Patung Dewi Kwan Im Jilid 18

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Patung Dewi Kwan Im Jilid 18
Sonny Ogawa
Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Patung Dewi Kwan Im Jilid 18, karya Kho Ping Hoo - SIAUW LIONG tersenyum kejam dan kebut-kebutkan tangannya pada bajunya. Kemudian ia bertindak menghampiri dua orang gadis yang masih memandang dengan mata terbelalak ngeri. Tapi, pada saat itu, terasa angin keras menyambarnya dari belakang.

Siauw Liong cepat berkelit dan membalik, dan alangkah kaget dan herannya ketika melihat bahwa yang menyerangnya bukan lain adalah Siauw Ma! Lebih kaget lagi ia ketika melihat betapa Tiong Li yang kini dapat bergerak cepat sudah menolong Lian Eng dan Hong Cu.

Tiong Li cepat memberi sebutir obat kepada Lian Eng, dan memunahkan totokan-totokan yang mempengaruhi tubuh Hong Cu. Ternyata bahwa pada saat yang tepat, obat pemberian Tok-kak-coa telah berjalan dan menyatakan kemanjurannya!

“Celaka!” Siauw Liong tak terasa berseru, tapi Siauw Ma tak memberinya ketika untuk banyak berpikir karena murid Beng Beng Hoatsu itu keluarkan tipu pukulan dari Sin-liong-kun-hwat yang paling berbahaya!

Setelah menolong kedua gadis itu, Tiong Li loncat menerjang sambil berkata, “Siauw Ma, jangan kau borong sendiri. Beri bagian padaku!”

Tentu saja dengan datangnya Tiong Li, Siauw Liong makin terdesak hebat, tapi tiba-tiba ia berhasil menyambar senjatanya yang tergantung di dinding, yaitu sepasang tongkat ular hitam yang telah terkenal kelihaiannya. Karena Tiong Li dan Siauw Ma bertangan kosong dan juga mereka masih sedikit lemas, maka setelah Siauw Liong memegang senjatanya yang lihai, keadaan menjadi berimbang.

Akan tetapi, Lian Eng yang memiliki tenaga lwee-kang luar biasa, setelah mendapat buah obat itu, sebentar saja ia pulih seperti biasa dan dengan gemas sekali ia berseru. “Tinggalkan dia untukku!” Lalu dengan Huo-mo-kangnya yang lihai dan yang ditakuti Siauw Liong, ia menyerang!

Hebat sekali pertempuran itu dan Siauw Liong tak kuat menahan lagi. Ia berlari-larian dan telah beberapa kali ia terpukul hebat. Sekali pernah jari tangan Lian Eng berhasil menowel dadanya hingga ia merasa dadanya begitu panas dan sesak. Tetapi ia masih melawan dengan mati-matian. Ketika ia lari di dekat Hong.Cu yang masih duduk memandang jalannya pertempuran dengan penuh, perhatian gadis itu segera lemparkan sesuatu ke arahnya.

Ternyata Hong Cu melihat sepotong pit di sudut yang lalu diambilnya, kemudian dengan lemparan Raja Ular Terjang Harimau, sebuah tipu dari Ouw-coa-koai-tung-hwat, ia serang Siauw Liong. Pit itu bagaikan anak panah meluncur ke arah dada Siauw Liong dan ketika Siauw Liong menangkisnya dengan tongkat kiri, pit itu tiba-tiba menikung dan langsung menyerang lambungnya.

“Celaka!” teriaknya, tetapi pit itu telah menerjang dan melukai kulit dan daging lambung itu.

“Mati aku!” Siauw Liong mengeluh.

“Memang kau harus mati!” Lian Eng membentak dan mengirim pukulan keras.

Siauw Liong tak kuasa menangkis hingga ketika ia berkelit, pundaknya terlanggar pukulan Lian Eng. Ia berteriak ngeri dan tubuhnya terlempar menubruk dinding. Tetapi ia memang mempunyai kekuatan hebat. Biarpun pukulan tadi telah memberi luka dalam yang hebat padanya, ia masih dapat berdiri lagi.

Pada saat itu, hampir berbareng tiba pukulan Siauw Ma dan Tiong Li dari kanan kiri yang tepat mengenai kepala dan punggungnya. Siauw Liong menjerit panjang yang bergema mengerikan di dalam gua itu, dan tubuhnya lalu terhuyung roboh. Maka tamatlah riwayatnya.

Keempat anak muda itu pandang tubuh pemuda yang sesat dan menjadi rusak imannya karena mendapat didikan seorang jahat seperti iblis hingga setelah dewasa dan memiliki kepandaian tinggi, ia menjadi hamba dari pada nafsunya dan merupakan iblis sendiri yang menguasai tubuhnya.

Melihat di dalam gua itu menggeletak tiga mayat, para anak muda itupun merasa ngeri dan diam-diam mereka bersyukur kepada Thian yang pada saat yang tepat telah memberi pertolongan. Padahal, sesungguhnya hanya di mulut saja Tok-kak-coa berkata hendak berbuat kebaikan.

Setan tua ini mana kenal apa artinya kebaikan. Ia memberi obat pemunah kepada Siauw Ma dan Tiong Li karena ia menaruh dendam kepada Siauw Liong dan ia mengharapkan agar kedua pemuda itu membalaskan sakit hatinya.

Dan sekali lagi, daya upaya setan tua itu berhasil baik! Pemberian buah obat pemunah itu bukan terdorong oleh kebaikan, tapi oleh kecerdikannya yang memang luar biasa. Sepasang teruna remaja itu lalu keluar dari gua setelah ketemukan patung emas Kwan-im yang disembunyikan di dalam peti besar dan membawanya keluar.

Tapi ketika mereka tiba di luar gua, mereka terkejut sekali karena melihat ratusan orang-orang mengurung gua itu sambil berteriak-teriak. Ketika mereka memandang lebih teliti, ternyata bahwa yang mengurung gua itu adalah rombongan imam-imam dari Kwan-im-bio yang nekat membawa semua anggautanya untuk menyerbu Siauw Liong dan merampas kembali patung mereka.

Siauw Ma dan kawan-kawannya lalu memberikan patung itu kepada mereka yang segera membawanya pulang ke Kwan-im-bio, sedangkan Siauw Ma dan kawan-kawannya segera menuju ke Thang-la, karena pada waktu itu, musim chun mulai tiba, yakni saat mereka harus mendaki Thang-la untuk bertemu dengan guru masing-masing.

Dengan gembira keempat orang muda itu mendaki Thang-la. Dengan datangnya musim chun, maka muncullah beraneka warna bunga nan sedap dipandang. Luka di punggung Hong Cu telah sembuh karena rawatan Tiong Li yang sangat telaten dan memperhatikan hingga gadis itu makin berterima kasih padanya. Dengan adanya sifat-sifat baik yang dimiliki oleh kedua pemuda yang mencinta mereka itu, luka di hati kedua gadis karena salah menaruh cinta menjadi terobat juga.

Ketika mereka tiba di puncak Bukit Dewi Api, yaitu di tempat pertapaan Huo Mo-li dan tiba di depan gua, ternyata keempat guru mereka telah menghadapi sebuah meja. Di atas meja itu tampak guci arak dan empat cawan araknya. Ternyata empat orang tua yang sakti itu tengah minum arak dengan gembiranya.

Siauw Ma dan kawan-kawannya tahan tindakan kaki mereka karena mendengar betapa keempat orang tua itu tertawa-tawa dan bercakap-cakap hingga para murid itu tidak berani mengganggu. Tapi tiba-tiba Beng Beng Hoatsu berkata,

“He, kalian tidak lekas datang ke mari mau tunggu kapan lagi?”

Ternyata kedatangan mereka telah diketahui oleh empat suhu itu! Dengan cepat dan gembira empat orang murid itu menghampiri suhu-suhu mereka dan berlutut dengan berbaris rapi.

Beng Beng Hoatsu, Hwat Kong Tosu, Huo Mo-li, dan Kiang Cu Liong tertawa gembira dan menyuruh mereka duduk di atas rumput dekat mereka. Tiba-tiba Hwat Kong Tosu dapat melihat wajah Hong Cu yang agak pucat, maka ia segera menegur. “Hong Cu, kau terluka?”

Maka dengan panjang lebar murid-murid itu lalu menuturkan saling sambung tentang pengalaman-pengalaman mereka dan tentang matinya Siauw Liong dan suhunya. Setelah menuturkan riwayat mereka yang berbahaya itu, keempat guru itu menggeleng-geleng kepala, dan Huo Mo-li berkata,

“Sungguh benar dugaan kita dulu. Anak itu tentu mendatangkan bencana saja. Tapi, baik juga ia sudah disingkirkan hingga dunia terbebas dari seorang yang jahat dan licin.”

Hwat Kong Tosu melirik kepada Kiang Cu Liong dan setelah tertawa besar ia berkata, “Memang senang mempunyai kepandaian mengobati seperti engkau ini. Muridmu pun dengan penaruh kepandaiannya mengobati orang selalu melepas budi hingga membikin orang berhutang budi saja.” Kiang Cu Liong tertawa besar mendengar ini.

“Siauw Ma, dan kau sekalian,” terdengar Beng Beng Hoatsu berkata dengan suaranya yang besar dan keras. “Kami berempat telah tahu akan peristiwa pertempuran kalian di waktu Hong Cu dan Lian Eng berebut orang tua. Kakek Lian Eng yang memberi tahu, maka kami para orang tua juga mengerti apakah yang terkandung dalam hati kalian anak-anak muda.”

Biarpun merasa malu sekali mendengar ucapan yang terus terang ini, namun karena suara Beng Beng Hoatsu terdengar sungguh-sungguh dan seakan-akan mewakili semua suhu mereka, keempat anak muda itu mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Ketahuilah, kalian sengaja dikumpulkan disini sebenarnya karena kami para gurumu dulu mempunyai hati yang keras dan tidak mau kalah hingga menetapkan untuk menguji kepandaian murid masing-masing untuk menentukan siapa yang lebih unggul dan lihai. Biarpun kami telah tahu apa yang akan menjadi jawaban kalian, tapi lebih baik kalau aku mendengar sendiri jawaban itu. Maukah kalian saling diadu untuk menentukan siapa yang lebih lihai?”

Keempat anak muda itu saling pandang dan dengan berbareng mereka geleng-geleng kepala. Mana mereka bisa berkelahi melawan kawan-kawan yang mereka kasihi ini?

Keempat orang tua itu tersenyum. “Memang kami empat orang-orang tua gila yang salah. Kalian mempunyai rasa setia kawan dan lebih mengutamakan persahabatan. Ini baik sekali, dan kami berempat juga mencontoh sikap kalian ini.

“Kami telah mengambil keputusan tadi, untuk membatalkan perjanjian gila ini dan kami anggap saja bahwa kepandaian seseorang itu berbeda dan tak dapat diukur ketinggian tingkatnya. Masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri, mempunyai keunggulan sendiri.

“Sekarang kami sudah tua, sudah bosan mencari nama besar dan kemenangan-kemenangan kosong. Bahkan Huo Mo-li yang biasanya galak dan tidak mau kalah, tadi menyatakan telah bosan untuk memperlihatkan kepandaian dan mencari musuh. Ia lebih senang bertapa mengasingkan diri menenteramkan hidupnya.”

Biarpun biasanya Beng Beng Hoatsu pandai bicara, tapi setelah bicara agak lama ia tampak lelah juga, maka katanya kepada Hwat Kong Tosu. “Hwat Kong toyu, coba kau yang meneruskan.”

Hwat Kong Tosu tersenyum dan mengelus-elus jenggotnya yang panjang. “Sebetulnya apakah lagi yang harus diceritakan? Kata-kata Beng Beng Hoatsu sudah cukup jelas. Kami batalkan pertandingan-pertandingan, karena melihat pergaulan kalian begitu… begitu… erat, bahkan kalian berjodoh sekali satu dengan yang lain hingga…. ah, Kiang-toheng, kaulah yang bercerita, aku menjadi bingung?”

Kiang Cu Liong tertawa bergelak-gelak. “Karena kau mewakili murid perempuan pantas saja kau menjadi malu-malu kucing! Beginilah, anak-anak. Kami melihat bahwa kalian merupakan dua pasang anak muda yang berjodoh dan pula kami puas melihat sifat masing-masing hingga beberapa hari yang lalu aku dan Beng Beng Hoatsu ini turun gunung menemui Ang Lie Seng tai-jin, yakni setelah mengadakan perundingan dan mendapat persetujuan dari Hwat Kong dan Huo Sian-li.

“Untuk mudahnya, baiklah kupersingkat saja. Kedatangan kami ialah akan mengajukan lamaran kepada Hong Cu untuk muridku, sedangkan Beng Beng mengajukan lamaran kepada Lian Eng untuk muridnya. Tentu saja hal ini pun sudah ditanyakan dan mendapat persetujuan Souw Cin Ok, kakek Lian Eng.”

Berdebarlah hati Siauw Ma dan Tiong Li. Mereka girang dan merasa beruntung sekali, tapi mereka tidak berani kentarakan ini, hanya tundukkan muka karena jengah dan malu. Sebaliknya, Lian Eng dan Hong Cu saling pandang dan rasa hati mereka hanya Thian saja yang tahu.

Namun, mereka tidak berani pula mengeluarkan isi hati dan menyatakan perasaan mereka. Mereka saling pandang lama sekali, kemudian keduanya yang duduk berdekatan lalu saling peluk sambil menangis! Huo Mo-li biarpun berhati keras, namun melihat betapa muridnya yang tersayang menangis, segera mendekati dan pegang pundak Lian Eng.

“Muridku, kau katakanlah, kami tidak memaksamu, apakah kau setuju dengan perjodohan ini? Aku sudah menyetujuinya, karena aku tahu akan kejujuran dan kebaikan sifat-sifat Siauw Ma. Aku ingat betapa dulu ketika masih kecil, ia tidak takut mati mengejar hendak menolongmu! Tapi, betapapun juga, kami tidak sekali-kali memaksamu!”

Tiha-tiba Lian Eng jatuhkan diri berlutut di depan Huo Mo-li sambil menangis. Dengan isak tangis tertahan gadis itu berkata. “Ampunkan teecu... tak mungkin… tak mungkin teecu dapat menerima perjodohan ini…” Kemudian, gadis itu pegang dan cium jari tangan gurunya, lalu balikkan tubuh dan cepat loncat pergi turun gunung dan suara tangisnya masih terdengar perlahan!

Tentu saja hal ini tidak disangka-sangka sama sekali oleh keempat guru besar itu hingga mereka berdiri bengong dan terheran-heran. Tiba-tiba terdengar pula Hong Cu tersedu dan berkata kepada mereka,

“Kasihan cici Lian Eng… teecu harus mencari dan menyusulnya….” Dan gadis inipun loncat pergi dari situ dan lari turun gunung secepat terbang untuk menyusul Lian Eng yang sudah tidak tampak lagi!

Dapat dibayangkan betapa kecewa dan sedih hati Siauw Ma dan Tiong Li. Terutama Siauw Ma, karena ia tadi jelas mendengar betapa Lian Eng seakan-akan menolak lamarannya. Sebaliknya, di dalam lubuk hatinya Tiong Li merasa bersalah, karena ia yang cerdik dapat menduga bahwa Lian Eng mencinta dirinya, dan sebaliknya Hong Cu mencinta Siauw Ma! Pemuda yang berotak cerdas ini dapat menerka tentang terjadinya cinta segi empat yang sangat membingungkan ini.

Memang telah lama ia merasa cemas melihat perkembangan ini dan menduga bahwa tentu kelak akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan sebagai akibatnya. Dan benar saja, yang terkena akibat pertama sebagai korban adalah Lian Eng, gadis yang sebenarnya mencintanya!

Siauw Ma yang berwatak jujur dan kurang begitu cerdik dalam merangkai persoalan, apa lagi persoalan yang ruwet ini, segera berlutut kepada suhunya dan berkata dengan suara sedih. “Suhu, izinkan teecu turun gunung menyusul dan mencari nona Lian Eng.” Tanpa menanti jawaban gurunya, iapun menggunakan kepandaiannya loncat turun gunung cepat sekali.

Selama itu, karena terjadinya hal berturut-turut dari kepergian ketiga anak muda ini cepat sekali, keempat guru besar itu hanya berdiri bengong dan saling pandang. Rencana baik mereka ternyata berantakan, membuat mereka menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa!

Tiba-tiba terdengar suara Kiang Cu Liong tertawa bergelak-gelak sambil berdongak ke atas. Si Tabib Dewa inipun terkenal cerdik sekali hingga tanpa orang membuka mulut, ia seperti dapat membaca pikiran orang itu. Sikap Lian Eng telah menimbulkan dugaannya bahwa gadis itu tentu tidak setuju akan ikatan jodoh yang telah diusulkan oleh para orang tua!

Ia maklum sebagai murid Huo Mo-li maka gadis itu tentu mempunyai hati yang keras dan adat yang ku-koai atau aneh. Ia pandang wajah muridnya dan melihat betapa kening Tiong Li berkerut seakan-akan sedang berpikir keras dan seakan-akan terjadi pertarungan pikiran dan batin dalam diri anak muda itu, iapun berkata sambil tersenyum.

“Nah, beginilah jadinya kalau orang-orang tua yang lancang mengambil tindakan sendiri. Anak-anak sekarang bukanlah seperti kita dahulu. Mereka sekarang memiliki kepandaian dan memiliki pikiran serta keputusan-keputusan mereka sendiri. Pendirian mereka kadang-kadang aneh dan tidak cocok dengan pendirian kita!”

“Lian Eng sungguh kurang ajar! Dia patut dihajar!” tiba-tiba Huo Mo-li berkata karena betapapun juga, ia merasa malu kepada kawan-kawannya ini karena sikap gadis itu.

“Sabar, sabar…” kata Hwat Kong Tosu, “memang muridmu itu berhati baja. Tapi ia jujur dan teguh pendirian, hal ini patut pula dipuji.”

“Memang barangkali mata kita yang telah tua ini sekarang telah agak lamur dan kurang awas,” berkata Beng Beng Hoatsu, “Atau barangkali kita telah keliru memasang jodoh ini?” pertapa gemuk pendek ini tepuk-tepuk kepalanya, tiba-tiba berkata lagi dengan mata terbelalak, “Atau… pasangan yang kita lakukan dan atur ini telah… terbalik…?”

Sekali lagi terdengar Kiang Cu Liong tertawa besar, lalu ia berkata kepada Tiong Li yang masih berlutut sambil melamun..“Eh, Tiong Li! Kau tentu tahu akan persoalan ini. Hayo kau ceritakan kepada kami orang-orang tua agar jangan membuat kami menjadi ragu-ragu dan pusing kepala!”

Tiong Li pandang suhunya dan matanya yang bersinar cerdik itu tiba-tiba menjadi suram ketika ia berkata, “Teecu juga hanya dapat menduga-duga saja dan tidak berani teecu menyatakan pendapat teecu sebelum mengetahui pasti. Tapi, sebagai bahan pertimbangan suhu sekalian, baik kiranya kalau teecu nyatakan bahwa pendapat yang baru saja dinyatakan oleh suhu Beng Beng Hoatsu, agaknya tidak meleset jauh…”

Beng Beng Hoatsu tiba-tiba tertawa sambil tepuk-tepuk perutnya yang gendut, “Celaka, celaka! Anak muda yang baik, jadi kalau begitu pasangan itu seharusnya diputar balik? Jadi seharusnya aku berbesan dengan Hwat Kong dan gurumu berbesan dengan Huo Mo-li? Begitukah?”

Tentu saja Tiong Li tak berani menjawab, tapi tiba-tiba Huo Mo-li maju mendekat dan mendesaknya, “Tiong Li, di antara keempat murid kami memang kaulah yang paling cerdik. Jawablah sejujurnya, apakah benar kata-kata Beng Beng tadi?”

Tiong Li tetap tidak berani menjawab, hanya geleng-gelengkan kepala saja. Suhunya menjadi tidak sabar, kali ini Kiang Cu Liong yang cerdik agaknya kehabisan akal. Ia tadipun menyangka seperti Beng Beng Hoatsu, tapi ternyata menurut muridnya, bukan demikian duduknya hal! Habis bagaimanakah?

“Tiong Li, kali ini aku perintahkan padamu untuk berkata terus terang. Ketahuilah bahwa kami berempat orang-orang tua merasa penasaran dan bingung sekali melihat keadaan kalian orang-orang muda yang aneh! Hayo kau terangkan!”

“Suhu, sukar bagi teecu untuk memberi penerangan. Apakah boleh teecu memberi penjelasan tanpa ucapkan itu?”

Beng Beng Hoatsu, Hwat Kong Tosu, dan Huo Mo-li merasa heran sekali mendengar kata-kata ini. Mereka merasa seakan-akan menghadapi sebuah teka-teki yang sulit. Tapi Kiang Cu Liong dapat menduga dan tersenyumlah dia.

“Ha! Jadi, kau merasa malu-malu untuk mengatakannya? Baiklah, boleh kau terangkan dengan cara apa saja asal jelas bagi kami.”

Tiong Li lalu menggunakan jari telunjukkan membuat lukisan di atas tanah. Keempat orang-orang tua itu mengelilinginya dan membungkukkan badan untuk melihat apa yang digambar oleh anak muda itu. Tiong Li mula-mula menulis huruf-huruf Hong, Siauw, Lian, dan Tiong. Empat huruf ini ia tulis dalam kedudukan segi empat, dimulai dari huruf Hong. Empat huruf ini dibaca dengan suara nyaring oleh Kiang Cu Liong.

“Hong.... Siauw…. Lian…. Tiong! Hm, kau maksudkan tentu Hong Cu, Siauw Ma, Lian Eng, dan Tiong Li, bukan?”

Tiong Li hanya mengangguk, kemudian jari telunjuknya membuat gambar coretan seperti anak panah, Mula-mula dari huruf Hong diberi coretan anak panah menuju ke huruf Siauw, dari huruf Siauw menuju ke huruf Lian, dari huruf Lian ke huruf Tiong, dan dari huruf Tiong kembali ke huruf Hong!

Kalau Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu masih mengerutkan kening dan memikirkan apa maksud lukisan ini, adalah Kiang Cu Liong dan Huo Mo-li berseru kaget, bahkan Huo Mo-li berkata.

“Celaka, celaka! Kalau begini, bagaimana baiknya??” tanyanya kepada Kiang Cu Liong.

Tabib Dewa ini gunakan tangan kiri mengurut-urut jenggot dan tangan kanan menggaruk-garuk belakang telinga, lalu berkata, “Waah, sungguh sulit! Mengapa ada terjadi hal sesulit ini? Cinta segi empat, sungguh lebih sulit dari pada hitungan yang bagaimanapun!”

Kini mengertilah Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu akan maksud lukisan itu. “Jadi Siauw Ma suka kepada Lian Eng, tapi Lian Eng sebaliknya terpikat oleh Tiong Li?” berkata Beng Beng Hoatsu sambil pandang wajah pemuda yang tunduk di atas tanah itu.

“Ya, Lian Eng cinta kepada Tiong Li, tapi anak muda ini berani sekali menolak cintanya dan bahkan jatuh hati kepada Hong Cu!” kata Huo Mo-li dengan sikap keras sambil memandang Tiong Li dengan tak senang.

“Tenang, Huo Mo-li!” kata Kiang Cu Liong yang membela muridnya. “Harus kau ingat bahwa keadaan muridku sama saja. Ia mencinta Hong Cu, tapi murid Hwat Kong ini sebaliknya mencinta Siauw Ma!”

“Sama celakanya dengan muridku!” tiba-tiba Hwat Kong Tosu berkata sambil bersungut-sungut. “Murid Huo Mo-li itu sebaliknya suka kepada murid tabib setan ini!”

Demikianlah, keempat orang tua itu dengan bingung sekali saling tunjuk dan saling persalahkan murid kawan mereka yang tidak mau membalas cinta muridnya dan dianggap menyakiti hati murid masing-masing!

Tiong Li yang mendengar keributan ini dengan hati bingung, lalu memberi hormat kepada gurunya dan berkata, “Suhu, biarlah murid pergi mencari mereka dan seberapa dapat teecu akan berusaha agar hal ini dapat diselesaikan dengan baik agar jangan meninggalkan dendam.”

Mendengar kata-kata ini, semua guru besar itu menganggap benar dan mereka hentikan percekcokan mereka. “Kita orang-orang tua sebenarnya harus tahu diri dan tidak mengacaukan hidup murid-murid kita sendiri. Biarlah urusan orang muda ini diselesaikan oleh mereka sendiri. Kita tua bangka untuk apa menguruskan segala soal perkawinan dan perjodohan? Biarlah kita lihat saja, asal mereka tidak menyeleweng dari peri keadilan dan kebajikan.”

Tiong Li lalu memberi hormat sekali lagi kepada Suhunya dan kepada ke tiga guru besar lainnya, kemudian ia loncat dan berlari cepat menuju ke bawah gunung. Pemuda ini merasa sedih sekali karena ia merasa bingung.

Tidak saja ia menyedihi keadaannya sendiri, tapi iapun merasa kasihan kepada ketiga kawannya yang ternyata kesemuanya menjadi korban yang sangat menderita dari kejahilan tangan Dewi Amor yang suka sekali mempermainkan orang-orang muda! Ia maklum bahwa sebagai gadis-gadis alim, Lian Eng dan Hong Cu tentu tak sudi membuka perasaan hatinya dan menyatakan cintanya secara berterang.

Juga mereka itu tentu saja tidak suka mengurbankan perasaan mereka dan menerima pinangan yang salah alamat bagi mereka itu secara demikian saja! Tapi sebaliknya, apakah ia dan Siauw Ma harus mengalah dan berkorban? Ah, serba salah dan serba sulit!

Ketika tiba di sebuah dusun di kaki Pegunungan Thang-la, Tiong Li mencari keterangan tentang jejak kawan-kawan yang dikejarnya. Ia mendengar bahwa Lian Eng dan Siauw Ma memang lewat di dusun itu dan kedua orang itu menuju ke timur, sedangkan Hong Cu tidak lewat di dusun itu.

Siauw Ma tentu mengejar Lian Eng, pikirnya. Kalau menurutkan suara hatinya, ia ingin sekali mencari jejak Hong Cu, tapi mengingat bahwa ia tidak boleh dikuasai perasaan hatinya setelah dapat menduga bahwa gadis itu sebetulnya menaruh hati kepada Siauw Ma, ia lalu menuju ke timur pula!

Sampai delapan hari ia masih dapat mengikuti jejak Siauw Ma yang tentu sedang mengikuti atau mengejar Lian Eng pula. Tapi pada hari kesembilan, ketika ia tiba di sebuah dusun di luar hutan yang panjang, ia kehilangan jejak pemuda itu.

Tak seorangpun di dusun itu pernah melihat seorang pemuda seperti yang ditanyakan oleh Tiong Li. Tiong Li menjadi bingung dan sehari itu ia mencari-cari jejak yang lenyap dengan sia-sia dan akhirnya ia menjadi putus asa dan menduga bahwa Siauw Ma tentu telah ambil jalan lain ketika masuk hutan yang lebat di luar dusun itu hingga tidak melalui dusun ini.

Karena tidak mempunyai tujuan tetap kemana harus mencari kawan-kawannya itu, Tiong Li lalu membelok ke utara dan di tiap dusun dan kota yang dilaluinya, ia selalu menanyakan keterangan tentang kedua orang kawannya itu. Sebagai seorang berjiwa pendekar, sepanjang jalan tak lupa ia menggunakan kepandaiannya untuk menolong mereka yang menderita, baik dengan menggunakan kepandaian silatnya yang tinggi ataupun dengan kepandaian dan pengertiannya tentang ilmu pengobatan.

Kurang lebih tiga bulan kemudian tibalah ia dalam sebuah hutan di dekat kota Lok-bin-an. Ketika ia sedang berjalan sambil pikul keranjang obatnya, tiba-tiba ia mendengar suara kaki kuda dibarengi suara ringkik kuda yang ramai mendatangi dari belakang. Ia buru-buru tunda tindakan kakinya dan loncat ke pinggir, lalu turunkan pikulannya dan memandang. Terik matahari sangat panasnya dan menembus celah-celah daun pohon langsung menyinari mukanya yang berpeluh hingga Tiong Li gunakan ujung lengan bajunya untuk menghapus keringat itu dari mukanya.

Dari jurusan barat datanglah serombongan penunggang kuda sebanyak belasan orang. Kuda-kuda itu semuanya kuda bagus dan besar hingga lari mereka cepat sekali. Tetapi yang sangat mengherankan hati Tiong Li ialah bahwa semua penunggang kuda itu adalah pendeta pendeta gundul yang kesemuanya berjubah kuning! Pakaian dan sikap mereka aneh seperti bukan orang aseli.

Setelah mereka datang dekat, tahulah Tiong Li bahwa mereka itu adalah pendeta-pendeta Lhama dari Tibet! Ia terkejut sekali karena ia maklum akan kelihaian pendeta-pendeta ini dan sudah menjadi kebiasaan pendeta Lhama yang berani turun ke daratan Tiongkok adalah orang-oran pilihan yang memiliki kepandaian tinggi.

Maka ia tidak merasa heran ketika melihat tiga orang pendeta Lhama yang bertubuh tinggi besar menggunakan kedua kaki mereka untuk lari mengikuti rombongan itu. Mereka berjalan sambil bercakap-cakap, seakan-akan sama sekali tidak sukar baginya untuk menyamai kecepatan kaki kuda yang berlari cepat di depan mereka!

Tiong Li melihat demikian banyaknya pendeta Lhama turun gunung dan bahkan turut pula tiga orang pendeta yang berjubah merah sebagai tanda bahwa mereka adalah pendeta-pendeta kelas dua, tentu saja menjadi heran dan curiga sekali. Tentu imam-imam ini mempunyai tugas yaqg sangat penting, kalau tidak demikian, tidak nanti mereka turun gunung merupakan rombongan demikian besar. Juga, mereka itu menuju ke timur, agaknya hendak menuju ke kota raja!

Tiong Li menjadi tertarik dan gembira, karena ia ingin sekali tahu ada peristiwa penting apakah di kota raja. Maka dipanggulnya kembali pikulan obatnya dan iapun menggunakan ilmu lari cepat mengejar rombongan itu. Ia maklum bahwa mereka itu, terutama ketiga pendeta jubah merah adalah orang-orang berilmu tinggi, maka ia berlaku hati-hati dan hanya mengejar dari jarak jauh.

Rombongan pendeta Lhama itu melakukan perjalan terus menerus, hanya berhenti untuk sekedar beristirahat dan makan bahkan ada kalanya mereka berjalan sambil makan ransum kering! Tetapi Tiong Li tetap membayangi mereka dengan setia. Ia makin merasa yakin bahwa rombongan pendeta dari Tibet itu tentu mempunyai tugas yang sangat penting.

Karena perjalanan mereka yang dilakukan tanpa ditunda-tunda dan cepat sekali itu, tak sampai sebulan mereka telah tiba di kota raja. Begitu masuk di pintu gerbang tembok tebal yang mengelilingi kota raja, seorang Lhama jubah merah menghampiri penjaga dan sambil memperlihatkan sebuah tanda yang dikeluarkan dari sakunya, ia menanyakan sebuah gedung di kota itu.

Melihat tanda itu, si penjaga mengubah sikapnya menjadi hormat sekali bahkan memberi penghormatan secara tentara. Tiong Li tentu saja tidak dapat mendekati mereka, hanya melihat dari tempat jauh hingga ia tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.

Setelah mendapat keterangan dari penjaga itu, rombongan Lhama itu segera melanjutkan perjalanan mereka memasuki kota. Kini kuda mereka dijalankan perlahan. Orang-orang di dalam kota, walaupun pernah melihat pendeta Lhama, namun belum pernah melihat demikian banyak Lhama mendatangi kota raja, menjadi heran dan memandang kepada rombongan itu dengan mata curiga.

Hal ini menggirangkan hati Tiong Li, karena ia segera mendapat akal. Dengan wajah dibuat seperti orang yang sangat heran dan ingin tahu, ia menghampiri penjaga itu. “Eh, twako, mereka itu hendak ke manakah? Sudah bertahun-tahun aku tidak melihat pendeta-pendeta Tibet sebanyak itu. Mereka datang ke kota raja mau apakah?”

Biarpun Tiong Li telah mengatur suara dan mukanya seperti orang yang hanya ingin tahu saja dan bukan hendak menyelidik, namun penjaga itu tetap curiga. “Untuk apa ikut-ikut mencampuri urusan mereka? Mereka adalah tamu-tamu Pangeran Yo dan apa kehendak mereka bukanlah urusanmu atau urusanku. Pergilah!”

Meskipun mendapat jawaban kasar, namun Tiong Li tidak menjadi marah. Ia bahkan tersenyum puas dan menjura dalam-dalam kepada penjaga itu. “Terima kasih banyak, twako.”

Penjaga itu menyangka bahwa Tiong Li tentu merasa jerih dan takut mendengar nama Pangeran Yo, karena siapakah orangnya yang tidak takut dan gentar mendengar nama ini? Tidak hanya di dalam kota raja, bahkan sampai jauh di luar kota rajapun, nama Pangeran Yo sangat terkenal. Ia mempunyai kedudukan besar karena puteri pangeran ini telah menjadi permaisuri ketiga dari kaisar dan sangat dicinta hingga kedudukan ayahnya tentu saja kuat dan berpengaruh.

Berkat jasa puterinya, Pangeran Yo diangkat menjadi penasihat baginda, bahkan ia demikian pandainya memikat hati kaisar hingga menerima tanda jasa berupa sebuah pedang pusaka yang memberi ia kekuasaan penuh sebagai duta besar dari kaisar dan bila mana atau di mana saja ia dapat gunakan kekuasaannya itu untuk bertindak! Tentu saja para pembesar lain, besar kecil, sangat takut padanya. Apa lagi setelah Pangeran Yo berlaku sewenang-wenang kepada para pembesar yang tak disukainya!

Orang-orang ini ia perintahkan untuk memegang jabatan yang sukar dan banyak sudah pembesar yang ia pindahkan ke tempat-tempat jauh dan berbahaya, hanya karena pembesar-pembesar itu tidak ia sukai. Karena inilah maka pada masa itu, kekuasaan Pangeran Yo terhadap para pembesar dan pejabat pemerintah adalah lebih besar dari pada kaisar sendiri.

Penjaga itu tidak tahu bahwa sebenarnya Tiong Li sama sekali tidak tahu akan pengaruh Pangeran Yo ini. Jangankan tahu akan pengaruhnya, bahkan melihat orangnya atau mendengar namanya pun belum pernah. Tiong Li lalu mencari keterangan di mana letaknya gedung Pangeran Yo ini.

Pertanyaan ini membuat orang yang ditanyainya memandangnya dengan mata terbelalak, karena siapakah yang tidak tahu di mana gedung Pangeran Yo? Tapi setelah tahu bahwa pemuda ini datang dari tempat jauh, akhirnya orang itu lalu memberitahunya juga.

Tiong Li lalu mencari tempat penginapan dan malamnya ia lalu loncat naik ke atas genteng dan berlari-lari mencari gedung Pangeran Yo. Ternyata gedung itu sesuai dengan kebesaran dan pengaruh penghuninya, karena bangunan itu selain kokoh kuat dan besar, juga wuwungan dan gentengnya sangat tinggi dengan bertingkat tiga, jauh lebih tinggi dari gedung-gedung di sekitarnya.

Tiong Li berlaku sangat hati-hati karena ia cukup maklum bahwa di tempat semacam itu pasti sekali banyak terdapat pengawal-pengawal yang berkepandaian tinggi, apa lagi jika dipikir bahwa belasan imam dari Tibet itu pada malam hari ini berada di situ pula.

Benar saja dugaannya, di empat penjuru terdapat penjaga-penjaga yang gesit dan ringan gerakannya, sedang melakukan penjagaan dengan cermat. Agaknya didalam sedang berlangsung pertemuan, karena dari ruang dalam menyorot ke luar cahaya penerangan yang besar.

Ketika memeriksa dengan hati-hati sekali, Tiong Li mendapat kenyataan bahwa di bagian belakang, yakni tempat kebun bunga yang sangat luas, penjagaan agak kurang kuat. Ia lalu bertindak cepat dan dengan diam-diam bagaikan gerakan bayangan setan, ia sergap dua orang penjaga pintu kebun.

Karena ia gunakan gerakan yang cepat sekali, sebelum dua orang itu sempat berseru, mereka telah dapat ditotok roboh oleh pemuda itu. Ia lalu angkat dua tubuh itu dan menyembunyikan mereka di sebuah tempat yang gelap, lalu dengan tak ragu-ragu lagi ia loncat ke dalam taman.

Keadaan taman bunga itu tidak berapa terang, karena penerangan yang di gunakan di situ hanya beberapa buah teng yang digantungkan di beberapa batang pohon. Tapi penerangan yang suram suram ini bahkan menambah keindahan taman dan Tiong Li merasa dirinya berada dalam surga karena ternyata di dalam taman itu tertanam ratusan macam bunga yang indah-indah dan ada yang menyiarkan bau harum sekali.

Tapi ia tidak lama menikmati dan mengagumi semua keindahan ini, hanya cepat berindap-indap mendekati bangunan. Pada saat itu, kebetulan sekali dua orang penjaga, jalan dengan tindakan perlahan ke arahnya! Tiong Li tak ingin menggunakan kekerasan karena khawatir kalau-kalau mereka sempat berteriak dan menimbulkan gaduh, maka ia lalu enjot tubuhnya ke atas pohon.

Gerakannya demikian ringan hingga tidak menerbitkan suara, hanya tampak daun pohon di mana ia berada bergoyang-goyang sedikit. Namun hal ini cukup untuk membuat kedua orang penjaga itu bercuriga dan tahan tindakan kaki mereka.

“Lauw-ko, mengapa tidak ada angin daun pohon itu bergoyang-goyang?” tanya seorang.

“Aah, paling-paling tentu burung malam yang banyak berkeliaran di atas pohon,” jawab kawannya.

“Mungkin kau benar. Kalau orang tentu gerakannya akan mengeluarkan suara,” kata orang pertama, tapi karena masih sangsi, ia lalu pungut sepotong batu kecil dan menimpuk ke jurusan pohon itu!

Tiong Li kagum akan ketelitian orang. Batu itu tepat meluncur ke arah dadanya, maka ia ulur tangan dan menyambut batu itu yang lalu di lemparkan ke belakangnya.

“Aah, burung itu tentu sudah terbang!” kata penyambit itu dan mereka berdua lalu melanjutkan perondaan mereka di sekitar gedung itu.

Tiong Li lalu loncat turun dan kini ia berhasil mengintai ke dalam ruang yang terang itu. Ia melihat betapa di dalam ruang itu penuh orang-orang yang mengelilingi meja besar. Tiga orang imam Tibet berjubah merah tampak duduk di kursi kehormatan, sedangkan belasan Lhama jubah kuning juga mengelilingi meja itu.

Ketika Tiong Li memperhatikan pula, ia terkejut karena melihat bahwa Ban Kok Si Garuda Sakti dan Ho-pak Chit-kiam, Tujuh Pedang dari Ho-pak, yakni orang-orang yang dulu membantu Siauw Liong dan Bu-eng-cu di puncak Bukit Kee-san berada di situ pula!

Mereka ini duduk di rombongan tuan rumah, bersama beberapa orang gagah lainnya. Dan di kepala meja, di tempat tuan rumah dengan sebuah kursinya yang besar dan terukir indah duduklah seorang tinggi kurus yang dilihat dari pakaiannya tentulah seorang berpangkat besar yang hartawan. Tiong Li dapat menduga bahwa bangsawan ini tentulah Pangeran Yo yang ditakuti orang.

Pangeran Yo itu berusia kira-kira empatpuluh lima tahun. Matanya sipit dan mulutnya selalu seperti mengejek dan memandang rendah orang lain. Orang yang biasa melihat mulutnya ini tentu akan heran sekali melihat pada waktu ia menghadap dan bicara dengan kaisar, karena sifat dan bentuk mulutnya menjadi lain sekali, penuh hormat dan ramah, dan sopan tutur sapanya.

Tapi sekarang ini, biarpun di depannya duduk tamu-tamu agung, utusan-utusan terhormat dari kepala pendeta Lhama di Tibet, namun ia masih tetap merasa dirinya jauh lebih tinggi dan pandang mereka sambil kedikkan kepala.

Setelah mengintai dan mendengar percakapan mereka beberapa lama, Tiong Li merasa heran sekali karena ternyata bahwa utusan-utusan dari Tibet ini membuat persekutuan rahasia dengan Pangeran Yo. Karena merasa cemas melihat perkembangan Agama Kwan-im yang makin meluas di daerah perbatasan Sin-kiang Tibet, maka para pendeta Lhama menjadi marah dan anggap bahwa Kwan-im-kauw menyaingi mereka.

Tapi pada masa itu, pemerintah yang berkuasa di Tibet, yakni dalam tangan kepala pendeta Lhama yang sangat berpengaruh, telah mengatakan damai dan bersahabat dengan Kaisar Tiongkok, maka para pendeta Lhama itu tidak berani semparangan bergerak dan mengganggu pendeta-pendeta Kwan-im-kauw yang seluruhnya terdiri dari orang-orang dari daratan Tiongkok pedalaman.

Kemudian kepala pendeta mengadakan hubungan dengan Pangeran Yo yang selainnya berpengaruh, juga terkenal sangat tamak akan harta kekayaan. Maka diutuslah ketiga imam jubah merah itu dengan para imam jubah kuning untuk mengantar barang-barang berharga sebagai tanda penghormatan dan untuk merundingkan tentang pembasmian Kelenteng Kwan-im!

Para imam Tibet itu maklum bahwa pendeta-pendeta Kwan-im-kauw tak boleh dibuat gegabah karena memiliki kepandaian tinggi. Di dalam perundingan yang diadakan pada malam itu diambillah keputusan bahwa Pangeran Yo akan memperjuangkan izin dari kaisar untuk membubarkan dan menghancurkan Kwan-im-kauw dengan tuduhan memberontak. Memang telah terkenal bahwa imam-imam dari Kwan-im-kauw tidak ada yang sudi menjadi anjing-anjing penjilat kaisar, bahkan membenci para durna yang memeras rakyat.

Kemudian, setelah mendapat izin, Pangeran Yo akan memperkuat rombongan imam-imam Tibet itu untuk bersama-sama menghancurkan Kwan-im-bio dengan perjanjian bahwa patung emas Dewi Kwan-im dan sekalian harta dari emas dan perak yang terdapat dalam bio itu akan diserahkan seluruhnya kepada Pangeran Yo!

Perjanjian ini diterima baik oleh utusan Tibet, karena mereka ini sesungguhnya tidak menghendaki harta. Di istana kepala pendeta Lhama mereka telah cukup banyak terdapat barang-barang berharga, emas, dan batu-batu permata. Apakah artinya patung Dewi Kwan-im dan lain-lain barang itu?

Mendengar persekutuan ini, biarpun Tiong Li merasa tak senang dan di dalam hati membela para imam dari Kwan-im-kauw, namun pemuda ini pikir bahwa persoalan ini sebetulnya bukanlah urusannya dan sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan dia, karena bukankah ia mempunyai tugas yang lebih penting, yaitu mencari kawan-kawannya untuk melenyapkan segala ketidak-enakan yang terasa di antara mereka secara terang-terangan?

Setelah berpikir demikian, maka ia balikkan tubuh hendak pergi dari situ. Tapi tiba-tiba kakinya kena injak tempat rahasia yang dipasang di situ dan tiba-tiba terdengarlah bunyi nyaring di dalam gedung karena ternyata alat rahasia itu bekerja dan memberi tanda ke dalam. Orang-orang yang berada di situ, baik yang berada di dalam maupun yang berjaga di luar, menjadi kaget sekali dan mereka cepat loncat keluar dan mencari tahu sebabnya.

Tiong Li juga terkejut dan hendak segera loncat ke taman, tapi ia telah terlambat karena empat orang penjaga yang menyerbu dari luar dapat melihatnya dan segera membentak. “Penjahat dari mana begitu berani mati?” dan tanpa menanti jawaban, empat batang golok menyambar ke tubuh Tiong Li.

Tapi empat orang penyerang itu menjadi terkejut sekali karena pemuda itu tahu-tahu telah melejit di antara sinar empat golok itu dan telah lenyap dari pandangan mata mereka! Tiba-tiba Tiong Li telah mencelat ke atas genteng, tapi kini ia menghadapi para imam Tibet yang telah mencegat di atas genteng pula! Juga Ho-pak Chit-kiam dan Ban Kok Si Garuda Sakti sudah berada di situ.

Beberapa orang pengawal mengejar naik dengan obor di tangan, maka keadaan menjadi terang dan wajah Tiong Li dapat terlihat nyata! Tiba-tiba Ban Kok Si Garuda Sakti bertindak maju dan berteriak keras. “Celaka, orang ini mata-mata!”

Tiong Li tertawa keras. “Orang tua, kau sudah kenal padaku dan kau tahu aku bukan mata-mata!”

“Bohong! Justeru karena aku telah kenal kau maka aku tahu kau mata-mata! Cu-wi suhu sekalian, orang ini benar-benar penyelidik Kwan-im-kauw! Aku tahu betul, karena ia adalah kawan baik si iblis wanita itu!”

Maka terdengar seruan-seruan marah dari para imam itu. Tiong Li terkejut mendengar ini. Siapakah yang dimaksudkan iblis wanita oleh Ban Kok ini? Apakah Lian Eng? Ataukah Hong Cu? Agaknya mereka ini pernah “makan tangan” seorang di antara dua orang gadis kawannya itu hingga memusuhinya. Tapi apa hubungannya dengan Kwan-im-kauw?

Tiong Li tak sempat banyak berpikir karena para imam jubah kuning telah maju dengan pedang di tangan. Ia dikepung oleh belasan orang itu dan terpaksa Tiong Li cabut keluar pikulan obatnya yang tadi diselipkan di pinggangnya. Sekali gebrak saja ia berhasil membuat beberapa batang pedang terpental dari tangan musuh dan kagetlah semua imam itu melihat kelihaian anak muda yang mereka sangka makanan empuk itu.

Sebaliknya Ho-pak Chit-kiam si tujuh saudara berpedang dan Ban Kok yang telah tahu akan kelihaian Tiong Li, berlaku hati-hati dan kini mulai ikut maju mengepung. Keadaan Tiong Li sungguh berbahaya karena para pengeroyoknya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Ia putar pikulannya sedemikian rupa dan senjatanya yang aneh ini memang mempunyai gerakan istimewa dan tidak terduga hingga lagi-lagi beberapa orang imam jubah kuning berseru kaget.

Akhirnya tiga orang imam jubah merah yang juga sudah berada di situ, membentak marah dan tiga bayangan merah berkelebat dan menyerang Tiong Li. Anak muda ini terkejut sekali karena tiga orang ini benar-benar kosen. Hampir saja ia mendapat celaka ketika tiga orang ini maju berbareng dan mengirim tiga macam serangan dengan tangan mereka yang memiliki tenaga lwee-kang hebat!

Baiknya Tiong Li memang telah berlaku waspada dan telah maklum bahwa para pengeroyoknya adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi hingga ia dapat cepat gunakan gin-kangnya yang luar biasa dengan jalan menekan pikulannya pada wuwungan dan enjot tubuhnya mencelat ke atas berjumpalitan beberapa kali dan tahu-tahu ia telah melayang ke wuwungan rumah lain!

Tapi alangkah kagetnya ketika ia turunkan kakinya di wuwungan itu, tahu-tahu ada angin menyambar dari belakang dan tiga orang imam jubah merah itu kembali telah berada di situ dan mengirim, serangannya yang berbahaya.

“Bagus! Rupanya kalian hendak mengadu jiwa?” teriak Tiong Li gemas. Ia lalu keluarkan seluruh kepandaiannya.

Tapi ternyatalah segera bahwa ia tidak mampu mendesak tiga imam itu, karena kepandaian tiga imam itu tidaklah berada di bawah tingkat kepandaiannya sendiri. Andaikata ia melawan seorang diri pada mereka saja, belum tentu ia mampu menjatuhkan dengan mudah dan cepat, apa lagi harus menghadapi ketiga-tiganya!

Harus diketahui bahwa ketiga imam Lhama jubah merah itu adalah tiga tokoh ternama di Tibet yang menduduki tingkat kedua! Mereka ini adalah Ui Liong Taisu, Ang Liong Taisu, dan Hek Liong Taisu dan sesuai dengan nama mereka, Ui Liong Taisu bermuka semu kuning, Ang Liong taisu bermuka merah, dan Hek Liong Taisu bermuka hitam!

Dan ketiganya memiliki kepandaian khusus yang tinggi. Ui Liong Taisu bersenjatakan sepasang sumpit kuningan yang digerakkan cepat sekali untuk menotok jalan darah dan tiap kali ia mainkan sepasang sumpit kuningan yang selalu digosok sampai mengkilap itu, senjatanya menyambar-nyambar menyilaukan mata lawan.

Ang Liong Taisu bersenjata sepasang hud-tim atau kebutan yang panjang dan pendek. Yang panjang di tangan kanan dan yang pendek di tangan kiri. Juga sepasang hud-tim ini berbahaya sekali karena ujung hud-tim yang berambut lemas ini dapat digerakkan dengan tenaga lwee-kang hingga menjadi keras dan dapat menotok jalan darah pula!

Berbeda dengan kedua saudaranya, Hek Liong Taisu tak pernah mainkan senjata. Ia andalkan sepasang kepalannya yang telah dilatih hebat dan sampai menjadi hitam. Kulit lengannya ini telah menjadi kebal dan kuat untuk dipakai menangkis senjata tajam! Selain ini, iapun pandai menggunakan senjata rahasia, yakni pelor besi yang hitam pula dan yang diisi obat sedemikian rupa hingga kalau tertangkis oleh senjata musuh, pelor itu dapat meledak dan melepaskan jarum-jarum kecil sekali.

Demikianlah, maka tidak heran jika Tiong Li yang biarpun memiliki kepandaian tinggi, merasa sibuk sekali dan terdesak hebat!

“Ha, ha, ha! Anak muda, sayangilah jiwa dan kepandaianmu! Kau masih begini muda tapi kepandaianmu sudah boleh juga. Lebih baik kau menyerah dan membantu kami!” berkata Ui Liong Taisu yang tunda sepasang sumpitnya.

“Kau anggap aku manusia macam apakah? Tak tahu malu!” balas Tiong Li menyindir hingga si muka kuning itu menjadi marah sekali.

“Kau mencari mampus!” serunya dan sepasang sumpitnya meluncur cepat menyerang tempat berbahaya.

Kalau sekali saja serangan ini mengenai tubuh Tiong Li, maka jiwa anak muda itu berada dalam bahaya maut! Tetapi biarpun sangat terdesak, Tiong Li pergunakan seluruh kemahirannya dan seluruh kepandaian gin-kangnya untuk mencelat ke sana ke mari sambil mencari ketika untuk melarikan diri.

Pada saat ia terdesak sekali, tiba-tiba datang serangan tangan kiri Hek Liong Taisu. Serangan hebat ini datang pada saat ia sibuk menangkis serangan sepasang sumpit dan hud-tim, hingga tak mungkin dihindarkan pula. Terpaksa Tiong Li miringkan tubuh dan pasang pangkal lengannya yang diisi tenaga lwee-kang untuk menerima pukulan itu.

“Buk!!” dan Tiong Li terpental setombak lebih! Ia jatuh berdiri di atas genteng, tetapi merasa betapa lengannya menjadi kesemutan dan, ia maklum telah mendapat luka di dalam. Keadaannya serba susah sekali, karena mau lari tak mungkin karena ilmu lari cepat musuh-musuhnya bukanlah rendah. Mau melawan terus juga tiada harapan.

Tiba-tiba, ketika ketiga imam jubah merah itu loncat untuk menghabiskan nyawanya, berkelebatlah bayangan putih dibarengi bentakan nyaring. “Imam-imam busuk pergilah!”

Dan benar saja, begitu bayangan itu menyerang, Hek Liong Taisu telah kena terpukul oleh sebatang tongkat yang digerakkan secara luar biasa hingga tulang kering bawah lutut Hek Liong Taisu terpukul hampir patah! Imam muka hitam itu tak dapat menahan rasa sakitnya dan ia jatuh di atas genteng yang menjadi pecah, dan ia tinggal duduk di situ sambil memijit-mijit kakinya dengan muka pringisan!

“Hong Cu, kau datang!” Tiong Li berseru girang sekali, tapi tiba-tiba ia merasa mukanya berubah merah dan panas karena teringatlah ia akan persoalan yang ada di antara mereka.

“Tiong Li, hayo kita gempur imam-imam busuk ini!” teriak Hong Cu yang putar tongkatnya sedemikian rupa hingga kedua imam itu terkejut sekali karena ternyata bahwa kepandaian gadis yang baru datang ini tidak kalah lihainya dengan pemuda itu!

Tiong Li mendapat semangat baru dan biarpun pundak dan lengan kirinya tak dapat digunakan, namun tangan kanannya masih dapat mainkan pikulannya dengan hebat. Kini Ui Liong Taisu dan Ang Liong Taisu tidak mendesak terlalu dekat karena mereka harus pula bersilat secara hati-hati.

Hong Cu yang tahu bahwa Tiong Li telah terluka segera berkata. “Mari kita pergi saja, tak perlu melayani dua imam busuk ini terlebih lama pula!”

Tiong Li berterima kasih sekali atas ajakan ini, karena iapun telah merasa betapa pundak kirinya sakit sekali dan sebentar lagi tentu luka itu akan menghebat. Ia lalu putar pikulannya mengirim serangan maut kepada Ang Liong Taisu hingga lawannya ini mencelat mundur.

Saat itu adalah kesempatan baik bagi Tiong Li, maka ia lalu loncat jauh diikuti oleh Hong Cu. Karena merasa penasaran Ui Liong Taisu segera berteriak. “Hek-sute, lekas gunakan senjata rahasiamu!”

Tapi Hek Liong Taisu yang masih duduk di atas genteng sambil pencet-pencet kakinya hanya mengerang. “Aduhh kakiku… aduh kakiku…”

Kedua saudaranya segera memeriksa dan ternyata tulang kaki yang terpukul itu agak retak dan kulitnya matang biru dan bengkak! Maka segera mereka tolong saudara ini.

Sementara itu, para pengawal lain juga telah tiba di situ dan sama-sama menolong Hek Liong Taisu yang digotong ke dalam gedung Pangeran Yo. Pangeran Yo marah sekali mendengar betapa mata-mata itu telah dapat melarikan diri. Ia gebrak-gebrak meja dan memaki-maki para pergawalnya yang dikatakan tidak becus...!

Selanjutnya,
PATUNG DEWI KWAN IM JILID 19