Wanita Iblis Pencabut Nyawa Jilid 06

BENAR SAJA, tak lama sesudah Liem Siang Hong menyerahkan surat itu kepada kaisar, kaisar ini dan beberapa orang menteri dornanya menjadi marah sekali dan pada saat itu juga Liem Siang Hong ditangkap dan dihukum penggal kepala.
Empat orang perwira pengikut Liem-ciangkun, ketika mendengar akan hal ini, bersama Kwee Siong lalu melarikan diri secepatnya keluar dari kotaraja, kembali ke Tai-goan. Ketika mendengar bahwa Kwee Siong melarikan diri, kaisar menjadi marah sekli dan menyuruh para pengawal mengejarnya, akan tetapi Kwee Siong dan empat orang perwira itu telah jauh dan tidak dapat dikejar lagi.
Jenderal Li Goan mengepal-ngepal tinju, menggigit-gigit bibir dan air matanya tak tertahan lagi, terutama setelah mendengar laporan tentang dibunuhnya Liem Siang Hong. “Kaisar lalim, pembesar-pembesar dorna! Kalian benar-benar telah buta dan telah kemasukkan iblis. Saudaraku Liem Siang Hong, jangan mati penasaran, lihat saja betapa tak lama lagi aku akan menghancur leburkan Tiang-an!”
Jenderal besar ini lalu menghimpun seluruh balatentaranya, ditambah pula dengan rakyat jelata yang menyokong pemberontakannya dan segera memimpin ratusan ribu balatentara menyerbu Tiang-an.
Kita tinggalkan dulu barisan Jenderal Li Goan yang mengamuk dan berusaha menggulingkan pemerintahan kaisar yang lalim itu, dan marilah kita mengikuti perjalanan Liem Sian Lun, putera tunggal dari Liem Siang Hong yang gugur sebagai seorang patriot bangsa yang gagah perkasa itu.
Setelah setahun melatih diri, dengan tekunnya dan telah dapat menguasai ilmu silat yang diajarkan oleh Liang Gi Cinjin dengan sempurna, Liem Sian Lun mendapat izin dari Beng To Siansu untuk turun gunung.
“Muridku, pertama-tama kau harus pergi menghadap suhumu Liang Gi Cinjin sebagaimana telah ia pesan dulu. Kemudian, kau harus membuka matamu baik-baik dan melihat keadaan dunia di sekelilingmu. Kalau aku tidak salah tafsir, kerajaan yang sekarang telah mendekati keruntuhannya dan sepanjang pendengaranku, di mana-mana telah timbul pemberontakan hebat. Ayahmu adalah seorang panglima, maka kau harus dapat mempertimbangkan keadaan ayahmu. Kemudian sudah menjadi tugasmu pula untuk membantu perjuangan, hanya harus kau berhati-hati dan dapat memilih pihak yang benar! Nah, kau berangkatlah."
Setelah menerima banyak nasehat dari gurunya, Sian Lun lalu turun dari Kun-lun-san dan langsung menuju ke kota Ceng-tu. Tidak sukar baginya untuk mencari rumah perkumpulan Pek-sim-kauw, karena rumah ini merupakan sekelompok bangunan yang besar dan banyak, terkurung pagar tembok warna kuning yang tinggi.
Sian Lun maklum bahwa ia akan menghadapi ujian suhunya, akan tetapi ia tidak takut karena selama ini ia telah melatih diri dengan rajin dan sepanjang ingatannya semua pelajaran ilmu silat dan ilmu pedang dari Liang Gi Cinjin telah dipelajari dan dilatihnya dengan baik. Dengan tabah ia melangkah memasuki pintu gerbang di depan dan ia melihat banyak sekali pendeta yang berpakaian dengan gambar hati putih di dada, akan tetapi semua pendeta ini seakan-akan tidak melihatnya sehingga ia menjadi heran dan melangkah terus.
Ketika ia tiba di tengah halaman yang luas itu, tiba-tiba dari dalam keluar lima orang pendeta tua yang berwajah angker. Pendeta-pendeta ini menghadang di tengah jalan, lalu seorang di antara mereka bertanya garang.
“Saudara siapakah dan ada keperluan apakah masuk ke dalam rumah kami?” Melihat lima orang pendeta yang memakai tusuk konde perak ini, Sian Lun yang sudah mendapat keterangan dari Beng To Siansu, dapat menduga bahwa mereka ini tentulah lima orang murid suhunya yang disebut Pek-sim Ngo-lojin. Ia cepat memberi hormat dan menjawab, “Siauwte adalah Liem Sian Lun dan siauwte datang mohon bertemu dengan suhu Liang Gi Cinjin.”
Lima orang pendeta itu memang Pek-sim Ngo-lojin. Mereka ini masih merasa amat penasaran dan marah karena telah dikalahkan oleh Ling Ling dan ibunya pada tiga hari yang lalu. Mereka masih merasa mendongkol terhadap suhu mereka karena mereka telah mendapat marah dan teguran, akan tetapi suhu mereka masih memesan agar supaya mereka menjaga di tempat penjagaan masing-masing dan menyerang orang yang ingin menghadap Liang Gi Cinjin.
“Kalau ada orang datang mencariku, kalian harus mencoba dan menguji ilmu kepandaiannya, akan tetapi berhati-hatilah. Jangan sampai melukai orang itu sehingga kalian menanam permusuhan lagi dengan orang lain. Aku hanya ingin kalian menguji kepandaiannya saja.”
Kini datanglah orang muda ini yang ingin bertemu dengan Liang Gi Cinjin. Lima orang pendeta itu baru tiga hari yang lalu telah menderita kekalahan, maka kini setelah saling pandang dengan kawan-kawan sendiri, serentak mereka mencabut pedang dan berkatalah Pek Thian Ji yang galak.
“Mau bertemu dengan guru kami! Tidak mudah, anak muda. Kalau kau tidak dapat mengalahkan pedang kami, kau lebih baik pergi saja dan jangan mencoba untuk mengganggu suhu!”
Sian Lun tidak merasa heran mendengar ini dan ia memang telah bersiap untuk menghadapi ujian ini. Hanya ia merasa heran pendeta-pendeta yang menjadi murid gurunya ini nampak galak dan agaknya hendak maju semua mengeroyoknya. Ia lalu mencabut keluar pedang pemberian Beng To Siansu dan sambil memalangkan pedang di depan dada, ia berkata. “Kalau ngo-wi hendak menghalangiku, terpaksa siauwte akan berlaku kurang ajar!”
Lima orang pendeta Pek-sim-kauw itu lalu maju mengepungnya dan berytempurlah mereka dengan ramai. Akan tetapi baru saja mereka bertempur sepuluh jurus, bukan main kaget dan herannya Pek-sim Ngo-lojin ketika melihat bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh pemuda tampan ini bukan lain adalah ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat.
Kalau saja kelima orang pendeta itu menghadapi Sian Lun dengan ilmu silat lain, mungkin pemuda itu akan repot juga menghadapi keroyokan lima orang pendeta yang lihai itu. Akan tetapi Pek-sim Ngo-lojin menyerangnya dengan ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat yang baru mereka miliki delapan bagian, sedangkan pemuda itu sudah mewarisi sepenuhnya, maka tentu saja Sian Lun dapat melayani mereka dengan baik sekali.
Bahkan ketika ia mainkan bagian akhir dari ilmu pedang itu, yang paling sulit dan paling lihai sehingga pedangnya berkelebatan bagaikan segulung awan putih menyelimuti tubuh kelima pengeroyoknya, murid-murid Liang Gi Cinjin ini menjadi terkejut dan bingung sekali.
Pada jurus ke dua puluh dengan gerak tipu Halilintar Menyambar Ombak, Sian Lun memperhebat gerakan pedangnya dengan sepenuh tenaga. Terengar suara nyaring dan keras sekali dan tahu-tahu lima batang pedang dari pendeta-pendeta itu terlepas dari pegangan dan terlempar jauh.
Tentu saja lima orang pendeta itu berdiri dengan melongo saking herannya. Hanya suhu mereka saja yang dapat mainkan ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat sedemikian hebatnya.
“Dari manakah kau mencuri ilmu pedang kami?” Pek Im Ji berseru sambil memandang tajam.
Akan tetapi, Sian Lun tidak menjawab, hanya lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap ke kiri sambil berseru, “Suhu.....!”
Lima orang pendeta itu terkejut dan cepat menengok ke kiri dan benar saja, Liang Gi Cinjin telah berdiri di situ sambil tersenyum. Hal ini menunjukkan pula betapa tajam pemandangan mata dan pendengaran pemuda ini, jauh lebih lihai dari pada mereka yang tidak mengetahui bahwa suhu mereka telah berada di situ. Cepat mereka lalu menjatuhkan diri berlutut pula dihadapan Liang Gi Cinjin.
“Kembali kalian berlima telah menurutkan nafsu untuk maju mengeroyok pemuda ini. Baiknya kalian ketahui bahwa tiada baiknya mempergunakan kekerasan karena di dunia ini masih banyak orang yang lebih pandai dari pada kita. Ketahuilah bahwa pemuda ini adalah muridku sendiri, atau juga sute (adik seperguruan) kalian yang jauh lebih berhasil dalam mempelajari ilmu silat daripada kalian berlima.”
Sian Lun lalu berpaling kepada suheng-suhengnya dan berkata, “Mohon suheng sekalian sudi memberi maaf kepadaku yang kurang ajar!”
“Tidak apa, sute, bukan salahmu karena kami berlimalah yang menyerangmu lebih dulu.”
Liang Gi Cinjin menjadi girang sekali melihat kemajuan Sian Lun. Ia benar-benar merasa puas dan tidak sia-sialah ia mewariskan ilmu kepandaiannya kepada pemuda ini. Ia lalu mengajak semua muridnya masuk ke dalam dan berkatalah Liang Gi Cinjin kepada Sian Lun,
“Muridku, menururt berita yang sampai di sini, di kotamu, yakni Tai-goan, telah mulai ada pergelokan. Agaknya jenderal Li Goan telah bergerak pula dan menurut pendengaranku, jenderal ini adalah seorang bijaksana dan gagah perkasa. Kau pulanglah dan coba kau perhatikan sepak terjang para pejuang itu dari dekat. Kalau aku tidak salah, Li Goan inilah orangnya yang patut kita bantu.”
Kemudian ia memberi perintah kepada Pek-sim Ngo-lojin untuk memberitahukan semua anggauta Pek-sim-kauw agar supaya di manapun juga cabang mereka berada, suka membantu pergerakan untuk menumbangkan kekuasaan kaisar dan kaki tangannya yang lalim dan kejam.
Maka setelah kakek sakti ini selesai memberi wejangan, bubarlah enam orang muridnya itu. Sian Lun langsung melanjutkan perjalanan ke Tai-goan, sedangkan kelima orang pendeta itu lalu berpencar untuk menghubungi anak buah mereka di berbagai kota. Kemudian ternyata bahwa bantuan para pendeta Pek-sim-kauw ini merupakan dorongan yang besar sekali, dan tenaga mereka benar-benar amat berjasa dalam perjuangan menumbangkan pemerintah Sui yang sudah tak disukai rakyat lagi.
Adapun Liem Sian Lun segera keluar dari kota Ceng-tu dan menuju ke timur. Akan tetapi, baru saja ia keluar dari kota, tiba-tiba berkelebat bayangan yang gesit sekali dan tahu-tahu Liang Gi Cinjin telah berada di sampingnya. Sian Lun cepat memberi hormat kepada gurunya ini sambil memandang heran.
“Sian Lun, sesungguhnya dalam keadaan kacau seperti ini, tidak semestinya aku memberitahukan ini. Akan tetapi sukarlah bagiku untuk menahan keinginan hatiku ini. Aku telah bertemu dengan seorang gadis yang ilmu kepandaiannya luar biasa sekali dan ia adalah ahli waris dari seorang yang dulu amat kuhormati. Ia telah mewarisi ilmu silat dari sahabatku, Panglima Besar Kam Kok Han dan tentang ilmu pedangnya, mungkin hanya dia yang akan dapat menghadapi Pek-sim-kiam-hoat.
"Melihat keadaan gadis itu, sebelum kau datang, telah timbul niat dalam hatiku untuk menjodohkan kau dengan dia. Hal ini tentu saja terserah kepadamu dan kepada orang tuamu, akan tetapi aku yakin bahwa kalau ayahmu mendengar bahwa gadis itu adalah ahli waris Panglima Kam Kok Han yang besar dan terkenal, pasti ia akan setuju juga. Nah, puaslah hatiku telah menyampaikan hal ini kepadamu, muridku. Ketahuilah bahwa aku telah memberikan pedangku Pek-hong-kiam kepadanya, maka mudah saja kau mengenalnya apabila kau melihat pedangnya.” Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban Sian Lun, kakek itu berkelebat pergi.
Sampai beberapa lama Sian Lun berdiri dengan muka merah, dan ia heran sekali melihat sikap suhunya ini. Benar-benar orang-orang tua di dunia kang-ouw ini mempunyai watak yang luar biasa anehnya. Kemudian Sian Lun melanjutkan perjalanan. Ia melihat berbondong-bondong rakyat mempersatukan diri dan ikut dalam perjuangan menyerang tentara Sui yang berada di daerah mereka.
Di mana-mana orang memegang pedang dan tombak sehingga suasana menjadi panas sekali. Hal ini membuat Sian Lun makin ingin lekas-lekas tiba di rumah dan ia mempercepat perjalanannya. Apalagi setelah ia tiba di daerah Tai-goan dan mendengar bahwa kini Tai-goan sudah bergolak dan Jenderal Li Goan sudah mengumpulkan balatentara untuk menyerang kota raja.
Akan tetapi, bukan main kagetnya ketika ia tiba di depan pintu rumah keluarganya, ia melihat di depan tergantung kain putih dan di ruangan depan nampak duduk banyak sekali tamu. Ibunya sedang bersembahyang, menyembayangi meja tanpa ada peti matinya. Sian Lun melompat maju dan memeluk ibunya.
“Ibu....., ada apakah....? Siapa.... siapa yang....?”
Nyonya yang sedang menangis itu menengok dan melihat Sian Lun, ia menubruk puteranya sambil menangis tersedu-sedu. Di antara tangis dan sedu sedan, nyonya Liem menceritakan kepada anaknya betapa Liem Siang Hong telah dihukum mati oleh kaisar.
Bukan main sedih dan marahnya hati Sian Lun mendengar ini. Dengan air mata bercucuran ia berlutut di depan meja sembahyang itu dan tanpa memperdulikan pandangan semua mata yang berada di situ, ia bersumpah keras-keras.
“Ayah, aku bersumpah untuk membalaskan sakit hati ini, untuk membantu perjuangan menumbangkan pemerintahan yang lalim dan untuk mencari serta membunuh kaisar jahat itu.”
“Anak muda, bangunlah! Berlakulah tenang. Ucapanmu tadi lebih mudah dikeluarkan dari mulut dari pada dilaksanakan!” terdengar suara yang berpengaruh dan sebuah tangan yang amat kuat memegang pundaknya.
Sian Lun merasa terkejut sekali karena merasa betapa tangan ini telah mengerahkan tenaga menekan pundaknya dengan kekuatan yang sedikitnya ada delapan ratus kati beratnya. Ia cepat mengumpulkan lweekang untuk menahan tekanan ini dan dengan gerakan pundak yang gesit ia berhasil melepaskan pundaknya lalu bangun berdiri.
Ternyata di depannya telah berdiri seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah sekali. Orang ini berpakaian sebagai seorang panglima, seperti pakaian ayahnya dan untuk beberapa lama Sian Lun tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
“Sian Lun, berilah hormat kepada Li-goanswe (Jenderal Li),” kata ibunya.
Mendengar ucapan ini, teringatlah Sian Lun bahwa ia sedang berhadapan dengan Jenderal Li Goan pemimpin besar yang gagah perkasa dan namanya telah terkenal di seluruh daratan Tiongkok itu. Cepat-cepat ia memberi hormat dan mengusap air matanya, karena dihadapan seorang gagah, ia merasa malu untuk mengeluarkan air mata.
Jenderal itu lalu menarik tangan Sian Lun, diajak bicara di ruang dalam, diikuti oleh Nyonya Liem Siang Hong yang menggandeng tangan puteranya. Ketika mereka berada di dalam, ternyata di ruang itu telah penuh dengan para orang-orang terkemuka, yakni pemimpin daripada pemberontakan yang dikepalai oleh jenderal Li Goan.
Ketika Sian Lun datang, di dalam ruang itu sedang diadakan pertemuan yang merundingkan tentang pergerakan mereka. Di antara mereka terdapat juga Kwee Siong, yang segera menyambut dan memeluk Sian Lun sambil mengeluarkan airmata juga. Sian Lun amat terharu dan girang melihat pamannya yang amat dikasihinya itu berada pula di tempat itu.
“Kebetulan sekali putera mendiang saudara Liem Siang Hong telah datang dan melihat keadaannya, aku percaya bahwa di antara kita semua, dia seoranglah yang paling boleh diandalkan tenaganya!” kata jenderal itu kepada semua orang yang hadir. “Kita amat membutuhkan tenaga seperti Liem Sian Lun ini dan alangkah bahagia rasa hatiku bisa mendapat bantuannya?”
“Aku akan membantu sekuat tenaga!” kata Liem Sian Lun dengan penuh semangat. “Kalau perlu, sekarang juga hamba bersedia untuk menyerbu!” sambungnya sambil menghadapi jenderal yang gagah itu.
Jenderal Li Goan lalu melanjutkan siasat dan rencananya yang tadi tertunda oleh kedatangan Sian Lun. Dengan singkat ia menceritakan tentang tugas yang dilakukan oleh mendiang panglima Liem Siang Hong dan betapa panglima itu tewas karena dihukum oleh kaisar.
“Sekaranglah waktunya bagi kita untuk bergerak dan menggempur Tiang-an,” katanya. “Balatentara kaisar sedang dikerahkan ke berbagai daerah untuk membendung barisan-barisan petani yang sedang membanjir dari segala jurusan. Kalau kita melakukan serangan tiba-tiba, tidak akan sukar bagi kita untuk merebut dan menguasai Tiang-an."
Jenderal yang pandai dan telah banyak pengalamannya tentang siasat peperangan ini lalu memecah barisannya menjadi dua rombongan dan mengatur siasat untuk menyerbu Tiang-an dari dua jurusan, yakni dari selatan dan barat. Barisan yang menyerbu dari selatan akan dipimpin sendiri, adapun yang dari barat akan diserahkan kepada Liem Sian Lun untuk dipimpin.
Pengangkatan-pengangkatan diadakan, dan Kwee Siong dipilih sebagai penasehat dan sebagai hakim tertinggi yang memeriksa dan menjatuhkan hukuman kepada para tawanan. Orang she Kwee ini yang memiliki sifat lemah lembut dan jujur, dipercayai untuk membujuk para tawanan sehingga mereka itu mau tunduk dan membantu perjuangan mereka.
Kalau tidak perlu, maka pertumpahan darah antara bangsa sendiri akan dicegah. Juga Kwee Siong mendapat tugas untuk memeriksa dan mengadili anggauta-anggauta sendiri yang menyeleweng. Pendeknya Kwee Siong mendapat kekuasaan penuh sebagai hakim tertinggi.
“Bahkan aku sendiri kalau dianggap menyeleweng dan tidak benar, saudara Kwee berhak untuk menangkap dan mengadili!” kata Jenderal Li yang gagah itu.
Semua orang setuju sekali dan demikianlah, pada keesokan harinya barisan yang ratusan ribu orang jumlahnya itu dikerahkan, lalu bagaikan air bah barisan ini menuju Tiang-an. Makin dekat dengan Tiang-an, dua barisan yang bergerak dari selatan dan barat ini makin bertambah jumlahnya karena banyaknya rakyat yang menjadi suka rela dan membantu perjuangan ini. Dengan girang Sian Lun melihat betapa di antara para sukarelawan ini banyak terdapat pendeta-pendeta Pek-sim-kauw.
Kwee Siong ikut pula dalam barisan Sian Lun, karena Kwee Siong ingin berjuang dekat dengan keponakannya yang tercinta ini. Ketika kedua orang ini berangkat, mereka di antar oleh keluarga mereka, yakni nyonya Liem Siang Hong, nyonya Kwee Siong, dan Kwee Cun yang masih kecil.
“Kalau aku sudah besar, aku akan membantu engko Sian Lun bertempur!” kata Kwee Cun dengan gagah.
Sian Lun memondong anak itu dan berkata, “Kelak kau akan menjadi seorang yang lebih gagah dari pada semua pahlawan!”
Sian Lun memesan kepada ibunya agar baik-baik menjaga diri, sedangkan Kwee Siong yang sudah meninggalkan rumahnya di kotaraja, berpesan kepada isterinya agar isteri dan anaknya tinggal bersama dengan nyonya Liem Siang Hong.
Tepat sebagaimana telah diperhitungkan oleh Jenderal Li Goan, pertahanan barisan kerajaan di kota raja tidak kuat, karena balatentara kerajaan telah dipecah-pecah untuk memadamkan pemberontakan yang timbul di mana-mana. Hanya pasukan-pasukan yang kecil jumlahnya saja yang melakukan perlawanan terhadap barisan yang dipimpin oleh Jenderal Li Goan dan oleh Liem Sian Lun. Pasukan-pasukan kerajaan ini dengan mudah dihancurkan, sebagian besar ditawan dan bahkan ada yang menyerah dan menggabungkan diri dengan barisan pemberontak.
Liem Siang Hong memimpin pasukannya menyerbu kota raja dari barat, ketika sudah tiba di luar tembok kota, barisannya dihadang oleh sepasukan tentara kerajaan yang besar juga jumlahnya dan nampak kuat, teratur baik, dan dikepalai oleh seorang panglima berkuda putih yang tinggi besar. Panglima yang bertubuh seperti seorang raksasa itu duduk di atas kudanya dan suaranya seperti geluduk ketika ia menantang,
“Barisan pemberontak! Apakah kalian sudah bosan hidup dan berani menghadapi tentara dibawah pimpinanku?” Sambil berkata demikian, ia mencabut pedangnya dan memutar pedang itu di atas kepala sehingga nampaklah sinar yang kekuningan dan terdengar suara nyaring ketika pedang itu memecahkan hawa disekitarnya.
Melhat lagak panglima barisan kerajaan Sui ini, Sian Lun diam-diam kagum. Pamglima itu benar-benar gagah dan amat pantas dalam pakaian perangnya. “Siapakah dia, Kwee-siokhu (paman Kwee)?” tanyanya kepada Kwee Siong yang duduk di atas kuda, di sebelahnya.
“Dia adalah seorang jenderal muda yang amat gagah perkasa, bernama Kwan Sun Giok. Ia dulu mengepalai barisan penjaga tapal batas di sebelah selatan. Hati-hatilah, Sian Lun. Ia amat gagah dan berkepandaian tinggi,” jawab Kwee Siong sambil mengerutkan kening. Memang ia sudah mendengar nama jenderal muda ini yang benar-benar amat terkenal gagah perkasa tak terlawan.
Sementara itu, jenderal muda Kwan Sun Giok sudah melihat Kwee Siong, maka ia menudingkan pedangnya dan membentak keras. “Orang she Kwee! Kau benar-benar anjing tak mengenal budi! Kaisar telah memberi anugerah kepadamu, akan tetapi siapa kira kau sekarang bahkan menggabungkan diri dengan pemberontak. Mana anjing tua Li Goan? Suruh dia maju dan lekas berlutut minta ampun untuk ku bawa menghadap kepada kaisar!”
“Kwan Sun Giok!” Sian Lun berseru marah sambil menggerakkan kudanya, maju menghadapi panglima itu. “Alangkah besar mulutmu! Kaisar yang lalim dan membikin sengsara rakyat tidak patut memegang pemerintahan lagi, dan kau orang yang tolol dan buta agaknya hanya mabok oleh kesenangan dan harta benda kotor yang diberikan oleh kaisar kepadamu. Tahukah kau harta benda siapa yang menyenangkan hidupmu? Keringat dan darah rakyatlah yang kau pergunakan untuk berfoya-foya setiap hari bersama seluruh pembesar-pembesar jahat. Untuk menghadapi orang macam kau, tidak perlu Li goanswe yang maju, cukup dengan pedangku saja!”
Bukan main marahnya Kwan Sun Giok mendengar ini. Ia membuka lebar-lebar kedua matanya dan memandang kepada Sian Lun. “Siapa kau?” tanyanya dengan suara keras sehingga mengejutkan kuda yang ditungganggi oleh Sian Lun. “Aku tidak sudi berusan dan bicara dengan segala serdadu pemberontak. Suruh pemimpin barisan ini maju!”
“Akulah pemimpinnya,” jawab pemuda itu.
“Kau...!?? Kwan Sun Giok membelalakan matanya dan kemudian sambil berdongak, ia tertawa terbahak-bahak, memegangi perutnya yang besar penuh arak. “Ha, ha, ha, ha! Agaknya anjing tua Li Goan sudah kehabisan panglima! Ia takut menghadapi aku dan menyuruh bocah ini mengantarkan nyawa. Ha, ha!”
“Sian Lun, jangan layani dia dan berilah perintah kepada barisan untuk menyerbu saja!” kata Kwee Siong perlahan, karena orang tua ini khawatir kalau-kalau Sian Lun tidak dapat menandingi perwira yang tangguh ini.
Akan tetapi Sian Lun tidak mau memperlihatkan kelemahannya dan bahkan menantang. “Kwan Sun Giok, tak perlu banyak bertingkah dan menjual kesombongan. Kalau kau memang gagah, marilah kita bertempur mengadu kepandaian, disaksikan oleh barisan kita!”
“Baik, baik! Kalau kau dapat menangkan aku, biarlah semua tentaraku kau anggap kalah saja!” jenderal itu menantang sambil melompat turun dari atas kudanya.
Sian Lun juga melompat turun dari kudanya dan mencabut pedangnya. Setelah berdiri di atas tanah, nampaklah oleh Sian Lun betapa panglima musuh itu benar-benar tinggi besar. Akan tetapi sedikitpun pemuda ini tidak merasa jerih dan berpesan kepada Kwee Siong agar supaya jangan menggerakkan tentara lebih dulu sebelum selesai pertandingan ini.
“Bocah yang masih ingusan!” Jenderal Kwan membentak sambil memutar pedangnya. “Bersiaplah untuk terima binasa!” Kemudian ia maju menyerbu dan mengirim bacokan dengan pedangnya.
Sian Lun melihat gulungan sinar kuning menyambar ke arahnya dan ia maklum bahwa selain pedang di tangan lawannya ini amat tajam dan berbahaya, juga tenaga lawannya benar-benar hebat. Ia cepat mengelak ke kiri, lalu membalas dengan tusukan pedangnya ke arah perut lawannya.
Kwan Sun Giok tercengang juga melihat kegesitan lawannya yang masih muda ini, maka ia cepat menggerakkan pedang dengan sekuat tenaga untuk menangkis pedang lawan. Akan tetapi Sian Lun bukanlah seorang pemuda yang bodoh. Ia maklum akan tajamnya pedang lawan yang mengeluarkan sinar kuning itu, maka tentu saja ia tidak mau mengadu senjata.
Ia menarik kembali pedangnya dan cepat mengirim serangan-serangan lagi secara bertubi-tubi. Pedangnya berobah menjadi segulungan sinar putih yang amat kuat, lebar dan cepat gerakannya, berputar-putar bagaikan seekor elang mengitari dan menyambar kurbannya.
Makin heran dan terkejutlah Kwan Sun Giok menyaksikan kehebatan ilmu pedang lawan. Tak disangkanya sama sekali bahwa panglima pemberontak yang muda ini memiliki ilmu pedang yang demikian tingginya. Panglima kerajaan Sui ini lalu membentak nyaring dan mainkan ilmu-ilmu pedang yang banyak dipelajarinya.
Jenderal muda ini memang amat tangkas, bertenaga besar dan telah mempelajari banyak macam ilmu pedang., di antaranya dari Go-bi-pai, Bu-tong-pai dan Siauw-lim-pai. Sayang sekali, bahwa biarpun pengertiannya amat banyak, namun tidak sebuahpun dari pada ilmu-ilmu pedang itu ia pelajari sampai sempurna.
Betapapun juga, tidak mudah bagi Sian Lun untuk mengalahkan lawannya dalam waktu singkat. Tidak saja gerakan jenderal itu cukup gesit dan tenaganya amat besar, akan tetapi terutama sekali karena ia tidak berani mencoba mengadu pedangnya dengan pokiam (pedang mustika) lawan.
Sian Lun hanya mengerahkan ginkangnya dan bergerak cepat sekali, mengirim serangan-serangan dengan ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat, dan kadang-kadang juga mengeluarkan ilmu pedang dari Kun-lun-pai yang dipelajarinya dari Beng To Siansu. Akan tetapi ternyata bahwa jenderal itupun mengenal ilmu pedang Kun-lun Kiam-hoat, maka dapat mengimbanginya. Terpaksa Sian Lun lalu mengerahkan ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat yang benar-benar hebat dan belum dikenal oleh jenderal ini.
Setelah bertempur lima puluh jurus belum juga berhasil mengalahkan Sian Lun, Jenderal Kwan Sun Giok lalu membentak sambil menahan pedangnya. “Tunggu dulu, aku tidak suka bertempur melawan orang yang tidak bernama! Melihat ilmu pedangmu, kau tentu seorang murid dari guru yang pandai. Siapa namamu dan siapa pula gurumu?”
Sian Lun tersenyum mengejek. “Butakah matamu bahwa aku tadi mainkan ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat? Kalau kau mengenal Pek-sim-kiam-hoat, tentu kau tahu bahwa aku adalah murid dari Liang Gi Cinjin, namaku Liem Sian Lun!”
Terkejut juga jenderal Kwan mendengar bahwa pemuda ini adalah murid dari Liang Gi Cinjin, maka ia cepat berkata, “Kalau begitu, kau adalah suteku (adik seperguruan). Aku adalah murid dari Liang Hwat Cinjin yang menjadi suheng dari gurumu!”
Liang Gi Cinjin tidak pernah bercerita kepada Sian Lun bahwa kakek sakti itu mempunyai seorang suheng, maka Sian Lun belum pernah mendengar nama Liang Hwat Cinjin. Akan tetapi, ia tidak berani menuduh jenderal itu membohong, hanya menjawab keras, “Hubungan itu tidak menghalangi untuk aku memusuhimu, karena jalan kita berselisih. Kalau kau dan pasukanmu suka menyerah dan menggabung untuk bersama-sama melenyapkan kaisar lalim dan menolong rakyat jelata, tidak keberatan bagiku untuk mempercayai omonganmu tadi.”
Jenderal Kwan Sun Giok menjadi marah sekali. Ia memberi aba-aba untuk menyerbu kepada semua perwira pembantu dan barisannya. Kemudian ia sendiri menyerang lagi kepada Sian Lun dengan sekuat tenaga. Sian Lun juga memberi tanda kepada Kwee Siong yang segera memberi perintah kepada para perajurit untuk menyerbu, sedangkan serangan Kwan Sun Giok yang hebat sekali itu terpaksa ditangkis oleh Sian Lun dengan pedangnya. Akan tetapi akibatnya membuat Sian Lun merasa terkejut sekali karena terdengar bunyi keras dan tahu-tahu pedang di tangannya telah putus menjadi dua.
“Ha, ha, ha! Mampuslah kau!” Sun Giok tertawa bergelak, akan tetapi suara ketawanya ini ditutup oleh pekik mengerikan ketika Sian Lun menyerbu dengan gerak tipu Raja Monyet Merebut Mahkota, sebuah tipu gerakan dari ilmu silat Kun-lun-pai yang paling tinggi.
Gerakannya yang amat cepat itu tidak tersangka sama sekali oleh lawannya sehingga tahu-tahu tangan kirinya telah merampas pedang lawan sedangkan tangan kanannya mengirim pukulan yang tepat mengenai ulu hati Jenderal Kwan Sun Giok. Pedang berpindah tangan dan tubuh Kwan Sun Giok yang tinggi besar itu terhuyung-huyung ke belakang, kemudian jatuh terjengkang dalam keadaan mati dan dari mulutnya mengalir darah merah.
Sementara itu, kedua pihak telah bertempur hebat sekali dan banyak nampak jatuh korban. Tentara di bawah pimpinan Kwan Sun Giok ini adalah tentara pilihan yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian cukup terlatih. Melihat ini, Sian Lun lalu mempergunakan pedang rampasannya tadi mengamuk bagaikan naga sakti menyambar.
Baru segebrakan saja, lima orang perwira musuh telah roboh mandi darah. Sepak terjang yang gagah dari Sian Lun ini membangunkan semangat anak buahnya dan melemahkan semangat lawannya. Apalagi ketika pemuda itu melompat ke atas sebuah tempat yang tinggi, lalu menggerak-gerakkan pedang rampasannya sambil berseru keras.
“Dengarlah, para perajurit dari kerajaan Sui! Kalian sebagai anggauta rakyat jelata, tentu sudah maklum akan kelaliman raja! Kami datang bukan untuk memusuhi kalian, melainkan untuk membebaskan rakyat dari penindasan, untuk menumbangkan kekuasaan raja yang sewenang-wenang! Menyerahlah dan mari kita bersama menjadi pembela rakyat! Yang menyerah akan dianggap kawan, akan tetapi yang tetap berkeras kepala membela raja lalim pasti akan mampus di ujung pedangku!”
Ketika mengeluarkan ucapan ini, Sian Lun mengerahkan khikangnya dan suaranya terdengar keras sekali, menimbulkan gema yang terdengar sampai jauh. Ucapan ini amat berpengaruh, karena pihak musuh menjadi ragu-ragu untuk melanjutkan perlawanan mereka.
Kalau jenderal Kwan Sun Giok yang demikian gagah perkasa masih roboh di tangan pemuda yang hebat itu, apalagi mereka. Setelah melihat pihak-pihaknya banyak yang roboh, sebagian besar daripada tentara kerajaan itu lalu melepaskan senjata dan berlutut menyerah. Dengan mendapat kemenangan besar serta dapat merampas sebatang pedang pusaka yang ampuh, Sian Lun lalu memimpin barisannya menyerbu kota raja yang tidak begitu kuat lagi penjagaannya.
Kalau barisan yang dipimpin oleh Sian Lun hanya menghadapi perlawanan yang ringan, dan hanya Jenderal Kwan Sun Giok saja yang merupakan penghalang yang disebut kuat, adalah barisan yang dipimpin oleh Jenderal Besar Li Goan mengalami perlawanan yang amat gigih daripada tentara kerajaan.
Barisan pemberontak ini yang bergerak dari selatan, jauh sebelum tiba di pintu gerbang kota raja, telah mengalami perlawanan yang amat hebat dari tiga jurusan, yakni barisan-barisan kerajaan di bawah pimpinan panglima-panglima Song, Cia, dan Wong. Tiga pasukan yang besar jumlahnya ini baru saja kembali dari tugas pembersihan di bagian timur dan melihat pergerakan barisan pemberontak dari Tai-goan, segera mengepung dan menyerangnya.
Panglima-panglima yang bernama Song Kian Hi, Cia Soan Kun, dan Wong Pak ini adalah panglima-panglima besar yang berkepandaian tinggi, baik dalam ilmu silat maupun dalam ilmu kemiliteran, mengatur barisan. Jenderal besar Li Goan menjadi agak kewalahan menghadapi kepungan musuh ini, terutama sekali tiga orang panglima itu mengamuk dengan amat dahsyatnya, sukar sekali ditahan. Banyak perwira pembantu Jenderal Li Goan tewas dibawah amukan tiga orang panglima musuh itu.
Jenderal Li Goan sendiri maju dan hanya dia seorang yang masih berhasil menahan desakan tiga orang lawan ini. Song Kian Hi bersenjata tombak panjang, gerakan tombaknya luar biasa kuatnya. Cia Soan Kun adalah ahli main golok yang tangguh sekali, sedangkan Wong Pak memiliki toyanya yang amat berbahaya karena ia pandai main ilmu toya Raja Kera Putih.
Dibantu oleh dua orang perwira lain, Li Goan bertempur hebat menghadapi tiga orang panglima kaisar ini, sedangkan barisannya yang terkepung dari tiga penjuru itupun mengadakan perlawanan mati-matian. Tiba-tiba dua orang perwiranya yang menghadapi Cia Soan Kun dan Wong Pak berseru keras dan roboh mandi darah menjadi korban senjata lawan.
Kini Li Goan dikeroyok tiga oleh tiga orang panglima kosen itu. Untung sekali bahwa Jenderal Li Goan adalah seorang peperangan kawakan yang tinggi ilmu silatnya. Ia memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga seluruh tubuhnya terlindung oleh gulungan sinar pedang dan tidak mudahlah bagi tiga orang pengeroyoknya untuk merobohkan jenderal besar ini.
Pada saat itu, terdengar teriakan-teriakan ngeri dan beberapa orang tentara kerajaan roboh bagaikan rumput dibabat. Ternyata dua orang wanita telah mengamuk menggerakkan pedang dan menyerbu masuk. Dua orang wanita ini adalah Sui Giok dan Ling Ling. Yang lebih menyeramkan adalah Ling Ling, karena dengan Pek-hong-kiam di tangan, ia merupakan halilintar yang menyambar-nyambar tanpa mengenal ampun lagi.
Akhirnya mereka berdua tiba di tempat Jenderal Li Goan dikeroyok. Melihat pakaian tiga orang panglima itu, tahulah Sui Giok bahwa pengeroyok-pengeroyok itu adalah panglima-panglima tinggi dari kaisar, maka ia lalu berseru kepada anaknya. “Kita basmi tiga orang panglima kaisar lalim itu!”
Sui Giok dan Ling Ling segera maju menolong jenderal yang sedang terdesak hebat itu, dan membuat tiga orang panglima itu marah sekali.
“Pemberontak rendah, kau sudah bosan hidup!” teriak Song Kian Hi sambil menyambut serbuan Ling Ling, Cia Soan Kun bertempur dengan Sui Giok dan kini Jenderal Li Goan hanya menghadapi serangan Wong Pak seorang. Pertempuran menjadi lebih ramai lagi, akan tetapi kini keadaannya menjadi terbalik.
Betapapun hebat permainan tombak Song Kian Hi, orang terkuat di antara ketiga panglima itu, namun menghadapi permainan pedang dari Ling Ling, ia tidak berdaya. Belum juga dua puluh jurus mereka bertempur, ujung pedang Ling Ling telah berhasil membabat putus ujung tombaknya dan dengan gerakan yang amat aneh, cepat dan tak terduga, pedang Pek-hong-kiam telah menembus dada panglima she Song itu.
Hampir berbareng dengan robohnya Song Kian Hi, panglima ke tiga Wong Pak juga roboh terkena tendangan yang berat dari Jenderal Li Goan. Sui Giok tidak mau kalah dan ia mempercepat gerakan pedangnya, maka tak lama kemudian, Cia Soan Kun juga memekik keras dan tubuhnya terhuyung roboh dengan pundak kiri terbabat putus.
“Terima kasih, jiwi lihiap!” kata jenderal Li Goan dengan singkat oleh karena ketiganya harus bergerak pula mainkan senjata menghadapi perwira-perwira lawan. Akan tetapi kini perlawanan pihak tentara kerajaan tidak bersemangat lagi.
Kemudian nampak Jenderal Li Goan dengan gagahnya melompat ke tempat tinggi sambil memegang rambut dari tiga kepala orang yang sudah putus lehernya. “Lihat kepala siapa ini! Siapa menyerah akan diampuni nyawanya!” teriakannya keras sekali karena ia mempergunakan tenaga khikang dari dalam perut.
Ketika balatentara kerajaan berikut para perwiranya melihat bahwa kepala yang kini tergantung pada tangan jenderal besar itu adalah kepala tiga orang panglima, pemimpin mereka, semua orang menjadi ketakutan. Ada yang melarikan diri, ada yang berlutut sambil melepaskan senjata.
Dengan demikian, Li Goan mendapat kemenangan besar dan segera memberi perintah untuk menyerbu masuk ke dalam kota raja. Ketika jenderal ini memandang ke sana ke mari hendak mencari dua orang wanita yang tadi membantunya, ternyata bahwa kedua orang wanita gagah itu telah lenyap tak nampak bayangannya lagi.
Akan tetapi oleh karena perjuangan masih belum selesai dan jenderal Li Goan masih sibuk menghadapi penyerbuan ke dalam kota raja, maka ia tidak dapat mencurahkan perhatiannya kepada dua orang wanita gagah yang membantunya itu. Ia memimpin tentaranya masuk ke dalam kota raja, setelah menyerbu para penjaga tembok benteng dan mendobrak pintu gerbangnya.
Pada saat hampir bersamaan, balatentara pemberontak yang dipimpin oleh Liem Sian Lun juga berhasil membobol pertahanan para penjaga benteng dan dengan sorak sorai yang ramai sekali barisan ini menyerbu masuk dari lain jurusan. Dengan mudahnya barisan penjaga kaisar dipukul hancur dan Li Goan memimpin pasukannya menyerbu istana kaisar. Akan tetapi ternyata bahwa siang-siang kaisar telah melarikan diri dan mengungsi ke Yang-kouw.
Liem Sian Lun bertemu dengan Jenderal Li Goan yang merasa girang dan memuji pemuda itu atas hasil serbuannya dan menyerahkan pedang rampasannya yang dapat dirampas dari tangan Panglima Sui yang bernama Kwan Sun Giok. Ketika Li Goan menerima dan memeriksa pedang itu, terkejutlah dia,
“Aah.......! Inilah pedang Oei Hong Kiam! Pedang ini adalah milik Panglima Besar Kam Kok Han yang gagah perkasa dan yang kemudian dibunuh secara mengecewakan. Pedang ini patut sekali dipergunakan sebagai pedang pusaka kerajaan baru, karena ia menjadi lambang kegagahan dan kepahlawanan seorang patriot besar. Dengan pedang ini pula menteri-menteri dorna yang telah mengacaukan negara dan memeras rakyat akan kupenggal lehernya!” Sambil berkata demikian, Jenderal Li Goan lalu menggerak-gerakkan pedang itu sehingga nampaklah gulungan sinar kuning yang menyilaukan mata.
Sian Lun memandang kagum. Jenderal itu nampak agung, gagah, dan berpengaruh sekali memegang pedang yang sakti itu. Sebagai ganti jasa atas kemenangan Sian Lun, pemuda itu lalu menerima pengangkatan sebagai panglima muda dan menerima pula sebilah pedang pusaka, yakni pedang Gi-tiang-kiam, pedang mustika yang diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang Jenderal Li Goan.
Jenderal Li Goan lalu mengumpulkan semua pemimpin barisan yang kini telah diangkatnya menjadi perwira-perwira, dan dengan kata-kata keras ia memberi perintah, “Cuwi-ciangkun! Berkat kerja sama dan semangat kepahlawanan seluruh barisan, akhirnya kita berhasil menggulingkan tahta kerajaan Kaisar Yang Te dan menduduki Tiang-an! Sungguhpun kaisar sendiri berhasil mengungsi, akan tetapi kerajaan dan singgasana telah berada di tangan kita. Sekarang kita harus bertindak tegas, membuktikan kemauan kita yang baik dan perjuangan kita yang suci. Para pembesar yang kini masih berada di kota, tangkap dan tahan semua, akan tetapi jangan sekali-kali melakukan tindak hukum sendiri-sendiri. Semua tawanan baru harus diserahkan kepada Hakim Agung kita, saudara Kwee Siong. Hanya dialah seorang yang berhak memutuskan hukuman atau pembebasan seorang tawanan. Juga awaslah terhadap penyelewengan-penyelewengan para perajurit!”
Pada saat Jenderal Li Goan sedang berunding dengan para perwira, tiba-tiba datanglah seorang perwira yang bicara dengan gugup. “Celaka, tai-goanswe! Di sebelah barat jalan raya terdapat orang mengamuk. Banyak perajurit dia tewaskan dan kepandaiannya amat tinggi!”
Mendengar ini, Sian Lun lalu melangkah maju dan berkata, “Biarlah hamba diberi ijin menangkap perusuh itu!”
Li Goan memberi persetujuan dan berangkatlah Sian Lun keluar dari istana itu sambil membawa pedangnya Gi-tiang-kiam. Sebetulnya apakah yang terjadi di tempat keributan itu?
Orang yang mengamuk itu bukan lain adalah Ling Ling bersama ibunya. Kedua orang wanita gagah ini, terutama sekali Ling Ling, sedang mengamuk hebat, dikeroyok oleh sepuluh orang perajurit dan sudah banyak yang roboh tewas di bawah pedang Ling Ling yang digerakkan sedemikian rupa sehingga yang nampak hanya sinar merah yang menyilaukan saja.
Mengapa Ling Ling menjadi begitu marah dan mengamuk? Hal ini diakibatkan oleh penyelewengan para perajurit. Memang tidak mengherankan apabila di dalam suatu peperangan, pihak yang menang selalu tergoda oleh setan angkara murka dan bertindak sewenang-wenang. Demikianlah, maka banyak juga anggauta tentara dari barisan Jenderal Li Goan yang menang perang itu, setelah memasuki kota, lalu melakukan perampokan dan penculikan terhadap kaum wanita.
Serombongan tentara terdiri dari tujuh orang dengan kurang ajar sekali melakukan perampokan dan menyeret keluar orang-orang wanita, keluarga dari para bangsawan. Pekik orang-orang yang terbunuh, jerit wanita-wanita yang diculik keluar dari rumah, menarik perhatian Ling Ling dan ibunya yang juga diam-diam sudah ikut masuk ke dalam kota yang diduduki oleh barisan Jenderal Li Goan itu. Ketika Ling Ling melihat tujuh orang perajurit merampok dan mengganggu wanita, ia menjadi marah sekali.
“Kurang ajar! Beginikah macamnya orang-orang yang menyebut dirinya sebagai patriot-patriot?” bentaknya dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah menjambak rambut kepala seorang tentara yang sedang menyeret seorang gadis bangsawan dan begitu ia mengerahkan tenaga, perajurit yang nyeleweng itu terlempar jauh, menjerit ketakutan dan ketika jatuh ke atas tanah ia tak dapat bergerak lagi.
Ling Ling yang dibantu pula oleh ibunya lalu bergerak cepat dan tujuh orang perajurit yang berlaku sewenang-wenang itu sebentar saja menggeletak semua dalam keadaan terluka hebat. Tentu saja para anggauta tentara lainnya yang melihat kawan-kawan mereka dihajar oleh dua orang wanita itu, lalu beramai-ramai menyerbu dan mengeroyok. Sebagian besar di antara mereka berlumba untuk dapat menangkap Ling Ling yang demikian cantik jelita.
Akan tetapi mereka itu kecele, karena gadis manis ini bukanlah sembarangan orang yang dapat ditangkap begitu saja. Belum juga mereka dapat mengulur tangan, tubuh mereka telah roboh kena pukulan atau tendangan Ling Ling dan ibunya yang mengamuk bagaikan dua ekor naga betina yang marah.
Sudah menjadi lazim bahwa di antara anggauta tentara terdapat rasa setia kawan yang amat besar. Mereka tentu saja selalu membantu kawan-kawan mereka tanpa memeriksa dulu apakah kawan-kawan itu bertindak salah atau bertindak benar.
Demikianlah, makin banyaklah perajurit-perajurit yang mengurung dan mengeroyok Ling Ling dan ibunya, bahkan kini mereka itu telah mencabut senjata dan kini tak seorangpun yang ingin menangkap dan memeluk Ling Ling, melainkan menyerang dengan maksud membunuh. Ling Ling dan ibunya sudah terlampau banyak merobohkan kawan-kawan mereka, melukai bahkan membunuh. Kini mereka mengamuk dan mengeroyok dua orang wanita itu untuk dibunuh.
Akan tetapi, keroyokan yang sungguh-sungguh ini bahkan membuat Ling Ling dan ibunya makin menjadi marah. Kini Ling Ling dan tidak ragu-ragu lagi untuk mencabut pedangnya dan berkelebatlah sinar merah mengamuk dengan hebat sekali. Para perwira yang mendengar keributan itu mulai tertarik dan datang ke tempat itu. Akan tetapi mereka juga tidak berdaya menghadapi Ling Ling yang sudah menjadi amat marah itu.
“Tidak tahunya pemberontak-pemberontak yang menggulingkan pemerintahan lama adalah perampok-perampok jahat!” seru Ling Ling di antara amukannya. “Sama halnya dengan mengusir harimau mendatangkan srigala! Ibu, mari kita basmi mereka semua ini!”
“Ling Ling!” teriak Sui Giok sambil memutar pedangnya, “jangan sembarangan membunuh! Cukup asal kau menjatuhkan mereka dengan melukai kaki mereka saja. Tak perlu kita melakukan pembunuhan. Lebih baik kita melaporkan kepada panglima yang berkuasa!”
Betapapun juga, Sui Giok masih lebih sabar dan dapat menduga bahwa tidak semua perajurit berlaku sewenang-wenang terhadap penduduk kota itu yang sebagian besar terdiri dari para bangsawan. Akan tetapi mana Ling Ling mau menaruh hati kasihan kepada para pengeroyoknya?
Pada saat itu, terdengar bentakan keras, “Semua perajurit, mundur!” Dan berkelebatlah bayangan yang gesit sekali menghadapi Ling Ling dan Sui Giok.
Perajurit-perajurit yang tadinya mengeroyok dua orang wanita itu, ketika melihat siapa orangnya yang datang, menjadi lega dan cepat melakukan perintah itu, dan melompat mundur menjauhi kedua orang wanita itu.
Ling Ling dan Sui Giok memandang dan mereka melihat seorang pemuda dengan pedang bersinar gemilang di tangan kanan berdiri dengan gagahnya. Adapun Sian Lun ketika melihat Ling Ling, ia menjadi kagum sekali dan untuk beberapa lama tak dapat mengeluarkan suara. Tak terasa lagi mereka berdua saling pandang sampai lama sekali dan akhirnya Sian Lun menjadi merah mukanya.
Bagaimana ia bisa tertarik kepada seorang gadis yang agaknya membantu kaisar dan telah merobohkan banyak sekali anak buahnya. Akan tetapi, untuk menegur gadis itu, hatinya merasa berat sekali. Ketika melihat wanita kedua, seorang nyonya setengah tua yang juga cantik sekali, ia lalu menegur,
“Toanio, mengapakah kau dan kawanmu mengamuk dan membunuh banyak perajurit? Apakah kalian ini menjadi pembela-pembela kaisar lalim?”
Akan tetapi sebelum Sui Giok sempat menjawab, Ling Ling sudah mendahului ibunya dan membentak. “Kaukah yang mengepalai semua bangsat-bangsat perampok ini? Bagus, kalau begitu rasakan tajamnya pedangku!” Sambil berkata demikian, Ling Ling lalu maju menyerang dengan pedangnya yang bersinar merah.
Sian Lun menjadi mendongkol dan marah sekali. Nona ini ternyata amat galak dan telah berani memaki perajurit-perajuritnya sebagai bangsat perampok. Tanpa banyak cakap iapun menangkis serangan itu dengan pedang Gi-tiang-kiam dan membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya.
Terkejutlah keduanya ketika pedang mereka bertemu, karena mereka merasa betapa telapak tangan mereka pedas dan tergetar, sedangkan kedua pedang itu mengeluarkan titik bunga api. Pertempuran dilanjutkan dengan hebat dan makin lama keduanya menjadi makin heran, kagum dan kaget. Ilmu pedang lawan benar-benar kuat dan tinggi sekali. Mereka sama gesit, sama kuat dan sama pandai.
Betapun juga, lambat laun Ling Ling merasa betapa ilmu pedang pemuda itu benar-benar amat mengagumkan dan gerakannya lebih tenang dan kuat dari pada gerakan pedangnya sendiri. Memang, sesungguhnya Sian Lun masih menang sedikit ilmu pedangnya, karena selain ia telah menerima gemblengan dari suhunya, Beng To Siansu, iapun telah mewarisi ilmu pedang Pek-sim-kiam-hoat dari Liang Gi Cinjin.
Seratus jurus telah lewat akan tetapi kedua orang muda itu masih saling serang dengan hebatnya. Biarpun dalam keadaan terdesak, gadis yang tabah itu tidak menjadi gentar, bahkan ia lalu mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk merobohkan lawan. Bagi Sian Lun, ia makin tertarik kepada gadis ini dan hatinya tidak tega untuk melukainya. Maka ia berlaku hati-hati dan tidak mau melakukan serangan-serangan maut, sehingga keadaan mereka tetap berimbang.
Sui Giok merasa gelisah sekali. Ia maklum bahwa kalau dilanjutkan, puterinya akan kalah. Akan tetapi, bagaimana ia dapat membantu? “Ling Ling, hayo kita pergi dari sini!” teriaknya berulang-ulang karena kini para perwira lainnya telah mengurung tempat itu dan keadaan mereka amat terancam.
“Tidak, ibu. Sebelum aku berhasil merobohkan cacing tanah ini, aku tidak mau pergi?” jawab Ling Ling yang merasa penasaran sekali.
Beberapa orang perwira hendak maju membantu Sian Lun, akan tetapi begitu Sui Giok memutar pedangnya menghadapi mereka, senjata tiga orang perwira telah terpental dan tubuh mereka kena disapu oleh kaki Sui Giok sehingga terguling-guling. Melihat kehebatan nyonya ini, terkejutlah semua perwira dan mereka tidak berani lagi maju mendekati.
Pada saat itu, berkelebat bayangan orang tinggi besar dan terdengarlah seruannya yang menggeledek dan berpengaruh sekali. “Sian Lun, tahan! Nona pedang merah, harap kau bersabar dulu!”
Mendengar seruan ini, Sian Lun lalu melompat mundur, karena yang datang adalah Jenderal Li Goan sendiri. Juga Ling Ling ketika melihat jenderal besar ini, menahan pedangnya. Akan tetapi ia berdiri tegak dan memandang kepada jenderal itu dengan pandangan mata tajam. “Kau mau apa, goanswe?” tanyanya angkuh.
Li Goan tersenyum dan berkata, “Kau dan panglimaku ini bertempur bagaikan dua ekor naga sakti saja! Sungguh hebat, sungguh indah dilihat, akan tetapi amat berbahaya!”
Kemudian ia berpaling kepada Sui Giok dan mengangkat tangan memberi hormat, lalu berkata kepada ibu dan anak itu. “Jiwi lihiap, baru kemaren jiwi membantu barisanku mengalahkan barisan kaisar, akan tetapi mengapa hari ini jiwi telah melakukan hal sebaliknya? Mengapa jiwi menyerang para perajuritku dan bahkan menyerang panglimaku? Sungguh aneh sekali jiwi ini, kemaren menjadi pembantu sekarang menjadi lawan!” Jenderal ini bicara dengan suara yang jelas, tenang dan muka terang sehingga Sui Giok merasa malu.
Akan tetapi Ling Ling menudingkan pedangnya kepada semua perajurit yang menggeletak di situ sambil berkata keras. “Kemaren yang kami bantu adalah barisan orang-orang gagah yang berjuang menumbangkan kekuasaan raja lalim. Akan tetapi hari ini kami menyerang barisan perampok yang berlaku sewenang-wenang, merampok, membunuh, dan menculik wanita. Apanya yang aneh dalam perbuatan kami? Kaulah orangnya yang aneh, goanswe! Kemaren kau memimpin pasukan pejuang, apakah hari ini kau hendak membela dan memimpin perampok-perampok jahat macam ini?”
Mendengar ucapan ini, bukan main malu dan marahnya jenderal itu. Mukanya yang gagah itu menjadi merah sampai ke telinganya. Tanpa menjawab kata-kata Ling Ling, ia memandang kepada seorang perajurit yang terluka, menghampirinya lalu menjambak rambutnya, dipaksa berdiri. “Siapa yang memimpin perampokan ini?” tanyanya dengan suara bagaikan harimau mengaum.
Perajurit yang terluka pahanya oleh pedang Ling Ling itu, menjadi pucat dan dengan bibir gemetar dan tubuh menggigil ia menjawab. “Hamba.... hamba hanya terbawa-bawa, yang menjadi biang keladinya adalah Ciu-twako itu...” Ia menuding ke arah seorang perajurit yang patah tulang pundaknya dan rebah merintih-rintih di atas tanah.
Jenderal Li Goan melepaskan jambakannya, akan tetapi ia menendang tubuh perajurit itu sehingga tubuh itu terpental jauh dalam keadaan tak bernyawa lagi. Kemudian menghampiri perajurit she Ciu yang kini memandang dengan mata terbelalak takut. Semua orang, termasuk Ling Ling, Sui Giok, dan Sian Lun, memandang dengan diam tak mengeluarkan sedikitpun suara. Demikian pula para perajurit dan perwira. Keadaan menjadi sunyi sekali.
“Kau mengaku telah membawa kawan-kawanmu merampok dan menculik wanita-wanita?” tanyanya dengan suara mengguntur.
Perajurit itu tidak berani mengeluarkan suara, bahkan tidak berani pula menatap pandang mata pemimpin besar itu. Ia menundukkan kepalanya dan tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan.
“Jawab!” Jenderal Li Goan membentak.
“Hamba... hamba hanya merampok.... bangsawan-bangsawan.... kaki tangan kaisar...”
“Bagaimana bunyi larangan ketiga dan kelima?” suara Jenderal Li mengguntur lagi.
“Ketiga... tidak boleh merampok... kelima.... tidak boleh mengganggu wanita.....”
“Bedebah, kau masih ingat larangannya, namun tetap kau langgar!” Srrrrt! Pedang yang mengeluarkan cahaya kuning tercabut dari pinggang jenderal itu dan sekali ia ayunkan pedangnya, putuslah leher perajurit yang menyeleweng tadi.
Jenderal Li Goan lalu mengangkat pedang Oei Hong Kiam tinggi-tinggi, dan berkata dengan suara keras terhadap semua perwira dan perajurit. “Dengarlah semua, hai patriot-patriot bangsa sejati. Kalian telah mencucurkan peluh, mengeluarkan darah, mempertaruhkan nyawa untuk membela bangsa dan mengusir penindas rakyat. Perjuanganmu itu baru disebut suci dan bermanfaat apabila tidak kalian kotori dan nodai sendiri dengan perbuatan-perbuatan jahat seperti yang telah dilakukan oleh manusia-manusia ini. Jangan menjadi pelindung rakyat hanya di mulut saja, akan tetapi dihati selalu mencari kesempatan untuk memeras rakyat jelata. Contohnya perajurit yang kupenggal lehernya ini, siapa saja yang berani melakukan pelanggaran seperti dia, pedangku ini akan memenggal lehernya....”