Pedang Pusaka Naga Putih Jilid 14

PEDANG PUSAKA NAGA PUTIH JILID 14

Kini giliran Tan Un Kiong menuturkan pengalamannya. “Sebagai seorang keturunan perajurit sejati, ayah sangat mengutamakan kesetiaan kepada pemerintah. Ia berpendirian bahwa betapapun bentuk pemerintah yang diabdinya, seorang perajurit harus membelanya dengan setia, siap mengorbankan jiwa raganya. Aku tak dapat menyalahkan sikap ini yang menurut pendapatku betul juga. Karena itulah maka biarpun aku merasa bersimpati akan perjuangan para patriot bangsa, namun sebagai putera seorang kapten barisan penjaga istana raja, aku tak berani berhubungan dengan mereka. Lagi pula, menurut pendapatku, raja yang memerintah tidaklah demikian jahat sebagaimana banyak disangka orang. Ia hanya terpengaruh oleh hasutan para durna yang jahat. Ayah sangat benci kepada para durna ini, teristimewa kepada Co Thaikam yang makin lama makin besar pengaruhnya. Ayah sangat sedih memikirkan keadaan kaisar.” Demikian Un Kiong memulai penuturannya.

Kemudian ia mengatakan bahwa ayahnya pernah berkata kepadanya tentang adanya bisikan bahwa Co Thaikam bermaksud hendak memberotak! Memang thaikam ini telah pengaruhi para pembesar tinggi sehingga kaisar seakan-akan terkurung. Mendengar hal ini dan karena kasihan melihat kesedihan ayahnya juga karena berkali-kali ayahnya menyatakan penyesalannya bahwa Un Kiong demikian tolol.

Pemuda itu diam-diam mulai melakukan penyelidikan terhadap penghuni Istana Putih yang ia tahu adalah kaki tangan Co Thaikam. Pernah ia menggeledah semua kamar tapi hasilnya nihil. Kebetulan sekali ia dapat mendengar kejumawaan Kek Kong Tojin sehingga ia memberanikan diri mencuri dokumen-dokumen itu, tepat pada waktu Heng-san Koai-hiap Lie Bun Tek bertempur dengan tiga iblis wanita.

Setelah berhasil memasuki kamar Hong Ing di mana memang ia tahu terdapat sebuah jalan rahasia, ia yang merasa tertarik dan suka kepada nona ini, membujuknya lari. Maksud Un Kiong hendak membawa dokumen yang di antaranya terdapat rencana pemberontakan Co Thaikam itu terhadap Istana raja dan membongkar rahasia busuk ini kepada raja!

Ia sengaja memakai kedok agar tak dikenal oleh para penghuni Istana Putih dan kaki tangannya, karena kalau sampai ketahuan tentu ayahnya berada dalam bahaya dan akan mereka musuhi.

Ketika tiba giliran Hong Ing bercerita, sebelumnya nona ini sambil memegang lengan Pauw Lian, berkata dengan suara manja.

“Cici harap maafkan aku sebanyak-banyaknya karena telah berlaku kurang ajar padamu. Sebenarnya aku... aku iri melihat kecantikan dan kepandaianmu,” sampai disini ia mengerling kepada Han Liong “Dan nanti sewaktu-waktu kuharap cici suka mengajar Ilmu pedang padaku.”

“Ah, bukankah kau sudah mempunyai seorang kawan yang dapat mengajarmu dan yang kepandaiannya tidak terkalahkan olehku?” Pauw Lian balas menggoda dengan kerlingan mata ke arah Un Kiong.

Godaan ini mengenai tepat, tapi dasar cerdik. Hong Ing bahkan dapat membelokkan godaan ini untuk menggoda Un Kiong dengan berkata,

“Kau maksudkan saudara Tan Un Kiong? Aah, bukankah ia pemuda tolol yang tak mengerti apa-apa? Ketahuilah, pernah ia meniru-niru aku belajar ilmu pedang dengan gerakan-gerakan seperti seorang badut!”

Mendengar ini semua orang tertawa, tak terkecuali Khouw Sin Ek, hanya Un Kiong saja yang membesarkan matanya kepada Hong Ing, tetapi mukanya merah karena malu! Diam-diam Hong Ing merasa suka kepada Pauw Lian yang ternyata juga bersifat jenaka dan suka main-main seperti dia pula.

Heng-san Koai hiap Lie Bun Tek meneeritakan riwayatnya sendiri dan sumoinya secara singkat.

********************

Di puncak Gunung Heng-san terdapat sebuah bio (kelenteng) tua yang sederhana, di mana terdapat seorang pertapa wanita yang sudah tua. Pertapa. wanita ini bukan lain ialah sumoi dari Kam Hong Siansu, yang bernama Kui Giok Ciu Suthai. Ilmu kepandaian Kui Giok Ciu Suthai ini tinggi sekali, terutama ilmu pedangnya.

Sebenarnya ketika mudanya diantara Kui Giok Ciu dan Kam Hong Siansu kedua kakak beradik seperguruan ini, terjalin tali asmara yang erat. Tapi sungguh mengharukan sekali, hubungan mereka terputtus karena kecurangan seorang pemuda yang merasa iri hati dan menggunakan siasat jahat sehingga suheng dan sumoi yang saling menyinta itu pada suatu hari sampai dapat ditipu dan merasa cemburu kepada yang lain.

Pemuda curang itu tidak berhenti sampai di situ saja, bahkan ia dapat bertindak demikian jauh dan membuat mereka berdua pada suatu hari mengadu Ilmu pedang di atas bukit Kam-hong-san! Ternyata kepandaian mereka berimbang dan biarpun sudah bertempur hampir semalam penuh sampai melebihi ribuan jurus belum juga kelihatan siapa yang lebih unggul.

Kam Hong Siansu yang ketika itu masih bernama Bun Sin Wan menggunakan Pek-Liong-pokiam dan memainkan Pek-liong-kiamsut, sedangkan Kui Giok Ciu menggunakan Ouw-liong-Pokiam dan memainkan Ouw-Liong-kiamsut. Ilmu pedang mereka memang secabang, hanya terdapat perbedaan sifat saja karena suhu mereka memang sengaja mencipta kedua ilmu pedang itu khusus untuk murid wanita dan murid laki-laki yang dua orang itu.

Suhu mereka adalah seorang pertapa aneh yang mengasingkan diri dan hanya mereka kenal dengan sebutan Bu Beng Lojin atau Orang Tua Tak Bernama. Orang aneh ini, mempunyai sepasang Pedang Pusaka Naga Putih dan Naga Hitam! Dan kedua pedang itu ia berikan kepada kedua muridnya dengan pesan agar pedang itu kelak diberikan kepada murid-murid yang benar-benar bertulang bersih dan berjiwa luhur.

Agaknya memang sudah merupakan sumpah keturunan bahwa siapa saja yang memegang kedua pedang itu tentu terlibat dalam urutan asmara. Demikianpun Kui Giok Ciu dan suheagnya. Diam-diam hati mereka tertusuk panah asmara sehingga mereka tak berdaya lagi. Tapi ikatan yang seharusnya mendatangkan kebahagiaan ini, hancurlah oleh kecurangan pemuda she Gak yang juga seorang ahli silat tinggi dari cabang Bu-tong.

Akhirnya kedua suheng dan sumoi itu sadar juga akan kecurangan Gak Bin Tong dan mereka berdua mencarinya lalu membunuhnya. Tapi hubungan mereka telah renggang, di sudut hati kecil mereka telah dikotori sakit hati dan kekecewaan. Namun, agaknya mereka masih merasa berat dan saling setia sehingga mereka berdua bersumpah takkan kawin dengan orang lain dan tinggal membujang selama hidup dan hidup sebagai pertapa di atas gunung!

Bun Sin Wan bertapa di atas bukit Kam-hong-san dan memakai nama Kam Hong Siansu dan Kui Giok Ciu bertapa di atas bukit Heng-san dan disebut Kui Suthai. Mereka berdua bertapa sambil memperdalam Ilmu pedang mereka dan mereka telah berjanji akan menurunkan kepandaian kepada seorang murid dan kemudian murid mereka akan menetapkan siapa yang lebih unggul!

Ternyata kemudian bahwa murid Kam Hong Siansu yang mewarisi Pek-Liong Kiamsut dan Pedang Pusaka Naga Putih adalah Si Han Liong, sedangkan yang mewarisi Ouw-Liong Kiamsut dan Pedang Pusaka Naga Hitam adalah Pauw Lian. Selain Pauw Lian, pertapa wanita itu masih menerima seorang murid lagi, yakni Lie Bun Tek, seorang yatim-piatu yang hidup terlunta-lunta dan tersesat naik ke Gunung Heng-san.

Melihat anak itu bertulang baik dan patut dijadikan seorang pendekar, Kui Giok Ciu Suthai memungutnya dan mendidiknya. Tapi karena Ilmu Pedang Naga Hitam hanya diperuntukkan seorang saja, maka ia tidak memberi pelajaran ilmu pedang kepada muridnya ini, sebaliknya menurunkan ilmu silat joan-pian yang lihai dan yang tingkatnya hanya sedikit lebih rendah daripada Ouw-Liong Kiamsut.

Demikianlah, Heng-san Koai-hiap Lie Bun Tek menuturkan riwayatnya, tentu saja ia tak menuturkan riwayat gurunya di atas karena ia tidak tahu akan hal itu. Sebaliknya Pauw Lian juga diam saja dan tidak banyak menuturkan keadaan diri dan asal-usulnya, karena ia merasa malu kepada Han Liong. Hanya kadang-kadang ia mencuri dengan kerlingan mata ke arah pemuda itu, dan dengan tajam matanya menatap Pedang Pusaka Naga Putih yang tergantung di punggung Han Liong. Sebetulnya, siapakah nona Pauw Lian ini?

********************

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Marilah kita ikuti riwayatnya secara singkat. Ketika Kui Giok Ciu sambil memegang Pedang Pusaka Naga Hitam berpisah dari Bun Sin Wan dengan hati patah akibat asmara gagal, ia terjun ke dalam kalangan kang-ouw dan melakukan hal-hal yang menggemparkan.

Dengan pedang hitam di tangan, ia binasakan Lima Iblis dari Keng-liat yang terkenal jahat, mengobrak-abrik sarang kawanan penjahat dan perampok di Bukit Heng-san yang dikepalai oleh si Raja Naga Teng Lok, pergi ke atas Kun-lun-san dan dengan ilmu pedangnya mengalahkan semua cabang atas dari cabang Kun-lun, lalu seorang diri mengambil kepala durna Tui Keng Hok yang berpengaruh besar dan terkenal jahat pemeras rakyat.

Masih banyak hal-hal luar biasa ia lakukan untuk melampiaskan sakit hati dan kekecewaannya akibat asmara gagal. Kemudian ia memilih bukit Heng-san sebagai tempat pertapaan dan semenjak itu ia menyembunyikan diri di gunung itu. Bertapa dan memperdalam ilmu pedangnya Ouw-liong Kiamsut karena khawatir kalau-kalau kelak muridnya tak dapat melawan murid suhengnya!

Ia bertapa semenjak masih gadis remaja berusia tak lebih dari dua puluh tahun sampai menjadi seorang nenek berusia lima puluh tahun lebih.

Pada suatu hari, dengan tak disengaja Kui Giok Cin melihat bayangan sendiri di dalam telaga dan ia menjadi terkejut melihat bayangan tubuhnya merupakan seorang nenek tua yang telah putih rambutnya! Tak terasa ia menangis tersedu-sedu dan ia terkejut pula ketika teringat bahwa ia belum mempunyai murid.

Maka pergilah ia turun gunung dengan maksud mencari murid. Baru saja ia menuruni bukit Heng-san di dalam sebuah hutan ia melihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih lima belas tahun roboh di bawah pohon Siong besar dalam keadaan sakit.

Anak muda itu ternyata adalah Lie Bun Tek, seorang anak yatim piatu yang hidup sebatang kara dan terlunta-lunta. Pada saat itu ia menderita sakit dan rebah tak berdaya dalam hutan itu. Kul Giok Ciu Suthai merasa kasihan sekali melibat kesengsaraan anak muda itu dan ia teringat akan keadaan dan nasib sendiri. Maka ia segera menolongnya dan memberi obat dan setelah Lie Bun Tek sembuh, ia pesankan kepada anak itu untuk menjaga tempat pertapaannya selama ia pergi.

Maka ia kembali pergi mencari murid. Ia maklum bahwa Lie Bun Tek adalah seorang anak yang bertubuh bersih dan mempunyai dasar yang baik untuk menjadi orang gagah. Sebenarnya takkan kecewa kalau ia mempunyai murid seperti anak itu, tapi sayang bahwa Lie Bun Tek bukanlah seorang wanita, sedangkan Ouw-liong Kiamsut harus diturunkan kepada seorang murid wanita sebagaimana yang selalu ia cita-citakan.

Selama lima tahun Kui Suthai merantau dalam usahanya mcncari seorang anak yang pantas menjadi muridnya. Ia tidak ingat untuk pulang ke atas Gunung Heng-san sebelum berhasil mendapat seorang murid yang cocok.

Pada suatu hari ketika ia melalui sebuah hutan, ia mendengar suara orang berteriak minta tolong. Ia mempercepat langkahnya dan menuju ke arah suara itu. Di atas lapangan rumput ia melihat seorang laki-laki sedang berkelahi melawan empat orang yang mengeroyoknya. Seorang yang berpakaian pelayan roboh bermandikan darah dan rupanya ialah yang berteriak-teriak minta tolong tadi.

Kepandaian orang yang dikeroyok itu cukup baik tapi menghadapi empat orang yang bersenjata golok sedangkan ia sendiri bertangan kosong, ia kelihatan sibuk juga. Tubuhnya telah penuh dengan luka-luka, tapi ia masih bisa melawan dengan gigihnya. Di dekat itu kelihatan sebuah kereta kecil dan seorang anak perampuan yang baru berusia kurang lebih lima tahun berseru-seru kepada ayahnya yang sedang dikeroyok.

“Ayah, pukul, ayah, pukul mereka!” Kedua tangannya yang kecil terkepal erat-erat dan sepasang matanya yang bening menyala-nyala.

Melihat keadaan mereka, Kui Suthai segera bertindak. Sekali ia berkelebat dan menggunakan kedua tangan dan kakinya, tubuh keempat penjahat itu terlempar jauh dan roboh tak dapat bangun lagi!

Laki-laki yang dikeroyok itu tak tahu apa yang telah terjadi. Ia hanya melihat bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu keempat musuhnya menjerit dan terlempar jatuh dan tidak bangun lagi. Tadi ia tak sempat memikirkan itu semua karena kepalanya terasa pusing dan tubuhnya lemah. Ia telah mengeluarkan terlampau banyak darah. Dengan langkah lemah lunglai ia menghampiri anaknya, tapi sebelum sampai di kereta anaknya itu, ia telah roboh terguling.

“Ayah!” Anak perempuan itu menjerit dan meloncat dari atas kereta lalu memeluk tubuh ayahnya yang penuh dengan darah.

Ternyata laki-laki itu idalah Pauw Bin Siong, seorang pedagang kecil yang baru saja ditinggal mati isterinya dan sedang menuju ke kampung halamannya dengan seorang anak dan seorang pelayan. Ia bermaksud pindah ke kampung sendiri agar dapat bersatu dengan orang tuanya agar anaknya ada yang merawat.

Pauw Bin Siong menderita luka terlampau berat dan sejak tadi mengeluarkan banyak darah, maka Kui Suthai melihat keadaannya hanya bisa goyang-goyang kepala saja. Tak berapa lama lagi Pauw Bin Siong yang bernasib malang itu meninggal dunia dalam pelukan anak perempuannya yang baru berusia lima tahun itu!

Anak perempuan itu bernama Lian dan semenjak saat itu ia menjadi yatim piatu dan dibawa oleh Kui Suthai keatas gunungnya. Memang pandangan mata Kui Suthai tajam dan tepat. Ternyata bahwa Pauw Lian adalah seorang anak perempuan yang cerdik dan pandai.

Ketika tiba di atas Gunung Heng-san, Kui Suthai girang sekali melihat bahwa Lie Bun Tek, pemuda yang dulu disuruhnya menjaga pertapaan, ternyata masih berada di situ seorang diri! Tapi sungguh kasihan, pemuda itu menderita kesedihan ditinggal seorang diri, dan penderitaannya demikian hebat hingga tubuhnya menjadi kurus dan rambut di kepalanya telah berubah putih semua!

Melihat kesabaran dan kesetiaannya, Kui Suthai merasa sangat terharu dan ia turunkan Ilmu silet joan-pian kepada pemuda itu dan ia belajar dengan rajin. Tapi, sebentar saja ia ketinggalan oleh sumoinya, Pauw Lian yang benar-benar cerdik dan berbakat itu.

Telah beberapa kali Kui Suihai menyuruh Lie Ban Tek turun gunung melakukan tugas menolong sesama manusia yang tertindas dan yang sengsara, hingga Lie Bun Tek menjadi terkenal dan digelari orang Heng-san koai-hiap atau Pendekar Aneh dari Heng-san.

Karena Pauw Lian masih sangat muda juga adatnya agak keras tak mau kalah. Kui Suthai tak memperkenankan gadis itu turun gunung biarpun berkali kali Pauw Lian memohon kepada gurunya untuk sekali-kali ikut suhengnya.

Waktu berlalu cepat dan dengan tak terasa Pauw Lian telah menjadi seorang gadis berusia sembilan belas tahun. Ia sangat cantik jelita hingga gurunya makin sayang padanya. Melihat bahwa semua dasar ilmu silat tinggi telah dimiliki muridnya, maka ia turunkan ilmunya yang terakhir, ialah Ouw liong Kiamsut.

Ketika ia memberikan pedang Ouw-liong pokiam kepada Pauw Lian, ia menyuruh gadis itu bersumpah, Kemudian ia memberitahu kepada muridnya itu bahwa biarpun Ouw-liong Kiamsut boleh menjagoi di kalangan kang-ouw, namun masih ada tandingannya, yakni Pek-liong Kiamsut. Dan ia ceritakan kepada muridnya akan hal suhengnya yang kini bertapa di Kam-hong-san dan bergelar Kam Hong Siansu dan bahwa suhengnya itu mempunyai sebuah Padang Pusaka Naga Putih.

Secara menyindir iapun menceritakan betapa ia sudah berjanji dengan suhengnya itu untuk menetapkan mana yang lebih unggul antara Ouw-liong Kiamsut dan Pek-liong Kiamsut. Ia hanya pesan kepada muridnya agar berlaku sangat hati-hati jika menghadapi Pek liong Kiamsut.

Biarpun telah menjadi seorang pertapa yang menjauhkan diri dari dunia ramai, Kui Suthai mempunyai jiwa patriot dan ia tidak senang melihat kedua muridnya menjadi orang tak berguna. Maka diperintahkannya kedua muridnya itu turun gunung dan membantu gerakan kaum pembela rakyat yang gagah perwira. Tentu saja Pauw Lian merasa girang sekali, karena ini adalah yang pertama kalinya ia turun gunung.

Di bawah bimbingan suhengnya yang sudah berpengalaman, Pauw Lian mulai melakukan tugas mulia bersama-sama suhengnya dan banyak rakyat yang telah menerima budi mereka. Kemudian mereka tiba di kota raja dan Lie Bun Tek mendengar akan hal istana putih. Ia menyuruh sumoinya tinggal di rumah penginapan dan menanti di sana sedangkan ia sendiri pergi menyelidik di istana putih yang terkenal itu.

Dan dengan sangat kebetulan ia mendengar kesombongan Kek Kong Tojin yang bercerita tentang turut surat rahasia itu. Maka ia menjadi sangat girang dan mencoba merampas surat-surat itu yang berarti membantu perjuangan kaum patriot. Tapi tak tersangka bahwa pada saat itu muncul seorang berkedok yang mendahuluinya dan yaug ternyata adalah Tan Un Kiong, pemuda yang mengagumkan itu.

Lie Bun Tek mengakhiri ceritanya dengan berkata, “Tak kami sangka sama sekali bahwa pemuda berkedok yang lihai itu bukan lain juga orang segolongan sendiri yang hendak membela rakyat. Biarpun di sini terdapat sedikit perbedaan di antara Si Taihiap dengan Tan Taihiap, yakni seorang memusuhi kaisar dan yang seorang tidak, namun pada dasarnya serupa yakni membela rakyat yang tertindas!”

“Menurut pendapatku, surat-surat penting itu harus diserahkan kepada Si-taihiap.” Pauw Lian tiba-tiba berkata dengan suara tetap.

Semua orang memandangnya dan Han Liong memandangnya dengan heran.

“Pauw Lian cici mengapa berlaku segan-segan? Bukankah kau sudah tahu bahwa Han-ko ini murid dari supeh-mu? Jadi kau bukanlah orang luar, tetapi masih terhitung sumoi-nya. Mengapa kau sebut dia taihiap-taihiapan!” tegur gadis jenaka itu sambil melonjongkan mulutnya yang manis.

Bukan main sibuknya Pauw Lian ketika itu. Seluruh mukanya yang jelita dan berkulit putih bersih itu tiba-tiba saja menjadi merah sampai ke telinganya. Han Liong ketika melihatnya dan diam-diam ia membelalakkan matanya kepada Hong Ing yang ketika melihat sikapnya ini lalu mencibir kepadanya!

Untuk menolong Pauw Lian yang bingung karena pukulan Hong Ing tadi, Han Liong berkata tenang, “Pauw sumoi, adikku berkata betul. Tetapi, kau tadi berkata bahwa surat-surat itu harus diserahkan kepadaku, mengapa dan apakah alasanmu?”

Pauw Lian menghela nafai panjang dan memandang kepada pemuda itu dengan berterima kasih. “Begini,” katanya kemudian, “Si suheng telah bergabung dengan orang-orang gagah di kalangan kang-ouw untuk melakukan maksud besar dan menghancurkan pemerintah asing yang menjajah. Justeru surat-surat ini perlu sekali untuk usahanya yang suci itu. Memang Tan taihiap juga mempunyai alasan kuat untuk memiliki surat-surat itu, namun bila dipertimbangkan lagi, alasannya hanya berdasarkan kepentingan pribadi, sedangkan Si suheng mendasarkan alasannya memiliki surat itu untuk kepentingan rakyat jelata dan perjuangan suci.”

Semua orang mendengar kata-kata yang lancar dan bijaksana ini dengan kagum, tetapi Un Kiong diam-diam mengerutkan keningnya, Hong Ing yang bermata tajam dapat melihat sikap pemuda 'tolol' itu.

“Aku tidak sependapat dengan Pauw cici!” tiba-tiba Hong Ing berkata dengan gagah dan tegas. Kini semua oranglah yaag menatap wajahnya. “Kita orang-orang gagah harus menempatkan keadilan di atas semua hal. Apa artinya gagah kalau tidak adil? Jangan kira hanya mementingkan keperluan diri sendiri lalu lupakan kepentingan orang lain. Saudara Tan Un Kiong telah bersusah payah merampas surat-surat ini dan tak dapat disangkal lagi dialah yang berhasil merampasnya hingga dia yang berhak memilikinya sebelum dirampas oleh orang lain.”

Sampai di sini, semua orang memandangnya heran, tak terkecuali Han Liong yang berpikir apakah yang hendak ditelurkan oleh adiknya yang nakal ini? Sementara itu, Pauw Lian yang suka berkata jujur dan berterus terang, segera bertanya.

“Eh, eh, adik Hong Ing rupa-rupanya hendak mengadu orang? Kau maksudkan bahwa kami atau seorang diantara kami harus merampas surat-surat itu dengan kekerasan dari tangan Tan-taihiap?”

Kedua mata Hong Ing yang jernih seperti mata burung Hong Itu melebar. “Hai, jangan terburu nafsu, cici! Masakan sesama kita harus saling cakar? Maksudku dengan kata-kata sebelum dirampas oleh orang lain ialah sebelum dirampas kembali oleh pihak lawan. Aku katakan orang lain, apakah kalian semua ini termasuk orang lain? Maka jika surat-surat itu semuanya diserahkan kepada Han-ko, kurasa kurang adil terhadap saudara Tan Un Kiong. Alasannya cukup kuat. Ayahnya seorang pembesar setia dan jujur, sedangkan dia sebagai seorang putera hendak berbakti kepada ayahnya. Bukankah alasan ini cukup mulia dan kuat?”

Tiba tiba Han Liong tersenyum. Diam-diam ia merasa sangat girang karena rupanya adiknya yang bengal ini suka kepada pemuda she Tan itu!

“Hm, baru kali ini aku mendengar kau membela orang demikian mati-matian!”

Kata-kata ini diucapkan dengan suara sungguh-sungguh, tapi pada wajah Han Liong yang cakap terbayang senyum penuh arti hingga semua orang dapat mengerti maksudnya dan tertawa sambil memandang wajah Hong Ing.

Gadis ini cukup cerdik dan ia tahu kemana maksud kata-kata kakaknya. Wajahnya menjadi merah dan dengan muka asam ia lalu cubit lengan kakaknya dengan keras hingga Han Liong berteriak kesakitan. Orang-orang yang melihat sikap mereka demikian mesra dan gembira sebagai kanak-kanak, diam-diam ikut merasa senang.

“Kalau tidak ada orang lain, pasti aku sudah putar telingamu. Enak saja kau menggoda orang. Awas, lain kali kalau ada kesempatan jangan katakan aku keterlaluan kalau aku membalas mempermainkan kau. Bukan maksudku untuk begitu saja menyerahkan surat-surat kepada saudara Tan Un Kiong dan melupakan tugat dan kepentinganmu, tapi usulku ialah begini. Kita periksa surat-surat itu, mana yang penting bagi keperluan saudara Tan boleh dia ambil, sedangkan yang penting bagi kau boleh kau ambil. Bukankah ini namanya adil?”

Han Liong dan yang lain mengangguk-angguk. “Ka memang cerdik,” Han Liong memuji.

Tapi Un Kiong tak setuju. “Memang usul ini baik dan adil sekali,” katanya, “Tapi bila aku membawa surat tentang pemberontakan yang direncanakan Co Thaikam itu saja tanpa surat-surat lain yang berupa amanat kaisar, aku khawatir kaisar takkan mudah percaya begitu saja. Beliau sangat teliti dan kalau sampai aku tidak dipercaya, maka mudah bagi Co Thaikam mempengaruhi Kaisar dan sebaliknya ayahku akan mendapat celaka.”

Hati Liong berkata kepada Khouw Sin Ek yang semenjak tadi hanya diam saja, mengusap-usap jenggotnya yang putih sambil sekali-kali tersenyum gembira melihat tingkah anak-anak muda itu.

“Khouw Lo-enghiong, tolonglah memberi petunjuk kepada teecu semua. Bagaimanakah baiknya hal surat-surat itu harus diatur?”

Sio-chiu Tai-hiap Khouw Sin Ek berkata tenang. “Aku orang tua sebenarnya tidak mengerti tentang urusan ini. Tapi mendengar alasan-alasan yang diajukan, memang kedua-duanya mempunyai alasan kuat. Sayang surat-surat itu tidak bisa dibagi-bagi menurut kepentingan masing-masing sebagaimana yang diusulkan oleh nona Hong Ing ini. Tapi, kurasa para kaki tangan Co Thaikam itu tentu takkan berani cepat-cepat menjalankan rencana mereka karena surat-surat telah berada di tangan orang lain. Mereka tentu akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari dan merampas kembali surat-surat ini yang bagi mereka bukan hanya sangat penting, juga sangat berbabaya.”

Tiba-tiba Han Liong teringat sesuatu. Ia bangun berdiri dan berkata girang. “Bukankah besok malam Go-gwee Cap-go. Ah, sungguh aku lupa. Aku justeru bertugas mengundang orarng-orang gagah berkumpul di bukit Beng-san pada Go-gwee Cap-go. Maka, harap cuwi sudi menunda dulu soal surat-surat ini dan marilah kita menuju ke Beng-san untuk menghadiri pertemuan orang-orang gagah yang kami undang. Kurasa, soal surat-surat inipun dapat dibicarakan dan diputuskan di sana. Tan lauwte kuharap sukalah menunda kepentingannya barang dua hari dan ikut menghadiri pertemuan penting ini.”

Tan Ui Kiong tadinya merasa ragu-ragu, tetapi tiba-tiba Hong Ing berkata girang, “Tentu saja saudara Tan suka ikat pergi. Kesempatan untuk bertemu dengan para hohan yang berkumpul, belum tentu akan didapatkan untuk kedua kalinya selama hidup. Koko Han Liong, kau jangan tanya aku lagi mau atau tidak pergi ke sana. Pendeknya, aku ikut pergi!”

Han Liong tertawa dan dengan hormat mengundang Khouw Sin Ek, Pauw Lian serta Lie Bun Tek. Semua setuju dan beramai-ramai mereka berangkat menuju ke gunung Beng-san, tempat kediaman Beng-san Tojin Pauw Kim Kong, seorang di antara guru-garu Han Liong, karena tempat inilah yang sudah ditentukan untuk pertemuan itu.

Memang Pauw Kim Kong Malaikat Rambut Putih pandai sekali memilih tempat kediaman. Beng-san adalah sebuah bukit yang subur dan penuh dengan pohon-pohon hijau menyegarkan. Juga tempat ini sangat sejuk hawanya, tidak terlalu dingin, karena tidak terlalu tinggi. Sehingga matahari dapat menembuskan cahayanya diantara mega-mega tipis. Penduduk di sekitar gunung itu semuanya hidup dari hasil pertanian, karena tanah disitu memang baik dan subur.

Ketika rombongan Han Liong tiba di situ, ternyata sebagian besar orang-orangg gagah telah berkumpul. Han Liong merasa girang sekali karena dapat bertemu dengan semua gurunya. Melihat bahwa Khouw Sin Ek ikut datang bersama Han Liong, semua orang merasa gembira sekali dan mereka menyambut cianpwe ini dengan penuh penghormatan karena diantara semua yang hadir boleh dibilang Khouw Sin Ek adalah dari golongan tertua.

Yang hadir pada saat itu antara lain adalah. Siok Houw Sianseng, Beng-san Tojin Pauw Kim Kong, Kim-to Bie Kong Hosiang. Liok-tee Sin-mo Hong In, Siauw-lo-ong Hce Bin Kiat, dan Yu Leng In.

Dari golongan muda, selain Han Liong, Hong Ing, Ui Kiong, Pauw Lian, dan Lie Bun Tek, tampak pula Bhok Kian Eng dan Lie Kiam murid-murid Liok-tee Sin-mo, juga hadir Bie Cauw Giok murid Beng-san Tojin.

Orang-orang gagah yang diundang oleh Han Liong dan tampak hadir adalah, Lok Twie Hwesio wakil Siauw-lim, Pak Ciok Tojin seorang ahli pedang Kun-tun-pai, Khu Bu Souw ahli waris ilmu silat keturunan keluarga Khu yang terkenal lihai, Bing Hwa Suthai dari bukit Leng-san dengan muridnya Coa Li Lian yang bergelar Burung Kepinis Merah, Kok Tiang Lojin seorang gagah bergelar Pengemis Malaikat karena ia selalu berpakaian seperti seorang pengemis, dan masih banyak lagi orang-orang gagah yang ternama pada masa itu.

Diantara undangan-undangan lain tampak pula Lima Pendekar tua dari Keng-ciu yang bernama Lok Ho, Lok Thian, Lok Kim, Lok Eng, dan Lok Kiat. Ngo-lohiap ini terkenal dengan Ngo-heng-tin atau Barisan Lima Elemen, yakni ilmu silat yang dilakukan oleh mereka berlima dan yang jika dimainkan dapat mengimbangi kekuatan lawan yang berapapun banyaknya!

Kang-ciu Ngo-lohiap ini mengiringkan seorang tua yang sikapnya agung dan terkenal sebagai seorang patriot sejati juga memiliki kepandaian tunggal, yakni permainan toya yang disebut Sin-coa-kun-hwat atau Ilmu Toya Ular Dewa. Orang tua ini bernama Souw Kwan Pek dan ia adalah seorang panglima dalam barisan Gouw Sam Kwie dahulu.

Tak heran semua orang menghormatnya sebagai seorang pahlawan pembela rakyat yang gagah perkasa. Kelima saudara Lok itu sengaja mengiringkannya karena mereka seakan-akan mewakili daerah Selatan dan Barat untuk mengangkat Souw Kwan Pek ini sebagai bengcu atau kepala dari perserikatan pemberontak yang baru.

Ketika Han Liong mcmperkenalkan kawan-kawannya yang muda kepada semua suhunya, Pouw Kim Korg memandang Pouw Lian dengan mata terbeliak dan wajah pucat. Han Liong tahu perobahan air muka suhunya ini, maka dengan cepat ia raba lengannya.

Pouw Kim Kong dapat mengendalikan perasaannya dan menjadi tenang kembali, tapi ketika ada saat terluang, ia memberi tanda kepada Han Liong agar mengikutinya ke ruang belakang di mana tidak terdapat tamu.

“Han Liong, tolong panggil nona Pouw Lian ke sini,” kata orang tua itu sambil merebahkan dirinya di atas sebnah kursi dengan tubuh lemas karena terlalu lama ia menahan tekanan perasaannya.

Han Liong memandang heran, tapi ia segera melaksanakan perintah gurunya itu. Pauw Lian pun merasa heran juga tapi ia datang juga, diikuti oleh Hong Ing yang tak mau terpisah darinya.

Ketika tiba di kamar itu, lagi-lagi Pauw Kim Kong menatap wajah gadis jelita itu hingga Pauw Lian yang tadinya merata heran, kini memperlihatkan wajah tak senang dan ia beranggapan orang tua itu kurang sopan.

“Nona Pauw Lian, maafkan jika aku mengganggumu. Tapi, kau mengingatkan aku akan seseorang yang yang kukasihi. Kau... coba sebutkan nama ayahmu padaku,” kata Pauw Kim Kong.

Biarpun merasa heran, namun Pauw Lian menjawab juga. “Almarhum ayahku bernama Pauw Bin Siong.”

Pauw Kim Kong menghela nafas dalam-dalam. “Benar... benar... dunia ternyata tak sangat besar. Nona... tahukah kau siapa aku? Pauw Bin Siong yang kau sebut ayahmu itu bukan lain ialah kakakku sendiri!

Pauw Lian terkejut dan mengangkat kepalanya memandang.

“Aku, Pauw Kim Kong, hanya mempunyai seorang saudara, tapi semenjak kau lahir, aku memisahkan diri mengejar ilmu. Dulu aku tinggal serumah dengan orang tuamu, maka aku kenal baik wajah ibumu yang serupa benar denganmu. Maka tadi ketika aku melihat kau. aku merasa seakan-akan berhadapan dengan ensoku sendiri. Aku ... aku sudah mendengar tentang kematian orang tuamu dan sudah lama aku pergi mencari-carimu tak kusangka sama sekali bahwa kita akan bertemu, di tempat ini..."

Karena merasa terharu, Si Malaikat Rambut Putih menundukkan kepala untuk menyembunyikan mukanya yang berobah karena keharuannya itu. Sekarang Pauw Lian melihat tegas persamaan wajah almarhum ayahnya. Tanpa merasa ragu-ragu lagi ia maju berlutut di depan Pauw Kim Kong sambil memeluk kakinya, dan menangis tersedu-sedu...

Thanks for reading Pedang Pusaka Naga Putih Jilid 14 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »