Pembakaran Kuil Thian Lok Si Jilid 04

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Pembakaran Kuil Thian Lok Si Jilid 04
Sonny Ogawa
Bagian 04. Perkawinan Nestapa

PERISTIWA yang terjadi pada keluarga Khu dan Ma itu, tidak saja mendatangkan malapetaka pada kedua keluarga tersebut, akan tetapi juga mendatangkan malapetaka yang tak kalah hebatnya pada keluarga Pangeran Gu Mo Tek dengan terbunuhnya Gu Mo Tek dan kedua orang puteranya, Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu, oleh amukan Khu Tiong dan Ma Gi.

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Pada malam hari terjadinya pembunuhan itu, gegerlah seluruh keluarga pangeran itu. Nyonya pangeran yang sudah tua menangis sampai jatuh pingsan beberapa kali, sedangkan isteri kedua orang muda ini memeluki jenazah suaminya sambil menangis tersedu-sedu. Mereka ini harus dikasihani oleh karena sama sekali tidak berdosa dan tidak tahu menahu tentang urusan yang mendatangkan malapetaka ini.

Bahkan kematian Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu juga mengandung penasaran besar karena kedua orang muda inipun tidak tahu akan pengkhianatan terhadap kedua orang sastrawan tua yang dilakukan oleh ayah mereka.

Pada saat terjadinya pembunuhan ini, isteri Gu Keng Siu telah mempunyai seorang putera berusia lima bulan, sedangkan isteri Gu Leng Siu mengandung muda, paling banyak empat bulan. Dapat dibayangkan betapa hancur dan sedih hati mereka dan berbareng dengan kesedihan hebat ini, timbul pula dendam yang mendalam dan besar di dalam hati mereka terhadap Khu Tiong dan Ma Gi. Kedua nama ini mereka ingat baik-baik dan selama hidup takkan pernah mereka lupakan.

Beberapa bulan kemudian, isteri Gu Keng Siu melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Gu Hwee Lian. Dan karena nyonya janda ini masih muda lagi cantik jelita, maka ketika datang pinangan dari seorang komandan meliter berpangkat Touw-tong yang masih muda lagi cakap dan gagah, ia menerimanya lalu berpindah ke rumah gedung Touw-tong itu ke kota Lok-keng.

Towtong ini bernama Gan Hok dan ia memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi, mewarisi ilmu kepandaian silat ayahnya yang telah meninggal dunia. Gan Hok menerima anak tirinya dengan hati rela, karena iapun suka melihat anak yang mungil dan mukanya mirip ibunya itu.

Adapun nyonya janda Keng Siu tidak mau kawin lagi, bahkan bersumpah hendak menjadi janda sampai tiba saatnya menyusul suami ke alam baka dan bersumpah pula hendak menjaga puteranya yang bernama Gu Liong itu agar kelak dapat membalaskan dendam hatinya. Nyonya janda Cu Keng Siu tetap tinggal bersama ibu mertuanya di gedung nyonya pangeran ini, dan kadangkala ia mengunjungi ibu Gu Hwee Lian yang kini menjadi nyonya Gan Hok itu.

Mereka tetap mengadakan perhubungan seperti biasa oleh karena biarpun yang seorang telah menjadi isteri orang lain, namun dendam hati mereka masih sama hingga seakan-akan ada pertalian erat di antara mereka berdua, bahkan Gan Hok telah berlaku baik sekali kepada nyonya janda Gu Keng Siu dan ketika diminta, ia suka menerima Gu Liong menjadi muridnya, dan mengajar silat kepadan anak laki-laki ini bersama dengan anak tirinya, yakni Hweee Lian.

Biarpun kedua orang perempuan yang mengandung dendam hati besar ini telah mendengar bahwa kedua orang musuh mereka, yakni Khu Tiong dan Ma Gi, telah dapat ditewaskan oleh para perwira, namun mereka tetap merasa kurang puas oleh karena kedua isteri musuh-musuh ini masih hidup dan bahkan sedang mengandung tua sehingga rasa dendam mereka segera berpindah kepada isteri Khu Tiong dan isteri Ma Gi beserta anak-anak mereka.

Demikian hebat rasa dendam yang sudah mengeram dan meracuni hati wanita, sehingga mereka tidak puas sebelum melihat musuh mereka di tumpas habis sampai semua keluarga dan keturunannya.

****

Nyonya janda Ma Gi yang tinggal di gedung Gak Song Ki akhirnya melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Ma Siauw Eng. Nama ini dipilih oleh Kwei Lan, nyonya janda itu, untuk memperingati ayah mertuanya, Ma Eng, maka anaknya pun diberi sama dengan huruf “Eng” pula. Gak Song Ki dan ibunya girang sekali dan suka melihat anak perempuan yang cantik dan mungil itu. Adapun tentang nama, Gak Song Ki tidak menaruh keberatan karena ia amat sayang kepada Kwei Lan.

Mendapat pelayanan yang amat manis dan baik dari perwira muda yang tampan itu beserta ibunya, dan melihat pula betapa Gak Song Ki selalu bersikap ramah tamah dan sopan santun, juga amat mencintainya, maka setahun kemudian Kwei Lan tak dapat menolak dan menerima dengan hati tulus pinangan perwira muda itu sehingga ia menjadi nyonya Gak Song Ki yang gagah.

Orang tak dapat menyalahkan nyonya janda ini karena ia mempunyai banyak alasan kuat untuk menerima pinangan Gak Song Ki. Pertama-tama karena ia masih amat muda, belum lebih dua puluh tahun hingga tentu saja hatinya masih ingin sekali mempunyai rumah tangga yang bahagia. Kedua karena Gak Song Ki adalah seorang perwira muda yang cukup tampan, sopan, dan gagah perkasa. Ketiga karena nyonya janda ini merasa telah berhutang budi dan mengingat akan nasib puterinya.

Kalau ia menjadi nyonya perwira ini, tentu hidupnya akan terjamin dan dengan sendirinya ia tak usah kuatirkan nasib anaknya. Pula, dengan menjadi isteri Gak Song Ki ia tak perlu kuatir lagi akan dikejar-kejar oleh kaisar dan jiwanya serta keselamatan anaknya takkan terganggu pula. Ternyata bahwa Gak Song Ki amat menyinta Kwei Lan hingga nyonya ini merasa beruntung sekali.

Terutama karena ia melihat betapa suaminya yang baru ini juga menaruh hati kasih sayang kepada Siauw Eng yang jelas sekali kelihatan bahwa ia akan menjadi seorang gadis yang cantik luar biasa seperti ibunya. Gak Song Ki adalah seorang perwira yang kurang paham tentang ilmu sastera, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi hingga karena ia tidak dapat mengajarkan ilmu kesusasteraan maka ia lalu melatih ilmu silat kepada Siauw Eng yang dianggap seperti anak sendiri itu.

Demikianlah, empat orang muda yang binasa sebagai akibat dari pada perbuatan ayah masing-masing, yakni Khu Tiong, Ma Gi, Gu Keng Siu, dan Gu Leng Siu, meninggalkan keturunan masing-masing yang hidup terpisah dan dalam keadaan yang berlainan pula, akan tetapi keempat keturunan itu semua menerima latihan-latihan ilmu silat tinggi semenjak kecil dan yang kelak akan menimbulkan cerita luar biasa hebat dan ramainya.

Pada waktu itu, rakyat yang telah tertindas oleh kelaliman Kaisar beserta hulubalangnya dan para pembesar yang korup, lebih menderita lagi ketika Tiongkok diserang musim kering yang hebat. Panen menjadi rusak dan tak berhasil, namun tetap saja rakyat tani harus membayar pajak yang luar biasa beratnya hingga seakan-akan mereka tercekik dari kanan kiri.

Entah dosa apa yang telah diperbuat oleh nenek moyang mereka hingga pada saat yang bersamaan, Tuhan dan Kaisar telah memperlihatkan kekuasaan dan kemurkaan terhadap para petani miskin itu. Keadaan yang amat sengsara ini telah sampai di puncaknya dan ibarat api telah bernyala-nyala.

Kemudian tersebarlah buku karangan Khu Liok dan Ma Eng yang berjudul TUHAN TELAH SALAH PILIH itu yang merupakan kipas dan yang mendatangkan angin hingga api yang telah bernyalah di dada para rakyat kecil itu makin berkobar hebat. Maka pecahlah pemberontakan kaum tani pada tahun 874 dipimpin oleh seorang patriot bernama Ong Sian Ci dan dimulai di Santhung, daerah yang menderita karena musim kering.

Pemberontakan menjalar luas sekali sehingga sebentar saja dimana-mana terjadi pemberontakan kaum tani yang menuntut perbaikan nasib. Ketika pemimpin Pemberontak she Ong itu tewas dalam peperangan, ia digantikan oleh seorang patriot lain bernama Oey Ciauw yang berhasil menggerakkan kaum tani dan rakyat kecil sampai mencapai barisan yang terdiri dari setengah juta rakyat lebih.

Dan tentara rakyat ini menyerbu terus, menerjang segala penghalang, sepak terjang mereka mengerihkan dan mengagumkan sekali, mati satu maju dua, roboh dua maju empat, terus menerus jumlah mereka melipat ganda hingga akhirnya kekuasaan Kaisar Tang dapat ditumbangkan hingga Kaisar yang lemah itu melarikan diri, mengungsi ke Secuan.

Un Kong Sian yang melihat semua ini, menghela napas dan menyesali sifat Kaisar yang kurang bijaksana hingga terjadilah pemberontakan ini. Ia tidak mau ikut campur dan hanya tinggal di rumah bersama isteri dan ibunya. Orang muda ini tidak mengalami kebahagiaan dalam rumah tangganya. Memang ia harus akui bahwa isterinya adalah seorang wanita yang selain cantik, juga sangat setia dan melayaninya dengan penuh perhatian.

Akan tetapi, isterinya yang bernama Oey Bi Nio ini, terlalu pendiam dan jarang sekali tersenyum. Segala apa yang dilakukan hanya terdorong oleh tugas dan kewajiban semata-mata, tanpa disertai perasaan kasih sayang yang seharusnya diperlihatkan oleh seorang isteri.

Kong Sian tak dapat mencela isterinya, karena memang dalam segala hal, Bi Nio berlaku baik dan memenuhi kewajiban dan inilah yang mengesalkan hatinya. Bi Nio merupakan sebuah mesin yang baik jalannya, atau seorang pelayan yang sempurna pekerjaannya, bukan merupakan seorang isteri yang merupakan lawan bercinta dan bercekcok.

Tubuh Un Kong Sian makin kurus saja, karena ia jarang keluar pintu dan kesukaannya hanya duduk di sebuah kursi dan melamun. Ibunya amat kuatir melihat keadaan puteranya ini dan sebagai seorang wanita kuno, ia cukup puas melihat anak mantunya yang tahu kewajiban dan berbakti itu, sama sekali tidak tahu tentang kekosongan hati puteranya akibat sikap pendiam dan penurut dari Bi Nio itu.

“Kong Sian, mengapa kau selalu melamun dan seperti orang yang berduka saja?” pada suatu hari nyonya tua ini bertanya dengan suara penuh kasih sayang. "Apakah kau merasa tubuhmu kurang sehat?”

Un Kong Sian menggelengkan kepalanya dan ibunya amat terharu ketika melihat betapa di antara rambut anaknya yang hitam dan subur itu kini nampak beberapa helai rambut putih. “Tidak ibu, aku tidak apa-apa. Hanya...”

“Hanya apakah, anakku? Apakah yang mengganggu pikiranmu?”

Un Kong Sian tak dapat melanjutkan kata-katanya karena memang ia tidak tahu apakah yang menyebabkan ia menjadi kesal dan seakan-akan bosan akan segala apa. Kemudian, tiba-tiba ia teringat kepada Lin Hwa yang telah empat tahun tak dijumpainya itu, maka ia segera berkata, “Aku hanya ingin sekali pergi merantau, ibu.”

Ibunya menghela napas. Nyonya ini merasa kecewa dan sedih sekali oleh karena setelah kawin empat tahun lamanya, mantunya belum juga kelihatan mengandung, sedangkan ia telah amat rindu menanti datangnya seorang cucu yang mungil. “Kalau kau pikir bahwa hal itu akan mendatangkan kegembiraan bagimu, kau pergilah, nak. Akan tetapi, jangan terlalu lama dan ingatlah bahwa ibumu yang sudah tua menanti di rumah.”

Un Kong Sian dengan girang lalu berlutut dan memeluk kaki ibunya yang mencucurkan air mata sambil mencari-cari rambut putih di kepala puteranya itu untuk dicabut. Ketika dia memberitahukan maksud dan kehendaknya kepada isterinya, Bi Nio hanya menjawab sederhana,

“Baiklah, dan aku akan menjaga ibu dengan baik-baik. Kau tetapkan hatimu dan jangan kuatirkan kami.”

Setelah mengadakan persiapan dan berpamit kepada isteri dan ibunya, Un Kong Sian lalu pergi, mulai dengan perjalanannya merantau. Setelah keluar dari rumah dan berada di alam bebas, Un Kong Sian merasa seakan-akan ia telah merdeka terlepas dari kurungan, seperti seekor burung yang terlepas dan kini terbang ke angkasa dengan bebas merdeka dan gembira. Ia merasa hidup kembali dari dunia lain yang menjemukan dan mengesalkan hati.

Serbuan tentara petani ternyata mendatangkan perubahan hebat di dusun-dusun. Penderitaan berkurang dan kemiskinan agak dapat di atasi, akan tetapi timbul pula gejala-gejala baru yang sebenarnya telah tua yakni berlakunya hukum rimba.

Memang, ketika mulai dengan pemberontakan, semua petani bersatu padu merupakan kesatuan yang kokoh kuat, akan tetapi setelah pemberontakan itu berhasil, mereka saling cakar seperti anjing berebut makanan. Tentu saja dalam perebutan ini, yang kuat menang dan yang kalah tetap menderita.

Dengan demikian, maka penindasan masih belum terhapus sama sekali dari muka bumi Tiongkok, hanya bertukar majikan saja. Kalau dulu yang menjadi “raja kecil” adalah hartawan terbesar atau bangsawan tertinggi, kini mereka ini dapat diusir dan kedudukan mereka digantikan oleh orang yang terkuat.

Un Kong Sian langsung menuju ke Kwi-ciu untuk mendatangi kuil Thian-an-tang dan mencari Lin Hwa, wanita yang selama ini belum pernah lenyap dari ingatannya. Akan tetapi ketika ia tiba di kuil Thian-an-tang di Kwi-ciu itu, ia melihat bahwa perubahan besar telah terjadi pula di kuil Thian-an-tang. Lan-lan Nikouw yang telah tua itu sudah meninggal dunia ketika terjadi keributan dan penyerbuan barisan tani.

Ketika terjadi keributan, maka para penjahat menggunakan kesempatan itu untuk merajalela dan mengumbar nafsu jahatnya. Melihat bahwa di antara para nikouw du kuil Thian-an-tang banyak terdapat nikouw muda yang berwajah lumayan, mereka lalu berani datang mengganggu.

Dan di antara para nikouw itu terdapat pula banyak wanita yang sebelum masuk menjadi nikouw menuntut penghidupan tidak patut, bahkan ada pula beberapa orang wanita pelacur yang katanya telah bertobat dan hendak menebus dosa lalu masuk menjadi pendeta perempuan. Mereka inilah yang masih belum bersih betul batinnya dan tidak kuat menghadapi godaan sehingga diam-diam mereka melakukan perhubungan rahasia dengan para penjahat itu.

Hal ini diketahui oleh Lan-lan Nikouw yang juga memiliki kepandaian ilmu silat cukup tinggi. Nilouw tua yang biasanya amat sabar dan peramah itu, tak dapat menahan kemarahan hatinya. Dengan pedang ditangan ia lalu menghajar penjahat-penjahat itu dan bersama dengan para nikouw yang berjalan sesat, ia lalu membunuh mereka sehingga sebentar saja belasan orang menjadi mayat dan bergelimpangan di halaman belakang kuil Thian-an-tang.

Biarpun dalam melakukan amukan ini, Lan-lan Nikouw tidak menderita luka, bahkan tidak banyak mengeluarkan tenaga jasmani, namun rohaninya terluka hebat dan ia telah terlampau marah hingga jantung dan paru-parunya terganggu hebat. Apalagi ia merasa amat menyesal telah melanggar pantangan yang paling besar dari orang yang menyucikan batin, yakni ia telah membunuh sekian banyak orang, maka ia lalu jatuh sakit dan penyakit batin ini membawanya ke lubang kubur.

Akan tetapi, amukan dan pembunuhan ini telah membikin takut dan kapok para nikouw, juga mendatangkan kengerian di hati para penjahat, hingga hal yang memalukan nama baik kuil Thian-antang itu tak pernah terulang lagi. Kedudukan Lan-lan Nikouw lalu diganti oleh seorang muridnya yang bernama Bwee Lan Nikouw.

Ketika peristiwa itu terjadi, belum lama Lin Hwa meninggalkan kuil itu untuk pergi mencari bahan-bahan obat di gunung-gunung dan meninggalkan puteranya dalam rawatan para nikouw. Ketika ia pulang dan mendengar tentang hal itu, bukan main sedih dan menyesalnya, maka ia lalu membawa Cin Pau pergi dari situ. Kepada para nikouw yang bertanya kemana ia hendak pergi, ia hanya memberitahukan bahwa ia hendak pergi merantau, mencarikan guru silat yang pandai untuk puteranya.

Hanya sekian saja keterangan yang bisa didapat oleh Kong Sian, maka dengan hati berat ia meninggalkan kelenteng Thian-an-tang untuk melanjutkan perjalanannya. Ia ingin sekali bertemu dengan Lin Hwa, akan tetapi oleh karena ia tidak tahu ke mana perginya ibu dan anak itu, ia lalu menuju ke Kun-lun-san untuk menjumpai suhunya, yakni Beng Hong Tosu, tokoh Kun-lun-san, seorang tosu (pendeta pemeluk agama To) yang tinggi ilmu silatnya.

Perjalanan ke Kun-lun-san bukanlah perjalanan mudah, karena pegunungan Kun-lun terletak jauh di barat dan melalui tempat yang berbahaya serta sukar ditempuh. Akan tetapi oleh karena memang maksudnya hendak merantau, Kong Sian lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke barat.

Pada suatu hari, ia tiba di sebuah kota yang ramai. Kota ini adalah kota Li-kiang yang tersohor karena kerajinan tangan berupa guci-guci arak berkembang yang dibuat oleh penduduk di situ. Oleh karena sudah seringkali melihat guci-guci arak itu mengagumi keindahannya, maka Kong Sian lalu mencari sebuah kamar di hotel dan mengambil keputusan untuk berdiam di hotel itu beberapa hari lamanya dan mencari tempat pembuatan guci untuk menyakskan pembuatannya.

Ia mendapat keterangan dari pelayan bahwa tukang pembuat guci yang besar di kota itu adalah seorang she Li yang tinggal di ujung selatan jalan besar, maka ia lalu menuju ke rumah orang she Li itu. Benar saja, di depan rumah yang cukup besar itu ia melihat tumpukan guci-guci yang sedang dijemur dan guci-guci itu berkembang indah sekali. Ia melihat-lihat guci yang dijemur itu karena di situ tidak ada orang, memperhatikan bentuk dan lukisannya.

Mungkin sudah menjadi tabiat setiap orang, apabila melihat guci kosong, selalu tentu menggunakan jari tangan untuk mengetuk-ngetuknya hingga guci itu memperdengarkan suara berkentung, dan Kong Sian pun tidak terkecuali. Ia mengetuk-ngetuk guci-guci itu dan mendekatkan mukanya untuk melihat gambar-gambar itu lebih jelas lagi. Banyak sekali terdapat lukisan-lukisan indah di tubuh guci itu, ada lukisan naga, bunga-bunga, pemandangan alam dan sebagainya.

Pada saat ia mengagumi guci-guci itu, tiba-tiba terdengar suara orang membentak, “Hm, tidak tahu malu! Menyelidik pekerjaan lain orang. Pergunakan otak sendiri dan jangan hanya menjiplak buatan orang lain saja.”

Un Kong Sian terkejut dan heran sekali ketika ia berpaling dan mendapat kenyataan bahwa dialah yang dibentak itu. Yang membentaknya adalah seorang laki-laki setengah tua yang berdiri di ambang pintu rumah dan tangan kanannya memegang sebuah guci arak yang besar sekali. Dan sebelum Kong Sian sempat membuka mulut untuk memberi keterangan yang sebetulnya, tahu-tahu orang itu mengangkat tangan yang memegang guci itu ke atas dan melemparkan guci besar itu ke arah kepalanya.

Guci itu besar dan berat sekali, dan juga keras karena sudah mengering dan siap untuk digambari, maka ketika dilempar ke arah kepalanya, tenaga luncuran itu kuat sekali hingga kepala orang yang tertimpanya mungkin akan menjadi remuk. Kong Sian menjadi terkejut, akan tetapi dengan sikap tenang anak murid Kun-lun-san ini lalu mengangkat kedua tangan dan menyambut guci yang melayang ke arah kepalanya itu.

Ia merasa betapa tenaga tenaga lempar orang itu besar sekali, hingga baiknya ia menyambuti dengan kedua tangan, kalau ia memandang rendah dan menyambut dengan satu tangan saja, mungkin ia akan kena timpa. Ketika Un Kong Sian meletakkan guci itu ke atas tanah dengan hati-hati dan siap hendak memberi keterangan, tiba-tiba orang itu melemparkan guci lain lagi dan kini guci yang sama besar dan beratnya itu meluncur ke arah dadanya dengan cepat sekali seakan-akan sebuah pelor besi kecil.

Kali ini benar-benar Un Kong Sian terkejut dan ia maklum bahwa ia takkan dapat menyambut guci ini seperti tadi, maka untuk menjaga diri, ia lalu memukul guci yang melayang itu dengan gerak tipu Hek-Houw-to-sim atau Harimau hitam menyambar hati. Terdengar suara “brak” dan guci itu pecah bela terkena pukulan Kong Sian yang keras.

“Bagus! Mereka telah mengirim orang yang memiliki kepandaian,” seru orang setengah tua itu dan bagaikan seekor harimau yang ganas, ia lalu melompat dan menerkam Kong Sian dengan sebuah serangan kilat.

Kong Sian cepat mengelak ke samping dan berseru, ”Hei tahan dulu!”

Akan tetapi tukang guci yang berwatak berangasan itu tidak memperdulikannya, bahkan lalu menyerang dengan ilmu silat Lo-han Kun-wat atau ilmu silat pendekar tua, semacam ilmu pukulan yang lihai dari cabang Siauwlim.

Kong Sian menjadi penasaran juga dan karena maklum bahwa orang kasar ini selain bertenaga besar juga memiliki ilmu silat yang lihai, maka ia lalu melayani dengan hati-hati dan membalas dengan serangan yang tidak kalah hebatnya. Ternyata bahwa pemuda ini lebih unggul tingkatnya dalam hal ginkang atau ilmu meringankan tubuh. Gerakannya lebih gesit dan cepat dan ini merupakan keuntungan besar baginya.

Dengan perlahan akan tetapi pasti, ia mulai mendesak lawannya. Kalau Kong Sian menghendaki, tentu ia akan dapat merobohkan lawannya dengan serangan-serangan maut, akan tetapi oleh karena ia tidak mempunyai permusuhan dengan orang ini, maka ia hanya berusaha untuk menjatuhkan saja tanpa melukai berat. Akan tetapi, hal ini bukanlah mudah, karena lawannya juga mengeluarkan segala tenaga dan kepandaiannya untuk merobohkannya.

Tiba-tiba muncul seorang kakek diambang pintu itu dan ia berseru, “A Lung mundurlah!”

Bentakan ini berpengaruh sekali dan orang yang berangasan tadi lalu mencelat mundur. Juga Kong Sian lalu membungkuk dan menjura sebagai tanda menghormat sambil berkata, “Maafkanlah siauwte yang telah mengganggu, sebetulnya bukan maksud siauwte untuk membuat keonaran.”

Kakek itu menatap wajahnya dengan tajam lalu berkata perlahan. “Kau anak murid Kun-lun mengapa mencampuri orang lain?”

Kong Sian terkejut karena ternyata bahwa baru melihat gerakannya sebentar saja kakek itu telah dapat mengetahui bahwa ia adalah anak murid Kun-lun-pai. Maka karena maklum bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang berilmu tinggi, ia lalu menjura lagi dan berkata,

“Locianpwe harap banyak memaafkan siauwte yang muda. Sebenarnya siauwte sama sekali tidak tahu apa yang locianpwe maksudkan dan sampai sekarang siauwte masih merasa penasaran dan heran mengapa datang-datang siauwte diserang oleh twako (kakak) ini?”

“A Lung, yakinkah kau bahwa ia seorang dari mereka?” tanya kakek itu kepada lawan Kong Sian tadi.

Orang setengah tua yang bernama A Lung itu lalu menuturkan dengan suaranya yang kasar, “Orang ini datang-datang tanpa permisi memeriksa guci-guci kita, apalagi maksudnya kalau bukan hendak menyelidiki?”

Tiba-tiba Kong Sian tertawa bergelak hingga tidak saja A Lung menjadi heran, akan tetapi kakek itu sendiri pun melengak. “Locianpwe, ternyata sahabat ini telah salah sangka. Ketahuilah, siauwte adalah orang yang datang dari tempat jauh dan kebetulan saja siauwte berhenti di kota ini karena telah lama ingin sekali menyaksikan sendiri pembuatan guci-guci yang telah lama siauwte kagumi keindahannya.

"Pelayan hotel memberi tahu bahwa di sinilah tempat pembuatan guci yang paling besar, maka siauwte lalu menuju ke sini. Ketika siauwte melihat tumpukan guci ini dan tidak melihat seorang pun yang menjaganya, maka siauwte lalu melihat-lihat dan mengagumi keindahan guci-guci ini. Tiba-tiba saja siauwte lalu diserang oleh sahabat ini. Harap locianpwe suaka memberi maaf.”

Air muka yang tadinya keruh dari kakek itu lalu menjadi terang dan ia menegur A Lung, “A Lung, lain kali jangan kau terlalu sembrono!”

A Lung yang ditegur lalu menjura kepada Kong Sian dan mulutnya bergerak meminta maaf, kemudian ia kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya. Kakek itu dengan ramah tamah lalu mempersilakan Kong Sian masuk dan duduk di dalam rumah.

Kong Sian yang ingin sekali melihat cara pembuatan guci-guci itu, lalu mengikuti kakek itu ke dalam di mana ia melihat betapa guci-guci itu dibuat oleh beberapa orang laki-laki dan wanita. Ia merasa heran sekali karena ternyata menurut keterangan kakek itu bahwa semua pekerja adalah keluarga sendiri dan seorangpun tidak ada orang dari luar.

Kong Sian menyatakan keheranannya dan juga bertanya tentang sikap mereka yang aneh tadi. Kakek itu menarik napas panjang, dan mempersilakan tamunya mengambil tempat duduk, ia lalu berkata, "Keluarga kami she Li semenjak beberapa keturunan telah membuat guci-guci arak, dan demikian pula beberapa banyak keluarga lain di kota Li-kiang ini. Di anatara pembuat-pembuat guci yang terbesar dan paling terkenal adalah keluarga kami dan keluarga she Tan di ujung utara kota ini. Mereka juga pembuat-pembuat guci yang pandai. Akan tetapi di antara keluarga she Tan dan keluarga kami timbullah persaingan hebat yang terjadi semenjak kakekku masih hidup.”

“Apakah yang menimbulkan persaingan itu? Apakah penjualan guci di satu pihak ada yang tidak laku?” tanya Kong Sian.

“Bukan demikian soalnya, sebenarnya hanya soal keangkuhan dan saling tidak mau mengalah. Guci-guci keluaran Li-kiang tidak ada yang tidak laku, bahkan pembuat-pembuat guci yang kurang pandai pun tak pernah mengeluh karena dagangannya tidak laku. Apa yang di sini dianggap kurang baik, di daerah lain sudah menjadikan orang-orang kagum. Mungkin sekali pihak she Tan itu merasa iri hati oleh karena mereka kalah dalam hal memberi lukisan pada guci-guci.

"Di sana tidak ada orang yang ahli dan pandai betul melukis sepeti yang ada pada kami. Inilah agaknya yang membuat mereka menjadi penasaran sekali dan mengambil sikap bermusuh dengan kami. Bahkan seringkali terjadi perkelahian oleh karena saling merasa panas dan saling menganggap guci masing-masing lebih bagus."

Kong Sian merasa heran sekali, “Locianpwe, kau orang tua bukanlah orang sembaranganan dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, apakah mungkin locianpwe masih mempunyai darah panas yang membuat kedua pihak saling bermusuhan hanya karena urusan kecil saja?”

“Anak muda, kau tidak tahu. Permusuhan yang memanaskan otak dan hati bukanlah tergantung dari pada sebab-sebab permusuhan itu timbul. Kalau rasa amarah sudah naik di kepala dan rasa dendam dan benci sudah membuat mata menjadi gelap, orang tidak mengingat lagi akan segala sebab-sebab permusuhan terjadi. Kami hanya mempertahankan nama dan menjaga kehormatan keluarga kami belaka. Soal kehormatan memang soal yang penting dan yang sudah selayaknya dibela dengan berkorban apapun juga.”

Kong Sian amat tertarik mendengar urusan permusuhan antara tukang pembuat guci ini. Ia merasa ragu-ragu dan penasaran karena hanya mendengar keterangan di satu pihak, maka ia lalu berpamit dan langsung mengunjungi keluarga Tan di sebelah utara yang juga membuat guci arak. Seperti halnya dengan rumah keluarga Li, di depan rumah keluarga Tan banyak bertumpuk guci-guci arak yang dijemur.

Ketika Kong Sian memperhatikan, benar saja bahwa lukisan guci itu tidak seindah lukisan di guci buatan keluarga Li. Akan tetapi, buatan keluarga she Tan ini lebih halus dan ukiran-ukiran di pinggir guci lebih indah. Hingga kekalahan lukisan itu dapat tertutup oleh keindahan ukiran yang lebih tinggi mutunya dari pada ukiran guci buatan keluarga Li. Kalau ia menjadi pembeli, tentu ia bingung untuk memilih, mana yang lebih indah menarik di antara buatan kedua keluarga itu. Yang satu lebih indah ukirannya, yang lain lebih menarik gambarnya.

“Kongcu, apakah kau hendak membeli guci?” tanya seorang wanita setengah tua ketika melihat ia memperhatikan guci-guci yang sedang dijemur itu.

Kong Sian cepat memberi hormat karena ia sudah kapok dengan pengalaman di rumah keluarga Li yang datang-datang menyerang tadi. “Tidak, aku hanya hendak melihat-lihat saja. Guci-guci di sini lebih indah ukirannya dari pada guci-guci buatan keluarga Li di selatan itu,” katanya memancing sambil menatap wajah wanita itu.

Tiba-tiba wanita itu berseri mukanya mendengar ini. “Memang! Mana bisa keluarga Li yang sombong itu melawan guci buatan kami? Semua mata yang awas dapat membedakan mana barang buruk dan mana yang lebih baik. Guci buatan kami memang jauh lebih dari pada buatan mereka.”

Tiba-tiba dari dalam rumah keluar seekor anjing besar yang berlari sambil menggonggong dan menyerbu ke arah Kong Sian. Pemuda ini tidak menjadi gugup dan dengan dorongan tangan kiri ia berhasil melemparkan anjing itu ke samping sambil berseru, “Jangan sembarangan menggigit orang!”

“Bagus!” kata wanita itu dan segera membentak anjingnya yang lari ke dalam rumah kembali sambil menyembunyikan ekor di bawah perut. “Kau lihai juga, kongcu,” katanya, kemudian seperti yang tidak memperdulikan lagi kepada Kong Sian, ia lalu mengambil guci yang bertumpuk-tumpuk di situ lalu melempar-lemparkan ke atas dengan ringan sekali. Tangannya bekerja cepat dan sebentar saja tujuh buah guci yang tadi bertumpuk, telah dilemparkan dan melayang-layang di udara.

Ketika guci pertama melayang turun, lalu disambut oleh wanita itu dan dilemparkannya kembali ke atas, demikianpun dengan guci kedua dan seterusnya. Guci-guci itu berterbangan di udara bagaikan burung-burung besar dan lemparan wanita itu demikian tepat hingga guci-guci itu tidak saling beradu di tengah udara.

Diam-diam Kong Sian merasa kagum sekali. Ia maklum bahwa untuk dapat memainkan guci-guci itu sedemikian rupa, orang harus berlatih puluhan tahun dan juga harus memiliki tenaga iweekang yang besar, karena guci itu berat dan besar.

Setelah melemparkan setiap buah guci tiga kali ke atas, wanita itu lalu menaruh guci-guci itu perlahanlahan di atas tanah dan ditumpuknya kembali seperti tadi sambil berkata, “Kalau begini guci-guci ini lekas kering.”

“Peh-bo, kau hebat sekali!” Kong sian memuji dan diam-diam ia kagum sekali. Kota Li-kiang ini memang luar biasa sekali. Baru tukang-tukang pembuat gucinya saja sudah lihai sekali.

“Anak muda, sebenarnya apakah kehendakmu datang ke sini? Kalau orang datang ke sini tanpa maksud membeli guci, ia hanya mempunyai semacam maksud yang buruk.”

“Misalnya, menjadi penyelidik dari keluarga Li?” kata Kong Sian menyindir.

“Mungkin! Akan tetapi, mengapa kau tahu tentang hal itu? Kau siapakah?”

Kong Sian lalu mengaku bahwa ia adalah seorang perantau yang kebetulan lewat saja dan bahwa ia tadi telah mengunjungi keluarga Li dan mengalami peristiwa yang tidak enak sekali.

“Memang, memang mereka itu musuh-musuh kami. Mereka itu orang-orang busuk yang merasa iri hati melihat bahwa guci buatan kami lebih baik.”

“Akan tetapi, apakah lukisan-lukisan di sini juga lebih baik dari pada buatan mereka?” Kong sian bertanya dan tiba-tiba wajah wanita itu menjadi muram.

“Memang lukisan mereka lebih baik sedikit, akan tetapi ukiran kami lebih sempurna. Orang membeli guci melihat ukirannya bukan melihat lukisannya.”

Biarpun di dalam hati Kong Sian hendak menjawab bahwa kalau ia membeli guci, ia akan memperhatikan kedua-duanya, akan tetapi mulutnya tak menyatakan sesuatu dan ia lalu berpamit dan kembali ke hotelnya, ia merasa heran sekali melihat orang-orang yang aneh akan tetapi berkepandaian tinggi itu.

Pada senja hari itu, ketika Kong Sian baru saja kembali dari berjalan-jalan di dalam kota, ia mendengar ribut-ribut dan ketika bertanya kepada pelayan, ia mendengar bahwa telah terjadi pertempuran lagi antara keluarga Li dan keluarga Tan. Kong Sian cepat berlari keluar dan menuju ke tempat pertempuran, yakni di rumah keluarga Li. Wanita she Tan yang kosen tadi telah datang membawa empat orang kawannya dan di depan rumah itu terjadi pertempuran-pertempuran sengit.

Kakek yang kosen dari keluarga Li bertempur melawan wanita she Tan, keadaan merekalah yang paling hebat karena keduanya berilmu silat tinggi. Yang lain-lain main gebuk dan hantam hingga banyak guci yang berada di luar itu roboh dan pecah-pecah.

“Tahan, tahan!” Kong Sian berseru keras dan melompat ke tengah medan pertempuran.

Melihat datangnya pemuda yang bergerak cepat ini, kedua pihak berdiri dan menghentikan pertempuran dengan mata merah karena marah.

“Kau!” tegur kakek she Li, “Mau apa kau anak murid Kun-lun-san datang menahan kami?”

“Maaf, cuwi sekalian,” kata Kong Sian sambil menjura. “Kedatangan siauwte ini tak lain hanya hendak mencegah terjadinya pertempuran ini lebih lanjut.”

“Pergi kau! Siapa sudi mendengar omongan orang luar seperti kau?” bentak nyonya she Tan itu dengan galaknya.

“Benar, kau pergilah!” kata kakek she Li, “atau, terpaksa kami akan melemparmu keluar!”

Tiba-tiba Kong Sian tertawa geli dan suara tawanya yang bergelak ini mengherankan semua orang. “Aneh, aneh! Cuwi sekalian ini agaknya cocok dalam satu hal akan tetapi bertentangan dalam lain hal pula!”

“Apa maksudmu?” tanya kakek Li.

Kong Sian lalu menghadapi dua orang pemimpin keluarga itu dan setelah menjura lagi lalu berkata, “Jiwi, dengarlah baik-baik. Ketika jiwi menghadapi siauwte, jiwi mempunyai anggapan dan pikiran yang sama, yakni keduanya menghendaki aku keluar dan tidak ikut campur. Ini namanya cocok dan akur atau sama pendapat. Mengapa jiwi tidak mau mempergunakan kecocokkan ini untuk membereskan perselisihan dan permusuhan dengan jalan damai pula? Mengapa jiwi tidak mau tanam saja permusuhan ini dan bekerja dengan tekun dan tidak saling mengganggu?”

“Tak mungkin!” kata kakek Li.

“Tak sudi!” jawab nyonya Tan.

“Maaf, jiwi! Jiwi adalah orang-orang gagah dan pandai. Orang yang berani mengalah dan mengakui kesalahan barulah patut disebut orang pandai. Permusuhan jiwi hanya disebabkan oleh persaingan dalam pembuatan guci-guci ini. Semua orang telah tahu bahwa guci buatan keluarga Li lebih menang dalam lukisan, akan tetapi kalah dalam ukiran, sebaliknya guci keluaran keluarga Tan kalah dalam hal lukisan dan menang dalam ukiran."

"Alangkah baiknya kalau kalian semua berani mengakui kesalahan dan berani melihat kekurangan sendiri, lalu berdamai dan saling bekerja sama, saling tolong. Kalau keluarga Li dapat memberikan kepandaian melukisnya kepada keluarga Tan, sebaliknya keluarga Tan juga suka mengajarkan ilmu ukir kepada keluarga Li, bukankah nanti guci-guci keluaran kedua keluarga akan menjadi benda-benda yang amat indah dan tiada cacad celahnya? Dan bukankah hal ini merupakan kebanggaan kota Li-kiang dan sekalian penduduknya.”

“Benar, benar. Tepat sekali!” terdengar seruan keras yang serempak keluar dari banyak mulut, dan ketika Kong Sian menengok, ternyata tempat itu telah penuh dengan orang-orang yang datang menonton.

Kedua pemimpin keluarga itu termenung dan saling pandang. Akhirnya kakek she Li itu menjura kepada nyonya Tan dan berkata, “Kata-kata anak muda ini tepat juga. Maukah kau memikir-mikirkan hal ini?”

Nyonya Tan mengangguk dan kemudian ia lalu mengajak keluarganya meninggalkan tempat itu dengan aman. Sementara itu, Kong Sian sudah menyelinap pergi di antara penonton karena ia tidak mau dijadikan perhatian orang. Pada keesokan harinya, pagi-pagi benar ia telah melanjutkan perjalanannya.

Ia tidak tahu bahwa ucapannya itu benar-benar berhasil baik dan kedua keluarga yang bermusuhan itu kini telah berbaik kembali, bahkan tak lama kemudian seorang putera keluarga Tan dijodohkan dengan seorang puteri keluarga Li....

Jilid sebelumnya,

Jilid selanjutnya,
PEMBAKARAN KUIL THIAN LOK SI JILID 05
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.