Patung Dewi Kwan Im Jilid 16

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Patung Dewi Kwan Im Jilid 16
Sonny Ogawa
Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Patung Dewi Kwan Im Jilid 16, karya Kho Ping Hoo - HONG CU merasa bingung. Sepekan? Dan selama itu harus bersama-sama pemuda kurang ajar ini? Harus melakukan perjalanan bersama? Tapi ia harus berani berkorban perasaan untuk membela orang tuanya. Kalau memang benar Lian Eng yang menculik orang tuanya, kurang ajar benar gadis gagu itu! Ia harus serang dan adu jiwa dengan gadis itu!

“Baiklah, aku ikut kau ke tempat itu. Tapi awas kalau kau membohong dan berani kurang ajar terhadapku, jangan kau katakan aku keterlaluan kalau aku cabut nyawamu!” akhirnya Hong Cu berkata dan tatap wajah Siauw Liong dengan bengis.

Tapi agaknya mata yang tajam dan indah itu tidak membuat jerih hati Siauw Liong, bahkan ia balas memandang dengan mesra dan tersenyum, hingga Hong Cu membentak. “Hayo kita berangkat, apa maksudmu memandang orang sambil tersenyum-senyum?”

Maka berangkatlah mereka berdua sambil menggunakan ilmu lari cepat menuju ke arah timur laut. Siauw Liong yang mendapat kesempatan jalan bersama gadis cantik yang sangat menarik hatinya itu, merasa gembira sekali dan ia tidak menyembunyikan perasaan ini. Tiada hentinya ia mengajak gadis itu mengobrol dan ia menceritakan pengalamannya yang luas. Tapi Hong Cu hanya mendengar dengan setengah hati dan jarang sekali menjawab kalau tidak perlu betul.

Tiga hari kemudian mereka tiba di sebuah kota dekat sungai yang tampak ramai. Sebenarnya, menuruti jalan lurus, untuk pergi ke kampung di mana Lian Eng menyembunyikan orang tua Hong Cu, cukup menggunakan waktu dua hari. Tapi karena Siauw Liong sengaja mengambil jalan memutar agar makan waktu lebih lama, maka biarpun telah berjalan cepat selama tiga hari mereka belum juga sampai di tempat tujuan.

Melihat sikap Siauw Liong yang ceriwis dan sepanjang jalan berusaha mengambil-ambil hatinya, Hong Cu dapat menduga bahwa pemuda jahat ini tentu sengaja mengambil jalan memutar, tapi ia masih bersabar dan mengambil keputusan untuk menahan sabar sampai sepekan. Kalau sampai selama itu belum juga mereka tiba di tempat yang dimasudkan, maka ia takkan memberi tempo lagi dan hendak mengadu jiwa dengan pemuda ceriwis ini!

Tiap kali berhenti di sebuah kota dan bermalam di rumah penginapan, Hong Cu selalu mengambil kamar sendiri yang agak jauh dari kamar Siauw Liong agar ia tidak terganggu. Juga sepanjang jalan ia berlaku hati-hati dan waspada sekali, sedikitpun tak berani lengah dan lalai, hingga sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada Siauw Liong untuk berlaku curang. Juga di waktu makan, ia berlaku hati-hati sekali karena ia cukup tahu akan kelihaian pemuda itu mempergunakan racun.

Sebenarnya, betapapun keras Hong Cu menjaga diri, kalau kiranya dikehendaki oleh Siauw Liong, pemuda itu tentu akan berhasil juga berbuat curang dengan menggunakan kelicinan serta kecurangannya yang penuh tipu muslihat. Tapi untung bagi Hong Cu bahwa pada waktu itu Siauw Liong sedang menjalankan rencana lain.

Pemuda yang cerdik itu sengaja hendak mengadu dombakan Hong Cu dengan Lian Eng, dan jika Hong Cu telah dapat bermusuhan dengan Lian Eng, maka tentu nona manis ini akan percaya kepadanya dan dapat bersikap lebih manis, karena Siauw Liong tahu bahwa Hong Cu juga dikecewakan dalam cintanya terhadap Siauw Ma! Ia sengaja pikat-pikat dan ambil hati Hong Cu.

Ketika kedua orang itu masuk ke kota Kian-bun yang ramai itu tiba-tiba terdengar seruan orang. “Kau, Siauw Liong!”

Ketika mereka berpaling memandang, Hong Cu melihat bahwa yang menegur itu adalah seorang perempuan muda cantik berpakaian merah. Wanita itu dengan tindakan kaki yang genit menghampiri Siauw Liong dan pada wajahnya yang cantik itu terbayang senyum mesra. Melihat ini Hong Cu lalu membuang muka dan tidak memperhatikan mereka pula, hanya menjauhi dan berdiri tak acuh.

“Moi-moi, kau di sini?” Siauw Liong menegur dengan wajah tak senang.

“Koko, aku mencari-carimu sampai di mana-mana. Hayo kita pulang saja, koko!” berkata wanita itu yang bukan lain ialah Ang-ie-nio-nio.

Tiba-tiba mata Siauw Liong mengeluarkan sinar marah. Ia gerak-gerakkan tangan dan membentak, “Hayo, kau pergi dari sini! Jangan kau ganggu aku, aku sedang sibuk dan ada urusan penting. Pergi!”

Ang-ie-nio-nio memandang sedih. “Koko, mengapakah? Kenapa sikapmu begini berubah? Lupakah kau akan hubungan kita, apakah….. apakah……” sampai di situ Ang-ie-nio-nio melirik ke arah Hong Cu yang kebetulan sedang memandang kepadanya. Ia lalu sambung kata-katanya sambil memandang Hong Cu dengan marah. “Ah, jadi kau telah mendapat kekasih lain?”

“Hush! Tutup mulutmu, moi-moi!” bentak Siauw Liong, tapi Ang-ie-nio-nio telah menjadi begitu marah hingga ia cabut pedangnya dan loncat ke arah Hong Cu sambil berteriak.

“Kalau begitu, aku harus membunuhnya sekarang juga!” Kemudian tanpa perdulikan Siauw Liong, perempuan baju merah itu menggerakkan pedangnya hendak menyerang Hong Cu.

Tapi pada saat itu, Siauw Liong yang merasa marah sekali, loncat mendahului. Ternyata gin-kang pemuda itu jauh lebih hebat dari pada kepandaian Ang-ie-nio-nio hingga sebelum perempuan baju merah itu dapat menerjang Hong Cu, ia telah berhadapan dengan Siauw Liong.

“Perempuan keparat, kau mencari mampus?” Siauw Liong berseru dan menggerakkan tangan kanannya memukul dengan hebat kepada bekas kekasihnya.

Ang-ie-nio-nio bukankah orang lemah. Ia cepat loncat mundur dan kelit pukulan itu. “Koko, jadi kau membela gadis ini? Baiklah, biar aku mati dalam tanganmu.”

Suara ini diucapkan dengan suara memilukan sekali dan ketika Siauw Liong maju menggerakkan pedang yang telah berada di tangannya, Ang-ie-nio-nio menangkis tapi tidak balas menyerang. Sebentar saja serangan Siauw Liong datang bertubi-tubi dan tentu saja gadis baju aerah itu tidak dapat menahannya lebih lama pula. Ia menangkis sambil mundur, sementara itu wajahnya menjadi merah dan muram.

Biarpun diserang mati-matian, sedikitpun ia tidak membalas menyerang. Cinta hati yang demikian besar ini mengharukan hati Hong Cu yang semenjak tadi memandang dengan bibir tersenyum menghina. Ia sebenarnya tidak senang melihat sikap Ang-ie-nio-nio yang genit dan yang begitu kurang ajar telah menganggap ia sebagai kekasih Siauw Liong!

Tapi melihat betapa gadis baju merah itu demikian mencinta Siauw Liong dan rela mati, ia menjadi kasihan juga. Pula, ia tidak suka melihat Siauw Liong membunuh orang dibawah pandangan matanya tanpa ia berbuat sesuatu untuk mencegahnya!

Maka, ketika Ang-ie-nio-nio telah benar-benar terdesak dan pedang Siauw Liong meluncur hendak menembus lehernya, Hong Cu meloncat dengan tongkat ranting di tangannya dan tiba-tiba Siauw Liong merasa betapa ujung pedangnya tergetar dan membal kembali karena benturan hebat dari ranting itu.

“Hong Cu, jangan kau ikut campur!” berkata Siauw Liong dengan suara halus, tapi Hong Cu membentak keras.

“Kalau aku berada di sini, jangan harap kau akan dapat membunuh orang sesukamu sendiri saja!” dan tongkatnya terus terputar hebat hingga terpaksa Siauw Liong meloncat mundur.

Sementara itu, melihat gerakan gadis yang hanya bersenjata ranting dapat menangkis pedang Siauw Liong, Ang-ie-nio-nio terkejut dan heran sekali. Ketika Hong Cu memandangnya dan pandang mata mereka bertemu, bukan main kagetnya wanita baju merah itu, hingga ia pandang Hong Cu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

“Jadi… kaukah ini...?”

Hong Cu mengangguk ke arah perempuan cantik itu. “Ang-ie-nio- nio, kau dalam keadaan baik-baik?”

Ang-ie-nio-nio tidak mau berkata apa-apa lagi kepada Hong Cu, tapi perempuan muda itu bahkan menghampiri Siauw Liong yang berdiri heran mengapa Ang-ie-nio-nio telah kenal kepada Hong Cu. Ang-ie-nio-nio berbisik kepada Siauw Liong, “Kalau bermusuh, hati-hatilah kau, koko. Ia lihai sekali dan suhengku Kwie-eng-cu juga terbinasa dalam tangannya!”

Biarpun Ang-ie-nio-nio bicara perlahan sekali, namun Hong Cu yang berdiri agak jauh dapat juga mendengar karena pendengarannya yang terlatih baik itu sangat tajam. Maka ia berkata sambil tersenyum.

“Itu benar, Siauw Liong, bahkan tangan kanan kekasihmu ini pernah kupatahkan tulangnya! Nah, kalau kalian hendak menuntut balas, kebetulan sekali, aku telah bersiap!”

“Kau pergilah dan jangan mengganggu aku!” Siauw Liong membentak, marah kepada Ang-ie-nio-nio yang segera meloncat pergi setelah melirik dengan tajam ke arah Hong Cu.

“Sungguh hatimu palsu sekali untuk menyakiti seorang kekasih demikian rupa!” Hong Cu menyindir dan merasa sebal kepada pemuda itu.

Siauw Liong hanya mendengus marah. “Siapa bilang ia kekasihku? Perempuan itu tak tahu malu.”

“Sudahlah jangan banyak membicarakam hal ini, aku tidak mau dengar. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita agar cepat- cepat sampai di tempat orang tuaku, kalau tidak, aku khawatir kalau-kalau kesabaranku akan habis dan jika terjadi demikian, aku tak dapat menanggung keselamatan jiwamu lagi!”

Siauw Liong menarik muka cemberut seakan-akan penuh sesal. “Kau ini sungguh seorang gadis yang tak kenal budi orang!” ia mengomel. “Aku bermaksud baik dan hendak menolongmu, tapi kau selalu memperlihatkan sikap bermusuhan.”

“Siapa mau percaya obrolanmu? Sampai sekarang juga, aku masih belum percaya bahwa kau betul-betul hendak membawaku ke tempat yang kau sebutkan itu! Tapi awaslah kau, kalau beberapa hari lagi ternyata kau tidak mewujudkan janjimu…”

“Sudahlah, jangan selalu mengancam. Kau memang sangat tidak bisa percaya orang. Baik, kita lihat sajalah nanti. Mulai besok, aku akan mengambil jalan memotong agar kita cepat-cepat sampai di tempat itu dan kau akan melihat dengan mata sendiri bahwa sebenarnya aku, Siauw Liong, adalah seorang pemuda yang betul-betul hendak menolongmu, dan bahwa orang-orang yang kau anggap kawan baik itu semua palsu belaka!”

Kalau hendak menurutkan hatinya, Hong Cu hendak mendamprat lagi, tapi karena lagi merasa girang mendengar janji ini ia tidak mau membuat hati pemuda itu lebih sakit lagi dan membatalkan maksudnya hendak mempercepat perjalanan mereka. Maka gadis ini diam saja dan mereka memilih kamar dalam sebuah rumah penginapan.

Betul saja, Siauw Liong memenuhi janjinya. Pemuda itu karena telah terganggu oleh Ang-ie-nio-nio, merasa takut kalau-kalau pertemuan dengan perempuan bekas kekasihnya itu akan membuat Hong Cu kehilangan kepercayaannya, maka ia merasa perlu mempercepat perjalanan.

Pagi-pagi sekali ia telah bersiap dan menyediakan dua ekor kuda yang baik dan mahal. Mula-mula Hong Cu tidak setuju diberi seekor kuda, tapi karena Siauw Liong mendesak dan berkata bahwa perjalanan hari ini sangat jauh dan jika berkuda tanpa berhenti, tentu pada sore hari akan sampai di kampung yang dimaksud itu, terpaksa gadis itu menurut. Mereka lalu berangkat dengan cepat sekali.

Ketika hari telah menjadi senja, mereka tiba di sebuah kampung di lereng gunung. Itulah kampung Leng-hok-chun di mana Lian Eng tinggal bersama Ang Lie Seng dan nyonyanya, orang tua Hong Cu. Ternyata karena banyak sekali pembantu dan kaki tangannya, Siauw Liong telah dapat menemukan juga tempat ini!

Siauw Liong mengajak Hong Cu berhenti di luar kampung dan mereka lepas begitu saja kedua kuda mereka yang telah hampir mati kelelahan. Kemudian dengan hati-hati dan cara bersembunyi, Siauw Liong mengajak Hong Cu yang sudah tidak sabar dan tubuhnya menggigil karena terharu memikirkan kedua orang tuanya, memasuki kampung Leng-hon-chun.

Kebetulan sekali pada saat itu Ang Lie Seng dan isterinya sedang duduk di luar rumah sambil bercakap-cakap, tak lain mempercakapkan puteri mereka yang telah bertahun-tahun lenyap. Siauw Liong mengajak Hong Cu mendekat dan ia menunjuk kepada dua orang tua itu sambil berkata perlahan, “Hong Cu, lihatlah baik-baik, siapakah kedua orang tua itu?”

Ia lalu menarik perlahan tangan gadis itu yang maju bagaikan kena pesona. Sebentar saja gadis itu dapat mengenali ayah bundanya dan ia memegang lengan tangan Siauw Liong dengan keras untuk menahan getaran hatinya yang terharu. Kemudian dengan sekali lompat, ia telah berada di depan kedua orang tuanya dan menjatuhkan diri berlutut sambil berseru. “Ayah… ibu…!”

Kedua orang tua itu tertegun. Mereka memandang gadis cantik jelita itu bagaikan sedang mimpi dan tidak segera mengenali wajah yang tunduk menangis itu. Tapi mendengar suara gadis itu nyonya Ang lalu pegang kepala Hong Cu dan mengangkat wajahnya untuk dipandang. Setelah bertemu dengan pandang mata Hong Cu, kedua orang tua itu dengan berbareng berseru. “Hong Cu…!!” dan mereka bertiga saling peluk dengan mesra dan terharu sekali.

Siauw Liong sengaja bersembunyi untuk melihat perkembangan peristiwa itu lebih lanjut. Pada saat itu ia telah melihat bayangan seorang gadis lain yang gesit sekali mendatangi dari belakang rumah. Gadis ini adalah Lian Eng!

“Ayah, ibu! Kalian mengapa dan siapakah orang ini?” tanyanya heran karena ia belum melihat wajah Hong Cu yang sedang berpelukan dengan kedua orang tuanya.

Hong Cu mendengar suara ini cepat melepaskan pelukan ayah ibunya dan Loncat membalikkan diri.

“Kau!” seru Lian Eng dengan senyum menghina.

“Penculik hina!” Hong Cu memaki sengit dan secepat kilat ia pungut ranting yang tadi dibawanya dari atas tanah dan menyerang Lian Eng.

Murid Huo Mo-li melihat datangnya serangan yang hebat dan sengit itu segera berkelit. Iapun tidak kalah marah dan bencinya hingga sambil berseru nyaring ia balas melancarkan serangan dengan Huo-mo-kangnya yang hebat.

Hong Cu juga maklum akan kelihaian lawannya maka ia segera mengeluarkan Ouw-coa-koai-tung-hwat dan menjauhi Lian Eng sambil mengirim serangan-serangan totokan yang mengarah urat kematian lawan!

Demikianlah, sebentar saja kedua gadis jelita itu saling serang mati-matian dan karena ilmu gin-kangnya memang sudah mencapai tingkat tinggi, mereka hanya tampak oleh Ang Lie Seng suami isteri sebagai dua gulung sinar yang menjadi satu hingga tak mungkin bagi mereka untuk melihat mana Hong Cu dan mana Lian Eng! Berkali-kali kedua orang tua itu berteriak-teriak.

“Hong Cu… Lian Eng… jangan bertempur…!”

Tapi dua gadis yang sedang diamuk nafsu marah itu tidak mau memperdulikan apa-apa lagi selain hendak membunuh lawan di hadapannya. Pula, pertempuran yang hebat itu membuat mereka bergerak ke sana ke mari dan menjauhi kedua orang tua itu. Ternyata kepandaian kedua gadis itu seimbang, karena keduanya memiliki ilmu pukulan berbahaya yang bagaimana juga membuat keduanya jerih.

Hong Cu merasa betapa sambaran angin pukulan yang keluar dari kedua tangan Lian Eng hebat sekali dan mendatangkan rasa panas, maka ia menjaga dengan hati-hati sekali jangan sampai beradu lengan atau mengadu tenaga dengan gadis yang memiliki tenaga lwee-kang luar biasa itu. Sebaliknya Lian Eng harus berlaku awas dan waspada sekali menjaga dirinya jangan sampai kena tertotok oleh ujung ranting Hong Cu yang seakan-akan telah berubah menjadi ratusan banyaknya itu!

Pada waktu itu Siauw Liong berdiri mengintai di balik pohon dengan tertawa seorang diri. Ia puas melihat tipu muslihatnya berjalan baik. Tapi alangkah kagetnya ketika ia melihat bayangan orang berkelebat cepat ke arah kedua gadis yang sedang bertempur itu. Dengan cara luar biasa dan cepat sekali, tahu-tahu bayangan itu telah dapat menerobos di tengah-tengah di antara kedua gadis itu.

Hong Cu dan Lian Eng kaget sekali melihat ada orang berani ikut campur dan ketika mereka memandang, ternyata yang datang ialah Siauw Ma!

“Hong Cu, jangan kau serang Lian Eng!” Siauw Ma menegur dengan suara keras.

Hati Hong Cu yang sudah panas itu makin bernyala karena cemburu dan iri hati. Ia memandang pemuda yang dikagumi itu dengan mata hampir mengeluarkan air mata, dan ia hampir menjerit ketika berkata. “Kau... kau hendak membela dia? Hayo, majulah kalian berdua, aku Ang Hong Cu tidak takut mati!”

Dan ia menggerakkan rantingnya menyerang Lian Eng lagi yang sudah siap. Kembali kedua gadis gagah itu bertempur hebat bagaikan dua ekor harimau betina berebut makanan.

“Kalau kau nekat, terpaksa aku harus mencegahmu!” kata Siauw Ma yang maju menangkis sebuah serangan Hong Cu hingga gadis ini seakan-akan dikeroyok dua!

Pada saat itu terdengar suara orang mencela, “Tak pantas… tak pantas… dua orang gagah dari Thang-la mengeroyok seorang? Hong Cu, jangan kau takut, aku membelamu!”

Kini Lian Eng yang tiba-tiba berubah pucat mukanya karena ia melihat betapa Tiong Li, pemuda yang menjadi kenangannya itu datang-datang menyerbu dan membantu Hong Cu!

“Tahan!” Lian Eng membentak dan loncat mundur. Bentakannya yang dikeluarkan dengan tenaga lwee-kang dari Huo-mo-kang yang masih mengalir penuh di tubuhnya ini terdengar luar biasa nyaringnya hingga kedua suami isteri Ang Lie Seng yang telah maju mendekat terpaksa tekap telinga mereka yang terasa sakit. Orang-orang yang sedang bertempur tiba-tiba berhenti dan memandangnya.

“Tiong Li, aku tak dapat melawan engkau yang telah menjadi penolongku. Betapapun juga, aku cukup mengenal budi dan tak sudi aku disebut orang rendah karena membalas budi dengan kepalan tangan!” kata Lian Eng sambil menahan kehancuran hatinya.

“Kalau kau tidak menyerang Hong Cu tentu selamanya aku takkan suka mengadu kepandaian dengan kau yang lihai ini,” jawab Tiong Li tersenyum.

Sementara itu, Hong Cu dan Siauw Ma saling pandang. Kini melihat pertempuran itu berhenti, Ang Lie Seng dan isterinya tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ang Lie Seng dan nyonya menyerbu anaknya dan nyonya Ang dengan menangis tersedu-sedu peluk Hong Cu sambil berkata.

“Hong Cu, Hong Cu… kau datang-datang membikin hati ibumu merasa sakit dan kecewa sekali…”

Hong Cu memandang ibunya dengan heran. “Mengapakah, ibu? Apakah, salahku?”

Kini ibu itu memandang wajah anaknya dengan penuh penyesalan, “Kau bertanya apa salahmu? Ah, Hong Cu, mengapa kau masih seperti dulu, selalu membawa kehendak sendiri? Mengapa kau datang-datang berani menyerang Lian Eng, saudaramu?”

“Saudaraku, dia ini?” Hong Cu menunjuk ke arah Lian Eng dan memandang heran.

Kini Ang Lie Seng maju memberi keterangan kepadanya. Suaranyanya terdengar keren dan tetap, seperti suara ayah yang sedang menegur anaknya. “Hong Cu, ibumu berkata benar. Lian Eng telah menjadi anak angkat kami. Kau harus mencontoh dia dan ucapannya yang baru saja ia keluarkan tadi tepat sekali. Seorang budiman takkan sudi membalas budi kebaikan dengan kepalan tangan! Tapi kau datang-datang bahkan menyerangnya!”

Kini benar-benar Hong Cu tak mengerti dan sepasang matanya terbelalak heran. “Apa... apa maksudmu, ayah?” tanyanya gagap.

“Dengarlah, anak bodoh. Lian Eng adalah orang yang telah menyelamatkan jiwa kedua orang tuamu! Kalau tidak ada Lian Eng, mungkin sekarang ayah dan ibumu telah menjadi tengkorak.”

Pucatlah muka Hong Cu mendengar ini dan Ang Lie Seng dengan ringkas ceritakan pengalamannya ketika ia dan isterinya diculik oleh Siauw Liong, kemudian ditolong oleh Lian Eng. “Nah, sekarang kau harus memberi hormat kepada encimu. Lian Eng lebih tua, setahun dari padamu. Hayo, kau memberi hormat dan minta maaf!”

Mendengar betapa Lian Eng telah menolong jiwa kedua orang tuanya, hati Hong Cu merasa terharu sekali dan ia lalu menghampiri Lian Eng sambil memandang dengan mata basah air mata. Tapi tiba-tiba Lian Eng membalikkan tubuh dan hendak lari dari situ! Gadis keras hati ini rasa cemburu dan iri hatinya demikian besar hingga tak mungkin baginya untuk berbaik begitu saja kepada bekas orang yang dibencinya!

Tapi pada saat Lian Eng hendak pergi, tiba-tiba dari depannya muncul seorang kakek yang berkata keras, “He, Lian Eng, jangan kau kurang ajar!”

Ketika Lian Eng memandang, ternyata yang membentaknya itu adalah kakeknya, Souw Cin Ok! Gadis ini yang semenjak kecilnya memang dididik oleh kakeknya ini, telah mempunyai perasaan takut dan tunduk kepada kakeknya yang seakan-akan menjadi pengganti orang tuanya, maka ketika tiba-tiba melihat kakek itu muncul dan membentaknya, ia segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil menangis.

Souw Cin Ok dengan terharu sekali mendengar suara tangis Lian Eng yang mengingatkan dia akan suara tangis gadis itu ketika masih bayi. Memang di waktu kecilnya Lian Eng tidak gagu dan penyakit itu datang padanya ketika ia berusia kira-kira empat tahun.

Souw Cin Ok angkat bangun gadis itu yang sandarkan kepala di dada kakeknya sambil menangis sedih. Orang-orang di situ memandang peristiwa ini dengan terharu. “Lian Eng… Lian Eng, kau sudah bisa bicara…?”

Lian Eng mengangguk-angguk lalu terdengarlah suaranya yang merdu. “Ya, ngkong, aku bisa bicara lagi!”

Mendengar ini, Souw Cin Ok memandang ke atas seakan-akan hendak menyatakan terima kasihnya kepada Thian Yang Maha Kasih. “Lian Eng, aku melihat kau pergi dari Hong Cu dengan muka marah. Jangan kau kurang ajar dan membawa sikap seperti itu, Cucuku. Sikapmu ini membikin malu kakekmu. Ketahuilah, Hong Cu telah wakilkan kau membalas sakit hatimu dan membunuh seorang dari pada musuh-musuh orang tuamu!”

Mendengar ini, Lian Eng merasa bagaikan disambar petir. Ia menjadi pucat dan memegang lengan kakeknya. “Ngkong, apa maksudmu?”

Maka Souw Cin Ok lalu menceritakan betapa Hong Cu telah membunuh mati Kwie-eng-cu, yakni seorang dari pada musuh- musuh keluarga Souw. Setelah mendengar habis penuturan itu, Lian Eng segera memutar tubuh dan lari kepada Hong Cu yang masih berdiri di sana memandangnya. Kedua gadis itu berdiri berhadapan dekat sekali dan saling pandang dengan mata berlinang air mata.

Kalau tadi mereka saling serang mati-matian dan saling pandang dengan hati mengandung penuh kebencian, adalah kini mereka saling pandang dengan hati penuh diliputi keharuan dan rasa berterima kasih. Akhirnya, dengan berbareng mereka saling menubruk dan memeluk tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, hanya air mata mereka yang membanjir merupakan pernyataan perasaan yang hangat dan penuh arti.

“Enci Lian Eng…….” bisik Hong Cu.

“Adik Hong Cu, adikku…” Lian Eng balas merangkul.

Beberapa saat mereka saling peluk dengan mesra, kemudian teringatlah Hong Cu kepada Siauw Liong. Maka merahlah wajahnya karena api kemarahan membakar hatinya. “Enci Lian Eng, mari kaubantu aku menangkap bangsat itu dan kita hancurkan kepalanya yang jahat!”

“Eh, siapa dia yang kau maksudkan?” tanya Lian Eng heran.

Tapi Hong Cu telah melompat ke arah tempat di mana tadi Siauw Liong menunggu, disusul oleh Lian Eng yang masih terheran. Di situ Hong Cu berdiri dengan mata mencari-cari, tapi tentu saja ia tidak bisa mendapatkan bayangan Siauw Liong di tempat itu karena si cerdik ini begitu melihat betapa kedua gadis itu berbalik menjadi baik, siang-siang telah mengangkat kaki dan kabur sambil menyumpah-nyumpah karena siasatnya gagal dan muslihatnya hancur lebur!

Kemudian dengan menyesal sekali Hong Cu menuturkan kepada Lian Eng betapa ia telah tertipu oleh Siauw Liong yang menghasut-hasutnya agar memusuhi Lian Eng. Sebaliknya, sambil berjalan kembali ke tempat tinggal Ang Lie Seng, Lian Eng juga menceritakan betapa iapun kena tipu Siauw Liong dan hampir saja celaka jika tidak tertolong Ang-ie-nio-nio.

Mendengar hal wanita baju merah itu Hong Cu menghela napas dan berkata, “Gadis itu harus dikasihani. Biarpun ia bukan orang baik-baik, tapi ia telah salah besar ketika memilih Siauw Liong sebagai orang yang dicintanya. Ia telah salah pilih dan…”

Tiba-tiba Hong Cu terdiam dan ia menundukkan mukanya dengan cepat untuk menyembunyikan warna merah yang menjalar dari leher ke muka. Dengan tak disengaja ia ucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan hatinya sendiri dan yang merupakan sindiran tajam baginya. Ia sama sekali tidak nyana bahwa Lian Eng yang berjalan di sebelahnya juga termenung mendengar hata-kata tadi dan di dalam hati gadis itu juga timbul penyesalan mengapa Tiong Li yang dikenangnya itu ternyata mencinta Hong Cu!

Demikianlah, dengan diam-diam ke dua gadis ini menyimpan rahasia hati masing-masing dan aneh sekali, kalau tadinya mereka saling menaruh cemburu dan iri hati, kini perasaan itu lenyap. Bahkan, sambil menyentuh lengan Lian Eng, Hong Cu berkata perlahan. “Pilihanmu tepat, enci, karena Siauw Ma sangat mencintamu.”

Tapi godaan ini tidak menggirangkan hati Lian Eng, yang balas menggoda dalam jawaban sederhana,.“Jangan kau lupa, Hong Cu, bahwa Tiong Li juga membelamu dalam perkelahian tadi. Kau lebih beruntung dari pada aku.” Dan Lian Eng menghela napas.

Hong Cu heran melihat sikap yang dingin ini. “Enci Lian Eng, engkau agaknya tidak gembira melihat Siauw Ma mencintamu?”

“Ah, aku tak pernah memikirkan tentang itu, adikku, tugasku belum selesai kupenuhi.”

“Enci Lian Eng, kalau begitu mereka itulah yang salah pilih!” kata Hong Cu yang menjadi gembira. “Ketahuilah, akupun sedikit juga tidak memikirkan Tiong Li dan cintanya!”

Kini Lian Eng lah yang memandangnya dengan heran, kemudian mereka tertawa gembira karena baru mereka tahu bahwa diantara mereka tak pernah ada sesuatu yang harus dibuat cemburu! Mereka kini tertawakan kedua pemuda yang salah pilih itu.

“Kalau begitu, kita tak perlu perdulikan dua orang tolol itu, bukan?” kata Hong Cu dengan jenaka dan Lian Eng mengangguk sambil tersenyum.

Ketika mereka tiba kembali di tempat tadi, Tiong Li yang sedang asyik bercakap-cakap dengan Siauw Ma, segera menegur mereka, “Eh, kalian mengapa tertawa-tawa berdua sampai melupakan kami? Hong Cu, sepatutnya kau perkenalkan kami kepada orang tuamu!”

Tapi sebelum Hong Cu menjawab, tiba-tiba mereka berempat yang memiliki telinga tajam, berbareng menengok ke satu jurusan dari mana tampak bayangan seorang mendatangi cepat sekali. Ketika bayangan itu telah tiba dekat, mereka berempat heran karena yang datang itu bukan lain ialah Kim Hwa Sianli.

“Ia terluka!” seru Tiong Li.

Benar saja, ketika nikouw tua itu tiba di situ, tampaklah oleh mereka betapa di pundaknya menancap sebatang anak panah dan pertapa itu nampak pucat sekali. “Kalian… murid-murid Thang-la… bantulah pinni…”

Sehabis berkata begitu, Kim Hwa Sinnli tak dapat mempertahankan tubuhnya lagi dan ia terguling roboh. Untung sebelum ia roboh, Lian Eng dan Hong Cu cepat sekali loncat menahan tubuhnya dan merebahkan nikouw itu dengan perlahan.

“Kim Hwa Sianli, apakah yang terjadi?” Siauw Ma dengan tak sabar bertanya.

“Pinni telah ketemukan malingnya… ia… ia adalah… murid Tok-kak-coa…”

“Siauw Liong!” empat orang muda itu berseru berbareng.

“Ya, dia… keparat itu… baru saja aku bertemu dengannya dan kami bertempur. Aku terluka, tapi… tapi betul dialah malingnya…”

“Hayo kejar dia!” kata Siauw Ma.

Tapi Tiong Li yang lebih cerdik segera bertanya. “Ia menuju ke mana?”

“Ke… Bukit Kee-san….”

Tiong Li cepat memeriksa luka orang tua itu, dan terkejutlah ia ketika melihat betapa racun yang hebat dan dipasang di ujung anak panah telah menyerang ke dalam jantung! Karena setelah mendapat luka, pertapa itu lari sekuat tenaga, maka racun berjalan lebih cepat ke dalam jantungnya. Tiong Li maklum bahwa Kim Hwa Sianli tak mungkin ditolong lagi, maka ia segera keluarkan sebungkus obat yang diberikan kepada Hong Cu sambil berpesan.

“Hong Cu, tiap kali ia merasa sakit, beri minum obat ini seperlima bagian dan sakitnya akan lenyap.” Kemudian sambil berbisik perlahan ia berkata, “Tak dapat ditolong lagi jiwanya.”

Setelah itu, Tiong Li dan Siauw Ma hendak mengejar Siauw Liong, dan Lian Eng berkata, “Mari kalian ikut, aku tahu di mana letak Bukit Kee-san!” Dan iapun loncat hendak pergi.

Tapi terdengar suara Souw Cin Ok mencegah, “Lian Eng, ada hal yang lebih penting dari pada ini! Aku telah dapatkan tempat tinggal musuh-musuh kita!”

Mendengar ini, Lian Eng segera mengurungkan maksudnya hendak ikut mengejar. Maka Tiong Li berkata kepada Siauw Ma, “Biar kita berdua yang pergi. Akupun sudah tahu di mana tempat itu!” Dan kedua pemuda itupun lalu menggunakan ilmu lari cepat berkelebat pergi.

Lian Eng menghampiri kakeknya, “Engkong, dimanakah mereka?” tanyanya gemas.

“Ketahuilah, Lian Eng. Mungkin engkau lupa lagi akan nama-nama musuhmu. Pembunuh-pembunuh orang tuamu adalah Tiga Setan dari Tiang-an, yakni pertama Bu-eng-cu, kedua Kwi-eng-cu yang telah terbunuh mati oleh Hong Cu, dan ketiga Pek-eng-cu. Nah, aku telah mendapat tahu bahwa Bu-eng-cu dan Pek-eng Cu kini tinggal di Liok-si, menjadi guru silat di sana. Aku sendiri bukanlah lawan mereka, maka aku sengaja mencari kau agar kau dapat penuhi tugasmu ini.”

“Di Liok-si? Ah, aku pernah datang di kota itu!” seru Lian Eng yang lalu loncat hendak pergi.

“Cici, tahan dulu!” kata Hong Cu. “Aku ikut!”

Kemudian Souw Cin Ok mendapat tugas untuk mengurus Kim Hwa Sianli yang terluka dan kemudian ia dimintai tolong untuk mengantar Ang Lie Seng pulang ke kotanya. Setelah semua diatur beres dan berpamit kepada orang tuanya, kedua gadis itupun loncat pergi tinggalkan tempat itu, menuju Liok-si.

Mari kita ikuti Siauw Liong, pemuda yang cerdik tapi jahat itu. Setelah merasa kecewa melihat betapa ke empat orang muda yang menjadi musuh-musuhnya itu telah berkumpul kembali dan siasat adu dombanya tidak berhasil, dengan bersungut-sungut dan marah ia pergi cepat meninggalkan tempat itu. Ketika ia tengah berlari cepat, tiba-tiba sebuah hud-tim atau kebutan pertapa menyambar dari samping dibarengi suara bentakan halus.

“Eh, anak muda, larimu cepat sekali. Coba kau layani aku barang duapuluh jurus.”

Sebelum Siauw Liong dapat menjawab, penyerangnya yang bukan lain ialah Kim Hwa Sianli, maju menyerang dengan pedang dan kebutannya. Siauw Liong terkejut sekali melihat kehebatan pertapa wanita itu, maka ia keluarkan seluruh kepandaiannya untuk melawan.

Kemudian, karena hatinya sedang marah dan jengkel, pula melihat dan mengenali pertapa itu sebagai ketua Kwan-im-pai, Siauw Liong turunkan tangan jahat. Diam-diam ia lepas panah tangannya yang beracun dengan beruntun lima kali.

Yang empat buah pertama dapat ditangkis oleh pedang Kim Hwa Sianli, tapi anak panah kelima yang menyambar tenggorokan hanya dapat dikelit dan menancap di pundaknya! Merasa betapa pundaknya menjadi linu dan gatal, terkejutlah Kim Hwa Sianli. Ia tadi telah menguji ilmu silat anak muda ini dan ternyata inilah maling patung kelentengnya!

“Anak muda, jadi kaulah maling rendah itu! Kau selalu berlaku curang, apakah kau begitu pengecut hingga takut sebutkan namamu?”

Tertawalah Siauw Liong mendengar ini. “Imam tua, kau mau tahu namaku? Aku adalah Siauw Liong, dan anak panahku itu boleh kau anggap sebagai hadiah dari Tok-kak-coa, suhuku.”

Setelah berkata demikian, dengan puas Siauw Liong pergi tinggalkan Kim Hwa Sianli. Betapapun juga, rasa penasarannya terhadap ke empat murid Thang-la masih saja belum dilenyapkan. Ia pulang ke Kee-san, tapi karena tidak melihat Ang-ie-nio-nio di dalam guanya, ia merasa kesunyian dan menyesal mengapa ia menyia-nyiakan gadis yang mencinta itu.

Ia tidak kerasan tinggal di guanya dan teringatlah olehnya kawan-kawan baiknya. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Tiang-an Sam-kwie atau Tiga Setan dari Tiang-an, kawan-kawannya yang banyak membantunya, maka ia segera menuju ke sana. Pada suatu hari, ia berhenti di sebuah kota untuk makan. Dimasukinya restoran terbesar dan ia pesan masakan-masakan termahal.

Malam harinya ia menyewa kamar di hotel terbesar. Ia sama sekali tidak tahu bahwa semenjak siang, tadi dua pasang mata memperhatikannya dan dua orang muda dengan diam-diam mengikutinya. Pada malam hari itu, ketika Siauw Liong tengah duduk di ruang depan dari hotel, tiba-tiba dari luar masuk seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar. Ketika melihat Siauw Liong, orang itu lalu menjura.

“Sungguh beruntung sekali siauwte dapat bertemu dengan taihiap di sini,” katanya dengan hormat sekali.

Siauw Liong memandang tak acuh. Terlalu banyak orang-orang sungai telaga dan rimba hijau mengenal padanya hingga ia tidak ingat siapa orang tinggi besar ini. “Kau siapakah dan ada urusan apa menggangguku?” tanyanya dengan angkuh.

Tapi orang itu tidak marah, bahkan tampaknya takut-takut. “Kalau siauwte tidak sedang menjalankan perintah, mana siauwte yang rendah berani mengganggu taihiap? Siauwte diperintah oleh suhu dari Tiang-an dan sengaja mencari taihiap di Kee-san, tapi tak nyana dapat bertemu di sini.”

“Siapakah suhumu?”

“Suhu adalah Bu-eng-cu…”

“O, dia? Ada perlu apakah?”

Orang itu menghela napas. “Ketahuilah, taihiap. Belum lama ini, ji-susiok Kwie-eng-cu telah mati terbunuh oleh seorang gadis pendekar yang namanya Hong Cu.”

Terkesiap juga Siauw Liong mendengar ini, “Hong Cu, katamu?”

“Ya, taihiap. Pembunuh susiok itu namanya Ang Hong Cu, dan sekarang gadis itu bersama seorang kawannya yang bernama Souw Lian Eng, datang mengacau di kota kami. Kedua gadis itu mengamuk dan mereka menuntut supaya suhu dan susiok Pek-eng-cu keluar menjumpai mereka. Baiknya suhu dan susiok siang-siang telah tahu bahwa kedua gadis ini adalah lihai sekali dan sukar dilawan, maka mereka lalu bersembunyi.

"Tidak tahunya kedua gadis itu mengancam semua orang di bu-kwan, katanya kalau dalam waktu tiga hari suhu dan susiok tidak mau menemui mereka, maka bu-kwan akan dibakar dan semua orang yang berada di situ akan dibasmi habis! Karena inilah, maka suhu segera mengutus siauwte naik kuda dan cepat-cepat mengundang taihiap memohon bantuan.”

Siauw Liong menahan kagetnya agar jangan sampai terlihat orang. Sebenarnya ia merasa terkejut dan jerih mendengar dua nama itu, tapi otaknya yang cerdik segera bekerja. “Kau pulanglah dulu dan beritahukan gurumu supaya dia dan Pek-eng-cu keluar menjumpai dua gadis itu.”

“Tapi, taihiap…”

“Tutup mulutmu!” Siauw Liong membentak hingga orang itu terkejut lalu tunduk. “Kau dengarkan saja perintahku, jangan banyak membantah. Suhumu dan susiokmu itu supaya keluar dan menjumpai kedua gadis itu lalu tantang mereka mengadakan pertandingan di dalam hutan…”

Tiba-tiba sampai di sini Siauw Liong tutup mulutnya dan ia memandang ke kanan kiri. “Hayo kau masuk ke kamarku,” ajaknya kepada orang itu. Ternyata Siauw Liong berlaku hati-hati sekali.

Dua orang yang mendengarkan di atas genteng merasa kecewa sekali, tapi mereka sudah merasa puas akan apa yang mereka dengar. Dua orang itu adalah Si auw Ma dan Tiong Li yang tadinya hendak turun tangan menyerang Siauw Liong tapi mereka tahan dan tunda niat itu ketika mendengar percakapan antara Siauw Liong dan pesuruh dari Tiang-an tentang Hong Cu dan Lian Eng.

Kemudian, melihat betapa Siauw Liong mengajak tamunya masuk kamar, kedua pemuda itu tinggalkan tempat itu dan mengambil keputusan untuk terus mengikuti jejak Siauw Liong dengan hati-hati karena mereka khawatirkan keselamatan kedua gadis itu dalam menghadapi Siauw Liong yang licin dan curang.

Sebaliknya, Siauw Liong setelah mengajak tamunya ke dalam kamar lalu memesan agar Bu-eng-cu dan Pek-eng-cu menantang kedua nona itu untuk mengadu jiwa di puncak Gunung Kee-san! Harinya ditetapkan lima hari kemudian, karena dalam waktu lima hari itu ia hendak mencari bala bantuan untuk memperkuat rombongannya. Pesuruh itu lalu kembali ke Tiang-san menyampaikan pesan Siauw Liong kepada gurunya.

Sedangkan Siauw Liong lalu pergi ke berbagai daerah mengumpulkan dan mencari bantuan-bantuan dari orang-orang pandai, di antaranya Ban Kok Si Garuda Sakti, Can Bu Si Golok Terbang, dan Ho-pak Chit-kiam atau Tujuh Pedang dari Ho-pak yang terkenal lihai. Sedikitpun Siauw Liong tidak tahu bahwa selama itu ia terus diikuti oleh Tiong Li, sedangkan Siauw Ma mengikuti pesuruh yang kembali ke Tiang-an untuk melihat perkembangan lebih jauh.

Dengan hati besar karena menerima kesanggupan Siauw Liong untuk membantu mereka, Bu-eng-cu dan Pek-eng-cu keluar dari tempat sembunyinya dan menemui Hong Cu dan Lian Eng yang pada hari ketiga datang di bu-kwan mereka dengan wajah keren.

Kedua guru silat itu menyambut mereka dengan memberi hormat, sedangkan di dalam hati, mereka heran sekali karena tidak mereka sangka bahwa musuh yang begitu disohorkan dan ditakuti hanyalah dua orang gadis cantik. Bu-eng-cu yang lebih berpengalaman ketika melihat sorot mata kedua gadis itu dapat menduga ketinggian ilmu mereka, tapi Pek-eng-cu yang merasa penasaran lalu menjura di depan mereka sambil berkata,

“Ji-wi lihiap apakah yang dalam beberapa hari ini mencari kami?” tapi diam-diam ia mengerahkan tenaganya memukul dengan tenaga dalam.

Lian Eng hanya berdiri sambil tersenyum sindir, sedikitpun tak perdulikan pada Pek-eng-cu. Tapi Hong Cu balas menjura dan mengangkat kedua lengannya. “Dan ji-wi apakah Bu-eng-cu dan Pek-eng-cu yang kami cari?” balas Hong Cu sambil mengerahkan tenaganya.

Pek-eng-cu yang memandang rendah kedua tamunya, tiba-tiba merasa betapa tenaga yang keluar dari kedua tangannya itu mental kembali dan mendorongnya ke belakang. Ia hendak mempertahan kan bhe-sinya, tapi makin keras ia bertahan, makin keras pula ia terjengkang ke belakang.

“Eh, hati-hati kau nanti jatuh!” kata Hong Cu jenaka sedangkan Pek-eng-cu yang sudah jatuh terjengkang merasa dadanya agak sakit dan buru-buru ia merangkak berdiri dengan wajah pucat. Alangkah hebatnya tenaga tamunya, seorang gadis yang tampaknya lemah lembut ini!

Bu-eng-cu melihat hal inipun menjadi pucat. Ia maklum bahwa ia dan sutenya bukanlah lawan kedua gadis ini, maka setelah menjura ia berkata. “Ji-wi lihiap, pernah apakah dengan Souw Cin Ok?”

Kini Lian Eng maju selangkah dan matanya memancarkan cahaya api. “Aku adalah cucu dari kakek Souw Cin Ok! Kalian telah membunuh mati kedua orang tuaku, maka sekarang jangan banyak mulut lagi. Bersedialah untuk mati!”

Tiba-tiba tangan kanannya bergerak ke arah dada Bu-eng-cu yang segera jatuhkan diri ke belakang karena ia merasa datangnya tenaga yang membawa angin panas sekali. Dengan gerakan ini, maka selamatlah ia, akan tetapi tiba-tiba Pek-eng-cu yang berdiri di belakangnya terkena pukulan Huo-mo-kang ini.

Guru silat yang bertubuh besar itu untuk kedua kalinya terlempar ke belakang, tapi kali ini lebih hebat karena ia tidak dapat bangun kembali dan ketika beberapa orang muridnya memburu, ternyata Pek-eng-cu telah tewas! Melihat hal ini, Bu-eng-cu cepat loncat berdiri dan dengan nekat ia berkata, “Orang she Souw, tahan dulu! Kau telah membunuh suteku dengan menggelap apakah ini laku seorang gagah?”

Marahlah Lian Eng. “Menggelap, katamu? Nah, sekarang kau bersiaplah dan lihat baik-baik sebelum mati, apakah aku menggunakan senjata gelap untuk merampas jiwa anjingmu?”

“Tahan dulu. Aku sedang tidak sehat, maka kalau kau memang gagah, aku tantang kalian berdua mengadu jiwa dengan aku di satu tempat tertentu.”

“Ha, anjing tua yang licin. Kau hendak tipu aku dan diam-diam lari minggat?” kata Lian Eng menyindir.

Murid Huo Mo-li yang sedang marah itu segera maju hendak mengirim pukulan mautnya. Melihat hal ini, Bu-eng-cu lalu angkat dadanya sambil berkata keras. “Kau mau bunuh boleh bunuhlah! Lihat, aku tidak melawan. Kau tentu akan dapat membunuhku, tapi namamu selamanya akan ternoda di kalangan kang-ouw dan dianggap seorang yang tidak mengenal aturan.”

Mendengar kata-kata ini, Lian Eng yang masih hijau dalam aturan-aturan kang-ouw, menjadi ragu-ragu dan saling pandang dengan Hong Cu. Tapi Hong Cu sendiri juga tidak mengerti dan sangsi karena takut kalau-kalau omongan musuh itu benar.

“Atau barangkali kalian memang pengecut dan tidak berani menerima tantanganku untuk mengadu kepandaian di tempat tertentu?” Bu-eng-cu menambahi untuk memanaskan hati kedua gadis lihai itu.

“Bangsat tua, siapa yang tidak berani? Baiklah, kau boleh tetapkan tempat itu, karena bagi kami sama saja. Kau tak mungkin dapat terlepas dari tanganku,” kata Lian Eng....

Selanjutnya,
PATUNG DEWI KWAN IM JILID 17