Kisah Si Tawon Merah Jilid 08 - KAKEK SAKTI ini mempunyai dua orang murid. Yang pertama bernama Sie Bun Sam, pada saat kisah ini terjadi, telah berusia duapuluh lima tahun. Sie Bun Sam adalah seorang pemuda yatim piatu dan telah menjadi murid Leng-hong Hoatsu sejak dia berusia lima tahun dan hidup sebatang kara dan terlantar karena ayah bundanya mati karena wabah yang mengamuk di desanya, di daerah Sin-kiang.

Sie Bun Sam berwajah sederhana saja, seperti pemuda dusun kebanyakan, tidak buruk akan tetapi juga tidak terlalu tampan. Namun ada sesuatu yang amat menarik pada wajahnya, yang membuat orang yang bertemu dengannya timbul rasa suka. Mungkin mulutnya yang selalu dihias senyum, dan matanya yang bersinar lembut penuh pengertian dan kesabaran itu. Tubuhnya sedang saja, tidak membayangkan bahwa pemuda ini adalah seorang yang sakti dan lihai sekali. Pakaiannya juga sederhana namun bersih.
Kesukaannya memakai sebuah caping lebar yang melindungi mukanya dan kepalanya dari sengatan matahari dan guyuran air hujan. Dia juga tidak membawa senjata apapun, namun kalau berada di tangannya, benda apapun dapat dijadikan senjata yang ampuh! Sie Bun Sam, seorang pemuda yang berbudi luhur, setia dan berbakti kepada gurunya, maka Leng-hong Hoatsu amat sayang kepada murid ini.
Selain Sie Bun Sam, Leng-hong Hong masih mempunyai seorang murid lain, bernama Thio Kam Ki. Sebetulnya, Leng-hong Hoatsu yang bermata tajam dan peka perasaannya itu tidak begitu suka kepada anak ini, akan tetapi karena Thio Kam Ki juga ditemukan sebagai seorang anak berusia tiga tahun yang sebatang kara dan terlantar, dia merasa kasihan dan membawa anak ini ke pondoknya.
Pada saat sekarang, Thio Kam Ki berusia duapuluh tiga tahun. Dia memiliki tubuh sedang dan wajahnya tampan dan pasti akan menarik perhatian banyak wanita. Berbeda dengan Sie Bun Sam suhengnya (kakak seperguruannya) yang sederhana, sebaliknya Thio Kam Ki ini sejak kecil suka akan kemewahan. Dia suka iri hati dan pandai mengambil hati dengan sikap yang manis buatan. Karena sifat-sifat ini maka Leng-hong Hoatsu lebih sayang kepada Sie Bun Sam dan dia mengajarkan lebih banyak ilmu kepada murid pertamanya itu.
Diam-diam Thio Kam Ki tahu ini dan dia merasa iri hati kepada suhengnya. Tanpa setahu guru dan suhengnya, diam-diam ketika dia berusia duapuluh tahun, dia berguru kepada seorang pendeta aliran sesat yang juga bertapa di Pegunungan Himalaya, tidak begitu jauh dari tempat pertapaan Leng-hong Hoatsu. Dengan jalan sembunyi-sembunyi, selama dua tahun Thio Kam Ki mempelajari beberapa ilmu silat dan sihir yang sesat dari pertapa aliran sesat itu.
Pendeta itu berjuluk Hwa Hwa Cinjin yang mengajarkan ilmu sihir aliran sesat yang biasa disebut sihir hitam. Setelah menjadi guru secara rahasia dari Thio Kam Ki selama dua tahun, Hwa Hwa Cinjin meninggalkan tempat pertapaannya di Himalaya. Hal ini terjadi setahun yang lalu dan ketika itu Kam Ki berusia duapuluh dua tahun.
Kam Ki kini merasa bahwa dirinya sudah memiliki ilmu yang amat tangguh. Biarpun tadinya dia merasa iri hati kepada Sie Bun Sam karena guru mereka, Leng-hong Hoatsu mengajarkan ilmu yang lebih banyak kepada suhengnya itu, namun setelah selama dua tahun menimba ilmu dari Hwa Hwa Cinjin, Kam Ki merasa bahwa kini dia tidak akan kalah oleh suhengnya.
Pada suatu sore, seperti biasa setelah menyelesaikan semua tugas pekerjaan mereka seperti membersihkan rumah dan pekarangan tempat tinggal guru mereka, mengumpulkan dan memotongi kayu bakar, mengangkut air dari sumber dan memenuhi semua kolam kamar mandi, mempersiapkan makan malam untuk Leng-hong Hoatsu dan mereka sendiri.
Kedua orang kakak beradik seperguruan itu berada di kebun belakang pondok guru mereka. Biasanya, sebelum mereka mandi, mereka akan lebih dulu berlatih silat untuk menyegarkan tubuh. Bun Sam sudah duduk di atas bangku di kebun itu ketika sutenya, Kam Ki, datang menghampirinya.
“Suheng.......!” Kam Ki menegur sambil tersenyum akrab.
“Eh, sute. Apakah engkau sudah membersihkan kamar samadhi suhu? Hari ini giliranmu membersihkannya, ingat?”
Sambil tersenyum lebar Kam Ki berkata, “Jangan khawatir, suheng! Tentu saja aku ingat dan aku sudah membersihkannya dengan rapi!”
“Bagus! Eh, sute, sudah beberapa lama ini aku sering melihat engkau malam-malam meninggalkan pondok. Pergi ke mana saja sih engkau?”
“Ah, aku mencari tempat yang sunyi untuk berlatih dengan tekun, suheng. Juga aku perlu tempat sunyi dan dingin untuk menghimpun hawa murni dan memperkuat tenaga sakti. Selama ini aku memperoleh banyak kemajuan, suheng. Maukah engkau melayani aku berlatih sore ini? Hitung-hitung engkau memberi petunjuk kepadaku agar aku dapat memperbaiki kekuranganku.”Bun Sam tersenyum. Memang sudah lama sekali dia tidak pernah latihan bersama sutenya ini karena dahulu, kalau mereka berdua latihan, tingkat kepandaian adik seperguruannya ini masih jauh di bawahnya. Sekarangpun dia merasa yakin bahwa sutenya ini bukan lawan seimbang. Akan tetapi untuk menyenangkan hati sutenya, dia mengangguk. “Baiklah, sute. Mari kita latihan bersama.”
Mereka berdua segera mulai latihan dengan ilmu silat yang diajarkan oleh Leng-hong Hoatsu, yaitu Hwe-coa-sin-kun (Silat Sakti Ular Terbang). Mereka berdua sudah mempelajari ilmu silat yang amat hebat ini. Kedua lengan mereka bergerak seperti ular, meliuk-liuk dan selain cepat gerakannya dan tidak mudah diikuti lawan karena perubahan-perubahannya yang aneh, juga mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat.
Karena Bun Sam maklum bahwa tenaga sutenya tidak seimbang dengan tenaganya, maka dia hanya mengeluarkan sebagian tenaganya saja, membatasi gerakannya dan sesekali kalau sutenya membuat gerakan atau jurus yang kurang sempurna, dia memberi tahu. Mereka saling serang sampai puluhan jurus dan tidak kurang dari sepuluh kali Bun Sam menunjukkan kesalahan atau ketidak sempurnaan gerakan sutenya.
Akhirnya Bun Sam merasa cukup dan begitu dia mempercepat gerakannya, dia berhasil mendorong pundak sutenya sehingga tubuh Thio Kam Ki terdorong ke belakang dan dia harus membuat salto sampai tiga kali ke belakang agar tidak terjengkang. Akan tetapi dia tidak terluka karena memang Bun Sam tadi membatasi tenaganya.
“Cukup, sute. Engkau memang telah memperoleh kemajuan pesat!” kata Bun Sam untuk menyenangkan dan memberi semangat kepada Kam Ki.
Wajah Kam Ki berubah pucat lalu kemerahan. Namun dia tersenyum dan tidak merasa kecewa. Mereka tadi berlatih menggunakan ilmu silat yang sama. Kalau dia kalah matang, gerakannya kalah gesit maka hal itu tidaklah mengherankan.
Sekaranglah tiba saatnya untuk memberi hajaran kepada suhengnya yang telah lama mulai dibencinya karena perasaan iri hati yang memenuhi hatinya. Bagaimanapun juga, kalau dia bertanding melawan suhengnya mempergunakan ilmu silat, pasti dia akan kalah.
“Terima kasih, suheng. Akan tetapi aku masih ingin menguji sampai di mana kemajuanku dalam hal tenaga dalam. Karena itu, sambutlah seranganku ini, suheng!”
Bun Sam hendak menolak untuk mengadu tenaga sakti, akan tetapi sutenya telah memasang kuda-kuda dan menggerakkan kedua lengan untuk melancarkan pukulan jarak jauh dengan dorongan tenaga sakti. Maka, terpaksa dia harus menyambut, selain untuk melindungi dirinya, juga untuk mengukur sampai di mana kekuatan tenaga sakti sutenya agar dia mengetahui kemajuannya.
Biasanya, dia dapat mengukur kekuatan tenaga sakti sutenya itu sekitar setengah ukuran tenaganya sendiri. Maka, karena mengira bahwa tenaga sakti sutenya mungkin sudah agak naik kekuatannya, dia menambah sedikit tenaganya, menggunakan tiga perempat bagian tenaganya dan mendorongkan kedua tangan ke depan menyambut serangan sutenya.
Tentu saja dia menggunakan tenaganya untuk menahan saja, bukan untuk menyerang. Dengan demikian, maka dia akan memenangkan adu tenaga itu tanpa melukai sutenya, hanya membuat sutenya terpental mundur saja dan paling hebat terjengkang dan terbanting jatuh.
Akan tetapi dia kaget sekali melihat mulut sutenya berkemak-kemik dan gerakan kedua lengan ketika mendorong itu sama sekali berbeda dengan apa yang diajarkan guru mereka. Dia menjadi curiga akan tetapi terlambat dan pada saat itu, dua tenaga sakti yang dahsyat bertemu di udara, di antara mereka.
“Wuuuutttt…… blaaarrr……!!”
Tubuh Bun Sam terlempar ke belakang dan dia terbanting roboh dalam keadaan pingsan! Melihat ini, Kam Ki menghampiri suhengnya untuk memeriksa dan melihat kakak seperguruannya itu benar-benar jatuh pingsan, dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang berubah merah lalu berdongak dan tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha……!”
Akan tetapi tiba-tiba dia teringat akan Leng-hong Hoatsu dan suara tawanya itu terhenti seperti dicekik. Timbul rasa takutnya. Kalau Leng-hong Hoatsu sampai mengetahui perbuatannya, dia pasti celaka! Bahkan guru gelapnya sendiri, Hwa Hwa Cinjin, merasa takut kepada Leng-hong Hoatsu dan ketika Hwa Hwa Cinjin mengetahui bahwa Kam Ki adalah murid Leng-hong Hoatsu, dia melarikan diri meninggalkan tempat itu. Hwa Hwa Cinjin takut kalau dituduh merampas murid Leng-hong Hoatsu, maka dia melarikan diri ketakutan. Apalagi dia!
Berpikir demikian, Thio Kam Ki lalu melarikan diri turun dari lereng bukit, tidak berani mengambil pakaiannya yang berada di dalam pondok. Dia berlari cepat dengan hati ngeri seolah mendengar langkah Leng-hong Hoatsu mengejarnya!
Ketika peristiwa itu terjadi, Leng-hong Hoatsu sedang tekun dalam samadhinya. Tiba-tiba ada perasaan tidak enak mengusiknya dan dia lalu membuka matanya dan bangkit berdiri. Tidak terdengar suara dalam pondok kayunya yang cukup besar itu, menandakan bahwa kedua orang muridnya tentu berada di luar pondok. Dia lalu melangkah keluar pondok. Karena dia tahu bahwa biasanya dua orang muridnya itu berlatih silat di kebun sebelum mereka mandi, Leng-hong Hoatsu lalu melangkahkan kakinya menuju kebun.
Tak lama kemudian Leng-hong Hoatsu sudah berjongkok dekat tubuh Bun Sam dan memeriksa keadaan muridnya itu. Bun Sam masih pingsan dan pernapasannya sesak. Leng-hong Hoatsu membuka baju pemuda itu dan dia mengerutkan alisnya dan menggumam. “Hemm, siapa yang memukulnya dengan Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah) yang keji ini?”
Karena maklum bahwa nyawa Bun Sam terancam bahaya maut, Leng-hong Hoatsu cepat turun tangan. Dia duduk bersila menempelkan tangan kirinya ke dada Bun Sam lalu menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh muridnya itu. Tenaga sakti Leng-hong Hoatsu sudah mencapai tingkat tinggi sekali, maka dalam waktu beberapa menit saja, warna merah darah di dada Bun Sam menghilang dan kulit dada itu menjadi putih bersih kembali.
Bun Sam kini bernapas normal dan tak lama kemudian dia membuka matanya. Leng-hong Hoatsu melepaskan tangannya. Melihat suhunya bersila di dekatnya, Bun Sam cepat bangkit duduk dan berlutut memberi hormat. Dia maklum bahwa suhunya telah menolongnya dan mungkin sekali menyelamatkan nyawanya dari ancaman maut. “Suhu……!”
“Bun Sam, apa yang terjadi? Siapa yang memukulmu?” tanya Leng-hong Hoatsu.
Bun Sam menghela napas panjang. Rasanya berat untuk menceritakan pengalamannya karena ceritanya itu pasti akan membuat gurunya menjadi sedih. Dia sendiri menyayang Kam Ki karena sejak kecil mereka berdua hidup bersama Leng Hoat Hoatsu, suka duka dihadapi bersama. Dia sendiri merasa sedih sekali melihat kelakuan Kam Ki dan tidak tahu bagaimana adik seperguruannya yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri itu dapat menguasai ilmu pukulan beracun yang demikian hebatnya dan kejamnya.
Setelah menghela napas beberapa kali dia lalu berkata, “Suhu, harap suhu suka memaafkan sute Thio Kam Ki……”
Leng-hong Hoatsu mengerutkan alisnya yang sudah putih dan memandang wajah Bun Sam penuh selidik, “Hemm, kenapa sutemu? Apa yang telah terjadi? Ceritakanlah, Bun Sam!”
“Teecu (murid) sendiri sampai saat ini masih terheran-heran, suhu. Tadi, sute mengajak teecu untuk latihan bersama. Mula-mula kami berdua berlatih dengan ilmu silat Hwe-coa-sin-kun dan dalam latihan itu, teecu lihat sute memang ada kemajuan, walaupun tidak banyak. Akan tetapi dia kemudian mengajak latihan mengukur tenaga sakti. Sebetulnya teecu hendak menolak, akan tetapi dia telah melakukan serangan pukulan jarak jauh kepada teecu.
"Terpaksa teecu menyambutnya dan teecu membatasi tenaga teecu agar dia tidak sampai terluka. Akan tetapi teecu melihat gerakan kedua tangannya berbeda dengan gerakan yang suhu ajarkan, dan dari kedua telapak tangan itu menyambar sinar merah yang aneh. Teecu merasa betapa ada kekuatan dahsyat mendorong teecu, membuat teecu terpental ke belakang dengan dada terasa nyeri dan teecu tidak ingat apa-apa lagi.”
“Hemm, kalau engkau menggunakan seluruh tenagamu, belum tentu engkau yang terluka, mungkin dia sendiri yang terluka oleh tenaganya yang membalik. Akan tetapi aneh, bagaimana Kam Ki dapat memiliki Ang-tok-ciang seperti itu...?”
“Ang-tok-ciang, suhu?”
Leng Hoat Hoatsu mengangguk. “Benar, pukulan ini adalah Ang-tok-ciang, satu di antara ilmu pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sihir. Hemm, di mana sekarang Kam Ki?”
“Teecu tidak tahu, suhu. Mungkin dia telah kembali ke pondok.”
“Panggil dia, Bun Sam. Aku harus bicara dengannya, kutunggu di ruangan depan!”
Bun Sam lalu mencari-cari. Akan tetapi dia tidak menemukan sutenya. Bahkan ketika dia mencari di kamar sutenya, kamar itupun kosong. Dia keluar dari pondok, memanggil-manggil, namun tidak ada jawaban. Akhirnya Bun Sam menduga bahwa besar kemungkinannya sutenya itu telah pergi, mungkin takut setelah merobohkannya. Maka dia lalu menghadap Leng-hong Hoatsu di ruangan depan dan melaporkan bahwa sutenya tidak ada.
“Hemm, kita tunggu sampai satu dua hari. Kalau dia tidak pulang, berarti dia telah melarikan diri,” kata Leng-hong Hoatsu dan dia merasa menyesal bukan main telah menerima anak itu menjadi muridnya.
Memang sejak dulu dia sudah merasa bahwa Kam Ki memiliki watak dasar yang lemah dan anak itu akan mudah dikuasai oleh nafsu-nafsu daya rendah. Akan tetapi dia sama sekali tidak mengira anak itu berani mempelajari ilmu sesat, entah dari siapa, bahkan menggunakan ilmu itu untuk memukul Bun Sam yang menyayangnya seperti adik sendiri sehingga hampir saja Bun Sam tewas!
Setelah ditunggu sampai dua hari dan Kam Ki belum juga pulang, tahulah Leng-hong Hoatsu dan Bun Sam bahwa Kam Ki benar-benar telah minggat dan tidak akan pulang lagi. Leng-hong Hoatsu memanggil Bun Sam.
“Bun Sam, sekarang sudah tiba saatnya bagimu untuk turun gunung dan mengamalkan semua ilmu yang kau pelajari selama ini di sini.”
“Maaf, suhu. Rasanya teecu tidak tega meninggalkan suhu seorang diri di sini. Apalagi sekarang sute Kam Ki juga telah pergi. Perkenankan teecu menemani suhu di sini dan melayani suhu yang sudah berusia lanjut.”
“Bun Sam, apakah engkau lupa berapa usiamu sekarang? Engkau sudah berusia kurang lebih duapuluh empat tahun! Engkau bukan anak-anak lagi dan engkau telah mempelajari banyak ilmu. Semua ilmu tidak akan ada artinya kalau tidak kau amalkan. Semua jerih payahmu mempelajarinya selama bertahun-tahun akan terbuang percuma saja. Tidak perlu mengkhawatirkan diriku, Bun Sam. Aku adalah sebagian dari alam ini. Bagaimana aku dapat hidup sendiri?
"Aku tidak sendiri di dunia ini dan aku sudah biasa hidup tanpa bantuan orang lain. Tumbuh-tumbuhan di pengunungan ini akan mencukupi semua kebutuhan hidupku. Nah, aku minta agar engkau meninggalkan gunung, terjun ke dunia ramai mengamalkan semua ilmumu untuk kepentingan orang banyak. Untuk membela yang lemah tertindas dan menentang yang kuat sewenang-wenang, membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan.”
Biarpun hatinya merasa sedih dan terharu karena harus meninggalkan gurunya yang merupakan segala-galanya bagi Bun Sam. Kakek itu menjadi pengganti orang tuanya, gurunya, juga sahabatnya. Akan tetapi mendengar ucapan gurunya yang panjang lebar itu, dia tidak berani membantah.
“Baik, suhu. Teecu akan menaati semua perintah suhu!” katanya dengan suara tegas setelah berhasil menekan keharuan dan kesedihannya.
“Ada sebuah tugas lagi yang penting. Engkau harus mencari Kam Ki dan usahakan agar dia tidak terseret ke dalam kesesatan. Kalau dia tidak dapat dibujuk dan ternyata menjadi orang tersesat, terpengaruh ilmu-ilmu sesat yang entah dia pelajari dari mana itu, maka engkau harus mencegahnya melakukan perbuatan jahat. Kalau perlu lenyapkan semua ilmunya agar dia menjadi orang lemah yang tidak dapat mengganggu orang lain.”
“Akan tetapi, suhu.....” Bun Sam merasa sangsi apakah dia akan mampu melakukan hal itu. Dia amat sayang kepada sutenya yang telah dia anggap sebagai adik sendiri itu.
“Bun Sam, ingat. Tugasmu adalah menentang yang jahat. Tidak perduli siapa orangnya, bahkan keluarganya sendiri sekalipun, kalau jahat, harus engkau bujuk dan sadarkan, dan kalau bujukan tidak berhasil menyadarkannya, harus kau tentang. Sebaliknya, kalau ada orang tak bersalah tertindas, siapapun dia itu, harus kau bela. Dalam membela kebenaran dan keadilan, dan menentang kejahatan, engkau sama sekali tidak boleh pilih kasih. Terkadang pilih kasih ini membuat orang kehilangan rasa keadilannya. Karena itu, menghadapi Kam Ki, engkau tidak boleh terpengaruh perasaan pilih kasih itu!”
Bun Sam mengangguk-angguk. “Betapa pun beratnya, suhu, teecu akan menaati dan selalu ingat akan perintah suhu.”
“Bagus, sekarang berkemaslah dan berangkatlah hari ini juga.”
Bun Sam berkemas, membawa pakaian dalam sebuah buntalan kain kuning, lalu berlutut memberi hormat dan pamit kepada suhunya. Kemudian dia turun dari bukit itu dan melakukan perjalanan menuju ke timur. Ketika menuruni lereng bukit itu, Bun Sam merasa dirinya seolah menjadi seekor burung yang terbang melayang seorang diri dengan bebasnya.
Dua macam perasaan teraduk di hatinya. Sedih dan girang. Dia bersedih memikirkan gurunya yang dia tinggalkan, gurunya yang sudah tua dan membutuhkan pelayanan. Akan tetapi diapun girang karena dia merasa bebas memasuki kehidupan baru di dunia ramai.
Pemuda itu menuruni bukit terakhir dari Pegunungan Himalaya yang panjang. Usianya sekitar duapuluh dua tahun, tubuhnya tegap dan wajahnya tampan. Semua orang akan tertarik kalau bertemu dengannya. Wajah tampan itu selalu tersenyum ramah dan matanya tajam bersinar-sinar. Dia adalah Thio Kam Ki yang sejak kecil sekali telah dipelihara dan dididik oleh Leng-hong Hoatsu.
Hatinya masih gembira sekali mengenang betapa dengan sekali serang saja menggunakan Ang-tok-ciang yang dipelajarinya dari Hwa Hwa Cinjin, dia mampu merobohkan Sie Bun Sam, suhengnya yang sejak kecil selalu mengunggulinya dalam segala hal.
Sekarang dia bebas, dapat melakukan apa saja yang dikendakinya, sesuka hatinya. Biasanya, di pondok Leng-hong Hoatsu, dia merasa seperti dikekang dan diikat oleh segala macam peraturan. Begini tidak boleh, begitu dilarang. Apalagi suhengnya, Bun Sam itu. Sering kali mengomelinya, menasihatinya sampai dia merasa bosan.
Hanya satu hal yang dibutuhkannya saat ini, ialah pakaian pengganti dan bekal uang. Dia meninggalkan pondok suhunya tanpa membawa apa-apa. Semua pakaian dia tingalkan karena dia takut kalau-kalau perbuatannya memukul roboh suhengnya akan ketahuan suhunya. Akan tetapi itu adalah soal kecil. Di mana-mana tersedia pakaian dan segala kebutuhannya! Tinggal ambil saja! Mau uang? Pakaian? Bahkan teman wanita yang cantik?
“Ha-ha-ha, tinggal ambil, tinggal pilih!” Kam Ki tertawa sendiri sambil berlari cepat, membayangkan segala macam keindahan, segala macam keenakan dan kenikmatan, seolah melihat semua yang serba menyenangkan itu seperti buah-buahan yang bergantungan di depan matanya, tinggal mengulur tangan memetik dan menikmatinya!
Ketika dia tiba di sebuah pedusunan yang agak besar, dusun besar pertama yang ditemuinya semenjak dia turun gunung, dia melihat sebuah rumah besar, yang terbesar dan terindah di antara semua rumah di dusun itu. Ketika mendengar bahwa rumah itu adalah tempat tinggal kepala dusun yang kaya, Kam Ki menjadi girang sekali. Di rumah inilah tersedia kebutuhanku, pikirnya.
Pada saat itu yang amat dibutuhkan adalah uang karena dengan uang dia akan dapat membeli segala kebutuhannya. Terutama sekali yang terpenting pakaian karena dia tidak mempunyai pengganti sepotongpun pakaian. Lalu makanan enak dan lain-lain.
Malam itu, dengan mudah saja dia memasuki rumah kepala dusun itu melalui atap dan setelah mencari-cari, akhirnya dia menemukan cukup banyak uang perak dan emas dalam sebuah almari. Dia mengambil sekantung uang perak dan emas, lalu meninggalkan rumah itu tanpa suara sehingga tidak ada penghuni rumah yang mengetahui bahwa rumah itu kecurian banyak uang.
Barulah pada keesokan harinya, tuan rumah terkejut karena sekantung perak dan emas lenyap tanpa meninggalkan jejak. Pintu jendela masih utuh dan tertutup rapat, maka gegerlah seisi rumah. Tentu saja hanya ada dua tersangka yang dapat mencuri sekantung uang itu, yaitu pelayan atau setan!
Kalau seisi rumah kepala dusun ribut dan panik, Kam Ki dengan santai membelanjakan uangnya, membeli beberapa stel pakaian dan makan sekenyangnya di warung makan. Hari itu juga dia melanjutkan perjalanan ke timur dengan menunggang kuda, seekor kuda yang dibelinya di dusun itu, berikut pelananya.
Sejak kecil dia tidak pernah menunggang kuda, akan tetapi karena dia seorang ahli silat yang bertubuh kuat, maka sebentar saja dia sudah menguasai kudanya dan berani membalapkan kudanya di sepanjang jalan raya yang kasar.
Hari ini panas sekali. Matahari memancarkan cahayanya tanpa terhalang awan. Panasnya menyengat kulit dan jalan itu menjadi kering berdebu. Kam Ki ingin berhenti mengaso, selain untuk berlindung dari terik matahari di bawah pohon rindang, juga dia ingin memberi kesempatan kepada kudanya untuk mengaso. Akan tetapi tiba-tiba dia melihat di depan sana gerakan beberapa orang yang agaknya sedang berkelahi. Maka dibalapkannya kudanya ke depan.
Setelah dekat dia melihat seorang wanita cantik jelita sedang berkelahi dikeroyok oleh tiga orang laki-laki yang berusia antara tigapuluh sampai enampuluh tahun. Wanita itu memiliki gerakan yang cepat sekali, memainkan sebatang pedang. Senjata ini digerakkan sedemikian cepatnya sehingga membentuk gulungan sinar putih.
Namun, ketika Kam Ki melompat turun dari kuda, membiarkan kudanya makan rumput di tepi jalan, dia melihat betapa wanita itu terdesak hebat oleh tiga orang pengeroyoknya. Tiga orang laki-laki itu masing-masing memainkan sepasang golok sehingga wanita itu seolah dikeroyok oleh enam batang golok!
Dan gerakan tiga orang pengeroyok itu, walaupun tidak secepat gerakan pedang wanita, namun karena mereka maju bertiga, tetap saja wanita itu menjadi repot melindungi dirinya dari sambaran enam batang golok yang bertubi-tubi!
Melihat ini, Kam Ki tidak tahu siapa yang baik dan siapa yang jahat diantara mereka, akan tetapi karena melihat betapa wanita itu masih muda, tampaknya tidak lebih dari duapuluh tahun usianya dan cantik bukan main dan ia berada dalam keadaan terdesak, maka otomatis hati Kam Ki condong membela wanita itu. Maka, dia lalu membungkuk dan mengambil dua butir batu kerikil.
Menurut penglihatannya, ilmu silat tiga orang itu biasa-biasa saja dan baginya masih rendah, maka dia lalu menyambit dengan dua buah kerikil ke arah dua orang di antara mereka. Tampak dua sinar hitam menyambar dan dua orang pengeroyok itu berteriak mengaduh dan terpelanting roboh tak mampu bergerak lagi karena benturan kerikil itu telah menotok jalan darah mereka sehingga mereka tidak mampu menggerakkan kaki dan tangan mereka.
Wanita cantik itu ketika melihat dua orang lawannya roboh, lalu mengeluarkan teriakan melengking, “Hyaaaaatttt……!” Pedangnya menyambar dengan gerakan melengkung dan robohlah lawan ketiga dengan leher terluka dalam. Wanita itu tidak berhenti sampai di situ saja. Ia melompat ke depan, dua kali pedangnya berkelebat dan dua orang yang tadi roboh tertotok sambaran kerikil, juga dibacok lehernya.
Darah membanjir dan tiga orang itu tewas seketika! Barulah wanita itu memeriksa pedangnya. Tidak ada darah sedikitpun mengotori pedangnya. Hal ini menunjukkan betapa cepatnya pedang itu tadi membacok leher sehingga tidak sampai ternoda darah. Lalu ia menyarungkan pedangnya di belakang punggung, dan ia memutar tubuh untuk memandang orang yang telah membantunya. Mereka berhadapan dalam jarak empat meter dan kedua pihak terpesona!
Kam Ki terpesona karena setelah wanita itu tidak bergerak, baru tampak jelas olehnya betapa cantiknya wajah itu, betapa putih mulusnya kulit yang tampak di leher itu. Putih mulus kemerahan, dengan bentuk tubuh menggairahkan, pinggang ramping, pinggul dan dada menonjol dan lekuk lengkung tubuhnya indah menggairahkan. Sepasang mata itu bersinar seperti bintang dan bibir yang merah basah itu sedikit terbuka, setengah tersenyum menantang, membuat jantung dalam dada Kam Ki berdebar tegang.
Namun kekejaman wanita itu yang membunuh pula dua orang lawan yang sudah roboh tertotok, membuat pemuda itu penasaran. Biarpun hatinya sudah mulai menyeleweng meninggalkan kebenaran setelah dia berguru kepada Hwa Hwa Cinjin, namun belum pernah Kam Ki melakukan pembunuhan, apalagi dengan cara kejam seperti itu. Bagaimanapun juga, sejak kecil dia menjadi murid Leng-hong Hoatsu yang mengajarkan kebenaran.
Maka menyaksikan wanita itu membunuhi orang secara kejam, hatinya merasa penasaran dan agak menolak. Akan tetapi di lain pihak, rasanya tidak bisa dia kalau harus marah dan berkata-kata kasar terhadap seorang wanita yang demikian cantik jelitanya!.“Nona, kenapa engkau membunuh mereka? Kenapa?”
Wanita itu juga memandang kepada pemuda tampan itu dengan mata penuh kagum dan bibirnya kini merekah, senyumnya melebar. Wanita itu menggunakan tangan kiri untuk menyentuh setangkai bunga berwarna putih yang menghias rambut kepalanya sebelah kiri seolah hendak melihat apakah hiasan rambut itu masih berada di tempatnya. Pakaiannya yang terbuat dari sutera berwarna putih itu indah sekali, melekat ketat pada tubuhnya karena pakaian dari sutera itu potongannya memang ketat mencetak bentuk tubuhnya.
Ia adalah seorang tokoh besar di kalangan kang-ouw, berjuluk Pek-hwa Sianli (Bidadari Bunga Putih) karena ia selalu memakai hiasan rambut kembang putih. Biarpun dia dijuluki Sian-li atau Bidadari, agaknya itu hanya untuk menyatakan kekaguman orang akan wajahnya yang cantik jelita seperti bidadari, juga bentuk tubuhnya yang aduhai!
Akan tetapi sesungguhnya wanita yang sudah berusia tigapuluh tahun lebih namun masih tampak seperti baru berusia duapuluh tahun ini terkenal sebagai datuk wanita yang amat kejam dan jahat. Ia adalah seorang iblis betina yang cabul.
Tiga orang itu adalah Siang-to Sam-hengte (Tiga Bersaudara Sepasang Golok), tiga orang pendekar yang suka menentang kejahatan mengandalkan ilmu sepasang golok mereka. Ketika mereka mendengar bahwa Pek-hwa Sianli mengganggu sebuah dusun, menculik pemuda dan kalau sudah bosan lalu membunuh pemuda itu, tiga orang pendekar itu lalu mencari dan menyerangnya. Kalau saja Kam Ki tidak kebetulan lewat dan membantu wanita itu, tentu Pek-hwa Sianli akan tewas oleh pengeroyokan mereka bertiga.
Mendengar pertanyaan Kam Ki, Pek-hwa Sianli tersenyum dan matanya memandang penuh daya tarik. “Aih, taihiap (pendekar besar), apakah engkau lebih senang melihat aku yang mereka bunuh?”
Tentu saja Kam Ki gelagapan mendengar jawaban yang berbalik menjadi pertanyaan itu. Dia menggeleng kepalanya. “Tentu saja tidak, nona. Akan tetapi, mengapa engkau berkelahi dengan mereka dan apakah kesalahan mereka maka engkau membunuh mereka?”
“Jawabannya adalah pertanyaan itu tadi, taihiap yang gagah perkasa. Mereka menyerangku dan hendak membunuhku, karena itulah maka aku harus membunuh mereka karena aku tidak ingin mereka yang membunuhku. Dalam perkelahian mati-matian hanya ada dua pilihan, bukan? Dibunuh atau membunuh, dan kalau engkau yang menjadi aku, engkau pilih dibunuh atau membunuh?”
Mau tidak mau Kam Ki tersenyum. Cara wanita itu bicara, sungguh menarik hati sekali. Bibirnya yang indah manis itu bergerak-gerak menantang! Suaranya juga merdu dan kata-katanya seolah tidak dapat dibantah kebenarannya.
“Tentu saja aku tidak memilih dibunuh!” jawabnya sejujurnya. “Akan tetapi kenapa mereka itu mengeroyokmu dan hendak membunuhmu? Apakah kesalahanmu, nona?”
“Kesalahanku? Aihh, aku tidak melakukan sesuatu yang salah terhadap mereka. Kalau mau dicari kesalahanku, mungkin kesalahanku terletak pada wajah dan tubuhku!”
Setelah berkata begitu, Pek-hwa Sianli mengerlingkan matanya dengan gaya yang menarik sekali. Akan tetapi, pada waktu itu Kam Ki adalah seorang perjaka yang belum pernah bergaul dekat dengan wanita, maka dia belum dapat menangkap apa yang tersirat dalam gerak dan gaya memikat itu.
“Wajah dan tubuhmu? Kenapa? Aku tidak melihat sesuatu yang salah dengan wajah dan tubuhmu, nona. Apa maksud kata-katamu itu?”
“Aihh, benarkah itu, taihiap? Kau tidak melihat sesuatu yang salah dengan wajah dan tubuhku? Kalau menurut penilaianmu, bagaimana dengan wajah dan tubuhku, taihiap?” Pertanyaan itu disertai gaya menggoda yang memikat dengan gerakan pundak dan dadanya, disertai bibir bawah yang mencebil dan kedipan mata kiri yang penuh arti.
Kam Ki yang sama sekali belum berpengalaman itu hanya tertegun karena terpesona oleh semua kecantikan yang memiliki daya tarik amat kuat itu dan dia menjawab gagap. “Wajah dan tubuhmu……? Ahh....... aku....... aku tidak tahu, wajahmu cantik jelita dan tubuhmu indah.......”
Pek-hwa Sianli tertawa geli sambil menutupi mulutnya. Dari sikap pemuda itu tahulah ia bahwa pemuda yang berilmu tinggi ini sama sekali belum berpengalaman, tentu masih perjaka tulen dan hal ini membuat hatinya seperti terbakar oleh gairah berahi. Pemuda-pemuda perjaka yang pernah ia dapatkan hanyalah orang-orang lemah. Belum pernah ia mendapatkan seorang pemuda perjaka yang memiliki kepandaian tinggi seperti pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya ini.
“Terima kasih atas pujianmu, taihiap. Engkau sendiri, menurut penglihatanku, engkau seorang pemuda yang gagah perkasa dan ganteng, tampan bukan main.”
Wajah Kam Ki berubah merah. “Eh…… aku…… aku masih ingin mengetahui apa kesalahanmu terhadap mereka bertiga itu sehingga mereka mengeroyok dan hendak membunuhmu, nona.”
“Apakah engkau tidak dapat menduga apa yang hendak mereka lakukan setelah mereka melihat kecantikan wajahku dan keindahan tubuhku? Aih, engkau seperti bukan laki-laki saja, taihiap. Mereka bertiga itu tergila-gila kepadaku dan mereka menginginkan tubuhku, mereka ingin memiliki aku. Akan tetapi, huh, tubuhku yang indah ini tidak akan mudah begitu saja kuserahkan kepada sembarang laki-laki yang tidak kucinta! Karena aku menolak mereka, maka mereka menjadi marah dan hendak membunuh aku.
"Aku melawan mereka. Bagiku, daripada menyerahkan tubuhku ini kepada mereka, lebih baik aku melawan sampai mati. Untung engkau muncul dan engkau merobohkan dua orang dari mereka dengan sambitan kerikil. Taihiap, engkau yang masih begini muda sudah memiliki ke¬pandaian yang begini tinggi, engkau telah menyelamatkan aku dari ancaman maut. Engkau adalah dewa penolongku. Taihiap, bolehkah aku mengetahui siapa nama besarmu?”
Keterangan panjang lebar dari wanita itu tidak sepenuhnya dapat dia mengerti, walaupun dapat dia rasakan. Biarpun dia belum mengalami, namun dia mengerti apa maksud wanita itu ketika mengatakan bahwa tiga orang laki-laki itu ingin memiliki wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang indah itu. Timbul rasa cemburu dan bencinya ketika dia mengetahui bahwa tiga orang itu hendak memaksakan kehendak mereka, yaitu memiliki tubuh wanita yang menggairahkan ini.
“Hemm, kalau begitu pantas mereka dibunuh!” katanya penuh geram.
Mendengar ini, Pek-hwa Sianli lalu maju menghampiri Kam Ki dan memegang kedua tangan pemuda itu, menggenggamnya erat-erat. “Ah, taihiap, engkau benar-benar memihakku? Syukurlah, taihiap, aku senang sekali, aku berterima kasih sekali padamu, untuk pertolonganmu dan untuk pe¬ngertianmu! Akan tetapi engkau belum memperkenalkan namamu.”
Gemetar kedua tangan Kam Ki ketika dipegang oleh sepasang tangan yang berkulit lunak, halus dan hangat itu. Juga hidungnya mencium keharuman bunga yang semerbak keluar dari rambut dan tubuh wanita itu.
“Aku…… namaku…… Thio Kam Ki. Dan engkau siapakah, nona?” suara Kam Ki juga agak gemetar karena jantungnya berdebar keras. Belum pernah dia berdekatan dengan wanita yang begini cantiknya, apalagi dipegang kedua tangannya.
“Thio Kam Ki? Thio Kam Ki alangkah gagah namamu, Thio-taihiap!” Pek-hwa Sianli memuji. “Dan engkau masih begini muda…… ah, begini muda, seorang perjaka murni……”
Kam Ki kini sudah dapat menenangkan hatinya dan dia menganggap wanita cantik ini lucu sekali. “Ah, nona, usiaku sudah duapuluh dua tahun bukan muda lagi.”
“Duapuluh dua tahun, aih muda belia yang gagah perkasa!” wanita itu berkata lembut, suaranya seperti membelai perasaan hati Kam Ki.
Kam Ki merasa senang, akan tetapi juga geli. “Nona, engkau bicara seolah engkau sudah nenek-nenek, padahal engkau masih remaja, jauh lebih muda dibanding aku.”
Wajah wanita itu berseri, matanya bersinar-sinar dan mulutnya terbuka dalam senyum, sehingga tampak deretan giginya yang putih berjejer rapi, rongga mulut yang kemerahan..“Aihh, Thio-taihiap (pendekar besar Thio), kaukira berapa usiaku?”
“Hemm, paling banyak sembilan belas tahun. Engkau jauh lebih muda daripada aku, nona.”
Wanita itu memandang kepada Kam Ki dengan wajah terbelalak dan tampak girang bukan main. Wanita mana yang tidak akan senang kalau usianya disangka jauh lebih muda daripada yang sebenarnya? Dia sudah berusia tigapuluh tahun, dan disangka baru sembilan belas tahun!
“Aduh! Luar biasa……, luar biasa……, luar biasa sekali, engkau begitu pandai menebak usiaku, twako. Aku boleh menyebutmu Thio-twako (kakak Thio), bukan?”
“Tentu saja boleh,” kata Kam Ki yang mulai dapat menguasai debaran jantung-nya dan kini merasa gembira sekali mendapatkan seorang teman yang begini cantik dan menarik, juga ramah sekali. “Akan tetapi, aku belum mengetahui namamu.”
“Namaku, twako? Orang-orang menyebut aku Pek-hwa Sianli.”
“Pek-hwa Sianli (Dewi Bunga Putih)? Ah, tentu saja karena engkau memakai hiasan rambut setangkai bunga putih dan engkau juga cantik jelita seperti seorang dewi!” Kata Kam Ki, “akan tetapi kalau engkau menyebut aku Thio-twako, lalu aku harus menyebutmu bagaimana?”
“Sebut saja aku Pek-hwa.”
“Pek Hwa-moi (adik Hwa), ya, aku akan menyebut engkau Hwa-moi.”
“Aku, senang sekali, twako. Akan tetapi bicara di sini tidak enak,” kata Pek-hwa Sianli sambil menuding ke arah mayat tiga orang tadi. “Mari, twako, kuundang engkau singgah di rumahku.”
Kam Ki merasa gembira sekali. Memang dia ingin mengenal gadis jelita ini lebih baik. “Akan tetapi, orang tuamu......” katanya agak ragu.
“Heh-heh, aku tidak mempunyai orang tua lagi, twako. Aku tinggal seorang diri saja, bersama dua orang adik perempuanku, akan tetapi saat ini kedua orang adikku itu sedang melakukan perjalanan jauh. Hanya ada dua orang pelayan yang menemaniku di rumah. Marilah, Thio-twako.”
“Baik, Hwa-moi, akan tetapi aku tadi menunggang kuda.” Dia menengok dan melihat kudanya masih makan rumput. “Di manakah rumahmu?”
“Itu di sana, di lereng bukit.” Pek-hwa Sianli menuding ke arah sebuah bukit kecil di selatan.
“Wah, cukup jauh kalau jalan kaki, Hwa-moi.”
“Bukankah engkau mempunyai kuda? Kita dapat berboncengan naik kuda. Kulihat kudamu itu cukup besar dan kuat,” kata Pek-hwa Sianli dan suaranya sama sekali tidak mengandung keraguan.
Kam Ki yang menjadi merah mukanya. Tak dapat dia membayangkan naik kuda berboncengan dengan seorang wanita! “Boncengan naik kuda?” tanyanya ragu.
Pek-hwa Sianli tersenyum lebar dan mengerlingkan matanya. “Aih, kalau berboncengan kenapa? Apakah engkau merasa keberatan untuk berboncengan dengan aku, Thio-twako? Kalau begitu biarlah engkau yang naik kuda dan aku berjalan kaki saja.”
“Ah, sama sekali tidak, Hwa-moi. Hanya…… apakah orang lain tidak akan menganggap banwa hal itu kurang pantas?”
“Aih, twako, perduli apa dengan anggapan orang lain? Kita bebas melakukan apapun juga yang kita sukai, bukan? Kalau ada orang berani usil mencela kita, hemm, kita sikat saja mereka!”
“Sikat?” Kam Ki bertanya, bingung.
“Ya, kita sikat nyawanya! Kita pecahkan kepalanya!” jawab Pek-hwa Sianli sambil tertawa dan mendengar ini, Kam Ki juga tertawa. Kiranya yang dimasudkan sikat adalah bunuh.
Pendapat ini tidak asing bagi Kam Ki. Guru gelapnya, Hwa Hwa Cinjin, juga pernah mengatakan bahwa kalau ada orang menentang kita, sepatutnya kita bunuh saja! Karena itu pulalah dia merobohkan suhengnya. Bun Sam telah lama menimbulkan iri hati dan membuat dia membencinya secara diam-diam, maka setelah dia merasa kuat, dia tidak segan-segan untuk memukul roboh dan melukai suhengnya yang selalu bersikap baik dan menyayangnya itu.
“Ha-ha-ha, engkau benar, Hwa-moi. Benar sekali! Hayo kita pergi ke rumahmu, naik kuda berboncengan!” kata Kam Ki dan sambil tertawa-tawa mereka berdua lalu menghampiri kuda milik Kam Ki.
Setelah memasangkan kendali dan pelana, Pek-hwa Sianli melompat ke atas punggung kuda dan Kam Ki melompat dan duduk di belakangnya. Karena Kam Ki yang memegang kendali, maka seolah kedua lengannya memeluk tubuh wanita itu. Kuda lalu dijalankan congklang dan Pek-hwa Sianli yang duduk di depan menjadi penunjuk jalan.
Setelah kuda berlari congklang, Kam Ki merasakan sesuatu yang selamanya belum pernah dirasakannya dan hal ini membuat jantung berdebar kencang dan mukanya menjadi kemerahan! Betapa tidak? Karena berboncengan seperti itu, tubuh depannya berhimpitan dengan tubuh belakang Pek-hwa Sianli. Terasa olehnya betapa tubuh wanita yang lunak dan hangat itu menempel ketat pada tubuhnya dan larinya kuda yang congklang membuat tubuh mereka saling bergesekan.
Selain itu, karena kepala Pek-hwa Sianli amat dekat dengan mukanya, maka rambut yang halus panjang itu melambai dan menggelitik dagu dan lehernya, ditambah lagi bau harum yang menyengat hidungnya. Kam Ki terpaksa harus mengerahkan tenaga saktinya untuk menahan diri dan melawan gejolak berahi yang merangsangnya. Keadaan ini mendatangkan perasaan senang dan nikmat, namun juga membuatnya rikuh dan gelisah.
Tentu saja Pek-hwa Sianli yang sudah berpengalaman belasan tahun bergaul dengan bermacam-macam pria itu dapat mengetahui keadaan pemuda itu. Ia merasa girang bukan main, juga geli hatinya. Ia tahu benar bahwa Kam Ki adalah seorang pemuda perjaka yang sama sekali belum berpengalaman dengan wanita, dan bahwa pada saat itu, pemuda itu telah terangsang dan ia akan dapat dengan mudah menundukkannya.
Seorang pemuda yang bukan saja tampan dan gagah, akan tetapi juga memiliki kepandaian yang amat tinggi. Baginya, mudah saja mencari pemuda tampan dan ganteng, akan tetapi mencari pemuda ganteng yang lihai seperti Kam Ki ini, tentu akan sukar didapat. Maka, ia lalu sengaja menyandarkan tubuhnya ke belakang sehingga lebih rapat dengan tubuh pemuda itu dan ia menyandarkan kepalanya di atas dada Kam Ki.
Jantung dalam dada Kam Ki menjadi semakin berdebar keras dan hal ini tentu saja terasa, bahkan terdengar degup jantung itu oleh telinga Pek-hwa Sianli yang tentu saja amat menyenangkan dan membanggakan hati wanita itu.
Kuda yang membawa beban dua orang itu akhirnya tiba di lereng bukit kecil itu, di mana terdapat sebuah pondok mungil dengan taman bunga yang luas mengelilinginya. Rumah mungil ini berdiri terpencil tanpa tetangga. Hal ini tidaklah aneh karena memang bukit kecil itu telah dibeli oleh Pek-hwa Sianli dari tangan para petani setempat sehingga kini menjadi milik pribadinya.
Kuda itu memasuki pekarangan depan yang juga penuh tetumbuhan bunga beraneka warna. Kam Ki dan Pek-hwa Sianli melompat turun dari atas punggung kuda. Dua orang wanita berusia kurang lebih tigapuluh tahun, keduanya berpakaian seperti pelayan namun wajah mereka cantik dan kulit mereka putih bersih, berlari menyambut. Dari gerakan kaki mereka ketika berlari keluar, Kam Ki dapat menduga bahwa mereka berdua bukanlah wanita biasa yang lemah, melainkan orang-orang yang memiliki kepandaian silat yang lumayan.
“Sian-li sudah pulang!” kata mereka yang segera menangkap kendali kuda itu. Ketika mata mereka memandang kepada Kam Ki dengan pandang mata bertanya, Pek-hwa Sianli lalu berkata kepada mereka.
“A-kui dan A-hui, ini adalah kongcu (tuan muda) Thio Kam Ki, sahabat baikku.”
Dua orang wanita itu lalu membungkuk dengan sikap hormat kepada Kam Ki dan berkata dengan suara berbareng, “Selamat datang, Thio-kongcu!”
“A-hui, bawa kuda ini ke kandang dan A-kui, cepat siapkan pesta makan siang untuk menyambut kedatangan Thio-kongcu!”
Dua orang wanita itu menjawab sambil tersenyum, “Baik, Sian-li.”
A-hui yang pakaiannya berwarna hijau segera menuntun kuda melalui samping rumah, dan A-kui segera berlari memasuki rumah dan langsung ke dapur. Setelah mengandangkan kuda, A-hui juga cepat membantu temannya dan dua orang wanita itu sibuk di dapur mempersiapkan tambahan masakan untuk menghormati pemuda itu.
Sambil sibuk mempersiapkan masakan, kedua orang wanita itu dengan genit membicarakan Thio Kam Ki yang mereka puji-puji sebagai seorang pemuda yang tampan dan menarik. Bagi mereka, bukan hal aneh kalau majikan mereka yang atas permintaan Pek-hwa Sianli sendiri mereka sebut Sian-li itu, pulang sambil membawa seorang pemuda ganteng.
Juga mereka mengetahui betapa setelah beberapa hari bersenang-senang dengan pemuda itu, pada suatu hari Pek-hwa Sianli akan mengajak pemuda itu pergi dan selanjutnya mereka tidak lagi melihat pemuda itu. Beberapa hari kemudian mereka hanya mendengar dari para penduduk pedusunan di kaki bukit bahwa telah diketemukan mayat seorang pemuda dalam sebuah jurang.
Sementara itu, Kam Ki duduk di ruangan dalam rumah itu bersama Pek-hwa Sianli. Pemuda itu merasa kagum sekali. Rumah itu tidak berapa besar akan tetapi mungil dan indah. Semua prabot rumah di dalamnya juga mewah, indah dan bersih sekali. Tak pernah dia dapat membayangkan sebuah rumah yang memiliki perabot rumah begini indah sehingga dia merasa kagum bukan main.
Kursi-kursi dan mejanya juga merupakan perabot rumah yang halus mengkilap terukir indah, tentu amat mahal harganya. Pot-pot kuno indah menghias setiap sudut dengan tanaman bunga di dalamnya. Di dinding bergantungan lukisan-lukisan yang indah, juga kain sutera beraneka warna bergantungan dari langit-langit, menambah indahnya suasana dalam ruangan.
Mereka duduk menghadapi meja, di atas kursi-kursi yang ditilami bantal lunak. A-kui tadi menghidangkan minuman anggur manis dan beberapa piring kue kering yang tentu hanya dapat dibeli dari kota-kota besar. Mereka minum anggur dan makan kue sambil bercakap-cakap. Pek-hwa Sianli ramah sekali dan sikapnya amat akrab sehingga sebentar saja, Kam Ki sudah dapat menyesuaikan, diri dalam suasana yang menyenangkan itu dan tidak merasa rikuh lagi.
Bahkan kalau dalam percakapan kadang-kadang Pek-hwa Sianli menggerakkan tangannya dan menyentuh tangan atau lengannya, Kam Ki juga merasa senang saja dan tidak malu-malu lagi. Perlahan-lahan, Kam Ki mulai dituntun ke dalam jaringan nafsu oleh Pek-hwa Sianli seperti seekor domba yang dituntun masuk ke dalam rumah jagal!
“Twako, kita sudah berkenalan dengan baik dan menjadi sahabat, akan tetapi aku belum mengetahui betul siapa engkau ini. Ceritakanlah padaku, twako, tentang keluargamu dan dari mana engkau datang, hendak ke mana, dan siapa pula gurumu. Mau kan engkau menceritakan riwayatmu kepadaku, twako?” kata Pek-hwa Sianli dengan suara manja dan jari-jari tangannya yang runcing mungil itu memegang dan memainkan jari tangan Kam Ki, membelainya.
“Ah, aku tidak mempunyai riwayat yang menarik, Hwa-moi. Hanya menyedihkan saja. Dalam usia tiga tahun aku telah ditinggal mati ayah ibuku dan sekecil itu aku diambil murid oleh suhu Leng-hong Hoatsu dan dibawa ke Himalaya.”
“Aih……! kau maksudkan Leng-hong Hoatsu yang amat terkenal sebagai guru besar dan pendiri Hwe-coa-kauw (Agama Ular Terbang) itu?” tanya Pek-hwa Sianli yang benar-benar terkejut karena ia sudah mendengar akan nama besar pertapa yang kabarnya sakti seperti dewa itu. Matanya yang indah memandang kepada Kam Ki dengan terbelalak.
Kam Ki sudah mendengar dari suhunya bahwa Hwe-coa-kauw adalah orang-orang yang mempergunakan nama Hwe-coa (Ular Terbang) peliharaan suhunya untuk menyeleweng. Karena ular itu dipuja-puja maka Leng-hong Hoatsu meninggalkan Tiong-goan (Cina) dan kembali ke Himalaya. Penyelewengan itu sungguh tidak disukai suhunya. Akan tetapi tentu saja dia tidak mau menceritakan hal ini kepada Pek-hwa Sianli yang agaknya kagum kepada nama besar suhunya.
“Benar, Hwa-moi. Sejak itu, aku menjadi murid dan juga melayani suhu dan baru saja aku turun gunung setelah tamat belajar dan dalam perjalananku ke dunia ramai, aku bertemu dengan engkau yang dikeroyok tiga orang itu, hanya itulah yang dapat kuceritakan padamu, Hwa-moi.”
“Aih, kasihan engkau, Thio-twako. Sejak kecil kehilangan orang tua. Apakah selain suhumu, engkau tidak mempunyai sanak keluarga lain?”
Kam Ki teringat akan Bun Sam. Akan tetapi mungkin suhengnya itu telah mati oleh pukulannya, maka dia menggeleng kepalanya sebagai jawaban. “Tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini? Juga belum beristeri?”
Kam Ki tertawa, akan tetapi mukanya merah. “Ah, engkau ini aneh-aneh saja, Hwa-moi. Tentu saja belum!”
“Akan tetapi kalau pacar sudah punya, kan? Seorang pemuda dewasa yang tampan dan gagah seperti engkau, tentu sudah mempunyai pacar, tentu dikejar banyak gadis!”
“Ha-ha-ha, kau maksudkan gadis-gadis kera dan binatang hutan lainnya? Aku tinggal bersama suhu di pegunungan Himalaya, bagaimana mungkin mempunyai pacar?”
Wajah Pek-hwa Sianli semakin berseri. “Hemm, mungkin sekarang tidak punya pacar. Akan tetapi aku yakin engkau sudah seringkali berpacaran dan bergaul dengan wanita bukan?”
“Salah, dugaanmu salah sama sekali, Hwa-moi! Sungguh mati, aku belum pernah berdekatan dengan wanita!”
“Hemm, maksudmu, sekarang ini untuk yang pertama kali engkau berdekatan dengan wanita? Dengan aku?”
“Benar, Hwa-moi,” kata Kam Ki sejujurnya.
Dan dari pandang mata dan suara pemuda itu Pek-hwa Sianli yakin bahwa pemuda itu berkata benar sehingga ia menjadi semakin girang. Ingin ia langsung merangkul dan mencumbu pemuda itu, akan tetapi ia harus berlaku cerdik. Pemuda ini tidak boleh ia perlakukan sembarangan dan sesuka hatinya saja seperti kalau ia memperlakukan para pemuda terdahulu yang menjadi korbannya. Pemuda ini lihai sekali sehingga kalau sampai merasa tidak suka atau marah kepadanya, ia bisa celaka!
“Dan bagaimana rasa hatimu, twako? Senangkah engkau bergaul dengan aku?”
“Senang sekali, Hwa-moi. Engkau sungguh baik dan menyenangkan hati.”
Dua orang pelayan itu, A-kui dan A-hui, mengetuk pintu ruangan itu dan setelah Pek-hwa Sianli membolehkan mereka masuk, dua orang pelayan itu berkata, “Hidangan telah siap, Sian-li. Silakan!”
Pek-hwa Sianli memegang tangan Kam Ki dan menariknya berdiri sambil berkata dengan nada gembira, “Hayo, twako, kita makan dulu!”
Sambil tertawa-tawa wanita itu menggandeng tangan Kam Ki, diajak memasuki ruangan makan. Dua orang itu tersenyum dan saling lirik penuh arti, lalu mereka mengambil guci anggur dan membawanya ke ruangan makan. Mereka siap melayani kedua orang itu makan.
Kam Ki duduk berhadapan dengan Pek-hwa Sianli, dan dengan kagum memandang makanan yang dihidangkan di atas meja. Tidak kurang dari delapan macam masakan terhidang di atas meja, masih mengepulkan uap dan baunya sedap menimbulkan selera.
“Tinggalkan kami berdua,” kata Pek-hwa, “biar aku sendiri yang melayani Thio-kongcu.”
A-kui dan A-hui tersenyum dan dengan langkah genit mereka meninggalkan ruangan makan itu. Mereka berdua lalu makan minum dengan gembira. Pek-hwa Sianli dengan penuh perhatian melayani Kam Ki. Sekali ini ia tidak berani main-main seperti kalau menjamu makan para pemuda yang pernah dibawanya pulang.
Kepada para pemuda itu, ia selalu menaburkan obat bius yang mengandung perangsang dalam anggur. Akan tetapi sekali ini ia tidak berani melakukan hal itu. Kalau Kam Ki yang amat lihai mengetahui dan menjadi curiga, ia bisa celaka!
Setelah makan minum sampai puas, Pek-hwa Sianli tersenyum memandang wajah Kam Ki yang kemerahan. Pemuda ini selama menjadi murid Leng-hong Hoatsu, tentu saja tidak pernah minum minuman keras. Akan tetapi ketika dia berguru kepada Hwa Hwa Cinjin, pertapa sesat ini suka minum arak dan Kam Ki juga ketularan, walaupun dia bukan peminum berat, namun dia sudah sering minum arak. Maka, biarpun anggur yang disuguhkan Pek-hwa Sianli tidak sekeras arak, namun karena dia minum agak banyak, maka kulit mukanya menjadi merah.
“Mari kita duduk di dalam, twako, kita lanjutkan percakapan kita tadi.”
Pek-hwa Sianli menggandeng tangan Kam Ki yang menurut saja dengan gembira ketika diajak memasuki ruangan dalam. Kam Ki menahan napas saking kagumnya. Ruangan ini bukan ruangan tidur, akan tetapi lebih pantas disebut ruangan bersantai! Terhias lukisan-lukisan indah, pemandangan alam, binatang-binatang dan lukisan wanita dengan pakaian tipis yang tembus pandang, dalam posisi yang memikat.
Di atas lantai yang bersih itu tergelar kasur lebar dengan tilam sutera merah muda dan bantal-bantal yang sarungnya dari sutera disulam. Di dinding dekat kasur terdapat sebuah rak pendek dengan beberapa botol anggur bermacam rasa dan di dekatnya tergantung sebuah yang-kim (siter).
“Mari, duduklah, Thio-twako,” kata Pek-hwa Sianli sambil membuka sepatunya lalu ia duduk di atas kasur.
Kam Ki juga melepas sepatunya dan duduk di depan wanita itu. Pek-hwa Sianli menuangkan anggur merah ke dalam dua cawan perak dan menyerahkan yang sebuah kepada pemuda itu. Mereka minum anggur merah yang rasanya manis dan baunya harum. Wanita itu memandang kepada Kam Ki dengan wajah berseri.
“Twako, aku merasa berbahagia sekali dapat berkenalan dan bersahabat dengan engkau yang telah menyelamatkan nyawaku. Selama ini, aku merasa kesepian, twako. Hidup di tempat sunyi ini, hanya ditemani dua orang pelayanku A-kui dan A-hui itu.”
“Hemm, tentu mereka itu merupakan pelayan yang amat setia padamu, Hwa-moi. Akan tetapi, kalau tadi engkau sudah mendengar riwayatku, kini aku ingin sekali mendengar tentang dirimu. Mengapa seorang gadis…… eh, seperti engkau……”
“Seperti apa, twako?”
'Maksudku, gadis secantik engkau.......”
“Benarkah, twako? Sudah dua kali engkau mengatakan aku cantik. Terima kasih atas pujianmu. Nah, lanjutkan pertanyaanmu tadi.”
“Mengapa engkau hidup seorang diri dan kesepian di tempat sunyi ini? Padahal engkau berkepandaian tinggi dan kulihat engkau kaya raya. Tentu engkau dapat tinggal di kota besar dalam sebuah gedung mewah dan…… tentu saja, bersama seorang suami yang pandai, kaya raya dan mencinta.”
Tiba-tiba wajah yang cantik itu menjadi muram. Alis yang hitam melengkung itu berkerut dan bola mata yang jernih itu menjadi basah. Pek-hwa Sianli menghela napas panjang. “Aih…… kata-katamu menusuk perasaanku dan membuat aku sedih sekali mengenang nasibku yang buruk, twako.......” katanya lirih dan jari tangannya menyeka dua butir air mata yang bergantung di bulu matanya.
“Ah, kalau begitu maafkan aku, Hwa-moi. Kalau engkau tidak mau, tidak usah kauceritakan riwayatmu yang menyedihkan hatimu,” Kam Ki cepat berkata.
Sepasang bibir itu tersenyum lagi. “Tidak, twako. Engkau sudah kuanggap sebagai seorang sahabat baik dan engkau boleh mengetahui riwayatku yang menyedihkan. Seperti juga engkau, aku seorang yatim piatu, twako. Ayah ibu sudah tidak ada, juga aku tidak mempunyai saudara, tidak ada sanak kadang, hanya sebatang kara hidup di dunia ini.”
“Wah, kasihan engkau, Hwa-moi.”
“Engkau juga! Kita sama-sama sebatang kara, bukan?”
“Akan tetapi engkau wanita, dan orang secantik engkau tentu tidak lama hidup seorang diri!”
“Aku hidup sebatang kara dan merantau, mempelajari ilmu-ilmu silat untuk bekal menjaga diri. Dan sebetulnya akan tetapi jangan engkau kecewa, twako.”
“Kenapa mesti kecewa? Ceritakan saja terus terang.”
“Sebetulnya aku…… aku pernah menikah……”
Kam Ki terkejut. “Ah, engkau punya suami? Kalau begitu, kehadiranku di sini dapat membuat suamimu salah sangka dan marah!” Kam Ki hendak bangkit, akan tetapi wanita itu memegang tangannya dan menariknya, menahannya untuk tetap duduk.
“Aku hanya pernah menikah, sekarang tidak lagi. Aku pernah menjadi isteri orang, akan tetapi perjodohan kami hanya bertahan beberapa bulan saja.”
“Eh? Kenapa begitu, Hwa-moi?”
“Pada suatu hari aku menangkap basah suamiku, mendapatkan dia menyeleweng, berjina dengan seorang wanita lain. Aku merasa sakit hati sekali, marah dan mata gelap, maka kubunuh mereka berdua!”
Setelah berkata demikian, Pek-hwa Sianli mengepal tinju dan mukanya berubah merah. Apa yang ia ceritakan itu memang benar. Terjadinya sekitar sepuluh tahun yang lalu. Setelah membunuh suaminya yang menyeleweng, ia berubah. Ia menjadi seorang wanita yang sakit hati dan mendendam kepada pria, menjadi kejam bukan main, mempermainkan pemuda-pemuda untuk memuaskan nafsunya, kemudian setelah bosan ia membunuh mereka!
“Ah, aku ikut menyesal mendengar riwayatmu yang menyedihkan itu, Hwa-moi.”
Pek-hwa Sianli tersenyum lagi. “Aku sudah melupakan semua peristiwa itu, twako. Sejak itu, aku tidak pernah lagi mau berdekatan dengan pria. Bagiku semua pria itu tidak setia!”
“Wah, kalau begitu…… ah, kenapa sekarang kita bersahabat dan berdekatan? Bukankah engkau membenci semua pria?” Kam Ki memandang penuh curiga.
Pek-hwa Sianli memegang tangan Kam Ki dan…… mencium tangan itu. “Aih, engkau lain lagi, twako. Engkau seorang pria jantan sejati yang telah menolongku. Engkau tidak seperti para pria lainnya. Twako, setelah kita menjadi sahabat, ada sebuah keinginanku dan kuharap engkau tidak akan menolak permintaanku ini.”
“Hemm, permintaan apakah itu, Hwa-moi?” tanya Kam Ki sambil menarik lepas tangannya dengan jantung berdebar tegang karena belum pernah dia bergaul dengan wanita sedekat ini, apalagi wanita secantik Pek-hwa Sianli.
“Begini, twako. Aku sejak kecil suka sekali akan ilmu silat dan aku melihat tadi betapa hebat gerakan silatmu. Maka, aku ingin menguji diriku sendiri dan aku minta agar engkau suka melayani aku untuk bertanding silat sehingga aku dapat mengukur kemampuan sendiri.”
Ia lalu memandang dengan mata setengah terkatup dan bibir terbuka sehingga wajahnya tampak menggairahkan dan seolah menantang. Kam Ki tidak dapat menolak permintaan itu, apalagi dia memang ingin memamerkan kepandaiannya agar dipuji dan dikagumi wanita cantik yang menggairahkan ini. “Kalau itu keinginanmu, marilah,” katanya.
Wajah yang manis itu tampak gembira, mulutnya tersenyum lebar sehingga tampak deretan gigi yang putih mengkilap dan rapi seperti mutiara berjajar, bibir yang merah basah itu merekah sehingga sekilas tampak rongga mulut yang merah.
“Ah, terima kasih, twako. Mari kita ke lian-bu-thia (ruang berlatih silat)!” kata Pek-hwa Sianli yang tanpa sungkan-sungkan lagi lalu memegang tangan Kam Ki dan menggandeng pemuda itu keluar dari kamar itu, memasuki sebuah ruangan kosong yang dipergunakan untuk berlatih silat. Di sudut ruangan itu terdapat sebuah rak senjata, penuh dengan senjata lengkap delapan belas macam.
Mereka memasuki ruangan itu dan segera disusul datangnya A-hui dan A-kui yang membawa dua baskom air dan sehelai handuk. Setelah menaruh barang-barang itu di atas sebuah meja di sudut ruangan, keduanya sambil tersenyum manis keluar lagi dari ruang latihan silat itu.
“Nah, marilah kita bertanding tangan kosong, twako. Hati-hati, jangan pandang rendah ilmuku, twako, jangan-jangan engkau akan kalah olehku...!”