Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU




Kho Ping Hoo Serial Bu Kek Siansu



JILID 05


SIN LIONG meloncat ke arah jendela. Kedua tangannya bergerak dan terdengar suara keras ketika ruji-ruji jendela jebol semua. Dia meloncat dan keluar dari kamarnya, terus berlari ke luar melalui lorong. Setibanya di luar, tampaklah olehnya Swat Hong berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang. Dua orang anggota Pulau Neraka roboh dan mengaduh-aduh di bawah, sedangkan belasan orang lain mengurung gadis itu. Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sumoinya memang galak dan pemberani. Bukan main gagahnya. Dikurung oleh orang-orang Pulau Neraka itu masih enak-enak saja, bahkan tidak mencabut pedang, padahal semua yang mengurungnya memegang senjata.

"Heiii! Mundur kalian, jangan ganggu dia!" Sin Liong sudah meloncat ke depan.

"Kau yang mundur! Mengapa ikut-ikut keluar?" Swat Hong membentak dan memandang Sin Liong dengan mata mendelik.

"Ehh? Sumoi...? Aku hanya ingin menolongmu."

"Siapa membutuhkan pertolonganmu? Kembalilah ke kamar tahananmu itu dengan... dengan..." Akan tetapi Swat Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya karena kini orang-orang Pulau Neraka telah mengeroyoknya.

"Wuttt... siuuttt!" tubuh Swat Hong sudah menyambar ke sana-sini.

Selain mengelak dari serbuan banyak senjata itu, Swat Hong juga mengirim serangan-serangan balasan dengan tangan dan kakinya yang bergerak cepat sekali. Bukan main hebatnya Swat Hong yang bergerak cepat dan yang didorong oleh perasaan marah itu. Dia memang marah, bukan marah kepada orang-orang Pulau Neraka, melainkan marah kepada... Sin Liong!

Kiranya tanpa diketahui oleh Sin Liong sendiri, sudah sejak tadi Swat Hong tiba di tempat itu. Ia menggunakan kepandaiannya menyelundup sehingga tidak diketahui para penjaga dan dia telah dapat mendengarkan percakapan antara suheng-nya dan Soan Cu. Hatinya menjadi panas! Dia sendiri tidak tahu akan hal ini, tidak sadar mengapa dia menjadi tidak senang mendengar betapa suheng-nya bercakap-cakap dengan ramah bersama seorang gadis! Karena itu niatnya untuk menolong suheng-nya menjadi buyar. Dia hanya menonton saja ketika suheng-nya diserbu binatang berbisa dan akhirnya dapat menolong diri dengan obat penolak yang diberikan oleh Soan Cu.

Ketika Swat Hong yang marah menyaksikan ibunya dijatuhi hukuman buang melarikan diri dari Pulau Es, dara ini segera berlayar menggunakan sebuah perahu Pulau Es. Tujuannya memang hendak membuang diri ke Pulau Neraka menggantikan ibunya, dan terutama hal ini dilakukannya sebagai protes kepada ayahnya. Akan tetapi karena dia belum pernah pergi ke pulau tempat buangan itu, dan pula karena sudah jauh meninggalkan Pulau Es, dia mulai merasa gelisah dan ngeri memikirkan keadaan Pulau Neraka yang kabarnya amat berbahaya itu. Akibatnya dia tersesat jalan dan mendarat di pulau-pulau kosong sekitar Pulau Neraka.

Akhirnya dia melihat dari jauh perahu Sin Liong meluncur di antara gumpalan-gumpalan es yang menggunung. Dia merasa heran sekali melihat suheng-nya dan merasa khawatir kalau-kalau suheng-nya itu mengejarnya atas suruhan raja untuk memaksanya kembali ke Pulau Es. Maka diam-diam ia lalu mengikuti dari jauh sampai akhirnya dia melihat suheng-nya mendarat di Pulau Neraka. Dengan menggunakan kepandaiannya, Swat Hong berhasil pula mendarat di Pulau Neraka. Dia tidak khawatir akan serangan binatang-binatang berbisa, karena sebelum berangkat Swat Hong membawa batu mustika hijau yang dia dapat dahulu dari ayahnya.

Di bagian tertentu di dasar laut dekat Pulau Es terdapat batu mustika hijau. Batu ini amat sukar didapat, dan hanya beberapa orang penghuni Pulau Es saja yang berhasil mendapatkannya. Batu mustika hijau ini mengandung khasiat yang mukjijat terhadap ular berbisa dan semua binatang berbisa, selalu ditakuti binatang-binatang itu, juga dapat dipergunakan untuk mengobati luka terkena gigitan binatang berbisa. Maka, dengan batu mustika di tangannya, dengan mudah Swat Hong dapat memasuki Pulau Neraka tanpa mendapat gangguan sedikit pun dari binatang berbisa yang hidup di pulau itu.

Ketika Swat Hong tiba di tengah pulau, dia sempat melihat sinar. Maka dia menanti sampai larut malam dan menyelundup ke dalam tempat tahanan, dengan maksud menolong suheng-nya. Akan tetapi tanpa disengaja dia dapat mendengarkan percakapan antara suheng-nya dengan Soan Cu. Inilah yang membuat hatinya menjadi panas sehingga ketika dia ketahuan para penjaga dan dikeroyok, dia menolak keras bantuan Sin Liong!

Tentu saja Sin Liong menjadi terheran-heran melihat sikap sumoi-nya dan memandang dengan alis berkerut dan hati khawatir. Sudah ada enam orang pengeroyok terguling roboh oleh gerakan kaki tangan Swat Hong yang marah itu, padahal dara itu belum mencabut pedangnya. Dapat dibayangkan betapa akan hebatnya kalau dara itu sudah menggunakan senjata!

"Sumoi, tahan...!" dia meloncat maju.
"Singgg...! Mundur kau!"
Sin Liong terkejut melihat sumoi-nya mencabut pedang!

Pada saat itu terdengar pula bentakan keras, "Siapakah gadis cilik itu berani mengacau di sini? Ahhh, Kwa Sin Liong, engkau mampu lolos dari tempat tahanan?"

Yang datang adalah Ouw Kong Ek, ketua Pulau Neraka! Tentu saja ketua ini tidak mengenal Swat Hong, sebaliknya, dara itu pun tidak mengenal kakek berkepala besar ini, maka dia memandang rendah dan membentak.

"Siapa kau?! Kalau sudah bosan hidup, majulah!" dengan gerakan gagah dara itu melintangkan pedangnya di depan dada.

Sin Liong cepat melangkah maju. Dia tahu betapa lihainya kakek ini. Maka untuk mencegah pertempuran, dia cepat berkata, "Tocu, jangan salah sangka. Dia adalah sumoi-ku, dia adalah puteri Suhu, Raja dari Pulau Es!"

Semua orang terkejut mendengar ini dan para pengurung melangkah mundur dengan mata terbelalak. Betapa pun juga, nama Raja Pulau Es masih merupakan nama ampuh dan selain dibenci, juga amat ditakuti oleh mereka. Tentu saja sebagai puteri Raja Pulau Es, dara itu merupakan musuh yang dibenci dan juga ditakuti. Pantas saja dara itu demikian lihai, pikir mereka. Hati mereka gentar.

Tidak demikian dengan Ouw Kong Ek. Dia memandang Swat Hong dan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, jadi dia inikah puteri Raja Pulau Es? Puteri Han Ti Ong? Bagus, hayo tangkap dia hidup-hidup!" perintahnya kepada para pembantunya yang segera melompat ke depan.

"Tahan dulu!" Sin Liong sudah mengangkat tangan kanannya ke atas.

Semua orang, termasuk Ouw Kong Ek sendiri, memandang pemuda ini. Betapa pun juga mereka maklum bahwa pemuda ini lihai sekali. Buktinya penyerbuan binatang-binatang berbisa untuk membunuhnya di dalam kamar tahanan telah gagal, bahkan binatang-binatang itu lari cerai-berai dan kini pemuda itu sudah lolos dari dalam penjara.

"Ouw-tocu, seperti sudah kuceritakan kepadamu, biar pun sumoi adalah puteri Raja Han Ti Ong, akan tetapi ia menentang ayahnya dan mewakili ibunya dihukum ke Pulau Neraka. Dia tidak memusuhi Pulau Neraka...."

"Ha-ha-ha, apa pun yang kau katakan, dia tetap adalah puteri Han Ti Ong, musuh besar kami. Mana kami dapat percaya kepada kalian, puteri dan murid Han Ti Ong? Tangkap mereka!"

"Nanti dulu, Tocu! Mengapa engkau melanggar janji? Aku sudah mengatakan bahwa kedatanganku ke pulau ini hanya untuk mencari Sumoi dan ternyata sekarang Sumoi telah tiba di sini, maka harap Tocu bersikap bijaksana dan membiarkan kami pergi dari tempat ini."

"Hai, kakek berkepala besar yang tolol! Kau mudah saja dibohongi Suheng! Kami memang datang untuk membasmi iblis-iblis di Pulau Neraka. Nah, kau mau apa?!"

"Sumoi!" Sin Liong membentak kaget dan cepat berkata kepada ketua Pulau Neraka, "Tocu, jangan dengarkan dia. Agaknya dia telah mengalami tekanan batin yang hebat sehingga mengeluarkan kata-kata kacau-balau tidak karuan."

Swat Hong mengangkat dada, menegakan kepalanya dan menghadapi Sin Liong dengan mata mendelik dan berkata lantang, "Apa? Kau mau bilang bahwa aku telah menjadi gila?"

"Sumoi, kalau kau bicara seperti tadi, membohong tidak karuan, memang agaknya kau telah gila!"

"Kau yang gila! Kau yang tidak waras dan berotak miring! Kalau aku membohongi iblis-iblis ini, apa hubungannya dengan kau?"

Sin Liong benar-benar menjadi bingung. Biasanya Swat Hong bersikap manis kepadanya dan biar pun dia tahu bahwa dara ini berhati keras, akan tetapi belum pernah bersikap sekeras itu kepadanya.

Tiba-tiba muncul Soan Cu yang berkata kepada kakeknya, suaranya nyaring sehingga terdengar oleh semua orang. "Kongkong, apa yang dikatakan Sin Liong memang benar! Dia beriktikad baik terhadap kita, Kongkong. Malam tadi aku datang kepadanya untuk mengejeknya, akan tetapi dia sebaliknya malah menunjukkan bahaya maut yang mengancam diriku."

Kakek itu terkejut. "Bahaya maut? Apa maksudmu?"

"Sin Liong ternyata memiliki ilmu pengobatan yang lihai sekali. Begitu melihat aku, dia mengatakan bahwa aku terserang hawa beracun dari sebelah dalam dan jika tidak diobati dengan tepat, dalam waktu kurang dari setahun aku tentu akan mati."

"Hahh...?!" Kakek itu dan semua pembantunya terbelalak kaget memandang dara itu yang bersikap sungguh-sungguh.

"Dan dia memang benar. Dia mengatakan bahwa setiap tengah malam aku tentu merasa pening dan di bagian punggung seperti ditusuk-tusuk jarum, kalau pagi kedua kaki pegal-pegal dan sehabis makan tentu merasa mual hendak muntah. Semua yang dikatakannya itu ternyata tepat sekali, Kongkong."

Berubah wajah kakek itu. Soan Cu adalah seorang yang amat disayangnya, bahkan disayang oleh pembantunya karena dara inilah yang akan mewarisi seluruh ilmu kepandaiannya dan yang akan menggantikannya menjadi Ketua Pulau Neraka. Tentu saja mendengar bahwa usia Soan Cu hanya tinggal setahun, dia terkejut bukan main dan cepat memandang kepada Sin Liong.

Sin Liong sendiri bengong dan terheran-heran. Akan tetapi ketika dia memandang Soan Cu ketika kakek itu membalik dan menghadapinya, dia melihat dara itu secara lucu telah mengejapkan mata kirinya, maka mengertilah dia bahwa dara itu kembali membohong! Membohong dengan cerdik bukan main dalam usahanya untuk menolongnya!

"Kwa Sin Liong, benarkah cucuku diancam hawa beracun? Benarkah?!"

Melihat sikap Sin Liong meragu karena sukar bagi pemuda itu untuk membohong, maka Soan Cu cepat berkata lagi, "Kongkong, dia mengatakan bahwa dia dapat memberikan obatnya, akan tetapi dia hanya mau memberi obat kalau dia dan sumoi-nya dibebaskan dari sini. Terserah kepada Kongkong berat aku atau berat mereka itu."

Swat Hong sudah hampir membuka mulutnya memaki dara itu yang dia tahu telah berbohong. Dia sendiri mendengar percakapan mereka dan dara itu sama sekali tidak sakit, bahkan telah memberi obat penolak binatang beracun kepada Sin Liong, dan menyatakan betapa dara tak tahu malu itu amat suka dan kagum kepada Sin Liong, maka datang menolongnya. Sekarang dara itu mengatakan hal yang bukan-bukan!

Akan tetapi, ketika mendengar ucapan terakhir dari Soan Cu, tahulah dia bahwa dara itu kini membohong untuk menolong Sin Liong dan dia terbebas dari Pulau Neraka! Kenyataan ini membuat dia bungkam kembali. Betapa baiknya dara itu dan betapa akan buruknya dia kalau dia membongkar rahasia gadis itu. Tentu Sin Liong akan makin kagum kepada Soan Cu dan makin benci kepadanya. Pikiran inilah yang membuat dia membungkam dan tidak melanjutkan niatnya untuk membantah Soan Cu.

Hati kakek itu makin bingung. Lenyaplah semua nafsunya untuk menawan Sin Liong dan Swat Hong. Dia memandang Sin Liong dan bertanya, "Orang muda, benarkah engkau dapat menyelamatkan cucuku?"

Kini Sin Liong yang menjadi bingung. Pemuda ini sama sekali tidak pernah membohong dan hatinya tidak akan dapat membohong, namun dia tahu bahwa kalau dia menyangkal kata-kata Soan Cu, sama saja mencelakakan gadis yang berniat baik kepadanya itu. Maka dia lalu menjawab dengan suara ragu-ragu dan perlahan, "Aku dapat memberi obat pembersih darah dan penguat tulang kepadanya, Tocu."

"Dan kau menjamin bahwa cucuku tentu akan sembuh dan terhindar dari ancaman maut hawa beracun di tubuhnya itu?" kakek itu mendesak.

"Kongkong, mengapa tidak percaya kepadanya? Lekas minta obatnya dan engkau yang harus menjamin bahwa dia dan sumoi-nya tidak akan diganggu," kata Soan Cu.

Kakek berkepala besar itu meraba-raba jenggotnya. "Hemmm,harus ada buktinya dulu. Kwa Sin Liong, mulai saat ini engkau dan sumoi mu puteri Han Ti Ong harus tinggal di pulau ini sebagai tamu sambil menanti hasil pengobatanmu kepada cucuku. Kalau kau gagal mengobatinya, hemmm, aku tidak akan mengampuni kalian berdua. Kalau cucuku sembuh, barulah kita bicara lagi."

Sin Liong mengerutkan alisnya hendak membantah peraturan yang berat sebelah ini, akan tetapi dia melihat Soan Cu mengedipkan mata kirinya. Maka dia menarik napas panjang dan mengangguk, lalu berkata, "Harap sediakan alat tulis, biar kulukiskan bentuk daun yang harus dicari."

Sin Liong lalu melukiskan beberapa macam daun yang mudah dicari dan yang mempunyai khasiat biasa saja, yaitu sekedar penambah kekuatan tubuh. Ouw Kong Ek lalu menyuruh seorang pembantunya untuk mencari daun-daun yang dilukis itu di pulau sebelah Pulau Neraka di mana terdapat banyak tetumbuhan. Ada pun Sin Liong dan Swat Hong lalu diperlakukan sebagai tamu terhormat, bahkan disediakan dua kamar yang bersih untuk mereka, dilayani baik-baik dan tentu saja di samping pelayanan ini, para pelayan yang terdiri dari pembantu-pembantu ketua, bertugas pula sebagai penjaga!

"Kuperingatkan kepada kalian agar menanti sampai cucuku sembuh. Lari pun tidak akan ada gunanya bagi kalian karena perahu-perahu kalian telah kami simpan dan di sekeliling Pulau Neraka tidak akan ada perahu sebuah pun. Tanpa perahu, bagaimana kalian akan dapat meninggalkan pulau ini?" demikinan pesan Ouw Kong Ek sebelum dia meninggalkan dua orang itu sehingga Swat Hong menjadi mendongkol sekali dan hampir saja dia memaki-maki ketua itu kalau tidak ditahan oleh Sin Liong yang memegang lengannya.

Setelah ketua itu meninggalkan mereka berdua di dalam pondok di mana mereka tinggal untuk sementara, Sin Liong menegur sumoi-nya, "Sumoi, mengapa kau bersikap seperti itu?"

"Suheng, aku tidak menyangka sama sekali akan menyaksikan engkau yang terkenal alim kini bermain gila dengan gadis puteri ketua Pulau Neraka. Huhh!"

Sin Liong mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada sumoi-nya. Hatinya bertanya, mengapa sumoi-nya memperhatikan soal begitu, padahal sama sekali tidak ada sangkut paut dengan sumoi-nya?

"Sumoi, engkau tahu betul bahwa Nona Ouw Soan Cu melakukan hal itu demi menolong kita. Siapakah yang main-main dengan dia?"

"Hemm, apa kau kira aku tidak tahu betapa dia suka kepadamu dan sengaja mendatangi kamar tahananmu untuk merayumu?"

"Sumoi! Jadi sudah selama ini kau berada di sini? Dan kau diam saja? Sumoi, mengapa kau menyangka yang bukan-bukan? Kalau kau sudah tahu akan kunjungannya itu, tentu kau tahu juga bahwa dia datang untuk memberi obat penolak binatang-binatang berbisa. Sumoi, kita semestinya berterima kasih kepadanya. Dia bermaksud baik, bahkan tidak segan-segan membohong kepada Kongkong-nya demi keselamatan kita."

"Ya, ya, memang dia baik sekali dan cantik sekali. Siapa yang tidak tahu?"

"Sumoi..., harap jangan marah. Dia adalah seorang gadis yang bernasib buruk sekali, ibunya meninggal ketika melahirkan dia, ayahnya pergi entah ke mana dan sampai kini belum kembali..."

"Memang, dia seorang gadis bernasib buruk yang patut dikasihani, tidak seperti aku..." dan Swat Hong lalu menelungkupkan muka di atas meja dan menangis!

Sin Liong terkejut. Beberapa kali ia hendak memegang lengan sumoi-nya akan tetapi ditahannya tangannya. "Aihh... Sumoi, engkau pun bernasib buruk, dan aku merasa kasihan sekali kepadamu. Karena aku merasa kasihan, maka aku menyusulmu. Sumoi, diamlah, jangan menangis. Apakah Sumoi telah bertemu dengan Ibumu?"

Swat Hong seketika berhenti menangis, mengangkat mukanya yang basah air mata dan memandang kepada Sin Liong. Pemuda itu merasa kasihan sekali, lalu mengeluarkan sapu-tangannya dan mengapus air mata yang membasahi muka gadis itu.

"Suheng...apa maksudmu? Apa yang terjadi dengan dia? Bukankah ibu berada di Pulau Es dan aku sudah mewakilinya?" mendengar tentang ibunya, seketika lupalah Swat Hong akan kemarahan dan kedukaan hatinya sendiri.

"Ibumu juga telah pergi meninggalkan Pulau Es...," dengan singkat Sin Liong lalu menceritakan apa yang terjadi setelah gadis itu lari pergi dari Pulau Es, betapa ibunya juga pergi, tidak mau disuruh tinggal di Pulau Es setelah puterinya membuang diri ke Pulau Neraka. "Sumoi, ketika aku tidak melihatmu di sini, tadinya aku mengharapkan karena engkau sudah bertemu dengan ibumu. Jadi engkau belum bertemu dengan ibumu?"

Gadis itu mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala, wajahnya kelihatan muram mendengar akan kepergian ibunya.

"Ah, kalau begitu ke manakah perginya ibumu?" Sin Liong termenung dan diam-diam dia pun merasa prihatin sekali akan nasib wanita itu.

Tiba-tiba Swat Hong berdiri dan mengepal tinju, mukanya agak pucat ketika dia berkata, "Aku mau pergi dari sini sekarang juga! Aku harus mencari ibu sampai ketemu, dan aku tidak akan kembali ke Pulau Es! Aku tidak akan sudi menggantikan ibu di Pulau Neraka ini pula. Bukankah ibu sudah meninggalkan Pulau Es sehingga percuma saja aku mewakilinya?"

"Nanti dulu, Sumoi. Kau tidak bisa pergi begitu saja, tentu mereka akan menghalangimu!"

"Aku tidak takut! Yang menghalangi aku akan kubunuh!"

"Sabarlah, Sumoi. Perlu apa kita mencari permusuhan dengan mereka yang berjumlah banyak? Bukan soal takut atau tidak takut, akan tetapi mereka adalah manusia-manusia yang bernasib buruk sekali, dipaksa tinggal di tempat seperti neraka ini. Bahkan mereka boleh dibilang senasib dengan ibumu dan denganmu sendiri. Selain itu ke manakah kita harus mencari ibumu? Kalau kita berbaik dengan mereka, bukankah kemudian mereka dapat membantu kita mencari? Dengan tenaga banyak orang kukira akan lebih mudah mencari ibumu yang tidak jelas ke mana perginya itu."

Swat Hong dapat dibujuk dan akhirnya dia duduk di atas bangku sambil mengerutkan alisnya dengan wajah muram. Betapa pun juga, setelah dia sadar bahwa cemburunya terhadap suheng-nya dan Soan Cu tidak berdasar, kini terasalah olehnya betapa hatinya sesungguhnya merasa lega dan senang karena dapat bertemu dan berkumpul dengan suheng-nya, apalagi di tempat yang berbahaya ini.

Beberapa hari telah lewat dan Soan Cu setiap hari minum ‘obat’ yang terbuat dari daun-daun seperti yang dilukiskan oleh Sin Liong. Setiap hari kakeknya bertanya dan dia menjawab bahwa penyakit yang dideritanya, rasa nyeri seperti yang dinyatakan Sin Liong itu berangsur-angsur sembuh! Girang bukan main hati kakek itu, akan tetapi hati Swat Hong yang mendongkol melihat betapa Soan Cu seolah-olah mengulur waktu ‘penyembuhannya’!

Pada hari ke tujuh, Ouw Kong Ek dan Soan Cu mendatangi pondok tempat tinggal Sin Liong dan Swat Hong. Dua orang muda dari Pulau Es ini memang sudah menunggu di depan pondok dengan hati tidak sabar, menanti berita kesembuhan total Soan Cu. Maka mereka menyambut ketua Pulau Neraka dan cucunya itu dengan penuh harapan karena melihat betapa wajah kedua orang pendatang itu berseri.

Setelah tiba di depan mereka, Soan Cu segera berkata, "Sin Liong, Kakek merasa berterima kasih sekali kepadamu dan menyetujui kau melanjutkan pengobatan dengan menggunakan sinkang!"

"Apa...?!"

Akan tetapi kata-kata Sin Liong yang bingung dan tidak mengerti itu segera diputus oleh Soan Cu, "Bukankah dulu kau katakan, setelah beberapa hari minum obat penawar racun, kau akan melenyapkan sama sekali hawa beracun itu dengan menggunakan sinkang menyedot ke luar hawa itu dari punggungku?"

Ouw Kong Ek tertawa. "Orang muda she Kwa. Kalau bukan engkau yang sudah kupercaya penuh, tentu aku tidak mengijinkan pengobatan ini. Akan tetapi aku sudah percaya kepadamu, maka silakan. Mudah-mudahan saja dalam waktu singkat cucuku akan sembuh sama sekali." Setelah berkata demikian, kakek itu membungkuk ke arah Sin Liong dan Swat Hong, lalu meninggalkan cucunya.

"Soan Cu, apa maksudmu?" Sin Liong segera berbisik menegur.

"Huh, tentu ingin berduaan denganmu di dalam kamar, apa lagi?" Swat Hong mengejek.

"Hushhh, harap kalian jangan ribut-ribut," bisik Soan Cu. "Mari kita masuk ke kamar dan bicara." dia menggandeng tangan Sin Liong dan diajaknya masuk.

Melihat Swat Hong cemberut, Sin Liong berkata, "Sumoi, marilah."

"Aku tidak sudi menggangu kalian!"

"Aih Enci Hong, mengapa begitu? Yang hendak kubicarakan adalah kepentingan kalian berdua. Marilah," kata Soan Cu.

Agaknya memang dara Pulau Neraka ini tidak pernah mengerti apa yang diejekkan oleh Swat Hong. Agaknya cara hidup di Pulau Neraka membuat dia kurang mengerti akan tata susila sehingga tak pernah merasa melanggar sesuatu biar pun dia memasuki kamar berdua dengan seorang pemuda. Sambil bersungut-sunggut menyembunyikan rasa malunya bahwa dia telah menduga yang bukan-bukan, Swat Hong ikut masuk.

"Aku memang berpura-pura, mengulur panjang waktu penyembuhan. Semua ini karena aku mendengar bahwa Kongkong dan para pembantunya tidak ingin membebaskan kalian setelah aku sembuh."

"Keparat! Kongkong-mu memang bukan manusia baik-baik! pantas menjadi ketua di Pulau Neraka! Aku akan menemuinya!"

"Hushhh, Sumoi. Bersabarlah, dan mari kita dengar kata-kata Soan Cu."

Dengan muka muram Swat Hong duduk lagi dan memandang wajah Soan Cu. Wajah yang manis sekali, pikirnya, manis dan polos. Pantaslah kalau andai kata Sin Liong jatuh cinta kepada gadis ini, pikirnya lagi dan hatinya merasa berdebar penuh khawatir.

"Kongkong telah berjaga-jaga dan mempersiapkan anak buahnya, menjaga kalau-kalau kalian melarikan diri. Berbahaya sekali."

"Habis bagaimana baiknya, Soan Cu?"

"Ada jalan," kata dara yang lincah dan cerdik itu. "Menurut pendengaranku ketika Kongkong merundingkan di kamar rahasia bersama para pembantunya yang paling dipercaya, Kongkong tidak berniat buruk kepada kalian. Setelah kau dapat menyembuhkan aku, maka Kongkong membutuhkan engkau sebagai ahli pengobatan di pulau ini. Dia hendak menahanmu agar kau dapat mengobati setiap penghuni yang terserang penyakit. Ada pun Enci Hong ditahan di sini sebagai sandera, untuk menahan kekuasaan Pulau Es."

"Keparat...!"

"Jangan marah, Enci Hong. Kurasa kita harus menghadapi Kongkong yang berwatak kasar dengan sikap dan akal halus. Kalau aku sudah sembuh, yaitu kalau kunyatakan bahwa aku sudah sembuh sama sekali, sedikit banyak Kongkong tentu akan berterima kasih. Kemudian Liong-ko...heh, Sin Liong mengajarkan Kongkong mengenal daun obat-obatan dengan janji akan membebaskan kalian. Kurasa Kongkong akan mau menerimanya karena sebenarnya yang dibutuhkan adalah pengetahuan tentang ilmu pengobatan itu. Dengan demikian, kalau kalian meninggalkan pulau ini, kalian akan dianggap sebagai sahabat dan penolong. Bagaimana?"

"Kurasa baik juga akal ini," kata Sin Liong.

"Hemm, terserahlah. Akan tetapi jangan ada akal bulus di balik semua ini!" Swat Hong mengancam.

Soan Cu menarik napas panjang. "Enci Hong, harap jangan mencurigai aku. Aku sudah menyesal sekali menjadi seorang yang terlahir di tempat ini. Aku ingin melanjutkan cita-cita Ayah-bundaku yang kabarnya dahulu juga selalu berusaha agar penghuni Pulau Neraka tidak menjadi orang liar yang tidak mengenal prikemanusiaan," setelah berkata demikian, Soan Cu pergi meninggalkan pondok itu dengan muka tunduk.

"Seorang anak yang baik...," Sin Liong memuji sambil memandang tubuh dara itu yang melangkah pergi meninggalkan pondok.

"Maksudmu, seorang dara yang cantik dan berbudi!"

Tanpa menoleh Sin Liong mengangguk. "Memang, dia cantik dan berbudi."

“Huh! Sudah kusangka demikian!"

Sin Liong menoleh kaget dan memandang wajah sumoinya. "Sumoi, apa maksudmu?"

Swat Hong membuang muka. "Hemm, tidak apa-apa. Begitulah!" lalu dia lari memasuki kamarnya, membanting daun pintu keras-keras.

Sin Liong menggeleng kepalanya. Makin tidak mengerti dia akan sikap wanita pada umumnya, dan saat itu sikap Swat Hong khususnya. Juga sikap Soan Cu yang amat aneh, kalau mengingat bahwa dia adalah cucu ketua Pulau Neraka yang berwatak aneh dan kejam.

Semua terjadi seperti direncanakan oleh Soan Cu. Setelah dara itu mengaku sembuh sama sekali dan Sin Liong bersama Swat Hong menghadap ketua untuk minta pembebasan, Ouw Kong Ek malah menggelengkan kepalanya.

"Kwa Sin Liong, kami berterima kasih sekali atas penyembuhan penyakit cucuku, dan untuk jasamu itu, kami tidak akan menggangu kalian, bahkan menganggap kalian sebagai orang-orang berjasa. Akan tetapi, terpaksa kami tidak dapat membebaskan kalian karena kami amat membutuhkan engkau sebagai ahli pengobatan di pulau ini. Maka, harap kalian suka mengerti akan kebutuhan kami ini. Tinggallah di sini dan menjadi orang-orang terhormat, menjadi pembantuku yang paling baik," kata Ouw Kong Ek.

"Tocu, aku mengerti akan kebutuhan Tocu dan para penghuni Pulau Neraka. Akan tetapi sungguh tidak adil kalau menyuruh kami tinggal di sini selamanya, apa lagi amat tidak adil bagi Sumoi. Betapa pun juga, karena aku mengerti akan kebutuhan kalian semua, biarlah sekarang diatur begini saja. Aku akan sementara waktu tinggal di sini mengajarkan ilmu pengobatan kepada Tocu, akan tetapi kuminta agar Sumoi sekarang juga dibebaskan, diberi sebuah perahu agar Sumoi dapat pergi lebih dahulu meninggalkan Pulau Neraka. Ada pun aku sendiri, kalau Tocu sudah mengenal semua daun dan bahan pengobatan, baru aku akan pergi dari sini. Bagaimana?"

Ketua Pulau Neraka itu mengerutkan alisnya, lalu melirik kearah cucunya yang duduk di sebelahnya dan menundukan kepala saja.

"Hemmm, boleh juga sumoi-mu pergi. Biar pun dia puteri Han Ti Ong, akan tetapi mengingat akan jasamu, biarlah dia kami bebaskan. Akan tetapi kau... ah, aku sangat mengharapkan agar engkau menjadi... keluarga kami, orang muda," kembali dia mengerling ke arah Soan Cu dan gadis itu makin menundukan mukanya yang menjadi merah sekali.

"Benar sekali, dia amat cocok menjadi jodoh Nona Ouw!" beberapa orang pembantu berkata sambil tertawa-tawa, sikap mereka bebas terbuka.

"Aku tidak mau pergi!" tiba-tiba Swat Hong berkata lantang. "Kalau Suheng tinggal di sini mengajarkan ilmu pengobatan, aku akan tinggal di sini juga sampai pelajaran itu selesai. Dan kalau... kalau ada pengantin di sini, kalau Suheng diambil mantu, aku pun harus menjadi saksinya!" ucapan itu sebetulnya dikeluarkan dengan gejolak kemarahan dan kepanasan hati Swat Hong, akan tetapi para pembantu Ouw Kong Ek menyambutnya dengan suara ketawa.

Tentu saja Sin Liong kaget sekali mendengar ucapan sumoi-nya itu. Ada kesempatan yang amat baik terbuka bagi Swat Hong untuk membebaskan diri dari pulau berbahaya itu, dan kesempatan itu dibuang begitu saja oleh Swat Hong! Dia telah mengenal watak Swat Hong. Sekali bilang tidak mau, dipaksa sampai mati pun tidak akan mau tunduk! Maka dia menjadi bingung sekali.

"Tocu, karena Sumoi tidak mau pergi sendiri lebih dulu, maka biarlah perjanjian kita diubah. Aku akan memberi pelajaran ilmu pengobatan kepada Tocu. Setelah Tocu mengenal bahan obat untuk melindungi penghuni pulau ini, aku dan Sumoi boleh pergi dengan bebas. Bagaimana?" berkata Sin Liong.

Ketua Pulau Neraka itu mengelus-elus dagunya dengan alis berkerut. Berkali-kali dia melirik ke arah cucunya. Dia adalah seorang yang sudah tua. Biar pun tidak pernah terjun ke dunia ramai, namun dia tahu bahwa cucunya jatuh hati kepada pemuda yang hebat ini. Dan dia tidak melihat seorang pemuda lain di Pulau Neraka yang kiranya patut menjadi suami cucunya! Tentu saja hatinya tidak rela kalau pemuda itu pergi meninggalkan pulau, karena dia tahu bahwa hal itu tentu akan mengecewakan hati cucunya. Maka dia hanya menggeleng-geleng kepala, tanpa dapat menjawab.

Melihat keraguan ketuanya, seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih melaju maju. Orang ini kepalanya gundul botak akan tetapi mukanya penuh brewok, tubuhnya kurus kecil dan di lehernya ada seekor ular merah melingkar. Dia adalah pembantu utama dari Ouw Kong Ek, seorang yang lihai ilmu kepandaiannya dan bernama Lo Thong. Berbeda dengan Majikan Pulau Neraka yang merupakan keturunan orang buangan, maka Lo Thong sendiri adalah seorang buangan dari Pulau Es.

Tiga puluh tahun yang lalu dia dibuang dari Pulau Es karena sebagai seorang pemuda dia banyak melakukan kejahatan. Setelah berada di Pulau Neraka dia memperdalam ilmu-ilmunya dan menjadi orang ke dua yang terkuat setelah Ouw Kong Ek, yaitu sesudah putera Ouw Kong Ek yang bernama Ouw Sian Kok, ayah Soan Cu menjadi gila dan meninggalkan pulau. Maka dia diangkat sebagai pembantu utama oleh Ouw Kong Ek.

"Twako (Kakak)," Lo Thong berkata. Tidak seperti lain penghuni Pulau Neraka yang menyebut ketua mereka Tocu (majikan pulau), dia menyebutnya kakak. "Mengapa Twako bingung menghadapi urusan dua orang anak-anak ini? Betapa pun juga, mereka berada di pulau ini dan seharusnya mereka tunduk kepada semua perintah Twako yang menjadi hukum di sini. Kalau mereka hendak mengambil keputusan sendiri, boleh saja akan tetapi mereka harus lebih dulu dapat mengalahkan kita!" kata Lo Thong.

Ouw Kong Ek memandang pembantunya dengan muka berseri, seolah-olah dia terlepas dari keadaan yang ruwet. "Kalau begitu, bagaimana baiknya, Lo-tee?"

"Menurut saya, lebih baik diadakan pertandingan antara pemuda She Kwa ini dan Twako. Kalau dalam pertandingan itu dia kalah, maka dia dan Sumoinya harus selamanya tinggal di sini dan menjadi penghuni pulau ini seperti kita semua."

"He, Botak! Enak saja kau bicara! Siapa bilang Suheng ku kalah oleh ketua kalian? Habis, kalau kemudian ketua kalian yang kalah, bagaimana?" Swat Hong berteriak nyaring.

"Twako kalah? Ha-ha, mana mungkin?" Lo Thong menjawab. "Akan tetapi kalau Twako kalah, biarlah pemuda She Kwa ini mengajarkan ilmu pengobatan sampai Twako pandai, baru kalian berdua boleh pergi meninggalkan pulau ini dengan bebas."

"Usul yang bagus sekali!" Ouw Kong Ek berseru gembira. "Kwa Sin Liong, aku mendengar bahwa di dunia ramai, di daratan sana, orang-orang gagah menggunakan kepandaian untuk memutuskan sebuah perkara yang ruwet. Aku percaya bahwa engkau tentu seorang gagah pula. Maka biarlah kita membereskan urusan ini dengan mengukur kepandaian masing-masing seperti yang diusulkan oleh pembantuku Lo Thong."

Sin Liong menggeleng kepalanya. "Tocu, aku tidak suka menggunakan ilmu yang kupelajari untuk kekerasan. Mengapa Tocu hendak menggunakan cara kekerasan untuk menahan kami berdua selamanya di pulau ini? Aku sudah bersedia mengajarkan ilmu pengobatan, maka sudah sepatutnya kalau Tocu membalasnya dengan membebaskan kami.”

"Tidak kita harus saling mengukur kepandaian dulu!" ketua itu berkeras.

Tiba-tiba Swat Hong melompat ke tengah lapangan dan membusungkan dada menegakkan kepalanya. "Hayolah! Kalau Suheng tidak mau, biarlah aku yang melayanimu! Siapa sih takut kepada orang Pulau Neraka? Aku yang memasuki pertandingan itu, dan kalau kalah, boleh kalian berbuat apa saja sesuka kalian!"

"Sumoi...!!" Sin Liong menegur.

"Suheng, aku tidak takut!" Swat Hong membantah.

Ouw Kong Ek mengerutkan alisnya. "Soan Cu, kau layani bocah liar yang sombong ini!" katanya.

"Baik Kongkong." Soan Cu bangkit berdiri dan melangkah maju, akan tetapi segera berhenti ketika mendengar suara Sin Liong.

"Soan Cu harap jangan bertanding. Di antara kita tidak ada permusuhan, bukan?"

Soan Cu meragu, memandang kepada Kongkong-nya, kemudian kepada Sin Liong, dan akhirnya dia kembali duduk di tempatnya yang tadi.

"Soan Cu...," kakeknya menegur.

"Kongkong, aku tidak mau bertanding. Mereka bukan musuhku."

Mata kakek itu terbelalak, akan tetapi dia tidak marah bahkan lalu tertawa bergelak. "Kau... kau lebih taat kepadanya? Ha-ha-ha-ha!"

Dia tertawa karena sikap cucunya itu jelas membuktikan betapa cucunya benar-benar telah jatuh cinta kepada Sin Liong! Sampai-sampai berani membangkang terhadap perintahnya hanya karena Sin Liong menghendaki demikian.

Makin panaslah hati Swat Hong. Tadinya dia sudah siap-siap untuk menjatuhkan cucu ketua Pulau Neraka itu, selain agar menang pertandingan juga hendak memperlihatkan kepada Suheng-nya bahwa dia lebih pandai dari pada Soan Cu. Akan tetapi, ternyata Suheng-nya melarang Soan Cu dan dan putri Pulau Neraka itu begitu taat!

"Ouw Kong Ek, kalau cucumu tidak berani maju, biarlah kau sendiri yang maju! Hayo tandingilah aku, puteri Raja Pulau Es!" dia menantang-nantang dengan suara penuh kemarahan.

Sin Liong hanya menggeleng kepalanya dan bingung sekali bagaimana harus mencegah sumoi-nya. Kembali kakek itu menjadi marah. Tantangan yang keluar dari mulut Swat Hong membuat mukanya merah dan telinganya panas. Akan tetapi betapa memalukan kalau dia harus menandingi seorang bocah perempuan yang usianya sebaya dengan cucunya sendiri!

"Twako, perkenankanlah saya menghajar bocah bermulut lancang ini" Lo Thong berkata.

Ouw Kong Ek mengangguk, akan tetapi masih ingat dan memesan, "Akan tetapi cukup beri hajaran saja, jangan sampai dia terbunuh."

"Baik saya mengerti, Twako," Lo Thong menjawab, lalu sekali kakinya bergerak, tubuhnya sudah mencelat ke depan Swat Hong.

Menyaksikan ginkang yang hebat ini diam-diam Sin Liong khawatir sekali. Akan tetapi dia pun tidak dapat mencegahnya karena maklum, kalau dia melarang Sumoi-nya tentu akan menjadi makin nekat saja. Maka dia hanya bangkit berdiri dan memandang dengan jantung berdebar tegang.

Swat Hong memandang kakek botak yang berdiri di depannya, lalu berkata dengan suara mengejek, "Apakah pertandingan ini akan memutuskan perjanjian tadi, bahwa kalau aku menang kami berdua boleh pergi dari sini?"

"Tidak," jawab Lo Thong. "Pertandingan ini hanya mengenai dirimu, kalau kau menang kau boleh pergi, kalau kau kalah, kau harus tinggal di sini selamanya dan menjadi muridku."

"Setan alas! Siapa takut padamu?!" Swat Hong yang sudah kena dibakar hatinya itu membentak.

"Sumoi, tanpa pertandingan pun kau boleh pergi sekarang juga!" Sin Liong berteriak.

"Tidak, Suheng. Aku merasa kurang terhormat kalau pergi begitu saja. Aku tidak sudi menerima kebaikan orang-orang Pulau Neraka. Kalau aku pergi berarti aku pergi mengandalkan kepandaian aku sendiri, bukan karena kebaikan hati mereka. Hayo, kakek botak, boleh kau keluarkan segala ilmumu!"

"Bocah sombong, sambutlah ini!" Lo Thong merasa panas juga perutnya melihat sikap dara remaja yang memandang rendah kepadanya itu. Akan tetapi dia pun maklum bahwa dara ini tentu memiliki kepandaian tinggi sebagai puteri Raja Pulau Es, maka sekali menyerang, dia telah mengeluarkan kepandaiannya, mengeluarkan jurus yang ampuh dan mengerahkan tenaga sinkang-nya.

"Wuuuttt... sirrr...! Desss!"

Mula-mula Lo Thong menggerakkan tubuhnya rendah ke bawah, seolah-olah lengan kirinya yang bergerak itu hendak menangkap kaki Swat Hong. Akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya meninggi, tangan kanannya meluncur dan mencengkram ke arah pinggang dara itu.

Namun Swat Hong yang usianya belum lima belas tahun itu telah mewarisi inti kepandaian dari ilmu-ilmu kesaktian Pulau Es. Dengan tenang dia melihat bahwa bukan tangan kiri lawan yang berbahaya melainkan tangan kanannya. Maka dia cepat menarik kaki kiri dan menangkis dengan sabetan tangan miring dari samping yang mengenai lengan lawan.

Lo Thong mencelat ke belakang dan inilah kehebatan ginkang-nya. Gerakannya bukanlah langkah kaki, melainkan loncatan yang membuat tubuhnya mencelat ke sana-sini dengan amat cepatnya dan sama sekali tidak terduga oleh lawan.

"Sumoi, awasilah gerakannya. Ginkang-nya lihai!" Sin Liong berseru.

Diam-diam Lo Thong mendongkol juga. Ternyata pemuda itu lihai sekali, baru segebrakan saja sudah mengenal di mana letak keampuhannya. Maka dia lalu menggereng dan menubruk maju, menghujani Swat Hong dengan serangan bertubi-tubi.

Swat Hong diam-diam terkejut juga. Ternyata bahwa pembantu utama dari ketua Pulau Neraka ini hebat bukan main. Setiap gerakan tangannya mendatangkan angin keras menyambar dan kecepatannya membuat dia pening karena harus menggerakkan kekuatan matanya untuk mengikuti terus gerakan lawan. Namun tentu saja dia tidak menjadi gentar. Sejak kecil dara remaja ini tidak pernah mengenal artinya takut, dan dia pun mengeluarkan kepandaiannya untuk membalas dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya.

Semua mata memandang pertandingan itu dengan penuh perhatian. Diam-diam Soan Cu merasa kagum sekali kepada Swat Hong dan dia harus mengaku dalam hatinya bahwa andai kata tadi dia yang maju, dia akan kalah menghadapi kelihaian dara Pulau Es itu, maka dia merasa makin bersyukur kepada Sin Liong yang tadi mencegahnya maju melawan Swat Hong. Apakah pemuda itu sudah tahu bahwa dia akan kalah kalau melawan Swat Hong? Soan Cu melirik ke arah Sin Liong dan melihat betapa wajah pemuda yang tampan itu diliputi kekhawatiran, maka dia kembali menyaksikan pertandingan yang hebat itu.

Tubuh mereka berdua yang bertanding itu sudah tidak dapat kelihatan jelas, yang tampak hanya dua bayangan berkelebatan ke kanan-kiri dengan cepat sekali. Ginkang yang dikuasai oleh Lo Thong memang hebat sekali, akan tetapi sekarang dia berhadapan dengan puteri Raja Han Ti Ong dari Pulau Es! Biar pun masih kalah sedikit namun Swat Hong dapat mengimbangi kecepatan lawan, bahkan dapat mendesak dengan ilmu silatnya yang luar biasa dan tenaga sinkang-nya yang berdasarkan hawa murni dari im-kang yang dingin.

Ilmu silat yang dimainkan oleh Swat Hong adalah ilmu silat tangan kosong Jit-cap-ji-seng (Tujuh Puluh Dua Bintang) yang mempunyai tujuh puluh dua jurus-jurus ampuh. Sebagai bekas penghuni Pulau Es sebelum Swat Hong terlahir, tentu Lo Thong mengenal ilmu ini, bahkan ilmu silatnya sediri pun bersumber pada ilmu silat Pulau Es. Akan tetapi setelah dua puluh tahun lebih berada di Pulau Neraka dan mempelajari ilmu-ilmu dari Pulau Neraka, maka ilmu silatnya menjadi campur aduk dan tentu saja kalah murni oleh ilmu silat yang dimainkan oleh Swat Hong. Pula Lo Thong dahulu belum mempelajari Jit-cap-ji-seng sampai habis, hal yang jarang dilakukan penghuni Pulau Es kecuali keluarga raja.

Mulailah Lo Thong terdesak oleh serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Swat Hong. Ingin sekali Lo Thong menggunakan senjatanya, yaitu ular hidup yang melingkar di lehernya, namun dia takut akan pesan ketuanya tadi. Kalau dia menggunakan senjata itu dan sekali lawan tergigit mati tentu dia akan mendapat marah besar. Maka dia lalu berteriak keras dan mengerahkan seluruh ilmunya meringankan tubuh.

"Aihhh...!" Swat Hong terkejut ketika melihat betapa tubuh lawan dapat bergerak lebih cepat lagi. Dalam serangkaian serangan yang tak terduga saking cepatnya, hampir saja pundaknya kena dicengkeram.

Swat Hong berseru sambil meloncat keatas tinggi sekali, kemudian bagaikan seekor burung walet tubuhnya sudah membalik di udara, menukik kebawah dan dia sudah melancarkan serangan dengan jurus Kak-seng-jip-hai (Bintang Terompet Memasuki Laut), jurus terakhir yang paling ampuh dan yang dulu dilatihnya dengan ibu dan ayahnya sehingga dia mahir sekali mainkan jurus ini. Hebat bukan main daya serang jurus ini karena selagi tubuh meluncur turun dengan menukik kebawah, kedua tangannya sudah bergerak mencengkram kearah ubun-ubun kepala lawan yang botak itu!

"Hayaaa...!" kini Lo Thong yang kaget ketika merasa ada hawa dingin menyentuh ubun-ubun kepalanya dari atas.

Maklum bahwa serangan itu merupakan ancaman maut bagi dirinya, dia tidak berani lengah. Cepat dia membuang diri kebelakang sehingga dia terjengkang, kemudian menggunakan ginkang-nya untuk berguling di atas lantai. Dengan gerakan ini, biar pun pakaiannya kotor terkena debu, namun dia selamat dan dapat menghindarkan diri dari serangan jurus Kak-seng-jip-hai tadi. Akan tetapi betapa terkejutnya melihat dara itu sudah meloncat ke depan dan baru saja dia bangkit berdiri, Swat Hong sudah menghantamnya dengan kedua tangan didorongkan ke depan.

"Haiiittt!!" Swat Hong berseru nyaring dan mengerahkan tenaga sinkang-nya.

"Sumoi, jangan...!" Sin Liong berteriak kaget ketika melihat betapa sumoi-nya itu menggunakan tenaga Swat-im-sin-ciang (Tenaga Pukulan Inti Salju) yang merupakan sinkang paling ampuh dari Pulau Es!

Untuk melatih diri agar bisa menguasai tenaga im-kang yang amat kuat ini, orang harus bersamadhi di atas salju tanpa pakaian, dan melewati malam-malam yang dinginnya menyusup tulang! Dan sebagai puteri Raja Han Ti Ong, tentu saja Swat Hong telah menguasai sinkang itu yang kini dipergunakan untuk menyerang selagi lawan terdesak.

"Ciaattt...!!" Lo Thong juga berteriak keras dan cepat dia menolak hawa serangan itu dengan dorongan kedua tangannya.

Dua tenaga sinkang bertemu tanpa kedua pasang telapak tangan itu bersentuhan dan akibatnya, Lo Thong terhuyung ke belakang dan dari ujung bibirnya mengucur darah! Sambil menggereng keras, Lo Thong yang merasa penasaran itu melompat ke depan menerkam, akan tetapi Swat Hong yang sudah siap menyambutnya dengan sebuah tendangan dari samping yang tepat mengenai pantat Lo Thong dan membuat tubuhnya terlempar jauh ke arah tempat duduk Ouw Kong Ek!

Ketua Pulau Neraka ini marah sekali. Tangannya bergerak menyambut tubuh itu dan tahu-tahu tubuh Lo Thong sudah melayang lagi ke arah Swat Hong. Akan tetapi ternyata bahwa ketika menyambut tadi, Ouw Kong Ek yang lihai telah menotok dua jalan darah di pungung pembantunya yang seketika merasa dadanya lega kembali. Begitu dia dilontarkan ke arah Swat Hong, dengan nekat dia sudah menyerang dengan kedua lengan dikembangkan, kedua tangan hendak mencengkram tubuh gadis itu.

Swat Hong terkejut sekali, tidak menyangka bahwa tubuh lawan akan secepat itu melayang kembali ke arahnya. Maka dia berteriak dan maklum akan bahaya yang mengancam karena dia tidak sempat mengelak lagi!

Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Sin Liong telah berada di dekat sumoi-nya. Dengan tangan kiri dia menarik tubuh sumoi-nya dan dengan tangan kanan dia menyampok ke atas. Kedua tangan Lo Thong tertangkis, bahkan tubuh orang botak ini terdorong miring dan cepat dia meloncat ke atas lantai dengan mata terbelalak heran dan kagum akan kehebatan tenaga pemuda itu. Maklum bahwa dia tak mampu menang, dia lalu mengundurkan diri di dekat ketuanya dengan muka penuh keringat.

"Bagus! Puteri Han Ti Ong lumayan juga kepandaiannya, boleh coba-coba dengan aku sendiri!" Ouw Kong Ek turun dari kursinya dan melangkah ke tengah lapangan.

"Baik, majulah! Aku tidak takut menghadapimu!" Swat Hong menantang.

"Sumoi, mundurlah! Biar aku menghadapi Ouw Tocu," Sin Liong mencegah sumoi-nya.

"Tidak, aku akan menghadapi sendiri!"

Sin Liong melangkah menghampiri Ouw Kong Ek dan berkata, "Ouw-tocu, benarkah Tocu menantang sumoi ku ini? Harap Tocu suka melihat baik-baik. Sumoi-ku adalah seorang anak perempuan yang usianya sebaya dengan cucumu, sehingga kalau Tocu menantangnya sama artinya dengan Tocu menantang seorang cucu! Kalau Tocu tidak malu bertanding dengan seorang anak perempuan yang sepatutnya menjadi cucumu, silakan. Kalau Tocu cukup gagah, biarlah aku menerima tantanganmu tadi, mari kita bertanding mengukur kepandaian. Kalau aku kalah, terserah kepada Tocu. Kalau aku menang, setelah aku mengajarkan ilmu pengobatan, Tocu akan membiarkan kami berdua pergi dari pulau ini dengan aman. Bagaimana?"

"Aku tidak takut! Suheng, biar aku melawan dia, aku tidak takut!" Swat Hong berteriak-teriak.

Ouw Kong Ek memandang kepada dara muda dan mukanya berubah merah. Memang tidak keliru omongan Sin Liong tadi. Bocah itu masih amat muda, masih kanak-kanak sebaya Soan Cu. Seorang anak-anak dan perempuan lagi! Tentu saja akan amat merendahkan dirinya kalau sampai dia menantang seorang anak perempuan kecil!

"Baiklah, mari kita mengadu kepandaian, Kwa Sin Liong," katanya.

Sin Liong menoleh kepada sumoi-nya. "Nah, kau dengar. Yang ditantang adalah aku, bukan kau, Sumoi. Mundurlah."

Swat Hong membanting-banting kaki, terpaksa dia mundur. Akan tetapi lebih dulu dia berkata kepada Ouw Kong Ek, "Aku selalu masih siap untuk melayani jago Pulau Neraka yang mana pun juga."

Ouw Kong Ek dan Sin Liong sudah saling berhadapan. Keduanya saling pandang tanpa bergerak, seolah-olah hendak mengukur dan menilai keadaan lawan dengan pandangan matanya. Melihat sikap pemuda yang amat tenang itu, juga pancaran sinar matanya lembut dan bebas dari rasa takut mau pun kebencian dan kemarahan, hati Ouw Kong Ek menjadi makin suka. Melihat sikap pemuda ini, sukar untuk dipercaya bahwa pemuda ini adalah murid Han Ti Ong, Raja Pulau Es yang sakti. Kelihatannya hanya seperti seorang pemuda yang lemah, pantasnya seorang sastrawan yang biasanya hanya membaca sajak dan menulis huruf indah atau meniup suling.

"Orang muda, mulailah!" Ouw Kong Ek berkata. Ia ragu-ragu untuk menggunakan kepandaiannya menyerang orang yang kelihatannya lemah ini.

"Ouw-tocu, bukan aku yang menghendaki adu kepandaian ini, maka biarlah aku hanya menjaga diri saja."

Jawaban yang keluar dengan suara lembut dan sejujurnya itu setidaknya memanaskan hati Ouw Kong Ek karena kedengarannya seolah-olah pemuda itu memandang rendah kepadanya. Pemuda ini sama sekali tidak gentar menghadapinya, hal itu sama saja memandang rendah!

"Kwa Sin Liong, sambutlah seranganku!" bentaknya dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, gerakannya perlahan saja namun didahului sambaran angin pukulan dari kedua telapak tangannya.

"Wuuttt... wuuttt!!" hawa pukulan yang dahsyat dua kali menyambar ke arah leher dan pusar Sin Liong ketika kakek itu menggerakkan kedua tangannya memukul.

Dengan tubuh ringan sekali Sin Liong menggeser kaki dan berhasil mengelak sampai berturut-turut enam kali. Ternyata bahwa pukulan kakek itu begitu luput dari sasaran terus dilanjutkan dengan serangan berikutnya tanpa berhenti sedikit pun, sehingga enam kali berturut-turut kedua tangannya menyambar dahsyat dari segala jurusan! Barulah Sin Liong dapat membebaskan diri dari kepungan kedua tangan itu ketika dia meloncat jauh ke belakang, dan siap lagi menghadapi serangan berikutnya.

"Bagus!" Ouw Kong Ek berseru kagum melihat betapa pemuda itu dengan enak saja sudah berasil menghindarkan diri dari serangan pukulan yang dinamakan Jurus Pukulan Badai Mengamuk. Kemudian dia menerjang lagi.

Kini dia tidak bergerak lambat lagi, melainkan cepat sekali. Kaki tangannya bergerak dengan cepatnya, gerakan yang aneh namun setiap gerakan mengandung daya serang yang amat berbahaya. Kembali Sin Liong menyambut serangan-serangannya itu dengan tenang dan hati-hati, mengelak ke sana-sini dan hanya kalau terpaksa dia menggunakan kedua tangannya untuk menangkis atau menyampok. Perlahan saja pemuda itu menangkis, namun selalu tangkisannya yang membawa hawa pukulan Im-kang itu berhasil menghalau tangan lawan!

Sampai tiga puluh jurus lebih Sin Liong selalu mengelak dan menangkis tanpa satu kalipun membalas serangan lawan! Tentu saja hal ini membuat Ouw Kong Ek kagum sekali. Pemuda ini sudah diserangnya dengan hebat, didesaknya sampai keadaannya berbahaya, namun tetap tidak mau membalas.

"Eh, Suheng, kau tidak membalas, apa kau merasa phai-seng-gi (sungkan) kepada orang yang hendak memunggut mantu kepadamu?" Swat Hong berteriak-teriak penuh penasaran ketika melihat suheng nya bertempur seperti orang mengalah saja.

Merah muka Sin Liong. Memang dia tidak mau membalas karena dia selamanya belum pernah memukul orang! Dia memang mempelajari silat yang tinggi sekali tingkatannya. Dari kitab-kitab lama yang rahasia dan tak pernah dibaca orang di dalam perpustakaan Pulau Es, dia menemukan ilmu-ilmu mukjijat, di antaranya ilmu mengenal inti gerakan semua ilmu silat. Akan tetapi dia merasa sungkan dan ngeri kalau harus memukul orang lain, apalagi kepada kakek yang sama sekali tidak ada permusuhan apa-apa dengannya itu.

Kini mendengar ejekan Swat Hong, dia merasa tidak enak dan hatinya terguncang. Guncangan ini memperlambat gerakan tangannya, maka ketika dia menangkis sebuah pukulan, tangkisannya meleset dan pukulan tangan kiri Ouw Kong Ek menyerempet pundaknya. Tubuhnya tergetar hebat dan dia terhuyung ke belakang.

Ouw Kong Ek yang merasa penasaran sekali kini maklum bahwa kalau pemuda itu membalas serangannya, mungkin dia akan kalah! Maka melihat hasil pukulannya yang membuat Sin Liong terhuyung dia cepat mendesak maju. Dia harus mengalahkan pemuda ini karena dia ingin sekali pemuda ini menjadi penghuni Pulau Neraka, dan kalau mungkin menjadi suami Soan Cu. Dan untuk itu, dia harus lebih dulu merobohkannya. Maka dia cepat mendesak selagi tubuh Sin Liong terhuyung ke belakang itu.

"Wuuut-plak-plak! Wuuut-plak-plak!!"

Pukulan-pukulan tangan Ouw Kong Ek hebat sekali. Setiap kali Sin Liong yang masih terhuyung itu mengelak, pukulan itu berubah menjadi cengkeraman yang amat lihai namun selalu tangan Sin Liong masih dapat menyampoknya! Bahkan pemuda itu berseru keras, tubuhnya melayang keatas, berjungkir balik dua kali dan sudah turun lagi ke atas lantai dengan tubuh tegak dan sudah siap lagi!

Ouw Kong Ek makin penasaran. Cepat dia menerjang maju, kedua kakinya bergerak cepat dengan tendangan berantai yang cepat dan kuat sekali. Kedua kaki itu seperti kitiran saja sehingga kelihatannya kakek ini berkaki lebih dari dua yang bergerak susul-menyusul melakukan tendangan ke arah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Sin Liong.

"Siuut-siutt...! Dess!!" Setelah berhasil mengelak ke kanan-kiri, Sin Liong terdesak ke sudut dan terpaksa dia menggunakan kedua lengannya menangkis sambil mengerahkan tenaga inti salju.

Tubuh Ouw Kong Ek menggigil, terasa dingin sekali tubuhnya, rasa dingin yang menjalar melalui kaki yang tertangkis. Dia menggoyang tubuhnya beberapa kali dan rasa dingin sudah terusir. Dia memandang lawannya dengan mata terbelalak lebar. Kemudian kakek ini mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya sudah melayang ke atas, lalu menukik kearah Sin Liong.

Sin Liong terkejut sekali. Dia maklum bahwa serangan terakhir ini bukan main hebatnya. Maka dia pun lalu berteriak keras dan tubuhnya juga mencelat ke atas menyambut tubuh lawannya, kedua lengannya digerakkan di depan tubuhnya.

"Plak-plak... bruukkk!!" tubuh Ouw Kong Ek terbanting ke atas lantai, dan hanya setelah dia bergulingan beberapa kali saja dia dapat bangun dengan agak pening.

“Bukan main,” pikirnya.

Dia tadi melakukan serangan dahsyat, serangan maut yang akan sukar disambut oleh lawan yang sakti. Akan tetapi pemuda itu menyambutnya di udara, memapaki pukulan dengan pukulan sehingga kedua telapak tangan mereka bertemu di udara dan akibatnya dia sendiri yang terbanting keras!

"Belum cukupkah, Tocu?" Sin Liong bertanya dengan suara penuh penyesalan karena dia dipaksa untuk bertempur, hal yang sama sekali tidak disukainya.

"Hmm, aku belum mengaku kalah, orang muda!" Dan kini kakek itu menyerang lagi dengan ilmu silat yang gerakannya cepat sekali, akan tetapi juga aneh.

Swat Hong yang menonton di pinggir, memandang penuh perhatian dengan alis berkerut. Dia merasa heran sekali. Ilmu silat yang dimainkan oleh kakek itu seperti pernah dilihatnya, seperti bukan gerakan asing, namun mengapa begitu aneh dan sama sekali tidak dikenalnya?

Memang tidak mengherankan hal ini terjadi pada Swat Hong karena ilmu silat yang dimainkan kakek itu memang bersumber pada ilmu silat Pulau Es, hanya sudah diubah banyak sekali menjadi ilmu silat ciptaan nenek moyang Pulau Neraka! Bahkan kini dari kedua telapak tangan kakek itu mengepul uap hitam, dari mulutnya juga menyembur uap hitam yang kadang-kadang menyambar ke arah muka Sin Liong.

Sebagai seorang ahli pengobatan, Sin Liong segera mengenal hawa beracun keluar dari uap hitam itu, maka dia bersikap hati-hati setiap kali ada uap hitam menyambar. Sementara itu, sambil mengelak dan menangkis dia mencurahkan seluruh perhatiannya. Dengan ilmu mukjijat yang didapatnya dari kitab, yaitu mengenal rahasia inti gerakan ilmu silat, dia sudah dapat mencatat dan hafal akan jurus-jurus yang dimainkan oleh lawannya.

"Suheng, balaslah lawanmu! Apa kau takut?" Swat Hong berteriak lagi.

Ouw Kong Ek yang sudah merah mukanya saking penasaran dan malu karena merasa dipandang rendah dan dipermainkan, membentak, "Orang muda, berani engkau memandang rendah kepadaku sehingga tidak mau balas menyerang?"

Sin Liong terkejut bukan main. Sama sekali tidak mengira bahwa sikapnya yang mengalah dan tidak mau balas menyerang itu malah dianggap memandang rendah oleh kakek itu dan dianggap takut oleh Swat Hong! Tadinya dia hanya mengharapkan kakek itu akan tahu diri dan mundur sendiri. Siapa kira, kakek itu keras kepala dan tidak akan mengaku kalah kalau tidak dirobohkan! Dalam keadaan seperti itu, tidak ada pilihan lain bagi Sin Liong. Dia menggigit bibirnya menguatkan hati, karena menyerang orang merupakan hal yang berlawanan dengan hatinya, lalu kaki tangannya bergerak cepat sekali.

Terdengarlah seruan-seruan kaget dari mulut para pembantu Ouw Kong Ek, bahkan belasan jurus kemudian, setelah dengan susah payah Ouw Kong Ek mengelak dan menangkis, kakek ini berseru keras dan tubuhnya terguling.

"Heiiii... dari mana engkau mendapatkan ilmuku ini?" kakek yang sudah terguling karena kedua lututnya tercium ujung sepatu Sin Liong itu meloncat bangun lagi sambil bertanya dengan mata terbelalak dan penuh keheranan.

Selama belasan jurus tadi, dia telah diserang oleh Sin Liong dengan ilmu silatnya sendiri dan pada jurus ke lima belas, dia tidak mampu menghindar sehingga kedua lututnya tertendang, membuat dia terguling dan kalau pemuda itu menghendaki, ketika ia terguling tadi tentu pemuda itu dapat menyusulkan serangan maut yang dapat menewaskannya!

Sin Liong menjura dan melangkah mundur. "Aku hanya meniru-niru dari Tocu sendiri...."

Ouw Kong Ek makin terheran dan sejenak dia melongo, kemudian dia melangkah maju dan memegang kedua tangan pemuda itu. "Kwa Sin Liong... engkau hebat sekali! Aku mengaku kalah terhadap Kwa-taihiap (Pendekar Besar Kwa)! Aku telah dirobohkan secara mutlak, bahkan dengan jurus-jurus ilmu silatku sendiri! Dia ini adalah seorang pendekar besar yang memiliki kesaktian seperti dewa!"

Semua penghuni Pulau Neraka membungkuk dan memberi hormat kepada Sin Liong!

Tentu saja pemuda itu cepat membalas penghormatan mereka dengan memutar-mutar tubuhnya sambil berkata tersipu-sipu, "Aahhh, harap Cuwi (Anda sekalian) jangan berlebihan..."

"Kwa-taihiap, aku Ouw Kong Ek sudah mengaku kalah. Harap Taihiap suka mengajarkan ilmu pengobatan itu agar kami dapat terbebas dari hawa beracun yang banyak terdapat di pulau ini. Setelah aku paham, kami akan mempersilakan Taihiap dan Han-lihiap (Pendekar Wanita Han) meninggalkan pulau ini dengan aman."

"Baik, Ouw-tocu. Aku akan melakukan penyelidikan tentang racun-racun di pulau ini dan berusaha mencarikan obat penawanya."

Soan Cu berlari menghampiri Sin Liong dan berkata, "Sin Liong, kau hebat sekali! Aku sungguh kagum kepadamu," sambil berkata demikian, Soan Cu memegang kedua tangan Sin Liong dan mengangkat muka memandang wajah Sin Liong penuh kekaguman.

"Ahhh, engkau terlalu memuji, Soan Cu. Sebetulnya adalah Kongkong mu yang sengaja mengalah kepadaku," kata Sin Liong, dan mukanya menjadi merah.

Dia maklum bahwa Soan Cu seorang dara remaja yang berhati polos dan wajar, maka di depan semua orang tanpa segan-segan menyatakan kekagumannya dan memegang kedua tangannya begitu saja. Akan tetapi hal ini tentu saja menimbulkan anggapan salah, dan dia sudah melihat betapa Swat Hong membuang muka dengan wajah diselubungi kemarahan, bahkan akhirnya dara itu lalu membalikan tubuh dan berlari pergi!

Sampai tiga bulan lamanya Sin Liong dan Swat Hong di Pulau Neraka. Dengan teliti dan hati-hati Sin Liong melakukan penyelidikan tentang segala macam racun yang terdapat di pulau itu. Kemudian dia mencarikan obat penawarnya dan menulis serta melukiskan nama dan bentuk daun, akar, bunga, atau buah yang berkhasiat sebagai penawar racun-racun itu. Sibuklah ketua Pulau Neraka, dan para pembantunya mencarikan bahan-bahan obat itu dan setelah tiga bulan, barulah lengkap catatan Sin Liong.

Ouw Kong Ek dan semua penghuni Pulau Neraka merasa berterima kasih sekali kepada Sin Liong, apalagi setelah terbukti banyak penghuni yang sembuh dari penderitaan penyakit akibat keracunan setelah menggunakan obat-obat seperti yang ditunjuk oleh pemuda itu. Dia dianggap sebagai seorang dewa penolong mereka dan diperlakukan dengan sikap penuh hormat.

Setelah ‘terpaksa’ tinggal di Pulau Neraka selama tiga bulan, akhirnya Swat Hong mendapatkan kenyataan bahwa Soan Cu adalah seorang remaja yang benar-benar tulus, jujur dan wajar sehingga mudah saja di antara mereka terjalin persahabatan yang akrab. Bahkan karena dara Pulau Neraka itu dengan terang-terangan tanpa dibuat-buat dan tanpa usaha menarik hati Sin Liong menyatakan suka dan cintanya kepada Sin Liong, Swat Hong menyambut pernyataan itu dengan hati terharu.

Diam-diam Swat Hong menaruh hati kasihan kepada dara Pulau Neraka ini karena dia tahu bahwa hati suheng nya itu jauh daripada cinta! Suheng-nya belum pernah mengacuhkan tentang hubungan di antara mereka, juga suheng-nya sama sekali tidak kelihatan menaruh hati kepada Soan Cu. Dianggapnya suhengnya itu terlalu ‘dingin’ dan sudah seringkali dia sendiri merasa kecewa melihat suhengnya sebagai seorang pemuda yang tidak ada semangat!

Padahal dia sendiri belum yakin apakah dia mencintai suhengnya. Sungguh pun dia merasa suka sekali kepada pemuda itu, namun sebagai seorang dara remaja tentu saja dia merasa tidak puas menyaksikan sikap pemuda yang ‘dingin’ saja terhadapnya. Sebagai seorang wanita muda yang sehat dan normal, tentu saja Swat Hong juga ingin agar semua orang, terutama kaum pria, memandangnya dengan kagum dan suka. Bahkan dia pun seperti semua wanita di dunia ini, agaknya akan merasa bangga kalau semua orang laki-laki jatuh cinta kepadanya!

Hari keberangkatan mereka meninggalkan Pulau Neraka pun tibalah. Sin Liong dan Swat Hong diantar oleh semua penghuni Pulau Neraka sampai ke pantai, di mana telah tersedia sebuah perahu yang lengkap dengan layar, dayung, dan bekal makanan. Soan Cu mengantar dengan berlinang air mata. Semenjak tadi dara ini menangis, bahkan rewel kepada kakeknya hendak ikut pergi bersama Sin Liong dan Swat Hong.

"Hushhh, apakah kau gila?" demikian kakeknya menjawab. "Kau hendak ikut ke Pulau Es? Tidak tahukah kau bahwa semua penghuni Pulau Neraka dilarang menginjakkan kaki ke Pulau Es? Begitu kau tiba di sana, kau akan dijatuhi hukuman sebagai seorang pelanggar hukum!"

Sin Liong dan Swat Hong juga melarang dengan alasan bahwa Swat Hong sendiri sedang menghadapi malapetaka, bahkan dia bersama suheng-nya sedang berusaha mencari ibunya. Selama tiga bulan ini, Ouw Kong Ek sudah mengerahkan pembantunya untuk mencari Liu Bwee, bekas istri Raja Han Ti Ong, ke pulau-pulau kosong di sekitar Pulau Neraka, namun hasilnya sia-sia belaka. Tentu saja para penghuni Pulau Neraka yang mencari itu tidak berani terlalu mendekat Pulau Es.

Setelah perahu yang ditumpangi Sin Liong dan Swat Hong pergi jauh, Soan Cu menjatuhkan dirinya menangis. "Kongkong, aku pun mau pergi dari sini. Aku tidak tahan lagi tinggal lebih lama di Pulau Neraka tanpa adanya mereka berdua! Aku harus pergi, aku harus pergi mencari ayahku, seperti Swat Hong yang pergi mencari ibunya!"

Kongkongnya hanya menggeleng kepala, menghela napas dan menggandeng cucunya yang tercinta itu kembali ke tengah pulau. Hati orang tua ini khawatir sekali karena dia tahu, bahwa cucunya telah mulai dewasa dan telah tergoda oleh cinta sehingga merasa tidak tahan lagi tinggal lebih lama di Pulau Neraka. Dia maklum bahwa agaknya takan lama lagi cucunya itu tentu akan nekat meninggalkan pulau dan kalau hal yang dikhawatirkan itu terjadi, apalagi artinya hidup baginya di pulau itu? Puteranya telah lenyap dan satu-satunya orang yang selama ini membuat hidupnya berarti hanyalah Soan Cu.

Ketika perahu mereka mendarat di Pulau Es, Sin Liong dan Swat Hong saling pandang dengan hati yang berdebar. Mereka sudah menjelajahi seluruh pulau di sekitar Pulau Es untuk mencari ibu Swat Hong, namun sia-sia belaka. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk kembali ke Pulau Es, dengan harapan mudah-mudahan ibu dara itu sudah kembali ke Pulau Es.

"Bagaimana kalau ibu tidak berada di sana? Bukankah berarti bahwa aku telah melanggar janjiku untuk mewakili ibu yang dibuang ke Pulau Neraka?" Swat Hong bertanya ketika perahu mereka tadi sudah mendekati Pulau Es.

"Jangan khawatir, Sumoi. Suhu adalah ayahmu sendiri, dan betapa pun marahnya, aku percaya bahwa Suhu akan dapat memaafkanmu. Aku percaya akan kebijaksanan Suhu, dia bukanlah seorang yang berbudi rendah...."

"Tapi dia telah terkena racun yang hebat, racun yang seratus kali lebih kejam daripada racun yang paling jahat di pulau Neraka! Dia telah terkena hasutan mulut wanita jahat itu..."

"Ssttt, Sumoi, jangan mempersulit keadaan dengan menyangka yang bukan-bukan. Sudahlah, kekhawatiranmu itu hanyalah permainan pikiran yang membayangkan hal yang belum terjadi. Singkirkan saja kekhawatiran kosong itu dan mari kita hadapi kenyataan. Percayalah, apa pun yang akan terjadi, aku tidak akan membiarkan engkau terancam bencana. Mari kita hadapi apa saja yang menimpa kita berdua."

"Suheng... betulkah? Betulkah kau akan membela dan melindungi aku?"

"Tentu saja, Sumoi."

"Menghadapi Ayah sekali pun?"

"Menghadapi siapa saja, karena aku yakin bahwa engkau tidak mempunyai kesalahan apa pun."

"Kalau begitu, aku menjadi besar hati, Suheng. Mari kita mendarat."

Hati Swat Hong makin tegang dan juga terheran-heran ketika dia melihat betapa beberapa orang penghuni Pulau Es yang kebetulan berada di situ segera berlari pergi menuju ke tengah pulau, bahkan tidak berhenti ketika dia dan suhengnya memanggil mereka. Makin tidak enak perasaan mereka, namun dengan tenang Sin Liong mengajak sumoi-nya untuk menuju ke Istana Pulau Es di tengah pulau itu, menemui Raja Han Ti Ong dan bertanya tentang Liu Bwee.

Tak lama kemudian, keduanya berhenti tiba-tiba ketika melihat raja itu sendiri berlari-lari datang bersama permaisuri dan pembantu-pembantu yang terpercaya. Tadinya Swat Hong merasa girang, wajahnya berseri karena dia mengira bahwa ayahnya datang menyambutnya dengan girang melihat dia pulang. Akan tetapi betapa kagetnya ketika ayahnya sudah tiba di depan mereka, langsung raja Han Ti Ong menudingkan telujuknya ke arah mereka sambil membentak, "Manusia-manusia rendah! Kalian masih berani menginjakkan kaki di Pulau Es? Membikin kotor pulau ini? Keparat!"

"Ayah...!!"

“Suhu...!!"

"Plak! Plak!!" tubuh Sin Liong dan Swat Hong terguling ketika tangan Raja itu dengan kecepatan kilat telah menampar mereka.

Dengan alis berdiri Raja Han Ti Ong menudingkan telunjuknya bergantian ke arah muka dua orang muda yang menjadi kaget setengah mati dan merangkak bangun itu. "Jangan sebut aku Ayah dan Suhu! Kalian berdua telah minggat dengan diam-diam, perbuatan yang tak tahu malu dan mengotorkan nama keluarga Han! Masih berani datang dan menyebut Ayah dan Suhu kepadaku? Huh!!"

"Ayahhh... apa... apa yang terjadi...? Mana Ibuku...?"

"Ibumu seorang yang hina, dan engkau anaknya pun tidak berbeda banyak!"

"Ayah...!"

"Diam! Dan minggat engkau dari sini sebelum kubunuh!"

"Ayah, kalau begitu bunuh saja aku! Aku tidak berdosa...!" Swat Hong yang berlutut itu menangis sesenggukan.

"Bagus! Kau minta mati?"

"Suhu...!" suara Sin Liong ini mengandung wibawa sedemikian hebatnya sehingga Han Ti Ong sendiri sampai terkejut dan menghentikan langkahnya yang hendak menghampiri puterinya.

Sepasang mata Sin Liong mengeluarkan sinar yang luar biasa dan sejenak Ha Ti Ong ragu-ragu. Teringatlah dia akan keadaan dahulu ketika anak ajaib ini menyuruhnya menolong The Kwat Lin, menyuruhnya berhenti untuk menguburkan mayat-mayat. Seperti itu pula kekuatan mukjijat yang keluar dari sepasang mata itu. Sepasang mata yang sedikit pun tidak membayangkan takut, atau marah, atau kekerasan, hanya membayangkan kelembutan yang mengharukan.

"Suhu, harap suhu bersabar dulu. Sungguh tidak adil sekali menjatuhkan hukuman tanpa memberitahu kesalahan orang, sungguh pun Sumoi adalah puteri Suhu sendiri."

Bangkit kembali marah Han Ti Ong. "Sin Liong, bagus perbuatanmu, ya? Kau masih berpura-pura lagi? Dia pergi tanpa pamit, hal itu masih belum apa-apa. Akan tetapi dia pergi lalu kau susul, bersamamu pergi sampai berbulan-bulan, pantaskah itu? Kalian tidak tahu malu dan menodakan nama baik keluarga Kerajaan Han!"

Diam-diam Sin Liong terheran, mengapa Suhu-nya berubah seperti ini? Tentu saja dia tidak tahu betapa para keluarga yang membenci Liu Bwee telah menggunakan kesempatan selagi terjadi peristiwa penghukuman atas diri Liu Bwee itu untuk membakar hati raja ini, terutama sekali melalui mulut permaisuri!

"Ayah, jangan menuduh yang bukan-bukan. Aku memang pergi dan bertemu dengan Suheng, akan tetapi apakah salahnya dengan itu?"

"Hemm, apa, salahnya, ya? Tidak salahkah kalau seorang pemuda dan seorang dara berdua saja sampai hampir setengah tahun lamanya? Mungkinkah tidak akan terjadi apa-apa antara kalian di tempat sunyi dan hanya berdua saja?! Hem... hemmm... siapa percaya tidak akan terjadi apa-apa yang kotor?" ucapan ini keluar dari mulut permaisuri The Kwat Lin yang tersenyum mengejek.

"Ibu, kalau Enci Hong dan Suheng melakukan hubungan gelap, kawinkan saja mereka. Mengapa ribut-ribut?" tiba-tiba Bu Ong, putera raja yang baru berusia kurang lebih delapan tahun itu berkata dengan suara nyaring.

"Hussshhh! Tutup mulutmu!" Kwat Lin membentak puteranya yang segera cemberut, tapi memandang kepada Swat Hong dan Sin Liong dengan pandang mata mengejek.

Hampir saja Swat Hong tak dapat percaya akan apa yang didengarnya. Ayah dan ibu tirinya menuduh dia berjinah dengan Sin Liong! Dengan dada sesak dan kemarahan yang meluap-luap, Swat Hong lupa diri dan meloncat bangun, menjerit dengan kata-kata yang seperti dilontarkan kepada ayahnya, "Ayah! Mengapa ada fitnah sekeji ini? Ayah, insyaflah. Ayah telah dikelabui, Ayah telah mabuk oleh rayuan...."

"Plak! Desss!!" tubuh Swat Hong terlempar dan terguling-guling ketika terkena tamparan dan pukulan tangan ayahnya sendiri.

"Suhu, ini tidak adil sama sekali!"

"Plak! Desss!!!" tubuh Sin Liong juga terjungkal.

Akan teapi pemuda ini sudah meloncat bangun kembali. Sedikit pun tidak merasa takut, bahkan kini dia memandang tajam kepada Han Ti Ong. "Suhu, andai kata Suhu memukul teecu sampai mati sekali pun, sudah sepatutnya karena teecu hanyalah seorang murid yang telah menerima banyak kebaikan dari Suhu dan teecu rela membalasnya dengan nyawa. Akan tetapi, Sumoi adalah puteri Suhu sendiri, darah daging suhu sendiri! Mengapa Suhu begitu tega? Di manakah rasa kasih di hati Suhu?"

"Keparat!" Han Ti Ong memaki dengan suara gemetar saking marahnya. Melihat betapa Sin Liong berani menentangnya untuk membela Swat Hong, makin besar pula kepercayaannya akan desas-desus bahwa puterinya main gila dengan muridnya ini. "Kau mau memberi kuliah kepadaku? Kalau dia orang lain, aku tidak akan peduli apa yang dilakukannya. Justru karena dia anaku dan aku cinta kepada anakku, maka aku perlu menghajarnya!"

"Hemmm, begitukah cinta di hati Suhu? Cinta Suhu siap untuk berubah menjadi kemarahan, kebencian yang meluap karena Suhu merasa bahwa puteri Suhu tidak menyenangkan hati Suhu? Itu bukan cinta, Suhu! Suhu hanya mementingkan diri sendiri. Kalau disenangkan hati Suhu, biar orang lain sekali pun akan Suhu perlakukan dengan baik. Akan tetapi kalau hati Suhu dikecewakan, biar anak sendiri akan dibunuh!"

"Plak-plak! Dess...!" kembali tubuh Sin Liong terjungkal dan kini darah mengucur dari mulut dan hidungnya.

"Suheng...! Ahhh, Ayah... Jangan...!" Swat Hong sudah meloncat ke depan dan menubruk suheng-nya.

"Anak durhaka, murid murtad!”

“Dess!" kini Swat Hong yang mengeluh dan terjungkal terkena tendangan ayahnya yang sedang marah itu.

Masih untung bagi mereka berdua bahwa Han Ti Ong hanya berniat menghajar dan menghukum, kalau berniat membunuh, tentu mereka sudah tak benyawa lagi. Saking marahnya, biar pun melihat murid dan puterinya sudah beberapa kali dihantam dan ditendangnya sampai mulut dan hidung mengeluarkan darah serta muka mereka bengkak-bengkak, Han Ti Ong masih saja menghajar mereka.

"Ongya, harap ampunkan mereka...." Tiba-tiba beberapa orang pembantu utama berlutut di depan Raja yang marah ini dan menyabarkan hatinya.

Han Ti Ong berdiri dengan napas terengah-engah, mata terbelalak dan muka merah sekali. Dia menjadi hampir putus napas saking marahnya. "Hemmm, mereka ini bocah-bocah kurang ajar yang layak dibunuh!" katanya.

"Ongya, sejak dahulu belum pernah ada hukuman dilaksanakan tanpa diadili lebih dulu. Harap Ongya ingat akan keadilan Kerajaan Pulau Es yang sudah terkenal semenjak ratusan tahun," kata seorang pembantu yang sudah berusia lanjut.

Han Ti Ong menghela napas panjang dan dia teringat. Sebetulnya dia sedang berada dalam keadaan duka dan kecewa. Duka mengingat akan istrinya, Liu Bwee, yang kini menimbulkan penyesalan di dalam hatinya karena dia pun mulai meragukan kesalahan istrinya itu. Kecewa karena serangkaian peristiwa yang tidak menyenangkan hatinya, mengganggu ketentraman hidupnya di Pulau Es.

"Anak durhaka, untung engkau belum kubunuh! Kau boleh membela diri, kalau memang masih ada yang akan kau katakan!"

Dengan tubuh sakit-sakit dan hampir pingsan, Sin Liong masih dapat membantu Sumoinya bangkit duduk. Bahkan tanpa mempedulikan keadaan dirinya sendiri, dia menyusuti peluh, air mata dan darah dari muka sumoi-nya, kemudian menarik sumoi-nya untuk berlutut di depan raja yang sedang marah itu.

"Sumoi, laporkanlah semuanya kepada Suhu...," bisiknya.

"Apa gunanya? Biarlah aku dibunuh! Biarlah Ibu lenyap tak berbekas dan akan dibunuhnya... tentu akan puas hatinya... hu-hi-huuukkk...." Swat Hong menangis terisak-isak.

Melihat keadaan puterinya ini, tersentuh juga rasa hati Raja Han Ti Ong. "Sin Liong, hayo ceritakan apa yang terjadi! Kami semua menuduh kalian berdua selama berbulan-bulan dan tentu kalian telah melakukan perbuatan yang tidak senonoh. Mengakulah! Awas, kalau kau membohong, akan kubunuh kau sekarang juga!"

"Suhu boleh membunuh teecu kalau teecu berbohong. Bahkan kalau teecu tidak membohong sekali pun, teecu menyerahkan nyawa teecu kepada Suhu. Sebetulnya, ketika melihat Sumoi pergi membuang diri ke Pulau Neraka dan melihat Subo juga pergi, teecu merasa kasihan dan berkhawatir sekali. Maka teecu diam-diam lalu mengejar dan menyusul ke Pulau Neraka...." Kemudian dengan panjang lebar dan jelas Sin Liong menceritakan semua pengalaman mereka di Pulau Neraka dan mengapa mereka sampai berbulan-bulan berada di pulau itu.

Berkerut Raja Han Ti Ong. Di lubuk hatinya dia percaya kepada muridnya ini. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat membohong dengan sikap seperti yang diperlihatkan muridnya. Tidak, tentu muridnya tidak berbohong. Akan tetapi hatinya masih marah dan ia makin marah ketika mendengar betapa Pulau Neraka telah berani menahan puterinya sebagai sandera!

"Swat Hong! Benarkah cerita Sin Liong?!" bentaknya kepada dara yang masih menangis sesenggukan itu.

"Apa gunanya Ayah bertanya kepadaku? Lebih baik Ayah menyelidiki sendiri ke Pulau Neraka. Kalau aku dan Suheng berbohong, boleh bunuh seribu kali juga tidak apa."

Memang sejak dahulu Swat Hong bersikap manja kepada ayah bundanya. Pula dia memiliki watak keras, tidak takut mati, maka dalam keadaan seperti itu pun dia bersikap berani dan menantang!

"Siapkan pasukan tiga puluh orang untuk ikut bersamaku ke Pulau Neraka!" Raja itu memerintah kepada pembantunya dengan suara marah.

Pada hari itu juga dia berangkat bersama tiga puluh orang pasukan menuju ke Pulau Neraka! Dapat dibayangkan betapa kagetnya para penghuni Pulau Neraka ketika diserbu oleh pasukan Pulau Es yang dipimpin oleh Raja Han Ti Ong sendiri! Ouw Kong Ek sendiri yang maju dan berusaha melawan, tapi dalam belasan jurus saja telah dirobohkan dan dipaksa menceritakan apa yang terjadi ketika puteri Raja Pulau Es itu berada di Pulau Neraka. Dengan kebencian dan dendam yang makin mendalam, Ouw Kong Ek menceritakaan keadaan sebenarnya, tepat seperti yang telah didengar oleh Han Ti Ong dari mulut Sin Liong.

Maka mulailah raja ini merasa menyesal mengapa dia telah terburu nafsu menghajar, bahkan hampir saja membunuh Sin Liong dan Swat Hong yang sebetulnya tidak berdosa. Mulailah dia teringat bahwa kemarahannya itu timbul karena bujukan dan kata-kata yang membakar dari permaisurinya. Dia menjadi marah sekali dan kemarahannya itu dilampiaskannya di Pulau Neraka. Pulau itu diobrak-abrik, sebagai hukuman telah berani menahan puterinya. Bahkan kitab catatan Sin Liong tentang racun dan pengobatannya, dihancurkan dan dibakarnya!

Setelah puas melampiaskan kemarahannya, Han Ti Ong memimpin pasukannya meninggalkan Pulau Neraka, meninggalkan para penghuni yang banyak menderita luka lahir batin itu. Dalam sekejap raja ini telah menanamkan dendam yang makin menghebat di dalam hati para penghuni Pulau Neraka. Sepekan kemudian, barulah rombongan Han Ti Ong tiba kembali di Pulau Es.

Wajah raja ini seketika pucat setelah dia mendengar berita yang lebih hebat dan mengejutkan lagi, yaitu bahwa sehari setelah dia dan pasukannya berangkat, permaisuri dan pangeran telah pergi meninggalkan Pulau Es! Dan hingga kini belum pulang. Makin terpukul lagi bathin Raja Han Ti Ong ketika dia mendapat kenyataan bahwa kitab-kitab pusaka Pulau Es telah lenyap, berikut banyak harta benda berupa emas dan permata yang disimpan di dalam kamarnya! Hampir saja dia roboh pingsan mendapat kenyataan bahwa permaisurinya, The Kwat Lin, gadis yang ditolongnya itu, ternyata telah berkhianat!

"Mengapa tidak kalian larang mereka pergi? Mengapa? Sin Liong, engkau muridku, mengapa engkau mendiamkan saja mereka pergi membawa pusaka-pusaka kita?" dalam bingung dan marahnya dia menegur Sin Liong.

"Suhu, Subo pergi hanya memberi tahu bahwa Subo bersama Sute hendak menyusul ke Pulau Neraka. Siapa yang berani menghalangi Subo? Kami semua tidak ada yang mengira bahwa Subo takkan kembali, dan tidak ada yang tahu bahwa Subo membawa sesuatu, harap maafkan teecu."

Han Ti Ong membanting-banting kakinya, lalu berlari memasuki kembali istana setelah tadi dia memeriksa dan melihat kehilangan pusaka Pulau Es. Ketika dia memanggil dua orang muda menghadap, Sin Liong dan Swat Hong melihat perubahan hebat terjadi pada diri raja sakti ini. Wajahnya menjadi suram dan gelap, sepasang mata yang biasanya bersinar dan berpengaruh itu menjadi redup seperti lampu kekurangan minyak. Dan rambut yang tadinya hanya sedikit putihnya, mendadak berubah putih hampir seluruhnya.

Suaranya tidak bersemangat ketika berkata, "Sin Long..., Swat Hong..., kalian ampunkan aku..."

"Suhu...!" Sin Liong berlutut dan menundukan muka.

"Ayah... jangan berkata begitu, Ayah...!" Swat Hong meloncat menubruknya.

Ayah dan anak itu saling berangkulan dan Sin Liong makin menundukkan mukanya ketika mendengar Suhu-nya menangis mengguguk seperti anak kecil! Setelah Han Ti Ong dapat menguasai kembali hatinya dia mencium dahi puterinya dan menyuruhnya duduk kembali. Swat Hong menyusuti air matanya dan berlutut di dekat Sin Liong.

"Aku telah berdosa. Sekarang baru aku tahu... aku telah berdosa. Mungkin sekali... tidak, aku yakin sekarang, bahwa ibu Swat Hong tidak bersalah apa-apa, hanya terkena fitnah... Aih, apa yang telah kulakukan? Dan aku hampir saja membunuhmu, Sin Liong, dan kau Swat Hong anakku. Orang macam apa aku ini? Dan aku mengaku cinta kepada anakku? Huh, huh, engkau benar, Sin Liong. Tidak ada cinta di dalam hatiku yang kotor, yang ada hanya nafsu berahi sehingga mudah saja aku dipermainkan oleh wanita itu. Aihhhh... kalian maafkan aku. Swat Hong, hanya satu pesanku kepadamu, anakku. Kau... kau jadilah jodoh Sin Liong. Jadilah kalian suami istri, baru akan terobati hatiku...."

"Suhu...!"
"Ayah...!"

"Muridku... anakku..., maukah kalian melegakan hatiku? Aku ingin menebus kesalahanku... Aku ingin melihat kalian menjadi suami istri, kalian anak-anak malang..."

"Suhu, teecu mohon ampun. Teecu.. tidak ada dalam hati teecu untuk memikirkan soal jodoh...."

"Ayah, mengenai jodoh tidak dapat ditentukan begitu saja. Biarkan kami menentukannya sendiri."

Han Ti Ong menarik napas panjang, memejamkan mata sebentar, kemudian bangkit berdiri. Ia membalikkan tubuh dan berjalan memasuki kamarnya meninggalkan dua orang muda yang masih berlutut itu. Semenjak saat itu, sampai berhari-hari lamanya, Raja itu tidak pernah keluar dari kamarnya sehingga membuat gelisah semua pembantunya.

Keadaan di Pulau Es tidak seperti biasa, semua penghuni dapat merasakan ini. Semenjak terjadinya peristiwa yang memalukan dan menyedihkan menimpa keluarga Raja Han Ti Ong, keadaan Pulau Es sunyi dan semua wajah para penghuni kelihatan muram. Bahkan cuaca juga seolah-olah berubah suram, seringkali malah menjadi gelap oleh mendung tebal. Hati semua orang merasa gelisah tanpa mereka ketahui sebabnya, seolah-olah merupakan tanda rahasia bahwa akan terjadi hal-hal lebih hebat lagi.

Peristiwa menyedihkan yang menimpa Han Ti Ong bisa menimpa diri setiap orang, dan memang kita sebagai manusia hidup selalu terlupa bahwa mengejar kesenangan sama artinya dengan memanggil kesengsaraan! Kita hidup dibuai khayal akan keadaan yang lebih baik, lebih menyenangkan dari pada keadaan seperti apa adanya. Kita tidak pernah membuka mata, tidak pernah menghayati keadaan saat ini, tidak dapat melihat bahwa saat ini mencakup segala keindahan.

Dengan membandingkan keadaan kita dengan keadaan lain, kita selalu menganggap bahwa keadaan buruk tidak menyenangkan, dan kita selalu memandang jauh kedepan, mencari-cari dan menghayalkan yang tidak ada, keadaan yang kita anggap lebih menyenangkan. Karena kebodohan kita inilah maka kita hidup dikejar-kejar oleh kebutuhan setiap saat, detik demi detik kita mengejar kebutuhan.

Kebutuhan adalah keinginan akan sesuatu yang belum tercapai, yang kita kejar-kejar. Lupa bahwa kalau yang satu itu dapat tercapai, di depan masih menanti seribu hal lain yang akan menjadi keinginan dan kebutuhan kita selanjutnya. Maka, berbahagialah dia yang tidak membutuhkan apa-apa! Bukan berarti menolak segala kesenangan, melainkan tidak mengejar apa-apa, sehingga kalau ada sesuatu yang datang menimpa diri, bukan lagi merupakan kesenangan atau kesusahan, melainkan dihadapi sebagai suatu yang sudah wajar dan semestinya sehingga tampaklah keindahan yang murni!

Demikian pula keadaan Raja Han Ti Ong. Dia seorang yang sakti dan bijaksana namun tiba saatnya dia lengah dan menganggap bahwa dia menemukan kebahagiaan dalam diri The Kwat Lin. Padahal yang dia temukan hanyalah kesenangan yang timbul dari kenikmatan badani, dari terpuaskannya nafsu. Dia seolah-olah hidup di alam khayal, di alam mimpi. Setelah dia sadar dari mimpi, terasa bahwa yang manis menjadi pahit bukan main, baru sadar bahwa perubahan dari senang ke susah sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan! Dan menang kalah, suka dan duka hanyalah dwi muka (kedua muka) dari sebuah tangan yang sama!

Perahu kecil itu terayun-ayun ke kanan-kiri, seperti menari-nari karena tidak dikuasai oleh layar mau pun dayung, melainkan sepenuhnya dikuasai oleh air laut yang tenang. Dua orang yang duduk di perahu itu seperti dua buah arca, diam dan pandang mata mereka melayang jauh ke kaki langit, melayang-layang di permukaan laut seperti mencari-cari sesuatu yang hilang.

Dan memang pikiran Sin Liong dan Swat Hong, dua orang di perahu itu, sedang mencari-cari jawaban pertanyaan hati mereka sendiri. Pulau Es hanya kelihatan sebagai sebuah garis putih mendatar dekat kaki langit. Mereka berangkat pagi-pagi meninggalkan Pulau Es, setelah tiba di tempat jauh yang sunyi ini, mereka menggulung layar dan membiarkan perahu mereka dibuai gelombang kecil. Mereka sudah lama berdiam diri seperti itu, dibuai oleh lamunan masing-masing, lamunan yang timbul karena keadaan di Pulau Es yang menyedihkan.

"Suheng...," suara panggilan Swat Hong ini lirih saja, namun karena sejak tadi mereka tidak mendengar suara apa-apa, maka suara panggilan ini seolah-olah mengandung getaran hebat yang memenuhi seluruh ruang kesunyian.

Sin Liong menoleh dan dia pun seolah-olah baru sadar dari alam mimpi. "Hemmm...?" jawabannya masih ragu-ragu.

"Suheng mengajakku meninggalkan pulau, setelah tiba di sini, mengapa suheng tidak lekas bicara melainkan melamun saja?"

"Aku terpesona akan keindahan alam yang sunyi ini, Sumoi...."

"Aku pun tadi terseret, Suheng. Akan tetapi melihat batu karang menonjol di depan itu, aku tersadar. Apakah aku akan menjadi setua batu karang itu yang kerjanya hanya termenung di tempat sunyi? Suheng, kau tadi bilang bahwa engkau mengajakku ke tengah laut untuk membicarakan urusan kita. Mengapa harus ke sini?”

"Engkau sudah mengerti sendiri. Fitnah yang dilontarkan kepada kita, bahwa ada terjadi sesuatu yang rendah di antara kita, membuat aku merasa tidak enak kalau mengajak kau bicara berdua saja di tempat sunyi di atas pulau itu. Dapat menimbulkan prasangka yang bukan-bukan. Karena itulah maka kuajak ke sini, agar kita dapat bicara dengan tenang dari hati ke hati tanpa ada yang mendengar dan melihat. Pula, kuharap di tempat yang sunyi ini, yang membuat kita seolah-olah berada di dalam alam lain, kita akan menemukan ilham..."

Swat Hong tertawa. Timbul kembali kegembiraan dara ini setelah dia tidak berada di Pulau Es yang membuat dia selama ini ikut muram dan berduka. "Wah, Suheng! Kadang-kadang kau bicara seperti seorang pendeta saja! Apa sih yang akan dibicarakan sampai-sampai kau membutuhkan ilham segala?"

"Mari kita bicara tentang cinta, Sumoi."

Wajah dara muda jelita itu terheran. Matanya memandang terbelalak dan perlahan-lahan kedua pipinya menjadi agak kemerahan. "Aihh... apa maksudmu, Suheng?"

Sin Liong menarik napas panjang, dan menyentuh tangan sumoinya. "Perlukah aku menjelaskan lagi? Suhu, Ayahmu sedang dilanda duka dan kedukaannya yang terakhir kali ini adalah menyangkut hubungan antara kita. Suhu menghendaki agar kita berjodoh, dan kita secara jujur telah menyatakan tidak setuju akan kehendaknya itu. Dan memang kita benar, Sumoi. Perjodohan tidak bisa ditentukan begitu saja, karena perjodohan merupakan hal gawat bagi seseorang, akan melekat selama hidupnya. Akan tetapi bagaimana kita tahu kalau hal ini tidak kita bicarakan secara terus terang? Maka, agar kita dapat mengambil keputusan yang tepat tentang kehendak Suhu ini, marilah kita bicara tentang cinta!"

"Hemm, bicaralah. Aku tidak tahu apa-apa," kata Swat Hong yang tentu saja merasa malu untuk bicara tentang hal yang asing baginya itu.

"Swat Hong, apakah kau cinta kepadaku?"

Dara itu makin merah mukanya. Tak disangkanya bahwa suhengnya akan bertanya secara langsung seperti itu sehingga dia merasa seperti diserang dengan tusukan pedang yang amat dahsyat! Dia mengangkat muka memandang suheng-nya dengan bingung. "Aku... aku... ah, aku tidak tahu...," dan dia menundukan mukanya.

"Sumoi, sudah sering aku melihat sikapmu yang aneh. Engkau marah-marah ketika kita berada di Pulau Neraka. Engkau cemburu melihat Soan Cu berbuat baik kepadaku, dan kau tidak senang melihat kongkong-nya hendak menjodohkan Soan Cu dengan aku. Sumoi, aku tidak tahu apa cemburu itu tandanya cinta? Akan tetapi, jawablah demi pemecahan persoalan yang kita hadapi ini. Cintakah kau kepadaku?"

Disinggung-singgung tentang sikapnya di Pulau Neraka yang jelas menandakan rasa cemburunya, Swat Hong menjadi makin malu. Dicobanya untuk menjawab, akan tetapi begitu dia bertemu pandang dengan suheng-nya, dia menjadi makin malu dan ditutupinya mukanya dengan kedua tangan. Kepalanya digeleng-gelengkan dan dia berkata, "Aku tidak tahu... aku tidak tahu...! Kau saja yang bicara, Suheng. Kau saja yang menjawab apakah kau cinta padaku atau tidak!"

Dan kini Swat Hong menurunkan kedua tangannya, sepasang matanya yang bening itu kini dengan penuh selidik menatap wajah Sin Liong!

Sin Liong menarik napas panjang. "Itulah yang membingungkan hatiku selama ini, Sumoi. Mau bilang tidak mencintaimu, buktinya aku suka kepadamu. Akan tetapi untuk menyatakan bahwa aku cinta padamu, sulit pula karena aku sendiri tidak tahu bagaimana sesungguhnya cinta itu. Apakah seperti cintanya suhu terhadap ibumu yang berakhir dengan peristiwa menyedihkan itu? Ataukah seperti cintanya ibumu kepada Suhu? Ataukah seperti cintanya The Kwat Lin dan Suhu? Hemm, mengapa semua cinta itu demikian palsu dan mengakibatkan hal yang amat menyedihkan? Aku menjadi ngeri melihat cinta macam itu, Sumoi."

Swat Hong memandang heran. "Ahhh, aku tidak pernah memikirkan cinta seperti yang kau kemukakan ini, Suheng."

"Mudah saja. Lihat saja apa yang terjadi antara Suhu, ibumu, dan The Kwat Lin. Seperti itukah cinta? Hanya mendatangkan cemburu, kemarahan, kebencian, dan permusuhan hebat. Apakah itu cinta? Kalau seperti itu, aku ngeri dan aku tidak berani berlancang mulut menyatakan cinta kepada siapa pun, Sumoi. Karena kalau hanya seperti itu akibatnya, maka cinta yang kunyatakan hanyalah merupakan kembang bibir belaka, hanya cinta palsu belaka. Bayangkan saja, Sumoi. Di antara kita berdua, sejak kecil sampai sekarang menjelang dewasa, tidak pernah ada pertentangan dan tidak pernah ada urusan apa-apa. Akan tetapi, setelah kita berdua mengaku cinta, lalu timbul soal-soal ceburu, kecewa dan lain-lain. Apalagi setelah menjadi suami istri...hemm, betapa mengerikan kalau melihat contoh yang kita saksikan di Pulau Es ini."

Swat Hong menunduk dan tak mampu menjawab. Persoalan yang diajukan oleh Sin Liong itu terlampau berat baginya, sulit untuk dimengerti. Baginya sebagai seorang wanita, dia haus akan cinta kasih, akan perhatian, akan pemanjaan dari seorang pria yang menyenangkan hatinya, seperti suheng-nya ini. Akan tetapi, setelah mendengar uraian Sin Liong tentang cinta yang diambilnya peristiwa di Pulau Es sebagai contoh, dia pun ngeri dan tidak berani menyatakan perasaanya itu.

"Aku tidak tahu, Suheng..., aku tidak mengerti. Terserah kepadamu sajalah...."

Sin Liong kembali menarik napas panjang. Dia memang sudah mengambil keputusan di dalam hatinya bahwa dia harus membalas budi kebaikan Suhu-nya yang sudah berlimpah-limpah diberikan kepadanya. Satu-satunya jalan untuk membalas budi hanya dengan menyenangkan hati Suhu-nya yang sedang berduka itu. Dia harus menerima keputusan Suhunya, yaitu menerima menjadi jodoh Swat Hong! Akan tetapi dia tidak boleh membuat dara itu menderita dengan keputusannya ini, maka dia harus tahu terlebih dahulu bagaimana pendirian Swat Hong. Dan sekarang dara itu sama sekali tidak berani mengaku tentang cinta.

"Sumoi, sekarang begini saja. Andai kata aku memenuhi permintaan Suhu, yaitu mau menerima ikatan jodoh denganmu, menjadi calon suamimu, bagaimana dengan pendapatmu?"

Swat Hong menunduk dan menggigit bibirnya. Akhirnya dia dapat berbisik. "Aku tidak tahu, terserah kepadamu dan kepada Ayah..."

"Maksudku, apakah engkau merasa terpaksa? Apakah hal ini menyenangkan hatimu? Sumoi, harap kau suka berterus terang. Kalau kau seperti aku, tidak bisa mengaku cinta begitu saja, setidaknya kau katakan, apakah ikatan jodoh ini tidak menimbulkan penyesalan bagimu?"

Swat Hong tidak menjawab, hanya menggeleng kepala.

"Kalau begitu, andai kata aku menerima, engkau pun akan menerimanya dengan senang hati?"

Swat Hong mengangguk!

"Kalau begitu, mari kita pergi menghadap Ayahmu. Aku akan menerima permintaannya. Betapa pun juga, kita harus menghiburnya, menyenangkan hatinya. Aku telah berhutang banyak budi dari suhu, maka kalau dengan penerimaan ini aku dapat sekedar membalas budinya, aku akan merasa senang." Sin Liong mengambil dayung perahu dan mulai menggerakkan dayung itu.

"Suheng, kau menerima karena kasihan kepada Ayah? Jadi kau... kau tidak cinta kepadaku?"

"Sumoi aku tidak berani berlancang mulut mengaku cinta. Aku telah banyak menyaksikan cinta kasih yang kuragukan kemurniannya. Aku khawatir bahwa sekali cinta diucapkan dengan mulut, maka itu bukanlah cinta lagi. Aku tidak tahu, apakah cinta itu sesungguhnya, maka aku tidak berani lancang mengaku, Sumoi..."

"Ahhh...!!" Jeritan Swat Hong ini adalah campuran dari rasa kecewa dan juga kekagetan hebat. Matanya terbelalak memandang ke depan.

Melihat wajah sumoi-nya, Sin Liong cepat menengok dan pada saat itu terdengar ledakan dahsyat dibarengi dengan cahaya kilat yang seolah-olah membakar dunia. Sin Liong yang sedang terbelalak memandang itu melihat air muncrat tinggi sekali, disusul asap dan api muncul dari permukaan laut antara perahunya dan Pulau Es. Kedua orang muda yang terbelalak dengan muka pucat itu tidak berkesempatan untuk terheran lebih lama lagi karena tiba-tiba perahu mereka dilontarkan keatas. Dalam saat lain perahu itu telah dipermainkan oleh gelombang yang mendahsyat dan menggunung. Suara mengguruh memenuhi telinga mereka dan keheningan yang baru saja mencekam lautan itu kini terisi dengan kebisingan yang sukar dilukiskan.

Sin Liong berteriak, "Sumoi, bantu aku! Jangan sampai perahu terguling!"

Keduanya mengerahkan tenaga, menggunakan dayungnya untuk mengatur keseimbangan perahu. Namun, kekuatan gelombang air laut yang amat dahsyat itu mana dapat ditahan oleh tenaga manusia, biar pun kedua orang muda itu adalah tokoh-tokoh Pulau Es sekali pun? Perahu mereka menjadi permainan gelombang, dilontarkan tinggi ke atas, disambut dan diseret ke bawah. Seolah-olah ada tangan malaikat maut atau ekor naga laut yang menyeret perahu ke dasar laut, akan tetapi tiba-tiba diayun lagi ke atas, ditarik ke kanan, didorong ke kiri sehingga kedua orang murid Raja Han Ti Ong itu menjadi pening dan setengah pingsan!

Mereka tidak ingat akan waktu lagi, tidak tahu berapa lama mereka diombang-ambingkan air laut, tidak tahu lagi berapa jauh mereka terbawa ombak. Mereka tidak sempat menggunakan pikiran lagi, yang ada hanya naluri untuk menyelamatkan diri, menjaga sekuat tenaga agar perahu mereka tidak sampai terguling dan tangan mereka tidak sampai terlepas memegangi pinggiran perahu. Dengan tangan kanan memegang pinggiran perahu, tangan kiri Sin Liong memegang lengan kanan sumoi-nya. Betapapun juga, dia tidak akan melepaskan sumoinya!

Swat Hong yang biasanya tabah dan tidak mengenal takut itu, sekali ini menangis dengan muka pucat dan mata terbelalak. Terlampau hebat keganasan air laut baginya, terlampau mengerikan melihat gelombang setinggi gunung yang seolah-olah setiap saat hendak mencengkeram dan menelannya itu! Tiba-tiba Swat Hong menjerit. Segulung ombak besar datang dan menelan perahu itu. Mereka gelagapan karena ditelan air, kemudian mereka merasa betapa perahu mereka dilambungkan ke atas.

"Brukkk...!" keduanya terpental keluar, akan tetapi masih saling bergandeng tangan.

Cepat Sin Liong menyapu mukanya agar kedua matanya dapat memandang. Ternyata perahu mereka telah dilontarkan ke sebuah pulau kecil yang penuh batu karang, sebuah pulau yang menjulang tinggi akan tetapi hanya kecil-kecil sekali, merupakan sebuah batu karang besar yang menonjol tinggi.

"Sumoi, lekas...! Kita naik ke sana...!!"

Sin Liong tidak mempedulikan tubuhnya yang terasa sakit semua, membantu sumoinya merangkak bangun. Pipi kanan dan lengan kiri Swat Hong berdarah, akan tetapi gadis itu pun agaknya tidak merasakan semua ini. Tersaruk-saruk dia dibantu suheng-nya merangkak dan menyeret perahu ke atas, kemudian mereka melanjutkan pendakian ke atas puncak batu karang itu dengan susah payah. Akhirnya mereka tiba di puncak batu karang dan apa yang tampak oleh mereka dari tempat tinggi ini benar-benar menggetarkan jantung.

Di sekeliling mereka hanya air semata. Air yang menggila, bergerak berputaran, gelombang yang dahsyat menggunung, suara yang gemuruh seolah-olah semua iblis dari neraka bangkit. Batu karang besar, atau lebih tepat disebut pulau kecil dari batu itu tergetar-getar, seolah-olah menggigil ketakutan menghadapi kedahsyatan badai yang mengamuk. Tidak tampak apa-apa pula selain air, air dan kegelapan, kadang-kadang diseling cahaya menyambar dari atas seperti lidah api seekor naga yang bernyala-nyala.

"Ouhhh..!" Swat Hong menangis dan cepat dipeluk oleh suheng-nya. Tubuh dara itu menggigil, pakaiannya robek-robek.

"Tenanglah... tenanglah, Sumoi...." Sin Liong berbisik dan pemuda ini mengerti bahwa bukan hanya sumoi-nya yang disuruhnya tenang, melainkan hatinya sendiri juga!

Pengalaman ini sungguh dahsyat dan tidak mungkin dapat terlupa selama hidupnya. Kebesaran dan kekuasan alam nampak nyata. membuat dia merasa kecil tak berarti, kosong dan remeh sekali! Sin Liong dan Swat Hong yang dipeluknya tidak tahu lagi berapa lamanya mereka berada di tempat itu. Siang malam tiada bedanya, yang tampak hanya kegelapan, air, dan kadang-kadang kilatan cahaya halilintar. Yang terdengar hanyalah gemuruh air, angin menderu, dan kadang-kadang ledakan guntur. Tidak memikirkan dan merasakan apa-apa, yang ada hanya takjub dan ngeri!

Di luar tahunya dua orang itu, mereka telah berada di pulau batu karang selama sehari semalam! Akhirnya badai mereda, badai yang ditimbulkan oleh ledakan gunung berapi di bawah laut! Kegelapan mulai menipis, akhirnya tampak kabut putih bergerak perlahan meninggalkan tempat itu. Air mulai tenang dan menurun, akhirnya tampaklah sinar matahari disusul oleh bola api itu sendiri setelah kabut terusir pergi. Tampaklah lautan luas terbentang di bawah, dan baru sekarang dua orang muda itu sadar bahwa mereka duduk di puncak batu karang yang amat tinggi!

Swat Hong mengeluh, baru terasa betapa penat tubuhnya, betapa luka-luka kecil dari kulitnya yang lecet-lecet, dan betapa haus dan lapar menyiksa leher dan perut!

"Sumoi, badai sudah mereda. Mari kita turun. Aihh, itu perahu kita. Untung tidak pecah," kata Sin Liong dan dia menggandeng tangan sumoi-nya menuruni batu karang.

Perahu mereka tidak pecah, akan tetapi layar dan dayungnya lenyap. Sin Liong mengangkat perahu itu, membawanya turun kebawah.

"Mari kita lekas pulang, Sumoi. Biar kudayung dengan kedua tangan."

Swat Hong duduk di dalam perahu, mengeluh lagi dan berkata penuh kegelisahan, "Bagaimana dengan Pulau Es? Badai mengamuk demikian hebatnya, Suheng."

“Aku tidak tahu, mudah-mudahan mereka selamat. Maka dari itu, kita harus cepat pulang," suara Sin Liong bergetar walau wajahnya terlihat tetap tenang.

Dia lalu menggunakan kedua tangannya yang kuat sebagai dayung. Perahu bergerak, meluncur di atas air yang tenang dan licin seperti kaca. Sama sekali tidak ada tanda-tanda di permukaan air bahwa air itu telah mengamuk sedemikian hebatnya baru-baru ini. Tak lama kemudian Sin Liong medapatkan dayung yang dipatahkan dari batang pohon yang hanyut di air. Agaknya pulau-pulau kecil di sekitar tempat itu telah diamuk badai sedemikian hebatnya sehingga pohon-pohon tumbang dan terbawa air.

Setelah keadaan cuaca terang kembali, Sin Liong dapat menentukan arah perahu dan tak lama kemudian tampaklah Pulau Es dari jauh. Kelihatannya masih seperti biasa, sebuah Pulau keputihan memanjang di kaki langit, berkilaun tertimpa sinar matahari. Hati mereka lega. Dari jauh kelihatannya tidak terjadi perubahan di pulau itu. Setelah agak dekat, mereka melihat pula puncak atap istana di Pulau Es, maka legalah hati mereka. Hati Sin Liong mulai berdebar tegang ketika perahunya sudah menempel di Pulau Es.

Keadaannya begitu sunyi. Sunyi dan mati! Tidak kelihatan seorang pun di pantai, bahkan tidak tampak sebuah perahu pun. Dan bukit-bukit es tidak seperti biasanya, kacau-balau tidak karuan dan berubah bentuknya! Dengan hati tidak enak kedua orang muda itu belari-lari ke tengah pulau. Makin ke tengah, makin pucat wajah mereka. Tidak ada seorang pun kelihatan, dan juga pondok-pondok yang biasanya terdapat di sana-sini, sekarang habis sama sekali. Tidak ada sebuah pun pondok yang tampak! Seolah-olah semua telah disapu bersih, tersapu bersih dari pulau itu.

"Auhhh...!" Swat Hong berdiri dengan muka pucat, kedua kakinya menggigil.

"Mari kita ke istana, Sumoi!" Sin Liong yang berkata dengan suara bergetar lalu menyambar lengan sumoi-nya dan diajaknya dara itu lari ke dalam istana.

Beberapa kali terdengar Swat Hong mengeluarkan seruan tertahan, dan Sin Liong juga kaget bukan main. Mereka seperti memasuki sebuah kuburan! Sunyi, kosong, dan tidak ada bekas-bekasnya tempat itu didiami manusia! Habis sama sekali, baik perabotan istana mau pun manusia-manusianya! Tidak tertinggal sepotong pun benda atau seorang pun manusia. Habis semua! Ke mana pun mereka lari dan berteriak-teriak memanggil, yang terdengar hanya gema suara mereka sendiri!

"Oughhh...!!" Swat Hong tidak mampu menahan himpitan perasaan yang ngeri dan berduka, tubuhnya tergelimpang dan tentu akan terbanting kalau tidak cepat disambar oleh Sin Liong.

"Sumoi...!" akan tetapi suara ini kandas di kerongkongannya dan tanpa disadari pula, kedua pipi Sin Liong basah oleh air matanya yang mengalir deras menuruni kanan-kiri hidungnya ketika dia memondong tubuh sumoi-nya yang pingsan itu ke dalam kamar.

Akan tetapi dia termangu-mangu ketika tiba di ambang pintu kamar yang terbuka. Kamar itu kosong dan bersih, tidak ada sebuah atau sepotong pun perabotannya. Terpaksa dia merebahkan tubuh sumoi-nya di atas lantai, dan dia sendiri merebahkan kepala di atas kedua lututnya sambil menangis. Terlampau hebat peristiwa yang dihadapinya, Pulau Es telah disapu bersih oleh badai! Bersih sama sekali sehingga agaknya tidak ada seorang pun manusia yang tertolong. Tidak ada sepotong pun barang yang tertinggal, kecuali bangunan istana yang memang amat kuat itu.

Setelah siuman, Swat Hong menangis, "Aih, mengapa...? Mengapa...? Ayah, kasihan sekali Ayah...!"

Akhirnya Sin Liong dapat menghibur dan membujuknya. Mereka berdua lalu mengadakan pemeriksaan dan mendapat kenyataan bahwa benar-benar Pulau Es telah diamuk badai. Agaknya air laut telah naik sedemikian tinggi sehingga pulau itu teredam air. Mereka menemukan beberapa potong pakaian yang tersangkut di batu-batu. Dengan hati terharu penuh kedukaan mereka mengumpulkan pakaian itu, entah punya siapa, tapi menjadi barang peninggalan yang amat berharga.

Kemudian mereka memeriksa istana. Memang ada beberapa benda yang masih tertinggal di dalam kamar di bawah tanah, akan tetapi yang berada di atas, semua habis dan lenyap.

"Suheng, lihat ini...!" tiba-tiba Swat Hong berkata sambil menunjuk ke dinding.

Sin Liong cepat menghampiri dan keduanya mengenal goresan tangan Han Ti Ong yang agaknya menggunakan jari tangan yang penuh tenaga sinkang untuk menulis di dinding batu itu!

Sin Liong dan Swat Hong, maafkan aku. Thian telah menghukum aku dan membasmi Pulau Es. Pergilah kalian mencari wanita jahat itu, rampas kembali semua pusaka. Dan Bu Ong bukanlah puteraku, dia keturunan Kai-ong’.

Pendek saja ‘surat dinding’ itu, namun cukup jelas isinya. Sin Liong menarik napas panjang. Kasihan dia kepada Suhunya yang mati meninggalkan dendam itu!

"Suheng lihat ini...."

Tak jauh dari tulisan itu terdapat bekas jari-jari tangan mencengkeram dinding. Mudah saja mereka menggambarkan keadaan Han Ti Ong dan keduanya tak dapat menahan tangis mereka. Agaknya dalam menghadapi amukan badai, Han Ti Ong berhasil menggunakan tenaganya untuk mempertahankan diri beberapa lamanya dengan mencengkeram dinding. Raja itu sempat pula membuat tulisan itu sebelum kekuatan yang jauh lebih besar dari pada kekuatannya menyeret ke luar dari istana dan bahkan dari pulau itu!

"Kasihan sekali Suhu...." Sin Liong menghapus air matanya.

Swat Hong mengepal tinjunya. "Aku akan mencari perempuan iblis itu. Selain merampas kembali pusaka Pulau Es, aku juga akan menghukumnya! Dialah yang mencelakakan Ibuku, yang mencelakakan Ayahku!"

Sin Liong menarik napas panjang. Sudah diduganya ini, tentu akan terjadi balas-membalas, dendam tak kunjung habis!

"Sumoi, Suhu hanya meninggalkan pesan agar kita mencari kembali pusaka-pusaka itu...."

"Kau yang mencari pusaka, aku yang membunuh iblis betina itu!" Swat Hong berseru penuh semangat. "Dan Bu Ong... hemm, apa pula artinya ini? Bukan putera ayah?"

"Sumoi, tenanglah dan dengarlah penuturanku. Mungkin hanya aku dan ayahmu saja yang tahu akan nasib wanita itu, nasib yang amat buruk dan mengerikan. Tahukah kau apa yang telah dialami oleh The Kwat Lin sebelum ditolong ayahmu?"

Sin Liong lalu menceritakan keadaan The Kwat Lin yang menjadi gila karena dua belas orang suhengnya dibunuh orang dan agaknya, melihat keadaannya, gadis yang tadinya seorang pendekar wanita perkasa itu telah diperkosa di antara mayat para suhengnya.

"Kurasa demikianlah kejadiannya. Setelah suhu menyatakan bahwa Bu Ong adalah keturunan Kai-ong, teringatlah aku. Jelas bahwa The Kwat Lin diperkosa oleh pembunuh dua belas orang anak murid Bu-tongpai itu, sehingga anak yang dilahirkannya itu, Han Bu Ong, adalah keturunan Kai-ong yang memperkosanya dan membunuh para suheng-nya."

Mendengar penuturan tentang nasib mengerikan yang dialami ibu tirinya, Swat Hong bergidik. Akan tetapi dia mengomel. "Yang berbuat jahat kepadanya adalah Raja Pengemis itu, mengapa dia membalasnya kepada ibu? Dan dia telah menghancurkan penghidupan Ayah. Betapapun juga, aku harus mencarinya dan membalaskan sakit hati Ibu dan Ayah."

Sin Liong maklum bahwa membantah kehendak sumoi-nya ini percuma, hanya akan menimbulkan pertentangan saja. Maka diam-diam dia mengambil keputusan untuk selalu mendamping sumoi-nya, selain menjaga keselamatan dara ini, juga kalau perlu mencegah sepak terjangnya yang terdorong oleh nafsu dan dendam. Betapa pun juga, setelah Pulau Es dibasmi oleh badai, dara ini kehilangan ayah-bunda, tiada sanak kadang, tiada handai taulan dan dialah satu-satunya orang yang patut melindunginya, sebagai suheng-nya. Ataukah sebagai calon suami? Sin Liong tidak mengerti dan tidak berani memutuskan. Biarlah hal perjodohan itu diserahkan kepada keadaan kelak.

Dia tidak membantah ketika sumoi-nya mengajaknya meninggalkan Pulau Es yang telah kosong itu untuk mencari ibunya, dan kalau masih juga tidak berhasil, untuk pergi ke daratan besar mencari The Kwat Lin. Beberapa hari kemudian, setelah yakin benar bahwa tidak ada seorang pun di antara penghuni Pulau Es yang selamat dan kembali ke pulau itu, Sin Liong dan Swat Hong berangkat meninggalkan Pulau Es.

Ketika perahu kecil yang mereka dayung itu meluncur meninggalkan pulau, Swat Hong memandang kearah pulau dengan air mata bercucuran. Juga Sin Liong merasa terharu dan berduka mengingat akan nasib para penghuni Pulau Es yang mengerikan itu. Mereka berdua mendayung perahu menuju ke selatan dan di sepanjang perjalanan ini mereka menemukan bukti-bukti kedahsyatan badai dan keanehan alam yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi di bawah laut itu.

Ada pulau yang lenyap sama sekali, dan ada pula pulau yang baru muncul begitu saja, pulau yang amat aneh, pulau batu karang yang masih jelas kelihatan bahwa pulau ini tadinya merupakan dasar laut dengan segala keindahannya, dengan makhluk hidup dan tetumbuhannya yang kini semua mengeras menjadi batu karang dengan bermacam bentuk. Banyak pulau yang mengalami nasib serupa dengan Pulau Es, yaitu menjadi gundul, habis sama sekali tetumbuhan atasnya.

Diam-diam terbayang dalam pikiran Sin Liong betapa dahsyat kekuasan alam. Andai kata semua lautan yang mengamuk seperti beberapa hari yang lalu itu, agaknya dunia akan menjadi kiamat! Melihat keadaan pulau-pulau itu, timbul rasa khawatir dalam hati Sin Liong tentang keadaan Pulau Neraka. Tentu pulau itu pun tidak terluput dari amukan badai, pikirnya. Padahal baru saja pulau itu mengalami penyerbuan Han Ti Ong dan pasukannya! Sin Liong merasa kasihan sekali terhadap nasib para penghuni Pulau Neraka. Apakah pulau itu seperti juga Pulau Es, disapu bersih dan seluruh penghuninya terbasmi habis?

Setelah merasa mencari dengan sia-sia, beberapa hari kemudian Sin Liong mengemukakan pendapat, "Agaknya ibumu tidak berada di antara pulau-pulau ini. Bagaimana kalau kita mencari ke utara lagi. Siapa tahu kali ini kita berhasil, dan kita dapat juga bertanya ke Pulau Neraka kalau-kalau ibumu ke sana."

"Hemm, agaknya engkau sudah rindu kepada Soan Cu, Suheng."

Sin Liong mengerutkan alisnya. "Sumoi, kau...cemburu lagi?"

Wajah dara itu menjadi merah. "Aku hanya berkata sewajarnya."

"Sudahlah. Kalau kau cemburu, kita tidak usah singgah di Pulau Neraka," kata Sin Liong menarik napas panjang.

Keadaan menjadi hening sejenak. Mereka telah menghentikan gerakan dayung karena mereka masih belum mendapat keputusan akan mencari ke mana.

"Kita ke Pulau Neraka!" tiba-tiba Swat Hong berkata.

"Ehhh...??"

"Aku harus ke sana. Aku akan menegur kakek berkepala besar itu! Pulau Neraka yang menjadi biang keladi sehingga Ayah marah-marah kepada kita. Hampir saja kita dibunuhnya karena Pulau Neraka telah berani menawanku."

"Hemm, Sumoi. Mengapa kejadian yang telah lewat dipersoalkan lagi? Bukankah Ayahmu telah menyerbu ke sana? Menurut cerita anak buah pasukan, kurasa Ayahmu telah menghukum mereka. Kalau begitu, kita tidak perlu pergi ke sana, sumoi."

"Aku harus pergi ke sana!" dara itu berkeras.

Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sukar benar melayani sumoi-nya ini yang memiliki watak aneh dan hati yang keras sepeti baja.

"Aku hanya mau pergi ke Pulau Neraka kalau untuk mencari ibumu, akan tetapi kalau kita pergi ke sana hanya untuk mencari perkara, aku tidak mau. Kau harus berjanji tidak akan membuat kekacauan di sana, Sumoi."

"Hemmm, agaknya kau berkeinginan keras untuk menjadi sahabat baik Pulau Neraka, ya? Karena ada...."

"Sumoi, harap jangan bicara yang tidak-tidak. Memang kita sahabat baik mereka! Lupakah kau ketika mereka mengantar saat kita meninggalkan pulau itu? Karena itu, aku hanya mau pergi ke sana kalau untuk mencari ibumu dan menjenguk mereka sebagai sahabat, melihat keadaan mereka setelah ada badai mengamuk."

Swat Hong cemberut, akan tetapi menjawab juga. "Baiklah, kita lihat saja nanti."

Mereka lalu mendayung perahu dengan cepat menuju ke Pulau Neraka. Akan tetapi, setelah mereka tiba di daerah Pulau Neraka, mereka menjadi bingung dan pangling karena di daerah itu telah terjadi perubahan hebat sekali. Mungkin karena akibat badai yang mengamuk, yang ternyata terjadi di daerah yang amat luas itu, di sekitar situ telah muncul gunung-gunung es yang amat besar. Pulau Neraka yang biasanya tampak dari jauh sebagai raksasa yang tidur itu kini tidak kelihatan lagi karena semua jurusan terhalang pandangannya oleh gunung-gunung es. Mereka mendayung perahu berputar namun tidak dapat keluar dari kurungan gunung-gunung es itu.

"Ahhh, dahulu tidak ada gunung-gunung es besar seperti ini," kata Swat Hong.

"Ini tentu diakibatkan oleh badai itu, Sumoi. Biarlah kita mengaso dulu dan aku akan coba melihat keadaan dari puncak sebuah gunung. Kau tunggu saja di sini."

Perahu itu menempel pada sebuah bukit es yang tinggi dan Sin Liong meloncat ke daratan es. Kemudian dia menggunakan ilmunya berlari cepat, mendaki gunung es itu untuk melihat dan mengenali daerah itu dari atas puncaknya yang tinggi. Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras sekali yang mengguncangkan seluruh gunung es itu. Sin Liong terkejut dan dengan cepat dia menoleh untuk melihat apa yang mengeluarkan suara seperti itu.

Dari jauh tampak olehnya seekor beruang besar sedang menggerakkan kedua kaki depannya ke arah burung-burung yang menyambar-nyambar di atasnya. Burung-burung nazar (burung botak pemakan bangkai) yang besar-besar beterbangan di atas beruang itu dan menyerangnya dari atas sambil mengeluarkan suara pekik mengerikan. Melihat ini, Sin Liong cepat berlari mendekati.

Ternyata beruang itu terluka parah juga di beberapa bagian anggota badannya, sedangkan di bawah kakinya tampak bangkai seekor ular laut yang besar. Jelaslah bahwa beruang itu tadi berkelahi dengan ular laut itu dan dia menang, akan tetapi dia menderita luka-luka. Kini burung-burung nazar yang kelaparan itu hendak mengeroyoknya dan tentu saja ingin makan bangkai ular besar.

Sin Liong segera menggunakan salju yang digenggam untuk menyambiti burung-burung itu. Terdengar suara plak-plok-plak-plok disusul suara burung-burung nazar berkaok-kaok kesakitan. Mereka terbang ketakutan menjauhi tempat itu karena setiap kali terkena sambitan salju terasa nyeri sekali. Dengan beberapa loncatan saja Sin Liong sudah tiba di depan beruang itu. Beruang yang berkulit hitam dan amat besar itu menyeringai dan mengerang, memperlihatkan gigi bertaring yang amat runcing kuat dan lidah yang merah. Matanya terbelalak penuh kecurigaan dan kemarahan kepada Sin Liong.

"Tenanglah, aku datang untuk menolongmu," kata Sin Liong sambil maju lebih dekat.

"Aughhh..!" beruang itu mengerang dan kaki depannya yang kiri menyambar kearah dada Sin Liong.

Melihat betapa telapak kaki itu berdarah, Sin Liong mengelak dan cepat menangkap pergelangan kaki depan itu. Kiranya telapak kaki itu tertusuk tulang dan masuk amat dalam. Agaknya dalam perkelahian melawan ular laut, beruang itu mencengkeram tubuh ular dan sedemikian kuatnya dia mencengkeram sampai tulang punggung ular patah dan menusuk ke dalam daging di telapak kaki depan itu.

Sin Liong segera mencabut tulang itu. Darah mengucur deras dan dia segera membalut dengan sapu tangannya. Beruang itu kini tidak marah lagi. Agaknya dia cerdik dan dapat mengerti bahwa orang yang datang ini bukan musuh, bahkan menolongnya. Kaki depan yang terluka itu kini tidak nyeri lagi, tentu saja karena tulang yang membuat dia tersiksa rasa nyeri tadi telah tercabut.

"Coba kuperiksa, apa lagi yang perlu kuobati," Sin Liong berkata dan dia memeriksa luka-luka di tubuh beruang itu. Ada sebuah luka di tengkuk yang membengkak. Tahulah Sin Liong bahwa luka ini cukup berbahaya, kalau tidak lekas diberi obat yang cocok akan dapat membahayakan nyawa beruang itu.

"Hemmm, aku harus mencarikan daun obat untuk luka-lukamu," katanya, lupa bahwa beruang itu tentu saja tidak mengerti apa yang dia katakan.

"Hai, Suheng, ada apakah?" tiba-tiba terdengar teriakan dari atas.

Sin Liong menoleh dan melihat sumoinya turun berlari-lari cepat sekali. Setelah dekat, beruang itu mengerang dan memandang Swat Hong dengan marah.

"Huh, binatang buruk!" Swat Hong memaki.

"Dia terluka cukup berat, akan tetapi dia menang berkelahi melawan ular laut itu. Lihat, betapa besarnya ular itu, Sumoi. Beruang ini kuat sekali, aku harus mengobatinya sampai sembuh."

Swat Hong mengerutkan alisnya. "Perlu apa menolong binatang buas seperti itu, Suheng? Membuang-buang waktu saja."

"Dia tidak buas lagi, Sumoi. Lihat betapa jinaknya. Dia pun makhluk hidup yang perlu kita tolong. Aku merasa kasihan kepadanya, Sumoi."

"Wah, kau lebih mementingkan dia..."

"Hei...! Ada apa engkau...?" Tiba-tiba Sin Liong berteriak melihat beruang itu menggereng-gereng dan menarik-narik tangannya, seolah-olah hendak mengajak Sin Liong pergi dari situ! Beruang itu makin keras menggereng dan makin kuat menariknya.


BERSAMBUNG KE JILID 06

Bu Kek Siansu Jilid 05

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU




Kho Ping Hoo Serial Bu Kek Siansu



JILID 05


SIN LIONG meloncat ke arah jendela. Kedua tangannya bergerak dan terdengar suara keras ketika ruji-ruji jendela jebol semua. Dia meloncat dan keluar dari kamarnya, terus berlari ke luar melalui lorong. Setibanya di luar, tampaklah olehnya Swat Hong berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang. Dua orang anggota Pulau Neraka roboh dan mengaduh-aduh di bawah, sedangkan belasan orang lain mengurung gadis itu. Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sumoinya memang galak dan pemberani. Bukan main gagahnya. Dikurung oleh orang-orang Pulau Neraka itu masih enak-enak saja, bahkan tidak mencabut pedang, padahal semua yang mengurungnya memegang senjata.

"Heiii! Mundur kalian, jangan ganggu dia!" Sin Liong sudah meloncat ke depan.

"Kau yang mundur! Mengapa ikut-ikut keluar?" Swat Hong membentak dan memandang Sin Liong dengan mata mendelik.

"Ehh? Sumoi...? Aku hanya ingin menolongmu."

"Siapa membutuhkan pertolonganmu? Kembalilah ke kamar tahananmu itu dengan... dengan..." Akan tetapi Swat Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya karena kini orang-orang Pulau Neraka telah mengeroyoknya.

"Wuttt... siuuttt!" tubuh Swat Hong sudah menyambar ke sana-sini.

Selain mengelak dari serbuan banyak senjata itu, Swat Hong juga mengirim serangan-serangan balasan dengan tangan dan kakinya yang bergerak cepat sekali. Bukan main hebatnya Swat Hong yang bergerak cepat dan yang didorong oleh perasaan marah itu. Dia memang marah, bukan marah kepada orang-orang Pulau Neraka, melainkan marah kepada... Sin Liong!

Kiranya tanpa diketahui oleh Sin Liong sendiri, sudah sejak tadi Swat Hong tiba di tempat itu. Ia menggunakan kepandaiannya menyelundup sehingga tidak diketahui para penjaga dan dia telah dapat mendengarkan percakapan antara suheng-nya dan Soan Cu. Hatinya menjadi panas! Dia sendiri tidak tahu akan hal ini, tidak sadar mengapa dia menjadi tidak senang mendengar betapa suheng-nya bercakap-cakap dengan ramah bersama seorang gadis! Karena itu niatnya untuk menolong suheng-nya menjadi buyar. Dia hanya menonton saja ketika suheng-nya diserbu binatang berbisa dan akhirnya dapat menolong diri dengan obat penolak yang diberikan oleh Soan Cu.

Ketika Swat Hong yang marah menyaksikan ibunya dijatuhi hukuman buang melarikan diri dari Pulau Es, dara ini segera berlayar menggunakan sebuah perahu Pulau Es. Tujuannya memang hendak membuang diri ke Pulau Neraka menggantikan ibunya, dan terutama hal ini dilakukannya sebagai protes kepada ayahnya. Akan tetapi karena dia belum pernah pergi ke pulau tempat buangan itu, dan pula karena sudah jauh meninggalkan Pulau Es, dia mulai merasa gelisah dan ngeri memikirkan keadaan Pulau Neraka yang kabarnya amat berbahaya itu. Akibatnya dia tersesat jalan dan mendarat di pulau-pulau kosong sekitar Pulau Neraka.

Akhirnya dia melihat dari jauh perahu Sin Liong meluncur di antara gumpalan-gumpalan es yang menggunung. Dia merasa heran sekali melihat suheng-nya dan merasa khawatir kalau-kalau suheng-nya itu mengejarnya atas suruhan raja untuk memaksanya kembali ke Pulau Es. Maka diam-diam ia lalu mengikuti dari jauh sampai akhirnya dia melihat suheng-nya mendarat di Pulau Neraka. Dengan menggunakan kepandaiannya, Swat Hong berhasil pula mendarat di Pulau Neraka. Dia tidak khawatir akan serangan binatang-binatang berbisa, karena sebelum berangkat Swat Hong membawa batu mustika hijau yang dia dapat dahulu dari ayahnya.

Di bagian tertentu di dasar laut dekat Pulau Es terdapat batu mustika hijau. Batu ini amat sukar didapat, dan hanya beberapa orang penghuni Pulau Es saja yang berhasil mendapatkannya. Batu mustika hijau ini mengandung khasiat yang mukjijat terhadap ular berbisa dan semua binatang berbisa, selalu ditakuti binatang-binatang itu, juga dapat dipergunakan untuk mengobati luka terkena gigitan binatang berbisa. Maka, dengan batu mustika di tangannya, dengan mudah Swat Hong dapat memasuki Pulau Neraka tanpa mendapat gangguan sedikit pun dari binatang berbisa yang hidup di pulau itu.

Ketika Swat Hong tiba di tengah pulau, dia sempat melihat sinar. Maka dia menanti sampai larut malam dan menyelundup ke dalam tempat tahanan, dengan maksud menolong suheng-nya. Akan tetapi tanpa disengaja dia dapat mendengarkan percakapan antara suheng-nya dengan Soan Cu. Inilah yang membuat hatinya menjadi panas sehingga ketika dia ketahuan para penjaga dan dikeroyok, dia menolak keras bantuan Sin Liong!

Tentu saja Sin Liong menjadi terheran-heran melihat sikap sumoi-nya dan memandang dengan alis berkerut dan hati khawatir. Sudah ada enam orang pengeroyok terguling roboh oleh gerakan kaki tangan Swat Hong yang marah itu, padahal dara itu belum mencabut pedangnya. Dapat dibayangkan betapa akan hebatnya kalau dara itu sudah menggunakan senjata!

"Sumoi, tahan...!" dia meloncat maju.
"Singgg...! Mundur kau!"
Sin Liong terkejut melihat sumoi-nya mencabut pedang!

Pada saat itu terdengar pula bentakan keras, "Siapakah gadis cilik itu berani mengacau di sini? Ahhh, Kwa Sin Liong, engkau mampu lolos dari tempat tahanan?"

Yang datang adalah Ouw Kong Ek, ketua Pulau Neraka! Tentu saja ketua ini tidak mengenal Swat Hong, sebaliknya, dara itu pun tidak mengenal kakek berkepala besar ini, maka dia memandang rendah dan membentak.

"Siapa kau?! Kalau sudah bosan hidup, majulah!" dengan gerakan gagah dara itu melintangkan pedangnya di depan dada.

Sin Liong cepat melangkah maju. Dia tahu betapa lihainya kakek ini. Maka untuk mencegah pertempuran, dia cepat berkata, "Tocu, jangan salah sangka. Dia adalah sumoi-ku, dia adalah puteri Suhu, Raja dari Pulau Es!"

Semua orang terkejut mendengar ini dan para pengurung melangkah mundur dengan mata terbelalak. Betapa pun juga, nama Raja Pulau Es masih merupakan nama ampuh dan selain dibenci, juga amat ditakuti oleh mereka. Tentu saja sebagai puteri Raja Pulau Es, dara itu merupakan musuh yang dibenci dan juga ditakuti. Pantas saja dara itu demikian lihai, pikir mereka. Hati mereka gentar.

Tidak demikian dengan Ouw Kong Ek. Dia memandang Swat Hong dan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, jadi dia inikah puteri Raja Pulau Es? Puteri Han Ti Ong? Bagus, hayo tangkap dia hidup-hidup!" perintahnya kepada para pembantunya yang segera melompat ke depan.

"Tahan dulu!" Sin Liong sudah mengangkat tangan kanannya ke atas.

Semua orang, termasuk Ouw Kong Ek sendiri, memandang pemuda ini. Betapa pun juga mereka maklum bahwa pemuda ini lihai sekali. Buktinya penyerbuan binatang-binatang berbisa untuk membunuhnya di dalam kamar tahanan telah gagal, bahkan binatang-binatang itu lari cerai-berai dan kini pemuda itu sudah lolos dari dalam penjara.

"Ouw-tocu, seperti sudah kuceritakan kepadamu, biar pun sumoi adalah puteri Raja Han Ti Ong, akan tetapi ia menentang ayahnya dan mewakili ibunya dihukum ke Pulau Neraka. Dia tidak memusuhi Pulau Neraka...."

"Ha-ha-ha, apa pun yang kau katakan, dia tetap adalah puteri Han Ti Ong, musuh besar kami. Mana kami dapat percaya kepada kalian, puteri dan murid Han Ti Ong? Tangkap mereka!"

"Nanti dulu, Tocu! Mengapa engkau melanggar janji? Aku sudah mengatakan bahwa kedatanganku ke pulau ini hanya untuk mencari Sumoi dan ternyata sekarang Sumoi telah tiba di sini, maka harap Tocu bersikap bijaksana dan membiarkan kami pergi dari tempat ini."

"Hai, kakek berkepala besar yang tolol! Kau mudah saja dibohongi Suheng! Kami memang datang untuk membasmi iblis-iblis di Pulau Neraka. Nah, kau mau apa?!"

"Sumoi!" Sin Liong membentak kaget dan cepat berkata kepada ketua Pulau Neraka, "Tocu, jangan dengarkan dia. Agaknya dia telah mengalami tekanan batin yang hebat sehingga mengeluarkan kata-kata kacau-balau tidak karuan."

Swat Hong mengangkat dada, menegakan kepalanya dan menghadapi Sin Liong dengan mata mendelik dan berkata lantang, "Apa? Kau mau bilang bahwa aku telah menjadi gila?"

"Sumoi, kalau kau bicara seperti tadi, membohong tidak karuan, memang agaknya kau telah gila!"

"Kau yang gila! Kau yang tidak waras dan berotak miring! Kalau aku membohongi iblis-iblis ini, apa hubungannya dengan kau?"

Sin Liong benar-benar menjadi bingung. Biasanya Swat Hong bersikap manis kepadanya dan biar pun dia tahu bahwa dara ini berhati keras, akan tetapi belum pernah bersikap sekeras itu kepadanya.

Tiba-tiba muncul Soan Cu yang berkata kepada kakeknya, suaranya nyaring sehingga terdengar oleh semua orang. "Kongkong, apa yang dikatakan Sin Liong memang benar! Dia beriktikad baik terhadap kita, Kongkong. Malam tadi aku datang kepadanya untuk mengejeknya, akan tetapi dia sebaliknya malah menunjukkan bahaya maut yang mengancam diriku."

Kakek itu terkejut. "Bahaya maut? Apa maksudmu?"

"Sin Liong ternyata memiliki ilmu pengobatan yang lihai sekali. Begitu melihat aku, dia mengatakan bahwa aku terserang hawa beracun dari sebelah dalam dan jika tidak diobati dengan tepat, dalam waktu kurang dari setahun aku tentu akan mati."

"Hahh...?!" Kakek itu dan semua pembantunya terbelalak kaget memandang dara itu yang bersikap sungguh-sungguh.

"Dan dia memang benar. Dia mengatakan bahwa setiap tengah malam aku tentu merasa pening dan di bagian punggung seperti ditusuk-tusuk jarum, kalau pagi kedua kaki pegal-pegal dan sehabis makan tentu merasa mual hendak muntah. Semua yang dikatakannya itu ternyata tepat sekali, Kongkong."

Berubah wajah kakek itu. Soan Cu adalah seorang yang amat disayangnya, bahkan disayang oleh pembantunya karena dara inilah yang akan mewarisi seluruh ilmu kepandaiannya dan yang akan menggantikannya menjadi Ketua Pulau Neraka. Tentu saja mendengar bahwa usia Soan Cu hanya tinggal setahun, dia terkejut bukan main dan cepat memandang kepada Sin Liong.

Sin Liong sendiri bengong dan terheran-heran. Akan tetapi ketika dia memandang Soan Cu ketika kakek itu membalik dan menghadapinya, dia melihat dara itu secara lucu telah mengejapkan mata kirinya, maka mengertilah dia bahwa dara itu kembali membohong! Membohong dengan cerdik bukan main dalam usahanya untuk menolongnya!

"Kwa Sin Liong, benarkah cucuku diancam hawa beracun? Benarkah?!"

Melihat sikap Sin Liong meragu karena sukar bagi pemuda itu untuk membohong, maka Soan Cu cepat berkata lagi, "Kongkong, dia mengatakan bahwa dia dapat memberikan obatnya, akan tetapi dia hanya mau memberi obat kalau dia dan sumoi-nya dibebaskan dari sini. Terserah kepada Kongkong berat aku atau berat mereka itu."

Swat Hong sudah hampir membuka mulutnya memaki dara itu yang dia tahu telah berbohong. Dia sendiri mendengar percakapan mereka dan dara itu sama sekali tidak sakit, bahkan telah memberi obat penolak binatang beracun kepada Sin Liong, dan menyatakan betapa dara tak tahu malu itu amat suka dan kagum kepada Sin Liong, maka datang menolongnya. Sekarang dara itu mengatakan hal yang bukan-bukan!

Akan tetapi, ketika mendengar ucapan terakhir dari Soan Cu, tahulah dia bahwa dara itu kini membohong untuk menolong Sin Liong dan dia terbebas dari Pulau Neraka! Kenyataan ini membuat dia bungkam kembali. Betapa baiknya dara itu dan betapa akan buruknya dia kalau dia membongkar rahasia gadis itu. Tentu Sin Liong akan makin kagum kepada Soan Cu dan makin benci kepadanya. Pikiran inilah yang membuat dia membungkam dan tidak melanjutkan niatnya untuk membantah Soan Cu.

Hati kakek itu makin bingung. Lenyaplah semua nafsunya untuk menawan Sin Liong dan Swat Hong. Dia memandang Sin Liong dan bertanya, "Orang muda, benarkah engkau dapat menyelamatkan cucuku?"

Kini Sin Liong yang menjadi bingung. Pemuda ini sama sekali tidak pernah membohong dan hatinya tidak akan dapat membohong, namun dia tahu bahwa kalau dia menyangkal kata-kata Soan Cu, sama saja mencelakakan gadis yang berniat baik kepadanya itu. Maka dia lalu menjawab dengan suara ragu-ragu dan perlahan, "Aku dapat memberi obat pembersih darah dan penguat tulang kepadanya, Tocu."

"Dan kau menjamin bahwa cucuku tentu akan sembuh dan terhindar dari ancaman maut hawa beracun di tubuhnya itu?" kakek itu mendesak.

"Kongkong, mengapa tidak percaya kepadanya? Lekas minta obatnya dan engkau yang harus menjamin bahwa dia dan sumoi-nya tidak akan diganggu," kata Soan Cu.

Kakek berkepala besar itu meraba-raba jenggotnya. "Hemmm,harus ada buktinya dulu. Kwa Sin Liong, mulai saat ini engkau dan sumoi mu puteri Han Ti Ong harus tinggal di pulau ini sebagai tamu sambil menanti hasil pengobatanmu kepada cucuku. Kalau kau gagal mengobatinya, hemmm, aku tidak akan mengampuni kalian berdua. Kalau cucuku sembuh, barulah kita bicara lagi."

Sin Liong mengerutkan alisnya hendak membantah peraturan yang berat sebelah ini, akan tetapi dia melihat Soan Cu mengedipkan mata kirinya. Maka dia menarik napas panjang dan mengangguk, lalu berkata, "Harap sediakan alat tulis, biar kulukiskan bentuk daun yang harus dicari."

Sin Liong lalu melukiskan beberapa macam daun yang mudah dicari dan yang mempunyai khasiat biasa saja, yaitu sekedar penambah kekuatan tubuh. Ouw Kong Ek lalu menyuruh seorang pembantunya untuk mencari daun-daun yang dilukis itu di pulau sebelah Pulau Neraka di mana terdapat banyak tetumbuhan. Ada pun Sin Liong dan Swat Hong lalu diperlakukan sebagai tamu terhormat, bahkan disediakan dua kamar yang bersih untuk mereka, dilayani baik-baik dan tentu saja di samping pelayanan ini, para pelayan yang terdiri dari pembantu-pembantu ketua, bertugas pula sebagai penjaga!

"Kuperingatkan kepada kalian agar menanti sampai cucuku sembuh. Lari pun tidak akan ada gunanya bagi kalian karena perahu-perahu kalian telah kami simpan dan di sekeliling Pulau Neraka tidak akan ada perahu sebuah pun. Tanpa perahu, bagaimana kalian akan dapat meninggalkan pulau ini?" demikinan pesan Ouw Kong Ek sebelum dia meninggalkan dua orang itu sehingga Swat Hong menjadi mendongkol sekali dan hampir saja dia memaki-maki ketua itu kalau tidak ditahan oleh Sin Liong yang memegang lengannya.

Setelah ketua itu meninggalkan mereka berdua di dalam pondok di mana mereka tinggal untuk sementara, Sin Liong menegur sumoi-nya, "Sumoi, mengapa kau bersikap seperti itu?"

"Suheng, aku tidak menyangka sama sekali akan menyaksikan engkau yang terkenal alim kini bermain gila dengan gadis puteri ketua Pulau Neraka. Huhh!"

Sin Liong mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada sumoi-nya. Hatinya bertanya, mengapa sumoi-nya memperhatikan soal begitu, padahal sama sekali tidak ada sangkut paut dengan sumoi-nya?

"Sumoi, engkau tahu betul bahwa Nona Ouw Soan Cu melakukan hal itu demi menolong kita. Siapakah yang main-main dengan dia?"

"Hemm, apa kau kira aku tidak tahu betapa dia suka kepadamu dan sengaja mendatangi kamar tahananmu untuk merayumu?"

"Sumoi! Jadi sudah selama ini kau berada di sini? Dan kau diam saja? Sumoi, mengapa kau menyangka yang bukan-bukan? Kalau kau sudah tahu akan kunjungannya itu, tentu kau tahu juga bahwa dia datang untuk memberi obat penolak binatang-binatang berbisa. Sumoi, kita semestinya berterima kasih kepadanya. Dia bermaksud baik, bahkan tidak segan-segan membohong kepada Kongkong-nya demi keselamatan kita."

"Ya, ya, memang dia baik sekali dan cantik sekali. Siapa yang tidak tahu?"

"Sumoi..., harap jangan marah. Dia adalah seorang gadis yang bernasib buruk sekali, ibunya meninggal ketika melahirkan dia, ayahnya pergi entah ke mana dan sampai kini belum kembali..."

"Memang, dia seorang gadis bernasib buruk yang patut dikasihani, tidak seperti aku..." dan Swat Hong lalu menelungkupkan muka di atas meja dan menangis!

Sin Liong terkejut. Beberapa kali ia hendak memegang lengan sumoi-nya akan tetapi ditahannya tangannya. "Aihh... Sumoi, engkau pun bernasib buruk, dan aku merasa kasihan sekali kepadamu. Karena aku merasa kasihan, maka aku menyusulmu. Sumoi, diamlah, jangan menangis. Apakah Sumoi telah bertemu dengan Ibumu?"

Swat Hong seketika berhenti menangis, mengangkat mukanya yang basah air mata dan memandang kepada Sin Liong. Pemuda itu merasa kasihan sekali, lalu mengeluarkan sapu-tangannya dan mengapus air mata yang membasahi muka gadis itu.

"Suheng...apa maksudmu? Apa yang terjadi dengan dia? Bukankah ibu berada di Pulau Es dan aku sudah mewakilinya?" mendengar tentang ibunya, seketika lupalah Swat Hong akan kemarahan dan kedukaan hatinya sendiri.

"Ibumu juga telah pergi meninggalkan Pulau Es...," dengan singkat Sin Liong lalu menceritakan apa yang terjadi setelah gadis itu lari pergi dari Pulau Es, betapa ibunya juga pergi, tidak mau disuruh tinggal di Pulau Es setelah puterinya membuang diri ke Pulau Neraka. "Sumoi, ketika aku tidak melihatmu di sini, tadinya aku mengharapkan karena engkau sudah bertemu dengan ibumu. Jadi engkau belum bertemu dengan ibumu?"

Gadis itu mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala, wajahnya kelihatan muram mendengar akan kepergian ibunya.

"Ah, kalau begitu ke manakah perginya ibumu?" Sin Liong termenung dan diam-diam dia pun merasa prihatin sekali akan nasib wanita itu.

Tiba-tiba Swat Hong berdiri dan mengepal tinju, mukanya agak pucat ketika dia berkata, "Aku mau pergi dari sini sekarang juga! Aku harus mencari ibu sampai ketemu, dan aku tidak akan kembali ke Pulau Es! Aku tidak akan sudi menggantikan ibu di Pulau Neraka ini pula. Bukankah ibu sudah meninggalkan Pulau Es sehingga percuma saja aku mewakilinya?"

"Nanti dulu, Sumoi. Kau tidak bisa pergi begitu saja, tentu mereka akan menghalangimu!"

"Aku tidak takut! Yang menghalangi aku akan kubunuh!"

"Sabarlah, Sumoi. Perlu apa kita mencari permusuhan dengan mereka yang berjumlah banyak? Bukan soal takut atau tidak takut, akan tetapi mereka adalah manusia-manusia yang bernasib buruk sekali, dipaksa tinggal di tempat seperti neraka ini. Bahkan mereka boleh dibilang senasib dengan ibumu dan denganmu sendiri. Selain itu ke manakah kita harus mencari ibumu? Kalau kita berbaik dengan mereka, bukankah kemudian mereka dapat membantu kita mencari? Dengan tenaga banyak orang kukira akan lebih mudah mencari ibumu yang tidak jelas ke mana perginya itu."

Swat Hong dapat dibujuk dan akhirnya dia duduk di atas bangku sambil mengerutkan alisnya dengan wajah muram. Betapa pun juga, setelah dia sadar bahwa cemburunya terhadap suheng-nya dan Soan Cu tidak berdasar, kini terasalah olehnya betapa hatinya sesungguhnya merasa lega dan senang karena dapat bertemu dan berkumpul dengan suheng-nya, apalagi di tempat yang berbahaya ini.

Beberapa hari telah lewat dan Soan Cu setiap hari minum ‘obat’ yang terbuat dari daun-daun seperti yang dilukiskan oleh Sin Liong. Setiap hari kakeknya bertanya dan dia menjawab bahwa penyakit yang dideritanya, rasa nyeri seperti yang dinyatakan Sin Liong itu berangsur-angsur sembuh! Girang bukan main hati kakek itu, akan tetapi hati Swat Hong yang mendongkol melihat betapa Soan Cu seolah-olah mengulur waktu ‘penyembuhannya’!

Pada hari ke tujuh, Ouw Kong Ek dan Soan Cu mendatangi pondok tempat tinggal Sin Liong dan Swat Hong. Dua orang muda dari Pulau Es ini memang sudah menunggu di depan pondok dengan hati tidak sabar, menanti berita kesembuhan total Soan Cu. Maka mereka menyambut ketua Pulau Neraka dan cucunya itu dengan penuh harapan karena melihat betapa wajah kedua orang pendatang itu berseri.

Setelah tiba di depan mereka, Soan Cu segera berkata, "Sin Liong, Kakek merasa berterima kasih sekali kepadamu dan menyetujui kau melanjutkan pengobatan dengan menggunakan sinkang!"

"Apa...?!"

Akan tetapi kata-kata Sin Liong yang bingung dan tidak mengerti itu segera diputus oleh Soan Cu, "Bukankah dulu kau katakan, setelah beberapa hari minum obat penawar racun, kau akan melenyapkan sama sekali hawa beracun itu dengan menggunakan sinkang menyedot ke luar hawa itu dari punggungku?"

Ouw Kong Ek tertawa. "Orang muda she Kwa. Kalau bukan engkau yang sudah kupercaya penuh, tentu aku tidak mengijinkan pengobatan ini. Akan tetapi aku sudah percaya kepadamu, maka silakan. Mudah-mudahan saja dalam waktu singkat cucuku akan sembuh sama sekali." Setelah berkata demikian, kakek itu membungkuk ke arah Sin Liong dan Swat Hong, lalu meninggalkan cucunya.

"Soan Cu, apa maksudmu?" Sin Liong segera berbisik menegur.

"Huh, tentu ingin berduaan denganmu di dalam kamar, apa lagi?" Swat Hong mengejek.

"Hushhh, harap kalian jangan ribut-ribut," bisik Soan Cu. "Mari kita masuk ke kamar dan bicara." dia menggandeng tangan Sin Liong dan diajaknya masuk.

Melihat Swat Hong cemberut, Sin Liong berkata, "Sumoi, marilah."

"Aku tidak sudi menggangu kalian!"

"Aih Enci Hong, mengapa begitu? Yang hendak kubicarakan adalah kepentingan kalian berdua. Marilah," kata Soan Cu.

Agaknya memang dara Pulau Neraka ini tidak pernah mengerti apa yang diejekkan oleh Swat Hong. Agaknya cara hidup di Pulau Neraka membuat dia kurang mengerti akan tata susila sehingga tak pernah merasa melanggar sesuatu biar pun dia memasuki kamar berdua dengan seorang pemuda. Sambil bersungut-sunggut menyembunyikan rasa malunya bahwa dia telah menduga yang bukan-bukan, Swat Hong ikut masuk.

"Aku memang berpura-pura, mengulur panjang waktu penyembuhan. Semua ini karena aku mendengar bahwa Kongkong dan para pembantunya tidak ingin membebaskan kalian setelah aku sembuh."

"Keparat! Kongkong-mu memang bukan manusia baik-baik! pantas menjadi ketua di Pulau Neraka! Aku akan menemuinya!"

"Hushhh, Sumoi. Bersabarlah, dan mari kita dengar kata-kata Soan Cu."

Dengan muka muram Swat Hong duduk lagi dan memandang wajah Soan Cu. Wajah yang manis sekali, pikirnya, manis dan polos. Pantaslah kalau andai kata Sin Liong jatuh cinta kepada gadis ini, pikirnya lagi dan hatinya merasa berdebar penuh khawatir.

"Kongkong telah berjaga-jaga dan mempersiapkan anak buahnya, menjaga kalau-kalau kalian melarikan diri. Berbahaya sekali."

"Habis bagaimana baiknya, Soan Cu?"

"Ada jalan," kata dara yang lincah dan cerdik itu. "Menurut pendengaranku ketika Kongkong merundingkan di kamar rahasia bersama para pembantunya yang paling dipercaya, Kongkong tidak berniat buruk kepada kalian. Setelah kau dapat menyembuhkan aku, maka Kongkong membutuhkan engkau sebagai ahli pengobatan di pulau ini. Dia hendak menahanmu agar kau dapat mengobati setiap penghuni yang terserang penyakit. Ada pun Enci Hong ditahan di sini sebagai sandera, untuk menahan kekuasaan Pulau Es."

"Keparat...!"

"Jangan marah, Enci Hong. Kurasa kita harus menghadapi Kongkong yang berwatak kasar dengan sikap dan akal halus. Kalau aku sudah sembuh, yaitu kalau kunyatakan bahwa aku sudah sembuh sama sekali, sedikit banyak Kongkong tentu akan berterima kasih. Kemudian Liong-ko...heh, Sin Liong mengajarkan Kongkong mengenal daun obat-obatan dengan janji akan membebaskan kalian. Kurasa Kongkong akan mau menerimanya karena sebenarnya yang dibutuhkan adalah pengetahuan tentang ilmu pengobatan itu. Dengan demikian, kalau kalian meninggalkan pulau ini, kalian akan dianggap sebagai sahabat dan penolong. Bagaimana?"

"Kurasa baik juga akal ini," kata Sin Liong.

"Hemm, terserahlah. Akan tetapi jangan ada akal bulus di balik semua ini!" Swat Hong mengancam.

Soan Cu menarik napas panjang. "Enci Hong, harap jangan mencurigai aku. Aku sudah menyesal sekali menjadi seorang yang terlahir di tempat ini. Aku ingin melanjutkan cita-cita Ayah-bundaku yang kabarnya dahulu juga selalu berusaha agar penghuni Pulau Neraka tidak menjadi orang liar yang tidak mengenal prikemanusiaan," setelah berkata demikian, Soan Cu pergi meninggalkan pondok itu dengan muka tunduk.

"Seorang anak yang baik...," Sin Liong memuji sambil memandang tubuh dara itu yang melangkah pergi meninggalkan pondok.

"Maksudmu, seorang dara yang cantik dan berbudi!"

Tanpa menoleh Sin Liong mengangguk. "Memang, dia cantik dan berbudi."

“Huh! Sudah kusangka demikian!"

Sin Liong menoleh kaget dan memandang wajah sumoinya. "Sumoi, apa maksudmu?"

Swat Hong membuang muka. "Hemm, tidak apa-apa. Begitulah!" lalu dia lari memasuki kamarnya, membanting daun pintu keras-keras.

Sin Liong menggeleng kepalanya. Makin tidak mengerti dia akan sikap wanita pada umumnya, dan saat itu sikap Swat Hong khususnya. Juga sikap Soan Cu yang amat aneh, kalau mengingat bahwa dia adalah cucu ketua Pulau Neraka yang berwatak aneh dan kejam.

Semua terjadi seperti direncanakan oleh Soan Cu. Setelah dara itu mengaku sembuh sama sekali dan Sin Liong bersama Swat Hong menghadap ketua untuk minta pembebasan, Ouw Kong Ek malah menggelengkan kepalanya.

"Kwa Sin Liong, kami berterima kasih sekali atas penyembuhan penyakit cucuku, dan untuk jasamu itu, kami tidak akan menggangu kalian, bahkan menganggap kalian sebagai orang-orang berjasa. Akan tetapi, terpaksa kami tidak dapat membebaskan kalian karena kami amat membutuhkan engkau sebagai ahli pengobatan di pulau ini. Maka, harap kalian suka mengerti akan kebutuhan kami ini. Tinggallah di sini dan menjadi orang-orang terhormat, menjadi pembantuku yang paling baik," kata Ouw Kong Ek.

"Tocu, aku mengerti akan kebutuhan Tocu dan para penghuni Pulau Neraka. Akan tetapi sungguh tidak adil kalau menyuruh kami tinggal di sini selamanya, apa lagi amat tidak adil bagi Sumoi. Betapa pun juga, karena aku mengerti akan kebutuhan kalian semua, biarlah sekarang diatur begini saja. Aku akan sementara waktu tinggal di sini mengajarkan ilmu pengobatan kepada Tocu, akan tetapi kuminta agar Sumoi sekarang juga dibebaskan, diberi sebuah perahu agar Sumoi dapat pergi lebih dahulu meninggalkan Pulau Neraka. Ada pun aku sendiri, kalau Tocu sudah mengenal semua daun dan bahan pengobatan, baru aku akan pergi dari sini. Bagaimana?"

Ketua Pulau Neraka itu mengerutkan alisnya, lalu melirik kearah cucunya yang duduk di sebelahnya dan menundukan kepala saja.

"Hemmm, boleh juga sumoi-mu pergi. Biar pun dia puteri Han Ti Ong, akan tetapi mengingat akan jasamu, biarlah dia kami bebaskan. Akan tetapi kau... ah, aku sangat mengharapkan agar engkau menjadi... keluarga kami, orang muda," kembali dia mengerling ke arah Soan Cu dan gadis itu makin menundukan mukanya yang menjadi merah sekali.

"Benar sekali, dia amat cocok menjadi jodoh Nona Ouw!" beberapa orang pembantu berkata sambil tertawa-tawa, sikap mereka bebas terbuka.

"Aku tidak mau pergi!" tiba-tiba Swat Hong berkata lantang. "Kalau Suheng tinggal di sini mengajarkan ilmu pengobatan, aku akan tinggal di sini juga sampai pelajaran itu selesai. Dan kalau... kalau ada pengantin di sini, kalau Suheng diambil mantu, aku pun harus menjadi saksinya!" ucapan itu sebetulnya dikeluarkan dengan gejolak kemarahan dan kepanasan hati Swat Hong, akan tetapi para pembantu Ouw Kong Ek menyambutnya dengan suara ketawa.

Tentu saja Sin Liong kaget sekali mendengar ucapan sumoi-nya itu. Ada kesempatan yang amat baik terbuka bagi Swat Hong untuk membebaskan diri dari pulau berbahaya itu, dan kesempatan itu dibuang begitu saja oleh Swat Hong! Dia telah mengenal watak Swat Hong. Sekali bilang tidak mau, dipaksa sampai mati pun tidak akan mau tunduk! Maka dia menjadi bingung sekali.

"Tocu, karena Sumoi tidak mau pergi sendiri lebih dulu, maka biarlah perjanjian kita diubah. Aku akan memberi pelajaran ilmu pengobatan kepada Tocu. Setelah Tocu mengenal bahan obat untuk melindungi penghuni pulau ini, aku dan Sumoi boleh pergi dengan bebas. Bagaimana?" berkata Sin Liong.

Ketua Pulau Neraka itu mengelus-elus dagunya dengan alis berkerut. Berkali-kali dia melirik ke arah cucunya. Dia adalah seorang yang sudah tua. Biar pun tidak pernah terjun ke dunia ramai, namun dia tahu bahwa cucunya jatuh hati kepada pemuda yang hebat ini. Dan dia tidak melihat seorang pemuda lain di Pulau Neraka yang kiranya patut menjadi suami cucunya! Tentu saja hatinya tidak rela kalau pemuda itu pergi meninggalkan pulau, karena dia tahu bahwa hal itu tentu akan mengecewakan hati cucunya. Maka dia hanya menggeleng-geleng kepala, tanpa dapat menjawab.

Melihat keraguan ketuanya, seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih melaju maju. Orang ini kepalanya gundul botak akan tetapi mukanya penuh brewok, tubuhnya kurus kecil dan di lehernya ada seekor ular merah melingkar. Dia adalah pembantu utama dari Ouw Kong Ek, seorang yang lihai ilmu kepandaiannya dan bernama Lo Thong. Berbeda dengan Majikan Pulau Neraka yang merupakan keturunan orang buangan, maka Lo Thong sendiri adalah seorang buangan dari Pulau Es.

Tiga puluh tahun yang lalu dia dibuang dari Pulau Es karena sebagai seorang pemuda dia banyak melakukan kejahatan. Setelah berada di Pulau Neraka dia memperdalam ilmu-ilmunya dan menjadi orang ke dua yang terkuat setelah Ouw Kong Ek, yaitu sesudah putera Ouw Kong Ek yang bernama Ouw Sian Kok, ayah Soan Cu menjadi gila dan meninggalkan pulau. Maka dia diangkat sebagai pembantu utama oleh Ouw Kong Ek.

"Twako (Kakak)," Lo Thong berkata. Tidak seperti lain penghuni Pulau Neraka yang menyebut ketua mereka Tocu (majikan pulau), dia menyebutnya kakak. "Mengapa Twako bingung menghadapi urusan dua orang anak-anak ini? Betapa pun juga, mereka berada di pulau ini dan seharusnya mereka tunduk kepada semua perintah Twako yang menjadi hukum di sini. Kalau mereka hendak mengambil keputusan sendiri, boleh saja akan tetapi mereka harus lebih dulu dapat mengalahkan kita!" kata Lo Thong.

Ouw Kong Ek memandang pembantunya dengan muka berseri, seolah-olah dia terlepas dari keadaan yang ruwet. "Kalau begitu, bagaimana baiknya, Lo-tee?"

"Menurut saya, lebih baik diadakan pertandingan antara pemuda She Kwa ini dan Twako. Kalau dalam pertandingan itu dia kalah, maka dia dan Sumoinya harus selamanya tinggal di sini dan menjadi penghuni pulau ini seperti kita semua."

"He, Botak! Enak saja kau bicara! Siapa bilang Suheng ku kalah oleh ketua kalian? Habis, kalau kemudian ketua kalian yang kalah, bagaimana?" Swat Hong berteriak nyaring.

"Twako kalah? Ha-ha, mana mungkin?" Lo Thong menjawab. "Akan tetapi kalau Twako kalah, biarlah pemuda She Kwa ini mengajarkan ilmu pengobatan sampai Twako pandai, baru kalian berdua boleh pergi meninggalkan pulau ini dengan bebas."

"Usul yang bagus sekali!" Ouw Kong Ek berseru gembira. "Kwa Sin Liong, aku mendengar bahwa di dunia ramai, di daratan sana, orang-orang gagah menggunakan kepandaian untuk memutuskan sebuah perkara yang ruwet. Aku percaya bahwa engkau tentu seorang gagah pula. Maka biarlah kita membereskan urusan ini dengan mengukur kepandaian masing-masing seperti yang diusulkan oleh pembantuku Lo Thong."

Sin Liong menggeleng kepalanya. "Tocu, aku tidak suka menggunakan ilmu yang kupelajari untuk kekerasan. Mengapa Tocu hendak menggunakan cara kekerasan untuk menahan kami berdua selamanya di pulau ini? Aku sudah bersedia mengajarkan ilmu pengobatan, maka sudah sepatutnya kalau Tocu membalasnya dengan membebaskan kami.”

"Tidak kita harus saling mengukur kepandaian dulu!" ketua itu berkeras.

Tiba-tiba Swat Hong melompat ke tengah lapangan dan membusungkan dada menegakkan kepalanya. "Hayolah! Kalau Suheng tidak mau, biarlah aku yang melayanimu! Siapa sih takut kepada orang Pulau Neraka? Aku yang memasuki pertandingan itu, dan kalau kalah, boleh kalian berbuat apa saja sesuka kalian!"

"Sumoi...!!" Sin Liong menegur.

"Suheng, aku tidak takut!" Swat Hong membantah.

Ouw Kong Ek mengerutkan alisnya. "Soan Cu, kau layani bocah liar yang sombong ini!" katanya.

"Baik Kongkong." Soan Cu bangkit berdiri dan melangkah maju, akan tetapi segera berhenti ketika mendengar suara Sin Liong.

"Soan Cu harap jangan bertanding. Di antara kita tidak ada permusuhan, bukan?"

Soan Cu meragu, memandang kepada Kongkong-nya, kemudian kepada Sin Liong, dan akhirnya dia kembali duduk di tempatnya yang tadi.

"Soan Cu...," kakeknya menegur.

"Kongkong, aku tidak mau bertanding. Mereka bukan musuhku."

Mata kakek itu terbelalak, akan tetapi dia tidak marah bahkan lalu tertawa bergelak. "Kau... kau lebih taat kepadanya? Ha-ha-ha-ha!"

Dia tertawa karena sikap cucunya itu jelas membuktikan betapa cucunya benar-benar telah jatuh cinta kepada Sin Liong! Sampai-sampai berani membangkang terhadap perintahnya hanya karena Sin Liong menghendaki demikian.

Makin panaslah hati Swat Hong. Tadinya dia sudah siap-siap untuk menjatuhkan cucu ketua Pulau Neraka itu, selain agar menang pertandingan juga hendak memperlihatkan kepada Suheng-nya bahwa dia lebih pandai dari pada Soan Cu. Akan tetapi, ternyata Suheng-nya melarang Soan Cu dan dan putri Pulau Neraka itu begitu taat!

"Ouw Kong Ek, kalau cucumu tidak berani maju, biarlah kau sendiri yang maju! Hayo tandingilah aku, puteri Raja Pulau Es!" dia menantang-nantang dengan suara penuh kemarahan.

Sin Liong hanya menggeleng kepalanya dan bingung sekali bagaimana harus mencegah sumoi-nya. Kembali kakek itu menjadi marah. Tantangan yang keluar dari mulut Swat Hong membuat mukanya merah dan telinganya panas. Akan tetapi betapa memalukan kalau dia harus menandingi seorang bocah perempuan yang usianya sebaya dengan cucunya sendiri!

"Twako, perkenankanlah saya menghajar bocah bermulut lancang ini" Lo Thong berkata.

Ouw Kong Ek mengangguk, akan tetapi masih ingat dan memesan, "Akan tetapi cukup beri hajaran saja, jangan sampai dia terbunuh."

"Baik saya mengerti, Twako," Lo Thong menjawab, lalu sekali kakinya bergerak, tubuhnya sudah mencelat ke depan Swat Hong.

Menyaksikan ginkang yang hebat ini diam-diam Sin Liong khawatir sekali. Akan tetapi dia pun tidak dapat mencegahnya karena maklum, kalau dia melarang Sumoi-nya tentu akan menjadi makin nekat saja. Maka dia hanya bangkit berdiri dan memandang dengan jantung berdebar tegang.

Swat Hong memandang kakek botak yang berdiri di depannya, lalu berkata dengan suara mengejek, "Apakah pertandingan ini akan memutuskan perjanjian tadi, bahwa kalau aku menang kami berdua boleh pergi dari sini?"

"Tidak," jawab Lo Thong. "Pertandingan ini hanya mengenai dirimu, kalau kau menang kau boleh pergi, kalau kau kalah, kau harus tinggal di sini selamanya dan menjadi muridku."

"Setan alas! Siapa takut padamu?!" Swat Hong yang sudah kena dibakar hatinya itu membentak.

"Sumoi, tanpa pertandingan pun kau boleh pergi sekarang juga!" Sin Liong berteriak.

"Tidak, Suheng. Aku merasa kurang terhormat kalau pergi begitu saja. Aku tidak sudi menerima kebaikan orang-orang Pulau Neraka. Kalau aku pergi berarti aku pergi mengandalkan kepandaian aku sendiri, bukan karena kebaikan hati mereka. Hayo, kakek botak, boleh kau keluarkan segala ilmumu!"

"Bocah sombong, sambutlah ini!" Lo Thong merasa panas juga perutnya melihat sikap dara remaja yang memandang rendah kepadanya itu. Akan tetapi dia pun maklum bahwa dara ini tentu memiliki kepandaian tinggi sebagai puteri Raja Pulau Es, maka sekali menyerang, dia telah mengeluarkan kepandaiannya, mengeluarkan jurus yang ampuh dan mengerahkan tenaga sinkang-nya.

"Wuuuttt... sirrr...! Desss!"

Mula-mula Lo Thong menggerakkan tubuhnya rendah ke bawah, seolah-olah lengan kirinya yang bergerak itu hendak menangkap kaki Swat Hong. Akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya meninggi, tangan kanannya meluncur dan mencengkram ke arah pinggang dara itu.

Namun Swat Hong yang usianya belum lima belas tahun itu telah mewarisi inti kepandaian dari ilmu-ilmu kesaktian Pulau Es. Dengan tenang dia melihat bahwa bukan tangan kiri lawan yang berbahaya melainkan tangan kanannya. Maka dia cepat menarik kaki kiri dan menangkis dengan sabetan tangan miring dari samping yang mengenai lengan lawan.

Lo Thong mencelat ke belakang dan inilah kehebatan ginkang-nya. Gerakannya bukanlah langkah kaki, melainkan loncatan yang membuat tubuhnya mencelat ke sana-sini dengan amat cepatnya dan sama sekali tidak terduga oleh lawan.

"Sumoi, awasilah gerakannya. Ginkang-nya lihai!" Sin Liong berseru.

Diam-diam Lo Thong mendongkol juga. Ternyata pemuda itu lihai sekali, baru segebrakan saja sudah mengenal di mana letak keampuhannya. Maka dia lalu menggereng dan menubruk maju, menghujani Swat Hong dengan serangan bertubi-tubi.

Swat Hong diam-diam terkejut juga. Ternyata bahwa pembantu utama dari ketua Pulau Neraka ini hebat bukan main. Setiap gerakan tangannya mendatangkan angin keras menyambar dan kecepatannya membuat dia pening karena harus menggerakkan kekuatan matanya untuk mengikuti terus gerakan lawan. Namun tentu saja dia tidak menjadi gentar. Sejak kecil dara remaja ini tidak pernah mengenal artinya takut, dan dia pun mengeluarkan kepandaiannya untuk membalas dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya.

Semua mata memandang pertandingan itu dengan penuh perhatian. Diam-diam Soan Cu merasa kagum sekali kepada Swat Hong dan dia harus mengaku dalam hatinya bahwa andai kata tadi dia yang maju, dia akan kalah menghadapi kelihaian dara Pulau Es itu, maka dia merasa makin bersyukur kepada Sin Liong yang tadi mencegahnya maju melawan Swat Hong. Apakah pemuda itu sudah tahu bahwa dia akan kalah kalau melawan Swat Hong? Soan Cu melirik ke arah Sin Liong dan melihat betapa wajah pemuda yang tampan itu diliputi kekhawatiran, maka dia kembali menyaksikan pertandingan yang hebat itu.

Tubuh mereka berdua yang bertanding itu sudah tidak dapat kelihatan jelas, yang tampak hanya dua bayangan berkelebatan ke kanan-kiri dengan cepat sekali. Ginkang yang dikuasai oleh Lo Thong memang hebat sekali, akan tetapi sekarang dia berhadapan dengan puteri Raja Han Ti Ong dari Pulau Es! Biar pun masih kalah sedikit namun Swat Hong dapat mengimbangi kecepatan lawan, bahkan dapat mendesak dengan ilmu silatnya yang luar biasa dan tenaga sinkang-nya yang berdasarkan hawa murni dari im-kang yang dingin.

Ilmu silat yang dimainkan oleh Swat Hong adalah ilmu silat tangan kosong Jit-cap-ji-seng (Tujuh Puluh Dua Bintang) yang mempunyai tujuh puluh dua jurus-jurus ampuh. Sebagai bekas penghuni Pulau Es sebelum Swat Hong terlahir, tentu Lo Thong mengenal ilmu ini, bahkan ilmu silatnya sediri pun bersumber pada ilmu silat Pulau Es. Akan tetapi setelah dua puluh tahun lebih berada di Pulau Neraka dan mempelajari ilmu-ilmu dari Pulau Neraka, maka ilmu silatnya menjadi campur aduk dan tentu saja kalah murni oleh ilmu silat yang dimainkan oleh Swat Hong. Pula Lo Thong dahulu belum mempelajari Jit-cap-ji-seng sampai habis, hal yang jarang dilakukan penghuni Pulau Es kecuali keluarga raja.

Mulailah Lo Thong terdesak oleh serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Swat Hong. Ingin sekali Lo Thong menggunakan senjatanya, yaitu ular hidup yang melingkar di lehernya, namun dia takut akan pesan ketuanya tadi. Kalau dia menggunakan senjata itu dan sekali lawan tergigit mati tentu dia akan mendapat marah besar. Maka dia lalu berteriak keras dan mengerahkan seluruh ilmunya meringankan tubuh.

"Aihhh...!" Swat Hong terkejut ketika melihat betapa tubuh lawan dapat bergerak lebih cepat lagi. Dalam serangkaian serangan yang tak terduga saking cepatnya, hampir saja pundaknya kena dicengkeram.

Swat Hong berseru sambil meloncat keatas tinggi sekali, kemudian bagaikan seekor burung walet tubuhnya sudah membalik di udara, menukik kebawah dan dia sudah melancarkan serangan dengan jurus Kak-seng-jip-hai (Bintang Terompet Memasuki Laut), jurus terakhir yang paling ampuh dan yang dulu dilatihnya dengan ibu dan ayahnya sehingga dia mahir sekali mainkan jurus ini. Hebat bukan main daya serang jurus ini karena selagi tubuh meluncur turun dengan menukik kebawah, kedua tangannya sudah bergerak mencengkram kearah ubun-ubun kepala lawan yang botak itu!

"Hayaaa...!" kini Lo Thong yang kaget ketika merasa ada hawa dingin menyentuh ubun-ubun kepalanya dari atas.

Maklum bahwa serangan itu merupakan ancaman maut bagi dirinya, dia tidak berani lengah. Cepat dia membuang diri kebelakang sehingga dia terjengkang, kemudian menggunakan ginkang-nya untuk berguling di atas lantai. Dengan gerakan ini, biar pun pakaiannya kotor terkena debu, namun dia selamat dan dapat menghindarkan diri dari serangan jurus Kak-seng-jip-hai tadi. Akan tetapi betapa terkejutnya melihat dara itu sudah meloncat ke depan dan baru saja dia bangkit berdiri, Swat Hong sudah menghantamnya dengan kedua tangan didorongkan ke depan.

"Haiiittt!!" Swat Hong berseru nyaring dan mengerahkan tenaga sinkang-nya.

"Sumoi, jangan...!" Sin Liong berteriak kaget ketika melihat betapa sumoi-nya itu menggunakan tenaga Swat-im-sin-ciang (Tenaga Pukulan Inti Salju) yang merupakan sinkang paling ampuh dari Pulau Es!

Untuk melatih diri agar bisa menguasai tenaga im-kang yang amat kuat ini, orang harus bersamadhi di atas salju tanpa pakaian, dan melewati malam-malam yang dinginnya menyusup tulang! Dan sebagai puteri Raja Han Ti Ong, tentu saja Swat Hong telah menguasai sinkang itu yang kini dipergunakan untuk menyerang selagi lawan terdesak.

"Ciaattt...!!" Lo Thong juga berteriak keras dan cepat dia menolak hawa serangan itu dengan dorongan kedua tangannya.

Dua tenaga sinkang bertemu tanpa kedua pasang telapak tangan itu bersentuhan dan akibatnya, Lo Thong terhuyung ke belakang dan dari ujung bibirnya mengucur darah! Sambil menggereng keras, Lo Thong yang merasa penasaran itu melompat ke depan menerkam, akan tetapi Swat Hong yang sudah siap menyambutnya dengan sebuah tendangan dari samping yang tepat mengenai pantat Lo Thong dan membuat tubuhnya terlempar jauh ke arah tempat duduk Ouw Kong Ek!

Ketua Pulau Neraka ini marah sekali. Tangannya bergerak menyambut tubuh itu dan tahu-tahu tubuh Lo Thong sudah melayang lagi ke arah Swat Hong. Akan tetapi ternyata bahwa ketika menyambut tadi, Ouw Kong Ek yang lihai telah menotok dua jalan darah di pungung pembantunya yang seketika merasa dadanya lega kembali. Begitu dia dilontarkan ke arah Swat Hong, dengan nekat dia sudah menyerang dengan kedua lengan dikembangkan, kedua tangan hendak mencengkram tubuh gadis itu.

Swat Hong terkejut sekali, tidak menyangka bahwa tubuh lawan akan secepat itu melayang kembali ke arahnya. Maka dia berteriak dan maklum akan bahaya yang mengancam karena dia tidak sempat mengelak lagi!

Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Sin Liong telah berada di dekat sumoi-nya. Dengan tangan kiri dia menarik tubuh sumoi-nya dan dengan tangan kanan dia menyampok ke atas. Kedua tangan Lo Thong tertangkis, bahkan tubuh orang botak ini terdorong miring dan cepat dia meloncat ke atas lantai dengan mata terbelalak heran dan kagum akan kehebatan tenaga pemuda itu. Maklum bahwa dia tak mampu menang, dia lalu mengundurkan diri di dekat ketuanya dengan muka penuh keringat.

"Bagus! Puteri Han Ti Ong lumayan juga kepandaiannya, boleh coba-coba dengan aku sendiri!" Ouw Kong Ek turun dari kursinya dan melangkah ke tengah lapangan.

"Baik, majulah! Aku tidak takut menghadapimu!" Swat Hong menantang.

"Sumoi, mundurlah! Biar aku menghadapi Ouw Tocu," Sin Liong mencegah sumoi-nya.

"Tidak, aku akan menghadapi sendiri!"

Sin Liong melangkah menghampiri Ouw Kong Ek dan berkata, "Ouw-tocu, benarkah Tocu menantang sumoi ku ini? Harap Tocu suka melihat baik-baik. Sumoi-ku adalah seorang anak perempuan yang usianya sebaya dengan cucumu, sehingga kalau Tocu menantangnya sama artinya dengan Tocu menantang seorang cucu! Kalau Tocu tidak malu bertanding dengan seorang anak perempuan yang sepatutnya menjadi cucumu, silakan. Kalau Tocu cukup gagah, biarlah aku menerima tantanganmu tadi, mari kita bertanding mengukur kepandaian. Kalau aku kalah, terserah kepada Tocu. Kalau aku menang, setelah aku mengajarkan ilmu pengobatan, Tocu akan membiarkan kami berdua pergi dari pulau ini dengan aman. Bagaimana?"

"Aku tidak takut! Suheng, biar aku melawan dia, aku tidak takut!" Swat Hong berteriak-teriak.

Ouw Kong Ek memandang kepada dara muda dan mukanya berubah merah. Memang tidak keliru omongan Sin Liong tadi. Bocah itu masih amat muda, masih kanak-kanak sebaya Soan Cu. Seorang anak-anak dan perempuan lagi! Tentu saja akan amat merendahkan dirinya kalau sampai dia menantang seorang anak perempuan kecil!

"Baiklah, mari kita mengadu kepandaian, Kwa Sin Liong," katanya.

Sin Liong menoleh kepada sumoi-nya. "Nah, kau dengar. Yang ditantang adalah aku, bukan kau, Sumoi. Mundurlah."

Swat Hong membanting-banting kaki, terpaksa dia mundur. Akan tetapi lebih dulu dia berkata kepada Ouw Kong Ek, "Aku selalu masih siap untuk melayani jago Pulau Neraka yang mana pun juga."

Ouw Kong Ek dan Sin Liong sudah saling berhadapan. Keduanya saling pandang tanpa bergerak, seolah-olah hendak mengukur dan menilai keadaan lawan dengan pandangan matanya. Melihat sikap pemuda yang amat tenang itu, juga pancaran sinar matanya lembut dan bebas dari rasa takut mau pun kebencian dan kemarahan, hati Ouw Kong Ek menjadi makin suka. Melihat sikap pemuda ini, sukar untuk dipercaya bahwa pemuda ini adalah murid Han Ti Ong, Raja Pulau Es yang sakti. Kelihatannya hanya seperti seorang pemuda yang lemah, pantasnya seorang sastrawan yang biasanya hanya membaca sajak dan menulis huruf indah atau meniup suling.

"Orang muda, mulailah!" Ouw Kong Ek berkata. Ia ragu-ragu untuk menggunakan kepandaiannya menyerang orang yang kelihatannya lemah ini.

"Ouw-tocu, bukan aku yang menghendaki adu kepandaian ini, maka biarlah aku hanya menjaga diri saja."

Jawaban yang keluar dengan suara lembut dan sejujurnya itu setidaknya memanaskan hati Ouw Kong Ek karena kedengarannya seolah-olah pemuda itu memandang rendah kepadanya. Pemuda ini sama sekali tidak gentar menghadapinya, hal itu sama saja memandang rendah!

"Kwa Sin Liong, sambutlah seranganku!" bentaknya dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, gerakannya perlahan saja namun didahului sambaran angin pukulan dari kedua telapak tangannya.

"Wuuttt... wuuttt!!" hawa pukulan yang dahsyat dua kali menyambar ke arah leher dan pusar Sin Liong ketika kakek itu menggerakkan kedua tangannya memukul.

Dengan tubuh ringan sekali Sin Liong menggeser kaki dan berhasil mengelak sampai berturut-turut enam kali. Ternyata bahwa pukulan kakek itu begitu luput dari sasaran terus dilanjutkan dengan serangan berikutnya tanpa berhenti sedikit pun, sehingga enam kali berturut-turut kedua tangannya menyambar dahsyat dari segala jurusan! Barulah Sin Liong dapat membebaskan diri dari kepungan kedua tangan itu ketika dia meloncat jauh ke belakang, dan siap lagi menghadapi serangan berikutnya.

"Bagus!" Ouw Kong Ek berseru kagum melihat betapa pemuda itu dengan enak saja sudah berasil menghindarkan diri dari serangan pukulan yang dinamakan Jurus Pukulan Badai Mengamuk. Kemudian dia menerjang lagi.

Kini dia tidak bergerak lambat lagi, melainkan cepat sekali. Kaki tangannya bergerak dengan cepatnya, gerakan yang aneh namun setiap gerakan mengandung daya serang yang amat berbahaya. Kembali Sin Liong menyambut serangan-serangannya itu dengan tenang dan hati-hati, mengelak ke sana-sini dan hanya kalau terpaksa dia menggunakan kedua tangannya untuk menangkis atau menyampok. Perlahan saja pemuda itu menangkis, namun selalu tangkisannya yang membawa hawa pukulan Im-kang itu berhasil menghalau tangan lawan!

Sampai tiga puluh jurus lebih Sin Liong selalu mengelak dan menangkis tanpa satu kalipun membalas serangan lawan! Tentu saja hal ini membuat Ouw Kong Ek kagum sekali. Pemuda ini sudah diserangnya dengan hebat, didesaknya sampai keadaannya berbahaya, namun tetap tidak mau membalas.

"Eh, Suheng, kau tidak membalas, apa kau merasa phai-seng-gi (sungkan) kepada orang yang hendak memunggut mantu kepadamu?" Swat Hong berteriak-teriak penuh penasaran ketika melihat suheng nya bertempur seperti orang mengalah saja.

Merah muka Sin Liong. Memang dia tidak mau membalas karena dia selamanya belum pernah memukul orang! Dia memang mempelajari silat yang tinggi sekali tingkatannya. Dari kitab-kitab lama yang rahasia dan tak pernah dibaca orang di dalam perpustakaan Pulau Es, dia menemukan ilmu-ilmu mukjijat, di antaranya ilmu mengenal inti gerakan semua ilmu silat. Akan tetapi dia merasa sungkan dan ngeri kalau harus memukul orang lain, apalagi kepada kakek yang sama sekali tidak ada permusuhan apa-apa dengannya itu.

Kini mendengar ejekan Swat Hong, dia merasa tidak enak dan hatinya terguncang. Guncangan ini memperlambat gerakan tangannya, maka ketika dia menangkis sebuah pukulan, tangkisannya meleset dan pukulan tangan kiri Ouw Kong Ek menyerempet pundaknya. Tubuhnya tergetar hebat dan dia terhuyung ke belakang.

Ouw Kong Ek yang merasa penasaran sekali kini maklum bahwa kalau pemuda itu membalas serangannya, mungkin dia akan kalah! Maka melihat hasil pukulannya yang membuat Sin Liong terhuyung dia cepat mendesak maju. Dia harus mengalahkan pemuda ini karena dia ingin sekali pemuda ini menjadi penghuni Pulau Neraka, dan kalau mungkin menjadi suami Soan Cu. Dan untuk itu, dia harus lebih dulu merobohkannya. Maka dia cepat mendesak selagi tubuh Sin Liong terhuyung ke belakang itu.

"Wuuut-plak-plak! Wuuut-plak-plak!!"

Pukulan-pukulan tangan Ouw Kong Ek hebat sekali. Setiap kali Sin Liong yang masih terhuyung itu mengelak, pukulan itu berubah menjadi cengkeraman yang amat lihai namun selalu tangan Sin Liong masih dapat menyampoknya! Bahkan pemuda itu berseru keras, tubuhnya melayang keatas, berjungkir balik dua kali dan sudah turun lagi ke atas lantai dengan tubuh tegak dan sudah siap lagi!

Ouw Kong Ek makin penasaran. Cepat dia menerjang maju, kedua kakinya bergerak cepat dengan tendangan berantai yang cepat dan kuat sekali. Kedua kaki itu seperti kitiran saja sehingga kelihatannya kakek ini berkaki lebih dari dua yang bergerak susul-menyusul melakukan tendangan ke arah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Sin Liong.

"Siuut-siutt...! Dess!!" Setelah berhasil mengelak ke kanan-kiri, Sin Liong terdesak ke sudut dan terpaksa dia menggunakan kedua lengannya menangkis sambil mengerahkan tenaga inti salju.

Tubuh Ouw Kong Ek menggigil, terasa dingin sekali tubuhnya, rasa dingin yang menjalar melalui kaki yang tertangkis. Dia menggoyang tubuhnya beberapa kali dan rasa dingin sudah terusir. Dia memandang lawannya dengan mata terbelalak lebar. Kemudian kakek ini mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya sudah melayang ke atas, lalu menukik kearah Sin Liong.

Sin Liong terkejut sekali. Dia maklum bahwa serangan terakhir ini bukan main hebatnya. Maka dia pun lalu berteriak keras dan tubuhnya juga mencelat ke atas menyambut tubuh lawannya, kedua lengannya digerakkan di depan tubuhnya.

"Plak-plak... bruukkk!!" tubuh Ouw Kong Ek terbanting ke atas lantai, dan hanya setelah dia bergulingan beberapa kali saja dia dapat bangun dengan agak pening.

“Bukan main,” pikirnya.

Dia tadi melakukan serangan dahsyat, serangan maut yang akan sukar disambut oleh lawan yang sakti. Akan tetapi pemuda itu menyambutnya di udara, memapaki pukulan dengan pukulan sehingga kedua telapak tangan mereka bertemu di udara dan akibatnya dia sendiri yang terbanting keras!

"Belum cukupkah, Tocu?" Sin Liong bertanya dengan suara penuh penyesalan karena dia dipaksa untuk bertempur, hal yang sama sekali tidak disukainya.

"Hmm, aku belum mengaku kalah, orang muda!" Dan kini kakek itu menyerang lagi dengan ilmu silat yang gerakannya cepat sekali, akan tetapi juga aneh.

Swat Hong yang menonton di pinggir, memandang penuh perhatian dengan alis berkerut. Dia merasa heran sekali. Ilmu silat yang dimainkan oleh kakek itu seperti pernah dilihatnya, seperti bukan gerakan asing, namun mengapa begitu aneh dan sama sekali tidak dikenalnya?

Memang tidak mengherankan hal ini terjadi pada Swat Hong karena ilmu silat yang dimainkan kakek itu memang bersumber pada ilmu silat Pulau Es, hanya sudah diubah banyak sekali menjadi ilmu silat ciptaan nenek moyang Pulau Neraka! Bahkan kini dari kedua telapak tangan kakek itu mengepul uap hitam, dari mulutnya juga menyembur uap hitam yang kadang-kadang menyambar ke arah muka Sin Liong.

Sebagai seorang ahli pengobatan, Sin Liong segera mengenal hawa beracun keluar dari uap hitam itu, maka dia bersikap hati-hati setiap kali ada uap hitam menyambar. Sementara itu, sambil mengelak dan menangkis dia mencurahkan seluruh perhatiannya. Dengan ilmu mukjijat yang didapatnya dari kitab, yaitu mengenal rahasia inti gerakan ilmu silat, dia sudah dapat mencatat dan hafal akan jurus-jurus yang dimainkan oleh lawannya.

"Suheng, balaslah lawanmu! Apa kau takut?" Swat Hong berteriak lagi.

Ouw Kong Ek yang sudah merah mukanya saking penasaran dan malu karena merasa dipandang rendah dan dipermainkan, membentak, "Orang muda, berani engkau memandang rendah kepadaku sehingga tidak mau balas menyerang?"

Sin Liong terkejut bukan main. Sama sekali tidak mengira bahwa sikapnya yang mengalah dan tidak mau balas menyerang itu malah dianggap memandang rendah oleh kakek itu dan dianggap takut oleh Swat Hong! Tadinya dia hanya mengharapkan kakek itu akan tahu diri dan mundur sendiri. Siapa kira, kakek itu keras kepala dan tidak akan mengaku kalah kalau tidak dirobohkan! Dalam keadaan seperti itu, tidak ada pilihan lain bagi Sin Liong. Dia menggigit bibirnya menguatkan hati, karena menyerang orang merupakan hal yang berlawanan dengan hatinya, lalu kaki tangannya bergerak cepat sekali.

Terdengarlah seruan-seruan kaget dari mulut para pembantu Ouw Kong Ek, bahkan belasan jurus kemudian, setelah dengan susah payah Ouw Kong Ek mengelak dan menangkis, kakek ini berseru keras dan tubuhnya terguling.

"Heiiii... dari mana engkau mendapatkan ilmuku ini?" kakek yang sudah terguling karena kedua lututnya tercium ujung sepatu Sin Liong itu meloncat bangun lagi sambil bertanya dengan mata terbelalak dan penuh keheranan.

Selama belasan jurus tadi, dia telah diserang oleh Sin Liong dengan ilmu silatnya sendiri dan pada jurus ke lima belas, dia tidak mampu menghindar sehingga kedua lututnya tertendang, membuat dia terguling dan kalau pemuda itu menghendaki, ketika ia terguling tadi tentu pemuda itu dapat menyusulkan serangan maut yang dapat menewaskannya!

Sin Liong menjura dan melangkah mundur. "Aku hanya meniru-niru dari Tocu sendiri...."

Ouw Kong Ek makin terheran dan sejenak dia melongo, kemudian dia melangkah maju dan memegang kedua tangan pemuda itu. "Kwa Sin Liong... engkau hebat sekali! Aku mengaku kalah terhadap Kwa-taihiap (Pendekar Besar Kwa)! Aku telah dirobohkan secara mutlak, bahkan dengan jurus-jurus ilmu silatku sendiri! Dia ini adalah seorang pendekar besar yang memiliki kesaktian seperti dewa!"

Semua penghuni Pulau Neraka membungkuk dan memberi hormat kepada Sin Liong!

Tentu saja pemuda itu cepat membalas penghormatan mereka dengan memutar-mutar tubuhnya sambil berkata tersipu-sipu, "Aahhh, harap Cuwi (Anda sekalian) jangan berlebihan..."

"Kwa-taihiap, aku Ouw Kong Ek sudah mengaku kalah. Harap Taihiap suka mengajarkan ilmu pengobatan itu agar kami dapat terbebas dari hawa beracun yang banyak terdapat di pulau ini. Setelah aku paham, kami akan mempersilakan Taihiap dan Han-lihiap (Pendekar Wanita Han) meninggalkan pulau ini dengan aman."

"Baik, Ouw-tocu. Aku akan melakukan penyelidikan tentang racun-racun di pulau ini dan berusaha mencarikan obat penawanya."

Soan Cu berlari menghampiri Sin Liong dan berkata, "Sin Liong, kau hebat sekali! Aku sungguh kagum kepadamu," sambil berkata demikian, Soan Cu memegang kedua tangan Sin Liong dan mengangkat muka memandang wajah Sin Liong penuh kekaguman.

"Ahhh, engkau terlalu memuji, Soan Cu. Sebetulnya adalah Kongkong mu yang sengaja mengalah kepadaku," kata Sin Liong, dan mukanya menjadi merah.

Dia maklum bahwa Soan Cu seorang dara remaja yang berhati polos dan wajar, maka di depan semua orang tanpa segan-segan menyatakan kekagumannya dan memegang kedua tangannya begitu saja. Akan tetapi hal ini tentu saja menimbulkan anggapan salah, dan dia sudah melihat betapa Swat Hong membuang muka dengan wajah diselubungi kemarahan, bahkan akhirnya dara itu lalu membalikan tubuh dan berlari pergi!

Sampai tiga bulan lamanya Sin Liong dan Swat Hong di Pulau Neraka. Dengan teliti dan hati-hati Sin Liong melakukan penyelidikan tentang segala macam racun yang terdapat di pulau itu. Kemudian dia mencarikan obat penawarnya dan menulis serta melukiskan nama dan bentuk daun, akar, bunga, atau buah yang berkhasiat sebagai penawar racun-racun itu. Sibuklah ketua Pulau Neraka, dan para pembantunya mencarikan bahan-bahan obat itu dan setelah tiga bulan, barulah lengkap catatan Sin Liong.

Ouw Kong Ek dan semua penghuni Pulau Neraka merasa berterima kasih sekali kepada Sin Liong, apalagi setelah terbukti banyak penghuni yang sembuh dari penderitaan penyakit akibat keracunan setelah menggunakan obat-obat seperti yang ditunjuk oleh pemuda itu. Dia dianggap sebagai seorang dewa penolong mereka dan diperlakukan dengan sikap penuh hormat.

Setelah ‘terpaksa’ tinggal di Pulau Neraka selama tiga bulan, akhirnya Swat Hong mendapatkan kenyataan bahwa Soan Cu adalah seorang remaja yang benar-benar tulus, jujur dan wajar sehingga mudah saja di antara mereka terjalin persahabatan yang akrab. Bahkan karena dara Pulau Neraka itu dengan terang-terangan tanpa dibuat-buat dan tanpa usaha menarik hati Sin Liong menyatakan suka dan cintanya kepada Sin Liong, Swat Hong menyambut pernyataan itu dengan hati terharu.

Diam-diam Swat Hong menaruh hati kasihan kepada dara Pulau Neraka ini karena dia tahu bahwa hati suheng nya itu jauh daripada cinta! Suheng-nya belum pernah mengacuhkan tentang hubungan di antara mereka, juga suheng-nya sama sekali tidak kelihatan menaruh hati kepada Soan Cu. Dianggapnya suhengnya itu terlalu ‘dingin’ dan sudah seringkali dia sendiri merasa kecewa melihat suhengnya sebagai seorang pemuda yang tidak ada semangat!

Padahal dia sendiri belum yakin apakah dia mencintai suhengnya. Sungguh pun dia merasa suka sekali kepada pemuda itu, namun sebagai seorang dara remaja tentu saja dia merasa tidak puas menyaksikan sikap pemuda yang ‘dingin’ saja terhadapnya. Sebagai seorang wanita muda yang sehat dan normal, tentu saja Swat Hong juga ingin agar semua orang, terutama kaum pria, memandangnya dengan kagum dan suka. Bahkan dia pun seperti semua wanita di dunia ini, agaknya akan merasa bangga kalau semua orang laki-laki jatuh cinta kepadanya!

Hari keberangkatan mereka meninggalkan Pulau Neraka pun tibalah. Sin Liong dan Swat Hong diantar oleh semua penghuni Pulau Neraka sampai ke pantai, di mana telah tersedia sebuah perahu yang lengkap dengan layar, dayung, dan bekal makanan. Soan Cu mengantar dengan berlinang air mata. Semenjak tadi dara ini menangis, bahkan rewel kepada kakeknya hendak ikut pergi bersama Sin Liong dan Swat Hong.

"Hushhh, apakah kau gila?" demikian kakeknya menjawab. "Kau hendak ikut ke Pulau Es? Tidak tahukah kau bahwa semua penghuni Pulau Neraka dilarang menginjakkan kaki ke Pulau Es? Begitu kau tiba di sana, kau akan dijatuhi hukuman sebagai seorang pelanggar hukum!"

Sin Liong dan Swat Hong juga melarang dengan alasan bahwa Swat Hong sendiri sedang menghadapi malapetaka, bahkan dia bersama suheng-nya sedang berusaha mencari ibunya. Selama tiga bulan ini, Ouw Kong Ek sudah mengerahkan pembantunya untuk mencari Liu Bwee, bekas istri Raja Han Ti Ong, ke pulau-pulau kosong di sekitar Pulau Neraka, namun hasilnya sia-sia belaka. Tentu saja para penghuni Pulau Neraka yang mencari itu tidak berani terlalu mendekat Pulau Es.

Setelah perahu yang ditumpangi Sin Liong dan Swat Hong pergi jauh, Soan Cu menjatuhkan dirinya menangis. "Kongkong, aku pun mau pergi dari sini. Aku tidak tahan lagi tinggal lebih lama di Pulau Neraka tanpa adanya mereka berdua! Aku harus pergi, aku harus pergi mencari ayahku, seperti Swat Hong yang pergi mencari ibunya!"

Kongkongnya hanya menggeleng kepala, menghela napas dan menggandeng cucunya yang tercinta itu kembali ke tengah pulau. Hati orang tua ini khawatir sekali karena dia tahu, bahwa cucunya telah mulai dewasa dan telah tergoda oleh cinta sehingga merasa tidak tahan lagi tinggal lebih lama di Pulau Neraka. Dia maklum bahwa agaknya takan lama lagi cucunya itu tentu akan nekat meninggalkan pulau dan kalau hal yang dikhawatirkan itu terjadi, apalagi artinya hidup baginya di pulau itu? Puteranya telah lenyap dan satu-satunya orang yang selama ini membuat hidupnya berarti hanyalah Soan Cu.

Ketika perahu mereka mendarat di Pulau Es, Sin Liong dan Swat Hong saling pandang dengan hati yang berdebar. Mereka sudah menjelajahi seluruh pulau di sekitar Pulau Es untuk mencari ibu Swat Hong, namun sia-sia belaka. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk kembali ke Pulau Es, dengan harapan mudah-mudahan ibu dara itu sudah kembali ke Pulau Es.

"Bagaimana kalau ibu tidak berada di sana? Bukankah berarti bahwa aku telah melanggar janjiku untuk mewakili ibu yang dibuang ke Pulau Neraka?" Swat Hong bertanya ketika perahu mereka tadi sudah mendekati Pulau Es.

"Jangan khawatir, Sumoi. Suhu adalah ayahmu sendiri, dan betapa pun marahnya, aku percaya bahwa Suhu akan dapat memaafkanmu. Aku percaya akan kebijaksanan Suhu, dia bukanlah seorang yang berbudi rendah...."

"Tapi dia telah terkena racun yang hebat, racun yang seratus kali lebih kejam daripada racun yang paling jahat di pulau Neraka! Dia telah terkena hasutan mulut wanita jahat itu..."

"Ssttt, Sumoi, jangan mempersulit keadaan dengan menyangka yang bukan-bukan. Sudahlah, kekhawatiranmu itu hanyalah permainan pikiran yang membayangkan hal yang belum terjadi. Singkirkan saja kekhawatiran kosong itu dan mari kita hadapi kenyataan. Percayalah, apa pun yang akan terjadi, aku tidak akan membiarkan engkau terancam bencana. Mari kita hadapi apa saja yang menimpa kita berdua."

"Suheng... betulkah? Betulkah kau akan membela dan melindungi aku?"

"Tentu saja, Sumoi."

"Menghadapi Ayah sekali pun?"

"Menghadapi siapa saja, karena aku yakin bahwa engkau tidak mempunyai kesalahan apa pun."

"Kalau begitu, aku menjadi besar hati, Suheng. Mari kita mendarat."

Hati Swat Hong makin tegang dan juga terheran-heran ketika dia melihat betapa beberapa orang penghuni Pulau Es yang kebetulan berada di situ segera berlari pergi menuju ke tengah pulau, bahkan tidak berhenti ketika dia dan suhengnya memanggil mereka. Makin tidak enak perasaan mereka, namun dengan tenang Sin Liong mengajak sumoi-nya untuk menuju ke Istana Pulau Es di tengah pulau itu, menemui Raja Han Ti Ong dan bertanya tentang Liu Bwee.

Tak lama kemudian, keduanya berhenti tiba-tiba ketika melihat raja itu sendiri berlari-lari datang bersama permaisuri dan pembantu-pembantu yang terpercaya. Tadinya Swat Hong merasa girang, wajahnya berseri karena dia mengira bahwa ayahnya datang menyambutnya dengan girang melihat dia pulang. Akan tetapi betapa kagetnya ketika ayahnya sudah tiba di depan mereka, langsung raja Han Ti Ong menudingkan telujuknya ke arah mereka sambil membentak, "Manusia-manusia rendah! Kalian masih berani menginjakkan kaki di Pulau Es? Membikin kotor pulau ini? Keparat!"

"Ayah...!!"

“Suhu...!!"

"Plak! Plak!!" tubuh Sin Liong dan Swat Hong terguling ketika tangan Raja itu dengan kecepatan kilat telah menampar mereka.

Dengan alis berdiri Raja Han Ti Ong menudingkan telunjuknya bergantian ke arah muka dua orang muda yang menjadi kaget setengah mati dan merangkak bangun itu. "Jangan sebut aku Ayah dan Suhu! Kalian berdua telah minggat dengan diam-diam, perbuatan yang tak tahu malu dan mengotorkan nama keluarga Han! Masih berani datang dan menyebut Ayah dan Suhu kepadaku? Huh!!"

"Ayahhh... apa... apa yang terjadi...? Mana Ibuku...?"

"Ibumu seorang yang hina, dan engkau anaknya pun tidak berbeda banyak!"

"Ayah...!"

"Diam! Dan minggat engkau dari sini sebelum kubunuh!"

"Ayah, kalau begitu bunuh saja aku! Aku tidak berdosa...!" Swat Hong yang berlutut itu menangis sesenggukan.

"Bagus! Kau minta mati?"

"Suhu...!" suara Sin Liong ini mengandung wibawa sedemikian hebatnya sehingga Han Ti Ong sendiri sampai terkejut dan menghentikan langkahnya yang hendak menghampiri puterinya.

Sepasang mata Sin Liong mengeluarkan sinar yang luar biasa dan sejenak Ha Ti Ong ragu-ragu. Teringatlah dia akan keadaan dahulu ketika anak ajaib ini menyuruhnya menolong The Kwat Lin, menyuruhnya berhenti untuk menguburkan mayat-mayat. Seperti itu pula kekuatan mukjijat yang keluar dari sepasang mata itu. Sepasang mata yang sedikit pun tidak membayangkan takut, atau marah, atau kekerasan, hanya membayangkan kelembutan yang mengharukan.

"Suhu, harap suhu bersabar dulu. Sungguh tidak adil sekali menjatuhkan hukuman tanpa memberitahu kesalahan orang, sungguh pun Sumoi adalah puteri Suhu sendiri."

Bangkit kembali marah Han Ti Ong. "Sin Liong, bagus perbuatanmu, ya? Kau masih berpura-pura lagi? Dia pergi tanpa pamit, hal itu masih belum apa-apa. Akan tetapi dia pergi lalu kau susul, bersamamu pergi sampai berbulan-bulan, pantaskah itu? Kalian tidak tahu malu dan menodakan nama baik keluarga Kerajaan Han!"

Diam-diam Sin Liong terheran, mengapa Suhu-nya berubah seperti ini? Tentu saja dia tidak tahu betapa para keluarga yang membenci Liu Bwee telah menggunakan kesempatan selagi terjadi peristiwa penghukuman atas diri Liu Bwee itu untuk membakar hati raja ini, terutama sekali melalui mulut permaisuri!

"Ayah, jangan menuduh yang bukan-bukan. Aku memang pergi dan bertemu dengan Suheng, akan tetapi apakah salahnya dengan itu?"

"Hemm, apa, salahnya, ya? Tidak salahkah kalau seorang pemuda dan seorang dara berdua saja sampai hampir setengah tahun lamanya? Mungkinkah tidak akan terjadi apa-apa antara kalian di tempat sunyi dan hanya berdua saja?! Hem... hemmm... siapa percaya tidak akan terjadi apa-apa yang kotor?" ucapan ini keluar dari mulut permaisuri The Kwat Lin yang tersenyum mengejek.

"Ibu, kalau Enci Hong dan Suheng melakukan hubungan gelap, kawinkan saja mereka. Mengapa ribut-ribut?" tiba-tiba Bu Ong, putera raja yang baru berusia kurang lebih delapan tahun itu berkata dengan suara nyaring.

"Hussshhh! Tutup mulutmu!" Kwat Lin membentak puteranya yang segera cemberut, tapi memandang kepada Swat Hong dan Sin Liong dengan pandang mata mengejek.

Hampir saja Swat Hong tak dapat percaya akan apa yang didengarnya. Ayah dan ibu tirinya menuduh dia berjinah dengan Sin Liong! Dengan dada sesak dan kemarahan yang meluap-luap, Swat Hong lupa diri dan meloncat bangun, menjerit dengan kata-kata yang seperti dilontarkan kepada ayahnya, "Ayah! Mengapa ada fitnah sekeji ini? Ayah, insyaflah. Ayah telah dikelabui, Ayah telah mabuk oleh rayuan...."

"Plak! Desss!!" tubuh Swat Hong terlempar dan terguling-guling ketika terkena tamparan dan pukulan tangan ayahnya sendiri.

"Suhu, ini tidak adil sama sekali!"

"Plak! Desss!!!" tubuh Sin Liong juga terjungkal.

Akan teapi pemuda ini sudah meloncat bangun kembali. Sedikit pun tidak merasa takut, bahkan kini dia memandang tajam kepada Han Ti Ong. "Suhu, andai kata Suhu memukul teecu sampai mati sekali pun, sudah sepatutnya karena teecu hanyalah seorang murid yang telah menerima banyak kebaikan dari Suhu dan teecu rela membalasnya dengan nyawa. Akan tetapi, Sumoi adalah puteri Suhu sendiri, darah daging suhu sendiri! Mengapa Suhu begitu tega? Di manakah rasa kasih di hati Suhu?"

"Keparat!" Han Ti Ong memaki dengan suara gemetar saking marahnya. Melihat betapa Sin Liong berani menentangnya untuk membela Swat Hong, makin besar pula kepercayaannya akan desas-desus bahwa puterinya main gila dengan muridnya ini. "Kau mau memberi kuliah kepadaku? Kalau dia orang lain, aku tidak akan peduli apa yang dilakukannya. Justru karena dia anaku dan aku cinta kepada anakku, maka aku perlu menghajarnya!"

"Hemmm, begitukah cinta di hati Suhu? Cinta Suhu siap untuk berubah menjadi kemarahan, kebencian yang meluap karena Suhu merasa bahwa puteri Suhu tidak menyenangkan hati Suhu? Itu bukan cinta, Suhu! Suhu hanya mementingkan diri sendiri. Kalau disenangkan hati Suhu, biar orang lain sekali pun akan Suhu perlakukan dengan baik. Akan tetapi kalau hati Suhu dikecewakan, biar anak sendiri akan dibunuh!"

"Plak-plak! Dess...!" kembali tubuh Sin Liong terjungkal dan kini darah mengucur dari mulut dan hidungnya.

"Suheng...! Ahhh, Ayah... Jangan...!" Swat Hong sudah meloncat ke depan dan menubruk suheng-nya.

"Anak durhaka, murid murtad!”

“Dess!" kini Swat Hong yang mengeluh dan terjungkal terkena tendangan ayahnya yang sedang marah itu.

Masih untung bagi mereka berdua bahwa Han Ti Ong hanya berniat menghajar dan menghukum, kalau berniat membunuh, tentu mereka sudah tak benyawa lagi. Saking marahnya, biar pun melihat murid dan puterinya sudah beberapa kali dihantam dan ditendangnya sampai mulut dan hidung mengeluarkan darah serta muka mereka bengkak-bengkak, Han Ti Ong masih saja menghajar mereka.

"Ongya, harap ampunkan mereka...." Tiba-tiba beberapa orang pembantu utama berlutut di depan Raja yang marah ini dan menyabarkan hatinya.

Han Ti Ong berdiri dengan napas terengah-engah, mata terbelalak dan muka merah sekali. Dia menjadi hampir putus napas saking marahnya. "Hemmm, mereka ini bocah-bocah kurang ajar yang layak dibunuh!" katanya.

"Ongya, sejak dahulu belum pernah ada hukuman dilaksanakan tanpa diadili lebih dulu. Harap Ongya ingat akan keadilan Kerajaan Pulau Es yang sudah terkenal semenjak ratusan tahun," kata seorang pembantu yang sudah berusia lanjut.

Han Ti Ong menghela napas panjang dan dia teringat. Sebetulnya dia sedang berada dalam keadaan duka dan kecewa. Duka mengingat akan istrinya, Liu Bwee, yang kini menimbulkan penyesalan di dalam hatinya karena dia pun mulai meragukan kesalahan istrinya itu. Kecewa karena serangkaian peristiwa yang tidak menyenangkan hatinya, mengganggu ketentraman hidupnya di Pulau Es.

"Anak durhaka, untung engkau belum kubunuh! Kau boleh membela diri, kalau memang masih ada yang akan kau katakan!"

Dengan tubuh sakit-sakit dan hampir pingsan, Sin Liong masih dapat membantu Sumoinya bangkit duduk. Bahkan tanpa mempedulikan keadaan dirinya sendiri, dia menyusuti peluh, air mata dan darah dari muka sumoi-nya, kemudian menarik sumoi-nya untuk berlutut di depan raja yang sedang marah itu.

"Sumoi, laporkanlah semuanya kepada Suhu...," bisiknya.

"Apa gunanya? Biarlah aku dibunuh! Biarlah Ibu lenyap tak berbekas dan akan dibunuhnya... tentu akan puas hatinya... hu-hi-huuukkk...." Swat Hong menangis terisak-isak.

Melihat keadaan puterinya ini, tersentuh juga rasa hati Raja Han Ti Ong. "Sin Liong, hayo ceritakan apa yang terjadi! Kami semua menuduh kalian berdua selama berbulan-bulan dan tentu kalian telah melakukan perbuatan yang tidak senonoh. Mengakulah! Awas, kalau kau membohong, akan kubunuh kau sekarang juga!"

"Suhu boleh membunuh teecu kalau teecu berbohong. Bahkan kalau teecu tidak membohong sekali pun, teecu menyerahkan nyawa teecu kepada Suhu. Sebetulnya, ketika melihat Sumoi pergi membuang diri ke Pulau Neraka dan melihat Subo juga pergi, teecu merasa kasihan dan berkhawatir sekali. Maka teecu diam-diam lalu mengejar dan menyusul ke Pulau Neraka...." Kemudian dengan panjang lebar dan jelas Sin Liong menceritakan semua pengalaman mereka di Pulau Neraka dan mengapa mereka sampai berbulan-bulan berada di pulau itu.

Berkerut Raja Han Ti Ong. Di lubuk hatinya dia percaya kepada muridnya ini. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat membohong dengan sikap seperti yang diperlihatkan muridnya. Tidak, tentu muridnya tidak berbohong. Akan tetapi hatinya masih marah dan ia makin marah ketika mendengar betapa Pulau Neraka telah berani menahan puterinya sebagai sandera!

"Swat Hong! Benarkah cerita Sin Liong?!" bentaknya kepada dara yang masih menangis sesenggukan itu.

"Apa gunanya Ayah bertanya kepadaku? Lebih baik Ayah menyelidiki sendiri ke Pulau Neraka. Kalau aku dan Suheng berbohong, boleh bunuh seribu kali juga tidak apa."

Memang sejak dahulu Swat Hong bersikap manja kepada ayah bundanya. Pula dia memiliki watak keras, tidak takut mati, maka dalam keadaan seperti itu pun dia bersikap berani dan menantang!

"Siapkan pasukan tiga puluh orang untuk ikut bersamaku ke Pulau Neraka!" Raja itu memerintah kepada pembantunya dengan suara marah.

Pada hari itu juga dia berangkat bersama tiga puluh orang pasukan menuju ke Pulau Neraka! Dapat dibayangkan betapa kagetnya para penghuni Pulau Neraka ketika diserbu oleh pasukan Pulau Es yang dipimpin oleh Raja Han Ti Ong sendiri! Ouw Kong Ek sendiri yang maju dan berusaha melawan, tapi dalam belasan jurus saja telah dirobohkan dan dipaksa menceritakan apa yang terjadi ketika puteri Raja Pulau Es itu berada di Pulau Neraka. Dengan kebencian dan dendam yang makin mendalam, Ouw Kong Ek menceritakaan keadaan sebenarnya, tepat seperti yang telah didengar oleh Han Ti Ong dari mulut Sin Liong.

Maka mulailah raja ini merasa menyesal mengapa dia telah terburu nafsu menghajar, bahkan hampir saja membunuh Sin Liong dan Swat Hong yang sebetulnya tidak berdosa. Mulailah dia teringat bahwa kemarahannya itu timbul karena bujukan dan kata-kata yang membakar dari permaisurinya. Dia menjadi marah sekali dan kemarahannya itu dilampiaskannya di Pulau Neraka. Pulau itu diobrak-abrik, sebagai hukuman telah berani menahan puterinya. Bahkan kitab catatan Sin Liong tentang racun dan pengobatannya, dihancurkan dan dibakarnya!

Setelah puas melampiaskan kemarahannya, Han Ti Ong memimpin pasukannya meninggalkan Pulau Neraka, meninggalkan para penghuni yang banyak menderita luka lahir batin itu. Dalam sekejap raja ini telah menanamkan dendam yang makin menghebat di dalam hati para penghuni Pulau Neraka. Sepekan kemudian, barulah rombongan Han Ti Ong tiba kembali di Pulau Es.

Wajah raja ini seketika pucat setelah dia mendengar berita yang lebih hebat dan mengejutkan lagi, yaitu bahwa sehari setelah dia dan pasukannya berangkat, permaisuri dan pangeran telah pergi meninggalkan Pulau Es! Dan hingga kini belum pulang. Makin terpukul lagi bathin Raja Han Ti Ong ketika dia mendapat kenyataan bahwa kitab-kitab pusaka Pulau Es telah lenyap, berikut banyak harta benda berupa emas dan permata yang disimpan di dalam kamarnya! Hampir saja dia roboh pingsan mendapat kenyataan bahwa permaisurinya, The Kwat Lin, gadis yang ditolongnya itu, ternyata telah berkhianat!

"Mengapa tidak kalian larang mereka pergi? Mengapa? Sin Liong, engkau muridku, mengapa engkau mendiamkan saja mereka pergi membawa pusaka-pusaka kita?" dalam bingung dan marahnya dia menegur Sin Liong.

"Suhu, Subo pergi hanya memberi tahu bahwa Subo bersama Sute hendak menyusul ke Pulau Neraka. Siapa yang berani menghalangi Subo? Kami semua tidak ada yang mengira bahwa Subo takkan kembali, dan tidak ada yang tahu bahwa Subo membawa sesuatu, harap maafkan teecu."

Han Ti Ong membanting-banting kakinya, lalu berlari memasuki kembali istana setelah tadi dia memeriksa dan melihat kehilangan pusaka Pulau Es. Ketika dia memanggil dua orang muda menghadap, Sin Liong dan Swat Hong melihat perubahan hebat terjadi pada diri raja sakti ini. Wajahnya menjadi suram dan gelap, sepasang mata yang biasanya bersinar dan berpengaruh itu menjadi redup seperti lampu kekurangan minyak. Dan rambut yang tadinya hanya sedikit putihnya, mendadak berubah putih hampir seluruhnya.

Suaranya tidak bersemangat ketika berkata, "Sin Long..., Swat Hong..., kalian ampunkan aku..."

"Suhu...!" Sin Liong berlutut dan menundukan muka.

"Ayah... jangan berkata begitu, Ayah...!" Swat Hong meloncat menubruknya.

Ayah dan anak itu saling berangkulan dan Sin Liong makin menundukkan mukanya ketika mendengar Suhu-nya menangis mengguguk seperti anak kecil! Setelah Han Ti Ong dapat menguasai kembali hatinya dia mencium dahi puterinya dan menyuruhnya duduk kembali. Swat Hong menyusuti air matanya dan berlutut di dekat Sin Liong.

"Aku telah berdosa. Sekarang baru aku tahu... aku telah berdosa. Mungkin sekali... tidak, aku yakin sekarang, bahwa ibu Swat Hong tidak bersalah apa-apa, hanya terkena fitnah... Aih, apa yang telah kulakukan? Dan aku hampir saja membunuhmu, Sin Liong, dan kau Swat Hong anakku. Orang macam apa aku ini? Dan aku mengaku cinta kepada anakku? Huh, huh, engkau benar, Sin Liong. Tidak ada cinta di dalam hatiku yang kotor, yang ada hanya nafsu berahi sehingga mudah saja aku dipermainkan oleh wanita itu. Aihhhh... kalian maafkan aku. Swat Hong, hanya satu pesanku kepadamu, anakku. Kau... kau jadilah jodoh Sin Liong. Jadilah kalian suami istri, baru akan terobati hatiku...."

"Suhu...!"
"Ayah...!"

"Muridku... anakku..., maukah kalian melegakan hatiku? Aku ingin menebus kesalahanku... Aku ingin melihat kalian menjadi suami istri, kalian anak-anak malang..."

"Suhu, teecu mohon ampun. Teecu.. tidak ada dalam hati teecu untuk memikirkan soal jodoh...."

"Ayah, mengenai jodoh tidak dapat ditentukan begitu saja. Biarkan kami menentukannya sendiri."

Han Ti Ong menarik napas panjang, memejamkan mata sebentar, kemudian bangkit berdiri. Ia membalikkan tubuh dan berjalan memasuki kamarnya meninggalkan dua orang muda yang masih berlutut itu. Semenjak saat itu, sampai berhari-hari lamanya, Raja itu tidak pernah keluar dari kamarnya sehingga membuat gelisah semua pembantunya.

Keadaan di Pulau Es tidak seperti biasa, semua penghuni dapat merasakan ini. Semenjak terjadinya peristiwa yang memalukan dan menyedihkan menimpa keluarga Raja Han Ti Ong, keadaan Pulau Es sunyi dan semua wajah para penghuni kelihatan muram. Bahkan cuaca juga seolah-olah berubah suram, seringkali malah menjadi gelap oleh mendung tebal. Hati semua orang merasa gelisah tanpa mereka ketahui sebabnya, seolah-olah merupakan tanda rahasia bahwa akan terjadi hal-hal lebih hebat lagi.

Peristiwa menyedihkan yang menimpa Han Ti Ong bisa menimpa diri setiap orang, dan memang kita sebagai manusia hidup selalu terlupa bahwa mengejar kesenangan sama artinya dengan memanggil kesengsaraan! Kita hidup dibuai khayal akan keadaan yang lebih baik, lebih menyenangkan dari pada keadaan seperti apa adanya. Kita tidak pernah membuka mata, tidak pernah menghayati keadaan saat ini, tidak dapat melihat bahwa saat ini mencakup segala keindahan.

Dengan membandingkan keadaan kita dengan keadaan lain, kita selalu menganggap bahwa keadaan buruk tidak menyenangkan, dan kita selalu memandang jauh kedepan, mencari-cari dan menghayalkan yang tidak ada, keadaan yang kita anggap lebih menyenangkan. Karena kebodohan kita inilah maka kita hidup dikejar-kejar oleh kebutuhan setiap saat, detik demi detik kita mengejar kebutuhan.

Kebutuhan adalah keinginan akan sesuatu yang belum tercapai, yang kita kejar-kejar. Lupa bahwa kalau yang satu itu dapat tercapai, di depan masih menanti seribu hal lain yang akan menjadi keinginan dan kebutuhan kita selanjutnya. Maka, berbahagialah dia yang tidak membutuhkan apa-apa! Bukan berarti menolak segala kesenangan, melainkan tidak mengejar apa-apa, sehingga kalau ada sesuatu yang datang menimpa diri, bukan lagi merupakan kesenangan atau kesusahan, melainkan dihadapi sebagai suatu yang sudah wajar dan semestinya sehingga tampaklah keindahan yang murni!

Demikian pula keadaan Raja Han Ti Ong. Dia seorang yang sakti dan bijaksana namun tiba saatnya dia lengah dan menganggap bahwa dia menemukan kebahagiaan dalam diri The Kwat Lin. Padahal yang dia temukan hanyalah kesenangan yang timbul dari kenikmatan badani, dari terpuaskannya nafsu. Dia seolah-olah hidup di alam khayal, di alam mimpi. Setelah dia sadar dari mimpi, terasa bahwa yang manis menjadi pahit bukan main, baru sadar bahwa perubahan dari senang ke susah sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan! Dan menang kalah, suka dan duka hanyalah dwi muka (kedua muka) dari sebuah tangan yang sama!

Perahu kecil itu terayun-ayun ke kanan-kiri, seperti menari-nari karena tidak dikuasai oleh layar mau pun dayung, melainkan sepenuhnya dikuasai oleh air laut yang tenang. Dua orang yang duduk di perahu itu seperti dua buah arca, diam dan pandang mata mereka melayang jauh ke kaki langit, melayang-layang di permukaan laut seperti mencari-cari sesuatu yang hilang.

Dan memang pikiran Sin Liong dan Swat Hong, dua orang di perahu itu, sedang mencari-cari jawaban pertanyaan hati mereka sendiri. Pulau Es hanya kelihatan sebagai sebuah garis putih mendatar dekat kaki langit. Mereka berangkat pagi-pagi meninggalkan Pulau Es, setelah tiba di tempat jauh yang sunyi ini, mereka menggulung layar dan membiarkan perahu mereka dibuai gelombang kecil. Mereka sudah lama berdiam diri seperti itu, dibuai oleh lamunan masing-masing, lamunan yang timbul karena keadaan di Pulau Es yang menyedihkan.

"Suheng...," suara panggilan Swat Hong ini lirih saja, namun karena sejak tadi mereka tidak mendengar suara apa-apa, maka suara panggilan ini seolah-olah mengandung getaran hebat yang memenuhi seluruh ruang kesunyian.

Sin Liong menoleh dan dia pun seolah-olah baru sadar dari alam mimpi. "Hemmm...?" jawabannya masih ragu-ragu.

"Suheng mengajakku meninggalkan pulau, setelah tiba di sini, mengapa suheng tidak lekas bicara melainkan melamun saja?"

"Aku terpesona akan keindahan alam yang sunyi ini, Sumoi...."

"Aku pun tadi terseret, Suheng. Akan tetapi melihat batu karang menonjol di depan itu, aku tersadar. Apakah aku akan menjadi setua batu karang itu yang kerjanya hanya termenung di tempat sunyi? Suheng, kau tadi bilang bahwa engkau mengajakku ke tengah laut untuk membicarakan urusan kita. Mengapa harus ke sini?”

"Engkau sudah mengerti sendiri. Fitnah yang dilontarkan kepada kita, bahwa ada terjadi sesuatu yang rendah di antara kita, membuat aku merasa tidak enak kalau mengajak kau bicara berdua saja di tempat sunyi di atas pulau itu. Dapat menimbulkan prasangka yang bukan-bukan. Karena itulah maka kuajak ke sini, agar kita dapat bicara dengan tenang dari hati ke hati tanpa ada yang mendengar dan melihat. Pula, kuharap di tempat yang sunyi ini, yang membuat kita seolah-olah berada di dalam alam lain, kita akan menemukan ilham..."

Swat Hong tertawa. Timbul kembali kegembiraan dara ini setelah dia tidak berada di Pulau Es yang membuat dia selama ini ikut muram dan berduka. "Wah, Suheng! Kadang-kadang kau bicara seperti seorang pendeta saja! Apa sih yang akan dibicarakan sampai-sampai kau membutuhkan ilham segala?"

"Mari kita bicara tentang cinta, Sumoi."

Wajah dara muda jelita itu terheran. Matanya memandang terbelalak dan perlahan-lahan kedua pipinya menjadi agak kemerahan. "Aihh... apa maksudmu, Suheng?"

Sin Liong menarik napas panjang, dan menyentuh tangan sumoinya. "Perlukah aku menjelaskan lagi? Suhu, Ayahmu sedang dilanda duka dan kedukaannya yang terakhir kali ini adalah menyangkut hubungan antara kita. Suhu menghendaki agar kita berjodoh, dan kita secara jujur telah menyatakan tidak setuju akan kehendaknya itu. Dan memang kita benar, Sumoi. Perjodohan tidak bisa ditentukan begitu saja, karena perjodohan merupakan hal gawat bagi seseorang, akan melekat selama hidupnya. Akan tetapi bagaimana kita tahu kalau hal ini tidak kita bicarakan secara terus terang? Maka, agar kita dapat mengambil keputusan yang tepat tentang kehendak Suhu ini, marilah kita bicara tentang cinta!"

"Hemm, bicaralah. Aku tidak tahu apa-apa," kata Swat Hong yang tentu saja merasa malu untuk bicara tentang hal yang asing baginya itu.

"Swat Hong, apakah kau cinta kepadaku?"

Dara itu makin merah mukanya. Tak disangkanya bahwa suhengnya akan bertanya secara langsung seperti itu sehingga dia merasa seperti diserang dengan tusukan pedang yang amat dahsyat! Dia mengangkat muka memandang suheng-nya dengan bingung. "Aku... aku... ah, aku tidak tahu...," dan dia menundukan mukanya.

"Sumoi, sudah sering aku melihat sikapmu yang aneh. Engkau marah-marah ketika kita berada di Pulau Neraka. Engkau cemburu melihat Soan Cu berbuat baik kepadaku, dan kau tidak senang melihat kongkong-nya hendak menjodohkan Soan Cu dengan aku. Sumoi, aku tidak tahu apa cemburu itu tandanya cinta? Akan tetapi, jawablah demi pemecahan persoalan yang kita hadapi ini. Cintakah kau kepadaku?"

Disinggung-singgung tentang sikapnya di Pulau Neraka yang jelas menandakan rasa cemburunya, Swat Hong menjadi makin malu. Dicobanya untuk menjawab, akan tetapi begitu dia bertemu pandang dengan suheng-nya, dia menjadi makin malu dan ditutupinya mukanya dengan kedua tangan. Kepalanya digeleng-gelengkan dan dia berkata, "Aku tidak tahu... aku tidak tahu...! Kau saja yang bicara, Suheng. Kau saja yang menjawab apakah kau cinta padaku atau tidak!"

Dan kini Swat Hong menurunkan kedua tangannya, sepasang matanya yang bening itu kini dengan penuh selidik menatap wajah Sin Liong!

Sin Liong menarik napas panjang. "Itulah yang membingungkan hatiku selama ini, Sumoi. Mau bilang tidak mencintaimu, buktinya aku suka kepadamu. Akan tetapi untuk menyatakan bahwa aku cinta padamu, sulit pula karena aku sendiri tidak tahu bagaimana sesungguhnya cinta itu. Apakah seperti cintanya suhu terhadap ibumu yang berakhir dengan peristiwa menyedihkan itu? Ataukah seperti cintanya ibumu kepada Suhu? Ataukah seperti cintanya The Kwat Lin dan Suhu? Hemm, mengapa semua cinta itu demikian palsu dan mengakibatkan hal yang amat menyedihkan? Aku menjadi ngeri melihat cinta macam itu, Sumoi."

Swat Hong memandang heran. "Ahhh, aku tidak pernah memikirkan cinta seperti yang kau kemukakan ini, Suheng."

"Mudah saja. Lihat saja apa yang terjadi antara Suhu, ibumu, dan The Kwat Lin. Seperti itukah cinta? Hanya mendatangkan cemburu, kemarahan, kebencian, dan permusuhan hebat. Apakah itu cinta? Kalau seperti itu, aku ngeri dan aku tidak berani berlancang mulut menyatakan cinta kepada siapa pun, Sumoi. Karena kalau hanya seperti itu akibatnya, maka cinta yang kunyatakan hanyalah merupakan kembang bibir belaka, hanya cinta palsu belaka. Bayangkan saja, Sumoi. Di antara kita berdua, sejak kecil sampai sekarang menjelang dewasa, tidak pernah ada pertentangan dan tidak pernah ada urusan apa-apa. Akan tetapi, setelah kita berdua mengaku cinta, lalu timbul soal-soal ceburu, kecewa dan lain-lain. Apalagi setelah menjadi suami istri...hemm, betapa mengerikan kalau melihat contoh yang kita saksikan di Pulau Es ini."

Swat Hong menunduk dan tak mampu menjawab. Persoalan yang diajukan oleh Sin Liong itu terlampau berat baginya, sulit untuk dimengerti. Baginya sebagai seorang wanita, dia haus akan cinta kasih, akan perhatian, akan pemanjaan dari seorang pria yang menyenangkan hatinya, seperti suheng-nya ini. Akan tetapi, setelah mendengar uraian Sin Liong tentang cinta yang diambilnya peristiwa di Pulau Es sebagai contoh, dia pun ngeri dan tidak berani menyatakan perasaanya itu.

"Aku tidak tahu, Suheng..., aku tidak mengerti. Terserah kepadamu sajalah...."

Sin Liong kembali menarik napas panjang. Dia memang sudah mengambil keputusan di dalam hatinya bahwa dia harus membalas budi kebaikan Suhu-nya yang sudah berlimpah-limpah diberikan kepadanya. Satu-satunya jalan untuk membalas budi hanya dengan menyenangkan hati Suhu-nya yang sedang berduka itu. Dia harus menerima keputusan Suhunya, yaitu menerima menjadi jodoh Swat Hong! Akan tetapi dia tidak boleh membuat dara itu menderita dengan keputusannya ini, maka dia harus tahu terlebih dahulu bagaimana pendirian Swat Hong. Dan sekarang dara itu sama sekali tidak berani mengaku tentang cinta.

"Sumoi, sekarang begini saja. Andai kata aku memenuhi permintaan Suhu, yaitu mau menerima ikatan jodoh denganmu, menjadi calon suamimu, bagaimana dengan pendapatmu?"

Swat Hong menunduk dan menggigit bibirnya. Akhirnya dia dapat berbisik. "Aku tidak tahu, terserah kepadamu dan kepada Ayah..."

"Maksudku, apakah engkau merasa terpaksa? Apakah hal ini menyenangkan hatimu? Sumoi, harap kau suka berterus terang. Kalau kau seperti aku, tidak bisa mengaku cinta begitu saja, setidaknya kau katakan, apakah ikatan jodoh ini tidak menimbulkan penyesalan bagimu?"

Swat Hong tidak menjawab, hanya menggeleng kepala.

"Kalau begitu, andai kata aku menerima, engkau pun akan menerimanya dengan senang hati?"

Swat Hong mengangguk!

"Kalau begitu, mari kita pergi menghadap Ayahmu. Aku akan menerima permintaannya. Betapa pun juga, kita harus menghiburnya, menyenangkan hatinya. Aku telah berhutang banyak budi dari suhu, maka kalau dengan penerimaan ini aku dapat sekedar membalas budinya, aku akan merasa senang." Sin Liong mengambil dayung perahu dan mulai menggerakkan dayung itu.

"Suheng, kau menerima karena kasihan kepada Ayah? Jadi kau... kau tidak cinta kepadaku?"

"Sumoi aku tidak berani berlancang mulut mengaku cinta. Aku telah banyak menyaksikan cinta kasih yang kuragukan kemurniannya. Aku khawatir bahwa sekali cinta diucapkan dengan mulut, maka itu bukanlah cinta lagi. Aku tidak tahu, apakah cinta itu sesungguhnya, maka aku tidak berani lancang mengaku, Sumoi..."

"Ahhh...!!" Jeritan Swat Hong ini adalah campuran dari rasa kecewa dan juga kekagetan hebat. Matanya terbelalak memandang ke depan.

Melihat wajah sumoi-nya, Sin Liong cepat menengok dan pada saat itu terdengar ledakan dahsyat dibarengi dengan cahaya kilat yang seolah-olah membakar dunia. Sin Liong yang sedang terbelalak memandang itu melihat air muncrat tinggi sekali, disusul asap dan api muncul dari permukaan laut antara perahunya dan Pulau Es. Kedua orang muda yang terbelalak dengan muka pucat itu tidak berkesempatan untuk terheran lebih lama lagi karena tiba-tiba perahu mereka dilontarkan keatas. Dalam saat lain perahu itu telah dipermainkan oleh gelombang yang mendahsyat dan menggunung. Suara mengguruh memenuhi telinga mereka dan keheningan yang baru saja mencekam lautan itu kini terisi dengan kebisingan yang sukar dilukiskan.

Sin Liong berteriak, "Sumoi, bantu aku! Jangan sampai perahu terguling!"

Keduanya mengerahkan tenaga, menggunakan dayungnya untuk mengatur keseimbangan perahu. Namun, kekuatan gelombang air laut yang amat dahsyat itu mana dapat ditahan oleh tenaga manusia, biar pun kedua orang muda itu adalah tokoh-tokoh Pulau Es sekali pun? Perahu mereka menjadi permainan gelombang, dilontarkan tinggi ke atas, disambut dan diseret ke bawah. Seolah-olah ada tangan malaikat maut atau ekor naga laut yang menyeret perahu ke dasar laut, akan tetapi tiba-tiba diayun lagi ke atas, ditarik ke kanan, didorong ke kiri sehingga kedua orang murid Raja Han Ti Ong itu menjadi pening dan setengah pingsan!

Mereka tidak ingat akan waktu lagi, tidak tahu berapa lama mereka diombang-ambingkan air laut, tidak tahu lagi berapa jauh mereka terbawa ombak. Mereka tidak sempat menggunakan pikiran lagi, yang ada hanya naluri untuk menyelamatkan diri, menjaga sekuat tenaga agar perahu mereka tidak sampai terguling dan tangan mereka tidak sampai terlepas memegangi pinggiran perahu. Dengan tangan kanan memegang pinggiran perahu, tangan kiri Sin Liong memegang lengan kanan sumoi-nya. Betapapun juga, dia tidak akan melepaskan sumoinya!

Swat Hong yang biasanya tabah dan tidak mengenal takut itu, sekali ini menangis dengan muka pucat dan mata terbelalak. Terlampau hebat keganasan air laut baginya, terlampau mengerikan melihat gelombang setinggi gunung yang seolah-olah setiap saat hendak mencengkeram dan menelannya itu! Tiba-tiba Swat Hong menjerit. Segulung ombak besar datang dan menelan perahu itu. Mereka gelagapan karena ditelan air, kemudian mereka merasa betapa perahu mereka dilambungkan ke atas.

"Brukkk...!" keduanya terpental keluar, akan tetapi masih saling bergandeng tangan.

Cepat Sin Liong menyapu mukanya agar kedua matanya dapat memandang. Ternyata perahu mereka telah dilontarkan ke sebuah pulau kecil yang penuh batu karang, sebuah pulau yang menjulang tinggi akan tetapi hanya kecil-kecil sekali, merupakan sebuah batu karang besar yang menonjol tinggi.

"Sumoi, lekas...! Kita naik ke sana...!!"

Sin Liong tidak mempedulikan tubuhnya yang terasa sakit semua, membantu sumoinya merangkak bangun. Pipi kanan dan lengan kiri Swat Hong berdarah, akan tetapi gadis itu pun agaknya tidak merasakan semua ini. Tersaruk-saruk dia dibantu suheng-nya merangkak dan menyeret perahu ke atas, kemudian mereka melanjutkan pendakian ke atas puncak batu karang itu dengan susah payah. Akhirnya mereka tiba di puncak batu karang dan apa yang tampak oleh mereka dari tempat tinggi ini benar-benar menggetarkan jantung.

Di sekeliling mereka hanya air semata. Air yang menggila, bergerak berputaran, gelombang yang dahsyat menggunung, suara yang gemuruh seolah-olah semua iblis dari neraka bangkit. Batu karang besar, atau lebih tepat disebut pulau kecil dari batu itu tergetar-getar, seolah-olah menggigil ketakutan menghadapi kedahsyatan badai yang mengamuk. Tidak tampak apa-apa pula selain air, air dan kegelapan, kadang-kadang diseling cahaya menyambar dari atas seperti lidah api seekor naga yang bernyala-nyala.

"Ouhhh..!" Swat Hong menangis dan cepat dipeluk oleh suheng-nya. Tubuh dara itu menggigil, pakaiannya robek-robek.

"Tenanglah... tenanglah, Sumoi...." Sin Liong berbisik dan pemuda ini mengerti bahwa bukan hanya sumoi-nya yang disuruhnya tenang, melainkan hatinya sendiri juga!

Pengalaman ini sungguh dahsyat dan tidak mungkin dapat terlupa selama hidupnya. Kebesaran dan kekuasan alam nampak nyata. membuat dia merasa kecil tak berarti, kosong dan remeh sekali! Sin Liong dan Swat Hong yang dipeluknya tidak tahu lagi berapa lamanya mereka berada di tempat itu. Siang malam tiada bedanya, yang tampak hanya kegelapan, air, dan kadang-kadang kilatan cahaya halilintar. Yang terdengar hanyalah gemuruh air, angin menderu, dan kadang-kadang ledakan guntur. Tidak memikirkan dan merasakan apa-apa, yang ada hanya takjub dan ngeri!

Di luar tahunya dua orang itu, mereka telah berada di pulau batu karang selama sehari semalam! Akhirnya badai mereda, badai yang ditimbulkan oleh ledakan gunung berapi di bawah laut! Kegelapan mulai menipis, akhirnya tampak kabut putih bergerak perlahan meninggalkan tempat itu. Air mulai tenang dan menurun, akhirnya tampaklah sinar matahari disusul oleh bola api itu sendiri setelah kabut terusir pergi. Tampaklah lautan luas terbentang di bawah, dan baru sekarang dua orang muda itu sadar bahwa mereka duduk di puncak batu karang yang amat tinggi!

Swat Hong mengeluh, baru terasa betapa penat tubuhnya, betapa luka-luka kecil dari kulitnya yang lecet-lecet, dan betapa haus dan lapar menyiksa leher dan perut!

"Sumoi, badai sudah mereda. Mari kita turun. Aihh, itu perahu kita. Untung tidak pecah," kata Sin Liong dan dia menggandeng tangan sumoi-nya menuruni batu karang.

Perahu mereka tidak pecah, akan tetapi layar dan dayungnya lenyap. Sin Liong mengangkat perahu itu, membawanya turun kebawah.

"Mari kita lekas pulang, Sumoi. Biar kudayung dengan kedua tangan."

Swat Hong duduk di dalam perahu, mengeluh lagi dan berkata penuh kegelisahan, "Bagaimana dengan Pulau Es? Badai mengamuk demikian hebatnya, Suheng."

“Aku tidak tahu, mudah-mudahan mereka selamat. Maka dari itu, kita harus cepat pulang," suara Sin Liong bergetar walau wajahnya terlihat tetap tenang.

Dia lalu menggunakan kedua tangannya yang kuat sebagai dayung. Perahu bergerak, meluncur di atas air yang tenang dan licin seperti kaca. Sama sekali tidak ada tanda-tanda di permukaan air bahwa air itu telah mengamuk sedemikian hebatnya baru-baru ini. Tak lama kemudian Sin Liong medapatkan dayung yang dipatahkan dari batang pohon yang hanyut di air. Agaknya pulau-pulau kecil di sekitar tempat itu telah diamuk badai sedemikian hebatnya sehingga pohon-pohon tumbang dan terbawa air.

Setelah keadaan cuaca terang kembali, Sin Liong dapat menentukan arah perahu dan tak lama kemudian tampaklah Pulau Es dari jauh. Kelihatannya masih seperti biasa, sebuah Pulau keputihan memanjang di kaki langit, berkilaun tertimpa sinar matahari. Hati mereka lega. Dari jauh kelihatannya tidak terjadi perubahan di pulau itu. Setelah agak dekat, mereka melihat pula puncak atap istana di Pulau Es, maka legalah hati mereka. Hati Sin Liong mulai berdebar tegang ketika perahunya sudah menempel di Pulau Es.

Keadaannya begitu sunyi. Sunyi dan mati! Tidak kelihatan seorang pun di pantai, bahkan tidak tampak sebuah perahu pun. Dan bukit-bukit es tidak seperti biasanya, kacau-balau tidak karuan dan berubah bentuknya! Dengan hati tidak enak kedua orang muda itu belari-lari ke tengah pulau. Makin ke tengah, makin pucat wajah mereka. Tidak ada seorang pun kelihatan, dan juga pondok-pondok yang biasanya terdapat di sana-sini, sekarang habis sama sekali. Tidak ada sebuah pun pondok yang tampak! Seolah-olah semua telah disapu bersih, tersapu bersih dari pulau itu.

"Auhhh...!" Swat Hong berdiri dengan muka pucat, kedua kakinya menggigil.

"Mari kita ke istana, Sumoi!" Sin Liong yang berkata dengan suara bergetar lalu menyambar lengan sumoi-nya dan diajaknya dara itu lari ke dalam istana.

Beberapa kali terdengar Swat Hong mengeluarkan seruan tertahan, dan Sin Liong juga kaget bukan main. Mereka seperti memasuki sebuah kuburan! Sunyi, kosong, dan tidak ada bekas-bekasnya tempat itu didiami manusia! Habis sama sekali, baik perabotan istana mau pun manusia-manusianya! Tidak tertinggal sepotong pun benda atau seorang pun manusia. Habis semua! Ke mana pun mereka lari dan berteriak-teriak memanggil, yang terdengar hanya gema suara mereka sendiri!

"Oughhh...!!" Swat Hong tidak mampu menahan himpitan perasaan yang ngeri dan berduka, tubuhnya tergelimpang dan tentu akan terbanting kalau tidak cepat disambar oleh Sin Liong.

"Sumoi...!" akan tetapi suara ini kandas di kerongkongannya dan tanpa disadari pula, kedua pipi Sin Liong basah oleh air matanya yang mengalir deras menuruni kanan-kiri hidungnya ketika dia memondong tubuh sumoi-nya yang pingsan itu ke dalam kamar.

Akan tetapi dia termangu-mangu ketika tiba di ambang pintu kamar yang terbuka. Kamar itu kosong dan bersih, tidak ada sebuah atau sepotong pun perabotannya. Terpaksa dia merebahkan tubuh sumoi-nya di atas lantai, dan dia sendiri merebahkan kepala di atas kedua lututnya sambil menangis. Terlampau hebat peristiwa yang dihadapinya, Pulau Es telah disapu bersih oleh badai! Bersih sama sekali sehingga agaknya tidak ada seorang pun manusia yang tertolong. Tidak ada sepotong pun barang yang tertinggal, kecuali bangunan istana yang memang amat kuat itu.

Setelah siuman, Swat Hong menangis, "Aih, mengapa...? Mengapa...? Ayah, kasihan sekali Ayah...!"

Akhirnya Sin Liong dapat menghibur dan membujuknya. Mereka berdua lalu mengadakan pemeriksaan dan mendapat kenyataan bahwa benar-benar Pulau Es telah diamuk badai. Agaknya air laut telah naik sedemikian tinggi sehingga pulau itu teredam air. Mereka menemukan beberapa potong pakaian yang tersangkut di batu-batu. Dengan hati terharu penuh kedukaan mereka mengumpulkan pakaian itu, entah punya siapa, tapi menjadi barang peninggalan yang amat berharga.

Kemudian mereka memeriksa istana. Memang ada beberapa benda yang masih tertinggal di dalam kamar di bawah tanah, akan tetapi yang berada di atas, semua habis dan lenyap.

"Suheng, lihat ini...!" tiba-tiba Swat Hong berkata sambil menunjuk ke dinding.

Sin Liong cepat menghampiri dan keduanya mengenal goresan tangan Han Ti Ong yang agaknya menggunakan jari tangan yang penuh tenaga sinkang untuk menulis di dinding batu itu!

Sin Liong dan Swat Hong, maafkan aku. Thian telah menghukum aku dan membasmi Pulau Es. Pergilah kalian mencari wanita jahat itu, rampas kembali semua pusaka. Dan Bu Ong bukanlah puteraku, dia keturunan Kai-ong’.

Pendek saja ‘surat dinding’ itu, namun cukup jelas isinya. Sin Liong menarik napas panjang. Kasihan dia kepada Suhunya yang mati meninggalkan dendam itu!

"Suheng lihat ini...."

Tak jauh dari tulisan itu terdapat bekas jari-jari tangan mencengkeram dinding. Mudah saja mereka menggambarkan keadaan Han Ti Ong dan keduanya tak dapat menahan tangis mereka. Agaknya dalam menghadapi amukan badai, Han Ti Ong berhasil menggunakan tenaganya untuk mempertahankan diri beberapa lamanya dengan mencengkeram dinding. Raja itu sempat pula membuat tulisan itu sebelum kekuatan yang jauh lebih besar dari pada kekuatannya menyeret ke luar dari istana dan bahkan dari pulau itu!

"Kasihan sekali Suhu...." Sin Liong menghapus air matanya.

Swat Hong mengepal tinjunya. "Aku akan mencari perempuan iblis itu. Selain merampas kembali pusaka Pulau Es, aku juga akan menghukumnya! Dialah yang mencelakakan Ibuku, yang mencelakakan Ayahku!"

Sin Liong menarik napas panjang. Sudah diduganya ini, tentu akan terjadi balas-membalas, dendam tak kunjung habis!

"Sumoi, Suhu hanya meninggalkan pesan agar kita mencari kembali pusaka-pusaka itu...."

"Kau yang mencari pusaka, aku yang membunuh iblis betina itu!" Swat Hong berseru penuh semangat. "Dan Bu Ong... hemm, apa pula artinya ini? Bukan putera ayah?"

"Sumoi, tenanglah dan dengarlah penuturanku. Mungkin hanya aku dan ayahmu saja yang tahu akan nasib wanita itu, nasib yang amat buruk dan mengerikan. Tahukah kau apa yang telah dialami oleh The Kwat Lin sebelum ditolong ayahmu?"

Sin Liong lalu menceritakan keadaan The Kwat Lin yang menjadi gila karena dua belas orang suhengnya dibunuh orang dan agaknya, melihat keadaannya, gadis yang tadinya seorang pendekar wanita perkasa itu telah diperkosa di antara mayat para suhengnya.

"Kurasa demikianlah kejadiannya. Setelah suhu menyatakan bahwa Bu Ong adalah keturunan Kai-ong, teringatlah aku. Jelas bahwa The Kwat Lin diperkosa oleh pembunuh dua belas orang anak murid Bu-tongpai itu, sehingga anak yang dilahirkannya itu, Han Bu Ong, adalah keturunan Kai-ong yang memperkosanya dan membunuh para suheng-nya."

Mendengar penuturan tentang nasib mengerikan yang dialami ibu tirinya, Swat Hong bergidik. Akan tetapi dia mengomel. "Yang berbuat jahat kepadanya adalah Raja Pengemis itu, mengapa dia membalasnya kepada ibu? Dan dia telah menghancurkan penghidupan Ayah. Betapapun juga, aku harus mencarinya dan membalaskan sakit hati Ibu dan Ayah."

Sin Liong maklum bahwa membantah kehendak sumoi-nya ini percuma, hanya akan menimbulkan pertentangan saja. Maka diam-diam dia mengambil keputusan untuk selalu mendamping sumoi-nya, selain menjaga keselamatan dara ini, juga kalau perlu mencegah sepak terjangnya yang terdorong oleh nafsu dan dendam. Betapa pun juga, setelah Pulau Es dibasmi oleh badai, dara ini kehilangan ayah-bunda, tiada sanak kadang, tiada handai taulan dan dialah satu-satunya orang yang patut melindunginya, sebagai suheng-nya. Ataukah sebagai calon suami? Sin Liong tidak mengerti dan tidak berani memutuskan. Biarlah hal perjodohan itu diserahkan kepada keadaan kelak.

Dia tidak membantah ketika sumoi-nya mengajaknya meninggalkan Pulau Es yang telah kosong itu untuk mencari ibunya, dan kalau masih juga tidak berhasil, untuk pergi ke daratan besar mencari The Kwat Lin. Beberapa hari kemudian, setelah yakin benar bahwa tidak ada seorang pun di antara penghuni Pulau Es yang selamat dan kembali ke pulau itu, Sin Liong dan Swat Hong berangkat meninggalkan Pulau Es.

Ketika perahu kecil yang mereka dayung itu meluncur meninggalkan pulau, Swat Hong memandang kearah pulau dengan air mata bercucuran. Juga Sin Liong merasa terharu dan berduka mengingat akan nasib para penghuni Pulau Es yang mengerikan itu. Mereka berdua mendayung perahu menuju ke selatan dan di sepanjang perjalanan ini mereka menemukan bukti-bukti kedahsyatan badai dan keanehan alam yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi di bawah laut itu.

Ada pulau yang lenyap sama sekali, dan ada pula pulau yang baru muncul begitu saja, pulau yang amat aneh, pulau batu karang yang masih jelas kelihatan bahwa pulau ini tadinya merupakan dasar laut dengan segala keindahannya, dengan makhluk hidup dan tetumbuhannya yang kini semua mengeras menjadi batu karang dengan bermacam bentuk. Banyak pulau yang mengalami nasib serupa dengan Pulau Es, yaitu menjadi gundul, habis sama sekali tetumbuhan atasnya.

Diam-diam terbayang dalam pikiran Sin Liong betapa dahsyat kekuasan alam. Andai kata semua lautan yang mengamuk seperti beberapa hari yang lalu itu, agaknya dunia akan menjadi kiamat! Melihat keadaan pulau-pulau itu, timbul rasa khawatir dalam hati Sin Liong tentang keadaan Pulau Neraka. Tentu pulau itu pun tidak terluput dari amukan badai, pikirnya. Padahal baru saja pulau itu mengalami penyerbuan Han Ti Ong dan pasukannya! Sin Liong merasa kasihan sekali terhadap nasib para penghuni Pulau Neraka. Apakah pulau itu seperti juga Pulau Es, disapu bersih dan seluruh penghuninya terbasmi habis?

Setelah merasa mencari dengan sia-sia, beberapa hari kemudian Sin Liong mengemukakan pendapat, "Agaknya ibumu tidak berada di antara pulau-pulau ini. Bagaimana kalau kita mencari ke utara lagi. Siapa tahu kali ini kita berhasil, dan kita dapat juga bertanya ke Pulau Neraka kalau-kalau ibumu ke sana."

"Hemm, agaknya engkau sudah rindu kepada Soan Cu, Suheng."

Sin Liong mengerutkan alisnya. "Sumoi, kau...cemburu lagi?"

Wajah dara itu menjadi merah. "Aku hanya berkata sewajarnya."

"Sudahlah. Kalau kau cemburu, kita tidak usah singgah di Pulau Neraka," kata Sin Liong menarik napas panjang.

Keadaan menjadi hening sejenak. Mereka telah menghentikan gerakan dayung karena mereka masih belum mendapat keputusan akan mencari ke mana.

"Kita ke Pulau Neraka!" tiba-tiba Swat Hong berkata.

"Ehhh...??"

"Aku harus ke sana. Aku akan menegur kakek berkepala besar itu! Pulau Neraka yang menjadi biang keladi sehingga Ayah marah-marah kepada kita. Hampir saja kita dibunuhnya karena Pulau Neraka telah berani menawanku."

"Hemm, Sumoi. Mengapa kejadian yang telah lewat dipersoalkan lagi? Bukankah Ayahmu telah menyerbu ke sana? Menurut cerita anak buah pasukan, kurasa Ayahmu telah menghukum mereka. Kalau begitu, kita tidak perlu pergi ke sana, sumoi."

"Aku harus pergi ke sana!" dara itu berkeras.

Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sukar benar melayani sumoi-nya ini yang memiliki watak aneh dan hati yang keras sepeti baja.

"Aku hanya mau pergi ke Pulau Neraka kalau untuk mencari ibumu, akan tetapi kalau kita pergi ke sana hanya untuk mencari perkara, aku tidak mau. Kau harus berjanji tidak akan membuat kekacauan di sana, Sumoi."

"Hemmm, agaknya kau berkeinginan keras untuk menjadi sahabat baik Pulau Neraka, ya? Karena ada...."

"Sumoi, harap jangan bicara yang tidak-tidak. Memang kita sahabat baik mereka! Lupakah kau ketika mereka mengantar saat kita meninggalkan pulau itu? Karena itu, aku hanya mau pergi ke sana kalau untuk mencari ibumu dan menjenguk mereka sebagai sahabat, melihat keadaan mereka setelah ada badai mengamuk."

Swat Hong cemberut, akan tetapi menjawab juga. "Baiklah, kita lihat saja nanti."

Mereka lalu mendayung perahu dengan cepat menuju ke Pulau Neraka. Akan tetapi, setelah mereka tiba di daerah Pulau Neraka, mereka menjadi bingung dan pangling karena di daerah itu telah terjadi perubahan hebat sekali. Mungkin karena akibat badai yang mengamuk, yang ternyata terjadi di daerah yang amat luas itu, di sekitar situ telah muncul gunung-gunung es yang amat besar. Pulau Neraka yang biasanya tampak dari jauh sebagai raksasa yang tidur itu kini tidak kelihatan lagi karena semua jurusan terhalang pandangannya oleh gunung-gunung es. Mereka mendayung perahu berputar namun tidak dapat keluar dari kurungan gunung-gunung es itu.

"Ahhh, dahulu tidak ada gunung-gunung es besar seperti ini," kata Swat Hong.

"Ini tentu diakibatkan oleh badai itu, Sumoi. Biarlah kita mengaso dulu dan aku akan coba melihat keadaan dari puncak sebuah gunung. Kau tunggu saja di sini."

Perahu itu menempel pada sebuah bukit es yang tinggi dan Sin Liong meloncat ke daratan es. Kemudian dia menggunakan ilmunya berlari cepat, mendaki gunung es itu untuk melihat dan mengenali daerah itu dari atas puncaknya yang tinggi. Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras sekali yang mengguncangkan seluruh gunung es itu. Sin Liong terkejut dan dengan cepat dia menoleh untuk melihat apa yang mengeluarkan suara seperti itu.

Dari jauh tampak olehnya seekor beruang besar sedang menggerakkan kedua kaki depannya ke arah burung-burung yang menyambar-nyambar di atasnya. Burung-burung nazar (burung botak pemakan bangkai) yang besar-besar beterbangan di atas beruang itu dan menyerangnya dari atas sambil mengeluarkan suara pekik mengerikan. Melihat ini, Sin Liong cepat berlari mendekati.

Ternyata beruang itu terluka parah juga di beberapa bagian anggota badannya, sedangkan di bawah kakinya tampak bangkai seekor ular laut yang besar. Jelaslah bahwa beruang itu tadi berkelahi dengan ular laut itu dan dia menang, akan tetapi dia menderita luka-luka. Kini burung-burung nazar yang kelaparan itu hendak mengeroyoknya dan tentu saja ingin makan bangkai ular besar.

Sin Liong segera menggunakan salju yang digenggam untuk menyambiti burung-burung itu. Terdengar suara plak-plok-plak-plok disusul suara burung-burung nazar berkaok-kaok kesakitan. Mereka terbang ketakutan menjauhi tempat itu karena setiap kali terkena sambitan salju terasa nyeri sekali. Dengan beberapa loncatan saja Sin Liong sudah tiba di depan beruang itu. Beruang yang berkulit hitam dan amat besar itu menyeringai dan mengerang, memperlihatkan gigi bertaring yang amat runcing kuat dan lidah yang merah. Matanya terbelalak penuh kecurigaan dan kemarahan kepada Sin Liong.

"Tenanglah, aku datang untuk menolongmu," kata Sin Liong sambil maju lebih dekat.

"Aughhh..!" beruang itu mengerang dan kaki depannya yang kiri menyambar kearah dada Sin Liong.

Melihat betapa telapak kaki itu berdarah, Sin Liong mengelak dan cepat menangkap pergelangan kaki depan itu. Kiranya telapak kaki itu tertusuk tulang dan masuk amat dalam. Agaknya dalam perkelahian melawan ular laut, beruang itu mencengkeram tubuh ular dan sedemikian kuatnya dia mencengkeram sampai tulang punggung ular patah dan menusuk ke dalam daging di telapak kaki depan itu.

Sin Liong segera mencabut tulang itu. Darah mengucur deras dan dia segera membalut dengan sapu tangannya. Beruang itu kini tidak marah lagi. Agaknya dia cerdik dan dapat mengerti bahwa orang yang datang ini bukan musuh, bahkan menolongnya. Kaki depan yang terluka itu kini tidak nyeri lagi, tentu saja karena tulang yang membuat dia tersiksa rasa nyeri tadi telah tercabut.

"Coba kuperiksa, apa lagi yang perlu kuobati," Sin Liong berkata dan dia memeriksa luka-luka di tubuh beruang itu. Ada sebuah luka di tengkuk yang membengkak. Tahulah Sin Liong bahwa luka ini cukup berbahaya, kalau tidak lekas diberi obat yang cocok akan dapat membahayakan nyawa beruang itu.

"Hemmm, aku harus mencarikan daun obat untuk luka-lukamu," katanya, lupa bahwa beruang itu tentu saja tidak mengerti apa yang dia katakan.

"Hai, Suheng, ada apakah?" tiba-tiba terdengar teriakan dari atas.

Sin Liong menoleh dan melihat sumoinya turun berlari-lari cepat sekali. Setelah dekat, beruang itu mengerang dan memandang Swat Hong dengan marah.

"Huh, binatang buruk!" Swat Hong memaki.

"Dia terluka cukup berat, akan tetapi dia menang berkelahi melawan ular laut itu. Lihat, betapa besarnya ular itu, Sumoi. Beruang ini kuat sekali, aku harus mengobatinya sampai sembuh."

Swat Hong mengerutkan alisnya. "Perlu apa menolong binatang buas seperti itu, Suheng? Membuang-buang waktu saja."

"Dia tidak buas lagi, Sumoi. Lihat betapa jinaknya. Dia pun makhluk hidup yang perlu kita tolong. Aku merasa kasihan kepadanya, Sumoi."

"Wah, kau lebih mementingkan dia..."

"Hei...! Ada apa engkau...?" Tiba-tiba Sin Liong berteriak melihat beruang itu menggereng-gereng dan menarik-narik tangannya, seolah-olah hendak mengajak Sin Liong pergi dari situ! Beruang itu makin keras menggereng dan makin kuat menariknya.


BERSAMBUNG KE JILID 06