Patung Dewi Kwan Im Jilid 12

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Patung Dewi Kwan Im Jilid 12
Sonny Ogawa
Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Patung Dewi Kwan Im Jilid 12, karya Kho Ping Hoo - SIAUW MA segera loncat mendekat dengan hati-hati dan waspada. Ia lalu bertiarap di belakang wuwungan yang tebal, hanya terpisah beberapa kaki dari mereka yang sedang bicara itu, lalu mendengarkan dengan penuh perhatian serta mengintai dari balik wuwungan.

Ia melihat bahwa yang berdiri berhadapan dengan Souw Eng itu adalah seorang pemuda yang berwajah tampan dan berkulit putih bersih. Tapi wajah yang dapat dilihatnya di bawah sinar bulan yang pada malam hari itu bersinar sepenuhnya, mendatangkan sesuatu yang menimbulkan benci dan tak senang dalam hatinya. Ia mendengarkan percakapan mereka.

“Hm, sudah beberapa bulan aku mencari jejak Ji-thouw-hek-coa si Ular Hitam Kepala Dua, si jai-hoa-cat, bangsat pemetik bunga yang rendah! Tak tahunya yang menjadi bangsat itu bukan lain adalah kau!”

Pemuda berpakaian hitam itu tertawa besar. “Ha, ha, ha! Nona Lian Eng, sungguh setelah kau dapat bicara, kau makin menarik saja. Biarpun berpakaian sebagai pemuda, kau tetap tidak kehilangan kecantikanmu.”

“Jangan ngaco!” Souw Eng membentak dan Siauw Ma rasakan tubuhnya gemetar ketika mendengar pemuda baju hitam itu menyebut kawannya sebagai Lian Eng!

“Nona Lian Eng, jangan kau kira bahwa kau dan kawanmu yang tolol itu sebagai orang-orang terpandai. Kau bilang bahwa kau telah berbulan-bulan mencari jejakku, sebaliknya telah beberapa hari ini aku mengikuti bayanganmu dan kawanmu itu. Ha, ha, ha, ha! Sungguh lucu, sungguh tolol! Aku, sekali jumpa saja lantas dapat tahu dan mengenal kau, tapi Siauw Ma si tolol itu telah berhari-hari jalan sama-sama kau, namun belum juga ia tahu bahwa pemuda tampan yang menjadi kawannya bukan lain ialah Lian Eng gadis gagu yang kini berubah menjadi bidadari cantik!”

“Siauw Liong, bangsat kecil! Tidak ingatkah kau betapa suhu-suhu kami mengampuni gurumu yang jahat dan memberi nasihat-nasihat kepadamu? Tidak tahunya, kau kini menjadi makin jahat, bahkan lebih rendah daripada suhumu si jahat dari timur itu. Gurumu, Tok-kak-coa sendiri, kurasa belum pernah menjalankan kejahatan seperti yang kau lakukan ini. Kau berubah menjadi manusia rendah, maka sekarang bertemu dengan aku, jangan kau harap akan dapat hidup lebih lama lagi!”

“Lian Eng yang manis. Kenapa kau marah-marah? Ketahuilah, aku adalah seorang sebatangkara yang selalu bernasib malang. Aku telah lama merana mencari seorang sahabat yang cocok dan baik, seorang seperti engkau ini. Tapi kau bahkan bersahabat dengan seorang tolol seperti Siauw Ma, sungguh aku merasa penasaran sekali. Lian Eng, marilah kita habiskan permusuhan dan kita menjadi sahabat. Aku bersumpah takkan berlaku sesat lagi asal saja kau suka menjadi sahabat baikku dan kita merantau!”

“Cih! Laki-laki tak bermalu!” Souw Eng yang sebenarnya bukan lain adalah Soauw Lian Eng adanya, memaki marah.

Siauw Ma makin berdebar hatinya. Ah, benar si Siauw Liong itu. Ia memang bodoh sekali. Mengapa begitu saja ia tidak tahu? Mengapa ia tak dapat mengenali Lian Eng, gadis yang selalu ia rindukan itu? Pantas saja Souw Eng demikian ganjil tabiatnya, tidak tahunya ia adalah Lian Eng, murid dari Huo Mo-li di puncak Thang-la! Pantas saja ia demikian lihai.

Dan kini ia dapat memecahkan peristiwa dengan Aisyah yang selalu merupakan teka-teki baginya itu. Pantas saja semua anggauta rombongan mentertawakannya. Tentu Lian Eng telah menceritakan rahasia dirinya kepada Aisyah dan kawan-kawannya. Dan ia telah tak senang hati melihat Lian Eng tidur sekereta dengan Aisyah!

Dan, lebih hebat lagi, ia telah mengaku, ya mengaku di depan Farida dan di depan Lian Eng, bahwa gadis pilihan hatinya ialah Lian Eng! Ah, malunya! Siauw Ma merasakan mukanya panas karena malu. Tapi melihat Siauw Liong berada di situ, rasa malunya dikalahkan dan diusir pergi oleh rasa khawatir. Yakni, khawatir akan keselamatan Lian Eng.

Ia masih ingat ketika masih kecil Siauw Liong telah pandai dan Lihai. Apalagi sekarang, buktinya setan itu telah dapat mengikuti jejak mereka berdua tanpa mereka ketahui. Mengingat ini, ia lalu meloncat dan membentak keras, “Siauw Liong, tak kusangka kau sejahat ini!”

Siauw Liong dan terutama Lian Eng, merasa terkejut. Lian Eng melihat Siauw Ma muncul dengan tiba-tiba, merasa malu sekali karena rahasianya telah terbuka. Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Siauw Ma, Lian Eng segera menundukkan muka dan gadis ini tak dapat menahan rasa malu dan sungkannya, maka tanpa berkata apa-apa lagi, ia lalu meloncat pergi dan meninggalkan kedua pemuda itu yang telah saling berhadapan!

“Ha, ha, Siauw Ma! Lihat, bukankah kawanmu Souw Eng itu sangat pemalu? Sungguh seorang pemuda aneh, ya!” demikian ia menyindir kebodohan Siauw Ma.

Siauw Ma membentak. “Tadi telah kudengar semua dan ternyata kau hanya menjadi seorang bajingan rendah. Kejahatan lain masih tidak apa, tapi setelah kau menjadi jai-hoa-cat, bagaimana pun juga aku tak dapat memberi ampun padamu!”

Siauw Liong tertawa lagi dan tiba-tiba ia mencabut keluar sepasang senjata yang aneh dari pinggangnya. Senjata itu adalah sepasang tongkat yang terbuat dari pada dua ekor ular hitam, yang telah mati dan kaku keras seperti kayu. Tapi ia memegang ekor kedua ular itu di tangan kanan kiri dan menggerak-gerakkan senjata istimewa itu seperti orang menggerakkan sepasang pedang!

“Orang tolol, kalau kau sudah bosan hidup, kau majulah!” tantangnya dengan sikap jumawa sekali dan wajahnya yang putih dan cakap itu tiada hentinya tersenyum dan memandang penuh penghinaan.

Siauw Ma menjadi marah dan ia segera menggunakan po-kiamnya maju menyerang. Sebentar saja mereka telah berkelahi mati-matian di bawah sinar bulan purnama dan di atas genteng rumah gedung yang tinggi itu. Karena genteng itu terbuat dari bahan baik dan tebal, maka mereka dapat bertempur dengan leluasa sekali.

Ternyata gerakan ilmu silat Siauw Liong sangat lihai dan cepat. Siauw Ma terkejut sekali melihat kemajuan pemuda sesat itu. Dilihat dari gerakan-gerakannya, ternyata keadaan Siauw Liong pada saat itu boleh dibilang tidak di bawah Tok-kak-coa kepandaiannya! Sepasang ular hitam di tangannya dapat bergerak cepat sekali dan dari lubang mulut kedua ular itu menyambar-nyambar bau keras yang dapat membikin pusing lawan karena itu adalah hawa beracun yang sengaja ditaruh di dalam mulut ke dua senjata aneh itu!

Akan tetapi, Siauw Ma sekarang bukanlah Siauw Ma dulu yang masih rendah kepandaiannya. Siauw Ma telah mempelajari sampai tamat Ilmu Silat Pedang Naga Sakti dan Beng Beng Hoatsu telah menggemblengnya dengan hebat. Karena itu, pedang di tangan Siauw Ma seakan-akan hidup dan menjadi satu dengan tubuhnya. Gerakan-gerakannya matang dan tetap, sedangkan Sin-liong-kiam-sut adalah ilmu pedang yang boleh dikata raja sekalian ilmu pedang di masa itu.

Maka semua serangan Siauw Liong yang bagaimanapun, dapat dipunahkan dengan mudah. Adapun hawa beracun yang menyambar keluar dari senjata Siauw Liong, tidak mempengaruhi Siauw Ma yang juga memiliki lwee-kang tinggi dan dapat mengatur napasnya sedemikian rupa hingga tiap kali napas keluar dari hidung dan mulutnya, napas itu dapat meniup pergi semua hawa racun yang mendekatinya dan mengancamnya.

Sebaliknya, tidak mudah baginya untuk merobohkan Siauw Liong, karena anak muda itu sungguh lihai dan cepat gerakannya. Memang beberapa kali Siauw Liong bisa dibikin kacau oleh gerakan Sin-liong-kiam-sut yang mempunyai gerakan-gerakan tak terduga dan cepat, tapi ia dapat menyelamatkan diri dengan tepat sebelum terkena celaka.

Namun, bagaimana juga, Siauw Liong harus mengakui bahwa kepandaian Siauw Ma biarpun tak dapat dikata lebih tinggi tingkatnya dengan kepandaiannya sendiri, namun ilmu pedang Siauw Ma sungguh-sungguh sukar dilawan hingga ia mulai main mundur. Kemudian Siuw Liong memaki sambil menyindir-nyindir,

“Eh, orang tolol! Tuanmu tidak mempunyai banyak waktu untuk melayanimu! Kau pemuda tolol tak tahu malu, berhari-hari campur gaul dan dekat dengan seorang gadis, apakah dia patut dikata sopan? Ha, ha, ha! Siauw Ma yang gagah perkasa itu ternyata hanya seorang yang gila perempuan!” Kemudian Siauw Liong loncat pergi.

Siauw Ma yang dimaki menjadi marah sekali. Ia kertak gigi dan balas memaki, “Bangsat kecil, kau hendak lari ke mana?” Ia meloncat mengejar pula dengan cepat, tapi Siauw Liong menghilang di antara gerombolan pohon dan ditelan kegelapan bayangan pohon-pohon. Siauw Ma terpaksa batalkan kejarannya. Ia hendak kembali, tapi tiba-tiba dadanya berdebar.

Lian Eng tentu telah pulang lebih dulu! Apakah ia berani bertemu muka dengan gadis itu? Dengan kaki berat dan perasaan malu, Siauw Ma kembali ke rumah penginapan dan langsung memasuki kamarnya. Ia gelisah dan bergulingan di atas pembaringan tanpa dapat pejamkan mata sebentarpun. Kenyataan bahwa gadis yang semenjak dulu menarik perhatiannya dan yang akhir-akhir ini tanpa diketahuinya telah berjalan bersama-sama dia itu kini tidur dalam sebuah kamar yang tak berjauhan dari kamarnnya, membuat ia gelisah dan bingung.

Apa lagi kalau teringat akan pengalaman-pengalaman selama bersama gadis itu, ia merasa malu kepada diri sendiri. Kini terbukalah matanya bahwa tanpa disadarinya ia telah tertarik kepada Souw Eng, dan rasa tertarik ini tak lain ialah karena wajah dan senyuman pemuda sasterawan itu sama benar dengan wajah dan senyuman Lian Eng!

Jadi tanpa disadarinya ia telah jatuh cinta untuk kedua kalinya kepada Lian Eng dan yang kedua kalinya ini adalah Lian Eng yang berubah menjadi seorang pemuda. Karena perasaan suka dan cinta inilah maka ia merasa cemburu dan tak senang ketika Souw Eng tidur sekereta dengan Aisyah! Makin diingat, makin malulah rasa hati Siauw Ma. Ah, aku harus nyatakan terus terang!

Demikian ia mengambil keputusan.Kalau ia tidak menyatakan terus terang, maka selamanya ia akan merasa malu karena terang-terangan ia telah membuat pengakuan bahwa ia mencintai Lian Eng dan gadis itu mendengarnya sendiri. Apakah sekarang, setelah berhadapan dengan berterang, ia tidak berani mengaku?

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Siauw Ma telah cuci muka dan berdandan. Ia sengaja berganti pakaian yang dibawanya, pakaian baru yang membuat ia makin gagah dan tampan. Kemudian ia menanti di luar kamar Lian Eng masih tidur karena pintu kamarnya masih tertutup. Ah, ia tentu lelah, pikir Siauw Ma.

Pada saat itu datanglah pelayan rumah penginapan yang menghampiri padanya dan menyerahkan sepucuk surat sambil berkata. “Siauw-ya, malam tadi kawanmu telah pergi dan meninggalkan surat ini kepadaku dengan pesan agar pagi hari ini kuberikan kepadamu.”

Terkejutlah Siauw Ma. Ia terima surat itu dan menegur, “Kenapa tidak kau berikan padaku malam tadi?”

Pelayan itu memandangnya dengan tak berdaya. “Kawanmu itu pesan dengan keras dan tegas, siauw-ya. Ia melarang padaku memberi surat ini padamu sebelum pagi hari ini. Aku hanya melakukan apa yang diperintahkan padaku.”

Siauw Ma menghela napas. “Kalau begitu kamar itu telah kosong?” tanya dengan harapan.

Pelayan itu mengangguk dan ia pergi ke kamar bekas kamar Lian Eng lalu mendorong pintunya. Memang kamar itu telah kosong, sama seperti kekosongan hati Siauw Ma pada saat itu. Dengan sepuluh jari tangan gemetar ia buka surat itu yang ternyata berisikan tulisan yang halus dan bagus yang dibacanya berulang kali.

Kakakku Siauw Ma yang baik,
Kalau surat ini kau pegang, maka aku telah pergi jauh. Setelah apa yang terjadi malam tadi, kurasa lebih baik kita menuruti jalan masing-masing, bukan? Harap saja kau sudi maafkan padaku jika kau anggap aku telah mempermainkan padamu yang sesungguhnya, bukan menjadi maksudku dan janganlah marah padaku. Aku akan anggap kau sebagai seorang kawan terbaik selama hidupku.
Tertinggal Souw Lian Eng, hormatnya


Siauw Ma merasa seakan-akan dunia menjadi sunyi dan ia seperti kehilangan sesuatu yang membuat ia berduka. Tapi terhibur juga hatinya membaca tulisan Lian Eng yang terakhir. Gadis itu akan menganggapnya sebagai seorang kawan terbaik selama hidupnya? Ah, ini menandakan bahwa dirinya betapapun juga mendatangkan kesan baik dalam hati gadis itu! Siapa tahu, kalau ada jodoh mereka tentu akan bertemu kembali.

Atau, bagaimanapun juga, tak sampai setahun lagi, pada permulaan musim Chun tahun depan mereka tentu bertemu di puncak Thang-la! Mengingat akan hal ini, Siauw Ma terhibur hatinya dan wajahnya yang muram menjadi terang kembali. Aku tidak harus mengejar-ngejar dan mencari-carinya, karena perbuatan ini hanya akan mendatangkan rasa rendah dirinya pada hati Lian Eng. Gadis itu telah menyatakan hendak menuruti jalan masing-masing.

Demikianlah, Siauw Ma memutar-mutar pikirannya dan akhirnya mengambil keputusan untuk melanjutkan perantauannya ke arah utara.

* * *

Marilah kita alihkan perhatian kita sebentar untuk mengikuti keadaan dan pengalaman murid-murid dari tokoh lain. Di atas puncak Hong-lun-san, seorang dari pada Thang-la Sam-sian atau Tiga Dewa Gunung Thang-la, yakni Hwat Kong Tosu, tidak kalah rajinnya dengan penuh perhatian menggembleng murid kesayangannya, Hong Cu.

Gadis itu yang tahu bahwa suhunya telah mengikuti semacam perlombaan mengadu kepandaian dan bahwa dirinya dijadikan batu ujian, belajar dengan penuh semangat karena iapun ingin sekali mewakili suhunya dan merebut gelar pendekar terbesar dari Thang-la.

Hong Cu maklum bahwa orang-orang yang ia hadapi dalam perlombaan ini adalah orang-orang pandai dan yang lebih dahulu belajar silat dari padanya. Ia sudah mengemukakan hal ini kepada suhunya, tapi Hwat Kong Tosu dengan penuh keyakinan berkata kepadanya.

“Muridku, jangan kau gelisah. Memang, Beng Beng Hoatsu, Kiang Cu Liong dan Huo Mo-li adalah orang-orang lihai yang pasti akan menurunkan ilmu silat tinggi kepada muridnya. Tapi, betapapun juga, jika kau bersungguh hati dan dapat mewarisi ilmu tongkat kami seluruhnya dengan baik dan sempurna, jangan kau cemas akan tertinggal oleh mereka!

“Dengan Ouw-coa-koai-tung-hwat kami yang telah kaupelajari dengan sempurna, kau boleh dengan hati besar menghadapi Sin-liong-kiam-sut dari Beng Beng Hoatsu, Huo-mo-kun-hwat dari Huo Mo-li, ataupun kepandaian silat tinggi yang diturunkan oleh si Tabib Dewa sekalipun!”

Hong Cu percaya penuh akan kata-kata suhunya itu, maka iapun berbesar hati dan meyakinkan Ouw-coa-koai-tung-hwat dengan sepenuh hati. Selain itu, iapun mempelajari ilmu-ilmu lain dan memperdalam lwee-kang dan gin-kang dengan tekunnya.

Sementara itu, semenjak Hwat Kong Tosu mengajak Hong Cu ke atas Hong-lun-san, maka Souw Cin Ok, murid Hwat Kong Tosu yang pertama dan telah tua, yakni kakek sendiri dari Lian Eng yang akhirnya menjadi murid Huo Mo-li, mendapat perkenan dari suhunya untuk turun gunung dan menjalankan tugas sebagai pendekar perantauan.

Seperti halnya dengan Beng Beng Hoatsu yang menyuruh muridnya turun gunung, Hwat Kong Tosu ternyata mempunyai pandangan yang sama. Ia merasa bahwa kepandaian muridnya telah cukup tinggi dan sempurna, hanya perlu sekali muridnya itu menambah pengalaman dan mempraktekkan semua ilmu yang dipelajari di atas gunung itu untuk diuji dan digembleng dengan api pengalaman di dunia ramai.

Maka, setahun sebelum pertemuan besar itu terjadi, ia panggil Hong Cu dan memerintahkan muridnya itu turun gunung mencari pengalaman. Dengan demikian, maka tanpa disengaja Hong Cu tinggalkan Hong-lun-san hampir berbareng dengan Siauw Ma yang tinggalkan Puncak Harimau Salju!

Demikianlah, pada suatu pagi, dari puncak Hong-lun-san yang tinggi, tampak sesosok tubuh yang dengan lincah dan gesitnya meloncati jurang-jurang menuruni lereng yang curam. Ia adalah Hong Cu yang berpakaian warna kuning dengan sabuk sutera merah.

Gadis itu kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik sekali. Sepasang matanya lebar dan bening seperti burung hong, mulutnya kecil dengan bibir merah. Kulit putih bersih dan halus, sedikitpun tak membayangkan bahwa di bawah kulit itu terdapat tenaga-tenaga mentakjubkan.

Berbeda ketika merantau dulu, kini di atas gunung, Hong Cu mempunyai banyak kesempatan untuk merawat diri, maka kini ketika turun gunung, rambutnya tampak hitam berkilat dan dikuncir rapi lalu diikat di atas kepala dengan ikat rambut dari pita merah pula. Bahkan di bagian kiri kepalanya, ia menghiasnya dengan setangkai bunga warna kuning yang harum baunya.

Hong Cu tidak membawa senjata apa-apa karena keahliannya bermain tidak membutuhkan sesuatu senjata khusus. Ia dapat menggunakan setiap potong kayu untuk dijadikan senjata tongkat yang tidak kalah lihainya dari pada sebatang pedang mustika!

Agaknya tabiat Hong Cu tidak banyak berubah, riang gembira dan jenaka seperti biasa, terbukti dari senyum yang menghias bibirnya dan sinar matanya yang selalu berseri ketika ia menggunakan ilmu lari cepat menuruni gunung itu!

Ia telah mendapat perkenan dari suhunya untuk mencari orang tuanya. Memikirkan hal ini, ia merasa sangat girang dan gembira, karena telah lebih dari enam tahun ia tinggalkan kedua orang tuanya!

Biarpun telah enam tahun yang lalu, tapi Hong Cu masih teringat akan peristiwa ketika ia mula-mula bertemu dengan suhunya di kota Bun-an-kwan. Ia tahu bahwa kota itu bukanlah tempat tinggal orang tuanya dan ia masih teringat bahwa orang tuanya adalah seorang pembesar di kota Tiong-an-kwan yang tak jauh letaknya dari Bun-an-kwan. Ayahnya bernama Ang Lie Seng.

Maka pada pagi itu, Hong Cu langsung menuruni puncak Hong- lun-san dan menuju ke arah timur, hendak mencari tempat tinggal ayah bundanya. Tapi Tiong-an-kwan bukanlah dekat dari Pegunungan Thang-la dan untuk pergi ke kota itu ia membutuhkan sedikitnya waktu satu bulan perjalanan cepat karena dari tempat pertapaan suhunya, kita itu terpisah ribuan lie jauhnya!

Beberapa hari kemudian, Hong Cu tiba di sebuah kota yang cukup ramai. Ia berjalan seenaknya masuk ke dalam kota itu dan semua mata memandangnya dengan kagum dan heran. Siapa yang takkan kagum melihat gadis remaja yang cantik jelita itu dan siapa yang takkan heran melihat seorang gadis muda seorang diri berjalan memasuki kota, sedangkan pakaian gadis itu serba ringkas dan singset, menunjukkan bahwa gadis itu adalah golongan orang-orang ahli silat.

Tapi karena tidak tampak pedang menghias di pinggang atau punggung Hong Cu, orang-orang tidak memandang sebelah mata kepadanya. Kecantikan dan keadaannya itu mendatangkan peristiwa yang cukup hebat di kota itu. Di dalam kota itu terdapat serombongan anak muda tukang pelesir yang terkenal sebagai pemuda-pemuda nakal dan jahat.

Mereka ini adalah putera-putera para pembesar dan hartawan yang pekerjaannya tidak lain hanya mengandalkan kedudukan dan harta orang tua untuk menghina orang lain, terutama rakyat kecil yang tak berdaya. Pemuda-pemuda ini diam-diam membentuk semacam perkumpulan orang muda di mana mereka mempelajari ilmu silat dengan mengumpulkan orang-orang yang mereka anggap jagoan.

Pagi hari itu, serombongan pemuda sedang berkumpul dalam rumah ketuanya, yakni seorang hartawan yang terkenal banyak pengaruhnya. Ketika mereka sedang mengobrol dengan gembira dan menikmati arak dan daging, tiba-tiba seorang pemuda berlari masuk dan memberitahukan tentang kedatangan seorang gadis cantik di kota itu. Ternyata pemuda itu telah melihat Hong Cu dan segera memberi kabar kepada kawan-kawannya.

Mendengar berita menggembirakan ini, beramai mereka keluar seakan-akan hendak berlomba mendapatkan gadis itu! Maka sebentar saja tidak kurang dari pada limabelas orang pemuda berjalan cepat-cepat hingga membuat banyak orang menahan napas dengan penuh rasa khawatir.

Penduduk kota itu telah tahu bahwa pemuda-pemuda ini hanya mendatangkan bencana dan keonaran belaka, tapi mereka tidak berani menentang putera-putera hartawan dan para pembesar itu. Kini melihat belasan pemuda itu berjalun cepat-cepat, mereka tertarik sekali dan orang-orang yang agak pemberani diam-diam mengikuti mereka karena hendak melihat apakah yang akan dilakukan para pemuda itu.

Sementara itu, dengan menggendong buntalan pakaian dan bekal di atas punggung, Hong Cu berjalan seenaknya sambil melihat-lihat rumah dan toko yang berbaris di sepanjang kanan kiri jalan. Ia kagum melihat bangunan-bangunan tembok besar dan kokoh itu dan tiap kali lewat depan sebuah toko yang menjual bermacam barang dan cita, ia berhenti sebentar sambil melihat-lihat. Iapun tahu bahwa banyak mata laki-laki ditujukan kepadanya secara kurang ajar, tapi ia tidak ambil perduli, hanya menarik bibirnya ke arah senyum menghina.

Ketika ia tiba di sebuah jalan simpang empat, tiba-tiba saja datang sorombongan pemuda yang berpakaian mewah dan bersikap gagah. Mereka itu dengan cengar-cengir dan berlagak gagah-gagahan lalu membuat lingkaran dan mengelilingi Hong Cu yang berdiri di tengah dengan berani. Kebetulan pada saat itu ada seorang laki-laki tua berdiri dekat Hong Cu dan ikut termasuk dalam lingkaran, maka laki-laki tua itu dengan wajah pucat segera berbisik kepada Hong Cu.

“Siocia, celaka. Kau dalam bahaya!” Kemudian dengan tergesa-gesa ia pergi dari tempat itu.

Hong Cu berlaku tenang dan senyum menghina tidak tinggalkan bibirnya yang manis. Ia berdiri sambil bertolak pinggang dan memandang para pemuda itu dengan berani.

Lima belas orang pemuda-pemuda itu tersenyum-senyum dan mata mereka menikmati pandangan indah yang berupa gadis cantik jelita itu. Mereka tidak hanya kagum akan kecantikan Hong Cu, tapi juga kagum melihat ketabahan nona itu yang sedikitpun tidak tampak gugup atau takut melihat dirinya dikurung pemuda-pemuda itu. Terdengarlah pujian-pujian yang di antaranya sangat menyebalkan.

“Aduh, lihat pinggangnya! Seperti batang pohon liu!”

“Kulitnya putih seperti susu!”

“Aduh manisnya bibir itu!”

“Matanya lebih bagus dari pada mata burung hong.”

Hong Cu makin sebal dan tahulah ia bahwa pemuda-pemuda ini adalah pemuda yang perlu mendapat hajaran keras. Ia hadapi mereka dengan keren dan menegur keras. “Hai, apakah maksud kalian menghadang perjalananku? Mundurlah sebelum aku menjadi marah.”

Pemuda-pemuda itu makin beraksi. Ketua mereka, seorang pemuda yang tampan juga dan berpakaian sangat mewah, maju dan berkata, “Nona, kami tidak menghadang untuk mengganggumu. Kami hanya ingin berkenalan dan kagum melihatmu. Marilah kau ikut kami dan menerima penghormatan kami!”

Hong Cu adalah seorang gadis yang dalam beberapa tahun ini berada di atas gunung. Sekarang ia baru berusia tujuhbelas tahun dan boleh dikata ia tumbuh dewasa, di atas Bukit Hong-lun-san hingga ia sama sekali tidak mengerti akan keadaan dunia yang penuh dengan tipu muslihat dan kekotoran perbuatan manusia.

Oleh karena tidak mengerti, maka ia menganggap perkataan pemuda itu sewajarnya dan tidak mempunyai latar belakang yang jahat, hingga ia menjadi agak sabar dan menjawab. “Terima kasih, saudara. Tapi aku tidak ada waktu dan hendak melanjutkan perjalananku. Harap kalian maafkan saya dan jangan menghalangi perjalananku.”

Akan tetapi, di luar dugaannya, pemuda-pemuda itu mengurungnya makin rapat dan mereka mulai mendekatinya. “Nona manis, janganlah menolak. Marilah kugandeng tanganmu, nona,” ketua pemuda-pemuda itu berkata lagi, kini sambil memandang dengan kurang ajar sekali.

Melihat keadaan itu, mengertilah Hong Cu dan ia mulai marah sekali. Sepasang matanya yang besar dan bening itu mengeluarkan cahaya kilat, tapi bibirnya tetap tersenyum manis. Sementara itu, orang-orang yang tadi diam-diam mengikuti pemuda-pemuda itu dan banyak orang pula yang kebetulan berada di situ, hanya menghela napas dan merasa kasihan akan nasib gadis itu yang tentu akan mendapat hinaan seperti biasa dilakukan oleh gerombolan pemuda liar itu.

Pernah dulu terjadi pemuda-pemuda itu menghina seorang gadis kota itu dan orang tua serta kakak gadis itu mencegahnya, tapi akibatnya kakak gadis itu mati dihajar sedangkan ayahnya dipukuli pula, sedangkan gadis itu dengan paksa diculik oleh mereka. Siapa yang berani melawan? Ayah-ayah mereka itu adalah orang-orang berpangkat dan orang-orang hartawan!

Tapi alangkah heran mereka ketika melihat betapa Hong Cu sedikitpun tidak tampak takut, bahkan kini membentak dengan suaranya yang nyaring.

“Eh, eh! Tidak tahunya kalian ini adalah anjing-anjing rendah yang gatal punggung membutuhkan gebukan! Biarlah hari ini nonamu memberi hajaran kepada kalian!”

Biarpun kata-kata ini diucapkan dengan sungguh-sungguh dan nyaring, tapi tentu saja tidak dipandang sebelah mata oleh para pemuda itu, bahkan seorang di antara mereka yang tinggi besar segera menghampirinya dan berkata,

“Aduh, nona manis. Kalau kau ingin menggebuk punggungku, boleh kau gebuk lebih dulu. Tapi nanti kalau kau menghibur kami, harus aku yang lebih dulu kau hibur. Bagaimana, akur?”

Hong Cu rasakan dadanya hampir meledak karena marahnya, tapi ia dengan kekuatan batin yang luar biasa dapat juga menekan marahnya dan bahkan suaranya terdengar merdu dan manis ketika ia berkata, “Baiklah, coba kau ambilkan penggebuknya!”

Pemuda tinggi besar itu dengan tertawa ha-ha-hi-hi lalu memungut sepotong kayu kecil yang besarnya hanya sebesar jari telunjuk dan panjangnya tidak lebih satu kaki! “Ini penggebuknya, dan kau boleh gebuk sekerasnya!” katanya sambil nyengir dan perlihatkan giginya yang besar-besar.

Sebetulnya menurut nafsu marahnya, ingin sekali Hong Cu turun tangan dengan segera, tapi karena ia merasa muak dan sebal melihat para pemuda itu, maka ia sengaja minta senjata untuk menghajar mereka agar tangannya tak usah kotor karena beradu dengan tubuh mereka! Kini melihat orang memberi sebatang kayu kering, hatinya girang sekali dan ia terima itu dengan mulut masih tersenyum.

Sementara itu, orang-orang yang melihat peristiwa itu, juga para pemuda yang mengurungnya, heran akan kesungguhan gadis itu menerima olok-olok si tinggi besar. Masa kayu kecil pendek itu akan dipakai menggebuk? Tentu saja yang digebuk takkan merasa apa-apa!

Pemuda tinggi besar itu lalu berdiri membelakangi Hong Cu dan berkata, “Hayo, kau cepat memberi gebukan, nona manis!”

Kini Hong Cu tak dapat menahan nafsu marahnya lagi. Dengan perlahan ia gerakkan tongkat pendek kecil itu ke arah punggung si pemuda tinggi besar. Dan akibatnya membuat para pemuda itu tertawa riuh rendah mentertawakan Hong Cu.

Ketika kayu itu tiba di punggung pemuda tinggi besar, tak terdengar sesuatu dan tidak terdengar pula si pemuda mengaduh, bahkan pemuda itu masih berdiri sedikitpun tak bergerak, seakan-akan tidak merasa sama sekali!

Tapi tak lama kemudian, pemuda-pemuda itu menjadi pucat seperti melihat setan dan suara ketawa yang riuh rendah itu serentak berhenti tertahan seperti suara jengkerik sedang mengerik lalu terpijak mampus!

Yang membuat mereka terkejut adalah keadaan pemuda tinggi besar itu. Pemuda itu masih berdiri dengan mata melotot, tapi ia tak dapat bergerak sama sekali seperti sebuah patung batu, hanya kedua biji matanya saja melotot besar dan melirik ke sana-sini dan tak lama kemudian dari kedua mata itu mengalir air mata! Ternyata pemuda itu telah tertotok jalan darah tai-twi-hiat oleh ujung tongkat Hong Cu hingga membuat ia kaku!

Hong Cu tak mau tanggung-tanggung. Ia bergerak lagi dan lain pemuda yang terdekat telah tertotok roboh dan tak dapat bergerak karena lemas! Kini barulah para pemuda itu maklum bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang gadis yang mereka sangka mempunyai ilmu sihir, maka ramailah mereka mencabut golok dan pedang mengeroyok! Akan tetapi, belasan pemuda itu bagi Hong Cu tidak lebih berbahaya dari pada belasan ekor semut yang kalau ia mau membunuhnya tinggal pencet saja!

Tapi, gadis itu tidak demikian kejam. Ia bergerak cepat hingga lenyap dari pandang data para pemuda itu dan tahu-tahu, seorang demi seorang, ke tiga belas orang pemuda itu telah tertotok semua! Yang tertotok jalan darah tai-twi-hiat, berdiri kaku bagaikan patung, sedangkan yang tertotok jalan darah thian-hu-hiat, roboh dengan lemas dan tak dapat berkutik!

Sebentar saja, jalan perempatan itu telah penuh dengan tubuh-tubuh para pemuda itu yang bergelimpangan di sana sini dan berdiri kaku bagaikan patung-patung hidup! Dan para penduduk yang melihat jalannya pertempuran hebat itu, kini berdiri terbelalak memandang kepada Hong Cu bagaikan melihat seorang bidadari baru saja turun melayang dari angkasa!

Orang tua yang memberi peringatan segera menghampiri Hong Cu dan berkata, “Ah, kau lihai sekali, nona. Tapi lekaslah kau lari, karena kongcu-kongcu itu mempunyai guru-guru ahli silat yang pandai dan sebentar lagi mereka bisa datang dengan para pengawal dan polisi untuk menangkapmu. Larilah lekas!”

Hong Cu ulur tangannya dan pegang pundak orang tua itu sambil tersenyum. “Jangan kau khawatir, lopeh. Memang aku menanti kedatangan mereka untuk sekalian kuberi hajaran agar mereka jangan berani berlaku sewenang-wenang pula kepada rakyat.”

Orang-orang yang mendengar ucapan gagah ini merasa kagum dan mereka pandang gadis itu seakan-akan Hong Cu bukanlah seorang gadis dan manusia biasa, tapi seorang dewi. Apa lagi orang tua itu, ketika mendengar ucapan Hong Cu yang menyatakan pembelaannya kepada rakyat kecil, menjadi terharu dan jatuhkan dirinya berlutut. “Ah…. kalau begitu, kau benar-benar seorang dewi…”

Hong Cu mengangkat bangun empe itu dan pada saat itu dari jauh tampak mendatangi banyak orang sambil berlari. Mereka itu ternyata adalah guru-guru silat dan kaki tangan para pemuda yang baru saja dihajar oleh Hong Cu! Melihat hal ini, kakek itu segera pergi dari situ dengan ketakutan.

Hong Cu dengan tenang memandang mereka yang mendatangi. Ternyata bahwa mereka terdiri dari lima orang laki-laki setengah tua berpakaian sebagai guru-guru silat dan serombongan polisi berpakaian seragam biru lebih dari dua orang banyaknya.

Bukan main terkejutnya para guru silat dan rombongan penjaga keamanan itu ketika melihat keadaan limabelas pemuda itu yang berada dalam keadaan mengherankan, dan lebih terkejut dan heran lagi ketika mendengar bahwa yang menjatuhkan semua pemuda itu bukan lain ialah gadis muda cantik jelita yang berdiri dengan tenang dan bermain-main dengan sebatang kayu kecil di jari-jari tangannya itu!

Kepala guru silat yang memimpin penyerbuan ini adalah seorang she Louw dan ia seorang yang mahir sekali memainkan sebuah tombak bercagak. Iapun tidak lupa membawa tombaknya itu dan kini dengan agak ragu-ragu ia mewakili kawan-kawannya dan melangkah maju menghadapi Hong Cu.

“Nona, benarkah bahwa kau yang merobohkan semua kongcu-kongcu ini?” tanyanya dengan membentak.

Hong Cu memandang guru silat itu dengan senyum manis. “Memang betul, dan siapakah kau maka menanyakan hal ini padaku?”

Tertegun hati Louw-kauwsu melihat lagak Hong Cu yang demikian tenang dan aneh. Ia menduga bahwa gadis ini tentu murid seorang luar biasa dan berilmu tinggi, maka iapun tidak berani sembarangan berlaku sembrono dan keras. Biarpun ia merasa malu harus bersikap hormat dan melayani gadis muda ini, tapi ia menjawab juga.

“Lohu she Louw dan menjadi guru silat di kota ini. Kau masih begini muda tapi suka mencari onar, maka kuharap saja kau suka ikut dengan damai agar perkara ini dapat diadili sebagaimana mestinya.”

“Perkara ini terjadi di sini, dan bukan aku yang mulai lebih dulu. Kalau mau mengadili harus di sini juga!” kata Hong Cu dengan acuh tak acuh.

Sikap ini membuat seorang guru silat yang masih muda dan bertubuh tinggi besar menjadi marah sekali, ia segera melangkah maju dan berkata kasar. “Perempuan siluman dari mana berani mengacau dan menyombong di sini? Hayo kau menyerah!” Dan ia mengulur tangan hendak menangkap lengan Hong Cu.

Tapi, sebelum orang dapat melihat gerakan gadis yang cepat sekali itu, tiba-tiba ujung kayu kecil di tangan Hong Cu telah mendahului menotok pundaknya dan jago silat tinggi besar itu roboh dengan lemas!

Bukan main terkejutnya Louw-kauwsu melihat gerakan yang aneh dan lihai ini. Bagaimana sebatang kayu kecil seperti itu dapat digunakan sebagai senjata penotok demikian lihainya? Tapi, ia tidak mau jatuh nama dan berlaku nekat. Dengan ayun dan gerakkan tombak cagaknya, ia menerjang sambil berkata. “Kalau kau menghendaki kekerasan, apa boleh buat!”

Hong Cu melihat datangnya serangan cukup berbahaya, mengerti bahwa Louw-kauwsu adalah seorang yang mempunyai kepandaian lumayan juga, maka ia berkelit dengan lincahnya. Serangan kedua dan ketiga menyusul, tapi tetap Hong Cu dapat menghindari ujung tombak dengan mudah sekali.

Hal ini membuat semua orang yang mengurungnya menjadi marah dan mereka beramai maju menyerbu! Maka ribut dan kacaulah keadaan di situ! Para pemuda yang tadi tertotok dan masih berdiri seperti patung, kena tertubruk dan tersenggol oleh para pengeroyok itu hingga tubuh mereka roboh dalam keadaan masih kaku!

Hong Cu tidak mau sia-siakan waktu. Ia lalu kerjakan kayu kecil di tangan dan dengan gerakan menempel ia berhasil tempel ujung tombak Louw-kauwsu dan sekali putar saja tombak itu terlepas dari tangan Louw-kauwsu. Inilah gerakan istimewa dari Ilmu Tongkat Ouw-coa-koai-tung-hwat! Secepat kilat kayu di tangan Hong Cu menyambar dan guru silat kepala itu dapat ditotok roboh dan tak berdaya.

Setelah itu, sekali lagi Hong Cu mengamuk seakan-akan seekor naga betina yang sakti menyambar ke kanan kiri, dan di mana saja tubuhnya berkelebat, di situ tentu roboh seorang pengeroyok! Tak lama kemudian, hampir semua pengeroyok dapat dirobohkan dan sisanya segera melarikan diri!

Di jalan simpang empat itu kini penuh tubuh orang yang malang melintang dan bertumpuk-tumpuk hingga semua orang yang menonton pertempuran aneh itu kini memandang dengan mata terbelalak, menatap gadis kecil yang masih tersenyum dan berdiri di tengah-tengah perempatan!

Kemudian, setelah memandang para korbannya dengan puas, Hong Cu berkata dengan suaranya yang merdu dan nyaring. “Kalian semua pemeras dan penindas yang kejam, dengarlah! Hari ini kalian baru tahu bahwa tidak selalu kejahatan mendapat kemenangan. Jangan sangka bahwa dengan menggunakan kekuasaan dan kepandaian serta harta benda, kalian akan dapat selalu menindas dan memeras rakyat kecil!

“Saat ini aku masih menaruh kasihan dan ampunkan jiwa rendahmu sekalian, tapi awas, kalau lain kali kalian masih berani berlaku sewenang-wenang, maka aku sendiri atau kawan-kawanku akan datang membasmimu tanpa ampun lagi!”

Setelah berkata demikian yang dapat didengar oleh semua korban yang tertotok dan malang melintang di atas tanah, Hong Cu lalu menggunakan kedua kakinya menendang dan menyontek ke arah tubuh para korbannya. Heran sekali, setelah kena tendang sekali saja oleh ujung sepatu Hong Cu yang lemas dan runcing, orang-orang itu dapat bergerak dan merayap bangun, lalu pergi bagaikan seekor anjing kena pukul!

Louw-kauwsu yang merasa kagum dan malu, memberanikan diri menghampiri Hong Cu dan menjura. “Lihiap, maafkan kami yang tidak mengenal orang pandai. Bolehkah aku mengetahui nama lihiap yang terhormat dan nama gurumu yang mulia?”

Hong Cu tersenyum dan menjawab. “Namaku Ang Hong Cu dan guruku ialah Hwat Kong Tosu dari Thang-la!”

Mendengar nama Hwat Kong Tosu, terkejutlah Louw-kauwsu dan ia segera menjura lagi. “Ah, ah, maafkan kami, lihiap, sungguh kami harus mampus tidak mengenal murid seorang Thang-la Sian-jin yang terhormat!” Kemudian ia pergi dengan menundukkan kepala.

Hong Cu melihat betapa orang-orang menonton di situ kini memandangnya dengan mata kagum, maka ia tidak mau menunggu sampai orang-orang itu membuat penyambutan kepadanya sebagai seorang pembela rakyat. Dengan cepat ia lalu meloncat berkelebat danlenyaplah bayangannya dibalik benteng!

Terdengar seruan kagum dan heran dan untuk sesaat lamanya orang-orang yang menyaksikan hal ini berdiri bengong. Sampai berbulan-bulan nama Hong Cu dijadikan kembang bibir orang kota itu dan semenjak terjadi peristiwa itu, para pemuda yang tadinya merupakan gerombolan liar dan pengganggu ketenteraman penduduk kota, tidak berani lagi memperlihatkan tingkah yang tidak selayaknya. Hal ini tentu saja membuat para penduduk merasa berterima kasih, sekali kepada gadis muda yang mereka anggap sebagai dewi kahyangan.

Sementara itu, ketika Hong Cu turun dari genteng rumah terakhir di luar kota, tiba-tiba terdengar orang memanggil namanya. Ia merasa heran sekali dan menengok dengan siap sedia menghadapi segala kemungkinan. Tapi ketika ia melihat bahwa yang memanggil namanya adalah seorang kakek berpakaian sebagai seorang petani, ia menjadi girang sekali dan lari menghampiri orang itu sambil berseru. “Souw-pehpeh!”

Orang itu ternyata bukan lain ialah Souw Cin Ok, murid pertama dari Hwat Kong Tosu! Sebenarnya Hong Cu harus menyebut suheng atau kakak seperguruan padanya, tapi karena Souw Cin Ok adalah seorang kakek dan Hong Cu seorang gadis muda yang pantas menjadi cucunya, maka terdapat persetujuan kedua orang bahwa Hong Cu menyebut Souw Cin Ok dengan sebutan Peh-peh atau uwa, sedangkan kakek she Souw itu menyebut Hong Cu dengan menyebut namanya saja bukan menyebut sumoi sebagaimana mestinya.

“Souw-pehpeh! Beberapa tahun ini kau pergi ke mana saja?” Hong Cu bertanya dengan wajah berseri. Ia memang suka kepada Souw Cin Ok yang dulu ketika masih berada diatas gunung sering memberi petunjuk-petunjuk padanya. Semenjak ia belajar silat di atas Hong-lun-san, telah beberapa kali Souw Cin Ok naik ke puncak itu dan menyambangi suhunya, Hwat Kong Tosu.

Mendengar pertanyaan Hong Cu dan melihat kegembiraan gadis itu, Souw Cin Ok tersenyum. “Aku merantau ke seluruh daratan Tiongkok, dan tadi kulihat pula sepak terjangmu. Ah, sungguh luar biasa kemajuan yang kau capai selama beberapa tahun ini, Hong Cu. Kulihat ilmu tongkatmu sudah tak jauh dengan kepandaian suhu sendiri!”

Hong Cu girang mendengar ini. “Betulkah, peh-peh? Dan bagaimana pendapatmu tentang perbuatanku tadi? Salahkah caraku memberi pelajaran kepada mereka?”

Souw Cin Ok pandang wajah Hong Cu dengan kagum. Semenjak dulu ia sayang dan suka kepada gadis lincah gembira ini dan ia sudah anggap gadis itu sebagai pengganti Lian Eng yang berpisah dengannya. Kini melihat sepak-terjang dan ilmu silat gadis itu, ia benar-benar kagum sekali. Kalau dibanding dengan kepandaian sendiri, mungkin sumoi yang muda ini sudah menang berlipat ganda. Ia pun maklum bahwa suhunya memang sengaja menurunkan seluruh kepandaian kepada murid baru yang tersayang ini.

Diam-diam dalam hati Souw Cin Ok timbul harapan bahwa mungkin sekali Hong Cu akan mendapat kemenangan pada tahun depan nanti. Ia juga mendengar dari suhunya akan hal ini dan ia hanya mengharap, kalau bukan Hong Cu, supaya Lian Eng cucunya itu yang akan mendapat kemenangan.

“Sepak terjangmu tadi sudah sepantasnya, Hong Cu. Cuma lain kali janganlah kau terlalu memandang ringan kepandaian orang sebelum tahu benar-benar bahwa kepandaianmu jauh berada di atas kepandaiannya.”

Hong Cu mengangguk-angguk, karena ia sudah biasa taat kepada petunjuk suhunya dan petunjuk Souw Cin Ok yang selalu memberi nasihat dan petunjuk benar padanya. “Dan sekarang kau hendak pergi ke mana, Souw-pehpeh?”

“Aku sengaja mencegatmu di sini, Hong Cu. Tapi kau lari begitu cepat hingga hampir saja kau lewat tanpa aku dapat menegurmu!”

Hong Cu tersenyum lagi. Hatinya senang sekali, karena ia tahu bahwa kalau Souw Cin Ok memuji, maka pujian itu keluar dari hati yang jujur, bukan pujian kosong.

“Hong Cu, aku sengaja hendak mengajakmu menghadiri pesta ulang tahun seorang sahabatku di kota yang tak jauh dari sini letaknya. Sahabatku itu adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal juga dan sudah tentu kali ini akan datang berkumpul banyak sekali orang pandai dari dunia kang-ouw di rumahnya. Ketika aku melihatmu tadi, ingatlah, olehku bahwa suhu sengaja, menyuruh kau turun gunung untuk mencari pengalamannya. Nah, kau akan meluaskan pengalamanmu jika kau turut aku ke pesta itu.”

Hong Cu tertawa. “Ah, Souw-pehpeh masa pergi berpesta bisa mendatangkan pengalaman? Kau aneh sekali.”

Souw Cin Ok mengelus-elus jenggotnya yang panjang dan tertawa pula. “Anak bodoh! Bukankah kukatakan tadi bahwa sahabatku itu seorang tokoh kang-ouw. Tentu saja banyak orang pandai datang dan dengan bertemu orang-orang pandai, bukankah itu berarti memperluas pengalamanmu?”

“Baiklah, baiklah, peh-peh. Tentu aku senang ikut padamu, karena akupun sedang bingung hendak ambil jalan mana untuk menuju ke kampung orang tuaku.”

“Kebetulan sekali, Hong Cu, karena untuk pergi ke kampungmu kau harus melewati Lam-kiok juga.”

“Eh, kau sudah tahu kampungku, peh-peh?”

“Tentu saja tahu, bukankah kampungmu Tiong-san-kwan?”

Tiba-tiba Hong Cu menuding ke arah kakek itu sambil tertawa. “Aah, aku tahu, tentu suhu yang memberi tahu kepadamu, peh-peh. Betul, tidak? Suhu selalu memberi tahu segala hal kepadamu.”

Souw Cin Ok hanya tertawa melihat lagak Hong Cu yang masih kekanak-kanakan itu. Ia lalu ajak nona itu berangkat dengan menggunakan ilmu lari cepat. Ternyata kepandaian Hong Cu sudah berada di atas suhengnya ini hingga dalam hal gin-kang juga ia lebih sempurna. Boleh dibilang dalam hal gin-kang, Hong Cu memang lebih tinggi dari orang lain, karena ia mempunyai tenaga istimewa yang ia miliki setelah ia makan obat pemberian Tiong Li tercampur buah-buahan aneh dulu itu.

Souw Cin Ok tahu pula akan hal ini dan ia memang sengaja ajak sumoinya yang lihai ini, tidak saja untuk memperkenalkan sumoinya dengan para orang gagah, tapi juga mengandung lain maksud. Ia ingin ajak gadis perkasa ini untuk membantunya membalas dendam sakit hatinya kepada seorang yang lihai kepandaiannya!

Karena menggunakan ilmu lari cepat maka kota Lam-kiok yang jauhnya hanya ratusan lie itu dapat dicapai dalam waktu setengah hari. Hari telah menjelang senja ketika Souw Cin Ok dan Hong Cu masuk ke dalam kota Lam-kiok yang ramai juga. Mereka langsung menuju ke sebuah gedung besar di barat kota.

Sahabat yang dimaksudkan oleh Souw Cin Ok itu adalah seorang hartawan she Lim yang terkenal suka bergaul dan luas pengalamannya karena sering kali pergi merantau mencari sahabat-sahabat di kalangan tokoh persilatan. Lim-wangwe ini adalah seorang yang gagah perkasa karena ia mewarisi ilmu silat golok besar yang diturunkan oleh leluhurnya. Kakeknya dulu adalah seorang murid dari cabang Kun-lun dan yang telah berhasil menciptakan ilmu golok keluarga Lim yang diwarisi oleh Lim-wangwe.

Karena sikapnya ramah-tamah dan suka sekali akan ilmu silat, maka Lim-wangwe banyak sekali kenalannya di antara tokoh-tokoh dari semua cabang. Tidak heran bahwa ketika ia merayakan hari ulang tahunnya yang ke enampuluh, orang-orang gagah dari segala lapisan dan segala tingkat memerlukan datang untuk memberi selamat, sekalian hendak bertemu dengan kawan-kawan lama yang tentu datang pula menghadiri perayaan itu.

Karena gedung Lim-wangwe besar dan luas, serta ia terkenal hartawan besar, maka sudah tentu pesta perayaan itupun luar biasa ramainya. Pada malam hari itu keadaan gedung Lim-wangwe indah sekali. Lampu-lampu yang terhias indah, obor-obor dan ribuan lilin menerangi seluruh gedung dan taman bunga yang sangat luas itu. Kursi-kursi dan meja sengaja dipasang di dalam taman bunga karena di dalam gedung panas, dan memang taman bunga itulah tempat yang paling tepat dan paling luas.

Puluhan pelayan berpakaian seragam merah melayani keperluan para tamu dan siap berdiri di pinggir dengan sikap mereka yang hormat. Lim-wangwe sendiri dengan pakaian warna biru yang menambah keangkerannya berdiri di depan gedung menyambut para tamu dengan wajah gembira. Ia adalah seorang duda yang mempunyai dua anak laki-laki yang telah dewasa dan yang juga pandai ilmu silat seperti ayahnya. Kedua pemuda itupun berdiri menyambut tamu.

Sebelum sampai di tempat yang dituju, Hong Cu berkata kepada Souw Cin Ok, “Souw-pehpeh, kalau kau nanti perkenalkan aku, jangan katakan aku sebagai sumoimu.”

“Habis, bagaimana?” Souw Cin Ok bertanya sambil tertawa.

“Katakan saja bahwa aku adalah anak kemenakanmu. Kalau kau katakan bahwa aku adalah adik seperguruan, maka tentu akan menimbulkan keheranan dan ketidakpercayaan belaka, dan karenanya, kita akan menjadi perhatian orang...”

Selanjutnya,
PATUNG DEWI KWAN IM JILID 13