Social Items

Cerita silat serial pendekar pulau neraka
Episode Setan Seribu Nyawa

Karya Teguh S
Gambar: Tony G
Penerbit pertama Cintamedia, Jakarta



Pendekar Pulau Neraka Episode Setan Seribu Nyawa



SATU

Siang hari di Desa Ngampar Cai terlihat cerah. Matahari bersinar tidak terlalu garang, sementara awan putih bergerumbul menaungi membuat suasana semakin teduh. Desa yang memiliki penduduk cukup ramai itu, hari ini semakin semarak saja dengan adanya suatu keramaian di salah satu rumah yang berukuran paling besar dan mewah di desa ini.

Juragan Sasmita Dimeja yang merupakan orang paling kaya di desa itu tengah melangsungkan pesta perkawinan putra pertamanya yang bernama Danu Umbara dengan seorang gadis dari desa seberang bernama Diah Kemuning. Laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun dan bertubuh besar itu tampak mengumbar senyumnya ketika menyambut tamu-tamunya yang semakin ramai berdatangan.

"Selamat, Juragan! Mudah-mudahan lekas mendapat cucu yang manis dan tampan...," kata Ki Darwono, kepala desa itu sambil tersenyum lebar.

"Terima kasih, Ki Darwono. Silakan...!" kata Juragan Sasmita Dimeja sambil mempersilakan tamunya itu menyalami kedua mempelai yang duduk di ruangan depan berhiaskan tempat duduk yang besar serta terukir indah.

"Wealah, Danu! Bisa-bisanya kau mendapatkan bidadari secantik ini. Hati-hati menjaganya. Salah-salah disambar orang lain nantinya dan kau tidak mungkin akan mendapatkan seperti ini lagi!" seloroh Ki Darwono sambil menyalami pemuda itu.

"Ah, Ki Darwono bisa saja...," sahut pemuda itu tersenyum.

Diah Kemuning menundukkan kepala sambil tersenyum mendengar gurauan laki-laki kurus berusia sekitar lima puluh tahun itu.

"Hm, tidak mengherankan kalau anaknya secantik ini jika ternyata ibunya pun seperti bidadari di sorgaloka!" lanjut kepala desa itu kembali bergurau ketika menyalami kedua orangtua pihak pengantin wanita. Wanita berusia sekitar tiga puluh tahun itu tersenyum kecil. Apa yang dikatakan Ki Darwono tidak salah. Wanita itu memiliki bentuk tubuh yang indah dengan kulit kuning langsat. Bahkan sepintas dengan Diah Kemuning seperti antara kakak beradik saja layaknya.

Kepala Desa Ngampar Cai itu memang supel dan dekat dengan warganya. Selain itu beliau juga senang berkelakar sehingga tidak mengherankan bila seluruh penduduk desa ini menyukainya. Bahkan ketika rombongan kesenian yang diundang Juragan Sasmita Dimeja mulai menggelar pertunjukan dengan mengadakan tari-tarian, Ki Darwono tidak segan-segan untuk menari pula bersama beberapa orang undangan lainnya.

"Ki Darwono, awas...! Jangan sampai matanya melotot dengan gadis berbaju merah itu!" teriak seorang warga dengan nada menggoda.

Ki Darwono cuma mesem-mesem saja mendengar godaan itu sambil terus berjoget bersama seorang gadis berwajah manis yang memakai kebaya merah. Semua orang dalam pesta perkawinan itu memang bergembira, seolah larut dalam suasana kemeriahan itu. Berbagai tepuk sorak-sorai berkali-kali berkumandang dan wajah-wajah keceriaan menghiasi setiap wajah mereka. Namun ternyata tidak semuanya larut dalam kegembiraan pesta itu, karena istri Juragan Sasmita Dimeja sejak tadi lebih banyak membisu dengan wajah murung.

"Kenapa, Bu...? Apa Ibu tidak merasa bergembira pada pesta perkawinan anak kita ini...?" tanya Juragan Sasmita Dimeja dengan wajah heran.

Wanita berwajah cantik dan berusia sekitar tiga puluh tujuh tahun itu tersenyum tipis sambil melirik sekilas suaminya itu.

"Aku gembira, bahkan sangat gembira melihat perkawinan anak kita...," jawabnya pelan.

"Lalu mengapa wajahmu murung...?"

Wanita itu tidak langsung menjawab melainkan menarik napas agak panjang. Kemudian berkata dengan lirihnya.

"Aku punya firasat buruk dari mimpiku yang sudah tiga malam ini datang berturut-turut..."

"Hm, mimpi itu lagi…," desah Juragan Sasmita Dimeja seperti tidak percaya dengan firasat istrinya itu.

"Apakah Kakang tidak mempercayainya...?"

"Mimpi hanya bunga tidur, kenapa kita harus mempercayainya? Sudahlah, jauhkan bayang-bayangan mimpi itu. Kalau Ibu terlalu percaya maka kita akan dihantuinya terus," kata Juragan Sasmita Dimeja.

"Aku melihat desa kita ini terbakar oleh lautan api dan orang-orang sibuk menyelamatkan diri sambil menjerit-jerit ketakutan. Lalu sekelompok awan hitam kemudian menelan seluruh penghuni desa ini...!" desis wanita itu dengan wajah semakin cemas.

"Sudahlah, Bu. Jangan terlalu dipikirkan hal itu. Kita berdoa saja mudah-mudahan perkawinan anak kita selamat dan mereka menempuh hidup yang bahagia berdua," hibur Juragan Sasmita Dimeja.

Wanita itu tidak mengangguk. Wajahnya tidak berubah dari kecemasan hatinya. Tatapannya kosong melihat keramaian orang-orang yang bergembira dalam suasana pesta itu. Danu Umbara yang duduk di sebelah ibunya itu bukan tidak memperhatikan wajah ibunya yang resah itu.

"Kenapa, Bu? Adakah sesuatu hal yang merisaukan hati Ibu?" tanyanya sambil berbisik.

Wanita itu tersenyum tipis ketika menoleh ke arah putra tertuanya itu. Dia tidak menjawab sepatah kata pun.

"Ceritakanlah kalau memang Ibu mempunyai perasaan hati yang tidak menyenangkan...," lanjut pemuda itu.

"Tidak. Tidak ada...."

"Lalu mengapa wajah Ibu tidak bergembira...?"

"Ibu gembira melihat perkawinanmu, bahkan sangat gembira. Mudah-mudahan perkawinanmu akan bahagia!" sahut wanita itu berusaha tersenyum untuk melegakkan hati putranya itu.

Danu Umbara ikut-ikutan tersenyum tipis. Tapi hatinya sama sekali tidak mempercayai akan kata-kata ibunya. Dia merasa yakin bahwa ibunya itu menyimpan sesuatu di hatinya, dan terbayang jelas dari wajahnya yang cemas. Hanya saja dia tidak tahu apa yang merisaukan hati wanita itu. Sehingga kegembiraan pemuda itu jadi ikut terpengaruh. Pikirannya menerawang jauh dan menduga-duga, apa yang tengah direnungkan ibunya saat ini.

"Kakang, kenapa berwajah murung...?" tanya Diah Kemuning halus sambil memperhatikan wajah suaminya itu dengan seksama. Danu Umbara sedikit terkejut, namun dia cepat tersenyum.

"Tidak. Kenapa aku musti murung? Aku tidak tahu bagaimana gembiranya hatiku saat ini!" sahutnya cepat.

Diah Kemuning ikut tersenyum. Hatinya lega ketika melihat senyum suaminya yang lebar.

Irama gamelan masih terus berkumandang, dan beberapa orang yang berjoget menyemarakkan seiring dengan sorak-sorai yang semakin ramai menyemarakkan pesta perkawinan itu. Pada saat itulah terdengar teriakan sayup-sayup dari kejauhan.

"Tolooong...! Tolooong...!"


***


"Hai, apa itu?!" sentak beberapa orang centeng Juragan Sasmita Dimeja berpaling ke arah datangnya suara itu.

Dari kejauhan di ujung desa itu terlihat debu mengepul membubung tinggi menghalangi pandangan. Namun samar-samar jelas terdengar derap langkah kaki kuda yang bergemuruh. Seiring dengan itu jeritan-jeritan ketakutan berkumandang dan menyentak orang-orang yang memenuhi tempat kediaman Juragan Sasmita Dimeja.

"Gendon, ada apa?" tanya Juragan Sasmita Dimeja pada salah seorang centengnya.

"Entahlah, Juragan. Saya akan periksa bersama yang lainnya!" sahut Gendon cepat sambil mengajak beberapa orang kawannya untuk melihat kejadian itu.

Namun baru saja mereka melompat keluar dari halaman rumah kediaman Juragan Sasmita Dimeja, tiba-tiba suara-suara derap langkah kuda telah semakin jelas terdengar. Dan orang-orang desa berteriak-teriak ketakutan sambil menyelamatkan diri masing-masing. Lebih dari sepuluh orang penunggang kuda yang bertampang seram berhenti tepat di depan halaman rumah Juragan Sasmita Dimeja.

"Ha ha ha...! Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tidak usah bersusah payah mengumpulkan tikus-tikus busuk ini mereka telah berkumpul dengan sendirinya!" teriak salah seorang yang bertubuh tinggi besar dengan suara menggelegar.

Orang itu berusia lanjut sekitar enam puluh tahun. Rambutnya hitam dan berdiri tegak memperlihatkan gigi-giginya yang besar menonjol keluar. Tangan kanannya mengacung-acungkan sebuah senjata mirip clurit yang panjang. Dan di pinggangnya berderet pisau-pisau kecil.

"Guru, buat apa berlama-lama di sini? Sebaiknya kita bereskan saja mereka secepatnya," timpal seorang pemuda di sebelahnya.

Pemuda Itu berusia sekitar dua puluh tahun berpakaian rapi dan berwajah tampan. Rambutnya yang panjang digelung ke atas. Bahasanya halus dan melengking mirip seorang wanita. Dan caranya berdandan menunjukkan pula bahwa dia seorang pesolek. Senjatanya mirip dengan orang tua itu. Hanya saja di pinggangnya tidak terdapat pisau-pisau kecil.

Orang-orang yang berada di tempat kediaman Juragan Sasmita Dimeja tersentak kaget. Seketika mereka memandang pada rombongan itu dengan wajah tidak senang. Salah seorang centeng Juragan Sasmita Dimeja, beserta beberapa orang kawannya, langsung melangkah mendekati mereka.

"Kisanak, siapa kalian dan ada urusan apa mengganggu pesta perkawinan Juragan Sasmita Dimeja?" tanya salah seorang centeng itu dengan sikap garang.

"Pesta perkawinan? Mana yang sedang kawin? Mana dia...?!" tanya pemuda pesolek itu sambil cengar-cengir kegirangan.

"Hei, kutu busuk! Menyingkirlah kau kalau tidak ingin mampus!" bentak orang tua di samping si pemuda pesolek itu dengan garang sambil melototkan mata kepada si centeng.

Mendengar bentakan si orang tua, wajah centeng itu tampak merah menahan marah.

"Kunyuk kurap, pergilah kau dari tempat ini sebelum kami bertindak kasar padamu!" bentaknya garang.

"Kurang ajar! Berani kau bicara begitu di depan Ki Rantek?!" dengus orang tua itu sambil memberi isyarat pada salah seorang anak buahnya.

Salah seorang penunggang kuda di sampingnya langsung melompat sambil mengayunkan senjata clurit besar di tangannya.

"Kutu busuk tidak tahu diri, mampuslah kau...!

Yeaaah...!"
Srak!
Trang!

Melihat orang itu langsung menyerangnya, si centeng mencabut golok dan menangkis senjata lawan. Tapi akhirnya dia mengeluh kesakitan ketika senjata mereka beradu. Tangannya terasa perih dan jantungnya berdetak kencang. Belum lagi hilang rasa terkejutnya, senjata lawan dengan cepat menyambar lehernya tanpa ampun.

Crasss...!
"Hokh...!"
"Hei...?!"

"Iblis biadab...!" desis orang-orang yang melihat kejadian itu.

Centeng itu tidak mampu menghindari tebasan senjata lawan yang mengarah ke lehernya. Orang itu memekik tertahan. Kepalanya putus dan menggelinding ke tanah. Darah mengucur deras dari pangkal lehernya dan membuat orang-orang yang hadir dalam pesta perkawinan itu tersentak kaget dan mulai marah.

"Keparat jahanam! Kalian sungguh biadab! Bunuh mereka...!" bentak salah seorang centeng memberi perintah pada kawan kawannya.

Beberapa orang centeng Juragan Sasmita Dimeja langsung mencabut golok dan menyerang kawanan itu. Bukan hanya mereka yang turun menyerbu namun hampir semua orang-orang yang berada dalam pesta perkawinan itu ikut menyerang kawanan tersebut.

"Hiyaaa...!"
"Seraaang...!"
"Hancurkan mereka...!"

Teriakan gegap-gempita itu terus berkumandang dan bagai tanggul jebol mereka menghunus apa saja untuk mengeroyok kawanan itu. Namun kawanan itu bukannya takut serta gentar melihat begitu banyak menyerang mereka. Orang tua bernama Ki Rantek yang memimpin kawanan itu langsung membentak nyaring.

"Habisi mereka...!"
"Yeaaah...!"

Tanpa diperintah dua kali, anak buahnya langsung melompat turun dari punggung kuda mereka sambil menghunus senjata mereka yang berupa clurit panjang laksana pedang.

Trang!
Cras!
Bret..!
"Aaa...!"

Suara beradunya senjata serta pekik kematian mewarnai tempat yang semula meriah oleh gelak tawa itu. Beberapa sosok tubuh langsung ambruk dengan bersimbah darah ditebas oleh senjata-senjata kawanan yang dipimpin oleh Ki Rantek itu. Penduduk desa yang berjumlah banyak itu menyerang kawanan, itu karena diliputi amarah yang meluap-luap melihat sikap Ki Rantek dan anak buahnya itu. Tapi hal itu tidak ditunjang dengan kemahiran mereka dalam hal ilmu bela diri. Sedikit sekali yang mengerti ilmu silat.

Sedangkan anak buah Ki Rantek rata-rata memiliki kemampuan yang hebat dan bertenaga kuat. Mereka adalah orang-orang buas yang tidak mengenal belas kasihan. Meski hanya berjumlah sekitar lima belas orang, namun dengan ganasnya mereka membantai orang-orang desa itu, tanpa kenal ampun. Sehingga dalam waktu singkat saja halaman rumah Juragan Sasmita Dimeja banjir oleh darah.

"Lariii...!" teriak seseorang dengan wajah ketakutan.

Melihat pembantaian itu banyak di antara undangan lainnya yang sibuk menyelamatkan diri. Mereka merasa percuma saja melawan kawanan itu karena hanya mengantar nyawa secara percuma.


***


"Jangan biarkan mereka lolos seorang pun...!" teriak Ki Rantek.

Mendengar itu maka beberapa orang anak buahnya langsung melompat menghadang orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri dan dengan kejam menghunuskan senjata ke arah orang-orang itu.

Crasss,..!
Brettt. !
"Aaa...!"

"Jangan bunuh mereka! Kita akan memberikan kenang-kenangan agar mereka tahu siapa kita...!" teriak Ki Rantek kembali.

"Guru, aku menemukan gadis cantik ini! Amboi, alangkah cantiknya dia...!" teriak pemuda pesolek yang memanggil Ki Rantek sebagai gurunya.

"Hei, Aria Denta! Jangan serakah kau...! Berikan dia untukku!" teriak Ki Rantek sambil mendekati si pemuda.

Orang tua langsung terkekeh ketika melihat gadis cantik yang berada di hadapannya. Gadis yang tidak lain dari Diah Kemuning itu langsung merapat sambil memeluk tubuh suaminya dengan wajah pucat menahan rasa takut.

"He hei he...! Ke sini manis, ke sini. Kau tidak akan kusakiti kalau menurut kata-kataku...!" kata Ki Rantek sambil terkekeh dan melangkah pelan mendekati gadis itu.

"Anjing busuk, jangan coba-coba ganggu istriku...!" bentak Danu Umbara.

"He he he...! Guru, kau memang tidak pantas untuknya. Kenapa tidak kau cari saja yang lain? Nah, coba lihat. Wanita itu sangat cocok untukmu dan sepandan pula. Biarlah gadis ini untukku...!" sahut Aria Denta sambil menunjuk ke arah ibunya Diah Kemuning yang sama-sama ketakutan dengan putrinya sambil memeluk suaminya.

"Hi hi hi...! Cerdik kau, Aria Denta. Tapi tidak mengapa. Wanita ini pun cukup cantik. Kau boleh ambil si pengantin wanita itu biarlah yang ini bagianku...," sahut Ki Rantek tanpa mempedulikan bentakan Danu Umbara.

"Ki, bolehkah aku memiliki wanita ini?" tanya salah seorang anak buah Ki Rantek langsung menunjuk ke arah ibunya Danu Umbara sambil terkekeh-kekeh kecil.

"He he he...! Pintar juga kau Somali. Nah, kau boleh mengambilnya untukmu...!" sahut Ki Rantek.

"Hi hi hi...! Terima kasih, terima kasih Ki...!" sahut Somali langsung menerkam wanita yang diinginkannya.

"Jahanam busuk! Jangan sentuh istriku...!" bentak Juragan Sasmita Dimeja garang sambil berusaha menangkis tangan lawan.

"Tua bangka busuk, minggir kau...!" sentak Somali sambil menepiskan tangan Juragan Sasmita Dimeja.

Plak!
Desss...!

Juragan Sasmita. Dimeja menjerit kesakitan dengan sekali sentak, tubuhnya terjerembab menghajar tembok rumahnya. Danu Umbara membentek garang dengan wajah terkejut. Dia bermaksud hendak menolong bapaknya, namun saat itu juga istrinya menjerit-jerit karena Aria Denta menangkap pergelangan tangannya. Lalu dengan sekali sentak, gadis itu telah berada dalam dekapannya.

"Kakang Danu, tolooong...! Tolooong...!"

"Keparat...!" Danu Umbara membentek garang. Darahnya mendidih dan rongga dadanya seperti hendak rengkah menahan amarah yang meluap-luap melihat pemuda pesolek itu seenaknya menciumi istrinya yang berusaha berontak dari dekapan pemuda itu. Tanpa berpikir panjang dia langsung mengayunkan kepalan tangan menghantam pemuda itu.

Plak!
Desss!
"Aaakh...!"

Tanpa berpaling lagi Aria Denta menangkis serangan lawan, dan sebelah kakinya dengan telak menghajar dada Danu Umbara sehingga pemuda yang sama sekali tidak mengerti ilmu silat itu, terpekik dengan tubuh terjengkang keras. Danu Umbara merasa dadanya mau pecah akibat tendangan itu. Namun jeritan-jeritan Diah Kemuning dan ibunya serta mertuanya membuat semangatnya kembali menyala-nyala. Tanpa mempedulikan rasa sakit yang dideritanya dia kembali bangkit dan menghajar Somali yang berada dekat dengannya.

"Jahanam keparat! Lepaskan ibuku... Lepaskaaan...!"

"Hiiih...!"
Plak!
Begkh!
"Aaakh...!"

Somali cepat berbalik dan menangkis serangan pemuda itu. Lalu kaki kanannya dengan cepat terayun menghantam perut Danu Umbara. Tubuhnya kembali terjungkal. Hal yang sama dialami oleh Juragan Sasmita Dimeja dan besannya yang laki-laki. Mereka berusaha menolong istrinya, namun tanpa mengenal belas kasihan, Ki Rantek dan anak buahnya yang bernama Somali itu menghajar mereka sampai muntah darah. Demikian pula ketika Danu Umbara hendak menyelamatkan istrinya. Namun meskipun demikian mereka seolah tidak merasakan rasa sakit yang diderita mendengar jeritan istri masing-masing. Dan hal itu menimbulkan kejengkelan Ki Rantek dan muridnya yang bernama Aria Denta, serta anak buahnya yang bernama Somali.

"Keparat! Mereka harus didiamkan lebih dulu...!" geram Ki Rantek sambil menotok wanita dalam dekapannya.

Tindakannya itu diikuti oleh Aria Denta dan Somali. Lalu dengan geram mereka menghajar ke-tiga laki-laki yang sejak tadi mengganggu nafsu setan mereka yang telah menggelegak itu.

"Kalian harus dibuat diam dulu dan kemudian menyaksikan kami bersenang senang. Itulah hukuman yang setimpal buat kalian!" dengus Ki Rantek sambil menangkap pergelangan tangan lawannya, ayahnya Diah Kemuning.

Plak!
Krakkk!
"Aaakh…”


***


DUA

Laki-laki itu menjerit keras ketika tulang lengannya patah dihantam Ki Rantek. Jeritannya kian panjang ketika bagian dada dan perutnya dihantam Ki Rantek dengan keras bertubi-tubi sambil memegangi lengannya yang patah itu. Dan yang terakhir kali Ki Rantek langsung mengayunkan satu tendangan yang keras sehingga lawannya terjungkal sambil memuntahkan darah segar.

"Hoakhhh...!"

"Ayah...!" Diah Kemuning menjerit keras melihat keadaan ayahnya yang megap-megap tidak berdaya untuk berusaha bangkit.

Hal yang sama dialami oleh Danu Umbara. Tanpa mengenal belas kasihan, Aria Denta menghajarnya habis-habisan. Begitu juga yang dialami oleh Juragan Sasmita Dimeja. Ketiga wanita itu menjerit-jerit melihat suaminya dihajar sampai muntah.

"Nah, sekarang mampuslah...!" bentak Ki Rantek sambil mencabut senjatanya yang unik dan siap menebas leher lawan.

"Guru, tahan...!" teriak Aria Denta mencegah.

"Hm, mau apa kau?"

"Kenapa harus terburu-buru? Tanpa dibunuh pun mereka akan mampus karena luka-luka dalam yang dideritanya. Bukankah kita akan membuat mereka menggeliat menahan rasa sakit yang hebat?" tanya Aria Denta sambil tersenyum tipis.

"Apa maksudmu, Aria Denta?" tanya Somali.

Pemuda itu tersenyum-senyum membisikkan sesuatu di telinga Somali. Orang itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Kupret! Apa yang kalian rencanakan, heh...?!" bentak Ki Rantek berang.

Somali pun membisikkan ke telinga orang tua itu. Ki Rantek mendengus kemudian terkekeh kecil.

"He he he...! Dasar si Aria Denta, otaknya selalu encer. Nah, tunggu apa lagi?!"

"Hi hi hi...! Aku akan bersenang-senang dulu dengan bidadari yang cantik itu!" seru Aria Denta sambil menerkam Diah Kemuning.

Gadis itu menjerit-jerit ketakutan, namun dengan buasnya Aria Denta mendekapnya erat-erat dan tangannya dengan nakal menyusup ke seluruh bagian tubuh gadis itu dengan nafsu iblis yang menggelegak-gelegak. Lalu dengan kasarnya dia mencabik-cabik pakaian yang melekat di tubuh gadis itu. Diah Kemuning yang dalam keadaan tertotok, tidak mampu berontak selain berteriak-teriak dengan air mata bercucuran.

Hal yang sama juga dilakukan Ki Rantek dan Somali terhadap orang tua perempuannya dan Ibunya Danu Umbara. Kebejatan itu mereka lakukan di depan mata Danu Umbara dan Juragan Sasmita Dimeja serta besan laki-lakinya. Karuan saja ketiga laki-laki itu mendidih darahnya dan berusaha bangkit untuk menolong istrinya. Namun luka dalam yang mereka derita membuat mereka kembali terjatuh lunglai dan tulang-belulangnya terasa rapuh untuk digerakkan akibat hantaman bertubi-tubi yang dilakukan lawannya tadi. Mereka hanya mampu berteriak-teriak sambil memaki-maki tidak karuan.

"Keparat busuk! Hentikan perbuatanmu yang biadab! Jahanam, hentikan...!" Danu Umbara memekik menahan geram dan dendam yang meledak-ledak didalam dadanya.

Tapi akibat amarah dan teriakan yang menggelegar itu, dia memuntahkan darah segar berkali-kali. Kepalanya terasa pusing dan penglihatannya berkunang-kunang. Meski begitu si pemuda berusaha merayap mendekati ketiga laki-laki bejat yang tengah mengumbar nafsu iblisnya terhadap wanita-wanita yang dekat dengannya. Masih sempat dilihat ayahandanya tergeletak tak berdaya akibat amarah yang tidak tertahankan. Demikian juga dengan mertua laki-lakinya. Namun telinga pemuda itu masih terus menangkap jeritan-jeritan ketakutan istrinya yang penuh ketakutan.

Kerongkongannya terasa kering dan berlumur darah akibat teriakan-teriakannya semakin serak memaki-maki ketiga orang yang tengah melakukan perbuatan bejad itu. Apa yang dilakukan oleh Ki Rantek beserta muridnya dan salah seorang anak buahnya itu, diikuti oleh anak buah yang lain. Mereka menangkap wanita-wanita yang ditemuinya dan memperkosanya dengan rakus seperti sekawanan hewan kelaparan yang menemukan makanan kesukaannya.

Siapa pun yang mencoba menghalangi perbuatan mereka maka bisa dipastikan orang itu akan menemui ajalnya ditebas senjata-senjata para perampok yang tidak mengenal rasa belas kasihan itu. Setelah melakukan perbuatan bejad itu, mereka langsung menguras benda para penduduk dan merampok apa saja yang berharga di dalam setiap rumah yang mereka masuki. Penduduk yang melawan tanpa ampun lagi mereka hajar. Sementara itu Ki Rantek dan muridnya tertawa terkekeh-kekeh setelah melampiaskan nafsu bejadnya terhadap wanita-wanita itu.

"Sekarang akan kita apakan mereka, Ketua?" tanya Somali yang paling terakhir menyelesaikan nafsu iblisnya.

"He he he...! Kau punya usul, Aria Denta?" tanya Ki Rantek pada muridnya itu.

Aria Denta mesem-mesem sambil menghampiri ketiga laki-laki yang tadi mereka hajar. Ujung kakinya menghajar Danu Umbara.

Begkh!
"Aaakh...!"

"Hm, yang ini masih hidup. Dia akan merasakan siksaan yang lain...!" dengus Aria Denta ketika mendengar pemuda itu menjerit keras akibat tendangannya itu.

Danu Umbara memang tidak tahan dan di samping luka dalam yang dideritanya, dia merasa pandangannya semakin gelap mendengar jeritan-jeritan Istrinya. Kemudian alam seperti gelap dan sepi. Dia tidak sadarkan diri. Namun merasakan tendangan Aria Denta, kesadarannya kembali pulih.

"Jahanam keparat! Kubunuh kau...! Kubunuh kau...!" teriak Danu Umbara.


***


Pemuda itu berusaha bangkit untuk menghajar pemuda pesolek dihadapannya. Aria Denta cuma mencibir sinis, dia yakin sekali bahwa pemuda itu tidak mampu berbuat apa-apa terhadapnya. Dan dugaannya itu memang benar. Danu Umbara merasa tubuhnya lemah tidak berdaya. Bahkan untuk berdiri pun dia tidak mampu. Ketika dipaksakannya juga, tubuhnya langsung ambruk sambil kembali memuntahkan darah kental.

"Yang ini sudah mampus...!" desis Ki Rantek sambil menendang tubuh laki-laki yang tadi dihajarnya.

"Ini juga...!" timpal Somali sambil menendang tubuh Juragan Sasmita Dimeja.

"Apa yang mau kau lakukan, Aria Denta?" tanya Ki Rantek ketika melihat muridnya itu membawa dua bongkah batu besar.

"Aku akan memberi pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan di akherat sana...!" sahut pemuda pesolek itu sambil tersenyum-senyum.

Tanpa berkata apa-apa lagi Aria Denta menghantamkan batu-batu runcing itu ke kaki Danu Ambar.

Crak!
"Aaa...!"

Danu Ambar memekik kesakitan. Namun Aria Denta malah terkekeh-kekeh dan terus menghantamkan batu-batu di tangannya sehingga kaki Danu Umbara hancur dengan seluruh dagingnya yang terkelupas.

"He he he...! Ini belum seberapa. Tapi kau akan merasakan yang lain...!" lanjut Aria Denta sambil mencabut senjatanya.

Sret!
"Aaa...!"

Kembali Danu Umbara tersentak dan memekik kesakitan ketika senjata lawan menyayat-nyayat wajah dan seluruh tubuhnya, sehingga tidak berbentuk lagi. Darah mengucur deras dari luka-luka sayatan itu. Namun Aria Denta memang sengaja tidak mau membunuhnya dan hanya menyiksanya habis-habisan.

"Bunuh saja aku...! Bunuh...!" jerit Danu Umbara menahan sakit yang tidak kuat dirasakannya.

"He he he...! Membunuh kau soal mudah, tapi aku ingin melihat dulu kau merangkak-rangkak memohon ampun padaku sambil menangis tersedu-sedu," ejek Aria Denta.

"Huh, jangan harapkan itu, Keparat! Aku lebih suka begini daripada memohon-mohon belas kasihanmu...!" dengus Danu Umbara geram dengan suara serak.

"Nah, kalau demikian kau akan merasakannya lagi!" sahut Aria Denta sambil tersenyum sinis.

Selesai berkata demikian, dia berteriak lantang pada yang lainnya sehingga mereka semua berkumpul sambil memanggul barang-barang berharga dalam kantong besar yang mereka pikul.

"Apa yang telah kalian dapatkan?" tanya Aria Denta.

"Banyak. Kami menguras semua harta benda berharga dari semua rumah yang berada di desa ini!" sahut beberapa orang di antara mereka serentak.

"Hm, bagus! Nah, coba lihat. Rumah itu paling megah dan mewah dari seluruh rumah yang berada di desa ini. Tentu di dalamnya banyak tersimpan harta benda yang berharga. Kita akan kuras semuanya saat ini juga. Tapi sebelum itu aku akan berikan kepuasan pada kalian!" lanjut Aria Denta.

"Hei, Aria Denta! Cepatlah bicara jangan berbelit-belit!" teriak salah seorang di antara anak buah Ki Rantek.

"He he he...! Sabarlah sebentar. Nah, kalian lihat tiga wanita cantik ini? Kalian boleh berpesta pora dengan mereka!" sahut Aria Denta cepat.

"Hei, boleh juga!" seru seseorang dengan mata melotot dan cengar-cengir gembira melihat tiga wanita cantik yang tengah tergolek tidak berdaya.

"Ha ha ha...! Pintar juga kau Aria Denta...!" timpal yang lainnya.

Namun meski mereka semua mulai menggelegak nafsu setan di dalam diri mereka melihat wanita-wanita yang dalam keadaan tidak berdaya itu, tidak seorang pun yang berani mendekat sebelum Ki Rantek memberi izin dan perintah. Agaknya mereka semua patuh bercampur takut sekali pada orang tua itu. Maka terlihat mereka semua melirik pada orang tua itu seolah mengharapkan izin darinya.

"He he he...! Kalian boleh melakukannya. Ayo, ambillah wanita-wanita itu...," kata Ki Rantek sambil terkekeh-kekeh kecil.

Mendengar kata-kata itu, langsung saja anak buah Ki Rantek menyerbu ke arah tiga wanita yang tergolek tidak berdaya itu. Mereka tidak kuasa menahan kebejatan nafsu iblis kawanan perampok yang tidak berperikemanusiaan.

"Keparat! Hentikan perbuatan kalian...! Hentikan perbuatan bejat kalian...!" teriak Danu Um-bara dengan dada mau pecah melihat pemandangan menjijikkan sekaligus memilukan hatinya.

Orang-orang itu seperti anjing-anjing kelaparan yang memperebutkan tulang-tulang yang berjumlah sedikit, sehingga sepotong tulang mereka lahap bersamaan. Danu Umbara tidak kuasa menahan gejolak hatinya. Dia hanya bisa berteriak-teriak memaki-maki dengan suara yang semakin lemah dan parau. Beberapa kali dia muntahkan darah kental dan kering. Hanya gejolak semangat hidup serta dendam membara saja yang membuatnya tidak mau mengakhiri hidupnya.

"Ha ha ha...! Sering-sering begini, nikmat juga rasanya...!" kata salah seorang anak buah Ki Rantek sambil membetulkan letak celananya yang kedodoran.

"He he he...! Dasar buaya-buaya rakus, cepat kita pergi dan tinggalkan tempat ini!" sentak Ki Rantek sambil mengumpulkan harta benda yang dikurasnya dari rumah Juragan Sasmita Dimeja.

"Wah, aku tidak kebagian! Mereka kojor semua...!" teriak salah seorang anak buah Ki Rantek dengan perasaan kecewa.

"Diam kau, Kebo Badung! Lekas angkut barang-barang itu!" bentak Ki Rantek garang.

"Lalu mayat-mayat dan orang-orang yang sekarat ini mau dikemanakan?" tanya salah seorang anak buah Ki Rantek bingung.

"Setan kau! Buat apa mengurusi mereka?! Sudah tinggalkan saja cepat...!" bentak Ki Rantek lagi.

"Tunggu dulu...!" potong Aria Denta.

"Mau apa lagi kau, Aria Denta?" tanya Ki Rantek.

"Ada banyak gerobak kosong di rumah ini. Bawa mereka yang sekarat ke hutan. Dan tumpakan ketiga wanita ini dalam satu gerobak dengan pemuda keparat itu!" tunjuk Aria Denta ke arah Danu Umbara.

Dua orang anak buah Ki Rantek langsung melakukan apa yang diperintahkan Aria Denta.

"Kalau masih ada gerobak yang kosong, bawa sekalian mayat-mayat ini. Kita akan bawa mereka ke pinggir Hutan Mapag Nyawa, biar menjadi santapan anjing-
anjing hutan di sana!" teriak Aria Denta kembali.

"Hei, setelah urusanmu selesai, cepat kau pulang ke markas, Aria Denta!" teriak Ki Rantek sambil mengajak anak buahnya yang lain untuk berlalu dari tempat itu dengan membawa beberapa buah gerobak.

"Beres, Ki!" sahut Aria Denga cepat.


***


Aria Denta bersama dua orang kawannya langsung melarikan dua gerobak yang ditarik dua ekor kuda ke pinggiran Hutan Mapag Nyawa yang terkenal angker dan buas. Tidak ada seorang pun yang pernah kembali setelah memasuki hutan itu. Selain dihuni oleh binatang-binatang buas, tempat itu diyakini oleh penduduk di seluruh wilayah yang berada di dekatnya, termasuk Desa Ngampar Cai, sebagai penghuni dan sarang dari segala dedemit yang menakutkan dan kejam.

"Ha ha ha...! Sekarang kau rasakan di tempat ini. Sebentar lagi anjing-anjing hutan dan harimau-harimau lapar akan merencah tubuh kalian...," teriak Aria Denta sambil tertawa kegirangan melihat dua orang kawannya melempar mayat-mayat serta beberapa orang penduduk Desa Ngampar Cai yang masih sekarat.

"Selesai sudah...!" kata salah seorang kawan Aria Denta setelah melempar tubuh terakhir yang berada di dalam gerobaknya ke pinggir hutan ini.

"Ayo, lekas kita tinggalkan tempat ini! Biar mereka di situ karena sebentar lagi penghuni Hutan Mapag Nyawa akan berdatangan ke tempat ini!" sahut Aria Denta sambil terkekeh-kekeh kegirangan.

Danu Umbara hanya mampu melihat kepergian mereka dengan bola mata yang sayu dan buram. Tubuhnya seperti tidak bertenaga sama sekali, dan kepalanya terasa berat untuk diangkat. Sementara rasa sakit yang dideritanya tidak tertahankan lagi.

"Anjing-anjing laknat! Aku bersumpah tidak akan mau mati dulu sebelum membalas perlakukan kalian yang kelewat batas!" desisnya geram di dalam hati.

Danu Umbara mencoba memalingkan wajah dan mencari-cari istrinya di antara tumpukan tubuh penduduk Desa Ngampar Cai serta bau darah dan bangkai di tempat itu.

"Diah..., oh, maafkan aku yang tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolongmu...!" keluh Danu Umbara ketika melihat tubuh istrinya samar-samar dari bola matanya yang mulai mengabur.

Tubuh gadis itu terhampar tanpa mengenakan pakaian di tubuhnya. Dari mulutnya yang terluka lebar terlihat cairan busa yang kental, dan bola matanya membelalak lebar. Dari bagian bawah tubuhnya darah mengalir seolah tidak mau henti.

"Akan kubalas perlakuan mereka! Akan kubuat mereka menderita seperti apa yang mereka lakukan terhadapmu, terhadapku, dan terhadap semua penduduk Desa Ngampar Cai...!" desis Danu Umbara dengan tubuh menggigil menahan geram dan dendam yang meledak-ledak.

Pemuda itu hendak beringsut lagi mencari tubuh orangtua serta mertuanya. Namun sebelum hal itu dilakukannya, terdengar raungan panjang di kejauhan. Pemuda itu tersentak.

"Celaka! Anjing-anjing hutan kelaparan itu telah mencium bau anyir darah di tempat ini. Aku harus bisa menyelamatkan diri!" katanya sambil menguatkan semangatnya.

Dengan sisa-sisa tenaganya Danu Umbara beringsut menjauhi tempat itu. Beberapa kali dia sempat berpaling pada tubuh istrinya, dan tidak terasa beberapa rintik air mata jatuh membasahi pipinya yang tadi disayat-sayat oleh senjata pemuda pesolek itu. Danu Umbara merasakan sakit yang tiada taranya ketika berusaha beringsut menjauhi tempat itu. Namun dia sadar bahwa itulah satu-satunya jalan agar dia bisa hidup dan terhindar dari terkaman binatang-binatang buas yang sedang menuju ke tempat itu. Semangatnya untuk tetap hidup serta dendamnya yang menyala-nyala seperti memberikan tambahan tenaga baginya.

"Aku harus tetap hidup...! Aku harus hidup untuk mencoba membalas perlakuan mereka...!" desisnya berkali-kali untuk memberi semangat pada dirinya.

Sementara itu suara derap kawanan serigala seolah semakin dekat menuju tempat tumpukan tubuh penduduk Desa Ngampar Cai yang telah menjadi mayat, dan sebagiannya sekarat

"Auuung...!"
"Ohhh...!"

Danu Umbara merasa tenggorokannya tercekat dan darahnya tersirap habis mendengar raungan serigala yang jelas terdengar di telinganya. Jantungnya berdetak lebih kencang ketika tubuhnya terus bergulingan menjauhi tempat itu.

"Oh, Sang Hyang Widhi Jagat Bhatara, selamatkanlah aku dari serigala-serigala kelaparan itu! Biarkan aku tetap hidup agar aku bisa membalaskan dendam di hatiku ini...!" desisnya sambil berdoa di dalam hati.

Berkali-kali dia mengeluh kesakitan ketika tubuhnya tersandung batu serta ranting-ranting yang tajam. Danu Umbara hanya bisa menggigit bibirnya yang kering agar suaranya tidak keluar dan didengar oleh serigala-serigala yang telah mendekat. Jelas sekali terdengar di telinganya suara raungan dan pesta pora binatang-binatang itu merencah mayat-mayat yang berada di pinggir Hutan Mapag Nyawa itu. Danu Umbara tersentak sesaat, namun dia terus beringsut-ingsut dan bergulingan agar tubuhnya menjauh dari tempatnya tadi. Tanpa sadar dia telah menyeret dirinya sendiri masuk ke dalam Hutan Mapag Nyawa yang terkenal angker itu!

Hari telah mulai gelap ketika pemuda itu merasa tenaganya telah terkuras habis. Kepalanya berdenyut kencang dan menimbulkan rasa sakit yang hebat. Tenggorokannya kering, tubuhnya menggigil kedinginan, rasa sakit akibat luka-luka yang dideritanya semakin membuat pandangannya berkunang-kunang serta denyut jantungnya melemah seiring dengan denyut nadinya dan tarikan napas yang satu-satu. Danu Umbara tidak kuat lagi menggerakkan tubuhnya walaupun hanya bergulingan. Dia tergeletak tidak berdaya di bawah sebatang pohon beringin yang lebat. Saat itulah mendadak terdengar bisikan halus ditelinganya.

"Anak muda, kau dengarkan suaraku...?"

"Ohhh..., si..., siapa...?" sahut pemuda itu dengan suara lemah hampir tidak terdengar.


***


TIGA

"Kau tidak perlu mengetahuinya...," kembali terdengar suara halus seperti berbisik di telinganya.

Danu Umbara termangu beberapa saat lamanya. Suara siapakah itu? Benarkah ada yang berbisik di telinganya? Ataukah itu cuma khayalan belaka?

"Anak muda...," panggil suara bisikan itu.

Danu Umbara terdiam seolah ingin meyakini kebenaran suara itu.

"Pergilah ke balik pohon beringin itu. Di sana akan kau dapati sebongkah batu berbentuk segi empat. Gali batu itu dan di dalamnya kau akan menemukan dua buah benda yang berharga...," lanjut suara itu kembali.

"Aku..., tidak kuat..," sahut Danu Umbara lemah. Dia tidak yakin apakah suaranya keluar dari tenggorokannya atau tidak. Tapi tenaga pemuda itu benar-benar terkuras habis. Untuk sesaat dia tidak merasakan apa-apa. Suasana begitu hening dan sepi sekali. Bahkan bisikan-bisikan itu seperti lapat-lapat didengarnya di antara desau angin halus. Danu Umbara tergeletak tidak sadarkan diri.

Pemuda itu tidak tahu berapa lama dia terbaring di tempat itu. Namun ketika tubuhnya terasa dingin akibat siraman tetesan air hujan yang jatuh dari dedaunan pohon beringin yang berusia tua itu. Danu Umbara tersentak kaget. Luka di tubuhnya terasa perih. Saat itulah kembali terdengar bisikan yang mengaung di telinganya.

"Anak muda, pergilah ke balik pohon ini. Kau akan menemukan batu persegi empat Gali dan temukan dua buah benda di dalamnya. Kau akan mengetahui apa khasiatnya nanti..."

"Ohhh...," Danu Umbara menggeliat letih. Perlahan-lahan dia beringsut dari tempatnya semula dan menggulingkan tubuhnya menuju ke balik pohon beringin yang memiliki batang besar itu.

"Kuatkan semangatmu, Anak Muda...." kata bisikan itu lagi.

"Ohhh..., aku..., aku tidak kuat...," keluh Danu Umbara.

"Tidak. Kau harus kuat. Kau harus membalaskan sakit hati dan dendam yang ada di hatimu. Ingat! Kau harus membalaskan dendam mu itu...!" sahut suara bisikan itu.

"Dendam? Oh, ya! Aku harus kuat! Aku harus kuat...!" Danu Umbara tersentak begitu mendengar kata-kata bisikan itu.

Tiba-tiba saja kembali terlintas dalam benaknya pembantaian dan kekejian yang dilakukan Ki Rantek, pemuda pesolek itu beserta anak buahnya. Mendadak darahnya kembali mendidih dan amarahnya bangkit meluap-luap menimbulkan kekuatan hebat dalam dirinya. Dia menggulingkan tubuhnya dengan seluruh tenaga yang tersisa. Dan apa yang dikatakan bisikan itu memang benar. Di balik pohon beringin itu terdapat batu berbentuk segi empat yang telah berlumut dan hampir menyatu dengan tanah.

"Korek batu itu, cepat!" lanjut bisikan itu lagi.

Danu Umbara langsung mengorek batu itu. Di dalamnya terdapat lobang berbentuk segi empat kira-kira dua jengkal.

"Ambil benda itu...!" perintah bisikan itu yang didengarnya.

Sebelah tangan pemuda itu langsung merogoh ke dalam, dan dia menemukan dua buah benda yang unik. Sebuah berbentuk cincin dengan ukiran tengkorak manusia yang memiliki dua buah gigi taring yang runcing dan tajam serta mencuat keluar laksana tanduk banteng. Sebuah lagi adalah sebilah keris sepanjang satu jengkal berwarna kuning emas, Di badannya terdapat tulisan, Kyai Medi!

"Kenakan cincin itu dan simpan keris Kyai Medi...!" kembali bisikan halus terdengar.

Danu Umbara tidak mengerti untuk apa cincin itu dikenakannya. Begitu juga halnya dengan keris yang bernama Kyai Medi. Keris itu sama sekali tidak indah, bahkan menyeramkan. Senjata itu sama sekali tidak layak disebut senjata meskipun ujungnya runcing, sebab selain ukurannya yang amat kecil dibandingkan dengan senjata-senjata keris pada umumnya, keris kyai medi pun sama sekali tidak tajam.

Namun meskipun demikian, Danu Umbara menurut saja. Diselipkannya keris itu di pinggang, lalu dikenakannya cincin itu. Dan....

Danu Umbara tersentak kaget. Mendadak saja angin kencang mengelilingi tubuhnya dan mampu membuat dedaunan pohon beringin di atasnya seperti dilanda badai topan. Perlahan-lahan tubuh pemuda itu terangkat sehingga dia mampu berdiri tegak. Darahnya mengalir dengan kencang, dan demikian pula halnya dengan detakan jantungnya. Tangannya perlahan-lahan merayap di sekujur tubuhnya dengan diiringi hawa panas yang berputar-putar dari bawah perut dan terus menjalar di seluruh bagian tubuhnya.

"Anak muda, kini aku telah menyusup di tubuhmu. Keris Kyai Medi dan cincin itu adalah dua buah senjata pusaka yang menjadi kekuatan sekaligus kelemahanmu. Kau harus mendapatkan korban agar tenagamu berlipat ganda dengan menusukkan kedua taring cincin itu. Dia tidak akan terlepas sebelum darah korban terhisap habis. Bila dalam tiga hari kau tidak mendapatkan korban, maka kau yang akan celaka. Sedangkan keris itu adalah naasmu. Kau akan mati oleh keris Kyai Medi. Oleh sebab itu keris Kyai Medi tidak boleh berada jauh-jauh darimu dan kau harus menyimpannya dengan hati-hati...," kata bisikan itu kembali.

"Huh, aku tidak peduli apa pun syarat-syarat-nya! Yang penting dendamku harus terbalaskan!" dengus Danu Umbar sambil melangkah pelan meninggalkan tempat itu.

Pemuda itu merasakan betul bahwa tenaganya telah pulih sama sekali. Bahkan kini dia merasa sangat kuat. Tubuhnya ringan ketika melangkah. Bahkan ketika dia mencoba bangkit, terasa sapuan angin kencang yang mendorong tubuhnya bagai melayang-layang!


***


Angin bertiup semilir menerpa kedua penunggang kuda yang memacu kudanya lambat-lambat. Mereka adalah sepasang muda-mudi yang berparas tampan dan cantik. Yang seorang berambut panjang terurai mengenakan baju yang terbuat dari kulit harimau dan di tangan kanannya melekat sebuah cakra segi enam. Pemuda tampan itu tak lain dari Bayu Hanggara yang lebih dikenal dengan nama julukan Pendekar Pulau Neraka. Dan gadis cantik berbaju merah muda di sebelahnya adalah Wulandari yang banyak dikenal dunia persilatan sebagai Dewi Maut.

"Senang sekali bisa bepergian lagi denganmu, Kakang...," kata gadis itu pelan sambil tersenyum dan memandang wajah pemuda di sebelahnya itu. Bayu ikut-ikutan tersenyum sambil menyahut pelan.

"Aku pun senang kau sudah sehat kembali...."

"Kakang, ceritakanlah bagaimana pengalamanmu bepergian tanpa aku...!"

"Tidak ada yang istimewa. Aku merasa sepi...!"

"Bohong!" potong gadis itu cepat.
"Kenapa aku musti berbohong!"

"Bukankah lebih senang bisa bepergian sendiri tanpa ku temani? Kau bisa berkenalan dengan gadis cantik, dan...," gadis itu tidak meneruskan kata-katanya melainkan melirik pemuda itu sambil tersenyum menggoda.

"Lalu...?"

"Yaaah, yang jelas pasti senang!" sahut Wulandari enteng sambil memalingkan wajah.

"Bisa jadi...."
"Nah, betulkan?!" sentak Wulandari sambil memandang pemuda itu dengan sorot mata menuduh.

"Betul kenapa?" tanya Bayu santai.

"Iya, kau senang bepergian tanpa aku karena bebas bisa menggoda gadis-gadis cantik!" sahut Wulandari sedikit kesal.

"Hm, untuk apa menggoda mereka? Kau pasti lebih cantik dibandingkan gadis mana pun di dunia ini...," sahut Bayu memuji.

"Bohong...!"

"Jadi kau ingin aku mengatakan bahwa kau gadis paling terjelek dari semua gadis di dunia ini?"

Wulandari diam tidak menjawab. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa menandakan hatinya yang cemburu bercampur kesal.

"Sudah, jangan begitu. Nanti kau sakit lagi...," bujuk Bayu.
"Biar!"
"Hm, kalau sakit memang tidak apa, tapi kalau wajahmu cemberut begitu mana bisa dikatakan cantik...," lanjut Bayu.
"Biar...!" sentak Wulandari ketus tanpa menoleh.
"Ya sudah, kalau memang begitu...," sahut Bayu seenaknya.

Keduanya kembali berdiam diri untuk beberapa saat lamanya. Dan ketika mereka sampai di mulut sebuah desa, keduanya berhenti sejenak.

"Hm, desa ini lengang seperti dipekuburan...!" desis Bayu pada diri sendiri.

"Kakang, coba lihat! Banyak darah berceceran!" Wulandari menunjuk pada tanah yang berada di depannya.

Bayu melompat turun dan memeriksa ceceran darah yang telah kering dan membeku.

"Darah apa ini, Kakang?" tanya Wulandari yang telah berada di sebelahnya seolah telah melupakan kejengkelan hatinya tadi.

"Entahlah...," sahut Bayu lemah sambil menggelengkan kepala.

Pemuda itu berjalan pelan memasuki desa yang sepi seperti tidak berpenghuni itu. Sepanjang jalan banyak mereka temui darah-darah kering dan beku berceceran. Dan semakin mereka melangkah ke depan, terlihat banyak sekali rumah-rumah yang hancur dan porak-poranda.

"Sepertinya ada sesuatu yang hebat merusak desa ini...," gumam Bayu.

"Hm.... Agaknya darah-darah itu berasal dari penduduk desa ini, Kakang...," kata Wulandari pelan.

"Ya, sepertinya ada kawanan perampok atau semacam itu yang memporak-porandakan dan membunuh penduduk desa ini," timpal Bayu menduga-duga apa yang telah terjadi di desa ini.

"Kakang...!" sentak Wulandari sambil memandang ke satu arah.
"Ada apa?"
"Aku melihat seseorang berkelebat cepat di balik rumah-rumah itu!" tunjuk Wulandari.

Baru saja gadis itu selesai berkata, Bayu telah melompat mengejar diikuti oleh Wulandari dari belakang. Seorang pemuda tanggung berusia sekitar lima belas tahun dengan tubuh kurus, berlari-lari kecil masuk ke dalam sebuah rumah, dan menyembunyikan diri di bawah sebuah balai-balai reot. Wajahnya pucat ketakutan dengan napas turun naik tidak karuan. Jantungnya seperti berhenti berdetak ketika dilihatnya sepasang kaki manusia berdiri persis di depannya.

"Keluarlah kau atau aku musti memaksamu keluar...!" terdengar seseorang berkata dengan suara mengancam. Pemuda tanggung itu menggigil tubuhnya dan diam tidak bergerak. Tubuhnya tersentak ke belakang membentur dinding ketika balai-balai diangkat ke atas dan tersingkaplah persembunyiannya. Pemuda tanggung itu mendekap kepalanya ke bawah dengan kedua kaki ditekuk.

"Ampuuun...! Jangan bunuh aku..., jangan bunuh aku...!" katanya dengan suara lirih.

"Tidak ada yang membunuhmu. Kami berdua hanya kebetulan lewat saja," jawab Bayu pelan.

"Siapakah kau...?" tanya orang itu dengan suara halus.

Mendengar suara itu, si pemuda mendongakkan kepala dan melihat sepasang muda-mudi yang tadi dilihatnya berada di tengah desa ini.


***


"Jangan takut Kami tidak akan menyakitimu. Namaku Bayu, dan ini kawanku, Wulandari...," kata pemuda berbaju kulit harimau itu ramah.

Pemuda tanggung itu masih diam tidak bicara. Bola matanya masih memandang keduanya dengan takut Kemudian dengan cepat dia menunduk kembali.

"Siapa namamu dan apa yang telah terjadi di desa ini?" tanya Bayu dengan suara halus.

"Kakang, kelihatannya dia ketakutan...," kata Wulandari.
"Adik, jangan takut. Kami tidak akan menyakitimu..," lanjut Bayu sambil berjongkok dan menepuk pundak pemuda tanggung itu.

Pemuda tanggung itu agak tenang. Kembali dia memandang kedua muda-mudi itu agak lama.

"Siapa namamu...?" tanya Wulandari lembut sambil ikut berjongkok di sebelah Bayu.

"Apa..., apakah kalian bukan kawan kawannya Perampok Tangan Darah itu...?" tanya si pemuda tanggung dengan suara gemetar.

"Perampok Tangan Darah? Siapa mereka? Baru sekali ini kami mendengarnya," sahut Wulandari heran.

"Mereka… Mereka merampok dan membunuh serta memperkosa wanita-wanita di desa ini...," sahut anak itu lirih dengan wajah sedih.

"Jahanam keparat! Di mana mereka sekarang?!" sentak Wulandari geram.

Melihat wajah gadis itu kelihatan geram dan marah terhadap Perampok Tangan Darah yang di ceritakannya, pemuda tanggung itu semakin berani saja bercerita karena dianggapnya kedua orang itu sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Perampok Tangan Darah yang amat ditakutinya.

"Aku tidak tahu di mana berada. Tapi kudengar-dengar ketuanya bernama Ki Rantek dan seorang muridnya bernama Aria Denta...," sahut pemuda tanggung itu.

"Hm, sungguh keji perbuatan mereka. Orang seperti itu memang harus dihajar!" desis Wulandari kembali dengan wajah geram dan kedua tangannya terkepal erat-erat.

"Adik, siapakah namamu dan di mana orang tuamu...?" tanya Bayu.

"Namaku Prasetya, dan kedua orangtua ku telah dibunuh mereka. Kini aku hidup sebatang kara...," sahut pemuda tanggung dengan nada lirih.

Prasetya menatap kedua orang itu dengan seksama, kemudian melanjutkan kata-katanya dengan suara penuh harap.

"Maukah kalian menolongku...?"
"Apa yang bisa kami tolong...?" tanya Bayu.
"Menghancurkan Perampok Tangan Darah itu...."

"Prasetya, kau tidak usah khawatir. Tanpa kau minta pun kami bermaksud menghancurkan perampok keparat itu setelah apa yang mereka lakukan terhadap desa ini!" sahut Wulandari cepat sebelum Bayu buka suara.

"Oh, sungguhkah...?!" sahut Prasetya dengan bola mata berbinar-binar. Wulandari mengangguk cepat.

"Nah, jagalah dirimu baik-baik. Kami akan mencari Perampok Tangan Darah yang biadab itu dan menghancurkan mereka!" lanjut Wulandari sambil bangkit berdiri dan mengajak Bayu berlalu dari tempat itu.

"Oh, terima kasih. Terima kasih atas kesediaan kalian. Aku akan berdoa mudah-mudahan kalian selamat dan mampu menghancurkan perampok itu!" sahut Prasetya gembira.

Wulandari dan Bayu tersenyum. Mereka segera keluar dari rumah itu. Langkah keduanya terhenti ketika mereka baru saja beberapa langkah. Tujuh orang laki-laki yang masing-masing memegang senjata berupa golok, pentungan, dan berbagai macam senjata lainnya telah menghadang. Wajah mereka jelas menunjukkan rasa permusuhan.

"Berhenti! Hari ini kami telah bersumpah akan membunuh kalian berdua...!" bentak salah seorang di antara mereka garang.

"Kisanak, siapa kalian dan apa yang kalian bicarakan? Seingatku di antara kita tidak ada saling permusuhan. Kenapa kalian bicara seolah-olah menyimpan dendam kesumat terhadap kami?" tanya Bayu dengan sikap tenang.

"Jangan-banyak bicara! Kalian pasti salah satu dari mereka yang ingin kembali untuk meratakan desa kami ini!" desis orang itu tidak peduli dengan apa yang diucapkan Bayu.

Salah seorang kawannya yang lain malah tidak mampu menahan sabar dan sudah langsung menghunuskan goloknya menyerang kedua orang di hadapannya.

"Huh, banyak mulut! Lebih baik kalian mampus...!"

"Uts...!"
Plak!
Gusrak!

Orang itu sama sekali tidak memiliki dasar ilmu silat yang baik sehingga serangannya terkesan serampangan. Dengan mudah Bayu mengelak sambil memiringkan sedikit kepalanya. Sementara bersamaan dengan itu sebelah kakinya mengait kaki lawan hingga jatuh terjerembab. Beberapa orang kawannya terkejut dan bertambah marah. Dengan serentak mereka maju menyerang kedua orang itu. Namun sebelum mereka bertindak lebih jauh, terdengar seseorang berteriak nyaring.

"Tahaaan...!"

"Hei, Prasetya! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya salah seorang di antara mereka yang hendak mengeroyok Bayu dan Wulandari.

"Ki Sugeng, jangan memusuhi mereka. Mereka bukanlah kawanan perampok-perampok itu!" teriak orang yang baru muncul yang tidak lain dari Prasetya.

"Hm, bagaimana kami bisa percaya?" dengus orang yang pertama berbicara pada Pendekar Pulau Neraka tadi.

"Mereka kawanku dan akan menghancurkan para perampok itu. Percayalah, Ki. Mereka orang baik!" jelas Prasetya meyakini mereka.

"Hm...," laki-laki bertubuh sedang dengan kumis tebal yang dipanggil Sugeng itu mendengus pelan.

"Kisanak, kalian boleh percaya. Kami sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kawanan perampok itu. Bahkan kalau kalian percaya, kami bermaksud menyatroni sarang mereka," sahut Bayu pelan sambil menaiki punggung kudanya diikuti Wulandari.

"Hm, kau pikir kami akan percaya dengan omonganmu begitu saja?!" dengus Sugeng sinis dan tetap curiga.

Sementara kawan-kawannya yang lain bersiap dengan menjaga-jaga segala kemungkinan agar kedua orang itu tidak bisa kabur seenaknya.

"Kau boleh percaya karena yang bicara denganmu adakah Pendekar Pulau Neraka dan...!" sahut Bayu mulai kesal dan langsung menghela kudanya kencang-kencang dari tempat itu.

"Hei...?!" Sugeng tersentak kaget dengan wajah tidak percaya mendengar kata-kata terakhir pemuda itu.

"Kenapa, Ki?" tanya seorang kawannya dengan nada heran.

"Pantas! Lima kali lipat dari jumlah ini pun tidak akan mampu menghalangi keduanya. Mereka pendekar hebat, dan aku yakin di tangan keduanya kawanan Perampok Tangan Darah akan mampu dihancurkan. Sayang, kita tidak sempat meminta maaf...," desah Sugeng sambil memandang ke arah di mana kedua orang muda-mudi itu telah menghilang dari pandangan!


***


EMPAT

Bayu dan Wulandari memperlambat lari kuda mereka setelah jauh dari desa yang mereka lalui tadi. Wajah Wulandari tampak kesal. Terasa betul kejengkelan hatinya akibat sikap orang-orang tadi.

"Orang-orang seperti itu membuatku muak. Kalau saja tidak ingat penderitaan yang mereka alami, ingin rasanya kuhajar orang-orang itu!" dengusnya geram.

"Sudahlah, bukankah mereka tidak mengetahuinya...," sahut Bayu menghibur.

"Iya, tapi seharusnya mereka kan bisa tanya atau bagaimana. Tidak langsung main tuduh!"

"Mereka baru saja mengalami kejadian yang amat mengerikan. Sudah pasti kecurigaan mereka membabi-buta begitu melihat orang asing yang membawa senjata di desa mereka," jelas Bayu.

"Huh, aku tidak peduli!"

Bayu tertawa pelan. Wulandari sudah hendak marah pada pemuda itu ketika mendadak muncul tiga sosok tubuh menghadang mereka dengan menunggang kuda. Langsung keduanya menghentikan langkah mereka dan menatap ketiga penghadang berwajah seram itu dengan sikap tenang.

"Kisanak, siapakah kalian dan ada urusan apa menghadang perjalanan kami?" tanya Bayu berusaha menahan perasaan hatinya ketika dia men-oba mengambil jalan lain, namun ketiga orang itu seperti sengaja mengikuti dengan sikap menghadang.

"Kakang, tidak usah banyak bicara lagi. Sudah jelas mereka ingin mencari gara-gara. Biar kuhajar saja!" gerutu Wulandari geram.

Tapi sebelum gadis itu berbuat apa-apa, ketiga orang penghadang itu tertawa keras.

"Ha ha ha...! Sungguh galak gadis cantik ini. Tapi dengan sikapnya itu semakin membuatku gemas dan ingin cepat-cepat mendekapnya!" kata salah seorang di antara mereka yang bertubuh besar dan bercambang bauk tebal di wajahnya.

"Bangsat kotor, tutup mulutmu...!" bentak Wulandari sambil melompat turun dari kudanya dan langsung menyerang orang itu dengan geram.

"Jaka Sunggring, diamlah kau biar kutangkap gadis liar ini untukmu!" sahut kawannya yang bertubuh kurus sambil melompat memapaki serangan Wulandari.

"Hati-hati, Delangu! Jangan sampai dia lecet ditanganmu!" kata orang bercambang bauk yang dipanggil Jaka Sunggring itu.

Melihat Wulandari bertindak demikian, Bayu mendiamkan saja sambil memperhatikan dengan seksama dan menarik napas pendek.

"Yeaaah...!"
"Uhhh...!"

Kepalan tangan kiri Wulandari menderu menghantam batok kepala Delangu. Namun laki-laki kurus berusia sekitar dua puluh tujuh tahun itu dengan gesit mengelak. Dia bermaksud mempermainkan gadis itu dengan menundukkan kepala dan hendak mencengkeram dada Wulandari.

Namun alangkah kagetnya dia ketika dengan tiba-tiba kaki kanan gadis itu menghajar bagian bawah perutnya. Dengan cepat Delangu mengelak ke samping. Tapi Wulandari cepat memutar tubuh dan mengayunkan kaki kirinya menghajar dada lawan.

"Begkh!"
"Aaakh...!"

Delangu menjerit keras ketika merasakan dadanya seperti mau pecah menerima tendangan yang kerasnya bukan main. Tubuhnya sampai terjungkal dengan darah menetes di sudut bibirnya.

"Hiyaaa...!"

Belum lagi dia sempat memperbaiki kedudukannya, Wulandari telah melompat menyerangnya kembali dengan satu tendangan bertenaga kuat.

"Delangu, awas kau!" bentak Jaka Sunggring sambil melompat memapaki serangan Wulandari untuk menyelamatkan kawannya itu.

Srak!
Trang!

Jaka Sunggring langsung mencabut senjatanya berupa clurit yang berukuran panjang dan menyambar kaki gadis itu. Wulandari buru-buru mencabut pedang tipis dari pinggangnya untuk menangkis senjata lawan seraya menekuk kakinya yang tadi terentang.

Wut!
Des!
"Aaakh...!"

Jaka Sunggring menjerit keras ketika ujung kaki kiri lawan menghantam dadanya. Ketika senjata mereka tadi beradu, Jaka Sunggring mengeluh kesakitan merasakan telapak tangannya perih. Namun begitu dia masih sempat menundukkan kepala ketika ujung pedang lawan menyambar ke arah leher. Tubuhnya melompat ke belakang untuk menghindari serangan lawan berikutnya. Namun tubuh Wulandari telah melompat tinggi sambil mengayunkan kaki kirinya ke dada lawan.

Jaka Sunggring terjungkal beberapa langkah dari tempatnya berdiri tadi. Dan Wulandari seolah tidak mau memberi kesempatan pada lawannya, tubuhnya langsung berjumpalitan untuk menghabisi lawan. Melihat keadaan kawannya yang kritis, Delangu dan seorang kawannya yang satu lagi langsung melompat menyerang Wulandari.

"Betina liar, mampuslah kau...!" bentak mereka sambil menghunuskan senjatanya.

"Wulan, biar kubereskan mereka! Kau hajar saja bagianmu yang bermulut kotor itu!" teriak Bayu sambil melompat dari punggung kudanya dengan gerakan indah untuk menahan serangan kedua lawan yang akan menghajar Wulandari.

"Mampus...!"
"Uts...!"
"Hiiih...!"


***


Bayu memancing serangan keduanya dengan mengayunkan kaki ke arah keduanya. Serta-merta mereka mengayunkan senjata memapak kaki pemuda itu. Saat itu Bayu menarik pulang tendangannya, dan kaki kirinya yang satu lagi menotol bumi sehingga tubuhnya terangkat ke atas dengan ringan sambil berjumpalitan. Bersamaan dengan itu sebelah kakinya menghajar wajah kedua lawannya secara bersamaan.

Des!
"Aaakh...!"

Kedua orang itu terjungkal sambil menjerit kesakitan. Yang seorang hidungnya patah dan mengucurkan darah, sedang yang seorang lagi dua buah giginya tanggal. Mereka berusaha bangkit dengan amarah yang meluap-luap. Dengan senjata terhunus mereka menyabet tubuh lawan secara bersamaan. Namun dengan gesit tubuh Bayu meliuk-liuk menghindari tebasan senjata lawan.

Tubuhnya berputar cepat sambil mengayunkan satu tendangan keras menghantam dada kedua lawannya. Mereka menjerit kesakitan dengan tubuh terjungkal beberapa tombak. lsi dada mereka seperti mau meledak menerima tendangan yang kerasnya luar biasa. Beberapa kali mereka memuntahkan darah segar.

"Bangkitlah...," kata Bayu sambil memandang mereka dengan seksama.

Kedua orang itu tersentak kaget. Entah bagai-mana caranya pemuda itu telah tegak berdiri di depan mereka.

"Ayo, bangun! Bukankah kalian hendak menghabisiku?" tanya Bayu dingin. Belum sempat mereka berkata sepatah kata pun mendadak terdengar jeritan keras.

"Aaakh...!"

Tubuh Jaka Sunggring bergulingan sambil menahan rasa sakit, dan berhenti persis di samping kedua kawannya itu. Di dadanya terlihat luka goresan memanjang yang cukup dalam akibat sabetan senjata Wulandari. Sedangkan senjatanya sendiri telah lepas dari genggaman. Orang itu berusaha bangkit namun ujung kaki Wulandari dengan cepat menghantam perutnya.

Duk!
"Hokh...!"

Jaka Sunggring tergeletak dalam keadaan tengkurap dan mendekap perutnya yang mau meledak akibat tendangan gadis itu.

"Siapa kalian dan ada urusan apa mencegat perjalanan kami?!" bentak Wulandari galak sambil menjambak rambut Jaka Sunggring.

"Aaa..., ampun, ampuni kami, Nisanak...." lirih suara Jaka Sunggring dengan wajah pucat ketakutan.

Plak!
"Aaakh...!"

Jaka Sunggring menjerit keras ketika sebelah tangan gadis itu menampar pipinya dengan keras, sehingga terlihat sudut bibirnya pecah dan berdarah.

"Itu hadiah atas mulut kotormu tadi. Sekarang katakan siapa kalian sebelum aku hilang kesabaran dan mencabut nyawa kalian!" bentak Wulandari geram.

"Eh, kami..., kami..."

"Cepaaat!" teriak Wulandari menggeledek.

Ketiga orang itu tersentak kaget. Dan wajah mereka pucat ketakutan melihat kegalakan gadis itu. Jaka Sunggring menelan ludah sebelum menyahut.

"Kami..., kami kawanan Perampok Tangan Darah...," sahutnya terbata-bata.

"Hm, Perampok Tangan Darah? Bagus!" Wulandari mendengus geram ketika mendengar jawaban itu.

Des!
"Wuaaa...!"

Dengan menyebutkan nama itu mereka berharap kedua orang itu akan takut dan segera pergi ketakutan. Tapi, bagi mereka sama sekali tidak menyangka ketika gadis galak itu mengayunkan tendangan beruntun sehingga ketiga orang itu terjungkal sambil memekik kesakitan.

"Perampok Tangan Darah keparat! Dicari-cari kalian tidak bertemu tapi siapa sangka kalian malah datang tanpa diminta! Hajaran itu belum seberapa dibanding perbuatan kalian yang bejad terhadap orang-orang desa!" desis Wulandari dengan kemarahan yang meluap-luap.

Sebelum ketiganya bangkit, gadis itu telah kembali melompat dan menghajar ketiganya habis-habisan sehingga mereka kembali menjerit-jerit kesakitan tanpa bisa melakukan perlawanan yang berarti.

Sring!

"Sekarang lebih baik kalian mampus saja...!" desis Wulandari sambil mencabut pedangnya dan bermaksud menghabisi ketiga lawannya yang telah tidak berdaya itu.

"Wulan, tahan...!" sentak Bayu sambil menangkap pergelangan tangan gadis itu.

"Lepaskan, Kakang! Biar kubereskan mereka sekarang juga!" sentak gadis itu berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan Bayu.

"Dengar dulu! Bila kau bunuh mereka kita cuma mendapat tiga orang. Tapi kalau kita paksa mereka menunjukkan sarangnya, maka kita akan mendapatkan seluruh kawanan itu. Bila kau bunuh mereka sekarang, maka sulitlah bagi kita untuk menumpas mereka seluruhnya. Nah, kau mengerti maksudku?"

Wulandari terdiam mendengar kata-kata itu. Meskipun hatinya geram, tapi dia mengakui bahwa apa yang dikatakan Bayu memang benar. Dia menghampiri ketiga laki-laki itu sambil menghunus ujung pedangnya ke arah Jaka Sunggring.

"Katakan di mana kawan-kawanmu yang lain kalau kau ingin selamat?! Kalau tidak kau akan mampus sekarang juga!" dengus Wulandari sambil menempelkan ujung pedangnya ke leher lawan.

"Ka..., kalian pasti akan celaka bila bertemu dengan mereka...," sahut Jaka Sunggring.

"Aku tidak butuh peringatanmu! Katakan di mana kawan-kawanmu berada?" desis Wulandari sambil menekan ujung pedangnya agak kuat

"Ba..., baiklah. Me..., mereka berada di Lembah Kematian di sebelah selatan Gunung Dieng...," sahut Jaka Sunggring dengan wajah pucat ketakutan.

"Bagus! Sekarang jalan! Ayo, jalan...!" bentak Wulandari menggiring mereka. Wulandari menyuruh mereka berjalan lebih dulu sementara dia dan Bayu mengikuti dari belakang dengan berkuda.

"Bila kalian coba-coba kabur, maka pedangku tidak akan kenal ampun terhadap kalian!" ancam gadis itu lagi mengingatkan.

Ketiga orang itu bergidik ngeri. Melihat sepak terjang kedua orang itu, mereka bisa merasakan bahwa tak seorang pun dari mereka yang mampu melarikan diri. Bukan saja tenaga kedua muda-mudi itu sangat hebat, tapi mereka bertiga tak mau menanggung akibatnya untuk coba melarikan diri.



***


Lembah Kematian yang berada di sebelah selatan Gunung Dieng adalah suatu tempat yang agak tersembunyi dan dikelilingi bukit-bukit yang berdinding lekuk-lekuk. Di dinding bukit-bukit kecil itu banyak terdapat goa-goa yang merupakan tempat tinggal kawanan Perampok Tangan Darah yang dipimpin Ki Rantek.

Sementara di depan dinding-dinding itu sendiri dihadang oleh hutan-hutan lebat dengan pepohonannya yang besar serta berumur ratusan tahun. Selama ini tidak ada seorang pun yang berani memasuki wilayah itu, sebab mereka yang ke sana tidak ada seorang pun yang pernah kembali dengan selamat.

Lembah Kematian yang selama ini lengang, hari ini terlihat ada keramaian. Ki Rantek dan anak buahnya terlihat sedang mengadakan pesta-pora atas keberhasilan mereka merampok iring-iringan pedati yang membawa barang-barang berharga. Namun bukan hanya karena itu saja yang membuat mereka mengadakan pesta besar-besaran melainkan karena hari ini sedang berlangsung perkawinan antara Aria Denta, murid Ki Rantek satu-satunya dengan Kusumawardani, murid tunggal Nyai Dasih Malela.

Seperti diketahui, Nyai Dasih Malela adalah seorang perampok wanita yang memiliki kepandaian tinggi dan sepak terjangnya amat kejam. Ki Rantek berharap dengan adanya ikatan perkawinan di antara murid mereka, maka kedudukannya akan semakin kuat dan kawanan Perampok Tangan Darah akan lebih disegani.

Tidak heran jika dia merasa sangat bergembira melihat perjodohan itu. Kusumawardani yang berwajah cantik dengan pakaian seronok itu tentu saja memiliki kepandaian hebat dan bisa diandalkan, jika mereka telah bergabung dalam kelompoknya.

"Selamat atas perkawinan Aria Denta dan Kusumawardani...!" teriak salah seorang anak buah Ki Rantek sambil mengangkat secawan anggur ke atas.

"Hidup Ki Rantek...!" lanjut yang lainnya.
"Hidup Nyai Dasih Malela...!" timpal seorang lagi.

"Hidup Perampok Tangan Darah...!" sambut yang lainnya.
"Hi hi hi...! Anak-anak buahmu sungguh bersemangat sekali, Ki Rantek...!" puji Nyai Dasih Malela.

"Ya, mereka memang sudah lama menantikan saat-saat seperti ini. Silakan diminum anggurnya, Nyai...!"

"Silakan!" kata Nyai Dasih Malela sambil mengangkat cawan berisi anggur.
"Mari, Nyai...!" sahut Ki Rantek ikut mengangkat cawan anggur.

Melihat hal itu semua anak buah Ki Rantek pun melakukan hal yang sama untuk menghormati wanita tua itu.

"Dan sekali lagi untuk kedua mempelai...!" lanjut Ki Rantek mengangkat cawannya ditujukan kepada Aria Denta dan Kusumawardani.

"Mudah-mudahan mereka hidup bahagia sampai kakek dan nenek...!" timpal Nyai Dasih Malela.
"Hidup Aria Denta...!" teriak seseorang.
"Hidup Kusumawardani...!" timpal seorang lagi.
"Hidup keduanya...!" sambung seorang lagi.

Kemudian bersama-sama mereka minum anggur yang ada di dalam cawan masing masing. Beberapa orang anak buah Ki Rantek menari-nari diiringi tepuk tangan kawan-kawannya. Ki Rantek dan Nyai Dasih Malela tersenyum-senyum melihat hal itu.

"Anak-anak buahmu tampaknya amat setia padamu, Ki Rantek...," puji Nyai Dasih Malela.
"Ya, begitulah. Mereka bahkan tidak segan-segan mengorbankan nyawa demi menuruti perintahku," sahut Ki Rantek bangga.
"Hm, hebat sekali!"

Ki Rantek tersenyum-senyum kecil.

"Apa rencanamu setelah ini selesai...?" tanya Nyai Dasih Malela.
"Belum kupikirkan..., eh, apa maksudmu dengan rencana itu?" tanya Ki Rantek seperti sadar ada maksud tersembunyi dari wanita tua itu.

Nyai Dasih Malela tersenyum tipis. Kemudian kembali dia melanjutkan kata-katanya.

"Bukankah dengan perkawinan muridmu dan muridku, maka kedudukan kita akan semakin kuat?"

"Hm, apakah dengan begitu berarti kau ingin bergabung dalam kelompokku?" tanya Ki Rantek penuh selidik.

"Tepatnya membantumu, tapi..., apakah kau merasa keberatan?"
"Tentu saja tidak!"
"Aku punya rencana hebat...," sahut Nyai Dasih Malela sambil tersenyum.
"Rencana apa, Nyai...?"
"Kita akan merampok rumah-rumah bangsawan kerajaan!"
"Tapi, Nyai..., itu sangat berbahaya!" sahut Ki Rantek kaget.
"Apakah kau takut?"

"Aku tidak ingin mengorbankan jiwa anak buahku. Umumnya rumah-rumah para bangsawan dijaga ketat oleh lebih dari dua puluh orang prajurit!"

"Serahkan soal itu padaku! Dan kalian bereskan barang-barang berharganya. Kita akan mendapat barang berharga yang banyak sekali. Asal harus ingat! Bagianmu dan bagianku harus adil!"

Ki Rantek berpikir sejurus lamanya sebelum mengangguk setuju. Wajah Nyai Dasih Malela tampak gembira melihat sikap Ki Rantek. Bersama-sama mereka kembali minum anggur. Saat mereka tengah menikmati minuman yang memabukkan itu, mendadak saja mereka dikejutkan dengan terdengarnya suara jerit kesakitan salah seorang anak buah Ki Rantek yang begitu panjang dan melengking tinggi.

"Aaa...!"

"Heh...?! Ada apa itu...?!" Ki Rantek cepat melesat, dan....


***


LIMA

Pesta itu seketika terhenti oleh jeritan tersebut. Ki Rantek tersentak kaget ketika melihat sesosok tubuh anak buahnya melayang persis di kakinya. Tubuhnya pucat dengan kulit yang membusuk dan terus meleleh perlahan-lahan. Orang tua itu lekas bangkit dari duduknya sambil membentak garang.

"Kurang ajar...! Siapa yang berani melakukan hal ini?!" bentak Ki Rantek garang sambil mengedar pandangan ke sekeliling tempat itu.

"Aku...!" sahut satu suara pelan yang diikuti melesatnya dua sosok tubuh di hadapan Ki Rantek dan Nyai Dasih Malela.

Ki Rantek sedikit kaget melihat begitu cepat kedua sosok tubuh itu telah berada di hadapannya. Mereka adalah seorang pemuda berwajah tampan dengan sinar mata berkilau menyeramkan. Pakaian kuning yang dikenakannya agak keemasan dan terbuat dari sutera halus. Pada salah satu jari tangan kanannya terdapat sebentuk cincin yang amat menyolok bergambar kepala tengkorak manusia dengan dua buah gigi taring melengkung keluar bagai tanduk banteng!

Di sebelah pemuda itu tampak seorang gadis manis berusia sekitar dua puluh tahun memakai baju warna putih. Wajahnya tampak pucat ketakutan. Hal itu menimbulkan keanehan bagi Ki Rantek dan yang lainnya. Orang tua itu memberi isyarat pada anak buahnya agar tidak bertindak lebih dulu. Di pandanginya pemuda itu dengan seksama. Demikian juga halnya dengan Aria Denta. Dia bangkit dari kursinya dan menghampiri pemuda itu dengan wajah penasaran sebab dia seperti merasa pernah melihat pemuda itu sebelumnya.

"Siapa kau? Rasanya wajahmu tidak asing bagiku?" tanya Aria Denta dengan sikap curiga.

"Hm, bagus kau masih mengenaliku. Akan lebih memudahkan pekerjaanku nantinya," sahut pemuda berbaju kuning keemasan itu dingin. Kemudian terlihat pemuda itu memandang tajam ke arah Ki Rantek.

"Kaukah yang bernama Ki Rantek?" tanyanya dingin.

"Hm, ya. Ada urusan apa kau mengacau pestaku ini?" tanya orang tua itu kurang senang.

"Oh, jadi kau sedang mengadakan pesta perkawinan muridmu? Sungguh kebetulan!" dengus pemuda itu dengan nada geram.

"Apa maksudmu, Anak Muda? Bicaralah yang benar kalau tidak kau akan menyesal sendiri nantinya!" sentak Ki Rantek mengancam.

Mendengar ancaman itu bukannya pemuda itu menjadi takut dan ciut nyalinya. Pemuda itu malah tertawa dengan suara menggelegar, sehingga membuat kaget mereka yang hadir di tempat itu.

"Hua ha ha...! Hari ini adalah pembalasan yang akan kau terima dariku! Hari ini adalah kematian yang mengerikan bagi kalian! Hari ini akan kulebur menjadi rata dengan tanah kawanan Perampok Tangan Darah...!"

"Kurang ajar! Bunuh orang sinting ini!" bentak Ki Rantek sembari memberi perintah pada anak buahnya.

Saat itu juga seluruh anak buahnya mengepung dua orang itu dengan sikap waspada. Pemuda berbaju kuning keemasan itu sama sekali tidak mempedulikannya.

"Ki Rantek, kenalkah kau dengan Nyai Ningsih Herang?" tanya pemuda itu dingin.
"Apa maksudmu?"
"Wanita yang kau cintai puluhan tahun lalu dan akhirnya pergi meninggalkanmu karena perbuatanmu yang keji dan tidak juga mau insaf-insaf. Aku tahu kau masih mencintainya sampai saat ini...."

"Tutup mulutmu! Tahu apa kau tentang masa silamku!" dengus Ki Rantek mulai naik darah.
"Aku tahu banyak tentangmu. Ketahuilah bahwa wanita itu kini telah tewas di tanganku!" dingin suara pemuda itu ketika mengatakan demikian.
"Apa?!" kedua bola mata Ki Rantek tampak semakin besar mendengar kata-kata pemuda itu.
"Sebelum dia pergi meninggalkanmu, wanita itu mengandung anakmu dan gadis yang bersamaku inilah darah dagingmu. Maaf, dia nakal sekali sehingga terpaksa aku menotoknya begini rupa agar dia tidak melarikan diri dan tidak berteriak-teriak...," kata pemuda itu sambil tersenyum mengejek.

"Keparat! Lepaskan putriku...!" bentak Ki Rantek semakin garang.
"Ha ha ha...! Tentu saja kulepaskan bila saatnya telah tiba...!" sahut pemuda berbaju kuning keemasan itu sambil tertawa dengan suara menyeramkan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Ki Rantek mulai curiga.

"Ingatkah kau pada peristiwa seminggu yang lalu? Pembantaian yang kalian lakukan di Desa Ngampar Cai? Saat itu sebuah keluarga yang tengah melangsungkan pesta perkawinan kalian aniaya dan kalian perkosa istri, ibu, serta mertuaku dengan keji dan laknat. Kalian adalah binatang keparat! Dan hari ini pembalasan itu akan tiba. Aku bersumpah demi langit dan bumi, akan mencincang tubuh kalian untuk kujadikan santapan serigala-serigala kelaparan. Aku Danu Umbara, akan merencah kalian menjadi serpihan kecil yang nista...!" sahut pemuda itu dengan suara menggelegar penuh raungan kemarahan dan dendam yang berkobar-kobar.

"Apa? Kau..., kau...? Tidak mungkin! Kau sudah mati...!" sentak Aria Denta terkejut mendengar kata-kata pemuda bernama Danu Umbara itu.

"Hua ha ha...! Pemuda keparat! Kau akan mendapat giliranmu sebentar lagi...!" dengus Danu Umbara sambil tertawa panjang.

"Bunuh dia! Bunuh dia...!" teriak Aria Denta panik sambil berteriak keras.

"Yeaaah...!"

Serentak dengan itu seluruh anak buah Ki Rantek yang sejak tadi telah bersiaga, melompat menyerang pemuda itu dengan cepat.


***


"Hiyaaa...!"

Danu Umbara membentak nyaring sambil membalikkan tubuhnya menyambut serangan lawan. Dari telapak tangan kirinya menderu angin kencang dan sinar kuning yang menghantam para pengeroyoknya itu.

Des!
"Aaakh...!"

Para pengeroyoknya memekik kesakitan dengan tubuh ambruk terjungkal seperti di hantam pukulan keras. Tubuh mereka berguling-gulingan sambil menggaruk-garuk seluruh bagian tubuhnya dan terus menjerit keras.

"Celaka! Dia menggunakan pukulan beracun!" desis Ki Rantek kaget.

Sisa-sisa anak buah Ki Rantek langsung menerjang ke arah pemuda itu dengan kalap. Namun seperti tadi, mereka pun akhirnya mengalami nasib yang sama seperti kawan-kawannya.

"Keparat! Bunuh saja kami...! Bunuuuh...!" teriak mereka geram sambil terus menggaruk-garuk seluruh bagian tubuhnya tiada berhenti.

"Membunuh kalian terlalu mudah bagiku. Nyawa busuk kalian tak ada harganya. Tapi aku akan melakukannya setelah kalian kubuat sengsara lebih dulu...!" dingin terdengar suara Danu Umbara.

"Ki Rantek, biar kuberi pelajaran pemuda sombong ini...!" dengus Nyai Dasih Malela sambil melompat menyerang Danu Umbara dengan permainan ilmu pedangnya yang hebat.

Sring!
Wut!

Pedang di tangan Nyai Dasih Malela melesat-lesat menyambar tubuh pemuda itu. Desir angin kencang dan suara bercuitan menandakan kalau Nyai Dasih Malela memiliki tenaga dalam yang kuat dan hebat. Tapi gerakan pemuda itu lebih gesit lagi menghindari setiap sabetan pedangnya. Bahkan dengan tidak disangka-sangka ketika Nyai Dasih Malela menyambar leher lawan, pemuda itu tegak berdiri sambil mendengus sinis.

"Huh, kau pikir bisa berbuat apa dengan segala kepandaianmu yang rendah?"

"Mampus!" Nyai Dasih Malela menggeram sambil mengerahkan tenaga dalam kuat. Dia pikir dengan sekali tebas maka kepala lawan akan menggelinding. Apalagi saat itu si pemuda sama sekali tidak berusaha mengelak.

Tap!
"Hiiih!"
Des!
"Aaa...!"

Tanpa diduga oleh wanita tua itu, tangan kiri pemuda itu menangkap batang pedangnya dan langsung memelintir senjata itu hingga patah. Nyai Dasih Malela terbelalak matanya. Demikian juga Ki Rantek dan Aria Denta. Apa yang dilakukan pemuda itu sungguh berbahaya, namun lebih mengagetkan lagi ketika telapak tangannya sama sekali tidak tergores senjata lawan sedikit pun. Bahkan dengan bengis pemuda itu mengayunkan satu tendangan keras ke dada lawan. Nyai Dasih Malela memekik setinggi langit. Tubuhnya terjungkal ke belakang dua tombak sambil menyemburkan darah segar.

"Guru...!" Kusumawardani menjerit keras sambil memburu ke arah gurunya dengan wajah cemas.

Wanita tua itu menggelepar gelepar beberapa saat seperti ayam disembelih. Darah kental tiada hentinya keluar dari mulut, hidung, dan bola matanya. Dia hendak berkata sesuatu terhadak Kusumawardani yang memangku tubuhnya, namun sebelum keluar kata-katanya, kepala wanita tua itu terkulai lesu dan tubuhnya diam tak bergerak.

"Kini giliranmu, Keparat!" dengus Danu Umbara geram sambil melompat ke arah Ki Rantek dengan satu gerakan cepat menyerang lawan.

Srakkk!

"Huh, kau pikir aku takut denganmu? Mampuslah kau...!" sahut Ki Rantek geram sambil mencabut senjatanya yang berbentuk clurit panjang dan membabat lawan.

Danu Umbara menundukkan kepala menghindari tebasan senjata lawan. Tangan kirinya bergerak cepat menangkap pergelangan tangan lawan, sementara kaki kanannya terayun menghantam dada Ki Rantek. Orang tua itu tercekat kaget. Tapi buru-buru dia memutar tubuhnya untuk menghindari. Namun cengkeraman lawan di pergelangan tangannya seperti tidak mau lepas. Bahkan dengan sekali sentak, tubuhnya terangkat ke atas mendekati si pemuda.

"Hiyaaa...!"
Krak!
"Aaakh...!"

Danu Umbara menekuk tangannya hingga terdengar tulang berderak patah. Ki Rantek menjerit kesakitan. Namun orang tua itu masih sempat mengayunkan tendangan keras ke muka lawan. Tangan kanan Danu Umbara cepat menangkap pergelangan kakinya. Sambil melepaskan cengkeraman di tangan lawan, dia memutar tubuh Ki Rantek dengan mencengkeram kuat pergelangan kakinya.

"Yeaaa...!"
Krakkk!
Desss!
"Aaa...!"

Sebelum membanting tubuh orang tua itu, Danu Umbara menghantam keras tulang kering lawan dengan tangan kirinya. Kemudian dengan gemas ujung kaki kanannya menendang punggungnya, sehingga Ki Rantek memekik keras sambil memuntahkan darah segar ketika terjungkal ke belakang.

"Guru...!" Aria Denta tersentak kaget melihat keadaan gurunya itu. Dengan cepat dia memburu dan memeriksa keadaan orang tua yang tengah megap-megap menahan rasa sakit.

"Aria, selamatkan dirimu, dan..., bawa Kusumawardani pergi dari sini cepat. Dia..., dia bukan tandinganmu. Tenaganya seperti iblis. Ce cepat..!" kata Ki Rantek dengan suara terbata-bata.

"Tidak! Aku harus membalas perlakuannya terhadapmu. Akan kubunuh dia...!" geram Aria Denta kalap.

Ki Rentak hendak mencegah perbuatan Aria Denta, namun suaranya tercekat di tenggorokan, dan tangannya hanya mampu menggapai. Aria Denta sama sekali tidak mempedulikan kata-katanya.

Srang!
Cring!

Bersamaan dengan Aria Denta mencabut pedangnya, Kusumawardani pun telah mencabut pedangnya, dan dengan amarah serta kebencian yang meluap-luap keduanya menyerang lawan dengan bersamaan.

"Yeaaah...!"


***


"Ha ha ha...! Bagus, lebih cepat kalian maju maka akan lebih cepat lagi urusan ini selesai!" kata Danu Umbara sambil tertawa dengan suara nyaring.

Bet! Bet!
Tap!
"Hiiih...!"

Dua tebasan senjata lawan menyambar leher dan dadanya. Danu Umbara bergerak lincah dengan meliuk-liuk. Tiba-tiba dia telah berada di atas kepala Aria Denta. Dengan gemas pemuda itu menyabetkan senjatanya membelah pinggang lawan. Begitu juga yang dilakukan Kusumawardani. Tapi secepat mereka mengayunkan senjata, maka tubuh Danu Umbara telah berada di belakang si gadis dan memeluk tubuhnya erat-erat sambil menghantam pedang di tangannya, sehingga terlepas dari genggaman. Gadis itu terkejut dan menjerit keras. Aria Denta bermaksud menolong sambil melompat ke samping dan membabatkan senjatanya.

Wut!
"Hiiih!"

Begitu senjatanya berkelebat saat itu juga Danu Umbara mencelat ke atas sambil tetap merangkul Kusumawardani. Kaki kanannya menghantam dagu lawan.

Tak!
"Aaakh...!"

Aria Denta menjerit kesakitan. Dan sebuah giginya tanggal dengan mulut penuh darah akibat tendangan itu. Tubuhnya terjajar ke belakang dengan pandangan berkunang-kunang.

"Ha ha ha...! Gadis ini sangat cantik dan cocok untukku!" kata Danu Umbara tanpa mempedulikan lawan dia menotok tubuh Kusumawardani, sehingga gadis itu tidak mampu bergerak.

Bret!
"Aouw...!"

Kusumawardani menjerit keras ketika bajunya di bagian dada dirobek kasar oleh Danu Umbara.

"Aouw, Keparat! Lepaskan! Hentikan perbuatan kotormu...!"

"Ha ha ha...! Apa yang diperbuat pemuda bejat itu lebih dari ini terhadap istriku. Dan kau pun akan merasakan hal yang sama di depan hidungnya!" sahut Danu Umbara sambil menciumi gadis itu dengan bernafsu.

"Setan! Lepaskan dia...!" geram Aria Denta dengan kemarahan yang meluap-luap melihat kelakuan lawan.

Tanpa mempedulikan keadaan dirinya, dia langsung menerjang kembali sambil menghunuskan senjata. Namun tanpa menoleh, Danu Umbara melompat ke belakang. Ujung senjata lawan terus mengejar dan dengan sekali memiringkan tubuh, senjata lawan luput menyambar. Tangan kanan Danu Umbara dengan cepat menotok dada kiri lawan.

Tuk!
"Aaakh...!"

Aria Denta menjerit kesakitan. Otot jantungnya mengejang dan tubuhnya ambruk tidak berdaya. Dia hanya bisa menjerit-jerit menahan rasa sakit.

"Sekarang kau akan merasakan bagaimana perasaanku saat itu...! Akan kau rasakan bagaimana meledaknya dadaku saat itu...!" dengus Danu Umbara sambil menyeret Kusumawardani di depan Aria Denta.

Dengan geram Danu Umbara menindih tubuh gadis itu yang menjerit-jerit ketakutan sambil memaki-maki tidak karuan. Aria Denta mendidih darahnya melihat apa yang dilakukan pemuda itu terhadap istrinya.

"Keparat! Hentikan perbuatanmu! Hentikan perbuatanmu...!"

Tapi meskipun dia berteriak-teriak sambil memaki-maki, Danu Umbara malah terkekeh-kekeh. Lebih-lebih ketika Kusumawardani memaki-maki sambil menjerit ketakutan. Tidak ada satu pun yang bisa mereka lakukan untuk mencegah perbuatan Danu Umbara terhadap gadis itu.

Aria Denta memejamkan matanya dengan menahan dendam kesumat yang hebat di dadanya. Hatinya tidak kuasa menahan marah dan kebencian yang meluap-luap. Matanya tidak sanggup melihat pemandangan yang mengiris-iris hatinya, dan telinganya seperti mau pecah mendengar jeritan-jeritan Kusumawardani yang ketakutan dan kesakitan.

"Ha ha ha...! Sungguh hebat sekali istrimu ini. Sungguh hebat. Dan kau tidak akan sempat merasakannya, karena sebentar lagi kau bakal mampus!" kata Danu Umbara tertawa lebar sambil menyudahi perbuatannya.

"Keparat! Lebih baik kau bunuh aku cepat! Bunuh saja aku...!" teriak Aria Denta kalap.

"Ha ha ha...! Urusan membunuhmu soal mudah, tapi aku harus merasakan lebih dahulu kemarahan orang tua busuk ini!" desis Danu Umbara sambil menuding ke arah Ki Rantek yang masih megap-megap menahan rasa sakit yang tiada tertahankan di tubuhnya.

"Bedebah keparat! Kau pikir aku takut dengan kematian?!" dengus Ki Rantek geram.

"Tentu saja aku tahu bahwa kau tidak takut, tapi aku akan membuat kau merasakan apa yang kurasakan saat itu...!" balas Danu Umbara sinis sambil menangkap gadis yang tadi bersamanya dan direbahkannya di depan mata orang tua itu.

Dan apa yang dilakukannya terhadap Diah Kemuning, maka dilakukannya juga terhadap gadis itu. Ki Rantek memejamkan mata, meski hatinya perih. Tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan kemarahan dan menguatkan hatinya. Orang tua itu memang cukup berpengalaman, sehingga dia tidak mau membiarkan pemuda itu merasa menang dengan perbuatannya itu. Di samping itu dia sendiri masih belum merasa yakin bahwa gadis itu putrinya. Walau di dalam hati dia mengakui bahwa wajah gadis itu mirip sekali dengan kekasihnya yang telah menghilang puluhan tahun lalu.


***


ENAM

Hari telah menjelang senja ketika mereka tiba di mulut lembah itu. Wulandari membentak nyaring ketika mereka mengatakan bahwa sarang Perampok Tangan Darah berada di depan mata.

"Berhenti! Awas, kalau kalian macam-macam membuat isyarat sehingga kawan-kawanmu mengepung tempat ini, maka kalian bertiga yang akan mampus lebih dulu. Mengerti!"

Ketiga orang anak buah Perampok Tangan Darah yang mereka tawan itu mengangguk cepat.

"Ayo, jalan lagi pelan-pelan!" lanjut gadis itu.
"Suasana ini terasa sepi dan mencurigakan...," gumam Bayu pelan.
"Apakah menurutmu mereka telah mengetahui kedatangan kita, Kakang?"
"Hm, aku belum merasakan tanda-tanda kehadiran seseorang di tempat ini...," sahut Bayu pelan.

Mendadak Wulandari tersentak kaget. Dia memandang ke arah Bayu dengan wajah aneh.
"Kakang, kau mencium sesuatu?"
"Ya, seperti...."
"Bau busuk dan anyir darah...!" desis Wulandari.
"Astaga...!" salah seorang anak buah Perampok Tangan Darah yang berjalan paling depan tersentak kaget.

Yang lainnya, termasuk Wulandari dan Bayu cepat-cepat mengalihkan pandangan ke depan. Mereka melihat beberapa sosok tubuh bergantungan dengan kepala ke bawah.

"Siapa mereka?" tanya Bayu.
"Ini kawan-kawan kami!" desis Delangu, salah seorang dari ketiga tawanan mereka.

Wulandari nyaris menjerit dengan perut mual menyaksikan pemandangan yang ada di depan matanya. Beberapa sosok tubuh tampak membusuk dengan daging yang terkelupas menimbulkan bau busuk yang menyengat hidung. Tidak kurang dari dua puluh orang tergantung di cabang-cabang pohon di dekat tempat itu.

"Yang mana ketuamu itu?" tanya Bayu lagi.
Ketiga orang itu mencari-cari, dan ketika mereka melangkah kembali, Bayu terpaksa memalingkan muka. Dua sosok tubuh wanita tanpa mengenakan pakaian secuil pun tergantung di atas cabang yang sama.

Yang seorang terlihat bekas pukulan keras yang meremukkan isi dadanya, sementara yang seorang lagi bola matanya melotot dengan lidah terjulur keluar. Terlihat bekas telapak tangan di lehernya. Jelas bahwa wanita ini mati dicekik. Sementara pada cabang yang lain terlihat dua mayat membusuk dan rusak sekali dengan daging-dagingnya yang mengelupas.

"Ini Ki Rantek...!" desis salah seorang dari tiga tawanan itu.
"Dan ini Aria Denta, murid kesayangannya!" sambung yang lain dengan nada yakin.
"Hm, siapa yang melakukan perbuatan ini pada mereka?" tanya Bayu seperti bergumam pada diri sendiri.
"Entalah, kami pun tidak mengetahuinya...."

"Kakang, kawanan Perampok Tangan Darah sudah mati semuanya. Tidak ada gunanya lagi kita di tempat ini," kata Wulandari.
"Kalau begitu mari kita tinggalkan tempat ini...," ajak Bayu.
"Tunggu dulu!" sentak Wulandari sambil menghampiri ketiga anak buah Ki Rantek yang masih tersisa.
"Eh, ka..., kalian tetap akan membiarkan kami hidup, bukan?" tanya Jaka Sunggring dengan wajah pucat.

"Ya...," sahut Wulandari tenang sambil menggerakkan tangannya cepat.
Tuk! Tuk! Tuk!
"Hei, apa-apaan ini?!" teriak Jaka Sunggring dan kedua kawannya kesal ketika tiba-tiba saja gadis itu telah menotok mereka, sehingga tidak mampu bergerak.

"Aku berjanji tidak akan membunuh kalian, tapi tidak berjanji untuk tidak meninggalkan kalian di sini dalam keadaan demikian. Mudah-mudahan tubuh kalian menjadi santapan lezat serigala-serigala yang ada di hutan ini. Atau barangkali dicekik penghuni lembah ini yang telah membinasakan seluruh kawan-kawanmu!" desis Wulandari geram sambil melompat ke punggung kudanya dan melesat cepat dari tempat ini menyusul Bayu yang telah lebih dulu memacu kudanya.

Ketiga orang itu berteriak-teriak dengan wajah pucat ketakutan.
"Hei, lepaskan kami! Lepaskaaan...!"

Suara mereka terhenti ketika kedua orang muda-mudi itu telah lenyap dari pandangan. Tapi bukan cuma itu yang membuat mereka bungkam, melainkan karena kehadiran sesosok tubuh yang tiba-tiba saja muncul di depan mereka. Sesosok tubuh itu tidak lain dari seorang pemuda berwajah tampan memakai pakaian warna kuning keemasan dengan sinar mata tajam menakutkan.

"Sis..., siapa kau...?" tanya salah seorang dari mereka ketakutan. Kehadiran pemuda itu sama sekali tidak diketahui.

Tiba-tiba saja dia telah berdiri tegak seperti dijatuhkan dari langit dan persis di depan hidung ketiganya.

"Aku adalah iblis kematian yang akan mencabut nyawa kalian yang tertunda!" dingin terdengar suara pemuda itu sambil menjulurkan tangan kanannya yang terkepal, sehingga terlihat sebentuk cincin bergambar tengkorak dengan dua buah taring yang tajam dan runcing.

Crab!
Srap!
"Aaa...!"

Tiba-tiba saja dua buah taring di cincin itu menancap erat di leher dua orang dari mereka. Orang itu menjerit setinggi langit sambil merasakan kesakitan yang hebat. Tubuhnya berangsur-angsur pucat ketika tubuhnya mulai timbul gelembung-gelembung yang kemudian meletus dan mengeluarkan cairan putih kekuning-kuningan yang berbau busuk. Kedua orang kawannya tersentak kaget. Bola mata mereka melotot lebar melihat pemandangan itu.

Tidak terasa keringat dingin mereka mengucur sebesar butiran jagung. Malam mulai merayap ketika di lembah kematian itu kembali terdengar jeritan panjang yang melengking tinggi bagai raungan serigala yang terluka dan akan menemui ajalnya!


***


Orang-orang bertepuk tangan sambil berteriak-teriak memberi semangat pada seorang laki-laki tinggi besar yang berhasil menjatuhkan lawannya, seorang laki-laki berbadan besar dengan perut sedikit buncit. Kepalanya botak dan wajahnya seram. Lebih-lebih ketika dia menyeringai.

Telah dua orang yang tadi dibantainya sampai muntah darah. Tapi menghadapi lawannya kali ini, dia betul-betul sulit sekali menaklukkan. Bahkan dengan sekali hajar, tubuhnya tadi sempat terjerembab meskipun dia cepat bangkit kembali. Pertarungan yang diadakan di suatu tempat yang agak luas di tengah Desa Kedung Balang ini memang bukan hal yang aneh.

Setiap seminggu sekali sering diadakan adu kekuatan di antara para pesilat yang berdatangan ke desa ini. Ada seorang hartawan kaya raya yang akan memberikan hadiah bagi setiap pemenang dengan jumlah banyak. Bukan hanya itu, tapi setiap pemenang akan mendapat pekerjaan sebagai centengnya dengan upah yang tinggi.

Hal itu tentu saja amat menggiurkan bagi setiap pesilat yang pernah mendengar berita itu untuk menguji kemampuan serta peruntungannya. Bukan hanya itu yang membuat mereka tertarik, melainkan juga karena si hartawan kaya raya itu adakah seorang adipati yang amat berpengaruh. Dia tidak segan-segan mengirimkan centengnya yang hebat dan berbakat untuk diangkat menjadi prajurit kerajaan. Dan menjadi prajurit kerajaan adalah dambaan setiap pemuda di masa itu!

"Horeee...!"

"Hidup Ki Bajra Kelana...!" teriak laki-laki bertubuh besar itu menjatuhkan lawannya untuk yang ketiga kalinya.

Dan menurut peraturan yang telah ditetapkan apabila seseorang telah jatuh tiga kali, dia dinyatakan kalah. Maka mau tidak mau lawannya yang bertubuh besar dengan perut gendut itu harus keluar dari arena dengan wajah menahan malu menerima ejekan dari orang-orang yang menonton di pinggir arena itu. Tidak heran bila dia mendapat ejekan karena apa yang dilakukannya terhadap dua lawannya tadi sungguh kejam dan tidak mengenal belas kasihan.

Lain halnya dengan laki-laki yang mengalahkannya dan bernama Ki Bajra Kelana. Laki-laki itu bertanding dengan jujur dan gerakannya ketika menjatuhkan lawan sangat indah dan sama sekali tidak kasar.

"Siapa lagi yang akan bertanding melawanku?" tanya Ki Bajra Kelana.

Seorang laki-laki berbaju hitam segera melompat ke arena. Kulitnya hitam legam dan wajahnya buruk penuh dengan lubang-lubang seperti bekas penyakit cacar. Sorot matanya sama sekali tidak bersahabat ketika menatap ke arah Ki Bajra Kelana. Bahkan terlihat bermusuhan.

"Siapakah kau, Kisanak? Baru kali ini aku melihatmu?" tanya Ki Bajra Kelana.

"Namaku Sawung Kampret dan aku datang dari wilayah selatan. Nah, kurasa cukup basa-basi ini. Mari kita mulai!" sahut laki-laki berbaju hitam itu.

Setelah menyelesaikan dengan kata-katanya, Sawung Kampret langsung melompat menyerang lawan dengan satu tendangan maut ke arah perut Ki Bajra Kelana.

"Yeaaah...!"
"Uts...!"

Ki Bajra Kelana melompat ke samping untuk menghindari tendangan lawan sambil menundukkan kepala ketika kaki lawan kembali berkelebat balik. Tubuhnya mencelat ke atas sambil mengayunkan satu tendangan ke dagu lawan.

"Hiiih!"
"Hup!"

Sawung Kampret melompat ke belakang sambil menyilangkan kakinya menjepit pinggang lawan. Namun Ki Bajra Kelana telah mengayunkan sebelah kakinya menangkis.

Tak!
"Uhhh...!"
'Yeaaah...!"

Ketika kedua kaki mereka beradu, Sawung Kampret mengeluh kesakitan. Ki Bajra Kelana menggunakan kesempatan itu untuk mengayunkan kepalan tangan kanannya menghantam ke dada lawan. Meski sebelah kakinya masih terasa sakit, namun dengan gesit Sawung Kampret bergulingan ke kiri. Namun tubuh Ki Bajra Kelana telah melompat mengikuti dan mengayunkan kaki kirinya menghantam tubuh lawan ke arah pinggang.

"Uts...!"
Blap!
"Aaakh...!"

Tubuh Sawung Kampret bergulingan menghindari tendangan. Namun sebelum dia menjauh, mendadak telapak kaki kanan Ki Bajra Kelana telah menahan dadanya dan bermaksud menghimpitnya dengan keras, ehingga Sawung Kampret tersedak dan sulit bernapas.

"Kalau kau mengaku kalah maka aku akan melepaskan kakiku...," kata Ki Bajra Kelana tenang.

"Eh, ekh..., baiklah aku kalah...," sahut Sawung Kampret.

Mendengar orang itu mengaku kalah, Ki Bajra Kelana langsung melepaskan himpitan kakinya. Sawung Kampret meninggalkan arena dengan wajah lesu bercampur malu diteriaki oleh para penonton. Mau tidak mau dia harus mengakui kehebatan Ki Bajra Kelana. Baik dari jurus-jurus ilmu silatnya, tenaga dalam maupun ilmu meringankan tubuhnya berada satu tingkat di atasnya.

Sementara itu Ki Bajra Kelana kembali mendapat tepukan tangan dan sorak-sorai gembira dari orang-orang yang mengaguminya.

"Hidup Ki Bajra Kelana...!" teriak salah seorang yang diikuti yang lainnya.
"Terima kasih...," sahut Ki Bajra Kelana tersenyum.
"Ayo, siapa lagi yang berani melawan Ki Bajra Kelana?" teriak salah seorang yang diikuti teriakan-teriakan lainnya.

Namun untuk beberapa saat tidak ada seorang pun yang berani menantang Ki Bajra Kelana.

"Huuu..., takut! Pengecut..!" teriak seseorang.

"Ayo, siapa lagi? Kalau tidak maka Ki Bajra Kelana akan menjadi pemenangnya!" teriak salah seorang pengawas pertandingan itu.

"Dia akan mampus!" dengus seorang pemuda berbaju kuning keemasan sambil melangkah mendekati arena pertarungan.

Melihat ada orang yang berani menantang Ki Bajra Kelana, para penonton bersorak-sorai sambil bertepuk tangan memberi semangat.


***


"Kisanak, siapa namamu?" tanya Ki Bajra Kelana berusaha bersikap tenang.

Tidak seperti menghadapi kedua lawannya yang bertampang seram, pemuda di hadapannya ini lebih rapi dan berwajah tampan. Pakaiannya rapi dan mengesankan bahwa dia berasal dari keluarga yang terpandang. Bahkan sepintas lalu pemuda itu mengesankan seorang terpelajar yang sama sekali tidak mengerti apa-apa soal ilmu silat. Kalaupun ada yang aneh pada dirinya, hanya cincin yang melekat di jari tengah pada tangan kanannya.

Cincin itu berbentuk kepala tengkorak manusia dengan taring yang mencuat keluar, tajam serta mengerikan. Namun meskipun begitu Ki Bajra Kelana sempat tersentak kaget, dan diam-diam darahnya berdesir kencang ketika bola matanya beradu pandang dengan pemuda itu. Seperti ada terpancar hawa kesadisan yang amat menakutkan dan sempat membuatnya bergidik.

"Aku tidak punya nama, tapi orang-orang memanggilku sebagai Setan Seribu Nyawa...," sahut pemuda yang tidak lain dari Danu Umbara dengan suara lirih.

Mendengar pemuda itu menyebutkan nama itu, orang-orang yang berada di tempat itu tersentak kaget. Mereka memang baru sekali ini mengenal nama itu, tapi siapa yang tidak tahu akan keangkeran dan keseraman Hutan Mapag Nyawa. Hal itu membuat mereka bertanya-tanya, apakah pemuda itu berasal dari hutan itu?

"Hm, jadi kau berasal dan Hutan Mapag Nyawa...?" tanya Ki Bajra Kelana mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.

Pemuda itu bukannya menjawab pertanyaan Ki Bajra Kelana, melainkan membentak nyaring sambil melompat menyerang lawan.

"Lihat serangan...!"
"Hup!"

Satu kepalan tangan lawan melesat cepat menghantam dada Ki Bajra Kelana. Orang itu tersentak kaget ketika merasakan desir angin bertiup kencang seiring dengan gerakan pemuda itu. Buru-buru dia menangkis.

Plak!
"Uhhh...!"
Bet!

Ki Bajra Kelana mengeluh kesakitan ketika tangannya beradu menahan kepalan tangan lawan. Namun begitu dia masih sempat mengayunkan satu tendangan ke perut lawan. Pemuda itu memiringkan tubuh, dan kaki kirinya melakukan tendangan mendatar ke pinggang lawan.

Plakkk!
Des!
"Aaakh...!"

Ki Bajra Kelana kembali terkejut melihat kecepatan lawan bergerak. Dia menangkis sambil mengibaskan tangan kanannya. Tapi kemudian menjerit kesakitan ketika lengannya berderak patah, dan tendangan lawan terus menghantam tubuhnya hingga terjungkal beberapa langkah.

Jder!
"Uhhh...!"

Setan Seribu Nyawa langsung melompat dan menghantam telapak kakinya menghajar lawan. Terdengar tanah tempatnya melesak dalam dan tempat di sekitar itu seakan bergoncang keras akibat tendangannya itu. Masih untung Ki Bajra Kelana sempat menyelamatkan diri dengan berguling-gulingan. Tapi saat itu juga kepalan tangan kiri lawan menderu keras menghantam dadanya.

Jder!
Krak!
"Aaa...!"

Tanpa bisa dielakkan, kepalan tangan pemuda berbaju kuning keemasan menghantam, sehingga tulang rusuk Ki Bajra Kelana berderak patah. Orang itu memekik kesakitan ketika tubuhnya mulai bersimbah darah. Namun pemuda berbaju kuning keemasan itu seperti tidak mempedulikan keadaan lawan, dia kemudian menendangnya dengan keras sehingga tubuh Ki Bajra Kelana melayang jauh. Ketika ambruk ke tanah, nyawanya telah lepas dari raga!

"Sadis...!" desis seseorang.

"Biadab! Dia telah membunuh Ki Bajra Kelana...!" timpal yang lainnya dengan suara marah.

"Bunuh dia! Bunuuuh...!" teriak seseorang memberi perintah pada yang lainnya.

Maka dengan kemarahan yang meluap luap, para penonton yang terdiri dari orang-orang persilatan itu beramai-ramai menyerbu Setan Seribu Nyawa dengan mengeluarkan berbagai macam senjata tajam.

"Yeaaah...!"

Pemuda berbaju keemasan itu mendengus sinis. Dia menggeram dan sambil membentak nyaring, telapak tangan kirinya terkembang ke depan.

"Tikus-tikus busuk, mampuslah kalian...!" teriak pemuda itu dengan marahnya.

Yeaaa...!"
Jlegarrr...!
"Aaa...!"

Ketika itu juga melesat selarik sinar kuning keemasan menerpa para pengeroyok itu. Seperti ledakan petir yang keras, beberapa orang langsung terpekik kesakitan dengan tubuh ambruk. Daging tubuh mereka meleleh seperti disiram air panas. Beberapa orang lagi yang maju secara bersamaan mengalami nasib yang sama. Dan Setan Seribu Nyawa itu tertawa keras sambil membantai orang-orang yang berada di tempat itu tanpa mengenal belas kasihan.

"Hua ha ha...! Mampuslah kalian, mampuslah kalian...!"


***


TUJUH

Ketika pemuda itu tengah membantai orang-orang yang berada di tempat itu seketika terdengar bentakan nyaring.

"Hentikan perbuatanmu...!"

Setan Seribu Nyawa menghentikan sepak terjangnya dan cepat berpaling ke belakang. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun bertubuh kurus dengan rambut lebar diikat pita hijau. Di pinggang-nya terselip sepasang trisula berwarna keperakan.

"Siapa kau, orang tua busuk? Apakah kau pun ingin mampus seperti mereka...?" dengus pemuda itu geram.

"Perbuatanmu sungguh keterlaluan! Setelah kau membunuh muridku, kini kau membantai orang-orang yang tidak bersalah apa-apa terhadapmu. Aku, Ki Rantung Jagat tidak bisa membiarkanmu seenaknya saja menyebar keangkaramurkaan di tempat ini!" sahut orang tua itu dingin.

"Huh, tidak usah banyak bicara lagi! Cabutlah senjatamu, dan ingin kulihat apakah mulut besarmu sama dengan kepandaianmu!" sahut Setan Seribu Nyawa sambil terus melompat menerjang lawannya.

Ki Rantung Jagat memang bukan orang terkenal dalam dunia persilatan, tapi semua orang di kadipaten ini menghormatinya. Dia dianggap memiliki kepandaian yang cukup hebat meski tidak sering menonjolkan diri. Bahkan jarang sekali terdengar bahwa dia bertarung dengan seseorang pun. Namun banyak murid-muridnya yang telah membuktikan kehebatan ilmu silat orang tua itu. Salah satunya adalah Ki Bajra Kelana. Rasanya Ki Rantung Jagat tidak akan turun tangan bila muridnya terluka dalam pertarungan jujur.

Dan dalam pertarungan tadi ada larangan untuk membunuh lawan, sedangkan larangan itu dilanggar pemuda berbaju kuning keemasan itu seenaknya. Bahkan dengan kepandaiannya dia telah membantai orang-orang yang berada di tempat itu. Hal itulah yang mendorong Ki Rantung Jagat untuk tidak bisa membiarkan pemuda itu berbuat seenak hatinya saja.

"Hiyaaa...!"
Plak!

Ki Rantung Jagat menangkis kepalan tangan lawan yang menderu keras menghantam muka, dada, dan perutnya dengan cepat. Orang tua itu mengeluh kesakitan ketika kedua tangan mereka beradu. Tidak disangka bahwa lawan memiliki tenaga yang dahsyat luar biasa. Pantas saja tidak ada seorang pun yang mampu menghentikannya. Bukan hanya itu, tapi gerakan pemuda itu sangat gesit dan sulit diduga, sehingga diam-diam orang tua itu mengeluh di hati seolah tidak yakin bahwa dia mampu mengalahkan lawannya.

"Yeaaah...!"
Wut!
Des!
"Aaakh...!"

Tubuh Setan Nyawa Seribu melompat sambil melakukan tendangan ke muka lawan. Meski Ki Rantung Jagat yakin bahwa dia tidak akan mampu menahan tendangan lawan, tapi orang tua itu tidak punya pilihan sebab sebelah tangan pemuda itu telah berjaga-jaga untuk menghantamnya bila dia mengelak ke samping. Sehingga terpaksa Ki Rantung Jagat menangkisnya dengan kedua belah tangannya sambil mengerahkan tenaga dalam yang dimilikinya.

Orang tua itu mengeluh kesakitan ketika kedua tangannya diinjak lawan, dan dengan bertumpu pada tangannya itu, tubuh pemuda itu melenting ke belakang sambil menghantamkan punggungnya dengan keras. Ki Rantung Jagat berteriak kesakitan. Tubuhnya terjungkal ke depan sambil menyemburkan darah segar.

Tendangan yang dilakukan lawan keras bukan main. Orang tua itu merasakan punggungnya seperti dihantam batang kayu yang besar. Belum lagi dia sempat bangkit, lawan telah menerjangnya dengan satu tendangan menggeledek.

"Hiyaaa...!"

Ki Rantung Jagat tersentak. Buru-buru dia bergulingan menyelamatkan diri.

"Uhhh...!"
Srak!

Telapak kaki si pemuda itu yang menghantam tempat kosong membuat tanah melesak sedalam betisnya. Kakinya yang satu lagi menyapu tubuh Ki Rantung Jagat. Orang tua itu langsung mencabut sepasang trisulanya dan menghantamkan ke kaki lawan. Tapi alangkah terkejutnya dia ketika merasakan bahwa senjatanya seperti menghantam dinding baja yang amat tebal.

Desss!
"Aaa...!"

Ki Rantung Jagat memekik kesakitan ketika ujung kaki lawan menyodok dadanya dengan cepat dan sama sekali tidak disangkanya. Tubuh Ki Rantung Jagat berguling-gulingan sambil menyemburkan darah kental berkali-kali. Tapi belum lagi dia memperbaiki kedudukan, lawan telah kembali menyerang sambil menghantamkan kaki kanannya.

"Hiiih!"
Prak!
"Aaakh...!"

Ki Rantung Jagat yang tengah sekarat itu tidak mampu lagi mengelak. Dia menjerit panjang ketika ujung kaki lawan menghantam batok kepalanya hingga remuk. Orang-orang yang berada di tempat itu tersentak kaget. Sebagian tampak memalingkan muka dengan wajah ketakutan. Yang lainnya malah berlari-larian menyelamatkan diri.

"Siapa lagi yang mau menantangku...?" bentak pemuda itu garang.

Dia memandang berkeliling dan menatap orang-orang yang berada di tempat itu satu persatu. Mereka hanya bisa menundukkan kepala dengan wajah takut. Tidak ada seorang pun yang berani buka suara atau bertindak terhadap kekejaman yang dilakukan pemuda itu.

"Hua ha ha...! Siapa yang berani menantangku lagi? Ayo maju! Biar kukirim kalian ke akherat..!" teriak pemuda itu dengan suara menggelegar penuh kesombongan.

"Anak muda, perbuatanmu sungguh keterlaluan! Menyerahlah, karena kau sudah terkepung dan tidak ada jalan keluar bagimu!" bentak seseorang.

"Heh...?!"


***


Orang-orang yang berada di tempat itu menyingkir ketika melihat serombongan orang bersenjata lengkap telah mengurung pemuda berbaju kuning keemasan itu. Pemuda itu menghitung jumlah mereka yang tidak kurang dari lima belas orang. Yang berdiri paling dekat dengannya berjarak tujuh langkah dan bertubuh sedang dengan wajah bersih. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Agaknya dia merupakan pimpinan orang-orang ini. Senjatanya sebilah pedang yang masih tergenggam berikut warangkanya pada tangan kiri.

"Namaku Setya Jingga, dan aku adalah kepala pasukan pengawal di kadipaten ini. Atas nama kerajaan kau kutangkap karena mengacau dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah!" kata pemuda itu.

"Kau mau menangkapku? Nah, tangkaplah aku!" sahut Setan Seribu Nyawa tenang sambil tersenyum kecil.

Setya Jingga memandang sekilas, kemudian menyuruh dua orang anak buahnya membawa tambang besar untuk meringkus pemuda itu.

"Jangan berbuat macam-macam atau kau akan kami bunuh di sini juga!" kata Setya Jingga mengancam.

"Hua ha ha...! Kau hendak membunuhku? Lakukanlah kalau memang kau mampu!" sahut pemuda berbaju kuning keemasan yang bernama Danu Umbara itu dengan suara mengejek.

Setya Jingga mendengus pelan. "Hati-hati...!" katanya memperingatkan dua orang anak buahnya yang mendekati Danu Umbara dengan perlahan-lahan.

"Hup!"
Plas!"

Salah seorang melemparkan tali laso dan menjerat tubuh Danu Umbara. Yang seorang lagi melakukan hal yang sama. Tapi Danu Umbara diam saja tidak berusaha mengelak. Namun ketika keduanya mulai menyentak menjatuhkan tubuhnya, saat itu juga kedua tangannya meregang dan menangkap kedua utas tali itu, lalu menyentakkannya dengan kuat sekali.

"Hihhh...!"
"Wuaaa...!"

Saat itu juga kedua pengawal kadipaten itu melayang ke atas dan jatuh ke bawah dengan membentur batang pohon besar yang berada tidak jauh dari tempat itu. Melihat sikap pemuda itu, Setya Jingga langsung memberi perintah pada anak buahnya yang lain.

"Ringkus dia hidup atau mati...!"
"Yeaaah...!"

Bersamaan itu juga anak buahnya langsung melompat menyerang Danu Umbara dengan senjata terhunus. Sementara beberapa orang lagi menyiapkan tali laso untuk meringkus pemuda itu.

"Ha ha ha...! Bagus! Bagus! Majulah kalian semua agar gampang bagiku untuk meringkus dan mengirim kalian ke akherat!" kata Danu Umbara sambil tertawa keras.

Kemudian terlihat tubuhnya mencelat ke atas untuk menghindari serangan-serangan lawan. Namun bersamaan dengan itu, tubuh Setya Jingga mencelat pula memapaki serangan lawan. Agaknya dia telah menduga bahwa hal itu akan dilakukan oleh lawan.

Sring!
Crak!
"Heh?!"

Bukan main terkejutnya Setya Jingga ketika dia mencabut pedang dan menghajar pinggang lawan. Setya Jingga merasa bahwa senjatanya membentur dinding baja yang tebal. Bola matanya terbelalak saking kagetnya dan seperti tidak percaya pada penglihatan matanya sendiri.

Prak!
"Aaakh...!"

Tapi kesempatan itu justru digunakan lawan untuk mengayunkan kepalan tangan kanannya dan menghantam batok kepalanya hingga remuk. Pemuda itu menjerit sesaat. Tubuhnya ambruk ke bawah dengan bermandikan darah, dan nyawanya putus tidak lama kemudian.

"Setan! Jangan beri dia kesempatan lolos!" bentak salah seorang pengeroyoknya sambil menebas lawan dengan senjatanya.

"Uts...!"
"Hiiih!"
Des!
"Aaakh...!"

Tiga orang kembali terpekik dengan tubuh roboh bermandikan darah ketika tubuh Danu Umbara melesat cepat sambil berputar untuk menghindari serangan lawan. Tahu-tahu saja sebelah kakinya menendang pada dua orang lawan yang berada di belakangnya. Ketiga orang itu tewas sesaat kemudian!

"Yeaaah...!"
Blarrr...!
"Aaa...!"

Danu Umbara tidak berhenti sampai di situ. Telapak kirinya menyambar ke arah lawan sambil mengerahkan pukulan mautnya. Sesaat kemudian terlihat selarik sinar kuning yang berbau busuk menyambar para pengeroyoknya. Beberapa orang langsung memekik kesakitan dengan tubuh terjungkal bermandikan darah. Pukulan yang dilancarkan pemuda berbaju kuning keemasan itu tampaknya tidak main-main dan mampu membuat tubuh lawan remuk dengan kulit dagingnya yang terkelupas membusuk.

"Hm, sungguh keji ilmu pukulannya!" desis seseorang yang menyaksikan pertarungan. Namun seperti yang lainnya, mereka tidak punya keberanian untuk ikut menyerang pemuda itu. Bahkan terlihat satu persatu mereka yang berada di tempat itu berlalu dan tidak mau mencampuri urusan. Dan ketika seluruh pengeroyoknya telah binasa, pemuda itu tidak melihat siapa pun.

"Hi hi hi...! Pada ke mana mereka semua? Tikus-tikus busuk pengecut! Hua ha ha...! Siapa saja yang berani melawan Setan Seribu Nyawa akan mampus! Ha ha ha...!"

Setelah puas berteriak-teriak dan tertawa keras, Danu Umbara melesat pergi dari tempat itu dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata.


***


Kedua penunggang kuda itu memacu kudanya lambat-lambat ketika mereka memasuki mulut sebuah desa.

"Kakang, perutku lapar. Sebaiknya kita mencari makanan lebih dulu...!" kata seorang gadis berbaju merah muda yang tidak lain dari Wulandari.

"Ya, aku pun merasa lapar juga. Kita akan mencari sebuah kedai besar yang makanannya lezat. Sudah lama sekali aku tidak makan makanan yang enak," sahut pemuda berbaju kulit harimau yang tak lain dari Bayu Hanggara alias Pendekar Pulau Neraka.

Setelah berjalan beberapa saat mereka segera menemukan sebuah kedai besar yang merupakan satu-satunya di desa ini. Tanpa mempedulikan pengunjung yang lain, keduanya segera bersantap ketika pesanan mereka telah datang. Dan Bayu betul-betul membuktikan keinginannya untuk makan enak dengan memesan makanan yang harganya cukup mahal.

Sehingga sepintas lalu terkesan bahwa mereka berdua adalah dua orang pelancong kaya. Dan hal itu ternyata menarik perhatian pengunjung lainnya. Terutama dua orang yang duduk paling pojok.

"Kakang Ganda, kau lihat mereka?" tanya seorang yang bertubuh sedang dengan kumis tebal sambil melirik pada Bayu dan Wulandari.

"Hm...," kawannya yang dipanggil Ganda itu mendengus pelan sambil ikut memperhatikan kedua orang itu.

"Kurasa mereka adalah anak-anak kemarin sore yang baru turun gunung. Bagaimana menurutmu, Kakang...?" tanya si kumis tebal kembali.

"Kita akan cegat mereka di luar desa. Mereka tentu membawa uang cukup banyak di kantungnya...," sahut Ganda dengan wajah menggeram.

"Aku..., eh, maksudku gadis itu cukup cantik, Kakang. Apakah kau tidak berniat?" tanya si kumis tebal yang bernama Sanjaya sambil mesem-mesem.

"Ha ha ha...! Kau tahu saja kalau melihat wanita cantik, Sanjaya. He, mana mungkin akan kubiarkan begitu saja si cantik itu. Dia betul-betul hebat, dan aku harus memilikinya!" sahut Ganda sambil tertawa-tawa.

"Kakang, kedua orang di pojok itu mencurigakan sekali...," bisik Wulandari sambil melirik sekilas terhadap kedua orang laki-laki yang tengah membicarakan mereka.

"Ya, aku dengar pembicaraan mereka...," sahut Bayu tenang.
"Apa yang mereka percakapkan?"
"Mereka hendak berbuat kotor padamu...."
"Kurang ajar!" Wulandari menggeram dan bermaksud bangkit untuk memberi pelajaran pada kedua orang itu. Namun Pendekar Pulau Neraka cepat menahannya.

"Jangan di sini. Tidak baik dilihat orang. Lagi pula kedai ini akan rusak berantakan. Nanti saja kita pancing keluar. Mereka pasti mengikuti kita...," saran Bayu.

"Kakang, selera makanku hilang. Mari kita pergi dari tempat ini...!" sahut Wulandari cepat sambil menarik lengan pemuda itu.

Mau tidak mau terpaksa Bayu harus menuruti keinginan gadis itu meskipun dia belum selesai makan. Setelah membayar harga makanan itu, mereka segera keluar dari kedai dan memacu kudanya lambat-lambat menuju ke pinggiran desa. Apa yang diperkirakan Bayu memang benar. Kedua orang di dalam kedai itu mengikuti mereka dari belakang sambil berkuda dengan tergesa-gesa. Dan ketika jarak mereka telah dekat, salah seorang membentak nyaring.

"Berhenti...!"
"Hup!"

Begitu mereka selesai membentak maka saat itu juga tubuh Wulandari melesat ke belakang menyerang keduanya.

Sring!
Bet!
Sret!
"Ukh,..!"

Kedua orang itu tersentak kaget karena tidak mengira bahwa gadis itu mampu berbuat demikian. Salah seorang berhasil melompat ke belakang untuk menghindari sabetan pedang Wulandari, namun yang seorang lagi buru-buru mencabut pedangnya. Ujung pedang Wulandari lebih cepat lagi menyambar gagang goloknya hingga putus. Kemudian gadis itu berdiri tegak sambil menjulurkan pedang tipisnya.

"Kalian pikir aku tidak tahu maksud busuk kalian? Huh, cuma ada satu pilihan bagi kalian yaitu mampus!" dengus gadis itu geram sambil melompat menyerang keduanya dengan gerakan cepat.

Bet!

Keduanya pontang-panting menyelamatkan diri dari kejaran senjata lawan. Salah seorang lalu mencabut goloknya dan mencoba memapaki serangan lawan.

Trang!
Cras!
"Aaakh...!"

Orang yang bernama Ganda mengeluh kesakitan ketika kedua senjata mereka beradu. Pada saat yang hampir bersamaan, ujung pedang Wulandari menggores dadanya hingga dia menjerit kesakitan.

Duk!
"Akh...!"

Wulandari melanjutkan serangan dengan menendang tubuh lawan, sehingga terjungkal ke belakang. Ganda berusaha bangkit, namun ujung pedang gadis itu telah melekat di tenggorokannya.

"Jangan coba-coba bangkit kalau tidak ingin lehermu putus!" desisnya geram dengan sikap mengancam.

"Ekh..., ampun. Ampuni aku, Nisanak!" sahut laki-laki itu dengan wajah pucat ketakutan dan suara tersendat di tenggorokan.

"Huh, penjahat picisan! Apa kalian kira bisa berbuat seenaknya pada orang lain!" dengus Wulandari geram.

Sementara kawannya yang seorang lagi diam tidak berkutik menyaksikan Ganda diperlakukan demikian oleh si gadis. Laki-laki bernama Sanjaya itu berpikir bahwa, ilmu silatnya berada di bawah kawannya itu, dan kalau saja Ganda dapat dijatuhkan dengan mudah, apa lagi yang bisa dilakukannya?

Lagi pula kalau kepandaian si gadis sudah sedemikian hebat, bagaimana pula dengan kepandaian pemuda berbaju kulit harimau itu?

Tentu dia lebih hebat dari gadis itu, pikir Sanjaya. Sehingga dia diam saja dengan wajah ketakutan.

"Am..., ampun, Nisanak...," Ganda kembali memohon dengan wajah yang semakin pucat.

"Huh, orang seperti kalian sebaiknya dilenyapkan saja dari muka bumi ini agar tidak mengganggu orang lain...!" geram Wulandari menekan ujung pedangnya agak kuat sehingga laki-laki itu menjerit-jerit ketakutan.

Mendadak pada saat itu terdengar kegaduhan dari arah desa. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri sambil berteriak-teriak ketakutan.

"Tolooong...! Tolooong...!"


***


DELAPAN

Bayu dan Wulandari tersentak kaget. Keduanya cepat melompat ke punggung kuda masing-masing dan meninggalkan kedua orang itu untuk kemudian memacu kudanya dengan kencang memasuki desa.

"Kira-kira apa yang terjadi, Kakang?" tanya Wulandari.

"Entahlah, yang jelas kerusuhan besar. Bisa jadi seperti yang dialami Desa Ngampar Cai beberapa hari lalu...!" sahut Bayu.

Dalam beberapa saat saja mereka telah berada di desa dan melihat kerumunan orang-orang yang tengah mengeroyok seseorang. Namun meskipun dikeroyok justru para pengeroyoklah yang terpelanting, kemudian bermandikan darah dan tidak berkutik lagi. Pemuda itu bermaksud untuk turun tangan ketika saat itu terdengar bentakan nyaring.

"Mundur semua...!"

Mendengar bentakan itu orang-orang yang tadi mengeroyok satu persatu mundur dan membuat lingkaran besar dan luas, sehingga terlihat orang yang mereka keroyok dengan jelas. Orang itu adalah seorang pemuda berwajah bersih dengan pakaian rapi berwarna kuning keemasan. Senyumnya sinis, dan meski dikeroyok demikian banyak orang, sama sekali tidak terlihat sedikit pun luka di tubuhnya.

Sementara di depan pemuda itu berdiri tegak seorang laki-laki berbadan besar dengan rambut panjang digelung ke atas. Orang itu memiliki kumis tebal dan wajah keras. Otot-ototnya bertonjolan memperlihatkan kekuatan tenaga yang dimilikinya. Tangan kanannya menggenggam sebuah golok besar yang berukuran panjang. Bola matanya yang lebar menatap pemuda di hadapannya itu dengan tajam.

"Siapa kau sebenarnya dan mengapa mengacau di wilayah ini?!" bentak laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun itu dengan garang.

"Siapa pula kau? Dan apa hakmu bertanya padaku?" pemuda berbaju kuning keemasan itu malah balik bertanya tidak kalah garangnya.

"Aku panglima ketiga dari kerajaan yang kebetulan lewat di desa ini. Namaku Wayan Sudira. Aku punya hak untuk meringkus pengacau atau membunuh di tempat ini!" dengus laki-laki bertubuh besar itu geram.

"Orang-orang menyebutku dengan Setan Seribu Nyawa. Aku berbuat sesuka hatiku dan tidak ada seorang pun yang punya hak melarangku. Siapa yang mencoba menghalangi bakal mampus di tanganku!" dengus pemuda yang tidak lain dari Danu Umbara itu dengan sikap sombong.

"Keparat sombong! Kau pikir siapa dirimu bisa berbuat seenaknya di wilayah ini? Huh, kau harus ku ringkus hidup-hidup. Dan bila berani melawan, maka tidak ada jalan lain. Aku harus membunuhmu!" sahut Panglima Wayan Sudira sambil melompatmenyerang lawan.

Tubuhnya melayang sambil mengayunkan satu tendangan ke dada Danu Umbara. Pemuda itu terkekeh kecil, sambil memiringkan tubuh dia menangkis tendangan itu dengan hajaran tangan kanannya.

Plak!
"Uhhh...!"

Panglima Wayan Sudira tersentak kaget ketika merasakan tulang kakinya terasa mau remuk menerima tangkisan lawan. Masih untung dia cepat membuang diri ketika lawan menyodokkan kepalan tangan kirinya ke arah dada.

"Keparat! Kalau begitu aku terpaksa membunuhmu di sini!" desis Panglima Wayan Sudira. Bersamaan dengan itu, dia cepat bangkit dan menghajar lawan dengan senjatanya.

"Hiyaaa...!"
Bet!

Golok besar itu menyambar-nyambar tubuh lawan dengan menimbulkan desir angin kencang. Namun dengan gesit Danu Umbara menghindarinya sambil tertawa mengejek.

"Ha ha ha...! Kerahkan seluruh tenagamu untuk mencari bagian-bagian yang empuk di tubuhku!"

Suatu ketika Danu Umbara merasa bahwa dia telah cukup mempermainkan lawan. Ketika Panglima Wayan Sudira membabat punggungnya, pemuda itu pura-pura bergerak lambat untuk menghindarinya, sehingga....

Tak!
"Heh?!"
Des!

Senjata Panglima Wayan Sudira menghajar telak dengan sekuat tenaganya ke punggung lawan. Dalam hati dia berpikir tentulah tubuh lawan setidak-tidaknya akan terbelah dua. Tapi yang terjadi sungguh membuatnya kaget bukan main. Golok besarnya seperti menghantam dinding baja. Tangannya bergetar hebat. Dalam keadaan demikian Danu Umbara menghantamkan kepalan tangan kanannya ke dada lawan dengan telak.

"Aaa...!"
"Yeaaah...."

Panglima Wayan Sudira tersungkur ke belakang sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya. Tapi saat itu juga tubuh lawan telah melompat menyerangnya. Kali ini bisa dipastikan Panglima Wayan Sudira tidak akan mampu menghindari serangan lawan. Keadaannya sangat kritis sekali.

Plak!
"Uhhh...!"
"Heh!"


***


Pada saat itulah Pendekar Pulau Neraka melompat untuk memapaki serangan pemuda berbaju kuning keemasan itu untuk menyelamatkan nyawa Panglima Wayan Sudira. Danu Umbara bukannya tidak mengetahui ada seseorang yang berusaha menahan serangannya. Pemuda itu melipatgandakan tenaganya dan berbalik menghantam lawan barunya itu.

Pendekar Pulau Neraka tersentak kaget ketika kedua tangan mereka beradu. Baru kali ini dia merasakan tenaga yang begitu hebat dan kuat serta mampu membuat tangan nya bergetar.

"Hup! Yeaaah...!"

Bayu melompat ke belakang sambil membuat beberapa putaran untuk menghindari lawan yang menyerang secara gelap. Kedua kakinya menjejak tanah dengan ringan.

"Hm, sudah kuduga pasti kau...!" dengus Danu Umbara dengan wajah sinis.

"Siapa kau sebenarnya? Apakah di antara kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Aku berterima kasih karena kau mengantarkan ketiga anak buah Perampok Tangan Darah untuk kubunuh. Lengkaplah sudah mereka menanggung akibat perbuatan mereka terhadapku!"

"Hm, jadi kaukah yang membantai kawanan perampok itu?" tanya Bayu meyakinkan.

"Mereka pantas mendapatkan itu...!"

"Tapi perbuatanmu tidak lebih dari mereka. Kau bahkan sama kejinya. Tidakkah kau sadari bahwa perbuatanmu selama ini merugikan banyak orang?"

"Huh, apa peduliku terhadap orang-orang?" dengus Danu Umbara geram. Kemudian dia memandang sinis ke arah Bayu sambil melanjutkan kata-katanya. "Sekarang kau menepilah dan jangan campuri urusanku!" katanya dengan sikap mengancam.

"Maaf, aku tidak bisa membiarkan kau seenaknya membunuh orang tanpa sebab!"

"Hm, kalau begitu kau termasuk orang yang patut dilenyapkan!" desis Danu Umbara sambil melesat menyerang lawan.

Pendekar Pulau Neraka yang sejak tadi telah bersiaga, tidak urung merasa terkejut juga melihat gerakan lawan yang cepat bukan main.

Plak!
"Uhhh...!"
Bug!

Beberapa kali dia mencoba menangkis tendangan serta sodokan kepalan tangan lawan, namun saat itu juga Bayu mengeluh kesakitan. Tenaga dalam lawan luar biasa, bahkan dia tidak yakin apakah tenaga dalamnya mampu mengungguli lawan.

Lagi pula lawannya itu seperti tidak takut pertahanannya terbuka. Dan hal itu yang dimanfaatkan Bayu ketika dia mendapat satu peluang baik, kaki kanannya dengan cepat menyambar ke arah perut dan menghantamnya dengan tenaga keras.

Duk!
Desss!

Bayu terkejut bukan main ketika kakinya seperti menendang dinding baja yang tebal. Namun meski demikian lawan hanya terlihat mundur dua langkah dan tubuhnya terangkat ke atas, lalu dengan cepat dan tiada terduga menghantamkan satu tendangan ke dada. Pendekar Pulau Neraka mengeluh kesakitan. Tubuhnya terjajar ke belakang dengan darah kental meleleh di sudut bibirnya.

Tendangan yang dilakukan Danu Umbara bukan main dan seolah meremukkan seluruh isi dadanya. Bayu menggeram kesal ketika tubuh Danu Umbara kembali melenting sambil membentak keras dan bermaksud menghabisinya.

eaaah...!"
Sring!

Merasa bahwa dengan menggunakan jurus-jurus tangan kosong pemuda itu tidak menang, dia lalu melontarkan Cakra Mautnya yang meluncur deras membabat tubuh lawan dengan cepat. Tapi bukan main kagetnya Bayu ketika melihat tubuh lawan sama sekali tidak mampu dilukai oleh Cakra Mautnya.

"Hiyaaa...!"
"Uts...!"

Pendekar Pulau Neraka cepat bergulingan ketika telapak kaki lawan menggedor tubuhnya. Tubuhnya melenting cepat ketika merasakan sambaran kaki lawan yang satu lagi menyapu tubuhnya.

"Yeaaah...!"

Danu Umbara membentak nyaring sambil menerjang tubuh lawan yang tengah melompat. Agaknya dia sama sekali tidak mau memberi kesempatan sedikit pun agar lawan lolos.

"Uh, manusia macam apa dia? Cakra Maut ku mampu menembus baja sekalipun, tapi tidak mampu melukai tubuhnya. Kelihatannya dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kehebatan Cakra Maut ku...!" desis Bayu mengeluh pelan.

Apa yang dikhawatirkan Pendekar Pulau Neraka memang kenyataannya demikian. Beberapa kali tubuh Danu Umbara disambar Cakra Mautnya, tapi pemuda berbaju kuning keemasan itu sama sekali tidak merasakan perubahan apa-apa pada tubuhnya. Dia tetap menyerang dengan ganas.

"Hm, kulit tubuhnya memang tidak mempan oleh senjataku ini, tapi pakaiannya robek. Akan kulihat apakah dia manusia yang mempunyai malu atau tidak...," gumam Bayu seperti mempunyai akal untuk mengalahkan lawan.

eaaah...!"
Sring!

Pendekar Pulau Neraka membentak nyaring sambil melemparkan Cakra Mautnya dengan kuat ke arah tubuh lawannya. Danu Umbara sama sekali tidak bermaksud menghindar karena merasa yakin bahwa senjata lawan sama sekali tidak mampu melukainya.

Bret! Bret! Bret!

Dengan kecepatan yang luar biasa Cakra Maut itu mencabik-cabik seluruh pakaian yang melekat di tubuh lawan.

"Ahhh...!"

Danu Umbara tersentak kaget, bukan karena dirinya yang kini hampir tidak berpakaian melainkan karena sebuah benda yang terpental dari balik pinggangnya. Sebuah keris kecil yang melesat cepat ke atas akibat terbentur dengan Cakra Maut Pendekar Pulau Neraka. Dengan cepat Danu Umbara melompat bermaksud mengejarnya tanpa mempedulikan lawannya.

Pendekar Pulau Neraka yang telah cukup berpengalaman tidak membiarkannya begitu saja, maka dengan mengerahkan kecepatan bergeraknya, dia menyambar keris kecil yang terpental itu lebih dulu dari lawan. Danu Umbara tersentak kaget. Dia memandang marah pada Pendekar Pulau Neraka.

"Berikan padaku! Itu milikku! Berikaaan...!" bentaknya dengan sikap panik.

"Hm, agaknya benda ini amat berharga sekali bagimu."

"Berikan padaku kataku! Keparat! Kubunuh kau! Kubunuh kau...!" geram Danu Umbara sambil melompat menyerang lawan.

Pendekar Pulau Neraka kini merasa berada di atas angin melihat kepanikan lawan. Sambil melompat ke samping, tubuhnya melesat menyambar tenggorokan lawan dengan menyodorkan ujung keris kecil di tangannya itu. Dan....

"Aaakh...!"

Danu Umbara menjerit seperti orang tercekik dan buru-buru dia melompat ke belakang. Wajahnya pucat ketakutan, dan matanya melotot garang memandang ke arah lawan.

"Jahanam keparat! Berikan keris itu padaku! Berikan cepaaat... atau kubunuh kau!" teriaknya berkali-kali dengan nada mengancam.


***


Tubuh Danu Umbara kembali melompat menerjang lawan sambil menghantam pukulan mautnya dengan tenaga dalam yang dahsyat. Bumi seperti berguncang, dan rumah-rumah yang berada di dekat tempat itu ambruk. Orang-orang yang menonton pertarungan itu menyingkir jauh-jauh ketika selarik sinar kuning keemasan yang berbau busuk meliuk-liuk menyambar tubuh Pendekar Pulau Neraka.

"Yeaaah...!" bentak Danu Umbara dengan segala kemarahan yang meluap-luap.

"Maaf. Aku tidak bisa membiarkan kau hidup untuk mengumbar nafsu setanmu dan mengacau seenakmu saja...," gumam Pendekar Pulau Neraka.

Beberapa saat kemudian tubuh Pendekar Pulau Neraka berkelebat cepat menghindari serangan lawan. Dengan mengerahkan kemampuan bergeraknya, dia mengeluarkan tenaga dalam sepenuhnya untuk menghantam wajah lawan dengan tenaga tendangan keras. Danu Umbara tersentak kaget dan buru-buru mengangkat kedua tangan untuk menangkis. Tapi Bayu menggunakan tangan lawan untuk membuat tubuhnya jungkir balik dan melakukan serangan yang sesungguhnya. Dan....

Crab!
"Aaa...!"

Danu Umbara menjerit setinggi langit ketika keris kecil di tangan Pendekar Pulau Neraka menancap ke jantungnya. Tubuhnya ambruk menggelepar-gelepar ditanah. Bayu menunduk sedih. Dia segera mengetahui kelemahan lawan ketika Danu Umbara kelihatan takut sekali terhadap kerisnya itu. Maka dengan keris itu dia merasa yakin mampu menghabisi lawan.

"Wualah, pertarungan sudah selesai!" teriak seseorang.
"Siapa yang kalah?" tanya kawannya.

"Hoiii, setan itu telah mati...!" teriak yang lainnya sambil menghampiri sesosok tubuh.

Orang-orang langsung mengerubungnya, namun saat itu juga mereka berpaling cepat sambil menutup hidungnya.

"Uh, bau! Dagingnya membusuk dan mengeluarkan bau yang menusuk hidung!" teriak seseorang.

"Siapa pemuda tadi yang membunuhnya?" tanya salah seorang pada kawannya.

"Tidak tahu. Tapi dengar-dengar dia Pendekar Pulau Neraka."

"Pendekar Pulau Neraka? Wah, mana dia orangnya...?"

"Tidak ada! Tadi kulihat dia masih berdiri di tempat ini, tapi..., kok sekarang sudah hilang, ya...?"

Orang-orang desa itu sibuk mencari-cari pemuda berbaju kulit harimau yang telah mengalahkan Setan Seribu Nyawa. Pendekar Pulau Neraka dan Wulandari telah berada jauh dari desa itu. Begitu urusannya selesai, Bayu segera menyelinap dan pergi dari tempat itu.

Namun demikian hatinya masih sempat bergetar menyaksikan peristiwa terakhir yang menimpa lawannya tadi. Ingatannya masih terbayang ketika tubuh pemuda itu diselubungi cahaya kuning, dan ketika sinar itu hilang maka cincin dijari serta keris kecil yang menembus jantungnya lenyap seketika tanpa bekas sebelum tubuhnya berangsur-angsur membusuk!


SELESAI

Episode Selanjutnya PENDEKAR TANAH SEBERANG

Setan Seribu Nyawa

Cerita silat serial pendekar pulau neraka
Episode Setan Seribu Nyawa

Karya Teguh S
Gambar: Tony G
Penerbit pertama Cintamedia, Jakarta



Pendekar Pulau Neraka Episode Setan Seribu Nyawa



SATU

Siang hari di Desa Ngampar Cai terlihat cerah. Matahari bersinar tidak terlalu garang, sementara awan putih bergerumbul menaungi membuat suasana semakin teduh. Desa yang memiliki penduduk cukup ramai itu, hari ini semakin semarak saja dengan adanya suatu keramaian di salah satu rumah yang berukuran paling besar dan mewah di desa ini.

Juragan Sasmita Dimeja yang merupakan orang paling kaya di desa itu tengah melangsungkan pesta perkawinan putra pertamanya yang bernama Danu Umbara dengan seorang gadis dari desa seberang bernama Diah Kemuning. Laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun dan bertubuh besar itu tampak mengumbar senyumnya ketika menyambut tamu-tamunya yang semakin ramai berdatangan.

"Selamat, Juragan! Mudah-mudahan lekas mendapat cucu yang manis dan tampan...," kata Ki Darwono, kepala desa itu sambil tersenyum lebar.

"Terima kasih, Ki Darwono. Silakan...!" kata Juragan Sasmita Dimeja sambil mempersilakan tamunya itu menyalami kedua mempelai yang duduk di ruangan depan berhiaskan tempat duduk yang besar serta terukir indah.

"Wealah, Danu! Bisa-bisanya kau mendapatkan bidadari secantik ini. Hati-hati menjaganya. Salah-salah disambar orang lain nantinya dan kau tidak mungkin akan mendapatkan seperti ini lagi!" seloroh Ki Darwono sambil menyalami pemuda itu.

"Ah, Ki Darwono bisa saja...," sahut pemuda itu tersenyum.

Diah Kemuning menundukkan kepala sambil tersenyum mendengar gurauan laki-laki kurus berusia sekitar lima puluh tahun itu.

"Hm, tidak mengherankan kalau anaknya secantik ini jika ternyata ibunya pun seperti bidadari di sorgaloka!" lanjut kepala desa itu kembali bergurau ketika menyalami kedua orangtua pihak pengantin wanita. Wanita berusia sekitar tiga puluh tahun itu tersenyum kecil. Apa yang dikatakan Ki Darwono tidak salah. Wanita itu memiliki bentuk tubuh yang indah dengan kulit kuning langsat. Bahkan sepintas dengan Diah Kemuning seperti antara kakak beradik saja layaknya.

Kepala Desa Ngampar Cai itu memang supel dan dekat dengan warganya. Selain itu beliau juga senang berkelakar sehingga tidak mengherankan bila seluruh penduduk desa ini menyukainya. Bahkan ketika rombongan kesenian yang diundang Juragan Sasmita Dimeja mulai menggelar pertunjukan dengan mengadakan tari-tarian, Ki Darwono tidak segan-segan untuk menari pula bersama beberapa orang undangan lainnya.

"Ki Darwono, awas...! Jangan sampai matanya melotot dengan gadis berbaju merah itu!" teriak seorang warga dengan nada menggoda.

Ki Darwono cuma mesem-mesem saja mendengar godaan itu sambil terus berjoget bersama seorang gadis berwajah manis yang memakai kebaya merah. Semua orang dalam pesta perkawinan itu memang bergembira, seolah larut dalam suasana kemeriahan itu. Berbagai tepuk sorak-sorai berkali-kali berkumandang dan wajah-wajah keceriaan menghiasi setiap wajah mereka. Namun ternyata tidak semuanya larut dalam kegembiraan pesta itu, karena istri Juragan Sasmita Dimeja sejak tadi lebih banyak membisu dengan wajah murung.

"Kenapa, Bu...? Apa Ibu tidak merasa bergembira pada pesta perkawinan anak kita ini...?" tanya Juragan Sasmita Dimeja dengan wajah heran.

Wanita berwajah cantik dan berusia sekitar tiga puluh tujuh tahun itu tersenyum tipis sambil melirik sekilas suaminya itu.

"Aku gembira, bahkan sangat gembira melihat perkawinan anak kita...," jawabnya pelan.

"Lalu mengapa wajahmu murung...?"

Wanita itu tidak langsung menjawab melainkan menarik napas agak panjang. Kemudian berkata dengan lirihnya.

"Aku punya firasat buruk dari mimpiku yang sudah tiga malam ini datang berturut-turut..."

"Hm, mimpi itu lagi…," desah Juragan Sasmita Dimeja seperti tidak percaya dengan firasat istrinya itu.

"Apakah Kakang tidak mempercayainya...?"

"Mimpi hanya bunga tidur, kenapa kita harus mempercayainya? Sudahlah, jauhkan bayang-bayangan mimpi itu. Kalau Ibu terlalu percaya maka kita akan dihantuinya terus," kata Juragan Sasmita Dimeja.

"Aku melihat desa kita ini terbakar oleh lautan api dan orang-orang sibuk menyelamatkan diri sambil menjerit-jerit ketakutan. Lalu sekelompok awan hitam kemudian menelan seluruh penghuni desa ini...!" desis wanita itu dengan wajah semakin cemas.

"Sudahlah, Bu. Jangan terlalu dipikirkan hal itu. Kita berdoa saja mudah-mudahan perkawinan anak kita selamat dan mereka menempuh hidup yang bahagia berdua," hibur Juragan Sasmita Dimeja.

Wanita itu tidak mengangguk. Wajahnya tidak berubah dari kecemasan hatinya. Tatapannya kosong melihat keramaian orang-orang yang bergembira dalam suasana pesta itu. Danu Umbara yang duduk di sebelah ibunya itu bukan tidak memperhatikan wajah ibunya yang resah itu.

"Kenapa, Bu? Adakah sesuatu hal yang merisaukan hati Ibu?" tanyanya sambil berbisik.

Wanita itu tersenyum tipis ketika menoleh ke arah putra tertuanya itu. Dia tidak menjawab sepatah kata pun.

"Ceritakanlah kalau memang Ibu mempunyai perasaan hati yang tidak menyenangkan...," lanjut pemuda itu.

"Tidak. Tidak ada...."

"Lalu mengapa wajah Ibu tidak bergembira...?"

"Ibu gembira melihat perkawinanmu, bahkan sangat gembira. Mudah-mudahan perkawinanmu akan bahagia!" sahut wanita itu berusaha tersenyum untuk melegakkan hati putranya itu.

Danu Umbara ikut-ikutan tersenyum tipis. Tapi hatinya sama sekali tidak mempercayai akan kata-kata ibunya. Dia merasa yakin bahwa ibunya itu menyimpan sesuatu di hatinya, dan terbayang jelas dari wajahnya yang cemas. Hanya saja dia tidak tahu apa yang merisaukan hati wanita itu. Sehingga kegembiraan pemuda itu jadi ikut terpengaruh. Pikirannya menerawang jauh dan menduga-duga, apa yang tengah direnungkan ibunya saat ini.

"Kakang, kenapa berwajah murung...?" tanya Diah Kemuning halus sambil memperhatikan wajah suaminya itu dengan seksama. Danu Umbara sedikit terkejut, namun dia cepat tersenyum.

"Tidak. Kenapa aku musti murung? Aku tidak tahu bagaimana gembiranya hatiku saat ini!" sahutnya cepat.

Diah Kemuning ikut tersenyum. Hatinya lega ketika melihat senyum suaminya yang lebar.

Irama gamelan masih terus berkumandang, dan beberapa orang yang berjoget menyemarakkan seiring dengan sorak-sorai yang semakin ramai menyemarakkan pesta perkawinan itu. Pada saat itulah terdengar teriakan sayup-sayup dari kejauhan.

"Tolooong...! Tolooong...!"


***


"Hai, apa itu?!" sentak beberapa orang centeng Juragan Sasmita Dimeja berpaling ke arah datangnya suara itu.

Dari kejauhan di ujung desa itu terlihat debu mengepul membubung tinggi menghalangi pandangan. Namun samar-samar jelas terdengar derap langkah kaki kuda yang bergemuruh. Seiring dengan itu jeritan-jeritan ketakutan berkumandang dan menyentak orang-orang yang memenuhi tempat kediaman Juragan Sasmita Dimeja.

"Gendon, ada apa?" tanya Juragan Sasmita Dimeja pada salah seorang centengnya.

"Entahlah, Juragan. Saya akan periksa bersama yang lainnya!" sahut Gendon cepat sambil mengajak beberapa orang kawannya untuk melihat kejadian itu.

Namun baru saja mereka melompat keluar dari halaman rumah kediaman Juragan Sasmita Dimeja, tiba-tiba suara-suara derap langkah kuda telah semakin jelas terdengar. Dan orang-orang desa berteriak-teriak ketakutan sambil menyelamatkan diri masing-masing. Lebih dari sepuluh orang penunggang kuda yang bertampang seram berhenti tepat di depan halaman rumah Juragan Sasmita Dimeja.

"Ha ha ha...! Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tidak usah bersusah payah mengumpulkan tikus-tikus busuk ini mereka telah berkumpul dengan sendirinya!" teriak salah seorang yang bertubuh tinggi besar dengan suara menggelegar.

Orang itu berusia lanjut sekitar enam puluh tahun. Rambutnya hitam dan berdiri tegak memperlihatkan gigi-giginya yang besar menonjol keluar. Tangan kanannya mengacung-acungkan sebuah senjata mirip clurit yang panjang. Dan di pinggangnya berderet pisau-pisau kecil.

"Guru, buat apa berlama-lama di sini? Sebaiknya kita bereskan saja mereka secepatnya," timpal seorang pemuda di sebelahnya.

Pemuda Itu berusia sekitar dua puluh tahun berpakaian rapi dan berwajah tampan. Rambutnya yang panjang digelung ke atas. Bahasanya halus dan melengking mirip seorang wanita. Dan caranya berdandan menunjukkan pula bahwa dia seorang pesolek. Senjatanya mirip dengan orang tua itu. Hanya saja di pinggangnya tidak terdapat pisau-pisau kecil.

Orang-orang yang berada di tempat kediaman Juragan Sasmita Dimeja tersentak kaget. Seketika mereka memandang pada rombongan itu dengan wajah tidak senang. Salah seorang centeng Juragan Sasmita Dimeja, beserta beberapa orang kawannya, langsung melangkah mendekati mereka.

"Kisanak, siapa kalian dan ada urusan apa mengganggu pesta perkawinan Juragan Sasmita Dimeja?" tanya salah seorang centeng itu dengan sikap garang.

"Pesta perkawinan? Mana yang sedang kawin? Mana dia...?!" tanya pemuda pesolek itu sambil cengar-cengir kegirangan.

"Hei, kutu busuk! Menyingkirlah kau kalau tidak ingin mampus!" bentak orang tua di samping si pemuda pesolek itu dengan garang sambil melototkan mata kepada si centeng.

Mendengar bentakan si orang tua, wajah centeng itu tampak merah menahan marah.

"Kunyuk kurap, pergilah kau dari tempat ini sebelum kami bertindak kasar padamu!" bentaknya garang.

"Kurang ajar! Berani kau bicara begitu di depan Ki Rantek?!" dengus orang tua itu sambil memberi isyarat pada salah seorang anak buahnya.

Salah seorang penunggang kuda di sampingnya langsung melompat sambil mengayunkan senjata clurit besar di tangannya.

"Kutu busuk tidak tahu diri, mampuslah kau...!

Yeaaah...!"
Srak!
Trang!

Melihat orang itu langsung menyerangnya, si centeng mencabut golok dan menangkis senjata lawan. Tapi akhirnya dia mengeluh kesakitan ketika senjata mereka beradu. Tangannya terasa perih dan jantungnya berdetak kencang. Belum lagi hilang rasa terkejutnya, senjata lawan dengan cepat menyambar lehernya tanpa ampun.

Crasss...!
"Hokh...!"
"Hei...?!"

"Iblis biadab...!" desis orang-orang yang melihat kejadian itu.

Centeng itu tidak mampu menghindari tebasan senjata lawan yang mengarah ke lehernya. Orang itu memekik tertahan. Kepalanya putus dan menggelinding ke tanah. Darah mengucur deras dari pangkal lehernya dan membuat orang-orang yang hadir dalam pesta perkawinan itu tersentak kaget dan mulai marah.

"Keparat jahanam! Kalian sungguh biadab! Bunuh mereka...!" bentak salah seorang centeng memberi perintah pada kawan kawannya.

Beberapa orang centeng Juragan Sasmita Dimeja langsung mencabut golok dan menyerang kawanan itu. Bukan hanya mereka yang turun menyerbu namun hampir semua orang-orang yang berada dalam pesta perkawinan itu ikut menyerang kawanan tersebut.

"Hiyaaa...!"
"Seraaang...!"
"Hancurkan mereka...!"

Teriakan gegap-gempita itu terus berkumandang dan bagai tanggul jebol mereka menghunus apa saja untuk mengeroyok kawanan itu. Namun kawanan itu bukannya takut serta gentar melihat begitu banyak menyerang mereka. Orang tua bernama Ki Rantek yang memimpin kawanan itu langsung membentak nyaring.

"Habisi mereka...!"
"Yeaaah...!"

Tanpa diperintah dua kali, anak buahnya langsung melompat turun dari punggung kuda mereka sambil menghunus senjata mereka yang berupa clurit panjang laksana pedang.

Trang!
Cras!
Bret..!
"Aaa...!"

Suara beradunya senjata serta pekik kematian mewarnai tempat yang semula meriah oleh gelak tawa itu. Beberapa sosok tubuh langsung ambruk dengan bersimbah darah ditebas oleh senjata-senjata kawanan yang dipimpin oleh Ki Rantek itu. Penduduk desa yang berjumlah banyak itu menyerang kawanan, itu karena diliputi amarah yang meluap-luap melihat sikap Ki Rantek dan anak buahnya itu. Tapi hal itu tidak ditunjang dengan kemahiran mereka dalam hal ilmu bela diri. Sedikit sekali yang mengerti ilmu silat.

Sedangkan anak buah Ki Rantek rata-rata memiliki kemampuan yang hebat dan bertenaga kuat. Mereka adalah orang-orang buas yang tidak mengenal belas kasihan. Meski hanya berjumlah sekitar lima belas orang, namun dengan ganasnya mereka membantai orang-orang desa itu, tanpa kenal ampun. Sehingga dalam waktu singkat saja halaman rumah Juragan Sasmita Dimeja banjir oleh darah.

"Lariii...!" teriak seseorang dengan wajah ketakutan.

Melihat pembantaian itu banyak di antara undangan lainnya yang sibuk menyelamatkan diri. Mereka merasa percuma saja melawan kawanan itu karena hanya mengantar nyawa secara percuma.


***


"Jangan biarkan mereka lolos seorang pun...!" teriak Ki Rantek.

Mendengar itu maka beberapa orang anak buahnya langsung melompat menghadang orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri dan dengan kejam menghunuskan senjata ke arah orang-orang itu.

Crasss,..!
Brettt. !
"Aaa...!"

"Jangan bunuh mereka! Kita akan memberikan kenang-kenangan agar mereka tahu siapa kita...!" teriak Ki Rantek kembali.

"Guru, aku menemukan gadis cantik ini! Amboi, alangkah cantiknya dia...!" teriak pemuda pesolek yang memanggil Ki Rantek sebagai gurunya.

"Hei, Aria Denta! Jangan serakah kau...! Berikan dia untukku!" teriak Ki Rantek sambil mendekati si pemuda.

Orang tua langsung terkekeh ketika melihat gadis cantik yang berada di hadapannya. Gadis yang tidak lain dari Diah Kemuning itu langsung merapat sambil memeluk tubuh suaminya dengan wajah pucat menahan rasa takut.

"He hei he...! Ke sini manis, ke sini. Kau tidak akan kusakiti kalau menurut kata-kataku...!" kata Ki Rantek sambil terkekeh dan melangkah pelan mendekati gadis itu.

"Anjing busuk, jangan coba-coba ganggu istriku...!" bentak Danu Umbara.

"He he he...! Guru, kau memang tidak pantas untuknya. Kenapa tidak kau cari saja yang lain? Nah, coba lihat. Wanita itu sangat cocok untukmu dan sepandan pula. Biarlah gadis ini untukku...!" sahut Aria Denta sambil menunjuk ke arah ibunya Diah Kemuning yang sama-sama ketakutan dengan putrinya sambil memeluk suaminya.

"Hi hi hi...! Cerdik kau, Aria Denta. Tapi tidak mengapa. Wanita ini pun cukup cantik. Kau boleh ambil si pengantin wanita itu biarlah yang ini bagianku...," sahut Ki Rantek tanpa mempedulikan bentakan Danu Umbara.

"Ki, bolehkah aku memiliki wanita ini?" tanya salah seorang anak buah Ki Rantek langsung menunjuk ke arah ibunya Danu Umbara sambil terkekeh-kekeh kecil.

"He he he...! Pintar juga kau Somali. Nah, kau boleh mengambilnya untukmu...!" sahut Ki Rantek.

"Hi hi hi...! Terima kasih, terima kasih Ki...!" sahut Somali langsung menerkam wanita yang diinginkannya.

"Jahanam busuk! Jangan sentuh istriku...!" bentak Juragan Sasmita Dimeja garang sambil berusaha menangkis tangan lawan.

"Tua bangka busuk, minggir kau...!" sentak Somali sambil menepiskan tangan Juragan Sasmita Dimeja.

Plak!
Desss...!

Juragan Sasmita. Dimeja menjerit kesakitan dengan sekali sentak, tubuhnya terjerembab menghajar tembok rumahnya. Danu Umbara membentek garang dengan wajah terkejut. Dia bermaksud hendak menolong bapaknya, namun saat itu juga istrinya menjerit-jerit karena Aria Denta menangkap pergelangan tangannya. Lalu dengan sekali sentak, gadis itu telah berada dalam dekapannya.

"Kakang Danu, tolooong...! Tolooong...!"

"Keparat...!" Danu Umbara membentek garang. Darahnya mendidih dan rongga dadanya seperti hendak rengkah menahan amarah yang meluap-luap melihat pemuda pesolek itu seenaknya menciumi istrinya yang berusaha berontak dari dekapan pemuda itu. Tanpa berpikir panjang dia langsung mengayunkan kepalan tangan menghantam pemuda itu.

Plak!
Desss!
"Aaakh...!"

Tanpa berpaling lagi Aria Denta menangkis serangan lawan, dan sebelah kakinya dengan telak menghajar dada Danu Umbara sehingga pemuda yang sama sekali tidak mengerti ilmu silat itu, terpekik dengan tubuh terjengkang keras. Danu Umbara merasa dadanya mau pecah akibat tendangan itu. Namun jeritan-jeritan Diah Kemuning dan ibunya serta mertuanya membuat semangatnya kembali menyala-nyala. Tanpa mempedulikan rasa sakit yang dideritanya dia kembali bangkit dan menghajar Somali yang berada dekat dengannya.

"Jahanam keparat! Lepaskan ibuku... Lepaskaaan...!"

"Hiiih...!"
Plak!
Begkh!
"Aaakh...!"

Somali cepat berbalik dan menangkis serangan pemuda itu. Lalu kaki kanannya dengan cepat terayun menghantam perut Danu Umbara. Tubuhnya kembali terjungkal. Hal yang sama dialami oleh Juragan Sasmita Dimeja dan besannya yang laki-laki. Mereka berusaha menolong istrinya, namun tanpa mengenal belas kasihan, Ki Rantek dan anak buahnya yang bernama Somali itu menghajar mereka sampai muntah darah. Demikian pula ketika Danu Umbara hendak menyelamatkan istrinya. Namun meskipun demikian mereka seolah tidak merasakan rasa sakit yang diderita mendengar jeritan istri masing-masing. Dan hal itu menimbulkan kejengkelan Ki Rantek dan muridnya yang bernama Aria Denta, serta anak buahnya yang bernama Somali.

"Keparat! Mereka harus didiamkan lebih dulu...!" geram Ki Rantek sambil menotok wanita dalam dekapannya.

Tindakannya itu diikuti oleh Aria Denta dan Somali. Lalu dengan geram mereka menghajar ke-tiga laki-laki yang sejak tadi mengganggu nafsu setan mereka yang telah menggelegak itu.

"Kalian harus dibuat diam dulu dan kemudian menyaksikan kami bersenang senang. Itulah hukuman yang setimpal buat kalian!" dengus Ki Rantek sambil menangkap pergelangan tangan lawannya, ayahnya Diah Kemuning.

Plak!
Krakkk!
"Aaakh…”


***


DUA

Laki-laki itu menjerit keras ketika tulang lengannya patah dihantam Ki Rantek. Jeritannya kian panjang ketika bagian dada dan perutnya dihantam Ki Rantek dengan keras bertubi-tubi sambil memegangi lengannya yang patah itu. Dan yang terakhir kali Ki Rantek langsung mengayunkan satu tendangan yang keras sehingga lawannya terjungkal sambil memuntahkan darah segar.

"Hoakhhh...!"

"Ayah...!" Diah Kemuning menjerit keras melihat keadaan ayahnya yang megap-megap tidak berdaya untuk berusaha bangkit.

Hal yang sama dialami oleh Danu Umbara. Tanpa mengenal belas kasihan, Aria Denta menghajarnya habis-habisan. Begitu juga yang dialami oleh Juragan Sasmita Dimeja. Ketiga wanita itu menjerit-jerit melihat suaminya dihajar sampai muntah.

"Nah, sekarang mampuslah...!" bentak Ki Rantek sambil mencabut senjatanya yang unik dan siap menebas leher lawan.

"Guru, tahan...!" teriak Aria Denta mencegah.

"Hm, mau apa kau?"

"Kenapa harus terburu-buru? Tanpa dibunuh pun mereka akan mampus karena luka-luka dalam yang dideritanya. Bukankah kita akan membuat mereka menggeliat menahan rasa sakit yang hebat?" tanya Aria Denta sambil tersenyum tipis.

"Apa maksudmu, Aria Denta?" tanya Somali.

Pemuda itu tersenyum-senyum membisikkan sesuatu di telinga Somali. Orang itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Kupret! Apa yang kalian rencanakan, heh...?!" bentak Ki Rantek berang.

Somali pun membisikkan ke telinga orang tua itu. Ki Rantek mendengus kemudian terkekeh kecil.

"He he he...! Dasar si Aria Denta, otaknya selalu encer. Nah, tunggu apa lagi?!"

"Hi hi hi...! Aku akan bersenang-senang dulu dengan bidadari yang cantik itu!" seru Aria Denta sambil menerkam Diah Kemuning.

Gadis itu menjerit-jerit ketakutan, namun dengan buasnya Aria Denta mendekapnya erat-erat dan tangannya dengan nakal menyusup ke seluruh bagian tubuh gadis itu dengan nafsu iblis yang menggelegak-gelegak. Lalu dengan kasarnya dia mencabik-cabik pakaian yang melekat di tubuh gadis itu. Diah Kemuning yang dalam keadaan tertotok, tidak mampu berontak selain berteriak-teriak dengan air mata bercucuran.

Hal yang sama juga dilakukan Ki Rantek dan Somali terhadap orang tua perempuannya dan Ibunya Danu Umbara. Kebejatan itu mereka lakukan di depan mata Danu Umbara dan Juragan Sasmita Dimeja serta besan laki-lakinya. Karuan saja ketiga laki-laki itu mendidih darahnya dan berusaha bangkit untuk menolong istrinya. Namun luka dalam yang mereka derita membuat mereka kembali terjatuh lunglai dan tulang-belulangnya terasa rapuh untuk digerakkan akibat hantaman bertubi-tubi yang dilakukan lawannya tadi. Mereka hanya mampu berteriak-teriak sambil memaki-maki tidak karuan.

"Keparat busuk! Hentikan perbuatanmu yang biadab! Jahanam, hentikan...!" Danu Umbara memekik menahan geram dan dendam yang meledak-ledak didalam dadanya.

Tapi akibat amarah dan teriakan yang menggelegar itu, dia memuntahkan darah segar berkali-kali. Kepalanya terasa pusing dan penglihatannya berkunang-kunang. Meski begitu si pemuda berusaha merayap mendekati ketiga laki-laki bejat yang tengah mengumbar nafsu iblisnya terhadap wanita-wanita yang dekat dengannya. Masih sempat dilihat ayahandanya tergeletak tak berdaya akibat amarah yang tidak tertahankan. Demikian juga dengan mertua laki-lakinya. Namun telinga pemuda itu masih terus menangkap jeritan-jeritan ketakutan istrinya yang penuh ketakutan.

Kerongkongannya terasa kering dan berlumur darah akibat teriakan-teriakannya semakin serak memaki-maki ketiga orang yang tengah melakukan perbuatan bejad itu. Apa yang dilakukan oleh Ki Rantek beserta muridnya dan salah seorang anak buahnya itu, diikuti oleh anak buah yang lain. Mereka menangkap wanita-wanita yang ditemuinya dan memperkosanya dengan rakus seperti sekawanan hewan kelaparan yang menemukan makanan kesukaannya.

Siapa pun yang mencoba menghalangi perbuatan mereka maka bisa dipastikan orang itu akan menemui ajalnya ditebas senjata-senjata para perampok yang tidak mengenal rasa belas kasihan itu. Setelah melakukan perbuatan bejad itu, mereka langsung menguras benda para penduduk dan merampok apa saja yang berharga di dalam setiap rumah yang mereka masuki. Penduduk yang melawan tanpa ampun lagi mereka hajar. Sementara itu Ki Rantek dan muridnya tertawa terkekeh-kekeh setelah melampiaskan nafsu bejadnya terhadap wanita-wanita itu.

"Sekarang akan kita apakan mereka, Ketua?" tanya Somali yang paling terakhir menyelesaikan nafsu iblisnya.

"He he he...! Kau punya usul, Aria Denta?" tanya Ki Rantek pada muridnya itu.

Aria Denta mesem-mesem sambil menghampiri ketiga laki-laki yang tadi mereka hajar. Ujung kakinya menghajar Danu Umbara.

Begkh!
"Aaakh...!"

"Hm, yang ini masih hidup. Dia akan merasakan siksaan yang lain...!" dengus Aria Denta ketika mendengar pemuda itu menjerit keras akibat tendangannya itu.

Danu Umbara memang tidak tahan dan di samping luka dalam yang dideritanya, dia merasa pandangannya semakin gelap mendengar jeritan-jeritan Istrinya. Kemudian alam seperti gelap dan sepi. Dia tidak sadarkan diri. Namun merasakan tendangan Aria Denta, kesadarannya kembali pulih.

"Jahanam keparat! Kubunuh kau...! Kubunuh kau...!" teriak Danu Umbara.


***


Pemuda itu berusaha bangkit untuk menghajar pemuda pesolek dihadapannya. Aria Denta cuma mencibir sinis, dia yakin sekali bahwa pemuda itu tidak mampu berbuat apa-apa terhadapnya. Dan dugaannya itu memang benar. Danu Umbara merasa tubuhnya lemah tidak berdaya. Bahkan untuk berdiri pun dia tidak mampu. Ketika dipaksakannya juga, tubuhnya langsung ambruk sambil kembali memuntahkan darah kental.

"Yang ini sudah mampus...!" desis Ki Rantek sambil menendang tubuh laki-laki yang tadi dihajarnya.

"Ini juga...!" timpal Somali sambil menendang tubuh Juragan Sasmita Dimeja.

"Apa yang mau kau lakukan, Aria Denta?" tanya Ki Rantek ketika melihat muridnya itu membawa dua bongkah batu besar.

"Aku akan memberi pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan di akherat sana...!" sahut pemuda pesolek itu sambil tersenyum-senyum.

Tanpa berkata apa-apa lagi Aria Denta menghantamkan batu-batu runcing itu ke kaki Danu Ambar.

Crak!
"Aaa...!"

Danu Ambar memekik kesakitan. Namun Aria Denta malah terkekeh-kekeh dan terus menghantamkan batu-batu di tangannya sehingga kaki Danu Umbara hancur dengan seluruh dagingnya yang terkelupas.

"He he he...! Ini belum seberapa. Tapi kau akan merasakan yang lain...!" lanjut Aria Denta sambil mencabut senjatanya.

Sret!
"Aaa...!"

Kembali Danu Umbara tersentak dan memekik kesakitan ketika senjata lawan menyayat-nyayat wajah dan seluruh tubuhnya, sehingga tidak berbentuk lagi. Darah mengucur deras dari luka-luka sayatan itu. Namun Aria Denta memang sengaja tidak mau membunuhnya dan hanya menyiksanya habis-habisan.

"Bunuh saja aku...! Bunuh...!" jerit Danu Umbara menahan sakit yang tidak kuat dirasakannya.

"He he he...! Membunuh kau soal mudah, tapi aku ingin melihat dulu kau merangkak-rangkak memohon ampun padaku sambil menangis tersedu-sedu," ejek Aria Denta.

"Huh, jangan harapkan itu, Keparat! Aku lebih suka begini daripada memohon-mohon belas kasihanmu...!" dengus Danu Umbara geram dengan suara serak.

"Nah, kalau demikian kau akan merasakannya lagi!" sahut Aria Denta sambil tersenyum sinis.

Selesai berkata demikian, dia berteriak lantang pada yang lainnya sehingga mereka semua berkumpul sambil memanggul barang-barang berharga dalam kantong besar yang mereka pikul.

"Apa yang telah kalian dapatkan?" tanya Aria Denta.

"Banyak. Kami menguras semua harta benda berharga dari semua rumah yang berada di desa ini!" sahut beberapa orang di antara mereka serentak.

"Hm, bagus! Nah, coba lihat. Rumah itu paling megah dan mewah dari seluruh rumah yang berada di desa ini. Tentu di dalamnya banyak tersimpan harta benda yang berharga. Kita akan kuras semuanya saat ini juga. Tapi sebelum itu aku akan berikan kepuasan pada kalian!" lanjut Aria Denta.

"Hei, Aria Denta! Cepatlah bicara jangan berbelit-belit!" teriak salah seorang di antara anak buah Ki Rantek.

"He he he...! Sabarlah sebentar. Nah, kalian lihat tiga wanita cantik ini? Kalian boleh berpesta pora dengan mereka!" sahut Aria Denta cepat.

"Hei, boleh juga!" seru seseorang dengan mata melotot dan cengar-cengir gembira melihat tiga wanita cantik yang tengah tergolek tidak berdaya.

"Ha ha ha...! Pintar juga kau Aria Denta...!" timpal yang lainnya.

Namun meski mereka semua mulai menggelegak nafsu setan di dalam diri mereka melihat wanita-wanita yang dalam keadaan tidak berdaya itu, tidak seorang pun yang berani mendekat sebelum Ki Rantek memberi izin dan perintah. Agaknya mereka semua patuh bercampur takut sekali pada orang tua itu. Maka terlihat mereka semua melirik pada orang tua itu seolah mengharapkan izin darinya.

"He he he...! Kalian boleh melakukannya. Ayo, ambillah wanita-wanita itu...," kata Ki Rantek sambil terkekeh-kekeh kecil.

Mendengar kata-kata itu, langsung saja anak buah Ki Rantek menyerbu ke arah tiga wanita yang tergolek tidak berdaya itu. Mereka tidak kuasa menahan kebejatan nafsu iblis kawanan perampok yang tidak berperikemanusiaan.

"Keparat! Hentikan perbuatan kalian...! Hentikan perbuatan bejat kalian...!" teriak Danu Um-bara dengan dada mau pecah melihat pemandangan menjijikkan sekaligus memilukan hatinya.

Orang-orang itu seperti anjing-anjing kelaparan yang memperebutkan tulang-tulang yang berjumlah sedikit, sehingga sepotong tulang mereka lahap bersamaan. Danu Umbara tidak kuasa menahan gejolak hatinya. Dia hanya bisa berteriak-teriak memaki-maki dengan suara yang semakin lemah dan parau. Beberapa kali dia muntahkan darah kental dan kering. Hanya gejolak semangat hidup serta dendam membara saja yang membuatnya tidak mau mengakhiri hidupnya.

"Ha ha ha...! Sering-sering begini, nikmat juga rasanya...!" kata salah seorang anak buah Ki Rantek sambil membetulkan letak celananya yang kedodoran.

"He he he...! Dasar buaya-buaya rakus, cepat kita pergi dan tinggalkan tempat ini!" sentak Ki Rantek sambil mengumpulkan harta benda yang dikurasnya dari rumah Juragan Sasmita Dimeja.

"Wah, aku tidak kebagian! Mereka kojor semua...!" teriak salah seorang anak buah Ki Rantek dengan perasaan kecewa.

"Diam kau, Kebo Badung! Lekas angkut barang-barang itu!" bentak Ki Rantek garang.

"Lalu mayat-mayat dan orang-orang yang sekarat ini mau dikemanakan?" tanya salah seorang anak buah Ki Rantek bingung.

"Setan kau! Buat apa mengurusi mereka?! Sudah tinggalkan saja cepat...!" bentak Ki Rantek lagi.

"Tunggu dulu...!" potong Aria Denta.

"Mau apa lagi kau, Aria Denta?" tanya Ki Rantek.

"Ada banyak gerobak kosong di rumah ini. Bawa mereka yang sekarat ke hutan. Dan tumpakan ketiga wanita ini dalam satu gerobak dengan pemuda keparat itu!" tunjuk Aria Denta ke arah Danu Umbara.

Dua orang anak buah Ki Rantek langsung melakukan apa yang diperintahkan Aria Denta.

"Kalau masih ada gerobak yang kosong, bawa sekalian mayat-mayat ini. Kita akan bawa mereka ke pinggir Hutan Mapag Nyawa, biar menjadi santapan anjing-
anjing hutan di sana!" teriak Aria Denta kembali.

"Hei, setelah urusanmu selesai, cepat kau pulang ke markas, Aria Denta!" teriak Ki Rantek sambil mengajak anak buahnya yang lain untuk berlalu dari tempat itu dengan membawa beberapa buah gerobak.

"Beres, Ki!" sahut Aria Denga cepat.


***


Aria Denta bersama dua orang kawannya langsung melarikan dua gerobak yang ditarik dua ekor kuda ke pinggiran Hutan Mapag Nyawa yang terkenal angker dan buas. Tidak ada seorang pun yang pernah kembali setelah memasuki hutan itu. Selain dihuni oleh binatang-binatang buas, tempat itu diyakini oleh penduduk di seluruh wilayah yang berada di dekatnya, termasuk Desa Ngampar Cai, sebagai penghuni dan sarang dari segala dedemit yang menakutkan dan kejam.

"Ha ha ha...! Sekarang kau rasakan di tempat ini. Sebentar lagi anjing-anjing hutan dan harimau-harimau lapar akan merencah tubuh kalian...," teriak Aria Denta sambil tertawa kegirangan melihat dua orang kawannya melempar mayat-mayat serta beberapa orang penduduk Desa Ngampar Cai yang masih sekarat.

"Selesai sudah...!" kata salah seorang kawan Aria Denta setelah melempar tubuh terakhir yang berada di dalam gerobaknya ke pinggir hutan ini.

"Ayo, lekas kita tinggalkan tempat ini! Biar mereka di situ karena sebentar lagi penghuni Hutan Mapag Nyawa akan berdatangan ke tempat ini!" sahut Aria Denta sambil terkekeh-kekeh kegirangan.

Danu Umbara hanya mampu melihat kepergian mereka dengan bola mata yang sayu dan buram. Tubuhnya seperti tidak bertenaga sama sekali, dan kepalanya terasa berat untuk diangkat. Sementara rasa sakit yang dideritanya tidak tertahankan lagi.

"Anjing-anjing laknat! Aku bersumpah tidak akan mau mati dulu sebelum membalas perlakukan kalian yang kelewat batas!" desisnya geram di dalam hati.

Danu Umbara mencoba memalingkan wajah dan mencari-cari istrinya di antara tumpukan tubuh penduduk Desa Ngampar Cai serta bau darah dan bangkai di tempat itu.

"Diah..., oh, maafkan aku yang tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolongmu...!" keluh Danu Umbara ketika melihat tubuh istrinya samar-samar dari bola matanya yang mulai mengabur.

Tubuh gadis itu terhampar tanpa mengenakan pakaian di tubuhnya. Dari mulutnya yang terluka lebar terlihat cairan busa yang kental, dan bola matanya membelalak lebar. Dari bagian bawah tubuhnya darah mengalir seolah tidak mau henti.

"Akan kubalas perlakuan mereka! Akan kubuat mereka menderita seperti apa yang mereka lakukan terhadapmu, terhadapku, dan terhadap semua penduduk Desa Ngampar Cai...!" desis Danu Umbara dengan tubuh menggigil menahan geram dan dendam yang meledak-ledak.

Pemuda itu hendak beringsut lagi mencari tubuh orangtua serta mertuanya. Namun sebelum hal itu dilakukannya, terdengar raungan panjang di kejauhan. Pemuda itu tersentak.

"Celaka! Anjing-anjing hutan kelaparan itu telah mencium bau anyir darah di tempat ini. Aku harus bisa menyelamatkan diri!" katanya sambil menguatkan semangatnya.

Dengan sisa-sisa tenaganya Danu Umbara beringsut menjauhi tempat itu. Beberapa kali dia sempat berpaling pada tubuh istrinya, dan tidak terasa beberapa rintik air mata jatuh membasahi pipinya yang tadi disayat-sayat oleh senjata pemuda pesolek itu. Danu Umbara merasakan sakit yang tiada taranya ketika berusaha beringsut menjauhi tempat itu. Namun dia sadar bahwa itulah satu-satunya jalan agar dia bisa hidup dan terhindar dari terkaman binatang-binatang buas yang sedang menuju ke tempat itu. Semangatnya untuk tetap hidup serta dendamnya yang menyala-nyala seperti memberikan tambahan tenaga baginya.

"Aku harus tetap hidup...! Aku harus hidup untuk mencoba membalas perlakuan mereka...!" desisnya berkali-kali untuk memberi semangat pada dirinya.

Sementara itu suara derap kawanan serigala seolah semakin dekat menuju tempat tumpukan tubuh penduduk Desa Ngampar Cai yang telah menjadi mayat, dan sebagiannya sekarat

"Auuung...!"
"Ohhh...!"

Danu Umbara merasa tenggorokannya tercekat dan darahnya tersirap habis mendengar raungan serigala yang jelas terdengar di telinganya. Jantungnya berdetak lebih kencang ketika tubuhnya terus bergulingan menjauhi tempat itu.

"Oh, Sang Hyang Widhi Jagat Bhatara, selamatkanlah aku dari serigala-serigala kelaparan itu! Biarkan aku tetap hidup agar aku bisa membalaskan dendam di hatiku ini...!" desisnya sambil berdoa di dalam hati.

Berkali-kali dia mengeluh kesakitan ketika tubuhnya tersandung batu serta ranting-ranting yang tajam. Danu Umbara hanya bisa menggigit bibirnya yang kering agar suaranya tidak keluar dan didengar oleh serigala-serigala yang telah mendekat. Jelas sekali terdengar di telinganya suara raungan dan pesta pora binatang-binatang itu merencah mayat-mayat yang berada di pinggir Hutan Mapag Nyawa itu. Danu Umbara tersentak sesaat, namun dia terus beringsut-ingsut dan bergulingan agar tubuhnya menjauh dari tempatnya tadi. Tanpa sadar dia telah menyeret dirinya sendiri masuk ke dalam Hutan Mapag Nyawa yang terkenal angker itu!

Hari telah mulai gelap ketika pemuda itu merasa tenaganya telah terkuras habis. Kepalanya berdenyut kencang dan menimbulkan rasa sakit yang hebat. Tenggorokannya kering, tubuhnya menggigil kedinginan, rasa sakit akibat luka-luka yang dideritanya semakin membuat pandangannya berkunang-kunang serta denyut jantungnya melemah seiring dengan denyut nadinya dan tarikan napas yang satu-satu. Danu Umbara tidak kuat lagi menggerakkan tubuhnya walaupun hanya bergulingan. Dia tergeletak tidak berdaya di bawah sebatang pohon beringin yang lebat. Saat itulah mendadak terdengar bisikan halus ditelinganya.

"Anak muda, kau dengarkan suaraku...?"

"Ohhh..., si..., siapa...?" sahut pemuda itu dengan suara lemah hampir tidak terdengar.


***


TIGA

"Kau tidak perlu mengetahuinya...," kembali terdengar suara halus seperti berbisik di telinganya.

Danu Umbara termangu beberapa saat lamanya. Suara siapakah itu? Benarkah ada yang berbisik di telinganya? Ataukah itu cuma khayalan belaka?

"Anak muda...," panggil suara bisikan itu.

Danu Umbara terdiam seolah ingin meyakini kebenaran suara itu.

"Pergilah ke balik pohon beringin itu. Di sana akan kau dapati sebongkah batu berbentuk segi empat. Gali batu itu dan di dalamnya kau akan menemukan dua buah benda yang berharga...," lanjut suara itu kembali.

"Aku..., tidak kuat..," sahut Danu Umbara lemah. Dia tidak yakin apakah suaranya keluar dari tenggorokannya atau tidak. Tapi tenaga pemuda itu benar-benar terkuras habis. Untuk sesaat dia tidak merasakan apa-apa. Suasana begitu hening dan sepi sekali. Bahkan bisikan-bisikan itu seperti lapat-lapat didengarnya di antara desau angin halus. Danu Umbara tergeletak tidak sadarkan diri.

Pemuda itu tidak tahu berapa lama dia terbaring di tempat itu. Namun ketika tubuhnya terasa dingin akibat siraman tetesan air hujan yang jatuh dari dedaunan pohon beringin yang berusia tua itu. Danu Umbara tersentak kaget. Luka di tubuhnya terasa perih. Saat itulah kembali terdengar bisikan yang mengaung di telinganya.

"Anak muda, pergilah ke balik pohon ini. Kau akan menemukan batu persegi empat Gali dan temukan dua buah benda di dalamnya. Kau akan mengetahui apa khasiatnya nanti..."

"Ohhh...," Danu Umbara menggeliat letih. Perlahan-lahan dia beringsut dari tempatnya semula dan menggulingkan tubuhnya menuju ke balik pohon beringin yang memiliki batang besar itu.

"Kuatkan semangatmu, Anak Muda...." kata bisikan itu lagi.

"Ohhh..., aku..., aku tidak kuat...," keluh Danu Umbara.

"Tidak. Kau harus kuat. Kau harus membalaskan sakit hati dan dendam yang ada di hatimu. Ingat! Kau harus membalaskan dendam mu itu...!" sahut suara bisikan itu.

"Dendam? Oh, ya! Aku harus kuat! Aku harus kuat...!" Danu Umbara tersentak begitu mendengar kata-kata bisikan itu.

Tiba-tiba saja kembali terlintas dalam benaknya pembantaian dan kekejian yang dilakukan Ki Rantek, pemuda pesolek itu beserta anak buahnya. Mendadak darahnya kembali mendidih dan amarahnya bangkit meluap-luap menimbulkan kekuatan hebat dalam dirinya. Dia menggulingkan tubuhnya dengan seluruh tenaga yang tersisa. Dan apa yang dikatakan bisikan itu memang benar. Di balik pohon beringin itu terdapat batu berbentuk segi empat yang telah berlumut dan hampir menyatu dengan tanah.

"Korek batu itu, cepat!" lanjut bisikan itu lagi.

Danu Umbara langsung mengorek batu itu. Di dalamnya terdapat lobang berbentuk segi empat kira-kira dua jengkal.

"Ambil benda itu...!" perintah bisikan itu yang didengarnya.

Sebelah tangan pemuda itu langsung merogoh ke dalam, dan dia menemukan dua buah benda yang unik. Sebuah berbentuk cincin dengan ukiran tengkorak manusia yang memiliki dua buah gigi taring yang runcing dan tajam serta mencuat keluar laksana tanduk banteng. Sebuah lagi adalah sebilah keris sepanjang satu jengkal berwarna kuning emas, Di badannya terdapat tulisan, Kyai Medi!

"Kenakan cincin itu dan simpan keris Kyai Medi...!" kembali bisikan halus terdengar.

Danu Umbara tidak mengerti untuk apa cincin itu dikenakannya. Begitu juga halnya dengan keris yang bernama Kyai Medi. Keris itu sama sekali tidak indah, bahkan menyeramkan. Senjata itu sama sekali tidak layak disebut senjata meskipun ujungnya runcing, sebab selain ukurannya yang amat kecil dibandingkan dengan senjata-senjata keris pada umumnya, keris kyai medi pun sama sekali tidak tajam.

Namun meskipun demikian, Danu Umbara menurut saja. Diselipkannya keris itu di pinggang, lalu dikenakannya cincin itu. Dan....

Danu Umbara tersentak kaget. Mendadak saja angin kencang mengelilingi tubuhnya dan mampu membuat dedaunan pohon beringin di atasnya seperti dilanda badai topan. Perlahan-lahan tubuh pemuda itu terangkat sehingga dia mampu berdiri tegak. Darahnya mengalir dengan kencang, dan demikian pula halnya dengan detakan jantungnya. Tangannya perlahan-lahan merayap di sekujur tubuhnya dengan diiringi hawa panas yang berputar-putar dari bawah perut dan terus menjalar di seluruh bagian tubuhnya.

"Anak muda, kini aku telah menyusup di tubuhmu. Keris Kyai Medi dan cincin itu adalah dua buah senjata pusaka yang menjadi kekuatan sekaligus kelemahanmu. Kau harus mendapatkan korban agar tenagamu berlipat ganda dengan menusukkan kedua taring cincin itu. Dia tidak akan terlepas sebelum darah korban terhisap habis. Bila dalam tiga hari kau tidak mendapatkan korban, maka kau yang akan celaka. Sedangkan keris itu adalah naasmu. Kau akan mati oleh keris Kyai Medi. Oleh sebab itu keris Kyai Medi tidak boleh berada jauh-jauh darimu dan kau harus menyimpannya dengan hati-hati...," kata bisikan itu kembali.

"Huh, aku tidak peduli apa pun syarat-syarat-nya! Yang penting dendamku harus terbalaskan!" dengus Danu Umbar sambil melangkah pelan meninggalkan tempat itu.

Pemuda itu merasakan betul bahwa tenaganya telah pulih sama sekali. Bahkan kini dia merasa sangat kuat. Tubuhnya ringan ketika melangkah. Bahkan ketika dia mencoba bangkit, terasa sapuan angin kencang yang mendorong tubuhnya bagai melayang-layang!


***


Angin bertiup semilir menerpa kedua penunggang kuda yang memacu kudanya lambat-lambat. Mereka adalah sepasang muda-mudi yang berparas tampan dan cantik. Yang seorang berambut panjang terurai mengenakan baju yang terbuat dari kulit harimau dan di tangan kanannya melekat sebuah cakra segi enam. Pemuda tampan itu tak lain dari Bayu Hanggara yang lebih dikenal dengan nama julukan Pendekar Pulau Neraka. Dan gadis cantik berbaju merah muda di sebelahnya adalah Wulandari yang banyak dikenal dunia persilatan sebagai Dewi Maut.

"Senang sekali bisa bepergian lagi denganmu, Kakang...," kata gadis itu pelan sambil tersenyum dan memandang wajah pemuda di sebelahnya itu. Bayu ikut-ikutan tersenyum sambil menyahut pelan.

"Aku pun senang kau sudah sehat kembali...."

"Kakang, ceritakanlah bagaimana pengalamanmu bepergian tanpa aku...!"

"Tidak ada yang istimewa. Aku merasa sepi...!"

"Bohong!" potong gadis itu cepat.
"Kenapa aku musti berbohong!"

"Bukankah lebih senang bisa bepergian sendiri tanpa ku temani? Kau bisa berkenalan dengan gadis cantik, dan...," gadis itu tidak meneruskan kata-katanya melainkan melirik pemuda itu sambil tersenyum menggoda.

"Lalu...?"

"Yaaah, yang jelas pasti senang!" sahut Wulandari enteng sambil memalingkan wajah.

"Bisa jadi...."
"Nah, betulkan?!" sentak Wulandari sambil memandang pemuda itu dengan sorot mata menuduh.

"Betul kenapa?" tanya Bayu santai.

"Iya, kau senang bepergian tanpa aku karena bebas bisa menggoda gadis-gadis cantik!" sahut Wulandari sedikit kesal.

"Hm, untuk apa menggoda mereka? Kau pasti lebih cantik dibandingkan gadis mana pun di dunia ini...," sahut Bayu memuji.

"Bohong...!"

"Jadi kau ingin aku mengatakan bahwa kau gadis paling terjelek dari semua gadis di dunia ini?"

Wulandari diam tidak menjawab. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa menandakan hatinya yang cemburu bercampur kesal.

"Sudah, jangan begitu. Nanti kau sakit lagi...," bujuk Bayu.
"Biar!"
"Hm, kalau sakit memang tidak apa, tapi kalau wajahmu cemberut begitu mana bisa dikatakan cantik...," lanjut Bayu.
"Biar...!" sentak Wulandari ketus tanpa menoleh.
"Ya sudah, kalau memang begitu...," sahut Bayu seenaknya.

Keduanya kembali berdiam diri untuk beberapa saat lamanya. Dan ketika mereka sampai di mulut sebuah desa, keduanya berhenti sejenak.

"Hm, desa ini lengang seperti dipekuburan...!" desis Bayu pada diri sendiri.

"Kakang, coba lihat! Banyak darah berceceran!" Wulandari menunjuk pada tanah yang berada di depannya.

Bayu melompat turun dan memeriksa ceceran darah yang telah kering dan membeku.

"Darah apa ini, Kakang?" tanya Wulandari yang telah berada di sebelahnya seolah telah melupakan kejengkelan hatinya tadi.

"Entahlah...," sahut Bayu lemah sambil menggelengkan kepala.

Pemuda itu berjalan pelan memasuki desa yang sepi seperti tidak berpenghuni itu. Sepanjang jalan banyak mereka temui darah-darah kering dan beku berceceran. Dan semakin mereka melangkah ke depan, terlihat banyak sekali rumah-rumah yang hancur dan porak-poranda.

"Sepertinya ada sesuatu yang hebat merusak desa ini...," gumam Bayu.

"Hm.... Agaknya darah-darah itu berasal dari penduduk desa ini, Kakang...," kata Wulandari pelan.

"Ya, sepertinya ada kawanan perampok atau semacam itu yang memporak-porandakan dan membunuh penduduk desa ini," timpal Bayu menduga-duga apa yang telah terjadi di desa ini.

"Kakang...!" sentak Wulandari sambil memandang ke satu arah.
"Ada apa?"
"Aku melihat seseorang berkelebat cepat di balik rumah-rumah itu!" tunjuk Wulandari.

Baru saja gadis itu selesai berkata, Bayu telah melompat mengejar diikuti oleh Wulandari dari belakang. Seorang pemuda tanggung berusia sekitar lima belas tahun dengan tubuh kurus, berlari-lari kecil masuk ke dalam sebuah rumah, dan menyembunyikan diri di bawah sebuah balai-balai reot. Wajahnya pucat ketakutan dengan napas turun naik tidak karuan. Jantungnya seperti berhenti berdetak ketika dilihatnya sepasang kaki manusia berdiri persis di depannya.

"Keluarlah kau atau aku musti memaksamu keluar...!" terdengar seseorang berkata dengan suara mengancam. Pemuda tanggung itu menggigil tubuhnya dan diam tidak bergerak. Tubuhnya tersentak ke belakang membentur dinding ketika balai-balai diangkat ke atas dan tersingkaplah persembunyiannya. Pemuda tanggung itu mendekap kepalanya ke bawah dengan kedua kaki ditekuk.

"Ampuuun...! Jangan bunuh aku..., jangan bunuh aku...!" katanya dengan suara lirih.

"Tidak ada yang membunuhmu. Kami berdua hanya kebetulan lewat saja," jawab Bayu pelan.

"Siapakah kau...?" tanya orang itu dengan suara halus.

Mendengar suara itu, si pemuda mendongakkan kepala dan melihat sepasang muda-mudi yang tadi dilihatnya berada di tengah desa ini.


***


"Jangan takut Kami tidak akan menyakitimu. Namaku Bayu, dan ini kawanku, Wulandari...," kata pemuda berbaju kulit harimau itu ramah.

Pemuda tanggung itu masih diam tidak bicara. Bola matanya masih memandang keduanya dengan takut Kemudian dengan cepat dia menunduk kembali.

"Siapa namamu dan apa yang telah terjadi di desa ini?" tanya Bayu dengan suara halus.

"Kakang, kelihatannya dia ketakutan...," kata Wulandari.
"Adik, jangan takut. Kami tidak akan menyakitimu..," lanjut Bayu sambil berjongkok dan menepuk pundak pemuda tanggung itu.

Pemuda tanggung itu agak tenang. Kembali dia memandang kedua muda-mudi itu agak lama.

"Siapa namamu...?" tanya Wulandari lembut sambil ikut berjongkok di sebelah Bayu.

"Apa..., apakah kalian bukan kawan kawannya Perampok Tangan Darah itu...?" tanya si pemuda tanggung dengan suara gemetar.

"Perampok Tangan Darah? Siapa mereka? Baru sekali ini kami mendengarnya," sahut Wulandari heran.

"Mereka… Mereka merampok dan membunuh serta memperkosa wanita-wanita di desa ini...," sahut anak itu lirih dengan wajah sedih.

"Jahanam keparat! Di mana mereka sekarang?!" sentak Wulandari geram.

Melihat wajah gadis itu kelihatan geram dan marah terhadap Perampok Tangan Darah yang di ceritakannya, pemuda tanggung itu semakin berani saja bercerita karena dianggapnya kedua orang itu sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Perampok Tangan Darah yang amat ditakutinya.

"Aku tidak tahu di mana berada. Tapi kudengar-dengar ketuanya bernama Ki Rantek dan seorang muridnya bernama Aria Denta...," sahut pemuda tanggung itu.

"Hm, sungguh keji perbuatan mereka. Orang seperti itu memang harus dihajar!" desis Wulandari kembali dengan wajah geram dan kedua tangannya terkepal erat-erat.

"Adik, siapakah namamu dan di mana orang tuamu...?" tanya Bayu.

"Namaku Prasetya, dan kedua orangtua ku telah dibunuh mereka. Kini aku hidup sebatang kara...," sahut pemuda tanggung dengan nada lirih.

Prasetya menatap kedua orang itu dengan seksama, kemudian melanjutkan kata-katanya dengan suara penuh harap.

"Maukah kalian menolongku...?"
"Apa yang bisa kami tolong...?" tanya Bayu.
"Menghancurkan Perampok Tangan Darah itu...."

"Prasetya, kau tidak usah khawatir. Tanpa kau minta pun kami bermaksud menghancurkan perampok keparat itu setelah apa yang mereka lakukan terhadap desa ini!" sahut Wulandari cepat sebelum Bayu buka suara.

"Oh, sungguhkah...?!" sahut Prasetya dengan bola mata berbinar-binar. Wulandari mengangguk cepat.

"Nah, jagalah dirimu baik-baik. Kami akan mencari Perampok Tangan Darah yang biadab itu dan menghancurkan mereka!" lanjut Wulandari sambil bangkit berdiri dan mengajak Bayu berlalu dari tempat itu.

"Oh, terima kasih. Terima kasih atas kesediaan kalian. Aku akan berdoa mudah-mudahan kalian selamat dan mampu menghancurkan perampok itu!" sahut Prasetya gembira.

Wulandari dan Bayu tersenyum. Mereka segera keluar dari rumah itu. Langkah keduanya terhenti ketika mereka baru saja beberapa langkah. Tujuh orang laki-laki yang masing-masing memegang senjata berupa golok, pentungan, dan berbagai macam senjata lainnya telah menghadang. Wajah mereka jelas menunjukkan rasa permusuhan.

"Berhenti! Hari ini kami telah bersumpah akan membunuh kalian berdua...!" bentak salah seorang di antara mereka garang.

"Kisanak, siapa kalian dan apa yang kalian bicarakan? Seingatku di antara kita tidak ada saling permusuhan. Kenapa kalian bicara seolah-olah menyimpan dendam kesumat terhadap kami?" tanya Bayu dengan sikap tenang.

"Jangan-banyak bicara! Kalian pasti salah satu dari mereka yang ingin kembali untuk meratakan desa kami ini!" desis orang itu tidak peduli dengan apa yang diucapkan Bayu.

Salah seorang kawannya yang lain malah tidak mampu menahan sabar dan sudah langsung menghunuskan goloknya menyerang kedua orang di hadapannya.

"Huh, banyak mulut! Lebih baik kalian mampus...!"

"Uts...!"
Plak!
Gusrak!

Orang itu sama sekali tidak memiliki dasar ilmu silat yang baik sehingga serangannya terkesan serampangan. Dengan mudah Bayu mengelak sambil memiringkan sedikit kepalanya. Sementara bersamaan dengan itu sebelah kakinya mengait kaki lawan hingga jatuh terjerembab. Beberapa orang kawannya terkejut dan bertambah marah. Dengan serentak mereka maju menyerang kedua orang itu. Namun sebelum mereka bertindak lebih jauh, terdengar seseorang berteriak nyaring.

"Tahaaan...!"

"Hei, Prasetya! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya salah seorang di antara mereka yang hendak mengeroyok Bayu dan Wulandari.

"Ki Sugeng, jangan memusuhi mereka. Mereka bukanlah kawanan perampok-perampok itu!" teriak orang yang baru muncul yang tidak lain dari Prasetya.

"Hm, bagaimana kami bisa percaya?" dengus orang yang pertama berbicara pada Pendekar Pulau Neraka tadi.

"Mereka kawanku dan akan menghancurkan para perampok itu. Percayalah, Ki. Mereka orang baik!" jelas Prasetya meyakini mereka.

"Hm...," laki-laki bertubuh sedang dengan kumis tebal yang dipanggil Sugeng itu mendengus pelan.

"Kisanak, kalian boleh percaya. Kami sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kawanan perampok itu. Bahkan kalau kalian percaya, kami bermaksud menyatroni sarang mereka," sahut Bayu pelan sambil menaiki punggung kudanya diikuti Wulandari.

"Hm, kau pikir kami akan percaya dengan omonganmu begitu saja?!" dengus Sugeng sinis dan tetap curiga.

Sementara kawan-kawannya yang lain bersiap dengan menjaga-jaga segala kemungkinan agar kedua orang itu tidak bisa kabur seenaknya.

"Kau boleh percaya karena yang bicara denganmu adakah Pendekar Pulau Neraka dan...!" sahut Bayu mulai kesal dan langsung menghela kudanya kencang-kencang dari tempat itu.

"Hei...?!" Sugeng tersentak kaget dengan wajah tidak percaya mendengar kata-kata terakhir pemuda itu.

"Kenapa, Ki?" tanya seorang kawannya dengan nada heran.

"Pantas! Lima kali lipat dari jumlah ini pun tidak akan mampu menghalangi keduanya. Mereka pendekar hebat, dan aku yakin di tangan keduanya kawanan Perampok Tangan Darah akan mampu dihancurkan. Sayang, kita tidak sempat meminta maaf...," desah Sugeng sambil memandang ke arah di mana kedua orang muda-mudi itu telah menghilang dari pandangan!


***


EMPAT

Bayu dan Wulandari memperlambat lari kuda mereka setelah jauh dari desa yang mereka lalui tadi. Wajah Wulandari tampak kesal. Terasa betul kejengkelan hatinya akibat sikap orang-orang tadi.

"Orang-orang seperti itu membuatku muak. Kalau saja tidak ingat penderitaan yang mereka alami, ingin rasanya kuhajar orang-orang itu!" dengusnya geram.

"Sudahlah, bukankah mereka tidak mengetahuinya...," sahut Bayu menghibur.

"Iya, tapi seharusnya mereka kan bisa tanya atau bagaimana. Tidak langsung main tuduh!"

"Mereka baru saja mengalami kejadian yang amat mengerikan. Sudah pasti kecurigaan mereka membabi-buta begitu melihat orang asing yang membawa senjata di desa mereka," jelas Bayu.

"Huh, aku tidak peduli!"

Bayu tertawa pelan. Wulandari sudah hendak marah pada pemuda itu ketika mendadak muncul tiga sosok tubuh menghadang mereka dengan menunggang kuda. Langsung keduanya menghentikan langkah mereka dan menatap ketiga penghadang berwajah seram itu dengan sikap tenang.

"Kisanak, siapakah kalian dan ada urusan apa menghadang perjalanan kami?" tanya Bayu berusaha menahan perasaan hatinya ketika dia men-oba mengambil jalan lain, namun ketiga orang itu seperti sengaja mengikuti dengan sikap menghadang.

"Kakang, tidak usah banyak bicara lagi. Sudah jelas mereka ingin mencari gara-gara. Biar kuhajar saja!" gerutu Wulandari geram.

Tapi sebelum gadis itu berbuat apa-apa, ketiga orang penghadang itu tertawa keras.

"Ha ha ha...! Sungguh galak gadis cantik ini. Tapi dengan sikapnya itu semakin membuatku gemas dan ingin cepat-cepat mendekapnya!" kata salah seorang di antara mereka yang bertubuh besar dan bercambang bauk tebal di wajahnya.

"Bangsat kotor, tutup mulutmu...!" bentak Wulandari sambil melompat turun dari kudanya dan langsung menyerang orang itu dengan geram.

"Jaka Sunggring, diamlah kau biar kutangkap gadis liar ini untukmu!" sahut kawannya yang bertubuh kurus sambil melompat memapaki serangan Wulandari.

"Hati-hati, Delangu! Jangan sampai dia lecet ditanganmu!" kata orang bercambang bauk yang dipanggil Jaka Sunggring itu.

Melihat Wulandari bertindak demikian, Bayu mendiamkan saja sambil memperhatikan dengan seksama dan menarik napas pendek.

"Yeaaah...!"
"Uhhh...!"

Kepalan tangan kiri Wulandari menderu menghantam batok kepala Delangu. Namun laki-laki kurus berusia sekitar dua puluh tujuh tahun itu dengan gesit mengelak. Dia bermaksud mempermainkan gadis itu dengan menundukkan kepala dan hendak mencengkeram dada Wulandari.

Namun alangkah kagetnya dia ketika dengan tiba-tiba kaki kanan gadis itu menghajar bagian bawah perutnya. Dengan cepat Delangu mengelak ke samping. Tapi Wulandari cepat memutar tubuh dan mengayunkan kaki kirinya menghajar dada lawan.

"Begkh!"
"Aaakh...!"

Delangu menjerit keras ketika merasakan dadanya seperti mau pecah menerima tendangan yang kerasnya bukan main. Tubuhnya sampai terjungkal dengan darah menetes di sudut bibirnya.

"Hiyaaa...!"

Belum lagi dia sempat memperbaiki kedudukannya, Wulandari telah melompat menyerangnya kembali dengan satu tendangan bertenaga kuat.

"Delangu, awas kau!" bentak Jaka Sunggring sambil melompat memapaki serangan Wulandari untuk menyelamatkan kawannya itu.

Srak!
Trang!

Jaka Sunggring langsung mencabut senjatanya berupa clurit yang berukuran panjang dan menyambar kaki gadis itu. Wulandari buru-buru mencabut pedang tipis dari pinggangnya untuk menangkis senjata lawan seraya menekuk kakinya yang tadi terentang.

Wut!
Des!
"Aaakh...!"

Jaka Sunggring menjerit keras ketika ujung kaki kiri lawan menghantam dadanya. Ketika senjata mereka tadi beradu, Jaka Sunggring mengeluh kesakitan merasakan telapak tangannya perih. Namun begitu dia masih sempat menundukkan kepala ketika ujung pedang lawan menyambar ke arah leher. Tubuhnya melompat ke belakang untuk menghindari serangan lawan berikutnya. Namun tubuh Wulandari telah melompat tinggi sambil mengayunkan kaki kirinya ke dada lawan.

Jaka Sunggring terjungkal beberapa langkah dari tempatnya berdiri tadi. Dan Wulandari seolah tidak mau memberi kesempatan pada lawannya, tubuhnya langsung berjumpalitan untuk menghabisi lawan. Melihat keadaan kawannya yang kritis, Delangu dan seorang kawannya yang satu lagi langsung melompat menyerang Wulandari.

"Betina liar, mampuslah kau...!" bentak mereka sambil menghunuskan senjatanya.

"Wulan, biar kubereskan mereka! Kau hajar saja bagianmu yang bermulut kotor itu!" teriak Bayu sambil melompat dari punggung kudanya dengan gerakan indah untuk menahan serangan kedua lawan yang akan menghajar Wulandari.

"Mampus...!"
"Uts...!"
"Hiiih...!"


***


Bayu memancing serangan keduanya dengan mengayunkan kaki ke arah keduanya. Serta-merta mereka mengayunkan senjata memapak kaki pemuda itu. Saat itu Bayu menarik pulang tendangannya, dan kaki kirinya yang satu lagi menotol bumi sehingga tubuhnya terangkat ke atas dengan ringan sambil berjumpalitan. Bersamaan dengan itu sebelah kakinya menghajar wajah kedua lawannya secara bersamaan.

Des!
"Aaakh...!"

Kedua orang itu terjungkal sambil menjerit kesakitan. Yang seorang hidungnya patah dan mengucurkan darah, sedang yang seorang lagi dua buah giginya tanggal. Mereka berusaha bangkit dengan amarah yang meluap-luap. Dengan senjata terhunus mereka menyabet tubuh lawan secara bersamaan. Namun dengan gesit tubuh Bayu meliuk-liuk menghindari tebasan senjata lawan.

Tubuhnya berputar cepat sambil mengayunkan satu tendangan keras menghantam dada kedua lawannya. Mereka menjerit kesakitan dengan tubuh terjungkal beberapa tombak. lsi dada mereka seperti mau meledak menerima tendangan yang kerasnya luar biasa. Beberapa kali mereka memuntahkan darah segar.

"Bangkitlah...," kata Bayu sambil memandang mereka dengan seksama.

Kedua orang itu tersentak kaget. Entah bagai-mana caranya pemuda itu telah tegak berdiri di depan mereka.

"Ayo, bangun! Bukankah kalian hendak menghabisiku?" tanya Bayu dingin. Belum sempat mereka berkata sepatah kata pun mendadak terdengar jeritan keras.

"Aaakh...!"

Tubuh Jaka Sunggring bergulingan sambil menahan rasa sakit, dan berhenti persis di samping kedua kawannya itu. Di dadanya terlihat luka goresan memanjang yang cukup dalam akibat sabetan senjata Wulandari. Sedangkan senjatanya sendiri telah lepas dari genggaman. Orang itu berusaha bangkit namun ujung kaki Wulandari dengan cepat menghantam perutnya.

Duk!
"Hokh...!"

Jaka Sunggring tergeletak dalam keadaan tengkurap dan mendekap perutnya yang mau meledak akibat tendangan gadis itu.

"Siapa kalian dan ada urusan apa mencegat perjalanan kami?!" bentak Wulandari galak sambil menjambak rambut Jaka Sunggring.

"Aaa..., ampun, ampuni kami, Nisanak...." lirih suara Jaka Sunggring dengan wajah pucat ketakutan.

Plak!
"Aaakh...!"

Jaka Sunggring menjerit keras ketika sebelah tangan gadis itu menampar pipinya dengan keras, sehingga terlihat sudut bibirnya pecah dan berdarah.

"Itu hadiah atas mulut kotormu tadi. Sekarang katakan siapa kalian sebelum aku hilang kesabaran dan mencabut nyawa kalian!" bentak Wulandari geram.

"Eh, kami..., kami..."

"Cepaaat!" teriak Wulandari menggeledek.

Ketiga orang itu tersentak kaget. Dan wajah mereka pucat ketakutan melihat kegalakan gadis itu. Jaka Sunggring menelan ludah sebelum menyahut.

"Kami..., kami kawanan Perampok Tangan Darah...," sahutnya terbata-bata.

"Hm, Perampok Tangan Darah? Bagus!" Wulandari mendengus geram ketika mendengar jawaban itu.

Des!
"Wuaaa...!"

Dengan menyebutkan nama itu mereka berharap kedua orang itu akan takut dan segera pergi ketakutan. Tapi, bagi mereka sama sekali tidak menyangka ketika gadis galak itu mengayunkan tendangan beruntun sehingga ketiga orang itu terjungkal sambil memekik kesakitan.

"Perampok Tangan Darah keparat! Dicari-cari kalian tidak bertemu tapi siapa sangka kalian malah datang tanpa diminta! Hajaran itu belum seberapa dibanding perbuatan kalian yang bejad terhadap orang-orang desa!" desis Wulandari dengan kemarahan yang meluap-luap.

Sebelum ketiganya bangkit, gadis itu telah kembali melompat dan menghajar ketiganya habis-habisan sehingga mereka kembali menjerit-jerit kesakitan tanpa bisa melakukan perlawanan yang berarti.

Sring!

"Sekarang lebih baik kalian mampus saja...!" desis Wulandari sambil mencabut pedangnya dan bermaksud menghabisi ketiga lawannya yang telah tidak berdaya itu.

"Wulan, tahan...!" sentak Bayu sambil menangkap pergelangan tangan gadis itu.

"Lepaskan, Kakang! Biar kubereskan mereka sekarang juga!" sentak gadis itu berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan Bayu.

"Dengar dulu! Bila kau bunuh mereka kita cuma mendapat tiga orang. Tapi kalau kita paksa mereka menunjukkan sarangnya, maka kita akan mendapatkan seluruh kawanan itu. Bila kau bunuh mereka sekarang, maka sulitlah bagi kita untuk menumpas mereka seluruhnya. Nah, kau mengerti maksudku?"

Wulandari terdiam mendengar kata-kata itu. Meskipun hatinya geram, tapi dia mengakui bahwa apa yang dikatakan Bayu memang benar. Dia menghampiri ketiga laki-laki itu sambil menghunus ujung pedangnya ke arah Jaka Sunggring.

"Katakan di mana kawan-kawanmu yang lain kalau kau ingin selamat?! Kalau tidak kau akan mampus sekarang juga!" dengus Wulandari sambil menempelkan ujung pedangnya ke leher lawan.

"Ka..., kalian pasti akan celaka bila bertemu dengan mereka...," sahut Jaka Sunggring.

"Aku tidak butuh peringatanmu! Katakan di mana kawan-kawanmu berada?" desis Wulandari sambil menekan ujung pedangnya agak kuat

"Ba..., baiklah. Me..., mereka berada di Lembah Kematian di sebelah selatan Gunung Dieng...," sahut Jaka Sunggring dengan wajah pucat ketakutan.

"Bagus! Sekarang jalan! Ayo, jalan...!" bentak Wulandari menggiring mereka. Wulandari menyuruh mereka berjalan lebih dulu sementara dia dan Bayu mengikuti dari belakang dengan berkuda.

"Bila kalian coba-coba kabur, maka pedangku tidak akan kenal ampun terhadap kalian!" ancam gadis itu lagi mengingatkan.

Ketiga orang itu bergidik ngeri. Melihat sepak terjang kedua orang itu, mereka bisa merasakan bahwa tak seorang pun dari mereka yang mampu melarikan diri. Bukan saja tenaga kedua muda-mudi itu sangat hebat, tapi mereka bertiga tak mau menanggung akibatnya untuk coba melarikan diri.



***


Lembah Kematian yang berada di sebelah selatan Gunung Dieng adalah suatu tempat yang agak tersembunyi dan dikelilingi bukit-bukit yang berdinding lekuk-lekuk. Di dinding bukit-bukit kecil itu banyak terdapat goa-goa yang merupakan tempat tinggal kawanan Perampok Tangan Darah yang dipimpin Ki Rantek.

Sementara di depan dinding-dinding itu sendiri dihadang oleh hutan-hutan lebat dengan pepohonannya yang besar serta berumur ratusan tahun. Selama ini tidak ada seorang pun yang berani memasuki wilayah itu, sebab mereka yang ke sana tidak ada seorang pun yang pernah kembali dengan selamat.

Lembah Kematian yang selama ini lengang, hari ini terlihat ada keramaian. Ki Rantek dan anak buahnya terlihat sedang mengadakan pesta-pora atas keberhasilan mereka merampok iring-iringan pedati yang membawa barang-barang berharga. Namun bukan hanya karena itu saja yang membuat mereka mengadakan pesta besar-besaran melainkan karena hari ini sedang berlangsung perkawinan antara Aria Denta, murid Ki Rantek satu-satunya dengan Kusumawardani, murid tunggal Nyai Dasih Malela.

Seperti diketahui, Nyai Dasih Malela adalah seorang perampok wanita yang memiliki kepandaian tinggi dan sepak terjangnya amat kejam. Ki Rantek berharap dengan adanya ikatan perkawinan di antara murid mereka, maka kedudukannya akan semakin kuat dan kawanan Perampok Tangan Darah akan lebih disegani.

Tidak heran jika dia merasa sangat bergembira melihat perjodohan itu. Kusumawardani yang berwajah cantik dengan pakaian seronok itu tentu saja memiliki kepandaian hebat dan bisa diandalkan, jika mereka telah bergabung dalam kelompoknya.

"Selamat atas perkawinan Aria Denta dan Kusumawardani...!" teriak salah seorang anak buah Ki Rantek sambil mengangkat secawan anggur ke atas.

"Hidup Ki Rantek...!" lanjut yang lainnya.
"Hidup Nyai Dasih Malela...!" timpal seorang lagi.

"Hidup Perampok Tangan Darah...!" sambut yang lainnya.
"Hi hi hi...! Anak-anak buahmu sungguh bersemangat sekali, Ki Rantek...!" puji Nyai Dasih Malela.

"Ya, mereka memang sudah lama menantikan saat-saat seperti ini. Silakan diminum anggurnya, Nyai...!"

"Silakan!" kata Nyai Dasih Malela sambil mengangkat cawan berisi anggur.
"Mari, Nyai...!" sahut Ki Rantek ikut mengangkat cawan anggur.

Melihat hal itu semua anak buah Ki Rantek pun melakukan hal yang sama untuk menghormati wanita tua itu.

"Dan sekali lagi untuk kedua mempelai...!" lanjut Ki Rantek mengangkat cawannya ditujukan kepada Aria Denta dan Kusumawardani.

"Mudah-mudahan mereka hidup bahagia sampai kakek dan nenek...!" timpal Nyai Dasih Malela.
"Hidup Aria Denta...!" teriak seseorang.
"Hidup Kusumawardani...!" timpal seorang lagi.
"Hidup keduanya...!" sambung seorang lagi.

Kemudian bersama-sama mereka minum anggur yang ada di dalam cawan masing masing. Beberapa orang anak buah Ki Rantek menari-nari diiringi tepuk tangan kawan-kawannya. Ki Rantek dan Nyai Dasih Malela tersenyum-senyum melihat hal itu.

"Anak-anak buahmu tampaknya amat setia padamu, Ki Rantek...," puji Nyai Dasih Malela.
"Ya, begitulah. Mereka bahkan tidak segan-segan mengorbankan nyawa demi menuruti perintahku," sahut Ki Rantek bangga.
"Hm, hebat sekali!"

Ki Rantek tersenyum-senyum kecil.

"Apa rencanamu setelah ini selesai...?" tanya Nyai Dasih Malela.
"Belum kupikirkan..., eh, apa maksudmu dengan rencana itu?" tanya Ki Rantek seperti sadar ada maksud tersembunyi dari wanita tua itu.

Nyai Dasih Malela tersenyum tipis. Kemudian kembali dia melanjutkan kata-katanya.

"Bukankah dengan perkawinan muridmu dan muridku, maka kedudukan kita akan semakin kuat?"

"Hm, apakah dengan begitu berarti kau ingin bergabung dalam kelompokku?" tanya Ki Rantek penuh selidik.

"Tepatnya membantumu, tapi..., apakah kau merasa keberatan?"
"Tentu saja tidak!"
"Aku punya rencana hebat...," sahut Nyai Dasih Malela sambil tersenyum.
"Rencana apa, Nyai...?"
"Kita akan merampok rumah-rumah bangsawan kerajaan!"
"Tapi, Nyai..., itu sangat berbahaya!" sahut Ki Rantek kaget.
"Apakah kau takut?"

"Aku tidak ingin mengorbankan jiwa anak buahku. Umumnya rumah-rumah para bangsawan dijaga ketat oleh lebih dari dua puluh orang prajurit!"

"Serahkan soal itu padaku! Dan kalian bereskan barang-barang berharganya. Kita akan mendapat barang berharga yang banyak sekali. Asal harus ingat! Bagianmu dan bagianku harus adil!"

Ki Rantek berpikir sejurus lamanya sebelum mengangguk setuju. Wajah Nyai Dasih Malela tampak gembira melihat sikap Ki Rantek. Bersama-sama mereka kembali minum anggur. Saat mereka tengah menikmati minuman yang memabukkan itu, mendadak saja mereka dikejutkan dengan terdengarnya suara jerit kesakitan salah seorang anak buah Ki Rantek yang begitu panjang dan melengking tinggi.

"Aaa...!"

"Heh...?! Ada apa itu...?!" Ki Rantek cepat melesat, dan....


***


LIMA

Pesta itu seketika terhenti oleh jeritan tersebut. Ki Rantek tersentak kaget ketika melihat sesosok tubuh anak buahnya melayang persis di kakinya. Tubuhnya pucat dengan kulit yang membusuk dan terus meleleh perlahan-lahan. Orang tua itu lekas bangkit dari duduknya sambil membentak garang.

"Kurang ajar...! Siapa yang berani melakukan hal ini?!" bentak Ki Rantek garang sambil mengedar pandangan ke sekeliling tempat itu.

"Aku...!" sahut satu suara pelan yang diikuti melesatnya dua sosok tubuh di hadapan Ki Rantek dan Nyai Dasih Malela.

Ki Rantek sedikit kaget melihat begitu cepat kedua sosok tubuh itu telah berada di hadapannya. Mereka adalah seorang pemuda berwajah tampan dengan sinar mata berkilau menyeramkan. Pakaian kuning yang dikenakannya agak keemasan dan terbuat dari sutera halus. Pada salah satu jari tangan kanannya terdapat sebentuk cincin yang amat menyolok bergambar kepala tengkorak manusia dengan dua buah gigi taring melengkung keluar bagai tanduk banteng!

Di sebelah pemuda itu tampak seorang gadis manis berusia sekitar dua puluh tahun memakai baju warna putih. Wajahnya tampak pucat ketakutan. Hal itu menimbulkan keanehan bagi Ki Rantek dan yang lainnya. Orang tua itu memberi isyarat pada anak buahnya agar tidak bertindak lebih dulu. Di pandanginya pemuda itu dengan seksama. Demikian juga halnya dengan Aria Denta. Dia bangkit dari kursinya dan menghampiri pemuda itu dengan wajah penasaran sebab dia seperti merasa pernah melihat pemuda itu sebelumnya.

"Siapa kau? Rasanya wajahmu tidak asing bagiku?" tanya Aria Denta dengan sikap curiga.

"Hm, bagus kau masih mengenaliku. Akan lebih memudahkan pekerjaanku nantinya," sahut pemuda berbaju kuning keemasan itu dingin. Kemudian terlihat pemuda itu memandang tajam ke arah Ki Rantek.

"Kaukah yang bernama Ki Rantek?" tanyanya dingin.

"Hm, ya. Ada urusan apa kau mengacau pestaku ini?" tanya orang tua itu kurang senang.

"Oh, jadi kau sedang mengadakan pesta perkawinan muridmu? Sungguh kebetulan!" dengus pemuda itu dengan nada geram.

"Apa maksudmu, Anak Muda? Bicaralah yang benar kalau tidak kau akan menyesal sendiri nantinya!" sentak Ki Rantek mengancam.

Mendengar ancaman itu bukannya pemuda itu menjadi takut dan ciut nyalinya. Pemuda itu malah tertawa dengan suara menggelegar, sehingga membuat kaget mereka yang hadir di tempat itu.

"Hua ha ha...! Hari ini adalah pembalasan yang akan kau terima dariku! Hari ini adalah kematian yang mengerikan bagi kalian! Hari ini akan kulebur menjadi rata dengan tanah kawanan Perampok Tangan Darah...!"

"Kurang ajar! Bunuh orang sinting ini!" bentak Ki Rantek sembari memberi perintah pada anak buahnya.

Saat itu juga seluruh anak buahnya mengepung dua orang itu dengan sikap waspada. Pemuda berbaju kuning keemasan itu sama sekali tidak mempedulikannya.

"Ki Rantek, kenalkah kau dengan Nyai Ningsih Herang?" tanya pemuda itu dingin.
"Apa maksudmu?"
"Wanita yang kau cintai puluhan tahun lalu dan akhirnya pergi meninggalkanmu karena perbuatanmu yang keji dan tidak juga mau insaf-insaf. Aku tahu kau masih mencintainya sampai saat ini...."

"Tutup mulutmu! Tahu apa kau tentang masa silamku!" dengus Ki Rantek mulai naik darah.
"Aku tahu banyak tentangmu. Ketahuilah bahwa wanita itu kini telah tewas di tanganku!" dingin suara pemuda itu ketika mengatakan demikian.
"Apa?!" kedua bola mata Ki Rantek tampak semakin besar mendengar kata-kata pemuda itu.
"Sebelum dia pergi meninggalkanmu, wanita itu mengandung anakmu dan gadis yang bersamaku inilah darah dagingmu. Maaf, dia nakal sekali sehingga terpaksa aku menotoknya begini rupa agar dia tidak melarikan diri dan tidak berteriak-teriak...," kata pemuda itu sambil tersenyum mengejek.

"Keparat! Lepaskan putriku...!" bentak Ki Rantek semakin garang.
"Ha ha ha...! Tentu saja kulepaskan bila saatnya telah tiba...!" sahut pemuda berbaju kuning keemasan itu sambil tertawa dengan suara menyeramkan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Ki Rantek mulai curiga.

"Ingatkah kau pada peristiwa seminggu yang lalu? Pembantaian yang kalian lakukan di Desa Ngampar Cai? Saat itu sebuah keluarga yang tengah melangsungkan pesta perkawinan kalian aniaya dan kalian perkosa istri, ibu, serta mertuaku dengan keji dan laknat. Kalian adalah binatang keparat! Dan hari ini pembalasan itu akan tiba. Aku bersumpah demi langit dan bumi, akan mencincang tubuh kalian untuk kujadikan santapan serigala-serigala kelaparan. Aku Danu Umbara, akan merencah kalian menjadi serpihan kecil yang nista...!" sahut pemuda itu dengan suara menggelegar penuh raungan kemarahan dan dendam yang berkobar-kobar.

"Apa? Kau..., kau...? Tidak mungkin! Kau sudah mati...!" sentak Aria Denta terkejut mendengar kata-kata pemuda bernama Danu Umbara itu.

"Hua ha ha...! Pemuda keparat! Kau akan mendapat giliranmu sebentar lagi...!" dengus Danu Umbara sambil tertawa panjang.

"Bunuh dia! Bunuh dia...!" teriak Aria Denta panik sambil berteriak keras.

"Yeaaah...!"

Serentak dengan itu seluruh anak buah Ki Rantek yang sejak tadi telah bersiaga, melompat menyerang pemuda itu dengan cepat.


***


"Hiyaaa...!"

Danu Umbara membentak nyaring sambil membalikkan tubuhnya menyambut serangan lawan. Dari telapak tangan kirinya menderu angin kencang dan sinar kuning yang menghantam para pengeroyoknya itu.

Des!
"Aaakh...!"

Para pengeroyoknya memekik kesakitan dengan tubuh ambruk terjungkal seperti di hantam pukulan keras. Tubuh mereka berguling-gulingan sambil menggaruk-garuk seluruh bagian tubuhnya dan terus menjerit keras.

"Celaka! Dia menggunakan pukulan beracun!" desis Ki Rantek kaget.

Sisa-sisa anak buah Ki Rantek langsung menerjang ke arah pemuda itu dengan kalap. Namun seperti tadi, mereka pun akhirnya mengalami nasib yang sama seperti kawan-kawannya.

"Keparat! Bunuh saja kami...! Bunuuuh...!" teriak mereka geram sambil terus menggaruk-garuk seluruh bagian tubuhnya tiada berhenti.

"Membunuh kalian terlalu mudah bagiku. Nyawa busuk kalian tak ada harganya. Tapi aku akan melakukannya setelah kalian kubuat sengsara lebih dulu...!" dingin terdengar suara Danu Umbara.

"Ki Rantek, biar kuberi pelajaran pemuda sombong ini...!" dengus Nyai Dasih Malela sambil melompat menyerang Danu Umbara dengan permainan ilmu pedangnya yang hebat.

Sring!
Wut!

Pedang di tangan Nyai Dasih Malela melesat-lesat menyambar tubuh pemuda itu. Desir angin kencang dan suara bercuitan menandakan kalau Nyai Dasih Malela memiliki tenaga dalam yang kuat dan hebat. Tapi gerakan pemuda itu lebih gesit lagi menghindari setiap sabetan pedangnya. Bahkan dengan tidak disangka-sangka ketika Nyai Dasih Malela menyambar leher lawan, pemuda itu tegak berdiri sambil mendengus sinis.

"Huh, kau pikir bisa berbuat apa dengan segala kepandaianmu yang rendah?"

"Mampus!" Nyai Dasih Malela menggeram sambil mengerahkan tenaga dalam kuat. Dia pikir dengan sekali tebas maka kepala lawan akan menggelinding. Apalagi saat itu si pemuda sama sekali tidak berusaha mengelak.

Tap!
"Hiiih!"
Des!
"Aaa...!"

Tanpa diduga oleh wanita tua itu, tangan kiri pemuda itu menangkap batang pedangnya dan langsung memelintir senjata itu hingga patah. Nyai Dasih Malela terbelalak matanya. Demikian juga Ki Rantek dan Aria Denta. Apa yang dilakukan pemuda itu sungguh berbahaya, namun lebih mengagetkan lagi ketika telapak tangannya sama sekali tidak tergores senjata lawan sedikit pun. Bahkan dengan bengis pemuda itu mengayunkan satu tendangan keras ke dada lawan. Nyai Dasih Malela memekik setinggi langit. Tubuhnya terjungkal ke belakang dua tombak sambil menyemburkan darah segar.

"Guru...!" Kusumawardani menjerit keras sambil memburu ke arah gurunya dengan wajah cemas.

Wanita tua itu menggelepar gelepar beberapa saat seperti ayam disembelih. Darah kental tiada hentinya keluar dari mulut, hidung, dan bola matanya. Dia hendak berkata sesuatu terhadak Kusumawardani yang memangku tubuhnya, namun sebelum keluar kata-katanya, kepala wanita tua itu terkulai lesu dan tubuhnya diam tak bergerak.

"Kini giliranmu, Keparat!" dengus Danu Umbara geram sambil melompat ke arah Ki Rantek dengan satu gerakan cepat menyerang lawan.

Srakkk!

"Huh, kau pikir aku takut denganmu? Mampuslah kau...!" sahut Ki Rantek geram sambil mencabut senjatanya yang berbentuk clurit panjang dan membabat lawan.

Danu Umbara menundukkan kepala menghindari tebasan senjata lawan. Tangan kirinya bergerak cepat menangkap pergelangan tangan lawan, sementara kaki kanannya terayun menghantam dada Ki Rantek. Orang tua itu tercekat kaget. Tapi buru-buru dia memutar tubuhnya untuk menghindari. Namun cengkeraman lawan di pergelangan tangannya seperti tidak mau lepas. Bahkan dengan sekali sentak, tubuhnya terangkat ke atas mendekati si pemuda.

"Hiyaaa...!"
Krak!
"Aaakh...!"

Danu Umbara menekuk tangannya hingga terdengar tulang berderak patah. Ki Rantek menjerit kesakitan. Namun orang tua itu masih sempat mengayunkan tendangan keras ke muka lawan. Tangan kanan Danu Umbara cepat menangkap pergelangan kakinya. Sambil melepaskan cengkeraman di tangan lawan, dia memutar tubuh Ki Rantek dengan mencengkeram kuat pergelangan kakinya.

"Yeaaa...!"
Krakkk!
Desss!
"Aaa...!"

Sebelum membanting tubuh orang tua itu, Danu Umbara menghantam keras tulang kering lawan dengan tangan kirinya. Kemudian dengan gemas ujung kaki kanannya menendang punggungnya, sehingga Ki Rantek memekik keras sambil memuntahkan darah segar ketika terjungkal ke belakang.

"Guru...!" Aria Denta tersentak kaget melihat keadaan gurunya itu. Dengan cepat dia memburu dan memeriksa keadaan orang tua yang tengah megap-megap menahan rasa sakit.

"Aria, selamatkan dirimu, dan..., bawa Kusumawardani pergi dari sini cepat. Dia..., dia bukan tandinganmu. Tenaganya seperti iblis. Ce cepat..!" kata Ki Rantek dengan suara terbata-bata.

"Tidak! Aku harus membalas perlakuannya terhadapmu. Akan kubunuh dia...!" geram Aria Denta kalap.

Ki Rentak hendak mencegah perbuatan Aria Denta, namun suaranya tercekat di tenggorokan, dan tangannya hanya mampu menggapai. Aria Denta sama sekali tidak mempedulikan kata-katanya.

Srang!
Cring!

Bersamaan dengan Aria Denta mencabut pedangnya, Kusumawardani pun telah mencabut pedangnya, dan dengan amarah serta kebencian yang meluap-luap keduanya menyerang lawan dengan bersamaan.

"Yeaaah...!"


***


"Ha ha ha...! Bagus, lebih cepat kalian maju maka akan lebih cepat lagi urusan ini selesai!" kata Danu Umbara sambil tertawa dengan suara nyaring.

Bet! Bet!
Tap!
"Hiiih...!"

Dua tebasan senjata lawan menyambar leher dan dadanya. Danu Umbara bergerak lincah dengan meliuk-liuk. Tiba-tiba dia telah berada di atas kepala Aria Denta. Dengan gemas pemuda itu menyabetkan senjatanya membelah pinggang lawan. Begitu juga yang dilakukan Kusumawardani. Tapi secepat mereka mengayunkan senjata, maka tubuh Danu Umbara telah berada di belakang si gadis dan memeluk tubuhnya erat-erat sambil menghantam pedang di tangannya, sehingga terlepas dari genggaman. Gadis itu terkejut dan menjerit keras. Aria Denta bermaksud menolong sambil melompat ke samping dan membabatkan senjatanya.

Wut!
"Hiiih!"

Begitu senjatanya berkelebat saat itu juga Danu Umbara mencelat ke atas sambil tetap merangkul Kusumawardani. Kaki kanannya menghantam dagu lawan.

Tak!
"Aaakh...!"

Aria Denta menjerit kesakitan. Dan sebuah giginya tanggal dengan mulut penuh darah akibat tendangan itu. Tubuhnya terjajar ke belakang dengan pandangan berkunang-kunang.

"Ha ha ha...! Gadis ini sangat cantik dan cocok untukku!" kata Danu Umbara tanpa mempedulikan lawan dia menotok tubuh Kusumawardani, sehingga gadis itu tidak mampu bergerak.

Bret!
"Aouw...!"

Kusumawardani menjerit keras ketika bajunya di bagian dada dirobek kasar oleh Danu Umbara.

"Aouw, Keparat! Lepaskan! Hentikan perbuatan kotormu...!"

"Ha ha ha...! Apa yang diperbuat pemuda bejat itu lebih dari ini terhadap istriku. Dan kau pun akan merasakan hal yang sama di depan hidungnya!" sahut Danu Umbara sambil menciumi gadis itu dengan bernafsu.

"Setan! Lepaskan dia...!" geram Aria Denta dengan kemarahan yang meluap-luap melihat kelakuan lawan.

Tanpa mempedulikan keadaan dirinya, dia langsung menerjang kembali sambil menghunuskan senjata. Namun tanpa menoleh, Danu Umbara melompat ke belakang. Ujung senjata lawan terus mengejar dan dengan sekali memiringkan tubuh, senjata lawan luput menyambar. Tangan kanan Danu Umbara dengan cepat menotok dada kiri lawan.

Tuk!
"Aaakh...!"

Aria Denta menjerit kesakitan. Otot jantungnya mengejang dan tubuhnya ambruk tidak berdaya. Dia hanya bisa menjerit-jerit menahan rasa sakit.

"Sekarang kau akan merasakan bagaimana perasaanku saat itu...! Akan kau rasakan bagaimana meledaknya dadaku saat itu...!" dengus Danu Umbara sambil menyeret Kusumawardani di depan Aria Denta.

Dengan geram Danu Umbara menindih tubuh gadis itu yang menjerit-jerit ketakutan sambil memaki-maki tidak karuan. Aria Denta mendidih darahnya melihat apa yang dilakukan pemuda itu terhadap istrinya.

"Keparat! Hentikan perbuatanmu! Hentikan perbuatanmu...!"

Tapi meskipun dia berteriak-teriak sambil memaki-maki, Danu Umbara malah terkekeh-kekeh. Lebih-lebih ketika Kusumawardani memaki-maki sambil menjerit ketakutan. Tidak ada satu pun yang bisa mereka lakukan untuk mencegah perbuatan Danu Umbara terhadap gadis itu.

Aria Denta memejamkan matanya dengan menahan dendam kesumat yang hebat di dadanya. Hatinya tidak kuasa menahan marah dan kebencian yang meluap-luap. Matanya tidak sanggup melihat pemandangan yang mengiris-iris hatinya, dan telinganya seperti mau pecah mendengar jeritan-jeritan Kusumawardani yang ketakutan dan kesakitan.

"Ha ha ha...! Sungguh hebat sekali istrimu ini. Sungguh hebat. Dan kau tidak akan sempat merasakannya, karena sebentar lagi kau bakal mampus!" kata Danu Umbara tertawa lebar sambil menyudahi perbuatannya.

"Keparat! Lebih baik kau bunuh aku cepat! Bunuh saja aku...!" teriak Aria Denta kalap.

"Ha ha ha...! Urusan membunuhmu soal mudah, tapi aku harus merasakan lebih dahulu kemarahan orang tua busuk ini!" desis Danu Umbara sambil menuding ke arah Ki Rantek yang masih megap-megap menahan rasa sakit yang tiada tertahankan di tubuhnya.

"Bedebah keparat! Kau pikir aku takut dengan kematian?!" dengus Ki Rantek geram.

"Tentu saja aku tahu bahwa kau tidak takut, tapi aku akan membuat kau merasakan apa yang kurasakan saat itu...!" balas Danu Umbara sinis sambil menangkap gadis yang tadi bersamanya dan direbahkannya di depan mata orang tua itu.

Dan apa yang dilakukannya terhadap Diah Kemuning, maka dilakukannya juga terhadap gadis itu. Ki Rantek memejamkan mata, meski hatinya perih. Tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan kemarahan dan menguatkan hatinya. Orang tua itu memang cukup berpengalaman, sehingga dia tidak mau membiarkan pemuda itu merasa menang dengan perbuatannya itu. Di samping itu dia sendiri masih belum merasa yakin bahwa gadis itu putrinya. Walau di dalam hati dia mengakui bahwa wajah gadis itu mirip sekali dengan kekasihnya yang telah menghilang puluhan tahun lalu.


***


ENAM

Hari telah menjelang senja ketika mereka tiba di mulut lembah itu. Wulandari membentak nyaring ketika mereka mengatakan bahwa sarang Perampok Tangan Darah berada di depan mata.

"Berhenti! Awas, kalau kalian macam-macam membuat isyarat sehingga kawan-kawanmu mengepung tempat ini, maka kalian bertiga yang akan mampus lebih dulu. Mengerti!"

Ketiga orang anak buah Perampok Tangan Darah yang mereka tawan itu mengangguk cepat.

"Ayo, jalan lagi pelan-pelan!" lanjut gadis itu.
"Suasana ini terasa sepi dan mencurigakan...," gumam Bayu pelan.
"Apakah menurutmu mereka telah mengetahui kedatangan kita, Kakang?"
"Hm, aku belum merasakan tanda-tanda kehadiran seseorang di tempat ini...," sahut Bayu pelan.

Mendadak Wulandari tersentak kaget. Dia memandang ke arah Bayu dengan wajah aneh.
"Kakang, kau mencium sesuatu?"
"Ya, seperti...."
"Bau busuk dan anyir darah...!" desis Wulandari.
"Astaga...!" salah seorang anak buah Perampok Tangan Darah yang berjalan paling depan tersentak kaget.

Yang lainnya, termasuk Wulandari dan Bayu cepat-cepat mengalihkan pandangan ke depan. Mereka melihat beberapa sosok tubuh bergantungan dengan kepala ke bawah.

"Siapa mereka?" tanya Bayu.
"Ini kawan-kawan kami!" desis Delangu, salah seorang dari ketiga tawanan mereka.

Wulandari nyaris menjerit dengan perut mual menyaksikan pemandangan yang ada di depan matanya. Beberapa sosok tubuh tampak membusuk dengan daging yang terkelupas menimbulkan bau busuk yang menyengat hidung. Tidak kurang dari dua puluh orang tergantung di cabang-cabang pohon di dekat tempat itu.

"Yang mana ketuamu itu?" tanya Bayu lagi.
Ketiga orang itu mencari-cari, dan ketika mereka melangkah kembali, Bayu terpaksa memalingkan muka. Dua sosok tubuh wanita tanpa mengenakan pakaian secuil pun tergantung di atas cabang yang sama.

Yang seorang terlihat bekas pukulan keras yang meremukkan isi dadanya, sementara yang seorang lagi bola matanya melotot dengan lidah terjulur keluar. Terlihat bekas telapak tangan di lehernya. Jelas bahwa wanita ini mati dicekik. Sementara pada cabang yang lain terlihat dua mayat membusuk dan rusak sekali dengan daging-dagingnya yang mengelupas.

"Ini Ki Rantek...!" desis salah seorang dari tiga tawanan itu.
"Dan ini Aria Denta, murid kesayangannya!" sambung yang lain dengan nada yakin.
"Hm, siapa yang melakukan perbuatan ini pada mereka?" tanya Bayu seperti bergumam pada diri sendiri.
"Entalah, kami pun tidak mengetahuinya...."

"Kakang, kawanan Perampok Tangan Darah sudah mati semuanya. Tidak ada gunanya lagi kita di tempat ini," kata Wulandari.
"Kalau begitu mari kita tinggalkan tempat ini...," ajak Bayu.
"Tunggu dulu!" sentak Wulandari sambil menghampiri ketiga anak buah Ki Rantek yang masih tersisa.
"Eh, ka..., kalian tetap akan membiarkan kami hidup, bukan?" tanya Jaka Sunggring dengan wajah pucat.

"Ya...," sahut Wulandari tenang sambil menggerakkan tangannya cepat.
Tuk! Tuk! Tuk!
"Hei, apa-apaan ini?!" teriak Jaka Sunggring dan kedua kawannya kesal ketika tiba-tiba saja gadis itu telah menotok mereka, sehingga tidak mampu bergerak.

"Aku berjanji tidak akan membunuh kalian, tapi tidak berjanji untuk tidak meninggalkan kalian di sini dalam keadaan demikian. Mudah-mudahan tubuh kalian menjadi santapan lezat serigala-serigala yang ada di hutan ini. Atau barangkali dicekik penghuni lembah ini yang telah membinasakan seluruh kawan-kawanmu!" desis Wulandari geram sambil melompat ke punggung kudanya dan melesat cepat dari tempat ini menyusul Bayu yang telah lebih dulu memacu kudanya.

Ketiga orang itu berteriak-teriak dengan wajah pucat ketakutan.
"Hei, lepaskan kami! Lepaskaaan...!"

Suara mereka terhenti ketika kedua orang muda-mudi itu telah lenyap dari pandangan. Tapi bukan cuma itu yang membuat mereka bungkam, melainkan karena kehadiran sesosok tubuh yang tiba-tiba saja muncul di depan mereka. Sesosok tubuh itu tidak lain dari seorang pemuda berwajah tampan memakai pakaian warna kuning keemasan dengan sinar mata tajam menakutkan.

"Sis..., siapa kau...?" tanya salah seorang dari mereka ketakutan. Kehadiran pemuda itu sama sekali tidak diketahui.

Tiba-tiba saja dia telah berdiri tegak seperti dijatuhkan dari langit dan persis di depan hidung ketiganya.

"Aku adalah iblis kematian yang akan mencabut nyawa kalian yang tertunda!" dingin terdengar suara pemuda itu sambil menjulurkan tangan kanannya yang terkepal, sehingga terlihat sebentuk cincin bergambar tengkorak dengan dua buah taring yang tajam dan runcing.

Crab!
Srap!
"Aaa...!"

Tiba-tiba saja dua buah taring di cincin itu menancap erat di leher dua orang dari mereka. Orang itu menjerit setinggi langit sambil merasakan kesakitan yang hebat. Tubuhnya berangsur-angsur pucat ketika tubuhnya mulai timbul gelembung-gelembung yang kemudian meletus dan mengeluarkan cairan putih kekuning-kuningan yang berbau busuk. Kedua orang kawannya tersentak kaget. Bola mata mereka melotot lebar melihat pemandangan itu.

Tidak terasa keringat dingin mereka mengucur sebesar butiran jagung. Malam mulai merayap ketika di lembah kematian itu kembali terdengar jeritan panjang yang melengking tinggi bagai raungan serigala yang terluka dan akan menemui ajalnya!


***


Orang-orang bertepuk tangan sambil berteriak-teriak memberi semangat pada seorang laki-laki tinggi besar yang berhasil menjatuhkan lawannya, seorang laki-laki berbadan besar dengan perut sedikit buncit. Kepalanya botak dan wajahnya seram. Lebih-lebih ketika dia menyeringai.

Telah dua orang yang tadi dibantainya sampai muntah darah. Tapi menghadapi lawannya kali ini, dia betul-betul sulit sekali menaklukkan. Bahkan dengan sekali hajar, tubuhnya tadi sempat terjerembab meskipun dia cepat bangkit kembali. Pertarungan yang diadakan di suatu tempat yang agak luas di tengah Desa Kedung Balang ini memang bukan hal yang aneh.

Setiap seminggu sekali sering diadakan adu kekuatan di antara para pesilat yang berdatangan ke desa ini. Ada seorang hartawan kaya raya yang akan memberikan hadiah bagi setiap pemenang dengan jumlah banyak. Bukan hanya itu, tapi setiap pemenang akan mendapat pekerjaan sebagai centengnya dengan upah yang tinggi.

Hal itu tentu saja amat menggiurkan bagi setiap pesilat yang pernah mendengar berita itu untuk menguji kemampuan serta peruntungannya. Bukan hanya itu yang membuat mereka tertarik, melainkan juga karena si hartawan kaya raya itu adakah seorang adipati yang amat berpengaruh. Dia tidak segan-segan mengirimkan centengnya yang hebat dan berbakat untuk diangkat menjadi prajurit kerajaan. Dan menjadi prajurit kerajaan adalah dambaan setiap pemuda di masa itu!

"Horeee...!"

"Hidup Ki Bajra Kelana...!" teriak laki-laki bertubuh besar itu menjatuhkan lawannya untuk yang ketiga kalinya.

Dan menurut peraturan yang telah ditetapkan apabila seseorang telah jatuh tiga kali, dia dinyatakan kalah. Maka mau tidak mau lawannya yang bertubuh besar dengan perut gendut itu harus keluar dari arena dengan wajah menahan malu menerima ejekan dari orang-orang yang menonton di pinggir arena itu. Tidak heran bila dia mendapat ejekan karena apa yang dilakukannya terhadap dua lawannya tadi sungguh kejam dan tidak mengenal belas kasihan.

Lain halnya dengan laki-laki yang mengalahkannya dan bernama Ki Bajra Kelana. Laki-laki itu bertanding dengan jujur dan gerakannya ketika menjatuhkan lawan sangat indah dan sama sekali tidak kasar.

"Siapa lagi yang akan bertanding melawanku?" tanya Ki Bajra Kelana.

Seorang laki-laki berbaju hitam segera melompat ke arena. Kulitnya hitam legam dan wajahnya buruk penuh dengan lubang-lubang seperti bekas penyakit cacar. Sorot matanya sama sekali tidak bersahabat ketika menatap ke arah Ki Bajra Kelana. Bahkan terlihat bermusuhan.

"Siapakah kau, Kisanak? Baru kali ini aku melihatmu?" tanya Ki Bajra Kelana.

"Namaku Sawung Kampret dan aku datang dari wilayah selatan. Nah, kurasa cukup basa-basi ini. Mari kita mulai!" sahut laki-laki berbaju hitam itu.

Setelah menyelesaikan dengan kata-katanya, Sawung Kampret langsung melompat menyerang lawan dengan satu tendangan maut ke arah perut Ki Bajra Kelana.

"Yeaaah...!"
"Uts...!"

Ki Bajra Kelana melompat ke samping untuk menghindari tendangan lawan sambil menundukkan kepala ketika kaki lawan kembali berkelebat balik. Tubuhnya mencelat ke atas sambil mengayunkan satu tendangan ke dagu lawan.

"Hiiih!"
"Hup!"

Sawung Kampret melompat ke belakang sambil menyilangkan kakinya menjepit pinggang lawan. Namun Ki Bajra Kelana telah mengayunkan sebelah kakinya menangkis.

Tak!
"Uhhh...!"
'Yeaaah...!"

Ketika kedua kaki mereka beradu, Sawung Kampret mengeluh kesakitan. Ki Bajra Kelana menggunakan kesempatan itu untuk mengayunkan kepalan tangan kanannya menghantam ke dada lawan. Meski sebelah kakinya masih terasa sakit, namun dengan gesit Sawung Kampret bergulingan ke kiri. Namun tubuh Ki Bajra Kelana telah melompat mengikuti dan mengayunkan kaki kirinya menghantam tubuh lawan ke arah pinggang.

"Uts...!"
Blap!
"Aaakh...!"

Tubuh Sawung Kampret bergulingan menghindari tendangan. Namun sebelum dia menjauh, mendadak telapak kaki kanan Ki Bajra Kelana telah menahan dadanya dan bermaksud menghimpitnya dengan keras, ehingga Sawung Kampret tersedak dan sulit bernapas.

"Kalau kau mengaku kalah maka aku akan melepaskan kakiku...," kata Ki Bajra Kelana tenang.

"Eh, ekh..., baiklah aku kalah...," sahut Sawung Kampret.

Mendengar orang itu mengaku kalah, Ki Bajra Kelana langsung melepaskan himpitan kakinya. Sawung Kampret meninggalkan arena dengan wajah lesu bercampur malu diteriaki oleh para penonton. Mau tidak mau dia harus mengakui kehebatan Ki Bajra Kelana. Baik dari jurus-jurus ilmu silatnya, tenaga dalam maupun ilmu meringankan tubuhnya berada satu tingkat di atasnya.

Sementara itu Ki Bajra Kelana kembali mendapat tepukan tangan dan sorak-sorai gembira dari orang-orang yang mengaguminya.

"Hidup Ki Bajra Kelana...!" teriak salah seorang yang diikuti yang lainnya.
"Terima kasih...," sahut Ki Bajra Kelana tersenyum.
"Ayo, siapa lagi yang berani melawan Ki Bajra Kelana?" teriak salah seorang yang diikuti teriakan-teriakan lainnya.

Namun untuk beberapa saat tidak ada seorang pun yang berani menantang Ki Bajra Kelana.

"Huuu..., takut! Pengecut..!" teriak seseorang.

"Ayo, siapa lagi? Kalau tidak maka Ki Bajra Kelana akan menjadi pemenangnya!" teriak salah seorang pengawas pertandingan itu.

"Dia akan mampus!" dengus seorang pemuda berbaju kuning keemasan sambil melangkah mendekati arena pertarungan.

Melihat ada orang yang berani menantang Ki Bajra Kelana, para penonton bersorak-sorai sambil bertepuk tangan memberi semangat.


***


"Kisanak, siapa namamu?" tanya Ki Bajra Kelana berusaha bersikap tenang.

Tidak seperti menghadapi kedua lawannya yang bertampang seram, pemuda di hadapannya ini lebih rapi dan berwajah tampan. Pakaiannya rapi dan mengesankan bahwa dia berasal dari keluarga yang terpandang. Bahkan sepintas lalu pemuda itu mengesankan seorang terpelajar yang sama sekali tidak mengerti apa-apa soal ilmu silat. Kalaupun ada yang aneh pada dirinya, hanya cincin yang melekat di jari tengah pada tangan kanannya.

Cincin itu berbentuk kepala tengkorak manusia dengan taring yang mencuat keluar, tajam serta mengerikan. Namun meskipun begitu Ki Bajra Kelana sempat tersentak kaget, dan diam-diam darahnya berdesir kencang ketika bola matanya beradu pandang dengan pemuda itu. Seperti ada terpancar hawa kesadisan yang amat menakutkan dan sempat membuatnya bergidik.

"Aku tidak punya nama, tapi orang-orang memanggilku sebagai Setan Seribu Nyawa...," sahut pemuda yang tidak lain dari Danu Umbara dengan suara lirih.

Mendengar pemuda itu menyebutkan nama itu, orang-orang yang berada di tempat itu tersentak kaget. Mereka memang baru sekali ini mengenal nama itu, tapi siapa yang tidak tahu akan keangkeran dan keseraman Hutan Mapag Nyawa. Hal itu membuat mereka bertanya-tanya, apakah pemuda itu berasal dari hutan itu?

"Hm, jadi kau berasal dan Hutan Mapag Nyawa...?" tanya Ki Bajra Kelana mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.

Pemuda itu bukannya menjawab pertanyaan Ki Bajra Kelana, melainkan membentak nyaring sambil melompat menyerang lawan.

"Lihat serangan...!"
"Hup!"

Satu kepalan tangan lawan melesat cepat menghantam dada Ki Bajra Kelana. Orang itu tersentak kaget ketika merasakan desir angin bertiup kencang seiring dengan gerakan pemuda itu. Buru-buru dia menangkis.

Plak!
"Uhhh...!"
Bet!

Ki Bajra Kelana mengeluh kesakitan ketika tangannya beradu menahan kepalan tangan lawan. Namun begitu dia masih sempat mengayunkan satu tendangan ke perut lawan. Pemuda itu memiringkan tubuh, dan kaki kirinya melakukan tendangan mendatar ke pinggang lawan.

Plakkk!
Des!
"Aaakh...!"

Ki Bajra Kelana kembali terkejut melihat kecepatan lawan bergerak. Dia menangkis sambil mengibaskan tangan kanannya. Tapi kemudian menjerit kesakitan ketika lengannya berderak patah, dan tendangan lawan terus menghantam tubuhnya hingga terjungkal beberapa langkah.

Jder!
"Uhhh...!"

Setan Seribu Nyawa langsung melompat dan menghantam telapak kakinya menghajar lawan. Terdengar tanah tempatnya melesak dalam dan tempat di sekitar itu seakan bergoncang keras akibat tendangannya itu. Masih untung Ki Bajra Kelana sempat menyelamatkan diri dengan berguling-gulingan. Tapi saat itu juga kepalan tangan kiri lawan menderu keras menghantam dadanya.

Jder!
Krak!
"Aaa...!"

Tanpa bisa dielakkan, kepalan tangan pemuda berbaju kuning keemasan menghantam, sehingga tulang rusuk Ki Bajra Kelana berderak patah. Orang itu memekik kesakitan ketika tubuhnya mulai bersimbah darah. Namun pemuda berbaju kuning keemasan itu seperti tidak mempedulikan keadaan lawan, dia kemudian menendangnya dengan keras sehingga tubuh Ki Bajra Kelana melayang jauh. Ketika ambruk ke tanah, nyawanya telah lepas dari raga!

"Sadis...!" desis seseorang.

"Biadab! Dia telah membunuh Ki Bajra Kelana...!" timpal yang lainnya dengan suara marah.

"Bunuh dia! Bunuuuh...!" teriak seseorang memberi perintah pada yang lainnya.

Maka dengan kemarahan yang meluap luap, para penonton yang terdiri dari orang-orang persilatan itu beramai-ramai menyerbu Setan Seribu Nyawa dengan mengeluarkan berbagai macam senjata tajam.

"Yeaaah...!"

Pemuda berbaju keemasan itu mendengus sinis. Dia menggeram dan sambil membentak nyaring, telapak tangan kirinya terkembang ke depan.

"Tikus-tikus busuk, mampuslah kalian...!" teriak pemuda itu dengan marahnya.

Yeaaa...!"
Jlegarrr...!
"Aaa...!"

Ketika itu juga melesat selarik sinar kuning keemasan menerpa para pengeroyok itu. Seperti ledakan petir yang keras, beberapa orang langsung terpekik kesakitan dengan tubuh ambruk. Daging tubuh mereka meleleh seperti disiram air panas. Beberapa orang lagi yang maju secara bersamaan mengalami nasib yang sama. Dan Setan Seribu Nyawa itu tertawa keras sambil membantai orang-orang yang berada di tempat itu tanpa mengenal belas kasihan.

"Hua ha ha...! Mampuslah kalian, mampuslah kalian...!"


***


TUJUH

Ketika pemuda itu tengah membantai orang-orang yang berada di tempat itu seketika terdengar bentakan nyaring.

"Hentikan perbuatanmu...!"

Setan Seribu Nyawa menghentikan sepak terjangnya dan cepat berpaling ke belakang. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun bertubuh kurus dengan rambut lebar diikat pita hijau. Di pinggang-nya terselip sepasang trisula berwarna keperakan.

"Siapa kau, orang tua busuk? Apakah kau pun ingin mampus seperti mereka...?" dengus pemuda itu geram.

"Perbuatanmu sungguh keterlaluan! Setelah kau membunuh muridku, kini kau membantai orang-orang yang tidak bersalah apa-apa terhadapmu. Aku, Ki Rantung Jagat tidak bisa membiarkanmu seenaknya saja menyebar keangkaramurkaan di tempat ini!" sahut orang tua itu dingin.

"Huh, tidak usah banyak bicara lagi! Cabutlah senjatamu, dan ingin kulihat apakah mulut besarmu sama dengan kepandaianmu!" sahut Setan Seribu Nyawa sambil terus melompat menerjang lawannya.

Ki Rantung Jagat memang bukan orang terkenal dalam dunia persilatan, tapi semua orang di kadipaten ini menghormatinya. Dia dianggap memiliki kepandaian yang cukup hebat meski tidak sering menonjolkan diri. Bahkan jarang sekali terdengar bahwa dia bertarung dengan seseorang pun. Namun banyak murid-muridnya yang telah membuktikan kehebatan ilmu silat orang tua itu. Salah satunya adalah Ki Bajra Kelana. Rasanya Ki Rantung Jagat tidak akan turun tangan bila muridnya terluka dalam pertarungan jujur.

Dan dalam pertarungan tadi ada larangan untuk membunuh lawan, sedangkan larangan itu dilanggar pemuda berbaju kuning keemasan itu seenaknya. Bahkan dengan kepandaiannya dia telah membantai orang-orang yang berada di tempat itu. Hal itulah yang mendorong Ki Rantung Jagat untuk tidak bisa membiarkan pemuda itu berbuat seenak hatinya saja.

"Hiyaaa...!"
Plak!

Ki Rantung Jagat menangkis kepalan tangan lawan yang menderu keras menghantam muka, dada, dan perutnya dengan cepat. Orang tua itu mengeluh kesakitan ketika kedua tangan mereka beradu. Tidak disangka bahwa lawan memiliki tenaga yang dahsyat luar biasa. Pantas saja tidak ada seorang pun yang mampu menghentikannya. Bukan hanya itu, tapi gerakan pemuda itu sangat gesit dan sulit diduga, sehingga diam-diam orang tua itu mengeluh di hati seolah tidak yakin bahwa dia mampu mengalahkan lawannya.

"Yeaaah...!"
Wut!
Des!
"Aaakh...!"

Tubuh Setan Nyawa Seribu melompat sambil melakukan tendangan ke muka lawan. Meski Ki Rantung Jagat yakin bahwa dia tidak akan mampu menahan tendangan lawan, tapi orang tua itu tidak punya pilihan sebab sebelah tangan pemuda itu telah berjaga-jaga untuk menghantamnya bila dia mengelak ke samping. Sehingga terpaksa Ki Rantung Jagat menangkisnya dengan kedua belah tangannya sambil mengerahkan tenaga dalam yang dimilikinya.

Orang tua itu mengeluh kesakitan ketika kedua tangannya diinjak lawan, dan dengan bertumpu pada tangannya itu, tubuh pemuda itu melenting ke belakang sambil menghantamkan punggungnya dengan keras. Ki Rantung Jagat berteriak kesakitan. Tubuhnya terjungkal ke depan sambil menyemburkan darah segar.

Tendangan yang dilakukan lawan keras bukan main. Orang tua itu merasakan punggungnya seperti dihantam batang kayu yang besar. Belum lagi dia sempat bangkit, lawan telah menerjangnya dengan satu tendangan menggeledek.

"Hiyaaa...!"

Ki Rantung Jagat tersentak. Buru-buru dia bergulingan menyelamatkan diri.

"Uhhh...!"
Srak!

Telapak kaki si pemuda itu yang menghantam tempat kosong membuat tanah melesak sedalam betisnya. Kakinya yang satu lagi menyapu tubuh Ki Rantung Jagat. Orang tua itu langsung mencabut sepasang trisulanya dan menghantamkan ke kaki lawan. Tapi alangkah terkejutnya dia ketika merasakan bahwa senjatanya seperti menghantam dinding baja yang amat tebal.

Desss!
"Aaa...!"

Ki Rantung Jagat memekik kesakitan ketika ujung kaki lawan menyodok dadanya dengan cepat dan sama sekali tidak disangkanya. Tubuh Ki Rantung Jagat berguling-gulingan sambil menyemburkan darah kental berkali-kali. Tapi belum lagi dia memperbaiki kedudukan, lawan telah kembali menyerang sambil menghantamkan kaki kanannya.

"Hiiih!"
Prak!
"Aaakh...!"

Ki Rantung Jagat yang tengah sekarat itu tidak mampu lagi mengelak. Dia menjerit panjang ketika ujung kaki lawan menghantam batok kepalanya hingga remuk. Orang-orang yang berada di tempat itu tersentak kaget. Sebagian tampak memalingkan muka dengan wajah ketakutan. Yang lainnya malah berlari-larian menyelamatkan diri.

"Siapa lagi yang mau menantangku...?" bentak pemuda itu garang.

Dia memandang berkeliling dan menatap orang-orang yang berada di tempat itu satu persatu. Mereka hanya bisa menundukkan kepala dengan wajah takut. Tidak ada seorang pun yang berani buka suara atau bertindak terhadap kekejaman yang dilakukan pemuda itu.

"Hua ha ha...! Siapa yang berani menantangku lagi? Ayo maju! Biar kukirim kalian ke akherat..!" teriak pemuda itu dengan suara menggelegar penuh kesombongan.

"Anak muda, perbuatanmu sungguh keterlaluan! Menyerahlah, karena kau sudah terkepung dan tidak ada jalan keluar bagimu!" bentak seseorang.

"Heh...?!"


***


Orang-orang yang berada di tempat itu menyingkir ketika melihat serombongan orang bersenjata lengkap telah mengurung pemuda berbaju kuning keemasan itu. Pemuda itu menghitung jumlah mereka yang tidak kurang dari lima belas orang. Yang berdiri paling dekat dengannya berjarak tujuh langkah dan bertubuh sedang dengan wajah bersih. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Agaknya dia merupakan pimpinan orang-orang ini. Senjatanya sebilah pedang yang masih tergenggam berikut warangkanya pada tangan kiri.

"Namaku Setya Jingga, dan aku adalah kepala pasukan pengawal di kadipaten ini. Atas nama kerajaan kau kutangkap karena mengacau dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah!" kata pemuda itu.

"Kau mau menangkapku? Nah, tangkaplah aku!" sahut Setan Seribu Nyawa tenang sambil tersenyum kecil.

Setya Jingga memandang sekilas, kemudian menyuruh dua orang anak buahnya membawa tambang besar untuk meringkus pemuda itu.

"Jangan berbuat macam-macam atau kau akan kami bunuh di sini juga!" kata Setya Jingga mengancam.

"Hua ha ha...! Kau hendak membunuhku? Lakukanlah kalau memang kau mampu!" sahut pemuda berbaju kuning keemasan yang bernama Danu Umbara itu dengan suara mengejek.

Setya Jingga mendengus pelan. "Hati-hati...!" katanya memperingatkan dua orang anak buahnya yang mendekati Danu Umbara dengan perlahan-lahan.

"Hup!"
Plas!"

Salah seorang melemparkan tali laso dan menjerat tubuh Danu Umbara. Yang seorang lagi melakukan hal yang sama. Tapi Danu Umbara diam saja tidak berusaha mengelak. Namun ketika keduanya mulai menyentak menjatuhkan tubuhnya, saat itu juga kedua tangannya meregang dan menangkap kedua utas tali itu, lalu menyentakkannya dengan kuat sekali.

"Hihhh...!"
"Wuaaa...!"

Saat itu juga kedua pengawal kadipaten itu melayang ke atas dan jatuh ke bawah dengan membentur batang pohon besar yang berada tidak jauh dari tempat itu. Melihat sikap pemuda itu, Setya Jingga langsung memberi perintah pada anak buahnya yang lain.

"Ringkus dia hidup atau mati...!"
"Yeaaah...!"

Bersamaan itu juga anak buahnya langsung melompat menyerang Danu Umbara dengan senjata terhunus. Sementara beberapa orang lagi menyiapkan tali laso untuk meringkus pemuda itu.

"Ha ha ha...! Bagus! Bagus! Majulah kalian semua agar gampang bagiku untuk meringkus dan mengirim kalian ke akherat!" kata Danu Umbara sambil tertawa keras.

Kemudian terlihat tubuhnya mencelat ke atas untuk menghindari serangan-serangan lawan. Namun bersamaan dengan itu, tubuh Setya Jingga mencelat pula memapaki serangan lawan. Agaknya dia telah menduga bahwa hal itu akan dilakukan oleh lawan.

Sring!
Crak!
"Heh?!"

Bukan main terkejutnya Setya Jingga ketika dia mencabut pedang dan menghajar pinggang lawan. Setya Jingga merasa bahwa senjatanya membentur dinding baja yang tebal. Bola matanya terbelalak saking kagetnya dan seperti tidak percaya pada penglihatan matanya sendiri.

Prak!
"Aaakh...!"

Tapi kesempatan itu justru digunakan lawan untuk mengayunkan kepalan tangan kanannya dan menghantam batok kepalanya hingga remuk. Pemuda itu menjerit sesaat. Tubuhnya ambruk ke bawah dengan bermandikan darah, dan nyawanya putus tidak lama kemudian.

"Setan! Jangan beri dia kesempatan lolos!" bentak salah seorang pengeroyoknya sambil menebas lawan dengan senjatanya.

"Uts...!"
"Hiiih!"
Des!
"Aaakh...!"

Tiga orang kembali terpekik dengan tubuh roboh bermandikan darah ketika tubuh Danu Umbara melesat cepat sambil berputar untuk menghindari serangan lawan. Tahu-tahu saja sebelah kakinya menendang pada dua orang lawan yang berada di belakangnya. Ketiga orang itu tewas sesaat kemudian!

"Yeaaah...!"
Blarrr...!
"Aaa...!"

Danu Umbara tidak berhenti sampai di situ. Telapak kirinya menyambar ke arah lawan sambil mengerahkan pukulan mautnya. Sesaat kemudian terlihat selarik sinar kuning yang berbau busuk menyambar para pengeroyoknya. Beberapa orang langsung memekik kesakitan dengan tubuh terjungkal bermandikan darah. Pukulan yang dilancarkan pemuda berbaju kuning keemasan itu tampaknya tidak main-main dan mampu membuat tubuh lawan remuk dengan kulit dagingnya yang terkelupas membusuk.

"Hm, sungguh keji ilmu pukulannya!" desis seseorang yang menyaksikan pertarungan. Namun seperti yang lainnya, mereka tidak punya keberanian untuk ikut menyerang pemuda itu. Bahkan terlihat satu persatu mereka yang berada di tempat itu berlalu dan tidak mau mencampuri urusan. Dan ketika seluruh pengeroyoknya telah binasa, pemuda itu tidak melihat siapa pun.

"Hi hi hi...! Pada ke mana mereka semua? Tikus-tikus busuk pengecut! Hua ha ha...! Siapa saja yang berani melawan Setan Seribu Nyawa akan mampus! Ha ha ha...!"

Setelah puas berteriak-teriak dan tertawa keras, Danu Umbara melesat pergi dari tempat itu dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata.


***


Kedua penunggang kuda itu memacu kudanya lambat-lambat ketika mereka memasuki mulut sebuah desa.

"Kakang, perutku lapar. Sebaiknya kita mencari makanan lebih dulu...!" kata seorang gadis berbaju merah muda yang tidak lain dari Wulandari.

"Ya, aku pun merasa lapar juga. Kita akan mencari sebuah kedai besar yang makanannya lezat. Sudah lama sekali aku tidak makan makanan yang enak," sahut pemuda berbaju kulit harimau yang tak lain dari Bayu Hanggara alias Pendekar Pulau Neraka.

Setelah berjalan beberapa saat mereka segera menemukan sebuah kedai besar yang merupakan satu-satunya di desa ini. Tanpa mempedulikan pengunjung yang lain, keduanya segera bersantap ketika pesanan mereka telah datang. Dan Bayu betul-betul membuktikan keinginannya untuk makan enak dengan memesan makanan yang harganya cukup mahal.

Sehingga sepintas lalu terkesan bahwa mereka berdua adalah dua orang pelancong kaya. Dan hal itu ternyata menarik perhatian pengunjung lainnya. Terutama dua orang yang duduk paling pojok.

"Kakang Ganda, kau lihat mereka?" tanya seorang yang bertubuh sedang dengan kumis tebal sambil melirik pada Bayu dan Wulandari.

"Hm...," kawannya yang dipanggil Ganda itu mendengus pelan sambil ikut memperhatikan kedua orang itu.

"Kurasa mereka adalah anak-anak kemarin sore yang baru turun gunung. Bagaimana menurutmu, Kakang...?" tanya si kumis tebal kembali.

"Kita akan cegat mereka di luar desa. Mereka tentu membawa uang cukup banyak di kantungnya...," sahut Ganda dengan wajah menggeram.

"Aku..., eh, maksudku gadis itu cukup cantik, Kakang. Apakah kau tidak berniat?" tanya si kumis tebal yang bernama Sanjaya sambil mesem-mesem.

"Ha ha ha...! Kau tahu saja kalau melihat wanita cantik, Sanjaya. He, mana mungkin akan kubiarkan begitu saja si cantik itu. Dia betul-betul hebat, dan aku harus memilikinya!" sahut Ganda sambil tertawa-tawa.

"Kakang, kedua orang di pojok itu mencurigakan sekali...," bisik Wulandari sambil melirik sekilas terhadap kedua orang laki-laki yang tengah membicarakan mereka.

"Ya, aku dengar pembicaraan mereka...," sahut Bayu tenang.
"Apa yang mereka percakapkan?"
"Mereka hendak berbuat kotor padamu...."
"Kurang ajar!" Wulandari menggeram dan bermaksud bangkit untuk memberi pelajaran pada kedua orang itu. Namun Pendekar Pulau Neraka cepat menahannya.

"Jangan di sini. Tidak baik dilihat orang. Lagi pula kedai ini akan rusak berantakan. Nanti saja kita pancing keluar. Mereka pasti mengikuti kita...," saran Bayu.

"Kakang, selera makanku hilang. Mari kita pergi dari tempat ini...!" sahut Wulandari cepat sambil menarik lengan pemuda itu.

Mau tidak mau terpaksa Bayu harus menuruti keinginan gadis itu meskipun dia belum selesai makan. Setelah membayar harga makanan itu, mereka segera keluar dari kedai dan memacu kudanya lambat-lambat menuju ke pinggiran desa. Apa yang diperkirakan Bayu memang benar. Kedua orang di dalam kedai itu mengikuti mereka dari belakang sambil berkuda dengan tergesa-gesa. Dan ketika jarak mereka telah dekat, salah seorang membentak nyaring.

"Berhenti...!"
"Hup!"

Begitu mereka selesai membentak maka saat itu juga tubuh Wulandari melesat ke belakang menyerang keduanya.

Sring!
Bet!
Sret!
"Ukh,..!"

Kedua orang itu tersentak kaget karena tidak mengira bahwa gadis itu mampu berbuat demikian. Salah seorang berhasil melompat ke belakang untuk menghindari sabetan pedang Wulandari, namun yang seorang lagi buru-buru mencabut pedangnya. Ujung pedang Wulandari lebih cepat lagi menyambar gagang goloknya hingga putus. Kemudian gadis itu berdiri tegak sambil menjulurkan pedang tipisnya.

"Kalian pikir aku tidak tahu maksud busuk kalian? Huh, cuma ada satu pilihan bagi kalian yaitu mampus!" dengus gadis itu geram sambil melompat menyerang keduanya dengan gerakan cepat.

Bet!

Keduanya pontang-panting menyelamatkan diri dari kejaran senjata lawan. Salah seorang lalu mencabut goloknya dan mencoba memapaki serangan lawan.

Trang!
Cras!
"Aaakh...!"

Orang yang bernama Ganda mengeluh kesakitan ketika kedua senjata mereka beradu. Pada saat yang hampir bersamaan, ujung pedang Wulandari menggores dadanya hingga dia menjerit kesakitan.

Duk!
"Akh...!"

Wulandari melanjutkan serangan dengan menendang tubuh lawan, sehingga terjungkal ke belakang. Ganda berusaha bangkit, namun ujung pedang gadis itu telah melekat di tenggorokannya.

"Jangan coba-coba bangkit kalau tidak ingin lehermu putus!" desisnya geram dengan sikap mengancam.

"Ekh..., ampun. Ampuni aku, Nisanak!" sahut laki-laki itu dengan wajah pucat ketakutan dan suara tersendat di tenggorokan.

"Huh, penjahat picisan! Apa kalian kira bisa berbuat seenaknya pada orang lain!" dengus Wulandari geram.

Sementara kawannya yang seorang lagi diam tidak berkutik menyaksikan Ganda diperlakukan demikian oleh si gadis. Laki-laki bernama Sanjaya itu berpikir bahwa, ilmu silatnya berada di bawah kawannya itu, dan kalau saja Ganda dapat dijatuhkan dengan mudah, apa lagi yang bisa dilakukannya?

Lagi pula kalau kepandaian si gadis sudah sedemikian hebat, bagaimana pula dengan kepandaian pemuda berbaju kulit harimau itu?

Tentu dia lebih hebat dari gadis itu, pikir Sanjaya. Sehingga dia diam saja dengan wajah ketakutan.

"Am..., ampun, Nisanak...," Ganda kembali memohon dengan wajah yang semakin pucat.

"Huh, orang seperti kalian sebaiknya dilenyapkan saja dari muka bumi ini agar tidak mengganggu orang lain...!" geram Wulandari menekan ujung pedangnya agak kuat sehingga laki-laki itu menjerit-jerit ketakutan.

Mendadak pada saat itu terdengar kegaduhan dari arah desa. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri sambil berteriak-teriak ketakutan.

"Tolooong...! Tolooong...!"


***


DELAPAN

Bayu dan Wulandari tersentak kaget. Keduanya cepat melompat ke punggung kuda masing-masing dan meninggalkan kedua orang itu untuk kemudian memacu kudanya dengan kencang memasuki desa.

"Kira-kira apa yang terjadi, Kakang?" tanya Wulandari.

"Entahlah, yang jelas kerusuhan besar. Bisa jadi seperti yang dialami Desa Ngampar Cai beberapa hari lalu...!" sahut Bayu.

Dalam beberapa saat saja mereka telah berada di desa dan melihat kerumunan orang-orang yang tengah mengeroyok seseorang. Namun meskipun dikeroyok justru para pengeroyoklah yang terpelanting, kemudian bermandikan darah dan tidak berkutik lagi. Pemuda itu bermaksud untuk turun tangan ketika saat itu terdengar bentakan nyaring.

"Mundur semua...!"

Mendengar bentakan itu orang-orang yang tadi mengeroyok satu persatu mundur dan membuat lingkaran besar dan luas, sehingga terlihat orang yang mereka keroyok dengan jelas. Orang itu adalah seorang pemuda berwajah bersih dengan pakaian rapi berwarna kuning keemasan. Senyumnya sinis, dan meski dikeroyok demikian banyak orang, sama sekali tidak terlihat sedikit pun luka di tubuhnya.

Sementara di depan pemuda itu berdiri tegak seorang laki-laki berbadan besar dengan rambut panjang digelung ke atas. Orang itu memiliki kumis tebal dan wajah keras. Otot-ototnya bertonjolan memperlihatkan kekuatan tenaga yang dimilikinya. Tangan kanannya menggenggam sebuah golok besar yang berukuran panjang. Bola matanya yang lebar menatap pemuda di hadapannya itu dengan tajam.

"Siapa kau sebenarnya dan mengapa mengacau di wilayah ini?!" bentak laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun itu dengan garang.

"Siapa pula kau? Dan apa hakmu bertanya padaku?" pemuda berbaju kuning keemasan itu malah balik bertanya tidak kalah garangnya.

"Aku panglima ketiga dari kerajaan yang kebetulan lewat di desa ini. Namaku Wayan Sudira. Aku punya hak untuk meringkus pengacau atau membunuh di tempat ini!" dengus laki-laki bertubuh besar itu geram.

"Orang-orang menyebutku dengan Setan Seribu Nyawa. Aku berbuat sesuka hatiku dan tidak ada seorang pun yang punya hak melarangku. Siapa yang mencoba menghalangi bakal mampus di tanganku!" dengus pemuda yang tidak lain dari Danu Umbara itu dengan sikap sombong.

"Keparat sombong! Kau pikir siapa dirimu bisa berbuat seenaknya di wilayah ini? Huh, kau harus ku ringkus hidup-hidup. Dan bila berani melawan, maka tidak ada jalan lain. Aku harus membunuhmu!" sahut Panglima Wayan Sudira sambil melompatmenyerang lawan.

Tubuhnya melayang sambil mengayunkan satu tendangan ke dada Danu Umbara. Pemuda itu terkekeh kecil, sambil memiringkan tubuh dia menangkis tendangan itu dengan hajaran tangan kanannya.

Plak!
"Uhhh...!"

Panglima Wayan Sudira tersentak kaget ketika merasakan tulang kakinya terasa mau remuk menerima tangkisan lawan. Masih untung dia cepat membuang diri ketika lawan menyodokkan kepalan tangan kirinya ke arah dada.

"Keparat! Kalau begitu aku terpaksa membunuhmu di sini!" desis Panglima Wayan Sudira. Bersamaan dengan itu, dia cepat bangkit dan menghajar lawan dengan senjatanya.

"Hiyaaa...!"
Bet!

Golok besar itu menyambar-nyambar tubuh lawan dengan menimbulkan desir angin kencang. Namun dengan gesit Danu Umbara menghindarinya sambil tertawa mengejek.

"Ha ha ha...! Kerahkan seluruh tenagamu untuk mencari bagian-bagian yang empuk di tubuhku!"

Suatu ketika Danu Umbara merasa bahwa dia telah cukup mempermainkan lawan. Ketika Panglima Wayan Sudira membabat punggungnya, pemuda itu pura-pura bergerak lambat untuk menghindarinya, sehingga....

Tak!
"Heh?!"
Des!

Senjata Panglima Wayan Sudira menghajar telak dengan sekuat tenaganya ke punggung lawan. Dalam hati dia berpikir tentulah tubuh lawan setidak-tidaknya akan terbelah dua. Tapi yang terjadi sungguh membuatnya kaget bukan main. Golok besarnya seperti menghantam dinding baja. Tangannya bergetar hebat. Dalam keadaan demikian Danu Umbara menghantamkan kepalan tangan kanannya ke dada lawan dengan telak.

"Aaa...!"
"Yeaaah...."

Panglima Wayan Sudira tersungkur ke belakang sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya. Tapi saat itu juga tubuh lawan telah melompat menyerangnya. Kali ini bisa dipastikan Panglima Wayan Sudira tidak akan mampu menghindari serangan lawan. Keadaannya sangat kritis sekali.

Plak!
"Uhhh...!"
"Heh!"


***


Pada saat itulah Pendekar Pulau Neraka melompat untuk memapaki serangan pemuda berbaju kuning keemasan itu untuk menyelamatkan nyawa Panglima Wayan Sudira. Danu Umbara bukannya tidak mengetahui ada seseorang yang berusaha menahan serangannya. Pemuda itu melipatgandakan tenaganya dan berbalik menghantam lawan barunya itu.

Pendekar Pulau Neraka tersentak kaget ketika kedua tangan mereka beradu. Baru kali ini dia merasakan tenaga yang begitu hebat dan kuat serta mampu membuat tangan nya bergetar.

"Hup! Yeaaah...!"

Bayu melompat ke belakang sambil membuat beberapa putaran untuk menghindari lawan yang menyerang secara gelap. Kedua kakinya menjejak tanah dengan ringan.

"Hm, sudah kuduga pasti kau...!" dengus Danu Umbara dengan wajah sinis.

"Siapa kau sebenarnya? Apakah di antara kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Aku berterima kasih karena kau mengantarkan ketiga anak buah Perampok Tangan Darah untuk kubunuh. Lengkaplah sudah mereka menanggung akibat perbuatan mereka terhadapku!"

"Hm, jadi kaukah yang membantai kawanan perampok itu?" tanya Bayu meyakinkan.

"Mereka pantas mendapatkan itu...!"

"Tapi perbuatanmu tidak lebih dari mereka. Kau bahkan sama kejinya. Tidakkah kau sadari bahwa perbuatanmu selama ini merugikan banyak orang?"

"Huh, apa peduliku terhadap orang-orang?" dengus Danu Umbara geram. Kemudian dia memandang sinis ke arah Bayu sambil melanjutkan kata-katanya. "Sekarang kau menepilah dan jangan campuri urusanku!" katanya dengan sikap mengancam.

"Maaf, aku tidak bisa membiarkan kau seenaknya membunuh orang tanpa sebab!"

"Hm, kalau begitu kau termasuk orang yang patut dilenyapkan!" desis Danu Umbara sambil melesat menyerang lawan.

Pendekar Pulau Neraka yang sejak tadi telah bersiaga, tidak urung merasa terkejut juga melihat gerakan lawan yang cepat bukan main.

Plak!
"Uhhh...!"
Bug!

Beberapa kali dia mencoba menangkis tendangan serta sodokan kepalan tangan lawan, namun saat itu juga Bayu mengeluh kesakitan. Tenaga dalam lawan luar biasa, bahkan dia tidak yakin apakah tenaga dalamnya mampu mengungguli lawan.

Lagi pula lawannya itu seperti tidak takut pertahanannya terbuka. Dan hal itu yang dimanfaatkan Bayu ketika dia mendapat satu peluang baik, kaki kanannya dengan cepat menyambar ke arah perut dan menghantamnya dengan tenaga keras.

Duk!
Desss!

Bayu terkejut bukan main ketika kakinya seperti menendang dinding baja yang tebal. Namun meski demikian lawan hanya terlihat mundur dua langkah dan tubuhnya terangkat ke atas, lalu dengan cepat dan tiada terduga menghantamkan satu tendangan ke dada. Pendekar Pulau Neraka mengeluh kesakitan. Tubuhnya terjajar ke belakang dengan darah kental meleleh di sudut bibirnya.

Tendangan yang dilakukan Danu Umbara bukan main dan seolah meremukkan seluruh isi dadanya. Bayu menggeram kesal ketika tubuh Danu Umbara kembali melenting sambil membentak keras dan bermaksud menghabisinya.

eaaah...!"
Sring!

Merasa bahwa dengan menggunakan jurus-jurus tangan kosong pemuda itu tidak menang, dia lalu melontarkan Cakra Mautnya yang meluncur deras membabat tubuh lawan dengan cepat. Tapi bukan main kagetnya Bayu ketika melihat tubuh lawan sama sekali tidak mampu dilukai oleh Cakra Mautnya.

"Hiyaaa...!"
"Uts...!"

Pendekar Pulau Neraka cepat bergulingan ketika telapak kaki lawan menggedor tubuhnya. Tubuhnya melenting cepat ketika merasakan sambaran kaki lawan yang satu lagi menyapu tubuhnya.

"Yeaaah...!"

Danu Umbara membentak nyaring sambil menerjang tubuh lawan yang tengah melompat. Agaknya dia sama sekali tidak mau memberi kesempatan sedikit pun agar lawan lolos.

"Uh, manusia macam apa dia? Cakra Maut ku mampu menembus baja sekalipun, tapi tidak mampu melukai tubuhnya. Kelihatannya dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kehebatan Cakra Maut ku...!" desis Bayu mengeluh pelan.

Apa yang dikhawatirkan Pendekar Pulau Neraka memang kenyataannya demikian. Beberapa kali tubuh Danu Umbara disambar Cakra Mautnya, tapi pemuda berbaju kuning keemasan itu sama sekali tidak merasakan perubahan apa-apa pada tubuhnya. Dia tetap menyerang dengan ganas.

"Hm, kulit tubuhnya memang tidak mempan oleh senjataku ini, tapi pakaiannya robek. Akan kulihat apakah dia manusia yang mempunyai malu atau tidak...," gumam Bayu seperti mempunyai akal untuk mengalahkan lawan.

eaaah...!"
Sring!

Pendekar Pulau Neraka membentak nyaring sambil melemparkan Cakra Mautnya dengan kuat ke arah tubuh lawannya. Danu Umbara sama sekali tidak bermaksud menghindar karena merasa yakin bahwa senjata lawan sama sekali tidak mampu melukainya.

Bret! Bret! Bret!

Dengan kecepatan yang luar biasa Cakra Maut itu mencabik-cabik seluruh pakaian yang melekat di tubuh lawan.

"Ahhh...!"

Danu Umbara tersentak kaget, bukan karena dirinya yang kini hampir tidak berpakaian melainkan karena sebuah benda yang terpental dari balik pinggangnya. Sebuah keris kecil yang melesat cepat ke atas akibat terbentur dengan Cakra Maut Pendekar Pulau Neraka. Dengan cepat Danu Umbara melompat bermaksud mengejarnya tanpa mempedulikan lawannya.

Pendekar Pulau Neraka yang telah cukup berpengalaman tidak membiarkannya begitu saja, maka dengan mengerahkan kecepatan bergeraknya, dia menyambar keris kecil yang terpental itu lebih dulu dari lawan. Danu Umbara tersentak kaget. Dia memandang marah pada Pendekar Pulau Neraka.

"Berikan padaku! Itu milikku! Berikaaan...!" bentaknya dengan sikap panik.

"Hm, agaknya benda ini amat berharga sekali bagimu."

"Berikan padaku kataku! Keparat! Kubunuh kau! Kubunuh kau...!" geram Danu Umbara sambil melompat menyerang lawan.

Pendekar Pulau Neraka kini merasa berada di atas angin melihat kepanikan lawan. Sambil melompat ke samping, tubuhnya melesat menyambar tenggorokan lawan dengan menyodorkan ujung keris kecil di tangannya itu. Dan....

"Aaakh...!"

Danu Umbara menjerit seperti orang tercekik dan buru-buru dia melompat ke belakang. Wajahnya pucat ketakutan, dan matanya melotot garang memandang ke arah lawan.

"Jahanam keparat! Berikan keris itu padaku! Berikan cepaaat... atau kubunuh kau!" teriaknya berkali-kali dengan nada mengancam.


***


Tubuh Danu Umbara kembali melompat menerjang lawan sambil menghantam pukulan mautnya dengan tenaga dalam yang dahsyat. Bumi seperti berguncang, dan rumah-rumah yang berada di dekat tempat itu ambruk. Orang-orang yang menonton pertarungan itu menyingkir jauh-jauh ketika selarik sinar kuning keemasan yang berbau busuk meliuk-liuk menyambar tubuh Pendekar Pulau Neraka.

"Yeaaah...!" bentak Danu Umbara dengan segala kemarahan yang meluap-luap.

"Maaf. Aku tidak bisa membiarkan kau hidup untuk mengumbar nafsu setanmu dan mengacau seenakmu saja...," gumam Pendekar Pulau Neraka.

Beberapa saat kemudian tubuh Pendekar Pulau Neraka berkelebat cepat menghindari serangan lawan. Dengan mengerahkan kemampuan bergeraknya, dia mengeluarkan tenaga dalam sepenuhnya untuk menghantam wajah lawan dengan tenaga tendangan keras. Danu Umbara tersentak kaget dan buru-buru mengangkat kedua tangan untuk menangkis. Tapi Bayu menggunakan tangan lawan untuk membuat tubuhnya jungkir balik dan melakukan serangan yang sesungguhnya. Dan....

Crab!
"Aaa...!"

Danu Umbara menjerit setinggi langit ketika keris kecil di tangan Pendekar Pulau Neraka menancap ke jantungnya. Tubuhnya ambruk menggelepar-gelepar ditanah. Bayu menunduk sedih. Dia segera mengetahui kelemahan lawan ketika Danu Umbara kelihatan takut sekali terhadap kerisnya itu. Maka dengan keris itu dia merasa yakin mampu menghabisi lawan.

"Wualah, pertarungan sudah selesai!" teriak seseorang.
"Siapa yang kalah?" tanya kawannya.

"Hoiii, setan itu telah mati...!" teriak yang lainnya sambil menghampiri sesosok tubuh.

Orang-orang langsung mengerubungnya, namun saat itu juga mereka berpaling cepat sambil menutup hidungnya.

"Uh, bau! Dagingnya membusuk dan mengeluarkan bau yang menusuk hidung!" teriak seseorang.

"Siapa pemuda tadi yang membunuhnya?" tanya salah seorang pada kawannya.

"Tidak tahu. Tapi dengar-dengar dia Pendekar Pulau Neraka."

"Pendekar Pulau Neraka? Wah, mana dia orangnya...?"

"Tidak ada! Tadi kulihat dia masih berdiri di tempat ini, tapi..., kok sekarang sudah hilang, ya...?"

Orang-orang desa itu sibuk mencari-cari pemuda berbaju kulit harimau yang telah mengalahkan Setan Seribu Nyawa. Pendekar Pulau Neraka dan Wulandari telah berada jauh dari desa itu. Begitu urusannya selesai, Bayu segera menyelinap dan pergi dari tempat itu.

Namun demikian hatinya masih sempat bergetar menyaksikan peristiwa terakhir yang menimpa lawannya tadi. Ingatannya masih terbayang ketika tubuh pemuda itu diselubungi cahaya kuning, dan ketika sinar itu hilang maka cincin dijari serta keris kecil yang menembus jantungnya lenyap seketika tanpa bekas sebelum tubuhnya berangsur-angsur membusuk!


SELESAI

Episode Selanjutnya PENDEKAR TANAH SEBERANG