Mahesa Edan Jilid 7

MAHESA EDAN
PENDEKAR DARI LIANG KUBUR
Jilid 7
KARYA: BASTIAN TITO


Mahesa Edan jilid 7




Ringkasan Jilid enam

MAHESA berhasil menyelamatkan Adipati Rangga dari tangan maut jerangkong-jerangkong jejadian ciptaan Embah Bromo Tunggal. Setelah terjadi perkelahian seru dan merasa tak bakal dapat mangalahkan Mahesa maka dukun jahat itu melarikan diri.

Sebelum meninggalkan Probolinggo menuju pesantren Nusa Barung, Mahesa memperingatkan agar Rangga tidak mengganggu Mirani dan ibunya, apalagi sampai memaksa janda itu dijadikan istri.

Pada hari dua belas bulan Sura di Pesantren Nusa Barung berkumpul tokoh-tokoh silat yang berhasil dihasut Karangpandan. Mereka adalah ketua pesantren sendiri, dua hulubalang keraton Surakarta, Datuk lblis seorang lelaki saudara Loh Jingga bernama Pinaran lalu Tangan Dewa Dari Klungkung.

Ketika Wirapati alias Iblis Gila Tangan Hitam bersama Sundari muncul di pesantren itu, keduanya langsung dikeroyok, Sundari menemui kematian di tangan Datuk Iblis. Wirapati mengamuk dan menghancurkan seluruh bangunan di pesantren itu. Dalam keadaan terdesak Mahesa datang manyelamatkannya. Akibatnya kini Mahesa yang memang sudah di tunggu-tunggu menjadi bulan-bulanan serangan. Kemunculan Kunti Kendil menyelamatkan jiwa pemuda ini. Si nenek sakti rupanya telah mencium adanya surat palsu yang mengatasnamakan dirinya.

Karangpandan menemui ajalnya setelah terbuka kedoknya. Dia tidak ada hubungan apa-apa dengan keraton Surakarta. Orang ini adalah penjahat kelas tinggi yang menginginkan Keris Naga Biru dan juga mencuri kitab ilmu silat milik pesantren.

Meskipun Karangpandan tidak dapat menguasai keris sakti itu namun secara licik Embah Bromo Tunggal berhasil melarikannya.

Dalam pertemuan dengan datuk Iblis, Kunti Kendil memaksa bekas kekasihnya ini untuk datang ke puncak lyang. Dalam perjalanan menuju gunung itu sang datuk dihadang oleh Malaikat Maut Berkuda Putih yang ingin membalaskan sakit hati dendam kesumatnya karena Datuk Iblis telah menculik dan memperkosa murid perempuannya. Malaikat Maut hampir saja menemui ajal kalau tidak ditolong oleh tujuh orang katai aneh yang muncul secara tiba-tiba.

Sementara itu antara Wirapati dan Mahesa terdapat saling kecocokan. Keduanya berangkat menuju puncak lyang karena Wirapati ingin mencari Datuk Iblis yang telah membunuh kekasihnya.

Ternyata Kunti Kendil yang tidak ingin urusannya dengan Datuk Iblis diganggu orang lain, tidak senang melihat kemunculan kedua muridnya itu. Terpaksa Mahesa dan Wirapati tinggalkan tempat kediaman si nenek.

Tak lama setelah kedua pemuda itu berlalu, muncul kembali Malaikat Maut Berkuda Putih yang rupanya masih penasaran hendak menuntut balas. Untuk kesekian kalinya terjadi lagi perkelahian antara kedua tokoh silat itu. Malaikat Maut bernasib sial karena Kunti Kendil seperti berpihak pada Datuk Iblis dan meminta dia meninggalkan gunung lyang.


1. RAHASIA WAJAH KERIPUT

SEPASANG mata Malaikat Maut Berkuda Putih membeliak melihat tiga kelabang hitam melesat kearahnya. Dia memukul ke depan. Salah satu dari tiga binatang maut itu menggelepar mental. Tapi dua lainnya terus memburu ke arah leher dan mata kirinya.

“Ah, sudah takdir aku harus mati disini hari ini!” keluh kakek muka kelimis itu tanpa bisa berbuat lain selain menunggu detik-detik kematian! Wuss!

Serangkum angin dahsyat menderu ke depan membuat Datuk Iblis tergontai-gontai. Angin ini ternyata berasal dari pukulan sakti yang dilepaskan Kunti Kendil, menerpa dari samping, menghantam hancur dua ekor kelabang hitam yang hendak merenggut nyawa Malaikat Maut Berkuda Putih. Si kakek sendiri terpental kesamping dan terguling di tanah. Baberapa bagian muka dan tubuhnya cidera tapi dia selamat dari kematian. Parlahan-lahan kakek ini berdiri dengan muka pucat pasi.

“Suwo Permono” Kunti Kendil berseru. “Setelah ku selamatkan kau dari kematian apakah masih berani membantah dan tidak mau angkat kaki dari sini?!”

Paras Malaikat Maut Berkuda Putih yang tadi pucat kini tampak kemerahan. Dia menjura. “Terima kasih kau telah menyelamatkanku Kunti. Memandang hal ini aku menghormatimu dan segera pergi dari sini…” Si kakek berpaling pada Datuk Iblis. Matanya membara. Dia berkata. “Nasib baik masih terus berada dipihakmu Datuk lblis! Tapi satu kali hari naasmu bakal datang. Dan saat itulah aku akan mengorek jantungmu'”

Datuk Iblis Penghisap Darah hanya menyeringai. Malaikat Maut Berkuda Putih berkelebat dan lenyap dibalik tumpukan kayu.

Perlahan-lahan Datuk lblis memutar tubuh dan kini saling berhadapan dengan Kunti Kendil. Untuk beberapa lamanya tak satupun diantara mereka yang membuka bicara selain saling pandang dengan berbagai perasaan mencengkam. Akhirnya setelah batuk-batuk beberapa kali Datuk Iblis membuka mulut.

“Kunti, sekarang hanya tinggal kita berdua di tempat ini. Seauai dengan permintaan! aku saat ini datang menemuimu. Hal apakah yang handak kau bicarakan…..?”
Si nenek keluarkan suara bergumam.

“Kau betul-betul tidak tahu apa sebab alasan aku memintamu datang kemari……?! Jangan coba berdalih…..!”
Puluhan tahun telah berlalu. Banyak hal terjadi seIama itu. Tak mungkin kuingat satu persatu. Hal mana yang hendak kau bicarakan denganku….?”
Kunti Kendil keluarkan suara tertawa sinis.

“Meski kau sudah jadi kakek keropos, tapi kau belum pikun, Tak mungkin lupa pada satu kejadian lima puluh tahun silam…..”
“Lima puluh tahun silam! Ck….ck…..ck” Datuk lblis mendecak. “Bukan main! Kejadian apakah Itu Kunti?”
Si nenek tampak penasaran sekali. Dia yakin kakek bermuka kuning itu mengetahui hal yang dlmakudkannya tapi cuma berpun-pura tidak mengerti.

“Kejadian di sebuah rumah kecil yang kau bangun di satu bukit di pantai utara! kau merayuku hingga aku menyerahkan diriku malam itu! Kemudian kau kabur, tak mau menepeti janji mengawiniku, lari dari tanggungjawab. Lelaki penghianat! Manusia pengecut! Kurobek mulutmu kalau kau berani lagi mengatakan tidak ingat kajadian itu……!”

Datuk Iblis merasakan lututnya agak bergetar. Tapi dia tetap tenang dan duduk di atas sebuah batu besar beberapa langkah dari hadapan Kunti Kendil berdiri.
“Kalau kejadian itu yang kau maksud, tentu saja aku tidak lupa. Hanya aku heran mengapa kau kini mengungkit-ungkitnya…?”

“Lelaki macam apa kau ini Lembu Surah?!” Bentak Kunti Kendil. “Karena kau berjanji hendak mengawiniku maka aku bersedia kau tiduri! Tapi setelah kau rampas kegadisanku, kau melarikan diri!”
“Aku tidak melarikan diri, Aku hanya memang ingin pergi. Salahmu sendiri mengapa kau terpengaruh oleh keadaan saat itu. Tidak pantas kau menyesali seumur-umur. Bukankah itu terjadi karena kita suka sama suka. Lagi pula kaupun tidak hamil karena hubungan yang hanya kita lakukan sekali itu…..”

“Kentut busuk!” damprat Kunti Kendil. “Malam itu kau melakukannya berulang-ulang! Apakah aku harus menunggu sampai hamil baru minta pertanggung jawabmu?!”
Lembu Surah alias Datuk Iblis gelenggeleng kepala,
“Kunti, katakan apa sebenarnya yang kau inginkan dariku saat ini…..?”

“Kau harus mengawiniku…..!” “Hah!” Datuk Iblis melengak. “Kenapa…..?”
“Karena itu dulu janjimu lima puluh tahun lalu. Sebelum kau mendapatkan kesucianku!”
“Aku kawatir ada yang salah dengan otakmu, Kunti. Sudah tua bangka begini inginkan kawin. Apa tidak malu?”
“Kau sendiri apa tidak malu menjadi lelaki perayu yang lalu kabur setelah mendapatkan kegadisan orang?!”
“Kunti, kurasa jalan hidup kita akan lebih tentaram jika kau mau melupakan kejadian itu……” “Enak saja bicaramu Lembu Surah! Dengan jalan melupakan apakah kau bisa mengembalikan kegadisanku?!”
“Kalaupun ada yang bisa mengembalikan kegadisanmu, apa gunanya dalam usiamu yang sudah tua renta begini…!”
“Usiaku memang sudah tua tapi tubuh dan wajahku belum berubah!” sahut Kunti Kendil. Sepasang mata Datuk Iblis tampak berkilat. Dia memandang ke depan dan melihat Kunti Kendil mengangkat kedua tangannya ke depan.

“Jari-jari dan kulit tanganku ini memang tampak keriput seperti nenek-nenek. Tapi yang asli…. kau akan lihat sendiri…..!” Si nenek lalu menggulung lengan pakaiannya ke atas. Dipertengahan lengan dia mengelupas sesuatu lalu menariknya. Hal Ini dilakukannya terhadap kedua tangan. Ternyata si nenek memakai sarung tangan tipis. Ketika sepasang sarung tangan itu dilepas maka tampaklah kulitnya yang asli. Meskipun tidak kencang lagi tetapi putih mulus.
“Ah..” Datuk Iblis berseru tertahan dalam hati.

“Dan lihat kedua betisku Lembu Surah!” si nenek berkata. Dan kakinyapun ternyata memakai selapis sarung tipis, yang ketika dibuka terlihatlah sepasang kaki yang mungil putih dengan betis bunting padi.
Datuk Iblis merasakan dadanya bergetar. Sepasang matanya tak berkedip.

“Dan aku bukan nenek tua bangka parot yang berkaki pincang Lembu Surah!” kata Kunti Kendil seraya melangkah mundar mandir. Sebelumnya semua orang tahu kalau nenek Ini berkaki pincang tapi saat itu disaksikan sendiri oleh Lembu Surah bagaimana kedua kaki yang mulus itu melangkah wajar tanpa cacat.

“Dan punggungkupun tidak bungkuk Lembu Surah!” ujar Kunti Kendil kembali. Tubuhnya yang tadi terbungkuk-bungkuk kini perlahan-lahan di luruskannya. Dan sang “nenek” kini berdiri dengan lurus sempurna, tinggi semampai! Datuk Iblis merasakan tenggorokannya turun naik. “Kunti…….”
“Tunggu…..!” kata Kunti Kendil memotong ucapan Lembu Surah. “Ah, apa lagi yang hendak dilakukan perempuan ini?” tanya Datuk Iblis dalam hati.

Kunti Kendil menggerakkan kedua tangannya ke atas kening. Ketika tangan itu bergerak ke bawah sehelai kulit tipis yang sebelumnya menutupi wajah sang nenek ikut terbuka. Kini tampaklah sebuah wajah perempuan berusia empat puluh tahun, bujur telur, putih bersih, beralis hitam berhidung mancung berbibir tipis. Meskipun kelihatan adanya kerutan-kerutan ditepi sepasang matanya namun jelas wajah itu merupakan satu wajah yang cantik jelita.

Datuk Iblis usap-usap mukanya yang kuning berulang kali.
“Kunti….. Jadi kau……” Kunti Kendil tertawa cekikikan.
“Tubuh dan kecantikan tak banyak berubah dari lima puluh tahun silam. Hanya rambutku yang putih tak bisa kurubah warnanya. Nah bagaimana pendapatmu Lembu Surah?”
Si kakek gelang-gelang kepala “Apa yang harus kukatakan. Terus terang apa ini disebabkan oleh madu lebah putih yang kita temukan di hutan Wilis puluhan tahun yang silam…..?”
Kunti Kendil mengangguk.
“Bagaimana dengan kau….?” bertanya si nenek yang kini bukan merupakan tua bangka bungkuk buruk berkaki pincang lagi.
“Aku tak pernah berkaca. Coba kau lihatlah sendiri….” jawab kakek botak Itu. Seperti yang dilakukan Kunti Kendil tadi dia membuka kulit tipis yang menutupi sepasang kaki dan kedua tangannya, lalu melepaskan topeng kulit yang menutupi mukanya. Ternyata kakek ini pun memiliki anggota tubuh yang masih kukuh. Muka dibalik kulit kuning itu kini tampak merupakan wajah seorang lelaki gagah berusia sekitar empat puluh lina tahun dan kepala yang tadinya botak kini kelihatan ditumbuhi rambut pendek berwarna kelabu.
“Nah, bagaimana menurutmu…..?” Datuk Iblis bertanya sambil memandang pada Kunti Kendil. “Kegagahanmu masih dibanggakan, Surah. Tapi tubuhmu yang bungkuk itu? Bagaimana ini?” “Ah aku lupa!” ujar Lembu Surah.

Lalu ditepuknya punggung sendiri, sesaat kemudian dia tegak dengan lurus dan pongah.
Kunti kendil tertawa panjang sementara Datuk Iblis cuma senyum-senyum.
“Aku khawatir ada orang datang. Sebaiknya cepat kita kenakan lagi topeng kulit tipis ini……” Kata Kunti Kendil.

Lembu Surah menyetujui ucapan sang “nenek” lalu keduanya sama-sama mengenakan kulit tipis pada kepala dan anggota tubuh masing-masing. Sesaat kemudian keduanya telah menjadi kakek dan nenek buruk kembali. “Sekarang kita sudah mengetahui keadaan diri masing-masing. Apakah masih ada keraguan dalam dirimu untuk memberikan pertanggunganjawaban…..?”
Lembu Surah termenung Sejurus lalu menjawab,” Aku tak bisa memberikan keputusan saat ini.” “Kau harus bisa. Aku tak ingin memaksa. Tapi jika kau menolak urusan ini bisa jadi kapiran!” Ucapan Kunti Kendil bernada mengancam.

“Aku banyak urusan yang harus diselesaikan Kunti.”
“Apapun urusanmu pasti bisa ditunda. Yang penting urusan kita berdua harus diselesaikan saat ini juga. Jika kau bersedia melangsungkan perkawinan aku mau melupakan perbuatan-perbuatan jahatmu termasuk pembunuhan-pembunuhan semena-mena yang banyak kau lakukan selama malang melintang di rimba persilatan….”
“Urusan kita tak ada sangkut pautnya dengan perbuatanku yang lain-lain itu Kunti. Aku tak suka mendengar bicaramu yang Seperti tuan besar menghadapi budak saja…” Lembu Surah merasa tak enak dan nampak mulai jengkel.

“Aku tak perduli kau mau bilang apa. Kau harus mengawiniku dan tak boleh pergi dari sini, kecuali bersamaku. Lalu kau harus menghentikan kebiasaan burukmu meneguk darah busuk itu. Aku tidak sudi bersuamikan manusia pecandu tuak atau arak! Nah apa jawabmu?!”
“Kurasa aku harus pergi saat ini. Lain kali kita bertemu lagi!” sahut Lembu Surah.

Tapi baru saja dia hendak melangkah, si nenek bergerak dan Bum!
Tanah di depan kaki Datuk Iblis terbongkar sampai sedalam dua jengkal kena hantaman pukulan sakti Kunti Kendil. Dalam hatinya Lembu Surah memaki panjang pendek. Setelah menenangkan diri dari rasa kejut Lembu Surah lantas berkata, “Jika kau ingin menyelesaikan persoalan ini dengan kekerasan, hanya ada satu kesimpulan. Kita harus mampus bersama!”
“Itu lebih baik dari pada melepaskan kau pergi seenaknya. Kau laki-laki paling pengecut yang pernah kukenal di dunia ini….!”
“Aku sudah katakan kita akan bertemu lagi nanti. Ada banyak urusan yang harus kuselesaikan. Jika kau ingin aku mengawinimu berarti kau harus percaya dengan kata-kataku!”
“Siapa percaya dengan ucapan manusia macammu. Kalau tidak dipaksa tak mungkin kau mau mengerti…..!”
“Kalau begitu lebih baik kau bunuh saja aku saat ini! Aku rela mati ditanganmu!” kata Lembu Surah. Lalu manusia bergelar Datuk Iblis Penghisap Darah ini palingkan tubuh membelakangi Kunti Kendil, siap menerima pukulan atau hantaman maut.

Melihat apa yang dilakukan Lembu Surah surutlah amarah Kunti Kendil. Dia menggigit bibir lalu dengan suara berubah lembut dia berkata, “Apakah benar kau bisa dipercaya………?”
“Aku berjanji akan menemuimu lagi disini. Paling lambat seratus hari dimuka……”
“Aku tak suka kau hanya berjanji. Kau harus bersumpah!” ujar si nenek pula.

“Aku bersumpah demi apapun!” kata Lembu Surah sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. Kunti Kandil tersenyum.
“Kau puas sekarang?”
Si nenek mengangguk.
“Sebelum kau pergi apa kau tidak ingin minum dulu di pondokku?” Kunti Kendil berbasa basi.
Lembu Surah tertawa lebar sambil memandang berkeliling.
“Aku tak melihat sepotong bangunan pun di puncak gunung ini. Pondok mana yang kau maksud Kunti……?”
“Maksudku aku akan menjarang air atau kopi untukmu…..”
“Lain kali saja. Aku harus pergi. Tapi ada satu yang ingin kutanyakan padamu….”
“Ya, hal apakah?” “Dalam perjalanan kesini, pagi tadi aku bertemu dengan tujuh manusia katai. Mereka selain aneh juga memiliki kepandaian luar biasa. Kurasa tak ada duanya di dunia ini. Kau pernah mendengar tentang mereka atau mungkin mengenal mareka……?”
“Tak pernah aku bertemu dengan kelompok manusia katai tujuh orang itu. Beberapa tahun memang pernah kudengar berita mengenai mereka, tapi hanya sepintas. Dan tampaklah seperti dongeng saja karena ilmu kepandaian mereka yang dipercayakan orang hampir tak dapat dipercaya. Dewa sekalipun kurasa tidak selihai mereka. Ada apa kau tanyakan orang-orang itu..?”
“Aku akan pergi sekarang Kunti…..”
“Ya…..karena kau akan menjadi suamiku seratus hari dimuka maka mulai saat ini kau harus merubah kelakuanmu Surah. Jangan lagi berbuat kejahatan, apalagi membunuh. Dan buang minuman busuk celaka itu!”
Lembu Surah hanya bisa tersenyum dibalik topeng kuning tipis yang menutupi wajahnya lalu berkelebat untuk pergi. Justru saat itu terdengar satu seruan.
“Guruku Kunti Kendil! Apakah urusanmu dengan pembunuh dewiku telah selesai?! Waw. …waw.. waw!”

2. ANTARA KEKASIH DAN MURID, SANG GURU MEMILIH KEKASIH

BEGITU kumandang seruan lenyap maka meleset muncul Wirapati alias Iblis Gila Tangan Hitam sambil menjunjung peti mati diatas kepalanya. Dibelakangnya menyusul Mahesa.

“Murid-murid kurang ajar! Jadi kalian masih belum pergi!” menghardik Kunti Kendil. Diam-diam dia merasa kalau-kalau kedua muridnya itu mengetahui dan menyaksikan kejadian waktu dia dan Lembu Surah saling membuka topeng diri masing-masing.

“Nenek…!” yang buka mulut adalah Mahesa. Kau memang inginkan kami tadi pergi. Tapi kau toh tidak melarang kami untuk datang lagi…. Karena itu kami berani muncul kembali. Apalagi muridmu yang satu ini punya urusan yang belum selesai dengan Datuk Iblis itu….!”
Lembu Surah yang tahu bakal menghadapi urusan yang tidak enak segera berkata.
“Kunti, kau uruslah kedua muridmu ini, Aku kawatir otak keduanya tidak waras….!
Aku pergi sekarang!” “Waw waw!” ujar Wirapati. “Kau telah membunuh dewiku! Mana mungkin bisa pergi seenaknya! Waw!” Dengan gerakan cepat Wirapati menghadang jalan Lembu Surah.
Kakek bungkuk bermuka kuning ini jadi marah. Tapi dia masih bisa menahan diri disamping diam-diam menyadari kalau pemuda gila itu memillki ilmu yang tidak rendah. Dia berpaling kembali pada Kunti Kendil dan dengan cerdik berkata, “Kunti, kau urus muridmu ini. Aku tak mau kesalahan tangan!”
Mendengar ucapan Lembu Surah itu Kunti Kendil segera mendekati muridnya dan berkata, “Wirapati! Urusanmu dengan kakek itu kuambil alih.

Aku kelak akan meminta pertanggung jawab atas segala perbuatannya!”
“Waw waw! Mana bisa begitu! Dia membunuh dewiku! Dia harus bertanggung jawab padaku! Mengganti nyawa dewiku dengan jantung busuknya. Waw!”
Kunti kendil nampak gusar.
“Jika kau tidak mematuhi ucapan gurumu, aku terpaksa menjatuhkan tangan keras terhadapmu!” mengancam Kunti Kendil.

Diancam begitu Wirapati tetap ngotot malah marah. “Sudah untung aku mau mengakui sebagai guru. Bukannya kau membantu murid sendiri malah berfihak pada kakek jelek muka tai itu! Apa sih hubunganmu dengan dia…….?”
Wajah Kunti Kendil yang tersembunyi dibalik topeng tipis menjadi merah. Sepasang telinganya terasa panas dan dadanya seperti terbakar mendengar ucapan Wirapati tadi.

“Murid kurang ajar! Kau layak digebuk!” teriak si nenek marah. Tubuhnya seperti mengkerut lalu melesat ke depan kirimkan pukulan dahsyat dengan mengerahkan hampir dua pertiga tenaga dalamnya.

Melihat serangan sang guru Mahesa terkesiap kaget. Yang dilancarkan si nenek adalah Jurus Macan Gila Keluar Dari Kuburan sedang pukulan yang dilepaskan adalah Kincir Air Melabrak Kuburan! Mahesa merasakan tanah yang dipijaknya bergetar, debu dan kerikil beterbangan. Dia menyaksikan bagaimana tubuh Wirapati bergoyang gontai dilanda pukulan itu.

“Edan! Nenek ini hendak membunuh muridnya sendiri!” membatin Mahesa dengan wajah tegang. Dalam keterkejutannya dia tak terpikir untuk melakukan apapun.

Sementara itu Wirapati masih sempat keluarkan suara waw waw lalu lemparkan peti mati dari kepalanya. Tubuhnya sendiri kemudian kelihatan berputar kebelakang seperti bola. Dan hampir sulit dipercaya oleh Kunti Kendil maupun Mahesa begitu dirinya lolos dari gempuran pukulan maut tubuh Wirapati seperti melenting mencelat ke arah si nenek. Sinar hitam mengandung racun mematikan memancar dari tangan kanannya!
“Gila! Anak setan ini memiliki kepandaian seperti malaikat!” kejut Kunti Kendil. Dan dia serta merta mengenali jurus silat yang dilancarkan muridnya itu bukanlah jurus silat yang pernah diajarkannya.

“Dari mana dia dapatkan ilmu silat luar biasa ini….” Si nenek tak habis berpikir lebih panjang karena dia harus cepat-cepat selamatkan diri dari serangan balasan yang sangat berbahaya itu. Satu hal lagi yang membuat si nenek melengak kaget ialah bahwa Wirapati setelah mengirimkan serangan balasan masih mampu berkelebat untuk menangkap peti mati yang tadi dilemparkannya ke udara hingga peti ini tidak jatuh ambrol ke tanah. Setelah meletakkan peti itu baik-baik di atas tanah Wirapati kembali berbalik menghadapi Kunti Kendil. Sepasang matanya tampak bertambah merah. Kumis dan cambang bawuknya seperti berjingkrak. Ini satu pertanda bahwa pemuda gila ini diselimuti amarah yang luar biasa!
“Celaka! Anak setan dan nenek setan ini hendak saling bunuh!” keluh Mahesa dia segera berteriak. “Tahan! Jangan perasaan kalian menguasai pikiran!”
“Mahesa! Menyingkir cepat kalau tidak ikut kubunuh sekalian!” hardik Kunti Kendil. “Murid gila murtad ini layak dibunuh!”
“Nenek! Jangan terpengaruh oleh amarah! Tahan seranganmu!” seru Mahesa ketika dilihatnya Kunti Kendil menggereng dan luruskan kedua tangan ke depan. Kedua tangan itu tampak bergetar dan seperti mengeluarkan hawa tipis. Mahesa tahu betul kalau gurunya saat itu tengah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

Dengan berjibaku Mahesa melompat diantara kedua orang yang sedang berhadap-hadapan untuk saling bunuh itu. Dia sengaja membelakangi si nenek karena tahu betul sang guru tak akan mau memukulnya dari belakang. Menghadapi Wirapati dia cepat berkata, “Kakak Wirapati! Apa kau tidak dengar dewimu memanggil! Waw waw! Dia minta agar kau menghentikan perkelahian ini dan bersamaku lekas-lekas tinggalkan tempat ini…..”
Sesaat sepasang mata merah Wirapati memandang tak berkedip pada Kunti Kendil, melirik sebentar pada Mahesa lalu berpaling sekilas ke arah peti mati.

“Waw waw! Aku tidak dengar suara apa-apa. Kau minggirlah….”
“Dengar kakak Wira. Kalau dewimu sampai marah…. kita berdua bisa celaka. Apa gunanya berkelahi menghadapi nenek itu. Kau bunuh pun dia tak ada untungnya waw waw! Dan kau lihat sendiri, orang yang membunuh dewimu sudah kabur. Lebih baik kita mengejarnya ke kaki gunung!”
Wirapati memandang berkeliling. Saat itu Datuk Iblis alias Lembu Surah memang sudah tak ada lagi di tempat itu. Tadi sewaktu Kunti kandil menyerang Wirapati kakek itu pergunakan kesempatan untuk tinggalkan tempat tersebut secara diam-diam. Mahesapun tak sempat melihatnya.

“Waw waw! Ucapanmu ada benarnya Mahesa. Sebelum bangsat itu lari jauh bagusnya kita kejar!” Terdengar jawaban Wirapati. Lalu tanpa perdulikan lagi si nenek dia segera panggul dan jungjung peti mati berisi jenazah Sundari dan mendahului lari ke arah timur. Mahesa berpaling pada Kunti Kendil. Sambil tersenyum dia kedipkan mata dan berkata, “Nek, kalau ada pesta dipuncak gunung ini seratus hari dimuka, jangan lupa mengundang muridmu ini…..!”
Terserap darah sang guru.

“Ah, anak setan ini rupanya mengetahui! Dia mendengar pembicaraanku! Mungkin juga melihat….!”
Saat Itu Mahesa telah lari sejauh lima tombak. Tapi dengan satu kali lompatan saja Kunti Kendil sudah menghadang didepannya dan sebelum kaget pemuda ini lenyap si nenek sudah mencekal leher pakaiannya.

Suara Kunti Kendil bergetar ketika berkata, “Anak setan! Apapun yang kau dengar! Apapun yang kau lihat! Jangan sekali-kali kau ceritakan pada orang lain! Jika hal ini kau lakukan, aku pasti mengetahuinya dan aku akan datang menjemput nyawamu! Kau mengerti?!”
“Anak setan ini mengerti nek…..” jawab Mahesa. Diam-diam hatinya kecut. Dia sudah sering melihat gurunya marah. Tapi tidak pernah sepasang mata si nenek memancarkan sinar menggidikan seperti saat itu.
“Tapi aku ada satu permintaan nek” Mahesa susul ucapnya tadi.
“Sialan! Apa lagi ini…!”
“Kuharap apapun yang telah terjadi kau tidak akan membunuh kakak Wirapati!”
“Dosanya selangit tembus!” tukas Kunti Kendil.
“Aku tahu! Tapi semua dosa kejahatan dibuatnya dalam keadaan tidak sadar. Dia tidak waras…..kau berjanji, nek?”
“Aku tak mau berjanji dengan anak setan sepertimu. Cuma permintaanmu itu mungkin akan kuperhatikan. Nah sudah! Pergi sana susul kakakmu yang sableng itu!”
Kunti Kendil membetot leher pakaian Mahesa hingga pemuda ini terlempar melayang ke bawah puncak gunung, bergulingan beberapa kali lalu cepat berdiri. Dari kejauhan Mahesa lambaikan tangannya dan masih saja menggoda sang guru dengan teriakan: “Nek! Jangan lupa undangannya!”
“Anak setan! Murid edan!” rutuk Kunti Kendil.

Sebenarnya apakah yang terjadi? Mengapa Mahesa mengeluarkan ucapan seperti itu? Benarkah dia mendengar pembicaraan dan melihat apa yang telah terjadi antara Kunti Kendil dengan Lembu Surah di puncak lyang itu?
Sebelumnya, setelah terpaksa meninggalkan puncak gunung dengan membawa Wirapati, dalam perjalanan selintas tanda tanya besar muncul dalam benak Mahesa. Mengapa sang guru demikian memaksa bahkan marah dan meminta dia bersama Wirapati meninggalkan puncak gunung. Padahal sebelumnya nenek itu sendiri yang menugaskan dia mencari kakak seperguruannya itu.
“Tak dapat tidak pasti ada sasuatu……Pasti!”‘ Begitu batin Mahesa berkata berulang-ulang. Karenanya setelah agak jauh berjalan pemuda ini menggamit bahu Wirapati dan berkata, “Ingat apa yang aku bisikan tadi waw waw?!”
Wirapati mengangguk. “Sehabis baku hantam dengan nenek jelek itu tadi tenagamu tentu banyak terkuras. Kau duduk dekat rerumputan sana. Perutku mulas…..Tunggu sampai aku kembali.”
“Awas kalau kau tidak kembali. Dewiku akan marah!”
“Jangan kawatir. Aku tak lama. Kau tunggu saja disini…..” Setelah menepuk bahu Wirapati Mahesa lantas kembali ke puncak gunung selama bertahun-tahun dia telah diberi pelajaran dan gemblengan menimba ilmu meringankan tubuh oleh Kunti Kendil. Kini dengan mengerahkan seluruh kepandaiannya yang bisa diserapnya, dengan sangat hati-hati agar tidak sampai menimbulkan suara pemuda itu kembali naik ke puncak gunung lyang dan mendekam dibalik tumpukan potongan kayu di ujung sebelah selatan.

Ketika dia sampai disitu dilihatnya Malaikat Maut Berkuda Putih tengah berkelahi mati-matian melawan Datuk lblis Tangan Hitam alias Lembu Surah. Kalau saja tidak ditolong oleh gurunya Malaikat Maut benar-benar akan menemui maut. Setelah orang tua ini pergi Mahesa merasakan dadanya berdebar. Dilihatnya gurunya tegak berhadap-hadapan dengan Lembu Surah. Mengingat punuturan sang guru beberapa waktu sebelum dia turun gunung, Mahesa tahu betul apa kaitan hubungan kedua orang ini dimasa muda mereka. Karena itu sambil terus mengintip pemuda ini pasang telinganya baik-baik.

Semua pembicaraan kedua Orang itu didengar jelas oleh Mahesa. Dan bukan itu saja. Dengan mata terbelalak hampir tak bisa percaya dia menyaksikan peristiwa ketika sang guru dan bekas kekasihnya ini saling buka-bukaan topeng.

“Edan! Bagaimana mungkin dua tua bangka itu masih memiliki tubuh mulus dan wajah bagus?! Madu lebah putih! Apa pula itu?! Apakah benar ada lebah putih? Yang madunya dapat membuat mereka itu jadi awet muda begitu rupa…..? Lalu kenapa mereka bersembunyi dibalik topeng kulit tipis itu…..? Gila! Dunia ini benar-benar penuh keanehan!” Begitu Mahesa berkata tiada henti dari tempat persembunyiannya. Berada lama-lama ditempat itu pemuda ini diam-diam merasa kawatir kalau-kalau kehadirannya diketahui oleh Lembu Surah atau sang guru. Memikir sampai kesana maka dia cepat-cepat kembali ke tempat Wirapati menunggu.

“Waw waw! kau sudah kembalil Apa perut mulasmu sudah berhenti? kalau kau berak apakah sudah cebok? waw waw!”
Karena masih terkesiap oleh apa yang tadi disaksikannya di puncak gunung Mahesa tak menjawab dan saat hanya tegak tertegun.
“Waw waw! Kau tidak menjawab pertanyaanku! Pasti ada sesuatu! Jangan-jangan……..waw….waw! Kau mendustaiku” Sepasang mata Wirapati yang merah memandang menyelidik.

Mahesa angkat bahu. Dia baru tersentak kaget ketika dilihatnya Wirapati berkelebat ke arah puncak gunung.
“Hai! Kau mau kemanakah?!” seru Mahesa.
“Kepuncak gunung! Aku curiga! Pasti ada apa-apa diatas sana! Aku punya firasat waw waw! Jangan-jangan Lembu Surah sudah muncul di sana!”
Kakak Wirapati Kembali…….!”
Tapi sekali ini Mahesa tak dapat mencegah. Sambil menjunjung peti mati yang berat itu Wirapati lari menuju puncak gunung. Kejadian seterusnya adalah seperti yang dituturkan diatas.

Sambi berlari menuruni puncak lyang Mahesa mengutuki dirinya sendiri yang tadi tak dapat menjaga rahasia hingga sampai ketelepasan bicara menyebut soal undangan segala. Kini dengan adanya ancaman si nenek dia merasa jadi lebih tertekan.
Sesampainya di kaki pegunungan Mahesa merasa heran karena dia tidak menemui Wirapati.

“Bagaimanapun tinggi ilmunya, dengan peti dikepala dia tak mungkin lari cepat. Mahesa, aku tak dapat menyusulnya…..Jangan jangan dia kembali ke puncak gunung!”
Mahesa berpiki-pikir apa yang harus dilakukannya. Kemana dia harus mencari Wirapati. Dicobanya menyelidiki daerah sekitar situ. Sampai matahari hampir tenggelam tetap saja dia tak berhasil menemukan jejak kakak seperguruannya itu.
“Dasar orang gila…..Maunya maunya juga!” gerutu Mahesa.

3. PENJELMAAN SANG DEWI

SEBENARNYA kemanakah lenyapnya Wirapati alias lblis Gila Tangan Hitam sehingga Mahesa tak berhasil menyusulnya?
Setelah mengetahui Datuk lblis melarikan diri ke jurusan timur maka sambil membawa peti matinya Wirapati tinggalkan puncak lyang untuk melakukan pengejaran. Namun sebegitu jauh mengejar Wirapati tak berhasil mengejarnya untuk menunggu Mahesa ia tidak sabaran lagi maka Wirapati akhirnya tinggalkan tempat itu. Ketika sampai di satu daerah yang penuh dengan semak belukar setinggi bahu, langit di ufuk barat kelihatan kemerahan. Sang surya segera tenggelam tak berapa lama lagi. Saat itulah Wirapati mendengar suara bergemericik. Suara seperti seseorang keluar dari dalam air.

“Perlahan-lahan, tanpa mengeluarkan suara dia bergerak ke sebelah kanan, ke jurusan datangnya suara tadi. Berjalan lebih sepuluh langkah sepasang mata Wirapati melihat sesosok tubuh berpakaian kuning baru saja keluar dari dalam sebuah telaga berair jernih. Orang berpakaian kuning ini tegak membelakanginya dan kini kelihatan dia mengelung rambutnya yang panjang. Tengkuknya kelihatan putih bersih, ditumbuhi rambut-rambut halus.

“Waw……..waw! Perempuan dari mana yang hampir malam begini ada di tempat ini….. Jelek atau cantikkah dia? Aku harus melihat wajahnya! Aku harus membandingkan dengan dewi. Dewiku jelas perempuan paling cantik di jagat ini! Tak ada yang lebih cantik dari dia!”
Ketika tiba-tiba perempuan berpakaian serba kuning itu berpaling ke belakang kedua orang tersebut sama-sama tersentak kaget. Perempuan itu malah keluarkan pekik tertahan dan mundur beberapa langkah dengan wajah seperti ketakutan. Tentu saja dia kaget dan takut karena dari tempatnnya berdiri dia sama sekali tidak melihat sosok tubuh ataupun kepala Wirapati, yang dilihatnya adalah peti mati kayu jati.

“Peti mati!” desis perempuan ini sambil mundur lagi dua langkah. “Dari mana munculnya! Kenapa bisa mengapung seperti itu!”
Kalau perempuan berpakaian kuning terkejut dan ketakutan melihat peti mati, maka Wirapati terkejut tetapi juga kagum ketika melihat wajah perempuan di hadapannya itu.

“Waw waw! Astaga dilaga! Ternyata perempuan ini berwajah cantik masih muda. Pasti masih gadis. Eh…..kenapa wajahnya mirip-mirip dewiku……..? Jangan-jangan…….!”
Wirapati turunkan peti mati yang dijunjungnya. Yang ada dalam benaknya saat itu adalah dugaan bahwa dewinya secara diam-diam telah keluar dari dalam peti kayu lalu pergi mandi di telaga dan memperlihatkan diri sebagai dara berbaju kuning itu.

Setelah peti berada diatas tanah Wirapati segera membuka penutupnya dan dia tampak mengeranyit ketika menyaksikan sosok tubuh sang dewi ternyata masih ada di dalam peti itu.

Ditepi telaga gadis berbaju kuning kembali terkejut sewaktu melihat tiba-tiba peti kayu yang besar itu bergerak ke bawah dan lenyap dibalik semak belukar. Dengan rasa ingin tahu dan dengan memberanikan diri dara ini menyeruak diantara semak-.mak untuk mengintai apa yang terjadi. Ketika melihat sosok mayat di dalam peti langsung saja dara ini terpekik, balikkan tubuh melarikan diri.

“Waw waw!” Wirapati berseru, “Dewiku! Jangan pergi…. Ah bagaimana ini! Waw waw!” Didalam jalan pikiran Wirapati saat itu roh Sundari telah menjelma dalam bentuk dara berbaju kuning yang tadi dilihatnya. Melihat sang dara melarikan diri buru-buru dia menutupi peti mati, menjungjungnya kembali lalu lari mengejar dara berpakaian kuning.
Sang dara yang ternyata adalah Kemala berlipat ganda rasa takutnya ketika mengetahui dirinya dikejar oleh lelaki bercambang bawuk bermata merah itu. Dia mempercepat larinya. Yang mengejar justru malah tambah dekat.

“Gila! Dia menjungjung peti berat berisi mayat begitu rupa! Bagaimana mungkin bisa lari sekencang itu!” membatin Kemala. Dara ini tambah takut dan tambah mempercepat larinya. Semakin cepat larinya, semakin dekat si pengejar.
“Celaka! Apa yang hendak dilakukannya terhadapku!” pikir sang dara. Sebenarnya Kemala bukanlah gadis penakut. Justru kemunculannya di sekitar pegunungan Iyang itu adalah untuk menyelidiki Datuk lblis yang telah membunuh orang tuanya. Namun menyaksikan keanehan orang yang tidak dikenalnya itu, apalagi mengetahui ada mayat didalam peti, nalurinya sebagai seorang perempuan tetap saja tak dapat dihilangkannya. Dia benar-benar merasa ngeri. Sementara itu dibelakangnya orang yang mengejar tak hentinya berteriak.

“Dewiku! Waw waw! Tunggu! Jangan lari….Tunggu aku! Waw…waw!”
“Dewiku! Siapa yang dimaksudnya dengan sebutan itu….” tanya Kemala dalam hati.
“Dewiku! Jangan lari! Waw waw! Tunggu aku suamimu….!”
“Ah dia pasti gila! Otaknya tidak beres. Bagaimana ini! Aku tak bisa berlari lebih cepat. Dia pasti mengejar dan menangkapku…….”
Kemala berpaling kebelakang. “Hai! Kemana lenyapnya orang itu bersama petinya?!” ujar Kemala ketika melihat si pengejar tak ada lagi di belakangnya. Padahal tadi sudah dekat sekali. Dia menoleh ke kiri, lalu ke kanan. Tetapi tak kelihatan.

“Ah, mudah-mudahan saja dia sudah pergi ke jurusan lain dan tak mengejarku lagi…..l” Kemala menarik nafas lega. Setelah membetulkan gulungan rambutnya dia balikkan tubuh untuk melanjutkan perjalanan. Tapi baru saja membalik, dara ini kontan menjerit. Di hadapannya tahu-tahu lelaki bercambang bawuk bermata merah dan berlengan hitam itu sudah tegak menghadang sambil menyeringai. Kembali Kemala terpekik dan mundur, siap melarikan diri lagi. Tapi cepat sekali orang itu ulurkan tangan kanannya dan tahu-tahu Iengannya suda kena terpegang!
Kemala berontak. Tapi aneh, sedikitpun tubuhnya tak bisa bergerak, apalagi melepaskan diri dari pegangan orang.
“Lepaskan! Lepaskan! Jangan sakiti aku…..'” jerit Kemala.
“Dewiku…..waw waw! Aku tidak mau menyakitimu. Tapi kau jangan lari. Kau harus ikut aku. Kita bersama-sama lagi. Waw waw!”
AKu….aku… bukan dewimu! Lepaskan……!” teriak Kemala.
“Waw waw! Jangan berkata begitu. Jelas kau adalah penjelmaan mendiang dewiku. wajahmu mirip sekali. Kau tak boleh pergi dewiku. Mulai saat ini kita harus bersama-sama lagi……”
“Tidak! Siapa sudi ikut kau! Lepaskan peganganmu. Kalau tidak kutebas tanganmu….!” Kemala mengancam sambil gerakan tangan kanannya masih bebas untuk menarik pedang dari balik pakaian.
 “Waw waw! Jangankan tanganku. Leherkupun akan kuberikan jika kau minta!” sahut Wirapati.
Kemala cabut pedangnya.
Wut!
Senjata itu membabat ke arah lengan kanan Wirapati.
Trang!
“Astaga!”
Kagetlah Kemala. Tangan yang hendak ditabasnya bukan saja tidak mempan tapi pedangnya sendiri malah hampir terlepas.
“Orang gila ini kebal!” kata Kemala dalam hati. Otaknya bekerja cepat. “Kalau tangannya kebal aku harus coba perutnyal”
Dan memang perut Wirapati tidak kebal senjata. Ketika melihat ujung pedang ditusukan ke perutnya lelaki ini menyeringai. Tangan kirinya bergerak ke depan.
 “Waw waw! Dewiku. Senjata seperti ini tidak boleh dijadikan mainan. Mari serahkan padaku!”
Kemala hampir tak percaya ketika malihat badan pedangnya telah ditangkap orang yang mencekalnya. Sesaat kemudian terdengar suara tring! Dan pedang itu patah dua!
“Dewiku Sebentar lagi hari akan malam. Waw waw! kita harus tinggalkan tempat ini. Kau harus ikut bersamaku.”
“Tidak!” Kemala kerahkan seluruh tenaganya luar dalam. Namun sia-sia saja. Cekalan Wirapati laksana jepitan. Dalam takutnya gadis itu menjadi kalap. Dia hantam tangan kirinya ke depan, memukul ke arah jantung Wirapati.

Dul! Yang dipukul hanya ketawa. Padahal jika pukulan itu mengenai kepala seekor kambing, pasti kepala binatang ini hancur.
“Dewiku…. Aku senang kau galak! Waw waw! Ternyata kau juga memiliki ilmu walau masih jauh lebih rendah dari dewiku yang sudah mati itu. Tapi tak apa, aku akan ajarkan berbagai ilmu pukulan. Juga ilmu silat. Kau mau bukan waw waw?! Kau harus mau dewiku!”
“Orang gila! Lepaskan tanganku! Aku tidak mau ikut denganmu! Aku bukan dewimu……!” Jerit Kemala.
“Waw waw! Jangan begitu….Kau istriku! Kau harus menurut apa yang aku bilang!”
“Gila! Aku bukan istrimu…..!”
“Waw! Siapa bilang bukan? Mari…..!”
Wirapati menarik lengan gadis itu. Sekali tarik saja Kemala sudah berada dipanggulan bahunya. Gadis ini merasakan sekujur tubuhnya lemas tak dapat digerakkan. Ternyata sewaktu menarik tadi Wirapati sekaligus telah menotok salah satu bagian tubuh sang dara. Karena totokannya tidak menutupi jalan suara maka yang bisa dilakukan Kemala hanyalah menjerit tiada henti.
“Waw waw waw!”
Wirapati mendukung Kemala dan melangkah ke arah peti mati. Gadis ini kemudian dibaringkannya diatas peti itu. Tentu saja ini membuat kemala bertambah ngeri dan semakin kencang jeritannya.
“Dewiku, berhentilah berteriak. Aku tak akan menyakitimu waw waw! Aku akan membawamu mencari tempat yang bagus dan indah. Disitu akan kita dirikan istana. Waw waw. Kita akan hidup bahagia!”
“Orang gila! Kalau kau tidak mau melepaskan lebih baik kau bunuh saja aku saat ini juga!” teriak Kemala. Dibayangkan malapetaka yang akan menimpanya.
“Dewiku! Mana mungkin aku membunuhmu! Waw! Lagipula bukankah kau penjelmaan dewiku yang ada dalam peti ini…..Waw waw!”
“Gila…..Gila!” rutuk Kemala dalam hati. “Ya Tuhan, kenapa nasib begini kau timpakan padaku…..?!” Suara jeritan kemala menjadi parau dan kadang-kadang lenyap oleh isakan menahan tangis.  Kedua matanya mulai basah.
“Dewiku! Waw! Kau menangis…..! Ah bagaimana ini waw waw?!” Wirapati tampak bingung. Dia memandang berkeliling seperti mencari-cari sesuatu. Tak menemukan apa yang dicarinya dia lalu robek kedua lengan pakaiannya, menyembung dan menggulungnya demikian rupa hinga berbentuk seutas tali panjang. Dengan tali ini dia kemudian mulai mengikat tubuh Kemala ke badan peti mati. Pada saat dia hendak mengangkat peti dan tubuh kemala, tiba-tiba dibelakangnya terdengar suara seseorang.
“Waw waw! kakakku Wirapati, hendak kau bawa kemana dan mau kau apakan sahabatku si baju kuning itu…..?!”
Wirapati alias Iblis Gila Tangan Hitam tersentak dan cepat berpaling..
“Waw waw! Kau rupanya Mahesa……..Eh, kau bilang dewiku ini sahabatmu. Waw! Kau gila atau mau menipuku hah? Atau mungkin juga hendak merampas dewiku ini? Waw! Jika kau berani melakukan itu kubunuh kau!”
Kemala, yang terbujur diatas peti mati dalam keadaan tak berdaya merasakan seperti mendapatkan nyawanya kembali. Bukan saja karena menyadari bakal mendapat pertolongan tetapi juga karena menyaksikan orang yang muncul itu adalah pemuda bernama Mahesa. Walaupun telah beberapa kali bertemu secara singkat namun banyak kesan yang didapatnya dalam setiap pertemuan. Terakhir kali dia berjumpa dengan pemuda itu ketika sama-sama disekap dalam kereta untuk dibawa ke kotoraja. Dia, Mahesa dan seorang juru obat berhasil melarikan diri setelah hampir saja jatuh ke tangan Datuk Iblis Penghisap Darah yang tergila-gila padanya. “
Mahesa! Tolong! Lepaskan aku dari tangan orang gila ini!” seru Kemala.


4. SANG DEWI DILARIKAN

BERTEMU dengan kemala merupakan satu hal yang menggembirakan Mahesa. Namun menyaksikan apa yang terjadi dihadapannya mau tak mau hatinya merasa cemas. Hanya saja dia tidak memperlihatkan hal itu sementara otaknya cepat bekerja. Dia dapat membaca situasi apa yang tengah terjadi. Memang walaupun tidak ada persamaan wajah antara Sundari dengan Kemala namun dimata orang gila seperti Wirapati melihat hal yang sebaliknya.

“Aku harus menolong gadis itu. Tapi harus menghindarkan bentrokan dengan si waw waw ini!” kata Mahesa dalam hati. “Aku harus memutar akal!” Maka berkatalah murid Kunti Kendil ini.

“Sang dewi! Mana aku berani mencampuri urusan kalian. Kecuali suamimu ini mengizinkan atas perintahmu maka aku mungkin bisa menolongmu?”
Kemala memaki penjang pendek. “Ternyata kaupun gila! Aku Kemala.. Bukan Dewi….” Mahesa tertawa bergelak. Suaranya tawanya bergetar keras karena sengaja disertai tenaga dalam. Ketika Kemala memandang padanya dengan heran maka dia mengedipkan mata lalu melangkah ke arah peti mati. Di hadapan peti mati dia jatuhkan diri dan berlutut.
“Sang dewi. Aku saudara suamimu, memberi hormat untukmu!”
“Waw waw! Kau ternyata tahu peradatan!” Wirapati tampak gembira. “Tapi awas! Jangan terlalu dekat dengan dewiku. Dan kalau bicara tidak perlu terlalu lama!”
“Dengar Kemala. Kita berhadapan dengan orang gila berkepandaian tinggi…..” Mahesa cepat membisiki. “Ikuti apa yang kukatakan dan bersikaplah sebagai dewi betulan. Kau harus menguasainya dan memberi perintah……”
“Keparat! Aku tidak mau dengar ucapanmu!” kata Kemala ketus.
“Sialan! “Maki Mahesa. “Kalau kau mau dapatkan bencana terserah. Maksudku mau menolongmu!”
“Jangan-jangan kau berkomplot dengan orang sinting itu!” menuduh Kemala.

“Gadis konyol! Mulut dan kecurigaan tidak pernah berubah. Lebih baik aku pergi……” Saking jengkelnya Mahesa segera berdiri.
Dari belakang tiba-tiba Wirapati memegang bahunya. “waw waw! Kau tadi bicara apa dengan dewiku…..?!”
“Penyakit!” keluh Mahesa dalam hati. Sambil tertawa lebar dia berpaling. “Kakak Wirapati, tak usah curiga. Tadi aku hanya mengatakan bahwa dewimu itu beruntung punya suami seorang paling gagah di jagat ini…,.!”
“Benar waw waw?!”
Mahesa mengangguk. Wirapati tertawa, gembira.
“Tapi ingat kakak Wira Dewi penjelmaan ini tidak suka dan akan marah jika kau tak mau mengikuti apa yang dikatakannya…. kalau sampai kau berani menolak perintahnya maka dia akan kembali masuk kedalam tubuh kaku didalam peti mati itu. Dan kau akan kehilangannya untuk selama-lamanya!”
“Waw waw! Tentu saja aku tidak mau kehilangan dewiku…..l” ujar Wirapati. Lalu dia berpaling pada Kemala dan sambil rangkapan kedua tangan di dada dia berkata, “Dewiku , apa saja pintamu, apa saja kata dan perintahmu pasti akan kuturuti…….”
“Tadi dia menyampaikan beberapa pesan padaku kakak Wira…..” berkata Mahesa.
“Waw! Pesan apakah?”
“Tenang….. jangan terburu-buru. Mari kita merokok dulu…..” kata Mahesa yang merasa mulai dapat membujuk saudara seperguruannya itu. Dia menyalakan dua batang rokok kawung lalu menyerahkan sebatang pada Wirapati. Kemala tampak kerenyitkan kening. Wajahnya masih tampak asam namun perlahan-lahan dia menyadari kalau Mahesa memang mau menolongnya. Maka dia hanya berdiam diri menunggu apa rencana pemuda itu selanjutnya.

Setelah menyedot rokoknya dua kali, Mahesa lalu berkata.
“Pesan pertama dewimu itu ialah kau harus membuka ikatan yang mengikat tubuhnya. Lalu melepaskan totokan dirinya…..”
“Waw waw! Tidak bisa! Kalau kulepaskan tali dan totokannya dia pasti melarikan diri! Waw!”
“AKu tidak akan melarikan diri!” tiba-tiba Kemala berseru.
“Syukur gadis konyol ini mengerti maksudku…..” kata Mahesa dalam hati. Lalu pada Wirapati dia berkata, “Nah waw waw! kau dengar sendiri dewimu yang bicara!”
Wirapati tampak seperti bingung. Ada rasa percaya tapi ada juga keragu-raguan. Selagi dia bimbang begitu Mahesa cepat berkata.
“Kakak Wira. Apa kau menunggu sampai dewimu marah? Lebih baik aku pergi saja. Aku takut kemarahannya merembet diriku….”
Mahesa lalu pura-pura hendak pergi.
“Waw waw! Tunggu dulu Mahesa,….” seru Wirapati lalu berpaling pada Kemala yanng masih tergeletak diatas peti. Dia melangkah mendekati lantas bertanya, ” Dewiku, apa betul kau berpesan agar aku melepaskan ikatanmu serta membebaskanmu dari totokan? Waw waw jawablah!”
“Betul! Memang aku berpesan begitu…”sahut Kemala. “Jika kau kubebaskan, kau tidak akan lari? Tak akan meninggalkanku…? Waw waw berjanjilah. Tidak, tidak berjanji. Tapi bersumpah!”
Kemala jadi terkesiap. Jika dia harus bersumpah ini urusan berabe. Tapi melihat Mahesa menganggukkan kepala maka diapun menjawab “Aku dewimu telah mengatakan tidak akan melarikan diri. Apakah kau tidak percaya dan ingin aku jadi marah? Atau kau memang ingin aku benar-benar meninggalkan nanti?!”
Digertak begitu Wirapati jadi takut. Cepat-cepat dia membungkuk melepaskan ikatan Kemala lalu membebaskan dara ini dari totokan. Sekali melompat Kemala sudah tegak berdiri.
“Bagus waw wawl” ujar Mahesa. “Sekarang akan kusampaikan padamu pesan dewi yang kedua…..”
“Waw waw! Apakah dewiku tak bisa langsung bicara dan berpesan padaku? Mengapa harus mengambil kau jadi perantara?!” bertanya Wirapati.
“Kakak Wira, dewimu yang sekarang ini merupakan penjelmaan dari dewimu yang ada dalam peti. Isinya dewi lama luarnya orang lain. Tentu saja dia bersikap agak pemalu padamu yang baru dikenalnya. Sedang terhadapku dia sudah kenal lama. Bukankah begitu sang dewi…..?”
Kemala mengiyakan  ucapan Mahesa itu dalam benaknya kembali terlintas niat untuk melarikan diri. Namun jika dia ingat bagaimana dengan beban peti mati diatas kepala lelaki gila itu sanggup mengejarnya, maka tanpa peti itu pasti akan lebih mudah baginya untuk menangkap jika melarikan diri.

“Gila! Kenapa setiap aku bertemu pemuda edan bernama Mahesa ini selalu saja aku mengalami nasib sial!” memaki Kemala dalam hati.
“Kakak Wira, apakah kini kau bersedia mendengar pesan dewimu yang kedua dan bersedia mematuhinya….?” Mahesa bertanya.

“Waw waw….. Tentu, tentu aku akan mendengar dan mematuhinya. Katakanlah……” sahut Wirapati.
“Jenazah dewimu yang ada dalam peti itu harus di kubur.”
Sepasang mata merah Wirapati alias Iblis Gila Tangan Hitam tampak melotot. Dia mundur dua langkah sambil angkat kedua tangannya ke atas.

“Hai! Kau hendak manyerangku?” seru Mahesa terkejut dan juga berjaga-jaga. “Kau harus mampus Mahesa. Kau menyuruh aku melanggar sumpah! Waw waw! Kau harus kubunuh. Itu lebih baik dari pada melanggar sumpah….!”
“Sumpah apa itu kakak Wira? AKu tak ingin kau melanggar sumpah. Tapi juga tak mau melihatmu dibodohi sumpah Ceritakan padaku waw waw!”
“Aku telah bersumpah baru akan menanam tubuh dewiku itu kalau Datuk Iblis Penghisap Darah yang telah membunuhnya kulenyapkan dari dunia ini. Waw! Kau menyuruh aku melanggar sumpah itu……?!”
“Jangan tolol kakak Wira. Bukankah kini kau mendapatkan dewi baru dalam penjelmaan dewimu yang kau cintai itu? Berarti kau tidak lagi terikat pada sumpah itu waw waw!” ujar Mahesa pula.

“Aku tidak mengerti!” Wirapati usap-usapkan tangannya satu sama lain.
“Nanti kau akan mengerti. Kalau jenazah dalam peti itu tidak kau kubur, dewi barumu ini pasti akan keberatan mendampingimu. Bukankah begitu sang dewi…?”
Kemala mengangguk.

“Disamping itu jika jenazah bersama peti kau kubur, kau akan terlepas dari beban berat membawanya kemana-mana. Lalu ada satu hal lagi…..” Mahesa mendekati Wirapati dan berbisik “Jika jenazah itu kau kubur, dewi penjelmaanmu tak akan dapat kembali masuk rohnya kedalam mayat itu dan kau tak akan kehilangan dewimu selama-lamanya……”
“Waw waw! Kau benar Mahesa……”
“Sebelum malam tiba lekas kita makamkan peti dan jenazah itu. Tanah ditepi telaga sana tidak terlalu keras. Aku akan bantu kau menggali makamnya……!”
“Tidak perlu!” sahut Wirapati. “Sepasang tanganku masih cukup mampu untuk menggali kubur sekalipun sepuluh meter didalamnya! Waw waw! Kau dan dewiku silahkan lihat sendiri!” Lalu Wirapati melangkah ketepi telaga kecll ditempat mana sebelumnya tadi Kemala membersihkan diri. Mahesa dan Kemala mengikuti. Tak lama kemudian kedua orang ini menyaksikan pemandangan yang benar-benar luar biasa. Hanya dengan mempergunakan tangan telanjangnya yang berwarna hitam itu Wirapati menggali tanah dengan cepatnya. Sesaat sebelum matahari tenggelam dia sudah berada dalam sebuah lobang besar yang digalinya sendiri itu. Dari bawah dia berteriak.

“Waw waw Sudah cukup besarkah lobang ini untuk peti itu?l”
“Lebih dari cukup waw waw! Sudah saatnya untuk dimasukkan.”
Mahesa kemudian membantu Wirapati memasukan peti mati berisi jenazah Sundari kedalam kuburan. Wirapati melarang sewaktu hendak ikut menolong.
Setelah kubur ditimbun dan setelah kedua orang itu membersihkan tangan di air telaga hari telah berganti malam. Udara mulai terasa dingin.

“Dewiku, kita pergi sekarang…..!” Wirapati berkata seraya mendekati Kemala.
“Kakak Wira, tunggu!” Mahesa cepat berkata sedang Kemala kini kembali menjadi ketakutan. “Waw waw, apa lagi ini? Apa masih ada pesan yang harus kau sampaikan?”
“Betul,” sahut Mahesa yagng ingin mengulur waktu agar dapat mencari akal menghindarkan Kemala dibawa pergi oleh kakak seperguruannya itu.
“Sebelum pergi apakah kau tidak hendak mengatakan sesuatu, memanjatkan doa dihadapan makam Sundari bekas dewimu…..?”
“Waw waw Memanjatkan doa pada siapa? Untuk siapa?!”
“Berdoa pada Tuhan tentunya……”
“Tuhan…..? Benda apa itu….?” tanya Wirapati.
“Sulit menerangkan padamu. Tapi paling tidak kau harus mengatakan semoga Tuhan memberikan tempat yang sebaik-baiknya untuk Sundari di alam baka…..”
“Ah waw waw! kalau cuma itu, tak ku ucapkanpun pasti dewiku mendapat tempat yang paling baik! Gila! Kenapa kita harus menghabiskan waktu dengan sagala pembicaraan tak berguna ini waw waw! Aku dan dewiku harus pergi sekarang. Hari sudah gelap. Kau sendiri bagaimana?”
“Kakak Wira bukankah kita harus mencari Datuk lblis itu?” mengingatkan Mahesa. “Dia telah membunuh dewimu” “Persetan dengan datuk keparat itu. Aku sudah punya dewi baru sekarang waw waw! Lagi pula bukankah nenek butut di puncak gunung yang kau sebut guru itu mengatakan telah mengambil alih urusan dengan datuk itu! Nah waw waw, kenapa aku harus capaikan diri dan buang waktu. Lebih baik bersenang-senang dengan dewiku……..”
“Tapi kau akan kualat kakak Wira!” tukas Mahesa.

“Waw waw! Kualat kenapa?” “Kau sudah bersumpah untuk menuntut balas kematian Sundari! Kau mau dimakan sumpah waw waw?!”
“Biarlah aku dimakan sumpah!” sahut Wirapati. Mahesa tak kehilangan akal, cepat berkata, “Sundari akan gentayangan jadi hantu dan mencekik mati dewimu ini….!”
“Aku tidak takut! Waw waw!”
“Keras kepala sekali si gila ini,” kata Mahesa hampir putus asa. Dia berpaling pada Kemala. “Sahabatku sang dewi. Kau harus memberi perintah padanya. Dia hanya patuh padamu, bukan padaku”
“Kakak Wira!” Kemala menyebut nama Wirapati. Aku dewimu, memerintahkan padamu untuk mencari dan membunuh Datuk Iblis itu. Jika itu sudah kau laksanakan baru aku bersedia ikut barsamamu…..”
“Waw waw! Jika itu perintahmu, tak sulit kulakukan. Hanya aku minta waktu. Dan kita kan mencarinya bersama-samal” Habis berkata begitu Wirapati langsung melompat ke hadapan Kemala. Mahesa capat memotong gerakannya. Tapi satu tendangan menghantam pinggulnya. Walaupun agak meleset dan tidak terlalu keras namun sudah cukup membuat pemuda ini terpelanting dan jatuh diantara semak belukar. Ketika dia berdiri dilihatnya Wirapati dan Kemala tak ada lagi di tempat itu.

“Celakal Celaka!” Mahesa berkelebat mencari kian kemari. Sia-sia saia. Malam tambah gelap. Dia kehilangan jejak. “Celaka” keluh Mahesa lagi. “Kalau Kemala diperlakukan seperti Sundari, celaka nasib gadis itu!” Karena tak tahu harus mengajar kemana akhirnya Mahesa lari ke jurusan selatan.


5. MUNCUL Dl PESTA PERKAWINAN

DESA SUMBERSARI merupakan desa paling subur di tenggara kaki pegunungan lyang. Petani disini umumnya kaya-kaya. Belum termasuk mereka yang memiliki tambak ikan luas atau peternakan berbagai macam mulai dari ayam itik sampai kambing dan sapi kerbau.

Hari itu hari ke duapuluh dua di bulan Sura. Di rumah besar milik Gede Ageng Kuntjoro-petani paling kaya di sumbersari- tengah di langsungkan perhelatan besar-besaran. Sebuah panggung tempat pertunjukan tari dan nyanyi dibangun di halaman luas. Disitu serombongan pemain gamelan terus menerus menghibur para tetamu yang datang memberi restu dan menikmati makanan lezat.

Pesta itu adalah pesta perkawinan putera tunggal sang petani yang bernama Ungguljati, seorang pemuda gagah yang baru saja menyelesaikan pelajarannya disebuah pesantren besar di Jawa Barat. Yang menjadi pengantin perempuan adalah Sri Pujiati, kabarnya masih sanak dekat dengan istri Ageng Kuntjoro. Melihat pengantin perempuan cantik jelita, duduk berdampingan dengan mempelai pria yang gagah, bak kata sanjungan tak beda seperti pinang dibelah dua. Satu rembulan satu matahari.

Kalau Ungguljati keluaran pesantren maka Sri Pujiati yang tampak lembut itu adalah murid sebuah perguruan silat di pantai selatan Jawa Tengah. Dibalik kecantikan dan kelembutan itu Sri Pujiati membekal ilmu silat yang tinggi. Tidak mengherankan kalau dari sekian tamu yang hadir kebanyakan mereka adalah orang-orang pesantren dan persilatan.

Menurut cerita, pengantin perempuan pernah bertualang dalam rimba persilatan, menyamar sebagai lelaki, melakukan banyak kebajikan yaitu membasmi para penjahat, menghukum pejabat-pejabat yang mempergunakan kekuasaanya untuk perbuatan sewenang-wenang.

Sejak siang hari tamu datang tak kunjung henti. Mereka yang sudah duluan ke pesta itu tampaknya segan beranjak pergi. Bukan saja karena mereka ingin menikmati berbagai ragam makanan dan minuman yang lezat, tetapi juga karena ingin menyaksikan terus hiburan tari-tarian serta nyanyian yang dihidangkan oleh rombongan gamelan. Penyanyi-penyanyi serta para penari rata-rata berwajah cantik bersuara merdu. Tak jarang penari-penari atau penyanyi-penyanyi yang genit-genit itu mengajak tetamu lelaki untuk berdendang atau menari bersama hingga suasana pesta bertambah meriah.

Menjelang malam tamu datang semakin banyak. Penduduk desa yang tidak kebagian tempat, tegak berdiri berkeIiling di halaman samping dan depan rumah. Seperti yang telah diumumkan sebelumnya, malam itu serombongan debus dari Banten akan mengadakan pertunjukan hebat.

Selagi seorang penyanyi mendendangkan lagu Rembulan di muara Berantas semua orang termasuk tuan rumah dikejutkan oleh kemunculan seorang lelaki berpakaian kotor compang camping, berambut gondrong bercambang bawuk dan memiliki sepasang mata berwarna merah menakutkan. Dibahunya dia menanggul seorang perempuan yang wajahnya tidak kelihatan karena tertutup oleh rambut yang menjurai. Tidak dapat dipastikan apakah perempuan itu tengah tertidur pingsan atau mati.

Beberapa orang penduduk desa yang ditugaskan sebagai pengawas dan penjaga keamanan segera mengurung tamu tak diundang ini. Namun atas isyarat yang diberikan oleh Gede Ageng Kuntjoro mereka tidak berani bertindak.

Orang itu tegak di tengah ruangan, antara panggung besar dengan deretan kursi para tetamu serta pelaminan. Dia berdiri tepat di depan meja besar berisi berbagai hidangan dan minuman. Sepasang matanya yang merah sesaat memandang berkeliling, lalu diarahkan pada makanan di atas meja. Jelas dia kelihatan seperti kelaparan. Mungkin juga kehausan.
“Waw waw! Dewiku! Rezeki besar bagi kita. Lihatlah, begini banyak makanan…..Waw!”
Ternyata yang datang ini adalah Wirapati alias Iblis Gila Tangan Hitam bersama Kemala yang berada diatas panggulnya dalam keadaan tertotok, tak bisa bergerak tak bisa bersuara.

Seperti dituturkan sebelumnya setelah meninggalkan puncak lyang dia bertemu dengan Kemala yang dimatanya merupakan penjelmaan Sundari lalu dilarikannya. Ditengah perjalanan dia terpesat ke desa Sumbersari dan tertarik oleh ramainya pesta perkawinan di rumah Gede Kuntjoro itu. Karena otaknya tidak waras, tanpa tedeng aling-aling dia lantas saja ke tempat perhelatan sambil memanggul Kemala.

Beberapa tetamu dari kelompok orang-orang persilatan tampak kaget melihat kemunculan Wirapati ini. Sebaliknya mereka yang tidak tahu menahu soal silat seperti penduduk desa menganggap kemunculan Wirapati itu sebagai seorang gembel gila yang kesasar. Gede Ageng Kuntjoro mendekati puterinya dan mengatakan sesuatu. Sri Pujiati balas berbisik. Kalau pengantin pria tampak seperti bingung sebaliknya mempelai perempuan ini tampak tenang-tenang saja.

Di meja makan Wirapati menegak segelas besar tuak. Lalu menyambar daging dan ikan diatas piring dan langsung menyantap sambil berdiri dan mengeluarkan suara lahap berciplak. Saat itulah tuan rumah datang mendekatinya dan menegur dengan sikap seramah mungkin.

“Tetamuku, kau tentu datang dari jauh. Silahkan minum dan bersantap sepuasmu. Setelah itu kau boleh pergi..”
Tanpa berpaling pada orang yang bicara padanya Wirapati berkata, “waw waw! Aku bukan tamu. Aku datang sesukaku! Dan kalau aku pergi, kau tak usah menyuruhku. Aku mau pergi atau tidak itu urusanku waw waw!”
“Tentu…tentu….Aku tak mau mengganggu urusanmu Ki sanak. Namun, aku juga tak mau kau mengganggu pesta perkawinan anakku. Pesta ini hanya sekali seumur Jangan sampai kacau..”
Prang!
Wirapati banting kan piring besar ke lantai hingga pecah berantakan dan isinya berhamburan. Semua orang tersentak kaget. Gede Ageng Kuntjoro sampai menyurut mundur beberapa langkah.

“Waw waw! Jadi kau menuduhku pengacau?!” Kedua mata Wirapati membeliak. “Dewiku……l” katanya kemudian sambil mengelus punggung Kemala. “Kau dengar orang menuduh suamimu ini pengacau! Waw waw! Kau mau aku mematahkan batang lehernya? Atau merobek mulutnya yang kurang ajar……?”
Ketegangan menggantung di udara. Tak ada yang bergerak atau pun buka suara sampai akhirnya Wirapati berkata sendiri: “Waw waw! untung dewiku tidak menjawab dan menyetujui maksudku. Kalau sampai dia mengiyakan pasti celaka kalian!”
Setelah berkata begitu Wirapati terus melahap makanan yang ada diatas meja. Sambil menyeringai dan usap-usap perutnya dia maneguk lagi minuman dan memandang berkeliling. Pandangannya kemudian tertuju pada Gede Agung Kuntjoro.

“Waw waw! Kau yang punya hajatan di tempat ini…?”
Tuan rumah mengangguk mengiyakan.
“Waw! Kalau begitu coba kau bungkuskan makanan sebanyak-banyaknya. Juga sekendi kecil tuak. Untuk dewiku…….”
Diberlakukan demikian rupa dihadapan sekian banyak tamu tentu saja petani kaya Gede Agung kuntjoro merasa dihina. Air mukanya tampak berubah merah. Rahangnya menggembung. Melihat ayahnya hendak marah Sri Pujiati cepat berseru memangil pelayan.
“Berikan apa yang dimintanya!”
“Anakku” ujar Gede Ageng Kutjoro.
“Orang gila ini telah menghinaku dan hendak mengacau pesta perkawinanmu. Kau hendak memberikan apa yang dimintanya?! Aku harus mengusirnya saat ini juga!”
Wirapati tertawa panjang. “Waw waw! Ini pasti pengantin perempuan. Cantik amat! Tapi waw. Dewiku lebih cantik. Kalian lihatlah wajahnya!” Wirapati lalu menyibak rambut panjang yang tergerai menutupi wajah Kemala. Ketika wajah gadis itu tersingkap, semua mata harus mengakui bahwa memang Kemala memiliki wajah alami yang cantik jelita. Disaat itu pula kelihatan bahwa Kemala tidak tidur atau pingsan. Sepasang matanya terbuka dan memandang kian kemari. Orang-orang dari persilatan segera maklum kalau gadis itu berada dalam keadaan tertotok jalan suara dan tubuhnya hingga tak bisa bergerak tak dapat bicara. Berbagai dugaan segera muncul. Apa hubungan lelaki berpakaian kumuh dan bertampang acak-acakan itu dengan sang gadis. Dia memanggilnya dengan sebutan dewi, menyebut dirinya suami. Tapi melihat gelagat ada yang tidak beres.

Seorang pelayan kemudian menyerahkan sebungkus makanan dan sekendi minuman. Wirapati menyaringai menerimanya. Dia berpaling lagi pada pengantin perempuan berkata, “Waw waw! Kau orang baik. Aku suka padamu. Kau pantas menjadi sahabat dewiku. Tapi ayahmu itu mulutnya kotor. Dia tadi mengatakan aku orang gila. Menuduh hendak mengacau pesta. Dan hendak mengusirku. Dia pantas kuberi hajaran!”
“Orang gagah!” Sri Pujiati cepat berkata sementara pengantin lelaki sudah berdiri disampingnya,  berjaga jaga dengan perasaan khawatir.
“Aku mohon agar kau melupakan semua kata-kata ayahku. Aku mewakilinya untuk minta maaf. Kau sudah mendapatkan apa yang kau minta, nah sekarang pergilah…..”
Wirapati tertawa dan menggut-manggut lalu memutar tubuh siap untuk pergi. Namun Gede Agung Kuntjoro yang tidak puas atas kejadian itu memberi isyarat pada empat orang petugas desa. Atas isyarat ini keempat orang itu segera mencegat dan mengurung Wirapati di depan panggung. Salah seorang diantaranya malah keluarkan ucapan: “Gembel gila! Lekas kau kembalikan makanan dan kendi minuman itu. Lalu cepat pergi. Kalau kau akan babak belur kena tanganku!”
“Ah, orang itu mencari penyakit!” kata Sri Pujiati yang baru saja kembali ke pelaminan dan menyaksikan ke jadian itu. Apa yang ditakutkannya kemudian memang terjadi.

Wirapati memandang petugas desa itu sesaat. Kedua matanya menjadi garang. “Waw waw! Kalau kau memang menginginkannya kembali ambillahl” kata Wirapati seraya mengangsurkan bungkusan makanan dan kendi. Sewaktu petugas ayunkan kendi tanah yang ditangan kanannya ke kepala orang itu.
Prak!Byar!
Kendi tanah pecah berantakan. Tuak didalamnya berhamburan. Petugas desa tersungkur di depan panggung dengan kepala dan muka berlumuran darah. Tiga orang kawannya dan beberapa orang tamu dari kelompok persilatan hendak menyerbu maju. Tapi pengantin perempuan cepat berteriak.
“Tahan!”
Lalu setengah berlari dia menghampiri Wirapati dan berkata: “Orang gagah! Sekali lagi aku mohon maaf atas segala kelancangan yang terjadi!”
Wirapati menyeringai.
“Waw waw! kalau tidak mengingat kau sahabat dewiku, bakalan banyak mayat yang berkaparan di tempat ini! Tapi sebelum aku pergi kau ganti dulu tuakku yang tumpah itu!”
Sri Pujiati memanggil pelayan. Sesaat kemudian pelayan ini datang membawakan kendi tanah berisi tuak. Sudah menerima minuman itu tanpa banyak cerita Wirapati meninggalkan tempat tersebut.

Pengantin perempuan menarik nafas lega. Seorang lalaki tua berambut kelabu berwajah kelimis saat itu berdiri disampingnya. Dia adalah Eling Tinggi, guru silat pengantin perempuan.

“Muridku.. kau bertindak cepat dan tepat. Tahukah kau siapa adanya lelaki tadi….?” ujar sang guru.
“Murid tidak kenal padanya dan aku bisa menduga. Hanya pasti dia seorang yang berkepandaian sangat tinggi dan menganggap nyawa manusia sama saja nyawa binatang……” menyahut Sri Pujiati.
Eling Tinggi mengangguk.

“Kalau kau mau tahu dialah manusia yang dikenal dengan julukan Iblis Gila Tangan Hitam! Manusia jahat paling berbahaya. Dia telah membunuh puluhan orang termasuk tokoh-tokoh silat ternama! Sebegitu jauh belum ada tokoh siIat atau perguruan yang sanggup menghukumnya! Kalau tadi dia sempat mengamuk, semua kita yang ada disini tak bakal mampu menghadapinya!”
Pucatlah paras Sri Pujiati. Sedang Gede Ageng Kuncoro tegak dengan tubuh hampir menggigil. Tetamu-tetamu lain juga tak bisa berkata apa-apa saking ngerinya.


6. EMPAT SYARAT SANG DEWI – SURAT DARI TUJUH ORANG KATAI

BANGUNAN beratap rumbia bolong-bolong itu dulunya merupakan gudang padi. Sejak dua tahun berselang bangunan ini tidak dipakai lagi untuk menyimpan padi karena sawah disekitarnya telah berubah menjadi tanah tandus tak terurus.

Wirapati membawa Kemala masuk ke dalam bangunan itu dan membaringkannya diatas lantai berlapis papan. Sinar rembulan masuk ke dalam ruangan lewat celah-celah atap rumbia. Dua bola mata Kemala tampak membesar, jelas menunjukan rasa cemas. Betapakah dia tak akan kawatir, kalau sampai dirinya diperlakukan tidak senonoh oleh orang gila ini, apalagi sampai dirusak kehormatannya lebih baik dibunuh saja atau bunuh diri.

Dalam keadaan seperti itu hanya satu harapan Kemala yakni pertolongan Tuhan agar dia selamat dari bencana yang memalukan. Setelah membaringkan Kemala, Wirapati sesaat duduk memandangi gadis itu. Kemudian dia mulai mengusap-usap kening dan rambutnya dengan lembut. Kemala ingin menjerit tapi suaranya tak bisa keluar.

“Dewiku, kau tentu lapar dan haus. Aku membawakan makanan dan tuak untukmu. Makanlah, aku akan menungguimu..” Wirapati mendudukan Kemala disudut bangunan. Lalu mengambil bungkusan makanan dan kendi tuak yang didapatinya ditempat pesta perkawinan Sri Pujiati. Setelah meletakkan makanan dan kendi dihadapan Kemala maka lelaki ini membuka totokan di tubuh Kemala.
Mula-mula totokan pada jalan suaranya. Begitu jalan suaranya terbuka Kemala langsung berteriak.
“Manusia jahat! Lepaskan aku! Awas kalau kau berani menjamah tubuhku akan kubunuh!”
“Waw waw! Dewiku…..Dengar, aku bukan orang jahat. Aku suamimu……”
“Kentut busuk! Ngacok belok! Siapa sudi jadi istrimu! Sejak kapan aku jadi istrimu! Sampai kiamat aku tak bakal mau jadi istrimu! Lebih baik mati! Lekas lepaskan totokanku…….!”
“Waw waw! Bagaimana ini….Aku suruh makan malah memaki dan bicara tak karuan……”
“Kau yang bicara tak karuan!” Semprot Kemala.
“Dewiku!”
“Pergi!”
Sepasang mata Wirapati tampak meredup lesu. Ada bayangan rasa sedih pada wajahnya yang tak terurus. Sesaat Kemala jadi tercekat. Dalam hatinya ada semacam dugaan. Kalau lelaki ini mengurus diri dan berpakaian sewajarnya kelihatannya dia memiliki paras yang cukup gagah. Tetapi otaknya yang miring itu? Tindakan-tindakannya yang mengerikan? Tiba-tiba dia ingat pada Mahesa. Ingat bagaimana pemuda itu memperlakukan orang yang dipanggil dengan sebutan kakak ini. Juga ingat bahwa lelaki ini hanya akan tunduk dan mendengar setiap katanya. Kalau secara kekerasan dia tak mungkin untuk menyelamatkan diri, mengapa tidak dipakai cara seperti yang ditunjukan Mahesa.

“Dewiku……..Aku akan buka totokanmu. Lalu kau makan sampai kenyang. Minum sepuasmu. Setelah itu kita waw waw! Tidur bersama dan……”
“Manusia kotor! Aku tidak sudi tidur denganmu…..!” bentak Kemala. Karena takutnya gadis ini lupa upaya untuk membujuk,
“Waw waw Kalau dewiku berkata begitu tentu saja aku harus menurut. Setelah makan kau boleh tidur dan aku akan berjaga-jaga. Aku tidak akan mengganggumu. Tapi jangan kecewakan diriku waw waw!”
Wirapati maju mendekat untuk membuka lepas totokan di punggung Kemala. Tapi mendadak murid Kunti Kendil ini berteriak keras dan hantaman tangan kanannya keatas. Sinar hitam menderu.

“Keparat! Siapa yang berani mengintip diatas sana?!”
Atap rumbia bangunan besar itu hancur berkeping-keping. Dalam kegelapan malam yang hanya disinari temaramnya terang rembulan tujuh sosok tubuh aneh berkelebat selamatkan diri dari pukulan sakti yang dilepaskan Wirapati. Sesaat kemudian tersengar suara tertawa cekikikan lalu sunyi. Wirapati lari ke pintu. Dia menyelidik seputar bangunan. Tak seorangpun ditemuinya. Padahal jelas tadi dia melihat ada tujuh sosok tubuh aneh berkelebat sangat cepat.

“Aneh Waw waw! Manusia atau setankah mereka? Atau mataku yang salah lihat! Tapi telinga dan perasaanku tak bisa ditipu! Waw!” Setelah mencari-cari dengan sia-sia akhirnya Wirapati kembali masuk ke dalam bangunan. Kemala sendiri sebenarnya ingin mengetahui apa yang terjadi. Namun dia tak mau bertanya malah pergunakan kesempatan untuk menakuti.

“Orang-orang diluar sana adalah kawan-kawanku. Jika kau berani melakukan perbuatan yang tidak senonoh padaku, mereka pasti akan membunuhmu!”
“Waw waw Siapapun mereka, berapapun jumlahnya aku tidak takut. Percuma suamimu ini dijuluki Iblis Gila Tangan Hitam. Waw waw…….”
“Jadi kau……?” Kemala terkejut sekali mendengar julukan itu. Dalam hati dia kembali mengeluh harapan mengetahui siapa adanya lelaki gila itu hapuslah harapannya akan bisa selamat. Kecuali kalau mampu memanfaatkan kegilaannya seperti yang ditunjukkan Mahesa.
Wirapati tertawa senang. Dia mengira dewinya bukan terkejut kecut tetapi tercengang gembira
mendengar julukannya itu.

“Nah waw waw, sekarang kau harus makan. Aku lepaskan totokanmu.” Sambil mengurut punggung Kemala, Wirapati memandang ke atas atap lalu seputar bangunan. Dia tetap merasa curiga kalau tujuh sosok tubuh aneh yang dilihatnya sekilas tadi masih ada sekitar situ melakukan pengintaian. Tapi tak tampak siapa-siapa.

Ketika Kemala merasakan totokannya lepas dan tubuhnya dapat gerakkan kembali maka hal yang pertama yang dilakukannya ialah menendang dada orang yang dihadapannya. Karena membagi perhatian ke tempat lain Wirapati tak sempat mengetahui serangan itu, tak bisa mengelak.
Duk!
Dadanya kena hantam, tubuhnya terjengkang, Kemala melompat cepat dan lari ke arah pintu. Namun sebelum dia sampai di ambang pintu, disitu tahu-tahu telah berdiri Wirapati menghadang dengan sikap rawan.

“Dewiku. Waw waw! Aku telah berjanji tidak akan mengganggumu. Aku tidak akan menyakitimu. Terapi jika kau terus-terusan mengecewakanku, aku bersedia mati bersamamu……”
Kemala tidak menjawab. Dia heran tapi diam-diam juga kagum. Jelas lelaki ini tadi jatuh terjelepak di lantai dan masih disitu ketika dia melompat untuk melarikan diri. Tapi bagaimana demikian cepatnya tahu-tahu dia sudah menghadang di pintu.

“Dewiku, jangan diam saja waw waw! Jawablah bahwa kau tidak akan mengecewakanku lagi. Kau tidak akan melarikan diri dan ikut kemana aku pergi. Bahwa kau mencintaiku karena akupun mencintaimu. Atau kalau tidak bahwa kau bersedia kita mati sama-sama saat ini iuga…..”
Kecut juga Kemala jadinya. Dia tetap tak bisa membuka mulut. Justru saat itu tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan dalam bangunan itu.

Baik Kemala maupun Wirapati sama-sama terkejut. Keduanya memandang berkeliling dan melihat tujuh orang bertubuh katai tegak ditujuh sudut bangunan sambil tertawa cekikikan!
“Keparat Waw waw! Bagaimana aku sampai sampai tidak tahu kalau ada orang menyelusup masuk! Waw!” Wirapati heran tapi juga marah. Dia membentak, “Keparat waw waw! Setan atau tuyul kalian ini! Berani mengintip urusan orang! Berani mentertawai aku! Waw!” Habis membentak begitu wirapati pukulkan dua tangannya. Dua larik sinar hitam menderu ke arah dua dari tujuh orang-orang katai itu. Namun sebelum mengenai sasarannya keduanya, termasuk lima lainnya sudah berkelebat dan melayang keatas tahu-tahu sudah berada diatas atap yang bobol. Mereka mencibir-cibir. Ada yang mengembangkan tangan disamping kedua telinga dan ada yang menungging-nungging. Sambil berlaku begitu mareka tak hentinya tertawa cekikikan.

“Kurang ajar waw waw! Kalau tidak kubunuh kalian belum puas hatiku! Waw!” Wirapati melesat ke atas. Tapi selagi tubuhnya melayang setengah jalan ke tujuh orang katai itu sudah lenyap. Malah kini terdengar suara mereka ramai berteriak: ” Dewimu kabur….Dewimu kabur!”
Wirapati terkejut. Memandang ke bawah dilihatnya memang Kemala tak ada lagi dalam bangunan. Ternyata gadis itu sudah lari dan saat itu masih sempat dilihatnya diantara kerapatan pepohonan di sebelah depan bangunan bekas gudang padi. Sekali mengenjot tubuh Wirapati melayang turun. Beberapa pohon yang dirasakannya menghalangi dihantamnya dengan tangan kiri kanan hingga patah bertumbangan. Sesaat kemudian dia berhasil mengejar Kemala dan menangkap pinggang gadis ini!
“Dewiku….dewiku! Waw waw! Kau lagi-lagi melarikan diri! Kau lagi-lagi mengecewakanku. Harusnya kegebuk kau saat ini waw waw! Tapi kalau kau mau berjanji tak akan melakukannya lagi kuampuni kesalahanmu!”
Kemala tak menjawab. Melawanpun tidak. Kini dia benar-bener sadar menyelamatkan diri dengan melarikan diri tak bakal dapat dilakukannya. Lelaki bernama Wirapati berjuluk Iblis Gila Tangan Hitam ini luar biasa cepat gerakannya.

“Aku mau makan…” kata Kemala akhirnya perlahan.
“Waw waw. Tentu… tentu… Kau harus makan dewiku. Kau pasti lapar dan juga haus. Bukankah aku sudah bawakan makanan dan minuman untukmu? Waw!”
Wirapati membawa Kemala kedalam ruang kembali. Sambil menunggu gadis itu menghabiskan makanan dia berjaga-jaga, memandang kian kemari. Tujuh orang katai aneh itu pasti masih berada ditempat itu. Kawan atau lawankah mereka? Kalau kawan kenapa mengganggu? Kalau lawan kenapa tadi memberitahu dewinya melarikan diri?
“Waw! Teman atau lawan, kalau mereka muncul lagi pasti kubunuh!” kertak Wirapati dalam hati. Lalu dilihatnya Kemala telah selesai makan dan kini gadis itu tengah meneguk minuman dalam kendi. Mukanya merah oleh minuman keras itu.

“Dewiku, kalau kau ingin istiraharat, lakukanlah. Aku akan menungguimu. Besok pagi kita akan teruskan perjalanan. Waw waw!”
“Kita akan pergi kemana?” tanya Kemala.
“Kemana kau suka dewiku. Jika kau mau aku akan buatkan istana kecil untukmu di Bukit Kerang Putih. Waw waw! Dulu aku ada istana disana. Kau mau bukan?”
“Bukit Karang Putih. Jauhkah dari sini?”
“Waw waw, aku gembira kau mau bercakap-cakap kini,” kata Wirapati. “Kira-kira dua hari perjalanan. Letaknya di pantai selatan. Dekat sebuah teluk berpemandangan indah….”
“Selama kau tidak menggangguku dan selama kau turut perintah ku, aku akan ikut bersamamu!”
“Waw waw!” Wirapati berseru sambil melompat-lompat gembira.
“Jangan lekas-lekas gembira!” kata Kemala.
“Waw waw! Ada apakah memangnya?!”
“Untuk semua itu ada syarat-syarat yang harus kau patuhi.”
“Kalau tidak kupatuhi waw waw?!” tanya Wirapati.
“Aku akan kembali masuk ke dalam jasad dewimu yang lama….”
“Waw! Jangan! Jangan lakukan itu waw!”
Kini Kemala banar-benar mengetahui letak kelemahan orang gila ini.
“Waw waw! Katakanlah syarat-syarat yang kau maksudkan itu. Aku ingin lekas-lekas melakukannya!” kata Wirapati seperti tak sabaran.
“Pertama!” kata Kemala pula. “Kau harus membersihkan seluruh tubuhmu dari kepala sampai kaki dan mengganti pakaianmu dengan yang bersih….”
“Waw waw! Kenapa begitu…?” tanya Wirapati.
“Soalnya siapa sudi jalan sama-sama dengan manusia dekil bau sepertimu. Jangankan aku, setanpun takut melihat tampangmu. Apalagi matamu merah begitu….!”
 Wirapati terdiam.

Tiba-tiba terdengar kembali suara tawa cekikikan. Malah ditimpali ucapan, “Kau bau… kau dekil. Tampangmu setanpun takut….!”
“Setan alas! Waw waw!” Wirapati melompat marah. “Pasti mereka lagi! Waw! Bukankah tadi kau katakan mereka itu kawan-kawanmu….?”
Sesaat Kemala tak bisa menjawab. Tadi memang dia berkata begitu tapi hanya untuk menakuti Wirapati. Kemala sendiri tidak tahu siapa adanya tujuh manusia katai yang nakal itu.
“Dewiku! Kau harus suruh mereka pergi… Waw… waw!”
“Kau tak usah kawatir. Mereka memang nakal tapi tidak akan menyakitimu. Tak usah ingat-ingat mereka. Biar saja. Nanti juga mereka akan pergi…” sahut Kemala. “Sekarang katakan kau mau mengikuti syaratku tadi atau tidak….?”
“Waw! Tentu… Aku mau. Besok pagi kita cari mata air atau sungai. Aku akan berendam dan mandi disitu sampai bersih. Tapi… waw! Dimana aku dapat pakaian bersih untuk pengganti? Waw! Mudah… Bisa kucuri. Hai, kau mau aku mencuri pakaian perajurit kerajaan, atau panglimanya. Atau mungkin pakaian sultan di keraton? Waw!”
Kemala tersenyum. “Waw! Ini pertama kali kulihat dewiku tersenyum…” Dan senyumnya manis! Hik… hik… hik!” Ada suara menimpali dari luar bangunan.

Wirapati menggerendeng tapi tak mengacuhkan. “Tak perlu pakaian perajurit, panglima apalagi sultan. Cukup pakaian orang biasa saja…” kata Kemala.
“Waw! Itu mudah. Akan kudapat besok…”
“Sekarang syarat kedua…”
“Waw ada pula syarat kedua?! Katakanlah dawiku!”
“Kau memiliki ilmu silat dan kesaktian tinggi….”
“Waw! Mana aku tahu aku punya semua itu. Hanya setiap kali berkelahi atau dikeroyok aku memang belum pernah kalah. Waw! Cuma sekali! Cuma sekali! Aku hampir kalah! Ketika dikeroyok oleh tokoh-tokoh silat di pesantren Nusa Balung. Aku hampir mampus saat itu. Waw! Untung diselamatkan oleh pemuda edan itu. Waw! Hai, bukankah pemuda edan bernama Mahesa itu kawanmu….?”
Kemala mengangguk. “Ternyata orang gila ini polos juga. Tak mau menyombongkan kehebatan dan mau mengakui kekalahan….”
“Kakak Wira, apa benar kau kakak seperguruan pemuda edan itu…..?”
“Waw. Aku tidak tahu. Tidak ingat. Dia yang berkata begitu. Katanya kami ini muridnya si nenek jelek keriput di puncak lyang. Aku tak tahu siapa nenek butut itu……”
“Hik…hik…hik. Gurunya butut muridnya bau!” Terdengar kembali suara mengoceh diluar bangunan. Wirapati kembali hendak marah tapi Kemala segera berkata, “Tak usah acuhkan mereka…..”
“Waw waw! Kau belum mengatakan Syarat yang kedua itu dewi!”
“Ya ya. Akan segera kukatakan. Kau punya segudang kepandaian. Kalau kau memang menganggap aku istri atau dewimu kau harus menurunkan ilmu kepandaianmu itu padaku….”
Mendengar kata kata Kemala itu Wirapati tertawa.
“Waw waw. Tak perlu khawatir dewiku. Seperti dewiku yang terdahulu, padamupun akan kuajarkan semua kepandaianku. Jika nanti akan jadi hitam seperti tanganku ini….” “Tidak! Aku mau ilmunya tapi tak mau tanganku jadi hitam begini….”
“Waw waw! Susah juga kalu begitu…..”
“Sudah. Biar hal itu kita bicarakan kemudian. Sekarang syarat yang ketiga…. kita bersama-sama harus mencari Datuk Iblis Penghisap Darah. Dia telah membunuh Ibuku. Membunuh banyak manusia tak bardosa……”
“Setuju waw waw! Dia juga yang membunuh dewiku. llmunya tinggi. Kawannya banyak. Tapi waw Waw, kita tak perlu takut terhadapnya…”
“Sekarang sampai pada syarat yang keempat. Aku sudah sejak lama mendengar nama besarmu. Besar tapi angker dan bergelimang darah serta dosa. Sejak hari ini aku tidak ingin lagi kau melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Menebar maut dimana-mana. Membunuh tokoh-tokoh silat yang tidak bersalah. Melakukan kegilaan-kegilaan……”
Wirapati tegak berdiri. Tubuhnya tampak bergetar. Matanya menjadi tambah merah dan wajahnya galak! Ini membuat Kemala jadi ketakutan.
“Waw waw dewiku! Kau mendengar kabar salah! Aku tak pernah membunuh orang-orang yang tidak berdosa apalagi tidak bersalah. Mereka sendiri yang datang mencariku dengan dalih hendak menghukum. Mereka datang minta mati waw waw! Mereka yang lebih dulu menyerangkan, mau membunuhku. Apakah aku hanya layak berpangku tangan? Waw waw! kau mendengar cerita salah dewiku. Siapa bilang aku berbuat kegiIa-gilaan! Waw! Aku bukan orang gila…!”
“Mungkin kau bukan orang gila. Tapi sikap dan tingkah Iakumu, cara hidupmu tidak seperti orang berotak sehat!” berkata Kemala terus terang
“Waw waw!” Wirapati terdiam sesaat
“Kau mau mengikuti syarat yang keempat itu?”
“Waw waw! Aku tidak tahu. Aku tak berani berjanji. Soalnya banyak orang yang benci padaku…..”
“Itu karena perbuatanmu dimasa lalu.”
“Aku tidak suka kita membicarakan hal itu dewiku!”
“Jadi kau tidak mau menurut permintaanku?”
“Waw! Aku tidak katakan begitu…..”
“Sebenarnya apa yang membuatmu jadi seperti ini?” tanya Kemala
“Aku tidak tahu. Aku waw waw! Kau menganggap diriku tidak ada bedanya dengan manusia lainnya. Aku tak mau bicara soal ini lagi waw waw. Baiknya kau tidur saja. Besok kita harus pergi. Bukankah kau ingin aku membersihkan diri dan mengenakan diri dan mengenakan pakaian rapi…..?”
“Ya, ya…… Aku akan tidur……”Jawab Kemala. Kedua matanya dipejamkan. Tapi mana dia bisa tidur. Sesekali dia membuka mata untuk melihat apa yang dilakukan Wirapati. Dilihatnya lelaki itu duduk di dekat pintu bangunan. “Kasihan dia. Mungkin dia orang baik-baik. Hanya sayang otaknya tidak sehat……”
Kemala tidak tahu apakah dia telah ketiduran menjelang pagi. Dia terbangun sewaktu dirasakannya ada sesuatu yang terletak di bawah kerah baju kuningnya. Sewaktu dirabanya ternyata Sepotong kertas. Dia melirik ke pintu. Wirapati masih duduk disana. Kedua matanya dipicingkan. Entah tidur pulas entah tidur-tidur ayam.

Gadis itu mengambil kertas tadi dari bawah pakaiannya. Ketika diperhatikan diatas kertas itu ternyata ada sederetan tulisan yang berbunyi:

Sang Dewi,
Suamimu dulunya orang baik. Suatu ketika dia diserang demam panas. Ketika sembuh otaknya rusak.
Dalam keadaan rusak begitu dia menemukan sebuah buku ilmu silat dan kesaktian. Dengan otaknya yang rusak dia mempelajari buku itu. Jadilah dia sekarang seperti apa adanya.

Kalau kau mampu menuntunnya kembali kepada dirinya semula, tentu kau akan mendapat berkah besar.
Hik…hik…hik. Selamat berbulan madu. Hik…hik…hik!
Sahabatmu yang nakal-nakal.

“Sialan!” maki Kemala. “Enak saja menyebut si gila itu suamiku!”
Lalu , “Sahabatmu yang nakal-nakal…… Siapakah mereka? Apakah tujuh mahluk katai tadi malam itu…..? Pasti mereka!”
Saat itu Wirapati tampak bergerak. Kemala capat-cepat menyembunyikan surat itu. Lalu berdiri. Diluar hari telah panas.

7. DEBUS BANTEN

KITA tinggalkan dulu Wirapati bersama dewinya. Kita kembali ke pesta perkawinan di desa Sumbersari. Setelah malam tiba para tetamu boleh dikatakan telah melupakan apa yang telah terjadi sehubungan dengan kemunculan Wirapati. Apalagi saat itu rombongan debus dari Banten tengah bersiap-siap untuk memulai pertunjukan di tempat terbuka di depan panggung. Didahului oleh alunan rebab dan tabuhan gendang serta terompet bambu, lima orang berpakaian dan berdestar serta hitam menari berputar-putar. Seorang diantaranya adalah gadis muda berkulit hitam berwajah manis. Tabuhan gendang mengeras tinggi. Empat orang penari lelaki mencabut pisau besar. Sambil menari pisau itu kemudian mereka tikamkan ke dada masing-masing. Pakaian di bagian dada mereka tampak robek-robek, tapi kulit atau daging dada mereka tak ada satupun yang terluka. Orang banyak tertepuk tangan.

Keempat penari lelaki kemudian memencar dan duduk bersila di empat sudut sambil memejamkan mata. Penari perempuan tegak di tengah kalangan. Dari pinggangnya dia cabut sebilah pedang panjang. Seorang kemudian mengangsurkan sepotong bambu. Sang dara memperhatikan bahwa benda yang ditangannya itu adalah benar-benar pedang tajam, bukan senjata tipuan.
Sang dara membolang-balingkan pedang panjang itu mengikuti irama terompet, rebab dan gendang. Ketika bebunyian itu mulai mengalun perlahan dia tegak lurus-lurus di tengah kalangan lalu membuka mulutnya. Baru perlahan-lahan sedikit demi sedikit ujung pedang dimasukkannya kedalam mulut. Terus dan terus memasuki tenggorokan, mencapai dada. Akhirnya disaksikan sekian ratus pasang mata, dibawah kesunyian yang mencekam pedang itu masuk kedalam tubuhnya sampai ke ujung gagang. Gendering kembali di talu, terompet melengking dan rebab kembali di gesek. Orang baru tersadar lalu memberikan sambutan dengan tepuk tangan serta suitan rendah.

Perlahan-lahan gadis manis di tengah ruangan mencabut kembali pedang yang dimasukkannya ke badan lewat mulut dan tenggorokan itu. Seorang pembantu kemudian datang membersihkan badan pedang dengan kain putih sementara sang dara masih tetap berdiri di tempatnya. kini dengan kedua mata dipejamkan.
Seorang pemuda kemudian masuk ke dalam kalangan mengambil pedang dari tangan pembantu. Dia menari-nari dan bersilat mengelilingi gadis di tengah ruangan. Tiba-tiba dia melompat dan tegak tepat dihadapan sang dara. Ujung pedang diarahkannya ke perut gadis itu. Ketika gendang, rebab dan terompet berhenti berbunyi, ujumg pedang ditusukkannya ke perut si gadis. Banyak suara seruan tertahan karna ngeri menyaksikan apa yang terjadi. Pemuda tadi terus menekan pedang, terus dan terus hingga akhirnya pedang itu tembus dan ujungnya muncul di punggung si dara. Si pemuda lepaskan pegangannya pada hulu pedang. Perlahan-lahan sang dara buka kedua matanya. Dia menggerakkan tanqan merobek-robek sedikit pakaian dibagian perut. Semua orang melihat bahwa pedang itu benar-benar menancap diperutnya.

Banyak yang menggelengkan kepala dan berdecak. Tapi banyak pula yang menunduk atau memalingkan kepala karena ngeri melihat, terutama tetamu kaum ibu.
Setelah pertunjukkan yang mengerikan ini selesai sang dara mengundurkan diri diikuti tempik sorak riuh rendah. Sebelum sampai pada acara berikutnya muncul beberapa penari sebagai selingan. Habis pertunjukan tarian ini maka dua orang lelaki muncul membawa selembar seng dinyalakan sepuluh batang kayu api. Lalu diatasnya diJerangkan sebuah penggorengan besar berisi minyak kelapa. Dalam beberapa saat saja minyak kelapa itu tampak mendidih.

Didahului oleh suara gendang bertalu-talu, gesekan rebab dan tiupan terompet keluarlah seorang anak lelaki, Ditangan kirinya dia membawa sebuah keranjang kecil berisi setengah lusin kerupuk. Satu kerupuk dimasukkannya kedalam penggorengan, Makanan ini segera berkembang besar dan matang. Dengan sebuah sendok kecil kerupuk itu diambilnya. ditiup-tiup beberapa kali. Lalu krak-kruk, krak-kruk si anak mengunyah kerupuk itu dengan lahap sampai mengeluarkan suara berciplak dan mata meram melek. Semua orang tertawa melihat tingkah lucu sang bocah.

Sebuah kerupuk lagi dimasukkan ke dalam penggorengan. Begitu matang si anak mengambilnya dengan sendok lalu menyerahkannya pada salah seorang penonton. Agak malu-malu penonton ini memakan kerupuk itu hingga habis. Kerupuk ke tiga sampai keenam juga digoreng dan dibagi-bagikan.

Kemudian si anak berdiri disamping penggorengan dan berkata, “Bapak-bapak sekalian, semua hadirin yang terhormat, terutama tuan rumah dan kedua pengantin. Semua sudah menyaksikan bahwa dalam penggorengan ini benar-benar ada minyak kelapa yang mendidih, Saya tadi sudah menggorengkan kerupuk untuk lima hadirin. Pasti rasanya enak bukan? Tapi ada satu hal yang perlu diberitahukan pada hadirin. Tadi pagi saya kelupaan mandi…”
Orang banyak tertawa. Mereka mengira-ngira apa tujuan sang bocah itu.

“Tadi pagi saya lupa mandi,” kata si bocah kembali. “Tapi tak jadi apa. Untung ada minyak kelapa dalam penggorengan ini. Biar saya mencuci muka dulu dengan minyak ini……”
Lalu disaksikan semua orang, si anak merunduk diatas penggorengan berisi minyak panas mendidih. Dengan kedua tangannya dia menyendok minyak dan enak saja minyak panas itu lalu dibasuhkannya ke mukanya. Hal ini diulanginya berulangkali. Kemudian dikeluarkannya mulai kain untuk membersihkan minyak yang melumuri wajahnya. Setelah bersih dia memandang berkeliling memperlihatkan muka dan kedua tangannya. Sedikitpun tidak cidera!
Sambutan orang banyak menggemuruh.

Si anak lambaikan tangannya. Seorang pembantu melemparkan sebuah gelas kaleng. Lalu bocah ini berkata. “Hadirin yang saya hormati. Sesuai kebiasaan, setiap makan harus disudahi dengan minum. Tadi saya sudah makan kerupuk. Ini membuat saya haus. Nah sekarang saya mau minum. Tapi tak ada yang mau memberikan air. Tuak banyak saya lihat di pesta ini. Hanya sayang saya tidak suka minuman itu. Jadi….biarlah saya minum minyak dalam penggorengan itu saja!”
Kembali si anak membungkuk didepan penggorengan. Dengan gelas kaleng dia menyendok minyak panas hingga gelas berisi setengahnya. Lalu minyak dalam kaleng itu diperhatikannya pada para penanton. Setelah itu dia kembali ke tengah ruangan. Gendang dipalu kencang. Rebab dan terompet melengking. Si anak mengangkat gelas kaleng tinggi-tinggi. Ketika suara gendang dan rebab serta terompet berhenti, anak itu langsung meneguk minyak panas dalam gelas kaleng.

Gluk gluk gluk!
Tenggorokannya turun naik. Bibirnya tampak basah berkilat.
Gelas kaleng diturunkan dan dia melangkah berkeliling memperlihatkan bagian dalam kaleng yang kini telah kosong! Kembali orang banyak memberi sambutan riuh rendah. Malah ada yang melemparkan uang untuk si anak. Dengan gelas itu anak ini kembali menyiduk minyak panas dalam penggorengan. Lalu dia melangkah berkeliling.

“Tadi ada lima orang yang makan kerupuk. Tentu seperti saya mereka juga haus. Saya akan berikan mereka minyak sedap sejuk ini untuk diminum masing-masing satu gelas…..!”
Anak itu melangkah menghampiri salah seorang dari lima penonton yang tadi makan kerupuk. Orang ini geIeng-geleng kepala dan menolak dengan wajah ketakutan. Para penonton banyak yang tertawa. Dua dari penonton yang tadi juga makan kerupuk diam-diam menyelinap pergi karena takut disuruh minum minyak panas. Dua lainnya menolak keras ketika diminta minum minyak panas itu. Sudah barang tentu si anak tidak sungguhan. Maka dia kembali ketengah ruangan.

“Sayang, bapak-bapak disini tidak suka minuman lezat ini. Biar saya yang menghabiskannya!” Lalu anak itu meneguk habis minyak dalam gelas kaleng. Si anak mengundurkan diri diiringi tepuk tangan dan lemparan uang.

Pertunjukan debus itu diselingi oleh dua buah tarian. Menjelang tengah malam baru dimulai kembali. Delapan orang muda muncul membawa empat batang bambu runcing sepanjang dua setengah meter. Keempat bambu itu ditegakkan membentuk sudut empat segi, masing-masing terpisah satu meter dan setiap bambu dipegang oleh dua orang pemuda.
Setelah gendang, terompet dan rebab berbunyi maka keluarlah seorang pemuda bercelana putih, memakai ikat kepala putih dan bertelanjang dada. Lebih dulu pemuda ini memberi hormat pada para penonton lalu hup! Enteng sekali tubuhnya melayang ke udara, jungkir balik. Sesaat kemudian kedua kakinya tegak tepat diatas dua bambu runcing, tanpa telapak kakinya luka atau cidera!
Kembali tempat pesta itu mpenuhi oleh sorak sorai kagum.

Setelah diam sesaat pemuda yang tegak diatas bambu runcing itu kembali menggenjot tubuh. Badannya jungkir balik di udara. Kalau tadi dia jatuh tegak Iurus diatas kedua kakinya, maka kini tubuhnya tampak jatuh melintang. Punggung dan pantatnya jatuh tepat di atas ujung bambu runcing! Seperti tadi, tubuhnya sadikitpun tidak mengalami cidera. Tambah riuh sambutan penonton.

Untuk ketiga kalinya si pemuda lentingkan tubuhnya ke udara. Kalau tadi dia menjatuhkan diri dengan balik punggung maka kini tubuhnya melayang ke bawah dengan dada dan perut lebih dulu. Delapan pemuda yang memegang bambu runcing, merubah kedudukan empat bambu itu, kini menyusunnya sedemikian rupa merupakan deretan memanjang dengan jarak sepersepuluh meter satu dengan lainnya.

Tubuh pemuda itu melayang turun.
Crassss!
Empat batang bambu menancap menembus dada dan perutnya!
Darah muncrat!
Orang banyak tersentak kaget. Tapi sebagian dari mereka mengira itu adalah salah satu dari acara penunjukan. Pemuda itu pasti tidak apa-apa. Ternyata ini bukan pertunjukan debus. Apa yang terjadi adalah sungguhan. Tubuh pemuda diatas sana ditancapi empat potong bambu. Nyawanya lepas sesaat kemudian! Lantai ruangan basah oleh darah. Delapan pemuda pemegang empat bambu baru sadar. Kedelapannya berseru keras. Tanpa disadari mereka melepaskan pegangan pada empat bambu. Akibatnya tubuh yang tertancap Itu jatuh tergelimpang ke lantai, tepat di depan pelaminan!
Ungguljati peluk istrinya. Tubuh kedua pengantin ini kotor oleh cipratan darah. Dari belakang rombongan debus ini melompat seorang lelaki berkepala botak berusia setengah abad. Dia adalah Seta Kumbara ketua atas kepala rombongan debus Banten itu. Dengan suara garang dia berteriak marah.

“Ada orang jahat yang mengacau pertunjukan! Kami tidak punya silang sengketa dengan siapapun disini! Mengapa tega mencelakai anggota kami?” Tak ada jawaban. Banyak orang kini baru mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Seta Kumbara memandang berkeliling lalu kembali berteriak “Manusia keji, jahat! Siapapun adanya kau silahkan maju tunjukkan diri! Jangan berlaku pengecut! Berani berbuat berani tanggung jawab”
Ketika bentakan-bentakan ketua debus Banten itu berhenti dan suasana menjadi hening tegang, tiba-tiba terdengar suara tertawa merdu dari arah kelompok tetamu di sebelah kiri panggung besar. Semua orang merasa heran. Bagaimana dalam keadaan seperti itu masih ada orang yang tega-teganya tertawa. Dan suara tawa itu jelas suara tawa perempuan.

“Ketua debus Banten! Kau benar! Berani berbuat berani tanggung jawab!”
Menyusul terdengar suara orang berseru. Lagi-lagi suara perempuan. Kini semua berpaling ke arah kiri panggung. Di saat yang sama sesosok bayangan merah melesat dari jurusan itu. Dilain kejap sesosok tubuh berpakaian merah telah tegak berdiri di depan pelaminan!


8. RATU MESUM DARI KARANGKATES

SEMUA MATA terbeliak dan hampir tak berkesip ketika melihat siapa adanya yang tegak di depan pelaminan kedua mempelai. Ternyata seorang perempuan muda berparas cantik namun berdandan sangat menyolok. Bukan saja karena pipinya diberi mereh-merah serta bibirnya diberi pewarna dan alisnya hitam tebal, tetapi juga karena perempuan muda ini mengenakan sehelai kain tipis warna merah, yang demikian tipisnya sehingga sekujur tubuhnya hampir terlihat jelas, termasuk bagian-bagian yang terlarang. Dirambutnya yang disanggul ada sebuah mahkota kecil.
“Ketua debus! Aku sudah unjukkan diri! Nah, apa yang hendak kau lakukan…..?!” perempuan berpakaian merah itu berkata pada Seta Kumbara. Sikapnya genit tetapi juga sombong.

Seta Kumbara seperti terkesiap. Tentu saja dia tidak menyangka kalau yang bakal muncul manyambuti ucapannya adalah perempuan seperti itu.

“Hai! Mengapa jadi diam saja? Tadi kau begitu garang?!” ujar si baju merah seraya meliukkan tubuh hingga pakaiannya disebelah depan tersingkap. Betis dan pangkal pahanya kelihatan putih mulus.
“Jadi kau yang punya pekerjaan keji itu!” sentak Seta Kumbara.

“Betul sekali!” jawab si baju merah sambil tersenyum genit dan mengedipkan matanya beberapa kali.
“Kenapa kau berlaku begitu keji? Antara kita tidak ada permusuhan. Kau telah membunuh pemuda anak debusku!”
“Kenapa aku berlaku keji akupun tidak tahu! Tapi aku tidak suka pada pertunjukan menipu dan mencari uang seperti caramu?”
“Kami tidak menipu!” jawab Seta Kumbara marah. “Sudahlah, Aku datang kemari bukan untuk bicara panjang lebar denganmu. Aku ada keperluan lain. Pergi sana. Aku tidak begitu suka melihat tampang dan kepala botakmu!”
Dicaci maki begitu rupa salah satu anggotanya dibunuh tentu saja membuat Sera Kumbara tambah marah. Kumisnya yang jarang sampai berjingkrak.

“Manusia keji enak saja kau bicara! Mulutmu kotor, hatimu busuk! yang kau lakukan harus men dapat hukuman yang setimpal!
Perempuan muda berbaju merah yang tadi handak melangkah kearah pelaminan balikan tubuh mendengar ucapan ketua debus Banten itu.

“Apa katamu? Coba jelaskan hukuman setimpal bagaimana yang kau maksudkan…?”
“Kau harus berikan nyawamu sebagai pengganti anggota kami yang kau bunuh!” Jawab Seta Kumbara tandas.

Perempuan berbaju merah tertawa panjang. Ketika mulutnya terbuka kelihatan lidahnya yang merah dan barisan giginya yang putih rata.
“Kamu sungguhan inginkan jiwaku…. Nah ambillah!” Perempuan itu lalu rentangkan kedua kakinya hingga auratnya semakin jelas terlihat. Dia rangkapan kedua tangan di depan dada dan pejamkan mata. Bersikap seperti sengaja menunggu tindakan selanjutnya dari orang yang hendak mencabut jiwanya!
Ditantang begitu rupa ketua debus Banten itu meledak amarahnya. Sebagai seorang ketua debus, Seta Kumbara bukan saja meyakini ilmu kepandaian yang menyangkut jenis pekerjaan itu, tetapi sekaligus dia jago mendalami ilmu silat. Maka sekali dia bergerak tangan kirinya menyambar ganas kearah leher perempuan muda berbaju merah.
Para anggota debus tahu sekali itu adalah serangan sangat mematikan. Kalau perempuan berbaju merah itu tidak membunuh anggota mereka, pasti semuanya akan merasa sayang kalau dia sampai menemui kematian di tangan sang ketua.
Namun apa yang terjadi kemudian bukan saja diluar dugaan, tapi mengejutkan juga mengerikan!
Hampir jari-jari tangan Seta Kumbara meremukkan tulang leher perempuan muda itu, tiba-tiba yang di serang meliukkan badannya. Tangan kanannya menyusup dari samping dan prak!
Kepala Seta Kumbara remuk. Tubuhnya tanpa ampun tergelimpang di lantai. Darah dari benaknya jadi satu dengan darah anak buahnya. Nyawanya putus!
Gemparlah pesta perkawinan itu. Seluruh anggota debus Banten temasuk anggota-anggota perempuan dan anak-anak melompat mengurung si baju merah, sementara yang dikurung tenang-tenang saja malah tampak tersenyum genit tiada henti.

“Perempuan durjana!” seorang pemuda anggota debus menghardik. “Kau telah membunuh ketua kami! Tubuhmu akan mampus tercincang lumat!” Habis berkata begitu pemuda ini cabut sebilah golok. Anggota-anggota yang lain mengeluarkan berbagai macam senjata. Mulai dari pisau sampai kelewang. Mulai dari potongan kayu sampai puntungan besi!
“Hm, nyalimu boleh juga orang muda! Hanya sayang aku tidak suka pada laki-laki. hik…hik…hikl” menyahuti perempuan yang berpakaian merah tipis. Lalu dia tegak pinggang di tengah kalangan dan berkata, ”Siapa yang ingin mampus lebih dulu silahkan maju!”
“Tahan!”
Sesosok tubuh berkelebat dan sesaat kemudian orang ini sudah tegak sekitar tiga langkah dari hadapan kedua belah pihak yang hendak baku hantam itu. Dia adalah seorang tua berpakaian putih yang membekal keris berhulu gading di pinggangnya.

Sri Pujiati, pengantin perempuan segera mengenali bahwa orang tua itu adalah Bagus Tinggi, seorang tokoh silat dari Jawa Barat yang menjadi kerabat gurunya. Melihat orang tua itu hendak turun tangan pengantin perempuan ini segera bangkit.

“Bapak Bagus Tinggi, harap kau suka kembali ke tempat duduk. Kau adalah tamu yang kami hormati dan tak pantas bersusah payah menangani persoalan ini. Biar saya yang menyelesaikannya……”
Bagus Tinggi tertawa dan menjawab, “Pujiati, kau adalah pengantin ratu sehari. Tak pantas turun tangan sendiri. Biar aku sahabat gurumu yang mewakili membereskan pengecut ini……”
Mau tak mau terpaksa Sri Pujiati kembali ke tempat duduknya. Dia percaya orang tua itu akan dapat menyingkirkan perempuan muda pengacau itu.

“Orang tua. Siapakah kau yang berani bicara keras? Badanmu kucium sudah bau tanah” Perempuan muda berbaju merah keluarkan kata-kata menghina.
Dihina begitu rupa Bagus Tinggi yang sudah banyak pengalaman bersikap tetap tenang. Sesaat dipandanginya perempuan muda dihadapannya itu. Yang dipandang balas memperhatikan, lalu berkata, “Tua bangka, bau tanah! Ternyata kau masih diselimuti nafsu. Kulihat pandangan matamu mencari lekuk-lekuk tubuhku yang terlarang!”
Merahlah wajah Bagus Tinggi.
“Segala yang berbau dunia dan nafsu telah lama aku tinggalkan berkata orang tua itu. ” Lain halnya dengan dirimu. Masihkah kau malang melintang membawa dan menebar kebejatanmu……..?”
Perempuan berbaju marah tampak terkejut tapi tidak memperhatikan hal ini. “Tua bangka ini rupanya mengenaliku…..?” Dia membatin.
“Kalau mataku belum kabur dan ingatanku belum pikun, bukankan kau Ratu Mesum dari Karangkates…..?”
Begitu Bagus Tinggi menyebut nama itu maka terjadilah kegegeran di tempat pesta itu. Para tetamu merasakan kuduknya dingin. Gede Agung Kuntjoro memandangi pada puterinya yang duduk di pelaminan. Pengantin perempuan ini sendiri duduk dengan muka pucat.

“Puji, kau tampak gelisah. Siapakah sebenamya pangacau yang mempunyai julukan aneh itu…..?” bertanya Ungguljati, pengantin lelaki.
“Saya tak bisa menceritakannya saat ini. Saya akan mengambil sesuatu di kamar. Perempuan mesum itu luar biasa jahatnya….” Baru saia Sri Pujiati hendak berdiri mendadak terdengar bentakkan perempuan berbaju merah. “Tidak seorangpun boleh meninggalkan tempat ini Kecuali mereka yang minta mampus!”
Habis bentakan itu perempuan ini melompat ke dekat pelaminan dan jelas dia menghadang gerakan pengantin perempuan. Ungguljati yang kawatir istrinya akan diapa-apakan segera berdiri dan menarik Sri Pujiati. Si baju merah memperhatikan dengan tersenyum. ” Kau tentu sangat mencintai istrimu itu bukan……?”
“Kau siapa” Mengapa mengacau pesta perkawinan kami?!” tanya Ungguljati dengan suara keras.
“Kau suami yang baik. Mau melindungi istri. Tapi…… sayang. Kau tak bakal menikmati malam pengantinmu. hik…..hik….hik…”
Gede Ageng Kuntjoro melangkah maju. “Perempuan liar! Kalau sampai kau apa-apakan anak atau menantuku! kutebas batang lehermu!”
Si baju merah geleng-geleng kepala dan kedip-kedipkan mata.
“Aih, kau ayah yang baik. Tapi sayang, kau tak bakal lagi melihat mantumu…..”
Saat itu Sri Pujiati membisikkan sesuatu pada suaminya. Tapi Ungguljati tampak menggelengkan kepala dan terdengar berkata: “Tidak Puji, apapun yang terjadi aku tak akan pergi dari sini…..”
“Tapi kakak, dia pasti mengincar dirimu! Kalau tidak tak bakal dia muncul di sini! Aku sudah lama mendengar kejahatan perempuan durjana ini…..!”
Walaupun dipaksa Ungguljati tetap saja tak mau bergerak dari tempatnya. Malah tangan kanannya kini mencekal erat keris besar yang jadi hiasan dipinggangnya.

Sementara itu Bagus Tinggi yang sudah mencium bahaya mendatangi si baju merah dan berkata.  “Ratu , kami disini menghormati nama besarmu. Kami bersedia melupakan apa yang telah kau lakukan, asal saja kau juga bersedia meninggalkan tempat ini dan tidak membuat keonaran lebih jauh…..”
“Orang tua, ternyata kau bisa bicara sopan. Kau datang kesini membunuh ketua kami! Sebagai balasannya kau layak kami cingcang”. Seorang anggota debus Banten berteriak.

Kali ini Bagus Tinggi tak dapat menahan orang-orang itu lagi. Lebih dari dua puluh anggota debus menyerbu dengan berbekal senjata di tangan. Perempuan muda cantik dan genit itu dikeroyok. Namun jelas sekali dia tidak tampak takut. Malah sambil tertawa-tawa dia liuk-liukkan tubuh. Tangannya kiri kanan bergerak. Kakinya sesekali ikut menghantam. Beberapa sosok tubuh penyerang berkaparan. Bagus Tinggi yang tidak ingin melihat korban lebih banyak melompat ke dalam kalangan perkelahian.
“Kalian mundur semua! Biar aku yang meyelesaikan urusan ini!” seru orang tua itu.

Meskipun marah dan dendam masih menyelimuti anggota-anggota debus Banten namun mereka juga menyadari bahwa ternyata perempuan berbaju merah itu adalah seorang berkepandaian tinggi.
“Orang tua , tadi kau bicara sopan. Kenapa kini hendak ikut-ikutan turun tangan?”
“Apakah kau benar-benar tak mau pergi dari sini….? Pergilah ke tempat lain, kau akan menemukan apa yang kau inginkan……”
Perempuan itu kembali perdengarkan suara tawanya yang panjang dan merdu. “Orang tua, aku akan pergi setelah urusan disini selesai!” Lalu sekali melompat dia sudah berada dihadapan kedua pengantin.

Sri Pujiati segera menggeser tegaknya. Dia sengaja memunggungi Ungguljati karena dia yakin perempuan berbaju merah itu mengincar suaminya.
“Ratu Mesum! Berani kau mengganggu suamiku kubunuh kau!” kertak Sri Pujiati.
“Kau memang istri hebat! Tapi kehebatanmu tak ada gunanya. Sudah menjadi takdir suamimu itu harus ikut aku…..!”
“Perempuan jahat!” hardik Ungguljati. “Siapa sudi ikut denganmu”
Ratu Mesum dari karangkates tertawa tinggi.
“Orang muda,” katanya, “Coba kau perhatikan baik-baik. Cantik mana aku dengan istrimu…?”
“Mulutmu kotor! Kecantikanmu kecantikan setan!” sahut Ungguljati lalu dia menyelinap ke depan dan tusukan keris ditangannya ke dada perempuan berbaju merah. Sekali mengibas perempuan ini berhasil membuat mental senjata yang dipakai menyerangnya.

“Orang muda kau dengar baik-baik. Istrimu ini tidak lebih cantik dariku. Aku punya segudang pengalaman. Sekali kau ikut denganku kau akan menurut kemana aku pergi. Hik…..hik….hik….”
“Ratu……kuharap kau mau meninggalkan tempat ini..” Bagus Tinggi menyelak.
“Tua bangka! Kau hanya menggangu saja dari tadi!” Si baju merah yang dijuluki Ratu Mesum itu gerakkan tangannya untuk menampar. Namun tamparannya mengenai tempat kosong. Malah sebaliknya kini satu pukulan menderu kearah tulang-tulang iganya. “Hai! Jadi kau punya ilmu juga hah? Bagus! Keluarkan semua ilmu dan bersiap untuk mati!”


9. PENGANTIN LELAKI DICULIK

“PEREMPUAN durjana! kau keliwat memandang rendah. Makan tanganku ini!” ujar Bagus Tinggi. Jotosannya yang tadi mengarah barisan iga kanan lawan tahu-tahu mencelat ke atas ke arah rahang.
“Aih! Ilmu silatmu boleh juga!” seru Ratu Mesum. “Tapi apakah kau sudah melihat gerakan Ular Merah Mencengkeram Akar Pohon?!” habis berkata begitu perempuan ini gerakan tangannya demikian rupa hingga tahu-tahu Bagus Tinggi melihat bagaimana lengan kanannya kini terjebak dalam cengkraman lawan!
Orang tua itu kerahkan tenaga untuk membetot lepas tangannya. Namun ketika menyadari bahwa lawan memiliki kekuatan jauh lebih besar dan dia tak mungkin dapat membebaskan tangannya maka Bagus Tinggi kini pergunakan tangan kiri untuk memukul ke dada lawan.

“Kakek! Ternyata kau juga masih senang kebagusan dunia! Sudah tua nafsumu masih bejat. Mengapa kau menyerang ke bagian dadaku? Kau ingin meraba anggota tubuhku ya? lni kau rabalah!”
Sehabis berkata begitu Ratu Mesum singkapkan pakaian merahnya dibagian dada. Sepasang payu dara yang putih kencang membusai keluar. Tentu saja hal ini membuat Bagus Tinggi terperangah dan ragu-ragu untuk tidak disia-siakan oleh Ratu Mesum. Tangan kanannya lepaskan cengkraman dan secepat kilat tangan itu memukul kebawah.
Krak!
Tulang bahu kiri Bagas Tunggul patah. Orang tua ini terbanting ke kiri sambil mendesah menahan sakit. Dalam keadaan seperti itu satu tendangan melanda perutnya. Tubuhnya mencelat ke atas panggung, jatuh tepat diatas perangkat gamelan! Tak berkutik lagi. Mati!
Si baju merah berkacak pinggang dan memandang berkeliling.
“Masih ada yang minta mati? Kalau ada segera maju!” katanya menantang. Dia melirik pada pengantin lelaki dan kedip-kadipkan matanya. Sri Pujiati yang tidak tahan lagi melihat perbuatan dan tingkah laku perempuan berpakaian merah ini dengan tangan kosong melompat menyerang. Namun gerakannya tertahan karena saat itu dari deretan tetamu di samping kanan panggung terdengar orang berteriak.

“Pengantin perempuan biarkan kami yang memberi pelajaran padanya. Kami memang sudah lama mencari perempuan keparat ini!”
Dua sosok bayangan berkelebat dan dilain kejap dua kakek berpakaian biru tegak dihadapan perempuan berbaju merah itu. Yang satu rupanya sebelumnya tak pernah bertemu dengan perempuan ini, hingga sambil usap-usap janggut pendeknya dia berkata pada temannya, “Aih, jadi inilah dia perempuan yang berjuluk Ratu Mesum itu. Aih, tidak nyana begini cantik. Sayang aku sudah terlanjur tua. Kalau tidak pasti segala urusan bisa kuatur……!”
“Huss!” kakek yang satu lagi mendengus. “Jangan bicara memalukan! Apa kau lupa betina yang dandanannya medok ini yang telah menculik dan membunuh keponakan kita!”
“Tentu, tentu saja aku tidak lupa hal itu,” menyahuti kakek yang tadi bicara seenaknya. “Kau bicaralah dengan dia, Aku biar tegak disini saja. Soalnya tubuhnya yang harum membuat darahku jadi panas! Ha.. ha.. ha..!”
“Monyet-monyet tua dari mana yang kesasar ke tempat ini…. ?!” membentak Ratu Mesum.
“Kami tidak kesasar Kami memang sudah lama menantimu. Malam ini kami temui kau disini. Kau tak bisa lolos lagi…..'”
“Oh, begitu….. Ratumu ini memang tak pernah mau melarikan diri dari orang yang datang minta mati! Sebutkan nama kalian biar jelas bagiku siapa kalian dan kalian sendiri bisa mati dengan tenang!”
Kedua kakek itu tertawa gelak-gelak
“Kata-katamu seperti perempuan panggung sandiwara saja” si kakek sebelah kanan buka mulut sementara kawannya kakek yanq berjanggut pendek tegak memperhatikan dengan cengar cengir. “Apa memang dulunya kau pemain sandiwara?!”
“Tua bangka gila! sudah mau mampus masih bergurau! Kalau kau tak mau memperkenalkan diri
akupun tak segan mengirimkan kalian ke akhirat sekarang juga…!”
“Aih! Kalau kau ingin mengirim kami ke akhirat apakah kau hendak turut serta? Atau kau mau pergi duluan..?”
“Tua bangka edan”
Dipermainkan begitu rupa Ratu Mesum jadi marah. Tubuhnya bergerak ke depan melancarkan satu serangan ganas. Yang diserang yaitu kakek di sebelah kanan tampak diam saja tak bergerak sedikitpun. Tapi tahu-tahu dari samping temannya yang berjanggut memotong jalannya serangan menghantam di tengah Jalan. Mau tak mau Ratu Mesum tarik pulang serangannya. Baru saja dia mempersiapkan serangan baru, kakek sebelah kanan ganti menggempur hingga buyar lagi rencana seragannya!
“Eh dua jerangkong busuk ini agaknya bukan orang-orang sembarangan..!” membatin Ratu Mesum.
“Hai! Mengapa kau terkesima .. ?” Kakek berjanggut buka mulut. “Kau tertarik pada salah satu dari kami? Aku lebih gagah dari dia karena aku punya janggut.. Kau senang janggutku? Ha.. ha.. ha.. !”
“Mampuslah” teriak Ratu Mesum.
Kedua tangannya disorongkan ke depan. Satu ke arah kakek berjanggut satu lagi ke arah kakek yang tegak disebelah kanan. Dua larik sinar merah muda disertai deru angin kencang melesat kearah dua kakek itu. Keduanya sama berseru keras dan serentak membuang diri cari selamat. Baru saja mereka berhasil menghindarkan serangan itu di belakang sana terdengar jerit pekik. Empat orang tetamu yang terkena sambaran sinar Ratu Mesum menemui ajal dengan tubuh seperti terpanggang!
“Sahabatku” kata kakek sebelah kanan. “Dedemit cantik ini kalau tak lekas disingkirkan bisa berbahaya… Bagaimana kalau kita keluarkan jurus-jurus ular sesat?”
“AKU setuju! Aku setuju'” jawab kakek berjanggut.
“Hai! Apa kalian masih tidak ingin memberi tahu nama?!” Ratu Mesum berseru. Rupanya dia masih belum puas kalau belum mengetahui siapa adanya kedua lawannya ini.
Kakek berjanggut kedip-kedipkan matanya. “Aih, rupanya kau begitu ngebet ingin tahu nama kami! Baiklah… Sahabatku kau beritahulah siapa kita tua renta ini…”
Kakek disebelah kanan segera manyahuti, “Aku yang jelek ini bernama buruk yaitu Sukat Rampe. Kawanku yang barjanggut seperti kambing ini bernama Wirasona. Dalam dunia persilatan kami dikenal dengan Julukan Sepasang Ular Biru! Nah apakah kau puas sekarang..?”
Diam-diam Ratu Mesum merasa terkejut ketika mendengar julukan dua kakek itu. Mereka dikenal sebagai Jago yang malang melintang sepanjang perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

“Kita belum pernah saling bertemu. Tak ada silang sengketa. Mengapa kalian ikut campur urusanku di tempat ini…..?”
Dua kakek baju biru tertawa.
“Perempuan berdandan menor! Nada bicaramu terdengar lain kini. Mungkin kau benar-benar naksir pada salah satu dari kami!” kakek barjanggut yakni Wirasona Iagi-lagi mempermainkan.

“Masih banyak pemuda gagah yang bisa kudapat Mengapa inginkan kakek rongsokan macam kalian…?” tukas Ratu Mesum.
“Hai kau sendiri tadi mengatakan dirimu banyak pengalaman.. Nah kami yang tua-tua ini tentu lebih banyak pengalaman …! Ha… ha… ha…”‘
“Kalian benar-benar mencari penyakit!”
“Perempuan menor!” Sukat Rampe buka suara kini. “Terhadap manusia jahat sepertimu mengapa harus mempersoalkan silang sengketa. Kami dari golongan putih setiap saat bisa dan berhak menghukummu, Apalagi dua bulan yang lalu kau menculik dan membunuh keponakan kami setelah memuaskan nafsu bejatmu..”
“Siapakah keponakanmu itu…..?”bertanya Ratu Mesum.
“Timbul Soka!” sahut Wirasoka.
“Ah pemuda itu. Dia memang tampan. Tapi tolol dan lemah pucuk! Dia tak mampu melayaniku. Karenanya umurnya tidak panjang..”
“Dasar perempuan binal! Hari ini kami paman pamannya akan menghukummu!”
“Silahkan… Silahkan!” sahut Ratu Mesum. Perempuan ini lalu singsingkan pakaiannya ke atas hingga setengah dari pahanya yang putih tersingkap jelas. Setelah itu tubuhnya berputar seperti gasing, berubah menjadi bayangan merah. Gerakannya ini sambil menebar serangan sebaliknya cukup sulit untuk diserang.

Dua kakek baju biru saling pandang setelah sama-sama mengangguk keduanya lalu menyerbu. Seperti yang mereka bisikkan tadi keduanya menggempur dengan Jurus Dua Ular Sesat Keduanya datang dari arah yang berlawanan, menggempur dengan seangan-serangan tangan yang bergerak secara aneh yakni seperti gerakan ular. Terkadang mematuk sesekali seperti hendak menggelung, lalu diseling dengan kibasan-kibasan deras Lambat laun Ratu Mesum menyadari bahwa kalau dia tidak merubah permainan silatnya dia tak bakal bisa berbuat banyak menghadapi dua kakek yang ternyata memiliki ilmu silat tinggi itu.

Didahului oleh lengkingan yang menusuk telinga Ratu Mesum melesat keatas. Diudara dia kibaskan kaki pakaian bawahnya. Bau harum menebar. Dua kakek terkejut dan cepat tutup jalan pernafasan. Tapi kakek yang bernama Sukat Rampe terlambat melakukan hal itu. Begitu hawa harum memasuki rongga hidungnya sekujur badannya terasa dingin dan lemas. Kedua kakinya goyah. Tubuhnya akhirnya jatuh duduk.
“Celaka! Ilmu setan apakah yang dimiliki perempuan kotor ini!” ujar Wirasona dalam hati Ketika dia melihat lawan hendak menendang kepala Sukat Rampe secepat kilat dia menggeruk saku baju birunya. Ketika tangannya keluar dari dalam saku, tiga buah senjata rahasia berbentuk hati tipis segitiga meleset ke arah Ratu Mesum. Mau tak mau perempuan ini terpaksa tarik pulang serangannya jungkir balik diudara untuk menghindari hantaman senjata rahasia lawan. Menyaksikan serangannya gagal Wirasona memburu dengan serangan berantai yakni dua pukulan dan satu tendangan.
Ratu Mesum menjadi jengkel. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya dia sengaja menghadang serangan lawan. Dua tangan digerakkan ke atas. Kaki kanan menyambut tendangan. Dua pasang tangan dan dua kaki beradu keras. Kakek berjanggut jatuh terduduk. Dadanya mendenyut sakit.
Sebaliknya Ratu Mesum berdiri masih bisa tertawa mengejek.
“Gila! Perempuan dajal ini memiliki tenaga dalam jauh lebih tinggi dariku! Kalau begini urusan bisa kapiran!” keluh Wirasona. Dia memberi isyarat pada Sukat Rampe. Keduanya melompat bangun kembali dan siap menyerbu. Tapi Sukat Rampe hanya mampu berdiri sesaat lalu jatuh lagi!
Sang lawan rupanya tidak punya hasrat lagi untuk berIama-lama meneruskan perkelahian itu. Dia berkelebat ke panggung mengambil tiga gong kecil. Dengan benda ini dihancurkannya tiga buah lampu besar yang ada di ruangan pesta itu. Suasana menjadi gelap. Dalam kegelapan ini terdengar jeritan Sri Pujiati.

“Kakak Unggul dilarikan! Kakak Unggul diculik!”
Dalam kegelapan itu terjadilah kegemparan. Beberapa orang temasuk Wirasona coba memburu ke luar. Tapi bayangan Ratu Mesum tak tampak lagi. Ketika beberapa lampu dihidupkan, dan suasana menjadi terang kembali pengantin lelaki memang tak ada lagi di tempat itu!


10. PERKELAHIAN DI GUDANG PADI

RATU MESUM biasanya selalu membawa korbannya ke tempat kediamannya yang terletak di tepi danau Karangkates. Namun mengingat jarak antara desa Sumbersari dengan Karangkates sangat jauh, dia memutuskan untuk tidak pergi ke sana. Dia akan mencari satu tempat yang dianggapnya cukup baik. Yang penting dia bisa melampiaskan nafsunya terhadap pemuda gagah yang kini dilarikannya itu.
Sepanjang malam sampai menjelang pagi perempuan itu masih belum menemukan tempat yang dimaksudkannya. Sekujur tubuhnya telah bergetar panas. Sambil berlari memanggul Ungguljati tangannya tiada henti meraba-raba bagian terlarang si pemuda. Ungguljati sendiri tak berdaya berbuat apa-apa karena tubuhnya berada dalam keadaan tertotok, tak bisa digerakkan tak bisa bersuara. Meskipun ditotok demikian rupa namun pemuda ini tak hilang rasa. Diraba perempuan cantik seperti itu tentu saja membuat dirinya terangsang.

Ketika terang tanah berubah menjadi siang, Ratu Mesum sampai di sebuah dataran tandus. Disalah satu ujung pedataran dilihatnya sebuah bangunan besar. Dari bentuk dan keadaannya tampak bangunan Ini sudah tidak dipergunakan lagi. Mungkin juga sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Sang ratu tersenyum. Dia segara lari ke arah bangunan tersebut.

Adapun bangunan ini bukan lain bekas gudang padi dimana Kemala dan Wirapati berada. Keduanya tengah bersiap-siap meninggalkan bangunan itu ketika tiba-tiba satu bayangan merah melesat masuk. Tiga orang sama sama terkejut. Yaitu Kemala, Wirapati dan Ratu Mesum.
“Waw waw!” seru Wirapati. “Siapa yang pagi-pagi begini kesasar di tempat ini?!”
Ratu Mesum selain terkejut juga jengkel penasaran. Dia sama sekali tidak menyangka di tempat sepi begitu, dalam bangunan tua yang tak terpakai bertemu dengan orang lain. Kehadiran dua orang itu tentu saja membuat niatnya terhalang.
“Orang berbaju merah! Pemuda yang kau panggul itu apamu-kah? Waw waw! Hebat sekali kau sanggup memanggulnya. Tampaknya kau habis berlari jauh. Waw…. Hum….. badanmu menebar bau harum……….”
Sudah niatnya tak jadi kesampaian di tempat itu, didapatinya orang banyak tanya pula. Ratu mesum jadi naik darah. “Apa urusanmu berbanyak tanya. Jika kalian bukan pemilik bangunan ini lebih baik cepat-cepat pergi dari sini!”
Wirapati tertawa bergelak sementara Kemala memperhatikan tanpa berkesip. Dia tahu jelas pemuda yang dipanggul perempuan itu berada dalam keadaan tak berdaya. Mungkin sekali dalam pengaruh totokan. Siapa keduanya? Kalau tidak berdaya. Mungkin kepandaian tinggi tak mungkin perempuan muda berpakaian merah ini sanggup mendukung pemuda yang bertubuh kekar besar itu. Dari gerak gerik si baju merah ini ielas ada yang tidak beres.

“Waw waw! Dewiku….. Kau dengar monyet betina ini menyuruh kita pergi. Dia mengusir kita. Waw waw! Apakah bangunan ini punya nenek moyangnya..?”
“Gembel buruk! Bau badanmu membuat kepalaku pusing. Kalau kau bersama perempuan itu tidak segera pergi. Jangan menyesal kalau aku sampai turun tangan!” Ratu Mesum mengancam. Dia melangkah lebih dekat. Tapi tiba-tiba dia hentikan gerakannya. Saat itu baru dia melihat sepasang tangan Wirapati yang berwarna hitam Iegam, serta sepasang matanya yang berwarna merah.

“Aku tak pernah bertemu manusia berjuluk Iblis Gila Tangan Hitam. Jangan-jangan….. ini dia iblisnya…?! ”membatin Ratu Mesum.
“Dewiku…… Apa pendapatmu waw waw! Perempuan ini telah menghina suamimu ini dengan kata-kata gembel buruk! turut pendapatmu waw waw! Apakah pelu kubunuh dia detik ini iuga….?'”
“Tunggu!” Kemala menjawab. “Kita tidak ada silang sengketa dengan dia. Tapi kalau dia berani menghina dan menganggap kita hewan-hewan yang bisa diusir memang keliwatan. Aku mau bertanya dulu. Pemuda berpakaian pengantin itu apamu? Kenapa dia barada dalarn keadaan tertotok…?”
“Ah, dara berbaju kuning ini agaknya orang persilatan. Kalau tidak mustahil dia tahu pemuda ini berada dalam keadaan tertotok,” membatin lagi Ratu Mesum.

“Gadis cantik……” ujar Ratu Mesum bermanis-manis. “Siapa pemuda ini kau tak perlu tahu. Kemana dia berada dalam keadaan tertotok kau juga tak usah tahu. Kami baru saja menempuh perjalanan jauh dan butuh istirahat. Dan tak ingin diganggu…..”
“Siapa yang mengganggu kalian! justru kedatangan kaIianlah yang mengganggu kami disini'” tukas Kemala.
“Sudahlah” Aku tak mau bicara panjang lebar dengan kalian! Tinggalkan bangunan ini….!”
“Waw waw! Enaknya dia bicara….!”
Kemala lambaikan tangannya. Lalu berkata: “Baik, kami akan pergi dari sini. Tapi serahkan pemuda itu pada kami!”
“Apa?!” Sepasang mata Ratu Mesum mendelik. “Rupanya kau iri! Hanya punya gendak seorang gembel busuk kini inginkan pemuda gagah!” Ratu Mesum meludah ke tanah.

Dihina seperti itu kemala jadi penasaran. dia melompat mundur sambil pegangi tangannya yang serasa memukul batu.
“Gadis tak tahu diri! Rasakan olehmu sekarang! Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa!” “Dewiku waw waw!” Wirapati memburu dan memegangi bahu Kemala. “Kau…kau tak apa-apa….?”
“Kakak Wira. Kau beri pelajaran padanya…..”
“Dewiku! Kubalaskan sakit hatimu! Waw waw!” Wirapati membalik. Begitu membalik dia langsung lancarkan serangan.
Ratu Mesum tersentak kaget melihat kecepatan serangan serta siuran angin yang keluar dari serangan itu. Dengan sigap dia melompat ke kiri sambil kaki kanannya disebatkan ke arah perut Wirapati.
Duk!
Tendangan Ratu Mesum tepat mengenal perut Wirapati. Dan kembali perempuan ini menjadi kaget karena yang ditendang hanya terhuyung sesaat lalu mengumbar waw waw dan menyerang kembali. Kali ini dengan melancarkan pukulan tangan kosong yang mengeluarkan sinar hitam mengerikan!
“Astaga! Memang dia! Pasti dia Iblis Gila Tangan Hitam!” ujar Ratu Mesum dalam hati. Lalu dia mengomel sendiri. “Sialan! Selagi hendak bersenang-senang mengapa harus ketemu iblis ini. Lebih baik aku mengalah! Tapi ingin juga aku menjajal sampai dimana kehebatan orang gila ini!”
Begitu sinar hitam berkiblat Ratu Mesum cepat menyingkir dengan gerakan meliuk lincah. Sinar pukulan Wirapati menghantam dinding dan tiang bangunan hingga jebol besar.
“Waw waw! Waw waw!” Wirapati nampak marah. Jarang sekali serangannya yang merupakan serangan maut itu dapat dihindarkan lawan. Tubuhnya berkelebat lenyap.
Bret!
Serangan Wirapati kali ini hanya sanggup merobek pakaian merah Ratu Mesum. Demikian besarnya robekan itu hingga hampir seluruh pinggulnya sebelah kiri tersingkap. Perempuan ini bukannya berusaha menutupi auratnya malah tegak menantang. Sesaat mambuat Wirapati jadi tertegun.

“Waw waw! Waw waw!” “Kakak Wira! Jangan diam saja! hajar perempuan binal itu!” Kemala berteriak. Dia kawatir kalau Wirapati yang gila sampai tergiur dan lengah hingga lawan bisa mencelakainya.

Mendengar teriakan Kemala lelaki ini tersentak. Didahului oleh seruan-seruan waw waw dia kembali menyerbu Ratu Mesum. Kali ini Wirapati agaknya mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Satu hal yang tak pernah dilakukannya sebeIumnya. Ratu Mesum menjadi kaget ketika dapatkan dirinya terkurung serangan lawan yang datang bertubi-tubi.

“Kalau kuteruskan perkelahian ini aku bisa celaka?” kata Ratu Mesum dalam hati. Dia andalkan ilmu meringankan tubuhnya dan berkelebat cepat untuk dapat keluar dari kepungan serangan lawan. Tapi setelah tujuh jurus dilakukannya dan tak kunjung berhasil maka kecutlah perempuan ini. Keringat dingin membasahi kening dan tengkuknya. Bukan saja dia kawatir kalau sampai kena pukulan lawan, tapi dia juga takut kalau-kalau gebukan atau cengkeraman Wirapati sempat menghantam badan Unggul jati yang sampai saat itu masih dipanggulnya.

Dari kenyataan bahwa Ratu Mesum menghadapi Iblis Gila Tangan Hitam masih dengan memanggul tubuh si pemuda jelaslah bahwa perempuan muda berparas cantik dan genit ini benar-benar memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun demikian lama-lama dia jadi kelabakan luga, terlebih setelah berkali-kali gagal untuk keluar dari kalangan pertempuran. Dia mulai berpikir-pikir apakah sebaiknya dia mengeluarkan saja senjata andalannya saat itu.

“Akan kucoba dulu mencari kesempatan untuk menebar wewangian beracun. Kalau tidak berhasil baru terpaksa aku keluarkan senjata mustika itu…..” demikian Ratu Mesum mengambil keputusan dalam hati.

Ketika lawan menggempur dengan dua pukulan beruntun, Ratu Mesum merunduk sambil menghantam dengan tangan kiri. Satu sinar merah muda menderu ke arah Wirapati. Yang diserang angkat tangan kanannya yang hitam.
Wuss!
Sinar merah pukulan Ratu Mesum buyar berantakan, tak mampu dan tak mempan menghadapi tangan beracun Wirapati. Sebenarnya perempuan itu sebelumnya sudah menduga kalau pukulan saktinya tak bakal dapat menghadapi kesaktian tangan lawan, Namun tujuannya adalah semata-mata untuk menahan sesaat gerakan Wirapati. Ketika hal itu dilihatnya maka Ratu Mesum segera pergunakan kesempatan untuk melesat ke udara hampir menyondak wuwungan bangunan.
“Waw waw! Perempuan liar, kau mau kabur ke mana?” teriak Wirapati dan serentak menjejakkan kedua kakinya, menyusul melompat. Namun saat itu dari atas Ratu Mesum kebutkan bagian bawah pakaian merahnya. Bau harum menebar kearah Wirapati. Ketika hawa itu terhirup olehnya mendadak sekujur tubuhnya menjadi lemas dan dingin, lututnya bergetar dan sedetik kemudian dia terkapar jatuh di lantai bangunan.

Ratu Mesum tertawa nyaring.
Kemala terkejut dan memburu.
Tapi dari atas datang menyambar kaki Ratu Mesum, kirimkan satu tendangan maut ke kepala Kemala. Mau tak mau dara berbaju kuning ini terpaksa jatuhkan diri ke belakang cari selamat. Kemala memang terhindar dari kematian. Tetapi kini dalam melayang turun, Ratu mesum teruskan hantaman kakinya untuk menginjak batang leher Wirapati. Dalam keadaan tak berdaya seperti itu Wirapati tidak dapat menyelamatkan diri sedang Kemala tidak mungkin pula untuk membantu.

Ratu Mesum tertawa nyaring.
“Tidak disangka!” serunya. “Hari ini aku akan dapat membunuh Iblis Gila Tangan Hitam yang ditakutkan itu!”
Kaki kanannya siap menghancur remukkan batang leher Wirapati.
Adalah aneh ketika tiba-tiba dari balik dinding bangunan yang bobol melesat sebuah benda bulat seperti bola kecil dan menghantam betis kanan Ratu Mesum hingga perempuan ini berteriak kesakitan. Sekujur kakinya seperti Kesemutan bahkan dia hampir hilang keseimbangan kalau tidak lekas-lekas pergunakan kaki kiri untuk menjejak lantai bangunan lebih dahulu.
“Keparat! Siapa yang berani menyerang secara pengecut!” teriak Ratu Mesum. Dia pasti betul bahwa yang meIemparnya bukanlah Kemala karena dia dapat melihat jelas gadis baju kuning itu yang masih berada dalam keadaan terjengkang di hadapannya.

Sebagai jawaban terdengar suara tertawa haha-hihi. Seperti suara tawa anak kecil!

11. WIRAPATI LENYAP

WIRAPATI duduk terkapar di lantai papan gudang padi. Dia berusaha untuk bangkit sambil mendesah waw waw. Tapi baru setengah berlutut tubuhnya jatuh kembali. Kekuatannya benar-benar seperti disedot hingga tak berdaya laksana lumpuh.

Ratu Mesum tegak di tengah bangunan sambil memanggul Ungguljati dan memandang berkeliling dengan mata melotot marah. Betis kakinya yang terkena lemparan masih terasa kelenyaran. Ketika dia memandang ke salah satu bagian lantai dilihatnya disitu sebutir buah kecapi berwarna hijau kekuningan. Pasti buah itulah yang telah melakukan lemparan ltu? Tidak dapat tidak tentu seorang lihay dari persilatan. Seorang lawan? Lalu mengapa tidak berani perlihatkan diri? Lalu siapa pula yang tertawa haha hihi? Anak kecil atau setan tuyul?
Kemala yang masih tergeletak di lantai juga tampak heran melihat Wirapati selamat dari tendangan maut perempuan berbaju merah akibat adanya seseorang melempar dengan buah kecapi. Jika dikaitkannya dengan suara tawa yang barusan didengarnya bukan mustahil ini adalah pekeriaan orang-orang katai yang aneh itu. Orang-orang katai yang mangaku sahabat-sahabatnya dan telah mengirimkan surat itu. Pasti mereka bersembunyi disekitar bangunan. Sanggupkah mereka menolong dia dan Wirapati saat itu? Perempuan berbaju merah itu tinggi sekali ilmunya.

Kembali terdengar suara tertawa haha-hihi.
“Siapa yang tertawa itu?” bentak Ratu Mesum jengkel dan marah.
Suara tawa sirap.
“Pengecut!” teriak Ratu Mesum.
Duk!
Sebuah kecapi melayang entah dari mana dan menghantam pinggul Ratu Mesum yang tersingkap. Rasa sakitnya tak seberapa tapi kesalnya perempuan ini bukan main. Dia menghantam ke arah bangunan yang diperkirakannya asal datangnya lemparan itu. Dinding bangunan yang sudah tua itu kembali hancur berantakan. Namun yang diserang tetap saja tidak kelihatan.

Ratu Mesum maju dua langkah mendekati Kemala. Lalu sambil memandang berkeliling dia berseru mengancam.
“Manusia-manusia pengecut! Jika kalian tidak berani unjukkan diri kubunuh gadis berbaju kuning ini!”
Baru saja Ratu Mesum selesai mengucapkan ancamannya tiba-tiba melayang lagi sebuah kecapi. Kali ini menumbuk gulungan sanggulnya, hingga sanggul itu terlepas dan rambutnya tergerai sepanjang bahu!
Semula perempuan ini kembali hendak memaki panjeng pendek. Namun diam-diam rasa kecut mulai menyelimuti dirinya. Jika orang-orang yang bersembunyi itu bermaksud membunuhnya, misalnya melempar dengan senjata rahasia, pasti saat itu dia sudah celaka karena bagaimana pun tingginya ilmunya ternyata dia tidak sanggup mendengar atau mengetahui datangnya lemparan. Padahal buah kecapi itu cukup besar. Sedang benda kecil saja jika dilemparkan pasti sanggup didengarnya. Nyatalah bahwa dia menghadapi orang berkepandaian luar biasa. Diam-diam dia pun mengawatirkan keselamatan pemuda yang lebih baik dan aman. Lagi pula tak ada gunanya meneruskan perkelahian dengan dua lawan yang dianggapnya sudah tidak berdaya itu.

Memikir sampai disitu Ratu Mesum segera melangkah ke arah pintu. Baru saja dia berkelebat pergi sebuah kecapi melesat dan mendarat di pantatnya sebelah kanan.
“Gila Edan!” teriak sang ratu.
Buk Satu kecapi lagi menghantam pantatnya. Kali ini yang sebelah kiri.
“Uh!”
Tanpa banyak bicara atau berani mendamprat lagi Ratu Mesum tinggalkan bangunan itu. Dibelakangnya terdengar kembali suara tertawa haha-hihi.
Setelah Ratu Mesum pergi dan Suara tertawa lenyap, perlahan-lahan Kemala berdiri. Didepannya Wirapati masih terduduk setengah bersila, tak mampu berdiri. Sepasang matanya yang merah tampak redup, wajahnya yang galak kelihatan sayu. Jelas dirinya masih berada dalam pengaruh hawa harum aneh yang ditebarkan Ratu Mesum tadi. Tak dapat dipastikan sampai berapa lama dia akan berada dalam keadaan seperti itu. Namun bagi Kemala ini adalah kesempatan untuk melarikan diri dan bebas dari tangan lelaki berotak miring itu. Setelah merapikan pakaiannya dan sesaat memandang pada Wirapati, gadis ini kemudian lari dengan cepat ke pintu.
“Waw waw….!” seru Wirapati yang hanya merupakan desau perlahan. Kedua tangannya menggapai ke depan. Lututnya diangkat, namun tubuhnya kembali jatuh terduduk. Dia hanya mampu menyaksikan kepergian sang dara yang dianggapnya penjelmaan sang dewi itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Perlahan-lahan air mata meluncur jatuh ke pipinya yang kotor. Dia menangis tanpa suara. Dalam hatinya dia menjerit. “Dewiku, bukankah aku sudah berjanji akan membersihkan diri dan berganti pakaian hari ini. Bukankah aku ini suamimu dan kau itu istriku. Bukankah kita sudah sama setuju membangun istana di Bukit Karangputih. Bukankah kau minta diajarkan ilmu silat. Waw..waw…. Kenapa kini kau tinggalkan diriku….. Benarkah aku jahat… benarkah aku ini gila….?”
Wirapati pejamkan kedua matanya. Dalam hatinya dia berkata lagi. “Aku akan tetap disini. Aku tak akan pergi dari sini. Aku lebih suka mati di tempat ini….Waw….”
Mari kita ikuti Kemala yang melarikan diri.

Semula dia merasa gembira karena dapat bebas dari tangan Wirapati. Dia lari secepat yang bisa dilakukannya. Seperti seekor burung yang lepas dari cengkeraman binatang lain yang menakutkan. Namun setelah berlari sejauh sepeminuman teh jalan pikiran dan hati gadis ini berubah. Dia tahu Wirapati seorang jahat dan sangat berbahaya apalagi karena otaknya yang tidak sehat. Namun selama dirinya berada dalam tangan lelaki itu dia telah diperlakukan dengan baik bahkan Wirapati selalu menunjukkan sikap menghormat dan penuh kasih sayang. Sekarang lelaki itu ditinggalkannya dalam keadaan tak berdaya. Bagaimana kalau tiba-tiba perempuan berbaju merah berkepandalan tinggi itu tiba-tiba muncul kembali dan mencelakainya?
Kemala hentikan larinya dan duduk merenung dibawah sebuah pohon.
“Dia memang gila. Tapi hatinya polos…..” kata Kemala dalam hati. Ada rasa kasihan timbul dalam hatinya. Rasa kasihan begini biasanya adalah awal mula dari rasa kasih sayang. “Apakah aku harus kembali dan menolongnya? Bagaimana ini….?” Kemala tarus menimbang-nimbang. Terbayang olehnya wajah pemuda bernama Mahesa dan ingat dia akan ucapan pemuda itu bahwa Wirapati hanya akan tunduk dan patuh padanya.
“Ah, rasanya aku harus kembali ke gudang padi itu. Paling tidak aku harus menolongnya dari hawa aneh yang melumpuhkannya. Kalau dia sudah sembuh terserah bagaimana nanti…..” Kemala seperti mengambil keputusan. Ketika dia handak berdiri mendadak terdengar suara tawa haha hihi.
“Mereka lagi…..!” kata si gadis dan mendongak ke atas pohon. Benar saja. Pada dua cabang pohon diatas sana nampak tujuh orang katai duduk berjuntai uncang-uncang kaki sambil lambai-lambaikan tangan mereka yang kecil dan lucu.
Kemala berdiri.

“Jadi kalian menguntitku hah?!” Kemala berteriak. “Dan kini kalian tertawa mengejekku!”
Melihat orang marah ketujuh orang katai itu kembali tertawa malah lebih riuh.
“Kalian jahat! Kalian nakal! Tak ada gunanya kalian mengaku sahabat-sahabatku!”
Ketujuh orang katai itu tiba-tiba mengarahkan jari telunjuk mereka ke arah Kemala. Serentak mereka sama-sama berkata, “Kau juga jahat! Kau juga nakal! Kenapa meninggalkan orang yang sedang ditimpa malapetaka. Padahal Orang itu menganggapmu sebagai dewianya!”
Merah wajah Kemala mendengar kata-kata itu. Tanpa mau menjawab lagi dia tinggalkan tempat itu. Segera menuju gudang padi sesuai dengan keputusannya tadi.

Tujuh orang katai di atas pohon serta merta berkelebat pula tinggalkan tempat itu.
Kemala sangat terkejut ketika dia masuk ke dalam bangunan yang ditemuinya bukan Wirapati melainkan tujuh orang katai berpakaian aneka warna itu. Ketujuhnya duduk bersila membentuk garis lurus menghadap ke pintu, memandang ke padanya.
“Gila! Bagaimana mereka tahu-tahu sudah ada lebih dulu di tempat ini, Dan kemana Wirapati………?” Kemala memandang berkeliling, mencari-cari. Tetap saja dia tak dapat menemukan Wirapati. ” Jangan-jangan…..” Hendak bertanya pada tuiuh orang kami itu si gadis merasa malu.
“Hik….hik! Gadis baju kuning kau mencari siapakah?” Orang katai berbaju putih bertanya.
“Hik.,…hik! Bajunya berwarna sama dengan bajuku!” orang katai berpakaian kuning kini yang bicara.
“Ah, dia pasti datang mencari suaminya!” menimpali si katai berbaju merah.
“Aku tidak punya suami!” bentak Kemala.
“lh…..dia masih perawan!” kata orang katai yang pakai baju hijau. Keenam kawannya tertawa cekikikan membuat wajah Kemala jadi merah dan ingin sekali menampari orang orang yang menggodanya itu.
“Sahabatku, katakan apakah kau kemari untuk mencari suamimu itu, Benar?” tanya si katai berbaju coklat.
“Aku bukan mencari suamiku. Aku mencari lelaki itu..!”
Lelaki yang gondrong berpakaian rombeng, butut dan bau itu?!” tanya sicoklat lagi.
“Kau tak layak menghinanya begitu. Kau tidak lebih bagus dari dia!” Semprot Kemala.
Si katai berbaju coklat tertawa lebar. “Kalau kau marah kami menghinanya, pasti kau mencintainya. Paling tidak menyukainya. Benar…..?!”
“Edan!” Maki Kemala. “Aku hanya ingin menolongnya!”
“Menolongnya?!” si coklat memandang pada anam kawannya. “Aneh, tadi kau tinggalkan dia begitu saja dalam keadaan tak berdaya. Kini muncul lagi mengatakan mau menolong…..!”
“Kau terlambat!” Si katai baju biru bicara pertama kalinya.
“Terlambat bagaimana?”
“Kau lihat sendiri apakah lelaki itu masih ada disini…”ujar si biru, Perlahan-lahan Kemala menggeleng. Akhirnya dia ajukan pertanyaan. “Apa yang terjadi. Kemana lelaki itu…..?”
“Nah….nah….kini pasti kau menyesal!” ujar katai barbaju merah.
Kemala jadi tambah tidak enak. “Menyesal kenapa? Memangnya ada apa,…..?”
“Ketika kami sampai kemari…..” yang menjawab si katai berbaju hitam dengan wajah yang menunjukan kesedihan, “lelaki itu telah dilarikan oleh perempuan berbaju merah yang sebelumnya muncul disini….”
“Kami berusaha menghalangi, ” menyambung orang katai berbaju putih, “tapi gagal. Perempuan berbaju merah itu cepat sekali gerakannya dan menghilang di hutan sebelah timur sana.”
Kemala merasa tubuhnya lemas dan tertunduk di lantai papan. “Kasihan dia…..”bisiknya.
“Kasihan….siapa yang kau kasihani…..?” tanya katai berbaju coklat
“Lelaki itu tentunya!” sahut Kemala agak jengkel.
Ketujuh orang katai itu tertawa haha-hihi.
“Kalian selalu mentertawaiku. Jelas kalian bukan sahabat-sahabatku. Lebih baik tinggalkan aku sendirian disini. Aku tak mau kalian ganggu lebih lama….” kata Kemala.
“Kami tidak mengganggumu. Kami memang suka tertawa dan kami selalu mengatakan apa adanya…..” jawab katai berbaju merah.
Lalu yang berbaju putih berkata pula. “Jika kau menganggap kami bukan lagi sahabat-sahabatmu dan ingin kami pergi dari sini ya apa boleh buat. Kami terpaksa harus pergi…..” Orang katai ini lalu berdiri. Enam kawannya mengikuti. Ketujuhnya lalu melangkah ke pintu dengan menundukkan kepala seperti tampak sedih.
“Tunggi dulu…….!” seru Kemala yang jadi kasihan melihat sikap orang-orang katai itu. Ketujuhnya serentak membalikkan diri dan memandang pada Kemala sambil menunggu.
“Sudahlah…..kalian boleh pergi, ” kata Kemala akhirnya. “Aku tahu kalian memang orang-orang baik.”
“Jadi kami ini masih sahabat-sahabatmu…..?” Tanya salah seorang dari tujuh orang katai itu. Kemala mengangguk.
Tujuh orang katai itu bersorak dan bertepuk tangan. Mereka berjingkrak-jingkrak. Malah ada yang melompat dan jungkir balik di udara.
“Kalau kau masih menganggap kami ini sahabat-sahabatmu maka kami mau memberi petunjuk padamu”.
“Kalian tahu kemana perempuan berbaju merah melarikan lelaki itu…..?” tanya Kemala.
Si katai berbaju coklat lambaikan tangan. “Tak usah ingat-ingat si baju merah yang genit menor itu. Keluar dari gudang padi ini kau pergilah ke arah barat, sampai kau menemui sebuah hutan kecil. Disitu ada sebuah pohon nangka besar berbuah lebat. Dibawah pohon itu akan kau temui lelaki itu, Jika dia sudah mati. Dia sedang tidur karena kelemasan. Tak lama menunggu dia pasti akan bangun. Jika dia bangun kau harus menyuruhnya makan buah nangka sebanyak-banyaknya hingga nafasnya sesak. Kalau dia bersendawa atau tertahak berulang kali itu pertanda dia akan sembuh dari hawa harum yang melemaskan tubuhnya…..”
“Jadi, jadi dia tidak dilarikan oleh perempuan berbaju merah itu seperti yang mula-mula kalian katakan,……?” ujar Kemala.
Ketujuh orang katai itu geleng-gelengkan kepala sambil tertawa-tawa. Si putih berkata, “Kami hanya ingin menggodamu. Kami senang melihat gadis cantik sepertimu marah…..Hik…hik…hik…”
“Kalian benar-benar sahabat-sahabat nakal. Biar kucubit pipimu!” kata Kemala seraya melangkah ke arah si katai berbaju putih.
“Ih jangan cuma pipinya saja yang dicubit, Pipi kami juga! Ingin tahu rasanya dicubit oleh gadis cantik!”
Enam orang katai serentak berkata sambil majukan pipi masing-masing.

Kemala maju mendekati ketujuh orang katai itu. Dia bukannya mencubit pipi mereka, tapi malah mengusapnya dengan perasaan gembira. Lalu setelah mengucapkan terima kasih dia cepat-cepat tinggalkan tempat itu. Tujuh orang katai saling pandang satu sama lain sambil tertawa tawa usap pipi masing-masing yang tadi dibelai.
“Enak juga dibelai begitu….” kata si baju coklat.
“Asyik… ” kata si merah.
“Jari-jarinya lembut…..” berbisik si putih. Ketujuhnya kemudian tertawa haha hihi.

12. MAUT DI KEBUN TEBU

SETELAH meninggalkan bangunan bekas gudang padi itu dan berlari lebih dari sepenanakan nasi akhirnya dia sampai di sebuah perkebunan tebu. Demikian luasnya kebun ini hingga kemanapun mata memandang hanya batang dan pucuk-pucuk tebu yang kelihatan. Jauh disebelah timur kelihatan sebuah bangunan kecil, terbuat dari bambu beratap seng. Ratu Mesum segera menuju ke pondok itu. Ternyata pondok ini kosong dan dalamnya bersih. Lantainya tertutup tikar daun pandan.
“Ah, akhirnya kudapat juga tempat yang baik!” ujar Ratu Mesum gembira. Tubuh Ungguljati dibaringkan diatas tikar.
“Kekasihku, kau tunggu sebentar. Haus sekali rasanya. Tentunya kau juga. Aku akan ambilkan air untukmu…..”
Ratu Mesum keluar. Sewaktu hendak memasuki pondok tadi dia melihat sebuah sumur. Dia menuju ke sumur berair jernih ini. Setelah minum sepuasnya, dengan daun-daun tebu yang disusun demikian rupa dia membawakan air untuk Ungguljati. Setelah membuka totokan di tubuh si pemuda Ratu Mesum angsurkan air. Si pemuda gelengkan kepala dan duduk menjauhi perempuan Itu.

“Unggul, kau tak usah takut. Aku tak akan melukaimu apalagi mencelakaimu seperti manusia-manusia tolol di tempat pesta itu. Minumlah…….”
Si pemuda kembali menggeleng. “Kau siapa sebenarnya. Mengapa melarikanku. Kau membunuh orang-orang itu….”
Ratu Mesum tertawa memperhatikan barisan gigi-giginya yang bagus rata dan putih.
“Siapa aku…? Aku adalah kakasihmu. Mengapa aku melarikanmu karena aku ingin bersenang-senang denganmu. Dan kau pasti mau…. Mengapa aku membunuh orang-orang itu…. Karena mereka berusaha menghalangi maksudku. Siapapun yang berani melakukan itu pasti akan kuhajar! Sudahlah, sebaiknya kita tak usah membicarakan orang lain. Disini hanya kita berdua saja. Sudah saatnya kita mulai bersenang-senang…..”
“Bersenang-senang bagaimana maksudmu…..? Tanya Ungguljati.
Ratu Mesum tersenyum dan susupkan tangannya kebalik dada pakaian pengantin yang masih dikenakan Ungguljati.

“Dengarlah Unggul. Seharusnya malam tadi dan pagi ini kau menikmati hari pertama perkawinanmu bukan? Nah semua itu akan dapat kau nikmati bersamaku di tempat ini…”
“Kau perempuan jahat! Aku tak suka padamu. Aku harus kembali ke Sumbersari….” kata Ungguljati pula.
Tangan Ratu Mesum menyusup ke balik pakaian pemuda itu. Tubuhnya dirapatkannya ke tubuh Ungguljali. Nafasnya memburu. Cuping hidungnya tampak mengembang dan wajahnya kelihatan lebih merah. Bagaimanapun, sebagai seorang lelaki, Unggaljati jadi terangsang oleh apa yang dilakukan Ratu Mesum. Apalagi jika dia ingat apa yang diperbuat perempuan itu ketika memanggulnya.

“Kau suka padaku bukan Unggul…..?” bisik Ratu Mesum. Pakaiannya sengaja disibakkan dibeberapa bagian hingga tubuhnya yang putih tersibak. Ungguljati tak menjawab. Dia berusaha menindih rangsangan yang membakar tubuhnya.

“Aku harus kembali ke Sumbersari…..” kata pemuda ini dengan suara parau.
Nanti,… nanti kau bisa kembali…..” bisik Ratu Mesum. Dalam hatinya dia berkata, “Kalau pemuda ini masih terus keras kepala dan tak bisa dikuasai secara begini terpaksa aku harus mempergunakan itu…..”
Ungguljati menepiskan tangan Ratu Mesum ketika perempuan ini coba membuka pakaian pengantinnya. Namun dia hanya terdiam terkesima ketika perempuan itu dilihatnya membukai sendiri pakaian merahnya.

Sambil tersenyum dan memagut tubuh Ungguljati, Ratu Mesum berkata, “Aku lebih cantik, lebih mulus dari istrimu itu Unggul. Peluk tubuhku……”
Si pemuda merasakan tubuhnya menjadi panas. Kemudian didapatinya dirinya diciumi perempuan itu. Dia tak kuasa menindih nafsu yang membakar dirinya. Lalu pemuda ini berbisik. “Aku mau mengikuti kemauanmu. Tapi bila sudah selesai aku harus kembali ke Sumbersari……”
Ratu Mesum tertawa. “Kau nakal….Sekali kau bersenang-senang dengan diriku, kau tak ingat lagi desamu itu. Kau tak ingat lagi pengantinmu itu. Kau tak ingat lagi pada gadis lain…!” Kembali jari-jari tangan Ratu Mesum bergerak membuka pakaian Ungguljati. Dan sekali ini pemuda itu tidak menampik lagi. Malah kedua tangannya mengelusi lekuk-lekuk tubuh putih yang menempel erat ke tubuhnya itu. Ratu Mesum tertawa binal. Penahan-lahan tubuh Ungguljati dibaringkannya ketikar pandan lalu ditindihnya dengan nafsu yang membadai.


13. PERKEBUNAN TEBU
KETIKA matahari mulai condong ke barat, serombongan penunggang kuda berjumlah dua belas orang tampak bergerak dipinggir perkebunan tebu itu. Didepan sekali adalah Sri Pujiati yang mengenakan pakaian silat, didampingi oleh ayahnya Gede Ageng Kuntjoro. Lalu beberapa orang saudara seperguruannya dan terakhir adalah sepasang Ular Biru. Sukat Rampe rupanya sudah sembuh dari pengaruh hawa harum yang melemaskan walau gerak geriknya masih tampak lamban.

Disanalah satu bagian kebun tebu mereka bertemu dengan pemilik kebun dan puteranya bersama dua pengiring yang tengah memeriksa saluran air. Rombongan berhenti. Gede Ageng Kutjoro segara menegur.
“Kami rombongan dari Sumbersari. Mungkin ki sanak melihat seorang perempuan muda berbaju merah melewati daerah ini bersama seorang pemuda berpakaian pengantin…..?”
Munculnya rombongan dari jauh itu yang mengajukan pertanyaan begitu rupa tentu saja mengherankan pemilik kebun tebu dan puteranya.
“Kami belum lama berada di kebun ini. Kami tidak ada berpapasan dengan orang yang ki sanak tanyakan itu…” menerangkan pemilik kebun.
Gede Agung Kuntjoro memandang pada Sepasang Ular Biru lalu pada putrinya “Agaknya akan sia-sia saja kalau kita meneruskan pengejaran ini. Perempuan itu pasti sudah lari jauh dan sulit di duga jurusan mana yang ditujunya.”
Wirasoka dan Sukat Rampe hanya bisa berdiam diri sambil memandang seantero perkebunan dari atas punggung kuda dimana dia berada. Gede Ageng Kuntjoro kembali berpaling pada puterinya dan bertanya, “Bagaimana pendapatmu Puji…?”
“Turut apa yang saya dengar perempuan cabul itu diam di Karangkates. Kita harus menuju kesana. Kakak Unggul pasti dibawanya ke waduk itu….”
“Karangkates tidak dekat dari sini….” kata sang ayah.
“Kalau tak ada yang mau mengejar sampai kesana biar saya sendiri yang pergi” jawab Sri Pujiati tandas. Sunyi sesaat.

Pemuda anak pemilik kebun bertanya, “Sebenarnya apakah yang terjadi hingga rombongan ini mengadakan perjalanan jauh….?”
Tak ada yang mau menjawab. Tiba-tiba Wirasoka menunjuk ke arah pondok beratap dengan yang ada di pertengahan kebun.

“Aku melihat bangunan beratap seng disebelah sana!” kata Wirasoka sambil menunjuk ke arah kejauhan. “Bangunan apa itu…..?”
“Itu salah satu dari dua pondok kecil yang biasa dipergunakan untuk istirahat sehabis memeriksa kebun. Kami biasanya sembahyang, makan dan melepaskan lelah disana…..”
“Boleh kami menyelidik kesana…..?” tanya Wirasoka.
“Tentu saja, ki sanak. Tapi aku percaya kalian tak akan menemukan orang yang kalian cari itu disana……….” jawab pemilik kebun. Setelah mendapat izin, Wirasoka diikuti oleh anggota rombongan lainnya segera menuju ke pondok itu, pemilik kebun angkat bahu, akhirnya bersama putera dan dua pengiringnya melangkah pula menuju ke pondok, mereka mendengar jeritan Sri Pujiati yang sampai lebih dulu bersama wirasoka. Rombongan dari Sumberan melompat turun dari kuda masing-masing. Pemilik kebun dan putranya serta dua pengiringnya berlari. Semuanya memburu masuk ke dalam pondok bambu beratap seng.

Disitu mereka melihat pemandangan yang sangat keji dan mangerikan!
Sesosok tubuh pemuda tanpa pakaian terkapar di lantai tikar. Sekujur tubuhnya yang tanpa pakaian itu kelihatan penuh dengan tanda-tanda merah bekas gigitan. Lehernya terkulai, ada tanda merah kebiruan. Leher itu patah oleh cekikan kuat dan ganas. Lidah pemuda itu terjulur dan matanya membeliak. Sri Pujiati terguling menangis dan menjerit disamping sosok tubuh itu dan tiada hentinya menyabut nama Ungguljati.

Sukat Rampe membungkuk memunguti pakaian pengantin yang sebelumnya dikenakan Ungguljati. Dengan pakaian itu ditutupinya tubuh si pemuda. Dalam hatinya dia manyumpah tiada habis. Sumpah dan kutuk juga dilakukan diam-diam oleh semua yang ada disitu.
Pemilik kebun mendekati Sukat Rampe dan menanyakan siapa adanya pemuda itu. Dengan singkat Sukat Rampe menerangkan apa yang sebelumnya terjadi dan siapa adanya pemuda itu.
“Kalian harus bawa mayatnya cepat-cepat ke Sumbersari dan kuburkan…..” kata pemilik kebun. Lalu pada dua pengiringnya dia berkata. “Bakar pondok ini. Aku tak mau kesialan menimpa perkebunan Ini!” Lalu cepat-cepat dia menyeruak diantara orang banyak dan tinggalkan pondok sementara puteranya bersama dua pengiring masih tetap berada disitu.
Di tempat lain sepasang mata mengintai dari balik kerapatan batang-batang tebu. Tak seorangpun mengetahui kehadiran pengintai ini. Mata mengintai bibir mengulum senyum. Orang Ini bukan lain adalah Ratu Mesum. Setelah memuaskan nafsunya terhadap Ungguljati, perempuan bejat ini mencekik mati pemuda itu lalu meninggalkannya tepat pada saat rombongan dari Sumbersari bersama pemilik kebun datang menyelidik ke pondok itu. Sebenarnya Ratu Mesum segera hendak pergi dari perkebunan itu, namun melihat begitu banyak orang lelaki yang datang maka hati gatalnya berniat untuk mengintai siapa tahu ada orang muda yang patut menjadi calon korbannya yang baru.

Ternyata apa yang diharapkannya tidak mengecewakan. Pemuda anak pemilik kebun tebu itu memiliki wajah cakap dan berkulit halus, lebih cakap, lebih halus bahkan lebih muda dari Ungguljati.
“Apakah akan diculik saat ini juga atau……” Ratu Mesum berpikir-pikir. Setelah orang banyak meninggalkan tempat ini dengan membawa jenazah Ungguljati, Ratu Mesum lalu menyelinap dibalik kerimbunan pohon tebu.

14. TERPIKAT

MALAM itu Pringgo putera pamilik perkebunan tebu duduk bersama dua pembantu di ruang pendopo rumah besar. Sang ayah udah lama masuk tidur. Tinggal pemuda ini duduk bercakap-cakap bersama dua pembantu itu. Pembicaraan mereka masih belum lepas dari kejadian siang tadi.
“Kalian diperintah ayah membakar pondok di kebun. Apa sudah kalian lakukan….?”
“Belum den. saya pikir besok saja pagi-pagi sekali. Membakar siang hari saya kawatir. Hawa panas mungkin sekali akan membuat ikut terbakarnya kebun tebu. Bisa celaka dan…..”
“Kau betul. Sebaiknya sebelum pondok itu dibakar, tebu-tebu di sakitarnya diguyur air dulu. Menurut ku sebetulnya pondok itu tak perlu dibakar. Apakah kalau sudah dibakar nanti akan dibangun lagi pondok baru….?”
“Saya belum tahu dan menunggu bagaimana keputusan ayah raden saja. Kalau menurut kami orang tua-tua adanya kejadian tadi siang memang sepantasnya pondok itu dibakar……”
“Sebaiknya digusur saja. Sayang kalau tempat itu tidak dipakai lagi. Air sumur disitu jernih dan bersih sekali….” pembantu yang satu berkata.

Sesaat Pringgo usap-usap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Kemudian dia bertanya, “Apa kalian Percaya pada cerita orang-orang dari Sumbersari itu? Bahwa ada orang mati karena dicekik. Dan dalam keadaan talanjang….”
“Sulit dipercaya adanya seorang perempuan cantik yang suka menculik orang-orang muda untuk dijadikan budak nafsunya. Kalau sudah puas lalu dibunuh. Eh, siapa nama julukan perempuan itu. Kau ingat….?”
“Ratu…. Ratu Mesum,” jawab si pembantu.
“Benar! Ada-ada saja. Rasanya seperti ingin aku bertemu dengan perempuan cantik itu…..” “Jangan bicara begitu den.” kata si pembantu dengan wajah ketakutan. “Kalau dia benar-benar muncul bisa celaka…..”
Pringgo tertawa lebar. “Perempuan muda, cantik bergairah. ingin bersenang-senang dengan pemuda. Pemuda mana yang tidak mau….”
“Kalau hanya sekedar bersenang-senang tentu saja banyak yang mau den. Tapi kalau buntutnya dibunuh. Dicekik seperti pengantin dari Sumbersari itu…..’”
Dikejauhan, dalam kesunyian malam terdengar kentongan dipukul orang dua belas kali.
“Sudah malam den, apakah tidak hendak masuk tidur….?”
“Aku masih belum mengantuk. Tapi jika kalian memang sudah letih pergi sana…” Pringgo berdiri lalu masuk kedalam tanpa membalas juraan kedua pembantunya.
Berbaring diatas ranjang Pringgo tak bisa segera memicingkan mata. Sebagai pemuda gagah dan anak pemilik kebun tebu yang kaya raya sudah barang tentu banyak gadis cantik yang menginginkan dirinya diambil istri oleh pemuda itu. Namun sebegitu jauh Pringgo sendiri belum merasa tertarik pada salah seorang dari mereka. Dia mempunyai cita-cita untuk mengelilingi pulau Jawa, bahkan kalau perlu berlayar ke kota-kota terkenal untuk berkelana dan melihat-lihat sampai dimana kecantikan gadis-gadis di tempat itu. Namun ayahnya tak pernah memberinya izin. Sang ayah takut kalau puteranya itu kecantol dengan seorang gadis jauh dan tak mau lagi kembali ke rumah. Sedang Pringgo adalah putera satu-satunya dari enam orang anaknya. Putera yang diharapkannya akan meneruskan mengurus kebun tebunya bila dia sudah tiada nanti.

Lama-lama kedua mata pemuda ini letih juga. Dia menguap beberapa kali tanda mengantuk. Sesaat ketika dia hampir tertidur tiba-tiba didengarnya suara berkeletek. Berpaling kesamping dilihatnya jendela kamar tiba-tiba terbuka lebar dan sesosok tubuh berkelebat masuk. Begitu cepatnya dia masuk dan menutup jendela, hingga ketika Pringgo duduk di ranjang, orang yang baru masuk itu sudah tegak berdiri di dekat tempat tidur. Bau harum semerbak menabur dalam kamar itu.
“Si….siapa…..?” tegur Pringgo sambil mengusap-usap mata. Digigitnya bibirnya. Terasa sakit. Tidak, dia tidak bermimpi.
“Hantu atau penculikkah yang masuk ini?”
“Aih, ternyata kau belum tidur….” orang yang tegak ditepi tempat tidur membuka suara. Suaranya suara perempuan, halus merdu.
Pringgo kembali mengusap matanya. Benar, yang berdiri didepannya saat itu adalah seorang perempuan. Berpakaian merah. Tubuhnya harum sekali. Cahaya lampu minyak dalam kamar itu tidak begitu terang. Namun Pringgo jelas melihat lekuk-lekuk potongan tubuh perempuan itu saking tipisnya pakaian merah yang dikenakannya. Memandang kepada wajahnya Si pemuda dapatkan ternyata perempuan tak dikenalnya itu memiliki wajah yang cantik sekali. Berkulit putih mulus. Berambut hitam. Bibirnya selalu tersenyum. Di kepalanya yang disanggul ada sebentuk mahkota kecil.
“Kau siapa…..?” tanya Pringgo sekali lagi. Seorang perempuan yang begini cantik tentu bukan pencuri, pikir si pemuda.

Kembali perempuan dihadapannya tersenyum. Tangannya diulurkan memegang bahu Pringgo.
“Anak muda cakap, kau tidak mengenaliku….? Padahal sejak siang kau mengenangku…..” Si baju merah berkata.
Si cantik mengangguk. “Malah tadi kau bicara pada pembantumu, tentang keinginanmu hendak bertemu dengan aku. Nah sekarang aku datang. Apakah kau tidak senang…?”
“Jadi……”mendadak Pringgo merasakan kuduknya menjadi dingin. Dadanya berdebar. “Jadi kau yang mereka sebut Ratu Mesum itu…..?”
Si baju merah tersenyum. Barisan gigi-giginya putih dan rata. “Mereka memberi gelar aku gelar begitu. Keterlaluan. Apakah menurutmu aku ini memang perempuan mesum,…?” Perempuan ini lalu maju lebih dekat hingga bagian perut dan sebelah bawah dadanya hampir menyentuh wajah Pringgo yang saat itu duduk ditepi tempat tidur.

“Aku tidak tahu…. Tidak tahu…. “sahut Pringgo.
“Menurutmu apakah aku ini cantik…..?”
Si pemuda pandangi wajah itu. Dia mengangguk. “kau memang cantik. Tak pernah aku melihat perempuan secantikmu…….”
Lalu apakah menurutmu aku memiliki tubuh dengan potongan bagus…..?” Ratu Mesum memutar tubuhnya beberapa kali. Bau harum kembali menebar.

Kembali Pringgo mengangguk.
“Apakah tubuhku ini putih dan mulus…..?” kembali Ratu Mesum ajukan pertanyaan. Kali ini dia membuka pakaian merahnya disebelah depan. Dari atas kebawah. Lalu tegak dengan kedua kaki direnggangkan sedang kedua tangan diangkat dan diletakkan dibelakang kepala.

Sepasang mata Pringgo terpentang lebar, berkilat-kilat. Tak pernah dia melihat pemandangan seperti ini sebelumnya. Dia melangkah mendekati meja dimana lampu minyak terletak.
“Hai, apa yang hendak kau lakukan…?” tanya Ratu Mesum.
Pringgo tidak menjawab. Tapi sang ratu tersenyum ketika melihat pemuda itu membesarkan lampu minyak hingga kamar itu kini jadi terang benderang.
“Ah, kau rupanya ingin melihat lebih jelas!” Ratu Mesum gerakkan tubuhnya. Pakaian merahnya jatuh ke lantai. Kini dia tegak di hadapan Pringgo dalam keadaan polos tanpa selembar benangpun menutupi auratnya yang putih dan bagus itu.
Pringgo seperti mau meledak dadanya. Terlebih ketika perempuan dihadapannya memegang kedua tangannya dan membawanya ke dadanya.

“Berapa umurmu anak muda…..?” bisik Ratu Mesum seraya merunduk.
“De…. delapan belas…..” jawab Pringgo. Lidahnya seperti kelu. Tenggorokannya seperti tercekik dan dari liang hidungnya memburu nafas panas. Tiba-tiba pemuda ini berdiri dan memeluk tubuh Ratu Mesum kencang-kencang…





Tamat
Kisah Serial Selanjutnya Dari
MAHESA EDAN Berjudul : “RAHASIA MAKAM MAHESA
Thanks for reading Mahesa Edan Jilid 7 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »