Kisah Si Tawon Merah Jilid 09

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Kisah Si Tawon Merah Jilid 09
Sonny Ogawa

Kisah Si Tawon Merah Jilid 09 - KAM KI tersenyum. Dia tadi sudah melihat ketika wanita ini dikeroyok oleh tiga orang lawannya sehingga dia dapat mengukur sampai di mana kepandaian Pek-hwa Sianli dan tentu saja dia sudah dapat mengira-ngirakan apakah dia akan mampu mengalahkan wanita itu. Akan tetapi dia tidak mau memandang rendah dan dia hanya tersenyum, lalu dia berdiri dengan santai dan berkata kepada wanita itu. “Nah, mulailah, Hwa-moi, aku sudah siap sekarang.”

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Berbeda dengan Kam Ki yang berdiri santai tidak memasang kuda-kuda namun tetap waspada mengamati gerak gerik lawan, Pek-hwa Sianli memasang kuda-kuda yang tampak gagah. Ia membuka ilmu silat Sin-hong-kun (Silat Burung Hong Sakti) dengan kuda-kuda Sin-hong-liang-ci (Burung Hong Sakti Pentang Sayap), kedua kakinya di depan dan belakang berjingkat, kedua lengan dipentang ke kanan kiri dengan tangan ditekuk menunjuk ke atas, kepala tegak dan matanya memandang kepada Kam Ki dengan mulut tersenyum manis.

“Nah, seranglah, Hwa-moi. Aku siap melayanimu,” kata pula Kam Ki.

“Awas seranganku, Ki-twako. Hyaaatttt……!” Wanita itu menyerang dengan dahsyat.

Ketika tangannya menyambar dan menampar dari kiri. Kam Ki merasa betapa kuatnya angin pukulan yang terdorong oleh tangan kiri lawannya. Akan tetapi dia tidak menangkis, melainkan menghindarkan diri dengan elakan. Dia membiarkan wanita itu menyerangnya secara bertubi-tubi sampai belasan jurus.

Pek-hwa Sianli menampar, memukul, mendorong dan menendang, namun semua serangannya hanya mengenai angin saja. Wanita itu memang menyerang dengan menggunakan jurus-jurus yang paling ampuh karena sebetulnya ia ingin benar-benar menguji sampai di mana kelihaian pemuda yang menarik hatinya itu.

Setelah belasan kali mengelak, Kam Ki mulai menangkis untuk mengukur sampai di mana kekuatan yang terkandung dalam lengan wanita itu.

“Duk-dukk……!”

Dua kali lengan mereka beradu dan Pek-hwa Sianli terhuyung ke belakang. Dia merasa lengannya bertemu dengan benda yang kenyal seperti karet, namun yang mengandung tenaga kuat sekali sehingga tenaganya membalik dan membuat dia terhuyung.

Dengan kagum ia melihat dua kenyataan akan kelebihan pemuda itu, yaitu dalam ilmu meringankan tubuh yang membuat pemuda itu dapat bergerak gesit sekali sehingga belasan kali serangannya yang dilakukan cepat dan bertubi itu, tak sekalipun mengenai tubuh pemuda itu. Kemudian dalam mengadu tenaga sinkang, jelas bahwa iapun jauh kalah kuat.

Di samping perasaan kagum, ia juga merasa girang sekali karena pemuda itu ternyata menyambut atau menangkis pukulannya dengan menggunakan tenaga lunak. Hal ini menandakan bahwa Kam Ki tidak ingin ia terluka karena kalau pemuda itu menangkis dengan tenaga keras, bukan mustahil ia akan menderita luka luar maupun dalam.

Akan tetapi Pek-hwa Sianli masih belum merasa puas. Ia lalu menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Kam Ki melihat betapa kedua telapak tangan yang berkulit putih halus itu kini menjadi merah sekali. “Twako, awas, sambutlah Ang-tok-ciang ini!”

Setelah berkata demikian, ia menyerang lagi dengan jurus-jurus Sin-hong-kun, akan tetapi sekali ini dengan kedua telapak tangan merah yang mengandung racun. Itulah Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah) yang berbahaya sekali! Lawan yang terkena tamparan tangan merah ini akan menderita luka yang beracun dan dapat mengakibatkan kematian! Akan tetapi Pek-hwa Sianli tidak khawatir karena seandainya pemuda itu terkena tangan racun merahnya, ia memiliki obat untuk memunahkan racun itu.

Tentu saja Kam Ki tidak tahu akan obat ini. Diam-diam ia terkejut karena sebagai murid Hwa Hwa Cinjin, yaitu pertapa sesat yang diam-diam menjadi gurunya yang kedua, tentu saja dia mengenal ilmu-ilmu sesat. Dia tahu betapa berbahayanya Ang-tok-ciang ini. Akan tetapi untuk menyambut serangan ini dengan kekerasan, diapun merasa tidak tega. Wanita cantik jelita ini menerimanya sebagai sahabat dan tamu yang diperlakukan dengan manis budi, maka diapun tidak mau menyakiti Pek-hwa Sianli.

Maka, semua serangan dengan kedua tangan yang berubah merah itu dia hindarkan dengan kecepatan gerakannya, mengelak ke sana-sini sambil mencari datangnya kesempatan baik untuk mengalahkan gadis itu tanpa melukai atau menyakitinya. Setelah melihat ada kesempatan terbuka, cepat dia balas menyerang dengan totokan jari tangannya. Dengan cepat, bagaikan patukan ular, dua kali jari tangannya menotok kedua pundak Pek-hwa Sianli.

“Tuk-tukk......!”

Pek-hwa Sianli terbelalak karena seketika ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Ia tahu bahwa dirinya terkena totokan yang ampuh sekali. Yang membuat ia merasa heran bagaimana ia sampai dapat tertotok. Padahal, selama ini ia jarang bertemu tanding. Paling-paling ia bertemu dengan lawan yang seimbang tingkat kepandaiannya atau yang sedikit melebihi tingkatnya. Akan tetapi pemuda ini yang tadi selalu hanya mengelak, tiba-tiba begitu bergerak mampu menotoknya. Hal ini saja menunjukkan bahwa tingkat kepandaian Kam Ki jauh melampaui tingkatnya.

Akan tetapi hanya beberapa detik ia tak mampu bergerak karena segera tangan Kam Ki menepuknya dan totokan itupun punah sehingga ia dapat bergerak lagi. Bukan main kagumnya hati Pek-hwa Sianli. Akan tetapi dasar ia seorang wanita yang tidak mudah merasa puas, ia masih ingin mencoba lagi.

“Hebat, twako. Ilmu silat tangan kosongmu benar-benar luar biasa dan aku mengaku kalah. Akan tetapi sebelum engkau dapat mengalahkan senjataku siang-kiam (sepasang pedang) aku masih belum mengaku kalah mutlak. Maukah engkau melayani aku bersilat pedang?”

Kam Ki memang ingin memamerkan kepandaiannya kepada gadis itu, maka sambil tersenyum dia menjawab. “Baiklah, Hwa-moi, aku akan melayanimu main-main sebentar dengan sepasang pedangmu.”

Pek-hwa Sianli menjadi girang sekali. Ia berlari ke arah rak senjata dan mengambil sepasang pedang. Kemudian ia berkata kepada Kam Ki. “Twako, cepat pilih senjata mana yang kausukai!”

Wanita ini tidak ragu untuk bertanding dengan senjata karena biarpun menggunakan senjata, seorang yang ilmu silatnya telah mencapai tingkat tinggi, dapat menguasai senjatanya sepenuhnya sehingga dia tidak akan melukai lawan kalau hal itu tidak dikehendakinya. Semua gerakan terkendali sehingga tidak mungkin kelepasan melukai lawan.

Kam Ki yang sudah dapat mengukur tingkat kepandaian Pek-hwa Sianli dan memang ingin memamerkan kepandaiannya, sambil tersenyum menggeleng kepalanya. “Aku tidak perlu menggunakan senjata, Hwa-moi, bukan sekali-kali karena aku meremehkan ilmu pedangmu, melainkan aku percaya bahwa engkau tidak akan melukai aku. Pergunakanlah siang-kiam itu untuk menyerangku, aku akan mencoba menghindarkan diri dari serangan sepasang pedangmu.”

Pek-hwa Sianli mengerutkan alisnya, bukan merasa tersinggung karena iapun sudah mengerti bahwa pemuda ini lebih lihai darinya, hanya ia ragu apakah benar pemuda itu mampu menghadapi siang-kiamnya dengan tangan kosong. Sepasang pedangnya itu jarang bertemu lawan yang dapat mengalahkannya. Ia memiliki ilmu pedang Liap-liong-siang-kiam (Sepasang Pedang Pengejar Naga) yang terkenal lihai sekali.

“Betulkah engkau akan menghadapi sepasang pedangku dengan tangan kosong, twako? Ketahuilah bahwa aku mempunyai ilmu Liap-liong-siang-kiam yang amat lihai, dan selama ini jarang ada orang yang mampu mengalahkan sepasang pedangku. Karena itu, aku ragu-ragu untuk menyerangmu kalau engkau bertangan kosong.”

“Jangan khawatir, Hwa-moi. Bagaimanapun juga, engkau tidak akan menggunakan sepasang pedangmu itu untuk membunuh atau melukai aku, bukan?”

Melihat senyum yang membuat wajah pemuda itu amat tampan dan menarik hatinya, Pek-hwa Sianli terpesona dan ia semakin kagum akan keberanian pemuda itu. “Baiklah kalau begitu. Nah, bersiaplah, twako!”

Gadis itu lalu memasang kuda-kuda, pembukaan ilmu pedang Pengejar Naga. Mula-mula sepasang pedang itu berpisah, yang kiri menunjuk ke bumi, yang kanan menunjuk ke langit, lalu sepasang pedang bergerak dan saling bertemu di depan dada, mengeluarkan bunyi berdenting dan tampak bunga api berpijar ketika sepasang pedang bertemu dan pedang-pedang itu bersilang!

Kam Ki memandang kagum. Betapa gagah dan cantiknya gadis ini, pikirnya. Diapun kini memasang kuda-kuda yang tampak gagah sekali, kaki kiri ke belakang, kaki kanan di depan dengan lutut ditekuk, tangan kanan di pinggang dikepal dan tangan kiri di depan dada membentuk cakar.

Melihat ini, Pek-hwa Sianli menjadi gembira sekali dan iapun mulai mengelebatkan sepasang pedangnya dan berseru, “Twako, awas, aku mulai menyerang!”

Sepasang pedang itu menyambar-nyambar dan lenyap bentuknya menjadi dua gulungan sinar. Kam Ki sudah waspada dan tubuhnya juga bergerak cepat sekali sehingga dia berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua gulungan sinar pedang itu! Ke manapun sepasang pedang itu menyambar, selalu tubuh Kam Ki dapat menghindar seolah dapat menyelinap di antara sepasang pedang.

Pek-hwa Sianli kagum dan terkejut juga, sama sekali tidak mengira betapa sepasang pedangnya sama sekali tidak berdaya, seolah-olah ia menyerang sebuah bayangan saja!

Sampai tigapuluh jurus lebih ia menyerang tanpa hasil dan tiba-tiba ia merasa lengan kanannya lumpuh dan pedang itu tahu-tahu telah pindah ke tangan Kam Ki. Ketika ia menyerang dengan pedang kirinya, Kam Ki menggerakkan pedang rampasan itu dengan pengerahan tenaga.

“Tranggg.......!” Pek-hwa Sianli tidak mampu menahan dan pedangnya sudah terlempar lepas dari tangan kirinya. Kam Ki melompat dan menyambar pedang itu sehingga kini sepasang pedang itu telah berada di kedua tangannya! Pek-hwa terkejut sekali dan kini Kam Ki menghampirinya dan menyerahkan sepasang pedang itu kembali kepadanya.

“Maaf, Hwa-moi, ilmu pedangmu sungguh lihai, terpaksa aku menggunakan akal untuk merampasnya. Kalau tidak, sungguh amat berbahaya bagiku!” kata Kam Ki sambil tersenyum.

Bukan main kagum dan senangnya hati Pek-hwa Sianli. Ia merasa kagum karena ternyata pemuda itu mampu mengalahkan ia hanya dengan tangan kosong, bahkan tanpa melukai dan dapat merampas sepasang pedangnya begitu saja! Dan hatinya senang karena jelas bahwa Kam Ki merendahkan diri dan memuji ilmu pedangnya!

Ia melempar sepasang pedangnya ke arah rak senjata dan sepasang pedang itu dengan tepat menancap di tiang rak itu! Ia lalu memegang kedua tangan Kam Ki. “Aih, twako, sungguh engkau hebat, luar biasa, aku taluk padamu, aku kagum sekali……!”

Ia lalu menarik pemuda itu ke meja di mana terdapat dua baskom air dan mengajak pemuda itu mencuci muka dan lengan yang berkeringat, lalu mengusapinya dengan handuk yang tersedia tadi. Sekali ini, Pek-hwa Sianli benar-benar telah jatuh cinta kepada pemuda itu. Ia lalu menggandeng tangan Kam Ki dan mengajaknya makan hidangan yang serba lezat dan mewah, yang telah dipersiapkan oleh dua orang pelayannya, A-hui dan A-kui.

Dua orang pelayan yang cantik manis ini melayani mereka dengan penuh hormat. Dua orang gadis pelayan ini telah mengetahui bahwa pemuda itu lihai sekali, dapat mengalahkan nona mereka sehingga mereka berdua pun kagum bukan main. Maka, dengan mencuri-mencuri, terkadang mereka melepas kerling tajam disertai senyum manis kepada Kam Ki ketika mereka berada di belakang Pek-hwa Sianli. Kam Ki melihat ini, akan tetapi dia tidak mengacuhkannya karena seluruh perhatiannya sedang tertarik kepada Pek-hwa Sianli.

Dengan cerdik, Pek-hwa Sianli yang sudah berpengalaman banyak bergaul dengan para pemuda itu berusaha untuk memikat hati Kam Ki. Kam Ki sendiri seorang pemuda yang sama sekali belum pernah bergaul erat dengan wanita. Dia adalah seorang perjaka tulen dan masih hijau tentang wanita. Bagaikan seekor laba-laba yang mempergunakan jala benang halus yang ditata indah untuk memikat dan menjebak seekor serangga yang masih bodoh.

Pek-hwa Sianli mempergunakan segala kecantikan wajahnya, keindahan bentuk tubuhnya, kemanisan rayuannya, ditambah makanan lezat dan anggur merah manis yang keras namun lembut sehingga setelah selesai makan dan minum banyak anggur, wajah Kam Ki menjadi kemerahan.

Bagaikan seekor domba yang dituntun ke tempat penyembelihan, Kam Ki dituntun Pek-hwa Sianli ke dalam kamarnya. Memang pada dasarnya Kam Ki adalah seorang laki-laki yang berbatin rapuh, pertahanannya lemah membuat pendirian dan pertimbangannya goyah sehingga dengan mudah saja dia bertekuk lutut kepada nafsunya sendiri.

Maka, tidak sukar bagi Pek-hwa Sianli untuk merayunya dan akhirnya dia jatuh ke dalam pelukan wanita itu dengan gairah yang berkobar-kobar, dengan senang hati menuruti semua keinginan Pek-hwa Sianli. Kam Ki bagaikan seekor serangga yang akhirnya terjerat, dilibat dan dihisap oleh laba-laba sampai habis darahnya dan menjadi kering.

Kam Ki yang masih hijau itu terjatuh ke pelukan Pek-hwa Sianli yang berpengalaman. Dia bagaikan mabok berenang dalam lautan madu yang nikmat dan menyeretnya kedalam cengkeraman gairah nafsunya sendiri. Akan tetapi anehnya, bukan Kam Ki yang tergila-gila. Sekali ini Pek-hwa Sianli yang jatuh hati dan tergila-gila.

Biasanya tidak ada pemuda yang dikeram wanita itu lebih dari satu minggu. Ia segera menjadi bosan dan untuk merahasiakan ulahnya, pemuda itu lalu dibunuh dan mayatnya dilempar ke jurang. Akan tetapi sekali ini, sudah lewat dua bulan masih saja Kam Ki dan Pek-hwa Sianli bersenang-senang. Siang malam mereka berenang dalam lautan gairah asmara bagaikan sepasang pengantin baru sedang berbulan madu panjang.

A-hui dan A-kui yang menjadi pelayan setia dari Pek-hwa Sianli menjadi terheran-heran melihat keadaan ini dan tahulah mereka bahwa sekali ini majikan mereka benar-benar tergila-gila kepada pemuda yang gagah perkasa dan lihai itu.

Ada dua kasih sejati yang perlu kita ketahui. Kasih sejati dan kasih atau cinta nafsu. Cinta kasih sejati mengesampingkan kesenangan jasmani kita sendiri dan mendahulukan kepentingan kebahagiaan orang yang dicinta. Cinta nafsu hanya mengejar kesenangan bagi diri sendiri sehingga cinta seperti itu dengan mudah dapat berubah menjadi benci kalau yang dicinta itu tidak mendatangkan kesenangan lagi.

Sebaliknya, cinta sejati membuat kita selalu merasa kasihan kepada orang yang dicinta, ingin membahagiakan orang itu, ikut prihatin kalau melihat orang itu berduka dan ikut bahagia kalau melihat orang itu bersuka. Karena sifatnya hanya mengejar kesenangan jasmani, maka cinta nafsu selalu mementingkan si-aku, kalau aku disenangkan, aku cinta, sebaliknya kalau aku disusahkan, aku benci.

Mungkin baru sekarang Pek-hwa Sianli benar-benar jatuh hati dan tergila-gila kepada seorang pemuda. Tentu saja seorang yang telah menjadi hamba nafsu seperti wanita ini tidak pernah mengenal cinta sejati. Cintanya bergelimang nafsu dan karena belum pernah ia mendapatkan seorang laki-laki seperti Kam Ki, maka ia melekat dan tergila-gila. Di lain pihak, Kam Ki yang baru pertama kali mengalami bergaul rapat dengan seorang wanita, setelah lewat tiga bulan, mulailah dia merasa jemu dan bosan!

Memang, nafsu selalu mengejar kesenangan dan kesenangan itu, apabila dikejar dan luput mendatangkan kecewa dan duka, akan tetapi setelah didapatkan, dibayangi kebosanan karena nafsu mendorong kita untuk mencari yang lain, yang baru dan yang dibayangkan sebagai yang lebih menyenangkan daripada yang telah diraihnya.

Kam Ki mulai merasa bosan dan mulailah dia melirik A-hui dan A-kui! Dalam kebosanannya, tampaklah cacat-cacat yang ada pada diri Pek-hwa Sianli. Sebaliknya A-hui dan A-kui yang “baru” tampak keindahannya saja. Tidak mengherankan kalau dalam pandang mata Kam Ki, dua orang gadis pelayan ini tampak lebih cantik, lebih menarik, lebih menggairahkan nafsunya dari Pek-hwa Sianli!

Kemudian, hal yang tidak terelakkan pun terjadilah! Pada suatu malam Pek Hwa Sianli menangkap basah Kam Ki yang tengah bermesraan dengan A-hui dan A-kui, di “keroyok” dua oleh gadis-gadis pelayan itu! Bukan main marahnya hati Pek-hwa Sianli! Ia mengamuk dan membunuh kedua orang pelayannya itu.

Kam Ki sendiri segera melarikan diri, bukan karena takut kepada Pek-hwa Sianli, melainkan karena malu! Dia, yang baru saja berkecimpung dalam lautan asmara, masih mempunyai rasa malu akan penyelewengannya dan diapun melarikan diri, meninggalkan Pek-hwa Sianli baginya sudah membosankan.

Pek-hwa Sianli marah dan menangis, akan tetapi tidak berdaya karena andaikata ia mengejar sekalipun, ia tidak akan menang melawan Kam Ki.

Selama tiga bulan Kam Ki seolah menjadi murid Pek-hwa Sianli berenang dalam lautan asmara. Hal ini membangkitkan gairah berahinya. Bagaikan harimau buas yang selama ini tidur, kini dibangkitkan oleh usikan Pek-hwa Sianli sehingga Kam Ki menjadi seorang yang haus oleh gairah berahi yang berkobar. Dia benar-benar telah menjadi budak dari nafsu berahinya sendiri dan kehausan itu yang mendorong dia mendekati A-hui dan A-kui.

Kini dia telah bebas dari rangkulan Pek-hwa Sianli dan di dunia bertambah seorang manusia hamba nafsu yang berkeliaran, bagaikan seekor harimau buas yang selalu mencari mangsa. Dalam perjalanannya merantau itu, setiap kali gairah berahinya menguasai pikirannya dan amat menyiksanya, dia lalu mencari mangsa.

Dia tidak kuat menahan gelora nafsunya dan mencari mangsa di dusun-dusun yang dilaluinya. Kalau ada wanita muda yang cantik tidak perduli gadis atau isteri orang, lalu diculiknya dan dipaksanya untuk melayani gairah nafsunya, kemudian ditinggalkannya begitu saja.

Pada suatu pagi perjalanannya yang tanpa tujuan tertentu itu membawanya ke kaki Siong-san (Bukit Siong). Baru saja dia meninggalkan sebuah dusun yang cukup ramai dan di dusun itu selain melampiaskan gairah nafsunya pada seorang wanita yang diculiknya, dia juga melakukan pencurian di rumah seorang hartawan menggondol emas dan perak sekantung dan pakaian baru beberapa pasang. Kini dia berjalan di kaki Siong-san, menggendong sebuah buntalan hasil pencuriannya.

Di puncak bukit itu terdapat perkampungan cabang Pek-lian-kauw. Cabang Pek-lian-kauw di Bukit Siong itu dipimpin oleh tiga orang bersaudara seperguruan. Ketuanya adalah Ang-bin Moko (Iblis Muka Merah), dibantu oleh Pek-bin Moko (Iblis Muka Putih) dan Hek-bin Moko (Iblis Muka Hitam), dengan anak buah sebanyak limapuluh orang lebih.

Pek-lian-kauw adalah sebuah perkumpulan yang selalu menentang pemerintahan dan untuk memperoleh dana mereka tidak segan untuk melakukan kejahatan seperti merampok dan memaksa orang-orang yang lewat di daerah itu untuk membayar “pajak”.

Ketika Kam Ki berjalan dengan santai di kaki Siong-san yang sunyi itu, tiba-tiba dari balik batu besar dan pohon-pohon di tepi jalan berlompatan keluar belasan orang. Mereka adalah anak buah Pek-lian-kauw yang dipimpin oleh Hek-bin Moko, pemimpin ketiga dari cabang Pek-lian-kauw itu.

“Berhenti!” bentak seorang anak buah sedangkan Hek-bin Moko yang merasa terlalu tinggi kedudukannya untuk memeras seorang pejalan kaki, hanya berdiri memandang. Mukanya yang hitam arang ltu menyeramkan sekali.

“Sobat, serahkan pajak sebesar limapuluh tail. perak, kalau tidak punya, tinggalkan buntalanmu itu di sini, baru engkau boleh melanjutkan perjalanan melewati daerah ini!”

Kam Ki tersenyum mengejek, tahu bahwa orang-orang ini berniat merampoknya. Tentu saja dia mempunyai uang yang hanya limapuluh tail perak itu karena dia mempunyai sekantung uang perak dan emas.

“Hemm, kalian minta pajak limapuluh tail perak? Biar limaratus atau lima ribu tail sekalipun aku dapat memberi, akan tetapi aku harus tahu lebih dulu siapa yang memungut pajak di sini! Kalian ini siapakah yang begitu sombong hendak memaksa orang membayar pajak? Kalian bukan pemerintah yang menguasai daerah ini. Kalau mau mengemis, jangan dengan paksaan begitu!”

Semua anggauta Pek-lian-kauw melotot mendengar penghinaan itu. “Mengemis? Jahanam busuk, kami adalah orang-orang Pek-lian-kauw yang berkuasa di daerah ini!” bentak orang yang mewakili para anggautanya itu.

Kam Ki tersenyum. Dia sudah banyak mendengar tentang Pek-lian-kauw, sebuah perkumpulan besar dan kuat yang berpengaruh di antara para tokoh di dunia kang-ouw, seperti yang pernah dia dengar dari Hwa Hwa Cinjin. Tidak menguntungkan kalau dia bermusuhan dengan Pek-lian-kauw dan alangkah baiknya kalau dia dapat menjadi pemimpin mereka.

Namanya akan menjadi terkenal, ditakuti dan dihormati dunia kang-ouw dan dia mempunyai banyak anak buah yang boleh diandalkan. Daripada hidup tanpa tempat tinggal dan kedudukan tetap, alangkah baiknya kalau dia dapat menjadi ketua Pek-lian-kauw, walaupun hanya ketua cabang saja.

“Dengar, kalian orang-orang Pek-lian-kauw. Aku ingin berteman dan bicara dengan pimpinan kalian. Soal pajak itu, jangan khawatir, seratus kali dari itupun aku sanggup memberinya!”

Orang-orang itu tentu saja memandang rendah pemuda yang tampan dan berpakaian mewah ini. Pemuda ini tidak membawa senjata, tampaknya seperti seorang kongcu (tuan muda) yang kaya saja.

Karena melihat Hek-bin Moko, pemimpin mereka, masih diam saja karena si muka hitam ini yakin bahwa tanpa dia turun tangan, belasan orang anak buahnya tentu akan mampu mengatasi pemuda itu, maka para anak buah Pek-lian-kauw segera mengepung Kam Ki. Juru bicara mereka tadi, seorang anggauta Pek-lian-kauw berusia sekitar empat puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok, maju menghadapi Kam Ki dan menghardiknya.

“Bocah macam engkau hendak bertemu dengan pimpinan kami yang terhormat? Sudahlah, tidak perlu banyak cakap lagi. Serahkan buntalan itu kepada kami dan cepat menggelinding pergi dari sini kalau engkau tidak ingin kuhancurkan kepalamu!”

Kam Ki tersenyum akan tetapi sepasang matanya mencorong. Ini merupakan tanda bahwa dia sudah marah sekali. Akan tetapi dalam benaknya masih terbayang keinginannya untuk dapat menjadi pemimpin cabang Pek-lian-kauw, maka dia menahan kesabarannya dan meyakinkan hatinya bahwa dia tidak boleh melakukan pembunuhan kalau menghendaki kedudukan itu.

“Coba kalian semua maju dan siapa yang dapat menghancurkan kepalaku lebih dulu, boleh memiliki buntalan ini. Kalian tahu, dalam buntalan ini terdapat emas dan perak yang amat mahal. Hayo hancurkan kepalaku!”

Di antara para anggauta yang jumlahnya enambelas orang itu, ada yang tertawa geli. Kiranya mereka berhadapan dengan seorang pemuda gendeng (ediot)! Karena merasa diri gagah, tentu saja mereka tidak mau mengeroyok seorang pemuda gila, dan mereka sama sekali tidak percaya akan cerita tentang emas dan perak itu.

Anggauta Pek-lian-kauw yang tinggi besar itu dengan marah membentak, “Bocah gila, mampuslah!”

Dia mengayun tangannya yang besar menghantam ke arah kepala Kam Ki dan agaknya dia tidak bicara kosong belaka kalau hendak memecahkan kepala Kam Ki karena mungkin hantaman yang dahsyat itu akan dapat memecahkan kepala seorang laki-laki biasa. Akan tetapi hantaman itu luput dan tiba-tiba tubuhnya terbanting roboh tidak mampu bangkit lagi, hanya merintih-rintih. Memegangi perut yang rasanya mulas bukan main!

Lima belas orang rekannya terkejut dan juga marah. Mereka segera maju mengeroyok. Akan tetapi empat orang yang berada paling depan, juga berpelantingan dan tidak mampu bangkit, terkena tamparan kedua tangan Kam Ki. Masih untung mereka tidak tewas karena Kam Ki membatasi tenaganya, namun cukup membuat mereka yang roboh tidak mampu bangkit kembali.

Kini sisa anak buah Pek-lian-kauw mencabut senjata dan dengan buas mereka menyerang Kam Ki dengan golok atau pedang. Hujan senjata itu disambut Kam Ki dengan tenang, namun tubuhnya berkelebatan di antara sebelas orang pengeroyok itu sambil membagi-bagi tamparan dan tendangan.

Dalam waktu yang cepat, enam belas orang anak buah Pek-lian-kauw itu sudah roboh semua dan belum ada yang dapat bangkit kembali karena mereka masih mengaduh-aduh sambil memegangi bagian yang kena tampar atau tendang!

Wajah Hek-bin Moko menjadi semakin hitam. Kedua matanya yang lebar itu melotot dan dia segera menghampiri Kam Ki. Pemuda itu memandang penuh perhatian. Yang berada di depannya adalah seorang laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun, bajunya putih dan memakai jubah yang terbuka sehingga tampak gambar bunga teratai putih dalam lingkaran berdasar biru. Rambutnya digelung ke atas dan diikat pita putih model gelung para tosu (pendeta Agama To), dan di punggungnya tergantung sebatang pedang.

“Engkaukah pemimpin Pek-lian-kauw di sini?” Kam Ki bertanya.

“Pimpinan cabang Pek-lian-kauw di sini adalah kami bertiga. Aku, ji-suheng (kakak seperguruan kedua) dan twa-suheng (kakak seperguruan pertama). Siapakah engkau yang berani menentang kami dan merobohkan anak buahku?”

“Aku Kam Ki dan engkau tadi melihat sendiri bahwa anak buahmu yang menyerang aku sehingga mereka mencari penyakit sendiri. Akan tetapi engkau juga melihat bahwa aku tidak membunuh mereka, hal ini karena aku ingin menjadi pemimpin Pek-lian-kauw yang menguasai daerah ini.”

“Keparat sombong!” Hek-bin Moko sudah mencabut pedangnya. Langsung saja dia menyerang Kam Ki dengan pedangnya. Hal ini saja menunjukkan betapa curangnya pemimpin Pek-lian-kauw ini. Dia menyerang dengan pedang lawan yang tidak bersenjata dan belum siap tanpa peringatan terlebih dulu.

“Singgg……!” Pedang itu mendesing dan menyambar ke arah leher Kam Ki.

Melihat sambaran pedang itu cukup dahsyat, Kam Ki tahu bahwa lawannya bukan orang lemah seperti para anak buahnya tadi. Dia mengelak dengan mudah. Hek-bin Moko mengejar dengan serangan bertubi-tubi. Namun sama sekali semua serangan itu tidak dapat mengenai tubuh lawan.

Diam-diam Kam Ki membuat perhitungan. Sebaiknya kalau dia bertemu dengan para pimpinan yang lain dan mengajak mereka bertanding daripada membiarkan perkumpulan itu mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mengeroyoknya. Maka dia mengambil keputusan untuk tidak melukai Hek-bin Moko, hanya membuat lawan menjadi jerih dan melarikan diri ke sarangnya untuk mencari bala bantuan.

Setelah mendapat kesempatan, dia menotok siku lengan kanan lawan sehingga Hek-bin Moko merasa tangannya kaku dan dengan mudah pedangnya dapat dirampas Kam Ki. Pemuda ini lalu menggunakan kedua tangannya, mematah-matahkan pedang itu seperti orang mematahkan sebatang lidi saja!

Melihat ini, Hek-bin Moko terbelalak, lalu dia melompat pergi dan sebelum melarikan diri dia berteriak. “Orang she Kam, kalau memang gagah berani, tunggulah pembalasanku di sini!”

Kam Ki tersenyum. Inilah yang dia kehendaki. Dia melihat belasan orang yang roboh tadi sudah ada yang merangkak bangun dan mereka saling tolong. Dia tidak memperdulikan mereka lalu melompat jauh dan membayangi Hek-bin Moko yang lari mendaki bukit.

Tergopoh-gopoh Hek-bin Moko memasuki pondok besar dalam perkampungan Pek-lian-kauw itu, sebuah pondok besar yang berada di tengah perkampungan, di antara banyak pondok-pondok yang kecil. Setelah tiba di ruangan tengah di mana dia lihat kedua pemimpin Pek-lian-kauw yang lain duduk, dia menjatuhkan diri di atas sebuah kursi dan terengah-engah.

“Celaka, ji-suheng dan twa-suheng. Aku dan enam belas orang anak buah telah dikalahkan oleh seorang pemuda bernama Kam Ki yang tadinya kami hadang. Dia lihai bukan main dan katanya ingin bicara dengan para pimpinan Pek-lian-kauw!”

Ang-bin Moko dan Pek-bin Moko mengerutkan alis mereka. Mereka berdua marah sekali. Siapa orangnya berani main-main dengan Pek-lian-kauw, pikir mereka. “Kurang ajar!” kata Ang-bin Moko sambil bangkit berdiri. “Kita harus cari dan hajar bocah itu!”

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di ambang pintu ruangan itu telah berdiri seorang pemuda yang bukan lain adalah Kam Ki. Pemuda itu tersenyum dan sikapnya tenang sekali. “Tidak perlu repot-repot mencari. Aku sudah berada di sini dan aku memang ingin bertemu dan bicara dengan para pimpinan Pek-lian-kauw.”

Tiga orang pimpinan Pek-lian-kauw itu terkejut bukan main. Mereka semua bangkit dan Hek-bin Moko berseru, “Inilah orangnya yang bernama Kam Ki!”

“Benar, aku Kam Ki dan aku menawarkan diri untuk menjadi pemimpin kalian, memimpin cabang Pek-llan-kauw ini agar memperoleh kemajuan!”

Ang-bin Moko dan Pek-bin Moko marah bukan main. “Bangsat cillk! Orang macam engkau hendak menjadi pemimpin cabang Pek-lian-kauw? Hemm, agaknya engkau sudah bosan hidup!” bentak Ang-bin Moko yang bertubuh tinggi kurus dan mukanya kemerahan.

“Berani benar engkau datang memusuhi kami!” bentak pula Pek-bin Moko.

“Tenanglah! Kalau aku datang untuk memusuhi kalian, tentu si muka hitam ini dan belasan orang anak buahnya tadi sudah kubunuh semua! Tidak, aku datang hendak memimpin kalian dan memajukan Pek-lian-kauw yang sudah lama kudengar namanya. Bahkan guruku menganjurkan agar aku membantu Pek-lian-kauw.”

“Gurumu? Siapa gurumu?” tanya Ang-bin Moko dengan alis berkerut. Alangkah beraninya pemuda ini sehingga membuat dia ingin mengetahui siapa gurunya.

“Aku mempunyai banyak guru dan yang kumaksudkan adalah guruku kedua, yaitu Hwa Hwa Cinjin, pertapa dipegunungan Himalaya.”

Tiga orang ketua cabang Pek-lian-kauw itu terkejut. Mereka sudah lama mendengar akan nama besar Hwa Hwa Cinjin yang kabarnya bahkan pernah mengajarkan suatu ilmu kepada ketua umum Pek-lian-kauw pusat! Tentu saja hal ini membuat mereka menjadi hati-hati dan ragu untuk mengerahkan semua anak buah untuk mengeroyok Kam Ki.

“Kam Ki, engkau hanyalah seorang pemuda. Bagaimana engkau akan dapat menjadi ketua cabang Pek-lian-kauw? Kami bertiga, aku Ang-bin Moko menjadi ketua cabang dan dua orang suteku (adik seperguruanku) ini, Pek-bin Moko dan Hek-bin Moko, menjadi ketua kedua dan ketiga. Sekarang, katakan, apa kehendakmu?”

“Begini, kita bukanlah musuh, maka kita atur dengan adil. Aku akan bertanding menghadapi kalian bertiga untuk menentukan siapa yang lebih unggul dan lebih pantas menjadi ketua. Kalau aku kalah dan tewas, tidak akan ada yang menuntut kalian. Akan tetapi kalau kalian bertiga tidak mampu mengalahkan aku, maka kalian harus mengangkat aku menjadi ketua dan kalian bertiga menjadi pembantu-pembantuku. Bagaimana pendapat kalian?”

Tiga orang itu saling pandang. Biarpun pemuda ini mengaku murid Hwa Hwa Cinjin dan sudah membuktikan kelihaiannya dengan mengalahkan Hek-bin Moko dan enambelas orang anak buah, akan tetapi kalau mereka maju bersama, tidak mungkin mereka akan kalah. “Ha-ha-ha, bagus sekali. Kami terima tantanganmu, Kam Ki.”

“Memang seharusnya begitu. Mari kita keluar dan bertanding di tempat terbuka agar semua anak buah Pek-lian-kauw menyaksikan siapa yang lebih patut memimpin mereka,” kata Kam Ki yang cepat melompat keluar dari ruangan dan pondok besar itu.

Tiga orang ketua cabang Pek-lian-kauw lalu bersiap-siap. Hek-bin Moko yang kehilangan pedangnya, mengambil pedang baru dan tiga orang itu lalu keluar dari rumah.

Sementara itu, enambelas orang anak buah Pek-lian-kauw tadi memasuki perkampungan dan kini seluruh anggauta Pek-lian-kauw yang mendengar bahwa ada seorang pemuda mengacau di sarang mereka, semua keluar untuk menanti perintah para pimpinan mereka. Kurang lebih limapuluh orang anggauta Pek-lian-kauw kini berkumpul di pekarangan rumah induk perkumpulan itu, di mana tiga orang pimpinan mereka tinggal.

Tiba-tiba mereka melihat seorang pemuda keluar dari pintu diikuti oleh tiga orang ketua mereka. Semua anggauta Pek-lian-kauw terkejut dan siap siaga ketika enambelas orang rekan mereka itu mengatakan bahwa itulah pemuda yang telah menjatuhkan mereka tadi. Semua anggauta Pek-lian-kauw mencabut senjata, menanti perintah.

Akan tetapi Kam Ki yang tiba di pekarangan lebih dulu, segera berseru kepada para anggauta. “Para anggauta Pek-lian-kauw, dengarlah!” serunya lantang karena didorong tenaga sakti yang kuat. “Tiga orang pimpinan kalian telah bersepakat dengan aku untuk bertanding. Mereka bertiga akan mengeroyok aku dan kalau aku kalah dan mati, sudahlah lupakan saja. Akan tetapi kalau aku yang menang, mereka sudah berjanji akan mengangkat aku menjadi ketua Pek-lian-kauw cabang ini dan mereka bertiga menjadi pembantuku. Kalian semua kuperingatkan agar jangan ada yang campur tangan hendak mengeroyok aku karena siapa yang bergerak, akan kubunuh! Apakah kalian semua setuju? Yang tidak setuju boleh maju!”

Semua anggauta Pek-lian-kauw diam dan tidak ada yang berani maju karena tiga orang ketua mereka tidak memberi isyarat kepada mereka untuk maju. Akan tetapi dua orang di antara mereka yang terkenal jagoan, agaknya hendak mencari muka kepada tiga orang pimpinan mereka. Dengan golok di tangan mereka maju.

“Kami akan membunuhmu, orang muda!” teriak mereka sambil mengacungkan golok.

Kam Ki berkemak-kemik menggunakan ilmu sihirnya, lalu menudingkan telunjuknya ke arah dua orang itu dan membentak dengan suara yang mengandung getaran dan wibawa amat kuat. “Kalian berdua boleh saling bunuh! Cepat lakukan!”

Kemudian terjadilah hal yang mengherankan dan mengejutkan semua orang. Dua orang murid Pek-lian-kauw itu kini menggerakkan golok mereka dan saling serang dengan sungguh-sungguh! Pek-lian-kauw terkenal sebagai perkumpulan yang tidak asing, dengan segala ilmu sihir dan racun. Maka, melihat betapa dua orang anggauta itu demikian mudah terjatuh ke bawah pengaruh bentakan pemuda itu, tiga orang pimpinan Pek-lian-kauw juga terkejut sekali.

Ang-bin Moko, ketua pertama cabang Pek-lian-kauw itu yang bermuka merah, terkejut melihat dua orang anggautanya kini saling serang menggunakan golok dengan mati-matian. Dia cepat mengerahkan tenaga sihirnya untuk memunahkan kekuatan sihir yang menguasai dua orang anggautanya sehingga mereka saling menyerang untuk membunuh itu.

“Kalian berdua, hentikan perkelahian itu! Aku, Ang-bin Moko ketua kalian, memerintahkan agar kalian berhenti berkelahi dan mundur!”

Akan tetapi bentakan nyaring Ang-bin Moko itu seperti lalunya angin saja, lewat tanpa bekas dan dua orang itu masih saling serang dengan mati-matian. Akhirnya, keduanya berseru kesakitan dan keduanya roboh terpelanting, masing-masing menderita luka parah oleh bacokan golok!

“Masih adakah yang tidak setuju dan hendak mengeroyok aku?” Kam Ki berseru lantang, terdengar oleh semua anggauta Pek-lian-kauw yang berada di situ. Kini tidak ada seorangpun berani maju menentang.

“Thio Kam Ki, engkau berani membunuh dua orang anggauta kami!” bentak Ang-bin Moko.

Kam Ki tersenyum. “Anggauta Pek-lian-kauw sepatutnya menaati perintah pimpinannya. Kalian bertiga sudah berjanji untuk pi-bu (mengadu kepandaian silat) melawan aku, akan tetapi dua orang itu hendak maju mengeroyok. Maka mereka berdua selayaknya dihajar agar para anggauta lainnya tidak berani membangkang terhadap keputusan yang diambil pemimpin mereka. Sudahlah, mari kita mulai pertandingan ini. Aku sudah siap!”

Tiga orang ketua cabang Pek-lian-kauw itu mengepung Kam Ki. Mereka sudah mencabut pedang dan kini mereka siap mengeroyok pemuda itu dengan membentuk Sha-kak-kiam-tin (Barisan Pedang Segi Tiga). Ang-bin Moko berdiri di depan Kam Ki, Pek-bin Moko di sebelah kanannya dan Hek-bin Moko di sebelah kirinya. Mereka melintangkan pedang di depan dada dan tangan kiri menuding ke depan dengan dua jari, yaitu jari penunjuk dan jari tengah.

Melihat pemuda itu masih berdiri santai dan sama sekali tidak membawa senjata apapun, Ang-bin Moko merasa tidak enak. Mereka bertiga terkenal sebagai orang-orang yang tangguh, bagaimana sekarang hendak mengeroyok seorang pemuda yang bertangan kosong padahal mereka bertiga menggunakan pedang? Tentu kebesaran mereka merosot dalam pandangan para anak buah mereka yang berkumpul semua di pekarangan itu dan menyaksikan pertandingan yang akan dimulai.

“Thio Kam Ki, keluarkan senjatamu dan bersiaplah. Kami akan segera menyerangmu!” bentak Ang-bin Moko.

Kam Ki tersenyum mengejek. “Tingkat kepandaian kalian bertiga masih jauh terlampau rendah bagiku, untuk apa aku menggunakan senjata? Senjataku adalah kedua pasang kaki tanganku yang cukup untuk mengalahkan kalian dan pedang kalian. Nah, mulailah, aku telah siap!”

Semua orang merasa heran melihat Kam Ki yang berkata siap itu sama sekali tidak memasang kuda-kuda seperti orang yang hendak menggunakan ilmu silat untuk bertanding. Dia berdiri santai saja, kedua tangan tergantung di kanan kiri tubuhnya, sama sekali tidak tampak membuat persiapan.

Tiga orang pemimpin Pek-lian-kauw itu menjadi marah sekali. Sikap dan kata-kata pemuda itu benar-benar amat memandang rendah kepada mereka! “Bocah sombong! Engkau mencari kematianmu sendiri!”

Setelah berkata demikian, Ang-bin Moko memberi isyarat kepada dua orang rekannya. Tiga orang itu lalu menggerakkan golok mereka, diputar-putar di atas kepala sehingga berubah menjadi sinar bergulung-gulung kemudian sinar-sinar tiga batang golok itu meluncur cepat ketika mereka menerjang ke arah tubuh Kam Ki.

Thio Kam Ki sama sekali bukan sekadar membual ketika tadi mengatakan bahwa tingkat kepandaian tiga orang lawannya itu masih jauh di bawah tingkatnya. Hal ini diketahuinya benar setelah tadi dia menghadapi Hek-bin Moko. Biar ada lima orang atau lebih setingkat Hek-bin Moko mengeroyoknya, dia tentu akan mampu mengalahkan mereka. Apalagi hanya tiga orang!

Biarpun mereka bergerak menyerang dengan cepat dan kuat, tubuh Kam Ki berkelebatan dan tiga orang itu menjadi terkejut sekali karena gerakan Kam Ki sedemikian cepatnya sehingga terkadang lenyap dari pandang mata mereka. Tiga orang ketua yang marah dan penasaran itu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, menyerang kalang kabut.

Kam Ki memang hendak memamerkan kepandaiannya. Setelah berkelebatan di antara tiga gulungan sinar golok, membuat anggauta Pek-lian-kauw yang menonton pertandingan itu terkagum-kagum, dia memperlihatkan kepandaiannya yang lebih mengagumkan lagi. Kini dia mulai menangkis tiga batang golok itu dengan kedua tangannya!

Tangan telanjang itu begitu saja menangkisi mata golok yang tajam dan berat, dan sama sekali tidak terluka, bahkan setiap kali tangan itu menangkis, tiga orang itu merasa betapa tangan mereka terguncang dan terasa panas. Tiba-tiba Kam Ki membuat gerakan menyerang. Dia merasa sudah cukup memamerkan kepandaiannya.

“Lepaskan golok........!!” bentaknya dan kedua tangannya menyambar-nyambar tiga kali. Dengan tepat tangannya menotok ke arah pergelangan tangan yang memegang golok.

Tiga orang itu berteriak dan golok mereka terlepas dari pegangan. Mereka terkejut dan cepat berlompatan ke belakang, lalu mereka berkumpul dan sambil berdiri berjajar, mereka mengerahkan dan menyatukan tenaga sakti lalu mendorongkan tangan mereka, menyerang Kam Ki dengan pukulan jarak jauh!

Melihat ini, Kam Ki menyambut serangan mereka dengan mendorong kedua telapak tangan ke depan. Hawa pukulan dahsyat menyambar keluar dari kedua telapak tangannya itu.

“Wuuuuttt…… blarrrrr……!”

Tubuh tiga orang ketua Pek-lian-kauw itu terdorong ke belakang, terjengkang roboh bergulingan! Masih untung bagi mereka bahwa Kam Ki tidak mengerahkan seluruh tenaganya karena kalau demikian halnya, mereka tentu tewas. Kini mereka hanya merasa dada mereka sesak karena tenaga sendiri yang dipaksa membalik.

Setelah terengah-engah sejenak, mereka merangkak bangkit dan menghampiri Kam Ki. Mereka bertiga takluk karena yakin benar bahwa pemuda ini memang memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada tingkat mereka. Mereka bertiga lalu memberi hormat dengan membungkuk dalam dan Ang-bin Moko sebagai pemimpin pertama, lalu berkata lantang sehingga terdengar oleh semua aggauta.

“Kami bertiga setuju mengangkat engkau menjadi ketua cabang Pek-lian-kauw di sini!”

Mendengar ini Kam Ki tersenyum. “Terima kasih, aku akan memimpin kalian dan menjadikan perkumpulan ini menjadi besar dan jaya!” Kemudian dia menghadapi para anggauta yang sekitar limapuluh orang itu dan berkata kepada mereka. “Apakah kalian semua setuju kalau aku, Thio Kam Ki, menjadi pangcu (ketua) kalian?”

Karena melihat tiga orang pimpinan mereka kalah dalam pertandingan dan tadi Ang-bin Moko mengakui pemuda itu sebagai ketua, semua anak buah itu berseru riuh rendah. “Setujuuuu…!”

Ang-bin Moko berseru kepada mereka. “Mari beri hormat kepada Thio Kam Ki, ketua kita yang baru!”

Mendengar ini, semua anggauta menjatuhkan diri berlutut menghadap Kam Ki. Pemuda ini bertolak pinggang dan tersenyum gembira. Tiba-tiba saja dia mendapatkan kedudukan sebagai ketua dan dihormati banyak orang! Dia merasa bangga sekali. Sekarang dia mempunyai tempat tinggal dan banyak anak buah.

Demikianlah, sejak hari itu Kam Ki menjadi ketua cabang Pek-lian-kauw. Setelah dia menjadi pemimpin, Pek-lian-kauw semakin berani melakukan kejahatan, bahkan pernah Kam Ki memimpin tiga orang pembantunya untuk mencuri dan menguras habis harta dari gedung seorang hartawan dan seorang pembesar di kota Kong-koan.

Dia memberi tugas pula kepada Pek-bin Moko dan Hek-bin Moko untuk merampok patung emas Kwan-im Pouwsat yang berada di kuil Ban-hok-si di dekat kota Ki-lok setelah dia mendengar bahwa patung itu selain terbuat dari emas, juga merupakan benda bersejarah yang amat berharga.

Pek-bin Moko dan Hek-bin Moko lalu mengajak Ban Kit, Li Hoat, dan Souw Ban Lip, tiga orang tokoh jahat yang masuk menjadi anggauta cabang Pek-lian-kauw. Lima orang ini pergi ke Kuil Ban-hok-si dan seperti telah diceritakan di bagian depan kisah ini, di kuil itu mereka dihalangi oleh Hartawan Ui, yaitu Ui Cun Lee dan dua orang puteranya, Ui Kiang dan Ui Kong yang dibantu oleh Ong Siong Li dan Lim Bwe Hwa.

Seperti telah kita Ketahui, ketika melindungi Ui Kiang, Hartawan Ui tewas oleh pedang Pek-bin Moko yang tadinya ditujukan kepada Ui Kiang. Terjadilah perkelahian seru antara Ui Kong, Ong Siong Li, dan Lim Bwe Hwa melawan lima orang Pek-lian-kauw itu. Akhirnya empat orang penjahat, yaitu Hek-bin Moko, Li Hoat, Souw Ban Lip, dan Ban Kit tewas. Akan tetapi Pek-bin Moko yang membunuh Hartawan Ui dapat melarikan diri sambil menggondol patung emas Dewi Kwan Im.

Setelah Pek-bin Moko kembali ke sarang Pek-lian-kauw, Kam Ki memarahinya! “Sungguh tolol!” dia memaki marah kepada Pek-bin Moko yang hanya menundukkan mukanya. “Biarpun patung emas ini dapat kau bawa pulang, akan tetapi kita kehilangan Hek-bin Moko ditambah tiga orang lagi. Empat orang pembantuku ditukar sebuah patung emas. Ini rugi besar namanya!”

“Harap pangcu (ketua) suka memaafkan sute Pek-bin Moko,” kata Ang-bin Moko membela adik seperguruannya. “Menurut ceritanya tadi, dia dan sute Hek-bin Moko dan tiga orang pembantu bertemu dengan tiga orang pendekar yang lihai. Tentu saja hal ini tidak disangka-sangka sebelumnya.”

Kam Ki menganguk-angguk, melihat kebenaran dalam pembelaan Ang-bin Moko. “Hemm, siapakah tiga orang muda itu? Kalau engkau tahu siapa mereka dan di mana tempat tinggalnya, aku akan membunuh mereka!” Dia berkata penasaran karena dia kehilangan empat orang pembantunya yang dapat diandalkan.

“Perkelahian itu terjadi tiba-tiba di antara banyak orang yang mengunjungi kuil sehingga kami tidak mempunyai kesempatan untuk saling bertanya nama, pangcu,” kata Pek-bin Moko. “Mereka adalah seorang gadis cantik yang pandai menggunakan senjata rahasia jarum dan permainan pedangnya mengeluarkan suara seperti suara kumbang terbang. Yang dua lagi adalah dua orang pemuda tampan, yang seorang bertubuh pendek dan seorang lagi tinggi tegap.”

“Hemm, kalau tidak mengetahui namanya, bagaimana aku dapat menemukan mereka?” kata Kam Ki penasaran.

“Harap pangcu tidak khawatir,” kata Ang-bin Moko. ”Saya dapat memastikan bahwa tanpa mencari merekapun, pangcu akan dapat berhadapan dengan mereka. Menurut cerita sute Pek-bin Moko tadi, dia telah membunuh ayah pemuda itu. Maka, besar sekali kemungkinan mereka bertiga akan datang ke sini untuk mencari sute Pek-bin Moko. Sute Hek-bin Moko tewas dan tentu mereka akan dapat melihat baju dalam Hek-bin Moko yang bergambar bunga teratai sehingga mereka akan dapat mengetahui bahwa sute Pek-bin Moko adalah seorang dari Pek-lian-kauw. Maka, tentu mereka akan mengejar ke sini!”

“Bagus!” seru Kam Ki. “Biarkan mereka datang, akan kubinasakan mereka bertiga!”

“Akan tetapi, pangcu,” kata Pek-bin Moko, “gadis pendekar itu, ia cantik jelita seperti bidadari!”

Si muka putih ini sudah tahu akan kesukaan ketua baru itu karena setelah menjadi ketua di situ, tiada hentinya Kam Ki mengumbar nafsunya dengan wanita-wanita cantik. Dia mendapatkan mereka dengan bujukan maupun dengan paksaan, dan setelah satu dua bulan dia menjadi bosan lalu wanita itu diusirnya dan dia mencari penggantinya! Maka, mengetahui akan kesukaan ketuanya ini, Pek-bin Moko menceritakan tentang kecantikan Lim Bwe Hwa.

Wajah Kam Ki berseri. “Begitukah? Bagus, kalau begitu, setelah mereka bertiga muncul, biarlah aku sendiri yang akan menghadapi gadis itu dan menangkapnya, ha-ha-ha!”

Mulai hari itu, Kam Ki memerintahkan para anggautanya untuk siap siaga dan penjagaan dilakukan secara ketat siang malam agar segera dapat diKetahui kalau tiga orang musuh itu datang. Ang-bin Moko dan Pek-bin Moko yang me-mimpin para anggauta itu. Kam Ki sendiri santai saja karena kesombongannya membuat dia meremehkan siapa saja dan memandang rendah tiga orang yang berani memusuhi Pek-lian-kauw dan telah membunuh seorang pembantunya, yaitu Hek-bin Moko.

****

Pek-hwa Sianli merasa sakit hati sekali terhadap Thio Kam Ki. Sekali ini baru Pek-hwa Sianli merasakan bahwa ia benar-benar jatuh cinta kepada Thio Kam Ki. Bukan sekadar melampiaskan berahi seperti selama ini ia lakukan terhadap para pemuda lain. Ia merasa kehilangan, kesepian dan dunia kehilangan keindahannya setelah hatinya menjadi sakit karena ulah Kam Ki.

Ia tahu benar bahwa Kam Ki adalah seorang perjaka yang masih hijau ketika pertama kali bertemu dengannya. Akan tetapi, baru tiga bulan saja mereka bermesraan, tiba-tiba ia memergoki pemuda itu bermain gila dengan dua orang pembantunya!

Biarpun ia telah membunuh A-kui dan A-hui, namun hatinya menjadi semakin sakit melihat Kam Ki minggat meninggalkannya. Ini berarti bahwa pemuda itu tidak cinta padanya. Dan inilah yang menyakitkan. Timbul rasa bencinya terhadap pemuda itu. Ia ingin membunuhnya, akan tetapi iapun tahu benar bahwa tidak mungkin ia dapat melakukan ini karena tingkat kepandaiannya kalah jauh dibandingkan kepandaian Kam Ki.

Kini ia tinggal seorang diri dalam pondoknya di lereng Bukit Ayam Emas itu. Kam Ki telah minggat. Dua orang pembantunya telah tewas dan dikuburkan di kebun belakang pondok. Selama belasan hari Pek-hwa Sianli duduk melamun, makan tidak enak dan tidur tidak nyenyak. Kalau ia mengenang kehadiran Kam Ki di pondok itu, hatinya dipenuhi rasa rindu dan sekaligus dendam! Nafsunya untuk mencari pemuda-pemuda kini juga hilang bersama hilangnya Kam Ki.

Pagi hari itu kembali Pek-hwa Sianli melamun. Ia duduk di atas bangku yang berada di serambi depan. Tiba-tiba ia melihat dua sosok bayangan orang berkelebat memasuki pekarangan pondok itu. Ketika ia memperhatikan, ternyata ada dua orang gadis telah berada dipekarangan dan kini berjalan menghampirinya sambil tersenyum manis. Wajah Pek-hwa Sianli yang tadinya muram, kini berubah dan bagaikan kilat sebuah gagasan memasuki pikirannya. Mereka inilah yang akan mampu membunuh Kam Ki!

Dua orang gadis itu pasti akan membuat siapa saja yang melihat mereka menjadi kagum dan heran. Kagum karena mereka berdua memang cantik manis, berusia kurang lebih sembilanbelas tahun, berpakaian ringkas dan di punggung mereka tergantung sebatang pedang. Kulit mereka putih mulus, rambut yang hitam panjang itu digelung dengan model gadis kota, pakaian mereka juga rapi walaupun tidak mewah.

Wajah bulat telur itu manis sekali, dengan sepasang mata bintang, hidung mancung dan mulut menggairahkan. Yang mengherankan orang adalah karena keduanya itu persis sama. Wajah manis yang sama, bentuk tubuh ramping dengan lekuk lengkung sempurna juga sama, bahkan pakaian juga serupa. Akan sulit bagi orang untuk dapat membedakan antara mereka!

Dua orang gadis itu memang merupakan gadis kembar. Nama mereka adalah Can Kim Siang dan Can Gin Siang dan mereka berdua adalah piauw-moi (adik misan) Pek-hwa Sianli. Sejak mereka berusia sembilan tahun, ayah ibu mereka tewas ketika terjadi perang saudara antara Kaisar Hui Ti dan Pangeran Yung Lo, paman kaisar itu sendiri, yang akhirnya dimenangkan oleh Pangeran Yung Lo yang kemudian menjadi kaisar (1403-1424).

Anak kembar yang yatim piatu itu lalu diajak pergi oleh Pek-hwa Sianli yang menjadi piauw-ci (kakak misan) mereka. Pek-hwa Sianli mendidik kedua orang adik misannya itu selama tujuh tahun dan karena kedua orang gadis kembar ini memang berbakat baik sekali, maka dalam waktu tujuh tahun boleh dibilang semua ilmu yang dikuasai Pek-hwa Sianli telah ia turunkan kepada dua orang gadis kembar itu.

Kemudian, karena dua orang adik misannya itu telah menjadi gadis-gadis berusia enambelas tahun, Pek-hwa Sianli merasa tidak leluasa mempermainkan pemuda. Maka, ia lalu mengirim kedua orang adik kembarnya itu ke Hoa-san untuk berguru kepada Hoa-san Kui-bo (Biang Setan Gunung Hoa-san) yang menjadi bibi gurunya.

Nah, kini tiga tahun telah lewat dan tiba-tiba dua orang gadis kembar itu muncul di pekarangan rumahnya. Dari gerakan mereka yang demikian cepat ketika berkelebat datang, Pek-hwa Sianli menduga bahwa kini tingkat kepandaian kedua orang adik misannya itu tentu telah lebih tinggi daripada tingkatnya sendiri dan mereka berdualah yang akan mampu membalaskan sakit hatinya!

“Sian-li……” Dua orang gadis itu berseru hampir berbareng. Memang Pek-hwa Sianli sejak dulu minta kepada kedua orang adik misannya itu agar memanggil Sian-li kepadanya.

“A-kim dan A-gin……!” Pek-hwa Sianli berseru gembira dan melompat dari bangkunya menyambut mereka. Ketiganya lalu berangkulan sambil tertawa gembira. Memang ada hubungan karib di antara mereka. Kedua orang gadis kembar itu merasa berhutang budi kepada Pek-hwa Sianli.

“Aduh, kalian semakin cantik saja dan… dan semakin mirip satu sama lain. Aku sendiri sampai tidak dapat membedakan mana A-kim dan mana A-gin. Coba kalian tersenyum lebar!”

Dua orang gadis itu tersenyum geli dan Pek-hwa Sianli juga tertawa lalu merangkul seorang di antara mereka. “Nah, sekarang aku tahu. Engkau yang A-kim dan ia itu A-gin. Betul, kan?”

“Wah, pandanganmu tajam sekali, Sian-li. Bagaimana engkau dapat begitu cepat mengenal kami?” tanya A-kim.

“Mudah saja. Sejak dulu kuketahui bahwa rahasia perbedaan di antara kalian ada pada gigi. Gigi A-kim agak gingsul (bertumpuk), akan tetapi justeru itu menambah manis!”

Memang benar. Kalau dua orang gadis kembar itu menutup mulut mereka, bahkan Pek-hwa Sianli sendiri yang mengenal mereka sejak kecil dan tinggal serumah dengan mereka selama tujuh tahun, tidak akan mampu melihat perbedaan antara mereka. Mereka lalu diajak masuk oleh Pek-hwa Sianli dan mereka bertiga duduk di ruangan dalam. Dua orang gadis kembar itu memandang ke kanan kiri.

“Kenapa begini sepi, Sian-li?” tanya A-kim, sebutan yang digunakan Pek-hwa Sianli untuk mempersingkat nama Can Kim Siang.

“Di mana A-hui dan A-kui, Sian-li?” tanya pula A-gin atau Can Gin Siang.

Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba wajah Pek-hwa Sianli yang tadinya gembira itu berubah menjadi muram dan alisnya berkerut, matanya mencorong mengandung kemarahan.

“Eh, ada apakah, Sian-li?” tanya A-kim.

“Aku telah membunuh mereka dan mayat mereka kukubur di kebun belakang!”

“Kau bunuh mereka? Akan tetapi... kenapakah?” tanya A-gin, terkejut mendengar bahwa Pek-hwa Sianli membunuh dua orang pelayan yang juga dapat dibilang murid kakak misannya itu.

Pek-hwa Sianli menghela napas panjang beberapa kali lalu memandang wajah kedua orang gadis kembar itu. Ia melihat betapa mereka itu ingin tahu sekali. “Kalau diingat membuat hatiku terasa seperti ditusuk-tusuk. A-kim dan A-gin, aku merasa sakit hati sekali. Aku dikhianati, dibikin malu dan dihina orang tanpa aku dapat menghajarnya karena aku... aku kalah olehnya. Ah, kalau saja kalian mau menolongku, mencari dan membunuh jahanam itu. Hanya kalian berdualah yang menjadi tumpuan harapanku untuk membalas dendam ini.”

“Sian-li, apakah yang terjadi? Ceritakan kepada kami,” kata A-kim. “Percayalah, kami berdua pasti akan membelamu.”

“Beberapa bulan yang lalu,” Pek-hwa Sianli mulai bercerita. “Aku bertemu dengan seorang laki-laki dan aku jatuh cinta padanya. Dia pandai merayuku dan berjanji akan menikah denganku. Karena terbujuk oleh rayuannya dan karena aku memang kagum dan cinta padanya, aku percaya. Dia bahkan tinggal di rumah ini selama tiga bulan. Kami telah menjadi suami isteri, hanya tinggal menanti saat yang baik untuk merayakan pernikahan kami.

"Akan tetapi tiba-tiba… belasan hari yang lalu aku memergoki calon suamiku itu berjina dengan A-hui dan A-kui! Melihat pengkhianatan itu, aku menjadi marah, malu dan merasa terhina, maka aku membunuh A-hui dan A-kui! Akan tetapi ketika aku menyerang laki-laki itu, aku... kalah olehnya. Aku bahkan diejek dan dihinanya, dimaki-maki karena aku membunuh A-hui dan A-kui...!

"Ah, dia menghinaku dan dendam di hatiku ini baru akan hapus kalau dia dapat terbunuh! Maka, kedatangan kalian berdua inilah yang menimbulkan harapan dalam hatiku. A-kim dan A-gin, kalian carilah laki-laki itu dan bunuhlah dia! Aku akan berterima kasih sekali kepada kalian kalau kalian mau dan dapat membunuhnya!”

A-kim dan A-gin saling pandang. Tentu saja mereka ikut bersedih dan marah mendengar cerita Pek-hwa Sianli. Biarpun mereka merasa segan mencampuri urusan cinta gagal karena tindakan serong ini, namun mereka berdua merasa berhutang budi amat besar kepada Pek-hwa Sianli sehingga rasanya keterlaluan kalau mereka tidak mau membantu Pek-hwa Sianli membalaskan sakit hatinya.

“Siapa nama laki-laki itu dan di mana dia tinggal, Sian-li?”

“Namanya Thio Kam Ki dan dia adalah murid Leng-hong Hoatsu pertapa dari Himalaya yang amat terkenal itu. Usianya sekitar duapuluh tiga tahun, tubuhnya sedang dan wajahnya tampan, pakaiannya mewah dan sikapnya ramah.”

“Dan di mana kami dapat menemukan dia?”

Pek-hwa Sianli menarik napas panjang. “Itulah yang membuat aku bingung dan sedih. Dia menurut ceritanya kepadaku, dia yatim piatu dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Akan tetapi aku percaya bahwa setelah tiga tahun memperdalam ilmu silat kalian pada bibi-guru Hoa-san Kui-bo, tentu kalian berdua telah menguasai ilmu-ilmu yang tinggi dan dengan kepandaianmu itu kalian dapat mencari Kam Ki sampai ketemu dan membunuhnya untuk membalaskan dendamku. Maukah kalian melakukan hal itu?”

Dua orang gadis kembar itu saling pandang lalu mengangguk. A-kim dan A-gin tinggal selama sepekan di rumah Pek-hwa Sianli, kemudian mereka meninggalkan rumah dan mulai melakukan perjalanan mencari pemuda bernama Thio Kam Ki itu. Mereka memang sudah mendapat ijin dari Hoa-san Kui-bo untuk turun gunung dan merantau...

Selanjutnya,