudah jelas, engkau tidak boleh mengubur abu jenazah di tempat ini!”

Orang bongkok itu memandang Tang Hauw Lam dengan alis berkerut dan mata bersinar penuh kemarahan. “Hemm... siapa yang melarangnya?”

“Aku yang melarangnya!” Hauw Lam berkata tegas.

Si Bongkok menjadi semakin marah, berdiri dan menantang. “Kalau aku tetap hendak mengubur abu jenazah di sini, engkau mau apa?”

Tang Hauw Lam juga menjadi marah sekali. “Akan kuusir engkau dari sini dengan kekerasan!”

“Hemm, kau kira akan gampang saja? Cobalah!”

Kalau isterinya berada di sampingnya, belum tentu Hauw Lam akan suka melayani Si Bongkok ini dengan kekerasan dan tentu ia akan lebih mengandalkan kepandaian bicara. Akan tetapi semenjak isterinya pergi, ia pemurung dan pemarah. Maka kini menyaksikan sikap yang menantang dan sama sekali tidak memandangnya, amat merendahkan, dia tidak dapat menahan kesabarannya dan membentak.

“Manusia sombong! Pergilah!” Sambil membentak demikian, ia menerjang maju dan menggunakan tangan kanannya untuk mendorong. Bukan sembarang dorongan karena itu adalah pukulan Pek-kong-ciang yang amat ampuh dan kuat, mengandung tenaga sinkang yang dapat merobohkan lawan dari jarak jauh.

Si Bongkok itu membuat gerakan menangkis dengan tangannya, bahkan meloncat maju pula sehingga kedua lengan mereka bertemu dengan kuatnya.

“Desss...!”

“Ahhh...!”

Keduanya meloncat mundur dengan kaget ketika merasa betapa lengan mereka tergetar hebat tanda bahwa tenaga lawan amat kuatnya. Yang lebih kaget adalah Hauw Lam. Pada waktu itu ilmu kepandaiannya telah meningkat hebat, karena selama perantauannya dengan isterinya ke negeri barat ia telah memperoleh pengalaman dan penambahan ilmu-ilmu silat yang hebat, juga tenaga sinkang-nya bertambah kuat sehingga untuk masa itu jarang ada orang kang-ouw yang mampu menandingi Pek-kong-to Tang Hauw Lam, suami Mutiara Hitam ini.

Akan tetapi, dalam pertemuan tenaga sakti tadi, Hauw Lam merasa betapa tangan Si Bongkok itu amat kuatnya dan mengandung tenaga mukjizat, tenaga sinkang yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali! Bagaimana seorang yang hanya berpakaian pelayan dapat memiliki ke pandaian sehebat ini?

Di lain pihak, Si Bongkok itu pun agaknya terkejut sekali dan baru tahu bahwa orang yang dilawannya bukanlah orang sembarangan sehingga ia mulai memandang penuh perhatian. Karena maklum bahwa orang ini tentulah seorang pendekar yang berilmu tinggi, maka timbul kekhawatiran di hatinya kalau-kalau dia salah tangan dan salah duga. Orang yang berkepandaian sehebat itu tidak mungkin hanya menghalanginya karena sebab yang remeh seperti mengalahkan dua orang muridnya tadi.

“Orang gagah, ketahuilah bahwa aku Gu Toan hanya melakukan tugas hidupku dan aku akan mengubur abu jenazah majikanku di sini dengan taruhan nyawa. Siapa pun juga tidak boleh menghalangi dikuburnya abu jenazah ini di sini!” dengan ucapan ini, Si Bongkok itu agaknya hendak minta maaf dan mengajukan alasan mengapa dia bersikeras hendak mengubur abu jenazah di situ.

Tang Hauw Lam belum pernah mendengar nama Gu Toan. Setelah diingat-ingat dan merasa yakin bahwa dia belum pernah mengenal orang ini, dia pun menjawab, “Dan aku pun mempertaruhkan nyawaku untuk menjaga kebersihan tanah kuburan ini dari gangguan siapa pun juga. Tidak boleh sembarang jenazah atau abunya dikuburkan di tempat ini!”

Gu Toan tercengang dan penasaran, lalu bertanya. “Bolehkan aku mengetahui siapakah Sicu ini? Dan hak apa yang Sicu miliki untuk mempertahankan tanah kuburan ini?”

“Aku adalah Pek-kong-to Tang Hauw Lam. Tanah kuburan ini adalah kuburan keluarga isteriku, bahkan Raja Talibu yang dimakamkan di sini adalah saudara iparku!”

Gu Toan terbelalak memandang ragu-ragu dan bertanya gugup, “Mutiara Hitam...?”

Hauw Lam mengangguk. “Isteriku!”

Tiba-tiba terjadi hal yang membuat Tang Hauw Lam terkejut dan terheran-heran, demikian pula kedua orang muridnya. Di luar dugaannya sama sekali, Si Bongkok itu menjatuhkan diri berlutut di depannya sambil menangis! Gu Toan menangis sesenggukan, mengambil sebuah di antara dua guci terisi abu jenazah, memeluknya dan berkata terisak-isak.

“Hamba Gu Toan mohon ampun... harap Tang-taihiap ketahui... ini... abu jenazah dari... majikan hamba... mendiang Menteri Kam Liong...!”

Wajah Hauw Lam menjadi pucat seketika dan matanya terbelalak memandang ke arah guci terisi abu jenazah. “Apa?! Kanda Kam Liong... mati...? Benarkah...?”

“Hamba adalah pelayan beliau. Beliau tewas karena dikeroyok para panglima kerajaan... dan yang satu itu abu jenazah Panglima Khu Tek San, murid majikan hamba... Mereka tewas dalam menolong adik beliau, Kam Han Ki Taihiap...”

“Ahhh...!” Tang Hauw Lam menjatuhkan diri berlutut, menyentuh guci itu dan berkata lirih, “Tidak dinyana... Kam Liong Twako...!”

Sambil berlutut, Gu Toan lalu menceritakan semua peristiwa yang menimpa keluarga majikannya. Menceritakan pula betapa pada saat terakhir, Kam Han Ki, Maya dan Khu Siauw Bwee tertolong oleh Bu Kek Siansu dan dia berhasil pula membawa pergi jenazah Kam Liong dan muridnya, menyelamatkan pula kitab-kitab dan senjata, kemudian membakar jenazah Kam Liong dan Khu Tek San dan membawa abu jenazah ke tempat itu untuk dikubur sesuai dengan pesan Bu Kek Siansu.

Tang Hauw Lam mendengarkan penuturan itu dengan penuh keharuan. Hatinya berduka bukan main, makin tersayat rasa hatinya kalau mengenangkan nasib keluarga isterinya. Raja Talibu saudara kembar isterinya, tewas dan terbasmi seluruh keluarga berikut kerajaannya. Kini Menteri Kam Liong, saudara tertua isterinya tewas dalam keadaan begitu rendah, sebagai pemberontak, padahal tadinya Menteri Kam terkenal sebagai seorang menteri yang amat setia! Mengapa begitu buruk nasib keturunan Suling Emas, pendekar perkasa yang menjadi ayah mertuanya? Dan sekarang, isterinya juga belum diketahui nasibnya!

“Aihhh. Gu Toan... engkau seorang yang amat setia. Terima kasih atas semua pembelaanmu, dan kau maafkanlah aku dan murid-muridku. Gu Toan, aku pun sedang menanti berita tentang isteriku...”

Karena tidak menganggap Gu Toan si bongkok sebagai pelayan biasa, maka tanpa ragu-ragu lagi Tang Hauw Lam menceritakan kepergian isterinya. Mendengar ini Gu Toan terkejut dan ikut prihatin. Kemudian Tang Hauw Lam membantu Gu Toan menggali lubang kuburan untuk mengubur abu jenazah Kam Liong dan Khu Tek San sebagaimana mestinya, bahkan dengan penuh khidmat dia bersama muridnya menyembahyangi kuburan baru itu.

Dua hari kemudian, selagi Tang Hauw Lam, kedua orang muridnya dan Gu Toan yang berkabung menunggu kuburan Kam Liong, datanglah serombongan pasukan yang didahului dengan bunyi terompet dan tambur. Hauw Lam dan Gu Toan terkejut dan sudah siap-siap. Tang Hauw Lam yang khawatir akan datang bahaya lalu menyuruh kedua orang muridnya untuk bersembunyi di belakangnya dan memesan agar jangan sembarangan bicara atau bergerak.

Tak lama kemudian muncullah serombongan pasukan terdiri dari lima puluh orang yang berkuda. Sikap mereka gagah perkasa dan pakaian perang mereka gemerlap ditimpa matahari pagi. Komandan pasukan itu bertubuh tinggi besar seperti raksasa, mukanya penuh cambang bauk dan sikapnya gagah sekali. Sebatang golok besar targantung di pinggang, dan kuda yang ditungganginya juga kuda putih yang tinggi besar.

Ketika komandan pasukan ini tiba di dekat kuburan dan melihat Tang Hauw Lam bersama Gu Toan berdiri dengan sikap tenang namun siap waspada, ia mengangkat tangan memberi isyarat agar pasukannya berhenti. Kemudian terdengar suaranya yang nyaring bertanya, ditujukan kepada Gu Toan dan Hauw Lam.

“Kami adalah pasukan Mongol yang jaya, sengaja datang ke tanah kuburan keluarga Khitan untuk mencari seorang yang bernama Tang Hauw Lam Pek-kong-to!”

Jantung Tang Hauw Lam berdebar keras dan ia meloncat ke depan. Wajahnya berubah ketika ia berkata, “Akulah Pek-kong-to Tang Hauw Lam! Ada keperluan apakah pasukan Mongol mencari aku?”

Semua anak buah pasukan memandang ke arah Hauw Lam, dan komandan itu lalu memberi hormat secara militer, kemudian berkata dengan sikap hormat, “Kami melaksanakan perintah raja kami untuk pertama-tama menyampaikan salam dan hormat raja kami yang setinggi-tingginya kepada pendekar Tang Hauw Lam, disertai pujian bahwa Tang-taihiap adalah seorang yang amat bahagia dapat menjadi suami seorang pendekar wanita perkasa seperti Mutiara Hitam!”

Hati pendekar itu makin berdebar. Apakah artinya ini? Bukankah isterinya menuju ke Mongol dengan maksud membunuh Raja Mongol? Apakah yang telah terjadi? Karena dia memang selalu berkhawatir akan nasib isterinya, maka dia tidak dapat menahan kesabarannya lagi dan berteriak, “Apa yang terjadi dengan isteriku? Lekas katakan dan jangan memutar-mutar omongan! Di mana Mutiara Hitam dan apa yang telah terjadi?”

“Kami hanya utusan yang menyampaikan perintah langsung dari raja kami. Setelah menyampaikan salam dan hormat, kami bertugas menyerahkan ini kepada Taihiap!”

Panglima Mongol itu mengambil sebuah bungkusan sutera kuning dari tangan seorang pembantunya, melompat turun dari kudanya dengan sigap, kemudian dengan penuh hormat dan membungkuk menyerahkan bungkusan sutera kuning itu kepada Hauw Lam. Dengan kedua tangan agak gemetar dan jantung berdebar tegang Hauw Lam menerima bungkusan itu tanpa berkata apa-apa, kemudian menurunkan bungkusan dan hendak membukanya.

“Tang-taihiap, kami telah melaksanakan tugas dengan baik. Kami mohon diri hendak kembali ke Mongol.”

“Tunggu dulu!” Hauw Lam tidak melanjutkan niatnya membuka bungkusan, tetapi ia melompat berdiri dan berkata, “Ceritakan dulu, apa yang terjadi dengan isteriku!”

“Tang-taihiap, kami tidak berhak bicara. Raja kami hanya mengutus seperti yang telah kami lakukan, dan Taihiap tentu akan mengerti kesemuanya setelah membaca surat dari raja kami yang berada di dalam bungkusan. Selamat tinggal!” Panglima itu meloncat ke atas kudanya, memberi aba-aba dan pasukan itu bergerak cepat. Kuda mereka membentuk barisan yang rapi dan ketika pasukan bergerak pergi, tampak debu mengebul tinggi menutupi barisan yang pergi dengan cepatnya.

Tang Hauw Lam masih berdiri termangu-mangu ketika Gu Toan berkata halus, “Taihiap, hidup memang banyak penderitaan, akan tetapi kalau kita kuat menghadapinya, penderitaan merupakan pengalaman hidup yang amat berguna.”

Tang Hauw Lam membalikkan tubuhnya, berlutut menghadapi bungkusan sutera kuning, hampir tidak berani membuka bungkusan itu. Ia mengheningkan cipta, memusatkan panca indera dan memperkuat hatinya dengan hawa murni. Setelah hatinya tenang, dengan jari-jari yang tak bergetar lagi ia mulai membuka bungkusan kain kuning...


BERSAMBUNG KE JILID 12


Thanks for reading Istana Pulau Es Jilid 11 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »