Srigala Berbulu Domba

MAHESA KELUD
PEDANG SAKTI KERIS ULAR EMAS


KARYA:BASTIAN TITO

Mahesa Kelud-Srigala berbulu domba


Episode:

SRIGALA BERBULU DOMBA


                         SATU

OMBAK BERDEBUR tenang. Angin laut bertiup sejuk mengandung garam. Di timur sang surya menyembul agak kemerahan. Mahesa Kelud menyeka keringat yang bercucuran di keningnya,meletakkan cangkul dan memandang pada perempuan muda berparas cantik di depannya.
"Sudah cukup dalam," kata pemuda ini.
"Ya. Jenazah gurumu sudah bisa dikubur" menjawab Dewi Maut.
Keduanya melompat keluar lobang yang mereka gali. Mahesa memanggul jenazah Embah Jagatnata alias Simo Gembong yang menemui kematian dengan cara bunuh diri. Dewi Maut kembali turun ke dalam kubur untuk menyambuti jenazah itu. Sebelum tanah ditimbunkan keduanya memandang terakhir kali pada muka buruk dan tubuh berlumuran darah si kakek. Yang satu adalah bekas murid, yang satu lagi pemah menjadi kekasih dimasa muda.
Diatas tanah kubur yang merah itu Mahesa kemudian menancapkan patahan cabang pohon kemboja. Sesaat dia tegak merenung dihadapan makam gurunya. Guru yang telah mengakui kejahatannya dimasa lalu. Guru yang telah membunuh kedua orang tuanya. Tanpa berpaling pada perempuan di sebelahnya Mahesa berkata: "Aku harus pergi sekarang. Aku titip makam Embah Jagatnata padamu ..."
Paras Dewi Maut berubah, khawatir dan juga kecewa. "Bukankah . . . bukankah kau bermaksud tinggal disini?"
Mahesa gelengkan kepala."Hal itu sudah kuberitahu pada gurumu," kata Dewi Maut.
Kembali pemuda itu menggeleng. "Tak mungkin aku tinggal disini Dewi. .."
"Kalau kau suka kau boleh panggil aku Sutri. Tak usah dengan sebutan yang sebenarnya akupun tidak senang . . ." kata Dewi Maut alias Sutri. "Mengapa tak mungkin kau tinggal disini? Kau tak suka padaku..."
"Kau perempuan cantik. Kecantikanmu luar biasa. Semua lelaki tentu suka padamu," sahut Mahesa pula.
"Aku tak ingin disukai semua lelaki. Cukup hanya kau sendiri. Aku sudah menyusun rencana. Kita hidup berdua disini. Semua anak buahku akan kusuruh pergi..."
"Maafkan aku Sutri. Permintaanmu tak mungkin dikabulkan ..."
"Sebabnya?"
"Aku sudah beristri. Saat ini aku harus kembali ke gunung Muria menemuinya. Sudah terlalu lama dia kutinggalkan."
"Aku tahu kau sudah punya istri. Tapi apakah itu menjadi halangan..?"
Ucapan itu memberi kenyataan pada Mahesa bahwa Sutri bersedia jadi istrinya yang kedua. Namun bagaimanapun dia tak ingin melakukan hal itu. Cinta kasihnya terhadap Wulansari melebihi cinta kasih terhadap siapapun. Dewi Maut maklum kalau Mahesa benar-benar tak akan bisa mengabulkan permintaannya. Maka diapun berkata: "Aku tidak memaksa. Hanya ... apakah kita tak akan bertemu lagi?"
Diam-diam Mahesa merasa kasihan juga terhadap perempuan muda yang cantik itu, walaupun dia tahu bahwa dibalik wajah jelita dan tubuh yang elok mulus itu sebenarnya adalah wajah seorang nenek dan tubuh kurus keriput. Hanya karena ilmu awet muda yang diterimanya dari gurunya Dewi Cabut Nyawa maka Sutri tetap memiliki wajah dan tubuh seperti yang terlihat saat itu.
"Selama ombak masih berdebur dipantai pulau ini, selama air laut masih biru, kita pasti akan bertemu lagi Sutri. Aku menghormatimu sebagaimana aku menghormati guru ..."
Pedih hati Sutri mendengarkan ucapan itu. Yang diinginkannya bukan dihormati, tapi dicintai. Tapi apa boleh buat, mengemispun tak akan terkabul.
"Sebelum aku pergi ada satu permintaanku," kata Mahesa.
Sutri menatap paras pemuda itu sejurus lalu bertanya: "Permintaan apa?"
"Pulau ini memiliki alam yang indah. Didiami oleh perempuan-perempuan yang cantik jelita. Apa salahnya kalau diisi dengan kehidupan yang baik hingga semuanya menjadi satu kesatuan yang lestari?"
"Apa maksudmu Mahesa?" tanya Dewi Maut tak mengerti.
"Aku ingin kau meninggalkan cara hidupmu di masa lalu. Yang penuh darah dan nyawa. Apa nikmatnya hidup seperti itu selain mencari musuh, mengundang malapetaka? Padahal dengan ilmu yang tinggi, dengan anak buah yang setia, kau bisa menjadi tokoh persilatan yang disegani dan dihormati dalam rimba persilatan . . ."
Sejurus Dewi Maut termenung.
"Maksudmu . . . kalau aku mengikuti permintaanmu itu, kau juga akan memenuhi permintaanku? Tinggal disini?"
Mahesa tersenyum. Senyum yang membuat Dewi Maut menahan nafas.
"Aku tidak mengatakan demikian Sutri. Permintaanku hanya satu permintaan belaka, lain tidak. Tak ada pamrih tak ada syarat. Aku melihat itu satu-satunya jalan hidup yang baik bagimu ..."
"Aku tak tahu apa bisa mengabulkan permintaanmu itu Mahesa. Tapi aku berjanji akan memikirkannya .. ."
"Terima kasih. Kalau begitu aku minta diri sekarang ..."
"Tunggu dulu," ujar Dewi Maut.
"Ada hal lain lagi?" tanya Mahesa.
Sreett!
Perempuan itu buka gulungan pedang Samber Nyawa di tangan kanannya. Sinar hitam menggidikkan memancar.
Mahesa Kelud terkesiap dan melangkah mundur. Sebaliknya Dewi Maut tersenyum.
"Kau tak usah takut Mahesa. Aku tidak akan menusukmu dengan senjata ini. Aku merasa pedang sakti ini sebaiknya berada di tanganmu . . . Ambillah!"
"Ah! Kau baik sekali!" sahut Mahesa. "Tapi aku tak berani menerimanya. Lagi pula aku sudah cukup memiliki beberapa senjata."
"Ditambah yang satu ini kau akan menjadi pendekar tak terkalahkan. Kau akan merajai dunia persilatan!"
"Aku tak inginkan hal itu . .."
"Kau benar-benar aneh," ujar Sutri pula. "Setiap pendekar ingin menjadi orang yang terpandai dan terhebat. Ingin menggenggam dunia persilatan dalam tangannya. Tapi kau tidak . . . ? Bagaimana ini?"
"Karena ilmu yang kumiliki bukan bertujuan keduanya tapi untuk berbuat kebaikan, menolong mereka yang membutuhkan dan menghancurkan mereka yang jahat..."
"Menghancurkan mereka yang jahat! Nah, bukankah dengan pedang Samber Nyawa ini kemampuanmu untuk melakukan itu jadi berlipat ganda?"
"Pendapatmu memang betul. Tapi sekali lagi, terima kasih. Aku sudah memiliki senjata yang dapat diandalkan. Kau pegang sajalah pedang mustika itu.
Kurasa lebih besar manfaatnya jika berada ditanganmu ..."
Sutri terdiam. Lalu dengan suara perlahan dia berkata: "Jika kau tak mau menerimanya, kurasa akupun belum berani memilikinya. Biarlah senjata ini untuk sementara kusimpan di perut bumi!"
Habis berkata begitu Dewi Maut alias Sutri hunjamkan pedang Samber Nyawa ke atas makam Simo Gembong, pada samping kiri. Senjata sakti itu amblas dan lenyap ke dalam tanah!
Kejadian itu membuat Mahesa menyadari bahwa sebenarnya dalam diri Dewi Maut masih terdapat unsur-unsur kebaikan. Maka dia melangkah lebih dekat, memegang kedua tangan perempuan itu dan berkata:
"Aku percaya kau mau memenuhi permintaanku tadi..."
Sepasang mata Sutri tampak berkaca kaca. Pegangan jari-jari tangan si pemuda terasa hangat dan kehangatan itu menjalar ke sekujur tubuhnya. Diam-diam diapun mengetahui bahwa sebenarnya pemuda ini menyukainya. Hanya saja dunia mereka saat itu masih dipisahkan oleh satu jurang lebar serta dalam. Dan Sutri hampir tak percaya ketika tiba-tiba Mahesa merundukkan kepala. Wajah mereka berhimpitan. Dan Sutri merasakan kecupan hangat pada bibirnya yang merah. Perempuan ini pejamkan matanya. Kedua tangannya merangkul ke depan hendak memeluk Mahesa. Tapi dia merangkul angin. Ketika kedua matanya dibuka, dilihatnya pemuda itu sudah berada jauh di pantai sebelah barat. Sutri memegang bibirnya yang tadi dikecup. Air matanya berlinangan.
“Tuhan . ..” katanya dengan suara berbisik menggeletak. “Lindungi orang yang kukasihi itu …”
Kemudian tiba-tiba saja wajah perempuan itu menjadi sangat merah. Tuhan! Barusan dia menyebut nama Tuhan. Setelah puluhan tahun hidup dalam kesesatan!


***

MESKIPUN Simo Gembong atau Embah Jagatnata telah menemui kematian, namun beberapa tokoh rimba persilatan masih tetap di cekam rasa khawatir. Kekawatiran ini adalah setelah mereka mengetahui bahwa ternyata kakek jahat berkepandaian tinggi itu memiliki seorang murid bernama Mahesa yang kepandaiannya bahkan tidak dibawah sang juru. Selain itu diketahui pula bahwa Dewi Maut yang diam di Lembah Maut Pulau Mayat, sebenarnya adalah kekasih Simo Gembong walau pada masa mudanya dia telah dikecewakan. Rasa kawatir semakin bertambah melihat bahwa Dewi Maut memiliki pedang Samber Nyawa, satu senjata mustika yang dianggap paling hebat dalam dunia persilatan. Siapa yang memilikinya kalau senjata itu berada di tangan manusia jahat seperti Dewi Maut. Terdorong oleh rasa kawatir itu, ditambah oleh dendam yang seolah-olah masih belum pupus maka Datuk Ular Muka Tengkorak mengundang beberapa tokoh persilatan untuk menyusun rencana apa yang harus dilakukan sebelum dunia persilatan kembali ditimpa bencana. Seperti ketika dulu menyusun rencana pengejaran atas diri Simo Gembong, maka pertemuan rahasia itupun diadakan di tempat yang sama. Yakni di sebuah rumah kayu bertingkat di lereng sebuah bukit. Di kepala meja duduk Datuk Ular Muka Tengkorak, bertindak sebagai pemimpin pertemuan. Di sebelah kanannya duduk Pendekar Kembang Merah. Kedua tokoh silat ini sebelumnya telah mengejar Simo Gembong sampai ke Pulau Mayat. Saat itu mereka bersama-sama dengan pendekar Kelabang Hitam dan Ki Ampel Sampang, pengurus pesantren Megasuryo. Kedua tokoh yang terakhir ini mengalami nasib malang. Mereka tewas di tangan Simo Gembong.
Di sebelah kanan Pendekar Kembang Merah tampak seorang kakek berkulit putih bulai. Rambutnya pendek putih, sepasang alis bahkan bulu matanya juga tampak putih. Mukanya licin dan dia mengenakan pakaian serba putih yang membuat keadaan dirinya terasa aneh untuk dipandang. Dia adalah wakil ketua pesantren Megasuryo, pesantren dimana Ki Ampel Sampang duduk sebagai pengurus. Kematian Ki Ampel Sampang diterima dengan rasa kaget oleh ketua pesantren dan seluruh pengurus serta anak murid. Ketika Datuk Ular menyampaikan undangan maka sang ketua tidak ragu-ragu untuk mengirimkan wakilnya itu. Bukan saja untuk membicarakan apa yang akan mereka lakukan, tetapi juga guna menyelidiki kematian Ki Ampel Sampang. Dibandingkan dengan kawannya yang tewas di tangan Simo Gembong maka sang Wakil Ketua yang bernama Gambir Putih memiliki kepandaian dua tingkat lebih tinggi. Di ujung meja yang lain, yakni di hadapan Datuk Ular duduk seorang perempuan berwajah pucat. Rambutnya tergerai. Pandangan matanya dingin. Di atas meja dihadapannya terletak sebuah rebab berikut alat penggeseknya. Perempuan ini bukan lain adalan Dewi Rebab Kencana yang dimasa mudanya pernah dirusak kehormatannya oleh Simo Gembong.
Pada sisi meja sebelah kiri duduk berjejer dua orang tua berpakaian aneh. Yang pertama berbadan kurus, berambut panjang awut-awutan dan mengenakan pakaian kumal penuh tambalan. Sementara duduk dia tiada hentinya tersenyum dan tertawa kecil, kelihatannya seperti kurang waras. Orang tua ini dikenal dengan julukan Pengemis Sableng. Disebelahnya duduk orang tua yang memiliki wajah mirip karena dia bukan lain memang adik kembar Pengemis Sableng. Si adik kembar ini berpakaian gombrong berwarna kuning yang juga penuh tambalan tetapi bersih. Di tangan kanannya ada sebuah kipas putih. Walaupun saat itu udara malam cukup dingin tapi anehnya dia terus saja berkipas-kipas. Adik Pengemis Sableng ini dikenal dengan julukan Pengemis Berkipas Putih.
Tiba-tiba Pengemis Sableng menguap lebar-lebar. Sambil kucak-kucak matanya dia berkata: "Mataku mulai mengantuk. Kalau pertemuan ini belum juga dimulai bagusnya aku tidur dahulu!"
"Sst . . . Jangan bicara melantur!" memperingatkan adik kembar Pengemis Sableng. Lalu dia berpaling pada Datuk Ular dan bertanya: "Datuk, apakah masih ada sahabat yang kita tunggu?"
"Tidak", jawab sang Dotuk. "Sahabatku Pengemis Berkipas Putih tampaknya sudah tidak sabaran. Mari kita mulai perundingan."
Datuk Ular lalu membuka pertemuan itu dengan menuturkan apa yang telah dilakukan oleh Simo Gembong dan apa yang kemudian terjadi dengan kekek jahat tersebut. Dia mulai dengan memberi penjelasan silang sengketa apa yang terjadi antara dia. Pendekar Kembang Merah serta Dewi Rebab Kencana dengan Simo Gembong. Lalu pengejaran yang dilakukan ketika diketahui kakek sakti itu muncul kembali setelah sekian tahun lenyap tak diketahui berada dimana. Diceritakan pula tentang kematian yang dialami Ki Ampel Sampang serta Kelabang Hitam. Lalu ditutup dengan kematian Simo Gembong di Pulau Mayat. Mati bunuh diri.
"Sebenarnya." kata Datuk Ular, "dengan matinya Simo Gembong kita bisa merasa lega. Namun ada kenyataan baru yang membuat beberapa diantara kita merasa kawatir. Kenyataan itu ialah bahwa Simo Gembong memiliki seorang murid berpakaian luar biasa tinggi. Dia ikut menyaksikan kematian gurunya. Dan aku yakin dia menanam dendam kesumat terhadap kita. Hal itu jelas kulihat dari sinar yang memancar dikedua matanya. Karenanya sebelum murid Simo Gembong menimbulkan bencana baru, aku merasa perlu mengundang sahabat sekalian guna membicarakan apa yang bakal kita lakukan. Ini adalah hal paling utama dan paling penting dalam pertemuan ini. Hal kedua yang tak kalah pentingnya ialah tentang Dewi Maut yang bercokol di Pulau Mayat. Kiranya para sahabat disini sudah mengetahui kejahatan perempuan itu. Dia tidak lebih baik dari Simo Gembong. Celakanya senjata nomer satu di dunia persilatan yaitu sebilah pedang hitam bernama Samber Nyawa berada di tangan perempuan iblis itu. Aku dan Pendekar Kembang Merah telah menyusun satu rencana. Entah apakah para sahabat disini menyetujui dan bersedia menjalankannya bersama-sama ..."
"Jika dapat disimpulkan," yang bicara kini adalah Pendekar Kembang Merah, "ada dua hal pokok yang jadi pembicaraan. Pertama soal murid Simo Gembong yang bernama Mahesa itu. Dan kedua soal Dewi Maut. Kita selesaikan dulu yang pertama, baru yang kedua."
"Betul," sahut Datuk Ular seraya memandang berkeliling meja. "Bagaimana pendapat para sahabat?"
"Aku sangat setuju kita tangani dulu soal pertama.” buka suara kakek bulai bernama Gambir Putih.
"Bukan saja karena Simo Gembong telah membunuh pengurus pesantren kami, tapi juga karena tindak tanduk muridnya pasti akan menimbulkan bahaya bagi kita kelak dikemudian hari."
Pengemis Berkipas Putih manggut-manggut sambil tiada hentinya berkipas. Sementara kakak kembarnya tertawa-tawa terus.
"Aku turut mana baiknya saja Datuk", berkata Pengemis Berkipas Putih. "Terus terang saja aku dan kakakku mendapat tugas khusus dari seorang pejabat Keraton. Tugas itu atas permintaan bangsawan Prajadika yang telah kematian puteranya. Dibunuh oleh Mahesa. Disamping itu kami juga ditugasi untuk mencari dan menangkap seorang pengkhianat bernama Supitmantil. Dia banyak memberi bantuan pada Mahesa hingga pemuda itu berhasil melarikan diri setelah ditangkap."
"Terima kasih atas penjelasanmu itu Pengemis Berkipas Putih. Sekaligus kau juga telah mewakili kakakmu." Datuk Ular memandang pada Dewi Rebab. "Kita belum mendengar pendapat Dewi. Silahkan bicara .. ."
Perempuan bermuka pucat itu mengetuk-ngetukkan jari tangannya ke atas badan rebab hingga mengeluarkan suara yang membuat Datuk Ular dan lain-lainnya merasa tidak enak. Sesaat kemudian baru perempuan ini membuka mulut. Dan ini merupakan satu pertanyaan.
"Datuk, bisakah kau menerangkan lebih jelas. Rencana apa sebenarnya yang hendak dilakukan terhadap pemuda bernama Mahesa itu?"
"Apalagi! Kita harus mencegahnya membalaskan dendam kematian gurunya!" jawab Datuk Ular.
"Caranya?" tanya Dewi Rebab lagi.
"Meringkusnya. Membunuh kalau perlu!" Yang menjawab adalah Pendekar Kembang Merah. Paras Dewi Rebab tetap pucat bahkan kini menjadi tambah dingin pandangannya. Kemudian tampak perempuan ini geleng-gelengkan kepala.
"Kita, atau siapapun disini tidak punya cukup alasan untuk melakukan hal itu terhadap pemuda tersebut!" kata sang dewi tandas.
"Eh! Kami berdua yang paling punya alasan!" jawab Pengemis Berkipas Putih. "Pemuda itu telah membunuh Prajakuncara, putera hartawan Prajadika! Dia patut ditangkap dan dibunuh. Kalaupun diadili putusan hukuman jelas digantung sampai mati!"
"Itu betul sahabatku," menjawab Dewi Rebab.
"Tapi apakah kau tahu mengapa pemuda itu sampai membunuh Prajakuncara? Karena Prajakuncara menculik kekasihnya dan hendak memperkosanya!"
Ruangan ditingkat atas itu kini menjadi sunyi. Untuk beberapa lamanya tak ada yang bicara. Suasana menjadi tidak enak. Datuk Ular batuk-batuk beberapa kali lalu berkata: "Dewi, kau benar. Prajakuncara punya kesalahan. Tapi itu bukan berarti setiap orang bisa menjatuhkan hukuman seenaknya .. ."
"Kalau begitu mengapa kita ingin melakukan dan menjatuhkan hukuman seenaknya terhadap pemuda itu?" tukas Dewi Rebab.
"Kita tidak bertindak begitu Dewi. Itulah sebabnya mengapa kita mengadakan pertemuan disini!" angkat bicara Pendekar Kembang Merah.
"Para sahabatku," kata Dewi Rebab. "Sepanjang yang aku ketahui, pemuda ini bukan bangsa manusia jahat. Dia seorang murid yang patuh pada gurunya. Tak ada yang perlu kita takutkan terhadapnya. Kalian tentu ingat apa kata-kata Simo Gembong padanya sebelum mati. Apa pun yang kita lakukan terhadap gurunya, pemuda itu tak boleh menaruh dendam terhadap kita!"
"Tapi siapa yang menjamin pemuda itu benar-benar mengikuti pesan gurunya dan tidak membuat kita celaka dikemudian hari?" ujar Datuk Ular.
"Kalau dia memang ingin menuntut balas, ketika gurunya mati tentu dia sudah menyerbu kita selagi masih di Pulau Mayat. Harap maafkan, tapi aku tidak setuju kita mencari silang sengketa dengan pemuda yang tidak punya salah apa-apa itu. Jika Pengemis Berkipas Putih dan Pengemis Sableng ingin meneruskan maksud itu masih pantas karena mereka mendapat tugas dari pejabat Keraton. Tapi aku dan yang lain-lainnya tidak punya hak apa-apa. Apapun dosa Simo Gembong dimasa lalu tidak ada sangkut pautnya dengan diri muridnya . . ."
"Ah, rupanya Dewi Rebab Kencana merasa sungkan mengambil tindakan. Mungkin karena mengingat pemuda itu masih memiliki beberapa guru dan sahabat yang kepandaiannya tidak bisa dibuat main . . . ?"
"Dalam persoalan ini aku tidak memandang siapapun!" sahut Dewi Rebab yang merasa tidak enak atas ucapan Datuk Ular tadi. "Aku hanya memandang pada garis kebenaran. Jika kita ingin menegakkan kebenaran mengapa kita harus menempuh jalan salah? Maaf, aku tidak setuju kita menangkap apalagi membunuh pemuda itu. Tapi aku setuju jika kita melakukan sesuatu terhadap Dewi Maut..."
Kembali ruangan di tingkat atas bangunan kayu itu menjadi sunyi. Karena tak ada yang bicara maka Dewi Rebab berdiri. "Hari ini kita berselisih pendapat. Tapi dikemudian hari kalian akan melihat kenyataan bahwa apa yang aku katakan adalah benar!" Dewi Rebab mengambil rebab dan penggeseknya. Justru pada detik itu pula tiba-tiba dia berteriak keras dan mendongak ke wuwungan bangunan.
"Siapa diatas" membentak Dewi Rebab. Rebabnya digesekkan. Terdengar suara melengking tinggi. Sinar putih kekuningan menyambar atap hingga hancur. Disaat yang sama terdengar suara orang memekik.
"Kena!" teriak Pendekar Kembang Merah. Dewi Rebab sudah melompat ke atas atap bangunan. Datuk Ular dan yang lain-lainnya menyusul. Malam gelap dan dingin. Tak ada seorangpun yang kelihatan walau tadi jelas terdengar suara orang terpekik kesakitan. Di ujung atap yang roboh Dewi Rebab membungkuk memungut sebuah benda. Benda ini ternyata secarik potongan kain berwarna biru yang tampak hangus.


***

APAKAH ada sesuatu petunjuk?" bertanya Datuk Ular. "Ya, siapa yang tadi mendekam di atas atap mencuri dengar pembicaraan kita?!" timpal Pendekar Kembang Merah sementara Pengemis Sableng Cuma tertawa-tawa saja sedang adiknya terus pula berkipas-kipas.
"Tidak . . . tidak ada petunjuk apa-apa! Orang itu keburu melarikan diri," jawab Dewi Rebab Kencana dan diam-diam menggenggam potongan kain warna biru yang hangus dalam telapak tangan kirinya. Datuk Ular merasa tidak enak. Jelas perempuan muka pucat itu tadi memungut sesuatu. Namun karena tak ingin berbantahan maka diapun tak berkata apa-apa.
Sebaliknya Dewi Rebab berkata: "Sahabat sekalian. Jalan pikiran kita masing-masing sudah nyata. Jika membasmi Dewi Maut aku bersedia ikut tapi untuk mencari perkara dengan pemuda yang tidak punya dosa dan kesalahan itu kurasa tidak pada tempatnya ..."
Setelah berkata begitu Dewi Rebab menjura pada kelima tokoh silat dihadapannya lalu sekali berkelebat maka tubuhnyapun lenyap dari atas atap itu. Datuk Ular dan empat orang lainnya melayang turun ketanah.
"Sayang dia tidak mau ikut kita," kata Pendekar Kembang Merah karena menyadari kehebatan ilmu yang dimiliki Dewi Rebab.
"Tak usah kecewa" ujar Datuk Ular memberi semangat. "Kita berlima masakan tidak dapat menghadapi pemuda itu. Bagaimanapun tinggi kepandaiannya dia tetap seorang pemuda ingusan!"


***
DEWI REBAB lari laksana angin. Bayangannya tampak menuju ke selatan. Rambutnya tergerai seperti tegak di belakang kepala saking cepatnya dia berlari. Selang sepeminuman teh, dia mulai dapat mendengar suara lari orang yang dikejarnya. Tak lama kemudian dia sudah melihat orang tersebut. Orang yang lari di sebelah depan berpakaian biru. Sebentar-sebentar dia lari sambil memegangi bagian perutnya. Wajahnya meringis. Pertanda bahwa dia menderita sakit di bagian tubuhnya itu. Ketika sesaat dia berhenti untuk meneliti perutnya. Dewi Rebab tahu-tahu sudah tegak di hadapannya. Rebab di tangan kiri, penggesek di tangan kanan siap untuk digesekkan. "Hem . . . kau rupanya!" ujar Dewi Rebab." Aku sudah sangka! Mana kawan-kawanmu yang lain?!"
"Aku hanya seorang diri!" jawab si baju biru yang nyatanya adalah seorang gadis berparas cantik.
"Jangan dusta! Atau kau mampus detik ini juga!"
Dewi Rebab angkat tangan kanannya yang memegang penggesek rebab.
"Aku tidak dusta! Matipun aku tidak takut!" jawab si biru.
"Hemm ... Kau punya nyali juga . .."
"Hai! Kau hendak membunuh aku! Mengapa tidak melakukan?!" menantang gadis baju biru itu. Dewi Rebab Kencana tertawa dingin.
"Sebelum kau kubunuh, katakan mengapa kau mencuri dengar pembicaraan kami diatas atap bangunan?"
"Aku tidak mencuri dengar. Hanya kebetulan lewat”
"Lalu mengintai dan pasang kuping!" sambung Dewi Rebab.
"Terserah kau mau menuduhkan apa!"
"Heran, kau berada seorang diri. Jauh dari Pulau Mayat. Apa yang tengah kau selidiki?!"
"Aku tidak menyelidiki apa-apa. Aku memang minggat dari Pulau itu!" jawab si biru.
"Minggat . . . Hik . . . hik . . . hik. Lucu sekali kedengarannya. Pasti ada sebab lantaran mengapa kau minggat. Ayo katakan!"
"Itu urusanku! Mengapa kau mau tahu!"
"Baiklah. Sekarang apakah kau sudah siap untuk mati?"
"Aku sudah siap dari tadi!"
Paras Dewi Rebab pucat dan sedingin es. Tangan kanannya bergerak. Penggesek rebab tiba-tiba diayunkan. Gerakan tangannya perlahan saja tapi deru angin yang terdengar keras luar biasa. Si biru yang diserang tak tinggal diam. Cepat dia cabut pedang hitam di pinggang. Sesaat kemudian sinar hitam menebar. Ketika angin pukulan Dewi Rebab membentur taburan sinar hitam, si biru merasa tangannya yang memegang pedang bergetar keras. Dia segera maklum kalau tenaga dalam lawan jauh berada diatas tingkat tenaga dalamnya sendiri. Maka cepat-cepat gadis melompat kesamping. Dari sini dia babatkan pedang hitamnya ke pinggang lawan. Serangan susulan ini cepat sekali, membuat Dewi Rebab tersentak kaget dan cepat-cepat melompat mundur. Begitu ujung pedang lewat, perempuan berwajah pucat ini segera menyerbu. Penggesek di tangan kanannya berkelebat ganas kian kemari, menghantam gadis berbaju biru dari berbagai penjuru. Demikian cepat dan derasnya serangan alat penggesek rebab itu hingga tak beda dengan curahan hujan lebat!
Dalam waktu sangat singkat gadis berbaju biru itu terdesak hebat. Bagaimanapun dia keluarkan kepandaian dan kerahkan tenaga tetap saja serangan lawan datang menghimpit. Diam-diam dara itu mengeluh.
"Tahan!" tiba-tiba sang dara berseru seraya melompat mundur. "Antara kita tak ada silang sengketa! Mengapa kau hendak menurunkan tangan jahat?" Dewi Rebab tertawa dingin.
"Pertama, kau punya kesalahan. Mengintai dan mencuri dengar pembicaraan orang. Kedua bukankah kau sendiri yang tadi minta mati?!"
"Kentut!" maki si biru. Pedang di tangan kanannya tiba-tiba sekali ditusukkan ke dada Dewi Rebab. Cepat sekali gerakannya. Ketika ujung pedang hampir menghunjam dada kanan Dewi Rebab, sang dewi bermuka pucat gerakkan tangan kanannya yang memegang alat penggesek.
Trang!
Pedang di tangan si biru terlepas mental. Pucatlah paras dara ini. Meski tahu kini kematian berada di hadapannya namun dia tak mau lari malah sebaliknya jatuhkan diri seraya berkata: "Kau hendak membunuhku! Bunuhlah!"
Dewi Rebab ayunkan tangan kirinya yang memegang rebab. Bagian badan alat bebunyian ini menderu ke batok kepala gadis berbaju biru. Sesaat lagi kepala itu akan pecah dan sang dara lepas nyawanya tiba-tiba ada angin deras datang dari samping. Demikian derasnya hingga Dewi Rebab merasakan tubuhnya bergoncang lalu terdorong ke kiri. Pukulan rebabnya ke kepala si gadis luput!
"Kurang ajar! Siapa yang berani turun tangan ikut campur urusan orang!" Dewi Rebab membentak marah. Seluruh tenaga dalamnya disalurkan ke tangan kanan hingga alat penggesek yang dipegangnya bergetar keras. Dia sudah siap memukul ketika ada suara terdengar berkata.
"Kau yang berhati agung, kenapa hendak membunuh dara yang telah menyerahkan diri dan tak berdaya?!"
Teguran yang dilakukan dengan suara bernada lembut sabar tapi penuh penyesalan itu membuat Dewi Rebab sesaat tercekat. Dia palingkan balikkan badan. Tangan yang tadi diangkat ke atas siap melepaskan pukulan maut perlahan-lahan diturunkan begitu dia mengenali siapa adanya orang yang tadi menegur. Orang ini tegak delapan langkah dihadapannya, tegap dan gagah.
"Kau ... " ujar Dewi Rebab sementara gadis berpakaian biru yang tadi berlutut tundukkan kepala, kini angkat kepalanya dengan cepat. Hampir seperti kagetnya Dewi Rebab begitu pula terkejutnya si baju biru. "Hai! Dia rupanya…Berbulan-bulan aku mencari ternyata kini dia muncul sendiri malah menyelamatkan nyawaku!"

***

KITA kembali dulu pada Datuk Ular, Pendekar Kembang Merah dan tiga tokoh silat lainnya yang masih berada di bangunan kayu bertingkat. Setelah Dewi Rebab meninggalkan mereka. Datuk Ular memandang pada ke empat tokoh yang ada bersamanya.
"Tadi jelas kulihat dia memungut sesuatu," kata sang datuk. "Aku curiga dia telah menemukan satu petunjuk. Yaitu siapa manusianya yang tadi mengintai diatas atap ..."
"Kukira memang begitu," sahut Pengemis berbaju gombrong seraya berkipas-kipas.
"Apa pendapat kalian?" sang datuk bertanya.
"Bagaimana kalau kita mengejar ke arah perginya tadi?" mengusulkan Pendekar Kembang Merah.
"Jika semua setuju, itu segera bisa kita lakukan” kata Datuk Ular. Pendekar Kembang Merah mengangguk. Gambir Putih mengiyakan. Kakak beradik pengemis kembar juga mengangguk. Maka ke lima tokoh itupun berkelebat dalam gelapnya malam ke jurusan lenyapnya Dewi Rebab Kencana tadi. Kembali ke tempat pertemuan yang tidak terduga. Saat itu hari mulai menjelang pagi. Namun karena daerah sekitar situ penuh ditumbuhi pohon-pohon besar berdaun lebat maka keadaannya tetap gelap pekat. Namun tiga pasang mata yang ada disitu sanggup menembus kegelapan dan mengenali siapa orang yang ada di depan masing-masing.
"Bukankah kau Mahesa Kelud. Murid Simo Gembong?" Meskipun sudah mengenali pemuda itu namun Dewi Rebab masih bertanya seolah-olah hendak mencari kepastian. Si pemuda yang memang Mahesa Kelud adanya, mengangguk perlahan. Matanya memandang waspada ke arah tangan kanan Dewi Rebab yang masih tampak bergetar tanda masih dialiri tenaga dalam tinggi.
"Mengapa Dewi hendak membunuhnya?" Mahesa ajukan pertanyaan. Suaranya tetap bernada lembut sabar seperti tadi.
"Dia sendiri yang minta mati!" sahut Dewi Rebab. "Minta mati? Betulkah begitu?"
Si biru tak menjawab. Sebaliknya Dewi Rebab kembali membuka mulut: "Dia melakukan kesalahan dan aku memergokinya. Ketika ditanya tidak mengaku . . ."
"Kalau begitu kau dara yang berbaju biru harus minta maaf pada Dewi Rebab. Memasang telinga ingin tahu urusan orang lain memang tidak pantas .. ."
"Aku tidak sudi! Aku tidak mencampuri urusannya.
Aku hanya kebetulan lewat. Lalu .. ."
"Lalu ingin tahu dan mengintai diatas atap .. . ?" sambung Mahesa tersenyum.
Baik Dewi Rebab maupun si baju biru sama-sama kaget. Jadi apa yang terjadi sebelumnya pemuda ini pun sudah tahu.
"Sudahlah, jika kau malu minta maaf pada Dewi, biar aku yang mewakili. Dewi Rebab, aku mohon kau mau memaafkan kesalahannya."
Paras pucat itu sesaat tampak jengkel. Sang dewi bertanya: "Apakah kau tahu siapa gadis ini sebenarnya?"
"Lebih dari tahu," sahut Mahesa.
"Kalau begitu kau juga tahu bahwa manusia seperti dia pantas dibasmi?!"
"Dimasa lalu dia memang berbuat kejahatan karena jadi anak buah Dewi Maut. Tapi tadi kudengar dia mengatakan sudah minggat dari Pulau Mayat. Pasti ada sesuatu yang terjadi atas dirinya ..."
"Apapun sesuatu itu bukan urusanku. Dosanya dimasa lalu terlalu besar!" tukas Dewi Rebab Kencana.
"Tapi kalau dia ingin bertobat kenapa tidak diberi kesempatan?" kata Mahesa pula.
"Hai . . ." seru Dewi Rebab. "Pasti ada hubungan apa-apa antara kau dengan gadis cantik ini. Kalau tidak mengapa kau membelanya?!"
Mahesa Kelud tertawa.
"Bertemupun baru kali ini. Masakan kau menduga sejauh itu!" sahut pemuda itu kemudian. Dewi Rebab tertawa dingin. "Urusan orang muda, aku yang tua tidak pantas ikut campur. .."
"Siapa bilang kau sudah tua Dewi . . . ?" ujar Mahesa polos. "Selain cantik kaupun memiliki hati dan pikiran bijaksana . . ."
Wajah sang dewi yang selalu pucat sesaat tampak kemerahan. Dan Mahesa menambah bumbu kata-katanya: "Kalau wajahmu merah seperti itu kau benar-benar secantik dewi. .."
Seumur hidupnya hanya ada satu orang yang pernah memuji dan tergila-gila pada kecantikannya. Manusia itu adalah Simo Gembong yang kemudian menghancurkan kehidupannya. Dan kini ada orang kedua memuji seperti itu. Dia adalah Mahesa Kelud,murid Simo Gembong! Mau tak mau Dewi menjadi jengah. Tapi bagaimanapun layaknya seorang wanita, pujian akan membuat hatinya berbunga-bunga.
Maka diapun berkata: "Aku tidak akan mengganggu kalian berdua. Hanya saja, kau berhati-hatilah orang muda ..."
"Berhati-hati bagaimana Dewi?" tanya Mahesa.
"Ada orang-orang yang berniat membunuhmu!"
"Siapa mereka?" kembali Mahesa bertanya.
"Tak dapat kukatakan. Kau kelak akan berhadapan dengan mereka dalam waktu dekat. .." Habis berkata begitu Dewi Rebab mengerling melirik ke arah gadis berbaju biru, mengerling pada Mahesa lalu berkelebat dan lenyap dalam kegelapan malam. Kini tinggal Mahesa dan si baju biru itu. Si pemuda mendekat. "Bukankah kau Sembilan Biru! Anak buah Dewi Maut dari Pulau Mayat?"tanya Mahesa.
"Betul", jawab si gadis seraya merapikan rambut dan pakaiannya.
"Kenapa kau berada disini?"
"Kau sudah dengar pembicaraanku tadi dengan perempuan rambut panjang muka pucat itu. Aku minggat dari sarang Dewi Maut..."
"Begitu ... ? Ada apa kau sampai minggat?"
"Aku . . . aku hanya tak kerasan tinggal lebih lama disitu."
"Bagus kalau kau mau meninggalkan kesesatan. Sekarang kemana tujuanmu?"
Sembilan Biru tak bisa menjawab. Dia melarikan diri dari Pulau Mayat tanpa tujuan yang pasti. Sejak dia meninggalkan pulau itu yang terbayang olehnya hanyalah pemuda bernama Mahesa Kelud yang sangat menarik hatinya. Dia mengembara berbulan-bulan menyirap kabar mencari jejak untuk dapat menemui pemuda itu. Kini setelah berhadap-hadapan tentu saja dia tak mau menceritakan rahasia dirinya itu.
Karena orang yang ditanya tak menjawab Mahesa lalu berkata: "Aku harus pergi sekarang. Kau hati-hatilah menjaga diri.. ."
"Kau mau kemana?" Sembilan Biru bertanya.
"Aku bermaksud ke utara. Menuju gunung Muria.
Untuk menemui istriku .. ."
"Aih . . . !" mengeluh hati kecil sang dara. "Tak tahunya ternyata dia sudah beristri!" Kepalanya jadi tertunduk dan hatinya seperti disayat-sayat. Dia berusaha menahan air mata.
"Selamat tinggal Sembilan Biru. Orang-orang Pulau Mayat pasti mencarimu. Jika bertemu kau pasti dibunuhnya. .."
"Matipun sekarang aku tidak perduli! Mengapa tidak tadi tadi perempuan muka pucat itu membunuhku saja!" keluh Sembilan Biru dalam hati. Mahesa sudah siap untuk melangkah pergi. Justru disaat itu dia melihat gerakan-gerakan cepat berkelebat dalam kegelapan. Sembilan Birupun ternyata juga sudah melihat gerakan tersebut. Dia menghitung. Ada lima sosok tubuh mendekam dalam kegelapan, tegak berpencar dalam sikap mengurung.
"Mahesa Kelud! Kami ingin bicara denganmu!" satu suara datang dari samping kanan. Si pemuda diam. Tak menjawab. Tapi dia ingat betul. Dia pernah mendengar suara itu sebelumnya.

***

LIMA SOSOK tubuh bergerak maju, memperkecil jarak pengurungan. Mahesa segera mengenali dua orang diantaranya. Yang pertama bukanlah lain Datuk Ular Muka Tengkorak sedang yang kedua Pendekar Kembang Merah. Tiga orang lainnya tak dikenal ataupun pernah dilihatnya sebelumnya.
"Datuk Ular!" ujar Mahesa. "Kau muncul dalam gelap seperti ini. Gerak-gerikmu dan kawan-kawan jelas menunjukkan kau membawa maksud yang tidak baik!" pemuda ini langsung menuduh. Datuk Ular menyeringai. Pendekar Kembang Merah usap-usap pipinya. Pengemis Sableng cengar-cengir sedang Pengemis berbaju gombrong kuning tegak sambil berkipas-kipas. Hanya Gambir Putih, tokoh dari Pesantren Megasuryo yang tampak seperti tidak sabaran.
"Pertama sekali kami ingin tanya. Apakah kau membawa pedang Samber Nyawa saat ini..?"
Kembali Datuk Ular buka suara.
"Heh, tua bangka bermuka mayat ini tanyakan pedang mustika itu. Apakah dia ingin jadi raja diraja dunia persilatan?" membatin Mahesa. Lalu dia bertanya: "Ada apa kau tanyakan hal itu datuk?"
"Ladahlah, ditanya malah bertanya!" yang bicara adalah Pengemis berbaju gombrong tambalan.
"Katakan kau membawanya atau tidak?" Gambir Putih ikut bicara dengan nada keras dan tidak sabar.
"Kalau aku membawanya kenapa? Kalau tidak membawa bagaimana?"
Kata-kata Mahesa yang tidak memberi jawaban jelas ini membuat ke empat orang itu tampak jengkel, kecuali Pengemis Sableng. Dia tetap saja cengar-cengir.
"Jika dia tak mau menjawab terus terang tak apa," orang tua berkulit bulai berkata pada Datuk Ular. "Nanti juga kita akan mengetahui!"
Datuk Ular mengangguk.
"Hal kedua yang ingin kami sampaikan," orang tua ini melanjutkan, "kami akan melakukan sesuatu terhadapmu. Hingga dikemudian hari kami tidak mendapat repot jika kau balas dendam . . ."
"Balas dendam soal apa?" tanya Mahesa dan dalam hati bertanya-tanya heran.
"Jangan berpura-pura tolol" Gambir Putih membentak. "Gurumu mampus dalam pengejaran kawan-kawanku ini! Itu hal pertama. Kedua gurumu membunuh pengurus pesantren kami..."
"Ketiga," menyambung Pengemis Berkipas Putih, "Kau membunuh putera hartawan Prajadika serta melakukan tindak kekerasan terhadap orang kaya itu!"
Mahesa geleng-geleng kepala. "Malam-malam buta kalian kesasar kemari membawa urusan salah alamat! Embah Jagatnata sudah meninggal. Perlu apa kalian masih mengungkit-ungkit kematiannya. Prajakuncara putera hartawan Prajadika memang pantas menerima hukuman. Pemuda itu tukang rusak gadis. Dan ayahnya memang perlu diberi gebukan karena telah menurunkan tangan jahat terhadapku!"
"Bagus . . . bagus! Ternyata kau pandai berdalih! Apapun yang akan kau katakan, kami telah memutuskan bahwa kau harus menyerahkan tanganmu kiri kanan untuk dibikin buntung!"
Mahesa Kelud mulai hilang kesabarannya. Amarah membuat darahnya jadi panas.
"Kalian orang-orang tua berpikiran dan bertingkah aneh! Mula-mula minta pedang. Lalu minta kedua tanganku. Nanti apa lagi?"
"Sebenarnya aku inginkan nyawamu anak muda. Hanya sayang kawan-kawan disini kurang menyetujuinya!" kembali Gambir Putih bicara.
"Sebelum hukuman dijatuhkan, aku ada satu pertanyaan!" Pengemis berbaju gombrong buka mulut.
"Dimana beradanya manusia bernama Supitmantil. Dia harus ditangkap!"
"Aku tidak tahu dimana pemuda itu berada. Kalaupun aku tahu tak akan kukatakan pada manusia-manusia macam kalian!" sahut Mahesa pula.
"Kalau begitu, kita bisa segera mulai Datuk!" kata Gambir Putih.
"Kalian mencari perkara, kalian sendiri akan dapat getahnya!" Mahesa renggangkan kedua kaki, memasang kuda-kuda bertahan yang kokoh. "Kawanku gadis berbaju biru ini tak ada sangkut paut dengan kalian. Jadi biarkan dia pergi!"
Datuk Ular tertawa.
"Siapa kawanmu itu kami sudah tahu. Segala sesuatu yang berbau Pulau Mayat harus dibasmi!"
"Akupun tak ingin pergi begitu saja!" sahut Sembilan Biru. "Kalian berlima hendak mengeroyok. Apapun yang terjadi aku siap membantu kawanku ini!"
"Bagus! Lengkap sudah!" balas Datuk Ular. Mahesa hendak berteriak pada Sembilan Biru agar segera meninggalkan tempat itu. Namun saat itu Datuk Ular sudah loloskan ikat pinggang ular sancanya dan dari sebelah kiri Gambir Putih telah pula berkelebat melancarkan pukulan tangan kosong jarak jauh mengandung tenaga dalam tinggi. Pendekar Kembang Merah tampak memasukkan tangan ke balik pakaian. Pasti mengambil senjatanya yang ampuh yakni kembang kertas beracun yang sama kerasnya dengan potongan besi! Lalu Pengemis Berkipas Putih bergerak dari jurusan sebelah kanan. Terakhir kakaknya Pengemis Sableng sambil berteriak-teriak mengangkat kedua tangannya ke atas, lancarkan serangan aneh seperti monyet menggapai-gapai!
"Manusia-manusia pengecut!" teriak Sembilan Biru. Dia lebih dulu bergerak menyongsong lawan terdekat yakni Pendekar Kembang Merah hingga orang ini tak berkesempatan mengambil senjata rahasianya. Pendekar Kembang Merah dengan gusar hantamkan tangannya ke kepala Sembilan Biru. Si gadis merunduk sambil melintangkan lengan di atas kepala untuk menangkis. Dua lengan saling beradu. Sembilan Biru mengeluh kesakitan. Ternyata kekuatan lawan masih berada diatasnya. Sambil sorongkan satu tendangan ke bawah perut Pendekar Kembang Merah, gadis ini cepat melompat menjauh. Ini kembali memberi kesempatan bagi orang tersebut untuk mengambil senjata rahasianya. Tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba tubuh sigadis berputar aneh dan tendangannya tadi kini membabat ke arah bawah ketiak. Pendekar Kembang Merah cepat menyingkir ke kiri dan dari sini lepaskan pukulan tangan kosong yang ganas, langsung mengarah dada Sembilan Biru. Karena tidak bermaksud mengeluarkan Pedang Dewa ataupun Keris Ular Emas, Mahesa sambut serangan empat lawan dengan jurus "bendungan baja lawan seribu angin seribu gelombang". Jurus pertahanan ini sebenarnya adalah jurus ilmu Pedang Dewa, namun tetap hebat walaupun dimainkan dengan tangan kosong. Kedua tangan pemuda itu terkembang lebar, menghantam ke depan. Angin seperti puting beliung menggemuruh. Datuk Ular merasakan tubuhnya bergoyang lalu cepat gebukkan bangkai ular di tangannya. Gambir Putih lipat gandakan tenaga dalamnya ketika merasakan pukulan tangan kosongnya tadi seperti tertahan tembok tebal yang tidak terlihat. Pengemis Sableng berteriak lebih keras ketika dirasakannya angin serangan Mahesa seperti hendak menerbangkannya. Pakaian gombrong Pengemis Berkipas Putih menggelembung seperti balon. Tapi orang ini tetap tenang. Kipas putih di tangan kanannya dibuka lebih lebar lalu dikipaskan ke depan.
Wuut!!!
Angin luar biasa dahsyatnya menyambar panas. Sembilan Biru cepat menyingkir sebelum kena terserempet hantaman angin jahat ini sedang Mahesa Kelud kaget bukan main ketika angin yang keluar dari kipas membuyarkan serangannya. Hingga dia terpaksa melompat jauh menghindari gebukan kepala ular serta pukulan Gambir Putih.
Pemuda ini segera tahu kalau diantara lawannya adalah senjata berupa kipas putih di tangan si pengemis baju gombrong yang paling berbahaya. Karena tidak mau berlaku ayal maka dia segera gerakkan tangan ke balik pinggang. Sinar merah menebar ketika Pedang Dewa berada dalam genggamannya.
"Pedang Dewa! Senjata bagus! Itu untukku!" seru Pengemis Sableng. Walaupun otaknya sinting tapi nyatanya dia mengenali senjata lawan. Tiba-tiba saja tubuhnya melompat dan kedua tangannya menggapai. Dari mulutnya tak lupa keluar suara teriakan. Dilain kejap tangan kiri menyambar ke rambut Mahesa sedang tangan kanan menyambar ke tangan yang memegang pedang. Astaga! Gerakan si Sableng ini aneh dan luar biasa cepatnya. Kalau tidak lekas berkelit hampir saja tangan Mahesa yang memegang pedang terpegang olehnya!
Begitu tangan kanannya lolos dari sambaran tangan lawan, Mahesa sodokkan hulu pedang ke perut Pengemis Sableng. Disaat yang sama ujung pedang diarahkan ke pada Gambir Putih yang datang menggempur dengan pukulan tangan kosong. Namun Mahesa terpaksa melompat mundur untuk selamatkan kepala dari sambaran kepala ular. Disaat yang sama dia mendengar Sembilan Biru terpekik. Sebuah kembang kertas merah menancap di bahu kirinya. Sebuah lagi tengah melesat ke arah pipinya. Mahesa cepat putar pedang merahnya menghantam hancur kembang kertas itu. Lalu pemuda ini keluarkan jurus-jurus terhebat ilmu pedangnya. Sinar merah membuntal bergulung-gulung. Namun hanya satu jurus saja membuat kacau lawan. Di jurus berikutnya. Pengemis Berkipas Putih yang agaknya menjadi tukang atur penyerangan mulai membuat repot kedua muda mudi itu. Keduanya terdesak ke arah semak belukar rendah di sebelah kiri. Disini keadaan tanah agak miring menurun hingga memberikan peluang lebih baik pada lima penyerang.
Mahesa terpaksa merubah jurus-jurus ilmu pedangnya. Gerakannya tambah sebat. Namun sesekali perhatiannya terbagi pada Sembilan Biru yang berada dalam keadaan terluka dan harus membantu gadis ini dari gebukan kepala ular atau pukulan tangan kosong lawan-lawannya. Namun satu sambaran angin dahsyat berkiblat dari kipas sakti di tangan pengemis baju gombrong menyambar dan Mahesa tidak berkesempatan untuk menolong Sembilan Biru. Terdengar pekik gadis itu. Tubuhnya terpental. Mencelat jauh dalam kegelapan. Lalu terdengar suara jeritannya. Suara jeritan ini diikuti suara gaung yang menggema jauh! Ternyata di sebelah belakang semak belukar itu terdapat sebuah jurang batu sangat dalam. Dan kesitulah Sembilan Biru terpental setelah dihantam pukulan kipas!
Mahesa kertakkan rahang. Sinar merah yang keluar dari Pedang Dewa tampak tambah terang tanda pemuda ini telah lipat gandakan tenaga dalamnya. Kalau tangan kanan memegang pedang maka tangan kiri diam-diam disiapkan untuk melancarkan pukulan karang sewu, yakni pukulan sakti yang sanggup menghancurkan dinding batu atau batu karang. Mahesa mendapatkan ilmu pukulan sakti ini dari seorang kakek sakti bernama Karang Sewu ketika dipenjarakan seorang nenek jahat berjuluk Nenek Iblis (Baca : Pedang Sakti Keris Ular Emas). Selain dapat disalurkan ke tangan berupa pukulan, ilmu kesaktian itu dapat pula dialirkan ke kaki dalam bentuk tendangan maut. Jengkel mendapatkan dirinya didesak para pengeroyok dan kecewa karena tidak dapat menolong Sembilan Biru ditambah oleh amarah disebabkan gadis itu telah celaka dan pasti telah menemui ajal di dasar jurang batu, maka Mahesa mengamuk dengan keluarkan jurus ilmu pedang bernama "seratus pedang mengamuk."
Sinar merah membuntal mengeluarkan suara bersiur mengerikan. Empat pengeroyok tercekat dan menjauh sebelum memutuskan untuk menyerbu kembali. Pengemis berkipas Putih tegak tak berkesip, memperhatikan setiap gerakan yang dibuat Mahesa seperti tengah mencari titik kelemahan lawan untuk kemudian dihantam. Kakek pengemis ini kemudian harus menyesali diri karena terlalu lama tegak diam memperhatikan dan bukannya langsung menggempur. Hal ini terjadi ketika pedang Mahesa membabat puntung tangan kanan Gambir Putih hingga wakil ketua Pesantren ini menjerit roboh sambil pegangi tangannya yang buntung mengucurkan darah. Mahesa tendang tubuh orang tua bulai ini tepat ketika dua buah kembang kertas merah beracun melesat dari tangan kanan Pendekar Kembang Merah.
Pendekar Kembang Merah tentu saja tak dapat menarik pulang serangannya. Selagi dia terkesiap melihat dua senjata rahasianya menancap menembus tubuh Gambir Putih, Mahesa telah berkelebat melompatinya seraya menghantamkan tinju kiri yang mengandung aji karang sewu.
Buukkk!!
Tubuh Pendekar Kembang Merah mencelat mental. Tulang dadanya hancur. Darah tersembur dari mulutnya. Orang ini roboh terhempas di kaki pohon, tak bernafas lagi!
Pengemis Sableng berteriak-teriak. Datuk Ular hantamkan senjatanya seraya memijat bagian tubuh ular yang dipegangnya. Racun berwarna kehijauan itu menyembur. Mahesa menghantam dengan tangan kiri. Datuk Ular lebih cepat. Ayunkan tangannya ke bawah dan kini kepala ular laksana anak panah melesat ke perut Mahesa. Pemuda ini babatkan pedang saktinya. Maksudnya hendak membabat putus senjata lawan yang berbahaya itu. Dia memang, berhasil membuyarkan serangan sang datuk tetapi agak terlambat menutup jalan nafas ketika sinar hijau beracun menyambar. Akibatnya meskipun terhisap hanya sedikit, Mahesa mendadak merasakan matanya perih dan kepalanya mendenyut sakit. Cepat dia selinapkan tangan ke balik pakaian maksudnya hendak mendekap gagang Keris Ular Emas agar dapat memusnahkan racun jahat yang masuk ke dalam jalan pernafasannya. Justru saat itu dari depan datang Pengemis Sableng sambil berteriak-teriak dan menggapaikan kedua tangannya ke leher Mahesa.
Mau tak mau pemuda ini jadi tak berkesempatan untuk memegang keris sakti tersebut. Dengan gusar dia hantamkan tangan kiri ke depan, sekaligus menusukkan pedang untuk menambus perut lawan. Disaat itulah Pengemis Berkipas Putih datang menyambar dari samping.
Wuuuttt!
Wuuuuttt'
Dua larik angin dahsyat menerpa. Yang pertama sempat dielakkan Mahesa dengan melompat ke belakang sambil babatkan pedang sakti. Tapi hantaman angin yang kedua, meski ujung pedangnya sempat merobek salah satu sisi kipas putih si pengemis, tak sempat dielakkannya. Seperti yang dialami Sembilan Biru tubuh pemuda ini terlempar dalam kegelapan, jatuh ke dalam jurang batu yang gelap. Pedang sakti terlepas dari genggamannya dan melayang jatuh lebih dulu dari tubuhnya!
"Kipasku! Kipasku rusak! Sialan keparat!" Pengemis Berkipas Putih memaki tiada henti. Datuk Ular tidak perdulikan pengemis itu, juga seperti tidak acuh pada kematian Pendekar Kembang Merah dan Gambir Putih. Senjatanya berupa tubuh ular sanca digelungkannya ke pinggang. Hatinya puas. Mahesa Kelud pasti menemui ajal begitu tubuhnya menghantam dasar jurang batu!

***

APA NASIB yang menunggu Mahesa Kelud dan Sembilan Biru setelah dihantam masuk kedalam jurang batu akan kita ketahui kemudian. Terlebih dahulu kita kembali pada kejadian sewaktu Mahesa mengalami nasib sial yaitu ditipu oleh Retno Kumalasari puteri Adipati Suto Nyamat. Dalam keadaan tertotok pemuda ini diserahkan pada hartawan Prajadika, orang yang menginginkan nyawa Mahesa karena pendekar ini telah membunuh putera tunggalnya yakni Prajakuncara. (Baca: Simo Gembong Mencari Mati).
Dua orang hulubalang membawa Mahesa kerumah kediaman Prajadika. Setelah digebuk babak belur oleh sang hartawan, Mahesa kemudian dicemplungkan ke dalam sebuah sumur tua. Dibiarkan kelaparan dan akan disiksa dengan siraman air panas mendidih......
Hampir menjelang pagi, ketika udara dingin mencucuk daging menembus tulang, Mahesa Kelud merasakan sebuah benda meluncur ke bahu, terus menjalar ke punggung. Dia tak mau membuka kedua matanya yang terpejam. Sangkaannya benda yang meluncur itu pastilah ular atau sejenis binatang tanah berbisa. Biarlah binatang itu mematuknya. Mati terkena racun ular lebih baik dari pada mengalami siksaan. Tapi tak ada yang mematuk. Tak ada yang menggigit walau benda itu masih terus meluncur naik turun di punggungnya.
Tiba-tiba bret!
Pantat celananya robek. Sesuatu menyangkut di ikat pinggangnya. Kemudian perlahan-lahan, sedikit demi sedikit tubuhnya terangkat ke atas sampai akhirnya kepalanya muncul di tepi bibir sumur. Mahesa membuka matanya lebar-lebar, menembus kegelapan malam. Seseorang dilihatnya dengan susah payah menarik tali yang berhubungan dengan besi pengait yang dipakai untuk menggeret tubuhnya keatas. Dia tidak dapat mengenali siapa adanya orang ini. Tubuhnya ditarik keluar sumur. Baru saja dibaringkan ditanah yang basah, tiba-tiba dari arah bangunan besar terdengar suara seseorang membentak.
"Hai! Siapa di dekat sumur?!"
Bentakan disusul dengan datangnya sesosok tubuh menghunus golok. Orang yang menolong Mahesa Kelud jatuhkan diri kebalik sumur sambil tangannya mencabut sebilah belati. Ketika orang yang memegang golok melangkah mendekat, secepat kilat belati itu dilemparkannya.
"Heekk ...!*'
Golok terlepas dari tangan. Orang itu hanya sempat keluarkan suara seperti ayam tercekik lalu roboh ke tanah. Belati besar menancap di lehernya.
"Supitmantil!" seru Mahesa ketika dalam gelap kemudian dia mengenali siapa orang yang menolongnya itu adanya. Supitmantil silangkan jari telunjuk di depan bibir, memberi isyarat agar Mahesa jangan bicara keras.
"Sahabat . . ." berbisik Mahesa. "Kebaikanmu dimasa lalu masih belum sempat kubalas. Hutang budi belum kulunaskan. Kini kau telah menanam budi baru. Aku berhutang nyawa padamu Supit. .."
Yang dimaksudkan Mahesa dengan Kebaikan di masa lalu ialah sewaktu Supitmantil memberi tahu siapa yang menculik Wulansari dan kemana gadis itu dilarikan. Seperti dituturkan dalam Pedang Sakti Keris Ular Emas, Wulansari diculik oleh Niliman Toteng alias Iblis Jangkung. Berkat pertolongan Supit mantil Mahesa berhasil menyelamatkan kekasihnya itu dan kemudian menjadi istrinya serta menetap di puncak gunung Muria.
"Kita harus segera keluar dari sini," ujar Supitmantil.
"Ya, tapi aku tak bisa jalan. Aku tertotok. Bisakah kau mendukungku . . . ?"
"Tentu saja. Tapi kita harus hati-hati. Dua hulubalang istana masih ada di gedung sana . .."
"Kalau begitu kau tolong lepaskan totokanku. Disini, di bagian dada!"
Supitmantil seorang pemuda yang memiliki kepandaian silat cukup tinggi. Ini karena dia berguru pada seorang tokoh silat kalangan istana. Namun dalam soal totok menotok dia masih belum matang. Maka Mahesa harus membimbing memberi tahu bagaimana cara yang ampuh untuk melepaskan totokan ditubuhnya. Setelah mencoba beberapa kali baru Supitmantil berhasil. Namun totokan itu masih belum pulih seluruhnya. Terpaksa Mahesa duduk bersila dan kerahkan tenaga dalamnya ke dada untuk memusnahkan sisa-sisa totokan. Selagi dia melakukan hal itu tiba-tiba melayang dua buah obor besar. Benda ini menancap di kiri kanan sumur hingga tempat sekitar situ jadi terang benderang.
"Supitmantil! Bagus sekali perbuatanmu!" terdengar bentakan marah. Itu adalah suara hartawan Prajadika. Supitmantil berpaling. Di tangga belakang gedung tampak Raden Mas Prajadika tegak bertolak pinggang. Di sebelahnya kelihatan dua orang lelaki berpakaian serba biru, tinggi dan kekar. Mereka adalah dua hulubalang istana kelas tiga yang membawa Mahesa sebelumnya dari rumah kediaman almarhum Adipati Suto Nyamat di Madiun.
"Celaka," keluh Supitmantil. Dia tidak takut terhadap hartawan yang dianggapnya mempergunakan kedudukan dan kekayaannya untuk berbuat sesuka hatinya itu. Tapi dua hulubalang istana kelas tiga itu benar-benar merupakan dua lawan berat. Satu saja sulit bagi Supitmantil untuk menghadapi. Kini mereka malah berdua!
Pemuda itu melirik ke arah Mahesa. Saat itu Mahesa masih mengerahkan tenaga dalam untuk memulihkan sisa totokan. Justru disaat itu pula dua hulubalang istana berkelebat, menerkam ke arah Supitmantil!
Pemuda ini jatuhkan diri. Tendangan yang tadi mengarah ke batok kepalanya berhasil dielakkan. Baru saja dia bangkit berdiri hulubalang yang tadi menyerang sudah menghantamkan jotosan ke dadanya. Supitmantil menangkis dengan lengan kiri dan balas memukul dengan tinju kanan. Dua lengan beradu. Supitmantil mengeluh kesakitan. Lengan kirinya laksana dihantam potongan besi sedang tinju kanan hanya memukul angin.
"Gonto! Cepat kau ringkus pemuda yang bersila itu! Yang satu ini biar aku yang melakukan!" Terdengar hulubalang yang menyerang Supitmantil berseru. Maka kawannya yang semula ikut menghantam Supitmantil kini melompat ke hadapan Mahesa Kelud. Sikap duduk Mahesa merupakan sasaran empuk untuk diserang. Terdengar suara bersiur ketika kaki kanan hulubalang bernama Gonto melesat ke muka Mahesa Kelud. Padahal saat itu pendekar ini masih meramkan mata mengerahkan tenaga dalam guna memusnahkan sisa totokan di dadanya. Pukulan yang mengenai angin membuat Supitmantil terhuyung ke depan. Akibatnya dadanya menjadi sasaran terbuka. Tinju hulubalang kelas tiga itu laksana palu godam melabrak dada kanannya. Supitmantil mengeluh kesakitan. Tubuhnya mencelat dan terkapar dekat sumur tua. Mulutnya terasa panas dan asin. Ada darah yang keluar dari saluran di dadanya tanda saat itu dia menderita luka dalam yang cukup parah. Sambil menahan sakit pemuda ini berusaha berdiri. Dia tahu apa arti jika tubuhnya masih tergeletak begitu rupa. Lawan akan menghantamnya kembali dengan tendangan atau pukulan maut. Sambil bangkit Supitmantil cabut sebilah belati besar dari balik pinggangnya. Memang pemuda ini memiliki keahlian melempar senjata tajam. Tadi telah dibuktikannya dengan sekali hantam saja berhasil merobohkan pengawal gedung. Tapi sekali ini orang yang dihadapinya bukan manusia jenis ronda malam. Dengan mudah hulubalang istana itu berhasil mengelakkan sambaran belati. Dilain kejap dia sudah menerkam Supitmantil. Lututnya menusuk ke perut pemuda ini. Selagi Supitmantil terlipat ke depan, kedua tangannya yang besar kuat datang menyambar dan mencekik leher si pemuda laksana japitan besi. Supitmantil meronta-ronta. Tapi kehabisan nafas membuat tenaganya lumpuh. Tak mungkin lagi baginya menyelamatkan diri. Matanya mendelik dan lidahnya mulai menjulur.
Praaak!
Satu sosok tubuh roboh dengan tulang belikat patah!
Hulubalang Gonto melengak kaget ketika Mahesa yang hendak ditendangnya tiba-tiba melayang melewatinya lalu menghantam temannya yang tengah mencekik Supitmantil.
Begitu merasa cekikan lawan terlepas, Supitmantil mereguk udara segar sebanyak-banyaknya. Lalu selagi hulubalang itu terkapar Supitmantil hunjamkan sebilah belati ke dadanya. Hulubalang ini hanya keluarkan suara keluhan pendek, kaki menggelepar beberapa kali, setelah itu diam tak berkutik lagi!
Melihat kematian kawannya, Gonto menggembor marah. Di tangan kanannya tahu-tahu sudah tergenggam sebilah golok besar. Sambil menerjang dia babatkan senjata itu ke arah leher Supitmantil. Tapi setengah jalan seseorang menghantam pinggangnya hingga hulubalang ini terpuntir.
Wutt!
Gonto kini babatkan golok ke arah Mahesa Kelud yang tadi menendang pinggangnya. Namun satu pukulan menghancurkan sambungan sikunya hingga hulubalang ini meraung kesakitan. Goloknya terlepas mental. Selagi meraung kesakitan dirasakannya tubuhnya terangkat lalu tiba-tiba sekali dilemparkan ke bawah! Kembali hulubalang ini menjerit ketika mengetahui dirinya dilemparkan ke dalam sumur tua, kepala kebawah kaki ke atas! Suara teriakannya serta merta lenyap ketika batok kepalanya menghantam dasar sumur tua hingga pecah dan lehernya patah. Nyawanya putus detik itu juga!
Supitmantil cepat datangi Mahesa dan berkata: "Kita harus tinggalkan tempat ini segera . .."
"Ya, tapi aku harus membayar hutang dulu pada orang kaya itu," sahut Mahesa. Sekali lompat saja dia sudah berdiri di hadapan Raden Mas Prajadika yang tegak ketakutan di pintu belakang gedung. Dia segera balikkan diri sambil berteriak. Namun Mahesa jambak rambutnya, putar tubuhnya.
"Prajadika!" kata Mahesa. "Aku membunuh puteramu bukan karena aku manusia jahat buas! Tapi karena anakmu memang pantas ditebas batang lehernya! Dia kupancung ketika hendak memperkosa seorang gadis!"
"Aku tidak percaya, Puteraku anak baik-baik!
Aku tidak percaya! Lepaskan jambakanmu! Keparat!"
Plak!
Satu tamparan keras menghantam pipi kanan Hartawan Prajadika hingga bibirnya pecah dan tiga giginya tanggal. Hartawan itu meraung kesakitan. Tubuhnya melintir. Kalau saja rambutnya tidak dijambak pasti dia sudah terkapar di tangga gedung.
"Itu hadiah dari gadis yang hendak dirusak oleh puteramu!" kata Mahesa. "Dan ini pembayar hutang tadi malam!" Lalu Mahesa hantam muka Prajadika dengan tinju kiri. Kembali orang ini meraung kesakitan. Tapi raungan itu segera lenyap karena dirinya keburu pingsan. Mahesa lepaskan jambakannya. Prajadika tergelimpang di tangga batu. Hidungnya hancur dan darah mengucur!
Dari bagian depan gedung terdengar suara orang lari mendatangi. Beberapa diantaranya meneriakkan sesuatu. Mahesa memberi isyarat pada Supitmantil. Kedua pendekar ini lompati tembok halaman belakang. Ketika enam orang penjaga gedung sampai disitu membawa berbagai macam senjata, keduanya telah lenyap dalam kegelapan. Ayam berkokok di kejauhan. Langit di ufuk timur tampak kemerahan. Kedua pendekar itu sampai di sebuah anak sungai berair dangkal tapi jernih. Baik Mahesa maupun Supitmantil segera menggulingkan diri di tebing sungai. Membersihkan muka dan tubuh mereka yang berlepotan darah.
"Seharusnya kubunuh orang kaya itu ..." kata Supitmantil beberapa saat kemudian sambil menyisir rambutnya yang basah dengan jari-jari tangan. "Dia mengetahui pengkhianatanku. Kini aku jadi orang buronan! Pasti Prajadika meminta tokoh-tokoh istana untuk menangkapku hidup atau mati!"
"Semua karena aku!" ujar Mahesa.
"Aku tidak menyesal menolongmu," kata Supitmantil yang tahu maksud kata-kata Mahesa tadi.
"Sekarang apa yang hendak kau lakukan?" tanya Mahesa.
"Jelas aku tak mungkin kembali ke Kotaraja. Mungkin aku harus menempuh hidup sepertimu. Mengembara sambil menambah ilmu."
"Kalau begitu seandainya kau tersesat ke utara maukah kau singgah di puncak Muria? Istriku berada disana. Namanya Wulansari. Kau pasti kenal dia karena dialah gadis yang dulu berhasil kuselamatkan dari kebejatan Prajakuncara berkat pertolonganmu ..."
"Apa yang harus kukatakan jika bertemu?" tanya Supitmantil.
"Katakan bahwa aku dalam keadaan baik. Aku akan segera pulang ke Muria begitu urusanku selesai ..."
Supitmantil mengangguk. "Aku akan mampir menemui istrimu," katanya.
"Terima kasih sahabat. Sekarang ada satu hal yang amat penting harus kulakukan."
"Apa itu?"
"Dua senjata milikku dirampas puteri Suto Nyamat. Untuk mendapatkan kedua senjata sakti itu aku telah mempertaruhkan nyawa. Karenanya aku harus mengambilnya kembali sekalipun mungkin kali ini aku harus membunuh gadis itu. Sebelum aku ke Madiun aku perlu beberapa keterangan darimu. Dua tahun lalu Retno hanya seorang gadis cantik biasa yang tidak memiliki kepandaian apa-apa. Tapi melihat kemampuannya menotokku, pastilah dia telah berguru pada seseorang. Mungkin kau mengetahui siapa guru gadis itu dan dimana kediamannya?"
Supitmantil menggeleng. "Sekali ini aku tidak bisa menolongmu Mahesa . . ."
"Tak jadi apa," jawab Mahesa. Dia merangkul Supitmantil sambil mengucapkan terima kasih berulang kali.
"Jangan berterima kasih terus-terusan Mahesa. Kau lupa bahwa kaupun tadi menyelamatkan jiwaku dari tangan hulubalang istana itu!"
Mahesa Kelud angkat bahu. "Ada ubi ada talas. Ada budi ada balas," katanya.
"Selamat jalan Mahesa."
"Selamat mengembara Supit. Sampai ketemu. Dan jangan lupa mampir di rumahku di puncak Muria."
Kedua sahabat itupun berpisah tepat ketika sang surya menyembulkan diri di sebelah timur.
Seperti dituturkan dalam Simo Gembong Mencari Mati, Mahesa berhasil mendapatkan Pedang Dewa dan Keris Ular Emas yang dicuri Retno Kumalasari dan diserahkan pada kekasihnya seorang ahli obat dan ahli menotok yakni Pergola. Keduanya bermaksud menjual kedua senjata sakti itu pada seorang pejabat tinggi istana. Dengan hasil penjualan yang luar biasa tingginya Pergola berharap akan jadi kaya raya dan hidup mewah. Namun Mahesa keburu muncul dan Pergola menemui ajal ketika coba melawan.

***

PUNCAK GUNUNG MURIA ............. Pagi itu udara cerah sekali. Angin bertiup segar dan lembut. Hampir tak tampak segumpal awanpun menyaputi puncak gunung. Sesekali terdengar kicau burung bersahut-sahutan. Dari puncak gunung pemandangan di sebelah bawah tampak indah sekali. Pepohonan menghijau. Sawah menghampar dimana-mana. Di sebelah timur dan utara tampak terbentang laut lepas membiru. Sungai-sungai laksana ular panjang membelintang menuju muara masing-masing di lautan. Di keindahan pagi cerah itu terdengar suara orang menyanyi. Suara perempuan. Lembut dan merdu. Orang yang menyanyi ini duduk di tangga serambi sebuah rumah kayu mungil bersih. Dia menyanyi sambil menyisir rambutnya yang panjang dan hitam. Tak jauh dari situ, di balik sebatang pohon besar tegak memperhatikan seorang pemuda berpakaian dan berikat kepala putih. Kedua matanya hampir tak berkesip memandangi wajah cantik, rambut panjang hitam dan tubuh elok semampai itu.
"Supitmantil, kau harus mengambil keputusan sekarang . . ." Tiba-tiba seperti ada suara yang berbisik ke telinga si pemuda. "Kalau tidak, kau tak akan pernah memiliki perempuan itu untuk selama-lamanya!"
Pemuda di balik pohon yang ternyata adalah Supitmantil, sesaat tertegun mendengar bisikan tadi.
"Supit! Jangan kau turutkan bujukan setan!" mendadak ada suara membalas dari lubuk hati si pemuda.
"Tidak, ini bukan bujukan setan!" menangkis suara bisikan tadi. "Ini adalah kenyataan Supit! Bukankah kau telah jatuh hati pada perempuan itu sejak pertama kali kau melihatnya di Madiun. Jangan ingkari kenyataan itu Supit!"
"Memang betul. Tapi dia sudah menjadi kekasih pemuda bernama Mahesa Kelud itu saat itu. Malah kini dia telah jadi istrinya!" menjawab suara hati sang pemuda.
"Kekasih atau istri sekalipun memangnya kenapa?
Hidupmu akan tawar tanpa dia disampingmu. Lalu kalau dia suka pula padamu, tak ada alasan apakah dia kekasih atau istri orang lain. Dengar Supit, kau harus mengambil keputusan sekarang. Kau harus melakukannya sekarang!"
"Apa yang harus kulakukan . . . ?" Lubuk hati Supitmantil mulai terpengaruh.
“Pemuda bodoh! Putar otakmu. Cari akal yang jitu. Kau bisa mengatakan bahwa Mahesa sudah mati. Tewas dibunuh atau karena kecelakaan . .."
"Aku tidak mau melakukan itu. Ini merupakan dosa besar. Aku berkhianat pada sahabat sendiri. Apalagi Mahesa telah menyelamatkan jiwaku waktu perkelahian di gedung Prajadika . . ."
"Ha ... ha ... ha ... !" Suara setan tertawa. "Dia memang telah menyelamatkan jiwamu. Tapi bukankah kau juga pernah menyelamatkan jiwanya dari satu kematian yang mengerikan? Ketika dia di masukkan kedalam sumur tua itu? Malah perempuan cantik yang diam-diam kau kasihi itu kini tak akan ada di depanmu kalau tidak kau dulu membantu menyelamatkannya dari tangan pemuda hidung belang Prajakuncara. Jika ada orang yang berhak atas diri perempuan itu maka orangnya adalah kau sendiri Supit. Tidak lain orang ataupun Mahesa . .."
Sesaat Supitmantil masih tegak termangu di balik pohon besar itu. Sementara di seberang sana Wulansari masih terus menyanyi sambil menyisir rambut. Rambut yang tersisir rapi itu kemudian digelungnya membentuk sanggul. Begitu rambut tersanggul Wulansari gerakkan tangan kanannya. Sisir terbuat dari tanduk yang dipegangnya tiba-tiba sekali melesat ke arah batang pohon, menancap sampai setengahnya, tepat sejengkal di depan hidung Supitmantil, membuat pemuda ini tersentak kaget. Dari arah serambi terdengar suara membentak.
"Maling dari mana yang pagi-pagi sudah kesasar ke puncak Murial"
Sadar kalau orang sudah mengetahui kehadirannya Supitmantil segera keluar dari balik pohon. Sambil melangkah menuju depan rumah dia berkata:
"Aku bukan maling. Aku Supitmantil. Apakah kau masih ingat... ?"
Wulansari menatap wajah pemuda yang tegak di depannya itu. Dia memang mengenali wajah Supitmantil. Tapi lupa bertemu dimana.
"Ingat peristiwa penculikan di Madiun . . . ?" ujar Supitmantil.
"Aih! Kau rupanya ... !" Wulansari kini ingat. Menyadari pemuda itu bukan lain adalah orang yang pernah menolongnya maka dia cepat berdiri.
"Harap maafkan kekasaran ucapanku tadi. Juga lemparan sisir itu. Angin apakah yang membawamu sampai kemari?"
Memandang Supitmantil, Wulansari melihat ada perubahan mendadak pada air muka pemuda ini.
"Ada apakah Supit... ?" tanya Wulansari dengan perasaan tidak enak. Sesaat pemuda itu masih tegak termangu dan membisu. Namun diliang telinganya kembali suara setan berbisik: "Kau sudah memulainya Supit. Kau harus meneruskan. Bukankah kau sangat menginginkan Wulansari? Inilah kesempatan paling baik dan kesempatan ini hanya datang satu kali ..,"
Supitmantil menarik nafas dalam, memandang pada Wulansari dengan air muka sedih, lalu berkata perlahan: "Aku membawa kabar buruk untukmu Wulan . . ."
"Kabar buruk?" Kini wajah cantik perempuan itu tampak berubah. Tiba-tiba saja menjadi pucat. "Kabar buruk apakah?"
"Kuharap kau tabah menerima cobaan ini. . ."
Wulansari jadi tidak sabar. Dadanya berdebar keras. Hatinya makin tidak enak.
"Lekas katakan Supit! Jangan menggantung cerita dengan ucapan-ucapan yang membuat aku tidak enak!"
Supitmantil menggigit bibir baru menjawab :
"Suamimu telah meninggal dunia sekitar satu bulan lalu ..."
Wulansari terpekik. Kedua matanya membeliak, memandang pada Supitmantil. Jika ada kilat menyambar di depan matanya atau guntur menggelegar di samping telinganya, tidak sedemikian kagetnya perempuan ini. Tubuhnya mendadak terasa lunglai, nyawanya serasa lepas. Dia terduduk di lantai serambi, tersandar ke tiang depan.
"Suamiku . . . suamiku meninggal katamu ... ?"
Supitmantil mengangguk. Sepasang mata Wulansari serta merta menjadi basah. Air mata jatuh berderai ke pipinya. Tangis mulai menyamaki tenggorokannya. Mula-mula perlahan, kemudian berubah menjadi ratapan yang menyayat hati. Dalam meratap perempuan ini bertanya: "Katakan apa yang terjadi Supit. Ceritakan padaku . . .
Ya Tuhan! Mengapa ini harus terjadi ... ?!"
"Mahesa tewas di tengah laut. Waktu itu dia baru kembali dari Pulau Mayat. Dalam perjalanan pulang ke daratan Jawa, perahu yang ditumpanginya diserang badai. Seluruh penumpang tenggelam. Ada seorang awak perahu berhasil menyelamatkan diri. Namun kemudian mati juga. Sebelum mati, dari dialah aku mendapat keterangan kematian Mahesa."
"Suamiku meninggal? Mati tenggelam di laut. Ya Tuhan! Betulkah ini...? Betulkah ini Supit..?"
Wulansari terduduk di lantai serambi rumah. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.
"Sebelum berangkat ke Pulau Mayat aku sempat bertemu Mahesa. Dia menerangkan kepergiannya ke sana untuk mendapatkan sebuah pedang . . ."
"Ya . . . dia memang pernah menceritakan hal itu padaku. Mencari sebuah pedang bernama pedang Samber Nyawa. Itu adalah tugas yang diterimanya dari gurunya Embah Jagatnata. Suamiku . . . Mahesa . . . Kenapa dia harus pergi ke pulau itu. Kenapa gurunya memberikan tugas yang mencelakakan dirinya. Dan kini . . . bagaimana dengan diriku . . ."
Wulansari kembali meratap.
"Tabahkan hatimu Wulan. Semua sudah menjadi takdir dan ketentuan Tuhan . . ." Supitmantil berusaha membujuk.
"Tuhan tidak adil . . . Tuhan tidak adil " kata Wulansari berulang kali.
"Jangan berkata begitu Wulan . .."
"Tidak! Tuhan memang tidak adil.. . Aku belum sempat berbakti pada suamiku. Tahu-tahu kini dia pergi! Tuhan benar-benar tidak adil!" jerit Wulansari. Kepalanya dibenturkannya ke tiang serambi. Tiang rumah itu patah Wulansari sendiri kemudian jatuh pingsan!
Ketika Wulansari sadar menjelang tengah hari, sekujur tubuhnya terasa sangat lemah. Kepalanya berat. Dia dapatkan dirinya terbaring diatas ranjang. Keningnya mendenyut sakit. Ketika dirabanya terasa ada luka kecil dan darah yang mengering. Dia memandang ke langit-langit ruangan. Memutar kepalanya kesamping kiri dia melihat sosok tubuh Supitmantil tegak di ambang pintu kamar. Kemudian perempuan ini ingat pada kabar apa yang telah disampaikan pemuda itu. Langsung dia menjerit dan kembali meratap.
"Wulan, aku tahu ini cobaan sangat berat bagimu," berkata Supitmantil. "Namun kau juga harus memperhatikan keadaan dirimu. Jangan sampai sakit . . ."
"Sakit? Matipun aku mau!" menyahuti Wulansari.
"Tak ada gunanya hidup ini lagi. Mahesa . . . Mahesa. Supit menunggu sampai ratap perempuan itu mereda. Lalu dia berkata: "Dari pagi kau belum makan apa-apa. Aku menemukan bahan makanan di belakang dan memasaknya. Kau harus makan .. ."
"Tidak! Aku hanya ingin mati! Ingin mati!" teriak Wulansari. Supitmantil pergi ke belakang. Sesaat kemudian dia membawa sepiring makanan dan secangkir air. Ketika piring itu disodorkannya Wulansari mengambilnya tapi terus saja membantingnya ke lantai.
"Kalau tak mau makan minum sajalah . . ." ujar Supitmantil lalu mengangsurkan tangannya yang memegang cangkir berisi air putih. Wulansari tidak menyambut! malah kembali menangis. Supitmantil meletakkan cangkir diatas sebuah meja kecil. Dia membersihkan lantai yang penuh dengan tumpahan makanan dan pecahan piring lalu mengambil lagi sepiring makanan dan meletakkannya diatas meja kecil. Setelah itu ditinggalkannya kamar itu, duduk dibawah cucuran atap serambi depan. Apa yang harus dilakukannya sekarang. Menunggu sampai perempuan itu tenang. Tapi bagaimana kalau dia bunuh diri? Berarti maksudnya tak akan kesampaian. Memikir sampai disitu Supitmantil cepat-cepat masuk ke dalam rumah kembali.
"Mahesa . . . Mahesa . . ." perempuan itu memanggil-manggil nama suaminya dalam tangisnya. Ketika dilihatnya Supitmantil maka diapun berkata:
"Kau sudah menyampaikan berita malang itu. Mengapa tidak pergi? Mengapa masih disini...?!"
"Aku . . . Mungkin ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu," jawab Supitmantil agak gagap.
"Aku tidak butuh bantuanmu. Aku tidak perlu bantuan siapapun! Pergi! Pergilah dari sini!"
"Wulan, pikiranmu sedang kacau. Tubuhmu letih lemah. Sebagai seorang sahabat tentunya aku tak ingin jika terjadi apa-apa denganmu. Mungkin kau ingin kuantarkan ke pantai di bagian mana Mahesa menemui nasib malangnya ..."
"Suamiku meninggal tak berkubur. Lenyap ditelan laut tak tentu rimbanya. Mahesa . . ." Wulansari memukul-mukul dadanya. Supitmantil cepat pegangi kedua tangan perempuan itu. Terjadi pergumulan. Walaupun Supitmantil seorang pemuda bertenaga kuat, namun masih kalah kuat dengan Wulansari. Tubuhnya hampir toboh ketika satu tendangan menghantam pinggangnya. Pemuda ini melingkar di lantai sambil mengeluh kesakitan. Hari kedua Wulansari masih tidak mau makan. Memasuki hari ketiga tubuhnya semakin lemah dan wajahnya menjadi pucat pasi. Supitmantil menunggui di luar kamar dengan sabar. Setiap pagi dia selalu memasak makanan walau perempuan itu tak pernah menyentuhnya. Namun menjelang siang hari ke tiga
ada tanda-tanda perubahan pada diri Wulansari. Dia merintih minta minum. Sehabis minum, ketika Supitmantil meletakkan makanan disampingnya, dia mau memakannya walau hanya sedikit.

***

Hari ke lima keadaan Wulansari sudah jauh berbeda. Wajahnya yang tadi pucat kini tampak berdarah dan merah kembali. Hanya tubuhnya masih kelihatan lemas karena masih sulit untuk makan. Sepanjang hari dia duduk di serambi rumah, memandang ke arah kejauhan. Tak pernah mau bicara seolah Supitmantil tak ada disitu. Suatu ketika Supitmantil mencoba mengajaknya bicara. "Wulan, kalau aku boleh bertanya apakah kau bermaksud melakukan sesuatu . . . ?"
Perempuan itu tidak menjawab. Kedua matanya memandang ke arah kejauhan seperti menerawang.
"Kau tidak boleh tenggelam dalam kesedihan. Ada baiknya kau meninggalkan puncak gunung ini agar dapat melupakan kedukaan itu. Kemana kau pergi aku ... aku bersedia menemanimu . .."
Sesaat Wulansari masih memandang ke arah kejauhan. Perlahan-lahan kemudian kepalanya dipalingkan ke arah pemuda itu. Dia membuka mulut seperti hendak mengatakan sesuatu. Tapi tak ada suara yang keluar. Hanya air matanya yang bercucuran. Supitmantil duduk di tangga serambi. Hanya terpisah sejarak satu langkah dari perempuan itu.
"Kalau aku ingin pergi... Aku akan pergi sendiri. Tak perlu kau temani . . ." terdengar suara Wulansari perlahan.
"Aku telah kehilangan seorang sahabat bernama Mahesa. Suamimu itu. Aku tak ingin kau bertindak nekad hingga aku kehilangan dua orang sahabat. Itu sebabnya kukatakan tadi, aku bersedia menemanimu kemana kau pergi. Kau masih muda, lebih muda dariku. Masa depanmu masih panjang. Jangan bertindak yang bisa mencelakakan diri sendiri..."
"Tak ada lagi masa depan bagiku. Masa depanku telah tenggelam bersama Mahesa. Tenggelam ke dasar laut.. ."
"Jangan berpikiran sedangkal itu Wulan. Aku sahabat suamimu, juga sahabatmu. Dukamu dukaku juga. Kesedihanmu kesedihanku juga. Jika aku bisa menolong aku akan sangat bahagia . .."
"Apakah kau bisa menolong menghidupkan Mahesa kembali... ?"
"Pertanyaanmu aneh sekali," ujar Supitmantil.
"Mana mungkin aku bisa menghidupkan Mahesa. Malaikatpun tak akan bisa. Hanya saja . . ."
"Hanya saja apa .. .?"
"Kalau aku cukup pantas menjadi pengganti sahabatku yang hilang itu .. ."
Wulansari tiba-tiba melompat dari duduknya.
Sreeettt!
Sinar merah berkiblat. Detik itu tampak perempuan ini tegak memegang Pedang Dewi yang memancarkan sinar merah terang, menatap garang ke arah Supitmantil!

***

SUPITMANTIL tersurut kaget. Parasnya memucat. Dia tahu betul jika Wulansari benar-benar hendak menjatuhkan tangan keras paling lama dia hanya bisa bertahan tiga atau empat jurus. Ketinggian ilmu perempuan itu bukan tandingannya. Apalagi dalam keadaan seperti itu, dia bisa bertindak nekad dan ganas. "Belum empat puluh hari suamiku meninggal. Jenazahnyapun tak pernah ditemukan. Dia mati tak berkubur! Dan kau berani bicara seperti itu!"
Kedua mata Wulansari meskipun basah oleh air mata tapi tampak berapi-api.
"Harap maafkan kalau ucapanku menyinggungmu," Supitmantil cepat-cepat minta maaf. "Bukan maksudku berlaku lancang. Apa yang kukatakan tadi keluar dari hati yang tulus . .." Dalam hatinya pemuda ini mulai merasa ragu apakah maksudnya mendapatkan perempuan itu akan kesampaian. Maka diapun memancing dengan ucapan: "Jika aku memang tidak diperlukan disini, izinkan aku minta diri. Harap maafkan kalau kedatanganku hanya menyusahkanmu. Aku kemari hanya karena menyadari bahwa itu adalah kewajibanku sebagai sahabat mendiang suamimu dan juga sahabatmu . . ."
Wulansari terdiam. Sesaat kepalanya tertunduk. Kemudian perlahan-lahan pedang mustika sakti Pedang Dewi dimasukkannya kembali ke dalam sarungnya.
Supitmantil menarik nafas lega. Terlebih ketika didengarnya Wulansari berkata. "Maafkan kalau aku tadi bertindak dan berkata kasar. Pikiranku sedang kacau. Letih lahir dan batin..."
"Kau memang perlu istirahat. Perlu menenangkan pikiran . . ."
Wulansari menatap paras pemuda itu sesaat. Dibandingkan dengan Mahesa, dalam soal ilmu silat dan kesaktian pemuda ini jauh ketinggalan. Tetapi dalam soal kegagahan paras, dia harus mengakui Supitmantil seorang pemuda yang tampan dan cakap. Wulansari tiba-tiba sadar. Dalam keadaan seperti saat itu, bukan tempatnya dia harus membanding bandingkan Mahesa dengan Supitmantil.
"Apakah kau hendak segera pergi . . . ?" Wulansari bertanya.
"Jika tak ada lagi yang dapat kulakukan disini maka aku akan mohon diri. Hanya harap kau suka mempertimbangkan maksud tulusku tadi..."
"Bukan saatnya membicarakan itu sekarang." kata wulansari pula. Nada suaranya tidak sekeras sebelumnya dan diam-diam Supitmantil melihat adanya satu harapan. Satu harapan yang menjanjikan. Hati pemuda ini berbunga-bunga ketika didengarnya Wulansari bertanya: "Apakah kau mau mengantar aku ke pantai di jurusan mana Mahesa tenggelam?"
"Tentu saja Wulan, kemanapun kau pergi akan kuantar. Kita turun gunung dan mencari dua ekor kuda. Perjalanan ke ujung timur Jawa cukup sulit dan jauh ..."

***

SESAMPAINYA di pantai timur ujung pulau Jawa, tak banyak yang bisa dilakukan Wulansari selain berhari-hari duduk bermenung memandang ke tengah laut. Supitmantil dengan setia selalu menemaninya, malah membangun sebuah gubuk kecil tempat Wulansari berteduh dari teriknya sinar matahari siang hari dan embun dingin pada malam hari. Pada pagi hari ke empat Supitmantil berkata: "Siang malam berada di sini bisa membuatmu sakit Wulan. Kapan kita bisa meninggalkan tempat ini?"
"Terserah padamulah Supit ..." sahut Wulansari. "Aku hanya ingin melepaskan kerinduan pada orang yang tak bakal kujumpai lagi selama-lamanya . . ."
Suara perempuan itu bernada lembut tapi juga mengandung kesedihan yang mendalam. Selama mengadakan perjalanan yang jauh dari puncak Muria sampai ke ujung timur pulau Jawa, Wulansari merasakan hubungannya dengan Supitmantil bertambah dekat dan erat. Dari perasaan hanya menganggap pemuda itu sebagai seorang sahabat penolong, kemudian berubah menjadi rasa suka. Memang agar maksudnya kesampaian Supitmantil sengaja mengajuk hati perempuan itu.
"Makin cepat pergi dari sini makin baik," berkata Supitmantil.
"Ya, tapi aku akan pergi kemana dan kau juga kemana?"
"Sudah kubilang, kemanapun kau pergi aku akan menemani. Mungkin ke kampung halaman . . . ?"
Wulansari menggeleng. "Kedua orang tuaku sudah meninggal. Sanak saudarapun aku tak punya. Mereka semua mati di tangan Suto Nyamat, Adipati Madiun keparat itu. Bagaimana kalau kita ke tempat salah seorang guruku ..."
Sebenarnya Supitmantil tidak menyetujui maksud itu. Namun untuk tidak menimbulkan kecurigaan maka diapun bertanya: "Gurumu yang mana . . "
"Suara Tanpa Rupa. Dia tinggal di sebuah gua karang. Di utara Madiun. Mungkin beliau bisa memberi petunjuk ..."
Maka kedua orang itupun tinggalkan pantai, berkuda menuju ke barat.

***

MASIH cukup jauh dari gua kediaman gurunya seekor anak rusa tiba-tiba muncul dan lari melompat-lompat mendahului kuda yang ditungganginya. "Joko Cilik!" seru Wulansari, ketika melihat anak rusa itu yang kini tambah jauh lebih besar, siap menjadi seekor rusa jantan yang dewasa. Wulan hentikan kudanya, melompat turun dan langsung mendukung menciumi Joko Cilik. "Kau sudah sangat besar Joko. Tubuhmu berat sekali. Tak kuat aku menggendongmu lama-lama. Hai, apakah guru ada di pertapaannya?"
Rusa itu kedip-kedipkan mata. Wulansari tertawa lebar lalu turunkan Joko Cilik dari dukungannya.
"Ayo kau antarkan kami kesana!" Joko Cilik turun ke tanah, sesaat dia mengarahkan kepalanya pada Supitmantil lalu melompat pergi mendahului.
"Apakah itu Joko Cilik, rusa peliharaan gurumu yang sering kau ceritakan?" tanya Supitmantil.
"Ya," sahut Wulansari. "Dia bukan rusa biasa. Memiliki kepandaian silat aneh yang sanggup menandingi jago silat berkepandaian tinggi ..."
Supitmantil mengangguk-angguk. Semakin dekat dia ke gua kediaman Suara Tanpa Rupa semakin tidak enak hatinya. Perasaan was-was menyelimutinya. Khawatir kalau terjadi sesuatu yang bisa membuka kedoknya.

***

Gua karang tempat kediaman Suara Tanpa Rupa hampir tidak berubah sama sekali. Keadaannya bersih. Joko Cilik duduk disudut ruangan, memandang ke arah kedua orang itu. Begitu masuk Wulansari bersimpuh di lantai, menghatur sembah seraya berkata: "Guru, saya muridmu Wulansari datang menyambangimu dan menghatur sembah. Mohon dimaafkan kalau sudah sekian lama baru hari ini murid bisa mengunjungimu . .." Sunyi sesaat. Lalu kesunyian itu dipecahkan oleh satu suara menggema dan menggetarkan seantero ruangan karang.
"Muridku Wulansari, aku gembira melihat kedatanganmu. Kita manusia memang mempunyai kesibukan sendiri-sendiri. Aku tidak marah kalau baru hari ini kau muncul. Itu satu pertanda bahwa kau tidak pernah melupakan kakek-kakek buruk ini . . ."
Suara Tanpa Rupa terdengar tertawa lalu dia bertanya: "Apakah kau ada merawat Pedang Dewi baik-baik ...”
"Saya merawatnya dengan baik guru. Apakah guru ingin melihatnya?" Wulansari hendak mengambil pedang sakti itu dari balik punggungnya. Namun tak jadi ketika mendengar Suara Tanpa Rupa berkata.
"Tak usah Wulan, aku percaya kau merawatnya dengan baik baik. Hari ini kau datang tidak sendirian. Mana suamimu Mahesa Kelud dan siapa pemuda yang datang bersamamu ini. . ?"
Sementara Supitmantil merasa agak sesak dadanya mendengar pertanyaan itu, Wulansari langsung keluarkan suara tangisan.
"Ah, kau menangis muridku. Pasti ada berita buruk yang akan kudengar. . ." kata Suara Tanpa Rupa.
"Benar guru, nasib malang menimpa Mahesa," Lalu Wulansari menuturkan apa yang telah terjadi. Selesai Wulansari memberi keterangan Suara Tanpa Rupa menghela nafas panjang.
"Muridku tabahkan hatimu. Ketahuilah soal nyawa kita manusia adalah rahasia Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia yang memberi kehidupan pada kita dan dia pula yang berhak mengambilnya kembali. Kedukaanmu adalah kedukaanku juga. Kau belum menerangkan siapa pemuda yang datang bersamamu. . ."
"Dia sahabat saya, juga sahabat Mahesa," jawab Wulansari lalu memberi keterangan lebih lengkap tentang diri Supitmantil.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan Wulan? Apa rencanamu?" bertanya Suara Tanpa Rupa.
"Justru kami datang kemari untuk meminta petunjukmu, guru," jawab Wulansari.
"Kami katamu Wulan? Maksudmu kau dan sahabatmu yang bernama Supitmantil ini . . . ?" bertanya Suara Tanpa Rupa untuk mendapatkan ketegasan. Wulansari tak dapat menjawab. Kepalanya tertunduk. Sebaliknya Supitmantil dengan beranikan diri untuk pertama kalinya berkata: "Maksud adik Wulan adalah mengenai hubungan kami berdua."
"Oh begitu . . .?" Suara sang guru bernada datar. Setelah sunyi sejenak maka dia kembali terdengar suara dari tempat yang tak terlihat oleh kedua orang itu. "Bagi seorang lelaki atau seorang perempuan memang kurang baik hidup seorang diri. Apalagi kalau sudah pernah menikah dan kemudian menjadi randa atau duda. Aku yang boleh kalian anggap sebagai pengganti orang tua tidak bisa memberikan kata putus. Aku hanya dapat memberikan doa restu Keputusan adalah ditangan kalian masing-masing. Jika kau Wulan sudah berbulat hati menerima Supitmantil jadi pengganti suamimu yang hilang aku bersedia menikahkan kalian saat ini. Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi saksi..."
Wulansari tidak memberikan jawaban.
"Wulan, kau tak menjawab. Apakah ada sesuatu yang menjadi ganjalan?" tanya Suara Tanpa Rupa.
"Saya . . . saya tidak tahu guru .. ." sahut Wulansari. Suara Tanpa Rupa tertawa. "Perempuan memang selalu begitu. Selalu malu-malu mengatakan ya padahal hati dan perasaannya sama menyetujui. Aku tahu kau menyukai Supitmantil walau saat ini mungkin Kau masih diliputi kedukaan. Namun jika kau suka tidak menjadi halangan bagimu untuk menikahkanmu saat ini..."
Maka Suara Tanpa Rupa lalu menikahkan kedua orang itu, disaksikan Yang Maha Kuasa dan Joko Cilik yang sejak tadi duduk tak bergerak di sudut ruangan. Sebelum keduanya meninggalkan gua karang, sang guru memberi petunjuk agar mereka kembali dulu ke puncak Gunung Muria dan menetap disana selama satu atau dua minggu sebelum menyusun rencana baru. Sebenarnya Supitmantil tak ingin mereka kembali ke Gunung Muria. Bukan saja itu dapat menimbulkan kenangan lama atas kehidupan masa silam bagi Wulansari, tapi yang lebih dikhawatirkannya adalah kalau Mahesa Kelud muncul dengan tiba-tiba. Namun karena Wulansari bersikeras akan mengikuti petunjuk gurunya maka mau tak mau Supitmantil terpaksa juga mengikuti kehendak "istrinya" itu.

***

KITA KEMBALI pada peristiwa pertempuran antara Mahesa Kelud dan Sembilan Biru yang dikeroyok oleh sepasang pengemis kembar. Datuk Ular, Gambir Putih dan Pendekar Kembang Merah. Seperti dituturkan dalam bab sebelumnya meskipun berhasil menewaskan Pendekar Kembang Merah serta Gambir Putih namun hantaman kipas sakti lawan yang berjuluk Pengemis Berkipas Putih membuat Mahesa Kelud terpental jatuh ke dalam jurang batu yang gelap. Sebelumnya Sembilan Biru telah lebih dulu mengalami nasib yang sama! Gema pekik Sembilan Biru yang melayang jatuh ke dalam jurang batu yang gelap terdengar mengerikan. Gadis itu sendiri kemudian jatuh pingsan selagi tubuhnya melayang di udara, ditunggu batu-batu padas keras dibawah sana.
Namun benarlah ujar-ujar orang tua-tua. Sebelum ajal berpantang mati. Soal jiwa manusia adalah kuasanya Tuhan. Selagi tubuh Sembilan Biru yang berada dalam keadaan pingsan itu melayang jatuh dengan deras menuju dasar jurang, dari lamping jurang sebelah kiri yang gelap gulita terdengar suara orang berseru.
"O ladalah! Perempuan manakah yang bernasib jelek, jatuh terjerumus ke dalam jurang malam buta begini?!"
Suara seruan itu keluar dari mulut sebuah goa besar gelap, yang terdapat di bagian tengah dinding kiri jurang batu. Disaat yang sama, dalam kegelapan yang begitu pekat tampak tegak seorang kakek bungkuk di mulut gua. Dia mendongak ke atas. Matanya yang kuyu seolah-olah dapat menembus kegelapan malam. Dan begitu melihat sosok tubuh Sembilan Biru yang melayang jatuh kakek ini goleng-goleng kepala. Tangan kanannya disentakkan ke depan. Segulung benda berbentuk benang putih yang sangat halus melesat menjulur. Secara aneh benang ini kemudian menggulung sekujur tubuh Sembilan Biru mulai dari bahu sampai ke pinggul. Dengan satu gerakan menyentak ke belakang maka terjadilah satu keanehan yang sulit dipercaya. Tubuh Sembilan Biru yang tadi amblas jatuh ke bawah kini terbetot dan melayang ke mulut goa. Si kakek kedut-kedutkan benang yang dipegangnya, tak ubah seperti seorang tengah main layang-layang. Tubuh Sembilan Biru perlahan-lahan jatuh ke lantai goa sebelah dalam. Begitu tubuh Sembilan Biru menggeletak di lantai goa, kakek bungkuk tadi segera mendatangi, lepaskan gulungan benang dan memeriksa.
"Gadis cantik. Kasihan . . ." kata si kakek. Dia melihat ada darah keluar dari hidung dan sela bibir Sembilan Biru. Dipegangnya lengan gadis itu, terasa dingin. Disingkapkannya dada pakaian si gadis. Kelihatan luka dibahu dan tanda biru disekitar dada tanda Sembilan Biru terluka parah di sebelah dalam.
"Siapa yang begitu tega menurunkan tangan jahat pada gadis seperti ini . . ." Si kakek goleng-goleng kepala. Ketika dia hendak mendukung tubuh gadis itu ke dalam goa ke tempat yang lebih baik, tiba-tiba di luar sana dilihatnya ada cahaya merah terang melesat dari atas jurang baru menuju ke bawah.
"Hai! Benda apa pula itu!" seru si kakek heran. Gulungan benang halus yang ada di tangan kanannya disentakkan ke depan. Benang itu melesat laksana anak panah, memapas benda merah yang jatuh, langsung melibatnya. Ketika si kakek hendak menyempatkan menariknya, tiba-tiba sebuah benda lain tampak pula melayang jatuh. Sosok tubuh manusia! Si kakek berseru kaget. Cepat dia gerakkan tangannya yang memegang benang halus. Benang yang sudah melibat benda merah tadi kini bersama-sama benda merah itu bergulung membuntal tubuh yang jatuh. Si kakek sampai memercikkan keringat di keningnya. Bukan karena pekerjaan itu sulit atau berat baginya, tapi saking kagetnya karena dalam waktu susul menyusul malam itu ada dua sosok tubuh yang jatuh ke jurang ditambah sebuah benda mengeluarkan cahaya merah. Sekali sentak saja maka sosok tubuh berikut benda bercahaya merah itu terbetot ke mulut goa. Kembali si kakek mengedut ngedutkan benang halus. Perlahan-lahan sosok tubuh itu jatuh ke lantai goa. Begitu si kakek mendekati maka kagetlah dia.
"Pedang mustika sakti . . . !" serunya dengan pandangan mata tak percaya. Ternyata benda yang mengeluarkan sinar merah itu adalah sebuah pedang sedang sosok tubuh yang tergeletak di lantai bukan lain adalah tubuh Mahesa Kelud. Antara sadar dan tidak pemuda ini berusaha bangun, namun tak mampu. Tubuhnya jatuh kembali langsung pingsan. Si kakek memeriksa. Tak ada darah yang mengucur dari hidung atau mulut pemuda itu. Tapi ketika disingkap dada pakaiannya maka tampaklah dada yang berwarna kebiru-biruan seperti dada gadis yang duluan jatuh itu.
"Luka dalam yang sama . . ." desis si kakek. Sepasang matanya menyipit ketika pada pinggang Mahesa dilihatnya merambas sinar kuning. Ketika disingkapnya pakaian di bagian pinggang pemuda ini maka tampaklah hulu Keris Ular Emas yang memancarkan sinar kuning.
"Pemuda ini tentunya bukan orang sembarangan! Kalau tidak mustahil dia membekal dua senjata sakti begini rupa!"
Si kakek lepaskan gulungan benang yang mengikat Pedang Dewa dan tubuh Mahesa. Untuk beberapa lama dia memperhatikan pedang sakti itu dengan penuh rasa kagum. Dilihatnya ada noda darah di badan pedang. Dia segera maklum, pasti telah terjadi perkelahian sebelumnya. Agaknya si pemuda dan gadis berbaju biru itu berada di pihak yang sama. Si kakek mendekatkan badan pedang ke mukanya lalu meniup perlahan. Noda darah yang ada pada senjata itu serta merta lenyap. Pedang itu kini bersih berkilat seperti baru saja digosok. Dengan hati-hati dimasukkannya ke dalam sarungnya lalu diletakkan di sudut goa.
Di bagian dalam goa terdapat beberapa buah batu besar rata hampir menyerupai meja besar atau tempat tidur. Orang tua itu membaringkan Sembilan Biru di atas batu ujung kanan. Mahesa diletakkannya di atas batu sebelah kiri. Kemudian kembali dia memeriksa keadaan tubuh kedua orang itu. Sambil geleng-geleng kepala dia membatin. "Sepasang muda mudi ini, kalau tidak berkepandaian tinggi pasti sudah menemui ajal akibat keracunan dan luka dalam yang parah. Tapi yang perempuan ini menderita lebih hebat. Aku harus menolongnya lebih dulu. Kasihan . . .kasihan . . . Mengapa di atas dunia ini manusia yang katanya beradab masih saja saling melakukan kekerasan. Tak segan-segan merenggut nyawa sesamanya. Dunia hampir kiamat rupanya!"
Orang tua itu berlutut di ujung batu dimana Sembilan Biru terbaring pingsan. Tampak dia meniup kedua telapak kaki si gadis beberapa kali. Setelah itu dia melakukan tiga kali totokan di kaki kiri dan tiga totokan di kaki kanan. Setelah meniup lagi kedua kaki itu beberapa kali maka diapun berpindah pada Mahesa Kelud dan melakukan hal yang sama. Kemudian orang tua ini pergi ke batu besar di ujung kiri, membaringkan tubuhnya disini. Tak lama kemudian terdengar suara dengkurnya panjang pendek! Si kakek ini tidak tahu berapa lama dia tidur dan akan terus mendengkur kalau tubuhnya yang bungkuk tidak digoyang-goyang orang. Sambil menggeliat dia buka kedua matanya dan berkata setengah mengomel: "Orang masih enak-enakan bermimpi, siapa yang begitu jahil lancang membangunkan?!" Ketika melihat siap yang tegak di samping pembaringan batu, kakek bungkuk ini cepat duduk. "Hai! Kalian berdua dalam keadaan luka parah! Kembali berbaring diatas ranjang batu itu!"
Saat itu sudah pagi. Mahesa Kelud siuman dan pingsannya dan merasakan dadanya sangat sakit. Memandang berkeliling dia dapatkan dirinya berada dalam sebuah goa aneh. Sembilan Biru terbaring di ujung kanannya. Lalu dilihatnya seorang kakek tidur meringkuk dan mendengkur. Di sudut goa tampak tersandar Pedang Dewa miliknya. Dengan susah payah Mahesa melangkah tertatih-tatih mengambil senjata sakti itu. Saat itulah Sembilan Biru sadar pula dari pingsannya dan langsung hendak berdiri. Tapi dia terduduk di pinggiran ranjang batu ketika darah membersit di sela bibirnya. Dadanya mendenyut sakit dan kepalanya terasa berat.
"Dimana kita ini . . . ?" tanya Sembilan Biru lalu pegangi dadanya yang sakit bukan main. Mahesa hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala. Mulutnya terasa kesat dan tenggorokannya panas seperti terbakar. Dadanya sakit bukan kepalang, seperti ditindih batu besar ratusan kati.
"Siapa kakek itu . . huahhh!" Sembilan Biru muntahkan darah kental. Tubuhnya terasa limbung namun dia berusaha agar tetap duduk di tepi ranjang batu. Mahesa Kelud ingat benar. Malam tadi dia menyaksikan Sembilan Biru terpental ke dalam jurang setelah dihantam serangan kipas Pengemis Berkipas Putih. Setelah itu menyusui dirinya. Lalu dia tak ingat apa-apa lagi sampai pagi itu dia siuman dan dapatkan dirinya berada dalam goa misterius bersama Sembilan Biru dan seorang kakek aneh. Apakah si kakek ini pemilik goa tersebut. Mahesa membungkuk, ulurkan tangan lalu menggoyang-goyangkan tubuh si orang tua untuk membangunkannya. Si kakek terbangun sambil mengomel. Ketika melihat Mahesa dan Sembilan Biru tidak lagi terbaring di atas ranjang batu maka dia berteriak memerintahkan agar kedua orang itu kembali ke pembaringan masing-masing.
Mahesa tidak perdulikan teriakan orang tua itu. Malah berkata: "Kek, apa yang terjadi malam tadi?
Kau pasti orang yang telah menolong kami hingga selamat dari kematian di dasar jurang!"
"Kalau kalian tidak mau berbaring, aku tidak akan memberi keterangan! Atau mungkin kalian sudah kepingin buru-buru mati!"
Mau tak mau Mahesa dan Sembilan Biru merebahkan diri kembali diatas batu besar.
"Kami sudah berbaring. Sekarang berilah keterangan," kata Sembilan Biru.
"Bagus! Terlebih dahulu kalian yang harus memberi keterangan. Apa yang terjadi hingga kalian terjerumus ke dalam jurang."
Sembilan Biru hendak menjawab tapi Mahesa cepat memberi isyarat dan beri keterangan tentang perkelahian malam tadi. Hanya dia tidak menceritakan pangkal sebabnya, juga tidak mengatakan siapa-siapa adanya para pengeroyok.
Si kakek manggut manggut. Agaknya diapun tidak mau ambil pusing menanyakan mengapa kedua muda mudi itu sampai dikeroyok dan siapa pengeroyok mereka.
"Kalian tahu, kalian berdua menderita luka dalam yang amat parah. Terutama kau gadis berbaju biru.
Siapa namamu?"
"Orang-orang memanggilku Sembilan Biru .. ."
Si kakek tertawa. "Nama aneh. Tapi apa perduliku!" Dia berpaling pada Mahesa dan menanyakan nama pemuda itu. Mahesa menerangkan siapa dirinya.
"Paling tidak kalian harus tinggal sebulan lebih di tempatku ini. Kau Sembilan Biru, mungkin akan memakan waktu dua bulan sampai lukamu sembuh .. ."
"Jadi benar kau yang telah menolong kami," ujar Mahesa. "Aku berhutang nyawa dan berhutang budi. Aku sangat berterima kasih padamu kek."
"Aku juga," sambung Sembilan Biru. Orang tua itu kembali tertawa. Dia kembali membentak marah ketika melihat Mahesa tiba-tiba bangkit dari pembaringan batu.
"Kek, aku sadar dalam keadaan terluka. Tapi aku tak bisa harus mendekam disini selama sebulan. Biar aku pergi. Aku harus menemui seseorang yang telah lama kutinggal. Istriku..."
"Kau sayang istrimu. Tapi tak sayang nyawa sendiri! Manusia tolol macam apa kau? Jika kau mati apa kau kira akan bisa melihat istrimu?"
Mahesa Kelud terdiam mendengar ucapan orang tua itu. Namun walau bagaimanapun dia tak mungkin berlama-lama di dalam goa itu. Dia tahu si kakek bermaksud sangat baik terhadapnya. Tapi dia sudah sangat rindu terhadap Wulansari. Dalam perjalanan ke Muria dia bisa mengobati sendiri luka dalamnya.
"Maafkan aku kek. Aku harus pergi ..." kata Mahesa seraya berdiri.
"Terserah kaulah!" kata si kakek tak acuh. Mahesa melangkah ke mulut goa. Sampai di mulut goa dia jadi bingung sendiri. Dihadapannya membentang jurang batu yang luas dan dalam. Goa dimana dia berada terletak pada lamping jurang yang merupakan dinding tinggi tegak lurus. Tak ada jalan menuju ke bawah apalagi menuju ke atas jurang. Mahesa jadi terkesima beberapa lama. Bagaimana dia mungkin dapat meninggalkan goa tersebut. Dia berpaling pada si kakek dan bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana si kakek bisa keluar masuk goanya? Mustahil kalau dia tak pernah meninggalkan goanya. Pasti ada jalan rahasia atau satu cara yang luar biasa. Mahesa memperhitungkan, bagaimanapun tingginya ilmu seseorang, tak mungkin dia sanggup
memanjat menuju ujung jurang sebelah atas, apalagi keluar dari jurang dengan jalan melompat.
Si kakek tampak senyum-senyum. "Jika kau merasa sanggup memanjat dinding jurang itu, silahkan pergi..." katanya.
"Kau sendiri, bagaimana bisa keluar masuk ke dalam goa ini?" tanya Mahesa.
"Itu satu rahasia yang tidak bisa kukatakan padamu sekarang. Kau masih ingin pergi.. . ?"
Mahesa menggigit bibir. "Aku menyerah," katanya.
Si kakek tertawa mengekeh.
"Kami ingin tahu bagaimana kau menyelamatkan kami waktu jatuh ke dalam jurang!" terdengar Sembilan Biru berkata.
"Betul!" menyambung Mahesa. Orang tua itu keluarkan segulung benang sutera putih yang sangat halus. "Aku menolong kalian dengan ini!" katanya. Mahesa terbelalak. Sembilan Biru ternganga. Tentu saja sulit mereka dapat mempercayai keterangan si kakek. Mahesa malah berkata: "Jangankan dengan benang, batangan besipun belum tentu dapat menahan deras dan beratnya daya tubuh kami yang jatuh . . ."
"Kalau begitu terpaksa harus kuperlihatkan sesuatu padamu. Harap kalian jangan anggap aku tua bangka sombong!"
Habis berkata begitu orang tua ini melangkah ke belakang salah satu batu besar berbentuk tempat tidur. Dia memandang pada Mahesa dan Wulansari yang terbaring diatas batu sambil menyeringai. Tangan kanannya mengambil gulungan benang dari dalam saku pakaiannya. Selagi kedua muja mudi itu bertanya-tanya apa yang hendak dilakukan orang itu, si kakek tiba-tiba tendang batu besar berbentuk tempat tidur dengan kaki tangannya yang kurus kering. Dan terjadilah satu hal yang hebat!
Batu besar yang beratnya ratusan kati itu, laksana sepotong papan lapuk, mencelat ke luar goa, melayang diatas jurang batu! Mahesa dan Wulansari saking kagetnya sama-sama tegak berdiri dari atas pembaringan batu walaupun dada masing-masing terasa sakit.
Sambil bersiul-siul kecil si kakek gerakkan tangan kanannya yang memegang gulungan benang sutera berwarna putih. Benang ini melesat laksana anak panah ke luar goa, langsung menggelung batu besar hitam yang saat itu siap melayang jatuh ke bawah. Cepat dan aneh sekali gerakan menggelung benang sutera itu hingga dua pertiga batu hitam besar terbungkus. Sebelum melayang ke bawah si kakek menyentakkan tangan kanannya. Batu hitam yang tergelung benang tertarik ke belakang, memasuki mulut goa terus masuk ke dalam. Dengan beberapa kali kedutan batu berat itu jatuh perlahan-lahan ke tempatnya semula tanpa mengeluarkan sedikit suarapun!
"Kakek! Kau hebat sekali!" seru Mahesa yang tak dapat menahan rasa kagumnya yang amat sangat sementara Sembilan Biru tegak ternganga seolah tak percaya akan apa yang barusan disaksikannya.
Mendengar seruan Mahesa Kelud orang tua itu berpaling lalu membentak seperti marah: "Hai! Siapa yang suruh kalian berdiri! Lekas berbaring kembali kalau mau sembuh!"
Maka Mahesa dan Sembilan Biru pun kembali merebahkan diri diatas pembaringan batu. Begitulah, mulai hari itu Mahesa Kelud dan Sembilan Biru tinggal di goa batu tersebut, berada dalam perawatan si kakek. Satu bulan berlalu. Luka dalam yang diderita Mahesa sudah hampir sembuh. Sebaliknya Sembilan Biru masih jauh dari sembuh. Ini disebabkan karena daya tahan atau kekuatan tubuhnya dibanding dengan Mahesa jauh lebih lemah, demikian pula tingkat tenaga dalamnya berada di bawah Mahesa. Sehingga meskipun terkena pukulan yang sama namun si gadis menderita lebih parah. Jadi perlu waktu lebih lama untuk mengobatinya. Suatu pagi Mahesa menemui si kakek yang saat itu menyibukkan diri menggulung-gulung benang suteranya.
"Ah, tidak biasanya kau duduk dihadapanku seperti ini. Pasti ada sesuatu yang hendak kau katakan. Atau mungkin kau ingin bertanya " ujar si kakek. "Dua-duanya kek. Bertanya dan bicara," sahut Mahesa. Ketika orang tua itu manggut-manggut maka pemuda itu meneruskan kata-katanya. "Pertama, telah sekian lama aku dan juga Sembilan Biru merasa cukup sehat, namun sampai hari ini pula kami belum mengetahui siapa kakek ini sebenarnya. Jika bernama siapa namanya, jika bergelar siapa gelarnya . .."
Orang tua itu tertawa sambil main-mainkan gulungan benang.
"Setiap manusia dilahirkan tentu bernama. Nama yang diberikan orang tuanya. Tapi aku tidak bernama karena tidak punya orang tua . .."
Saat itu Sembilan Biru sudah duduk pula disamping Mahesa.
"Bagaimana pula kakek ini, masakan kau tidak punya orang tua?"
"Begitulah nasibku!" “Aku . . . menurut orang yang menceritakan padaku, entah bagaimana tahu-tahu berada dalam sebuah goa di rimba belantara. Dalam keadaan masih bayi tentunya. Nah, dalam keadaan seperti itu siapa pula yang memberikan nama padaku? Temanku dalam goa itu hanya binatang melata seperti ular, kalajengking. Ada juga tikus dan cacing. Tapi yang paling banyak laba-laba . - "
Sampai disitu si kakek kembali tertawa.
"Kalau kau memang tak bernama tak jadi apa.
Tapi pasti orang sehebatmu punya gelar atau julukan dalam dunia persilatan . . ." kata Sembilan Biru. Si kakek tersenyum kecil. "Dunia persilatan . . ." katanya perlahan. "Sudah sangat lama aku meninggalkan dunia itu. Dunia yang hari demi hari semakin penuh keributan, penuh silang sengketa dan penuh kebusukan. Tak usahlah kuberitahu gelar atau julukanku para anak muda. Aku malu karena Cuma gelar buruk belaka .. ."
Sadar orang tak mau menerangkan tentang dirinya maka Mahesa mengatakan maksud pembicaraannya yang kedua pada si kakek.
"Kek, berkat perawatan dan pengobatanmu aku sudah merasa sembuh. Tadi malam aku bermimpi melihat rembulan disambar petir. Sampai saat ini hatiku merasa tak enak. Aku ingin segera pergi ke puncak Muria untuk menemui istriku. Kuharap kau berkenan mengizinkan . . ."
Orang tua itu mengangguk. "Mimpi adalah bunga tidur. Jangan sekali-kali kau mempercayainya Mahesa. Jika kau memang sudah merasa sembuh dan ingin pergi, tak ada halangan. Kau boleh pergi. .."
"Saya juga ingin pergi kek . . ." kata Sembilan Biru.
"Oh kau . . . ?" Orang tua itu tertawa lebar dan lalu geleng-geleng kepala. "Luka dalammu masih jauh dari sembuh. Paling tidak kau harus tinggal di sini satu bulan lagi. . "
"Aduh lamanya . .. !" keluh Sembilan Biru.
"Demi kesembuhanmu. Kecuali kalau kau tak sayang diri . . ."
Sembilan Biru terdiam. Bagaimanapun apa yang dikatakan si kakek memang betul. Sebenarnya hatinya terdorong hendak pergi karena mendengar Mahesa hendak meninggalkan goa itu.
"Jika kau berkenan kek, aku minta diri sekarang juga," kata Mahesa.
"Ya ... ya, kau boleh pergi!"
Mahesa menjura hormat lalu berdiri. Setelah berdiri dia tetap saja tegak ditempatnya. Sesekali dia berpaling pada Sembilan Biru.
"Hai, mengapa belum pergi juga? Apa kau hendak mengajak serta gadis ini?" tanya si kakek.
"Tidak kek. Hanya saja aku .. . aku tak tahu mana jalan keluar. .." jawab Mahesa.
"Hai! Apa kau buta. Itu jelas mulut goa di sebelah depan sana . .."
"Betul. Tapi diluar goa, yang ada dinding batu tegak lurus, tak mungkin dipanjat ke atas atau melompat ke bibir jurang batu di seberangnya!" jawab Mahesa bingung.
Orang tua itu tertawa. Dia mendekati Mahesa. Kaki kanannya tiba-tiba bergerak menendang. Persis seperti dia menendang batu besar dulu, maka tubuh Mahesa terlempar ke luar goa, melayang di jurang batu. Sembilan Biru keluarkan pekik tertahan. Si kakek tenang-tenang saja. Mahesa tampak jungkir balik di atas jurang sana. Sekali si kakek menggerakkan tangan kanannya, maka gulungan benang melesat menyusul tubuh Mahesa Kelud, langsung bergulung membungkus si pemuda. Sesaat kemudian Mahesa merasakan tubuhnya seperti dilentingkan ke atas. Dia melayang jauh ke atas seperti hendak menembus langit. Di lain kejap tubuhnya telah keluar dari jurang lalu perlahan-lahan turun ke tanah berbatu-batu di pinggiran rimba belantara, tepat dimana dia bersama Sembilan Biru dulu dikeroyok oleh Datuk Ular dan kawan-kawannya.
"Orang tua itu benar-benar luar biasa!" memuji Mahesa sambil seka keringat dingin yang mengucur di tengkuknya, gamang dilemparkan jauh-jauh secara aneh begitu rupa. Ketika dia meneliti tubuhnya, astaga! Gulungan benang yang tadi membuntal badannya telah lenyap!

***

PAGI ITU langit tampak mendung. Angin bertiup kencang. Supitmantil berdiri diambang pintu rumah kayu, memperhatikan Wulansari istrinya berkemas-kemas. Hatinya gembira akhirnya Wulansari bersedia juga meninggalkan tempat kediamannya itu. Selama ini Supitmantil selalu merasa khawatir kalau-kalau Mahesa Kelud tiba-tiba muncul. "Kita berangkat sekarang Wulan?" tanya Supitmantil. Wulansari mengangguk. Dibetulkannya letak Pedang Dewi yang tersisip di balik punggung. Walaupun kini sudah jalan lebih dari dua bulan dia menjadi suami lelaki itu, namun bayangan Mahesa Kelud, suaminya yang pertama yang disangkanya benar-benar sudah mati tidak dapat pupus dari ingatannya. Dia merasa bersyukur bahwa Supitmantil ternyata seorang suami yang sangat baik, lemah lembut tutur cakapnya hingga keperihan hati akibat kehilangan Mahesa Kelud cukup terhibur meskipun dia tahu cintanya terhadap Supitmantil tidak sebesar cintanya terhadap Mahesa.
"Hai! Mendung sekali cuaca. Dan angin begini kencang. Sebentar lagi pasti turun hujan!" seru Wulan sari ketika dia sampai diberanda rumah. "Bagaimana kalau kita tunggu biar hujan turun lebih dulu. Begitu berhenti baru kita berangkat."
Supitmantil yang sudah tidak sabar dan ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu merangkul bahu wulansari seraya memandang ke langit lalu berkata:
"Cuaca memang agak buruk. Tapi hujan tak segera turun. Paling cepat setelah kita sampai di kaki gunung. Sebaiknya kita berangkat sekarang saja Wulan."
Wulansari akhirnya mengikuti juga kemauan suaminya. Untuk terakhir kali dia memandangi rumah kayu di puncak gunung Muria itu. Hatinya terasa pilu. Dia akan meninggalkan rumah penuh kenangan. Entah kapan akan kembali lagi kesitu. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Mari Wulan ..." bisik Supitmantil.
Sambil berpegangan tangan kedua orang itu menuruni serambi rumah, melangkah ke ujung kiri halaman dimana tertambat dua ekor kuda. Ketika Supitmantil hendak membantu Wulansari naik ke atas kuda tiba-tiba terdengar satu seruan yang luar biasa mengejutkan baik Wulansari apalagi bagi Supitmantil. Mukanya sepucat kain kafan!
"Wulan! Aku datang!"
Sebelum gema seruan itu lenyap sesosok bayangan berkelebat. Di lain kejap Mahesa Kelud tegak enam langkah di depan kedua orang itu, menatap dengan pandangan mata aneh.
"Mahesa! Kau ... !"
Wulansari terpekik. Jelas ada kegembiraan pada wajahnya namun lebih banyak terlihat bayangan ketidak mengertian.
"Mahesal Betul kau ini. . . ?!"
"Wulan . . . Ada apa? Apakah matamu tidak melihat hingga tidak mengenali diriku lagi?" tanya Mahesa tanpa bergerak dari tempatnya tegak. Ingin dia memeluk istrinya itu, tetapi entah mengapa dia tetap diam.
"Aku tidak buta! Aku melihatmu dengan jelas Mahesa. Tapi . .. Tentu Tuhan telah menyelamatkanmu dari malapetaka itu!" Wulansari hendak lari untuk menubruk dan merangkul Mahesa Kelud. Namun detik itu pula dia sadar akan keadaan dirinya yang telah menjadi istri Supitmantil. Maka perempuan ini merasakan tubuhnya berguncang, dadanya bergeletar. "Ya Tuhan! Bagaimana semua ini bisa terjadi ...?!"
Meskipun tambah heran mendengar ucapan istrinya namun Mahesa menjawab: "Betul Wulan, Tuhan telah menyelamatkanku sewaktu terpental masuk jurang batu!"
"Jurang batu ... ?" Wulansari mengulang.
"Ya . . . Jurang batu!" sahut Mahesa. "Bukankah itu malapetaka yang kau maksudkan? Kulihat ada Supitmantil disini. Dan kalian berdua seperti bersiap-siap hendak meninggalkan tempat ini...
Di atas mereka langit tambah mendung. Udara tambah gelap. Angin bertiup kencang menimbulkan suara bersiuran. Di kejauhan kilat menyambar. Rambut Mahesa Kelud berkibar-kibar. Dia teringat pada mimpinya dulu. Rembulan disambar petir! Guntur menggelegar. Puncak gunung Muria bergetar! Tapi lebih keras getaran yang ada di dada ke tiga orang itu.
"Mahesa! Ya Tuhan . . . Kalau saja aku tahu kau masih hidup!" Wulansari meratap. "Bagaimana mungkin bisa terjadi .. ."
"Memangnya siapa yang mengatakan aku mati Wulan? Katakan, apa arti semua ini?!" Mahesa maju, tapi hanya satu langkah.
"Menurut Supit kau tewas dalam kecelakaan di tengah laut. Jenazahmu tak pernah ditemukan. Dia..dia . . . Wulansari berpaling ke arah Supitmantil sambil menuding dengan jari telunjuk kirinya pada lelaki yang jadi suaminya itu. "Dia . . . meminta aku jadi istrinya. Karena tak ada harapan lagi bahwa kau masih hidup aku . . . aku .. ."
"Jadi saat ini sebenarnya kau telah jadi istrinya?" tanya Mahesa dengan suara bergeletar.
Wulansari tak bisa menjawab. Tubuhnya meluncur ke bawah dan jatuh berlutut.
"Kalau begitu dia telah sengaja menyusun cerita dusta!"
Rahang Mahesa Kelud menggembung. "Aku menyesalkan kau begitu mudah percaya dan tidak menyelidik . . ." Saat itu Mahesa Kelud merasakan seolah-olah dadanya telah berubah menjadi sekam yang siap meledak oleh kobaran api. Kedua matanya membeliak merah memandang pada Supitmantil.
"Manusia keparat! Ternyata kau hanya seekor srigala berbulu domba. Pengkhianat terkutuk! Kupatahkan batang lehermu!"
Mahesa Kelud melompat ke depan. Kedua tangannya terkembang laksana seekor macan yang hendak menerkam mangsanya.
"Tunggu dulu!" seru Supitmantil seraya berkelit menghindar. "Aku akan terangkan pada kalian.."
"Keparat! Manusia penipu! Biar roh busukmu yang memberi keterangan pada setan neraka!" teriak Wulansari. Tubuhnya yang berlutut tiba-tiba melompat. Sinar merah berkiblat. Ternyata
perempuan ini telah mencabut pedang sakti Pedang Dewi. Tetapi dia bukan menyerang ke arah
Supitmantil, melainkan memapas serangan Mahesa Kelud!
"Bagus! Kau memang patut membela suamimu!" teriak Mahesa marah. Hatinya benar-benar hancur melihat kenyataan ini walaupun kemudian Wulansari balas berteriak dengan keras.
"Aku tidak membela dajal busuk itu! Aku tak ingin kau membunuhnya! Dia harus mampus di tanganku!"
Selagi Mahesa dan Wulansari terlibat pertengkaran sengit itu, Supitmantil yang sudah lumer nyalinya pergunakan kesempatan untuk melompat ke punggung kuda. Namun sebelum dia sempat membedal binatang itu, Wulansari sudah lebih dulu berkelebat dan kirimkan satu bacokan ganas. Supitmantil melompat dari punggung kuda. Sesaat kemudian terdengar ringkik binatang itu ketika Pedang Dewi ditangan Wulansari membabat lehernya, membuat luka menganga yang amat besar. Darah menyembur. Kuda yang malang ini kemudian lari menghambur namun ambruk tersungkur ke tanah setelah lari beberapa belas tombak, meringkik keras untuk penghabisan kalinya lalu terkapar tak bernafas lagi!
Saat itu hujan mulai turun. Petir menyambar berulang kali disusul suara gelegar guntur. Begitu meloncat dari kuda dan lolos dari sambaran pedang Wulansari. Supitmantil berkelebat ke balik sebatang pohon. Maksudnya hendak terus melarikan diri dibawah hujan lebat serta kabut yang menutup pemandangan. Tapi dua sosok tubuh lebih cepat dari gerakannya langsung menghadang. Di sebelah kanan Mahesa Kelud, di sebelah kiri Wulansari.
"Wulan! Kau sungguhan hendak membunuhku?!" tanya Supitmantil dengan suara bergetar.
"Keparat terkutuk sepertimu apakah masih pantas hidup dimuka bumi ini?!"
"Siapapun diriku, aku adalah suamimu' Suami yang syah!"
"Suami jahanam! Kau memperistrikanku karena menipu!" Wulansari maju satu langkah.
"Kalau kau membunuhku, bagaimana dengan benih bayi yang kini kau kandung"
Wulansari tersentak. Tapi hanya sesaat lalu dengan pekik mengerikan dia tusukkan Pedang Dewi ke arah perut Supitmantil. Mahesa yang sedianya juga hendak menyerbu masuk mendadak sontak merasakan tengkuknya dingin ketika mendengar ucapan Supitmantil tadi. Jadi bagaimanapun caranya mereka ternyata mereka memang kawin syah bahkan Wulansari kini tengah hamil, mungkin hamil muda sekitar satu atau dua bulan! Menghamili anak hasil hubungannya dengan Supitmantil! Kalau tadi dalam kemarahan nya dia ingin sekali membunuh Supitmantil saat itu juga, maka kini dia jadi bingung sendiri. Supitmantil jelas salah besar karena telah menipu Wulansari untuk dapat memperistrikannya. Tetapi perempuan itupun tidak lepas dari kesalahan yaitu kurang periksa dan dalam waktu singkat mau saja menerima Supitmantil jadi suaminya, seolah-olah kecintaannya terhadap dirinya hanya tinggal kenangan belaka. Lalu siapa pula yang mengawinkan mereka? Jika dia membunuh Supitmantil, tegakah dia melihat Wulansari hidup menjadi janda, memelihara seorang anak tanpa ayah?
Bagaimanapun besarnya amarah Mahesa terhadap Wulansari namun rasa cinta tetap ada di lubuk hatinya meskipun kini mungkin hanya seperti pelita kehabisan minyak. Mahesa Kelud yang tertegun dalam gelegak marah serta kebingungan itu baru sadar ketika didepannya terdengar jerit Supitmantil. Dibawah hujan lebat tampak pakaian putih lelaki itu basah oleh air hujan dan ada cairan merah. Darah! Sementara sinar merah pedang ditangan Wulansari menyambar bergulung-gulung. Supitmantil tak kuasa untuk melarikan diri, juga tak mampu menghindar dari serangan ganas perempuan yang lebih dari dua bulan telah jadi istrinya. Luka besar menganga di dada kanannya, lalu satu tusukan menghantam bahu sebelah kiri. Supitmantil terhuyung-huyung. Luka pedang menimbulkan hawa panas di sekujur tubuhnya. "Wulan . . . Aku mohon jangan bunuh aku. Aku mohon Wulan . .." pinta Supitmantil meratap. Tak ada belas kasihan apalagi kasih sayang dihati Wulansari. Malah ratapan lelaki itu membakar amarahnya. Pedangnya membabat, membacok dan menusuk berulang-ulang. Supitmantil yang sudah tidak berdaya dan memang tidak memiliki kepandaian silat yang dapat menyelamatkan dirinya terhuyung kian kemari menjadi bulan-bulanan serangan pedang hingga akhirnya tubuhnya terkapar di tanah mandi darah. Mulutnya masih tampak bergerak, megap-megap, berusaha bernapas dan masih meratap minta dikasihani. Tapi tak ada suara yang keluar, selain rintihan. Bagian hitam bola matanya lenyap. Kedua mata itu kini membeliak putih menatap ke langit yang masih terus menumpahkan hujan. Wulansari memekik beringas. Pedang Dewi di tangan kanannya ditusukkan dalam-dalam ke leher Supitmantil hingga menembus sampai ke tanah. Wulansari tak berusaha mencabut senjata itu, seperti sengaja membiarkannya terus tertancap di leher Supitmantil, lelaki yang disangkanya benar-benar sangat mengasihinya, tetapi ternyata srigala berbulu domba yang telah menipu dan menghancurkan hidupnya.
Ketika dia membalikkan tubuh, pandangannya membentur Mahesa Kelud. Ingin sekali dia memeluk Mahesa dan menangis di dada lelaki itu. Tapi dia merasakan dirinya seperti seonggok sampah kotor yang tak layak melakukan hal itu. Maka dibawah hujan lebat Wulansari lari ke rumah, menjatuhkan diri di tangga serambi dan menangis dengan kedua tangan ditutupkan ke wajah. Mahesa Kelud melangkah mendekati mayat Supitmantil, mencabut pedang sakti yang menancap di lehernya lalu menendang mayat lelaki itu hingga mental jauh ke lereng gunung. Pedang Dewi kemudian diletakkannya di tangga serambi, di samping Wulansari. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan oleh Mahesa selain bertekad meninggalkan tempat itu membawa segala kesengsaraan dan kehancuran hatinya. Sebenarnya ingin dia mengatakan sesuatu pada Wulansari, namun bibirnya terasa berat dan lidahnya seperti kelu kaku. Dia hanya bisa memandangi Wulansari beberapa jurus lamanya. Ketika membalikkan diri hendak pergi, dibawah deru hujan lebat dan tiupan angin keras tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Murid-muridku! Tabahkan hati kalian menghadapi cobaan yang besar dan berat ini . !"
Wulansari turunkan kedua tangannya yang menutupi muka dan memandang ke depan. Sedang
Mahesa cepat membalik.
"Guru!" seru keduanya hampir bersamaan Keduanya menjura hormat.
Di halaman sana, dibawah hujan lebat tegak seorang sangat tua, berambut putih laksana kapas.
Mukanya meskipun tua tapi masih licin, janggut dan kumisnyapun juga putih. Di bahu kirinya kelihatan seekor anak rusa. Orang tua ini bukan lain adalah si Suara Tanpa Rupa. Guru yang telah mewariskan sepasang pedang sakti serta ilmu Dewa Pedang Delapan Penjuru Angin kepada Mahesa dan Wulansari.
"Kalian berdua dengarlah ..." Suara Tanpa Rupa kembali berkata. "Jika ada manusia paling bersalah dalam persoalan kalian, orang itu itu adalah aku si tua buruk ini. Mahesa . . . aku telah menikahkan istrimu dengan Supitmantil tanpa melakukan penyelidikan. Aku benar-benar merasa bersalah .. ."
Terdengar tangis Wulansari meninggi. Mahesa tegak termangu lalu berkata: "Guru, tak ada yang salah dalam hal ini. Mungkin semua ini sudah takdir dan kehendak Tuhan . .. Kita manusia hanya menerima nasib."
Suara tangis Wulansari semakin memilukan.
"Tak lama setelah aku menikahkan mereka, ada timbul satu kecurigaan dalam hatiku. Namun karena ada satu pekerjaan yang harus kurampungkan, baru saat ini aku bisa muncul disini. Ternyata kedatanganku sudah terlambat..."
"Guru, apa pun yang telah terjadi aku tetap menghormatimu," kata Mahesa. Dia mengusap mukanya yang basah oleh air hujan lalu menyambung:
"Guru, izinkan aku pergi sekarang . . ."
"Tunggu, jangan pergi dulu muridku," kata Suara Tanpa Rupa.
Saat itu Wulansari telah berdiri sambil pegangi Pedang Dewi di tangan kanan dan sarungnya di
tangan kiri. Dia melangkah kehadapan Suara Tanpa Rupa seraya berkata: "Guru, aku merasa tidak layak lagi memegang senjata sakti ini. Diriku terlalu kotor. Biarlah kuserahkan kembali padamu . .."
"Tidak muridku. Apa yang telah kuberikan padamu tetap menjadi milikmu. Masukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya Mari kita bicara di dalam rumah ..."
Wulansari menggeleng, suaranya terbata-bata. Tak jelas apa yang dikatakannya kemudian. Matanya sekilas memandang pada Mahesa Hatinya hancur luluh. Apa yang tadi diucapkan Mahesa dan keinginan lelaki itu untuk pergi jelas memberi kenyataan padanya bahwa Mahesa tidak lagi mengharapkan dirinya. Lalu apakah gunanya hidup ini dengan setumpukan kesalahan dan dosa yang membungkus dirinya?
Segala sesuatunya kemudian terjadi cepat sekali. Baik Mahesa, maupun Suara Tanpa Rupa yang
berada dekat dengan Wulansari tak mampu mencegahnya, ketika perempuan itu tiba-tiba sekali menusukkan pedang merah sakti itu ke dadanya.
"Wulan!" seru Mahesa seraya melompat ke depan. Suara Tanpa Rupa masih sempat memegang ta ngan muridnya Tapi keduanya tetap sama terlambat Ujung pedang telah lebih dulu menancap, menembus sampai setengah tubuh Wulansari. Kedua matanya menatap ke arah Mahesa. Pandangan itu kemudian berbinar-binar sayu. Ketika Mahesa mendukung tubuhnya ke dalam rumah, sepasang mata yang dulu bagus menawan itu kini terkatup terpejam dan tak akan pernah lagi terbuka. Dari langit hujan turun semakin lebat, semakin deras. Seolah-olah turut meratapi apa yang terjadi di puncak gunung Muria itu.

*** TAMAT
Selanjutnya:

Thanks for reading Srigala Berbulu Domba I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
Anonymous
Admin
02/12/2015, 12:53 Hapus

waduh panjang amat ya mas artikelnya, saya amankan dulu mas, biar bisa ngulang ngulang baca nya :)

Balas
avatar
Sonny Ogawa
Admin
02/12/2015, 13:10 Hapus

Namanya juga Cersil mas...tentu saja panjang...:D

Balas
avatar
02/12/2015, 17:32 Hapus

ini harus dibaca ya.. pernah denger kisah mahesa ini, tapi lebih terkenal wiro sableng ya karya bistian tito ini mas

Balas
avatar
Sonny Ogawa
Admin
02/12/2015, 23:03 Hapus

iya mbak...masa cuma di lihatin aja...:D

Iya betul..yang lebih popular dari karya Alm. Bastian Tito adalah Wiro Sableng

Balas
avatar

Silahkan berikan sarannya untuk artikel diatas tanpa spam