Pedang Pusaka Naga Putih Jilid 15

PEDANG PUSAKA NAGA PUTIH JILID 15

“Siokhu...” hanya sebutan ini saja yang dapat keluar dari mulut Pauw Lian yang tersendat itu, karena parasaan terharu hatinya bertemu dengan seorang yang masih ada hubungan keluarga dengannya.

Melihat Pauw Lian menangis, Hong Ing tak dapat pula menahan hatinya lagi dan ia pun ikut terharu tanpa dapat pula dicegah. Namun ia masih dapat menenangkan perasaan Pauw Lian sambil memeluknya dan berkata,

“Eh, ah mengapa? Bertemu dengan seorang paman bukannya bergembira, bahkan menangis!" Tetapi air matanya sendiri mengalir meleleh di kedua pipinya.

Maka paman dan keponakan itu segera saling menuturkan riwayat masing-masing dan Pauw Kim Kong merasa bangga sekali mendengar bahwa keponakannya ternyata menjadi murid dari Kui Giok Ciu Suthai yang namanya pernah menggegerkan kalangan kang-ouw si Malaikat Rambut Putih maklum bahwa setelah mewarisi senjata Pedang Pusaka Naga Hitam yang hebat itu, keponakannya yang jelita ini tentu mempunvai kepandaian yang lebih tinggi dari dia sendiri!

Diam-diam ia mengadakan perbandingan antara Pauw Lian dengan Han Liong dan hatinya merasa senang sekali. Pada malam Go-gwee Cap-go, saat pertemuan yang telah ditetapkan, di puncak Gunung Beng-san itu berkumpul kaum persilatan hingga lebih dari lima puluh orang, Siok Houw Sianseng mendapat kehormatan untuk memimpin rapat pertemuan itu.

Di tengah-tengah pekarangan yang luas itu didirikan sebuah panggung dan Siok Houw Sianseng mengadakan sembahyang untuk menghormati arwah para pahlawan bangsa yang telah gugur. Di tengah-tengah panggung, sebagai pahlawan terbesar, dituliskan nama Si Cin Hal, yakni Eighiong yang telah banyak dikenal. Semua orang ikut bersembahyang.

Kemudian Siok Houw Sienseng berdiri di atas panggung dan menjura kepada semua orang. “Cuwi sekalian yang mulia. Kiranya cuwi telah cukup mengerti maksud diadakannya pertemuan ini, pertama untuk bersembahyang dan menghormati para pahlawan yang telah gugur. Kedua untuk dapat saling kenal-mengenal satu sama lain dan mempererat hubungan. Ketiga tak lain ialah untuk memilih seorang bengcu, karena setiap pergerakan harus ada seorang pemimpinnya agar segala sesuatu dapat dilakukan secara teratur, tidak kacau-balau. Karena kita semua telah bersembahyang, maka baiklah kita bersama kini mulai dengan pemilihan seorang bengco. Pemilihan diatur begini. Tiap rombongan yang terdiri sedikitnya sepuluh orang yang berkumpul di sini boleh mengajukan seorang wakil. Nanti diantara wakil-wakil atau calon-calon ini dipilih seorang yang menurut pendapat suara terbanyak lebih cocok. Nah, silakan cuwi mulai mengajukan calon.”

Maka ramailah orang-orang bicara hingga suara mereka seakan-akan bunyi lebah yang baru saja diusir dari sarangnya. Dengan sendirinya mereka terpecah menjadi beberapa rombongan. Setelah masing-masing rombongan menyampaikan nama calon, maki para calon adalah...,

Pertama calon yang diajukan oleh rombongan dari dua puluh lima orang, yakni Sin-coa-kun-hwat Souw Kwan Pek. Ketika namanya diumumkan, maka terdengar tempik-sorak gemuruh, menyatakan betapa orang tua ini telah terkenal dan banyak, disukai orang. Calon kedua yang diajukan oleh rombongan Han Liong dan kawan-kawannya adalah Sin-chiu Tai-hiap Khouw Sin Ek, yang juga mendapat sambutan meriah karena di kalangan kang-ouw, siapakah yang belum mendengar nama jago tua ini?

Calon ketiga adalah hasil daripada kenakalan Hong Ing. Gadis yang tak mau diam ini dengan cepat dan diam-diam telah membujuk semua wanita gagah yang berada di situ untuk memilih Pauw Lian. Bahkan, Yo Leng In sendiri sampai kena terbujuk oleh Hong Ing yang secara berlebih-lebihan menceritakan kepandaian dan kebaikan Pauw Lian.

Ketika Paum Lian yang merasa heran disambut oleh tampik-sorak para hadirin yang gegap gempita. Hong Ing tersenyum puas dan Pauw Lian agaknya tahu setidaknya dapat menduga siapakah yang menjadi biang keladi pencalonan atas namanya ini, karena terlihat betapa Pauw Lian memandang ke arah Hong Ing dengan mata melotot.

Calon keempat adalah Si Han Liong sendiri yang dicalonkan oleh keempat gurunya dan orang-orang yang telah mengenal dan mongetahui akan sepak terjang dan kelihaiannva. Bahkan Khouw Sin Ek sendiripun memilih dia sebagai calon utama!

Siok Houw Sianseng berdiri dan dengan kedua tangannya memberi isyarat kepada semua orang supaya tenang. “Cuwi, ternyata bahwa calon yang diajukan hanya empat orang. Maka sebelum dilakukan pemilihan di antara keempat calon ini kami persilakan para calon naik di panggung ini untuk memberi sambutan. Dipersilakan calon pertama!”

Sin-coa-kun Souw Kwan Pek dengan kebutan lengan bajunya membuat tubuhnya melayang tiba diatas panggung hingga mendapat sambutan meriah dari mereka-mereka yang merasa kagum melihat gerakan indah ini. Si Toya Ular Dewa ini telah berusia enam puluh lebih tapi tubuhnya masih nampak kuat dan wajahnya membayangkan semangat yang besar. Dari kedua matanya bersinar cahaya kegembiraan, tanda ia berkeyakinan teguh dan berkemauan keras. Ia menjura dengan hormat sekali kepada Siok Houw Sianseng dan kepada para hadirin!

“Cuwi yarg terhormat. Terus terang memang saya selalu bersedia membantu perjuangan ini dan meruntuhkan kerajaan penjajah serta membangun lagi pemerintahan Han. Untuk perjuangan ini, jiwaku yang sudah terlalu lama tinggal di tubuh tua ini saya sediakan, tapi sesungguhnya, karena di sini terdapat beberapa orang calon, lebih-lebih ketika mendengar nama Sin-chiu Tai-hiap, maka saya harus menyatakan bahwa Khouw Tai-hiap yang memang pantas dan tepat sekali untuk menjadi bengcu kita. Baik dipandang dari usia, maupun dari pengalaman, jangan kata tantang kepandaiannya yang tiada bandingnya di masa ini, dan kepandaian saya belum seberapa jika dibandingkan dengan Khouw Tai-hiap. Tentu saja hasil pemilihan tergantung daripada cuwi sekalian, namun saya akan merasa bangga dan gembira jika kiranya Khouw Tai-hiap yang membimbing kita sekalian.”

Baru saja habis bicara, tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Khouw Sin Ek telah berdiri di situ dengan tersenyum dan menjura di dipan Souw Kwa Pek.

“Saudara Souw terlalu segan-segan!” katanya sambil tersenyum. “Mungkin dalam hal usia dan pengalaman aku menang darimu, tentang kepandaian, siapakah yang dapat dikatakan unggul dan siapa yang rendah? Masing-masing mempunyai keunggulan sendiri-sendiri dan masing-masing mempunyai kerendahan sendiri. Tapi, andaikata kedua lengan tanganku lebih keras, maka aku bukanlah calon bengcu yang baik. Ketahuilah, saudara sekalian, aku sebagai orang tua paling suka berterus terang. Di dalam hati, aku tidak merasa benci atau dendam kepada kaisar, biarpun aku benci sekali melihat perbuatan kaki tangannya. Kuanggap kaisar hanya seorang yang lemah dan terpengaruh oleh anasir-anasir jahat. Apakah kaisar yang berbuat jahat dan memeras rakayt? Belum tentu. Aku lebih percaya jika dianggap bahwa para pembesar lalailah yang memeras rakyat. Biarpun kaisar diganti seribu kali, namun bila semua pembesar tidak jujur, tetap saja rakyat akan tertindas! Maka, aku tidak tepat menjadi bengcu. Aku sudah bosan berkelahi, sudah bosan dengan urusan dunia yang serba penuh dosa ini. Aku ingin beristirahat, menanti hari saat terakhir hidupku dengan aman dan tenteram. Aku hanya bisa membantu bilamana perlu saja, tapi untuk menjadi pemimpin, ini aku tak sanggup. Tapi, cuwi yang terhormat. Ada seorang calon yang memang tepat sekali menjadi pemimpin para orang gagah. Tentang usia muda itu bukan menjadi soal, yang perlu sepak terjangnya. Soal kepandaian, barangkali ia masih lebih tinggi dari aku sendiri atau dari calon-calon yang lain. Aku tetap usulkan, calon keempat untuk menjadi bengcu.”

Orang-orang tidak melihat betapa gadis jelita berpakaian hitam itu sampai ke atas panggung, karena tahu-tahu Pauw Lian telah berada di situ dan memberi hormat.

“Aku yang muda dan bodoh sebenarnya merasa malu sekali sampai dicalonkan. Mungkin cuwi bermain-main dengan aku, karena ibarat burung, sayapku belum lagi tumbuh. Maka, setelah mendengar saran-saran Khow lo-enghiong tadi, aku setuju untuk memilih calon keempat menjadi bengcu!”

Sementara itu, Han Liong merasa serba susah. Betapapun juga, ia masih merasa keberatan untuk menerima tugas yang bukan ringan itu, namun disamping keraguannya, ada juga rasa pertanggungan jawab untuk melanjutkan cita-cita almarhum ayahnya. Maka setelah Pauw Lian selesai bicara, dengan tenang Han Liong melompat keatas panggung.

Semua orang yang belum mengenalnya merasa heran mengapa Khouw locianpwe memilih calon yang masih sangat muda dan kelihatan lemah itu! Juga Souw Kwan Pek merasa tak puas karena dengan memuji-muji anak muda ini berarti Khow Sin Ek sangat merendahkan kalangan tua. Berapakah tingginya ilmu seorang pemuda seperti ini?

Sementara itu Han Liong memberi hormat kepada Khouw Sin Ek dan berkata, “Khouw locianpwe terlalu memuji aku yang muda dan bodoh ini. Sungguh aku sengat malu menerimanya.” Kemudian ia menghadapi semua tamu dan berkata dengan sungguh-sungguh “Cuwi enghiong. Biarpun pemilihan bengcu ini sangat perlu dan harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar jangan salah pilih, namun menurut pendapatku yang sempit, jika dipikir-pikir dengan masak hasil atau tidaknya sebuah perjuangan bukanlah bergantung semata-mata kepada seorang pemimpin. Apakah artinya pemimpin pandai bila para anggutanya tidak berjuang dengan penuh semangat? Maka, menurut pendapatku, seorang pemimpin haruslah seorang yang disegani dan yang cukup pengalaman. Bagiku yang muda dan bodoh, dipilih atau tidak, tetap aku sediakan jiwa raga untuk mengabdi kepada rakyat.”

Ucapannya ini mendapat sambutan hangat. Siok Houw Sianseng berdiri dan berkata kepada orang banyak. “Nah, kini keempat calon telah berdiri disini dan telah pula memberikan sambutannya. Maka, kini terserah kepada cuwi untuk memilih seorang di antara mereka.”

Khouw Sin Ek berdiri dan suaranya tiba-tiba terdengar lantang dan nyaring hingga orang banyak terkejut. “Cuwi dengarlah. Lohu tak mau ribut-ribut tentang pemilihan ini, tapi hendaknya diketahui bahwa calon keempat bukan lain adalah putera tunggal dari almarhum Si Enghiong.”

Mendengar pengumuman ini, maka ramailah suara orang menyambut dengan tepuk sorak. Di sana-sini terdengar “Pilih nomor empat!”. Bahkan yang telah kenal dan tahu keadaan Han Liong berteriak. “Pilih Pek-liong-Pokiam sebagai Bengcu!” Karena terkenalnya pedang dan kiamsut Han Liong, maka banyak orang memberi dia gelaran Pek-liong-Pokiam si Pedang Pusaka Naga Putih!

Tak lama kemudian, hampir semua tamu menyatakan setujunya memilih Han Liong sebagai bengcu. Tapi diantara mereka ada juga yang merasa merasa kurang puas di antaranya ialah Keng-cu Ngo-lohiap dan Souw Kwan Pek. Mereka ini menganggap bahwa orang-orang telah berlaku ceroboh memilih seorang yang masih begitu muda untuk menjadi seorang bengcu dan menjabat kedudukan demikian penting dan sukar.

Siok Houw Sianseng berdiri dan memberi tanda lagi supaya orang menjadi tenang. “Cuwi, setelah mendengar suara terbanyak, maka saya pada saat ini sebagai pemimpin pertemuan ini mengumumkan bahwa bengcu kita yang terpilih ialah Si Han Liong taihiap”

Terdengar tepuk sorak menggema dan Siok Houw Sianseng menjura kepada Han Liong sambil berkata, “Si Bengcu, terimalah ucapan selamat dan hormatku.”

Dengan gugup Han Liong balas pemberian selamat itu. Tiba-tiba terasa angin bertiup ke arah panggung dan kelima kakek gagah dari Keng-cu telah berdiri di atats panggung. Lok Ho yang tertua, dengan senyum di mulut menjura kepada Han Liong sambil berkata,

“Kami datang dari tempat jauh dan mewakili ribuan orang di kalangan kang-ouw untuk memilih seorang bengcu. Kini Si enghiong terpilih, maka sudah sepatutnya kami bergembira ria karenanya dan memberi selamat. Tapi sebelum memberi selamat kepada sicu, terpaksa kami lebih dulu harus menyampaikan janji kami kepada kawan-kawan semua.”

Dari ucapan ini Han Liong dapat menangkap maksudnya yang hendak mencari-cari perkara, maka dengan sabar sekali ia bertanya. “Memang sudah sepantasnya begitu, lo-enghiong tapi apakah janji itu?”

“Kami telah berjanji untuk mengangkat seorang beng-cu yang dapat melayani Ngo-heng-tin kami selama seratus jurus tanpa terkalahkan!”

Han Liong terkejut mendengar ini. Ia pernah mendengar tentang kelihatan Ngo-heng-tin ini yang demikian kuat hingga berani menghadapi lawan sebanyak seratus orang apalagi menghadapi dia yang hanya seorang diri! Biarpun ia tak merasa takut, tapi ia dapat membayangkan bahwa bila tidak menggunakan tangan besi dan membuka jalan darah, agaknya sukar baginya untuk mendapat kemenangan.

Tiba-tiba terdengar Khouw Sm Ek tertawa. “Hm, Ngo-lohiap agaknya belum percaya kepada Si bengcu. Apakah aturan yang ditetapkan itu mengenai juga semua orang ? Karena tadi lo-hiap memilih saudara Souw Kwan Pek, tentu saudara Souw sudah pernah pula diuji dalam Ngo-heng-tin kalian.”

Biarpun kurang senang mendengar kata-kata yang mengandung sindiran tepat ini, namun Lok Ho tak berani menyatakan kurang senangnya terhadap Sin-chiu Tai-hiap. Ia hanya menjura dan menjawab.

“Janji kami ini hanya berlaku untuk calon yang bukan berasal dari daerah kami dan yang belum kami ketahui benar ilmu kepandaiannya. Mohon Khouw cianpwe jangan salah mengerti. Sesungguhnya syarat yang kami janjikan ini hanya untuk menjamin bahwa bengcu yang hendak kita ikuti jejak dan petunjuknya benar-benar seorang yang patut dipercayai penuh hingga setelah mengujinya, kami lima orang tua dapat bertanggung jawab terhadap kawan-kawan semua yang tidak ikut datang menyaksikan pemilihan ini. Kalau Souw cianpwe, kami dari daerah Barat telah kenal semua dan tahu sampai di mana kemampuannya, maka perlu apa dicoba lagi?”

Mendengar alasan-alasan yang kuat ini, Khouw Sin Ek terpaksa mengangguk-angguk membenarkan. Memang ia seorang yang jujur, maka ia menghargai sikap Ngo-lohiap yang terus terang itu. Ia berpaling kepada Han Liong dan berkata,

“Agaknya kau terpaksa harus melayani lima orang tua gagah ini, Si bengcu!”

Han Liong buru-buru memberi hormat kepada Ngo-lohiap. “Siauwte yang muda dan bodoh ini mana berani berlaku kurang sopan dan mencoba-coba Ngo-heng-tin yang lihai! Harap Ngo-lohiap jangan membikin sieuwte menjadi buah tertawaan, semua orang gagah.”

Mendengar kata-kata yang sangat merendah dan seakan-akan menunjukkan rasa jerih dan takut terhadap Ngo-heng-tin mereka yang terkenal itu, Lok Thian, kakek kedua, merasa bangga dan timbul juga rasa kasihan terhadap Han Liong yang dianggap pemuda cakap dan sopan. Maka ia segera berkata,

“Si enghiong, mondengar bahwa kau adalah putera almaihum Si lo-enghiong saja, aku sudah merasa suka kepadamu. Tapi karena kami tak dapat melanggar janji terhadap semua kawan dan syarat ini hanya sebagai coba-coba saja, maka kami persilakan kau memilih seorang kawan hingga kau berdua boleh maju melayani Ngo-heng-tin kami secara main-main.”

Lok Ho mendengar kata-kata adiknya ini hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum dan dalam hatinya berkata, "apa bedanya satu atau dua orang? Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu, maka cepat ia berkata, “Memang boleh mencari seorang kawan pembantu, tapi jangan Khoaw cianpwe!”

Melihat kecerdikan dan kebulusan akalnya, Khouw Sin Ek tertawa terbahak-bahak sambil mengurut-urut misainya. “Aku sudah tua, tidak seperti kalian anak anak kecil, masih suka main-main. Ayoh mulailah, aku sudah ingin sekali menonton pertunjukan bagus ini!”

Han Liong yang masih dalam keadaan bingung memandang ke kanan dan ke kiri mencari kawan. Maunya memandang ke arah Hong Ing yang berdiri dengan kening berkerut seakan-akan sedang memikirkan sesuatu. Tadinya Han Liong hendak minta Ui Kiong untuk membantunya karena ia maklum akan kelihaian anak muda itu, tapi tibi-tiba Hong Ing meloncat ke atas panggung.

Han Liong terkejut dan khawatir kalau-kalau Hong Ing menawarkan diri, karena hal itu malah akan memberatkannya saja, mengingat akan kepandaian gadis yang belum seberapa tinggi itu. Tapi Hong Ing tidak memperdulikan sikap Han Liong, langsung ia pegang lengan Pauw Lian yang masih duduk disitu dan menariknya lalu berkata kepada Ngo-lohiap,

“Teecu usulkan supaya Pauw Lian cici saja yang mengawani Han-ko menghadapi Ngo-heng-tin. Karena, selain Pauw Lian cici ilmu pedangnya lihai, juga untuk memberi muka terang kepada Ngo-losuhu. Kalau menyuruh sembarang orang saja memasuki barisan hebat itu, bukanlah berarti memandang rendah Ngo-heng-tin dan menghina Ngo-losuhu?”

Kembali terdengar Khouw Sin Ek tertawa gembira. “Bagus, bagus! Pilihanmu tepat sekali, nona. Kau memang cerdik. Nah. Pauw Lihiap harap jangan menolak.”

Terpaksa Han Liong menjura kepada Pauw Lian dan berkata dengan wajah merah, “Pauw sumoi, sudikah kau membantu aku?”

Pauw Lian hanya tersenyum dan mengangguk. Kedua anak muda itu, yang perempuan berpakaian hitam yang laki-laki berpakaian putih, berdiri menghadapi Lok Ho berlima dengan tenang. Karena panggung itu cukup kuat dan lebar, semua orang yang tidak hendak memperlihatkan kepandaiannya lalu turun, yang tertinggal hanya Ngo-lohiap dan kedua orang muda itu.

Keng-ciu Ngo-lohiap masing-masing mencabut keluar sebilah pedang dan berdiri memasang kuda-kuda merupakan segi empat dan seorang berdiri di tengah-tengah. Empat orang menghadap ke empat penjuru dengan pedang melintag di dada. Pedang masing-masing juga terukir dengan huruf-huruf yang menjadi lambang lima anasir, yakni Kim, Bok, Swie, Ho dan Tho atau Logam, Kayu, Air, Api, dan Tanah.

Pemegang pedang Kim-kiam adalah ahli silat yang menggunakan tenaga gwa-kang atau tenaga keras yang mempunyai kekuatan luar biasa. Pemegang pedang Bok-kiam sebaliknya ahli tenaga lemas atau tenaga dalam yang tangguh. Pemegang pedang Swie-kiam mempunyai daya tahan atau daya bela yang kuat sekali, tetapi sewaktu-waktu dapat bersatu dengan pemegang pedang Ho-kiam dan merupakan penyerang-penyerang yang tangguh dan kuat. Pemegang pedang Tho-kiam melakukan penjagaan dan melindungi keempat kawannya.

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Demikianlah, kelima kakek gagah dari Keng-ciu itu mempunyai kepandaian-kepandaian khusus yang semuanya bertingkat tinggi dan yang telah menjalani latihan-latihan yang tekun dan teratur. Maka tak heran bila Ngo-heng-tin mereka merupakan barisan yang amat tangguh dan berbahaya!

Melihat kedudukan Ngo-lohiap demikian kuatnya, Han Liong memberi tanda kepada Pauw Lian dan dengan gerakan indah keduanya mencabut pedang masing-masing. Tampak dua cahaya hitam dan putih bersinar menyilaukan mata ketika Ouw-Liong Pokiam dan Pek-liong Pokiam bergerak dalam tangan sepasang teruna remaja itu!

Bergetar juga hati kelima kakek gagah melihat pedang pusaka yang hebat itu. Khouw Sin Ek duduk mencari tempat yang enak dan ia sap menonton pertunjukan hebat itu. Sedangkan entah disengaja atau tidak, Hong Ing tampak berdiri dekat dengan Ui Kiong di belakang Khouw Sin Ek. Sementara itu, Pauw Kim Kong juga bersama semua kawannya melihat dengan gembira, walaupun dengan hati agak tegang.

“Sumoi. aku memainkan Im dan kau memainkan Yang.” Han Liong berbisik kepada Pauw Lian yang mengangguk mengerti.

Memang permainan kedua anak muda itu, baik Ouw-liong Kiamsut maupun Pek-liong Kiamsut, sebenarnya berdasarkan jalan Pat-kwa dan dapat bergerak ke delapan penjuru, dan gerakan-gerakan mereka berdasarkan dua sifat yakni Im dan Yang (positive dan negative). Gerakan-gerakan Im lebih bersifat menyerang dan agressive sedangkan gerakan-gerakan Yang bersifat membela diri.

“Ngo-lotaihiap silakan bergerak lebih dulu,” kata Han Liong mempersilakan.

“Tidak, sicu. Kami merupakan barisan, kalianlah yang harus memulai. Kami akan mencoba menahan seranganmu dalam seratus jurus!” Kata-kata ini untuk mengalah dan merendah tapi mengandung tantangan dan diucapkan oleh Lok Ho dengan senyum seorang guru memandang muridnya.

“Kalau begitu, maaf siauwte mulai menyerang!”

Han Liong menutup kata-katanya dengan serangan pedangnya kearah Lok Thian yang menjaga di selatan dan memegang pedang Tho-kiam karena Han Liong ingin tahu sampai di mana ketangguhan bagian penjaga barisan itu. Serangannya ini sekali gerak telah ditangkis oleh Lok Ho dan Lok Thian, yakni pemegang Tho-kiam dan Swi-kiam, sedangkan pada saat itu juga tiga pedang yang lain meluncur ketiga bagian tubuhnya!

Tapi Pauw Lian tahu akan tugasnya sebagai pemain bagian pembela. Ouw-liong kiam bergerak cepat dan dapat menangkis ketiga serangan itu. Han Liong yang percaya penuh akan ketangguhan penjagaan Pauw Lian, seakan-akan tak perduli sama sekali akan serangan itu dan ia terus gerakkan pedangnya menyerang Lok Ho dan Lok Thian. Tiap gerakan pedang ia sertai dengan tenaga dalam yang hebat sekali sehingga kakek pertama dan kedua yang menahannya merasa betapa pedang pusaka mereka hampir terpental tiap kali beradu dengan Pek-liong Pokiam!

Maka mengertilah mereka bahwa anak muda ini benar-benar tak boleh dibuat gegabah. Sebaliknya, Lok Kim, Lok Eng, dan Lok Kiat yang bertugas menyerang, ternyata menghadapi Pauw Lian mereka seakan-akan menghadapi dinding baja yang tak mungkin ditembus!

Melihat siasat Han Liong yang mempergunakan gerakan Im dan Yang hingga kedua anak muda itu terbagi dua bagian pula, yakni menyerang dan membela, Lok Tho maklum bahwa jika demikian terus, fihaknya akan mendapat rugi. Maka ia berseru keras,

“Putar!” barisannya segera merobah gerakan. Mereka lari berputar disekeliling Han Liong dan Pauw Lian yang terkepung ditengah! Mereka bergerak bergantian, sekali tusuk terus lari, digantikan orang kedua yang menyerang atau menangkis. Dengan gerakan ini, maka kelima orang itu tidak mempunyai tugas tertentu, mereka merupakan lima buah kitiran yang bergerak bersamaan dan saling bantu membantu.

Tenta saja perobahan yang tiba.tiba ini membuat Han Liong dan Pauw Lian terpaksa ikut berputar di dalam kepungan itu! Dalam hal ini kedua teruna remaja itu rugi, karena lapangan berputar mereka sangat sempit hingga kcscmpatan menyerang lebih kecil. Mereka berdua harus berlaku waspada, karena serangan-serangan kelima pedang itu sama sekali tak boleh dipandang ringan.

Semua serangan dilakukan oleh tangan seorang ahli pedang dan tak sebuahpun yaag tidak berbahaya. Bahkan lama-kelamaan kelima kakek gagah itu menggunakan tipu-tipu cabang Thai-san dan semua tusukan diarahkan kepada urat-urat kematian!

Hal ini membuat Han Liong gemas sekali. Tadi ia berlaku malu dan kebanyakan hanya menangkis saja, kalaupub menyerang maka serangan itu ia jaga jangan sampai terlanjur dia melukai seorang dari pada Ngo-lohiap itu. Demikianpun Pauw Lian yang mengerti keadaan dan maksud Han Liong.

Sementara itu, selain Khouw Sin Ek, Tan Ui Kong, Lie Bun Tek, dan keempat guru Han Liong, semua orang yang menonton pertandingan itu merasa kepalanya pening dan matanya kabur. Begitu cepat gerakan kelima kakek itu hingga mereka seakan-akan bukan berlima, tapi lebih dari sepuluh orang!

Tiba-tiba terdengar Sin-coa-kun-hwat Souw Kwan Pek memuji. “Bagus!” suaranya terdengar gembira karena ketika itu Han Liong dan Pauw Lian tampak terkurung dan terdesak. Kepungan Ngo-heng-tin makin menyempit dan serangan makin bertubi-tubi datangnya! Orang tua she Souw ini yang sudah kenal akan kelihaian Ngo-heng-tin maklum bahwa sebentar lagi kedua anak muda itu pasti dapat dikalahkannya.

Sebaliknya Khouw Sin Ek mengerutkan keningnya, tapi sebagai seorang dari golongan tua ia tidak mau ikut bicara atau memberi petunjuk. Para cianpwe lain yang berada disitu, ahli-ahli silat ternama tingkatan atas seperti Lok Twie Hwesio dari Siauw-lim-pai, Pek Ciok Tojin dari Kun-lun-pai, Khu Bu Houw, dan yang lain-lain merasa kagum dan diam-diam mereka mengeluh bahwa mereka telah terlalu tua dan telah ketinggalan oleh anak-anak muda, karena dalam hal kepandaian ilmu pedang, diam- diam mereka akui bahwa Han Liong dan Pauw Lian berada di tingkat lebih tinggi dari mereka, bahkan permainan pedang seperti yang mereka itu selama hidup baru kali ini mereka lihat!

Tan Un Kiong yang dapat melihat pula betapa Han Liong berlaku segan-segan sedangkan kelima lawannya menggunakan seluruh kepandaiannya, juga merasa kurang senang, maka tanpa terasa ia berseru keras,

“Saudara Han Liong dan Pauw Lian cici, buat apa berlaku segan-segan lagi, sedangkan orang berlaku sungguh sungguh, mengapa kalian masih main-main?”

Teriakan ini membakar semangat Pauw Lian yang wataknya tidak sesabar Han Liong, maka sambil berseru kepada Han Liong. “Balas!” ia memutar pedangnya dan memainkan jurus-jurus Ouw-liong-kiamsut yang hebat.

Han Liong berkata keras “Maaf, Ngo-lotaihiap!” dan pedangaya pun bergerak cepat sekali mengimbangi gerakan Pauw Lian. Ia memainkan tipu-tipu permainan Pek-liong Kiamsut yang luar biasa. Dengan adanya perubahan ini, tubuh Han Liong dan Pauw Lian lenyap dari pandangan mata karena cepatnya mereka bergerak dan karena hebatnya sinar pedang mereka.

Yang tampak, kini hanya dua sinar hitam dan putih berkelebat ke sana ke mari dan makin lama makin cepat hingga merupakan cahaya memanjang seperti dua ekor naga sakti hitam dan putih bermain-main diantara gundukan awan-awan putih, yakni cahaya pedang kelima kakek gagah itu. Tanpa terasa, dari mulut Un Kiong dan lain-lain orang tergolong kaum cianpwe keluar seruan kagum.

“Bagus” berkali-kali karena memang permainan itu indah ditonton. Bahkan Khouw Sin Ek karena kagumnya sampai berdiri dari tempat duduknya tanpa terasa lagi. Sepasang matanya bersinar-sinar gembira, tangan kiri menolak pinggang, tangan kanan tiada hentinya mengelus-elus jenggotnya yang putih dan panjang.

Dua cahaya hitam dan putih itu makin besar dan makin panjang, sedangkan kelima kakek gagah itu makin lambat gerakan perputarannya. Akhirnya mereka tidak lari lagi, tetapi hanya berdiri dengan pedang di tangan dan hanya kuasa menjaga diri dari lembaran cahaya hitam dan putih itu...!

Thanks for reading Pedang Pusaka Naga Putih Jilid 15 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »