Iblis Cebol

Cerita silat serial pendekar pulau neraka
Episode Perempuan Bertopeng Emas

Karya Teguh S
Penerbit pertama Cintamedia, Jakarta



cerita silat pendekar pulau neraka episode iblis cebol


SATU

Ki Kalawungu sejak tadi mondar mandir dengan wajah gelisah di ruangan utama perguruannya yang cukup besar dan megah. Sesekali matanya menatap lurus ke depan, seperti hendak menembus batas cakrawala. Lalu kembali dia menghela napas pendek, dan duduk di kursinya. Tidak lama kemudian, laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun itu bangkit dan melangkah mondar-mandir lagi.

Sementara itu beberapa muridnya memperhatikan dengan wajah bingung. Mereka tidak tahu, apa yang harus dilakukan untuk menenangkan kegelisahan laki-laki yang menjadi guru mereka. Mereka juga tidak mengerti, apa yang menyebabkan kegelisahan Ki Kalawungu.

“Keparat!” Ki Kalawungu mendesis geram seraya mengepalkan tangan. Kata-kata seperti itu entah yang keberapa kali terdengar. Semua membisu, seperti tadi. Namun seorang murid utama agaknya merasa tidak enak hati kalau hanya diam diri. Maka dia memberanikan diri untuk mendekat.

“Guru, tidakkah lebih baik kalau kita bersikap tenang menunggunya...?”

Ki Kalawungu melirik ke arah murid tertuanya, lalu menghela napas.

“Bagaimana aku bisa tenang, Danang?”

“Kita akan menghadapinya, sampai titik darah terakhir...,” sahut murid utama yang dipanggil Danang, pelan.

Ki Kalawungu memalingkan mukanya, lalu menatap tajam sepasang mata Danang Prakoso.

“Danang! Apakah kau kira gurumu ini takut menghadapinya...?” tegur Ki Kalawungu.

“Kenapa Guru berpikiran demikian? Kami semua tahu, Guru bukanlah seorang pengecut.”

Ki Kalawungu menghela napas untuk yang kesekian kalinya. “Kalau saja kutahu keberadaannya, niscaya aku yang akan datang kepadanya. Dadaku terasa sesak mendengar sepak terjangnya yang bengis serta biadab. Dan aku merasa tertantangmendengar kesombongannya yang ingin menghancurkan perguruan ini serta seluruh perguruan silat di muka bumi!” kata laki-laki setengah baya itu.

Ki Kalawungu lalu mengeluarkan selembar kulit kambing dari balik bajunya. Kemudian dibacanya tulisan yang tertera sambil tersenyum mengejek. Danang Prakoso tahu sudah berapa kali gurunya telah membaca surat tantangan yang berada di tangannya. Namun setiap kali gurunya membaca, hanya kernyitan di dahi yang muncul.

“Siapa sebenarnya Iblis Cebol keparat ini?!” desis Ki Kalawungu seraya melipat surat itu, dan menyimpannya kembali ke balik bajunya.

“Dengar dengar dia bukan manusia, Guru....”

“Bukan manusia katamu?” Ki Kalawungu dengan dahi berkerut.

“Entahlah. Aku sendiri belum pernah melihatnya. Tapi kata orang-orang, kepandaiannya hebat bahkan kebal terhadap senjata tajam,” desah Danang Prakoso. tertunduk lesu.

“Hm.... Apakah dengan begitu dia bisa bertindak seenaknya membantai semua tokoh persilatan?” dengus Ki Kalawungu, dengan wajah kelam.

Murid tertua Ki Kalawungu itu terdiam. Kepalanya lalu menunduk menekuri tanah. Ki Kalawungu menghela napas pendek.

“Danang, ambilkan keris pusakaku...,” ujar orang tua itu.

“Baik, Guru...,” sahut Danang Prakoso.

Laki-laki berusia lima puluh tahun itu bergerak cepat menghampiri salah seorang murid lain yang sejak tadi menggenggam sebuah keris terbungkus kain merah. Setelah mengambil keris itu, Danang Prakoso kembali menyerahkan pada gurunya.

Ki Kalawungu mengamat-amati sesaat bungkusan kain merah itu, lalu membukanya pelan-pelan. Sementara, Danang Prakoso mengambil kain merah yang membungkusnya, dan menyerahkan pada murid yang tadi memegang senjata pusaka Ki Kalawungu.

“Keris ini bukan sekadar barang peninggalan turun-temurun. Tapi, juga lambang kejayaan Perguruan Jalak Sampurno. Dan kita wajib mempertahankannya mati-matian...,” gumam Ki Kalawungu.

Danang Prakoso membungkuk hormat begitu gurunya mengacungkan senjata pusaka itu. Demikian juga semua murid Perguruan Jalak Sampurno. Ketika Ki Kalawungu menyelipkan keris itu ke pinggang, barulah mereka mengangkat kepala kembali. Orang tua itu memandang seksama pada seluruh muridnya.

“Murid-muridku! Hari ini, seperti yang telah dijanjikan lewat surat tantangannya, Iblis Cebol akan datang bersama kesombongannya untuk menghancurkan kita. Bahkan belakangan ini telah banyak perguruan silat serta tokoh-tokoh berkepandaian tinggi yang binasa di tangannya. Ini membuktikan kalau orang itu memiliki kesaktian hebat. Dan aku telah bertekad untuk menghadapinya sampai titik darah yang penghabisan. Namun begitu, tidak menghalangi kalian untuk mundur jika ada yang takut Silakan mundur dan pergilah dari tempat ini untuk menyelamatkan diri, selagi masih ada kesempatan...!” kata Ki Kalawungu, datar. Namun suaranya cukup terdengar oleh seluruh muridnya.

“Guru! Kami akan tetap setia mendampingimu untuk menghadapi Iblis Cebol...!” sahut murid-murid Perguruan Jalak Sampurno serentak dengan suara lantang.

Ki Kalawungu tersenyum haru mendengar jawaban murid-muridnya. Namun baru saja hendak melanjutkan kata-katanya....

“Ha ha ha...! Sekumpulan tikus hendak mencoba mengaum menanti kehadiran seekor harimau liar...!” Tiba-tiba terdengar suara tawa menggelegar, memenuhi tempat ini.

“Hei?!”


***


Mereka yang berada di tempat itu terkejut kaget Bahkan sebagian menutup kedua telinga dengan tubuh gemetar hebat, akibat pengerahan tenaga dalam kuat yang disalurkan lewat suara tawa itu. Tak lama kemudian, sesosok tubuh kecil melesat ringan, dan mendarat tepat di hadapan Ki Kalawungu pada jarak tujuh langkah.

Sehingga semua yang ada di situ bisa melihat sosok bertubuh kecil dengan kepala botak berukuran besar. Kedua tangannya sebatas siku terlihat bersisik bagai ular dengan kuku-kuku panjang. Tangan kanannya menggenggam sebatang tongkat dari baja yang amat keras sepanjang lebih kurang sepuluh jengkal. Sepasang matanya yang bulat lebar memandang tajam kepada Ki Kalawungu.

“Hei, Monyet Tua! Kaukah yang bernama Ki Kalawungu...?!” bentak laki-laki bertubuh cebol itu.

“Kurang ajar...!” bentak Danang Prakoso garang. Laki-laki berbadan kekar ini sudah hendak mencabut keris di pinggang, untuk menyerang laki-laki botak yang baru datang.

“Danang! Tenanglah dulu. Tidak baik bersikap begitu pada tamu kita....” Untung saja Ki Kalawungu sudah keburu mencegah. Langsung gerakannya terhenti.

“Tapi, Guru...!” Danang Prakoso hendak membantah, namun Ki Kalawungu telah memberi isyarat lewat lambaian tangannya.

Terpaksa dia berdiam diri dengan menahan amarah menggelegak. Ki Kalawungu memandang tajam ke arah laki-laki cebol berusia sekitar empat puluh tahun di hadapannya.

“Kisanak! Kaukah yang berjuluk Iblis Cebol? Kalau benar, memang akulah orang yang kau cari. Aku Kalawungu, Ketua Perguruan Jalak Sampurno...,” kata laki-laki setengah baya itu, datar.

“Hm.... Ternyata kau tidak salah mengenali orang. Nah! Maksud kedatanganku sudah kau ketahui. Maka, cabutlah senjatamu dan hadapi aku. Kau boleh pilih. Satu lawan satu, atau sekaligus minta bantuan pada murid-muridmu untuk mengeroyokku...!” lantang suara laki-laki kecil yang berjuluk Iblis Cebol bernada jumawa.

Ki Kalawungu tersenyum halus seraya melangkah mendekati.

“Untuk menghadapimu, rasanya tenaga mereka belum perlu kugunakan...,” balas Ki Kalawungu sambil melangkah pelan. Kakinya kemudian berhenti tepat pada saat jarak mereka terpaut empat langkah.

“Ha ha ha...! Kau kira aku butuh segala ocehanmu? Menghadapiku seorang diri atau mengeroyokku, sama saja. Kalian semua akan mampus di tanganku!” kata Iblis Cebol, makin jumawa.

“Kisanak! Tidak usah banyak bicara. Majulah...!” sahut Ki Kalawungu mendengus tajam. Agaknya orang tua ini geram juga mendengar kesombongan manusia cebol di depannya.

“Huh! Jaga seranganku!” dengus Iblis Cebol.

Tiba-tiba saja tongkat di tangan Iblis Cebol terayun menghajar batok kepala Ki Kalawungu. Sedangkan orang tua pemimpin Perguruan Jalak Sampurno itu terkesiap, sama sekali tidak menduga serangan dengan gerakan secepat itu. Namun sebagai tokoh yang telah banyak pengalaman dalam dunia persilatan, tentu saja dia tidak akan lengah begitu saja. Dengan gerakan tidak kalah gesit, dia melompat ke samping disertai putaran tubuh.

“Hiiih!”

Dan tiba-tiba kaki kanan Ki Kalawungu mencoba menyambar batok kepala laki-laki cebol yang setinggi dada. Namun dengan tangkas Iblis Cebol menangkis dengan tangannya.

Plakkk!
“Uhhh...!”

Ki Kalawungu mengeluh tertahan begitu kakinya terpapak tangan. Meski telah mengerahkan tenaga dalam kuat, namun kakinya seperti menghajar tembok baja yang keras bukan main.

“Yeaaah...!”

Ki Kalawungu langsung melompat ke samping, ketika tongkat di tangan Iblis Cebol menyambar kepala. Dan belum juga dia bersiaga, pinggangnya telah terancam oleh hantaman tongkat yang cepat, sulit ditangkap mata biasa.

“Hup!”

Orang tua itu jadi melompat ke sana kemari, menghindari kejaran tongkat lawan yang mengikuti setiap gerakannya. Rasanya gempuran laki-laki cebol itu dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam hebat sekali. Rambut dan pakaiannya sampai berkibar-kibar, di hantam angin serangan yang kuat dan tajam.

“Yeaaah...!

Permainan tongkat Iblis Cebol memang bukan main hebatnya. Meski Ki Kalawungu mampu menghindarinya, namun bisa merasakan kalau tidak akan lama lagi bisa dijatuhkan bila terus menggunakan tangan kosong. Sedangkan saat ini tak ada kesempatan sedikit pun baginya untuk membuka jurus baru, karena Iblis Cebol terus mengejarnya.

Maka, sambil menggeram keras, dilepaskannya satu pukulan jarak jauh ke arah laki-laki bertubuh kerdil itu. Iblis Cebol sama sekali tidak terkejut. Malah tangannya bergerak cepat, memapak pukulan Ki Kalawunggu.

Plak!
Wutt!”

Kedua pukulan mereka beradu, menimbulkan siur angin kencang. Bahkan tubuh Ki Kalawungu sampai bergetar hebat, langsung terhuyung-huyung ke belakang terkena pukulannya yang berbalik ke arahnya. Pada saat tubuh Ki Kalawungu terhuyung-huyung, tubuh kerdil Iblis Cebol melompat ke arahnya dengan tongkat siap menghajar.

Namun Ki Kalawungu cepat memperbaiki keadaannya. Maka secepat itu pula, keris pusakanya dicabut, untuk menangkis senjata tongkat laki-laki cebol itu.

“Hih!”
Trakkk!

Kedua senjata mereka beradu. Namun wajah orang tua itu jadi meringis menahan sakit. Keris di tangannya nyaris lepas, saking kuat dan hebatnya hantaman tongkat lawan.

“Hmmm...!”

Iblis Cebol menggeram. Dan kembali tongkatnya melesat cepat, menghantam bagian bawah tubuh lawan.

“Uts!”

Ki Kalawungu terpaksa melompat ke atas. Dan saat itulah Iblis Cebol tiba-tiba menyentakkan telapak tangan kirinya yang terkembang. Maka seketika serangkum cahaya kelabu langsung melesat cepat, menyambar ke arah Ketua Perguruan Jalak Sampurno diiringi desir angin kencang.

“Hiiih...!”
“Uts!”
“Yeaaah...!”

Ki Kalawungu menyadari kalau tidak mungkin menghindar dari pukulan lawan. Karena di samping melepaskan pukulan jarak jauh, Iblis Cebol telah menyiapkan serangan tongkatnya. Maka sambil menggeretakkan rahang menahan geram, Ki Kalawunggu memapak serangan Iblis Cebol dengan pukulan jarak jauh pula.

Jdeeer...!
“Aaakh...!”


***

Dua pukulan bertenaga dahsyat beradu. Ki Kalawungu kontan melenguh dan tubuhnya terjungkal ke belakang. Hantaman Iblis Cebol memang kuat sekali, sehingga kulit tangan orang tua itu sampai terkelupas. Bahkan keris pusaka yang digenggamnya terlepas. Keseimbangan tubuh Ketua Perguruan Jalak Sampurno itu menjadi kacau. Maka saat itulah cepat sekali ujung tongkat Iblis Cebol bergerak, menghantam batok kepala tanpa bisa dicegah.

Wuttt!
Prakkk!
“Aaakh...!”

Ki Kalawungu memekik nyaring begitu kepalanya terhantam tongkat Iblis Cebol! Tubuhnya terhuyung-huyung sambil memegangi kepalanya yang retak mengucurkan darah. Tak lama kemudian dia ambruk dan tidak bergerak lagi setelah menggelepar sesaat.

“Jahanam Keparat...!”

Semua murid Perguruan Jalak Sampurno tersentak kaget, melihat kejadian yang menimpa guru mereka. Dan untuk sesaat mereka hanya terkesima oleh kejadian yang demikian cepatnya. Sementara, terlihat Danang Prakoso menggeram dan langsung melompat menyerang Iblis Cebol.

“Kau harus menebus kematian guruku...!”
“Serang orang itu...!”

Melihat sikap murid tertua itu, yang lain serentak ikut menyerang Iblis Cebol. Apalagi ketika saat itu terdengar suara nyaring yang memberi perintah pada mereka.

“He he he...! Ayo ke sini cepat! Susullah guru kalian di akherat!” tantang Iblis Cebol sambil tertawa keras.

“Yeaaah...!”

Beberapa serangan langsung meluncur datang, mengancam Iblis Cebol.

“Huh!”

Namun tongkat di tangan Iblis Cebol sudah berkelebat cepat, memapaki serangan-serangan lawannya.

Trakkk! Trakkk!

Begitu habis memapak, Iblis Cebol melanjuti dengan kebutan-kebutan dahsyat. Akibatnya....

Prakkk!
“Aaa...!”

Kini jerit kematian mulai mewarnai tempat itu. Semua murid Perguruan Jalak Sampurno menyerang dengan semangat dan amarah menggebu-gebu. Namun, tongkat Iblis Cebol berkali-kali menyambar. Satu persatu korban berjatuhan. Dan darah pun mulai menggenangi sekitarnya.

“Setan...!”

Danang Prakoso menggeram. Dan seketika kerisnya menyambar wajah Iblis Cebol. Namun, laki-laki kerdil itu tentu saja tak tinggal diam. Tongkatnya cepat digerakkan menyilang di depan wajah.

Trang!

Benturan dua senjata terjadi, membuat keris di tangan Danang Prakoso terpental jauh. Murid tertua Ki Kalawungu itu menggeram, namun tak mampu berbuat apa-apa. Dan dia cepat melompat ke samping sambil jungkir balik, ketika terjangan senjata Iblis Cebol kembali datang. Dan untung saja murid-murid lain kembali menyerang Iblis Cebol. Padahal, keadaan Danang Prakoso sudah terdesak hebat.

“Ha ha ha...! Ayo ke sini! Terimalah kematian kalian! Heaaat...!”

Seketika Iblis Cebol bergerak cepat dengan kebutan-kebutan yang sulit diikuti pandangan mata biasa. Begitu cepatnya dia bergerak, sehingga....

“Aaa...!”

Pekik kematian kembali menggema, disusul oleh ambruknya beberapa sosok tubuh dengan kepala remuk dihantam tongkat Iblis Cebol.

“Hi hi hi...! Ke sini, cepat! Ayo! Ayo...!”
“Kurang ajar...!”

Meski menyadari kalau perlawanan yang dilakukan tidak berarti banyak, namun murid-murid Perguruan Jalak Sampurno sama sekali tidak mengenal takut. Mereka terus bertarung gigih, menahan gempuran-gempuran Iblis Cebol. Demikian pula Danang Prakoso. Dengan sebuah golok yang diraih dari seorang murid lain, murid tertua ini cepat memapak hantaman tongkat Iblis Cebol.

Namun goloknya lagi-lagi terpental jauh. Dan tubuhnya cepat melompat menghindari kibasan tongkat laki-laki kerdil itu. Namun agaknya kali ini Iblis Cebol sama sekali tidak mau memberi kesempatan. Ujung tongkatnya cepat
berkelebatan menghantam tulang kering di kaki kanan Danang Prakoso yang baru saja terangkat.

Trakkk!
“Akh...!”

Danang Prakoso kontan memekik keras begitu tulang kaki kanannya dihantam tongkat lawan hingga remuk. Dia bermaksud bergulingan untuk menyelamatkan diri dari kejaran tongkat lawan selanjutnya, namun terlambat. Dan....

Prakkk!
“Aaa...!”

Danang Prakoso kembali menjerit tertahan, ketika ujung tongkat Iblis Cebol menghantam kepalanya hingga remuk. Darah langsung muncrat dari batok kepala ketika tubuhnya ambruk ke tanah. Bukan main marahnya murid-murid Perguruan Jalak Sampurno melihat kenyataan itu.

Mereka mengamuk sejadi-jadinya untuk membalas kematian guru dan saudara seperguruan mereka yang lain. Namun Iblis Cebol agaknya memang bukan tandingan mereka. Maka mudah saja dia membantai mereka satu persatu seperti menepuk lalat.

Sementara itu di suatu sudut bangunan perguruan ini, terlihat seorang gadis belia menjerit-jerit, sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan laki-laki bongkok berusia sekitar lima puluh tahun.

“Paman Sudira! Lepaskan aku! Lepaskaaan...! Biar kuhajar Iblis Cebol keparat itu...!” teriak gadis itu geram.

“Tenanglah, Andini! Tahahlah amarahmu. Dan, berpikirlah dengan jernih. Kita pergi dari sini untuk menyelamatkan diri...,” bujuk laki-laki bongkok yang dipanggil Paman Sudira.

“Tidak! Dia telah membunuh ayah. Dan Paman Danang pun tewas di tangannya. Aku harus membalas kematian mereka, agar arwah ayahku tenang di alam sana. Lepaskan tanganku, Paman! Lepaskaaan...!” teriak gadis bernama Andini.

“Andini! Kau bisa saja menuntut balas, tapi tidak sekarang. Itu sama artinya dengan bunuh diri. Kita akan mencari cara untuk mengalahkannya kelak. Ayo, ikut denganku. Dan, jangan sia-siakan waktu...!” ujar Paman Sudira.

“Tidak! Tidaaak...!”

Andini mencoba berontak. Namun dengan sekali sentak, Paman Sudira langsung menotok gadis itu dan membopongnya. Seketika Andini dibawanya pergi dari tempat ini. Ternyata walaupun dalam keadaan dikeroyok, Iblis Cebol masih mampu memperhatikan sekitarnya. Maka ketika melihat ada yang hendak kabur, dia menggeram marah.

“Huh! Kalian bermimpi untuk kabur dari sini!” dengus Iblis Cebol. Tangan kirinya yang terkembang cepat dihentakkan. Maka seketika segumpal cahaya kelabu menghantam cepat ke arah Paman Sudira yang tengah membopong tubuh Andini.

“Uts...!”

Tubuh Paman Sudira bergulingan, menghindari hantaman pukulan jarak jauh Iblis Cebol. Dan laki-laki kerdil itu bermaksud melanjutkan serangannya. Namun....

“Hajar dia! Jangan sampai Ki Sudira dan Andini celaka! Seraaang...!”

Pada saat yang bersamaan, beberapa orang murid Perguruan Jalak Sampurno serentak menghalangi niatnya. Agaknya mereka menyadari, apa yang akan dilakukan Ki Sudira. Maka mereka bertekad untuk melindungi dengan pengorbanan nyawa.

“Hiiih...! Rasakan kematian kalian, orang-orang bodoh! Mampus!” geram Iblis Cebol garang seraya mengumbar serangannya.

Prak! Prakkk!
“Aaa...!”

Jeritan panjang menyiratkan kematian yang saling susul mengiringi ambruknya belasan murid Perguruan Jalak Sampurno yang tersisa dengan kepala remuk. Darah muncrat menyiram bumi, menebarkan bau anyir darah yang terbawa hembusan angin. Iblis Cebol betul-betul mengamuk marah, dengan mengerahkan segenap kepandaiannya.

Meskipun murid-murid perguruan itu mencoba melawan sekuat tenaga, namun nyatanya usaha mereka sama sekali sia-sia belaka. Dalam waktu singkat saja, seluruhnya tumpas di tangan lelaki bertubuh kerdil itu.

“Huh! Sayang masih ada yang tersisa! Tapi, suatu saat nanti mereka akan kutemukan! Mereka seluruhnya harus musnah, tanpa sisa!” dengus Iblis Cebol. Hatinya sedikit kesal, menyadari kalau laki-laki bongkok yang diserangnya tadi berhasil kabur dari tempat itu.

Setelah meludah beberapa kali, tubuh Iblis Cebol melesat ringan dari tempat itu, lalu menghilang dalam sekejapan mata. Sinar matahari tampak terhalang awan kelabu. Sementara di angkasa terlihat sekawanan burung pemakan bangkai yang terbang berputar-putar, mengincar mayat-mayat yang bergelimpangan menebarkan bau anyir darah.


***


DUA

Siang hari, Desa Kandi tampak ramai oleh orang-orang yang lalu-lalang silih berganti. Bahkan tidak jarang ada yang menginap barang satu atau dua malam. Desa ini memang tidak begitu jauh dari ibukota kadipaten. Sehingga, tidak heran bila setiap hari keadaannya ramai. Selain banyak dikunjungi pedagang, juga dikunjungi tokoh-tokoh persilatan. Seperti yang terlihat hari ini.

Di dalam sebuah kedai yang cukup ramai di desa ini, seorang pemuda tampan berbaju kulit harimau tampak tengah duduk tenang menyantap hidangan di mejanya. Sementara seekor monyet kecil duduk di atas meja juga tengah melahap sesisir pisang. Sesekali tampak binatang itu menyeringai ke arah pemuda itu, kemudian melirik sekitarnya.

Sedangkan pemuda ini tersenyum kecil, lalu memberi isyarat pada monyet itu untuk tidak membuat ulah. Rupanya, binatang itu hendak melempar sebuah kulit pisang ke tengah-tengah pengunjung lain.

“Jangan membuat mereka marah, Tiren...,”

“Kaaakh...!” monyet yang dipanggil Tiren menjerit pelan seraya menyeringai lebar. Pemuda berbaju dari kulit harimau yang tak lain Bayu alias Pendekar Pulau Neraka itu memandang ke sekeliling. Bayu melihat banyak di antara pengunjung kedai adalah tokoh persilatan.

Sementara, sisanya adalah para pedagang yang kebetulan lewat, atau hendak menjual barang dagangannya. Pendekar Pulau Neraka baru saja selesai meneguk araknya, ketika terdengar ringkik halus dua ekor kuda yang berhenti tepat di depan kedai itu. Begitu melompat turun, dua penunggang kuda itu melangkah ke dalam kedai.

Mereka adalah sepasang anak muda berusia sekitar dua puluh tahun. Yang mengenakan rompi hitam adalah pemuda berwajah kasar dengan sebuah codet dipipi kirinya. Matanya yang menyorot tajam menyapu ke sekeliling ruangan kedai. Sesekali tangannya memegang gagang golok panjang yang terselip di pinggangnya.

Sementara, berjalan di sebelah pemuda itu adalah seorang gadis berwajah cantik dengan ikat kepala berwarna kuning. Matanya yang liar menyapu pengunjung kedai disertai senyum manisnya yang genit. Pakaiannya berwarna biru agak
ketat, dengan bagian perutnya dibiarkan terbuka. Sehingga, pusarnya terlihat. Sepasang pedang pendek tampak terselip di pinggangnya. Dengan langkah tenang serta berkesan seenaknya, gadis itu duduk di tengah-tengah ruangan kedai.

Sementara itu, semua pengunjung kedai melirik ke arah sepasang anak muda ini sambil tersenyum-senyum kecil menggoda. Sedangkan pemuda yang mendampingi gadis itu tampak semakin galak wajahnya. Agaknya, hatinya betul-betul tidak suka kalau gadis di sampingnya menjadi pusat perhatian. Terlebih-lebih lagi, pandangan mata para pengunjung kedai seperti hendak menelanjangi pakaian ketat gadis itu.

“Tenanglah, Danu Wiryo. Tidakkah kau melihat kalau mereka mengagumiku...?” kata gadis cantik ini, dengan mata sayu dan senyum genitnya yang sangat memikat.

“Aku tidak suka pandangan mereka terhadapmu, Diah!” dengus pemuda yang dipanggil Danu Wiryo kesal.

“Kenapa?” tanya gadis yang dipanggil Diah.
“Mereka seperti ingin menelanmu!”

Gadis itu terkikik kecil, seraya tetap menyapu sekitarnya dengan matanya. “Sebaiknya tinggalkan saja tempat ini. Aku ingin muntah melihat tatapan mata mereka!” dengus Danu Wiryo lagi.

Diah Kemuning belum menghentikan ketawanya. Agaknya, gadis itu menikmati betul kejengkelan Danu Wiryo.

“Kau cemburu pada mereka?” ledek Diah Kemuning.

Danu Wiryo hanya mendengus mendengar ledekan gadis ini.

“Kau lihat pemuda berbaju kulit harimau itu?” tunjuk Diah Kemuning.

Danu Wiryo menoleh sekilas, kemudian kembali mendengus.

“Huh! Apa kau kira dia punya kelebihan di banding diriku?” kata Danu Wiryo.

“Hm.... Wajahnya tampan dan sama sekali tidak peduli dengan kehadiranku. Aku suka sekali padanya,” sahut Diah Kemuning seraya tersenyum genit.

“Cukup Diah! Jangan coba-coba membakar amarahku!” sentak Danu Wiryo, tiba-tiba.

“Hm, kau marah rupanya?” tanya gadis itu mengejek.

“Apa perlu kuhajar pemuda itu, agar kau mengetahuinya?” tantang Danu Wiryo.

Gadis itu tidak menyahut, tapi malah tersenyum kecil. Dan bagi Danu Wiryo, agaknya senyum itu ditafsirkan untuk memanasi hatinya yang memang sudah kesal. Dia bermaksud akan menghajar pemuda itu untuk membuktikan kata-katanya di depan Diah Kemuning. Tapi belum juga dilakukannya, dua orang laki-laki yang masing-masing bertubuh gemuk dan bercambang bauk tebal mendekati mereka sambil menyeringai lebar.

“Kutu Kupret! Minggir kau!” hardik salah seorang yang di pinggangnya terselip sebuah golok.

Bukan main geramnya Danu Wiryo, ketika orang itu mengibaskan tangannya. Seketika ditangkapnya tangan orang itu, dan hendak dibantingnya ke meja. Namun belum lagi hal itu dilakukan, lutut kiri orang itu telah menghajar perutnya.

Bukkk!
“Uhhh...!”

Danu Wiryo terjajar ke belakang dengan tubuh terlipat ke depan. Namun secepat kilat pemuda itu menjaga keseimbangannya. Langsung dikerahkannya hawa murni untuk menghilangkan rasa mual pada perutnya.

“Keparat! Kubunuh kau, babi gemuk!” geram pemuda itu seraya mencabut golok.

Langsung diserang orang bertubuh besar yang menghantamnya lagi. Namun sebelum laki-laki gemuk itu mencabut senjatanya, kawannya yang bercambang bauk langsung mencabut clurit panjang di pinggang. Cepat ditangkisnya golok pemuda itu.

Trang!

Benturan dua buah senjata terjadi. Danu Wiryo kontan terjajar beberapa langkah. Dan belum lagi dia bersiap, senjata clurit laki-laki bercambang bauk bergerak cepat ke arahnya. Untung saja pemuda itu cepat menunduk dan melompat ke meja, sehingga luput dari sasaran. Kemudian dibalasnya serangan itu dengan satu tendangan keras.

“Hiiih!”
“Ust!”

Laki-laki bercambang bauk itu memiringkan tubuhnya menghindari tendangan Danu Wiryo. Dan seketika senjatanya disambarkan ke arah pemuda itu.

“Hup!”

Danu Wiryo cepat melompat ke belakang untuk menghindari tebasan senjata lawan.

Brakkk!

Meja yang tadi dipijak terbelah dua tak kuat menanggung beban tenaga dalam Danu Wiryo. Sementara Diah Kemuning yang sudah duduk di kursi dekat meja itu pun melompat menghindarkan diri dari serangan laki-laki gemuk yang tiba-tiba juga meluncur ke arahnya.

“Hi hi hi...! Kenapa harus berkelahi di sini? Ayo! Keluarlah dan bertarung di tempat yang lebih luas. Siapa di antara kita yang paling hebat, tentu akan mendapat hadiah menarik dariku!”


***


“Diah, tutup mulutmu!” hardik Danu Wiryo geram mendengar ocehan gadis itu.

“Hei? Kenapa kau marah? Apa dikira aku milikmu? Aku bebas pergi dengan siapa saja. Dan kalau perlu, tidur bersama mereka yang memiliki kepandaian hebat!” sahut Diah Kemuning seraya tersenyum genit bernada mengejek.

“Setaaan! Kalau begitu, kau saja yang mampus lebih dulu!” geram Danu Wiryo.

Seketika dia melompat ke arah Diah sambil mengayunkan goloknya. Namun belum lagi mampu menyentuh gadis itu, kedua orang bertubuh gemuk dan bercambang bauk telah bergerak cepat seraya memapak senjata Danu Wiryo.

Trang!

Terdengar benturan dua senjata yang cukup keras. Bahkan masing-masing sampai terjajar beberapa langkah.

“Kau dengar katanya? Dia bukan milikmu! Karena setelah kau mampus, dia akan menjadi milik kami!” dengus laki-laki bertubuh gemuk yang bersenjatakan golok.

“Keparat! Huh! Kalian akan mampus di tanganku!” dengus Danu Wiryo membentak geram.

Dan dengan kemarahan meluap-luap, dia langsung menyerang. Dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki, dia mencoba menyerang kedua lawannya yang juga sangat bernafsu menghabisinya. Begitu mendapat kesempatan Danu Wiryo cepat melesat keluar. Tentu saja kedua orang lawannya tidak membiarkan begitu saja. Mereka terus mengejar.

Sementara itu, Diah Kemuning masih memandangi mereka yang melesat keluar dengan sorot mata penuh kesinisan.

“Hei, gadis molek! Kalau pemuda yang bersamamu kubunuh apakah kau sudi tidur denganku?!” kata seorang laki-laki kurus dengan kumis tipis memanjang ke bawah bibirnya. Di punggungnya tampak terselip sebatang pedang panjang.

Gadis itu memandang ke arahnya. Dibalasnya senyum laki-laki itu dengan genit.

“Hi hi hi...! Kau boleh maju pada giliran berikutnya...,” kata Diah Kemuning, enteng.

“Hei? Apa aku pun bisa tidur denganmu kalau mereka kubuat mampus?” timpal seorang laki-laki tua berkulit hitam dan berambut putih, dengan suara serak.

Tampang orang tua itu kasar, sehingga membuat ngeri orang-orang yang memandang ke arahnya.

“Semua mendapat kesempatan yang sama, asal bersedia tunggu giliran...,” sahut Diah Kemuning sambil mengumbar senyum genitnya.

Beberapa lelaki yang berada di kedai itu mengajukan tawaran yang sama, dan diladeni dengan baik oleh gadis itu. Hidung mereka jadi kembang kempis dan mata mereka langsung jelalatan menikmati tubuh gadis itu. Mereka membayangkan keindahan tersendiri dalam benak, sehingga membuat air liur meleleh.

Sementara itu, Bayu sama sekali tidak bergeming. Bahkan tidak peduli ketika sebagian besar tokoh persilatan yang berada di dalam kedai ini berbondong-bondong keluar untuk menunggu giliran menghajar salah seorang yang keluar sebagai pemenang, dari pertarungan antara Danu Wiryo dan kedua lawannya.

“Kaaakh...!”

Tiren berteriak pelan seraya menunjuk keluar. Kedua kakinya melompat-lompat dengan kedua tangan menepuk-nepuk. Lalu, mulutnya menyeringai lebar seperti mengejek pemuda itu. Sedangkan Bayu tersenyum tipis, melihat kelakuan binatang peliharaannya.

“Hm.... Kau pun mengerti apa yang dipersoalkan? Dasar monyet genit!” rungut Bayu.

“Nguk! Nguk...! Keeeh...!”

Tiren kembali melompat-lompat, seraya menunjuk-nunjuk keluar. Lalu mulutnya menyeringai lebar.

“Apa? Kau ingin agar aku ikut dalam pertarungan itu? Brengsek! Kau kira aku suka memperebutkan pepesan kosong!” ujar Bayu sinis.

Tiren melonjak-lonjak kegirangan ketika isyaratnya dimengerti pemuda itu. Tubuhnya bergulingan di meja makan sambil memegang perutnya serta mencerecet beberapa kali seperti kegirangan.

“Brengsek!” Bayu menggerutu kecil, kemudian berdiri meninggalkan mejanya. Dan Tiren pun melompat, lalu hinggap di pundak kanannya. Monyet kecil berbulu hitam itu mengira Bayu akan mengikuti apa yang diinginkannya. Namun apa yang diduga ternyata meleset. Bayu malah membayar makanan yang disantapnya pada pemilik kedai, kemudian berlalu dengan tenang meninggalkan kedai.

“Kaaakh...!”

Tiren kembali berteriak kesal, melihat Bayu sama sekali tidak mempedulikan keramaian di sekitarnya. Padahal, banyak penduduk desa dan orang-orang yang kebetulan lewat, berkerumun menonton pertarungan di depan kedai. Dan ternyata teriakan Tiren mengundang perhatian Diah Kemuning yang tengah diperebutkan.

Dengan langkah gemulai dan senyum genit, dihampiri dan dihadangnya Pendekar Pulau Neraka.

“Siapa namamu? Apakah kau tidak ingin memperebutkan diriku?” tanya Diah Kemuning, lembut.

Bayu tersenyum kecil.

“Apakah kau seorang ratu yang amat berkuasa, sehingga aku perlu susah payah memperebutkanmu? Maaf, masih banyak keperluan penting ketimbang memperebutkanmu!” dengus Bayu keras sambil menuding gadis itu. Lalu, Bayu bergerak hendak melangkah.

“Jangan buru-buru pergi, Kakang...,” cegah Diah Kemuning seraya mencekal pergelangan tangan Bayu. Tubuhnya cepat mendekap, dan sebelah tangannya mengusap pipi pemuda itu sambil tersenyum genit menggoda.

“Jangan coba-coba menghalangi langkahku...!” dengus Bayu seraya menepis tangan dan mendorong tubuh gadis itu agar menjauh.

Dengan langkah gusar, Pendekar Pulau Neraka buru-buru melangkah. Namun gadis itu dengan sigap kembali mencekal pergelangan tangannya.

“Tahukah kau, aku lebih menyukaimu ketimbang mereka? Ajaklah aku pergi bersamamu....”

“Jangan coba-coba merayu, Nisanak Pergilah bersama mereka!” sentak Bayu kembali menepis lengan Diah Kemuning.

Pemuda itu baru saja hendak melangkah. Namun tiba-tiba seseorang menghadang langkahnya. Orang itu langsung memandang tajam Bayu, kemudian melirik ke arah Diah Kemuning.

“Bila kuhajar pemuda ini sampai mampus, apakah juga berarti kau milikku?” tanya orang yang menghadang Bayu seraya menyeringai lebar.

“Cobalah kalau kau mampu. Aku akan memenuhi janjiku...,” sahut Diah Kemuning tenang.

“He he he...! Kau dengar katanya, bocah? Dia akan menjadi milikku dengan bayaran nyawamu. Nah! Pertahankanlah selembar nyawamu!” dengus laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, berbaju putih.

Sring!

Laki-laki setengah baya itu sudah langsung mencabut pedangnya.

“Kisanak! Minggirlah kau! Aku tidak ingin bertarung denganmu untuk memperebutkan seorang perempuan rendah. Kau boleh mengambilnya, sesukamu. Dan kau tak perlu curiga kalau aku akan merebutnya. Dia hanya pepesan kosong belaka!” ujar Bayu sinis.

“Huh! Suka atau tidak, kau adalah taruhan bagiku untuk mendapatkannya. Nah, jaga dirimu baik-baik. Lihat serangan!” dengus laki-laki itu, langsung membabatkan pedangnya ke arah Bayu dari atas kepala hingga ke kaki.

“Uts!”

“Setan!” maki Pendekar Pulau Neraka geram seraya bergerak ke samping. Sehingga, senjata laki-laki itu hanya menyambar angin.

Sementara itu, Tiren buru-buru melompat dari pundak Pendekar Pulau Neraka dan hinggap di atas atap kedai yang paling rendah. Itu dilakukan ketika mulai merasakan getaran amarah di dada pemuda berbaju kulit harimau ini.

“Kau yang menginginkannya. Dan kau pula akan menanggung akibatnya!” desis Bayu geram, seraya memasang kuda-kuda untuk menghadapi serangan selanjutnya.


***


“Huh! Banyak omong! Jaga perutmu...!” geram laki-laki bersenjata pedang itu, seraya menyambar perut Pendekar Pulau Neraka dengan ujung pedangnya.

Tubuh Pendekar Pulau Neraka cepat melenting ke atas, menghindari sambaran ujung pedang laki-laki berbaju putih itu. Dan seketika ujung kaki kanannya melayang cepat ke arah dagu. Laki-laki setengah baya itu terkejut, namun cepat melompat ke samping. Lalu tubuhnya balas menerjang ayunkan tendangan dengan kaki yang keras.

Pendekar Pulau Neraka cepat-cepat menyelinap ke samping, sehingga serangan laki-laki itu mengenai tempat kosong. Dan seketika dengan gerakan mengagumkan Pendekar Pulau Neraka melepaskan tendangan berputar ke arah dada. Begitu cepat gerakannya sehingga....

Dukkk!
“Aaakh...!”

Laki-laki itu menjerit keras begitu tendangan kaki kanan Bayu menghantam dadanya dari arah samping. Tubuhnya langsung terjungkal sambil mendekap dadanya yang terasa sakit bukan main. Dengan wajah gusar, dia berusaha bangkit.

“Keparat! Kubunuh kau! Yeaaah...!”

Pedang di tangan laki-laki berbaju putih itu berkelebat cepat menyambar tubuh Pendekar Pulau Neraka seperti hendak mengiris-irisnya menjadi beberapa potong. Tubuh Pendekar Pulau Neraka seketika berkelebat cepat, menyelinap di antara sambaran senjata pedang yang mengancam jiwanya. Lalu disertai bentakan nyaring, tangan kanannya memapak senjata laki-laki berbaju putih itu.

Trangngng!
“Hei?!”

Orang itu kontan tersentak kaget, begitu tiba-tiba saja pedang di tangannya seperti menghantam benda keras. Bahkan senjata sampai terlepas dari genggamannya dalam keadaan patah menjadi dua bagian. Belum lagi disadari apa yang terjadi, satu hantaman keras tiba-tiba mendarat di perutnya.

Begkh...!
“Aaakh...!”

Laki-Laki berbaju putih itu memekik kesakitan. Tubuhnya langsung terjungkal beberapa langkah di tanah disertai darah segar. Isi perutnya seperti diaduk-aduk akibat hantaman pukulan yang kuat. Beberapa kali dia berusaha bangkit. Namun, langkahnya limbung dan kembali ambruk disertai muntahan darah segar.

Melihat keadaan itu, beberapa tokoh persilatan yang sejak tadi melihat pertarungan Pendekar Pulau Neraka melawan laki-laki berbaju putih itu berdecak kagum. Bahkan mereka sampai bergidik ngeri ketika memandang ke arah Pendekar Pulau Neraka yang mendengus tajam. Agaknya salah seorang penonton seperti mengenali pemuda berbaju kulit harimau itu.

“Hei? Bukankah pemuda itu Pendekar Pulau Neraka?!”
“Ah! Apa benar?!” sahut yang lain.
“Benar! Aku pernah melihatnya beberapa kali!”
“He?!” tambah yang lain dengan wajah takjub.

“Hm.... Kabar tentang kehebatannya ternyata bukan sekadar kabar burung. Ki Somad Paksi adalah tokoh hebat. Namun dalam beberapa gebrakan saja, sudah tersungkur olehnya!” seru orang lain sambil berdecak kagum.

Dalam keadaan begitu, mendadak terdengar jeritan panjang. Semua mata langsung mengalihkan perhatian ke arah datangnya suara. Mereka melihat tubuh Danu Wiryo terkapar di tanah dalam keadaan terluka parah terkena senjata kedua lawannya. Darah bercampur debu tampak membalur sekujur tubuhnya yang menggelepar-gelepar tanpa daya.

Beberapa saat kemudian, tubuhnya diam tidak berkutik. Sementara kedua orang lawannya bertolak pinggang, dengan wajah pongah memperhatikan orang-orang di sekelilingnya.

“Siapa lagi yang akan menantang Sepasang Naga Bertaring?!” tanya laki-laki bertubuh gemuk yang bersenjatakan golok.

Tak lama tampak seorang maju ke muka. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya kurus, dengan rambut panjang digelung ke belakang. Tangan kanannya menggenggam sebatang pedang yang warangkanya berukir indah. Laki-laki itu tersenyum sinis, seperti mengejek kedua orang berperut gendut yang berjuluk Sepasang Naga Bertaring.

“Hei, Sepasang Naga Bertaring yang kini telah ompong! Apakah kalian akan memperebutkan pepesan kosong?!” tegur laki-laki kurus itu lantang.

Sepasang Naga Bertaring langsung menatap tajam seraya mendengus geram.

“Hm, Sanjung Tulang keparat! Apa maksud kata-katamu?!” hardik yang bertubuh gendut.

“Gadis itu telah pergi dengan seseorang...,” kata laki-laki kurus yang dipanggil Sanjung Tulang.

“Apa?!” Sepasang Naga Bertaring kontan terkejut dan memandang ke sekeliling tempat itu. Namun mereka tidak menemukan gadis yang bertubuh menggiurkan tadi.

“Keparat!” dengus Sepasang Naga Bertaring, hampir berbarengan.

Sementara Ki Sanjung Tulang terkekeh. “Ha ha ha...! Dasar naga bodoh! Kalian kira bisa dapatkan gadis molek itu? Dia telah pergi bersama seseorang yang agaknya digila-gilainya....”

“Kurang ajar! Siapa orang yang digila-gilanya itu?” sentak laki-laki gendut yang bersenjatakan golok dengan nada geram.

“Siapa lagi kalau bukan Pendekar Pulau Neraka....”

“Setan! Awas dia! Akan kuremukkan tulang-tulangnya!” dengus laki-laki bercambang bauk yang bersenjata clurit, seraya memandang ke arah kawannya.

“Mari, Ruksa! Kita kejar mereka!”

“Benar, Rekso! Akan kuremukkan tubuh pemuda keparat itu. Dan, akan kukerjai perempuan sial itu sampai mampus!” dengus laki-laki bersenjata golok yang bernama Ruksa.

Sepasang Naga Bertaring segera melesat dari tempat itu dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Sementara Ki Sanjung Tulang memandang mereka sambil tersenyum tipis, kemudian ikut berkelebat membayangi dengan gerakan ringan.

Orang-orang yang masih berkerumunan di tempat itu berdecak kagum melihat cara tokoh-tokoh persilatan itu bergerak. Dalam sekejapan mata saja, mereka telah jauh meninggalkan tempat itu, kemudian hilang dari jarak pandang. Mereka masih berkerumun beberapa saat lamanya, sebelum kemudian bubar satu persatu.


***


TIGA

Bayu terus melesat cepat, jauh meninggalkan kedai sementara Tiren mengamit lehernya erat-erat ketika Bayu mengerahkan ilmu lari cepatnya. Pendekar Pulau Neraka memang menggunakan kesempatan itu pergi dari kedai, ketika orang-orang berpaling darinya untuk mengalihkan perhatian pada suara jeritan. Tak heran kalau dia kini telah melesat jauh meninggalkan kedai. Apalagi, ilmu meringankan tubuhnya telah begitu tinggi.

Sementara itu gadis berwajah cantik yang bernama Diah Kemuning ternyata tidak begitu mudah terpedaya. Sejak tadi, matanya tidak lepas mengawasi Pendekar Pulau Neraka. Maka begitu Bayu berlalu, langsung disusulnya. Dan ternyata ilmu larinya cukup lumayan untuk mengimbangi Pendekar Pulau Neraka.

Semula Bayu tidak begitu memperhatikan, dan terus saja berlari sampai jauh dari desa itu. Ketika dirasakannya sudah cukup jauh, larinya dihentikan. Kini, kakinya melangkah tenang sambil mengatur jalan napasnya.

“Nguk! Nguk...!”

Tiren membuka matanya. Kemudian mulutnya dibuka lebar-lebar seraya merentangkan tangannya. Dan matanya langsung menatap ke sekeliling. Kemudian binatang itu berteriak-teriak kecil kembali.

“Puih! Hampir saja aku terjebak dalam urusan yang tidak berguna...,” dengus Bayu sambil bernapas lega.

“Hi hi hi...! Pendekar gagah perkasa, kenapa lari dari urusan?” Mendadak terdengar satu suara, membuat Bayu seketika berpaling. Kini tampaklah sosok tubuh ramping melayang turun dari satu cabang pohon yang tidak jauh di sampingnya.

Pemuda itu mendesah kesal, begitu mengetahui siapa yang muncul. Dia tak lain wanita genit yang tadi berada di kedai. Karena, justru dialah pangkal persoalan sesungguhnya!

“Apa maksudmu mengikutiku ke sini?!” tanya Bayu ketus.
“Apakah tidak boleh?”
“Kembalilah kau ke sana! Mungkin mereka telah menyelesaikan urusannya untuk mendapatkanmu!”
“Huh! Siapa yang peduli dengan keledai-keledai dungu itu!”
“Lalu, untuk apa kau mengikutiku?”

Gadis bernama Diah Kemuning itu melangkah gemulai, mendekati Bayu seraya tersenyum genit.

“Tidak bisakah kau bicara sedikit lembut...? Sayang sekali jika orang setampanmu ini mempunyai sifat kasar...,” kata Diah Kemuning, agak manja.

“Bukan urusanmu! Pergilah kau. Kita tidak punya urusan apa-apa!” dengus Bayu kesal seraya berbalik, membelakangi gadis itu. Lalu kakinya melangkah terburu-buru.

Namun baru saja melangkah tiga tindak, mendadak tubuh gadis itu telah melayang ringan dan mendarat tepat dekat di hadapan Bayu. Dengan senyum genit, diusapnya pipi kiri pemuda itu disertai tatapan mata yang sayu.

“Kudengar kau Pendekar Pulau Neraka. Pendekar nomor wahid yang memiliki kepandaian tinggi. Tidakkah kau tertarik padaku? Akan kuberikan apa saja yang kumiliki untukmu asal kau sudi menolongku...,” Diah Kemuning.

“Kau tidak perlu berkata begitu! Jangankan menolongmu, untuk mencampuri urusanmu saja aku muak!” sentak Bayu seraya menepis tangan gadis itu.

“Jangan terburu-buru, Pendekar Pulau Neraka. Tidakkah kau ingin mendengar ceritaku lebih dulu?” tanya Diah Kemuning.

Kali ini sikapnya terlihat lebih wajar. Bahkan cenderung bersungguh-sungguh. Bayu mendengus kesal. Meski melihat kesungguhan dalam tatapannya, tapi Pendekar Pulau Neraka tetap masih belum yakin kalau gadis itu tidak akan menipu.

“Apa untungnya aku mendengar ceritamu?” tanya Bayu, sinis.

“Kurasa tidak ada. Tapi ini bukan sekadar menyangkut diriku, melainkan orang banyak....”

“Tidak usah berbelit-belit. Katakan, apa yang kau ingin ceritakan! Lalu, pergilah dari sini secepatnya!” sahut Bayu, tegas.

“Betulkah kau ingin mendengar ceritaku?!” tanya Diah Kemuning menegaskan.
“Jangan bertele-tele! Cepat katakan...!”
“Baiklah. Tapi, sebelumnya aku akan memperkenalkan namaku.... Diah Kemuning....”

Bayu melotot garang. “Aku tidak tanya namamu! Lekas ceritakan! Atau, aku akan pergi dari sini?!” potong Pendekar Pulau Neraka kesal.

“Baiklah. Pernah mendengar orang yang berjuluk Iblis Cebol...?”

“Siapa orang itu?” tanya Bayu dengan berkerut dahi heran.

“Hm.... Sungguh kau tidak pernah mendengar berita yang menggemparkan ini? Banyak sudah tokoh persilatan yang tewas di tangan manusia cebol itu. Bahkan lebih dari sepuluh perguruan silat ternama hancur di tangannya...!” tutur Diah Kemuning.

Bayu mengangguk-angguk. “Hm, ya. Aku dengar soal itu. Jadi, Iblis Cebol pelakunya? Lalu, apa hubungannya denganmu?”

“Aku menginginkan kepala orang itu!” sahut Diah Kemuning.

Bayu tersentak kaget, kemudian tersenyum sendiri seperti tidak percaya pada pendengarannya. Dipandanginya gadis itu dengan seksama, lalu kembali tersenyum.

“Itukah urusan yang kau katakan menyangkut kepentingan orang banyak?” tanya Bayu.

“Itu pertolonganmu padaku. Sedangkan bagi orang banyak, adalah kematiannya” sahut gadis itu bersungguh-sungguh.

“Kenapa tidak kau sendiri saja yang melakukannya?”

“Kalau aku mampu, tidak perlu minta pertolonganmu. “

“Kau takut mati? Lalu, mengapa begitu dendam padanya?”

“Ya! Aku memang takut mati, sebab belum sempat membalas dendam pada manusia keparat itu!” dengus Diah Kemuning dengan bola mata berbinar tajam.

Bayu lalu melangkah tenang meninggalkan gadis itu.

“Maaf. Aku tidak bisa membantumu. Kau boleh cari orang lain saja....”

“Pendekar Pulau Neraka! Apakah kau takut untuk menghadapi manusia cebol itu?!” teriak Diah Kemuning kesal dengan nada mengejek.

Bayu tersenyum. Dan tanpa berpaling, kakinya terus melanjutkan langkahnya.

“Ya! Aku takut berhadapan dengannya. Karena kusadari, hal itu tidak ada gunanya,” sahut Bayu tenang.

“Kalau begitu, aku akan memaksamu...!” desis Diah Kemuning seraya mencabut pedang. Langsung diserang Pendekar Pulau Neraka dari belakang.

“Yeaaaah...!”


***


“Hup! Uts...!”

Bayu mengelak ke samping, ketika merasakan angin sambaran senjata Diah Kemuning. Namun kedua ujung pedang gadis itu terus menyambarnya silih berganti. Serangannya amat teratur dan saling menyusul dalam waktu cepat.

“Gadis sial! Kau kira bisa membujukku dengan cara begini?!” dengus Bayu kesal.

“Siapa yang akan membujukmu? Aku bahkan akan memenggal kepalamu!” sahut gadis itu garang.

“Edaaan...!”

Bayu kembali memaki ketika pedang gadis itu nyaris menyambar tenggorokannya. Tubuhnya melompat ke belakang, sambil jungkir balik. Namun, Diah Kemuning kembali melakukan serangan kilat.

“Yeaaah...!”

Pemuda berbaju kulit harimau itu berkali-kali memaki kesal. Bayu merasa, tidak ada gunanya meladeni gadis ini. Maka Pendekar Pulau Neraka langsung balas menyerang, setelah menghindari dua tebasan senjata yang terarah pada leher dan jantungnya. Tubuhnya melejit ke samping, dan langsung melakukan sodokan keras lewat kepalan tangan kirinya ke dada kiri gadis itu.

“Hiiih...!”

“Brengsek! Dasar lelaki cabul!” umpat Diah Kemuning sambil menggeser tubuh ke kiri. Namun serangan selanjutnya kembali datang. Satu tendangan keras yang dilakukan pemuda itu meluncur ke arahnya. Terpaksa dia melompat ke belakang untuk menghindarinya.

Namun angin serangan Pendekar Pulau Neraka yang kuat, cukup membuat tubuh gadis itu bergetar, dan kuda-kudanya menjadi limbung. Diah Kemuning betul-betul tercekat kaget dan jantungnya berdetak lebih kencang. Tidak disangkanya kalau Pendekar Pulau Neraka memiliki tenaga dalam yang demikian hebat.

“Brengsek! Dasar edan! Kau hendak membunuhku, he?!” maki gadis itu kesal.

“Heh?! Ke mana perginya dia?” Diah Kemuning jadi celingukan sendiri dengan hati bertambah kesal saja. Ternyata tahu-tahu Pendekar Pulau Neraka telah hilang dari pandangan. Matanya langsung mencari-cari ke sekitar tempat itu, namun Pendekar Pulau Neraka betul-betul tidak terlihat lagi batang hidungnya.

“Pendekar Pulau Neraka! Ke mana pun kau pergi, akan kukejar...!” teriak gadis itu kesal seraya berlari cepat ke satu arah.

Ketika Diah Kemuning telah berlalu jauh, tiba-tiba sesosok tubuh meluruk turun dari cabang atas sebuah pohon yang tidak begitu jauh. Pendekar Pulau Neraka tersenyum sambil menggeleng lemah.

“Dasar gadis binal! Hanya menyusahkan saja...!”

“Nguk! Nguk...!” Tiren melompat-lompat sambil mencerecet ribut Agaknya monyet kecil itu kurang setuju dengan tindakan Bayu.

“Kita tidak boleh mempercayai orang seperti tadi, Tiren. Dia banyak akalnya. Dan siapa tahu, apa yang dikatakannya itu tipu muslihat...,” jelas Bayu seperti mengerti bahasa monyet.

“Kaaakh!” Tiren menjerit keras seperti hendak membantah ucapan Pendekar Pulau Neraka. Bayu hanya tersenyum kecil. Dan baru saja kakinya melangkah dua tindak....

“Pendekar Pulau Neraka! Berhenti kau...!” Tiba-tiba terdengar bentakan keras. Dan tahu-tahu dua sosok tubuh besar telah menghadang Pendekar Pulau Neraka. Bayu tercekat, dan terpaksa menghentikan langkahnya. Dipandanginya mereka satu persatu, kemudian tersenyum kecil. Kedua orang bertubuh besar itu tak lain dari Sepasang Naga Bertaring, yang tadi bertarung di depan kedai.

“Huh! Bocah seperti ini mau bertingkah di depan Sepasang Naga Bertaring!” dengus orang yang bersenjata golok, dan bernama Ruksa dengan wajah sinis.

“Apa yang kalian inginkan dariku?” tanya Bayu tenang.

“Serahkan gadis itu pada kami!” sentak orang yang bersenjata clurit, yang bernama Rekso.

“Dia telah pergi....”

“Huh! Kau kira kami percaya begitu saja?” dengus Ruksa.

“Aku tidak menyuruh kalian untuk percaya. Tapi kalau kalian tidak ingin kehilangan dia, susullah ke arah sana!” tunjuk Bayu ke arah Diah Kemuning tadi berlalu.

“Kau apakan dia?!” tanya Rekso, geram.

Bayu memandang orang bersenjata clurit itu dengan wajah tidak senang, karena sangat memandang remeh padanya. Demikian pula kawannya. Dan hal itu membuatnya semakin tidak menyukai mereka.

“Kau pikir aku sudi melepaskan begitu saja? Dia telah menawarkan dirinya. Dan, mana mungkin kusia-siakan begitu saja...,” sahut Bayu seenaknya memanasi.

“Kurang ajar!” maki Ruksa, langsung mencabut goloknya.
“Sudah, Ruksa! Kita hajar saja bocah tak tahu diri ini!” ujar Rekso.
“Huh! Tanganku memang sudah gatal, Rekso!” desis Ruksa.

Laki-laki itu segera melompat menyerang Pendekar Pulau Neraka. Dan tindakannya diikuti Rekso. Tampaknya, mereka begitu bernafsu menghabisi Pendekar Pulau Neraka dalam waktu singkat Sehingga tidak heran bila mereka langsung mengerahkan kemampuan pada tingkat tertinggi.

Srakkk!
“Yeaaah...!”
“Kaaakh...!”

Begitu melihat kedua orang itu menyerang, Tiren segera melompat dari pundak Pendekar Pulau Neraka dan hinggap di cabang sebuah pohon yang tidak begitu jauh dari tempat ini. Sedangkan Bayu mendengus dingin. Dan tubuhnya segera meliuk ke samping kiri dan kanan sambil membungkuk menghindari tebasan senjata Sepasang Naga Bertaring.

“Hup, Uts...!”
“Hiyaaa...!”

Begitu terlepas dari serangan, Pendekar Pulau Neraka balas menyerang. Ujung kaki kanannya cepat menyodok ke dada Ruksa. Lalu, tubuhnya berputar seraya menghantamkan kepalan tangan ke muka Rekso.

“Uts...!”
“Uh...!”


***


Sepasang Naga Bertaring tersentak kaget, melihat serangan Pendekar Pulau Neraka yang datangnya cepat luar biasa. Belum lagi angin serangan pemuda itu yang kuat bukan main. Tubuh mereka bergerak berputar, untuk menghindari. Lalu mereka kembali balas menyerang dengan geram.

Wukkk! Bettt!

Bayu melompat ke atas, lalu berputaran beberapa kali di udara. Sehingga, serangan Sepasang Naga Bertaring lewat di bawah tubuhnya. Begitu meluruk turun, kedua kaki Pendekar Pulau Neraka melepaskan hantaman ke muka lawan-lawannya. Rekso dan Ruksa tersentak kaget Namun mereka masih sempat menangkis dengan tangan kiri.

Plak! Plak!
“Uh...!”

Kedua orang itu mengeluh kesakitan ketika tangan mereka menangkis tendangan Pendekar Pulau Neraka.

“Yeaaa...!”

Begitu mendarat di tanah. Bayu kembali memutar tubuhnya. Sebelah kakinya cepat diangkat, ketika tebasan clurit Rekso meluncur datang. Sedangkan kepalanya cepat menunduk, menghindari tebasan golok Ruksa. Dan begitu tertebas, Pendekar Pulau Neraka cepat mengibaskan tangannya ke arah dada Rekso.

“Uts!”

Rekso terkejut bukan main mendapat serangan mendadak ini. Maka cepat dia melompat ke belakang. Namun, Pendekar Pulau Neraka terus mengejar dengan gerakan tangan yang indah, melepaskan pukulan-pukulan mautnya. Dalam beberapa jurus saja Pendekar Pulau Neraka bisa mengerti kalau kekuatan Sepasang Naga Bertaring berada pada kerjasama dalam membangun serangan.

Untuk itulah Pendekar Pulau Neraka terpaksa memojokkan salah seorang tanpa mengurangi kewaspadaan terhadap serangan yang seorang lagi.

“Hiiih!”

Dengan gemas Rekso membabatkan cluritnya. Namun tangkas sekali Bayu menangkis dengan Cakra Maut di pergelangan tangan kanan.

Trakkk!
“Hei?!”

Rekso terkejut bukan main, begitu habis menangkis. Karena bukan tangan pemuda itu yang putus, melainkan cluritnya yang patah. Dan justru dalam keadaan demikian, dia membuat kesalahan besar. Maka kelengahan beberapa saat itu, digunakan Pendekar Pulau Neraka dengan baik. Langsung dilepaskannya satu sodokan keras ke dada Rekso.

Begkh!
“Aaakh...!”

Rekso menjerit keras begitu dadanya telak sekali menerima hantaman Pendekar Pulau Neraka. Tubuhnya yang besar langsung terjungkal dan terus berguling-gulingan di tanah. Dari mulutnya tampak meleleh darah kental.

“Hiyaaa...!”

Sementara itu, Ruksa membentak geram. Goloknya, cepat bergerak, menghantam batok kepala Pendekar Pulau Neraka dengan cepat. Dan Pendekar Pulau Neraka segera berkelit ke kanan. Lalu langsung dia balas menyerang dengan ayunan kaki kanan ke pinggang. Melihat hal ini Ruksa cepat menangkis serangan menekuk kaki kanannya.

Plak!
“Hiiih!”

Golok Ruksa kembali menyambar, begitu habis menangkis. Namun, Pendekar Pulau Neraka telah menyelinap ke belakang. Dan tahu-tahu, Bayu melepaskan hantaman telak ke pinggang kiri Ruksa.

Duk!
“Aaakh!”

Ruksa kontan menjerit keras. Tubuhnya langsung terhuyung-huyung sambil memegangi pinggang kirinya yang terasa linu. Wajahnya kelam, menahan amarah meluap-luap. Dan dia kembali memasang kuda-kuda. Lalu langsung diserangnya Pendekar Pulau Neraka tanpa mempedulikan rasa sakit yang diderita.

“Yeaaa...!”
“Uts!”

Bayu mampu berkelit dengan mudah, kemudian melompat ke atas. Namun, Ruksa tangkas sekali mengayunkan senjatanya ke arah Bayu. Maka dengan cepat Pendekar Pulau Neraka mengibaskan tangan kanannya.

Siiing!

Cakra Maut di pergelangan tangan Pendekar Pulau Neraka tiba-tiba melesat cepat, menimbulkan suara mendesing nyaring yang mengiringi cahaya putih keperakan. Ruksa tersentak kaget. Namun, tidak ada waktu lagi baginya untuk mengelak. Senjata itu terus menderu ke lehernya. Dan....

Cras!
“Hokh!”

Orang bertubuh tinggi besar itu hanya mampu memekik tertahan begitu lehernya dihantam senjata Pendekar Pulau Neraka hingga nyaris putus. Tubuhnya terhuyung-huyung sesaat, kemudian ambruk ke tanah. Dan darah segar mengucur deras dari luka di leher Ruksa.


“Keparat! Kau membunuh saudaraku! Kubunuh kau...! Kubunuh kau...!” sentak Rekso kalap. Dengan menguatkan diri, Rekso melompat menerkam Pendekar Pulau Neraka yang tengah menangkap senjata Cakra Maut yang melesat kembali ke pergelangan tangannya. Namun belum lagi Rekso sampai, mendadak sesosok tubuh ramping melesat dan langsung memapaki. Rekso terkejut. Bahkan dia tidak sempat mengelak ketika dua buah senjata tajam menyambar perut dan dadanya.

Cras! Brettt!
“Aaa...!”

Terdengar jeritan keras ketika dua buah senjata menyayat dalam tubuh Rekso. Isi perutnya sampai terburai keluar dan bagian dadanya pun robek lebar dengan darah mengucur deras. Tubuhnya langsung ambruk ke tanah dan menggelepar-gelepar beberapa saat, sebelum nyawanya melayang.

Pendekar Pulau Neraka mendengus pelan ketika melihat siapa orang yang baru muncul, dan langsung melenyapkan Rekso.

“Kau lagi! Dasar perempuan brengsek! Kenapa kau kembali ke sini lagi?” kata Bayu, keras. Orang yang baru muncul itu memang tak lain dari Diah Kemuning. Sambil tersenyum kecil mengejek, dihampirinya Pendekar Pulau Neraka.

“Hmmm.... Kau kira aku bisa ditipu begitu saja? Tidak mungkin kau bisa lolos begitu cepat dari pandanganku. Makanya aku kembali lagi, karena yakin kau pasti bersembunyi di dekat sini. Dan ternyata, dugaanku benar....”


***


”Huh!”

Bayu hanya mendengus pelan, kemudian melengos meninggalkan tempat itu.

“Kaaakh...!” jerit Tiren, nyaring.

Bayu kembali mendengus kesal ketika Diah Kemuning kembali menyerang. Seketika terasa serangkum angin yang mendesir ke arahnya.

“Uts...!”

Pendekar Pulau Neraka cepat bergerak ke samping untuk menghindarinya.

“Aku akan membunuhmu sekarang juga!” dengus Diah Kemuning geram.

“Edaaan!” maki Bayu seraya melenting ke atas, dan hinggap pada salah satu cabang pohon di dekatnya. Namun, Diah Kemuning terus mengejar dengan babatan pedangnya.

“Hup!”
Trasss! Pras!

Cabang pohon yang dipijak Bayu patah menjadi tiga bagian dipapas pedang gadis itu. Untung saja Pendekar Pulau Neraka ini telah melesat ke cabang pohon yang lainnya. Sementara Diah Kemuning semakin geram saja melihat serangan-serangannya kembali gagal. Namun pemuda itu terus dikejarnya.

“Cukup...!” bentak Bayu, geram.

Namun Diah Kemuning tidak mempedulikannya. Dia terus melesat dengan pedang terhunus. Maka terpaksa Pendekar Pulau Neraka mengibaskan tangan kanannya. Sehingga saat itu juga, cahaya putih keperakan dari Cakra Maut di pergelangan tangan Pendekar Pulau Neraka melesat bagaikan kilat ke arah Diah Kemuning. Gadis itu tercekat, namun sudah terlambat untuk menghindar. Terpaksa Cakra Maut dihantamnya dengan pedangnya.

Trasss!

Diah Kemuning terkesiap ketika pedangnya terbabat putus, hingga tinggal gagangnya saja.

“Fuuuh...!”

Diah Kemuning menghela napas lega, begitu mendarat di tanah. Nyaris jantungnya berhenti berdenyut melihat keganasan senjata Pendekar Pulau Neraka.

“Hei?! Ke mana dia?” sentak gadis itu kesal.

Ternyata Bayu telah kembali lenyap dari tempat itu. Sengaja Pendekar Pulau Neraka tadi melepaskan Cakra Mautnya, untuk mengejutkan gadis itu. Dan ternyata, dugaannya benar. Diah Kemuning tersentak kaget, melihat berdesingnya Cakra Maut ke arahnya. Lalu ketika gadis itu terpana, buru-buru ditangkapnya kembali Cakra Mautnya, dan kabur dari tempat itu setelah menyambar Tiren.

Diah Kemuning baru menyadarinya belakangan, ketika tidak juga kunjung bertemu pemuda itu. Sambil mengomel berkali-kali, dirayapinya seluruh daerah ini. Namun sampai sekian lama, pemuda itu tidak terlihat juga batang hidungnya.

“Sial! Dia pasti telah kabur!” dengusnya kesal. Berpikir begitu, Diah Kemuning segera berlalu meninggalkan tempat ini. Yang dituju adalah arah yang diperkirakan arah kepergian Pendekar Pulau Neraka.


***


Pantai Karang Alas terlihat angker. Gugusan karang berbentuk bukit-bukit kecil, membentang ke sepanjang pantai sebelah kanan. Sementara di sebelah kirinya, terlihat rerimbunan pohon bakau dan pohon api-api. Debur ombak yang menggulung sesekali menghantam dinding karang.

Di puncak salah satu karang yang membukit, tampak dua sosok tubuh tengah mematung beberapa saat, seraya memandang jauh ke depan. Laut terlihat membiru dan cakrawala membatasi pemandangan mereka. Burung-burung camar dipantai terbang ke sana kemari dan sesekali melintas di atas kepala mereka.

“Paman, telah berapa lama kita berjalan...?” tanya sosok bertubuh ramping berbaju serba putih. Rambutnya yang dikucir ke belakang, diikat pita warna merah muda terbuat dari sutera halus. Di pinggang kirinya terselip sebuah keris.

“Telah seminggu, Andini...,” sahut sosok yang satu lagi, dan ternyata seorang laki-laki berusia lebih dari lima puluh tahun. Dia berada di samping sosok berbaju putih yang ternyata seorang gadis bernama Andini.

Gadis putri Ketua Perguruan Jalak Sampurno ini memang berhasil kabur bersama laki-laki bongkok yang tak lain Paman Sudira. Tampak tangan kanan Paman Sudira menggenggam sebuah tongkat yang menopang tubuhnya.

“Lalu apa yang akan kita kerjakan di tempat ini?” tanya Andini.

“Bukankah kita akan menemui Resi Wangsa Purbaya...?” Paman Sudira mengingatkan. Andini menghela napas pendek.

“Sejak subuh tadi, kita berada di sini. Lalu, kapan orang tua itu akan ke sini...?”

“Sabarlah, Andini....”

Keduanya membisu untuk beberapa saat Andini lalu duduk di atas sebuah tonjolan karang besar seraya menyeka keringat yang mulai mengucur di dahinya. Paman Sudira menghampiri dan kembali mematung di dekatnya.

“Paman Sudira! Apakah benar orang tua yang bernama Resi Wangsa Purbaya mempunyai sesuatu yang dapat diandalkan untuk mengalahkan Iblis Cebol?” tanya Andini.

“Begitulah yang dikatakan beberapa orang. Resi Wangsa Purbaya memiliki sebuah pedang bernama Pedang Ular Mas. Menurut apa yang terdengar, pedang itulah yang mampu mengakhiri Iblis Cebol...,” jelas laki-laki bongkok itu.

“Paman! Kalau memang demikian, tentu akan banyak orang ke sini untuk mendapatkan pedang itu. Sebab, banyak sekali orang yang mendendam pada Iblis Cebol!” sahut gadis berbaju serba putih itu dengan wajah tegang.

Paman Sudira terdiam beberapa saat, kemudian memandang Andini dengan wajah gelisah. Kemudian terlihat kepalanya mengangguk pelan.

“Itulah yang kukhawatirkan. Tapi tidak mungkin resi itu sudi memberikan Pedang Ular Mas kepada orang sembarangan. Paling tidak, dia akan memilih orang yang tepat dan bisa dipercaya...,” desah Paman Sudira.

“Paman, aku sangat mendendam pada manusia yang bernama Iblis Cebol. Kalau dia tidak mati ditanganku, rasanya kehidupanku selamanya tidak akan tenang...!” desis Andini.

Paman Sudira menghela napas panjang, kemudian tersenyum kecil seperti hendak menghibur gadis itu.

“Andini, kita hanya bisa berdoa semoga pedang itu berjodoh dengan kita. Sebab, yang menginginkannya bukan hanya kita saja. Lihatlah ke sekeliling kita...?” ujar Paman Sudira.

Gadis itu melirik, kemudian memandang dengan wajah berkerut. Ternyata, entah dari mana datangnya beberapa orang tokoh persilatan telah berada di tempat itu. Dan agaknya, mereka akan terus berdatangan. Tidak terasa, gadis itu mendesah pelan, kemudian memandang laki-laki di dekatnya dengan wajah kesal.

“Mengapa mereka mesti ke sini...?” tanya Andini.

“Mereka mempunyai tujuan sama dengan kita, Andini,” jelas Paman Sudira.

Apa yang dipikirkan gadis itu, sesungguhnya juga telah dipikirkan Paman Sudira sejak tadi. Dan kekhawatirannya adalah, jika terjadi perebutan untuk memiliki pedang itu di antara mereka.

“Bagaimana cara memperoleh pedang itu, Paman...?” tanya Andini memecah kesunyian.

“Hm.... Kita harus menemukan resi itu lebih dulu....”

“Tapi bagaimana caranya?” lanjut Andini.

“Entahlah.... Tapi menurut apa yang kudengar, dia akan datang sendiri menemui kita...,” desah laki-laki bongkok itu.

Belum lagi habis kata-kata yang diucapkan Paman Sudira, mendadak bertiup angin kencang di sekitar tempat itu. Laki-laki bongkok itu cepat melindungi Andini dengan tubuhnya, untuk menahan hantaman angin kencang yang menerpa.

Demikian pula tokoh-tokoh persilatan lain yang berada di tempat itu. Tidak beberapa lama kemudian, angin kencang mulai reda perlahan-lahan. Dan, semua mata memandang ke arah bukit kecil yang tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. Bukit kecil itu berupa sebuah karang yang tingginya lebih kurang dua tombak dengan ujung yang sedikit runcing. Di situ, berdiri sesosok tubuh berpakaian serba putih dengan rambut digelung ke atas. Wajahnya bersih dan jenggotnya yang juga berwarna putih, memanjang hingga ke dada. Tangan kirinya menggenggam sebatang pedang yang dibungkus warangka indah berukir seekor ular berwarna keemasan.

“Resi Wangsa Purbaya...! “desis salah seorang di antara mereka yang melihat orang tua itu. Beberapa orang dari mereka tampak menjura, seraya memberi salam hormat kepada orang tua yang dipanggil Resi Wangsa Purbaya.

“Terimalah salam hormat kami, Kanjeng Resi....”

“Terima kasih....”

Orang tua itu menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil.

“Kanjeng Resi, kedatangan kami ke tempatmu ini...,” kata salah seorang, namun tidak dilanjutkan. Karena, orang tua itu sudah memberi isyarat dengan tangannya untuk memotong pembicaraan.

“Aku mengerti apa yang kalian inginkan. Dan Pedang Ular Mas di tanganku ini sesungguhnya akan berada di tangan yang berhak, untuk kupinjamkan dalam membasmi keangkaramurkaan. Tapi, anak-anakku semua. Apakah di antara kalian ada yang mampu memikul tanggung jawab begitu berat?” tanya Resi Wangsa Purbaya.

“Kanjeng Resi! Semua telah mengetahui kalau belakangan ini seorang tokoh sesat bernama Iblis Cebol tengah mengamuk dan membantai tokoh-tokoh persilatan. Orang itu memiliki kepandaian hebat dan sulit ditaklukkan. Oleh sebab itu, kedatangan kami ke sini untuk meminjam Pedang Ular Mas milikmu, guna melenyapkan Iblis Cebol itu!” sahut Paman Sudira angkat bicara.

Resi Wangsa Purbaya tersenyum arif seraya memandang laki-laki tua bongkok itu.

“Kisanak! Kau yakin akan mampu mengalahkan Iblis Cebol dengan Pedang Ular Mas ini?”

“Kalau Kanjeng Resi berkenan meminjamkannya, tentu saja aku akan berupaya sekuat tenaga untuk melenyapkan Iblis Cebol dengan bantuan pedang itu!” sahut Paman Sudira mantap.

“Setiap senjata adalah sebuah alat. Dan, bukan benda maha keramat yang patut dipuja. Orang yang lebih berkuasa adalah si pemakainya. Sebab, dia yang akan menentukan, bagaimana senjata itu bekerja. Nah! Satu syaratku pada kalian semua, barang siapa yang mampu menarik pedang ini dari warangka, maka dialah yang akan kupinjamkan Pedang Ular Mas ini. Dimulai dari kau lebih dahulu!” kata Resi Wangsa Purbaya seraya menuding ke arah Paman Sudira.

Tubuh orang itu lalu melayang ringan, dan tahu-tahu telah berada di hadapan Ki Sudira.

“Silakan, Kisanak!” lanjut Resi Wangsa Purbaya seraya mengulurkan gagang pedang dengan warangka tetap dalam genggaman tangan kiri.

“Maafkan kelancanganku, Kanjeng Resi...,” sahut Paman Sudira seraya memberi hormat.

Tak lama, terlihat laki-laki bongkok itu memusatkan perhatiannya. Seketika dikerahkannya tenaga dalam pada telapak tangan kanan, lalu cepat menangkap gagang Pedang Ular Mas. Sebelumnya dia sudah berusaha menyentak gagang pedang dengan kuat.

Tappp!
“Heup!”


***


Bukan main terkejutnya Paman Sudira ketika pedang itu sama sekali tidak mau lepas dari warangka. Kekuatannya langsung dilipatgandakan. Namun sampai pada puncak tenaganya, gagang pedang itu tidak tercabut juga. Keringat mulai
bercucuran dari dahi dan sekujur tubuhnya setelah beberapa saat berkutat menarik pedang. Dan pada akhirnya, Paman Sudira kelelahan sendiri. Napasnya megap-megap seperti hendak putus ketika mengakhiri permainan itu. Lalu, tarikannya dilepas.

“Kau telah gagal, Kisanak...,” kata Resi Wangsa Purbaya tersenyum kecil.

Paman Sudira melangkah lesu, ketika seorang kembali mencoba menarik pedang itu dari warangkanya. Namun seperti Paman Sudira, orang itu pun mengalami kegagalan.

“Gila...!” desis orang itu seraya bersungut sungut.

Beberapa orang kembali berusaha mencoba. Namun seperti yang lain, mereka pun gagal mencabut pedang itu.

“Pedang Ular Mas memang bukan senjata sembarangan...,” desah seorang laki-laki bertubuh kecil, setelah gagal mencabut pedang itu dari warangka.

“Tidak heran kalau senjata itu banyak diminati orang...,” sahut kawannya.

“Ah! Itu hanya tipu muslihat Resi Wangsa Purbaya agar pedang itu tidak dipinjamkannya!” sanggah salah seorang dengan wajah licik dan kesal.

Agaknya, dia pun telah gagal mencabut pedang itu.

“Apa maksudmu?” tanya kawannya yang bermuka lebar dengan wajah bingung.

“Iya! Seperti kita tahu, Resi Wangsa Purbaya adalah tokoh berkepandaian hebat. Tampaknya pedang itu sengaja ditahan dengan tenaganya. Mana mungkin kita bisa mengalahkan tenaganya yang hebat luar biasa itu!”

Orang yang bermuka lebar itu hanya diam membisu. Wajahnya menyiratkan antara rasa percaya dan tidak mendengar keterangan kawannya. Sementara, orang terakhir telah mencoba pula. Dan seperti yang lainnya, dia pun telah gagal. Resi Wangsa Purbaya memandang mereka sambil tersenyum kecil.

“Jika kalian tidak mampu mencabut pedang ini dari warangkanya, bagaimana mungkin kalian mampu mengalahkan Iblis Cebol? Seperti tadi telah kukatakan, pedang ini hanya senjata biasa. Dan dia tidak akan berarti, jika pemiliknya hanya memiliki kepandaian rendah. Meski salah seorang di antara kalian kupinjamkan untuk melawan Iblis Cebol, niscaya tetap tidak akan mampu mengalahkannya...,” jelas Resi Wangsa Purbaya.

Orang-orang yang berada di tempat itu terdiam beberapa saat lamanya. Wajah Andini tampak lesu. Demikian pula Paman Sudira.

“Aku tidak tahu lagi, bagaimana caranya kita bisa mengalahkan Iblis Cebol itu, Paman...,” kata gadis itu lesu.

“Paman telah berusaha, Andini....” Andini mengangguk lemah.

“Aku mengerti, Paman. Tapi dendam di hatiku ini tidak akan bisa tuntas kalau Iblis Cebol masih berkeliaran....”

Pada saat itu mendadak melompat seorang pemuda ke hadapan Resi Wangsa Purbaya. Kulitnya agak hitam. Tubuhnya yang tegap terbungkus baju rompi coklat dari kulit rusa. Rambutnya yang keriting diikat sehelai kain merah. Di punggungnya tersandang sepasang golok panjang.

“Orang tua, aku akan mencoba mencabut pedangmu...!” tantang pemuda itu dengan sikap penuh percaya diri.

“Hm, cobalah...,” desah Resi Wangsa Purbaya tenang, seraya mengulurkan pedangnya.

“Heup!”

Pemuda itu memusatkan perhatian seraya mengerahkan tenaga dalamnya yang disalurkan pada kedua belah telapak tangan.

“Yeaaah...!”

Dia membentak nyaring, lalu mengulurkan tangannya untuk memegang gagang pedang itu. Dan pemuda itu berusaha menarik gagang pedang sekuat tenaga. Wajahnya berkerut ketika berkutat dengan Resi Wangsa Purbaya yang tengah memegang warangka Pedang Ular Mas dengan sikap tenang. Sama sekali tidak terlihat kalau orang tua itu tengah mengerahkan tenaga. Wajahnya polos. Bahkan tetap tersenyum kecil.

“Setan!” maki pemuda itu. Kembali pedang itu disentaknya dengan kuat Namun, tetap tidak juga lolos dari warangkanya.

“Hiyaaa...!”

Pemuda itu membentak nyaring. Lalu telapak tangan kirinya dihantamkan ke arah dada Resi Wangsa Purbaya. Semua yang melihat kejadian itu tersentak kaget Agaknya, pemuda itu sengaja dengan licik hendak membunuh sang Resi dalam keadaan demikian.

“Hup!”

Namun sigap sekali Resi Wangsa Purbaya memapak, serangan kedua telapak tangan mereka beradu.

Plakkk!
Wusss!

Bahkan serangkum angin kencang yang kuat luar biasa tahu-tahu menghantam pemuda itu tanpa bisa dielakkan lagi. Kontan tubuh pemuda ini terjungkal ke belakang sambil memekik kesakitan.

“Aaakh...! “

Sambil mengusap darah yang menetes di sela bibirnya, pemuda itu berusaha bangkit dengan wajah gusar. Namun, Resi Wangsa Purbaya telah menuding ke arahnya dengan ujung gagang pedang dalam genggamannya.

“Anak Muda! Aku tidak menyuruhmu untuk menyerangku, melainkan untuk mencabut pedang ini dari warangka. Jika niatmu memang buruk, lebih baik kau tinggalkan tempat ini...,” ujar Resi Wangsa Purbaya.

“Keparat! Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan pedang itu...,” maki pemuda itu seraya mencabut sepasang golok panjang di punggungnya. Dan dia langsung melompat menyerang Resi Wangsa Purbaya kembali.

“Yeaaa...!”

“Anak bandel! Kau hanya menyusahkan dirimu saja...,” sahut Resi Wangsa Purbaya, pelan.

Seketika tangan kiri resi itu menghantam ke depan. Dan dari telapaknya yang terbuka menderu serangkum angin kencang seperti tadi, langsung menghantam tubuh pemuda itu.

Debbb!
“Aaakh...!”

Untuk kedua kalinya, pemuda itu terjungkal ke belakang. Dan kali ini keadaannya tampak parah. Dari mulutnya menyembur darah kental berkali-kali. Dia berusaha bangkit, namun langkahnya terlihat limbung. Dipungutnya sepasang goloknya yang tadi terpental, kemudian disarungkannya kembali. Sebentar dipandanginya orang tua itu dengan sorot mata tajam penuh kebencian.

“Orang tua! Suatu saat, aku akan datang ke sini lagi untuk mengambil pedang itu dari tanganmu. Hati-hatilah kau! Sebab, bukan tidak mungkin aku akan mengambil nyawamu pula!” dengus pemuda itu segera melesat pergi dari tempat itu.

Resi Wangsa Purbaya menghela napas panjang, kemudian menggeleng lemah.

“Anak muda yang malang. Dia terlalu dipengaruhi nafsu angkaramurka dalam dadanya....” Kemudian Resi Wangsa Purbaya memandang ke arah yang lain.

“Nah! Karena tak ada seorang pun yang mampu melepaskan pedang ini dari warangkanya, maka kalian tidak memenuhi syarat untuk kupinjamkan pedang ini. Pulanglah kalian semua...,” ujar orang tua itu, keras.

Tanpa banyak bicara, mereka meninggalkan tempat itu satu persatu.

“Ayo, Andini...!” ajak Paman Sudira.

“Tidak, Paman. Aku akan tetap berada di tempat ini...,” sahut gadis itu sambil menggeleng lemah.

“Percuma, Andini. Resi itu tidak akan meminjamkan pedangnya untuk kita....”

Andini diam saja tidak menjawab. Sementara Paman Sudira menghela napas panjang. Dipandanginya dengan perasaan iba wajah gadis yang muram itu.


***


LIMA

Berkali-kali Paman Sudira membujuk, namun Andini tetap keras kepala.

“Paman Sudira! Tujuan kita hanya satu. Mendapatkan Pedang Ular Mas untuk membalas kematian ayah dan seluruh murid Perguruan Jalak Sampurno. Kalau pedang itu tidak kuperoleh, apalagi yang harus kita kerjakan? Lebih baik aku mati daripada hidup tidak mampu membalas kematian mereka!” sahut gadis itu lantang.

“Tapi kita tidak bisa memaksakan Resi Wangsa Purbaya untuk meminjamkan pedangnya...,” tegas Paman Sudira.

“Setidaknya, pasti ada jalan lain agar dia sudi meminjamkan pedangnya...,” sanggah Andini.

Paman Sudira kembali menghela napas sesak. Lalu matanya merayapi ke sekeliling tempat itu. Orang-orang yang tadi berkumpul telah menghilang satu persatu. Sementara Resi Wangsa Purbaya tampak masih berdiri tegak di tempatnya, sambil memandang mereka. Kemudian terlihat bibirnya tersenyum. Perlahan-lahan kakinya melangkah menghampiri.

“Kisanak! Apa lagi yang kau tunggu? Pulanglah segera...,” ujar orang tua itu lembut.

Andini mendongakkan kepala dan memandang orang tua itu dengan seksama. Kemudian kedua tangannya dirangkapkan memberi hormat.

“Kanjeng Resi yang mulia. Aku tidak akan kembali ke tempatku sebelum Pedang Ular Mas dipinjamkan padaku. Aku akan tetap berada di tempat ini, sampai kau bersedia meminjamkannya,” tegas gadis itu mantap.

“Anakku. Pedang ini tidak akan berarti apa apa jika pemakainya tidak berkepandaian amat tinggi untuk menghadapi Iblis Cebol. Kau hanya akan menemukan kebinasaan saja,” tolak orang tua itu, halus.

“Kalau demikian, tunjukkan pada kami, bagaimana caranya agar pedang itu bisa kau pinjamkan,” pinta Andini mendesak.

“Kau harus memiliki kepandaian hebat,” sahut Resi Wangsa Purbaya mantap.

“Itu memerlukan waktu lama, kecuali jika Kanjeng Resi sudi mengangkatku menjadi murid.” Resi Wangsa Purbaya terlihat tersenyum mendengar kata-kata Andini.

“Kenapa Kanjeng Resi tersenyum?” tanya Andini, heran.

“Anakku.... Aku mengerti, apa yang berkecamuk dalam hatimu. Dan bisa kurasakan, jalan pikiranmu. Maaf aku telah bersumpah untuk tidak kembali terjun dalam dunia persilatan. Termasuk juga mengangkat seorang murid. Dan seorang resi sudah sepatutnya menepati janji yang telah diucapkan. Meski hatiku menangis mendengar perbuatan keji Iblis Cebol, tapi aku terikat sumpah. Dan itu tidak bisa kuabaikan begitu saja,” jelas Resi Wangsa Purbaya halus.

Andini terdiam beberapa saat. Demikian juga Paman Sudira.

“Kanjeng Resi, pasti ada jalan lain untuk mengalahkan Iblis Cebol. Mohon petunjukmu...,” lanjut gadis itu, memecahkan kebisuan.

Resi Wangsa Purbaya berpikir beberapa saat. Kemudian dihelanya napas panjang seraya menggeleng lemah.

“Aku tahu betul, Iblis Cebol adalah murid seorang tokoh sesat yang bernama Ki Suparji Kuning. Beberapa puluh tahun lalu, guru Iblis Cebol tewas di tangan guruku yang bernama Ki Senoaji Purangga dengan menggunakan Pedang Ular Mas. Selain pedang itu, tidak ada satu senjata pun di muka bumi ini yang mampu melumpuhkan ilmu kebal mereka. Dan rupanya Iblis Cebol mengetahui hal itu. Dan dia juga tahu tentang sumpahku.

Maka sengaja dia membuat keonaran untuk memancing kemarahanku. Dan bila meladeninya, berarti aku melanggar sumpahku. Dengan demikian, aku akan mudah sekali dipermainkannya. Keadaanku menjadi serba salah. Sebab, aku berada di dua sisi yang bertolakan. Di satu sisi aku tidak bisa diam melihat perbuatannya, namun di sisi lain aku tidak mampu berbuat apa-apa. Dan aku juga tahu kalau Iblis Cebol memiliki kepandaian hebat, sehingga tak ada seorang pun yang bisa mengalahkannya. Karena selama gurunya hidup pun juga tak ada seorang tokoh yang berhasil mengalahkannya, selain guruku,” jelas Resi Wangsa Purbaya panjang lebar.

Andini termanggu. Sementara Paman Sudira mengangguk-angguk.

“Lalu bagaimana, Kanjeng Resi...? Apakah Iblis Cebol akan dibiarkan saja berbuat sesuka hatinya?” tanya Andini lagi.

“Tentu saja tidak. Aku tengah memikirkan satu cara.”

“Cara bagaimana, Kanjeng Resi?” tanya Andini bersemangat.

“Kudengar, ada seorang tokoh muda yang belakangan ini menggemparkan dunia persilatan. Kalau tidak salah, julukannya adalah Pendekar Pulau Neraka. Kurasa, dia mampu mengalahkan Iblis Cebol bila menggunakan Pedang Ular Mas. Carilah pemuda itu, dan bawalah ke sini.”

Andini memandang Paman Sudira dengan wajah heran. Selama ini, dia jarang sekali turun ke dunia ramai. Sehingga, julukan itu agak asing ditelinganya.

“Ya! aku memang pernah mendengarnya. Dia memang seorang tokoh yang hebat,” sahut Paman Sudira menganggukkan kepala. Agaknya, laki-laki bongkok itu pernah mendengar kedigdayaan Pendekar Pulau Neraka.

“Tapi di mana kita harus mencarinya, Paman?” tanya Andini bingung.
“Entahlah....”
Resi Wangsa Purbaya tersenyum kecil.

“Kalian pergilah ke arah timur. Firasatku mengatakan, pemuda itu berada di daerah sana. Setelah bertemu, katakan kalau aku memohon pertolongannya untuk sesuatu yang penting.”

“Baiklah, Kanjeng Resi. Kalau demikian, kami mohon pamit dulu. Mohon doa restu dari Kanjeng Resi,” sahut Paman Sudira menjura hormat.

“Pergilah. Aku akan selalu mendoakan kalian.”

Setelah menjura hormat, kedua orang itu segera berbalik dan berlalu dari tempat itu, diikuti pandangan mata Resi Wangsa Purbaya. Sampai keduanya jauh dari sudut pandangannya, baru orangtua itu berlalu dari tempat ini dengan langkah perlahan.

Seketika serangkum angin kencang menerpa dan menggulung-gulung tubuhnya. Debu mengepul ke udara, menghalangi pemandangan. Daun-daun kering yang berada di tempat itu beterbangan, seperti dilanda angin topan. Beberapa saat kemudian, angin kencang itu berhenti. Dan suasana kembali seperti semula. Sunyi dan lengang. Sedang Resi Wangsa Purbaya sudah lenyap entah ke mana.


***


Bayu melangkah perlahan ketika merasa kalau jaraknya dengan perempuan yang selalu menguntitnya sudah jauh. Beberapa kali kepalanya menggeleng kesal sambil menghela napas berat.

“Huh! Hanya menyusahkan saja...,” gerutu Pendekar Pulau Neraka.

Sementara Tiren menyeringai lebar. Monyet kecil itu menepuk-nepuk kedua tangannya di atas kepala, seperti hendak mengejek Pendekar Pulau Neraka.

Sedangkan Bayu hanya bisa mendelikkan matanya saja. Monyet kecil berbulu hitam itu mengkeret seraya menundukkan kepalanya.

“Nguuuk...!”

“Kau kira aku suka terhadap perempuan seperti itu, heh...?!” rutuk Bayu, tak senang.

Tiren mencerecet pelan, dan tetap menundukkan kepalanya di pundak Pendekar Pulau Neraka. Dan Bayu baru saja menghela napas panjang, tiba-tiba pendengarannya yang tajam mendengar suara yang mencurigakan. Cepat tubuhnya melompat ke salah satu cabang pohon.

Dan Tiren pun mengikuti di belakangnya. Kemudian bergelantungan dari satu cabang ke cabang pohon lainnya, mendatangi sumber suara. Bayu memberi isyarat pada monyet kecil itu untuk tidak membuat ribut.

“Nguk!”

Tiren mengangguk mengerti isyarat Bayu. Dan pada salah satu cabang pohon yang agak tinggi, pemuda berbaju kulit harimau itu berhenti, dan memandang dengan seksama ke bawah. Tiren menemani di sebelahnya. Tampak di bawah sana terlihat dua orang tengah bertarung hebat. Salah seorang bertubuh cebol dengan kepala botak dan besar. Biji matanya seperti hendak keluar dari kelopaknya.

Kedua tangannya bersisik seperti kulit ular sampai sebatas siku dengan kuku-kuku begitu panjang. Tangan kanannya menggenggam sebatang kayu berukuran cukup panjang. Sementara, lawannya seorang laki-laki tua bertubuh besar terbungkus baju hitam. Wajahnya penuh brewok. Dan dia memegang senjata pedang yang melengkung tajam berkilat.

“Iblis Cebol keparat! Hari ini adalah kematianmu. Kau tidak akan bisa lolos dari tanganku!” geram lelaki yang berbaju hitam itu geram.

“He he he...! Wedus Keling! Kau hanya bermimpi bisa mengalahkan aku. Sebaliknya, kaulah yang akan menemui ajal. Tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkan Iblis Cebol. Mereka yang berhadapan denganku pasti mampus. Iblis Cebol akan menguasai rimba persilatan!” sahut orang bertubuh kerdil yang tak lain Iblis Cebol dengan nada sombong.

“Setan! Ingin kulihat kesombonganmu! Yeaaah...!”

Lelaki bertubuh gemuk dan besar yang dipanggil Wedus Keling itu menggeram. Dan dia langsung mengamuk hebat menyerang lawannya. Debu-debu di sekitar tempat pertarungan sudah mengepul ke udara. Demikian juga daun-daun kering di sekelilingnya, akibat tersambar angin pukulan nyasar. Malah, cabang-cabang pohon bergoyang diterpa angin serangan Wedus Keling yang dahsyat luar biasa.

Namun, Iblis Cebol masih tetap terkekeh seperti tidak merasa kewalahan sedikit pun. Padahal Wedus Keling telah mengerahkan segenap kemampuannya. Sesekali Iblis Cebol menangkis senjata Wedus Keling dengan menggunakan senjata toya di tangannya.

Trangngng!
“Ukh...!”

Wedus Keling mengeluh kesakitan begitu senjatanya beradu. Bahkan pedang di tangannya nyaris terlepas dari genggaman karena telapak tangannya terasa perih akibat kalah tenaga dalam. Dia menggigit bibirnya sendiri, menahan rasa nyeri. Lalu, kembali diserangnya Iblis Cebol. Pedangnya berkelebatan meliuk-liuk, menyambar seluruh tubuh lawannya. Bahkan tiba-tiba saja telapak tangan kirinya menghantam ke muka. Maka dari telapak tangannya melesat cahaya merah muda yang samar-samar.

“Hiiih...!”

“He he he...! Kau kira pukulan busukmu itu bisa melukainya? Phuih! Kau hanya bermimpi...!” ejek Iblis Cebol.

Iblis Cebol cepat-cepat mengayunkan toyanya yang berada di tangan kanan, ketika diayunkan pedang Wedus Keling menyambar deras. Sedangkan telapak tangan kirinya disorongkan ke muka, menghasilkan satu lesatan cahaya berwarna kekuningan yang berbau busuk memapaki pukulan Wedus Keling.

Trang!
Jder!
“Aaakh...!”

Setelah didahului benturan senjata, terdengar ledakan agak keras ketika pukulan jarak jauh mereka beradu. Angin kencang langsung bersiur dengan asap hitam membumbung tipis ke angkasa. Wedus Keling menjerit keras. Tubuhnya langsung terjungkal ke belakang sambil memuntahkan darah kental kehitaman. Pedang di tangannya sudah terlepas entah ke mana ketika tadi mengadu senjata.

Napasnya tersengal ketika berusaha bangkit Terlihat wajahnya berubah kekuningan bercampur hitam. Demikian juga tubuh di bagian dadanya. Tapi dalam keadaan payah begitu, Wedus Keling sedikit pun tak diberi kesempatan oleh Iblis Cebol yang tetap segar akibat benturan itu. Tubuh laki-laki cebol itu melesat cepat, begitu kedua kakinya menjejak tanah. Sementara, toya di tangannya menghantam ke batok kepala.

“Hiyaaa!”
“Uts...!”

Wedus Keling tergagap. Cepat-cepat dia menjatuhkan diri sambil bergulingan untuk menghindari serangan laki-laki cebol itu. Tanah yang dihantam ujung toya Iblis Cebol kontan berlubang dalam, menimbulkan suara menggelegar keras. Dan bumi di sekitar tempat ini jadi berguncang bagai dilanda gempa.

“Hih...!”

Tubuh Iblis Cebol berbalik cepat, begitu menyadari serangannya luput dari sasaran. Ujung kakinya, langsung menghantam perut Wedus Keling. Laki-laki itu berusaha sekuat tenaga menghindari dengan berlompatan ke belakang. Namun saat itu juga, Iblis Cebol mengayunkan toyanya. Langsung dihantamnya batok kepala Wedus Keling tanpa bisa dihindari.

Prakkk!
“Aaakh...!”

Wedus Keling kontan menjerit tertahan begitu batok kepalanya pecah dihantam senjata Iblis Cebol. Tubuhnya kontan ambruk dengan darah mengucur deras membasahi tanah.

“Mampus...!” dengus Iblis Cebol menggeram, seraya meludahi tubuh yang sudah tidak berkutik itu.

Dipandanginya sesaat tubuh Wedus Keling yang sudah berubah menjadi mayat sambil tersenyum mengejek.

“Huh! Kau hanya mencari mati saja, dengan menantang Iblis Cebol! Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan aku di jagad raya ini. Aku akan menguasai dunia persilatan. Dan, orang-orang harus tunduk padaku!”

Baru saja Iblis Cebol selesai berkata begitu, ketika melayang sesosok bayangan kuning kecoklatan dari salah satu cabang pohon di dekatnya. Dan sosok itu persis jatuh ringan di depannya.

“Hmmm.... Jadi kaukah yang berjuluk Iblis Cebol itu...?”

“Siapa kau?!”


***


Iblis Cebol membentak garang ketika melihat seorang pemuda berwajah tampan dan berambut panjang. Bajunya terbuat dari kulit harimau. Sementara, seekor monyet kecil berbulu hitam tampak turun dari pundaknya. Pemuda yang tidak lain dari Pendekar Pulau Neraka ini tersenyum sinis.

“Iblis Cebol! Namamu belakangan ini amat santer kudengar. Dan selalu ulahmu membuatku muak. Dan aku tidak bisa berdiam diri saja melihat ulahmu,” kata Bayu dingin.

“Hm.... Kalau tak salah, kau yang berjuluk Pendekar Pulau Neraka..., bukan? Sungguh kebetulan kau berkeliaran dan bertemu denganku. Sehingga, aku tak susah payah mencarimu untuk kujadikan budakku!” sahut Iblis Cebol. Tampaknya, dua sudah mengenal ciri-ciri pendekar yang selama ini menjadi buah bibir tokoh persilatan.

“Hm.... Sungguh gegabah bicaramu. Justru aku ke sini untuk meminta kepalamu!” dengus Bayu geram.

“Anak ingusan! Bicaramu sungguh sombong! Kau belum kenal Iblis Cebol, heh?! Cabutlah senjata Cakra Maut mu yang amat menghebohkan itu. Ingin kulihat, sampai di mana ketajamannya bila menyentuh kulitku!”

“Baik.... Tahan serangan...!” bentak Pendekar Pulau Neraka, nyaring. Seketika Pendekar Pulau Neraka melompat menyerang dengan melepaskan tendangan keras yang cepat bukan main.

“Hih...!”
“Uts...!”

Iblis Cebol cepat menggerakkan toya di tangannya, memapak tendangan itu dengan sabetan ke arah tulang kering. Bayu cepat menarik pulang kakinya dan menekuknya sedemikian rupa. Kemudian tubuhnya berbalik cepat, seraya melepaskan sambaran kaki dengan berputar ke leher Iblis Cebol. Laki-laki kerdil itu menundukkan kepalanya, menghindari tendangan dahsyat bertenaga dalam tinggi. Kemudian ujung toyanya langsung disodokkan ke arah dada Pendekar Pulau Neraka.

“Yeaaah...!”

Pendekar Pulau Neraka cepat meliuk dengan gerakan indah, menghindari sodokan senjata Iblis Cebol. Namun toya laki-laki kerdil itu ternyata terus mengejarnya, membabat pinggang. Terpaksa Bayu segera melompat ke samping. Begitu terbebas, kepalan tangan Pendekar Pulau Neraka cepat berbalik menghantam batok kepala laki-laki kerdil itu. Namun sigap sekali Iblis Cebol mengayunkan ujung toyanya, menyambar tubuh Pendekar Pulau Neraka yang tengah mengapung di udara. Pendekar Pulau Neraka terkesiap melihat kecepatan bergerak lawannya. Tidak ada lagi kesempatan untuk mengelak. Dengan geram, ditangkisnya serangan itu dengan Cakra Maut yang menempel di pergelangan tangan kanan.

Trakkk!
“Hiiih...!”

Bukan main terkejutnya laki-laki cebol itu ketika tangannya terasa kesemutan. Bahkan jantungnya jadi berdetak lebih kencang, ketika senjatanya beradu dengan Cakra Maut Dalam keadaan demikian, Iblis Cebol masih sempat melakukan sodokan lewat kepalan tangan kiri yang berisi tenaga dalam kuat. Dan Bayu cepat berkelit gesit, sehingga kepalan bertenaga dahsyat itu lewat sedikit di pinggangnya.

Pertarungan dua tokoh persilatan tingkat tinggi berlangsung cepat dan seru. Pendekar Pulau Neraka menyadari kalau lawannya bukanlah tokoh sembarangan.
Demikian halnya Iblis Cebol. Nama Pendekar Pulau Neraka memang telah sering didengarnya. Dan ini membuatnya tidak bisa bersikap ayal-ayalan. Tidak heran kalau mereka bertarung langsung mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki dan berusaha menjatuhkan lawan secepatnya.

“Yeaaa...!”

Iblis Cebol menyabetkan senjata toyanya bertubi-tubi, sehingga menimbulkan angin kencang yang bersiur menyambar tubuh Pendekar Pulau Neraka. Bayu sedikit mengeluh mendapat desakan dahsyat ini. Sama sekali Iblis Cebol tidak memberinya kesempatan untuk balas menyerang.

Senjata laki-laki kerdil itu benar-benar mengurungnya dengan ketat. Dan baru saja Pendekar Pulau Neraka melompat ke belakang dengan gerakan salto yang indah, ujung toya Iblis Cebol telah meluncur deras membabat pinggangnya. Tidak ada kesempatan lagi bagi Bayu untuk mengelak. Dan satu-satunya jalan hanyalah melepaskan senjata mautnya.

“Hiyaaat...!”
Singngng!

Seketika Cakra Maut mendesing kencang, begitu Pendekar Pulau Neraka mengebutkan tangannya. Senjata berbentuk segi enam itu terus menyambar ke arah senjata Iblis Cebol. Dan laki-laki kerdil agaknya yakin betul kalau senjatanya mampu menangkis Cakra Maut. Maka dengan geram toyanya dikibaskan ke arah senjata Pendekar Pulau Neraka.

Trakkk!
“Hei?!”

Iblis Cebol tersentak kaget, begitu toyanya patah terkulai seperti ranting kayu yang tertekuk, akibat beradu dengan Cakra Maut. Namun, ternyata Bayu pun ikut terkejut. Senjata Cakra Maut selama ini tidak pernah kalah melawan senjata mana pun. Tapi nyatanya, toya Iblis Cebol hanya patah terkulai saja. Ini membuktikan kalau toya itu tidak bisa dianggap sembarangan.

“Yeaaa...!”

Cakra Maut kembali mendesing pulang setelah Pendekar Pulau Neraka mengangkat tangan kanannya ke atas. Namun begitu Pendekar Pulau Neraka mengebutkannya, kembali Cakra Maut meluruk deras ke arah Iblis Cebol yang baru saja menyerangnya dengan ganas.

Cepat-cepat Iblis Cebol melenting, menghindari sambaran Cakra Maut. Bahkan ketika berada di udara, tangan kirinya langsung dihentakkan. Maka dari telapak tangannya yang terbuka melesat cahaya kekuningan yang diikuti serangkum angin kencang mengancam Pendekar Pulau Neraka. Pendekar Pulau Neraka terkesiap, namun cepat-cepat melompat ke samping menghindari terjangan cahaya kekuningan.

Dan baru saja Pendekar Pulau Neraka memperbaiki kuda-kudanya hendak melepaskan Cakra Maut yang telah kembali di tangan kanannya, kembali datang cahaya kekuningan dari tangan Iblis Cebol. Tak ada waktu lagi bagi Pendekar Pulau Neraka untuk menge-
lak. Seketika tangan kirinya dihentakkan. Maka, dari telapak tangannya yang terbuka, melesat cahaya putih memapak cahaya kekuningan. Dan....

Jderrr!


***


ENAM

Terdengar benturan keras menggelegar ketika pukulan jarak jauh satu sama lain beradu pada satu titik. Tubuh keduanya sama-sama terjungkal ke belakang. Bayu masih sempat bergulingan. Dan begitu bangkit berdiri, Pendekar Pulau Neraka hanya mendengus pelan. Tampak Iblis Cebol yang juga telah bangkit, menatap tajam ke arah Pendekar Pulau Neraka.

“Huh...! Ternyata apa yang digembar-gemborkan orang mengenai kehebatanmu bukan omong kosong!” dengus Iblis Cebol seraya menyeka darah yang menetes di sudut bibirnya akibat benturan tenaga dalam dengan Pendekar Pulau Neraka.

Iblis Cebol agaknya terluka dalam, sehingga harus mengakui kalau Pendekar Pulau Neraka bukanlah lawan sembarangan. Namun demikian, bukan berarti Pendekar Pulau Neraka tidak mengalami luka dalam. Dari sudut bibirnya pun menetes darah segar. Pemuda itu mengerutkan dahinya, menahan rasa nyeri di dada. Pukulan Iblis Cebol yang tadi dipapaknya sungguh luar biasa kuatnya.

Diam-diam pemuda itu harus mengakui kalau Iblis Cebol ternyata tidak bisa dianggap enteng. Tapi Bayu agaknya masih penasaran. Maka ketika Iblis Cebol kembali menyerangnya, dia mencoba untuk menjajal Cakra Mautnya. Seketika, Pendekar Pulau Neraka mengebutkan tangan kanannya. Maka seketika Cakra Maut melesat, mencoba menahan serangan Iblis Cebol.

Singngng!

Iblis Cebol cepat menarik pulang serangannya. Lalu seketika lengan kirinya dikibaskan untuk menangkis.

Trakkk!

Senjata Cakra Maut kontan terpental ke samping. Maka dengan cepat Pendekar Pulau Neraka melompat untuk menangkapnya. Namun, agaknya Iblis Cebol tidak membiarkannya begitu saja. Dengan gerakan mengagumkan, tangan kanannya kembali menghantam Pendekar Pulau Neraka. Pendekar Pulau Neraka bukannya tidak menyadari keadaannya yang terjepit.

Tapi sebagai seorang yang telah kenyang makan asam garam rimba persilatan, tentu saja dia tidak akan bertindak lengah. Secara diam-diam telapak tangan kirinya dikembangkan. Dan begitu tubuhnya berada pada keadaan yang memungkinkan, dia cepat berbalik. Seketika tangannya yang terkembang dihentakkan, melepaskan pukulan jarak jauh bertenaga kuat.

“Yeaaah...!”

Cakra Maut melekat kembali di pergelangan tangan Pendekar Pulau Neraka, angin serangan Iblis Cebol langsung terpupus oleh pukulan jarak jauh milik Pendekar Pulau Neraka.

Jderrr!
“Aaakh...!”

Terdengar benturan keras ketika kedua pukulan mereka beradu. Bumi seperti tergoncang dan pepohonan di sekitar tempat itu bergoyang seperti hendak roboh. Debu, daun-daun, dan ranting-ranting beterbangan ke udara. Sedangkan tanah di sekitar tempat pertarungan gompal, dan terpental ke segala arah.

Seperti tadi, kedua tokoh tingkat tinggi itu kembali terpental sambil mengeluh kesakitan. Pendekar Pulau Neraka sempat bergulingan beberapa kali, sebelum kemudian duduk bersila di tanah. Dari mulutnya mengalir darah kental kehitaman. Napasnya turun naik tidak beraturan. Dan mukanya pucat dengan peluh bercucuran bercampur debu.

Sementara, keadaan Iblis Cebol pun tidak lebih baik. Manusia kerdil itu terengah-engah, namun masih mampu bangkit walau dengan langkah limbung. Beberapa kali dia memuntahkan darah kental kehitaman. Dengan merangkapkan tangan kanan ke dada, perhatiannya berusaha dipusatkan untuk mengatur jalan napasnya.

Untuk beberapa saat keduanya terdiam sehingga suasana terasa sepi. Kelopak mata, masing-masing yang tadi terkatup kini terbuka perlahan-lahan. Iblis Cebol memandang Pendekar Pulau Neraka dengan sorot mata tajam. Demikian pula Pendekar Pulau Neraka.

“Hm.... Kau sungguh hebat, Bocah. Ilmu silat dan tenaga dalammu telah mencapai tingkat sempurna. Dan biarlah kali ini kau kulepaskan. Tapi lain kali, akan kita teruskan permainan ini. Kau memang patut menjadi lawanku. Sebab, selama ini tidak ada seorang pun yang mampu menahan pukulanku. Nah..., selamat tinggal,” kata Iblis Cebol.

Setelah berkata demikian, Iblis Cebol segera meninggalkan tempat itu dengan berlari kecil. Bayu diam saja memandanginya sampai orang itu menghilang dari pandangannya. Kemudian, dia menghela napas lega.

“Nguk...!”

Tiren segera melompat ke pangkuan Pendekar Pulau Neraka dan memandangnya dengan wajah iba. Monyet kecil itu seperti bisa merasakan, apa yang dirasakan Bayu saat ini. Bayu tersenyum kecil seraya mengusap-usap sahabatnya. Disadarinya akibat dari pertarungan tadi, telah menciptakan luka dalam yang tidak bisa dibilang enteng. Dadanya terasa nyeri.

Kedua kakinya serta tangannya terasa gemetar ketika berusaha bangkit. Pemuda itu menarik napas panjang, kemudian menghelanya perlahan-lahan. Namun baru saja berjalan tiga langkah, tiba-tiba melesat sesosok tubuh kurus di depannya.

“Ha ha ha...! Pendekar Pulau Neraka! Hari ini adalah saat kematianmu yang kutunggu-tunggu!”

“Heh...?!”


***


Bayu terkejut ketika melihat seorang laki-laki bertubuh kurus dan berwajah dingin di depannya. Tampangnya sebenarnya biasa saja. Namun guratan dan sinar matanya menandakan kalau dia seorang yang kejam dan licik. Kedua tangannya bersedakap di dada. Dan pada tangan kanannya tergenggam sebatang pedang. Rambutnya yang panjang digelung ke belakang. Pendekar Pulau Neraka sama sekali belum pernah melihat orang ini sebelumnya.

“Kisanak! Siapa kau? Dan, apa maksud perkataanmu tadi?” tanya Bayu datar.

“Namaku Sanjung Tulang. Dan maksud kata-kataku sudah jelas. Dalam keadaan terluka begini, akan mudah bagiku untuk membunuhmu. Dan orang-orang pun akan tahu kalau Pendekar Pulau Neraka tewas di tangan Ki Sanjung Tulang.

Ha ha ha...!” sahut laki-laki kurus itu sambil tertawa tergelak.

“Ki Sanjung Tulang! Di antara kita sama sekali tidak pernah saling bermusuhan. Mengapa kau hendak membunuhku?”

“Tidak perlu ada saling permusuhan kalau hendak membunuhmu, Pendekar Pulau Neraka! Sebab, tidak sedikit dari kawan-kawanku yang telah kau bunuh. Itu saja sudah cukup menjadi alasan bagiku. Lebih dari itu, membunuhmu merupakan kesempatan yang telah lama kutunggu-tunggu. Kenapa...? Kau takut? Apa sekarang kau telah menjadi seorang pengecut? Kalau begitu, kau boleh mencium kakiku dan bersujud memohon ampun,” ejek Ki Sanjung Tulang.

Bukan main geramnya Bayu mendengar kata-kata Ki Sanjung Tulang. Bias kekejian tampak tergurat di wajahnya.

“Keparat licik! Ternyata kau tidak hanya berani menungguku dalam keadaan terluka saja. Tapi jangan dikira aku takut cecurut sepertimu. Majulah. Dan, cabut pedangmu...!” sahut Bayu, keras.

“Ha ha ha...! Pendekar Pulau Neraka! Ajalmu sebentar lagi tiba. Kau tahu? Sejak tadi aku menyaksikan pertarunganmu dengan si Iblis Cebol. Sehingga, aku tahu keadaanmu yang terluka parah. Dan dalam beberapa gebrakan saja, kau akan kubinasakan. Ha ha ha...! Keadaanmu kini tak ubahnya harimau kehilangan cakar dan taringnya. Nah, bersiaplah...!”

Sringngng!
“Yeaaah...!”

Begitu pedangnya tercabut dengan cepat Ki Sanjung Tulang melompat menyerang Pendekar Pulau Neraka. Bayu mundur dua langkah, kemudian menundukkan kepala. Lalu tubuhnya bergulingan untuk menghindari tebasan pedang Ki Sanjung Tulang yang menyambar-nyambar seluruh tubuhnya.

“Hihhh!”

Kaki kiri Pendekar Pulau Neraka masih sempat melepaskan tendangan ke perut laki-laki kurus itu. Namun tubuh Ki Sanjung Tulang sudah berkelit sambil berputar dengan kaki kanan terangkat. Dan bersamaan dengan itu pedangnya menyapu dada Pendekar Pulau Neraka. Maka pemuda berbaju kulit harimau itu melompat ke belakang menghindarinya.

“Hup!”
“Mampus...!”

Dengan geram Ki Sanjung Tulang mengejar sambil menyabetkan pedangnya. Terpaksa Pendekar Pulau Neraka kembali bergulingan menghindari sambaran pedang itu. Disadari betul kalau keadaannya sangat tidak menguntungkan. Kalaupun mampu menggunakan Cakra Maut untuk membalas serangan, rasanya tidak akan berguna banyak.

Sebab, menggunakan senjata itu memerlukan pengerahan tenaga dalam kuat. Sedangkan dalam keadaan terluka seperti ini, tenaga dalamnya telah terkuras habis. Akibatnya Cakra Maut akan mudah ditepis, dan bahkan akan semakin mempersulit keadaannya.

“Hei, Pendekar Pulau Neraka! Mana kehebatanmu yang selama ini dihebohkan orang? Ayo, lawan aku! Balas seranganku! Apa kau ingin mati penasaran di tanganku...?”

“Keparat licik! Tidak perlu banyak bicara! Kau kira aku tidak mampu menghadapimu? Phuih! Seribu orang sepertimu, aku tidak akan lari!” sahut Pendekar Pulau Neraka sengit.

“He he he.... Nyawa sudah diujung tanduk, kau masih bisa berkoar juga,” ejek Ki Sanjung Tulang seraya menggempur lawan kembali dengan sambaran pedangnya yang cepat luar biasa.

Bayu mengeluh dalam hati. Dia tidak tahu, sampai kapan mampu bertahan dari serangan lawannya. Keadaannya saat ini betul-betul genting. Jangankan untuk membalas menyerang, untuk mempertahankan diri saja sudah tidak yakin mampu bertahan lama.

“Yeaaah...!”

Ki Sanjung Tulang berteriak gemas. Tangan kanannya yang menggenggam pedang, menyambar tubuh Pendekar Pulau Neraka di bagian dada dan pinggang. Sementara telapak kirinya menghantam pukulan jarak jauh yang bertenaga kuat. Bayu terkesiap dan bergulingan cepat menghindari diri.

“Hih!”
Jderrr!

Sebongkah tanah mencuat ke atas berpecahan, meninggalkan lubang yang cukup dalam ketika pukulan laki-laki bertubuh kurus itu luput dari sasaran.

“Kurang ajar! Sekarang kau tidak akan luput, Keparat!” desis Ki Sanjung Tulang semakin geram.

Laki-laki kurus itu merangkapkan kedua tangannya. Wajahnya berkerut dan sinar matanya liar menatap Bayu seperti hendak menelannya. Pendekar Pulau Neraka tercekat, dan tidak terasa mengeluh dalam hati. Hanya ada satu cara untuk menjaga agar tidak mati konyol, yakni dengan memapak pukulan itu. Tapi hal ini akan sangat membahayakan. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan celaka dan terluka semakin parah. Dalam keadaan demikian, mendadak melesat cepat sesosok tubuh ramping yang langsung memapak pukulan Ki Sanjung Tulang.

“Yeaaah...!”
“Hiyaaa...!”
Jderrr!


***


Ki Sanjung Tulang terhuyung-huyung ketika kedua pukulan tadi terpapak, hingga menimbulkan suara menggeledek. Belum lagi sempat memperbaiki kedudukannya, mendadak sesosok tubuh yang tadi memapaki pukulannya melesat menyerang cepat dan ganas.

Sringngng!
“Yeaaah...!”
“Uhhh...!”

Ki Sanjung Tulang terkesiap. Gerakan sosok ramping itu hebat sekali. Kedua senjata pedang yang dipergunakannya, tampak bergulung-gulung bagai ombak samudera yang ketat mengurungnya. Beberapa kali dicobanya menangkis. Namun, telapak tangannya terasa perih dan jantungnya berdetak lebih kencang.

“Keparat! Siapa kau...?!” bentak Ki Sanjung Tulang garang seraya menangkis pedang lawannya.

Trangngng!

“Huh...! Banyak omong! Apa kau kira punya derajat untuk mengalahkan Pendekar Pulau Neraka? Hadapi aku lebih dulu. Dan kalau kau mampu mengalahkanku, kau boleh menepuk dada!” terdengar sahutan nyaring yang tidak kalah sengitnya.

“Uts!”

Ki Sanjung Tulang terkejut bukan main. Baru saja menangkis, namun pedang sosok ramping yang sebuah lagi melesat cepat menyambar lehernya. Untung saja dia buru-buru melompat ke belakang menghindari. Namun dalam keadaan begitu, telapak kirinya masih sempat disorongkan ke arah sosok ramping yang sepertinya seorang wanita.

“Hup!”

Tubuh ramping itu meliuk cepat menghindari sambaran pukulan jarak jauh yang bertenaga dalam kuat. Lalu dia kembali membalas serangan Ki Sanjung Tulang dengan pukulan jarak jauh yang tidak kalah kuatnya. Laki-laki kurus itu tersentak kaget. Cepat-cepat dia bergulingan menghindari, seraya mengibaskan pedang untuk menangkis senjata yang langsung terarah padanya.

Trang!

Sebuah senjata sosok ramping itu berhasil ditangkis Ki Sanjung Tulang. Namun pedang yang sebuah lagi, cepat menyambar ke arah paha kirinya.

Brettt!
“Akh...!”

Dengan terpincang-pincang, tubuhnya melenting ke belakang untuk menghindari serangan selanjutnya. Namun, sosok ramping itu agaknya tidak membiarkan lawannya menjauh begitu saja. Dan dia sudah langsung mengejarnya sambil menyerang ganas. Kecepatan bergeraknya sungguh mengagumkan, bagai seekor walet melesat cepat bagai kilat. Sehingga, membuat laki-laki kurus itu tergagap beberapa kali menahan kejutan yang menyentaknya. Bahkan dia tidak mempunyai kesempatan serta ruang gerak yang bebas.

“Hiyaaa...!”

Pedang wanita ramping itu kembali meliuk liuk menyambar. Dan dengan gerakan cepat Ki Sanjung Tulang menangkis.

Trang!

Dan ketika salah satu ujung pedang wanita itu menyambar pinggang, laki-laki itu berputar menghindari. Namun ternyata ujung kaki wanita itu cepat sekali terjulur kearah dadanya.

Bukkk!

Untuk yang kedua kali Ki Sanjung Tulang memekik kesakitan. Tubuhnya terhuyung huyung ke belakang.

“Hiyaaa...!”

Ujung pedang wanita itu kembali melesat menyerang Ki Sanjung Tulang. Dan laki-laki kurus itu tergagap, lalu bergulingan sebisanya untuk menghindari diri seraya mengayunkan pedangnya untuk menangkis.

Trangngng!

Dua benturan senjata kembali beradu. Namun rupanya pedang Ki Sanjung Tulang langsung terlepas dari genggaman. Serangan ini memang berhasil dihindarinya. Namun senjata yang satu lagi milik wanita itu telah kembali berkelebat ke arah perutnya.

Brettt!
“Aaakh...!”

Tanpa bisa dihindari lagi, laki-laki kurus itu memekik kesakitan seraya mendekap perutnya dengan kedua tangannya. Wajahnya pucat berkeringat menatap ke arah lawannya yang tegak berdiri di dekatnya. Kini barulah bisa dilihat jelas, siapa orang itu sebenarnya.

“Kau...! Kau...!” tunjuk Ki Sanjung Tulang, tergagap.

“Ya, aku. Kenapa rupanya...?”

“Dasar perempuan rendah...! Terkutuklah kau...!” maki Ki Sanjung Tulang, geram.

Perempuan yang disebutnya itu terkekeh pelan seraya bertolak pinggang. Ki Sanjung Tulang tahu betul, siapa wanita itu. Dia tak lain orang yang pernah dijumpainya di kedai tadi dan telah membuat keonaran.

“Huh! Laki-laki busuk pengecut! Kau manusia hina yang tidak punya rasa malu. Kau hanya berani pada orang yang tengah terluka. Sekarang, terimalah kematianmu,” desis wanita yang memang Diah Kemuning itu dingin.

Ki Sanjung Tulang terkejut setengah mati ketika wanita itu telah melompat menyerangnya kembali dengan sepasang pedang terhunus.

“Hiyaaat...!”
“Uts...!”

Dengan bergulingan, Ki Sanjung Tulang berusaha menghindari sambaran kedua pedang Diah Kemuning. Sementara, wanita itu menggeram, ketika kedua ujung pedangnya menyambar tanah hingga rompal. Ujung kaki kanannya cepat menyambar dada Ki Sanjung Tulang. Maka cepat-cepat laki-laki kurus itu berjingkat dan melompat ke belakang. Tapi, ujung pedang Diah Kemuning terus mencecar lehernya.

Untung saja Ki Sanjung Tulang masih sempat menunduk. Namun, wanita itu cepat sekali berbalik, bahkan pedangnya yang sebuah lagi langsung menyambar ke arah dada Ki Sanjung Tulang yang memang sulit mengelak. Akibatnya....

Trasss!
Bret!
“Aaa...!”

Ki Sanjung Tulang kontan memekik setinggi langit. Kedua tangannya yang mendekap perutnya langsung putus tertebas pedang wanita itu. Bahkan senjata itu terus menerobos merobek dadanya. Setelah terhuyung-huyung, laki-laki itu tersungkur ke tanah bersimbah darah.

“Mampus!” dengus Diah Kemuning seraya meludah ke tubuh tidak berdaya di depannya.

Setelah menyeka pedangnya yang bersimbah darah, wanita itu menghampiri Pendekar Pulau Neraka yang tengah duduk bersila di bawah sebuah pohon. Bayu memang tengah bersemadi, mengatur pernapasan dan jalan darahnya yang tidak beraturan. Mukanya pucat Lalu perlahan-lahan kelopak matanya terbuka, ketika gadis itu tersenyum seraya duduk di sebelahnya.

“Hm.... Ternyata Pendekar Pulau Neraka bisa juga tidak berdaya,” gumam Diah Kemuning. Bayu tersenyum kecil.

“Ternyata wanita secantik kau, bisa juga bertindak kejam."
“Tapi tidak sekejam dirimu.”
Bayu diam saja tidak menjawab.

“Kalau saja kau memiliki Pedang Ular Mas, tentu si keparat itu mudah dikalahkan,” kata Diah Kemuning lagi, seperti menggumam. Kali ini Bayu menoleh ke arahnya, dengan wajah heran.

“Pedang Ular Mas...?”


***


TUJUH

Diah Kemuning memandang Pendekar Pulau Neraka dengan senyum cerah.

“Pedang itu adalah senjata keramat. Dan, hanya dengan senjata itulah Iblis Cebol mampu dilawan. Kau telah membuktikannya sendiri, bukan? Senjata Cakra Mautmu yang hebat sama sekali tidak mempan di tubuhnya. Iblis Cebol bukanlah manusia sembarangan. Konon, katanya dia masih keturunan manusia ular yang amat sakti...,” jelas Diah Kemuning.

Bayu tersenyum mendengar penjelasan gadis itu. “Manusia ular yang sakti? Hm.... Bualanmu boleh juga....”

“He! Aku tidak bermaksud membual. Tapi, begitulah yang pernah kudengar,” sanggah Diah Kemuning agak kesal.

“Sudahlah...,” cegah Bayu lebih lanjut.

“Aku senang kau mau bertarung melawan Iblis Cebol...,” kata gadis itu cerah.

“Aku melakukannya bukan karenamu. Tapi demi orang banyak yang sering menjadi korbannya,” sahut Bayu cepat.

“Hm.... Siapa yang peduli niatmu? Aku cukup merasa senang kalau kau membunuhnya. Itu saja!” tutur gadis itu.

“Aku heran. Kepandaian ilmu silat yang kau miliki sudah demikian hebat Lantas, kenapa kau malah memintaku untuk menghabisinya?”

Diah Kemuning mendesah pelan. “Kepandaianku tidak hebat. Dan kau sendiri bisa melihatnya. Kalau sekadar menghadapi keroco-keroco seperti tadi, mungkin bisa diandalkan, tapi Iblis Cebol bukanlah orang sembarangan....”

Bayu kembali tersenyum. “Tapi kau lihat sendiri, kepandaianku ternyata tidak ada apa-apanya bila untuk melawan Iblis Cebol...,” desah Pendekar Pulau Neraka lemah.

“Kau tidak perlu berkecil hati. Aku telah melihat segalanya. Dan kau ternyata bukanlah orang sembarangan. Meskipun kau terluka waktu menghadapinya, tapi dia pun terluka pula olehmu. Kalau saja kau memiliki Pedang Ular Mas, maka dia akan lebih mudah dikalahkan.”

“Kau sering menyebut-nyebut Pedang Ular Mas. Dari mana kau mengetahui kalau ilmu kebal Iblis Cebol mempan oleh senjata itu? Lalu, di mana pedang tersebut bisa didapatkan?

“Hm.... Agaknya kau ketinggalan berita. Banyak orang tahu kalau ilmu kebal Iblis Cebol tidak berarti bila berhadapan dengan Pedang Ular Mas. Aku mengetahuinya dari guruku yang tewas di tangannya. Dan apa yang kuketahui dari guruku, pedang itu kini berada di tangan Resi Wangsa Purbaya. Kalau kau mau, aku bisa mengantarkanmu ke tempat beliau...,” sahut Diah Kemuning girang.

Bayu terdiam beberapa saat.

“Bagaimana?” desak Diah Kemuning.

Bayu memandang sekilas gadis itu, kemudian tersenyum kecil.

“Apa kau kira resi itu bersedia memberikannya begitu saja padaku?” tanya Pendekar Pulau Neraka.

“Kita akan mencobanya,” desah Diah Kemuning.

“Seorang resi, adalah orang yang memiliki kepandaian hebat dan menjunjung tinggi kebenaran. Dia tentu tidak suka melihat sepak terjang Iblis Cebol. Dan dia sudah pasti tahu tentang kelemahan ilmu kebal Iblis Cebol, yang akan takluk bila Pedang Ular Mas digunakan. Yang membuatku heran, kenapa Resi Wangsa Purbaya tidak mau turun tangan? Dan seandainya turun tangan, bagaimana mungkin sudi memberikan pedang itu padaku...,” sahut Bayu masgul.

Diah Kemuning tersenyum memandang pemuda itu.

“Kudengar, namamu Bayu. Boleh aku memanggilmu begitu?”
“Kau boleh memanggilku apa saja....”

“Baiklah, Bayu. Soal tadi aku pernah mendengar sedikit dari guruku. Kata beliau guru Iblis Cebol tewas di tangan guru Resi Wangsa Purbaya oleh Pedang Ular Mas. Setelah gurunya tiada, pedang itu diberikan pada sang Resi. Tapi saat itu, Resi Wangsa Purbaya telah menjadi seorang pemuka agama, dan menjauhkan diri dari urusan dunia persilatan. Dia pun telah bersumpah untuk tidak terlibat lagi dalam urusan keduniaan. Dan rasanya, semua tokoh tahu hal itu. Jadi apabila dia menggempur Iblis Cebol, maka jelas akan melanggar sumpahnya.

Kalau itu dilakukannya, tentu saja akan menjadi bahan tertawaan semua orang. Jadi dugaanku, beliau tidak akan menggempur Iblis Cebol. Dan dengan demikian, tentu akan bersedia meminjamkan pedangnya. Apabila kalau tahu, siapa yang meminjam. Dan, untuk apa pedang itu digunakan...,” sahut Diah Kemuning mengemukakan alasannya. Bayu memandang gadis itu seksama, kemudian kembali tersenyum.

“Hm.... Tidak kusangka, selain kepandaianmu hebat, kau pun memiliki otak cerdik. Sungguh suatu perpaduan sempurna dengan wajahmu yang cantik....” Diah Kemuning tersenyum lebar.

“Jadi kau bersedia kutemani pergi ke tempat resi itu?” tanya gadis itu dengan sorot mata berbinar.

“Dalam keadaanku seperti sekarang, rasanya agak berat Aku harus menyembuhkan luka dalamku lebih dulu....”

“Hm.... Aku akan suka sekali merawatmu kalau kau suka, Bayu...?”

“Terima kasih...,” ucap Bayu disertai senyum manis.

“Aku tahu suatu tempat untuk merawat luka-luka dalammu. Setelah kau merasa agak baik, kita bisa melanjutkan perjalanan,” usul Diah Kemuning.

“Boleh saja. Tapi, aku tidak suka melihat dandanan mu seperti ini bila berjalan denganku,” tegas Bayu.

“Yah.... Kau tidak suka melihat dandananku begini? Baiklah. Dengan senang hati, aku akan menukarnya.”

“Kalau kau berpakaian lebih sopan dan tidak selalu bersikap genit, kau akan menjadi gadis yang lebih cantik...,” sanjung Bayu.

“Terima kasih. Nah, kita berangkat sekarang?”

Bayu bangkit perlahan, seraya menangkap Tiren yang melompat ke pangkuannya. “Baiklah...,” desah Bayu pelan.

Tanpa malu-malu lagi Diah Kemuning menggandeng pemuda itu. Lalu diajaknya Pendekar Pulau Neraka berlalu dari tempat itu. Wajahnya tampak cerah, dan senyumnya terus mengembang.


***


Pendekar Pulau Neraka sedikit tertegun. Diah Kemuning ternyata membawanya ke sebuah rumah kosong yang telah lama tidak dihuni. Dengan langkah ragu, Bayu masuk ke dalam. Di situ, terdapat sebuah kamar yang di dalamnya ada sebuah tempat tidur rapi, meskipun berkesan sederhana. Dari perabotan yang terdapat di situ, bisa diduga bahwa tempat itu agaknya dihuni seseorang. Sebab, tak ada sebutir debu pun yang melekat.

“Rumah siapa ini?”
“Rumahku!” sahut Diah Kemuning singkat.

Bayu memandang tidak percaya.

“Kau tidak yakin? Tapi, aku sering berada disini...,” sahut gadis itu seenaknya.

“Ya, terserahmu saja....”

“Nah! Kau tunggu di sini dulu. Aku akan membuat ramuan untuk menyembuhkan luka dalam mu. Kau tahu, guruku sangat ahli dalam pengobatan,” ujar gadis itu seraya berlalu dari ruangan ini.

Bayu hanya tersenyum tipis. Dibiarkannya gadis itu berlalu, kemudian duduk bersila memusatkan pikirannya. Lalu dikerahkannya hawa murni untuk mengatur jalan darah sambil mengatur pernapasannya. Kelopak matanya terpejam, ketika terasa hawa panas di bawah perutnya perlahan-lahan mengalir ke seluruh tubuhnya.

“Hoeeekh...!”

Dari mulut Pendekar Pulau Neraka seketika menyembur darah kental berwarna kehitaman beberapa kali. Dada pemuda itu terasa nyeri, dan wajahnya terlihat semakin pucat. Setelah beberapa kali memuntahkan darah kental, denyut nadinya terasa melemah. Namun jalan darahnya sudah terasa lancar, meski tubuhnya lemah seperti tidak bertulang.

Tidak berapa lama kemudian, terlihat Diah Kemuning muncul membawakan dua buah mangkuk dari tempurung kelapa dan sebuah bambu kecil yang biasa digunakan untuk minum.

“Minumlah obat ini. Kau banyak mengeluarkan darah,” ujar gadis itu seraya mengangsurkan sebuah mangkuk tempurung kelapa.

Bayu mencium bau yang menyengat, ketika mangkuk itu diterimanya. Kemudian, dipandangnya gadis itu dengan wajah curiga.

“Kau takut ramuan itu berisi racun? Percayalah. Mana mungkin aku mau melakukan itu padamu. Kau lebih cerdik dariku. Tentu, kau bisa membedakannya. Minumlah. Dan, kau akan merasakan khasiatnya...,” sahut gadis itu seperti mengerti apa yang dipikirkan Bayu.

Dengan ragu-ragu, Bayu menenggak ramuan itu. Maka seketika terasa ada hawa panas dari perutnya yang menyegarkan sekujur tubuh. Pemuda itu menunggu hasilnya beberapa saat kemudian. Dan seperti apa yang dikatakan gadis itu, ramuan yang diberikannya benar-benar mujarab. Tubuhnya semakin terasa segar saja. Dan aliran darahnya pun berjalan lancar dan tubuhnya mulai berkeringat.

“Bagaimana...?” tanya Diah Kemuning.

“Hm.... Kau betul-betul hebat. Ramuanmu sangat mujarab!” puji Bayu.

Gadis itu tersenyum, kemudian menyodorkan mangkuk yang kedua. “Sup ini baru saja kupanaskan. Sisa semalam. Mungkin tidak enak bagimu. Tapi, percayalah. Aku membuatnya dengan sepenuh hati. Kau boleh mencobanya untuk mengisi perut....”

Bayu memandang gadis itu dan tersenyum manis setelah menerima mangkuk itu. Lalu, tanpa ragu-ragu lagi dilahapnya sup itu hingga tuntas.

“Enaaak...!” puji Bayu.
“Terima kasih.”

Diah Kemuning tersenyum seraya membereskan kedua mangkuk yang telah kosong. Lalu diserahkannya bumbung bambu yang terakhir.

“Ramuan ini untuk mengembalikan tenagamu yang telah banyak terkuras....”
“Kau baik sekali, Diah....”

Diah Kemuning memandang ke arah Bayu sesaat, kemudian berpaling jengah. Lalu kembali dipandangnya pemuda yang tengah menghabiskan isi ramuan di dalam bumbung bambu itu.

“Bagaimana? Enak, bukan?” tanya gadis itu minta pendapat.

“Harum. Dan, baunya seperti arak yang enak....”

Diah Kemuning tersenyum, kemudian merapikan mangkuk-mangkuk itu. Lalu dia beranjak dari kamar.

“Mau ke mana?” tanya Bayu.

“Ke belakang sekalian menutup pintu dan jendela. Tampaknya sebentar lagi hujan akan turun lebat Coba lihat! Gerumbul awan menghitam dilangit sana,” ujar gadis itu seraya terus berlalu.

Bayu diam saja sambil merasakan keanehan yang mulai menjalari tubuhnya. Pemuda itu tiba-tiba tercekat dan berusaha melawan sekuat tenaga. Namun, perasaan aneh itu semakin kuat menjalar di sekujur tubuhnya. Dia tiba-tiba merasakan ada hawa panas yang membuat kejantanannya berkobar-kobar dibakar hawa nafsu. Kepalanya seperti diganduli benda yang beratnya bukan main. Bayu mencoba bangkit, namun tubuhnya seperti melayang-layang di udara. Kembali tubuhnya dihenyakkan di pembaringan kamar itu.

“Apa ini...?” desis Bayu pelan.

Diah Kemuning telah muncul di ambang pintu sambil tersenyum lebar. Sedang Bayu menggapainya lemah.

“Diah....”

Gadis itu mendekat, lalu duduk di dekat Bayu. Dan seketika Bayu cepat merangkul dan merebahkannya ke tempat tidur. Gadis itu sama sekali tak menolak. Bahkan ketika dengan gemas Bayu melumat bibirnya, dia hanya pasrah saja tanpa berusaha menghindar.

“Sabar, Kakang...,” bisik gadis itu pelan. Dia tertawa kecil, ketika Bayu hendak melucuti pakaiannya.

“Diah, aku... aku....” Suara Bayu seperti tercekat di tenggorokan. Dadanya sudah berdegup keras seperti meronta-ronta.

“Iya.... Aku mengerti apa yang kau inginkan...,” sahut gadis itu, seraya menekap bibir Bayu dengan telunjuknya.

Kemudian dengan perlahan-lahan Diah Kemuning membuka pakaiannya sendiri. Bayu agaknya merasa tidak sabar, ketika melihat keadaan tubuh Diah Kemuning yang polos tanpa sehelai benang pun. Langsung dirangkulnya gadis itu sambil menggeram buas laksana seekor hewan yang kelaparan. Diah Kemuning hanya terkikik kecil, dan membiarkan saja kelakuan pemuda itu.

Di luar rintik hujan mulai turun bersama gelapnya malam. Perlahan-lahan rintik hujan semakin lebat dan lidah petir sesekali menyambar angkasa. Dingin mulai merayap di seluruh pelataran. Namun dalam kamar di rumah itu terasa hangat, diiringi derit tempat tidur yang mengiringi pergulatan kedua anak manusia yang berbeda jenis.

Sesekali terdengar suara pemuda menggeram. Sementara gadis itu mendesah halus dengan napas terengah-engah. Keduanya berkeringat, dan hela napas mereka seperti berlomba bagai dua ekor kuda yang saling berpacu.

“Uhhh...!”

Keduanya melenguh panjang, kemudian terdengar lengang. Lalu, yang terdengar hanya curahan air hujan yang jatuh menimpa bumi membuat genangan.


***


“Brengsek!”

Bayu memaki geram ketika melihat Diah Kemuning tengah membereskan pakaiannya yang tidak karuan seraya membuka jendela. Hujan telah lama reda. Dan di kejauhan terdengar suara ayam berkokok saling bersahutan. Agaknya sebentar lagi pagi akan tiba. Dan Bayu baru menyadari kalau telah terlelap semalam di kamar ini dengan tubuh letih.

“Kenapa? Kau marah padaku, Kakang Bayu...?” tanya gadis itu lembut seraya duduk di dekat pemuda itu.

Bayu memperhatikan sesaat wajah gadis itu yang berbinar gembira. Rambutnya masih terlihat basah, dan tubuhnya harum dililit sehelai kain sebatas dada. Sehingga payudaranya yang membusung indah masih terbayang. Pendekar Pulau Neraka mengalihkan pandangan ketika jari-jari lentik gadis itu menyapu wajahnya.

“Kakang.... Aku telah lama mencintaimu. Bahkan sebelum kita berkenalan. Aku sering mengikuti perjalananmu dan sering berangan-angan, kalau suatu saat kau menjadi kekasihku...,” sahut Diah Kemuning sendu.

“Kenapa kau menaruh ramuan perangsang dalam bumbung itu?” tanya Bayu.

“Entahlah.... Aku tidak tahu. Tapi saat itu, yang terlintas adalah impian bagaimana aku bisa tidur denganmu,” tegas Diah Kemuning seperti tidak merasa bersalah.

“Diah.... Tahukah kau, sikapmu itu sangat buruk? Kau mungkin sering melakukannya pada lelaki lain!” sergah Bayu tajam dengan nada menusuk.

“Kakang! Kenapa kau menuduhku begitu?” sahut Diah Kemuning dengan wajah terpana.

Bayu terdiam seraya bangkit dan cepat memakai bajunya. Kemudian dipandangnya gadis itu dengan kesal.

“Kenapa kau malah balik bertanya? Bukankah kau bisa menjawabnya sendiri! Kau adalah perempuan rendah dan pelacur hina!” desis Bayu kesal.

“Kakang, kau... kau...!” Gadis itu terpana sungguh tidak disangka kalau pemuda itu bisa berkata demikian. Dia betul-betul terhenyak dan tidak tahu harus berbuat apa. Kepalanya langsung tertunduk. Tidak terasa, air matanya menitik dari kelopak matanya. Lalu, perlahan-lahan dipandanginya Bayu dengan tajam.

“Kakang Bayu! Kau boleh berkata apa saja tentangku. Tapi ketahuilah, tuduhanmu itu sama sekali tidak beralasan. Kau menilai penampilan saja. Namun, sesungguhnya apa yang kau duga berlawanan sekali dengan apa yang kualami dan kulakukan selama ini. Aku tidak pernah tidur dengan lelaki mana pun, selama ini, kecuali, satu hal. Dan kejadian itu sudah lama sekali, ketika aku masih tinggal di perguruan.

Waktu itu usiaku baru menginjak lima belas tahun, dan sama sekali tidak tahu kelicikan seseorang. Suatu saat, salah satu kakak seperguruanku memperkosaku. Dia mengancam akan membunuhku, kalau berani memberitahukan hal itu pada guru. Aku takut sekali. Bahkan tidak mampu berbuat apa-apa, ketika dia berbuat seenaknya untuk beberapa kali.

Dan ketika suatu hari guru mengetahui perbuatannya, dia dihukum berat..,” Diah Kemuning menghentikan ceritanya dan memandang sendu pada Bayu.

Bayu terdiam dan berpikir untuk meyakinkan hatinya, apakah harus percaya atau tidak pada cerita gadis itu.

“Kakak seperguruanku lalu dikebiri oleh guru. Dan setelah mencabut semua ilmu yang dimilikinya, dia pun diusir dari perguruan. Guruku amat baik dan selalu berusaha mengembalikan kepercayaan diriku yang jatuh akibat peristiwa itu. Dialah pengganti orangtua ku yang telah tiada. Dan ketika Iblis Cebol membunuhnya, aku amat mendendam.

Tapi kusadari kalau aku tidak akan mampu melawan manusia keparat itu. Maka untuk itulah aku mendapatkan akal, dengan memperdaya laki-laki yang kunilai memiliki kemampuan hebat. Dan dengan penampilan itulah aku menggunakannya untuk memikat mereka.

Tapi ternyata cara itu pun menemukan jalan buntu. Sebab, tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkan Iblis Cebol. Bahkan beberapa orang tewas di tanganku ketika mereka mencoba memperkosaku. Dan kemudian, sampai akhirnya aku bertemu denganmu. Tapi, Kakang Bayu. Kau boleh percaya dan boleh tidak dengan ceritaku.

Sesungguhnya, aku sama sekali tidak memperalatmu. Karena, aku tahu. Kau berbeda dengan mereka. Selain kemampuanmu yang hebat, kau pun cukup cerdik. Dan lebih dari itu, telah lama aku mendambakanmu. Aku betul-betul mencintaimu, Kakang...,” gadis itu mengakhiri kisahnya dengan air mata berlinang.

Bayu terdiam dan duduk termangu di tepi tempat tidur. Diah Kemuning lalu bangkit dan duduk di sebelah pemuda itu, seraya meremas tangannya perlahan. Bayu diam saja. Kemudian dipandangnya gadis itu dengan wajah bersalah penuh penyesalan.

“Maafkan kata-kataku tadi, Diah...,” ucap pemuda itu lirih.

“Tidak apa-apa, Kakang. Aku bisa memahaminya, kalau kau menuduhku begitu...,” desah Diah Kemuning.
“Aku telah salah mendugamu....”
“Kakang Bayu..., eh...! Bolehkah aku menyebutmu begitu?”
Bayu mengangguk pelan.
“Terima kasih, Kakang. Tapi, apakah kau mencintaiku pula...?” tanya Diah Kemuning.

Bayu tersenyum mendengar pertanyaan dari gadis itu. “Cinta itu datangnya bukan tiba-tiba. Namun, perlahan lewat perkenalan dengan berusaha mengetahui isi hati masing-masing. Sedang aku baru mengenalmu. Dan rasanya, kurang wajar jika aku mengatakan cinta begitu saja sekadar untuk menyenangkan hatimu. Kau mengerti bukan?” jawab Bayu, bijaksana.

“Aku mengerti, Kakang. Berdekatan denganmu pun, sudah membuatku senang. Aku akan mencoba menunggu jawabanmu....”

Bayu kembali terdiam, kemudian beranjak keluar. “Aku mandi dulu, dan setelah itu kita berangkat menemui resi yang kau katakan semalam...,” ujar Bayu.

Diah Kemuning mengangguk pelan, sambil menatap pemuda itu hingga menghilang di balik pintu. Lalu tubuhnya direbahkan di ranjang dengan senyum cerah.


***


DELAPAN

Sepasang anak muda berjalan perlahan. Sesekali yang seorang melirik ke sebelahnya. Sedangkan pemuda itu pura-pura tidak peduli, bahkan ketika gadis itu menggandeng tangannya, dia berusaha menolak dengan halus.

“Bagaimana keadaanmu sekarang, Kakang Bayu?” tanya gadis itu lembut.

Memang, mereka adalah Pendekar Pulau Neraka dan Diah Kemuning yang tengah berjalan menuju kediaman Resi Wangsa Purbaya.

“Hebat! Ramuan yang kau berikan ternyata sangat ampuh,” sahut Bayu.

“Syukur.... Seandainya saja kita bertemu dengan iblis keparat itu, kau tidak perlu berkecil hati lagi!”

Bayu diam saja tidak menjawab.

“Kakang....”
“Hm.”

“Kau tahu, apa yang kurasakan saat ini? Aku senang sekali berjalan denganmu,” Diah Kemuning bertanya, namun langsung dijawabnya sendiri.

Bayu menoleh sekilas, kemudian tersenyum kecil. Tiren yang nangkring di pundaknya menyeringai sambil mencerecet ribut dengan kedua tangan bertepuk-tepuk.

“Huh! Diam...!” sentak Bayu.

Monyet kecil itu merengut seraya menundukkan kepala. Bayu tersenyum dan mengelus-elus kepalanya. Tiren, langsung menyeringai lebar dan wajahnya kembali cerah. Diah Kemuning tersenyum melihat ulah monyet kecil itu. Namun mendadak keduanya terpaku, ketika mendengar suara-suara senjata saling beradu.

“Hm.... Suara pertarungan yang tidak jauh dari sini. Diah! Coba kita lihat, siapa yang bertarung,” kata Bayu seraya menggenjot tubuhnya.

Diah Kemuning mengikuti dari belakang. Dengan pengerahan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Sebentar saja mereka sampai di sebuah lembah yang tidak berapa jauh dari tempat itu. Dari tempat yang agak tinggi, mereka bisa melihat seorang laki-laki tua bertubuh bungkuk dan seorang gadis belia berwajah cantik bersenjatakan keris, tengah dikeroyok lebih dari tujuh orang laki-laki berwajah kasar.

“Hm.... Kawanan rampok Gagak Ireng,” desis Diah Kemuning bernada geram.
“Kau kenal?”

Diah Kemuning mengangguk. Gadis itu sudah akan melompat turun untuk melabraknya, namun Bayu cepat mencegah.

“Kenapa, Kakang? Coba lihat... Kedua orang itu terdesak. Kita harus membantunya,” tanya Diah Kemuning, heran.

“Kita belum tahu, apa urusan mereka,” jelas Pendekar Pulau Neraka.
“Siapa yang tidak kenal kawanan rampok Gagak Ireng? Mereka adalah kumpulan manusia keparat yang kerjanya merampok, membunuh, serta memperkosa wanita-wanita yang tidak berdaya. Saat inilah yang tepat untuk memberi pelajaran pada mereka. Ayo, Kakang! Tunggu apa lagi?” kata Diah Kemuning seraya melompat turun.

Mau tidak mau, Bayu terpaksa mengikuti gadis itu. Sementara, dua orang yang meskipun mengadakan perlawanan sengit, namun tetap saja terdesak. Lawan mereka memang terlampau banyak dan memiliki kemampuan cukup hebat Sehingga, lambat laun mereka terlihat makin terdesak hebat. Saat itu Diah Kemuning langsung terjun ke dalam pertarungan.

“Manusia-manusia keparat! Mampuslah kalian! Hiyaaat...!”

Sring!
Trang! Trang!

Kedua pedang gadis itu berkelebat cepat, menyambar golok-golok para perampok. Bahkan membuat mereka berpentalan. Demikian juga dengan apa yang dilakukan Pendekar Pulau Neraka. Tubuhnya berkelebat cepat, menghajar lawan-lawannya yang memang berkemampuan rendah.

Kawanan rampok Gagak Ireng tersentak kaget, melihat kemunculan dua orang itu. Dalam waktu singkat saja, mereka yang berkemampuan rendah terdesak hebat. Kini mereka sadar kalau kedua orang yang baru muncul itu bukanlah tokoh sembarangan.

Ujung pedang Diah Kemuning menyambar dada seorang perampok. Orang itu menangkis dengan senjata golok, namun pedang gadis itu yang satu lagi bergerak cepat memapas lehernya.

Crasss! Brettt!
“Aaa...!”

Terdengar pekikan kesakitan, ketika orang itu ambruk ke tanah. Beberapa saat kemudian dia tewas dengan leher nyaris putus. Dan pada saat yang bersamaan, seorang lagi binasa di ujung keris gadis berpakaian serba putih yang ditolong ini.

“Aaa...!”

Laki-laki bongkok bersenjata tongkat itu seperti mendapat semangat baru, melihat kemunculan dua orang penolong. Tongkatnya kembali berkelebat cepat, menyambar dua orang terdekat. Salah seorang menangkis dengan sengit.

Trakkk!

Sementara seorang perampok melompat mundur. Namun ujung tongkat laki-laki bongkok itu terus mengejar cepat, dan cepat menghantam telak dadanya.

Bukkk!
“Aaa...!”

Orang itu memekik kesakitan ketika tulang dadanya berderak patah. Pada saat yang hampir bersamaan, ujung kaki Pendekar Pulau Neraka berhasil menghantam dagu salah seorang perampok. Orang itu memekik kesakitan, ketika tubuhnya terjungkal ke belakang sambil memuntahkan darah segar.

Tiga buah giginya seketika tanggal. Empat orang yang tersisa, terpaku dan ragu-ragu untuk melanjutkan serangannya. Namun, Diah Kemuning yang berangasan agaknya tidak sudi membiarkan mereka begitu saja. Langsung saja dia melompat menyerang mereka.

“Yeaaah...!”
Trangngng!

Keempat orang itu terpaksa melawan dengan semangat yang mulai mengendor. Kelebatan pedang gadis itu dipapak. Namun dalam waktu singkat saja, mereka harus mengakui kalau kecepatan gerak gadis itu luar biasa dan sulit diimbangi. Sehingga, tidak heran kalau sebentar saja dua orang kembali terjungkal tewas disertai jerit kesakitan ketika perutnya robek dibabat kedua pedang gadis ini. Kembali dua orang lainnya tersentak kaget Mereka berusaha melarikan diri, tapi dengan geram Diah Kemuning melemparkan kedua pedangnya.

Crab!
Bresss!
“Akh!”
“Aaa...!”

Kedua orang itu seketika menjerit melengking tinggi ketika punggungnya tertancap pedang Diah Kemuning. Mereka ambruk ke tanah dengan nyawa melayang dari badannya. Diah Kemuning mendengus pelan, lalu melangkah mendekati.

Di cabutnya kedua pedang yang tertancap di punggung dua orang itu. Setelah membersihkan darah yang melekat, pedangnya disarungkan kembali. Kemudian kakinya melangkah mendekati Bayu dengan wajah tenang seperti tidak ada kejadian apa pun juga.


***


“Kisanak berdua, aku Paman Sudira. Dan ini keponakanku, Andini. Kami mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas bantuan kalian berdua. Kalau boleh tahu, siapakah kalian berdua ini..?” ujar laki-laki tua bertubuh bongkok yang memang Paman Sudira bersama Andini.

“Namaku Diah Kemuning. Dan temanku ini Bayu. Tapi, mungkin kalian pernah mendengar julukan Pendekar Pulau Neraka. Nah, dialah orangnya,” sahut Diah Kemuning dengan nada bangga bisa memperkenalkan Pendekar Pulau Neraka.

“Pendekar Pulau Neraka...? Oh! Sungguh kebetulan sekali kami bisa bertemu denganmu, Kisanak. Sebab, selama ini kami memang sedang mencarimu untuk satu urusan yang sangat penting,” kata Paman Sudira dengan wajah gembira.

“Hm.... Urusan apa itu, Ki?” tanya Bayu heran.

Laki-laki bungkuk itu agak ragu seraya memandang kepada Diah Kemuning. Melihat cara memandang Paman Sudira, gadis itu merasa dicurigai. Kini wajahnya mulai menunjukkan rasa tidak senang.

“Kisanak! Apakah aku tidak boleh mendengar pembicaraan ini?” tanya Diah Kemuning agak ketus, mengungkapkan rasa ketidaksenangannya.

“Oh, bukan begitu. Tapi ini hanya untuk berjaga-jaga saja. Harap Nini Diah Kemuning tidak salah tanggap. Urusan ini harus hati-hati sekali,” sahut Paman Sudira.

“Ki Sudira, aku bertanggung jawab penuh pada Diah Kemuning. Nah! Ceritakanlah, apa yang ingin kau katakan padaku,” selak Bayu cepat menengahi.

“Baiklah... ini menyangkut Iblis Cebol,” ujar Paman Sudira agak terputus suaranya.

“Iblis Cebol...? Hm.... Mau apa lagi manusia keparat itu?” sentak Diah Kemuning geram.

“Sabar, Diah. Biarkan Paman Sudira menyelesaikan dulu,” selak Bayu menenangkan.

Gadis itu kembali terdiam. Bayu kemudian memandang Paman Sudira. “Nah Ki Sudira. Silakan lanjutkan....”

Paman Sudira mulai menceritakan pertemuannya dengan Resi Wangsa Purbaya dan pesan yang harus disampaikannya pada Pendekar Pulau Neraka.

“Hm.... Sungguh kebetulan, Kakang. Bukankah dugaanku benar?” selak Diah Kemuning cerah.

Bayu hanya menganggukkan kepala sedikit. Sementara Paman Sudira hanya berpandangan sejenak saja dengan Andini. Kemudian dipandangnya Pendekar Pulau Neraka dengan wajah penuh harap.

“Bagaimana Kisanak?”

“Ki Sudira, sebenarnya tujuan kita sama. Kami berdua pun tengah menuju tempat kediaman Resi Wangsa Purbaya untuk meminjam pedang itu guna menghancurkan Iblis Cebol,” jelas Bayu.

“Ah! Sungguh kebetulan,” sahut Paman Sudira dengan wajah semakin cerah.

“Kalau begitu, buat apa lagi berlama-lama disini? Lebih baik, kita cepat ke sana,” lanjut Diah Kemuning tidak sabar.

“Baiklah,” sahut Paman Sudira.

Mereka segera meninggalkan tempat itu tanpa banyak bicara lagi. Dan sejak awal perjalanan, Diah Kemuning tampak begitu manja pada Pendekar Pulau Neraka. Sepertinya dia ingin menunjukkan pada kedua orang itu kalau Bayu adalah kekasihnya. Dan hal itu membuat Bayu jadi jengah sendiri. Apa lagi ketika Paman Sudira dan Andini sesekali melirik.

Beberapa kali Bayu memberi isyarat pada Diah Kemuning. Tapi, gadis itu seperti pura-pura tidak tahu. Bayu akhirnya hanya bisa menarik napas panjang saja, menghadapi sikap manja gadis itu. Tidak berapa lama keempat orang itu menempuh perjalanan, sampailah mereka di tempat tujuan. Mereka menunggu beberapa saat. Dan ketika Resi Wangsa Purbaya muncul, mereka langsung menjura memberi hormat.

“Selamat datang ke tempatku, Anak-anak muda...,” sapa Resi Wangsa Purbaya ramah.

“Senang sekali bertemu denganmu, Kanjeng Resi,” ucap Bayu membalas keramahan ini.

“Tentunya mereka telah memberitahu padamu tentang niatku,” ujar Resi Wangsa Purbaya langsung.

Bayu mengangguk mantap. “Aku merasa mendapat kehormatan atas kepercayaan yang kau berikan ini, Kanjeng Resi.”

“Pedang Ular Mas ini akan kupercayakan padamu. Dan kau harus mengembalikannya, setelah semuanya selesai,” kata Resi Wangsa Purbaya.

“Aku berjanji akan mengembalikannya, Kanjeng Resi,” sahut Bayu mantap.

“Syukurlah. Tapi sebelumnya seperti yang lain, aku ingin menguji kemampuanmu dulu. Jangan berkecil hati, karena ini demi keselamatan dirimu sendiri. Bila pedang ini tidak berhasil dicabut dari warangkanya. Itu berarti kau tidak akan berhasil mengalahkan Iblis Cebol. Kau mengerti maksudku, Anak Muda...?” jelas Resi Wangsa Purbaya.

“Aku mengerti Kanjeng Resi,”

“Nah! Mulailah cabut pedang ini,” lanjut Resi Wangsa Purbaya seraya mengulurkan gagang Pedang Ular Mas ke depan Pendekar Pulau Neraka.

Bayu memusatkan perhatiannya barang sejenak. Kemudian ditariknya napas dalam-dalam, tanpa berkedip memandangi gagang pedang didepannya. Tapi baru saja hendak menarik pedang itu....

“Ha ha ha...! Agaknya semua sudah berkumpul di tempat buruk ini. Dan resi peot pengecut semakin ciut nyalinya, sehingga perlu meminta bantuan orang lain.”

Mendadak terdengar suara keras yang membahana di seputar tempat itu.

“Itu Iblis Cebol...,” desis Resi Wangsa Purbaya.

Beberapa saat kemudian, melesat turun sesosok tubuh cebol dengan kepala botak berukuran besar. Sepasang matanya melotot lebar. Kedua tangannya bersisik hitam kebiruan seperti kulit ular sampai sebatas siku. Sebuah toya tergenggam di tangan kanannya.

“Hm.... Pendekar Pulau Neraka. Akhirnya kita bertemu lagi di sini. Hari ini, aku tidak akan mengampunimu lagi!” hardik Iblis Cebol garang.

“Iblis Cebol! Aku tidak pernah merasa kau ampuni. Kapan pun kau ingin menantangku, aku siap menghadapimu!” bentak Pendekar Pulau Neraka geram.

“Huh! Kau boleh menunggu sampai aku menghajar tua bangka keparat itu!” tuding Iblis Cebol pada Resi Wangsa Purbaya.

“Iblis Cebol! Kau tidak perlu repot-repot menghadapi Resi Wangsa Purbaya. Aku akan mewakilinya untuk menghadapimu,” sahut Pendekar Pulau Neraka lantang.

“Pendekar Pulau Neraka! Apa kau tidak bisa bersabar menungguku untuk menyelesaikan tua bangka busuk ini lebih dulu? Aku ingin melihat kepengecutannya. Setelah sekian lama aku menunggu, ternyata dia sama sekali tidak mau mencoba menghentikan segala perbuatanku! Sehingga, kuduga dia pasti ketakutan melihat kehadiranku ini. Dan ternyata memang demikian, bukan...? Ha ha ha...!” ejek Iblis Cebol.

“Iblis Cebol! Kau boleh berkata apa saja untuk membangkitkan amarahku. Tapi jangan harap aku harus melanggar sumpahku. Dan Pedang Ular Mas diciptakan yang khusus untuk melenyapkan orang-orang sepertimu, akan kupinjamkan pada orang yang tepat untuk mewakiliku,” kata Resi Wangsa Purbaya kalem.

Setelah itu Resi Wangsa Purbaya menjulurkan Pedang Ular Mas pada Pendekar Pulau Neraka. “Anak Muda, lupakanlah ujian tadi. Aku sudah yakin kau mampu mencabutnya, tanpa perlu diuji lagi. Kupinjamkan pedang ini padamu, dengan keyakinanku kau pasti mampu menggunakannya. Nah! Wakililah aku serta orang-orang yang telah teraniaya akibat ulahnya. Hancurkan keangkaramurkaannya dengan pedang ini,” ujar Resi Wangsa Purbaya, yakin.

“Kanjeng Resi! Terima kasih atas kepercayaan yang kau berikan padaku. Aku akan menggunakan sebaik-baiknya,” sahut Pendekar Pulau Neraka mantap, seraya menerima pedang itu. Kemudian Pendekar Pulau Neraka membalikkan tubuhnya dan melangkah mendekati Iblis Cebol dengan sorot mata tajam.

“Iblis Cebol! Bersiaplah! Kita akan melanjutkan pertarungan yang tertunda,” tantang Bayu langsung.

Iblis Cebol tampak ragu-ragu melihat pemuda itu menggenggam Pedang Ular Mas. Tapi, mana mau keterkejutan hatinya ditunjukkan di depan lawannya ini. Dengan mendengus dingin, dia mencoba untuk membesarkan hati.

“Huh! Senjata bulukan hendak kau pamerkan padaku! Kau tahan seranganku ini! Hiyaaa...!” Sambil membentak keras, Iblis Cebol melompat menyerang ganas Pendekar Pulau Neraka.

Disadari kalau Pendekar Pulau Neraka bukanlah lawan yang ringan. Karena, mereka pernah bertemu dan bentrok hingga masing-masing menderita luka yang parah. Apalagi sekarang ini Pendekar Pulau Neraka memegang Pedang Ular Mas yang menurut gurunya merupakan pemunah ilmu kebal miliknya yang selama ini amat dibanggakan.

Tidak heran kalau debu serta batu-batu sebesar kepalan tangan kini beterbangan ke udara, akibat pertarungan antara kedua tokoh persilatan tingkat tinggi itu.

Sementara yang lainnya segera menyingkir, menyaksikan dari jarak yang cukup jauh dan aman. Tampak pertarungan terus berjalan semakin sengit dan dahsyat. Masing-masing sudah langsung mengeluarkan jurus-jurus tingkat tinggi yang begitu diandalkan.

“Hiyaaat!”
“Shyaat!”

Tubuh Iblis Cebol tiba-tiba saja bergerak ke samping menghindari serangan Bayu sambil mengayunkan toyanya. Sementara, Bayu kembali mengapung di udara menghindari sambaran senjata lawannya.

“Iblis Cebol! Terimalah kematianmu Hiyaaa...!” bentak Bayu lantang menggelegar.

Srangngng!

“Heh...!” Iblis Cebol jadi tersentak kaget. Terdengar suara gemerincing nyaring yang memekakkan telinga, ketika Pedang Ular Mas dicabut Pendekar Pulau Neraka dari warangkanya tanpa menemui kesulitan. Dan memang tidak perlu diragukan lagi kemampuan Pendekar Pulau Neraka dalam mencabut pedang itu.

Kini, cahaya kuning keemasan langsung memantul dari batang pedang, sehingga bisa menyilaukan mata siapa saja yang memandangnya. Selagi Iblis Cebol terperanjat kaget menyaksikan kehebatan pedang itu, Bayu menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Tubuhnya langsung melesat cepat bagai kilat dengan sambaran pedangnya. Namun manusia bertubuh cebol itu masih sempat mengebutkan toyanya.

Trakkk!

Iblis Cebol terkesiap ketika senjatanya patah menjadi dua bagian ketika terhantam pedang ditangan Bayu. Bahkan pedang itu terus meluncur, mengincar ubun-ubunnya. Begitu cepat serangan Pendekar Pulau Neraka, sehingga Iblis Cebol hanya mampu mendelik saja. Lalu....

Blesss!
“Aaa...!”

Iblis Cebol memekik setinggi langit begitu Pedang Ular Mas melesak ke dalam tubuhnya, lewat ubun-ubun. Bahkan pedang itu hanya terlihat gagangnya saja. Iblis Cebol terhuyung-huyung. Beberapa saat kemudian dia ambruk ke tanah dengan nyawa melayang seketika. Tampak darah sudah membasahi tubuh kerdil itu.

Bayu melangkah mendekati dan mencabut pedang itu dari kepala lawannya. Lalu dia melihat keanehan lain. Cahaya keemasan itu masih terpancar, meski tidak sekuat saat dicabut dari warangkanya tadi. Tidak ada setetes darah pun yang menempel di batang pedang ini. Padahal, tubuh Iblis Cebol dipenuhi darah.

Kemudian, dimasukkannya pedang itu kembali dalam warangkanya. Pendekar Pulau Neraka lalu melangkah mendekati Resi Wangsa Purbaya. Diangsurkannya pedang dahsyat itu pada pemiliknya lagi.

“Kanjeng Resi, aku telah menunaikan kewajibanku. Terima kasih atas bantuanmu,” ucap Pendekar Pulau Neraka.

“Kau tidak perlu berterima kasih padaku, Anak Muda. Sesungguhnya, kami yang patut mengucapkan itu padamu,” sahut Resi Wangsa Purbaya seraya menerima pedangnya kembali.

“Kakang Bayu, kau hebat sekali...,” sambut Diah Kemuning dengan wajah haru dan ceria.

Tanpa menghiraukan ada orang lain di sekitarnya, gadis itu langsung saja memeluk hangat Pendekar Pulau Neraka ini. Tidak ada perasaan malu sedikit pun pada wajah gadis itu. Dan pelukannya baru dilepas setelah Bayu menolakkan tubuhnya dengan halus.

“Pendekar Pulau Neraka.... Kami sangat berterima kasih atas segala bantuan yang kau berikan. Budimu tentu saja tidak akan pernah kami lupakan,” ujar Paman Sudira menyelak cepat.

“Ki Sudira, kita sama-sama merasa punya kewajiban untuk melenyapkan Iblis Cebol. Jadi, tidak perlu berterima kasih padaku,” sambut Bayu tidak ingin disanjung.

“Hatimu sungguh mulia, Kisanak. Nah! Karena urusan telah selesai, kami mohon diri dulu,” lanjut Paman Sudira.

“Aku juga hendak melanjutkan perjalananku,” sambung Pendekar Pulau Neraka cepat-cepat.

Resi Wangsa Purbaya tidak dapat mencegah. Hanya kepalanya saja yang mengangguk sedikit. Sementara, mereka sudah melangkah meninggalkannya dengan arah tujuan sendiri-sendiri.


SELESAI

Episode Selanjutnya BIDADARI PENYAMBAR NYAWA

Thanks for reading Iblis Cebol I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »