Patung Dewi Kwan Im Jilid 13

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Patung Dewi Kwan Im Jilid 13
Sonny Ogawa
Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Patung Dewi Kwan Im Jilid 13, karya Kho Ping Hoo - SOUW CIN OK mengangguk-angguk tanda setuju. Maka ketika mereka disambut dengan penuh kegembiraan oleh tuan rumah yang sangat menghormat Souw Cin Ok karena orang tua ini cukup terkenal, Souw Cin Ok memperkenalkan Hong Cu sebagai anak adiknya!

Biarpun demikian, namun tetap saja Hong Cu menjadi pusat perhatian, terutama dari golongan muda, karena siapakah yang takkan memperhatikan gadis yang cantik jelita itu? Semua orang menduga, sampai di mana kepandaian gadis yang menjadi kemenakan Souw Cin Ok yang mereka sebut Souw lo-enghiong.

Untung bagi Hong Cu bahwa pergaulan Lim-wangwe sedemikian luasnya hingga ada juga datang tamu-tamu wanita yang terdiri dari wanita-wanita gagah berjumlah tidak kurang duapuluh orang. Maka Hong Cu lalu diantar ke tempat rombongan tamu wanita ini.

Seorang wanita tua yang memegang tongkat hitam dan yang menjadi kenalan baik Souw Cin Ok, segera menyambut gadis itu dan diajaknya duduk di dekatnya. Wanita bertongkat itu adalah seorang wanita cabang atas dari Kang-lam dan sikapnya ramah-tamah hingga Hong Cu merasa gembira.

Di antara para tamu wanita, tampak seorang perempuan muda yang berpakaian merah dan di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang bersarung terukir indah. Perempuan muda itu berwajah cantik dan berpakaian mewah, bahkan di sanggul rambutnya tampak berkeredepan hiasan rambut dari mutiara. Hong Cu memandang sekejap perempuan itu dengan kagum, tapi ketika melihat betapa sinar mata perempuan itu sangat lincah dan genit, ia merasa tidak suka padanya.

Sebaliknya perempuan baju merah itu memandang Hong Cu dengan wajah terangkat dan sikap yang sombong sekali. Hong Cu tidak perdulikan ia pula, dan bercakap-cakap dengan Kang-lam Toanio, yakni wanita tua bertongkat itu.

Souw Cin Ok karena dianggap seorang yang mempunyai tingkat lebih tinggi dari tuan rumah, bahkan paling tinggi di antara kebanyakan para tamu, mendapat tempat duduk istimewa dan dicampurkan dengan beberapa tokoh persilatan yang dianggap sebagai cianpwe.

Di meja para locianpwe ini berkumpul lima orang, jadi sekarang menjadi enam orang dengan Souw Cin Ok. Kelima orang terdahulu ketika melihat Souw Cin Ok, serentak berdiri dan memberi hormat kepada orang tua gagah ini.

Melihat orang-orang yang telah dikenalnya baik-baik sebagai tokoh-tokoh kang-ouw yang berkumpul di situ, Souw Cin Ok juga merasa gembira sekali, tapi untuk beberapa saat matanya memandang tajam ke sekeliling tempat itu yang penuh tamu, agaknya mencari-cari seseorang.

Ketika melihat perempuan muda yang berbaju merah di rombongan tamu wanita, ia memandang penuh perhatian, tapi tidak mengenalnya dan segera mengalihkan pandang matanya. Maka asyiklah ia bercakap-cakap dengan para kenalannya itu.

Pada saat itu, dari luar masuk seorang tamu baru yang menarik perhatian. Banyak tamu berdiri sebagai tanda hormat kepada tamu baru ini dan tuan rumah sendiri berikut kedua orang puteranya ikut mengantar masuk tamu ini. Ia adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih tigapuluh lima tahun dan wajahnya gagah dengan kumisnya yang dipotong pendek. Matanya liar dan lebar memandang dengan berani ke depan. Pakaiannya rapi dan wajahnya yang tampak semakin gagah oleh bentuk tubuhnya yang tegap dan dadanya yang bidang.

Pendeknya, ia seorang laki-laki yang tampan dan gagah. Di pinggangnya tergantung pedang panjang dan pakaiannya berwarna hijau dengan sabuk sutera kuning yang melambai-lambai di depan tubuhnya. Potongan tubuhnya selain tegap dan kokoh kuat, juga sangat tinggi.

Ketika melalui rombongan tamu wanita, ia melirik tajam dengan tersenyum memikat. Tiba-tiba perempuan muda berbaju merah itu cepat menghampirinya dengan wajah berseri dan berseru memanggil, “Ji-suheng!” Kemudian ia pegang lengan suhengnya itu dengan mesra sekali.

Laki-laki itu balas memandang dengan heran dan gembira juga. “Sumoi, kau di sini juga?” Kemudian, sambil balas pegang lengan sumoinya, ia berpaling kepada tuan rumah.

“Lim Lo-enghiong, sudah tahukah kau? Ini adalah Ang-ie-nio-nio, adik seperguruanku sendiri.”

Terkejutlah Lim-wangwe mendengar ini. Ia tidak sangka sama sekali bahwa tamu perempuan itu adalah Ang-ie-nio-nio yang terkenal lihai, apa lagi setelah diketahuinya bahwa perempuan muda itu bukan lain adalah adik seperguruan tamu barunya ini! Dengan wajah merah Lim-wangwe menjura ke arah Ang-ie-nio-nio dan berkata.

“Maaf, maaf, lohu sudah tua dan lamur hingga tidak mengenal nio-nio yang terhormat. Mari, mari, silakan duduk di sini dengan suhengmu.”

Dan Lim-wangwe mengajak kedua orang itu duduk di meja kehormatan, bahkan untuk laki-laki itu ia berikan kursinya sendiri yang terhias kain berwarna. Laki-laki itu merasa terhormat sekali dan tanpa sungkan-sungkan lagi ia menduduki kursi itu sambil mengobrol gembira dengan perempuan baju merah itu. Tuan rumah yang tua dan peramah itu tak diperdulikannya lagi!

Siapakah laki-laki gagah yang agaknya sangat berpengaruh dan terkenal ini? Ia bukan lain adalah seorang ahli silat yang sangat terkenal karena kelihaiannya dan mendapat julukan Kwie-eng-cu atau Si Bayangan Iblis!

Telah bertahun-tahun ia menjagoi di kalangan kang-ouw dan boleh dibilang selama bertahun-tahun itu ia belum pernah menemukan tandingannya! Juga, selain Lihai ilmu silatnya, ia terkenal kejam terhadap lawannya. Ia sebenarnya adalah orang kedua dari Tiang-an Sam-koai atau Tiga Iblis dari Tiang-an.

Orang pertama adalah suhengnya dan orang ketiga adalah sutenya. Ketiga saudara seperguruan ini memang terkenal ahli ilmu pedang yang jarang tandingannya, sedangkan Ang-ie-nio-nio adalah sumoi mereka yang juga mempunyai nama terkenal sekali. Maka tidak heran bahwa tuan rumah dan tamu-tamu lain demikian menghormatnya hingga ia mendapat tempat paling terhormat.

Pada saat itu, Lim-wangwe yang merasa dirinya dikesampingkan, lalu berkata, “Taihiap apakah sudah bertemu dengan para cianpwe di sana?”

Kwie-eng-cu memandang ke arah rombongan orang tua itu. Ia mengangkat tangan sebagai pembalasan hormat kepada para locianpwe yang berdiri menjura kepadanya! Kemudian ia melihat Souw Cin Ok yang tidak mau berdiri dan tidak mau memberi hormat kepadanya. Tiba-tiba senyumnya terhenti dan ia bangun berdiri perlahan-lahan sambil memandang tajam kepada Souw Cin Ok yang pada saat itu juga tengah memandangnya dengan tak kalah tajam!

Kemudian, dengan perlahan dan mulut menyeringai, Kwie-eng-cu bertindak perlahan ke arah tempat duduk Souw Cin Ok yang sementara itupun telah bangkit berdiri dari kursinya dengan perlahan. Semua tamu melihat hal ini, segera menaruh perhatian besar hingga di saat itu semua mata para tamu ditujukan kepada dua orang itu dan sedikitpun tak terdengar orang bercakap-cakap!

Keadaan sangat tegang dan orang-orang menduga-duga apakah yang akan terjadi di antara kedua jago besar itu. Ang-ie-nio-nio juga berdiri dan mengikuti suhengnya dengan perlahan, karena iapun belum tahu apakah yang menyebabkan suhengnya tampak marah itu.

Hong Cu juga melihat hal ini, tapi ia tidak berdiri seperti orang-orang di dekatnya yang hendak menonton peristiwa yang akan terjadi, malahan gadis itu duduk sambil memungut kwaci dari piring dan makan kwaci seenaknya!

Setelah di depan Souw Cin Ok, Kwie-eng-cu berdongak ke atas dan tertawa berkakakan. “Ha, ha, ha! Benar-benar kaukah ini? Ah, kusangka tadi bahwa aku telah melihat setan. Masih hidupkah kau? Benar-benar twa-suheng telah bekerja setengah matang! Ia telah melewati tua bangka ini dan membiarkan ia hidup!”

Souw Cin Ok tersenyum menyindir. “Kwie-eng-cu! Kukira kau tidak seburuk suhengmu itu, tapi tidak tahunya memang ketiga setan dari Tiang-an adalah orang-orang rendah dan busuk! Kau tahu sendiri, setelah sekarang bertemu dengan aku di sini, pasti malam ini kalau bukan kau, tentu akulah yang akan membasahi bumi dengan darah kematian!”

“Ha, ha! Kau tua bangka yang tinggal menanti datangnya malaikat maut, sungguh masih berani mati. Memang seharusnya kau dimusnahkan bersama-sama anakmu, tapi entah mengapa suheng membiarkan kau hidup!”

“Kwie-eng-cu, kau tidak hanya busuk di dalam hatimu, tapi juga rendah di mulut. Kalau kau memang seorang jantan, hayo keluar dari tempat Lim-enghiong dan kita membuat perhitungan di luar!”

“Aah, kau pintar dan licin! Kau hendak keluar untuk kemudian kabur di dalam gelap? Tidak, tua bangka she Souw! Kau harus mampus di sini, di tempat terang ini. Kita bertanding secara jujur dan adil di tempat terang, disaksikan ratusan orang gagah, maka kalau kau matipun, takkan penasaran lagi!”

Tapi Souw Cin Ok masih menghargai tuan rumah dan tidak sudi membuat onar di pesta itu. Ia loncat dari situ hendak pergi keluar sambil berkata..“Aku tidak serendah kau! Hayo kita keluar! Apakah kau juga hendak menghina Lim-enghiong?”

“Ah, orang penakut. Siapa yang memandang rendah tuan rumah? Coba kau dengar!” Ia lalu menghadapi Lim-wangwe yang berdiri di situ dengan wajah pucat. “Lim lo-enghiong, apakah kau berkeberatan kalau tempatmu ini kupinjam untuk berpibu (mengadu kepandaian silat) dengan Souw Cin Ok?”

Lim-wangwe kenal akan kelihaian dan kegalakan Kwie-eng-cu, maka ia tak mungkin dapat menolak, dan dengan menyimpang ia menjawab, “Ini bukan urusan yang menyangkut pribadiku, maka bagaimana aku dapat melarang? Hanya, harap saja ji-wi ingat bahwa hari ini adalah hari baikku, janganlah rusakkan itu dengan mengalirkan darah di tamanku.”

“Nah, kau dengar, tua bangka she Souw? Tuan rumah tidak berkeberatan apa-apa. Dasar kau yang pengecut!”

Marahlah Souw Cin Ok mendengar ini. Ia tahu bahwa Kwie-eng- cu memiliki kepandaian tinggi, tapi ia telah nekat hendak mengadu jiwa. Ia lalu loncat ke tempat yang kosong dan luas di taman itu, dan berkata. “Kwie-eng-cu, iblis tak berperikemanusiaan. Kau majulah dan kita boleh coba-coba!”

Kwie-eng-cu tertawa lagi. Ia lepaskan jubah luarnya dan kini hanya memakai baju yang sangat ringkas berwarna hitam. Ia cabut pedangnya yang mengeluarkan sinar berkilauan, gerak-gerakkan pedangnya itu.ke kanan kiri hingga sinarnya menyilaukan mata, kemudian dengan sekali gerakkan kaki ia telah loncat berdiri di depan Souw Cin Ok sambil tersenyum dingin.

Ia tadi turunkan kakinya dengan perlahan sekali, tapi ketika ia angkat kakinya, batu besar yang diinjaknya telah pecah menjadi empat! Hal ini terlihat nyata sekali oleh orang-orang yang duduk di sekeliling tempat itu hingga diam-diam mereka leletkan lidah melihat demonstrasi tenaga lwee-kang yang benar-benar tidak boleh dipandang ringan itu!

Tapi Souw Cin Ok hanya tersenyum sindir dan sama sekali tidak takut. Hanya sayang bahwa orang tua ini tidak memegang senjata apa-apa dan hendak menghadapi lawannya ini dengan tangan kosong.

“Keluarkan senjatamu!” Kwie-eng-cu berseru keras karena ia tidak mau dianggap curang.

“Mengapa harus bersenjata? Aku tidak membawa senjata, tapi jangan kira bahwa hal itu membuat aku jerih padamu!”

Sebelum Kwie-eng-cu menjawab, tiba tiba tampak berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu Ang-ie-nio-nio telah berdiri di dekat suhengnya. Gerak loncat ini demikian cepat hingga kembali menimbulkan kekaguman di antara para tamu.

“Ji-suheng! Untuk memukul anjing kurus tua mengapa harus menggunakan tongkat besar? Mundurlah kaudanbiarkan sumoimu menghadapinya. Ia tidak bersenjata, biar kuhadapi dengan kedua tanganku juga.”

Kwie-eng-cu maklum bahwa sumoinya hendak memperlihatkan kepandaiannya yang istimewa, yakni Ang-see-ciang atau Tangan Pasir Merah yang lihai! Maka iapun tertawa lagi dan berkata. “Majulah, sumoi. Tapi hati-hati, anjing tua ini masih bisa menggigit!”

Hinaan-hinaan dan maki-makian yang dilontarkan kepadanya ini membuat Souw Cin Ok meluap-luap nafsu marahnya dan tanpa menjawab lagi ia hadapi Ang-ie-nio-nio sambil berkata. “Kamu orang-orang jahat, hayo majulah jangan banyak membuang waktu!” Ia lalu maju menyerang Ang-ie-nio-nio dengan hebat!

Tapi perempuan baju merah ini ternyata seorang lawan yang lihai juga. Setelah bertempur puluhan jurus, perlahan-lahan Ang-ie- nio-nio keluarkan ilmunya hingga kedua lengan tangannya berubah menjadi merah dan dari kedua tangannya itu menyambar tenaga yang luar biasa hingga Souw Cin Ok menjadi terkejut.

Tapi kakek ini adalah murid Hwat Kong Tosu, walaupun ia hanya mewarisi kepandaian silat yang umum dan bukan ilmu silat simpanan dari tokoh Thang-la itu, namun Souw Cin Ok Cukup lihai dan hati-hati. Ia segera mengubah ilmu silatnya yang banyak macamnya itu, lalu dengan cepat ia bersilat dengan tipu pukulan Delapan Dewa Mabok.

Gerakannya cepat tak terduga, dan ia melancarkan serangan-serangan dengan tenaga lwee-kang hingga dapat membentur kembali tenaga mujijat yang keluar dari Ang-see-ciang dari lawannya itu. Karena ini maka kembali Ang-ie-nio-nio terdesak mundur!

Semua orang menonton perkelahian ini dengan hati berdebar. Mereka tahu bahwa yang berkelahi adalah orang pandai dan tak mungkin memisahkan mereka, sedangkan pertempuran itu adalah pertempuran di antara orang-orang yang menaruh hati dendam, maka tentu dilakukan mati-matian.

Melihat keganasan Ang-ie-nio-nio dan kehebatan ilmu silat kakek tua semua orang menjadi kagum, tapi mereka tidak berani berpihak secara berterang, biarpun di dalam hati kebanyakan para tamu berpihak kepada Souw Cin Ok.

Kwie-eng-cu melihat betapa sumoinya terdesak hebat oleh Souw Cin Ok yang lihai, menjadi terkejut. Ternyata ilmu silat kakek itu makin maju saja! Maka ia segera menerjang sambil berteriak, “Sumoi, biarkan aku bunuh mati anjing tua ini!”

Sambil berkata demikian, pedangnya berkelebat menerjang Souw Cin Ok! Tapi pada saat itu terdengar suara tertawa merdu dan nyaring. Suara tertawa itu terdengar tepat di atas kepala Kwie-eng-cu hingga ia terkejut sekali dan mengurungkan penyerangannya kepada Souw Cin Ok, tapi segera memandang ke atas.

Alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa pedangnya menempel pada sebuah benda dan benda itu membetot pedangnya dengan tenaga luar biasa hingga hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan tangannya! Ia berseru heran dan kerahkan tenaga lwee-kangnya membetot, tapi tiba-tiba tenaga itu melepaskannya dan hampir saja iajatuh terguling kalau tidak cepat berjumpalitan.

Ketika ia memandang heran, ternyata di depannya berdiri seorang gadis yang usianya takkan lebih dari tujuhbelas tahun. Gadis itu berpakaian sederhana tapi kecantikannya nampak aseli bagaikan sekuntum mawar sedang mekar mengharum. Gadis itu tersenyum manis dan memandang pada Kwie-eng-cu dengan lucu!

Ketika Kwie-eng-cu menyerang Souw Cin Ok tadi, Ang-ie-nio-nio telah meloncat ke pinggir dan kini ia memandang ke arah Hong Cu dengan heran. Souw Cin Ok segera berkata.

“Hong Cu, jangan kau ikut campur!” Tapi dalam hatinya, orang tua ini merasa lega, karena ia tahu kalau Hong Cu mau turun tangan, akan bereslah urusan ini!

“Souw-pehpeh, dua orang badut laki perempuan ini mau membadut di sini dan meramaikan pesta, maka tidak boleh tidak aku harus ikut campur. Laginya, mereka ini curang sekali, hendak mengeroyokmu. Kau duduklah saja, peh-peh, masa ada kemenakanmu di sini, kau harus turun tangan sendiri melayani segala badut murah?”

Sambil berkata demikian, gadis itu berkedip kepada Souw Cin Ok, hingga orang tua itu hanya menghela napas dan sambil memukul-mukul ke dua pahanya, orang tua ini menyatakan kegembiraannya dengan berkata. “Ayaaa! Kemenakanku yang satu ini memang bandel dan bengal. Biarlah, biar kau tahu rasa kalau dikeroyok nanti!”

Hong Cu lalu menghadapi Kwie-eng-cu yang masih bengong karena memikirkan apakah mungkin yang membetot pedangnya tadi gadis ini? Juga semua tamu tidak seorangpun melihat gerakan Hong Cu yang demikian cepat. Pula, gadis ini hanya memegang sepasang sumpit kayu di tangan kanan kiri, dan berdirinya demikian lemas bagaikan seorang penari, tak pantas menjadi seorang ahli silat!

“Eh, orang murah, kau berani tidak dengan si merah itu mengeroyok aku? Kalian boleh menggunakan pedang, tombak, golok, atau apa saja yang kau bisa pegang. Berani tidak?”

Melihat lagak Hong Cu dan mendengar kata-kata ini, semua orang heran dan menganggap jangan-jangan kemenakan Souw Cin Ok ini mempunyai penyakit otak miring. Bahkan Kwie-eng-cu demikian heran hingga ia lupa untuk marah dan bertanya. “Eh, kau gadis cilik. Kenapa kau sebut aku orang murah?”

Tentu saja pertanyaan ini terdengar lucu dan beberapa orang tak dapat menahan ketawanya. Kwie-eng-cu memutar tubuh dan mendelikkan matanya hingga suara ketawa lalu berhenti tiba-tiba. “Kau isi mulutmu dengan kotoran-kotoran dan maki-makian, bukankah itu hanya tabiat orang murah? Hayo, jawablah berani tidak kau mengeroyok aku? Kalau berani, kau dan si merah itu majulah cepat. Kalau tidak berani, lebih baik kau pulang saja ke pangkuan ibumu!”

Ang-ie-nio-nio marah sekali. Ia cabut pedangnya dan maju menerjang sambil memaki. “Perempuan siluman, kalau sudah bosan hidup, biar aku membunuhmu!” Ia kirim tusukan kilat ke arah dada Hong Cu.

Tapi Hong Cu berkelit seperti orang terhuyung ke samping sambil berseru..“Hayaa, galak benar si merah ini!”

Ang-ie-nio-nio cepat menyerang lagi dan segebrakan saja ia sudah mengirim tiga serangan yang semua dapat dikelit mudah oleh Hong Cu.

“Hayo, kumis pendek, kau majulah mengeroyok! Atau, takutkah kau barangkali?” Sambil berkelit terhadap sebuah sabetan pedang, Hong Cu masih berolok-olok dan menantang kepada Kwie-eng-cu!

“Kau mencari mati sendiri!” Kwie-eng-cu lalu maju menyerang dengan pedangnya.

Hebat memang kepandaian Kwie-eng-cu karena pedangnya mengeluarkan angin berkesiutan dan api lilin yang berada dekat situ sampai hampir padam hingga buru-buru seorang pelayan mengambil dan menjauhkannya. Tapi ia bergidik ketika merasa sambaran angin pedang yang begitu dingin di telinganya, hingga diam-diam ia menggunakan tangan meraba-raba telinga karena takut kalau kalau daun telinga itu akan terbang!

Ditambah pula dengan gerakan serangan Ang-ie-nio-nio yang cukup lihai, maka kedua lawan itu merupakan dua lawan tangguh yang sangat berbahaya. Akan tetapi, murid Hwat Kong Tosu memegang dua batang sumpit kayu di kedua tangannya, hingga seakan-akan ia telah membekal senjata dewa!

Setiap potong kayu yang berada di tangan Hong Cu dapat dimainkan dengan Ilmu Tongkat Ouw-coa-koai-tung-hwat yang menjadi raja sekalian ilmu tongkat hingga potongan kayu itu berubah menjadi senjata yang luar biasa, karena gadis itu dengan sesukanya dapat menyalurkan tenaga-tenaga membetot, menempel mengait atau menyampok dengan kekuatan yang mujijat. Kini menghadapi kedua orang ini, ia masih dapat bermain seenaknya!

Para penonton menjadi pening melihat pertempuran itu. Mereka, kecuali para locianpwe yang memandang kagum dan terheran-heran, hanya melihat bayangan merah dari Ang-ie-nio-nio dan bayangan yang berkelebat-kelebat ke sana ke mari dari Kwie-eng-cu, ditambah sinar pedang kedua orang itu bergulung-gulung, dan anehnya, mereka tidak tahu lagi ke mana perginya gadis aneh tadi!

Hong Cu dalam gerakannya yang begitu cepatnya telah lenyap tertelan sinar pedang kedua lawannya dan terbungkus sinar kedua batang sumpitnya! Gadis ini karena tidak tahu asal mula terjadinya permusuhan antara kedua lawannya ini dengan Souw Cin Ok, lalu berkelahi sambil berkata kepada suhengnya itu. “Eh, Souw-pehpeh! Kau lupa belum beritakan kepadaku tentang riwayat kedua badut ini. Ceritakanlah, peh-peh!”

Para tamu heran sekali karena suara gadis itu terdengar dari tengah-tengah pertempuran hingga bagaikan suara setan yang tidak kelihatan saja. Dan kedua lawannya yang memang telah merasa terkejut sekali melihat kelihaian dua batang sumpit Hong Cu, kini mendengar ucapan ini merasa makin terkejut dan heran. Bagaimanakah gadis aneh ini masih dapat membagi perhatian kepada orang di luar pertempuran? Sungguh-sungguh gadis itu memandang rendah sekali!

Kwie-eng-cu kertak gigi dan menyerang makin keras, tapi berkali-kali kalau ia sudah merasa pasti bahwa tusukan atau sabetannya akan membawa hasil, tahu-tahu pedangnya terbentur pula oleh batang sumpit yang agaknya telah berubah menjadi ribuan batang banyaknya itu!

Sementara itu, Souw Cin Ok merasa bahwa Hong Cu pasti akan dapat kalahkan lawannya, maka iapun lalu bercerita seperti kepada seorang anak-anak yang mendengarkannya sambil tiduran! “Laki-laki yang berkumis pendek itu adalah Kwie-eng-cu si Bayangan Iblis dan si Baju Merah itu adalah Ang-ie-nio-nio! Ketahuilah, Hong Cu, dulu, beberapa tahun yang lalu, Kwie-eng-cu dan suhengnya telah membunuh mati anak dan mantuku!

“Anakku menjadi piauwsu, pengantar barang-barang berharga dan di tengah jalan anakku dicegat perampok. Dalam pertempuran, kepala perampok itu tewas, berikut puluhan anak buahnya dan yang lain-lain lari pergi.”

“Ah, kalau begitu anakmu itu gagah sekali!” kata Hong Cu.

“Kemudian ternyata bahwa kepala perampok itu masih dihitung murid ketiga setan dari Tiang-an, yakni yang pertama Bu-eng-cu Si Tanpa Bayangan, kedua Kwie-eng-cu yang sekarang bertempur mengeroyokmu, dan ketiga Pek-eng-cu Si Bayangan Putih, yaitu sute dari Kwie-eng-cu. Mendengar betapa muridnya terbunuh oleh anakku, mereka menjadi marah dan mencari anakku, lalu membunuhnya dengan jalan mengeroyoknya. Juga anak mantuku yang tidak tahu apa-apa ikut dibunuh. Bahkan cucu perempuanku hampir saja dibunuhnya, kalau tidak kulindungi dan kubawa lari!”

“Jahat sekali!” kata Hong Cu. “Dan si merah ini? Apa ia pun turut dalam perbuatan terkutuk itu?”

“Tidak, aku tak pernah bertemu dengan dia, baru kali ini. Tapi ia agaknya tidak lebih baik dari pada suheng-suhengnya!”

Hong Cu lalu berkata kepada Kwie-eng-cu, “Kau jahat sekali, patut dihabisi riwayatmu. Terimalah hukumanmu!” Dan dengan gerakan Ular Hitam Menyembur Racun, Hong Cu menusukkan sumpitnya yang secara kilat dapat menotok urat besar di leher Kwie-eng-cu. Terdengar teriakan ngeri dan Kwie-eng-cu roboh dan tewas di saat itu juga tanpa mengalirkan setitikpun darah!

Kemudian terdengar kata-kata Hong Cu! “Dan kaupun perlu diberi hajaran keras!”

Terdengar bunyi “Pletak!” tulang patah dan tahu-tahu Ang-ie-nio-nio membungkuk sambil memegang-megang tangan kanannya yang patah tulangnya karena terpukul batang sumpit!

“Sebutkan namamu!” Ang-ie-nio-nio menahan sakit sambil berkata penuh sakit hati.

“Hm, kau menaruh dendam? Baik, namaku Ang Hong Cu. Dengar baik-baik, namaku Ang Hong Cu. Mau cari aku? Mudah, datang saja ke puncak Thang-la!”

Terkejutlah para locianpwe mendengar bahwa gadis itupun datang dari puncak Thang-la. Juga Ang-ie-nio-nio terheran. Ia masih penasaran dan bertanya lagi. “Bohong! Kalau betul dari Thang-la, siapa suhumu?”

“Jangan kau berani menyebut-nyebut suhu. Hendak apakah kau mencari tahu nama seorang dari pada Tiga Dewa Thang-la?”

“Suhunya adalah Hwat Kong Tosu.”

Mendengar ini, di wajah Ang-ie-nio-nio terbayang keheranan besar, tapi ia merasa puas dan meloncat pergi tanpa pamit. Sementara itu, Lim-wangwe memerintahkan orang-orangnya untuk mengurus mayat Kwie-eng-cu.

Hong Cu heran sekali melihat betapa di kedua pipi Souw Cin Ok mengalir butiran-butiran air mata! Gadis itu meloncat mendekati dan memimpin kakek itu ke tempat yang agakjauh dari para tamu. “Souw-pehpeh! Kenapakah! Salahkah aku membunuh dia?”

Souw Cin Ok memandang padanya dan menggeleng-gelengkan kepala perlahan. “Aku girang sekali bahwa musuh dan pembunuh anakku telah terbalas, Hong Cu. Aku mengalirkan air mata karena teringat akan anak dan mantuku yang mati dalam usia muda. Kini pembunuh anakku tinggal dua orang lagi yang harus kubalas.”

“Kalau begitu biarlah aku ikut kau, peh-peh. Kita berdua mencari mereka aku membantu kau membereskan musuh-musuhmu itu!” kata Hong Cu bersemangat. Nyali gadis ini menjadi besar sekali karena selama turun gunung ternyata ia dapat merobohkan lawan-lawannya dengan mudah saja hingga ia tidak menyangka bahwa kepandaiannya sudah demikian tinggi!

Tapi Souw Cin Ok tampak makin sedih dan menggeleng-gelengkan kepala dengan keras. “Tidak, Hong Cu! Biarpun aku menghargai sekali bantuanmu tapi dengan demikian maka kau mengecewakan hatiku! Ketahuilah, bahwa cucukulah yang berkewajiban membalas dendam ini, bukan kau! Kalau cucuku tidak turun tangan, biarlah aku sendiri yang mengadu jiwa dengan musuh-musuhku!”

“Di manakah cucumu itu, peh-peh? Kau tidak pernah menceritakan padaku. Apakah ia lihai ilmu silatnya?”

Empek itu mengangguk-angguk. “Mungkin tidak selihai engkau, tapi pasti sekali ia mempunyai kepandaian cukup tinggi, karena ia menjadi murid Huo Mo-li.”

Kaget dan heranlah Hong Cu mendengar bahwa cucu Souw Cin Ok adalah murid Huo Mo-li yang lihai! Ia teringat akan Lian Eng yang pernah bertemu dengan ia. “Souw-pehpeh, aku pernah bertemu dengan seorang murid Huo Mo-li, tapi ia seorang gadis gagu yang…”

“Nah, dia itulah cucuku yang malang nasibnya,” kata Souw Cin Ok terharu. “Dulu ia kuajak naik ke Thang-la untuk kusuruh belajar silat kepada suhu, tapi ternyata kemudian anak itu memilih Huo Mo-li sebagai gurunya.”

“Bukankah ia bernama Lian Eng?”

“Ya, ya, ia bernama Souw Lian Eng. Sudah kenalkah kau padanya?” tanya Souw Cin Ok girang.

Hong Cu mengangguk, diam-diam ia pikir bahwa ia tadi telah membalaskan dendam gadis gagu yang beberapa kali memusuhinya itu! Agaknya gadis gagu itu benci padanya. Maka hatinya menjadi agak tawar dan dingin. “Aku hanya bertemu dengan ia beberapa kali saja. Ia cantik sekali dan tentang kepandaiannya, barangkali aku tak nempil padanya. Aku pernah merasakan kelihaian tangannya.”

“Betulkah?” Wajah Souw Cin Ok berseri gembira mendengar bahwa cucunya menjadi orang berkepandaian tinggi.

Tapi Hong Cu tidak bicara panjang lebar lagi. “Kalau dia itu cucumu, maka kau tak usah khawatir, peh-peh. Jangankan baru musuh-musuh seperti itu, biar ada sepuluh orangpun pasti akan mudah terbalas oleh Lian Eng.”

Kemudian kedua orang itu berpisah. Hong Cu melanjutkan perjalanannya menuju ke kota tempat tinggal orang tuanya dan Souw Cin Ok melanjutkan perjalanannya mencari kedua musuhnya itu.

Setelah berpisah dari Souw Cin Ok, Hong Cu segera melanjutkan perjalanannya dengan berkuda. Kudanya berbulu putih dan besar serta larinya cepat. Kuda ini adalah hadiah dari Lim-wangwe yang merasa sangat kagum padanya. Tadinya Hong Cu menolak hadiah ini, tapi karena tuan rumah memaksanya, terpaksa ia menerimanya juga karena tidak enak kalau terus menerus menolak maksud baik orang.

Biarpun ilmu kepandaian lari cepat Hong Cu rasanya takkan kalah oleh larinya kuda, namun karena dengan naik kuda ia tidak banyak beristirahat, perjalanan dapat dilakukan cepat. Kudanya benar-benar kuat dan cepat larinya hingga Hong Cu merasa girang sekali.

Kira-kira sepekan kemudian, ketika Hong Cu membalapkan kudanya di sepanjang sebatang sungai yang agak lebar juga hingga kudanya tak mungkin melewatinya, tiba-tiba ia melihat dua orang sedang berkelahi, jauh di depan. Ia tertarik sekali karena gerakan dua orang itu luar biasa cepatnya hingga ia tahu bahwa keduanya memiliki kepandaian tinggi sekali.

Ia percepat kudanya dan meloncat turun tak jauh dari tempat pertempuran itu. Ternyata yang sedang bertempur itu adalah pendeta wanita tua yang telah tua sekali tapi yang gerakan-gerakannya masih lihai sekali. Ia bersenjata pedang dan kebutan.

Tapi yang lebih menarik perhatian Hong Cu ialah lawan pendeta itu. Ternyata yang berkelahi dengan nikouw itu adalah seorang pemuda berpakaian serba putih dan sederhana sekali. Tapi pemuda itu cakap sekali. Kulitnya putih dan kedua matanya lebar dan terang, dilindungi sepasang alis yang melebar dan meruncing bagaikan sepasang golok. Bibirnya yang selalu tersenyum itu berwarna merah dan rambutnya yang tampak di pelipisnya hitam sekali.

Di atas kepalanya tertutup kopiah kuning yang panjang melambai ke belakang. Pemuda ini bersenjata aneh sekali, karena yang dipegangnya sebagai senjata adalah sebatang pikulan bambu yang berbentuk melengkung bagaikan sebatang gendewa. Tapi senjata yang sederhana dan aneh ini dimainkan dengan gerakan-gerakan luar biasa lihainya hingga biarpun pendeta wanita itu bersilat dengan bagus dan kuat, namun pemuda itu masih dapat melawannya dengan tersenyum dan bagaikan sedang main-main!

Hong Cu melihat pemuda itu lalu memandang penuh perhatian karena ia seperti sudah kenal pemuda itu, tapi ia lupa, lagi di mana ia pernah bertemu dengannya. Tengah ia menduga-duga dan mengingat-ingat, tiba-tiba pemuda itu dengan gerakan Awan Putih Tertiup Angin melayang mundur dari pertempuran dan berkata.

“Lo-sianli tahan dulu! Kau orang tua harus mempunyai kesabaran, jangan main seruduk saja. Kebetulan datang saksi, marilah kita bicara dengan baik!”

Pemuda itu lalu menghadap ke arah Hong Cu dan menjura dengan hormat sambil berkata. “Nona yang baru datang aku mohon pertimbanganmu yang adil! Aku seorang perantauan yang belum pernah mempunyai musuh, tapi Lo-sianli ini biarpun sudah sangat tua tapi ternyata semangatnya tidak kalah oleh yang muda! Ia datang-datang nyeruduk saja tanpa memberi kesempatan padaku untuk membela diri. Coba, kau pikir, pantaskah itu?”

Hong Cu diam saja dan kini gadis ini tersenyum geli karena ia telah teringat kembali di mana ia bertemu dengan pemuda ini dulu! Pemuda itu ketika menanti lama belum juga yang diajak bicara menjawab, lalu mengangkat kepalanya yang tadi tunduk dan memandang wajah Hong Cu.

Dua pasang mata yang sama bagusnya bertemu. Tiba-tiba wajah pemuda itu yang berkulit putih, berubah merah sampai ke telinga dan pada wajah itu terbayang kegirangan besar hingga mata dan mulutnya tersenyum bahagia. Kemudian ia menuding kepada Hong Cu “Kau… kau.... nona Hong Cu!!”

Hong Cu balas senyumnya. “Hm, ternyata kau masih seperti dulu, saudara Tiong Li!”

Tiong Li tersenyum lebar. Ia demikian gembira bertemu dengan Hong Cu hingga ia lupakan nikouw tua yang baru saja bertempur dengan dia! “Nona Hong Cu, kau… kau begini…”

“Begini apa, saudara Tiong Li?”

“Engkau begini… besar sekarang. Hampir aku tidak mengenalmu lagi kalau kau tidak tersenyum tadi.”

“Hm, jadi yang teringat olehmu hanya… senyumku?”

“Ya, eh… maksudku, eh... Aku tak dapat melupakan senyummu hingga... hingga…” Tiong Li bicara dengan gagap hingga ia sendiri menjadi bingung dan heran karena tidak biasanya ia begini bingung dan gagap.

Hong Cu tertawa dan akhirnya Tiong Li tak dapat melanjutkan kata-katanya dan hanya bisa ikut tertawa gembira.

Nikouw tua tadi melihat betapa kedua taruna remaja itu hanya main ketawa gembira dan tidak perdulikan lagi padanya, segera tersenyum sambil angguk-anggukkan kepala, lalu dengan diam-diam ia pergi dari silu!

Tiong Li dan Hong Cu telah cukup terlatih hingga ke duanya ketahui kepergiannya ini. Tiong Li loncat dan sekali berkelebat saja ia telah dapat mengejar nikouw itu hingga diam-diam Hong Cu kagum melihat kegesitan murid dari Kiang Cu Liong si Tabib Dewa itu!

“Eh, Lo-sianli, kenapa buru-buru saja? Jangan tergesa-gesa, karena kau masih punya hutang padaku yang harus dibayar dulu.”

“Anak muda, kau gagah, tapi jangan kau permainkan aku! Hutang apakah maksudmu? Apakah kau sakit hati karena ku serang tadi? Kalau mau membalas silahkan!”

Tiong Li angkat kedua tangannya. “Ampun, lo-sianli, kau ini orang tua benar-benar berangasan sekali! Kau hanya hutang keterangan dan penjelasan padaku. Kau tadi mendakwa aku sebagai pencuri, coba terangkan, apakah yang kucuri? Dulu kau kejar-kejar suhu, dan kau mendakwa suhu mencuri patungmu. Sekarang kau mengejar aku dan lagi-lagi mendakwa mencuri. Sekarang apakah yang tercuri?”

Mendengar kata-kata ini, tahulah Hong Cu bahwa nikouw tua ini tentu Kim Hwa Sianli, karena iapun telah mendengar dari suhunya tentang tokoh-tokoh Kwan-im-kauw.

Sementara itu, Kim Hwa Sianli menghela napas panjang pendek dengan wajah berduka sekali. Ia geleng-geleng kepala beberapa kali dan berkata seperti kepada diri sendiri. “Bukan kau… bukan kau pencurinya…”

Tiong Li gerakkan mulutnya dengan lucu, menandakan kegirangan hatinya bahwa ia telah terbebas dari tuduhan. “Kalau bukan aku, siapakah pencurinya, Lo-sianli?” tanyanya.

“Pencurinya? Ah, seorang pemuda... kepandaiannya tinggi, tapi entah siapa…”

“Pemuda… kepandaiannya tinggi…”

Tiong Li berdongak sambil kerutkan jidat seakan-akan ikut memeras otak mencari-cari, tapi tiba-tiba ia bertanya lagi, “Eh, sebetulnya, yang hilang barang apakah, Lo-sianli? Apakah yang tercuri dan bagaimana terjadinya?”

Mendengar kata-kata dan melihat lagak yang jenaka ini, mau tidak mau Hong Cu tersenyum geli, tapi iapun memperhatikan jawaban apakah yang hendak dikeluarkan oleh nikouw itu.

“Yang hilang adalah Patung Kwan-im Pouwsat…”

“Itu lagi??!” Hong Cu dan Tiong Li berseru hampir berbareng, dan keduanya tertawa geli.

“Tidak hanya itu, tapi bahkan ke dua sute dan sumoiku serta banyak murid-murid lain terbunuh oleh pencuri itu!”

Mulut Hong Cu dan Tiong Li bagaikan ditekap orang dan suara ketawa mereka berhenti tiba-tiba. Mereka pandang wajah Kim Hwa Sianli dengan bengong dan terkejut.

“Sampai begitu hebat?” kata Tiong Li.

“Siapakah pencuri jahat itu? Aku harus mencari dan membunuh dia!” kata Hong Cu marah.

Mendengar kata-kata Hong Cu ini, Kim Hwa Sianli memandang heran dan ia segera bertanya, “Bicaramu jumawa sekali, nona kecil. Siapakah kau dan siapa pula suhumu?”

Tiong Li yang menjawab cepat, “Ini adalah nona… Hong Cu… aku lupa she-nya, siapakah she mu, nona Hong Cu?”

Hong Cu tersenyum lagi karena kejenakaan ini. “Aku belum pernah memberitahukan padamu siapa she ku,” jawabnya.

“Ya, ya, tapi siapakah sebenarnya she mu?” Tiong Li mendesak.

“Aku she Ang.”

“O, ya! Ia bernama Ang Hong Cu, dan ia adalah murid dari Hwat Kong Tosu, seorang dari pada Tiga Dewa dari Thang-la!”

Kim Hwa Sianli mengangguk-angguk. “Pantas saja kau bicara besar, tak tahunya kau murid si tua yang lihai itu!”

“Lo-sianli, lanjutkanlah keteranganmu,” kata Tiong Li pula. “Jadi Kelenteng Kwan-im-kauw kedatangan pencuri patung Kwan-im Pouwsat, juga membunuh kedua saudaramu dan banyak murid-muridmu? Siapakah pencuri itu, maksudku, bagaimana rupanya dan bentuk badannya? Mengapa pula kau menyangka bahwa pencuri itu adalah aku?”

“Itulah yang menyebabkan! Pencuri itu seorang pemuda yang berkepandaian lihai sekali. Ia memakai kedok sutera hingga aku tidak dapat mengenal mukanya. Tapi tubuhnya tegap dan tidak banyak selisihnya dengan kau. Karena aku tidak mengenalnya, maka aku hanya menduga bahwa pemuda itu tentu murid-murid dari tokoh-tokoh Thang-la yang dulu juga ikut memperebutkan patung itu. Aku hanya meraba-raba dalam gelap. Apa dayaku? Kedua adik seperguruanku telah terbunuh olehnya dan sakit hati ini harus dibayar dengan darah!” Nikouw tua itu lalu terduduk dan menangis tersedu-sedu.

Hong Cu sebagai seorang wanita, juga mempunyai perasaan yang halus dan mudah terharu. Melihat betapa nikouw tua itu menangis sedih, ia segera maju menghampiri dan memeluknya sambil menahan air mata sendiri yang hendak mengalir turun! “Lo-sianli, mengapa kau begitu bersedih? Sabarlah dan kau boleh membesarkan hati karena aku dan saudara Tiong Li tentu akan membantumu menangkap penjahat itu. Bukankah begitu, saudara Tiong Li?”

“Tentu saja, kami akan membantumu menangkap dia, asal saja kita tahu tempatnya, lo-sianli!”

Mendengar kata-kata ke dua anak muda itu, terhibur juga hati Kim Hwa Sianli dan ia menahan air matanya. “Inilah yang membingungkan aku. Pencuri itu demikian pengecut dan memakai kedok. Tadinya kusangka tentu murid Thang-la. Tapi pemuda-pemuda yang berkepandaian tinggi hanya murid Beng Beng Hoatsu dan kau.”

“Kau maksudkan Siauw Ma, Lo-sianli?” tanya Hong Cu cepat sambil menatap wajah Kim Hwa Sianli hingga ia tidak tahu betapa dari samping, Tiong Li memandangnya dengan mata tajam.

“Ya, namanya memang Siauw Ma. Ia seorang pemuda yang berkepandaian tinggi sekali.”

“Kau menyangka dia mencuri patung?” Hong Cu bertanya tak senang.

“Tadinya begitu. Tapi aku telah bertemu dengan dia dan telah menguji ilmu silatnya pula, ternyata ia bukan pencuri itu! Ketahuilah, ketika pencuri itu datang menyerbu, aku telah bertempur dengan dia beberapa lama maka aku masih ingat cara-cara ia bersilat. Dan ketika aku bertemu dengan murid Beng Beng Hoatsu, aku serang dia dan ternyata ilmu silatnya jauh berbeda dengan ilmu silat pencuri itu.

“Pada waktu itu aku sudah bingung, tapi aku teringat lagi bahwa Kiang Cu Liong juga mempunyai seorang murid laki-laki. Maka aku lalu mencari anak muda ini. Setelah mengujinya, ternyata iapun bukan pencuri itu. Habis, siapa lagi yang harus kusangka? Selain murid Beng Beng Hoatsu dan Murid Kiang Cu Liong, siapa lagi yang mempunyai ilmu kepandaian setinggi itu hingga kedua adikku binasa olehnya sedangkan aku sendiripun hampir celaka dalam tangannya?”

“Jangan putus asa, Lo-sianli. Dunia kang-ouw adalah luas sekali, orang-orang pandai tersebar di empat penjuru laut. Kita harus bersabar mencari-cari sambil menyelidiki di kalangan kang-ouw dan liok-lim.”

“Sudahlah, sudahlah! Siauw Ma dan kalian anak-anak muda semua berjanji hendak membantuku dan berlaku baik, sedangkan aku hanya menyangka yang bukan-bukan saja kepada kalian. Ah, sungguh setua ini aku hanya bisa menimbulkan onar saja.” Kim Hwa Sianli menghela napas lalu loncat cepat pergi dari situ.

Hong Cu dan Tiong Li saling pandang dengan tak berdaya mencegah kepergian nikouw tua itu. Tiba-tiba, ketika sedang berpandangan itu, teringatlah Hong Cu akan sesuatu. Ia loncat berdiri dan memandang ke arah nikouw itu pergi. Kemudian ia loncat juga hendak menyusul, tapi karena nikouw itu sudah tak tampak bayang-bayangnya, ia kembali dan memandang ke sekeliling dengan pengharapan kalau-kalau masih dapat melihat nikouw itu.

“Eh, eh! Kau sedang mencari apakah?” Tiong Li menegur heran melihat sikap gadis itu.

“Ia sudah pergi!” kata Hong Cu yang merasa kecewa, lalu dengan menghela napas gadis itu menjatuhkan diri duduk di atas rumput hijau.

Tiong Li juga duduk dan bertanya lagi. “Eh, kau aneh sekali. Siapa yang kau cari?”

Hong Cu tidak menjawab pertanyaan Tiong Li. Dengan pikiran bekerja dan mengingat-ingat ia cabut sebatang rumput dan menggigit-gigit pangkal batang rumput itu. Kemudian ia memandang wajah Tiong Li dan berkata. “Saudara Tiong Li! Ingatkah kau kepada Siauw Liong?”

“Siapakah dia… o, ya… kau maksudkan murid Tok-kak-coa yang bengal dan jahat itu...?”

Selanjutnya,
PATUNG DEWI KWAN IM JILID 14