Dendam Membara Jilid 02

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Dendam Membara Jilid 02
Sonny Ogawa

Dendam Membara Jilid 02

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Cin Han memandang kepadanya, lalu kepada anak perempuan itu. Seorang anak perempuan yang mungil dan cantik, sepasang pipinya merah dan matanya indah dan jeli. Dia-pun mengangguk. Dengan girang anak laki-laki itu minta agar dia membuka baju atasnya. Biarpun merasa heran, Cin Han membuka bajunya. Mereka mengajak Cin Han berdiri di bawah lampu gantung di serambi depan.

Dan tiba-tiba saja anak laki-laki itu menotok pundak kirinya dekat leher. Tukk! Cin Han menahan pekiknya dan terguling! Cin Han bangkit kembali sambil mengelus-elus pundaknya dengan muka menyeringai kesakitan. Totokan itu mendatangkan rasa nyeri yang hebat. Dan jari tangan yang menotoknya tadi amat keras seperti besi dan totokan yang mengenai otot itu membuat kepalanya terasa pening dan dari leher sampai ke pinggang kiri berdenyut-denyut amat nyerinya!

Anak laki-laki yang menotoknya itu, tadinya tersenyum lebar dengan puas melihat hasil totokannya, akan tetapi melihat betapa Cin Han dapat bangkit kembali, senyumnya menghilang.

"Suheng, totokanmu gagal, dia dapat bergerak," kata anak perempuan itu sambil tersenyum, setengah menertawakan, kemudian memandang kepada Cin Han sambil bertanya, "Cin Han, sakitkah?"

Entah mengapa dia sendiri tidak tahu. Ditanya demikian, Cin Han merasa malu untuk mengaku sakit dan dia menggeleng kepalanya.

"Engkau dapat bergerak dan berdiri kembali? Ah, seharusnya engkau menjadi kaku dan tidak mampu menggerakkan kaki tanganmu!" kata anak laki-laki yang kecewa itu. "Tentu totokanku tadi kurang tepat. Biar kuulangi sekali lagi!" Dan diapun melangkah maju, tangan kanannya bergerak cepat dan kembali dia menotok dengan dua jari tangannya ke tempat yang tadi.

"Tukkk!" Lebih keras datangnya totokan itu dan Cin Han merasa nyeri bukan main. Akan tetapi, teringat akan anak perempuan yang berada di situ, ketika tubuhnya terpelanting, dia menggigit.bibir menahan nyeri.agar mulutnya tidak mengeluarkan keluhan. Ketika totokan tadi mengenai pundaknya dekat leher, memang kaki dan tangannya terasa kaku, akan tetapi hanya sebentar dan begitu terbanting jatuh, dia sudah dapat bangkit kembali.

Rasa nyeri membuat dia ingin menangis, namun ditahannya. Serasa patah-patah bagian yang tertotok, seperti ditusuk-tusuk jarum nyerinya dan dia hanya berusaha mengurangi rasa nyeri dengan mengelus elusnya.

"Engkau masih belum merasa kaki tanganmu kaku?" anak laki-laki itu bertanya penuh penasaran.

Cin Han menggeleng kepala dan diam-diam dia merasa girang melihat betapa anak itu mengerutkan alisnya penuh kekecewaan.

"Apakah engkau tidak menderita nyeri, Cin Han?" kembali gadis itu bertanya, berusaha mengamati wajah Cin Han di bawah penerangan lampu yang tidak begitu terang itu. Cin Han menggeleng kepala keras-keras dan anak perempuan itu kelihatan lega hatinya.

"Suheng, engkau harus belajar lagi dengan tekun dan mempelajari gambar jalan darah tubuh itu lebih teliti. Sekarang biar aku yang melatih totokan untuk membuat tubuh lemas. Cin Han, aku akan menotokmu di bagian jalan darah yang akan membuat tubuhmu terasa lemas kehilangan tenaga. Jangan kaget dan jangan mencoba mengelak karena kalau luput dan mengenai pinggir jalan darah, engkau akan merasa nyeri."

Cin Han mengangguk dan ketika gadis itu menggerakkan tangan kanan menotok ke arah punggungnya, dia melemaskan tubuh dan menerima totokan itu dengan tabah. "Tukkk!" Cin Han terkulai roboh dan tidak bergerak lagi! Dia tadi merasa betapa jari tangan gadis itupun kaku keras seperti besi, akan tetapi totokan yang mendatangkan rasa cukup nyeri itu tidak membuatnya menjadi lemas walaupun ada perasaan betapa dalam waktu beberapa detik tubuhnya kesemutan. Akan tetapi, dia tidak tega untuk membuat gadis kecil itu kecewa, maka diapun sengaju bersandiwara dan menjatuhkan tubuhnya dengan lemas.

"Ah, aku berhasil, suheng!!" Gadis itu berseru girang dan ia memegang tangan Cin Han, diangkatnya ke atas lalu dilepaskan kembali dan tangan itupun terjatuh seperti sehelai kain basah. Bukan main girangnya hati anak perempuan itu, dan cepat ia mengurut-ngurut bagian punggung Cin Han yang tertotok sambil berkata, "Jangan takut, Cin Han, aku akan membebaskan engkau dari pengaruh totokanku."

Dan setelah diurut beberapa kali, Cin Han menggerakkan lagi tubuhnya, lalu bangkit berdiri. Dia ikut merasa gembira melihat kegirangan anak perempuan itu.

Melihat keberhasilan sumoinya, anak laki-laki itu menjadi marah dan iri. Dua kali dia menotok ,dan gagal, sedangkan sumoinya sekali menotok berhasil baik. Dia merasa malu dan akhirnya marah, ingin menimpakan kemarahannya ini kepada Cin Han yang dianggapnya seorang kacung baru.

"Akupun akan menotokmu agar lumpuh dan lemas!" katanya dan cepat sekali jari tangannya menotok punggung Cin Hin.Karena marah, dia menotok dengan sepenuh tenaga, tidak seperti yang diajarkan gurunya.

"Tukk...!"

"Aughhh...!" Cin Han terjungkal dan menggeliat kesakitan, mulutnya mengeluarkan darah.

Melihat ini, anak perempuan itu terkejut dan merasa khawatir sekali. Cepat ia berjongkok dekat Cin Han dan berusaha untuk mengurut punggung yang tertotok tadi, akan tetapi sentuhannya bahkan menambah rasa nyeri dan Cin Han merintih. "Bagaimana, Cin Han? Sakit sekalikah? Yang mana yang sakit?"

"Punggungku... dan napasku sesak....." kata Cin Han terengah-engah.

"Suheng, bagaimana ini? Jangan berdiri enak-enak saja di situ! Nah, bagaimana kalau sudah begini? Engkau menyiksa orang!" Anak perempuan itu menegur suhengnya yang masih berdiri acuh saja.

"Sudahlah, nanti juga sembuh. Kenapa ribut-ribut karena kacung ini sedikit kesakitan saja?"

"Suheng! Dia muntah darah! Itu tandanya dia luka dalam. Bagaimana kalau dia sampai mati?"

"Aughhh....!" Cin Han terjungkal dan menggeliat kesakitan, mulutnya mengeluarkan darah! Melihat ini, anak perempuan itu terkejut dan merasa khawatir sekali.

Mendengar ini, barulah anak laki-laki itu merasa khawatir. Kalau sampai kacung ini mati, berarti dia telah membunuh orang dan tentu akan menimbulkan keributan. Diapun berjongkok mendekat dan ikut memeriksa punggung yang tertotok. Nampak kulit punggung di bagian itu matang biru, juga di pundak yang tertotok tadi. Dia ikut pula mengurut untuk melancarkan jalan darah yang tertotok. "Sakitkah, Cin Han?" tanyanya.

Sebetulnya, di dalam hatinya Cin Han marah sekali. Dia merasa betapa dadanya panas oleh kemarahan mendorongnya untuk membalas perbuatan anak laki-laki itu. Akan tetapi, dia teringat akan sikap gurunya, juga kata-kata gurunya, yang penting bukanlah bersabar, melainkan melenyapkan kemarahan, demikian gurunya berkata. Dan inilah kemarahan. Dia marah sekali! Anak laki-laki ini terlalu memancang rendah kepadanya, dan bertindak sewenang-wenang!

Akan tetapi justeru kenangan ini yang mendatangkan kemarahan, makin berkobar rasanya api kemarahan kalau dia mengingat-ingat apa yang dilakukan orang terhadap dirinya. Dia membuang pikiran yang mengingat-ingat itu dan api kemarahan itupun padam, kemarahan itupun tidak ada lagi. Akan tetapi hanya sebentar karena segera dia teringat lagi dan marah lagi. Cin Han merasakan benar pertentangan dalam batinnya ini, membuat dia tertegun keheranan dan dia menjadi lupa lagi untuk marah!

"Tidak, tidak sakit," jawabnya sebagai pencetusan kemarahannya dalam bentuk ketinggian hati. Dia tidak sudi memperlihatkan kelemahannya kepada anak laki-laki ini. Diapun tidak suka memperlihatkan kelemahannya kepada anak perempuan itu, akan tetapi agaknya berbeda alasannya dengan sikapnya terhadap anak laki-laki itu.

"Cin Han, kau maafkan kami....." anak perempuan itu berkata halus.

"Benar permintaan sumoi, maafkan kami, Cin Han," anak laki-laki itu menyambung.

Tadinya, mendengar ucapan anak perempuan itu, Cin Han sudah siap untuk memaafkan, dan untuk mengatakan bahwa hal itu tidak apa-apa. Akan tetapi mendengar sambungan kata-kata anak itu, dia membungkam mulutnya dan tidak mau menjawab.

Pada saat itu muncul Hek-bin Lo-han dari dalam. Sebelum tiba di situ dia sudah berseru, "Cin Han, engkau diterima menjadi pembantuku!"

Akan tetapi ketika dia tiba di situ dan melihat Cin Han diurut-urut punggungnya oleh dua orang anak itu, dia terkejut. "Cin Han, ada apakah?" tanyanya, mendekat dan semakin terkejut melihat tanda matang biru di punggung dan pundak dekat leher, dan melihat darah masih bertepatan di tepi mulut anak itu. "Engkau terluka? Muntah darah?"

Anak perempuan itu yang menjawab, "Lo-han, kami tadi hendak berlatih ilmu tian-hiat-hoat yang kami pelajari dari suhu dan kami bertemu dengan Cin Han, kacung baru ini. Kami menggunakan tubuhnya untuk berpraktek..."

"Omitohud.... Kalian sungguh anak-anak yang lancang, ceroboh, dan sewenang-wenang. Perbuatan kalian itu dapat membunuh orang, tahukah kalian? Kalau sampai hal ini terjadi kepada kalian sendiri, apakah kalian mau? Lihat saja kalau sampai suhu kalian tahu akan hal ini, tentu kalian akan dijatuhi hukuman!!"

Mendengar ini, dua orang anak itu kelihatan menjadi ketakutan, dan anak laki-laki itu mencoba untuk membela diri, "Akan tetapi, sebelum kami melakukannya, kami sudah bertanya dan Cin Han mau membantu kami..."

Anak perempuan yang juga ketakutan itu segera memegang lengan Hek-bin Lo-han dan berkata dengan suara memohon, "Lo han yang budiman, tolonglah kami, harap jangan laporkan kepada suhu. Aku.... aku takut kalau sampai beliau marah dan menjatuhkan hukuman..."

Hek-bin Lo-ban menggeleng kepala dengan alis berkerut. "Kalian nakal dan jahat, perlu mendapat hukuman."

Melihat betapa anak perempuan itu ketakutan, hati Cin Han sudah mencair dan kemarahannya lenyap seketika. "Sudahlah, suhu. Teecu tidak apa-apa, harap urusan ini dihabiskan saja."

Wajah Hek bin Lo han yang tadinya nampak muram, kini tiba tiba menjadi cerah berseri-seri. Dia berkata kepada dua orang anak-anak itu. "Kalian pergilah, pinceng tidak akan melaporkan kalian."

Dua orang anak-anak itu kelihatan girang sekali dan merekapun segera pergi dari situ. Hek-bin Lo-han lalu menggandeng tangan muridnya, diajak pergi ke kamarnya dekat dapur dan di dalam kamar itu, dia lalu mengurut punggung dan pundak Cin Han dan tak lama kemudian lenyaplah semua rasa nyeri.

"Cin Han, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi tadi," kata Hek bin Lo-han.

"Mereka tadi bertemu dengan teecu yang sedang menyapu pekarangan karena tempat itu penuh daun kering dan di sana terdapat sebatang sapu pula. Lalu mereka minta bantuan teecu untuk berlatih semacam ilmu. Sebagai pendatang baru tentu saja teecu bersedia membantu mereka dan mereka menyuruh teecu membuka baju." Dia menceritakan betapa totokan-totokan anak laki-laki itu amat menyakitkan, dan betapa totokan anak perempuan itu hampir berhasil membuat dia menjadi lumpuh dan lemas.

Hek-bin Lo-ban mengangguk-angguk. "Mereka itu sungguh lancang sekali. Mencobakan ilmu tiam-hiat-hoat yang masih belum sempurna di pelajari kepada seorang manusia, amatlah berbahaya."

"Suhu, siapakah mereka itu? Tadinya teecu mengira bahwa di kuil ini hanya dihuni oleh para hwesio seperti suhu. Apakah banyak anak-anak seperti mereka yang menjadi murid di sini dan siapakah yang menjadi suhu mereka?"

Hek-bin Lo-han menarik napas panjang dan menggeleng kepala. "Mereka itu datang dari jauh, dari Tong-an. Sebetulnya, para hwesio di sini tidak ada yang menerima murid, juga Thian Cu Hwesio yang menjadi ketua kuil ini tidak pernah menerima murid, walaupun dia adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang pandai. Akan tetapi, dua tahun lalu, ketika Thian Cu Hwesio mengadakan perjalanan ke luar kuil, di tengah perjalanan dia melihat dua orang pembesar dengan keluarganya diganggu perampok.

"Tentu saja dia lalu menolong mereka dan berhasil mengusir para perampok dengan kepandaiannya. Dua orang pembesar itu berterima kasih sekali, berkunjung ke kuil ini dan mereka mengeluarkan biaya besar untuk mempeibaiki bangunan kuil ini. Kemudian, mereka lalu memohon kepada Thian Cu Hwesio agar suka mendidik anak-anak mereka menjadi muridnya dan mengajarkan ilmu silat kepada mereka."

"Dan Thian Cu Hwesio tidak dapat menolak karena mereka sudah membangun kuil ini?" kata Cin Han.

Gurunya memandang kepadanya dengan kagum dan mengangguk. "Anak laki-laki itu adalah Kim Cong Bu, putera Kim-ciangkun kepala pasukan keamanan dari kota Tong an, sedangkan anak perempuan itu bernama Ciu Lian Hwa, puteri dari Ciu Taijin, kepala daerah kota Tong-an. Sudah dua tahun mereka belajar ilmu silat dari Thian Cu Hwesio dan agaknya mereka memperoleh kemajuan karena memang keduanya berbakat."

Kakek itu lalu menghentikan ceritanya. "Sudahlah, sekarang lebih baik engkau beristirahat dan tidur agar rasa lelah dan nyeri lenyap. Besok pagi-pagi sudah menanti tugas pekerjaanmu di sini."

Sementara itu, Kim Cong Bu dan Ciu Lian Hwa, dua orang anak itu, juga membicarakan Cin Han. "Untung anak itu baik sekali, suheng. Dialah yang memintakan maaf untuk kita kepada Hek-bin Lo-han. Kalau tidak, kita tentu dilaporkan dan mendapat hukuman dari suhu." kata Lian Hwa.

"Akan tetapi aku tidak suka melihat mata anak itu, matanya begitu tajam memandang orang, dan dia memintakan maaf untuk kita seolah-olah dia itu sederajat dengan kita. Padahal dia hanya.seorang kacung!!" kata Cong Bu, masih mendongkol karena kegagalan praktek ilmu menotoknya tadi.

"Dia menyebut suhu kepada Lo-han, agaknya dia murid Hek-bin Lo-han. Dan mengingat bahwa Hek-bin Lo han merupakan seorang hwesio tua di sini, maka kalau Cin Han menjadi muridnya, berarti tingkat atau kedudukannya sejajar dengan kita. Engkau melihat betapa suhu sendiri bersikap hormat kepada Hek-bin Lo-han, tidak seperti terhadap para hwesio lainnya."

"Betapapun juga, Hek-bin Lo-han hanyalah seorang kepala dapur, tukang mencari air, kayu dan tukang masak. Cin Han menjadi muridnya? Ha, tentu diajar memikul air dan memasak. Apa lagi?" kata Cong Bu mengejek untuk melampiaskan kedongkolan hatinya.

"Jangan menghina, suheng. Memasakpun merupakan ilmu yang amat berguna! Kalau tidak ada Lo-han yang pandai masak, kita tentu hanya akan makan sayur dan buah-buahan mentah!" bantah Lian Hwa.

Cong Bu tidak berani membantah kata-kata Lian Hwa yang diucapkan dengan nada agak marah. Memang anak laki-laki ini selalu bersikap manis dan melindungi kepada Lian Hwa. Hal ini bukan saja karena dia merasa sepenanggungan dengan anak perempuan itu, jauh dari rumah dan keluarga dan di kuil ini hanya ada mereka berdua saja sebagai murid.

Akan tetapi juga karena sebelum mereka dikirim ke kuil itu, Cong Bu mendapat pesan dari ayahnya bahwa dia harus menjaga dan melindungi Lian Hwa. Diapun tahu bahwa Lian Hwa adalah puteri kepala daerah yang menjadi atasan dari ayahnya.

Karena Cong Bu selalu berjikap manis dan melindunginya, tentu saja Lian Hwa juga suka kepadanya dan menganggapnya sebagai seorang suheng dan kawan yang baik sekali, walaupun kadang-kadang ia merasa tidak suka akan sikap dan watak Cong Bu yang tinggi hati dan angkuh. Cong Bu memiliki watak yang keras dan tidak mau mengalah, kecuali tentu saja terhadap Lian Hwa, sebaliknya, anak perempuan itu memiliki watak yang lincah, manis dan berbudi halus.

Ejekan yang diucapkan Cong Bu mengenai Cin Han yang berguru kepada seorang tukang masak, kepala dapur, yang pekerjaannya hanya memikul air, mencari kayu bakar, memasak dan sebagainya, memang ternyata benar. Mulai pagi-pagi sekali keesokan harinya, Cin Han mendapat tugas memikul air untuk mengisi bak-bak air di dapur!

Sumber air berada jauh di bawah puncak sehingga anak itu harus memikul dua ember kayu penuh air, mendaki anak tangga yang lebih dari lima ratus langkah banyaknya. Terseok-seok dia memikul ember kayu penuh air itu dan pada hari hari pertama, banyak sekali air tumpah dari ember sehingga setibanya di dapur, air yang berada dalam dua ember kayu itu tinggal sedikit saja!

Namun, dengan kemauan yang amat keras, dengan semangat membaja, Cin Han tak pernah mau berhenti memikul air biarpun dia harus terhuyung dan terseok, kadang-kadang jatuh dan semua air di kedua ember tumpah, membuat dia terpaksa turun lagi untuk mengisi ember yang dipikulnya. Ketekunannya itu akhirnya berhasil.

Setelah kurang lebih tiga bulan, dia mampu memikul air dalam dua ember kayu itu tanpa tumpah, sampai ke dapur, menuangkan dua ember itu ke dalam bak, kemudian berlari menuruni anak tangga untuk mengambil air lagi. Dia tidak pernah mengeluh, tidak pernah mengomel, bahkan tidak berani bertanya kepada suhunya mengapa sampai berbulan-bulan dia tidak pernah diberi pelajaran ilmu silat.

Bahkan kini pekerjaannya ditambah, bukan hanya memikul air yang dapat dilakukannya semakin cepat sehingga sebelum tengah hari semua bak telah dapat dipenuhinya. Agaknya karena ada waktu tersisa setelah memenuhi semua bak air, kini gurunya menambah tugasnya untuk mencari kayu di hutan bawah puncak, membawanya ke dapur dan membelah kayu-kayu itu menjadi kayu bakar yang kecil-kecil.

Pertama kali mengerjakan tugas baru ini tentu saja dia merasa tersiksa dan lelah sekali. Memanggul kayu berbeda dengan memikul air. Air dalam ember mempunyai gaya gerak dan pikulannya juga dapat memantul sehingga dia dapat meminjam tenaga pantulan pikulan dan tenaga gerakan air yang dipikulnya, membuat pekerjaan itu tidak lagi terasa berat.

Akan tetapi, kayu merupakan benda yang mati tak bergerak sama sekali, seluruh beratnya menindih pundak sehingga tertatih-tatih dia melangkahi anak tangga dan semakin lama terasa semakin berat. Juga ketika dia mempergunakan kapak membelah kayu, telapak tangannya sampai bengkak-bengkak dan lecet-lecet.

Namun, anak yang memiliki semangat membaja ini tak pernah mengeluh dan dengan tekun melakukan pekerjaan itu sampai beberapa bulan kemudian, dia dapat memanggul cukup banyak kayu ke dapur, dan membelahnya, dengan cepat bukan main tanpa mengalami kulit telapak tangan lecet lagi.

Akan tetapi, gurunya seolah-olah memang sengaja hendak menyiksanya. Kini dia diharuskan mengenakan sepatu kayu yang berat sebagai pengganti sepatunya yang sudah butut. Sepatu kayu itu berat sekali karena di bagian bawahnya dilapisi besi seperti tapal kaki kuda! Dan kalau dia berjalan, mengeluarkan bunyi keras seperti kuda.

Yang menyakitkan hati Cin Han adalah seringnya Cong Bu menggoda dan mengejeknya. Hanya kalau Cin Han ditemani oleh Lian Hwa, anak laki-laki itu tidak berani mengejeknya, karena tentu akan ditegur oleh Lian Hwa yang selalu bersikap manis dan lembut kepada Cin Han. Bahkan, melihat betapa Cin Han harus bekerja berat, pandang mata anak perempuan itu mengandung iba.

Pada hari pertama Cin Han mengenakan sepatu kayu baru itu, menaiki anak tangga tertatih-tatih memanggul kayu-kayu besar, setiap langkahnya mengeluarkan suara keras seperti kaki kuda, muncullah Cong Bu seorang diri saja, Anak itu berdiri di atas, sambil tertawa-tawa melihat Cin Han mendaki anak tangga itu dengan susah payah dan setiap langkahnya mengeluarkan suara keras.

Cin Han maklum bahwa Cong Bu mentertawakannya di atas. Dia merasa malu dan mendongkol, akan tetapi dia dapat mengusir perasaan ini dan melanjutkan pekerjaannya. Setelah tiba di atas, seperti yang sudah diduganya, Lian Hwa tidak nampak di situ dan Cong Bu segera menyambutnya dengan suara ketawa.

"Ha-ha-ha, kukira tadi ada seekor kuda yang naik ke sini, Cin Han. Kiranya engkau yang menjadi kuda!"

Karena kedua kakinya terasa gemetar saking lelahnya dibebani sepatu berat, membuat kayu yang dipanggulnya terasa lebih berat dari pada biasanya, dan keringat menetes-netes dari mukanya, Cin Han berhenti sebentar untuk menyusut keringatnya dengan tangan.

"Ha-ha-ha, sudah hampir dua tahun engkau berada di sini, menjadi murid Hek-bin Lo-han, apa saja yang sudah kau pelajari, Cin Han? Memikul air dan memanggul kayu, dan masak-masak barangkali?. Dan kini engkau belajar menjadi seekor kuda. Akan tetapi engkau tidak mirip kuda, mirip keledai bodoh!"

"Suheng....!" Terdengar suara Lian Hwa menegur dan anak perempuan itu datang dengan langkah lebar ke tempat itu.

Muka Cin Han sudah menjadi merah sekali dan dia cepat melanjutkan pekerjaannya, memanggul kayu itu ke arah dapur. Betapapun dia sudah berhati-hati melangkah, tetap saja setiap langkahnya mengeluarkan bunyi keras yang membuat Lian Hwa juga memandang dengan heran.

Ketika dia kembali dari dapur untuk turun dan mencari kayu lagi karena persediaannya belum cukup, Lian Hwa dan Cong Bu masih berada di tempat tadi dan dari jauh dia melihat Lian Hwa bicara dengan suhengnya, kelihatan anak perempuan itu menegurnya karena dia masih dapat menangkap akhir kalimatnya.

".......sebaliknya dari rasa iba, engkau malah menggodanya."

Cin Han pura-pura tidak melihat mereka dan hendak menuruni anak tangga. Karena tidak memanggul kayu, dia dapat meringankan langkahnya, namun tetap saja sepatu kayu berlapis besi itu mengeluarkan suara yang cukup keras. Melihat betapa Cin Han hendak lewat saja tanpa memandang kepada mereka, Lian Hwa lalu menghadangnya.

"Cin Han, kenapa engkau memakai sepatu kayu yang kelihatan berat itu? Bukankah hal itu mengganggu sekali pekerjaanmu? Lebih baik bertelanjang kaki dari pada memakai sepatu kayu seperti itu!"

"Ini perintah suhu!" kata Cin Han singkat dan melihat betapa Cong Bu memandangnya dengan mata mentertawakan, Cin Han tidak mau melayani mereka lagi lalu dia berlari menuruni anak tangga sehingga sepatunya mengeluarkan bunyi lebih keras lagi.

Lian Hwa mengikuti Cin Han dengan pandang matanya, kemudian ia berkata penasaran, "Terlalu sekali Hek-bin Lo-han. Aku akan menegurnya, dia terlalu kejam dan tidak adil terhadap Cin Han!"

"Aih, sumoi? Kenapa engkau hendak mencampuri urusan mereka? Apa lagi Cin Han hanya seorang kacung, seorang pelayan, dan gurunya, Hek-bin Lo-han hanya seorang kepala dapur!"

Akan tetapi pada malam hari itu, setelah berlatih silat bersama suhengnya di bawah pengawasan Thian Cu Hwesio sendiri, Lian Hwa lalu menyelinap ke bagian belakang kuil mencari Hek-bin Lo-han yang tinggal di kamar dekat dapur. Ketika ia tiba di ruangan belakang, dekat ruangan makan, ia melihat Cin Han di luar dan anak itu masih bekerja membelahi kayu dengan sebatang kapak kecil. Betapa mudahnya Cin Han membelah kayu, sekali bacok saja kayu terbelah dua.

Ia menyelinap agar jangan sampai terlihat oleh anak itu karena ia hendak menegur Hek-bin Lo-han di luar tahu Cin Han. Ia mendapatkan kakek bermuka hitam itu sedang duduk bersila di luar dapur yang sunyi. Tidak nampak hwesio lain yang pada siang hari bekerja di situ dan kakek itu duduk bersila sambil memejamkan mata seperti orang sedang bersamadhi. Hwesio ini biasa bersikap manis dan ramah, maka Lian Hwa tidak merasa takut atau sungkan kepadanya.

"Hek-bin Lo-han...." katanya lirih sambil mendekati. Karena hwesio ini hanya seorang kepala dapur yang sederhana sekali sikapnya, maka Lian Hwa biasa memanggil dia begitu saja tanpa banyak penghormatan.

Hwesio tua itu membuka mata dan tersenyum lebar ketika melihat bahwa yang memanggilnya adalah Lian Hwa. "Aih, Ciu-siocia (nona Ciu), ada keperluan apakah malam-malam begini mencari pinceng dan engkau tidak beristirahat di dalam kamarmu?"

"Lo-han, aku ingin bicara tentang Cin Han!"

"Ah? Mengapa dia? Nakalkah dia, kepadamu, siocia?"

"Tidak, aku hanya ingin menegurmu, Lo-han, karena engkau sungguh bertindak tidak berperikemanusiaan, tidak adil dan kejam sekali kepadanya! Mengapa kau lakukan kekejaman itu kepadanya, Lo-han?"

Kakek itu membelalakkan mata memandang anak perempuan itu, terheran-heran. "Nona Ciu, apa yang kau maksudkan itu? Pinceng tidak mengerti!"

"Lo-han, engkau telah menyiksa Cin Han, jangan pura-pura tidak mengerti!"

"Omitohud..., dijauhkan pinceng kiranya dari perbuatan itu. Pinceng menyiksa Cin Han?"

"Bukankah dia itu muridmu? Akan tetapi, engkau memperlakukan dia seperti seekor keledai saja. Engkau suruh memikul air, memanggul dan mencari kayu bakar, bahkan akhir-akhir ini engkau memaksa dia memakai sepatu kayu berlapis besi yang demikian beratnya. Kenapa engkau begini kejam menyiksanya? Dan pelajaran apa saja yang sudah kau berikan sebagai gurunya kepadanya?"

"Omitohud... Ciu-siocia, katakanlah, apa dia mengeluh akan semua ini kepadamu?"

"Tidak, dia tidak pernah mengeluh, akan tetapi aku kasihan padanya dan penasaran. Engkau tidak boleh sekejam itu!"

Kakek itu tertawa bergelak dengan gembira sekali. "Ha-ha-ha-ha, nona Ciu yang cerdik, pinceng tidak pernah kejam padanya, pinceng bahkan amat sayang kepadanya."

Anak perempuan itu terbelalak. "Sayang? Kenapa menyuruh dia bekerja seberat itu dan pelajaran apa yang pernah kau berikan?"

"Itulah pelajaran yang dilatihnya setiap hari, nona. Apa sekiranya nona atau Kim-kongcu (tuah muda Kim) mampu memenuhi semua bak air, lalu mengumpulkan semua kayu itu dan membelahnya, seperti yang dilakukan Cin Han setiap hari, apalagi mengenakan sepatu kayu itu?"

Lian Hwa semakin heran. "Jadi... pekerjaan itu... itukah yang kau maksud dengan pelajaran? Untuk itukah dia berguru kepadamu, Lo-han?"

Kakek itu mengangguk-angguk. "Kelak nona akan mengerti, bahkan sekarangpun akan mengerti kalau nona suka berpikir. Nah, beristirahatlah, nona, hari sudah mulai larut, malam sudah tiba."

Lian Hwa meninggalkan kakek itu dengan hati penuh keheranan. Akan tetapi ketika ia melewati ruangan belakang dia melihat Cin Han asyik membaca buku di bawah sinar lampu gantung. Cin Han membaca kitab! Sungguh hal ini di luar dugaannya. Seorang kacung dapat membaca kitab.

Agaknya Cin Han tenggelam ke dalam bacaannya. Dia duduk di atas bangku di luar ruangan itu, di tempat terbuka dan malam itu sejuk sekali hawanya, apa lagi bulan muda mulai muncul, mendatangkan sinar kehijauan yang nyaman.

"Cin Han, kitab apakah yang kau baca itu?" tanyanya sambil menghampiri.

Cin Han terkejut dan menoleh. Melihat Lian Hwa, dia memandang dengan wajah berseri. "Ah, kiranya engkau, nona Lian Hwa. Kitab ini... ah, hanya kitab sejarah kuno milik suhu."

"Boleh kulihat?"

Cin Han memberikan kitabnya yang sudah tua sekali itu dan Lian Hwa membalik-balik lembarannya. Alisnya berkerut. Tulisannya juga kuno dan tulisan seperti itu sukar sekali dimengerti, memiliki arti yang dalam sekali seperti pada umumnya kitab-kitab kuno. Biarpun sejak kecil ia sudah belajar membaca, namun untuk dapat mengerti isi kitab ini, sukar sekali baginya. Ia mengembalikan kitab itu, diam-diam merasa malu sendiri bahwa dalam hal ilmu membaca jelas ia kalah pandai dibandingkan Cin Han.

"Nona Cin, duduklah. Lihat, betapa indahnya malam ini. Bulan sepotong itu demikian lembut, seolah-olah ia berjalan-jalan di antara awan-awan, kadang-kadang bersembunyi lalu perlahan-lahan mengintai keluar dari tirai aWan dan tersenyum lagi. Dan pohon-pohon di sana itu, Nampak aneh sekali dalam cuaca remang-remang, bukan kau ihat, di selatan itu nampak pula bintang-bintang. Indah bukan main!"

Melihat kegembiraan Cin Han, Lian Hwa semakin heran. Anak ini aneh sekali. Sejak pagi sampai sore disiksa seperti itu, malamnya sudah bergembira seperti ini. "Cin Han, kenapa engkau gembira sekali?"

"Kenapa tidak, nona? Bukankah hidup ini indah selali? Dan kita memiliki semua anggauta badan yang serba lengkap. Mata untuk melihat keindahan pandangan, telinga untuk menikmati kemerduan suara, hidung untuk menikmati keharuman penciuman, segalanya ada pada kita dan semua keindahan sudah terbentang di depan kita. Bayangkan betapa sengsaranya kalau kita kehilangan satu di antara semua alat perasa itu. Buta misalnya, atau tuli..."

Lian Hwa bengong! Seorang kacung, bicara seperti ini? Ia bingung. Bagi Lian Hwa, kata-kata yang keluar dari mulut Cin Han tadi terdengar amat aneh, akan tetapi juga dapat dirasakan sekali kebenarannya. Ia membayangkan, bagaimana kalau ia buta? Wah, akan sengsara sekali! Dan tuli? Hanya orang buta yang dapat membayangkan keindahan segala sesuatu yang dapat dipandang dan hanya orang tuli yang dapat membayangkan keindahan segala sesuatu yang dapat didengar.

Akan tetapi orang yang tidak buta dan tidak tuli, bahkan mengabaikan semua keindahan itu! Bukankah orang begitu sama saja dengan buta dan tuli? Iapun memandang ke luar, ke arah awan dan bulan, ke arah bayangan pohon-pohon, kearah bintang-bintang dan hatinyapun terasa riang sekali.

"Engkau benar, Cin Han. Hidup memang indah sekali. Akan tetapi... semua itu, dari siapa engkau tahu? Dan engkau membaca kitab, dari siapa engkau belajar?"

"Nona, guruku di dunia ini hanyalah suhu seorang. Dari siapa lagi kalau bukan dari dia?"

"Tapi, apakah engkau menjadi muridnya hanya untuk mempelajari segala macam itu? Bukan belajar silat?"

"Memang aku menjadi muridnya untuk belajar ilmu silat."

"Dan engkau sudah pernah dilatih silat? Apakah dia pandai ilmu silat?"

Cin Han menggeleng kepalanya. "Aku belum pernah dilatih silat, dan suhu adalah orang yang paling pandai dalam ilmu silat."

"Hemmm, sudah dua tahun belajar akan tetapi sama sekali belum diajar ilmu silat. Bagaimana mungkin ini? Kalau begitu, jelas engkau dibohonginya. Cin Han. Agaknya dia sama sekali tidak pandai ilmu silat. Coba, selama ini engkau hanya disuruh memikul air, memanggul kayu, mengenakan sepatu kayu berat, untuk apa itu? Hanya ilmu membaca kitab itu memang berguna. Akan tetapi semua pekerjaan berat itu..."

"Amat bermanfaat, nona. Dari pekerjaan itu, aku mendapatkan kekuatan pada tubuhku, juga ketenangan dan kesabaran bagi batinku. juga semua itu memupuk ketahanan terhadap penderitaan yang amat diperlukan untuk kehidupan ini."

"Akan tetapi apa artinya semua itu? Engkau tidak diajar bagaimana harus menyerang dan merobohkan orang!"

"Belajar silat bukan hanya berarti harus merobohkan orang, nona!"

Kembali anak perempuan itu terbelalak memandang wajah Cin Han. "Lalu untuk apa?"

Ciu Han tersenyum. Anak perempuan ini masih kanak-kanak, akan tetapi manis, mungil dan lucu sekali. "Untuk menjaga kesehatan, nona. Untuk membela diri dari ancaman bahaya..."

"Hemm, kalau aku pendekar wanita yang tidak! Aku ingin menjadi seorang membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan seperti watak para pendekar yang kubaca dalam cerita kitab, sudah malam, Cin Han. Aku harus beristirahat, besok harus bangun pagi-pagi sekali untuk berlatih jurus-jurus baru yang sulit, bersama suheng di dekat sumber air!"

Anak perempuan itu dengan lincahnya lalu meloncat dan berlari kecil menanggalkan Cin Han yang kini duduk termenung. Ucapan anak itu sedikit banyak mendatangkan bahan pemikiran. Memang sering dia merindukan pelajaran ilmu silat yang belum juga diturunkan gurunya. Akan tetapi diapun cukup waspada dan melihat hasil dari semua pekerjaan berat itu.

Apa lagi memikul air itu. Suhunya sengaja memberi pikulan yang terbuat dari belahan bambu-bambu kecil yang dijadikan satu dan diikat. Selama dua tahun ini, ikatan seratus batang bambu kecil itu setiap bulan dikurangi oleh suhunya. Dia tidak merasakan ini dan tahu-tahu sekarang ikatan itu tinggal dua puluh batang saja!

Akan tetapi dia sanggup memikul air di dua ember kayu itu dengan pikulan yang kecil itu! Juga dia sanggup memanggul sebatang kayu besar dengan mudah mendaki anak tangga, sambil lari lagi dan tidak pernah terengah-engah napasnya, bahkan sedikit saja peluh yang keluar. Tidak, dia tidak boleh ragu-ragu. Semua ini tentu sudah diatur oleh suhunya.

Dia mengingat-ingat lagi pelajaran atau pekerjaan apa saja yang telah diberikan oleh gurunya kepadanya selama dua tahun ini. Memikul air dengan pikulan yang setiap bulan dikurangi besarnya. Mengangkat dan memanggul kayu bakar, kemudian membelah kayu bakar itu menjadi kayu-kayu kecil mempergunakan kapak yang setiap bulan diganti semakin besar akan tetapi semakin tumpul.

Kalau dia disuruh menanak nasi atau memasak air, dia harus mengipasi api dengan berdiri dalam posisi yang tertentu, mula-mula seperti orang menunggang kuda dan dia tidak boleh mengubah posisi kedua kaki dan tubuh itu sebelum nasi yang ditanaknya matang atau air yang dimasaknya mendidih.

Mula-mula pekerjaan ini membuat kedua kakinya terasa lelah dan kaku, bahkan kalau dipakai berjongkok saja terasa nyeri semua otot kedua kaki, akan tetapi lambat laun dia menjadi biasa dan kedudukan kaki itu diubah ubah, makin lama semakin sulit. Gurunya tidak memberitahu apa gunanya dan kelihatannya memang seperti siksaan. Namun dia yakin semua ini diperintahkan gurunya untuk kebaikan dirinya, untuk menggemblengnya.

Bahkan beberapa bulan terakhir ini, kalau dia memikul air atau memanggul kayu, dia diharuskan melalui lorong kecil yang dibuat gurunya, lorong dari batu-batu yang tidak rata dan licin bukan main. Beberapa kali dia terjatuh ketika melintasi lorong ini, sampai lambat laun dia mampu memikul air atau memanggul kayu melalui lorong itu sambil berlari! Dan yang terakhir ini, dia diharuskan memakai sepatu kayu yang amat berat!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan bersembunyi di dekat sumber air untuk mengintai dan menonton Lian Hwa dun Cong Bu berlatih silat. Tak lama kemudian, dua orang anak itu datang dan mereka lalu berlatih jurus jurus ilmu silat baru. Cin Han memperhatikan, akan tetapi dia tidak mengerti. Gerakan mereka itu baginya terlalu cepat dan terlalu sukar untuk diikuti, hanya dia melihat bahwa kaki mereka itu membentuk kedudukan kedudukan seperti yang pernah dilakukannya ketika dia menanak nasi dan mengipasi api.

Dia mengenal kedudukan-kedudukan dua kaki, akan tetapi tidak tahu bagaimana caranya bergerak memindah-mindahkan kaki dan mengubah-ngubah posisi seperti kedua orang anak itu. Juga kedua tangan mereka amat cepat, dan amat indah. Diam-diam dia mencatat beberapa gerakan dalam hatinya untuk ditirunya nanti.

Demikianlah, kini seringkah Cin Han bersembunyi dan mengintai latihan silat dua orang anak ini, sementara itu, gurunya memberinya pekerjaan yang semakin lama semakin berat. Bahkan gurunya menyerahkan sebuah ikat pinggang dari besi yang berat sekali, yang harus dipasang di balik bajunya setiap kali dia bekerja berat!

Demikianlah, dua tahun lagi lewat dengan cepatnya. Empat tahun sudah Cin Han tinggal di dalam kuil itu dan dia telah menjadi seorang pemuda remaja berusia empat belas tahun! Demikian tekun dia bekerja mentaati semua perintah suhunya sehingga digembleng selama empat tahun ini, tubuhnya telah memiliki kekuatan yang luar biasa sekali.

Sehingga tak seorangpun hwesio yang bekerja di dapur mampu menandinginya dalam hal kekuatan atau kecepatan memikul air atau memanggul kayu, membelah kayu dan semua pekerjaan dapur. Dan karena Cin Han amat rajin, tak pernah mengomel, juga bersikap hormat, sopan dan ramah, semua hwesio di kuil itu, termasuk Thian Cu Hwesio, suka kepadanya.

Kalau Cin Han sudah empat tahun berada di kuil itu, Cong Bu dan Lian Hwa sudah belajar silat sampai enam tahun lamanya! Kini Cong Bu telah menjadi seorang pemuda berusia lima belas tahun sedangkan Lian Hwa seorang gadis kecil berusia tiga belas tahun yang semakin manis, lincah dan lucu.

Semenjak pertemuan mereka pada pertama kali itu, hubungan antara Cin Han dan Lian Hwa semakin akrab, walaupun jarang sekali mereka berkesempatan untuk bicara berdua saja dan rasa saling suka antara mereka lebih banyak terpendam di dalam hati masing-masing.

Hubungan antara Cin Han dan Cong Bu biasa saja, dan pemuda putera komandan pasukan keamanan itu kini menjadi semakin congkak saja setelah merasa bahwa dia telah menguasai ilmu silat yang lumayan tingginya. Tentu saja dia memandang rendah kepada Cin Han yang diketahuinya hanya seorang kacung yang belum pernah belajar ilmu silat.

Walaupun diam-diam dia mengagumi kekuatan Cin Han kalau memikul air menggunakan pikulan kecil dan memanggul kayu besar dengan kaki memakai sepatu kayu yang berat akan tetapi dapat berlari cepat mendaki anak tangga itu. Namun baginya, semua itu tidak ada gunanya. Apa artinya tenaga besar kalau tidak dapat bersilat? Seperti gentung kosong berisi angin belaka, demikian dia pernah berkata kepada sumoinya....

Jilid sebelumnya,

Jilid selanjutnya,
DENDAM MEMBARA JILID 03
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.