Peninggalan Pusaka Keramat Jilid 03

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Peninggalan Pusaka Keramat Jilid 03
Sonny Ogawa

Peninggalan Pusaka Keramat Jilid 03

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo
SETELAH pedang pusaka terlepas dari tangan, hati Tao Ling dan Lie Cun Ju semakin tercekat. Serentak mereka melangkah mundur ke pintu kabin. Tapi orang-orang yang berdiri di kiri kanan ketiga kursi langsung bergerak menghadang di pintu.

Mereka sadar, laki-laki bertubuh gemuk pendek itu saja tidak mungkin terhadapi, belum lagi orang lainnva. Maka pcrcuma saja memberikan perlawanan. Karena itu mereka membatalkan niat semula dan berdiri tegak menunggu perkembangan berikutnya.

"Mengapa Anda sembarangan merebut pedang pusaka dari tangan kami?" tegur Lie Cun Ju.

Orang bertubuh gernuk pendek itu tertawa terkekeh-kekeh. Suara tawanya aneh sehingga menimbulkan kesan menyeramkan dan membuat bulu kuduk Tao Ling maupun Lie Cun Ju jadi merinding. Orang itu membalikkan tubuh dan berjalan ke tengah kabin. Dia duduk di kursi tengah yang kosong itu. Topeng di wajahnya bergerak-gerak ketika dia menoleh ke kiri dan kanan.

"Kedatangan kita kembali kesini, boleh dikatakan tidak diketahui seorang pun. Tetapi sekarang malah dipergoki kedua anak muda ini. Kita harus menggunakan cara membunuh agar mulut mereka bungkam. Kalau tidak pasti akan terjadi kerugian yang besar di pihak kita," ujar orang bertubuh pendek gemuk itu.

"Apa yang dikatakan toako memang benar!" sahut orang yang duduk di sampingnya, sambil menganggukkan kepala.

Pembicaraan mereka seperti diucapkan sepatah demi sepatah. Tetapi bagi pendengaran Tao Ling dan Lie Cun Ju, justru menimbulkan kesan menakutkan. Ada satu hal lagi yang membuat pikiran mereka resah, yaitu mereka belum pernah mendengar orang menceritakan tokoh-tokoh seperti orang-orang di hadapan mereka. Tampang dan penampilan mereka begitu misterius.

Tampak laki-laki bertubuh gemuk pendek itu mendongakkan wajahnya. Matanya menyorotkan sinar yang tajam menatap Lie Cun Ju serta Tao Ling lekat-lekat. Pandangan matanya membuat hulu kuduk Tao Ling meremang kembali. Diam-diam Tao Ling mengulurkan tangannya dan meraih semua senjata rahasianya yang ada untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.

"Sebetulnya, kami tidak ingin turun tangan mencelakai siapa pun. Akan tetapi gerak gerik kami ini tidak ingin diketahui oleh orang lain. Sedangkan tanpa disengaja kalian sudah naik ke atas perahu kami. Biar bagaimana pun jejak kami sudah bocor. Terpaksa kami memilih jalan memhunuh agar mulut kalian hungkam. Seandainya kalian masih mempunyai pesan yang ingin disampaikan kepada sanak saudara, silakan katakan saja. Kami pasti akan menyampaikannya!" ujar lelaki bertubuh pendek gemuk itu.

"Kami...." ujar Lie Cun Ju terputus.

Orang bertubuh gemuk pendek itu menjulurkan tangannya menahan perkataan Lie Cun Ju. "Tidak perlu mengatakan apa-apa. Seandainya kau ingin mengatakan bahwa kalian berjanji tidak akan mengatakan kepada siapa pun apa yang kalian lihat, kami tetap tidak percaya. Seandainya masih ada pesan yang hendak kalian sampaikan, cepat utarakan!"

Lie Cun Ju merasa ada serangkum hawa dingin menyelimuti perasaannya. "Entah kalian ini sahabat dari mana?" tanyanya berusaha mengulur waktu.

"Seandainya kami mengatakan, kalian pun pasti tidak mengetahuinya. Seandainya kalian ingin kematian kalian diketahui oleh orang tua kalian, aku bisa menyampaikannya," kata laki-laki aneh bertubuh gemuk pendek itu.

Lie Cun Ju melirik Tao Ling sekilas. Dia melihat wajah gadis itu berubah hebat, seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. Diam-diam dia juga berpikir dalam hati, betapa tragis apabila mati tanpa sebab musabab yang pasti. Tapi bila mendengar ucapan orang yang sombong itu, tampaknya mereka juga tidak memandang sebelah mata terhadap orang tua mereka. Daripada mati penasaran, mengapa tidak mengadakan perlawanan?"

Watak Lie Cun Ju sehari-harinya sangat lembut. Bahkan terkadang lebih lembut dari anak gadis. Tetapi dalam keadaan terdesak, dia bisa mengambil keputusan secara dewasa. Saat itu dia berdiri berdampingan dengan Tao Ling. Tiba-tiba dia mendorong tubuh gadis itu dan berteriak dengan suara keras, "Tao kouwnio, cepat lari!"

Tangannya mendorong Tao Ling, setelah itu dia mencabut pedang emasnya. Kemudian menggunakan jurus Tanah Merekah melancarkan sebuah serangan kepada si laki-laki bertubuh gemuk pendek.

Sedangkan tangan Tao Ling sejak tadi sudah menggenggam senjata rahasia. Dia memang sudah bersiap diri melontarkannya. Dia melihat Lie Cun Ju sudah bertekad mengadu nyawa. Dalam keadaan genting Lie Cun Ju masih memikirkan keselamatan dirinya. Gadis itu malah tidak sanggup lari. Setelah tubuhnya terdorong oleh tangan Lie Cun Ju setengah langkah, jari tangannya langsung mengibas. Seluruh senjata rahasia yang ada padanya dilontarkan ke depan. Sasarannya ketiga orang yang duduk di atas kursi.

Kedua orang itu hampir serentak melancarkan serangan. Lie Cun Ju menghantamkan sebuah pukulan. Meskipun tenaganya tidak seberapa kuat, tapi kecepatannya boleh juga. Serangannya terlebih dahulu sampai daripada senjata rahasia yang dilontarkan Tao Ling. Orang bertubuh gemuk pendek itu masih duduk dengan tenang. Ketika serangan Lie Cun Ju sudah hampir mengenainya, dia baru menggeser tubuhnya sedikit. Kemudian menghantamkan sebuah pukulan pula ke depan.

Lie Cun Ju merasa ada serangkum angin kencang yang menerpa dadanya. Tubuhnya limbung kemudian terpental ke belakang. Kepalanya terasa berdenyut-denyut dan pandangan matanya berkunang-kunang. Dadanya terasa sakit. Dia membuka mulutnya lehar-lebar dan tanpa dapat ditahan lagi segumpal darah segar mengucur keluar dari tenggorokannya.

Tepat di saat tubuh Lie Cun Ju terpental, perempuan yang duduk di sisi kanan orang bertubuh gemuk pendek berdiri dari kursinya. Dia maju selangkah dan menjulurkan lengan bajunya. Seluruh senjata rahasia yang dilontarkan Tao Ling langsung menyusup ke dalam lengan baju yang longgar tanpa tersisa satu pun.

Tao Ling tertegun sesaat, lalu menatap Lie Cun Ju terkulai di atas lantai perahu. VVajah gadis itu pucat pasi. Dengan tergesa-gesa dia menghambur mendekatinya. Dia berjongkok di depan pemuda itu. "Lie toako, bagaimana keadaanmu?" tanya Tao Ling gugup.

"Tao kouwnio, mungkin kita harus mati di atas perahu ini!" jawab Lie Cun Ju sambil menarik napas panjang.

Sembari berkata Lie Cun Ju mengulurkan tangannya dan menggenggam telapak tangan Tao Ling erat-erat. Tangan itu bergetar, sedangkan matanya menyorotkan sinar yang lembut kepada gadis itu. Sinar mata demikian bukan sinar mata yang seharusnya tidak disorotkan orang yang men-jelang kematian.

Tao Ling merasa jantungnya berdegup-degup. Keadaan mereka memang terlalu membahayakan. Tetapi kalau toh harus mati, Tao Ling merasa tidak perlu takut lagi. Seakan di dalani kabin perahu itu hanya terdapat mereka berdua. Gadis itu malah tersenyum manis.

"Lie toako, di antara kedua keluarga kita terselip permusuhan yang demikian dalam. Tidak di-sangka kita malah bisa menemui kematian bersama," katanya.

Lie Cun Ju juga memaksakan seulas senyuman. Darah masih menetes di ujung bibirnya. "Tao kouwnio... meski... pun ada.... per.... musuhan... di an... tara keluarga kita, tapi hubungan... kita baik... sekali, bukan?"

Tentu saja Tao Ling mengerti maksud yang terkandung di balik ucapan pemuda itu. Wajahnya merah padam. "Benar!"

Tao Ling menganggukkan kepala. "Tao kouvvnio.... suruhlah.... mereka.... turun.... tangan... sekarang juga."

Tao Ling menggunakan ujung lengan bajunya mengusap darah yang merembes dari sudut bibir pemuda itu. "Baik," sahutnya lembut. Dia mendongakkan wajahnya. Dia ingin memuaskan hatinya memaki-maki ketiga orang itu sebelum kematian menjemput. Tiba-tiba dia melihat mimik wajah ketiga orang kapal menyiratkan kejanggalan. Kata-kata yang sudah tersedia di ujung lidah akhirnya ditelan kembali.

Tampak ketiga orang itu sudah berdiri dari kursi masing-masing dan saling berkerumun. Di atas telapak tangan perempuan tadi ada benda yang berkilauan. Ternyata mutiara yang dipungut Tao Ling di tepi sungai tadi malam. Mimik wajah ketiga orang itu seakan tertegun memandangi mutiara.

"Sam moay, urusan sudah menjadi sedemikian rupa. Kita harus segera mengambil keputusan!" Suara lelaki gemuk pendek dengan nada keras.

"Toako, aku rasa kita harus mempertimbangkannya kembali," sahut lelaki tinggi kurus yang tadi menolong Tao Ling dan Lie Cun Ju dengan nada bimbang.

"Kalau kita masih ragu-ragu, kemungkinan kita bertiga akan menemui kematian yang mengerikan."

Mendengar ucapan laki-laki bertubuh gemuk pendek itu, seakan urusan yang sedang mereka hadapi gawat sekali. Tetapi Tao Ling justru tidak mengerti mengapa tiba-tiba mereka jadi sedemikian panik.

"Apa yang dikatakan toako memang benar!" sahut perempuan bertopeng merah muda. Baru saja kata 'benar!' selesai diucapkan oleh perempuan itu. Tiba-tiba terdengar suara trak! trak! sebanyak dua kali. Dia sudah menghunus dua batang golok pendek dari selipan ikat pinggangnya. Tubuh perempuan itu berkelebat seperti gulungan asap hitam. Tahu-tahu dia sudah melesat ke depan pintu kabin.

Tao Ling melihat perempuan itu mencabut sepasang goloknya, hatinya menjadi tercekat. Tapi keadaan perempuan itu tidak seperti akan menghadapi dirinya. Hatinya dilanda kebingungan. Tampak belasan orang yang tadinya berdiri di kanan kiri ketiga buah kursi itu tiba-tiba mengeluarkan suara raungan. Suara itu seperti hendak mengadakan pertarungan.

Tetapi tubuh perempuan tadi berkelebat seperti terbang. Dalam sekejap mata terdengar suara jeritan mengerikan. Tiga orang pun rubuh di atas lantai perahu dengan dada terkoyak. Setelah berkelojotan beberapa kali, orang-orang itu pun menghembuskan nafas terakhir.

Tao Ling tidak mengerti mengapa mereka malah menyerang orang-orangnya sendiri. Tao Ling hanya melihat sisa belasan orang itu kembali mengeluarkan suara raungan keras. Laki-laki bertubuh gemuk pendek tadi tampak menggenggam sepasang pedang. Sekali dikelebatkan kembali pedang itu dua orang sekaligus rubuh bermandikan darah.

Meskipun orang-orang itu juga memberikan perlawanan dengan sengit, tapi apa daya karena kepandaian mereka terpaut jauh. Laki-laki bertubuh gemuk pendek itu kembali menggerakkan pedangnya. Dua orang pun tertebas dan mati seketika.

Tampak sepasang telapak tangan laki-laki bertubuh tinggi kurus seperti beterbangan ke mana-mana. Seluruh ruangan kabin dipenuhi bayangan pukulan dan angin yang menderu-deru. Setiap kali terdengar suara Plak! Pasti ada satu orang yang menjadi korban. Dalam sekejap mata saja belasan orang tadi sudah terkapar di lantai perahu menjadi mayat.

Ketiga orang itu menghentikan gerakan tangannya. Laki-laki bertubuh tinggi kurus dan perempuan tadi menghambur ke bagian geladak perahu. Tidak lama kemudian, mereka sudah kembali lagi.

"Toako, perahu sedang mendekati tepian sungai. Di tempat itu banyak tukang perahu, tetapi semuanya sudah dibunuh oleh kami."

"Untung saja kita turun tangan dengan cepat. Tidak ada seorang pun yang sempat lolos. Urusan ini hanya diketahui oleh langit dan bumi, tidak ada orang lain lagi yang tahu kecuali kita bertiga!" kata lelaki pendek gemuk dengan napas lega.

"Toako, bagaimana dengan kedua orang ini?" ujar perempuan itu seraya menunjuk ke arah Tao Ling dan Lie Cun Ju.

Mendengar pertanyaan perempuan itu, Tao Ling segera menyadari bahwa yang akan melanda dirinya dan Lie Cun Ju. Tetapi dia seperti diselimuti awan tebal. Tidak rnengerti sama sekali terhadap rentetan kejadian yang mereka lakukan.

Isi perut Lie Cun Ju tergetar karena pukulan si laki-laki bertubuh gemuk pendek tadi sehingga terluka cukup parah. Meskipun tubuhnya sulit digerakkan tapi dia melihat dengan jelas perbuatan ketiga orang yang membunuh rekan-rekannya. Dia merasa cara ketiga orang itu sungguh keji. Seandainya tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mungkin dia masih tidak percaya di dunia ini ada orang sekejam itu.

Tapi mengapa ketiga orang itu tiba-tiba harus membunuh rekan-rekan atau mungkin anak buah mereka? Lie Cun Ju dan Tao Ling tidak mengerti. Tetapi diam-diam hati Tao Ling merasa perbuatan mereka ada hubungannya dengan mutiara yang dipungutnya lalu tanpa disengaja terlontar bersama senjata rahasia yang ada di saku pakaiannya.

"Tentu mereka tidak boleh dibiarkan hidup!" jawab laki-laki bertubuh gemuk pendek dengan nada tegas. Pedang di tangannya digetarkan. Timbul bayangan bunga-bunga cahaya berkilauan. Hawa pedang dingin menusuk, terus diluncurkan ke bagian ubun-uhun kepala Lie Cun Ju.

Sejak perempuan tadi mengajukan pertanyaan kepada toakonya, Tao Ling sudah mengetahui bahwa mereka akan turun tangan. Seandainya gadis itu hanya seorang diri, dia pasti akan mengadakan perlawanan sekuat tenaga. Tetapi saat itu Lie Cun Ju sudah terluka parah. Tao Ling juga tidak berniat meninggalkannya begitu saja. Akhirnya dia pasrah terhadap nasib. Dia memejamkan matanya untuk menunggu kematian.

Serangkum angin dingin menerpa bagian atas kepala Tao Ling. Tiba-tiba telinganya mendengar suara yang aneh dari lantai perahu tempat kakinya berpijak. Seperti ada benda keras yang membentur. Seiring dengan suara benturan tadi, laki-laki bertubuh tinggi kurus dan perempuan tadi segera berteriak, "Toako, tunggu dulu!"

Pedang di tangan si laki-laki gemuk pendek sudah hampir menyentuh kepala Tao Ling. Gadis itu sendiri sudah merasa adanya hawa dingin di kepalanya. Namun ketika mendengar suara teriakan kedua orang itu, pedangnya langsung ditarik kembali.

"Toako, apakah kau mendengar suara benturan tadi?" tanya perempuan itu kembali.

"Mungkinkah?" gumam orang yang gemuk pendek itu.

"Mengapa kalian berdua tidak keluar untuk melihatnya?" kata perempuan itu.

"Sam moay, mengapa bukan kau saja yang keluar melihat?" bentak si tinggi kurus dengan nada agak marah.

Ketiga orang itu akhirnya malah saling mendorong satu dan yang lainnya. Kemudian untuk sesaat mereka terdiam.

"Tidak usah ribut-ribut, rejeki atau bencana, kita bertiga harus menghadapi bersama. Rasanya juga tidak mungkin begitu cepat datangnya," ujar si gemuk pendek.

"Mudah-mudahan bukan bencana! Ayo kita lihat!" sahut perempuan itu.

Ketiga orang itu keluar bersama-sama. Tao Ling sadar mereka semua memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Untuk memhunuh rekan-rekannya sendiri ataupun membunuh dirinya dan Lie Cun Ju, orang-orang itu bisa melakukannya dengan kepala dingin. Tao Ling takut sekali. Ketika ketiga orang itu sudah keluar dari kabin perahu, Tao Ling cepat-cepat menyeret tubuh Lie Cun Ju ke arah jendela.

Dia melongokkan kepalanya keluar. Tampak hari sudah mulai terang, berarti dini hari sudah menjelang. Permukaan sungai tampak disorot oleh cahaya keemasan. Kesempatan yang baik bagi Tao Ling. Hanya itu satu-satunya cara untuk melarikan diri. Dia juga tidak ingin berpikir panjang lagi. Tubuhnya bergerak dan bersiap untuk meloncat keluar sambil menyeret Lie Cun Ju.

"Tao kouwnio, se... pa... sang pedang itu..." Suara Lie Cun Ju tersendat-sendat.

Tao Ling menolehkan kepalanya. Dia melepaskan Lie Cun Ju kemudian membalikkan tubuhnya untuk memungut Kim Gin Kiam. Matanya melirik ke arah mutiara yang berkilauan tadi. Rupanya masih menggeletak di atas kursi. Sekalian diraihnya benda itu.

Dalam hati Tao Ling tahu bahwa mutiara itu ikut terlontar bersama senjata rahasianya tadi. Sedangkan ketiga orang itu tampaknya terkesima memandang benda itu. Mungkin asal usul mutiara itu tidak sembarangan. Karena itu dia merasa sayang meninggalkannya. Pekerjaan itu menyita lagi waktu beberapa detik.

"Pasti di perahu sebelah ada yang melemparkan sauh, kita sendiri yang terlalu curiga," ujar si gemuk pendek berkumandang dari iuar kabin.

Tao Ling sadar, bahwa sebentar lagi mereka akan masuk ke dalam kabin. Dengan tergesa-gesa dia melesat ke arah jendela. Tetapi karena hatinya panik, tingkahnya jadi gugup. Tanpa sadar kakinya menendang topeng di wajah salah satu mayat yang menggeletak. Dalam keadaan seperti itu Tao Ling masih sernpat menolehkan kepalanya untuk melihat apa yang ditendangnya.

Setelah melihat, hatinya tercekat. Hampir saja dia menghentikan langkah kakinya. Beberapa detik kemudian, tampak tirai penyekat ruangan kabin muiai tersingkap. Tao Ling sadar apabila mereka dipergoki oleh ketiga orang itu pasti nyawa mereka tidak dapat dipertahankan lagi. Dia mengerti tidak boleh menunda waktu lagi. Cepat dia menghambur ke depan jendela dengan menyeret lengan Lie Cun Ju. Melalui jendela kabin itu, tubuhnya melesat keluar lalu... Plung! Jatuh ke dalam sungai.

Baru saja tubuhnya masuk ke dalam air, telinganya mendengar suara pekikan aneh ketiga orang tadi. Dia cepat-cepat menekan hawa murni dari dalam perutnya. Dia berusaha memberatkan tubuhnya agar terus melorot ke dalam dasar sungai. Dia sendiri tidak tahu sudah berapa jauh dia tenggelam. Di sekelilingnya hanya air yang menggelembung-gelembung.

Sejak tadi Tao Ling sudah menutup jalan pernafasannya. Hatinya mengkhawatirkan keadaan Lie Cun Ju yang dalam keadaan terluka parah. Apakah pemuda itu sanggup menahan nafas sekian lama? Seandainya Lie Cun Ju tidak kuat menahan nafasnya, berarti selamat dari pembantaian ketiga orang tadi, dia malah mati karena paru-paru dipenuhi air sungai.

Tapi biar bagaimana, Tao Ling tidak berani menyembulkan kepalanya di atas permukaan sungai. Rupanya ketika dia hampir tersandung jatuh di dalam kabin perahu tadi, kakinya menendang salah satu topeng penutup wajah mayat-mayat. Dia masih sempat melihat sekilas. Wajah orang itu kurus, di bagian jidatnya terdapat lima titik hijau seperti gambar bunga Bwe.

Tao Ling pernah bertemu dengan orang itu satu kali. Lagipula titik-titik hijau itu mudah diingat. Asal melihat satu kali, selamanya tidak akan terlupakan lagi. Orang itu berasal dari Shan Tung. Biasanya bergerak sendirian. Hatinya keji dan tangannya telengas. Senjatanya sebuah pecut panjang beruntai sembilan.

Kepandaiannya tinggi dan jurusnya aneh-aneh. Tentu saja merupakan tokoh dari golongan sesat. Julukannya di dunia kang ouw Ceng Bwe atau bunga Bwe hijau. Nama aslinya Ciok Kun. Setiap kali mengungkit orang yang satu ini, tokoh-tokoh Bu lim di daerah Shan Tung dan sekitarnya kebanyakan menghindar karena takut timbul masalah.

Tokoh seperti Ciok Kun ternyata tidak sanggup memberikan perlawanan apa-apa dan mati begitu saja di tangan ketiga orang bertopeng tadi. Dapat dibayangkan betapa tingginya kepandaian yang mereka miliki. Lagipula, belasan orang lainnya yang juga mengenakan topeng. Walaupun mungkin mereka bukan jago kelas satu di dunia kang ouw, tetapi setidaknya pasti tokoh-tokoh seperti Ciok Kun.

Karena itu pula, meskipun Tao Ling tahu Lie Cun Ju tidak sanggup menahan nafas lama-lama dalam air, dia tetap tidak berani menyembulkan kepalanya. Sebab bila menelan air beberapa teguk saja masih ada kemungkinan tertolong. Akan tetapi apabila mereka menyembulkan kepalanya dan tertangkap oleh tiga orang bertopeng tadi, tidak usah diragukan lagi pasti akan mati seketika.

Tidak lama kemudian, Tao Ling merasa kakinya sudah menyentuh dasar sungai. Sembari menarik tubuh Lie Con Ju, Tao Ling berpegangan pada batu-batu di sisi sungai, dengan demikian dia meramhat perlahan-laban. Tiba-tiba dia mendengar suara 'glek' dari tenggorokan Lie Cun Ju. Tao Ling tahu Lie Cun Ju tidak sanggup menahan nafas lagi sehingga terpaksa menelan seteguk air sungai. Hatinya sangat panik.

Tapi dirinya sedang berada di dalam air, dia tidak bisa berbicara. Pikirnya ingin menyembulkan kepala ke atas permukaan air. Dia ingin mengadakan perlawanan sengit dengan ketiga orang tadi. Tapi dia tidak berani menempuh bahaya sebesar itu. Ketika pikirannya sedang ruwet dan tidak berhasil menemukan apa pun, tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang lembut. Ternyata tanaman liar yang biasa banyak terdapat di sungai yaitu Eceng Gondok.

Diam-diam hati Tao Ling melonjak girang. Karena adanya tanaman liar ini pertanda mereka sudah berada di tepian sungai. Tao Ling masih tidak berani menyembulkan kepalanya. Dia memstahkan setangkai tanaman itu kemudian mendesakkan hawa murninya untuk meniup. Bagian tengah tanaman itu langsung menyembur keluar dan jadilah sebatang pipa dari batang tanaman itu.

Cepat-cepat dia memasukkan pipa itu ke dalam mulut Lie Cun ju. Bagian ujungnya menyembul sedikit di permukaan air, maka pemuda itu bisa mengganti hawa. Setelah itu dia membuat lagi sebatang pipa dari batang tanaman tadi. Dimasukkannya pipa itu ke mulut sendiri. Dengan bibir dikatupkan serta menyedot hawa dari alas, mereka dapat mempertahankan diri untuk beberapa saat lagi berada di dalam air.

Kurang lebih dua kentungan sudah berlalu. Perlahan-lahan Tao Ling menyembulkan kepalanya di atas permukaan air. Ketika matanya sudah dapat melihat, hatinya tercekat bukan kepalang. Ternyata mereka berada di tengah gerombolan tanaman Eceng Gondok. Matahari sudah di atas kepala. Keadaan di sekitar tepian sungai itu sunyi senyap. Kecuali suara ikan-ikan yang sedang bercandu di atas permukaan air, tidak terdengar suara lainnya.

Ketika Tao Ling melihat ke depan, tampak beberapa perahu sedang bergerak. Akan tetapi karena geromholan tanaman liar itu sangat lebat, maka mereka dapat bersembunyi di tempat itu tanpa diketahui orang lain. Tao Ling berpikir dalam hati, "Waktu sudah berlalu sekian lama. Tentunya kami sudah terlepas dari intaian ketiga iblis itu."

Tao Ling tidak berani menyembulkan diri ke atas permukaan air. Gadis itu hanya menarik leher Lie Cun Ju agar kepalanya tidak tenggelam. Dalam waktu sekian lama, Tao Ling tidak mempunyai kesempatan memperhatikan Lie Cun Ju. Entah pemuda itu masih hidup atau sudah mati. Setelah dia mengangkat leher pemuda itu agar keluar dari dalam air, dia baru dapat melihatnya dengan jelas.

Hatinya terkejut bukan main. Rupanya saat itu selembar wajah Lie Cun Ju sudah pucat pasi bahkan keabu-abuan seperti mayat hidup. Meskipun kepalanya sudah timbul di atas permukaan air, tetapi pipa tanaman liar masih dijepit bibirnya kuat-kuat. Dapat dipastikan hahwa pemuda itu sudah tidak sadarkan diri sejak tadi.

Tao Ling mengulurkan tangannya untuk merasakan dengus nafas pemuda itu. Ternyata Lie Cun Ju belum mati. Perasaan Tao Ling pun agak lega. Dia menyibakkan rambut yang menutupi jidat pemuda itu. "Lie toako! Lie toako!" panggil Tao Ling dengan suara lirih.

Setelah memanggil sebanyak tujuh delapan kali, baru terdengar suara glek! glek! dari tenggorokan Lie Cun Ju. Perlahan-lahan dia membuka matanya. Sinar matanya redup, tanpa sinar kehidupan sama sekali. Hati Tao Ling terasa pilu melihatnya.

"Lie toako, apa yang kau rasakan?" tanyanya lembut.

Lie Cun Ju mengedarkan pandangannya sejenak kemudian memaksakan diri mengembangkan seulas senyuman yang pahit. "Tao kouwnio.... apakah kita masih... hidup?"

"Kita sudah berada di tepian sungai, kita berhasil melarikan diri dari cengkeraman ketiga iblis itu. Lie toako, apakah kau tahu siapa ketiga iblis itu?" tanya Tao Ling.

"Aku juga tidak tahu." Lie Cun Ju menggeleng kepala.

"Aku mengenali salah satu dari belasan anak buah yang mereka bantai. Dia mempunyai julukan Ceng Bwe dan nama aslinya Ciok Kun, biasa malang melintang di daerah Shan Tung dan sekitarnya!" kata Tao Ling.

Lie Cun Ju terkejut sekali mendengar keterangan Tao Ling. "Dia? Orang itu bukan saja ahli dalam ilmu pecut beruntai sembilannya, bahkan dengar-dengar dia mempelajari semacam ilmu kebal yang tidak mempan senjata tajam."

"Mungkin pedang yang dipakai si gemuk pendek itu pedang pusaka." Tao Ling melihat Lie Cun Ju berusaha berbicara dengannya. Hatinya menjadi iba. "Lie toako, lebih baik jangan banyak bicara dulu!"

Dengan sorot mata penuh terima kasih, Lie Cun Ju memandangnya sekilas. Kemudian berkata dengan perlahan, "Tao kouwnio, kebaikanmu ini, untuk selamanya tidak akan kulupakan!"

"Untuk apa bicara seperti ini dalam keadaan seperti sekarang?" sahut Tao Ling.

Keduanya berdiam diri. Sampai menjelang sore, Tao Ling baru membimbing tubuh Lie Cun Ju dan diajaknya naik ke atas tepi sungai. Tampak di kejauhan ada asap mengepul-ngepul, namun jaraknya paling tidak tiga li dari tempat mereka. Tao Ling melirik Lie Cun Ju. Tampak pemuda itu berdiri di sampingnya dengan tubuh terhuyung-huyung. Kemungkinan bisa jatuh setiap saat. Cepat-cepat Tao Ling memapahnya.

"Tao kouwnio, luka ini terlalu... pa... rah, mungkin tidak... bisa... disembuhkan lagi," ujar Lie Cun Ju.

Selama dua hari dua malam, Tao Ling dan Lie Cun Ju mengalami berbagai penderitaan bersama. Dalam hati timbul rasa iba kepada pemuda itu. Hatinya bagai diiris sembilu. "Jangan bicara dengan nada putus asa. Di kejauhan terlihat asap mengepul. Pasti ada sebuah kota kecil di depan sana. Ayo, kita kesana sekarang!"

"Ketiga orang itu membunuh rekan-rekannya sendiri agar mereka membungkam untuk selamanya. Tentu mereka juga tidak akan melepaskan kita begitu saja. Seandainya kita bergegas pergi, begitu masuk kota mungkin langsung menemui kesulitan. Biar bagaimana sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari cengkeraman mereka."

"Apa yang dikatakan Lie Cun Ju memang ada benarnya," pikirnya dalam hati. "Kalau begitu terpaksa kita menginap satu malam di tepi sungai ini," katanya kemudian.

"Di depan sana ada sebuah hutan kecil, kita bermalam di sana saja," sahut Lie Cun Ju.

Tao Ling memapah Lie Cun Ju berjalan sejauh tiga puluhan depa. Sesampainya di dalam hutan kecil itu, mereka mencari tempat yang rerumputannya agak tebal. Mereka langsung merebahkan diri. Tao Ling tidak perduli Iagi batas antara laki-laki dan perempuan. Dia menyandarkan dirinya di samping Lie Cun Ju. Meskipun keadaan mereka masih dikejar-kejar bahaya, namun dengan ber-dampingan seperti saat itu, mereka tidak merasa takut Iagi.

Waktu terus berlalu, malam semakin merayap, mana mungkin kedua orang itu bisa tertidur pulas? Angin malam berhembus, pakaian mereka masih belum kering. Hal itu merupakan siksaan yang berat. Dengan susah payah mereka menunggu matahari terbit, dengan pakaian mereka masih tetap basah. Sampai siang harinya, barulah pakaian mereka kering. Tao Ling membantu Lie Cun Ju mengikat rambutnya kembali. Dia sendiri juga merapikan rambutnya kemudian baru memapah pemuda itu berjalan keluar dari hutan.

Tidak beberapa lama, Tao Ling dan Lie Cun Ju sudah berada di sebuah jalan raya yang langsung menuju kota kecil. Kedua orang itu berdiam sejenak di tepi jalan raya. Mereka melihat banyak kereta yang berlalu lalang. Kedua remaja itu sudah mendapat pengalaman pahit selama beberapa hari ini. Maka mereka tidak berani sembarangan meng-hentikan kereta yang lewat.

Tao Ling dan Lie Cun Ju duduk di warung arak. Kedai itu hanya menyuguhkan teh dan arak. Tidak lama kemudian tampak belasan kereta dorong berdatangan dari depan. Di bagian depan ada seorang laki-laki yang mengeluarkan suara teriakan. Teriakan itu seakan membangkitkan semangat pada anak buahnya untuk mendorong kereta lebih kuat. Kereta yang paling depan mengiibarkan sebuah bendera.

Tao Ling membaca tulisan pada bendera itu, Ling Wei Piau ki. Tao Ling belum pernah mendengar nama perusahaan itu. Rupanya laki-laki berusia lima puluhan tahun dengan jenggot menjuntai di bawah dagunya itu adalah pimpinannya.

"Kau tunggu di sini sebentar!" kata Tao Ling kepada Lie Cun Ju. Kakinya melangkah dengan cepat, dalam sekejap mata Tao Ling sudah sampai di samping piau tau itu.

"Sahabat, aku mempunyai sedikit keperluan, entah apakah sahabat bersedia mengabulkannya atau tidak?" sapa Tao Ling.

Laki-laki setengah baya yang menunggang seekor kuda tampak terkejut sekali begitu ada seorang gadis yang tiba-tiba berhenti di sam-pingnya. Dia meraba gagang pedang di pinggangnya dan melihat Tao Ling dengan tatapan curiga. Belasan kereta di belakangnya pun tampak berhenti. "Siapa nona ini?" sapa Piau tau tadi.

"Ayah bergelar Pat Sian Kiam, bermarga Tao."

Tadinya wajah Piau tau itu menyiratkan kecurigaan. Dia curiga jangan-jangan gadis ini pura-pura menanyakan sesuatu padahal tujuannya ingin merampok. Tetapi setelah mendengar Tao Ling putri Pat Sian Kiam Tao Cu Hun, wajahnya langsung berseri-seri. "Rupanya Tao kouwnio!" ucap lelaki itu setelah turun dari kudanya.

"Anda kenal dengan ayah?" sahut Tao Ling dengan rasa gembira.

"Hanya mendengar nama besarnya, belum mempunyai jodoh untuk bertemu langsung," sahut Piau tau itu.

Mendengar ucapan Piau tau yang sopan itu, Tao Ling segera mengetahui bahwa orang ini jujur dan berjiwa besar. "Entah siapa panggilan tuan yang mulia?" tanyanya kembali.

"Aku she Liu bernama Hou, orang-orang kangouw memberi julukan Tan To Pik Tian (Sebatang golok menentang langit)."

Di dalam dunia bu-lim, entah berapa banyak jago kelas tanggung seperti Tan To Pik Tian ini. Ayah ibu Tao Ling termasuk jago kelas satu di dunia kang ouw. Tentu tidak mengenal orang seperti Piau tau ini. Karena itu, Tao Ling juga belum pernah mendengar nama itu.

"Entah ada keperluan apa Tao kouwnio meng-hentikan kami?" tanya Liu Hou.

"Aku dan..." Berbicara sampai di sini, Tao Ling menjadi ragu. Dia seorang gadis remaja, tentu tidak enak apabila orang mengetahui dia berjalan dengan seorang pemuda yang tidak ada hubungan saudara. Karena itu dia menyebut nama 'Lie' dengan lirih sekali sehingga tidak terdengar oleh yang lainnya. Kemudian melanjutkan,

"Toako dikejar oleh musuh, tubuhnya terluka cukup parah. Kami ingin meminta bantuan Liu piau tau untuk mengan-tarkan kami ke dalam kota."

Liu Hou menganggukkan kepala. Dengan kereta mereka menuju kota yang jaraknya tidak jauh dari tempat itu. Dalam sekejap mata mereka sudah sampai. Tao Ling menanyakan kepada Liu piau tau, dan ternyata kota ini bernama Sin Tang ceng. Dari tempat tinggal Kuan Hong Siau hanya seratus li lebih, masih termasuk wilayah Hu Pak.

Tidak sampai setengah kentungan, serombongan orang itu sudah sampai di kota Sin Tang Ceng. Kota itu merupakan salah satu kota yang cukup besar di sebelah timur Pa Tung. Jalanannya lebar dan bersih. Kotanya ramai, berbagai toko memenuhi sepanjang jalan. Liu Hou mengajak Tao Ling dan Lie Cun Ju ke depan sebuah gedung yang besar.

"Inilah markas 'Ling Wei piauki' kami. Cong piau tau (pemimpin perusahaan pengawalan) berjuluk Harimau Bersayap Emas, namanya Tan Liang. Baik Iwekang maupun gwakangnya tinggi sekali," kata Liu Hou menjelaskan.

Orang yang mempunyai julukan Harimau Bersayap Emas Tan Liang, Tao Ling pernah mendengarnya. Dia juga seorang tokoh di sungai telaga yang sudah mempunyai nama. Dia yakin orang itu pasti bersedia menampung mereka dan luka Lie Cun Ju bisa mendapatkan perawatan yang baik.

Tao Ling memapah Lie Cun Ju berjalan memasuki 'Ling Wei piau ki'. Si Harimau Bersayap Emas Tan Liang tidak ada di tempat. Akan tetapi gedung itu besar sekali dan mempunyai banyak kamar. Liu Hou membawa mereka memasuki sebuah kamar. Ketika Lie Cun Ju direbahkan di atas tempat tidur, mulutnya langsung mengeluarkan suara rintihan.

Rupanya sejak tadi dia memang sudah menahan rasa sakitnya. Liu Hou sendiri masih ada urusan lainnya. Maka terpaksa dia meninggalkan kedua orang itu. Sedangkan Tao Ling baru merasa kepalanya berdenyut-denyut setelah Lie Cun Ju dapat berbaring dengan tenang. Matanya bahkan berkunang-kunang.

Selama dua hari itu tidak ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam perut Tao Ling. Hanya karena ingin menjaga Lie Cun Ju, dia terpaksa mempertahankan diri. Sekarang untuk sementara dia tidak perlu menjaga Lie Cun Ju, dia merasakan seluruh tubuhnya letih dan tulang belulangnya seperti terlepas dari persendian. Dia duduk di atas sebuah kursi tanpa bergerak sedikit pun.

Setelah beristirahat sejenak, Tao Ling meminta agar pelayan di Piau kiok itu mengantarkan sedikit makanan untuk mereka. Setelah hidangan diantar ke kamar, tampak gadis itu makan seperti orang rakus. Ketika dia menoleh kepada Lie Cun Ju, pemuda itu juga baru disuapi oleh salah seorang pelayan gedung itu. Keadaannya tampak sudah lebih segar, walaupun masih lemah sekali.

"Lie toako, apakah kau merasa lukamu dapat disembuhkan?" tanya Tao Ling hati-hati.

Lie Cun Ju mencoba mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya. Dia merasa hawa murninya tidak dapat dihimpun malah mengalir secara tidak beraturan. Lie Cun Jw menarik nafas panjang. "Kalau mengandalkan tenaga dalamku sendiri, mungkin dalam tiga bulan juga tidak bisa sembuh."

"Tidak perlu khawatir. Menurut Liu Hou, pemilik gedung ini, si Harimau Bersayap Emas Tan Liang adalah seorang yang berbudi luhur. Biar kita tinggal di gedungnya setengah tahun, dia juga tidak akan menolak."

Lie Cun Ju merasa ada serangkum kehangatan yang melanda hatinya. Dia memandang Tao Ling. Kebetulan gadis itu juga sedang memandang ke arahnya. Tao Ling langsung menundukkan kepalanya dengan wajah tersipu.

Tepat pada saat itu, terdengar suara pintu kamar digubrak dengan keras oleh seseorang. Tao Ling terkejut setengah mati. la segera melonjak bangun dan menghalang di depan Lie Cun Ju. Ketika Tao Ling mempertajam pandangan matanya, ternyata yang baru masuk dengan kasar itu Liu Hou. Tangan laki-laki itu menggenggam sebilah golok lebar.

Wajahnya menyiratkan kegusaran. Di belakangnya mengikuti seorang laki-laki bertubuh pendek kurus. Tampangnya biasa-biasa saja. Tapi sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam. Usianya kurang lebih lima puluhan tahun.

Tao Ling jadi terkesima. "Liu piau tau, kenapa kau...?" tanya Tao Ling terkesima.

"Huh! Terus terang saja, Tao kouwnio. Tadi aku tidak tahu persoalan yang sebenarnya. Boleh dibilang di dalam perusahaan pengawalan ini, aku terhitung setengah pemiliknya juga. Biar hagaimana aku tidak sudi menerima orang seperti kalian tinggal di sini!" ucap Liu Hou memaki-maki Tao Ling.

"Memangnya orang seperti apa kami ini, coba kau katakan saja terus terang!"

"Urusan ini sudah diketahui seluruh orang bu lim. Dia bertanding ilmu di gedung Kuan loya namun tidak menggubris peraturan dunia kang ouw, Tao Heng Kan membunuh Li Po, putra Pat Kua Kim Gin Kiam Lie Yuan suami istri dengan keji. Setelah itu dia melarikan diri sehingga jejaknya tidak diketemukan. Tidak tahunya malah bersembunyi di sini. Pokoknya sekarang juga kami akan menggeretnya ke rumah Kuan loya agar dapat diadili," ujar Liu Hou sambil menudingkan goloknya kepada Lie Cun Ju.

Saat itu Tao Ling baru sadar bahvva Liu Hou dan Tan Liang berdua salah menduga Lie Cun Ju dikira abangnya Tao Heng Kan. Hatinya merasa mendongkol juga geli. Pasti Liu Hou baru kembali dari perjalanan jauh sehingga tidak mengetahui persoalan ini. Sedangkan Tan Liang tidak kemana-mana.

Jarak antara kota ini dengan tempat tinggal Kuan Hong Siau tidak seberapa jauh. Dia pasti sudah mendengar berita pembunuhan atas diri Li Po oleh Tao Heng Kan. Karena itu, begitu bertemu dengan Liu Hou dan mendengar mereka ada di rumahnya, dia langsung menganggap Lie Cun Ju sebagai abangnya yang sedang buron.

"Kalian berdua salah duga. Tahukah kalian siapa dia?" tanyanya sambil menunjuk kepada Lie Cun Ju.

Si Harimau bersayap emas Tan Liang maju satu langkah. "Memangnya dia bukan abangmu Tao Heng Kan?" tanya Tan Liang.

"Bukan. Dia putra kedua pasangan suami istri Pat Kua Kim Gin Kiam Lie Yuan dan Lim Cing Ing, namanya Lie Cun Ju."

Tentu saja Tan Liang tidak akan percaya begitu saja. "Apa buktinya?" tanya si Harimau Bersayap Emas Tan Liang.

Lie Cun Ju yang berbaring di atas tempat tidur melirik sekilas kepada Tao Ling dan memberi isyarat kepadanya. Gadis itu langsung mengerti. Dia mengulurkan tangannya dan terdengarlah Cring! Cring! sebanyak dua kali. Dia mengeluarkan pedang emas dan perak dari selipan ikat pinggangnya.

"Lie toako terluka parah, pedang Kim Gin Kiam ini untuk sementara aku yang menjaganya! inilah bukti yang Anda minta!"

Sepasang pedang emas dan perak ini sangat terkenal di dunia bu lim, Juga sulit dibuat tiruannya. Tapi hati Liu Hou dan Tan Liang tidak hahis mengerti, mengapa dua keluarga yang saling bermusuhan sedalam itu, putra putri masing-masing malah bisa menjalin persahabatan dan tampaknya sudah akrab sekali? Karena Tan Liang adalah penduduk setempat, Tao Ling yakin dia sudah mendengar peristiwa tentang hancurnya perahu mereka dan terhanyutnya dirinya serta Lie Cun Ju.

"Setelah perahu tiba-tiba terbelah menjadi dua bagian, kami terhanyut sampai jauh. Entah bagaimana keadaan Kuan tayhiap, orang tuaku, pasangan suami istri Lie Yuan dan koko ku sekarang?"

"Jejak Tao Heng Kan tidak jelas. Keadaan orang tuamu dan Kuan tayhiap baik-baik saja, hanya pasangan suami istri Lie tayhiap ditotok jalan darahnya dengan cara yang aneh. Sampai sekarang masih belum sanggup dibebaskan. Keluarga Sang yakni Sang Cu Ce malah melarikan diri dengan ketakutan ketika diminta bantuannya," sahut Tan Liang.

"Apakah sudah diketahui siapa orangnya yang menotok jalan darah pasangan suami istri Lie tayhiap?" tanya Tao Ling.

Wajah si harimau bersayap emas Tan Liang jadi kelam. "Sampai saat ini masih belum diketahui!"

Lie Cun Ju masih sadar. Dia mendengar jalan darah kedua orang tuanya masih belum terbebaskan sampai saat ini, hatinya menjadi gundah. "Tao kouwnio, biar bagaimana lukaku ini harus dirawat. Lebih baik kita pergi saja ke gedung Kuan loya."

Tao Ling mengerti maksud hatinya yang ingin cepat-cepat bertemu dengan ayah bundanya. Memangnya dia sendiri tidak rindu kepada kedua orang tuanya? Walaupun jarak antara tempat ini dengan kediaman Kuan loya hanya seratus li lebih, tetapi apabila di dalam perjalanan kepergok ketiga iblis yang kemarin, jiwa mereka pasti tidak dapat dipertahankan lagi. Karena itu dia menasehati Lie Cun Ju.

"Lie toako, bahkan Kuan tayhiap saja tidak sanggup membebaskan jalan darah orang tuamu, apa gunanya kau kesana? Aku rasa Kuan tayhiap dan kedua orang tuaku pasti akan mencari akal untuk membebaskan jalan darah mereka."

"Betul," tukas Tan Liang. "Kuan tayhiap sendiri sudah bersiap-siap mengantarkan kedua orang tuamu ke Si Cuan untuk meminta pertolongan si Kakek berambut putih Sang Hao telah merundingkan masalah ini."

Lie Cun Ju baru agak lega mendengar keterangan orang itu. Sedangkan dia juga maklum larangan Tao Ling adalah untuk kebaikan dirinya sendiri. Oleh karena itu dia tidak berkata apa-apa lagi.

"Tao kouwnio, apakah aku perlu menyuruh orang menyampaikan beritamu kepada kedua orang tuamu? Jarak dari sini ke tempat tinggal Kuan tayhiap hanya memakan waktu tiga kentungan apabila menunggang kuda pilihan," tanya Tan Liang kembali.

Tao Ling sadar, apabila orang tuanya sampai datang kemari, pasti dia tidak bisa bersama-sama Lie Cun Ju lagi. Karena itu dia menyahut cepat. "Tidak usah!"

Tan Liang dan Liu Hou masih duduk di dalam kamar dan menanyakan masalah Tao Heng Kan yang membunuh Li Po tanpa sebab musabab. Karena urusan ini sudah tersebar kemana-mana dan menjadi tanda tanya bagi setiap orang. Tentu saja Tan Liang dan Liu Hou juga ingin mengetahui hal yang sebenarnya. Tao Ling hanya dapat menceritakan kejadian yang berlangsung saat itu, sedangkan apa sebabnya kokonya sampai membunuh Li Po, dia sendiri tidak habis mengerti.

Baru saja selesai bercerita, tiba-tiba dua orang petugas piau kiok masuk ke dalam kamar dengan sikap gugup. "Tan.... cong piau.... tau, di... luar.... ada orang... yang ingin... ber... temu dengan... Anda!"

"Ada orang ingin bertemu saja, mengapa kau sampai segugup ini?" bentaknya kesal.

"Begitu masuk ke dalam halaman, orang itu sudah menghancurkan patung singa di depan dengan sekali hantam!" kata yang satunya.

Wajah Tan Liang langsung berubah mendengar keterangan anak buahnya. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya. "Bagaimana rupa orang yang datang itu?"

"Yang... satu bertubuh tinggi kurus, satunya lagi... gemuk pendek, sedangkan yang terakhir... tampaknya seorang perempuan. Wajah mereka tidak terlihat karena mengenakan sebuah topeng berwarna merah darah."

Tan Liang dan Liu Hou tampak merenung memikirkan kira-kira siapa orang yang berpenampilan demikian di dunia kang ouw. Tetapi wajah Tao Ling langsung pucat pasi. Tidak disangka-sangka dengan susah payah dia berhasil melarikan diri dan bersembunyi di gedung itu. Ternyata ketiga iblis itu masih mengejar mereka. Dalam keadaan panik, dia sendiri sampai kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.

Kalau mengingat suara tawa si gemuk pendek yang aneh dan menyeramkan, seluruh bulu kuduk Tao Ling langsung merinding. Bagi dia sendiri masih tidak apa-apa, tetapi Lie Cun Ju sedang terluka parah. Mana mungkin dia sanggup mendengar berita yang mengejutkan itu. Begitu perasaannya galau, kembali dia memuntahkan darah segar. Tiba-tiba terdengar suara tertawa yang aneh itu, dan ketiga iblis itu pun sudah berdiri di depan pintu kamar.

Melihat ketiga orang itu langsung menerobos ke dalam kamar, mula-mula Tan Liang agak tertegun, kemudian wajahnya menyiratkan perasaan kurang senang. "Siapa kalian?" bentaknya sinis.

Tetapi si gemuk pendek itu tidak menyahut, dia saling lirik dengan kedua saudaranya. Tubuh si laki-laki tinggi kurus langsung berkelebat. Sebelah lengannya menjulur ke depan, dia langsung menyerang Tan Liang.

Selama hidupnya, entah sudah berapa banyak mara bahaya yang dihadapi si Harimau Bersayap Emas Tan Liang. Tentu saja dia tidak merasa takut, malah tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya bergerak sedikit untuk menggeser ke samping, tetapi lengan si laki-laki kurus yang panjang itu memainkan jurus yang aneh.

Padahal terang-terangan sebuah pukulan sedang diarahkan kepada Tan Liang, tetapi di tengah jalan, telapak tangannya itu mengatup dan berganti menjadi tinju. Tangannya seperti mempunyai mata dapat menggeser ke arah mana pun Tan Liang bergerak. Lagipula serangannya tidak menimbulkan suara sedikit pun.

Tan Liang bukan jago kelas satu di dunia kang ouw. Dia sebagai seorang Cong piau-tau dari perusahaan piau kiok. Pengalamannya cukup banyak dan pengetahuannya juga luas sekali. Setidaknya setiap ilmu pukulan yang terkenal di kolong langit ini, dia pernah mendengarnya. Akan tetapi jurus partai mana yang dikerahkan laki-laki bertubuh tinggi kurus ini? Dia tidak pernah mendengar ada ilmu pukulan seaneh ini di dunia kangouw.

Tan Liang tidak berani menyambut dengan kekerasan. Dia berusaha menghindar dari serangan laki-laki bertubuh tinggi kurus itu. Tetapi orang itu masih juga memainkan jurus yang sama. Hanya saja tinjunya membuka dan jari tangannya melakukan penyerangan dengan mencengkeram. Tiga kali perubahan ini membuat hati Tan Liang tercekat. Ilmu kepandaiannya sendiri terhitung tidak rendah, tapi tidak pernah dia menyaksikan perubahan jurus seaneh ini.

Sekitar kurang dari satu depa Tan Liang dengan penuh pukulan, tinju, dan cakar. Dia menyadari bahwa dirinya telah berhadapan dengan musuh yang tangguh. Terdengar suara Crep! Pecut lemasnya segera dilepaskan dan tidak mau menghadapi lawan dengan tangan kosong. Tetapi ketika Tan Liang baru saja melepaskan pecut lemasnya, tiba-tiba dia mendengar suara jeritan ngeri dari mulut Liu Hou.

Hubungan Tan Liang dengan Liu Hou sangat akrab, bahkan sudah seperti saudara kandung. Mendengar suara jeritan sahabatnya itu, pikirannya langsung terpecah, tangannya tanpa sadar merenggang dan tahu-tahu pecut lemasnya sudah direbut oleh si laki-laki bertubuh tinggi kurus. Kemudian disusul dengan suara Blam! Dadanya telah terhantam telak oleh pukulan lawan.

Dalam keadaan panik, Tan Liang masih sempat menolehkan kepalanya. Dia melihat Liu Hou sudah terkulai di atas tanah, mati dengan bersimbah darah. Rupanya ketika laki-laki bertubuh tinggi kurus mulai bergebrak dengan Tan Liang, perempuan yang dipanggil 'sam moay' segera menghunus sepasang goloknya dan menerjang ke arah Liu Hou.

Liu Hou yakin terhadap kekuatan sendiri. Dia menangkis serangan perempuan itu dengan golok lebarnya. Tidak disangka begitu saling membentur, goloknya langsung terpental. Golok di tangan kiri perempuan itu langsung menancap ke dalam ulu hatinya!

Sedangkan Tan Liang yang terkena hantaman si laki-laki tinggi kurus langsung merasa dadanya seperti mendidih. Tubuhnya terhuyung-huyung. Si Tinggi kurus mengeluarkan suara tawa yang aneh. Pukulan kedua langsung dilancarkan. Kali ini, Tan Liang bahkan tidak sempat bersuara sedikit pun. Tubuhnya terpental ke dinding kamar dengan keras, kemudian terkulai jatuh dan mati seketika dengan beberapa tulang belulang yang patah.

Keempat orang itu hanya bergebrak dalam waktu yang singkat. Ternyata sudah berhasil memperlihatkan pihak mana yang kalah dan pihak mana yang menang. Tao Ling yang duduk di samping Lie Cun Ju merasa hatinya diguyur air dingin. Tetapi biar bagaimana pun dia tidak bersedia melarikan diri atau meninggalkan pemuda itu.

Tampak perempuan tadi dan si laki-laki tinggi kurus membalikkan tubuh dan berlari keluar. Baru saja mereka meninggalkan kamar itu, dari luar berkumandang serentetan jeritan yang menyayat hati. Keadaan di luar sana tampaknya kalang kabut. Si laki-laki bertubuh gemuk pendek malah tertawa terkekeh-kekeh. Dia melangkahkan kakinya menghampiri Tao Ling dan lie Cun Ju.

Tao Ling sadar mereka sulit menghindarkan diri dari ancaman bahaya kali ini. Daripada mati konyol, lebih baik mengadu jiwa, pikirnya dalam hati. Dia segera melepaskan pedang ernas dan perak dari selipan pinggangnya kemudian menerjang ke arah si gemuk pendek. Tetapi baru saja ruangan kamar itu dipenuhi cahaya yang berkilauan, orang itu sudah menghantamkan sebuah pukulan dan membuat sepasang pedang Kim Gin Kiarn itu terpental jauh.

Belum sempat Tao Ling berdiri dengan mantap, sebuah pukulan lainnya sudah meluncur ke arahnya. Tao Ling merasa telapak tangan orang itu masih belum menyentuh dadanya. Hanya serangkum kekuatan telah menerpanya dengan kencang. Tubuhnya bagai ditimpa besi seberat ribuan kati. Matanya langsung berkunang-kunang, tubuhnya limbung dan Hooaakkk! Dia memuntahkan segumpal darah segar.

Tapi gerakan tubuhnya masih belum berhenti, kakinya terhuyung-huyung ke belakang, kemudian secara kebetulan jatuh menimpa tubuh Lie Cun Ju. Terdengar pemuda itu menjerit histeris. Tampaknya tekanan tubuh Tao Ling membuat lukanya bertambah parah beberapa kali lipat! Tao Ling merasa dirinya hampir jatuh tidak sadarkan diri begitu tubuhnya menimpa Lie Cun Ju. Tetapi dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, dia masih sempat mendengar suara perem-puan itu berkata.

"Toako, satu pun tidak ada yang tertinggal, mari kita pergi!".Tao Ling masih berusaha memberontak, tetapi tiba-tiba dadanya terasa sakit, si Gemuk Pendek sudah melancarkan kembali pukulannya yang kedua. Dia hanya merasa isi perutnya seperti membrendel dan kacau balau. Tubuhnya hanya sempat bergerak-gerak sedikit kemudian terdiam.

Entah berapa lama telah berlalu, Tao Ling tersentak sadar oleh rasa sakit dan perih. Dia ingin membuka matanya, tetapi kelopak matanya tidak bisa digerakkan sedikit pun. Seluruh tubuhnya bahkan seluruh isi perutnya bagai ditusuk ribuan jarum yang telah dipanaskan di atas bara api. Karena sakitnya sehingga sulit diuraikan dengan kata-kata.

Dalam tenggorokannya seakan ada segumpal darah yang telah membeku, sehingga sulit baginya meskipun hanya menelan ludah saja. Jangan kan berbicara, merintih pun Tao Ling tidak sanggup. Tetapi, ketika dia sudah tersadar. Meskipun matanya tidak bisa membuka, mulutnya tidak bisa bicara, tetapi telinganya masih bisa mendengar, walaupun suara yang ada di sekelilingnya hanya sayup-sayup seakan jauh sekali.

Dia merasa ada seseorang di dalam kamar itu yang terus bolak balik. Kadang suara langkah kakinya berhenti di sampingnya, kemudian menjauh lagi seakan meninggalkannya. Saat itu, kecuali pasrah pada nasibnya sendiri, Tao Ling tidak sanggup melakukan apa-apa lagi. Tidak lama kemudian terdengar seseorang berkata.

"Meskipun kedua orang ini masih ada setitik nafas, tapi seluruh isi perutnya sudah tergetar. Meskipun bisa mendapatkan obat yang mujarab, takutnya nyawa mereka hanya tinggal beberapa kentungan saja." Suara itu terdengar terlontar dari mulut orang yang sudah tua...

Jilid sebelumnya,

Jilid selanjutnya,
PENINGGALAN PUSAKA KERAMAT JILID 04
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.