Warisan Kitab Pusaka

Cerita silat serial pendekar pulau neraka
Episode Warisan Kitab Pusaka

Karya Teguh S
Gambar: Tony G
Penerbit pertama Cintamedia, Jakarta



Cerita silat pendekar pulau neraka episode warisan kitab pusaka



SATU

Udara pagi yang bening masih terasa sejuknya di antara desau angin yang bertiup semilir. Ranting-ranting kayu bergoyang-goyang seperti menari bersama kicau burung yang terdengar satu persatu. Terasa indah dan memberikan suasana tenteram. Sinar matahari yang kemerahan memberi segarnya udara saat ini di pinggiran sebuah hutan yang penuh dengan pepohonan berukuran besar dan kecil.

Tak jauh dari tempat itu, di dekat sebuah bukit kecil, terlihat sebuah pondok yang amat sederhana. Di depannya tengah duduk seorang laki-laki tua berusia sekitar enam puluh tahun dan memiliki jenggot panjang. Tubuhnya sedang dibungkus baju hitam yang agak pudar. Rambutnya pendek dan memakai ikat kepala warna merah.

Sambil duduk bersila, bola matanya tajam memperhatikan seorang pemuda tanggung berusia sekitar lima belas tahun yang tengah menggerak-gerakkan tubuhnya seperti sedang berlatih ilmu silat di pekarangan depan. Sebentar-sebentar tampak dia menghela napas pendek sambil menggeleng pelan. Bibirnya tersungging kecil.

"Anak itu benar-benar keras kepala, dan diam-diam tanpa sepengetahuanku dia terus berlatih ilmu silat. Meski gerakannya ngawur, tapi semangatnya sangat dipuji," gumam orang tua itu.

Orang tua itu kembali memperhatikan dengan seksama. Dari sorot matanya yang tajam bisa diduga bahwa dia memiliki tingkat tenaga dalam yang tidak bisa dianggap rendah. Dan sesungguhnya orang tua yang bernama Ki Ageng Sura ini memang bukan orang sembarangan. Beliau merupakan salah seorang tokoh persilatan yang amat disegani karena memiliki kepandaian yang tinggi.

Ki Ageng Sura termasuk sebagai salah seorang tokoh persilatan kelas atas yang memiliki gelar Pendekar Langlang Buana. Pemuda tanggung yang bertubuh tegap itu semula tak menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan orang tua itu. Barulah ketika tubuhnya berputar dia dapat melihat kehadiran Ki Ageng Sura. Dengan serta merta dia menghentikan gerakannya dan tersenyum malu sambil menundukkan kepala dan menjura hormat.

"Eyang, maafkan aku...," suaranya halus dan bernada penyesalan.

Ki Ageng Sura tersenyum kecil, kemudian memanggil pemuda itu.

"Jaka Permana, kemarilah kau...." Dengan perlahan-lahan pemuda itu menghampiri, dan tetap menundukkan kepala. Dia kembali menjura hormat setelah tiba di hadapannya.

"Maafkan kelancanganku, Eyang...," katanya lirih. Ki Ageng Sura tersenyum kembali, kemudian menepuk pundak pemuda tanggung bernama Jaka Permana itu.

"Duduklah di dekatku...," katanya seraya mengajak pemuda itu duduk di dekatnya.

"Eh, ng...," Jaka Permana terlihat ragu.
"Duduklah," lanjut Ki Ageng Sura menegaskan.

"Terima kasih, Eyang...," sahut pemuda itu seraya duduk di atas balai-balai, dan tetap menundukkan kepala.

"Kau sudah membelah kayu bakar?"
"Sudah, Eyang...."
"Bagus. Kau ingin belajar ilmu silat...?"
"Eh, aku tak berani meminta, Eyang...."

Ki Ageng Sura tersenyum kembali. Tangan kanannya menepuk-nepuk bahu pemuda tanggung itu.

"Sudah berapa lama kau ikut denganku...?"

"Lebih kurang lima tahun lamanya, Eyang..."

"Ya, lima tahun lamanya. Tak terasa waktu bergulir demikian cepat. Kau tumbuh menjadi seorang pemuda yang cakap dan cerdas. Aku menyadari akan dendam mu terhadap pembunuh kedua orangtua mu. Tapi belajar ilmu silat untuk membalas dendam bisa mempengaruhi pikiranmu ke dalam jurang kejahatan. Dan bila hal itu terjadi, bukan saja aku yang akan terpukul, tapi tanpa kau sadari dirimu akan terus terpengaruh oleh hawa nafsumu sendiri," kata orang tua itu pelan.

Jaka Permana diam mendengarkan nasihat orang tua itu.

"Kau mengerti maksudku, kenapa hingga saat ini aku tak mengajarkan ilmu silat padamu?"

"Mengerti, Eyang...," sahut Jaka Permana lirih.

"Tapi kau tak perlu berkecil hati. Selama di sini aku tahu betul bagaimana watak mu. Dan lama kuperhatikan, aku yakin kelak kau akan menjadi seorang yang mampu membedakan mana yang harus kau kerjakan dan mana yang harus kau jauhi."

Jaka Permana diam tak menyahut. "Aku percaya padamu, Jaka...," lanjut Ki Ageng Sura.

"Terima kasih, Eyang."

"Nah, mulai pagi ini kau akan mendapat pelajaran langsung dariku," kata Ki Ageng Sura mantap sambil menepuk pundak pemuda itu.

Jaka Permana mendongakkan kepala dan memandang orang tua itu dengan wajah tak percaya.

"Eyang! Oh, benarkah apa yang kudengar barusan...?!" serunya kaget.

Ki Ageng Sura tersenyum sambil mengangguk pelan.

"Terima kasih, Eyang! Terima kasih...!" sahut Jaka Permana seraya membungkukkan tubuh dan berkali-kali berseru girang mengucapkan terima kasih.

"Sudahlah. Nah, dengarlah kata-kataku. Hari ini kuangkat kau menjadi muridku yang ketiga setelah Begara Seta dan Widi Saksana. Dan kau harus mematuhi serta berjanji bahwa kau akan bertindak yang benar dalam mengamalkan kepandaian yang kau miliki. Jika kau bertindak salah dan menuruti hawa nafsu sendiri, maka aku akan datang menghukummu!"

"Hamba berjanji, Eyang!" sahut Jaka Permana cepat.

"Bagus. Nah, mari kita mulai dengan latihan dasar yang pertama...," sahut Ki Ageng Sura seraya turun dari balai-balai dan melangkah ke pekarangan depan diikuti Jaka Permana di belakangnya.


***


Jaka Permana berada di samping orang tua itu saat Ki Ageng Sura memperagakan jurus-jurus dasar yang dimilikinya, dan memperhatikan dengan seksama. Sebagian besar dia pernah melihat jurus-jurus itu ketika orang tua itu mengajarkannya pada kedua muridnya yang terdahulu, meskipun dari jarak yang agak jauh. Sehingga ketika Ki Ageng Sura memintanya untuk mengulangi jurus-jurus yang tadi diperagakannya, maka dengan mudah Jaka Permana mengulanginya.

"Bagus! Kau memang sangat cerdas dan berbakat, Jaka!" puji Ki Ageng Sura. "Hanya gerakanmu memang masih belum mantap dan berisi. Tak mengapa karena ini hanya gerakan-gerakan dasar. Untuk selanjutnya gerakanmu harus mantap seiring dengan pernapasan yang teratur untuk mengembangkan tenaga dalam dari dalam tubuhmu...."

Jaka Permana cepat mengangguk, kemudian kembali memperhatikan dengan seksama ketika Ki Ageng Sura melakukan gerakan latihan pernapasan yang dimaksudnya. Hal-hal itu memang bukan pelajaran yang baru baginya. Dulu ketika Begara Seta dan Widi Saksana masih berada di tempat ini, dia suka mencuri-curi ketika mereka sedang berlatih setiap hari. Dan sedikit banyak dia bisa meniru gerakan-gerakan yang mereka lakukan. Hanya saja dia tak bisa mendengar apa-apa yang dikatakan Ki Ageng Sura pada mereka karena jaraknya cukup jauh dan tak terjangkau pendengarannya. Sehingga tak mengherankan bila dalam waktu yang sangat singkat dia mampu meniru semua gerakan-gerakan dasar yang diajarkan oleh orang tua itu.

"Bagus, Jaka! Bagus! Aku senang sekali melihat perkembanganmu. Kau memang sangat serius sekali dalam mempelajari ilmu silat. Dan tak segan-segan kukatakan bahwa kau sangat berbakat!" puji Ki Ageng Sura kembali.

"Terima kasih, Eyang...," sahut pemuda tanggung itu tersenyum malu.

"Dengan kecerdasanmu itu kau bisa mengungguli saudara seperguruanmu yang lain! Bahkan bukan tak mungkin kau akan belajar dalam waktu singkat!"

"Eyang, aku tak berani berpikir begitu."
"Kenapa?"

Jaka Permana terdiam beberapa saat sambil menundukkan kepala. Namun tak lama dia memandang orang tua itu. Wajahnya kelihatan muram seperti merasa bersalah.

"Kemampuanku sebenarnya biasa-biasa saja, Eyang...," ucapnya lirih.

"Hm, kenapa kau berkata demikian? Bukankah tidak kau sadari bahwa kau mampu menirukan gerakan-gerakan yang kuajarkan dalam waktu singkat?" tanya Ki Ageng Sura heran.

"Sebenarnya hamba tidak semata-mata bisa menirukan jurus-jurus dasar yang tadi Eyang tunjukkan dengan cepat. Tapi itu bisa hamba lakukan karena hamba sering mencuri-curi lihat saat dulu Eyang sering mengajar Kakang Begara Seta dan Kakang Widi Saksana." Suara Jaka Permana semakin lama semakin pelan terdengar. Dan wajahnya semakin tertunduk dengan perasaan bersalah.

"Maafkan kelancangan hamba, Eyang. Hamba telah berbuat kesalahan. Tapi hamba rela mendapat hukuman...," lanjut pemuda tanggung itu.

Ki Ageng Sura memandang murid barunya itu beberapa saat lamanya, kemudian tersenyum sambil melangkah mendekati. Ditepuknya pundak Jaka Permana, kemudian berkata pelan. Jelas sekali terdengar oleh pemuda itu.

"Jaka Permana, kuhargai kejujuranmu. Itu salah satu sifat baikmu yang kusadari. Aku hanya ingin sekadar menguji apakah kau berkata terus terang atau tidak, sebab aku telah lama mengetahui apa yang kau katakan tadi."

"Oh, Eyang.... Eyang telah mengetahuinya?!" tanya pemuda itu tak percaya.

Ki Ageng Sura mengangguk, lalu tersenyum kecil.

"Apa yang terjadi di sekitar pondokku ini akan kuketahui, meski kau bersembunyi di balik semak-semak. Nah, aku juga tahu bahwa jurus-jurus dasar yang kau mainkan tadi telah lama kau ketahui. Bahkan aku mengetahui bahwa kemampuanmu melebihi itu. Tapi yang tak kumengerti, kenapa tadi kau berlatih dengan gerakan-gerakan ngawur?" tanya orang tua itu dengan dahi berkerut.

Jaka Permana tersenyum malu. "Sekali lagi maafkan hamba, Eyang. Hamba tahu persis saat Eyang terjaga dari tidur. Lalu agar Eyang tak mengetahuinya karena hamba takut Eyang akan mengintip, maka hamba berpura-pura berlatih dengan jurus-jurus yang ngawur."

"Dan kau melatih diri dengan jurus-jurus yang sesungguhnya di dalam hutan sana saat mencari kayu bakar dan buah-buahan?" tanya Ki Ageng Sura sambil tersenyum dengan wajah yakin.

Jaka Permana mengangguk pelan, lalu berkata dengan lirihnya.

"Ampuni hamba, Eyang."

Ki Ageng Sura kembali tersenyum kecil. "Aku mengerti akan kekerasan hatimu untuk belajar ilmu silat dariku. Kalau dulu aku masih ragu kepadamu, tapi sekarang aku yakin kau mampu untuk mengamalkan ilmu silat yang kau miliki di jalan yang benar."

"Hamba tak akan mengecewakan harapan Eyang. Hamba berjanji, Eyang!" sahut Jaka Permana cepat.

"Syukurlah kalau memang demikian. Nah, sekarang coba tunjukkan padaku, sampai di mana kemampuanmu saat ini!"

"Baiklah, Eyang. Tolong perbaiki kekurangan hamba...," sahut Jaka Permana girang.

Pemuda tanggung itu melompat lima langkah ke belakang dengan gerakan ringan, kemudian mulai membuka jurus. Lalu tubuhnya bergerak cepat dan lincah. Selama Jaka Permana memperlihatkan jurus-jurus yang telah dikuasainya, Ki Ageng Sura memperhatikan dengan seksama. Sesekali tampak dia berdecak kagum. Gerakan Jaka Permana gesit dan lincah, sebagaimana layaknya gerakan yang dilakukan oleh tokoh persilatan yang memiliki ilmu silat tangguh. Hanya beberapa kali dan bisa dihitung dengan jari dia membuat gerakan yang salah, selebihnya betul-betul sama dengan jurus yang dimilikinya!

Tengah guru dan murid itu berlatih, mendadak terdengar suara ribut-ribut tak jauh dari tempat mereka berada.


***


"Gadis molek dan cantik, kau kira bisa pergi seenak perutmu sendiri? Phuah! Kau tak akan bisa lepas begitu saja!" dengus beberapa orang yang membawa senjata tajam di tangan. Ki Ageng Sura dan Jaka Permana mengerutkan alis.

Seorang gadis cantik memakai baju merah dan memegang sebatang pedang, tampak tengah dikejar-kejar oleh segerombolan laki-laki berwajah seram yang berkelakuan kasar. Raut wajah mereka menyiratkan hawa nafsu yang menggelegak-gelegak dan siap menerkam gadis itu laksana hewan buas yang telah menemukan mangsanya.

Gadis itu sendiri tampak bingung. Dia sempat melirik ke arah Ki Ageng Sura dan Jaka Permana, kemudian buru-buru berlari kencang menghampiri keduanya, lalu menjura hormat dengan napas memburu.

"Kisanak, tolonglah aku. Mereka hendak merampok dan memperkosaku! Tolonglah, Kisanak...," tubuh gadis itu menggigil ketakutan, dan wajahnya pucat dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Berkali-kali dia melihat ke arah pengejarnya yang terus memburu dari belakang.

"Itu dia!"

"Tangkap! Jangan biarkan dia lolos...!"

Mendengar suara teriakan-teriakan yang semakin mendekat, ketakutan gadis itu semakin menjadi-jadi. Dia menangkap sebelah kaki Ki Ageng Sura, dan memeluknya seperti tak ingin melepaskan.

"Kisanak, tolonglah aku...! Oh, mereka... mereka sangat kejam dan buas...!"

"Hei, Nisanak! Lepaskan cengkeramanmu pada kakiku...!" teriak Ki Ageng Sura kaget melihat apa yang dilakukan gadis itu.

"Tidak! Aku tidak akan melepaskannya sebelum kau bersedia menolongku menghajar mereka!" sentak gadis itu berkeras dan malah mempererat cekalannya.

Sementara itu para pengejar si gadis telah tiba pula di dekat Ki Ageng Sura. Mereka memperhatikan langkah dan berbaris rapi dengan sikap mengancam orang tua itu. Salah seorang yang berbadan besar dan berkumis melintang dan mengenakan rompi hitam sehingga terlihat dadanya yang tegap, maju ke depan dengan sebilah golok besar yang tajam berkilat, tergenggam erat di tangan kanannya.

"Orang tua, kalau saja tak memandang bahwa kau penghuni tempat ini, tentu saja kami tak sudi berbasa-basi denganmu. Kau telah mencoba merampas buruan kami. Nah, karena memandang bahwa kau memang sudah sepatutnya dihormati, berikan gadis itu dan kami akan segera berlalu dari tempatmu ini!" suara orang itu terdengar keras dan serak.

Selamanya Ki Ageng Sura memang tak suka melihat kelakuan orang seperti gerombolan itu. Merampok, membunuh, dan memperkosa wanita-wanita yang mereka temui. Dan meskipun gadis itu tak memohonkan pertolongan padanya, dia pun akan senang hati membantu. Namun ada sedikit yang agak mengherankan baginya sejak tadi. Bagaimana mungkin mereka bisa nyasar ke tempat ini?

Lembah ini cukup jauh dari perkampungan yang terdekat, dan jauh pula dari jalan umum yang biasa dilewati orang. Dan selama ini, jarang sekali ada yang sampai tersasar ke tempatnya. Bahkan boleh disebut, tidak pernah. Karena selain agak tersembunyi, tempat ini pun agak sukar dilalui karena banyaknya semak belukar yang berduri menghalangi perjalanan.

Untuk seseorang yang tengah melarikan diri dari kejaran orang lain, seharusnya dia berlari ke perkampungan yang terdekat, atau berlari menuju jalan utama yang dilalui orang-orang. Ki Ageng Sura termenung sesaat lamanya sambil memperhatikan gerombolan yang berjumlah lebih kurang lima belas orang itu dengan seksama.

Sebenarnya pikiran tadi bukan berasal dari dirinya, melainkan Jaka Permana yang berbisik pelan mengutarakan kecurigaannya. Itulah yang membuat orang tua itu sedikit bimbang ketika si gadis menubruk dan mencengkeram sebelah kakinya. Tapi mendengar kata-kata salah seorang dari mereka yang sinis dan seperti memandang rendah terhadapnya, Ki Ageng Sura sudah merasa tak senang. Dia memandang ke arah gadis itu, kemudian berkata pelan.

"Tenanglah, Anak Manis. Kau berdiri di belakangku. Biar kuhajar bajingan-bajingan ini...," tunjuknya ke belakang Jaka Permana.

Mendengar kata-kata si orang tua, gadis itu berlari kecil dan bersembunyi di punggung Jaka Permana. Pemuda tanggung itu menjadi risih sendiri jadinya. Dia melirik sejenak ke arah gurunya, kemudian berusaha tenang memperhatikan ketika Ki Ageng Sura melangkah mendekati gerombolan itu perlahan-lahan.

"Kalian pergilah, dan urusan ini selesai sampai di sini. Gadis ini ada dalam perlindunganku, dan tak seorang pun boleh mengganggunya!" sahut Ki Ageng Sura tegas dengan suara keras.

"Keparat! Tua bangka tak tahu diri. Jangan seenaknya mulutmu bicara seperti itu. Tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa saat ini?!" bentak laki-laki bertubuh besar itu dengan mata melotot garang.

"Perlu apa aku mengetahui siapa kalian? Yang jelas, orang-orang seperti kalian memang sudah sepatutnya mendapat hajaran," sahut Ki Ageng Sura dengan nada dingin.

"Kurang ajar! Berani kau bicara begitu pada Gerombolan Iblis Maut, maka kau harus berani pula menanggung akibatnya!" dengus laki-laki kasar itu sambil membabatkan goloknya ke leher orang tua di depannya dengan gemas.

"Uts...!"

Ki Ageng Sura mengelak ke samping sambil merendahkan tubuh. Kepalanya tertunduk ketika sebelah kakinya terayun menghantam pergelangan tangan lawan dengan cepat.

Duk!
"Uhhh...!"

Laki-laki itu mengeluh kesakitan. Pergelangan tangan kanannya sakit sekali, dan kemungkinan tulangnya retak akibat tendangan ujung kaki orang tua itu. Masih untung golok besar dalam genggamannya tak terpental lagi. Kalau saja Ki Ageng Sura mengerahkan sedikit lagi tenaga dalam yang disalurkan ke ujung kakinya, niscaya pergelangan tangannya hancur tak berbentuk. Menyadari keadaan itu, dia tak berani gegabah. Maka dengan wajah gusar, dia berteriak pada kawan-kawannya.

"Hajar si keparat ini, dan jangan biarkan hidup...!"


***


Dengan serta merta mereka mengurung Ki Ageng Sura. Melihat keadaan itu Jaka Permana merasa berkewajiban membantu gurunya. Namun sebelum pemuda tanggung itu bergerak membantu, Ki Ageng Sura telah berkata dengan suara tegas kepadanya.

"Jaka, kau lindungi gadis itu. Dia adalah tanggung jawabmu untuk saat ini!"

"Tapi, Eyang...."

"Jangan membantah! Turuti apa kataku!" sentak Ki Ageng Sura.

"Eh, kalau demikian, baiklah...," sahut pemuda tanggung itu tak punya pilihan lain.

Jaka Permana bersiap ketika dua orang lawan mendekatinya dengan senjata terhunus. Dia sedikit gentar karena selama hidupnya belum pernah berkelahi. Juga timbul keraguan dalam hatinya, apakah mampu menghadapi kedua orang lawannya itu?

"Yeaaa...!"
"Hiyaaat...!"

Dengan teriakan keras, mereka menyerbu guru dan murid itu berbarengan. Ki Ageng Sura tersenyum kecil ketika tubuhnya melompat ke samping dengan sebelah kaki ditekuk, lalu diayunkan dengan keras ke perut salah seorang lawan.

Begkh!
"Akh!"
"Yeaaa...!"

Orang itu menjerit kesakitan. Tubuhnya terjungkal dan terus bergulingan. Dua orang kawannya dengan garang mengayunkan senjata di tangan mereka masing-masing ke arah leher dan perut orang tua itu. Namun dengan gesit tubuh Ki Ageng Sura meliuk-liuk menghindari sambil melompat ke atas. Pada saat yang bersamaan, laki-laki bertubuh besar yang pertama berhadapan dengannya telah siap menghadang dengan sabetan goloknya yang berisi tenaga dalam kuat. Cuitan angin serangannya terdengar tajam dengan kemarahan yang luar biasa.

Wukkk!
Plak!

Namun Ki Ageng Sura bukanlah tokoh sembarangan yang tak mengerti gelagat. Dari awal serangan bersama itu dia sudah memperhitungkan bahwa lawan akan mengincarnya begitu ada kesempatan. Untuk itu dia telah mempersiapkan diri sebelumnya. Sehingga begitu golok lawan hendak menebas lehernya, buru-buru dia menundukkan kepala. Tangan kirinya kembali menghantam pergelangan tangan lawan dengan mengikuti ayunan golok yang luput dari sasaran.

Namun lawan pun agaknya telah memperhitungkan hal itu, sehingga mendahului dengan tendangan kaki kanannya untuk memapaki pukulan si orang tua. Tapi yang terjadi justru laki-laki bertubuh besar itu yang mengeluh kesakitan dengan wajah berkerut ketika tulang kering kakinya dihantam tangan Ki Ageng Sura. Dengan gerakan cepat yang tiada terduga, tubuh orang tua itu berputar seraya mengibaskan kaki kanannya ke perut lawan.

Begkh!
"Aaakh...!"

Lawannya terjungkal sambil menjerit keras. Dari mulutnya meleleh darah kental. Dia berusaha bangkit, namun isi perutnya terasa sakit seperti diaduk-aduk. Dilihatnya orang tua itu dengan leluasa menghajar kawan-kawannya yang lain. Sementara itu beberapa kali Jaka Permana nyaris kena dilukai oleh kedua lawannya. Keringat dingin mengucur deras di tubuhnya, dan wajahnya pucat pasi dengan napas yang memburu. Namun demikian dengan sekuat tenaga dia berusaha terus mengelak dari serangan-serangan lawan yang gencar.

"Mampus...!"
Crak!
"Uhhh...!"

Salah seorang lawannya dengan gemas membabat tubuhnya yang terjungkal akibat menghindari serangan bertubi-tubi lawannya yang seorang lagi. Jaka Permana bergulingan sehingga senjata lawan menghajar tanah. Tapi pada saat itu juga lawan yang seorang lagi telah siap menghadangnya.

"Yeaaa...!"

Jaka Permana terkesiap. Tak ada lagi jalan keluar baginya. Kalaupun dia berusaha mengelak, senjata lawan akan lebih cepat lagi menebas tubuhnya. Kalaupun pasrah dan diam, cuma sedikit memperpanjang nyawanya.

"Hup!"
Duk!
"Aaakh...!"

Pada saat kritis itu Ki Ageng Sura bergerak cepat membantu muridnya sambil menendang cepat kedua tubuh lawan dengan ujung kaki kanannya. Kedua orang itu memekik kesakitan. Tubuh mereka terjungkal sejauh dua tombak dengan darah segar meleleh dari mulutnya. Tapi agaknya kawan-kawannya yang lain bukan menjadi takut lalu gentar dan melarikan diri setelah melihat sepak terjang orang tua itu. Mereka malah menyerangnya semakin kalap.

"Orang tua bau tanah, mampus kau...!"
'Yeaaa...!"
"Hiyaaa...!"

Ki Ageng Sura sebenarnya tak terlalu kerepotan untuk meladeni mereka. Meski sekaligus melindungi Jaka Permana. Tapi dia juga semula tak sampai hati untuk membunuh mereka. Tapi ketika melihat bahwa mereka sama sekali tak mau mengerti akan niat baiknya itu dan bukannya sadar, malah melakukan serangan-serangan gencar dengan penuh nafsu. Seolah-olah mereka menganggapnya sebagai musuh nomor satu yang harus dilenyapkan, kesabaran orang tua itu pun mulai habis dibuatnya.

"Hm, agaknya kalian tak bisa dihadapi dengan cara baik. Baiklah. Kalian akan menerima apa yang kalian inginkan!" dengus Ki Ageng Sura geram.


***


Baru saja orang tua itu akan melompat menyerang lawan ketika beberapa buah senjata rahasia melayang ke arahnya. Ki Ageng Sura terkejut bukan main. Tubuhnya meliuk-liuk menghindari serangan yang datangnya bertubi-tubi itu. Namun bersamaan dengan itu, kawanan tadi serentak menyerangnya seperti mendapat peluang emas. Ki Ageng Sura bukanlah tokoh yang dapat dianggap enteng. Namun mendapat serangan gelap bertubi-tubi, lalu disusul dengan keroyokan yang begitu banyak, mau tidak mau dia sedikit kerepotan meski belum terlalu terdesak.

"Yeaaa...!"
"Uts...!"

Dalam pada itulah Ki Ageng Sura terkejut bukan main ketika merasakan satu sambaran kuat dari arah belakang. Dia membungkukkan tubuh dan terus melompat ke samping. Namun sambaran angin kencang itu seperti mengikuti ke mana saja tubuhnya bergerak Ki Ageng Sura tak punya pilihan selain memapaki senjata lawan yang belum lagi diketahui bentuknya itu. Namun dari angin serangannya, dia bisa menduga bahwa paling tidak si pemilik senjata adalah tokoh yang memiliki kepandaian tinggi.

"Hiyaaa...!"

Sambil berteriak keras, Ki Ageng Sura mencabut pedang pendek dan tipis dari balik bajunya dan langsung berbalik menyambar senjata gelap yang tengah terarah kepadanya.

Wut! Wut!
Ctarrr!
"Akh...!"

Bukan main terkejutnya orang tua itu ketika pandangannya menyambar tempat kosong. Pada-hal dia yakin betul bahwa dengan kecepatan yang tadi dilakukannya, maka serangan gelap itu akan mampu dipapakinya. Tapi siapa nyana ternyata senjata gelap itu mampu menghindari serangannya. Bahkan Ki Ageng Sura tersentak kaget ketika sebuah ujung cambuk mendera menghantam kulit dadanya. Masih untung dia cepat menjatuhkan diri ke belakang, namun tak urung kulit dadanya terluka. Ki Ageng Sura mengeluh kesakitan, dan terus melompat ke belakang sambil berputar beberapa kali.

"Yeaaa...!"
"Uts!"

Baru saja ujung kakinya menyentuh tanah, saat itu juga kembali melayang senjata rahasia berupa bintang berwarna keperakan bertubi-tubi. Ki Ageng Sura kembali melompat sambil mengayunkan pedangnya.

Trang! Trang!
Rrrrt!
"Naik..!"

Orang tua itu kembali terkejut. Seutas tambang sebesar telunjuk melibat tubuhnya dengan kuat sekali. Kemudian dengan sentakan keras, tubuhnya seperti ditarik ke atas dengan kuat Ki Ageng Sura berusaha menahan sambil mengerahkan tenaganya. Tubuhnya berbalik dan kini jelas terlihat siapa penyerang gelapnya itu.

"Kau...?!"

"Ya, aku. Kau kira siapa yang mampu melakukannya...?" sahut gadis yang tadi berusaha dilindunginya sambil tersenyum kecil mengejek.

Bukan main jengkel dan marahnya Ki Ageng Sura melihat bahwa dirinya telah tertipu mentah-mentah. Dengan geram dia berusaha melepaskan diri dari belitan tambang itu dan menyentak lawan agar terjungkal. Namun alangkah kagetnya ketika dirasakannya bahwa semakin kuat dia mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri, maka semakin kuat pula tambang itu membelit tubuhnya seperti seekor ular yang hendak meremukkan tulang-belulangnya.

"Wanita iblis! Ternyata kau yang memiliki Tambang Setan ini!" desis Ki Ageng Sura geram.

"Hik hik hik...! Tua bangka tolol, syukur akhirnya kau tahu siapa diriku...!" sahut gadis itu dengan tertawa nyaring.

Sementara itu melihat gurunya telah diringkus oleh gadis licik yang justru tengah mereka tolong, Jaka Permana marah bukan main. Dia menerjang mereka dengan kalap.

"Pengecut-pengecut hina, kuhabisi kalian!

Yeaaa...!"

"Phuih! Bocah tak tahu diri. Biar kuringkus dia, dan kalau perlu dicincang!" geram salah seorang dari kawanan itu seraya maju memapaki serangan Jaka Permana dengan tangan kosong.

Plak!
Bet!

Melihat yang menghadapinya hanya seorang, Jaka Permana merasa mampu melumpuhkan orang itu. Ujung kaki kanannya menyodok ke arah leher, namun dengan gerakan manis lawan melompat ke belakang sambil berjumpalitan. Jaka Permana mengirim serangan susulan dengan mengayunkan kepalan tangan kirinya ke arah dada lawan.

"He he he...! Kau kira bisa memperdayaiku dengan kemampuanmu yang secuil itu, heh?!" ejek lawan sambil menahan kepalan tangan Jaka Permana dengan telapak tangan kanannya.

Pemuda tanggung itu terkejut Kepalan tangannya seperti menghantam benda keras. Belum lagi habis rasa kagetnya, mendadak satu hantaman keras menghajar perutnya. Jaka Permana menjerit keras, ketika tubuhnya terjungkal dengan darah kental meleleh dari bibirnya. Isi perutnya terasa bagai diaduk-aduk dan sakit sekali. Isi kepalanya berat dan sulit digerakkan, serta pandangannya mulai mengabur. Namun dengan susah payah dia berusaha bangkit.

Duk!
"Aaakh...!"

Jaka Permana menjerit keras. Tubuhnya kembali terjungkal beberapa langkah ketika satu tendangan keras menghantam dadanya. Pandangannya semakin mengabur dan berkunang-kunang dengan rasa sakit yang menyesakkan dada.

"Jahanam!" Ki Ageng Sura menggeram. Pedangnya terayun hendak memapas tambang yang membelenggu dirinya. Tapi saat itu juga si gadis menghantamnya dengan satu pukulan jarak jauh yang berhawa panas ke arahnya.

"Jangan coba-coba, Orang Tua Dungu! Kau akan mampus dengan sendirinya!" dengus gadis itu dingin. Ki Ageng Sura terpaksa membatalkan serangan dan berusaha menghindari serangan lawan. Tapi bersamaan dengan itu pun si gadis menyentak tambangnya hingga tubuh Ki Ageng Sura nyaris terjerembab ke depan.

"Keparat! Apa sebenarnya yang kau kehendaki, Perempuan Iblis?!" geram Ki Ageng Sura dengan wajah merah padam menahan perasaan marah dan malu. Gadis itu tersenyum halus, kemudian memberi isyarat agar orang yang menghajar Jaka Permana menghentikan perbuatannya, kemudian dia kembali menatap ke arah Ki Ageng Sura.


***


"Kau mengerti apa yang kuinginkan, Ki Ageng Sura...!" dingin terdengar nada suara gadis itu.

"Huh, Wanita Iblis! Sampai kapan pun kau tak akan mendapatkan apa yang kau inginkan!" dengus Ki Ageng Sura tegas.

"Begitu?" sahut gadis itu dengan nada mengejek.

"Aku ingin melihat sampai di mana daya tahan tubuhmu menghadapi Tambang Setan ini...."

"Huh, lakukanlah sesukamu. Tapi jangan harap aku menyerahkan apa yang kau inginkan!"

Gadis itu tertawa nyaring. Bola matanya yang bening menatap orang tua itu dengan bibir tersungging mengejek.

"Kau pikir aku begitu bodoh, heh? Tak ada gunanya menyiksamu, kalau memang kau telah bungkam. Tapi bagaimana kalau muridmu yang akan kupatahkan satu-persatu anggota tubuhnya di hadapanmu? Kau akan melihat pertunjukan yang menyenangkan," kata gadis itu sambil menyeringai kecil dan memberi isyarat pada salah seorang gerombolan yang berada di tempat itu untuk menyeret Jaka Permana ke hadapannya.

Pemuda tanggung yang sekujur tubuhnya terasa sakit dan linu itu tak mampu melawan sedikit pun. Dia hanya bisa pasrah ketika tubuhnya diseret ke depan gadis itu.

"Kau lihat, Orang Tua! Aku akan membuat muridmu ini mati perlahan-lahan dengan cara yang mengenaskan...!" dengus gadis itu sambil menekan telapak kaki kirinya ke perut Jaka Permana.

"Aaakh...!"

Jaka Permana menjerit kesakitan ketika telapak kaki wanita itu mulai menekan kuat. Tubuhnya mengejang dan wajahnya berkerut menahan rasa sakit yang hebat. Ki Ageng Sura sendiri menahan napas panjang sambil memejamkan mata. Hatinya marah bukan main, namun dia berusaha menekan perasaan itu. Percuma saja kalau dia berontak sebab tenaga dalam wanita itu berada di bawahnya. Lagi pula, siapa yang tak kenal dengan wanita itu? Tambang Setan itu sebagai bukti bahwa wanita itu tak lain dari Peri Tambang Setan Ular!

Namun ada hal yang membuatnya tak habis pikir, Bagaimana mungkin wanita itu masih begitu belia? Padahal setahunya, tokoh legendaris yang kepandaiannya amat tinggi itu telah berusia lanjut ketika dia masih berusia muda. Kalau sekarang tentu usianya telah semakin lanjut usia. Ataukah dia memiliki ilmu yang membuatnya awet muda? Atau barangkali ini muridnya?

"Jangan coba-coba berbuat licik padaku! Lekas berikan jawabanmu. Berikan kitab itu atau muridmu akan mampus dalam keadaan tersiksa di hadapanmu sendiri!" dengus wanita itu memperingatkan.

Ki Ageng Sura menghela napas pendek Wanita ini memang tak bisa dianggap enteng. Terlebih lagi tambang mautnya itu. Sedikit saja dia mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri, maka bagaikan bernyawa, tambang itu melilitnya semakin kuat dan membuatnya sulit bernapas. Sia-sia saja dia berusaha melepaskan diri, sementara nyawa Jaka Permana sendiri terancam.

"Lepaskan dia, sebab dia tak ada sangkutpautnya denganku...," sahut Ki Ageng Sura dengan sorot mata tajam.

"Hi hi hi...! Kau pikir aku begitu bodoh untuk melepaskannya? Dia merupakan jaminan bagiku jika kau berbuat macam-macam!" sinis nada suara gadis itu dengan senyum mengejek.

"Bukankah kau menginginkan kedua kitab pusaka itu...?"

"Syukur kau mengetahuinya. Nah, berikan kedua kitab itu, maka kalian berdua akan kulepaskan." Ki Ageng Sura tersenyum kecil, kemudian berkata pelan dengan suara mengejek.

"Kau telah membelenggu aku, dan siapa yang tak mengetahui kehebatan tambang ini. Tapi dengan menyandera muridku yang tak becus apa-apa, kau hanya mempermalukan dirimu sendiri. Lepaskan dia, maka kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan..."

"Eyang, aku tak tahu apa yang mereka inginkan! Tapi apa pun itu, jangan berikan! Eyang tak boleh menyerah begitu saja kepada para pengecut licik ini!" teriak Jaka Permana gusar.

"Bocah goblok! Bicara apa kau...?! Hih!"

Wanita itu menggeram kecil, kemudian menekan sedikit telapak kakinya yang masih belum bergeser dari perut pemuda itu. Jaka Permana terpekik keras menahan sakit!

"Nisanak, lepaskan dia. Maka akan kuberikan apa yang kau inginkan!" teriak Ki Ageng Sura dengan suara keras.

"Hik hik hik...! Ternyata kau lebih sayang pada murid goblokmu ini ketimbang kedua kitab ilmu silat yang hebat itu. Baiklah, aku akan melepaskannya. Nah, sekarang berikan kedua kitab itu padaku!" kata wanita itu sambil menarik telapak kakinya yang tadi menghimpit tubuh Jaka Permana, kemudian memandang ke arah Ki Ageng Sura dengan tersenyum sinis.

"Aku tahu kekejamanmu, Wanita Iblis. Kau tentu tak akan membiarkanku hidup setelah mendapatkan kedua kitab itu. Aku menyadari hal itu. Tapi biarkan muridku pergi dari tempat ini. Nyawa muridku ditukar dengan kedua kitab itu rasanya sudah lebih dari cukup!" ujar Ki Ageng Sura.

"Tidak, Eyang! Aku tidak akan membiarkanmu disini seorang diri! Aku akan selalu menyertaimu...!" teriak Jaka Permana sambil berusaha berdiri dan berjalan terhuyung-huyung mendekati orang tua itu.

"Jaka, seorang murid harus patuh pada perintah gurunya. Dan kata-kataku tadi merupakan suatu perintah bagimu! Pergilah kau, dan pulanglah ke kampung halamanmu. Orangtua mu pasti telah menunggu-nunggu. Hanya ingat pesanku! Katakan pada abang-abangmu untuk beternak kuda dengan baik. Dan juga sampaikan pesanku pada mereka bahwa kedua kuda pemberianku itu hendaknya diserahkan padamu agar kau bisa mengurus dan membuatnya berkembang biak. Dengan demikian hidupmu akan lebih terjamin. Tapi sebaiknya kuda betina berbulu hitam yang liar itu bunuh saja, sedangkan kuda jantan putih yang gagah perkasa, kau rawat baik-baik Carikan betina lain yang lebih sepadan...," kata Ki Ageng Sura.

"Tapi, Eyang...," dahi Jaka Permana berkerut dengan wajah heran.

"Jangan membantah, Tolol! Kerjakan saja apa yang kukatakan! Nah, pergilah cepat dari sini!"

"Eyang...," suara Jaka Permana tercekat di kerongkongan.

Dia masih belum beranjak. Namun ketika Ki Ageng Sura kembali membentak garang, barulah dia bangkit perlahan-lahan meninggalkan tempat itu sambil sesekali menoleh ke arah gurunya.

Tapi baru saja beranjak kira-kira lima langkah, kawanan itu telah mengepungnya. Si gadis yang agaknya bertindak sebagai pimpinan itu terkekeh-kekeh.

"Hi hi hi...! Kau kira begitu mudah aku tertipu, ya? Tak seorang pun di antara kalian yang boleh pergi!"


***


TIGA

"Hm, jadi kau tak menginginkan kedua kitab itu?" tanya Ki Ageng Sura sinis.

"Siapa bilang? Aku menginginkan kedua kitab itu, dan juga kedua nyawa kalian!" sahut gadis itu tandas.

"Kau boleh membunuh kami, tapi jangan harap kedua kitab itu bisa kau temukan!" sahut Ki Ageng Sura mengancam.

"Hi hi hi...! Ingin kulihat, sampai di mana kekerasan kepalamu setelah melihat bocah ini sekarat menemui ajalnya di hadapanmu!" dengus gadis itu sambil tersenyum mengejek.

Setelah berkata demikian dia memberi isyarat pada bocah itu untuk mendekat sambil menggerak-gerakkan telunjuknya.

"Yeaaa...!"
"Hih!"

Melihat kesempatan itu, Ki Ageng Sura mengerahkan segenap kemampuannya untuk melepaskan diri dari belitan tambang lawan dan menyentaknya dengan kuat. Gadis itu terkejut untuk beberapa saat. namun saat itu juga dia menggeram dan menarik tambangnya kuat-kuat.

"Hup!"

Ki Ageng Sura menyadari adanya tenaga kuat yang menarik dirinya. Dia tak berusaha melawan, malah mengikuti sentakan itu sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh.

"Hiyaaa...!"
Plak!
Wut! Wut!

Ki Ageng Sura berteriak nyaring sambil mengayunkan pedangnya menyambar leher lawan. Namun dengan gerakan manis, gadis itu mengelak ke belakang sambil merendahkan tubuh. Kaki kanannya dengan cepat menyambar pergelangan tangan orang tua itu. Bukan main kagetnya Ki Ageng Sura melihat kecepatan gadis itu bergerak. Dia mengeluh kesakitan ketika pergelangan tangannya berderak.

Tulangnya mungkin patah, dan genggamannya pada pedangnya melemah sehingga dengan sekali kibas saja, senjatanya terpental jatuh. Namun begitu dia masih sempat mengayunkan tendangan keras ke dada lawan. Tapi gadis itu ternyata lebih gesit lagi melompat ke atas untuk menghindari tendangan lawan. Tubuhnya berjumpalitan sambil membuat putaran beberapa kali. Kemudian terdengar dia berteriak lantang.

"Yeaaa...!"
"Uhhh...!"
Desss!

Tubuh Ki Ageng Sura tersentak bagai mengikuti pusaran angin kencang yang membuatnya terseret tanpa mampu menahan atau mengendalikan diri. Belum lagi dia sempat menguasai diri, mendadak satu hantaman keras mendarat di tubuhnya. Ki Ageng Sura menjerit keras. Isi tubuhnya terasa remuk bagai dihantam godam yang beratnya puluhan kati.

"Eyaaang...!" Jaka Permana terkejut dan berlari cepat sambil menahan sakit untuk mendapati orang tua itu.

"Jaka, cepat kau tinggalkan tempat ini! Cepaaat..!" teriak Ki Ageng Sura.

"Tidak, Eyang! Aku tidak akan meninggalkan mu seorang diri di sini!"

"Anak goblok! Ayo, selamatkan dirimu karena masih ada yang harus kau kerjakan untuk menyampaikan pesanku tadi!"

"Tapi, Eyang...."

"Cepat tinggalkan aku... aaakh!" Ki Ageng Sura tak mampu melanjutkan kata-katanya ketika tubuhnya melayang ke atas dan disusul dengan se-sosok tubuh melesat memapaki.

Plak!
Desss!
"Aaa...!"

Tubuh orang tua itu terjerembab tak berdaya. Dari mulutnya keluar darah kental. Gadis itu tersenyum sambil menarik tambang yang masih melilit di tubuh Ki Ageng Sura.

"Jangan biarkan bocah itu pergi! Bunuh dia...!" seru gadis itu dingin.

"Tidak! Jaka, cepat tinggalkan tempat ini. Cepaaat..!" teriak Ki Ageng Sura gusar. Orang tua itu berusaha bangkit untuk menolong muridnya, namun dengan sekali sentak, tubuhnya kembali terjerembab. Gadis itu mendengus dingin. Tapi Ki Ageng Sura tak mau menyerah begitu saja. Tangannya bergetar meraup debu dan melemparkannya ke muka gadis itu dengan sekuat tenaga.

"Gadis iblis, rasakan olehmu...!"
"Keparat! Hih...!"
Rrrt!

Dengan cepat gadis itu mengayunkan tangan kiri untuk melindungi wajahnya. Perbuatan orang tua itu telah membuat hatinya gusar bukan main. Dengan geram ditariknya tambang itu sehingga membuat tubuh Ki Ageng Sura terangkat ke atas. Kemudian dengan gemas tubuh ramping gadis itu telah mengapung di udara sambil mengeluarkan lengkingan keras.

"Yeaaa...!"
Plak!
Begkh!
"Aaa...!"

Ki Ageng Sura bukannya tak menyadari kemarahan gadis itu. Dia berusaha menahan agar tubuhnya tak terangkat, namun tenaga yang dikerahkan gadis itu untuk menyentak dirinya sungguh luar biasa. Bahkan dia sendiri masih berusaha melindungi diri ketika gadis itu bermaksud menghajarnya. Tapi akhirnya Ki Ageng Sura terpaksa mengeluh pelan ketika tulang tangannya remuk akibat benturan dengan tangan halus si gadis. Lalu dengan kecepatan yang sulit diduga, tiba-tiba saja tubuhnya terpental jauh sambil merasakan sakit yang bukan kepalang.

Jaka Permana yang saat itu tengah berusaha melepaskan diri dari kejaran anggota kawanan itu sempat terkesiap dan menoleh ke belakang. Wajahnya tampak muram dan dadanya terasa sakit menahan perasaan ngeri. Tapi bukan hanya karena itu, melainkan perasaannya yang lebih terasa sakit untuk saat ini. Dia tak mampu berbuat apa-apa melihat gurunya tersiksa oleh lawan-lawannya. Apa yang dapat dilakukannya sebagai balas budi terhadap orang yang telah menyelamatkan hidupnya? Menyelamatkan diri sendiri?


***


Hampir saja pemuda itu berbalik dan hendak membantu gurunya kalau dia tak terkejut mendengar teriakan lawan-lawannya yang akan meringkusnya. Jaka Permana terkejut, dengan tiba-tiba dia kembali berlari menyelamatkan diri sambil menerobos hutan lebat di depan matanya. Kakinya terus berlari tanpa tujuan. Yang ada di benaknya saat ini adalah menyelamatkan diri dan berlari sejauh-jauhnya sampai mereka tak bisa menemukannya.

"Keparat! Kencang juga larinya bocah itu!" dengus salah seorang di antara kawanan itu geram.

"Padahal dia dalam keadaan terluka dalam!" timpal kawannya.

"Jangan banyak ribut! lebih baik kita kejar terus. Dia tengah terluka, tentu tak bisa berlari jauh!" teriak yang seorang lagi memberi perintah pada yang lainnya.

"Sebaiknya kita berpencar. Kalian dari sebelah kiri, kelompok ini terus dari arah ini, sementara kami mengejarnya ke kanan!" cetus seseorang memberi saran.

"Bagus! Itu saran yang baik! Kami berangkat sekarang!" sahut salah seorang yang mewakili kelompok tengah.

Tak lama kemudian kelompok bagian kiri telah terbentuk dan langsung melanjutkan pengejaran. Kelompok sebelah kanan kembali menyusul tak berapa lama kemudian.

Sementara itu dengan napas yang semakin tersengal-sengal, Jaka Permana terus berlari sambil sesekali melirik ke belakang dengan wajah pucat dan berkeringat seperti hendak memastikan bahwa para pengejarnya tak berhasil menemukan dirinya. Namun meski tak terlihat tanda-tanda bahwa mereka telah menemukannya, hatinya tetap yakin seolah derap langkah mereka begitu dekat terdengar oleh telinganya.

Duk!
"Aduuuh...!"

Jaka Permana menjerit kesakitan ketika kaki kanannya tersandung sebuah akar. Tubuhnya terjerembab ke depan dan terus bergulingan ke bawah lembah yang tak begitu curam. Tubuhnya baru berhenti bergulir ketika tersandung sebuah batu besar yang menonjol ke permukaan. Pemuda tanggung itu bersungut-sungut dengan wajah berkerut menahan kesal dan rasa sakit.

Tubuhnya lemas sekali, dan rasanya tak kuat untuk diajak berdiri. Apalagi untuk berlari. Tapi ketika memandang ke sekeliling, debaran jantungnya semakin kencang. Dia telah salah mengambil jalan. Seharusnya terus berlari ke dalam hutan yang jarang dimasuki orang, namun langkah kakinya malah membawanya ke tempat terbuka. Dengan begitu kehadirannya akan mudah diketahui mereka.

Mengingat hal itu dia berusaha bangkit dan melangkah dengan terhuyung-huyung. Baru saja kakinya menapak lima langkah, tubuhnya kembali terjungkal lunglai. Dari mulutnya keluar keluh kesakitan. Pandangannya mulai berkunang-kunang, dan rasa sakit yang dideritanya semakin tak kuat untuk ditahannya.

Samar-samar terdengar teriakan-teriakan beberapa orang. Dari nada suaranya dia bisa menduga bahwa mereka kelihatan begitu girang menemukannya, dan dia langsung menebak bahwa mereka tak lain dari kawanan itu.

"Habislah riwayatku kali ini," keluh Jaka Permana pelan di dalam hari dalam keadaan putus asa.

Apa yang dipikirkan pemuda tanggung itu memang tak salah. Salah satu dari kelompok yang berpencar itu menemukannya. Mereka yang berjumlah empat orang itu langsung melompati menghampiri. Salah seorang dengan gemas bermaksud membacok pemuda itu dengan goloknya.

"Hentikan! Jangan sembarangan kau bertindak!" cegah salah seorang kawannya yang bertubuh kurus dengan nada gusar.

''Kalau sampai Nyi Imas Wari mengetahui kau mendahului keputusannya, bisa hilang kepalamu!"

Orang itu bersungut-sungut sambil menyarungkan kembali goloknya.

"Lalu mau kita apakan dia sekarang? Bukankah Nyi Imas Wari pun menyuruh kita untuk membunuh mereka berdua?"

"Pokoknya jangan mendahului dia, titik! Soal dia dibunuh atau tidak, terserah setelah kita berhadapan dengan Nyi Imas Wari. Siapa tahu setelah kita bawa, dia berubah pikiran. Kita akan celaka kalau membunuhnya sekarang. Lebih baik bawa dia ke hadapan Nyi Imas Wari."

Salah seorang dari mereka segera mengangkat tubuh Jaka Permana yang tak sadarkan diri ke pundaknya. Keempat orang itu siap berlalu dari tempat itu. Namun baru dua langkah berjalan, sekonyong-konyong langkah mereka terhenti ketika seorang pemuda tampan berwajah keras telah berdiri di hadapan mereka. Pemuda berbaju kulit harimau dengan monyet berbulu hitam bertengger di pundak kirinya itu memandang mereka dengan sorot mata tajam, dan sama sekali tak terlihat senyumnya.

"Kunyuk sial! Mau apa kau menghalangi perjalanan kami?!" bentak laki-laki bertubuh kerempeng sambil bertolak pinggang dan mata melotot garang.

"Biar kubereskan saja dia!" selak kawannya yang memakai ikat kepala hijau dan sudah langsung mencabut golok hendak menebas leher pemuda berbaju kulit harimau itu.

Laki-laki itu adalah yang tadi gagal melukai Jaka Permana karena dihalangi laki-laki bertubuh kerempeng, yang agaknya bertindak sebagai pimpinan dalam kelompok kecil ini. Hatinya masih dendam dan belum puas karena amarahnya belum mendapatkan sasaran.

Maka begitu melihat pemuda itu bersikap dengan wajah angkuh dan sama sekali tak menunjukkan ketakutannya saat berhadapan dengan mereka, kemarahannya yang tadi belum surut, kini seperti menemukan pelampiasannya.

"Yeaaa...!"
Plak!

Pemuda berbaju kulit harimau itu sama sekali tak bergeming menghadapi serangan lawan. Dia masih tetap berdiri tegak ketika laki-laki itu mengayunkan goloknya yang tajam berkilat ke bagian leher. Namun sesaat lagi golok itu akan menyambar lehernya, pemuda itu cepat menundukkan kepala. Lalu bersamaan dengan itu sebelah tangannya menangkap pergelangan tangan lawan dan ditekuknya ke belakang dengan kuat.

Krek!
Duk!
"Aaa...!"
"Hei?!"


***


Bukan main terkejutnya ketiga kawanan itu ketika melihat apa yang terjadi pada laki laki itu. Pemuda berbaju kulit harimau itu mematahkan tulang lengan kawan mereka, lalu menghajar tulang belakangnya sehingga lawan terjungkal ke depan sambil memekik kesakitan. Dia berusaha bangkit, namun tubuhnya kembali terjerembab sambil merasakan sakit yang hebat di tangan dan tulang belakangnya yang patah.

"Keparat! Siapa kau berani mempermainkan salah seorang gerombolan Peri Iblis Maut?!" bentak si kerempeng dengan wajah merah padam menahan geram.

"Huh! Siapa yang peduli dengan segala rombongan busuk seperti kalian? Lepaskan bocah itu dan menyingkirlah dari sini!" dingin terdengar suara pemuda berbaju kulit harimau itu.

Seperti mengerti apa yang dikatakan tuannya, monyet berbulu hitam yang sejak awal pertarungan telah melompat turun dari pundak pemuda itu, kini berjalan dengan kedua kakinya ke arah si kerempeng. Kedua tangannya digerakkan ke dekat telinga dengan lidah terjulur keluar dan wajah yang sesekali berkerut seperti mengejek mereka.

"Ngukh, ngukh...! Kaaakh...!"

"Monyet sial! Kau dan tuanmu tak ada bedanya baik dalam kelakuan maupun wajah kalian. Dan orang-orang celaka seperti kalian harus mampus saat ini juga!" dengus si kerempeng geram sambil memberi isyarat pada dua orang kawannya untuk menyerang bersamaan.

Pemuda berbaju kulit harimau yang tak lain dari Bayu Hanggara, alias Pendekar Pulau Neraka itu tersenyum sinis sambil memandang mereka satu persatu yang kini mulai mengepungnya.

"Yeaaa...!"

Dengan satu teriakan panjang, si kerempeng maju terlebih dulu dengan mencabut golok dan menebas lawan dari kepala hingga ke kaki. Gerakannya cepat dan meliuk-liuk sangat dahsyat. Dan sesaat kemudian, dua orang kawannya telah menyusul menyambar ke atas dan ke bawah dengan gerakan yang tak kalah cepatnya. Dengan demikian mereka mengunci lawan agar terperangkap dan tak mampu lari ke mana pun pemuda itu hendak bergerak menyelamatkan diri.

Bayu mendengus geram. Tubuhnya merunduk sambil mendongakkan kepala ke belakang dan bersamaan dengan itu tubuhnya seperti mengapung untuk menghindari babatan dari atas dan tengah. Lalu kemudian terlihat dia menjatuhkan diri dan merapat rata dengan tanah untuk menghindari sabetan senjata lawan yang rendah. Kemudian dengan tiba-tiba saja tubuhnya melenting dengan ringan sambil mengayunkan sebelah kakinya menghantam dada lawan.

Duk!
"Aaakh...!"

Salah seorang lawan menjerit kesakitan. Tubuhnya terjungkal ke belakang sambil berkelojotan. Dia sama sekali tak menyangka lawan mampu berbuat demikian sehingga membuatnya tak waspada. Masih beruntung kedua lawannya yang lebih cepat melompat ketika sapuan kaki pemuda itu menyambung menyambar mereka.

Tapi mereka pun dibuat terkejut ketika pemuda berbaju kulit harimau itu mendadak saja telah berkelebat cepat menyambar mereka dengan hajaran sebelah tangannya yang mengibas keras. Terasa betul bahwa kepandaian pemuda itu tak bisa dianggap rendah. Dari desir angin kencang yang menyertai serangannya, bisa diduga bahwa dia memiliki kepandaian yang tinggi. Namun mereka hanya menyambar angin belaka ketika tubuh pemuda itu bergulung bagai trenggiling, dan ketika terbuka, kedua kakinya menghajar tepat di dada kedua lawannya.

Duk!
Desss!
"Aaakh...!"

Keduanya menjerit kesakitan dengan tubuh terjungkal beberapa langkah. Darah kental menggelegak dari mulut keduanya. Dengan terengah-engah mereka berusaha bangkit. Namun tubuhnya menggigil, bukan saja oleh rasa sakit melainkan ngeri menyaksikan kehebatan pemuda itu yang berjalan pelan mendekati mereka.

"Kalian boleh teruskan permainan ini atau kupecahkan kepala kalian satu persatu?!"

"Eh, ng... ampuni nyawa kami, Kisanak...," sahut salah seorang di antara mereka sambil menjura dan bersujud di dekat kaki pemuda itu.

"Pengecut! Apa yang kau lakukan?!" bentak si kerempeng geram melihat ulah kawannya itu.

"Aku tak peduli! Apa kalian bisa menyelamatkan diri dalam keadaan begini?" dengus orang itu membela diri.

"Pergilah kalian dari hadapanku! Cepaaat..!" bentak Bayu keras.

"Eh, iya! Iya...," sahut mereka serentak meninggalkan tempat itu sambil berlari terbirit-birit.

Bayu memandang sekilas pada mereka, kemudian melangkah mendapati Jaka Permana.

"Hm, anak ini mendapat luka yang cukup serius. Sungguh hebat daya tahan tubuhnya. Kalau saja anak lain seusianya yang mengalami penderitaan seperti ini, pasti telah tewas...," gumam Bayu setelah memeriksa keadaan pemuda tanggung itu. Pemuda itu mengurut-urut beberapa tempat di bagian tubuh Jaka Permana. Tak berapa lama terlihat pemuda tanggung itu batuk-batuk kecil sambil mengurut-urut keningnya. Pandangannya masih kabur, dan terlihat dia berusaha menegaskan pandangan pada orang yang berada di hadapannya.

"Kau sudah agak baik...?" tanya Bayu pelan sambil ikut mengurut kening pemuda tanggung itu.

"Eh, siapakah Kisanak...?" tanya Jaka Permana.

"Aku kawanmu...," sahut Bayu singkat.

Jaka Permana memandangnya dengan seksama. Pemuda yang memakai baju kulit harimau itu berwajah tampan dengan rambut panjang. Sorot matanya tajam berkilat laksana mata seekor harimau. Hal yang lebih jelas terasa olehnya bahwa pemuda di hadapannya sama sekali tak ramah, dalam arti kata tak mengobral senyum atau berkata. Yang cukup dipercayanya bahwa pemuda itu sama sekali tak bermaksud jahat padanya, adalah seekor monyet yang sangat ramah dan berusaha menarik perhatiannya sambil cengar-cengir, yang bertengger di pundak pemuda itu.


***


EMPAT

"Kaukah yang mengusir mereka...?" tanya Jaka Permana seraya bangkit dan menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon.

Bayu tak menyahut, melainkan balik bertanya. "Siapa orang itu, dan kenapa kau sampai berurusan dengan mereka?"

"Entahlah. Mereka tiba-tiba saja datang ke pondok kami dengan siasat licik. Guruku kena diringkus, lalu menyuruhku kabur. Dan... selanjutnya mungkin kau mengetahuinya...," jelas Jaka Permana singkat.

"Hm, apa alasan mereka memusuhi guru mu...?"

Jaka Permana tidak langsung menjawab. Di pandanginya pemuda di hadapannya beberapa saat lamanya, seperti ingin meyakinkan dirinya bahwa pemuda itu bukan merupakan salah seorang dari kawanan yang telah mencelakakan gurunya dan dirinya sendiri.

Tapi meskipun dia percaya bahwa pemuda ini bermaksud baik dan telah menolongnya, tetap saja dia orang asing baginya. Dan bayangan yang selalu melekat dalam benaknya adalah, tidak boleh mempercayai orang asing. Siapa pun orang itu.

"Eh, aku... aku sendiri tak mengetahuinya...," sahut Jaka Permana sambil menggeleng lesu.

"Hm, mungkin antara gurumu dan mereka pernah terjadi saling permusuhan di masa lalu...," gumam Bayu.

"Bisa jadi!" sahut Jaka Permana cepat.
"Berapa jauh tempatmu dari sini?"

"Entahlah...," sahut Jaka Permana sambil memandang ke sekeliling tempat itu. "Aku berlari terus tanpa menoleh-noleh lagi, dan saat ini tak tahu berada dimana...."

"Di mana, eh maksudku apa namanya tempat asalmu itu?"

"Lembah Dasawarna...."

"Hm...," Bayu mengangguk-angguk. "Mari kita ke sana!"

"Ke sana...?" wajah Jaka Permana tampak bingung.

"Ya, kenapa? Tidakkah kau ingin menolong guru mu?" tanya Bayu seraya memandang tajam ke arah pemuda tanggung itu.

"Eh, tentu saja! Tapi...."
"Tapi kenapa?"

"Jumlah mereka banyak, dan... gadis itu memiliki kepandaian yang hebat. Guruku saja yang kuanggap sakti mampu diringkus dengan tambang mautnya.

Aku... aku...," Jaka Permana tak melanjutkan kata-katanya. Tanpa sadar dia bermaksud bercerita panjang lebar dengan pemuda asing yang belum dikenalnya ini.

Begitu ingat bahwa dia tak boleh bicara banyak, dia segera menghentikan kata-katanya. Tapi kemudian dia menjadi salah tingkah sendiri ketika melihat pemuda berbaju kulit harimau itu memandang tajam ke arahnya dengan sorot mata penuh selidik.

"Kau mau menyembunyikan sesuatu dari ku...?" tanya Bayu dingin.

"Eh, tidak! Tidak...!"
"Hm.... Siapa namamu?"
"Jaka... Jaka Permana."

"Jaka, kau boleh memanggilku Bayu, dan ini sahabatku. Namanya Tiren," sahut Bayu seraya memperkenalkan monyet berbulu hitam itu.

Jaka Permana tersenyum lebar. Dilihatnya tingkah laku monyet itu seperti mengerti saja apa yang dikatakan oleh Bayu. Bahkan monyet itu mengulurkan tangan kanannya seperti hendak bersalaman. Jaka Permana terpaksa menyambutnya sambil tersenyum geli. Kemudian dilihatnya monyet itu bertepuk-tepuk seraya berjumpalitan beberapa kali sambil berteriak-teriak keras.

"Hush, sudah! Jangan ribut!" bentak Bayu. Wajah monyet itu merunduk, kemudian melangkah pelan mendekati Jaka Permana, kemudian menyembunyikan wajahnya ke dada pemuda tanggung itu.

Bayu tersenyum kecil. Jaka Permana baru melihat senyum pemuda itu sejak tadi.

"Jaka, kau berhak merahasiakan apa yang tidak boleh diketahui orang lain. Tapi sebagai murid yang berbakti pada gurunya, kau wajib menolongnya pada saat beliau berada dalam kesulitan...," kata Bayu melanjutkan kata-katanya.

Jaka Permana memandang pemuda itu sekilas, kemudian dengan cepat dia bangkit sambil menganggukkan kepala.

"Aku memang bermaksud demikian. Tapi seorang diri melawan mereka percuma saja. Seperti yang kukatakan tadi, jumlah mereka banyak. Dan pemimpinnya memiliki kemampuan yang hebat. Tadi aku... aku bermaksud untuk menemui dua orang saudara seperguruanku untuk memberitahukan kejadian ini...," jelas Jaka Permana mulai jujur.

"Nanti saja kau beritahukan mereka. Sekarang mari kita ke sana!" desak Bayu.

"Maksudmu kita berdua...?!" tanya Jaka Permana menegaskan.

Bayu memandang Jaka Permana beberapa saat lamanya, kemudian berkata pelan.

"Entahlah, aku jarang keluar lembah itu sampai sejauh sekarang. Tapi kalau melihat gunung yang menjulang tinggi itu, maka tempatku di sebelah utaranya...," tunjuk Jaka Permana.

"Nah, mari ikut denganku!" sahut Bayu pendek seraya menyambar Jaka Permana dan membawanya berlari kencang dari tempat ini. Pemuda tanggung itu sedikit heran bercampur takjub. Pemuda berbaju kulit harimau itu mampu berlari cepat meski menggendong dirinya dan monyet hitam itu. Siapa dia sebenarnya? Yang jelas kecurigaannya mulai sedikit berkurang, dan merasa yakin bahwa pemuda ini pastilah salah seorang pendekar persilatan yang sering membantu kaum lemah, seperti yang pernah didengarnya dari penuturan Eyang Ageng Sura.


www.sonnyogawa.com


Jaka Permana merasakan mereka hanya berlari dalam sekejapan waktu saja karena beberapa saat kemu-dian mereka telah tiba. Bayu menurunkan Jaka Permana yang langsung memandang ke sekeliling tempat itu.

"Sunyi..., ke mana mereka?" bisik Jaka Permana ragu.

Bayu menajamkan pendengarannya. Namun tak terdengar suara apa pun yang mencurigakan. Dia melangkah mendekati pondok dengan hati-hati sekali. Terlihat darah berceceran di sana-sini dan tanah yang sempal akibat pertarungan. Namun kalau tewas, tentu mayatnya akan terlihat. Namun yang mereka temukan cuma bercak-bercak darah dan bekas pertarungan itu saja.

"Kosong...!" seru Bayu pelan ketika dia membuka pondok.

"Aneh, ke mana mereka? Ke mana Eyang Ageng?

Mungkinkah mereka menculiknya...?" desis Jaka Permana bingung.

"Nguk! nguk...!" Tiren mendekati Bayu sambil menunjuk-nunjuk sesuatu.

Buru-buru Bayu mengikuti apa yang ingin ditunjukkan oleh sahabatnya itu. Tak jauh dari halaman depan, Tiren menunjukkan sesuatu yang tergurat di tanah, bercampur noda darah.

"Cul...," Bayu bergumam membaca kata yang terputus itu. Dahinya sedikit berkerut, tapi tak berapa lama kemudian kelanjutan kata-kata itu dimengertinya.

Jaka Permana yang kemudian menyusul ke tempat itu memandang Bayu dengan wajah kecut.

"Mereka menculik guruku...," gumamnya pelan.

"Siapa sebenarnya mereka, Jaka?" tanya Bayu.

"Entahlah, aku tidak mengetahui siapa mereka. Tapi yang menjadi pemimpinnya seorang gadis berparas cantik Dia bahkan terlalu muda untuk bisa mengalahkan guruku. Tapi buktinya..., ah!

Kepandaiannya hebat. Senjatanya seutas tambang yang mampu membelenggu guruku hingga tak berdaya," jelas Jaka Permana.

"Tambang...?"

"Ya, tambang. Seperti ular yang hidup!" sahut Jaka Permana seraya menganggukkan kepala.

"Kau kenal dengan mereka?"

"Entahlah, aku tak yakin...," Bayu menggeleng lemah.

"Kaaakh...!" tiba-tiba Tiren menjerit keras. Bayu dan Jaka serentak berpaling. Pemuda berbaju kulit harimau itu segera mendekat ke arah Jaka Permana dan memegang bahunya seraya menatap ke satu arah. Pemuda tanggung itu menjadi bingung sendiri melihat kelakuan Pendekar Pulau Neraka.

"Ada apa?" tanyanya heran.
"Ada tamu yang tak diundang ke sini...," sahut Bayu.
"Tamu..? Siapa?"
"Kau akan mengetahuinya sebentar lagi...."

"Ha ha ha...! Bukan saja monyetmu yang memiliki pendengaran tajam, tapi juga tuannya memiliki kuping yang hebat pula!" terdengar suara keras yang kemudian disusul dengan melesatnya sebuah bayangan hitam tak jauh dari mereka.

Jaka Permana tersentak kaget. Mendadak saja telah berdiri tegak sesosok tubuh di hadapannya mengenakan baju hitam yang agak kebesaran. Wajah orang itu sangat mengerikan. Sepasang matanya melotot garang dan merah bagai saga. Rambutnya berdiri kaku dan lehernya mengenakan kalung yang terbuat dari tengkorak kepala manusia. Tangan kanannya memegang sebatang tombak yang ujungnya berlekuk seperti keris.

"Hm, tak disangka Pendekar Pulau Neraka yang termahsyur itu pun ternyata kemaruk dengan segala pepesan kosong!" lanjut laki-laki yang berusia sekitar empat puluh tahun dan bertubuh besar itu.

"Siapa kau dan apa yang kau maksud dengan pepesan kosong?" tanya Bayu tenang dengan nada suara dingin.

"Ha ha ha...! Nama Setan Ular Hitam memang bukan nama yang hebat, tapi tak sembarangan orang bisa memandang rendah padanya. Kau mengerti apa yang ku maksud? Jangan menganggapku bodoh, Sobat!"

"Hm, jadi kau berjuluk Setan Ular Hitam? Apa yang kau kehendaki sehingga datang ke sini?"

"Phuih! Ternyata kau betul-betul menganggap ku rendah dan tolol! Tapi tidak semudah itu kau bisa menyerakahi kedua pusaka itu. Serahkan padaku sekarang juga!"

Pendekar Pulau Neraka memandang geram pada laki-laki itu. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Setan Ular Hitam. Datang dengan tiba-tiba, lalu sekarang marah-marah dengan sikap hendak mengancamnya. Tentu saja dia tidak bisa menerima sikap seperti itu.

"Setan Ular Hitam, aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Tapi dengan caramu itu, meskipun benda yang kau inginkan itu ada di tanganku, tidak akan kuberikan. Apalagi saat ini aku tak tahu-menahu tentang kedua pusaka yang kau katakan tadi!" desis Bayu.

"Setan! Orang lain boleh takut padamu, tapi jangan harap aku gentar! Kau akan mendapat pelajaran pahit atas kesombonganmu itu!" kata Setan Ular Hitam geram.

Selesai dengan kata-katanya itu, Setan Ular Hitam melompat lima langkah ke hadapan Pendekar Pulau Neraka, sehingga jarak mereka kini kurang lebih hanya enam langkah saja. Dia melangkah perlahan kesamping dengan sorot mata setajam elang mengawasi pemuda berbaju kulit harimau itu dengan senjata terhunus.

"Nguk! Nguk...!" Tiren melompat lompat sambil menutup kedua matanya melihat gelagat itu.

"Jaka, mundurlah kau. Jangan jauh-jauh dari Tiren. Dia bisa menjadi sahabat yang baik. Biar kubereskan babi gemuk ini!" kata Bayu pelan seraya mengambil ancang-ancang untuk bersiap menghadapi lawan.

Bukan main geramnya Setan Ular Hitam mendengar dirinya disebut sebagai babi gemuk. Sambil berteriak nyaring dia melompat dan memutar tombaknya bagai baling-baling menyerang lawan.

"Hiyaaa...!"
Wuk! Wuk..!

Pendekar Pulau Neraka melompat dengan satu kaki terangkat ke atas untuk menghindari serangan lawan, sekaligus berjumpalitan dan mengayunkan kepalan tangannya menghantam ke wajah Setan Ular Hitam.

"Phuih! Mampus kau!" geram Setan Ular Hitam seraya berbalik dan menghantam lawan dengan ujung tombaknya.

Pendekar Pulau Neraka tak kehilangan akal. Dia menarik kepalan tangannya, kemudian menundukkan kepala untuk menghindari sabetan pangkal tombak lawan. Senjata itu lewat beberapa rambut dari kepalanya. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Begitu sebelah kakinya menyentuh, maka saat itu juga tubuhnya melenting cepat ke arah batok kepala lawan.

"Hih!"
"Uts!"
Begkh!

Setan Ular Hitam terkejut sekali melihat kecepatan lawan bergerak. Dia bahkan tidak sempat mengayunkan tombaknya untuk memapas serangan lawan. Satu-satunya jalan untuk menghindari serangan itu hanyalah jangkauan kepalan tangan lawan. Dan hal itulah yang dilakukannya. Tapi bukan main kagetnya dia manakala satu tendangan keras justru menghantam perutnya ketika lawan menarik pulang pukulannya, dan malah mengayunkan kaki kanan yang jangkauannya lebih panjang.


***

Setan Ular Hitam menjerit kesakitan. Tubuhnya terjungkal beberapa langkah. Namun dia masih mampu menguasai diri sehingga tidak sampai jatuh terjerembab. Pendekar Pulau Neraka tidak bisa membiarkan lawan begitu saja lepas dari hajarannya. Sekali kesempatan terbuka, maka dia akan terus mengincarnya sehingga lawan tidak mampu berkutik. Dan hal itulah yang dilakukannya saat ini.

Belum lagi Setan Ular Hitam memantapkan kuda-kudanya, tubuh lawan telah mencelat menyambar ke arahnya dengan satu serangan deras.

"Yeaaa...!"

Setan Ular Hitam mengeluh pelan. Tubuhnya berputar ke belakang dua kali sambil mengayunkan ujung tombaknya ke arah lawan. Namun mata Pendekar Pulau Neraka yang jeli, bukannya tidak memperhitungkan hal itu. Tubuhnya melompat ke tanah, dan ujung tombak lawan dengan gencar menyambarnya. Tapi begitu tubuhnya terjatuh, maka secepat itu pula kembali melenting sambil mengayunkan satu tendangan ke arah wajah lawan.

"Hih!"

Setan Ular Hitam terkesiap dan terpaksa menangkis dengan tangan kirinya. Tapi dia mengeluh kesakitan ketika benturan itu terjadi. Kaki lawan seperti terbuat dari besi ketika beradu dengan tangannya. Belum lagi habis rasa kagetnya, mendadak tendangan kaki Pendekar Pulau Neraka yang sebelah lagi menghajar dadanya dengan telak.

Desss!
"Aaakh...!"

Setan Ular Hitam menjerit kesakitan. Tubuhnya terjungkal lima langkah sambil menyemburkan darah segar. Ketika jatuh ke tanah, dia menggelepar-gelepar sesaat sebelum akhirnya diam tak berkutik! Jaka Permana terpaku. Dia tidak percaya dengan penglihatannya. Orang bertubuh besar dan berwajah seram itu tewas dengan dada remuk. Sepasang matanya yang melotot lebar, kini bertambah lebar seperti tercekik. Darah kental meleleh dari mulut dan hidung serta matanya seperti tiada henti. Dia sedikit mengetahui kalau orang tewas dengan cara demikian, pastilah isi tubuhnya hancur berantakan.

Dan selama hidupnya, belum pernah dilihatnya orang tewas dengan cara demikian. Juga sepengetahuannya, hanya orang-orang berhati kejam yang sering berbuat demikian. Dan orang-orang berhati kejam itu biasanya bersifat jahat dan keji. Jaka Permana memandang dengan wajah takut ke arah pemuda berbaju kulit harimau itu. Hatinya berperang untuk kembali menilai sikap Pendekar Pulau Neraka. Jahatkah dia? Akankah dia berpura-pura baik lalu akan membunuhku dengan cara yang kejam ketika aku lengah?

"Mari kita pergi, Jaka...!" ajak Bayu setelah menggendong Tiren.

Jaka Permana kembali memperhatikan. Dilihatnya wajah pemuda itu sama sekali tidak mengesankan apa-apa. Dingin dan... menyeramkan! Diam-diam dia bergidik ngeri, dan membayangkan, nasib apa yang akan menimpanya bila berjalan bersama-sama dengan pemuda itu.

"Kenapa? Tidakkah kau ingin mencari gurumu?" tanya Bayu dengan dahi berkerut ketika melihat Jaka Permana menggeleng pelan.

"Eh, aku... aku telah banyak merepotkanmu. Biarlah kucari sendiri. Lagi pula, aku... aku harus menemui kedua saudara seperguruanku untuk mencari guru kami. Te... terima kasih banyak atas pertolonganmu padaku...."

"Hm, jadi kau ingin mencari gurumu seorang diri?" tanya Bayu meyakinkan.
"Hm, ya...."
"Kudengar laki-laki itu membicarakan tentang dua buah kitab pusaka yang dicari-carinya. Apakah itu ada kaitannya dengan kejadian yang menimpa kalian sehingga gurumu diculik?"

"Eh, aku tidak tahu apa-apa soal itu...!" sahut Jaka Permana dengan suara gagap. Pendekar Pulau Neraka mengangguk sambil bergumam pelan.

"Mungkin mereka salah alamat dan tersasar hingga ke sini, lalu mencari gara-gara...," lanjut Jaka Permana mengalihkan dugaan di benak Pendekar Pulau Neraka.

"Gurumu Ki Ageng Sura, bukan?" Jaka Permana mengangguk.

"Ya, aku pernah mendengar nama beliau. Dia seorang yang hebat dan tidak heran bila mempunyai banyak musuh. Tapi ada orang yang mampu menculiknya, itu hal yang hebat lagi...."

Jaka Permana jadi merasa tidak enak ketika melihat Bayu tersenyum tipis seperti menyembunyikan sesuatu. Seolah hatinya mengatakan bahwa pemuda berbaju kulit harimau itu mengetahui kebohongannya.

"Apa maksudmu dengan lebih cepat lagi...?" tanya Jaka Permana dengan heran.

Dilihatnya Pendekar Pulau Neraka memandangnya tajam untuk beberapa saat, kemudian mengelus monyet kecil di pundaknya. Lalu terdengar dia bersuara pelan.

"Kalau kau memang hendak mencari gurumu seorang diri, berhati-hatilah. Kau sedang menghadapi bahaya besar, Jaka. Bahaya bisa merenggut nyawamu. Nah, aku pergi dulu!"

Setelah berkata demikian, Pendekar Pulau Neraka melesat dari tempat itu, dan hilang dalam sekejapan mata. Jaka Permana memandang takjub. Dalam hatinya sebenarnya menyesal telah mencurigai pemuda itu berlebihan. Seharusnya dia tidak bersikap bodoh seperti itu. Bukankah pemuda itu telah menyelamatkannya? Dan dia sama sekali tidak menyebut-nyebutkan maksudnya untuk menolong dirinya dalam bahaya. Kalau demikian, bukankah dia menolong tanpa pamrih?

Jaka Permana menghela napas pendek dan menghibur diri dari tuduhan-tuduhan hati kecilnya sendiri yang menyalahkan dirinya. Siapa tahu pemuda itu hanya bersandiwara dengan berpura-pura menolongnya. Bukankah gadis itu pun berpura-pura lemah dan mengharapkan pertolongan mereka? Dan siapa duga ternyata dia adalah pemimpin pengacau yang telah menculik gurunya!


***


LIMA

Pemuda berusia sekitar dua puluh tahun dan bertubuh agak kurus itu memacu kudanya kencang-kencang. Sesekali terlihat kepalanya menoleh ke belakang seperti memastikan, bahwa apa dan siapa pun yang mengejarnya sejak tadi, kini tidak mengikutinya lagi. Namun meski tak terlihat siapa pun di belakangnya, pemuda yang di pinggangnya terselip sebatang golok itu terus memacu kudanya seperti tiada henti.

"Heaaa! Hiyaaa...!"

Tak lama kemudian dia telah berada dekat sebuah perkampungan. Pemuda itu memperlambat lari kudanya. Wajahnya yang agak tampan telah bercucuran keringat. Demikian juga bajunya yang coklat pudar, basah oleh cucuran keringatnya. Dia melompat turun dan berjalan pelan sambil menggandeng kudanya memasuki perkampungan itu. Lalu lalang orang yang sesekali memperhatikannya, tidak menarik perhatiannya. Tatapan mata pemuda itu lurus ke depan. Hanya sesekali dia menoleh jika batinnya merasa curiga.

Ketika melihat sebuah kedai kecil, pemuda itu menambatkan kudanya di depan, kemudian me-langkah masuk. Tak banyak orang di dalam kedai itu, tapi beberapa orang memandangnya dengan sikap tidak bersahabat. Pemuda itu seperti tak mempedulikan sikap mereka melihat kehadirannya. Dia memanggil seorang pelayan.

"Apakah kau menjual rumput untuk kudaku, Kisanak?" tanyanya. Pelayan itu hanya mengangguk pelan.

"Kalau demikian, tolong berikan kudaku rumput dan air. Kami telah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Dia juga haus dan lapar sepertiku...."

Mendengar kata-kata pemuda itu, si pelayan segera menyuruh salah seorang pekerjanya untuk mengenakan apa yang diinginkan pemuda itu. Tapi tidak demikian halnya dengan beberapa orang pengunjung kedai. Mereka tertawa, bahkan salah seorang berkata dengan nada menyindir.

"Hei, Pelayan! Orang itu pasti perlu rumput seperti kudanya. Kenapa tidak sekalian kau buatkan dua porsi untuknya? Dia pasti akan menyantapnya dengan lahap!"

Mendengar ejekan itu, mereka yang berada di dalam kedai kembali tertawa keras. Pemuda yang diejek itu cuma menoleh sekilas kepada mereka, kemudian berkata pelan kepada si pelayan.

"Pelayan, apakah nama desa ini?"
"Sukamulya, Kisanak..."

"Hm, nama yang bagus. Alangkah sayangnya jika desa yang bagus ini dihuni oleh seekor monyet buduk!"

"Kurang ajar!" orang yang tadi mengejek pemuda itu, menggeram sambil menggebrak meja.

Brakkk!

"Dia pikir bisa bertingkah seenaknya di sini. Huh, belum kenal dengan si Koneng rupanya!" dengus laki-laki berbaju hitam dan memakai gelang bahar besar di pergelangan tangan kanannya.

Koneng memegang gagang golok yang terselip di pinggang kiri. Dan sesekali memelintir kumisnya, dia melangkah gusar mendekati pemuda itu. Melihat si Koneng mulai berbuat demikian, yang lainnya terdiam seribu bahasa. Mereka seperti mengerti apa yang akan terjadi kemudian. Selama ini, tidak seorang pun di desa ini yang berani menyinggung, dan tidak segan-segan menghabisi nyawa orang itu. Koneng memang jawara di Desa Sukamulya ini, dan pemuda kurus yang terlihat lemah itu bukan sekadar membuat si Koneng tersinggung dengan kata-katanya tadi, tapi telah membuatnya marah.

"Siapa yang kau katakan monyet buduk tadi?!" geram Koneng dengan mata melotot lebar sehingga biji matanya seperti hendak mencelat keluar.

Dengan sikap acuh tak acuh, dan sama sekali tidak menoleh ke arah si Koneng, pemuda itu menyahut pelan.

"Monyet buduk itu telah berdiri di depanku...."

"Bangsaaat..!"
Brakkk!
"Ohhh...!"

Kemarahan Koneng agaknya tidak bisa ditahan lagi. Kepalan tangan kirinya dengan geram menghantam pemuda itu. Namun dengan gerakan yang gesit, pemuda itu bergerak ke samping sambil berjumpalitan untuk menghindari hantaman lawan. Akibatnya sungguh luar biasa. Meja yang tadi berada di hadapan pemuda kurus itu hancur berantakan. Si pemilik kedai mengeluh pelan melihat kejadian itu. Dia hanya bisa mengurut dada tanpa bisa berbuat apa-apa karena tahu, dalam keadaan marah begitu bisa jadi si Koneng akan melampiaskan kemarahan padanya kalau saja dia berteriak-teriak cemas.

Tapi pemuda bertubuh kurus itu agaknya mengerti apa yang dikhawatirkan pemilik kedai itu. Atau mungkin juga karena dia merasa tidak leluasa meladeni lawan dalam ruangan kedai yang sempit. Maka dengan satu gerakan manis, tubuhnya melesat keluar.

"Keparat! Jangan lari kau! Aku tidak membiarkan orang menghinaku lepas begitu saja. Kau harus mampus, Jahanam!" geram Koneng seraya melesat keluar mengejar pemuda berbaju coklat itu.

"Huh, siapa yang bilang aku kabur? Menghadapi monyet buduk sepertimu aku akan kehilangan muka kalau sampai kabur!" desis si pemuda dengan nada mengejek.

"Kau tidak akan perlu kehilangan mukamu karena hari ini juga aku akan memenggal kepala mu!"

"Huh, lakukanlah kalau kau mampu!"
"Yeaaa...!"
"Uts...!"


***


Koneng agaknya memang geram sekali melihat sikap pemuda itu. Selama ini tidak ada seorang pun yang berani menentangnya di desa ini, tapi pemuda itu bukan saja menentangnya, bahkan sama sekali tidak memandang sebelah mata kepadanya. Isi dadanya seperti mau meledak menahan hawa amarah. Maka tanpa pikir panjang lagi, dia langsung mencabut golok dan menyerang lawan dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya. Tapi alangkah kagetnya dia ketika menyaksikan tidak satu pun dari serangannya yang mampu melukai lawan. Bahkan dengan gerakan yang manis, pemuda kurus itu berhasil menghindari serangan-serangan gencarnya. Tentu saja hal itu membuatnya semakin geram.

"Keparat! Aku bersumpah akan membunuhmu...!"

"Huh, buktikanlah omong kosongmu itu!" desis si pemuda dingin. "Salah-salah malah kau akan kehilangan kepalamu!"

Ujung golok Koneng menyebar ke arah perut lawan, namun pemuda itu cukup memiringkan tubuh sehingga senjata lawan lewat beberapa jari dari perutnya. Sambil memutar tubuh dengan cepat, dia melayangkan kepalan tangan menghajar wajah Koneng.

"Hup!"
"Uts!"
Duk!

Koneng menjerit dengan tubuh terjungkal! Laki-laki itu agaknya tidak bisa membaca gerakan tipuan yang dilancarkan lawan. Ketika kepalan pemuda itu menghajar wajahnya, dia bergerak ke samping untuk menghindarinya. Namun pada saat itu kaki kiri si pemuda terayun menghantam perutnya. Hal itu sama sekali tidak diduga oleh Koneng, sehingga dia harus menanggung akibatnya.

"Setan...!" Koneng menggeram dan bangkit kembali dengan cepat seraya mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya. Bola matanya menatap tajam ke arah lawan. Dan wajahnya berkerut menahan geram.

"Hari ini kau akan mampus ditanganku!" dengusnya geram.

"Huh, monyet buduk bermulut besar! Majulah kau kalau ingin kurobek mulutmu!"

"Yeaaa...!"

Koneng membentak nyaring sambil mengayunkan goloknya menyambar leher dan bagian bawah tubuh lawan dengan cepat. Pemuda itu tersenyum sinis, kemudian melompat ke atas melewati kepala Koneng.

Wuk! Wuk!

Koneng menyambar ke atas dan bermaksud membelah perut lawan. Namun gerakan yang di-lakukan pemuda itu lebih cepat lagi. Ujung kakinya menghantam punggung Koneng. Dan untuk yang kedua kalinya Koneng tersungkur ke depan. Namun kali ini masih untung karena dia tidak sampai terjerembab. Tapi pemuda itu tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Begitu kakinya menyentuh tanah, saat itu juga dia kembali melompat menyerang lawan dengan gerakan gesit.

"Hiyaaat...!"

Koneng terkesiap. Tubuhnya berguling sambil mengayunkan golok untuk memapas serangan lawan dengan untung-untungan.

"Hup!"
Des!

Entah bagaimana caranya, tubuh pemuda itu berkelebat cepat menghindari serangan tebasan golok Koneng. Kemudian dengan cepat ujung kakinya kembali menghajar perut lawan. Kali ini Koneng memekik kesakitan. Hajaran ini betul-betul membuat isi perutnya seperti diaduk-aduk. Langkahnya terhuyung-huyung ketika dia berusaha bangkit.

"Yeaaa...!"

Pemuda itu agaknya tidak ingin memberikan kesempatan lagi pada Koneng. Meskipun lawan sudah kelihatan tidak mampu memberikan perlawanan lagi, namun tubuhnya telah melesat ke arah Koneng dan siap menghajarnya kembali. Namun pada saat itu sekonyong-konyong melesat sebuah bayangan yang menghadang serangan itu.

Plak!
"Hih!"
"Uts...!"

Pemuda bertubuh agak kurus itu terkejut bukan main. Dia tidak sempat lagi untuk mengalihkan perhatian. Tapi mujur baginya karena bayangan itu kelihatannya hanya menangkis serangannya belaka agar tidak sampai mencelakai Koneng lebih parah lagi, sehingga ada waktu baginya untuk mengelak serangan berikutnya dari lawan barunya itu. Meski demikian pemuda itu sempat meringis ketika pergelangan tangannya seperti beradu dengan benda keras. Tubuhnya melenting ke belakang seraya membuat salto yang indah.

Begitu telapak kakinya menyentuh tanah, pemuda itu langsung bersiaga. Namun serangan terhenti, dan di depannya terlihat banyak orang berkeliling sambil tersenyum mengejek. Pemuda itu mendengus tajam ketika melihat seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun memakai baju yang seperti sisik ular berwarna merah menyala. Laki-laki bertubuh ceking dengan bentuk wajah lonjong dan sepasang mata sipit memandangnya dengan sikap merendahkan.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat seorang laki-laki bertubuh tegap dan memakai baju putih dengan warna ikat kepala yang sama. Usianya sekitar dua puluh delapan tahun. Di pinggang kirinya terlihat sepasang gelang-gelang yang sisinya tajam seperti mata pisau.

"Apakah kau kira bisa berlari jauh dariku, Widi...?" tanya pemuda berbaju putih itu kepada pemuda bertubuh agak kurus, seraya tersenyum kecil.


***


"Phuih! Pengkhianat keparat! Sampai kapanpun aku tidak menyerah begitu saja kepada kalian!" dengus pemuda yang dipanggil Widi, atau lengkapnya Widi Saksana.

"Kau hanya seorang diri, sedangkan dirimu telah terkepung oleh kami. Kau sendiri mengetahui bahwa mereka memiliki kepandaian yang tidak bisa dianggap enteng, bukan? Nah, menyerahlah dan bergabung bersama kami. Niscaya kau akan memperoleh apa saja yang kau inginkan. Mau harta? Wanita? Kau tinggal sebut, maka ketua akan mengabulkannya dengan cepat..."

"Tutup mulutmu, Begara Seta! Kau murid durhaka! Kau mencelakakan gurumu sendiri. Aku tidak akan mengatakan apa pun padamu!"

"Hm, agaknya kau tetap berkeras pada pendirianmu. Kalau demikian, tidak ada jalan lain. Tanpa keteranganmu pun kami akan berusaha mencari kedua pusaka itu. Tapi kau akan mengalami nasib yang pahit..," gumam pemuda berbaju putih yang dipanggil Begara Seta itu dengan senyum sinis.

"Huh, jangan kira aku takut dengan segala gertak mu itu, Begara! Majulah kau dan kawanan anjingmu itu. Aku tidak akan mundur setapak pun!" dengus Widi Saksana dengan sikap tegar. Begara Seta memandang dingin, kemudian menoleh ke arah laki-laki berbaju kulit ular dan memberi isyarat. Laki-laki itu mengangguk seperti mengerti apa yang dimaksud oleh Begara Seta.

"Kau boleh bersenang-senang dengannya, Dewo. Dengan cara bagaimanapun yang kau suka...."

"Beres! Akan kupatahkan kedua kaki dan tangannya, lalu akan ku congkel kedua biji matanya, lalu akan kuhirup darah di jantungnya sampai kering!" desis laki-laki yang dipanggil Dewo itu seraya menyeringai lebar.

Sementara itu melihat adanya orang-orang itu, Koneng merasa mendapat angin segar. Dia merasa tidak takut untuk menghadapi pemuda kurus berbaju coklat itu, tapi kali ini dia akan menyingkir tanpa harus kehilangan gengsi karena hadirnya orang-orang itu.

Sementara itu Widi Saksana memandang tajam lawannya yang mulai melangkah pelan mendekatinya sambil terus menyeringai mengejek dan menganggapnya rendah. Seolah-olah dia merasa dirinya seekor elang yang gagah perkasa dengan seekor anak ayam yang menciap-ciap kehilangan induknya dengan tubuh gemetar.

"Dengan sekali sambar, akan kubeset tubuh-mu!" serak terdengar suaranya bernada mengancam.

"Huh, majulah kau! Jangan kira aku takut denganmu!" dengus Widi Saksana tidak kalah gertak.

"Yeaaa...!"
Werrrr!
"Uhhh...!"

Meski belum bertarung secara langsung, namun Widi Saksana bisa merasakan bahwa kemampuan ilmu silat maupun tenaga dalam serta kegesitan lawan melebihi dirinya. Namun dia tidak berkecil hari dan berusaha tabah untuk melawan dengan sekuat daya kemampuannya. Dan ternyata apa yang diduganya memang benar. Dengan sekali berkelebat terasa angin kencang bersiur menerpa dirinya bersama dengan himpitan tenaga dalam yang kuat menekan. Widi Saksana menjatuhkan diri dan bergulingan untuk menghindari sambaran serangan lawan selanjutnya.

"Hiyaaat..!"

Dewo kembali berkelebat cepat sambil mengirim serangan bertenaga kuat ke arah lawan. Tangan kanannya terpentang ke muka, sementara kepalan tangan kirinya berada di pinggang. Tubuhnya berjumpalitan mengejar lawan.

"Hup!"

Widi memiringkan tubuh ketika kepalan kiri lawan menghantam mukanya. Kepalanya tertunduk ketika serangan balik kembali menyapu. Tubuhnya melompat ke belakang agak menyerong ke kiri ketika tendangan lawan menghantam dirinya. Tapi Dewo agaknya tidak mau membuang waktu lama-lama menghadapi lawan. Dia tahu betul bahwa Widi Saksana sengaja menghindari benturan anggota tubuh karena menyadari tenaga dalamnya yang berada di bawah dirinya. Sehingga seperti mendapat peluang besar, Dewo terus-menerus menekannya.

"Yeaaa...!"
Wuk! Wuk!
"Uts...!"

Widi Saksana merasa kewalahan menghadapi serangan gencar lawannya. Sehingga dalam satu kesempatan ketika lawan telah mengurung dengan ketat, dia terpaksa mencabut golok dan menyambar tubuh lawan untuk memberikan jalan keluar dari serangan lawan yang amat gencar. Sebaliknya Dewo hanya sedikit terkejut. Tubuhnya meliuk indah menghindari tebasan senjata lawan.

Tidak sedikit pun terlihat perubahan air mukanya melihat permainan golok lawan. Seolah olah lawan bersenjata atau tidak, sama saja baginya. Dan hal itu memang terlihat kemudian. Meskipun Widi Saksana telah mengarahkan segenap kemampuan kepandaiannya bermain golok, namun senjata itu belum mampu mengejar kecepatan bergerak lawan. Bahkan sambil terkekeh-kekeh, Dewo mengejeknya.

"He he he...! Ayo, kerahkan semua ilmu golok yang kau miliki! Keluarkan kepandaian si tua bangka Ageng Sura yang tidak berharga itu!"

"Keparat! Kusobek mulutmu berani merendahkan guruku!" dengus Widi Saksana geram.

"Ha ha ha...! Apa hebatnya kepandaian yang kalian miliki? Huh, dengan sekali tiup aku membuat tua bangka keropos itu melayang ke akherat!"

"Jahanam! Mampuslah kau! Mampuslah kau...!" teriak Widi Saksana dengan amarah yang menggelegak di dada.

Dia sama sekali tidak bisa menerima jika gurunya dihina begitu rupa. Eyang Ageng Sura bukan saja sekadar guru baginya, melainkan sebagai pengganti kedua orangtuanya yang telah tiada. Sehingga siapa pun yang berani menghinanya, sama saja dengan menghina dirinya. Namun agaknya hal itu memang disengaja oleh lawan untuk membakar amarah Widi Saksana. Dengan demikian dia berharap bahwa pemusatan pikirannya akan terganggu dan kacau, yang akan berpengaruh pada serangan-serangannya.

Dan perhitungannya memang berhasil. Widi Saksana membuat kesalahan besar. Dia tidak menyadari, bahwa dalam keadaan berhati-hati saja belum tentu dia mampu mengalahkan lawan. Dan kini dalam keadaan amarah begitu, dia kehilangan kendali dan tidak mampu mempertahankan diri dengan baik. Tujuan utamanya saat ini adalah menyerang lawan dengan sekuat tenaga. Sehingga tidak heran bila dalam beberapa saat saja dia kena dijatuhkan. Sebuah tebasan menyilang menyambar Dewo. Orang itu bergerak ke samping. Widi Saksana mengejar, namun tubuh lawan telah melesat cepat ke atas dan terus bergerak mengayunkan sebelah ujung kakinya menghantam dada.

Duk!
"Aaakh...!"

Widi Saksana memekik kesakitan. Tubuhnya terjungkal beberapa langkah. Dengan keadaan terhuyung-huyung dia berusaha bangkit. Namun lawan agaknya tidak memberi kesempatan sedikit pun. Tubuhnya telah berkelebat sambil mengirimkan serangan kedua.

Wut!
Begkh!
Des!
"Aaa...!"

Dalam keadaan mata kabur dan rasa sakit yang mengganggunya, Widi Saksana mencoba bertahan dan mengayunkan golok untuk menghalau serangan lawan. Tapi Dewo dengan mudah menghindari. Kepalan tangan kanannya kembali menggedor dada lawan, lalu disusul dengan hajaran kaki kirinya ke perut Widi Saksana. Pemuda itu memekik kesakitan. Tubuhnya kembali terjungkal sambil memuntahkan darah kental berkali-kali.

"Nah, sekarang terimalah kematianmu yang mengenaskan! Yeaaa...!"

Widi Saksana berusaha menggeser tubuh, namun tenaganya seperti terkuras habis dan tak mampu menggerakkan tubuh. Dia hanya bisa pasrah dan berdoa ketika lawan bersiap melesat untuk menghabisinya.


***


"Kisanak hentikan perbuatanmu!"

Pada saat yang kritis bagi Widi Saksana, terdengar bentakan keras yang berisi tenaga dalam kuat. Dewo tersentak kaget. Demikian juga bagi mereka yang berada di tempat itu. Mendadak saja melesat sebuah bayangan yang memapaki serangan laki-laki kurus itu.

Plak!
"Uhhh...!"
Wuk!

Dewo terpaksa mengalihkan perhatian dan mengayunkan kepalan tangan kanannya ke samping menyambut serangan lawan. Terasa tangannya seperti membentur benda keras. Dewo mengeluh kesakitan. Namun kaki kanannya masih mampu menyambar tubuh lawan yang baru datang. Alangkah kagetnya dia ketika merasakan tendangannya hanya menyapu angin saja. Lawan mampu menghindar dengan gesit. Padahal dia telah mengerahkan kecepatan luar biasa ketika menyapukan kakinya tadi. Selama ini belum ada seorang pun yang berhadapan dengannya mampu mengimbangi kecepatannya bergerak. Dan, kalaupun ada, tentulah dia seorang tokoh yang memiliki kepandaian hebat. Siapa tokoh ini?

Dewo baru menjejakkan kakinya ke tanah ketika bayangan tadi kembali melesat mengejarnya. Dia tercekat, dan dengan cepat membuang diri ke samping untuk kemudian melenting ke atas dengan gerakan ringan. Namun seperti menempel di belakangnya pada jarak tertentu, bayangan lawan terus mengejarnya.

"Hiyaaa...!" Dewo membentak nyaring ketika mengibaskan tangan sambil mengerahkan tenaga dalam hebat.

Terasa angin berkesiur kencang, bahkan sampai membuat ujung baju mereka yang menyaksikan pertarungan itu berkibar kibar. Debu mengepul ke udara dan dedaunan kering seperti dihempas badai.

Plak!
Duk!
"Aaakh...!"

Dewo menjerit keras ketika tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Ketika kepalan tangannya mengibas, lawanpun bukannya menghindar tapi malah memapaki. Untuk sesaat dia merasa girang karena yakin bahwa lawan akan cidera akibat benturan tenaga dalamnya yang hebat. Tapi bukan main terkejutnya dia ketika merasakan bahwa tulang lengannya seperti menghantam, sebatang baja yang kerasnya luar biasa. Dia mengeluh kesakitan. Dan pada saat itu juga satu tendangan menggeledek menghajar dadanya. Dewo memekik ketika merasakan isi dadanya seperti remuk.

Dia berusaha berdiri tegak sambil menahan rasa sakit yang hebat. Terasa darah menetes dari sudut bibirnya. Wajahnya menggeram dan sepasang matanya menyipit ketika melihat kehadiran seorang pemuda tampan berwajah keras pada jarak lima langkah darinya. Pemuda yang mengenakan baju dari kulit harimau itu memandangnya dengan sorot mata tajam seperti tidak berkedip.

"Keparat! Apa urusanmu mengacau di sini?!" bentaknya geram.

"Siapa yang menjadi pengacau sebenarnya? Kau atau aku?" sahut pemuda yang tidak lain dari Bayu Hanggara alias Pendekar Pulau Neraka sambil tersenyum sinis.

"Kurang ajar! Kau pikir dirimu sudah hebat karena bisa mengalahkanku? Huh, aku belum kalah, Keparat! Akan kucincang tubuhmu dan kujadikan santapan anjing-anjing kampung yang kelaparan!" dengus Dewo geram seraya mengambil ancang ancang untuk bersiap menyerang kembali.

"Yeaaa...!"
"Hup!"

Tubuh Dewo kembali melesat menderu menyambar lawan sambil mengerahkan tenaga dalam kuat. Kepalan tangan kanannya menyambar ke arah dahi. Pendekar Pulau Neraka mengelak ke samping. Namun tendangan kaki kiri lawan siap menyambut. Dengan tangkas dia menangkis dengan tangan kiri, sementara kaki kanannya menyodok ke lambung lawan.

Plak!
"Hiyaaa...!"

Tubuh Dewo melompat ke atas untuk menghindari sodokan kaki lawan, kemudian terus bersalto ke belakang ketika lawan mengejar.

Wuk!

Kedua kakinya seperti menggunting menghajar batok kepala Pendekar Pulau Neraka. Tubuh Bayu ditekuk dengan kepala merunduk dalam-dalam, untuk menghindari serangan lawan itu. Setelah serangan itu luput, dia buru-buru menjejakkan kaki ke tanah dan menunggu lawan yang masih mengapung di udara.

Tubuhnya berguling dan mengayunkan kedua kakinya ke atas, siap menghajar lawan. Tapi Pendekar Pulau Neraka bukannya menghindar melihat serangan lawan. Kedua kakinya malah bersiap memapaki tendangan lawan.

Duk!
Desss...!
"Aaa...!"

Kedua telapak kaki mereka beradu. Dewo mengeluh kesakitan ketika terdengar tulang berderak patah. Tubuh lawan terus berjumpalitan dan sebelum dia menyadari apa yang akan terjadi, kedua telapak kakinya kembali mendarat di dadanya. Dewo memekik keras ketika tulang dadanya berderak patah. Tubuhnya berkelojotan beberapa kali setelah darah muncrat dengan deras dari mulut, hidung serta pelupuk matanya. Tubuh Pendekar Pulau Neraka telah melejit lima langkah dari lawan yang tidak lama kemudian tak bergerak.

"Hm, kehebatan Pendekar Pulau Neraka ternyata bukan nama kosong belaka!" terdengar satu suara lantang menggema di tempat itu.

Bayu menoleh sekilas ke arah datangnya suara itu dengan sorot mata setajam mata elang!


***


Ketika Bayu melihat beberapa orang yang berada di tempat itu sama-sama memandangnya dengan wajah geram dan dendam yang tersirat jelas dari sikap mereka yang tidak sabaran untuk menghajar dirinya, salah seorang dari mereka, yang tadi tidak dilihatnya, tersenyum kecil. Laki-laki muda itu berusia sekitar dua puluh lima tahun, dan memiliki wajah tampan dengan rambut panjang dan pengikat kepala dari sutera halus warna merah muda. Bajunya yang warna kuning keemasan terlihat mewah.

Dan sepintas lalu terlihat dia sama sekali tidak mengesankan sebagai seorang tokoh persilatan. Tapi lebih mirip sebagai orang yang terpelajar. Tubuhnya pun sedang, dan tidak terlihat otot-otot maupun urat-urat yang menonjol. Satu-satunya yang terlihat jelas bahwa pemuda itu tak bisa dipandang enteng adalah sorot matanya yang tajam menusuk, menandakan bahwa dia memiliki tenaga dalam hebat. Lalu ada lagi ciri khas yang jelas bahwa dia adalah tokoh persilatan, yaitu rantai besi panjang yang melilit dipinggangnya.

"Dia memang patut mati di tanganmu...!" lanjutnya.

Bayu berusaha bersikap setenang mungkin seraya berjalan dua langkah mendekati pemuda itu. Kemudian berkata pendek.

"Aku hanya tidak ingin dia, dan juga kalian berbuat sewenang-wenang...," ucap Bayu tenang. Kemudian kakinya melangkah mendekati Widi Saksana.

"Apakah kau tahu apa yang telah kau lakukan?"

"Aku tidak akan bertindak kalau aku tidak mengetahuinya."

"Hm, kalau begitu jelas kau mengetahui bahwa posisimu berada di tempat yang salah," lanjut pemuda terpelajar itu sambil tersenyum kecil.

Bayu memandangnya sekilas, kemudian tersenyum sinis.

"Menyerakahi benda yang bukan miliknya, itulah yang jelas bersalah!"

"Syukurlah kalau memang kau mengerti. Aku jelaskan kembali agar kau mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya. Kami mencari dua kitab pusaka kepunyaan guruku, Nyai Imas Wari yang bergelar Peri Tambang Setan Ular. Kedua kitab itu lenyap saat guruku sedang bertapa, dan belakangan kami mendengar bahwa kedua kitab itu berada di tangan Ki Ageng Sura, guru pemuda itu. Ketika kami memintanya baik-baik, dia tidak mau memberikannya. Maka terpaksa kami menggunakan cara kekerasan untuk mendapatkan milik kami kembali. Dan saat ini kau membela salah seorang murid orang tua itu ketika kami berusaha mencari tahu ke mana kedua kitab pusaka milik kami itu mereka sembunyikan. Nah, menurutmu, siapa yang bersalah di antara kita berdua...?" tanya pemuda itu setelah menjelaskan secara ringkas duduk persoalannya.

"Dusta! Dia mengarang cerita bohong. Guruku bukan pencuri! Kedua kitab itu merupakan warisan almarhum guru Eyang Ageng Sura!" sergah Widi Saksana membantah cerita pemuda terpelajar itu.

"Hm, pernahkah kau mendengar ujar-ujaran orang tua yang berkata, maling teriak maling? Dia sedang melakukan hal itu untuk menutupi kebusukan gurunya...," sahut pemuda berbaju kuning emas itu tenang.

"Dusta! Dia berkata dusta! Aku tahu betul karena guruku tidak pernah berkata bohong. Kedua kitab pusaka itu milik perguruan kami!" sanggah Widi Saksana kembali.

"Pendekar Pulau Neraka, kudengar kau seorang yang bijaksana dan mampu menilai mana yang benar dan mana yang salah. Kau tidak mungkin mempercayai ucapannya tanpa fakta yang jelas, bukan?" lanjut pemuda berbaju kuning emas itu masih tetap dengan sikap yang tenang. Bayu tersenyum kecil setelah berpikir sejenak.

"Kalau kau berharap aku bertindak yang adil, kau keliru. Aku bukan hakim yang baik. Kenapa aku harus percaya pada kalian?"

"Syukurlah, tanpa kau sadari telah memilih keputusan yang bijaksana. Kau tidak mengenal kami berdua, tentu tidak akan berpihak pada siapa pun. Maka kalau kau hendak berlalu dari tempat ini, tentu kami tidak akan mempersoalkannya.

"Tentu saja, aku akan segera berlalu dari tempat ini setelah membawa kawanku ini...," sahut Bayu tenang sambil menunjuk Widi Saksana.

"Hm, apa maksudmu, Sobat?" tanya pemuda berbaju kuning keemasan itu masih dengan sikap tenang.

"Mudah saja! Telah kukatakan bahwa aku bukanlah hakim yang baik untuk memutuskan persoalan baik dan buruk. Dan aku akan bebas memilih mana yang kuanggap baik, dan mana yang kuanggap buruk. Nah, jika kau memang menyerahkan persoalan ini padaku untuk memutuskannya, kau dan kawan-kawanmu itu harus bisa menerima keputusanku dengan lapang dada. Aku akan membawa pemuda itu pergi, dan tidak seorang pun boleh menghalangi," sahut Pendekar Pulau Neraka enteng.

"Hm, sayang sekali. Sebenarnya kau bisa menjadi sahabat yang baik bagiku. Tapi aku telah mempunyai sikap, yaitu tidak seorang pun boleh menghalangi keinginanku. Meski itu malaikat sekalipun!" sahut pemuda itu tandas.

"Ya, memang sayang sekali. Karena aku telah mempunyai sahabat yang lebih gagah dan tampan dibandingkan denganmu!" sahut Bayu seraya tersenyum mengejek dan memberi isyarat pada Tiren yang sejak tadi berada agak jauh ketika pertarungan berlangsung.

Monyet berbulu hitam itu melompat di atas pangkuan sahabatnya itu seraya berteriak-teriak sambil menjulurkan lidah mengejek kepada pemuda berbaju kuning keemasan itu.

"Hm, memang benar. Monyetmu itu memang lebih tampan dariku. Tapi yang lebih jelas sekali, kau mirip sekali tampannya dengan dia!" sahut pemuda itu tersenyum mengejek.

"Kau dengar Tiren? Baru sekali ini ada orang yang memujiku!" sahut Bayu seraya tersenyum girang.

"Ada baiknya kau menjaga peliharaanmu itu, Sobat. Salah-salah dia akan mencelakakanmu!"

Selesai berkata demikian, pemuda itu mendorong telapak tangan kanannya ke arah Pendekar Pulau Neraka. Saat itu juga menderu serangkum angin panas ke arah Bayu.


***


"Hup!"

Bayu sama sekali tidak berusaha mengelak. Dia tersenyum sinis lalu mengibaskan tangan kirinya. Dari situ mendesir angin kencang yang juga berhawa panas memapaki pukulan jarak jauh yang dilancarkan lawan.

Desss!
"Yeaaa...!"

Pemuda itu agaknya tidak mau menunggu begitu saja. Tubuhnya langsung bergerak cepat menyerang ke arah Pendekar Pulau Neraka dengan satu bentakan nyaring. Bayu pun tidak mau tinggal diam. Dia bisa menduga bahwa lawan tidak mau bertindak kepalang tanggung terhadapnya. Terbukti dengan angin serangannya yang kuat bukan main.

Plak!
Duk!

Telapak tangan lawan yang terkembang dipapakinya. Tangannya terasa linu dan kesemutan akibat benturan itu. Demikian juga yang dilihatnya di wajah lawan. Berkerut menahan rasa sakit. Dia belum bisa menduga sampai sejauh mana kehebatan tenaga dalam lawan. Namun dari benturan itu dia merasa yakin bahwa kemampuan lawan tidak berada jauh di bawahnya.

"Ki Dandaka Wario, kenapa musti repot-repot mengurusinya? Biarkan kami yang akan membereskannya!" teriak Begara Seta menawarkan diri.

"Apakah kau ingin buru-buru mampus? Nah, kalau benar, bantulah aku meringkusnya!" sahut pemuda yang dipanggil Dandaka Wario itu dengan tersenyum dingin sambil melakukan tendangan keras.

Begara Seta bingung sendiri mendengar jawaban itu. Dia tidak mengerti apa maksud perkataannya. Seperti mengejek, ataukah memang mengharapkan bantuannya untuk meringkus Pendekar Pulau Neraka?

Dia seperti tidak peduli dengan semua itu. Selama ini setelah mengenal pemuda itu, dia masih sulit menebak sikapnya. Terkadang sifat Dandaka Wario seperti tidak peduli sama sekali. Dia tetap teguh pada pendiriannya dan tak mau terusik sedikit pun. Pernah pula dia bertarung dan mereka membantunya, tapi dia sama sekali tidak merasa rendah mengerubuti seorang lawan. Padahal mereka semua mengetahui bahwa kepandaian pemuda itu hebat luar biasa.

Berpikir demikian, dia merasa perlu untuk membereskan Pendekar Pulau Neraka secepatnya. Terlebih-lebih beberapa orang kawannya sejak tadi memang sudah gatal tangannya melihat kematian Dewo di tangan Pendekar Pulau Neraka. Maka tanpa membuang waktu, dia memberi perintah pada kawan-kawannya untuk menyerang Bayu.

"Hajar dia! Jangan biarkan lolos...!"

"Hiyaaat...!"
"Yeaaa...!"

Pendekar Pulau Neraka terkejut melihat lebih dari sepuluh orang dari kawanan itu mengerubutinya dengan penuh nafsu membunuh. Agaknya mereka begitu geram dan siap menghabisinya saat itu juga. Pemuda itu menggeram. Dia sedikit kerepotan, apalagi ketika Dandaka Wario mulai menekannya lebih hebat.

Bagaimanapun dia mengerahkan kecepatan bergeraknya, mustahil mampu menghindar dari serangan-serangan gencar yang dilakukan para pengeroyoknya. Senjata-senjata tajam mereka bersiuran nyaris melukai kulitnya.

Widi Saksana mengeluh pelan melihat tuan penolongnya menghadapi keroyokan begitu banyak orang. Dia pernah mendengar bahwa Pendekar Pulau Neraka memiliki kepandaian hebat dan sangat tangguh. Tapi menghadapi keroyokan sekian banyak orang yang memiliki kepandaian hebat rasanya kecil kemungkinan dia akan lolos.

Dua di antara mereka nyata diketahuinya memiliki kepandaian hebat. Yaitu, saudara seperguruannya sendiri, Begara Seta, serta pemuda terpelajar yang bernama Dandaka Wario itu. Belum lagi ketika mereka mulai mengeluarkan senjatanya masing-masing dan agaknya berniat menghabisi pemuda itu secepat mungkin.

"Nguk! Nguk..! Kaaakh...!"

Tiren berteriak-teriak seraya berjungkir balik sambil sesekali menutup kedua matanya. Tampak dia merasa khawatir sekali akan nasib sahabatnya itu, dan tidak tahu harus berbuat apa. Demikian juga halnya dengan penduduk desa yang mulai keluar dan menyaksikan pertarungan itu dengan wajah heran. Sebagian tampak kecut dan merasa yakin bahwa pemuda berbaju kulit harimau itu tidak lama lagi tentu tewas dengan cara yang amat mengenaskan.

Sedangkan yang dialami Pendekar Pulau Neraka mungkin sama dengan apa yang dikhawatirkan mereka. Apalagi ketika dia merasakan bahwa dirinya betul-betul terjepit. Dandaka Wario mulai menggunakan senjata rantainya yang amat berbahaya. Senjata yang terbuat dari untaian baja putih yang di ujungnya terlihat runcing seperti anak panah.

Seperti seekor ular, rantai itu meliuk-liuk dan terus mengejar ke mana saja tubuh Pendekar Pulau Neraka menghindar. Belum lagi dia harus menghindari sepasang gelang tajam yang mendesing-desing dilemparkan Begara Seta. Juga tebasan-tebasan golok tajam dari para pengeroyoknya yang lain.

"Hup!"
Cras!
"Akh!"

Bayu mengeluh kesakitan ketika ujung rantai Dandaka Wario menyerempet pinggangnya ketika dia melompat ke atas untuk menghindari sepasang gelang milik Begara Seta yang mengarah ke leher dan perutnya.

"Dia sudah terluka! Hajar terus...!" teriak Begara Seta memberi semangat.

"Cincaaang...!"

Pendekar Pulau Neraka menggeram. Tubuhnya melenting tinggi, namun beberapa orang sempat melemparkan goloknya menyambar tubuh Bayu. Begitu juga dengan ujung rantai Dandaka Wario terus mengejar seperti tidak ingin memberi kesempatan sedikit pun padanya. Bayu mengibaskan tangan kanannya ke atas.

"Yeaaa...!"
Siiing!

Secercah sinar keperakan yang menyilaukan mata terpancar dari pergelangan tangannya. Senjata andalannya berupa Cakra Maut mendesing kencang menyambar senjata-senjata lawan yang meluruk ke arahnya.

Trak!
Trak!
Breeet!
"Aaa...!"


***


TUJUH

Beberapa orang tersentak kaget melihat kelebatan sinar keperakan itu. Demikian juga halnya dengan Dandaka Wario dan Begara Seta. Mereka sama sekali tak menyangka akan hal itu. Tiba-tiba saja terdengar teriakan kesakitan. Enam orang langsung ambruk dengan tenggorokan koyak dan perut robek. Golok-golok mereka patah menjadi dua bagian. Sepasang gelang Begara Seta pun putus menjadi dua potong ketika jatuh ke tanah.

Demikian pula halnya dengan Dandaka Wario. Dia tidak habis pikir. Bagaimana mungkin rantai bajanya bisa putus sepanjang lima jengkal dari ujungnya. Padahal selama ini senjatanya itu amat dibanggakannya. Belum lagi hilang keterkejutan mereka, kembali terdengar desingan tajam yang menyambar kerumunan itu. Begara Seta dan Dandaka Wario melompat jungkir balik menghindarinya. Namun tiga orang anak buah mereka kembali menjadi korban disambar Cakra Maut.

Breeet!
"Aaa...!"

Cakra Maut terus melesat dan kembali ke pergelangan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka. Namun secepat itu pula Bayu mengibaskan tangannya kembali, dan Cakra Maut mendesing mengejar Dandaka Wario. Bersamaan dengan itu pula tubuhnya melompat mengejar Begara Seta sambil mengirimkan serangan maut.

"Yeaaa...!"
Plak!
"Uhhh...!"

Bukan main kagetnya Begara Seta menghadapi serangan cepat yang dilancarkan Pendekar Pulau Neraka. Dengan bertangan kosong begini dia sedikit kikuk dan merasa kedudukannya betul-betul berada di bawah angin. Tidak seorang pun kini yang membantunya. Beberapa orang kawannya tampak melarikan diri setelah merasakan gebrakan balik yang dilakukan Pendekar Pulau Neraka. Dia berusaha menangkis kepalan tangan Bayu.

Tapi kemudian terlihat wajahnya meringis menahan rasa sakit. Tubuhnya melompat kebelakang untuk menghindari serangan selanjutnya yang dilancarkan ujung kaki kanan Bayu. Bayu tidak langsung mengejar, melainkan berjumpalitan ke atas untuk menyambar Cakra Maut yang berbalik ke arahnya. Bersamaan dengan itu tubuh Dandaka Wario pun melesat ke arahnya sambil mengayunkan rantai mautnya.

"Yeaaa...!"
"Hiyaaa...!"

Tubuh Pendekar Pulau Neraka melompat ke atas, namun ujung senjata lawan mengejarnya. Dia terus berjumpalitan menghindarkan diri dari serangan lawan.

Crok!
"Yeaaa...!"

Ketika tubuhnya melesat ke bawah, ujung rantai lawan menderu mengejarnya, namun secepat itu pula kembali dia melenting ke atas sehingga senjata lawan menghantam tanah. Begara Seta mempergunakan kesempatan itu untuk menghajar lawan dengan satu tendangan menggeledek. Tapi Bayu telah memperhitungkan hal itu. Tangan kanannya terkibas ke atas, dan Cakra Maut mendesing menyambar Begara Seta tanpa bisa dielakkannya.

Suing!
Cras!
"Aaa...!"

Begara Seta hanya mampu menjerit tertahan. Cakra Maut menyambar tenggorokannya tanpa bisa dihindari. Lehernya terkulai dan nyaris putus dengan darah segar menyembur dari pangkalnya. Tubuhnya ambruk ke tanah dengan bersimbah darah. Terlihat dia menggelepar-gelepar sesaat kemudian diam tidak berkutik lagi.

Menyadari bahwa senjata lawan dapat berbalik lagi kepada pemiliknya, Dandaka Wario menggunakan kesempatan itu untuk merontokkan Cakra Maut. Tidak seperti waktu melesat dari sarungnya dipergelangan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka, kembalinya senjata itu tentu tidak memiliki kekuatan seperti pertama. Demikian pemikirannya. Tapi Bayu bukannya tidak mengerti apa yang tengah dipikirkan lawan. Begitu Dandaka Wario mengejar senjatanya, tubuhnya pun berkelebat menyerang lawan dengan pengerahan tenaga dalam penuh.

"Yeaaa...."

Dandaka Wario terkesiap kaget. Buru-buru rantai mautnya dikibaskan untuk menghancurkan batok kepala lawan. Bayu merundukkan kepala sehingga terhindar dari maut. Tangan kanannya terangkat ke atas dan Cakra Maut kembali menempel di pergelangan tangannya. Lalu dengan secepat kilat dilemparkannya kembali ketika sebelah kakinya baru saja menjejak tanah. Bersamaan dengan itu tubuhnya pun kembali melesat menyerang lawan.

"Hiyaaa...!"

Bukan main kagetnya Dandaka Wario melihat dua serangan sekaligus. Bila dia memapaki senjata lawan, maka pertahanannya akan terbuka dan lawan dengan mudah menghajarnya. Tapi bila dia bermaksud menahan serangan lawan, bisa jadi senjata Cakra Maut yang mendesing kencang itu mencelakakan dirinya.

Dandaka Wario menahan napas. Dia memutuskan untuk menghindari kedua serangan itu sekaligus. Tubuhnya berkelit ke samping sambil menundukkan kepala ketika Cakra Maut berdesing keras di dekat telinganya. Namun satu sapuan tendangan yang dilancarkan Bayu nyaris membuat perutnya jebol kalau dia tidak buru-buru melompat ke belakang.

Cras!
Begkh!
"Aaa...!"

Dandaka Wario lupa memperhitungkan bahwa Cakra Maut itu mampu berbalik kembali meski serangan awalnya gagal. Senjata yang melesat bagai bumerang itu menyambar punggung kirinya. Dia mengeluh kesakitan. Keseimbangannya menjadi limbung ketika tubuhnya sedikit terhuyung. Pada saat itulah kepalan tangan kanan Bayu menghantam dengan pukulan menggeledek ke arah dada lawan tanpa bisa dielakkan.

Dandaka Wario memekik kesakitan. Tubuhnya terjungkal dengan darah kental muncrat dari mulutnya. Tubuhnya menggelepar-gelepar beberapa saat, untuk kemudian mengejang. Diam tak bergerak! Isi dadanya remuk dan jantungnya pecah akibat pukulan yang dilancarkan Pendekar Pulau Neraka.

"Nguk! Nguk...!"

Tiren bertepuk-tepuk girang seraya berlari kencang mendapati sahabatnya itu. Bayu tersenyum kecil. Setelah menangkap kembali senjatanya dia menggendong sahabatnya itu. Lalu melangkah pelan mendekati Widi Saknaka yang masih duduk bersila untuk mengatur pernapasan dan jalan darahnya yang kacau akibat pertarungannya tadi.

Pemuda itu tersenyum kecil. Apa yang didengarnya tentang kehebatan Pendekar Pulau Neraka memang bukan omong kosong belaka. Juga berita tentang kesadisan tokoh itu. Wajahnya sama sekali tidak mengesankan apa-apa setelah mengalami pertandingan yang amat menguras tenaganya tadi.

"Bagaimana keadaanmu...?" tanya Bayu pelan seraya tersenyum kecil.

"Agak mendingan. Terima kasih atas pertolongan mu. Namaku Widi Saksaka...," sahutnya seraya mengulurkan tangan.

"Bayu Hanggara, dan ini sahabatku, Tiren...," sahut Bayu sambil menjabat tangan pemuda itu.

"Kudengar pembicaraan kalian tadi. Dan sepertinya kau tahu banyak tentang persoalan yang terjadi di antara kami."

"Tidak banyak Aku sedikit mengetahuinya setelah bertemu dengan adik seperguruanmu."

"Adik seperguruanku?" tanya Widi Saksaka heran. Dahinya berkerut menandakan kebingungannya.

"Namanya Jaka Permana...," ucap Bayu mencoba menjelaskan.

"Oh, jadi..., jadi Eyang telah mengambilnya sebagai murid!" seru Widi Saksaka girang.

"Hm, apa maksudmu? Bukankah dia adik seperguruanmu? Kenapa kau katakan gurumu telah mengambilnya sebagai murid?"

Widi Saksaka tersenyum kecil. "Anak itu tadinya dipungut oleh guru kami ketika masih kecil. Guru kami menganggapnya sebagai anak sendiri. Tapi beliau tidak pernah mengambilnya murid dan tak pernah mengajarkannya ilmu silat. Mungkin sekarang Eyang telah berubah. Ke mana dia sekarang?"

"Dia pergi. Kelihatannya curiga padaku. Tapi kurasa dia membawa amanat dari guru kalian."

"Amanat?"

"Entahlah. Mungkin tentang kedua kitab pusaka yang disebut oleh mereka tadi."

"Astaga! Kalau benar demikian, tentu dia sedang dalam bahaya besar! Aku harus menolongnya!" seru Widi Saksaka dengan wajah kaget.

Bayu terdiam beberapa saat ketika pemuda itu memandangnya dengan seksama. Kemudian berujar pendek.

"Maaf, aku telah membunuh saudara seperguruanmu."

"Huh, dia memang pantas menerima kematian akibat pengkhianatan yang dilakukannya!" dengus Widi Saksaka geram.

Bayu memandangnya dengan wajah bingung.

"Gara-gara dia, guru sampai ditawan oleh gadis celaka itu!"

"Kau pun mengetahui kalau gurumu telah diculik?"

Widi Saksaka mengangguk, kemudian menghela napas panjang.

"Begara Seta kepincut dengan gadis itu dan akhirnya membeberkan tentang kedua buah pusaka perguruan yang sering diceritakan guru kepada kami. Kedua pusaka itu kelak akan diturunkan kepada salah seorang di antara kami yang akan dipilihnya. Setan telah merasuki hati saudara seperguruanku itu. Dia betul-betul kepincut dengan godaan gadis celaka itu!" desis Widi Saksaka menahan geram.

Bayu mengangguk-angguk mendengar penuturan pemuda itu. "Kalau memang Begara Seta telah membeberkan kedua pusaka itu, kenapa mereka masih mengejar-ngejar gurumu dan kau sendiri?"

"Itulah yang sengaja diciptakan oleh guru kami. Eyang Ageng Sura bercerita tentang kedua pusaka itu pada kami tidak bersamaan. Semula kami tidak mengetahui bahwa guru menceritakan pada kami berdua, sebab ketika itu Eyang hanya berpesan bahwa hanya aku saja yang mengetahui rahasia itu dan tidak boleh membocorkannya pada Begara Seta. Kurasa beliau pun bercerita hal yang sama pada Begara Seta. Juga tentang pesan untuk merahasiakannya. Kami sendiri tidak mengetahui di mana kedua kitab pusaka itu disembunyikan, sebab guru kami telah berjanji jika tiba saatnya kelak, beliau akan memanggil kami pulang untuk mempelajari kitab pusaka itu. Begara Seta merasa yakin bahwa aku mengetahui di mana kedua kitab pusaka itu disembunyikan. Semula dia membujukku dengan cara halus, tapi karena aku tidak mengatakan juga, dia akhirnya marah dan menyerangku. Aku melarikan diri, tapi agaknya mereka tidak ingin membiarkanku lepas begitu saja. Dan akhirnya kau tahu sendiri apa yang kualami di tempat ini...," jelas Widi Saksaka panjang lebar.

Bayu kembali mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Widi Saksaka. "Lalu dari mana kau mengetahui bahwa gurumu diculik mereka?"

"Begara Seta mengatakannya ketika dia mengancamku."

Keduanya saling pandang sejenak kemudian Widi Saksaka bangkit dan melangkah pelan. Wajahnya kelihatan bingung sekali ketika dia kembali memandang Pendekar Pulau Neraka. Ada yang ingin dikatakannya, namun seperti tidak keluar dari tenggorokannya.

"Ada sesuatu yang bisa kulakukan...?" tanya Bayu.

"Eh, aku..., aku tidak enak hati. Pertolonganmu telah cukup banyak."

"Bagaimana kalau kita berusaha membebaskan gurumu?"

"Apakah..., apakah kau bersedia menolongku?"

"Kenapa tidak?"

"Tapi..., gadis itu memiliki kepandaian yang hebat. Kalau kau sampai celaka, aku tentu merasa sangat bersalah sekali karena telah menyeretmu pada persoalan kami."

"Jangan pikirkan hal itu. Mari kita pergi mencari gurumu dan membebaskannya!"

"Eh, terima kasih atas kesediaanmu. Tapi..., apakah tidak lebih baik kalau kita mencari Jaka Permana lebih dulu?"

Bayu berpikir sejenak, kemudian berkata pelan. "Apakah kau tahu di mana sarang mereka?"

Widi Saksaka mengangguk cepat.

"Kita berangkat sekarang!" sahut Bayu cepat.

"Tapi..., bagaimana dengan Jaka Permana? Aku khawatir terjadi apa-apa dengannya...."

"Kita akan urus nanti. Saat ini menyelamatkan guru lebih utama dibanding dengan menyelamatkan saudara seperguruan yang belum ketahuan nasibnya!" sahut Bayu tandas.

Widi Saksaka diam saja. Dalam hati dia membenarkan apa yang dikatakan Pendekar Pulau Neraka. Tak berapa lama kemudian mereka telah berlari dari desa itu.


***


Nyi Imas Wari bangkit dari kursinya. Wajah gadis berparas cantik itu tampak gusar. Dengan sepasang bola mata mendelik tajam dia menghardik tiga orang laki-laki yang duduk bersila sambil menundukkan kepala di hadapannya.

"Kalian betul-betul tidak becus, dan tidak bisa ku andalkan! Meringkus satu orang saja kalian tidak mampu!"

"Tapi, Nyi... pemuda itu betul-betul hebat kepandaiannya. Bahkan Ki Dandaka Wario mampu dibinasakannya setelah Ki Begara Seta tewas...," sahut salah seorang di antara mereka.

"Apa katamu?"

"Benar, Nyi. Ki Dandaka Wario dan Ki Begara Seta tewas di tangannya."

"Keparat! Akan kuremukkan batok kepala pemuda itu!" geram Nyi Imas Wari sambil mengepal-kan kedua tangannya. Wajahnya tampak kelam dengan tarikan keras menandakan kemarahan hatinya yang memuncak.

"Siapa pemuda itu?"

"Eh, Ki Dandaka Wario agaknya mengenalnya. Dia..., dia yang berjuluk Pendekar Pulau Neraka...."

"Pendekar Pulau Neraka? Hm, pantas nama itu belakangan ini amat menggetarkan rimba persilatan. Kakang Dandaka Wario boleh kalah di tangannya, tapi jangan harap dia mampu menaklukkanku!" desis Nyi Imas Wari dengan sorot mata tajam.

"Apakah..., apakah Nyi Imas Wari akan menggempurnya?"

"Goblok! Apa kau pikir aku akan berbaik-baik padanya?!"

"Eh, maafkan kami, Nyi. Tapi kalau memang niat Nyi Imas Wari demikian, itu memang sudah seharusnya. Pemuda sombong itu harus diberi pelajaran. Kalau tidak, dia akan merasakan dirinya hebat tak terkalahkan."

"Tutup mulut kalian!"

Orang itu kembali menundukkan kepala dengan wajah kecut.

"Kalian tidak perlu mengajariku! Kalian sendiri kerja tidak becus, dan untuk itu ada hukuman tersendiri buat kalian!"

Ketiga orang itu terkejut mendengar keputusan Nyi Imas Wari.

"Eh, ampuni kami, Nyi. Jangan hukum kami...," sahut mereka dengan tubuh gemetar ketakutan.

"Siapa yang mengatakan bahwa aku akan menghukum kalian? Aku justru akan membebaskan kalian dari siksaan!"

"Oh, terima kasih, Nyi! Terima kasih!" sahut mereka serentak menarik napas lega.

"Memiliki jiwa pengecut adalah siksaan batin dan sulit diobati. Aku akan mengobati kalian dan melepaskan siksaan itu...," sahut Nyi Imas Wari seraya tersenyum kecil.

Setelah selesai berkata begitu, Nyi Imas Wari memasukkan tangannya ke balik baju, kemudian mengembangkannya ke depan. Dari situ melesat jarum-jarum beracun yang langsung menerpa ketiga orang laki-laki yang berada di hadapannya. Mereka memekik kesakitan, dan ambruk seketika dengan tubuh kejang membiru.

"Huh, orang-orang seperti kalian tak pantas hidup lebih lama lagi. Kematian lebih pantas bagi kalian!" dengusnya sinis.

Nyi Imas Wari menepuk tangannya tiga kali, dan tak berapa lama masuk dua orang laki-laki bertubuh kekar ke dalam ruangan itu.

"Seret mereka dan berikan pada anjing anjing hutan kelaparan!"

"Baik, Nyi...!"
"Panggilkan Gotoloko ke sini!"

"Baik, Nyi...!" sahut kedua laki-laki bertubuh kekar itu bersamaan.

Setelah menunggu beberapa saat, masuklah seorang laki-laki bertubuh besar dan kekar ke dalam ruangan itu. Wajahnya seram dan berkumis tebal dengan kepala botak. Di punggungnya terlihat sebilah pedang yang cukup besar dan berat. Dia memberi hormat pada Nyi Imas Wari, kemudian duduk bersila di hadapannya.

"Bagaimana dengan tua bangka itu? Apakah dia masih tak mau bicara?"

"Ampun, Gusti Ayu. Aku telah berbuat sekuat kemampuanku, tapi dia tak juga mau bicara. Keadaannya betul-betul amat lemah. Kalau aku terus menyiksanya, dia mungkin akan tewas."

"Kurang ajar!" gadis itu menggeram sambil mengepalkan sebelah tangannya.

"Saat ini dia tengah tak sadarkan diri, Gusti Ayu. Tapi begitu sadar, aku akan memaksanya lagi untuk memberitahukan di mana kedua kitab pusaka itu berada...," kata Gotoloko melanjutkan keterangannya.

Nyi Imas Wari berkali-kali mendengus geram.

"Apa yang bisa kulakukan untukmu, Nyi?" Nyi Imas Wari memandangnya sekilas, kemudian kembali menghela napas kesal sambil menggeleng lemah.

"Tidak. Untuk saat ini sudah cukup. Kembalilah kau ke tempatmu."
"Baik, Gusti Ayu."

Laki-laki bertubuh tinggi besar itu menjura hormat, kemudian berlalu dari tempat itu. Namun baru saja dia menghilang dari balik ruangan itu, terdengar teriakan-teriakan panjang dari arah luar. Nyi Imas Wari tersentak kaget dan buru-buru keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Bukan main geramnya dia ketika melihat seorang pemuda berbaju kulit harimau tengah membantai anak buahnya satu persatu. Gerakannya amat gesit dan tenaganya kuat. Terlihat lebih dari tujuh orang anak buahnya terkapar di tanah dalam keadaan yang mengerikan.

"Pendekar Pulau Neraka, hentikan perbuatan-mu! Akulah tandinganmu, bukan mereka!" teriak Nyi Imas Wari geram.


***


DELAPAN

Pemuda berbaju kulit harimau yang tengah mengamuk itu tak lain memang Pendekar Pulau Neraka. Begitu mendengar bentakan itu, serentak para pengeroyoknya menghentikan serangan. Bayu memandang ke arah gadis yang tadi mengeluarkan bentakan nyaring itu. Widi Saksaka yang berada di dekatnya dan sedang menggendong Tiren, berbisik ke telinga pemuda itu.

"Gadis itulah yang kukatakan tadi. Hati-hati, kepandaiannya hebat sekali. Terutama tambang yang melingkar di pinggangnya itu."

Bayu melihat dengan seksama ke arah gadis berparas cantik itu, juga memperhatikan tambang yang melilit rapi di pinggangnya yang ramping. Sekilas melihat penampilannya, orang tidak akan menyangka bahwa gadis itu kejam dan memiliki kepandaian yang hebat.

"Hm, jadi diakah orang yang kau andalkan untuk menghadapiku, Widi?" dengus gadis itu sinis.

"Kaukah majikan tempat ini?" Bayu menimpali dengan pertanyaan pula seraya memberi isyarat pada Widi Saksaka agar tidak mempedulikan ejekan gadis itu.

"Ya, akulah orangnya...," sahut gadis itu dengan wajah angkuh.

"Hm, kalau begitu bebaskanlah orang tua itu!" "Huh, seenaknya saja kau bicara! Siapa pun yang berani masuk daerah kekuasaanku, maka mutlak dia adalah tawananku. Dan kalian telah melakukannya, bahkan berani membunuh anak buahku, maka kalian berdua adalah tawananku!"

Bayu tersenyum sinis dan berkata dengan lantangnya.

"Aku adalah penguasa diriku, dan tak seorang pun kubiarkan menguasai diriku. Apalagi menjadikanku tawanan!"

"Akan kulihat, sampai di mana kebenaran kata-katamu itu!" sahut gadis itu seraya memberi isyarat pada Gotoloko untuk meringkus pemuda itu.

Gotoloko menggeram ketika tubuhnya yang besar bagai raksasa itu melompat dan menggetarkan tanah yang berada di sekitar tempat itu. Bayu memandang dengan wajah sinis. Dia menoleh sekilas, dan melihat sekitar lima belas orang anak buah gadis itu yang masih tersisa. Dan di antara mereka agaknya hanya si raksasa ini yang menjadi andalannya. Bayu menyipitkan mata seperti hendak menaksir sampai di mana kekuatan lawannya ini.

"Ghrrr...! Akan kurencah tubuhmu, Bocah!" geram Gotoloko sambil menyeringai lebar.

Bersamaan dengan itu juga tubuhnya yang besar meluruk mencengkeram Bayu. Pemuda itu berkelit ke samping, namun dengan sigap tangan Gotoloko menyapu pinggangnya. Terpaksa Bayu melompat ke atas sambil terus melewati kepala lawan. Dia ingin menguji, sampai di mana kecepatan bergerak raksasa ini.

"Hup!"
Wuk!

Gotoloko berusaha menyambarnya, namun tangannya hanya mengenai angin belaka. Tubuh pemuda itu telah berada di belakangnya. Ketika dia berbalik hendak menyapu dengan satu tendangan bertenaga kuat, tubuh Pendekar Pulau Neraka telah mencelat ke sampingnya sambil melakukan tendangan keras.

Jder!
"Aaakh!"

Gotoloko mengeluh kesakitan ketika tendangan Bayu menghajar dadanya. Tubuhnya ambruk dan terjungkal sejauh empat langkah. Belum lagi dia berusaha bangkit, Bayu telah mengirim tendangan kembali.

Des!
Krak!
"Aaakh...!"

Gotoloko memekik kesakitan. Rahangnya patah ketika tulang lehernya patah. Dadanya seperti dihantam bandul besi yang beratnya puluhan kati, sehingga terlihat tulang rusuknya melesak ke dalam. Bayu mendengus pelan.

"Huh, kau hanya memiliki gentong kosong yang tak berisi!"

"Pendekar Pulau Neraka, kau memang hebat! Tak percuma banyak tokoh persilatan yang takut terhadapmu. Aku menawarkan kerja sama dengan imbalan yang memuaskan asal kau mau berada di pihakku," sahut Nyi Imas Wari seraya melangkah genit mendekati pemuda itu sambil tersenyum sinis.

Bayu tersekat sesaat lamanya. Dia tidak begitu mudah dirayu oleh wanita walau bagaimanapun cantiknya. Tapi kali ini ada yang aneh. Sorot mata gadis itu seperti memancarkan daya pesona sihir yang hendak membetot sukmanya. Kejantanannya perlahan-lahan bangkit tanpa bisa dikendalikan seiring langkah gadis itu yang perlahan-lahan mendekatinya.

"Bayu, jangan tatap matanya! Dia sedang menggunakan ilmu sihir untuk mempengaruhimu!" teriak Widi Saksaka memperingatkan.

"Jangan dengarkan ocehannya, Sayang. Ketahuilah olehmu, aku telah lama merindukanmu. Setiap saat namamu ku sebut, dan ku impikan dalam tidurku. Oh, dekaplah aku. Dekaplah aku dalam pelukanmu...!" rayu Nyi Imas Wari seraya terus melangkah mendekati Bayu.

Tiren berteriak-teriak dengan suara melengking, kemudian melompat dari pangkuan Widi Saksaka dan terus berjumpalitan di tanah, dan melenting dengan ringan di pundak Bayu. Dia menjerit keras.

"Kaaakh...!"
"Uhhh...!"

Bayu yang tadi terpaku dengan wajah takjub terpesona oleh kecantikan dan kelembutan suara Nyi Imas Wari, kini seperti tersadar dari mimpi oleh teriakan melengking di telinganya.


***


"Monyet jahanam, kubunuh kau! Hih...!"

Melihat usahanya digagalkan oleh Tiren, Nyi Imas Wari marah bukan main. Telapak tangannya disorongkan ke depan. Dari situ menyambar jarum-jarum beracun yang sangat halus menerpa monyet itu dan Pendekar Pulau Neraka.

"Uts...!"

Bayu buru-buru melompat ke atas, namun Nyi Imas Wari agaknya telah memperhitungkan hal itu. Dia meloloskan tambang di pinggangnya dan memutarnya perlahan-lahan. Salah satu ujung tambang melesat ke arah Pendekar Pulau Neraka bagai anak panah, sementara ujung yang satunya lagi berada dalam genggaman gadis itu.

"Mampus kau...!"
"Hup!"

Bayu mencelat turun, namun ujung tambang itu terus mengikutinya. Juga ketika tubuhnya bergulingan dan kembali melenting ke atas dan ke mana pun dia bergerak. Pemuda itu geram sendiri jadinya. Dia tidak mampu menjangkau tambang itu sebab ingat apa yang dipaparkan oleh Jaka Permana dan Widi Saksana tentang kehebatan senjata lawan. Begitu mendekat, dia akan langsung melibat dan melilit sendiri bagai seekor ular menyantap mangsa.

"Hi hi hi...! Ayo, bertahanlah terus sampai kau kehabisan napas. Ayo, lawanlah senjataku ini dengan senjatamu yang hebat itu! Ayo, keluarkan senjatamu itu...!"

Bayu mendengus geram. Keadaannya kini memang serba salah. Walaupun dia bergerak cepat untuk menyerang gadis itu, maka ujung tambang lawan akan lebih cepat lagi menyambarnya. Sekali saja dia terbelit, maka akan sukar melepaskan diri, karena semakin kuat dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk melepaskan lilitan, maka tambang itu akan semakin kuat membelit.

"Hiyaaa...!"
Siiing...!

Bayu membentak nyaring ketika mengibaskan tangan kanannya! Dalam keadaan terjepit begini tak ada kesempatan lagi baginya membela diri selain memapaki serangan lawan dengan Cakra Maut.

"Hm, kenapa tidak sejak tadi saja kau keluarkan senjatamu?" ujar Nyi Imas Wari sinis.

Tapi sesaat kemudian gadis itu terkejut bukan main ketika mencoba membelit Cakra Maut dengan senjatanya.

Tes!
"Hei?!"

Tambangnya yang sangat dibanggakan dan diandalkan itu terbabat putus oleh senjata Pendekar Pulau Neraka. Belum lagi habis rasa kagetnya, mendadak saja Cakra Maut itu mendesing menyambar lehernya. Nyi Imas Wari terkejut dan cepat membuang diri ke samping.

"Yeaaa...!"

Tubuh Pendekar Pulau Neraka melompat sambil berjumpalitan untuk menangkap senjatanya kembali dan terus menghajar lawan dengan satu tendangan menggeledek.

Plak!
Wuk!

Nyi Imas Wari mencoba menangkis dengan tangan kirinya. Namun tangannya terasa linu ketika benturan terjadi. Dia mengeluh kesakitan. Namun masih sempat menundukkan kepala untuk menghindari sapuan tendangan lawan berikutnya. Tubuhnya melompat ke belakang sambil menyerang lawan dengan tambang mautnya.

Wut!
Siiing!

Bersamaan dengan senjatanya membelit pinggang Pendekar Pulau Neraka, Cakra Maut melesat menyambar dadanya tanpa bisa dielakkan lagi.

Cras!
"Aaa...!"

Nyi Imas Wari memekik kesakitan. Dadanya robek lebar ketika tulang rusuknya patah. Tubuhnya terjungkal bersimbah darah, dan tewas beberapa saat kemudian.

"Kurang ajar! Serang dia! Bunuh...!"

Melihat majikannya tewas, anak buah Nyi Imas Wari yang masih tersisa, tidak mau tinggal diam. Mereka menyerbu Pendekar Pulau Neraka dengan kemarahan yang meluap-luap. Dengan senjata terhunus, mereka menyerang dengan membabi buta.

"Yeaaa...!"

Melihat keadaan itu Bayu serentak menyambar Cakra Mautnya dan dengan geram menghajar mereka dengan senjatanya itu.

Siiing!
Bret!
Cras!
"Aaa...!"

Tiga orang langsung ambruk bermandikan darah disambar senjata maut itu. Bayu melesat cepat mengayunkan tendangan ke arah dua orang yang mendekat ke arahnya.

Duk!
Desss!
"Aaa...!"

Dua orang lagi terjungkal dengan dada remuk. Tubuh Pendekar Pulau Neraka terus berkelebat seraya menyebar Cakra Mautnya dan kembali melepaskannya dengan geram. Tenggorokan mereka robek dan tulang lehernya patah. Nyawa mereka terbang saat itu juga.

Melihat sepak terjang pemuda itu yang ganas dan tak kenal ampun, sisanya melarikan diri. Namun Bayu betul-betul tak memberi ampun pada mereka. Cakra Mautnya kembali berputar mengejar dan menyambar punggung tiga orang yang terlambat melarikan diri. Ketiganya memekik ketika tubuh mereka ambruk bermandikan darah. Bayu mendengus pelan dan membiarkan sisanya melarikan diri. Kemudian dia memandang kesekeliling tempat itu. Widi Saksaka tak ada. Tiren menunjuk-nunjuk ke satu arah. Bayu mengangguk sambil tersenyum kecil.

"Hm, syukurlah dia telah menemukan gurunya. Kalau begitu tugas kita telah selesai, Tiren. Mari kita tinggalkan tempat ini," kata pemuda itu seraya menyambar tubuh monyet kecil itu dan melesat cepat meninggalkan tempat itu.


***


Apa yang ditunjukkan Tiren memang benar. Begitu melihat mereka mengerubuti Pendekar Pulau Neraka, Widi Saksaka menyelinap masuk ke, dalam gedung di depannya dan menemukan gurunya terkulai lemah dalam sebuah ruang penyiksaan. Buru-buru dilepaskannya belenggu yang mengikat kedua tangan dan kaki orang tua itu.

"Pendekar Pulau Neraka membantuku, Eyang. Dia telah membinasakan gadis itu, dan seluruh anak buahnya. Juga termasuk Kakang Begara Seta...," jelas Widi Saksaka.

"Pendekar Pulau Neraka? Oh, syukurlah...."

"Tapi aku belum menemukan adik Jaka Permana."

"Ah, sampai aku lupa memberitahukannya padamu. Lekaslah kau tolong dia. Mereka pun telah menyekapnya di ruangan lain. Aku akan menolong Pendekar Pulau Neraka!"

"Tak perlu, Eyang. Terakhir kulihat dia tengah membantai anak buah gadis itu. Mereka pasti tidak akan selamat di tangannya!"

"Ah, tokoh itu memang hebat, dan sekaligus kejam. Dia tentu tidak akan membiarkan mereka selamat seorang pun!" gumam Ki Ageng Sura sambil menggeleng lemah dan menghela napas pendek.

Orang tua itu melangkah pelan keluar dari ruangan ketika Widi Saksaka mencari Jaka Permana di ruangan lain. Namun ketika tiba di halaman depan, tak dijumpainya seorang pun di sana. Yang ada hanya mayat-mayat bergelimpangan dalam keadaan yang mengenaskan. Termasuk mayat gadis yang menculiknya tempo hari. Ki Ageng Sura kembali menggeleng kecil.

"Hm, kabar tentangnya memang bukan omong kosong belaka. Kepandaian mereka hebat, tapi dia tidak mampu mengalahkannya...."

"Eyaaang...!" teriak seseorang.

Ki Ageng Sura cepat berbalik dan melihat seorang pemuda tanggung berusia sekitar lima belas tahun, berlari-lari kecil menghampirinya, dan berlutut di kakinya.

"Syukurlah kau selamat, Jaka...."

"Eyang tak apa-apa...?" tanya Jaka Permana dengan wajah cemas.

Ki Ageng Sura tersenyum kecil sambil menggeleng lemah. Dilihatnya wajah Jaka Permana agak memar. Begitu juga dengan bagian tubuhnya yang lain. Tentu saja telah mendapat siksaan yang cukup parah.

"Lho, ke mana perginya dia, Eyang?" tanya Widi Saksaka yang tadi menyertai Jaka Permana.

"Apakah yang kau maksud Pendekar Pulau Neraka?"

Widi Saksaka mengangguk cepat.

"Dia telah pergi."
"Eyang sempat menjumpainya?"
"Tidak..."

"Ah, kita belum sempat mengucapkan terima kasih padanya...," keluh Widi Saksaka pelan.

"Pendekar sepertinya tak memerlukan basa-basi dari ucapan terima kasih seseorang yang telah ditolongnya, Widi."

"Aku masih merasa bersalah karena mencurigainya, Eyang...," ucap Jaka Permana lirih.

"Sudahlah. Di lain waktu kau akan sempat menjumpainya dan menyatakan penyesalan sekaligus rasa terima kasihmu...," hibur Ki Ageng Sura.

"Eyang, ada yang ingin kutanyakan. Apakah sebenarnya Eyang menyimpan kedua kitab pusaka yang mereka inginkan itu?" tanya Widi Saksaka dengan wajah sungguh-sungguh.

Ki Ageng Sura mengangguk.

"Dan Eyang bermaksud mewariskannya pada salah seorang di antara kami?"

Ki Ageng Sura kembali mengangguk. "Widi, dengarkanlah. Kedua kitab itu merupakan pelajaran ilmu silat yang hebat. Kelak jika kalian telah memiliki tenaga batin yang hebat barulah aku mempercayai pada kalian berdua karena telah terbukti kini, siapa sebenarnya muridku yang berbakti...."

"Dan untuk sekarang ini kami tidak boleh mengetahui di mana Eyang menyimpan kedua kitab pusaka itu, bukan?" tanya Widi Saksaka meyakinkan sambil tersenyum kecil.

Ki Ageng Sura mengangguk.

"Eyang, aku pun punya pertanyaan...," sergah Jaka Permana.

"Aku masih ingat pesan yang Eyang berikan sebelum Eyang tertangkap. Apa maksudnya?"

Ki Ageng Sura tersenyum kecil. "Ketika aku mengetahui bahwa ada orang yang menginginkan kedua kitab pusaka itu, maka aku memastikan bahwa salah satu atau kedua muridku telah mengkhianatiku, sebab selama ini tidak seorang pun yang mengetahui rahasia kedua kitab pusaka itu selain kedua muridku. Untuk itulah aku memutuskan bahwa kau sebagai pewarisnya karena yakin bahwa mereka akan membunuhku. Tapi Tuhan agaknya berkehendak lain, dan aku tidak malu mencabut kata-kataku sendiri agar sesuatunya berjalan dengan adil dan bijaksana. Kujanjikan kedua kitab itu akan kuwariskan pada kalian...," jelasnya.

Jaka Permana dan Widi Saksaka tersenyum kecil.

"Tapi, Eyang. Masih ada lagi yang mengganjal di benakku soal pesan Eyang tersebut. Sepertinya sebuah teka-teki bagiku," lanjut Jaka Permana.

"Teka-teki itu akan kau pecahkan sendiri jika waktunya tiba dan akal mu bisa mencernakannya. Nah, apa yang jelas kau tangkap dari teka-teki dalam pesanku itu?' tanya Ki Ageng Sura tersenyum.

"Ada yang harus kupakai dan ada yang musti ku buang. Benarkah itu, Eyang?"

"Kau benar. Demikian pula dengan kedua kitab itu. Hanya satu yang bisa kalian pelajari sedangkan satunya lagi adalah kitab yang menyesatkan. Bagaimanapun kuatnya batin kalian, tapi karena kedua kitab itu ilmu silat yang sangat dahsyat dan memiliki hawa panas yang mampu menguasai serta menyeret kalian ke dalam pikiran jahat, maka faktor pertama yang perlu dikuasai adalah kekuatan batin untuk bisa menguasai diri...," jelas Ki Ageng Sura.

"Kami mengerti, Eyang...," sahut kedua muridnya serentak.

"Syukurlah kalau kalian telah memahami hal itu. Sesungguhnya kedua kitab itu ilmu silat yang berasal dari seorang tokoh sesat yang memiliki kepandaian hebat. Dan tokoh sesat itu adalah kakek buyut guruku. Generasi di bawahnya tidak sembarangan yang mampu mempelajarinya, karena kalau batin mereka tidak kuat hanya ada dua kemungkinan, kalau tidak gila, maka dia akan tersesat dalam sifat jahat yang menyesatkan," jelas Ki Ageng Sura kembali.

"Eyang, kabarnya guru Pendekar Pulau Neraka adalah bekas tokoh sesat?" tanya Widi Saksaka.

"Ya. Dan kau bisa melihat sendiri apa yang dilakukan muridnya, bukan? Bisa kau bayangkan kehebatan tenaga batin pemuda itu sehingga tidak mempengaruhi pikirannya untuk berbuat jahat. Namun demikian, masih terlihat sisi jahat dari ilmu yang dimilikinya, yaitu hawa kejam dalam membunuh lawan-lawannya. Kalian bisa memetik pelajaran dari dirinya."

Kedua pemuda itu kembali mengangguk-anggukkan kepala. Tak berapa lama mereka telah melangkah pelan meninggalkan tempat itu.


SELESAI

Episode Selanjutnya SETAN SERIBU NYAWA
Thanks for reading Warisan Kitab Pusaka I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »