Bu Kek Siansu Jilid 07

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU



Kho Ping Hoo Serial Bu Kek Siansu jilid 07


JILID 07

THE KWAT LIN menengok kepada anaknya dan berkata, "Bu Ong, kau tunggu di sini sebentar!"

Tubuh The Kwat Lin berkelebat meninggalkan ruangan itu. Dengan cepat dia telah datang kembali sambil menyeret mayat-mayat para pengawal, selir dan pelayan sampai ruangan itu penuh dengan mayat-mayat yang dia lemparkan ke sekeliling tubuh Pat-jiu Kai-ong yang mandi darah.

"Nah, nikmatilah sekaratmu selama tiga hari!"

The Kwat Lin lalu menggandeng tangan anaknya dan mengajak pergi meninggalkan gedung itu. Ketika mereka berdua tiba di dalam hutan di depan gedung, Swi Liang dan Swi Nio menyambut mereka dengan mata penuh harapan.

"Mana Ayah, Subo?" Swi Liang bertanya.

"Bagaimana dengan dia?" Swi Nio juga bertanya.

"Ayah kalian telah tewas...."

Dua orang muda itu mengeluh dan menangis. Swi Liang mengepal tinjunya dan berkata, "Si jahanam Pat-jiu Kai-ong! Aku harus membalas kematian Ayah!"

"Subo, bantulah kami...," kata pula Swi Nio. "Kami harus menuntut balas!"

"Heh-heh, Suheng dan Suci, tenangkanlah hati kalian. Pat-jiu Kai-ong telah di balas dan sekarang sedang sekarat di antara tumpukan mayat, he-he-heh! Wah, aku mendapat bagian pesta tadi. Akulah yang membuntungi kedua telinganya dan sepuluh jari tangannya. Menyenangkan sekali!"

Swi Liang dan Swi Nio terbelalak memandang ‘sute’ ini. Ucapan anak itu benar-benar membuat mereka merasa seram. Memang, mendengar kematian ayah mereka yang tanpa keraguan lagi mereka yakin tentu dilakukan oleh Pat-jiu Kai-ong, mereka pun merasa sakit hati dan ingin membalas dendam. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh sute mereka menurut pengakuan anak itu, sungguh luar biasa sekali. Membuntungi kedua daun telinga dan sepuluh jari tangannya, dan perbuatan itu dianggap menyenangkan sekali dan berpesta, benar-benar membuat mereka bergidik!

"Musuhmu sedang menanti saat kematian, harap kalian tenang dan tidak memikirkannya lagi. Ayahmu telah tewas, dan kalian akan kuajak bersamaku sebagai muridku. Akulah pengganti ayah kalian."

Swi Liang dan Swi Nio menjatuhkan diri dan berlutut di depan subo mereka sambil bercucuran air mata. "Terima kasih Subo...," kata mereka di antara tangis mereka.

"Perkenankan kami mengubur jenazah Ayah," kata pula Swi Liang.

"Tidak perlu. Kita menanti di sini sampai tiga hari, setelah itu aku akan membakar gedung itu."

Biar pun merasa heran dan kasihan kepada mayat ayah mereka, kedua orang yang sudah merasa ditolong dan dibalaskan sakit hati itu tidak membantah. Mereka tentu saja tidak tahu betapa mayat ayah mereka itu ikut pula dilempar oleh The Kwat Lin di dekat tubuh Pat-jiu Kai-ong untuk ikut menyiksa musuh besar ini!

Memang Pat-jiu Kai-ong tersiksa hebat bukan main. Ketika tadi anaknya membuntungi jari-jari tangannya, dia melihat muka anaknya itu berubah-ubah menjadi muka banyak anak laki-laki yang menjadi korbannya. Puluhan, bahkan ratusan anak laki-laki yang menjadi korbannya itu seolah-olah mengeroyoknya, memaki dan mengejeknya. Kini, setelah tubuhnya mandi darah dan rasa nyeri merasuk sampai menusuk-nusuk tulang, dia ditinggalkan di antara mayat-mayat itu. Celaka baginya, tubuhnya yang terlatih memiliki daya tahan yang amat kuat sehingga dia tidak menjadi pingsan oleh rasa nyeri itu. Kalau saja dia dapat pingsan atau mati sekalian, tentu dia tidak akan menderita sehebat itu.

Mayat-mayat itu mulai mengeluarkan bau yang memuakkan pada hari ke dua. Bau darah yang mengering dan membusuk, ditambah rasa nyeri di sekujur tubuhnya, masih diganggu lagi oleh bayangan anak-anak yang dahulu menjadi korbannya, membuat Pat-jiu Kai-ong menangis di dalam hatinya. Ia amat menyesali perbuatannya yang mengakibatkan dia mati dalam keadaan tersiksa seperti itu.

Tiga hari kemudian, The Kwat Lin muncul dan perempuan ini tertawa bergelak melihat musuh besarnya masih belum mati. Senang sekali hatinya. Dahulu, dia diperkosa dan dipermainkan di antara mayat-mayat suheng-nya selama tiga hari tiga malam, dan kini dia dapat membalas secara memuaskan sekali.

"Hi-hik, kau sudah puas sekarang?" ejeknya. "Nah, mampuslah kau. Pat-jiu Kai-ong!"

Pedangnya berkelebatan dan seluruh bagian tubuh di bawah pusar kakek itu dicincang hancur oleh pedang di tangan The Kwat Lin. Setelah merasa puas melihat mayat musuh besarnya, barulah dia membuat api dan membakar gedung itu, lalu berlari ke luar.

Dengan air mata bercucuran, Swi Liang dan Swi Nio memandang nyala api yang membakar gedung, maklum bahwa mayat ayah mereka ikut terbakar.

"Ayahmu telah sempurna," kata The Kwat Lin. "Tak perlu menangis lagi, hayo kalian ikut bersamaku. Kalau kalian rajin mempelajari ilmu, kelak kalian tidak akan mengalami penghinaan orang lagi."

Dengan hati berat namun karena tidak ada orang lain yang mereka pandang setelah ayah mereka meninggal, dua orang muda itu terpaksa mengikuti The Kwat Lin bersama Han Bu Ong pergi meninggalkan Heng-san.

Bu-tong-pai adalah sebuah perkumpulan silat yang besar, merupakan sebuah di antara ‘partai-partai’ persilatan yang terkenal. Akan tetapi pada saat ini Bu-tong-pai sedang berkabung. Di markas perkumpulan itu yang letaknya di lereng pegunungan Bu-tong-san, dari pintu gerbang sampai rumah-rumah para tokoh dan murid kepala, tampak kibaran kain-kain putih menghias pintu, tanda bahwa Bu-tong-pai sedang berkabung. Siapakah yang meninggal dunia? Bukan lain adalah ketua Bu-tong-pai yang sudah berusia lanjut, yaitu Kiu Bhok Sianjin yang meninggal dunia dalam usia delapan puluh tahun.

Baru saja upacara penguburan selesai dilakukan oleh para anak murid Bu-tong-pai. Para tamu telah meninggalkan pegunungan Bu-tong-san, akan tetapi semua anak murid Bu-tong-pai masih berkumpul di sekitar kuburan baru itu. Suasana penuh perkabungan dan masih tampak beberapa orang murid yang mengusap air mata. Kui Bhok Sianjin terkenal sebagai seorang ketua dan guru yang baik dan yang dicintai oleh para anak murid Bu-tong-pai.

"Suhu...!" seruan ini membuat semua orang menengok.

Tampaklah seorang wanita cantik berlari mendatangi, diikuti oleh sepasang muda-mudi remaja dan seorang anak laki-laki. Wanita itu tidak menoleh ke kanan-kiri, melainkan langsung berlari menghampiri kuburan baru itu dan menjatuhkan diri berlutut di depan batu nisan sambil menangis.

"Ahh, bukankah dia Sumoi The Kwat Lin...?" seorang murid Kui Bhok Sianjin yang usianya lima puluhan berseru.

Semua orang memandang dan kini mereka pun mengenal wanita yang berpakaian indah seperti seorang nyonya bangsawan itu. The Kwat Lin! Tentu saja mereka semua kini teringat. Bukankah The Kwat Lin merupakan seorang anak murid Bu-tong-pai yang amat terkenal sebagai orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap yang sudah bertahun-tahun lenyap tanpa meninggalkan jejak?

"Benar, dia orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap!" terdengar seruan-seruan setelah mereka mengenal wanita cantik itu.

Mendengar suara-suara itu, wanita ini lalu bangkit berdiri, menyusuti air matanya, kemudian memandang kepada mereka sambil berkata, "Benar, aku adalah The Kwat Lin, orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap. Masih baik kalian mengenalku! Sekarang Suhu telah meninggal dunia, siapakah yang akan menggantikannya sebagai ketua Bu-tong-pai?"

Para tokoh Bu-tong-pai terkejut menyaksikan sikap angkuh ini. Di antara mereka, terdapat delapan orang yang terhitung suheng-suheng dari The Kwat Lin, dan orang tertua di antara mereka adalah seorang kakek berpakaian seperti pendeta tosu. Sejak tadi kakek tosu ini mengerutkan alisnya setelah mendengar bahwa wanita itu adalah orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap, maka kini mendengar pertanyaan Kwat Lin, dia melangkah maju.

"Sian-cai..., tak pernah pinto sangka bahwa anggota termuda dari Cap-sha Sin-hiap akan muncul hari ini. Berarti engkau adalah murid termuda dari mendiang Suheng, dan kalau engkau ingin mengetahui, pinto yang dipilih oleh anak murid Bu-tong-pai, juga telah ditunjuk oleh mendiang Suheng menjadi ketua di Bu-tong-pai," ujar kakek yang berpakaian tosu ini.

Kwat Lin mengangkat mukanya memandang. Tosu itu bertubuh kecil sedang. Biar pun mukanya penuh keriput, namun matanya bersinar terang. Jenggotnya yang terpelihara baik dan mengitari mulutnya itu masih hitam semua, demikian pula rambutnya yang diikat dan diberi tusuk konde dari perak. Pakaiannya sederhana saja, pakaian seorang pendeta To yang longgar.

"Siapakah Totiang?"

"Ha-ha-ha-ha, sungguh lucu kalau seorang murid keponakan tidak mengenal susiok-nya sendiri. Ketahuilah bahwa pinto adalah Kui Tek Tojin, satu-satunya saudara seperguruan dari mendiang Kui Bhok Sianjin yang masih hidup."

Kwat Lin sudah pernah mendengar nama susioknya (paman gurunya) ini, seorang tosu perantau, sute termuda dan satu-satunya yang masih hidup dari mendiang Suhu-nya. Dia mencibirkan bibirnya yang merah dengan gaya mengejek, kemudian berkata dengan suara lantang, "Ah, kiranya Susiok Kui Tek Tojin yang menggantikan Suhu menjadi ketua Bu-tong-pai? Sungguh keputusan yang sama sekali tidak tepat! Aku tidak setuju sama sekali kalau Susiok yang menjadi ketua!"

Tosu itu membelalakkan matanya dan memandang kaget, heran dan penasaran. Akan tetapi sebelum dia mengeluarkan kata-kata, seorang tosu lain yang bernama Souw Cin Cu, murid tertua dari Kui Bhok Sianjin, melangkah maju dan berkata, "Sumoi, apa yang kau katakan ini? Betapa beraninya engkau mengatakan demikian! Keputusan ini tidak saja sesuai dengan petunjuk Suhu, juga telah menjadi keputusan kami semua. Pula, Susiok merupakan satu-satunya saudara seperguruan mendiang Suhu, sehingga kedudukannya paling tinggi dan usianya paling tua di antara kita. Siapa lagi kalau bukan beliau yang menggantikan Suhu menjadi ketua kita?"

"Siancai, kedatangan yang mendadak dan tak tersangka-sangka, juga pendapat yang mengejutkan. Betapa pun juga, sebagai murid mendiang Suheng, dia berhak berbicara untuk kepentingan dan kebaikan Bu-tong-pai. The Kwat Lin, bukankah demikian namamu tadi? Kalau menurut pendapatmu, siapa gerangan yang patut dijadikan ketua Bu-tong-pai menggantikan Suheng yang telah tidak ada?"

"Harap maafkan aku, Susiok. Bukan sekali-kali aku memandang rendah kepada Susiok, akan tetapi penolakanku itu berdasarkan perhitungan yang matang," Kwat Lin berkata kepada calon ketua Bu-tong-pai itu.

Tentu saja semua orang yang mendengar dan melihat sikap tidak menghormat dari wanita itu menjadi terkejut dan heran. Kwat Lin melihat perubahan wajah orang-orang itu, namun dia tidak mempedulikan, seakan-akan semuanya dalam keadaan wajar saja.

The Kwat Lin berkata lagi, "Pertama-tama sejak dahulu Susiok selalu merantau, tidak pernah mempedulikan keadaan Bu-tong-pai, apalagi Susiok adalah seorang tosu sehingga kalau Susiok yang menjadi ketua Bu-tong-pai, ada bahayanya Bu-tong-pai akan berubah menjadi perkumpulan Agama To! Berbeda sekali dengan pendirian mendiang Suhu yang bebas sehingga murid suhu pun terdiri dari bermacam-macam golongan. Selain itu, selama ini Bu-tong-pai makin kehilangan sinarnya, menjadi bahan ejekan dan bahan penghinaan orang lain."

"Ahhhh...!" terdengar suara memprotes dari sana-sini.

Souw Cin Cu kembali berkata penasaran, "Sumoi, aku benar-benar merasa heran mendengar kata-katamu dan melihat sikapmu. Sepuluh tahun engkau dan para suheng-mu menghilang dan kini engkau muncul seperti seorang yang lain. Seperti langit dengan bumi bedanya antara engkau dahulu dan engkau sekarang! Sumoi, kau mengatakan bahwa Bu-tong-pai menjadi lemah dan menjadi bahan ejekan dan penghinaan orang lain. Apa artinya ini?"

"Souw Cin Cu Suheng, selama bertahun-tahun ini Cap-sha Sin-hiap telah lenyap, tahukah engkau apa yang terjadi dengan mereka?"

"Kami telah berusaha menyelidiki namun tidak dapat menemukan kalian."

"Hemm, itulah tandanya bahwa Bu-tong-pai amat lemah, sehingga semua Suheng-ku, tokoh-tokoh Cap-sha Sin-hiap, dibunuh orang tanpa diketahui oleh Bu-tong-pai!"

Semua orang terkejut sekali mendengar bahwa dua belas orang dari Cap-sha Sin-hiap telah dibunuh orang!

"Siapa yang membunuh mereka?" Souw Cin Cu bertanya dengan suara marah sekali. Hati siapa yang takkan menjadi panas dan marah mendengar bahwa dua belas orang saudara seperguruannya dibunuh orang!

"Hemm, terlambat sudah! Dua belas orang Suheng dibunuh oleh Pat-jiu Kai-ong ketua Pat-jiu Kai-pang di Heng-san."

"Ohhh...!" kini Kui Tek Tojin berseru kaget. "Pat-jiu Kai-ong...? Mengapa...?"

Kwat Lin tersenyum mengejek. "Ahhh, tentu Susiok pernah mendengar nama besarnya dan menjadi gentar, bukan? Memang dialah datuk sesat yang terkenal itu, yang telah membunuh dua belas orang Suheng-ku, dan peristiwa itu berlalu begitu saja! Tiga belas orang tokoh Bu-tong-pai mengalami penghinaan, dan Bu-tong-pai sendiri diam saja. Jangankan berusaha membalas dendam, bahkan tahu pun tidak akan peristiwa itu! Ini tandanya bahwa Bu-tong-pai lemah! Kini Bu-tong-pai hendak diketuai oleh Susiok, apakah akan dijadikan markas kaum pendeta Tosu dan menjadi makin lemah lagi? Aku sendirilah yang harus turun tangan membunuh musuh-musuh besar kami, membunuh Pat-jiu Kai-ong dan membasmi Pat-jiu Kai-pang di Heng-san. Melihat kelemahan Bu-tong-pai, aku tidak setuju kalau mendiang Suhu digantikan kedudukannya oleh Susiok Kui Tek To-jin, harus diganti oleh orang yang memiliki kepandaian tinggi dan dapat memajukan dan memperkuat Bu-tong-pai, barulah tepat!" Kwat Lin bicara penuh semangat, mukanya yang cantik dan berkulit halus itu kemerahan, sepasang matanya bersinar-sinar dan dengan tajamnya menyapu wajah semua anak murid Bu-tong-pai yang hadir di situ.

Pandang mata bekas orang termuda Cap-sha Sin-hiap ini membuat banyak anak murid Bu-tong-pai merasa gentar. Mereka hanya menunduk untuk menghindarkan pandang mata Kwat Lin. Akan tetapi, delapan orang suheng dari Kwat Lin memandang dengan marah dan penasaran. Ada pun Kui Tek Tojin hanya tersenyum dan mengelus jenggotnya sambil mengangguk-angguk, matanya memandang wajah wanita itu penuh selidik.

"The Kwat Lin, omonganmu penuh semangat terhadap kedudukan Bu-tong-pai. Andai kata benar semua kata-katamu itu, habis siapakah yang kau pandang tepat untuk menjadi ketua Bu-tong-pai?" Kui Tek Tojin berkata lagi dengan sikap tenang.

"Untuk waktu ini, kiranya tidak ada orang lain lagi dari Bu-tong-pai kecuali aku sendiri!"

Kini benar-benar terkejut dan terheran-heranlah semua anak murid Bu-tong-pai yang berada di situ. Begitu beraninya wanita ini. Biar pun tak dapat disangkal lagi bahwa The Kwat Lin merupakan murid utama pula dari mendiang Kui Bhok Sianjin dan orang termuda Cap-sha Sin-hiap, akan tetapi pada waktu itu dia bukanlah orang yang memiliki tingkat tertinggi di Bu-tong-pai. Sama sekali bukan! Di atas dia masih ada delapan orang suheng-nya, murid-murid Kui Bhok Sianjin yang lebih tua, dan lebih lagi di situ masih ada Kui Tek Tojin yang tentu saja memiliki tingkat jauh lebih tinggi karena tosu ini adalah paman gurunya!

"Murid murtad!!" tiba-tiba Souw Cin Cu membentak garang dan meloncat maju, diikuti pula oleh sute-sutenya. Telunjuk kirinya menuding ke arah muka The Kwat Lin. "The Kwat Lin, engkau sungguh tidak patut menjadi murid Bu-tong-pai! Kiranya engkau menghilang sepuluh tahun hanya untuk pulang sebagai iblis wanita yang murtad terhadap perguruanya sendiri. Dan kami berkewajiban untuk menghajar seorang murid murtad!"

Sambil berkata demikian, Souw Cin Cu menerjang ke depan dengan dahsyat. Souw Cin Cu merupakan murid pertama atau paling tua dari Kui Bhok Sianjin. Sungguh pun tidak dapat dikatakan bahwa dia memiliki tingkat ilmu silat paling tinggi, akan tetapi setidaknya tingkatnya sejajar dengan orang-orang tertua dari Cap-sha Sin-hiap dan sebenarnya masih lebih tinggi setingkat jika dibandingkan dengan ilmu kepandaian The Kwat Lin ketika masih menjadi orang termuda Cap-sha Sin-hiap dahulu.

Akan tetapi, Kwat Lin sekarang sama sekali tidak bisa disamakan dengan Kwat Lin sepuluh tahun yang lalu. Dia telah mewarisi ilmu silat tinggi dan mukjijat dari Pulau Es. Tingkatnya sudah tinggi sekali! Dengan tenang saja dia memandang ketika suheng-nya itu menerjangnya. Apalagi karena dia mengenal benar jurus yang dipergunakan oleh suheng-nya, jurus dari ilmu silat Ngo-heng-kun.

Ketika tangan kiri Souw Cin Cu mencengkeram ke arah lehernya dan tangan kanan tosu itu menampar pelipis, dia diam saja seolah-olah dia hendak menerima dua serangan ini tanpa melawan. Akan tetapi setelah hawa sambaran pukulan itu sudah terasa olehnya, tiba-tiba tangan kirinya bergerak dari bawah ke atas.

"Plak-plak-plak!!" kedua lengan Souw Cin Cu telah terpental, bahkan tubuh tosu ini terpelanting ketika tangan Kwat Lin yang tadi sekaligus menangkis kedua lengan itu melanjutkan gerakannya dengan tamparan pada pundaknya. Tamparan yang perlahan saja, akan tetapi sudah cukup murid pertama mendiang Kui Bhok Sianjin terpelanting!

Diam-diam Kui Tek Tojin terkejut. Ia heran menyaksikan gerakan tangan wanita itu, gerakan yang amat cepat dan aneh, gerakan yang sama sekali tidak dikenalnya dan tentu saja bukan jurus ilmu silat Bu-tong-pai! Akan tetapi tujuh orang sute dari Souw Cin Cu sudah menjadi marah dan tanpa dikomando lagi mereka menerjang maju.

Akan tetapi The Kwat Lin tertawa, tubuhnya bergerak sedemikian cepatnya dan berturut-turut tujuh orang ini pun terguling roboh di dekat Suow Cin Cu! Mereka sendiri tidak tahu bagaimana mereka dirobohkan, akan tetapi tahu-tahu terpelanting dan bagian yang tertampar tangan Kwat Lin, biar pun tidak sampai patah tulang, akan tetapi amat nyeri. Padahal tamparan itu perlahan saja. Bagaimana andai kata wanita itu menampar dengan pengerahan tenaga sekuatnya? Sukar dibayangkan akibatnya.

Betapa pun juga, delapan orang murid utama dari Bu-tong-pai ini tentu saja tidak sudi menyerah begitu mudah. Mereka sudah meloncat bangun dan mencabut senjata masing-masing!

"Ibu, mengapa tidak dibunuh saja tikus-tikus menjemukan ini?" tiba-tiba Bu Ong berteriak.

Anak ini sudah bertolak pinggang dan memandang marah kepada para pengeroyok ibunya. Kalau saja tangannya tidak dipegang erat-erat oleh Swi Liang dan Swi Nio, suheng dan suci-nya, tentu dia sudah menerjang maju membantu ibunya. Akan tetapi memang sebelumnya, Swi Liang dan Swi Nio sudah dipesan oleh subo mereka untuk menjaga Bu Ong, dan terutama sekali mencegah bocah ini mencampuri urusannya dengan orang-orang Bu-tong-pai.

Kwat Lin tersenyum mengejek melihat delapan orang suheng-nya itu mengeluarkan senjata. "Hemmm, apakah kalian ini sudah buta? Apakah para suheng tidak melihat bahwa tingkat kepandaianku jauh melebihi kalian, dan bahkan andai kata Suhu masih hidup, beliau sendiri tidak akan mampu menandingi aku."

"Keparat...!"

Souw Cin Cu dan tujuh orang sute-nya menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba Kui Tek Tojin berseru, "Tahan senjata! Mundur kalian!"

Mendengar teriakan ini, delapan orang ini serentak mundur mentaati perintah calon ketua mereka.

Kui Tek Tojin melangkah maju menghampiri wanita yang tersenyum-senyum itu. "Siancai... kiranya engkau telah memiliki kepandaian tinggi maka berani menentang Bu-tong-pai! The Kwat Lin, selama ini engkau telah mempelajari ilmu silat dari luar Bu-tong-pai, tidak tahu dari perguruan manakah?"

"Memang benar dugaanmu, Susiok, akan tetapi tidak perlu aku menceritakan kepada siapa pun juga."

"Hei, tosu bau! Ibu adalah Ratu dari Pulau Es, tahukah engkau?"

"Bu Ong...!" Kwat Lin membentak puteranya, akan tetapi anak itu sudah terlanjur bicara.

Bukan main kagetnya Kui Tek Tojin dan para anak murid Bu-tong-pai mendengar ini. Pulau Es hanya disebut-sebut dalam dongeng saja, dan memang nama besar tokoh Pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es amat terkenal di dunia kang-ouw. Timbul keraguan di dalam hati Kui Tek Tojin, akan tetapi karena wanita di hadapannya itu juga merupakan anak murid Bu-tong-pai, maka dia menekan perasaannya dan berkata, "The Kwat Lin, kalau engkau masih mengaku sebagai murid Bu-tong-pai, betapa pun tinggi ilmu kepandaianmu, engkau harus tunduk kepada pimpinan Bu-tong-pai. Sebaliknya, kalau engkau sudah mempelajari ilmu silat dari golongan lain dan tidak lagi merasa sebagai orang Bu-tong-pai, engkau tidak berhak mencampuri urusan dalam dari Bu-tong-pai."

Kwat Lin tersenyum mengejek. "Susiok, tidak perlu kupungkiri lagi bahwa aku telah mempelajari ilmu silat dari golongan lain dan tingkat kepandaianku menjadi jauh lebih tinggi dari-pada semua tokoh Bu-tong-pai. Akan tetapi aku bukan saja masih mengaku orang Bu-tong-pai, bahkan ingin memimpin Bu-tongpai menjadi perkumpulan terkuat di dunia. Akan kuperbaiki dan kupertinggi mutu ilmu silat Bu-tong-pai agar tidak ada lagi golongan lain yang berani memandang rendah Bu-tong-pai, apalagi menghina anak murid Bu-tong-pai seperti yang terjadi kepada Cap-sha Sin-hiap sepuluh tahun yang lalu."

"Hemm, kalau begitu, pinto sebagai calon ketua Bu-tong-pai, terpaksa melarang dan menentang kehendakmu, The Kwat Lin."

"Dengan cara bagaimana kau hendak menentangku, Susiok?"

"Dengan mempertaruhkan nyawaku. Kehormatan Bu-tong-pai lebih penting dari-pada nyawa seorang ketuanya. Majulah dan mari kita putuskan persoalan ini dengan kepandaian kita."

The Kwat Lin tersenyum. "Susiok, betapa mudahnya bagiku membunuhmu, membunuh para suheng dan membunuh semua orang yang menentangku. Akan tetapi, aku bahkan ingin menolong kalian, ingin mengangkat nama Bu-tong-pai, maka biarlah aku hanya akan mengalahkan Susiok tanpa membunuhmu."

Ucapan ini malah merupakan penghinaan yang luar biasa sekali. Mengalahkan lawan tanpa membunuhnya merupakan hal yang amat sukar dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari lawannya! Merah muka tosu tua itu. Dia dipandang rendah oleh murid keponakannya sendiri! Bukan hanya itu saja. Dia sebagai orang tertua dari Bu-tong-pai, sebagai calon ketua Bu-tong-pai, dihina oleh seorang anggota muda Bu-tong-pai! Oleh karena itu, tosu tua ini mengambil keputusan untuk mengadu nyawa dengan wanita yang kini dipandangnya bukan sebagai anggota Bu-tong-pai lagi, melainkan sebagai seorang musuh yang hendak mengacau Bu-tong-pai.

"The Kwat Lin sebagai seorang ketua Bu-tong-pai, pinto menyediakan nyawa untuk mempertahankan kehormatan Bu-tong-pai terhadap siapa pun juga, dan saat ini pinto akan mempertahankannya terhadap engkau! Majulah!" sambil berkata demikian tosu tua berjenggot lebat ini meloncat ke depan, tongkatnya di tangan kanan dan ujung lengan bajunya melambai panjang.

Kwat Lin mengenal tongkat itu. Tongkat kayu cendana yang harum dan menghitam saking tuanya, tongkat yang menjadi tongkat pusaka para ketua Bu-tong-pai sejak dahulu. Dia maklum pula bahwa tongkat itu hanya sebagai lambang kedudukan ketua belaka, namun dalam hal ilmu silat bersenjata, ujung lengan baju kakek itu jauh lebih barbahaya dari-pada tongkatnya.

Dia dapat menduga bahwa tentu kakek ini sudah memiliki tingkat tertinggi dari Bu-tong-pai, dan telah memiliki sinkang yang amat kuat sehingga kedua ujung lengan bajunya dapat dipergunakan sebagai senjata ampuh yang dapat menghadapi senjata apa pun juga dari lawan, dapat dibikin kaku keras seperti besi dan lemas seperti ujung cambuk yang dapat melakukan totokan-totokan maut keseluruh jalan darah di tubuh lawan!

Karena itu, dia tidak berani memandang rendah. Cepat dia mengeluarkan pekik melengking, dan tubuhnya sudah bergerak maju, tangan kananya melakukan pukulan dorongan dengan telapak tangan sambil mengerahkan tenaga sinkang Swat-im Sin-jiu. Hawa yang amat dingin menghembus ke depan menyerang kakek itu. Swat-im Sin-jiu adalah tenaga dalam inti salju yang dilatihnya di Pulau Es, kekuatannya dahsyat bukan main karena hawa yang menyambar ini mengandung tenaga sakti yang mendatangkan rasa dingin.

"Siancai...!!" Tosu itu berseru kaget.

Kui Tek Tojin merasa betapa hawa yang menyambar dari depan amat dinginnya, membuat tangannya ketika mendorong kembali terasa membeku. Maka dia lalu menggerakan tongkat di tangan kanannya, mengambil keuntungan dari ukuran tongkat yang panjang, menghantam ke arah kepala wanita itu dari samping.

"Wuuttt... plakkk!"

Dengan berani sekali Swat Lin menggunakan tangan kiri yang dibuka untuk memapaki sambaran tongkat dari samping, terus mencengkeram tongkat itu dan mengerahkan sinkang, menyalurkannya lewat getaran tongkat. Kembali tosu itu berseru kaget ketika merasa betapa lengan kanannya yang memegang tongkat terasa dingin dan lumpuh! Kesempatan baik ini, dalam satu detik pada saat lawan masih terkejut dan belum sempat mengerahkan sinkang, dipergunakan oleh Kwat Lin dengan jalan menarik ke bawah, bergulingan ke depan dan menghantam ke arah lawan dengan tangan kanannya, kini sambil mengerahkan tenaga sinkang yang berhawa panas!

"Ouhhh...!" Kui Tek Tojin berteriak.

Cepat dia meloncat ke belakang, tapi tentu saja tongkatnya dapat dirampas. Dia tadi sudah mengerahkan sinkang melawan getaran melalui tongkat dengan niat merampasnya kembali, akan tetapi pukulan lawannya dari bawah yang ditangkis dengan tangan kanan ternyata luar biasa kuat dan panasnya. Kui Tek Tojin terkejut karena perubahan sinkang yang berlawanan itu tidak disangka-sangkanya. Maka untuk menyelamatkan diri, terpaksa dia meloncat ke belakang dan mengorbankan tongkatnya.

Kwat Lin sudah melompat ke belakang pula. Ia memegang tongkat itu dengan kedua tangan di atas kepala sambil tertawa dan berkata, "Hi-hik, tongkat pusaka telah berada di tanganku, berarti akulah ketua Bu-tong-pai!”

"Kembalikan tongkat!" Kui Tek Tojin berteriak marah.

Kedua lengan Kui Tek Tojin bergerak ketika tubuhnya menerjang maju. Dengan amat cepatnya kedua ujung lengan bajunya bergerak seperti kilat menyambar-nyambar dan dalam segebrakan itu, Kwat Lin telah dihujani sembilan kali totokan yang amat berbahaya! Sukarlah membebaskan diri dari ancaman totokan yang hebat ini dan andai kata Kwat Lin bukan seorang pewaris ilmu-ilmu dari Pulau Es, tidak mungkin dia dapat menghindarkan diri lagi.

Kwat Lin menggunakan ginkang-nya berloncatan menghindar. Akan tetapi sebuah totokan yang meleset masih mengenai pergelangan tangannya, membuat tongkat pusaka itu terlepas dari peganganya! Kwat Lin menjerit marah, pedangnya sudah dicabutnya, yaitu pedang Ang-bwe-kiam. Tampak sinar merah berkeredepan dan menyambar-nyambar secara dahsyat.

"Bret-brettt...!!"

Kui Tek Tojin berteriak kaget. Ia meloncat mundur dan ternyata bahwa ujung lengan bajunya telah terbabat buntung oleh pedang di tangan Kwat Lin. Sekarang wanita itu telah mengambil lagi tongkat pusaka yang tadi terpaksa dilepaskan oleh tangannya yang tertotok.

"Susiok! Dan kalian para Suheng semua! Kalau kalian mendesak, terpaksa aku akan mematahkan tongkat pusaka ini, kemudian akan membunuh kalian dan merampas Bu-tong-pai dengan kekerasan!" Dia mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi. "Aku hanya menuntut hak seorang murid Bu-tong-pai yang memiliki tingkat tinggi dan memegang tongkat wasiat ini. Hak untuk menjadi ketua dengan niat hendak mempertinggi tingkat Bu-tong-pai!"

Delapan orang suheng itu masih penasaran dan mereka hendak menyerbu ke depan, akan tetapi Kui Tek Tojin mengangkat tangan ke atas dan berkata, "Mundurlah kalian! Dia benar, kita tidak boleh melawan pemegang tongkat pusaka!" Kemudian dia berkata kepada Kwat Lin, "Baiklah. Melihat tongkat pusaka di tanganmu, kami tidak akan melawan. Akan tetapi, betapa pun juga kami tidak dapat menerima engkau menjadi ketua kami. Kami harap engkau tidak memaksa anak murid Bu-tong-pai yang tidak mau tunduk kepadamu dan ingin meninggalkan tempat ini."

Kwat Lin tersenyum. Memang bukan kehendaknya untuk memusuhi anak murid Bu-tong-pai. Dia tidak membenci Bu-tong-pai, melainkan hendak mencarikan kemuliaan bagi puteranya dengan perantaraan sebuah perkumpulan besar dan dia akan mengusahakan agar Bu-tong-pai menjadi sebuah perkumpulan yang paling kuat dan paling besar.

"Terserah kepadamu, Susiok." Dia lalu memandang ke sekeliling, kepada para anak murid Bu-tong-pai. "Haiii, semua anggota dan murid Bu-tong-pai, dengarlah baik-baik! Betapa pun juga aku adalah murid Bu-tong-pai sejak kecil, dan di dalam sepak terjang Cap-sha Sin-hiap, kalian juga sudah tahu betapa aku dan para Suheng telah menjunjung tinggi nama Bu-tong-pai. Aku ingin menyebarkan ilmuku kepada kalian semua agar kalian menjadi orang-orang yang lihai dan Bu-tong-pai menjadi perkumpulan yang paling kuat di dunia ini. Terserah kepada kalian, apakah hendak bersetia kepada nama Bu-tong-pai dan menjadi murid-muridku, ataukah hendak bersetia kepada tosu Kui Tek Tojin dan delapan orang Suheng-ku ini yang hendak membelakangi Bu-tong-pai!"

Berisiklah keadaan di situ setelah Kwat Lin mengeluarkan kata-kata ini. Para anak murid Bu-tong-pai saling bicara sendiri, saling berbantahan. Akhirnya hanya ada dua puluh orang termasuk Kui Tek Tojin yang meninggalkan tempat itu, menuruni bukit dan memasuki sebuah hutan di kaki bukit. Tempat ini dipilih oleh Kui Tek Tojin untuk menjadi tempat tinggal mereka sementara waktu sambil menanti perkembangan selanjutnya. Sisanya semua suka mengangkat Kwat Lin menjadi ketua mereka setelah mereka tadi menyaksikan betapa lihainya Kwat Lin dan mereka semua ingin memperoleh bagian pelajaran ilmu silat yang tinggi.

Demikianlah, mulai hari itu The Kwat Lin menjadi ketua yang baru dari Bu-tong-pai yang dipimpinnya dengan gaya dan bentuk yang baru pula. Dengan harta benda berupa emas permata yang amat mahal yang didapatkan dan dilarikannya dari Pulau Es, dia membangun markas Bu-tong-pai menjadi bangunan yang megah, mewah dan kuat. Karena hatinya ingin lekas-lekas melihat Bu-tong-pai menjadi perkumpulan yang kuat dan banyak anggotanya, dia pun menerima anggota-anggota baru.

Anggota baru diterima dari golongan apa pun juga. Syaratnya hanya satu, bahwa mereka itu haruslah memiliki kepandaian sampai pada tingkat tertentu, dan bersumpah setia sampai mati kepada Bu-tongpai. Karena mendengar bahwa ketua Bu-tong-pai yang baru adalah seorang wanita cantik yang memiliki kesaktian hebat, juga amat kaya raya, maka banyaklah orang-orang berdatangan dan masuk menjadi anggota Bu-tong-pai. Mereka terdiri dari orang-orang kang-ouw dan golongan kaum sesat yang tadinya hidup sebagai perampok dan bajak-bajak yang tidak tertentu penghasilannya!

Mulai pulalah The Kwat Lin mengatur dan merencanakan cita-citanya untuk puteranya. Dengan kerja sama antara dia dan para anggota baru yang berpengalaman, mulailah dia diam-diam mengadakan kontak dan mencari kesempatan untuk menghubungi para pembesar tinggi yang merupakan kekuatan rahasia untuk memberontak terhadap kaisar.

Inilah cita-cita The Kwat Lin! Dia pernah menjadi ratu, menjadi istri seorang raja, biar pun hanya raja kecil yang menguasai Kerajaan Pulau Es. Karena itu dia menganggap bahwa puteranya, Han Bu Ong, adalah seorang pangeran! Seorang pangeran haruslah bercita-cita menjadi raja. Bukan raja kecil yang hanya menguasai sebuah pulau, melainkan raja besar! Dan satu-satunya jalan untuk dapat mencapai ini, hanyalah menggulingkan kaisar sehingga kelak ada kesempatan bagi puteranya untuk menjadi kaisar!

Tentu saja untuk memberontak sendiri dengan mengandalkan kekuatan Bu-tong-pai merupakan hal yang tak masuk di akal dan hanya merupakan usaha bunuh diri. Maka dia mencari kesempatan mengadakan kontak dengan para pembesar tinggi yang berambisi seperti dia sehingga mungkin bagi mereka untuk menggunakan bala tentara yang dapat dikuasai untuk mencapai cita-cita mereka itu.

Memang sesungguhnyalah bahwa kemuliaan duniawi atau alam benda merupakan keadaan yang amat berbahaya. Tak dapat disangkal pula bahwa hidup memang memerlukan kebendaan sebagai pelengkap dan pelangsung hidup, dan amat baiklah kalau orang dapat menggunakan keduniawian itu pada tempat sebenarnya. Akan tetapi, akan celakalah dan hanya akan menimbulkan mala-petaka bagi diri sendiri dan bagi orang lain kalau manusia sudah dikuasai oleh duniawi yang merupakan harta benda, kedudukan, nama besar, kepandaian dan lain-lain sebagainya.

Alam kebendaan ini mempunyai sifat seperti arak. Diminum dengan kesadaran dan pengertian akan menjadi obat, tapi di lain saat dalam keadaan lalai akan menjadi minuman yang memabokkan. Dan sekali orang mabok oleh duniawi, akan timbullah perbuatan sombong, sewenang-wenang, dan lupa segala. Yang ada hanyalah keinginan memenuhi segala kehendaknya dengan cara apa pun juga tanpa mengharamkan segala cara
.

Demikian pula terjadi dengan The Kwat Lin. Dahulu, belasan tahun yang lalu, The Kwat Lin merupakan seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, penentang kejahatan yang gigih sehingga namanya bersama dua belas orang suheng-nya sebagai Cap-sha Sin-hiap amatlah terkenal. Akan tetapi setelah mala-petaka menimpa Cap-sha Sin-hiap, dendam menaburkan bibit yang merubah seluruh pandangan hidupnya. Setelah dia berhasil membalas dendam secara keji dan kejam sekali, bibit itu masih berkembang biak dan merubah sifat, dari dendam kepada pengejaran kemuliaan yang tanpa batas.

*** www.sonnyogawa.com ***


Sudah terlalu lama kita meninggalkan Han Swat Hong, puteri dari Raja Han Ti Ong. Sebaiknya kita mengikuti pengalamannya agar tidak tertinggal terlampau jauh. Seperti kita ketahui, Swat Hong yang berwatak keras itu marah-marah ketika melihat betapa Sin Liong menolong seekor beruang dan tidak mempedulikan dia. Dianggapnya Sin Liong sengaja mencari-cari alasan untuk menghambat perjalanan. Padahal dia ingin sekali segera mencari dan menemukan ibunya yang tidak ia ketahui ke mana perginya dan bagaimana nasibnya setelah badai yang amat dahsyat mengamuk di sekitar lautan itu.

Akan tetapi tentu saja dia hendak meninggalkan Sin Liong di pulau kosong itu bukan dengan hati yang sesungguhnya, melainkan hanya untuk sekedar menunjukkan kemarahan hatinya saja. Karena itu setelah perahunya jauh meninggalkan pulau itu, sehingga pulau di mana Sin Liong mengobati beruang itu tidak nampak lagi, dara itu memutar lagi perahunya dan hendak kembali kepada Sin Liong. Sudah dibayangkannya betapa Sin Liong yang selalu sabar dan selalu mengalah kepadanya itu akan minta maaf dan menyatakan penyesalan hatinya, dan dia yang akan memaafkannya! Saat-saat seperti itu mendatangkan keharuan, kebanggaan dan kemenangan di dalam hatinya.

Betapa bingung dan kagetnya ketika kemudian dia mendapat kenyataan bahwa dia tersesat jalan dan tidak tahu lagi di mana dia meninggalkan Sin Liong tadi! Demikian banyaknya pulau yang sama bentuknya di lautan itu, banyak sekali bongkahan es yang datang dan pergi seperti hidup saja! Setelah berputar putar tanpa hasil dan yakin bahwa dia berada makin jauh dari tempat dimana Sin Liong berada, setelah berteriak-teriak memanggil dengan pengerahan khikang tanpa ada jawabannya, akhirnya dia memutar perahu ke luar dari daerah penuh pulau kecil yang membingungkan itu.

Biarlah, dia akan pergi saja melanjutkan perjalanan seorang diri mencari ibunya. Dia merasa yakin bahwa suheng-nya itu tentu akan dapat menyelamatkan diri. Suheng-nya memiliki ilmu kepandaian yg amat tinggi. Swat Hong tidak tahu bahwa perahunya menuju ke selatan, bukan menuju ke daerah Pulau Es lagi. Namun karena maksudnya untuk mencari ibunya, dara ini seolah-olah berlayar tanpa tujuan dan membiarkan saja ke mana perahu yang terdorong angin itu membawanya.

Pada suatu hari, tampak olehnya garis hitam di sebelah kanan. Garis itu masih jauh sekali, akan tetapi dengan girang dia dapat mengenal bahwa garis hitam yang amat panjang membujur dari kanan ke kiri itu adalah sebuah daratan yang agaknya tiada bertepi.

“Aha! Itulah daratan besar,” pikirnya dengan girang.

Dia segera membelokan perahunya menuju ke garis hitam itu. Ketika perahunya sudah tiba di dekat pantai yang sunyi, dia melihat ada sebuah perahu lain yang meluncur cepat dari sebelah kirinya. Perahu itu kecil, dan di dalamnya ada seorang laki-laki muda yang kelihatannya gagah dan tampan. Pemuda itu pun memandang kepadanya sehingga dua pasang mata saling pandang sejenak. Akan tetapi Swat Hong membuang muka dan tidak mempedulikan orang yang tidak dikenalnya itu, terus saja mendayung perahunya ke tepi.

Begitu perahunya mendekati daratan, dia lalu meloncat ke daratan, tidak menghiraukan perahunya lagi. Memang dia tidak berpikir untuk kembali ke tempat itu dan berperahu lagi. Untuk apa berlayar? Pulau Es sudah kosong. Dia akan mencari ibunya di daratan besar, karena kalau ibunya berada di suatu pulau, agaknya tentu tidak akan dapat terlepas dari amukan badai yang dahsyat itu. Kalau ibu berada di daratan besar, dan ini mungkin saja terjadi, barulah ada harapan bahwa ibunya masih hidup dan dapat bertemu lagi dengannya. Andai kata tidak, dia pun akan merantau di daratan besar, tidak kembali ke laut.

Dia tahu bahwa demikian pula agaknya pendapat suheng-nya. Sebelum berpisah mereka sudah membicarakan hal ini berkali-kali. Nenek moyangnya yang selama ini menjadi raja di Pulau Es juga berasal dari daratan besar! Setelah kini Kerajaan Pulau Es terbasmi badai dan tidak ada lagi, sepatutnya kalau dia sebagai ahli waris satu-satunya kembali pula ke daratan besar!

"Heiii... Nona! Tunggu...!!"

Swat Hong mengerutkan alisnya dan berhenti melangkahkan kakinya. Ia membalik dan melihat betapa pemuda yang berada di dalam perahu tadi sudah menambatkan perahunya dan juga perahu yang ditinggalkannya tadi di pantai. Kini pemuda itu berlari mengejarnya.

"Mau apa engkau mengejar dan memanggil aku?" Swat Hong bertanya, matanya memandang penuh selidik.

Pemuda itu usianya tentu hanya lebih tua dua tiga tahun darinya, seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah. Perawakannya tinggi besar, matanya menyorotkan kejujuran dan membayangkan kekerasan dan keberanian. Kedua lengan yang tampak tersembul ke luar dari lengan baju pendek itu kekar berotot, membayangkan tenaga yang hebat. Bajunya yang terbuat dari kain tipis membayangkan dada yang bidang, terhias sedikit rambut, berotot dan kuat sekali. Melihat bahan pakaiannya dapat di duga bahwa pemuda ini seorang yang beruang. Namun melihat dari keadaan tubuhnya dan kaki tangannya, agaknya dia biasa dengan pekerjaan berat.

“Kalau bukan seorang petani, tentu seorang nelayan,” pikir Swat Hong, kagum juga memandang tubuh yang kokoh kuat itu.

Pemuda itu tersenyum. Senyumnya lebar memperlihatkan deretan gigi yang kokoh kuat pula, senyum terbuka seorang yang berwatak jujur dan bersahaja. Akan tetapi sikapnya ketika mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan, membuktikan bahwa dia pernah ‘makan sekolahan’ alias terpelajar, terbukti pula dari kata-katanya yang biar pun ringkas dan singkat akan tetapi tetap sopan.

"Maafkanlah aku. Nona meninggalkan perahu begitu saja, aku merasa sayang dan membantu meminggirkannya. Melihat gerakan Nona ketika meloncat, jelas bahwa Nona berkepandaian tinggi. Aku ingin sekali belajar kenal," ujarnya.

Swat Hong mengerutkan alisnya. Hatinya sedang tidak senang, karena selain kegagalannya mencari ibu, juga perpisahanya dengan Sin Liong setidaknya mendatangkan rasa gelisah di hatinya. Kini ada pemuda yang amat lancang ingin ‘belajar kenal’, sungguh menggemaskan.

"Aku tidak membutuhkan perahu itu lagi, dan aku tidak peduli apakah kau meminggirkannya atau hendak memilikinya, aku tidak minta bantuanmu. Tentang belajar kenal biasanya hanya pedang, kepalan tangan dan tendangan kaki saja yang mau belajar kenal dengan orang asing yang lancang!"

Sepasang mata lebar itu terbelalak seolah-olah memandang sesuatu yang amat aneh, namun membayangkan kekaguman yang luar biasa. Dan memang, di luar dugaan Swat Hong sendiri, sikap dan kata-katanya tadi mendatangkan rasa kagum yang amat besar di dalam hati pemuda ini. Watak pemuda ini memang mengagumi sikap orang yang terbuka, jujur, kasar dan tanpa pura-pura, seperti sikap Swat Hong yang baru saja diperlihatkan.

"Ha-ha-ha-ha!" pemuda itu tertawa bergelak dan kedua matanya menjadi basah oleh air mata. Ini pun ciri khasnya. Kalau dia tertawa, air matanya keluar seperti orang menangis. Dengan punggung tangannya yang besar dan berotot dia menghapus air matanya.

"Nona hebat sekali! Ha-ha-ha, aku Kwee Lun selama hidupku baru sekarang ini bertemu dengan seorang Nona yang begini hebat! Diantara seribu orang gadis, belum tentu ada satu! Nona, kalau sudi, perkenalkanlah aku Kwee Lun. Biar pun jelek dan kasar, bukanlah tidak terkenal. Ayahku adalah seorang pelaut biasa dan sudah meninggal, demikian pula Ibuku. Aku anak pelaut akan tetapi sejak kecil aku sudah ikut kepada guruku. Guruku inilah yang terkenal. Guruku adalah Lam-hai Seng-jin, pertapa yang amat terkenal di dunia kang-ouw, dan kami berdua tinggal di Pulau Kura-kura di Laut Selatan."

Melihat sikap terbuka ini, geli juga hati Swat Hong. Kini dia melihat jelas bahwa pemuda ini sama sekali tidak kurang ajar. Kasar memang, akan tetapi kekasaran yang memang menjadi wataknya yang terbuka. Orang macam ini baik dijadikan sahabat, pikirnya. Akan tetapi harus dibuktikan dulu apakah pemuda ini pantas menjadi sahabatnya, sungguh pun menurut pengakuannya dia murid seorang pertapa yang namanya terkenal di dunia kang-ouw!

Swat Hong tersenyum. "Aihh, engkau lebih pantas menjadi seorang penjual jamu! Setelah engkau memperkenalkan semua nenek moyangmu kepadaku, dengan maksud apakah engkau seorang pria minta berkenalan dengan seorang wanita?"

Kwee Lun mengerutkan alisnya yang sangat lebat seperti dua buah sikat ditaruh melintang di dahinya itu. Dia lalu menggeleng-geleng kepalanya. "Memang, sebelum aku berangkat merantau, suhu berpesan dengan sungguh bahwa aku tidak boleh mendekati wanita cantik yang katanya amat berbahaya melebihi ular berbisa! Akan tetapi, biar pun Nona cantik sukar dicari cacatnya, namun kepandaian Nona tinggi dan sikap Nona jujur menyenangkan. Aku ingin bersahabat, karena sekarang ini baru pertama kali aku merantau seorang diri. Aku membutuhkan seorang sahabat yang pandai seperti Nona untuk memberi petunjuk kepadaku. Untuk budi Nona ini, tentu aku akan berusaha menyenangkan hatimu."

Swat Hong makin terheran. Dia tidak tahu apakah pemuda ini pintar atau bodoh. Sikapnya terbuka, kata-katanya teratur, akan tetapi ada bayangan ketololan. "Hemm, kau bisa apa sih? Bagaimana engkau bisa menyenangkan hatiku?" dia menyelidik.

"Aku? Wah, aku bodoh, akan tetapi kalau ada orang-orang kurang ajar kepadamu, tanpa Nona turun tangan sendiri, aku sanggup menghajar mereka!” dia melonjorkan kedua lengannya yang kekar berotot itu. "Dan jangan Nona sangsi lagi, biar ada lima puluh orang, aku masih sanggup menghadapi mereka, kalau perlu dibantu dengan senjataku kipas dan pedang. Kalau Nona senang sajak, aku banyak mengenal sajak kuno yang indah dan di waktu Nona kesepian, aku dapat menghibur Nona dengan nyanyian! Aku suka sekali bernyanyi."

Hampir saja Swat Hong tertawa geli. Orang yang kekar seperti seekor singa buas ini membaca sajak, bernyanyi dan senjatanya kipas? Benar-benar seorang pemuda yang aneh, akan tetapi tentu saja dia belum mau percaya begitu saja. Sambil memandang tajam dia berkata, "Hemm, kau bicara tentang pedang dan kipas sebagai senjata, akan tetapi aku tidak melihat engkau membawa senjata apa-apa."

“Ahh, tunggu dulu, Nona. Aku memang sengaja meninggalkannya di perahu!"

Setelah berkata demikian, Kwee Lun membalikkan tubuhnya dan berlari cepat sekali ke perahunya. Ketika dia sudah kembali ke depan Swat Hong, benar saja dia telah membawa sebatang pedang yang sarungnya terukir indah dan sebuah kipas bergagang perak yang diselipkan di ikat pinggangnya!

"Mengapa baru sekarang kau memperlihatkan senjata-senjatamu?"

"Aih, kalau tadi aku membawa senjata, tentu akan menimbulkan dugaan yang bukan-bukan. Untuk berkenalan dengan seorang gadis, bagaimana aku berani membawa senjata? Tentu disangka perampok atau bajak!"

Mau atau tidak, Swat Hong tersenyum. Timbul rasa sukanya kepada pemuda kasar yang aneh ini. "Betapapun juga, aku adalah seorang wanita dan engkau seorang pria, mana mungkin menjadi sahabat? Tidak patut dilihat orang."

Mata yang lebar itu kembali terbelalak penuh penasaran dan tangan kirinya dikepalkan. "Apa peduli kata-kata orang? Kalau ada yang berani mengatakan yang bukan-bukan tentu akan kuhancurkan mulutnya! Wanita adalah seorang manusia, pria pun seorang manusia. Apa salahnya berkenalan dan bersahabat? Nona, aku Kwee Lun bukan seorang yang berpikiran kotor, juga aku tidak akan sembarangan memilih kawan! Aku kagum melihat Nona, maka kalau Nona sudi, harap memperkenalkan diri."

Swat Hong makin tertarik. Akan tetapi dia masih ragu-ragu, apakah orang ini patut dijadikan seorang teman? Biar pun lagaknya seperti jagoan, siapa tahu kalau kosong belaka?

"Kau bilang tadi kau adalah murid seorang tosu yang terkenal?"

"Ya, Suhu Lam-hai Seng-jin merupakan tokoh yang paling terkenal di daerah selatan!"

"Kalau begitu, ilmu silatmu tentu lebih lihai dari-pada bicaramu yang sepeti penjual jamu, bukan?"

"Ihhh, harap jangan mentertawakan! Biar pun tidak selihai Nona yang dapat kulihat dari gerakan meloncat dari perahu tadi, akan tetapi masih tidak terlalu banyak orang di dunia ini yang akan sanggup mengalahkan Kwee Lun!"

"Tidak ada artinya kalau hanya disombongkan dan dibanggakan tanpa ada buktinya! Aku juga tidak sembarangan memperkenalkan diri kepada orang lain. Untuk membuktikan apakah kau patut menjadi kenalanku, cabut kedua senjatamu, dan coba kau hadapi pedangku!" sambil berkata demikian, Swat Hong sudah mencabut pedangnya perlahan-lahan dan tampaklah sinar pedang ketika sinar matahari menimpanya.

"Akan tetapi, Nona...," Kwee Lun meragu. Biar pun dia tadi menyaksikan betapa gesit dan ringannya tubuh nona itu melayang ke daratan, namun dia tidak percaya apakah nona ini mampu menandingi pedang dan kipasnya!

"Tidak usah banyak ragu. Kalau kau tidak mau, pergilah dan jangan menggangguku lebih lama lagi!"

"Srat...!!" pedang terhunus sudah berada di tangan kanan Kwee Lun. Sarung pedangnya dilempar ke atas tanah, sedangkan tangan kirinya sudah mencabut kipas gagang perak yang telah dikembangkan dan melindungi dadanya, ada pun pedang itu dilonjorkan ke depan. "Aku telah siap, Nona."

Swat Hong memang ingin sekali melihat sampai di mana kepandaian pemuda yang aneh ini, maka tanpa banyak kata lagi dia sudah meloncat ke depan dan menggerakkan pedangnya dengan hebat sekali. Pedang di tangannya itu adalah pedang biasa saja, akan tetapi karena yang menggerakkan adalah tangan yang mengandung tenaga sinkang istimewa dari Pulau Es, maka pedang itu lenyap bentuknya berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata dan tubuh dara itu juga tertutup oleh gulungan sinar pedang saking cepatnya tubuh itu berloncatan.

"Aihhh...!!" Kwee Lun berseru keras.

Cepat dia menggerakkan pedang dan kipas. Memang sudah diduganya bahwa dara itu lihai sekali, akan tetapi menyaksikan gerakan pedang yang demikian luar biasa, dia menjadi kaget, kagum, heran dan juga gembira. Tanpa ragu-ragu dia lalu mengerahkan tenaga dan mengeluarkan semua ilmu silatnya untuk menandingi dara yang mengagumkan hatinya ini.

Seperti telah kita kenal di permulaan cerita ini, ketika para tokoh kang-ouw memperebutkan Sin Liong yang ketika itu dikenal sebagai Sin-tong (bocah ajaib), guru pemuda itu, Lam-hai Seng-jin, adalah seorang tosu yang selain ahli dalam Agama To, juga pandai bernyanyi, dan lihai sekali ilmu silatnya. Tosu ini terkenal sebagai pertapa atau pemilik Pulau Kura-kura di Lam-hai, dan senjatanya yang berupa hudtim dan kipas telah mengangkat tinggi namanya di dunia kang-ouw.

Agaknya kepandaian itu telah diturunkan semua kepada murid tunggalnya ini. Namun tentu saja karena muridnya bukanlah seorang tosu, senjata hudtim diganti dengan pedang. Pedang dan kipas adalah senjata yang ringan, kini dimainkan oleh kedua lengan Kwee Lun yang mengandung tenaga gajah, tentu saja dapat dibayangkan betapa cepatnya kedua senjata itu bergerak sampai tidak tampak lagi sebagai senjata kipas dan pedang, melainkan tampak hanya gulungan sinar yang berkelebatan dan saling belit dengan sinar pedang di tangan Swat Hong.

"Cringgg...!" tiba-tiba pemuda itu berseru kaget dan pedangnya mencelat ke atas terlepas dari tangannya.

Swat Hong tersenyum. Dia tadi sudah menyaksikan bahwa ilmu pedang pemuda itu cukup lihai, bahkan dalam hal kecepatan dan tenaga tidaklah kalah banyak dibandingkan dengan kepandaiannya sendiri. Adanya dia dapat membuat pedang pemuda itu terlepas dalam waktu tiga puluh jurus, hanyalah karena selain dasar ilmu silatnya lebih tinggi dari-pada pemuda itu, juga kenyataan bahwa pemuda itu tidak mau menyerangnya dengan sungguh-sungguh dan mendasarkan permainannya pada tingkat penguji dan berlatih saja. Kalau pemuda itu melawan dengan sungguh-sungguh, dia sendiri sangsi apakah akan dapat merobohkannya dalam waktu seratus jurus.

"Wah, kau hebat sekali, Nona! Aku mengaku kalah!" Kwee Lun menjura dan menyimpan kipasnya. Suaranya bersungguh-sungguh, karena memang pemuda ini walau pun tadi tidak mau menyerang sungguh-sungguh, namun dari gerakan lawannya dia sudah dapat melihat bahwa dara itu benar-benar memiliki ilmu silat yang amat aneh dan amat kuat. "Aku terlalu rendah untuk menjadi sahabatmu," ujarnya.

"Kwee-twako, kau terlalu merendah. Ilmu kepandaianmu hebat! Perkenalkanlah, aku bernama Han Swat Hong...," sampai di sini dara itu meragu karena dia masih sangsi apakah dia akan memperkenalkan diri sebagai seorang puteri dari Kerajaan Pulau Es yang asing dan yang telah terbasmi habis oleh badai itu.

"Ilmu pedang Nona hebat bukan main, juga amat aneh gerakannya. Selama melakukan perantauan dengan Suhu dan mendengar penjelasan Suhu, sudah banyak aku mengenal dasar ilmu silat perkumpulan besar di dunia kang-ouw. Akan tetapi melihat gerakan pedang Nona tadi, aku benar-benar tidak tahu lagi, sedikit pun tidak mengenalnya. Maukah Nona Han Swat Hong memperkenalkannya kepadaku?"

"Kwee-twako, sebenarnya aku akan merahasiakan keadaanku. Baru pertama kali ini aku menginjak daratan besar dan aku tidak ingin melibatkan diri dengan urusan di dunia kang-ouw, apa lagi memperkenalkan diriku. Akan tetapi memang sudah nasib, begitu mendarat bertemu dengan engkau, dan sikapmu menarik hatiku, membuat aku tidak dapat menyembunyikan diri lagi. Aku akan menceritakan keadaanku hanya dengan satu janji darimu, Twako."

Kwee Lun memungut pedangnya, mengikatkan sarung pedang di punggung, lalu membusungkan dadanya yang sudah membusung tegap itu sambil menepuk dada dan berkata, "Nona Han...."

"Kwee-twako, sekali mau mengenal orang, aku tidak mau bersikap kepalang. Aku menyebutmu Twako (kakak), berarti aku sudah percaya kepadamu. Maka janganlah kau masih bersikap sungkan menyebutku Nona. Namaku Swat Hong dan tak perlu kau menyebutku Nona seperti orang asing."

"Hemm, bagus sekali!" Kwee Lun bertepuk tangan dan memandang ke langit. "Bukan main! Aku benar-benar berbahagia dapat memperoleh adik seperti engkau! Nah, Hong-moi (adik Hong), kau ceritakanlah kepada kakakmu ini. Ceritakan semuanya, kalau ada penasaran, akulah yang akan membereskan untukmu! Kakakmu ini sekali bicara tentu akan dipertahankan sampai mati!"

Diam-diam Swat Hong merasa girang dan kagum. Inilah seorang laki-laki sejati! Seorang jantan! Sekaligus dia memperoleh seorang sahabat yang boleh dipercaya, seorang kakak, dan sebagai pengganti seorang keluarga setelah dia kehilangan segala-galanya. Dia telah kehilangan ibunya, ayahnya, keluarga ayahnya, bahkan akhirnya dia kehilangan suheng-nya. Namun dalam keadaan seperti itu tiba-tiba muncul seorang seperti Kwee Lun!

"Kwee-twako aku baru saja meninggalkan tempat tinggalku di tengah-tengah laut di sekitar sana!" dia menuding ke arah laut bebas.

"Di manakah tempat tinggalmu itu? Di sebuah pulau?"

Swat Hong mengangguk, masih agak ragu-ragu.

"Pulau apa, Hong-moi?"

"Pulau Es..."

"Hah...?!"

Benar saja seperti dugaan Swat Hong, nama Pulau Es mendatangkan kekagetan luar biasa, bahkan wajah pemuda itu berubah menjadi agak pucat dan dia memandang dara itu seperti orang melihat iblis di tengah hari!

"Pulau... Pulau Es...??"

Seperti juga semua orang di dunia kang-ouw, Pulau Es hanya didengarnya seperti dalam dongeng saja, dan pangeran Han Ti Ong yang pernah menggegerkan dunia kang-ouw disebut sebagai seorang dari Pulau Es, seorang yang memiliki kepandaian seperti dewa! Dan kini pemuda itu mendengar bahwa dara itu dari Pulau Es.

"Kwee-twako! Jangan memandangku seperti memandang siluman begitu...!"

"Ohh... eh...., maafkan aku, Moi-moi! Hati siapa yang mau percaya? Akan tetapi aku percaya padamu, Moimoi! Wah, aku percaya sekarang! Kau pantas kalau dari Pulau Es. Ilmu kepandaianmu luar biasa, bukan seperti manusia lumrah. Mana ada gadis biasa mampu mengalahkan Kwee Lun dalam beberapa jurus saja? Aku malah bangga! Seorang penghuni Pulau Es menyebutku twako dan kusebut Moi-moi! Ha-ha-ha-ha, Suhu tentu akan tercengang saking kagetnya kalau mendengar ini!"

Melihat pemuda itu petantang-petenteng mengangkat dada seperti orang membanggakan diri sebagai seorang sahabat baik penghuni Pulau Es, Swat Hong menjadi geli hatinya.

"Hong-moi, engkau tidak tahu betapa bangga dan besarnya hatiku. Aihh, sekali ini, baru saja meninggalkan Suhu untuk merantau seorang diri, aku telah bertemu dan dapat bersahabat denganmu. Betapa bangga hatiku!"

Swat Hong terkejut. Baru teringat olehnya bahwa dia tadi belum melanjutkan syaratnya, maka cepat dia berkata, "Kalau begitu, berjanjilah bahwa engkau tidak akan menceritakan kepada siapa pun juga tentang keadaan diriku, kecuali namaku saja. Berjanjilah Twako!"

Kwee Lun memandang kecewa. "Tidak menceritakan kepada siapa pun juga bahwa engkau adalah penghuni Pulau Es? Wahhh... ini...," tentu saja hatinya kecewa karena hal yang amat dibanggakan itu tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Kalau begitu, mana bisa dia berbangga?

"Kwee Lun," tiba-tiba Swat Hong berkata dengan lantang. "Hanya ada dua pilihan bagimu. Berjanji memenuhi permintaanku dan selanjutnya menjadi sahabat baikku, atau kau tidak mau berjanji akan tetapi kuanggap sebagai seorang musuh!"

"Wah-wah... aku berjanji! Aku berjanji! Bukan karena takut kepadamu, Hong-moi. Aku bukan seorang penakut dan juga tidak takut mati, akan tetapi karena memang aku merasa suka sekali kepadamu. Aku tidak sudi menjadi musuh! Nah, aku berjanji, biarlah aku bersumpah bahwa aku tidak akan menceritakan kepada siapa pun juga tentang asal-usulmu, kecuali... hemm, tentu saja kalau... kalau kau sudah mengijinkan aku. Siapa tahu...," sambungnya penuh harap.

Swat Hong tersenyum lega. "Baiklah, Kwee-twako. Aku percaya bahwa engkau akan memegang teguh janjimu. Sekarang dengarlah cerita singkatku dan kuharap kau suka membantuku. Aku adalah puteri dari Raja Pulau Es..."

"Aduhhh...." kembali mata itu terbelalak dan kwee Lun segera membungkuk, agaknya malah akan berlutut!

"Twako, kalau kau berlutut atau melakukan hal yang bukan-bukan lagi, aku takan sudi bicara lagi kepadamu!"

Kwee Lun berdiri tegak lagi. "Hayaaa... siapa bisa menahan datangnya hal-hal yang mengejutkan secara bertubi-tubi ini? Baiklah, aku taat... eh, benarkah aku boleh menyebutmu Moi-moi?"

"Siapa bilang tidak boleh? Aku hanya bekas puteri raja! Ayahku telah meninggal dunia dan Ibuku..., ah, aku sedang mencari Ibuku yang pergi entah ke mana. Kwee-twako, aku tidak bisa menceritakan lebih banyak lagi. Yang penting kau ketahui hanya bahwa Ibuku telah berbulan-bulan meninggalkan Pulau Es, entah ke mana perginya dan aku sedang mencarinya. Juga aku telah saling berpisah dengan Suheng-ku. aku sedang pergi merantau dan sekalian mencari Ibuku dan Suheng-ku."

"Aku akan membantumu!" Kwee Lun menggulung lengan bajunya yang memang sudah pendek sampai ke bawah siku itu. "Jangan khawatir!"

"Terima kasih, Twako. Dan sekarang, engkau hendak ke manakah?"

"Sudah kukatakan tadi bahwa aku meninggalkan Pulau Kura-kura untuk pergi merantau meluaskan pengalaman, sekalian memenuhi permintaan penduduk kota Leng-sia-bun yang berada tak jauh dari pantai ini."

"Permintaan apa, Twako?"

"Beberapa orang penduduk bersusah payah mencari Suhu di Pulau Kura-kura, dan mereka mohon pertolongan Suhu untuk menghancurkan komplotan busuk yang merajalela di kota ini. Suhu lalu memerintahkan aku pergi, dan sekalian aku diberi waktu setahun untuk merantau sendirian. Kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini. Marilah kau ikut bersamaku ke Leng-sia-bun, tentu kau akan gembira melihat keramaian ketika aku menghadapi komplotan itu. Setelah selesai urusanku di sana,aku menemanimu mencari Suheng-mu dan Ibumu."

Swat Hong mengangguk setuju. Lega juga hatinya, karena kini ada seorang teman yang setidaknya lebih banyak mengenal keadaan daratan besar dari-pada dia yang asing sama sekali. "Baik, Twako. Akan tetapi perutku...."

"Eh, perutmu mengapa? Sakit...?"

"Sakit... lapar...!"
Kwee Lun tertawa-tawa bergelak dan Swat Hong juga tertawa. Keduanya merasa lucu dan gembira karena mendapatkan seorang teman yang cocok wataknya!

"Kalau begitu, tidak jauh bedanya dengan perutku! Mari kita cepat pergi. Leng-sia-bun terdapat banyak makanan enak!"

"Tapi .... perahumu itu? Bagaimana kalau ada yang curi nanti ?"

"Hemm, siapa berani mencurinya? Lihat, bentuk perahuku itu. Bentuknya seperti seekor kura-kura, lengkap dengan kepalanya dan ekornya. Melihat itu, semua orang tahu bahwa itu milik Pulau Kura-kura, siapa berani mengganggunya? Perahumu yang berada di dekat perahuku juga aman."

"Wah, kalau begitu nama Suhumu sudah terkenal sekali!"

“Memang, dan sekarang aku akan membuat nama agar sama terkenalnya dengan nama suhu!"

Berangkatlah kedua orang muda itu menuju ke utara, melalui sepanjang pantai itu, lalu mendekati sebuah daerah pegunungan. Mereka menuju ke kota Leng-sia-bun yang letaknya tidak jauh dari pantai laut, tak jauh dari muara sungai Huai. Kota Leng-sia-bun merupakan kota pantai yang ramai dan padat penduduknya. Karena daerah ini merupakan daerah perdagangan yang menampung datangnya hasil bumi dari pedalaman untuk dibawa oleh perahu-perahu ke pantai laut yang lain, juga merupakan pasar besar pagi para nelayan, maka penduduknya cukup makmur. Rumah-rumah besar, toko-toko, hotel-hotel dan restoran-restoran membuktikan kemakmuran kota itu.

Akan tetapi, seperti biasa terjadi dimana pun juga di penjuru dunia dan di jaman apa pun, di kota Leng-sia-bun muncul juga manusia-manusia yang mempergunakan kesempatan untuk mencari keuntungan dan menumpuk harta benda dengan cara yang tidak layak, tidak halal, bahkan tidak mempedulikan lagi nilai-nilai kemanusiaan.Telah bertahun-tahun, di kota itu merajalela komplotan yang dipimpin oleh seorang hartawan bernama Ciu Bo jin dan terkenal dengan sebutan Ciu-wangwe (Hartawan Ciu).

Sebenarnya, tanpa diketahui oleh siapa pun di kota itu, Ciu-wangwe adalah bekas seorang perampok tunggal yang memiliki kepandaian tinggi. Setelah rambutnya mulai putih dan dia berhasil mengumpulkan kekayaan, tinggallah dia di kota Leng-sia-bun menjadi seorang pedagang. Mula-mula dia mendirikan sebuah rumah makan. Setelah rumah makannya maju, dia membuka rumah judi dan rumah penginapan.

Tentu saja dia mengumpulkan bekas teman-temannya dari kalangan hitam untuk bekerja kepadanya dan merangkap menjadi tukang pukul. Akan tetapi Ciu-wangwe melarang keras kepada anak buahnya untuk memperlihatkan sikap kasar dan sewenang-wenang karena dia maklum bahwa itu bukan merupakan cara untuk mengumpulkan kekayaan di sebuah kota.

Dengan licin sekali Ciu-wangwe mempengaruhi para pembesar kota itu dengan jalan sering-kali mengirimkan hadiah kepada mereka. Bahkan bukan uang saja yang dijadikan umpan untuk memancing ikan besar dan menjinakan haimau, akan tetapi dia juga mempergunakan wanita-wanita muda! Terkenallah hotel dan rumah judi yang didirikan Ciu-wangwe karena kedua tempat ini juga merupakan tempat berpelesir di mana disediakan perempuan muda sebagai pelacur-pelacur kelas tinggi! Bahkan restorannya juga amat laris karena di situ bercokol pula beberapa orang pelacur cantik yang melayani para tamu makan minum dan memberi kesempatan kepada para tamu sambil makan minum untuk colek sana-sini!

Biar pun banyak penduduk Leng-sia-bun yang menjadi korban judi, banyak rumah tangga berantakan, namun tidak ada orang yang mampu menyalahkan Ciu-wangwe. Rumah judi, hotel dan restoran yang dibukanya adalah sah dan mendapat restu serta perlindungan dari para pembesar setempat. Bahkan secara terang-terangan, hampir semua pembesar di kota itu menjadi langganan Ciu-wangwe.

Mereka yang gemar berjudi menjadi langganan pokoan (tempat judi) di mana mereka dapat berjudi apa saja sepuasnya. Tentu saja dalam melayani para pembesar berjudi, orang-orang kepercayaan Ciu-wangwe tidak berani main curang, tidak seperti jika melayani kalangan umum, di situ dilakukan kecurangan-kecurangan yang menjamin kemenangan bagi si bandar judi.

Bagi para pembesar yang senang pelesir dengan wanita, mereka mendatangi likoan (hotel) di mana tersedia kamar yang mewah berikut pelacurnya yang tinggal pilih dan mereka memperoleh pelayanan istimewa! Bagi yang mengutamakan lidah dan mulut, tersedia restoran yang menyediakan atau mengirim arak wangi dan masakan lezat!

Kesewenang-wenangan Ciu-wangwe tidaklah tampak atau terasa secara langsung oleh penduduk. Hanya apabila ada orang berani mendirikan tempat judi, restoran atau hotel baru yang menyaingi perusahannya, maka diam-diam tukang pukulnya akan bertindak dan memaksa si pemilik perusahan itu untuk menutup pintu dan menurunkan papan nama perusahan! Boleh orang lain membuka, akan tetapi harus kecil-kecilan dan mengirim ‘pajak’ sebagai penghormatan kepada Ciu-wangwe!

Akan tetapi, beberapa bulan belakangan ini terjadilah kegemparan-kegemparan di daerah kota Leng-sia-bun. Kegemparan yang terasa oleh kaum pria yang doyan pelesir di restoran dan hotel milik Ciu-wangwe. Hanya bedanya, kalau kegemparan para penduduk dusun disertai tangis, adalah kegemparan di hotel-hotel itu diiringi suara ketawa gembira, sungguh pun di malam hari juga mengakibatkan tangis mnyedihkan. Apakah yang terjadi di kedua tempat itu?

Di kota Leng-sia-bun, di dalam hotel milik Ciu-wangwe, kini sering-kali terdapat ‘barang baru’, yaitu pelacur-pelacur muda yang baru. Daun-daun muda seperti ini paling disuka oleh bandot-bandot tua yang tidak segan-segan membuang uang sebanyaknya untuk memetik daun-daun muda itu!

Di dalam tempat-tempat rahasia di belakang hotel, di dalam kamar-kamar gelap sering-kali terjadi hal yang mengerikan di mana seorang gadis remaja dipaksa dan dicambuki, disiksa sampai mereka itu terpaksa menyanggupi untuk dijadikan pelacur dan melayani kaum pria! Dan sekali dara remaja ini melayani seorang tamu, segalanya akan berjalan lancar dan beberapa bulan kemudian perempuan remaja itu akan menjadi seorang pelacur kelas tinggi yang dijadikan rebutan!

Pada waktu yang bersamaan, terjadi geger di dusun-dusun di sekitar daerah itu. Banyak terjadi pembelian gadis-gadis muda, bahkan banyak terjadi penculikan dan perampokan secara terang-terangan dilakukan oleh gerombolan perampok ganas! Keluarga gadis ini melakukan penyelidikan dan mereka akhirnya dapat menemukan anak gadis mereka di Leng-sia-bun, dalam keadaan yang menyedihkan karena sudah menjadi pelacur-pelacur!

Ada pula yang lenyap sama sekali, bahkan ada yang terlunta-lunta sebagai seorang wanita gila! Mereka ini adalah gadis-gadis yang berkeras tidak mau menjadi pelacur. Ada yang disiksa sampai mati, dan ada yang diperkosa dan akhirnya menjadi gila! Tentu saja banyak di antara mereka yang melapor kepada pembesar di Leng-sia-bun, akan tetapi mereka itu malah dimaki-maki karena dianggap menghina Ciu-wangwe.

Dikatakan bahwa anak mereka menjadi pelacur, hal ini adalah orang-tua mereka yang tidak tahu malu dan tak dapat mendidik anak, sekarang ada Ciu-wangwe yang menampung mereka sehingga tidak kelaparan, mengapa mereka itu malah melapor dan menuntut Ciu-wangwe? Mereka yang melaporkan bahwa anak gadisnya di culik orang, dan ternyata anak gadis mereka itu tahu-tahu telah menjadi pelacur di hotel milik Ciu-wangwe, malah dijatuhi hukuman rangket karena menghina Ciu-wangwe.

Laporan mereka itu dianggap fitnah karena tidak ada bukti bahwa anak mereka diculik! Memang ada saja jalan dan alasan para penegak hukum yang telah diperbudak oleh harta yang mereka terima dari Ciu-wangwe itu, di samping suguhan anak-anak perawan hasil penculikan! Untuk melakukan penculikan sendiri, tentu saja para pembesar ini merasa malu. Kini ada yang menculikkan untuk mereka, hati siapa yang takkan senang?

Karena sudah merasa tersudut dan tidak berdaya lagi, akhirnya mereka teringat akan nama besar Lam-hai Seng-jin, Majikan Pulau Kura-kura yang terkenal sebagai seorang pertapa yang suka menolong kesukaran orang lain yang memerlukan pertolongan. Terutama sekali mereka yang mempunyai anak perempuan dan yang merasa gelisah kalau-kalau pada suatu malam akan tiba giliran mereka didatangi penculik yang akan melarikan anaknya. Mereka segera bermufakat untuk minta pertolongan pertapa itu, dan akhirnya berangkatlah serombongan orang menuju ke Pulau Kura-kura.

Lam-hai Seng-jin menerima pelaporan mereka dan merasa kasihan, maka dia mengutus murid tunggalnya yang sudah mewarisi ilmu kepandaiannya untuk mewakilinya menyelidiki dan memberi hajaran kepada komplotan penjahat itu. Juga dia memberi ijin kepada muridnya untuk merantau selama satu tahun. Setelah mendapat banyak nasehat, berangkatlah Kwee Lun seorang diri naik perahu menuju ke daratan besar. Tanpa disangkanya, dia telah berjumpa dengan Han Swat Hong, puteri kerajaan Pulau Es!

Pada hari itu, kota Leng-sia-bun sibuk seperti biasa. Keadaan tetap ramai dan biasa seperti tidak terjadi sesuatu dan seperti tidak akan terjadi sesuatu. Di antara sebagian besar penduduk yang memang sudah tidak memikirkan lagi, tidak ada seorang pun yang tahu, bahwa malam tadi seperti biasa telah terjadi pemerkosaan dara-dara culikan baru seperti sekelompok domba disembelih. Tidak ada pula yang tahu bahwa pagi hari itu muncul dua orang yang akan mendatangkan perubahan besar di kota itu, menimbulkan geger yang akan menggemparkan kota dan akan menjadi bahan cerita sampai bertahun-tahun lamanya.

Setelah menyelidiki di mana letaknya rumah makan milik Ciu-wangwe, Kwee Lun mengajak Swat Hong mendatangi rumah makan itu. Sebuah rumah makan yang bangunannya indah dan besar, dengan cat baru dan di depan rumah makan terdapat tulisan dengan huruf besar ‘Ciu Lau' (Rumah Arak) yang berarti restoran.

"Hong-moi, engkau lapar bukan? Mari kita makan dan minum di sini."

Swat Hong memandang heran. Bukankah ini rumah makan milik Hartawan Ciu yang menjadi pemimpin komplotan penjahat di kota ini yang akan dibasmi Kwee Lun? Dia memandang dan melihat mata pemuda itu bersinar, kemudian Kwee Lun memejamkan sebelah mata penuh arti. Swat Hong tersenyum geli. Mengertilah dia kini. Pemuda itu hendak mengajaknya makan sampai kenyang lebih dulu sebelum turun tangan. Dan memang dia merasa lapar sekali!

"Aku tidak bisa bekerja tanpa makan lebih dulu," pemuda itu berkata lirih ketika mereka memasuki rumah makan dan Swat Hong tersenyum-senyum.

Sepagi itu rumah makan sudah terisi setengahnya oleh mereka yang beruang, karena rumah makan ini terkenal sebagai rumah makan mahal. Dua orang pelayan pria dan wanita menyambut mereka dengan sikap manis. Yang wanita masih muda dan genit, dengan wajah yang ditutup warna putih dan merah yang tebal seperti tembok dikapur dan digambar.

Kwee Lun dan Swat Hong diantar ke sebuah meja kosong di sudut. Dengan suara lantang Kwee Lun memesan makanan dan minuman yang paling lezat dalam jumlah banyak sekali. Para pelayan menjadi terheran-heran mendengar pesanan masakan yang pantasnya untuk menjamu sepuluh orang! Akan tetapi melihat sikap kasar dari pemuda tinggi besar itu, pula melihat dua batang pedang dan kipas yang diletakan di atas meja, mereka tidak berani banyak cakap dan melayani mereka.

Diam-diam seorang pelayan memberi tahu kepada kepala tukang pukul yang berada di dalam. Dua orang tukang pukul yang berpakaian biasa, dan dengan sikap biasa pula, keluar dari dalam dan berjalan lewat dekat meja Kwee Lun dan Swat Hong. Kedua orang tidak peduli dan berpura-pura tidak melihat.

Swat Hong juga melanjutkan makan sambil kadang-kadang tersenyum geli menyaksikan betapa temannya itu makan dengan lahapnya. Dia belum menghabiskan setengah mangkok, Kwee Lun sudah menyapu bersih lima mangkok. Ketika dua orang itu lewat, Swat Hong hanya melirik sebentar. Ia mengerahkan ilmu sehingga telinganya terbuka dan dapat menangkap dengan ketajaman luar biasa ke arah kedua orang yang masih berjalan-jalan di ruangan itu, seolah-olah sedang memeriksa dan kadang-kadang membenarkan letak kursi dan meja yang kosong.

"Aku tidak mengenal mereka," terdengar yang kurus pucat berkata.

"Tapi gadis itu hebat...," kata orang ke dua yang pendek dan berperut gendut. "Kalau dia bisa didapatkan, tentu Loya (Tuan Tu) akan memberi banyak hadiah kepada kita."

"Hushh... apa kau mau menyaingi pekerjaan Tiat-ci-kwi (Setan Berjari Besi)?"

"Ah, siapa tahu dengan cara halus bisa mendapatkan dia...?"

"Tapi pemuda itu kelihatan jantan!"

"Huh, takut apa? Orang kasar seperti itu...."

"Tapi jangan memancing keributan, Lote, kita nanti tentu dimarahi Loya."

"Aku tidak bodoh, mari kita pergunakan cara halus. Lihat, mereka telah selesai makan. Raksasa itu makannya melebihi babi!"

Swat Hong yang sedang minum hampir tersedak karena geli hatinya mendengar temannya yang gembul itu dimaki seperti babi. Akan tetapi Kwee Lun agaknya tidak mempedulikan apa pun. Ia tidak melakukan penyelidikan seperti Swat Hong, tidak mendengar makian itu, maka ia hanya mengelus-elus perutnya yang kenyang. Dia kelihatan puas sekali telah dapat makan minum secukupnya di dalam restoran itu.

Pada saat itu dua orang tukang pukul tadi sudah menghampiri mereka. Yang kurus pucat sudah menjura sambil berkata, "Kami mewakili Ciu-wangwe pemilik restoran ini menghaturkan selamat datang kepada Jiwi."

Sebelum Kwee Lun yang terheran-heran menjawab, si gendut pendek sudah menyambung sambil menyeringai dalam usahanya untuk tersenyum ramah. "Tentu Jiwi datang dari jauh dan lelah. Majikan kami juga memiliki hotel yang paling besar, paling bersih dan paling baik di kota ini, letaknya di sebelah kiri rumah makan ini. Jiwi akan dapat mengaso dengan enak di hotel kami, dan kalau Loya kami mendengar bahwa Jiwi adalah tamu dari jauh, tentu biayanya akan diberi potongan separuhnya."

Kwee Lun sudah mengerutkan alisnya, mukanya merah dan dia seakan-akan memperoleh kesempatan mulai beraksi. "Kalian berani mengganggu kami yang sedang makan...?"

Mendadak kakinya tertendang ujung kaki Swat Hong. Ketika dia memandang, dia melihat isyarat dalam sinar mata gadis itu, maka dia hanya mengerutkan alis dan tidak melanjutkan kata-katanya. Swat Hong sendiri segera berkata kepada dua orang itu dengan suara ramah dan sikap manis, "Kalian sungguh ramah, tentu majikan kalian adalah seorang yang mengenal pribudi. Baik, kami memang hendak bermalam barang dua hari di kota ini. Akan tetapi melihat keramahan kalian, aku ingin bertemu dengan majikan kalian untuk menghaturkan terima kasih."

Dua orang itu saling pandang. "Marilah kami antarkan Nona dan Tuan agar memperoleh kamar yang paling baik di hotel, kemudian kami akan melapor kepada majikan kami...."

"Tidak usah repot-repot!" Swat Hong berkata cepat. "Temanku ini masih hendak melanjutkan makan minum.... Heiii, pelayan! Tambah araknya! Biarlah saya yang menemui majikan kalian dan memilih kamar di hotel sebelah. Kami sudah mendengar tentang kebaikan hati majikan kalian dari pembesar-pembesar di kota ini, dan kami memang ingin minta pekerjaan. Aku ingin bekerja apa saja yang pantas dan temanku itu..., dia tentu bisa menjadi seorang penjaga keselamatan.”

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati kedua orang itu. Sudah terbayang di depan mata betapa mereka akan menerima pujian berikut hadiah dari Ciu-wangwe. Seorang nona begini cantik jelita seperti bidadari, tanpa susah payah datang sendiri ke depan mulut, tinggal membuka mulut dan mencaplok saja! Ciu-wangwe tentu senang sekali, bukan untuk hartawan itu sendiri yang kesenangannya bukan memeluk wanita cantik, melainkan untuk menyenang hati para pembesar setempat. Ciu-wangwe sendiri kesenangannya hanya satu, yaitu uang dan kedudukan!

"Bagus sekali kalau begitu, Nona! Kebetulan pada saat ini Ciu-wangwe sedang menjamu pembesar yang paling terhormat di kota ini. Mereka sedang berpesta di ruangan belakang hotel kami. Mari kami antar Nona ke sana!"

"Tidak usah, kalian di sini saja melayani temanku!" sambil berkata demikian Swat Hong sudah bangkit berdiri.

Cepat laksana kilat kedua tangannya bergerak seperti seorang wanita yang menepuk-nepuk pundak kedua orang itu dengan ramahnya. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati kedua orang tukang pukul itu ketika tiba-tiba tubuh mereka menjadi lemas dan kaki tangan mereka tak dapat digerakkan lagi.

"Ha-ha, duduklah kalian, mari temani aku minum arak!"

Kwee Lun yang dapat melihat gerakan temannya itu cepat bangkit berdiri. Kakinya bergerak dan kedua lutut mereka telah terkena tendangan ujung sepatunya sehingga terlepas sambungannya. Sambil tersenyum Kwee Lun sudah mendudukkan mereka di atas bangku di kanan-kirinya!

Para tamu hanya melihat empat orang itu seperti beramah tamah, maka mereka tidak tertarik lagi, hanya tertarik kepada Swat Hong yang memang sejak tadi telah menjadi perhatian pandang mata para tamu pria yang berada di dalam restoran. Mereka menahan napas melihat dara cantik jelita itu dengan langkah gontai meninggalkan restoran, membawa dua batang pedang dan sebuah kipas.

"Aku pinjam dulu ini!" kata Swat Hong tadi kepada Kwee Lun yang hanya memandang dengan terheran-heran melihat kedua senjatanya dibawa pergi oleh Swat Hong. "Agar kau tidak kesalahan membunuh orang!" kata pula Swat Hong sehingga Kwee Lun tersenyum.

Kiranya gadis itu tidak ingin melihat dia membunuh orang, maka sengaja membawa pergi kedua senjatanya. Di dalam hatinya dia mentertawakan Swat Hong. Apakah tanpa kedua senjata itu kaki dan tanganku tidak mampu membunuh orang? Pula, apakah dia seekor harimau yang haus darah? Biarlah, pikirnya. Gadis itu masih belum percaya kepadanya, dan dia akan memperlihatkan kelihaiannya tanpa bantuan senjata.

Sambil tertawa-tawa kepada dua orang tukang pukul yang duduk seperti boneka dan tak mampu bergerak itu, Kwee Lun melanjutkan minum arak. Karena hawa mulai panas disebabkan oleh hawa arak, pemuda perkasa ini melepaskan kancing bajunya sehingga tampak rambut halus di tengah dadanya yang bidang dan kokoh kuat itu.

Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri meja Kwee Lun. Pelayan ini tadi melihat ketidak-wajaran pada kedua tukang pukul yang duduk berhadapan dengan pemuda itu. Mengapa mereka tidak bergerak-gerak dan duduk dengan lemas? Ketika dia bertemu pandang, tukang pukul yang gendut pendek itu mengejapkan mata kepadanya, sedangkan dari kedua mata tukang pukul kurus pucat itu keluar dua titik air mata. Maka dia cepat menghampiri dan melihat dari dekat.

"Mau apa kau? Pergi!" Kwee Lun membentak.

Pelayan itu kaget sekali, lalu lari pergi masuk ke dalam untuk melaporkan keanehan itu kepada kepala tukang pukul yang lain.

Kwee Lun bukanlah seorang yang bodoh. Dia maklum bahwa pelayan itu telah melihat keadaan dan tentu akan melapor ke dalam. Maka dia memandang ke sekeliling dan mencari akal. Ketika dia melihat segulung tambang yang besar dan kuat, timbullah akalnya. Dia bangkit berdiri, melangkah lebar ke dekat meja pengurus, menyambar gulungan tambang itu dan berkata dengan suara lantang yang ditujukan kepada para tamu yang duduk di ruangan restoran itu, "Semua orang yang berada di dalam restoran ini harap lekas pergi! Restoran ini akan ambruk!"

Kemudian sekali melompat tubuhnya telah berada di luar restoran. Dia ikatkan ujung tambang ke pilar di depan, pilar yang ikut menyangga atap, kemudian dia membawa ujung tambang yang lain ke jalan depan restoran. Dengan memegang ujung tambang, mulailah pemuda raksasa ini menarik tambang, melalui atas pundak kanannya yang menonjolkan otot besarnya yang amat kuat.

Tambang besar itu menegang, kemudian terdengar suara berkerotok. Orang-orang sudah mulai lari ke luar rumah makan itu dan mereka ada yang ketawa geli menyaksikan pemuda itu menarik tambang. Tentu pemuda itu sudah mabok, pikir mereka. Mana mungkin merobohkan bangunan yang besar itu dengan cara demikian? Menarik tambang yang diikatkan pada pilar yang demikian besar dan kuatnya, kalau tidak mabok tentu sudah gila!

Memang membutuhkan tenaga gajah untuk dapat menumbangkan pilar yang sedemikian kokohnya. Kwee Lun mengerahkan tenaga, matanya terbelalak, dahinya penuh keringat dan mulutnya mengeluarkan gerengan yang langsung keluar dari dalam pusarnya. Seluruh tubuhnya menarik tambang dengan pemusatan perhatian dan tenaga.

"Krakkk...!" pilar yang kokoh kuat itu patah tengahnya!

Orang-orang berteriak kaget dan mulai berlari-lari ketakutan. Terdengar bunyi hiruk-pikuk ketika akhirnya atap rumah makan itu runtuh ke bawah, dan menyusul debu mengebul tinggi dibarengi teriakan-teriakan mengerikan dari dalam, di mana masih banyak pekerja restoran itu yang teruruk. Di antara suara hiruk-pikuk ini terdengar suara ketawa dari Kwee Lun yang masih memegang tambang besar itu di kedua tangannya. Tali besar itu sudah terlepas dari pilar dan kini menjadi senjata di kedua lengan yang dilingkari otot itu.

Tempat itu menjadi sunyi. Biar pun banyak sekali penduduk kota yang berlari-larian datang, mereka hanya menonton dari jauh saja, tidak ada yang berani mendekati restoran yang sudah runtuh itu. Belasan orang tukang pukul datang berlarian. Mereka muncul dari belakang restoran yang roboh dan dari rumah judi yang berada di sebelah kanan restoran.

"Itu orangnya..!" seorang pelayan restoran yang berhasil menyelamatkan diri menuding ke arah Kwee Lun.

"Tangkap penjahat...!"
"Serbu...!"
"Bunuh...!"

Lima belas orang tukang pukul dengan bermacam senjata di tangan mereka belari-lari datang menyerbu dan mengurung Kwee Lun. Pemuda ini masih tersenyum lebar. Tali tambang tadi masih melingkar-lingkar di kedua lengan, kedua kakinya terpentang lebar dan sikapnya gagah sekali, membuat lima belas orang tukang pukul itu merasa gentar dan ragu-ragu untuk mendahului maju menyerang. Seorang yang telah meruntuhkan sebuah bangunan seperti restoran itu, sudah jelas memiliki tenaga gajah! Apalagi melihat sikap yang demikian gagah.

"Ha-ha-ha, hayo majulah! Mengapa ragu-ragu? Hayo keroyoklah aku! Memang aku datang untuk membasmi komplotan yang merajalela di Leng-sia-bun. Kalian ini anak buah si keparat Ciu Bo Jin, bukan? Mana itu hartawan Ciu jahanam, si penculik gadis orang! Suruh dia keluar, biar kuhancurkan kepalanya!"

"Serbu...!!" seru kepala tukang pukul, seorang she Ma yang juga memiliki ilmu kepandaian tinggi dan menjadi tangan kanan Ciu-wangwe. Sebelumnya diam-diam dia mengutus seorang anak buahnya untuk melaporkan kepada Ciu-wangwe di hotel, dan seorang anak buah lagi disuruh minta bala bantuan di markas keamanan!

Tiga belas orang tukang pukul, dipimpin oleh Ma Siu menyerbu dengan senjata mereka. Akan tetapi Kwee Lun tertawa bergelak dan begitu kedua lengannya bergerak, tali besar yang panjang menyambar dan menjadi gulungan sinar yang besar panjang. Setiap senjata pengeroyok yang terbentur tali itu terlepas dari pegangan pemiliknya sehingga terdengarlah teriakan-teriakan kaget. Dalam segebrakan saja, lima orang tukang pukul kehilangan senjata mereka dan dua orang lagi terpelanting roboh dan tak dapat bangun kembali karena tulang punggung dan tulang iga mereka patah oleh hantaman tambang!

Ma Siu menjadi marah sekali. Dengan nekat dia bersama sisa anak buahnya menyerbu dan menghujankan senjata mereka kepada Kwee Lun. Namun pemuda Pulau Kura-kura ini sambil tertawa melakukan perlawanan seenaknya. Teringat dia oleh perbuatan Swat Hong yang menyingkirkan pedang dan kipasnya. Andai kata dia menggunakan dua senjata itu, agaknya sekarang semua tukang pukul sudah roboh kehilangan nyawa mereka!

Dia tahu bahwa biang keladi semua kejahatan adalah orang She Ciu, ada pun para tukang pukul ini hanya orang-orang yang mencari nafkah mengandalkan ilmu silat mereka! Biar pun cara mencari nafkah dengan menjadi tukang pukul adalah perbuatan sesat yang menimbulkan kekejaman, namun andai kata tidak ada Hartawan Ciu yang menjadi sumber maksiat, agaknya mereka tidak akan berani mengacaukan sebuah kota besar seperti Leng-sia-bun. Diam-diam dia membenarkan tindakan Swat Hong dan teringat dia akan nasehat Suhu-nya, bahwa di dalam perantauannya dia tidak boleh sembarangan membunuh orang!

Sementara itu, di dalam hotel juga terjadi keributan hebat. Dengan dua batang pedang tergantung di punggung dan kipas gagang perak di tangan, Swat Hong memasuki hotel besar di sebelah kiri restoran. Gedung ini lebih megah dan besar dari-pada restoran itu. Dengan sikap tenang dia berjalan menaiki anak tangga di depan hotel. Beberapa orang pelayan segera menyambutnya dengan wajah berseri. Biar pun dara ini membawa pedang di punggung namun kecantikannya yang luar biasa menyenangkan hati para pelayan.

"Apakah Nona mencari kamar?" tanya seorang pelayan dengan senyum manis.

"Bukan mencari kamar, akan tetapi aku mencari Ciu-wangwe," jawab Swat Hong tanpa mempedulikan senyum itu.

Wajah para pelayan itu berubah dan pandang mata mereka membayangkan kecurigaan. "Tidak semudah itu mencari Loya, Nona. Pula kami tidak tahu di mana adanya Ciu-wangwe sekarang ini...," kata seorang di antara mereka dengan suara hati-hati.

"Aihhh, kalian tidak perlu membohong lagi. Aku mengenal Ciu-wangwe dan kedatanganku adalah atas undangannya. Aku tahu bahwa dia sedang menjamu kepala daerah di ruangan belakang hotel ini, bukan? Kalau kalian tidak membawaku menemuinya sekarang juga, bukan hanya dia yang akan marah kepada kalian, akan tetapi aku pun akan kehabisan sabar!"

Mendengar ini para pelayan itu saling pandang, lalu seorang di antara mereka memanggil tukang pukul.

Dua orang tukang pukul datang berlari. Mereka adalah bekas-bekas perampok yang tentu saja dapat menduga bahwa wanita ini tentulah seorang kang-ouw. Maka mereka segera memberi hormat dan bertanya, "Ada urusan apakah Lihiap hendak bertemu dengan Ciu-wangwe?"

Swat Hong memandang tajam dan mengambil sikap marah. “Eh, pangkat kalian di sini apa sih berani bertanya-tanya urusan antara aku dan Ciu-wangwe? Lekas bawa aku menemuinya!"

"Tapi... tapi.... Loya sedang menjamu Taijin, tidak boleh diganggu!"

"Siapa mau mengganggu? Aku justru datang memenuhi panggilannya untuk meramaikan pesta! Kalau dia marah, biar aku yang tanggung-jawab, akan tetapi kalau kalian berani menolak aku, dia akan marah kepada kalian!"

Dua orang tukang pukul itu saling pandang, kemudian mereka berkata, "Baiklah mari kami antarkan Lihiap ke dalam."

Mereka telah mengambil keputusan dengan isyarat mata untuk mengawal dan menjaga wanita cantik ini. Kalau wanita ini mempunyai niat buruk, masih belum terlambat untuk merobohkannya. Melihat kecantikannya yang luar biasa, sangat boleh jadi kalau dia ini adalah seorang yang dikenal oleh Ciu-wangwe dan benar-benar dipesan datang untuk menghibur pembesar!

Dengan langkah tenang sambil mengipasi lehernya dengan kipas gagang perak, Swat Hong diiringkan dua orang tukang pukul itu melalui gang yang berliku-liku, melalui kamar-kamar di mana terdapat wanita-wanita cantik yang rata-rata berwajah layu dan bermata sayu. Di antara para wanita ini ada yang duduk sendiri, ada pula yang sedang berduaan dengan seorang tamu pria karena terdengar suara ketawa laki-laki di dalam kamar itu.

Kemudian tibalah mereka di ruangan belakang yang luas dan terjaga oleh belasan orang prajurit pengawal yang bercampur dengan para tukang pukul. Ketika mereka bertiga muncul, tentu saja para penjaga dan pengawal itu memandang Swat Hong dengan penuh perhatian.

Dua orang tukang pukul itu agaknya bangga dapat mengawal nona cantik jelita ini, maka sambil mengacungkan ibu jari mereka berkata, "Barang baru! Pesanan khusus!"

Maka tertawa-tawalah para pengawal dan tukang pukul itu memasuki pintu besar yang menembus ke ruangan dalam. Karena mereka yang duduk mengitari meja besar terdiri dari belasan orang berpakaian serba indah, dan masing-masing dilayani dan dirubung wanita-wanita muda dan cantik, Swat Hong tidak mau bertindak sembrono. Dia tidak tahu siapa Ciu-wangwe dan yang mana pula kepala daerah, maka dia menanti dan membiarkan dua orang tukang pukul itu melapor. Akan tetapi sebelum kedua orang yang sudah menjura penuh hormat itu sempat membuka mulut, seorang yang berpakaian serba biru, berusia lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan matanya besar sebelah, telah bangkit berdiri dan membentak.

"Haii! Mengapa kalian lancang...?" dia tidak melanjutkan ucapannya karena matanya telah dapat melihat Swat Hong dan kini dia memandang heran.

Swat Hong sudah melangkah ke dalam, mendekati meja, lalu bertanya kepada laki-laki berpakaian biru itu, "Apakah aku berhadapan dengan Ciu-wangwe?"

Laki-laki itu memang benar Ciu Bo Jin. Dia merasa curiga sekali. Akan tetapi karena dia mengandalkan ilmu kepandaiannya sendiri, pula dia berada di tempatnya sendiri yang terjaga oleh para anak buahnya, bahkan di situ terdapat pula pasukan pengawal Gu-taijin, maka sambil tersenyum lebar dia melangkah maju dan berkata, "Benar, aku adalah orang she Ciu yang kau cari. Nona siapakah dan... heiittt...!"

Dia cepat mengelak ke kiri ketika melihat nona cantik itu sudah menerjang maju, menggunakan tangan kirinya mencengkeram ke arah pundaknya. Gerakan Ciu-wangwe cukup cekatan dan memang dia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi sekali ini dia berhadapan dengan seorang dara perkasa yang luar biasa lihainya, maka baru saja dia mengelak, tahu-tahu ujung gagang kipas yang terbuat dari perak itu telah menotok jalan darah di punggungnya dan dia terpelanting roboh dengan tubuh lemas! Peristiwa ini terjadi sedemikian cepatnya sehingga tidak terduga sama sekali, maka terjadilah keributan hebat.

Seorang yang tubuhnya gendut dan mukanya merah sekali, agaknya sudah mabok, bangkit berdiri dengan tiba-tiba sehingga dua orang pelacur cantik yang tadinya duduk di atas kedua pahanya terpelanting jatuh sambil menjerit. Orang ini berpakaian mewah dan sikapnya agung-agungan. Sambil berdiri dia berseru, "Hai... pengawal...! Tangkap pengacau...!!"

Pintu depan terbuka dan para pengawal serta tukang pukul berlompatan masuk.

Swat Hong girang sekali karena dia dapat menduga bahwa Si Gendut itulah tentu yang menjadi kepala daerah, orang she Gu yang diperalat oleh Ciu-wangwe. Maka dia sudah meloncat ke dekat orang itu, mencabut pedangnya dan menempelkan pedang telanjang di leher Gu-taijin sambil menghardik, "Gu-taijin! Cepat kau menyuruh mundur semua orangmu! Kalau tidak, pedang ini akan menyembelih lehermu!"

Swat Hong menahan geli hatinya melihat tubuh yang gendut itu menggigil semua dan dia menahan jijiknya karena terpaksa menggunakan tangan kanan mencengkeram leher baju. Apalagi ketika melihat betapa lantai di bawah pembesar gendut ini tiba-tiba menjadi basah, tersiram air yang membasahi celana, dia makin jijik. Ingin dia membacokkan pedangnya saja agar manusia tiada guna ini tewas seketika. Tetapi dia teringat bahwa jalan satu-satunya untuk membantu Kwee Lun membereskan urusannya hanyalah menangkap pembesar ini hidup-hidup, biar pun manusia gendut ini tidak ada gunanya.

Akan tetapi manusia yang bagaimana pun pengecut dan lemahnya, sekali menduduki pangkat besar akan menjadi seorang yang sewenang-wenang dan jahat! Makin pengecut dan makin rendah watak orang itu, makin celakalah kalau dia memperoleh kedudukan tinggi. Kerendahan akalnya akan membuat dia makin jahat, mempergunakan kekuasaannya yang kebetulan melindunginya.

"Am... ampun...!" Gu-taijin dengan sukar sekali mengeluarkan suara.

Hampir saja dia pingsan mendengar betapa lehernya akan disembelih, apalagi disembelih perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit, membayangkan betapa lehernya akan terasa perih dan nyeri, berlepotan darah, betapa dia akan mati dan meninggalkan semua kemewahan dan kesenangan hidupnya!

"Suruh mereka mundur...!" kembali Swat Hong membentak dan tangan kirinya mencengkeram tengkuk.

"Oughhh...!" pembesar itu menjerit, mengira tengkuknya disembelih, padahal hanya jari-jari saja yang mencengkeramnya. "Heii, mundur kalian! Tolol semua! Mundur kataku, dan jangan membantah... Li... Lihiap...!"

Para pengawal menjadi bingung. Dengan muka pucat dan mata terbelalak lebar mereka mundur sambil memandang penuh kesiap-siagaan.

Pada saat itu seorang tukang pukul telah berhasil membebaskan totokan Ciu-wangwe dan kini hartawan itu dengan marahnya berteriak kepada tukang pukulnya, "Cepat serbu iblis betina itu...!"

Swat Hong kembali mencengkeram tengkuk Gu-taijin. "Suruh jahanam Ciu itu menyerah!"

"Oughhh... Ciu-wangwe... jangan...! Jangan melawan...!"

Ciu-wangwe yang melihat betapa kepala daerah itu telah ditangkap, sejenak menjadi bingung sekali. Akan tetapi tentu saja dia tidak sudi menyerah.

Pada saat itu terdengar suara hiruk-pikuk di sebelah luar hotel. Tahulah Swat Hong bahwa Kwee Lun tentu telah turun tangan dan pula beraksi pula. Maka dia berkata, "Orang she Ciu! Kejahatanmu berakhir di hari ini juga!"

Selagi Ciu-wangwe kebingungan, tiba-tiba datang seorang tukang pukulnya dari luar dan berteriak-teriak, "Celaka... Loya... ada orang merobohkan restoran kita...!"

Akan tetapi orang ini terbelalak memandang ke dalam dengan muka pucat. Dia melihat kepala daerah berada dalam cengkeraman wanita cantik itu dan melihat Ciu-wangwe berdiri bingung.

Mendengar ini Ciu-wangwe menjadi kaget dan mengira bahwa tentu banyak musuh yang datang menyerbunya. Dia tidak mau mempedulikan Gu-taijin lagi. Dalam keadaan seperti itu, yang terbaik baginya adalah berada di luar dan berusaha mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menghadapi para penyerbu. Keselamatan Gu-taijin tentu saja tidak dipedulikannya lagi. Maka tanpa berkata apa-apa lagi dia lalu berlari hendak keluar dari ruangan besar itu.

"Hendak kemana engkau?" Swat Hong cepat menotok roboh Gu-taijin dan meloncat ke depan. Tubuhnya melayang dan Ciu-wangwe hanya melihat sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu wanita cantik itu telah berdiri di depannya!

"Serbu...!" bentak Ciu-wangwe, dan dia sendiri sudah mencabut goloknya, lalu membacok dengan cepat sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

"Sing-sing-singgg...!!" bertubi-tubi golok itu menyambar, dan kini anak buahnya juga sudah membantunya.

Swat Hong cepat memutar pedangnya dan mengerahkan sinkang yang disalurkan pada pedang itu.

"Cring-cring-trang-trang-trang...!!" sebatang golok di tangan Ciu-wangwe dan empat batang pedang terlepas dari pegangan pemiliknya. Tiga orang pengeroyok roboh terkena totokan kipas perak di tangan kiri Swat Hong!

Melihat kelihaian wanita ini, bukan main kagetnya hati Ciu-wangwe. Dia sudah berpengalaman dan tahulah dia bahwa kalau dia melanjutkan, dia sendiri akan roboh di tangan wanita lihai ini. Maka jalan terbaik baginya adalah lari ke luar untuk mengerahkan anak buahnya, dan kalau perlu melarikan diri!

Melihat orang yang hendak ditangkapnya itu lari, Swat Hong segera bermaksud mengejar. Akan tetapi pada saat itu dia melihat tubuh gendut Gu-taijin sedang dibantu oleh beberapa orang meninggalkan tempat itu.

“Celaka,” pikirnya.

Dia harus dapat menangkap pembesar itu, kalau tidak, tentu akan sukar menundukkan semua orang. Maka dia lalu mengerahkan tenaga pada tangan kanan, yang kemudian digerakkan sehingga pedangnya meluncur seperti kilat menyambar ke depan. Terdengar jerit mengerikan. Tubuh Ciu-wangwe terjungkal ke depan, pedang menembus dari punggung hingga dadanya, dan dia tewas seketika!

Swat Hong telah melompat. Tangan kanannya kembali sudah mencabut pedang, kini pedang milik Kwee Lun yang dicabutnya. Kipas di tangan kirinya merobohkan empat orang pengawal yang tadi membantu Gu-taijin dan mereka roboh tertotok. Sebelum pembesar itu sempat bergerak, dia sudah mencengkeramnya lagi, bahkan yang dicengkeram adalah pundaknya sambil mengerahkan tenaga.

"Aughhh... add... duh... duh... duhhh... ampun, Lihiap...!" Gu-taijin berteriak-teriak seperti seekor babi disembelih.

"Hayo cepat suruh mereka semua mundur!" bentak Swat Hong, kembali pedang telanjang ditekankan di tengkuk pembesar itu.

"Mundur kalian semua! Keparat! Kurang ajar kalian! Disuruh mundur tidak cepat mentaati perintah! Apa minta dihukum gantung semua?!"

Mendengar pembesar ini membentak-bentak dengan suara galak sekali, semua pengawal dan anak buah Ciu-wangwe terbelalak ketakutan dan mundur. Apalagi mereka melihat betapa Ciu-wangwe sudah tewas. Para pelacur yang tadi melayani perjamuan itu, menjerit-jerit dan lari pontang-panting, kemudian bersembunyi di kolong-kolong meja dan belakang-belakang lemari.

Swat Hong mendengar suara ribut-ribut di luar, suara pertempuran. Tahulah dia bahwa Kwee Lun sedang dikeroyok. Cepat dia menarik tubuh pembesar Gu keluar dari hotel, kemudian dengan mencengkeram punggung baju, dia membawa pembesar gendut itu meloncat ke atas genteng. Semua orang memandang heran melihat betapa seorang gadis cantik dan muda seperti itu mampu meloncat sambil mencengkeram tubuh seorang laki-laki bertubuh gendut dan berat seperti pembesar itu! Swat Hong masih terus mencengkeram punggung Gu-taijin yang pucat sekali wajahnya, menggigil kedua kakinya.

Tentu saja pembesar ini merasa ngeri berada di atas genteng, apalagi dia berdiri di pinggir sekali. Terpeleset sedikit saja dia tentu akan melayang jatuh ke bawah, tubuhnya akan remuk! Selama hidupnya tentu saja belum pernah dia naik ke atas genteng. Akan tetapi karena dia ditodong dan merasa takut sekali kepada wanita perkasa yang mencengkeram punggungnya, dia mentaati perintah Swat Hong.

Dengan suara lantang Gu-taijin berteriak-teriak dari atas, "Haiii..., mundur semua...!"

Dia melihat pasukan keamanan sudah berada di situ, dipimpin oleh Bhong-ciangkun, perwira yang mengepalai pasukan keamanan. "Bhong-ciangkun, suruh semua pasukan mudur!"

Pada saat itu Kwee Lun sedang mengamuk. Tadinya yang mengeroyoknya hanyalah para tukang pukul anak buah Ciu-wangwe dan dia sudah berhasil merobokan belasan orang dengan tambang di tangannya yang kini sudah berlepotan darah. Akan tetapi dia kewalahan juga ketika pasukan keamanan datang. Pasukan yang jumlahnya hampir seratus orang itu tentu saja tidak mungkin dapat dia lawan seorang diri hanya mengandalkan segulung tambang! Maka dalam amukannya itu, dia sudah menerima pula beberapa bacokan senjata tajam yang melukai pinggul dan punggungnya, membuat pakaiannya berlepotan darah pula. Namun sedikit pun semangatnya tidak menjadi kendur, bahkan darah dipakaiannya itu seolah-olah membuat dia makin bersemangat lagi!

Melihat betapa atasannya berada di atas genteng dan mengeluarkan perintah itu, Bhong-ciangkun terkejut dan cepat dia mengeluarkan aba-aba menyuruh pasukannya mundur. Kwee Lun ditinggalkan seorang diri, berdiri dengan kedua kakinya terpentang lebar, pakaian dan tambangnya berlumuran darah, gagah bukan main sikapnya. Sisa anak buah Ciu-wangwe tidak ada lagi yang berani maju setelah para pasukan itu diperintahkan mundur. Apalagi ketika mereka itu mendengar bisikan teman-teman bahwa Ciu-wangwe telah tewas oleh dara di atas genteng itu!

Ketika Kwee Lun melihat betapa Swat Hong telah berdiri di atas genteng sambil membawa Gu-taijin, diam-diam dia menjadi kagum bukan main. Kiranya gadis itu amat cerdiknya. Tahulah dia bahwa dara perkasa itu hendak menggunakan kekuasaan Gu-taijin untuk membasmi kejahatan yang merajalela di Leng-sia-bun! Maka sambil tertawa bergelak dia pun melompat. Tubuhnya melayang ke atas genteng, lalu hinggap berdiri di samping Swat Hong.

"Hong-moi, bagaimana kalau kita dorong tong kotoran ini ke bawah saja dan melihat perutnya berhamburan di bawah sana?" serunya mengejek.

"Jangan... jangan... aduh, ampunkan saya...." Gu-taijin berkata memohon dengan rasa takut menghimpit hatinya.

"Kalau begitu, hayo kau membuat pengumunan dan perintah menurutkan kata-kataku," Swat Hong berbisik di belakang pembesar itu.

Gu-taijin mengangguk-angguk, kemudian terdengarlah suaranya lantang mengikuti perintah yang dibisiki oleh Swat Hong. "Hai, dengarlah baik-baik semua pembantuku dan semua penduduk Leng-sia-bun! Hari ini, dengan bantuan Kwee-taihiap dari Pulau Kura-kura, aku baru mengetahui bahwa di kota ini terdapat komplotan penjahat yang diketuai oleh Hartawan Ciu Bo Jin! Mereka mendirikan rumah judi, hotel pelacuran, dan rumah makan di mana terjadi segala macam kejahatan perjudian curang, pemaksaan terhadap gadis-gadis yang diculik untuk dijadikan pelacur dan penyogokan terhadap para petugas pemerintah! Sekarang Ciu-wangwe telah tewas! Anak buahnya akan diampuni asal saja mulai sekarang mau merubah watak dan tidak lagi melakukan kejahatan! Dan semua wanita yang dipaksa menjadi pelacur, akan dibebaskan dan dikirim pulang ke rumah masing-masing dengan mendapat bekal masing-masing seratus tail perak! Semua ini harus dijalankan sebaiknya. Kalau ada yang melanggar dia akan dihukum sesuai dengan hukuman pemerintah. Selain itu, juga Kwee-taihiap sendiri akan selalu mengawasi dan memberi hukuman terhadap mereka yang tidak mentaati perintah kami ini!"

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai penduduk dan sekaligus terjadi keributan karena beberapa tukang pukul yang pernah berbuat sewenang-wenang tiba-tiba dikeroyok oleh penduduk! Sekali ini para pasukan pemerintah tidak ada yang berani melindungi para tukang pukul itu sehingga mereka mengaduh-aduh dan tidak berani melawan. Semua tukang pukul itu mendapat hajaran dari penduduk sampai babak belur! Sementara itu para wanita pelacur yang berasal dari keluarga baik-baik dan yang dipaksa menjadi pelacur dengan berbagai ancaman dan siksaan sudah menangis riuh-rendah. Menangis saking girang, terharu, dan juga duka.

"Awas kau, Gu-taihiap. Kalau sampai semua ucapanmu tadi tidak kau laksanakan, kami akan melaporkan bahwa engkau sebagai seorang kepala daerah telah diperalat oleh orang jahat dengan jalan sogokan. Selain itu, kami akan datang kembali khusus untuk menyembelih lehermu!" Swat Hong berbisik dengan nada penuh ancaman.

Pembesar itu mengangguk-anggukkan kepalanya seperti seekor ayam mematuki gabah. Ketika dia mengangkat muka memandang, ternyata kedua orang itu telah lenyap dan dia hanya berdiri sendiri saja di atas genteng yang begitu tinggi. Tentu saja dia menjadi ngeri sekali. "Bhong-ciangkun... tolong... tolong saya turun...!"

Bhong-ciangkun telah melihat bayangan kedua orang itu berkelebat, maka dia lalu meloncat naik ke atas genteng dan membawa pembesar itu turun. "Bagaimana, apakah hamba harus mengejar mereka?" Bhong-ciangkun berbisik.

"Hushhh...! Bodoh! Masih untung kita...." pembesar itu berbisik kembali, kemudian berkata lantang. "Hayo laksanakan perintahku tadi!"

Demikianlah, peristiwa itu menjadi semacam dongeng sampai bertahun-tahun di kalangan penduduk Leng-sia-bun. Betapa pun mereka mencari, tak pernah lagi ada penduduk kota ini yang melihat kedua orang pendekar itu. Memang Swat Hong dan Kwee Lun telah melarikan diri dari kota itu dan melanjutkan perjalanan mereka dengan hati puas.

“Hebat kau, Hong-moi!" Kwee Lun memuji. "Luar biasa sekali! Kalau tidak ada engkau yang membantuku dengan siasat yang cerdik itu, tentu akan lain jadinya! Aku masih sangsi, apakah aku akan mampu menaklukkan mereka! Tentu akan terjadi banjir darah, dan mungkin aku sendiri akhirnya mati dikeroyok."

"Ah, sudahlah, Kwee-twako. Kau yang hebat, menggunakan tali merobohkan restoran dan dengan hanya bersenjatakan tambang dapat menghadapi pengeroyokan puluhan orang!"

"Tidak ada artinya dibandingkan dengan sepak terjangmu, Moi-moi. Engkau telah membantuku sehingga tugasku selesai dengan hasil baik. Tak pernah aku akan dapat melupakan ini! Dan sebagai balasannya, aku akan membantumu mencari Ibumu dan Suheng-mu sampai berhasil pula!"

Wajah Swat Hong menjadi suram. Dia menarik napas panjang. "Hemm... Ibu dan Suheng pergi tanpa meninggalkan jejak. Ke mana aku harus mencarinya?"

"Jangan khawatir, Moi-moi. Kalau memang Ibumu dan Suheng-mu mendarat tentu kita akan dapat mencari mereka. Tempat yang paling tepat untuk mencari seseorang adalah kota raja. Memang belum tentu mereka berada di sana, akan tetapi setidaknya kota raja merupakan sumber segala keterangan sehingga kita dapat mendengar-dengar kalau-kalau ada berita dari dunia Kang-ouw tentang mereka."

Swat Hong menyetujui pendapat ini. Memang dia pun bermaksud mengunjungi kota raja, karena bukankah nenek moyangnya dahulunya juga seorang anggota keluarga raja? Mereka pun melanjutkan perjalanan dari luar kota Leng-sia-bun menuju kota raja.

Makin lama melakukan perjalanan bersama Kwee Lun, setelah lewat sebulan kurang lebih, makin sukalah Swat Hong kepada pemuda itu. Dia makin mengenal Kwee Lun sebagai seorang yang benar-benar jantan, keras hati, teguh dan tidak mempunyai sedikit pun pikiran menyeleweng. Pemuda ini juga suka bergurau, walau pun kasar akan tetapi kekasaran yang bukan bersifat kurang ajar, melainkan karena terbawa oleh kejujurannya yang wajar dan tak pernah mau menyembunyikan sesuatu. Pendeknya, pemuda itu benar-benar seorang laki-laki yang gagah perkasa lahir bathinnya.

Di lain pihak, Kwee Lun juga merasa kagum kepada Swat Hong setelah dia mengenal sifat-sifat temannya ini yang amat cerdik, periang, jenaka namun keras hati dan kadang-kadang tampak keagungan sikapnya sebagai seorang puteri kerajaan! Namun dara itu sama sekali tidak angkuh atau sombong, sungguh pun kini dia harus mengakui bahwa ilmu kepandaiannya sedikitnya kalah dua tingkat dibandingkan dengan dara Pulau Es ini! Oleh karena inilah maka ada keseganan di dalam hatinya. Biar pun dia yang selalu memimpin perjalanan dan menjadi petunjuk jalan, namun dalam segala hal, sampai dalam memilih makanan dan penginapan yang selalu dibayar oleh Kwee Lun, pemuda ini selalu minta pendapat dan keputusan Swat Hong!

Pada suatu hari tibalah kedua orang ini di kaki Pegunungan Tai-hang-san yang amat luas dan memanjang dari selatan ke utara. Tujuan mereka adalah Tiang-an ibu kota Kerajaan Tang. Di dusun ini mereka berhenti untuk makan di sebuah warung nasi sederhana. Mereka memesan nasi, mi, dan arak. Tak lupa Kwee Lun minta air hangat untuk Swat Hong agar nona ini dapat mencuci muka setelah melakukan perjalanan yang panas berdebu. Ketika Swat Hong sedang bercuci muka dengan air hangat, menggosok mukanya dengan air bersih sampai kedua pipinya kemerahan, dia mendengar percakapan menarik dari arah dapur warung itu.

"Bukan main ramainya!" terdengar suara seorang laki-laki, agaknya pekerja di dapur itu.

"Lebih ramai dari-pada kalau melihat dua orang jago silat berkelahi! Bayangkan saja! Harimau mengaum sampai bumi tergetar, lalu menubruk dan mencakar ke arah beruang itu. Akan tetapi si beruang juga tidak kalah lihainya, dia menggereng dan aku yakin engkau sendiri tentu akan terkencing-kencing mendengar gerengan itu! Dia dapat menangkis dengan kaki depannya dan balas menggigit. Mereka saling cakar, saling gigit, mula-mula saling menangkis lalu bergumul! Bukan main!"

"Ahhh, sudahlah. Siapa percaya omonganmu? Paling-paling kau melihat orang mengadu jangkerik dan kau kalah bertaruh lagi! Lebih baik lekas masak air, tehnya hampir habis."

Swat Hong cepat menghampiri Kwee Lun dan berbisik, "Agaknya di sini ada jejak Suheng-ku!"

"Ehhh...? Kwee Lun bertanya heran.

"Ada orang di dapur tadi bercerita tentang pertandingan antara harimau dan beruang. Kalau tidak salah perasaan hatiku, itu beruang kepunyaan suheng."

"Eh? Suheng-mu memelihara beruang?" Kwee Lun bertanya makin heran lagi.

"Belum kuceritakan kepadamu, Twako. Ketika aku berpisah dari suheng, dia sedang mengobati seekor beruang terluka. Tentu beruang itu menjadi jinak dan sekarang menjadi binatang peliharaannya."

"Aduh! Suheng-mu tentu hebat sekali, berani mengobati seekor beruang!"

"Sudahlah, Twako. Kalau kelak dapat bertemu, engkau dapat berkenalan dengan Suheng sendiri. Sekarang harap kau suka tanyakan kepada pekerja di dapur tentang beruang yang diceritakannya tadi."

"Mengapa tidak panggil saja dia ke sini? Hei, Bung pelayan!"

Pelayan itu segera menghampiri.

"Tolong kau panggilkan sahabat yang tadi berbicara tentang beruang, dia bekerja di dapur. Cepat!"

Pelayan itu terheran-heran, akan tetapi dia masuk juga ke dalam. Tak lama kemudian dia kembali ke situ bersama seorang laki-laki muda yang kelihatan takut-takut. Laki-laki ini kurus kecil dan memakai pakaian koki, agaknya dialah tukang atau pembantu tukang masak di warung itu.

"Saya... saya tidak tahu apa-apa...," orang itu berkata begitu tiba di dekat meja.

Kwee Lun menggerakkan tangannya tak sabar. "Aahh, mengapa takut? Kami hanya tertarik mendengar cerita beruang bertanding dengan harimau. Di manakah kejadian itu dan bagaimana asal mulanya?” Kwee Lun mengeluarkan sepotong uang dan memberikan kepada orang itu. "Nah, ceritakanlah! Jangan takut-takut, ini hadiahnya."

Orang itu menerima hadiah. Setelah memandang ke kanan-kiri dia bercerita, "Pagi tadi, sebelum masuk bekerja saya menemani saudara misan saya mengantar segerobak kayu bakar ke atas sana...." dia menuding ke luar warung.

"Ke atas mana?"

"Di Puncak Awan Merah, tempat tinggal Siangkoan Lo-enghiong. Kami berdua mengantarkan kayu bakar dan melihat ribut-ribut di sana. Mendengar gerengan-gerengan dahsyat, saya lalu menyelinap dan mendahului saudara saya untuk mengintai. Ternyata di sana sedang diadakan permainan yang luar biasa, yaitu adu harimau dan beruang! Entah milik siapa beruang itu, akan tetapi harimau itu saya kenal sebagai harimau peliharaan Siangkoan Lo-enghiong yang biasanya di dalam kerangkeng. Bukan main ramainya dan saya takut sekali. Agaknya di tempat Siangkoan Lo-enghiong ada tamu yang membawa beruang...."

"Siapa tamunya? Bagaimana macam orangnya?" Swat Hong mendesak penuh ketegangan hati.

Akan tetapi orang itu menggeleng kepala. "Bagaimana saya bisa tahu? Di atas sana banyak murid-murid Lo-enghiong dan orang-orang seperti kami tidak mempunyai hubungan dengan Puncak Awan Merah. Kami tidak diperbolehkan naik kecuali kalau ada pesanan dari sana, hanya kadang-kadang saja Siocia atau murid Lo-enghiong yang turun ke sini. Melihat pertandingan yang amat dahsyat itu, saya ketakutan dan cepat lari turun lagi...."

Swat Hong mengerutkan alisnya. Mungkinkah suheng-nya ‘kesasar’ sampai di tempat ini?

Tiba-tiba Kwee Lun bertanya, "Yang kau sebut Siangkoan Lo-enghiong itu, apakah dia bernama Siang-koan Houw?"

“Nama lengkapnya mana saya tahu?" orang itu menggeleng kepala, kelihatannya takut-takut.

"Julukannya Tee-tok (Racun Bumi), bukan?"

Orang itu makin ketakutan, akan tetapi dia mengangguk. "Pernah saya mendengar muridnya bicara menyebut julukan itu.... harap Ji-wi maafkan, saya masih banyak pekerjaan di dapur." Dia tidak menanti jawaban tapi langsung kembali ke dapur dengan sikap ketakutan.

"Aihh, kiranya Tee-tok sekarang tinggal di tempat ini!" kata Kwee Lun.

"Twako, siapakah Racun Bumi itu?"

"Hemm, seorang yang luar biasa, dapat dikatakan saingan Suhu. Menurut cerita Suhu, sukar dikatakan siapa yang lebih unggul. Dia adalah seorang di antara tokoh-tokoh dunia kang-ouw yang sudah terkenal sekali. Aku sendiri baru mendengar namanya dari Suhu saja. Menurut Suhu, dia adalah seorang yang gagah perkasa dan jujur. Akan tetapi sayang sekali, hatinya ganas dan kejam terhadap orang yang tak disukainya dan dia amat lihai dan berbahaya sebagai seorang ahli racun yang mengerikan. Karena itu julukannya adalah Racun Bumi. Sungguh tidak dinyana bahwa kita bakal bertemu dengan orang seperti dia!"

"Hemm... kalau begitu engkau sudah merencanakan untuk mengunjungi Puncak Awan Merah, Twako?"

"Tidak begitukah kehendakmu? Agaknya sangat boleh jadi beruang itu milik Suheng-mu, Hong-moi, karena di tempat tinggal seorang seperti Tee-tok, segala apa mungkin saja terjadi. Tentu saja amat mencurigakan dan hatiku tidak akan merasa puas kalau belum menyelidiki ke sana. Kalau ternyata Suheng-mu tidak berada di sana kita turun lagi karena aku tidak mempunyai urusan dengan Tee-tok."

Swat Hong mengangguk. "Baiklah, kalau begitu mari kita berangkat. Entah mengapa, betapa pun sedikit kemungkinannya bahwa Suheng berada di sana, akan tetapi hatiku merasakan sesuatu yang aneh. Kita harus menyelidiki ke sana."

Setelah membayar harga makanan berangkatlah kedua orang itu ke Puncak Awan Merah, tentu saja diikuti pandang mata penuh keheranan dan kegelisahan oleh pelayan warung yang mereka tanyai di mana adanya puncak itu. Setelah mereka mendekati bukit dan tiba di lereng atas, tampaklah bangunan besar di puncak yang dimaksudkan itu. Mereka tidak mengerti mengapa puncak itu disebut Puncak Awan Merah, padahal ketika mereka tiba di situ di siang hari itu, awannya tidak berwarna merah melainkan biru dan putih seperti biasa.

"Twako, kedatangan kita hanya menyelidiki apakah Suheng berada di sana. Oleh karena itu tidak baik kalau kita datang berterang, bisa menimbulkan kecurigaan orang, padahal kita tidak berniat mencari perkara dengan tokoh kang-ouw itu, bukan? Maka sebaiknya kita berpencar. Kau menyelidiki dengan memutar dari kiri, aku dari kanan, sampai kita saling bertemu. Kalau Suheng tidak ada di sana, dan beruang itu bukan beruangnya, kita segera kembali ke dusun tadi dan bermain saja di sana."

"Baik, Hong-moi. Dengan cara demikian penyelidikan memang dapat dilakukan lebih leluasa dan lebih cepat."

Mereka mendaki terus, dan setelah tiba di luar pagar tembok gedung besar di puncak itu mereka berpencar. Swat Hong yang mengambil jalan dari kanan menyelinap di atas pohon-pohon dan batu gunung. Tak lama kemudian dia mendengar suara orang. Cepat dia menghampiri dan mengintai, dan apa yang dilihatnya membuat dia hampir berteriak saking kagetnya!

Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya ketika dia melihat suheng-nya, Kwa Sin Liong, terbelenggu kedua pergelangan tangannya dan setengah tergantung pada pohon! Tubuh atas suheng-nya itu telanjang dan hanya celana dan sepatunya saja yang menutupi tubuhnya. Sin Liong kelihatan tenang saja, biar pun dahinya berpeluh. Agaknya pemuda itu memang sengaja membiarkan dirinya terbelenggu. Swat Hong yakin sekali, bahwa apabila dikehendaki oleh suheng-nya itu, apa sukarnya membebaskan diri dari belenggu seperti itu? Tentu ada sesuatu yang aneh telah terjadi di sini!

Swat Hong menahan kemarahannya yang membuat dia ingin menyerbu, dan dia memandang kepada orang-orang di sana. Dua orang yang berpakaian seragam, memakai topi aneh, menjaga di belakang pohon dan tangan mereka meraba gagang golok. Seorang kakek yang tinggi besar, brewok dan matanya lebar, dengan marah-marah menghampiri Sin Liong, tangan kanannya memegang senjata yang aneh. Bukan senjata, pikir Swat Hong, melainkan tanduk rusa yang agaknya hendak dipakai sebagai senjata. Tanduk rusa seperti itu saja apa artinya bagi suheng-nya? Yang membuat dia terheran-heran adalah melihat suheng-nya berada di tempat itu dan mudah saja dibelenggu dan dihina! Apa yang telah terjadi?

*** www.sonnyogawa.com ***


Seperti telah kita ketahui, Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka bersama Ouw Soan Cu, gadis Pulau Neraka yang hendak mencari ayahnya. Sebetulnya, mencari ayahnya ini hanya merupakan alasan yang dicari-cari saja oleh Ouw Kong Ek, ketua Pulau Neraka. Puteranya Ouw Sin Kok, ayah kandung Soan Cu, telah menghilang selama belasan tahun, tak pernah kembali dan tidak pula ada kabarnya sehingga menimbulkan dugaan besar bahwa Ouw Sian Kok telah meninggal dunia. Selain itu, andai kata masih hidup, tak seorang pun mengetahui di mana tempat tinggalnya. Soan Cu ditinggal ayah kandungnya sejak bayi, bagaimana mungkin dia dapat mencari ayahnya yang belum pernah dilihatnya dan tak diketahui ke mana perginya itu?

Kalau Ouw Kong Ek menggunakan alasan ini dan mendesak kepada Sin Liong agar membawa dara itu bersama keluar dari Pulau Neraka, adalah karena sebenarnya dia ingin agar cucunya itu dapat berjodoh dengan Sin Liong. Dia sering-kali mengingat akan nasib cucu yang dicintanya itu. Karena jauh dari dunia ramai, akhirnya cucunya itu terpaksa hanya akan berjodoh dengan seorang penghuni Pulau Neraka! Maka munculnya Sin Liong untuk pertama kalinya itu sudah mendatangkan harapan untuk menjodohkan cucunya dengan pemuda itu.


BERSAMBUNG KE JILID 08
Thanks for reading Bu Kek Siansu Jilid 07 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »