Patung Dewi Kwan Im Jilid 17, karya Kho Ping Hoo - BU-ENG-CU diam-diam bernapas lega. Ia baru saja terlepas dari cengkeram maut. Karena merasa bahwa bahaya telah lewat, ia dapat berkata dengan suara keras dan gagah. “Nah, begitulah baru ucapan seorang gagah. Dengarlah, kalau memang kalian berani, kau pergilah ke puncak Kee-san. Empat hari lagi aku menanti kalian di sana dan bolehlah kita mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih unggul.”
“Hm, kau hendak pancing kami ke Kee-san? Apakah kau hendak minta bantuan si bangsat Siauw Liong?” tegur Hong Cu.
Terkejutlah Bu-eng-cu mendengar ini, karena tidak disangkanya babwa gadis itu sudah tahu akan maksudnya, tapi Bu-eng-cu tidak mundur, bahkan dengan sengaja ia menyindir. “Kalau memang di sana ada taihiap, apakah kalian takut kepadanya?”
“Kami takut padanya? Kau melantur! Baiklah, empat hari lagi kami berdua naik ke Kee-san dan tidak hanya membunuh kau, tapi Siauw Liong juga. Tapi awas, kalau kau tidak berada di sana, kami akan mencarimu dan membuat matimu tersiksa!”
Setelah berkata demikian, Lian Eng dan Hong Cu berkelebat dari situ dan lenyap. Melihat kelihaian mereka, Bu-eng-cu diam-diam kagum sekali. Ia cepat berkemas dan hari itu juga ia urus jenazah Pek-eng-cu yang binasa di bawah pukulan Lian Eng. Setelah beres ia lalu buru-buru angkat kaki ke Kee-san.
Hatinya yang selalu takut dan cemas itu menjadi lega dan aman ketika ia bertemu dengan Siauw Liong dan banyak orang gagah yang telah berkumpul di puncak Kee-san dan dijamu oleh Siauw Liong. Juga adik seperguruannya, Ang-ie-nio-nio, telah datang dulu di situ dan kini hubungan antara wanita baju merah itu agaknya sudah baik kembali dengan Siauw Liong, hingga Ang-ie-nio-nio tampak melayani para tamu dengan wajah gembira.
Dengan sangat girang Bu-eng-cu melihat betapa di situ berkumpul duapuluh orang-orang gagah yang diundang Siauw Liong, maka heranlah dia karena perlukah dikumpulkan demikian banyak orang gagah hanya untuk melayani dua orang gadis yang masih muda belia?
“Twako, jangan kau takut-takut lagi, tenangkan hatimu. Kalau dua orang wanita itu berani perlihatkan mukanya di sini, pasti mereka takkan mampu turun lagi dengan selamat,” kata Siauw Liong ketika ia menyambut Bu-eng-cu.
Maka Si Bayangan Iblis itu oleh Siauw Liong lalu diperkenalkan kepada para tamunya. Mereka itu asyik membicarakan lawan-lawan yang diharapkan kedatangannya besok.
“Akupun sudah mendengar tentang turunnya seorang muda dari Thang-la. Dalam waktu setahun saja ia telah membuat nama besar, maka ingin sekali aku mengujinya,” kata Can Bu Si Golok Terbang sambil gerak-gerakkan kepalanya yang gundul.
“Bukan hanya seorang, tapi kudengar ada dua orang,” kata seorang dari pada Ho-pak Chit-kiam.
“Mengapa hanya dua? Bukankah tokoh tokoh Thang-la ada tiga orang? Aku dulu pernah mendengar nama besar dari Thang-la Sam-sian, Tiga Dewa Thang-la....” kata Ban Kok Si Garuda Sakti.
“Ah, betapa banyaknya adanya lawan, dan betapa lihainyapun, dengan adanya cu-wi di sini, kita takut apa?” berkata Bu-eng-cu dengan gembira sambil minum araknya.
“Bukan begitu, sebenarnya kamipun sudah mendengar tentang kehebatan murid-murid Thang-la itu, tapi dengan adanya taihiap, kami menjadi berani,” kata beberapa orang lain dan dari kata-kata ini maka ternyata bahwa semua orang menyebut Siauw Liong dengan sebutan taihiap atau pendekar besar dan bahwa mereka itu rata-rata memandang tinggi sekali anak muda yang lihai itu.
Pada keesokan harinya, baru saja matahari terbit, Hong Cu dan Lian Eng sudah naik ke puncak Kee-san! Kedua gadis itu bergerak maju dengan hati-hati sekali karena Lian Eng yang pernah mengalami terjebak di atas bukit itu tahu akan kelihaian tempat tinggal Siauw Liong ini.Mereka menduga bahwa Bu-eng-cu tentu tidak berada di situ, tapi karena mereka memang sengaja mencari Siauw Liong untuk membekuk maling dan penjahat itu, maka mereka datang juga di gunung itu. Maka besar rasa heran mereka ketika melihat Bu-eng- cu berdiri di depan gua Siauw Liong dan di sebelahnya tampak banyak orang lain yang kesemuanya bersikap garang. Tapi Siauw Liong tidak tampak di antara mereka.
“Lihat, cici, Bu-eng-cu telah kumpulkan buaya-buaya darat.”
“Biarlah, kita basmi mereka sekalian, jadi tidak sia-sia capai lelah kita mendaki bukit ini,” jawab Lian Eng.
Bu-eng-cu sambut mereka dengan senyum dibuat-buat. “Selamat datang, nona-nona. Kalian sungguh tepati janji. Marilah kuperkenalkan dengan beberapa orang kawanku yang sengaja datang hendak menyaksikan kita adu kepandaian.”
“Hm, siapa sudi berkenalan dengan kawan-kawanmu? Bilang saja kau kumpulkan mereka untuk mengeroyok kami. Kau kira kami takutkah?” Lian Eng membentak.
Bu-eng-cu merasa panas mukanya, dan dari rombongannya loncat keluar saudara termuda dari ketujuh jago pedang dari Ho-pak yang bernama Kwee Liat. “Kau sungguh sombong, nona. Tak usah dengan keroyokan, aku sendiri masih sanggup melawanmu,” katanya
. Lian Eng tidak gerakkan kepalanya hanya biji matanya melirik ke arah Kwee Liat. Dilirik secara menghina seperti itu, Kwee Liat segera cabut pedangnya yang tajam dan gerak-gerakkan pedang itu.
“Cabut senjatamu dan marilah kita adu pedang. Hendak kulihat sampai di mana kehebatan murid Thang-la!”
Kwee Gi saudara tertua dari Chit-kiam, hendak mencegah adiknya berlaku lancang, tapi pada saat itu tiba-tiba tubuh Lian Eng berkelebat ke arah Kwee Liat dan terdengar seruan gadis itu, “Rebah kau!” dan dengan serangan beruntun tahu-tahu tubuh Kwee Liat terlempar dan pedangnya telah terampas oleh Lian Eng.
Dengan senyum dingin Lian Eng gerakkan tiga buah jari tangannya dan pedang itu patah menjadi dua! Semua orang terkejut sekali, dan masih untung bagi Kwee Liat bahwa Lian Eng tidak menghendaki jiwanya hingga ia hanya mendapat pukulan dipundaknya. Tapi serangan itu cukup membuat tulang pundaknya patah dan ia tak berdaya lagi, hanya merintih-rintih.
“Bu-eng-cu, manusia pengecut!” Lian Eng membentak. “Jangan kau bersembunyi di belakang orang-orang tak berguna ini. Kalau memang kau laki-laki mengapa dosamu kau tumpahkan di pundak orang-orang lain? Hayo majulah engkau!”
Bu-eng-cu merasa betapa dadanya berdegupan, tapi karena ia juga seorang tokoh ternama di kalangan kang-ouw, malu dan pantang baginya untuk menyerah begitu saja. Ia lalu meloncat maju menghadapi murid Huo Mo-li. “Jangan kau bicara sombong!” dan ia cabut pula goloknya.
Tapi pada saat itu Can Bu Si Golok Terbang loncat di depannya dan berkata kepada Lian Eng. “Sungguh kau gagah sekali, nona. Sanggupkah kau melayani ketiga belas golok terbangku?” Dan si gundul itu meringis memperlihatkan giginya yang kuning dan bibirnya yang tebal.
Mendengar kata-kata ini, Hong Cu mendahului Lian Eng. “Kau bicara tentang golok terbang, bukankah kau ini yang disebut Hui-to Can Bu Si Golok Terbang?”
Kini Can Bu memandang kepada Hong Cu dan dalam pandang matanya gadis ini bahkan lebih cantik dari pada Lian Eng, maka menyeringai makin lebar. “Eh, eh, kau sudah kenal kepadaku, nona? Kapankah kita telah pernah bertemu? Aku sudah lupa lagi, sungguh heran!”
Beberapa orang kawannya tertawa mendengar ini dan Hong Cu lalu menjawab. “Memang kita sudah pernah bertemu, yaitu malam tadi ketika aku menjenguk ke neraka, ternyata kaupun berada di sana sebagai calon penghuninya. Nah, sekarang kau keluarkanlah golok-golokmu itu.”
Marahlah Can Bu mendengar ini. Ia loncat ke tempat terbuka yang lebih luas. “Marilah kalau kau sudah bosan hidup,” katanya.
Hong Cu dengan senyum sindir menghampiri dengan tindakan tenang. “Hayo kau lepaskan golok terbangmu, hendak kulihat bagaimana macamnya,” kata Hong Cu.
“Awas golok pertama!” seru Can Bu dan sebuah golok kecil warna putih melayang dari tangannya bagaikan seekor burung putih terbang menyambar ke arah leher Hong Cu! Memang sambaran ini cepat sekali datangnya dan seorang yang hanya memilikikepandaian silat biasa, saja tentu sukar menyelamatkan diri dari serangan ini.
Hong Cu dengan tenang berkelit ke kiri, tetapi golok ke dua telah terbang menyambar pula dibarengi bentakan, “Lihat golok kedua!”
Namun dengan kegesitannya Hong Cu kelit golok yang datang beruntun itu. Untuk melepas golok kesatu sampai keempat, Can Bu masih memberi peringatan lebih dulu, tapi mulai golok kelima ia melepas senjatanya tanpa memberi peringatan. Dan ia melepas tiga golok sekali lempar!
Bahkan goloknya yang kesembilan dilempar sedemikian rupa hingga ketika golok dapat dikelit oleh Hong Cu, golok itu dapat meluncur dengan membuat lingkaran panjang! Sungguh hebat kepandaian Si Golok Terbang itu, namun kelincahan Hong Cu memang mengagumkan.
Dengan gin-kangnya yang sudah mencapai tingkat tinggi, Hong Cu kelit semua golok itu dan juga menggunakan ujung jarimenyentil golok yang menyambar dekat hingga tubuhnya merupakan bayangan berkelebat diantara sinar golok yang berkilau bagaikan kilat menyambar itu.
Can Bu terkenal karena tigabelas macam sambitannya dengan golok terbang tetapi di dalam kantong goloknya ia menyimpan dua stel atau berjumlah duapuluh enam golok. Kini melihat ketigabelas goloknya dapat dikelit dengan mudah oleh gadis itu, ia merasa terkejut dan penasaran sekali. Yang sudah-sudah, jangankan menghindari tigabelas golok yang dilemparnya beruntun, sedangkan untuk berkelit dari dua atau tiga buah golok terbangnya saja, jarang ada yang sanggup!
Dengan mengeluarkan seruan marah, ia sambit-sambitkan ke tigabelas golok rombongan kedua, dengan gerakan lebih cepat dari pada tadi. Tapi Hong Cu pun percepat gerakannya hingga tubuhnya lenyap, hanya tampak ujung bajunya saja yang berkibar.
Tapi pada saat itu, yaitu ketika Hong Cu berhasil kelit golok terakhir dari lawannya, tiba-tiba dari bawah tanah keluar menyambar tiga batang anak panah dengan cepat dan tak terduga sekali! Tiga batang senjata itu menyambar ke arah lambung kiri, tengah-tengah dada dan pundak kanan!
Hebat bukan main serangan ini, karena ketika itu tubuh Hong Cu masih berada di udara dan kedua kakinya baru melayang hendak turun. Yang membuat serangan itu berbahaya sekali ialah karena datangnya tak terduga sama sekali. Siapakah yang menduga bahwa akan datang serangan begitu saja dari bawah tanah?
Biarpun Hong Cu gesit dan ringan sekali tubuhnya, namun ia hanya berhasil menghindarkan diri dari panah pertama dan kedua yang mengancam lambung dan dada. Panah ketiga berhasil menancap punggung kanan dekat pundak dan sambil keluarkan teriakan ngeri gadis itu roboh pingsan!
Alangkah kagetnya Lian Eng ketika melihat hal ini. Dengan membentak nyaring ia loncat ke arah Hong Cu untuk melihatnya, tapi ia dicegat oleh ke enam Ho-pak Chit-kiam dan Ban Kok Si Garuda Sakti. Bukan main marahnya murid Huo Mo-li, maka dengan kerahkan tenaganya ia menyerang lawan-lawannya. Sekali gebrak saja dua di antara Ho-pak Chit-kiam roboh dengan dada gosong dan dada terluka hebat.
Semua pengeroyoknya terkejut dan mundur, tapi ketika Lian Eng hendak loncat ke tempat Hong Cu roboh, mereka maju menyerang lagi dengan senjata mereka. Pengeroyok-pengeroyoknya adalah orang-orang kang-ouw yang berpengalaman dan berkepandaian tinggi, maka untuk sementara Lian Eng terpaksa melayani mereka.
Berkali-kali gadis cantik ini membentak nyaring dan tiap kali ia membentak dan lengannya terulur memukul, pasti ada seorang lawan terjungkal. Sungguh hebat sekali tenaga Huo-mo-kang yang digunakan untuk menyerang mereka.
Namun di antara pengeroyoknya terdapat jagoan-jagoan ternama seperti Ban Kok Si Garuda Sakti, Can Bu Si Golok Terbang, dan tiga orang pertama dari Ho-pak Chit-kiam yang ternyata memiliki ilmu pedang yang benar-benar lihai. Dengan teratur sekali mereka mengurung Lian Eng hingga gadis itu mengamuk hebat bagaikan seekor naga betina bermain di antara mega-mega hitam.
Pada saat itu terdengar suara tertawa menyeramkan dan Siauw Liong loncat keluar dari pintu rahasianya dibawah tanah! Ternyata yang melepaskan panah gelap tadi adalah dia sendiri. Melihat keluarnya pemuda ini, meluaplah rasa marah Lian Eng.
“Siauw Liong, bangsat rendah, pengecut hina! Hari ini aku pasti mengadu jiwa dengan kau!”
Tapi Siauw Liong yang melihat betapa kawan-kawannya dapat menahan Lian Eng, tak perdulikan dia bahkan lalu menghampiri tubuh Hong Cu yang masih rebah di atas tanah. Sebelum tangan pemuda itu dapat menjamah tubuh Hong Cu, tiba-tiba terasa angin hebat menyambarnya dari samping hingga ia cepat loncat berkelit.
Ternyata yang menyerangnya adalah Tiong Li! Pemuda yang baru datang ini membentak penuh kemarahan melihat keadaan Hong Cu. “Siauw Liong orang rendah! Untuk perbuatanmu kali ini aku tak dapat memberi ampun Lagi!”
Setelah berkata demikian Tiong Li gerakkan tangannya menyerang hebat. Tapi Siauw Ma yang datang bersama dia lalu berkata, “Tiong Li, kau uruslah Hong Cu, biarkan setan ini mati dalam tanganku!”
Mendengar kata-kata Siauw Ma ini, sadarlah Tiong Li bahwa ia terlampau menuruti nafsu marahnya hingga lupa akan keadaan Hong Cu yang berbahaya. Segera ia tinggalkan Siauw Liong yang terpaksa melayani Siauw Ma.
Siauw Liong kaget setengah mati melihat datangnya dua pemuda dengan tiba-tiba ini. Hal ini sungguh-sungguh di luar dari pada dugaannya. Tapi ia tak sempat banyak berpikir karena pedang Siauw Ma dengan hebatnya mengurung dirinya hingga ia harus gerakkan kedua tongkat ular di tangannya dengan cepat, namun tetap saja ia tidak dapat punahkan kurungan sinar pedang Siauw Ma yang kuat sekali itu.
Tiong Li periksa punggung kanan Hong Cu. Melihat anak panah yang menancap di situ, ia kerutkan kening. Kemudian tanpa ragu-ragu lagi ia pondong tubuh Hong Cu dan membawanya ke tempat agak jauh di bawah pohon siong tua. Ia letakkan tubuh itu bertelungkup di atas rumput, lalu dengan cepat ia merobek baju gadis itu di bagian punggungnya. Lalu dicabutnya anak panah itu dan ia khawatir sekali melihat betapa luka itu telah menghitam karena pengaruh racun di ujung anak panah.
Tiong Li cepat buka buntalan yang menggemblok di punggungnya dan ambil pisau yang sangat tajam dan beberapa bungkus obat. Dari sebuah guci kecil ia keluarkan semacam minyak yang berbau kecut, dan dituangkannya minyak itu di atas luka Hong Cu.
Kemudian dengan cekatan sekali ia gunakan pisau tajam untuk membelah kulit di punggung yang terluka dan membisul itu. Cepat sekali ujung pisaunya bekerja hingga sebentar saja ia mengorek daging dan kulit yang telah membusuk karena pengaruh racun jahat.
Pada saat itu Hong Cu siuman dari pingsannya dan ia mengerang kesakitan. Tiong Li maklum betapa sakitnya daging dikorek-korek pisau seperti itu, tapi ia tekan perasaan kasihan yang memenuhi hatinya. Ia pegang pundak Hong Cu dan berkata lirih. “Hong Cu, jangan khawatir. Aku akan usir pergi semua racun dari tubuhmu.”
Mendengar suara yang halus ini, Hong Cu gerakkan lehernya dan memandang kepada Tiong Li. Ia teringat lagi akan peristiwa penyerangan tadi, tetapi tubuhnya terasa kaku dan sakit hingga ia tidak dapat gerakkan tubuhnya. Ia tahu bahwa ia telah ditotok oleh Tiong Li yang memang sengaja lakukan itu dengan cepat sekali untuk mencegah Hong Cu bergerak, juga untuk membuat gadis itu tidak sangat menderita sakit. Karena ini, Hong Cu lalu meramkan mata kembali dan menyerahkan nasibnya di tangan pemuda itu.
Tiong Li lalu keluarkan obat bubuk warna ungu dan masukkan obat itu di dalam daging yang telah dikoreknya tadi. Sebentar saja obat warna ungu itu berubah hitam. Tiong Li mengorek bersih obat yang telah menjadi hitam itu dan menggantinya dengan yang baru.
Demikianlah, setelah gunakan obat pengisap racun itu tiga kali, ia lalu keluarkan mutiara salju untuk digunakan menghisap sisa-sisa racun dari luka itu. Tak lama kemudian, warna hitam kebiru-biruan di sekeliling luka di punggung Hong Cu, perlahan-lahan menjadi lenyap, terganti warna putih kemerah-merahan, yaitu warna aseli kulit punggung Hong Cu.
Tiong Li menghela napas lega, lalu ia tutup luka itu dengan semacam obat dan membungkusnya dengan kain ikat kepalanya. Untuk melakukan pembalutan ini, terpaksa ia angkat tubuh Hong Cu dan kain itu dibalutkan di punggung terus ke dadanya.
Dalam melakukan pekerjaan ini, baru tampaklah betapa kulit leher dan punggung Hong Cu berwarna putih kemerah-merahan dan halus sekali hingga hati Tiong Li berdebar keras. Tadi ia sama sekali tidak melihat keindahan ini karena seluruh perhatiannya tercurah kepada luka gadis itu dan hatinya tadi diliputi kecemasan besar.
Tetapi kini, setelah gadis itu terlepas dari pada bahaya, ia kagumi semua ini dan wajahnya menjadi merah padam. Segera ia buang muka dan dengan cepat ia totok pula leher Hong Cu untuk melepaskan totokan tadi.
“Hong Cu, bahaya telah lewat. Kau makanlah dua butir pulung ini,” katanya sambil menyerahkan dua butir pil merah.
Hong Cu terus menelannya, lalu matanya memandang ke arah mereka yang sedang bertempur. “Aku harus bantu enci Lian Eng. Aku harus balas kecurangan Siauw Liong, manusia hina itu!”
Tiong Li pegang pundaknya, lalu geleng-geleng kepala. “Kau tidak boleh banyak keluarkan tenaga, Hong Cu. Kau duduk sajalah disini dan lihat betapa aku membalaskan sakit hatimu ini.” Sehabis berkata demikian, Tiong Li lalu cabut keluar pedangnya yang tipis dan lemas lalu loncat ke medan pertempuran yang masih berjalan seru.
Sementara itu, tadi ketika Siauw Ma gunakan pedangnya mengurung Siauw Liong, pemuda itu melihat betapa Lian Eng terdesak oleh pengeroyoknya yang berjumlah banyak. Maka ia segera loncat menerjang sambil berkata, “Lian Eng, mari kita bereskan musuh-musuhmu dulu!”
Ia sangka bahwa yang mengeroyok itu adalah musuh-musuh yang dicari-cari oleh Lian Eng. Karena hebatnya gerakannya, baru bergebrak beberapa jurus saja Siauw Ma berhasil melukai seorang pengeroyok, yaitu orang ketiga dari Ho-pak Chit-kiam.
Melihat kedatangan Siauw Ma, Lian Eng merasa gembira dan ia tidak mau kalah. Dengan pukulan lidah Api Menjilat Daun Kering, ia berhasil merobohkan Bu-eng-cu hingga Si Tanpa Bayangan ini terjengkang ke belakang sambil muntahkan darah segar! Melihat betapa musuh besarnya roboh, Lian Eng girang sekali dan dengan cepat ia kirim tendangan kilat ke arah tubuh itu hingga matilah Bu-eng-cu di saat itu juga!
Siauw Liong yang ditinggal oleh Siauw Ma, ketika melihat betapa di pihaknya, mengalami kekalahan, segera bermaksud hendak melarikan diri turun gunung. Tapi tiba-tiba Tiong Li yang mengejarnya telah tiba disitu dan langsung menyerangnya dengan hebat.
Siauw Liong terkejut dan khawatir sekali. Melawan celaka, lari tidak dapat! Ia tidak ada nafsu untuk melawan terus terhadap serangan-serangan Tiong Li, maka ia lalu loncat ke dalam sebuah lobang rahasia yang menembus ke dalam terowongan di dalam tanah itu!
“Kau hendak lari ke mana?” Tiong Li berteriak dan hendak mengejar tapi lubang itu secara otomatis dapat tertutup dari dalam hingga Tiong Li menjadi bingung karena tidak mendapat jalan masuk.
Biarpun sedang bertempur, tapi karena tidak sesibuk tadi setelah kini Siauw Ma membantunya, Lian Eng dapat melihat betapa Siauw Liong dapat kabur melalui lubang rahasia. Ia lalu berseru kepada lawan-lawannya, “Cu-wi, tahan!”
Karena suaranya nyaring berpengaruh, semua orang loncat mundur sambil tahan senjata masing-masing.
“Cu-wi, dengarlah. Sebenarnya kami berempat tidak mempunyai permusuhan dengan cu-wi. Yang menjadi musuhku ialah Bu-eng-cu yang kini telah dapat kubinasakan. Sedangkan musuh kami yang lain ialah Siauw Liong yang kini secara licik sekali telah sembunyikan diri di dalam sarangnya dan tinggalkan cu-wi bertempur sendiri. Kami tidak menghendaki jiwa cu-wi sekalian, maka jika cu-wi hendak bikin habis pertempuran ini, janganlah halang-halangi kami, dan cu-wi boleh turun gunung dengan aman, kembali ketempat masing-masing. Tapi, jika hendak dilanjutkan, baiklah, kami berempat takkan mundur setapakpun!”
Karena telah merasa betapa lihainya anak-anak muda ini, dan melihat bahwa benar-benar Siauw Liong secara pengecut sekali tinggalkan mereka, Ban Kok Si Garuda Sakti mewakili kawan-kawannya menjura dan berkata.
“Kalian sungguh anak-anak muda luar biasa. Memang tidak mengecewakan menjadi murid-murid Thang-la! Kami orang tua yang tidak tahu diri. Biarlah, lain kali kita berjumpa pula!”
Sehabis berkata demikian, ia kibaskan lengan bajunya dan loncat jauh tinggalkan tempat itu. Semua girang lalu pergi sambil membawa kawan-kawannya yang terluka atau binasa.
“Siauw Ma, Tiong Li, aku telah tahu jalan di bawah tanah ini. Mari kita kejar setan itu! Ikutilah saya.”
“Tapi… tapi… Hong Cu?” Tiong Li berkata ragu-ragu sambil memandang ke arah Hong Cu yang masih bersandar di pohon itu dengan tubuh masih lemah.
Lian Eng tersenyum maklum. “Baiklah, kau menjaga di luar saja kalau-kalau buaya itu lari keluar, dan sekalian kau menjaga kau punya Hong Cu yang manis itu!”
Tiong Li tersenyum dengan wajah merah dan ia lalu mengangguk ke arah Siauw Ma sambil picingkan sebelah matanya. Lian Eng dan Siauw Ma lalu mengejar Siauw Liong melalui gua yang gelap. Tapi karena Lian Eng pernah masuk ke situ, ia tahu jalan dan dapat menjaga diri jangan sampai masuk perangkap seperti dulu lagi.
Ketika mendekati ruang di mana Siauw Liong tinggal, Lian Eng memberi tanda dan keduanya berjalan perlahan menghampiri. Pada saat itu terdengar suara isak tangis dan mereka kenali suara Ang-ie-nio-nio berkata penuh sesal dan benci.
“Koko, dasar kau yang tak tahu diri. Kau terlalu pandang rendah orang lain dan kau anggap dirimu paling pandai hingga hatimu menjadi kejam dan tidak perdulikan keadaan lain orang. Kau hanya memikir untuk kepentinganmu sendiri saja, untuk kesenanganmu sendiri saja. Kau terlampau banyak melukai hati orang, terlampau banyak membunuh orang tak berdosa, terlampau banyak menganiaya anak-anak gadis orang, kau terlalu menuruti nafsu hati dan banyak melakukan kejahatan.
“Sungguhpun demikian, koko, aku… aku tetap cinta padamu. Aku selalu mengharap kau akan mengubah watakmu yang sesat itu. Tapi, tidak tahunya kau bahkan makin sesat. Kini kau menghasut orang-orang memusuhi lawan-lawanmu yang gagah perkasa hingga kembali kau korbankan banyak jiwa.”
Terdengar jawaban suara Siauw Liong. “Hm, kau bilang mencinta, tapi siapa tahu hati orang? Sudahlah, jangan kau banyak mulut dan membuat aku marah hingga kau juga menjadi korban!”
“Apa? Lagi-lagi kau mengancam hendak membunuhku. Nah, marilah bunuhlah, aku akan mati dengan senyum jika kau yang membunuhnya.”
Lian Eng dan Siauw Ma yang mendengarkan di luar segera menghampiri pintu dan siap menolong Ang-ie-nio-nio. Tapi tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dari dalam. Karena hal ini tak pernah, diduga oleh Lian Eng dan Siauw Ma, mereka tak keburu bersembunyi dan pada saat itu dari dalam kamar tampak sebuah benda hitam kecil dilempar keluar dan pintu segera tertutup pula.
Melihat benda kecil menyambar, Lian Eng dan Siauw Ma dengan mudah berkelit, tapi benda itu jatuh di belakang mereka dan meledak! Ledakan itu demikian hebat dan keras hingga terowongan itu tergetar dan Siauw Ma berdua terpental membentur dinding gua.
Pecahan-pecahan batu memukul badan mereka, tapi dengan tenaga lwee-kang mereka yang tinggi, batu-batu yang beterbangan itu tak melukai mereka. Akan tetapi, ketika benda itu meledak, keluarlah asap kuning tebal memenuhi tempat itu. Bau asap itu harum dan mengandung bau manis.
Siauw Ma dan Lian Eng karena dikejutkan oleh ledakan itu, ingatan mereka agak bingung dan membuat mereka lalai, hingga mereka tak terasa lagi kena hisap asap kuning itu. Seketika itu juga mereka merasa tubuh mereka lemah dan kepala pusing. Tanah yang dipijaknya seperti terputar dan mereka hanya dapat berseru.
“Celaka!” Lalu robohlah Siauw Ma dan Lian Eng.
Tiong Li menunggu dengan Hong Cu yang telah dapat menghampirinya walaupun tubuhnya masih lemas dan lukanya masih sakit. Mereka bercakap-cakap sambil menanti di luar mulut gua. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ledakan yang sangat keras di dalam gua.
“Celaka!” teriak Tiong Li. “Hong Cu, kau tunggulah di sini dulu, biar aku melihat keadaan di dalam. Siapa tahu, jangan-jangan kawan-kawan kita menghadapi bencana.”
Pemuda itu dengan cepat masuk ke dalam gua dan sambil meraba-raba ia maju. Setelah matanya agak biasa di tempat gelap itu, tiba-tiba dari dalam ia melihat asap kuning bergulung-gulung keluar. Tiong Li maklum akan kelihaian Siauw Liong dan warna asap itu mencurigakan, maka ia segera jatuhkan diri telungkup hingga asap itu melayang di atas kepalanya menuju keluar.
Tiong Li lanjutkan pemeriksaannya dengan merangkak agar tak terganggu olah asap kuning itu. Kecerdikannya ini menolongnya dari bahaya asap yang mengandung racun hebat itu. Tapi ternyata tempat itu sangat berbahaya dan telah dipasangi banyak sekali perangkap oleh Siauw Liong. Ketika Tiong Li merangkak maju, ia sampai di tempat di mana kedua kawannya rebah pingsan, dan Siauw Liong berdiri di situ tertawa gembira, sedangkah seorang gadis cantik berbaju merah berdiri di dekat Siauw Liong!
Bukan main marahnya hati Tiong Li melihat ini dan kemarahannya membuat ia lupa bahwa ia sedang berada di sarang harimau. Ia loncat bangun hendak menyerang Siauw Liong. Tapi saat itu Siauw Liong dapat melihatnya dan dengan sebelah tangan, pemuda itu tekan sesuatu di dinding. Tiba-tiba tanah yang terpijak kaki Tiong Li merosot ke bawah, membawa pemuda itu bersama!
Tiong Li terkejut dan hendak loncat, tapi secara otomatis di atasnya telah turun batu besar menutup lubang itu. Ia telah tertawan dalam sebuah lubang di bawah tanah! Dan sebelum ia dapat mencari jalan keluar, tiba-tiba dari dua buah bambu di kiri kanannya mengalir masuk asap kuning seperti yang dilihat di terowongan tadi.
Tiong Li tahan napasnya dan bertiarap, tapi asap masuk makin banyak hingga mencapai tanah di bawah, sedangkan pemuda itu sudah terlalu lama menahan napasnya hingga ia merasa dadanya sesak dan telinganya mendengar bunyi melengking. Ia tahu bahwa kalau ia menahan napas sebentar lagi saja, maka paru-parunya akan pecah dan ia akan binasa. Maka terpaksa ia menyedot napas dan biarkan asap kuning itu memasuki dadanya.
Ia mencium bau yang harum manis dari asap itu dan tahulah ia bahwa asap itu mengandung racun memabokkan dan melemahkan, tapi tidak membinasakan. Kemudian ia tidak kuasa memikir lebih jauh karena iapun jatuh pingsan karena pengaruh asap itu!
Demikianlah, ketiga pendekar muda itu, Siauw Ma, Lian Eng dan Tiong Li, dengan cara yang mengecewakan dan mudah, terjatuh ke dalam tangan Siauw Liong, penjahat muda yang sangat berbahaya dan lihai itu. Hong Cu dengan tubuh masih lemas duduk di luar gua dengan hati khawatir. Tiba-tiba ia melihat asap warna kuning bergulung-gulung keluar dari dalam gua.
Ia tahu bahwa asap ini berbahaya, maka cepat-cepat ia paksakan diri lari menyingkir agak jauh. Tapi tiba-tiba ia terkejut sekali karena tahu-tahu Siauw Liong telah berdiri di belakangnya, ke luar dari sebuah pintu rahasia!
“Hong Cu, nona manis, akhirnya kau terjatuh juga dalam tanganku,” katanya menyeringai.
Hong Cu memandangnya penuh kebencian. “Kau apakan kawan-kawanku?”
Siauw Liong tertawa bergelak, “Kau mau melihat mereka? Mari, kau ikutlah aku.”
“Bangsat rendah jangan banyak lagak!” Hong Cu membentak marah dan paksakan diri menyerang dengan sebatang ranting.
Biarpun serangannya hebat, tetapi karena gerakannya lemah sekali, dengan mudah Siauw Liong dapat merampas ranting itu dan berbareng menotok jalan darah di leher Hong Cu hingga gadis itu menjadi lemas tak berdaya.
“Ha, ha, ha! Jangan takut, Hong Cu. Aku tak akan menyakitimu, aku… aku cinta padamu…” Dan ia lalu pondong tubuh gadis yang tak berdaya lagi itu masuk ke dalam terowongan guanya.
Siauw Ma sadar lebih dahulu dan pemuda itu bangun dengan sukar karena tubuhnya lemas sekali. Ia melihat bahwa ia terbaring di atas lantai dan di sebelahnya berbaring Tiong Li dalam keadaan pingsan. Ia terkejut sekali karena harapan satu-satunya hanya Tiong Li dan kini kawan itupun menjadi korban Siauw Liong pula! Ketika ia angkat muka memandang, ternyata mereka berada dalam ruang yang besar dan kosong.
Siauw Liong tampak duduk diatas sebuah batu hitam dan sebelahnya duduk pula Ang-ie-nio-nio. Melihat betapa Siauw Ma telah siuman, Siauw Liong tertawa. Siauw Ma loncat berdiri dan siap menyerang, tetapi tubuhnya lemas sekali hingga ketika Siauw Liong menghampirinya dan menendangnya perlahan, ia terpental dan roboh tak berdaya!
“Ha, ha, ha! Siauw Ma, manusia tolol. Kerbau tak berotak, sekarang baru kau merasa kelihaianku!” Dan ia mengirim tendangan pula yang membuat Siauw Ma merasa kepalanya pening.
Tetapi hati Siauw Ma yang keras tak kenal takut. Ia merangkak dan bangun berdiri lalu memaki-maki. “Anjing rendah! Pengecut hina! Kau robohkan kami dengan tipu muslihat curang!”
“Tutup mulutmu!” Siauw Liong membentak marah, tetapi ia lalu tertawa lagi. “Tipu muslihat, katamu? Memang, memang. Tipu muslihat yang luar biasa, bukan? Kalian berempat, aku seorang diri, tetapi lihat buktinya, kalian ke empat-empatnya terjatuh dalam tanganku.”
“Di mana Lian Eng? Kau apakan dia?” bentak Siauw Ma gemas.
“Ha, ha, kau cinta padanya, bukan? Sebentar lagi kau boleh kawin dengan dia di di neraka!”
“Kau sudah bunuh dia?” teriak Siauw Ma terkejut. “Baik, akupun sudah terjatuh dalam tanganmu. Mau bunuh, boleh bunuh sekarang juga, aku tidak takut!”
Sementara itu, Tiong Li juga sudah siuman. Pemuda yang cerdik ini sekarang tak berdaya juga. Ia diam-diam kerahkan tenaga dan empos semangatnya, tetapi ternyata pengaruh racun itu hebat sekali hingga ia benar-benar berubah menjadi orang biasa dan lwee-kangnya lenyap!
Melihat kegagahan Siauw Ma, Tiong Li kagum sekali. Iapun merangkak bangun dan menuding ke muka Siauw Liong sambil menyindir. “Lihat, Siauw Ma. orang-orang seperti kita mana takut mati. Hanya pengecut hina macam dia itulah yang takut mampus, maka tak segan-segan gunakan kecurangan merobohkan lawan. Mana ia berani melawan kita dengan menggunakan kepandaian.”
Siauw Liong loncat ke depan Tiong Li dan tangannya menampar hingga bibir Tiong Li mengeluarkan darah yang dihapusnya dengan lengan bajunya. “Mulutmu kotor, Tiong Li!” Siauw Liong membentak dengan senyum menghina. “Kau murid seorang tokoh besar dan disebut Tabib Dewa. Hayo sekarang kau keluarkan kepandaianmu untuk mengobati tubuhmu sendiri. Coba, aku hendak melihat!”
Sekali lagi ia kirim gaplokan hingga Tiong Li terbentur ke lantai. Karena kepalanya terbentur dinding batu, maka ia merasa pening dan untuk beberapa lama tinggal rebah. Siauw Ma buru-buru menghampirinya dan menolongnya.
Tiong Li putar-putar otak mencari obat penawar untuk racun mujijat ini. Ia teringat akan jinsom yang dulu didapatnya di dalam patung Dewi Kwan-im dan yang ia terima dari suhunya. Obat ini termasuk obat ajaib dan tentu akan dapat memunahkan pengaruh racun asap kuning.
Tapi alangkah kagetnya ketika ia meraba punggungnya, ternyata buntalan obat-obatnya telah lenyap! Kini murid Si Tabib Dewa benar-benar habis daya menghadapi Siauw Liong yang benar-benar pantas dijuluki Ular Hitam Kepala Dua karena licin dan cerdiknya.
Siauw Liong melihat keadaan kedua musuhnya itu lalu tertawa bergelak. Ia tekan dinding dan tiba-tiba sebuah pintu terbuka pada dinding batu itu. Di belakang dinding yang terbuka itu ternyata terdapat ruang lain yang lebih kecil dan di situ terdapat sebuah pembaringan yang lebar dan bertilamkan kain putih. Di atas pembaringan itu duduk dua orang gadis.
“Lian Eng!” seru Siauw Ma. “Hong Cu!” Tiong Li memanggil.
Mereka berdua biarpun merasa khawatir dan terkejut melihat kekasih mereka juga lemas tak berdaya, namun mereka kini agak gembira menyaksikan betapa kedua gadis itu masih hidup. Sebaliknya Lian Eng dan Hong Cu memandang mereka dengan sedih dan bingung.
Mereka berempat betul-betul mati kutu dan yang tidak mabok asap kuning hanya Hong Cu, tapi gadis itu masih menderita sakit karena luka oleh panah beracun di pundaknya, dan tubuhnya masih lemah. Lian Eng biarpun tubuhnya lemah, tapi semangatnya masih bernyala dan ketabahannya tidak berkurang.
Semenjak tadi ia merawat dan menghibur Hong Cu. Kini kedua matanya memandang kepada Siauw Liong dengan tajam dan penuh ancaman. Beberapa kali ia mencoba gerak-gerakkan tangannya, tapi dengan kecewa dan menyesal ia mendapat kenyataan bahwa tenaga lwee-kangnya belum juga pulih, dan dengan gemas ia hantamkan tumit kakinya di atas lantai. Ia merasa betapa kakinya menjadi sakit, padahal kalau saja keadaan tubuhnya tidak demikian, lantai itu pasti akan hancur berlubang di bawah gencetan kakinya!
“Ha-ha, Lian Eng. Kau makin manis dan menarik saja jika kau marah. Kelak kalau kau kuajak ke kota dan hidup mewah dalam gedung besar, kau tentu makin cantik.”
“Bangsat hina, kaubbunuh saja aku, jangan keluarkan kata-kata kotor menjijikkan!”
Tapi Siauw Liong bahkan tertawa besar. “Kalian berempat tadinya begitu sombong. Lihat kini, siapa yang menjadi pemenang? Lihatlah aku, inilah rajamu, inilah tuanmu, orang yang tanpa banyak susah menjatuhkan kalian berempat. Kalian harus tunduk padaku. Tunduk padaku, mengertikah?”
Ia pelototkan mata dan menatap wajah keempat orang tawanannya, kemudian iapun menatap wajah Ang-ie-nio-nio yang duduk di situ, hingga gadis baju merah itu menjadi pucat. Wajah Siauw Liong yang tampan itu berubah menyeramkan, kulit mukanya pucat, mulutnya menyeringai, hidungnya kembang-kempis dan matanya melotot lebar. Wajah orang gila!
“Kau, Siauw Ma dan Tiong Li, kalian berdua harus menjadi hamba sahayaku, kalian harus tunduk kepada perintahku. Akulah rajamu dan kalian harus patuh dan taat!”
“Siapa sudi menjadi orang yang ikut-ikutan gila seperti kau? Siauw Liong, kau menjadi gila karena kesombonganmu. Kau menjadi gila dan tak lama lagi kau tentu mampus!” Tiong Li memaki.
“Anjing kecil, kalau kau tidak gunakan asap iblis itu tentu sekarang juga sudah kuhancurkan kepalamu yang seperti kepala ular jahat itu!” Siauw Ma memaki juga.
“Bangsat kurang ajar!” Siauw Liong makin pelototkan mata dengan marah sekali. “Kalian berani menghina tuan besarmu? Hayo kalian berlutut. Hayo.... berlutut kataku!”
Tapi Siauw Ma dan Tiong Li berdiri sambil bertolak pinggang dan pentang kaki lebar-lebar serta angkat dada.
“Hayo kalian berlutut!” bentak Siauw Liong lagi sambil maju menghampiri mereka. Karena kedua pemuda itu tidak mau menurut perintahnya, maka kedua tangan dan kaki Siauw Liong bergerak cepat dan terdengarlah suara “bak-buk-bak-buk!” ketika kepalan dan tendangannya mampir di tubuh kedua pemuda itu.
Karena kaki dan tangan Siauw Liong mengandung tenaga yang luar biasa, maka tubuh Siauw Ma dan Tiong Li yang sudah kehilangan kekebalannya itu mana dapat menahan. Mereka jatuh bangun dan kulit tubuh menjadi matang biru.
Untungnya Siauw Liong tidak menjatuhkan pukulan maut, namun agaknya kedua orang pemuda itu tak dapat lolos dari bahaya. Setelah menerima beberapa pukulan dan tempilingan pula, akhirnya Siauw Ma dan Tiong Li tak dapat berdiri lagi.
Lian Eng dan Hong Cu melihat betapa kedua pemuda itu dipukuli seenaknya oleh Siauw Liong, merasa marah sekali, tapi apakah daya mereka? Lian Eng lemah karena pengaruh racun, sedangkan Hong Cu selain masih lemah karena lukanya, juga berada di bawah pengaruh totokan Siauw Liong yang belum juga dapat dibukanya karena tenaganya masih lemah. Kedua gadis itu hanya gigit bibir menahan air mata yang hendak keluar karena terharu dan kasihan.
Setelah puas memukul, Siauw Liong berpaling menghadapi kedua gadis itu. “Dan kalian, Lian Eng dan Hong Cu, kalian harus menjadi isteri-isteriku! Hong Cu menjadi permaisuriku, dan Lian Eng menjadi yang kedua. Atau terbalik? Yang manakah lebih tua? Ha-ha, bagiku sama saja, dua-duanya sama cantik sama pandai, Ha, ha, ha!” Siauw Liong benar-benar sudah gila. Ia menari-nari kegirangan.
Melihat hal ini, Siauw Ma dan Tiong Li merasa ngeri. Bagi mereka berdua, kematian bukan berarti apa-apa, tapi bahaya yang mengancam kedua gadis itu membuat mereka bergidik. Dengan susah payah keduanya berdiri dan Siauw Ma berkata keras.
“Siauw Liong, kau boleh bunuh aku, atau siksa aku, atau boleh juga aku kaujadikan apa saja, tapi jangan… jangan kau hina Lian Eng…” Siauw Ma menahan marahnya, karena sebenarnya pada saat itu ia ingin sekali mencaci maki dan menyerang mati-matian kepada Siauw Liong.
“Dan kau lepaskan Hong Cu, aku akan menurut segala perintahmu,” kata Tiong Li.
Lian Eng dan Hong Cu melihat betapa kedua pemuda itu sungguh-sungguh mencinta mereka, menjadi terharu sekali. Lian Eng dengan muka merah berkata, “Kawan-kawan, jangan bicara lemah. Hayo, kita gunakan tenaga terakhir, biarlah mati sebagai naga dari pada hidup sebagai babi!”
Ucapan yang bersemangat ini membangun semangat mereka dan berempat lalu gunakan tenaga menerjang Siauw Liong. Untuk sekejap mata Siauw Liong terkejut karena mengira bahwa tenaga mereka pulih kembali, tapi ketika ia loncat melawan, ternyata keempat orang itu masih lemah.
Dengan mudah ia dapat merobohkan Siauw Ma dan Tiong Li, lalu totok Lian Eng hingga gadis itupun roboh tak berdaya. Hong Cu juga mendapat totokan lagi hingga seperti halnya Lian Eng, ia roboh pingsan.
“Ha, ha, ha! Musuh-musuhku, murid-murid Thang-la yang dulu menghinaku, sekarang begini lemah! Ha, ha, ha, jangankan baru kalian berempat, biarpun ditambah sepuluh lagi, aku Siauw Liong masih sanggup merobohkan!”
Pada saat itu dari luar terdengar suara tertawa yang aneh dan menyeramkan sekali, karena suara itu terdengar ha-ha-hi-hi seperti suara tawa seorang gila. Kemudian muncullah seorang tua bongkok yang berwajah-buruk sekali. Tulang belakangnya menonjol dan jalannya hampir merangkak. Ia bukan lain ialah Tok-kak-coa, suhu Siauw Liong yang dulu ditinggal pergi oleh muridnya ini.
“Bagus sekali, muridku, kau telah dapat menangkap musuh-musuh kita!” katanya sambil memandang ke empat tawanan itu dengan mata liar. “Bagus, bagus, kini lunaslah, sebagian hutang setan-setan Thang-la!”
Siauw Liong pandang gurunya dengan tak acuh, bahkan tampak tak senang dan terganggu. “Suhu mau apa datang ke sini?” tegurnya.
Tapi Tok-kak-coa yang sudah diperlakukan demikian oleh muridnya yang manis ini, tidak perdulikan kekerasannya, lalu berkata lagi sambil perdengarkan ketawanya yang menyeramkan. “Siauw Liong, kau berikan mereka padaku. Ha, mereka tampak lemah tak berdaya. Biar kubunuh mereka. Aduh, itu murid-murid Thang-la yang cantik molek, biar kukorek matanya. Biar kubunuh dulu dua gadis jelita itu!”
Dengan terseok-seok ia menghampiri Lian Eng dan Hong Cu yang sudah siuman dan tak dapat bergerak, hanya memandang dengan mata terbelalak kepada manusia bongkok yang menyeramkan itu. Juga Siauw Ma dan Tiong Li pandang Tok-kak-coa dengan merasa serem. Bagaimana setan tua ini bisa datang menambah derita mereka? Tapi terjadilah hal yang tak terduga-duga oleh mereka.
Siauw Liong loncat di depan suhunya dan membentak, “Mundur kau! Jangan kau ganggu dua orang gadis ini kalau masih sayang akan jiwamu yang kotor!”
Diam-diam Siauw Ma dan Tiong Li mengutuk anak muda itu karena sebagai seorang murid, tak patutlah Siauw Liong mengucapkan kata-kata seperti itu terhadap gurunya, karena guru sama derajatnya dengan orang tua.
“Tidak, Siauw Liong, kedua gadis ini harus mati, dan mati di tanganku,” bantah Tok-kak-coa hingga mengherankan Siauw Liong, karena belum pernah gurunya ini berani membantahnya!
“Suhu, jangan paksa aku membunuhmu. Kau boleh berbuat sesukamu kepada Siauw Ma dan Tiong Li itu. Tapi kedua gadis ini adalah calon permaisuriku.”
“Kau gila!” Tok-kak-coa berteriak marah. “Mereka adalah musuh-musuh, harus dibunuh!”
“Pergilah kau!” Siauw Liong dengan marah ulur tangannya mendorong suhunya, tapi biarpun telah kehilangan tenaganya, Tok-kak-coa masih dapat berkelit. Orang tua itu juga timbul nekatnya dan ia menyerang Siauw Liong dengan tongkatnya!
Tapi mana orang tua bercacad itu dapat melawan Siauw Liong? Dalam beberapa gebrakan saja, Siauw Liong berhasil menendang perut suhunya hingga tubuh bongkok itu terlempar jauh dan hampir menimpa Siauw Ma dan Tiong Li! Tok-kak-coa roboh tak bergerak lagi dan napasnya empas-empis.
“Siauw Liong, kau benar-benar terkutuk!” Siauw Ma memaki marah, tapi Siauw Liong hanya tersenyum.
“Nah, aku tinggalkan kau orang tua busuk dengan dua orang pemuda tiada guna ini untuk mati membusuk di sini. Aku mau pergi membawa permaisuri-permaisuriku!” Ia langsung melangkah ke dalam kamar di mana Lian Eng dan Hong Cu rebah dan memandangnya dengan jijik dan cemas.
“Koko!” tiba-tiba Ang-ie-nio-nio yang semenjak tadi menyaksikan sepak terjang kekasihnya dengan hati ngeri dan sedih, kini melihat betapa Siauw Liong hendak pergi dan sama sekali melupakannya, segera maju dan pegang lengan pemuda itu. “Koko, jangan kau lakukan ini. Jangan kau tinggalkan aku, koko. Aku ikut!”
Siauw Liong memandang tak senang. “Aah, kau hanya mengganggu aku saja. Hayo pergi! Kau tidak boleh ikut aku.”
Maka nekatlah Ang-ie-nio-nio. Ia cabut sepasang pedangnya dan berkata, “Koko, kau menyakiti hatiku sesukamu saja. Jangan harap kau bisa bawa pergi kedua siocia itu dan meninggalkan aku, selama aku masih hidup!”
“Ha, ha kalau begitu, kaupun harus mampus!” Maka bertempurlah mereka dengan hebatnya.
Permainan pedang Ang-ie-nio-nio tidak lemah dan ia kini gunakan itu dengan sepenuh perhatian karena hatinya sakit sekali. Tapi biarpun hanya bertangan kosong, Siauw Liong dapat melayaninya dengan mudah.
Sementara itu, Tiong Li dan Siauw Ma yang merasa kasihan melihat nasib Tok-kak-coa, segera menghampiri kakek itu dan mengangkat kepalanya. Tok-kak-coa buka matanya dan ia heran sekali ketika melihat betapa Tiong Li dan Siauw Ma menolongnya.
“Kau… kau…? Ah, hidupku selalu salah jalan. Bahkan memilih muridpun aku telah salah…” Kemudian ia memandang kepada mereka berdua. “Ha, kalian baik, tidak seperti muridku… ah, kalian tentu terkena asap kuning, bukan?” Ia rogoh saku dalamnya dan keluarkan bungkusan kain merah yang sudah lapuk. “Ini... kalian baik... biarlah saat terakhir ini kuisi dengan kebaikan, kalian… makanlah seorang satu….”
Sehabis berkata demikian, Tok-kak-coa meramkan matanya dan matilah ia, karena tendangan Siauw Liong yang ratusan kati beratnya itu telah merusakkan isi perutnya.
Tiong Li segera buka bungkusan itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat lima butir buah kering warna hitam yang bentuknya seperti buah leeci. “Makanlah ini,” ia berbisik kepada Siauw Ma.
Mereka makan buah itu seorang sebutir. Rasanya masam dan sepet, tetapi dengan paksa mereka menelannya. Setelah buah itu masuk di perut, masih belum terasa perubahan sesuatu. Mereka duduk melihat pertempuran yang masih berjalan seru.
Ang-ie-nio-nio terdesak di pojok. Tiba-tiba sebatang pedangnya dapat terampas oleh Siauw Liong dan dengan cepat pemuda itu mengirim tusukan yang tepat memasuki ulu hati Ang-ie-nio-nio hingga menembus di punggungnya.
Gadis baju merah itu roboh sambil mengeluarkan jeritan, “Kokoooo…” dan matilah ia...