Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU



Kho Ping Hoo serial Bu Kek Siansu jilid 06


JILID 06

DIAM-DIAM Sin Liong kagum bukan main. Tenaga beruang ini luar biasa besarnya, dan kiranya dia hanya akan dapat menandingi tenaga raksasa ini kalau dia menggerakkan sinkang sekuatnya! Akan tetapi tiba-tiba dia mendapat firasat tidak baik melihat sikap beruang itu, maka disambarnya tangan sumoi-nya dan dia berteriak. "Awas, Sumoi. Mari kita lekas pergi. Dia menghendaki demikian, entah mengapa?"

Sin Liong memegang erat-erat lengan sumoi-nya dan membiarkan dirinya diseret oleh beruang itu. Binatang itu mengajaknya setengah paksa berlompatan dan berlarian ke gunung es lain yang berdekatan. Baru saja mereka melompat ke atas gunung es lain itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan gunung es di mana mereka berada tadi telah pecah berantakan menjadi keping-keping kecil. Kiranya gunung es itu ditabrak oleh gunung es yang lain dan hal ini agaknya telah diketahui oleh si beruang tanpa melihat datangnya gunung es yang tak tampak dari situ. Ternyata binatang itu hanya diperingatkan oleh nalurinya yang tidak ada pada manusia!

Sin Liong berdiri dengan muka pucat, kemudian dia merangkul beruang itu. "Terima kasih, Kakak Beruang. Kiranya engkau malah menyelamatkan kami berdua."

Akan tetapi Swat Hong merasa tidak senang. "Suheng, mari kita segera pergi dari sini. Tempat ini amat berbahaya. Lihat, gunung es tadi hancur dan itu perahu kita kelihatan dari sini. Untung tidak hilang. Marilah, Suheng."

"Nanti dulu, Sumoi. Aku harus mencarikan daun obat untuk mengobati luka-luka di tubuh beruang ini."

"Ah, perlu apa? Kita bisa celaka di sini..."

"Sumoi, dia telah menyelamatkan nyawa kita!"

"Hemm, begitukah? Engkau pun tadi telah menyelamatkan nyawanya ketika kau mengusir burung-burung nazar itu, bukan? Aku melihat dari jauh. Berarti sudah terbalas semua budi, bukan? Marilah, Suheng."

"Tidak, Sumoi. Kita tinggal di sini dulu sampai aku selesai mengobatinya."

Swat Hong menjadi marah. "Agaknya kau lebih sayang beruang betina ini dari-pada aku!"

"Sumoi...!"

Akan tetapi Swat Hong sudah berlari pergi. Ia berloncatan di atas pecahan es dan menuju ke perahu mereka, meloncat ke dalam perahu dan mendayung perahu itu pergi dari situ! Sin Liong menjadi bingung dan hampir membuka mulut menegur, akan tetapi dia membatalkan niatnya karena maklum bahwa hal itu percuma saja.

"Ngukkk... nguuukkk...." beruang itu mendengus-dengus dan menciumi kepalanya.

"Ahhh, Enci (Kakak Perempuan) beruang, betapa sukarnya menyelami watak wanita. Aku telah membuat hatinya kecewa dan marah, akan tetapi bagaimana hatiku dapat tega meninggalkan engkau yang terancam bahaya maut oleh lukamu?"

Sin Liong lalu mengajak beruang itu mencari daun. Karena perahu sudah dibawa pergi Swat Hong, maka terpaksa dia mencari pulau yang masih ada tetumbuhannya dengan jalan berloncatan dari batu es lainnya. Kalau jaraknya terlalu jauh, beruang itu menggendongnya dan membawanya berenang ke batu es lainya atau kadang-kadang Sin Liong menggunakan sebongkah es yang mengambang sebagai perahu, didayung dengan tangannya yang kuat. Akhirnya setelah melalui perjalanan yang amat sukar, dapat juga dia menemukan pulau yang masih ada tetumbuhannya. Di pulau kecil itu dia mulai mengobati luka-luka beruang itu sampai sembuh.

Pada suatu hari dia melihat sebuah perahu kosong terbalik mengambang tidak jauh dari pulau. Dia merasa girang sekali. Cepat menyuruh beruang mengambilnya dan hatinya terharu ketika mengenal perahu itu sebagai sebuah di antara perahu Pulau Es.

“Tentu penumpangnya telah lenyap ditelan badai,” pikirnya.

Dia lalu membuat dayung dari cabang pohon. Setelah beruang hitam itu sembuh benar, dia lalu melompat ke perahu dan mendayungnya meninggalkan pulau. Akan tetapi tiba-tiba beruang itu terjun ke air dan berenang mengejar perahunya.

"Heii, Kakak Beruang, kembalilah. Engkau sudah sembuh, dan aku harus pergi mencari sumoi!"

"Nguuuk... nguukk...!" beruang hitam itu mengeluarkan suara mengeluh dan mukanya seperti orang menangis!

Sin Liong tersenyum. "Hmm, kau hendak ikut, ya? Nah, loncatlah ke atas!"

Seolah-olah mengerti arti kata-kata Sin Liong, beruang itu lalu meloncat ke dalam perahu. Kini mukanya kelihatan berseri, matanya bersinar-sinar dan lidahnya terjulur ke luar seperti sikap seekor anjing yang kegirangan.

"Kau boleh ikut sampai aku dapat menemukan kembali sumoi!" kata Sin Liong. "Kalau sumoi tidak menghendaki kau ikut, kau harus kutinggalkan karena kau telah sembuh."

Demikianlah Sin Liong kini melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka. Dari puncak sebuah gunung es, dia dapat melihat dari jauh dan kini dia tahu di mana letaknya Pulau Neraka. Beruang yang kini menggantikan tempat Swat Hong menjadi temannya berlayar itu kelihatan girang sekali ketika perahu meluncur. Binatang ini telah jinak benar-benar.

Setelah kini dia mengenal kembali keadaan dan tahu di mana letaknya Pulau Neraka, perjalanan dapat dilakukan dengan cepat. Setelah dekat dengan Pulau Neraka, dia menyaksikan sesuatu yang membuatnya terheran dan merasa tegang. Sebuah perahu besar kelihatan mendarat di Pulau Neraka. Jelas bukan perahu Pulau Neraka yang kecil-kecil. Perahu itu besar sekali, perahu layar yang hanya dipergunakan untuk pelayaran jauh. Dan perahu itu pun dalam keadaan payah, jelas kelihatan bekas diamuk badai. Tiang layarnya patah, layarnya cabik-cabik dan perahu itu tidak ada orangnya sama sekali, berdiri miring di pantai Pulau Neraka. Apakah yang telah terjadi di Pulau Neraka?

Ternyata bahwa seperti juga pulau lain, Pulau Neraka tidak luput dari amukan badai. Hanya karena letaknya agak jauh dari pusat amukan badai, maka penderitaannya tidak sehebat pulau lain, terutama Pulau Es. Air juga naik tinggi dan menenggelamkan setengah bagian pulau ini. Banyak pula penghuninya yang tidak keburu lari ke tempat tinggi lalu diseret dan ditelan badai. Perahu-perahu lenyap, pohon-pohon yang berada di tepi pantai bobol semua. Dan setelah badai mereda, sebuah perahu besar terdampar di tepi pantai. Perahu itu adalah perahu bajak laut!

Setelah air menyurut, para bajak laut yang terdiri-dari dua puluh lima orang itu segera mendarat. Mereka itu kelelahan dan kelaparan, bahkan ada lima orang di antara mereka tewas ketika badai mengamuk sehingga jumlah mereka hanya tinggal dua puluh lima orang itulah. Mereka mendarat dikepalai oleh raja bajak yang memimpin mereka, raja yang amat terkenal di sepanjang pantai muara-muara sungai Huangho dan Yangce.

Kepala bajak ini adalah seorang laki-laki tinggi besar yang buta sebelah matanya. Mata kiri yang buta karena tusukan pedang lawan dalam pertandingan, kini ditutupi oleh sebuah kain hitam sehingga ia kelihatan lebih menyeramkan lagi. Tubuhnya tinggi besar, dan di antara para nelayan dan pedagang yang suka berperahu dia dikenal sebagai Tok-gan-hai-liong (Naga Laut Mata Satu), sedangkan nama aslinya adalah Koan Sek.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa perahu mereka yang diamuk oleh badai dahsyat itu telah mendarat di Pulau Neraka! Andai kata tahu juga, mereka tentu tidak merasa takut karena pada waktu itu nama Pulau Neraka hanya dikenal oleh orang-orang Pulau Es. Untuk dunia ramai, yang dikenal hanyalah Pulau Es, yang dikenal sebagai tempat yang hanya terdapat dalam sebuah dongeng. Betapa pun juga, Pulau Es merupakan nama yang ditakuti oleh semua orang termasuk para bajak. Akan tetapi karena pulau di mana perahu mereka mendarat bukanlah Pulau Es, melainkan pulau yang hitam penuh tetumbuhan, mereka menjadi berani.

Setelah badai mereda dan air menyurut, mereka lalu menyerbu ke tengah pulau. Untung bagi mereka bahwa badai yang amat dahsyat itu membuat air laut naik dan mengamuk di daratan pulau sehingga binatang-binatang berbisa pun menjadi panik dan ketakutan, lari bersembuyi dan belum berani keluar. Andai kata mereka itu berani menyerbu pulau dalam keadaan biasa, tentu mereka akan menjadi korban binatang-binatang itu dan sukarlah dibayangkan apa akan jadinya. Mungkin sekali tidak ada di antara mereka yang akan dapat lolos betapa pun liar, ganas dan lihai mereka itu.

Dapat dibayangkan betapa heran dan girangnya hati para bajak itu ketika mendapat kenyataan bahwa di tengah pulau itu terdapat pondok-pondok yang dibuat oleh manusia! Akan tetapi keheranan mereka segera berubah menjadi kekagetan hebat ketika para penghuni pulau itu menyambut mereka dengan serangan dahsyat tanpa peringatan apa-apa. Karena mereka adalah bajak-bajak yang sudah biasa berkelahi dan mengadu nyawa, maka serbuan para penghuni Pulau Neraka itu mereka sambut dengan gembira. Mereka mengira bahwa penghuni pulau itu adalah orang-orang biasa saja. Maka besar sekali kekagetan mereka ketika mendapat kenyataan betapa kurang lebih dua puluh orang, yaitu sisa penghuni Pulau Neraka yang tidak dibasmi oleh badai, yang berani menyambut mereka dengan serangan itu rata-rata memiliki kepandaian hebat!

Terjadilah perang tanding yang seru dan mati-matian. Bajak laut pimpinan Tok-gan-hai-liong itu pun bukan orang-orang biasa melainkan penjahat-penjahat pilihan yang selain kuat dan ganas, juga rata-rata pandai ilmu silat. Tok-gan-hai-liong Koan Sek sendiri sendiri adalah seorang ahli bermain senjata ruyung yang ujungnya merupakan sebuah bola baja yang berat dan keras. Ia memiliki seorang pembantu yang sebetulnya adalah sute-nya (adik seperguruan) sendiri yang bernama Coa Liok Gu, seorang ahli pedang yang lihai sekali.

Para penghuni Pulau Neraka masih terguncang oleh amukan badai, bahkan ketua mereka, Ouw Kong Ek sedang menderita sakit hebat. Semenjak penyerbuan pasukan Pulau Es yang dipimpin oleh Han Ti Ong, Ouw Kong Ek jatuh sakit. Mungkin karena dia merasa terlalu marah, dan mungkin juga karena usianya yang sudah tua. Penyerbuan dari Pulau Es itu merupakan hal yang amat menyakitkan hatinya, dan juga hati para penghuni Pulau Neraka, mendatangkan rasa dendam yang lebih mendalam. Apalagi melihat betapa catatan pengobatan dari Kwa Sin Liong telah dihancurkan oleh Han Ti Ong, hati Ouw Kong Ek merasa sakit sekali. Untung masih ada beberapa macam obat yang masih dihafal olehnya, akan tetapi sebagian besar telah dibasmi oleh Raja Pulau Es yang marah itu.

Pada saat bajak laut menyerbu, Ouw Kong Ek tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Dia dijaga dan dirawat oleh cucunya, Ouw Soan Cu. Maka dapat dibayangkan betapa kaget hati kakek ini ketika ada anak buahnya yang datang melapor bahwa pulau yang baru saja diamuk badai itu kini disebu oleh sepasukan bajak laut yang ganas dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi!

"Keparat...!" kakek itu meloncat bangun, akan tetapi terguling kembali.

Soan Cu segera memegang lengan kakeknya, membantunya untuk rebah kembali. "Tenanglah, Kongkong! Biarlah aku yang keluar untuk membantu teman-teman membasmi bajak laut yang tidak tahu diri itu."

Ouw Kong Ek terpaksa hanya mengangguk karena dia sendiri masih tidak kuat untuk bangun, apalagi bertempur. "Hati-hatilah, Soan Cu..."

Dia percaya akan kepandaian cucunya yang tentu akan dapat mengusir bajak-bajak laut yang biasanya hanya terdiri orang-orang kasar itu. Dengan pedang di tangan Soan Cu lalu berlari ke luar. Ia melihat anak buahnya sudah bertanding mati-matian melawan bajak-bajak yang ganas. Di sebelah sana terlihat seorang wanita Pulau Neraka digeluti oleh dua orang laki-laki kasar sampai wanita itu menjerit-jerit, namun dua orang laki-laki itu malah tertawa-tawa dan merobek-robek pakaian wanita itu.

Soan Cu menjadi marah sekali. Dia mengeluarkan teriakan marah, tubuhnya yang ramping mencelat ke depan, pedangnya menyambar dan dua orang bajak yang sedang memperkosa wanita itu roboh dengan leher terkuak lebar dan hampir putus! Wanita itu cepat membereskan pakaiannya, menyambar goloknya dan seperti seekor harimau kelaparan dia membacoki tubuh dua orang bajak tadi.

Melihat sepak terjang Soan Cu yang kembali sudah merobohkan dua orang bajak, Tok-gan-hai-liong Koan Sek dan Coa Liok Gu, dibantu oleh beberapa orang bajak lain cepat mengepung dan mengeroyoknya. Namun Soan Cu mengamuk hebat dan pedangnya berubah menjadi segulung sinar terang yang menyambar dahsyat, membuat dua orang pimpinan bajak itu terkejut dan harus memainkan senjata dengan hati-hati sekali agar jangan sampai mereka menjadi korban kedahsyatan sinar pedang yang dimainkan oleh dara itu.

"Lepas tulang ikan!" tiba-tiba kepala bajak itu memberi aba-aba kepada sute-nya dan mereka berdua telah meloncat mundur, membiarkan anak buah mereka yang empat orang banyaknya melanjutkan pengeroyokan. Mereka berdua lalu mengayun tangan berkali-kali ke arah Soan Cu. Sinar lembut bertubi-tubi menyambar ke arah Soan Cu dari depan dan belakang.

Dara ini memandang rendah senjata rahasia mereka. Dia adalah seorang dara Pulau Neraka, sudah terlalu banyak racun dikenalnya bahkan dia telah menggunakan obat anti racun, maka dia tidak terlalu khawatir ketika sebuah di antara senjata rahasia lawan yang lembut itu mengenai pahanya. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia merasa kakinya itu setengah lumpuh dan begitu dia menggerakkan pedang, tubuhnya terhuyung, kepalanya pening.

"Aihhh...!" dia berseru nyaring, lebih banyak heran dari-pada khawatir.

Dara ini tidak tahu bahwa lawannya menggunakan am-gi (senjata gelap) berupa tulang berbentuk duri dari sirip semacam ikan laut yang berbisa. Bisa dari ikan laut ini tentu saja tidak dapat disamakan dengan bisa dari binatang darat, maka bisa yang asing ini tidak dapat ditolak oleh obat anti racun yang dipakainya.

"Sute, tangkap nona manis ini...!" teriak Koan Sek dengan girang.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara gerengan yang dahsyat dan yang membuat mereka kaget bukan main. Dua orang bajak mendengar suara itu dekat sekali di belakang. Mereka segera menengok dan... mereka lantas pula terjengkang dan merangkak untuk melarikan diri dengan ketakutan. Kiranya yang mengerang itu adalah seekor binatang raksasa hitam yang menakutkan. Seekor beruang yang lebar moncongnya cukup untuk mencaplok kepala mereka sekaligus!

Sin Liong yang datang bersama beruang itu cepat meloncat mendekati Soan Cu. Ia merampas pedang dari tangan dara itu dan memondongnya dengan tangan kiri, kemudian sekali meloncat dia telah berada di punggung beruang. Lengan kirinya memeluk dan menjaga tubuh Soan Cu yang dipangkunya karena dara itu telah pingsan, sedangkan tangan kanan menggerakkan pedang dara itu sambil berseru.

"Kakak Beruang, lawan mereka yang berani mendekat!"

Beruang itu menggereng-gereng. Ketika melihat dari kiri ada sinar menyambar, yaitu sinar pedang yang digerakkan oleh Coa Liok Gu, sute dari kepala bajak, tiba-tiba kaki depan kiri yang kini dipergunakan seperti tangan itu bergerak menangkis, bukan menangkis pedang melainkan mencengkeram kepala Coa Liok Gu.

Tentu saja orang ini sangat kaget. Cepat ia merendahkan tubuh, membalikkan pedang dan siap untuk menyerang lagi. Begitu lengan beruang itu kembali menyambarnya, dia meloncat ke atas dan menusukan pedangnya mengarah bagian antara kedua mata beruang itu.

"Cringgg...!!" pedangnya terpental dan dia harus cepat melempar tubuh ke belakang kalau tidak ingin dadanya robek oleh cakar beruang setelah pedangnya ditangkis oleh Sin Liong tadi.

"Siuuut...!!" Senjata ruyung berujung baja di tangan Koan Sek sudah bergerak menyambar dengan ganas, menghantam punggung beruang hitam dengan kecepatan kilat dan dengan tenaga dahsyat.

"Cringgg...! Tranggg...!!" dua kali senjata berat itu ditangkis oleh Sin Liong dan dua kali pula kepala bajak itu berseru kaget karena telapak tangannya hampir terkupas kulitnya dan terasa panas serta perih.

Pada saat Koan Sek terbelalak dan terheran, beruang itu sudah membalikkan tubuh sambil kaki depannya yang kanan menampar. Kepala bajak itu mencoba menangkis, namun senjatanya terlepas dari pegangannya dan beruang itu sudah menubruknya, bahkan siap mencengkeram ke arah lehernya.

"Kakak Beruang, jangan ...!" Sin Liong membentak.

Beruang itu terkejut dan ragu-ragu, sehingga kesempatan itu dapat dipergunakan oleh Koan Sek untuk meloncat jauh ke belakang. Dia dan pembantu utamanya, Coa Liok Gu berdiri dengan muka pucat memandang pemuda yang menunggang beruang itu membawa pergi tubuh dara jelita yang pingsan. Biar pun pedang masih berada di tangannya, Coa Liok Gu tidak lagi berani menyerang. Dia maklum bahwa selain beruang raksasa itu amat kuat, juga pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.

Sin Liong merasa bingung dan gelisah menyaksikan pertempuran hebat itu. "Hentikan pertempuran...!" dia berseru berkali-kali, namun percuma saja. Para bajak laut dan penghuni Pulau Neraka adalah orang-orang kasar yang pada saat itu sedang marah, maka sukar untuk dibujuk.

Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi dan panjang. Suara itu segera disusul suara berdengung-dengung dan berdesis-desis. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Sin Liong ketika dia melihat datangnya binatang-binatang kecil yang berbisa. Ular, kelabang, kalajengking dan sebangsanya berdatangan dari semua penjuru, merayap cepat seolah-olah digerakan oleh suara melengking itu, dan yang lebih mengerikan lagi, lebah-lebah putih datang pula beterbangan!

Saking kagetnya Sin Liong melompat turun dari punggung beruang. Kini beruang itu pun terkejut dan ketakutan, seolah-olah binatang raksasa ini sudah mengerti bahwa bahaya maut datang mengancamnya.

"Uhhh... apa yang terjadi...?" Soan Cu mengeluh dan siuman dari pingsannya.

Sin Liong agak lega melihat dara itu sudah siuman. "Bagaimana lukamu?" tanyanya.

"Nyeri sekali, panas... eh, siapa yang memimpin binatang-binatang berbisa itu?" Soan Cu segera turun dari pondongan Sin Liong. "Cepat pergunakan obat penolak ini..."

Dia mengeluarkan sebungkus obat penolak dari ikat pinggangnya. Setelah menaburkan obat bubuk di sekeliling mereka bertiga, yaitu Soan Cu, Sin Liong dan beruang betina, Soan Cu berkata lagi, "Sin Liong tolong... kau tangkap Si Mata Satu itu... Aku membutuhkan obat penawar racun am-gi-nya (senjata gelapnya)...."

Melihat betapa wajah dara itu pucat sekali tanda menderita kenyerian hebat, Sin Liong maklum bahwa tentu dara itu terkena senjata rahasia yang mengandung racun luar biasa sekali. Maka tanpa menjawab tubuhnya mencelat kearah Koan Sek yang masih bengong memandang ke depan.

Mata Koan Sek terbelalak ketika melihat betapa anak buahnya mulai menjadi korban pengeroyokan binatang-binatang berbisa. Maka ketika tubuh Sin Liong menyambar, dia terkejut sekali, mengira bahwa pemuda itu akan menyerangnya. Dia tadi sudah mengambil kembali senjatanya, maka tanpa banyak cakap lagi dia sudah mengayun senjatanya menghantam ke arah Sin Liong.

Pemuda ini tadi telah melepaskan pedangnya. Melihat betapa dia disambut serangan dahsyat, cepat dia miringkan tubuhnya, membiarkan senjata berat itu lewat. Secepat kilat kedua tangannya lalu menyambar. Sebelum Koan Sek tahu apa yang terjadi, senjatanya telah terampas dan dibuang oleh pemuda itu sedangkan tubuhnya sudah diangkat dan dipanggul seperti seorang anak kecil saja. Percuma dia meronta, karena pemuda itu sudah meloncat seperti terbang, kembali ke dalam lingkaran obat penolak yang ditaburkan Soan Cu.

Koan Sek menggigil. Selain dia maklum betapa lihainya pemuda ini, juga dia merasa ngeri sekali menyaksikan apa yang terjadi di luar lingkaran obat bubuk itu. Terdengar jerit dan pekik mengerikan. Orang-orang Pulau Neraka telah mundur dan menonton sambil tertawa-tawa. Akan tetapi anak buah bajak laut itu menghadapi penyerangan binatang-binatang berbisa dan sama sekali mereka tak berdaya. Apalagi penyerangan lebah-lebah putih membuat mereka panik. Mengerikan sekali melihat mereka berkelojotan merintih-rintih dan menangis menggerung-gerung karena tidak tahan menderita rasa nyeri yang menyengati sekujur tubuh.

"Cepat bertindak, halau mereka, Soan Cu!" Sin Liong berkata dengan alis berkerut. Biar pun yang dikeroyok binatang-binatang itu adalah kaum bajak, namun dia tidak dapat menyaksikan peristiwa mengerikan itu.

Soan Cu menggeleng kepala. "Tidak mungkin. Mereka digerakkan oleh suara melengking itu."

"Suara apa itu? Siapa yang membunyikan?"

Soan Cu tersenyum dan menggigit bibirnya menahan rasa nyeri. Pahanya seperti dibakar dan rasa nyeri menusuk-nusuk jantung. "Siapa lagi? Satu-satunya orang yang dapat melakukannya hanyalah Kongkong. Augghh...!" dara itu roboh pingsan lagi dalam rangkulan Sin Liong.

"Aduh celaka..., binatang-binatang itu...." Tok-gan-hai-liong Koan Sek menggigil. Dia hendak lari dari tempat itu ketika melihat bagaimana pembantunya, Coa Liok Gu, sudah sibuk memutar pedang untuk berusaha mengusir lebah-lebah putih yang mengeroyoknya.

"Kalau keluar dari sini, engkau pun akan mengalami nasib yang sama," kata Sin Liong menunjuk ke arah lingkaran putih dari obat penolak. "Binatang-binatang itu tidak berani memasuki lingkaran ini."

Koan Sek memandang dan matanya terbelalak ngeri melihat betapa ular-ular beracun yang bermacam-macam warnanya itu benar saja membalik lagi ketika mendekati garis lingkaran. Bahkan lebah-lebah putih yang terbang dekat, agaknya mencium bau penolak itu dan mereka itu pun terbang membalik, mengamuk dan menyerang para bajak yang berada di luar lingkaran. Saking ngerinya melihat betapa Coa Liok Gu menjerit dan roboh karena kakinya tergigit seekor ular, kemudian betapa pembantunya yang juga merupakan sute-nya melolong-lolong dan bergulingan dikeroyok banyak sekali binatang yang mengerikan, kepala bajak ini tak dapat lagi menahan dirinya dan dia menjatuhkan diri berlutut!

Sin Liong sendiri merasa ngeri menyaksikan peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Kalau saja dia dapat melihat Ouw Kong Ek, tentu dia akan meloncat dan memaksa kakek itu menghentikan pekerjaannya yang kejam, membunuh para bajak seperti itu. Akat tetapi celakanya, suara itu melengking tinggi dan sukar diketahui dari mana datangnya, bahkan kakek itu pun tidak tampak. Pula, mana mungkin dia berani meninggalkan Soan Cu yang pingsan itu bersama kepala bajak?

Maka pemuda ini merasa jantungnya seperti disayat-sayat menyaksikan pembunuhan yang amat kejam itu. Melihat betapa dua puluh empat orang bajak menemui kematian secara mengerikan, berkelojotan dan melolong-lolong, akhirnya suara jeritan mereka makin lemah dan berubah seperti suara binatang disembelih, kemudian tubuhnya tidak berkelojotan lagi dan binatang-binatang kecil berbisa yang kelaparan itu masih menggerogoti kulit dan daging mereka!

Kemudian tampaklah Ouw Kong Ek, Tocu Pulau Neraka. Kakek ini datang ke tempat itu sambil merangkak dengan susah payah. Tubuhnya kelihatan lemah dan kurus, mukanya pucat dan sambil merangkak itu dia meniup sebatang alat tiup terbuat dari-pada batang alang-alang, menyerupai suling kecil. Pantas saja suaranya melengking tinggi dan aneh. Beberapa orang anggota Pulau Neraka segera maju dan mengangkat ketua mereka, memapahnya datang.

Kini binatang-binatang itu berangsur-angsur merayap pergi setelah Ouw Kong Ek merubah suara tiupan sulingnya. Akhirnya yang tinggal hanya mayat-mayat dua puluh empat orang bajak dalam keadaan mengerikan, dan mayat tujuh orang penghuni Pulau Neraka yang tewas dalam pertempuran.

"Ahhh, engkau pula yang menolong cucuku, Taihiap?" Ouw Kong Ek dituntun anak buahnya datang mendekat.

Sin Liong mengerutkan alisnya. "Tocu, sungguh kejam engkau membunuh mereka seperti itu."

Kakek itu terbelalak. "Aku? kejam? Dan mereka ini...?" dia menuding ke arah mayat-mayat para bajak laut. "Dan...hei, siapa dia ini? Ah, bukankah dia ini pemimpin mereka?" Ouw Kong Ek sudah melangkah maju menghampiri Koan Sek yang berdiri dengan muka pucat.

"Tahan dulu, Tocu! Memang dia pemimpin bajak, akan tetapi nyawa cucumu berada di dalam tangannya!"

"Soan Cu...!" Ouw Kong Ek memandang tubuh dara yang dipondong oleh Sin Liong dan berada dalam keadaan pingsan itu. "Mengapa dia?"

"Terkena senjata beracun," jawab Sin Liong, kemudian dia memandang Koan Sek dan membentak. "Hayo kau berikan obat penawar senjata gelapmu!"

Tok-gan-hai-liong Koan Sek adalah seorang yang sudah berpengalaman, seorang yang kenyang menjelajah di dunia kang-ouw, maka dia tentu saja cerdik sekali. Tadi ketika menyaksikan betapa semua anak buahnya, juga sute-nya, tewas secara mengerikan, dia ketakutan setengah mati dan kehilangan akalnya. Akan tetapi sekarang setelah dia melihat kesempatan untuk menolong diri, timbul kembali keberaniannya dan dia tersenyum.

"Agaknya kita telah salah masuk. Tidak tahu pulau apakah ini dan siapa kalian ini?" tanyanya kepada Sin Liong karena dia merasa jeri sekali menghadapi pemuda yang dia tahu amat lihai dan sama sekali bukan tandingannya itu.

"Kau belum tahu? Ini adalah Pulau Neraka dan dia itu adalah ketuanya," jawab Sin Liong sambil menuding kepada Ouw Kong Ek. "Sedangkan nona ini adalah cucunya. Maka kau harus cepat memberikan obat penawarnya."

"Ha-ha, mudah saja! Mudah saja memberi obat penawarnya. Aihh, kiranya kami telah memasuki sebuah pulau iblis dengan penghuni-penghuninya yang seperti iblis pula! Benar-benar kami telah membuat kesalahan besar! Orang muda, mudah saja mengobati luka nona ini, akan tetapi bagaimana dengan aku sendiri? Anak buahku telah tewas semua dan aku dalam cengkeraman kalian!"

"Engkau... engkau akan kusiksa, kucincang sampai hancur!" Ouw Kong Ek membentak.

"Ha-ha-ha, boleh! Lakukan sekarang, karena aku tidak takut mati setelah aku melihat bahwa aku mempunyai banyak teman, terutama sekali cucumu. Kalau orang tidak lagi menyayangkan kematian seorang dara jelita muda remaja seperti dia ini, apalagi kematian seorang tua bangka seperti aku. Ha-ha-ha! Biarlah aku mati ditemani oleh dara remaja ini!"

Ouw Kong Ek sudah marah sekali, kedua tangannya dikepal sehingga suling batang alang-alang itu hancur di tangannya.

Melihat kemarahan ketua Pulau Neraka itu, Sin Liong berkata, "Ouw-tocu apa yang dikatakannya benar. Sudah kuperiksa luka cucumu dan ternyata dia terkena racun yang aneh sekali yang belum pernah aku melihatnya. Maka biarlah kita menukar keselamatannya dengan keselamatan Soan Cu. Betapa pun juga, nyawa Soan Cu jauh lebih berharga dari-pada kehidupan seorang sesat seperti dia."

"Ha-ha-ha, itu baru omongan yang tepat!" Tok-gan-hai-liong Koan Sek yang merasa ‘mendapat angin’ berkata dengan dada dibusungkan. Dia tidak takut lagi sekarang. Nyawa cucu ketua Pulau Neraka berada di tangannya. Apalagi yang ditakutinya?

"Iblis keparat! Hayo kau berikan obat untuk cucuku dan kau boleh minggat dari sini!" Ouw Kong Ek membentak.

"Ha-ha-ha, aku Tok-gan-hai-liong Koan Sek bukan seorang tolol," dia lalu menoleh kepada Sin Liong. "Orang muda apakah kedudukanmu di Pulau Neraka ini?"

Dia memang tidak dapat menduga karena tadi dia mendengar ketua Pulau Neraka menyebut taihiap (pendekar besar) kepada pemuda ini. Dan kalau ada yang dia percaya di situ, maka satu-satunya orang adalah pemuda ini.

"Aku bukan penghuni Pulau Neraka, aku adalah seorang dari Pulau Es...."

"Heeehhh...?!" mata Tok-gan-hai-liong yang tinggal satu itu terbelalak dan mukanya pucat. Dia merasa seolah-olah dalam mimpi. Setelah bertemu dengan Pulau Neraka yang aneh dan mengerikan di mana semua anak buahnya tewas, dia bertemu pula dengan seorang pemuda sakti yang mengaku datang dari Pulau Es, sebuah sebutan yang tadinya dikiranya hanya terdapat dalam dongeng tahayul belaka. Mimpikah dia? Ataukah dia sudah mati ditelan badai dan sekarang ini adalah pengalaman dari rohnya?

"Pulau... Pulau... Es...?" dia berkata lirih.

Sin Liong mengangguk tak sabar. Dia tadi mengaku sebenarnya, siapa mengira malah membuat kepala bajak ini menjadi termangu-mangu seperti orang sinting.

"Kalau begitu, aku hanya mau memberikan obat penawarnya jika engkau yang mengantarku sampai ke sebuah perahu di pantai Pulau Neraka ini."

"Jahanam, kau tidak percaya kepadaku?!" Ouw Kong Ek membentak dan para pembantunya sudah mengangkat senjata mengancam.

"Terserah, bunuhlah. Aku toh akan mati bersama dia ini."

Sin Liong menyerahkan tubuh Soan Cu yang masih pingsan kepada kakeknya, kemudian berkata, "Ouw-tocu, biarlah kita memenuhi permintaannya. Harap sediakan perahu untuknya."

Terpaksa Ouw Kong Ek menggerakkan kepalanya, memberi isyarat kepada anak buahnya, kemudian memandang kepada kepala bajak itu dengan mata mendelik. Koan Sek lalu berjalan bersama Sin Liong dan dua anak buah Pulau Neraka menuju ke tepi laut. Setelah sebuah perahu dipersiapkan, kepala bajak itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya. Benda itu ternyata adalah seekor kuda laut sebesar ibu jari tangan yang sudah kering.

"Nona itu terkena racun yang terkandung dalam duri ikan yang tidak dapat diobati kecuali dengan ini. Tumbuklah hingga menjadi bubuk dan masak, lalu minumkan airnya, tentu dia akan sembuh."

Sin Liong mengerutkan alisnya. Sudah banyak pengetahuannya tentang pengobatan akan tetapi tentu saja belum pernah dia mengenal rahasia racun yang keluar dari dalam lautan. Dia menyerahkan bangkai kuda laut kering itu kepada dua orang penghuni Pulau Neraka sambil berkata, "Berikan ini kepada Ouw-tocu, suruh menumbuk halus dan masak dengan air, kemudian minumkan kepada Nona. Bagaimana hasilnya supaya cepat melapor ke sini. Aku menunggu di sini."

Dua orang itu menerima kuda laut mati dan berlari memasuki pulau, sedangkan Sin Liong lalu duduk di tepi pantai dengan sikap tenang.

"Kau tidak mau membiarkan aku pergi?" Koan Sek bertanya penuh khawatir.

"Jangan tergesa-gesa," jawab Sin Liong. "Aku harus yakin dulu bahwa obatmu benar-benar manjur, baru aku akan membolehkan engkau pergi. Bukankah itu adil namanya?"

Koan Sek menghela napas dan menjatuhkan diri duduk di dalam perahu. Dia maklum bahwa kalau melawan, dia tidak akan menang. "Dia pasti akan sembuh. Dalam keadaan seperti ini, mana aku berani main-main?"

Sin Liong diam saja.

Kepala bajak itu menggunakan mata tunggalnya untuk memandangi pemuda itu penuh selidik, kemudian bertanya, "Orang muda, benarkah engkau dari Pulau Es?"

Sin Liong mengangguk.
"Dan siapa namamu?"
"Kwa Sin Liong. Mengapa engkau bertanya-tanya?"
"Tadinya aku mengira bahwa Pulau Es hanyalah sebuah dongeng..."

"Hemm.., memang sekarang hanya tinggal dongeng...." Sin Liong berkata sambil merenung jauh membayangkan keadaan Pulau Es yang telah terbasmi oleh badai dan kini tinggal menjadi sebuah pulau kosong yang menyedihkan.

"Ngukk... nguukkk..."

Sin Liong menoleh dan tersenyum. "Eh, Enci Beruang. Kau menyusulku?"

Beruang itu menghampiri, dan memperlihatkan taringnya ketika dia melihat Koan Sek di atas perahu di depan pemuda itu.

"Binatang yang hebat!" Koan Sek berkata dan bulu tengkuknya berdiri. Pemuda ini seperti bukan manusia biasa, bahkan mempunyai binatang peliharaan seperti itu!

"Kau bilang tadi... tinggal dongeng apa maksudmu?"

"Tidak apa-apa, lupakanlah," kata Sin Liong sambil mengelus beruang yang sudah bertiarap di depannya.

"Orang muda she Kwa... eh, Tai-hiap... kenapa kau mau membebaskan aku?"

Sin Liong mengangkat mukanya memandang. Kepala bajak itu menjadi lebih heran lagi melihat betapa pandang mata pemuda itu sama sekali tidak membayangkan kebencian atau permusuhan dengannya.

"Mengapa tidak? Engkau pun membebaskan Soan Cu." Sin Liong menengok dan tampaklah dua orang tadi datang berlari-lari.

"Kwa-taihiap, Nona sudah sembuh!"

Sin Liong mengangguk kepada Koan Sek. "Pergilah, cepat! Lebih cepat lebih baik dan harap kau jangan sekali-kali mendekati pulau ini."

Koan Sek menjawab, "Terima kasih. Satu kali pun sudah cukuplah!" dia mengkirik. "Pulau Iblis seperti ini siapa yang ingin melihatnya lagi?" dia lalu menggerakkan dayungnya dan perahu meluncur cepat meninggalkan Pulau Neraka.

Ketika Sin Liong bersama beruangnya tiba kembali ke tengah pulau, benar saja bahwa Soan Cu telah sembuh sama sekali dari pengaruh racun. Hanya luka di pahanya yang tinggal dan luka itu sudah diobati oleh kongkong-nya. Para penghuni Pulau Neraka sedang sibuk menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan mengerikan itu dan Sin Liong lalu diajak masuk ke pondoknya oleh Ouw Kong Ek dan Soan Cu.

"Taihiap, lagi-lagi engkau yang datang menolong kami," kata Ouw Kong Ek.

"Kalau engkau tidak segera datang, entah bagaimana dengan aku. Mungkin sudah mati, Sin Liong," kata Soan Cu dengan mata bersinar-sinar penuh kagum dan terima kasih.

"Ahh, mengapa Tocu dan kau masih bersikap sungkan terhadap aku? Bukankah kita ini sahabat? Kedatanganku bukan hanya kebetulan saja. Aku datang dengan maksud yang sama seperti setahun yang lalu, yaitu mencari Sumoi. Apakah dia tidak datang ke sini?"

Soan Cu dan kakeknya memandang kaget dan juga heran, dan di dalam pandang mata Ouw Kong Ek terkandung rasa hati tidak senang. Sin Liong maklum akan ketidak-senangan hati kakek itu, maka dia menarik napas panjang.

"Harap saja Tocu tidak menyangka yang bukan-bukan terhadap Sumoi. Apa yang dilakukan oleh Suhu di sini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Sumoi," kata Sin Liong.

"Jadi Taihiap sudah tahu apa yang diperbuat oleh Han Ti Ong di sini?"

Sin Liong mengangguk. "Aku dapat menduganya. Tentu dia marah-marah karena puterinya pernah ditahan di sini."

"Bukan hanya marah-marah!" kata Soan Cu mengepal tinju. "Orang itu sombong sekali! Dia menghina kakek. Biar pun tidak melakukan pembunuhan tapi dia memukul semua orang!"

"Kau juga dipukulnya?" Sin Liong bertanya.

"Tadinya, melihat aku seorang wanita dan masih muda, dia tidak mau memukulku. Akan tetapi karena melihat kakek dipukul, aku menyerangnya dan aku roboh oleh tamparan. Dia memang sakti, akan tetapi ganas dan kejam, bahkan semua catatanmu dihancurkan! Sekali waktu kami akan menuntut balas, kami akan menyerang Pulau Es!"

Sin Liong menarik napas panjang. "Lupakan saja niat itu, selain tidak baik juga tidak ada gunanya. Kerajaan Pulau Es tidak ada lagi sekarang, telah musnah."

"Hei...? Apa maksudmu, Taihiap...?" kakek itu bertanya sambil terbelalak.

"Apa yang telah terjadi?" Soan Cu juga bertanya.

"Dilanda badai... habis seluruhnya! Semua penghuninya termasuk Suhu dan seluruh benda di sana habis terbasmi kecuali bangunan istana yang telah kosong sama sekali..." Sin Liong lalu menuturkan dengan singkat mala-petaka yang penimpa Pulau Es, dan betapa secara aneh dan kebetulan saja dia dan Sumoi-nya terluput dari bencana.

Kakek dan cucu itu mendengarkan dengan melongo, kemudian kakek itu bertepuk tangan dan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha! Ha-ha-ha-ha! Dendam ratusan tahun lenyap dalam sekejap mata! Kami orang-orang buangan yang dianggap berdosa, dianggap dikutuk Tuhan, malah masih dapat hidup melanjutkan riwayat. Sedangkan penghuni Pulau Es yang suci dan agung, kaum bangsawan yang tinggi, sekali sapu saja musnah! Ha-ha-ha, siapa yang lebih dilindungi Tuhan? Han Ti Ong, tanpa kami bergerak, engkau dan kerajaanmu lenyap sudah!" kakek itu tertawa-tawa sampai air matanya keluar sehingga sukar dikatakan apakah dia itu tertawa, ataukah menangis.

“Mengapa Taihiap sekarang mencari Nona Swat Hong ke sini? Apa yang terjadi dengan dia?"

Sin Liong lalu menceritakan niat perjalanannya bersama Swat Hong, yaitu untuk mencari ibu Swat Hong yang sampai kini tidak diketahui berada di mana. Dan betapa di jalan mereka menjadi bingung dan tersesat karena badai telah menciptakan pemandangan yang berbeda di permukaan laut sehingga mereka mendarat di gunung es dan betapa dia menemukan beruang hitam.

"Sumoi berangkat melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka karena disangkanya ibunya berada di sini, sedangkan aku mengobati beruang...." Sin Liong menutup ceritanya, tentu saja dia tidak menceritakan kemarahan Swat Hong kepadanya.

"Apakah dalam beberapa hari ini dia tidak datang ke sini?"

Soan Cu menjawab, "Untung saja dia tidak datang, Sin... eh, Taihiap."

"Soan Cu mengapa engkau meniru kakekmu yang bersungkan kepadaku dan menyebut Taihiap segala?"

"Biarlah, Taihiap," kata Ouw Kong Ek. "Tidak pantas kalau dia menyebut namamu begitu saja. Dan engkau memang menolong kami dan pantas disebut Taihiap karena kepandaianmu tinggi sekali."

"Kau katakan tadi untung Sumoi tidak datang ke sini, mengapa?" tanya Sin Liong kepada Soan Cu.

"Andai kata dia datang, tentu akan terjadi apa-apa yang tidak baik antara dia dan Kongkong. Ketahuilah, semenjak Raja Pulau Es datang mengacau di sini, Kongkong jatuh sakit, dan kebencian kami semua terhadap Pulau Es makin mendalam. Maka kalau Sumoi mu, Swat Hong datang, tentu akan terjadi hal yang tidak baik," jawab Soan Cu.

Sin Liong mengangguk-angguk. Ia merasa lega bahwa sumoi nya tidak mendahului datang ke Pulau Neraka, akan tetapi juga menimbulkan kegelisahannya karena dia jadi tidak tahu di mana sumoinya yang pemarah itu kini berada!

“Bajak-bajak laut itu, dari mana datangnya dan mengapa mengacau ke sini?" tanyanya.

"Entah. Tahu-tahu mereka muncul dan perahu besar mereka terdampar di tepi pulau."

"Agaknya mereka juga diamuk badai."

"Mungkin," jawab Soan Cu bimbang, kemudian ia melanjutkan, "Kami diserang selagi Kongkong sakit. Kongkong tidak dapat turun dari pembaringan, maka aku yang menggantikannya. Aku keluar menyambut mereka, akan tetapi karena kurang hati-hati, karena memandang rendah am-gi mereka, aku hampir celaka kalau tidak ada engkau yang datang di waktu yang tepat, Taihiap."

"Akan tetapi, akhirnya biar pun sakit Kongkong-mu dapat membunuh semua bajak laut itu," Sin Liong bergidik ngeri mengenangkan kematian para bajak itu.

"Ugh-ugh...!" kakek itu terbatuk-batuk. "Bajak-bajak macam itu saja kalau aku tidak sakit, kalau Soan Cu tidak memandang rendah dan kalau para penghuni tidak baru saja diamuk badai, tidak ada artinya bagi kami. Kalau binatang-binatang Pulau Neraka tidak bersembunyi ketakutan sehabis diamuk badai, mana mereka mampu masuk? Sudahlah, sekarang saya hendak menyampaikan permohonan yang amat penting bagi Taihiap."

"Ah, Tocu, Di antara kita yang sudah menjadi sahabat, perlu apa banyak sungkan lagi? Kalau ada sesuatu, katakan saja, mana perlu menggunakan permohonan lagi?" jawab Sin Liong.

Akan tetapi tiba-tiba kakek itu turun dari bangkunya dan menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Liong!

Tentu saja pemuda ini menjadi sibuk sekali. Cepat ia membangunkan kakek itu dan berkata, "Tocu, harap jangan begini. Aku yang muda mana berani menerimanya? Ada keperluan apakah? Katakan saja, aku tentu akan membantumu sedapat mungkin," Sin Liong berkata dengan hati tidak enak, menduga akan menghadapi hal yang sulit.

Setelah duduk kembali dan mengatur napasnya yang terengah-engah karena kesehatannya belum pulih kembali dan tubuhnya terasa amat lelah, kakek itu berkata, "Kwa-taihiap, aku sudah tua dan tidak mempunyai keturunan lain kecuali Soan Cu. Taihiap sudah melihat sendiri keadaan di Pulau Neraka yang merupakan tempat tidak baik untuk seorang dara seperti Soan Cu. Oleh karena itu, setelah kini kerajaan Pulau Es tidak ada, berarti bahwa Pulau Neraka telah bebas dan kami bukanlah orang-orang buangan lagi. Soan Cu juga bukan keturunan orang buangan lagi dan sewaktu-waktu kami boleh meninggalkan pulau ini. Karena itu, aku mohon dengan sepenuh hatiku, sudilah Taihiap membawa Soan Cu bersama Taihiap untuk mengenal dunia ramai, dan syukur kalau Taihiap dapat mengatur agar cucuku ini tidak usah lagi kembali dan tinggal di Pulau Neraka ini. Kuharap permohonan ini tidak akan ditolak oleh Taihiap."

Sin Liong mengerutkan alisnya. Permintaan yang sama sekali tidak pernah disangkanya! "Akan tetapi, Ouw-tocu, hendaknya diingat bahwa aku sendiri adalah seorang sebatang kara yang tidak mempunyai apa-apa, tidak mempunyai tempat tinggal dan masih belum kuketahui apa akan jadinya dengan diriku ini."

"Kalau Taihiap merantau, bawalah dia merantau, ke mana saja aku sudah pasrah sepenuhnya. Baik dia akan Taihiap anggap sebagai sahabat, sebagai saudara, atau kalau mungkin... dari lubuk hatiku kuharap sebagai calon jodoh, aku sudah merasa lega dan senang, asal dia tidak tersiksa tinggal di neraka ini."

Sin Liong merasa sukar untuk menolak, akan tetapi juga berat untuk menerima, maka dia menoleh kepada Soan Cu dan berkata, "Soal ini sebaiknya kita serahkan kepada Soan Cu sendiri. Kalau memang dia suka merantau meninggalkan pulau ini, tentu saja aku tidak keberatan mengadakan perjalanan bersama. Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa aku menerima usul perjodohan Tocu, dan sewaktu-waktu dia boleh pergi ke mana saja. Jadi aku tidak terikat oleh perjanjian apa pun juga."

"Taihiap, jangan khawatir. Memang aku sejak dulu tidak kerasan tinggal di sini. Hanya karena kedudukanku sebagai seorang keluarga buangan saja yang mencegah aku meninggalkan Pulau Neraka. Sekarang aku telah bebas, dan betapa pun juga, aku akan pergi dari sini. Hanya kalau bersama Taihiap, tentu hati Kongkong akan merasa lebih aman, dan juga untukku sendiri yang tidak ada pengalaman, melakukan perjalanan bersamamu merupakan hal yang menyenangkan sekali. Aku hendak pergi mencari ayahku, Taihiap."

"Dan aku hendak mencari Swat Hong dan ibunya."

"Kalau begitu, mari kita mencari berdua, siapa tahu dalam mencari Sumoi mu itu , aku dapat bertemu dengan ayahku."

Setelah mendapat banyak pesan dan melihat Kongkong-nya membawa pula bekal berupa pakaian dan sekantung emas simpanan Kongkong-nya, berangkatlah Soan Cu bersama Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka dengan sebuah perahu. Selama hidupnya yang lima belas tahun itu, belum pernah Soan Cu meninggalkan pulau. Maka setelah perahu meluncur jauh, dan dia hampir tidak dapat melihat lagi Kongkong-nya bersama semua sisa penghuni Pulau Neraka yang mengantarnya sampai ke pantai, Soan Cu tak dapat menahan bercucurannya air matanya.

"Soan Cu, mengapa kau menangis? Kalau kau tidak tega meninggalkan kakekmu, masih belum terlambat untuk kembali," kata Sin Liong yang sebetulnya merasa tidak enak sekali memikul kewajiban ini. Biar pun dia tidak terikat sesuatu, namun sedikit banyak dia dibebani keselamatan dara ini. Kalau dara ini wataknya seaneh Swat Hong, dia tentu akan menjadi lebih pusing lagi!

"Ah, tidak, Taihiap. Aku hanya merasa hatiku perih meninggalkan tempat yang sejak lahir menjadi tempat tinggalku itu. Orang sedunia boleh menyebutnya Pulau Neraka, akan tetapi setelah aku berangkat meninggalkan pulau itu, terasa olehku bahwa di situ adalah surga."

Sin Loing tersenyum dan mendayung perahunya lebih cepat lagi. Pernyataan yang keluar dari mulut dara ini merupakan pelajaran yang amat penting baginya, membuka matanya melihat kenyataan bahwa sorga mau pun neraka itu berada dalam hati manusia itu sendiri!

Betapa pun indahnya suatu tempat, kalau tidak berkenan di hati akan merupakan neraka. Sebaliknya betapa pun buruknya suatu tempat, kalau berkenan di hati akan menjadi sorga! Jadi, baik buruk, senang susah, puas kecewa, semua ini bukan ditentukan oleh keadaan di luar, melainkan ditentukan oleh keadaan hati dan pikiran sendiri. Keadaan di luar merupakan kenyataan yang wajar, dan hanya pikiranlah yang menentukan dengan menilai, membandingkan, maka lahirlah puas, kecewa, senang, susah, baik, buruk, dan lain-lain hal yang saling bertentangan itu.

Bahagialah orang yang dapat menghadapi segala sesuatu dengan mata terbuka, memandang segala sesuatu seperti apa adanya, tanpa penilaian, tanpa perbandingan. Orang bahagia tidak mengenal susah senang, karena bahagia bukan susah bukan pula senang, bukan puas bukan pula kecewa, melainkan suatu keadaan di atas itu semua, sama sekali tidak terganggu oleh pertentangan-pertentangan itu.

Perahu yang ditumpangi Sin Liong dan Soan Cu meluncur terus. Ujung depannya yang meruncing membelah air yang tenang seperti sebuah pisau membelah agar-agar biru. Soan Cu sudah melupakan kesedihan hatinya. Kini dara itu memandang ke depan dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar penuh harapan akan masa depan yang berlainan sama sekali dengan keadaan di Pulau Neraka. Banyak sudah dia mendengar dongeng kakeknya yang juga hanya mendengar dari nenek moyangnya tentang keadaan di dunia ramai, dan sekarang dia sedang menuju kepada kenyataan yang akan dilihatnya dengan mata sendiri!

Pusat perkumpulan Pat-jiu Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tangan Delapan) berada di lereng Pegunungan Heng-san. Dari luar tempat itu memang pantas disebut pusat perkumpulan pengemis karena hanya merupakan tempat di dataran tinggi yang dikelilingi pagar bambu yang tingginya hampir dua kali tinggi orang. Pagar yang butut dan bambu-bambu itu mengingatkan orang akan tongkat bambu yang biasa dibawa oleh para pengemis. Akan tetapi kalau orang sempat menjenguk di dalamnya, dia akan terheran-heran menyaksikan sebuah rumah gedung yang pantas juga disebut sebuah istana kecil yang berdiri megah dan mewah sekali! Inilah tempat tinggal Pat-jiu Kai-ong, Si Raja Pengemis yang menjadi ketua Pat-jiu Kai-pang di lereng Heng-san!

Pat-jiu kai-ong sudah berusia kurang lebih tujuh puluh tahun, akan tetapi dia masih kelihatan tangkas dan belum begitu tua. Sungguh pun pakaiannya selalu butut, sebutut tongkatnya, sama sekali tidak sesuai dengan keadaan gedungnya. Hanya kalau hari sudah menjadi gelap saja maka berubahlah raja pengemis ini. Pakaiannya diganti dengan pakaian tidur yang layaknya dipakai seorang pangeran! Dan mulailah kehidupan yang berlawanan dengan keadaan hidupnya di waktu siang, berbeda jauh seperti bumi dan langit.

Di waktu siang, dia lebih patut disebut seorang pengemis kelaparan yang berkeliaran di sekitar rumah gedung itu. Akan tetapi di waktu malam, dengan pakaian indah dan tubuh bersih, dia bersenang-senang makan minum dengan hidangan serba lezat dan mahal, dilayani oleh lima orang selirnya yang muda-muda, cantik dan genit. Pat-jiu Kai-ong tinggal di dalam istananya yang mewah, akan tetapi dikelilingi pagar bambu yang tinggi sehingga tidak tampak dari luar. Ia tinggal bersama lima orang selirnya, lima orang pelayan dan selosin anak buahnya yang merupakan pengawal-pengawalnya.

Selosin orang ini tentu saja merupakan tokoh-tokoh dalam Pat-jiu Kai-pang, karena mereka adalah pembantu yang boleh diandalkan, atau juga murid-murid tingkat satu dari raja pengemis itu. Para pengawal itu melakukan penjagaan siang malam secara bergilir dan mereka tinggal di dalam rumah samping di kanan-kiri istana ketua mereka. Ada pun Pat-jiu Kai-pang mempunyai anggota yang banyak dan yang tersebar luas di kota-kota.

Dengan mengandalkan nama besar perkumpulan itu, terutama sekali nama besar Kai-ong, para anggota itu dapat mengumpulkan sumbangan-sumbangan yang besar dan sebagian dari-pada hasil sumbangan ini mereka setorkan kepada Pat-jiu kai-ong. Inilah yang membuat raja pengemis ini menjadi kaya raya dan dapat hidup mewah sekali.

Selosin orang pembantunya, selain pengawal dan penjaga istananya, juga bertugas untuk turun tangan mewakili ketua mereka apabila ada cabang yang kurang dalam memberi setoran! Pat-jiu Kai-ong sendiri yang sudah hidup makmur jarang meninggalkan istananya di Heng-san. Hanya urusan besar saja yang dapat menariknya pergi meninggalkan tempat yang amat menyenangkan hatinya itu.

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu dia ikut pula memperebutkan Sin-tong Si Anak Ajaib. Pada waktu itu dia ingin cepat-cepat menyempurnakan ilmu yang sedang diciptakan dan dilatihnya, yaitu ilmu Hiat-ciang-hoat-sut (Ilmu Sihir Tangan Darah). Jika pada waktu itu dia berhasil merebut Sin-tong, tentu dalam waktu satu tahun saja ilmunya akan sempurna.

Akan tetapi karena seperti diceritakan di bagian depan, dia gagal dan Sin-tong dibawa pergi oleh pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es, maka dia harus mengorbankan puluhan orang bocah untuk dimakan otaknya dan disedot darah dan sumsumnya. Kini dia telah mahir dengan ilmu hitam yang mengerikan itu, akan tetapi sayangnya, setiap tahun dia harus mengisi tenaga itu dengan pengorbanan seorang bocah!

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, selagi Pat-jiu Kai-ong seperti biasa meninggalkan kehidupan malamnya yang mewah, berpakaian sebagai seorang pengemis berjalan-jalan di dalam taman bunga di belakang istananya, membawa tongkat butut dan berlatih silat di waktu embun pagi masih tebal, tiba-tiba seorang pengawalnya datang menghadap dan melaporkan bahwa ada tiga orang tamu datang ingin bertemu dengan Si Raja Pengemis.

"Hemm, siapakah pagi-pagi begini sudah datang menggangguku?" Pat-jiu Kai-ong berkata dengan alis berkerut.

Akan tetapi karena merasa penasaran, dia tidak memerintahkan pengawalnya mengusir orang itu. Terutama sekali setelah mendengar pelaporan itu bahwa yang datang adalah seorang kakek bersama dua orang muda, seorang dara jelita dan seorang muda tampan. Hatinya tertarik sekali ketika mendengar bahwa kakek itu mengaku sebagai seorang ‘sahabat lama’.

Ketika dia keluar membawa tongkat bututnya dan bertemu dengan tiga orang itu, Pat-jiu Kai-ong memandang tajam. Dia kagum melihat pemuda yang amat tampan dan pemudi yang amat cantik jelita itu. Wajah mereka yang mirip satu sama lain menunjukan bahwa mereka adalah kakak beradik. Pemudanya berusia kurang lebih enam belas tahun, pemudinya lima belas atau empat belas tahun. Sampai lama pandang mata Pat-jiu Kai-ong melekat kepada dua orang muda itu, keduanya membuat hatinya terguncang penuh kagum dan andai kata dia tidak menahan perasaannya, tentu mulutnya akan mengeluarkan air liur! Barulah dia terkejut ketika mendengar kakek itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha! Pat-jiu Kai-ong kurasa engkau belum begitu pikun untuk melupakan dua orang anakku ini. Mereka adalah Swi Liang dan Swi Nio, ha-ha-ha!”

Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong mengerutkan alisnya, sama sekali tidak mengenal kedua nama ini. Dia memandang dengan mata terheran kepada laki-laki yang berdiri di depannya, seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian sederhana berwarna kuning. Kepalanya yang beruban itu terlindung kain pembungkus rambut yang berwarna kuning pula.

Kakek itu tertawa lagi. "Wah, Pat-jiu Kai-ong, benar-benar engkau telah lupa kepada kami? Lupa kepada sahabatmu di Lu-san ini?"

"Ahhhh...!" Pat-jiu Kai-ong tertawa, mukanya berseri dan dia cepat membungkuk untuk memberi hormat. "Kiranya sahabat Bu yang datang? Maaf, maaf, mataku sudah lamur saking tuanya sehingga tidak mengenal sahabat baik yang kurang lebih sepuluh tahun tak pernah kujumpai. Jadi ini kedua anakmu itu? Dahulu mereka baru berusia lima enam tahun, kecil dan lucu serta berani. Kalau tidak salah, bahkan anak perempuanmu ini yang dahulu menantang pibu kepadaku. Ha-ha-ha!"

Dara berusia lima belas tahun yang cantik jelita itu menunduk dan kedua pipinya berubah merah. "Harap Pangcu sudi memaafkan saya."

"Aih-aih...! Ini tentu orang tua Lu-san ini yang mengajarnya. Menyebutku Pangcu segala!"

"Ha-ha-ha, Pangcu. Bukankah engkau memang Ketua dari Pat-jiu Kai-pang? Mengapa tidak mau disebut Pangcu oleh puteriku?" kakek itu berkata.

"Wah, jangan berkelakar. Anak-anak yang baik, sebut saja aku paman. Marilah masuk, kita bicara di dalam." Pat-jiu Kai-ong lalu bertepuk tangan dan para pengawalnya muncul. "Lekas beritahukan para pelayan agar mempersiapkan hidangan makan pagi yang baik untuk tamuku yang terhormat, Lu-san Lojin (Orang Tua Dari Lusan) dan dua orang putera-puterinya!"

Para pengawal itu mundur dan Pat-jiu Kai-ong menggandeng tangan kakek itu. Sambil tertawa-tawa mereka memasuki istana dan duduk di ruangan dalam menghadapi meja dan duduk di kursi-kursi yang berukir indah.

Sambil memandang ke kanan-kiri mengagumi keindahan ruangan itu, Lu-san Lojin berkata memuji, "Sungguh hebat! Lama sudah aku mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong tinggal di sebuah istana yang megah, kiranya keadaan di sini melampau segalanya yang telah kudengar. Hebat sekali!"

Sejak tadi Pat-jiu Kai-ong merayapi tubuh pemuda dan pemudi itu dengan pandangan matanya. Dia kagum bukan main melihat dara cantik jelita dan pemuda yang tampan dan gagah itu.

"Ha-ha, kau terlalu memuji, sahabat. Aku tidak mengira bahwa hari ini tempatku yang buruk akan menerima kehormatan kedatangan seorang tamu agung, seorang penolongku yang budiman bersama putra dan puterinya yang begini elok."

Kedua orang tua ini lalu bercakap-cakap dengan gembira membicarakan masa lampau. Siapakah kakek ini? Dia adalah Lu-san Lojin, seorang ahli silat dan ahli pengobatan yang semenjak istrinya meninggal dunia, meninggalkan dua orang anak, lalu mengajak dua orang anaknya itu mengasingkan diri ke puncak Lu-san. Di sana dia bertapa sambil mendidik dan menggembleng putera-puterinya.

Sepuluh tahun yang lalu, setelah gagal merebut Sin-tong, dalam kekecewaannya Pat-jiu Kai-ong lalu mengamuk di sepanjang jalanan, menculik dan membunuhi bocah-bocah yang dianggapnya cukup sehat. Ketika dia tiba di kaki Pegunungan Lu-san, dia berada dalam keadaan keracunan hebat. Hal ini terjadi karena dia terlampau banyak membunuh anak laki-laki, makan otak mereka dan menghisap darah serta sumsum mereka untuk menyempurnakan ilmunya, terlampau banyak melatih diri dengan ilmu hitam Hiat-ciang Hoat-sut.

Hatinya amat penasaran karena dia tidak dapat mengalahkan Han Ti Ong dan merebut Sin-tong, maka dia lupa akan ukuran tenaga sendiri dalam melatih diri dengan ilmu hitam itu. Dia terlampau terburu-buru, dan akibatnya hawa mukjijat dari ilmu itu membalik dan membuat dia terluka dalam, keracunan hebat sehingga dia terhuyung-huyung dan hampir pingsan ketika tiba di kaki pegunungan Lu-san. Dia maklum akan keadaan dirinya, tahu bahwa dia terancam bahaya maut maka hatinya menjadi khawatir sekali.

Kebetulan baginya, pada saat itu keadaannya terlihat oleh Lu-san Lojin yang sedang turun gunung bersama putera-puterinya yang pada waktu itu baru berusia enam dan lima tahun. Sebagai seorang gagah dan berilmu tinggi, Lu-san Lojin cepat menolong Pat-jiu Kai-ong. Setelah memeriksa keadaan raja pengemis itu, dia maklum bahwa Pat-jiu Kai-ong memerlukan perawatan khusus, maka diajaknya orang ini naik ke puncak Lu-san. Di situ Pat-jiu Kai-ong diobati Lu-san Lojin sampai sembuh.

Selama satu bulan berada di Lu-san, raja pengemis ini menerima perawatan yang amat baik dari Lu-san Lojin, maka dia merasa berterima kasih sekali dan menganggap pertapa itu sebagai penolong dan sahabat baiknya. Juga dia mengenal dua orang bocah yang mungil itu. Karena kebaikan hati Lu-san Lojin, biar pun dia melihat Swi Liang sebagai seorang anak yang mempunyai darah bersih dan tulang kuat, dia tidak tega untuk mengganggu anak laki-laki itu.

Di lain pihak, ketika mendengar bahwa yang ditolongnya adalah Pat-jiu Kai-ong ketua Pat-jiu Kai-pang, Lu-san Lojin terkejut sekali. Akan tetapi dia menjadi bangga bahwa raja pengemis yang namanya terkenal itu menganggapnya sebagai sahabat baik. Maka setelah sembuh, mereka berpisah sebagai sahabat yang berjanji untuk saling mengunjungi dan saling membantu.

"Sungguh aku tidak tahu diri dan tidak mengenal budi," setelah makan minum Pat-jiu Kai-ong berkata kepada tamunya. "Sepatutnya akulah yang datang mengunjungi kalian di Lu-san, bukan kalian yang jauh-jauh datang mengunjungi aku."

"Ahhh, mengapa kau menjadi sungkan begini? Kita bersama telah mempunyai kewajiban masing-masing sehingga tentu saja telah sibuk dengan pekerjaan. Kami pun hanya kebetulan saja lewat di kaki pegunungan Heng-san, maka aku teringat kepadamu dan mengajak kedua anakku untuk mendekati pegunungan Heng-san mencarimu."

"Terima kasih, engkau baik sekali, Lu-san Lojin. Akan tetapi, kalau boleh aku mengetahui, kalian datang dari manakah?"

Lu-san Lojin menarik napas panjang dan menoleh kepada puteranya, lalu memandang puterinya seolah-olah minta ijinnya. Swi Liang menganggukkan kepalanya kepada ayahnya, kemudian menunduk. Pemuda ini menganggap bahwa Pat-jiu Kai-ong adalah seorang sahabat baik ayahnya, bahkan seperti saudara sendiri, maka tidak ada salahnya kalau raja pengemis itu mengetahui urusannya. Siapa tahu raja pengemis itu justru dapat membantunya.

"Kami baru saja datang dari Lok-yang. Setelah melakukan perjalanan sejauh itu ternyata sia-sia belaka usaha kami untuk mencari Tee-tok Siangkoan Houw."

"Tee-tok Siangkoan Houw? Ah, ada urusan apakah engkau mencari Racun Bumi itu, Lu-san Lojin?"

"Sebetulnya urusan lama, urusan perjodohan semenjak kecil. Antara Tee-tok dan aku telah terdapat persetujuan untuk menjodohkan puteraku Bu Swi Liang ini dengan puterinya yang bernama Siangkoan Hui. Akan tetapi, setelah keduanya menjadi dewasa, tidak ada berita dari Tee-tok sehingga hatiku merasa khawatir sekali. Aku sudah berusaha mencarinya, namun selalu sia-sia. Akhir-akhir ini aku mendengar bahwa dia berada di Lok-yang, akan tetapi setelah jauh-jauh kami bertiga mencarinya ke sana, ternyata dia tidak berada di sana pula. Hemm, sikap orang tua itu masih selalu aneh dan penuh rahasia." "Ha-ha-ha, Itu salahmu sendiri! Mengapa mengikat perjanjian dengan seorang iblis seperti Tee-tok?"

"Pat-jiu Kai-ong, jangan bergurau. Ini urusan yang penting bagi kami, karena itu kami mengharap bantuanmu yang mempunyai banyak anak buah, agar suka menyelidiki di mana kami dapat bertemu dengan Tee-tok Siangkoan Houw."

"Baik, baik... jangan khawatir. Akan kusuruh anak buahku menyelidikinya. Kalian bermalamlah di sini, jangan tergesa-gesa pulang."

Lu-san Lojin menggeleng kepala. "Sudah terlalu lama kami meninggalkan pondok. Kami hanya dapat bermalam untuk satu malam saja, besok pagi-pagi kami harus melanjutkan perjalanan."

"Semalaman cukuplah, biar kupergunakan untuk menjamu kalian sepuas hatiku."

Tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk di luar istana Raja Pengemis itu. Tak lama kemudian dua orang pengawal pribadi Kai-ong masuk dengan muka pucat dan kelihatan takut.

"Ada apa? Mau apa kalian mengganggu kami?" Kai-ong membentak marah dan menurunkan cawan araknya keras-keras ke atas meja sehingga meja itu tergetar.

"Pangcu... ampunkan kami berdua... terpaksa kami mengganggu karena ada peristiwa yang amat aneh dan mengkhawatirkan kami semua."

"Apa yang terjadi? Hayo cepat ceritakan!"

Dengan wajah ketakutan, seorang di antara dua orang pengawal itu lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi di luar istana. Karena Pangcu sedang menjamu tamu, para pengawal menjaga di luar dan mereka sedang mengagumi seekor ayam jago kesayangan Pat-jiu Kai-ong. Raja Pengemis itu memang suka sekali memelihara ayam jago dan kadang-kadang mengadunya.

Pagi hari itu seperti biasa, seorang pelayan memandikan dan memberi makan ayam jago itu, dan memuji-mujinya sebagai jago peranakan tanah selatan yang amat baik. Tiba-tiba ayam jago itu menggelepar di dalam kedua tangannya, darah muncrat dan ayam itu mati, dadanya ditembusi sehelai benda lembut yang kemudian ternyata adalah sebatang daun! Di tangkai daun itu terdapat sehelai kain yang ada tulisannya.

"Kami telah meloncat dan mencari di sekeliling, akan tetapi tidak ada bayangan seorang pun manusia, Pangcu. Agaknya hanya iblis saja yang dapat menggunakan sehelai daun untuk menyambit dan membunuh ayam jago dan...."

"Cukup!" Raja Pengemis itu marah sekali mendengar jagonya dibunuh orang. "Kalian tolol semua! Mana kain yang ada tulisan itu?!"

Kepala pengawal yang mukanya penuh brewok itu menyerahkan sehelai kain putih kepada ketuanya dengan kedua tangan gemetar. Kain itu ada tulisannya dengan huruf-huruf kecil berwarna hitam, akan tetapi ada noda-noda darah, darah ayam jago tadi. Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong yang menerima kain itu sejenak menjadi bingung, dan baru ia teringat bahwa dia tidak mampu membaca. Dia buta huruf! Dengan jengkel dan agak malu dia lalu melemparkan kain itu kepada Lu-san Lojin.

"Harap kau bacakan ini untukku!" katanya.

Lu-san Lojin menyambar kain yang melayang ke arahnya itu, lalu matanya memandang tulisan. Mukanya berubah, matanya terbelalak. "Wah... apa artinya ini?"

"Lojin! Bagaimana bunyinya?" Pat-jiu Kai-ong bertanya, suaranya membentak.

Lu-san Lojin lalu membaca huruf-huruf itu. “Malam ini, semua makhluk hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu Kai-ong, dari binatang sampai manusia akan kubasmi habis! Ratu Pulau Es.

"Ratu Pulau Es...?" Pat-jiu Kai-ong tertawa. "Siapakah dia? Aku tidak mengenalnya. Hai pelawak dari manakah yang main-main seperti ini? Ha-ha-ha, biar dia datang hendak kulihat bagaimana macamnya!"

"Kai-ong, harap jangan main-main. Biar pun hanya seperti dalam dongeng, nama Pulau Es amat terkenal. Katanya penghuninya memiliki kepandaian seperti dewa, apalagi dahulu yang terkenal dengan sebutan Pangeran Han Ti Ong...."

"Ha-ha-ha, siapa peduli? Aku tidak ada permusuhan dengan Han Ti Ong, bahkan dia yang pernah mengganggu aku. Mengapa sekarang ada ratu dari sana hendak membunuhku dengan ancaman sesombong itu? Aku tidak percaya. He, pengawal! Apakah kalian tahu akan isi surat?"

Dua orang pengawal itu mengangguk. "Sudah Pangcu."

"Apa kalian takut?"

"Ti... tidak, Pangcu, Hanya... hanya amat aneh itu..."

"Sudahlah. Setelah kalian tahu isinya, hayo kalian dua belas orang melakukan penjagaan yang ketat, terutama malam ini. Kita jangan mudah digertak lawan yang membadut! Biarkan dia datang, kita tangkap dia dan kita permainkan dia, ha-ha-ha!"

"Kai-ong harap hati-hati...." kata Lu-san Lojin setelah para pengawal itu keluar dari ruangan itu.

"Ha-ha-ha, mengapa khawatir? Apalagi baru seorang badut, biar Han Ti Ong sendiri yang datang, setelah kini Hiat-ciang Hoat-sut kulatih sempurna, aku takut apa?"

Kakek dari Lu-san itu kelihatan ragu-ragu, akan tetapi untuk menyatakan bahwa dia takut, tentu saja dia tidak mau. Dengan hati berat dia bersama dua orang anaknya menemani tuan rumah makan minum dan bercakap-cakap sampai lewat tengah hari. Kemudian mereka dipersilakan mengaso sejenak dalam kamar tamu, akan tetapi menjelang senja, mereka sudah dipersilakan makan minum lagi.

Sekali ini mereka benar-benar takjub melihat Pat-jiu Kai-ong kini bertukar pakaian, pakaian malam yang indah dan mewah! Mengingat betapa siang tadi Kai-ong merupakan seorang pengemis yang berpakaian butut, dan kini seperti seorang raja, benar-benar membuat Lu-san Loji hampir tertawa, seperti melihat seorang badut pemain lenong! Dan hidangan yang dikeluarkan di meja juga istimewa, jauh lebih lengkap dari-pada siang tadi!

"Ha-ha, ayo makan minum. Kita berpesta sampai kenyang!" kata tuan rumah itu mempersilakan tamu-tamunya.

Setelah hidangan tinggal sedikit dan perut mereka kenyang sekali, Pat-jiu Kai-ong mengusap-ngusap bibirnya yang berminyak dan perutnya yang gendut. Matanya memandang ke arah Bu Swi Liang dan Bu Swi Nio penuh gairah, lalu dia berkata, kata-kata yang sama sekali tidak pernah disangka oleh para tamunya dan yang membuat mereka terkejut setengah mati.

"Lu-san Loji, sekarang kau tidurlah dalam kamarmu dan jangan hiraukan badut yang hendak mengganggu. Ada pun dua orang anakmu ini, yang cantik jelita dan tampan gagah, biarlah mereka berdua besenang-senang dengan aku dalam kamarku, ha-ha-ha!"

"Kai-ong!" Lu-san Lojin membentak. "Apa... maksud kata-katamu ini?"

Pat-jiu Kai-ong memandang tamunya sambil tersenyum lebar. "Apa maksudnya? Swi Liang begini tampan gagah dan Swi Nio cantik jelita dan segar, sungguh aku suka sekali kepada mereka. Kalau mereka bedua bersama dengan aku dalam kamarku, tentu mereka akan terlindung dan... hemmm, aku ingin sekali bersenang-senang dengan mereka, tidur-tiduran dengan mereka sejenak."

"Kai-ong, apa kau gila?!" Lu-san Lojin hampir tak dapat percaya akan pendengarannya sendiri.

"Eh, mengapa? Apa salahnya aku tidur dengan dua orang keponakanku ini? Heh-heh, tak tahan aku melihat puterimu yang muda dan cantik segar, juga puteramu yang tampan dan ganteng ini. Anak-anak baik, marilah kalian layani pamanmu...."

"Keparat!" Lu-san Lojin melompat ke depan. Dua orang anaknya yang berada di belakangnya pun sudah siap dengan pedang di tangan. "Pat-jiu Kai-ong! Harap kau jangan main gila dan jelaskan apa sebabnya perubahan sikapmu ini. Mau apa engkau dengan anak-anakku?"

"Ha-ha-ha! Siapa main gila? Sebelum kalian muncul, tidak pernah ada terjadi apa-apa di sini. Akan tetapi begitu kalian muncul, muncul pula orang aneh yang membunuh ayamku dan mengeluarkan ancaman. Siapa lagi kalau bukan teman dan kaki tanganmu? Dan kau tentu sudah mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong tidak pernah menyia-nyiakan kecantikan seorang dara remaja seperti puterimu ini dan puteramu yang tampan ini tentu memiliki otak yang bersih, darah yang segar dan sumsum yang kuat. Perlu sekali untuk menambah keampuhan Hiat-ciang Hoat-sut agar makin kuat menghadapi lawan kalau malam ini ada yang berani datang!"

"Iblis jahanam! Kiranya engkau seorang manusia iblis yang busuk!" Lu-san Lojin sudah menerjang maju dengan kepalan tangannya.

Kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Sebagai bekas murid Hoa-san-pai yang sudah memperdalam ilmunya dengan ciptaannya sendiri, hasil renungannya di waktu bertapa, maka dapat dibayangkan tingginya kemampuan Lu-san Lojin. Kepalan tangannya menyambar dahsyat, mengandung tenaga sinkang yang amat kuat. Akan tetapi kiranya hanya dalam ilmu pengobatan saja dia menang jauh dibandingkan dengan Pat-jiu Kai-ong. Dalam ilmu berkelahi, dia tidak mampu menandingi Kai-ong yang amat lihai.

Sambil tertawa Kai-ong mengebutkan ujung lengan bajunya yang lebar dua kali. Kakek Lu-san itu terpaksa harus menarik kembali kedua tangannya sehingga dari kedudukan menyerang, dia malah menjadi yang diserang karena pergelangan kedua tangannya terancam totokan ujung lengan baju itu! Dua orang anaknya yang sudah marah sekali karena merasa dihina, sudah menerjang maju pula dengan pedang mereka. Swi Liang menusuk dari samping kiri ke arah lambung kakek pengemis itu, sedangkan dari kanan Swi Nio membabatkan pedangnya ke arah leher.

"Ha-ha, bagus! Kalian benar-benar menggairahkan!" kata kakek itu dan dia bersikap seolah-olah tidak tahu bahwa dirinya diserang.

Akan tetapi setelah kedua pedang itu menyambar dekat, tiba-tiba kedua tangannya menyambar dan.... dua batang pedang itu telah dicengkeramnya dengan telapak tangan! Swi Liang dan Swi Nio terkejut bukan main, akan tetapi melihat betapa kedua batang pedang mereka itu dipegang oleh tangan kakek itu, mereka cepat menggerakkan tenaga menarik pedang dengan maksud melukai telapak tangan Pat-jiu Kai-ong. Namun usaha mereka ini sia-sia belaka, pedang mereka tak dapat dicabut, seolah-olah dicengkeram jepitan baja yang amat kuat.

"Manusia tak kenal budi!"

"Wirrrr... tar-tar!"

Pat-jiu Kai-ong merasa terkejut melihat sinar kuning menyambar. Ternyata bahwa Lu-san Lojin melolos sabuknya yang berwarna kuning dan kini menggunakan sabuk itu sebagai senjata. Kakek ini memang memiliki tenaga sinkang yang kuat, dan memainkan sabuk sebagai senjata sudah merupakan kehaliannya. Sabuk lemas di tangannya itu dapat bergerak seperti pecut, dapat pula menjadi sebatang senjata yang kaku dengan pengerahkan sinkang-nya.

"Krekk-krekkk!" dua batang pedang itu patah-patah dalam cengkeraman Pat-jiu Kai-ong. Sambil melompat mundur menghindarkan sambaran ujung sabuk, Raja Pengemis ini menyambitkan dua ujung pedang yang dipatahkanya ke arah Lu-san Lojin.

"Trang-tranggg!" dua batang ujung pedang itu terlempar ke lantai ketika ditangkis oleh ujung sabuk (ikat pinggang).

Kini Lu-san Lojin mendesak ke depan dengan putaran senjatanya yang istimewa. Sedangkan kedua orang anaknya telah mundur dan hanya menonton di pinggir karena mereka terkejut menyaksikan pedang mereka dipatahkan begitu saja oleh kedua tangan lawan. Mereka sama sekali tidak berdaya dan tidak berguna membantu ayah mereka.

Pada saat itu, muncullah empat orang pengawal yang mendengar suara ribut-ribut.

Melihat mereka, Pat-jiu Kai-ong berkata, "Tangkap dua orang muda ini. Akan tetapi awas, jangan lukai mereka!"

Empat orang pengawal itu segera menubruk maju hendak menangkap Swi Liang dan Swi Nio. Tentu saja kakak beradik ini melawan sekuat tenaga. Akan tetapi biar pun keduanya memiliki ilmu silat tinggi, namun empat orang pengawal itu pun merupakan murid-murid terpandai dari Pat-jiu Kai-ong. Ketika dua orang di antara mereka menggunakan tongkat, dalam belasan jurus saja Swi Liang dan Swi Nio dapat ditotok roboh dan lumpuh.

“Ha-ha-ha, belenggu kaki tangan mereka baik-baik... kemudian lempar mereka ke atas tempat tidurku... ha-ha-ha!" Pat-jiu Kai-ong tertawa sambil menyambar tongkatnya.

Setelah bertongkat, maka kini dia menghadapi Lu-san Lojin dengan lebih leluasa. Kakek dari Lu-san itu marah bukan main melihat putera dan puterinya digotong pergi dari ruang itu. Dia mengejar dan menggerakkan ikat pinggangnya, namun Pat-jiu Kai-ong menghadangnya sambil tertawa-tawa dan menyerangnya dengan tongkatnya sehingga terpaksa kakek Lu-san itu melayaninya bertanding. Pertandingan yang amat seru dan diam-diam Pat-jiu Kai-ong harus mengaku bahwa ilmu kepandaian kakek yang pernah menolongnya ini memang hebat.

"Pat-jiu Kai-ong, benar-benarkah kau lupa akan budi orang? Aku pernah menyelamatkan nyawamu, apakah sekarang engkau mencelakakan kami bertiga?" Lu-san Lojin berkata membujuk karena khawatir melihat nasib puterinya.

"Ha-ha-ha, dahulu memang engkau pernah menolongku, akan tetapi sekarang kalian datang dengan niat buruk!"

"Tidak! Kau salah duga! Kami tidak ada sangkut pautnya dengan si pembunuh ayam!"

"Ha-ha-ha, Lu-san Lojin! Kalian menyelundup ke dalam dan bergerak dari dalam, sedangkan setan itu bergerak dari luar. Begitukah?" Tongkat di tangan Pat-jiu Kai-ong menyambar ganas.

"Plak-plakk!" ujung sabuk kakek Lu-san menangkis dua kali akan tetapi dia merasa betapa telapak tangannya tergetar tanda bahwa tenaga Si Raja Pengemis itu benar-benar amat kuat.

"Pat-jiu Kai-ong, kau salah menduga, kami tidak ada hubungan dengan musuh yang datang. Lepaskan kedua anakku dan aku berjanji akan membantumu menghadapi musuh gelap itu."

"Wah, berat kalau disuruh melepaskan. Lu-san Lojin, dengar baik-baik. Aku tergila-gila melihat anak-anakmu. Pinjamkan mereka kepadaku untuk satu dua malam, dan kau bantu aku menghadapi musuh, baru aku akan membebaskan kalian."

"Iblis busuk!" Lu-san Lojin marah sekali.

Dengan nekat dia lalu mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan Raja Pengemis ini. Dia maklum bahwa betapa pun juga hati yang kotor dari Raja Pengemis itu tidak mudah dibujuk. Satu-satunya jalan untuk menolong anak-anaknya ialah melawan mati-matian.

"Plakkk!" tiba-tiba ujung sabuk melibat tongkat, keduanya saling betot untuk merampas senjata.

Tidak mudah bagi mereka untuk dapat berhasil merampas senjata lawan dan kesempatan ini dipergunakan oleh Pat-jiu Kai-ong untuk menggerakkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka ke arah lawan. Lu-san Lojin terkejut melihat telapak tangan yang menjadi merah seperti tangan berlumuran darah itu. Dia belum pernah mengenal ilmu Hiat-ciang Hoat-sut dari Raja Pengemis itu, namun dia pernah mendengar akan hal ini, tahu pula betapa keji dan berbahayanya ilmu itu. Akan tetapi untuk mengelak dia harus melepaskan sabuknya dan hal ini pun amat berbahaya. Dengan senjata itu saja dia masih kewalahan melawan Pat-jiu Kai-ong, apalagi tanpa senjata, maka dengan nekat dia lalu menggerakkan tangan pula menyambut pukulan itu.

"Dessss...! Aduhhh...!!" dua telapak tangan bertemu dan akibatnya tubuh Lu-san Lojin terjengkang dan terbanting ke atas lantai, mulutnya mengeluarkan darah segar dan matanya mendelik. Kakek ini pingsan dan menderita luka dalam yang amat parah!

"Lempar dia di kamar tahanan!" Pat-jiu Kai-ong berkata sambil tertawa.

Setelah tubuh kakek yang pingsan itu digusur pergi oleh para pengawalnya. Pat-jiu Kai-ong menghampiri meja di mana dia tadi menjamu para tamunya, menyambar guci arak dan menenggaknya habis, kemudian sambil tertawa-tawa dia memasuki kamarnya. Pemuda dan pemudi She Bu itu sudah rebah terlentang di atas pembaringan Pat-jiu Kai-ong yang lebar dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya. Lima orang selirnya menjaga di situ.

Ketika Pat-jiu Kai-ong masuk sambil tertawa gembira, Bu Swi Liang memandang dengan mata melotot penuh kebencian, akan tetapi Bu Swi Nio memandang dengan mata terbelalak ketakutan dan mencucurkan air mata. Pat-jiu Kai-ong menghampiri pembaringan, menggunakan tangannya untuk membelai dan menghusap pipi Swi Nio dan Swi Liang.

"Manis, jangan menangis dan kau jangan marah. Aku akan menemani kalian dan bersenang-senang sepuas hati setelah kami menangkan musuh gelap yang mengancam," kata Raja Pengemis.

Dia menengok ke arah lima orang selirnya dan berkata garang. "Temani mereka, jaga baik-baik jangan sampai ada yang lolos. Kalau ada apa-apa, cepat berteriak memanggil para pengawal. Mengerti?"

Lima orang selir itu mengangguk dan kakek itu meninggalkan kamar lagi.

Sebelum orang yang membunuh ayam jagonya dan yang mengirim surat ancaman itu dapat ditangkap atau dibunuh, tentu saja dia tidak bernafsu untuk bersenang-senang dengan dua orang muda yang tertawan itu. Dia percaya penuh bahwa menghadapi seorang pengacau saja, para pengawalnya akan dapat mengatasinya, akan tetapi dia harus berhati-hati dan ikut melakukan penjagaan sendiri. Setelah keadaan benar-benar aman barulah dia boleh bersenag-senang.

Dia belum yakin benar apakah musuh gelap itu ada hubungannya dengan Lu-san Lojin dan kedua orang anaknya. Akan tetapi ada hubungan atau tidak, setelah tiga orang itu dibuat tidak berdaya, berarti mengurangi bahaya. Dia harus berhati-hati, maklum bahwa dia mempunyai banyak musuh. Siapa tahu kalau Lu-san Lojin yang termasuk golongan putih itu juga memusuhi. Andai kata tidak sekali pun, mana bisa dia melepaskan dua orang muda yang cantik jelita dan tampan itu?

Pat-jiu Kai-ong duduk lagi di ruangan tadi sambil melanjutkan minum arak. Dia maklum bahwa malam ini dua belas orang pengawalnya pasti menjaga dengan tertib dan penuh kewaspadaan. Ingin dia tertawa keras-keras mengusir kesunyian malam yang mendatangkan perasaan tidak enak.

“Hemmm, Ratu Pulau Es? Hanya dongeng!” dengusnya.

Pembunuh ayam itu tidak perlu ditakuti. Andai kata dia mampu mengalahkan dua belas orang pengawalnya, hal yang sukar dipercaya, masih ada dia sendiri. Hiat-ciang Hoat-sut, ilmu yang dilatihnya belasan tahun kini telah dapat diandalkan. Tadi pun ilmu itu telah merobohkan Lu-san Lojin, padahal ia hanya menggunakan sebagian kecil tenaganya saja. Dia tidak takut!

"Aku tidak takut!" serunya kuat-kuat. "Datanglah kamu, hai Ratu Pulau Es keparat! Ha-ha-ha!"

Para pelayan sudah menyalakan lampu-lampu penerangan dan atas perintah para pengawal, pelayan-pelayan ini menambah jumlah lampu sehingga keadaan di seluruh gedung itu menjadi terang. Setelah menyuruh para pelayan membersihkan meja di ruangan itu, dan sekali lagi memanggil kepala pengawal dan menekankan agar penjagaan diperketat dan selalu diadakan perondaan bergilir, Pat-jiu Kai-ong lalu duduk bersila di dalam ruangan itu untuk mengumpulkan tenaga dan mempertajam pendengarannya. Biar pun dia berada di dalam istana, namun dia ikut pula menjaga dan meronda mempergunakan ketajaman pendengarannya untuk menangkap semua suara yang tidak wajar di luar istana.

Malam makin larut dan keadaan sunyi sekali di istana itu dan sekitarnya. Para pelayan yang sudah mendengar dari para pengawal, dengan muka pucat tinggal berkelompok di kamar seseorang di antara mereka, tidak berani membuka suara dan hanya saling pandang dengan mata penuh rasa takut. Para selir juga berkelompok di dalam kamar Pat-jiu Kai-ong. Mereka agak terhibur dengan adanya Swi Liang, pemuda yang tampan itu. Bahkan ada di antara mereka yang tanpa-malu-malu membelai pemuda itu, memegang tangannya, mengusap dagunya, membereskan rambutnya. Akan tetapi mereka tidak berani berbuat lebih dari itu, dan tidak berani mengeluarkan suara. Juga para pengawal agaknya melakukan penjagaan dengan teliti dan hati-hati, tidak bersuara seperti biasanya kalau mereka melakukan penjagaan tentu diisi dengan sendau gurau dan mengobrol.

Kesunyian yang mengerikan itu tidak menyenangkan hati Pat-jiu Kai-ong. Akan tetapi dia amat memerlukan kesunyian ini agar penjagaan dilakukan lebih tertib dan rapi pula. Dia merasa tersiksa dan diam-diam dia memaki musuh gelap itu. Kalau sampai tertawan, tentu akan dihukum dan disiksanya seberat mungkin!

Tiba-tiba terdengar suara jeritan susul-menyusul yang datangnya dari dalam kamarnya! Pat-jiu Kai-ong cepat melompat dan hanya dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah menerjang masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya kelima orang selirnya menangis dan kelihatan gugup dan ketakutan, akan tetapi dua orang muda yang tadi terbelenggu di atas pembaringannya, seperti dua tusuk daging panggang yang dihidangkan di atas meja makan dan siap untuk diganyangnya, kini telah lenyap tanpa bekas!

"Apa yang terjadi? Keparat, diam semua! Jangan menangis, apa yang terjadi?"

Lima orang selir itu menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka bercerita dengan suara gagap, "Ada... ada... setan...., hanya tampak bayangan berkelebat ke atas ranjang dan... dan mereka berdua... tahu-tahu telah lenyap..."

"Tolol!!" Pat-jiu Kai-ong berkelebat ke luar melalui jendela kamar yang terbuka, terus berloncatan memeriksa sampai dia bertemu dengan para pengawal di luar istana, namun dia tidak melihat jejak dua orang tawanan yang lenyap itu.

"Kalian tidak melihat orang masuk?" bentaknya kepada para pengawal.

"Tidak ada, Pangcu."

"Bodoh! Kalau tidak ada, bagaimana dua orang tawanan itu lenyap?"

Kagetlah para pengawal itu. Pat-jiu Kai-ong dibantu oleh para pengawalnya lalu mengadakan pemeriksaan di dalam istana. Mula-mula timbul dugaannya bahwa tentu Lu-san Lojin dan dua orang anaknya itu benar-benar mempunyai kawan-kawan di luar, buktinya kedua orang muda itu ditolong mereka. Akan tetapi ketika dia menjenguk kedalam kamar tahanan, Lu-san Lojin masih mengeletak pingsan di atas lantai!

"Cepat lakukan penjagaan seperti tadi. Tutup semua jalan masuk! Bagi-bagi tenaga!" Pat-jiu Kai-ong memerintah dengan suara yang agak parau. Harus diakuinya bahwa jantungnya tergetar juga oleh rasa gentar menyaksikan sepak terjang musuh gelap yang aneh dan amat luar biasa itu.

Setelah sekali lagi memeriksa sendiri dengan teliti, sampai tidak ada lubang yang tidak dijenguknya di dalam dan di sekitar gedungnya, dan mendapatkan keyakinan bahwa tidak ada orang bersembunyi di dalam gedung, akhirnya Pat-jiu Kai-ong kembali ke dalam ruangan besar dan menanti dengan jantung berdebar.

Malam telah makin larut. Musuh yang aneh itu telah mulai memperlihatkan bahwa musuh itu memang ada dengan menculik dua orang tawanan itu secara aneh. Biar pun lima orang selirnya bukan ahli-ahli silat tinggi, namun lima pasang mata tidak dapat melihat orang yang menculik pemuda-pemudi itu di depan hidung mereka, sungguh merupakan hal yang amat aneh! Pat-jiu Kai-ong bergidik dan membalik-balik gudang ingatan di dalam otaknya.

Siapakah Ratu Pulau Es? Jangankan dengan ratunya, dengan penghuni Pulau Es dia tidak pernah bertemu, kecuali satu kali dengan Han Ti Ong ketika memperebutkan Sin-tong. Dan di mana adanya pulau dongeng itu dia pun tidak tahu. Pertemuannya dengan Han Ti Ong tidak boleh dianggap permusuhan, dan adaikata ada yang sakit hati, kiranya sakit hati itu seharusnya datang dari dia, bukan dari pihak Pulau Es atau Han Ti Ong yang telah berhasil memenangkan perebutan atas diri Sin-tong! Mengapa kini muncul tokoh rahasia yang mengaku bernama Ratu Pulau Es? Siapakah yang bermain-main dengan dia?

Melihat sepak terjang orang rahasia ini, caranya membunuh ayam, dapat dipastikan bahwa orang itu kejam dan aneh, ciri seorang tokoh golongan hitam, bukan golongan putih yang selalu datang secara berterang. Siapakah tokoh golongan hitam yang memusuhinya? Tentu saja banyak, dan di antara mereka, yang paling menonjol adalah Kiam-mo Cai-li Liok Si! Wanita itukah yang kini datang mengganggunya?

"Ha-ha-ha!" dia tertawa keras-keras, hatinya menjadi besar.

Mengapa dia takut? Andai kata Kiam-mo Cai-li sendiri yang datang, dia pun tidak takut! Dan siapakah lain wanita di dunia kang-ouw yang lebih mengerikan dari-pada Kiam-mo Cai-li?

"Iblis atau manusia, jantan atau betina, keluarlah dari tempat persembunyian! Hayo serbulah, aku Pat-jiu Kai-ong tidak takut kepada siapa pun juga! Kalau kau diam saja, berarti kau pengecut hina dan penakut, ha-ha-ha-ha!"

Karena merasa tersiksa oleh keadaan sunyi yang mengerikan itu, Pat-jiu Kai-ong berusaha mengusir rasa takutnya dengan teriakan keras ini yang tentu saja didengar oleh semua penghuni gedung itu. Dan agaknya, sebagai sambutan atas tantangannya, tiba-tiba terdengar suara ayam jagonya yang berada di belakang, di kandang ayam, berkeruyuk keras sekali!

"Ha-ha-ha!" Pat-jiu Kai-ong tertawa mendengar ayamnya sendiri yang menjawab, akan tetapi tiba-tiba dia terkejut dan mukanya berubah.

“Kok!” suara ayam kesakitan ini memutus keruyuk ayamnya setengah jalan! Suara ini disusul dengan suara berkotek riuh dari ayam-ayam betina di dalam kandang, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu mereka akan tetapi suara berkotek ini pun selalu berhenti setengah jalan.

“Kok...!” berkali-kali terdengar ayam dicekik atau dihentikan suara dan hidupnya!

"Keparat...!!"

Pat-jiu Kai-ong yang mukanya merah saking marahnya itu sudah meloncat ke luar dan langsung lari ke kandang. Hampir dia bertubrukan dengan dua orang pengawal yang juga mendengar keanehan di kandang itu. Kini dengan sebuah obor yang dipegang oleh pengawal, mereka bertiga memeriksa kandang. Di bawah sinar obor tampaklah oleh mereka bahwa dua puluh ayam yang berada di kandang itu, jantan, betina, semua telah tewas dengan leher putus! Darah merah muncrat ke mana-mana, membuat lantai dan dinding kandang itu menjadi merah mengerikan.

"Jahanam...!" Pat-jiu Kai-ong memaki dan mereka bertiga sejenak menjadi seperti arca memandang ke dalam kandang. Sunyi di situ, bahkan tidak ada angin berkelisik, membuat suasana menjadi menyeramkan.

"Ngeoonggg...!" suara kucing yang tiba-tiba terdengar ini membuat mereka tersentak kaget dan memandang ke atas genting.

Si Putih, satu-satunya kucing peliharaan di gedung itu berkelebat melompat sambil menggereng, seolah-olah menghadapi musuh dan marah. Akan tetapi gerengannya terhenti tiba-tiba dan Pat-jiu Kai-ong cepat melompat ke kiri ketika ada benda jatuh dari atas genteng menimpanya.

"Bukkk!" ketika pengawal yang membawa obor mendekat, ternyata yang terjatuh itu adalah bangkai kucing Si Putih yang baru saja mengeong tadi!

"Jahanam...!" Pat-jiu Kai-ong memaki untuk kedua kalinya dan tubuhnya sudah melayang ke atas genting, diikuti oleh dua orang pengawalnya.

Melihat betapa obor yang dipegang pengawal itu tidak padam ketika dia meloncat ke atas genting, membuktikan bahwa pengawal itu sudah memiliki ginkang yang hebat. Akan tetapi kembali ketiganya termangu-mangu di atas genting karena tidak tampak bayangan seorang manusia pun. Keadaan sunyi. Sunyi sekali, bahkan terlampau sunyi seolah-olah gedung itu telah berubah menjadi tanah kuburan!

"Hung-hung! Huk-huk-huk...!!" kini giliran tiga ekor anjing peliharaan gedung itu riuh menggonggong dan menyalak-nyalak di sebelah kanan gedung. Suara ini mengejutkan mereka, apalagi suaran gonggongan mereka yang riuh rendah itu tiba-tiba ditutup dengan suara....

"Kaing...! nguik... nguikkk... nguikkkkk!" dan suasana menjadi sunyi kembali, lebih sunyi dari tadi sebelum terdengar gonggongan anjing-anjing itu.

"Bedebah...!" Raja Pengemis memaki.

Pat-jiu Kai-ong segera melompat dari atas genting. Saking cepatnya, dia tidak dapat disusul oleh dua orang pengawalnya itu dan sebentar saja sudah tiba di sebelah kanan gedungnya, di kandang anjing. Seperti sudah dikhawatirkannya, tiga ekor anjing itu sudah menggeletak mati dengan leher hampir putus dan darah mengalir di bawah bangkai mereka. Tiga orang pengawal yang terdekat sudah tiba pula dan mereka saling pandang dengan muka berubah pucat! Seperti terngiang di telinga Pat-jiu Kai-ong suara Lu-san Lojin ketika membacakan isi surat, “Malam ini, semua makhluk hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu Kai-ong, dari binatang sampai manusia, akan kubasmi habis!

Semua binatang peliharaannya, ayam, kucing, dan anjing, sudah mati semua dan sekarang tentu tiba gilirannya manusianya! Teringat akan ini, Pat-jiu Kai-ong cepat berkata, suaranya sudah mulai gemetar. "Cepat, semua berkumpul denganku di dalam gedung...!"

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh jeritan-jeritan di sebelah luar dan di depan gedung itu. Mereka cepat berlari menuju ke depan gedung dan tampaklah oleh mereka dua orang pengawal yang berjaga di luar sudah menggeletak tak bergerak di atas tanah. Ketika seorang pengawal yang membawa obor mendekat, Pat-jiu Kai-ong melihat bahwa dua orang pengawalnya yang terlentang itu telah tewas. Mata mereka melotot dan dari mata, hidung, telinga, dan mulut keluar darah hitam sedangkan di dahi mereka tampak jelas cap jari tangan yang kecil panjang, tiga buah banyaknya. Mudah dilihat bahwa itu adalah tanda jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Begitu dalam gambar jari itu sampai garis-garisnya tampak!

"Kurang ajar! Mari kita berkumpul semua...!"

Akan tetapi kembali terdengar pekik mengerikan dari sebelah kiri gedung. Mereka kembali berlari-lari ke tempat itu dan melihat tiga orang pengawal lain sudah menjadi mayat dalam keadaan yang sama seperti dua orang korban pertama. Segera tersusul pula pekik-pekik mengerikan itu dari belakang gedung. Pat-jiu Kai-ong dan tiga orang pengawalnya ini, termasuk pengawal kepala Si Brewok, mengejar ke belakang dan empat orang pengawal sudah menggeletak tewas dalam keadaan mengerikan, persis seperti yang lain.

Dalam sekejap mata saja sembilan orang pengawal telah tewas. Mereka itu berada di depan, di sebelah kiri, di belakang gedung, akan tetapi kematian mereka susul-menyusul begitu cepatnya, seolah-olah banyak musuh yang datang dari berbagai jurusan. Biar pun mulutnya tidak menyatakan sesuatu, Pat-jiu Kai-ong maklum bahwa tanda dari jari tangan itu dibuat oleh jari tangan yang sama, dan bahwa pembunuhnya itu hanya satu orang saja, seorang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa sehingga para pengawal itu agaknya sama sekali tidak mampu melakukan perlawanan.

Tiga orang pengawal saling pandang dengan muka pucat. Melihat muka mereka, Pat-jiu Kai-ong menjadi penasaran dan marah sehingga timbul kembali keberaniannya yang tadi agak berkurang karena jeri.

Pat-jiu Kai-ong lantas berteriak memaki, "Jahanan pengecut! Hayo keluarlah dan lawan aku Pat-jiu Kai ong!"

Setelah dia mengeluarkan kata-kata ini dengan suara nyaring, keadaan menjadi sunyi sekali, sunyi yang amat menggelisahkan dan menyeramkan. Dalam kegelapan dan kesunyian malam itu seolah-olah tampak mulut iblis menyeringai dan menanti saat untuk menerkam dan mencabut nyawa!

Pat-jiu Kai-ong makin penasaran. Dia sendiri adalah seorang manusia yang dikenal sebagai iblis, jarang menemui tandingan dan ditakuti banyak orang dari semua golongan. Akan tetapi malam ini dia, Raja Pengemis yang menjadi ketua Pat-jiu Kai-pang yang terkenal, memiliki anggota ratusan orang banyaknya, seorang di antara datuk kaum sesat atau golongan hitam yang ditakuti orang, dia dipermainkan orang! Dan orang itu, kalau melihat namanya sebagai ratu tentulah seorang wanita! Apa lagi dia melihat bahwa bekas jari tangan di dahi para korban itu pun jari tangan wanita yang kecil meruncing!

"Hem, pengecut benar dia," katanya kepada tiga orang pengawalnya yang diam-diam telah kehilangan separuh dari nyali mereka. "Kita harus menggunakan pancingan. Biar aku mengintai dari atas, kalian berjalan-jalan di sini. kalau dia muncul menyerang, aku tentu dapat melihatnya dan aku akan meloncat turun. Bersiaplah kalian!"

Setelah berkata demikian, dengan gerakan ringan seperti seekor kelelawar, Pat-jiu Kai-ong melompat ke atas genteng dan mendekam di wuwungan sambil mengintai. Dia melihat tiga orang pengawalnya itu masing-masing telah mencabut senjata mereka. Si Brewok menggunakan sebatang tombak panjang yang ujungnya berkait, orang ke dua mengeluarkan golok besar dan orang ketiga sebatang pedang. Mereka berdiri saling membelakangi dan mata mereka memandang tajam ke depan, telinga mereka memperhatikan setiap suara. Akan tetapi sunyi saja sekeliling tempat itu.

Tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong melihat sesosok bayangan melayang turun dari atas pohon!

“Celaka!” pikirnya. “Kiranya si laknat itu bersembunyi di dalam pohon yang tumbuh di depan gedung.”

Bayangan itu sukar di lihat bentuknya karena cepat sekali gerakannya, tahu-tahu telah berada di depan Si Brewok. Tiga orang pengawal itu menggerakkan senjata, akan tetapi anehnya, tampak oleh Pat-jiu Kai-ong betapa tiga buah senjata mereka itu telah berpindah tangan! Entah bagaimana caranya, karena dari atas genteng itu dia tidak dapat melihat jelas. Yang dia ketahuinya hanyalah betapa tiga orang pengawalnya itu kini lari ketakutan!

"Hik-hik-hik!" Suara ketawa ini membuat bulu tengkuk Pat-jiu Kai-ong berdiri dan dia melihat sinar-sinar menyambar ke arah tiga orang pengawal yang lari, melihat mereka roboh dan memekik, terjungkal tak bergerak lagi karena punggung mereka ditembus oleh senjata mereka masing-masing!

"Keparat, jangan lari kau!" Pat-jiu Kai-ong sudah melayang turun dan tongkatnya sudah diputar-putar, akan tetapi bayangan itu melesat dan lenyap dari tempat itu!

Pat-jiu Kai-ong menoleh ke kanan-kiri, akan tetapi tidak tampak gerakan sesuatu. Dia makin penasaran. Dihampirinya tiga orang pengawalnya. Mereka telah tewas dan hanya mereka bertiga yang tidak dicap dahinya dengan tiga buah jari tangan hitam akan tetapi kematian mereka cukup mengerikan. Tombak golok dan pedang itu menembus punggung pemilik masing-masing sampai ujungnya keluar dari hulu hati!

Sambitan tiga buah senjata yang berlainan bentuknya itu dilakukan secara berbareng dari jarak yang cukup jauh, tapi tepat mengenai tiga sasarannya yang sedang berlari. Hal ini saja membuktikan pula betapa hebatnya kepandaian orang aneh itu. Mendadak Pat-jiu Kai-ong tersentak kaget. Di dalam gedung! Betapa tololnya dia! Semua pengawalnya yang berjumlah dua belas orang telah tewas semua. Tentu sekarang musuh itu masuk ke dalam gedung untuk membunuh orang-orang di dalam gedung.

Secepat kilat dia meloncat dan lari memasuki gedung. Benar saja, terdengar pekikan susul-menyusul dan begitu melewati pintu depan, dia sudah melihat para pelayannya telah menjadi mayat dan berserakan di sana-sini. Cepat dia lari ke dalam kamarnya dan dengan mata terbelalak dia melihat lima orang selirnya telah mati semua. Pada dahi mereka juga ada bekas tanda tapak tiga jari tangan dan semua lubang di muka mereka mengalirkan darah hitam!

Sunyi sekali di dalam gedung itu, kesunyian yang penuh rahasia. Lu-san Lo-jin! Pat-jiu Kai-ong mendadak teringat dan dia cepat lari ke dalam tempat tahanan. Ketika tiba di sana dia hanya melihat bahwa kakek itu pun telah tewas dan di dahinya terdapat pula tanda tapak tiga jari tangan, serta semua lubang di muka kakek itu mengalirkan darah hitam! Kini dia benar-benar bingung. Jelas bahwa musuh ini bukanlah kawan Lu-san Lojin seperti yang disangkanya semula!

Makin bingunglah dia dan dia lari pula ke dalam ruangan besar di mana dia tadi makan minum dengan Lu-san Lojin dan dua anaknya, di mana dia tadi menanti datangnya musuh rahasia. Dan begitu memasuki ruangan itu, dia tertegun! Ruangan itu kini terang sekali, agaknya ada yang menambah lampu penerangan. Ketika dia melihat, benar saja bahwa di situ terdapat banyak lampu, banyak sekali karena agaknya semua lampu penerangan dibawa dan dikumpulkan di ruangan itu. Dan di atas kursinya yang tadi ditinggalkan kosong, kini tampak duduk seorang wanita! Di depan wanita itu, juga duduk di atas kursi, tampak seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang memandangnya dengan mata penuh selidik.

Wanita itu cantik, pakaiannya mewah dan indah. Anak itu pun tampan dan bersih serta mewah pakaiannya. Wanita itukah yang membunuh semua orang di gedungnya? Tak mungkin agaknya. Wanita itu usianya paling banyak tiga puluh lima tahun, cantik dan kelihatan halus gerak-geriknya, hanya sepasang matanya mengeluarkan sinar yang aneh dan dingin sekali.

"Ibu, dia inikah orangnya?" tiba-tiba anak kecil itu bertanya, suaranya nyaring memecahkan kesunyian yang sejak tadi mencekam.

"Benar, dialah si bedebah Pat-jiu Kai-ong," wanita itu berkata, suaranya halus akan tetapi dingin menyeramkan.

"Kalau begitu, mengapa Ibu tidak lekas membunuhnya?"

Wanita itu tersenyum dan wajah yang cantik itu makin cantik, akan tetapi juga makin dingin menyeramkan. Wanita cantik itu kemudian bangkit berdiri perlahan-lahan. "Kau lihat sajalah Ibumu menundukkan si jembel busuk ini."

Wanita itu ternyata bertubuh tinggi ramping, dan ketika melangkah maju tampak gerakan kedua kakinya lemah lembut. Pat-jiu Kai-ong sudah dapat menguasai hatinya dan timbul keberaniannya setelah melihat bahwa orang itu hanyalah seorang manusia biasa, wanita yang kelihatan lemah pula, bukan seorang iblis yang menyeramkan sama sekali.

"Siapakah engkau? Siapa pembunuh orang-orangku dan apa hubunganmu dengan Ratu Pulau Es yang mengancamku?"

Wanita itu kini tiba di depan Pat-jiu Kai-ong sehingga Raja Pengemis ini dapat mencium bau harum semerbak yang keluar dari rambut dan pakaian wanita itu.

"Akulah Ratu Pulau Es, aku pula yang telah membunuh semua makhluk hidup di dalam gedungmu. Semua telah kubunuh kecuali engkau, Pat-jiu Kai-ong. Aku harus membunuhmu perlahan-lahan, menyiksamu sampai puas hatiku."

Mendengar ancaman ini, Raja Pengemis yang biasanya berhati kejam dan keras itu menjadi berdebar juga. Akan tetapi kemarahannya melenyapkan semua rasa jeri dan dia membentak, "Perempuan sombong! Siapakah engkau dan mengapa engkau memusuhi Pat-jiu Kai-ong?"

“Pat-jiu Kai-ong, agaknya kejahatanmu sudah begitu bertumpuk-tumpuk sehingga engkau tidak dapat mengenal korban-korbanmu lagi. Pandanglah aku baik-baik dan kumpulkan ingatanmu! Lupakah kau apa yang terjadi di kaki pegunungan Jeng-hoa-san sepuluh tahun yang lalu?"

Pat-jiu Kai-ong memandang dan terbayanglah peristiwa di Jeng-hoa-san sebelum dia naik ke puncak gunung itu untuk mencari Sin-tong. Kini dia dapat mengenal wajah ini, wajah cantik yang pernah merintih-rintih dan memohon pembebasan, namun yang dia permainkan secara kejam. "Kau... kau... Cap-sha Sin-hiap...?" tanyanya ragu-ragu.

"Benar. Aku adalah anggota paling muda dari Cap-sha Sin-hiap. Dua belas orang Suheng-ku telah kau bunuh. Ingatkah kau sekarang?"

Pat-jiu Kai-ong tertawa. Hatinya lega. Kalau hanya wanita muda itu, yang telah diperkosanya dan yang hanya menjadi orang ke tiga belas dari Cap-sha Sin-hiap, perlu apa dia takut? Biar perempuan ini agaknya telah memperdalam ilmunya selama sepuluh tahun ini, akan tetapi perlu apa dia takut?

"Ha-ha-ha, kiranya engkaukah ini, manis? Tentu saja aku masih ingat kepadamu, siapa bisa melupakan kenang-kenangan manis selama tiga hari itu? Ha-ha-ha, betapa mesranya!"

“Jahanam! Kematian sudah di depan mata dan kau masih berlagak? Pat-jiu Kai-ong, aku telah datang dan rasakanlah pembalasanku. Aku akan membuat kau menyesal mengapa kau pernah dilahirkan ibumu!"

"Perempuan sombong, mampuslah!" Pat-jiu Kai-ong sudah menerjang dengan tongkatnya.

Dia melakukan penyerangan dengan dahsyat, menusukkan tongkatnya yang tentu akan menembus dada wanita itu kalau tidak cepat wanita itu mengebutkan ujung lengan bajunya menangkis.

"Trakk!" tongkat itu menyeleweng dan terkejutlah Pat-jiu Kai-ong.

Ternyata lawannya ini benar-benar telah memperoleh kemajuan hebat dan telah memiliki sinkang yang tak boleh dipandang ringan. Tentu saja! Wanita itu bukan lain adalah The Kwat Lin yang selama sepuluh tahun ini menjadi istri atau permaisuri Raja Pulau Es, Han Ti Ong yang sakti! Wanita ini selama sepuluh tahun telah menggembleng diri di bawah petunjuk suaminya yang amat mencintainya. Bahkan suaminya telah menurunkan ilmu-ilmu yang khusus untuk menghadapi ilmu tongkat Pat-jiu Kai-ong dan ilmu mukjijat Hiat-ciang Hoat-sut dari Raja Pengemis ini atas permintaan The Kwat Lin. Karena itu, biar pun memiliki sebatang pedang yang menempel di punggungnya, The Kwat Lin tidak menggunakan senjata, melainkan ujung lengan bajunya untuk menghadapi tongkat karena memang kedua ujung lengan baju ini merupakan sepasang senjata yang dilatihnya khusus untuk mengatasi tongkat Raja Pengemis itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, The Kwat Lin menggunakan kesempatan selagi Han Ti Ong pergi menyerbu Pulau Neraka untuk meninggalkan Pulau Es. Hal ini sudah bertahun-tahun dia cita-citakan. Dia menjadi istri Han Ti Ong hanya karena ingin mewarisi ilmu kepandaiannya, akan tetapi setelah menjadi permaisuri, dia pun ingin memiliki pusaka Pulau Es dan benda-benda berharga lainya. Maka dia menanti kesempatan baik untuk meninggalkan pulau, tentu saja meninggalkan untuk selamanya karena pada hakekatnya dia tidak suka tinggal di pulau itu. Siapa suka tinggal di Pulau Es yang membosankan dan jauh dari dunia ramai itu?

Pergilah dia mengajak puteranya, Han Bu Hong, meninggalkan Pulau Es sewaktu suaminya tidak ada, tentu saja sambil membawa pusaka Pulau Es. Dengan alasan akan menyusul suaminya yang menyerbu Pulau Neraka, tidak ada seorang pun berani menghalangi kepergiannya dan akhirnya, dengan kepandaiannya yang sudah tinggi, dia berhasil mendarat.

Berbulan-bulan setelah menyelidiki akhirnya dia dapat menemukan tempat tinggal musuh besarnya di lereng Heng-san. Dia kemudian mengajak puteranya, dan setelah menyembunyikan puteranya, dia menyelidiki keadaan istana Raja Pengemis itu. Hatinya amat tertarik saat melihat Swi Liang dan Swi Nio, maka dia menculik mereka dan membawa mereka ke dalam hutan di mana Bu Hong menanti ibunya.

"Kalian kuselamatkan dengan maksud untuk mengangkat kalian berdua menjadi muridku," dia berkata tanpa banyak cerita lagi. "Tinggal kalian pilih, mati atau hidup. Kalau ingin mati, kalian semestinya mati karena kalian berada di gedung Pat-jiu Kai-ong. Karena sekarang belum malam, maka kalian belum mestinya dibunuh dan karenanya boleh pula kukeluarkan dari sana. Kalau kalian ingin hidup harus suka menjadi muridku. Bagaimana?"

Tentu saja dua orang muda itu ingin hidup dan segera berlutut di depan calon Subo (ibu guru) mereka. "Harap subo sudi menolong Ayah kami...," kata Swi Liang.

"Kalian tinggal saja di sini menemani sute kalian ini. Tentang Ayahmu, kita lihat saja nanti."

The Kwat Lin meninggalkan dua orang murid itu bersama puteranya. Setelah itu mulailah dia turun tangan membunuh semua binatang peliharaan di gedung Raja Pengemis itu, lalu membunuh semua pengawal, pelayan, dan para selir. Lu-san Lojin juga dibunuhnya karena dia sudah berjanji akan membunuh semua makhluk hidup di dalam gedung itu, apalagi dia tahu bahwa kalau tidak dibunuh, kakek itu tentu akan menjadi penghalang baginya mengambil murid Swi Liang dan Swi Nio yang menarik hatinya. Setelah makhluk hidup yang tersisa tinggal Pat-jiu Kai-ong, dia lalu keluar dari gedung, menyuruh kedua orang muridnya menanti di hutan. Akhirnya bersama puteranya, dia dapat berhadapan dengan musuh besarnya itu.

Han Bu Ong, anak laki-laki yang baru berusia sepuluh tahun itu, duduk di kursi dan menonton pertandingan dengan mata terbelalak dan jarang berkedip. Dia sama sekali tidak merasa takut atau khawatir. Dia percaya penuh kepada kelihaian ibunya dan memang sejak kecil anak ini memiliki keberanian luar biasa dan kekerasan hati yang amat aneh bagi seorang anak sebesar itu. Melihat kekejaman-kekejaman yang terjadi, dia tidak pernah merasa ngeri, bahkan merasa gembira!

Hati Pat-jiu kai-ong terkejut sekali setelah selama lima puluh jurus dia mainkan tongkatnya namun tidak mampu menembus pertahanan sepasang ujung lengan baju lawannya, bahkan lawannya terkekeh-kekeh mengejeknya. Walau pun sang lawan hanya mainkan ujung lengan baju, namun ternyata tongkat yang biasanya dia andalkan itu sama sekali tidak berdaya!

"Keparat, mampuslah!" tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong berseru keras, disusul dengan gerengan dahsyat yang menggetarkan seluruh ruangan itu.

Han Bu Ong terpelanting jatuh dari kursinya, akan tetapi bocah ini sudah duduk bersila dan mengatur pernapasan, menutup pendengaran. Ternyata sekecil itu, Bu Ong telah digembleng hebat oleh ayahnya sehingga dengan dasar latihan sinkang Inti Salju, dia kini mampu menulikan telinga dan menghadapi auman Sai-cu Ho-kang dari Pat-jiu Kai-ong! Padahal lawan yang tidak begitu kuat sinkang-nya, mendengar auman Sai-cu Ho-kang yang berdasarkan khikang yang amat kuat ini, sudah pasti akan roboh.

Sementara itu, The Kwat Lin yang melihat puteranya dapat menyelamatkan diri, sudah mengeluarkan suara terkekeh-kekeh. Lawannya terkejut bukan main karena dari suara ini keluar getaran yang menghancurkan ilmunya bahkan menyerangnya dengan hebat. Terpaksa dia menghentikan auman Sai-cu Ho-kang dan mempercepat gerakan tongkatnya dengan Ilmu Tongkat Pat-mo-tung-hoat (Ilmu Tongkat Delapan Iblis) yang dahsyat.

The Kwat Lin memang hendak mempermainkan lawannya, maka dia hanya menangkis dan mengelak. Hal ini sengaja dilakukannya untuk memamerkan kepandaiannya dan untuk meyakinkan lawan bahwa akhirnya lawan akan roboh olehnya sehingga lawannya yang amat dibencinya itu akan ketakutan setengah mati! Dan memang usahanya ini berhasil.

Keringat dingin membasahi muka Pat-jiu Kai-ong dan tahulah kakek ini bahwa mengandalkan ilmu silat saja, dia tidak akan menang melawan wanita yang pernah dipermainkannya dan diperkosanya selama tiga hari tiga malam itu. Maka dia lalu mengerahkan tenaganya, mengerahkan sinkang, lalu tiba-tiba dia memekik dan menghantamkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka.

The Kwat Lin sudah menduga bahwa lawannya tentu akhirnya akan menggunakan ilmu Hiat-ciang Hoatsut ini. Dia sudah mendengar dari suaminya akan ilmu mukjijat ini, maka dia bersikap hati-hati dan tidak berani memandang rendah. Bahkan dia amat terkejut ketika menyaksikan cahaya merah menyambar ke luar, merasakan getaran mukjijat dan mencium bau amis darah yang memuakkan. Cepat dia menekuk kedua lututnya sedikit, kemudian mendorongkan telapak tangan kanannya dengan tiga buah jari tangan diluruskan. Hawa dingin meluncur ke luar dari telapak tangannya menyambut hawa pukulan Hiat-ciang Hoat-sut.

"Dess!" benturan dua tenaga mukjijat bertemu dan tubuh kedua orang itu tergetar hebat!

Kiranya tenaga Hiat-ciang Hoat-sut sudah sedemikian ampuhnya sehingga dalam benturan tenaga ini Pat-jiu Kai-ong dapat mengimbangi tenaga The Kwat Lin. Kalau kakek itu merasa betapa tubuhnya mendadak menjadi dingin sekali, sebaliknya The Kwat Lin merasa tubuhnya panas! Namun keduanya dapat melawan hawa ini dan berkali-kali mereka mengadu tenaga sinkang lewat telapak tangan mereka.

Tiba-tiba ujung lengan baju kiri The Kwat Lin menyambar ke arah ubun-ubun kepala kakek itu yang menjadi terkejut sekali dan menangkis dengan tongkatnya. Ujung lengan baju melibat dan tangan The Kwat Lin menyambar ke depan dari dalam lengan baju itu untuk menangkap tongkat. Pat-jiu Kai-ong cepat menghantamkan tangan kirinya lagi dengan tenaga Hiat-ciang Hoat-sut sekuatnya, mengarah kepala lawan. Namun hal ini sudah diperhitungkan oleh wanita itu yang cepat sekali menarik tongkat yang dicengkeramnya untuk menangkis.

"Krekkkk!" tongkat Raja Pengemis itu hancur terkena pukulannya sendiri.

Selagi dia terkejut bukan main, tahu-tahu ujung lengan baju kanan wanita itu sudah menyambar ke arah matanya! Dia berteriak kaget, miringkan kepala, akan tetapi ternyata ujung lengan baju itu tidak menyerang mata, melainkan menyeleweng ke bawah dan menotok lehernya.

"Auggghh...!" Kalau orang lain terkena totokan yang tepat mengenai jalan darah, tentu akan roboh dan tewas. Akan tetapi tubuh Pat-jiu Kai-ong sudah kebal, maka totokan yang kuat itu hanya membuat ia terhuyung ke belakang.

Melihat ini The Kwat Lin tertawa terkekeh. Kembali kedua tangannya bergerak dengan cepat sekali dan biar pun Raja Pengemis itu sudah berusaha mati-matian membela diri, namun karena totokan pertama membuat pandangan matanya berkunang sehingga gerakannya menjadi kurang cepat. Dua kali totokan lagi dan sebuah tamparan dengan tiga jari tangan yang tepat mengenai punggungnya membuat dia roboh pingsan!

Ketika dia siuman. Pat-jiu Kai-ong mendapatkan dirinya sudah rebah terlentang di atas lantai dan tidak mampu menggerakkan kaki tangannya, bahkan tidak mampu mengeluarkan suara. Selain tertotok jalan darah yang membuatnya menjadi lumpuh, juga urat gagu di lehernya telah ditotok. Tahulah dia bahwa dia tak berdaya lagi dan nyawanya berada di tangan lawan. Dia pun maklum bahwa wanita ini tidak akan mungkin mengampuni kesalahannya. Maka dia hanya memejamkan mata menanti datangnya kematian.

"Bret-bret-brettt...!”

“Hi-hi-hik! Lihatlah, Bu Ong. Lihat binatang ini!"

Pat-jiu Kai-ong memaki dalam hatinya. Apa maunya perempuan ini? Seluruh pakaiannya direnggut lepas semua sehingga dia terlentang dalam keadaan telanjang bulat sama sekali! Karena ingin tahu, bukan karena jeri sebab seorang datuk macam Pat-jiu Kai-ong juga tidak mengenal takut, dia menggerakkan pelupuk mata dan mengintai dari balik bulu matanya. Dia melihat anak laki-laki itu turun dari kursinya, memandanginya dan tertawa.

"Heh-heh, ibu,dia lucu sekali! Lucu dan amat buruk... eh, menjijikkan!"

The Kwat Lin tertawa-tawa. Sekali ujung lengan bajunya bergerak menyambar ke arah leher Pat-jiu Kai-ong, kakek ini terbebas dari totokan urat gagunya dan dapat mengeluarkan suara.

"Perempuan hina, mau bunuh lekas bunuh! Aku tidak takut mati!" teriaknya marah.

"Hi-hik, enak saja! Ingatkah kau betapa aku dahulu pun minta-minta mati kepadamu? Tidak, engkau harus mengalami siksaan, mati sekerat demi sekerat! Bu Ong, dia inilah yang membunuh dua belas orang Supek-mu secara kejam. Maukah kau membalaskan sakit hati dan kematian para Supek-mu?"

"Tentu saja! Akan kubunuh anjing tua ini!" Bu Ong sudah melangkah maju dan anak ini memandang dengan muka bengis.

"Nanti dulu, Bu Ong. Terlampau enak baginya kalau dibunuh begitu saja. Tidak, untuk setiap orang dari Suheng-ku, dia harus menderita satu macam siksaan. Jari tangannya. Hi-hik, jari-jari tangannya berjumlah sepuluh, itu untuk sepuluh orang Suheng! Dan dua buah daun telinganya itu untuk kedua Suheng yang lain."

The Kwat Lin mencabut pedangnya, menyerahkan kepada puteranya sambil tertawa-tawa, kemudian dia mengerahkan khikang-nya, ‘mengirim suara’ dengan ilmunya yang tinggi ini sehingga suaranya hanya terdengar oleh Pat-jiu Kai-ong, akan tetapi sama sekali tidak terdengar oleh anaknya.

"Pat-jiu Kai-ong, tahukah kau siapa bocah ini? Dia ini adalah puteramu! Keturunanmu! Hasil kotor dari perkosaanmu atas diriku. Nah, sekarang kau lihatlah anakmu, darah dagingmu sendiri yang akan menyiksa dirimu!"

Sepasang mata Pat-jiu Kai-ong terbelalak lebar, mukanya pucat sekali. Puluhan tahun dia ingin sekali memperoleh keturunan, terutama seorang putera, akan tetapi Biar pun dia sudah berganti-ganti selir sampai ratusan kali, tetap saja para selir itu tidak pernah memperoleh keturunannya. Sekarang secara tidak sengaja dia telah memperoleh seorang putera! Dan puteranya itu dengan pedang di tangan menghampirinya, siap untuk menyiksanya!

Tadi dia terheran melihat betapa bekas anggota Cap-sha Sin-hiap, murid Bu-tong-pai yang terkenal gagah itu menjadi begitu keji, mengajar putera sendiri melakukan kekejaman. Kiranya wanita itu memang sengaja hendak menyiksanya dengan menggunakan tangan keturunannya sendiri! Kiranya wanita itu juga membenci anak itu seperti juga membencinya, maka sengaja membiarkan anak itu menyiksa dan membunuh ayah sendiri!

"Anak... jangan... dengarkanlah...."

"Pratttt...!" Pat-jiu Kai-ong tidak dapat melanjutkan kata-katanya yang tadinya hendak mmperingatkan anak laki-laki itu karena urat gagunya di leher telah ditotok oleh lengan baju The Kwat Lin.

Bekas Ratu Pulau Es itu terkekeh menyeringai. "Pat-jiu Kai-ong, begini pengecutkah engkau? Haiii... di mana kegagahanmu sebagai seorang datuk? Lihatlah baik-baik dan nikmatilah siksaan anak ini! Bu Ong, pergunakan pedang itu. Pertama buntungi kedua daun telinganya untuk Twa-supek dan Ji-supek-mu!"

"Baik, Ibu!" Bu Ong lalu melangkah maju.

Ternyata anak itu sudah pandai menggunakan pedang. Dua kali pedang itu berkelebat, buntunglah kedua daun telinga Pat-jiu Kai-ong ! Dapat dibayangkan betapa nyeri, perih dan pedih rasa badan dan hati kakek itu. Air matanya meloncat ke luar membasahi pipinya!

"Ha-ha, Ibu! Lihat, dia menangis!" anak itu bersorak dan mengambil dua buah daun telinga itu. "He-he, seperti telinga babi!"

Memang Pat-jiu Kai-ong menangis! Akan tetapi bukan menangis karena rasa nyeri dan pedih karena kedua daun telinganya buntung, melainkan nyeri di hati yang lebih hebat lagi melihat betapa anaknya sendiri yang sejak puluhan tahun yang lalu dirindukannya, kini bersorak girang melihat penderitaannya! Dia tidak takut mati, tidak takut sakit, akan tetapi melihat betapa dia menghadapi siksaan dan kematian di tangan anaknya sendiri, benar-benar merupakan tekanan batin yang hampir tak kuat dia menanggungnya.

"Teruskan, Bu Ong. Masih ada sepuluh orang Supek-mu yang belum dibalaskan sakit hatinya. Jari-jari tangannya yang sepuluh itu! Perlahan-lahan saja, satu demi satu buntungkan!"

Mulailah penyiksaan yang amat mengerikan itu dilakukan oleh Bu-ong. Anak ini seolah-olah telah menjadi gila. Dengan tertawa-tawa dia membuntungi semua jari tangan kakek itu satu demi satu dan setiap buntung sebuah jari, dia bersorak kegirangan.

Memang sejak dapat mengerti omongan, anak ini dijejali dendam oleh ibunya, dendam terhadap Pat-jiu Kai-ong. Diceritakan betapa Pat-jiu Kai-ong telah membunuh dua belas orang suheng-nya dan betapa Raja Pengemis itu menyiksanya dan Bu Ong kelak harus membalas dendam itu. Maka kini anak itu sama sekali tidak menaruh rasa kasihan, bahkan hatinya puas sekali dapat menyiksa kakek itu.

Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan Pat-jiu Kai-ong. Namun dia tidak menyesali nasibnya. Dia maklum bahwa dirinya pun telah melakukan perbuatan sewenang-wenang atas diri The Kwat Lin sehingga pembalasan ini sudah jamak. Hanya satu hal yang membuat air matanya bercucuran, yaitu melihat betapa dia disiksa dan akan dibunuh oleh darah dagingnya sendiri. Dia menangis melihat darah dagingnya sendiri itu, yang baru berusia sepuluh tahun, telah menjadi seorang iblis cilik yang demikian kejam!

Kini The Kwat Lin membebaskan totokan yang membuat kaki tangannya lumpuh. Begitu kaki tangannya dapat bergerak, Pat-jiu Kai-ong meloncat dan menerkam ke arah Bu Ong dengan ke dua tangan yang sudah tak berjari lagi itu, yang berlumuran darah. Niat hatinya untuk membunuh saja anaknya itu agar kelak tidak dijadikan iblis cilik oleh ibu yang membencinya. Akan tetapi sebuah tendangan dari samping yang dilakukan oleh The Kwat Lin membuat dia terguling lagi. Rasa nyeri pada kedua ujung tangannya membuat kakek itu menggeliat-geliat.

"Mundurlah, Bu-ong. Lihat sekarang Ibumu yang akan turun tangan. Aku akan membalas sendiri perbuatannya kepadaku dahulu!"

The Kwat Lin menghampiri musuhnya dengan pedang di tangan. "Pat-jiu Kai-ong, ingatlah engkau akan peristiwa dahulu itu? Bayangkanlah, hi-hik. Bayangkanlah betapa nikmatnya bagimu dan betapa tersiksa dan sengsaranya bagiku. Sekarang aku yang menikmati dan kau yang menderita. Sudah adil bukan? Nah, terimalah ini... ini... ini...!"

Bertubi-tubi pedang di tangan The Kwat Lin bergerak. Tubuh kakek itu bergulingan, berkelojotan karena rasa nyeri yang amat hebat ketika ujung pedang itu membabat ke seluruh tubuhnya, dengan tepat sekali membabat ujung semua jari kakinya, hidungnya, dagunya. Babatan itu hanya mengenai ujung sedikit, tidak membahayakan keselamatan nyawa, namun menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Seluruh tubuh kakek itu kini berlepotan darah, mukanya dipenuhi oleh kerut-merut menahan nyeri.

"Hi-hik, bagaimana? Masih kurang? Nah, rasakanlah ini!"

Kembali pedang itu digerakkan, kini menusuk-nusuk dan seluruh tubuhnya ditusuki ujung pedang bertubi-tubi. Ujung pedang hanya menusuk dua senti saja sehingga menembus kulit daging, akan tetapi tidak membunuh. Darah keluar makin banyak lagi, rasa nyeri makin menghebat sehingga tubuh kakek itu berkelojotan seperti dalam keadaan sekarat.

"Ini yang terakhir!" The Kwat Lin berkata.

Ujung pedangnya membabat ke bawah pusar. Wanita itu tertawa bergelak, tertawa puas. Wajahnya yang cantik itu pucat sekali dan dia tertawa sambil berdongak ke atas. "Suheng sekalian, terutama Twa-suheng, lihatlah musuhmu. Sudah puaskah kalian?!" Dan dia terisak, lalu menghampiri tubuh yang berkelojotan itu. "Akan tetapi aku belum puas! Kau harus tidur dalam keadaan tersiksa di antara mayat-mayat yang membusuk, selama tiga hari tiga malam!"


BERSAMBUNG KE JILID 07

Bu Kek Siansu Jilid 06

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU



Kho Ping Hoo serial Bu Kek Siansu jilid 06


JILID 06

DIAM-DIAM Sin Liong kagum bukan main. Tenaga beruang ini luar biasa besarnya, dan kiranya dia hanya akan dapat menandingi tenaga raksasa ini kalau dia menggerakkan sinkang sekuatnya! Akan tetapi tiba-tiba dia mendapat firasat tidak baik melihat sikap beruang itu, maka disambarnya tangan sumoi-nya dan dia berteriak. "Awas, Sumoi. Mari kita lekas pergi. Dia menghendaki demikian, entah mengapa?"

Sin Liong memegang erat-erat lengan sumoi-nya dan membiarkan dirinya diseret oleh beruang itu. Binatang itu mengajaknya setengah paksa berlompatan dan berlarian ke gunung es lain yang berdekatan. Baru saja mereka melompat ke atas gunung es lain itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan gunung es di mana mereka berada tadi telah pecah berantakan menjadi keping-keping kecil. Kiranya gunung es itu ditabrak oleh gunung es yang lain dan hal ini agaknya telah diketahui oleh si beruang tanpa melihat datangnya gunung es yang tak tampak dari situ. Ternyata binatang itu hanya diperingatkan oleh nalurinya yang tidak ada pada manusia!

Sin Liong berdiri dengan muka pucat, kemudian dia merangkul beruang itu. "Terima kasih, Kakak Beruang. Kiranya engkau malah menyelamatkan kami berdua."

Akan tetapi Swat Hong merasa tidak senang. "Suheng, mari kita segera pergi dari sini. Tempat ini amat berbahaya. Lihat, gunung es tadi hancur dan itu perahu kita kelihatan dari sini. Untung tidak hilang. Marilah, Suheng."

"Nanti dulu, Sumoi. Aku harus mencarikan daun obat untuk mengobati luka-luka di tubuh beruang ini."

"Ah, perlu apa? Kita bisa celaka di sini..."

"Sumoi, dia telah menyelamatkan nyawa kita!"

"Hemm, begitukah? Engkau pun tadi telah menyelamatkan nyawanya ketika kau mengusir burung-burung nazar itu, bukan? Aku melihat dari jauh. Berarti sudah terbalas semua budi, bukan? Marilah, Suheng."

"Tidak, Sumoi. Kita tinggal di sini dulu sampai aku selesai mengobatinya."

Swat Hong menjadi marah. "Agaknya kau lebih sayang beruang betina ini dari-pada aku!"

"Sumoi...!"

Akan tetapi Swat Hong sudah berlari pergi. Ia berloncatan di atas pecahan es dan menuju ke perahu mereka, meloncat ke dalam perahu dan mendayung perahu itu pergi dari situ! Sin Liong menjadi bingung dan hampir membuka mulut menegur, akan tetapi dia membatalkan niatnya karena maklum bahwa hal itu percuma saja.

"Ngukkk... nguuukkk...." beruang itu mendengus-dengus dan menciumi kepalanya.

"Ahhh, Enci (Kakak Perempuan) beruang, betapa sukarnya menyelami watak wanita. Aku telah membuat hatinya kecewa dan marah, akan tetapi bagaimana hatiku dapat tega meninggalkan engkau yang terancam bahaya maut oleh lukamu?"

Sin Liong lalu mengajak beruang itu mencari daun. Karena perahu sudah dibawa pergi Swat Hong, maka terpaksa dia mencari pulau yang masih ada tetumbuhannya dengan jalan berloncatan dari batu es lainnya. Kalau jaraknya terlalu jauh, beruang itu menggendongnya dan membawanya berenang ke batu es lainya atau kadang-kadang Sin Liong menggunakan sebongkah es yang mengambang sebagai perahu, didayung dengan tangannya yang kuat. Akhirnya setelah melalui perjalanan yang amat sukar, dapat juga dia menemukan pulau yang masih ada tetumbuhannya. Di pulau kecil itu dia mulai mengobati luka-luka beruang itu sampai sembuh.

Pada suatu hari dia melihat sebuah perahu kosong terbalik mengambang tidak jauh dari pulau. Dia merasa girang sekali. Cepat menyuruh beruang mengambilnya dan hatinya terharu ketika mengenal perahu itu sebagai sebuah di antara perahu Pulau Es.

“Tentu penumpangnya telah lenyap ditelan badai,” pikirnya.

Dia lalu membuat dayung dari cabang pohon. Setelah beruang hitam itu sembuh benar, dia lalu melompat ke perahu dan mendayungnya meninggalkan pulau. Akan tetapi tiba-tiba beruang itu terjun ke air dan berenang mengejar perahunya.

"Heii, Kakak Beruang, kembalilah. Engkau sudah sembuh, dan aku harus pergi mencari sumoi!"

"Nguuuk... nguukk...!" beruang hitam itu mengeluarkan suara mengeluh dan mukanya seperti orang menangis!

Sin Liong tersenyum. "Hmm, kau hendak ikut, ya? Nah, loncatlah ke atas!"

Seolah-olah mengerti arti kata-kata Sin Liong, beruang itu lalu meloncat ke dalam perahu. Kini mukanya kelihatan berseri, matanya bersinar-sinar dan lidahnya terjulur ke luar seperti sikap seekor anjing yang kegirangan.

"Kau boleh ikut sampai aku dapat menemukan kembali sumoi!" kata Sin Liong. "Kalau sumoi tidak menghendaki kau ikut, kau harus kutinggalkan karena kau telah sembuh."

Demikianlah Sin Liong kini melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka. Dari puncak sebuah gunung es, dia dapat melihat dari jauh dan kini dia tahu di mana letaknya Pulau Neraka. Beruang yang kini menggantikan tempat Swat Hong menjadi temannya berlayar itu kelihatan girang sekali ketika perahu meluncur. Binatang ini telah jinak benar-benar.

Setelah kini dia mengenal kembali keadaan dan tahu di mana letaknya Pulau Neraka, perjalanan dapat dilakukan dengan cepat. Setelah dekat dengan Pulau Neraka, dia menyaksikan sesuatu yang membuatnya terheran dan merasa tegang. Sebuah perahu besar kelihatan mendarat di Pulau Neraka. Jelas bukan perahu Pulau Neraka yang kecil-kecil. Perahu itu besar sekali, perahu layar yang hanya dipergunakan untuk pelayaran jauh. Dan perahu itu pun dalam keadaan payah, jelas kelihatan bekas diamuk badai. Tiang layarnya patah, layarnya cabik-cabik dan perahu itu tidak ada orangnya sama sekali, berdiri miring di pantai Pulau Neraka. Apakah yang telah terjadi di Pulau Neraka?

Ternyata bahwa seperti juga pulau lain, Pulau Neraka tidak luput dari amukan badai. Hanya karena letaknya agak jauh dari pusat amukan badai, maka penderitaannya tidak sehebat pulau lain, terutama Pulau Es. Air juga naik tinggi dan menenggelamkan setengah bagian pulau ini. Banyak pula penghuninya yang tidak keburu lari ke tempat tinggi lalu diseret dan ditelan badai. Perahu-perahu lenyap, pohon-pohon yang berada di tepi pantai bobol semua. Dan setelah badai mereda, sebuah perahu besar terdampar di tepi pantai. Perahu itu adalah perahu bajak laut!

Setelah air menyurut, para bajak laut yang terdiri-dari dua puluh lima orang itu segera mendarat. Mereka itu kelelahan dan kelaparan, bahkan ada lima orang di antara mereka tewas ketika badai mengamuk sehingga jumlah mereka hanya tinggal dua puluh lima orang itulah. Mereka mendarat dikepalai oleh raja bajak yang memimpin mereka, raja yang amat terkenal di sepanjang pantai muara-muara sungai Huangho dan Yangce.

Kepala bajak ini adalah seorang laki-laki tinggi besar yang buta sebelah matanya. Mata kiri yang buta karena tusukan pedang lawan dalam pertandingan, kini ditutupi oleh sebuah kain hitam sehingga ia kelihatan lebih menyeramkan lagi. Tubuhnya tinggi besar, dan di antara para nelayan dan pedagang yang suka berperahu dia dikenal sebagai Tok-gan-hai-liong (Naga Laut Mata Satu), sedangkan nama aslinya adalah Koan Sek.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa perahu mereka yang diamuk oleh badai dahsyat itu telah mendarat di Pulau Neraka! Andai kata tahu juga, mereka tentu tidak merasa takut karena pada waktu itu nama Pulau Neraka hanya dikenal oleh orang-orang Pulau Es. Untuk dunia ramai, yang dikenal hanyalah Pulau Es, yang dikenal sebagai tempat yang hanya terdapat dalam sebuah dongeng. Betapa pun juga, Pulau Es merupakan nama yang ditakuti oleh semua orang termasuk para bajak. Akan tetapi karena pulau di mana perahu mereka mendarat bukanlah Pulau Es, melainkan pulau yang hitam penuh tetumbuhan, mereka menjadi berani.

Setelah badai mereda dan air menyurut, mereka lalu menyerbu ke tengah pulau. Untung bagi mereka bahwa badai yang amat dahsyat itu membuat air laut naik dan mengamuk di daratan pulau sehingga binatang-binatang berbisa pun menjadi panik dan ketakutan, lari bersembuyi dan belum berani keluar. Andai kata mereka itu berani menyerbu pulau dalam keadaan biasa, tentu mereka akan menjadi korban binatang-binatang itu dan sukarlah dibayangkan apa akan jadinya. Mungkin sekali tidak ada di antara mereka yang akan dapat lolos betapa pun liar, ganas dan lihai mereka itu.

Dapat dibayangkan betapa heran dan girangnya hati para bajak itu ketika mendapat kenyataan bahwa di tengah pulau itu terdapat pondok-pondok yang dibuat oleh manusia! Akan tetapi keheranan mereka segera berubah menjadi kekagetan hebat ketika para penghuni pulau itu menyambut mereka dengan serangan dahsyat tanpa peringatan apa-apa. Karena mereka adalah bajak-bajak yang sudah biasa berkelahi dan mengadu nyawa, maka serbuan para penghuni Pulau Neraka itu mereka sambut dengan gembira. Mereka mengira bahwa penghuni pulau itu adalah orang-orang biasa saja. Maka besar sekali kekagetan mereka ketika mendapat kenyataan betapa kurang lebih dua puluh orang, yaitu sisa penghuni Pulau Neraka yang tidak dibasmi oleh badai, yang berani menyambut mereka dengan serangan itu rata-rata memiliki kepandaian hebat!

Terjadilah perang tanding yang seru dan mati-matian. Bajak laut pimpinan Tok-gan-hai-liong itu pun bukan orang-orang biasa melainkan penjahat-penjahat pilihan yang selain kuat dan ganas, juga rata-rata pandai ilmu silat. Tok-gan-hai-liong Koan Sek sendiri sendiri adalah seorang ahli bermain senjata ruyung yang ujungnya merupakan sebuah bola baja yang berat dan keras. Ia memiliki seorang pembantu yang sebetulnya adalah sute-nya (adik seperguruan) sendiri yang bernama Coa Liok Gu, seorang ahli pedang yang lihai sekali.

Para penghuni Pulau Neraka masih terguncang oleh amukan badai, bahkan ketua mereka, Ouw Kong Ek sedang menderita sakit hebat. Semenjak penyerbuan pasukan Pulau Es yang dipimpin oleh Han Ti Ong, Ouw Kong Ek jatuh sakit. Mungkin karena dia merasa terlalu marah, dan mungkin juga karena usianya yang sudah tua. Penyerbuan dari Pulau Es itu merupakan hal yang amat menyakitkan hatinya, dan juga hati para penghuni Pulau Neraka, mendatangkan rasa dendam yang lebih mendalam. Apalagi melihat betapa catatan pengobatan dari Kwa Sin Liong telah dihancurkan oleh Han Ti Ong, hati Ouw Kong Ek merasa sakit sekali. Untung masih ada beberapa macam obat yang masih dihafal olehnya, akan tetapi sebagian besar telah dibasmi oleh Raja Pulau Es yang marah itu.

Pada saat bajak laut menyerbu, Ouw Kong Ek tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Dia dijaga dan dirawat oleh cucunya, Ouw Soan Cu. Maka dapat dibayangkan betapa kaget hati kakek ini ketika ada anak buahnya yang datang melapor bahwa pulau yang baru saja diamuk badai itu kini disebu oleh sepasukan bajak laut yang ganas dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi!

"Keparat...!" kakek itu meloncat bangun, akan tetapi terguling kembali.

Soan Cu segera memegang lengan kakeknya, membantunya untuk rebah kembali. "Tenanglah, Kongkong! Biarlah aku yang keluar untuk membantu teman-teman membasmi bajak laut yang tidak tahu diri itu."

Ouw Kong Ek terpaksa hanya mengangguk karena dia sendiri masih tidak kuat untuk bangun, apalagi bertempur. "Hati-hatilah, Soan Cu..."

Dia percaya akan kepandaian cucunya yang tentu akan dapat mengusir bajak-bajak laut yang biasanya hanya terdiri orang-orang kasar itu. Dengan pedang di tangan Soan Cu lalu berlari ke luar. Ia melihat anak buahnya sudah bertanding mati-matian melawan bajak-bajak yang ganas. Di sebelah sana terlihat seorang wanita Pulau Neraka digeluti oleh dua orang laki-laki kasar sampai wanita itu menjerit-jerit, namun dua orang laki-laki itu malah tertawa-tawa dan merobek-robek pakaian wanita itu.

Soan Cu menjadi marah sekali. Dia mengeluarkan teriakan marah, tubuhnya yang ramping mencelat ke depan, pedangnya menyambar dan dua orang bajak yang sedang memperkosa wanita itu roboh dengan leher terkuak lebar dan hampir putus! Wanita itu cepat membereskan pakaiannya, menyambar goloknya dan seperti seekor harimau kelaparan dia membacoki tubuh dua orang bajak tadi.

Melihat sepak terjang Soan Cu yang kembali sudah merobohkan dua orang bajak, Tok-gan-hai-liong Koan Sek dan Coa Liok Gu, dibantu oleh beberapa orang bajak lain cepat mengepung dan mengeroyoknya. Namun Soan Cu mengamuk hebat dan pedangnya berubah menjadi segulung sinar terang yang menyambar dahsyat, membuat dua orang pimpinan bajak itu terkejut dan harus memainkan senjata dengan hati-hati sekali agar jangan sampai mereka menjadi korban kedahsyatan sinar pedang yang dimainkan oleh dara itu.

"Lepas tulang ikan!" tiba-tiba kepala bajak itu memberi aba-aba kepada sute-nya dan mereka berdua telah meloncat mundur, membiarkan anak buah mereka yang empat orang banyaknya melanjutkan pengeroyokan. Mereka berdua lalu mengayun tangan berkali-kali ke arah Soan Cu. Sinar lembut bertubi-tubi menyambar ke arah Soan Cu dari depan dan belakang.

Dara ini memandang rendah senjata rahasia mereka. Dia adalah seorang dara Pulau Neraka, sudah terlalu banyak racun dikenalnya bahkan dia telah menggunakan obat anti racun, maka dia tidak terlalu khawatir ketika sebuah di antara senjata rahasia lawan yang lembut itu mengenai pahanya. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia merasa kakinya itu setengah lumpuh dan begitu dia menggerakkan pedang, tubuhnya terhuyung, kepalanya pening.

"Aihhh...!" dia berseru nyaring, lebih banyak heran dari-pada khawatir.

Dara ini tidak tahu bahwa lawannya menggunakan am-gi (senjata gelap) berupa tulang berbentuk duri dari sirip semacam ikan laut yang berbisa. Bisa dari ikan laut ini tentu saja tidak dapat disamakan dengan bisa dari binatang darat, maka bisa yang asing ini tidak dapat ditolak oleh obat anti racun yang dipakainya.

"Sute, tangkap nona manis ini...!" teriak Koan Sek dengan girang.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara gerengan yang dahsyat dan yang membuat mereka kaget bukan main. Dua orang bajak mendengar suara itu dekat sekali di belakang. Mereka segera menengok dan... mereka lantas pula terjengkang dan merangkak untuk melarikan diri dengan ketakutan. Kiranya yang mengerang itu adalah seekor binatang raksasa hitam yang menakutkan. Seekor beruang yang lebar moncongnya cukup untuk mencaplok kepala mereka sekaligus!

Sin Liong yang datang bersama beruang itu cepat meloncat mendekati Soan Cu. Ia merampas pedang dari tangan dara itu dan memondongnya dengan tangan kiri, kemudian sekali meloncat dia telah berada di punggung beruang. Lengan kirinya memeluk dan menjaga tubuh Soan Cu yang dipangkunya karena dara itu telah pingsan, sedangkan tangan kanan menggerakkan pedang dara itu sambil berseru.

"Kakak Beruang, lawan mereka yang berani mendekat!"

Beruang itu menggereng-gereng. Ketika melihat dari kiri ada sinar menyambar, yaitu sinar pedang yang digerakkan oleh Coa Liok Gu, sute dari kepala bajak, tiba-tiba kaki depan kiri yang kini dipergunakan seperti tangan itu bergerak menangkis, bukan menangkis pedang melainkan mencengkeram kepala Coa Liok Gu.

Tentu saja orang ini sangat kaget. Cepat ia merendahkan tubuh, membalikkan pedang dan siap untuk menyerang lagi. Begitu lengan beruang itu kembali menyambarnya, dia meloncat ke atas dan menusukan pedangnya mengarah bagian antara kedua mata beruang itu.

"Cringgg...!!" pedangnya terpental dan dia harus cepat melempar tubuh ke belakang kalau tidak ingin dadanya robek oleh cakar beruang setelah pedangnya ditangkis oleh Sin Liong tadi.

"Siuuut...!!" Senjata ruyung berujung baja di tangan Koan Sek sudah bergerak menyambar dengan ganas, menghantam punggung beruang hitam dengan kecepatan kilat dan dengan tenaga dahsyat.

"Cringgg...! Tranggg...!!" dua kali senjata berat itu ditangkis oleh Sin Liong dan dua kali pula kepala bajak itu berseru kaget karena telapak tangannya hampir terkupas kulitnya dan terasa panas serta perih.

Pada saat Koan Sek terbelalak dan terheran, beruang itu sudah membalikkan tubuh sambil kaki depannya yang kanan menampar. Kepala bajak itu mencoba menangkis, namun senjatanya terlepas dari pegangannya dan beruang itu sudah menubruknya, bahkan siap mencengkeram ke arah lehernya.

"Kakak Beruang, jangan ...!" Sin Liong membentak.

Beruang itu terkejut dan ragu-ragu, sehingga kesempatan itu dapat dipergunakan oleh Koan Sek untuk meloncat jauh ke belakang. Dia dan pembantu utamanya, Coa Liok Gu berdiri dengan muka pucat memandang pemuda yang menunggang beruang itu membawa pergi tubuh dara jelita yang pingsan. Biar pun pedang masih berada di tangannya, Coa Liok Gu tidak lagi berani menyerang. Dia maklum bahwa selain beruang raksasa itu amat kuat, juga pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.

Sin Liong merasa bingung dan gelisah menyaksikan pertempuran hebat itu. "Hentikan pertempuran...!" dia berseru berkali-kali, namun percuma saja. Para bajak laut dan penghuni Pulau Neraka adalah orang-orang kasar yang pada saat itu sedang marah, maka sukar untuk dibujuk.

Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi dan panjang. Suara itu segera disusul suara berdengung-dengung dan berdesis-desis. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Sin Liong ketika dia melihat datangnya binatang-binatang kecil yang berbisa. Ular, kelabang, kalajengking dan sebangsanya berdatangan dari semua penjuru, merayap cepat seolah-olah digerakan oleh suara melengking itu, dan yang lebih mengerikan lagi, lebah-lebah putih datang pula beterbangan!

Saking kagetnya Sin Liong melompat turun dari punggung beruang. Kini beruang itu pun terkejut dan ketakutan, seolah-olah binatang raksasa ini sudah mengerti bahwa bahaya maut datang mengancamnya.

"Uhhh... apa yang terjadi...?" Soan Cu mengeluh dan siuman dari pingsannya.

Sin Liong agak lega melihat dara itu sudah siuman. "Bagaimana lukamu?" tanyanya.

"Nyeri sekali, panas... eh, siapa yang memimpin binatang-binatang berbisa itu?" Soan Cu segera turun dari pondongan Sin Liong. "Cepat pergunakan obat penolak ini..."

Dia mengeluarkan sebungkus obat penolak dari ikat pinggangnya. Setelah menaburkan obat bubuk di sekeliling mereka bertiga, yaitu Soan Cu, Sin Liong dan beruang betina, Soan Cu berkata lagi, "Sin Liong tolong... kau tangkap Si Mata Satu itu... Aku membutuhkan obat penawar racun am-gi-nya (senjata gelapnya)...."

Melihat betapa wajah dara itu pucat sekali tanda menderita kenyerian hebat, Sin Liong maklum bahwa tentu dara itu terkena senjata rahasia yang mengandung racun luar biasa sekali. Maka tanpa menjawab tubuhnya mencelat kearah Koan Sek yang masih bengong memandang ke depan.

Mata Koan Sek terbelalak ketika melihat betapa anak buahnya mulai menjadi korban pengeroyokan binatang-binatang berbisa. Maka ketika tubuh Sin Liong menyambar, dia terkejut sekali, mengira bahwa pemuda itu akan menyerangnya. Dia tadi sudah mengambil kembali senjatanya, maka tanpa banyak cakap lagi dia sudah mengayun senjatanya menghantam ke arah Sin Liong.

Pemuda ini tadi telah melepaskan pedangnya. Melihat betapa dia disambut serangan dahsyat, cepat dia miringkan tubuhnya, membiarkan senjata berat itu lewat. Secepat kilat kedua tangannya lalu menyambar. Sebelum Koan Sek tahu apa yang terjadi, senjatanya telah terampas dan dibuang oleh pemuda itu sedangkan tubuhnya sudah diangkat dan dipanggul seperti seorang anak kecil saja. Percuma dia meronta, karena pemuda itu sudah meloncat seperti terbang, kembali ke dalam lingkaran obat penolak yang ditaburkan Soan Cu.

Koan Sek menggigil. Selain dia maklum betapa lihainya pemuda ini, juga dia merasa ngeri sekali menyaksikan apa yang terjadi di luar lingkaran obat bubuk itu. Terdengar jerit dan pekik mengerikan. Orang-orang Pulau Neraka telah mundur dan menonton sambil tertawa-tawa. Akan tetapi anak buah bajak laut itu menghadapi penyerangan binatang-binatang berbisa dan sama sekali mereka tak berdaya. Apalagi penyerangan lebah-lebah putih membuat mereka panik. Mengerikan sekali melihat mereka berkelojotan merintih-rintih dan menangis menggerung-gerung karena tidak tahan menderita rasa nyeri yang menyengati sekujur tubuh.

"Cepat bertindak, halau mereka, Soan Cu!" Sin Liong berkata dengan alis berkerut. Biar pun yang dikeroyok binatang-binatang itu adalah kaum bajak, namun dia tidak dapat menyaksikan peristiwa mengerikan itu.

Soan Cu menggeleng kepala. "Tidak mungkin. Mereka digerakkan oleh suara melengking itu."

"Suara apa itu? Siapa yang membunyikan?"

Soan Cu tersenyum dan menggigit bibirnya menahan rasa nyeri. Pahanya seperti dibakar dan rasa nyeri menusuk-nusuk jantung. "Siapa lagi? Satu-satunya orang yang dapat melakukannya hanyalah Kongkong. Augghh...!" dara itu roboh pingsan lagi dalam rangkulan Sin Liong.

"Aduh celaka..., binatang-binatang itu...." Tok-gan-hai-liong Koan Sek menggigil. Dia hendak lari dari tempat itu ketika melihat bagaimana pembantunya, Coa Liok Gu, sudah sibuk memutar pedang untuk berusaha mengusir lebah-lebah putih yang mengeroyoknya.

"Kalau keluar dari sini, engkau pun akan mengalami nasib yang sama," kata Sin Liong menunjuk ke arah lingkaran putih dari obat penolak. "Binatang-binatang itu tidak berani memasuki lingkaran ini."

Koan Sek memandang dan matanya terbelalak ngeri melihat betapa ular-ular beracun yang bermacam-macam warnanya itu benar saja membalik lagi ketika mendekati garis lingkaran. Bahkan lebah-lebah putih yang terbang dekat, agaknya mencium bau penolak itu dan mereka itu pun terbang membalik, mengamuk dan menyerang para bajak yang berada di luar lingkaran. Saking ngerinya melihat betapa Coa Liok Gu menjerit dan roboh karena kakinya tergigit seekor ular, kemudian betapa pembantunya yang juga merupakan sute-nya melolong-lolong dan bergulingan dikeroyok banyak sekali binatang yang mengerikan, kepala bajak ini tak dapat lagi menahan dirinya dan dia menjatuhkan diri berlutut!

Sin Liong sendiri merasa ngeri menyaksikan peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Kalau saja dia dapat melihat Ouw Kong Ek, tentu dia akan meloncat dan memaksa kakek itu menghentikan pekerjaannya yang kejam, membunuh para bajak seperti itu. Akat tetapi celakanya, suara itu melengking tinggi dan sukar diketahui dari mana datangnya, bahkan kakek itu pun tidak tampak. Pula, mana mungkin dia berani meninggalkan Soan Cu yang pingsan itu bersama kepala bajak?

Maka pemuda ini merasa jantungnya seperti disayat-sayat menyaksikan pembunuhan yang amat kejam itu. Melihat betapa dua puluh empat orang bajak menemui kematian secara mengerikan, berkelojotan dan melolong-lolong, akhirnya suara jeritan mereka makin lemah dan berubah seperti suara binatang disembelih, kemudian tubuhnya tidak berkelojotan lagi dan binatang-binatang kecil berbisa yang kelaparan itu masih menggerogoti kulit dan daging mereka!

Kemudian tampaklah Ouw Kong Ek, Tocu Pulau Neraka. Kakek ini datang ke tempat itu sambil merangkak dengan susah payah. Tubuhnya kelihatan lemah dan kurus, mukanya pucat dan sambil merangkak itu dia meniup sebatang alat tiup terbuat dari-pada batang alang-alang, menyerupai suling kecil. Pantas saja suaranya melengking tinggi dan aneh. Beberapa orang anggota Pulau Neraka segera maju dan mengangkat ketua mereka, memapahnya datang.

Kini binatang-binatang itu berangsur-angsur merayap pergi setelah Ouw Kong Ek merubah suara tiupan sulingnya. Akhirnya yang tinggal hanya mayat-mayat dua puluh empat orang bajak dalam keadaan mengerikan, dan mayat tujuh orang penghuni Pulau Neraka yang tewas dalam pertempuran.

"Ahhh, engkau pula yang menolong cucuku, Taihiap?" Ouw Kong Ek dituntun anak buahnya datang mendekat.

Sin Liong mengerutkan alisnya. "Tocu, sungguh kejam engkau membunuh mereka seperti itu."

Kakek itu terbelalak. "Aku? kejam? Dan mereka ini...?" dia menuding ke arah mayat-mayat para bajak laut. "Dan...hei, siapa dia ini? Ah, bukankah dia ini pemimpin mereka?" Ouw Kong Ek sudah melangkah maju menghampiri Koan Sek yang berdiri dengan muka pucat.

"Tahan dulu, Tocu! Memang dia pemimpin bajak, akan tetapi nyawa cucumu berada di dalam tangannya!"

"Soan Cu...!" Ouw Kong Ek memandang tubuh dara yang dipondong oleh Sin Liong dan berada dalam keadaan pingsan itu. "Mengapa dia?"

"Terkena senjata beracun," jawab Sin Liong, kemudian dia memandang Koan Sek dan membentak. "Hayo kau berikan obat penawar senjata gelapmu!"

Tok-gan-hai-liong Koan Sek adalah seorang yang sudah berpengalaman, seorang yang kenyang menjelajah di dunia kang-ouw, maka dia tentu saja cerdik sekali. Tadi ketika menyaksikan betapa semua anak buahnya, juga sute-nya, tewas secara mengerikan, dia ketakutan setengah mati dan kehilangan akalnya. Akan tetapi sekarang setelah dia melihat kesempatan untuk menolong diri, timbul kembali keberaniannya dan dia tersenyum.

"Agaknya kita telah salah masuk. Tidak tahu pulau apakah ini dan siapa kalian ini?" tanyanya kepada Sin Liong karena dia merasa jeri sekali menghadapi pemuda yang dia tahu amat lihai dan sama sekali bukan tandingannya itu.

"Kau belum tahu? Ini adalah Pulau Neraka dan dia itu adalah ketuanya," jawab Sin Liong sambil menuding kepada Ouw Kong Ek. "Sedangkan nona ini adalah cucunya. Maka kau harus cepat memberikan obat penawarnya."

"Ha-ha, mudah saja! Mudah saja memberi obat penawarnya. Aihh, kiranya kami telah memasuki sebuah pulau iblis dengan penghuni-penghuninya yang seperti iblis pula! Benar-benar kami telah membuat kesalahan besar! Orang muda, mudah saja mengobati luka nona ini, akan tetapi bagaimana dengan aku sendiri? Anak buahku telah tewas semua dan aku dalam cengkeraman kalian!"

"Engkau... engkau akan kusiksa, kucincang sampai hancur!" Ouw Kong Ek membentak.

"Ha-ha-ha, boleh! Lakukan sekarang, karena aku tidak takut mati setelah aku melihat bahwa aku mempunyai banyak teman, terutama sekali cucumu. Kalau orang tidak lagi menyayangkan kematian seorang dara jelita muda remaja seperti dia ini, apalagi kematian seorang tua bangka seperti aku. Ha-ha-ha! Biarlah aku mati ditemani oleh dara remaja ini!"

Ouw Kong Ek sudah marah sekali, kedua tangannya dikepal sehingga suling batang alang-alang itu hancur di tangannya.

Melihat kemarahan ketua Pulau Neraka itu, Sin Liong berkata, "Ouw-tocu apa yang dikatakannya benar. Sudah kuperiksa luka cucumu dan ternyata dia terkena racun yang aneh sekali yang belum pernah aku melihatnya. Maka biarlah kita menukar keselamatannya dengan keselamatan Soan Cu. Betapa pun juga, nyawa Soan Cu jauh lebih berharga dari-pada kehidupan seorang sesat seperti dia."

"Ha-ha-ha, itu baru omongan yang tepat!" Tok-gan-hai-liong Koan Sek yang merasa ‘mendapat angin’ berkata dengan dada dibusungkan. Dia tidak takut lagi sekarang. Nyawa cucu ketua Pulau Neraka berada di tangannya. Apalagi yang ditakutinya?

"Iblis keparat! Hayo kau berikan obat untuk cucuku dan kau boleh minggat dari sini!" Ouw Kong Ek membentak.

"Ha-ha-ha, aku Tok-gan-hai-liong Koan Sek bukan seorang tolol," dia lalu menoleh kepada Sin Liong. "Orang muda apakah kedudukanmu di Pulau Neraka ini?"

Dia memang tidak dapat menduga karena tadi dia mendengar ketua Pulau Neraka menyebut taihiap (pendekar besar) kepada pemuda ini. Dan kalau ada yang dia percaya di situ, maka satu-satunya orang adalah pemuda ini.

"Aku bukan penghuni Pulau Neraka, aku adalah seorang dari Pulau Es...."

"Heeehhh...?!" mata Tok-gan-hai-liong yang tinggal satu itu terbelalak dan mukanya pucat. Dia merasa seolah-olah dalam mimpi. Setelah bertemu dengan Pulau Neraka yang aneh dan mengerikan di mana semua anak buahnya tewas, dia bertemu pula dengan seorang pemuda sakti yang mengaku datang dari Pulau Es, sebuah sebutan yang tadinya dikiranya hanya terdapat dalam dongeng tahayul belaka. Mimpikah dia? Ataukah dia sudah mati ditelan badai dan sekarang ini adalah pengalaman dari rohnya?

"Pulau... Pulau... Es...?" dia berkata lirih.

Sin Liong mengangguk tak sabar. Dia tadi mengaku sebenarnya, siapa mengira malah membuat kepala bajak ini menjadi termangu-mangu seperti orang sinting.

"Kalau begitu, aku hanya mau memberikan obat penawarnya jika engkau yang mengantarku sampai ke sebuah perahu di pantai Pulau Neraka ini."

"Jahanam, kau tidak percaya kepadaku?!" Ouw Kong Ek membentak dan para pembantunya sudah mengangkat senjata mengancam.

"Terserah, bunuhlah. Aku toh akan mati bersama dia ini."

Sin Liong menyerahkan tubuh Soan Cu yang masih pingsan kepada kakeknya, kemudian berkata, "Ouw-tocu, biarlah kita memenuhi permintaannya. Harap sediakan perahu untuknya."

Terpaksa Ouw Kong Ek menggerakkan kepalanya, memberi isyarat kepada anak buahnya, kemudian memandang kepada kepala bajak itu dengan mata mendelik. Koan Sek lalu berjalan bersama Sin Liong dan dua anak buah Pulau Neraka menuju ke tepi laut. Setelah sebuah perahu dipersiapkan, kepala bajak itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya. Benda itu ternyata adalah seekor kuda laut sebesar ibu jari tangan yang sudah kering.

"Nona itu terkena racun yang terkandung dalam duri ikan yang tidak dapat diobati kecuali dengan ini. Tumbuklah hingga menjadi bubuk dan masak, lalu minumkan airnya, tentu dia akan sembuh."

Sin Liong mengerutkan alisnya. Sudah banyak pengetahuannya tentang pengobatan akan tetapi tentu saja belum pernah dia mengenal rahasia racun yang keluar dari dalam lautan. Dia menyerahkan bangkai kuda laut kering itu kepada dua orang penghuni Pulau Neraka sambil berkata, "Berikan ini kepada Ouw-tocu, suruh menumbuk halus dan masak dengan air, kemudian minumkan kepada Nona. Bagaimana hasilnya supaya cepat melapor ke sini. Aku menunggu di sini."

Dua orang itu menerima kuda laut mati dan berlari memasuki pulau, sedangkan Sin Liong lalu duduk di tepi pantai dengan sikap tenang.

"Kau tidak mau membiarkan aku pergi?" Koan Sek bertanya penuh khawatir.

"Jangan tergesa-gesa," jawab Sin Liong. "Aku harus yakin dulu bahwa obatmu benar-benar manjur, baru aku akan membolehkan engkau pergi. Bukankah itu adil namanya?"

Koan Sek menghela napas dan menjatuhkan diri duduk di dalam perahu. Dia maklum bahwa kalau melawan, dia tidak akan menang. "Dia pasti akan sembuh. Dalam keadaan seperti ini, mana aku berani main-main?"

Sin Liong diam saja.

Kepala bajak itu menggunakan mata tunggalnya untuk memandangi pemuda itu penuh selidik, kemudian bertanya, "Orang muda, benarkah engkau dari Pulau Es?"

Sin Liong mengangguk.
"Dan siapa namamu?"
"Kwa Sin Liong. Mengapa engkau bertanya-tanya?"
"Tadinya aku mengira bahwa Pulau Es hanyalah sebuah dongeng..."

"Hemm.., memang sekarang hanya tinggal dongeng...." Sin Liong berkata sambil merenung jauh membayangkan keadaan Pulau Es yang telah terbasmi oleh badai dan kini tinggal menjadi sebuah pulau kosong yang menyedihkan.

"Ngukk... nguukkk..."

Sin Liong menoleh dan tersenyum. "Eh, Enci Beruang. Kau menyusulku?"

Beruang itu menghampiri, dan memperlihatkan taringnya ketika dia melihat Koan Sek di atas perahu di depan pemuda itu.

"Binatang yang hebat!" Koan Sek berkata dan bulu tengkuknya berdiri. Pemuda ini seperti bukan manusia biasa, bahkan mempunyai binatang peliharaan seperti itu!

"Kau bilang tadi... tinggal dongeng apa maksudmu?"

"Tidak apa-apa, lupakanlah," kata Sin Liong sambil mengelus beruang yang sudah bertiarap di depannya.

"Orang muda she Kwa... eh, Tai-hiap... kenapa kau mau membebaskan aku?"

Sin Liong mengangkat mukanya memandang. Kepala bajak itu menjadi lebih heran lagi melihat betapa pandang mata pemuda itu sama sekali tidak membayangkan kebencian atau permusuhan dengannya.

"Mengapa tidak? Engkau pun membebaskan Soan Cu." Sin Liong menengok dan tampaklah dua orang tadi datang berlari-lari.

"Kwa-taihiap, Nona sudah sembuh!"

Sin Liong mengangguk kepada Koan Sek. "Pergilah, cepat! Lebih cepat lebih baik dan harap kau jangan sekali-kali mendekati pulau ini."

Koan Sek menjawab, "Terima kasih. Satu kali pun sudah cukuplah!" dia mengkirik. "Pulau Iblis seperti ini siapa yang ingin melihatnya lagi?" dia lalu menggerakkan dayungnya dan perahu meluncur cepat meninggalkan Pulau Neraka.

Ketika Sin Liong bersama beruangnya tiba kembali ke tengah pulau, benar saja bahwa Soan Cu telah sembuh sama sekali dari pengaruh racun. Hanya luka di pahanya yang tinggal dan luka itu sudah diobati oleh kongkong-nya. Para penghuni Pulau Neraka sedang sibuk menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan mengerikan itu dan Sin Liong lalu diajak masuk ke pondoknya oleh Ouw Kong Ek dan Soan Cu.

"Taihiap, lagi-lagi engkau yang datang menolong kami," kata Ouw Kong Ek.

"Kalau engkau tidak segera datang, entah bagaimana dengan aku. Mungkin sudah mati, Sin Liong," kata Soan Cu dengan mata bersinar-sinar penuh kagum dan terima kasih.

"Ahh, mengapa Tocu dan kau masih bersikap sungkan terhadap aku? Bukankah kita ini sahabat? Kedatanganku bukan hanya kebetulan saja. Aku datang dengan maksud yang sama seperti setahun yang lalu, yaitu mencari Sumoi. Apakah dia tidak datang ke sini?"

Soan Cu dan kakeknya memandang kaget dan juga heran, dan di dalam pandang mata Ouw Kong Ek terkandung rasa hati tidak senang. Sin Liong maklum akan ketidak-senangan hati kakek itu, maka dia menarik napas panjang.

"Harap saja Tocu tidak menyangka yang bukan-bukan terhadap Sumoi. Apa yang dilakukan oleh Suhu di sini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Sumoi," kata Sin Liong.

"Jadi Taihiap sudah tahu apa yang diperbuat oleh Han Ti Ong di sini?"

Sin Liong mengangguk. "Aku dapat menduganya. Tentu dia marah-marah karena puterinya pernah ditahan di sini."

"Bukan hanya marah-marah!" kata Soan Cu mengepal tinju. "Orang itu sombong sekali! Dia menghina kakek. Biar pun tidak melakukan pembunuhan tapi dia memukul semua orang!"

"Kau juga dipukulnya?" Sin Liong bertanya.

"Tadinya, melihat aku seorang wanita dan masih muda, dia tidak mau memukulku. Akan tetapi karena melihat kakek dipukul, aku menyerangnya dan aku roboh oleh tamparan. Dia memang sakti, akan tetapi ganas dan kejam, bahkan semua catatanmu dihancurkan! Sekali waktu kami akan menuntut balas, kami akan menyerang Pulau Es!"

Sin Liong menarik napas panjang. "Lupakan saja niat itu, selain tidak baik juga tidak ada gunanya. Kerajaan Pulau Es tidak ada lagi sekarang, telah musnah."

"Hei...? Apa maksudmu, Taihiap...?" kakek itu bertanya sambil terbelalak.

"Apa yang telah terjadi?" Soan Cu juga bertanya.

"Dilanda badai... habis seluruhnya! Semua penghuninya termasuk Suhu dan seluruh benda di sana habis terbasmi kecuali bangunan istana yang telah kosong sama sekali..." Sin Liong lalu menuturkan dengan singkat mala-petaka yang penimpa Pulau Es, dan betapa secara aneh dan kebetulan saja dia dan Sumoi-nya terluput dari bencana.

Kakek dan cucu itu mendengarkan dengan melongo, kemudian kakek itu bertepuk tangan dan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha! Ha-ha-ha-ha! Dendam ratusan tahun lenyap dalam sekejap mata! Kami orang-orang buangan yang dianggap berdosa, dianggap dikutuk Tuhan, malah masih dapat hidup melanjutkan riwayat. Sedangkan penghuni Pulau Es yang suci dan agung, kaum bangsawan yang tinggi, sekali sapu saja musnah! Ha-ha-ha, siapa yang lebih dilindungi Tuhan? Han Ti Ong, tanpa kami bergerak, engkau dan kerajaanmu lenyap sudah!" kakek itu tertawa-tawa sampai air matanya keluar sehingga sukar dikatakan apakah dia itu tertawa, ataukah menangis.

“Mengapa Taihiap sekarang mencari Nona Swat Hong ke sini? Apa yang terjadi dengan dia?"

Sin Liong lalu menceritakan niat perjalanannya bersama Swat Hong, yaitu untuk mencari ibu Swat Hong yang sampai kini tidak diketahui berada di mana. Dan betapa di jalan mereka menjadi bingung dan tersesat karena badai telah menciptakan pemandangan yang berbeda di permukaan laut sehingga mereka mendarat di gunung es dan betapa dia menemukan beruang hitam.

"Sumoi berangkat melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka karena disangkanya ibunya berada di sini, sedangkan aku mengobati beruang...." Sin Liong menutup ceritanya, tentu saja dia tidak menceritakan kemarahan Swat Hong kepadanya.

"Apakah dalam beberapa hari ini dia tidak datang ke sini?"

Soan Cu menjawab, "Untung saja dia tidak datang, Sin... eh, Taihiap."

"Soan Cu mengapa engkau meniru kakekmu yang bersungkan kepadaku dan menyebut Taihiap segala?"

"Biarlah, Taihiap," kata Ouw Kong Ek. "Tidak pantas kalau dia menyebut namamu begitu saja. Dan engkau memang menolong kami dan pantas disebut Taihiap karena kepandaianmu tinggi sekali."

"Kau katakan tadi untung Sumoi tidak datang ke sini, mengapa?" tanya Sin Liong kepada Soan Cu.

"Andai kata dia datang, tentu akan terjadi apa-apa yang tidak baik antara dia dan Kongkong. Ketahuilah, semenjak Raja Pulau Es datang mengacau di sini, Kongkong jatuh sakit, dan kebencian kami semua terhadap Pulau Es makin mendalam. Maka kalau Sumoi mu, Swat Hong datang, tentu akan terjadi hal yang tidak baik," jawab Soan Cu.

Sin Liong mengangguk-angguk. Ia merasa lega bahwa sumoi nya tidak mendahului datang ke Pulau Neraka, akan tetapi juga menimbulkan kegelisahannya karena dia jadi tidak tahu di mana sumoinya yang pemarah itu kini berada!

“Bajak-bajak laut itu, dari mana datangnya dan mengapa mengacau ke sini?" tanyanya.

"Entah. Tahu-tahu mereka muncul dan perahu besar mereka terdampar di tepi pulau."

"Agaknya mereka juga diamuk badai."

"Mungkin," jawab Soan Cu bimbang, kemudian ia melanjutkan, "Kami diserang selagi Kongkong sakit. Kongkong tidak dapat turun dari pembaringan, maka aku yang menggantikannya. Aku keluar menyambut mereka, akan tetapi karena kurang hati-hati, karena memandang rendah am-gi mereka, aku hampir celaka kalau tidak ada engkau yang datang di waktu yang tepat, Taihiap."

"Akan tetapi, akhirnya biar pun sakit Kongkong-mu dapat membunuh semua bajak laut itu," Sin Liong bergidik ngeri mengenangkan kematian para bajak itu.

"Ugh-ugh...!" kakek itu terbatuk-batuk. "Bajak-bajak macam itu saja kalau aku tidak sakit, kalau Soan Cu tidak memandang rendah dan kalau para penghuni tidak baru saja diamuk badai, tidak ada artinya bagi kami. Kalau binatang-binatang Pulau Neraka tidak bersembunyi ketakutan sehabis diamuk badai, mana mereka mampu masuk? Sudahlah, sekarang saya hendak menyampaikan permohonan yang amat penting bagi Taihiap."

"Ah, Tocu, Di antara kita yang sudah menjadi sahabat, perlu apa banyak sungkan lagi? Kalau ada sesuatu, katakan saja, mana perlu menggunakan permohonan lagi?" jawab Sin Liong.

Akan tetapi tiba-tiba kakek itu turun dari bangkunya dan menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Liong!

Tentu saja pemuda ini menjadi sibuk sekali. Cepat ia membangunkan kakek itu dan berkata, "Tocu, harap jangan begini. Aku yang muda mana berani menerimanya? Ada keperluan apakah? Katakan saja, aku tentu akan membantumu sedapat mungkin," Sin Liong berkata dengan hati tidak enak, menduga akan menghadapi hal yang sulit.

Setelah duduk kembali dan mengatur napasnya yang terengah-engah karena kesehatannya belum pulih kembali dan tubuhnya terasa amat lelah, kakek itu berkata, "Kwa-taihiap, aku sudah tua dan tidak mempunyai keturunan lain kecuali Soan Cu. Taihiap sudah melihat sendiri keadaan di Pulau Neraka yang merupakan tempat tidak baik untuk seorang dara seperti Soan Cu. Oleh karena itu, setelah kini kerajaan Pulau Es tidak ada, berarti bahwa Pulau Neraka telah bebas dan kami bukanlah orang-orang buangan lagi. Soan Cu juga bukan keturunan orang buangan lagi dan sewaktu-waktu kami boleh meninggalkan pulau ini. Karena itu, aku mohon dengan sepenuh hatiku, sudilah Taihiap membawa Soan Cu bersama Taihiap untuk mengenal dunia ramai, dan syukur kalau Taihiap dapat mengatur agar cucuku ini tidak usah lagi kembali dan tinggal di Pulau Neraka ini. Kuharap permohonan ini tidak akan ditolak oleh Taihiap."

Sin Liong mengerutkan alisnya. Permintaan yang sama sekali tidak pernah disangkanya! "Akan tetapi, Ouw-tocu, hendaknya diingat bahwa aku sendiri adalah seorang sebatang kara yang tidak mempunyai apa-apa, tidak mempunyai tempat tinggal dan masih belum kuketahui apa akan jadinya dengan diriku ini."

"Kalau Taihiap merantau, bawalah dia merantau, ke mana saja aku sudah pasrah sepenuhnya. Baik dia akan Taihiap anggap sebagai sahabat, sebagai saudara, atau kalau mungkin... dari lubuk hatiku kuharap sebagai calon jodoh, aku sudah merasa lega dan senang, asal dia tidak tersiksa tinggal di neraka ini."

Sin Liong merasa sukar untuk menolak, akan tetapi juga berat untuk menerima, maka dia menoleh kepada Soan Cu dan berkata, "Soal ini sebaiknya kita serahkan kepada Soan Cu sendiri. Kalau memang dia suka merantau meninggalkan pulau ini, tentu saja aku tidak keberatan mengadakan perjalanan bersama. Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa aku menerima usul perjodohan Tocu, dan sewaktu-waktu dia boleh pergi ke mana saja. Jadi aku tidak terikat oleh perjanjian apa pun juga."

"Taihiap, jangan khawatir. Memang aku sejak dulu tidak kerasan tinggal di sini. Hanya karena kedudukanku sebagai seorang keluarga buangan saja yang mencegah aku meninggalkan Pulau Neraka. Sekarang aku telah bebas, dan betapa pun juga, aku akan pergi dari sini. Hanya kalau bersama Taihiap, tentu hati Kongkong akan merasa lebih aman, dan juga untukku sendiri yang tidak ada pengalaman, melakukan perjalanan bersamamu merupakan hal yang menyenangkan sekali. Aku hendak pergi mencari ayahku, Taihiap."

"Dan aku hendak mencari Swat Hong dan ibunya."

"Kalau begitu, mari kita mencari berdua, siapa tahu dalam mencari Sumoi mu itu , aku dapat bertemu dengan ayahku."

Setelah mendapat banyak pesan dan melihat Kongkong-nya membawa pula bekal berupa pakaian dan sekantung emas simpanan Kongkong-nya, berangkatlah Soan Cu bersama Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka dengan sebuah perahu. Selama hidupnya yang lima belas tahun itu, belum pernah Soan Cu meninggalkan pulau. Maka setelah perahu meluncur jauh, dan dia hampir tidak dapat melihat lagi Kongkong-nya bersama semua sisa penghuni Pulau Neraka yang mengantarnya sampai ke pantai, Soan Cu tak dapat menahan bercucurannya air matanya.

"Soan Cu, mengapa kau menangis? Kalau kau tidak tega meninggalkan kakekmu, masih belum terlambat untuk kembali," kata Sin Liong yang sebetulnya merasa tidak enak sekali memikul kewajiban ini. Biar pun dia tidak terikat sesuatu, namun sedikit banyak dia dibebani keselamatan dara ini. Kalau dara ini wataknya seaneh Swat Hong, dia tentu akan menjadi lebih pusing lagi!

"Ah, tidak, Taihiap. Aku hanya merasa hatiku perih meninggalkan tempat yang sejak lahir menjadi tempat tinggalku itu. Orang sedunia boleh menyebutnya Pulau Neraka, akan tetapi setelah aku berangkat meninggalkan pulau itu, terasa olehku bahwa di situ adalah surga."

Sin Loing tersenyum dan mendayung perahunya lebih cepat lagi. Pernyataan yang keluar dari mulut dara ini merupakan pelajaran yang amat penting baginya, membuka matanya melihat kenyataan bahwa sorga mau pun neraka itu berada dalam hati manusia itu sendiri!

Betapa pun indahnya suatu tempat, kalau tidak berkenan di hati akan merupakan neraka. Sebaliknya betapa pun buruknya suatu tempat, kalau berkenan di hati akan menjadi sorga! Jadi, baik buruk, senang susah, puas kecewa, semua ini bukan ditentukan oleh keadaan di luar, melainkan ditentukan oleh keadaan hati dan pikiran sendiri. Keadaan di luar merupakan kenyataan yang wajar, dan hanya pikiranlah yang menentukan dengan menilai, membandingkan, maka lahirlah puas, kecewa, senang, susah, baik, buruk, dan lain-lain hal yang saling bertentangan itu.

Bahagialah orang yang dapat menghadapi segala sesuatu dengan mata terbuka, memandang segala sesuatu seperti apa adanya, tanpa penilaian, tanpa perbandingan. Orang bahagia tidak mengenal susah senang, karena bahagia bukan susah bukan pula senang, bukan puas bukan pula kecewa, melainkan suatu keadaan di atas itu semua, sama sekali tidak terganggu oleh pertentangan-pertentangan itu.

Perahu yang ditumpangi Sin Liong dan Soan Cu meluncur terus. Ujung depannya yang meruncing membelah air yang tenang seperti sebuah pisau membelah agar-agar biru. Soan Cu sudah melupakan kesedihan hatinya. Kini dara itu memandang ke depan dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar penuh harapan akan masa depan yang berlainan sama sekali dengan keadaan di Pulau Neraka. Banyak sudah dia mendengar dongeng kakeknya yang juga hanya mendengar dari nenek moyangnya tentang keadaan di dunia ramai, dan sekarang dia sedang menuju kepada kenyataan yang akan dilihatnya dengan mata sendiri!

Pusat perkumpulan Pat-jiu Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tangan Delapan) berada di lereng Pegunungan Heng-san. Dari luar tempat itu memang pantas disebut pusat perkumpulan pengemis karena hanya merupakan tempat di dataran tinggi yang dikelilingi pagar bambu yang tingginya hampir dua kali tinggi orang. Pagar yang butut dan bambu-bambu itu mengingatkan orang akan tongkat bambu yang biasa dibawa oleh para pengemis. Akan tetapi kalau orang sempat menjenguk di dalamnya, dia akan terheran-heran menyaksikan sebuah rumah gedung yang pantas juga disebut sebuah istana kecil yang berdiri megah dan mewah sekali! Inilah tempat tinggal Pat-jiu Kai-ong, Si Raja Pengemis yang menjadi ketua Pat-jiu Kai-pang di lereng Heng-san!

Pat-jiu kai-ong sudah berusia kurang lebih tujuh puluh tahun, akan tetapi dia masih kelihatan tangkas dan belum begitu tua. Sungguh pun pakaiannya selalu butut, sebutut tongkatnya, sama sekali tidak sesuai dengan keadaan gedungnya. Hanya kalau hari sudah menjadi gelap saja maka berubahlah raja pengemis ini. Pakaiannya diganti dengan pakaian tidur yang layaknya dipakai seorang pangeran! Dan mulailah kehidupan yang berlawanan dengan keadaan hidupnya di waktu siang, berbeda jauh seperti bumi dan langit.

Di waktu siang, dia lebih patut disebut seorang pengemis kelaparan yang berkeliaran di sekitar rumah gedung itu. Akan tetapi di waktu malam, dengan pakaian indah dan tubuh bersih, dia bersenang-senang makan minum dengan hidangan serba lezat dan mahal, dilayani oleh lima orang selirnya yang muda-muda, cantik dan genit. Pat-jiu Kai-ong tinggal di dalam istananya yang mewah, akan tetapi dikelilingi pagar bambu yang tinggi sehingga tidak tampak dari luar. Ia tinggal bersama lima orang selirnya, lima orang pelayan dan selosin anak buahnya yang merupakan pengawal-pengawalnya.

Selosin orang ini tentu saja merupakan tokoh-tokoh dalam Pat-jiu Kai-pang, karena mereka adalah pembantu yang boleh diandalkan, atau juga murid-murid tingkat satu dari raja pengemis itu. Para pengawal itu melakukan penjagaan siang malam secara bergilir dan mereka tinggal di dalam rumah samping di kanan-kiri istana ketua mereka. Ada pun Pat-jiu Kai-pang mempunyai anggota yang banyak dan yang tersebar luas di kota-kota.

Dengan mengandalkan nama besar perkumpulan itu, terutama sekali nama besar Kai-ong, para anggota itu dapat mengumpulkan sumbangan-sumbangan yang besar dan sebagian dari-pada hasil sumbangan ini mereka setorkan kepada Pat-jiu kai-ong. Inilah yang membuat raja pengemis ini menjadi kaya raya dan dapat hidup mewah sekali.

Selosin orang pembantunya, selain pengawal dan penjaga istananya, juga bertugas untuk turun tangan mewakili ketua mereka apabila ada cabang yang kurang dalam memberi setoran! Pat-jiu Kai-ong sendiri yang sudah hidup makmur jarang meninggalkan istananya di Heng-san. Hanya urusan besar saja yang dapat menariknya pergi meninggalkan tempat yang amat menyenangkan hatinya itu.

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu dia ikut pula memperebutkan Sin-tong Si Anak Ajaib. Pada waktu itu dia ingin cepat-cepat menyempurnakan ilmu yang sedang diciptakan dan dilatihnya, yaitu ilmu Hiat-ciang-hoat-sut (Ilmu Sihir Tangan Darah). Jika pada waktu itu dia berhasil merebut Sin-tong, tentu dalam waktu satu tahun saja ilmunya akan sempurna.

Akan tetapi karena seperti diceritakan di bagian depan, dia gagal dan Sin-tong dibawa pergi oleh pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es, maka dia harus mengorbankan puluhan orang bocah untuk dimakan otaknya dan disedot darah dan sumsumnya. Kini dia telah mahir dengan ilmu hitam yang mengerikan itu, akan tetapi sayangnya, setiap tahun dia harus mengisi tenaga itu dengan pengorbanan seorang bocah!

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, selagi Pat-jiu Kai-ong seperti biasa meninggalkan kehidupan malamnya yang mewah, berpakaian sebagai seorang pengemis berjalan-jalan di dalam taman bunga di belakang istananya, membawa tongkat butut dan berlatih silat di waktu embun pagi masih tebal, tiba-tiba seorang pengawalnya datang menghadap dan melaporkan bahwa ada tiga orang tamu datang ingin bertemu dengan Si Raja Pengemis.

"Hemm, siapakah pagi-pagi begini sudah datang menggangguku?" Pat-jiu Kai-ong berkata dengan alis berkerut.

Akan tetapi karena merasa penasaran, dia tidak memerintahkan pengawalnya mengusir orang itu. Terutama sekali setelah mendengar pelaporan itu bahwa yang datang adalah seorang kakek bersama dua orang muda, seorang dara jelita dan seorang muda tampan. Hatinya tertarik sekali ketika mendengar bahwa kakek itu mengaku sebagai seorang ‘sahabat lama’.

Ketika dia keluar membawa tongkat bututnya dan bertemu dengan tiga orang itu, Pat-jiu Kai-ong memandang tajam. Dia kagum melihat pemuda yang amat tampan dan pemudi yang amat cantik jelita itu. Wajah mereka yang mirip satu sama lain menunjukan bahwa mereka adalah kakak beradik. Pemudanya berusia kurang lebih enam belas tahun, pemudinya lima belas atau empat belas tahun. Sampai lama pandang mata Pat-jiu Kai-ong melekat kepada dua orang muda itu, keduanya membuat hatinya terguncang penuh kagum dan andai kata dia tidak menahan perasaannya, tentu mulutnya akan mengeluarkan air liur! Barulah dia terkejut ketika mendengar kakek itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha! Pat-jiu Kai-ong kurasa engkau belum begitu pikun untuk melupakan dua orang anakku ini. Mereka adalah Swi Liang dan Swi Nio, ha-ha-ha!”

Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong mengerutkan alisnya, sama sekali tidak mengenal kedua nama ini. Dia memandang dengan mata terheran kepada laki-laki yang berdiri di depannya, seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian sederhana berwarna kuning. Kepalanya yang beruban itu terlindung kain pembungkus rambut yang berwarna kuning pula.

Kakek itu tertawa lagi. "Wah, Pat-jiu Kai-ong, benar-benar engkau telah lupa kepada kami? Lupa kepada sahabatmu di Lu-san ini?"

"Ahhhh...!" Pat-jiu Kai-ong tertawa, mukanya berseri dan dia cepat membungkuk untuk memberi hormat. "Kiranya sahabat Bu yang datang? Maaf, maaf, mataku sudah lamur saking tuanya sehingga tidak mengenal sahabat baik yang kurang lebih sepuluh tahun tak pernah kujumpai. Jadi ini kedua anakmu itu? Dahulu mereka baru berusia lima enam tahun, kecil dan lucu serta berani. Kalau tidak salah, bahkan anak perempuanmu ini yang dahulu menantang pibu kepadaku. Ha-ha-ha!"

Dara berusia lima belas tahun yang cantik jelita itu menunduk dan kedua pipinya berubah merah. "Harap Pangcu sudi memaafkan saya."

"Aih-aih...! Ini tentu orang tua Lu-san ini yang mengajarnya. Menyebutku Pangcu segala!"

"Ha-ha-ha, Pangcu. Bukankah engkau memang Ketua dari Pat-jiu Kai-pang? Mengapa tidak mau disebut Pangcu oleh puteriku?" kakek itu berkata.

"Wah, jangan berkelakar. Anak-anak yang baik, sebut saja aku paman. Marilah masuk, kita bicara di dalam." Pat-jiu Kai-ong lalu bertepuk tangan dan para pengawalnya muncul. "Lekas beritahukan para pelayan agar mempersiapkan hidangan makan pagi yang baik untuk tamuku yang terhormat, Lu-san Lojin (Orang Tua Dari Lusan) dan dua orang putera-puterinya!"

Para pengawal itu mundur dan Pat-jiu Kai-ong menggandeng tangan kakek itu. Sambil tertawa-tawa mereka memasuki istana dan duduk di ruangan dalam menghadapi meja dan duduk di kursi-kursi yang berukir indah.

Sambil memandang ke kanan-kiri mengagumi keindahan ruangan itu, Lu-san Lojin berkata memuji, "Sungguh hebat! Lama sudah aku mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong tinggal di sebuah istana yang megah, kiranya keadaan di sini melampau segalanya yang telah kudengar. Hebat sekali!"

Sejak tadi Pat-jiu Kai-ong merayapi tubuh pemuda dan pemudi itu dengan pandangan matanya. Dia kagum bukan main melihat dara cantik jelita dan pemuda yang tampan dan gagah itu.

"Ha-ha, kau terlalu memuji, sahabat. Aku tidak mengira bahwa hari ini tempatku yang buruk akan menerima kehormatan kedatangan seorang tamu agung, seorang penolongku yang budiman bersama putra dan puterinya yang begini elok."

Kedua orang tua ini lalu bercakap-cakap dengan gembira membicarakan masa lampau. Siapakah kakek ini? Dia adalah Lu-san Lojin, seorang ahli silat dan ahli pengobatan yang semenjak istrinya meninggal dunia, meninggalkan dua orang anak, lalu mengajak dua orang anaknya itu mengasingkan diri ke puncak Lu-san. Di sana dia bertapa sambil mendidik dan menggembleng putera-puterinya.

Sepuluh tahun yang lalu, setelah gagal merebut Sin-tong, dalam kekecewaannya Pat-jiu Kai-ong lalu mengamuk di sepanjang jalanan, menculik dan membunuhi bocah-bocah yang dianggapnya cukup sehat. Ketika dia tiba di kaki Pegunungan Lu-san, dia berada dalam keadaan keracunan hebat. Hal ini terjadi karena dia terlampau banyak membunuh anak laki-laki, makan otak mereka dan menghisap darah serta sumsum mereka untuk menyempurnakan ilmunya, terlampau banyak melatih diri dengan ilmu hitam Hiat-ciang Hoat-sut.

Hatinya amat penasaran karena dia tidak dapat mengalahkan Han Ti Ong dan merebut Sin-tong, maka dia lupa akan ukuran tenaga sendiri dalam melatih diri dengan ilmu hitam itu. Dia terlampau terburu-buru, dan akibatnya hawa mukjijat dari ilmu itu membalik dan membuat dia terluka dalam, keracunan hebat sehingga dia terhuyung-huyung dan hampir pingsan ketika tiba di kaki pegunungan Lu-san. Dia maklum akan keadaan dirinya, tahu bahwa dia terancam bahaya maut maka hatinya menjadi khawatir sekali.

Kebetulan baginya, pada saat itu keadaannya terlihat oleh Lu-san Lojin yang sedang turun gunung bersama putera-puterinya yang pada waktu itu baru berusia enam dan lima tahun. Sebagai seorang gagah dan berilmu tinggi, Lu-san Lojin cepat menolong Pat-jiu Kai-ong. Setelah memeriksa keadaan raja pengemis itu, dia maklum bahwa Pat-jiu Kai-ong memerlukan perawatan khusus, maka diajaknya orang ini naik ke puncak Lu-san. Di situ Pat-jiu Kai-ong diobati Lu-san Lojin sampai sembuh.

Selama satu bulan berada di Lu-san, raja pengemis ini menerima perawatan yang amat baik dari Lu-san Lojin, maka dia merasa berterima kasih sekali dan menganggap pertapa itu sebagai penolong dan sahabat baiknya. Juga dia mengenal dua orang bocah yang mungil itu. Karena kebaikan hati Lu-san Lojin, biar pun dia melihat Swi Liang sebagai seorang anak yang mempunyai darah bersih dan tulang kuat, dia tidak tega untuk mengganggu anak laki-laki itu.

Di lain pihak, ketika mendengar bahwa yang ditolongnya adalah Pat-jiu Kai-ong ketua Pat-jiu Kai-pang, Lu-san Lojin terkejut sekali. Akan tetapi dia menjadi bangga bahwa raja pengemis yang namanya terkenal itu menganggapnya sebagai sahabat baik. Maka setelah sembuh, mereka berpisah sebagai sahabat yang berjanji untuk saling mengunjungi dan saling membantu.

"Sungguh aku tidak tahu diri dan tidak mengenal budi," setelah makan minum Pat-jiu Kai-ong berkata kepada tamunya. "Sepatutnya akulah yang datang mengunjungi kalian di Lu-san, bukan kalian yang jauh-jauh datang mengunjungi aku."

"Ahhh, mengapa kau menjadi sungkan begini? Kita bersama telah mempunyai kewajiban masing-masing sehingga tentu saja telah sibuk dengan pekerjaan. Kami pun hanya kebetulan saja lewat di kaki pegunungan Heng-san, maka aku teringat kepadamu dan mengajak kedua anakku untuk mendekati pegunungan Heng-san mencarimu."

"Terima kasih, engkau baik sekali, Lu-san Lojin. Akan tetapi, kalau boleh aku mengetahui, kalian datang dari manakah?"

Lu-san Lojin menarik napas panjang dan menoleh kepada puteranya, lalu memandang puterinya seolah-olah minta ijinnya. Swi Liang menganggukkan kepalanya kepada ayahnya, kemudian menunduk. Pemuda ini menganggap bahwa Pat-jiu Kai-ong adalah seorang sahabat baik ayahnya, bahkan seperti saudara sendiri, maka tidak ada salahnya kalau raja pengemis itu mengetahui urusannya. Siapa tahu raja pengemis itu justru dapat membantunya.

"Kami baru saja datang dari Lok-yang. Setelah melakukan perjalanan sejauh itu ternyata sia-sia belaka usaha kami untuk mencari Tee-tok Siangkoan Houw."

"Tee-tok Siangkoan Houw? Ah, ada urusan apakah engkau mencari Racun Bumi itu, Lu-san Lojin?"

"Sebetulnya urusan lama, urusan perjodohan semenjak kecil. Antara Tee-tok dan aku telah terdapat persetujuan untuk menjodohkan puteraku Bu Swi Liang ini dengan puterinya yang bernama Siangkoan Hui. Akan tetapi, setelah keduanya menjadi dewasa, tidak ada berita dari Tee-tok sehingga hatiku merasa khawatir sekali. Aku sudah berusaha mencarinya, namun selalu sia-sia. Akhir-akhir ini aku mendengar bahwa dia berada di Lok-yang, akan tetapi setelah jauh-jauh kami bertiga mencarinya ke sana, ternyata dia tidak berada di sana pula. Hemm, sikap orang tua itu masih selalu aneh dan penuh rahasia." "Ha-ha-ha, Itu salahmu sendiri! Mengapa mengikat perjanjian dengan seorang iblis seperti Tee-tok?"

"Pat-jiu Kai-ong, jangan bergurau. Ini urusan yang penting bagi kami, karena itu kami mengharap bantuanmu yang mempunyai banyak anak buah, agar suka menyelidiki di mana kami dapat bertemu dengan Tee-tok Siangkoan Houw."

"Baik, baik... jangan khawatir. Akan kusuruh anak buahku menyelidikinya. Kalian bermalamlah di sini, jangan tergesa-gesa pulang."

Lu-san Lojin menggeleng kepala. "Sudah terlalu lama kami meninggalkan pondok. Kami hanya dapat bermalam untuk satu malam saja, besok pagi-pagi kami harus melanjutkan perjalanan."

"Semalaman cukuplah, biar kupergunakan untuk menjamu kalian sepuas hatiku."

Tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk di luar istana Raja Pengemis itu. Tak lama kemudian dua orang pengawal pribadi Kai-ong masuk dengan muka pucat dan kelihatan takut.

"Ada apa? Mau apa kalian mengganggu kami?" Kai-ong membentak marah dan menurunkan cawan araknya keras-keras ke atas meja sehingga meja itu tergetar.

"Pangcu... ampunkan kami berdua... terpaksa kami mengganggu karena ada peristiwa yang amat aneh dan mengkhawatirkan kami semua."

"Apa yang terjadi? Hayo cepat ceritakan!"

Dengan wajah ketakutan, seorang di antara dua orang pengawal itu lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi di luar istana. Karena Pangcu sedang menjamu tamu, para pengawal menjaga di luar dan mereka sedang mengagumi seekor ayam jago kesayangan Pat-jiu Kai-ong. Raja Pengemis itu memang suka sekali memelihara ayam jago dan kadang-kadang mengadunya.

Pagi hari itu seperti biasa, seorang pelayan memandikan dan memberi makan ayam jago itu, dan memuji-mujinya sebagai jago peranakan tanah selatan yang amat baik. Tiba-tiba ayam jago itu menggelepar di dalam kedua tangannya, darah muncrat dan ayam itu mati, dadanya ditembusi sehelai benda lembut yang kemudian ternyata adalah sebatang daun! Di tangkai daun itu terdapat sehelai kain yang ada tulisannya.

"Kami telah meloncat dan mencari di sekeliling, akan tetapi tidak ada bayangan seorang pun manusia, Pangcu. Agaknya hanya iblis saja yang dapat menggunakan sehelai daun untuk menyambit dan membunuh ayam jago dan...."

"Cukup!" Raja Pengemis itu marah sekali mendengar jagonya dibunuh orang. "Kalian tolol semua! Mana kain yang ada tulisan itu?!"

Kepala pengawal yang mukanya penuh brewok itu menyerahkan sehelai kain putih kepada ketuanya dengan kedua tangan gemetar. Kain itu ada tulisannya dengan huruf-huruf kecil berwarna hitam, akan tetapi ada noda-noda darah, darah ayam jago tadi. Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong yang menerima kain itu sejenak menjadi bingung, dan baru ia teringat bahwa dia tidak mampu membaca. Dia buta huruf! Dengan jengkel dan agak malu dia lalu melemparkan kain itu kepada Lu-san Lojin.

"Harap kau bacakan ini untukku!" katanya.

Lu-san Lojin menyambar kain yang melayang ke arahnya itu, lalu matanya memandang tulisan. Mukanya berubah, matanya terbelalak. "Wah... apa artinya ini?"

"Lojin! Bagaimana bunyinya?" Pat-jiu Kai-ong bertanya, suaranya membentak.

Lu-san Lojin lalu membaca huruf-huruf itu. “Malam ini, semua makhluk hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu Kai-ong, dari binatang sampai manusia akan kubasmi habis! Ratu Pulau Es.

"Ratu Pulau Es...?" Pat-jiu Kai-ong tertawa. "Siapakah dia? Aku tidak mengenalnya. Hai pelawak dari manakah yang main-main seperti ini? Ha-ha-ha, biar dia datang hendak kulihat bagaimana macamnya!"

"Kai-ong, harap jangan main-main. Biar pun hanya seperti dalam dongeng, nama Pulau Es amat terkenal. Katanya penghuninya memiliki kepandaian seperti dewa, apalagi dahulu yang terkenal dengan sebutan Pangeran Han Ti Ong...."

"Ha-ha-ha, siapa peduli? Aku tidak ada permusuhan dengan Han Ti Ong, bahkan dia yang pernah mengganggu aku. Mengapa sekarang ada ratu dari sana hendak membunuhku dengan ancaman sesombong itu? Aku tidak percaya. He, pengawal! Apakah kalian tahu akan isi surat?"

Dua orang pengawal itu mengangguk. "Sudah Pangcu."

"Apa kalian takut?"

"Ti... tidak, Pangcu, Hanya... hanya amat aneh itu..."

"Sudahlah. Setelah kalian tahu isinya, hayo kalian dua belas orang melakukan penjagaan yang ketat, terutama malam ini. Kita jangan mudah digertak lawan yang membadut! Biarkan dia datang, kita tangkap dia dan kita permainkan dia, ha-ha-ha!"

"Kai-ong harap hati-hati...." kata Lu-san Lojin setelah para pengawal itu keluar dari ruangan itu.

"Ha-ha-ha, mengapa khawatir? Apalagi baru seorang badut, biar Han Ti Ong sendiri yang datang, setelah kini Hiat-ciang Hoat-sut kulatih sempurna, aku takut apa?"

Kakek dari Lu-san itu kelihatan ragu-ragu, akan tetapi untuk menyatakan bahwa dia takut, tentu saja dia tidak mau. Dengan hati berat dia bersama dua orang anaknya menemani tuan rumah makan minum dan bercakap-cakap sampai lewat tengah hari. Kemudian mereka dipersilakan mengaso sejenak dalam kamar tamu, akan tetapi menjelang senja, mereka sudah dipersilakan makan minum lagi.

Sekali ini mereka benar-benar takjub melihat Pat-jiu Kai-ong kini bertukar pakaian, pakaian malam yang indah dan mewah! Mengingat betapa siang tadi Kai-ong merupakan seorang pengemis yang berpakaian butut, dan kini seperti seorang raja, benar-benar membuat Lu-san Loji hampir tertawa, seperti melihat seorang badut pemain lenong! Dan hidangan yang dikeluarkan di meja juga istimewa, jauh lebih lengkap dari-pada siang tadi!

"Ha-ha, ayo makan minum. Kita berpesta sampai kenyang!" kata tuan rumah itu mempersilakan tamu-tamunya.

Setelah hidangan tinggal sedikit dan perut mereka kenyang sekali, Pat-jiu Kai-ong mengusap-ngusap bibirnya yang berminyak dan perutnya yang gendut. Matanya memandang ke arah Bu Swi Liang dan Bu Swi Nio penuh gairah, lalu dia berkata, kata-kata yang sama sekali tidak pernah disangka oleh para tamunya dan yang membuat mereka terkejut setengah mati.

"Lu-san Loji, sekarang kau tidurlah dalam kamarmu dan jangan hiraukan badut yang hendak mengganggu. Ada pun dua orang anakmu ini, yang cantik jelita dan tampan gagah, biarlah mereka berdua besenang-senang dengan aku dalam kamarku, ha-ha-ha!"

"Kai-ong!" Lu-san Lojin membentak. "Apa... maksud kata-katamu ini?"

Pat-jiu Kai-ong memandang tamunya sambil tersenyum lebar. "Apa maksudnya? Swi Liang begini tampan gagah dan Swi Nio cantik jelita dan segar, sungguh aku suka sekali kepada mereka. Kalau mereka bedua bersama dengan aku dalam kamarku, tentu mereka akan terlindung dan... hemmm, aku ingin sekali bersenang-senang dengan mereka, tidur-tiduran dengan mereka sejenak."

"Kai-ong, apa kau gila?!" Lu-san Lojin hampir tak dapat percaya akan pendengarannya sendiri.

"Eh, mengapa? Apa salahnya aku tidur dengan dua orang keponakanku ini? Heh-heh, tak tahan aku melihat puterimu yang muda dan cantik segar, juga puteramu yang tampan dan ganteng ini. Anak-anak baik, marilah kalian layani pamanmu...."

"Keparat!" Lu-san Lojin melompat ke depan. Dua orang anaknya yang berada di belakangnya pun sudah siap dengan pedang di tangan. "Pat-jiu Kai-ong! Harap kau jangan main gila dan jelaskan apa sebabnya perubahan sikapmu ini. Mau apa engkau dengan anak-anakku?"

"Ha-ha-ha! Siapa main gila? Sebelum kalian muncul, tidak pernah ada terjadi apa-apa di sini. Akan tetapi begitu kalian muncul, muncul pula orang aneh yang membunuh ayamku dan mengeluarkan ancaman. Siapa lagi kalau bukan teman dan kaki tanganmu? Dan kau tentu sudah mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong tidak pernah menyia-nyiakan kecantikan seorang dara remaja seperti puterimu ini dan puteramu yang tampan ini tentu memiliki otak yang bersih, darah yang segar dan sumsum yang kuat. Perlu sekali untuk menambah keampuhan Hiat-ciang Hoat-sut agar makin kuat menghadapi lawan kalau malam ini ada yang berani datang!"

"Iblis jahanam! Kiranya engkau seorang manusia iblis yang busuk!" Lu-san Lojin sudah menerjang maju dengan kepalan tangannya.

Kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Sebagai bekas murid Hoa-san-pai yang sudah memperdalam ilmunya dengan ciptaannya sendiri, hasil renungannya di waktu bertapa, maka dapat dibayangkan tingginya kemampuan Lu-san Lojin. Kepalan tangannya menyambar dahsyat, mengandung tenaga sinkang yang amat kuat. Akan tetapi kiranya hanya dalam ilmu pengobatan saja dia menang jauh dibandingkan dengan Pat-jiu Kai-ong. Dalam ilmu berkelahi, dia tidak mampu menandingi Kai-ong yang amat lihai.

Sambil tertawa Kai-ong mengebutkan ujung lengan bajunya yang lebar dua kali. Kakek Lu-san itu terpaksa harus menarik kembali kedua tangannya sehingga dari kedudukan menyerang, dia malah menjadi yang diserang karena pergelangan kedua tangannya terancam totokan ujung lengan baju itu! Dua orang anaknya yang sudah marah sekali karena merasa dihina, sudah menerjang maju pula dengan pedang mereka. Swi Liang menusuk dari samping kiri ke arah lambung kakek pengemis itu, sedangkan dari kanan Swi Nio membabatkan pedangnya ke arah leher.

"Ha-ha, bagus! Kalian benar-benar menggairahkan!" kata kakek itu dan dia bersikap seolah-olah tidak tahu bahwa dirinya diserang.

Akan tetapi setelah kedua pedang itu menyambar dekat, tiba-tiba kedua tangannya menyambar dan.... dua batang pedang itu telah dicengkeramnya dengan telapak tangan! Swi Liang dan Swi Nio terkejut bukan main, akan tetapi melihat betapa kedua batang pedang mereka itu dipegang oleh tangan kakek itu, mereka cepat menggerakkan tenaga menarik pedang dengan maksud melukai telapak tangan Pat-jiu Kai-ong. Namun usaha mereka ini sia-sia belaka, pedang mereka tak dapat dicabut, seolah-olah dicengkeram jepitan baja yang amat kuat.

"Manusia tak kenal budi!"

"Wirrrr... tar-tar!"

Pat-jiu Kai-ong merasa terkejut melihat sinar kuning menyambar. Ternyata bahwa Lu-san Lojin melolos sabuknya yang berwarna kuning dan kini menggunakan sabuk itu sebagai senjata. Kakek ini memang memiliki tenaga sinkang yang kuat, dan memainkan sabuk sebagai senjata sudah merupakan kehaliannya. Sabuk lemas di tangannya itu dapat bergerak seperti pecut, dapat pula menjadi sebatang senjata yang kaku dengan pengerahkan sinkang-nya.

"Krekk-krekkk!" dua batang pedang itu patah-patah dalam cengkeraman Pat-jiu Kai-ong. Sambil melompat mundur menghindarkan sambaran ujung sabuk, Raja Pengemis ini menyambitkan dua ujung pedang yang dipatahkanya ke arah Lu-san Lojin.

"Trang-tranggg!" dua batang ujung pedang itu terlempar ke lantai ketika ditangkis oleh ujung sabuk (ikat pinggang).

Kini Lu-san Lojin mendesak ke depan dengan putaran senjatanya yang istimewa. Sedangkan kedua orang anaknya telah mundur dan hanya menonton di pinggir karena mereka terkejut menyaksikan pedang mereka dipatahkan begitu saja oleh kedua tangan lawan. Mereka sama sekali tidak berdaya dan tidak berguna membantu ayah mereka.

Pada saat itu, muncullah empat orang pengawal yang mendengar suara ribut-ribut.

Melihat mereka, Pat-jiu Kai-ong berkata, "Tangkap dua orang muda ini. Akan tetapi awas, jangan lukai mereka!"

Empat orang pengawal itu segera menubruk maju hendak menangkap Swi Liang dan Swi Nio. Tentu saja kakak beradik ini melawan sekuat tenaga. Akan tetapi biar pun keduanya memiliki ilmu silat tinggi, namun empat orang pengawal itu pun merupakan murid-murid terpandai dari Pat-jiu Kai-ong. Ketika dua orang di antara mereka menggunakan tongkat, dalam belasan jurus saja Swi Liang dan Swi Nio dapat ditotok roboh dan lumpuh.

“Ha-ha-ha, belenggu kaki tangan mereka baik-baik... kemudian lempar mereka ke atas tempat tidurku... ha-ha-ha!" Pat-jiu Kai-ong tertawa sambil menyambar tongkatnya.

Setelah bertongkat, maka kini dia menghadapi Lu-san Lojin dengan lebih leluasa. Kakek dari Lu-san itu marah bukan main melihat putera dan puterinya digotong pergi dari ruang itu. Dia mengejar dan menggerakkan ikat pinggangnya, namun Pat-jiu Kai-ong menghadangnya sambil tertawa-tawa dan menyerangnya dengan tongkatnya sehingga terpaksa kakek Lu-san itu melayaninya bertanding. Pertandingan yang amat seru dan diam-diam Pat-jiu Kai-ong harus mengaku bahwa ilmu kepandaian kakek yang pernah menolongnya ini memang hebat.

"Pat-jiu Kai-ong, benar-benarkah kau lupa akan budi orang? Aku pernah menyelamatkan nyawamu, apakah sekarang engkau mencelakakan kami bertiga?" Lu-san Lojin berkata membujuk karena khawatir melihat nasib puterinya.

"Ha-ha-ha, dahulu memang engkau pernah menolongku, akan tetapi sekarang kalian datang dengan niat buruk!"

"Tidak! Kau salah duga! Kami tidak ada sangkut pautnya dengan si pembunuh ayam!"

"Ha-ha-ha, Lu-san Lojin! Kalian menyelundup ke dalam dan bergerak dari dalam, sedangkan setan itu bergerak dari luar. Begitukah?" Tongkat di tangan Pat-jiu Kai-ong menyambar ganas.

"Plak-plakk!" ujung sabuk kakek Lu-san menangkis dua kali akan tetapi dia merasa betapa telapak tangannya tergetar tanda bahwa tenaga Si Raja Pengemis itu benar-benar amat kuat.

"Pat-jiu Kai-ong, kau salah menduga, kami tidak ada hubungan dengan musuh yang datang. Lepaskan kedua anakku dan aku berjanji akan membantumu menghadapi musuh gelap itu."

"Wah, berat kalau disuruh melepaskan. Lu-san Lojin, dengar baik-baik. Aku tergila-gila melihat anak-anakmu. Pinjamkan mereka kepadaku untuk satu dua malam, dan kau bantu aku menghadapi musuh, baru aku akan membebaskan kalian."

"Iblis busuk!" Lu-san Lojin marah sekali.

Dengan nekat dia lalu mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan Raja Pengemis ini. Dia maklum bahwa betapa pun juga hati yang kotor dari Raja Pengemis itu tidak mudah dibujuk. Satu-satunya jalan untuk menolong anak-anaknya ialah melawan mati-matian.

"Plakkk!" tiba-tiba ujung sabuk melibat tongkat, keduanya saling betot untuk merampas senjata.

Tidak mudah bagi mereka untuk dapat berhasil merampas senjata lawan dan kesempatan ini dipergunakan oleh Pat-jiu Kai-ong untuk menggerakkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka ke arah lawan. Lu-san Lojin terkejut melihat telapak tangan yang menjadi merah seperti tangan berlumuran darah itu. Dia belum pernah mengenal ilmu Hiat-ciang Hoat-sut dari Raja Pengemis itu, namun dia pernah mendengar akan hal ini, tahu pula betapa keji dan berbahayanya ilmu itu. Akan tetapi untuk mengelak dia harus melepaskan sabuknya dan hal ini pun amat berbahaya. Dengan senjata itu saja dia masih kewalahan melawan Pat-jiu Kai-ong, apalagi tanpa senjata, maka dengan nekat dia lalu menggerakkan tangan pula menyambut pukulan itu.

"Dessss...! Aduhhh...!!" dua telapak tangan bertemu dan akibatnya tubuh Lu-san Lojin terjengkang dan terbanting ke atas lantai, mulutnya mengeluarkan darah segar dan matanya mendelik. Kakek ini pingsan dan menderita luka dalam yang amat parah!

"Lempar dia di kamar tahanan!" Pat-jiu Kai-ong berkata sambil tertawa.

Setelah tubuh kakek yang pingsan itu digusur pergi oleh para pengawalnya. Pat-jiu Kai-ong menghampiri meja di mana dia tadi menjamu para tamunya, menyambar guci arak dan menenggaknya habis, kemudian sambil tertawa-tawa dia memasuki kamarnya. Pemuda dan pemudi She Bu itu sudah rebah terlentang di atas pembaringan Pat-jiu Kai-ong yang lebar dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya. Lima orang selirnya menjaga di situ.

Ketika Pat-jiu Kai-ong masuk sambil tertawa gembira, Bu Swi Liang memandang dengan mata melotot penuh kebencian, akan tetapi Bu Swi Nio memandang dengan mata terbelalak ketakutan dan mencucurkan air mata. Pat-jiu Kai-ong menghampiri pembaringan, menggunakan tangannya untuk membelai dan menghusap pipi Swi Nio dan Swi Liang.

"Manis, jangan menangis dan kau jangan marah. Aku akan menemani kalian dan bersenang-senang sepuas hati setelah kami menangkan musuh gelap yang mengancam," kata Raja Pengemis.

Dia menengok ke arah lima orang selirnya dan berkata garang. "Temani mereka, jaga baik-baik jangan sampai ada yang lolos. Kalau ada apa-apa, cepat berteriak memanggil para pengawal. Mengerti?"

Lima orang selir itu mengangguk dan kakek itu meninggalkan kamar lagi.

Sebelum orang yang membunuh ayam jagonya dan yang mengirim surat ancaman itu dapat ditangkap atau dibunuh, tentu saja dia tidak bernafsu untuk bersenang-senang dengan dua orang muda yang tertawan itu. Dia percaya penuh bahwa menghadapi seorang pengacau saja, para pengawalnya akan dapat mengatasinya, akan tetapi dia harus berhati-hati dan ikut melakukan penjagaan sendiri. Setelah keadaan benar-benar aman barulah dia boleh bersenag-senang.

Dia belum yakin benar apakah musuh gelap itu ada hubungannya dengan Lu-san Lojin dan kedua orang anaknya. Akan tetapi ada hubungan atau tidak, setelah tiga orang itu dibuat tidak berdaya, berarti mengurangi bahaya. Dia harus berhati-hati, maklum bahwa dia mempunyai banyak musuh. Siapa tahu kalau Lu-san Lojin yang termasuk golongan putih itu juga memusuhi. Andai kata tidak sekali pun, mana bisa dia melepaskan dua orang muda yang cantik jelita dan tampan itu?

Pat-jiu Kai-ong duduk lagi di ruangan tadi sambil melanjutkan minum arak. Dia maklum bahwa malam ini dua belas orang pengawalnya pasti menjaga dengan tertib dan penuh kewaspadaan. Ingin dia tertawa keras-keras mengusir kesunyian malam yang mendatangkan perasaan tidak enak.

“Hemmm, Ratu Pulau Es? Hanya dongeng!” dengusnya.

Pembunuh ayam itu tidak perlu ditakuti. Andai kata dia mampu mengalahkan dua belas orang pengawalnya, hal yang sukar dipercaya, masih ada dia sendiri. Hiat-ciang Hoat-sut, ilmu yang dilatihnya belasan tahun kini telah dapat diandalkan. Tadi pun ilmu itu telah merobohkan Lu-san Lojin, padahal ia hanya menggunakan sebagian kecil tenaganya saja. Dia tidak takut!

"Aku tidak takut!" serunya kuat-kuat. "Datanglah kamu, hai Ratu Pulau Es keparat! Ha-ha-ha!"

Para pelayan sudah menyalakan lampu-lampu penerangan dan atas perintah para pengawal, pelayan-pelayan ini menambah jumlah lampu sehingga keadaan di seluruh gedung itu menjadi terang. Setelah menyuruh para pelayan membersihkan meja di ruangan itu, dan sekali lagi memanggil kepala pengawal dan menekankan agar penjagaan diperketat dan selalu diadakan perondaan bergilir, Pat-jiu Kai-ong lalu duduk bersila di dalam ruangan itu untuk mengumpulkan tenaga dan mempertajam pendengarannya. Biar pun dia berada di dalam istana, namun dia ikut pula menjaga dan meronda mempergunakan ketajaman pendengarannya untuk menangkap semua suara yang tidak wajar di luar istana.

Malam makin larut dan keadaan sunyi sekali di istana itu dan sekitarnya. Para pelayan yang sudah mendengar dari para pengawal, dengan muka pucat tinggal berkelompok di kamar seseorang di antara mereka, tidak berani membuka suara dan hanya saling pandang dengan mata penuh rasa takut. Para selir juga berkelompok di dalam kamar Pat-jiu Kai-ong. Mereka agak terhibur dengan adanya Swi Liang, pemuda yang tampan itu. Bahkan ada di antara mereka yang tanpa-malu-malu membelai pemuda itu, memegang tangannya, mengusap dagunya, membereskan rambutnya. Akan tetapi mereka tidak berani berbuat lebih dari itu, dan tidak berani mengeluarkan suara. Juga para pengawal agaknya melakukan penjagaan dengan teliti dan hati-hati, tidak bersuara seperti biasanya kalau mereka melakukan penjagaan tentu diisi dengan sendau gurau dan mengobrol.

Kesunyian yang mengerikan itu tidak menyenangkan hati Pat-jiu Kai-ong. Akan tetapi dia amat memerlukan kesunyian ini agar penjagaan dilakukan lebih tertib dan rapi pula. Dia merasa tersiksa dan diam-diam dia memaki musuh gelap itu. Kalau sampai tertawan, tentu akan dihukum dan disiksanya seberat mungkin!

Tiba-tiba terdengar suara jeritan susul-menyusul yang datangnya dari dalam kamarnya! Pat-jiu Kai-ong cepat melompat dan hanya dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah menerjang masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya kelima orang selirnya menangis dan kelihatan gugup dan ketakutan, akan tetapi dua orang muda yang tadi terbelenggu di atas pembaringannya, seperti dua tusuk daging panggang yang dihidangkan di atas meja makan dan siap untuk diganyangnya, kini telah lenyap tanpa bekas!

"Apa yang terjadi? Keparat, diam semua! Jangan menangis, apa yang terjadi?"

Lima orang selir itu menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka bercerita dengan suara gagap, "Ada... ada... setan...., hanya tampak bayangan berkelebat ke atas ranjang dan... dan mereka berdua... tahu-tahu telah lenyap..."

"Tolol!!" Pat-jiu Kai-ong berkelebat ke luar melalui jendela kamar yang terbuka, terus berloncatan memeriksa sampai dia bertemu dengan para pengawal di luar istana, namun dia tidak melihat jejak dua orang tawanan yang lenyap itu.

"Kalian tidak melihat orang masuk?" bentaknya kepada para pengawal.

"Tidak ada, Pangcu."

"Bodoh! Kalau tidak ada, bagaimana dua orang tawanan itu lenyap?"

Kagetlah para pengawal itu. Pat-jiu Kai-ong dibantu oleh para pengawalnya lalu mengadakan pemeriksaan di dalam istana. Mula-mula timbul dugaannya bahwa tentu Lu-san Lojin dan dua orang anaknya itu benar-benar mempunyai kawan-kawan di luar, buktinya kedua orang muda itu ditolong mereka. Akan tetapi ketika dia menjenguk kedalam kamar tahanan, Lu-san Lojin masih mengeletak pingsan di atas lantai!

"Cepat lakukan penjagaan seperti tadi. Tutup semua jalan masuk! Bagi-bagi tenaga!" Pat-jiu Kai-ong memerintah dengan suara yang agak parau. Harus diakuinya bahwa jantungnya tergetar juga oleh rasa gentar menyaksikan sepak terjang musuh gelap yang aneh dan amat luar biasa itu.

Setelah sekali lagi memeriksa sendiri dengan teliti, sampai tidak ada lubang yang tidak dijenguknya di dalam dan di sekitar gedungnya, dan mendapatkan keyakinan bahwa tidak ada orang bersembunyi di dalam gedung, akhirnya Pat-jiu Kai-ong kembali ke dalam ruangan besar dan menanti dengan jantung berdebar.

Malam telah makin larut. Musuh yang aneh itu telah mulai memperlihatkan bahwa musuh itu memang ada dengan menculik dua orang tawanan itu secara aneh. Biar pun lima orang selirnya bukan ahli-ahli silat tinggi, namun lima pasang mata tidak dapat melihat orang yang menculik pemuda-pemudi itu di depan hidung mereka, sungguh merupakan hal yang amat aneh! Pat-jiu Kai-ong bergidik dan membalik-balik gudang ingatan di dalam otaknya.

Siapakah Ratu Pulau Es? Jangankan dengan ratunya, dengan penghuni Pulau Es dia tidak pernah bertemu, kecuali satu kali dengan Han Ti Ong ketika memperebutkan Sin-tong. Dan di mana adanya pulau dongeng itu dia pun tidak tahu. Pertemuannya dengan Han Ti Ong tidak boleh dianggap permusuhan, dan adaikata ada yang sakit hati, kiranya sakit hati itu seharusnya datang dari dia, bukan dari pihak Pulau Es atau Han Ti Ong yang telah berhasil memenangkan perebutan atas diri Sin-tong! Mengapa kini muncul tokoh rahasia yang mengaku bernama Ratu Pulau Es? Siapakah yang bermain-main dengan dia?

Melihat sepak terjang orang rahasia ini, caranya membunuh ayam, dapat dipastikan bahwa orang itu kejam dan aneh, ciri seorang tokoh golongan hitam, bukan golongan putih yang selalu datang secara berterang. Siapakah tokoh golongan hitam yang memusuhinya? Tentu saja banyak, dan di antara mereka, yang paling menonjol adalah Kiam-mo Cai-li Liok Si! Wanita itukah yang kini datang mengganggunya?

"Ha-ha-ha!" dia tertawa keras-keras, hatinya menjadi besar.

Mengapa dia takut? Andai kata Kiam-mo Cai-li sendiri yang datang, dia pun tidak takut! Dan siapakah lain wanita di dunia kang-ouw yang lebih mengerikan dari-pada Kiam-mo Cai-li?

"Iblis atau manusia, jantan atau betina, keluarlah dari tempat persembunyian! Hayo serbulah, aku Pat-jiu Kai-ong tidak takut kepada siapa pun juga! Kalau kau diam saja, berarti kau pengecut hina dan penakut, ha-ha-ha-ha!"

Karena merasa tersiksa oleh keadaan sunyi yang mengerikan itu, Pat-jiu Kai-ong berusaha mengusir rasa takutnya dengan teriakan keras ini yang tentu saja didengar oleh semua penghuni gedung itu. Dan agaknya, sebagai sambutan atas tantangannya, tiba-tiba terdengar suara ayam jagonya yang berada di belakang, di kandang ayam, berkeruyuk keras sekali!

"Ha-ha-ha!" Pat-jiu Kai-ong tertawa mendengar ayamnya sendiri yang menjawab, akan tetapi tiba-tiba dia terkejut dan mukanya berubah.

“Kok!” suara ayam kesakitan ini memutus keruyuk ayamnya setengah jalan! Suara ini disusul dengan suara berkotek riuh dari ayam-ayam betina di dalam kandang, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu mereka akan tetapi suara berkotek ini pun selalu berhenti setengah jalan.

“Kok...!” berkali-kali terdengar ayam dicekik atau dihentikan suara dan hidupnya!

"Keparat...!!"

Pat-jiu Kai-ong yang mukanya merah saking marahnya itu sudah meloncat ke luar dan langsung lari ke kandang. Hampir dia bertubrukan dengan dua orang pengawal yang juga mendengar keanehan di kandang itu. Kini dengan sebuah obor yang dipegang oleh pengawal, mereka bertiga memeriksa kandang. Di bawah sinar obor tampaklah oleh mereka bahwa dua puluh ayam yang berada di kandang itu, jantan, betina, semua telah tewas dengan leher putus! Darah merah muncrat ke mana-mana, membuat lantai dan dinding kandang itu menjadi merah mengerikan.

"Jahanam...!" Pat-jiu Kai-ong memaki dan mereka bertiga sejenak menjadi seperti arca memandang ke dalam kandang. Sunyi di situ, bahkan tidak ada angin berkelisik, membuat suasana menjadi menyeramkan.

"Ngeoonggg...!" suara kucing yang tiba-tiba terdengar ini membuat mereka tersentak kaget dan memandang ke atas genting.

Si Putih, satu-satunya kucing peliharaan di gedung itu berkelebat melompat sambil menggereng, seolah-olah menghadapi musuh dan marah. Akan tetapi gerengannya terhenti tiba-tiba dan Pat-jiu Kai-ong cepat melompat ke kiri ketika ada benda jatuh dari atas genteng menimpanya.

"Bukkk!" ketika pengawal yang membawa obor mendekat, ternyata yang terjatuh itu adalah bangkai kucing Si Putih yang baru saja mengeong tadi!

"Jahanam...!" Pat-jiu Kai-ong memaki untuk kedua kalinya dan tubuhnya sudah melayang ke atas genting, diikuti oleh dua orang pengawalnya.

Melihat betapa obor yang dipegang pengawal itu tidak padam ketika dia meloncat ke atas genting, membuktikan bahwa pengawal itu sudah memiliki ginkang yang hebat. Akan tetapi kembali ketiganya termangu-mangu di atas genting karena tidak tampak bayangan seorang manusia pun. Keadaan sunyi. Sunyi sekali, bahkan terlampau sunyi seolah-olah gedung itu telah berubah menjadi tanah kuburan!

"Hung-hung! Huk-huk-huk...!!" kini giliran tiga ekor anjing peliharaan gedung itu riuh menggonggong dan menyalak-nyalak di sebelah kanan gedung. Suara ini mengejutkan mereka, apalagi suaran gonggongan mereka yang riuh rendah itu tiba-tiba ditutup dengan suara....

"Kaing...! nguik... nguikkk... nguikkkkk!" dan suasana menjadi sunyi kembali, lebih sunyi dari tadi sebelum terdengar gonggongan anjing-anjing itu.

"Bedebah...!" Raja Pengemis memaki.

Pat-jiu Kai-ong segera melompat dari atas genting. Saking cepatnya, dia tidak dapat disusul oleh dua orang pengawalnya itu dan sebentar saja sudah tiba di sebelah kanan gedungnya, di kandang anjing. Seperti sudah dikhawatirkannya, tiga ekor anjing itu sudah menggeletak mati dengan leher hampir putus dan darah mengalir di bawah bangkai mereka. Tiga orang pengawal yang terdekat sudah tiba pula dan mereka saling pandang dengan muka berubah pucat! Seperti terngiang di telinga Pat-jiu Kai-ong suara Lu-san Lojin ketika membacakan isi surat, “Malam ini, semua makhluk hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu Kai-ong, dari binatang sampai manusia, akan kubasmi habis!

Semua binatang peliharaannya, ayam, kucing, dan anjing, sudah mati semua dan sekarang tentu tiba gilirannya manusianya! Teringat akan ini, Pat-jiu Kai-ong cepat berkata, suaranya sudah mulai gemetar. "Cepat, semua berkumpul denganku di dalam gedung...!"

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh jeritan-jeritan di sebelah luar dan di depan gedung itu. Mereka cepat berlari menuju ke depan gedung dan tampaklah oleh mereka dua orang pengawal yang berjaga di luar sudah menggeletak tak bergerak di atas tanah. Ketika seorang pengawal yang membawa obor mendekat, Pat-jiu Kai-ong melihat bahwa dua orang pengawalnya yang terlentang itu telah tewas. Mata mereka melotot dan dari mata, hidung, telinga, dan mulut keluar darah hitam sedangkan di dahi mereka tampak jelas cap jari tangan yang kecil panjang, tiga buah banyaknya. Mudah dilihat bahwa itu adalah tanda jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Begitu dalam gambar jari itu sampai garis-garisnya tampak!

"Kurang ajar! Mari kita berkumpul semua...!"

Akan tetapi kembali terdengar pekik mengerikan dari sebelah kiri gedung. Mereka kembali berlari-lari ke tempat itu dan melihat tiga orang pengawal lain sudah menjadi mayat dalam keadaan yang sama seperti dua orang korban pertama. Segera tersusul pula pekik-pekik mengerikan itu dari belakang gedung. Pat-jiu Kai-ong dan tiga orang pengawalnya ini, termasuk pengawal kepala Si Brewok, mengejar ke belakang dan empat orang pengawal sudah menggeletak tewas dalam keadaan mengerikan, persis seperti yang lain.

Dalam sekejap mata saja sembilan orang pengawal telah tewas. Mereka itu berada di depan, di sebelah kiri, di belakang gedung, akan tetapi kematian mereka susul-menyusul begitu cepatnya, seolah-olah banyak musuh yang datang dari berbagai jurusan. Biar pun mulutnya tidak menyatakan sesuatu, Pat-jiu Kai-ong maklum bahwa tanda dari jari tangan itu dibuat oleh jari tangan yang sama, dan bahwa pembunuhnya itu hanya satu orang saja, seorang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa sehingga para pengawal itu agaknya sama sekali tidak mampu melakukan perlawanan.

Tiga orang pengawal saling pandang dengan muka pucat. Melihat muka mereka, Pat-jiu Kai-ong menjadi penasaran dan marah sehingga timbul kembali keberaniannya yang tadi agak berkurang karena jeri.

Pat-jiu Kai-ong lantas berteriak memaki, "Jahanan pengecut! Hayo keluarlah dan lawan aku Pat-jiu Kai ong!"

Setelah dia mengeluarkan kata-kata ini dengan suara nyaring, keadaan menjadi sunyi sekali, sunyi yang amat menggelisahkan dan menyeramkan. Dalam kegelapan dan kesunyian malam itu seolah-olah tampak mulut iblis menyeringai dan menanti saat untuk menerkam dan mencabut nyawa!

Pat-jiu Kai-ong makin penasaran. Dia sendiri adalah seorang manusia yang dikenal sebagai iblis, jarang menemui tandingan dan ditakuti banyak orang dari semua golongan. Akan tetapi malam ini dia, Raja Pengemis yang menjadi ketua Pat-jiu Kai-pang yang terkenal, memiliki anggota ratusan orang banyaknya, seorang di antara datuk kaum sesat atau golongan hitam yang ditakuti orang, dia dipermainkan orang! Dan orang itu, kalau melihat namanya sebagai ratu tentulah seorang wanita! Apa lagi dia melihat bahwa bekas jari tangan di dahi para korban itu pun jari tangan wanita yang kecil meruncing!

"Hem, pengecut benar dia," katanya kepada tiga orang pengawalnya yang diam-diam telah kehilangan separuh dari nyali mereka. "Kita harus menggunakan pancingan. Biar aku mengintai dari atas, kalian berjalan-jalan di sini. kalau dia muncul menyerang, aku tentu dapat melihatnya dan aku akan meloncat turun. Bersiaplah kalian!"

Setelah berkata demikian, dengan gerakan ringan seperti seekor kelelawar, Pat-jiu Kai-ong melompat ke atas genteng dan mendekam di wuwungan sambil mengintai. Dia melihat tiga orang pengawalnya itu masing-masing telah mencabut senjata mereka. Si Brewok menggunakan sebatang tombak panjang yang ujungnya berkait, orang ke dua mengeluarkan golok besar dan orang ketiga sebatang pedang. Mereka berdiri saling membelakangi dan mata mereka memandang tajam ke depan, telinga mereka memperhatikan setiap suara. Akan tetapi sunyi saja sekeliling tempat itu.

Tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong melihat sesosok bayangan melayang turun dari atas pohon!

“Celaka!” pikirnya. “Kiranya si laknat itu bersembunyi di dalam pohon yang tumbuh di depan gedung.”

Bayangan itu sukar di lihat bentuknya karena cepat sekali gerakannya, tahu-tahu telah berada di depan Si Brewok. Tiga orang pengawal itu menggerakkan senjata, akan tetapi anehnya, tampak oleh Pat-jiu Kai-ong betapa tiga buah senjata mereka itu telah berpindah tangan! Entah bagaimana caranya, karena dari atas genteng itu dia tidak dapat melihat jelas. Yang dia ketahuinya hanyalah betapa tiga orang pengawalnya itu kini lari ketakutan!

"Hik-hik-hik!" Suara ketawa ini membuat bulu tengkuk Pat-jiu Kai-ong berdiri dan dia melihat sinar-sinar menyambar ke arah tiga orang pengawal yang lari, melihat mereka roboh dan memekik, terjungkal tak bergerak lagi karena punggung mereka ditembus oleh senjata mereka masing-masing!

"Keparat, jangan lari kau!" Pat-jiu Kai-ong sudah melayang turun dan tongkatnya sudah diputar-putar, akan tetapi bayangan itu melesat dan lenyap dari tempat itu!

Pat-jiu Kai-ong menoleh ke kanan-kiri, akan tetapi tidak tampak gerakan sesuatu. Dia makin penasaran. Dihampirinya tiga orang pengawalnya. Mereka telah tewas dan hanya mereka bertiga yang tidak dicap dahinya dengan tiga buah jari tangan hitam akan tetapi kematian mereka cukup mengerikan. Tombak golok dan pedang itu menembus punggung pemilik masing-masing sampai ujungnya keluar dari hulu hati!

Sambitan tiga buah senjata yang berlainan bentuknya itu dilakukan secara berbareng dari jarak yang cukup jauh, tapi tepat mengenai tiga sasarannya yang sedang berlari. Hal ini saja membuktikan pula betapa hebatnya kepandaian orang aneh itu. Mendadak Pat-jiu Kai-ong tersentak kaget. Di dalam gedung! Betapa tololnya dia! Semua pengawalnya yang berjumlah dua belas orang telah tewas semua. Tentu sekarang musuh itu masuk ke dalam gedung untuk membunuh orang-orang di dalam gedung.

Secepat kilat dia meloncat dan lari memasuki gedung. Benar saja, terdengar pekikan susul-menyusul dan begitu melewati pintu depan, dia sudah melihat para pelayannya telah menjadi mayat dan berserakan di sana-sini. Cepat dia lari ke dalam kamarnya dan dengan mata terbelalak dia melihat lima orang selirnya telah mati semua. Pada dahi mereka juga ada bekas tanda tapak tiga jari tangan dan semua lubang di muka mereka mengalirkan darah hitam!

Sunyi sekali di dalam gedung itu, kesunyian yang penuh rahasia. Lu-san Lo-jin! Pat-jiu Kai-ong mendadak teringat dan dia cepat lari ke dalam tempat tahanan. Ketika tiba di sana dia hanya melihat bahwa kakek itu pun telah tewas dan di dahinya terdapat pula tanda tapak tiga jari tangan, serta semua lubang di muka kakek itu mengalirkan darah hitam! Kini dia benar-benar bingung. Jelas bahwa musuh ini bukanlah kawan Lu-san Lojin seperti yang disangkanya semula!

Makin bingunglah dia dan dia lari pula ke dalam ruangan besar di mana dia tadi makan minum dengan Lu-san Lojin dan dua anaknya, di mana dia tadi menanti datangnya musuh rahasia. Dan begitu memasuki ruangan itu, dia tertegun! Ruangan itu kini terang sekali, agaknya ada yang menambah lampu penerangan. Ketika dia melihat, benar saja bahwa di situ terdapat banyak lampu, banyak sekali karena agaknya semua lampu penerangan dibawa dan dikumpulkan di ruangan itu. Dan di atas kursinya yang tadi ditinggalkan kosong, kini tampak duduk seorang wanita! Di depan wanita itu, juga duduk di atas kursi, tampak seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang memandangnya dengan mata penuh selidik.

Wanita itu cantik, pakaiannya mewah dan indah. Anak itu pun tampan dan bersih serta mewah pakaiannya. Wanita itukah yang membunuh semua orang di gedungnya? Tak mungkin agaknya. Wanita itu usianya paling banyak tiga puluh lima tahun, cantik dan kelihatan halus gerak-geriknya, hanya sepasang matanya mengeluarkan sinar yang aneh dan dingin sekali.

"Ibu, dia inikah orangnya?" tiba-tiba anak kecil itu bertanya, suaranya nyaring memecahkan kesunyian yang sejak tadi mencekam.

"Benar, dialah si bedebah Pat-jiu Kai-ong," wanita itu berkata, suaranya halus akan tetapi dingin menyeramkan.

"Kalau begitu, mengapa Ibu tidak lekas membunuhnya?"

Wanita itu tersenyum dan wajah yang cantik itu makin cantik, akan tetapi juga makin dingin menyeramkan. Wanita cantik itu kemudian bangkit berdiri perlahan-lahan. "Kau lihat sajalah Ibumu menundukkan si jembel busuk ini."

Wanita itu ternyata bertubuh tinggi ramping, dan ketika melangkah maju tampak gerakan kedua kakinya lemah lembut. Pat-jiu Kai-ong sudah dapat menguasai hatinya dan timbul keberaniannya setelah melihat bahwa orang itu hanyalah seorang manusia biasa, wanita yang kelihatan lemah pula, bukan seorang iblis yang menyeramkan sama sekali.

"Siapakah engkau? Siapa pembunuh orang-orangku dan apa hubunganmu dengan Ratu Pulau Es yang mengancamku?"

Wanita itu kini tiba di depan Pat-jiu Kai-ong sehingga Raja Pengemis ini dapat mencium bau harum semerbak yang keluar dari rambut dan pakaian wanita itu.

"Akulah Ratu Pulau Es, aku pula yang telah membunuh semua makhluk hidup di dalam gedungmu. Semua telah kubunuh kecuali engkau, Pat-jiu Kai-ong. Aku harus membunuhmu perlahan-lahan, menyiksamu sampai puas hatiku."

Mendengar ancaman ini, Raja Pengemis yang biasanya berhati kejam dan keras itu menjadi berdebar juga. Akan tetapi kemarahannya melenyapkan semua rasa jeri dan dia membentak, "Perempuan sombong! Siapakah engkau dan mengapa engkau memusuhi Pat-jiu Kai-ong?"

“Pat-jiu Kai-ong, agaknya kejahatanmu sudah begitu bertumpuk-tumpuk sehingga engkau tidak dapat mengenal korban-korbanmu lagi. Pandanglah aku baik-baik dan kumpulkan ingatanmu! Lupakah kau apa yang terjadi di kaki pegunungan Jeng-hoa-san sepuluh tahun yang lalu?"

Pat-jiu Kai-ong memandang dan terbayanglah peristiwa di Jeng-hoa-san sebelum dia naik ke puncak gunung itu untuk mencari Sin-tong. Kini dia dapat mengenal wajah ini, wajah cantik yang pernah merintih-rintih dan memohon pembebasan, namun yang dia permainkan secara kejam. "Kau... kau... Cap-sha Sin-hiap...?" tanyanya ragu-ragu.

"Benar. Aku adalah anggota paling muda dari Cap-sha Sin-hiap. Dua belas orang Suheng-ku telah kau bunuh. Ingatkah kau sekarang?"

Pat-jiu Kai-ong tertawa. Hatinya lega. Kalau hanya wanita muda itu, yang telah diperkosanya dan yang hanya menjadi orang ke tiga belas dari Cap-sha Sin-hiap, perlu apa dia takut? Biar perempuan ini agaknya telah memperdalam ilmunya selama sepuluh tahun ini, akan tetapi perlu apa dia takut?

"Ha-ha-ha, kiranya engkaukah ini, manis? Tentu saja aku masih ingat kepadamu, siapa bisa melupakan kenang-kenangan manis selama tiga hari itu? Ha-ha-ha, betapa mesranya!"

“Jahanam! Kematian sudah di depan mata dan kau masih berlagak? Pat-jiu Kai-ong, aku telah datang dan rasakanlah pembalasanku. Aku akan membuat kau menyesal mengapa kau pernah dilahirkan ibumu!"

"Perempuan sombong, mampuslah!" Pat-jiu Kai-ong sudah menerjang dengan tongkatnya.

Dia melakukan penyerangan dengan dahsyat, menusukkan tongkatnya yang tentu akan menembus dada wanita itu kalau tidak cepat wanita itu mengebutkan ujung lengan bajunya menangkis.

"Trakk!" tongkat itu menyeleweng dan terkejutlah Pat-jiu Kai-ong.

Ternyata lawannya ini benar-benar telah memperoleh kemajuan hebat dan telah memiliki sinkang yang tak boleh dipandang ringan. Tentu saja! Wanita itu bukan lain adalah The Kwat Lin yang selama sepuluh tahun ini menjadi istri atau permaisuri Raja Pulau Es, Han Ti Ong yang sakti! Wanita ini selama sepuluh tahun telah menggembleng diri di bawah petunjuk suaminya yang amat mencintainya. Bahkan suaminya telah menurunkan ilmu-ilmu yang khusus untuk menghadapi ilmu tongkat Pat-jiu Kai-ong dan ilmu mukjijat Hiat-ciang Hoat-sut dari Raja Pengemis ini atas permintaan The Kwat Lin. Karena itu, biar pun memiliki sebatang pedang yang menempel di punggungnya, The Kwat Lin tidak menggunakan senjata, melainkan ujung lengan bajunya untuk menghadapi tongkat karena memang kedua ujung lengan baju ini merupakan sepasang senjata yang dilatihnya khusus untuk mengatasi tongkat Raja Pengemis itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, The Kwat Lin menggunakan kesempatan selagi Han Ti Ong pergi menyerbu Pulau Neraka untuk meninggalkan Pulau Es. Hal ini sudah bertahun-tahun dia cita-citakan. Dia menjadi istri Han Ti Ong hanya karena ingin mewarisi ilmu kepandaiannya, akan tetapi setelah menjadi permaisuri, dia pun ingin memiliki pusaka Pulau Es dan benda-benda berharga lainya. Maka dia menanti kesempatan baik untuk meninggalkan pulau, tentu saja meninggalkan untuk selamanya karena pada hakekatnya dia tidak suka tinggal di pulau itu. Siapa suka tinggal di Pulau Es yang membosankan dan jauh dari dunia ramai itu?

Pergilah dia mengajak puteranya, Han Bu Hong, meninggalkan Pulau Es sewaktu suaminya tidak ada, tentu saja sambil membawa pusaka Pulau Es. Dengan alasan akan menyusul suaminya yang menyerbu Pulau Neraka, tidak ada seorang pun berani menghalangi kepergiannya dan akhirnya, dengan kepandaiannya yang sudah tinggi, dia berhasil mendarat.

Berbulan-bulan setelah menyelidiki akhirnya dia dapat menemukan tempat tinggal musuh besarnya di lereng Heng-san. Dia kemudian mengajak puteranya, dan setelah menyembunyikan puteranya, dia menyelidiki keadaan istana Raja Pengemis itu. Hatinya amat tertarik saat melihat Swi Liang dan Swi Nio, maka dia menculik mereka dan membawa mereka ke dalam hutan di mana Bu Hong menanti ibunya.

"Kalian kuselamatkan dengan maksud untuk mengangkat kalian berdua menjadi muridku," dia berkata tanpa banyak cerita lagi. "Tinggal kalian pilih, mati atau hidup. Kalau ingin mati, kalian semestinya mati karena kalian berada di gedung Pat-jiu Kai-ong. Karena sekarang belum malam, maka kalian belum mestinya dibunuh dan karenanya boleh pula kukeluarkan dari sana. Kalau kalian ingin hidup harus suka menjadi muridku. Bagaimana?"

Tentu saja dua orang muda itu ingin hidup dan segera berlutut di depan calon Subo (ibu guru) mereka. "Harap subo sudi menolong Ayah kami...," kata Swi Liang.

"Kalian tinggal saja di sini menemani sute kalian ini. Tentang Ayahmu, kita lihat saja nanti."

The Kwat Lin meninggalkan dua orang murid itu bersama puteranya. Setelah itu mulailah dia turun tangan membunuh semua binatang peliharaan di gedung Raja Pengemis itu, lalu membunuh semua pengawal, pelayan, dan para selir. Lu-san Lojin juga dibunuhnya karena dia sudah berjanji akan membunuh semua makhluk hidup di dalam gedung itu, apalagi dia tahu bahwa kalau tidak dibunuh, kakek itu tentu akan menjadi penghalang baginya mengambil murid Swi Liang dan Swi Nio yang menarik hatinya. Setelah makhluk hidup yang tersisa tinggal Pat-jiu Kai-ong, dia lalu keluar dari gedung, menyuruh kedua orang muridnya menanti di hutan. Akhirnya bersama puteranya, dia dapat berhadapan dengan musuh besarnya itu.

Han Bu Ong, anak laki-laki yang baru berusia sepuluh tahun itu, duduk di kursi dan menonton pertandingan dengan mata terbelalak dan jarang berkedip. Dia sama sekali tidak merasa takut atau khawatir. Dia percaya penuh kepada kelihaian ibunya dan memang sejak kecil anak ini memiliki keberanian luar biasa dan kekerasan hati yang amat aneh bagi seorang anak sebesar itu. Melihat kekejaman-kekejaman yang terjadi, dia tidak pernah merasa ngeri, bahkan merasa gembira!

Hati Pat-jiu kai-ong terkejut sekali setelah selama lima puluh jurus dia mainkan tongkatnya namun tidak mampu menembus pertahanan sepasang ujung lengan baju lawannya, bahkan lawannya terkekeh-kekeh mengejeknya. Walau pun sang lawan hanya mainkan ujung lengan baju, namun ternyata tongkat yang biasanya dia andalkan itu sama sekali tidak berdaya!

"Keparat, mampuslah!" tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong berseru keras, disusul dengan gerengan dahsyat yang menggetarkan seluruh ruangan itu.

Han Bu Ong terpelanting jatuh dari kursinya, akan tetapi bocah ini sudah duduk bersila dan mengatur pernapasan, menutup pendengaran. Ternyata sekecil itu, Bu Ong telah digembleng hebat oleh ayahnya sehingga dengan dasar latihan sinkang Inti Salju, dia kini mampu menulikan telinga dan menghadapi auman Sai-cu Ho-kang dari Pat-jiu Kai-ong! Padahal lawan yang tidak begitu kuat sinkang-nya, mendengar auman Sai-cu Ho-kang yang berdasarkan khikang yang amat kuat ini, sudah pasti akan roboh.

Sementara itu, The Kwat Lin yang melihat puteranya dapat menyelamatkan diri, sudah mengeluarkan suara terkekeh-kekeh. Lawannya terkejut bukan main karena dari suara ini keluar getaran yang menghancurkan ilmunya bahkan menyerangnya dengan hebat. Terpaksa dia menghentikan auman Sai-cu Ho-kang dan mempercepat gerakan tongkatnya dengan Ilmu Tongkat Pat-mo-tung-hoat (Ilmu Tongkat Delapan Iblis) yang dahsyat.

The Kwat Lin memang hendak mempermainkan lawannya, maka dia hanya menangkis dan mengelak. Hal ini sengaja dilakukannya untuk memamerkan kepandaiannya dan untuk meyakinkan lawan bahwa akhirnya lawan akan roboh olehnya sehingga lawannya yang amat dibencinya itu akan ketakutan setengah mati! Dan memang usahanya ini berhasil.

Keringat dingin membasahi muka Pat-jiu Kai-ong dan tahulah kakek ini bahwa mengandalkan ilmu silat saja, dia tidak akan menang melawan wanita yang pernah dipermainkannya dan diperkosanya selama tiga hari tiga malam itu. Maka dia lalu mengerahkan tenaganya, mengerahkan sinkang, lalu tiba-tiba dia memekik dan menghantamkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka.

The Kwat Lin sudah menduga bahwa lawannya tentu akhirnya akan menggunakan ilmu Hiat-ciang Hoatsut ini. Dia sudah mendengar dari suaminya akan ilmu mukjijat ini, maka dia bersikap hati-hati dan tidak berani memandang rendah. Bahkan dia amat terkejut ketika menyaksikan cahaya merah menyambar ke luar, merasakan getaran mukjijat dan mencium bau amis darah yang memuakkan. Cepat dia menekuk kedua lututnya sedikit, kemudian mendorongkan telapak tangan kanannya dengan tiga buah jari tangan diluruskan. Hawa dingin meluncur ke luar dari telapak tangannya menyambut hawa pukulan Hiat-ciang Hoat-sut.

"Dess!" benturan dua tenaga mukjijat bertemu dan tubuh kedua orang itu tergetar hebat!

Kiranya tenaga Hiat-ciang Hoat-sut sudah sedemikian ampuhnya sehingga dalam benturan tenaga ini Pat-jiu Kai-ong dapat mengimbangi tenaga The Kwat Lin. Kalau kakek itu merasa betapa tubuhnya mendadak menjadi dingin sekali, sebaliknya The Kwat Lin merasa tubuhnya panas! Namun keduanya dapat melawan hawa ini dan berkali-kali mereka mengadu tenaga sinkang lewat telapak tangan mereka.

Tiba-tiba ujung lengan baju kiri The Kwat Lin menyambar ke arah ubun-ubun kepala kakek itu yang menjadi terkejut sekali dan menangkis dengan tongkatnya. Ujung lengan baju melibat dan tangan The Kwat Lin menyambar ke depan dari dalam lengan baju itu untuk menangkap tongkat. Pat-jiu Kai-ong cepat menghantamkan tangan kirinya lagi dengan tenaga Hiat-ciang Hoat-sut sekuatnya, mengarah kepala lawan. Namun hal ini sudah diperhitungkan oleh wanita itu yang cepat sekali menarik tongkat yang dicengkeramnya untuk menangkis.

"Krekkkk!" tongkat Raja Pengemis itu hancur terkena pukulannya sendiri.

Selagi dia terkejut bukan main, tahu-tahu ujung lengan baju kanan wanita itu sudah menyambar ke arah matanya! Dia berteriak kaget, miringkan kepala, akan tetapi ternyata ujung lengan baju itu tidak menyerang mata, melainkan menyeleweng ke bawah dan menotok lehernya.

"Auggghh...!" Kalau orang lain terkena totokan yang tepat mengenai jalan darah, tentu akan roboh dan tewas. Akan tetapi tubuh Pat-jiu Kai-ong sudah kebal, maka totokan yang kuat itu hanya membuat ia terhuyung ke belakang.

Melihat ini The Kwat Lin tertawa terkekeh. Kembali kedua tangannya bergerak dengan cepat sekali dan biar pun Raja Pengemis itu sudah berusaha mati-matian membela diri, namun karena totokan pertama membuat pandangan matanya berkunang sehingga gerakannya menjadi kurang cepat. Dua kali totokan lagi dan sebuah tamparan dengan tiga jari tangan yang tepat mengenai punggungnya membuat dia roboh pingsan!

Ketika dia siuman. Pat-jiu Kai-ong mendapatkan dirinya sudah rebah terlentang di atas lantai dan tidak mampu menggerakkan kaki tangannya, bahkan tidak mampu mengeluarkan suara. Selain tertotok jalan darah yang membuatnya menjadi lumpuh, juga urat gagu di lehernya telah ditotok. Tahulah dia bahwa dia tak berdaya lagi dan nyawanya berada di tangan lawan. Dia pun maklum bahwa wanita ini tidak akan mungkin mengampuni kesalahannya. Maka dia hanya memejamkan mata menanti datangnya kematian.

"Bret-bret-brettt...!”

“Hi-hi-hik! Lihatlah, Bu Ong. Lihat binatang ini!"

Pat-jiu Kai-ong memaki dalam hatinya. Apa maunya perempuan ini? Seluruh pakaiannya direnggut lepas semua sehingga dia terlentang dalam keadaan telanjang bulat sama sekali! Karena ingin tahu, bukan karena jeri sebab seorang datuk macam Pat-jiu Kai-ong juga tidak mengenal takut, dia menggerakkan pelupuk mata dan mengintai dari balik bulu matanya. Dia melihat anak laki-laki itu turun dari kursinya, memandanginya dan tertawa.

"Heh-heh, ibu,dia lucu sekali! Lucu dan amat buruk... eh, menjijikkan!"

The Kwat Lin tertawa-tawa. Sekali ujung lengan bajunya bergerak menyambar ke arah leher Pat-jiu Kai-ong, kakek ini terbebas dari totokan urat gagunya dan dapat mengeluarkan suara.

"Perempuan hina, mau bunuh lekas bunuh! Aku tidak takut mati!" teriaknya marah.

"Hi-hik, enak saja! Ingatkah kau betapa aku dahulu pun minta-minta mati kepadamu? Tidak, engkau harus mengalami siksaan, mati sekerat demi sekerat! Bu Ong, dia inilah yang membunuh dua belas orang Supek-mu secara kejam. Maukah kau membalaskan sakit hati dan kematian para Supek-mu?"

"Tentu saja! Akan kubunuh anjing tua ini!" Bu Ong sudah melangkah maju dan anak ini memandang dengan muka bengis.

"Nanti dulu, Bu Ong. Terlampau enak baginya kalau dibunuh begitu saja. Tidak, untuk setiap orang dari Suheng-ku, dia harus menderita satu macam siksaan. Jari tangannya. Hi-hik, jari-jari tangannya berjumlah sepuluh, itu untuk sepuluh orang Suheng! Dan dua buah daun telinganya itu untuk kedua Suheng yang lain."

The Kwat Lin mencabut pedangnya, menyerahkan kepada puteranya sambil tertawa-tawa, kemudian dia mengerahkan khikang-nya, ‘mengirim suara’ dengan ilmunya yang tinggi ini sehingga suaranya hanya terdengar oleh Pat-jiu Kai-ong, akan tetapi sama sekali tidak terdengar oleh anaknya.

"Pat-jiu Kai-ong, tahukah kau siapa bocah ini? Dia ini adalah puteramu! Keturunanmu! Hasil kotor dari perkosaanmu atas diriku. Nah, sekarang kau lihatlah anakmu, darah dagingmu sendiri yang akan menyiksa dirimu!"

Sepasang mata Pat-jiu Kai-ong terbelalak lebar, mukanya pucat sekali. Puluhan tahun dia ingin sekali memperoleh keturunan, terutama seorang putera, akan tetapi Biar pun dia sudah berganti-ganti selir sampai ratusan kali, tetap saja para selir itu tidak pernah memperoleh keturunannya. Sekarang secara tidak sengaja dia telah memperoleh seorang putera! Dan puteranya itu dengan pedang di tangan menghampirinya, siap untuk menyiksanya!

Tadi dia terheran melihat betapa bekas anggota Cap-sha Sin-hiap, murid Bu-tong-pai yang terkenal gagah itu menjadi begitu keji, mengajar putera sendiri melakukan kekejaman. Kiranya wanita itu memang sengaja hendak menyiksanya dengan menggunakan tangan keturunannya sendiri! Kiranya wanita itu juga membenci anak itu seperti juga membencinya, maka sengaja membiarkan anak itu menyiksa dan membunuh ayah sendiri!

"Anak... jangan... dengarkanlah...."

"Pratttt...!" Pat-jiu Kai-ong tidak dapat melanjutkan kata-katanya yang tadinya hendak mmperingatkan anak laki-laki itu karena urat gagunya di leher telah ditotok oleh lengan baju The Kwat Lin.

Bekas Ratu Pulau Es itu terkekeh menyeringai. "Pat-jiu Kai-ong, begini pengecutkah engkau? Haiii... di mana kegagahanmu sebagai seorang datuk? Lihatlah baik-baik dan nikmatilah siksaan anak ini! Bu Ong, pergunakan pedang itu. Pertama buntungi kedua daun telinganya untuk Twa-supek dan Ji-supek-mu!"

"Baik, Ibu!" Bu Ong lalu melangkah maju.

Ternyata anak itu sudah pandai menggunakan pedang. Dua kali pedang itu berkelebat, buntunglah kedua daun telinga Pat-jiu Kai-ong ! Dapat dibayangkan betapa nyeri, perih dan pedih rasa badan dan hati kakek itu. Air matanya meloncat ke luar membasahi pipinya!

"Ha-ha, Ibu! Lihat, dia menangis!" anak itu bersorak dan mengambil dua buah daun telinga itu. "He-he, seperti telinga babi!"

Memang Pat-jiu Kai-ong menangis! Akan tetapi bukan menangis karena rasa nyeri dan pedih karena kedua daun telinganya buntung, melainkan nyeri di hati yang lebih hebat lagi melihat betapa anaknya sendiri yang sejak puluhan tahun yang lalu dirindukannya, kini bersorak girang melihat penderitaannya! Dia tidak takut mati, tidak takut sakit, akan tetapi melihat betapa dia menghadapi siksaan dan kematian di tangan anaknya sendiri, benar-benar merupakan tekanan batin yang hampir tak kuat dia menanggungnya.

"Teruskan, Bu Ong. Masih ada sepuluh orang Supek-mu yang belum dibalaskan sakit hatinya. Jari-jari tangannya yang sepuluh itu! Perlahan-lahan saja, satu demi satu buntungkan!"

Mulailah penyiksaan yang amat mengerikan itu dilakukan oleh Bu-ong. Anak ini seolah-olah telah menjadi gila. Dengan tertawa-tawa dia membuntungi semua jari tangan kakek itu satu demi satu dan setiap buntung sebuah jari, dia bersorak kegirangan.

Memang sejak dapat mengerti omongan, anak ini dijejali dendam oleh ibunya, dendam terhadap Pat-jiu Kai-ong. Diceritakan betapa Pat-jiu Kai-ong telah membunuh dua belas orang suheng-nya dan betapa Raja Pengemis itu menyiksanya dan Bu Ong kelak harus membalas dendam itu. Maka kini anak itu sama sekali tidak menaruh rasa kasihan, bahkan hatinya puas sekali dapat menyiksa kakek itu.

Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan Pat-jiu Kai-ong. Namun dia tidak menyesali nasibnya. Dia maklum bahwa dirinya pun telah melakukan perbuatan sewenang-wenang atas diri The Kwat Lin sehingga pembalasan ini sudah jamak. Hanya satu hal yang membuat air matanya bercucuran, yaitu melihat betapa dia disiksa dan akan dibunuh oleh darah dagingnya sendiri. Dia menangis melihat darah dagingnya sendiri itu, yang baru berusia sepuluh tahun, telah menjadi seorang iblis cilik yang demikian kejam!

Kini The Kwat Lin membebaskan totokan yang membuat kaki tangannya lumpuh. Begitu kaki tangannya dapat bergerak, Pat-jiu Kai-ong meloncat dan menerkam ke arah Bu Ong dengan ke dua tangan yang sudah tak berjari lagi itu, yang berlumuran darah. Niat hatinya untuk membunuh saja anaknya itu agar kelak tidak dijadikan iblis cilik oleh ibu yang membencinya. Akan tetapi sebuah tendangan dari samping yang dilakukan oleh The Kwat Lin membuat dia terguling lagi. Rasa nyeri pada kedua ujung tangannya membuat kakek itu menggeliat-geliat.

"Mundurlah, Bu-ong. Lihat sekarang Ibumu yang akan turun tangan. Aku akan membalas sendiri perbuatannya kepadaku dahulu!"

The Kwat Lin menghampiri musuhnya dengan pedang di tangan. "Pat-jiu Kai-ong, ingatlah engkau akan peristiwa dahulu itu? Bayangkanlah, hi-hik. Bayangkanlah betapa nikmatnya bagimu dan betapa tersiksa dan sengsaranya bagiku. Sekarang aku yang menikmati dan kau yang menderita. Sudah adil bukan? Nah, terimalah ini... ini... ini...!"

Bertubi-tubi pedang di tangan The Kwat Lin bergerak. Tubuh kakek itu bergulingan, berkelojotan karena rasa nyeri yang amat hebat ketika ujung pedang itu membabat ke seluruh tubuhnya, dengan tepat sekali membabat ujung semua jari kakinya, hidungnya, dagunya. Babatan itu hanya mengenai ujung sedikit, tidak membahayakan keselamatan nyawa, namun menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Seluruh tubuh kakek itu kini berlepotan darah, mukanya dipenuhi oleh kerut-merut menahan nyeri.

"Hi-hik, bagaimana? Masih kurang? Nah, rasakanlah ini!"

Kembali pedang itu digerakkan, kini menusuk-nusuk dan seluruh tubuhnya ditusuki ujung pedang bertubi-tubi. Ujung pedang hanya menusuk dua senti saja sehingga menembus kulit daging, akan tetapi tidak membunuh. Darah keluar makin banyak lagi, rasa nyeri makin menghebat sehingga tubuh kakek itu berkelojotan seperti dalam keadaan sekarat.

"Ini yang terakhir!" The Kwat Lin berkata.

Ujung pedangnya membabat ke bawah pusar. Wanita itu tertawa bergelak, tertawa puas. Wajahnya yang cantik itu pucat sekali dan dia tertawa sambil berdongak ke atas. "Suheng sekalian, terutama Twa-suheng, lihatlah musuhmu. Sudah puaskah kalian?!" Dan dia terisak, lalu menghampiri tubuh yang berkelojotan itu. "Akan tetapi aku belum puas! Kau harus tidur dalam keadaan tersiksa di antara mayat-mayat yang membusuk, selama tiga hari tiga malam!"


BERSAMBUNG KE JILID 07