Pendekar Wanita Baju Putih Jilid 04
TENTU saja Giok Cu marah sekali. Ia tahu bahwa saykong ini lihai karena ia dapat menduga bahwa Gan Tin Cu tentulah suheng atau sute dari Hoan Tin Cu yang pernah mengacau di pesta ayahnya dan bertanding melawan Souw Thian In dulu. Tapi jangankan baru orang seperti Gan Tin Cu, biarpun seratus kali lebih lihai juga, tidak sudi ia harus berlutut minta ampun? Lebih baik ia mati daripada terhina macam itu!
Maka dengan muka merah ia cabut pedang dan sabuk suteranya lalu maju menantang: “Saykong jahanam! Kau kira aku takut padamu? Majulah biar kau kuantar menyusul muridmu yang rendah itu ke neraka!”
Gan Tian Cu tertawa aneh untuk.menunjukkan kemurkaannya. Ia cabut sebatang tongkat berwarna hitam yang terselip di pinggangnya. “Kalau kau begini sombong dan berkepala batu, jangan anggap aku keterlaluan kalau aku paksa kau berlutut!” Sehabis berkata demikian tongkatnya bergerak menyambar.
Giok Cu gerakkan pedangnya menangkis tapi hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan karena tongkat itu ternyata terbuat dari pada baja yang berat dan digerakkan oleh tangan yang kuat pula! Melihat pedang nona itu terpental oleh sambaran tongkatnya, saykong itu tertawa menyindir dan teruskan serangannya.Giok Cu berkelit ke samping lalu gerakkan sabuk suteranya menyambar leher orang. Ia bermaksud membelit leher saykong itu dan menyendalnya sampai roboh. Tapi sayang saykong itu meniup dengan mulutnya sambil berseru keras dan ujung sabuknya ternyata dapat tertiup pergi!
Sekali lagi Giok Cu merasa terkejut dan tahu bahwa kepandaian saykong ini masih jauh berada di atasnya. Akan tetapi ia tidak mau menyerah kalah. Dengan kertak gigi, ia keluarkan kepandaian turunan ayahnya dan mainkan pedang di tangan kanan serta sabuk sutera di tangan kiri dengan cepat hingga kedua senjata itu bergulung-gulung merupakan dua sinar yang menyerang lawannya.
Tapi tongkat Gan Tin-cu lihai sekali. Dengan goyangan perlahan saja semua serangan pedang Giok Cu dapat dipunahkan. Perlahan tapi pasti bayangan tongkatnya makin melebar dan menekan pedang dan sabuk sutera Giok Cu yang telah terdesak hebat. Hanya kenekatan dan ketabahan gadis yang pantang menyerah itulah yang membuat Giok Cu bertahan sampai lima puluh jurus lebih!
Pada saat gadis itu telah terdesak mundur sampai ke bawah pohon siong tun, tiba-tiba tongkat Gan Tin-cu menyerang hebat ke arah kepala gadis itu. Giok Cu gunakan pedang menangkis dan berbareng tangan kirinya sabetkan sabuknya ke arah pinggang lawan. Tapi Gan Tin-cu tangkap ujung sabuk itu dengan tangan kiri, dan secepat kilat kaki kanannya bergerak menendang ke arah lutut Giok Cu sambil berseru dibarengi tertawa: “Berlututlah kau gadis sombong!”
Giok Cu merasa bahwa kali ini ia takkan dapat pertahankan diri lagi. Tongkat yang menyambar kepalanya dapat ditangkis dengan pedang. Tapi betotan sabuknya oleh tangan kiri saykong itu membuat kuda-kudanya tergempur dan ia tak mungkin dapat menghindarkan diri dari tendangan kilat itu. Ia hanya meramkan mata menanti datangnya tendangan dan bertekad dalam hati takkan berlutut, kalau perlu biar jatuhpun ia akan usahakan miring dan tidak menghadap kepala saykong itu!
Tapi pada saat itu ia mendengar Gan Tin-cu berteriak keras menahan sakit! Giok Cu cepat buka matanya dan hampir tak dapat percaya pandangan matanya sendiri! Gan Tin-cu pegang-pegang kaki kanannya yang dipakai menendang tadi karena betis kaki itu telah mengucurkan darah dengan hebat!
Saykong itu marah sekali dan bergerak hendak menubruknya, tetapi tiba-tiba saja tubuh saykong itu bagaikan terbawa angin dan terlempar ke belakang! Gan Tin-cu berteriak-teriak lebih hebat dari tadi dan kini ia pegang pundak kirinya yang mengeluarkan darah hingga tangan kirinya menjadi lemas.
Kali ini saykong itu memandang ke arah Giok Cu dengan mata terpentang lebar dan penuh keheranan. “Kau gunakan ilmu siluman! Baiklah, Pek I Lihiap, kali ini aku mengaku kalah, tapi kalau kau memang wanita gagah, datang ke Kwie-san. Kalau kau berani datang, di sana kita bertempur mengadu jiwa!”
“Kau gunakan akal bulus untuk diberi kesempatan lari!” Giok Cu menyindir. “Baiklah, kau larilah dan bawalah si kate ini pergi dari sini pula. Tentang mampir ke Kwie-san, kalau kebetulan aku lewat, tentu aku akan lihat-lihat gunungmu itu!”
Gau Tin-cu menyeret kaki kanannya dan dengan bantuan Ban Kim ia naik ke punggung kuda si kate, hingga kini saykong itulah yang naik kuda sedangkan Ban Kim menuntun kuda sambil berjalan perlahan. Mereka pergi sambil bersungut-sungut diikuti gelak tawa Giok Cu.
Setelah mereka pergi jauh, Giok Cu berpaling sambil berteriak memanggil: “In-kong (tuan penolong), keluarlah agar aku dapat menghaturkan terima kasihku!” Ia memanggil berkali-kali dengan mengharap munculnya Thian In yang diharap-harapnya, tapi tak seorangpun menjawab. Tiba-tiba dari tempat jauh ia mendengar suara nyanyian:
Pedang di tangan kiri
Pit dan kertas di tangan kanan
Menjelajah rimba raya
Menurun jurang mendaki gunung....
Giok Cu mendengarkan lagu itu dengan bengong dan sekali lagi tak terasa air matanya jatuh turun menitik di sepanjang kedua pipinya. Mengapa Koay-hiap tidak mau bertemu dengannya. Bukankah Koay-hiap ini Souw Thian In? Apakah Thian In masih menaruh dendam dalam hati karena urusan ibunya, karena urusan ibu mereka yang bermusuhan?
Ah, nasib... dan sekali lagi dalam hati Giok Cu merasa hatinya hancur hingga tak terasa pula ia menghampiri kudanya lalu sadarkan kepalanya di leher kuda. Kedua tangannya merangkul leher itu dan ia menangis terisak-isak! Kudanya agaknya mengerti akan kesedihan nona penunggangnya, beberapa kali kuda itu palingkan mukanya dan dengan lidahnya ia menjilat tangan Giok Cu sambil perdengarkan suara rintihan perlahan.
Setelah puas menangis, Giok Cu naiki kudanya dan jalankan kudanya perlahan. Hari telah sore ketika akhirnya ia keluar dari hutan yang panjang itu. Melihat udara luar agak legalah hatinya dan pikirannya tak segelap tadi. Ia pun merasa sangat lapar dan teringat bahwa semenjak pagi tadi ia belum makan apa-apa.
“Hayo kudaku yang baik, kita cari makanan!” katanya kepada kudanya sambil keprak kuda itu. Dengan cepat empat kaki kuda itu bergerak dan membalap hingga Giok Cu mendengar angin bersiutan di pinggir kedua teliganya.
Tak lama kemudian ia melihat sebuah kelenteng tua di pinggir jalan. Bau asap masakan yang sedap membuat perutnya makin terasa lapar dan terpaksa ia belokkan kudanya ke halaman kelenteng itu karena tak dapat menahan lapar lebih lama lagi. Ia ikatkan kendali kuda di pohon dan mengetuk pintu.
Di luar dugaannya, yang membuka pintu kelenteng bukanlah seorang hwesio atau niko, sama sekali bukan golongan pendeta, tapi ia adalah seorang laki-laki tinggi besar yang berewokan. “Aku hendak bertemu dengan pendeta kelenteng ini,” kata Giok Cu ragu-ragu.
Orang itu memandang tajam lalu tertawa. “Bukankah nona hendak mencari makanan?”
Giok Cu terkejut dan bercuriga. “Nona jangan curiga atau cemas. Aku dengan tiga orang saudaraku juga tamu. Kelenteng ini kosong tidak ada penghuninya. Kami berempatpun merasa lapar dan berhenti di sini untuk masak makanan. Kalau nona sudi, silahkan makan bersama kami.”
Giok Cu hendak menolak, tapi perutnya tak tertahan lagi laparnya. Orang itu tahu akan keragu-raguannya, maka sambil tersenyum dan mengerling ke arah pedang di pinggang Giok Cu, ia berkata pula: “Nona, tak usah khawatir, aku lihat nona membawa-bawa po-kiam, tentu nona ahli silat, jadi kita masih segolongan. Kamipun penjual silat dan obat yang berkeliling.”
Maka tenanglah hati Giok Cu. Ia menjura dan berkata: “Maaf kalau aku mengganggu, dan jika tuan sudi menolong, aku haturkan banyak terima kasih.”
Orang berewokan itu mengucapkan kata-kata merendah lalu ia persilahkan gadis itu memasuki ruangan belakang. Benar saja di ruangan itu terdapat tiga orang laki-laki lain yang duduk mengelilingi meja sambil menghadapi empat macam masakan daging rusa yang masih mengepulkan uap dan berbau sedap.
Tiga orang itu heran sekali melihat saudara mereka membawa seorang gadis cantik, tapi setelah diberitahukan bahwa gadis itu adalah seorang tamu yang hendak sama-sama makan, mereka dengan ramah mempersilahkan Giok Cu ambil tempat duduk. Gadis itu merasa berterima kasih sekali. Dengan segera mereka mulai makan.
Setelah habiskan semangkok daging rusa, Giok Cu merasa laparnya berkurang dan kegembiraannya kembali serta kecurigaannya lenyap. Ia perhatikan keempat orang itu yang tampaknya bertubuh kuat dan bersikap gagah.
“Tuan sekalian yang berjualan lebih dulu, apakah bertemu seorang berbaju biru?" tanyanya.
“Berbaju biru? Ah, semenjak siang tadi kami tak bertemu dengan seorangpun, nona. Siapakah orang yang kau maksudkan itu?”
"Baiklah kuberitahukan saja, barang kali mereka kenal, pikir gadis itu, maka ia lalu berkata dengan suara biasa: “Ah, dia Bu-eng-cu Koay-hiap.”
Orang yang termuda ketika itu sedang minum arak. Mendengar nama ini ia terbatuk hingga arak dimulutnya tersemprot keluar lagi, tapi ketika kawannya tak memperhatikannya karena mereka semua memandang ke arah Giok Cu dengan mata terbelalak dan hampir berbareng mereka bertanya,
“Di manakah Koay-hiap berada? Adakah mereka di sini?” Mereka lalu memandang ke kanan kiri seperti orang ketakutan.
Giok Cu merasa heran dan tersenyum melihat sikap mereka. “Tidak, ia tidak berada di sini. Kalau ia berada di sini, tentu ia menjumpaiku.”
Empat orang itu kelihatan lega dan kini mereka memandang kepada Giok Cu dengan pandangan curiga dan segan. Berkali-kali yang brewok dan menyambut Giok Cu tadi memandang ke arah pedang gadis itu. Kemudian mereka tuang arak di mangkok Giok Cu dan persilahkan gadis itu meminumnya.
Biarpun Giok Cu tidak begitu suka arak tapi karena ia telah mengalami perasaan yang menekan perasaan di hari itu dan lagi karena orang-orang ini telah berlaku baik kepadanya, maka tak baiklah kiranya kalau ia menolak. Ia angkat mangkok itu ke mulutnya, tapi sebelum mangkok menempel di bibirnya, tiba-tiba saja mangkok itu memperdengarkan bunyi „ting!!‟ dan terloncat lalu terlepas dari pegangannya. Arak dari mangkok itu tumpah dan membasahi pakaiannya!
Empat orang itu tiba-tiba loncat dan cabut golok dan pedang masing-masing kemudian tanpa banyak bicara lagi mereka menyerang Giok Cu! Alangkah kagetnya gadis itu tapi ia tetap waspada. Sekali loncat saja ia sudah berada di ruang tengah, kemudian dengan dua kali loncatan ia sudah berada di luar kelenteng, berdiri di halaman kelenteng dengan pedang dan sabuk-sutera di tangan. Empat orang itu memburu dengan garangnya.
Giok Cu pedangnya dan berkata. "Tahan dulu! Sebenarnya apa kehendak kalian? Mengapa kalian memusuhi aku?”
Si brewok berkata singkat: “Serahkan saja buntelan dan pedangmu, kami akan pergi dengan aman. Biarlah itu kau anggap pembayar makanan.”
“Eh, eh, jadi diam-diam kalian berempat ini bangsa perampok kecil? Sungguh tak tersangka. Tak heran kalian takut mendengar nama Koay-hiap!”
“Jangan banyak cerewet. Serahkan barangmu!” Berandal itu berkata lagi agaknya mendengar namanya saja sudah membuat ia ngeri terhadap Koay-hip.
Giok Cu tertawa kecil. “Enak saja kau bicara. Mau barang-barangku? Tapi ternyata kepandaian mereka biasa saja hingga dengan sabuk suteranya Giok Cu dapat kocar-kacirkan mereka dan dalam beberapa puluh jurus saja mereka telah terlempar atau terbetot lepas oleh gerakan sabuk sutera Giok Cu yang lihai! Giok Cu gunakan sabuknya menyabet dan melibat kaki mereka hingga sekali dibetot tubuh mereka bergulingan di tanah. Mereka segera berlutut meminta ampun. Giok Cu tertawa geli.
“Ha, perampok-perampok kecil yang rendah. Biarlah nonamu ampunkan kalian hari ini karena kalian hari ini telah berlaku baik dan memberi makan padaku. Biarpun aku tahu kini di dalam arakmu itu tentu ada obat atau racun, bukan?”
Mereka tidak mampu menjawab, hanya mengangguk-anggukkan kepala memohon ampun. "Ketahuilah bahwa aku Pek I Lihiap tak suka balas budi orang dengan pembunuhan, nah, kalian pergilah!”
Empat orang itu pungut senjata mereka lalu lari terbirit-birit. Giok Cu kembali ke ruang dalam ia teringat sesuatu. Segera ia tuang sisa arak dari guci ke dalam mangkok dan cabut tusuk kondenya yang terbuat dari perak asli. Ia celupkan ujung tusuk konde itu ke dalam arak dan merendamnya beberapa lama kemudian diangkatnya kembali. Ternyata ujung tusuk kondenya telah berwarna hijau kehitam-hitaman!
Giok Cu merasa ngeri dan bersukur telah dapat terhindar dari bahaya. Sekali lagi ia tertolong dengan cara bersembunyi. Ia merasa yakin bahwa yang menolongnya pasti bukan lain ialah Bu-eng-cu Koay-hiap itu orang aneh yang cara kerjanyapun aneh dan berahasia! Ia kini dapat menduga bahwa mangkok arak di tangannya tadi tentu telah pecah oleh senjata rahasia kecil.
Mengingat kembali pengalaman-pengalamannya ia menghela napas. Nyata sekali bahwa kepandaian silat tinggi saja masih belum menjamin keamanan seseorang. Tadi hampir saja ia menjadi korban empat perampok kecil yang tak berarti kepandaiannya. Selain kepandaian silat, ia butuh pula pengalaman yang dapat membuat ia berlaku waspada dan hati-hati.
Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu hal. Rasanya tidak mungkin kalau kelenteng ini kosong karena keadaannya masih bersih. Pula bagaimana empat orang perampok tadi dapat masak daging rusa? Dari mana mereka dapat bumbu-bumbu dan alat untuk masaknya?
Memikir sampai di sini Giok Cu segera lari ke ruang belakang dan mulai memeriksa kamar-kamar di belakang kelenteng itu. Betul saja, dalam sebuah kamar gudang ia dapatkan tiga orang pendeta yang sudah tua dan bertubuh lemah rebah dengan kaki tangan terikat dan mulut tersumbat! Segera ia lepaskan ikatan mereka dan dengan ringkas ia tuturkan bahwa keempat penjahat itu telah diusirnya.
Empat perampok itu ternyata telah merampok kelenteng itu dan membikin tiga penghuni kelenteng tak berdaya. Kemudian mereka sengaja menanti kalau-kalau ada orang lewat di situ. Kebetulan sekali Giok Cu yang lewat hingga kejahatan mereka terbasmi. Tiga orang itu menghaturkan terima kasih yang ditolak oleh Giok Cu dengan merendah dan gadis itu bahkan minta tolong untuk lewatkan malam di kelenteng itu. Tentu saja petapa-petapa itu menerimanya dengan senang hati.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi Giok Cu telah berkemas untuk melanjutkan perjalanannya. Ia mencari pendeta-pendeta di ruang belakang, kepada mereka ia menghaturkan terima kasihnya, kemudian ia tanyakan jalan. Kepala pendeta memberitahu padanya bahwa jalan yang menuju ke utara itu akan bercabang, yang kiri menuju ke kota Siong-ek dan yang ke kanan menuju ke kota Hay-tin.
“Kalau nona hendak merantau, lebih baik nona pergi ke Siong-ek saja, karena selain di situ lebih banyak terdapat pemandangan-pemandangan indah, juga pada waktu ini di kota Hay-tin tidak aman.”
“Tidak aman? Apakah di situ terganggu oleh perampok?” tanya Giok Cu.
“Bukan perampok biasa, tapi lebih tepat disebut siluman,” pendeta itu menjawab dengan sikap takut. “Beberapa orang kota Hay-tin pergi mengungsi dan yang lewat di sini semua membawa cerita yang menyeramkan.”
“Apakah yang terjadi?” tanya Giok Cu bertanya.
“Telah hampir sebulan di kota ini berjangkit semacam penyakit hebat! Tapi yang selalu menjadi korban adalah anak-anak bayi atau anak-anak gadis yang cantik. Orang tidak tahu bila terjadinya, tapi tahu-tahu orang melihat seorang gadis cantik atau seorang anak bayi telah mati di dalam kamarnya dalam keadaan yang menyeramkan. Lebih-lebih anak bayi perutnya telah dibelek dan jantungnya lenyap dicuri!"
Giok Cu rasakan bulu-tengkuknya berdiri dan ia merasa ngeri dan serem. Ia pandang pendeta itu dengan sangsi.
“Memang kabar ini luar biasa dan sukar dipercaya,” pendeta itu menyambung. Tapi bagaimana juga dengan adanya bukti banyak orang lari mengungsi dari kota Hay-tin, pasti di sana terjadi apa-apa yang hebat dan menyeramkan. Maka lebih baik nona jangan menuju ke kota yang sedang dilanda malapetaka itu.”
Tapi pendeta itu tidak kenal dan tidak tahu akan keberanian gadis itu. Kalau ia tidak ceritakan hal yang seram-seram dan aneh-aneh itu mungkin Giok Cu akan tertarik bujukannya dan pergi ke Siong-ek. Tapi kini setelah mendengar berita itu, biarpun dilarang agaknya Giok Cu takkan mundur untuk menyaksikan sendiri keadaan yang ganjil itu. Selain dari pada keingin tahu ini, iapun merasa penasaran dan marah sekali.
“Tidak adakah orang-orang gagah di kota itu untuk basmi kejahatan itu?” tanyanya penasaran.
Pendeta itu geleng-geleng kepala dan menghela napas. “Itulah yang celaka. Guru-guru silat dan para enghiong sudah berusaha membasminya tapi apakah daya orang-orang gagah melawan siluman? Akibatnya tiga guru silat binasa. Karena itu sampai sekarang iblis itu masih terus merajalela.”
Hawa marah yang bergelora dalam dada Giok Cu tak dapat tertahan lagi. Matanya berapi-api hingga pendeta itu menjadi takut. “Aku harus basmi iblis itu!”
Giok Cu berkata keras lalu lari keluar dan cempak kudanya, tinggalkan pendeta yang berdiri dengan tubuh gemetar sambil berkali-kali mengucap “O-mi-to-hud!”
Setelah bedal kudanya beberapa lama, benar saja Giok Cu bertemu dengan jalan simpang kanan kiri. Tanpa ragu-ragu lagi Giok Cu belokkan kudanya ke kanan, menuju ke kota Hay-tin, kota yang sedang diganggu siluman itu! Setelah balapkan kudanya kira-kira tiga puluh li jauhnya, Giok Cu tiba dipinggir sebuah kota. Tembok yang mengelilingi kota itu berwarna merah dan tidak berapa tinggi. Pintu tembok terpentang lebar.
Benar saja, kota itu tampak sunyi. Di antara sepuluh buah toko yang buka hanya dua tiga, kebanyakan menutup tokonya. Di jalan-jalan yang kelihatan hanya laki-laki yang membekal senjata dan wanita-wanita tua. Tak kelihatan seorang perempuan muda atau perempuan yang menggendong bayi! Benar-benar merupakan kota mati!
Ketika Giok Cu jalankan kudanya memasuki kota itu, semua orang yang melihatnya menjadi heran dan memandangnya dengan mulut ternganga, tapi gadis itu tak hiraukan semua pandangan itu, lalu terus saja mencari kamar di sebuah penginapan. Baru saja ia memasuki kamarnya, pelayan hotel memberitahukan bahwa di luar ada Kwa Loya ingin berjumpa.
“Siapakah Kwa Loya itu?” tanyanya.
“Kwa Loya adalah guru silat yang paling ternama di kota ini.”
Giok Cu lalu keluar dan menyambut tamunya di ruang tengah. Setelah memperkenalkan diri, guru silat she Kwa itu lalu berkata dengan halus, “Nona, agaknya nona orang asing di sini. Sebetulnya, tadi ketika nona masuk kota ini kami sudah hendak memberitahu agar nona dapat lewati saja kota kami yang terkutuk ini. Tapi melihat bahwa nona membawa pedang, kami rasa nona adalah seorang ahli yang dapat diajak bicara segolongan. Ketahuilah nona bahwa kota ini sedang terganggu oleh...”
“Iblis pengganggu wanita?” Giok Cu menyambung sambil tertawa. “Aku sudah mendengar tentang hal itu, tuan Kwa, dan justeru karena itulah maka aku datang ke kota ini.”
Mendengar kata-kata yang jumawa ini Kwa-suhu memandang ke arah gadis itu. “Nona, betapapun tinggi ilmu kepandaianmu, tapi tahukah kau betapa lihainya siluman yang mengganggu kota ini? Harap kau jangan main-main dengan jiwa dan lebih baik menyingkirlah dari sini sebelum terlambat!”
“Aku tidak takut. Pertama, aku ingin melihat bagaimana macam iblis itu, kedua aku tak percaya bahwa ia adalah siluman, kurasa ia adalah manusia biasa.”
“Adakah manusia, bagaimana jahatpun ia tega membelek perut bayi-bayi untuk mengambil jantungnya?”
Kembali Giok Cu bergidik mendengar ini dan pada saat itu Giok Cu berseru: “Awas!” ulur tangannya menyambut sebatang piauw yang menyambar ke arah leher orang she Kwa itu! Ketika tangannya menyambut barang itu, Giok Cu merasa betapa besar tenaga orang yang menyambitnya, lebih-lebih ketika ia melihat bahwa piauw itu bukan lain hanyalah sebatang kayu basah?”
“Bangsat jangan lari!!” Giok Cu berseru dan loncat ke atas genteng, di mana ia celingukan mencari-cari. Tapi tak tampak bayangan seorangpun. Ia loncat turun kembali, disambut oleh guru silat she Kwa itu yang kini berwajah girang.
“Sukur kau keburu menolong, Lihiap. Ternyata kepandaianmu cukup tinggi. Kalau begitu marilah kita bersama kawan-kawan coba membasmi siluman ini!” Guru silat itu melihat kepandaian Giok Cu, tiba-tiba menjadi tabah dan semangatnya timbul kembali.
Tapi diam-diam Giok Cu sangsi adakah ia akan sanggup melawan penjahat yang dari sambitannya saja ia tahu mempunyai kepandaian yang sangat lihai! Tapi ia tak mau menyerah begitu saja. Ia akan lawan sekuat tenaga.
“Baiklah saudara Kwa. Mudah-mudahan saja dengan bantuan pedang dan sabuk suteraku, aku akan dapat ikut membasmi setan itu." Kata-kata ini diucapkan oleh Giok Cu dengan sejujurnya, tapi tanpa merasa ia memperkenalkan diri sendiri, karena guru silat itu memandangnya dengan mata terbelalak lalu berkata, “Lihiap, kalau begitu kau... kau adalah Pek I Lihiap?”
Giok Cu mengangguk, dan orang she Kwa yang telah lama mendengar nama Pek I Lihiap yang mulai termasyhur, memandangnya kagum dan sikapnya menjadi ramah dan hormat. “Bagaimana diaturnya untuk menempur si siluman itu, lihiap?”
“Bilakah keluarnya siluman itu dan tahukah kau di mana tempat sembunyinya?”
“Biasanya ia keluar di waktu malam, lihiap. Ia keluar dengan berterang karena suara ketawanya yang menyeramkan terdengar sampai di mana-mana. Suara ketawa itu saja cukup membuat orang menjadi lumpuh!”
“Bagaimana bentuk badan dan mukanya?”
“Tubuhnya tinggi besar dan kepalanya ditumbuhi rambut panjang yang riap-riapan. Tapi bagaimana rupanya tak seorangpun dapat melihatnya karena gerakannya demikian cepat hingga kami hanya melihat bayangannya saja.”
“Kalau begitu, baik kita kepung saja dia, jika malam nanti dia keluar. Biarkan aku bertempur dengan dia. Jika kiranya dia terlalu kuat bagiku, barulah kalian turun tangan ramai-ramai.”
Setelah berunding, guru silat itu lalu pamit untuk memberi tahu kawan-kawannya dan mengatur barisan pengepungan. Giok Cu biarpun tidak percaya penuh keterangan guru silat itu, namun hatinya agak khawatir. Ia duduk bersemadhi untuk tenangkan pikiran, tetapi duduknya tak dapat diam karena wajah Thian In selalu terbayang di depan matanya. Teringat akan Thian In, hatinya agak lega dan kekhawatirannya berkurang. Bukankah pemuda itu selalu melindunginya?
Buktinya ketika ia akan diserang harimau dan ketika ia bertempur melawan Gan Tin Cu, ia selalu tertolong! Tentu kali ini pula penolong itu tidak berada jauh darinya. Tapi ketika memikir sampai di sini, kembali timbul keragu-raguan di dalam hatinya. Benarkah penolong itu Be-eng-cu Koay-hiap dan jika benar, adalah Koayhiap itu Souw Thian In? Hal ini selalu meragukannya dan merupakan teka teki baginya.
Malam tiba! Giok Cu telah bersiap-siap. Sore tadi ia telah makan dan berpakaian serba ringkas. Seperti biasa pakaiannya berwarna putih. Dengan pedang terhunus di tangan kanan dan sabuk suteranya di tangan kiri tergulung dalam kepalannya, ia menanti dalam kamarnya.
Pada waktu menjelang tengah malam, guru silat she Kwa datang di atas genteng rumah penginapan itu. Tindakan kakinya terdengar oleh Giok Cu yang lalu loncat ke atas. “Lihiap, agaknya dia tidak datang, karena waktu sudah hampir tengah malam. Barangkali dia takut kepada Lihiap!” katanya senang.
“Waspadalah saja tuan Kwa.” Giok Cu memesan dan guru silat itu kembali ke tempat penjagaannya.
Pada saat Giok Cu hendak loncat turun ke kamarnya, tiba-tiba dari jauh terdengar suara ketawa yang nyaring dan aneh. Sekejap kemudian suara ketawa itu telah datang dekat. Kini suara itu sangat menyeramkan hingga diam-diam Giok Cu terkejut ketika ia merasa betapa tubuhnya hampir limpung.
Ia segera tetapkan hati dan semangat dengan kerahkan lweekangnya, karena ia tahu bahwa siluman itu tertawa sambil gunakan tenaga dalam yang sangat hebat. Sungguh lawan yang berat, pikirnya. Tapi ia tidak takut dan dengan penuh perhatian ia memandang ke arah dari mana suara itu datang.
Suara tertawa itu lalu disusul suara yang parau dan keras. “Ha, ha, ha! Pek I Lihiap telah menunggu pada pinto?? Bagus. Kali ini kalau bisa dapatkan kau, pinto berjanji akan tinggalkan kota ini dan pindah ke kota lain. Ha, ha, ha!”
Suara itu telah terdengar nyata tapi orangnya belum tampak! Giok Cu memandang ke sana kemari dengan hati tegang. Pada saat itu bayangan tubuh yang tinggi besar datang dan menyambarnya! Giok Cu gunakan tipu loncat Koay-lion-hoa-sin atau Siluman naga jumpalitan untuk hindarkan diri dari tubrukan hebat itu, kemudian secepat kilat kedua tangannya bekerja, pedang di tangan kanan berkelebat menyambar leher bayangan ibu sedangkan sabuk suteranya meluncur ke arah pinggang orang!
Gerakan Giok Cu adalah gerakan campuran, yakni tangan kanan yang pegang pedang bergerak dengan Lya-lion-sin-yauw atau Naga-mas-ulur pinggang, sedang sabuk sutera di tangan kirinya bergerak dengan tipu Tiang-khing-king-tian atau Pelangi panjang melengkung di langit. Tentu saja serangan kombinasi ini berbahaya sekali karena Giok Cu yang tahu akan kelihaian lawan gunakan gerakan mematikan ini.
Tapi tak dinyana bahwa bayangan itu benar-benar hebat. Sambil perdengarkan suara ketawa keras, bayangan itu secepat kilat mendekam ke bawah hingga kedua senjata Giok Cu memukul angin, kemudian dari bawah bayangan itu maju pula menubruk. Gerakan bayangan itu sembarangan saja seakan-akan bukan gerakan seorang ahli silat, tapi gerakannya mendatangkan angin menandakan bahwa ia memiliki tenaga yang hebat!
Giok Cu melawan dengan mati-matian dan keluarkan seluruh kepandaiannya untuk merobohkan lawan yang aneh ini. Benar bagaimana kata guru silat she Kwa tadi. Gerakan siluman itu benar-benar cepat hingga tubuhnya yang tinggi besar berkelebat ke sana kemari dan sukar untuk dapat dilihat mukanya. Yang terlihat oleh Giok Cu hanya rambutnya yang riap-riapan berkibar dan sepasang mata yang tajam dan besar.
Giok Cu melawan sedapat-dapatnya sampai puluhan jurus, tapi setelah bersilat lima puluh jurus lebih ia merasa lelah. Pukulan-pukulan lawannya terlampau berat baginya dan gerakannya terlampau gesit. Ia tahu bahwa lawannya jauh lebih pandai darinya dan bahwa jika dikehendaki oleh lawan itu sudah dari tadi ia dapat dirobohkan.
Agaknya lawan itu sengaja mempermainkannya karena sambil bergerak, tiada hentinya ia tertawa keras. Beberapa kali tangan lawannya telah dekat dengan tubuhnya, tapi sebelum memukul, segera tangan itu ditarik kembali dibarengi suara tawa menyeramkan.
Akhirnya Giok Cu tak tahan lagi. Ia berteriak: “Tuan Kwa,.hayo maju bantu kepung siluman ini!”
Dari tempat sembunyinya guru silat Kwa dan kawan-kawannya telah melihat jalannya pertandingan yang hebat itu. Kini mendengar seruan Giok Cu, mengertilah mereka bahwa gadis itu terdesak. Dengan sorakan keras dua puluh orang yang pandai silat menerjang dengan senjata tajam di tangan!
Bayangan itu melejit ke sana-sini, menyambar-nyambar di antara golok dan pedang sambil tertawa dan berkata: “Ha, ha, ha! Sekalian gentong kosong! Pinto telah bosan melayani kalian! Hayo Pek I Lihiap kau ikut pinto!”
Dengan sekali terjang, robohlah empat orang pengeroyok dan sebelum dapat hindarkan diri, Giok Cu kena tertotok jalan darah Tay-twi-hiat hingga dengan kedua senjata masih di tangan gadis itu menjadi kaku tak berdaya! Kemudian sekali sambart saja bayangan itu telah dapat pondong tubuh Giok Cu dibawa lari!
Orang-orang ribut mengejar tapi sekejab saja bayangan itu telah lenyap dari pandangan mata. Mereka bingung sekali dan kembali untuk merawat kawan-kawan yang terluka. Lebih-lebih guru silat Kwa, ia merasa bingung dan cemas memikirkan nasib Pek I Lihiap dan diam-diam ia merasa menyesal mengapa ia ajak gadis itu menempuh bahaya maut ini.
Tapi ia teringat akan kata-kata siluman tadi bahwa setelah mendapat Pek I Lihiap, siluman itu akan pergi dari situ, maka diam-diam iapun bergirang karena dengan adanya korban seorang Pek I Lihiap, banyak orang lain akan terhindar dari bahaya maut.
Biarpun tubuh Giok Cu kaku tak berdaya, namun pikiran dan panca inderanya masih bekerja. Matanya masih dapat melihat. Ia merasa dibawa lari cepat sekali di atas genteng-genteng rumah lalu turun dan memasuki hutan. Pada saat itu sesosok bayangan lain menghadang di depan dan membentak, “Tosu siluman! Lepaskan korbanmu!”
Tosu yang dianggap siluman itu tertawa keras. “Ha, ha, ha! Kau Bu-eng-cu hendak lancang ikut campur dalam urusanku? Ketahuilah, aku bisa bikin kau si tanpa bayangan menjadi si tanpa nyawa!”
Karena Giok Cu berada dalam panggulan di pundak tosu itu hingga mukanya berada di belakang maka ia tak dapat melihat muka orang yang menghadang di depan. Ia hanya mendengar suara orang itu dan hatinya girang sekali ketika tosu menyebut namanya Bu-eng-cu! Jadi dia adalah Koay'hiap yang telah berkali-kali menolongnya. Apakah dia Thian In? Ia dengarkan dengan teliti ketika orang itu menjawab,
“Gak Ong Tosu! Ternyata kau masih ambil jalan sesat! Sebentar lagi tentu suhengmu akan menangkapmu dan memberi hukuman yang setimpal!”
“Gila kau! Jangan kau takut-takuti aku dengan nama Gak Bong! Kau kira aku takut padanya? Ha, ha, ha! Anak muda, lebih baik kau pergi sebelum datang marahku.”
“Hm, kau kira akupun takut padamu? Bagi orang lain mungkin kau dianggap siluman lihai, tapi bagiku tak lain hanya seorang pertapa yang rendah martabatnya! Lepas Pek I Lihiap!”
Diam-diam Giok Cu merasa heran. Dan suaranya ia tak dapat menetapkan apakah orang itu Thian In atau bukan. Tapi barusan ia mendengar nama Gak Bong dan teringatlah ia bahwa dulu Thian In pernah menyatakan bahwa dia adalah murid Gak Bong Tosu. Kalau begitu, tosu siluman yang menculiknya ini adalah sute atau adik seperguruan dengan gurunya Thian In!
Tak heran ia demikian lihai! Dan siluman ini adalah susiok atau paman guru sendiri dari Thian In. Kalau begitu, tak mungkin pemuda yang disebut Bu-eng-cu itu adalah Thian In. Ia menjadi bingung.
Pada saat itu Gak Bong Tosu menjadi marah sekali. Dengan menggerang keras ia menyerang Bu-eng-cu. Agaknya ia memandang rendah karena ia menyerang dengan Giok Cu masih dipanggulnya di pundak. Tapi ketika pemuda itu berkelit dan balas menyerang, kagetlah Tosu itu. Serangan pemuda itu demikian cepat dan gerakannya tak kalah gesit dengan dia sendiri, sedangkan dari tangan yang menyerang itu keluarlah tenaga yang hebat!
Apalagi ketika Gak Ong menangkis dan kedua lengannya beradu, ia merasa betapa tangannya bergetar, ia terkejut sekali. Tenyata tenaga lweekang lawannya tidak kalah lihai! Cepat ia lempar tubuh Giok Cu ke pinggir untuk dapat menghadapi Bu-eng-cu yang lihai itu dengan leluasa.
Sayang sekali kebetulan jatuhnya tubuh Giok Cu dengan punggung menghadapi pertempuran itu hingga ia tak dapat menonton. Hati gadis itu gemas sekali. Ia mencoba kerahkan tenaga dalamnya untuk melepaskan diri, tapi sia-sia, urat-uratnya lumpuh!
Maka dengan diam saja hanya pasang telinga untuk mendengarkan mereka yang sedang bertempur, sedangkan hatinya hanya berdoa supaya Bu-eng-cu beroleh kemenangan. Ia mendengar suara beradu dan mengerti bahwa mereka sedang bertempur menggunakan senjata tajam.
Tapi ternyata selihai-lihainya Bu-eng-cu, ilmu silatnya masih kalah setingkat oleh Gak Ong Tosu hingga setelah bertempur puluh jurus ia mulai terdesak. Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara halus. “Terima kasih, terima kasih, Bu-eng-cu Koay-hiap! Kau telah menahan iblis ini. Nah, serahkanlah ia padaku.”
Berbareng dengan suara itu entah dari mana datangnya, tiba-tiba seorang tosu berambut putih tahu-tahu sudah berada di situ dan menghadapi Gak Ong Tosu!
“Gak Bong lo-cianpwee! Bagus kau datang. Silahkan memberi hajarang kepada sutemu yang tersesat ini.” Dan Bu-eng-cu segera mencelat mundur ke arah Giok Cu yang masih rebah miring. Dengan perlahan ia gunakan dua jari tangannya menotok pundak Giok Cu hingga gadis itu terlepas dari pengaruh totokan.
Setelah jalan darahnya pulih kembali dan tubuhnya sembuh dari rasa kesemutan, cepat gadis itu bangkit dan duduk dan menengok untuk memandang wajah Bu-eng-cu. Tapi ternyata pemuda itu telah lenyap dari situ! Giok Cu memandang ke sana kemari, tapi ternyata pemuda itu telah pergi dari situ setelah meninggalkan lawannya kepada Gak Bong Tosu dan setelah lepaskan Giok Cu dari totokan.
Giok Cu merasa kecewa sekali dan ia memandang ke arah kedua tosu yang masih berdiri berhadapan. Kini ia dapat melihat macamnya siluman yang jahat itu. Ia merupakan seorang tosu dengan rambut hitam kaku dan riap-riapan menutup muka dan leher. Mukanya penuh cambang hingga sebagian mukanya tak tampak, yang kelihatan hanya sepasang matanya yang tajam dan mengeluarkan sinar kejam.
Pakaiannya mewah dan jubahnya berwarna kuning keemasan. Sepatunya pun baru dan mengkilat. Di rambut yang tak karuan itu terselip hiasan dari emas yang penuh dengan batu permata. Ia berdiri dengan mata melotot dan mulut menyeringai. Giok Cu alihkan pandangan matanya kepada tosu yang baru datang.
Gak Bong Tosu adalah seorang pendeta gemuk pendek yang telah putih semua rambutnya. Pakaiannya dari kain kasar warna abu-abu dan kakinya telanjang. Tangan kirinya memegang sebuah kipas yang dipakai untuk mengipasi tubuhnya yang gemuk. Mulutnya tersenyum tapi sepasang matanya yang bersinar lembut itu kini ditujukan kepada sutenya dengan penuh sesal.
“Gak Ong sudah tahukah akan kesalahanmu?” Berbeda dengan senyumnya suaranya terdengar tegas dan berpengaruh.
Gak Ong Tosu tundukkan kepala sambil bibirnya bergerak-gerak gugup. “Suheng kau ampunilah sutemu kali ini.” Ia berkata perlahan.
“Ampuni? Gak Ong lupakah kau akan larangan suhu dulu? Lupakah kau bahwa sekali membunuh nyawa tidak berdosa maka kita harus tebus dengan nyawa kita pula? Kau tidak hanya melanggar larangan suhu, tapi kau bahkan melanggar pantangan Yang Maha Tunggal!! Kau telah terpikat oleh pengaruh jahat, kau mempelajari ilmu hitam, ilmu siluman, kau menjadi sejahat siluman sendiri. Bahkan lebih jahat! Aku tahu, kau hendak penuhi syatat ilmu itu dengan makan tiga belas jantung bayi dan menganiaya tiga belas orang gadis suci. Kau tersesat jauh sekali, Gak Ong. Perbuatan itu terkutuk sekali dan entah sampai kapan jiwamu akan terhukum karena perbuatan ini!!”
“Sudahlah suheng tak perlu kita bertengkar. Sekarang terangkan maksudmu, apa yang kau kehendaki dariku?”
“Sesuai dengan sumpahmu, kita di depan suhu dulu. Kau harus ikut aku pulang ke Lang-san, segala ilmu yang kau pelajari di sana harus kau kembalikan dan kau harus lepaskan nyawa dari tubuhmu yang kotor itu di depan makam suhu.”
Tiba-tiba sikap Gak Ong Tosu berubah beringas. “Enak saja kau bicara! Apakah kau anggap ayam saja demikian mudah menyerah hendak kau sembelih? Ha, ha! Gak Bong kalau kau sudah lupakan perhubungan suheng dan sute, biarlah kita menjadi musuh. Aku tidak takut padamu. Kau baru boleh bawa aku ke Lang-san kalau kau mampu kalahkan aku!”
“Aku tahu kau akan membangkang, Gak Ong! Tapi baik hidup maupun mati kau harus ikut aku ke Lang-san!”
“Kaulah yang akan mampus di sini!” Gak Ong berteriak keras dan maju menubruk.
Gak Bong berkelit dan sebentar lagi Giok Cu hanya melihat dua bayangan berputar-putar bagaikan menjadi satu hingga biarpun matanya telah terlatih namun tetap ia tak dapat bedakan mana Gak Ong, mana Gak Bong! Giok Cu rasakan matanya menjadi kabur dan kepalanya pening hingga terpaksa ia lepaskan pandangan matanya dari mereka. Ketika ia memandang kembali ternyata mereka telah lenyap dan ia hanya mendengar suara Gak Ong Tosu berseru,
“Gak Bong! Kalau kau memang gagah, datanglah ke Kwie-san!”
Dari jauh Giok Cu mendengar jawaban Gak Bong Tosu! Tunggulah saja, manusia sesat, saatmu pasti akan tiba!”
Kemudian keaadaan menjadi sunyi dan Giok Cu berada seorang diri di hutan itu. Ia memandang ke atas sambil termenung ia melihat bulan-bulan terang berjalan-jalan di atas mega. Pikirannya making bingun. Yang masih berat menekan pikirannya ialah kenyataan bahwa Bu-eng-cu Koay-hiap bukan Souw Thian In! Thian In adalah murid Gak Bong Tosu, sedangkan tadi ia mendengarnya bahwa Gak Bong Tosu tidak menyebut nama pemuda penolongnya itu sebagai murid!
Sedangkan Bu-eng-cu juga tidak menyebut guru kepada Gak Bong Tosu. Siapakah pemuda itu? Siapakah Bu-eng-cu Koay-hiap? Mengapa selalu menolongnya? Dan kenapa setelah menolong selalu tidak mau memperlihatkan diri?
Dengan pikiran dan tubuh lemas Giok Cu pungut kedua senjatanya yang terlepas dari pegangan ketika ia dilepaskan dari totokan tadi, lalu ia berjalan kembali ke kota Hay-tin. Ketika memasuki kota, maka ia disambut oleh para ahli silat dengan tercengang keheranan, tapi penuh kegembiraan bahwa nona pendekar itu ternyata tidak mengalami bencana seperti yang mereka khawatirkan. Lebih-lebih guru silat Kwa. Ia menyambut Giok Cu dengan seribu satu macam pertanyaan.
Giok Cu hanya menjawab singkat. “Siluman itu telah terusir pergi oleh orang yang lebih pandai darinya. Bahkan aku pun ditolong olehnya. Kini jangan kalian ikut lagi, siluman itu takkan kembali ke sini."
Pada keesokan harinya, pagi-pagi ia tinggalkan kota itu, diantar oleh para penduduk yang berterima kasih kepadanya. Ia menuju terus ke utara, melalui bukit dan hutan.
Pada suatu hari, ia sampai di kota An-ting. Kota ini letaknya di daerah pegunungan, dengan sebelah timur mengalir sungai Huang-ho yang terkenal dan di sebelah utara berdirilah Tembok Besar Ban-li-tiang-sia dengan megahnya sebagai lambang kekuatan Tiongkok.
Karena kota itu tidak terlalu besar, maka terpaksa Giok Cu harus merasa puas mendapat kamar dalam sebuah rumah penginapan yang sederhana. Ia melihat bahwa keadaan kota itu dalam suasana gembira. Maka ia minta keterangan kepada pelayan yang menuturkan dengan wajah berseri.
“Kownio, kau beruntung sekali masuk ke kota ini pada hari ini, karena selama tiga hari berturut-turut dan mulai hari ini, patung Kwan Im dari Kwan Im-bio di kota ini akan diarak menuju ke bukit Ho-san di mana telah dibangung sebuah bio baru untuk Kwan Im Pouwsat. Banyak tontonan akan diadakan di antaranya barongsay dan tari liong.”
Girang hati Giok Cu mendengar itu karena sudah lama ia tidak melihat keramaian dan hiburan. Maka dengan hati senang ia keluar dari kamar dan melihat-lihat. Banyak tontonan dimainkan orang di kota itu. Bahkan ada serombongan tukang silat yang mempertontonkan kepandaiannya di sebuah panggung. Suara tambur gembreng menulikan telinga.
Sebagai seorang ahli silat tentu saja panggung inilah yang paling menarik hati Giok Cu. Ia berdiri di tempat yang enak dan melihat dengan penuh perhatian. Tapi ia kecewa karena pemain-pemain silat yang mempertunjukkan kepandaian mereka itu hanyalah orang-orang biasa saja. Tapi ketika mereka itu mundur dan lari dari belakang, loncat pemain barongsay. Ia menjadi kagum.
Pemain barongsay itu bergerak dengan lincah sekali sedangkan permainan kakinya demikian gesit dan hidup seakan-akan barongsay tulen! Pembantunya yang main di belakangnya adalah seorang anak tanggung yang juga indah gerak kakinya. Permainan barongsay ini disambut dengan tepuk tangan riuh rendah.
Giok Cu bertanya kepada seorang kakek yang berdiri di dekat: “Lopeh, pandai sekali pemain barongsay itu. Siapakah dia?”
Orang tua itu tersenyum kepadanya. “Ia adalah Ong Sin dan adiknya, pemain barongsay terbaik di kota ini.
Barongsay itu mempermain-mainkan cu atau mustika yang terbuat daripada kain membungkus bola dari bambu. Cu itu digantungkan kelenengan-kelenangan kecil hingga ketika dilempar, digigit lalu dikejar oleh barongsay itu mengeluarkan bunyi tang-tang-ting-ting lebih menghidupkan permainan barongsay. Memang indah permainan Ong Sin hingga diam-diam Giok Cu kagum dan bangga karena permaian itu masih satu she dengan dia.
Tiba-tiba dari bawah panggung loncat seorang tinggi besar yang dengan sekali tendang saja sudah membuat Cu atau mustika itu terlempar ke bawah panggung. Penonton-penonton menjadi tegang karena mereka tahu bahwa ada orang hendak mencoba kepandaian barongsay itu! Memang di kota itu terdapat semacam peraturan, yaitu apabila ada permainan barongsay, maka siapa saja diperbolehkan ikut bermain seakan-akan menjadi lawan barongsay itu.
Jika orang itu sampai kena gigit sedikit saja ujung baju atau anggota badannya maka ia dinyatakan kalah. Tapi sebaliknya jika ia dapat cabut jambul sutera di kepala barongsay itu, ia dianggap menang atau gagah. Harus diketahui bahwa pemegang ekor atau pembantu pemain barongsay itu boleh membantu kepalanya dan boleh mengeroyoknya.
Telah banyak orang gagah mencoba untuk mencabut jambul di barongsay yang dimainkan Ong Sin. Tapi mereka gagal semua dan dikalahkan, hingga pemain barongsay Ong Sin yang muda itu menjadi terkenal dan dianggap pemain yang terbaik dan terpandai. Sudah lama juga tak seorangpun berani coba-coba lagi, tapi tak disangka kini ada orang tinggi besar itu yang loncat menantang.
Yang membuat para penonton tidak senang ialah cara orang itu menantang. Biasanya jika ada orang hendak mengajak bermain ia loncat dan cepat ambil bola cu itu lalu diangkat tinggi di atas kepala, baru dilemparkan ke arah penonton untuk menyimpannya sebentar. Tapi orang tinggi besar itu dengan kurang ajar sekali menendang begitu saja hingga cu terlempar ke tanah. Ini merupakan penghinaan besar terhadap Ong Sin.
Tapi ketika orang-orang memandang orang itu, mereka tidak berani mencela karena wajah orang itu sungguh-sungguh bengis dan menakutkan. Sebaliknya Ong Sin berlaku tenang. Ia mainkan barongsaynya dan tekuk kaki kiri ke belakang hingga tubuhnya merendah. Gerakan ini ialah berarti memberi hormat kepada yang datang.
Tapi si tinggi besar hanya mengangguk perlahan dan berkata keras: “Jagalah jambul dan nyawamu!”
Berbareng dengan kata-katanya ini, si tinggi besar segera loncat menyambar jambul barongsay itu, tapi barongsay itu seperti hidup dan bermata, dengan gesit sekali ia berkelit dan kepalanya bergerak memutar hendak menggigit lengan si tinggi besar yang menjadi kaget dan tidak menyangka akan gerakan secepat itu hingga ia buru-buru loncat ke belakang! Para penonton bersorak memuji.
Si tinggi besar kini bergerak dengan hati-hati. Kini ia gerakkan tangan dan kakinya menyerang dengan hebat. Penonton menjadi cemas ketika melihat betapa orang itu berlaku curang, tidak hanya bergerak hendak merampas jambul semata-mata, tapi bahkan menyerang Ong Sin dengan hebatnya! Jelas sekali bahwa orang itu mengandung maksud tidak baik. Sebentar saja mereka bertempur betul-betul biarpun Ong Sin masih berada dalam barongsay!
Ong Sin bergerak dengan mengagumkan sekali dan dia tidak hany adapat hindarkan tiap serangan dengan baik, bahkan beberapa kali hampir berhasil menggigit ujung baju si tinggi besar..Pada suatu saat ketika si tinggi besar menyerang ke arah dada barongsay itu loncat secepat kilat ke samping dan anak yang pegang ekorpun ikut meloncat, kemudian dengan sekali saut gigi barongsay itu berhasil menyangkut ujung baju si tinggi besar!
Tentu saja penonton menjadi gembira dan bersorak sambil menyatakan bahwa si tinggi besar telah kalah. Tapi tidak dinyana bahwa dalam kekalahannya, si tinggi besar masih mau bertindak curang. Ia berseru keras dan tangan kanannya yang bebas mengayun pukulan keras ke arah kepala barongsay di mana tersembunyi kepala Ong Sin!
Semua orang berseru kaget, tapi pada saat berbahaya itu Ong Sin masih sempat berkelit sambil melepas barongsaynya yang terpukul hancur! Juga adiknya yang pegang ekor lalu loncat menyingkir. Si tinggi besar yang merasa malu dan marah terus saja menyerang kepala Ong Sing dengan nekad.
Pada saat itu Giok Cu sudah tak dapat menahan marahnya lagi, apa pula ketika dilihatnya Ong Sin adalah seorang muda yang kurus dan pucat sedangkan adiknya paling baru berusia sepuluh atau sebelas tahun. Timbul wataknya hendak menolong yang tertindas. Sekali ayun tubuh ia telah berada di atas panggung dan sambil berseru keras, pegang lengan Ong Sin dan terus dibawa loncat ke bawah. Di situ ia lepaskan pemuda itu dan tanpa berkata apa-apa, tubuhnya melesat ke atas panggung lagi menghadapi si tinggi besar.
“Orang liar dari manakah kau maka datang-datang hendak menghina orang? Kau kira hanya kau seorang yang gagah dan berani?" Giok Cu menegur penasaran dan memandang dengan mata bersinar.
Si tinggi besar balas memandang dengan heran, tapi ia tidak berani pandang rendah karena barusan ia telah lihat kegesitan dan tenaga Giok Cu. Ia duga bahwa gadis itu tentu seorang ahli silat, maka ia hendak menanyakan namanya dan nama partainya untuk menggertak, “Aku murid Kwie-san-pay dan punya urusan pribadi dengan si sombong Ong Sin. Kau siapa berani ikut campur urusan anak murid Kwie-san-pay?”
Mendengar nama Kwie-san-pay disebut-sebut para penonton menjadi gelisah karena mereka sudah kenal akan kelihaian dan keganasan golongan ini. Tapi Giok Cu menjadi makin marah mendengar nama ini disebut-sebut. “Pantas, pantas! Guru-gurunya siluman, anak muridnya tentu setan pejajaran! Perduli kau dari Kwie-san-pay atau dari mana saja, di depan nonamu kau tidak boleh berlaku sesukamu menghina orang mengandalkan kepandaian sendiri. Pergi kau dari sini sebelum mati konyol di tangan Pek I Lihiap!”
Kembali terdengar suara-suara sambutan dari penonton karena di antara mereka banyak yang telah mendengar nama pendekar wanita itu..Juga si tinggi besar agaknya terkejut, tapi ia tetapkan hatinya karena paman gurunya di bawah panggung. “Bagus, mari kau coba anak Kwie-san-pay!” Si tinggi besar lalu cabut golok yang terselip di punggungnya.
Giok Cu dengan tangan kiri lolos sabuk suteranya yang berwarna kuning. Dengan gerak-gerakkan tangan sabuknya melingkar-lingkar dan menyambar bagaikan seekor ular yang indah gerak geriknya. Murid Kwie-san-pay itu putar golok menyerbu, tapi serangannya dapat dikelit dengan mudah oleh Giok Cu yang balas menyerang dengan sabuknya. Karena marah, nona itu hendak memberi hajaran dulu sebelum menjatuhkan lawannya.
Maka berkali-kali ujung sabuknya merupakan cambuk yang berbunyi nyaring mencambuki tubuh di leher, dada, pinggang dan punggung hingga pakaian si tinggi besar menjadi robek di sana sini dan kulitnya pecah-pecah mengalir darah!
Penonton bersorak girang dan puas melihat orang kasar itu dihajar habis-habisan oleh Pek I Lihiap! Setelah merasa cukup, Giok Cu gerakkan sabuknya membelit golok lawan dan sekali sendal saja golok itu terlepas dari pegangan lawan dan melayang ke arahnya. Dengan tenang ia gunakan tangan kanan menangkap golok hingga senjata itu pindah tangan! Sebelum lawannya hilang keheranannya, ia gerakkan kaki menendang hingga tubuh tinggi besar itu terlempar ke bawah panggung.
Kemenangan ini disambut dengan tepuk sorak riuh, tapi pada saat itu dari bawah panggung keluar seorang tosu yang bertubuh tinggi kurus dan berwajah pucat. Ia bukan lain ialah Hoan Tian-cu, tokoh di rumah Giok Cu. Diam-diam Giok Cu terkejut melihat munculnya tosu ini karena ia pernah menyaksikan ilmu kepandaian pendeta itu dan merasa bahwa kepandaian sendiri masih belum cukup untuk melawannya. Hoan Tian-cu tersenyum mengejek dan memandang kepada Giok Cu.
“Bagus, bagus! Tidak tahunya Pek I Lihiap yang terkenal gagah itu tak lain adalah kau. Bukankah kau anak perempuan dari Ong Kang Ek? Bagaimana ayahmu?”
Biarpun sedang marah Giok Cu merasa sedih juga ditanya tentang ayahnya, tapi ia menjawab dingin: “Ayah telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu."
Hoan Tin-cu menghela napas. Sayang.... sayang.... kemudian ia seperti teringat akan sesuatu. “O ya, hmmm... mana... mana suamimu?”
Tak senang Giok Cu mendengar ini. “Apa maksudmu totiang?”
Hoan Tin-cu memperlihatkan lagi senyumnya yang tidak manis. “Bukankah dulu diadakan sayembara pilih mantu dan yang berhasil adalah Souw Thian In murid Gak Bong Tosu mana dia? Apa dia juga turut datang? Telah lama aku menantinya! Kalau dia datang, suruhlah dia saja keluar!”
“Totiang, jangan kau menghina orang! Siapa yang menjadi isteri orang? Pendeknya jangan kau banyak cakap, apa maksudmu naik ke sini? Apakah kau hendak membela anak murid partaimu yang kurang ajar tadi?” Karena marahnya Giok Cu tak kenal arti takut dan menantang tosu tadi!
Mula-mula Hoan Tin-cu terheran mendengar pengakuan itu, kemudian ia tertawa. “Ah, galak benar kau dan pemberani pula. Kau kira akan dapat melawanku? Nah, untuk percobaan, kau terimalah pukulan ini!”
Hoan Tin-cu tanpa gerakkan kedua kakinya lalu pukulkan tangan kanannya ke depan. Walaupun jarak antara dia dan Giok Cu ada kira-kira setembok, namun angin pukulannya mengancam hebat ke arah gadis itu! Pada saat itu dari bawah panggung berkelebat bayangan biru dan seorang pemuda baju biru berseru,
“Hoan Tin-cu totiang! Tidak malukah menghina seorang perempuan? Kau tadi mencari aku, inilah aku sudah datang!”
Secepat kilat, pemuda itu gunakan lengan tangannya menolak pukulan Hoan Tin-cu. Walaupun tangannya tidak bentrok dengan tangan pemuda itu, namun angin pukulannya telah berhasil membentur dan mengembalikan pukulan tosu tadi itu!
Ketika Giok Cu menengok, hampir saja ia berteriak girang, yang datang di atas panggung bukan lain ialah Souw Thian In! “Engko Thian In!” tak terasa bibirnya memanggil nama itu, tapi yang keluar dari mulutnya hanya bisikan perlahan.
Thian In menengok dan memandangnya dengan tersenyum simpul! “Nona, tak kusangka kita akan bertemu di tempat ini.” Kemudian pemuda itu kembali menghadapi Hoan Tin-cu dan berkata: “Nah, totiang. Kita sudah berhadapan, silahkan kalau kau hendak memberi pengajaran kepadaku!”
Hoan Tin-Cu orangnya memang cerdik dan licin. Dari tangkisan tadi ia tahu bahwa dalam beberapa bulan ini rupanya anak muda itupun melatih dan ilmu kepandaiannya bertambah. Kalau sampai dikalahkan lagi di panggung ini dengan ditonton oleh semua penduduk kota itu, maka tidak saja namanya akan merosot, tapi nama baik partainya juga akan runtuh dan ia tentu akan mendapat teguran suhengnya. Maka sambil paksakan diri berlaku sabar dan tersenyum ia berkata:
“Anak muda, kau benar-benar pegang janji. Tapi kita janji akan bertemu pada permulaan musim Chun, bukan? Nah, datanglah ke sana setengah bulan lagi, tentu pinto akan menyambutnya dengan baik-baik!”
“Haruskah aku datang seorang diri?” tanya Thian In.
“Kau takut? Boleh bawa kawan kalau takut!” menyindir Hoan Thian Cu hingga Thian In menjadi gemas sekali.
“Akupun ada janji dengan suhengmu Gan Tin-cu! Kami akan datang bersama!” Giok Cu mendahului.
Baik Hoan Tin-cu maupun Thian In heran mendengar ini, tapi pendeta itu lalu tertawa. “Baik-baik, nah, sampai berjumpa pula setengah bulan yang akan datang di Kwie-san!” Kemudian ia loncat turun dan pergi.
“Engko Thian In, kau....”
“Nona Ong...”
Mereka tak dapat berkata-kata, hanya saling pandang dengan terharu di atas panggung. Pada saat mereka mau turun, tiba-tiba tampak serombongan orang yang berpakaian sebagai hamba negeri mencegah. Yang mengepalai rombongan itu adalah seorang setengah tua yang berkata sambil menjura kepada Giok Cu,
“Maaf, lie-enghiong, kami persilahkan kau ikut dengan kami ke kantor tihu.”
“Eh, eh, apakah kehendak kalian? Apakah kalian hendak menangkap aku? Apa salahku?”
“Hal itu kami tak dapat menerangkan karena hanya menjalankan tugas. Kami hanya diperintah dan inilah surat perintah itu." Anggota-anggota polisi yang lain berdiri dengan angker dan gagah, sikap mereka menunjukkan bahwa mereka berdisiplin.
Giok Cu memandang surat perintah itu sejenak dan ia mendapat kenyataan bahwa benar-benar tihu disitu memerintahkan supaya ia dipanggil menghadap ke kantor. Ia heran dan memandang kepada Thian In. “Lebih baik kau ikut saja, biarlah akupun pergi dan jika perlu kudapat menjadi saksi, yakni kalau hal ini ada hubungannya dengan pertempuran tadi,” kata pemuda itu.
Mereka berdua lalu dibawa ke kantor tihu. Tihu di kota itu adalah seorang tua yang kelihatan jujur dan peramah. Setelah mempersilahkan Giok Cu dan Thian In duduk, tihu itu perintahkan semua anak buahnya keluar dari kantor karena ia hendak bicara empat mata dengan tamunya.
"Lihiap aku telah mendengar tentang pertempuran di panggung antara kau dan anak murid Kwi-san-pay. Biarpun aku sendiri merasa senang mendengar bahwa lihiap telah memberi pengajaran kepadanya, namun demi keselamatan dan keamanan kota ini, terpaksa aku panggil lihiap datang ke sini. Karena ketahuilah lihiap, bahwa Kiew-san-pay telah terkenal sebagai cabang persilatan yang sangat berpengaruh dan disegani. Kalau para ketuanya mendengar tentang terjadinya seorang anak murid mereka dipukul orang di kota ini tanpa ada tindakan dari kami, pasti mereka merasa penasaran dan datang mengganggu kami. Hal inilah yang kami mohon lihiap pertimbangkan."
Mendengar hal ini ketahuilah Giok Cu akan duduknya persoalan dan ia merasa kasihan melihat tihu yang tua itu. Tak disangkanya golongan Kwie-san-pay sampai demikian berpengaruh.
“Tak perlu kiranya taijin berkhawatir tentang hal ini karena mereka telah kenal dan tahu siapakah yang menghajar murid mereka. Ketahuilah, taijin, aku adalah Pek I Lihiap dan yang telah mereka anggap sebagai musuh. Dan saudara ini adalah... seorang sahabat yang kebetulan juga mereka anggap sebagai musuh pula. Maka taijin tak perlu takut-takut dan jika mereka betul-betul berani ganggu taijin, katakan saja bahwa kami berdua telah ditahan dan minggat dari tahanan. Katakan saja bahwa taijin tidak berdaya menangkap kami. Mereka tentu percaya.”
Thian In menyambung kata-kata Giok Cu. “Tayjin tak perlu takut. Aku berani pastikan bahwa golongan Kwie-san-pay pasti tidak berani datang mengganggu.”
Namun, atas permohonan yang sangat dari tihu itu yang benar-benar takut kepada kwie-san-pay, terpaksa Giok Cu dan Thian In menurut ketika mereka diminta pergi malam nanti saja dan setengah hari itu mereka diminta masuk dalam kamar tahanan di penjara! Giok Cu tadinya menolak keras bahkan hendak marah, tapi ia disabarkan oleh Thian In yang berkata,
"Ong Siocia, bukankah hal itu baik sekali? Kita sudah lama tak berjumpa dan banyak hal-hal yang hendak kita bicarakan. Maka marilah kita penuhi permintaan taijin ini, pertama untuk menolongnya, kedua kita dapat beristirahat sambil mengobrol..."
Mereka berdua berhadapan di atas bangku penjara dan Giok Cu memandang wajah pemuda itu dengan perasaan tak karuan.
“Nona Ong tak kusangka kita akan berjumpa di sini..." pemuda itu tundukkan wajahnya yang tampan ketika pandangan mata gadis itu menatapnya dengan selidik.
“Engko Thian In, kau.... kenapa kau tidak hendak.... bunuh lagi aku yang hina ini? Sudah tidak marah lagikah kau kepadaku?”
Untuk beberapa lama Thian In tak dapat menjawab hanya menghela napas berkali-kali. “Nona Ong, aku dapat bayangkan betapa kebenciannya kepadaku! Aku telah berusaha membunuh kau dan ayahmu! Ah, aku memang orang rendah yang tak berguna. Membalaskan sakit hati ibu tak berhasil, sebaliknya aku yang hina telah membalas cinta kasih dan kebaikan hati ayahmu dengan pedang! Aah, tapi... aku tak berdaya... aku harus! Aku harus bunuh ayahmu! Aku harus bunuh dia! Nona Ong katakan, di mana dia? Di mana ayahmu, orang kejam terkutuk itu."
Tiba-tiba saja Thian In berdiri dan memandang Giok Cu dengan wajah beringas. Giok Cu terkejut, tapi ia tidak takut. Tidak seperti dulu, ia hadapi kemarahan. Thian In dengan kemarahan pula. Sekarang ia bahkan tutup mukanya dengan tangan dan menangis tersedu-sedu.
“Kau hendak bunuh ayah? Bunuhlah saja aku! Kau sakit hati kepada ayah? Biarlah aku yang menebusnya. Engkoh Thian In, kau... kau bunuhlah aku, aku rela mati di tanganmu, apalagi kalau kematianku ini untuk... menebus... sakit hatimu terhadap ayah.....”
Thian In kepal-kepal tangannya dan ia bicara seperti kepada diri sendiri: “Dulu... dulu ada dia yang melindungi kau dan ayahmu hm... kalau tidak, sudah impaslah! Sudah selesailah kewajibanku. Tapi, ah, kau bukanlah musuhku. Aku tak menghendaki jiwamu. Aku tak dapat membunuhmu. Ayahmu itulah orangnya yang harus kubunuh demi baktiku kepada ibu. Di mana ayahmu?”
“Ayah... ayah... telah meninggal dunia..." dan Giok Cu tutup mukanya lalu menangis sedih....