Bayangan Bidadari Jilid 09

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Bayangan Bidadari Jilid 09
Sonny Ogawa

Bayangan Bidadari Jilid 09

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

IN HONG terkejut dan cepat menggerakkan kaki. Namun tongkat di tangan Pek Ciang San-Lojin menyodok dadanya sehingga terpaksa ia menangkis dengan pedangnya dan kakinya turun kembali. Tak dapat dihindarkan lagi, biting itu menusuk pahanya. In Hong sudah memiliki singkang yang tinggi, warisan dari Bhutan Koay-jin.

Akan tetapi biarpun yang menyerang pahanya itu hanya sebatang biting kecil, namun pelemparnya adalah Siang Te Lokai, seorang tokoh besar yang tingkatnya sudah sejajar dengan Ketua Siauw-Lim-Si dan Bhutan Koay-jin sendiri. Maka, biarpun tidak tepat menusuk paha, biting itu masih melukai kulit ketika menyeleweng karena hawa sinkang dari tubuh In Hong. Kulit dan sedikit daging paha terluka. Baiknya biting itu kecil saja sehingga pakaian yang menutup paha tidak robek, hanya berlubang sedikit.

Namun rasa perih pada pahanya membuat In Hong terpecah perhatiannya, sehingga ilmu silatnya tidak begitu kuat lagi menjaga dirinya. Padahal, pada saat itu, Siang Te Lokai sudah ikut menyerbu dan menyerangnya dengan sapunya yang lihay! Didesak oleh dua orang pandai ini, mau tidak mau In Hong sibuk juga. Yang membikin ia sibuk sekali adalah sapu di tangan Siang Te Lokai. Memang, cara penyerangan Kakek tua ini berbeda sekali dengan cara penyerangan Pek Ciang San-Lojin.

Kalau sepasang senjata di tangan Ketua Kun-Lun-Pai ini, yakni tongkat dan pedang, selalu mengarah bagian tubuh yang berbahaya dan kedua senjata ini digerakkan dalam penyerangan yang sifatnya membunuh. Menghadapi gadis yang gagah itu, Pek Ciang San-Lojin tidak mau berlaku sungkan lagi, apapula kalau ia ingat bahwa murid-muridnya telah tewas dalam tangan In Hong. Ia tidak ragu lagi untuk menjatuhkan tangan maut.

Sebaliknya, penyerangan dari Siang Te Lokai sama sekali tidak mengandung maksud membunuh, hanya ingin membikin gadis itu tidak berdaya saja. Oleh karena ini sapunya hanya menyerang kearah jalan darah yang melumpuhkan, atau menyapu kaki, menyerang pergelangan tangan dan lain-lain. Justeru inilah yang membikin In Hong bingung dan terdesak.

Penyerangan Pek Ciang San-Lojin dapat ia layani dengan cara keras sama keras, sebaliknya penyerangan Kakek tua itu benar-benar membikin ia gemas sekali. Kalau ia perhatikan, maka bahaya yang datang dari Pek Ciang San-Lojin menjadi lebih besar, sebaliknya kalau ia tidak ambil perduli, serangan-serangan dariKakek tukang sapu ini sekali mengenai sasaran, ia akan jatuh dan tidak berdaya lagi.

Karena terdesak terus, akhirnya pundak kiri In Hong terkena sambaran ujung tongkat Pek-Ciang San-Lojin. Gadis ini menggigit bibirnya dan menahan rasa sakit. Sambungan tulang pundak kirinya terlepas dan tangan kirinya menjadi lumpuh tak dapat digunakan lagi! Pada saat itu, sapu yang lihay dari Siang Te Lokai menyerampang kakinya. In Hong mengeluh dan tubuhnya terguling, cepat menggunakan gerak tipu Teringgiling-turun-gunung.

Tubuhnya masih tetap bergulingan dan pedangnya ia siapkan. Ia ingin menggulingkan diri sampai jauh kemudian melarikan diri. Akan tetap, biarpun Siang Te Lokai hanya tertawa dan tidak mau mengejarnya, tidak demikian dengan Pek Ciang San-Lojin. Ketua Kun-Lun-Pai ini tahu akan maksud gadis itu, maka tentu saja ia tidak mau membiarkan In Hong melarikan diri.

“Siluman betina, hendak lari kemana kau?” serunya dan tubuhnya yang tinggi besar itu melayang, mengejar In Hong yang masih bergulingan. Dengan sekuat tenaga, Ketua Kun-Lun-Pai ini menggerakkan tongkat memukul ke arah kepala In Hong.

Gadis ini cepat menggerakkan tubuh mengelak dan batu kecil yang berada di atas tanah terpukul hancur oleh kepala tongkat! In Hong sudah melompat berdiri akan tetapi ia roboh lagi ketika kaki Pek Ciang San-Lojin menyambar lututnya. Pek Ciang San-Lojin mengangkat lagi tongkatnya untuk mengirim pukulan terakhir ke arah kepala In Hong, akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali dan seorang laki-laki bertubuh gagah berseru keras sambil mengangkat tangan mencegah,

“Tak semestinya Ketua Kun-Lun membunuh seorang gadis muda!”

Pek Ciang San-Lojin memandang. Ia melihat seorang laki-laki tinggi besar beralis tebal yang memandang kepadanya dengan mata bernyala. Sampai beberapa lama ia tidak mengenal laki-laki ini, maka ia menjadi marah. “Kau tahu apa tentang urusan kami? Hayo pergi!” Dengan mengucapkan kata-kata ini, Pek Ciang San-Lojin mendorongkan tongkatnya ke arah orang itu.

Akan tetapi, orang itu tidak mau pergi, bahkan dengan tangannya ia menolak tongkat yang didorongkan ke arah dadanya. Pek Ciang San-Lojin kaget sekali. Tenaga yang keluar dari tolakan tangan itu benar-benar hebat. Mengertilah ia bahwa yang datang ini bukan orang sembarangan.

“Hm, kau membela siluman ini? Tentu kau konconya dan kau seorang jahat pula! Robohlah.” Tongkat itu menyerang dengan hebatnya.

Mengerti bahwa tongkat lawan ini tak boleh dibuat main-main, orang itu melompat ke belakang dengan cepat, tidak berani menangkis. Pek Ciang San-Lojin melihat orang itu mengelak sambil melompat mundur, mengeluarkan suara ketawa mengejek dan secepat kilat tongkatnya diayun lagi, akan tetapi bukan untuk menyerang orang itu, melainkan unuk menghantam kepala In Hong yang sudah duduk!

“Celaka...! Jangan ganggu kekasihku...!” Orang itu menjerit dan menubruk ke depan, membiarkan tubuhnya yang mewakili In Hong menerima pukulan tongkat itu.

“Bluk! Tubuh orang itu terlempar dan menubruk In Hong. Orang itu merintih perlahan akan tetapi ia masih dapat memeluk tubuh In Hong dan memondongnya! In Hong tadi terkena tendang lututnya, maka gadis ini tidak bisa berjalan. Sekarang, melihat laki-laki itu terpukul hebat oleh tongkat unbuk mewakili dirinya kemudian laki-laki yang sudah terluka hebat ini masih memondongnya, In Hong berkata lirih, “Bu Jin Ai... kau baik sekali...”

Orang itu memang Bu Jin Ai. Kalau tadinya ia merintih dan bibirnya gemetar menahan sakit, kini ia memandang kepada In Hong, matanya bersinar, wajahnya berseri dan Bibirnya gemetar. “Aku akan membelamu, melindungimu, aku akan mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanmu, kekasihku... isteriku manis...”

Melihat adegan aneh ini, Pek Ciang San-Lojin ragu-ragu, mengerutkan kening dan juga merasa jemu sekali. “Kalian sepasang manusia iblis, bersiaplah untuk mampus!” serunya marah. Tongkatnya melayang pula, siap untuk menghancurkan kepala Bu Jin Ai dan In Hong. “Plak!” Tongkat itu bertemu dengan gagang sapu yang dilontarkan oleh Siang Te Lokai.

“Susiok, mengapa kau mencegah Teecu membunuh dua siluman ini...?” tanya Ketua Kun-Lun-Pai dengan marah.

Siang Te Lokai menghampiri mereka dan memandang kepada Bu Jin Ai. “Pek Ciang, ketahuilah, orang ini adalah murid dari mendiang Bu Sek Tianglo. Tak baik kalau kita mengganggunya.”

Pek Ciang San-Lojin kaget mendengar ini. “Ahh... apakah dia murid Tianglo yang dulu amat terkenal dan she-nya Ong...?”

Sementara itu, dengan terhuyung-huyung dan mulut bicara mesra, menghibur In Hong dan berjanji hendak mengobati luka-lukanya, Bu Jin Ai meninggalkan tempat itu. Orang ini sebetulnya sudah terluka hebat. Pukulan tongkat dari Pek Ciang San-Lojin yang ditujukan ke arah kepala In Hong dan ia wakili tadi, tepat mengenai punggungnya dan telah mematahkan dua buah tulang iganya.

Namun, Bu Jin Ai ini memang seorang yang luar biasa kuatnya. Ia tidak memperlihatkan rasa sakit dan tidak memperdulikan dirinya sendiri bahkan ia masih dapat memondong tubuh In Hong dan membawanya pergi dari kelenteng Kun-Lun-Pai. Baiknya Siang Te Lokai mengenalnya dan memperingatkan Pek Ciang San-Lojin, kalau tidak apabila pihak Kun-Lun-Pai mengejar dan menyerang terus, pasti Bu Jin Ai dan In Hong takkan dapat melawan dan menyelamatkan diri lagi.

“Put Hauw Li, bidadariku jangan kau susah, aku akan merawatmu sampai sembuh...” Bu Jin Ai menghibur In Hong yang merasa terharu sekali.

Orang gagah yang bernama Bu Jin Ai ini telah menyelamatkan nyawanya, bahkan telah mempertaruhkan nyawa sendiri untuk melindunginya dari bahaya maut. Di dalam pondongan orang gagah ini ia merasa demikian aman dan senang. Belum pernah In Hong mendapat perasaan aneh seperti ini, perasaan bahagia bahwa ada orang yang menyintainya, orang yang membelanya mati-matian.

Biarpun Bu Jin Ai bersikap seperti orang yang tidak beres otaknya, namun In Hong dapat menduga bahwa orang ini bersikap aneh seperti itu karena telah menderita kesedihan besar. Beberapa kali Bu Jin Ai menyebutnya “Isterinya atau kekasihnya,” mengapa demikian? Apakah barangkali Bu Jin Ai telah kehilangan isterinya?

“Bu Jin Ai, punggungmu terluka, mungkin tulang igamu patah,” kata In Hong terharu sekali ketika dalam pondongan, tidak terasa tangannya kena meraba punggung orang gagah itu.

“Tidak apa, hanya dua tulang iga patah, masih cukup murah untuk menebus nyawamu dari tongkat Si tangan putih yang ganas itu,” jawab Bu Jin Ai sambil tersenyum. “Bagiku, yang terpenting adalah keselamatanmu. Aku sendiri, ah, aku orang apa? Hanya nyawa lebihan, hanya manusia yang dibenci sana sini, tidak ada orang yang sayang kepadaku.” Ketika mengeluarkan kata-kata ini, Bu Jin Ai mengerutkan kening dan sinar matanya nampak berduka sekali.

“Bu Jin Ai, orang sedunia boleh membencimu, akan tetapi percayalah, aku Put Hauw Li tidak akan membencimu selama hidupku.”

“Betulkah? Dan kau... kau suka kepadaku?”

“Tentu saja. Kau satu-satunya orang di dunia ini yang baik menurut pandanganku, mengapa aku takkan suka?”

“Bagus! Put Hauw Li, marilah kita berdua pergi jauh, pergi meninggalkan semua keributan ini, pergi meninggalkan kebencian dan permusuhan, kita pergi keluar dunia ramai, hidup berbahagia sebagai sepasang suami-isteri untuk selamanya!”

In Hong terkejut sekali sehingga ia tersentak kaget. Belum pernah ia berpikir tentang suami-isteri dan kata-kata ini benar-benar mengejutkan hatinya. “Hush jangan omong tidak karuan!” tegurnya dan tak terasa tangannya menepuk punggung Bu Jin Ai.

“Aduuh...! Bu Jin Ai terhuyung-huyung akan tetapi tetap ia memondong tubuh In Hong dan menahan rasa sakit sampai keringat membasahi jidatnya.

“Ah, maafkan aku, Bu Jin Ai. Aku tidak sengaja. Mari kita mencari tempat yang teduh agar kita bisa saling mengobati. Aku membutuhkan perawatanmu, akan tetapi sebaliknya kaupun perlu dengan perawatanku.''

“Ada sebuah tempat baik di kaki gunung ini, aku akan membawamu kesana. Kau... kau tidak marah lagi?”

Muka In Hong menjadi merah sekali, entah mengapa ia sendiri tidak tahu, akan tetapi ia merasa jengah dan malu terhadap orang gagah ini, akan tetapi juga ada sesuatu yang amat mesra terasa di dalam hatinya. Sudah gilakah aku? Demikian In Hong bertanya kepada diri sendiri karena ia dapat menduga bahwa hatinya tertarik serta suka kepada orang ini. Ia merasa begitu aman dan betah dalam pondongan Bu Jin Ai, merasa disayang sekali, merasa berbahagia dapat bersama-sama dengan orang ini!

“Tidak, Bu Jin Ai, aku tidak marah. Akan tetapi kau jangan bicara yang bukan-bukan lagi.”

Mendengar ucapan ini, Bu Jin Ai tersenyum-senyum dan wajahnya yang gagah itu berseri gembira. Ia seperti mendapat kekuatan baru dan setengah berlari ia turun dari gunung itu, menuju ke sebuah gua besar yang berada di kaki gunung. Ia pernah tinggal digua ini, bahkan ia telah membersihkannya dan disitu ia telah menaruh meja kursi dan pembaringan buatan sendiri, beberapa tahun yang lalu.

Belum lama Bu Jin Ai dan In Hong meningalkan puncak Kun-Lun-San, seorang pemuda yang cepat larinya datang di kelenteng Kun-Lun-Pai. Pemuda ini berwajah tampan, bertubuh tinggi agak kurus dan di punggungnya terselip sebatang pedang. Dia ini bukan lain adalah Ong Teng San, murid termuda dan tersayang dari Siauw-Lim-pai.

Ia menjalankan perintah Suhunya untuk turun gunung dan mengamat-amati sepak terjang In Hong murid mendiang Bhutan Koay-jin yang telah memiliki kepandaian tinggi. Tadinya pemuda ini turun gunung bersama Adiknya, Ong Lian Hong. Akan tetapi ia menyuruh Adiknya itu pulang ke rumah orang tuanya.

“Lian Hong, kau tentu tahu sendiri bahwa In Hong adalah puteri dari Ibu yang dahulu hilang. Dia tentu berusaha hendak mencari Ibu, juga berusaha hendak membalas dendam atas kematian Ayahnya yang terbunuh oleh Ayah kita. Oleh karena itu, kita harus berpisah. Biar aku yang menjalankan perintah Suhu dan mengamat-amatinya agar ia jangan menimbulkan kekacauan seperti yang diperbuat oleh mendiang Hek Moli dan suaminya. Adapun kau harus pulang kerumah, mencari tahu tentang Ayah dan Ibu yang sudah amat lama kita tinggalkan. Kemudian kau harus menjaga keselamatan Ibu di rumah. Kasihan Ibu kita...”

“Baik, koko,” kata Lian Hong. Diam-diam gadis ini merasa terharu sekali dan memuji hati pemuda yang budiman ini. Biarpun Ibu Lian Hong bukan Ibu Teng San, namun pemuda ini amat kasih kepada Ibu tirinya, bahkan dalam urusan dengan Ayahnya, Teng San membela Ibu tirinya. Demikianlah, Lian Hong menuju ke kampung tempat tinggal orangtuanya, sedangkan Teng San melanjutkan perjalanan ke Kun-Lun-San.

Pemuda ini dapat menduga bahwa setelah kini memiliki kepandaian tinggi, In Hong pasti akan mengunjungi Kun-Lun-Pai untuk membalas dendam atas kematian Hek Moli. Bukankah dahulu gadis itu datang ke Siauw-Lim-pay mencuri kitab dengan maksud untuk dipelajari dan kelak dipergunakan melawan Kun-Lun-Pai? Maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mengarahkan perjalanannya ke Kun-Lun-San.

Seperti juga In Hong, pemuda ini berlari cepat dan tidak pernah menunda perjalanannya. Akan tetapi oleh karena In Hong telah berangkat sehari dimuka, tetap saja Teng San datang terlambat. Ia tiba dikelenteng Kun-Lun-Pai setelah In Hong dipondong dan dibawa pergi oleh Bu Jin Ai. Kedatangannya disambut oleh seorang Tosu penjaga. Di ruang tengah terdapat beberapa buah peti mati, hio mengebul dan banyak Tosu bersembahyang dan berdoa. Hati Teng San berdebar tak enak.

“Totiang, siapakah yang meninggal dunia dan mengapa sekaligus begitu banyak yang meninggal? Ada terjadi apakah?”

Setelah Tosu itu mendengar bahwa pemuda ini adalah murid Siauw-Lim-pay, ia tidak menaruh hati curiga dan berkata, “Ah, baru saja tempat kami diserbu oleh iblis-iblis jahat.”

Teng San makin gelisah. “Totiang, terus terang saja akupun mendapat tugas dari Suhu Bu Kek Tianglo untuk mengamat-amati sepak terjang seorang nona...”

“Ah! Kau terlambat. Dia itulah yang datang menyebar maut. Bukankah yang kau maksudkan itu nona murid Hek Moli?”

“Betul, Totiang. Apa yang ia lakukan? Dan dimana ia sekarang?” Teng San kini menjadi agak pucat. Ia menyesal sekali bahwa kedatangannya terlambat. Anehnya dalam mengajukan pertanyaan ini, yang terutama sekali teringat olehnya adalah keadaan In Hong! Ia mengkhawatirkan kalau-kalau gadis itu mengalami kecelakaan.

“Siluman betina itu datang dan mengamuk, menewaskan Kun-Lun Sam-lojin dan beberapa orang saudara lain. Kemudian, setelah Ketua kami keluar dibantu oleh Siang Te Lo-Cianpwe, barulah ia dapat dikalahkan dan terluka. Tentu bocah siluman itu akan dibasmi oleh Ketua kami kalau saja pada saat itu tidak datang pertolongan seorang aneh.”

“Ditolong orang? Siapa yang menolong dan bagaimana kesudahannya, Totiang?” tanya Teng San dan hatinya makin berdebar. Tadinya ia merasa khawatir dan gelisah bukan main, akan tetapi sekarang agak terhibur mendengar bahwa In Hong tertolong orang aneh.

“Agaknya antara siluman betina itu dan penolongnya memang sudah ada hubungan. Memang aneh sekali. Laki-laki itu biarpun gagah dan tampan, patut menjadi Ayahnya, akan tetapi dasar wanita siluman. Kami sampai menjadi malu melihat sikap mereka yang saling mengutarakan cinta kasih. Benar-benar kurang ajar!”

Hati Teng San terpukul mendengar ucapan ini. Ingin ia menggaplok muka Tosu yang menghina dan memburukkan nama In Hong, akan tetapi Teng San masih dapat bersabar, apalagi ia masih menghendaki penjelasan. “Apa yang dilakukan oleh penolongnya itu dan kemana mereka sekarang, Totiang?”

“Laki-laki penolongnya itu merampas nona tadi dari ancaman tongkat Ketua kami, lalu membawanya lari turun gunung. Setelah mereka pergi baru kami ketahui dari Siang Te Lo-Cianpwe bahwa laki-laki itu bukanlah orang sembarangan. Biarpun kelihatannya seperti orang yang berotak miring, akan tetapi tidak tahunya dia adalah murid dari Bu Sek Tianglo dan shenya Ong...”

Tiba-tiba Tosu itu membelalakkan matanya dan hampir menjerit karena pundaknya dipegang dengan eratnya oleh jari tangan Teng San, hampir remuk rasanya. “Lekas katakan, ke jurusan mana mereka pergi!” kini suara Teng San terdengar penuh ancaman, mukanya pucat sekali. Tosu itu hanya menudingkan telunjuknya ke arah bawah gunung.

Teng San melepaskan cenkeramannya dan secepat kilat tubuhnya berkelebat ke jurusan itu. Bagaikan terbang cepatnya Teng San turun gunung untuk mengejar In Hong. Hatinya tidak karuan rasanya. Mungkinkah? Mungkinkah In Hong bersama Ayahnya? Tak salah lagi bahwa orang yang dimaksudkan oleh Tosu tadi adalah Ayahnya.

Siapa lagi murid Bu Sek Tianglo she Ong kalau bukan Ong Tiang Houw Ayahnya? Akan tetapi, mana mungkin Ayahnya bersama-sama dengan In Hong dan lebih tak mungkin lagi antara mereka ada perhubungan seperti yang dikatakan oleh Tosu tadi! Sama sekali tak masuk akal. Ayahnya adalah musuh-besar In Hong, orang yang telah membunuh Ayah gadis itu, bahkan setelah membunuh Ayahnya, lalu merampas dan mengawini Ibunya!

Kalau In Hong bertemu dengan Ayahnya, tentu gadis itu akan membunuhnya, akan mencincang hancur tubuh Ayahnya. Ia dapat mengerti betapa sakit hati gadis itu kepada Ayahnya yang telah membunuh Ayah dan merampas Ibu gadis itu. Bagaimana sekarang ia mendengar dari Tosu Kun-Lun-Pai bahwa Ayahnya menolong In Hong dan bahwa di antara mereka terdapat perhubungan yang memalukan?

“Tak mungkin!” Teng San berseru keras untuk menyangkal semua tuduhan yang menyakitkan hatinya itu. Ia memang tidak puas akan perbuatan Ayahnya yang telah membunuh Kwee Seng kemudian mengambil isterinya, perbuatan ini dianggapnya rendah sekali.

Akan tetapi kini memikat hati In Hong, puteri dari Kwee Seng? Benar-benar ia anggap keterlaluan dan betapapun juga hatinya tidak rela mengaku bahwa Ayahnya sampai hati melakukan perbuatan macam itu. Setelah mencari dengan penuh perhatian, akhirnya Teng San melihat jejak kaki ditanah yang agak lembek di kaki gunung Kun-Lun. Jejak kaki ini menunjukkan bahwa belum lama di tempat itu berjalan seorang yang membawa barang berat.

Ia lalu mengikuti jejak kaki itu dan sampailah ia dimulut sebuah gua yang besar dan gelap, karena ditutup oleh cabang dan ranting pohon dari sebelah dalam. Agaknya ada orang memasuki gua itu dan menutup mulut gua dengan cabang pohon untuk mencegah gangguan binatang buas. Teng San ragu-ragu. Ia hendak membuka cabang-cabang pohon itu akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara orang bicara,

“Bu Jin Ai, tulang igamu sudah tersambung baik, akan tetapi kau masih harus banyak mengaso.” Inilah suara In Hong!

Teng San masih kenal suara gadis ini. Hatinya berdebar dan ia makin ragu-ragu. Terang bahwa orang yang diajak bicara oleh In Hong itu bukan Ayahnya, karena dipanggil Bu Jin Ai, nama yang aneh dan asing baginya. Tiba-tiba terdengar suara orang laki-laki tertawa perlahan. Jantung Teng San seakan-akan berhenti berdetik karena tegang dan ragu. Ia menahan napas untuk mendengar dan mengenal suara orang yang tertawa itu.

“Kau bidadari berhati mulia, pundakmu sendiri terlepas sambungannya dan lututmu juga terluka, akan tetapi kau selalu memperhatikan keadaanku. Eh, bidadariku, apakah sengaja Thian menyuruhmu turun ke bumi untuk mengawani aku orang yang dibenci sesamanya?”

Itulah suara Ong Tiang Houw, Ayahnya! Hal inipun tidak diragukan lagi oleh Teng San. Tak terasa pula pemuda ini jatuh bersimpuh di atas tanah. Kedua kakinya terasa lemas dan mukanya pucat seperti mayat. Akan tetapi ia masih mendengar suara mereka bercakap-cakap,

“Bu Jin Ai, kau sudah menolong nyawaku, bukan aku yang baik, melainkan kaulah orang terbaik dan termulia di dunia ini. Yang lain-lain itu palsu belaka. Aku sebatangkara, kau seorang diri, nasib kita sama, selalu bertemu musuh dan selalu sengsara. Aku senang sekali dapat bertemu denganmu, Bu Jin Ai.” Suara ini mengandung kemesraan yang mengharukan, karena begitu jujur dan setulusnya.

Kembali laki-laki itu tertawa. “Memang kita sudah berjodoh agaknya... heran sekali aku, kau serupa benar dengan dia...”

“Bu Jin Ai, kau mulai mengaco lagi. Selalu kau sebut-sebut aku sama dengan orang lain. Aku tidak perdulikan orang lain!”

“Ha, kau cemburu?”

“Cih! Siapa perduli? Sudahlah, kau harus tidur, keadaanmu lemah sekali,” terdengar suara In Hong membujuk.

Teng San tak dapat menahan lagi gelora hatinya. Ia merasa jemu, malu, marah, menyesal, kecewa dan penasaran sekali. Pendeknya semua perasaan tidak enak berkumpul di dalam hatinya, membuat ia menjadi pucat. Bagaikan seorang gila ia mencabut pedangnya dan sekali ia bergerak, cabang-cabang pohon itu terlempar ke kanan kiri dan terbukalah mulut gua. Dengan sepasang mata liar seperti harimau luka ia memandang ke dalam gua dan pemandangan yang terlihat olehnya merupakan minyak pembakar disiramkan pada api yang sedang bernyala.

In Hong nampak duduk bersandar dinding gua, tangannya mengusap kepala seorang laki-laki yang rebah di lantai gua dan yang menaruh kepalanya di atas pangkuan gadis itu. Laki-laki yang rebah telentang dengan mata meram itu bukan lain adalah Ayahnya! Bermacam-macam pikiran terbayang dalam kepala Teng San, terutama sekali pikiran tentang keburukan perbuatan Ayahnya. Ayahnya telah mengepalai perampok-rampok liar untuk merampok dan membunuh-bunuhi orang hartawan dan bangsawan tanpa memilih bulu.

Sehingga dalam keganasan itu Ayahnya telah membunuh seorang hartawan she Kwee yang terkenal budiman dan dermawan. Kemudian, setelah membunuh Kwee Seng, Ayahnya ini mengambil Nyonya Kwee menjadi isterinya, tentu dengan bujukan karena kalau tidak demikian, bagaimana Nyonya Kwee tidak tahu bahwa Tiang Houw itu pembunuh suaminya? Dua perbuatan yang jahat itu dikotori pula dengan penyimpanan rahasia pembunuhan itu, sifat yang amat pengecut dan rendah dalam pandangan Teng San.

Kemudian, kini Ayahnya itu bahkan main gila dan memikat anak perempuan dari Kwee Seng, atau anak tirinya sendiri! Tentu dengan maksud agar supaya nona ini jangan membunuhnya, jangan membalaskan sakit hati Kwee Seng karena Ayahnya juga tahu bahwa In Hong telah memiliki kepandaian tinggi? Alangkah palsu dan jahatnya Ayahnya!

Dengan pikiran ini memuncak di dalam hati dan kepalanya dan membuat Teng San mata gelap, pemuda ini tidak perdulikan lagi pandang mata In Hong yang terbelalak heran melihat pemuda itu telah berada disitu. In Hong tidak menyangka buruk, maka ia tidak berdaya ketika sambil berteriak mengerikan seperti orang menjerit atau menangis, Teng San menubruk maju dan dilain saat, ujung pedangnya telah amblas ke dalam ulu hati Ong Tiang Houw!

Ong Tiang Houw tersentak dan tubuhnya terlempar ketika dengan jeritan marah In Hong melompat berdiri. Tiang Houw membuka mata dan melihat Teng San yang memegang sebatang pedang berlumur darah, ia tersenyum dan berkata perlahan, “Teng San... anakku...”

In Hong tidak memperhatikan lain hal. Melihat bahwa Teng San telah membunuh Bu Jin Ai, ia berseru keras, “Jahanam keji, rasakan pembalasanku!” Ia menerjang dengan pedangnya, tidak perduli akan lutut kakinya yang masih sakit, juga rasa nyeri pada pundak tidak dihiraukannya lagi.

Teng San setelah menusuk ulu hati Ayahnya dan mendengar kata-kata Ayahnya tadi, seketika menjadi lemas. Airmatanya mengucur dan ia tidak kuat lagi melihat Ayahnya yang sedang menghadapi maut. Maka ia lalu melompat keluar dari gua pada saat pedang In Hong menyerangnya.

“Jahanam keparat, jangan lari!” In Hong mengejar keluar gua. Di luar gua ia melihat Teng San berdiri dengan muka pucat sekali. Pedang yang masih berlumur darah itu biarpun dipegangnya, akan tetapi tergantung ke bawah dan pemuda itu menundukkan mukanya.

“Keparat, kau datang-datang membunuh orang tak berdosa! Tidak malukah kau murid Siauw-Lim-Si melakukan perbuatan serendah ini?”

Teng San mengangkat mukanya, memandang kepada In Hong dengan sepasang mata basah. Ia merasa kasihan sekali kepada gadis ini, akan tetapi juga menyesal. Mengapa orang gadis muda secantik dan sepandai ini, sampai mudah terpikat oleh Ayahnya? Kalau tidak terjadi hal demikian, tentu ia takkan membunuh Ayah sendiri, dan mungkin sekali dapat dicari jalan damai dan baik untuk membereskan urusan sakit hati yang ruwet ini. Kini keadaan sudah terlanjur, ia sudah membunuh Ayah sendiri dengan tangannya. Ia tidak perduli lagi! “Aku membunuh dia, kau mau apakah?”

“Keparat!” In Hong mengayun tangan kiri, menyebar toat-beng hek-kong (sinar hitam pencabut nyawa), disusul oleh tusukan pedangnya ke arah lambung Teng San.

“Cepp...!!” Pedangnya menembus lambung pemuda itu dan pasir hitamnya juga mengenai sasaran dengan tepat. Semua serangannya tadi ternyata tidak ditangkis maupun dielakkan sama sekali oleh Teng San. In Hong berdiri dengan mata terbuka lebar saking heran dan ngerinya. Ia memandang pemuda itu yang terhuyung lalu jatuh terduduk. Darah membanjir dari perutnya, akan tetapi pemuda itu masih dapat memandangnya dengan mulut dipaksa tersenyum sehingga mendatangkan penglihatan yang amat menyeramkan.

“Teng San, kau kenapakah? Mengapa kau sengaja menerima seranganku?” tanya In Hong sambil berlutut di depan pemuda itu.

Pemuda itu hanya tersenyum dan menggeleng-geleng kepalanya perlahan.

“Teng San, mengapa kau membunuh Bu Jin Ai? Mengapa?” In Hong mulai menyesal melihat keadaan pemuda ini dan ia bingung sekali.

Teng San menggerakkan Bibirnya yang gemetar. Kata lirih keluar dari mulutnya, “Dia... dia adalah Ayahku... dia harus mati... dia harus mati...”

“Mengapa? Apa dosanya? Teng San, mengapa kau membunuh Ayahmu sendiri?”

Teng San hanya menggeleng kepalanya, wajahnya mulai memucat dan nampaknya berduka sekali.

“Dan mengapa kau membiarkan aku membunuhmu? Kalau kau melawan, aku takkan dapat menang!”

Kembali Teng San mengerahkan tenaga dan berkata lirih. “Aku... menebus dosa Ayah... juga menerima hukuman... karena telah membunuh Ayah sendiri... In Hong... kalau kau mau tahu... kau pergilah ke dusun Hok-te-chung... sebelah barat kota... Im-goan-kan, disana... disana kau carilah Ibumu...” Tiba-tiba tubuh Teng San lemas dan ia takkan mempertahankan diri lagi, roboh terguling.

“Teng San, kau bilang Ibuku...??”

Akan tetapi pemuda itu tak dapat menjawab lagi karena nyawanya telah meninggalkan tubuhnya. In Hong melompat ke dalam gua untuk menghampiri Bu Jin Ai atau Ong Tiang Houw, akan tetapi yang dihampiri juga telah menjadi mayat! Ayah dan anak keduanya telah tewas dan darah mereka membanjiri tanah di dalam dan di luar gua. Sungguh mengerikan dan menyedihkan. In Hong yang kebingungan itu menangis.

Kemudian ia dapat menekan perasaan hatinya dan digalinyalah lubang di dalam gua, sebuah lubang yang cukup lebar untuk mengubur dua mayat. Sampai sore ia bekerja dan akhirnya ia dapat mengubur mayat Ayah dan anak itu ke dalam lubang. Pada malam harinya, ia menangis di atas timbunan tanah di dalam gua!

****

“Lian Hong, anakku, terima kasih kau mau pulang dan kembali kepada Ibumu. Baiknya kau lekas datang, nak, kalau tidak, kiranya Ibumu takkan tahan lebih lama hidup menderita seperti ini...” Cui Hwa atau Ibu Lian Hong mendekap kepala putrinya yang berlutut dan memeluk Ibunya.

Lian Hong terharu sekali. Ibunya telah kelihatan tua dan lemah, wajahnya pucat dan rambutnya kusut. Padahal ia ingat bahwa Ibunya adalah seorang wanita yang amat cantik, seperti In Hong yang ia lihat belum lama ini. “Ibu, dimana... Ayah?”

Cui Hwa menarik napas panjang, lalu membetot anaknya supaya duduk di sampingnya. Untuk beberapa lama ia memandang wajah Lian Hong dan kelihatan puas melihat puterinya sehat-sehat saja. “Ayahmu telah pergi beberapa hari setelah kau dan Kakakmu pergi, sampai sekarang belum pernah pulang. Ah, ya, dimana adanya Teng San? Mengapa ia tidak turut pulang?”

Dua orang wanita ini lalu menceritakan pengalaman masing-masing. Cui Hwa mendengarkan penuturan puterinya tentang kedua anak ini yang belajar ilmu silat di Siauw-Lim-pay, dan hatinya girang sekali karena mendengar bahwa Teng San juga sudah memiliki ilmu silat yang tinggi.

“Ibu, aku membawa kabar yang tentu amat menyenangkan hati Ibu.”

Ibunya menoleh dan melihat wajah Ibunya yang kurus pucat serta matanya yang sayu seakan-akan telah dekat mati dari pada hidup, Lian Hong tidak tega untuk menyimpan rahasia itu lebih lama lagi. Ia memeluk Ibunya dan berkata,

“Ibu, aku telah bertemu dengan enci In Hong...” Di dalam pelukan Ibunya, Lian Hong merasa betapa kedua tangan Ibunya gemetar dan jantung di dalam dada itu berdetak-detak keras.

“In Hong...? Dimana dia? In Hong... aah...!” Dan Nyonya ini lalu menangis tersedu-sedu sambil mendekap kepala Lian Hong. Lian Hong sudah besar dan sudah cukup mengerti apa yang mengganggu hati Ibunya. Tentu Ibunya ingat akan keadaannya yang benar-benar membingungkan itu. Tentu Ibunya bingung, bagaimana kalau In Hong tahu bahwa pembunuh Kwee Seng adalah Ayah Lian Hong?

“Harap tenangkan pikiran, Ibu. Mudah-mudahan saja semua urusan ini akan berakhir dengan baik. Sekarang Teng San-Ko sedang mengikuti perjalanan enci In Hong secara diam-diam, dan aku disuruhnya pulang untuk menemui Ibu disini. Percayalah, tak lama lagi San-Ko tentu pulang dan mudah-mudahan saja ia datang membawa enci In Hong.”

Karena banyak mendapat hiburan dari Liang Hong, Cui Hwa mulai timbul harapannya. Matahari kini bersinar pula setelah ia berada di dekat puterinya. Tadinya keadaan Nyonya ini memang menyedihkan. Ia lebih banyak berbaring menderita sakit daripada sehat. Barang-barang di rumah sudah mulai menipis, dijual untuk keperluan sehari-hari. Can Ma sudah meninggal karena usia tua, maka Cui Hwa hanya hidup bersama seorang pelayan wanita lain. Hidup kesepian dan hampir putus harapan.

Kedatangan Lian Hong merupakan obat penawar yang mustajab dan mulailah terlihat senyum di wajah Cui Hwa. Mulailah ia membereskan rambut dan pakaian. Beberapa pekan kemudian, ketika Lian Hong dan Ibunya tengah duduk bercakap-cakap di ruangan depan, mereka mendengar suara orang berjalan masuk di pekarangan.

Mereka menengok dan terlihatlah seorang gadis berpakaian kusut wajah dan rambutnya juga kusut tidak terpelihara, bahkan ada bekas-bekas air mata dikedua pipinya, kelihatan sedih dan bingung. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang.

“Enci In Hong...!” Lian Hong melompat turun dari bangkunya dan menyambut kedatangan gadis itu.

In Hong tidak merasa heran melihat Lian Hong berada disitu, bahkan ia hanya memandang sejenak kepada gadis muda ini, selanjutnya matanya memandang kepada Cui Hwa yang juga sudah berdiri dari bangkunya dan kini memandang kepada In Hong dengan wajah pucat dan kedua mata mengucurkan airmata yang turun bertitik dikedua pipinya.

“In Hong... benar-benar kaukah ini, anakku...?” kata Cui Hwa dengan suara merintih dan Nyonya ini melompat ke depan, menubruk In Hong dan ia tentu akan roboh kalau In Hong tidak cepat-cepat menyambut dan memeluknya.

“Ya Thian Yang Maha kuasa, terima kasih... kau benar-benar In Hong!” Cui Hwa dengan airmata bercucuran menangis dan tertawa seperti orang gila, sambil memegang kepala anaknya dengan kedua tangan, menciumi dan me-nimang-nimang kepala itu.

“Ibu, mengapa Ibu bisa berada disini?”

“Mengapa? Apa maksudmu, In Hong?”

In Hong menoleh ke arah Lian Hong. “Bagaimana Ibu bisa disini bersama dia?”

Cui Hwa tersenyum di antara tangisnya. “Aah, benar! Kau belum tahu kiranya. Dia ini adalah Lian Hong, Adikmu!”

In Hong merasa betapa dadanya berdetak keras. “Ibu, bukankah dia ini Adik dari Ong Teng San?”

“Benar, Teng San itu adalah Kakakmu sendiri...” Cui Hwa mulai mendapat firasat tidak enak.

In Hong merenggut diri dan melepaskan pelukan Ibunya. Ia melangkah mundur tiga tindak dan menatap wajah Ibunya dengan penuh ketegangan. Diam-diam Lian Hong sudah menyiapkan diri untuk turun tangan kalau gadis aneh yang berwatak keras itu hendak mengganggu Ibunya.

“Ibu, apakah artinya semua ini? Anak telah bertemu dengan Yo-supek, diberitahu bahwa Ayah telah tewas dalam tangan penjahat dan Ibu telah hilang, juga Can Ma telah lenyap secara aneh. Bagaimana tahu-tahu Ibu sudah berada disini dan Adik ini..., bagaimana pula Ibu dapat berkata bahwa Ong Teng San adalah Kakakku?”

Cui Hwa benar-benar terdesak oleh pertanyaan In Hong yang bertubi-tubi ini sehingga ia berdiri dengan kaki gemetar dan tak dapat menjawab. Lian Hong melihat keadaan Ibunya ini, bergerak maju, menarik Ibunya dan menyediakan kursi sehingga Ibunya dapat duduk. Cui Hwa menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya, tidak kuasa lagi menentang pandang mata In Hong yang demikian tajam menusuk kalbu.

Lian Hong kini menghadapi In Hong dengan sikap gagah akan tetapi sikapnya cukup menghormat. “Enci In Hong, karena akupun anak Ibu, biarlah aku yang mewakili Ibu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Jangan kau merasa heran melihat Ibu berada disini, karena sesungguhnya, Ibu telah menikah dengan Ayah dari Kakak Ong Teng San yang ketika itu telah menjadi duda. Dari pernikahan ini terlahir aku, oleh karena ini maka Teng San-Ko adalah Kakak-tiriku, juga Kakak-tirimu.”

Muka In Hong menjadi pucat. “Siapakah nama Ayahmu yang mengawini Ibuku?”

“Ayah bernama Ong Tiang Houw,” jawab Lian Hong singkat. Gadis cilik ini maklum bahwa ia telah tiba di bagian yang amat berbahaya.

In Hong memandang Ibunya, hatinya tidak karuan rasanya. Jadi Bu Jin Ai, laki-laki gagah perkasa yang membikin ia jatuh hati itu sebenarnya adalah suami Ibunya? Akan tetapi mengapa Teng San membunuh Ayahnya sendiri? Mengapa pula Teng San membiarkan dirinya terbunuh seakan-akan hendak menebus dosa Ayahnya? Apa yang terjadi?

“Ibu, harap kau suka berterus terang. Mengapa Ibu menikah, sedangkan musuh besar yang membunuh Ayah belum kita balas? Juga Ibu tidak berusaha mencariku?”

Lian Hong tidak berani menjawab pertanyaan ini dan sekarang Cui Hwa sudah menguasai perasaan hatinya, maka Nyonya ini berkata dengan suara tenang. “Dengarlah, In Hong. Sesungguhnya, baru kurang lebih lima tahun yang lalu aku ketahui bahwa pembunuh dari Ayahmu adalah Ong Tiang Houw sendiri. Teng San dan Lian Hong mendengar ini menjadi marah dan melarikan diri, adapun Tiang Houw sendiri seperti gila dan pergi tak pernah pulang. Adapun aku... aku hanya dapat menangis dan bersedih. Kalau aku tahu bahwa dia pembunuh Kwee Seng Ayahmu, sudah tentu aku takkan sudi menjadi isterinya...”

Setelah berkata demikian dan melihat betapa wajah Lian Hong yang tersinggung hatinya menjadi pucat dan berduka, Cui Hwa menangis sambil memeluk Lian Hong. Mendengar penuturan itu, makin lama wajah In Hong menjadi makin pucat. Ia berdiri seperti patung, memandang kepada Ibunya dengan mata sayu dan Bibir gemetar. Kemudian terdengar ia merintih perlahan, membalikkan tubuh dan hendak pergi dari situ.

Akan tetapi, baru saja tiga langkah ia bertindak, tubuhnya terguling dan ia roboh pingsan! Dapat dibayangkan betapa hancur dan pedihnya hati In Hong. Ia telah mencurahkan kasih sayang dan kasihan kepada Bu Jin Ai, dan tidak disangkanya sama sekali bahwa Bu Jin Ai itu adalah suami Ibunya, bahkan pembunuh Ayahnya! Orang satu-satunya di dunia ini yang dikasihinya, ternyata adalah orang satu-satunya yang menjadi musuh besarnya, yang seharusnya ia bunuh dan ia cincang hancur tubuhnya!

Baru sekarang terbuka matanya, dan tahulah ia mengapa Teng San membunuh Ayahnya sendiri. Pemuda itu tentu merasa terhina sekali melihat Ayahnya yang setelah membunuh Kwee Seng lalu mengawini Nyonya Kwee, kini bahkan hendak memikat In Hong, puteri dari Kwee Seng.

In Hong tahu bahwa Tiang Houw atau Bu Jin Ai melakukan hal ini tanpa disadarinya. Orang itu telah ditinggal pergi oleh anak-anaknya dan dibenci oleh isterinya, menjadi patah hati dan seperti gila. Kemudian bertemu dengan dia yang mempunyai wajah seperti Cui Hwa dan Lian Hong, tidak mengherankan apabila Bu Jin Ai jatuh hati kepadanya.

Ketika siuman kembali, In Hong mendapatkan dirinya telah berada diatas pembaringan dalam kamar, Ibunya duduk di tepi pembaringan sambil menangis dan mengguncang-guncang pundaknya. Lian Hong juga duduk di atas kursi dekat pembaringan. Keduanya tampak sedih sekali. In Hong bangkit duduk, menghela napas panjang beberapa kali, membiarkan Ibunya merangkulnya.

Kemudian ia berkata dengan nada suara berduka. “Ibu, aku telah berdosa besar. Tidak pantas lagi aku mendekati Ibu. Biarlah aku pergi sekarang juga, merantau seperti yang dilakukan Guruku.”

Ibunya menangis, “In Hong, Anakku, mengapa engkau berkata begitu? Akulah Ibumu ini yang bersalah dan engkau harus dapat memaafkan Ibumu. Mari kita hidup berkumpul lagi, In Hong. Tidak kasihankah engkau kepada Ibumu?”

Melihat Ibunya menangis sedih, Lian Hong lalu berkata. “Ibu, aku tahu kemana Enci In Hong hendak pergi. Ia tentu ingin mencari Ayah untuk membalas sakit hatinya karena Ayah telah membunuh Ayahnya. Bukankah begitu, Enci In Hong?” Suara gadis remaja ini mengandung penuh kegetiran.

In Hong menggeleng kepalanya. “Engkau keliru, Lian Hong. Memang menurut patut seharusnya demikian, seharusnya aku membunuh dia yang telah membunuh Ayah kandungku. Akan tetapi nasib menentukan lain. Agaknya memang Ayahmu telah melakukan banyak dosa maka dia harus menebusnya dengan tewas di tangan puteranya sendiri.”

“Apa...?” Cui Hwa dan Lin Hong terkejut sekali mendengar ucapan itu dan keduanya memandang kepada In Hong terkejut sekali mendengar ucapan itu dan keduanya memandang kepada In Hong dengan mata terbelalak.

“Sesungguhnya, Teng San telah membunuh Ayahnya dan untuk perbuatannya itu... untuk perbuatan itu aku telah menyerang dan membunuh Ong Teng San...”

Ibu dan anak itu terkejut bukan main. Sukar dapat mempercayai apa yang diceritakan In Hong kepada mereka itu. Sungguh tidak masuk akal dan mengherankan. Bagaimana mungkin anak membunuh Ayah kandungnya sendiri?

“Benarkah itu, In Hong?” tanya Ibunya.

“Aku tidak berbohong, Ibu. Jenazah keduanya telah kurawat dan kukubur baik-baik di dalam gua di kaki Gunung Kun-Lun-San. Ibu, sekarang aku harus melanjutkan perantauanku.”

“In Hong, jangan...”

“Ibu, aku harus pergi. Setidaknya, untuk sementara ini aku harus menjauhkan diri agar perasaan hatiku yang terguncang ini dapat tenteram kembali. Kelak, kalau hatiku sudah tenteram, aku akan mengunjungi Ibu. Adik Lian Hong, engkau seorang anak yang baik dan berbakti. Aku titip Ibu kepadamu dan jagalah ia baik-baik.” Setelah berkata demikian, In Hong segera keluar dari rumah itu, membiarkan Ibunya menangisi kepergiannya.

Lewat tengah malam, bulan tampak bercahaya terang. Langit bersih dari awan. Bulan cerah berseri menyuramkan cahaya beberapa buah bintang yang berkelap-kelip di barat. Puncak bukit itu sunyi dan indah bagaikan dalam dongeng. Sinar bulan mendatangkan pemandangan seperti dalam mimpi. Yang terdengar hanya dendang suara binatang-binatang kecil seperti jangkerik, belalang dan serangga lain. Perpaduan suara yang tiada putusnya.

Namun, suara itu terkadang diseling suara isak tangis wanita. Kalau kebetulan ada orang lewat di situ, dia tentu akan lari ketakutan, mengira suara itu adalah suara tangis siluman. Suara tangis itu terkadang berhenti, lalu muncul lagi. Demikian sampai fajar menjelang. Matahari yang masih bersembunyi di balik gunung di ufuk timur, telah mengirim cahayanya kuning kemerahan, mengecat langit dengan warna merah, kunin Indah sekali.

Kokok ayam mulai terdengar bersahut-sahutan. Kegaduhan mereka menggugah yang tidur berkelompok di pepohonan dan mulai ramailah suasana oleh kicau mereka. Di antara semak belukar dan batang pepohonan, tikus hutan dan kelinci mulai bergerak mencari makan.

Burung-burung pun mulai meninggalkan pohon, siap berangkat kerja mencari makan. Semua mahluk harus bekerja mencari makan kalau ingin bertahan hidup. Dari semut terkecil sampai gajah terbesar, semua harus bekerja mencari makan, tanpa kecuali. Bahkan pepohonan juga tiada hentinya mencari makan, melalui akar-akar dan daun-daunnya.

Wanita yang semalam menangis kini tidak menangis lagi. la duduk di atas sebuah batu besar yang menghadap ke tebing. Dari tempat ia duduk, terbentang bumi dari sebagian permukaan bukit sampai ke tanah ladang di kaki bukit, membentang luas seolah tanpa batas.

la seorang gadis berusia sekitar sembilan belas tahun. Sesungguhnya ia berwajah cantik jelita dan memiliki bentuk tubuh yang sintal dan ramping padat, dengan lekuk-lengkung yang sempurna bagaikan setangkai bunga sedang mekarnya.

Halaman 49 dan 50 hilang

la kini memikirkan Ibu kandungnya. Salahkah Ibunya menikah dengan pembunuh suaminya? Tidak, Ibunya tidak bersalah. Ibunya sama sekali tidak tahu bahwa Ong Tiang Houw adalah pembunuh suaminya, Kwee Seng. Ibunya menganggap Ong Tiang Houw sebagai penolongnya, sebagai seorang duda beranak satu yang perkasa dan rupawan. Ibunya sama kali tidak bersalah, dan ia bahkan merasa amat iba kepada Ibu kandungnya, Yo Cui Hwa.

Kalau begitu, Ong Tiang Houw yang jahat? Seperti yang disangka oleh Ong Teng San sehingga pemuda itu tega membunuh Ayah sendiri? Tidak! Setelah ia mengetahui persoalannya, ia yakin bahwa Ong Tiang Houw, laki-laki pertama yang dicintainya itu juga tak bersalah.

Isteri pertama Ong Tiang Houw, Ibu kandung Ong Teng San, membunuh diri karena dipaksa akan diperisteri oleh seorang hartawan yang sewenang-wenang. Ayah-Ibunya meninggal dunia karena berduka dan anaknya, Ong Teng San yang masih kecil, hilang!

Semua ini membuat Ong Tiang Houw mendendam kepada para penguasa yang korup dan tidak adil, juga kepada para hartawan yang suka bertindak sewenang-wenang, bersekongkol dengan para pembesar mengandalkan harta kekayaan mereka. Dengan orang-orang yang senasib dia lalu membentuk sebuah perkumpulan Kai-Sin-Tin yang menentang penindasan dan kesewenang-wenangan para penguasa dan hartawan jahat.

Gerakan Kai-Sin-Tin inilah yang kemudian mengakibatkan Ayah kandungnya, Kwee Seng, menjadi korban. Ong Tiang Houw membunuh Kwee Seng bukan karena permusuhan pribadi, apalagi untuk merampas isterinya. Kemudian ia malah menolong Yo Cui Hwa, isteri Kwee Seng, jatuh cinta padanya dan sebagai seorang duda lalu menikah dengan Yo Cui Hwa yang telah menjadi seorang janda.

Jadi, Ong Tiang Houw membunuh Kwee Seng bukan karena permusuhan pribadi, kemudian menikahi Yo Cui Hwa karena mencinta dan Ibu kandungnya itu juga bersedia, bukan dengan paksaan. Kemudian Ong Tiang Houw jatuh cinta padanya. Hal ini pun tidak dapat disalahkan. Ketika Ong Tiang Houw menceritakan bahwa dia yang dulu membunuh Kwee Seng, seluruh keluarganya membencinya.

Puteranya dari isteri pertamanya, Ong Teng San, dan puterinya dari Yo Cui Hwa, Ong Lian Hong, bahkan minggat! Juga Yo Cui Hwa membencinya. Hal ini membuat Ong Tiang Houw menjadi seperti gila, merantau dan merubah namanya menjadi Bu Jin Ai (tidak Ada Orang Menyukainya)! Kemudian bertemu dengannya lalu jatuh cinta. Ini pun tidak aneh. Wajahnya mirip Ibunya, tentu saja hal ini menarik hati Bu Jin Ai atau Ong Tiang Houw.

Tidak! Ong Tiang Houw tidak bersalah! Ia sendiri satu-satunya orang yang bersalah, berdosa besar! Perasaan penuh penyesalan ini yang membuat In Hong semalam menangis seorang diri. Kalau dikenang, rasanya baru satu kali dalam hidupnya ia merasa bahagia, yaitu ketika dekat dengan Bu Jin Ai. Ketika ia dan Bu Jin Ai berada dalam gua dan saling mengobati luka masing-masing.

Getaran cinta kasih yang mendalam pada saat itu menyentuhnya dan ia merasa berbahagia sekali. Rasanya baru satu kali itu ia merasakan benar getaran cinta seorang pria, cinta yang tulus dan mendalam. Kemudian la teringat lagl kepada Ong Teng San. Seorang pemuda yang tinggi ilmunya, gagah perkasa dan budiman. Dan ia telah membunuh pemuda itu!

Kini In Hong merasa menyesal sekali. la merasa hidupnya menderita tekanan batin yang membuat segala sesuatu tampak buruk, menyebalkan dan menyedihkan. Kehangatan sinar mataharl terasa panas mengganggu, hembusan semilir angin terasa tidak enak menyesakkan dada, kicau burung terdengar gaduh dan tidak enak bagi telinganya. Kemarahan menyesak dada, marah kepada diri sendiri, marah kepada keadaan sekelilingnya, marah kepada riwayat hidupnya.

“Jahanam...!” Tiba-tiba tangannya bergerak memukul batu yang didudukinya.

“Brakkk!” Bagian tepi batu yang di hantam telapak tangannya berantakan! la lalu melompat ke dekat sebatang pohon, lalu menyerang pohon itu. “Krakkk...!” Batang pohon sebesar pinggangnya itu patah dan lalu mengamuk dan merobohkan tujuh batang pohon. Barulah kemarahannya mereda. Kemarahan tanpa dasar, tanpa sebab, kemarahan yang timbul dari penyesalan, kekecewaan dan duka.

Setelah merobohkan pohon-pohon itu dengan pukulan Kang-Jiu Sin-Ciang (Silat Sakti Tangan Baja) yang dipelajari dari Kakek sakti buntung kaki tangannya, yaitu mendiang Bhutan Koai-Jin, In Hong baru merasa lega. Semua kesedihannya bagaikan larut oleh gelombang kemarahan yang dimuntahkan keluar melalui pukulan-pukulannya yang merobohkan pohon tadi. Wajahnya yang biasanya memang cerah itu kini seolah ditinggalkan awan dan ia pun segera berlari menuruni bukit.

Pada suatu siang ketika In Hong berjalan santai dan tiba di luar kota Hak-Ciu, tiba-tiba melihat seorang laki-laki berusia enam puluh tahun dan berpakaian sebagai seorang ahli silat, tergesa-gesa berjalan setengah berlari dari depan. Ketika laki-kaki itu lewat didekatnya, pandang mata In Hong yang tajam dapat melihat bahwa orang itu telah menderita luka dalam yang cukup parah. Hal ini tampak pada mukanya yang pucat kebiruan dan napasnya yang terengah-engah.

In Hong tentu tidak akan mempedulikan orang itu karena ia tidak mengenalnya dan tidak ada urusan dengannya, kalau saja ia tidak melihat lima orang laki-laki berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun berlari-lari mengejar laki-laki tadi! Karena laki-laki tadi sudah menderita luka dalam.

Maka dia tidak dapat berlari cepat dan sebentar saja dia sudah dapat disusul lima orang yang wajahnya tampak menyeramkan, tubuh mereka semua kokoh kuat itu. Tanpa banyak cakap lima orang itu kini mengurung laki-laki itu lalu menyerang dan mengeroyoknya dengan menggunakan golok di tangan!

In Hong membalikkan tubuhnya dan menonton perkelahian itu. Banyak orang yang sedang berjalan diatas jalan umum itu menonton, namun tak seorang pun di antara mereka berani mendekat, bahkan agak menjauh dan menonton dari tempat aman. In Hong melangkah maju menghampiri. la melihat betapa laki-laki yang bertangan kosong Itu dapat bergerak dengan gesit sekali, mengelak ke sana-sini.

Namun dia menyeringai, agaknya luka dalam tubuhnya membuat dia kesakitan dan gerakannya membuat dia semakin lemah dan lambat. Sebelum ada sebuah dari lima golok itu sempat membabatnya, tiba-tiba ada bayangan berkelebat. Bayangan itu berkelebatan cepat sekali sehingga hampir tak tampak dan tidak dapat terlihat dengan jelas mukanya, hanya bayangan itu jelas bayangan seorang wanita cantik.

Bayangan itu berkelebatan diantara lima orang pengeroyok itu. Terdengar lima orang itu mengaduh kesakitan, golok mereka beterbangan dan seorang demi seorang roboh tak mampu bangkit kembali. Mereka mengaduh-aduh, ada yang patah tulang lengannya, ada yang patah tulang kakinya, ada pula yang patah tulang pundaknya. Akan tetapi ketika mereka memandang, juga ketika semua penonton mencari, ternyata bayangan itu telah lenyap tanpa meninggalkan jejak!

Lelaki tua itu kini melanjutkan perjalanannya, melangkah dengan terhuyung-huyung pergi meninggalkan tempat itu. Ributlah semua orang yang menyaksikan peristiwa itu. Setelah lima orang pengeroyok itu berjalan ke arah pintu gerbang kota Hak-Ciu sambil mengaduh-aduh kesakitan, baru semua orang membicarakan peristiwa itu.

Mereka terheran-heran akan tetapi juga puas melihat ada orang berani menghajar lima orang tukang pukul yang terkenal dengan julukan Hak-Ciu Ngo-Houw (Lima Harimau Hak-Ciu) dan mereka di takuti bukan hanya karena galaknya, akan tetapi juga karena mereka adalah jagoan-jagoan dari Jaksa Ouw yang berpengaruh dan berkuasa di kota Hak-Ciu!

Karena mereka tadi hanya melihat bayangan seorang wanita cantik, maka ada yang mengatakat bahwa mungkin wanita yang menghajar para jagoan jahat tadi seorang bidadari. Karena yang tampak hanya bayangannya, maka orang-orang mulai menyebut nama Si Bayangan Bidadari!

In Hong diam-diam membayangi laki-laki yang telah menderita luka dalam itu. Tadi ia bergerak cepat karena memang tidak ingin dikenal orang. Ia pun sengaja hanya merobohkan lima orang itu, tidak membunuh mereka karena ia belum tahu apa masalahnya sehingga orang tua itu dikeroyok oleh mereka. Melihat laki-laki itu, yang dari gerakannya ketika mengelak tadi dapat ia ketahui memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, ia tahu bahwa orang itu menderita luka parah dan gerakan-gerakannya tadi membuat lukanya semakin parah.

Maka diam-diam ia membayangi laki-laki itu yang menjauhi kota Hak-Ciu, lalu memasuki sebuah hutan. Setelah memasuki hutan, menyimpang dari jalan umum sehingga tidak ada orang melihatnya, laki-laki itu terhuyung-huyung, berhenti di bawah sebatang pohon dan tiba-tiba dia muntah darah, lalu terkulai dan roboh.

In Hong segera menghampiri, berjongkok dan memeriksa keadaan orang itu. Benar seperti dugaannya tadi. Orang itu menderita luka yang ternyata amat parah, bahkan melihat warna menghitam didadanya, In Hong menduga bahwa orang itu terkena pukulan Tok-Ciang (Tangan Beracun)!

Cepat ia lalu menotok beberapa jalan darah untuk mengurangi rasa nyeri, dan melihat betapa laki-laki itu pingsan, mengurut tengkuknya dan membetot otot di antara Ibu jari dan telunjuk. Laki-laki itu mengeluh dan membuka mata, bergerak hendak bangkit duduk akan tetapi pundaknya ditekan perlahan oleh In Hong.

“Paman, engkau rebah sajalah, jangan banyak bergerak.”

Sejenak sepasang mata itu mengamati wajah In Hong dengan heran dan penuh selidik, lalu dia berkata dengan suara terputus-putus dan napas memburu, “Nona... yang tadi... menyelamatkan saya...?”

In Hong mengangguk, “Paman siapakah? Dan mengapa lima orang itu mengeroyok dan berusaha membunuhmu?”

Laki-laki itu menyeringai, lebih penasaran daripada kesakitan. Ialu berkata lemah, “Nama saya Si Hoo... dikenal sebagai... Si-Kauwsu (Guru silat Si)... di... Hak-Ciu...” Dengan terengah-engah dan terputus-putus ia bercerita. Dia adalah seorang Guru silat kenamaan di kota Hak-Ciu yang baru saja di tinggalkannya. Sudah sejak sepuluh tahun dia hidup menduda setelah isterinya meninggaI dunia.

Di Hak-Ciu dia membuka sebuah Bu-Koan (Perguruan Silat) yang menerima puluhan orang murid. Tadinya dia hidup berdua dengan puteranya, anak tunggal yang bernama Si Han Lin. Akan tetapi, lima tahun yag lalu, ketika Si Han Lin berusia lima belas tahun, anaknya itu meninggalkan Hak-Ciu untuk merantau, mencari Guru untuk memperdalam ilmu silat yang telah dipelajarinya dari Ayahnya. Pada suatu hari, diperguruannya datang seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh satu tahu.

Pemuda itu bernama Ouw Boan Kit, putera Jaksa Ouw yang berkuasa di Hak-Ciu. Melihat kedatangan seorang pemuda yang mukanya merah, sikapnya gagah namun jelas tampak sombong dan kasar itu, Guru Silat Si menyambut dengan ramah. Ouw Boan Kit memperkenalkan diri sebagai putera Jaksa Ouw, maka tentu saja Si Hoo bersikap hormat.

“Ah, kiranya Ouw-Kongcu (Tuan Muda Ouw) putera Ouw Taijin (Pembesar Ouw). Silakan duduk, Ouw-Kongcu.” Akan tetapi pemuda berpakaian mewah itu tidak menanggapi, tetap berdiri dengan mengangkat dan membusungkan dada lalu bertanya, secara sambil lalu dan memandang rendah.

“Apakah engkau yang bernama Si Hoo, Guru silat yang membuka perguruan silat ini?”

“Benar sekali, Ouw-Kongcu. Apakah ada yang dapat saya bantu, Kongcu?” Tanya Si Hoo dengan sikap tetap sabar dan ramah. Guru silat tua ini sudah banyak pengalaman menghadapi orang-orang muda dengan bermacam-macam watak dan sikap. Dia tidak heran dan tidak marah melihat sikap angkuh sombong dari pemuda ini yang tentu saja mengandalkan kekuasaan Ayahnya sebagai Jaksa sehingga dia memandang rendah orang lain.

“Hemm, aku baru pulang dari merantau dan di dunia kang-ouw (dunia persilatan, daerah sungai telaga) aku mempelajari banyak ilmu silat. Kini aku pulang bersama Guruku dan mendengar di sini ada perguruan silat, ingin aku melihat sampai di mana kehebatan ilmu silat yang diajarkan di sini maka engkau berani membuka dan mengajarkan silat kepada. orang-orang muda.” Si Hoo tetap bersikap mengira bahwa pemuda ini agaknya telah mempelajari beberapa jurus ilmu silat dan sekarang hendak memamerkan kepandaiannya.

“Ah, kiranya Kongcu ingin bermain-main dan menguji ilmu silat? Baik, silahkan ke Lian-Bu-Thia (ruangan berlatih silat) di belakang, Kongcu. Di sana para murid sedang berlatih silat sehingga Kongcu dapat menyaksikannya.”

Dengan langkah digagah-gagahkan, dengan gaya seorang jagoan, Ouw Boan Kit berjalan bersama Guru Silat Si Hoo memasuki ruangan luas di mana belasan orang pemuda sedang berlatih olah raga. Ada yang mengangkat besi, ada yang berlatih silat dengan bermacam senjata.

Melihat munculnya Guru mereka bersama seorang pemuda berpakaian mewah, otomatis mereka menghentikan kegiatan mereka. Belasan orang pemuda dari usia lima belas sampai dua puluh tahun itu merupakan sebagian dari murid Si Hoo yang berjumlah sekitar lima puluh orang...

Jilid selanjutnya,
BAYANGAN BIDADARI JILID 10