Peninggalan Pusaka Keramat Jilid 10

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Peninggalan Pusaka Keramat Jilid 10
Sonny Ogawa

Peninggalan Pusaka Keramat Jilid 10

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

WAJAH perempuan setengah baya itu menyiratkan kepanikan. "Apa yang dikatakan Tuan memang tidak salah. Kedua bocah ini memang agak nakal. Lagipula pengetahuannya cetek. Punya mata tapi tidak bisa melihat Thai san. Akibatnya malah menimbulkan kesulitan bagi Tuan."

Berkata sampai di sini, dia mendelik kepada Sang Cin dan Sang Hao. "Kalian berdua, cepat minta maaf kepada Cianpwe ini!" bentak perempuan itu.

I Ki Hu tertawa lebar. "Tidak perlu sampai minta maaf. Cayhe hanya ingin bertemu dengan Lo Sang." Tangannya mengendur, kedua pemuda itu didorong ke depan dan tepat berdiri di samping kiri kanan perempuan setengah baya itu.

Mimik wajah perempuan itu tampak agak lega. "Tuan ingin bertemu dengan ayah. sebetulnya tidak menjadi masalah, tetapi ayah...."

"Apakah Lo Sang tidak bersedia menemui siapa pun?" tanya I Ki Hu.

Wajah perempuan itu langsung berubah menjadi murung. "Sebetulnya hal ini merupakan rahasia keluarga kami, dan kami tidak ingin orang luar mengetahuinya..."

"Piau moay (adik sepupu), masa kau akan menceritakan urusan ini kepada orang luar," tukas salah satu laki-laki setengah baya yang datang ber-sama perempuan itu.

Sepasang alis perempuan itu berkerut-kerut sekilas. "Kalau tidak mengatakan secara terus terang, apakah kalian bisa menahan keinginan Tuan tamu ini?" sahut perempun itu.

Kedua laki-laki setengah baya itu menatap kepada I Ki Hu sejenak, kemudian mereka menundukkan kepalanya. "Piau moay, bahkan namanya saja kau belum tahu, masa kau sudah ingin menceritakan urusan ini kepadanya?" kata salah satu laki-laki itu lagi.

I Ki Hu mendengar pembicaraan yang berlangsung di antara mereka. Diam-diam hatinya menjadi penasaran. Dia berpikir, kalau mendengar nada pembicaraan mereka, tampaknya telah terjadi sesuatu yang luar biasa dalam keluarga Sang. Sedangkan keluarga Sang ingin menutupi kejadian ini dari orang luar.

Setelah berpikir sejenak, I Ki Hu tahu bahwa ilmu kepandaian si Kakek berambut putih Sang Hao sangat tinggi. Apalagi anggota keluarga Sang semuanya mengerti ilmu silat. Bahkan ada beberapanya yang merupakan jago kelas satu. Seandainya ada seseorang yang bisa menimbulkan masalah di keluarga Sang, I Ki Hu benar-benar tidak sanggup membayangkan siapa orang itu.

"Entah siapa nama Tuan tamu yang mulia?" tanya perempuan itu.

"Cayhe she I, tinggal di lembah Gin Hua kok, wilayah barat."

Kedua laki-Iaki dan perempuan setengah baya itu terkejut setengah mati. Wajah mereka langsung pucat pasi. Bahkan tanpa disadari mereka menyurut mundur dua langkah. Apalagi Sang Cin dan Sang Hoat, wajah keduanya persis seperti mayat hidup.

I Ki Hu menyunggingkan seulas senyuman tipis. Setiap ada orang yang mendengar namanya langsung memperlihatkan perasaan terkejut, baginya merupakan sebuah kebanggaan. "Kalian bertiga tidak perlu takut. Kedatangan cayhe tidak mengandung maksud jahat," ujar I Ki Hu.

Mimik wajah si perempuan yang paling cepat pulih kembali. Tetapi masih memperlihatkan sedikit ketegangan. "Entah ada keperluan apa I sian sing mengun-jungi kami? Tadi kedua putra kami berbuat kesalahan, harap I sian sing dapat memaafkan..."

I Ki Hu tidak memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk menyelesaikan kata-katanya. Dia melirik sekilas kepada Sang Cin dan Sang Hoat. Wajah kedua pemuda itu tampak semakin tidak enak dilihat. "Orang yang tidak tahu, tidak bersalah. Kalian tidak perlu khawatir."

Perempuan setengah baya itu memang putri si kakek berambut putih Sang Hao. Namanya Sang Ling. Begitu mendengar bahwa orang yang ada di hadapannya ternyata si Raja Iblis Gin leng hiat dang I Ki Hu, rasa terkejutnya benar-benar tidak terkirakan. Peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya. Dia benar-benar mengkhawatirkan keselamatan kedua putrinya. la juga tahu watak I Ki Hu yang senang orang bersikap rendah di depan-nya, maka dari itu cepat-cepat dia meminta maaf.

Setelah mendengar jawaban I Ki Hu, hatinya baru merasa lega. "Seandainya dari tadi kami tahu bahwa tamu yang berkunjung adalah I sian sing, seharusnya kami segera mengadakan penyambutan, tetapi sayangnya.... keluarga Sang sedang tertimpa musibah...."

"Sebetulnya apa yang terjadi? Dapatkah kau mengatakannya kepada cayhe?"

"Ayah... Sang Hao sudah meninggal beberapa hari yang lalu."

Mendengar keterangan Sang Ling, tanpa dapat ditahan lagi bibir I Ki Hu mengeluarkan seruan terkejut. Seandainya orang lain yang mendengar berita itu, biarpun terkejut tetapi tidak seperti keadaan I Ki Hu saat itu. Mereka pasti bisa menduganya karena usia Sang Hao memang sudah lanjut. Biarpun ilmu kepandaiannya tinggi sekali, setiap manusia pasti akan mengalami kematian.

Tetapi bagi I Ki Hu lain. Sebab dari semua jejak yang telah berhasil ditelus ya, dia sudah men-duga bahwa telah terjadi senate dalam keluarga Sang. Karena itu pula, ketika mendengar cerita Sang Ling tentang kematian ayahnya, ia sudah membayangkan bahwa orang tua itu mati tidak wajar. Pasti ada sesuatu yang luar biasa.

Dan yang membuat I Ki Hu terkejut justru karena kepandaian Sang Hao yang sudah tinggi sekali. Bukankah aneh apabila seseorang yang ilmunya demikian tinggi bisa mati secara mendadak tanpa mengalami penyakit apa pun? Bukankah aneh apabila orang yang kepandaiannya demikian tinggi bisa mati tidak wajar?

"Bagaimana Lo Sang menemui kematiunnya? Dapatkah kau menceritakannya?" tanya I Ki Hu setelah perasaan terkejutnya reda.

Sang Ling melirik sekilas kepada I Ki Hu. Sepertinya dia merasa heran mengapa orang itu bisa menduga ada yang tidak wajar pada kematian ayahnya. Dia menarik nafas panjang. "Sebetulnya memalukan kalau cerita ini ter-sebar di luaran, ayah... mati karena terkejut."

I Ki Hu yang mendengarnya benar-benar merasa di luar dugaan. Dia malah mengira pende-ngarannya yang salah. "Mati terkejut?" Diam-diam hatinya berpikir, entah urusan apa di dunia ini yang dapat membuat si Kakek berambut putih Sang Hao demikian terkejutnya sehingga menemui kematian.

"Tidak salah," sahut Sang Ling. "Meskipun saat itu ayah tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun, tetapi kami melihat dengan jeias mimik wajahnya yang menyorotkan perasaan terkejut. Kemudian langsung mati. Di sini bukan tempat bicara yang leluasa, I sian sing. Bagaimana kalau I sian sing dan I hu jin mampir sebentar di tempat kediaman kami?"

Sebetulnya kedatangan I Ki Hu mempunyai tujuan tersendiri. Tetapi setelah mendengar berita dari Sang Ling bahwa ayahnya mati karena terkejut, timbullah perasaan ingin tahu di dalam hatinya. Malah dia mengenyampingkan dulu urusannya sendiri.

"Baik!" Dengan membimbing Tao Ling, dia mengikuti di belakang Sang Ling dan kedua lelaki tadi menuju gedung kediaman keluarga Sang.

Setelah berjalan kurang lebih setengah li, tam-pak sebidang tanah yang luas sekali. Di atasnya ada bangunan yang besar dengan atap merah dan tembok yang tinggi. Mereka masuk melalui pintu gerbang besar yang terbuat dari besi. Di dalamnya berjejer-jejer rumah dengan ukuran yang berbeda. Mereka menuju gedung yang terletak di tengah-tengah. Bentuknya paling besar dan berloteng.

Begitu masuk ke dalamnya, mereka langsung berhadapan dengan sebuah ruang tamu. Tuan rumah Sang Ling segera mempersilakan para tamunya duduk.."Tentunya I sian sing merasa heran mengapa ayah bisa mati terkejut, bukan?"

"Ini merupakan berita teraneh yang pernah kudengar." Dia memalingkan kepalanya kepada Tao Ling. "Hu-jin, benar tidak?"

Tao Ling menemui berbagai kejadian yang tidak terduga, belakangan dia malah menjadi istri I Ki Hu. Sebetulnya tidak ada hal apa pun yang membangkitkan minatnya lagi. Tetapi mendengar berita kematian Sang Hao, sedikit banyaknya perasaan ingin tahunya tergugah juga. Karena itu dia pun menganggukkan kepalanya. "Benar-benar kejadian yang aneh," gumam Tao Ling.

"Kalau mempertimbangkan biang bencana ini, seharusnya kesalahan ditujukan kepada Kuan Hoang Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan!" ucap Sang Ling.

I Ki Hu bertambah bingung.."Nama ketiga orang ini di dunia kangouw memang cukup terkenal, tetapi tidak mungkin sampai Lo Sang mati terkejut karenanya," gumam I Ki Hu.

"Di sinilah letak keanehan kejadian ini. Kalau ingin cerita yang lebih jelas, kami harus memulainya dari setengah bulan yang lalu. Malam itu, tiba-tiba ada seseorang yang tubuhnya penuh berlumur darah menerjang masuk ke tempat tinggal kami ini. Ketika sampai di dalam, nafasnya tinggal satu-satu."

"Siapa orang itu?" tanya I Ki Hu.

"Orang itu kakak misan kami yang bernama Sang Cu Ce."

Mendengar Sang Ling menyebut nama itu, sepasang alis I Ki Hu tampak menjungkit ke atas. Sang Ling pun melanjutkan penuturannya.

"Pada saat itu, seperti biasanya setiap bulan sekali seluruh anggota keluarga Sang pasti berkumpul. Ayah juga hadir di tempat. Wajah yang lainnya langsung pucat mengetahui siapa yang menerjang masuk itu. Ayah segera menanyainya. Siapa musuh yang melukainya sedemikian rupa. Tetapi Sang Cu Ce hanya sempat mengucapkan beberapa patah kata, suaranya pun lirih sekali.

"Wajah ayah langsung berubah hebat. Tampaknya ayah terkejut sekali mendengar kata-kata kakak misan kami itu. Sang Cu Ce pun menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah mengucapkan beberapa patah kata tadi. Sikap ayah pun berubah. Tanpa mengucapkan apa-apa, orang tua itu langsung masuk ke kamarnya. Pertemuan kali itu pun terpaksa dibubarkan."

"Setelah kejadian itu, apakah ayah kalian tidak mengatakan apa yang diucapkan oleh Sang Cu Ce menjelang kematiannya?"

Sang Ling menggelengkan kepalanya. "Ternyata I sian sing memang cerdas sekali. Ayah memang tidak mengungkitnya sama sekali, walaupun kami tahu, ketika Sang Cu Ce mengucapkan beberapa patah kata itu, suaranya lirih sekali. Orang lain pasti tidak bisa mendengarnya. Tetapi jarak ayah dengannya begitu dekat, pasti ayah bisa mendengarnya. Tetapi setelah kejadian itu, ternyata ayah pun tidak mengatakannya kepada kami," ujar Sang Ling menjelaskan.

I Ki Hu menegakkan tubuhnya sedikit. Bibirnya mengembangkan senyuman. "Hal ini justru membuat urusannya lebih aneh lagi," katanya.

"Tadinya kami mengira ada musuh tangguh yang akan menyatroni keluarga Sang. Karena itu, meskipun ayah tidak berpesan apa-apa, kami sendiri segera mengadakan persiapan untuk menjaga segala kemungkinan..."

Berkata sampai di sini, Sang Ling menghentikan ceritanya sejenak. Seakan dia sedang merenungi kembali kejadian saat itu. Kemudian ia baru meneruskan kembali.

"Tetapi beberapa hari telah berlalu, ternyata tidak ada kejadian apa pun dalam keluarga kami. Lima hari berlalu lagi, tiba-tiba kami kedatangan tamu. Tetapi yang datang ternyata Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan. Kuan Hong Siau menjelaskan maksud kedatangannya. Kepada ayah ia mengatakan bahvva dia mengharapkan bantuan ayah untuk membebaskan jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan. Tanpa curiga apa-apa, ayah langsung menyetujuinya. Ayah segera menghampiri pasangan suami istri Pat Kua kiam, tetapi setelah memperhatikan sejenak, tiba-tiba wajah ayah berubah hebat. Sesaat kemudian orang tua itu langsung terkulai di atas tanah. Ketika kami menghampirinya, ternyata ayah tidak tertolong lagi."

Setelah mendengar penuturan Sang Ling, I Ki Hu kembali mengembangkan seulas senyuman. "Sang kouwnio menganggap kematian ayahniu disebabkan oleh Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan. Bukankah itu namanya menuduh orang sembarangan? Lebih baik kalian keluarkan Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan. Kedatanganku ke mari justru karena ingin bertemu dengan mereka."

Melihat I Ki Hu dapat menduga semuanya dengan tepat. Sang Ling dan yang lainnya terkejut setengah mati. Diam-diam mereka juga merasa kagum kepada si raja iblis ini. "Kami hanya menyuruh beberapa anggota keluarga kami mengawasi mereka, sama sekali tidak bermaksud mencelakai mereka."

"Jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan masih belum terbuka. Ada baiknya kita menengok mereka sekarang," kata I Ki Hu kembali.

Wajah Sang Ling memperlihatkan kebimbangan. Tetapi I Ki Hu tidak menunggu persetujuan Sang Ling, ia langsung mengajak Tao Ling berdiri. Sang Ling maklum si raja iblis ini pantang dilanggar kemauannya.

"Boleh juga. Tetapi.... ketika itu kami melihat ayah kami tiba-tiba mati, karena emosi terjadilah sedikit perselisihan yang mengakibatkan perkelahian antara kami dengan Kuan Hong Siau. Sekarang dia masih menderita luka-Iuka. Entah ada keperluan apa I sian sing mencarinya?"

"Urusan ini aku juga sudah menduganya. Tapi tujuanku sebenarnya ingin menanyakan sedikit persoalan kepada pasangan suami istri Lie Yuan. Pokoknya kalian mengantarkan kami menemui mereka saja."

Sang Ling tidak berani membantah. Dia mengajak I Ki Hu dan Tao Ling keluar dari ruangan besar itu, mereka menyusuri sebuah koridor panjang yang menembus ke sebidang tanah yang luas. Di atas sebidang tanah itu berdiri sebuah bangunan yang bentuknya kotak seperti penjara. Bahannya terbuat dari batu, tingginya kurang lebih tiga depa. Ketika tiba di depan bangunan itu, Sang Ling bertepuk tangan tiga kali.

Tampak empat laki-laki bertubuh kekar muncul dari atap bangunan itu. Sang Ling memberi isyarat dengan gerakan tangan. Keempat orang itu menyembunyikan diri lagi. Tidak lama kemudian terdengar suara yang bergemuruh. Pintu batu bangunan itu pun dikerek dengan seutas rantai yang tebal dan menguak terbuka.

Sang Ling menggerakkan tangannya ke samping. "I sian sing, I hu-jin, silakan masuk!"

I Ki Hu melongokkan kepalanya ke dalam. Tampak pintu batu itu tebal sekali. Sedangkan rantai besi yang mengereknya setebal lengan manusia dewasa. Tampaknya tidak ada jalan lain lagi kecuali pintu batu itu. Diam-diam dia berpikir dalam hati, apabila ada orang yang terkurung di dalamnya, benar-benar sulit untuk meloloskan diri. Sembari berpikir, dia melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun.

Keadaan di dalamnya remang-remang. Di tembok batu hanya tergantung sebuah penerang yang redup. Namun ilmu kepandaian I Ki Hu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Biarpun tempat yang gelap sekali sehingga jari tangan sendiri pun tidak terlihat, dia masih bisa melihat benda di sekitarnya. Meskipun keadaan di dalam ruangan bangunan itu hanya remang-remang, tidak menimbulkan kesulitan sedikit pun bagi I Ki Hu.

Dia mendongakkan kepalanya, tampak tinggi bangunan itu mencapai tiga depa. Hanya satu tingkat. Di langit-langit ruangan terdapat lubang-lubang kecil sebanyak belasan buah. Ruangan itu sendiri tampak jauh lebih kecil dari bangunan luarnya. Hal ini tidak perlu diherankan, karena temboknya tebal sekali. Di atas lantai terbaring sepasang pria dan wanita, sedangkan di sampingnya berdiri bersandar seorang kakek tua, wajahnya menyiratkan kemarahan. Begitu melihat ada orang yang masuk ke dalam, dia langsung memaki.

"Penjahat keluarga Sang, sebetulnya untuk apa kalian mengurung kami di sini?"

I Ki Hu melihat tampang orang tua itu gagah sekali, tetapi pakaiannya penuh dengan bercak darah. Dari hal ini saja sudah dapat dibayangkan bahwa sebelum terkurung di ruangan ini, pasti mengalami pertarungan yang sengit..Melihat sekilas saja, I Ki Hu sudah tahu bahwa orang tua itu adalah seorang pendekar tua yang namanya sudah terkenal di wilayah Tung cuan, Kuan Hong Siau. Dan sepasang pria dan wanita yang terbaring tidak bergerak di atas lantai sudah pasti pasangan suami istri Lie Yuan.

I Ki Hu tersenyum kepada Kuan Hong Siau. "Cayhe bukan she...."

Belum lagi kata-kata 'Sang' keluar dari mulutnya, tiba-tiba dia mendengar seruan terkejut dari bibir Tao Ling. I Ki Hu juga merasa pemandangan di hadapan matanya agak menggelap. Tetapi perasaan hati laki-laki ini memang sensitif sekali. Dalam waktu sekejapan mata, dia langsung tahu apa yang telah terjadi. Tanpa membalikkan tubuhnya, dia berjungkir balik di udara. Sesampainya di depan pintu, dia segera menghantamkan sebuah pukulan.

Tenaga dalam I Ki Hu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Pukulannya tadi paling tidak mengandung kekuatan sebesar ribuan kati. Setelah menghantamkan pukulannya terdengarlah suara Blam yang berat. Secepat kilat I Ki Hu membalikkan tubuhnya. Ternyata dugaannya memang tidak salah sedikit pun. Ketika ia dan Tao Ling masuk ke dalam ruangan itu tanpa pertimbangan apa-apa. Ternyata anggota keluarga Sang satu pun tidak ada yang mengikutinya. Malah mereka segera merapatkan kembali pintu batu yang tebal itu.

I Ki Hu dan Tao Ling pun terkurung di dalam ruangan batu itu bersama Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan. Seumur hidupnya, I Ki Hu belum pernah menemui kerugian sebesar ini. Apalagi dulu ketika namanya masih menjadi buah bibir setiap umat persilatan. Ternyata tanpa terduga-duga dia bisa terkurung di dalam ruangan itu. Kemarahannya jangan dikatakan lagi. Benar-benar sulit menguraikan bagaimana perasaan hatinya saat itu.

Saking marahnya, I Ki Hu malah memperdengarkan suara tawa terbahak-bahak. Suara tawanya bergema di dalam ruangan batu. Tao Ling yang berdiri di sampingnya segera merasakan gendang telinganya seperti hampir pecah. Darahnya meluap ke atas, berkali-kali dia menggoyang-goyangkan tangannya. I Ki Hu mengeluarkan suara tawa lagi sebanyak tiga kali, baru berhenti. Dia menolehkan kepalanya. Tampak jenggot Kuan Hong Siau yang putih sudah penuh dengan noda darah.

Hal ini membuktikan bahwa luka yang diderita orang tua itu tadinya sudah cukup parah. Dia tidak tahan mendengar suara tawa I Ki Hu yang dipancarkan dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Lukanya pun semakin parah. Darah segar muncrat dari mulutnya. Sejenak kemudian dia baru bisa mempertahankan diri. Dia memandang I Ki Hu lekat-lekat.

"Tenaga dalam saudara benar-benar jarang ditemukan tandingannya di dunia ini. Tetapi setelah terkurung di dalam ruangan batu ini, tentu tidak mudah lagi meloloskan diri," katanya dengan nada dingin.

I Ki Hu tertawa terkekeh-kekeh. Nadanya tajam sekali. "Kalau aku tidak membasmi seluruh keluarga Sang sampai habis-habisan, aku bersumpah tidak akan menjadi manusia."

"Bagus sekali. Siapa tuan?" tanya Kakek Kuan.

I Ki Hu tidak menjawab. Tubuhnya berkelebat. Tahu-tahu dia sudah sampai di depan tembok batu. Sepasang tangannya diangkat, dengan gerakan merayap dia naik ke atas dan sekejap kemudian dia sudah mencapai langit-langit ruangan itu. Tubuhnya tegak lurus seperti seekor cicak. Gerakannya barusan sudah menunjukkan sampai di mana ketinggian kepandaian yang dimilikinya. Kuan Hong Siau sampai menarik nafas panjang melihatnya.

Di langit-langit ruangan itu terdapat banyak lubang kecil, selain itu satu pun tidak ada jendela. Kegunaan lubang-lubang kecil itu tentu untuk pertukaran hawa dalam ruangan. Tubuh I Ki Hu tegak lurus. Tangannya menjulur ke atas dan mengait salah satu lubang kecil di atas langit-langit. Tapi belum sempat dia melongokkan lehernya untuk mengintip di lubang yang lain, tiba-tiba terdengar kumandang suara dentingan senjata tajam.

I Ki Hu bukan tokoh sembarangan. Begitu mendengar dentingan senjata tajam, dia langsung tahu bahwa ada orang yang menghunus pedang atau golok untuk menebas jari tangannya. Cepat-cepat dia menyurutkan tangannya. Telapak tangan kirinya menjulur ke depan, Plak! Tangannya langsung menempel di langit-langit ruangan. Tenaga dalamnya dialihkan, langsung terpancar daya isap yang kuat sehingga tubuhnya bergelantungan di atas. Tangan kanannya pun ditarik secepat kilat.

Baru saja tangannya menyurut ke belakang, terdengarlah suara Trang! seperti ada senjata tajam yang dibacokkan ke bagian tembok di balik langit-langit ruangan. Apabila ia terlambat sedikit saja menyurutkan jari tangannya, tentu saat itu telunjuknya sudah tertebas putus. Dari atas langit-langit berkumandang suara seseorang.

"I sian sing, namamu di dunia bu-lim tidak begitu harum, tindakan ini kami lakukan karena terpaksa. Harap I sian sing sudi memaafkan!"

I Ki Hu tertawa dingin. "Kalian kira ruangan batu ini sanggup mengurung aku selamanya?"

Pada saat itu, Sang Ling dan tokoh-tokoh berilmu tinggi lainnya dari keluarga Sang sudah berkumpul di atap bangunan. Ketika mendengar nada suara I Ki Hu yang bukan terpancar dari ruangan bawah, hati mereka merasa heran. Mungkinkah ilmu orang ini demikian tinggi sehingga bisa terbang? Kalau tidak mengapa suaranya bisa terpancar dari atas?

Mereka tidak tahu bahwa tenaga dalam I Ki Hu memang sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Dia dapat mengedarkan hawa murninya sesuka hati. Karena itu dengan sebelah tangan bisa menempel di langit-langit ruangan. Tubuhnya bisa menggelantung di udara.

Kemudian terdengar lagi seseorang berkata. "Moay cu, buat apa banyak bicara dengannya. Dia toh sesumbar kehebatannya sendiri, kita lihat saja bagaimana dia bisa meloloskan diri dari ruangan itu."

I Ki Hu masih terus tertawa dingin. Telapak tangannya bergeser sedikit, dia mengintip dari sebuah lubang. "Kalau aku sudah keluar dari ruangan ini, kalian baru tahu rasa."

Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar melihat wajah I Ki Hu tampak dari celah lubang angin. Dia segera mengeluarkan sebilah pisau kecil kemudian dihunjamkannya melalui lubang itu. Dalam pikirannya, I Ki Hu pasti tidak sempat menghindar. Walaupun belum tentu bisa membunuh si Raja Iblis itu, setidaknya dapat membuat wajahnya menjadi cacat.

Setelah kematian Sang Hao, di dalam keluarga Sang memang masih ada beberapa orang tokoh yang ilmunya cukup tinggi. Cukupanlah apabila ingin menjual lagak di dunia kangouw. Tetapi untuk memahami sampai di mana tingginya kepandaian I Ki Hu, tentu masih jauh sekali. Begitu pisau kecil tadi menyusup ke dalam lubang, tiba-tiba I Ki Hu menyurutkan kepalanya dan jari tangannya menelusup ke dalam celah lalu menjepit pisau itu kuat-kuat.

Sekejap kemudian terdengarlah suara jeritan histeris laki-laki itu. Disusul dengan suara Bluk! seperti benda berat yang jatuh. I Ki Hu pun tertawa dingin. "Sudah tahu kehebatanku?" katanya sinis.

Rupanya ketika jari tangan I Ki Hu sudah berhasil menjepit pisau tadi, dia segera mengerahkan tenaga dalamnya ke ujung jari. Pisau itu pun terpental membalik dan menghunjam ke orang itu sendiri. Benar-benar senjata makan tuan. Kali ini terdengarlah suara bising berkumandang dari atas. Rupanya mereka terkejut sekali melihat kelihaian I Ki Hu.

"Cepat pergi! Dia toh sudah terkurung di dalam bangunan ini. Cepat atau lambat dia pasti mati kelaparan," seru seseorang dari keluarga Sang.

Orang-orang itu bergegas meninggalkan atap bangunan. Mereka tidak memperdulikan I Ki Hu lagi. Tangan I Ki Hu yang sebelah menelusup ke dalam saku. Kemudian menyusup kembali ke dalam celah lubang angin lalu mengibas. Saat itu juga terdengar suara pekik kesakitan, juga suara Bak! Buk! Bak! Buk! seperti benda jatuh. Rupanya barusan dia menyambitkan sejumlah senjata rahasia dan pasti ada beberapa orang yang menjadi korban. I Ki Hu tersenyum puas, tubuhnya pun melayang turun lagi ke bawah.

Tampak Kuan Hong Siau memandanginya sambil menarik nafas panjang. "Kepandaian saudara seperti dewa," kata Kakek Kuan.

"Apakah kau bisa menghitung berapa orang yang menjadi korban senjata rahasiaku tadi?" tanya I Ki Hu dengan tawa datar.

Kuan Hong Siau ikut tertawa. "Yang jatuh dari atas saja ada sembilan orang, mungkin ada yang mati sebelum sempat melompat turun," jawabnya.

I Ki Hu merasa bangga sekali, dia meremas-remas tangannya sambil tertawa senang.

"Tampang saudara gagah sekali. Ilmu kepandaian juga mengejutkan. Apalagi orang-orang dari keluarga Sang tadi memanggil Anda I sian sing. Jangan-jangan saudara ini yang mendapat julukan Gin-leng hiat-ciang I Ki Hu."

"Tidak salah. Sahabat Kuan, tidak disangka kita bisa bertemu di tempat seperti ini, bukan?"

"Memang benar-benar tidak disangka," ucap Kuan Hong Siau dengan tawa getir.

Kuan Hong Siau adalah seorang pendekar dari golongan lurus dan berjiwa besar. la paling membenci segala macam kejahatan. Sebetulnya bertolak belakang dengan I Ki Hu. Tetapi justru tidak terduga-duga mereka bisa terkurung dalam ruangan yang sama.

"Sahabat Kuan, mengapa pasangan suami istri Lie Yuan bisa tertotok jalan darahnya? Dan sebetulnya bagaimana cara Sang Hao menemui kematiannya? Dapatkah kau menjelaskannya dengan terperinci?" tanya I Ki Hu.

"Baik," sahut Kuan Hong Siau. Dia langsung menceritakan kedua peristiwa yang disaksikannya dengan mata kepala sendiri.

I Ki Hu mendengarkan dengan penuh perhatian. Kenyataannya apa yang ia dengar dari Kuan Hong Siau tidak banyak bedanya dengan cerita yang pernah didengarnya dari orang lain. I Ki Hu merenung sejenak setelah cerita Kuan Hong Siau selesai. "Kalau begitu, Lo Sang secara tidak langsung dibunuh oleh perasaan terkejutnya ketika mengetahui siapa yang menotok jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan?" tanyanya kemudian.

"Cayhe juga mempunyai pendapat yang sama. Tempo hari ketika pertama kali Sang Cu Ce melihat totokan yang terdapat di tubuh pasangan suami istri Lie Yuan, wajahnya langsung berubah hebat. Tetapi rasa terkejut yang diperlihatkan oleh Sang Cu Ce berbeda maknanya dengan rasa terkejut yang diaiami Sang Hao. Dalam anggapan Sang Cu Ce, ilmu totokan keluarga Sang terkenal di dunia bu lim. Tetapi kenyataannya dia tidak tahu jalan darah mana di bagian tubuh pasangan suami istri Lie Yuan yang tertotok. Belum tentu dia tahu siapa orang yang melakukannya. Bagaimana menurut pendapat saudara?"

"Betul. Tetapi sekali lihat saja Lo Sang sudah mengenali siapa pelakunya. Karena itu, saking terkejutnya jantungnya jadi putus seketika. Tampaknya sahabat yang melakukannya patut bangga juga karenanya. Coba aku ingin melihatnya, siapa tahu aku akan mengikuti jejak Lo Sang?" kata I Ki Hu dengan maksud bergurau.

Sembari berkata, bibirnya menyunggingkan senyuman. Dia berjalan menghampiri pasangan suami istri Lie Yuan yang terbaring di lantai. Kemudian dia membungkukkan tubuhnya memeriksa dengan teliti. Padahal senyuman yang menghiasi bibirnya wajar sekali, namun setelah memperhatikan keadaan pasangan suami istri Lie Yuan, senyumannya langsung terpaku. Mimik wajahnya jadi aneh sekali. Mirip seseorang yang sedang tersenyum tetapi tiba-tiba tertotok jalan darahnya sehingga tetap seperti semula tapi kaku.

Kuan Hong Siau yang melihat keadaan itu jadi bingung. Dia mengantarkan pasangan suami istri Lie Yuan ke Si Cuan ini sebetulnya dengan niat baik. Karena dia sendiri tidak sanggup membebaskan jalan darah kedua orang itu Begitu sampai di kediaman keluarga Sang, si Kakek berambut putih yang melihat keadaan pasangan suami istri Lie Yuan langsung mati terkejut.

Hal ini menimbulkan kemarahan anggota keluarga Sang lainnya. Maka mereka pun terlibat pertarungan yang sengit, karena seorang diri meng-hadapi begitu banyak anggota keluarga Sang yang semuanya berilmu cukup tinggi. Dirinya sampai terluka di sana sini, Akhirnya mereka dikurung dalam ruangan batu ini.

Hati Kakek Kuan memang merasa heran. Mengapa tokoh seperti Sang Hao yang menguasai kepandaian tinggi dan namanya sudah demikian terkenal di dunia kang ouw, juga mempunyai pe-ngetahuan yang luas bisa mati terkejut begitu melihat totokan di tubuh pasangan suami istri lie Yuan. Sekarang melihat mimik wajah I Ki Hu, dia semakin kebingungan. Diam-diam hatinya sadar bahwa I Ki Hu pasti sudah mengetahui siapa orangnya yang menotok jalan darah di tubuh pasangan suami istri Lie Yuan.

Lagipula nama orang penotok jalan darah itu bisa membuat Gin-leng hiat-ciang begitu terkejut sehingga wajahnya pucat pasi. Entah siapa tokoh yang misterius itu? Keheranan di hati Kuan Hong Siau jangan ditanyakan lagi. Dia juga tidak mengerti apa sebenarnya yang ada di balik semua ini.

Tampak I Ki Hu merenung sekian lama, senyuman di wajahnya baru dikembangkan kembali. Tetapi tam-paknya terlalu dipaksakan. Sepasang tangannya menyilang di depan dada. Di dalam ruangan batu itu dia berjalan mondar mandir, seakan-akan sedang memikirkan persoalan yang amat rumit. Sampai lama sekali masih belum terdengar I Ki Hu mengucapkan sepatah kata pun.

"Apakah I sian sing sudah mengenali siapa orangnya yang menotok jalan darah mereka?" tanya Kuan Hong Siau yang sudah tidak tahan lagi menahan rasa ingin tahunya.

I Ki Hu hanya mendehem satu kali sebagai jawaban. "Kalau begitu, tentu I sian sing dapat membebaskan totokan mereka, bukan?" tanya Kakek Kuan kembali.

Mendengar pertanyaan itu, langkah kaki I Ki Hu langsung terhenti. Sepasang matanya menyorot-kan sinar yang dingin. Dari alisnya terpancar hawa pembunuhan yang tebal. la menatap Kuan Hong Siau lekat-lekat.

Mendapat tatapan sedemikian rupa, tanpa disadari tubuh Kuan Hong Siau bergetar hebat.

"Sahabat Kuan, kau toh tidak mungkin keluar lagi dari ruangan batu ini. Untuk apa kau masih memikirkan hidup?" ucap I Ki Hu dengan nada suara dingin.

Seumur hidupnya, Kuan Hong Siau tidak pernah meninggalkan dunia bu Lim. Terhadap ucapan I Ki Hu barusan, ia mengerti bahwa dirinya tidak akan luput dari kematian. Tetapi hatinya justru merasa heran mengapa tiba-tiba saja timbul niat jahat dalam hati I Ki Hu kepadanya? Apalagi barusan sikap yang diperlihatkan si Raja Ibiis itu baik-baik saja. Tidak terkandung kesan akan mencelakainya.

"Orang she Kuan itu sudah lama hidup di dunia. Kematian bukan suatu hal yang menakutkan. Tetapi cayhe justru ingin tahu mengapa tiba-tiba timbul keinginan membunuh di hati saudara?" tanya Kuan Hong Siau dengan tawa getir.

"Kau memang tidak malu disebut laki-laki sejati. Terus terang saja aku katakan kepadamu bahwa aku tidak sanggup membebaskan jalan darah kedua orang itu. Tetapi aku justru tidak ingin hal ini diketahui orang-orang bu lim. Jangan sampai ada yang tahu bahwa dengan kepandaian yang kumiliki, ternyata masih ada hal yang tidak sanggup kulakukan. Karena itu pula, aku tidak akan membiarkan ada mulut yang hidup."

Hati Kuan Hong Siau tercekat. Diam-diam dia berpikir dalam hati. Nama busuk si Raja Ibiis itu ternyata bukan nama kosong. Hanya karena alasan yang sederhana, dia tidak segan melakukan pembunuhan. Setelah termangu-mangu sejenak, Kuan Hong Siau tertawa sumbang. "Kalau begitu, harap I sian sing turun tangan saja!" ucap Kakek Kuan.

Tiba-tiba tubuh I Ki Hu berkelebat ke depan. Lengan bajunya mengibas tepat di jalan darah terpenting bagian dada Kuan Hong Siau. Orang tua itu juga sadar dirinya sudah terluka parah, percuma saja menghindar. Karena itu dia memejamkan matanya dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Begitu jalan darah di dadanya terkena kibasan lengan baju I Ki Hu, orang tua itu pun terkulai jatuh dan mati seketika.

I Ki Hu tertawa seram. Kemudian dia berjalan ke arah pasangan suami istri Lie Yuan. Langkahnya perlahan tapi pasti. Sejak masuk ke dalam ruangan batu, kecuali seruan terkejut tadi, Tao Ling tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ketika ia melihat I Ki Hu menghampiri pasangan suami istri Lie Yuan, hatinya langsung tercekat. Kedua orang itu, bagaimana pun merupakan orang tua Lie Cun Ju. Entah di mana sekarang Lie Cun Ju berada.

Tetapi selama Tao Ling masih hidup, ia tidak ingin bertemu lagi dengan pemuda itu. Sekarang kedua orang tua Lie Cun Ju sedang menghadapi kesulitan. Tentu saja dia tidak bisa berdiam diri tanpa memberikan pertolongan apa-apa. "Hu kun, tunggu dulu!" seru Tao Ling tanpa sadar. I Ki Hu menolehkan kepalanya.

"Apakah Hu-jin ingin memintakan pengampunan bagi kedua orang ini?" katanya. Tao Ling maju selangkah.

"Sekarang jalan darah mereka sudah tertotok, mengapa Hu kun masih ingin menurunkan tangan jahat?" ujar Tao Ling.

I Ki Hu tertawa terbahak-bahak. "Hu-jin tidak tahu, orang yang menotok jalan darah mereka mempunyai hati yang keji sekali. Bahkan jauh lebih keji daripadaku. Seandainya mereka dapat berbicara, tentu mereka memilih mati daripada tersiksa sedemikian rupa. Apabila aku turunkan tangan jahat kepada mereka sama halnya aku melepaskan mereka dari kesengsaraan. Di alam baka, arvvah mereka malah akan berterima kasih atas budiku ini."

Tao Ling terdiam mendengar kata-katanya. I Ki Hu melanjutkan kemhali. "Tetapi aku harus membebaskan dulu jalan darah mereka agar bisa menjawab beberapa pertanyaanku."

Tao Ling terkejut sekali. "Aih... Bukankah tadi kau mengatakan bahwa kau tidak sanggup membebaskan jalan darah mereka?"

"Aku memang tidak bisa membebaskan jalan darah mereka. Tetapi aku bisa menggunakan semacam cara untuk mengedarkan hawa murni tubuh mereka, lalu memutuskan seluruh urat nadi dalam tubuh. Dengan demikian totokan di bagian mana pun bisa lancar kembali?" tukas I Ki Hu.

Tao Ling memang gadis yang cerdas. Dia langsung memahami maksud I Ki Hu. "Tetapi.... dengan cara seperti itu, mereka toh bisa langsung mati."

"Betul. Kalau seluruh urat nadi dalam tubuh sudah putus, mana mungkin seseorang bisa mempertahankan hidupnya. Tetapi aku masih mempunyai semacam cara yang bisa menunda kematian mereka sesaat sehingga ada waktu untuk menjawab pertanyaan yang akan aku ajukan."

Tao Ling merenung sejenak. "Hu-kun, bolehkah kau pandang aku dan menunda sebentar keinginanmu itu?" ucap Tao Ling.

"Hu jin, kau tidak ingin melihat kematian kedua orang ini, apakah karena Lie Cun Ju?" tanya I Ki Hu tajam.

Mengetahui isi hatinya dapat terbaca oleh I Ki Hu, hati Tao Ling tercekat bukan main. "Bu... bukan." Tao Ling menjawab dengan panik.

I Ki Hu tidak memperdulikannya. "Apabila kedua orang ini tidak menjelaskan riwayat hidup Lie Cun Ju, seumur hidup aku tidak akan tenang. Aku boleh gagal, membunuh sepuluh orang tetapi tidak boleh membiarkan seorang musuh yaitu Lie Cun Ju lolos. Tetapi apabila mereka berdua mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa Lie Cun Ju memang anak kandung mereka, maka harapan untuk hidup bagi pemuda itu masih ada."

Pikiran Tao Ling jadi ruwet mendengar kata-kata I Ki Hu. Dia tidak ingin pasangan suami istri Lie Yuan mati begitu saja, justru karena memikirkan Lie Cun Ju. Tetapi sekarang, setelah mendengar nada perkataan I Ki Hu, dia sadar bahwa Lie Cun Ju sudah pasti akan dibunuhnya apabila kedua orang ini tidak mati.

Tao Ling melirik sekilas kepada pasangan suami istri Lie Yuan. Wajah mereka pucat pasi, tubuh keduanya kurus kering. Ditilik dari keadaan ini saja sudah membuktikan bahwa mereka tidak akan bertahan lama hidup di dunia ini lagi. Kalau dibandingkan dengan Lie Cun Ju yang masih muda dan sehat, tentu saja Tao Ling memilih yang terakhir. Karena itu dia hanya dapat menarik nafas panjang mengingat nasib yang akan dialami kedua orang itu. "Terserah kau saja!" kata Tao Ling singkat.

I Ki Hu tertawa. Dia membungkukkan tubuhnya untuk mengangkat Lie Yuan dan disandarkan-nya ke tembok ruangan. Kemudian tangan kanannya secepat kilat bergerak menepuk ubun-ubun kepala laki-laki itu. Ubun-ubun kepala merupakan pusat urat nadi yang berhubungan dengan seluruh bagian tubuh. Begitu mendapat tepukan oleh tangan I Ki Hu, seluruh tubuh Lie Yuan langsung bergetar.

Kemudian tampak I Ki Hu menepuk lagi salah satu jalan darah di punggung laki-laki tersebut. Tampak rona wajah Lie Yuan mulai menyiratkan kemerahan. Kemudian Hoakkkk! Darah segar pun bermuncratan dari mulutnya. Tangan I Ki Hu tetap menekan jalan darah di punggung Lie Yuan.

"Sahabat Lie, biar bagaimana kau tetap akan mati. Cepat katakan apakah Lie Cun Ju anak kandungmu sendiri atau bukan?" tanya I Ki Hu dengan nada membentak.

Rona wajah Lie Yuan yang merah perlahan-lahan memudar lagi. la menarik nafas panjang. "Siapa kau?" tanya Lie Yuan.

I Ki Hu tidak merasa heran dengan pertanyaannya itu. Ketika memeriksa keadaan pasangan suami istri Lie Yuan, I Ki Hu mendapatkan bahwa bukan saja jalan darah mereka tertotok, melainkan pada setiap bagian tubuh pun terdapat luka yang parah sekali. Tubuh mereka bukan saja tidak dapat bergerak, bahkan telinga pun tidak dapat mendengar apa-apa. Sebetulnya tidak jauh berbeda dengan mati. Satu-satunya yang dapat dijadikan pegangan bahwa mereka masih hidup, hanyalah pernafasan yang sudah lemah sekali.

Karena itu pula, meskipun I Ki Hu sudah cukup lama berada di dalam ruangan batu itu, lie Yuan tetap tidak tahu siapa dia. Sementara itu, I Ki Hu terus menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh lie Yuan agar orang itu tidak langsung mati. "Kau tidak perlu urus siapa aku, tapi aku mempunyai permusuhan yang dalam dengan tocu Hek cui to, Lie Cin Ju. Cepat kau katakan apakah Lie Cun Ju anakmu yang sebenamya atau anak tocu Hek Cui to itu?" tanya I Ki Hu lagi.

Di wajah Lie Yuan tampak tersirat seulas senyuman yang ganjil. "Tocu Hek.... cui-to...Ci... Cin... Hu.? Anaknya... Maksud... mu...?"

Kata-kata Lie Yuan dicetuskan dengan susah payah. Suaranya tersendat-sendat. Hati I Ki Hu justru diliputi ketegangan menunggu ia menyelesaikannya. Namun di tengah ketegangan hati I Ki Hu terselip beberapa bagian kegembiraan. Selama dua puluh tahun belakangan ini, dia terus mencari keturunan musuh besarnya itu. Boleh dibilang ia tidak pernah mendapat berita apa pun.

I Ki Hu fanatik sekali dengan prinsipnya yang dikatakan 'api yang liar sulit dipadamkan, angin musim semi terus berhembus silih berganti'. Meskipun ilmu silatnya sekarang sudah mencapai taraf yang tidak terkatakan tingginya, asal masih ada seorang saja keturunan musuhnya yang masih hidup, dia tidak dapat tidur dengan tenang.

Sebetulnya pendapat I Ki Hu itu salah sekali. Yang membuat hidupnya tidak tenang, sebetulnya perbuatannya sendiri. Apabila seseorang tidak melakukan kejahatan, tentu tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan ia pun dapat hidup dengan tenang. Tetapi sekali seseorang melakukan kejahatan, perbuatannya itu akan membayang-bayangi dirinya sendiri, perasaan khawatir di dalam hati tidak dapat dihapuskan. Seperti seorang pencuri, meskipun sudah berhasil, tetapi setiap saat ia khawatir dirinya akan ketahuan.

Sedangkan ketegangan di hati Tao Ling diliputi dengan perasaan takut. Sebab apabila Lie Yuan mengiakan pertanyaan I Ki Hu, sama saja Lie Cun Ju telah divonis hukuman mati. Tetapi setelah mengucapkan beberapa patah kata dengan susah payah, Lie Yuan malah terdiam kembali.

"Cepat jawab. Iya atau bukan? Tidak usah bertele-tele!" tanya I Ki Hu lagi dengan nada tidak sabar.

Sepasang mata Lie Yuan mendelik marah. Tenggorokannya mengeluarkan suara Krok! Krok! yang aneh. Melihat keadaannya, sepertinya laki-laki itu sedang berusaha ingin mengatakan sesuatu. Tetapi sampai akhirnya dia tidak sempat mengatakan apa-apa lagi. Kepalanya terkulai dan ia pun menghembuskan nafas terakhir.

I Ki Hu semakin gusar melihat dirinya sudah menghamburkan sekian banyak hawa murni tetapi tidak ada hasilnya sama sekali. Tenaga dalamnya dikerahkan dan tuhuh Lie Yuan yang sudah kaku itu pun dipentalkan sampai jauh. Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan menatap Tao Ling sekilas sambil tertawa dingin. Hati Tao Ling tergetar. Sekali lagi I Ki Hu memondong tubuh Lim Cin Ing. Dia juga menepuk ubun-ubun kepala perempuan itu persis seperti yang dilakukunnya pada Lie Yuan.

Lim Cin Ing juga mengeluarkan seruan terkejut, darah merembes dari sudut bibirnya. Matanya membuka dan melirik ke sekelilingnya. "Dimana.... aku...?" Ketika matanya sempat melihat jenasah Lie Yuan, sekali lagi mulutnya menjerit.

I Ki Hu menahan hawa amarah dalam dadanya yang hampir meluap. "Lie hu-jin, suamimu sudah mati. Kau juga tidak bisa hidup lebih lama lagi. Apabila ada kata-kata yang ingin kau sampaikan. Utarakanlah sekarang juga!" katanya.

Keadaan Lim Cin Ing tampaknya lebih lumayan dibandingkan suaminya tadi. Dia menarik nafas panjang satu kali. "Tidak ada pesan apa-apa lagi," jawab Lim Cin Ing.

"Kau mempunyai dua orang putra. Yang satu sudah mati terbunuh Tao Heng Kan di kediaman Kuan Hong Siau. Masa kau tidak mempunyai pesan apa-apa terhadap putramu yang satunya lagi?" kata I Ki Hu dengan panik.

Mata Lim Cin Ing langsung mengedar ke sana ke mari. "Dimana... dia sekarang?"

"Dia baik-baik saja. Tetapi dia tidak ingin bertemu dengan kalian lagi."

Wajah Lim Cin Ing tampak menyiratkan penderitaan yang tidak terkirakan mendengar ucapan I Ki Hu. "Kenapa?" tanya Lim Cin Ing.

Sepasang mata I Ki Hu menatap reaksi Lim Cin Ing lekat-lekat. "Dia mengatakan bahwa kalian bukan orang tua kandungnya. Tetapi selama ini kalian selalu menutupi hal ini. Karena itu dia merasa benci dan tidak ingin bertemu dengan kalian lagi," sahut I Ki Hu.

Tiba-tiba Lim Cin Ing tertegun. Dia memaksakan dirinya untuk berdiri tegak, tetapi keadaannya sudah lemah sekali. la tidak mempunyai tenaga sedikit pun. Setelah berusaha sesaat, wajahnya jadi merah padam, tetapi tetap saja tubuhnya tidak dapat ditegakkan. "Mengapa... dia... bisa berkata demikian...?"

Kata-kata yang diucapkan I Ki Hu seakan dirinya mengandung perhatian yang besar terhadap Lie Cun Ju. Tetapi sebenarnya semua hanya karangannya sendiri untuk mengetahui benar tidaknya pendapat hatinya saat itu.

"Cepat katakan, benar atau tidak? Nanti aku bisa sampaikan kepadanya. Meskipun kalian akan mati, jangan sekali-sekali membuat seorang anak bingung dengan riwayat hidupnya sendiri."

Sungguh ucapan yang manis. Tao Ling yang mendengarkan sampai meremang seluruh bulu kuduknya. Sekali lagi Lim Cin Ing menarik nafas panjang. "Urusan... ini panjang sekali apabila diceritakan..."

Jilid sebelumnya,

Jilid selanjutnya,
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.