Dewi Asmara Darah

CERITA SILAT PENDEKAR PULAU NERAKA
Episode: Dewi Asmara Darah
Karya: Teguh S
Gambar: Tony G
Penerbit: Cintamedia, Jakarta



Cerita silat pendekar pulau neraka



SATU

Udara malam ini terasa begitu dingin. Saat itu angin bertiup kencang. Sedangkan langit tertutup awan hitam yang tebal menggumpal, membuat malam semakin bertambah kelam. Sedikit pun tak ada cahaya bintang maupun bulan yang mampu menerangi. Bahkan cahaya api pelita dari rumah-rumah penduduk Desa Cendana pun seakan-akan tak mampu mengurangi pekatnya malam ini.

Namun, dinginnya malam ini, tidak membuat seorang pemuda menghentikan ayunan kakinya. Dia berjalan perlahan-lahan sambil melipat kedua tangannya erat-erat di depan dada. Ayunan kakinya begitu teratur. Sedangkan kepalanya terus tertunduk, memperhatikan langkah-langkah kakinya sendiri yang perlahan-lahan. Perlahan kepalanya diangkat, matanya langsung merayapi sekitarnya yang begitu sunyi, tak seorang pun terlihat berada di luar.

Semua rumah yang berdiri berjajar di kiri dan kanan jalan tanah berdebu ini, tak ada satu pun yang pintunya terbuka. Begitu sunyinya, bahkan suara binatang malam pun tak terdengar. Sehingga detak jantung pemuda itu terdengar begitu keras. Dengan keredupan sinar matanya, terus dipandanginya rumah-rumah yang dilewatinya.

Namun, tiba-tiba saja ayunan langkahnya terhenti. Kelopak matanya jadi menyipit begitu di depannya tahu-tahu sudah berdiri seseorang bertubuh ramping, mengenakan baju ketat warna merah darah. Sehingga, menampakkan bentuk tubuh yang begitu indah, terbungkus kulit yang putih dan halus. Wanita itu melangkah menghampiri, disertai senyuman yang begitu manis di bibir. Sedangkan pemuda yang mengenakan baju sangat sederhana itu hanya diam saja sambil memandang. Seakan-akan dia tidak percaya kalau di tengah malam yang sunyi dan begitu dingin ini, masih ada seorang wanita di luar rumah.

"Kau pasti kedinginan...," tegur wanita itu dengan suara begitu lembut.

Sedangkan pemuda yang warna bajunya sudah pudar itu masih tetap diam memandangi. Dia masih belum percaya dengan penglihatannya sendiri. Sungguh sukar dipercaya ada seorang wanita cantik dengan tubuh begitu menggiurkan, berada di luar rumah pada malam-malam begini.

"Kenapa kau malam-malam berada di luar? Apa orang tuamu tidak mencari?" tegur pemuda itu, tidak dipedulikan teguran wanita itu.

"Aku hidup sendiri. Tidak ada orang tua, juga tidak ada sanak saudara," sahut wanita cantik itu, masih terdengar lembut suaranya.

"Kau penduduk desa ini?" tanya pemuda itu lagi.

"Iya," sahut wanita itu seraya mengangguk dan tersenyum manis. "Kau sendiri...?"

Pemuda itu tidak menjawab. Pandangannya langsung beredar berkeliling. Masih tetap sepi, tak ada seorang pun terlihat. Kemudian, kembali ditatapnya wanita cantik yang berdiri dekat di depannya.

"Kalau kau mencari rumah penginapan, tidak ada di desa ini," kata wanita itu, seakan-akan bisa menebak jalan pikiran pemuda di depannya.

"Aku biasa tidur di alam terbuka," kata pemuda itu perlahan.

"Kau bisa mati kaku kedinginan. Sebentar lagi pasti turun hujan lebat"

Pemuda itu hanya diam saja. "Sebaiknya bermalam saja di rumahku. Tidak terlalu bagus, tapi cukup hangat daripada berada di luar," wanita itu menawarkan jasa.

Kening pemuda itu jadi berkerut mendengar tawaran yang diucapkan begitu langsung. Tapi belum juga bisa berpikir lebih jauh lagi, tahu-tahu wanita itu sudah menarik tangannya. Pemuda itu segera diajaknya pergi dari jalan ini. Dia seperti kerbau dicucuk hidungnya, sehingga hanya mengikuti saja tanpa bicara sedikit pun juga. Mereka berjalan bergandengan tangan, seperti sepasang kekasih.

"Ke mana kau akan membawaku?" tanya pemuda itu.

"Ke rumahku."

"Boleh aku tahu namamu, Nisanak?" tanya pemuda itu lagi.

"Panggil saja Arini," sahut wanita itu menyebutkan namanya.

"Aku Anggara."

Mereka tidak bicara lagi, dan terus berjalan bergandengan tangan.


***


Anggara memandangi rumah kecil, tapi nampak begitu indah dan bersih. Sementara, Arini sudah membuka pintu rumah itu. Dipersilakannya pemuda itu masuk lebih dulu. Anggara memberi senyum, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah ini. Sedangkan Arini mengikuti dari belakang. Ditutupnya pintu itu kemudian dikunci kembali setelah berada di dalam.

Kening Anggara jadi berkerut, tidak menyangka kalau keadaan dalam rumah ini begitu indah. Sepertinya, dia berada di kamar seorang putri raja, atau putri-putri bangsawan. Begitu indahnya, hingga tanpa sadar Anggara berdecak kagum. Sementara, Arini sudah membaringkan tubuhnya di ranjang yang berukuran cukup besar, dan berada di tengah-tengah ruangan ini. Memang, rumah ini tidak memiliki ruangan lain lagi. Hanya ada satu ruangan ini saja.

"Kau tidak mengenalku, kenapa begitu baik mengajakku bermalam di sini, Arini?" tanya Anggara, polos.

"Karena aku membutuhkan seorang teman malam ini. Dan kebetulan hanya kau yang kutemui," sahut Arini kalem.

"Tempatmu indah sekali. Seperti kamar seorang putri bangsawan," puji Anggara.

Arini hanya tersenyum saja menerima pujian itu. Tubuhnya kemudian digeliatkan sedikit. Dan seperti disengaja, bagian belahan baju di dadanya dibiarkan tersibak. Sehingga, menampakkan pemandangan yang membuat mata Anggara jadi tidak berkedip mengikutinya.

"Kenapa hanya memandangku saja, Anggara...? Kemarilah. Jangan sia-siakan malam yang indah ini," ajak Arini agak mendesah suaranya.

Anggara tidak bisa berkata-kata lagi. Mendadak saja tenggorokannya jadi terasa begitu kering. Beberapa kali ludahnya ditelan untuk membasahi batang tenggorokannya. Dan pemuda itu semakin tidak bisa lagi membuka suara, saat Arini menanggalkan pakaiannya dengan gerakan lembut dan halus sekali.

Satu persatu Arini melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya. Hingga, tak ada selembar pakaian pun yang melekat lagi. Dan ini membuat Anggara jadi terpaku. Matanya tidak berkedip menjilati tubuh yang kini sudah polos, terbaring di atas ranjang beralaskan kain sutera halus berwarna biru muda.

"Kemarilah, Anggara...," desah Arini seraya menatap lembut pemuda itu.

Kembali Anggara terpaksa harus menelan ludahnya beberapa kali. Entah kenapa, ajakan itu tidak bisa lagi ditolaknya. Perlahan kakinya terayun melangkah mendekati pembaringan itu. Namun, dia hanya berdiri saja di tepi pembaringan, memandangi tubuh Arini yang terbaring polos tanpa pakaian lagi.

Pandangan Anggara jadi nanar. Sedangkan napasnya memburu cepat tak terkendali. Arini menggeliat bangkit. Dia berdiri menggunakan lutut yang terkekuk sebagai tumpuan. Dengan gerak jari tangan yang lincah dan lembut, dilepaskannya pakaian pemuda itu satu persatu. Sedangkan Anggara hanya diam saja, tidak tahu lagi yang harus dilakukannya.

Seluruh tubuh Anggara jadi bergetar saat Arini menariknya ke atas pembaringan. Dan seketika itu juga, aliran darahnya seperti berhenti, begitu bibir Arini terasa menyentuh lembut bibirnya. Anggara semakin merasa pening kepalanya. Dengan tangan bergetar, dirabanya punggung yang polos dan berkulit putih halus ini.

"Ohhh...," Arini merintih lirih, dan menggeliat saat merasakan jari-jari tangan Anggara bermain di dadanya yang membusung indah.

Perlahan Anggara membaringkan wanita itu, kemudian melumat bibir yang merah menggairahkan penuh nafsu menggejolak tak terkendali lagi. Arini mendesah lirih dan menggeliat merasakan jari-jari tangan Anggara semakin liar menjelajahi seluruh tubuhnya.

Sementara, malam terus merayap semakin larut Dan udara pun semakin terasa begitu dingin. Tapi semua itu tak lagi dirasakan mereka. Rangsangan yang diberikan Arini, membuat Anggara tidak bisa lagi mengendalikan kesadarannya. Perasaannya benar-benar larut, terombang-ambing gelombang lautan asmara. Hingga dia tidak tahu lagi, apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini.

***

"Aaa...!"

Jeritan panjang melengking tinggi terdengar begitu tiba-tiba, memecah kesunyian pagi buta ini Jeritan itu datangnya dari seorang wanita setengah baya dan bertubuh gemuk. Dia hanya berdiri kaku dengan mata terbeliak lebar dan mulut ternganga, memandangi sesosok tubuh yang tergolek mati. Leher mayat itu menganga lebar hampir buntung!

Jeritan panjang dan melengking tinggi itu, membangunkan semua penduduk Desa Cendana yang masih terlelap dalam buaian mimpi. Hingga sebentar saja, sudah banyak orang berkumpul di pinggiran jalan dekat perbatasan sebelah Utara desa itu. Mereka semua benar-benar terkejut bercampur ngeri melihat sesosok tubuh tak bernyawa. Bagian kakinya tampak hampir terbenam ke dalam parit. Darah menggenang di sekitar tubuh laki-laki berusia muda tanpa pakaian sama sekali.

Orang-orang desa yang merubung begitu cepat seperti lalat mencium aroma manis gula aren, segera bergerak menyingkir saat seorang laki-laki tua berjubah putih melangkah cepat mendekati sosok tubuh laki-laki muda yang tergolek dengan leher hampir buntung itu.

Di belakangnya mengiringi empat orang laki-laki setengah baya, bertubuh berotot. Mereka semua menyandang golok yang terselip di pinggang. Sedangkan laki-laki tua itu membawa sebatang tongkat kayu yang bentuknya tidak beraturan.

"Hmmm...," orang tua berjubah putih ini menggumam saat sudah berada dekat dengan mayat anak muda itu.

Pandangannya kemudian beredar berkeliling, merayapi wajah-wajah di sekitarnya. Tampak wajah-wajah yang dirayapi memancarkan kengerian yang amat sangat, melihat mayat tanpa pakaian dengan leher hampir buntung itu.

"Kalian pulang saja. Biar anak malang ini aku yang urus," ujar orang tua berjubah putih itu, agak lantang suaranya.

Tak ada seorang pun yang menjawab atau membantah. Satu persatu mereka meninggalkan tempat itu. Hingga akhirnya, tinggal orang tua berjubah putih itu saja yang masih tetap tinggal , bersama empat orang laki-laki bertubuh tinggi kekar yang mengiringinya. Mereka semua terdiam memandangi mayat anak muda itu.

"Ini korban yang kelima, Ki Langes...," ujar salah seorang yang mengenakan baju warna kuning tanpa lengan. Suaranya terdengar begitu perlahan.

"Kau mengenalinya, Racika?" tanya laki-laki tua berjubah putih yang dipanggil Ki Langes itu tanpa berpaling sedikit pun.

"Kelihatannya bukan penduduk desa ini, Ki," sahut Racika masih terdengar pelan suaranya.

"Aku mengenalnya, Ki," selak seorang lagi yang memakai baju warna merah.

Ki Langes dan Racika menatap laki-laki bertubuh kekar berbaju merah itu. Sedangkan yang ditatap malah merendahkan tubuhnya, dan membalik kepala yang sudah hampir buntung itu. Kemudian kepalanya terangguk-angguk, lalu kembali berdiri tegak.

"Siapa dia, Dirat?" tanya Ki Langes.

"Dia salah seorang pemandu jalan di Hutan Bukit Merak," sahut laki-laki tegap berbaju merah yang dipanggil Dirat agak pelan suaranya.

"Kau yakin, Dirat?" tanya Ki Langes agak terkejut

"Yakin, Ki. Semua pemandu di Hutan Bukit Merak mempunyai tanda pada bagian leher dekat dagu. Aku bisa mengenalinya, Ki. Karena, aku pernah dipandu olehnya ketika menemani Gusti Adipati berburu di sana," sahut Dirat lagi.

"Oh...! Persoalan ini akan semakin panjang. Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi kalau para pemandu mengetahui hal ini," keluh Ki Langes, mendesah.

"Kita harus memberi tahu secepatnya, dan menceritakan apa yang sedang terjadi di sini, Ki. Jangan sampai mereka menuduh kita yang bukan-bukan," kata Dirat lagi.

"Kau yang lebih tahu tentang mereka, Dirat Sebaiknya kau saja yang ke sana. Ceritakanlah sejelas-jelasnya semua yang terjadi di sini," ujar Ki Langes.

"Baik, Ki," sahut Dirat mengangguk.

"Pergilah sekarang juga, sebelum menjadi berlarut-larut"

Dirat kembali mengangguk, kemudian bergegas melangkah pergi. Sementara Ki Langes, Racika, dan dua orang lagi segera membereskan mayat pemuda yang dikenali sebagai pemandu di Hutan Bukit Merak itu. Mereka tahu, orang-orang pemandu di Hutan Bukit Merak tidak akan menerima begitu saja, jika salah seorang anggotanya tewas tanpa diketahui penyebabnya. Dan mereka pasti akan menyelidiki kematian pemuda ini

"Desa kita telah dimasuki pembunuh berdarah dingin, Ki. Dan aku yakin, pembunuh-pembunuh seperti ini akan terus berlangsung," ujar Racika agak mendesah suaranya.


"Yah...," Ki Langes hanya mendesah saja, menghembuskan napas panjang.

"Sudah saatnya kita menyelidiki semua pembunuh ini, Ki. Sudah lima orang yang tewas dengan keadaan sama," kata Racika lagi.

Ki Langes hanya diam saja.


***


Memang dalam beberapa hari ini, Desa Cendana dihantui pembunuh-pembunuh yang penuh teka-teki. Sedangkan korbannya hanya laki-laki yang masih berusia muda. Dan mayat yang ditemukan pagi itu adalah Anggara, salah seorang pemandu jalan di Hutan Bukit Merak. Para penduduk baru tahu kalau mayat itu bernama Anggara setelah datang dua orang pemandu yang kemudian membawa mayat pemuda itu kembali pulang ke Hutan Bukit Merak. Sedangkan salah seorang dari pemandu tetap tinggal di Desa Cendana untuk mencari pembunuh itu.

Ki Langes sendiri yang menceritakan keadaan di desa ini pada pemandu yang mengenalkan diri bernama Sudana. Sebagai kepala desa, Ki Langes merasa bertanggung jawab atas kematian Anggara yang penuh teka-teki itu.

"Sebenarnya, Anggara harus ke kota kadipaten untuk mengunjungi keluarganya di sana. Sudah tiga hari kepergiannya. Dan seharusnya sudah melewati desa ini dua hari yang lalu," kata Sudana memberi tahu keberadaan Anggara di desa ini.

Jarak antara Desa Cendana dengan Hutan Bukit Merak memang bisa ditempuh satu hari perjalanan saja. Itu juga kalau hanya berjalan kaki. Tapi entah kenapa, baru tiga hari Anggara sampai di desa ini

"Anggara adalah pemandu yang baik. Dan dia seIalu dipakai Gusti Adipati untuk memandunya setiap kali berburu. Kami benar-benar merasa kehilangan...," sambung Sudana dengan suara pelan sekali.

"Aku turut menyesal atas kejadian ini, Sudana," ujar Ki Langes.

Sudana hanya tersenyum tipis. Usia Sudana dengan Anggara memang tidak terpaut jauh. Dan Sudana adalah seorang pemuda gagah, tampan, serta bertubuh tegap berotot. Memang para pemandu jalan di Hutan Bukit Merak rata-rata masih muda dan gagah. Bahkan rata-rata memiliki kepandaian yang tidak rendah. Karena selain menjadi pemandu jalan di hutan, mereka juga selalu bersedia membantu siapa saja yang mengalami kesulitan. Dan Sudana merasa kalau Desa Cendana ini sedang dilanda suatu masalah yang tidak bisa dianggap enteng begitu saja. Apalagi musibah itu sudah meminta satu nyawa dari salah seorang pemandu. Dalam hati Sudana sudah bertekad harus bisa mendapatkan pembunuh itu.

"Kalau kau tidak keberatan, aku akan tinggal di sini sampai pembunuh itu ketahuan, Ki," kata Sudana meminta izin.

'Tentu, Sudana. Dengan senang hati aku menerimamu. Bahkan aku berterima kasih sekali jika kau akan mencari setan pembunuh itu. Aku juga tidak ingin di desaku ini dijadikan sarang pembunuh keji," sambut Ki Langes dengan hati terbuka.

'Terima kasih, Ki," ucap Sudana seraya memberi senyum lebar.

"Dan aku akan lebih senang jika kau sudi tinggal di rumahku ini," kata Ki Langes lagi.

"Aku tidak ingin merepotkan, Ki."

"Sama sekali tidak merepotkan. Justru dengan begitu, kita bisa selalu bekerjasama mencari pembunuh itu. Kita punya kepentingan yang sama. Kau ingin menangkap si pembunuh itu, dan aku tidak ingin desaku ini dijadikan ajang pembunuhan keji."

Sudana mengangguk-anggukkan kepala. Bisa dimengerti keinginan Ki Langes ini. Memang sebagai kepala desa, Ki Langes sangat bertanggung jawab atas keamanan dan ketenteraman desa. Dan itu disadarinya betul. Betapapun sulitnya, mereka memang harus bisa menemukan pembunuh berdarah dingin itu. Dan tentunya mereka tidak ingin berlarut-larut, serta menunggu sampai jatuh korban lebih banyak lagi.

Sudana tadi memang agak terkejut juga mendengar cerita Ki Langes, kalau selama ini sudah lima orang yang ditemukan tewas dengan keadaan hampir sama. Dan Anggara adalah korban yang kelima. Lebih terkejut lagi, setelah tahu kalau peristiwa ini sudah berlangsung hampir satu bulan. Dan selama ini, belum ada tanda-tanda sama sekali tentang si pembunuh. Walau Ki Langes mengakui sudah berusaha untuk melakukan penyelidikan, tapi sampai saat ini belum juga menemukan petunjuk yang berarti.

Pada saat mereka terdiam dengan pikiran masing-masing berkecamuk dalam kepala, dari bagian dalam rumah kepala desa ini keluar seorang gadis berparas cantik. Dia membawa sebuah baki dari perak yang di atasnya terdapat sebuah guci arak, serta dua buah gelas yang juga terbuat dari perak. Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepala pada Sudana. Tentu saja Sudana membalas dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. Gadis itu meletakkan baki di meja, kemudian kembali melangkah masuk ke dalam. Sudana terus memperhatikan sampai gadis itu lenyap di balik pintu.

"Dia keponakanku satu-satunya. Ratna Wulan namanya," Ki Langes memperkenalkan tanpa ditanya.

"Ooo...," hanya itu yang bisa keluar dari mulut Sudana.

"Kedua orang tuanya sudah meninggal. Dan baru dua purnama dia tinggal di sini. Memang belum banyak orang mengenalnya, karena dia menyendiri. Entah kenapa, dia sulit bergaul dengan gadis-gadis di desa ini. Hanya beberapa saja yang mengenalnya. Itu pun belum ada yang dekat," tutur Ki Langes.

"Tadinya tinggal di mana, Ki," tanya Sudana.

"Di Desa Gilang," sahut Ki Langes.

"Waaah...! Jauh sekali dari sini, Ki. Bisa satu pekan penuh baru sampai," desah Sudana sedikit kaget, kalau Ratna Wulan tadinya tinggal di desa yang sangat jauh dari Desa Cendana ini.

"Memang tidak ada lagi tempat yang bisa ditinggalinya. Tinggal akulah saudara satu-satunya," tutur Ki Langes.

"Dia datang ke sini sendiri, Ki?" tanya Sudana jadi ingin tahu, mengingat perjalanan yang harus ditempuh begitu jauh.

"Bersama pengasuhnya. Nyai Andar namanya," sahut Ki Langes. "Orangnya sudah tua. Yaaa..., mungkin seumur denganku. Dia yang mengasuh Ratna Wulan sejak masih bayi."

Sudana mengangguk-anggukkan kepala.

"Ayo diminum dulu, Sudana. Arak ini buatannya sendiri. Enak...," kata Ki Langes mempersilakan.

"Terima kasih, Ki."


***


DUA

Memang sayang sekali kalau hari yang begitu cerah dilewatkan begitu saja. Sudana pun tidak ingin melewatkannya begitu saja. Sejak matahari muncul di ufuk Timur tadi, pemuda itu sudah berada di tepi sungai yang merupakan sumber dari segala kehidupan seluruh penduduk Desa Cendana yang semuanya petani. Dan sungai inilah yang memberikan banyak harapan serta kehidupan bagi sawah ladang mereka.

Sudana terus mengayunkan kakinya perlahan-lahan, menyusuri tepian sungai sambil menghirup udara segar pagi ini. Bibirnya tersenyum saat memperhatikan anak-anak bertelanjang, berlarian, dan bercanda di sepanjang alur sungai ini. Gadis-gadis pun bersenda-gurau. Beberapa di antaranya sempat melirik genit pada pemuda tampan ini. Namun Sudana terus saja melangkah tak mempedulikan. Dan ayunan kakinya baru berhenti saat matanya menangkap sesosok tubuh ramping yang terbalut kain basah, tengah mencuci di sungai. Sudana kembali melangkah dan menghampiri gadis yang ternyata Ratna Wulan, keponakan Ki Langes.

"Banyak cuciannya, Ratna Wulan...?" tegur Sudana, begitu dekat dengan gadis ini.

Ratna Wulan mengangkat kepalanya, dan langsung tersenyum manis begitu mengetahui orang yang menegurnya. Sedangkan Sudana sudah duduk mencangkung di atas batu, tidak jauh dari gadis itu. Sekilas matanya melirik sekelompok gadis yang berbisik-bisik sambil melirik-lirik padanya. Sudana tahu, gadis-gadis itu sedang menggunjingkannya.

"Aku dengar, Kakang datang ke sini untuk mencari pembunuh itu, ya...?" tanya Ratna Wulan, tanpa menghentikan pekerjaannya.

"Benar," sahut Sudana.

"Kira-kira, siapa orangnya?" tanya Ratna Wulan ingin tahu.

"Aku belum tahu. Rasanya memang tidak mudah mencari seorang pembunuh. Malah bisa-bisa, sebelum aku tahu, pembunuh itu sudah tahu kalau sedang dicari," sahut Sudana lagi.

Sudana mengedarkan pandangannya berkeliling. Sedangkan Ratna Wulan masih saja sibuk dengan cuciannya. Sebentar-sebentar lipatan kain yang membelit tubuhnya dibetulkan. Memang cantik sekali gadis ini. Terlebih lagi, kulitnya begitu putih. Tidak seperti gadis-gadis lain di Desa Cendana ini.

"Kelihatannya mereka semua tidak terpengaruh oleh peristiwa pembunuhan itu, Ratna Wulan," kata Sudana agak menggumam suaranya.

"Untuk apa ditakuti, Kakang...? Pembunuh itu hanya mencari laki-laki. Jadi kami yang perempuan, tidak perlu takut," jawab Ratna Wulan kalem.

Sudana jadi terdiam. Dia teringat kembali cerita Ki Langes semalam. Memang sudah ada lima korban yang jatuh. Dan korban terakhir adalah Anggara. Seorang pemuda yang menjadi pemandu di Hutan Bukit Merak. Dari lima orang korban pembunuhan keji yang penuh teka-teki itu, memang semuanya lelaki muda. Usianya belum mencapai tiga puluh tahun.

Sudana baru merasakan adanya kejanggalan ini. Sejak tadi, dia memang tidak melihat laki-laki seorang pun di sepanjang sungai ini. Kalaupun ada, itu hanya orang-orang tua yang sudah berumur, atau anak-anak kecil. Sedangkan para pemuda desa ini tidak ada lagi yang kelihatan berada di luar rumah. Kalaupun ada, mereka selalu berkelompok. Paling tidak, sedikitnya empat atau enam orang,

"Sudah selesai...?" tanya Sudana begitu melihat Ratna Wulan akan beranjak dari dalam sungai ini

"Sudah," sahut Ratna Wulan memberi senyum.

"Mari kubantu."

"Terima kasih."

Sudana tidak menunggu lagi. Bergegas diambilnya keranjang cucian Rama Wulan, dan dipanggulnya di pundak. Mereka kemudian berjalan bersisian meninggalkan sungai itu. Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak, dengan pepohonan yang cukup lebat di kanan-kirinya.

Tiba-tiba langkah Ratna Wulan terhenti. Sudana juga ikut berhenti. Dipandanginya gadis itu yang menatap lurus ke depan, pada seorang laki-laki muda yang sedang duduk bersandar di bawah pohon dengan mata terpejam.

"Ada apa, Ratna Wulan?" tanya Sudana sambil menatap pemuda yang mengenakan baju dari kulit harimau itu.

"Sudah lima hari ini, aku selalu melihat dia di sana," jelas Ratna Wulan.

"Kau kenal?" tanya Sudana lagi.

Ratna Wulan hanya menggelengkan kepala saja, kemudian kembali melangkah. Sudana mengikuti dan mensejajarkan ayunan kakinya di samping gadis ini. Mereka terus berjalan bersisian, melewati pemuda yang tampaknya sedang tertidur itu. Seekor monyet kecil berbulu hitam, juga kelihatan mendengkur di pangkuannya. Ratna Wulan sempat melirik pemuda itu. Namun pada saat yang bersamaan, pemuda itu juga membuka matanya.

Maka tatapan mata mereka seketika langsung bertemu. Ratna Wulan buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain. Entah kenapa, jantungnya langsung berdetak kencang, saat sinar mata pemuda itu begitu tajam menusuk ke bola matanya. Gadis itu jadi berjalan cepat, membuat kening Sudana jadi berkerut. Sudana melirik pemuda berbaju kulit harimau itu. Tapi, pemuda itu sudah kembali memejamkan matanya, seperti tidak peduli dengan sekelilingnya. Dan mereka terus berjalan semakin jauh meninggalkan sungai dan pemuda berbaju kulit harimau itu.

"Kau seperti ketakutan melihatnya, Ratna Wulan," kata Sudana lagi, bernada menegur.

Pemuda itu benar-benar heran melihat sikap Ratna Wulan yang seperti takut waktu melihat pemuda berbaju kulit harimau itu. Sedangkan Ratna Wulan hanya diam saja, dan terus berjalan sedikit cepat. Ayunan langkahnya baru kembali biasa, setelah melewati tikungan jalan. Dan mereka kini sudah masuk ke jalan utama Desa Cendana. Kemudian Ratna Wulan berpaling ke belakang.

"Hhh...!" napasnya terhembus panjang, seakan-akan hendak melonggarkan rongga dadanya yang tadi terasa begitu padat

"Ada apa, Ratna Wulan...?" tanya Sudana masih penasaran ingin tahu.

"Tidak ada apa-apa," sahut Ratna Wulan agak mendesah. "Hhh... untung dia tidak mengikuti lagi."

"Apa dia suka mengikutimu?" tanya Sudana.

"Iya. Dia selalu mengikuti, setiap kali aku pulang dari sungai," sahut Ratna Wulan.

"Mungkin dia kenal denganmu, Ratna Wulan."

"Aku tidak tahu. Bahkan baru melihatnya beberapa hari ini di tempat itu. Dia selalu ada di sana, seperti menungguku pulang dari sungai. Sama sekali aku tidak tahu, siapa dia sebenarnya."

"Hmmm...," Sudana menggumam perlahan.

Pemuda itu menyerahkan keranjang cucian pada Ratna Wulan yang langsung menerimanya.

"Kau pulanglah dulu, Ratna Wulan. Dia mengikuti...," bisik Sudana.

"Ohhh...?!" Ratna Wulan tampak terkejut

"Pulanglah. Biar kucegat dia."

"Tapi hati-hati. Aku khawatir dia orang jahat"

Sudana tersenyum seraya menepuk pundak gadis itu. Setelah disuruh lagi, Ratna Wulan baru bergegas melangkah setengah berlari. Sebentar Sudana memandangi gadis yang kini sudah berlari-lari kecil menuju ke rumah Ki Langes. Dan setelah Ratna Wulan cukup jauh, tiba-tiba saja pemuda itu melesat cepat bagai kilat.

"Huppp...!"

Begitu cepatnya, sehingga dalam sekali lesatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap tak terlihat lagi.

Tepat pada saat itu, pemuda berbaju kulit harimau yang tadi ditemui sedang tertidur di pinggir jalan ke sungai, muncul dari tikungan jalan. Dan pemuda itu tampaknya berjalan cepat seperti tergesa-gesa. Namun tiba-tiba saja....

"Berhenti...!"
Wusssl
Jlegkh!
"Ohhh...?!"

***

Pemuda berbaju kulit harimau itu jadi terkejut setengah mati, begitu tiba-tiba dari atas sebuah pohon di depannya melesat sebuah bayangan. Dan tahu-tahu, di depannya sudah berdiri seorang laki-laki yang mungkin sebaya dengannya. Lebih terkejut lagi, karena laki-laki muda berbaju putih itulah yang tadi dilihatnya berjalan bersama seorang gadis. Dan memang, dia adalah Sudana.

"Mau apa kau membuntuti...?!" Sudana langsung menegur tegas.

"Maaf, aku tidak mengerti maksudmu...," ujar pemuda berbaju kulit harimau itu.

"Kau jangan berpura-pura, Ki sanak!" agak membentak nada suara Sudana.

"Hmmm...," pemuda berbaju kulit harimau itu jadi menggumam, mendapat bentakan agak kasar barusan.

Tatapan matanya begitu tajam, memperhatikan Sudana dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Seakan-akan dia tengah mengukur kejantanan pemuda yang sebaya dengannya ini. Perlahan tangannya terangkat, dan mengambil monyet kecil yang nangkring di pundaknya. Dengan tubuh membungkuk, monyet kecil itu diletakkan di tanah.

"Menyingkir dulu, Tiren," ujar pemuda itu sambil menepuk-nepuk kepala monyet kecil berbulu hitam ini.

"Nguk!"

Seperti mengerti saja, monyet kecil itu langsung berlari-lari mendekati sebuah pohon. Laju dengan gerakan lincah sekali binatang itu memanjat pohon, dan duduk nangkring pada salah satu dahan yang cukup besar dan kuat. Dia duduk tenang di sana, memperhatikan dua pemuda yang kini berdiri saling berhadapan, berjarak sekitar satu setengah tombak. Mereka saling berpandangan dengan tajam, seakan-akan tengah saling menyelidik.

"Kau tampaknya bukan penduduk desa ini...," desis Sudana terasa begitu dingin nada suaranya.

"Memang benar," sahut pemuda itu datar. "Dan kau sendiri juga bukan penduduk desa ini."

"Kedatanganku ke sini karena diminta untuk melindungi seluruh penduduk desa ini. Dan sikapmu telah membuatku curiga, Kisanak. Kenapa kau mengikuti Ratna Wulan terus...?" tegas sekali nada suara Sudana.

"Kau tidak akan percaya bila kujelaskan. Tampaknya, kau telah tertarik oleh kecantikannya. Sayang sekali..., kau akan bernasib sama dengan yang lain. Tapi, itu terserah kau sendiri. Kau telah memilih jalan mempercepat kematianmu," tegas pemuda berbaju kulit harimau itu.

"Jangan bicara sembarangan, Kisanak! Apa maksudmu berkata begita..?" sentak Sudana, langsung memerah wajahnya.

"Hmmm...," pemuda itu menggumam perlahan dengan kelopak mata agak menyipit

Dia terus memperhatikan bagian leher dekat dagu Sudana. Ada semacam tanda di leher dekat dagu itu. Sebuah tanda yang sudah amat dikenali semua orang di daerah kulon ini. Terutama sekali, di wilayah Kadipaten Patarukan ini. Tanda itu merupakan lambang dari seorang pemandu jalan di Hutan Bukit Merak. Dan memang, semua pemandu di Hutan Bukit Merak memiliki tanda seperti itu pada bagian leher dekat dagu.

"Kenapa kau memandangiku begitu, Kisanak...?" tegur Sudana jadi jengah.

"Kau seorang pemandu di Hutan Bukit Merak...?" pemuda berbaju kulit harimau itu seperti ingin meyakinkan dugaannya.

"Benar!" sahut Sudana jadi berkerut keningnya.

"Kau berada di sini tentu karena salah satu temanmu tewas di sini. Kau pasti ingin mencari pembunuhnya," agak menggumam nada suara pemuda berbaju kulit harimau itu.

"Hmmm.... Siapa kau sebenarnya, Kisanak?" tanya Sudana dengan kening berkerut.

"Aku Bayu. Maksudku berada di desa ini juga sama denganmu," sahut pemuda berbaju kulit harimau itu.

Kening Sudana semakin dalam berkerut. Kembali dipandanginya pemuda berbaju kulit harimau yang berdiri di depannya ini. Sama sekali dia tak tahu, siapa pemuda yang mengaku bernama Bayu. Sudana memang tidak mengenalnya. Dan baru melihatnya hari ini. Tapi melihat pakaian yang dikenakan pemuda itu, dan setelah tahu namanya, Sudana seperti teringat sesuatu. Nama itu seperti pernah didengarnya. Nama seorang pendekar muda yang tangguh dan digdaya. Pendekar yang sangat disegani orang-orang persilatan di semua golongan.

"Aku memang belum pernah melihatmu selain hari ini, Kisanak. Tapi kau seperti..., Pendekar Pulau Neraka," terdengar ragu-ragu nada suara Sudana.

Pemuda berbaju kulit harimau yang tadi mengaku bernama Bayu itu jadi tersenyum. Dia memang Bayu, yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Pulau Neraka. Tidak lagi terlihat kekakuan di wajahnya. Dan sinar matanya pun tidak lagi bersorot tajam. Perlahan-lahan Bayu melangkah mendekat dan berhenti setelah berjarak sekitar lima langkah lagi di depan Sudana.

"Kau benar. Aku memang Pendekar Pulau Neraka. Tapi aku lebih senang bila kau memanggilku Bayu," kata Bayu terus tersenyum.

"Tapi, kenapa kau terus mengikuti Ratna Wulan?" tanya Sudana masih penasaran ingin tahu.

"Sulit mengatakannya. Bahkan bisa menimbulkan kesalahpahaman. Sedangkan aku belum memiliki bukti yang cukup. Masih terlalu banyak yang tersembunyi, dan belum bisa terungkap banyak dari yang tersembunyi itu," sahut Bayu.

"Aku tidak mengerti maksudmu...," ujar Sudana kebingungan.

"Kelak kau akan mengerti," kata Bayu kembali tersenyum.

Setelah berkata demikian, Bayu segera memutar tubuhnya berbalik. Lalu, tangan kirinya diangkat ke arah monyet kecil berbulu hitam yang nangkring di atas pohon. Monyet kecil yang bernama Tiren itu berjingkrak sambil mencerecet ribut. Kemudian binatang itu merayap turun. Gerakannya cepat dan ringan sekali. Lalu binatang itu berlari-lari menghampiri Pendekar Pulau Neraka. Bayu mengulurkan tangannya, dan menaruh monyet itu di pundaknya lagi.

Pendekar Pulau Neraka terus saja melangkah menuju tikungan jalan yang kembali menuju sungai. Sedangkan Sudana hanya berdiri saja mematung, memandangi Pendekar Pulau Neraka. Dia ingin mencegah, karena masih belum mengerti terhadap semua yang dilakukan dan dikatakan Pendekar Pulau Neraka. Tapi entah kenapa, lidahnya jadi terasa kelu. Dan dia hanya bisa berdiri mematung memandang, sampai tubuh pemuda berbaju kulit harimau itu tidak terlihat lagi, setelah berbelok di tikungan jalan yang menuju ke sungai.


***


Sudana masih belum juga bisa memejamkan matanya. Entah sudah berapa kali tubuhnya menggelimpang gelisah di atas pembaringan. Dia menempati satu kamar di rumah Ki Langes, Kepala Desa Cendana ini. Sementara malam sudah begitu larut. Desa Cendana terasa begitu sunyi, bila malam sudah jatuh menyelimutinya. Tak terdengar suara apa pun, selain desiran angin yang menggesek dedaunan dan jerit binatang-binatang malam.

"Hhh...!"

Sudana menggelimpang, lalu merayap turun dari pembaringan. Kakinya melangkah mendekati jendela, lalu membukanya lebar-lebar. Angin malam yang dingin langsung menerobos masuk menerpa kulit wajahnya. Malam ini begitu pekat Langit tampak menghitam kelam tersaput awan yang begitu tebal menggumpal. Sedikit pun tak terlihat cahaya bintang. Bahkan bulan lebih suka bersembunyi di balik awan.

"Heh...?! Apa itu...?"

Sudana terperanjat, begitu tiba-tiba matanya menangkap sebuah bayangan berkelebat di dalam kegelapan. Tanpa berpikir panjang lagi, pemuda yang dikenal sebagai pemandu jalan di Hutan Bukit Merak itu langsung melompat cepat bagai kilat menerobos jendela.

"Huppp...!"

Begitu cepatnya Sudana melompat, menandakan ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tingkatan cukup tinggi. Sudana kembali melentingkan tubuhnya, begitu kakinya menjejak tanah. Tatapan matanya begitu tajam menusuk, mengamati sosok tubuh merah yang berkelebat cepat dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya.

"Huppp...!"

Bagaikan seekor burung, Sudana melesat naik ke atas atap rumah. Lalu, kembali dia melenting indah ke atap rumah lain untuk mengejar bayangan merah yang terus berkelebat cepat.

"Hup! Yeaaah...!"

Sambil berteriak keras menggelegar, Sudana mengempos seluruh kekuatan ilmu meringankan tubuhnya. Sehingga, pemuda itu melesat tinggi ke udara. Lalu, dia meluncur deras bagai sebatang anak panah lepas dari busurnya. Begitu cepat lesatan Sudana, sehingga bisa melewati sosok bayangan merah itu. Lalu, manis sekali kakinya mendarat di tanah.

"Berhenti...!"

"Ufs...?!"

Sudana jadi terbeliak, begitu tiba-tiba sosok tubuh berbaju serba merah itu langsung mengebutkan cepat tangannya. Dan dari balik lengan bajunya yang longgar, tiba-tiba saja melesat beberapa buah benda kecil seperti jarum berwarna merah menyala bagai titik api.

"Uts...! Hup!"

Sudana cepat-cepat melentingkan tubuh ke udara, dan berjumpalitan beberapa kali untuk menghindari benda-benda kecil seperti jarum yang berwarna merah itu. Pemuda itu semakin terkejut setengah mati, begitu merasakan kalau jarum-jarum kecil berwarna merah itu menyebarkan hawa yang sangat panas menyengat.

"Huppp...!"

Cepat-cepat Sudana melentingkan tubuh ke udara kembali, begitu menjejak tanah. Itu dilakukan tepat pada saat sosok tubuh berbaju merah itu melontarkan benda-benda kecil berwarna merah itu dari balik lipatan lengan bajunya yang lebar dan sangat longgar.

"Edan...! Bisa habis napasku kalau begini terus," dengus Sudana dalam hati.

Tapi memang sulit bagi Sudana untuk keluar dari serangan senjata rahasia itu. Bahkan hampir sama sekali tidak punya kesempatan untuk menjejakkan kakinya di tanah. Hingga akhirnya Sudana segera menjambret beberapa lembar daun, ketika untuk yang entah keberapa kali terpaksa berjumpalitan di udara.

"Hap! Yeaaah...!"

Bet! Bet!

Wusss...!

***

TIGA

Sambil berputaran di udara, Sudana melemparkan daun-daun yang tadi berhasil dijambretnya dari atas pohon. Kini daun-daun yang lemas itu telah berubah jadi senjata yang begitu dahsyat dan mematikan. Serangan balik yang dilancarkan Sudana membuat orang berbaju serba merah itu harus terpaksa berjumpalitan menghindarinya. Lawan Sudana benar-benar kelabakan menghadapi daun-daun yang jadi menegang kaku seperti mata-mata tombak yang mengincar tubuh bagai hujan.

"Keparat..!" dia menggeram marah, begitu daun-daun yang dilemparkan Sudana sudah tidak lagi menghujaninya.

Sedangkan kini Sudana sudah bisa berdiri tegak di atas kedua kakinya yang begitu kokoh. Sementara orang berbaju serba merah itu pun sudah mendarat dengan gerakan manis sekali. Begitu ringannya, sehingga sedikit pun tak ada suara yang terdengar saat kakinya menjejak tanah. Dia berdiri tegak sekitar satu tombak di depan Sudana.

"Siapa kau...?!" tanya Sudana, agak membentak suaranya.

Tapi orang berbaju merah itu tidak menjawab. Sedangkan Sudana sedikit menyipitkan kelopak matanya, mencoba memperhatikan sosok tubuh berbaju merah itu agar lebih jelas lagi. Tapi, sangat sulit untuk bisa mengenali wajahnya. Rambutnya yang panjang dan hitam, hampir menutupi seluruh wajahnya. Dan sepertinya memang disengaja, agar wajahnya tidak terlihat. Tapi dari bentuk tubuhnya dan kulit tangan yang terlihat putih, sudah bisa dipastikan kalau dia seorang wanita yang tidak ingin dikenali wajahnya.

Plok! Plok! Plok!

Tiba-tiba saja sosok tubuh berbaju merah itu bertepuk tangan tiga kali. Dan begitu tepukannya berhenti terdengar, dari balik pepohonan berkelebat tubuh-tubuh ramping berbaju serba merah. Maka dalam waktu sebentar saja, Sudana sudah dikepung lima orang gadis berwajah cantik yang semuanya mengenakan baju ketat berwarna merah.

"Ringkus dia! Jangan sampai terluka...!" seru wanita yang wajahnya tidak kelihatan itu memberi perintah. Suaranya terdengar lantang menggelegar.

Wuk!

Bet!

Lima orang gadis berbaju serba merah itu langsung mengeluarkan tambang-tambang yang cukup panjang dari balik lipatan baju. Serentak mereka segera bergerak memutari Sudana sambil mengebut-ngebutkan tambang, yang bagian ujungnya berbentuk bulat seperti terbuat dari besi baja sebesar kepalan tangan.

Sudana segera bersiap sambil memperhatikan gerak kelima gadis yang memutari tubuhnya, sambil mempermainkan tambang. Gerakan mereka begitu lincah, dan semakin lama semakin bertambah cepat saja. Hingga akhirnya, bentuk tubuh mereka menghilang. Sehingga yang terlihat hanya bayang-bayangan merah yang berkelebat cepat memutari pemuda pemandu jalan Hujan Bukit Merak itu. Set!

Wusss...!

"Hup...!"

Sudana langsung melenting ke udara, begitu tiba-tiba lima buah ujung tambang yang berbandul besi baja sebesar kepalan tangan itu meluruk deras ke arahnya dari lima jurusan. Dan pada saat yang bersamaan, kelima gadis berbaju merah itu juga berlompatan cepat di sekitar tubuh Sudana.

Manis sekali mereka menyambut setiap ujung tambang yang berbandul bola besi putih itu. Lalu tiba-tiba saja, mereka menarik kuat-kuat Sedangkan saat itu kedudukan Sudana berada tepat di tengah-tengah. Tentu saja hal ini membuatnya jadi terkejut setengah mati.

"Gila...! Hup...!"

Buru-buru Sudana melenting ke udara, dan melakukan beberapa kali putaran yang begitu manis. Tapi tanpa diduga sama sekali, tiba-tiba saja wanita berbaju merah yang wajahnya tertutup rambut itu melompat tinggi ke udara. Langsung dilewatinya atas kepala pemuda tampan yang mengenakan baju putih itu.

"Hiyaaat..!"

"Heh...?!"

Sudana jadi terkejut setengah mati Buru-buru kepalanya dirundukkan, menghindari satu pukulan keras menggeledek yang dilepaskan wanita berbaju serba merah itu ke arah kepalanya. Namun pada saat yang bersamaan, lima gadis yang memegang tambang sudah kembali berlompatan saling bersilangan. Dan dengan gerakan begitu cepat, ujung-ujung tambang mereka dilepaskan. Lalu mereka saling menyambut ujung-ujung tambang itu.

Rrrt...!

"Ufs...!"

Sudana benar-benar tidak bisa lagi berbuat banyak. Tambang-tambang itu langsung saja membelit kuat tubuhnya. Maka tidak pelak lagi, pemuda itu langsung jatuh terguling di tanah. Pada saat yang bersamaan, lima orang gadis berbaju merah itu menggerakkan ujung-ujung tambangnya. Sehingga, tambang itu semakin banyak membelit tubuh Sudana yang bergelimpangan, mencoba melepaskan did.

Tapi semakin banyak Sudana bergerak, semakin kuat pula lilitan tambang itu di seluruh tubuhnya. Bahkan gadis-gadis berbaju merah itu cepat sekali memainkan tambangnya, sehingga tubuh Sudana benar-benar terbelit dari leher sampai ke ujung kaki. Akibatnya, pemuda itu tidak berdaya lagi untuk bisa melepaskan diri. Meskipun sudah berusaha memberontak, tapi tidak mudah baginya melepaskan belitan tambang yang begitu kuat ini.

"Bawa dia...!" perintah wanita berbaju merah yang wajahnya tertutup rambut panjang yang meriap lebat itu.

"Baik, Nini Ayu...," sahut kelima orang gadis itu serempak.

Tanpa menunggu perintah dua kali, gadis-gadis cantik berbaju serba merah itu langsung berlarian cepat sambil menyeret tubuh Sudana yang sudah tidak berdaya lagi terbelit tambang. Pemuda itu hanya bisa menggeliat dan berteriak-teriak begitu tubuhnya terseret cepat, seperti ditarik lima ekor kuda yang berlari begitu kencang.

Sementara wanita berambut panjang itu masih berdiri tegak memandangi. Dari sela-sela rambutnya yang meriap panjang tampak sebentuk bibir merah yang menyunggingkan senyum penuh arti. Tak berapa lama kemudian, wanita itu melesat cepat bagai kilat. Begitu cepatnya, sehingga dalam sekejapan mata saja sudah lenyap tertelan pekatnya malam yang begitu gelap.

Sementara itu dari tempat yang cukup tersembunyi, terlihat sepasang mata bersinar bagai bintang, terus memperhatikan jalannya kejadian tadi. Dan pemilik mata itu baru keluar dari tempat persembunyiannya, setelah tidak terlihat lagi seorang pun di tempat itu.

"Hmmm...," dia menggumam perlahan.

Kemudian, cepat sekali dia melesat pergi ke arah lima orang gadis cantik berbaju merah yang menyeret Sudana tadi. Gerakannya begitu cepat luar biasa, sehingga bagaikan melayang saja di atas tanah. Begitu cepatnya, hingga seluruh tubuhnya lenyap. Yang terlihat kini hanya bayangan yang berkelebatan di antara gelapnya malam dan pepohonan.


***


Sementara malam masih terus merayap semakin larut Jauh di luar Desa Cendana, tepatnya di sebuah hutan yang sangat lebat, terlihat lima orang berpakaian merah tengah berlari-lari menyelinap dari satu pohon ke pohon lain yang merapat lebat. Mereka berlarian sambil menyeret sesosok tubuh yang tampaknya sudah tidak sadarkan diri lagi.

Pakaian sosok tubuh yang diseret itu sudah tercabik. Darah juga berceceran dari seluruh kulit tubuhnya. Tapi kelima gadis cantik berbaju merah itu seperti tidak peduli. Mereka terus berlarian sambil menyeret tubuh yang sudah tidak bisa berkutik lagi. Sosok tubuh yang terseret itu hanya mengikuti saja, ke mana gadis-gadis berbaju merah ini membawanya. Dan mereka baru berhenti setelah sampai di depan sebuah gua yang cukup besar.

Kelima gadis berwajah cantik yang semuanya mengenakan baju warna merah itu berlutut di depan mulut gua yang berukuran cukup besar ini. Memang, tak terlihat apa-apa di dalam gua yang begitu gelap. Terlebih lagi, malam ini memang begitu gelap. Langit tersaput awan tebal, sehingga sedikit pun tak terlihat cahaya bintang maupun bulan di atas sana.

"Kami datang, Kanjeng Nyai Ratu...," ucap kelima gadis berbaju merah itu bersamaan.

"Masuklah kalian...!" terdengar suara sahutan menggema dari dalam gua.

"Baik, Kanjeng Nyai Ratu."

Kelima gadis cantik berbaju merah itu segera melangkah masuk ke dalam gua sambil tetap menyeret pemuda yang sudah tidak bisa bergerak lagi. Mereka terus melangkah semakin jauh, masuk ke dalam gua yang sangat gelap ini. Dan begitu berada di dalam, tiba-tiba saja gua itu jadi terang-benderang, hingga seluruh sudutnya terlihat jelas.

Ternyata, gua ini merupakan sebuah ruangan yang berukuran sangat besar. Ada enam buah pintu di dinding yang mengelilinginya. Dan semua pintu dalam keadaan tertutup rapat Juga pada salah satu sisinya, terdapat sebuah kursi terbuat dari batu yang dipahat berbentuk dua ekor singa berukuran sangat besar. Kelima gadis berbaju merah itu kemudian berlutut di depan kursi batu berbentuk singa itu. Brusss...!

Tiba-tiba saja, di sekitar kursi yang sangat besar dan terbuat dari batu itu mengepul asap tebal berwarna merah. Begitu tebalnya, sehingga seluruh kursi batu itu jadi tidak terlihat. Tapi, asap tebal berwarna merah itu hanya sebentar saja muncul, sedikit pun tak terasa ada hembusan angin di dalam ruangan gua itu.

Saat asap merah itu benar-benar hilang, tahu-tahu di kursi itu sudah duduk seseorang yang mengenakan baju jubah warna merah menyala. Di tangan kanannya tampak tergenggam sebuah tongkat yang bagian ujung atasnya berbentuk kepala seekor singa yang terbuka lebar mulutnya. Tongkat itu seluruhnya berwarna putih keperakan. Terlalu sulit melihat wajahnya, karena tertutup rambut berwarna merah panjang yang teriap tak teratur.

"Ada yang kalian bawa untukku...?" tanya orang berjubah merah itu, kering nada suaranya.

"Ada, Kanjeng Nyai Ratu," sahut salah seorang gadis yang berlutut paling tengah.

Empat orang gadis lain segera bergerak, dan menggotong tubuh seorang pemuda yang sudah tidak bergerak-gerak lagi. Seluruh tubuhnya kotor berdebu bercampur darah. Pakaiannya sudah cabik-cabik tak berbentuk lagi. Empat gadis itu kembali ke tempatnya setelah meletakkan tubuh pemuda yang ternyata Sudana, tepat di depan ujung kaki orang berjubah merah yang seluruh rambutnya juga berwarna merah bagai berlumuran darah.

"Hmmm...."

Orang berambut merah bagai darah itu bangkit dari kursinya. Dengan ujung tombaknya, tubuh pemuda itu dibalikkan hingga telentang. Dari sela-sela rambutnya yang merah, terlihat sebentuk bibir yang kering memucat menyunggingkan senyum tipis. Sebentar diperhatikannya pemuda yang ternyata memang Sudana. Kemudian pandangannya beralih merayapi wajah gadis cantik berbaju serba merah yang masih berlutut di lantai gua ini.


"Kalian bertemu muridku?" tanya orang berambut merah itu masih terdengar kering nada suaranya.

"Nini Ayu yang memberikannya pada kami, Kanjeng Nyai Ratu," sahut gadis yang berada paling tengah.

"Lalu, kenapa dia tidak ikut ke sini?"

"Kami tidak tahu, Kanjeng Nyai Ratu."

"Hmmm..., baiklah. Bawa dia ke tempat biasa. Bersihkan tubuhnya dari semua kotoran," perintah orang berambut serba merah itu.

"Baik, Kanjeng Nyai Ratu," sahut kelima gadis itu serempak.

Tanpa diperintah dua kali, mereka kemudian bergerak mendekat hendak membawa pemuda itu. Tapi belum juga tubuh pemuda itu tersentuh, tiba-tiba saja orang berambut merah yang selalu dipanggil Kanjeng Nyai Ratu itu menekan ujung tongkatnya ke dada pemuda yang tergeletak tak sadarkan diri di depannya. Dan kelima gadis itu jadi terdiam memandanginya.

"Kalian cepat keluar. Ada tikus yang coba-coba masuk ke sini," kata orang berambut merah itu dingin.

Kelima orang gadis cantik itu saling berpandangan sejenak, kemudian bergegas berlompatan keluar dari dalam gua ini. Dan gua ini kembali gelap, begitu lima orang gadis itu berlompatan keluar dengan gerakan ringan dan cepat sekali, Sebentar saja mereka sudah berada di depan gua, tepat di saat seseorang tengah mengendap-endap hendak mendekati mulut gua yang mendadak jadi gelap itu.

"Hei...! Siapa kau...?!" bentak salah seorang gadis.

"Ohhh...?!"

Begitu terkejutnya, sampai orang itu terlompat beberapa tindak ke belakang. Kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, begitu melihat di depannya tahu-tahu sudah berdiri lima orang gadis berwajah cantik yang semuanya mengenakan baju berwarna merah menyala.


***


"Siapa kau?! Kenapa mengendap-endap seperti maling..?" tanya salah seorang dari kelima gadis itu. Suaranya begitu lantang menggelegar.

"Aku tersesat. Maaf, aku tidak tahu kalau gua ini ada penghuninya," sahut laki-laki muda yang usianya sektiar dua puluh lima tahun itu.

Seorang pemuda yang cukup tampan dan gagah. Otot-ototnya tampak bersembulan di balik bajunya yang ketat berwarna biru muda. Dari balik punggungnya menyembul sebuah gagang pedang berwarna kuning seperti terbuat dari emas. Rasa terkejutnya kini tidak lagi terlihat di wajahnya. Bahkan kini malah merayapi wajah-wajah cantik sekitar satu tombak berdiri di depannya.

"Siapa kau...?! Jawab...!" bentak gadis itu lagi. "Namaku Palika," sahut pemuda itu memperkenalkan diri.

"Mau apa kau ke sini?!" tanya gadis yang lain.

"Aku tersesat. Aku tidak tahu ka...."

"Bohong...! Kau memata-matai kami, ya...?! Ayo, jawab yang benar!" sentak seorang gadis lainnya lantang.

"Aku tidak memata-matai! Terserah, kalau tidak percaya!" dengus pemuda yang mengaku bernama Palika jadi sengit

"Lalu, kenapa mengendap-endap?"

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya hati-hati saja supaya tidak tersandung."

"Sudah, jangan banyak omong. Hajar saja!" dengus salah seorang gadis berbaju merah itu tidak sabar.

Tanpa menunggu persetujuan yang lain, gadis itu langsung saja melompat sambil melepaskan satu pukulan keras disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Begitu cepatnya serangan itu, membuat pemuda yang tadi mengaku bernama Palika jadi terperangah sesaat. Namun cepat sekali tubuhnya mengegos menghindari pukulan yang dilepaskan salah seorang dari gadis berbaju serba merah itu.

"Huh! Rupanya kau bisa juga bermain-main, Kisanak! Bagus...! Terimalah ini. Hiyaaat..!"

Kembali gadis itu melepaskan pukulan bertenaga dalam tinggi, setelah serangan pertamanya tadi dapat dihindari Palika. Beberapa kali pukulan dilepaskan, tapi rupanya Palika bukanlah pemuda sembarangan. Dengan gerakan-gerakan tiibuh yang indah, setiap serangan yang dilancarkan gadis cantik berbaju merah ini berhasil dihindarinya.

"Uts...!"

Palika cepat merundukkan kepala, ketika tiba-tiba saja satu pukulan yang dilepaskan gadis cantik itu menyambar deras ke arah kepalanya. Tapi belum juga tubuhnya bisa ditegakkan kembali, mendadak saja salah seorang gadis lain sudah melompat sambil memberi satu tendangan keras menggeledek

"Hiyaaat..!"

"Huppp...!"

Palika terpaksa melompat ke belakang, sambil melakukan putaran dua kali. Tendangan gadis berbaju merah itu tidak tepat mengenai sasaran. Bahkan tendangannya menghantam sebuah pohon yang cukup besar. Begitu tingginya tenaga dalam yang dimiliki, sehingga pohon yang besarnya tiga kali lipat dari tubuhnya seketika hancur berkeping-keping.

"Gila...!" desis Palika jadi terlongong bengong melihat kedahsyatan tendangan gadis cantik yang kelihatannya lemah ini.

Sukar dibayangkan kalau tendangan itu sampai mengenai tubuhnya. Dan Palika benar-benar tidak menyangka kalau gadis-gadis cantik yang kelihatannya lemah, ternyata memiliki kekuatan tenaga dalam yang begitu dahsyat luar biasa. Tapi Palika tidak sempat berpikir lebih jauh, karena kelima gadis cantik berbaju merah itu sudah kembali berlompatan menyerang dengan gencar dan bergantian.

Palika terpaksa harus berjumpalitan menghindari serangan-serangan yang datang begitu gencar. Gadis-gadis ini menyerang dari lima jurusan secara tepat dan bergantian. Akibatnya, pemuda yang cukup tampan itu jadi kalang kabut menghindarinya. Beberapa kali serangan gadis-gadis cantik itu hampir mengenai tubuhnya. Tapi sampai sejauh ini, Palika masih dapat menghindarinya.

"Phuih...! Bisa habis napasku kalau begini terus..!" dengus Palika dalam hati.

Pemuda itu menyadari, kalau dia tidak mungkin bisa unggul menghadapi lima orang gadis cantik yang rata-rata memiliki kepandaian cukup tinggi. Dan dia harus mencari jalan untuk bisa keluar dari pertarungan yang tidak seimbang ini Tapi itu memang tidak mudah, karena setiap celah tampaknya sudah tertutup begitu rapat Sehingga....

"Hiyaaat..!"

Tiba-tiba saja salah seorang dari gadis cantik berbaju merah itu melompat tinggi ke udara, lalu cepat sekali menukik bagai seekor burung elang yang hendak menyambar mangsanya. Begitu cepatnya gerakan gadis berbaju merah itu, sehingga membuat Palika jadi terperangah.

"Huppp...!"

Cepat-cepat Palika melompat ke belakang, menghindari satu serangan yang begitu dahsyat dari salah seorang gadis berbaju merah ini. Tapi begitu kakinya menjejak tanah, langsung disambut satu pukulan keras mengandung pengerahan tenaga dalam cukup tinggi. Dan kali ini, Palika benar-benar tidak dapat lagi menghindari.

Begkh!

"Akh...!" Palika menjerit keras agak tertahan.

Pukulan yang datang begitu cepat itu langsung menghantam punggungnya. Akibatnya, pemuda itu jadi terhuyung-huyung ke depan. Dan sebelum bisa menguasai keseimbangan tubuhnya, tiba- tiba saja salah seorang gadis cantik lainnya sudah melepaskan satu tendangan keras menggeledek ke arah dada. Begitu cepatnya tendangan itu, membuat Palika tidak sempat lagi menghindar. Dan...

"Hiyaaat...!"

Desss!

"Aaakh...!" lagi-lagi Palika menjerit keras melengking tinggi.

Tendangan dari gadis muda berbaju merah itu tepat menghantam dada Palika. Dan ini membuatnya langsung terpental ke belakang sambil menjerit panjang begitu menyayat. Begitu kerasnya tendangan gadis berbaju serba merah itu, sehingga sebuah pohon yang terlanda punggung Palika seketika itu juga hancur berkeping-keping.

"Mampus kau sekarang! Hiyaaat...!"

Salah seorang gadis berbaju merah itu tiba-tiba saja melompat mengejar Palika yang sudah tergeletak bersama reruntuhan pohon yang terlanda tubuhnya tadi. Saat itu, Palika benar-benar tidak punya kekuatan lagi. Dan dia hanya bisa terpejam, begitu melihat salah seorang gadis yang mengeroyoknya sudah melompat sambil mencabut pedang yang tersampir di punggung.

Sret!

Wuk?

Cepat sekali gadis itu mengebutkan pedang berukuran cukup panjang itu ke arah leher Palika. Namun tinggal sedikit lagi mata pedang yang berkilat itu menebas leher pemuda ini, tiba-tiba saja secercah cahaya keperakan berkelebat cepat menyampok arus tebasan pedang itu.

Trang!

"Hehhh...?!"

Gadis berbaju serba merah itu jadi tersentak kaget setengah mati. Buru-buru dia melompat ke belakang, dan melakukan beberapa kali putaran sebelum kakinya menjejak tanah. Empat orang gadis lainnya juga terperanjat. Mereka semua melihat begitu jelas kalau pedang temannya tadi hampir terpental, tersambar sebuah benda berwarna perak berkilat yang berkelebat cepat tadi.


***


EMPAT

Lima orang gadis cantik berbaju merah itu berdiri berjajar sambil saling melemparkan pandang. Mereka kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Suasana yang begitu gelap, membuat mata mereka tidak bisa memandang jauh. Sekitarnya tampak begitu sunyi, tak terlihat seorang pun selain mereka berlima serta Palika yang masih tergeletak di tanah.

Bukan hanya kelima gadis cantik itu yang terkejut, tapi Palika juga jadi keheranan. Ternyata dia masih hidup sampai sekarang ini. Padahal, jelas sekali tadi kalau salah seorang gadis berbaju merah itu sudah mengebutkan pedang ke lehernya Saat itu, Palika memang memejamkan mata. Harinya sudah pasrah jika memang harus mati di tengah hutan yang gelap itu. Tapi entah kenapa, dinginnya pedang pada lehernya tidak terasakan. Bahkan kelima gadis itu tampak se-perti kebingungan.

"Siapa kau?! Keluar...! Jangan seperti tikus main sembunyi!" seru salah seorang gadis berbaju merah itu.

Suaranya begitu keras dan lantang menggelegar. Tapi, sedikit pun tak ada jawaban yang terdengar. Dan kelima gadis itu kembali saling melemparkan pandangan. Namun tiba-tiba saja....

Wusss...!

"Heh...?!"

Lima orang gadis cantik berbaju merah itu jadi tersentak kaget, begitu tiba-tiba saja berhembus angin yang begitu kencang. Lalu sebelum keterkejutan itu lenyap, tahu-tahu di depan mereka sudah berdiri seorang pemuda berwajah tampan. Otot-ototnya tampak bersembulan dari balik bajunya yang terbuat dari kulit harimau. Seekor monyet kecil berbulu hitam bertengger di pundak sebelah kanan. Pemuda itu berdiri tepat di samping Palika yang masih tergeletak tak berdaya di tanah.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya pemuda berbaju kulit harimau itu sambil berpaling menatap Palika.

"Aku merasa seluruh tulangku remuk," sahut Palika terbata-bata.

Jelas sekali kalau napasnya tersendat Sedangkan darah masih saja mengucur dari sudut bibirnya, meskipun sudah beberapa kali diseka dengan punggung tangan. Bahkan dari lubang hidung pun, terlihat darah kental mengalir. Palika mencoba bergerak untuk bangkit, tapi jadi meringis sambil memegangi dadanya yang terasa begitu nyeri. Pemuda itu benar-benar tidak mampu lagi menggerakkan tubuhnya.

'Tampaknya lukamu cukup parah juga. Hmmm.... Kau harus segera dibawa ke tabib," ujar pemuda berbaju kulit harimau itu setengah menggumam nada suaranya.

'Terima kasih," ucap Palika. "Biarkan saja. Rasanya aku akan mati saja."

"Hei...! Apa yang kalian bicarakan, heh...?!" tiba-tiba saja seorang dari kelima gadis cantik berbaju merah itu membentak keras menggelegar.

"Hmmm...," pemuda berbaju kulit harimau itu menggumam perlahan sambil menatap tajam gadis cantik berbaju merah yang membentaknya tadi dengan suara begitu keras menggelegar.

"Kisanak! Kenapa kau menolong tikus keparat itu...?" tanya seorang gadis berbaju merah lainnya.

"Kalian gadis-gadis cantik, kenapa begitu kasar dan main keroyok...?" pemuda berbaju kulit harimau itu malah balik bertanya dengan suara terdengar dingin.

"Apa pedulimu, heh...?!"

"Aku tidak bisa membiarkan kekejaman berlangsung di depan mataku. Kalian gadis-gadis cantik, tapi tindakan kalian begitu kejam seperti iblis. Apa kalian tidak merasa puas sudah mendapat satu orang...? Berapa banyak laki-laki yang ingin kalian sakiti?!" semakin dingin nada suara pemuda berbaju kulit harimau itu.

"Keparat..! Kau telah menghina kami, Kisanak. Kau harus mampus!" geram salah seorang gadis cantik itu langsung memerah wajahnya.

Sedangkan yang empat orang juga jadi terdiam dengan geraham bergeletuk menahan marah. Kata-kata pemuda berbaju kulit harimau itu benar-benar menyakitkan. Dan kelima gadis cantik berbaju merah itu benar-benar terbangkit amarahnya.

"Mampus kau, Keparat! Hiyaaat..!"

Tiba-tiba saja salah seorang dari kelima gadis berbaju merah itu melompat cepat bagai kilat sambil mencabut pedangnya yang tersampir di punggung. Secepat itu pula, pedangnya dikibaskan ke arah dada pemuda berbaju kulit harimau itu.

Bet!

"Hap!"

Hanya sedikit saja mengegoskan tubuh, pemuda berbaju kulit harimau itu berhasil menghindari tebasan pedang gadis berbaju merah ini. Tapi belum sempat tubuhnya ditarik tegak kembali, satu orang gadis lainnya yang juga sama-sama memakai baju merah sudah menyerang dari arah lain dengan cepat sekali.

"Hiyaaat..!"

"Hup! Yeaaah...!"

Secepat kilat pula, pemuda berbaju kulit harimau itu melesat sambil menyambar tubuh Palika. Begitu cepat gerakannya, sehingga lima orang gadis berbaju merah itu jadi terperangah dibuatnya. Mereka belum lagi sempat berbuat lebih banyak, tapi pemuda berbaju kulit harimau itu sudah lenyap tak terlihat lagi bayangan tubuhnya. Lenyap bagai ditelan bumi.

"Setan...! Cepat sekali dia kabur," dengus salah seorang gadis berbaju merah itu.

"Sudah, biarkan saja. Sebaiknya kita kembali saja ke dalam," kata seorang lagi.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka bergegas kembali masuk ke dalam gua yang bermulut cukup besar itu. Sementara, kegelapan masih menyelimuti sekitar hutan yang cukup lebat ini. Sebentar saja, tak seorang pun terlihat lagi. Yang ada hanyalah kegelapan malam menyelimuti belahan bumi ini


***


Malam terus merayap semakin larut. Tidak jauh dari tempat pertarungan tadi berlangsung, terlihat pemuda berbaju kulit harimau yang berhasil lolos dari pertarungan melawan gadis-gadis cantik berbaju merah, sudah berhenti berlari. Diturunkannya tubuh Palika dari pondongannya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya pemuda berbaju kulit harimau itu, setelah membaringkan Palika di atas rerumputan yang cukup tebal dan agak basah oleh embun.

"Semakin parah," sahut Palika lirih.

Pemuda berbaju kulit harimau itu meraba bagian dada Palika. Keningnya jadi berkerut Sedangkan jalan napas Palika semakin perlahan saja. Dan kini seluruh wajahnya sudah memucat bagai tak teraliri darah lagi. Sinar matanya pun semakin kelihatan redup. Dipandanginya pemuda tampan berbaju kulit harimau yang telah membawanya pergi dari gadis-gadis berbaju merah.

"Rasanya aku tidak akan bertahan lagi...," ujar Palika semakin perlahan suaranya. "Boleh kutahu, siapa namamu, Kisanak?"

"Bayu," sahut pemuda berbaju kulit harimau itu.

"Ugkh...!" Palika terbatuk. Dari mulutnya menyemburkan darah kental agak kehitaman. Kembali dipandanginya wajah pemuda berbaju kulit harimau yang mengaku bernama Bayu. Dan dia memang Bayu, yang dikenal berjuluk Pendekar Pulau Neraka. Seorang pendekar muda kosen yang sudah terkenal namanya di kalangan rimba persilatan.

"Kenapa kau berusaha menolongku, Bayu? Tidakkah kau tahu, akan sia-sia saja menolongku," kata Palika tetap dengan suara begitu lirih dan perlahan sekali.

"Kau tahu, siapa mereka itu, Bayu...?"

Bayu hanya menggelengkan kepala saja.

"Mereka adalah para abdi setia Ratu Gua Setan. Kekejaman mereka sudah terkenal. Kau tahu, Bayu.... Mereka baru saja membawa seorang laki-laki dari Desa Cendana," kata Palika lagi

"Ya, aku tahu itu. Aku melihat kejadiannya," sahut Bayu

"Jadi, kau tahu semuanya...?"

"Tidak semuanya. Tapi aku tahu mereka membawa seorang laki-laki dari Desa Cendana. Aku juga tahu kalau laki-laki malang itu bukan penduduk Desa Cendana, melainkan seorang pemandu jalan di Hutan Bukit Merak. Tapi, aku tidak tahu apa maksud mereka menculiknya," jelas Bayu lagi.

"Mereka orang-orang yang berilmu tinggi dan sa-ngat kejam, Bayu. Sudah lama aku ingin membasminya. Tapi, mereka terlalu tangguh buatku...,ugkh" Palika kembali terbatuk disertai semburan darah dari mulutnya. "Mereka telah menghancurkan padepokan ku. Mereka melumpuhkan dan menculik banyak teman seperguruanku. Bahkan banyak yang dibunuh. Guruku sendiri tewas di tangan Ratu Gua Setan itu. Aku dendam sekali, Bayu. Tapi mereka memang terlalu tangguh untukku."

"Hmmm.... Lalu, kenapa mereka ke Desa Cendana?" tanya Bayu jadi ingin tahu.

"Seperti di desa-desa lain, mereka ingin mencari laki-laki muda. Lalu desa itu akan dihancurkan setelah tidak didapatkan lagi para pemuda di sana. Aku tidak ingin Desa Cendana menjadi korban kekejaman mereka. Karena, aku berasal dari sana. Aku adalah putra Ki Langes, Kepala Desa Cendana. Bayu.... Gua itu adalah tempat tinggal mereka. Sudah lama aku selalu mengamatinya, tapi belum pernah bertemu langsung Ratu Gua Setan yang sebenarnya," Palika kembali menjelaskan seraya memberi tahu dirinya yang sebenarnya.

"Hmmm.... Apakah mereka akan membunuh pemuda-pemuda yang diculik?" tanya Bayu lagi.

Palika tidak menjawab pertanyaan Pendekar Pulau Neraka. Dia terus terbatuk-batuk disertai semburan darah kental agak kehitaman beberapa kali Lalu, tubuhnya jadi mengejang menggeletar. Sedangkan kedua bola matanya terbeliak lebar, dan mulutnya ternganga seperti menahan suatu rasa sakit yang amat sangat. Dan sebentar kemudian, seluruh tubuh Palika sudah lemas kembali, dan tak bergerak-gerak lagi. Pingsan. Seluruh rongga mulutnya dipenuhi darah kental agak kehitaman yang menggumpal.

"Hhh..., dia pingsan," desah Bayu seraya menyapu darah di mulut Palika.

Beberapa saat Bayu memandangi tubuh Palika yang diam tak sadarkan diri akibat luka yang sangat parah. Memang sangat parah luka dalam yang diderita Palika. Sehingga menjadi tak sadarkan diri lagi. Perlahan Pendekar Pulau Neraka bangkit berdiri. Beberapa kali ditariknya napas dalam-dalam, lalu dihembuskannya kuat-kuat. Sesaat dia masih memandangi tubuh Palika yang terbujur diam tak sadarkan lagi.

"Hmmm..., Ratu Gua Setan. Mungkinkah dia...?" gumam Bayu perlahan, bicara pada diri sendiri.

Sebentar pandangannya beredar berkeliling. Kemudian dia mencoba untuk mengurangi luka dalam yang diderita Palika dengan menyalurkan hawa murni.

"Aku harus segera membawanya ke tabib. Tapi dia perlu pertolongan secepatnya terlebih dahulu," desah Bayu.

Bayu bekerja disertai pengerahan seluruh kekuatan tenaga dalamnya. Sehingga dalam waktu tidak berapa lama saja, dia sudah bisa membuat wajah yang pucat itu kembali memerah. Pendekar Pulau Neraka baru menghentikan pekerjaannya setelah gerak di dada Palika kembali teratur. Perlahan dipondongnya pemuda itu dan dibawanya pergi dari tempat ini. Tapi mendadak saja dia jadi berhenti tertegun.

"Hhh...! Tidak... dia masih punya orang tua. Aku harus membawanya pulang lebih dahulu. Aku harus menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Hmmm.... Desa Cendana benar-benar berada di dalam ambang kehancuran," gumam Bayu berbicara sendiri.

Bayu tidak jadi membawa Palika ke tabib yang dikenalnya. Kemudian kepalanya berpaling ke arah Timur, lalu kakinya terayun melangkah menuju ke Desa Cendana. Palika masih berada di dalam pondongan. Sementara tidak jauh di belakang Pendekar Pulau Neraka, terlihat seekor monyet kecil yang sejak tadi selalu memperhatikan. Binatang itu berlari-lari kecil mengikuti ayunan kaki pemuda berbaju kulit harimau ini.


***


Bayu mengayunkan kakinya perlahan-lahan memasuki Desa Cendana. Saat itu pagi sudah datang menjelang. Matahari tampak menyemburkan cahayanya yang kemerahan di ufuk Timur. Begitu lembut cahayanya, tapi kelembutan itu seakan-akan adalah racun kehancuran bagi seluruh makhluk yang ada di atas bumi ini.

Belum banyak penduduk yang keluar dari dalam rumahnya. Karena saat ini memang masih terlalu pagi.

Bayu terus melangkah perlahan-lahan sambil mengamati rumah-rumah yang berjajar di sepanjang jalan ini. Hanya beberapa orang saja yang sudah terlihat berada di luar rumah. Tapi semua orang yang berada di luar, kelihatannya begitu lugu dan berusia lanjut. Mereka hanya memandangi Pendekar Pulau Neraka saja, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun juga. Padahal mereka tahu, pemuda berbaju kulit harimau itu tengah memondong seorang anak muda, putra kepala desa ini! Sedangkan Bayu terus mengayunkan kakinya menuju sebuah rumah yang tampak besar dan berhalaman cukup luas. Dia tahu, itu rumah Ki Langes. Seorang laki-laki tua yang menjadi Kepala Desa Cendana ini. Baru saja Bayu memasuki halaman rumah yang begitu luas, pintu rumah itu sudah terbuka. Lalu, keluar seorang laki-laki tua berjubah putih sambil memandang penuh tanda tanya. Dialah Ki Langes, Kepala Desa Cendana.

Laki-laki tua berjubah putih itu tertegun sejenak melihat di depan rumahnya berdiri seorang pemuda tampan mengenakan baju dari kulit harimau. Dan lebih tertegun lagi, karena pemuda itu memondong sesosok tubuh laki-laki muda. Mendadak saja, harinya tersentak, begitu melihat wajah sosok tubuh yang dipondong itu.

"Palika...?!" sentak Ki Langes bagai tersengat lebah.

Bergegas laki-laki tua itu berlari-lari menghampiri Pendekar Pulau Neraka yang baru saja meletakkan tubuh Palika ke tanah. Sementara itu, Ki Langes langsung menubruk tubuh pemuda yang masih belum sadarkan diri itu. Pekikan Ki Langes yang keras tadi, sempat mengejutkan beberapa orang yang berada di dalam rumah itu. Mereka segera berhamburan keluar, dan jadi terperangah begitu melihat Ki Langes memeluk seorang pemuda yang diam seperti mati.

Perlahan Ki Langes mengangkat kepala menatap Bayu yang masih berdiri saja di depannya, kemudian memondong tubuh putranya ini sambil bergerak berdiri. Kembali dipandanginya Pendekar Pulau Neraka. Sementara empat orang laki-laki bertubuh kekar yang masing-masing menyandang golok di pinggang, sudah berdiri berjajar di belakang kepala desa itu.

"Siapa yang melakukan perbuatan keji ini pada anakku.. ?" tanya Ki Langes langsung, dengan suara agak tersendat

"Orang-orangnya Ratu Gua Setan," sahut Bayu perlahan.

"Ohhh...?!"

Bukan hanya Ki Langes yang terkejut mendengar nama yang disebutkan Pendekar Pulau Neraka barusan. Bahkan empat orang pembantunya yang berada di belakangnya langsung tersentak kaget setengah mati. Tentu saja mereka sudah mendengar nama itu. Sebuah nama yang bisa membuat orang mati berdiri bila mendengarnya. Dan mereka juga tahu, Palika menaruh dendam pada Ratu Gua Setan itu. Mereka juga tahu, apa yang terjadi pada padepokan tempat Palika menimba ilmu-ilmu kedigdayaan.

Saat padepokannya dihancurkan Ratu Gua Setan dan orang-orangnya, Palika memang sedang ada di desa ini. Jadi hanya dia saja yang bisa selamat. Sedangkan sebagian besar saudara seperguruannya, bahkan gurunya sendiri tewas. Dan tidak sedikit pula murid-murid padepokan itu yang diculik. Entah, dibawa ke mana. Yang jelas, sampai sekarang ini tidak ada kabar beritanya lagi, tentang nasib murid-murid pade-pokan itu.

"Anak Muda, kau siapa...?" tanya Ki Langes setelah menyerahkan putranya kepada dua orang pembantu yang langsung membawanya ke dalam rumah untuk dirawat

"Namaku Bayu. Aku hanya seorang pengembara yang kebetulan saja lewat, dan melihat putramu dikeroyok mereka," jelas Bayu.

'Terima kasih, kau telah membawa anakku pulang, Kisanak," ucap Ki Langes tetap terdengar pelan suaranya.

"Maafkan. Aku tidak bisa menyelamatkannya. Dia mendapat luka dalam yang parah sekali," ucap Bayu menyesal.

Pada saat itu, dari samping rumah muncul Ratna Wulan. Gadis itu tampak terkejut begitu melihat Bayu. Dan untuk beberapa saat, mereka saling berpandangan. Ratna Wulan buru-buru kembali menghilang di samping rumah kepala desa ini, sebelum yang lain bisa mengetahui kehadirannya. Lalu, Bayu kembali menatap Ki Langes yang tampak berduka.

"Aku mohon diri, Ki...," pamit Bayu buru-buru.

"Ohhh... iya, iya...," sahut Ki Langes agak tergagap.

Bayu bergegas berbalik dan melangkah meninggalkan rumah kepala desa itu. Sementara, Ki Langes masih berdiri mematung beberapa saat sampai Pendekar Pulau Neraka jauh meninggalkannya. Tubuhnya kemudian berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumahnya, diikuti dua orang pembantunya. Ki Langes langsung menghempaskan tubuhnya dengan lemas ke kursi Pandangannya begitu nanar merayapi tubuh Palika yang terbujur tak sadarkan diri di atas balai-balai bambu yang berada di sudut ruangan depan rumah ini.

Tak ada seorang pun yang berbicara. Mereka semua bisa merasakan, apa yang tengah dirasakan laki-laki tua kepala desa itu. Meskipun sudah tahu apa yang terjadi, tapi mereka tetap saja sedih atas keadaan Palika. Dan mereka juga sudah tahu tekad Palika yang rela mati demi membela nama perguruannya yang hancur oleh Ratu Gua Setan dan orang-orangnya. Dan sekarang, dia sendiri terluka oleh gadis-gadis cantik abdi setia Ratu Gua Setan.

"Ki, apa tidak mungkin semua pembunuhan yang terjadi di sini juga dilakukan Ratu Gua Setan...?" ujar Dirat, salah seorang pembantu kepala desa itu

Ki Langes hanya diam saja. Wajahnya diangkat, dan berpaling menatap laki-laki bertubuh tegap pembantunya ini. Sedangkan Dirat jadi terdiam. Dan tiga orang lainnya juga terdiam membisu tanpa bersuara lagi.

"Hhh...! Kalau memang benar, desa ini jelas berada di dalam ambang kehancuran," desah Kl Langes terasa begitu berat sekali.

"Kita harus segera bertindak, Ki," selak Racika yang sejak tadi terdiam saja.

"Apa yang bisa kita lakukan, Racika...? Mereka bukan orang-orang sembarangan. Bahkan Eyang Wanapati saja tidak mampu menghadapinya," keluh Ki Langes seperti berputus asa.

"Tapi, Ki. Kita tidak bisa tinggal diam begitu saja melihat mereka menggerogoti desa ini hingga hancur tak bersisa lagi. Cepat atau lambat, desa ini akan hancur, Ki," selak Landong.

"Benar, Ki. Kita harus secepatnya bertindak. Tidak banyak jumlah pemuda di sini, Ki. Kebanyakan, mereka pergi menuntut ilmu ke padepokan-padepokan. Itu berarti kehancuran desa ini akan semakin cepat, kalau mereka tidak lagi mendapat anak-anak muda di sini," kata Dirat lagi.

"Lalu, apa yang akan kalian lakukan...? Menantang mereka bertarung?"

Tak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan Ki Langes barusan. Memang tidak mungkin menantang bertarung Ratu Gua Setan. Menghadapi lima orang gadis-gadis abdinya saja mereka belum tentu bisa bertahan. Mereka sadar, tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan menyaksikan kehancuran Desa Cendana ini, Dan mereka tahu, hal itu tidak akan lama lagi terjadi.


***


LIMA

Peristiwa yang dialami Palika memang menjadi awal bencana yang sebenarnya di Desa Cendana. Dalam tujuh hari ini saja, sudah terjadi lima kali pembunuhan pemuda desa. Bahkan pemuda-pemuda itu diculik dari rumahnya pada malam hari, lalu pagi harinya ditemukan sudah jadi mayat dengan leher terkoyak hampir buntung. Tapi mereka jadi heran, karena beberapa orang yang sempat melihat penculikan pemuda-pemuda itu mengatakan hanya satu orang yang melakukan.

Penculik itu ternyata seorang wanita yang sukar dikenali wajahnya, karena tertutup rambut panjang yang teriap tak teratur. Namun, rambutnya ternyata tidak berwarna merah seperti yang dikatakan Palika. Itu berarti bukan Ratu Gua Setan yang melakukan semua pembunuhan ini, tapi orang lain yang juga mengenakan baju merah. Inilah yang membingungkan Ki Langes dan para pembantunya. Karena, selama ini mereka menduga kalau Ratu Gua Setan yang melakukan semua pembunuhan itu.

Seperti malam-malam sebelumnya, Dirat dan tiga orang temannya selalu meronda keliling Desa Cendana ini. Mereka benar-benar berharap bisa bertemu manusia terselubung teka-teki yang telah menciptakan neraka di desa ini Tapi sampai jauh malam, mereka belum juga bisa bertemu orang itu. Dan memang sudah beberapa malam ini mereka selalu kecolongan. Mereka tidak melihat apa-apa, tapi pagi harinya selalu menemukan sesosok mayat tergeletak di pinggir jalan.

"Rasanya seperti malam malam yang lalu, kita tidak mungkin bisa bertemu setan aneh itu," desah Carika perlahan sambil melipat tangan, mencoba mengusir rasa dingin.

"Aku merasa...," kata-kata Dirat tiba-tiba terputus.

"Ada apa, Dirat?" tanya Carika.

"Perhatikan rumah itu...," sahut Dirat setengah berbisik, sambil menunjuk sebuah rumah yang berada tepat di tikungan jalan.

Tepat pada saat itu, sebuah bayangan merah berkelebat keluar dari rumah, tepat ketika terdengar jeritan melengking tinggi dari dalam rumah itu.

"Ayo, kita kejar...!" seru Dirat.

"Hiyaaat...!"

Tanpa menunggu yang lain, Dirat langsung saja melompat cepat mengejar bayangan merah yang berkelebat cepat keluar dari dalam rumah itu Carika dan dua orang lain lagi segera berlompatan cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh, mengikuti Dirat yang sudah lebih dahulu berlari cepat.

"Hup! Yeaaah...!"

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Dirat, memang sudah mencapai tingkatan tinggi. Sehingga hanya beberapa kali lompat saja, bayangan merah itu berhasil dikejarnya.

"Berhenti...!" seru Dirat membentak.

"Hih...!"

Tiba-tiba saja bayangan merah itu berbalik cepat begitu berhenti. Dan tanpa diduga sama sekali, tangan kanannya langsung dikebutkan dengan kecepatan luar biasa. Seketika itu juga, dari lipatan lengan baju yang longgar meluncur beberapa buah benda kecil seperti jarum berwarna merah.

"Heh...?! Hup...!"

Dirat terkejut bukan main. Cepat-cepat tubuhnya melenting, berjumpalitan di udara menghindari benda-benda kecil seperti jarum yang berwarna merah. Benda-benda yang merupakan senjata rahasia itu berhamburan deras di sekitar tubuh Dirat, tapi tak satu pun yang mampir ke tubuhnya. Dan dengan manis sekali, Dirat menjejakkan kakinya di tanah.

"Hap! Yeaaah...!"

Begitu kakinya menjejak tanah, Dirat langsung melompat cepat menyerang. Langsung diberikannya beberapa pukulan menggeledek, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Haiiit..!"

Tapi sosok tubuh berbaju merah itu bisa menghindari setiap serangan yang dilancarkan Dirat. Gerakan-gerakan tubuhnya begitu indah dan manis, hingga tak satu pun pukulan Dirat berhasil bersarang di tubuhnya. Pada saat itu, Carika dan dua orang pembantu kepala desa lainnya sudah berdatangan. Dan begitu melihat Dirat bertarung dengan seorang berbaju serba merah yang memang sudah ditunggu-tunggu langsung saja mereka terjun ke dalam pertarungan.

Menghadapi empat orang, tampaknya orang berbaju serba merah itu tidak mengalami kesulitan. Bahkan gerakan-gerakannya semakin bertambah cepat saja, meskipun diserang dari empat jurusan. Tak satu pun dari serangan-serangan keempat pembantu utama kepala desa itu yang berhasil menyambar tubuh lawan. Bahkan untuk menyentuh tubuhnya saja, sampai beberapa jurus berlalu belum juga bisa terlaksana.

"Keluarkan senjata..." teriak

Dirat tiba-tiba.

Sret!

Cring...!

Cepat sekali mereka mencabut golok yang terselip di pinggang. Lalu secepat itu pula, mereka menyerang mempergunakan golok yang berkelebatan cepat, mengincar setiap anggota tubuh orang berbaju serba merah itu. Namun begitu, masih sulit bagi mereka

untuk rnendesak sosok tubuh berbaju merah ini. Padahal, mereka sudah menggunakan senjata golok.

"Hiyaaa...!"

Tiba-tiba saja orang berbaju serba merah itu melentingkan tubuhnya ke udara, lalu manis sekali melakukan beberapa kali putaran. Begitu ringan kakinya menjejak tanah, di luar kepungan empat orang laki-laki bertubuh tegap ini. Kini mereka baru tahu kalau orang berbaju serba merah itu tengah memanggul sesosok tubuh yang tampaknya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Begitu bernafsunya mereka, sehingga tidak memperhatikan kalau orang berbaju serba merah itu sedang memanggul seorang pemuda yang diambilnya dari sebuah rumah tadi.

"Kepung...! Jangan biarkan lolos...!" seru Dirat memberi perintah.

"Hup...!"

"Hiyaaa...!"

"Yeaaah...!"

Empat laki-laki bertubuh tinggi tegap itu langsung saja berlompatan mengepung orang berbaju serba merah. Sementara, Dirat mencoba memperhatikan wajahnya. Tapi malam yang begitu gelap, ditambah lagi rambut orang itu teriap lebat, membuat wajah orang itu sukar dikenali. Rambut yang hitam panjang dan lebat itu menutupi hampir seluruh wajahnya. Tapi dari bentuk tubuhnya yang ramping terbalut baju ketat berwarna merah menyala, sudah bisa dipastikan kalau dia seorang wanita. Dan kulitnya yang putih halus juga membuat Dirat yakin kalau orang itu adalah wanita.

"Kau pasti bukan Ratu Gua Setan. Siapa kau sebenarnya...?!" desis Dirat dengan suara begitu dingin menggetarkan.

"Aku Dewi Asmara Darah," sahut wanita berbaju serba merah itu tidak kalah dingin suaranya.

"Hmmm... jadi kau yang selama ini menculik dan membunuh anak-anak muda Desa Cendana...?" dengus Dirat semakin dingin nada suaranya.

"Ya. Dan aku akan berhenti kalau semua lelaki di desa ini lenyap!"

"Iblis...!" geram Dirat langsung memerah wajahnya.

"Hi hi hi...! Kalian semua juga harus mampus! Sayang sekali, aku sama sekali tidak ada selera buat kalian. Jadi, terpaksa kalian harus mati tanpa bisa lagi menikmati kesenangan permainan asmaraku. Hi hi hi...!" suara wanita yang mengaku bernama Dewi Asmara Darah itu terasa begitu kering dan mengerikan.

Dewi Asmara Darah menurunkan tubuh pemuda yang berada di atas pundaknya. Kemudian, perlahan-lahan tubuhnya diputar, merayapi empat orang laki-laki yang sudah mengepung, bersenjatakan golok berkilatan tersilang di depan dada. Pandangannya yang hampir terhalang rambut, kini tertuju lurus pada Dirat. Suara tawanya masih terdengar terkikik mengerikan.


***


"Menyingkir kalian...! Dia bukan lawanmu!"

Tiba-tiba saja terdengar bentakan keras menggelegar. Empat orang pemuda Desa Cendana itu semua terkejut sampai berpaling ke arah datangnya bentakan tadi Dan entah dari mana datangnya, tahu-tahu tidak jauh dari mereka sudah berdiri seorang pemuda bertubuh tegap. Wajahnya tampan. Sedangkan bajunya dari kulit harimau. Seekor monyet kecil duduk tenang di pundak kanannya.

Dengan ayunan kaki tegap, dia melangkah perlahan mendekati empat orang laki-laki yang mengepung wanita berbaju serba merah itu. Mereka langsung bergerak menyingkir, begitu mengenali pemuda yang tiba-tiba saja muncul. Empat pemuda itu segera berdiri berjajar di belakang pemuda berbaju kulit harimau ini.

"Menjauhlah.... Dia bukan lawan kalian," ujar pemuda itu terus menatap wanita berbaju serba merah itu yang tidak begitu jelas kelihatan wajahnya.

"Baik, Bayu...," sahut Dirat mewakili teman-temannya.

"Ayo..., ayo kita menjauh...."

Dirat segera mengajak yang lain segera menjauhi tempat itu, mencari tempat yang cukup aman. Tapi mereka tidak mau meninggalkan terlalu jauh, agar bisa melihat apa yang akan dilakukan pemuda berbaju kulit harimau yang tak lain adalah Bayu, atau lebih dikenal berjuluk Pendekar Pulau Neraka.

"Kau tentu masih mengenaliku, Dewi Asmara Darah...," desis Bayu terasa begitu dingin nada suaranya.

"Phuih! Kau selalu saja muncul menggangguku, Pendekar Pulau Neraka!" dengus Dewi Asmara Darah ketus.

"Aku tentu tidak akan mengganggu kalau kau mau menghentikan semua perbuatanmu, Dewi Asmara Darah," ujar Bayu kalem.

"Setan...! Seharusnya kau kubikin mampus waktu itu, Pendekar Pulau Neraka!" gertak Dewi Asmara Darah berang.

'Tapi kenyataannya, kalau tidak ditolong nenek-nenek tua itu, kau yang sudah menghuni lubang kubur."

"Keparat! Kau tidak akan bisa lagi menghalangiku, Pendekar Pulau Neraka! Mampus kau, hih...!"

Wuk!

"Haiiit...!"

Cepat sekali Bayu mengegoskan tubuhnya ke kanan, begitu tiba-tiba Dewi Asmara Darah mengebutkan tangan kanan ke depan. Dari balik lipatan lengan bajunya yang longgar, melesat beberapa buah jarum kecil berwarna merah yang langsung meluncur deras di samping tubuh Pendekar Pulau Neraka.

"Hup! Yeaaah...!"

Begitu terlepas dari serangan wanita berbaju serba merah itu, cepat sekali Bayu melenting ke udara. Lalu setelah melakukan beberapa kali putaran, dengan kecepatan bagai kilat tubuhnya meluruk deras sambil melontarkan beberapa pukulan keras beruntun, yang disertai pengerahan tenaga dalam tingkat sempurna.

"Uts! Hiyaaa...!"

Dewi Asmara Darah cepat-cepat melompat ke belakang. Lalu cepat sekali dibalasnya serangan Pendekar Pulau Neraka itu dengan lontaran beberapa pukulan keras menggeledek. Pertarungan tidak dapat dihindarkan lagi. Mereka sama-sama langsung mengeluarkan jurus-jurus tingkat tinggi yang begitu dahsyat dan berbahaya.

Gerakan-gerakan yang dilakukan juga begitu cepat, sehingga sukar untuk diikuti pandangan mata biasa. Begitu cepatnya, sampai bentuk tubuh mereka benar-benar lenyap. Dan yang terlihat hanya dua bayangan berkelebat saling sambar. Entah sudah berapa jurus berganti, tapi pertarungan itu tampaknya masih akan terus berlangsung lama.

Sementara itu, diam-diam Dirat melangkah mendekati pemuda yang masih tergolek di tanah tak sadarkan diri. Dalam pertarungannya, Bayu bisa melihat tindakan pembantu kepala desa itu. Maka Dewi Asmara Darah sengaja digiring menjauhi pemuda itu. Rupanya, wanita berbaju serba merah itu tidak menyadari. Dan dia baru sadar setelah Dirat telah mengamankan pemuda yang diculiknya dari salah satu rumah penduduk, kini sudah berada di tempat aman. Bahkan kini terlindung oleh empat orang pembantu Kepala Desa Cendana ini.

"Setan...! Kalian akan menerima akibatnya! Hiyaaat...!"

Dewi Asmara Darah benar-benar memuncak amarahnya, sehingga tiba-tiba saja melenting cepat ke arah empat orang laki-laki bertubuh tegap itu. Tapi Bayu sama sekali tidak mau melepaskan lagi. Maka Pendekar Pulau Neraka segera saja melesat cepat bagai kilat mengejar wanita berbaju serba merah itu.

"Hiyaaa...!"

Bet!

Wusss...!

Cepat sekali Pendekar Pulau Neraka mengebutkan tangan kanannya, selagi melayang di udara mengejar Dewi Asmara Darah. Seketika itu juga, Cakra Maut yang selalu menempel di pergelangan tangan kanannya melesat cepat bagai kilat mengejar wanita berbaju serba merah itu.

"Setan...! Hup! Yeaaah...!" Cepat-cepat Dewi Asmara Darah membanting tubuhnya ke tanah menghindari terjangan Cakra Maut yang dilepaskan Pendekar Pulau Neraka itu. Melihat senjata cakra bersegi enam tidak mengenai sasaran, Bayu cepat-cepat mengangkat tangannya ke atas kepala sambil menjejakkan kaki kembali ke tanah. Cakra Maut itu kembali menempel di pergelangan tangan Pendekar Pulau Neraka.

"Kau tidak akan bisa lagi terlepas dariku, Perempuan Iblis! Hiyaaat...!"

Sambil berteriak keras menggelegar, Bayu langsung melenting dan melepaskan beberapa kali pukulan menggeledek disertai pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi. Padahal pada saat itu Dewi Asmara Darah baru bisa bangkit berdiri. Maka, wanita itu karuan saja jadi terperangah, begitu melihat Bayu sudah kembali melakukan serangan yang begitu cepat sekali.

"Uts...!"

Dewi Asmara Darah cepat-cepat meliukkan tubuh menghindari beberapa pukulan keras bertenaga dalam tinggi dari Pendekar Pulau Neraka. Tapi ketika Bayu melepaskan satu tendangan keras menggeledek yang begitu cepat dan tidak terduga, wanita berbaju serba merah itu tidak dapat lagi menghindarinya. Sehingga....

Desss!

"Akh...!"

Satu jeritan keras tertahan seketika terdengar begitu tendangan Bayu yang begitu cepat berhasil mendarat telak di dada Dewi Asmara Darah. Akibatnya, wanita berbaju serba merah itu terpental beberapa tombak ke belakang. Begitu kerasnya tendangan tadi, hingga tubuh Dewi Asmara Darah terbanting keras di tanah setelah melayang deras beberapa tombak.

"Ugkh...!"

Darah kental agak kehitaman terpental keluar dari mulut wanita yang wajahnya hampir tertutup rambut panjang meriap tak beraturan itu. Namun, dia segera berusaha bangkit berdiri. Tubuh Dewi Asmara Darah terhuyung-huyung, dengan tangan kiri memegangi dada yang tadi terkena tendangan keras menggeledek Pendekar Pulau Neraka.


***


Sementara itu, Bayu berdiri tegak memandangi Dewi Asmara Darah yang kini sudah bisa berdiri, meskipun masih sedikit limbung. Tangan Pendekar Pulau Neraka terangkat ke pundak, mengelus-elus monyet kecil yang sejak tadi masih berada di pundaknya. Maka, binatang itu kontan memeluk leher Bayu erat-erat. Memang, sejak tadi monyet kecil berbulu hitam itu tidak ditinggalkan, sehingga masih tetap berada di pundaknya. Padahal, pertarungannya tadi begitu sengit melawan Dewi Asmara Darah.

"Nguk!"

"Menyingkir dulu, Tiren," kata Bayu, seraya menurunkan monyet kecil itu dari pundaknya.

"Nguk!"

Monyet kecil berbulu hitam itu berjingkakan, lalu berlari-lari kecil menjauhi Pendekar Pulau Neraka. Sementara Bayu sudah mulai melangkah perlahan-lahan menghampiri Dewi Asmara Darah. Tatapan matanya begitu tajam, memperhatikan wanita berbaju serba merah yang tidak jelas wajahnya. Dia baru berhenti setelah jaraknya tinggal beberapa langkah lagi. Sementara dari balik rambutnya yang teriap menutup wajah, Dewi Asmara Darah menatap tajam Pendekar Pulau Neraka.

Memang, rasanya Dewi Asmara Darah tidak mungkin lagi bisa melanjutkan pertarungan ini. Dan kalaupun dipaksakan, bukan tidak mustahil bakalan tewas. Tendangan keras yang bersarang di dada, membuat napasnya terasa begitu sesak. Belum lagi dari pertarungan tadi, tenaganya sudah terkuras begitu banyak. Bahkan mungkin sekarang ini tidak lagi bisa mengerahkan tenaga dalam penuh. Untung saja yang diterimanya sebuah tendangan. Kalau tadi Pendekar Pulau Neraka memberikan satu totokan yang tepat bersarang di dada, barangkali sekarang ini dia sudah tidak bisa lagi berdiri. Dewi Asmara Darah hanya bisa menunggu, dan mencari kesempatan untuk kabur dari tempat ini.

"Sebaiknya kau menyerah saja, Nisanak. Tidak ada gunanya lagi bertahan. Apalagi mencoba melawan. Aku tahu, siapa kau sesungguhnya. Kau masih punya kesempatan merubah dan memperbaiki jalan hidupmu," Bayu mencoba membujuk dengan suara dibuat lembut.

"Jangan terlalu bangga, Pendekar Pulau Neraka. Aku belum lagi kalah darimu...!" dengus Dewi Asmara Darah dingin.

"Aku tahu, persoalan apa yang sedang kau hadapi, Nisanak. Dan aku...."

"Jangan banyak omong!" sentak Dewi Asmara Darah memutus ucapan Pendekar Pulau Neraka.

"Hih...!"

Tiba-tiba saja tangan kanan wanita berbaju serba merah itu bergerak cepat, mengebut ke depan. Dan seketika itu juga, dari balik lipatan lengan bajunya yang longgar, melesat beberapa buah benda kecil berbentuk seperti jarum berwarna merah bagai titik api.

"Heh...?! Hup!"

Bayu jadi terkejut setengah mati. Buru-buru tubuhnya melenting, berputaran ke belakang menghindari serangan senjata rahasia jarum merah itu. Dan pada saat yang bersamaan....

"Hup! Yeaaah...!"

Dengan sisa-sisa kekuatannya yang ada, Dewi Asmara Darah cepat-cepat melesat pergi. Dan ketika Bayu bisa menjejakkan kaki kembali di tanah, bayangan tubuh wanita berbaju merah itu sudah tidak terlihat lagi, tertelan gelapnya malam ini.

"Setan...!" dengus Bayu kesal. Namun begitu, Bayu memuji dalam hati kecerdikan wanita berbaju serba merah yang dijuluki Dewi Asmara Darah. Namun, Bayu juga jadi kesal sendiri. Masalahnya setiap kali tinggal meringkusnya, wanita itu selalu saja bisa meloloskan diri dengan cara yang sama sekali tidak terduga. Bayu jadi mengumpat sendiri dalam hati. Memaki dirinya yang selalu saja bisa diperdaya oleh wanita itu.

Sudah beberapa kali mereka bertemu, dan selalu terjadi bentrokan. Tapi, selalu saja Dewi Asmara Darah berhasil meloloskan diri dengan segala daya dan akalnya yang begitu cerdik. Bayu memang sedang memburu wanita aneh yang dijuluki Dewi Asmara Darah itu. Karena setiap kemunculannya di sebuah desa, selalu saja menimbulkan keonaran. Dan sekarang wanita aneh itu muncul di Desa Cendana ini, dengan segala tingkah dan perbuatannya yang merugikan orang banyak. Bahkan sekarang ini tampaknya lebih brutal lagi, dengan mengambil paksa pemuda-pemuda desa yang sama sekali tidak mengerti ilmu olah kanuragan. Pemuda-pemuda desa yang sehari-harinya selalu bergelut dengan lumpur sawah.

"Bayu...."

Bayu berpaling begitu mendengar namanya dipanggil. Tampak Dirat, Carika, dan yang lain melangkah cepat menghampiri. Dan pemuda yang tadi hampir dibawa lari Dewi Asmara Darah kini mengikuti dari belakang. Rupanya, dia sudah terlepas dari totokan yang membuatnya tadi tidak sadarkan diri. Entah siapa yang membebaskan totokan itu. Yang pasti, salah seorang dari empat laki-laki pembantu Kepala Desa Cendana ini.

"Tampaknya kau mengenal perempuan setan pengacau itu, Bayu...," ujar Dirat langsung membuka suara, begitu berada dekat dengan Pendekar Pulau Neraka.

"Aku memang sedang memburunya, Paman," sahut Bayu. "Sudah tiga desa dikacaukannya. Dan ini desa yang keempat. Tapi memang tidak mudah meringkusnya. Dia memiliki seribu akal untuk bisa terlepas, meskipun sudah dalam keadaan terluka parah."

"Apakah dia akan kembali lagi?" selak Carika bertanya.

"Kalau bukan dia yang kembali, pasti bibinya atau lima orang pengikut bibinya," sahut Bayu.

"Maksudmu, si Ratu Gua Setan...?" selak Dirat langsung menangkap maksud jawaban Pendekar Pulau Nereka.

"Ya! Memang dia yang menjadi pangkal dari semua malapetaka ini," sahut Bayu lagi, agak mendesah suaranya

Pendekar Pulau Neraka membungkukkan tubuh sedikit, dan menjulurkan tangannya pada monyet kecil yang sudah berada di dekat kakinya. Lalu diangkatnya monyet kecil berbulu hitam itu, dan ditaruhnya di atas pundak sebelah kanan. Monyet kecil yang bernama Tiren itu tampak senang berada di pundak Pendekar Pulau Neraka.

"Maaf, aku harus pergi sekarang," kata Bayu.

"Oh, jangan dulu..," cegah Dirat buru-buru.

"Sebaiknya kau tetap berada di sini, Pendekar...."

"Benar. Kami membutuhkan seorang pendekar digdaya sepertimu untuk menghadapi mereka," sambung Carika.

"Akan sangat berbahaya jika aku tetap berada di sini," ujar Bayu menolak halus, tapi terdengar tegas nada suaranya.

"Maksudmu...?" Dirat jadi tidak mengerti.

"Mereka akan datang dan menghancurkan desa ini, dengan dalih mencariku. Dan sebaiknya, aku memang tidak berada di desa ini. Tapi aku pasti tidak jauh. Aku akan datang lagi kalau mereka muncul di sini," Bayu memberi alasan.

"Lalu, ke mana kau akan pergi?" tanya Carika.

"Aku akan mengejar wanita itu. Aku tahu, ke mana dia pergi," sahut Bayu.

Mereka tidak bisa lagi mencegah Pendekar Pulau Neraka. Mereka hanya bisa memandangi, sampai pemuda berbaju kulit harimau itu jauh meninggalkannya. Sementara malam terus merayap semakin larut Dan tak ada seorang pun yang melihat kejadian barusan, selain mereka. Sedangkan Bayu semakin jauh melangkah pergi. Dan arahnya jelas menuju ke hutan, tempat Dewi Asmara Darah tadi kabur.

"Ayo kita pulang...," ajak Dirat setelah Bayu tidak terlihat lagi, tertelan lebatnya pepohonan di hutan.

Mereka kemudian melangkah meninggalkan tempat itu.

" Aku tidak pernah bermimpi bisa bertemu Pendekar Pulau Neraka," desah Carika menggumam, seperti bicara pada diri sendiri.

"Kau mengenalnya, Carika?" tanya Dirat ingin tahu.

"Aku sering mendengar namanya, dari cerita para pendekar kelana yang singgah di sini Sungguh tidak kusangka kalau orang yang bernama Pendekar Pulau Neraka masih begitu muda, gagah, dan tampan sekali," sahut Carika. Ada nada kebanggaan pada suaranya, karena bisa bertemu langsung seorang pendekar kosen yang selalu jadi bahan pembicaraan di kalangan orang-orang persilatan.

Mereka tidak lagi berbicara, dan terus saja berjalan mengantarkan pemuda yang hampir saja diculik Dewi Asmara Darah. Tak ada lagi yang mengeluarkan suara untuk berbicara, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Pikiran mereka begitu berkecamuk, setelah kemunculan seorang wanita yang dijuluki Dewi Asmara Darah itu.


***


ENAM

Sementara itu di dalam hutan, Bayu berlari-lari kecil sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Gerakan kakinya begitu lincah dan ringan, sehingga tak ada sedikit pun suara yang ditimbulkannya. Padahal tanah di dalam hutan ini tertutup dedaunan kering yang sudah banyak membusuk. Bayu terus berlari sambil sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Tak ada seorang pun yang terlihat. Yang ada hanya kegelapan malam, dengan pepohonan yang menghitam pekat Keadaan di dalam hutan ini begitu mengerikan. Suara jangkrik dan binatang malam lainnya terdengar menyayat, bagai tembang kematian yang mewarnai malam ini. Namun Pendekar Pulau Neraka tampaknya tidak peduli. Dia terus berlari-lari kecil sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya, kalau-kalau melihat satu bayangan orang berkelebat

Tapi sampai jauh masuk ke dalam hutan ini, tidak satu bayangan pun terlihat berkelebat Terlebih lagi, bayangan merah yang memang sedang dikejarnya. Hutan ini begitu lebat. Dan malam juga demikian pekat membuat pandangan Pendekar Pulau Neraka jadi terganggu. Sukar baginya untuk bisa melihat jauh ke depan. Maka dia terpaksa harus memasang telinganya tajam-tajam.

Wusss...!

"Heh...?!"

Bayu jadi tersentak setengah mati, begitu tiba-tiba saja dari arah samping kiri berkelebat sebuah bayangan merah. Kalau saja tidak segera melompat ke belakang, sudah pasti tubuhnya tersambar bayangan merah yang tercampur kelebatan cahaya keperakan. Dan begitu kakinya kembali menjejak tanah, tahu-tahu di depannya sudah berdiri seseorang yang mengenakan jubah merah panjang. Rambutnya juga merah menyala seperti api. Sukar mengenali wajahnya, karena hampir seluruhnya tertutup rambut yang merah panjang meriap tak teratur.

"Ratu Gua Setan...," desis Bayu langsung mengenali orang berjubah merah itu.

"Hik hik hik...! Apa yang kau lakukan di sini, Bocah?" terasa begitu kering sekali nada suara wanita berambut merah yang dikenali berjuluk Ratu Gua Setan itu.

"Aku rasa, sama seperti yang kau lakukan di sini, Ratu Gua Setan. Tapi jelas tujuan kita berbeda. Kau mencari orang untuk kesenangan dirimu sendiri, sedangkan aku memburu orang yang memang patut diburu seperti binatang," sahut Bayu langsung ketus nada suaranya.

"Phuih...! Kau berlagak seperti dirimu paling suci, Bocah!"

'Tidak ada seorang pun di dunia ini yang suci, Nenek Tua."

"Setan...! Kau pikir aku sudah tua, heh...?! Lihat ini..!"

Ratu Gua Setan langsung menyibakkan rambutnya yang berwarna merah menyala bagai berlumur darah itu Seketika, Bayu jadi tersentak kaget Kedua bola matanya terbeliak lebar. Sungguh tidak disangka sama sekali kalau wanita berjubah merah yang dikira sudah lanjut usia itu, ternyata memiliki wajah yang begitu cantik. Bahkan bagai bidadari baru turun dari kahyangan.

"Kau tahu, Pendekar Pulau Neraka...! Setiap laki-laki yang melihat wajahku, harus mampus!" dengus Ratu Gua Setan.

"Hmmm...," Bayu jadi menggumam.

"Dan kau sudah melihat wajahku. Maka, kau juga harus mati malam ini," sambung Ratu Gua Setan. 'Tapi..."

Wanita berjubah merah itu tidak meneruskan kalimatnya, kemudian menggelung rambutnya yang merah bagai api ke atas. Lalu diikatnya dengan sehelai kain yang juga berwarna merah. Kini wajahnya yang cantik terlihat begitu jelas. Kulitnya tampak putih dan halus bagai patung porselen. Memang sungguh sukar dibayangkan, kalau wanita yang memiliki suara kering bagai nenek-nenek itu ternyata masih begitu muda dan cantik sekali. Tapi setelah memperlihatkan wajahnya, suaranya pun langsung berubah tidak seperti tadi. Sementara Bayu sudah menurunkan Tiren dari pundaknya. Tanpa diperintah lagi. Monyet kecil berbulu hitam itu berlarian ke pohon yang agak jauh. Lalu dinaikinya pohon itu dengan gerakan sangat lincah. Kemudian, binatang itu duduk di atas dahan pohon yang cukup tinggi. Monyet kecil yang biasa dipanggil Tiren itu, duduk diam memperhatikan dua tokoh kosen rimba persilatan yang sudah berdiri saling berhadapan.

"Sebenarnya..., apa yang telah terjadi di antara kita, Bayu? Aku rasa, tidak ada satu pertentangan pun yang membuat kita harus saling bermusuhan," kali ini suara Ratu Gua Setan terdengar begitu lembut

"Jalan hidup yang kita tempuh, sangat jauh berbeda. Dan itu yang menjadi pertentangan di antara kita, Arini," sahut Bayu, ikut memanggil nama asli wanita ini. Karena, Ratu Gua Setan sendiri tadi telah menyebut nama asli Pendekar Pulau Neraka itu.

"Hebat..! Ternyata kau sudah tahu tentang diriku, Bayu."

"Ya..., dan aku juga tahu tentang anak angkatmu. Juga maksudmu menjarah Desa Cendana. Dan perlu diketahui, semua yang kau lakukan tidak luput dari perhatianku. Bahkan mungkin semua pendekar di dunia ini mengutuk perbuatanmu. Maka aku mewakili mereka semua kaum pendekar untuk menghentikanmu!" tegas Bayu.

"Ha ha ha...!" Arini jadi tertawa terbahak-bahak.

Entah kenapa, kata-kata Bayu barusan membuat tenggorokannya terasa tergelitik, sehingga membuatnya jadi tertawa terbahak-bahak. Tapi Bayu hanya dlam saja memandangi wanita berambut merah yang cantik bagai bidadari itu. Meskipun disadari kalau pandangannya sedang tertipu, tapi sempat juga ludahnya ditelan saat melihat cara Arini tertawa barusan.


***


"Bayu, aku menawarkan padamu kesenangan yang tidak pernah dibayangkan selama hidupmu. Tapi, dengan satu syarat. Kau tidak lagi mengusik segala apa yang kuperbuat," kata Arini menawarkan satu perjanjian.

"Hm.... Siasat apa lagi yang akan kau lontarkan, Arini?" desis Bayu dingin, setengah menggumam suaranya.

"Apakah begitu sikap seorang pendekar? Selalu saja menaruh prasangka buruk kepada seseorang," dengus Arini.

"Tergantung siapa yang dihadapi," sahut Bayu tetap dingin.

"Sebenarnya, aku tidak ingin di antara kita terjadi permusuhan, Bayu," kata Arini masih dengan suara dibuat lembut

"Dunia ini tidak akan ada permusuhan, jika orang-orang sepertimu lenyap dari muka bumi!" dengus Bayu masih tetap bersikap dingin.

"Huh...! Jangan membuatku hilang kesabaran, Bayu," dengus Arini

"Kesabaranku pun ada batasnya, Arini. Dan sekali lagi kuperingatkan. Jangan coba-coba membujukku dengan segala rayuan dan kecantikan wajahmu. Aku tahu, di balik wajahmu yang cantik sebenarnya kau adalah wanita tua, Arini."

"Bocah sombong! Keras kepala...! Aku akan menaklukkanmu, Pendekar Pulau Neraka," desis Arini jadi menggeram berang. "Kau akan menyesal atas keangkuhanmu, Pendekar Pulau Neraka."

Bayu hanya tersenyum sinis. Hatinya memang sudah muak atas segala sikap dan perbuatan Ratu Gua Setan itu. Sudah tidak terhitung lagi, berapa keluarga yang anak laki-lakinya dijadikan korban dari kebuasan nafsu wanita ini. Dan mereka meminta tolong padanya untuk membalaskan kematian anak-anak mereka. Bayu sudah berjanji akan membasmi Ratu Gua Setan dan gadis-gadis pengikutnya. Dan janjinya harus dilakukan, walau apa pun yang akan terjadi. Sementara Arini yang dikenal berjuluk Ratu Gua Setan, menatap tajam Pendekar Pulau Neraka. Kemudian, perlahan-lahan pedang yang tersembunyi di balik jubah panjangnya dicabut

Sret!

Bayu sempat melangkah mundur beberapa tindak, melihat pedang di tangan Ratu Gua Setan itu mengeluarkan api yang menyala berkobar. Begitu dahsyat pamor pedang wanita berjubah merah ini. Perlahan-lahan Arini mengangkat pedangnya, hingga tertuju lurus ke dada Pendekar Pulau Neraka.

"Seharusnya aku membunuhmu, Pendekar Pulau Neraka. Tapi, aku ingin kau menjadi budakku sebelum mati," desis Arini begitu dingin sekali nada suaranya.

"Hmmm...," Bayu hanya menggumam perlahan saja.

"Terimalah seranganku, Bayu. Hiyaaat..!"

Bet!

"Uts!"

Cepat-cepat Bayu menarik tubuhnya ke belakang, begitu tiba-tiba Arini mengebutkan cepat pedangnya. Ujung pedang yang memancarkan api itu lewat sedikit di depan dada Pendekar Pulau Neraka. Saat itu juga, Bayu merasakan hawa yang begitu panas menyengat bagai hendak membakar seluruh kulit tubuhnya.

"Huppp...!"

Cepat-cepat Bayu melompat beberapa langkah ke belakang, sebelum Arini kembali melakukan serangan. Tapi pada saat kakinya baru saja menjejak tanah, Ratu Gua Setan sudah kembali melompat cepat sambil mengebutkan pedang beberapa kali, ke arah yang paling mematikan. Hal ini membuat Pendekar Pulau Neraka benar-benar jadi kelabakan setengah mati. Terpaksa tubuhnya berjumpalitan menghindari setiap serangan yang dilancarkan Arini begitu cepat

Sebentar saja, hawa di sekitar tempat pertarungan itu sudah terasa begitu panas menyengat sehingga napas Bayu jadi terasa sesak. Tapi sulit bagi Pendekar Pulau Neraka untuk keluar sedikit saja dari batas serangan wanita cantik berjubah merah ini. Karena, serangan-serangan yang dilakukan Ratu Gua Setan benar-benar cepat dan beruntun. Sedikit pun Bayu tak diberi kesempatan untuk menyerang.

Namun setelah beberapa jurus berlalu, Ratu Gua Setan belum juga bisa mendesak. Gerakan-gerakan berkelit yang dilakukan Pendekar Pulau Neraka demikian indah dan cepat luar biasa. Meskipun sudah beberapa kali Arini membabatkan pedangnya, namun Bayu masih bisa menghindarinya. Hal ini tentu saja membuat Ratu Gua Setan itu jadi berang. Maka rasa penasarannya pun timbul di hatinya. Sehingga serangannya semakin diperhebat, dengan jurus-jurus dahsyat luar biasa.

"Lihat kaki...!" seru Arini tiba-tiba.

Bet!

"Ufs...!"

Bayu jadi terkejut bukan main, begitu tiba-tiba Arini mengebutkan pedangnya ke arah dada. Padahal dia tadi berteriak memperingatkan kakinya. Untung saja Pendekar Pulau Neraka bisa melihat cepat gerakan tangan yang menggenggam pedang berapi itu. Maka, cepat-cepat tubuhnya ditarik ke belakang menghindari kebutan pedang berapi itu.

Tapi pada saat berada di tengah dada, Arini cepat menghentikan arus kebutan pedangnya. Dan secepat itu pula, pedangnya ditusukkan sambil mendoyongkan tubuhnya ke depan. Gerakan yang begitu cepat dan tiba-tiba, membuat Bayu jadi terbeliak kaget setengah mati.

"Happp!"

Memang tak ada jalan lain lagi bagi Bayu untuk menghindarinya dari tusukan pedang yang mengeluarkan api itu. Maka dengan cepat sekali tangan kanannya diangkat, untuk menangkis tusukan pedang berapi dengan Cakra Maut yang menempel di pergelangan tangan kanan.

Trang!

"Akh...!"

"Ugkh...!"

Tepat di saat dua senjata berpamor dahsyat itu beradu, baik Bayu maupun Arini sama-sama terpekik tertahan, dan sama-sama terpental ke belakang. Tapi mereka cepat melakukan beberapa putaran di udara untuk menguasai keseimbangan tubuhnya. Dan secara bersamaan pula, mereka sama-sama menjejakkan kaki di tanah. Lalu....

"Hiyaaat..!"

"Yeaaah...!"


***


Cepat sekali mereka saling berlompatan ke udara, begitu kaki-kaki menjejak tanah. Bagai selembar daun kering yang tertiup angin, mereka meluncur deras ke atas dan bertemu pada satu titik di udara. Tepat pada saat itu, Arini membabatkan pedangnya ke tubuh Pendekar Pulau Neraka. Tapi, pemuda berbaju kulit harimau itu cepat sekali mengibaskan tangan kanannya. Langsung ditangkisnya tebasan pedang yang memancarkan api itu.

Trang!

'Yeaaah...!"

Arini cepat memutar pedangnya, dan langsung dikibaskan ke arah kepala Pendekar Pulau Neraka. Tapi dengan cepat pula Bayu kembali mengibaskan tangan kanannya, dan kembali berhasil menangkis tebasan pedang berapi itu.

"Hih! Yeaaah...!"

Arini yang merasa kesal karena serangannya berhasil dipatahkan begitu saja, cepat menghentakkan tangan kirinya ke depan sambil mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam. Tepat pada saat itu, Bayu memiringkan tubuhnya ke kanan seraya mendorong tangan kirinya ke depan. Tak pelak lagi, dua telapak tangan yang terbuka beradu tepat di tengah-tengah.

Glarrr...!

Satu ledakan keras menggelegar terdengar dahsyat begitu dua telapak tangan yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi beradu di udara. Tampak Arini terpental ke belakang sambil menjerit melengking tinggi. Dan Bayu juga terpental berputaran di udara. Namun, hanya sedikit keluhan kecil yang keluar dari mulutnya.

Brukkk!

"Akh...!"

Begitu kerasnya Arini jatuh ke tanah, sehingga menjerit tertahan. Wanita berjubah merah itu bergulingan beberapa kali di tanah, tapi cepat-cepat melompat bangkit berdiri Tampak dari sudut bibirnya mengeluarkan darah kental agak kehitaman. Matanya melirik ke samping, ke arah tongkatnya yang bagian atasnya berbentuk kepala singa tadi ditancapkan. Tongkat itu memang masih tertanam di tanah, tidak jauh dari tempatnya berdiri. Cepat-cepat pedang berapi itu dimasukkan ke dalam warangkanya di pinggang. Lalu, dihampirinya tongkat berkepala singa itu, dan dicabut dari tanah.

Sementara itu Bayu yang mendarat mulus, sudah berdiri tegak. Pendekar Pulau Neraka bersiap menerima serangan lagi dari wanita cantik berjubah merah ini Tapi tampaknya Ratu Gua Setan hanya berdiri tegak, dengan ujung tongkat menyangga tubuhnya. Tongkatnya tampak digenggam erat-erat. Dan tatapan matanya begitu tajam, menyorot langsung ke bola mata Pendekar Pulau Neraka yang juga menyorot begitu tajam.

"Kau memang tangguh, Pendekar Pulau Neraka," puji Arini tulus. "Belum pernah aku mendapat pemuda setangguhmu."

'Terima kasih," ucap Bayu seraya tersenyum tipis.

"Aku akan mengakui kehebatanmu, kalau kau berhasil menandingi tongkat saktiku ini," desis Arini dingin.

"Hmmm...," Bayu hanya menggumam

saja. Bettt!

Arini mengebutkan tongkat ke depan. Maka tiba-tiba saja dari mulut kepala singa yang menganga itu melesat secercah sinar merah yang langsung meluruk deras ke arah Pendekar Pulau Neraka.

"Huppp!"

Cepat-cepat Bayu melompat berputaran ke belakang, sehingga sinar merah itu hanya lewat di atas tubuhnya. Tapi, Ratu Gua Setan Hu tidak berhenti sampai di situ saja. Kembali tongkatnya dikebutkan beberapa kali. Akibatnya, Bayu terpaksa harus berjumpalitan menghindari sinar-sinar merah yang meluncur deras bagai kilat ke arahnya.

"Hup! Yeaaah...!"

Tiba-tiba saja Pendekar Pulau Neraka merundukkan tubuh, begitu sinar merah meluruk deras ke arah kepalanya. Dan begitu sinar merah itu lewat di atas tubuhnya, cepat sekali tubuhnya dimiringkan ke kiri. Lalu, tangan kanannya ditarik ke depan dada. Dan seketika itu juga, tangannya dikibaskan ke depan dengan kecepatan sukar diikuti pandangan mata biasa.

"Yeaaah...!"

Wusss...!

"Heh...?!"

Arini jadi tersentak kaget setengah mati, begitu tiba-tiba Cakra Maut yang berada di pergelangan tangan Pendekar Pulau Neraka melesat cepat bagai kilat. Cepat-cepat tongkatnya ditarik. Memang tak ada lagi kesempatan baginya untuk berkelit menghindari. Dan dengan cepat pula ujung tongkatnya yang berbentuk kepala seekor singa itu menangkis senjata maut Pendekar Pulau Neraka.

Prakkk!

"Akh...!"

"Happp!"

Tepat ketika Arini terhuyung-huyung ke belakang akibat benturan tongkatnya dengan Cakra Maut, Bayu cepat sekali melompat ke atas. Lalu tangan kanannya digerakkan ke depan. Cakra Maut yang baru saja kembali berputar balik ke arahnya, kembali melesat cepat ke arah Ratu Gua Setan.

Begitu cepatnya serangan yang dilancarkan Pendekar Pulau Neraka, sehingga membuat wanita berjubah merah itu jadi terbeliak setengah mati. Maka tubuhnya terpaksa harus dibanting ke tanah dan bergulingan beberapa kali untuk menghindari terjangan senjata maut berbentuk bintang bersegi enam itu.

Tepat di saat Bayu kembali mendarat, dan Cakra Maut kembali menempel di pergelangan tangan kanannya, Arini melompat bangkit berdiri. Namun, bola matanya kontan terbeliak lebar begitu melihat ujung tongkatnya yang berbentuk kepala singa sudah hancur. Dan dia baru sadar kalau hal itu akibat benturan dengan Cakra Maut tadi

"Setan keparat..!" geram Arini langsung memerah wajahnya.

"Hih!"

Arini membuang tongkat kebanggaannya yang sudah tidak berguna itu. Lalu, kembali mencabut pedangnya yang tergantung di pinggang, tertutup jubah yang panjang Pedang yang memancarkan api itu kini sudah kembali tergenggam di tangan, dan tersilang di depan dada. Tatapan matanya begitu tajam menusuk langsung ke bola mata Pendekar Pulau Neraka.

Rasa ingin menaklukkan pemuda tampan berbaju kulit harimau itu sekarang tidak ada tersirat di hatinya. Yang ada hanya kemarahan dan nafsu untuk membunuh Pendekar Pulau Neraka. Amarahnya benar-benar memuncak melihat tongkat sakti kebanggaannya kini sudah hancur tak berguna lagi. Dan sekarang, tinggal pedang berapi ini yang menjadi andalannya. Sungguh tidak disangka kalau senjata Pendekar Pulau Neraka yang kecil dan berbentuk bintang perak bersegi enam itu sangat dahsyat. Bahkan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Baru kali ini tongkat saktinya bisa dihancurkan lawan. Dan sudah barang tentu hal ini menjadikan kemarahannya tak bisa lagi ditahan.

"Kau harus mampus, Bocah Keparat! Hiyaaat..!"

"Hmmm.... Happp!"


***


TUJUH

Serangan-serangan yang dilakukan Ratu Gua Setan kali ini benar-benar cepat dan dahsyat luar biasa. Pedangnya yang mengeluarkan api berkelebatan cepat di sekitar tubuh Pendekar Pulau Neraka. Dan seketika itu juga, udara di sekitar hutan tempat pertarungan jadi terasa panas dan menyesakkan. Tapi, pemuda berbaju kulit harimau itu sudah memindahkan jalan pernapasan ke perut. Sehingga, sama sekali tidak mengalami kesulitan menghadapi serangan Ratu Gua Setan, meskipun udara di sekitarnya semakin menipis saja.

"Gila...! Dia benar-benar tidak terpengaruh hawa pedangku...!" dengus Arini dalam hati. Dia benar-benar terkejut melihat ketangguhan Pendekar Pulau Neraka.

"Keluarkan semua yang kau miliki, Arini!" seru Bayu memanasi.

"Setan...!" geram Arini berang. "Rasakan aji 'Jerat Asmara'ku, Bocah Sombong!"

Gerakan-gerakan yang dilakukan Arini kini benar-benar berubah cepat. Tangannya yang menggenggam pedang bergerak lembut, dan nampak perlahan sekali. Bahkan bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu manis memikat Bayu jadi tersentak kaget melihat perubahan yang begitu menyolok dilakukan Ratu Gua Setan.

"Ikh...!"

Bayu jadi terkejut begitu kepalanya tiba-tiba saja terasa jadi pening. Maka cepat-cepat Pendekar Pulau Neraka melompat mundur beberapa langkah, sambil memutar tubuhnya ke belakang beberapa kali. Sedangkan wanita berjubah merah itu malah menggeser kakinya begitu perlahan dan halus sekali, mengejar Pendekar Pulau Neraka. Seketika Bayu merasakan kepalanya jadi bertambah pening. Pandangannya pun mulai berkunang-kunang.

Pendekar Pulau Neraka menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengusir rasa pening yang tiba-tiba saja menyerangnya. Pada saat itu tercium satu aroma yang begitu harum semerbak. Sukar dipercaya, kini Bayu merasakan wanita yang berada di depannya kelihatan begitu cantik dan menggairahkan sekali. Entah kenapa tiba-tiba saja di dalam dirinya terasa sesuatu rangsangan bergejolak begitu cepat. Dan rangsangan itu semakin kuat mendesaknya. Sementara itu, Arini sudah memasukkan pedangnya kembali ke dalam warangkanya di pinggang.

Dengan ayunan langkah yang begitu gemulai sekali, dihampirinya Pendekar Pulau Neraka yang kini benar-benar sudah terpengaruh rangsangan dari aji 'Jerat Asmara' yang ditebarkan wanita cantik berjubah merah menyala ini Begitu dahsyatnya ajian itu, sehingga Bayu benar-benar tidak sempat lagi menyadari. Bahkan desakan rangsangan dalam dirinya semakin bertambah kuat saja. Pendekar Pulau Neraka benar-benar tidak bisa lagi mengendalikan dirinya. Rangsangan itu benar-benar sudah membuat dirinya lupa.

"Creceeet..!"

Tiba-tiba saja terdengar suara mencerecet nyaring melengking. Dan sebelum ada yang sempat menyadari, tahu-tahu dari atas sebuah pohon meluncur seekor monyet kecil berbulu hitam. Monyet yang ternyata Tiren itu langsung meluruk deras ke kepala Ratu Gua Setan.

"Hei...?!"

Wanita berjubah merah itu jadi terkejut setengah mati. Ratu Gua Setan tidak sempat lagi menghindari, ketika monyet berbulu hitam itu sudah menubruk kepalanya. Lalu, tiba-tiba saja tangannya yang berkuku runcing dan hitam mencakar wajah Ratu Gua Setan.

"Aaa...!" Arini jadi menjerit melengking.

"Nguk...!"

Tiren cepat-cepat melompat dari atas kepala, ketika tangan Arini mengibas ke atas kepala. Lalu, cepat sekali binatang itu kembali melompat begitu kakinya menjejak tanah. Dan kali ini hinggap di punggung.

"Aaa...!"

Kembali Arini memekik keras, begitu merasakan gigi-gigi yang tajam menembus kulit tengkuknya. Wanita itu berputaran cepat. Lalu tangannya bergerak menyambar ke belakang punggungnya. Tapi Tiren sudah lebih dahulu melompat, sehingga sambaran tangan Arini tidak sampai mengenainya.

"Nguk! Nguk...!"

Tiren berjingkrak sambil mencerecet ribut di depan wanita berjubah merah yang berjuluk Ratu Gua Setan itu. Sedangkan Arini merasakan pedih pada wajah dan tengkuknya yang berdarah. Sementara itu, Bayu masih belum juga sadar dari pengaruh aji' Jerat Asmara' yang ditebarkan Ratu Gua Setan tadi

"Nguk! Nguk...!"

Dengan gerakan lincah dan ringan sekali, Tiren melompat ke pundak kanan Pendekar Pulau Neraka. Dia berjingkrak dan mencerecet ribut, berusaha membangunkan kesadaran pemuda berbaju kulit harimau ini. Sedangkan Bayu hanya berpaling sedikit menatap monyet kecil itu. Namun, pandangannya masih nanar.

"Crakkk...!"

Tiren menjerit keras sekali, tepat di depan telinga Pendekar Pulau Neraka. Begitu kerasnya jeritan monyet kecil itu, sehingga membuat Bayu memekik keras melengking tinggi.

"Aaa...!" "

Tiba-tiba saja tubuh Pendekar Pulau Neraka ambruk ke tanah. Pada saat yang bersamaan, Arini sudah melompat hendak menerkam monyet kecil yang telah melukai wajah dan tengkuknya. Tapi dengan gerakan cepat dan lincah sekali, Tiren melompat menghindari terkaman wanita berjubah merah itu. Dan sebelum Arini sempat menyadari, tahu-tahu Tiren sudah melambung tinggi dan hinggap di kepalanya.

Crokkk!

"Aaa...!"

Lagi-lagi Arini menjerit keras melengking tinggi, begitu jari tangan Tiren menembus mata sebelah kirinya. Seketika, darah muncrat keluar begitu jari tangan monyet kecil itu tercabut dari mata kiri Ratu Gua Setan. Lalu binatang itu cepat-cepat melompat turun, dan berlari-lari menghampiri Bayu yang masih tergeletak tak sadarkan diri di tanah.

Sementara Arini terus menggerung-gerung sambil menutupi wajahnya yang berlumuran darah. Tapi sebentar kemudian, Ratu Gua Setan itu berdiri kaku. Dengan mata yang tinggal sebelah, ditatapnya Tiren yang berdiri di samping tubuh Pendekar Pulau Neraka.

"Kubunuh kau, Monyet Keparat...!" geram Arini tidak lagi mempedulikan darah yang terus bercucuran dari mata kirinya.

"Nguk!"

Tiren seperti menantang wanita berjubah merah itu.

Srettt!

"Craiiikh...!"

Tiba-tiba saja monyet kecil berbulu hitam itu melompat cepat, langsung naik ke atas pohon begitu Arini mencabut pedangnya.

"Hiyaaat..!"

Dengan kalap sekali, Arini melompat ke pohon mengejar monyet kecil berbulu hitam itu. Dan secepat itu pula pedangnya yang memancarkan api dikebutkan ke pohon yang dinaiki Tiren. Seketika, pohon itu terbabat buntung. Suara menggemuruh terdengar begitu pohon yang sangat besar itu ambruk tertebas pedang Ratu Gua Setan.

Namun dengan lincah sekali, Tiren berlompatan ke pohon lain. Sedangkan Arini yang benar-benar sudah kalap, terus mengejar membabi buta sambil membabatkan pedangnya. Dan Tiren terus berlompatan dari satu pohon ke pohon lain sambil mencerecet ribut. Sementara, Arini tidak menyadari kalau sudah terpancing monyet kecil ini. Hingga akhirnya, dia benar-benar melupakan Bayu yang masih tergeletak tak sadarkan diri.

Sementara Tiren terus berlompatan semakin menjauhi Pendekar Pulau Neraka, Arini terus mengejarnya sambil membabatkan pedangnya dengan kalap. Hingga tidak berapa lama saja, sudah banyak pohon yang bertumbangan terbabat pedang berapi itu. Hutan ini benar-benar seperti diamuk ribuan ekor gajah. Hancur berantakan, dengan pepohonan yang bertumbngan saling tumpang tindih.

"Nguk! Khraiiickh...!"

"Kubunuh kau, Monyet Keparat..!"

Arini tidak dapat lagi mengendalikan kemarahannya. Hatinya benar-benar kalap, karena sudah kehilangan satu mata akibat ulah monyet kecil ini. Dia terus mengejar ke mana Tiren pergi, berlompatan dari satu pohon ke pohon lain sambil mencerecet ribut. Seakan-akan binatang itu terus mengejek dan menantang Ratu Gua Setan ini.


***


Sementara itu Bayu yang tergeletak tidak sadarkan diri, sudah mulai siuman. Pendekar Pulau Neraka merintih dan mengeluh lirih sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dan hatinya jadi terkejut setengah mati, begitu membuka kelopak matanya. Cepat-cepat Bayu menggerinjang bangun, dan pandangannya langsung beredar berkeliling.

"Edan..! Siapa yang melakukan ini...?" desah Bayu terperanjat melihat hutan di sekelilingnya sudah porak-poranda.

Bayu mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya. Tapi, begitu sukar mengingatnya. Dan yang diketahuinya, dirinya tadi bertarung melawan Ratu Gua Setan. Tapi, kelanjutannya benar-benar tidak tahu lagi, setelah kepalanya terserang rasa pening yang amat sangat

"Tiren...!" teriak Bayu memanggil monyet kecil sahabatnya.

Tak ada sahutan sedikit pun. Sekelilingnya begitu sunyi, bagai berada di tengah kuburan. Hanya desir angin saja yang terdengar, dan gema suara sendiri yang terpantul pepohonan dan bebatuan yang membukit di sekitar hutan ini. Bayu kembali mengedarkan pandangan berkeliling. Benar-benar sunyi dan tak terlihat seorang pun di sini selain dirinya. Bahkan binatang kecil pun tidak dijumpai. Perlahan Pendekar Pulau Neraka melangkah sambil terus mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia berharap bisa bertemu monyet kecil kesayangannya itu.

'Tiren...!"

Beberapa kali Bayu berteriak memanggil monyet kecilnya, tapi tetap saja tidak muncul-muncul. Dan kecemasan mulai menjangkiti hati Pendekar Pulau Neraka. Hatinya cemas, kalau-kalau Tiren mendapat celaka oleh Ratu Gua Setan.

"Hmmm.... Pohon-pohon ini seperti kena tebasan pedang Dan arahnya terus menuju ke Timur. Mungkinkah Tiren...?"

Tanpa berpikir panjang lagi, Pendekar Pulau Neraka langsung melompat cepat bagai kilat Bayu berlari bagai angin, mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Begitu cepatnya, hingga seluruh tubuhnya lenyap. Dan yang terlihat kini hanya bayangan kuning berkelebat menembus pekatnya malam ini.

Bayu terus berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai pada tingkat kesempurnaan. Dan alur kerusakan hutan ini terus diikutinya. Hingga akhirnya....

"Heh...?! Itu seperti suara...?"

Bayu tidak meneruskan gumamnya. Langsung seluruh kekuatan ilmu meringankan tubuhnya dikemposnya, hingga benar-benar tinggal bayangan saja yang berkelebat cepat bagai tak menyentuh tanah.

"Arini...!" teriak Bayu kencang, begitu melihat seorang wanita berjubah merah tengah mengamuk, membabat pepohonan dengan pedang apinya.

Teriakan Bayu yang begitu keras menggelegar, membuat wanita berjubah merah itu menghentikan amukannya. Padahal, pedangnya sudah terangkat dan hendak diayunkan ke arah monyet kecil yang sudah terpojok, menempel pada sebongkah batu hitam yang licin dan berlumut tebal.

"Huppp...!"

Hanya sekali lompat saja, Bayu sudah berada sekitar satu batang tombak di depan Arini Maka monyet kecil berbulu hitam itu cepat-cepat berlari menghampiri Pendekar Pulau Neraka. Kemudian binatang itu melompat naik ke pundak pemuda berbaju kulit harimau ini

"Nguk...!"

Monyet kecil yang bernama Tiren meluapkan kegembiraannya, dengan memeluk leher Bayu erat-erat. Hampir saja dia mati ditebas pedang api itu. Untung saja pada saat yang tepat Bayu muncul menyelamatkannya. Sementara itu, Arini menggeram dahsyat sambil menyilangkan pedang yang memancarkan api di depan dada. Tatapan matanya begitu tajam.

"Ohhh...?!" Bayu agak terkejut juga melihat mata kiri Arini sudah bolong berlumuran darah.

Hampir seluruh wajah Ratu Gua Setan tertutup darah yang keluar dari bola matanya. Sama sekali Bayu tidak tahu, apa yang menyebabkan mata kiri wanita itu pecah berlubang. Dan Pendekar Pulau Neraka tidak sempat bertanya, karena Ratu Gua Setan itu sudah melompat menyerang sambil berteriak lantang menggelegar.

"Kubunuh kalian, Setan Keparat! Hiyaaat..!" Bettt!

Begitu kerasnya kebutan Ratu Gua Setan, sehingga api yang menyemburat pada pedang itu seketika menyebar seperti sebuah cambuk api yang meliuk seperti ular.

"Uts...!"

Bayu cepat-cepat melompat berputar ke belakang, menghindari lidah api yang memancar panjang dari ujung pedang itu. Suara ledakan keras menggelegar seketika terdengar dahsyat, begitu lidah api dari ujung pedang itu menyambar sebongkah batu sebesar kerbau. Batu hitam yang keras itu langsung hancur berkeping-keping.

"Hiya! Hiya! Hiyaaat...!"

Ratu Gua Setan kembali menyerang disertai amarah meluap dalam dada. Pedang apinya dikebutkan beberapa kali dengan kecepatan luar biasa sekali. Akibatnya Bayu terpaksa harus berjumpalitan di udara, menghindari serangan dari pedang api itu.

"Hap! Yeaaah...!"

Tiba-tiba saja Bayu merundukkan tubuh sedikit, begitu kakinya menjejak tanah. Dan dengan cepat sekali tangan kanannya ditarik hingga sejajar melintang di depan dada. Lalu dengan cepat pula tangannya dikebutkan ke depan. Pada saat yang sama, Ratu Gua Setan telah melompat hendak menerjang sambil mengebutkan pedang dengan kekuatan tenaga dalam yang begitu tinggi.

Wesss...!

Seketika dari pergelangan tangan Pendekar Pulau Neraka meluncur Cakra Maut berbentuk bintang bersegi enam keperakan. Senjata maut andalan pendekar berpakaian kulit harimau itu melesat demikian cepat bagaikan kilat. Akibatnya Ratu Gua Setan jadi terbeliak terkejut. Cepat-cepat pedangnya dikebutkan untuk menangkis senjata bintang keperakan bersegi enam itu.

"Hiyaaa...!"

Trang!

"Hup! Yeaaah...!"

Pada saat yang bersamaan, Bayu melompat dari arah kiri wanita berjubah merah itu. Dan cepat sekali, dilepaskannya satu pukulan keras bertenaga dalam yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Serangan Bayu dari arah kiri ini tentu saja tidak bisa cepat dilihat Ratu Gua Setan. Karena, mata kirinya sudah bolong, tak dapat melihat lagi. Sehingga....

Desss!

"Akh...!"

Arini yang lebih dikenal berjuluk Ratu Gua Setan itu menjerit keras melengking begitu pukulan Pendekar Pulau Neraka tepat menghantam dadanya. Seketika wanita berjubah merah itu terpental deras ke belakang. Dan sebelum tubuhnya menyentuh tanah, Bayu sudah mengebutkan tangan kanan, tepat ketika Cakra Maut baru saja menempel di pergelangan tangan kanan.

Bettt!

Wusss...!

Crabbb!

"Aaa...!"

Arini tidak dapat lagi berkelit kali ini. Cakra Maut berbentuk bintang keperakan bersegi enam itu tepat sekali menghunjam bagian tengah dadanya. Tak pelak lagi, tubuh wanita berjubah merah yang berjuluk Ratu Gua Setan itu terbanting keras di tanah, lalu bergu-lingan beberapa kali. Sementara, Cakra Maut kembali melesat balik begitu Bayu mengangkat tangan kanannya ke atas kepala. Senjata bersegi enam itu langsung menempel erat di pergelangan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka.

Sementara Arini menggeliat dan menggelepar sambil mengerang meregang nyawa. Pedangnya yang menyemburkan api kini terlepas dari genggaman tangannya. Perlahan Bayu menghampiri pedang itu, dan memungut dari atas tanah berumput yang basah oleh embun. Rerumputan yang tertindih pedang itu tampak hangus terbakar. Bayu mengangkat pedang itu tinggi-tinggi ke atas kepala. Tapi begitu terayun hendak menebas leher wanita berjubah merah itu, tiba-tiba saja gerakan tangannya terhenti.

"Tidak...! Meskipun tindakanmu begitu kejam, tapi aku tidak akan berlaku kejam padamu," desis Bayu sambil menurunkan tangannya perlahan-lahan. Rupanya, Pendekar Pulau Neraka berusaha menekan kekejamannya pada setiap lawan yang berhasil ditaklukkannya.

Sementara, Arini benar-benar tidak berdaya lagi Tubuhnya tergeletak diam dengan dada bergerak semakin perlahan. Darah terus mengucur deras dari dadanya yang berlubang, bekas tertembus Cakra Maut Sebentar kemudian wanita itu sudah mengejang, lalu terdiam kaku tak bergerak-gerak lagi. Dia tewas karena terlalu banyak mengeluarkan darah dari luka-lukanya. Bayu menghembuskan napas panjang melihat lawan tangguhnya ini sudah tewas.

Pendekar Pulau Neraka melepaskan sarung pedang dari pinggang wanita itu, kemudian memasukkannya ke dalam warangka. Cahaya api yang merah seketika lenyap, begitu pedang kembali bersarang di warangkanya.

"Ayo kita tinggalkan tempat ini, Tiren," ajak Bayu.

"Nguk!"

Sebentar Bayu memperhatikan Arini yang sudah tak bernyawa lagi tergeletak di tanah, kemudian mengayunkan kakinya meninggalkan hutan yang sudah hancur porak-poranda ini. Sementara itu di ufuk Timur, cahaya merah jingga mulai terlihat menyemburat.

Rupanya, fajar akan segera menyingsing. Bayu terus melangkah perlahan menembus reruntuhan pepohonan akibat amukan Ratu Gua Setan tadi. Sementara Tiren masih berada di atas pundak kanan Pendekar Pulau Neraka.

"Kita masih punya tugas yang belum terselesaikan, Tiren Kita kembali ke Desa Cendana. Aku khawatir, desa itu akan menjadi ajang kemarahan mereka," kata Bayu agak perlahan suaranya.

"Nguk!" Tiren menyahuti dengan suara kecil.

"Kematian Arini tentu akan membuat mereka marah. Hhh...! Aku harus bisa menyelamatkan penduduk Desa Cendana dari amukan mereka, Tiren. Aku rasa, ini merupakan tugas yang paling berat," kata Bayu lagi agak mendesah suaranya.

Tiren tidak menyahuti sedikit pun. Monyet kecil itu hanya terdiam saja di pundak kanan Pendekar Pulau Neraka yang terus melangkah perlahan menuju ke Desa Cendana.


***


DELAPAN

Apa yang dikhawatirkan Bayu, memang menjadi kenyataan. Sehari setelah berhasil menewaskan Ratu Gua Setan, lima orang gadis cantik berbaju serba merah mendatangi Desa Cendana secara terang-terangan. Dan mereka datang bersama seorang wanita yang juga mengenakan baju berwarna merah menyala. Hanya saja, sukar bisa melihat wajahnya yang tertutup rambut hitam yang panjang, teriap tak teratur. Mereka datang tepat di saat matahari berada di atas kepala.

Kehadiran mereka tentu saja memang sudah ditunggu-tunggu. Sehingga sebelum jauh melewati perbatasan, mereka sudah dihadang Pendekar Pulau Neraka yang didampingi Ki Langes dan empat orang pembantunya. Di belakang Ki Langes, juga ada beberapa orang penduduk desa dan beberapa orang pemandu Hutan Bukit Merak. Mereka memang sengaja datang ke desa ini setelah mendengar Sudana ditemukan tewas tergeletak di pinggir jalan. Mereka benar-benar ingin membuat perhitungan dengan pembunuh dua orang pemandu itu.

"Bagus...! Rupanya kalian sudah tak sabar menghuni lubang kubur!" dengus wanita berbaju serba merah yang rambutnya teriap menutupi hampir seluruh wajahnya. Wanita itu dikenal berjuluk Dewi Asmara Darah.

"Kalian pun datang hanya mengantarkan nyawa saja!" balas Ki Langes tidak kalah dingin.

"Jangan terlalu pongah hanya mengandalkan satu orang saja, Ki Langes," desis Dewi Asmara Darah seraya melirik Pendekar Pulau Neraka.

"Ki! Apakah mereka yang membunuh Anggara dan Sudana?" selak salah seorang pemandu berbisik pada Ki Langes.

"Benar," sahut Ki Langes mengangguk.

"Kalau begitu, biar kami yang bereskan mereka, Ki."

Seketika itu juga, lima orang pemandu yang datang memang untuk membuat perhitungan itu langsung berlompatan ke depan. Pada saat yang sama, lima orang gadis berbaju merah juga melompat cepat menghadang mereka.

Dan tanpa banyak bicara lagi, mereka sudah langsung terlibat dalam pertempuran sengit. Lima orang pemandu melawan lima orang gadis cantik berbaju merah. Memang suatu pertarungan jujur dan berimbang. Sedangkan diam-diam, Bayu terus memperhatikan Dewi Asmara Darah yang tengah seksama memperhatikan jalannya pertarungan.

Namun belum juga pertarungan itu berjalan lama, tiba-tiba saja terdengar jeritan panjang melengking tinggi. Tampak salah seorang dari pemandu Hutan Bukit Merak terpental ke belakang, dari langsung tewas seketika begitu tubuhnya menghantam tanah. Tampak kepalanya pecah berlumuran darah. Pada saat yang sama, salah seorang gadis berbaju merah sudah melompat mundur dari kancah pertarungan. Bibirnya tersenyum lebar melihat lawannya sudah tewas dengan kepala hancur akibat terkena pukulan yang bertenaga dalam tinggi.

Belum juga lama berselang, kembali terdengar satu jeritan panjang melengking tinggi. Yang kemudian disusul lagi dua kali pekikan keras agak tertahan. Tampak tiga orang pemandu itu berjungkalan dengan tubuh berlumuran darah. Kemudian, disusul lagi dengan ambruknya satu orang pemandu yang tadi berbisik pada Ki Langes. Mereka langsung tergeletak tidak bangun-bangun lagi.

"Ha ha ha...! Ada lagi jago-jagomu yang lain, Ki Langes...?" tantang Dewi Asmara Darah, jumawa. Suara tawanya begitu keras terdengar menggelegar.

"Sombong sekali dia," desis Ki Langes geram.

Kepala Desa Cendana itu hendak melangkah maju, tapi Bayu sudah lebih cepat mencegah. Pendekar Pulau Neraka merentangkan tangannya di depan perut laki-laki tua yang mengenakan jubah putih ini. Ki Langes terpaksa menghentikan niatnya yang hendak melabrak wanita berbaju merah yang dikenal berjuluk Dewi Asmara Darah.

"Biar aku saja yang melayaninya, Ki. Kuharap yang lain tidak lagi mengorbankan nyawa sia-sia. Sudah cukup banyak nyawa yang terbuang percuma," ujar Bayu agak perlahan suaranya. "Sebaiknya kau dan yang lainnya menyingkir. Dan jangan berbuat kebodohan yang bisa merugikan. Biar aku yang tangani mereka."

Setelah berkata demikian, Bayu langsung melangkah ke depan mendekati Dewi Asmara Darah, wanita itu didampingi lima orang gadis yang juga sama-sama berbaju serba merah dan memiliki kepandaian cukup tinggi. Sehingga, tidak ada seorang pun dari jago-jago di Desa Cendana yang bisa menandinginya. Bahkan para pemandu di Hutan Bukit Merak pun tidak sanggup menandingi kelima gadis cantik ini.

Bayu baru berhenti melangkah setelah jaraknya tinggal beberapa tombak di depan Dewi Asmara Darah dan lima orang gadis yang mendampinginya. Beberapa saat lamanya mereka saling berdiam diri, seakan-akan tengah mengukur tingkat kepandaian masing-masing. Tatapan sinar mata mereka begitu tajam, tanpa sedikit pun berkedip.

"Aku tahu, apa maksud kalian datang ke desa ini Dan aku yakin, kalian juga tahu kenapa aku menghadang di perbatasan desa ini," kata Bayu agak dalam suaranya.

"Hhh...!" Dewi Asmara Darah hanya mendengus sinis.

"Kalian datang untuk bertarung. Dan aku akan menyambut keinginan kalian itu. Jadi kuharap kalian bisa menerima apa pun yang terjadi. Dan aku tidak ingin kalian menghancurkan desa ini hanya untuk membalas kematian ratu kalian. Akulah yang bertanggung jawab. Dan kalian hanya membutuhkan aku, bukan mereka...!" tegas Bayu lagi.

"Kau memang harus bertanggung jawab, Pendekar Pulau Neraka, Mereka juga harus bertanggung jawab, telah membiarkanmu berada di sini. Mereka semua harus mati. Juga kau...!" lantang sekali suara Dewi Asmara Darah.

"Baik! Tapi, langkahilah dulu mayatku!" tantang Bayu tegas.

"Hhh...!"

Srettt!

Dewi Asmara Darah langsung mencabut pedangnya sambil mendengus berat. Perlahan-lahan kakinya melangkah maju mendekati Pendekar Pulau Neraka. Dari balik rambutnya yang teriap, terpancar sinar mata yang begitu tajam penuh nafsu membunuh. Sementara Bayu masih tetap berdiri tenang mengamati setiap gerak langkah kaki wanita berbaju serba merah ini

"Tahan seranganku, Pendekar Pulau Neraka! Hiyaaat..!"

"Hap! Yeaaah...!"

***

Cepat sekali Dewi Asmara Darah melompat sambil mengebutkan pedang ke arah leher Pendekar Pulau Neraka. Namun manis sekali Bayu berkelit menghindar, dan langsung memberikan satu sodokan cepat ke arah perut

Dewi Asmara Darah cepat-cepat menarik tubuhnya ke belakang, menghindari sodokan tangan kiri Pendekar Pulau Neraka. Lalu, cepat sekali wanita itu kembali melakukan serangan dengan pedangnya yang berkelebatan cepat, di sekitar tubuh Pendekar Pulau Neraka. Pertarungan langsung berjalan begitu sengit Dewi Asmara Darah yang sudah beberapa kali bertemu pemuda berbaju kulit harimau ini tidak lagi mau tanggung-tanggung. Dia tahu, tingkat kepandaiannya masih berada di bawah Pendekar Pulau Neraka. Maka langsung dikeluarkannya jurus-jurus dahsyat luar biasa.

Sementara itu, Bayu kelihatan agak kerepotan juga menghindari serangan-serangan dari jurus permainan pedang wanita itu, terpaksa tubuhnya harus berjumpalitan dan meliuk-liuk, berusaha melepaskan diri dari setiap tebasan dan tusukan pedang Dewi Asmara Darah.

Bettt!

"Hup! Yeaaah...!"

Bayu cepat melenting ke udara, lalu melakukan putaran beberapa kali ketika pedang Dewi Asmara Darah mengibas ke arah kaki. Dan begitu kakinya menjejak tanah, dengan cepat tubuhnya membungkuk agak miring ke kiri. Dan secepat itu pula tangan kanannya ditarik menyilang di depan dada. Lalu bagaikan kilat, Pendekar Pulau Neraka mengebutkan tangan kanannya ke depan.

"Yeaaah...!"

Wusss...!

Bagaikan kilat, Cakra Maut yang selalu menempel di pergelangan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka melesat cepat ke arah Dewi Asmara Darah yang pada saat itu sudah melompat hendak melakukan serangan lagi. Wanita berbaju serba merah itu jadi terkejut setengah mati, begitu tiba-tiba Bayu melakukan serangan cepat dan tidak terduga sama sekali.

"Hih! Yeaaah...!"

Wuk!

Trang...!

"Ikh...!"

Dewi Asmara Darah jadi terpekik begitu pedangnya yang dikebutkan membentur Cakra Maut, senjata andalan Pendekar Pulau Neraka. Cepat-cepat tubuhnya melenting berputar ke belakang, lalu mendarat terhuyung-huyung di tanah. Tangan kanannya yang sempat tergetar diurut-urut ketika pedangnya beradu dengan senjata maut Pendekar Pulau Neraka.

"Hap! Hiyaaat..!"

Bayu cepat sekali melompat ke atas. Tangan kanannya langsung dihentakkan, ketika Cakra Maut kembali berbalik melesat ke arahnya. Seketika itu juga, Cakra Maut berbentuk bintang bersegi enam keperakan itu kembali meluncur ke arah Dewi Asmara Darah yang kini sedang berusaha menguasai keseimbangan aliran darahnya, akibat benturan senjata tadi.

"Setan...! Hih!"

Bettt!

Cepat sekali Dewi Asmara Darah mengebutkan pedangnya, meskipun tahu aliran darah pada lengan kanannya belum lagi sempurna. Dan tak pelak lagi, pedangnya kembali membentur Cakra Maut yang meluncur bagai kilat ke arahnya.

Trang!

"Akh...!"

Dewi Asmara Darah tidak mampu lagi bertahan, sehingga pedangnya langsung terpental lepas dari genggaman. Pada saat itu Bayu sudah meluruk deras ke arah wanita berbaju merah ini. Lalu cepat sekali diberikannya satu pukulan keras ke arah dada, yang tak bisa dihindari lagi.

Desss!

"Aaakh...!"

Lagi-lagi Dewi Asmara Darah memekik keras. Tubuhnya langsung terpental ke belakang sejauh dua tombak, begitu dadanya terkena pukulan keras yang dilepaskan Pendekar Pulau Neraka barusan. Beberapa kali tubuhnya bergelimpangan di tanah, lalu berusaha cepat bangkit Hanya saja, tubuhnya jadi terhuyung-huyung. Dan dari mulutnya menyemburkan darah agak kental dan berwarna kehitaman. Sementara, Bayu sudah mengangkat tangan kanannya ke atas kepala. Maka Cakra Maut kembali menempel di pergelangan tangan Pendekar Pulau Neraka.

"Serang...! Bunuh manusia keparat itu!" teriak Dewi Asmara Darah lantang, memberi perintah.

"Hiyaaat..!"

"Yeaaah...!"

Seketika itu juga, lima orang gadis berbaju merah yang sejak tadi diam dan menunggu perintah langsung berlompatan menyerang Pendekar Pulau Neraka. Mereka langsung mencabut pedang masing-masing. Pada saat itu, Bayu sudah bersiap dengan tubuh terbungkuk ke kiri dan kaki merentang lebar ke samping Lalu, dengan cepat sekali....

"Yeaaah...!"

Wusss...!

Bagaikan kilat Cakra Maut melesat ke udara begitu Bayu menghentakkan tangan ke depan. Begitu cepatnya lesatan senjata maut keperakan berbentuk bintang bersegi enam itu, sehingga salah seorang gadis yang berada di depan tidak dapat lagi menghindari.

Bresss!

"Aaa...!"

Satu jeritan panjang melengking tinggi seketika itu juga terdengar keras menyayat Dan gadis yang malang itu langsung ambruk menggelepar dengan dada berlubang tertembus Cakra Maut. Darah mengucur keluar dari dada yang berlubang Cakra Maut kembali melesat keluar dari dalam dada gadis itu, tepat ketika Bayu melompat ke atas untuk menghindari tebasan pedang salah seorang gadis ke arah kakinya.

"Hiyaaa...!"

Cepat sekali Pendekar Pulau Neraka itu mengebutkan tangan kanan, begitu Cakra Maut kembali menempel di pergelangan tangan kanannya. Begitu cepat nya Cakra Maut melesat kembali, lagi-lagi seorang gadis cantik itu tidak bisa menghindarinya. Dan bersamaan terdengarnya jeritan panjang melengking tinggi, Bayu meluruk desa sambil melepaskan satu pukulan keras menggeledek yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Yeaaah...!"

Prakkk!

Pukulan yang dilepaskan Bayu begitu cepat dan keras sekali. Sehingga, satu orang gadis tidak bisa menghindarinya lagi. Pukulan bertenaga dalam yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan itu langsung menghantam kepalanya hingga pecah bagai buah semangka yang dihantam palu. Gadis berbaju serba merah itu menjerit keras melengking tinggi, lalu tubuhnya langsung ambruk menggelepar di tanah. Darah kontan mengucur deras dari kepalanya yang hancur terkena pukulan Pendekar Pulau Neraka barusan.

Sementara dua orang gadis lain yang masih bisa bernapas seketika jadi gentar melihat tiga temannya tewas dalam waktu sebentar saja. Bahkan mereka sampai tidak sempat memberi perlawanan yang berarti, dan hanya saling berpandangan saja. Lalu tiba-tiba saja....

"Hup!"

"Yeaaah...!"

Tanpa bicara lagi, kedua gadis itu langsung cepat melesat kabur. Sementara Bayu sudah berdiri tegak tidak jauh di depan Dewi Asmara Darah yang jadi geram melihat keadaan yang sama sekali tidak menguntungkan ini.


***


"Hei...! Jangan lari kau! Hiyaaat..!"

Bayu jadi tersentak begitu tiba-tiba saja Dewi Asmara Darah melompat hendak melarikan diri dari perbatasan Desa Cendana ini. Cepat sekali gerakannya, sehingga dalam waktu sebentar saja sudah berlari begitu jauh. Dan Bayu tidak mau melepaskan lagi buruannya begitu saja.

Sambil mengempos seluruh kekuatan ilmu meringankan tubuhnya, Pendekar Pulau Neraka langsung melesat cepat bagai kilat mengejar wanita berbaju serba merah itu. Sementara di belakangnya, tampak seluruh penduduk Desa Cendana bersorak gembira menyambut kemenangan ini. Mereka benar-benar gembira, karena kejadian ini sudah menandakan kalau desa mereka benar-benar aman. Kini, tak ada lagi pembunuhan-pembunuhan keji serta penculikan anak-anak muda mereka.

"Hup! Yeaaah...!"

Sementara itu Bayu terus berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh, mengejar Dewi Asmara Darah. Dan kini, mereka sudah memasuki hutan yang berbatasan dengan Desa Cendana. Semua orang menyebut hutan ini adalah Hutan Cendana. Dengan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkatan kesempurnaan, Bayu berhasil memperpendek Jarak dengan wanita berbaju serba merah itu. Lalu....

"Hup! Hiyaaa...!"

Sambil berteriak keras menggelegar, Pendekar Pulau Neraka melompat cepat bagai kilat Begitu cepat tompatannya, sehingga monyet kecil yang sejak tadi masih berada di pundak, harus memeluk erat-erat leher pemuda itu.

"Berhenti kau...!" sentak Bayu begitu kakinya mendarat di depan Dewi Asmara Darah, setelah me-lewati atas kepala wanita berbaju serba merah itu.

"Setan...! Kenapa kau mengikutiku terus, Bayu...?!" sentak Dewi Asmara Darah geram.

"Urusan kita belum lagi selesai, Wulan," ujar Bayu agak dipelankan suaranya.

"Phuih...! Dari mana kau tahu namaku?!" dengus Dewi Asmara Darah terkejut

"Aku sudah tahu siapa dirimu, Wulan. Aku harap, kau tidak lagi membuat kesulitan yang bisa membuat rugi dirimu sendiri," tegas Bayu.

"Huh...!" Dewi Asmara Darah mendengus berat Dewi Asmara Darah yang bernama Ratna Wulan menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah. Dan kini terlihat wajahnya yang cantik. Bayu tersenyum melihat wajah wanita berbaju serba merah ini. Dan memang, dugaannya tidak meleset sama sekali. Gadis itu memang Ratna Wulan, yang selama ini tinggal dan mengaku keponakan Ki Langes, Kepala Desa Cendana.

"Kenapa kau berpura-pura menjadi keponakan Ki Langes, Wulan? Apa sebenarnya yang kau inginkan dari semua ini?" tanya Bayu ingin tahu.

"Kau selalu saja mencampuri urusan orang lain, Bayu!" dengus Ratna Wulan, yang selama ini selalu dikenal berjuluk Dewi Asmara Darah.

"Aku tidak akan mencampuri urusanmu, jika orang tuamu...."

"Persetan dengan mereka...!" sentak Ratna Wulan memutuskan ucapan Pendekar Pulau Neraka. "Mereka bukan orang tuaku!"

"Aku tahu, mereka memang bukan orang tua kandungmu. Dan aku juga tahu, apa yang kau lakukan ini untuk mencari orang tua kandungmu yang sebenarnya. Tapi apa yang kau lakukan dengan bergabung menjadi abdi Ratu Gua Setan itu adalah perbuatan salah. Kau masih beruntung kali ini, Wulan. Ki Langes sama sekali tidak mencurigaimu. Padahal aku tahu, keponakan yang sebenarnya sudah meninggal sebulan yang lalu. Dan kebetulan sekali, namanya sama denganmu. Apalagi, mereka sudah lama sekali tidak bertemu, sehingga Ki Langes tidak kenal wajah keponakan yang sebenarnya. Hmmm..., siapa perempuan tua yang kau akui pengasuhmu, Wulan?"

"Gelandangan yang kubayar," sahut Ratna Wulan. 'Tapi sekarang dia juga sudah pergi."

"Wulan! Jika kau sudi menuruti kata-kataku, aku janji akan membantumu mencari orang tuamu. Kebetulan, masalah yang kau hadapi tidak berbeda jauh denganku. Aku sendiri masih terus mencari ibuku yang sampai sekarang tidak jelas keadaannya," kata Bayu lagi.

"Kau jangan coba-coba mengelabui dengan cerita palsu, Bayu!" dengus Ratna Wulan.

"Tidak. Aku bicara jujur. Kalau kau tidak percaya bisa ditanyakan pada salah seorang pekerja di rumah orang tua angkatmu. Namanya, Ki Darpin. Dulu, dia salah seorang murid di padepokan ayahku. Dia tahu betul tentang riwayatku, dan semua yang terjadi pada diri dan keluargaku," jelas Bayu bersungguh-sungguh.

"Apa janjimu agar aku percaya...?"

"Ini...," sahut Bayu sambil melepaskan tali yang mengikat pedang di pinggangnya.

Ratna Wulan jadi terbeliak melihat pedang itu. Tentu saja dikenalinya betul Pedang Api milik Ratu Gua Setan yang begitu dahsyat, karena bisa mengeluarkan api jika tercabut dari warangkanya.

"Pedang ini akan jadi milikmu, jika bersedia berjanji akan meninggalkan semua perbuatan buruk yang telah kau lakukan selama ini," kata Bayu lagi.

Ratna Wulan ingin mengambil pedang itu, tapi Bayu cepat menarik kembali.

"Aku akan menyerahkannya nanti di depan ayah angkatmu. Kau harus minta izin padanya, untuk mencari orang tua kandungmu. Dan aku akan selalu mendampingimu, Wulan. Kita punya tujuan yang sama. Dan kita sama-sama buta, tidak tahu harus mencari ke mana. Bahkan mengenal wajahnya pun tidak," kata Bayu lagi.

"Kenapa kau begitu memperhatikan aku, Bayu?"

"Karena apa yang kau alami tidak jauh berbeda dengan diriku."

Ratna Wulan jadi terdiam. Rambutnya yang panjang segera diikat dengan saputangan berwarna merah. Sebentar dipandanginya wajah tampan pendekar muda itu. Kemudian, perlahan-lahan kepalanya terangguk menyetujui usul yang diberikan Bayu tadi. Dan Pendekar Pulau Neraka jadi tersenyum, kemudian mengikat kembali tali Pedang Api ke pinggangnya.

"Ayo kita pulang ke rumah orang tua angkatmu," ajak Bayu.

"Apa tidak sebaiknya kita ke Desa Cendana dulu?"

"Kau tidak bisa kembali lagi ke sana, Wulan. Mereka akan mencincangmu, karena sudah tahu tentang dirimu."

Ratna Wulan hanya mengangkat pundaknya saja. Mereka kemudian melangkah menuju ke arah Timur. Sementara, matahari sudah mulai tergelincir ke arah Barat Mereka berjalan sambil terus berbicara. Tapi, kelihatan Bayu yang lebih banyak bicara. Sedangkan Ratna Wulan hanya diam saja. Entah, apa yang ada di kepalanya saat ini

"Wulan! Kalau boleh kusarankan, sebaiknya kau ganti bajumu," ujar Bayu.

"Kenapa? Aku suka warna merah."

"Baju itu tidak cocok untukmu, karena kau bukan lagi Dewi Asmara Darah. Kau adalah Ratna Wulan...," tegas Bayu.

"Aku tidak punya ganti."

"Nanti kalau kita menemukan desa, kau bisa membeli pakaian di sana. Pilih saja yang cocok untukmu."

Ratna Wulan hanya mengangguk saja.

"Wulan, boleh kutanyakan sesuatu padamu...?"

Lagi-Iagi Ratna Wulan hanya mengangguk saja.

"Selama ini, apa kau mengikuti jejak Ratu Gua Setan...?" terdengar ragu-ragu nada suara Bayu.

"Tidak. Aku mengikutinya, karena dia berjanji akan mencarikan orang tuaku. Hanya itu saja. Dan selama ini, aku diberi beberapa ilmu olah kanuragan dan kesaktian. Tapi imbalannya, aku harus memberikannya laki-laki muda setiap tiga hari sekali. Sedangkan abdi-abdinya selalu menyediakan setiap hari."

"Bagus...," Bayu tersenyum senang.

"Kau percaya padaku, Bayu?"

'Tentu saja. Karena dasarnya, kau adalah gadis baik-baik. Dan justru aku tidak percaya kalau kau mudah terpengaruh olehnya."

Kali ini Ratna Wulan yang tersenyum senang. Mereka terus melangkah semakin jauh menuju ke Timur, tanpa ada lagi yang berbicara.

Tentunya para pembaca bertanya-tanya, berhasil kah Ratna Wulan menemui orang tua kandungnya? Dan bagaimana hubungan Ratna Wulan dengan Pendekar Pulau Neraka yang tampaknya mulai akrab?

Bagi para pembaca yang mau mengetahui jawabannya, silakan ikuti serial Pendekar Pulau Neraka dalam episode "Lima Setan dari Barat" .

***


SELESAI


Thanks for reading Dewi Asmara Darah I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »