Social Items

SERIAL PENDEKAR PULAU NERAKA
Episode: Pergolakan Di Istana Langkat
Karya: Teguh Suprianto
Gambar: Tony G
Penerbit: Cintamedia, Jakarta



Pergolakan di istana langkat


SATU

Brak!
“Goblok! Dungu...!”

Bentakan keras terdengar menggelegar, memecahkan kesunyian malam. Suara itu datang dari salah satu ruangan di sebuah rumah besar dan megah yang dikelilingi tembok batu tinggi dan kokoh. Tampak seorang laki-laki berusia setengah baya tengah berkacak pinggang di depan empat orang laki-laki bertubuh tinggi tegap berotot. Empat laki-laki itu duduk bersimpuh di lantai, dengan kepala tertunduk dalam.

Sebuah meja berukir dari kayu jati, terlihat hancur di samping kaki laki-laki setengah baya yang tubuh dan perutnya buncit seperti genderang. Wajahnya memerah, dan sinar matanya berkilatan tajam. Jelas, dia sedang dikuasai nafsu amarah yang membara. Untuk beberapa saat lamanya, suasana di ruangan besar dan megah itu jadi sunyi senyap. Dan kini yang terdengar hanya detak jantung dan dengus napas.

“Dasar gentong nasi! Kerja seperti itu saja tidak becus. Goblok...!” kembali laki-laki gemuk itu memaki dengan suara tinggi menggelegar.

“Maafkan kami, Gusti. Kami sudah melaksanakannya dengan baik sekali. Tapi...,” salah seorang yang duduk bersimpuh di lantai dan mengenakan baju warna merah muda mencoba menjelaskan. Suaranya terdengar pelan dan agak bergetar.

“Tapi apa...?!” bentak laki-laki gemuk berusia setengah baya itu.

“Ada orang lain yang ikut campur, Gusti Narata,” sahut orang berbaju merah muda itu lagi, seraya memberikan sembah dengan merapatkan telapak tangannya di depan hidung.

“Phuih! Alasan....”

“Kami tidak berdusta, Gusti. Orang itu berkepandaian tinggi sekali.”

“Benar, Gusti. Bahkan tujuh orang teman kami tewas di tangannya,” timpal seorang lagi yang mengenakan baju hijau daun.

“Mengapa kalian tidak sekalian ikut mati saja, hah...?!”

Empat orang itu terdiam dan kepalanya tertunduk semakin dalam. Kata-kata yang meluncur dari mulut laki-laki yang dipanggil Narata itu memang sangat pedas dan menyakitkan. Namun mereka tidak berani mengangkat kepalanya. Terlebih lagi untuk membalas tatapan mata yang memerah berapi-api itu.

“Kalian tunggu sebentar di sini,” ujar Narata.

Saat keempat orang itu memberi sembah dengan merapatkan kedua tangan di depan hidung, Narata sudah berbalik, lalu melangkah meninggalkan ruangan itu. Sedangkan empat orang laki-laki bertubuh tegap dan berotot itu tetap saja duduk bersimpuh di lantai tanpa sedikit pun mengangkat kepalanya. Agak lama juga Narata meninggalkan ruangan itu. Dan kini telah kembali lagi sambil membawa segulungan surat yang tersimpan dalam selongsong bambu yang terikat pita warna biru muda.

“Ke sini...!” masih terdengar kasar nada suara Narata.
“Hamba, Gusti”

Salah seorang yang mengenakan baju kuning bergegas maju mendekati. Diberikannya sembah dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

“Dengar! Kali ini kalian tidak boleh gagal,” tegas Narata, dalam sekali nada suaranya. “Berikan surat ini langsung kepada Kanjeng Ratu Nyai Langas. Aku tidak ingin surat ini jatuh ke tangan orang lain. Jadi harus kalian sendiri yang menyampaikannya. Mengerti..?!”

“Mengerti, Gusti,” sahut keempat orang itu serempak. Orang yang berbaju kuning menerima gulungan surat itu dengan penuh hormat sekali, kemudian menyelipkan ke balik sabuk pinggangnya. Dia kembali mundur ke tempatnya semula tanpa berdiri tegak.

“Pergilah sekarang juga,” perintah Narata.

Keempat orang itu memberikan sembah, kemudian bergerak mundur. Hampir bersama-sama mereka bangkit berdiri, dan bergegas meninggalkan ruangan yang besar dan megah ini. Sementara laki-laki bertubuh gemuk berperut buncit itu meng-hempaskan tubuhnya di kursi berukir indah yang berwarna coklat muda agak kemerahan.

“Hhh...!” terasa berat sekali hembusan napasnya. Pada saat itu datang seorang anak muda bertubuh kurus kering. Begitu kurusnya, sehingga seperti sosok tengkorak hidup yang terbungkus selembar kulit tipis kuning langsat

''Kemari, Jarong. Duduklah di sini,” ujar Narata seraya memberi senyuman pada pemuda kurus kering yang wajahnya terlihat begitu pucat. Bahkan sorot matanya seperti redup tak bercahaya, bagai tak memiliki gairah hidup lagi.

“Ada yang bisa kulakukan, Paman?” tanya pemuda kurus kering yang tadi dipanggil Jarong. Pemuda kurus itu tetap saja berdiri di depan Narata, meskipun laki-laki setengah baya bertubuh gembur itu tadi meminta untuk duduk di sampingnya.

“Sedikit. Dan yang pasti, tidak berat bagimu,” sahut Narata.
“Katakan saja, Paman. Aku pasti akan melakukan apa saja demi Paman.”

Narata semakin tersenyum lebar. Memang, sungguh beruntung sekali mempunyai kemenakan yang begitu setia dan selalu berada di belakangnya dalam keadaan apa pun juga.

***

Malam terus merayap semakin larut. Hampir seluruh pelosok Kotaraja Langkat telah diselimuti kegelapan dan kesunyian. Hanya di beberapa tempat saja masih nampak beberapa orang yang belum terbuai di alam mimpi. Malam itu udara terasa begitu dingin. Tampak beberapa prajurit masih berjaga-jaga di sekitar bangunan istana yang megah dan dikelilingi tembok benteng tinggi kokoh. Mereka terkantuk-kantuk sambil sesekali bergidik mengusir udara dingin yang begitu menusuk sampai ke tulang.

Dalam kegelapan malam ini, tampak empat orang laki-laki tengah bergerak cepat dan ringan sekali mendekati bangunan benteng istana yang memang dijaga ketat. Mereka berhenti tidak jauh dari bangunan megah dan indah sebelah Timur. Jelas sekali kalau mereka tengah mengamati keadaan sekitarnya, dengan pandangan tajam tak berkedip.

“Tampaknya malam ini penjagaan ketat sekali,” bisik salah seorang.

“Ya, hati-hatilah. Jangan sampai ada seorang pun yang ketahuan,” sahut seorang lagi. Juga dengan

suaranya yang pelan dan hampir tidak terdengar.

“Bagaimana? Kita bergerak sekarang?”
“Memang sebaiknya begitu.”
“Benar! Lebih cepat selesai, lebih baik.”

Empat orang laki-laki yang bertubuh tinggi tegap berotot itu segera bergerak cepat dan ringan sekali. Sedikit pun tak ada suara yang terdengar. Menandakan kalau mereka rata-rata memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi. Ringan sekali gerakan mereka saat melompat ke atas benteng yang tingginya sekitar dua batang tombak itu. Dan begitu kaki mereka menjejak tembok benteng, langsung melenting turun ke dalam. Mereka terus bergerak cepat begitu sampai di dalam benteng Istana. Namun belum juga sempat mendekati bangunan istana yang besar dan megah itu, mendadak saja....

“Berhenti...!”

Tiba-tiba terdengar bentakan keras menggelegar dan mengejutkan. Empat laki-laki bertubuh tinggi dan tegap itu seketika tersentak kaget, dan menghentikan larinya. Dan selagi rasa keterkejutan mereka belum hilang, mendadak saja sebuah bayangan biru ber-kelebat cepat. Dan tahu-tahu di depan mereka sudah berdiri seorang laki-laki bertubuh kurus kering mengenakan baju warna biru tua.

“Mau apa kalian, heh?! Menyelinap seperti maling...!” bentak laki-laki kurus kering itu.

Empat orang laki-laki itu tidak menjawab, dan hanya saling berpandangan sejenak. Kemudian dengan cepat sekali, mereka berlompatan mencabut golok masing-masing.

Bet!
Wut!
“Hat..! Uts!”

Orang bertubuh kurus kering itu terkejut begitu mendapat serangan mendadak dan tiba-tiba ini. Dan sebelum sempat melakukan sesuatu, sebilah golok berkelebat cepat mengarah ke dadanya. Cepat-cepat tubuhnya ditarik ke belakang, sehingga tebasan golok itu hanya lewat sedikit di depan dadanya yang kurus, sehingga tulang-tulang bersembulan terlapis kulit. Dan belum juga tubuhnya sempat ditarik kembali, sebuah golok mengibas dari arah samping ke kepalanya. Bergegas laki-laki bertubuh kurus kering itu merundukkan kepalanya sedikit. Maka golok itu pun kembali lewat di atas kepalanya. Sebelum ada serangan lagi yang datang, laki-laki kurus kering itu cepat-cepat melentingkan tubuhnya ke udara dan berputaran beberapa kali. Kemudian, tangannya bergerak cepat luar biasa.

“Hiya! Hiya! Hiyaaa...!”
Slap!
Wus…!

Seketika itu juga dari balik lipatan lengan bajunya yang longgar, melesat benda-benda kecil sepanjang jengkal dan bersinar keperakan. Benda-benda itu meluncur deras, cepat bagai kilat. Dan sebelum empat orang itu bisa menyadari apa yang akan terjadi, tiba-tiba....

Creb!
“Aaakh...!”
“Wuaaa...!”

Dua jeritan melengking tinggi dan menyayat terdengar keras memecah kesunyian malam ini. Sedangkan dua orang lagi masih bisa melompat sambil mengibaskan goloknya beberapa kali, menghindari benda-benda berwarna keperakan itu. Tampak dua orang sudah tergeletak tak bernyawa lagi, tertembus beberapa bilah pisau tipis, sepanjang jengkal tangan orang dewasa.

Sementara dua orang sisanya yang masih bisa selamat, saling berpandangan sejenak. Kemudian salah seorang segera melesat menyerang orang bertubuh kurus kering yang baru saja mendaratkan kakinya di tanah. Sedangkan yang seorang lagi, bergegas melompat balik. Dengan satu gerakan ringan, dia melesat melompati benteng istana itu. Sementara temannya terus memecahkan perhatian orang bertubuh kurus kering itu dengan serangan-serangan yang cepat dan dahsyat.

“Hiya...!”
“Yeaaah...!”

Tiba-tiba saja satu sama lain melompat ke atas. Dan secara bersamaan, saling menghentakkan tangan ke depan. Tak pelak lagi, dua tangan saling beradu keras di udara. Seketika ledakan menggelegar terdengar dahsyat memecah kesunyian malam di sekitar bangunan istana itu.

“Aaakh...!”

Terlihat satu orang terpental ke belakang sambil menjerit panjang melengking tinggi. Sementara seorang lagi yang bertubuh kurus kering seperti tengkorak hidup, cepat meluruk ke bawah. Dan begitu kakinya menjejak tanah, tangannya cepat dikibaskan ke arah orang yang jatuh bergulingan di atas tanah berumput basah oleh embun.

Wus!

Sebuah benda bercahaya keperakan melesat cepat bagai kilat dari balik lipatan lengan baju laki-laki kurus kering itu. Dan tanpa dapat dicegah lagi, benda itu menghunjam dalam di dada orang yang berbaju biru tua dan bersenjata golok.

Crab!
“Aaa...!”

Kembali terdengar jeritan panjang melengking tinggi. Hanya sebentar dia masih mampu bergerak menggelepar, kemudian diam tak bergerak-gerak lagi. Laki-laki kurus kering itu segera melompat mendekati mayat-mayat yang bergelimpangan bersimbah darah. Dia seperti mencari sesuatu pada setiap mayat itu.

“Setan...!” dengusnya keras.

Pada saat itu, terlihat beberapa orang berseragam prajurit berlarian berdatangan. Mereka tampak terkejut saat melihat tiga sosok mayat tergeletak berlumuran darah. Laki-laki kurus kering itu seperti tidak menghiraukan kedatangan para prajurit itu. Dicabutinya pisau-pisau yang tertancap di tubuh tiga orang yang datang secara menyelinap tadi. Kemudian pisau-pisau itu dimasukkan ke dalam lipatan lengan bajunya.

“Kalian urus mayat-mayat ini!” perintah laki-laki kurus kering itu.
“Segera, Raden...,” serempak para prajurit itu menyahut sambil membungkukkan badan, penuh rasa hormat

Laki-laki kurus kering yang kelihatan masih muda itu bergegas melangkah. Namun sebentar kemudian ayunan langkahnya terhenti. Kepalanya berpaling, memandang tembok benteng, ke arah perginya seorang yang berhasil lolos tadi.

“Hm....”

Setelah memperdengarkan suara gumaman kecil, kakinya kembali terayun meninggalkan bagian Timur Istana Langkat ini. Ayunan kakinya begitu ringan, sehingga tak memperdengarkan suara sedikit pun juga. Sementara prajurit yang berjumlah sekitar dua puluh orang itu mengangkut tiga mayat yang tergeletak dengan darah masih mengucur.

***

Pagi-pagi sekali, Narata sudah memacu cepat kudanya melintasi jalan berdebu yang membelah Kotaraja Langkat. Belum ada seorang pun yang terlihat keluar dari dalam rumahnya, karena matahari memang belum menampakkan dirinya. Tanda-tanda datangnya pagi sudah nampak dari suara kokok ayam jantan dan kicauan burung-burung, yang seakan-akan mengajak sang mentari untuk segera bangkit dari peraduannya sepanjang malam. Laki-laki setengah baya bertubuh gemuk itu ter-guncang-guncang di atas punggung kuda yang berpacu cepat bagai dikejar setan. Tak sedikit pun lari kudanya dikendurkan, meski sudah hampir mendekati gerbang Istana Langkat yang dijaga enam orang prajurit bersenjata pedang dan tombak.

“Hm.... Tidak seperti biasanya, di sini ditempatkan enam penjaga,” gumam Narata dalam hati. “Ada apa ya...?”

Dua orang prajurit penjaga pintu gerbang itu ber-gegas membuka pintu begitu melihat Narata di atas kudanya yang dipacu cepat menuju ke arah istana ini. Laki-laki berperut buncit itu terus menerobos masuk tanpa mengendurkan kecepatan lari kudanya. Enam orang prajurit penjaga segera membungkukkan badannya saat Narata melewati pintu gerbang.

“Hooop...!”

Narata menarik tali kekang kudanya, sehingga kuda hitam belang putih itu berhenti tepat di depan tangga istana. Dengan gerakan indah dan ringan sekali, laki-laki gemuk berperut buncit itu melompat turun dari punggung kudanya. Kakinya langsung melangkah cepat begitu menjejak undakan pertama tangga istana. Dengan langkah lebar, dia meniti anak-anak tangga yang panjang ini. Seorang laki-laki tua berlari-lari kecil menghampiri kuda Narata, kemudian membawanya ke samping kanan bangunan istana yang megah dan indah ini.

Sementara Narata terus berjalan dengan langkah lebar-lebar. Dua orang prajurit di samping pintu, segera membungkuk begitu laki-laki berperut buncit itu melintasi pintu depan istana yang selalu terbuka lebar. Hanya malam hari saja pintu itu tertutup. Narata terus berjalan menelusuri ruangan depan yang luas dan tertata indah. Langsung dimasukinya bagian tengah istana ini. Di sana, beberapa orang seperti sudah menunggunya. Tampak seorang wanita berparas cantik mengenakan baju sutra halus yang indah berwarna biru muda, tengah duduk di sebuah kursi berukir berwarna keemasan. Di sampingnya, berdiri enam orang gadis cantik. Sementara, delapan orang laki-laki bertubuh kekar berjajar di belakangnya.

Narata merapatkan kedua tangannya di depan hidung begitu berada sekitar satu tombak di depan wanita cantik itu. Dia tetap berdiri tegak di situ. Padahal, orang-orang yang berada sejak tadi di ruangan ini telah duduk bersila di lantai yang beralaskan permadani bulu tebal berwarna merah menyala. Hanya beberapa orang saja yang duduk di kursi kecil terbuat dari ukiran kayu jati hitam.

“Mendekatlah, Kakang Narata,” lembut sekali suara wanita itu.

Narata melangkah maju, kemudian duduk di kursi yang berada di kanan agak ke depan dari wanita cantik itu. Sikapnya terlihat angkuh, dan dadanya sedikit dibusungkan. Sebentar dipandanginya orang-orang yang berada di dalam ruangan ini. Dan pandangannya terpaku sejenak pada seorang pemuda bertubuh kurus kering yang mengenakan baju biru tua. Pemuda itu duduk di kursi kecil bersama para pembesar kerajaan lainnya.

“Ada apakah gerangan, sehingga Dinda Nyai Ratu mengumpulkan seluruh pembesar?” tanya Narata ingin tahu. “Terus terang, aku terkejut mendapat panggilan mendadak ini.”

“Ada sesuatu yang penting, dan harus dibicarakan segera, Kakang Narata,” sahut wanita cantik yang ternyata memang Ratu Nyai Langas, penguasa tunggal Kerajaan Langkat ini.

''Persoalan penting...?” Narata mengerutkan keningnya.

“Benar, Kakang. Semalam empat orang tidak dikenal mencoba memasuki istana. Memang belum pasti tujuannya. Tapi Jarong, kemenakanmu telah mengetahuinya. Tiga orang berhasil dibunuh. Dan seorang lagi melarikan diri,” jelas Ratu Nyai Langas, singkat

“Hm...,” Narata hanya bergumam saja.

“Mereka masuk melewati benteng bagian Timur. Tentu kau tahu kalau itu merupakan taman keputren pribadiku. Dan tak seorang pun boleh memasukinya, kecuali keluarga istana,” lanjut Ratu Nyai Langas.

“Siapa mereka? Dan apa maksudnya, Dinda Ratu?” tanya Narata.

“Itulah yang aku tidak tahu, Kakang Mas Narata. Untuk itulah aku memanggilmu ke sini, agar kau mengetahui persoalannya. Dan kuharap, kau bisa mengetahui siapa dan apa maksud mereka menyelinap ke dalam keputren.”

Narata terdiam sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dari sudut ekor matanya, dia sempat melirik pada pemuda kurus kering yang mengenakan baju warna biru tua. Dan pemuda itu hanya memandang, namun sinar matanya kosong. Bahkan raut wajahnya tanpa ekspresi sama sekali.

“Apakah Dinda Ratu menginginkan agar aku menyelidiki mereka?” tanya Narata.
“Aku rasa itu memang sudah tugasmu, Kakang Mas Narata,” sahut Ratu Nyai Langas.

“Secepatnya aku akan mengetahui siapa mereka. Dinda Ratu,” janji Narata.

Ratu Nyai Langas tersenyum.

“Untuk langkah pertama, sebaiknya cari orang yang melarikan diri itu, Kakang Mas Narata,” ujar Ratu Nyai Langas memberikan saran.
“Aku yakin Jarong bisa melakukan itu, Dinda Ratu.”

Ratu Nyai Langas menatap pemuda bertubuh kurus kering. Dan pemuda itu hanya memberi sembah dengan merapatkan kedua tangannya di depan hidung. Kembali Ratu Nyai Langas menatap Narata, kemudian pandangannya beredar ke sekeliling, merayapi orang-orang yang berada di depannya. Mereka semua memberi sembah dengan merapatkan tangan di depan hidung.

“Kuserahkan padamu untuk mengatur segala sesuatunya, Kakang Mas. Aku merasakan ada seseorang, ataupun sekelompok orang yang menginginkan agar aku terguling dari tahta,” duga Ratu Nyai Langas.

“Kalaupun ada, aku pasti akan cepat memberantasnya, Dinda Ratu,” ujar Narata mantap.

Ratu Nyai Langas kembali tersenyum, dan bangkit berdiri. Pada saat itu, semua orang menundukkan kepala seraya merapatkan kedua telapak tangan di depan hidungnya. Sebentar wanita cantik itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kemudian melangkah pelan dan gemulai meninggalkan ruangan ini. Enam orang gadis dan delapan orang laki-laki pengawal pribadinya, mengikuti dari belakang. Tak ada seorang pun yang mengangkat kepalanya, sebelum Ratu Nyai Langas menghilang dari ruangan besar dan indah ini. Hanya Narata saja yang tidak bersikap demikian. Laki-laki buncit itu tetap duduk tegak sambil membusungkan dadanya, memandangi wanita itu sampai lenyap di balik pintu.

“Jarong! Kau ikut aku,” kata Narata seraya bangkit berdiri.

Pemuda bertubuh kurus kering yang dipanggil Jarong segera bangkit berdiri. Dia langsung berjalan begitu Narata mengayunkan kakinya meninggalkan ruangan ini. Tak lama kemudian, mereka yang sejak tadi duduk bersimpuh di lantai ikut bangkit berdiri, lalu meninggalkan ruangan besar itu. Hanya ada dua orang saja yang masih tinggal dan duduk di kursi kecil. Mereka adalah dua orang laki-laki berusia sekitar lima puluh dan tujuh puluh tahun. Beberapa saat dua orang itu saling melemparkan pandangan. Sementara ruangan ini sudah sunyi, tak ada seorang pun lagi selain mereka berdua.

“Hhh.... Seharusnya Kanjeng Ratu tidak mem-berikan tugas itu pada Gusti Narata,” keluh salah seorang yang lebih tua dan mengenakan jubah putih panjang.

“Yaaah..., akan sia-sia saja nantinya,” sambut seorang lagi yang mengenakan baju ketat warna kuning.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Sebaiknya lihat saja dulu perkembangannya.”
“Hhh...!”
“Kita awasi terus Gusti Narata secara diam-diam, Kakang Jawala.”

“Ya. Kejadian semalam membuatku semakin curiga pada maksudnya yang tersembunyi. Mudah-mudahan Hyang Widi selalu melindungi Kanjeng Ratu Nyai Langas.”

Kedua laki-laki itu kemudian bangkit berdiri, dan meninggalkan ruangan ini tanpa berkata-kata lagi. Mereka berjalan perlahan-lahan dengan bibir terkatup rapat, namun benaknya terus bekerja keras. Entah apa yang dipikirkan, hanya mereka berdua saja yang mengetahuinya.

***

DUA

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Langit tampak bening. Sedikit pun tak ada awan yang menggantung di sana. Sehingga sinar matahari begitu leluasa membakar permukaan bumi, membuat daun-daun seperti merintih dan rerumputan meranggas kekurangan air. Di antara siraman teriknya sang mentari, tampak seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dan mengenakan baju kuning gading berjalan tertatih-tatih.

“Uh! Panas sekali...,” dia mengeluh sambil menyeka keringat di wajahnya yang bercampur debu.

Sebentar langkahnya terhenti, dan kepalanya terdongak memandang matahari di atas sana. Kemudian kakinya kembali melangkah perlahan-lahan dan agak terseret. Keringat semakin banyak bercucuran. Walaupun kakinya terasakan seperti menginjak bara, namun dia terus melangkah menuju sebuah hutan yang tidak seberapa jauh lagi. Kembali langkahnya terhenti setelah sampai di tepi hutan itu. Sambil menghembuskan napas panjang, laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu menghempaskan tubuhnya di bawah sebatang pohon yang cukup rindang. Angin yang berhembus lembut sedikit mengusir kelelahannya. Dengan punggung tangan, disekanya keringat yang membanjiri wajah dan lehernya.

Slap!
“Heh...?!”

Mendadak saja hatinya terperanjat ketika tiba-tiba sebatang anak panah melesat cepat ke arahnya. Cepat-cepat tubuhnya dibanting ke tanah dan bergulingan beberapa kati. Anak panah itu menancap dalam di batang pohon. Bergegas laki-laki berbaju kuning gading itu melompat bangkit berdiri. Namun begitu kakinya menjejak tanah, dari balik pepohonan dan gerumbul semak bermunculan orang-orang bersenjatakan golok terhunus. Mereka langsung mengepung rapat, tanpa ada celah sedikit pun. Laki-laki berbaju kuning gading itu langsung mengedarkan pandangannya berkeliling

“Hm...,” dia bergumam pelan.

Ada sepuluh orang bersenjata golok telanjang yang telah mengepung rapat. Mereka bergerak perlahan memutari laki-laki berbaju kuning gading itu. Golok-golok yang bergerak-gerak melintang di depan dada, berkilatan tertimpa cahaya matahari

“He he he...!” tiba-tiba terdengar tawa terkekeh.

Laki-laki berbaju kuning gading itu memutar tubuhnya. Entah kapan dan dari mana datangnya, tahu-tahu di situ sudah berdiri seorang laki-laki kurus kering mengenakan baju agak longgar warna biru tua. Dia berdiri di atas sebatang pohon mati yang meng-geletak roboh di tanah.

“Jarong...,” laki-laki berbaju kuning gading itu mendesis pelan, mengenali pemuda bertubuh kurus kering itu.

Tentu saja dia mengenali, karena sering melihat pemuda kurus kering itu. Dia memang Jarong, kemenakan laki-laki bertubuh gembur dan berperut buncit, kakak sepupu dari Ratu Nyai Langas yang bernama Narata.

“Tidak sukar untuk menemukanmu kembali, Bokor,” terdengar kering dan datar sekali suara Jarang.

“Mengapa kau menggagalkan tugasku, dan membunuh teman-temanku?!” agak lantang suara laki-laki berbaju kuning gading yang dipanggil Bokor.

“Kau tidak punya hak untuk bicara, Bokor. Bersiaplah menyusul ketiga temanmu,” tetap dingin dan datar sekali suara Jarong.

“Huh!” dengus Bokor.

Jarong menjentikkah ujung jarinya. Maka seketika itu juga, sepuluh orang bersenjata golok yang mengepung Bokor segera berlompatan menyerang. Melihat hal ini Bokor segera mencabut goloknya yang terselip di pinggang. Dan secepat itu pula, tubuhnya diputar sambil cepat mengibaskan goloknya. Namun sebelum tubuhnya berhenti berputar, sebuah golok berkelebat cepat mengarah ke kepalanya. Sesaat Bokor terkesiap, namun cepat sekali goloknya dikibaskan ke atas kepala.

Tring!

Dua senjata golok beradu keras di atas kepala. Tampak orang yang menyerang Bokor tersentak kaget. Seluruh jari-jari tangannya jadi terasa kaku, begitu goloknya beradu dengan golok laki-laki berbaju kuning gading itu. Dan sebelum sempat disadari apa yang terjadi pada dirinya, Bokor sudah melompat cepat sambil mengibaskan goloknya.

“Hiyaaa...!”
Bet!
Cras!
“Aaa...!”

Orang itu menjerit keras melengking tinggi. Tebasan golok Bokor tepat membelah dadanya. Seketika darah muncrat, bersamaan dengan tergulingnya tubuh laki-laki bertubuh sedang itu. Dan sebelum yang lain menyadari apa yang telah terjadi terhadap salah seorang temannya, Bokor sudah bergerak cepat memutar tubuhnya.

Bet!

Kembali laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun itu mengibaskan goloknya ke arah seorang penyerang yang berada dekat dengannya. Serangan Bokor yang cepat dan tidak terduga sama sekali tak mungkin dapat dihindari lagi.

Crab!
“Aaa...!”

Kembali terdengar jeritan panjang dan menyayat, disusul ambruknya seorang lagi dengan leher terpenggal hampir buntung. Darah mengucur deras dari leher yang menganga lebar itu. Hanya sebentar tubuh orang itu mampu menggeliat dan mengerang meregang nyawa, kemudian diam tak berkutik lagi. Mati.

“Keparat..!” geram Jarong melihat dua anak buahnya tewas begitu cepat

Sementara Bokor sudah kembali bergerak begitu cepat Tapi kali ini orang-orang yang mengepungnya tidak lagi terpaku pada kejadian yang begitu cepat dan menimbulkan dua nyawa melayang. Mereka segera mengambil tindakan untuk mendesak Bokor yang mengamuk seperti kesetanan.

***

Bokor yang menyadari kalau sebenarnya orang-orang yang menyerangnya ini memiliki tingkat kepandaian lumayan, tidak tanggung-tanggung menghadapinya lagi. Terlebih lagi di tempat ini juga ada Jarong. Meskipun sampai sekarang dia belum juga ikut terjun dalam pertarungan ini, tapi Bokor yakin kalau cepat atau lambat Jarong pasti akan terjun juga. Dan ini sebenarnya yang dicemaskannya. Bokor sadar betul kalau kemampuan yang dimilikinya tidak akan sanggup menandingi pemuda bertubuh kurus kering itu. Namun dia tidak ingin mati sia-sia. Sedapatnya separuh dari jumlah mereka yang mengeroyoknya dengan ganas harus bisa dikurangi

“Yeaaah...!”

Sambil berteriak keras menggelegar, Bokor mengebutkan goloknya sambil berputar, bertumpu pada satu kaki Gerakan yang cepat dan tak terduga ini, tak bisa lagi dihindari dua orang yang sudah keburu melompat sambil menghunus golok ke depan.

Bret!
Cras!
“Aaakh!”
“Aaa...!”

Dua jeritan panjang melengking tinggi terdengar saling sambut, disusul ambruknya dua orang yang sudah keburu melompat. Darah seketika menyembur deras dari tubuh yang terbelah tertebas golok Bokor. Belum lagi ada yang sempat menyadari apa yang baru saja terjadi, mendadak saja tubuh Bokor melenting ke udara. Dia memang bermaksud kabur dari tempat ini.

“Yeaaah...!”

Namun sebelum niatnya terlaksana, mendadak saja tangan kanan Jarong sudah mengebut ke arah laki-laki berbaju kuning gading itu. Dan seketika itu pula, dari balik lipatan lengan bajunya melesat dua buah pisau yang tipis sepanjang jengkal. Dua pisau itu meluruk deras ke arah Bokor yang sedang berada di udara.

“Hap!”

Cepat sekali Bokor memutar tubuhnya sambil mengibaskan golok untuk menyampok kedua pisau itu sekaligus.

Tring!

Kedua pisau itu langsung terpental. Dan seorang yang sedikit lengah tak bisa lagi menghindari pisau yang berbalik arah itu. Seketika terdengar jeritan panjang melengking tinggi ketika satu pisau menancap di dada orang itu. Sedangkan pisau satunya lagi menancap dalam di tanah.

''Yeaaah...!”

Melihat serangan pisaunya gagal, seketika Jarong melesat cepat mengejar Bokor yang mulai mendarat turun. Sebelum Bokor sempat berlari, Jarong sudah cepat melontarkan dua pukulan beruntun ke arahnya.

“Hup! Uts...!”

Cepat-cepat Bokor menjatuhkan diri ke tanah dan bergulingan beberapa kali. Maka dua pukulan yang dilepaskan Jarong tidak mengenai sasaran. Namun baru saja Bokor bisa melompat bangkit berdiri, Jarong sudah kembali menyerang dengan kecepatan luar biasa.

“Hiyaaa...!”

Kali ini Bokor hanya bisa bertahan dan menghindar. Tapi sesekali masih juga mampu memberi serangan balasan. Namun semua serangan balasannya tidak berarti sama sekali. Karena sebelum mencapai sasaran, Jarong sudah membuat serangan itu mentah. Dan tanpa dapat dicegah lagi, Bokor sudah mendapat serangan kembali. Hanya beberapa gebrakan saja, Bokor sudah kelihatan terdesak sekali. Dan kini setelah melewati tiga jurus, laki-laki berbaju kuning gading itu benar-benar tidak mampu lagi balas menyerang. Dia hanya bisa menghindar dan berkelit semampunya. Serangan-serangan yang dilancarkan Jarong, begitu cepat dan dahsyat sekali. Hingga suatu saat...

“Jebol dadamu! Yeaaah...!”

Belum lagi teriakan itu hilang, mendadak saja Jarong melontarkan satu tendangan keras menggeledek seraya melompat sedikit Bokor terperangah, karena baru saja bisa menghindari satu pukulan ke arah kepala. Dan tendangan itu memang tak mungkin dapat dihindari lagi. Namun mendadak saja....

Plak!
“Akh...!”

Jarong mendadak terpekik. Pemuda kurus kering itu terpental balik ke belakang, lalu berputaran beberapa kali sebelum sepasang kakinya mendarat di tanah berumput. Sungguh tidak diduga kalau tendangannya tadi seperti membentur sebuah tembok baja yang begitu kuat Akibatnya, tulang pergelangan kakinya serasa remuk.

“Heh...?!”

Jarong tersentak kaget ketika tahu-tahu di depan Bokor sudah berdiri seorang pemuda berbaju kulit harimau. Bahkan Bokor pun terlongong keheranan menyaksikan pemuda berwajah cukup tampan dengan garis-garis kekerasan dan ketegasan membayang jelas di wajahnya itu. Tak terlihat senjata melekat di tubuhnya, kecuali sebuah cakra di tangan kanan. Memang, Jarong yakin betul kalau tendangannya tadi terhalang oleh pemuda berbaju kulit harimau itu. Tapi yang membuatnya heran, sama sekali kedatangannya tidak terlihat. Bahkan kelebatan bayangannya pun tidak terlihat. Dan ini yang membuat pemuda kurus itu jadi keheranan. Dia yakin kalau pemuda berbaju kulit harimau itu memiliki tingkat kepandaian tinggi.

“Setan alas...! Siapa kau?! Berani-beraninya mencampuri urusanku!” bentak Jarong. Suaranya kasar dan dingin sekali.

“Tidak perlu tahu siapa diriku. Yang jelas, aku paling tidak suka melihat kecurangan!” jawab pemuda berbaju kulit harimau itu, dingin.

“Sombong...! Kau belum tahu siapa aku, heh...?!” desis Jarong geram.
“Tengkorak hidup yang bisanya main keroyok.”
“Keparat..! Serang...!”

Jarong begitu marah, sehingga seketika itu juga sisa orang-orangnya diperintahkan untuk menyerang. Pada saat itu, dia juga bersiul nyaring. Siulan yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi itu menyebar ke angkasa, terbawa angin yang bertiup lembut siang ini. Dan tak berapa lama kemudian, dari dalam hutan itu muncul orang-orang berbaju hitam bersenjatakan tongkat pendek kembar berwarna merah. Mereka berlompatan cepat ke arah Bokor dan pemuda berbaju kulit harimau itu.

“Celaka...,” desis pemuda itu saat melihat puluhan orang meluruk cepat ke arahnya.

Tak ada lagi yang bisa dilakukan, kecuali cepat-cepat menyambar tubuh Bokor. Dan sebelum anak buah Jarong yang berseragam hitam bisa mencapainya, secepat kilat pemuda berbaju kulit harimau itu melesat sambil membawa Bokor.

“Setan...!” geram Jarong.

Begitu cepatnya lesatan pemuda berbaju kulit harimau itu, sehingga dalam sekejap mata saja sudah lenyap seperti tertelan bumi saja. Hal ini membuat mereka yang baru berdatangan jadi bengong. Sementara Jarong tidak henti-hentinya memaki dan mengumpat geram.

***

Bruk!

“Ah...!” Bokor terpekik kecil, ketika tiba-tiba tubuhnya terbanting agak keras ke tanah. Sambil meringis, laki-laki berbaju kuning gading itu bangkit berdiri. Dia berdiri tepat sekitar dua langkah di depan pemuda berbaju kulit harimau yang telah menyelamatkan nyawanya dari kematian.

“Terima kasih atas pertolonganmu yang telah menyelamatkan nyawaku. Tapi aku yakin, setelah ini aku tidak akan lama menghirup udara segar,” ucap Bokor.

“Sebaiknya kau pergi saja sejauh mungkin. Kalau perlu, pergi ke balik dunia ini,” pemuda berbaju kulit harimau itu menyarankan.
“Percuma saja,” sahut Bokor seraya tersenyum.

Bokor tahu kalau saran tadi hanya sebuah gurauan saja, tapi memang dibenarkan juga. Dia memang harus pergi jauh agar tak mungkin bisa dicapai musuhnya seorang pun juga. Tapi itu tidak akan mungkin. Ke mana pun dirinya pergi, pasti Jarong dan orang-orangnya bisa menemukan. Bokor sendiri tidak mengerti, mengapa Jarong justru menjegalnya. Padahal dia sedang melaksanakan tugas yang diberikan paman pemuda kurus kering itu. Dan baru kali ini Bokor tahu kalau Jarong yang kelihatannya lemah, ternyata memiliki ke-pandaian yang sangat tinggi.

Bahkan lebih tinggi dari yang didengarnya selama ini. Dan sampai di mana tingkat kepandaian yang dimiliki pemuda bertubuh kurus kering itu, Bokor tidak tahu. Bokor meraba pinggangnya. Dan seketika itu juga keningnya berkerut. Jari-jari tangannya menyelusup ke balik sabuk yang membelit pinggangnya. Tapi mendadak saja dia jadi seperti kebingungan, dan wajahnya jadi memucat. Perubahan ini menjadi perhatian pemuda berbaju kulit harimau di depannya.

“Ada apa? Kau mencari sesuatu?” tanya pemuda berbaju kulit harimau itu.
“Ya! Ada yang hilang,” sahut Bokor seraya memandang pemuda di depannya ini.
“Senjatamu?”
“Bukan, tapi surat.”

Pemuda berbaju kulit harimau itu mengerutkan keningnya, dan matanya agak menyipit menatap laki-laki kekar di depannya ini. Sedangkan dengan lesu sekali, Bokor menghempaskan tubuhnya, duduk di atas rerumputan. Di dalam hutan yang cukup lebat ini, udara terasa sejuk. Namun, tidak sesejuk hati dan perasaan Bokor yang jadi gelisah seketika. Terutama setelah menyadari kalau surat yang harus disampai-kan pada Ratu Nyai Langas tidak ada lagi di tempatnya.

“Hhh.... Gusti Narata pasti akan memenggal kepalaku...,” keluh Bokor lirih.
“Siapa itu Gusti Narata?” tanya pemuda berbaju kulit harimau lagi.

“Majikanku,” sahut Bokor, suaranya masih terdengar pelan. “Aku harus menyampaikan surat itu langsung pada Kanjeng Ratu Nyai Langas. Tapi sekarang surat itu hilang. Hhh.... Aku tidak tahu lagi, apa yang harus kulakukan sekarang.”

Bokor benar-benar kebingungan. Dia tidak bisa lagi berpikir jernih. Tidak ada lagi keberanian dalam dirinya untuk kembali bertemu Narata. Sudah pasti junjungannya itu akan memenggal lehernya, karena tugas yang diembannya gagal lagi.

“Itu merupakan surat rahasia Gusti Narata, khusus untuk Kanjeng Ratu Nyai Langas. Tidak boleh seorang pun yang boleh menerima, selain Kanjeng Ratu Nyai Langas...,” kembali Bokor mengeluh.

“Ingat-ingat dulu, barangkali kau lupa menyimpannya,” pemuda berbaju kulit harimau itu mencoba mengingatkan.

“Aku tidak mungkin lupa, Kisanak.... Aku....”
“Bayu,” ujar pemuda berbaju kulit harimau itu memperkenalkan namanya, saat suara Bokor terhenti.

Pemuda itu memang bernama Bayu, yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Pulau Neraka. Tidak ada lagi di dunia ini pendekar tangguh dan digdaya yang mengenakan baju dari kulit harimau, selain Pendekar Pulau Neraka. Memang tampaknya dia tidak membawa senjata apa pun juga. Tapi di pergelangan tangannya, melekat sebuah lempengan logam keras. Bentuknya jelas sebuah cakra yang sisinya bergerigi, berjumlah enam buah. Cakra itulah merupakan senjata andalannya, yang bernama Cakra Maut.

“Aku Bokor,” Bokor juga memperkenalkan namanya.
“Atau barangkali terjatuh,” duga Bayu.

“Ya..., hal itu lebih masuk akal lagi. Pasti terjatuh. Tapi di mana...?” Bokor seperti bertanya pada diri sendiri.

“Ingat-ingat dulu, ke mana saja kau selama membawa surat itu,” saran Bayu kembali.

Bokor terdiam dengan mata menerawang jauh ke depan. Dicobanya untuk mengingat-ingat di mana kira-kira surat yang berada di dalam selongsong bambu itu terjatuh. Sejak keluar dari rumah kediaman Narata, dia bersama ketiga temannya langsung menuju Istana Langkat. Di dalam keputren istana mereka sempat bertarung, sehingga hanya tinggal dirinya sendiri yang selamat. Sedangkan ketiga temannya tewas di tangan Jarong. Dari istana itu, dirinya langsung pergi hingga sampai ke tepi hutan, tempat dia mendapat serangan dari Jarong dan orang-orangnya lagi.

Rasanya terlalu sukar bagi Bokor untuk mengetahui persis, di mana surat itu terjatuh. Padahal diyakini betul kalau surat itu tersimpan di balik sabuk pinggangnya. Dan sekarang, benda yang menjadi tanggung jawabnya itu sudah lenyap. Entah berada di mana, yang jelas Bokor berharap agar surat itu tidak jatuh ke tangan orang yang salah. Terlebih lagi Jarong, yang tidak jelas maksudnya menyerang dan menjegalnya. Padahal, dia sedang melaksanakan tugas dari paman pemuda kurus kering itu.

“Hhh.... Apa yang harus kulakukan sekarang...?” keluh Bokor seperti bertanya pada dirinya sendiri.

“Kalau merasa bertanggung jawab, kau harus mencari surat itu,” Bayu menyahuti.

“Aku memang harus menemukannya. Tapi di mana...?” lagi-lagi Bokor bertanya tanpa ada yang bisa menjawabnya.

Dan Pendekar Pulau Neraka sendiri sudah pasti tidak bisa menjawab, karena memang tidak tahu menahu tentang surat itu. Dia tadi hanya kebetulan lewat saja. Kebetulan, jiwa kependekarannya tidak bisa melihat seseorang dikeroyok tanpa dapat memberi perlawanan sedikit pun. Walaupun diakui, Bokor berhasil merobohkan lima orang pengeroyoknya.

“Aku akan membantumu mencari surat itu,” kata Bayu menawarkan jasa.

“Terima kasih. Bukannya aku menolak, tapi ini merupakan tanggung jawabku,” sahut Bokor seraya bangkit berdiri lagi.

“Aku merasa, saat ini kau sendirian dan pasti membutuhkan seseorang yang bisa mengerti dan membantumu tanpa mengharapkan imbalan apa pun juga,” kata Bayu lagi.

Bokor tidak bisa menjawab lagi. Dia tahu kalau pemuda berbaju kulit harimau ini akan membantunya secara sukarela dan tanpa mengharapkan sesuatu imbalan apa pun. Tak ada yang bisa dilakukannya, selain mengulurkan tangan dan menjabat tangan Pendekar Pulau Neraka.

“Kuharap kita bisa bekerja sama,” ujar Bokor. Bayu hanya tersenyum saja.

***

TIGA

Bokor berdiri agak berlindung di balik sebatang pohon yang cukup rindang. Pandangannya tidak berkedip ke arah bangunan istana yang berdiri megah di tengah-tengah Kotaraja Langkat. Di situ, tampak sesosok tubuh tengah merapat di atap bangunan besar dan megah itu. Sosok tubuh yang memakai baju dari kulit harimau.

“Oh...?!”

Mendadak Bokor tersentak kaget ketika pundaknya terasa ada yang menepuk dari belakang. Dan belum sempat berpaling, mendadak saja laki-laki bertubuh tinggi tegap itu merasakan punggungnya terhantam sesuatu dengan keras.

Diegkh!
“Akh...!”

Seketika itu juga, Bokor terpental keras ke belakang. Dia jatuh bergulingan ke tanah beberapa kali, namun cepat bangkit berdiri. Dan belum juga bisa berdiri tegak, tiba-tiba sebuah bayangan biru berkelebat cepat menerjang ke arahnya.

“Uts!”

Bergegas Bokor memiringkan tubuhnya, maka bayangan biru itu lewat sedikit di samping tubuhnya.

Namun angin sambaran bayangan itu membuat Bokor sedikit terhuyung. Bergegas keseimbangan tubuhnya cepat dikuasai, dan secepat itu pula tubuhnya diputar.

“Jarong..,” desis Bokor ketika melihat seorang pemuda bertubuh kurus kering tahu-tahu berdiri sekitar dua tombak di depannya.

“Kau terlalu berani untuk masuk ke kota, Bokor,” dingin sekali suara Jarong.

Bokor sempat melirik ke arah atap bangunan istana, dan langsung terkejut. Ternyata di atas atap itu sedang terjadi pertarungan sengit. Tampak seseorang berpakaian dari kulit harimau sedang bertarung sengit melawan empat orang bersenjata pedang. Pada saat itu, beberapa orang sudah berlompatan ke atas atap itu dan langsung mengeroyok laki-laki berbaju kulit harimau.

“Sebaiknya kau menyerah saja, Bokor. Tidak ada gunanya melakukan perlawanan lagi,” kata Jarong lagi, tetap dingin dan datar nada suaranya.

“Walaupun harus mati, jangan harap aku menyerah,” sahut Bokor ketus.

“Pilihlah nasibmu sendiri, Bokor. Baiklah, aku tidak akan sungkan-sungkan lagi memenggal kepalamu...!”

Setelah berkata demikian, Jarong cepat sekali melesat menerjang laki-laki berbaju kuning gading itu. Hanya sedikit saja Bokor memiringkan tubuhnya maka satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi yang dilepaskan Jarong berhasil dihindarinya. Namun tanpa menarik pulang pukulannya, Jarong sudah menghentakkan kakinya. Diberikannya satu tendangan keras menggeledek.

“Yeaaah...!”
Begkh!
“Ughk...!”

Bokor mengeluh pendek. Tendangan pemuda bertubuh kurus kering itu tak dapat dihindari Bokor. Tak urung lagi telapak kaki yang bagaikan hanya terbalut kulit tipis, telak sekali mendarat di perut Bokor. Akibatnya laki-laki berbaju kuning gading itu terhuyung-huyung ke belakang.

Sret!

Bokor cepat menarik goloknya yang terselip di pinggang. Pada saat itu, Jarong sudah cepat mengibaskan tangannya sambil melompat menerjang.

“Hiyaaa...!”
Wus!
Bet!

Begitu pisau-pisau bertebaran deras ke arah tubuhnya, Bokor cepat sekali mengibaskan goloknya beberapa kali untuk menyampok pisau-pisau itu. Namun pada saat yang sama, Jarong sudah menerjang cepat. Langsung diberikannya dua pukulan keras bertenaga dalam tinggi yang tak dapat terbendung lagi.

Plak!

“Akh...!” Bokor memekik keras ketika pukulan yang dilepaskan Jarong tepat menghantam dada. Seketika itu juga Bokor terpental deras sekali ke belakang. Dan sebelum keseimbangan tubuhnya bisa terkuasai, mendadak saja Jarong sudah cepat mengibaskan tangannya.

Slap!

Tampak dua bilah pisau tipis sepanjang jengkal melesat cepat dari balik lipatan lengan baju pemuda bertubuh kurus kering itu. Sementara Bokor yang sedang terhuyung, tak mampu lagi menghindar. Dua bilah pisau menancap tepat dan dalam sekali di dada pemuda berbaju kuning gading itu. Maka....

Crab!
“Aaa...!”

Bokor terpental ke belakang, dan dengan keras sekali terbanting di tanah. Hanya sebentar tubuhnya mampu menggeliat sambil mengerang, kemudian diam tak bergerak-gerak lagi. Tampak darah merembes keluar dari dada yang tertancap dua bilah pisau.

“Ha ha ha...!” Jarong tertawa terbahak-bahak melihat buruannya kini sudah tergeletak tak bernyawa lagi.

Pemuda bertubuh kurus kering itu menghampiri Bokor yang sudah tergeletak tak bernyawa lagi. Diperiksa seluruh tubuh laki-laki itu. Tapi sebentar kemudian, wajahnya seketika berubah semakin memucat bagai tak teraliri darah lagi.

“Keparat..!” geram Jarong mendesis. “Hih!”

Keras sekali kakinya dihentakkan menendang tubuh yang sudah tak bernyawa lagi itu. Mayat Bokor terpental cukup jauh, hingga menghantam dinding sebuah rumah sampai jebol berantakan. Penghuni rumah itu keluar, dan langsung berlari terbirit-birit begitu mengetahui yang menjebol dinding rumahnya adalah sesosok mayat.

“Setan keparat..!”

Tubuh Jarong berbalik sambil memaki geram. Matanya langsung memandang ke arah atap bangunan istana. Namun seketika itu juga jadi mendelik. Ternyata di atas atap itu hanya terlihat beberapa sosok tubuh yang tergeletak. Apalagi di sana tak ada pertarungan lagi.

“Hup!”

Cepat sekali pemuda bertubuh kurus kering itu melesat ke arah bangunan istana itu. Dan Jarong tidak melewati pintu gerbang yang tertutup rapat dan dijaga sekitar enam orang prajurit Lesatannya bagaikan kilat melompati tembok benteng istana itu. Siang ini, keadaan sekitar istana itu memang agak lain. Suasananya sunyi senyap. Bahkan tak seorang pun terlihat kecuali para prajurit yang berjaga di tempat-tempat tertentu.

***

Bayu berdiri tegak memandangi gundukan tanah yang masih terlihat baru. Di ujung gundukan tanah merah itu, terdapat sebuah batu sebagai pertanda kalau di dalamnya terbaring jasad seseorang yang sudah menyelesaikan tugasnya di dunia ini. Perlahan Pendekar Pulau Neraka mengangkat kepalanya.

“Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian, Bokor,” pelan sekali suara Bayu kedengarannya.

Gundukan tanah itu memang kuburan Bokor. Bayu menguburkannya di tepi hutan tidak jauh dari perbatasan Kotaraja Langkat. Tubuh Bokor ditemukan tergeletak tidak jauh dari tembok benteng Istana Langkat, setelah Pendekar Pulau Neraka lolos dari kepungan di atas atap bangunan istana itu.

“Maaf. Aku tidak bisa memilihkanmu tempat yang lebih baik lagi,” ujar Bayu lagi, tetap pelan suaranya.
“Itu sudah lebih baik, daripada dihanyutkan ke sungai....”

Bayu langsung memutar tubuhnya ketika tiba-tiba saja terdengar suara dari arah belakang. Entah kapan datangnya, tahu-tahu agak jauh di depan Pendekar Pulau Neraka sudah berdiri seorang pemuda bertubuh kurus kering mengenakan baju agak longgar warna biru tua. Di belakang pemuda yang perawakan tubuhnya seperti tengkorak hidup itu berdiri empat orang bertubuh tinggi tegap. Wajah mereka kasar, dengan mata menyorot bengis.

“Pasti kau yang membunuh Bokor,” tuduh Bayu langsung.
“Ha ha ha...,” pemuda kurus kering yang tak lain Jarong tertawa terbahak-bahak keras sekali.

Namun suara tawa Jarong begitu kering, dan terdengar serak menyakitkan telinga. Tanpa dijawab sekalipun, Bayu sudah tahu kalau pemuda kurus kering bagai tengkorak hidup inilah yang telah membunuh Bokor. Dan Pendekar Pulau Neraka pernah bertemu sekak, ketika menyelamatkan Bokor dari keroyokannya.

“Kisanak! Aku tidak akan memperpanjang persoalan ini, jika kau suka menyerahkan surat itu padaku,” tegas Jarong dengan suaranya yang selalu datar dan dingin.

“Aku tidak pernah punya surat,” sahut Bayu tak kalah tegas.
“Jangan membuat kesabaranku habis, Kisanak,” desis Jarong bernada mengancam.
“Mau habis, mau tidak, itu urusanmu,” balas Bayu tidak kalah dinginnya.
“Sudah besar kepala rupanya kau...!”

Bayu hanya tersenyum sinis saja. Kemudian tubuhnya berputar ke kanan. Tanpa mempedulikan geraman pemuda kurus kering itu, Bayu mengayunkan kakinya hendak meninggalkan tempat ini.

''Keparat..! Kau meremehkan aku, heh...?!” geram Jarong jadi gusar bukan main melihat sikap Pendekar Pulau Neraka yang sepertinya tidak memandang sebelah mata padanya.

Namun Bayu tetap saja berjalan, tidak peduli. Dan ini semakin membuat Jarong geram. Seketika tangan kanannya dihentakkan ke depan. Maka, dari balik lipatan lengan bajunya melesat dua buah pisau kecil tipis sepanjang jengkal tangan berwarna keperakan.

Wus...!

Mendengar desiran angin yang halus dari arah belakang, Bayu cepat sekali memutar tubuh. Dan saat itu juga tangan kanannya digerakkan dengan cepat ke depan dada.

Tap!

“Heh...!” Jarong terkejut melihat kedua senjatanya mudah sekali ditangkap Pendekar Pulau Neraka.

Dan kini, kedua pisau tipis keperakan itu terselip di antara kedua jari tangan Bayu. Belum lagi Jarong bisa menghilangkan keterkejutannya, mendadak saja Bayu sudah mengibaskan tangan kanannya untuk melemparkan kedua pisau tadi kepada pemiliknya kembali.

“Yeaaah...!”
Wus!

Kedua pisau itu meluncur lebih cepat daripada yang dilemparkan Jarong tadi. Dan ini membuat pemuda bertubuh kurus kering itu jadi terbeliak semakin terkejut. Namun cepat sekali, tubuhnya melenting ke udara. Maka kedua pisau itu melesat lewat di bawah telapak kakinya. Empat orang yang berdiri di belakang pemuda itu juga bergegas berlompatan menghindari terjangan pisau. Mereka menjatuhkan diri di tanah dan bergulingan beberapa kali. Tepat di saat Jarong menjejakkan kakinya kembali ke tanah, empat orang laki-laki berwajah kasar itu sudah berlompatan bangkit berdiri.

“Kurang ajar...,” desis Jarong geram. “Serang! Bunuh keparat itu...!”

Tanpa diperintah dua kali, empat orang yang semuanya bersenjatakan golok segera berlompatan menerjang Pendekar Pulau Neraka. Golok mereka yang langsung tercabut seketika itu dikibaskan ke tubuh Bayu. Namun lewat gerakan indah dan ringan sekali, tubuh pemuda berbaju kulit harimau itu meliuk-liuk, menghindari setiap serangan yang dilancarkan empat orang bersenjata golok itu.

Sedangkan Jarong hanya memperhatikan saja jalannya pertarungan itu. Saat memperhatikan, matanya tidak berkedip sama sekali. Sementara, empat orang bersenjata golok itu terus mencecar hebat Pendekar Pulau Neraka. Mereka menyerang secara bergantian dari empat arah. Dan Bayu sendiri tampaknya masih mampu menandinginya, meskipun pada saat ini hanya berkelit dan menghindar saja. Dan ini memang disengaja, karena ingin mengetahui dulu, sampai di mana tingkat kepandaian empat orang pengeroyoknya ini.

“Uts! Yeaaah...!”

Cepat sekali Pendekar Pulau Neraka merunduk sambil memiringkan tubuh ke kiri, ketika sebatang golok menyambar ke arah kepalanya. Dan pada saat itu, tangan kanannya bergerak cepat mengibas ke depan.

“Yeaaah...!”

Secercah cahaya keperakan berkelebat cepat dari pergelangan tangan pemuda berbaju kulit harimau itu. Sementara orang yang berada di depannya tidak sempat menyadari lagi. Tahu-tahu....

Crab!
“Aaa...!”

Satu jeritan melengking dan menyayat terdengar, tepat saat orang yang berada di depan Pendekar Pulau Neraka terpental. Tampak di lehernya tertancap sebuah benda pipih bulat, yang sisinya bergerigi enam.

“Hap!”

Saat itu Bayu menghentakkan tangan kanannya ke atas, tepat begitu tubuhnya tegak kembali. Seketika benda berbentuk cakra perak melesat keluar dari leher yang langsung memuncratkan darah segar. Senjata maut Pendekar Pulau Neraka langsung menempel di pergelangan tangan kanannya.

“Hup...!”

Bayu melompat keluar dari kepungan itu, di saat tiga orang yang menyerangnya tadi tengah terpaku melihat kejadian yang begitu cepat dan tidak terduga sama sekali. Mereka seperti tidak percaya kalau seorang temannya kini telah tergeletak tak bernyawa. Lehernya robek mengeluarkan darah segar. Mendadak saja Pendekar Pulau Neraka meluruk deras ke arah Jarong. Pemuda kurus kering bagai tengkorak hidup itu menjadi terkejut bukan main. Bergegas dia melompat ke samping ketika Bayu melontarkan dua pukulan keras beruntun, mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi.

Glarrr!

Suara ledakan keras terdengar begitu pukulan Bayu menghantam pohon di belakang Jarong tadi. Pohon yang cukup besar itu langsung hancur berkeping-keping.

“Gila...!” desis Jarong terkejut begitu melihat akibat pukulan pemuda berbaju kulit harimau yang mengandung tenaga dalam tinggi.

Dan sebelum pemuda kurus kering itu bisa menghilangkan keterkejutannya, Bayu sudah kembali melesat menerjang. Gerakan Pendekar Pulau Neraka sungguh cepat luar biasa. Dan ini berarti tak ada lagi kesempatan buat Jarong untuk menghindar dari serangan yang cepat dan dahsyat itu.

“Yeaaah...!”

Jarong cepat menghentakkan tangannya ke depan, menyambut pukulan yang dilontarkan Pendekar Pulau Neraka. Tak dapat dihindari lagi, dua kekuatan tenaga dalam yang saling bertentangan beradu keras hingga menimbulkan ledakan keras menggelegar.

Blarrr!

Tampak kedua pemuda yang mengadu tenaga dalam itu sama-sama terpental ke belakang. Tiga kali Bayu berputaran di udara, dan manis sekali kakinya mendarat di tanah. Sementara itu, Jarong agak terhuyung begitu mendarat

“Phuih!”

Jarong menyemburkan ludahnya. Dan semburan ludah itu ternyata berwarna merah agak kental. Jarong menyadari kalau tenaga dalam yang dimilikinya masih kalah dibandingkan lawan. Juga disadari kalau tubuhnya sedikit terluka dalam. Ludah yang bercampur darah itu sudah menandakan kalau tubuhnya terluka dalam, akibat benturan tenaga dalam tadi.

“Keparat..!” geram Jarong.

Pemuda bertubuh kurus kering itu menjentikkan jari tangannya. Maka mendadak saja, dari atas pohon yang banyak tumbuh di tepi hutan ini meluncur anak-anak panah ke arah Pendekar Pulau Neraka.

“Kadal...!” maki Bayu gusar.

Namun tak ada pilihan lain lagi bagi Pendekar Pulau Neraka itu. Dengan cepat sekali, tubuhnya melenting, lalu membuat putaran beberapa kali di udara. Sementara, tangannya bergerak cepat untuk menyampok anak panah yang menghujani tubuhnya. Bayu harus berpelantingan di udara sambil memutar cepat tubuhnya. Begitu kakinya menjejak tanah, kembali cepat melesat ke udara. Hanya itu jalan satu-satunya untuk menghadapi hujan anak panah yang datang dari segala arah ini. Namun juga disadari kalau tidak akan mungkin bisa bertahan lama. Cara seperti ini menguras tenaga terlalu banyak.

“Hiyaaa...!”

Cepat Bayu menjatuhkan tubuhnya ke tanah, lalu bergulingan mendekati tubuh yang tergeletak tak bernyawa lagi. Sedangkan panah-panah itu terus berdesingan di sekitar tubuhnya.

“Hap!”

Cepat Bayu melenting bangkit setelah bisa menyambar golok yang tergeletak tidak jauh dari mayat laki-laki itu. Dan dengan golok ini, setiap anak panah yang datang mengancam tubuh dibabatnya. Kini Bayu tidak perlu lagi menguras tenaga terlalu banyak. Dengan sedikit kelincahan kaki, dan gerakan tangan yang cepat, serangan panah-panah itu berhasil dipatahkan.

“Seraaang...!” tiba-tiba saja Jarong berteriak keras memberi perintah.

Dan seketika itu juga, dari atas pepohonan dan dari balik semak belukar berlompatan manusia-manusia berbaju hitam bersenjata tombak pendek kembar berwarna merah. Mereka seperti berlomba, langsung meluruk ke arah Pendekar Pulau Neraka.

“Monyet celaka...!” geram Bayu mendesis.

Tak ada lagi kesempatan bagi Pendekar Pulau Neraka untuk bisa menghindar. Karena sebelum sempat berpikir, dari samping kanan dan kirinya sudah datang serangan orang-orang berbaju hitam. Mereka langsung menusuk dan mengibaskan tongkat pendeknya cepat sekali.

Wut!
“Hap...!”

Bayu tak mempunyai pilihan lain lagi. Segera dia bergerak menyambut serangan yang datang dari segala arah itu secara beruntun dan cepat sekali. Dengan mengandalkan kelincahan gerak kaki dan ketinggian pengerahan tenaga dalam, Pendekar Pulau Neraka langsung mengamuk dan menghajar siapa saja yang dekat dari jangkauannya.

Sebentar saja sudah terdengar jerit dan pekikan keras melengking tinggi, disusul bergelimpangannya tubuh-tubuh tak bernyawa lagi. Pukulan yang dilepaskan Bayu, memang dahsyat sekali, karena disertai pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai taraf kesempurnaan.

Namun, jumlah mereka semakin bertambah banyak saja. Dan tentu saja ruang gerak Pendekar Pulau Neraka semakin terbatas. Rasanya sukar sekali untuk bisa keluar dari keroyokan ini. Meskipun dirinya seorang pendekar digdaya yang berkepandaian tinggi, tapi tetap saja kodratnya hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Dan ini sangat disadarinya. Tidak mungkin mereka semua yang jumlahnya seperti satu pasukan prajurit bisa dikalahkan.

“Huh! Bisa habis napasku kalau begini terus,” dengus Bayu dalam hati.

Di saat Pendekar Pulau Neraka sedang berpikir keras sambil terus menghalau serangan, mendadak keroyokan orang-orang berpakaian serba hitam itu jadi terpecah belah. Ini karena tiba-tiba saja sepasukan prajurit Kerajaan Langkat telah datang dan langsung menyerang para pengeroyok Bayu. Seketika terdengar jeritan-jeritan diselingi denting senjata beradu. Saat itu Bayu memiliki sedikit kesempatan untuk bisa keluar dari kepungan ini. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Dengan cepat sekali, Pendekar Pulau Neraka melentingkan tubuhnya ke udara dan ber-putaran beberapa kali.

“Hap!”

Begitu kakinya mendarat di batang pohon, dia segera bersiap melepaskan senjata Cakra Maut yang selalu menempel di pergelangan tangan kanan. Namun mendadak saja niatnya diurungkan.

“Lari...!” tiba-tiba terdengar teriakan memberi perintah.

Seketika itu juga, orang-orang berpakaian serba hitam berlompatan cepat, masuk ke dalam hutan. Gerakan mereka memang cepat sekali. Maka dalam waktu sebentar saja, tempat ini sudah ditinggalkan. Bayu yang berada di atas pohon jadi tercenung melihat orang-orang berpakaian prajurit berada di tempat itu, di antara mayat-mayat yang bergelimpangan.

“Hup...!” Bayu melompat turun dari atas pohon.

Prajurit-prajurit itu terkejut, dan langsung bergerak mengepung. Namun seorang laki-laki berjubah putih yang membawa tombak pendek bermatakan keemasan, merentangkan tangannya lebar-lebar. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki lain yang mengenakan baju warna kuning ketat, membawa cambuk hitam berduri halus.

“Siapa kau. Anak Muda?” tanya laki-laki tua berjubah putih itu.
“Bayu,” sahut Bayu memperkenalkan namanya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya orang tua berjubah putih itu lagi.

“Hm.... Mungkin Kisanak tidak melihat kalau aku yang tadi dikeroyok mereka,” sahut Bayu.

“Oh, maaf. Tapi mengapa kau sampai bentrok dengan mereka?”
“Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja mereka muncul dan menyerangku.”

Laki-laki tua berjubah putih panjang itu menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia kemudian berpaling, memandang laki-laki berbaju kuning ketat di samping kanannya agak ke belakang sedikit Yang dipandang juga menganggukkan kepalanya sedikit.

“Kau tahu siapa mereka itu tadi?” tanya laki-laki tua itu lagi.

Bayu hanya menggelengkan kepalanya saja. Pendekar Pulau Neraka memang tidak tahu tentang sekelompok orang berseragam hitam yang menyerangnya tadi, setelah mendapatkan isyarat dari pemuda bertubuh kurus kering. Untuk beberapa saat lamanya, tak ada yang membuka suara. Sementara itu orang-orang yang mengenakan seragam prajurit, sudah sibuk mengumpulkan mayat yang bergelimpangan berlumur darah.

***

EMPAT

“Siapa mereka itu, Paman?” tanya Bayu.
“Mereka kaum pemberontak yang menguasai hutan ini,” jelas Jawala.
“Pemberontak...?” Bayu mengerutkan keningnya.

“Benar! Sudah lama kami ingin menumpas, tapi mereka begitu menguasai hutan ini. Dan sukar sekali untuk mengejarnya jika mereka sudah memasuki hutan ini, Anak Muda,” timpal Rahseta menjelaskan.

Bayu terdiam dengan kepala berkerut dalam. Sebentar dipandanginya kedua laki-laki tua itu, kemudian beralih pada mayat-mayat yang bergelimpangan. Benaknya seketika dipenuhi berbagai macam pikiran dan dugaan. Pandangan Bayu beralih pada kuburan Bokor.

“Makam siapa itu?” tanya Jawala.
“Bokor,” sahut Bayu.
“Temanmu?” tanya Jawala lagi.

“Bisa dikatakan begitu, kami baru kenal beberapa hari saja,” jelas Bayu singkat. “Dia tewas dibunuh oleh pemimpinnya di Kotaraja Langkat. Apakah paman berdua mengenalinya?”

Jawala dan Rahseta tidak langsung menjawab, namun hanya saling berpandangan sejenak, kemudian sama-sama menggeleng. Bayu yang semula berharap kalau kedua laki-laki tua itu mengetahui tentang Bokor, ternyata jadi sedikit kecewa. Tapi Pendekar Pulau Neraka sepertinya tidak percaya. Jawala dan Rahseta adalah orang penting di Kerajaan Langkat. Sedangkan Bokor pernah bercerita kalau beberapa orang penting sedang merencanakan satu pemberontakan untuk menggulingkan ke-kuasaan Ratu Nyai Langas. Dan Bokor sendiri mengakui kalau dirinya bekerja untuk salah satu orang penting yang bebas keluar masuk di dalam istana itu. Tapi, kedua laki-laki tua ini tidak mengenal Bokor. Dan ini membuat Bayu semakin bertanya-tanya dalam benaknya.

“Anak muda. Tampaknya, kau punya urusan dengan mereka itu. Jika tidak berkeberatan, sebaiknya kau bergabung bersama kami untuk menumpas mereka,” ajak Jawala.

“Terima kasih. Sebenarnya....”

“Kau tidak perlu khawatir, Anak Muda,” potong Jawala cepat. “Jika kau bersedia, kami akan mengusahakan kedudukan penting di istana nanti. Tapi kau jika tidak menghendaki, dan tidak ingin keterikatan, kami juga tidak memaksa.”

Bayu terdiam membisu, dan matanya kembali memandang pusara Bokor. Pendekar Pulau Neraka masih terdiam membisu, dengan kening sedikit berkerut. Memang tidak ada salahnya jika ikut bersama kedua laki-laki tua ini. Barangkali saja bisa mendapatkan suatu petunjuk penting. Persoalan ini memang bukan urusannya, tapi Bayu sudah telanjur masuk. Kalau toh Pendekar Pulau Neraka itu tidak ingin melanjutkan lagi, pasti pemuda bertubuh kurus kering dan orang-orang berbaju serba hitam itu akan mencarinya. Bayu seketika teringat akan pengakuan Bokor. Katanya dia sedang melaksanakan tugas dari junjungannya untuk menyampaikan sebuah surat penting. Dan Bokor juga mengatakan kalau beberapa pembesar kerajaan, bermaksud memberontak.

“Baiklah. Aku memang ingin membalas kematian temanku ini,” ujar Bayu beralasan menerima tawaran itu setelah memikirkannya cukup lama juga.

“Kalau begitu, sebaiknya kita kembali saja dulu ke kota,” sambut Jawala senang atas kesediaan Pendekar Pulau Neraka yang menerima tawarannya.

Tak berapa lama kemudian, mereka berangkat menuju Kotaraja Kerajaan Langkat Jawala memberi pinjaman kuda dari prajurit yang tewas kepada Pendekar Pulau Neraka itu. Bayu yang memang tidak menyukai kuda sebenarnya ingin menolak, tapi tidak ingin mengecewakan orang-orang yang baru dikenalnya. Dengan perasaan terpaksa, Pendekar Pulau Neraka menunggang kuda bersama yang lainnya.

***

Bayu mengatakan apa yang diketahuinya dari Bokor semasa hidupnya, setelah diyakini kalau Jawala dan Rahseta berada di jalan yang benar. Sedangkan dua orang tua itu juga mengatakan segalanya yang diketahui. Namun setelah saling menukar cerita, belum juga ditemukan satu titik terang yang diinginkan. Jawala dan Rahseta jadi tercenung setelah mendengar cerita Pendekar Pulau Neraka. Katanya, Bokor sebenarnya hendak menyerahkan sesuatu berupa selembar surat yang tersimpan dalam selongsong bambu. Yang membuat mereka tercenung, ternyata surat itu khusus untuk Ratu Nyai Langas.

“Apakah dia mengatakan tentang isi surat itu, Bayu?” tanya Jawala.
“Sayang sekali, dia tidak tahu,” sahut Bayu.
“Lalu, siapa yang memerintahkannya?” kini Rahseta yang bertanya.

“Itu juga tidak dikatakannya. Bokor hanya mengatakan kalau dirinya bekerja untuk salah seorang pembesar di istana ini Maaf, aku tidak bertanya lebih banyak lagi. Saat itu aku sendiri semula tidak ingin ikut campur. Aku hanya menolongnya saja ketika dia dikeroyok,” Bayu mencoba menutupi cerita yang pernah didengarnya dari Bokor. Pendekar Pulau Neraka ini masih merasa belum perlu menceritakan perihal yang sesungguhnya. Sebab Bayu masih belum menemukan bukti-bukti yang kuat untuk mendukung kebenaran cerita Bokor.

“Hm..., persoalan ini memang masih gelap. Tapi dari ciri-ciri yang kau sebutkan tentang pemimpin pengeroyok itu, aku yakin kalau pemuda itu adalah Jarong,” tebak Jawala, agak bergumam nada suaranya.


“Jarong...? Siapa itu?” tanya Bayu.
''Pemuda kurus yang kau ceritakan tadi, Bayu,'' sahut Jawala.
“Apakah dia orang dalam istana ini juga?” tanya Bayu lagi.

“Dia kemenakan Narata, kakak sepupu Kanjeng Ratu Nyai Langas,” jelas Jawala. “Terus terang, aku dan Rayi Rahseta memang mencurigai Narata. Terlebih lagi, asal-usul Jarong yang sebenarnya tidak jelas. Baru tiga bulan dia berada di sini. Dan itu bertepatan dengan munculnya kelompok pemberontak yang bersarang di Hutan Landaka.”

“Benar, Bayu,” sambung Rahseta. “Kami memang tidak tahu, dari mana asalnya kemenakan Gusti Narata itu. Sedangkan yang kami ketahui, Gusti Narata tidak mempunyai istri, apalagi anak. Saudara satu-satunya hanyalah Kanjeng Ratu Nyai Langas.”

“Apa selama ini tidak ada yang menyelidiki tentang asal-usulnya?” tanya Bayu lagi.

“Tidak ada yang diperbolehkan menyelidiki asal-usul seseorang yang diakui sebagai anggota keluarga istana. Itu merupakan larangan yang tidak bisa ditawar lagi, Bayu. Sangat besar hukumannya jika dilanggar,” sahut Rahseta menjelaskan.

Bayu terdiam beberapa saat. Sementara, kedua laki-laki tua itu juga tidak berbicara lagi. Dari raut wajah, jelas sekali kalau mereka sedang memikirkan sesuatu. Entah apa yang dipikirkan saat ini, hanya mereka sendiri yang tahu. Dan Pendekar Pulau Neraka merasakan kalau dirinya tidak akan mungkin lagi bisa keluar dari masalah ini. Secara tidak sengaja, Bokor telah menyeretnya. Dan itu juga karena Bayu tidak bisa melihat kecurangan berlangsung di depan matanya.

Kalau saja Pendekar Pulau Neraka itu tidak menolong Bokor saat itu, sudah pasti tidak akan terlibat dalam kemelut yang melibatkan orang-orang berdarah biru ini. Ya..., suatu gerhana telah terjadi di lingkungan Istana Langkat. Gerhana darah biru yang melibatkan orang-orang bangsawan dan pembesar serta anggota keluarga istana. Apakah Pendekar Pulau Neraka akan terperosok semakin dalam di dalam kemelut ini..?

***

Bayu tertegun di ambang pintu kediaman Jawala. Kakinya tidak jadi melangkah keluar ketika melihat seorang pemuda bertubuh kurus sedang berbicara dengan Jawala dan Rahseta di halaman depan rumah besar ini. Pada saat yang sama pemuda kurus kering itu melihat ke arah Bayu. Tampak sekali kalau dia terkejut melihat Bayu baru keluar dari dalam rumah Jawala.

“Bayu...,” Jawala memanggil Pendekar Pulau Neraka dengan lambaian tangannya.

Bayu melangkah menghampiri, kemudian berhenti setelah tiba di samping Jawala yang dipanggilnya dengan sebutan paman. Pandangan Pendekar Pulau Neraka itu tidak berkedip ke arah pemuda kurus kering dan berwajah pucat di depannya. Saat itu juga, pemuda kurus kering itu menatap tajam Pendekar Pulau Neraka.

“Bayu. Kenalkan, ini Jarong. Kemenakan Gusti Narata,” Jawala memperkenalkan.
“Aku sudah pernah bertemu dengannya,” ujar Jarong. Suaranya dingin dan datar.
“Oh..., benarkah?” tampak Jawala terkejut

Bayu sempat melirik laki-laki tua berjubah putih itu. Tampak kalau sinar mata Jawala tidak terkejut seperti nada suaranya tadi. Dan Pendekar Pulau Neraka tahu kalau Jawala hanya berpura-pura saja.

“Di mana kalian bertemu?” tanya Jawala.

Sementara Rahseta yang berada di samping kiri Jawala, hanya diam saja tanpa membuka suara sedikit pun. Namun tatapan matanya selalu berganti-ganti dari Bayu kemudian kepada Jarong. Dia seperti hendak mengetahui sikap kedua pemuda itu.

“Ada hubungan apa antara dia dan Paman?” tanya Jarong, jelas penuh selidik dan penuh kecurigaan.

“O.... Bayu ini kemenakanku. Dia baru datang dari Kadipaten Pantur,” jelas Jawala.

“Hm...,” Jarong hanya bergumam saja, dan tampaknya tidak percaya penjelasan Jawala yang singkat itu.

Untuk beberapa saat mereka hanya berdiam diri, namun suasana begitu kaku. Yang jelas, penuh dengan kecurigaan dan segala macam perasaan dan ketegangan. Hal ini bisa dirasakan dari sorot mata yang selalu tajam mengandung pancaran kecurigaan mendalam.

“Aku permisi dulu, Paman,” pamit Jarong. Sebelum Jawala menyahuti, Jarong sudah memutar tubuhnya. Dan dengan gerakan ringan sekali, pemuda kurus kering berwajah pucat itu melompat naik ke punggung kudanya. Secepat itu pula kuda hitam dengan kaki belang putih itu digebahnya. Sementara Jawala, Rahseta, dan Bayu masih berdiri memandangi sampai pemuda kurus kering itu tidak terlihat lagi.

“Kelihatannya dia tidak percaya, Kakang,” ujar Rahseta dengan suara sedikit bergumam.

“Biarlah. Toh, kalau dia berbuat macam-macam, kita juga bisa membalikkan asal-usulnya,” sahut Jawala kalem.

Tanpa bicara lagi, mereka kemudian masuk ke rumah yang cukup besar dan indah ini. Rumah kediaman Paman Jawala yang dikelilingi pagar tembok cukup tinggi dan tebal, seperti rumah-rumah pembesar lainnya. Beberapa orang berseragam prajurit terlihat berjaga-jaga di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Ketiga orang itu kemudian duduk menghadapi sebuah meja bundar beralaskan batu pualam putih yang licin dan berkilat di ruangan depan. Sampai saat ini masih belum ada yang membuka suara. Pertemuan Bayu dengan Jarong tadi memang membuat suasana jadi terasa kaku. Baik Jawala maupun Rahseta sudah bisa merasakan akan terjadi sesuatu setelah hari ini. Hanya saja sulit untuk dipastikan, kejadian apa yang akan menimpa mereka berdua.

***

“Oaaah...!”

Bayu membuka mulutnya lebar-lebar seraya menggeliatkan tubuhnya. Suara bergemeretak ter-dengar dari seluruh tubuh Pendekar Pulau Neraka itu. Saat ini, malam sudah demikian larut Suasana di dalam rumah kediaman Jawala ini sudah terasa sunyi sekali. Sebagian penghuninya sudah sejak tadi terlelap dalam buaian mimpi. Namun di dalam salah satu kamar, mata Pendekar Pulau Neraka belum juga bisa terpejam.

Pikiran pemuda itu masih terus dipenuhi kejadian siang tadi. Sungguh tidak disangka kalau pemimpin orang-orang berbaju serba hitam ternyata kemenakan kakak sepupu Ratu Nyai Langas sendiri. Bahkan mereka sudah dikenal sebagai satu kelompok orang yang merasa tidak puas pada Ratu Nyai Langas. Dan mereka sudah beberapa kati mencoba menggulingkan tahta, namun selama ini selalu gagal. Dan sekarang gerakan mereka dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

“Huuuh...! Rasanya malam ini lain sekali,” desah Bayu agak mengeluh.

Kembali Pendekar Pulau Neraka menguap lebar. Kantuk yang menyerang kelopak matanya terasa amat berat Namun, Bayu belum juga mau jatuh tidur. Seluruh tubuhnya terasa penat sekali. Dia ingin sekali beristirahat tenang dalam kamar yang cukup besar dan tertata apik ini.

Bet!
Bet!

Bayu menggerak-gerakkan tangannya, membuat beberapa persiapan. Kemudian dia duduk bersila di atas pembaringan. Kedua telapak tangannya menempel di lutut yang tertekuk. Sebentar napasnya ditarik dalam-dalam. Pemuda berbaju kulit harimau itu sejenak ingin melemaskan otot-otot dan urat syarafnya yang terasa menegang.

Namun, saat matanya hendak dipejamkan untuk bersemadi, mendadak saja telinganya yang terlatih mendengar desiran yang begitu halus.

“Hup!”

Cepat sekali Pendekar Pulau Neraka melesat turun dari pembaringan. Pada saat itu, terlihat seberkas cahaya keperakan melesat masuk dari celah-celah jendela, dan langsung menghantam pembaringan. Padahal, tadi Bayu duduk bersila di sana. Sekilas Pendekar Pulau Neraka melirik.

“Hm...” Bayu hanya menggumam kecil saja. Di atas pembaringan beralaskan kain merah muda itu, jelas tertancap sebilah pisau kecil tipis sepanjang jengkal. Bagaikan kilat, Pendekar Pulau Neraka melompat mendekati jendela. Dan begitu jendela kamar ini dibuka, mendadak saja secercah cahaya keperakan kembali meluruk deras ke arahnya.

“Hup! Yeaaah...!”

Cepat sekali Pendekar Pulau Neraka melompat. Tubuhnya kemudian melenting dan berputar ke belakang. Cahaya keperakan yang memang berupa sebilah pisau kecil tipis itu, lewat sedikit di bawah tubuhnya. Dan tepat saat pisau itu menancap di dinding, kaki Bayu menjejak lantai.

Hanya sekali saja tubuhnya digenjot, dan secepat kilat, Pendekar Pulau Neraka melesat ke luar. Begitu kakinya menjejak tanah berumput halus, seketika itu juga empat buah bayangan hitam berkelebatan cepat meluruk deras ke arahnya. Dan sebelum Bayu bisa menyadari, mendadak saja empat buah cahaya keperakan berkelebat cepat mengarah ke tubuhnya.

“Yeaaah...!”

Bergegas tubuh Pendekar Pulau Neraka berputar sambil melesat ke udara. Sinar keperakan yang berasal dari empat senjata golok, lewat di bawah telapak kaki pemuda berbaju kulit harimau ini. Dan pada saat itu, cepat sekali Bayu memutar tubuhnya, hingga kepala berada di bawah dan kaki lurus ke atas.

“Hiya! Hiyaaa...!”

Sambil berteriak keras menggelegar, Pendekar Pulau Neraka mengibaskan kedua tangannya beberapa kali dengan kecepatan bagaikan kilat. Kemudian tubuhnya kembari melenting ke udara, dan mendarat manis sekali di tanah berumput

Entah bagaimana caranya, tahu-tahu di tangan Pendekar Pulau Neraka itu sudah tergenggam empat bilah golok yang cukup besar bercahaya keperakan tersiram cahaya rembulan. Tampak tidak jauh di depan Bayu, berdiri empat orang berbaju serba hitam. Nampaknya, semuanya anak-anak muda yang mungkin baru berusia sekitar dua puluh tahun. Mereka tampak terkejut setelah melihat orang yang diserangnya tahu-tahu sudah merampas senjata mereka semua.

“Siapa kalian?!” tanya Bayu dengan suara tegas dan datar.

Tapi empat orang pemuda berbaju hitam itu, tidak menjawab sama sekali. Bahkan mencabut sepasang senjata yang terselip di pinggang, berupa sepasang tongkat pendek sepanjang tiga jengkal berwarna merah menyala. Dan sebelum Bayu sempat bertanya lagi, tiga orang serentak berlompatan mengepung Pendekar Pulau Neraka dari empat jurusan.

“Hm...,” Bayu hanya menggumam saja. Perlahan tubuhnya memutar, dan pandangannya berkeliling merayapi empat pemuda berbaju hitam bersenjata sepasang tongkat merah yang digerak-gerakkan di depan dada. Dari desiran angin akibat gerakan tongkat itu, Bayu sudah bisa menduga kalau keempat orang berbaju serba hitam ini memiliki tingkat kepandaian lumayan.

“Hm..., apa yang kalian kerjakan di tempat ini?” kembali Bayu membuka mulutnya bertanya.

Namun tetap saja tidak ada sahutan sama sekali. Bahkan, mendadak saja empat orang anak muda berbaju serba hitam itu melesat cepat secara bersamaan untuk menerjang Bayu.

“Yeaaah...!”

Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Pendekar Pulau Neraka, kecuali menyambut serangan lawan-lawan yang tidak mau berbicara sama sekali. Bagaikan kilat tubuh Bayu memutar, lalu melompat ke samping kanan. Seketika itu juga tangannya menghentak ke samping, mengarah ke perut orang yang berada dekat di kanannya.

Bet!

Namun pemuda berbaju hitam itu tidak berkelit sama sekali. Bahkan cepat sekali tongkatnya yang tergenggam di tangan kiri dikibaskan. Bayu jadi tersentak kaget bukan main. Cepat tangannya ditarik pulang. Terlalu sungkan rasanya untuk mengadu tangan dengan tongkat merah menyala itu.

Dan sebelum Pendekar Pulau Neraka bisa melakukan sesuatu, mendadak saja dari arah belakang berkelebat sebatang tongkat merah mengarah ke kepalanya.

“Setan! Ups...!”

Cepat-cepat Bayu merundukkan kepalanya sambil mengumpat. Maka kibasan tongkat pendek berwarna merah menyala itu lewat sedikit di atas kepalanya. Secepat itu pula, Pendekar Pulau Neraka menghentakkan kaki kirinya ke belakang, dan tubuhnya ditarik hingga doyong ke depan.

“Ugkh...!”

Terdengar keluhan pendek ketika Bayu merasakan kakinya menghantam sesuatu.

Pendekar Pulau Neraka cepat memutar tubuhnya, tepat saat orang yang menyerang dari belakangnya terhuyung-huyung ke belakang sambil mendekap perutnya. Jelas, orang itu terkena hantaman Pendekar Pulau Neraka itu. Dan sebelum dia sempat melakukan sesuatu, Bayu sudah kembali menyerang cepat dan dahsyat luar biasa.

“Hiyaaa...!”

***

LIMA

Des!
“Akh...!”

Satu jeritan melengking terdengar ketika pukulan Pendekar Pulau Neraka yang menggeledek dan bertenaga dalam sempurna mengenai sasaran. Seketika itu juga terlihat seorang pemuda berbaju hitam terpental deras ke belakang dan keras sekali terjatuh di tanah. Dan hanya sebentar saja orang itu mampu menggeliat, sesaat kemudian sudah tak berkutik lagi. Tampak darah mengalir keluar dari mulut dan hidungnya.

Bayu langsung memutar tubuhnya, menghadapi tiga orang lainnya yang tampak terkejut melihat seorang temannya tewas hanya sekali pukul saja. Dan sebelum mereka bisa menghilangkan keterkejutannya, mendadak saja Pendekar Pulau Neraka sudah melompat cepat menerjang bagai kilat

“Hiyaaat..!”

Seketika itu Juga Bayu melepaskan tiga pukulan beruntun yang cepat dan mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Serangan Pendekar Pulau Neraka yang cepat luar biasa, membuat ketiga orang berbaju serba hitam jadi terperangah.

Mereka cepat berlompatan menghindari serangan yang dilancarkan secara mendadak itu. Namun, salah seorang terlambat menyelamatkan diri. Maka tak pelak lagi satu pukulan Bayu bersarang di tubuhnya. Padahal dia telah berusaha melompat menghindarinya.

Bugkh!

“Akh...!” orang berbaju serba hitam itu memekik keras sekali.

Pukulan Bayu yang begitu keras dan bertenaga dalam tinggi, mengakibatkan orang itu terpental deras ke belakang Keras sekali tubuhnya menghantam tanah. Dan sebelum mampu menggeliat, Bayu sudah melompat bagaikan kilat. Langsung didaratkan kakinya di tubuh pemuda berbaju serba hitam itu.

“Hih!”
Bres!
''Aaa...!”

Kembali terdengar jeritan panjang melengking tinggi ketika kaki kanan Pendekar Pulau Neraka menjejak dada pemuda berbaju serba hitam itu. Seketika darah muncrat keluar dari mulutnya. Hanya sedikit saja pemuda itu mampu bergerak, sebentar kemudian tak berkutik lagi. Mati dengan dada remuk dan menghitam.

Pada saat Bayu melompat menjauhi tubuh yang sudah tidak bernyawa, terlihat beberapa prajurit berlari-lari berdatangan ke arahnya. Sementara dua orang yang mengenakan baju serba hitam, mendadak saja mereka melesat cepat bermaksud meninggalkan tempat ini.

“Hey...! Jangan lari kau...!” sentak Bayu agak terkejut juga begitu melihat dua orang berpakaian serba hitam mendadak saja melesat pergi.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Pulau Neraka melesat cepat mengejar dua orang berpakaian serba hitam itu. Begitu sempurna ilmu meringankan tubuh yang dimiliki, sehingga mudah saja Pendekar Pulau Neraka mengejar mereka.

“Yeaaah...!”

Keras dan cepat sekali Bayu melepaskan dua pukulan ke arah dua orang berbaju hitam itu. Pukulan keras dan cepat disertai pengerahan tenaga dalam sempurna itu tak dapat dihindari lagi, tepat menghantam tubuh kedua orang berpakaian serba hitam. Padahal mereka sedikit lagi akan melewati pagar tembok yang tinggi dan kokoh ini.

Des!
Dieghk!

Dua jeritan keras terdengar bersama terpentalnya dua orang berbaju hitam. Keras sekali mereka meluncur, dan tak pelak lagi menghantam tembok tebal yang mengelilingi bangunan kediaman Jawala ini.

Dan sebelum tubuh mereka bisa digerakkan, Bayu sudah melesat mengejar. Tangannya sudah terangkat tinggi hendak melontarkan satu pukulan yang dapat membuat kedua orang itu tewas seketika. Namun sebelum niat itu terlaksana, mendadak saja....

“Tahan...!”

Bayu menghentikan arus pukulannya, lalu berpaling ke belakang. Tampak Jawala berlari-lari menghampiri diikuti beberapa orang berpakaian seragam prajurit pengawal. Sementara dua orang berbaju hitam itu hanya bisa merintih, sambil menggeliatkan tubuhnya.

Pukulan Bayu yang keras dan bertenaga dalam tinggi, membuat seluruhan tulang mereka seperti remuk. Untung saja Pendekar Pulau Neraka tidak mengerahkan tenaga dalam secara penuh, sehingga mereka tidak tewas seketika. Dan belum juga mereka bisa bangkit berdiri, Jawala sudah tiba di tempat itu.

“Bagaimana mereka bisa berada di sini, Bayu?”
tanya Jawala begitu tiba di samping Pendekar Pulau Neraka.
“Mereka ingin membunuhku,” sahut Bayu dingin.

Jawala memerintahkan beberapa prajurit yang mengikuti untuk menangkap kedua orang itu. Tanpa menunggu perintah dua kali, beberapa prajurit mendekati kedua orang berbaju hitam dan meringkusnya.

“Masukkan mereka ke tahanan,” perintah Jawala.

Prajurit-prajurit itu segera melaksanakan perintah laki-laki tua berjubah putih itu. Mereka membawa kedua orang berbaju hitam ke dalam tahanan yang tidak berapa jauh dari tempat ini. Jawala kemudian mengajak Bayu kembali ke dalam rumahnya. Pendekar Pulau Neraka itu tidak membantah, meskipun masih diliputi kegeraman atas kemunculan empat orang yang mencoba membunuhnya.

***

Pagi-pagi sekali Bayu sudah berada di depan rumah kediaman Narata. Diyakini betul kalau empat orang yang mencoba membunuhnya semalam adalah suruhan dari pemuda kurus kering yang bernama Jarong. Selama ini, semua orang tahu kalau Jarong itu kemenakan Narata. Dan Bayu juga sudah diperkenalkan pada laki-laki bertubuh gembur dan berperut buncit yang bernama Narata. Pendekar Pulau Neraka seperti tidak percaya kalau Narata bersekongkol dengan kemenakannya itu untuk menggulingkan tahta Ratu Nyai Langas.

Pendekar Pulau Neraka itu semakin menajamkan matanya ketika melihat pintu gerbang tempat kediaman Narata terbuka. Tampak dari dalam muncul seekor kuda hitam dan belang putih pada kakinya tengah ditunggangi pemuda bertubuh kurus kering.

Bayu mengawasi terus dari tempat yang cukup tersembunyi.

“Hm...,” Bayu menggumam perlahan saat dari dalam juga keluar seekor kuda lain yang ditunggangi seorang laki-laki setengah baya bertubuh gemuk.

Kemudian, muncul lagi sekitar tiga puluh orang berkuda dan berseragam prajurit. Mereka semua juga membawa senjata lengkap. Bayu yang sudah mengenal laki-laki bertubuh gemuk itu, terus memperhatikan tanpa berkedip. Kini dua ekor kuda bersisian berada paling depan, diikuti tiga puluh orang berseragam prajurit

“Hup!”

Pendekar Pulau Neraka itu melesat cepat menyelinap dari balik pohon ke pohon lain, mengikuti rombongan kecil itu. Sementara, terlihat kalau dua orang berkuda yang ada di depan sedang bercakap-cakap. Percakapan itu seperti begitu penting. Malah pembicaraan itu menggunakan suara pelan, dan tidak terdengar orang lain. Bayu yang mengenali kalau mereka itu adalah Narata dan Jarong, mencoba mendengarkan pembicaraan itu.

“Kurasa langkahmu sudah terlalu jauh, Jarong. Aku khawatir gerakanmu akan mengundang perhatian dan kecurigaan,” kata Narata dengan suara pelan.

“Semua yang kulakukan demi paman juga,” sahut Jarong datar, tanpa tekanan nada suara sedikit pun.

“Aku hanya menginginkan agar kau berhati-hati dulu, Jarong. Nampaknya, pembesar-pembesar di istana mulai kasak-kusuk. Meskipun tidak secara langsung menuduhku, tapi mereka bisa mencurigaiku secara diam-diam.”

“Biarkan saja, Paman. Siapa pun yang mencoba macam-macam, umurnya tidak akan panjang,” kalem sekali suara Jarong. Namun tetap bernada dingin dan datar.

“Bagaimana kalau untuk sementara waktu dihentikan dulu semuanya?” Narata memberi saran.

Jarong tampak kaget mendengar ucapan laki-laki setengah baya bertubuh gembur itu. Seketika langkah kaki kudanya dihentikan dan ditatapnya Narata dalam-dalam. Mendapat tatapan begitu tajam, agak bergidik juga sekujur tubuh laki-laki gemuk itu.

“Aku hanya menyarankan saja, Jarong. Itu pun kalau dituruti. Kalau tidak.., aku juga tidak memaksa,” ralat Narata buru-buru.

“Kenapa Paman jadi ketakutan begitu?” tanya Jarong dingin. Tatapan matanya tetap tajam menusuk.

Narata tidak menjawab, dan hanya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kuat-kuat. Laki-laki bertubuh gembur dan berperut buncit itu kembali menjalankan kudanya. Sementara Jarong pun kembali menghentakkan tali kekang kudanya. Ayunan langkah kaki kudanya disejajarkan kembali di samping kuda pamannya ini.

Tak ada lagi yang dibicarakan. Mereka terus menjalankan kudanya perlahan-lahan membelah jalan yang masih terlihat agak sunyi. Hanya beberapa orang saja terlihat berada di tepi jalan ini. Memang masih terlalu pagi, dan segala kesibukan belum sepenuhnya berjalan. Rombongan kecil itu terus bergerak menuju Istana Langkat yang berdiri megah di tengah-tengah Kotaraja Langkat

***

Senja sudah merayap turun mendekati malam. Rona merah jingga yang mengambang di ufuk Barat, menambah indahnya suasana senja itu. Keindahan senja yang begitu sedap dinikmati, seperti dilewatkan begitu saja oleh seorang wanita berparas cantik, dan berpakaian indah gemerlapan. Wanita itu duduk di sebuah bangku taman keputren Istana Langkat yang indah dan tertata apik sekali.

Beberapa gadis cantik mengelilingi, dan siap melakukan segala yang diperintahkan. Meski suasana senja begitu indah, namun tampaknya tidak dinikmati wanita cantik itu. Terlihat jelas kalau raut wajahnya murung, dan matanya memandang kosong ke arah matahari yang hampir tenggelam di peraduannya. Di depan wanita yang tak lain adalah Ratu Nyai Langas, bersimpuh seorang laki-laki muda berwajah tampan mengenakan baju kulit harimau.

“Jadi, kau ini sebenarnya siapa, kalau bukan kemenakan Paman Jawala?” tanya Ratu Nyai Langas. Pandangannya lurus, tak berkedip pada wajah pemuda tampan berbaju kulit harimau itu.

Pemuda itu memberi sembah dengan merapatkan telapak tangannya di depan hidung. Sikapnya begitu hormat sekali, meskipun sebenarnya dia paling tidak suka pada aturan seperti ini. Ya...! Karena, pemuda berbaju kulit harimau itu adalah Bayu, atau berjuluk Pendekar Pulau Neraka.

“Hamba hanyalah seorang pengembara yang kebetulan lewat, Gusti Ratu,” sahut Bayu, penuh rasa hormat.

Ratu Nyai Langas tertegun mendengar pengakuan Bayu yang jujur. Dia jadi teringat dengan Jarong, yang diakui Narata sebagai kemenakannya. Wanita ayu itu menatap Pendekar Pulau Neraka lekat-lekat

“Bagaimana kau bisa bertemu Paman Jawala, dan kemudian diakui sebagai kemenakannya?” tanya Ratu Nyai Langas lagi.

Bayu menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Dimulai dari pertemuannya dengan Bokor. Juga diceritakan tentang surat penting yang khusus disampaikan untuk penguasa tunggal Kerajaan Langkat ini. Demikian pula pertemuannya dengan Paman Jawala dan Paman Rahseta, serta orang-orang berbaju serba hitam yang kata Paman Jawala adalah kelompok pemberontak.

“Memang, aku sudah mendengar kalau adanya sekelompok orang yang hendak berbuat makar. Tapi, aku tidak mengetahui kalau beberapa pembesar ada yang terlibat dalam rencana itu. Terlebih lagi, apabila pemberontakan itu dikendalikan Kakang Narata. Apa kau punya bukti kuat, Bayu?” lembut dan tenang sekail nada suara Ratu Nyai Langas.

“Untuk saat ini, memang belum ada bukti yang cukup, Gusti Ratu,” sahut Bayu.

“Lalu, mengapa kau begitu berani masuk ke keputren secara diam-diam, dan mengatakan semua ini padaku?” tanya Ratu Nyai Langas lagi.

“Entahlah, Gusti Ratu. Hamba sendiri tidak tahu, mengapa tiba-tiba saja mempunyai pikiran seperti itu,” sahut Bayu.

Pendekar Pulau Neraka memang tidak tahu, mengapa sampai berani menemui Ratu Nyai Langas secara demikian. Padahal, belum ada bukti kuat untuk menyeret Narata ke pengadilan kerajaan atas tuduhan hendak melakukan makar. Namun Bayu yakin betul kalau Jarong yang diakui Narata sebagai kemenakan adalah pemimpin pemberontak yang bermarkas di Gunung Landaka. Beberapa kejadian yang dialaminya memang sudah membuat Pendekar Pulau Neraka yakin. Terlebih lagi, dua orang yang mencoba membunuhnya semalam sudah mengakui kalau mereka mendapat perintah dari Jarong.

Dan memang, Bayu belum menceritakan kejadian semalam pada wanita cantik penguasa tunggal Kerajaan Langkat ini. Pendekar Pulau Neraka belum ingin mengatakan hal itu, kecuali Paman Jawala sendiri yang mengatakannya.

“Bayu...,” ujar Ratu Nyai Langas setelah terdiam beberapa saat

“Hamba, Gusti Ratu,” sahut Bayu seraya memberi sembah dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

“Bukannya aku tidak mau mempercayai semua yang kau katakan. Tapi, aku inginkan bukti yang cukup, kalau memang benar Kakang Narata mempunyai maksud buruk padaku,” tegas Ratu Nyai Langas.

“Hamba, Gusti Ratu.”

Meskipun kata-kata Ratu Nyai Langas tidak begitu jelas, namun maksudnya sudah bisa dipahami. Secara tidak langsung, wanita cantik ini meminta Pendekar Pulau Neraka untuk menyelidiki kebenaran ceritanya. Dan Bayu memang tidak punya jawaban lain lagi, kecuali menyanggupinya. Bagi Pendekar Pulau Neraka, sekali sudah terjun, tidak akan ditinggalkan begitu saja sebelum tuntas. Terutama sekali, sebenarnya Nyai Ratu Langas meminta Bayu menyelidiki Jarong. Dan itu dikatakan dengan terus terang.

Dan sekarang, mau tak mau dia sudah terlibat dalam kemelut yang melibatkan orang-orang berdarah biru di Kerajaan Langkat ini.


***

Kaki Bayu terayun perlahan-lahan, melintasi jalan berdebu. Sementara senja semakin jauh merayap turun. Matahari tidak lagi terasa terik seperti tengah hari tadi, membuat suasana terasa begitu indah dinikmati Namun keindahan alam ini tidak bisa dinikmati Pendekar Pulau Neraka. Otaknya terus berputar memikirkan kata-kata Ratu Nyai Langas yang baru ditemuinya tadi.

“Aku merasakan kalau Ratu Nyai Langas seperti tidak mempedulikan keadaan ini,” gumam Bayu perlahan, berbicara pada dirinya sendiri.

Memang, Bayu merasakan kalau sikap Ratu Nyai Langas begitu tenang. Bahkan terasa sekali ketidakpeduliannya terhadap masalah yang sedang terjadi di sekelilingnya. Bayu sama sekali tidak melihat ada kekhawatiran pada diri wanita penguasa Kerajaan Langkat yang tengah terancam ini.

“Berhenti kau, Bayu...!”

“Eh...?!” Bayu terkejut ketika tiba-tiba terdengar bentakan keras dari belakang.

Pendekar Pulau Neraka memutar tubuhnya, berbalik. Keningnya langsung berkerut, dan matanya agak menyipit begitu melihat seorang pemuda berbaju putih longgar yang didampingi sekitar dua puluh orang laki-laki berbaju hitam dan bersenjata golok.

Pandangan Bayu beredar ke sekeliling. Sungguh tidak disadari kalau dirinya sudah begitu jauh meninggalkan perbatasan kota kerajaan. Dan kini tidak terlihat lagi bangunan rumah. Di sekelilingnya, yang terlihat hanya pepohonan dan semak belukar saja. Agak jauh di belakang orang-orang berbaju hitam itu, terlihat bangunan batu sebagai tanda dari perbatasan kota. Di sana tampak sekitar sepuluh orang berpakaian prajurit. Keberadaan prajurit yang pasti bisa melihat ke tempat ini, membuat kening Bayu jadi berkerenyut. Karena, para prajurit itu seperti hanya memandangi saja tanpa berbuat apa-apa.

Trek!

Jarong menjentikkan ujung jarinya. Seketika itu juga, orang-orang berpakaian serba hitam berlompatan. Mereka langsung mengepung Pendekar Pulau Neraka. Sedangkan Bayu hanya melirik merayapi orang-orang yang sudah mengepungnya dari segala penjuru. Mereka semua sudah mencabut senjata masing-masing, sehingga sinar keperakan berkelebatan tertimpa rona jingga sinar matahari. Golok mereka kini telah melintang di depan dada.

“Kau sudah terlalu banyak ikut campur, Bayu,” desis Jarong Suaranya dingin agak menggetarkan.

“Hm...,” Bayu hanya menanggapi dengan gumaman saja.

“Kali ini aku tidak akan sungkan-sungkan lagi, kecuali bila kau serahkan selongsong bambu itu padaku,” ancam Jarong. Nada suaranya tetap dingin menggetarkan.

“Aku tidak mengerti, apa yang kau inginkan, Jarong,” ujar Bayu kalem. “Lagi pula siapa kau sebenarnya?”

“Ha ha ha...! Bokor sudah tewas. Tidak ada lagi orang yang dekat dengannya, selain kau, Bayu. Sebaiknya serahkan saja benda itu padaku, jika masih ingin menikmati indahnya matahari besok,” ujar Jarong tanpa mempedulikan pertanyaan Bayu.

“Seandainya aku memiliki yang kau inginkan, tidak bakalan kuserahkan padamu, Jarong,” tegas Bayu agak mendesis.

“Keparat..!” geram Jarong, langsung memuncak amarahnya mendengar kata-kata Pendekar Pulau Neraka.

Meskipun diucapkan tenang, namun bagi Jarong merupakan suatu tantangan yang tidak bisa dianggap remeh. Sementara Bayu terus berputar otaknya, dan mencari pemikiran tersendiri.

Untuk beberapa saat suasana di tempat itu demikian sunyi. Hanya desiran angin saja yang terdengar. Perlahan Pendekar Pulau Neraka meng-geser kakinya ke kanan beberapa tindak, dan sedikit menyunggingkan senyum. Tepat ketika Jarong mem-beri satu isyarat dengan ujung jarinya, seketika itu juga Bayu melesat cepat. Dan....

***

ENAM

“Hiyaaa...!”

Bayu yang merasa tidak ada pilihan lagi, seketika itu juga menerjang, mendahului menyerang orang-orang yang sudah rapat mengepungnya. Gerakan Pendekar Pulau Neraka yang begitu cepat dan tidak terduga, membuat mereka terperanjat setengah mati. Dan sebelum ada yang bisa menyadari, mendadak saja terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi.

Tampak tiga orang terpental ke belakang disertai jeritan panjang melengking tinggi. Darah menyembur deras dari tubuh ketiga orang berbaju serba hitam itu. Bukan hanya orang-orang berbaju serba hitam saja yang terkejut. Bahkan Jarong yang memiliki tingkat kepandaian tinggi, juga terperanjat melihat kecepatan gerak Pendekar Pulau Neraka.

“Setan keparat..!” desis Jarong geram.

Dan sebelum laki-laki kurus itu sempat melakukan sesuatu, Bayu sudah kembali bergerak cepat. Dihajarnya orang-orang berbaju serba hitam yang masih diliputi keterkejutan yang amat sangat. Sesaat kemudian, kembali terdengar jeritan panjang melengking tinggi yang saling susul.

“Jangan diam saja! Serang...! Bunuh keparat itu...!” teriak Jarong berang setengah mati.

Seruan pemuda bertubuh kurus kering itu membangkitkan kesadaran orang-orang berpakaian serba hitam. Seketika itu juga mereka berlompatan menyerang Pendekar Pulau Neraka yang baru saja hendak melancarkan serangan kembali setelah merobohkan tujuh orang hanya dua kali gebrakan.

Seketika itu juga beberapa golok berkelebat cepat mengincar tubuh Pendekar Pulau Neraka. Hal ini memang sudah diperhitungkan Bayu. Maka dengan cepat sekali tubuhnya melenting ke udara. Namun pada saat itu, Jarong berseru keras, mengalahkan teriakan-teriakan orang-orang berpakaian serba hitam.

“Panah...! Serang...!”

Sebelum seruan keras menggelegar itu lenyap dari pendengaran, mendadak saja dari balik gerumbul semak dan pepohonan meluncur anak-anak panah dari segala penjuru. Pada saat yang sama, orang-orang berpakaian serba hitam yang mengeroyok Pendekar Pulau Neraka berlompatan cepat ke belakang.

“Setan...!” umpat Bayu geram.

Cepat-cepat Pendekar Pulau Neraka memutar tubuhnya beberapa kali. Sementara, kedua tangannya berkelebat cepat, menyampok anak-anak panah yang berdesiran di sekitar tubuhnya.

“Yeaaah...!”

Beberapa batang anak panah rontok berguguran, tertebas tangan Pendekar Pulau Neraka. Dan sebagian lagi berhasil dielakkan dengan meliukkan tubuhnya. Namun, Bayu jadi gusar juga. Memang, panah-panah itu seperti tidak pernah habis, berdesir seperti hujan di sekitar tubuhnya.

“Ha ha ha...! Mampus kau sekarang, Bayu...!” Jarong tertawa terbahak-bahak melihat Pendekar Pulau Neraka kewalahan menghindari serbuan anak-anak panah.

Sementara itu, Bayu memang benar-benar kerepotan menghadapi serbuan anak panah yang datang bagaikan hujan itu. Sama sekali kesempatan untuk menarik napas barang sejenak saja tidak dimilikinya. Bahkan untuk menjejakkan kakinya di tanah saja, kesempatan yang dimiliki tidak begitu banyak. Baru saja kakinya dijejakkan, Pendekar Pulau Neraka harus kembali melesat ke udara menghindari serbuan anak-anak panah.

“Phuih! Bisa habis napasku kalau begini terus,” dengus Bayu kesal.

Pendekar Pulau Neraka berpikir keras, mencari jalan keluar dari serbuan anak panah ini. Dan bibirnya jadi tersenyum setelah mengetahui, arah datangnya anak panah yang bagaikan hujan ini.

“Yeaaah...!”

Mendadak saja Pendekar Pulau Neraka mengecutkan tangannya cepat bagai kilat. Dan memang, beberapa anak panah berhasil ditangkap, dengan sekali kebutan tangannya saja. Lalu secepat itu pula tangannya dikibaskan, untuk melepaskan panah-panah yang berhasil ditangkap tadi.

Wus...!

Ada sekitar sepuluh batang anak panah melesat balik dengan cepat, melebihi kecepatan datangnya tadi. Tak berapa lama kemudian, terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi disusul berjatuhannya tubuh-tubuh yang bersembunyi di balik semak dan di atas kerimbunan pepohonan.

“Hiya! Hiyaaa...!”

Bagaikan kilat, Pendekar Pulau Neraka kembali menyambar panah-panah yang meluruk deras ke arahnya. Dan secepat itu pula panah-panah itu kembali dilepaskan. Kembali terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi. Tubuh-tubuh berbaju hitam pun kembali berjatuhan oleh panah-panah yang kini tertancap di tubuh.

“Keparat..!” geram Jarong yang menyaksikan anak buahnya bergelimpangan tak bernyawa lagi.

Saat hujan anak panah berhenti, Bayu menjejakkan kakinya kembali ke tanah. Pendekar Pulau Neraka berdiri tegak, menatap tajam pemuda bertubuh kurus kering yang berada di belakang orang-orangnya.

“Kau hanya sia-sia saja mengganggu kehidupanku, Jarong,” ujar Bayu dengan suara dingin menggetarkan.

“Jangan besar kepala dulu, Bayu. Anak kecil pun bisa melakukan itu,” ejek Jarong, menutupi kegentaran yang mulai merambat hatinya setelah melihat kedigdayaan Pendekar Pulau Neraka.

“Berapa banyak lagi anak buahmu, Jarong? Keluarkan semua, biar lebih kunikmati pesta pembantaian mereka,” kembali Bayu memanasi pemuda kurus kering itu.

“Kubunuh kau, Setan Keparat..!” geram Jarong memuncak amarahnya.

Meskipun geram bukan main, namun Jarong tidak juga bertindak. Rupanya pemuda bertubuh kurus kering itu harus berpikir seribu kali untuk menghadapi Pendekar Pulau Neraka. Sudah beberapa kali mereka bertemu, dan hanya kepahitan saja yang didapatkannya. Dia sudah kehilangan begitu banyak anak buah, sedangkan Bayu masih tetap tegar, tak kurang satu apa pun juga.

“Tunggulah, Bayu. Kematianmu pasti akan cepat datangnya,” desis Jarong mengancam.

Setelah berkata demikian, pemuda kurus kering itu segera memerintahkan orang-orangnya untuk meninggalkan tempat ini. Sementara, Jarong pun segera melesat pergi cepat sekali. Bayu sama sekali tidak mengejar, tapi malah memandang ke arah para prajurit yang tetap berada di dekat gerbang perbatasan kota. Bahkan tampaknya jumlah mereka bertambah. Bayu kemudian mengayunkan kakinya mendekati para prajurit itu.

***

Langkah Bayu terhenti sekitar dua tombak di depan para prajurit yang seperti menghadangnya. Di antara para prajurit itu, terlihat seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap. Dia duduk di atas punggung seekor kuda yang tegap dan berotot Bayu mengenalinya sebagai Panglima Narasoma.

“Kau dilarang menginjakkan kaki kembali di tanah Kerajaan Langkat, Anak Muda,” tegas Panglima Narasoma langsung, dengan suara lantang.

“Kenapa?” tanya Bayu agak terkejut juga mendengar larangan yang tanpa basa-basi lagi.

“Kau tidak perlu bertanya alasannya, Anak Muda. Yang jelas, kedatanganmu ke sini sudah menimbul-kan kekacauan dan keresahan,” sahut Panglima Narasoma.

“Hm...,” gumam Bayu pelan, sementara matanya agak menyipit.

Pendekar Pulau Neraka benar-benar tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja dilarang memasuki Kotaraja Langkat kembali. Bahkan yang langsung melarangnya adalah seorang panglima utama yang sangat berpengaruh di kalangan prajurit dan pembesar-pembesar kerajaan. Bayu semakin yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres di lingkungan istana ini.

“Paman Panglima! Boleh aku tahu, siapa yang memerintahkannya?” tanya Bayu ingin tahu.

“Gusti Narata,” sahut Panglima Narasoma tegas.

Kembali Bayu menggumam pelan, tapi kini bibirnya tersenyum. Sudah bisa ditebak, kenapa kakak sepupu Ratu Nyai Langas melarangnya kembali memasuki kota. Dan itu berarti, kehadirannya di Kerajaan Langkat ini merupakan ancaman tersendiri bagi kelancaran niat jahat Narata.

“Baiklah. Aku akan meninggalkan kerajaan ini setelah berpamitan pada Paman Jawala,” ujar Bayu menyanggupi setelah agak lama berdiam diri.

“Tidak perlu,” sahut Panglima Narasoma.
“Tidak perlu...? Apa maksudmu?”

“Tidak ada yang bisa kau tanyakan, Anak Muda. Aku hanya diperintahkan untuk satu kali saja memperingatkanmu. Dan jika membandel, maka aku diperbolehkan bertindak dengan caraku sendiri. Aku yakin kau mengerti maksudku.”

Bayu tidak membuka suara lagi. Dia tahu kalau perintah larangan ini hanya sepihak saja. Tapi, mendadak saja hatinya mencemaskan Paman Jawala. Semua orang di lingkungan istana sudah tahu kalau Bayu diakui Paman Jawala sebagai ke-menakannya. Dan inilah yang membuatnya jadi mencemaskan keselamatan laki-laki tua itu.

“Baiklah. Untuk sementara, aku harus mengalah,” bisik Bayu di dalam hati.

Tanpa berkata apa pun, Pendekar Pulau Neraka memutar tubuhnya dan berjalan perlahan menuju hutan yang menghadang di depannya kini. Sementara itu Panglima Narasoma sudah memberi aba-aba kepada para prajuritnya untuk meninggalkan perbatasan ini. Sedangkan Bayu sudah semakin jauh saja mendekati hutan.

***

Malam sudah demikian larut menyelimuti alam Kerajaan Langkat Angin yang berhembus kencang menyebarkan udara dingin, membuat semua orang lebih senang berlindung di bawah selimut. Sehingga, seluruh Kotaraja Kerajaan Langkat ini seperti sebuah kota mati saja layaknya. Tak ada seorang pun terlihat berkeliaran di jalan. Bahkan suara binatang malam pun tak terdengar bergerit seakan-akan enggan memperdengarkan suaranya.

Namun dalam kesunyian malam ini, ternyata ada juga sebuah bayangan yang berkelebat cepat menyelinap dari satu atap rumah ke rumah lainnya. Bayangan itu bergerak cepat sekali, sehingga sukar dikenali secara jelas. Terlebih lagi, malam ini langit tertutup awan tebal menghitam. Sehingga, cahaya bulan tak kuasa untuk menembusnya agar memberi sedikit cahayanya ke permukaan bumi.

Tap!

Bayangan itu berhenti tepat di atas sebuah atap rumah yang cukup besar, dikelilingi tembok batu yang tinggi dan kokoh. Beberapa orang berseragam prajurit terlihat di beberapa tempat, melindungi diri dari terpaan angin malam yang dingin menggigilkan.

Untuk sesaat, awan hitam yang menggumpal di langit sedikit tersibak sorot cahaya bulan. Namun sesaat kemudian, awan kembali menggumpal membuat seluruh alam menjadi pekat. Namun cahaya bulan yang sempat menyinari sesaat tadi, sudah cukup untuk bisa mengenali orang yang berada di atas atap itu. Dia seorang pemuda bertubuh tegap berisi, dan berparas tampan. Yang sangat dikenali adalah pakaiannya, karena terbuat dari kulit harimau. Pemuda itu memang Pendekar Pulau Neraka yang memiliki nama asli Bayu.

Pendekar Pulau Neraka sedikit menyipitkan matanya saat mendengar isak lirih dan tertahan, tepat di bawah atap ini. Sebentar pandangannya beredar ke sekeliling. Lalu....

“Hup!”

Ringan sekali, pemuda berbaju kulit harimau itu melompat turun dari atap. Dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kakinya mendarat tepat di depan pintu yang langsung menuju ke dalam. Perlahan Bayu membuka pintu itu, kemudian melangkah masuk hati-hati sekali. Ayunan langkahnya begitu ringan, dan tak bersuara sedikit pun juga. Pendekar Pulau Neraka memang menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf kesempurnaan.

Langkahnya terhenti setelah tiba di depan pintu yang tidak tertutup rapat. Sedikit cahaya pelita menerobos keluar, dengan sinarnya yang redup. Suara isak lirih yang tertahan itu jelas datang dari balik pintu ini. Dan Pendekar Pulau Neraka tahu kalau di balik pintu ini merupakan sebuah kamar seseorang yang dikenalnya. Perlahan-lahan pintu itu didorongnya.

Bayu tertegun begitu melihat seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun, tengah duduk di atas ranjang. Rambutnya terurai acak-acakan. Bahkan bajunya tidak karuan letaknya, sehingga menampakkan beberapa bagian tubuh yang berkulit putih dan halus sekali.

“Nilakandi...,” pelan sekali suara Bayu seraya melangkah mendekati

Pendekar Pulau Neraka memang sudah mengenalnya. Dan panggilannya tadi cukup membuat gadis itu terkejut. Namun begitu mengenali orang yang memanggilnya, gadis yang bernama Nilakandi itu beranjak bangkit dari pembaringan. Dia menghambur, memeluk Bayu. Saat itu juga, tangisnya meledak dalam dada Pendekar Pulau Neraka. Untuk beberapa saat lamanya, Bayu tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk bersuara saja, tenggorokannya seakan-akan tersumbat.

“Ada apa, Nilakandi?” tanya Bayu lembut, setelah tangis gadis itu sedikit reda.

“Ayah.... Ayah, Kakang...,” suara Nilakandi tersendat.

“Ada apa dengan Paman Jawala?” tanya Bayu.

Seketika itu juga, perasaan Bayu jadi tidak menentu. Pendekar Pulau Neraka merasa seakan-akan jantungnya berhenti berdetak. Bahkan seluruh aliran darah dalam tubuhnya, bagai terbalik mengalir. Berbagai macam dugaan dan perasaan, berkecamuk di hatinya.

“Katakan, Nilakandi. Apa yang terjadi terhadap Paman Jawala?” desak Bayu dengan nada suara agak tertahan.

Namun Nilakandi malah sukar menjawab. Kembali tangisnya pecah dalam pelukan Pendekar Pulau Neraka. Maka Bayu pun tak dapat lagi mendesak. Dia jadi kebingungan sendiri, menghadapi keadaan gadis ini. Perlahan-lahan pelukan gadis itu dilepaskan. Bayu membawanya duduk di tepi pembaringan yang acak-acakan.

Untuk beberapa saat, Bayu mendiamkan saja gadis itu untuk menguras air matanya. Dia sendiri tidak tahu, apa yang harus diperbuat untuk menenangkan gadis ini. Pendekar Pulau Neraka memang paling tidak mengerti untuk menghadapi seorang gadis yang tengah kacau perasaannya. Terlebih lagi kalau tengah menangis begini. Dia hanya bisa diam dan menunggu sampai tangis itu reda. Memang hanya itu yang bisa dilakukannya.

“Katakan, Nilakandi. Apa yang terjadi pada Paman Jawala?” tanya Bayu, setelah gadis itu mulai sedikit tenang. Dan isak tangisnya juga mulai mereda.

“Ayah..., Ayah tewas terbunuh,” sukar sekali Nilakandi menjawabnya.

“Apa...?!”

***

Bayu seperti tidak percaya kalau Paman Jawala tewas terbunuh. Namun ketidakpercayaannya luntur karena yang mengatakannya justru anak gadis Paman Jawala sendiri. Maka berita itu harus dipercayainya, meskipun ada perasaan tidak percaya.

“Kapan kejadiannya?” tanya Bayu setelah bisa menguasai dirinya kembali.

“Siang tadi,” sahut Nilakandi, masih dengan suara tersendat

Bayu termenung diam. Siang tadi dia berada dalam keputren, untuk berbicara pada Ratu Nyai Langas. Dan sekeluarnya dari sana, langsung menuju ke perbatasan dekat Hutan Landaka. Di sana Pendekar Pulau Neraka bertarung melawan orang-orang berbaju hitam yang langsung dipimpin oleh Jarong.

“Siapa yang melakukannya, Nilakandi?” tanya Bayu lagi.

Nilakandi hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah sekali. Ditatapnya dalam-dalam pemuda tampan di sampingnya ini. Bibirnya seakan-akan hendak mengatakan sesuatu, namun terasa sukar untuk bersuara sekecil apa pun juga. Saat itu, Bayu sama sekali tidak memperhatikan. Perasaan Pendekar Pulau Neraka saat ini tidak menentu sekali. Bahkan terasa sukar sekali membuka jalan pikirannya.

Untuk beberapa saat lamanya, tak ada yang berbicara lagi. Semua terdiam, sibuk bersama pikiran masing-masing. Sedangkan Bayu masih mereka-reka, siapa orang yang begitu tega membunuh Paman Jawala. Sedangkan, tidak mungkin Pendekar Pulau Neraka bertanya pada gadis ini, karena tampaknya Nilakandi tidak tahu pembunuh ayahnya.

“Nilakandi, apakah Paman Rahseta sudah tahu?” tanya Bayu yang kemudian teringat Rahseta.

“Sudah. Tapi..,” jawaban Nilakandi terputus.
“Tapi, kenapa?” desak Bayu.
“Paman Rahseta dipenjara.”
“Dipenjara...?! Kenapa...?” lagi-lagi Bayu tersentak kaget

“Aku tidak tahu pasti. Tapi katanya, Paman Rahseta merencanakan pemberontakan pada Ratu Nyai Langas,” Nilakandi mencoba menjelaskan.

“Siapa yang menangkapnya?” tanya Bayu lagi.

“Gusti Narata.”

Bayu mendesis kuat setelah mendengar kalau yang menangkap dan menjebloskan Paman Rahseta ke penjara adalah Narata, kakak misan dari Ratu Nyai Langas. Kembali Pendekar Pulau Neraka terdiam membisu. Maka suasana dalam kamar itu pun terasa sunyi sekali. Tak terdengar suara sedikit pun juga.

Hanya tarikan napas yang masih terdengar jelas, disertai isak tertahan yang sekali-sekali saja.

“Kau sudah melaporkan pada Ratu Nyai Langas?” tanya Bayu setelah terdiam agak lama juga.

“Sudah,” sahut Nilakandi.
“Lalu, apa tanggapannya?”
“Kanjeng Ratu Nyai Langas akan mencari pembunuhnya.”

Bayu hanya menarik napas dalam-dalam saja, kemudian menghembuskannya kuat-kuat. Bayu memang sudah menduga kalau Ratu Nyai Langas akan menjawab seperti itu. Hal inilah yang membuatnya jadi bertanya-tanya dalam hati. Dan yang pasti, Ratu Nyai Langas pasti mempunyai maksud tertentu. Hanya saja, Bayu belum bisa menebaknya.

***

TUJUH

Malam itu juga, Pendekar Pulau Neraka menyelinap ke dalam kediaman Narata. Tidak seperti tempat tinggal pembesar lainnya, tempat tinggal Narata mendapat pengawalan sangat ketat. Sebenarnya laki-laki tambun itu memang bukan pembesar biasa, tapi kakak sepupu Ratu Nyai Langas. Namun, jabatan yang dipegang Narata di Kerajaan Langkat ini memang penting sekali. Bahkan bisa dikatakan dialah yang mengendalikan jalannya roda pemerintahan.

“Hm...,” Bayu menggumam perlahan ketika melihat Narata melintas di dalam sebuah ruangan.

Dengan gerakan ringan sekali, Pendekar Pulau Neraka melompat, dan mendarat di samping jendela ruangan yang tampak terang. Bayu merapatkan punggungnya ke dinding bangunan besar dan megah ini. Sedikit kepalanya dijulurkan melihat keadaan dalam ruangan ini Tak ada seorang pun yang terlihat. Padahal, dia tadi melihat Narata berada di dalam ruangan ini.

“Apa yang kau cari, Bayu...?”

“Heh...?!” Bayu tersentak kaget ketika tiba-tiba saja terdengar suara orang menegurnya.

Dan sebelum wajahnya sempat dipalingkan ke arah suara itu, mendadak saja satu desiran halus terdengar. Bayu belum bisa melakukan sesuatu, tahu-tahu dadanya terasa dihantam keras sekali.

Dieghk!
“Akh...!”
Bruk!

Begitu kuatnya hantaman tadi, sehingga tembok batu yang berada di belakang Pendekar Pulau Neraka hancur berantakan. Tubuh pemuda berbaju kulit harimau itu terpental masuk ke dalam ruangan, bersama reruntuhan dinding batu ruangan ini. Beberapa kali Bayu bergelimpangan di atas lantai batu pualam yang licin, dingin, dan berkilat

Dan sebelum sempat bangkit berdiri, mendadak satu tendangan keras mendarat di tubuhnya. Kembali Pendekar Pulau Neraka memekik tertahan, dan tubuhnya terpental bergulingan di lantai. Namun sebelum berhenti kembali sebuah bayangan putih berkelebat cepat hendak menerjangnya. Namun kali ini, Bayu tidak akan memberikan tubuhnya menjadi sasaran kembali.

“Hup! Yeaaah...!”

Bagaikan kilat, Pendekar Pulau Neraka melentingkan tubuhnya ke udara, dan berputaran beberapa kali. Bayangan putih itu lewat di bawah tubuhnya. Dan dengan gerakan ringan, kakinya mendarat di lantai, tepat ketika bayangan putih itu berbalik.

“Jarong...,” desis Bayu mengenali orang yang menyerangnya.
“Kau terlalu berani datang ke sini, Pendekar Pulau Neraka,” desis Jarong dingin.
“Heh...! Dari mana kau tahu julukanku?” tanya Bayu terkejut

“Tidak sukar membongkar kedok busukmu, Pendekar Pulau Neraka,” tetap dingin nada suara Jarong. “Orang lain boleh gentar mendengar julukanmu. Tapi di sini, kau tidak akan mampu berbuat macam-macam.”

Pada saat itu, beberapa orang berpakaian serba hitam dan beberapa prajurit sudah memasuki ruangan ini Dan mereka langsung mengepung ruangan yang cukup besar dan bertata indah ini. Tak berapa lama kemudian, dari sebuah pintu muncul seorang laki-laki setengah baya bertubuh gembur dan berperut buncit seperti gentong. Bayu mengenalinya. Siapa lagi kalau bukan Narata.

Laki-laki bertubuh gemuk itu langsung mendekati Jarong, yang berada sekitar satu tombak di depan Bayu. Ditatapnya tajam-tajam Pendekar Pulau Neraka. Sedangkan yang dipandangi malah mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Bayu menyadari kemungkinan untuk bisa keluar dari ruangan ini kecil sekali. Jumlah pengepungnya begitu banyak dan rapat sekali. Bahkan terlihat, sekitar dua puluh prajurit sudah siap dengan busur terentang dan siap dilepaskan anak panahnya.

“Bagaimana dia bisa masuk ke sini, Jarong?” tanya Narata. Pandangan matanya tidak terlepas dari Pendekar Pulau Neraka.

“Aku memang sengaja menjebaknya,” sahut Jarong kalem. Tapi nada suaranya terdengar datar dan dingin sekali.

“Bukankah kau telah menempatkan penjagaan ketat?”

“Memang benar. Tapi, satu sisi kubiarkan lowong. Ternyata dia tidak sepandai yang kukira. Terlalu tolol untuk masuk dengan mudah,” sinis sekali suara Jarong.

Pendekar Pulau Neraka yang mendengarkan percakapan itu jadi menggeram. Dia memang melihat kalau penjagaan di tempat kediaman Narata ini ketat sekali. Dan hanya ada satu sisi yang kelihatannya tidak ketat dijaga. Namun sama sekali tidak disangka, kalau kedatangannya sudah ditunggu. Dan ini merupakan jebakan halus yang tidak terduga sama sekali.

Sementara itu, Narata melangkah tiga tindak mendekati Pendekar Pulau Neraka. Dipandanginya pemuda berbaju kulit harimau itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Seakan-akan sedang menyelidiki, atau mungkin menilai pemuda di depannya ini.

“Untuk apa kau menyelinap ke rumahku?” tanya Narata, dingin nada suaranya.
“Untuk meminta kembali Paman Rahseta,” tegas Bayu.
“Meminta? Kau pikir Rahseta ada di sini, heh...?!”

“Kau sudah membunuh Paman Jawala, dan menculik Paman Rahseta. Sekarang kedatanganku ke sini untuk membebaskannya, juga untuk membalas kematian Paman Jawala,” tetap tegas nada suara Bayu.

“Ha ha ha...!” Narata tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban tegas Pendekar Pulau Neraka.

Sedangkan Jarong hanya tersenyum tipis saja. Sementara Bayu sama sekali tidak bertindak. Kedatangannya ke tempat ini memang hendak membebaskan Rahseta, yang menurut Nilakandi diculik anak buah Narata. Dan setelah mendengar pengakuan Jarong yang katanya sengaja menjebak, Pendekar Pulau Neraka semakin yakin kalau memang merekalah yang membunuh Jawala dan menculik Rahseta.

“Kau terlalu gegabah menuduhku seperti itu, Anak Muda. Memang kuakui kalau di antara kami tidak pernah ada kecocokan. Tapi untuk melakukan perbuatan pengecut begitu, tidak pernah terlintas di dalam pikiranku,” tegas Narata setelah tawanya reda.

“Mungkin kau memang tidak melakukannya. Tapi kemenakan palsumu itu yang mungkin melakukan atas perintahmu,” sambut Bayu, tetap dingin nada suaranya.

“Bedebah...! Kau telah menghinaku, Anak Muda!” geram Narata.
“Biar aku yang tangani setan kurang ajar ini, Paman,” selak Jarong.

Dan sebelum Narata menjawab, Jarong sudah menjentikkan ujung jari tangannya. Seketika itu juga, empat orang berpakaian serba hitam sudah melompat maju. Mereka semua membawa rantai baja hitam yang cukup panjang, yang pada ujungnya terdapat bola-bola berduri. Mereka langsung memutar-mutar rantai baja hitam itu kuat-kuat, sehingga memperdengarkan suara deru angin yang keras.

“Hm...,” Bayu hanya menggumam kecil saja.
“Serang..!” teriak Jarong tiba-tiba.

“Hiyaaa...!”
“Yeaaah...!”
“Hup!”

***

Bagaikan kilat, Bayu melompat begitu empat orang berpakaian serba hitam melontarkan rantainya. Suara berdesir terdengar saat rantai-rantai berujung bola-bola berduri itu meluruk deras ke arah Pendekar Pulau Neraka. Tepat ketika ujung bola-bola berduri itu dekat, dengan cepat sekali Pendekar Pulau Neraka memutar tubuhnya. Dan tahu-tahu, empat ujung rantai itu sudah tergenggam dalam tangan Bayu.

Rrrt..!

Sekali sentak saja, empat orang berbaju hitam itu terpental ke udara. Pekikan-pekikan keras terdengar saling susul. Dan sebelum ada yang menyadari, Bayu sudah melesat sambil melontarkan beberapa pukulan keras bertenaga dalam tinggi.

“Yeaaah...!”

Kembali terdengar jeritan-jeritan panjang menyayat yang saling susul. Kemudian empat tubuh berbaju hitam terpental keras menghantam lantai. Tepat ketika Pendekar Pulau Neraka menjejakkan kakinya di lantai, mereka sudah tidak bergerak-gerak lagi. Mati. Dada mereka remuk, terhantam pukulan keras yang dilontarkan Bayu.

“Keparat..!” desis Jarong geram, melihat empat orang anak buahnya tewas hanya sekali gebrakan saja.

Sementara itu, Bayu sudah berdiri tegak dengan pandangan menusuk ke arah pemuda bertubuh kurus kering itu. Sedangkan Narata tampak sudah menyingkir. Untuk beberapa saat, suasana di dalam ruangan ini jadi sunyi senyap. Semua orang yang sebelumnya telah siap di sekeliling ruangan besar dan megah ini menjadi terpaku melihat kehebatan Pendekar Pulau Neraka. Hanya dalam sekali gebrak saja, pendekar digdaya itu sudah berhasil menewaskan empat orang sekaligus!

“Kenapa kalian diam saja...? Serang dan bunuh manusia keparat itu...!” teriak Jarong keras menggelegar.

Bagaikan lebah yang sarangnya dihantam kayu, orang-orang berpakaian serba hitam yang mengelilingi ruangan ini, serentak berlompatan sambil berteriak-teriak mengeroyok Pendekar Pulau Neraka. Dan hal ini memang sudah diperhitungkan. Maka tanpa membuang waktu lagi, pemuda berbaju kulit harimau itu segera melesat ke udara. Tubuhnya langsung meruruk deras ke arah orang-orang yang berada di depannya.

“Yeaaah...!”

Cepat sekali gerakan Bayu saat melontarkan beberapa pukulan keras beruntun bertenaga dalam tinggi ke arah orang-orang yang berada di depannya. Pendekar Pulau Neraka memang semakin geram saja. Tapi saat ini sangat kecil kemungkinan untuk mendekati pemuda kurus kering itu. Sedangkan untuk keluar dari keroyokan ini saja, Bayu masih terus mencari celah. Dan celah itu harus didapat sebelum tenaganya terkuras habis.

***

“Hiyaaa...!”

Mendadak saja Bayu berteriak keras menggelegar. Dan seketika itu juga, tubuhnya melesat cepat bagai kilat ke udara. Sementara tangan kanannya mengibas cepat ke atas, melepaskan Cakra Maut yang merupakan senjata andalannya. Sesaat kemudian, terdengar ledakan keras menggelegar ketika secercah cahaya keperakan melesat bagai kilat menghantam atap ruangan ini.

Dan secepat itu pula, Bayu melesat menerobos atap yang jebol berantakan. Begitu cepatnya, sehingga tak ada seorang pun yang bisa menyadari. Dan tahu-tahu, Pendekar Pulau Neraka sudah berdiri di atas atap bangunan besar dan megah ini. Pemuda berbaju kulit harimau itu mengangkat tangannya ke atas, maka senjata bersegi enam keperakan itu melesat ke arahnya dan langsung melekat di pergelangan tangan kanannya.

“Kejar...!” mendadak saja terdengar teriakan keras dari dalam ruangan itu.

Belum lagi suara teriakan itu menghilang, mendadak dari atap yang jebol berlompatan orang-orang berbaju serba hitam. Saat itu Bayu sempat meninggalkan tempat ini. Dan kini sudah kembali diserang orang-orang berbaju serba hitam.

“Yeaaah...!”

Sambil memiringkan tubuh ke kiri, Bayu mengibaskan tangan kanannya ke depan. Seketika, cakra bersegi enam berwarna keperakan di pergelangan tangan kanannya melesat cepat menghajar orang yang berada paling dekat

Cras!
“Aaa...!”

Satu jeritan panjang melengking tinggi terdengar menyayat. Sebelum jeritan itu menghilang dari pendengaran, seorang berbaju hitam terguling dengan leher sobek hampir buntung. Bayu cepat menarik tangan kanannya ke atas, maka secepat itu pula dihentakkan kembali. Cakra Maut yang baru saja tercabut dari leher yang menganga lebar kembali melesat dan menghajar seorang lagi. Untuk kedua kalinya, terdengar jeritan panjang melengking tinggi.

“Hiya! Hiya! Hiyaaa...!”

Bayu menggerak-gerakkan cepat tangan kanan-nya, diimbangi gerakan kaki yang lincah dan ringan. Senjata Cakra Maut yang menjadi andalan Pendekar Pulau Neraka bagai memiliki mata saja. Cakra Maut berkelebat cepat menyambar orang-orang berbaju serba hitam.

Jeritan-jeritan panjang melengking tinggi terdengar saling sambut, disusul bergelimpangannya tubuh-tubuh berbaju serba hitam berlumur darah dari atas atap. Hingga dalam waktu tidak berapa lama saja, Bayu sudah mendapat kesempatan untuk melarikan diri dari kepungan itu.

“Yeaaah...!”

Begitu mempunyai kesempatan, secepat itu pula tubuh Bayu melenting, meluruk deras ke bawah. Dan saat kakinya menjejak tanah berumput, secepat itu pula tubuhnya kembali melesat cepat melompati pagar tembok yang tinggi dan kokoh.

Slap!

Begitu sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pendekar Pulau Neraka. Dalam waktu sekejap mata saja, bayangan tubuhnya telah lenyap tertelan kegelapan malam. Bersamaan dengan menghilangnya Pendekar Pulau Neraka, dari dalam bangunan besar dan megah tempat kediaman Narata bermunculan orang-orang berbaju serba hitam. Sementara, Jarong dan Narata sudah mendahului mereka. Sedangkan para prajurit berseragam dan bersenjata lengkap berada paling akhir.

“Keparat..!” desis Jarong geram.

***

Malam terus merayap semakin larut. Udara pun terasa semakin bertambah dingin oleh hembusan angin kencang. Namun keadaan alam yang nampak tidak ramah ini tidak membuat lari Bayu terhenti. Pendekar Pulau Neraka terus berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf kesempurnaan. Begitu cepatnya, seolah-olah berlari di atas angin saja. Yang terlihat hanya kelebatan bayangannya saja yang mirip hantu.

Bayu baru menghentikan larinya setelah tiba di depan pintu sebuah rumah besar dan megah, dikelilingi pagar tembok batu yang cukup tinggi Sebentar napasnya ditarik dalam-dalam. Bibirnya sedikit meringis saat menarik napas tadi. Kemudian tangannya mengetuk pintu kayu jati tebal yang tertutup itu.

Tok, tok tok...!

Tak ada sahutan sama sekali. Bayu kembali mengetuk pintu lebih keras lagi, lalu sebentar menunggu. Dari balik pintu terdengar suara langkah terseret. Tak berapa lama kemudian, pintu kayu jati berukir ini terbuka sedikit. Dari dalam menyembul sebuah kepala seorang gadis yang wajahnya kusut dan rambutnya acak-acakan. Langsung pintu itu dibuka lebar-lebar begitu melihat siapa yang berdiri di depannya.

Bayu bergegas masuk dan menutup pintu kembali. Sebentar diintipnya keadaan di luar dari celah jendela. Kemudian napasnya ditarik dalam-dalam. Sambil menghembuskan napas panjang, Pendekar Pulau Neraka menghempaskan tubuhnya di kursi rotan yang ada di samping pintu ini. Sementara gadis itu hanya memandangi saja dengan kening berkerut dalam.

“Ada apa, Kakang? Heh...! Kenapa punggungmu...?”

Gadis itu tampak terkejut. Bayu meraba punggungnya yang terasa perih. Ujung jari tangannya merasakan adanya cairan hangat merembes dari punggungnya. Bayu kembali membawa tangannya ke depan.

“Darah...,” desis Bayu.

Sama sekali Pendekar Pulau Neraka tidak menyadari kalau punggungnya terluka. Bahkan sama sekali tidak tahu, kapan dan bagaimana punggungnya bisa terluka seperti ini. Bayu melirik gadis berparas cantik itu, yang bergegas ke belakang. Dan tak berapa lama kemudian sudah kembali lagi sambil membawa semangkuk besar air dan kain.

Tanpa berkata apa-apa, gadis itu memutar tubuh Pendekar Pulau Neraka. Dibersihkannya darah yang mengalir di punggung pemuda berbaju kulit harimau itu. Sedikit Bayu meringis saat merasakan kain yang basah menyentuh luka di punggungnya.

“Sakit..?” tanya gadis itu.

“'Tidak,” sahut Bayu seraya meringis. “Besar lukanya, Nilakandi?”

“Cukup panjang, tapi tidak dalam,” sahut gadis itu yang ternyata Nilakandi, putri Paman Jawala.

Bayu terpaksa membuka baju saat gadis itu hendak membalut luka di punggungnya. Kembali Bayu meringis sedikit. Dia mencoba mengingat-ingat pertarungan di tempat kediaman Narata tadi

“Hm.... Mungkin aku terluka sewaktu berada di atap...,” gumam Bayu menduga-duga dalam hati.

“Sudah,” ujar Nilakandi setelah membalut luka di punggung Pendekar Pulau Neraka.

Bayu kembali mengenakan pakaiannya yang terbuat dari kulit harimau. Sementara Nilakandi membereskan peralatan yang digunakan untuk membalut luka di punggung Pendekar Pulau Neraka.

“Tadi Panglima Narasoma ke sini. Dia menanyakanmu,” Nilakandi memberi tahu.
“Apa jawabmu” tanya Bayu.
“Kubilang kau sudah pergi,” sahut Nilakandi.
“Hm..., ada apa dia mencariku...?” gumam Bayu seperti bertanya untuk dirinya sendiri.

“Panglima Narasoma tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung pergi begitu kukatakan kau sudah pergi,” kata Nilakandi lagi.

Bayu hanya diam saja.

“Kakang, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu,” kata Nilakandi lagi.
Bayu mengangkat kepalanya, memandang gadis itu.
“Apa?”

Nilakandi mengeluarkan selongsong bambu yang terikat pita biru dari balik lipatan bajunya. Sebentar Bayu memandangi, kemudian menerima selongsong bambu itu. Sesaat, diperhatikannya selongsong bambu itu, kemudian dibuka tutupnya. Dari dalamnya dikeluarkannya beberapa lembar daun lontar yang penuh coretan tulisan.

Kening Pendekar Pulau Neraka itu berkerut saat membaca tulisan yang tertera di atas selembar daun lontar. Sebentar dipandangnya Nilakandi, kemudian kembali menekuri tulisan-tulisan yang tertera di atas lembaran daun lontar itu.

“Dari mana kau dapatkan ini?” tanya Bayu.
“Aku menemukannya di Keputren Ratu Nyai Lengas, ketika sedang bermain di sana,” sahut Nilakandi.

“Kau tahu apa isinya?” tanya Bayu lagi seraya memasukkan daun lontar itu ke dalam selongsong bambu, kemudian menutup kembali ujungnya.

Nilakandi hanya mengangguk saja, menjawab pertanyaan Pendekar Pulau Neraka itu. Gadis itu memang sudah melihat isi surat itu, makanya kini diberikan pada Bayu. Dia sendiri terkejut setelah mengetahui kalau tulisan yang tertera pada lembaran daun lontar berisi nama-nama pembesar yang berkomplot untuk menggulingkan tahta Ratu Nyai Langas. Bahkan semua pemberontakan tertulis di sana. Yang lebih mengejutkan lagi, tulisan itu dibuat oleh Narata!

Yang membuat Bayu bertanya-tanya, untuk apa Narata menulis semua ini? Dan kenapa sampai berada di tangan Bokor? Memang, surat ini bisa menjadi bukti kuat untuk menggulung komplotan pemberontak itu. Dan di dalam surat ini, juga tertulis kalau penggulingan kekuasaan dilaksanakan tepat saat Ratu Nyai Langas melakukan pemujaan di sebuah puri yang terletak di tengah Hutan Landaka. Dan itu berarti tinggal tiga hari lagi. Sementara, seluruh Hutan Landaka kini sudah dikuasai oleh kaum pemberontak.

“Aku harus segera memberi tahu Ratu Nyai Langas,” gumam Bayu agak mendesis.
“Memang lebih cepat lebih baik, Kakang,” sambut Nilakandi.
“Kau diam saja di sini, Nilakandi. Jangan ke mana-mana,” tegas Bayu seraya bangkit berdiri.

“Tapi, punggungmu...”
“Hanya luka kecil, tidak apa-apa.”

Nilakandi tidak bisa mencegah lagi, karena cepat sekali Pendekar Pulau Neraka melompat ke pintu. Dan secepat itu pula pintu dibuka, lalu tubuhnya sudah lenyap tak terlihat lagi. Nilakandi bergegas menutup pintu lagi. Dia sempat melongok ke luar, tapi Pendekar Pulau Neraka tidak ada lagi di sana.

“Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada Kakang Bayu...,” desah Nilakandi.

***

DELAPAN

“Heh...!”

Ratu Nyai Langas terperanjat ketika tiba-tiba saja Pendekar Pulau Neraka muncul di dalam kamarnya. Bahkan hampir saja berteriak. Untung Bayu segera memintanya untuk tenang. Wanita cantik itu menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan baju tipis, hingga menampakkan keindahan bentuk tubuhnya.

“Bagaimana kau bisa berada di kamarku?” tanya Ratu Nyai Langas bernada kurang senang.

“Maaf, Gusti Ratu. Hamba terpaksa melumpuhkan dua orang penjaga,” sahut Bayu.

“Apa maksudmu datang malam-malam begini?”

“Hamba akan menyerahkan bukti yang Gusti Ratu minta,” sahut Bayu.

Pendekar Pulau Neraka menyodorkan selongsong bambu dengan sikap penuh hormat Ratu Nyai Langas memandanginya sejenak, kemudian menerima selongsong bambu itu. Sebentar dipandanginya Bayu, kemudian tutup selongsong bambu itu dibuka. Dari dalamnya dikeluarkan beberapa daun lontar yang bertuliskan sesuatu yang mengejutkan.

Kening wanita itu berkerut saat membaca tulisan yang tertera pada daun lontar itu. Kembali dipandangnya Bayu yang berdiri saja tidak jauh di depannya. Hanya sedikit raut wajahnya berubah. Sedangkan Bayu hanya memperhatikan saja. Pendekar Pulau Neraka kagum juga dengan ketabahan yang dimiliki wanita cantik ini. Sama sekali dia tidak kelihatan terkejut, meskipun raut wajahnya tadi sempat berubah sedikit

“Dari mana kau dapatkan ini?” tanya Ratu Nyai Langas, sambil menggulung kembali daun lontar dan memasukkan ke dalam selongsong bambu.

Tanpa diminta dua kali, Bayu kemudian menuturkan beberapa kejadian yang dialami hingga mendapatkan selongsong bambu ini dari Nilakandi, putri tunggal Paman Jawala. Juga, diceritakan tentang Bokor yang membawa surat itu, dan Jarong yang menginginkan surat-surat itu kembali.

“Ini memang merupakan bukti kuat, Bayu. Tapi aku tidak akan mengambil tindakan apa-apa, sampai tiba saatnya nanti,” tegas Ratu Nyai Langas, setelah Bayu menceritakan semuanya.

“Maksud, Gusti Ratu...?” tanya Bayu tidak mengerti.

“Biarkan mereka bertindak sesuai rencana,” sahut Ratu Nyai Langas diiringi sunggingan senyuman manis.

“Gusti Ratu akan membiarkan mereka merebut tahta...?” tanya Bayu semakin tidak mengerti.

Ratu Nyai Langas tidak menjawab, tapi malah tersenyum saja. Perlahan wanita cantik penguasa tunggal Kerajaan Langkat ini beranjak bangkit dari pembaringan. Sepertinya dia sudah lupa dengan keadaan tubuhnya yang hanya tertutup baju tipis. Melihat hal ini Bayu hanya bisa menelan ludah saja. Biar bagaimanapun Pendekar Pulau Neraka tidak akan bertindak kurang ajar. Karena sekali berbuat kotor, maka wibawanya akan turun di mata sang Ratu.

Dengan ayunan langkah gemulai, Ratu Nyai Langas menghampiri meja kecil, lalu mengambil dua gelas perak. Dan dari sebuah guci perak, dituangkannya arak ke dalam gelas itu, lalu dibawanya pada Bayu. Satu gelas diserahkan pada pemuda itu, dan satu gelas lagi untuknya sendiri.

“Kau bukan rakyat Kerajaan Langkat ini, Bayu. Tapi mengapa begitu gigih mempertahankan keutuhan negeri ini?” tanya Ratu Nyai Langas ingin tahu.

“Hamba akan membela siapa saja yang berada di jalur kebenaran, Gusti Ratu. Sama sekali hamba tidak memandang pangkat dan derajat seseorang,” sahut Bayu kalem.

“Aku punya sesuatu untukmu, Bayu,” kata Ratu Nyai Langas seraya mengambil gulungan surat yang sama persis dengan yang dibawa Bayu.

Pendekar Pulau Neraka itu menerima, dan membacanya dengan cepat. Keningnya langsung berkerut. Surat ini datang dari Narata, dan meminta wanita ini untuk menyerahkan tahtanya. Bayu menatap Ratu Nyai Langas, sedangkan yang ditatap kelihatan tenang.

“Gusti Ratu... hamba juga akan menyampaikan sesuatu,” kata Bayu.

“'Tentang apa?”

“Jarong.”

“Hm....”

“Sebenarnya Jarong seorang tokoh persilatan yang disewa Narata untuk membantunya dalam pemberontakan ini.”

“Sudah kuduga...,” gumam Ratu Nyai Langas.

Bayu benar-benar kagum pada wanita ini. Meskipun dalam keadaan gawat, tetap saja tenang.

Ratu Nyai Langas hanya tersenyum saja mendengar jawaban Bayu yang lugas itu. Tidak perlu dijelaskan lagi kalau Pendekar Pulau Neraka sama sekali tidak memandang wanita ini sebagai ratu yang menguasai seluruh wilayah Kerajaan Langkat. Bagi Bayu sendiri, semua manusia sama. Hanya pangkat dan derajat saja yang membedakannya di dunia ini. Dan Bayu sama sekali tidak pernah memandang hal semacam itu.

“Bayu. Jika kau memang ingin menolong kejayaan Kerajaan Langkat, aku minta padamu untuk menjadi pengawal pribadiku,” pinta Ratu Nyai Langas.

“'Terima kasih, Gusti Ratu. Tapi...,” ucapan Bayu terputus.

“Aku mengerti, Bayu. Bukan untuk selamanya kau menjadi pengawal pribadiku. Tapi hanya untuk tiga hari ini saja,” ujar Ratu Nyai Langas, bisa memahami keberatan Pendekar Pulau Neraka.

“Maksud, Gusti Ratu...?” Bayu masih belum mengerti.

“Mereka akan kubiarkan melaksanakan rencananya. Aku yakin kalau tujuan mereka yang utama adalah melenyapkanku, sebelum mengambil alih singgasana. Dan pasti mereka sudah menunggu di Hutan Landaka. Jadi, tidak perlu kita menggulung mereka di kotaraja ini, tapi cukup di dalam hutan sana,” Ratu Nyai Langas menjelaskan rencana yang terlintas di kepalanya.

“Jumlah mereka sangat banyak, Gusti. Dan kalau Gusti Ratu membawa pengawal berjumlah banyak, akan membuat curiga. Bisa-bisa mereka langsung menguasai istana ini,” Bayu mengemukakan pendapatnya.

“Aku mempunyai angkatan perang ketiga, yang langsung berada di bawah komando ku. Aku juga sudah tahu, kalau sebagian prajurit sudah berpihak pada mereka. Tapi itu memang prajurit mereka sendiri. Jadi, tidak perlu khawatir.”

“Gusti Ratu akan mengerahkan seluruh kekuatan ke Hutan Landaka?”

“Tidak, tapi hanya sebagian saja. Dan itu juga tidak secara terang-terangan, Bayu. Mereka akan berangkat terlebih dahulu, namun tidak mengenakan seragam prajurit.”

Bayu mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda bisa memahami maksud Ratu Nyai Langas. Dalam hati, Pendekar Pulau Neraka memuji kecerdikan wanita berparas cantik ini. Juga, ketenangannya dalam menghadapi kemelut. Bayu benar-benar memuji secara turus, meskipun hanya diucapkan dalam hati. Memang dalam menghadapi sesuatu, sangat dibutuhkan ketenangan. Dan ketenangan itu dimiliki Ratu Nyai Langas.

***

Bayu berdiri tegak di atas bangunan tua yang tersusun dari batu, membentuk sebuah candi. Dan memang, bangunan ini digunakan untuk memuja dewa. Hanya keluarga istana saja yang boleh menggunakan candi di tengah Hutan Landaka ini. Pendekar Pulau Neraka berpaling saat merasakan ada seseorang berdiri agak ke belakang di samping kanannya.

Bayu memberi senyum setelah mengetahui kalau Ratu Nyai Langas sudah berada di dekatnya. Di belakang wanita cantik ini berdiri seorang laki-laki tua mengenakan jubah warna kuning gading. Laki-laki yang sudah berusia lanjut itu, bernama Eyang Lanjaran. Seorang pertapa yang menghuni candi tua ini.

“Mereka sudah terlihat, Bayu?” tanya Ratu Nyai Langas.

“Tidak ada tanda-tandanya, Gusti Ratu,” sahut Bayu dengan sikap hormat

Pandangan Ratu Nyai Langas beredar ke sekeliling. Hanya ada beberapa prajurit saja yang menjaga di sekitar bangunan tua dari batu ini, serta sepuluh orang pelayan yang tampak sibuk di bagian belakangnya. Bayu sendiri masih diliputi keheranan, karena sejak tadi tidak melihat prajurit khusus yang dikatakan Ratu Nyai Langas. Hanya lima puluh prajurit saja yang terlihat di sekitar bangunan ini. Dan kedatangan mereka pun bersama-sama.

“Hamba khawatir rencana ini sudah diketahui mereka, Gusti Ratu,” kata Bayu mengemukakan perasaan khawatirnya.

“Kalaupun mengetahui, yang pasti ada dua tempat yang diserang. Di sini, atau mereka ke istana,” sahut Ratu Nyai Langas. Tetap terdengar tenang suaranya.

“Ada kemungkinan mereka menyerang istana, Gusti Ratu,” selak Eyang Lanjaran yang sejak tadi diam saja.

“Mereka akan berpikir dua kali untuk menyerang istana, Eyang. Aku yakin, jumlah mereka jauh lebih sedikit bila dibandingkan prajurit yang berada di istana,” bantah Ratu Nyai Langas.

“Lalu, bagaimana dengan yang ada di sini?” tanya Eyang Lanjaran.

“Di samping prajurit biasa yang datang bersamaku, ada sekitar lima ratus pasukan khusus yang hanya aku sendiri mengetahuinya. Tak ada seorang pun yang tahu, juga Kakang Narata,” sahut Ratu Nyai Langas menjelaskan lagi. “Maaf, Eyang. Aku terpaksa membentuk kekuatan khusus, dan mungkin ada gunanya sekarang ini.”

“Kau tidak perlu meminta maaf, Anakku. Tindakanmu tepat sekali. Mempersiapkan diri lebih penting daripada tidak sama sekali,” kata Epang Lamaran bijaksana.

“Terima kasih, Eyang.”
“Mereka datang...,” desis Bayu menyelak tiba-tiba.

Ratu Nyai Langas langsung memandang ke arah yang sama dengan pandangan Pendekar Pulau Neraka. Tampak di sebelah Utara, bergerak sekitar lima puluh orang menuju candi ini. Bukan hanya itu. Dari arah-arah lain juga terlihat orang-orang yang mengenakan baju serba hitam bergerak cepat ke arah tempat ini.

Baik Ratu Nyai Langas, maupun Bayu sudah menyadari kalau sudah terkepung dari empat jurusan. Dan jumlah mereka ada sekitar dua ratus orang. Namun perhatian Pendekar Pulau Neraka bukanlah pada orang-orang berbaju hitam itu, melainkan pada dua orang yang berjalan cepat dari arah Timur.

“Bagus.... Ternyata mereka tidak mengetahui kalau rencananya sudah terbaca,” ujar Ratu Nyai Langas dengan suara setengah bergumam.

“Bagaimana sekarang, Anakku?” tanya Eyang Lanjaran.

Ratu Nyai Langas tidak menjawab, dan hanya tersenyum seraya memandang Pendekar Pulau Neraka yang saat itu juga tengah menatap ke arah wanita cantik ini.

“Kau hadapi pemimpin mereka, Bayu. Jangan sampai mereka menjarah tempat suci ini,” tegas Ratu Nyai Langas.

Tanpa menjawab sedikit pun, Bayu segera melesat turun. Begitu ringan dan indah gerakannya. Dan tanpa memperdengarkan suara sedikit pun, Pendekar Pulau Neraka sudah berada di tanah. Secepat kakinya menjejak tanah, secepat itu pula melesat ke arah Timur, yang di sana terlihat Narata dan Jarong serta sekitar lima puluh orang berpakaian serba hitam bergerak menuju candi ini.

Begitu bayangan tubuh Pendekar Pulau Neraka lenyap ditelan kelebatan hutan, Ratu Nyai Langas mengambil sebuah benda bulat sebesar mata kucing dari balik sabuk yang membelit pinggangnya. Benda bulat berwarna merah itu, dilontarkan ke udara dengan hanya menjentikkan ujung jarinya sedikit saja. Dan begitu berada di angkasa, benda itu pecah memperdengarkan ledakan keras menggelegar bagaikan guntur di angkasa. Sebentar kemudian memercik bunga-bunga api yang beraneka ragam warnanya.

“Hm...,” Ratu Nyai Langas tersenyum.
“Apa yang kau lakukan tadi, Anakku?” tanya Eyang Lanjaran.
“Hanya memberi tanda saja, Eyang,” sahut Ratu Nyai Langas.

Setelah menjawab pertanyaan pertapa tua itu, Ratu Nyai Langas melangkah ringan meninggalkan atap depan bangunan candi ini. Eyang Lanjaran mengikuti saja tanpa mengucapkan sesuatu lagi. Sungguh tak pernah terpikirkan kalau tempat suci ini akan ternoda darah, dari orang-orang yang tengah diliputi nafsu keangkaramurkaan.

***

''Berhenti...!”

Narata dan Jarong terkejut ketika tiba-tiba terdengar bentakan keras menggelegar. Mereka segera menghentikan langkahnya diikuti lima puluh orang berpakaian serba hitam yang berjalan di belakang. Bentakan keras itu demikian jelas, dan mengejutkan sekali. Dan sebelum mereka semua lenyap dari rasa terkejutnya, kembali mereka dikejutkan munculnya seorang pemuda berbaju kulit harimau.

“Bayu...,” desis Jarong mengenali pemuda berbaju kulit harimau itu.

“Aku minta, sebaiknya kalian menyerah saja. Tempat ini sudah terkepung,” tegas Bayu namun bernada mengancam.

“Phuih! Bagaimana kau bisa tahu kami akan ke sini, Bayu?!” tanya Narata agak mendesis, menghilangkan rasa keterkejutannya.

“Ini...,” sahut bayu seraya menunjukkan selongsong bambu yang berisi beberapa lembar daun lontar.

“Sudah kuduga, Paman pasti salah mengambil surat,” ujar Jarong pelan, seperti berbicara pada diri sendiri.

Narata hanya diam saja. Sebentar matanya menatap tajam Pendekar Pulau Neraka, kemudian beralih pada pemuda kurus kering yang berdiri di sampingnya. Selongsong bambu yang berisi nama-nama pembesar yang berada di pihaknya itu memang miliknya.

Narata memang mengakui di dalam hati kalau telah salah memberi selongsong bambu itu pada anak buahnya. Meskipun tidak dikatakannya pada Jarong, tapi pemuda kurus kering itu sudah mengetahuinya. Itulah sebabnya mengapa Jarong harus melenyapkan Bokor sekaligus berniat merampas selongsong bambu itu kembali. Dan sekarang selongsong bambu itu sudah berada di tangan Pendekar Pulau Neraka. Dan yang pasti, semua rencana makar ini sudah diketahui.

“Tempat surat itu memang sama, dan kuletakkan di tempat yang sama pula. Aku tidak melihat lagi isinya ketika mengambil,” kata Narata perlahan, seakan-akan ingin mengakui kesalahannya. Kesalahan yang kecil, namun fatal akibatnya.

“Tidak ada jalan lain lagi, Paman. Kita harus melenyapkan manusia keparat bersama yang lainnya di hutan ini,” tegas Jarong. Suaranya terdengar dalam, agak tertahan.

Dan sebelum Narata menjawab, Jarong sudah berteriak kencang memerintahkan anak buahnya menyerang Pendekar Pulau Neraka. Tepat ketika orang-orang berbaju serba hitam itu meluruk deras hendak menyerang Bayu, mendadak saja dari atas pohon dan gerumbul semak berlompatan orang-orang berpakaian seragam prajurit. Mereka langsung menyerang orang-orang berpakaian serba hitam tanpa menunggu perintah lagi.

“Keparat..!” desis Jarong geram.
“Bagus...!” Bayu menyambut gembira kemunculan para prajurit itu. “Hiyaaat..!”

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Pulau Neraka langsung melompat menerjang Jarong yang tengah dihinggapi berbagai macam perasaan. Hatinya terkejut, marah, dan juga kebingungan melihat para prajurit bermunculan secara tiba-tiba dan langsung menyerang anak buahnya. Sebelum keterkejutannya lenyap, kembali pemuda kurus kering itu terperanjat begitu tiba-tiba saja Bayu sudah melompat menerjangnya.

“Uts...!”

Bergegas Jarong melompat ke samping seraya menjatuhkan tubuhnya ke tanah, menghindari serangan yang dilancarkan Pendekar Pulau Neraka. Beberapa kali dia bergulingan di tanah, sebelum cepat melompat bangkit berdiri.

“Yeaaah...!”

Sebelum pemuda bertubuh kurus kering itu bisa berdiri dengan tegak, Bayu sudah melompat menyerang kembali disertai lontaran dua pukulan beruntun bertenaga dalam tinggi. Sejenak Jarong terperangah kaget, namun cepat sekali mengegoskan tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk menghindari serangan.

Di lain pihak, pertempuran antara prajurit khusus Ratu Nyai Langas dengan orang-orang berpakaian serba hitam terus berlangsung sengit. Dan agak jauh dari tempat pertarungan itu, terlihat Narata hanya berdiri mengawasi saja. Dia tampak kebingungan, melihat anak buahnya terdesak menghadapi prajurit yang sama sekali tidak diketahuinya ini. Pakaian prajurit itu sangat lain sekali dengan pakaian prajurit yang berada di istana. Dan laki-laki gemuk itu tidak tahu, mereka ini prajurit-prajurit dari mana. Perhatian Narata beralih pada pertarungan antara Bayu dan Jarong.

“Hm... Kelihatannya Jarong bukan tandingan pemuda itu,” gumam Narata dalam hati.

Dan pengamatan Narata memang tepat. Saat itu Jarong sudah demikian terdesak sekali. Beberapa kali dia tersungkur jatuh terhantam pukulan keras Pendekar Pulau Neraka. Namun rupanya pemuda bertubuh kurus kering itu masih tetap bertahan. Dia selalu dapat bangkit dan langsung menyerang, meskipun selalu mudah dipatahkan Pendekar Pulau Neraka.

“Yeaaah...!”

Tiba-tiba saja Bayu cepat sekali melentingkan tubuhnya ke udara. Dan secepat itu pula tubuhnya meluruk deras sambil melontarkan satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi. Begitu cepatnya serangan yang dilancarkan Pendekar Pulau Neraka itu, sehingga Jarong tak dapat lagi menghindarinya.

Dieghk...!
“Aaakh...!”

Satu jeritan melengking tinggi terdengar. Bersamaan dengan itu, terlihat Jarong terpental beberapa tombak ke belakang. Dan sebelum tubuh pemuda kurus kering itu menyentuh tanah, Bayu sudah mengebutkan tangan kanannya ke depan.

Slap!

Seketika itu juga Cakra Maut yang selalu menempel di pergelangan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka melesat cepat bagaikan kilat. Begitu cepatnya, sehingga baik Jarong maupun Narata yang memperhatikan pertarungan tidak sempat lagi menyadari. Sehingga....

Crab...!
“Aaakh...!”

Jarong menjerit melengking tinggi. Cakra Maut keperakan bersegi enam, menancap dalam di dada pemuda kurus kering itu. Hanya sebentar saja Jarong bisa menggeliat, kemudian diam tak bernyawa lagi. Darah seketika muncrat keluar, begitu Cakra Maut terlepas dari dada pemuda bertubuh kurus kering itu. Senjata maut Pendekar Pulau Neraka itu kembali menempel di pergelangan tangan kanannya.

Bayu memutar tubuhnya menghadap Narata yang tampak terkejut melihat kematian Jarong. Laki-laki setengah baya bertubuh gemuk itu melangkah mundur beberapa tindak. Pada saat yang sama, lebih dari separuh orang-orang berpakaian serba hitam sudah bergelimpangan tak bernyawa lagi. Darah bersimbah menggenangi tanah berumput, menyebarkan aroma anyir terbawa angin.

“Sekarang giliranmu, Narata...,” desis Bayu dingin.
“Jangan... Jangan bunuh aku, Bayu. Biarkan aku hidup...,” terdengar bergetar suara Narata.

Wajah laki-laki setengah baya itu nampak pucat pasi, seperti tak teraliri darah. Seluruh tubuhnya menggeletar, basah oleh keringat yang mengucur deras. Bayu sendiri jadi tidak mengerti, mengapa sikap Narata seperti ini. Apakah Narata tidak mengerti ilmu olah kanuragan? Atau sudah gentar melihat kedigdayaan Pendekar Pulau Neraka? Perlahan-lahan Bayu melangkah mendekati.

“Biarkan dia hidup, Bayu...!”

Bayu berpaling saat mendengar seruan halus dari arah samping kanannya. Tampak Ratu Nyai Langas yang didampingi Eyang Lanjaran dan beberapa orang prajurit serta panglima perang menghampiri. Melihat penguasa tunggal Kerajaan Langkat itu, Narata langsung memburu dan berlutut di depannya. Mau tak mau Ratu Nyai Langas menghentikan langkahnya.

''Dinda Ratu.... Hamba mohon, biarkan hamba hidup...,” rengek Narata.

“Hm.... Mengapa kau begitu lemah, Kakang Narata? Bukankah kau selalu mencari kesempatan untuk menyingkirkan aku? Kau ingin menduduki tahta, bukan...?” agak sinis suara Ratu Nyai Langas.

Namun nada suaranya terdengar lembut sekali. Narata hanya diam saja. Kepalanya sama sekali tidak berani diangkat. Rasanya dia tidak sanggup membalas tatapan mata wanita cantik itu.

“Panglima Narasoma, tangkap dia,” perintah Ratu Nyai Langas.
“Hamba, Kanjeng Ratu.”

Panglima Narasoma segera menjalankan perintah itu. Bersama empat orang prajurit diringkusnya Narata yang sudah tidak memiliki daya lagi untuk memberi perlawanan. Panglima Narasoma membawa laki-laki setengah baya bertubuh gemuk itu, kembali ke Kotaraja Langkat Ratu Nyai Langas mengalihkan pandangannya ke arah Bayu berada. Namun....

“Heh...! Ke mana Bayu...?”

Bukan main terkejutnya Ratu Nyai Langas begitu melihat Bayu tidak berada lagi di tempatnya. Bahkan di sekitar tempat ini, tidak terlihat lagi Pendekar Pulau Neraka. Tak ada yang tahu, kapan dan ke mana pendekar digdaya itu pergi.

“Sudahlah, Anakku. Mungkin Bayu tidak menginginkan imbalan apa-apa darimu,” hibur Eyang Lanjaran, seakan-akan bisa membaca isi hati wanita itu.

Ratu Nyai Langas hanya menghembuskan napas saja. Bayu bukan hanya tampan, tapi sikap dan tindak tanduknya sudah membuat wanita itu tertarik. Ratu Nyai Langas merasakan ada sekeping hatinya yang hilang, saat Pendekar Pulau Neraka pergi.

“Hhh.... Semoga saja aku bisa bertemu lagi dengannya,” desah Ratu Nyai Langas dalam hati

“Mari kita kembali ke pertapaan. Ananda Ratu,” ajak Eyang Lanjaran.

Ratu Nyai Langas tidak mengeluarkan suara sedikit pun juga. Kemudian tubuhnya berputar, lalu melangkah mengikuti laki-laki tua pertapa itu.

“Apa yang akan kau lakukan pada Narata?” tanya Eyang Lanjaran.

“Tergantung dari putusan pengadilan nanti, Eyang. Mungkin dia dibuang dan tidak boleh kembali lagi,” sahut Ratu Nyai Langas perlahan.

“Satu keputusan yang bijaksana jika kau tidak menjatuhkan hukuman mati.”

Ratu Nyai Langas hanya tersenyum saja. Sama sekali Narata tidak ada dalam pikirannya. Seluruh pikiran dan sekeping hatinya kini tercurah pada seorang pemuda yang telah mencuri sekeping hatinya. Bahkan Ratu Nyai Langas sendiri tidak mengerti, apa yang sedang dirasakannya kini. Mungkinkah ini yang dinamakan cinta...? Entahlah. Yang jelas, dia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Hatinya hanya bisa berharap, agar dapat bertemu lagi dengan Pendekar Pulau Neraka.



SELESAI

Episode Berikutnya: SELIR RAJA

Pergolakan Di Istana Langkat

SERIAL PENDEKAR PULAU NERAKA
Episode: Pergolakan Di Istana Langkat
Karya: Teguh Suprianto
Gambar: Tony G
Penerbit: Cintamedia, Jakarta



Pergolakan di istana langkat


SATU

Brak!
“Goblok! Dungu...!”

Bentakan keras terdengar menggelegar, memecahkan kesunyian malam. Suara itu datang dari salah satu ruangan di sebuah rumah besar dan megah yang dikelilingi tembok batu tinggi dan kokoh. Tampak seorang laki-laki berusia setengah baya tengah berkacak pinggang di depan empat orang laki-laki bertubuh tinggi tegap berotot. Empat laki-laki itu duduk bersimpuh di lantai, dengan kepala tertunduk dalam.

Sebuah meja berukir dari kayu jati, terlihat hancur di samping kaki laki-laki setengah baya yang tubuh dan perutnya buncit seperti genderang. Wajahnya memerah, dan sinar matanya berkilatan tajam. Jelas, dia sedang dikuasai nafsu amarah yang membara. Untuk beberapa saat lamanya, suasana di ruangan besar dan megah itu jadi sunyi senyap. Dan kini yang terdengar hanya detak jantung dan dengus napas.

“Dasar gentong nasi! Kerja seperti itu saja tidak becus. Goblok...!” kembali laki-laki gemuk itu memaki dengan suara tinggi menggelegar.

“Maafkan kami, Gusti. Kami sudah melaksanakannya dengan baik sekali. Tapi...,” salah seorang yang duduk bersimpuh di lantai dan mengenakan baju warna merah muda mencoba menjelaskan. Suaranya terdengar pelan dan agak bergetar.

“Tapi apa...?!” bentak laki-laki gemuk berusia setengah baya itu.

“Ada orang lain yang ikut campur, Gusti Narata,” sahut orang berbaju merah muda itu lagi, seraya memberikan sembah dengan merapatkan telapak tangannya di depan hidung.

“Phuih! Alasan....”

“Kami tidak berdusta, Gusti. Orang itu berkepandaian tinggi sekali.”

“Benar, Gusti. Bahkan tujuh orang teman kami tewas di tangannya,” timpal seorang lagi yang mengenakan baju hijau daun.

“Mengapa kalian tidak sekalian ikut mati saja, hah...?!”

Empat orang itu terdiam dan kepalanya tertunduk semakin dalam. Kata-kata yang meluncur dari mulut laki-laki yang dipanggil Narata itu memang sangat pedas dan menyakitkan. Namun mereka tidak berani mengangkat kepalanya. Terlebih lagi untuk membalas tatapan mata yang memerah berapi-api itu.

“Kalian tunggu sebentar di sini,” ujar Narata.

Saat keempat orang itu memberi sembah dengan merapatkan kedua tangan di depan hidung, Narata sudah berbalik, lalu melangkah meninggalkan ruangan itu. Sedangkan empat orang laki-laki bertubuh tegap dan berotot itu tetap saja duduk bersimpuh di lantai tanpa sedikit pun mengangkat kepalanya. Agak lama juga Narata meninggalkan ruangan itu. Dan kini telah kembali lagi sambil membawa segulungan surat yang tersimpan dalam selongsong bambu yang terikat pita warna biru muda.

“Ke sini...!” masih terdengar kasar nada suara Narata.
“Hamba, Gusti”

Salah seorang yang mengenakan baju kuning bergegas maju mendekati. Diberikannya sembah dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

“Dengar! Kali ini kalian tidak boleh gagal,” tegas Narata, dalam sekali nada suaranya. “Berikan surat ini langsung kepada Kanjeng Ratu Nyai Langas. Aku tidak ingin surat ini jatuh ke tangan orang lain. Jadi harus kalian sendiri yang menyampaikannya. Mengerti..?!”

“Mengerti, Gusti,” sahut keempat orang itu serempak. Orang yang berbaju kuning menerima gulungan surat itu dengan penuh hormat sekali, kemudian menyelipkan ke balik sabuk pinggangnya. Dia kembali mundur ke tempatnya semula tanpa berdiri tegak.

“Pergilah sekarang juga,” perintah Narata.

Keempat orang itu memberikan sembah, kemudian bergerak mundur. Hampir bersama-sama mereka bangkit berdiri, dan bergegas meninggalkan ruangan yang besar dan megah ini. Sementara laki-laki bertubuh gemuk berperut buncit itu meng-hempaskan tubuhnya di kursi berukir indah yang berwarna coklat muda agak kemerahan.

“Hhh...!” terasa berat sekali hembusan napasnya. Pada saat itu datang seorang anak muda bertubuh kurus kering. Begitu kurusnya, sehingga seperti sosok tengkorak hidup yang terbungkus selembar kulit tipis kuning langsat

''Kemari, Jarong. Duduklah di sini,” ujar Narata seraya memberi senyuman pada pemuda kurus kering yang wajahnya terlihat begitu pucat. Bahkan sorot matanya seperti redup tak bercahaya, bagai tak memiliki gairah hidup lagi.

“Ada yang bisa kulakukan, Paman?” tanya pemuda kurus kering yang tadi dipanggil Jarong. Pemuda kurus itu tetap saja berdiri di depan Narata, meskipun laki-laki setengah baya bertubuh gembur itu tadi meminta untuk duduk di sampingnya.

“Sedikit. Dan yang pasti, tidak berat bagimu,” sahut Narata.
“Katakan saja, Paman. Aku pasti akan melakukan apa saja demi Paman.”

Narata semakin tersenyum lebar. Memang, sungguh beruntung sekali mempunyai kemenakan yang begitu setia dan selalu berada di belakangnya dalam keadaan apa pun juga.

***

Malam terus merayap semakin larut. Hampir seluruh pelosok Kotaraja Langkat telah diselimuti kegelapan dan kesunyian. Hanya di beberapa tempat saja masih nampak beberapa orang yang belum terbuai di alam mimpi. Malam itu udara terasa begitu dingin. Tampak beberapa prajurit masih berjaga-jaga di sekitar bangunan istana yang megah dan dikelilingi tembok benteng tinggi kokoh. Mereka terkantuk-kantuk sambil sesekali bergidik mengusir udara dingin yang begitu menusuk sampai ke tulang.

Dalam kegelapan malam ini, tampak empat orang laki-laki tengah bergerak cepat dan ringan sekali mendekati bangunan benteng istana yang memang dijaga ketat. Mereka berhenti tidak jauh dari bangunan megah dan indah sebelah Timur. Jelas sekali kalau mereka tengah mengamati keadaan sekitarnya, dengan pandangan tajam tak berkedip.

“Tampaknya malam ini penjagaan ketat sekali,” bisik salah seorang.

“Ya, hati-hatilah. Jangan sampai ada seorang pun yang ketahuan,” sahut seorang lagi. Juga dengan

suaranya yang pelan dan hampir tidak terdengar.

“Bagaimana? Kita bergerak sekarang?”
“Memang sebaiknya begitu.”
“Benar! Lebih cepat selesai, lebih baik.”

Empat orang laki-laki yang bertubuh tinggi tegap berotot itu segera bergerak cepat dan ringan sekali. Sedikit pun tak ada suara yang terdengar. Menandakan kalau mereka rata-rata memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi. Ringan sekali gerakan mereka saat melompat ke atas benteng yang tingginya sekitar dua batang tombak itu. Dan begitu kaki mereka menjejak tembok benteng, langsung melenting turun ke dalam. Mereka terus bergerak cepat begitu sampai di dalam benteng Istana. Namun belum juga sempat mendekati bangunan istana yang besar dan megah itu, mendadak saja....

“Berhenti...!”

Tiba-tiba terdengar bentakan keras menggelegar dan mengejutkan. Empat laki-laki bertubuh tinggi dan tegap itu seketika tersentak kaget, dan menghentikan larinya. Dan selagi rasa keterkejutan mereka belum hilang, mendadak saja sebuah bayangan biru ber-kelebat cepat. Dan tahu-tahu di depan mereka sudah berdiri seorang laki-laki bertubuh kurus kering mengenakan baju warna biru tua.

“Mau apa kalian, heh?! Menyelinap seperti maling...!” bentak laki-laki kurus kering itu.

Empat orang laki-laki itu tidak menjawab, dan hanya saling berpandangan sejenak. Kemudian dengan cepat sekali, mereka berlompatan mencabut golok masing-masing.

Bet!
Wut!
“Hat..! Uts!”

Orang bertubuh kurus kering itu terkejut begitu mendapat serangan mendadak dan tiba-tiba ini. Dan sebelum sempat melakukan sesuatu, sebilah golok berkelebat cepat mengarah ke dadanya. Cepat-cepat tubuhnya ditarik ke belakang, sehingga tebasan golok itu hanya lewat sedikit di depan dadanya yang kurus, sehingga tulang-tulang bersembulan terlapis kulit. Dan belum juga tubuhnya sempat ditarik kembali, sebuah golok mengibas dari arah samping ke kepalanya. Bergegas laki-laki bertubuh kurus kering itu merundukkan kepalanya sedikit. Maka golok itu pun kembali lewat di atas kepalanya. Sebelum ada serangan lagi yang datang, laki-laki kurus kering itu cepat-cepat melentingkan tubuhnya ke udara dan berputaran beberapa kali. Kemudian, tangannya bergerak cepat luar biasa.

“Hiya! Hiya! Hiyaaa...!”
Slap!
Wus…!

Seketika itu juga dari balik lipatan lengan bajunya yang longgar, melesat benda-benda kecil sepanjang jengkal dan bersinar keperakan. Benda-benda itu meluncur deras, cepat bagai kilat. Dan sebelum empat orang itu bisa menyadari apa yang akan terjadi, tiba-tiba....

Creb!
“Aaakh...!”
“Wuaaa...!”

Dua jeritan melengking tinggi dan menyayat terdengar keras memecah kesunyian malam ini. Sedangkan dua orang lagi masih bisa melompat sambil mengibaskan goloknya beberapa kali, menghindari benda-benda berwarna keperakan itu. Tampak dua orang sudah tergeletak tak bernyawa lagi, tertembus beberapa bilah pisau tipis, sepanjang jengkal tangan orang dewasa.

Sementara dua orang sisanya yang masih bisa selamat, saling berpandangan sejenak. Kemudian salah seorang segera melesat menyerang orang bertubuh kurus kering yang baru saja mendaratkan kakinya di tanah. Sedangkan yang seorang lagi, bergegas melompat balik. Dengan satu gerakan ringan, dia melesat melompati benteng istana itu. Sementara temannya terus memecahkan perhatian orang bertubuh kurus kering itu dengan serangan-serangan yang cepat dan dahsyat.

“Hiya...!”
“Yeaaah...!”

Tiba-tiba saja satu sama lain melompat ke atas. Dan secara bersamaan, saling menghentakkan tangan ke depan. Tak pelak lagi, dua tangan saling beradu keras di udara. Seketika ledakan menggelegar terdengar dahsyat memecah kesunyian malam di sekitar bangunan istana itu.

“Aaakh...!”

Terlihat satu orang terpental ke belakang sambil menjerit panjang melengking tinggi. Sementara seorang lagi yang bertubuh kurus kering seperti tengkorak hidup, cepat meluruk ke bawah. Dan begitu kakinya menjejak tanah, tangannya cepat dikibaskan ke arah orang yang jatuh bergulingan di atas tanah berumput basah oleh embun.

Wus!

Sebuah benda bercahaya keperakan melesat cepat bagai kilat dari balik lipatan lengan baju laki-laki kurus kering itu. Dan tanpa dapat dicegah lagi, benda itu menghunjam dalam di dada orang yang berbaju biru tua dan bersenjata golok.

Crab!
“Aaa...!”

Kembali terdengar jeritan panjang melengking tinggi. Hanya sebentar dia masih mampu bergerak menggelepar, kemudian diam tak bergerak-gerak lagi. Laki-laki kurus kering itu segera melompat mendekati mayat-mayat yang bergelimpangan bersimbah darah. Dia seperti mencari sesuatu pada setiap mayat itu.

“Setan...!” dengusnya keras.

Pada saat itu, terlihat beberapa orang berseragam prajurit berlarian berdatangan. Mereka tampak terkejut saat melihat tiga sosok mayat tergeletak berlumuran darah. Laki-laki kurus kering itu seperti tidak menghiraukan kedatangan para prajurit itu. Dicabutinya pisau-pisau yang tertancap di tubuh tiga orang yang datang secara menyelinap tadi. Kemudian pisau-pisau itu dimasukkan ke dalam lipatan lengan bajunya.

“Kalian urus mayat-mayat ini!” perintah laki-laki kurus kering itu.
“Segera, Raden...,” serempak para prajurit itu menyahut sambil membungkukkan badan, penuh rasa hormat

Laki-laki kurus kering yang kelihatan masih muda itu bergegas melangkah. Namun sebentar kemudian ayunan langkahnya terhenti. Kepalanya berpaling, memandang tembok benteng, ke arah perginya seorang yang berhasil lolos tadi.

“Hm....”

Setelah memperdengarkan suara gumaman kecil, kakinya kembali terayun meninggalkan bagian Timur Istana Langkat ini. Ayunan kakinya begitu ringan, sehingga tak memperdengarkan suara sedikit pun juga. Sementara prajurit yang berjumlah sekitar dua puluh orang itu mengangkut tiga mayat yang tergeletak dengan darah masih mengucur.

***

Pagi-pagi sekali, Narata sudah memacu cepat kudanya melintasi jalan berdebu yang membelah Kotaraja Langkat. Belum ada seorang pun yang terlihat keluar dari dalam rumahnya, karena matahari memang belum menampakkan dirinya. Tanda-tanda datangnya pagi sudah nampak dari suara kokok ayam jantan dan kicauan burung-burung, yang seakan-akan mengajak sang mentari untuk segera bangkit dari peraduannya sepanjang malam. Laki-laki setengah baya bertubuh gemuk itu ter-guncang-guncang di atas punggung kuda yang berpacu cepat bagai dikejar setan. Tak sedikit pun lari kudanya dikendurkan, meski sudah hampir mendekati gerbang Istana Langkat yang dijaga enam orang prajurit bersenjata pedang dan tombak.

“Hm.... Tidak seperti biasanya, di sini ditempatkan enam penjaga,” gumam Narata dalam hati. “Ada apa ya...?”

Dua orang prajurit penjaga pintu gerbang itu ber-gegas membuka pintu begitu melihat Narata di atas kudanya yang dipacu cepat menuju ke arah istana ini. Laki-laki berperut buncit itu terus menerobos masuk tanpa mengendurkan kecepatan lari kudanya. Enam orang prajurit penjaga segera membungkukkan badannya saat Narata melewati pintu gerbang.

“Hooop...!”

Narata menarik tali kekang kudanya, sehingga kuda hitam belang putih itu berhenti tepat di depan tangga istana. Dengan gerakan indah dan ringan sekali, laki-laki gemuk berperut buncit itu melompat turun dari punggung kudanya. Kakinya langsung melangkah cepat begitu menjejak undakan pertama tangga istana. Dengan langkah lebar, dia meniti anak-anak tangga yang panjang ini. Seorang laki-laki tua berlari-lari kecil menghampiri kuda Narata, kemudian membawanya ke samping kanan bangunan istana yang megah dan indah ini.

Sementara Narata terus berjalan dengan langkah lebar-lebar. Dua orang prajurit di samping pintu, segera membungkuk begitu laki-laki berperut buncit itu melintasi pintu depan istana yang selalu terbuka lebar. Hanya malam hari saja pintu itu tertutup. Narata terus berjalan menelusuri ruangan depan yang luas dan tertata indah. Langsung dimasukinya bagian tengah istana ini. Di sana, beberapa orang seperti sudah menunggunya. Tampak seorang wanita berparas cantik mengenakan baju sutra halus yang indah berwarna biru muda, tengah duduk di sebuah kursi berukir berwarna keemasan. Di sampingnya, berdiri enam orang gadis cantik. Sementara, delapan orang laki-laki bertubuh kekar berjajar di belakangnya.

Narata merapatkan kedua tangannya di depan hidung begitu berada sekitar satu tombak di depan wanita cantik itu. Dia tetap berdiri tegak di situ. Padahal, orang-orang yang berada sejak tadi di ruangan ini telah duduk bersila di lantai yang beralaskan permadani bulu tebal berwarna merah menyala. Hanya beberapa orang saja yang duduk di kursi kecil terbuat dari ukiran kayu jati hitam.

“Mendekatlah, Kakang Narata,” lembut sekali suara wanita itu.

Narata melangkah maju, kemudian duduk di kursi yang berada di kanan agak ke depan dari wanita cantik itu. Sikapnya terlihat angkuh, dan dadanya sedikit dibusungkan. Sebentar dipandanginya orang-orang yang berada di dalam ruangan ini. Dan pandangannya terpaku sejenak pada seorang pemuda bertubuh kurus kering yang mengenakan baju biru tua. Pemuda itu duduk di kursi kecil bersama para pembesar kerajaan lainnya.

“Ada apakah gerangan, sehingga Dinda Nyai Ratu mengumpulkan seluruh pembesar?” tanya Narata ingin tahu. “Terus terang, aku terkejut mendapat panggilan mendadak ini.”

“Ada sesuatu yang penting, dan harus dibicarakan segera, Kakang Narata,” sahut wanita cantik yang ternyata memang Ratu Nyai Langas, penguasa tunggal Kerajaan Langkat ini.

''Persoalan penting...?” Narata mengerutkan keningnya.

“Benar, Kakang. Semalam empat orang tidak dikenal mencoba memasuki istana. Memang belum pasti tujuannya. Tapi Jarong, kemenakanmu telah mengetahuinya. Tiga orang berhasil dibunuh. Dan seorang lagi melarikan diri,” jelas Ratu Nyai Langas, singkat

“Hm...,” Narata hanya bergumam saja.

“Mereka masuk melewati benteng bagian Timur. Tentu kau tahu kalau itu merupakan taman keputren pribadiku. Dan tak seorang pun boleh memasukinya, kecuali keluarga istana,” lanjut Ratu Nyai Langas.

“Siapa mereka? Dan apa maksudnya, Dinda Ratu?” tanya Narata.

“Itulah yang aku tidak tahu, Kakang Mas Narata. Untuk itulah aku memanggilmu ke sini, agar kau mengetahui persoalannya. Dan kuharap, kau bisa mengetahui siapa dan apa maksud mereka menyelinap ke dalam keputren.”

Narata terdiam sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dari sudut ekor matanya, dia sempat melirik pada pemuda kurus kering yang mengenakan baju warna biru tua. Dan pemuda itu hanya memandang, namun sinar matanya kosong. Bahkan raut wajahnya tanpa ekspresi sama sekali.

“Apakah Dinda Ratu menginginkan agar aku menyelidiki mereka?” tanya Narata.
“Aku rasa itu memang sudah tugasmu, Kakang Mas Narata,” sahut Ratu Nyai Langas.

“Secepatnya aku akan mengetahui siapa mereka. Dinda Ratu,” janji Narata.

Ratu Nyai Langas tersenyum.

“Untuk langkah pertama, sebaiknya cari orang yang melarikan diri itu, Kakang Mas Narata,” ujar Ratu Nyai Langas memberikan saran.
“Aku yakin Jarong bisa melakukan itu, Dinda Ratu.”

Ratu Nyai Langas menatap pemuda bertubuh kurus kering. Dan pemuda itu hanya memberi sembah dengan merapatkan kedua tangannya di depan hidung. Kembali Ratu Nyai Langas menatap Narata, kemudian pandangannya beredar ke sekeliling, merayapi orang-orang yang berada di depannya. Mereka semua memberi sembah dengan merapatkan tangan di depan hidung.

“Kuserahkan padamu untuk mengatur segala sesuatunya, Kakang Mas. Aku merasakan ada seseorang, ataupun sekelompok orang yang menginginkan agar aku terguling dari tahta,” duga Ratu Nyai Langas.

“Kalaupun ada, aku pasti akan cepat memberantasnya, Dinda Ratu,” ujar Narata mantap.

Ratu Nyai Langas kembali tersenyum, dan bangkit berdiri. Pada saat itu, semua orang menundukkan kepala seraya merapatkan kedua telapak tangan di depan hidungnya. Sebentar wanita cantik itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kemudian melangkah pelan dan gemulai meninggalkan ruangan ini. Enam orang gadis dan delapan orang laki-laki pengawal pribadinya, mengikuti dari belakang. Tak ada seorang pun yang mengangkat kepalanya, sebelum Ratu Nyai Langas menghilang dari ruangan besar dan indah ini. Hanya Narata saja yang tidak bersikap demikian. Laki-laki buncit itu tetap duduk tegak sambil membusungkan dadanya, memandangi wanita itu sampai lenyap di balik pintu.

“Jarong! Kau ikut aku,” kata Narata seraya bangkit berdiri.

Pemuda bertubuh kurus kering yang dipanggil Jarong segera bangkit berdiri. Dia langsung berjalan begitu Narata mengayunkan kakinya meninggalkan ruangan ini. Tak lama kemudian, mereka yang sejak tadi duduk bersimpuh di lantai ikut bangkit berdiri, lalu meninggalkan ruangan besar itu. Hanya ada dua orang saja yang masih tinggal dan duduk di kursi kecil. Mereka adalah dua orang laki-laki berusia sekitar lima puluh dan tujuh puluh tahun. Beberapa saat dua orang itu saling melemparkan pandangan. Sementara ruangan ini sudah sunyi, tak ada seorang pun lagi selain mereka berdua.

“Hhh.... Seharusnya Kanjeng Ratu tidak mem-berikan tugas itu pada Gusti Narata,” keluh salah seorang yang lebih tua dan mengenakan jubah putih panjang.

“Yaaah..., akan sia-sia saja nantinya,” sambut seorang lagi yang mengenakan baju ketat warna kuning.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Sebaiknya lihat saja dulu perkembangannya.”
“Hhh...!”
“Kita awasi terus Gusti Narata secara diam-diam, Kakang Jawala.”

“Ya. Kejadian semalam membuatku semakin curiga pada maksudnya yang tersembunyi. Mudah-mudahan Hyang Widi selalu melindungi Kanjeng Ratu Nyai Langas.”

Kedua laki-laki itu kemudian bangkit berdiri, dan meninggalkan ruangan ini tanpa berkata-kata lagi. Mereka berjalan perlahan-lahan dengan bibir terkatup rapat, namun benaknya terus bekerja keras. Entah apa yang dipikirkan, hanya mereka berdua saja yang mengetahuinya.

***

DUA

Siang ini matahari bersinar begitu terik. Langit tampak bening. Sedikit pun tak ada awan yang menggantung di sana. Sehingga sinar matahari begitu leluasa membakar permukaan bumi, membuat daun-daun seperti merintih dan rerumputan meranggas kekurangan air. Di antara siraman teriknya sang mentari, tampak seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dan mengenakan baju kuning gading berjalan tertatih-tatih.

“Uh! Panas sekali...,” dia mengeluh sambil menyeka keringat di wajahnya yang bercampur debu.

Sebentar langkahnya terhenti, dan kepalanya terdongak memandang matahari di atas sana. Kemudian kakinya kembali melangkah perlahan-lahan dan agak terseret. Keringat semakin banyak bercucuran. Walaupun kakinya terasakan seperti menginjak bara, namun dia terus melangkah menuju sebuah hutan yang tidak seberapa jauh lagi. Kembali langkahnya terhenti setelah sampai di tepi hutan itu. Sambil menghembuskan napas panjang, laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu menghempaskan tubuhnya di bawah sebatang pohon yang cukup rindang. Angin yang berhembus lembut sedikit mengusir kelelahannya. Dengan punggung tangan, disekanya keringat yang membanjiri wajah dan lehernya.

Slap!
“Heh...?!”

Mendadak saja hatinya terperanjat ketika tiba-tiba sebatang anak panah melesat cepat ke arahnya. Cepat-cepat tubuhnya dibanting ke tanah dan bergulingan beberapa kati. Anak panah itu menancap dalam di batang pohon. Bergegas laki-laki berbaju kuning gading itu melompat bangkit berdiri. Namun begitu kakinya menjejak tanah, dari balik pepohonan dan gerumbul semak bermunculan orang-orang bersenjatakan golok terhunus. Mereka langsung mengepung rapat, tanpa ada celah sedikit pun. Laki-laki berbaju kuning gading itu langsung mengedarkan pandangannya berkeliling

“Hm...,” dia bergumam pelan.

Ada sepuluh orang bersenjata golok telanjang yang telah mengepung rapat. Mereka bergerak perlahan memutari laki-laki berbaju kuning gading itu. Golok-golok yang bergerak-gerak melintang di depan dada, berkilatan tertimpa cahaya matahari

“He he he...!” tiba-tiba terdengar tawa terkekeh.

Laki-laki berbaju kuning gading itu memutar tubuhnya. Entah kapan dan dari mana datangnya, tahu-tahu di situ sudah berdiri seorang laki-laki kurus kering mengenakan baju agak longgar warna biru tua. Dia berdiri di atas sebatang pohon mati yang meng-geletak roboh di tanah.

“Jarong...,” laki-laki berbaju kuning gading itu mendesis pelan, mengenali pemuda bertubuh kurus kering itu.

Tentu saja dia mengenali, karena sering melihat pemuda kurus kering itu. Dia memang Jarong, kemenakan laki-laki bertubuh gembur dan berperut buncit, kakak sepupu dari Ratu Nyai Langas yang bernama Narata.

“Tidak sukar untuk menemukanmu kembali, Bokor,” terdengar kering dan datar sekali suara Jarang.

“Mengapa kau menggagalkan tugasku, dan membunuh teman-temanku?!” agak lantang suara laki-laki berbaju kuning gading yang dipanggil Bokor.

“Kau tidak punya hak untuk bicara, Bokor. Bersiaplah menyusul ketiga temanmu,” tetap dingin dan datar sekali suara Jarong.

“Huh!” dengus Bokor.

Jarong menjentikkah ujung jarinya. Maka seketika itu juga, sepuluh orang bersenjata golok yang mengepung Bokor segera berlompatan menyerang. Melihat hal ini Bokor segera mencabut goloknya yang terselip di pinggang. Dan secepat itu pula, tubuhnya diputar sambil cepat mengibaskan goloknya. Namun sebelum tubuhnya berhenti berputar, sebuah golok berkelebat cepat mengarah ke kepalanya. Sesaat Bokor terkesiap, namun cepat sekali goloknya dikibaskan ke atas kepala.

Tring!

Dua senjata golok beradu keras di atas kepala. Tampak orang yang menyerang Bokor tersentak kaget. Seluruh jari-jari tangannya jadi terasa kaku, begitu goloknya beradu dengan golok laki-laki berbaju kuning gading itu. Dan sebelum sempat disadari apa yang terjadi pada dirinya, Bokor sudah melompat cepat sambil mengibaskan goloknya.

“Hiyaaa...!”
Bet!
Cras!
“Aaa...!”

Orang itu menjerit keras melengking tinggi. Tebasan golok Bokor tepat membelah dadanya. Seketika darah muncrat, bersamaan dengan tergulingnya tubuh laki-laki bertubuh sedang itu. Dan sebelum yang lain menyadari apa yang telah terjadi terhadap salah seorang temannya, Bokor sudah bergerak cepat memutar tubuhnya.

Bet!

Kembali laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun itu mengibaskan goloknya ke arah seorang penyerang yang berada dekat dengannya. Serangan Bokor yang cepat dan tidak terduga sama sekali tak mungkin dapat dihindari lagi.

Crab!
“Aaa...!”

Kembali terdengar jeritan panjang dan menyayat, disusul ambruknya seorang lagi dengan leher terpenggal hampir buntung. Darah mengucur deras dari leher yang menganga lebar itu. Hanya sebentar tubuh orang itu mampu menggeliat dan mengerang meregang nyawa, kemudian diam tak berkutik lagi. Mati.

“Keparat..!” geram Jarong melihat dua anak buahnya tewas begitu cepat

Sementara Bokor sudah kembali bergerak begitu cepat Tapi kali ini orang-orang yang mengepungnya tidak lagi terpaku pada kejadian yang begitu cepat dan menimbulkan dua nyawa melayang. Mereka segera mengambil tindakan untuk mendesak Bokor yang mengamuk seperti kesetanan.

***

Bokor yang menyadari kalau sebenarnya orang-orang yang menyerangnya ini memiliki tingkat kepandaian lumayan, tidak tanggung-tanggung menghadapinya lagi. Terlebih lagi di tempat ini juga ada Jarong. Meskipun sampai sekarang dia belum juga ikut terjun dalam pertarungan ini, tapi Bokor yakin kalau cepat atau lambat Jarong pasti akan terjun juga. Dan ini sebenarnya yang dicemaskannya. Bokor sadar betul kalau kemampuan yang dimilikinya tidak akan sanggup menandingi pemuda bertubuh kurus kering itu. Namun dia tidak ingin mati sia-sia. Sedapatnya separuh dari jumlah mereka yang mengeroyoknya dengan ganas harus bisa dikurangi

“Yeaaah...!”

Sambil berteriak keras menggelegar, Bokor mengebutkan goloknya sambil berputar, bertumpu pada satu kaki Gerakan yang cepat dan tak terduga ini, tak bisa lagi dihindari dua orang yang sudah keburu melompat sambil menghunus golok ke depan.

Bret!
Cras!
“Aaakh!”
“Aaa...!”

Dua jeritan panjang melengking tinggi terdengar saling sambut, disusul ambruknya dua orang yang sudah keburu melompat. Darah seketika menyembur deras dari tubuh yang terbelah tertebas golok Bokor. Belum lagi ada yang sempat menyadari apa yang baru saja terjadi, mendadak saja tubuh Bokor melenting ke udara. Dia memang bermaksud kabur dari tempat ini.

“Yeaaah...!”

Namun sebelum niatnya terlaksana, mendadak saja tangan kanan Jarong sudah mengebut ke arah laki-laki berbaju kuning gading itu. Dan seketika itu pula, dari balik lipatan lengan bajunya melesat dua buah pisau yang tipis sepanjang jengkal. Dua pisau itu meluruk deras ke arah Bokor yang sedang berada di udara.

“Hap!”

Cepat sekali Bokor memutar tubuhnya sambil mengibaskan golok untuk menyampok kedua pisau itu sekaligus.

Tring!

Kedua pisau itu langsung terpental. Dan seorang yang sedikit lengah tak bisa lagi menghindari pisau yang berbalik arah itu. Seketika terdengar jeritan panjang melengking tinggi ketika satu pisau menancap di dada orang itu. Sedangkan pisau satunya lagi menancap dalam di tanah.

''Yeaaah...!”

Melihat serangan pisaunya gagal, seketika Jarong melesat cepat mengejar Bokor yang mulai mendarat turun. Sebelum Bokor sempat berlari, Jarong sudah cepat melontarkan dua pukulan beruntun ke arahnya.

“Hup! Uts...!”

Cepat-cepat Bokor menjatuhkan diri ke tanah dan bergulingan beberapa kali. Maka dua pukulan yang dilepaskan Jarong tidak mengenai sasaran. Namun baru saja Bokor bisa melompat bangkit berdiri, Jarong sudah kembali menyerang dengan kecepatan luar biasa.

“Hiyaaa...!”

Kali ini Bokor hanya bisa bertahan dan menghindar. Tapi sesekali masih juga mampu memberi serangan balasan. Namun semua serangan balasannya tidak berarti sama sekali. Karena sebelum mencapai sasaran, Jarong sudah membuat serangan itu mentah. Dan tanpa dapat dicegah lagi, Bokor sudah mendapat serangan kembali. Hanya beberapa gebrakan saja, Bokor sudah kelihatan terdesak sekali. Dan kini setelah melewati tiga jurus, laki-laki berbaju kuning gading itu benar-benar tidak mampu lagi balas menyerang. Dia hanya bisa menghindar dan berkelit semampunya. Serangan-serangan yang dilancarkan Jarong, begitu cepat dan dahsyat sekali. Hingga suatu saat...

“Jebol dadamu! Yeaaah...!”

Belum lagi teriakan itu hilang, mendadak saja Jarong melontarkan satu tendangan keras menggeledek seraya melompat sedikit Bokor terperangah, karena baru saja bisa menghindari satu pukulan ke arah kepala. Dan tendangan itu memang tak mungkin dapat dihindari lagi. Namun mendadak saja....

Plak!
“Akh...!”

Jarong mendadak terpekik. Pemuda kurus kering itu terpental balik ke belakang, lalu berputaran beberapa kali sebelum sepasang kakinya mendarat di tanah berumput. Sungguh tidak diduga kalau tendangannya tadi seperti membentur sebuah tembok baja yang begitu kuat Akibatnya, tulang pergelangan kakinya serasa remuk.

“Heh...?!”

Jarong tersentak kaget ketika tahu-tahu di depan Bokor sudah berdiri seorang pemuda berbaju kulit harimau. Bahkan Bokor pun terlongong keheranan menyaksikan pemuda berwajah cukup tampan dengan garis-garis kekerasan dan ketegasan membayang jelas di wajahnya itu. Tak terlihat senjata melekat di tubuhnya, kecuali sebuah cakra di tangan kanan. Memang, Jarong yakin betul kalau tendangannya tadi terhalang oleh pemuda berbaju kulit harimau itu. Tapi yang membuatnya heran, sama sekali kedatangannya tidak terlihat. Bahkan kelebatan bayangannya pun tidak terlihat. Dan ini yang membuat pemuda kurus itu jadi keheranan. Dia yakin kalau pemuda berbaju kulit harimau itu memiliki tingkat kepandaian tinggi.

“Setan alas...! Siapa kau?! Berani-beraninya mencampuri urusanku!” bentak Jarong. Suaranya kasar dan dingin sekali.

“Tidak perlu tahu siapa diriku. Yang jelas, aku paling tidak suka melihat kecurangan!” jawab pemuda berbaju kulit harimau itu, dingin.

“Sombong...! Kau belum tahu siapa aku, heh...?!” desis Jarong geram.
“Tengkorak hidup yang bisanya main keroyok.”
“Keparat..! Serang...!”

Jarong begitu marah, sehingga seketika itu juga sisa orang-orangnya diperintahkan untuk menyerang. Pada saat itu, dia juga bersiul nyaring. Siulan yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi itu menyebar ke angkasa, terbawa angin yang bertiup lembut siang ini. Dan tak berapa lama kemudian, dari dalam hutan itu muncul orang-orang berbaju hitam bersenjatakan tongkat pendek kembar berwarna merah. Mereka berlompatan cepat ke arah Bokor dan pemuda berbaju kulit harimau itu.

“Celaka...,” desis pemuda itu saat melihat puluhan orang meluruk cepat ke arahnya.

Tak ada lagi yang bisa dilakukan, kecuali cepat-cepat menyambar tubuh Bokor. Dan sebelum anak buah Jarong yang berseragam hitam bisa mencapainya, secepat kilat pemuda berbaju kulit harimau itu melesat sambil membawa Bokor.

“Setan...!” geram Jarong.

Begitu cepatnya lesatan pemuda berbaju kulit harimau itu, sehingga dalam sekejap mata saja sudah lenyap seperti tertelan bumi saja. Hal ini membuat mereka yang baru berdatangan jadi bengong. Sementara Jarong tidak henti-hentinya memaki dan mengumpat geram.

***

Bruk!

“Ah...!” Bokor terpekik kecil, ketika tiba-tiba tubuhnya terbanting agak keras ke tanah. Sambil meringis, laki-laki berbaju kuning gading itu bangkit berdiri. Dia berdiri tepat sekitar dua langkah di depan pemuda berbaju kulit harimau yang telah menyelamatkan nyawanya dari kematian.

“Terima kasih atas pertolonganmu yang telah menyelamatkan nyawaku. Tapi aku yakin, setelah ini aku tidak akan lama menghirup udara segar,” ucap Bokor.

“Sebaiknya kau pergi saja sejauh mungkin. Kalau perlu, pergi ke balik dunia ini,” pemuda berbaju kulit harimau itu menyarankan.
“Percuma saja,” sahut Bokor seraya tersenyum.

Bokor tahu kalau saran tadi hanya sebuah gurauan saja, tapi memang dibenarkan juga. Dia memang harus pergi jauh agar tak mungkin bisa dicapai musuhnya seorang pun juga. Tapi itu tidak akan mungkin. Ke mana pun dirinya pergi, pasti Jarong dan orang-orangnya bisa menemukan. Bokor sendiri tidak mengerti, mengapa Jarong justru menjegalnya. Padahal dia sedang melaksanakan tugas yang diberikan paman pemuda kurus kering itu. Dan baru kali ini Bokor tahu kalau Jarong yang kelihatannya lemah, ternyata memiliki ke-pandaian yang sangat tinggi.

Bahkan lebih tinggi dari yang didengarnya selama ini. Dan sampai di mana tingkat kepandaian yang dimiliki pemuda bertubuh kurus kering itu, Bokor tidak tahu. Bokor meraba pinggangnya. Dan seketika itu juga keningnya berkerut. Jari-jari tangannya menyelusup ke balik sabuk yang membelit pinggangnya. Tapi mendadak saja dia jadi seperti kebingungan, dan wajahnya jadi memucat. Perubahan ini menjadi perhatian pemuda berbaju kulit harimau di depannya.

“Ada apa? Kau mencari sesuatu?” tanya pemuda berbaju kulit harimau itu.
“Ya! Ada yang hilang,” sahut Bokor seraya memandang pemuda di depannya ini.
“Senjatamu?”
“Bukan, tapi surat.”

Pemuda berbaju kulit harimau itu mengerutkan keningnya, dan matanya agak menyipit menatap laki-laki kekar di depannya ini. Sedangkan dengan lesu sekali, Bokor menghempaskan tubuhnya, duduk di atas rerumputan. Di dalam hutan yang cukup lebat ini, udara terasa sejuk. Namun, tidak sesejuk hati dan perasaan Bokor yang jadi gelisah seketika. Terutama setelah menyadari kalau surat yang harus disampai-kan pada Ratu Nyai Langas tidak ada lagi di tempatnya.

“Hhh.... Gusti Narata pasti akan memenggal kepalaku...,” keluh Bokor lirih.
“Siapa itu Gusti Narata?” tanya pemuda berbaju kulit harimau lagi.

“Majikanku,” sahut Bokor, suaranya masih terdengar pelan. “Aku harus menyampaikan surat itu langsung pada Kanjeng Ratu Nyai Langas. Tapi sekarang surat itu hilang. Hhh.... Aku tidak tahu lagi, apa yang harus kulakukan sekarang.”

Bokor benar-benar kebingungan. Dia tidak bisa lagi berpikir jernih. Tidak ada lagi keberanian dalam dirinya untuk kembali bertemu Narata. Sudah pasti junjungannya itu akan memenggal lehernya, karena tugas yang diembannya gagal lagi.

“Itu merupakan surat rahasia Gusti Narata, khusus untuk Kanjeng Ratu Nyai Langas. Tidak boleh seorang pun yang boleh menerima, selain Kanjeng Ratu Nyai Langas...,” kembali Bokor mengeluh.

“Ingat-ingat dulu, barangkali kau lupa menyimpannya,” pemuda berbaju kulit harimau itu mencoba mengingatkan.

“Aku tidak mungkin lupa, Kisanak.... Aku....”
“Bayu,” ujar pemuda berbaju kulit harimau itu memperkenalkan namanya, saat suara Bokor terhenti.

Pemuda itu memang bernama Bayu, yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Pulau Neraka. Tidak ada lagi di dunia ini pendekar tangguh dan digdaya yang mengenakan baju dari kulit harimau, selain Pendekar Pulau Neraka. Memang tampaknya dia tidak membawa senjata apa pun juga. Tapi di pergelangan tangannya, melekat sebuah lempengan logam keras. Bentuknya jelas sebuah cakra yang sisinya bergerigi, berjumlah enam buah. Cakra itulah merupakan senjata andalannya, yang bernama Cakra Maut.

“Aku Bokor,” Bokor juga memperkenalkan namanya.
“Atau barangkali terjatuh,” duga Bayu.

“Ya..., hal itu lebih masuk akal lagi. Pasti terjatuh. Tapi di mana...?” Bokor seperti bertanya pada diri sendiri.

“Ingat-ingat dulu, ke mana saja kau selama membawa surat itu,” saran Bayu kembali.

Bokor terdiam dengan mata menerawang jauh ke depan. Dicobanya untuk mengingat-ingat di mana kira-kira surat yang berada di dalam selongsong bambu itu terjatuh. Sejak keluar dari rumah kediaman Narata, dia bersama ketiga temannya langsung menuju Istana Langkat. Di dalam keputren istana mereka sempat bertarung, sehingga hanya tinggal dirinya sendiri yang selamat. Sedangkan ketiga temannya tewas di tangan Jarong. Dari istana itu, dirinya langsung pergi hingga sampai ke tepi hutan, tempat dia mendapat serangan dari Jarong dan orang-orangnya lagi.

Rasanya terlalu sukar bagi Bokor untuk mengetahui persis, di mana surat itu terjatuh. Padahal diyakini betul kalau surat itu tersimpan di balik sabuk pinggangnya. Dan sekarang, benda yang menjadi tanggung jawabnya itu sudah lenyap. Entah berada di mana, yang jelas Bokor berharap agar surat itu tidak jatuh ke tangan orang yang salah. Terlebih lagi Jarong, yang tidak jelas maksudnya menyerang dan menjegalnya. Padahal, dia sedang melaksanakan tugas dari paman pemuda kurus kering itu.

“Hhh.... Apa yang harus kulakukan sekarang...?” keluh Bokor seperti bertanya pada dirinya sendiri.

“Kalau merasa bertanggung jawab, kau harus mencari surat itu,” Bayu menyahuti.

“Aku memang harus menemukannya. Tapi di mana...?” lagi-lagi Bokor bertanya tanpa ada yang bisa menjawabnya.

Dan Pendekar Pulau Neraka sendiri sudah pasti tidak bisa menjawab, karena memang tidak tahu menahu tentang surat itu. Dia tadi hanya kebetulan lewat saja. Kebetulan, jiwa kependekarannya tidak bisa melihat seseorang dikeroyok tanpa dapat memberi perlawanan sedikit pun. Walaupun diakui, Bokor berhasil merobohkan lima orang pengeroyoknya.

“Aku akan membantumu mencari surat itu,” kata Bayu menawarkan jasa.

“Terima kasih. Bukannya aku menolak, tapi ini merupakan tanggung jawabku,” sahut Bokor seraya bangkit berdiri lagi.

“Aku merasa, saat ini kau sendirian dan pasti membutuhkan seseorang yang bisa mengerti dan membantumu tanpa mengharapkan imbalan apa pun juga,” kata Bayu lagi.

Bokor tidak bisa menjawab lagi. Dia tahu kalau pemuda berbaju kulit harimau ini akan membantunya secara sukarela dan tanpa mengharapkan sesuatu imbalan apa pun. Tak ada yang bisa dilakukannya, selain mengulurkan tangan dan menjabat tangan Pendekar Pulau Neraka.

“Kuharap kita bisa bekerja sama,” ujar Bokor. Bayu hanya tersenyum saja.

***

TIGA

Bokor berdiri agak berlindung di balik sebatang pohon yang cukup rindang. Pandangannya tidak berkedip ke arah bangunan istana yang berdiri megah di tengah-tengah Kotaraja Langkat. Di situ, tampak sesosok tubuh tengah merapat di atap bangunan besar dan megah itu. Sosok tubuh yang memakai baju dari kulit harimau.

“Oh...?!”

Mendadak Bokor tersentak kaget ketika pundaknya terasa ada yang menepuk dari belakang. Dan belum sempat berpaling, mendadak saja laki-laki bertubuh tinggi tegap itu merasakan punggungnya terhantam sesuatu dengan keras.

Diegkh!
“Akh...!”

Seketika itu juga, Bokor terpental keras ke belakang. Dia jatuh bergulingan ke tanah beberapa kali, namun cepat bangkit berdiri. Dan belum juga bisa berdiri tegak, tiba-tiba sebuah bayangan biru berkelebat cepat menerjang ke arahnya.

“Uts!”

Bergegas Bokor memiringkan tubuhnya, maka bayangan biru itu lewat sedikit di samping tubuhnya.

Namun angin sambaran bayangan itu membuat Bokor sedikit terhuyung. Bergegas keseimbangan tubuhnya cepat dikuasai, dan secepat itu pula tubuhnya diputar.

“Jarong..,” desis Bokor ketika melihat seorang pemuda bertubuh kurus kering tahu-tahu berdiri sekitar dua tombak di depannya.

“Kau terlalu berani untuk masuk ke kota, Bokor,” dingin sekali suara Jarong.

Bokor sempat melirik ke arah atap bangunan istana, dan langsung terkejut. Ternyata di atas atap itu sedang terjadi pertarungan sengit. Tampak seseorang berpakaian dari kulit harimau sedang bertarung sengit melawan empat orang bersenjata pedang. Pada saat itu, beberapa orang sudah berlompatan ke atas atap itu dan langsung mengeroyok laki-laki berbaju kulit harimau.

“Sebaiknya kau menyerah saja, Bokor. Tidak ada gunanya melakukan perlawanan lagi,” kata Jarong lagi, tetap dingin dan datar nada suaranya.

“Walaupun harus mati, jangan harap aku menyerah,” sahut Bokor ketus.

“Pilihlah nasibmu sendiri, Bokor. Baiklah, aku tidak akan sungkan-sungkan lagi memenggal kepalamu...!”

Setelah berkata demikian, Jarong cepat sekali melesat menerjang laki-laki berbaju kuning gading itu. Hanya sedikit saja Bokor memiringkan tubuhnya maka satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi yang dilepaskan Jarong berhasil dihindarinya. Namun tanpa menarik pulang pukulannya, Jarong sudah menghentakkan kakinya. Diberikannya satu tendangan keras menggeledek.

“Yeaaah...!”
Begkh!
“Ughk...!”

Bokor mengeluh pendek. Tendangan pemuda bertubuh kurus kering itu tak dapat dihindari Bokor. Tak urung lagi telapak kaki yang bagaikan hanya terbalut kulit tipis, telak sekali mendarat di perut Bokor. Akibatnya laki-laki berbaju kuning gading itu terhuyung-huyung ke belakang.

Sret!

Bokor cepat menarik goloknya yang terselip di pinggang. Pada saat itu, Jarong sudah cepat mengibaskan tangannya sambil melompat menerjang.

“Hiyaaa...!”
Wus!
Bet!

Begitu pisau-pisau bertebaran deras ke arah tubuhnya, Bokor cepat sekali mengibaskan goloknya beberapa kali untuk menyampok pisau-pisau itu. Namun pada saat yang sama, Jarong sudah menerjang cepat. Langsung diberikannya dua pukulan keras bertenaga dalam tinggi yang tak dapat terbendung lagi.

Plak!

“Akh...!” Bokor memekik keras ketika pukulan yang dilepaskan Jarong tepat menghantam dada. Seketika itu juga Bokor terpental deras sekali ke belakang. Dan sebelum keseimbangan tubuhnya bisa terkuasai, mendadak saja Jarong sudah cepat mengibaskan tangannya.

Slap!

Tampak dua bilah pisau tipis sepanjang jengkal melesat cepat dari balik lipatan lengan baju pemuda bertubuh kurus kering itu. Sementara Bokor yang sedang terhuyung, tak mampu lagi menghindar. Dua bilah pisau menancap tepat dan dalam sekali di dada pemuda berbaju kuning gading itu. Maka....

Crab!
“Aaa...!”

Bokor terpental ke belakang, dan dengan keras sekali terbanting di tanah. Hanya sebentar tubuhnya mampu menggeliat sambil mengerang, kemudian diam tak bergerak-gerak lagi. Tampak darah merembes keluar dari dada yang tertancap dua bilah pisau.

“Ha ha ha...!” Jarong tertawa terbahak-bahak melihat buruannya kini sudah tergeletak tak bernyawa lagi.

Pemuda bertubuh kurus kering itu menghampiri Bokor yang sudah tergeletak tak bernyawa lagi. Diperiksa seluruh tubuh laki-laki itu. Tapi sebentar kemudian, wajahnya seketika berubah semakin memucat bagai tak teraliri darah lagi.

“Keparat..!” geram Jarong mendesis. “Hih!”

Keras sekali kakinya dihentakkan menendang tubuh yang sudah tak bernyawa lagi itu. Mayat Bokor terpental cukup jauh, hingga menghantam dinding sebuah rumah sampai jebol berantakan. Penghuni rumah itu keluar, dan langsung berlari terbirit-birit begitu mengetahui yang menjebol dinding rumahnya adalah sesosok mayat.

“Setan keparat..!”

Tubuh Jarong berbalik sambil memaki geram. Matanya langsung memandang ke arah atap bangunan istana. Namun seketika itu juga jadi mendelik. Ternyata di atas atap itu hanya terlihat beberapa sosok tubuh yang tergeletak. Apalagi di sana tak ada pertarungan lagi.

“Hup!”

Cepat sekali pemuda bertubuh kurus kering itu melesat ke arah bangunan istana itu. Dan Jarong tidak melewati pintu gerbang yang tertutup rapat dan dijaga sekitar enam orang prajurit Lesatannya bagaikan kilat melompati tembok benteng istana itu. Siang ini, keadaan sekitar istana itu memang agak lain. Suasananya sunyi senyap. Bahkan tak seorang pun terlihat kecuali para prajurit yang berjaga di tempat-tempat tertentu.

***

Bayu berdiri tegak memandangi gundukan tanah yang masih terlihat baru. Di ujung gundukan tanah merah itu, terdapat sebuah batu sebagai pertanda kalau di dalamnya terbaring jasad seseorang yang sudah menyelesaikan tugasnya di dunia ini. Perlahan Pendekar Pulau Neraka mengangkat kepalanya.

“Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian, Bokor,” pelan sekali suara Bayu kedengarannya.

Gundukan tanah itu memang kuburan Bokor. Bayu menguburkannya di tepi hutan tidak jauh dari perbatasan Kotaraja Langkat. Tubuh Bokor ditemukan tergeletak tidak jauh dari tembok benteng Istana Langkat, setelah Pendekar Pulau Neraka lolos dari kepungan di atas atap bangunan istana itu.

“Maaf. Aku tidak bisa memilihkanmu tempat yang lebih baik lagi,” ujar Bayu lagi, tetap pelan suaranya.
“Itu sudah lebih baik, daripada dihanyutkan ke sungai....”

Bayu langsung memutar tubuhnya ketika tiba-tiba saja terdengar suara dari arah belakang. Entah kapan datangnya, tahu-tahu agak jauh di depan Pendekar Pulau Neraka sudah berdiri seorang pemuda bertubuh kurus kering mengenakan baju agak longgar warna biru tua. Di belakang pemuda yang perawakan tubuhnya seperti tengkorak hidup itu berdiri empat orang bertubuh tinggi tegap. Wajah mereka kasar, dengan mata menyorot bengis.

“Pasti kau yang membunuh Bokor,” tuduh Bayu langsung.
“Ha ha ha...,” pemuda kurus kering yang tak lain Jarong tertawa terbahak-bahak keras sekali.

Namun suara tawa Jarong begitu kering, dan terdengar serak menyakitkan telinga. Tanpa dijawab sekalipun, Bayu sudah tahu kalau pemuda kurus kering bagai tengkorak hidup inilah yang telah membunuh Bokor. Dan Pendekar Pulau Neraka pernah bertemu sekak, ketika menyelamatkan Bokor dari keroyokannya.

“Kisanak! Aku tidak akan memperpanjang persoalan ini, jika kau suka menyerahkan surat itu padaku,” tegas Jarong dengan suaranya yang selalu datar dan dingin.

“Aku tidak pernah punya surat,” sahut Bayu tak kalah tegas.
“Jangan membuat kesabaranku habis, Kisanak,” desis Jarong bernada mengancam.
“Mau habis, mau tidak, itu urusanmu,” balas Bayu tidak kalah dinginnya.
“Sudah besar kepala rupanya kau...!”

Bayu hanya tersenyum sinis saja. Kemudian tubuhnya berputar ke kanan. Tanpa mempedulikan geraman pemuda kurus kering itu, Bayu mengayunkan kakinya hendak meninggalkan tempat ini.

''Keparat..! Kau meremehkan aku, heh...?!” geram Jarong jadi gusar bukan main melihat sikap Pendekar Pulau Neraka yang sepertinya tidak memandang sebelah mata padanya.

Namun Bayu tetap saja berjalan, tidak peduli. Dan ini semakin membuat Jarong geram. Seketika tangan kanannya dihentakkan ke depan. Maka, dari balik lipatan lengan bajunya melesat dua buah pisau kecil tipis sepanjang jengkal tangan berwarna keperakan.

Wus...!

Mendengar desiran angin yang halus dari arah belakang, Bayu cepat sekali memutar tubuh. Dan saat itu juga tangan kanannya digerakkan dengan cepat ke depan dada.

Tap!

“Heh...!” Jarong terkejut melihat kedua senjatanya mudah sekali ditangkap Pendekar Pulau Neraka.

Dan kini, kedua pisau tipis keperakan itu terselip di antara kedua jari tangan Bayu. Belum lagi Jarong bisa menghilangkan keterkejutannya, mendadak saja Bayu sudah mengibaskan tangan kanannya untuk melemparkan kedua pisau tadi kepada pemiliknya kembali.

“Yeaaah...!”
Wus!

Kedua pisau itu meluncur lebih cepat daripada yang dilemparkan Jarong tadi. Dan ini membuat pemuda bertubuh kurus kering itu jadi terbeliak semakin terkejut. Namun cepat sekali, tubuhnya melenting ke udara. Maka kedua pisau itu melesat lewat di bawah telapak kakinya. Empat orang yang berdiri di belakang pemuda itu juga bergegas berlompatan menghindari terjangan pisau. Mereka menjatuhkan diri di tanah dan bergulingan beberapa kali. Tepat di saat Jarong menjejakkan kakinya kembali ke tanah, empat orang laki-laki berwajah kasar itu sudah berlompatan bangkit berdiri.

“Kurang ajar...,” desis Jarong geram. “Serang! Bunuh keparat itu...!”

Tanpa diperintah dua kali, empat orang yang semuanya bersenjatakan golok segera berlompatan menerjang Pendekar Pulau Neraka. Golok mereka yang langsung tercabut seketika itu dikibaskan ke tubuh Bayu. Namun lewat gerakan indah dan ringan sekali, tubuh pemuda berbaju kulit harimau itu meliuk-liuk, menghindari setiap serangan yang dilancarkan empat orang bersenjata golok itu.

Sedangkan Jarong hanya memperhatikan saja jalannya pertarungan itu. Saat memperhatikan, matanya tidak berkedip sama sekali. Sementara, empat orang bersenjata golok itu terus mencecar hebat Pendekar Pulau Neraka. Mereka menyerang secara bergantian dari empat arah. Dan Bayu sendiri tampaknya masih mampu menandinginya, meskipun pada saat ini hanya berkelit dan menghindar saja. Dan ini memang disengaja, karena ingin mengetahui dulu, sampai di mana tingkat kepandaian empat orang pengeroyoknya ini.

“Uts! Yeaaah...!”

Cepat sekali Pendekar Pulau Neraka merunduk sambil memiringkan tubuh ke kiri, ketika sebatang golok menyambar ke arah kepalanya. Dan pada saat itu, tangan kanannya bergerak cepat mengibas ke depan.

“Yeaaah...!”

Secercah cahaya keperakan berkelebat cepat dari pergelangan tangan pemuda berbaju kulit harimau itu. Sementara orang yang berada di depannya tidak sempat menyadari lagi. Tahu-tahu....

Crab!
“Aaa...!”

Satu jeritan melengking dan menyayat terdengar, tepat saat orang yang berada di depan Pendekar Pulau Neraka terpental. Tampak di lehernya tertancap sebuah benda pipih bulat, yang sisinya bergerigi enam.

“Hap!”

Saat itu Bayu menghentakkan tangan kanannya ke atas, tepat begitu tubuhnya tegak kembali. Seketika benda berbentuk cakra perak melesat keluar dari leher yang langsung memuncratkan darah segar. Senjata maut Pendekar Pulau Neraka langsung menempel di pergelangan tangan kanannya.

“Hup...!”

Bayu melompat keluar dari kepungan itu, di saat tiga orang yang menyerangnya tadi tengah terpaku melihat kejadian yang begitu cepat dan tidak terduga sama sekali. Mereka seperti tidak percaya kalau seorang temannya kini telah tergeletak tak bernyawa. Lehernya robek mengeluarkan darah segar. Mendadak saja Pendekar Pulau Neraka meluruk deras ke arah Jarong. Pemuda kurus kering bagai tengkorak hidup itu menjadi terkejut bukan main. Bergegas dia melompat ke samping ketika Bayu melontarkan dua pukulan keras beruntun, mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi.

Glarrr!

Suara ledakan keras terdengar begitu pukulan Bayu menghantam pohon di belakang Jarong tadi. Pohon yang cukup besar itu langsung hancur berkeping-keping.

“Gila...!” desis Jarong terkejut begitu melihat akibat pukulan pemuda berbaju kulit harimau yang mengandung tenaga dalam tinggi.

Dan sebelum pemuda kurus kering itu bisa menghilangkan keterkejutannya, Bayu sudah kembali melesat menerjang. Gerakan Pendekar Pulau Neraka sungguh cepat luar biasa. Dan ini berarti tak ada lagi kesempatan buat Jarong untuk menghindar dari serangan yang cepat dan dahsyat itu.

“Yeaaah...!”

Jarong cepat menghentakkan tangannya ke depan, menyambut pukulan yang dilontarkan Pendekar Pulau Neraka. Tak dapat dihindari lagi, dua kekuatan tenaga dalam yang saling bertentangan beradu keras hingga menimbulkan ledakan keras menggelegar.

Blarrr!

Tampak kedua pemuda yang mengadu tenaga dalam itu sama-sama terpental ke belakang. Tiga kali Bayu berputaran di udara, dan manis sekali kakinya mendarat di tanah. Sementara itu, Jarong agak terhuyung begitu mendarat

“Phuih!”

Jarong menyemburkan ludahnya. Dan semburan ludah itu ternyata berwarna merah agak kental. Jarong menyadari kalau tenaga dalam yang dimilikinya masih kalah dibandingkan lawan. Juga disadari kalau tubuhnya sedikit terluka dalam. Ludah yang bercampur darah itu sudah menandakan kalau tubuhnya terluka dalam, akibat benturan tenaga dalam tadi.

“Keparat..!” geram Jarong.

Pemuda bertubuh kurus kering itu menjentikkan jari tangannya. Maka mendadak saja, dari atas pohon yang banyak tumbuh di tepi hutan ini meluncur anak-anak panah ke arah Pendekar Pulau Neraka.

“Kadal...!” maki Bayu gusar.

Namun tak ada pilihan lain lagi bagi Pendekar Pulau Neraka itu. Dengan cepat sekali, tubuhnya melenting, lalu membuat putaran beberapa kali di udara. Sementara, tangannya bergerak cepat untuk menyampok anak panah yang menghujani tubuhnya. Bayu harus berpelantingan di udara sambil memutar cepat tubuhnya. Begitu kakinya menjejak tanah, kembali cepat melesat ke udara. Hanya itu jalan satu-satunya untuk menghadapi hujan anak panah yang datang dari segala arah ini. Namun juga disadari kalau tidak akan mungkin bisa bertahan lama. Cara seperti ini menguras tenaga terlalu banyak.

“Hiyaaa...!”

Cepat Bayu menjatuhkan tubuhnya ke tanah, lalu bergulingan mendekati tubuh yang tergeletak tak bernyawa lagi. Sedangkan panah-panah itu terus berdesingan di sekitar tubuhnya.

“Hap!”

Cepat Bayu melenting bangkit setelah bisa menyambar golok yang tergeletak tidak jauh dari mayat laki-laki itu. Dan dengan golok ini, setiap anak panah yang datang mengancam tubuh dibabatnya. Kini Bayu tidak perlu lagi menguras tenaga terlalu banyak. Dengan sedikit kelincahan kaki, dan gerakan tangan yang cepat, serangan panah-panah itu berhasil dipatahkan.

“Seraaang...!” tiba-tiba saja Jarong berteriak keras memberi perintah.

Dan seketika itu juga, dari atas pepohonan dan dari balik semak belukar berlompatan manusia-manusia berbaju hitam bersenjata tombak pendek kembar berwarna merah. Mereka seperti berlomba, langsung meluruk ke arah Pendekar Pulau Neraka.

“Monyet celaka...!” geram Bayu mendesis.

Tak ada lagi kesempatan bagi Pendekar Pulau Neraka untuk bisa menghindar. Karena sebelum sempat berpikir, dari samping kanan dan kirinya sudah datang serangan orang-orang berbaju hitam. Mereka langsung menusuk dan mengibaskan tongkat pendeknya cepat sekali.

Wut!
“Hap...!”

Bayu tak mempunyai pilihan lain lagi. Segera dia bergerak menyambut serangan yang datang dari segala arah itu secara beruntun dan cepat sekali. Dengan mengandalkan kelincahan gerak kaki dan ketinggian pengerahan tenaga dalam, Pendekar Pulau Neraka langsung mengamuk dan menghajar siapa saja yang dekat dari jangkauannya.

Sebentar saja sudah terdengar jerit dan pekikan keras melengking tinggi, disusul bergelimpangannya tubuh-tubuh tak bernyawa lagi. Pukulan yang dilepaskan Bayu, memang dahsyat sekali, karena disertai pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai taraf kesempurnaan.

Namun, jumlah mereka semakin bertambah banyak saja. Dan tentu saja ruang gerak Pendekar Pulau Neraka semakin terbatas. Rasanya sukar sekali untuk bisa keluar dari keroyokan ini. Meskipun dirinya seorang pendekar digdaya yang berkepandaian tinggi, tapi tetap saja kodratnya hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Dan ini sangat disadarinya. Tidak mungkin mereka semua yang jumlahnya seperti satu pasukan prajurit bisa dikalahkan.

“Huh! Bisa habis napasku kalau begini terus,” dengus Bayu dalam hati.

Di saat Pendekar Pulau Neraka sedang berpikir keras sambil terus menghalau serangan, mendadak keroyokan orang-orang berpakaian serba hitam itu jadi terpecah belah. Ini karena tiba-tiba saja sepasukan prajurit Kerajaan Langkat telah datang dan langsung menyerang para pengeroyok Bayu. Seketika terdengar jeritan-jeritan diselingi denting senjata beradu. Saat itu Bayu memiliki sedikit kesempatan untuk bisa keluar dari kepungan ini. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Dengan cepat sekali, Pendekar Pulau Neraka melentingkan tubuhnya ke udara dan ber-putaran beberapa kali.

“Hap!”

Begitu kakinya mendarat di batang pohon, dia segera bersiap melepaskan senjata Cakra Maut yang selalu menempel di pergelangan tangan kanan. Namun mendadak saja niatnya diurungkan.

“Lari...!” tiba-tiba terdengar teriakan memberi perintah.

Seketika itu juga, orang-orang berpakaian serba hitam berlompatan cepat, masuk ke dalam hutan. Gerakan mereka memang cepat sekali. Maka dalam waktu sebentar saja, tempat ini sudah ditinggalkan. Bayu yang berada di atas pohon jadi tercenung melihat orang-orang berpakaian prajurit berada di tempat itu, di antara mayat-mayat yang bergelimpangan.

“Hup...!” Bayu melompat turun dari atas pohon.

Prajurit-prajurit itu terkejut, dan langsung bergerak mengepung. Namun seorang laki-laki berjubah putih yang membawa tombak pendek bermatakan keemasan, merentangkan tangannya lebar-lebar. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki lain yang mengenakan baju warna kuning ketat, membawa cambuk hitam berduri halus.

“Siapa kau. Anak Muda?” tanya laki-laki tua berjubah putih itu.
“Bayu,” sahut Bayu memperkenalkan namanya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya orang tua berjubah putih itu lagi.

“Hm.... Mungkin Kisanak tidak melihat kalau aku yang tadi dikeroyok mereka,” sahut Bayu.

“Oh, maaf. Tapi mengapa kau sampai bentrok dengan mereka?”
“Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja mereka muncul dan menyerangku.”

Laki-laki tua berjubah putih panjang itu menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia kemudian berpaling, memandang laki-laki berbaju kuning ketat di samping kanannya agak ke belakang sedikit Yang dipandang juga menganggukkan kepalanya sedikit.

“Kau tahu siapa mereka itu tadi?” tanya laki-laki tua itu lagi.

Bayu hanya menggelengkan kepalanya saja. Pendekar Pulau Neraka memang tidak tahu tentang sekelompok orang berseragam hitam yang menyerangnya tadi, setelah mendapatkan isyarat dari pemuda bertubuh kurus kering. Untuk beberapa saat lamanya, tak ada yang membuka suara. Sementara itu orang-orang yang mengenakan seragam prajurit, sudah sibuk mengumpulkan mayat yang bergelimpangan berlumur darah.

***

EMPAT

“Siapa mereka itu, Paman?” tanya Bayu.
“Mereka kaum pemberontak yang menguasai hutan ini,” jelas Jawala.
“Pemberontak...?” Bayu mengerutkan keningnya.

“Benar! Sudah lama kami ingin menumpas, tapi mereka begitu menguasai hutan ini. Dan sukar sekali untuk mengejarnya jika mereka sudah memasuki hutan ini, Anak Muda,” timpal Rahseta menjelaskan.

Bayu terdiam dengan kepala berkerut dalam. Sebentar dipandanginya kedua laki-laki tua itu, kemudian beralih pada mayat-mayat yang bergelimpangan. Benaknya seketika dipenuhi berbagai macam pikiran dan dugaan. Pandangan Bayu beralih pada kuburan Bokor.

“Makam siapa itu?” tanya Jawala.
“Bokor,” sahut Bayu.
“Temanmu?” tanya Jawala lagi.

“Bisa dikatakan begitu, kami baru kenal beberapa hari saja,” jelas Bayu singkat. “Dia tewas dibunuh oleh pemimpinnya di Kotaraja Langkat. Apakah paman berdua mengenalinya?”

Jawala dan Rahseta tidak langsung menjawab, namun hanya saling berpandangan sejenak, kemudian sama-sama menggeleng. Bayu yang semula berharap kalau kedua laki-laki tua itu mengetahui tentang Bokor, ternyata jadi sedikit kecewa. Tapi Pendekar Pulau Neraka sepertinya tidak percaya. Jawala dan Rahseta adalah orang penting di Kerajaan Langkat. Sedangkan Bokor pernah bercerita kalau beberapa orang penting sedang merencanakan satu pemberontakan untuk menggulingkan ke-kuasaan Ratu Nyai Langas. Dan Bokor sendiri mengakui kalau dirinya bekerja untuk salah satu orang penting yang bebas keluar masuk di dalam istana itu. Tapi, kedua laki-laki tua ini tidak mengenal Bokor. Dan ini membuat Bayu semakin bertanya-tanya dalam benaknya.

“Anak muda. Tampaknya, kau punya urusan dengan mereka itu. Jika tidak berkeberatan, sebaiknya kau bergabung bersama kami untuk menumpas mereka,” ajak Jawala.

“Terima kasih. Sebenarnya....”

“Kau tidak perlu khawatir, Anak Muda,” potong Jawala cepat. “Jika kau bersedia, kami akan mengusahakan kedudukan penting di istana nanti. Tapi kau jika tidak menghendaki, dan tidak ingin keterikatan, kami juga tidak memaksa.”

Bayu terdiam membisu, dan matanya kembali memandang pusara Bokor. Pendekar Pulau Neraka masih terdiam membisu, dengan kening sedikit berkerut. Memang tidak ada salahnya jika ikut bersama kedua laki-laki tua ini. Barangkali saja bisa mendapatkan suatu petunjuk penting. Persoalan ini memang bukan urusannya, tapi Bayu sudah telanjur masuk. Kalau toh Pendekar Pulau Neraka itu tidak ingin melanjutkan lagi, pasti pemuda bertubuh kurus kering dan orang-orang berbaju serba hitam itu akan mencarinya. Bayu seketika teringat akan pengakuan Bokor. Katanya dia sedang melaksanakan tugas dari junjungannya untuk menyampaikan sebuah surat penting. Dan Bokor juga mengatakan kalau beberapa pembesar kerajaan, bermaksud memberontak.

“Baiklah. Aku memang ingin membalas kematian temanku ini,” ujar Bayu beralasan menerima tawaran itu setelah memikirkannya cukup lama juga.

“Kalau begitu, sebaiknya kita kembali saja dulu ke kota,” sambut Jawala senang atas kesediaan Pendekar Pulau Neraka yang menerima tawarannya.

Tak berapa lama kemudian, mereka berangkat menuju Kotaraja Kerajaan Langkat Jawala memberi pinjaman kuda dari prajurit yang tewas kepada Pendekar Pulau Neraka itu. Bayu yang memang tidak menyukai kuda sebenarnya ingin menolak, tapi tidak ingin mengecewakan orang-orang yang baru dikenalnya. Dengan perasaan terpaksa, Pendekar Pulau Neraka menunggang kuda bersama yang lainnya.

***

Bayu mengatakan apa yang diketahuinya dari Bokor semasa hidupnya, setelah diyakini kalau Jawala dan Rahseta berada di jalan yang benar. Sedangkan dua orang tua itu juga mengatakan segalanya yang diketahui. Namun setelah saling menukar cerita, belum juga ditemukan satu titik terang yang diinginkan. Jawala dan Rahseta jadi tercenung setelah mendengar cerita Pendekar Pulau Neraka. Katanya, Bokor sebenarnya hendak menyerahkan sesuatu berupa selembar surat yang tersimpan dalam selongsong bambu. Yang membuat mereka tercenung, ternyata surat itu khusus untuk Ratu Nyai Langas.

“Apakah dia mengatakan tentang isi surat itu, Bayu?” tanya Jawala.
“Sayang sekali, dia tidak tahu,” sahut Bayu.
“Lalu, siapa yang memerintahkannya?” kini Rahseta yang bertanya.

“Itu juga tidak dikatakannya. Bokor hanya mengatakan kalau dirinya bekerja untuk salah seorang pembesar di istana ini Maaf, aku tidak bertanya lebih banyak lagi. Saat itu aku sendiri semula tidak ingin ikut campur. Aku hanya menolongnya saja ketika dia dikeroyok,” Bayu mencoba menutupi cerita yang pernah didengarnya dari Bokor. Pendekar Pulau Neraka ini masih merasa belum perlu menceritakan perihal yang sesungguhnya. Sebab Bayu masih belum menemukan bukti-bukti yang kuat untuk mendukung kebenaran cerita Bokor.

“Hm..., persoalan ini memang masih gelap. Tapi dari ciri-ciri yang kau sebutkan tentang pemimpin pengeroyok itu, aku yakin kalau pemuda itu adalah Jarong,” tebak Jawala, agak bergumam nada suaranya.


“Jarong...? Siapa itu?” tanya Bayu.
''Pemuda kurus yang kau ceritakan tadi, Bayu,'' sahut Jawala.
“Apakah dia orang dalam istana ini juga?” tanya Bayu lagi.

“Dia kemenakan Narata, kakak sepupu Kanjeng Ratu Nyai Langas,” jelas Jawala. “Terus terang, aku dan Rayi Rahseta memang mencurigai Narata. Terlebih lagi, asal-usul Jarong yang sebenarnya tidak jelas. Baru tiga bulan dia berada di sini. Dan itu bertepatan dengan munculnya kelompok pemberontak yang bersarang di Hutan Landaka.”

“Benar, Bayu,” sambung Rahseta. “Kami memang tidak tahu, dari mana asalnya kemenakan Gusti Narata itu. Sedangkan yang kami ketahui, Gusti Narata tidak mempunyai istri, apalagi anak. Saudara satu-satunya hanyalah Kanjeng Ratu Nyai Langas.”

“Apa selama ini tidak ada yang menyelidiki tentang asal-usulnya?” tanya Bayu lagi.

“Tidak ada yang diperbolehkan menyelidiki asal-usul seseorang yang diakui sebagai anggota keluarga istana. Itu merupakan larangan yang tidak bisa ditawar lagi, Bayu. Sangat besar hukumannya jika dilanggar,” sahut Rahseta menjelaskan.

Bayu terdiam beberapa saat. Sementara, kedua laki-laki tua itu juga tidak berbicara lagi. Dari raut wajah, jelas sekali kalau mereka sedang memikirkan sesuatu. Entah apa yang dipikirkan saat ini, hanya mereka sendiri yang tahu. Dan Pendekar Pulau Neraka merasakan kalau dirinya tidak akan mungkin lagi bisa keluar dari masalah ini. Secara tidak sengaja, Bokor telah menyeretnya. Dan itu juga karena Bayu tidak bisa melihat kecurangan berlangsung di depan matanya.

Kalau saja Pendekar Pulau Neraka itu tidak menolong Bokor saat itu, sudah pasti tidak akan terlibat dalam kemelut yang melibatkan orang-orang berdarah biru ini. Ya..., suatu gerhana telah terjadi di lingkungan Istana Langkat. Gerhana darah biru yang melibatkan orang-orang bangsawan dan pembesar serta anggota keluarga istana. Apakah Pendekar Pulau Neraka akan terperosok semakin dalam di dalam kemelut ini..?

***

Bayu tertegun di ambang pintu kediaman Jawala. Kakinya tidak jadi melangkah keluar ketika melihat seorang pemuda bertubuh kurus sedang berbicara dengan Jawala dan Rahseta di halaman depan rumah besar ini. Pada saat yang sama pemuda kurus kering itu melihat ke arah Bayu. Tampak sekali kalau dia terkejut melihat Bayu baru keluar dari dalam rumah Jawala.

“Bayu...,” Jawala memanggil Pendekar Pulau Neraka dengan lambaian tangannya.

Bayu melangkah menghampiri, kemudian berhenti setelah tiba di samping Jawala yang dipanggilnya dengan sebutan paman. Pandangan Pendekar Pulau Neraka itu tidak berkedip ke arah pemuda kurus kering dan berwajah pucat di depannya. Saat itu juga, pemuda kurus kering itu menatap tajam Pendekar Pulau Neraka.

“Bayu. Kenalkan, ini Jarong. Kemenakan Gusti Narata,” Jawala memperkenalkan.
“Aku sudah pernah bertemu dengannya,” ujar Jarong. Suaranya dingin dan datar.
“Oh..., benarkah?” tampak Jawala terkejut

Bayu sempat melirik laki-laki tua berjubah putih itu. Tampak kalau sinar mata Jawala tidak terkejut seperti nada suaranya tadi. Dan Pendekar Pulau Neraka tahu kalau Jawala hanya berpura-pura saja.

“Di mana kalian bertemu?” tanya Jawala.

Sementara Rahseta yang berada di samping kiri Jawala, hanya diam saja tanpa membuka suara sedikit pun. Namun tatapan matanya selalu berganti-ganti dari Bayu kemudian kepada Jarong. Dia seperti hendak mengetahui sikap kedua pemuda itu.

“Ada hubungan apa antara dia dan Paman?” tanya Jarong, jelas penuh selidik dan penuh kecurigaan.

“O.... Bayu ini kemenakanku. Dia baru datang dari Kadipaten Pantur,” jelas Jawala.

“Hm...,” Jarong hanya bergumam saja, dan tampaknya tidak percaya penjelasan Jawala yang singkat itu.

Untuk beberapa saat mereka hanya berdiam diri, namun suasana begitu kaku. Yang jelas, penuh dengan kecurigaan dan segala macam perasaan dan ketegangan. Hal ini bisa dirasakan dari sorot mata yang selalu tajam mengandung pancaran kecurigaan mendalam.

“Aku permisi dulu, Paman,” pamit Jarong. Sebelum Jawala menyahuti, Jarong sudah memutar tubuhnya. Dan dengan gerakan ringan sekali, pemuda kurus kering berwajah pucat itu melompat naik ke punggung kudanya. Secepat itu pula kuda hitam dengan kaki belang putih itu digebahnya. Sementara Jawala, Rahseta, dan Bayu masih berdiri memandangi sampai pemuda kurus kering itu tidak terlihat lagi.

“Kelihatannya dia tidak percaya, Kakang,” ujar Rahseta dengan suara sedikit bergumam.

“Biarlah. Toh, kalau dia berbuat macam-macam, kita juga bisa membalikkan asal-usulnya,” sahut Jawala kalem.

Tanpa bicara lagi, mereka kemudian masuk ke rumah yang cukup besar dan indah ini. Rumah kediaman Paman Jawala yang dikelilingi pagar tembok cukup tinggi dan tebal, seperti rumah-rumah pembesar lainnya. Beberapa orang berseragam prajurit terlihat berjaga-jaga di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Ketiga orang itu kemudian duduk menghadapi sebuah meja bundar beralaskan batu pualam putih yang licin dan berkilat di ruangan depan. Sampai saat ini masih belum ada yang membuka suara. Pertemuan Bayu dengan Jarong tadi memang membuat suasana jadi terasa kaku. Baik Jawala maupun Rahseta sudah bisa merasakan akan terjadi sesuatu setelah hari ini. Hanya saja sulit untuk dipastikan, kejadian apa yang akan menimpa mereka berdua.

***

“Oaaah...!”

Bayu membuka mulutnya lebar-lebar seraya menggeliatkan tubuhnya. Suara bergemeretak ter-dengar dari seluruh tubuh Pendekar Pulau Neraka itu. Saat ini, malam sudah demikian larut Suasana di dalam rumah kediaman Jawala ini sudah terasa sunyi sekali. Sebagian penghuninya sudah sejak tadi terlelap dalam buaian mimpi. Namun di dalam salah satu kamar, mata Pendekar Pulau Neraka belum juga bisa terpejam.

Pikiran pemuda itu masih terus dipenuhi kejadian siang tadi. Sungguh tidak disangka kalau pemimpin orang-orang berbaju serba hitam ternyata kemenakan kakak sepupu Ratu Nyai Langas sendiri. Bahkan mereka sudah dikenal sebagai satu kelompok orang yang merasa tidak puas pada Ratu Nyai Langas. Dan mereka sudah beberapa kati mencoba menggulingkan tahta, namun selama ini selalu gagal. Dan sekarang gerakan mereka dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

“Huuuh...! Rasanya malam ini lain sekali,” desah Bayu agak mengeluh.

Kembali Pendekar Pulau Neraka menguap lebar. Kantuk yang menyerang kelopak matanya terasa amat berat Namun, Bayu belum juga mau jatuh tidur. Seluruh tubuhnya terasa penat sekali. Dia ingin sekali beristirahat tenang dalam kamar yang cukup besar dan tertata apik ini.

Bet!
Bet!

Bayu menggerak-gerakkan tangannya, membuat beberapa persiapan. Kemudian dia duduk bersila di atas pembaringan. Kedua telapak tangannya menempel di lutut yang tertekuk. Sebentar napasnya ditarik dalam-dalam. Pemuda berbaju kulit harimau itu sejenak ingin melemaskan otot-otot dan urat syarafnya yang terasa menegang.

Namun, saat matanya hendak dipejamkan untuk bersemadi, mendadak saja telinganya yang terlatih mendengar desiran yang begitu halus.

“Hup!”

Cepat sekali Pendekar Pulau Neraka melesat turun dari pembaringan. Pada saat itu, terlihat seberkas cahaya keperakan melesat masuk dari celah-celah jendela, dan langsung menghantam pembaringan. Padahal, tadi Bayu duduk bersila di sana. Sekilas Pendekar Pulau Neraka melirik.

“Hm...” Bayu hanya menggumam kecil saja. Di atas pembaringan beralaskan kain merah muda itu, jelas tertancap sebilah pisau kecil tipis sepanjang jengkal. Bagaikan kilat, Pendekar Pulau Neraka melompat mendekati jendela. Dan begitu jendela kamar ini dibuka, mendadak saja secercah cahaya keperakan kembali meluruk deras ke arahnya.

“Hup! Yeaaah...!”

Cepat sekali Pendekar Pulau Neraka melompat. Tubuhnya kemudian melenting dan berputar ke belakang. Cahaya keperakan yang memang berupa sebilah pisau kecil tipis itu, lewat sedikit di bawah tubuhnya. Dan tepat saat pisau itu menancap di dinding, kaki Bayu menjejak lantai.

Hanya sekali saja tubuhnya digenjot, dan secepat kilat, Pendekar Pulau Neraka melesat ke luar. Begitu kakinya menjejak tanah berumput halus, seketika itu juga empat buah bayangan hitam berkelebatan cepat meluruk deras ke arahnya. Dan sebelum Bayu bisa menyadari, mendadak saja empat buah cahaya keperakan berkelebat cepat mengarah ke tubuhnya.

“Yeaaah...!”

Bergegas tubuh Pendekar Pulau Neraka berputar sambil melesat ke udara. Sinar keperakan yang berasal dari empat senjata golok, lewat di bawah telapak kaki pemuda berbaju kulit harimau ini. Dan pada saat itu, cepat sekali Bayu memutar tubuhnya, hingga kepala berada di bawah dan kaki lurus ke atas.

“Hiya! Hiyaaa...!”

Sambil berteriak keras menggelegar, Pendekar Pulau Neraka mengibaskan kedua tangannya beberapa kali dengan kecepatan bagaikan kilat. Kemudian tubuhnya kembari melenting ke udara, dan mendarat manis sekali di tanah berumput

Entah bagaimana caranya, tahu-tahu di tangan Pendekar Pulau Neraka itu sudah tergenggam empat bilah golok yang cukup besar bercahaya keperakan tersiram cahaya rembulan. Tampak tidak jauh di depan Bayu, berdiri empat orang berbaju serba hitam. Nampaknya, semuanya anak-anak muda yang mungkin baru berusia sekitar dua puluh tahun. Mereka tampak terkejut setelah melihat orang yang diserangnya tahu-tahu sudah merampas senjata mereka semua.

“Siapa kalian?!” tanya Bayu dengan suara tegas dan datar.

Tapi empat orang pemuda berbaju hitam itu, tidak menjawab sama sekali. Bahkan mencabut sepasang senjata yang terselip di pinggang, berupa sepasang tongkat pendek sepanjang tiga jengkal berwarna merah menyala. Dan sebelum Bayu sempat bertanya lagi, tiga orang serentak berlompatan mengepung Pendekar Pulau Neraka dari empat jurusan.

“Hm...,” Bayu hanya menggumam saja. Perlahan tubuhnya memutar, dan pandangannya berkeliling merayapi empat pemuda berbaju hitam bersenjata sepasang tongkat merah yang digerak-gerakkan di depan dada. Dari desiran angin akibat gerakan tongkat itu, Bayu sudah bisa menduga kalau keempat orang berbaju serba hitam ini memiliki tingkat kepandaian lumayan.

“Hm..., apa yang kalian kerjakan di tempat ini?” kembali Bayu membuka mulutnya bertanya.

Namun tetap saja tidak ada sahutan sama sekali. Bahkan, mendadak saja empat orang anak muda berbaju serba hitam itu melesat cepat secara bersamaan untuk menerjang Bayu.

“Yeaaah...!”

Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Pendekar Pulau Neraka, kecuali menyambut serangan lawan-lawan yang tidak mau berbicara sama sekali. Bagaikan kilat tubuh Bayu memutar, lalu melompat ke samping kanan. Seketika itu juga tangannya menghentak ke samping, mengarah ke perut orang yang berada dekat di kanannya.

Bet!

Namun pemuda berbaju hitam itu tidak berkelit sama sekali. Bahkan cepat sekali tongkatnya yang tergenggam di tangan kiri dikibaskan. Bayu jadi tersentak kaget bukan main. Cepat tangannya ditarik pulang. Terlalu sungkan rasanya untuk mengadu tangan dengan tongkat merah menyala itu.

Dan sebelum Pendekar Pulau Neraka bisa melakukan sesuatu, mendadak saja dari arah belakang berkelebat sebatang tongkat merah mengarah ke kepalanya.

“Setan! Ups...!”

Cepat-cepat Bayu merundukkan kepalanya sambil mengumpat. Maka kibasan tongkat pendek berwarna merah menyala itu lewat sedikit di atas kepalanya. Secepat itu pula, Pendekar Pulau Neraka menghentakkan kaki kirinya ke belakang, dan tubuhnya ditarik hingga doyong ke depan.

“Ugkh...!”

Terdengar keluhan pendek ketika Bayu merasakan kakinya menghantam sesuatu.

Pendekar Pulau Neraka cepat memutar tubuhnya, tepat saat orang yang menyerang dari belakangnya terhuyung-huyung ke belakang sambil mendekap perutnya. Jelas, orang itu terkena hantaman Pendekar Pulau Neraka itu. Dan sebelum dia sempat melakukan sesuatu, Bayu sudah kembali menyerang cepat dan dahsyat luar biasa.

“Hiyaaa...!”

***

LIMA

Des!
“Akh...!”

Satu jeritan melengking terdengar ketika pukulan Pendekar Pulau Neraka yang menggeledek dan bertenaga dalam sempurna mengenai sasaran. Seketika itu juga terlihat seorang pemuda berbaju hitam terpental deras ke belakang dan keras sekali terjatuh di tanah. Dan hanya sebentar saja orang itu mampu menggeliat, sesaat kemudian sudah tak berkutik lagi. Tampak darah mengalir keluar dari mulut dan hidungnya.

Bayu langsung memutar tubuhnya, menghadapi tiga orang lainnya yang tampak terkejut melihat seorang temannya tewas hanya sekali pukul saja. Dan sebelum mereka bisa menghilangkan keterkejutannya, mendadak saja Pendekar Pulau Neraka sudah melompat cepat menerjang bagai kilat

“Hiyaaat..!”

Seketika itu Juga Bayu melepaskan tiga pukulan beruntun yang cepat dan mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Serangan Pendekar Pulau Neraka yang cepat luar biasa, membuat ketiga orang berbaju serba hitam jadi terperangah.

Mereka cepat berlompatan menghindari serangan yang dilancarkan secara mendadak itu. Namun, salah seorang terlambat menyelamatkan diri. Maka tak pelak lagi satu pukulan Bayu bersarang di tubuhnya. Padahal dia telah berusaha melompat menghindarinya.

Bugkh!

“Akh...!” orang berbaju serba hitam itu memekik keras sekali.

Pukulan Bayu yang begitu keras dan bertenaga dalam tinggi, mengakibatkan orang itu terpental deras ke belakang Keras sekali tubuhnya menghantam tanah. Dan sebelum mampu menggeliat, Bayu sudah melompat bagaikan kilat. Langsung didaratkan kakinya di tubuh pemuda berbaju serba hitam itu.

“Hih!”
Bres!
''Aaa...!”

Kembali terdengar jeritan panjang melengking tinggi ketika kaki kanan Pendekar Pulau Neraka menjejak dada pemuda berbaju serba hitam itu. Seketika darah muncrat keluar dari mulutnya. Hanya sedikit saja pemuda itu mampu bergerak, sebentar kemudian tak berkutik lagi. Mati dengan dada remuk dan menghitam.

Pada saat Bayu melompat menjauhi tubuh yang sudah tidak bernyawa, terlihat beberapa prajurit berlari-lari berdatangan ke arahnya. Sementara dua orang yang mengenakan baju serba hitam, mendadak saja mereka melesat cepat bermaksud meninggalkan tempat ini.

“Hey...! Jangan lari kau...!” sentak Bayu agak terkejut juga begitu melihat dua orang berpakaian serba hitam mendadak saja melesat pergi.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Pulau Neraka melesat cepat mengejar dua orang berpakaian serba hitam itu. Begitu sempurna ilmu meringankan tubuh yang dimiliki, sehingga mudah saja Pendekar Pulau Neraka mengejar mereka.

“Yeaaah...!”

Keras dan cepat sekali Bayu melepaskan dua pukulan ke arah dua orang berbaju hitam itu. Pukulan keras dan cepat disertai pengerahan tenaga dalam sempurna itu tak dapat dihindari lagi, tepat menghantam tubuh kedua orang berpakaian serba hitam. Padahal mereka sedikit lagi akan melewati pagar tembok yang tinggi dan kokoh ini.

Des!
Dieghk!

Dua jeritan keras terdengar bersama terpentalnya dua orang berbaju hitam. Keras sekali mereka meluncur, dan tak pelak lagi menghantam tembok tebal yang mengelilingi bangunan kediaman Jawala ini.

Dan sebelum tubuh mereka bisa digerakkan, Bayu sudah melesat mengejar. Tangannya sudah terangkat tinggi hendak melontarkan satu pukulan yang dapat membuat kedua orang itu tewas seketika. Namun sebelum niat itu terlaksana, mendadak saja....

“Tahan...!”

Bayu menghentikan arus pukulannya, lalu berpaling ke belakang. Tampak Jawala berlari-lari menghampiri diikuti beberapa orang berpakaian seragam prajurit pengawal. Sementara dua orang berbaju hitam itu hanya bisa merintih, sambil menggeliatkan tubuhnya.

Pukulan Bayu yang keras dan bertenaga dalam tinggi, membuat seluruhan tulang mereka seperti remuk. Untung saja Pendekar Pulau Neraka tidak mengerahkan tenaga dalam secara penuh, sehingga mereka tidak tewas seketika. Dan belum juga mereka bisa bangkit berdiri, Jawala sudah tiba di tempat itu.

“Bagaimana mereka bisa berada di sini, Bayu?”
tanya Jawala begitu tiba di samping Pendekar Pulau Neraka.
“Mereka ingin membunuhku,” sahut Bayu dingin.

Jawala memerintahkan beberapa prajurit yang mengikuti untuk menangkap kedua orang itu. Tanpa menunggu perintah dua kali, beberapa prajurit mendekati kedua orang berbaju hitam dan meringkusnya.

“Masukkan mereka ke tahanan,” perintah Jawala.

Prajurit-prajurit itu segera melaksanakan perintah laki-laki tua berjubah putih itu. Mereka membawa kedua orang berbaju hitam ke dalam tahanan yang tidak berapa jauh dari tempat ini. Jawala kemudian mengajak Bayu kembali ke dalam rumahnya. Pendekar Pulau Neraka itu tidak membantah, meskipun masih diliputi kegeraman atas kemunculan empat orang yang mencoba membunuhnya.

***

Pagi-pagi sekali Bayu sudah berada di depan rumah kediaman Narata. Diyakini betul kalau empat orang yang mencoba membunuhnya semalam adalah suruhan dari pemuda kurus kering yang bernama Jarong. Selama ini, semua orang tahu kalau Jarong itu kemenakan Narata. Dan Bayu juga sudah diperkenalkan pada laki-laki bertubuh gembur dan berperut buncit yang bernama Narata. Pendekar Pulau Neraka seperti tidak percaya kalau Narata bersekongkol dengan kemenakannya itu untuk menggulingkan tahta Ratu Nyai Langas.

Pendekar Pulau Neraka itu semakin menajamkan matanya ketika melihat pintu gerbang tempat kediaman Narata terbuka. Tampak dari dalam muncul seekor kuda hitam dan belang putih pada kakinya tengah ditunggangi pemuda bertubuh kurus kering.

Bayu mengawasi terus dari tempat yang cukup tersembunyi.

“Hm...,” Bayu menggumam perlahan saat dari dalam juga keluar seekor kuda lain yang ditunggangi seorang laki-laki setengah baya bertubuh gemuk.

Kemudian, muncul lagi sekitar tiga puluh orang berkuda dan berseragam prajurit. Mereka semua juga membawa senjata lengkap. Bayu yang sudah mengenal laki-laki bertubuh gemuk itu, terus memperhatikan tanpa berkedip. Kini dua ekor kuda bersisian berada paling depan, diikuti tiga puluh orang berseragam prajurit

“Hup!”

Pendekar Pulau Neraka itu melesat cepat menyelinap dari balik pohon ke pohon lain, mengikuti rombongan kecil itu. Sementara, terlihat kalau dua orang berkuda yang ada di depan sedang bercakap-cakap. Percakapan itu seperti begitu penting. Malah pembicaraan itu menggunakan suara pelan, dan tidak terdengar orang lain. Bayu yang mengenali kalau mereka itu adalah Narata dan Jarong, mencoba mendengarkan pembicaraan itu.

“Kurasa langkahmu sudah terlalu jauh, Jarong. Aku khawatir gerakanmu akan mengundang perhatian dan kecurigaan,” kata Narata dengan suara pelan.

“Semua yang kulakukan demi paman juga,” sahut Jarong datar, tanpa tekanan nada suara sedikit pun.

“Aku hanya menginginkan agar kau berhati-hati dulu, Jarong. Nampaknya, pembesar-pembesar di istana mulai kasak-kusuk. Meskipun tidak secara langsung menuduhku, tapi mereka bisa mencurigaiku secara diam-diam.”

“Biarkan saja, Paman. Siapa pun yang mencoba macam-macam, umurnya tidak akan panjang,” kalem sekali suara Jarong. Namun tetap bernada dingin dan datar.

“Bagaimana kalau untuk sementara waktu dihentikan dulu semuanya?” Narata memberi saran.

Jarong tampak kaget mendengar ucapan laki-laki setengah baya bertubuh gembur itu. Seketika langkah kaki kudanya dihentikan dan ditatapnya Narata dalam-dalam. Mendapat tatapan begitu tajam, agak bergidik juga sekujur tubuh laki-laki gemuk itu.

“Aku hanya menyarankan saja, Jarong. Itu pun kalau dituruti. Kalau tidak.., aku juga tidak memaksa,” ralat Narata buru-buru.

“Kenapa Paman jadi ketakutan begitu?” tanya Jarong dingin. Tatapan matanya tetap tajam menusuk.

Narata tidak menjawab, dan hanya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kuat-kuat. Laki-laki bertubuh gembur dan berperut buncit itu kembali menjalankan kudanya. Sementara Jarong pun kembali menghentakkan tali kekang kudanya. Ayunan langkah kaki kudanya disejajarkan kembali di samping kuda pamannya ini.

Tak ada lagi yang dibicarakan. Mereka terus menjalankan kudanya perlahan-lahan membelah jalan yang masih terlihat agak sunyi. Hanya beberapa orang saja terlihat berada di tepi jalan ini. Memang masih terlalu pagi, dan segala kesibukan belum sepenuhnya berjalan. Rombongan kecil itu terus bergerak menuju Istana Langkat yang berdiri megah di tengah-tengah Kotaraja Langkat

***

Senja sudah merayap turun mendekati malam. Rona merah jingga yang mengambang di ufuk Barat, menambah indahnya suasana senja itu. Keindahan senja yang begitu sedap dinikmati, seperti dilewatkan begitu saja oleh seorang wanita berparas cantik, dan berpakaian indah gemerlapan. Wanita itu duduk di sebuah bangku taman keputren Istana Langkat yang indah dan tertata apik sekali.

Beberapa gadis cantik mengelilingi, dan siap melakukan segala yang diperintahkan. Meski suasana senja begitu indah, namun tampaknya tidak dinikmati wanita cantik itu. Terlihat jelas kalau raut wajahnya murung, dan matanya memandang kosong ke arah matahari yang hampir tenggelam di peraduannya. Di depan wanita yang tak lain adalah Ratu Nyai Langas, bersimpuh seorang laki-laki muda berwajah tampan mengenakan baju kulit harimau.

“Jadi, kau ini sebenarnya siapa, kalau bukan kemenakan Paman Jawala?” tanya Ratu Nyai Langas. Pandangannya lurus, tak berkedip pada wajah pemuda tampan berbaju kulit harimau itu.

Pemuda itu memberi sembah dengan merapatkan telapak tangannya di depan hidung. Sikapnya begitu hormat sekali, meskipun sebenarnya dia paling tidak suka pada aturan seperti ini. Ya...! Karena, pemuda berbaju kulit harimau itu adalah Bayu, atau berjuluk Pendekar Pulau Neraka.

“Hamba hanyalah seorang pengembara yang kebetulan lewat, Gusti Ratu,” sahut Bayu, penuh rasa hormat.

Ratu Nyai Langas tertegun mendengar pengakuan Bayu yang jujur. Dia jadi teringat dengan Jarong, yang diakui Narata sebagai kemenakannya. Wanita ayu itu menatap Pendekar Pulau Neraka lekat-lekat

“Bagaimana kau bisa bertemu Paman Jawala, dan kemudian diakui sebagai kemenakannya?” tanya Ratu Nyai Langas lagi.

Bayu menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Dimulai dari pertemuannya dengan Bokor. Juga diceritakan tentang surat penting yang khusus disampaikan untuk penguasa tunggal Kerajaan Langkat ini. Demikian pula pertemuannya dengan Paman Jawala dan Paman Rahseta, serta orang-orang berbaju serba hitam yang kata Paman Jawala adalah kelompok pemberontak.

“Memang, aku sudah mendengar kalau adanya sekelompok orang yang hendak berbuat makar. Tapi, aku tidak mengetahui kalau beberapa pembesar ada yang terlibat dalam rencana itu. Terlebih lagi, apabila pemberontakan itu dikendalikan Kakang Narata. Apa kau punya bukti kuat, Bayu?” lembut dan tenang sekail nada suara Ratu Nyai Langas.

“Untuk saat ini, memang belum ada bukti yang cukup, Gusti Ratu,” sahut Bayu.

“Lalu, mengapa kau begitu berani masuk ke keputren secara diam-diam, dan mengatakan semua ini padaku?” tanya Ratu Nyai Langas lagi.

“Entahlah, Gusti Ratu. Hamba sendiri tidak tahu, mengapa tiba-tiba saja mempunyai pikiran seperti itu,” sahut Bayu.

Pendekar Pulau Neraka memang tidak tahu, mengapa sampai berani menemui Ratu Nyai Langas secara demikian. Padahal, belum ada bukti kuat untuk menyeret Narata ke pengadilan kerajaan atas tuduhan hendak melakukan makar. Namun Bayu yakin betul kalau Jarong yang diakui Narata sebagai kemenakan adalah pemimpin pemberontak yang bermarkas di Gunung Landaka. Beberapa kejadian yang dialaminya memang sudah membuat Pendekar Pulau Neraka yakin. Terlebih lagi, dua orang yang mencoba membunuhnya semalam sudah mengakui kalau mereka mendapat perintah dari Jarong.

Dan memang, Bayu belum menceritakan kejadian semalam pada wanita cantik penguasa tunggal Kerajaan Langkat ini. Pendekar Pulau Neraka belum ingin mengatakan hal itu, kecuali Paman Jawala sendiri yang mengatakannya.

“Bayu...,” ujar Ratu Nyai Langas setelah terdiam beberapa saat

“Hamba, Gusti Ratu,” sahut Bayu seraya memberi sembah dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

“Bukannya aku tidak mau mempercayai semua yang kau katakan. Tapi, aku inginkan bukti yang cukup, kalau memang benar Kakang Narata mempunyai maksud buruk padaku,” tegas Ratu Nyai Langas.

“Hamba, Gusti Ratu.”

Meskipun kata-kata Ratu Nyai Langas tidak begitu jelas, namun maksudnya sudah bisa dipahami. Secara tidak langsung, wanita cantik ini meminta Pendekar Pulau Neraka untuk menyelidiki kebenaran ceritanya. Dan Bayu memang tidak punya jawaban lain lagi, kecuali menyanggupinya. Bagi Pendekar Pulau Neraka, sekali sudah terjun, tidak akan ditinggalkan begitu saja sebelum tuntas. Terutama sekali, sebenarnya Nyai Ratu Langas meminta Bayu menyelidiki Jarong. Dan itu dikatakan dengan terus terang.

Dan sekarang, mau tak mau dia sudah terlibat dalam kemelut yang melibatkan orang-orang berdarah biru di Kerajaan Langkat ini.


***

Kaki Bayu terayun perlahan-lahan, melintasi jalan berdebu. Sementara senja semakin jauh merayap turun. Matahari tidak lagi terasa terik seperti tengah hari tadi, membuat suasana terasa begitu indah dinikmati Namun keindahan alam ini tidak bisa dinikmati Pendekar Pulau Neraka. Otaknya terus berputar memikirkan kata-kata Ratu Nyai Langas yang baru ditemuinya tadi.

“Aku merasakan kalau Ratu Nyai Langas seperti tidak mempedulikan keadaan ini,” gumam Bayu perlahan, berbicara pada dirinya sendiri.

Memang, Bayu merasakan kalau sikap Ratu Nyai Langas begitu tenang. Bahkan terasa sekali ketidakpeduliannya terhadap masalah yang sedang terjadi di sekelilingnya. Bayu sama sekali tidak melihat ada kekhawatiran pada diri wanita penguasa Kerajaan Langkat yang tengah terancam ini.

“Berhenti kau, Bayu...!”

“Eh...?!” Bayu terkejut ketika tiba-tiba terdengar bentakan keras dari belakang.

Pendekar Pulau Neraka memutar tubuhnya, berbalik. Keningnya langsung berkerut, dan matanya agak menyipit begitu melihat seorang pemuda berbaju putih longgar yang didampingi sekitar dua puluh orang laki-laki berbaju hitam dan bersenjata golok.

Pandangan Bayu beredar ke sekeliling. Sungguh tidak disadari kalau dirinya sudah begitu jauh meninggalkan perbatasan kota kerajaan. Dan kini tidak terlihat lagi bangunan rumah. Di sekelilingnya, yang terlihat hanya pepohonan dan semak belukar saja. Agak jauh di belakang orang-orang berbaju hitam itu, terlihat bangunan batu sebagai tanda dari perbatasan kota. Di sana tampak sekitar sepuluh orang berpakaian prajurit. Keberadaan prajurit yang pasti bisa melihat ke tempat ini, membuat kening Bayu jadi berkerenyut. Karena, para prajurit itu seperti hanya memandangi saja tanpa berbuat apa-apa.

Trek!

Jarong menjentikkan ujung jarinya. Seketika itu juga, orang-orang berpakaian serba hitam berlompatan. Mereka langsung mengepung Pendekar Pulau Neraka. Sedangkan Bayu hanya melirik merayapi orang-orang yang sudah mengepungnya dari segala penjuru. Mereka semua sudah mencabut senjata masing-masing, sehingga sinar keperakan berkelebatan tertimpa rona jingga sinar matahari. Golok mereka kini telah melintang di depan dada.

“Kau sudah terlalu banyak ikut campur, Bayu,” desis Jarong Suaranya dingin agak menggetarkan.

“Hm...,” Bayu hanya menanggapi dengan gumaman saja.

“Kali ini aku tidak akan sungkan-sungkan lagi, kecuali bila kau serahkan selongsong bambu itu padaku,” ancam Jarong. Nada suaranya tetap dingin menggetarkan.

“Aku tidak mengerti, apa yang kau inginkan, Jarong,” ujar Bayu kalem. “Lagi pula siapa kau sebenarnya?”

“Ha ha ha...! Bokor sudah tewas. Tidak ada lagi orang yang dekat dengannya, selain kau, Bayu. Sebaiknya serahkan saja benda itu padaku, jika masih ingin menikmati indahnya matahari besok,” ujar Jarong tanpa mempedulikan pertanyaan Bayu.

“Seandainya aku memiliki yang kau inginkan, tidak bakalan kuserahkan padamu, Jarong,” tegas Bayu agak mendesis.

“Keparat..!” geram Jarong, langsung memuncak amarahnya mendengar kata-kata Pendekar Pulau Neraka.

Meskipun diucapkan tenang, namun bagi Jarong merupakan suatu tantangan yang tidak bisa dianggap remeh. Sementara Bayu terus berputar otaknya, dan mencari pemikiran tersendiri.

Untuk beberapa saat suasana di tempat itu demikian sunyi. Hanya desiran angin saja yang terdengar. Perlahan Pendekar Pulau Neraka meng-geser kakinya ke kanan beberapa tindak, dan sedikit menyunggingkan senyum. Tepat ketika Jarong mem-beri satu isyarat dengan ujung jarinya, seketika itu juga Bayu melesat cepat. Dan....

***

ENAM

“Hiyaaa...!”

Bayu yang merasa tidak ada pilihan lagi, seketika itu juga menerjang, mendahului menyerang orang-orang yang sudah rapat mengepungnya. Gerakan Pendekar Pulau Neraka yang begitu cepat dan tidak terduga, membuat mereka terperanjat setengah mati. Dan sebelum ada yang bisa menyadari, mendadak saja terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi.

Tampak tiga orang terpental ke belakang disertai jeritan panjang melengking tinggi. Darah menyembur deras dari tubuh ketiga orang berbaju serba hitam itu. Bukan hanya orang-orang berbaju serba hitam saja yang terkejut. Bahkan Jarong yang memiliki tingkat kepandaian tinggi, juga terperanjat melihat kecepatan gerak Pendekar Pulau Neraka.

“Setan keparat..!” desis Jarong geram.

Dan sebelum laki-laki kurus itu sempat melakukan sesuatu, Bayu sudah kembali bergerak cepat. Dihajarnya orang-orang berbaju serba hitam yang masih diliputi keterkejutan yang amat sangat. Sesaat kemudian, kembali terdengar jeritan panjang melengking tinggi yang saling susul.

“Jangan diam saja! Serang...! Bunuh keparat itu...!” teriak Jarong berang setengah mati.

Seruan pemuda bertubuh kurus kering itu membangkitkan kesadaran orang-orang berpakaian serba hitam. Seketika itu juga mereka berlompatan menyerang Pendekar Pulau Neraka yang baru saja hendak melancarkan serangan kembali setelah merobohkan tujuh orang hanya dua kali gebrakan.

Seketika itu juga beberapa golok berkelebat cepat mengincar tubuh Pendekar Pulau Neraka. Hal ini memang sudah diperhitungkan Bayu. Maka dengan cepat sekali tubuhnya melenting ke udara. Namun pada saat itu, Jarong berseru keras, mengalahkan teriakan-teriakan orang-orang berpakaian serba hitam.

“Panah...! Serang...!”

Sebelum seruan keras menggelegar itu lenyap dari pendengaran, mendadak saja dari balik gerumbul semak dan pepohonan meluncur anak-anak panah dari segala penjuru. Pada saat yang sama, orang-orang berpakaian serba hitam yang mengeroyok Pendekar Pulau Neraka berlompatan cepat ke belakang.

“Setan...!” umpat Bayu geram.

Cepat-cepat Pendekar Pulau Neraka memutar tubuhnya beberapa kali. Sementara, kedua tangannya berkelebat cepat, menyampok anak-anak panah yang berdesiran di sekitar tubuhnya.

“Yeaaah...!”

Beberapa batang anak panah rontok berguguran, tertebas tangan Pendekar Pulau Neraka. Dan sebagian lagi berhasil dielakkan dengan meliukkan tubuhnya. Namun, Bayu jadi gusar juga. Memang, panah-panah itu seperti tidak pernah habis, berdesir seperti hujan di sekitar tubuhnya.

“Ha ha ha...! Mampus kau sekarang, Bayu...!” Jarong tertawa terbahak-bahak melihat Pendekar Pulau Neraka kewalahan menghindari serbuan anak-anak panah.

Sementara itu, Bayu memang benar-benar kerepotan menghadapi serbuan anak panah yang datang bagaikan hujan itu. Sama sekali kesempatan untuk menarik napas barang sejenak saja tidak dimilikinya. Bahkan untuk menjejakkan kakinya di tanah saja, kesempatan yang dimiliki tidak begitu banyak. Baru saja kakinya dijejakkan, Pendekar Pulau Neraka harus kembali melesat ke udara menghindari serbuan anak-anak panah.

“Phuih! Bisa habis napasku kalau begini terus,” dengus Bayu kesal.

Pendekar Pulau Neraka berpikir keras, mencari jalan keluar dari serbuan anak panah ini. Dan bibirnya jadi tersenyum setelah mengetahui, arah datangnya anak panah yang bagaikan hujan ini.

“Yeaaah...!”

Mendadak saja Pendekar Pulau Neraka mengecutkan tangannya cepat bagai kilat. Dan memang, beberapa anak panah berhasil ditangkap, dengan sekali kebutan tangannya saja. Lalu secepat itu pula tangannya dikibaskan, untuk melepaskan panah-panah yang berhasil ditangkap tadi.

Wus...!

Ada sekitar sepuluh batang anak panah melesat balik dengan cepat, melebihi kecepatan datangnya tadi. Tak berapa lama kemudian, terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi disusul berjatuhannya tubuh-tubuh yang bersembunyi di balik semak dan di atas kerimbunan pepohonan.

“Hiya! Hiyaaa...!”

Bagaikan kilat, Pendekar Pulau Neraka kembali menyambar panah-panah yang meluruk deras ke arahnya. Dan secepat itu pula panah-panah itu kembali dilepaskan. Kembali terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi. Tubuh-tubuh berbaju hitam pun kembali berjatuhan oleh panah-panah yang kini tertancap di tubuh.

“Keparat..!” geram Jarong yang menyaksikan anak buahnya bergelimpangan tak bernyawa lagi.

Saat hujan anak panah berhenti, Bayu menjejakkan kakinya kembali ke tanah. Pendekar Pulau Neraka berdiri tegak, menatap tajam pemuda bertubuh kurus kering yang berada di belakang orang-orangnya.

“Kau hanya sia-sia saja mengganggu kehidupanku, Jarong,” ujar Bayu dengan suara dingin menggetarkan.

“Jangan besar kepala dulu, Bayu. Anak kecil pun bisa melakukan itu,” ejek Jarong, menutupi kegentaran yang mulai merambat hatinya setelah melihat kedigdayaan Pendekar Pulau Neraka.

“Berapa banyak lagi anak buahmu, Jarong? Keluarkan semua, biar lebih kunikmati pesta pembantaian mereka,” kembali Bayu memanasi pemuda kurus kering itu.

“Kubunuh kau, Setan Keparat..!” geram Jarong memuncak amarahnya.

Meskipun geram bukan main, namun Jarong tidak juga bertindak. Rupanya pemuda bertubuh kurus kering itu harus berpikir seribu kali untuk menghadapi Pendekar Pulau Neraka. Sudah beberapa kali mereka bertemu, dan hanya kepahitan saja yang didapatkannya. Dia sudah kehilangan begitu banyak anak buah, sedangkan Bayu masih tetap tegar, tak kurang satu apa pun juga.

“Tunggulah, Bayu. Kematianmu pasti akan cepat datangnya,” desis Jarong mengancam.

Setelah berkata demikian, pemuda kurus kering itu segera memerintahkan orang-orangnya untuk meninggalkan tempat ini. Sementara, Jarong pun segera melesat pergi cepat sekali. Bayu sama sekali tidak mengejar, tapi malah memandang ke arah para prajurit yang tetap berada di dekat gerbang perbatasan kota. Bahkan tampaknya jumlah mereka bertambah. Bayu kemudian mengayunkan kakinya mendekati para prajurit itu.

***

Langkah Bayu terhenti sekitar dua tombak di depan para prajurit yang seperti menghadangnya. Di antara para prajurit itu, terlihat seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap. Dia duduk di atas punggung seekor kuda yang tegap dan berotot Bayu mengenalinya sebagai Panglima Narasoma.

“Kau dilarang menginjakkan kaki kembali di tanah Kerajaan Langkat, Anak Muda,” tegas Panglima Narasoma langsung, dengan suara lantang.

“Kenapa?” tanya Bayu agak terkejut juga mendengar larangan yang tanpa basa-basi lagi.

“Kau tidak perlu bertanya alasannya, Anak Muda. Yang jelas, kedatanganmu ke sini sudah menimbul-kan kekacauan dan keresahan,” sahut Panglima Narasoma.

“Hm...,” gumam Bayu pelan, sementara matanya agak menyipit.

Pendekar Pulau Neraka benar-benar tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja dilarang memasuki Kotaraja Langkat kembali. Bahkan yang langsung melarangnya adalah seorang panglima utama yang sangat berpengaruh di kalangan prajurit dan pembesar-pembesar kerajaan. Bayu semakin yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres di lingkungan istana ini.

“Paman Panglima! Boleh aku tahu, siapa yang memerintahkannya?” tanya Bayu ingin tahu.

“Gusti Narata,” sahut Panglima Narasoma tegas.

Kembali Bayu menggumam pelan, tapi kini bibirnya tersenyum. Sudah bisa ditebak, kenapa kakak sepupu Ratu Nyai Langas melarangnya kembali memasuki kota. Dan itu berarti, kehadirannya di Kerajaan Langkat ini merupakan ancaman tersendiri bagi kelancaran niat jahat Narata.

“Baiklah. Aku akan meninggalkan kerajaan ini setelah berpamitan pada Paman Jawala,” ujar Bayu menyanggupi setelah agak lama berdiam diri.

“Tidak perlu,” sahut Panglima Narasoma.
“Tidak perlu...? Apa maksudmu?”

“Tidak ada yang bisa kau tanyakan, Anak Muda. Aku hanya diperintahkan untuk satu kali saja memperingatkanmu. Dan jika membandel, maka aku diperbolehkan bertindak dengan caraku sendiri. Aku yakin kau mengerti maksudku.”

Bayu tidak membuka suara lagi. Dia tahu kalau perintah larangan ini hanya sepihak saja. Tapi, mendadak saja hatinya mencemaskan Paman Jawala. Semua orang di lingkungan istana sudah tahu kalau Bayu diakui Paman Jawala sebagai ke-menakannya. Dan inilah yang membuatnya jadi mencemaskan keselamatan laki-laki tua itu.

“Baiklah. Untuk sementara, aku harus mengalah,” bisik Bayu di dalam hati.

Tanpa berkata apa pun, Pendekar Pulau Neraka memutar tubuhnya dan berjalan perlahan menuju hutan yang menghadang di depannya kini. Sementara itu Panglima Narasoma sudah memberi aba-aba kepada para prajuritnya untuk meninggalkan perbatasan ini. Sedangkan Bayu sudah semakin jauh saja mendekati hutan.

***

Malam sudah demikian larut menyelimuti alam Kerajaan Langkat Angin yang berhembus kencang menyebarkan udara dingin, membuat semua orang lebih senang berlindung di bawah selimut. Sehingga, seluruh Kotaraja Kerajaan Langkat ini seperti sebuah kota mati saja layaknya. Tak ada seorang pun terlihat berkeliaran di jalan. Bahkan suara binatang malam pun tak terdengar bergerit seakan-akan enggan memperdengarkan suaranya.

Namun dalam kesunyian malam ini, ternyata ada juga sebuah bayangan yang berkelebat cepat menyelinap dari satu atap rumah ke rumah lainnya. Bayangan itu bergerak cepat sekali, sehingga sukar dikenali secara jelas. Terlebih lagi, malam ini langit tertutup awan tebal menghitam. Sehingga, cahaya bulan tak kuasa untuk menembusnya agar memberi sedikit cahayanya ke permukaan bumi.

Tap!

Bayangan itu berhenti tepat di atas sebuah atap rumah yang cukup besar, dikelilingi tembok batu yang tinggi dan kokoh. Beberapa orang berseragam prajurit terlihat di beberapa tempat, melindungi diri dari terpaan angin malam yang dingin menggigilkan.

Untuk sesaat, awan hitam yang menggumpal di langit sedikit tersibak sorot cahaya bulan. Namun sesaat kemudian, awan kembali menggumpal membuat seluruh alam menjadi pekat. Namun cahaya bulan yang sempat menyinari sesaat tadi, sudah cukup untuk bisa mengenali orang yang berada di atas atap itu. Dia seorang pemuda bertubuh tegap berisi, dan berparas tampan. Yang sangat dikenali adalah pakaiannya, karena terbuat dari kulit harimau. Pemuda itu memang Pendekar Pulau Neraka yang memiliki nama asli Bayu.

Pendekar Pulau Neraka sedikit menyipitkan matanya saat mendengar isak lirih dan tertahan, tepat di bawah atap ini. Sebentar pandangannya beredar ke sekeliling. Lalu....

“Hup!”

Ringan sekali, pemuda berbaju kulit harimau itu melompat turun dari atap. Dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kakinya mendarat tepat di depan pintu yang langsung menuju ke dalam. Perlahan Bayu membuka pintu itu, kemudian melangkah masuk hati-hati sekali. Ayunan langkahnya begitu ringan, dan tak bersuara sedikit pun juga. Pendekar Pulau Neraka memang menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf kesempurnaan.

Langkahnya terhenti setelah tiba di depan pintu yang tidak tertutup rapat. Sedikit cahaya pelita menerobos keluar, dengan sinarnya yang redup. Suara isak lirih yang tertahan itu jelas datang dari balik pintu ini. Dan Pendekar Pulau Neraka tahu kalau di balik pintu ini merupakan sebuah kamar seseorang yang dikenalnya. Perlahan-lahan pintu itu didorongnya.

Bayu tertegun begitu melihat seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun, tengah duduk di atas ranjang. Rambutnya terurai acak-acakan. Bahkan bajunya tidak karuan letaknya, sehingga menampakkan beberapa bagian tubuh yang berkulit putih dan halus sekali.

“Nilakandi...,” pelan sekali suara Bayu seraya melangkah mendekati

Pendekar Pulau Neraka memang sudah mengenalnya. Dan panggilannya tadi cukup membuat gadis itu terkejut. Namun begitu mengenali orang yang memanggilnya, gadis yang bernama Nilakandi itu beranjak bangkit dari pembaringan. Dia menghambur, memeluk Bayu. Saat itu juga, tangisnya meledak dalam dada Pendekar Pulau Neraka. Untuk beberapa saat lamanya, Bayu tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk bersuara saja, tenggorokannya seakan-akan tersumbat.

“Ada apa, Nilakandi?” tanya Bayu lembut, setelah tangis gadis itu sedikit reda.

“Ayah.... Ayah, Kakang...,” suara Nilakandi tersendat.

“Ada apa dengan Paman Jawala?” tanya Bayu.

Seketika itu juga, perasaan Bayu jadi tidak menentu. Pendekar Pulau Neraka merasa seakan-akan jantungnya berhenti berdetak. Bahkan seluruh aliran darah dalam tubuhnya, bagai terbalik mengalir. Berbagai macam dugaan dan perasaan, berkecamuk di hatinya.

“Katakan, Nilakandi. Apa yang terjadi terhadap Paman Jawala?” desak Bayu dengan nada suara agak tertahan.

Namun Nilakandi malah sukar menjawab. Kembali tangisnya pecah dalam pelukan Pendekar Pulau Neraka. Maka Bayu pun tak dapat lagi mendesak. Dia jadi kebingungan sendiri, menghadapi keadaan gadis ini. Perlahan-lahan pelukan gadis itu dilepaskan. Bayu membawanya duduk di tepi pembaringan yang acak-acakan.

Untuk beberapa saat, Bayu mendiamkan saja gadis itu untuk menguras air matanya. Dia sendiri tidak tahu, apa yang harus diperbuat untuk menenangkan gadis ini. Pendekar Pulau Neraka memang paling tidak mengerti untuk menghadapi seorang gadis yang tengah kacau perasaannya. Terlebih lagi kalau tengah menangis begini. Dia hanya bisa diam dan menunggu sampai tangis itu reda. Memang hanya itu yang bisa dilakukannya.

“Katakan, Nilakandi. Apa yang terjadi pada Paman Jawala?” tanya Bayu, setelah gadis itu mulai sedikit tenang. Dan isak tangisnya juga mulai mereda.

“Ayah..., Ayah tewas terbunuh,” sukar sekali Nilakandi menjawabnya.

“Apa...?!”

***

Bayu seperti tidak percaya kalau Paman Jawala tewas terbunuh. Namun ketidakpercayaannya luntur karena yang mengatakannya justru anak gadis Paman Jawala sendiri. Maka berita itu harus dipercayainya, meskipun ada perasaan tidak percaya.

“Kapan kejadiannya?” tanya Bayu setelah bisa menguasai dirinya kembali.

“Siang tadi,” sahut Nilakandi, masih dengan suara tersendat

Bayu termenung diam. Siang tadi dia berada dalam keputren, untuk berbicara pada Ratu Nyai Langas. Dan sekeluarnya dari sana, langsung menuju ke perbatasan dekat Hutan Landaka. Di sana Pendekar Pulau Neraka bertarung melawan orang-orang berbaju hitam yang langsung dipimpin oleh Jarong.

“Siapa yang melakukannya, Nilakandi?” tanya Bayu lagi.

Nilakandi hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah sekali. Ditatapnya dalam-dalam pemuda tampan di sampingnya ini. Bibirnya seakan-akan hendak mengatakan sesuatu, namun terasa sukar untuk bersuara sekecil apa pun juga. Saat itu, Bayu sama sekali tidak memperhatikan. Perasaan Pendekar Pulau Neraka saat ini tidak menentu sekali. Bahkan terasa sukar sekali membuka jalan pikirannya.

Untuk beberapa saat lamanya, tak ada yang berbicara lagi. Semua terdiam, sibuk bersama pikiran masing-masing. Sedangkan Bayu masih mereka-reka, siapa orang yang begitu tega membunuh Paman Jawala. Sedangkan, tidak mungkin Pendekar Pulau Neraka bertanya pada gadis ini, karena tampaknya Nilakandi tidak tahu pembunuh ayahnya.

“Nilakandi, apakah Paman Rahseta sudah tahu?” tanya Bayu yang kemudian teringat Rahseta.

“Sudah. Tapi..,” jawaban Nilakandi terputus.
“Tapi, kenapa?” desak Bayu.
“Paman Rahseta dipenjara.”
“Dipenjara...?! Kenapa...?” lagi-lagi Bayu tersentak kaget

“Aku tidak tahu pasti. Tapi katanya, Paman Rahseta merencanakan pemberontakan pada Ratu Nyai Langas,” Nilakandi mencoba menjelaskan.

“Siapa yang menangkapnya?” tanya Bayu lagi.

“Gusti Narata.”

Bayu mendesis kuat setelah mendengar kalau yang menangkap dan menjebloskan Paman Rahseta ke penjara adalah Narata, kakak misan dari Ratu Nyai Langas. Kembali Pendekar Pulau Neraka terdiam membisu. Maka suasana dalam kamar itu pun terasa sunyi sekali. Tak terdengar suara sedikit pun juga.

Hanya tarikan napas yang masih terdengar jelas, disertai isak tertahan yang sekali-sekali saja.

“Kau sudah melaporkan pada Ratu Nyai Langas?” tanya Bayu setelah terdiam agak lama juga.

“Sudah,” sahut Nilakandi.
“Lalu, apa tanggapannya?”
“Kanjeng Ratu Nyai Langas akan mencari pembunuhnya.”

Bayu hanya menarik napas dalam-dalam saja, kemudian menghembuskannya kuat-kuat. Bayu memang sudah menduga kalau Ratu Nyai Langas akan menjawab seperti itu. Hal inilah yang membuatnya jadi bertanya-tanya dalam hati. Dan yang pasti, Ratu Nyai Langas pasti mempunyai maksud tertentu. Hanya saja, Bayu belum bisa menebaknya.

***

TUJUH

Malam itu juga, Pendekar Pulau Neraka menyelinap ke dalam kediaman Narata. Tidak seperti tempat tinggal pembesar lainnya, tempat tinggal Narata mendapat pengawalan sangat ketat. Sebenarnya laki-laki tambun itu memang bukan pembesar biasa, tapi kakak sepupu Ratu Nyai Langas. Namun, jabatan yang dipegang Narata di Kerajaan Langkat ini memang penting sekali. Bahkan bisa dikatakan dialah yang mengendalikan jalannya roda pemerintahan.

“Hm...,” Bayu menggumam perlahan ketika melihat Narata melintas di dalam sebuah ruangan.

Dengan gerakan ringan sekali, Pendekar Pulau Neraka melompat, dan mendarat di samping jendela ruangan yang tampak terang. Bayu merapatkan punggungnya ke dinding bangunan besar dan megah ini. Sedikit kepalanya dijulurkan melihat keadaan dalam ruangan ini Tak ada seorang pun yang terlihat. Padahal, dia tadi melihat Narata berada di dalam ruangan ini.

“Apa yang kau cari, Bayu...?”

“Heh...?!” Bayu tersentak kaget ketika tiba-tiba saja terdengar suara orang menegurnya.

Dan sebelum wajahnya sempat dipalingkan ke arah suara itu, mendadak saja satu desiran halus terdengar. Bayu belum bisa melakukan sesuatu, tahu-tahu dadanya terasa dihantam keras sekali.

Dieghk!
“Akh...!”
Bruk!

Begitu kuatnya hantaman tadi, sehingga tembok batu yang berada di belakang Pendekar Pulau Neraka hancur berantakan. Tubuh pemuda berbaju kulit harimau itu terpental masuk ke dalam ruangan, bersama reruntuhan dinding batu ruangan ini. Beberapa kali Bayu bergelimpangan di atas lantai batu pualam yang licin, dingin, dan berkilat

Dan sebelum sempat bangkit berdiri, mendadak satu tendangan keras mendarat di tubuhnya. Kembali Pendekar Pulau Neraka memekik tertahan, dan tubuhnya terpental bergulingan di lantai. Namun sebelum berhenti kembali sebuah bayangan putih berkelebat cepat hendak menerjangnya. Namun kali ini, Bayu tidak akan memberikan tubuhnya menjadi sasaran kembali.

“Hup! Yeaaah...!”

Bagaikan kilat, Pendekar Pulau Neraka melentingkan tubuhnya ke udara, dan berputaran beberapa kali. Bayangan putih itu lewat di bawah tubuhnya. Dan dengan gerakan ringan, kakinya mendarat di lantai, tepat ketika bayangan putih itu berbalik.

“Jarong...,” desis Bayu mengenali orang yang menyerangnya.
“Kau terlalu berani datang ke sini, Pendekar Pulau Neraka,” desis Jarong dingin.
“Heh...! Dari mana kau tahu julukanku?” tanya Bayu terkejut

“Tidak sukar membongkar kedok busukmu, Pendekar Pulau Neraka,” tetap dingin nada suara Jarong. “Orang lain boleh gentar mendengar julukanmu. Tapi di sini, kau tidak akan mampu berbuat macam-macam.”

Pada saat itu, beberapa orang berpakaian serba hitam dan beberapa prajurit sudah memasuki ruangan ini Dan mereka langsung mengepung ruangan yang cukup besar dan bertata indah ini. Tak berapa lama kemudian, dari sebuah pintu muncul seorang laki-laki setengah baya bertubuh gembur dan berperut buncit seperti gentong. Bayu mengenalinya. Siapa lagi kalau bukan Narata.

Laki-laki bertubuh gemuk itu langsung mendekati Jarong, yang berada sekitar satu tombak di depan Bayu. Ditatapnya tajam-tajam Pendekar Pulau Neraka. Sedangkan yang dipandangi malah mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Bayu menyadari kemungkinan untuk bisa keluar dari ruangan ini kecil sekali. Jumlah pengepungnya begitu banyak dan rapat sekali. Bahkan terlihat, sekitar dua puluh prajurit sudah siap dengan busur terentang dan siap dilepaskan anak panahnya.

“Bagaimana dia bisa masuk ke sini, Jarong?” tanya Narata. Pandangan matanya tidak terlepas dari Pendekar Pulau Neraka.

“Aku memang sengaja menjebaknya,” sahut Jarong kalem. Tapi nada suaranya terdengar datar dan dingin sekali.

“Bukankah kau telah menempatkan penjagaan ketat?”

“Memang benar. Tapi, satu sisi kubiarkan lowong. Ternyata dia tidak sepandai yang kukira. Terlalu tolol untuk masuk dengan mudah,” sinis sekali suara Jarong.

Pendekar Pulau Neraka yang mendengarkan percakapan itu jadi menggeram. Dia memang melihat kalau penjagaan di tempat kediaman Narata ini ketat sekali. Dan hanya ada satu sisi yang kelihatannya tidak ketat dijaga. Namun sama sekali tidak disangka, kalau kedatangannya sudah ditunggu. Dan ini merupakan jebakan halus yang tidak terduga sama sekali.

Sementara itu, Narata melangkah tiga tindak mendekati Pendekar Pulau Neraka. Dipandanginya pemuda berbaju kulit harimau itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Seakan-akan sedang menyelidiki, atau mungkin menilai pemuda di depannya ini.

“Untuk apa kau menyelinap ke rumahku?” tanya Narata, dingin nada suaranya.
“Untuk meminta kembali Paman Rahseta,” tegas Bayu.
“Meminta? Kau pikir Rahseta ada di sini, heh...?!”

“Kau sudah membunuh Paman Jawala, dan menculik Paman Rahseta. Sekarang kedatanganku ke sini untuk membebaskannya, juga untuk membalas kematian Paman Jawala,” tetap tegas nada suara Bayu.

“Ha ha ha...!” Narata tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban tegas Pendekar Pulau Neraka.

Sedangkan Jarong hanya tersenyum tipis saja. Sementara Bayu sama sekali tidak bertindak. Kedatangannya ke tempat ini memang hendak membebaskan Rahseta, yang menurut Nilakandi diculik anak buah Narata. Dan setelah mendengar pengakuan Jarong yang katanya sengaja menjebak, Pendekar Pulau Neraka semakin yakin kalau memang merekalah yang membunuh Jawala dan menculik Rahseta.

“Kau terlalu gegabah menuduhku seperti itu, Anak Muda. Memang kuakui kalau di antara kami tidak pernah ada kecocokan. Tapi untuk melakukan perbuatan pengecut begitu, tidak pernah terlintas di dalam pikiranku,” tegas Narata setelah tawanya reda.

“Mungkin kau memang tidak melakukannya. Tapi kemenakan palsumu itu yang mungkin melakukan atas perintahmu,” sambut Bayu, tetap dingin nada suaranya.

“Bedebah...! Kau telah menghinaku, Anak Muda!” geram Narata.
“Biar aku yang tangani setan kurang ajar ini, Paman,” selak Jarong.

Dan sebelum Narata menjawab, Jarong sudah menjentikkan ujung jari tangannya. Seketika itu juga, empat orang berpakaian serba hitam sudah melompat maju. Mereka semua membawa rantai baja hitam yang cukup panjang, yang pada ujungnya terdapat bola-bola berduri. Mereka langsung memutar-mutar rantai baja hitam itu kuat-kuat, sehingga memperdengarkan suara deru angin yang keras.

“Hm...,” Bayu hanya menggumam kecil saja.
“Serang..!” teriak Jarong tiba-tiba.

“Hiyaaa...!”
“Yeaaah...!”
“Hup!”

***

Bagaikan kilat, Bayu melompat begitu empat orang berpakaian serba hitam melontarkan rantainya. Suara berdesir terdengar saat rantai-rantai berujung bola-bola berduri itu meluruk deras ke arah Pendekar Pulau Neraka. Tepat ketika ujung bola-bola berduri itu dekat, dengan cepat sekali Pendekar Pulau Neraka memutar tubuhnya. Dan tahu-tahu, empat ujung rantai itu sudah tergenggam dalam tangan Bayu.

Rrrt..!

Sekali sentak saja, empat orang berbaju hitam itu terpental ke udara. Pekikan-pekikan keras terdengar saling susul. Dan sebelum ada yang menyadari, Bayu sudah melesat sambil melontarkan beberapa pukulan keras bertenaga dalam tinggi.

“Yeaaah...!”

Kembali terdengar jeritan-jeritan panjang menyayat yang saling susul. Kemudian empat tubuh berbaju hitam terpental keras menghantam lantai. Tepat ketika Pendekar Pulau Neraka menjejakkan kakinya di lantai, mereka sudah tidak bergerak-gerak lagi. Mati. Dada mereka remuk, terhantam pukulan keras yang dilontarkan Bayu.

“Keparat..!” desis Jarong geram, melihat empat orang anak buahnya tewas hanya sekali gebrakan saja.

Sementara itu, Bayu sudah berdiri tegak dengan pandangan menusuk ke arah pemuda bertubuh kurus kering itu. Sedangkan Narata tampak sudah menyingkir. Untuk beberapa saat, suasana di dalam ruangan ini jadi sunyi senyap. Semua orang yang sebelumnya telah siap di sekeliling ruangan besar dan megah ini menjadi terpaku melihat kehebatan Pendekar Pulau Neraka. Hanya dalam sekali gebrak saja, pendekar digdaya itu sudah berhasil menewaskan empat orang sekaligus!

“Kenapa kalian diam saja...? Serang dan bunuh manusia keparat itu...!” teriak Jarong keras menggelegar.

Bagaikan lebah yang sarangnya dihantam kayu, orang-orang berpakaian serba hitam yang mengelilingi ruangan ini, serentak berlompatan sambil berteriak-teriak mengeroyok Pendekar Pulau Neraka. Dan hal ini memang sudah diperhitungkan. Maka tanpa membuang waktu lagi, pemuda berbaju kulit harimau itu segera melesat ke udara. Tubuhnya langsung meruruk deras ke arah orang-orang yang berada di depannya.

“Yeaaah...!”

Cepat sekali gerakan Bayu saat melontarkan beberapa pukulan keras beruntun bertenaga dalam tinggi ke arah orang-orang yang berada di depannya. Pendekar Pulau Neraka memang semakin geram saja. Tapi saat ini sangat kecil kemungkinan untuk mendekati pemuda kurus kering itu. Sedangkan untuk keluar dari keroyokan ini saja, Bayu masih terus mencari celah. Dan celah itu harus didapat sebelum tenaganya terkuras habis.

***

“Hiyaaa...!”

Mendadak saja Bayu berteriak keras menggelegar. Dan seketika itu juga, tubuhnya melesat cepat bagai kilat ke udara. Sementara tangan kanannya mengibas cepat ke atas, melepaskan Cakra Maut yang merupakan senjata andalannya. Sesaat kemudian, terdengar ledakan keras menggelegar ketika secercah cahaya keperakan melesat bagai kilat menghantam atap ruangan ini.

Dan secepat itu pula, Bayu melesat menerobos atap yang jebol berantakan. Begitu cepatnya, sehingga tak ada seorang pun yang bisa menyadari. Dan tahu-tahu, Pendekar Pulau Neraka sudah berdiri di atas atap bangunan besar dan megah ini. Pemuda berbaju kulit harimau itu mengangkat tangannya ke atas, maka senjata bersegi enam keperakan itu melesat ke arahnya dan langsung melekat di pergelangan tangan kanannya.

“Kejar...!” mendadak saja terdengar teriakan keras dari dalam ruangan itu.

Belum lagi suara teriakan itu menghilang, mendadak dari atap yang jebol berlompatan orang-orang berbaju serba hitam. Saat itu Bayu sempat meninggalkan tempat ini. Dan kini sudah kembali diserang orang-orang berbaju serba hitam.

“Yeaaah...!”

Sambil memiringkan tubuh ke kiri, Bayu mengibaskan tangan kanannya ke depan. Seketika, cakra bersegi enam berwarna keperakan di pergelangan tangan kanannya melesat cepat menghajar orang yang berada paling dekat

Cras!
“Aaa...!”

Satu jeritan panjang melengking tinggi terdengar menyayat. Sebelum jeritan itu menghilang dari pendengaran, seorang berbaju hitam terguling dengan leher sobek hampir buntung. Bayu cepat menarik tangan kanannya ke atas, maka secepat itu pula dihentakkan kembali. Cakra Maut yang baru saja tercabut dari leher yang menganga lebar kembali melesat dan menghajar seorang lagi. Untuk kedua kalinya, terdengar jeritan panjang melengking tinggi.

“Hiya! Hiya! Hiyaaa...!”

Bayu menggerak-gerakkan cepat tangan kanan-nya, diimbangi gerakan kaki yang lincah dan ringan. Senjata Cakra Maut yang menjadi andalan Pendekar Pulau Neraka bagai memiliki mata saja. Cakra Maut berkelebat cepat menyambar orang-orang berbaju serba hitam.

Jeritan-jeritan panjang melengking tinggi terdengar saling sambut, disusul bergelimpangannya tubuh-tubuh berbaju serba hitam berlumur darah dari atas atap. Hingga dalam waktu tidak berapa lama saja, Bayu sudah mendapat kesempatan untuk melarikan diri dari kepungan itu.

“Yeaaah...!”

Begitu mempunyai kesempatan, secepat itu pula tubuh Bayu melenting, meluruk deras ke bawah. Dan saat kakinya menjejak tanah berumput, secepat itu pula tubuhnya kembali melesat cepat melompati pagar tembok yang tinggi dan kokoh.

Slap!

Begitu sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pendekar Pulau Neraka. Dalam waktu sekejap mata saja, bayangan tubuhnya telah lenyap tertelan kegelapan malam. Bersamaan dengan menghilangnya Pendekar Pulau Neraka, dari dalam bangunan besar dan megah tempat kediaman Narata bermunculan orang-orang berbaju serba hitam. Sementara, Jarong dan Narata sudah mendahului mereka. Sedangkan para prajurit berseragam dan bersenjata lengkap berada paling akhir.

“Keparat..!” desis Jarong geram.

***

Malam terus merayap semakin larut. Udara pun terasa semakin bertambah dingin oleh hembusan angin kencang. Namun keadaan alam yang nampak tidak ramah ini tidak membuat lari Bayu terhenti. Pendekar Pulau Neraka terus berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf kesempurnaan. Begitu cepatnya, seolah-olah berlari di atas angin saja. Yang terlihat hanya kelebatan bayangannya saja yang mirip hantu.

Bayu baru menghentikan larinya setelah tiba di depan pintu sebuah rumah besar dan megah, dikelilingi pagar tembok batu yang cukup tinggi Sebentar napasnya ditarik dalam-dalam. Bibirnya sedikit meringis saat menarik napas tadi. Kemudian tangannya mengetuk pintu kayu jati tebal yang tertutup itu.

Tok, tok tok...!

Tak ada sahutan sama sekali. Bayu kembali mengetuk pintu lebih keras lagi, lalu sebentar menunggu. Dari balik pintu terdengar suara langkah terseret. Tak berapa lama kemudian, pintu kayu jati berukir ini terbuka sedikit. Dari dalam menyembul sebuah kepala seorang gadis yang wajahnya kusut dan rambutnya acak-acakan. Langsung pintu itu dibuka lebar-lebar begitu melihat siapa yang berdiri di depannya.

Bayu bergegas masuk dan menutup pintu kembali. Sebentar diintipnya keadaan di luar dari celah jendela. Kemudian napasnya ditarik dalam-dalam. Sambil menghembuskan napas panjang, Pendekar Pulau Neraka menghempaskan tubuhnya di kursi rotan yang ada di samping pintu ini. Sementara gadis itu hanya memandangi saja dengan kening berkerut dalam.

“Ada apa, Kakang? Heh...! Kenapa punggungmu...?”

Gadis itu tampak terkejut. Bayu meraba punggungnya yang terasa perih. Ujung jari tangannya merasakan adanya cairan hangat merembes dari punggungnya. Bayu kembali membawa tangannya ke depan.

“Darah...,” desis Bayu.

Sama sekali Pendekar Pulau Neraka tidak menyadari kalau punggungnya terluka. Bahkan sama sekali tidak tahu, kapan dan bagaimana punggungnya bisa terluka seperti ini. Bayu melirik gadis berparas cantik itu, yang bergegas ke belakang. Dan tak berapa lama kemudian sudah kembali lagi sambil membawa semangkuk besar air dan kain.

Tanpa berkata apa-apa, gadis itu memutar tubuh Pendekar Pulau Neraka. Dibersihkannya darah yang mengalir di punggung pemuda berbaju kulit harimau itu. Sedikit Bayu meringis saat merasakan kain yang basah menyentuh luka di punggungnya.

“Sakit..?” tanya gadis itu.

“'Tidak,” sahut Bayu seraya meringis. “Besar lukanya, Nilakandi?”

“Cukup panjang, tapi tidak dalam,” sahut gadis itu yang ternyata Nilakandi, putri Paman Jawala.

Bayu terpaksa membuka baju saat gadis itu hendak membalut luka di punggungnya. Kembali Bayu meringis sedikit. Dia mencoba mengingat-ingat pertarungan di tempat kediaman Narata tadi

“Hm.... Mungkin aku terluka sewaktu berada di atap...,” gumam Bayu menduga-duga dalam hati.

“Sudah,” ujar Nilakandi setelah membalut luka di punggung Pendekar Pulau Neraka.

Bayu kembali mengenakan pakaiannya yang terbuat dari kulit harimau. Sementara Nilakandi membereskan peralatan yang digunakan untuk membalut luka di punggung Pendekar Pulau Neraka.

“Tadi Panglima Narasoma ke sini. Dia menanyakanmu,” Nilakandi memberi tahu.
“Apa jawabmu” tanya Bayu.
“Kubilang kau sudah pergi,” sahut Nilakandi.
“Hm..., ada apa dia mencariku...?” gumam Bayu seperti bertanya untuk dirinya sendiri.

“Panglima Narasoma tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung pergi begitu kukatakan kau sudah pergi,” kata Nilakandi lagi.

Bayu hanya diam saja.

“Kakang, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu,” kata Nilakandi lagi.
Bayu mengangkat kepalanya, memandang gadis itu.
“Apa?”

Nilakandi mengeluarkan selongsong bambu yang terikat pita biru dari balik lipatan bajunya. Sebentar Bayu memandangi, kemudian menerima selongsong bambu itu. Sesaat, diperhatikannya selongsong bambu itu, kemudian dibuka tutupnya. Dari dalamnya dikeluarkannya beberapa lembar daun lontar yang penuh coretan tulisan.

Kening Pendekar Pulau Neraka itu berkerut saat membaca tulisan yang tertera di atas selembar daun lontar. Sebentar dipandangnya Nilakandi, kemudian kembali menekuri tulisan-tulisan yang tertera di atas lembaran daun lontar itu.

“Dari mana kau dapatkan ini?” tanya Bayu.
“Aku menemukannya di Keputren Ratu Nyai Lengas, ketika sedang bermain di sana,” sahut Nilakandi.

“Kau tahu apa isinya?” tanya Bayu lagi seraya memasukkan daun lontar itu ke dalam selongsong bambu, kemudian menutup kembali ujungnya.

Nilakandi hanya mengangguk saja, menjawab pertanyaan Pendekar Pulau Neraka itu. Gadis itu memang sudah melihat isi surat itu, makanya kini diberikan pada Bayu. Dia sendiri terkejut setelah mengetahui kalau tulisan yang tertera pada lembaran daun lontar berisi nama-nama pembesar yang berkomplot untuk menggulingkan tahta Ratu Nyai Langas. Bahkan semua pemberontakan tertulis di sana. Yang lebih mengejutkan lagi, tulisan itu dibuat oleh Narata!

Yang membuat Bayu bertanya-tanya, untuk apa Narata menulis semua ini? Dan kenapa sampai berada di tangan Bokor? Memang, surat ini bisa menjadi bukti kuat untuk menggulung komplotan pemberontak itu. Dan di dalam surat ini, juga tertulis kalau penggulingan kekuasaan dilaksanakan tepat saat Ratu Nyai Langas melakukan pemujaan di sebuah puri yang terletak di tengah Hutan Landaka. Dan itu berarti tinggal tiga hari lagi. Sementara, seluruh Hutan Landaka kini sudah dikuasai oleh kaum pemberontak.

“Aku harus segera memberi tahu Ratu Nyai Langas,” gumam Bayu agak mendesis.
“Memang lebih cepat lebih baik, Kakang,” sambut Nilakandi.
“Kau diam saja di sini, Nilakandi. Jangan ke mana-mana,” tegas Bayu seraya bangkit berdiri.

“Tapi, punggungmu...”
“Hanya luka kecil, tidak apa-apa.”

Nilakandi tidak bisa mencegah lagi, karena cepat sekali Pendekar Pulau Neraka melompat ke pintu. Dan secepat itu pula pintu dibuka, lalu tubuhnya sudah lenyap tak terlihat lagi. Nilakandi bergegas menutup pintu lagi. Dia sempat melongok ke luar, tapi Pendekar Pulau Neraka tidak ada lagi di sana.

“Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada Kakang Bayu...,” desah Nilakandi.

***

DELAPAN

“Heh...!”

Ratu Nyai Langas terperanjat ketika tiba-tiba saja Pendekar Pulau Neraka muncul di dalam kamarnya. Bahkan hampir saja berteriak. Untung Bayu segera memintanya untuk tenang. Wanita cantik itu menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan baju tipis, hingga menampakkan keindahan bentuk tubuhnya.

“Bagaimana kau bisa berada di kamarku?” tanya Ratu Nyai Langas bernada kurang senang.

“Maaf, Gusti Ratu. Hamba terpaksa melumpuhkan dua orang penjaga,” sahut Bayu.

“Apa maksudmu datang malam-malam begini?”

“Hamba akan menyerahkan bukti yang Gusti Ratu minta,” sahut Bayu.

Pendekar Pulau Neraka menyodorkan selongsong bambu dengan sikap penuh hormat Ratu Nyai Langas memandanginya sejenak, kemudian menerima selongsong bambu itu. Sebentar dipandanginya Bayu, kemudian tutup selongsong bambu itu dibuka. Dari dalamnya dikeluarkan beberapa daun lontar yang bertuliskan sesuatu yang mengejutkan.

Kening wanita itu berkerut saat membaca tulisan yang tertera pada daun lontar itu. Kembali dipandangnya Bayu yang berdiri saja tidak jauh di depannya. Hanya sedikit raut wajahnya berubah. Sedangkan Bayu hanya memperhatikan saja. Pendekar Pulau Neraka kagum juga dengan ketabahan yang dimiliki wanita cantik ini. Sama sekali dia tidak kelihatan terkejut, meskipun raut wajahnya tadi sempat berubah sedikit

“Dari mana kau dapatkan ini?” tanya Ratu Nyai Langas, sambil menggulung kembali daun lontar dan memasukkan ke dalam selongsong bambu.

Tanpa diminta dua kali, Bayu kemudian menuturkan beberapa kejadian yang dialami hingga mendapatkan selongsong bambu ini dari Nilakandi, putri tunggal Paman Jawala. Juga, diceritakan tentang Bokor yang membawa surat itu, dan Jarong yang menginginkan surat-surat itu kembali.

“Ini memang merupakan bukti kuat, Bayu. Tapi aku tidak akan mengambil tindakan apa-apa, sampai tiba saatnya nanti,” tegas Ratu Nyai Langas, setelah Bayu menceritakan semuanya.

“Maksud, Gusti Ratu...?” tanya Bayu tidak mengerti.

“Biarkan mereka bertindak sesuai rencana,” sahut Ratu Nyai Langas diiringi sunggingan senyuman manis.

“Gusti Ratu akan membiarkan mereka merebut tahta...?” tanya Bayu semakin tidak mengerti.

Ratu Nyai Langas tidak menjawab, tapi malah tersenyum saja. Perlahan wanita cantik penguasa tunggal Kerajaan Langkat ini beranjak bangkit dari pembaringan. Sepertinya dia sudah lupa dengan keadaan tubuhnya yang hanya tertutup baju tipis. Melihat hal ini Bayu hanya bisa menelan ludah saja. Biar bagaimanapun Pendekar Pulau Neraka tidak akan bertindak kurang ajar. Karena sekali berbuat kotor, maka wibawanya akan turun di mata sang Ratu.

Dengan ayunan langkah gemulai, Ratu Nyai Langas menghampiri meja kecil, lalu mengambil dua gelas perak. Dan dari sebuah guci perak, dituangkannya arak ke dalam gelas itu, lalu dibawanya pada Bayu. Satu gelas diserahkan pada pemuda itu, dan satu gelas lagi untuknya sendiri.

“Kau bukan rakyat Kerajaan Langkat ini, Bayu. Tapi mengapa begitu gigih mempertahankan keutuhan negeri ini?” tanya Ratu Nyai Langas ingin tahu.

“Hamba akan membela siapa saja yang berada di jalur kebenaran, Gusti Ratu. Sama sekali hamba tidak memandang pangkat dan derajat seseorang,” sahut Bayu kalem.

“Aku punya sesuatu untukmu, Bayu,” kata Ratu Nyai Langas seraya mengambil gulungan surat yang sama persis dengan yang dibawa Bayu.

Pendekar Pulau Neraka itu menerima, dan membacanya dengan cepat. Keningnya langsung berkerut. Surat ini datang dari Narata, dan meminta wanita ini untuk menyerahkan tahtanya. Bayu menatap Ratu Nyai Langas, sedangkan yang ditatap kelihatan tenang.

“Gusti Ratu... hamba juga akan menyampaikan sesuatu,” kata Bayu.

“'Tentang apa?”

“Jarong.”

“Hm....”

“Sebenarnya Jarong seorang tokoh persilatan yang disewa Narata untuk membantunya dalam pemberontakan ini.”

“Sudah kuduga...,” gumam Ratu Nyai Langas.

Bayu benar-benar kagum pada wanita ini. Meskipun dalam keadaan gawat, tetap saja tenang.

Ratu Nyai Langas hanya tersenyum saja mendengar jawaban Bayu yang lugas itu. Tidak perlu dijelaskan lagi kalau Pendekar Pulau Neraka sama sekali tidak memandang wanita ini sebagai ratu yang menguasai seluruh wilayah Kerajaan Langkat. Bagi Bayu sendiri, semua manusia sama. Hanya pangkat dan derajat saja yang membedakannya di dunia ini. Dan Bayu sama sekali tidak pernah memandang hal semacam itu.

“Bayu. Jika kau memang ingin menolong kejayaan Kerajaan Langkat, aku minta padamu untuk menjadi pengawal pribadiku,” pinta Ratu Nyai Langas.

“'Terima kasih, Gusti Ratu. Tapi...,” ucapan Bayu terputus.

“Aku mengerti, Bayu. Bukan untuk selamanya kau menjadi pengawal pribadiku. Tapi hanya untuk tiga hari ini saja,” ujar Ratu Nyai Langas, bisa memahami keberatan Pendekar Pulau Neraka.

“Maksud, Gusti Ratu...?” Bayu masih belum mengerti.

“Mereka akan kubiarkan melaksanakan rencananya. Aku yakin kalau tujuan mereka yang utama adalah melenyapkanku, sebelum mengambil alih singgasana. Dan pasti mereka sudah menunggu di Hutan Landaka. Jadi, tidak perlu kita menggulung mereka di kotaraja ini, tapi cukup di dalam hutan sana,” Ratu Nyai Langas menjelaskan rencana yang terlintas di kepalanya.

“Jumlah mereka sangat banyak, Gusti. Dan kalau Gusti Ratu membawa pengawal berjumlah banyak, akan membuat curiga. Bisa-bisa mereka langsung menguasai istana ini,” Bayu mengemukakan pendapatnya.

“Aku mempunyai angkatan perang ketiga, yang langsung berada di bawah komando ku. Aku juga sudah tahu, kalau sebagian prajurit sudah berpihak pada mereka. Tapi itu memang prajurit mereka sendiri. Jadi, tidak perlu khawatir.”

“Gusti Ratu akan mengerahkan seluruh kekuatan ke Hutan Landaka?”

“Tidak, tapi hanya sebagian saja. Dan itu juga tidak secara terang-terangan, Bayu. Mereka akan berangkat terlebih dahulu, namun tidak mengenakan seragam prajurit.”

Bayu mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda bisa memahami maksud Ratu Nyai Langas. Dalam hati, Pendekar Pulau Neraka memuji kecerdikan wanita berparas cantik ini. Juga, ketenangannya dalam menghadapi kemelut. Bayu benar-benar memuji secara turus, meskipun hanya diucapkan dalam hati. Memang dalam menghadapi sesuatu, sangat dibutuhkan ketenangan. Dan ketenangan itu dimiliki Ratu Nyai Langas.

***

Bayu berdiri tegak di atas bangunan tua yang tersusun dari batu, membentuk sebuah candi. Dan memang, bangunan ini digunakan untuk memuja dewa. Hanya keluarga istana saja yang boleh menggunakan candi di tengah Hutan Landaka ini. Pendekar Pulau Neraka berpaling saat merasakan ada seseorang berdiri agak ke belakang di samping kanannya.

Bayu memberi senyum setelah mengetahui kalau Ratu Nyai Langas sudah berada di dekatnya. Di belakang wanita cantik ini berdiri seorang laki-laki tua mengenakan jubah warna kuning gading. Laki-laki yang sudah berusia lanjut itu, bernama Eyang Lanjaran. Seorang pertapa yang menghuni candi tua ini.

“Mereka sudah terlihat, Bayu?” tanya Ratu Nyai Langas.

“Tidak ada tanda-tandanya, Gusti Ratu,” sahut Bayu dengan sikap hormat

Pandangan Ratu Nyai Langas beredar ke sekeliling. Hanya ada beberapa prajurit saja yang menjaga di sekitar bangunan tua dari batu ini, serta sepuluh orang pelayan yang tampak sibuk di bagian belakangnya. Bayu sendiri masih diliputi keheranan, karena sejak tadi tidak melihat prajurit khusus yang dikatakan Ratu Nyai Langas. Hanya lima puluh prajurit saja yang terlihat di sekitar bangunan ini. Dan kedatangan mereka pun bersama-sama.

“Hamba khawatir rencana ini sudah diketahui mereka, Gusti Ratu,” kata Bayu mengemukakan perasaan khawatirnya.

“Kalaupun mengetahui, yang pasti ada dua tempat yang diserang. Di sini, atau mereka ke istana,” sahut Ratu Nyai Langas. Tetap terdengar tenang suaranya.

“Ada kemungkinan mereka menyerang istana, Gusti Ratu,” selak Eyang Lanjaran yang sejak tadi diam saja.

“Mereka akan berpikir dua kali untuk menyerang istana, Eyang. Aku yakin, jumlah mereka jauh lebih sedikit bila dibandingkan prajurit yang berada di istana,” bantah Ratu Nyai Langas.

“Lalu, bagaimana dengan yang ada di sini?” tanya Eyang Lanjaran.

“Di samping prajurit biasa yang datang bersamaku, ada sekitar lima ratus pasukan khusus yang hanya aku sendiri mengetahuinya. Tak ada seorang pun yang tahu, juga Kakang Narata,” sahut Ratu Nyai Langas menjelaskan lagi. “Maaf, Eyang. Aku terpaksa membentuk kekuatan khusus, dan mungkin ada gunanya sekarang ini.”

“Kau tidak perlu meminta maaf, Anakku. Tindakanmu tepat sekali. Mempersiapkan diri lebih penting daripada tidak sama sekali,” kata Epang Lamaran bijaksana.

“Terima kasih, Eyang.”
“Mereka datang...,” desis Bayu menyelak tiba-tiba.

Ratu Nyai Langas langsung memandang ke arah yang sama dengan pandangan Pendekar Pulau Neraka. Tampak di sebelah Utara, bergerak sekitar lima puluh orang menuju candi ini. Bukan hanya itu. Dari arah-arah lain juga terlihat orang-orang yang mengenakan baju serba hitam bergerak cepat ke arah tempat ini.

Baik Ratu Nyai Langas, maupun Bayu sudah menyadari kalau sudah terkepung dari empat jurusan. Dan jumlah mereka ada sekitar dua ratus orang. Namun perhatian Pendekar Pulau Neraka bukanlah pada orang-orang berbaju hitam itu, melainkan pada dua orang yang berjalan cepat dari arah Timur.

“Bagus.... Ternyata mereka tidak mengetahui kalau rencananya sudah terbaca,” ujar Ratu Nyai Langas dengan suara setengah bergumam.

“Bagaimana sekarang, Anakku?” tanya Eyang Lanjaran.

Ratu Nyai Langas tidak menjawab, dan hanya tersenyum seraya memandang Pendekar Pulau Neraka yang saat itu juga tengah menatap ke arah wanita cantik ini.

“Kau hadapi pemimpin mereka, Bayu. Jangan sampai mereka menjarah tempat suci ini,” tegas Ratu Nyai Langas.

Tanpa menjawab sedikit pun, Bayu segera melesat turun. Begitu ringan dan indah gerakannya. Dan tanpa memperdengarkan suara sedikit pun, Pendekar Pulau Neraka sudah berada di tanah. Secepat kakinya menjejak tanah, secepat itu pula melesat ke arah Timur, yang di sana terlihat Narata dan Jarong serta sekitar lima puluh orang berpakaian serba hitam bergerak menuju candi ini.

Begitu bayangan tubuh Pendekar Pulau Neraka lenyap ditelan kelebatan hutan, Ratu Nyai Langas mengambil sebuah benda bulat sebesar mata kucing dari balik sabuk yang membelit pinggangnya. Benda bulat berwarna merah itu, dilontarkan ke udara dengan hanya menjentikkan ujung jarinya sedikit saja. Dan begitu berada di angkasa, benda itu pecah memperdengarkan ledakan keras menggelegar bagaikan guntur di angkasa. Sebentar kemudian memercik bunga-bunga api yang beraneka ragam warnanya.

“Hm...,” Ratu Nyai Langas tersenyum.
“Apa yang kau lakukan tadi, Anakku?” tanya Eyang Lanjaran.
“Hanya memberi tanda saja, Eyang,” sahut Ratu Nyai Langas.

Setelah menjawab pertanyaan pertapa tua itu, Ratu Nyai Langas melangkah ringan meninggalkan atap depan bangunan candi ini. Eyang Lanjaran mengikuti saja tanpa mengucapkan sesuatu lagi. Sungguh tak pernah terpikirkan kalau tempat suci ini akan ternoda darah, dari orang-orang yang tengah diliputi nafsu keangkaramurkaan.

***

''Berhenti...!”

Narata dan Jarong terkejut ketika tiba-tiba terdengar bentakan keras menggelegar. Mereka segera menghentikan langkahnya diikuti lima puluh orang berpakaian serba hitam yang berjalan di belakang. Bentakan keras itu demikian jelas, dan mengejutkan sekali. Dan sebelum mereka semua lenyap dari rasa terkejutnya, kembali mereka dikejutkan munculnya seorang pemuda berbaju kulit harimau.

“Bayu...,” desis Jarong mengenali pemuda berbaju kulit harimau itu.

“Aku minta, sebaiknya kalian menyerah saja. Tempat ini sudah terkepung,” tegas Bayu namun bernada mengancam.

“Phuih! Bagaimana kau bisa tahu kami akan ke sini, Bayu?!” tanya Narata agak mendesis, menghilangkan rasa keterkejutannya.

“Ini...,” sahut bayu seraya menunjukkan selongsong bambu yang berisi beberapa lembar daun lontar.

“Sudah kuduga, Paman pasti salah mengambil surat,” ujar Jarong pelan, seperti berbicara pada diri sendiri.

Narata hanya diam saja. Sebentar matanya menatap tajam Pendekar Pulau Neraka, kemudian beralih pada pemuda kurus kering yang berdiri di sampingnya. Selongsong bambu yang berisi nama-nama pembesar yang berada di pihaknya itu memang miliknya.

Narata memang mengakui di dalam hati kalau telah salah memberi selongsong bambu itu pada anak buahnya. Meskipun tidak dikatakannya pada Jarong, tapi pemuda kurus kering itu sudah mengetahuinya. Itulah sebabnya mengapa Jarong harus melenyapkan Bokor sekaligus berniat merampas selongsong bambu itu kembali. Dan sekarang selongsong bambu itu sudah berada di tangan Pendekar Pulau Neraka. Dan yang pasti, semua rencana makar ini sudah diketahui.

“Tempat surat itu memang sama, dan kuletakkan di tempat yang sama pula. Aku tidak melihat lagi isinya ketika mengambil,” kata Narata perlahan, seakan-akan ingin mengakui kesalahannya. Kesalahan yang kecil, namun fatal akibatnya.

“Tidak ada jalan lain lagi, Paman. Kita harus melenyapkan manusia keparat bersama yang lainnya di hutan ini,” tegas Jarong. Suaranya terdengar dalam, agak tertahan.

Dan sebelum Narata menjawab, Jarong sudah berteriak kencang memerintahkan anak buahnya menyerang Pendekar Pulau Neraka. Tepat ketika orang-orang berbaju serba hitam itu meluruk deras hendak menyerang Bayu, mendadak saja dari atas pohon dan gerumbul semak berlompatan orang-orang berpakaian seragam prajurit. Mereka langsung menyerang orang-orang berpakaian serba hitam tanpa menunggu perintah lagi.

“Keparat..!” desis Jarong geram.
“Bagus...!” Bayu menyambut gembira kemunculan para prajurit itu. “Hiyaaat..!”

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Pulau Neraka langsung melompat menerjang Jarong yang tengah dihinggapi berbagai macam perasaan. Hatinya terkejut, marah, dan juga kebingungan melihat para prajurit bermunculan secara tiba-tiba dan langsung menyerang anak buahnya. Sebelum keterkejutannya lenyap, kembali pemuda kurus kering itu terperanjat begitu tiba-tiba saja Bayu sudah melompat menerjangnya.

“Uts...!”

Bergegas Jarong melompat ke samping seraya menjatuhkan tubuhnya ke tanah, menghindari serangan yang dilancarkan Pendekar Pulau Neraka. Beberapa kali dia bergulingan di tanah, sebelum cepat melompat bangkit berdiri.

“Yeaaah...!”

Sebelum pemuda bertubuh kurus kering itu bisa berdiri dengan tegak, Bayu sudah melompat menyerang kembali disertai lontaran dua pukulan beruntun bertenaga dalam tinggi. Sejenak Jarong terperangah kaget, namun cepat sekali mengegoskan tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk menghindari serangan.

Di lain pihak, pertempuran antara prajurit khusus Ratu Nyai Langas dengan orang-orang berpakaian serba hitam terus berlangsung sengit. Dan agak jauh dari tempat pertarungan itu, terlihat Narata hanya berdiri mengawasi saja. Dia tampak kebingungan, melihat anak buahnya terdesak menghadapi prajurit yang sama sekali tidak diketahuinya ini. Pakaian prajurit itu sangat lain sekali dengan pakaian prajurit yang berada di istana. Dan laki-laki gemuk itu tidak tahu, mereka ini prajurit-prajurit dari mana. Perhatian Narata beralih pada pertarungan antara Bayu dan Jarong.

“Hm... Kelihatannya Jarong bukan tandingan pemuda itu,” gumam Narata dalam hati.

Dan pengamatan Narata memang tepat. Saat itu Jarong sudah demikian terdesak sekali. Beberapa kali dia tersungkur jatuh terhantam pukulan keras Pendekar Pulau Neraka. Namun rupanya pemuda bertubuh kurus kering itu masih tetap bertahan. Dia selalu dapat bangkit dan langsung menyerang, meskipun selalu mudah dipatahkan Pendekar Pulau Neraka.

“Yeaaah...!”

Tiba-tiba saja Bayu cepat sekali melentingkan tubuhnya ke udara. Dan secepat itu pula tubuhnya meluruk deras sambil melontarkan satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi. Begitu cepatnya serangan yang dilancarkan Pendekar Pulau Neraka itu, sehingga Jarong tak dapat lagi menghindarinya.

Dieghk...!
“Aaakh...!”

Satu jeritan melengking tinggi terdengar. Bersamaan dengan itu, terlihat Jarong terpental beberapa tombak ke belakang. Dan sebelum tubuh pemuda kurus kering itu menyentuh tanah, Bayu sudah mengebutkan tangan kanannya ke depan.

Slap!

Seketika itu juga Cakra Maut yang selalu menempel di pergelangan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka melesat cepat bagaikan kilat. Begitu cepatnya, sehingga baik Jarong maupun Narata yang memperhatikan pertarungan tidak sempat lagi menyadari. Sehingga....

Crab...!
“Aaakh...!”

Jarong menjerit melengking tinggi. Cakra Maut keperakan bersegi enam, menancap dalam di dada pemuda kurus kering itu. Hanya sebentar saja Jarong bisa menggeliat, kemudian diam tak bernyawa lagi. Darah seketika muncrat keluar, begitu Cakra Maut terlepas dari dada pemuda bertubuh kurus kering itu. Senjata maut Pendekar Pulau Neraka itu kembali menempel di pergelangan tangan kanannya.

Bayu memutar tubuhnya menghadap Narata yang tampak terkejut melihat kematian Jarong. Laki-laki setengah baya bertubuh gemuk itu melangkah mundur beberapa tindak. Pada saat yang sama, lebih dari separuh orang-orang berpakaian serba hitam sudah bergelimpangan tak bernyawa lagi. Darah bersimbah menggenangi tanah berumput, menyebarkan aroma anyir terbawa angin.

“Sekarang giliranmu, Narata...,” desis Bayu dingin.
“Jangan... Jangan bunuh aku, Bayu. Biarkan aku hidup...,” terdengar bergetar suara Narata.

Wajah laki-laki setengah baya itu nampak pucat pasi, seperti tak teraliri darah. Seluruh tubuhnya menggeletar, basah oleh keringat yang mengucur deras. Bayu sendiri jadi tidak mengerti, mengapa sikap Narata seperti ini. Apakah Narata tidak mengerti ilmu olah kanuragan? Atau sudah gentar melihat kedigdayaan Pendekar Pulau Neraka? Perlahan-lahan Bayu melangkah mendekati.

“Biarkan dia hidup, Bayu...!”

Bayu berpaling saat mendengar seruan halus dari arah samping kanannya. Tampak Ratu Nyai Langas yang didampingi Eyang Lanjaran dan beberapa orang prajurit serta panglima perang menghampiri. Melihat penguasa tunggal Kerajaan Langkat itu, Narata langsung memburu dan berlutut di depannya. Mau tak mau Ratu Nyai Langas menghentikan langkahnya.

''Dinda Ratu.... Hamba mohon, biarkan hamba hidup...,” rengek Narata.

“Hm.... Mengapa kau begitu lemah, Kakang Narata? Bukankah kau selalu mencari kesempatan untuk menyingkirkan aku? Kau ingin menduduki tahta, bukan...?” agak sinis suara Ratu Nyai Langas.

Namun nada suaranya terdengar lembut sekali. Narata hanya diam saja. Kepalanya sama sekali tidak berani diangkat. Rasanya dia tidak sanggup membalas tatapan mata wanita cantik itu.

“Panglima Narasoma, tangkap dia,” perintah Ratu Nyai Langas.
“Hamba, Kanjeng Ratu.”

Panglima Narasoma segera menjalankan perintah itu. Bersama empat orang prajurit diringkusnya Narata yang sudah tidak memiliki daya lagi untuk memberi perlawanan. Panglima Narasoma membawa laki-laki setengah baya bertubuh gemuk itu, kembali ke Kotaraja Langkat Ratu Nyai Langas mengalihkan pandangannya ke arah Bayu berada. Namun....

“Heh...! Ke mana Bayu...?”

Bukan main terkejutnya Ratu Nyai Langas begitu melihat Bayu tidak berada lagi di tempatnya. Bahkan di sekitar tempat ini, tidak terlihat lagi Pendekar Pulau Neraka. Tak ada yang tahu, kapan dan ke mana pendekar digdaya itu pergi.

“Sudahlah, Anakku. Mungkin Bayu tidak menginginkan imbalan apa-apa darimu,” hibur Eyang Lanjaran, seakan-akan bisa membaca isi hati wanita itu.

Ratu Nyai Langas hanya menghembuskan napas saja. Bayu bukan hanya tampan, tapi sikap dan tindak tanduknya sudah membuat wanita itu tertarik. Ratu Nyai Langas merasakan ada sekeping hatinya yang hilang, saat Pendekar Pulau Neraka pergi.

“Hhh.... Semoga saja aku bisa bertemu lagi dengannya,” desah Ratu Nyai Langas dalam hati

“Mari kita kembali ke pertapaan. Ananda Ratu,” ajak Eyang Lanjaran.

Ratu Nyai Langas tidak mengeluarkan suara sedikit pun juga. Kemudian tubuhnya berputar, lalu melangkah mengikuti laki-laki tua pertapa itu.

“Apa yang akan kau lakukan pada Narata?” tanya Eyang Lanjaran.

“Tergantung dari putusan pengadilan nanti, Eyang. Mungkin dia dibuang dan tidak boleh kembali lagi,” sahut Ratu Nyai Langas perlahan.

“Satu keputusan yang bijaksana jika kau tidak menjatuhkan hukuman mati.”

Ratu Nyai Langas hanya tersenyum saja. Sama sekali Narata tidak ada dalam pikirannya. Seluruh pikiran dan sekeping hatinya kini tercurah pada seorang pemuda yang telah mencuri sekeping hatinya. Bahkan Ratu Nyai Langas sendiri tidak mengerti, apa yang sedang dirasakannya kini. Mungkinkah ini yang dinamakan cinta...? Entahlah. Yang jelas, dia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Hatinya hanya bisa berharap, agar dapat bertemu lagi dengan Pendekar Pulau Neraka.



SELESAI

Episode Berikutnya: SELIR RAJA