Social Items

Hidup di zaman yang serba sulit seperti saat ini memang tidak mudah. Kita dituntut untuk selalu berusaha dengan maksimal, agar dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Syukur-syukur bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung.

Namun begitu, sesulit apapun hidup yang kita jalani, kita harus tetap berpegang teguh pada norma dan aqidah yang diajarkan oleh agama. Artinya, dalam menjemput rezeki pun kita tetap harus menggunakan cara-cara yang halal supaya rezeki yang didapat menjadi berkah.

Tapi kebanyakan orang kerap bingung soal rezeki terutama dengan rezeki yang orang lain dapatkan. Kenapa orang lain begitu mudah mendapatkannya sedang kita gini-gini aja.

Kenapa mesti galau soal rezeki

Sekarang saya mau tanya sama kamu semua?

Sering tidak, kamu melihat ada orang yang suka panasan dan galau melihat prestasi atau melihat orang lain selalu berkelimpahan tambahan rezeki? Atau jangan-jangan kamu sendiri juga seperti itu?

Kalau ya, itu artinya orang tersebut belum sepenuhnya memahami konsep bahwasannya setiap orang sudah ada rezekinya masing-masing. Tidak tanggung-tanggung, rezeki ini sudah diberikan semenjak kita baru lahir. Hanya saja tentu tidak langsung, melainkan melalui perantara orang tua.

Makanya jadi orang tua jangan terlalu pelit sama anak. Boleh jadi kemakmuran hidup kamu saat ini tidak lain karena ada rezeki anak-anak yang dititipkan lewat pekerjaan kamu. Maka sisihkanlah untuk memberikan yang terbaik pada anak. Toh anak juga titipan dari Tuhan.

Sama halnya dengan istri yang tidak bekerja. Saat dia tidak bekerja, maka rezekinya akan dititipkan melalui suaminya. Jadi jangan heran jika kemudian ada suami yang istrinya tidak bekerja, eh tahu-tahu karirnya melejit dengan cepatnya karena memang ada rezeki istri yang dititipkan lewat suami.

Mungkin bila istrinya bekerja, rezeki suami juga tidak akan sebesar bila ia mencari nafkah sendiri. Toh, jatah rezeki istri sudah diambil sendiri lewat pekerjaannya. Tapi, bukan berarti kamu sebagai suami bisa lepas tanggung jawab menafkahi keluarga ya!

Begitu juga dengan jatah rezeki orang lain. Jangan lupa juga, di dalam setiap harta yang kita miliki ada sebagian hak orang tidak mampu disana yang mesti kita berikan. Berbagilah dengan sesama, terutama kepada orang miskin. Misalnya kamu mendapatkan rezeki yang tidak disangka-sangka dari orang lain, berarti itu memang hak kamu yang dititipkan lewat penghasilan orang lain.

Jadi kenapa mesti galau soal rezeki?

Semua sudah diatur dan dituliskan semenjak ruh kita ditiupkan ke dalam rahim. Itu kenapa banyak orang-orang tua dulu yang menyarankan untuk banyak mendoakan anak di saat masih dalam kandungan, saat ruh anak ditiupkan ke dalam rahim. Karena saat itulah rezeki dan nasib sang anak dituliskan.

Lantas bila rezeki sudah ditetapkan, apakah kemudian menjadi 'saklek' kaku dan tidak bisa berubah. Tentu saja masih bisa berubah. Karena Allah yang memberi rezeki. Dan Dia punya hak prerogatif untuk mengubah nasib seorang hamba. Bukankah telah tertulis di dalam Al Qur'an yang menyebutkan bahwa "nasib suatu kaum tidak akan berubah sampai kaum tersebut berusaha mengubahnya".

Nah, Kenapa harus galau soal rezeki?

Yang penting kita tidak berhenti berupaya dengan sebaik-baiknya. Tak peduli apakah kamu seorang pengusaha, seorang buruh, pejabat atau apapun profesi kamu, bekerjalah dengan sebaik-baiknya. Dan tidak perlu saling menghina profesi orang lain. Yang jadi pengusaha, jadilah pengusaha yang bijak. Yang jadi buruh, jadilah buruh yang baik. Yang jadi pejabat, jadilah pejabat yang jujur dan amanah.

Semoga tulisan ini bisa mengurangi kegalauan kamu soal rezeki. Kalau kamu lagi merasa rezekinya seret, segera sedekah! Jangan ditunda-tunda lagi. Biar kran rezekinya dibuka lebar sama Allah.


Tulisan ini terinspirasi dari Mas Arief

Kenapa Mesti Galau Soal Rezeki?

Hidup di zaman yang serba sulit seperti saat ini memang tidak mudah. Kita dituntut untuk selalu berusaha dengan maksimal, agar dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Syukur-syukur bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung.

Namun begitu, sesulit apapun hidup yang kita jalani, kita harus tetap berpegang teguh pada norma dan aqidah yang diajarkan oleh agama. Artinya, dalam menjemput rezeki pun kita tetap harus menggunakan cara-cara yang halal supaya rezeki yang didapat menjadi berkah.

Tapi kebanyakan orang kerap bingung soal rezeki terutama dengan rezeki yang orang lain dapatkan. Kenapa orang lain begitu mudah mendapatkannya sedang kita gini-gini aja.

Kenapa mesti galau soal rezeki

Sekarang saya mau tanya sama kamu semua?

Sering tidak, kamu melihat ada orang yang suka panasan dan galau melihat prestasi atau melihat orang lain selalu berkelimpahan tambahan rezeki? Atau jangan-jangan kamu sendiri juga seperti itu?

Kalau ya, itu artinya orang tersebut belum sepenuhnya memahami konsep bahwasannya setiap orang sudah ada rezekinya masing-masing. Tidak tanggung-tanggung, rezeki ini sudah diberikan semenjak kita baru lahir. Hanya saja tentu tidak langsung, melainkan melalui perantara orang tua.

Makanya jadi orang tua jangan terlalu pelit sama anak. Boleh jadi kemakmuran hidup kamu saat ini tidak lain karena ada rezeki anak-anak yang dititipkan lewat pekerjaan kamu. Maka sisihkanlah untuk memberikan yang terbaik pada anak. Toh anak juga titipan dari Tuhan.

Sama halnya dengan istri yang tidak bekerja. Saat dia tidak bekerja, maka rezekinya akan dititipkan melalui suaminya. Jadi jangan heran jika kemudian ada suami yang istrinya tidak bekerja, eh tahu-tahu karirnya melejit dengan cepatnya karena memang ada rezeki istri yang dititipkan lewat suami.

Mungkin bila istrinya bekerja, rezeki suami juga tidak akan sebesar bila ia mencari nafkah sendiri. Toh, jatah rezeki istri sudah diambil sendiri lewat pekerjaannya. Tapi, bukan berarti kamu sebagai suami bisa lepas tanggung jawab menafkahi keluarga ya!

Begitu juga dengan jatah rezeki orang lain. Jangan lupa juga, di dalam setiap harta yang kita miliki ada sebagian hak orang tidak mampu disana yang mesti kita berikan. Berbagilah dengan sesama, terutama kepada orang miskin. Misalnya kamu mendapatkan rezeki yang tidak disangka-sangka dari orang lain, berarti itu memang hak kamu yang dititipkan lewat penghasilan orang lain.

Jadi kenapa mesti galau soal rezeki?

Semua sudah diatur dan dituliskan semenjak ruh kita ditiupkan ke dalam rahim. Itu kenapa banyak orang-orang tua dulu yang menyarankan untuk banyak mendoakan anak di saat masih dalam kandungan, saat ruh anak ditiupkan ke dalam rahim. Karena saat itulah rezeki dan nasib sang anak dituliskan.

Lantas bila rezeki sudah ditetapkan, apakah kemudian menjadi 'saklek' kaku dan tidak bisa berubah. Tentu saja masih bisa berubah. Karena Allah yang memberi rezeki. Dan Dia punya hak prerogatif untuk mengubah nasib seorang hamba. Bukankah telah tertulis di dalam Al Qur'an yang menyebutkan bahwa "nasib suatu kaum tidak akan berubah sampai kaum tersebut berusaha mengubahnya".

Nah, Kenapa harus galau soal rezeki?

Yang penting kita tidak berhenti berupaya dengan sebaik-baiknya. Tak peduli apakah kamu seorang pengusaha, seorang buruh, pejabat atau apapun profesi kamu, bekerjalah dengan sebaik-baiknya. Dan tidak perlu saling menghina profesi orang lain. Yang jadi pengusaha, jadilah pengusaha yang bijak. Yang jadi buruh, jadilah buruh yang baik. Yang jadi pejabat, jadilah pejabat yang jujur dan amanah.

Semoga tulisan ini bisa mengurangi kegalauan kamu soal rezeki. Kalau kamu lagi merasa rezekinya seret, segera sedekah! Jangan ditunda-tunda lagi. Biar kran rezekinya dibuka lebar sama Allah.


Tulisan ini terinspirasi dari Mas Arief