Patung Dewi Kwan Im Jilid 14, karya Kho Ping Hoo - TIBA-TIBA Tiong Li yang berotak cerdik juga meloncat berdiri. “Kau benar, kau benar! Siapa lagi pencurinya? Tentu dia!! Dulu juga gurunya yang berbuat, sekarang pemuda berkepandaian tinggi tapi jahat, siapa lagi kalau bukan murid si jahat itu?”
“Tapi dari mana ia peroleh kepandaian tinggi? Bukankah suhunya telah terluka dan menjadi penderita cacat di dalam gua ular? Pula, Siauw Liong dulu diberi nasehat keras. Mustahil dia begitu jahat dan nekat untuk mengulangi perbuatan gurunya yang sesat!”
Mendengar ini Tiong Li duduk lagi dan ikut memutar otak. “Bagaimanapun juga, hal ini harus kita selidiki. Memang kalau benar pencuri itu Siauw Liong, sungguh mengherankan bagaimana dia bisa menjadi begitu lihai hingga dapat membinasakan kedua tokoh Kwan-im-kauw yang cukup tinggi kepandaiannya. Heran, heran!” Untuk beberapa lama keduanya duduk saja sambil termenung.
“Saudara Tiong Li, pernahkah kau bertemu dengan Lian Eng?”
Tiong Li memandangnya heran dan tidak mengerti mengapa gadis ini tiba-tiba saja bertanya tentang Lian Eng. “Tidak, aku belum pernah bertemu dengan dia semenjak pertemuan terakhir dulu itu. Tapi kenapa kautanyakan hal ini?”
“Tidak apa-apa, hanya aku ingin sekali tahu sampai di mana kemajuan ilmu silat gadis gagu itu.”
“Jangan sebut ia gadis gagu, kukira sekarang ia tidak gagu lagi,” kata Tiong Li.
Hong Cu memandangnya tajam dengan sepasang matanya yang indah hingga Tiong Li merasa kagum sekali. “Benar-benarkah kepandaianmu bisa menyembuhkan orang gagu?” Hong Cu bertanya.
Tiong Li tersenyum. “Bukan aku yang menyembuhkan tapi adalah kepandaian suhu dan kemanjuran obatnya.”
“Tapi bukankah kau juga ahli obat kini?”
“Ahli sih bukan, tapi sedikit-sedikit aku bisa juga.”
Mereka diam sejenak, tiba-tiba Hong Cu bertanya lagi. “Pernahkah kau bertemu dengan Siauw Ma?”
“Belum pernah. Kurasa dia sudah sangat maju ilmu silatnya. Suhunya adalah seorang ahli pedang yang ternama. Ia adalah seorang pemuda yang baik.”
Hong Cu girang mendengar ini, tapi ia tidak berkata apa-apa.
“Nona, mari kita lanjutkan perjalanan,” ajak Tiong Li.
Baru sadarlah Hong Cu bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju ke tempat tinggal orang tuanya, maka buru-buru ia berdiri dan menghampiri kudanya.“Nona, kau hendak pergi ke manakah?”
“Ke Tiong-an-kwan, aku hendak penyambangi orang tuaku,” kata Hong Cu dengan gembira karena teringat akan orang tuanya. Kemudian ia cemplak kudanya dan balas bertanya, “Dan kau hendak ke manakah?”
“Aku? Ah, aku hanya pergi merantau ke mana saja. Suhuku memesan agar aku pada permulaan musim chun tahun depan naik ke Thang-la bertemu dengannya. Sementara ini, aku hendak meluaskan pengalaman dan merantau tanpa tujuan. Kalau… kalau kau tidak keberatan, aku akan senang sekali jika boleh pergi bersamamu. Lebih senang berkawan dari pada jalan seorang diri.”
Wajah Hong Cu berubah merah. “Tentu saja boleh, tapi… tapi aku berkuda, sedangkan engkau berjalan kaki…”
Kata-katanya dipotong oleh Tiong Li dengan seruan girang, “Tidak apa, aku dapat berjalan cepat, asalkan kau jangan mengaburkan kudamu! Di kota depan aku boleh membeli seekor kuda hingga kita boleh jalan bersama. Tunggu sebentar!”
Ia lalu lari ke sebuah pohon dan memungut pikulan yang tadi ditinggalkan ketika bercakap-cakap dengan Hong Cu. Ternyata kini ia memasang dua keranjang obat di kedua ujung pikulannya itu!
Melihat betapa pemuda itu menghampirinya sambil memikul keranjang obat, Hong Cu tersenyum dan berkata. “Nah, kalau begini kau betul-betul murid Si Tabib Dewa!”
Tiong Li memperlihatkan senyum manis dan berkata, “Hayolah kita berangkat. Di depan ada kampung yang agak besar juga, di sana kita boleh makan dan aku akan mencari kuda.”
Hong Cu melarikan kudanya. Ia sengaja melarikan kudanya cepat-cepat untuk menguji ilmu lari cepat Tiong Li. Tapi ketika ia menengok, ternyata pemuda itu sambil memikul keranjang obatnya dapat lari di samping kuda dan tidak kalah cepatnya! Maka Hong Cu merasa kagum juga karena ternyata bahwa ilmu lari cepat pemuda itu belum tentu kalah olehnya.
Diam-diam ia mengeluh karena pibu di puncak Thang-la pada tahun depan merupakan ujian berat baginya. Baru seorang saingan saja sudah begini lihai, belum tahu sampai di mana kelihaian Siauw Ma dan Lian Eng! Terutama terhadap Lian Eng, Hong Cu agak merasa jerih karena ia pernah rasakan kelihaian gadis itu.
Karena mereka maju dengan cepat, sebelum senja tiba mereka telah tiba di sebuah kampung. Ternyata kampung itu besar juga dan terdapat sebuah rumah penginapan yang lumayan besarnya karena kampung di pantai sungai ini banyak dikunjungi tukang-tukang perahu yang berdagang dari kampung ke kampung sepanjang sungai.
Setelah mendapatkan dua kamar dalam rumah penginapan itu, Tiong Li lalu keluar seorang diri hendak mencari kuda. Kuasa rumah penginapan memberi tahu padanya bahwa di situ tidak ada pedagang kuda, hanya terdapat seorang tuan tanah yang memelihara banyak kuda baik, mungkin kalau dimintai tolong, tuan tanah itu mau menjual kudanya seekor. Maka pergilah Tiong Li ke rumah tuan tanah itu yang tinggalnya di sebelah utara kampung itu.
Rumah itu besar dan pekarangannya lebar. Betul saja, dari luar terdengar suara kuda meringkik. Tapi ringkik kuda terdengar makin keras dan gaduh seakan-akan terjadi sesuatu yang aneh. Tiong Li merasa curiga dan meloncat ke arah kandang kuda besar yang berada di samping rumah. Tiba-tiba terdengar seruan keras,
“Tangkap maling kuda! Maling kuda! Pukul dia perampok kuda!”
Dan suara gaduh itu makin menghebat, diselingi seruan-seruan yang agaknya mengeroyok seseorang. Tapi cepat sekali suara itu lenyap dan tiba-tiba dari dalam kandang tampak keluar seekor kuda besar yang bagus, dituntun oleh seorang pemuda.
Karena malam telah gelap, Tiong Li tidak melihat jelas wajah pemuda itu, tapi ia merasa curiga sekali. Menyangka sesuatu yang tidak beres, Tiong Li sengaja menghadang di depan pemuda yang menuntun kuda dan berkata. “Sobat, tahan dulu.”
“Kau mau apa?” pemuda itu ternyata mempunyai suara yang nyaring merdu.
“Siapa tadi yang disebut maling kuda?” Tiong Li bertanya.
“Hm, akulah orangnya yang mereka sebut demikian. Tapi merekalah yang menipu. Merekalah orang-orang rendah dan penipu curang!”
Tiong Li heran mendengar ini. “Bagaimanapun juga aku harus tahu betul duduknya perkara,” katanya lalu lari ke dalam kandang, dan alangkah herannya ketika ia melihat tujuh orang laki-laki berdiri bagaikan patung karena mereka semua telah kena totokan secara lihai sekali! Ia bebaskan dua orang yang terdekat dan setelah kedua orang itu sadar, ia bertanya. “Apa yang terjadi?”
“Maling itu, tahan dia!” kata mereka sambil menuding keluar.
Tiong Li loncat keluar mengejar. Tapi ia heran dan bengong, melihat betapa pemuda pencuri kuda berada di situ dengan berdiri tenang, seakan-akan menantang sekali! Tiong Li marah melihat sikap orang, maka ia lalu membentak. “Pencuri kuda, hayo kau kembalikan kuda orang!”
“Hm, dari manakah datangnya orang kurang ajar ini? Majulah kalau kau mempunyai kepandaian!” jawab orang itu.
“Kurang ajar!” kata Tiong Li lalu ia menyerang untuk menotok pemuda itu dan mengalahkannya sekaligus.
Tidak tahunya pemuda itu gesit sekali dan dengan mudahnya menangkis pukulannya. Tiong Li terkejut karena lengan tangan yang menangkis pukulannya tadi demikian kuat dan mengandung tenaga besar sekali! Ia merasa sangat heran dan menyerang lagi dengan lebih hebat. Kini kedua-duanya heran dan terkejut karena tadinya mereka sangka akan dapat menjatuhkan lawannya dalam sekali gebrakan saja.
Tidak tahunya, kedua-duanya tidak berhasil dan selalu serangan-serangan kedua pihak dapat dikelit dengan mudah. Telah belasan jurus mereka bertanding dan keadaan mereka sama-sama kuat dan sama-sama cepat. Seperti juga halnya pemuda itu, Tiong Li makin heran saja karena lawannya benar-benar seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan lihai.
Sementara itu, dua orang yang terbebas dari totokan tadi, memburu keluar dengan membawa dua obor besar di tangan. Kini Tiong Li dapat melihat wajah orang muda itu di bawah sinar obor. Ternyata ia adalah seorang pemuda yang tampan sekali, tapi sepasang matanya mengeluarkan sinar tajam. Dan pemuda itu ketika melihat wajah Tiong Li di bawah sinar obor, mengeluarkan seruan kaget dan loncat berjumpalitan mundur sambil berseru.
“Tahan! Bukankah kau… Tiong Li??”
Tiong Li juga loncat mundur dan ia memandang lebih teliti lagi tapi belum juga ia dapat mengenali wajah itu. Sementara itu pemuda tampan itu maju dan memegang kedua lengannya dengan girang sekali dan sepasang matanya memandang mesra.
“Kau… lupakah padaku? Ingatkah si gagu dulu??” Maka teringatlah Tiong Li dan ia berkata dengan mata terbelalak, “Kau... Lian Eng….?? Kau sudah... sudah pandai bicara?”
Sambil masih pegang kedua lengan Tiong Li, dan kedua matanya meneteskan butir-butir air mata, Lian Eng mengangguk-angguk dan tersenyum penuh keharuan hati. “Ya, berkat pertolonganmu!”
Tapi Lian Eng heran melihat Tiong Li tidak begitu gembira melihat dia. “Tapi kau mengapa lakukan perbuatan ini?” tanya Tiong Li.
Maka mengertilah Lian Eng bahwa Tiong Li meragukannya karena peristiwa di kandang kuda itu. Ia tersenyum dan dengan tindakan lebar ia ajak Tiong Li masuk ke kandang itu di mana masih ada lima orang berdiri bagaikan patung. Lian Eng gerakkan tangannya dan sebentar saja kelima orang itu terbebas dari totokannya. Lian Eng pegang tangan seorang di antara mereka yang gemuk pendek dan menyeretnya di depan Tiong Li sambil membentak.
“Nah, sekarang kau akuilah semua kecuranganmu betapa kau telah menipuku. Kalau tidak, pasti kau akan kubunuh mampus!”
Dengan tubuh gemetar ketakutan orang gemuk yang pakaiannya mewah itu mengaku. Ternyata dia adalah tuan tanah pemilik tanah dan kerbau serta banyak sekali kuda pilihan.
Dua hari yang lalu ia kedatangan Lian Eng yang minta beli seekor kuda yang baik dengan harga berapa saja. Tadinya Lian Eng pilih seekor kuda bulu hitam yang pada malam hari ini ia bawa dengan paksa itu, tapi pemilik kuda yang licin itu segera mencegahnya dengan mengatakan bahwa kuda itu menderita semacam penyakit yang berat dan tidak kuat diajak jalan jauh.
Lalu ia keluarkan seekor kuda yang tinggi kurus dan bilang bahwa itulah kuda terbaik dan harganya pun paling mahal. Karena Lian Eng tidak mempunyai pengalaman tentang kuda, ia percaya saja dan membayar mahal untuk kuda tinggi kurus itu.
Tapi siapa kira, baru saja ia naik kuda itu dan belum ada setengah hari perjalanan, kuda itu tiba-tiba roboh dan napasnya empas-empis. Ternyata tulang kaki depannya patah dan ketika Lian Eng meraba memeriksanya, ternyata tulang itu pernah patah dan telah disambung!
Maka ia marah sekali dan dengan diam-diam ia mendatangi tuan tanah itu. Kebetulan sekali tuan tanah itu sedang membicarakan soalnya dan menertawakan kebodohannya dengan beberapa orang kaki tangannya, maka Lian Eng segera memaki mereka dan dengan paksa masuk ke kandang mengambil kuda hitam pilihannya itu dan mempersilakan mereka ambil kembali kuda yang hampir mati di tempat kuda itu roboh! Tentu saja tuan tanah itu tidak mau memberikan kudanya sehingga terjadi keributan itu.
Mendengar pengakuan tuan tanah itu giranglah hati Tiong Li, karena ternyata Lian Eng tidak salah dalam hal ini. Ia marah sekali kepada tuan tanah itu dan berkata. “Kau telah menjadi tuan tanah yang kaya, mengapa masih mau menipu orang? Kawanku ini masih berlaku murah. Kalau aku yang kau bodohi macam itu, tentu batok kepalamu telah kupecahkan!”
Dengan tubuh menggigil ketakutan, tuan tanah itu mohon ampun kepada Lian Eng dan Tiong Li..Tiong Li berkata pula. “Kami mau ampunkan kau, tapi sekarang kau harus keluarkan seekor kuda pula yang baik karena akupun butuh seekor. Jangan kau kira aku hendak merampok kudamu, berapa harganya asal pantas akan kubayar. Tapi awas, kalau kau tipu aku, jangan harap kau dapat lindungi kepalamu yang banyak tipu muslihat jahat itu!”
Dengan cepat dan sungguh-sungguh tuan tanah itu lalu mengeluarkan seekor kuda lain dan Tiong Li membayarnya sebanyak yang telah dikeluarkan oleh Lian Eng. Tentu saja tuan tanah itu girang sekali karena tadinya ia kira bahwa kedua pemuda itu tentu sebangsa begal kuda atau raja perampok! Demikianlah, keduanya lalu naik kuda, bersama tinggalkan tempat itu.
“Nona Lian Eng, mari kau mampir di tempat pondokanku dan kau jumpai seorang kawanku,” Tiong Li merasa likat-likat untuk menyebut gadis itu namanya saja, maka ia menyebutnya nona.
“Kau bermalam di manakah? Dan kau hendak ke mana?”
“Aku merantau tak tentu tujuan dan kebetulan bertemu denganmu di sini. Dan kau, hendak ke manakah?”
“Aku… aku… sengaja mencari-carimu, tapi tidak nyana dapat bertemu di tempat yang tak tersangka-sangka ini!” jawab Lian Eng.
“Eh, kau mencari-cariku? Ada keperluan, apakah, nona?” tanya Tiong Li yang dalam hatinya merasa girang sekali dapat mendengar gadis ini bercakap-cakap dan sembuh dari gagunya, karena biarpun hanya sedikit, setidaknya ia mempunyai jasa kecil juga terhadap kesembuhan ini!
“Aku mencarimu hanya untuk menyatakan terima kasihku yang tak terhingga besarnya. Kau telah menyembuhkan penyakit gaguku, ini berarti bahwa kau telah mengembalikan kebahagiaan hidupku.” Suara Lian Eng terdengar perlahan karena terharu.
“Sudahlah, jangan kau sebut-sebut hal itu, nona. Aku ikut merasa bahagia bahwa kau telah sembuh dan dapat bicara. Sebetulnya bukan aku yang menolongmu, juga pertolongan suhuku tidak berarti banyak, karena kalau seandainya kau tidak mendapatkan patung itu hingga suhu bisa mengambil obat di dalamnya, mungkin sampai kini kau belum sembuh dan harus menanti beberapa tahun lagi. Maka, sudahlah, anggap saja bahwa Thian Yang Maha Esa telah menolongmu!”
Setelah diam sejenak dan keharuan hatinya mereda, Lian Eng bertanya. “Kau tadi menyebut-nyebut seorang kawanmu. Siapakah dia?”
Tiong Li tersenyum dan menjawab, “Biar kau lihat sendiri saja, sebentar juga kita sampai di tempat penginapanku.”
Setiba mereka di depan rumah penginapan, mereka turun dari kuda dan menambatkan kedua binatang itu di batang pohon. Kemudian Lian Eng mengikuti Tiong Li masuk ke dalam rumah penginapan. Kebetulan sekali pada saat itu Hong Cu sedang berdiri membelakangi mereka dan memandang sebuah lukisan yang terpasang di dinding ruang tengah penginapan itu.
“Nah, kau lihat, siapakah dia itu?” kata Tiong Li perlahan.
Lian Eng memandang dan karena Hong Cu berdiri miring hingga wajahnya yang tersinar api lilin tampak nyata, Lian Eng segera mengenal dia. “Hong Cu!” Suaranya terdengar marah dan gemas, karena kembali ia dibikin sakit hati. Gadis ini berada di dalam rumah penginapan yang sama dengan Tiong Li! Alangkah mesranya hubungan mereka!
Lian Eng teringat hal-hal yangsudah-sudah, betapa dulu ia pernah bertempur dengan Hong Cu memperebutkan patung Dewi Kwan-im, dan betapa semenjak dulu hubungan Tiong Li dan Hong Cu tampak karib sekali. Ia yang mengagumi Tiong Li tentu saja merasa cemburu dan tidak senang.
“Kalau dia berada di sini, tentu kami akan membuat perhitungan dan melanjutkan perkelahian yang dulu!” katanya perlahan dengan gemas dan memandang tajam ke arah Hong Cu.
“Jangan, Lian Eng! Jangan kau menerbitkan keonaran di sini. Hong Cu adalah kawan, bukan lawan!”
Makin panaslah hati Lian Eng. “Hm, bukan lawan? Coba saja kita lihat tahun depan nanti di puncak Thang-la, kita akan menjadi lawan atau bukan? Lebih baik sekarang saja dia dan aku menetapkan siapa di antara kami berdua yang lebih unggul!”
“Lian Eng, jangan kau lakukan itu. Jangan kau serang dia!”
Lian Eng mendengar suara Tiong Li makin heran. “Kau perduli apa?” tanyanya marah karena terbakar rasa cemburu. “Aku tetap hendak tantang dia!” Lian Eng melangkah maju.
Tapi Tiong Li segera menangkap lengannya. “Lian Eng, kalau kau serang dia maka aku terpaksa putuskan hubungan kita sebagai kawan!”
Tersentak kagetlah Lian Eng mendengar kata-kata ini. Ia putar tubuhnya dan memandang kepada Tiong Li dengan tajam. “Apa katamu? Dan kalau aku tetap menyerang dia kau mau apa?” Lian Eng memang beradat keras dan tidak suka mengalah.
Sementara itu, Hong Cu mendengar percakapan mereka dan menengok. Ia heran melihat Tiong Li pegang lengan seorang pemuda cakap dan tampaknya mereka sedang cekcok. Hong Cu hendak menghampiri mereka, tapi ia tahan kakinya dengan dada berdebar ketika kenal bahwa pemuda yang sedang cekcok dengan Tiong Li itu bukan lain ialah Lian Eng!
Muka yang manis dengan mata yang tajam itu mudah saja dikenal. Ia tidak jadi mendekat dan perhatikan mereka dari situ saja. “Lian Eng, kalau kau tetap menyerangnya, terpaksa aku akan membelanya! Kau akan berhadapan dengan aku!”
Tiba-tiba Lian Eng tertawa, suaranya nyaring dan merdu, tapi suara ketawa itu mengandung ancaman yang mengerikan. “Ha, ha, ha, Tiong Li! Kau khawatir kalau-kalau ia kalah? Kau sudah merasa pasti bahwa ia kalah olehku?”
“Kalah menang bukan soal. Belum tentu ia kalah olehmu, tapi yang pasti, aku akan membela dia!”
“Seperti dulu juga, Tiong Li, kau yang telah melepas budi padaku, katakanlah terus terang, kau… cinta padanya?”
Tiong Li meramkan matanya sejenak lalu mengangguk dan menjawab. “Ya… begitulah kiranya.”
Sementara itu, Hong Cu mendengar percakapan itu mengerti bahwa dirinyalah yang dibicarakan, maka dengan ringan sekali ia meloncat ke arah mereka dan berkata. “Lian Eng, aku berada di sini. Kalau ada keperluan dengan aku, katakanlah terus terang.”
Tapi Lian Eng telah mendapat pukulan hebat dari pengakuan Tiong Li tadi, maka ia seakan-akan tidak mendengar dan tidak melihat Hong Cu, dengan mata penuh air mata ia pandang Tiong Li, lalu cepat ia balikkan tubuh dan cemplak kudanya setelah renggut putus kendali yang diikatkan di pohon! Ia bedal kudanya dengan cepat dan menghilang di dalam gelap.
Ketika Tiong Li berpaling ke arah Hong Cu, ternyata gadis itupun telah lenyap karena sejak tadi Hong Cu telah lari masuk ke dalam kamarnya. Hong Cu merasa gelisah dan biarpun tubuhnya berbaring di atas pembaringan, namun pikiran kacau balau membuat ia gelisah tidak karuan!
Baru saja ia mendengar pengakuan Tiong Li yang menyatakan bahwa pemuda itu mencintanya! Hong Cu merasa kasihan melihat Lian Eng, karena perasaan wanitanya dapat menduga dari pandang mata Lian Eng bahwa gadis itu mencinta Tiong Li! Sedangkan ia….. sendiri……. ah, ia tak dapat katakan, karena betapapun juga, hatinya masih condong kepada Siauw Ma, pemuda gagah perkasa yang jujur mengagumkan itu!
Tiong Li pun tahu bahwa tadi dengan tak disengaja ia buka rahasia hatinya di depan Hong Cu karena terpaksa oleh desakan Lian Eng, hingga ia lupa bahwa Hong Cu berada di dekatnya. Maka pada keesokan harinya, ketika ia bertemu dengan Hong Cu, ia berkata sambil tundukkan muka karena melihat betapa gadis itu tidak berani memandangnya, seakan-akan malu dan tak enak perasaan.
“Hong Cu, menyesal sekali terjadi hal semalam. Dia… dia memaksa hendak menimbulkan onar. Aku… aku…. maafkan jika aku mengucapkan sesuatu yang tidak pada tempatnya.”
“Sudahlah, jangan kita ulangi-ulangi lagi hal itu, aku kasihan melihat Lian Eng.”
Sekali lagi Tiong Li merasa heran terhadap Hong Cu. Mengapa gadis ini kasihan terhadap Lian Eng? Sungguh aneh! Tapi ia tidak berani lagi bicara tentang Lian Eng atau hal-hal yang menyangkut peristiwa malam tadi.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kota Tiong-an-kwan. Karena sikap Tiong Li yang gembira dan sopan, maka Hong Cu merasa senang dan rasa likatnya karena peristiwa malam itu lenyap dan pergaulannya dengan pemuda itu menjadi biasa pula.
Beberapa hari kemudian mereka tiba di kota itu. Melihat kota tempat tinggalnya, bukan main terharu dan gembira hati gadis itu hingga untuk beberapa lama ia tahan kudanya dan melihat rumah-rumah yang tidak banyak berubah itu dengan wajah berseri. Kemudian ia bedal kudanya menuju ke rumah orang tuanya.
Tapi, ketika ia meloncat turun dari kuda dan berlari-lari memasuki halaman rumah gedung yang sangat dirindukannya itu, ia menjadi kaget sekali melihat betapa rumah itu tampak sunyi senyap. Hampir saja ia bertabrakan dengan seorang pelayan tua yang keluar dari ruang dalam. “Lo-sam! Di mana ayah? Mana ibu??”
Pelayan tua itu menggunakan sepasang matanya yang sudah agak lamur untuk menatap wajah gadis itu dengan penuh keheranan. “Nona ini siapa? Suaramu seperti…… seperti……”
“Lo-sam, aku Hong Cu! Lupakah kau?” Gadis itu memegang lengan Lo-sam.
“Nona Hong Cu! Ya Tuhan Yang Maha Esa! Kau… nona Cu?” Dan tiba-tiba saja keluarlah air mata mengalir dari sepasang mata yang cekung itu.
“Kenapakah, Lo-sam? Mana ayah ibu?” Karena tak sabarnya, Hong Cu menggoyang-goyangkan pundak pelayan tua yang makin bingung dan terharu itu.
“Mereka…. mereka… telah… telah lenyap!”
“Apa katamu? Lo-sam, bicara yang benar. Mana mereka? Lenyap, apa….. apa maksudmu??” Hong Cu berkata keras hingga berteriak nyaring. Tiong Li yang mengikuti di belakangnya kini berdiri bingung dan khawatir.
“Seminggu yang lalu mereka lenyap! Entah ke mana dan entah bagaimana. Sekarangpun masih diselidiki oleh yang berwajib! Mereka….. mereka……. agaknya diculik orang!”
“Apa?!” dan Hong Cu tentu roboh terguling kalau tidak Tiong Li menahan tubuhnya yang pingsan.
Lo-sam gugup sekali, tapi ia agak lega ketika melihat betapa kawan nonanya itu biarpun masih muda sekali, namun ternyata berlaku tenang sekali menghadapi nonanya yang pingsan. Tiong Li mengangkat tubuh Hong Cu ke dalam kamar atas petunjuk Lo-sam, lalu membaringkan gadis itu di atas pembaringan. Kemudian ia mengeluarkan semacam obat bubuk dari keranjangnya dan memasukkan sedikit ke hidung Hong Cu yang segera berbangkis beberapa kali dan bangun duduk.
Untuk sesaat gadis itu memandang bingung, kemudian setelah teringat akan cerita Lo-sam, ia mendekap mukanya dengan tangan dan menangis sedih. “Tenangkan hatimu, Hong Cu. Orang tuamu belum ketahuan bagaimana nasibnya, mengapa kau menangis? Lebih baik biar kita mendengarkan cerita Lo-sam ini yang jelas, agar kita bisa segera mencari orang tuamu itu.”
Hong Cu menekan perasaannya dan Tiong Li lalu minta orang tua itu bercerita. “Seminggu yang lalu, malam-malam terdengar suara hiruk-pikuk di kamar tai-jin dan hu-jin, tapi sebentar kemudian suara itu lenyap. Kami para pelayan tidak berani mengganggu. Tapi pada keesokan harinya, ketika kami mengetuk pintu dan tidak mendapat jawaban, kami buka pintu itu dan ternyata tai-jin dan hu-jin telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Tapi jendela terbuka lebar dan di atas dinding terdapat sebuah lukisan yang mengerikan sekali.”
“Lukisan? Lukisan apakah dan masih adakah sekarang?” tanya Hong Cu sambil menahan isaknya.
“Masih, masih. Siapa berani menghapus lukisan setan itu?”
Cepat sekali Hong Cu loncat ke kamar orang tuanya, diikuti Tiong Li. Melihat gerakan kedua orang yang begitu cepat laksana menyambarnya kilat itu, Lo-sam bengong dan bergidik. Apakah nonanya juga paham ilmu setan? Demikian pikirnya dengan ngeri.
Ternyata di dinding kamar besar itu terdapat lukisan yang dilukis dengan baik. Lukisannya hanya hitam memanjang dan ketika diperhatikan ternyata itu adalah lukisan seekor ular hitam kepala dua!
“Siapakah penjahat yang memakai tanda ini?” tanya Hong Cu seperti bicara kepada diri sendiri.
“Akupun belum pernah mendengar tentang seorang yang memakai gelar Ular Hitam Kepala Dua! Tapi penjahat ini betapapun juga telah meninggalkan tanda. Baik kita selidiki dan tanya-tanyakan kepada orang-orang di kalangan liok-lim,” kata Tiong Li.
Tiba-tiba wajah Hong Cu berubah pucat. “Bagaimana kalau penjahat itu mencelakakan ayah ibuku?” Gadis itu kertak gigi dan sepasang matanya memancarkan api.
“Jangan khawatirkan yang bukan-bukan, Hong Cu. Kurasa penjahat itu menculik kedua orang tuamu dengan maksud tertentu. Kalau benar ia hendak mencelakakan mereka, bukankah lebih mudah mereka lakukan di sini? Perlu apa mereka bersusah payah menculik mereka?”
Hong Cu setujui pendapat ini dan ia berangkat pada saat itu juga untuk mulai mencari kedua orang tuanya. Tiong Li hanya menyetujuinya dan keduanya lalu berangkat, hingga Lo-sam kembali merasa heran hingga ia tak dapat berkata-kata.
Hong Cu yang ketika kecilnya sering ia ajak bermain-main, kini telah menjadi gadis cantik jelita dan mempunyai kepandaian seperti setan. Gadis yang dulu lenyap itu kini datang dan pergi lagi bagaikan seekor burung yang bersayap. Setelah dapat meredakan keheranannya, ia lalu berlari-lari keluar rumah untuk menceritakan peristiwa kedatangan Hong Cu itu kepada para tetangganya!
Mari kita ikuti Lian Eng yang dengan hati hancur dan kecewa bedal kudanya di malam kelam! Gadis ini merasa kecewa sekali, dan ia malu terhadap Hong Cu karena di depan gadis itu Tiong Li menyatakan cintanya kepada Hong Cu!
Biarpun ia belum menunjukkan perasaan hatinya kepada pemuda itu, namun pengakuan Tiong Li itu merupakan tamparan baginya. Ia tidak marah kepada Tiong Li, bahkan menghargai kejujurannya yang berterus terang, tapi betapapun juga ia tidak mudah menindas perasaan marah dan bencinya kepada Hong Cu, gadis yang dianggapnya sebagai perintang kebahagiaannya itu!
Ia teringat kepada Siauw Ma dan diam-diam ia makin bersedih. Sungguh nasib mempermainkan mereka! Siauw Ma cinta padanya tapi ia tertarik kepada Tiong Li yang ternyata mencinta Hong Cu. Jadi, dalam hal ini hanya Hong Cu yang beruntung dan tepat pilihannya! Ah, sungguh hal ini membuat ia makin iri hati kepada Hong Cu. Sedikitpun ia tak pernah mimpi bahwa Hong Cu juga menjadi korban keganjilan alam, karena Hong Cu ternyata mengandung hati cinta kepada Siauw Ma!
Demikianlah, semalam penuh Lian Eng melarikan kudanya hingga ketika malam telah terganti fajar, kudanya tak kuat berjalan lagi dan terpaksa ia turun. Ternyata mereka telah sampai di kaki sebuah bukit. Kalau malam tadi udara diterangi bulan, kini bulan yang sudah tenggelam membuat cuaca menjadi gelap.
Baiknya ada cahayanya lebih dulu sebelum raja siang itu sendiri keluar. Burung-burung pagi mulai berkicau, dari sebuah kampung yang agak jauh terdengar suara ayam berkokok. Mendengar suara itu dan melihat keadaan di sekelilingnya yang sunyi, timbullah perasaan sedih di hati Lian Eng. Ia merasa betapa hidupnya sebatangkara dan sunyi.
Kemudian secara samar-samar ia teringat bahwa orang tuanya mengalami bencana ketika ia masih kecil dan teringat akan kakeknya yang kini entah berada di mana. Makin sedihlah hati Lian Eng dan ia tidak dapat menahan pula kesedihannya hingga ia mendekap muka dengan kedua tangannya dan menangis terisak-isak di bawah sebatang pohon besar. Sungguh menyedihkan keadaan gadis itu.
Tiba-tiba Lian Eng mendengar suara helaan napas. Biarpun suara itu sangat perlahan, namun cukup untuk membuat ia sadar dan meloncat bangun. Ternyata di belakangnya telah berdiri seorang pemuda cakap dan ketika ia memandang lebih teliti, orang itu bukan lain ialah Siauw Liong!
“Nona Lian Eng, mengapa kau berada seorang diri dan bersedih di sini?” tanyanya.
“Tidak ada sangkut-pautnya dengan kau. Pergilah kau sebelum aku menjadi marah.”
Siauw Liong tidak mau pergi, bahkan menyandarkan diri pada batang pohon siong itu sambil tersenyum dan memangku kedua lengan. “Memang dunia ini tempat yang mengecewakan, bukan? Aku tahu mengapa kau bersedih. Apa kau kira aku tidak mengetahui pertemuanmu dengan Tiong Li si tukang obat. Hm, orang macam dia itu tak patut dipikirkan.”
Lian Eng menjadi heran sekali mengapa setan ini tahu saja urusan orang. “Jangan sebut-sebut Tiong Li, aku tidak mempunyai urusan sesuatu dengan dia. Dan kau pergilah, mengapa jual obrolan di sini?”
Siauw Liong berkata dengan halus. “Aku kasihan kepadamu, nona. Seperti dulu pernah kukatakan, aku ingin sekali menjadi sahabat baikmu, maka baiklah aku berterus terang saja. Tiong Li adalah seorang rendah yang tak pantas dijadikan teman. Dia dan Hong Cu adalah orang-orang tak tahu malu. Coba kau pikir, mereka itu seorang pemuda dan seorang gadis, tapi telah melakukan perjalanan dan hidup sebagai sepasang suami isteri saja. Bukankah hal itu melanggar pula peraturan dunia kang-ouw? Mereka itu patut dibasmi dan dibunuh. Kalau kau merasa sakit hati kepada mereka, jangan khawatir, aku Siauw Liong masih sanggup membinasakan mereka!”
“Cukup kata-katamu!” Lian Eng membentak. “Apa kau kira kepandaianmu sudah tidak ada lawannya maka kau berani menyombong di depanku? Coba kau terima seranganku ini!” Sambil berkata demikian, Lian Eng segera melayangkan pukulan Huo-mo-kang yang sakti dan hebat!
Tentu saja Siauw Liong menjadi terkejut sekali. Tadinya ia mengharap bahwa bujukan dan kebohongannya akan berhasil, tidak tahunya Lian Eng bahkan menjadi marah dan menyerangnya! Ia maklum akan kelihaian Huo-mo-kang, maka cepat sekali ia loncat berkelit jauh sambil berkata.
“Nona Lian Eng, mengapa kau malahan menyerangku? Aku bermaksud baik, semua ini terbit dari hatiku yang mencinta padamu.”
“Diam kau, bangsat!”
“Nona Lian Eng, kau benar-benar telah buta! Kalau dulu kau hanya gagu, sekarang kau buta. Kau telah tergila-gila kepada Tiong Li yang hina dan rendah. Sungguh memalukan!”
Bukan main marah hati Lian Eng. Ia loncat menyerang lagi dan Siauw Liong menggunakan seluruh kepandaiannya untuk melawan. Ternyata Siauw Liong juga bukan lemah. Ia memiliki lwee-kang yang tinggi dan gin-kang yang cukup hebat pula.
Pula, kedua lengan tangannya telah terendam bisa yang keras hingga kulit lengannya itu telah menjadi berbisa. Berbahayalah orang kalau sampai tersentuh lengan berbisa itu, karena bisa mati seketika itu juga! Karena inilah, maka Siauw Liong selalu memakai sarung tangan panjang sampai ke siku.
Sekarang, menghadapi Lian Eng yang lihai, cepat ia berkelahi sambil melepaskan kedua sarung tangannya hingga tampak kulit lengan yang berwarna merah kehijau-hijauan dan mengeluarkan bau harum-harum memabokkan. Lian Eng tahan napasnya dan mengerti bahwa Siauw Liong tak boleh dibuat gegabah, maka iapun kerahkan tenaganya dan menyerang makin hebat.
Kini semua rasa mendongkol dan marahnya ditumpahkan kepada Siauw Liong! Biarpun Siauw Liong memiliki kepandaian yang tinggi dan jarang terdapat orang sepandai dia, namun kali ini menghadapi murid Huo Mo-li yang sedang marah, ia menjadi sibuk juga.
Kedua tangan Lian Eng yang mengeluarkan hawa panas sekali itu menyambar-nyambar hebat dan setiap pukulan mengancam jiwanya! Karena inilah maka Siauw Liong tak kuat menahan dan berkelahi sambil mundur. Ketika ia mendapat kesempatan, ia lari ke atas bukit itu.
Namun Lian Eng berseru. “Kau hendak lari ke mana?” dan gadis itu tetap mengejarnya dengan cepat.
Ilmu lari cepat Siauw Liong masih kalah kalau dibandingkan dengan Lian Eng hingga sebentar saja gadis itu dapat mengejarnya. Mereka bertempur lagi dengan hebat di mana saja mereka bertemu. Di pinggir jurang, di lereng bukit, di atas batu-batu besar. Gerakan mereka demikian cepat dan gesit hingga kalau dilihat dari bawah bukit, keduanya merupakan sepasang burung besar tengah bertempur ramai.
Lian Eng sama sekali tidak mengira bahwa ia dipancing oleh lawannya menuju ke sarang Siauw Liong yang baru. Pemuda itu telah memilih bukit itu sebagai tempat tinggalnya dan telah melengkapi bukit itu dengan tempat-tempat rahasia yang berbahaya! Kini ia yang tidak kuat melawan Lian Eng, sengaja lari dan pancing gadis itu naik bukit.
Ketika mereka berkelahi dan lari saling kejar sampai di puncak, tiba-tiba Siauw Liong lari memasuki segerombolan pohon. Lian Eng mengejar dengan gemas ketika dilihatnya betapa Siauw Liong menengok dan memandang padanya dengan senyum mengejek.
Tapi tiba-tiba saja tanah yang diinjaknya terbuka dan tubuhnya terjeblos ke bawah! Ini adalah sebuah dari pada tempat-tempat rahasia Siauw Liong yang merupakan jebakan berbahaya. Tanah di situ hanya palsu, dan di bawah terpasang papan-papan besi yang dapat digerakkan dan dibuka hanya dengan menekan per yang dipasang dengan licin di sebuah batang pohon.
Tadi ketika Lian Eng mengejarnya, Siauw Liong gerakkan papan itu hingga tiba-tiba terbuka di bawah kaki Lian Eng yang tidak sempat loncat menghindari bahaya ini. Tapi Lian Eng berkepandaian tinggi sekali, maka dengan menggunakan gin-kangnya, ketika kakinya menyentuh tanah di bawah, cepat sekali ia telah membal kembali ke atas.
Namun, alangkah terkejutnya ketika ia tidak melihat lubang di atasnya karena papan-papan besi itu telah tertutup kembali. Sambil meloncat, Lian Eng menggunakan tangannya mendorong tapi tubuhnya segera turun kembali ke bawah. Ia tidak berdaya keluar, maka ia segera perhatikan keadaan sumur di mana ia terjatuh itu.
Ruang di mana ia terjatuh adalah semacam gua di bawah tanah, dan ia melihat dirinya terkurung kerangkeng besi. Lian Eng tersenyum geli dan ia merasa lega, karena apa artinya kerangkeng besi ini baginya? Dengan sekali dorong saja maka terbukalah pintu kerangkeng itu dan ia lalu keluar.
Ternyata gua itu memanjang dan gelap sekali, tapi mata Lian Eng yang sudah terlatih dapat juga melihat bahwa dinding gua itu adalah batu cadas hitam yang kuat sekali. Ia menduga-duga jalan itu akan menembus ke mana, tapi dengan tabah dan berani ia maju melangkah terus ke depan.
Pada sebuah tikungan, tiba-tiba dari luar menyorot masuk sinar terang dan terdengar suara tertawa orang. Ia heran sekali karena yang tertawa adalah dua orang, seorang laki-laki dan seorang wanita!
Ia kenali bahwa suara tawa laki-laki itu adalah suara Siauw Liong, tapi wanita itu entah siapa. Dan kini jalan itu melebar dan tampaklah ruang yang luas sekali di bawah tanah, sedangkan cahaya yang masuk adalah cahaya matahari yang entah menembus dari mana dapat masuk ke situ.
Ternyata Siauw Liong telah menemukan dan membuat tempat tinggal di atas bukit itu dengan sempurna sekali. Tempat tinggal di bawah tanah! Tiba-tiba ia mendengar suara Siauw Liong yang berkata, “Lian Eng, kau menyerahlah saja dan menjadi kawanku!”
“Bangsat curang dan pengecut! Tunggulah, sebentar lagi aku akan membuat kau menjadi kawan cacing tanah!” seru Lian Eng dengan gemas sekali.
Tapi pada saat itu juga, dari kanan kiri dan depan belakang terdengar desis keras dan tahu-tahu semacam asap putih menyembur padanya. Lian Eng terkejut dan mencoba menahan napasnya, tapi terlambat. Ia telah menyedot asap itu dan mencium bau harum sekali dan tiba-tiba kepalanya menjadi pening dan pandang matanya gelap. Lapat-lapat ia mendengar suara ketawa Siauw Liong dan bentakan suara wanita.
“Kau... laki-laki tidak setia!” Setelah itu Lian Eng roboh pingsan!
Setelah gadis pendekar itu roboh pingsan tak berdaya, maka keluarlah Siauw Liong dari tempat persembunyiannya dan tertawa bergelak-gelak. Di belakangnya datang seorang perempuan muda yang cantik dan berpakaian warna merah yang mewah sekali.
Ternyata perempuan itu bukan lain ialah Ang-ie-nio-nio, wanita lihai sumoi dari Kwie-eng-cu yang terbunuh oleh Hong Cu dulu itu, bahkan wanita inipun telah dipatahkan tangannya oleh Hong Cu! Bagaimanakah wanita baju merah ini bisa berada di situ bersama Siauw Liong?
Beberapa tahun yang lalu, ketika guru Siauw Liong, yakni Tok-kak-coa yang lihai dan jahat mendapat luka-luka parah dan dibikin menjadi seorang bercacat oleh Huo Mo-li, maka dengan hati sedih dan malu Siauw Liong menggendong gurunya yang sudah tiga perempat mati itu masuk ke dalam gua ular. Di dalam gua Siauw Liong membanting tubuh suhunya di atas pembaringan batu dan ia sendiri duduk sambil menunjang dagu.
Ia memang sama sekali tidak mempunyai rasa sayang kepada suhunya itu, apa lagi setelah melihat betapa suhunya kini menjadi orang tidak berguna, maka ia sama sekali tidak perduli. Ia lebih banyak memikirkan diri sendiri, dan bagaimana ia harus bertindak untuk kepentingan dirinya. Ia pikir hendak meninggalkan gurunya biar mampus kelaparan di dalam gua. Tapi kemudian timbul pikirannya bahwa kalau ia pergi, ia hendak pergi ke manakah?
Ia merasa sakit hati sekali kepada Thang-la Sam-sian dan murid-muridnya yang telah menghinanya. Untuk membalas dendam, kepandaiannya terlampau rendah. Pada saat ia duduk melamun, suhunya sadar dari pingsannya yang kedua kalinya, lalu berusaha untuk bangun duduk, tapi ia tidak kuat, maka ia memandang kepada Siauw Liong dan berkata lemah. “Siauw Liong, bantulah aku bangun.”
Siauw Liong menengok dengan pandang jemu. “Bangunlah sendiri!” bentaknya kasar.
Gurunya diam saja dan berkata dengan lemah, “Sesukamulah, kau boleh biarkan aku mampus di sini, tapi kau sendiri akan menjadi orang tidak berguna dan akhirnya kaupun akan mampus dengan terlantar, dihina sana-sini!”
Mendengar kata-kata suhunya Siauw Liong marah sekali dan loncat bangun dengan kepalan tangan terangkat hendak memukul mati suhunya yang telah menjadi orang lemah tiada guna itu. Tapi ia turunkan lagi tangannya ketika melihat betapa wajah suhunya menyeringai dan mengejeknya, lalu anak muda itu jatuhkan diri sambil menangis sedih.
“Aah… aku harus berbuat apa… bagaimanakah dengan nasibku kelak…” demikian ia mengeluh.
“Kalau kau dapat mewarisi kepandaianku, tentu kau takkan terhina orang lain.”
“Kau… sudah menjadi orang tidak berguna,” kata Siauw Liong putus asa.
“Asal aku dapat hidup lebih lama, tentu dapat kudidik kau.”
Maka teringatlah Siauw Liong akan obat pemberian Si Tabib Dewa untuk suhunya maka ia lalu berkata. “Aku mau merawat kau sampai sembuh, suhu. Tapi kau harus turunkan semua kepandaianmu dan mengajarku sampai pandai betul."
Suhunya keluarkan senyum kemenangan. “Habis kau tadi pikir bagaimana, anak bodoh? Kalau aku tidak turunkan kepandaianku, habis kepada siapa lagi? Kalau bukan kau yang balaskan sakit hatiku, habis siapa lagi yang sanggup?”
“Siapa sudi balaskan sakit hatimu? Kau jatuh ke tangan mereka adalah karena kebodohanmu sendiri, ada sangkut paut apakah dengan diriku? Tapi bagaimanapun juga, kalau aku sudah pandai, pasti akan kucari murid-murid Thang-la Sam-sian untuk menghajar mereka dan memuaskan hatiku.”
Suhunya perdengarkan suara ketawa ha, ha, hi, hi. “Itu sama saja… sama saja…”
Semenjak itu, Siauw Liong merawat suhunya dengan menggunakan obat mujijat dari Kiang Cu Liong. Dengan teliti Siauw Liong merawat Tok-kak-coa sampai beberapa bulan, karena ia melakukan itu dengan mempunyai maksud tertentu, yakni memeras keluar semua kepandaian suhunya ini kalau sudah sembuh. Akhirnya sembuhlah Tok-kak-coa, walaupun ia harus berjalan pincang dan tubuhnya makin bongkok serta tenaganya lenyap sama sekali dan menjadi lemah.
Akan tetapi, karena otak Siauw Liong cerdik sekali, ditambah pula Tok-kak-coa juga mengajar dengan sungguh-sungguh hati karena iapun mempunyai maksud, yakni hendak menjadikan Siauw Liong seorang yang pandai sekali agar dapat membalaskan sakit hatinya, maka Siauw Liong maju pesat. Ia mengajar teorinya saja dan Siauw Liong berlatih silat di bawah pengawasannya.
Biarpun ia sendiri tak dapat memberi bukti kehebatan pelajaran silat yang diajarkannya, tapi ia masih juga dapat memberi contoh gerakan-gerakannya, walaupun dengan lemah dan lambat. Namun, ia dapat menegur semua kesalahan dalam gerak pelajaran, hingga bagaimanapun juga, akhirnya Siauw Liong dapat juga mewaris ilmu kepandaiannya yang memang hebat.
Bahkan Siauw Liong demikian pintarnya dan dapat mempelajari ilmu tongkat suhunya serta mengubahnya dengan tipu-tipu tambahannya sendiri di bawah pengawasan dan petunjuk suhunya. Ilmu tongkatnya ini diberi nama Ilmu Tongkat Ular Hitam Kepala Dua! Juga dari suhunya, Siauw Liong mempelajari kegunaan racun ular dan binatang berbisa lainnya yang jahat dan berbahaya. Kedua lengan tangannya bahkan oleh suhunya direndam dalam bisa hingga menjadi lihai dan berbahaya.
Kurang lebih empat tahun kemudian, Siauw Liong telah menjadi pandai dan bahkan ia lebih hebat dari Tok-kak-coa, karena selain dia memiliki tenaga besar, juga ilmu tongkatnya dan kedua lengannya merupakan kelebihan dari pada suhunya. Ia lalu meninggalkan suhunya, dan ketika suhunya minta ia menanti beberapa tahun lagi, Siauw Liong menjadi marah dan hampir saja ia memukul mati suhunya itu!
Dengan mengandalkan kepandaiannya yang tinggi, Siauw Liong malang melintang di dunia kang-ouw dengan pakai julukan Ular Hitam Kepala Dua. Ia memang mempunyai watak yang jahat dan dasarnya memang tidak baik, maka sebentar saja ia telah melakukan berbagai kejahatan. Ia merampok orang-orang hartawan dan mengumpulkan harta besar yang disimpannya di atas bukit Kee-san, di sana ia membuat terowongan di bawah tanah yang dipasangi banyak jebakan rahasia yang lihai.
Di situlah ia mengumpulkan harta rampasannya. Selain merampok, Siauw Liong juga seringkali melakukan perbuatan rendah dan terkenal sebagai seorang penjahat pemetik bunga. Tiap kali melakukan kejahatan, ia selalu meninggalkan tanda lukisan ular hitam kepala dua.
Sebagaimana mudah diduga, yang melakukan kekacauan dengan menyerbu Kelenteng Kwan-im-bio dan berhasil membunuh Cin Hwa Sianli dan Kim Bok Sianjin serta berhasil pula menggondol pergi patung Kwan-im Pouwsat adalah pemudajahat ini. Ia sengaja memakai kedok sutera hitam agar Kim Hwa Sianli salah sangka dan bingung.
Perbuatan ini sengaja ia lakukan mencontoh perbuatan suhunya dulu, yakni mengadu dombakan ketua Kwan-im-kauw dengan orang lain. Selain ini, masih banyak kejahatan lain ia lakukan. Belum lama ini ia bertemu dengan seorang gadis cantik baju merah, yakni Ang- ie-nio-nio....