Penghuni Kuil Emas

PENGHUNI KUIL EMAS

SATU

DUA sosok tubuh berkelebat cepat, seperti sedang berlomba. Yang paling depan bertubuh aneh. Seorang pemuda bertubuh pendek dan bulat. Namun larinya cepat luar biasa. Sementara di belakangnya adalah sosok yang tak kalah semangat mengejar.

“Ha ha ha...! Kau tak akan bisa mengejarku, Ratmi...!” ejek sosok cebol pada gadis cantik berusia lima belas tahun yang menjadi saingannya.

“Tunggu saja, Joko Wereng. Apa susahnya mengalahkanmu?!” dengus gadis cantik yang saat itu juga mengerahkan tenaga dan berusaha mengejar.

Karena lari laki-laki cebol bernama Joko Wereng kencang sekali, maka gadis itu masih belum mampu juga mengejar.

“Ayo, Ratmi! Mana tenagamu? Larimu seperti kura-kura!” teriak Joko Wereng, kembali mengejek.

“Awas kau!” gumam Ratmi menahan geram. Maka gadis ini berhenti sejenak. Lalu matanya jelalatan mencari-cari sesuatu. Dan ketika melihat sepotong kayu, buru-buru disambarnya.

“Hiih!” Dengan gemas Ratmi melemparkan potongan kayu itu tepat di antara kedua kaki Joko Wereng.

Tak!

“Ahhh!”

Gubrak!

Tak ayal lagi, Joko Wereng tersungkur ke depan disertai keluhan kesakitan. Sementara Ratmi kembali melanjutkan larinya, melewati pemuda bertubuh cebol.

“Hi hi hi...! Lihat! Sekarang aku yang di depan, bukan? Larimu seperti siput, Joko!” Ratmi tertawa girang sambil menjulurkan lidah mengejek pemuda cebol itu.

“Sial! Kau curang, Ratmi!” umpat Joko Wereng.

“Segalanya boleh saja! Yang penting menang!”

“Huh! Kalau begitu, aku pun bisa!” dengus Joko Wereng. Setelah itu pemuda cebol ini melenting ke atas. Tubuhnya bersalto dua kali. Lalu bagai anak panah lepas dari busur, dia melesat cepat mengejar Ratmi.

“Hm.... Dia menggunakan aji ‘Walet Hitam’. Aku mesti mencegahnya. Bagaimanapun, dia tak boleh menang!” gumam Ratmi, ketika menoleh sejenak ke belakang. Seketika gadis itu berbalik Dan tahu-tahu telapak tangan kanannya menghentak, melepas pukulan jarak jauh ke arah pemuda cebol itu.

Wusss...!

“Hei?!” Bukan main kagetnya Joko Wereng melihat serangan yang membawa desir angin menderu tajam. Cepat-cepat dia menjatuhkan diri, sehingga tubuhnya merapat ke permukaan tanah. Maka....

Jder! Bruak!

Seketika pukulan jarak jauh yang dilepaskan Ratmi menghantam sebatang pohon hingga roboh. Pada saat itu juga, Ratmi kembali melesat cepat.

“Aku menaaang...!” teriak gadis itu kegirangan ketika telah mencapai garis akhir yang telah disepakati bersama.

“Ratmi.... Apa-apaan kau ini?! Tahukah kau bahwa perbuatanmu tadi bisa mencelakakanku?!” bentak Joko Wereng kesal begitu bangkit berdiri.

“Itu hanya salah satu cara. Dan yang jelas, kau tak bisa mengalahkanku!” kilah Ratmi.

“Menang dengan kecurangan yang membahayakan jiwaku?!” sungut Joko Wereng.

“Sudahlah.... Jangan marah-marah. Kita kan hanya bersenang-senang. Lagi pula aku tahu kau bisa menghindar,” kilah Ratmi.

“Bagaimana kalau tidak?”

“Aku akan minta pada Ayah agar mencabut saja semua ilmu yang diajarkannya padamu. Memalukan nama Ayah saja! Hanya dengan serangan begitu, kau tak mampu menghindarinya.”

Mendengar kata-kata Ratmi, Joko Wereng tak bisa marah-marah lagi.

“Eh, coba lihat!” tunjuk gadis itu sambil berseru girang.

“Apa?”

“Itu!” bisik Ratmi.

“Hm!”

Tidak jauh dari mereka, terdapat sebuah sungai agar lebar. Dari balik rerimbunan semak, mereka melihat seorang tengah terkantuk menunggu pancingannya dimakan ikan.

“Lihat!” ujar Ratmi seraya memungut batu dan melemparkannya.

Siuuut! Tak!

Batu yang dilempar Ratmi tepat menyentuh ujung jeram, hingga tertekuk seperti ditarik ikan.

Plung!

“Eee...!” Laki-laki setengah baya yang tengah terkantuk terkejut bukan main, langsung menyentak jorannya.

Namun, tidak seekor ikan pun yang terkait di kailnya. Ketika merasakan wajahnya basah oleh cipratan air, dan air sungai di depannya bergelombang besar, meski untuk beberapa saat, dia mengerti apa yang terjadi. Terlebih, ketika mendengar cekikikan dari balik semak-semak.

“Bocah kurang ajar! Awas kau, ya!” teriak laki-laki itu gemas, begitu melihat ke arah sumber suara cekikikan.

“Eh, lari! Ayo lari! Dia ngamuk!” cetus Ratmi seraya melompat dari persembunyiannya sambil cekikikan.

Joko Wereng pun mengikuti dari belakang, dan ikut tertawa geli melihat laki-laki setengah baya itu berteriak-teriak geram mengejar.

“Awas kalian! Kalau dapat akan kujitak masing-masing sepuluh kali! Hei, berhenti! Berhenti...!”

“Hi hi hi...! Dasar orang tua pikun. Siapa yang mau berhenti untuk dijitak?! Ayo, kejar kalau bisa!” sahut Ratmi dengan suara nyaring.

“Dasar anak-anak nakal!” umpat laki-laki setengah baya itu, seraya berhenti untuk mengatur napasnya yang tersengal.

“Kau memang keterlaluan sekali, Ratmi!” umpat Joko Wereng setelah mereka agak jauh dari laki-laki setengah baya tadi.

“Kenapa? Aku hanya menolongnya.”

“Itu bukan menolong, tapi menyusahkannya! Coba kalau kehidupannya dari mengail ikan dan kita telah mengganggu, siapa tahu anak dan istrinya di rumah tengah menanti kedatangannya dengan membawa hasil yang banyak?”

“Aku justru membantunya. Coba dengar! Kalau memancing sambil tidur-tiduran begitu, mana mungkin dapat hasil? Nah! Karenanya, kukejutkan dia dengan batu tadi, supaya bersungguh-sungguh agar mendapat hasil banyak!” tangkis Ratmi.

“Mana bisa begitu?!” tukas Joko Wereng.

“Bisa saja!”

“Tapi, Rat....”

“Sudahlah!” potong Ratmi, menukas dengan galak. “Kalau tak suka dengan kelakuanku, kau boleh pulang! Aku tak pernah mengajak-ajakmu untuk ikut!”

Kalau sudah begitu, Joko Wereng tak bisa menjawab lagi. Dan dia diam membisu. “Ke mana tujuan kita sekarang?” tanya pemuda cebol ini setelah mereka membisu untuk sesaat lamanya.

“Ke mana saja kakiku melangkah!” sahut Ratmi acuh tak acuh.

Kalau sudah menghadapi sikap Ratmi seperti itu, Joko Wereng jadi salah tingkah dan kehabisan kata. Matanya melirik, tapi tak bicara apa-apa. Begitu saja sampai beberapa kali.

Sedangkan gadis itu sendiri terus melangkah riang. Bola matanya jelalatan ke mana-mana mencari sesuatu yang bisa untuk mengusuli lagi.

“Tolooong...!”

“Heh?!” Kedua anak muda ini tersentak, ketika mendadak terdengar teriakan dari kejauhan. Walau agak samar, namun masih tertangkap telinga-telinga mereka.

“Apa itu?!” tanya Joko Wereng. Ratmi tak menyahut, tapi langsung menggenjot tubuhnya mendatangi arah suara.

Sementara Joko Wereng mau tak mau terpaksa mengikuti. Begitu tiba di tempat sumber suara, Ratmi dan Joko Wereng melihat seorang gadis tengah dipondong seorang laki-laki bungkuk. Seluruh wajah laki-laki bungkuk itu tertutup kain hitam, kecuali sepasang matanya yang terdapat dua lubang untuk melihat. Sementara gadis dalam pondongan tak kuasa melepaskan diri, dan hanya mampu berteriak-teriak.

“Berhenti!” bentak Ratmi garang langsung menghadang, karena laki-laki bungkuk itu memang menuju ke arahnya.

“Hm!” gumam laki-laki bungkuk itu tak jelas.

“Hati-hati, Ratmi!” ingat Joko Wereng.

“Lepaskan gadis itu!” bentak Ratmi, mendengus sinis.

“Bocah busuk! Menyingkirlah kau dari hadapanku!” bentak laki-laki bungkuk itu, dingin.

“Lepaskan gadis itu kataku. Atau, kupatahkan kedua tanganmu!”

“Huh! Dasar bocah bosan hidup! Rasakan ini!”

Tiba-tiba saja telapak tangan kiri laki-laki bungkuk ini menghantam ke depan. Maka serangkum angin kencang berhawa panas langsung meluruk ke arah Ratmi.

“Uts! Kurang ajar!” Ratmi berkelit gesit dengan melompat ke samping sambil menyumpah-nyumpah tak karuan. Dan kemarahannya semakin menjadi ketika laki-laki bungkuk itu coba melarikan diri.

“Berhenti kau, Bungkuk! Kau kira bisa melarikan diri seenak perutmu, heh?!” bentak gadis ini garang seraya menghentakkan tangannya ke depan, melepas pukulan jarak jauh.

“Hiyaaa!”

Wut!

Laki-laki bungkuk itu sama sekali tak menoleh ketika deru angin keras menyambar ke arahnya, tubuhnya hanya mengegos sedikit, sehingga pukulan gadis itu luput.

“Kurang ajar!” dengus Ratmi menggeram. Dan secepat kilat senjata andalannya dikeluarkan. Sebuah ketapel!

“Hup!” Sambil berlari mengejar, gadis itu menyambar beberapa butir kerikil. “Dengan pukulan mungkin kau luput. Tapi, boleh coba senjataku ini! Hiih!” Sehabis berkata demikian, Ratmi menjepretkan ketapelnya.

Siuuut!

Wut! Wut!

Tiga buah kerikil sebesar telur puyuh melesat cepat. Yang dua luput. Namun...

Tak!

“Akh!” Kerikil ketiga tepat mengenai kepala laki-laki bungkuk, sampai terdengar jerit kesakitannya.

“Nah, apa kataku!” dengus Ratmi sambil berkacak pinggang ketika melihat laki-laki bungkuk itu berhenti dan berbalik menghadapinya.

“Gadis bengal! Rupanya kau ingin mampus, he?!” dengus laki-laki itu geram seraya meletakkan pondongannya. Lalu secepat kilat dia melompat menyerang Ratmi.

“Selamatkan gadis itu, biar kuhadapi dia!” bisik Ratmi pada Joko Wereng.

“Tapi, itu sangat berbahaya...?!” tolak Joko Wereng.

“Jangan membantah!” bentak Ratmi sambil melompat menghindari serangan.

Joko Wereng kebingungan sendiri. Tapi akhirnya dengan terpaksa diturutinya kehendak Ratmi. Buru-buru disambarnya gadis yang tadi dipondong laki-laki bungkuk itu.

“Oh, Tuan. Tolong selamatkan aku...!”

“Jangan khawatir, Nisanak. Aku akan menyelamatkanmu. Tapi pertama-tama aku harus melepaskan totokanmu dulu,” ujar Joko Wereng. Pemuda cebol ini berusaha melepaskan totokan gadis desa itu. Tapi tak berhasil juga. Dan meski telah mencoba beberapa kali, tetap tidak berhasil.

“Gila! Totokan seperti apa ini?!” desis Joko Wereng heran.

“Jangan ganggu dia, Cebol!” bentak laki-laki bungkuk itu tiba-tiba, seraya meluruk ke arah Joko Wereng.

“Heits!” Joko Wereng terkejut, namun segera melompat ke samping.

“Belum juga kau bawa kabur gadis itu?!” bentak Ratmi marah, kembali menyerang laki-laki bungkuk itu dengan ketapelnya.

“Aku berusaha melepaskan totokannya tapi tak bisa!” kilah Joko Wereng.

“Dasar tolol! Kenapa tidak kau larikan saja dia dulu?!”

“He he he...! Kalian berdua memang tolol. Mana mungkin mampu melepaskan totokanku pada gadis itu!” ejek laki-laki bungkuk sambil mencelat ke belakang ketika menghujaninya dengan peluru ketapel.

Siuuut! Wut!

“Hup!”

Laki-laki bungkuk itu melenting ke atas, langsung membuat putaran beberapa kali. Tapi baru saja mendarat....

“Kau boleh merasa hebat. Tapi, makan seranganku ini! Hiih!”

Melihat senjatanya gagal mencari mangsa maka secepat kilat gadis itu menghentakkan tangan kanannya melepaskan pukulan jarak jauh kembali.

“Uts!” Laki-laki bungkuk ini mencelat ke belakang, ketika melihat sekelebatan cahaya laksana nyala api melesat menyambarnya.

“Gila! Apa hubunganmu dengan si Dewa Api, Bocah?!” desis laki-laki bungkuk.

“Dia ayahku. Kau mau apa?!” sahut Ratmi sambil berkacak pinggang.

“Bagus! Sungguh kebetulan!” Laki-laki bungkuk bertopeng mendengus. Dan tiba-tiba saja gadis itu diserangnya laksana seekor harimau kelaparan tengah menerkam mangsa.

“Eit!” Ratmi terkesiap. Cepat tangan kirinya mengibas untuk menangkis.

Plak! Wuttt!

Namun, laki-laki bungkuk itu langsung melanjutkan serangan lewat tendangan kaki kiri. Dan dengan gerakan manis, gadis itu mencelat ke samping. Melihat serangannya gagal, laki-laki bungkuk bertopeng ini segera mengejar cepat, membuat gadis itu kelabakan.

“Jangan takut, Ratmi! Aku datang membantumu!” teriak Joko Wereng. “Heaaat...!”

Laki-laki bungkuk itu mendengus dingin. Dan secepatnya dia berbalik, melayani serangan Joko Wereng.

“Eits!” Joko Wereng terkejut. Sungguh tak disangka secepat itu laki-laki bungkuk ini berbalik. Bukan saja menangkis serangannya, tapi sebelah kakinya meluruk deras ke dada. Sehingga...

Plak! Des...!

“Aduhhh...!” Pemuda cebol itu mengeluh kesakitan. Tubuhnya terjungkal ke belakang. Namun masih mampu menguasai diri. Sambil jungkir balik, dia mendarat manis. “Kurang ajar! Aku akan membalasmu, Bungkuk!” dengus Joko Wereng geram.

Tapi laki-laki bungkuk bertopeng itu sudah melanjutkan serangannya ke pada Ratmi. “Hiaaat!”

“Huh! Terima ini!” desis Ratmi seraya menyambut serangan dengan ketapelnya.

Siuuut!

Dua kerikil melayang deras, namun laki-laki bungkuk itu berkelit gesit. Bahkan salah satu kerikil itu berhasil ditangkapnya. Tapi, Ratmi tidak membiarkannya begitu saja. Begitu peluru ketapelnya melesat, maka saat itu pula tubuhnya mencelat menyerang dengan kedua kaki menyilang seperti hendak menggunting. Secepat kilat laki-laki bungkuk itu berkelit ke samping seraya memapak dengan tangan kirinya. Bahkan tangan kanannya langsung bergerak mencengkeram.

Plak! Tap!

“Kena kau!” seru laki-laki bungkuk ini ketika berhasil menangkap salah satu pergelangan kaki Ratmi.

Wut!

“Hiih!” Tapi Ratmi tidak kehabisan akal. Tubuhnya meliuk ke bawah. Dan ketika laki-laki itu berusaha menyentak, sebelah kepalan tangannya diayunkan ke bagian barang yang dibangga-banggakan kaum laki-laki.

Duk!

“Aaakh...!” Laki-laki bungkuk ini kontan memekik setinggi langit sambil memegangi burungnya yang terasa mau ‘pecah’.

Sementara Ratmi sendiri langsung membuat putaran ke belakang. “Tahu rasa kau!” dengus Ratmi. Begitu mendarat dengan berkacak pinggang.

“Bocah liar! Kubunuh kau!” maki laki-laki bungkuk. Baru saja laki-laki bungkuk itu hendak menyerang dengan kedua tangan yang membentuk cakar....

“Itu dia! Itu dia! Kejar...! Jangan biarkan dia lolos...!”

Mendadak pada saat itu muncul beberapa orang laki-laki bersenjata, menunjuk-nunjuk ke arah laki-laki bungkuk. Mereka langsung menghambur, hendak mengurungnya.

“Bocah liar! Hari ini kau selamat. Tapi lain kali, hati-hati! Aku akan mengejarmu!” dengus laki-laki bungkuk seraya mencelat kabur dari tempat itu.

“Bungkuk busuk! Aku tak takut ancamanmu! Huh!” balas Ratmi sambil mendengus geram.

“Dia berusaha kabur! Ayo kejar...!” teriak orang-orang yang baru muncul itu.

Jumlah mereka sekitar dua puluh lima orang. Dan semuanya meluruk mengejar laki-laki bungkuk bertopeng tadi.

DUA

Joko Wereng dan Ratmi saling berpandangan tak mengerti melihat laki-laki bungkuk tadi diburu beberapa orang, seperti maling jemuran.

“Ada apa?” tanya Joko Wereng.

“Dasar tolol! Sudah jelas mereka tengah memburu si bungkuk!” rutuk Ratmi.

“Kenapa?”

“Ya, mungkin saja gadis itu warga desa mereka!”

“Lalu, kenapa kau juga ikut-ikutan bengong?”

“Aku bengong bukan memikirkan soal itu. Tapi, bingung kenapa bungkuk-bungkuk seperti orang itu masih juga punya pikiran soal nafsu segala!” dengus Ratmi.

“Mungkin dia orang suruhan...,” duga Joko Wereng.

“Suruhan siapa?!”

“Mungkin saja dia punya majikan....”

“Ah, sudahlah. Tidak usah dipikirkan soal itu. Lebih baik coba lihat, bagaimana keadaan gadis itu,” ujar Ratmi, jadi kesal sendiri.

“Dia tertotok. Aku coba membebaskannya, tapi tak bisa,” jelas Joko Wereng.

“Segalanya memang kau tak bisa! Coba lihat, nih!” Ratmi berjongkok. Dicobanya membebaskan totokan pada gadis yang tadi hendak menjadi korban si bungkuk. “Hiih...!”

Tuk! Tuk!

Ratmi melepas dua totokan. Sekali di dada, dan sekali di dekat pinggang kiri. Tapi, gadis itu belum juga mampu menggerakkan tubuhnya. Dicobanya sekali lagi. Tapi tidak juga berhasil.

“Gila!” umpat Ratmi kesal.

“Makanya..., jangan sok tahu!” Joko Wereng tersenyum mengejek.

Ratmi garuk-garuk kepalanya dengan dahi berkerut. Dia berpikir keras, bagaimana caranya membebaskan totokan gadis itu.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Ratmi pada gadis yang masih terbaring.

“Ti., tidak....”

“Si bungkuk itu sempat..., ng..., menodaimu?”

“Ti..., tidak. Tapi aku..., aku takut sekali....”

“Tenanglah. Sekarang kau aman. Tapi, kami bingung bagaimana cara membebaskan totokanmu,” ujar Ratmi.

“Jadi..., jadi aku akan terus begini?” tanya gadis itu dengan suara tersendat.

“Tenanglah dulu. Kami tengah berpikir, bagaimana caranya menolongmu. Ng..., di mana si bungkuk tadi menotokmu?”

“Entahlah. Aku lupa. Saat itu, aku takut sekali. Aku sudah berusaha melepaskan diri, tapi tiba-tiba saja tubuhku lemas dan tak bisa digerakkan....”

“Coba ingat-ingat!” ujar Ratmi setengah memaksa.

“Kalau tak salah di..., bagian pinggang belakang.”

“Pinggang belakang? Coba berbalik!”

“Ratmi.... Dia tengah tertotok. Mana bisa bergerak...,” ingat Joko Wereng.

Gadis itu tertawa dalam hati karena menyadari kekeliruannya. Tapi mana mau kesalahannya ditunjukkan di depan mereka? “Aku juga tahu! Hanya sekadar menguji, apakah dia sudah bebas dari totokan atau belum. Siapa tahu yang tadi ada hasilnya. Jadi, tidak capek-capek lagi!” tukas Ratmi dengan nada tinggi, seraya membalikkan tubuh gadis yang hendak ditolongnya. Dia lantas menduga bagian mana yang mesti ditotoknya.

“Bagaimana, Nisanak?” tanya Joko Wereng, ketika Ratmi telah menotoknya.

“Anggota tubuhku masih belum bisa digerakkan...,” keluh gadis ini lemah.

“Aduuh! Mesti bagaimana lagi?” keluh Ratmi sambil memukul-mukul jidatnya pelan. Tapi saat tengah kebingungan begitu....

“Wagni...! Wagni anakku! Kau tak apa-apa?!” Mendadak muncul laki-laki setengah baya bersama seorang wanita yang juga setengah baya disertai seruan bernada penuh kekhawatiran. Mereka langsung memburu gadis yang hendak ditolong Ratmi.

“Ibu...! Wagni takut, Bu! Ayah..., aku takut...!” rintih gadis yang bernama Wagni.

Tengah mereka berpelukan, mendadak laki-laki setengah baya yang ternyata ayahnya Wagni berdiri. Dia langsung berkacak pinggang sambil melotot garang.

“Weiih, Bocah! Apa yang telah kalian perbuat pada anakku? Katakan! Atau, golokku ini akan bicara!” dengus laki-laki itu.

Srak!

Golok yang terselip di pinggang langsung dicabut dan langsung diayun-ayunkan di hadapan Ratmi dan Joko Wereng.

“Uts! Dasar orang sinting!” dengus Ratmi sambil melompat ke belakang.

“Hei, apa katamu?! Kurang ajar...!” Bukan main marahnya laki-laki itu mendengar makian Ratmi. Maka tanpa pikir panjang lagi, dia langsung melompat sambil menyabetkan goloknya pada gadis itu.

“Uts! Betul-betul sinting. Hei, Orang Tua! Kenapa kau ini? Menyerang tanpa alasan!”

“Jangan banyak bacot! Apa yang telah kau perbuat terhadap putriku?!”

“Kau kira apa? Menodai putrimu? Gila! Aku bahkan berusaha menyelamatkannya!”

“Dusta! Apa yang hendak kau perbuat padanya tadi?!” desak laki-laki itu.

“Kenapa tidak kau tanyakan saja putrimu?” tukas Ratmi.

Laki-laki itu menghentikan serangannya. Matanya memandang sekilas dengan sorot tajam, kemudian melangkah mendekati putrinya. “Wagni, katakan! Apakah gadis itu telah mencelakaimu?” tanya laki-laki setengah baya itu.

“Ohh!” Wanita setengah baya yang tak lain ibunya Wagni melepaskan pelukan pada anaknya. Sementara Wagni sendiri langsung memandang ayahnya.

“Ayah.... Mereka..., mereka justru yang menolongku,” jelas Wagni.

“Oh! Kalau begitu, aku telah salah paham...,” gumam laki-laki setengah baya ini seraya berpaling memandang Ratmi dan Joko Wereng. Wajahnya langsung berubah pucat, menahan malu. “Nisanak.... Dan kau, Kisanak. Aku si tua bernama Ki Jawul meminta maaf yang sedalam-dalamnya atas sikapku tadi. Juga menyatakan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pertolongan yang kalian berikan pada putriku!” ucap laki-laki setengah baya bernama Ki Jawul, dengan kepala tertunduk.

“Huh, enak saja! Setelah mencoba mencelakakan kami kini kau cuma meminta maaf!” dengus Ratmi sambil membuang muka.

“Jadi..., jadi kalian tak mau memaafkanku...?” Ki Jawul mengangkat kepalanya dengan wajah makin pucat.

“Ratmi, jangan begitu! Dia telah meminta maaf. Dan kita wajib memaafkannya. Tindakannya tadi karena bermaksud melindungi putrinya,” bujuk Joko Wereng. Lalu pemuda tolol itu mendahului, membalas salam hormat Ki Jawul. “Ki Jawul, aku Joko Wereng telah bersedia memaafkanmu!”

“Tapi aku tidak!” cibir Ratmi, tetap dengan nada sinis.

“Ratmi, jangan begitu...!”

“Apa?! Kau berani mengajariku?!” bentak gadis itu dengan mata melotot garang.

“Bukan begitu. Tapi..., tapi....”

“Tapi apa?!” potong Ratmi, garang. “Kalau goloknya tadi sempat memisahkan batok kepala sehingga nyawamu melayang, apakah kau bisa hidup lagi hanya dengan permintaan maaf?!” sergah Ratmi, seenaknya.

“Tapi..., tapi kepalaku kan masih utuh...,” tukas Joko Wereng.

“Ah, sudahlah! Itu urusanmu. Kau boleh saja memaafkannya. Tapi, aku tidak puas kalau belum membalasnya!”

“Nisanak! Kalau itu maumu, aku bersedia melakukan apa saja asal kau memaafkan kesalahanku tadi!” sahut Ki Jawul cepat.

“Sungguh?” tanya Ratmi, minta penegasan.

Laki-laki itu mengangguk cepat. Ratmi mengerutkan dahi, berpikir sebentar. Tapi Joko Wereng yang tahu betul watak gadis itu jadi merasa cemas. Jangan-jangan dia akan memberi hukuman berat.

“Ratmi, kali ini cukuplah. Mereka sudah cukup menderita karena cemas memikirkan putrinya yang diculik. Jangan tambah lagi beban mereka...,” bujuk pemuda cebol itu.

“Diamlah kau. Jangan campuri urusanku!” sentak Ratmi.

“Tapi...” Joko Wereng tak meneruskan kata-katanya. Nyalinya mengkeret melihat bola mata gadis itu mendelik garang padanya.

“Kau harus berlari kira-kira seratus langkah jauhnya dari sini, dan kembali ke sini dengan cepat!” jelas gadis itu menyebutkan hukumannya.

“Cuma itu?” tanya Ki Jawul sambil tersenyum kecil, karena merasa hal itu tidak terlalu sulit dilakukan.

“Hanya syaratnya, kau berlari dengan kedua tangan diikat ke belakang dan mata ditutupi kain,” lanjut Ratmi, memperjelas hukumannya.

“Ohhh!” “Ratmi, kau...?!” Ki Jawul terkejut.

Demikian pula Joko Wereng. Kalau medan yang dilaluinya padang rumput, tidak begitu sulit. Tapi di sekitar tempat ini banyak ditumbuhi semak. Dan yang tidak kalah repot, banyak pohon berbatang besar ataupun kecil yang tumbuh di sekitarnya. Maka apa yang diinginkan gadis itu sama artinya siksaan hebat. Mungkin belum lagi berlari lima langkah, Ki Jawul akan terbentur batang pohon Lalu bangkit dan berlari lagi, maka terbentur batang pohon yang lain.

“Bagaimana? Mudah, bukan?!” tanya Ratmi sambil tersenyum-senyum.

“Nisanak.... Kalau hendak memukulku, pukullah! Aku rela. Bahkan kalau hendak membunuhku, bunuhlah! Tapi jangan perlakukan aku seperti itu,” pinta laki-laki itu, lirih.

“He, jangan macam-macam kau! Tadi kau sendiri yang telah menyanggupi untuk melakukan apa saja, asal aku memaafkanmu. Sekarang akan kumaafkan, asal kau melakukan apa yang kuminta tadi!” bentak Ratmi.

Sementara rombongan orang-orang desa yang tadi mengejar laki-laki bungkuk telah kembali dengan membawa gerutu berkepanjangan dan caci-maki tak karuan. Mereka bertegur sapa sebentar dengan Ki Jawul. Sebagian dari mereka mengatakan pada laki-laki itu kalau Ratmi dan Joko Wereng yang telah menyelamatkan putrinya.

“Kenapa, Ki? Kau sepertinya tidak gembira setelah putrimu ditemukan dalam keadaan selamat?” tanya salah seorang penduduk.

“Tidak, Rambat! Aku gembira sekali!” elak Ki Jawul.

“Tapi..., wajahmu kelihatan kusut. Ada apa, Ki?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa!”

Tapi laki-laki yang dipanggil Rambat agaknya tidak puas dengan jawaban Ki Jawul. Lantas kepalanya menoleh memandang pada Ratmi. “Adik kecil... Ada apa sebenarnya di antara kalian?” tanya Rambat.

Ratmi menceritakan persoalan mereka. “Begitulah. Dia mesti menjalani hukumannya. Dan dengan begitu, baru aku bisa memaafkannya,” kata Ratmi, setelah menjelaskan apa yang terjadi.

“Tapi itu sama artinya kau menyiksanya, Adik Kecil?” tukas Rambat.

“Aku tak peduli! Lagi pula, aku bukan adik kecilmu!” bentak Ratmi sewot.

Mendengar bentakan itu, Rambat terdiam. Demikian pula yang lain. Mereka memahami duduk persoalannya. Dan mereka tahu kalau Ki Jawul telah berbuat gegabah pada gadis itu. Tapi, hukuman yang mesti dijalaninya terasa berat bagi orang seperti Ki Jawul yang tak mengerti apa-apa soal ilmu olah kanuragan. Kalaupun dia mengerti sejurus dua jurus, belum tentu jidatnya aman dari benturan. Bahkan mereka yang berada di tempat itu tidak mampu melakukannya dengan mulus. Tiga atau lima langkah pasti akan terjadi benturan dengan batang pohon. Malah mungkin saja lebih.

“Aku tidak bisa menunggu lama!” teriak gadis itu kesal. “Jalani hukumanmu. Atau semua orang akan melihatmu sebagai manusia tak berbudi?!”

“Kalau memang itu keinginanmu, baiklah. Silakan ikat kedua tanganku dan tutup pula mataku!” sahut Ki Jawul setelah menarik napas panjang.

“Ayah! Ohh...!” teriak Wagni cemas, seraya memandang Ratmi dengan tatapan iba. “Nisanak, aku mohon padamu. Maafkanlah ayahku. Jangan perlakukan dia seperti itu!”

“Tidak bisa! Dia hampir saja membunuhku. Maka dia mesti dapat balasan setimpal!” sentak Ratmi.

“Sudahlah, Wagni. Ayah memang salah. Biarkan Ayah menjalani apa yang dimintanya,” sahut Ki Jawul.

“Tapi..., Ayah bisa celaka...?”

“Biarlah kuwakili orang tua ini, Nisanak.”

“Hei?!”

Tahu-tahu terdengar suara bernada menawarkan diri, membuat semua yang ada di tempat itu tersentak, dan menoleh. Tahu-tahu di tempat itu, berdiri seorang pemuda tampan berbaju rompi putih. Di balik punggungnya, bersandar sebilah pedang bergagang kepala burung.

“Anak muda! Jangan mencari celaka. Biarlah aku yang akan melakukannya. Ini memang salahku,” tolak Ki Jawul, tegas.

“Aku bermaksud menolongmu. Dan tidak minta imbalan sedikit pun atas pertolonganku. Semua yang ada di sini menjadi saksinya,” sambung pemuda yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti.

Mulanya Ki Jawul akan menampik niat baik pemuda itu. Tapi....

“Baik! Kau akan menggantikannya!” kata Ratmi sinis.

Ikut campurnya Pendekar Rajawali Sakti dalam persoalannya membuat gadis itu kesal. Apalagi, seolah Rangga meremehkan hukuman yang diberikannya tadi. Meski menyandang pedang dan diduga memiliki ilmu silat, belum tentu pemuda itu akan selamat. Begitu pikiran gadis ini. Kalau sudah kena batunya, baru tahu rasa!

“Tapi, Nisanak! ini salahku! Ini persoalan kita! Orang lain tak berhak ikut campur!” tukas Ki Jawul.

“Diamlah kau! Seharusnya kau senang karena, dia mau mewakilimu. Kalau kau banyak bicara, maka hukuman akan kulipatgandakan!” sentak gadis itu galak, seraya melirik Rangga.

Hati Ki Jawul jadi miris. Juga merasa kasihan kalau pemuda yang tak dikenalnya itu menjadi korban karena kesalahannya.

“Sudah siap?” tanya Ratmi.

“Silakan.”

“Hm...!” Ratmi menunjukkan muka manis saat melewati Ki Jawul. “Pinjam ikat kepalamu!”

Dengan ragu Ki Jawul memberikan ikat kepalanya yang agak lebar.

“Huu, bau!” leceh gadis ini sambil memonyongkan mulut dan menarik hidungnya ketika mencium ikat kepala itu sekilas.

Ki Jawul mesem-mesem. Sementara yang lainnya nyengir kuda.

Bret!

Ikat kepala itu dirobek jadi dua bagian yang sama panjang. Satu mengikat kedua tangan pemuda itu ke belakang, dan satu lagi untuk menutupi mata.

“Joko.... Kau jalan seratus langkah dari sini! Pastikan dia sampai di tempatmu!” perintah Ratmi.

“Baik.”

Setelah segala sesuatunya beres, gadis itu memberi aba-aba. “Kumulai hitungan tiga. Dan sampai hitungan ke sepuluh, kau harus tiba lagi di sini!”

“Nisanak... Syarat itu terlalu berat!” sela Ki Jawul.

Gadis itu mendengus sinis, sehingga laki-laki itu tak mampu melanjutkan ungkapan ketidaksetujuannya. “Yak...!” teriak Ratmi setelah menghitung sampai tiga.

Rangga mulai berlari kencang. Langsung dikerahkannya aji ‘Pembeda Gerak dan Suara’. Kedua tangannya dikibas-kibaskan ke depan. Dan dari situ terasa angin kencang bertiup. Bila angin pukulan itu membentur batang pohon, maka sebagian memantul menerpa mukanya. Dengan demikian pemuda itu mengetahui kalau di depannya ada batang pohon. Maka segera tubuhnya mengegos ke samping. Begitu seterusnya. Semua itu dilakukan dalam waktu singkat dan kecepatan hebat.

“Gila! Bagaimana mungkin dia dapat melakukan hal itu?!” desis seorang penduduk desa sambil mendecah kagum.

“Pemuda itu mungkin punya tiga mata. Dua mata tertutup, tapi satu mata masih melihat!” sambung yang lain.

“Hus, ada-ada saja kau! Yang jelas dia memang sakti.”

Sementara itu, Ratmi baru menghitung sampai angka tujuh. Dan ternyata Pendekar Rajawali Sakti telah kembali. Itu membuatnya tidak senang. Maka ketika pemuda itu hampir tiba, secepatnya ketapelnya dikeluarkan. Dan disambarnya beberapa buah kerikil, lalu dijepretkannya.

“Hiih!”

Tiga buah kerikil melayang ke arah Rangga. Namun Pendekar Rajawali Sakti cepat menangkap dua buah.

Tap! Tap! “Hup!”

Sedangkan sebuah lagi luput mengenai sasaran, karena Rangga melompat ke atas dan berjumpalitan beberapa kali seraya mengebutkan tangannya. Maka dua kerikil yang berhasil ditangkap, kembali meluncur deras ke arah semula datang.

“Sial! Uhh!” Ratmi menggerutu geram. Sebuah kerikil berhasil dihindarinya dengan menjatuhkan diri dan bergulingan. Tapi, kerikil yang satu lagi tepat mengenai pinggang bagian belakang, saat tubuhnya bergulingan.

Tuk!

“Aduuuh...!” Ratmi menjerit kesakitan. Tubuhnya kontan tak berdaya, seperti dicopoti tulang-belulangnya. Dan..., tak mampu bangkit lagi! Tentu saja kejadian itu membuat mereka yang menyaksikan menjadi terkejut. Kalau tadi mereka sempat menahan dongkol melihat kecurangan gadis itu, kini di hati mereka ada terbersit perasaan senang. Mungkin sekadar melampiaskan kekesalan, melihat tingkah polah Ratmi.

TIGA

”Kisanak.... Kini kau terbebas dari hutang budi kepadanya,” kata Rangga.

“Oh.... Terima kasih, Anak Muda! Tapi..., bagaimana dengan gadis itu?” tunjuk Ki Jawul.

“O, dia? Tidak apa. Gadis itu akan pulih dengan sendirinya sebentar lagi,” sahut Rangga kalem.

“Anak muda.... Aku tak tahu harus bagaimana berterima kasih. Kita tak saling kenal. Tapi, kau bersedia berkorban untuk membantuku. Aku si tua bernama Ki Jawul betul-betul amat berterima kasih atas segala pertolonganmu!” ucap Ki Jawul.

“Sudahlah, Ki. Tidak usah begitu. Bukankah sudah jadi kewajiban setiap umat manusia untuk saling tolong-menolong?”

“Ya, kau benar.”

“Kang...!” sela Nyi Jawul dengan wajah tampak murung. Wanita istri Ki Jawul membisikkan sesuatu. Dan wajahnya masih tampak murung ketika berpaling pada putrinya yang masih berbaring lesu.

“Anak muda.... Kami..., kami...,” Ki Jawul jadi sungkan untuk meminta pertolongan pemuda itu lagi.

“Ada apa, Ki? Apa yang bisa kubantu lagi?” tanya Rangga.

Untuk sesaat lidahnya terasa kelu. Tapi mengingat hal ini demi kebaikan putrinya, maka diberanikannya untuk memohon. “Aku tak tahu apa yang terjadi. Tapi, putriku kaku dan tak bisa bergerak...,” jelas Ki Jawul.

“Hm, coba kuperiksa.” Rangga melangkah lebar mendekati. Di amat-amatinya Wagni dengan seksama. Lalu dua buah jari tangannya bergerak menyambar bagian pinggang agak ke atas.

Tuk! Tuk!

“Putrimu tertotok. Dan kini telah kubebaskan. Sebentar lagi dia akan mampu bergerak. Urat-uratnya agak lemas karena terlalu lama kena totok,” jelas Rangga.

“Wagni.... Kau tak apa-apa, Nak...?” tanya Nyi Jawul, khawatir.

“Tidak, Bu....” Perlahan-lahan gadis itu berusaha bangkit, dan langsung memeluk ibunya. “Bu..., Wagni takut.... Takut, Bu....”

“Hm.... Apa sebenarnya yang terjadi, Ki? Kenapa putrimu bisa jadi begini?” tanya Rangga.

“Seseorang menculiknya ketika kami berada di sawah. Kemudian seorang penduduk yang mengetahuinya segera membunyikan kentongan untuk memanggil penduduk desa lainnya,” jelas Ki Jawul, singkat.

“Hm.... Di mana-mana memang selalu saja ada yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan!” gumam Rangga pelan, namun menyiratkan kegeraman. “Siapa penculik itu?”

Sementara itu Joko Wereng telah kembali. Dan dia kaget melihat apa yang terjadi terhadap Ratmi. “Ratmi...! Ada apa? Apa yang terjadi padamu?!” tanya pemuda cebol itu.

“Pemuda sial itu! Dia telah menotokku! Lepaskan totokan ini, Joko! Aku mesti menghajarnya!” rutuk Ratmi, panjang-pendek.

“Baik. Baik! Sebentar...!”

Tuk!

Totokan yang dilakukan Rangga memang tidak kuat. Karena, memang disengaja untuk memberi pelajaran pada gadis itu. Sehingga, Joko Wereng tidak kesulitan melepaskannya.

“Hup!” Dengan sigap Ratmi bangkit ketika telah terbebas dari totokan. Lalu dia cepat melompat ke hadapan Rangga. Di belakangnya, Joko Wereng mengikuti. “Pemuda kurang ajar! Apa yang kau perbuat padaku, he?! Kau hendak berbuat curang dengan coba mencelakakanku?!” hardik Ratmi garang.

“Eh, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba marah?” tanya Rangga, tenang.

“Jangan pura-pura bodoh! Kau telah melemparku dengan batu!”

“Melemparmu dengan batu? Mana mungkin? Kedua tanganku terikat dan mataku terkatup?!” kilah Rangga, pura-pura.

Ratmi mendongkol setengah mati. Dia tadi sampai tidak memperhatikan, bagaimana pemuda itu melepaskan ikatan, lalu menangkap kedua batu dan balas melempar ke arahnya. Kejadian itu begitu cepat dan singkat. Hal itu memang tidak mengherankan kalau Ratmi mau jeli. Ketika mulai berlari, tubuh Rangga yang kadang berputar, melompat ke atas beberapa kali. Kesempatan itu digunakannya untuk melepaskan diri dari ikatan. Karena gerakannya cepat, demikian pula larinya, sehingga Ratmi tidak sempat memperhatikannya.

“Jelas kau yang melakukannya!” tuding gadis itu, kehabisan kata untuk menuduh Pendekar Rajawali Sakti.

“Nisanak.... Kau tak punya bukti. Aku tidak bisa menyambitmu dengan batu. Maka jangan suka mengada-ada,” sahut Rangga tenang. Pemuda itu menoleh pada Ki Jawul. “Kalau kau tidak keberatan, bolehkah aku mampir ke rumahmu, Ki? Barangkali ada seteguk atau dua teguk air putih untuk membasahi tenggorokanku,” lanjut Rangga.

“Oh, ada! Ada! Mari, Anak Muda...!” sahut Ki Jawul cepat.

Tanpa banyak tanya lagi, Pendekar Rajawali Sakti segera mengikuti langkah Ki Jawul. Demikian pula semua warga desa yang berada di tempat itu.

“Persoalan ini belum selesai! Suatu saat kau akan menerima pembalasanku!” dengus Ratmi dengan wajah cemberut, kesal.

Permintaan Rangga tadi sebenarnya hanya pengalih perhatian, agar tidak berurusan dengan gadis bengal bernama Ratmi. Maka setelah jarak mereka jauh, dia bermaksud mohon diri. Tapi, pemuda itu terpaksa menundanya ketika dalam perjalanan menangkap cerita yang menarik dari warga desa itu. Khususnya, dari Ki Jawul.

“Seringkah penculikan itu terjadi?” tanya Rangga.

“Belakangan ini memang sering,” sahut Ki Jawul, menjelaskan.

“Apakah sudah ada yang tahu, siapa penculik itu?”

“Tidak. Wajahnya selalu ditutupi topeng hitam. Tapi kami tahu ciri-cirinya yang utama. Dia bertubuh bungkuk.”

“Belum pernah ada yang berhasil melucutinya?” Ki Jawul menggeleng lemah. “Apakah tidak ada yang membuntuti ke mana dia pergi?”

“Orang itu memilik kesaktian hebat. Dan, tidak mungkin bagi kami menahannya seorang diri. Sedangkan beramai-ramai saja, dia masih berani melawan. Bahkan membunuh beberapa orang desa,” jelas Ki Jawul.

“Sudah sebulan belakangan ini, telah tujuh gadis yang menjadi korbannya. Wagni menjadi korban ke delapan, kalau tidak lekas ditolong.”

“Hm.... Orang itu tidak bisa didiamkan!” desis Rangga, geram.

“Tapi apa daya kami? Dia kuat dan sakti. Sedangkan orang-orang desa umumnya lemah dan tak mengerti apa-apa soal ilmu olah kanuragan.”

“Tak perlu risau, Ki. Aku akan membantu kalian!” sahut Rangga bersemangat.

“Tapi..., oh, ya siapa namamu, Anak Muda?” tanya Ki Jawul tidak meneruskan ucapannya.

“Oh ya perkenalkan namaku Rangga.... Namun orang-orang persilatan memanggilku Pendekar Rajawali Sakti!” ucap Pendekar Rajawali Sakti tidak bermaksud menonjolkan diri.

“Oh.... Kaukah pendekar muda yang terkenal itu, beruntung sekali kami dapat bertemu denganmu, Tuan Pendekar!” ucap Ki Jawul gembira. “Kalau begitu, nanti akan kami bicarakan pada Ki Senggono, Kepala Desa Sabrang Lor!”

“Baiklah!” kata Pendekar Rajawali Sakti. Maka terpaksa Rangga mengurungkan niat untuk segera angkat kaki dari rombongan itu. Dia bertekad akan menyelesaikan persoalan ini sampai tuntas.

Setiba di Desa Sabrang Lor, segera diadakan acara mendadak. Mereka berkumpul di rumah Ki Senggono, yang menjabat sebagai kepala desa.

“Orang ini amat licin dan berilmu tinggi. Kami telah berusaha menangkapnya, namun selalu saja luput. Demikian pula tadi,” ungkap Ki Senggono, membuka percakapan.

“Apakah hanya desa ini yang dijadikan korbannya, Ki?” tanya Rangga.

“Tidak. Dia pun pernah mencari korban di desa tetangga. Tapi terbanyak memang di desa ini,” jelas Ki Senggono.

“Apakah pernah terjadi sesuatu di desa ini yang berhubungan dengan tokoh bertubuh bungkuk itu?” kejar Rangga.

“Maksudnya?” tukas Ki Senggono.

“Mungkin dulu pernah ada tokoh bungkuk di desa ini yang merasa terhina oleh semua penduduk, sehingga ketika dia merasa kuat, maka niatnya adalah membalas dendam pada semua penduduk desa di sini. Khususnya, para wanita.”

“Tidak! Seingat kami tidak pernah ada kejadian-kejadian seperti itu.”

“Hm Kalau begitu, ada dua kemungkinan...,” gumam Rangga.

“Maksudmu?”

“Orang itu pasti memiliki nafsu amat besar. Dan untuk melampiaskannya, dia mencari daerah lemah. Artinya jika dia mencari korban, maka akan didapat dengan mudah dengan akibat yang tak terlalu parah.”

“Lalu yang kedua?”

“Seseorang mengutusnya untuk melakukan keonaran. Bisa karena dendam pribadi, untuk kepentingan sendiri, dan lain sebagainya.”

“Kami bingung, Rangga. Cara apa yang mesti digunakan untuk menangkap orang ini,” ungkap Ki Senggono yang sejak semula diminta Pendekar Rajawali Sakti untuk memanggil nama saja.

“Betul, Rangga. Entah kapan semua ini akan berakhir,” sambung yang lain, mengeluh.

“Sekarang, tenanglah. Dan, jangan terlalu dirisaukan. Aku akan membantu untuk menangkap penculik itu. Semua harus dibuat tenang! Meski begitu, kewaspadaan jangan dilupakan. Dan sebaiknya ditingkatkan,” ujar Pendekar Rajawali Sakti.

“Benar! Kita harus meningkatkan kewaspadaan. Rangga, aku ada sedikit permintaan. Dan mudah-mudahan, kau sudi mengabulkannya,” kata Ki Senggono.

“Permintaan apa itu, Ki?” tanya Rangga.

“Maukah kau melatih para pemuda di desa ini?” jelas Ki Senggono.

“Melatih apa?” Rangga malah balik bertanya.

“Melatih kedigdayaan dan ilmu olah kanuragan, agar mereka mampu menghadapi penculik itu.”

“Ilmu kedigdayaan dan kanuragan itu tidak mudah, Ki. Butuh waktu lama. Padahal, aku tidak bisa berlama-lama di satu tempat.”

Wajah Ki Senggono tampak kecewa. Demikian pula yang lain.

“Kecuali...,” sambung Rangga sambil tersenyum kecil.

“Kecuali apa, Rangga?”

“Kecuali mengajarkan ilmu-ilmu dasar saja. Karena itu hanya memakan waktu sehari atau dua hari. Selanjutnya, mereka bisa terus berlatih sendiri. Paling tidak, untuk kesehatan tubuh dan meningkatkan kecepatan gerak.”

“Ya, begitu juga tak apa! Kapan kira-kira bisa dilaksanakan?”

“Setelah sore nanti pun bisa.”

“Baiklah. Aku akan mengumpulkan pemuda desa. Kita latihan di halaman depan rumahku. Mungkin tempat itu cukup luas.”

“Ya, tidak apa.”

********************

Satu sosok tubuh ramping dengan wajah tertutup topeng kain mengendap-endap. Gerakannya gesit, seperti seekor harimau mengincar mangsa. Tidak jauh darinya terlihat tiga pemuda tengah berjalan sambil bercakap-cakap.

“Uh.... Badanku terasa pegal-pegal!” keluh pemuda yang bertubuh kurus.

“Aku juga!” sahut pemuda yang bertubuh kekar.

“Dasar kalian memang tak pernah olahraga! Makanya sekali latihan begitu sudah pegal-pegal!” ejek pemuda bertubuh pendek.

“Tapi senang juga rasanya. Sebentar lagi aku akan menjadi tokoh persilatan hebat, Jenap!” cetus yang berbadan kurus.

“Gila! Mana mungkin. Jangan mimpi kau, Karsa! Kita cuma belajar gerak-gerak dasar. Mana bisa menjadi tokoh silat hebat!” tukas pemuda bertubuh kekar yang dipanggil Jenap.

“Siapa tahu Pendekar Rajawali Sakti mau mengajari sampai seterusnya!”

“Pendekar Rajawali Sakti tidak lama di sini. Setelah menangkap penculik itu, dia akan pergi.”

“Selama menunggu penculik itu tertangkap, maka dia punya waktu banyak,” bantah Karsa.

“Pendekar Rajawali Sakti tokoh hebat. Karsa. Mungkin dia tidak perlu waktu lama untuk menangkap penculik itu. Sebentar lagi pun, dia akan meronda. Setelah menemukan jejaknya, pasti penculik itu akan ditangkapnya. Urusan selesai. Dan dia segera angkat kaki. Pendekar Rajawali Sakti seorang pengelana. Dia tidak betah berlama-lama di satu tempat.”

“Sayang sekali. Padahal aku masih bersemangat belajar ilmu silat....” Baru saja kata-kata Jenap habis...

“Hei?!”

Mendadak ketiga pemuda itu berseru kaget, ketika tahu-tahu di depan mereka menghadang sesosok tubuh ramping dengan wajah tertutup topeng kain.

“Kalau ingin hebat, kenapa tidak belajar padaku saja?” kata sosok ramping bertopeng itu sambil berkacak pinggang.

“Benarkah?!” Bola mata Karsa membulat lebar. Bibirnya menyungging senyum. Tapi tidak demikian halnya kedua kawannya. Mereka memandang orang bertopeng itu dengan sorot mata penuh selidik.

“Jangan mudah percaya, Karsa! Kita tidak kenal siapa dia!” kata yang bertubuh pendek yang dikenal bernama Gambit.

“Siapa kau sebenarnya?!” timpal Jenap.

“Hi hi hi...! Aku guru silat kalian yang baru,” sahut sosok bertopeng itu seenaknya. Suara sosok itu cempreng dan nyaring, seperti suara perempuan yang baru melewati masa kanak-kanak. Jelas, dia memang seorang perempuan.

“Jangan main-main kau! Kepung!” dengus Jenap.

Karsa dan Gambit langsung melompat ke kiri dan kanan wanita bertopeng itu. Sementara Jenap berada di depan. Mereka dalam keadaan siap untuk meringkus.

“Hi hi hi...! Kalian ingin menangkapku? Bagus! Ayo, tangkaplah! Pergunakan kepandaian yang diajarkan bocah berompi putih itu. Tunjukkan kalau kalian adalah murid-murid pintar!” tantang wanita bertopeng ini.

“Yiaaat!”

Serentak ketiga pemuda itu menyerang. Hitung-hitung sebagai penerapan atas hasil latihan tadi. Wanita bertopeng itu mengegos ke samping. Sehingga tendangan Gambit luput dari sasaran. Kemudian secepat kilat dia mencelat ke atas, sehingga kepalan tangan kanan Karsa hanya menghantam angin. Dan seketika dia melepas tendangan keras ke dada Karsa.

Duk!

“Aaakh!” Karsa menjerit keras dan roboh kesakitan.

Pada saat yang sama, tendangan Jenap meluruk deras. Cepat wanita bertopeng itu merunduk seraya menangkap pergelangan kaki Jenap. Lalu....

“Hiih!”

Gabruk!

Wanita bertopeng ini mendorong Jenap ke depan sampai terpelanting.

“Hi hi hi...! Hanya segitukah ilmu silat yang diajarkannya pada kalian?” ejek wanita bertopeng.

“Keparat! Apa maumu sebenarnya?!” bentak Jenap, seraya bangkit dengan mulut meringis.

“Mauku? Aku hanya ingin menunjukkan bahwa ilmu silat bocah berompi putih itu tak ada gunanya,” sahut wanita ini, merendahkan.

“Kami memang murid tak becus. Dan, baru belajar sejurus atau dua jurus. Mana bisa disamakan denganmu? Tapi meski begitu jangan kira kami takut menghadapimu!” desis Jenap.

“Oh! Jadi kau berani? Ayo, tunjukkan lagi nyalimu!”

“Huh!” Jenap mendengus sinis. Bahkan Karsa dan Gambit langsung merangsek dengan nekat. “Yeaaat!”

Tapi wanita bertopeng itu langsung menangkis dengan kibasan tangannya.

Plak! Plak!

Lalu sebelah kaki wanita itu menghajar dada Karsa dan Gambit dengan gerakan cepat dan beruntun.

Duk! Duk!

“Wuaaa...!”

Kedua pemuda itu kontan terpental disertai jerit kesakitan.

“Heaaat!” Keadaan itu tidak membuat Jenap jerih. Dia langsung melompat menerkam dari depan.

Plak!

Sodokan tangan Jenap ditepis dengan tangan kiri wanita itu. Bahkan tiba-tiba perutnya mendapat sodokan kepalan tangan kanan.

Desss!

“Aaakh...!” Jenap kontan terjungkal dan menjerit tertahan.

“Huh! Percuma saja kalian capek-capek latihan kalau tak ada hasil!” ejek orang bertopeng itu.

“Kami belum kalah!” dengus Karsa, geram.

“Kalau begitu, buktikan keperkasaanmu,” tantang wanita itu.

“Baik! Kau rasakan hajaranku!” Karsa memang amat bernafsu untuk balas menghajar. Tapi sebelum dia bertindak, satu sosok bayangan putih berkelebat ke arahnya dengan cepat. Dan tahu-tahu lengannya telah tercekal.

EMPAT

“Kenapa mesti merepotkan diri? Biarlah aku yang menghadapinya kalau sekadar ingin menjajal kepandaian,” kata sosok bayangan itu.

“Pendekar Rajawali Sakti! Oh! Kami..., kami....”

“Sudahlah. Aku mengerti. Kalian tidak bermaksud mempermalukan aku. Tapi, orang ini memang sengaja ingin mencari gara-gara,” ujar sosok yang ternyata Rangga.

“Hei, Bocah! Kaukah guru mereka?!” bentak orang bertopeng itu, garang.

Rangga memandang sosok bertopeng itu sambil tersenyum kecil. “Kalau iya, kenapa? Apakah kau keberatan?”

“Huh! Aku ingin lihat, sampai di mana kehebatanmu!”

“Kalau itu maumu, silakan saja.”

“Bersiaplah kau.” Baru saja selesai kata-katanya, orang bertopeng itu meluruk dengan satu tendangan maut. “Heaaat...!”

"Uts...!" Rangga mengegos ke samping dengan lengan kiri menangkis gesit.

Namun orang bertopeng itu melanjutkan serangan lewat sodokan kepalan lengan kiri ke dada. Rangga mengembangkan tangan kanan dan kembali menangkis dengan tenang. Tapi, orang bertopeng itu kemudian memiringkan tubuh dan agak rendah. Kaki kirinya menyodok ke ulu hati. Cepat bagai kilat Rangga melompat ke samping. Tiba-tiba tubuhnya berputar dalam sikap agak rendah. Dan kaki kirinya pun menyikut lutut kiri orang bertopeng itu pada bagian belakang.

“Sialan!” maki orang bertopeng dengan bersungut-sungut ketika tubuhnya ambruk. Tapi hanya sesaat, karena selanjutnya orang bertopeng itu cepat bergulingan Begitu bangkit, dia menyerang lagi.

Rangga bergerak cepat. Sedikit dia memiringkan tubuhnya, lalu tangannya bergerak memapak. Kepalan tangan orang bertopeng terasa bergetar saat ditangkis Rangga. Namun tangannya yang sebelah kiri menghantam ke wajah, membuat Pendekar Rajawali Sakti terpaksa melompat ke belakang Sepertinya orang bertopeng itu tidak akan memberi kesempatan sedikit pun. Dia terus mencelat, mengejar Pendekar Rajawali Sakti.

“Ohh...!” Namun sama sekali tidak terduga kalau Pendekar Rajawali Sakti tiba-tiba berbalik cepat. Tangannya mengibas, menyambar topeng orang itu.

Brettt...!

“Hm.... Kini aku tahu, siapa orangnya yang amat penasaran itu!” Rangga tersenyum seraya mengacung-acungkan topeng kain yang berhasil disambarnya dari wajah orang itu.

Ternyata orang bertopeng itu adalah gadis belia berparas cantik. Tapi saat ini paras cantik itu berubah menjadi kerut-kerut kebencian. Matanya yang indah berubah nyalang memandang Pendekar Rajawali Sakti.

“Huh! Kau memang hebat. Tapi suatu saat akan kau rasakan pembalasanku!” dengus wajah cantik yang tidak lain Ratmi.

“Di antara kita tidak ada permusuhan. Kenapa kau kelihatan begitu membenciku, Nisanak?” tanya Rangga.

“Huh! Jangan bermain-main denganku. Aku tahu watak laki-laki sepertimu!”

“Galak juga! Sayang, cantik-cantik galak. Orang sepertimu biasanya jadi perawan tua.”

“Itu bukan urusanmu!”

“Tentu saja. Mana aku mau berurusan dengan seorang calon perawan tua,” sahut Rangga sekenanya.

“Kurang ajar! Kurobek mulutmu yang ceriwis. Ratmi baru saja akan menggebrak, tapi...

“Penculiiik...! Tangkap penculiiik...!”

Mendadak dari arah selatan, terdengar teriakan membahana. Semua yang ada di tempat itu langsung tersentak, dan memandang ke segala arah.

“Pendekar Rajawali Sakti! Kita mesti ke sana! Eh, ke mana dia?”

Jenap jadi celingukan sendiri, ketika melihat Pendekar Rajawali Sakti telah raib dari sini.

“Gila! Bagaimana dia bisa menghilang secepat itu?!” desis Gambit.

“Mungkin dia punya sayap!” cetus Karsa.

“Hush! Memangnya dia burung?!”

“Eh! Bukan hanya burung yang punya sayap!”

“Lalu, apa maksudmu?”

“Kalong juga punya sayap. Dan..., setan barangkali!”

“He, jadi kau menyamakan Pendekar Rajawali Sakti dengan setan?!” tukas Gambit mendelik lebar pada kawannya.

“Bukan! Tapi..., mungkin saja turunannya.”

“Kau kira setan punya turunan?! Setan hanya punya kawan, ya contohnya sepertimu!” ejek Gambit.

“Sialan kau!” umpat Karsa. Karsa bermaksud menjitak kepala kawannya, tapi Gambit telah buru-buru menghindar menyusul Jenap yang telah lebih dulu melompat setelah melihat Rangga tak ada di tempatnya.

Sedangkan Ratmi menyusul tak lama setelah kepergian Jenap. Sementara Rangga yang telah lebih dulu di tempat kejadian, melihat beberapa orang kelihatan tengah mengejar seseorang yang melompat dengan mengendap-endap. Gerakannya ringan, menandakan kalau orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh cukup lumayan.

Pendekar Rajawali Sakti mengambil jalan memotong. Meski saat itu malam mulai tiba dan daerahnya penuh pepohonan, tapi Rangga bisa melihat kalau penculik yang tengah memondong seorang gadis itu bertubuh bungkuk. Orang-orang Desa Sabrang Lor itu boleh terkecoh karena tak mampu mengejar. Tapi Rangga terus mengikutinya dengan seksama.

Sementara itu, jarak antara penculik bertubuh bungkuk dengan orang-orang desa yang mengejarnya sudah cukup jauh. Penculik bungkuk itu menghentikan larinya. Kepalanya menoleh ke belakang, ke arah para pengejarnya yang kini tak terlihat seorang pun. Dia tersenyum-senyum ketika membuka topeng hitam yang menutupi wajahnya.

“Dasar kerbau-kerbau tolol! Apa yang bisa mereka perbuat padaku?!” leceh penculik bungkuk itu.

“Mereka mungkin tolol!”

“Hei?!” Si bungkuk terkejut mendengar sebuah suara sahutan. Ketika pandangannya tertuju ke depan, tahu-tahu di tempat itu telah berdiri seorang pemuda tampan berbaju rompi putih dengan pedang tersandang di punggung. Dahi orang bungkuk ini berkerut. Langsung disadari kalau saat ini tengah berhadapan dengan salah seorang tokoh persilatan.

“Siapa kau?” tanya laki-laki bungkuk itu datar. Nada suaranya dibuat berat. Dan tatapan matanya setajam sembilu dengan sikap mengancam.

“Aku Rangga...,” sahut pemuda yang tak lain Rangga, alias Pendekar Rajawali Sakti.

“Kau tokoh yang disewa mereka untuk menangkapku?” tanya orang bungkuk itu lagi.

“Apakah kau kira mereka mampu menyewaku?” tukas Rangga.

“Jangan banyak mulut! Katakan saja, ya atau tidak"

“Aku tak peduli! Yang jelas, hari ini jangan harap kau bisa lolos dari tanganku!”

“Ha ha ha...! Kelewat gegabah kau, Bocah. Buktikan kemampuanmu!” bentak lelaki bungkuk seraya meletakkan calon korbannya ke tanah. Laki-laki itu kemudian memasang kuda-kuda, siap menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

“Heaaat...!”

Dengan satu lompatan gesit, laki-laki bungkuk melesat bagaikan kilat menyerang. Tapi Rangga dengan sigap mengegos ke samping. Begitu kaki kanan lawannya menyambar ke perut. Rangga terus mencelat ke atas. Seketika tubuhnya berputaran, lalu meluruk dan balas menyerang dengan menyodok tengkuk lewat satu tendangan maut.

Si bungkuk tidak kalah sigap. Tubuhnya berbalik ke kiri, seraya menangkis dengan tangan kiri. Bahkan tiba-tiba kepalan tangan kanan laki-laki ini menyodok ke bawah perut Rangga.

“Uh, serangan keji!” desis Rangga seraya menangkis dengan telapak tangan yang dihantamkan ke bawah. Dan dengan cepat sikut Pendekar Rajawali Sakti bergerak menghantam ke muka.

“Argkh!” Laki-laki bungkuk itu menjerit tertahan. Rahang kirinya terasa mau lepas dari persendian setelah menerima hantaman barusan.

“Ayo! Ke sini, Bungkuk!”

“Keparat!” Laki-laki bungkuk mendengus geram. Kembali dibuatnya kuda-kuda, siap menyerang kembali. “Kali ini akan kupatahkan lehermu, Bocah!” dengus laki-laki bungkuk mengancam.

“Kau terlalu banyak gertak, Bungkuk!”

“Setan! Heaaat...!” Saat itu juga, laki-laki bungkuk menghentakkan telapak tangan kirinya ke depan. Dan dari telapaknya mendesir angin kencang.

Seketika Pendekar Rajawali Sakti mengegos ke samping. Dan secepat kilat kaki kanannya menyodok ke jantung. Tendangan Rangga menghantam angin karena lawannya cepat mundur selangkah. Sementara Pendekar Rajawali Sakti langsung mencelat ke atas. Tubuhnya berjungkir balik mendekati laki-laki bungkuk dengan tangan kanan membentuk cakar burung. Jelas, dia telah mengerahkan jurus ‘Sayap Rajawali Membelah Mega’.

“Hiaaat!”

Laki-laki bungkuk itu coba menangkis. Tapi, Pendekar Rajawali Sakti malah menangkap pergelangan tangannya. Sambil menyentak tangan yang ditangkap, Rangga melepas sodokan sikut ke wajah.

“Aaakh...!”

Kemudian disusul tendangan kaki kiri menghantam dada.

“Aaakh...!” Kembali laki-laki bungkuk menjerit kesakitan. Tubuhnya kontan terjungkal ke belakang.

“Masih ingin lagi? Ayo! Bangkit cepat!” tantang Rangga.

Pelan-pelan penculik bungkuk itu bangkit. Wajahnya kelihatan pucat, ketakutan. Dia bermaksud mundur teratur. Ketika laki-laki bungkuk itu berusaha kabur, Pendekar Rajawali Sakti melompat mengejar. Tahu-tahu tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti telah mencengkeram leher orang itu.

“Kuberi kesempatan untuk berdoa sebelum lehermu patah!”

“Okhh...!” Laki-laki bungkuk itu terkejut. Semangatnya terbang. Dan wajahnya pucat ketakutan mendengar ancaman Rangga. “Ampun. Ampuni aku, Kisanak...,” ucapnya lirih dengan suara tercekat di tenggorokan. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin mengucur dari seluruh pori-porinya.

“Manusia telengas sepertimu kalau dibiarkan hidup akan membuat petaka di mana-mana!” desis Rangga. “Sudahkah kau berdoa?”

“Kisanak, aku bersungguh-sungguh. Ampuni jiwaku...,” ratap laki-laki bungkuk. “Aekh...!” Penculik bungkuk ini berteriak tertahan ketika Rangga memperkuat cengkeraman tangannya. “Ampun, Kisanak! Aku..., aku terpaksa melakukan semua ini!” jeritnya untuk menggugah perhatian Rangga.

Rangga mengendorkan cekalannya, membuat laki-laki bungkuk itu bernapas agak lega.

“Apa maksudmu?”

“Kau memang tidak suka akan apa yang kulakukan selama ini. Tapi, percayalah. Semua ini kulakukan dengan terpaksa!” lanjut laki-laki bungkuk itu.

“Hmm...!”

“Aku diancam seseorang untuk melakukan perbuatan terkutuk ini.”

“Siapa?”

“Penghuni Kuil Emas.”

“Kuil Emas?”

“Ya! Kalau tidak, nyawa anak dan istriku bakal terancam! Tolonglah aku, Kisanak! Tolong ampuni...!” ratap si bungkuk.

Belum habis kata-kata penculik bungkuk itu berkelebat sesosok bayangan dari belakang Pendekar Rajawali Sakti. Rangga terkesiap. Tubuhnya berbalik cepat seraya mengibaskan tangan kiri. Sesaat lengan Rangga membentur sesuatu. Tapi satu sodokan keras tahu-tahu menghantam dadanya.

“Aaakh!” Pendekar Rajawali Sakti terhuyung-huyung ke belakang merasakan satu sodokan bertenaga dalam tinggi.

Belum juga Rangga bisa menguasai diri. Laki-laki bungkuk ini telah berusaha melarikan diri bersama bayangan hitam yang telah membantunya. Dalam waktu singkat, mereka menghilang ditelan kegelapan malam dan rerimbunan pepohonan. Rangga bergumam pelan, dan sengaja tidak mengejar. Diperhatikannya mereka sekilas sebelum orang-orang desa yang membawa-bawa obor mengusik lamunannya yang cuma

“Rangga! Rangga...!”

“Ya, aku di sini...!” sahut Pendekar Rajawali

“Kau tak apa-apa?” tanya Ki Senggono yang memimpin rombongan, begitu tiba di tempat ini.

Rangga menggeleng dan tersenyum.

“Kau bertemu penculik itu?”

“Padmi! Oh.... Syukurlah kau selamat, Nak!”

Rangga belum sempat menjawab ketika salah seorang penduduk berseru haru. Dia hanya menatap orang itu, lalu berbalik pada Ki Senggono seperti meminta penjelasan.

“Putri Pak Jamud...,” jelas Ki Senggono. Rangga mengangguk. “Bagaimana dengan penculik itu, Rangga?” ulang kepala desa itu penasaran.

“Akan kuceritakan sambil kita kembali ke desa,” kata Rangga.

Ki Senggono mengajak yang lain untuk kembali ke desa. Dan sepanjang perjalanan, Rangga menceritakan ciri-ciri penculik itu.

“Hm.... Rasanya aku belum pernah melihat orang itu sebelumnya,” gumam Ki Senggono.

“Coba ingat-ingat! Barangkali kawan di waktu kecil, atau seseorang yang dulu pernah tinggal di sini,” ujar Pendekar Rajawali Sakti.

“Tidak. Aku memang tidak mengenalnya!”

“Kau yakin, Ki?”

“Aku lahir dan dibesarkan di sini. Jadi aku kenal betul semua penduduk desa ini. Meskipun, mereka yang berusia sepuluh atau dua puluh tahun di atasku. Bahkan yang berusia tiga atau empat puluh tahun di atasku. Apalagi orang bungkuk yang menurut perkiraanmu berusia dua puluh lima tahun. Tidak! Dia bukan penduduk desa ini. Aku yakin betul!”

Rangga bergumam sebentar, setelah mengangguk. “Tahukah kau tentang Kuil Emas, Ki?” tanya Rangga, mencoba membuka pikiran Ki Senggono.

“Kuil Emas? Semua orang di wilayah ini tahu, di mana tempat itu. Ada apa dengan tempat itu, Rangga?” tukas Ki Senggono.

“Penculik itu mengatakan kalau dia diperintah seseorang yang berasal dari kuil itu...,” jelas Rangga.

“Mustahil! Itu tidak mungkin!” bantah Ki Senggono.

“Mengapa tidak?”

“Nyai Pucuk Cemara tidak akan melakukan perbuatan seperti itu, ataupun menyuruh salah seorang muridnya melakukan perbuatan terkutuk itu!”

“Nyai Pucuk Cemara!” tanya Rangga dengan kening berkerut.

“Ya! Dia pemimpin di kuil itu,” sahut Ki Senggono, menjelaskan.

“Sudah lamakah dia berada di kuil itu?”

“Kurang lebih lima belas tahun. Dan selama ini, dia selalu baik kepada penduduk di desa-desa sekitar wilayah ini. Beliau sering menyantuni kaum miskin, mengobati orang sakit, dan lain sebagainya. Dia bagai dewi. Dan semua orang menghormatinya.”

Rangga kembali mengangguk. “Berapa orang muridnya yang berada di kuil

“Sekitar dua puluh orang. Atau..., mungkin juga lebih. Sudah lama kami tidak ke sana.”

“Perempuan dan laki-laki?”

“Perempuan. Nyai Pucuk Cemara tidak menerima murid laki-laki.”

“Jadi, tidak ada laki-laki seorang pun di kuil emas?"

“Aku tidak tahu pasti.”

“Kalau seandainya aku hendak berkunjung ke sana, maukah Ki Senggono menemaninya?”

“Tentu saja! Dengan senang hati.”

“Terima kasih. Kalau begitu, kita ke sana esok"

“Rangga....”

“Ada apa, Ki?”

“Sebaiknya hilangkan saja dugaan buruk itu. Aku tetap tidak yakin kalau pihak mereka pelaku penculikan itu....”

“Aku juga berharap begitu. Tapi, persoalan ini mesti dibuat terang. Dan saat ini, petunjuk hanya mengarah ke situ.”

Ki Senggono terdiam, sikapnya serba salah. Di satu pihak, dia tak yakin atau boleh dikatakan membantah kecurigaan Rangga kalau pelaku penculikan itu adalah orang-orang Kuil Emas. Tapi seperti yang dikatakan pemuda itu, persoalan ini mesti dibuat terang. Kalau tidak, maka selamanya akan terus terjadi penculikan terhadap gadis-gadis desa. Entah kapan berakhir. Kalaupun ada yang mesti disesalkan, kenapa petunjuk itu mengarah ke Kuil Emas?

“Jangan khawatir, Ki.” Rangga menepuk pundak laki-laki itu. “Aku mengerti perasaan penduduk desa ini. Kita sekadar waspada. Bukan menuduh. Kalau ternyata mereka bersih, itu lebih baik. Tapi kalau tidak, maka itu pun lebih baik. Kalian tak akan tertipu lagi oleh kebusukan mereka yang bertopeng kebaikan.”

“Ya.... Mungkin apa yang kau katakan benar....” Laki-laki itu mengangguk dan menjawab dengan suara lirih.

“Maaf kalau ini terasa berat di hatimu, Ki....”

“Tidak apa. Tidak apa, Rangga. Persoalan ini memang pasti dibuat terang.”

“Syukurlah.”

********************

LIMA

Dua sosok tubuh berkelebat cepat. Dan ketika merasa telah cukup jauh, mereka menghentikan larinya.

“Hm. Bagaimana hasil kerjamu. Denawa?” tanya salah seorang yang bertubuh ramping semampai. Suaranya datar, seperti dikeluarkan dari hidung.

“Kurasa dia termakan pancingan itu, Nyai,” sahut sosok satunya yang bertubuh bungkuk. Namanya, Denawa.

“Kau yakin?” tanya sosok ramping, yang pasti seorang wanita berpakaian serba hitam.

“Setelah sekian lama gagal mencari jati diriku, tentu petunjuk itu amat berharga bagi mereka,” kata Denawa.

"Hem!"

“Apalagi yang harus kukerjakan, Nyai?”

“Kau tetap harus mengawasi mereka.”

“Baiklah kalau demikian kehendak Nyai.”

“Jangan sampai mereka berhasil menangkapmu!”

“Orang-orang tolol itu tak akan berhasil menangkapku, Nyai!”

“Jangan gegabah! Pemuda berbaju rompi putih itu tidak bisa dipandang enteng,” desis wanita berbaju serba hitam itu.

“Hm, ya. Memang. Tahukah Nyai, siapa dia sebenarnya? Kelihatannya dia bukan penduduk desa itu?” tanya Denawa.

“Memang. Dia bukan penduduk desa itu. Pemuda itu hanya kebetulan lewat. Tapi, agaknya dia akan lama singgah di desa itu untuk membenahi persoalan ini. Justru itu yang kuharapkan. Dia tidak bisa dipandang sebelah mata."

“Nyai kenal dengannya?”

“Aku tidak pernah bertegur sapa. Tapi, semua tokoh persilatan kurasa kenal dengannya.”

“Siapa dia, Nyai?”

“Pendekar Rajawali Sakti.”

“Hm, hebatkah dia? Nyai tidak biasanya memuji orang kalau tokoh itu tidak hebat.”

“Dia memang hebat. Oleh karena itu, sebaiknya kau hindari bentrokan dengannya.”

“Baiklah Akan kuingat pesan itu.”

“Hm...!”

“Nyai sendiri akan ke mana lagi sekarang?” tanya Denawa, ketika wanita itu berbalik.

“Aku akan ke desa itu untuk melihat-lihat keadaan.”

Dan setelah berkata begitu, sosok ramping berpakaian serba hitam berkelebat di antara kegelapan malam. Begitu perempuan tua itu tak terlihat lagi, Denawa pun angkat kaki tak lama kemudian. Tapi mendadak langkahnya terhenti ketika mendengar suara-suara yang mencurigakannya. Segera tubuhnya menyelinap di balik sebatang pohon, yang terlindung dibalik semak-semak.

“Apa yang akan kita cari di sini, Ratmi?” tanya sosok bertubuh cebol.

“Kenapa kau selalu banyak bertanya, Joko?! Sudah! Diam saja dan ikuti aku!” tukas sosok ramping yang tak lain Ratmi. Di sebelahnya adalah pemuda bertubuh cebol yang ternyata Joko Wereng.

“Tapi..., tadi kau meninggalkan aku cukup lama,” kilah Joko Wereng.

“Kenapa kau ini? Kok cengeng betul seperti bocah?!”

“Tapi, Ratmi....”

“Sudah! Sudah! Aku tidak mau dengar!” potong Ratmi, sengit.

Sementara itu Denawa yang bersembunyi itu mendengus dingin ketika mengetahui siapa kedua orang itu. “Kebetulan sekali mereka ada di sini!” Dengan hati-hati, Denawa bergerak memutar, mendahului kedua orang itu.

“Ratmi...,” panggil Joko Wereng.

“Apa lagi?” sahut Ratmi kesal.

“Aku khawatir terjadi apa-apa dengan kita...,” ungkap pemuda cebol itu.

“Dasar penakut! Lebih baik kau pulang saja!” sentak Ratmi.

“Bukan begitu, tapi....”

“Kenapa sih kau ini, Joko?!” potong Ratmi, membentak.

“Maaf, Ratmi...,” sahut Joko Wereng, lirih.

“Hup!”

Baru saja Joko Wereng berkata begitu, tiba- tiba melesat sesosok tubuh, dan tahu-tahu tegak berdiri di depan mereka. Kedua anak muda itu menghentikan langkah. Mereka mengamati dengan seksama. Seorang bertopeng hitam dan..., bungkuk!

“Keparat! Kau rupanya!” dengus Ratmi, geram.

“He he he...! Akhirnya kita bertemu lagi, Bocah. Hari ini jangan harap kau lolos dariku,” kata Denawa, laki-laki bungkuk bertopeng hitam.

“Bungkuk terkutuk! Majulah kau untuk kupatahkan lehermu!” desis Ratmi menantang.

“Ha ha ha...! Boleh juga gertakmu. Tapi akan kulihat apakah kau bisa membuktikannya!” Selesai dengan kata-katanya, Denawa berkelebat. Telapak tangannya dihantamkan ke depan.

Siuuut!

Seketika serangkum angin kencang langsung menerpa ke arah Ratmi.

“Uts!” Ratmi cepat melompat ke atas. Sejenak tubuhnya berputaran, lalu meluruk dengan satu tendangan menggeledek.

“Ratmi! Aku akan membantumu!” teriak Joko Wereng, langsung melompat menerjang Denawa dengan satu tendangan pula.

Laki-laki bungkuk itu terkekeh kecil. Kedua tangannya cepat bergerak mengibas untuk menangkis dua tendangan sekaligus.

Plak! Plak!

Lalu Denawa berbalik melepas tendangan berputar. “Nih, makan tendanganku!”

“Hup!”

“Yeaaa...!”

Kedua anak muda itu melompat ke belakang. Namun Denawa tak memberi kesempatan. Saat itu juga tubuhnya melompat, mengejar Ratmi sambil menyodokkan tangan kiri ke dada. Tepat ketika Ratmi mendarat, tangan Denawa telah hampir menyentuh dadanya. Tak ada waktu lagi untuk menghindar, maka cepat ditangkisnya serangan itu.

Plak!

Tangan Ratmi kontan bergetar, sehabis menangkis. Dan belum lagi dia bersiap, dua jari tangan kanan laki-laki bungkuk itu bergerak cepat.

Tuk!

Saat itu juga, Ratmi terkulai lesu tak berdaya begitu totokan Denawa mendarat dirusuknya. Sebelum Ratmi jatuh, laki-laki bungkuk itu telah menyambar dan membawanya kabur.

“Ratmi!” Joko Wereng terkejut dan cepat mengeja. “Keparat kau, Bungkuk! Lepaskan dia! Lepaskaaan...!” bentak Joko Wereng, geram.

Tapi Denawa mana mempedulikannya. Laki- laki bungkuk itu menghilang di kegelapan malam. Dan Joko Wereng tak mampu mengejarnya karena ilmu meringankan tubuhnya kalah jauh. Tapi pemuda cebol itu tidak putus asa. Dia terus mengejar ke arah yang diyakininya.

Saat ini, Ki Senggono tengah mempersiapkan kuda tunggangannya ketika seorang pemuda memasuki halaman depan rumahnya. Seorang pemuda cebol dengan tampang lusuh. Tapi, bukan dia yang ingin ditemui pemuda itu. Melainkan, Pendekar Rajawali Sakti yang memang ada di depan.

“Ada apa, Kisanak?” sapa Rangga.

Pemuda itu yang tak lain Joko Wereng diam membisu dengan kepala tertunduk.

“Kau ingin menyampaikan pesan dari gadis itu?” desak Rangga.

“Tidak...,” sahut Joko Wereng, pendek.

“Lalu?”

“Ratmi diculik....”

“Ratmi? Gadis bengal itukah?”

Joko Wereng mengangguk.

“Siapa yang menculiknya?”

“Orang bungkuk itu. Tadi malam...,” lanjut Joko Wereng.

“Hmm...,” gumam Rangga.

“Aku berusaha mengejarnya, tapi dia menghilang.”

“Lalu?”

“Kisanak..., Ratmi adalah putri guruku. Guru berpesan, agar aku menjaganya dengan baik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dan..., Guru pasti takkan memaafkan seandainya tahu kalau putrinya diculik. Aku tidak tahu, kepada siapa harus minta tolong...,” keluh Joko Wereng.

“Putri gurumu itu memang nakal dan jahil!” Nada suara Rangga terkesan memendam kejengkelan.

Dan Joko Wereng merasakannya. “Dia memang jahil, Kisanak. Tapi, sebenarnya Ratmi anak baik,” kilah Joko Wereng.

“Mana bisa orang seperti itu dikatakan baik!” sentak Rangga.

“Jadi..., jadi Kisanak tak bersedia menolongnya?”

“Aku tidak berkata begitu. Tapi, juga tidak mengatakan bersedia.”

“Ohh...” Joko Wereng tertunduk lesu. Dan wajahnya semakin muram.

Sementara itu, Ki Senggono telah mendekat dan duduk di atas punggung kudanya. Matanya sempat melirik sebentar. Segera Pendekar Rajawali Sakti sudah berada pula dipunggung kuda, dan langsung menggebahnya. Joko Wereng mengangkat dagu, memandang kepergian dua orang itu dengan sinar mata sayu.

“Pemuda cebol itu yang bersama dengan gadis belia...?” tanya Ki Senggono.

“Ya,” sahut Rangga, pendek.

“Ada keperluan apa?” tanya kepala desa itu.

“Gadis itu diculik.”

“Si bungkuk lagi?”

Rangga mengangguk.

“Keparat! Sungguh terkutuk orang itu!” dengus Ki Senggono, geram. “Baru saja semalam dia lepas dari lubang jarum. Dan sekarang, berani lagi melakukan perbuatan bejatnya.”

“Gadis itu diculik tadi malam. Mungkin setelah penculik bungkuk itu diselamatkan oleh sosok bayangan yang kuceritakan itu....”

“Benar-benar terkutuk dia!”

Sementara itu, mereka mulai mempercepat langkah kuda. Namun baru beberapa gebrakan, Ki Senggono menghentikan langkah lari kudanya. Matanya langsung memandang tajam ke satu arah. Dan Rangga mengikutinya. Di ujung jalan desa ini, terdapat sebuah rumah sederhana. Tak ada yang istimewa, selain seekor kuda coklat yang ditambat di depan halaman rumah itu.

“Kenapa, Ki?” tanya Rangga dengan kening berkerut.

“Ada tamu di rumah Ki Danang..,” sahut Ki Senggono. Tatapannya terus ke arah rumah itu.

“Bukankah itu hal biasa?”

“Ki Danang memang orang ramah. Tapi selama ini dia jarang kedatangan tamu jauh.”

“Dia penduduk asli desa ini?”

“Dia dan istrinya telah menetap selama lebih dari tiga puluh tahun.”

“Hm.... Bukan orang baru tentunya?”

Ki Senggono mengangguk. “Dia jarang bepergian keluar desa. Bahkan selama tiga puluh tahun ini, bisa dihitung dengan jari.”

“Lalu, apa yang aneh?”

Ki Senggono tidak langsung menjawab. “Kelihatannya tamu wanita....”

“Apanya yang aneh, Ki?”

Kepala desa itu belum sempat menjawab ketika melihat seorang laki-laki setengah baya keluar dari dalam rumah seraya melambaikan tangan. Dialah Ki Danang, pemilik rumah itu.

“Agaknya dia menginginkan Ki Senggono mampir...,” ujar Rangga.

“Mau ke mana, Ki? Mampirlah sebentar!” kata Ki Danang seraya tergopoh-gopoh menghampiri kepala desa itu.

“Terima kasih, Ki Danang. Kami mesti buru- buru,” tolak Ki Senggono, halus.

Saat itu istri Ki Danang keluar dari dalam rumah bersama seorang wanita setengah baya berpakaian cukup indah.

“Eh! Ini..., saudara dari jauh!” Ki Danang memperkenalkan wanita setengah baya itu. Ki Senggono dan Rangga terpaksa turun sebentar. Mereka berjabatan tangan dengan wanita itu.

“Ini kepala desa di sini. Namanya Ki Senggono,” jelas Ki Danang “Dan pemuda ini tamunya. Namanya, Rangga.”

“Gendari...!” Wanita setengah baya berusia sekitar empat puluh lima tahun itu menyebutkan nama.

“Ki Danang orang baik. Dan dia sudah kami anggap sebagai saudara sendiri. Maka, saudaranya pun adalah saudara kami...,” kata Ki Senggono.

“Terima kasih, Ki Senggono. Kelihatannya buru-buru sekali,” ucap wanita itu.

“Ya. Ada sedikit urusan yang akan kami kerjakan.”

“Kelihatannya penting sekali...?”

“Begitulah agaknya. Maaf, Nyai. Kami tak bisa berlama-lama,” kata Ki Senggono.

Setelah berkata begitu, Ki Senggono dan Rangga kembali melompat ke punggung kuda dan menggebahnya kencang-kencang. Untuk sesaat Rangga dan Ki Senggono berdiam diri. Sesekali Pendekar Rajawali Sakti melirik dan melihat kalau wajah kepala desa itu berkerut, seperti tengah memikirkan sesuatu.

“Ada apa, Ki?” usik Pendekar Rajawali Sakti.

“Entahlah...,” sahut Ki Senggono, mendesah.

“Soal wanita itu lagi?”

“Dulu kami pernah ngobrol-ngobrol. Dan katanya, Ki Danang tidak punya saudara. Begitu pula istrinya. Beliau sepasang suami istri yang yatim piatu...,” jelas Ki Senggono, menggumam.

“Mungkin kerabat jauh.”

“Kau pun tidak mencurigainya, Rangga?”

“Aku tidak tahu banyak tentang Ki Danang. Apalagi tentang kerabat-kerabatnya. Tapi, aku yakin wanita itu bukan sembarangan orang.” ungkap Pendekar Rajawali Sakti.

“Ya. Pakaiannya bagus seperti orang-orang bangsawan. Padahal, Ki Danang dan istrinya selama tiga puluh tahun hidup dalam kesederhanaan. Bahkan terkadang sering kekurangan makanan. Tidak heran kalau ada pembagian makanan, mereka mendapat bagian yang cukup banyak.”

“Dari Nyai Pucuk Cemara?” duga Rangga.

Ki Senggono mengangguk.

“Agaknya bukan hanya itu, Ki...,” cetus Pendekar Rajawali Sakti.

“Hm.”

“Wanita itu memiliki ilmu olah kanuragan yang tak rendah.”

“Dari mana kau tahu, Rangga?”

“Tatapan matanya, Ki.”

“Hm.... Padahal setahuku Ki Danang itu orang biasa. Dia tidak memiliki ilmu silat. Apalagi ilmu olah kanuragan.”

“Tapi itu bukan alasan kalau mereka bukan saudara....”

“Entahlah. Aku hanya tak yakin kalau wanita itu kerabatnya.”

“Sudahlah. Jangan dipikirkan betul soal itu. Sepulang dari kuil akan kita selidiki kebenarannya.”

“Ya.”

“Itukah kuil yang kita tuju?” tunjuk Rangga.

Tidak jauh di depan mereka terlihat sebuah bangunan besar dikelilingi dinding tembok luas. Dari luar kelihatan sepi. Begitu juga ketika tiba di pintu gerbang. Seseorang membukakan pintu. Seorang wanita muda memakai jubah besar, dengan kerudung di kepalanya.

“Nyai Pucuk Cemara ada?” tanya Ki Senggono.

“Ada. Silakan masuk...,” sambut wanita itu.

“Terima kasih.”

Mereka menunggu sebentar di beranda depan, sebelum kehadiran tuan rumah. Rangga memperhatikan keadaan sekeliling tempat itu. Hanya satu dua orang yang terlihat. Rata-rata wanita memakai jubah besar dan berkerudung.

“Hm, Ki Senggono kiranya!” Terdengar sapaan seseorang dari dalam ruangan. Seorang wanita setengah baya, tersenyum manis. Dipersilakannya kedua tamunya masuk ke dalam.

“Nyai Pucuk Cemara...,” panggil Ki Senggono.

“Ada angin apa sehingga Ki Senggono berkunjung ke tempat ini?” tanya wanita yang dipanggil Nyai Pucuk Cemara ramah.

“Sebenarnya..., sebenarnya...,” Ki Senggono tersenyum-senyum dan jadi salah tingkah. Kepala desa ini tidak enak hati mengutarakan niatnya. Dan matanya malah melirik ke arah Rangga.

“Maaf, Nyai Pucuk Cemara. Sebenarnya aku yang punya sedikit kepentingan denganmu...,” ucap Rangga.

“Benarkah? Urusan apa kiranya yang bisa kubantu?” tanya Nyai Pucuk Cemara ramah.

“Belakangan ini sering terjadi penculikan gadis yang dilakukan seseorang...,” jelas Rangga, memulai.

“Eh, kami tidak bermaksud mencurigaimu, Nyai,” potong Ki Senggono, cepat.

“Mencurigaiku? Kenapa?” tukas wanita itu.

“Tadi malam aku berhasil menangkap penculik itu. Dia mengatakan sesuatu, sebelum seseorang menolongnya,” jelas Rangga.

“Apa yang dikatakannya?”

“Katanya, semua ini atas perintah Penghuni Kuil Emas.”

“Hmm!” Wajah wanita itu tampak geram. Untuk sesaat, dia berusaha menahan amarah dan menyembunyikannya rapat-rapat. Rangga dan Ki Senggono menunggu beberapa saat, ketika Nyai Pucuk Cemara terdiam.

“Kisanak....”

“Namaku Rangga, Nyai,” sambung Rangga.

“Rangga.... Dapatkah kau memberikan ciri-ciri orang itu?” pinta Nyai Pucuk Cemara.

“Yang paling khas dari dirinya adalah, punuk dipunggungnya. Orang itu bungkuk. Dan usianya sekitar dua puluh lima tahun. Kalau bertemu dengannya, aku tak akan lupa wajahnya.”

“Seperti yang kukatakan tadi, kami tidak bermaksud mencurigaimu, Nyai,” kata Ki Senggono, merasa masih tak enak hati.

“Terima kasih, Ki. Seperti yang diketahui semua penghuni kuil ini adalah wanita. Dan aku tak pernah memaksa mereka untuk tinggal di sini. Apalagi, menculiknya. Mereka yang datang kesini sukarela. Atau, yang membutuhkan pertolongan. Tidak ada alasan bagi kami untuk menculik wanita. Pasti ada orang lain yang hendak mencemarkan nama baik kuil ini,” jelas Nyai Pucuk Cemara.

“Kalau begitu maafkan kami, Nyai. Kalau tidak keberatan, maukah Nyai menjawab dua pertanyaanku lagi? Setelah itu, kami akan angkat kaki,” ucap Rangga.

“Hm, apa itu?”

“Apakah semua kegiatan di tempat ini dikerjakan wanita?”

“Ya.”

“Termasuk membelah kayu dengan kapak besar?” Rangga tadi memang melihat sebuah kapak besar masih tergeletak di samping kiri bangunan besar ini, di antara tumpukan balok kayu.

ENAM

Ki Senggono tidak berpikir sampai ke situ. Membelah kayu dengan kapak besar amat jarang dilakukan wanita. Bahkan seumur hidup belum pernah dilihatnya. Itu pekerjaan laki-laki yang membutuhkan tenaga besar.

“Apa yang aneh? Apakah wanita tidak boleh membelah kayu dengan kapak?” tanya Nyai Pucuk Cemara sambil tersenyum.

Wanita ini lantas mengajak kedua orang itu ke samping bangunan yang disebut Kuil Emas ini. Segera diletakkannya sepotong kayu besar. Kemudian diambilnya kapak dan diangkatnya tinggi-tinggi.

Prak!

Kayu gelondongan di depan Nyai Pucuk Cemara terbelah dua. Wanita itu tersenyum pada dua tamunya. “Nah! Tak ada yang aneh, bukan? Wanita-wanita di sini terbiasa membelah kayu,” tukas Nyai Pucuk Cemara.

“Baiklah.... telah kami lihat semuanya, Nyai. Kami pamit dulu. Maaf, telah mengganggu ketenanganmu,” ucap Rangga.

Wanita setengah baya itu mengangguk dengan tersenyum anggun melepas kedua tamunya meninggalkan tempat ini. Sesaat dia masih tegak berdiri memandang mereka yang tengah menaiki kuda masing-masing dan menggebahnya. Setelah pintu gerbang tertutup, dia berbalik dan melangkah pelan sambil bertepuk sekali. Tak lama, muncul seorang gadis yang langsung menjura hormat.

“Nyai...!” sapa gadis yang tak lain murid Nyai Pucuk Cemara ini.

“Tolong panggilkan si Gandul. Suruh dia ke ruanganku,” ujar wanita setengah baya itu.

“Baik, Nyai.”

Setelah gadis itu berlalu Nyai Pucuk Cemara melangkah lebar ke dalam bangunan rumahnya. Begitu masuk, dia melangkah menuju sebuah ruangan luas yang memiliki sejumlah tiang yang letaknya semrawut. Disalah satu pojok terdapat beberapa buah senjata dan alat-alat lain yang digunakan untuk berlatih ilmu silat.

“Nyai, hamba memenuhi panggilanmu!” Nyai Pucuk Cemara menoleh, mendengar suara seseorang di ambang pintu.

“Masuklah Gandul,” sahut wanita itu tanpa berbalik.

Orang yang dipanggil Gandul pun masuk ke dalam, dan duduk bersimpuh di dekat wanita itu.

“Tahukah kau, mengapa kupanggil ke sini?” tanya Nyai Pucuk Cemara.

“Maafkan hamba yang bodoh, Nyai. Hamba benar-benar tidak mengetahuinya.”

“Baru saja aku kedatangan dua orang tamu. Mereka menceritakan tentang penculikan yang sering terjadi di desa. Kau tahu, apa hubungannya denganmu?”

“Hamba tidak mengerti, Nyai....”

“Tadi malam mereka bertemu penculik itu, dan menceritakan ciri-cirinya. Tahukah kau kalau ciri-ciri yang diceritakan persis sama dengan keadaanmu?”

“Maksud, Nyai, hambakah yang melakukan penculikan itu?!” tanya laki-laki yang juga bertubuh bungkuk dengan wajah kaget.

“Aku tidak menuduh begitu. Tapi, barangkali kau punya alasan untuk menyangkal semua itu.”

“Hamba tidak melakukannya, Nyai! Sepanjang malam tadi hamba berada di kamar dan tidak keluar-keluar sedikit pun!” kilah Gandul.

“Aku ingin bertanya padamu. Dan mudah- mudahan, kau mau menjawabnya terus- terang,” kata perempuan setengah baya itu.

“Pertanyaan apa gerangan, Nyai?”

“Kau membawa beberapa wanita padaku. Dari mana mereka kau dapatkan...?”

“Mereka adalah orang-orang telantar yang membutuhkan pertolongan, Nyai. Mereka datang ke sini, karena kuanggap kuil ini bisa memberi perlindungan. Aku sama sekali tidak pernah memaksa mereka ke sini, Nyai. Apalagi menculiknya! Pasti semua ini fitnah,” tegas Gandul.

“Tenanglah, Gandul. Persoalan ini harus dipecahkan dengan kepala dingin,” ujar Nyai Pucuk Cemara.

“Mengapa Nyai tidak mempertemukan hamba dengan kedua tamu itu, agar hamba bisa menjelaskannya dengan seksama?

“Itu bukan tindakan tepat. Aku khawatir, mereka malah semakin menuduh.”

“Tapi kenapa mereka begitu yakin kalau penculik itu ada di sini, Nyai?”

“Penculik itu sendiri yang mengatakan, sebelum seseorang menyelamatkannya.”

“Nyai.... Persoalan ini mesti dibuat terang. Hamba adalah tersangka. Dan kalau hamba tidak ikut menjernihkannya, mungkin kelak persoalan akan semakin rumit. Dan pada saat itu, mungkin pembelaan hamba tidak ada lagi artinya,” tandas Gandul.

“Jadi, apa maksudmu?” tanya perempuan setengah baya ini.

“Izinkan hamba untuk ikut menyelidiki persoalan ini!” pinta Gandul, penuh semangat. “Bagaimana, Nyai?”

“Kalau mereka menangkapmu, maka nama Kuil Emas mau kutaruh di mana? Mereka tidak akan peduli dan memaksamu habis-habisan.”

“Nyai jangan khawatir. Aku akan bergabung dengan mereka. Dengan demikian, mereka tak akan menuduhku....”

“Baiklah. Kalau sudah bulat tekadmu, maka aku merestuinya. Doaku bagi keselamatanmu.”

“Terima kasih, Nyai.”

********************

Rangga dan Ki Senggono berkuda lambat- lambat menyusuri rerimbunan pohon. Sejak tadi belum ada yang membuka suara, seperti asyik dengan pikiran masing-masing.

“Bagaimana, Rangga?” tanya Ki Senggono, memecah kebisuan.

“Hmm,” gumam Rangga.

“Masih mencurigai Nyai Pucuk Cemara?”

“Perasaanku mengatakan, kalau wanita itu menyembunyikan sesuatu....”

“Sudahlah. Buang jauh-jauh perasaan itu. Aku tidak yakin kalau mereka memiliki watak jahat.”

“Aku tidak mengatakan begitu, Ki.”

“Aku jadi tidak enak hati bila berhadapan dengan Nyai Pucuk Cemara dengan membawa tuduhan yang memberatkan.”

“Ya, ya. Aku mengerti. Tapi..., sepertinya dia tidak ingin ikut membantu memecahkan persoalan ini.”

“Maksudnya?”

“Lihat caranya membelah kayu tadi? Lengan wanita biasa tidak akan mampu mengangkat kapak besar dengan mudah dan membelah kayu sebesar itu.”

“Aku memang pernah mendengar kabar kalau Nyai Pucuk Cemara memiliki ilmu olah kanuragan,” ungkap Ki Senggono.

“Mestinya dia menawarkan diri untuk membantu, bukan? Sebab, rasanya kita jelas-jelas mencurigainya. Dan kalau merasa tidak bersalah, dia pasti berusaha membela diri dan mencari pelakunya dengan membantu kita,” kata Rangga.

“Mungkin dia punya cara sendiri untuk itu,” duga Ki Senggono.

“Ya, mungkin juga...,” sahut Rangga datar.

“Lalu, apa yang mesti kita kerjakan selanjutnya, Rangga?”

“Sementara ini aku akan terus meronda setiap saat.”

“Ini merepotkanmu tentunya. Aku jadi malu. Sebagai kepala desa tak bisa berbuat banyak pada warganya....”

“Jangan berkata begitu, Ki. Sebelum aku, tentu Ki Senggono telah berbuat banyak pada desa ini. Manusia tak ada yang sempurna. Suatu saat, semua orang tentu pernah merasakan tidak mampu berbuat sesuatu....”

“Ya. Kau benar, Rangga.”

Pada saat ini mereka telah tiba di sebuah padang rumput luas.

“Apa yang terdapat di ujung padang rumput didepan sana, Ki?” tanya Rangga, seraya menghentikan langkah Dewa Bayu.

“Tidak ada apa-apa selain bukit-bukit kecil dikaki gunung,” sahut Ki Senggono, juga menghentikan lari kudanya.

“Hmm...!”

“Ada apa, Rangga?”

“Ki Senggono.... Selama ini sudah berapa wanita yang diculik?”

“Sekitar tujuh orang....”

“Mereka tak pernah ditemukan lagi, bukan?”

“Ya.”

“Apakah sudah diadakan pencarian?”

“Seluruh tempat telah kami cari. Namun, mereka tidak juga ditemukan Bahkan mayatnya pun tidak terlihat.”

“Apakah kalian pernah mencarinya ke sana?” tunjuk Rangga.

“Rasanya belum.... Di sana terdapat kawanan serigala yang sewaktu-waktu dapat memangsa apa saja. Entah itu hewan atau manusia.”

“Begitukah? Lalu, mengapa masih kulihat seseorang menggembalakan kambingnya di sana?”

“Apa? Benarkah?!” tanya Ki Senggono kaget. Kepala desa itu berusaha menajamkan penglihatannya. Namun, tidak terlihat apa pun sejauh mata memandang. Hanya batas cakrawala yang menyentuh permukaan tanah.

“Aku tidak melihat apa-apa di sana, Rangga?”

“Ah, maafkan aku. Kalau begitu, maukah kau kuajak ke sana? Bagian tengah padang rumput itu agak tinggi, sehingga penglihatan Ki Senggono sedikit terhalang.”

“Baiklah. Tapi..., bagaimana bila kawanan serigala itu tiba-tiba muncul?”

“Kalau kawanan serigala itu ada, tentu kawanan kambing itu tidak di sana,” kilah Rangga.

Mereka segera sama-sama menggebah kuda masing-masing dengan kecepatan sedang. Ki Senggono memang khawatir. Tapi dia juga penasaran karena tidak melihat kawanan kambing yang digembalakan di sana. Memang, hal itu tidak dimengerti karena Rangga menggunakan aji ‘Tatar Netra’, sehingga mampu melihat meski dari jarak jauh.

Setelah beberapa saat berkuda, barulah Ki Senggono bisa melihat kawanan kambing yang tengah merumput. Dan ini membuatnya berdecak heran

“Hm.... Aku tidak mengerti, bagaimana semua ini terjadi. Atau barangkali si penggembala itu begitu nekat?!” tanya Ki Senggono, heran.

“Apakah kawanan serigala itu sering memangsa ternak peliharaan?” Rangga malah balik bertanya.

Ki Senggono mengangguk cepat. “Bukan sering lagi. Bahkan ternak yang kesasar ke sana tidak akan selamat.”

“Hmm...!”

Mereka berhenti. Dan Ki Senggono mengedar pandangan untuk mencari siapa gerangan si penggembala kambing yang nekat itu.

“Sebaiknya kita turun, Ki. Dan melihat-lihat keadaan...,” ujar Pendekar Rajawali Sakti, seraya turun dari kudanya.

“Bagaimana jika kawanan serigala itu tiba-tiba muncul?” tanya Ki Senggono bernada khawatir.

“Jangan khawatir!”

“Baiklah,” kata Ki Senggono, segera turun pula dari kudanya.

Keduanya segera menambatkan kuda lalu perlahan-lahan mendekati kawanan kambing yang tengah merumput. Tidak terlihat seorang pun di tempat itu.

“Aneh! Kambing-kambing ini tidak digembalakan!” desis Ki Senggono.

“Kambing-kambing ini jinak, Ki. Itu membuktikan kalau mereka hewan peliharaan. Si penggembala mungkin tengah beristirahat dibalik bukit-bukit atau gua-gua kecil di sekitar bukit itu.”

“Ya. Mungkin juga.” Baru saja Ki Senggono berkata demikian....

“Ki Senggono...! Ki Senggono...!”

Pada saat itu terlihat seseorang menghampiri dengan tergopoh-gopoh dari sebelah kiri bukit. Seorang pemuda kurus bertubuh kecil.

“Hmm!”

“Dirja! Kaukah itu?!”

Pemuda kurus yang dipanggil Dirja mengangguk-angguk dan mengatur pernapasannya sambil menunjuk-nunjuk ke balik bukit di depan mereka.

“Hei, tenangkan dirimu dulu. Setelah itu, baru ceritakan apa yang kau lihat!” ujar Ki Senggono.

“Si bungkuk! Si bungkuk ada di sana, Ki...!” cetus Dirja.

“Apa?!”

Wajah Rangga dan Ki Senggono tampak kaget. “Ayo, tunjukkan padaku!” ajak Rangga.

Tanpa menunggu jawaban, Rangga telah menggamit lengan Dirja dan membawanya melesat cepat seperti terbang. Dirja bergidik ngeri!

“Wuiii...!”

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Ratmi bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Terlebih ketika laki-laki bungkuk bernama Denawa mulai membuka bajunya sambil menyeringai lebar.

“Kau membuatku gemas, Anak Manis...,” desah Denawa.

“Lepaskan aku! Lepaskaaan...!” bentak Ratmi garang.

“Melepaskanmu? Gila! Aku akan melepaskanmu setelah merasakan kehangatan tubuhmu.”

Ratmi melotot geram, tapi tak mampu berbuat apa-apa dalam keadaan tertotok begini.

“Mestinya sejak semalam kulakukan hal ini. Tapi beruntung majikan memanggilku, maka baru hari ini aku punya kesempatan. Tentunya kau masih sabar menunggu, bukan?”

“Keparat busuk! Berani kau menyentuh, maka ayahku akan mencarimu meski kau sembunyi dilubang semut!”

“Ayahmu? Hm, aku baru ingat. Si Dewa Api itu memang hebat. Tapi, dia tidak di sini dan tak bisa menghalangi niatku.”

“Terkutuk kau, Bungkuk Keparat! Aku bersumpah akan membunuhmu!”

“Membunuhku? Hm.... Kalau begitu akan kupertimbangkan, apakah sebaiknya nanti melepaskan, atau..., membunuhmu saja.” Pemuda bungkuk itu mengerutkan dahi pura-pura berpikir.

“Ah, itu masalah nanti! Yang terpenting, sekarang! He he he...!” Denawa mendekat, kalau duduk di sisi altar batu di mana gadis itu terbaring. “Hm.... Benar juga kataku. Kau memang cantik, dan..., montok!” gumam Denawa sambil tersenyum kecil. Sebelah tangan laki-laki bungkuk ini merayapi betis Ratmi. Lalu, perlahan-lahan bergerak ke atas.

“Terkutuk kau, Bungkuk! Lepaskan aku! Lepaskaaan...!” teriak Ratmi dengan muka bergidik ngeri dan hati gemuruh oleh amarah.

“Ha ha ha...! Apakah kau kira ada yang membantumu dari cengkeramanku? Di sekeliling tempat ini tidak ada yang berani mendekat. Mereka takut kawanan serigala peliharaanku. Ha ha ha...! Jadi, tak ada gunanya kau berteriak. Lebih baik pasrah saja, Anak Manis,” leceh Denawa.

Perasaan cemas, geram, dan tak berdaya tumpah jadi satu ketika tangan-tangan laki- laki bungkuk terus merayap ke atas. Menjamah tubuhnya dengan penuh nafsu, laksana serigala lapar yang melihat mangsa tak berdaya dihadapannya. Air liurnya menetes. Dan erangannya mulai terdengar.

Kret!

“Ouuuw...!” Ratmi menjerit, ketakutan. Bagian dada bajunya dirobek dengan gemas oleh Denawa.

“Hm.... Dadamu bagus, pertanda telah meningkat dewasa...!” puji laki-laki bungkuk dengan mata membelalak dan air liur seperti mau jatuh.

“Bangsat terkutuk! Keparat kau! Jangan sentuh aku! Aku jijik dengan tangan-tanganmu!” teriak Ratmi.

“Boleh saja kau memaki sepuasmu. Tapi, jangan harap bisa menyurutkan niatku!” desis Denawa.

Napas laki-laki ini terasa kasar. Dan matanya tak berkedip melihat dua buah bukit berbentuk bagus itu Detak jantungnya lebih cepat lima kali lipat. Dan tubuhnya meradang hebat.

“Sabarlah, Sayang. Aku tidak lama...!” Terburu-buru Denawa melepaskan pakaian. Lalu dihampirinya gadis itu sambil tersenyum-senyum lebar.

“Nah! Sekarang kau lihat, aku telah siap, bukan? Sebaiknya kau pun bersiap-siap pula,” kata Denawa sambil menggerakkan tangannya. Dan....

Bret! Bret!

“Aaouuw...!”

Laki-laki bungkuk ini agaknya tak sabaran, sehingga merobek-robek sisa-sisa pakaian Ratmi dengan kasar. Karuan saja gadis itu terpekik ketakutan. Jantungnya seperti berhenti berdenyut dan mukanya pucat pasi. Seumur hidupnya belum pernah dia mengalami kejadian buruk seperti ini. Masa remaja baru direguknya beberapa saat. Dan kejadian ini, membuat pandangannya mendadak kabur. Tapi Ratmi berusaha menguatkan hati. Dan semangatnya untuk tetap sadar terus menggebu. Dia berusaha berteriak-teriak ketika dada Denawa mulai menghimpit dan menyulitkan jalan napasnya.

TUJUH

Di saat yang gawat bagi Ratmi, mendadak berkelebat satu sosok bayangan putih, yang langsung melepas tendangan geledek ke arah Denawa.

Duk!

“Aaakh...!” Telak sekali kaki kiri bayangan itu bergerak menghantam pinggang Denawa. Laki-laki bungkuk itu menjerit kesakitan dan terjungkal menghantam dinding gua.

“Keparat! Siapa ini?!” bentak Denawa, garang. Laki-laki ini cepat bangkit, membuat kuda- kuda tanpa menyadari keadaan dirinya yang masih bugil. Tapi ketika mengetahui siapa sosok di hadapannya, wajahnya kelihatan pucat tak bergairah. Semangatnya mendadak runtuh. Dan kesombongannya perlahan-lahan sirna. Meski begitu, dia berusaha menyembunyikan ketakutannya rapat-rapat.

“Pakailah ini!” desis sosok bayangan yang tak lain Rangga seraya melemparkan celana Denawa dengan sebelah kakinya.

“Hup!”

Memang, tadi Pendekar Rajawali Sakti mendengar teriakan Ratmi. Begitu bisa menentukan sumber suara, Rangga cepat berkelebat dan sampai di tempat ini.

Dengan sigap Denawa menangkap celana dan buru-buru memakainya. Sementara, bagian baju laki-laki bungkuk dikebutkan Rangga ke samping, untuk menutupi tubuh Ratmi yang tengah tergolek dalam keadaan menggiurkan.

“Maaf, Nisanak. Sementara ini hanya itu yang bisa menutupi tubuhmu...,” kata Rangga tanpa menoleh.

“Jahanam itu telah menotokku. Bebaskan aku! Akan kuhajar dia!” bentak Ratmi lantang.

“Diamlah dulu di situ. Biar dia kuurus,” ujar Rangga.

“Tidak! Dia harus mati di tanganku!” tukas gadis itu.

Rangga tidak mempedulikannya. Kakinya kini melangkah tenang mendekati Denawa.

“Hei, tulikah telingamu?! Bebaskan aku! Bungkuk keparat itu bagianku!” teriak Ratmi kalap.

“Tidakkah kau dengar dia, Kisanak? Dia hendak menghajarku. Jadi, kenapa tidak kau bebaskan saja dia dulu, agar leluasa membalaskan dendamnya padaku?” kata Denawa sambil mendengus dingin.

“Itu memang yang kau inginkan, bukan? Kau berhasil mengatasi gadis itu. Dan bila dia menyerangmu, maka kau tidak ada kesulitan melumpuhkannya. Lalu, kau jadikan tameng agar aku melepaskanmu? Huh! Siasat licikmu tak akan berhasil!” dengus Rangga.

“Hm.... Aku tak mengerti apa maksudmu. Gadis itu ingin membalas dendam padaku. Kenapa kau ikut campur urusannya?” tukas Denawa.

Rangga tersenyum dingin. “Persoalanmu bukan hanya pada gadis ini. Tapi, gadis-gadis lain yang kau culik. Dan hari ini segalanya akan berakhir. Kau akan menerima hukuman setimpal atas perbuatan-perbuatanmu selama ini,” kata Rangga, dingin.

“Keparat! Kau kira begitu mudah menangkapku? Huh!”

“Kalau begitu akan kubuktikan.” Selesai berkata demikian, Rangga bergerak cepat ke arah Denawa dengan kedua tangan membentuk cakar rajawali. “Hiyaaa!”

“Uhh...!” Laki-laki bungkuk itu mengeluh dalam hati, menyadari kalau pemuda di depannya tak bisa dianggap main-main. Maka ketika Rangga mendekat, dia merapat ke dinding gua seraya menghentak kedua tangannya.

“Uts!”

Jderrr...!

Rangga mengegos ke samping, membuat pukulan jarak jauh Denawa hanya menghantam dinding gua. Sambil bergerak ke samping, kaki kanannya menyabet leher. Laki-laki bungkuk itu menunduk, dan coba menangkap pergelangan kaki Rangga. Tapi sebelum hal itu dilakukannya, kaki Pendekar Rajawali Sakti yang satu lagi melesat ke arah batok kepalanya. Sehingga terpaksa dia melompat ke samping.

Tap!

“Hiih!”

Luncuran kaki Rangga menyentuh dinding gua. Tapi, itu dijadikannya pijakan untuk kembali melejit menerjang Denawa yang baru saja berbalik lewat kepalan tangan kanan.

Plak!

Pemuda bungkuk itu coba menangkis. Tapi berikutnya, kaki kiri Pendekar Rajawali Sakti menyodok ke dada.

Dess...!

“Aaakh...!” Denawa kontan terjungkal ke belakang sambil menjerit kesakitan.

“Uhh...!” Meski begitu, pemuda bungkuk itu berusaha cepat bangkit. Punggungnya terasa perih membentur dinding gua yang permukaannya tidak rata. Ada yang menonjol bulat. Dan, ada juga yang runcing. Tidak heran kalau kulit punggungnya luka-luka.

“Heup!”

“Hei?!” Dan sebelum Denawa sempat melakukan apa-apa, Pendekar Rajawali Sakti kembali berkelebat, seketika cekalan tangan kirinya telah mengancam leher laki-laki bungkuk itu yang kaget dengan mata melotot ketakutan.

“Hari ini ingin kulihat, siapa yang berani menolongmu!” dengus Rangga seraya menotok Denawa hingga tak berkutik.

Tuk! Tuk!

Begitu tubuh Denawa terkulai, Rangga menghempaskannya begitu saja ke dekat Ki Senggono dan gembala bernama Dirja yang telah berada di dalam gua itu.

“Ki Senggono sebaiknya bedebah ini diikat dulu.”

“Eh, iya! Dirja, coba tolong carikan tali yang kuat!”

“Baik, Ki.”

“Hei, lepaskan aku!” teriak Ratmi yang masih terbaring di atas altar batu.

“Hm, hampir saja aku lupa...,” Rangga tersenyum kecil seraya menghampiri gadis itu. “Hm, kasihan sekali. Gadis cantik sepertimu mesti mengalami kejadian seperti ini.”

“Tutup mulutmu! Lepaskan totokanku ini!” hardik gadis itu.

“Hei? Aku bukan budakmu, Nisanak. Lagi pula, kami tidak berkepentingan denganmu. Setelah berhasil menangkap si bungkuk itu, maka kami mesti segera pergi. Mudah-mudahan kau bisa bertemu si bungkuk lainnya di tempat ini,” sahut Rangga kalem.

“Kurang ajar kau! Lepaskan aku! Bungkuk keparat itu mesti mendapat ganjaran setimpal dariku...! Cepat lepaskan!” teriak Ratmi, makin kalap.

“Hm, apalagi begitu. Kau terpaksa tak bisa kulepaskan.”

“Sialan! Kalau ayahku tahu, kau pasti akan dihajar habis-habisan!”

“Hm, kukira gadis secantikmu telah dewasa. Tapi, rupanya masih seorang bocah yang suka membawa-bawa nama ayahnya untuk menakut-nakuti orang lain. Aku takut, Nisanak. Oleh karena itu, izinkanlah kami pergi,” kata Pendekar Rajawali Sakti ketika melihat Dirja telah kembali bersama seutas rotan kecil pengikat kedua tangan dan kaki Denawa.

“Hei, mau ke mana kalian?!” bentak Ratmi ketika melihat ketiga orang itu akan keluar. Namun mereka tidak menoleh. Apalagi menyahut!

“Hei, jangan tinggalkan aku di sini! Hei, kembali! Lepaskan akuuu...!” teriak Ratmi.

Tapi gadis itu terpaksa merutuk-rutuk ketika ketiga orang tadi tidak juga kembali. Mulutnya memuntahkan sumpah serapah dan caci maki. Hatinya gemuruh oleh amarah dan dendam.

“Pemuda keparat! Aku bersumpah akan menghajarmu bila suatu saat bertemu lagi!” desis Ratmi.

“Tidak bisakah keangkuhanmu dibuang pada saat kau tak berdaya? Mungkin orang akan sedikit menaruh belas kasihan....”

“Heh?!” Terdengar suara, membuat Ratmi tersentak kaget. Ratmi mendelik garang ketika melihat siapa yang muncul. “Kenapa kau kembali?” dengusnya sinis.

“Jadi kau lebih suka di sini?” tukas sosok yang tak lain Rangga. Gadis itu diam membisu. “Kalau kau mau berjanji tidak mengganggu si bungkuk, maka aku akan melepaskanmu,” kata Rangga, memberi penawaran.

“Kau tahu, apa yang dilakukannya terhadapku?!”

“Ya. Aku lihat sedikit. Tapi, bukan hanya kau saja yang menjadi korbannya. Jadi kita tak bisa menghakiminya begitu saja. Orang lain mungkin tidak akan puas. Keluarga para gadis yang menjadi korban tentu akan menuntut keadilan pula. Kalau kau bunuh dia, maka kebencian mereka akan ditumpahkan padamu. Sebab, kebanyakan mereka tidak menyukaimu, setelah apa yang hendak kau lakukan terhadap Ki Jawul,” jelas Rangga.

“Itu salahnya sendiri! Kenapa dia mau main hajar saja sebelum memeriksa persoalan,” Ratmi coba berkilah.

“Orang tua itu kalap, karena anaknya diculik! Kalau kau jadi orang tua, maka akan merasakan betapa cemasnya perasaanmu bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada anakmu.”

“Ayahku tidak pernah cemas bila terjadi sesuatu padaku!”

“Tidak mungkin. Ayahmu pasti menyayangimu. Hanya saja, mungkin kau tak tahu. Atau rasa sayangnya tidak ditunjukkan terang-terangan.” Ratmi terdiam. “Nah! Kalau kau mau berjanji, totokanmu akan kubebaskan sekarang juga.”

“Baiklah....”

“Aku mempercayaimu. Maka, jangan cari akal-akalan untuk memperdayaiku.”

“Tidak....”

Tangan Rangga segera bergerak cepat.

Tuk! Tuk!

Begitu totokannya terbebas, buru-buru gadis itu bangkit dan menyembunyikan diri di balik batu-batu karang.

“Apakah tidak ada pakaian lain yang kau bawa?” tanya Ratmi.

“Aku ke sini bukan untuk membawa pakaian. Ini darurat. Maka pakai saja pakaianmu yang tersisa.”

“Dasar bungkuk terkutuk! Aku terpaksa harus memakai bajunya!” desis Ratmi geram.

Dengan wajah bersemu merah, Ratmi terpaksa keluar memakai baju Denawa. Sedangkan untuk menutupi bagian pinggang ke bawah, digunakannya sisa-sisa pakaiannya yang masih utuh. Dililitkan begitu saja, sehingga beberapa bagian paha dan betisnya masih terlihat.

“Hm... Kau tampak lebih cantik dengan pakaian itu,” ledek Rangga.

“Jangan mengejek! Kemarahanku pada laki-laki bungkuk keparat itu belum lagi sirna. Bisa-bisa kau yang akan kujadikan pengganti kemarahanku padanya.”

“Siapa yang mau menerima kemarahan? Tapi sedikit elusan dan senyum, mungkin semua orang suka!” cetus Rangga sambil tersenyum, lalu beranjak keluar.

“Huuu! Maunya...!”

Pendekar Rajawali Sakti terkekeh. Dan diam-diam tanpa sepengetahuannya, gadis itu senyam-senyum juga. Tapi ketika Rangga melirik, buru-buru dipasangnya wajah cemberut.

Sementara itu Ki Senggono dan Dirja menunggu di tempat yang agak jauh. Meski tidak suka terhadap kelakuan Ratmi, tapi mereka juga tak tega meninggalkannya seorang diri di dalam gua. Itulah sebabnya ketika Rangga kembali dan bermaksud menolong, mereka tidak keberatan.

“Bagaimana kau bisa tiba di sini, Dirja?” tanya Ki Senggono ketika Rangga dan gadis itu baru saja keluar dari gua.

“Secara tidak sengaja, Ki. Seekor kambingku nyasar ke sini. Ya, mau tak mau aku terpaksa mengejarnya. Wong ini semua kambing juragan Praja. Kalau ada yang hilang, dia tentu tidak akan mempercayakan kambing-kambingnya padaku lagi. Nah, saat itu secara tak sengaja aku mendengar teriakan-teriakan gadis tadi. Diam-diam, kuikuti. Dan ternyata di dalamnya ada si bungkuk. Ketika aku pulang bermaksud memberitahu pada Ki Senggono, eh, semua kambing yang kuangon sudah di sini. Mungkin karena rumput-rumput di sini lebih segar sehingga mereka tertarik,” jelas Dirja, polos.

“Ya. Mungkin juga. Tapi karena kebetulan itu justru Rangga mampu meringkus penculik ini!”

“Ya, Ki!” Dirja tersenyum bangga karena merasa berjasa.

Saat itu juga, Rangga dan Ratmi tiba di tempat itu. Lantas, mereka melanjutkan perjalanan menuju desa. Tapi sebelum itu, Ratmi berhenti. Diperhatikannya laki-laki bungkuk itu dengan wajah garang.

“Nisanak.... Kau telah berjanji tidak akan balas dendam padanya, bukan?” ingat Rangga.

“Aku memang berjanji tidak akan membunuhnya,” sahut Ratmi, enteng.

“Syukurlah kalau begitu,” sahut Rangga lega. “Nanti orang-orang desa yang memutuskan, hukuman apa yang setimpal baginya.”

“Ya. Tapi bukan berarti aku akan diam saja.” Begitu habis kata-katanya, Ratmi melepas tendangan cepat menggeledek.

Duk!

“Aaakh...!” Tepat sekali ayunan kaki kiri gadis itu mendarat di bagian yang dibanggakan bagi kaum laki-laki. Dalam keadaan tertotok, mana mampu Denawa menangkis. Apalagi mengelak. Dia kontan terpekik setinggi langit merasakan sakit yang hebat. Terasa seolah-olah benda kebanggaannya itu pecah. Saking hebatnya rasa sakit itu, sehingga air matanya meleleh dari pelupuk mata.

“Itu belum seberapa dibanding penghinaan yang kau berikan padaku!” dengus Ratmi geram.

“Cukup! Kau bisa membunuhnya!” tahan Rangga seraya menjauhkan gadis itu dari tawanannya.

“Kalau saja tidak ingat janjiku padamu, tentu akan kupecahkan burungnya!” dengus Ratmi sambil bersungut-sungut.

Melihat gelagat itu, Rangga tidak mau lagi berlama-lama di tempat itu. Segera diajak Ki Senggono dan Dirja untuk segera kembali ke desa. Dan Ratmi mengintili dari belakang. Mereka tidak berkuda, dan hanya menuntunnya saja.

********************

Satu sosok tubuh bungkuk mengendap-endap. Kepalanya terbungkus kain dengan dua bolongan pada bagian mata. Hati-hati sekali dia berusaha mengikuti sesosok tubuh yang tadi dilihatnya bergerak lincah seperti sehelai kapas tertiup angin, tepat di depan rumah Ki Danang.

“Hm.... Diakah orangnya? Gerak-geriknya mencurigakan sekali,” gumam sosok bertopeng itu.

Sosok bertubuh bungkuk itu celingukan mencari-cari, tapi tidak juga bertemu.

“Kalau tidak salah, dia tadi melompat ke sini. Tapi, ke mana?” Sosok bertopeng ini memperhatikan keadaan sekelilingnya. Selain semak-semak, juga banyak terdapat pepohonan. “Mungkin dia melompat ke atas dan bersembunyi di antara rerimbunan daun-daun?” lanjutnya bergumam, seraya menoleh ke atas dan mengedarkan pandangan.

“Hm, siapa yang kau ikuti, Denawa?”

“Hei?!” Sosok bertopeng dan bertubuh bungkuk itu tersentak dan cepat menoleh ketika terdengar sapaan dari belakang. Dan kini melihat seorang wanita setengah baya tegak berdiri pada jarak lima langkah di belakangnya.

“Hm, hebat juga dia. Aku tak boleh gegabah...,” lanjut sosok bertopeng yang dipanggil Denawa bergumam dalam hati.

“Siapa yang kau ikuti, Denawa?” ulang wanita itu.

“Eh! Ngg..., bukan siapa-siapa. Nyai,” sahut sosok bungkuk ini, tergagap.

“Hmm!” Wanita setengah baya itu memperhatikan seksama. Dan yang diperhatikan kelihatan rikuh. Namun, sebisa mungkin dia coba menguasai diri.

“Di mana kau sembunyikan gadis yang baru saja kau culik?”

“Gadis yang mana. Nyai?”

“Jangan berlagak pilon kau! Tunjukkan di mana dia! Atau, bawa ke sini! Aku memerlukannya sekarang juga!” bentak wanita setengah baya itu.

“Baiklah, Nyai.” Orang bertopeng itu berbalik. Tapi sebelum berlalu....

“Tunggu!” panggil wanita itu.

“Eh, ada apa lagi, Nyai?” tanya Denawa.

“Tunjukkan saja padaku, di mana kau sembunyikan dia?” desak perempuan itu.

“Biar saja kubawa dia kepadamu, Nyai,” tolak Denawa, halus.

“Kenapa? Aku ingin melihatnya sendiri, apakah persembunyian itu cukup rapi?”

“Tentu saja, Nyai! Mana mungkin kulepaskan.”

“Bagus! Kalau begitu, tunjukkan padaku!” pinta perempuan tua, mulai memaksa.

“Tapi, Nyai....”

“Kenapa kau ini?!” hardik wanita itu, memotong. “Apakah kau melepaskannya?”

“Eh! Tentu saja tidak, Nyai.”

Wanita itu terdiam Matanya memandang penuh curiga pada laki-laki bungkuk yang dipanggil Denawa di hadapannya. “Denawa! Tahukah kau, siapa namaku?!”

“Ah, Nyai bergurau.... Tentu saja aku tahu, Nyai!”

“Siapa?”

“Kenapa Nyai mesti menanyakan hal itu?”

“Jawab saja, Denawa! Siapa aku?!” bentak wanita setengah baya itu, garang.

Laki-laki bertopeng dan bungkuk itu jadi salah tingkah. Merasa topengnya terbongkar, secepat kilat dia berbalik dan mencoba kabur.

“Huh! Kau kira bisa semudah itu menipuku! Jelas, kau bukan Denawa!” dengus wanita itu seraya berkelebat mengejar.

Kejar-mengejar itu tidak berlangsung lama. Dan agaknya ilmu meringankan tubuh wanita itu jauh lebih tinggi. Sebentar saja wanita itu telah mencelat dan mendarat di hadapan pemuda bungkuk itu.

“Berhenti kau!”

“Hiih!” Tapi sosok bungkuk itu tak mempedulikannya. Langsung dilayangkannya tendangan ke ulu hati. Wanita setengah baya itu menepis dengan tangan.

Plak!

Baru saja terjadi benturan, wanita ini melayangkan kepalan kanannya ke dada.

Desss...!

“Aaakh!” Orang bungkuk itu kontan terpental ke belakang disertai jerit kesakitan. Hantaman tadi begitu keras dan kuat, sehingga dia memuntahkan darah segar.

“Hiih!” Sementara wanita setengah baya itu seperti tak mau memberi kesempatan sedikit pun. Dia segera melompat dan langsung melayangkan tendangan.

Siuuut!

“Uhh...!” Si bungkuk berusaha menghindar ke samping. Tapi wanita itu telah berputar cepat seraya melepas sebuah totokan.

Tuk!

“Ohh!” Laki-laki bungkuk itu kontan ambruk tak berdaya. Tubuhnya terasa lemas bukan main mendapat totokan di dadanya.

“Kau harus memberitahu, siapa kau sebenarnya?!” desak wanita itu.

“Aku..., aku Denawa.”

“Keparat! Kau kira bisa menipuku, heh?!” Wanita itu bergerak, hendak melepas topeng yang dikenakan sosok yang mengaku bernama Denawa. Namun....

“Cukup sudah, Nyai Gendari.... Sandiwaramu telah tamat....”

“Heh?!” Wanita setengah baya yang dipanggil Nyai Gendari tersentak kaget, begitu mendengar suara teguran dari belakang. Begitu menoleh, dia melihat seorang pemuda tampan berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung menyembul dari punggung, tahu-tahu telah berdiri di depannya.

DELAPAN

“Hm.... Kiranya kau, Rangga,” sambut Nyai Gendari.

“Tak usah berbasa-basi lagi, Nyai...,” ujar Rangga.

“Hei?! Apa maksudmu, Rangga?”

“Maksudku? Ya, tentu saja hendak menangkap penculik.”

“Penculik? Penculik apa?”

“Penculik gadis-gadis desa ini, dan desa tetangga.”

“Kau ini bicara apa, Rangga?!” bentak Nyai Gendari.

Pendekar Rajawali Sakti melangkah tenang, menghampiri sosok bertopeng dan bertubuh bungkuk yang tadi mengaku bernama Denawa. Segera dilepasnya topeng itu.

“Terima kasih, Gandul.... Kerjasama mu baik sekali. Tanpa bantuanmu, tak mungkin teka-teki ini terungkap...,” ucap Rangga pada sosok bungkuk yang tak lain Gandul, pembantu di Kuil Emas.

Pemuda bungkuk itu memutuskan untuk bergabung dengan Pendekar Rajawali Sakti dan penduduk Sabrang Lor, guna menuntaskan masalah yang terjadi. Maka begitu Rangga berhasil membekuk Denawa yang asli, segera disusunlah suatu siasat untuk memancing keluar si otak penculik itu. Lewat suatu tekanan yang berat, Denawa yang asli akhirnya mengaku kalau otak penculikan bukan dari Penghuni Kuil Emas, melainkan sosok lain.

“Sama-sama, Pendekar Rajawali Sakti. Aku pun sangat berterima kasih, karena dengan demikian Kuil Emas terlepas dari fitnah keji,” sahut sosok bungkuk yang telah terbuka topengnya. Dia memang Gandul.

“Nah, kini aku tinggal menangkap penculiknya,” kata Rangga. “Nyai Gendari, menyerahlah secara baik-baik.”

“Kau menuduh sembarang orang, Rangga!” sergah Nyai Gendari.

“Kalau saja aku tidak punya bukti, mana mungkin aku menuduh sembarang orang,” tukas Rangga.

“Apa buktimu?”

Rangga menepuk tangan dua kali. Dan tak berapa lama, muncul Ki Senggono memondong seorang pemuda bungkuk lain. Di dekatnya, Dirja menuntun dua ekor kuda.

“Mungkin kau kenal pemuda bungkuk ini!” kata Rangga.

“Hmm!” Wanita setengah baya itu memperhatikan seksama.

“Aku tidak kenal orang ini!” sanggah Nyai Gendari.

“Tapi dia sangat kenal denganmu, Nyai Gendari.”

“Jangan memojokkanku, Anak Muda. Kalau kau terus mendesak, aku bisa marah!”

“Wanita busuk! Kenapa kau masih berpura-pura segala?! Akui saja perbuatanmu!” bentak Ratmi yang juga berada di tempat itu.

Tapi Nyai Gendari hanya terdiam. Matanya menatap tajam Ratmi dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Wajahnya mendadak muram. Dan cahaya mata keangkuhannya meredup. Sepertinya, dia tidak marah mendengar hardikan gadis itu.

“Menyerahlah kau untuk menerima hukuman atas segala perbuatan biadabmu! Percuma saja menyembunyikannya, karena si bungkuk ini telah mengakui semuanya!” lanjut Ratmi.

Nyai Gendari tetap tidak menjawab Bahkan entah kenapa bola matanya mulai berkaca-kaca. Sepertinya gadis di hadapannya ini sangat berarti baginya.

“Apa lagi yang kau tunggu? Sudah! Cepat ringkus dia!” bentak Ratmi pada Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti terkesiap. Dia seperti terjaga dari mimpi. Wanita setengah baya itu semula begitu garang. Tapi berhadapan dengan Ratmi seperti tidak berkutik sedikit pun. Otaknya cepat berpikir. Pasti ada yang tak beres antara mereka berdua! Dan sebelum menyahut apa-apa, mendadak....

“Hm.... Kini aku tahu siapa gerangan yang bermaksud merusakkan nama baik Kuil Emas....”

“Hm!” Semua orang yang ada di tempat ini langsung menoleh, ketika mendengar suara seseorang.

“Nyai Pucuk Cemara!” Rangga bergumam pendek ketika menoleh. Begitu juga yang lainnya. Sedangkan Ki Senggono sempat berseru girang, mengetahui siapa yang muncul.

Sebaliknya wajah Nyai Gendari berubah garang melihat kehadiran wanita setengah baya yang tak lain Nyai Pucuk Cemara. “Huh! Syukur kau muncul di sini, Pucuk Cemara....”

“Apa maksudmu dengan fitnah kejimu, Gendari?” tanya Nyai Pucuk Cemara, langsung.

“Aku ingin kau hancur! Hancur sehancur-hancurnya...!” desis Nyai Gendari.

“Hm, sayang. Agaknya Yang Maha Kuasa belum merestui niat busukmu. Tidak puaskah kau setelah menghancurkan hidupku?”

“Dendamku tidak akan sirna padamu! Gara-gara kau, Kakang Pranajaya berpaling. Kaulah penghancur hidupku!”

Wajah Ratmi kontan berubah, ketika nama Pranajaya disebut-sebut. Dia berpikir, jangan-jangan.... Tapi, ah! Nama Pranajaya tak cuma seorang.

“Itu tidak benar. Kalian menikah. Dan aku sempat melihat perkawinan kalian, meski dari tempat tersembunyi. Kalau bicara masalah sakit hati, mestinya aku yang paling merasakannya. Tapi, aku tahu diri. Dan aku tak bermaksud merusak kebahagiaan kalian. Itulah sebabnya aku pergi sejauh-jauhnya, hingga terdampar di sini,” bela Nyai Pucuk Cemara.

“Dia meninggalkanku! Dan pikirannya terus tertuju padamu. Kau duri dalam dagingku. Kau harus mati, Pucuk Cemara! Yeaaa...!”

Nyai Gendari langsung melompat menyerang Nyai Pucuk Cemara dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang demikian hebat.

“Hmm! Hatimu terlalu dirasuki dendam kesumat, sehingga akal sehatmu mati! Peristiwa itu telah jauh berlalu. Dan aku pun enggan memikirkannya. Tapi, kau masih juga mempersoalkan.”

“Tutup mulutmu!”

Dengan tangkas, Nyai Pucuk Cemara mengibaskan tangan menangkis tendangan. Nyai Gendari menggeram. Lalu serangannya dilanjutkan dengan mengayunkan kepalan tangan kanan, menyodok ke jantung dengan kekuatan penuh.

“Hup...!” Nyai Pucuk Cemara mencelat ke samping. Namun Nyai Gendari memutar tubuh mengikutinya. Sepertinya, dia tidak mau membiarkan Pemimpin Kuil Emas itu bernapas barang sekejap. Melihat itu mau tak mau Nyai Pucuk Cemara terpaksa meladeninya. Sehingga, pertarungan di antara mereka berdua semakin seru saja.

“Rangga, bagaimana ini? Apa yang mesti kita perbuat?” tanya Ki Senggono, bingung.

“Tampaknya persoalan ini berdasar dari dendam pribadi antara mereka, Ki...,” sahut Rangga setengah bergumam.

“Apa maksudnya?”

“Aku hanya mengerti sedikit-sedikit persoalan ini....”

“Lalu, tindakan apa yang mesti kita perbuat?”

“Entahlah....”

“Kita harus menghentikan mereka, Rangga?”

“Itu tidak memecahkan persoalan, Ki. Bisa-bisa mereka berdua semakin kalap dan menyerang bersama-sama. Kalau itu terjadi, kita yang celaka.”

Wajah Ki Senggono semakin tegang. Berkali-kali matanya melirik ke arah pertarungan yang semakin sengit saja. Masing-masing sudah mulai mengerahkan kepandaian tingkat tinggi. Tapi pada saat itu juga, mendadak....

“Berhenti...!”

“Heh?!”

Terdengar bentakan keras yang mengagetkan mereka semua, yang disusul berkelebatnya satu sosok berpakaian merah.

“Hmm...!”

Dan tahu-tahu seorang laki-laki setengah baya telah berdiri tidak jauh dari kejadian itu. Tubuhnya gagah terbungkus pakaian merah dan rapi. Rambutnya panjang, dikuncir ke atas. Jenggot dan kumisnya sama lebat dan sebagian telah memutih. Begitu pula rambutnya.

Sementara, pertarungan pun langsung berhenti. Kedua wanita yang berseteru pun kontan menoleh, menatap tak percaya pada laki-laki yang baru saja datang.

“Pranajaya!” seru Nyai Pucuk Cemara dan Nyai Gendari hampir bersamaan.

“Ayaaah...!” teriak Ratmi seraya menghampiri laki-laki yang baru muncul itu.

“Anak bandel! Ke mana saja kau selama ini? Berani betul pergi tanpa pamit!” desis laki-laki yang dipanggil Ayah oleh Ratmi.

“Aku..., aku tidak tahan untuk mencari Ibu. Karena Ayah tidak juga mau memberitahukannya!” sungut Ratmi dengan wajah cemberut.

Laki-laki bernama Pranajaya yang dikenal berjuluk si Dewa Api itu menarik napas panjang seraya menengadah keatas sejenak. Kemudian pandangannya beredar ke sekeliling, menatap orang-orang yang berada di sekitar tempat itu. Tak terasa beberapa penduduk desa pun satu demi satu berkumpul di tempat itu.

Memang tidak mengherankan, karena mereka berada di ujung jalan desa. Sehingga bila satu atau dua orang desa melihat kejadian, maka segera memberitahukan penduduk yang lain. Apalagi ini menyangkut soal penculik yang menghebohkan Desa Sabrang Lor. Terakhir, Ki Pranajaya memandang pada kedua wanita yang tengah bertikai itu.

“Kita sudah sama-sama tua.... Kenapa kalian masih juga bertengkar?” desak Ki Pranajaya.

“Tanyakanlah pada istrimu, mengapa dia mengusik ketenanganku?!” sentak Nyai Pucuk Cemara.

Ki Pranajaya memandang sekilas pada Nyai Pucuk Cemara. Kemudian wajahnya berpaling, menatap Nyai Gendari. “Gendari.... Kenapa ini...?” tanya si Dewa Api.

“Kenapa tidak kau tanyakan pada dirimu sendiri?” dengus wanita itu sengit.

“Aku? Kenapa denganku? Aku bertanya soal urusan ini, bukan tentang urusan kita,” tukas Ki Pranajaya.

“Urusan ini bermula dari urusan kita!”

“Apa maksudmu?”

“Tidak usah berpura-pura! Kakang masih mencintai si Pucuk Cemara, bukan?! Padahal, aku adalah istrimu! Istrimu yang sah. Kenapa kau tidak bisa menerima kenyataan itu?!”

Ki Pranajaya terhenyak mendengar pertanyaan itu. Dan dari wajahnya terlihat kalau dia memang merasa bersalah.

“Kakang meninggalkanku, karena ingin mengejar dia lagi, bukan? Kakang ingin kembali mengulang masa-masa muda kalian dulu!” tuduh Nyai Gendari.

“Gendari.... Itu tidak benar Kepergianku karena tak tahan melihat sikapmu. Kau sering terlihat bersama laki-laki lain dan susah kularang,” kilah Ki Pranajaya.

“Itu kulakukan sekadar menarik perhatianmu, supaya kau cemburu! Supaya kau memperhatikanku! Setelah sekian lama berumah tangga, kau sama sekali tidak pernah memperlihatkan kasih sayangmu! Aku terpaksa melakukan hal itu. Tapi, aku berani bersumpah bahwa tidak pernah terjadi hubungan-hubungan diluar batas kesusilaan dengan laki-laki yang sering bersamaku. Beda halnya denganmu. Begitu bertemu kembali, kau berusaha kembali padanya!” tuding Nyai Gendari, makin keterlaluan.

“Gendari, tuduhan itu tidak benar,” elak Ki Pranajaya.

“Aku melihat sendiri kau bertemu dengannya!” tukas Nyai Gendari, garang.

“Aku memang bertemu dengannya sekali itu saja. Tapi setelah itu, tidak pernah bertemu kembali. Kami tahu, urusan yang lalu telah dikubur dalam-dalam.”

“Lalu, apa urusanmu ke sini? Bukankah sekadar untuk berdekatan dengannya?!” tuding Nyai Gendari pada Nyai Pucuk Cemara.

“Itu tidak benar. Kedatanganku ke sini untuk mencari anakku. Ratmi.... Anakmu juga...”

“Anakku? Ratmi...?” desah Nyai Gendari kembali matanya berkaca-kaca. Naluri seorang ibu sejak melihat Ratmi, samar menggugahnya.

“Ya! Dialah anak kita yang dulu kubawa pergi sejak masih kecil,” sambung Ki Pranajaya.

Perlahan-lahan wanita itu melangkah mendekati Ratmi dengan wajah haru. “Ratmi anakku.... Mendekatlah pada Ibu, Nak. Mendekatlah...!” panggil Nyai Gendari lirih.

“Tidak! Aku tidak mempunyai ibu seorang durjana!” sentak Ratmi mendengus sinis.

“Ratmi... Mengapa kau menuduh Ibu seperti itu, Nak?”

“Tanyakan saja pada kacungmu itu, apa yang hendak dilakukannya padaku. Itu semua pasti perintahmu!” tuding Ratmi pada Denawa yang berada di dekat Ki Senggono.

Seketika wajah Nyai Gendari berubah geram ketika berpaling menatap Denawa, yang bertubuh bungkuk itu. “Denawa! Apa yang kau lakukan pada putriku?!” bentak Nyai Gendari garang.

“Ampun, Nyai! Aku..., aku tidak tahu kalau dia putrimu!” sahut pemuda bungkuk itu ketakutan.

“Bedebah! Jawab pertanyaanku!” hardik Nyai Gendari.

“Dia coba menodaiku!” cetus Ratmi sengit.

“Bajingan keparat! Aku tidak pernah memberi perintah itu padamu! Untuk menodai gadis-gadis yang kau culik!” desis wanita itu. Nyai Gendari tak dapat lagi menguasai diri. Secepat kilat tubuhnya mencelat, langsung mengirim tendangan kuat.

Duk!

“Aaakh...!” Tubuh Denawa yang bungkuk kontan terlempar beberapa langkah disertai muntahan darah segar. Jerit kesakitannya terdengar panjang dan memilukan hati. Dalam keadaan tertotok serta kedua tangan dan kaki terikat, tentu saja dia tak mampu melawan ataupun menangkis. Padahal tendangan yang dilakukan Nyai Gendari begitu kuat, untuk melampiaskan kemarahannya. Bisa dibayangkan, bagaimana rasa sakit yang diderita Denawa.

“Cukup, Nyai!” bentak Rangga menghalangi ketika wanita itu hendak meneruskan hajarannya.

“Minggir kau, Bocah!” hardik Nyai Gendari.

“Kau tidak berhak menghukumnya. Bagaimanapun, perbuatannya tidak lepas dari perintahmu!”

“Aku tidak pernah memerintahkannya untuk menodai gadis-gadis yang diculiknya! Gadis-gadis yang pernah diculik Denawa, kini aman-aman saja di rumah Ki Danang. Mereka berkumpul di sana, setelah aku mengancam Ki Danang untuk tidak membuka rahasia ini pada siapa pun.... Hanya..., justru anakku sendiri yang nyaris jadi korban kebejatan Denawa.... Oh..., kenapa ini harus terjadi? Kenapa malah anakku sendiri yang nyaris jadi korban nafsu bejad anak buahku...?” desah Nyai Gendari, merasa menyesal sekali.

“Ada atau tidaknya perintahmu, tapi suasananya membuat si bungkuk punya pikiran ke situ. Mestinya, kau merasa malu dan bertanggung jawab! Karena, semua kejadian ini adalah kesalahanmu!” tuding Rangga.

Nyai Gendari makin tercabik-cabik perasaannya. Apa yang dikatakan pemuda ini memang benar. Semua ini memang kesalahannya. Karena amarah dan cemburu pada Nyai Pucuk Cemara, para penduduk desa jadi korban. Bahkan anaknya sendiri yang telah belasan tahun tak pernah jumpa, juga nyaris jadi korban.

Dan Denawa memang anak buahnya. Mestinya dia yang bertanggung jawab atas segala perbuatan laki-laki bungkuk itu. Karena, apa yang dilakukan Denawa tak lepas dari perintah-perintahnya juga. Hanya saja, Denawa sedikit melenceng dan mencari kesempatan demi kepentingan pribadi.

“Ya. Aku memang salah...,” desah Nyai Gendari dengan suara lirih dan wajah sendu.

“Kau tak berhak cuci tangan. Meski kau bunuh dia sekalipun, tapi aib tak bisa disembunyikan. Dia telah cerita banyak tentangmu. Dan dia mengakui kalau semua penculikan itu dilakukan atas perintahmu!” sambung Rangga, mendengus sinis.

“Ya. Aku memang salah. Dari dulu aku memang selalu salah! Aku memang salah dan tak pernah benar! Aku memang salah...!” teriak Nyai Gendari berulang-ulang, seperti hendak memuntahkan semua perasaan di hati yang selama ini terpendam.

Tiba-tiba saja wanita itu mencelat kabur. Dan secepatnya menghilang dari pandangan. Dari jauh masih terdengar lapat-lapat suaranya yang terus menyesali diri. “Aku memang salah! Aku memang selalu salah...!”

“Gendari!” seru Ki Pranajaya tertahan. Dan tanpa disadari, tubuhnya pun melesat mengikuti wanita itu.

“Ayah, tunggu...!” Ratmi pun seketika berkelebat mengikuti jejak kedua orang itu.

Untuk sesaat tempat ini terasa lengang, meski para penduduk telah berkumpul semakin banyak. Rangga melirik. Ternyata Nyai Pucuk Cemara telah tak ada pula di sini. Dia sempat melihat wanita itu diam-diam meninggalkan tempat ini, dengan membawa serta Gandul yang tadi dihajar Nyai Gendari.

“Apa yang kita lakukan sekarang, Rangga?”

“Kurasa tugasku telah selesai, Ki. Kurasa kalian tinggal membereskan gadis-gadis yang diculik, di rumah Ki Danang. Terserah kalian, untuk memberi hukuman apa baginya. Dan tentang si bungkuk, juga terserah kalian.”

Begitu habis kata-katanya, Rangga menggebah kudanya lambat-lambat. Dia sempat memperhatikan ketika penduduk desa melampiaskan kemarahannya pada Denawa.

Gandul yang kemudian tahu bahwa Denawa adalah kakak kembarnya yang sekian lama terpisah darinya akibat perceraian kedua orang tua mereka, hanya bisa pasrah melihat nasib yang menimpa saudara kembarnya. Tak disangkanya, kalau pertemuan mereka harus berakhir menyedihkan pula.

Sementara Ki Senggono dan beberapa penduduk desa segera mendatangi rumah Ki Danang yang memang tak jauh dari tempat ini.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: WARISAN TERKUTUK
Thanks for reading Penghuni Kuil Emas I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »