Social Items

Assalammualaikum...
Bagaimana hari anda hari ini? Saya harap semuanya berjalan baik dan lancar. Pada postingan kali saya ingin membahas tentang manfaat Sholat dalam meningkatkan performance kerja. Postingan ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya tentang Fakta, sholat bisa menjadi wahana pencerahan intelektual

Sholat meningkatkan performance kerja

Belakangan ini, orang makin sadar betapa kelambatan jauh lebih efektif ketimbang kecepatan yang pada masa sekarang, lebih sering berarti keterburu-buruan.

Bahkan, sudah mulai ada kritik terhadap apa yang sekarang disebut sebagai multitasking, yakni mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.

Menyamakan otak manusia dengan system Komputer, sebuah mesin yang kelebihannya antara lain terletak dalam hal ini (multitasking), diduga merupakan suatu kekeliruan karena keduanya memiliki cara kerja yang sama. Bahkan, ternyata, apa yang dikira sebagai multitasking dalam komputer itu, bukanlah multitasking yang sebenarnya.

Komputer tetap melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu. Hanya saja, karena kemampuannya memproses pekerjaan dalam waktu yang amat singkat, terkesan beberapa pekerjaan dilakukannya secara sekaligus, padahal kenyataannya ia melakukan berbagai pekerjaan itu secara berturutan.

Kebiasaan orang sekarang melakukan beberapa pekerjaan secara sekaligus diduga bukan hanya menyebabkan kualitas hasil pekerjaannya tidak maksimal, melainkan dalam jangka panjang dapat menyebabkan penurunan kemampuan otak.

Kesimpulannya, dalam banyak hal, melakukan suatu pekerjaan dalam satu waktu adalah yang paling baik. Dan, persis, inilah thuma’nînah.

Shalat, yang dilakukan dengan benar dan teratur, sudah tentu mengajarkan dan membiasakan pelakunya untuk memiliki habit thuma’nînah. Seorang pengusaha, atau karyawan, yang terbiasa melakukan pekerjaan secara thuma’nînah akan dapat memaksimalkan hasil pekerjaannya.

Gay Hendricks dan Kate Ludman, dalam Corporate Mystics, menyebutkan sikap tidak terburu-buru ini sebagai salah satu sifat para pengusaha dan eksekutif sukses di AS yang ditelitinya. Menurut kedua penulis, mereka terus belajar untuk berkonsentrasi pada masa sekarang, pada apa yang sedang mereka kerjakan, dan bukannya terburu-buru untuk segera melakukan pekerjaan yang selanjutnya.

Bersikap terburu-buru bukan hanya mengakibatkan hasil pekerjaan tak akan maksimal, melainkan juga menimbulkan “keterpecahan fundamental yang hanya menghasilkan tekanan dan ketegangan” yang tidak perlu.

Bukan hanya itu, salah satu anjuran bagi para pekerja yang berharap untuk dapat mencapai peak performance adalah mereka harus selalu menyediakan waktu di sela-sela waktu mereka untuk menenangkan diri dan relaks di antara jam-jam kerja mereka. Tak sedikit pula yang menganjurkan meditasi pada waktu-waktu seperti itu, meski hanya untuk lima menit.

Meditasi rutin di sela-sela waktu bahkan diyakini diperlukan bagi siapa saja. Kebiasaan seperti ini dipercayai mampu memulihkan, menenangkan, dan mengheningkan pikiran sehingga bukan saja ia siap untuk kembali bekerja dengan ke￾kuatan penuh, melainkan juga memungkinkan pikiran-pikiran kreatif untuk dapat lahir.

Sebagian orang menyebutnya sebagai “zero mind process”. Tanpa semacam meditasi, kecenderungan kemampuan otak dalam memproses pekerjaan akan secara alami menurun sepanjang hari.

Relaks atau meditasi akan mengembalikannya kepada suatu kesegaran baru. Seperti disebutkan “Apakah Shalat Bisa Di gantikan dengan Meditasi?”, shalat menyela rutinitas kita sehari-hari dengan beberapa jeda. Dalam jam kerja normal, kita sedikitnya mendapatkan jeda dua kali ketika melakukan shalat zuhur dan shalat asar.

Akhirnya, tak diragukan, shalat menanamkan habit disiplin. Bukan saja lima Sholat wajib memiliki waktunya sendiri￾sendiri, di dalamnya termasuk waktu-waktu yang hanya mungkin ditepati jika seseorang memiliki komitmen yang kuat terhadap disiplin.

Yang paling menonjol di antaranya; di samping shalat tahajud di tengah malam yang amat dianjurkan adalah waktu shalat subuh. Jangka waktunya yang singkat dan di ujung waktu-waktu tidur mengharuskan kita untuk bangkit justru pada saat kita paling tak ingin melakukannya.

Khusus berkaitan dengan shalat subuh ini, kita juga perlu ingat dengan pepatah yang menyatakan: “early birds get the most”, “yang paling pagi dapat yang paling banyak”, di samping banyak orang percaya bahwa waktu pagi adalah saat-saat yang di dalamnya pikiran kita paling segar dan kita paling efektif melakukan pekerjaan pada masa-masa ini.

Ternyata sholat tidak hanya sebagai media beribadah kepada Allah saja, tetapi banyak sekali manfaatnya salah satunya adalah untuk meningkatkan performance kerja

Sholat Dapat Meningkatkan Performance Kerja

Assalammualaikum...
Bagaimana hari anda hari ini? Saya harap semuanya berjalan baik dan lancar. Pada postingan kali saya ingin membahas tentang manfaat Sholat dalam meningkatkan performance kerja. Postingan ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya tentang Fakta, sholat bisa menjadi wahana pencerahan intelektual

Sholat meningkatkan performance kerja

Belakangan ini, orang makin sadar betapa kelambatan jauh lebih efektif ketimbang kecepatan yang pada masa sekarang, lebih sering berarti keterburu-buruan.

Bahkan, sudah mulai ada kritik terhadap apa yang sekarang disebut sebagai multitasking, yakni mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.

Menyamakan otak manusia dengan system Komputer, sebuah mesin yang kelebihannya antara lain terletak dalam hal ini (multitasking), diduga merupakan suatu kekeliruan karena keduanya memiliki cara kerja yang sama. Bahkan, ternyata, apa yang dikira sebagai multitasking dalam komputer itu, bukanlah multitasking yang sebenarnya.

Komputer tetap melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu. Hanya saja, karena kemampuannya memproses pekerjaan dalam waktu yang amat singkat, terkesan beberapa pekerjaan dilakukannya secara sekaligus, padahal kenyataannya ia melakukan berbagai pekerjaan itu secara berturutan.

Kebiasaan orang sekarang melakukan beberapa pekerjaan secara sekaligus diduga bukan hanya menyebabkan kualitas hasil pekerjaannya tidak maksimal, melainkan dalam jangka panjang dapat menyebabkan penurunan kemampuan otak.

Kesimpulannya, dalam banyak hal, melakukan suatu pekerjaan dalam satu waktu adalah yang paling baik. Dan, persis, inilah thuma’nînah.

Shalat, yang dilakukan dengan benar dan teratur, sudah tentu mengajarkan dan membiasakan pelakunya untuk memiliki habit thuma’nînah. Seorang pengusaha, atau karyawan, yang terbiasa melakukan pekerjaan secara thuma’nînah akan dapat memaksimalkan hasil pekerjaannya.

Gay Hendricks dan Kate Ludman, dalam Corporate Mystics, menyebutkan sikap tidak terburu-buru ini sebagai salah satu sifat para pengusaha dan eksekutif sukses di AS yang ditelitinya. Menurut kedua penulis, mereka terus belajar untuk berkonsentrasi pada masa sekarang, pada apa yang sedang mereka kerjakan, dan bukannya terburu-buru untuk segera melakukan pekerjaan yang selanjutnya.

Bersikap terburu-buru bukan hanya mengakibatkan hasil pekerjaan tak akan maksimal, melainkan juga menimbulkan “keterpecahan fundamental yang hanya menghasilkan tekanan dan ketegangan” yang tidak perlu.

Bukan hanya itu, salah satu anjuran bagi para pekerja yang berharap untuk dapat mencapai peak performance adalah mereka harus selalu menyediakan waktu di sela-sela waktu mereka untuk menenangkan diri dan relaks di antara jam-jam kerja mereka. Tak sedikit pula yang menganjurkan meditasi pada waktu-waktu seperti itu, meski hanya untuk lima menit.

Meditasi rutin di sela-sela waktu bahkan diyakini diperlukan bagi siapa saja. Kebiasaan seperti ini dipercayai mampu memulihkan, menenangkan, dan mengheningkan pikiran sehingga bukan saja ia siap untuk kembali bekerja dengan ke￾kuatan penuh, melainkan juga memungkinkan pikiran-pikiran kreatif untuk dapat lahir.

Sebagian orang menyebutnya sebagai “zero mind process”. Tanpa semacam meditasi, kecenderungan kemampuan otak dalam memproses pekerjaan akan secara alami menurun sepanjang hari.

Relaks atau meditasi akan mengembalikannya kepada suatu kesegaran baru. Seperti disebutkan “Apakah Shalat Bisa Di gantikan dengan Meditasi?”, shalat menyela rutinitas kita sehari-hari dengan beberapa jeda. Dalam jam kerja normal, kita sedikitnya mendapatkan jeda dua kali ketika melakukan shalat zuhur dan shalat asar.

Akhirnya, tak diragukan, shalat menanamkan habit disiplin. Bukan saja lima Sholat wajib memiliki waktunya sendiri￾sendiri, di dalamnya termasuk waktu-waktu yang hanya mungkin ditepati jika seseorang memiliki komitmen yang kuat terhadap disiplin.

Yang paling menonjol di antaranya; di samping shalat tahajud di tengah malam yang amat dianjurkan adalah waktu shalat subuh. Jangka waktunya yang singkat dan di ujung waktu-waktu tidur mengharuskan kita untuk bangkit justru pada saat kita paling tak ingin melakukannya.

Khusus berkaitan dengan shalat subuh ini, kita juga perlu ingat dengan pepatah yang menyatakan: “early birds get the most”, “yang paling pagi dapat yang paling banyak”, di samping banyak orang percaya bahwa waktu pagi adalah saat-saat yang di dalamnya pikiran kita paling segar dan kita paling efektif melakukan pekerjaan pada masa-masa ini.

Ternyata sholat tidak hanya sebagai media beribadah kepada Allah saja, tetapi banyak sekali manfaatnya salah satunya adalah untuk meningkatkan performance kerja