Patung Dewi Kwan Im Jilid 09, karya Kho Ping Hoo - GADIS ITU ternyata benar Lian Eng adanya. Di bawah asuhan Huo Mo-li, kepandaiannya telah maju pesat. Ketika ia mendengar suara Siauw Ma, iapun kaget hingga hampir saja Hong Cu yang menubruknya berhasil merebut patung. Hong Cu telah dapat memegang kaki patung itu den terjadilah saling membetot.
“Hong Cu, lepaskan dia, kawan sendiri!”
Tapi mana Hong Cu mau melepaskan dan ia bahkan membetot makin keras. Lian Eng menjadi marah dan menggunakan kakinya menendang ke arah pergelangan tangan Hong Cu yang memegang kaki patung. Tendangan ini hebat dan berbahaya maka terpaksa Hong Cu melepaskan patung itu dan balas melayani dan seperti orang yang tergesa-gesa saja, ia menghindarkan serangan Hong Cu dan meloncat jauh lalu melarikan diri!
Tapi Hong Cu merasa penasaran sekali. Iapun menggunakan gin-kangnya dan meloncat mengejar sambil berteriak. “Maling kecil hendak lari ke mana? Tinggalkan patung itu!”
Dalam hal ilmu meloncat dan lari cepat, agaknya Hong Cu tidak berada di bawah Lian Eng, karena selain mendapat sari pelajaran Hwat Kong Tosu, juga Hong Cu telah dapat makan ramuan obat dan buah yang luar biasa itu. Maka ia segera dapat menyusul Lian Eng dan dengan nekat ia menyerang untuk merampas patung!
Melihat kenekatan gadis itu, Lian Eng menjadi marah sekali. Ia lalu melawan dan menangkis pukulan Hong Cu. Ketika lengan tangan mereka bentrok, Hong Cu merasa betapa kulit lengannya menjadi panas dan sakit, maka diam-diam ia terkejut sekali. Ia tidak tahu bahwa di kedua lengan Lian Eng telah terisi tenaga Huo-mo-kang.
Untung bagi Hong Cu bahwa Lian Eng tidak mau mencelakakannya, karena gadis gagu ini melihat betapa lawannya tadi berjalan bersama Siauw Ma yang telah dikenalnya. Kalau ia mau menggunakanpukulan Huo-mo-kang untuk membalas, tentu Hong Cu takkan kuat menahan! Pada saat mereka masih ramai berkelahi, datanglah Siauw Ma.
“Siauw Ma, hayo kau bantu aku merampas patung ini! Bukankah suhumu juga ingin mendapatkannya?” teriak Hong Cu.
Mendengar ini Siauw Ma bergerak maju, tapi tiba-tiba Lian Eng memandang dengan matanya yang begitu bagus seperti mata burung hong, hingga Siauw Ma menahan kakinya dan berdiri bengong! Semenjak pertemuannya yang pertama kali dengan Lian Eng dan ia dapat dijatuhkan oleh gadis itu dulu, ia telah merasa tertarik sekali oleh gadis gagu ini, terutama ketika ia tahu bahwa gadis itu menderita sakit gagu, hatinya makin merasa iba dan duka.
Perasaan inilah yang membuat ia beberapa tahun yang lalu dengan nekat mengejar ke atas Bukit Harimau Salju ketika Lian Eng terculik oleh manusia salju! Karena inilah, maka ia tidak jadi turun tangan untuk merampas patung itu dari tangan Lian Eng dan tidak membantu Hong Cu yang nampak terdesak!
Tiba-tiba Siauw Ma berseru kepada Hong Cu, “Hong Cu, biarkan dia pergi! Lihat, siapa yang datang itu!”
Hong Cu yang memang telah terdesak, segera meloncat mundur dan menengok ke atas. Sementara itu, sambil melepas pandangan berterima kasih ke arah Siauw Ma, Lian Eng menggerakkan tubuh dan lari pergi turun gunung dan cepat sekali.
Dari atas gunung tampak Siauw Liong mengejar dengan pedang di tangan. Mulutnya berteriak-teriak, “Maling perempuan, hayo kembalikan patung itu!!” Agaknya ia tidak memperhatikan Siauw Ma dan Hong Cu, karena dari atas ia mengejar Lian Eng. Setelah Lian Eng lari cepat dan meninggalkannya, maka Siauw Liong menjadi bingung.
Ia mencari dan melihat ke bawah gunung. Tiba-tiba ia melihat Lian Eng sedang berkelahi dengan seorang gadis lain dan tiba-tiba Lian Eng lari pula turun gunung. Tentu saja ia tidak mau tinggal diam, lalu mengejar sambil berteriak-teriak.Maka alangkah kaget dan marahnya ketika Siauw Ma menghadang di tengah jalan sambil membentak. “Berhenti!”
“Kau lagi, Siauw Ma? Agaknya kau telah bosan hidup!” Dengan nekat Siauw Liong putar pedangnya dan menyerang hebat yang ditangkis oleh Siauw Ma dengan tenang. Hati Siauw Ma agak heran melihat pakaian Siauw Liong basah kuyup.
Sementara itu, Hong Cu yang melihat Lian Eng melarikan diri, segera mengejar ke bawah gunung! Ia melihat Siauw Ma yang tidak mau membantunya ketika bertempur melawan Lian Eng tadi. Kini melihat Siauw Ma berkelahi dengan Siauw Liong, ia segera mengejar ke bawah dengan harapan dapat merampas patung itu!
Kalau di lereng gunung itu terjadi perebutan patung yang ramai sekali oleh para anak muda, maka di puncak gunung terjadi peperangan yang tidak kalah hebat dan ramainya.
Ketika malam hari itu Hwat Kong Tosu mendaki puncak Hek-coa-san, ternyata ia tidak mendaki seorang diri. Dari lain jurusan, seorang tua sakti lain juga mendaki puncak itu, yakni bukan lain ialah Beng Beng Hoatsu! Dan kedua orang ini sama sekali tidak menyangka bahwa orang-orang lain telah semenjak tadi mendahului mereka dan kini telah berada di puncak!
Setelah keduanya tiba di puncak dari lain jurusan dan mengintai ke arah gua ular tempat kediaman Tok-kak-coa, ternyata di depan gua itu telah berkumpul banyak orang. Dan terkejutlah kedua pertapa itu ketika melihat bahwa mereka itu adalah ketiga tokoh dari Kwan-im-pai, yakni Kim Hwa Sianli, Cin Hwa Sianli, dan Kim Bok Sianjin!
Dan lebih heran lagi ketika melihat bahwa selain ketiga tokoh Kwan-im-pai itu dan tiga orang paderi Kwan-im-kauw yang menjadi murid-murid kepala, di situ terdapatjuga Huo Mo-li sendiri dengan muridnya, Lian Eng! Bagaimana mereka dapat berkumpul di situ?
Huo Mo-li telah didatangi oleh tokoh-tokoh Kwan-im-pai yang minta bantuan untuk menyerbu sarang Tok-kak-coa. Mereka tahu akan kelihaian si jahat itu, maka mereka minta bantuan Huo Mo-li yang menyanggupi tapi dengan perjanjian bahwa ia tidak mau bekerja sama dengan imam-imam Kwan-im-kauw. Mereka boleh pergi bersama, tapi di puncak Hek-coa-san mereka harus berusaha sendiri-sendiri dan siapa yang dapat berhasil merampas patung, dialah yang berhak!
Tadinya para tokoh Kwan-im-kauw keberatan, tapi karena mereka kini sudah tahu bahwa ketiga tokoh Thang-la atau Thang-la Sam-sian itu sebabnya ingin mendapatkan patung hanya untuk menangkan perlombaan di antara mereka bertiga, maka akhirnya mereka setuju. Di samping itu, juga untuk menebus malu karena dulu menuduh Huo Mo-li mencuri patung, padahal tidak berdosa.
Mereka pikir, dari pada patung berada di tangan Tok-kak-coa yang jahat, lebih baik terjatuh ke dalam tangan seorang dari pada ketiga dewa Thang-la itu yang tentu hanya akan memiliki untuk beberapa lama saja. Pula, belum tentu patung akan terjatuh ke dalam tangan Huo Mo-li, karena mereka sengaja mengajak murid-murid kepala hingga berjumlah enam orang!
Diajaknya Huo Mo-li hanya untuk menambah semangat! Maka mereka beramai-ramai lalu berangkat. Huo Mo-li mengajak Lian Eng yang telah memiliki kepandaian yang lumayan juga.
Setelah mendaki puncak Hek-coa-san dan tiba di depan gua pertapaan Tok-kak-coa, imam-imam dari Kwan-im-kauw itu berteriak memanggil tuan rumah keluar. Tapi tidak terdengar jawaban sesuatu dari dalam gua yang gelap itu.
Kim Bok Sianjin menjadi tidak sabar dan berteriak keras. “Hei, kakek jahat, maling rendah! Kau keluarlah agar kita bisa membuat perhitungan. Jangan bersembunyi saja seperti laku seorang pengecut!”
Lain-lain imam Kwan-im-kauw ikut berteriak-teriak karena marah dan gemas, tapi Huo Mo-li hanya berdiri agak jauh sambil memandang ke arah gua dengan tajam. Akhirnya Kim Bok Sianjin hilang sabarnya. Ia mencabut pedang dan hendak menerjang ke dalam gua, tapi Kim Hwa Sianli mencegah sutenya itu,
“Jangan sembrono, Kim Bok sute, Tok-kak-coa lihai dan curang sekali. Lebih baik kita pakai akal dan memaksa dia keluar.”
Setelah melarang adiknya berlaku sembrono, ketua Kwam-im-kauw yang banyak pengalaman itu lalu memerintah murid- muridnya kumpulkan kayu kering dan tumpuk kayu itu di mulut gua. Kemudian ia nyalakan api dan sebentar saja kayu-kayu kering itu terbakar. Asap tebal bergulung-gulung masuk ke dalam gua.
“Tok-kak-coa! Kalau kau tidak mau keluar, terpaksa kami akan bikin kau mati tercekik asap di dalam guamu sendiri!” Kim Hwa Sianli berseru dengan suaranya yang nyaring.
Untuk beberapa lama semua orang diam dan memperhatikan kalau-kalau dari dalam gua ada orang keluar. Tapi ternyata tidak ada gerakan sesuatu. Tiba-tiba terdengar bunyi desis tajam keluar dari dalam gua dan sebentar saja mulut gua itu penuh dengan puluhan ular kecil dan besar yang menerjang keluar!
Banyak di antara mereka yang mati terpanggang api, tapi banyak pula yang dapat lolos dan merayap keluar sambil menyemburkan hawa beracun ke arah penyerang-penyerangnya! Barisan ular ini demikian nekat seakan-akan di belakang mereka ada yang mengatur!
“Mundur!” teriak Kim Hwa Sianli sambil loncat ke belakang.
Kemudian keenam imam Kwan-im-kauw itu menggunakan senjata-senjata rahasia dan batu untuk menyerang dan disambitkan kearah barisan ular, sehingga karena sambitan mereka memang jitu dan keras, sebentar saja, banyaklah ular yang pecah kepalanya dan mati.
Sementara itu, Huo Mo-li yang berpikiran cerdik dan tajam, diam-diam memberi perintah kepada muridnya dengan gerak-gerik jari tangan supaya murid itu menyelidik ke arah belakang gua karena ia bercuriga kalau-kalau penghuni gua itu dapat keluar dari belakang.
Lian Eng mengerti maksud gurunya, maka gadis itu diam-diam meloncat ke pinggir gua dan menghilang di balik pohon. Tak seorangpun mendengar perintah ini sehingga tidak ada yang tahu.
Setelah semua ular dapat dibunuh, tiba-tiba dari atas pohon terdengar suara orang tertawa keras bagaikan seekor burung hantu yang besar, tubuh Tok-kak-coa melayang turun menghadapi semua tamunya.
“Ha, ha, ha! Entah ada apakah maka malam ini guaku mendapat kehormatan begini banyak orang-orang gagah? Dan imam-imam dari Kwan-im-kauw ternyata hanya gagah dan suci di luarnya saja. Tidak tahunya mereka hanya orang-orang rendah yang hanya berani berlaku gagah terhadap ular-ular peliharaanku yang tak berdaya!”
Huo Mo-li dengan sekali gerakan tubuh telah berdiri di depan Tok- kak-coa. “Tok-kak-coa! Jangan kau banyak rewel. Hayo serahkan patung Kwan-im Pouwsat padaku kalau kau mencari selamat!”
Tok-kak-coa tertawa ha, ha, hi, hi dan pandang para imam Kwan-im-kauw. “Kalian orang-orang Kwan-im-kauw memang tolol. Orang macam Huo Mo-li ini kalian bawa ke sini? Ha, ha! Seandainya patung dapat dirampasnya, apakah kalian kira setan api ini mau menyerahkannya kepada kalian? Ha, ha!”
“Berikan patung itu!” Huo Mo-li membentak dan mengirim serangan dengan tangan kiri.
Tok-kak-coa cukup tahu akan kehebatan kedua lengan Huo Mo-li, maka ia berlaku hati-hati sekali. Ia cabut keluar tongkatnya yang lihai dan melayani Huo Mo-li dengan sengit. Sebentar saja kedua tokoh persilatan yang sangat lihai itu bertempur seru dan keduanya hanya merupakan dua gunduk sinar yang berputaran dan bayang-bayang mereka bergerak- gerak di atas tanah karena tersinar api yang masih menyala di mulut gua!
Sementara itu, malam telah berganti subuh dan keadaan yang gelap pekat mulai terganti warna keabu-abuan yang suram. Ke enam imam Kwan-im-kauw hanya menonton pertempuran itu. Tadinya Cin Hwa Sianli hendak maju mengeroyok Tok-kak-coa, tapi Kim Bok Sianjin yang telah merasakan kelihaian Tok-kak-coa, mencegah sucinya.
“Biarlah Huo Mo-li bereskan si jahat itu, kita perlu menyimpan tenaga kalau-kalau nanti Huo Mo-li berkeras hendak membawa patung kita.”
Kedua sucinya menganggukkan kepala dan mereka puji kecerdikan sute mereka. Mereka juga curiga dan menyangka bahwa Huo Mo-li tentu takkan mau menyerahkan patung itu kepada mereka.
Beng Beng Hoatsu di sebelah kiri dan Hwat Kong Tosu di sebelah kanan yang sama-sama mengintai dan menonton pertempuran itu, terkesima dan kagum melihat kehebatan Huo Mo-li menyerang Tok-kak-coa. Ternyata dalam beberapa tahun ini, kepandaian Huo Mo-li telah maju pesat.
Sementara itu, Lian Eng dengan mata tajam memeriksa keadaan hutan di belakang gua, tapi ia tidak dapat menemukan sesuatu yang mencurigakan. Ia memeriksa terus dan kini ia dapat berjalan lebih mudah karena malam telah mulai menghilang, terganti fajar yang suram-suram. Tiba-tiba ia melihat bayangan orang lari cepat ke depan. Lian Eng segera bersembunyi di balik pohon dan mengintai.
Bayangan itu adalah seorang pemuda yang gerak-geriknya cukup gesit. Di tangan pemuda itu terpondong sebuah bungkusan sutera yang membuat hati Lian Eng berdebar. Tak salah lagi, itu tentu bungkusan sebuah patung! Maka ia segera mengejar dengan mengeluarkan gin-kangnya yang tinggi.
Pemuda itu bukan lain ialah Siauw Liong yang mendapat tugas dari gurunya untuk menyembunyikan patung Dewi Kwan-im. Guru dan murid itu tadinya memang berada dalam gua ketika para penyerang itu tiba.
Setelah para imam Kwan-im-kauw membakar kayu dan menyerang gua dengan asap, Tok-kak-coa lalu mengatur barisan ularnya menyerbu keluar, sedangkan ia sendiri dengan membawa patung curiannya mengajak muridnya keluar dari sebuah pintu rahasia di belakang gua.
Ia perintahkan Siauw Liong untuk membawa pergi patung itu dan menyembunyikan di suatu tempat, sedangkan ia sendiri karena merasa marah lalu menemui para tamunya yang menuntut kembalinya patung Dewi Kwan-im.
Lian Eng terus saja mengikuti Siauw Liong dan ia heran sekali melihat pemuda itu menuju ke sebuah air terjun. Air terjun itu tidak besar, tapi karena telah ratusan tahun menjatuhkan air, maka dibawahnya telah merupakan sebuah kolam yaag lebar dan dalam.
Agaknya orang telah sengaja memperdalam kolam itu dengan menggali tanah dan batunya, hingga kolam itu dapat digunakan untuk mandi. Siauw Liong berdiri di pinggir kolam, lalu ia membuka bungkusan sutera tadi.
Benar sebagaimana dugaan Lian Eng, dari dalam kantung sutera itu ia mengeluarkan sebuah patung emas yang besar dan indah. Siauw Liong dengan sayangnya membolak-balikkan patung itu dengan tangannya hingga tubuh patung itu berkilauan. Kemudian pemuda itu melemparkan ke tengah-tengah kolam! Memang dasar kolam itu merupakan tempat penyimpanan yang baik sekali.
Tapi sebelum ia melepaskan patung itu, tiba-tiba tubuh Lian Eng berkelebat dan langsung gadis ini mengirim pukulannya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menyambar patung!
Siauw Liong kaget sekali karena serangan itu datangnya tiba-tiba dan cepat tak terduga. Akan tetapi, ia juga bukan seorang pemuda lemah. Dengan cepat pula ia dapat mengangkat tangan untuk menangkis pukulan itu, tapi inilah kesalahannya. Ia tidak tahu bahwa pukulan Lian Eng ini mengandung tenaga Huo-mo-kang yang lihai.
Ketika lengan tangannya beradu dengan lengan tangan Lian Eng, ia merasa lengannya itu kesemutan dan panas sekali hingga patung di tangan lain itu dengan mudah dapat terampas oleh Lian Eng. Sebelum Siauw Liong hilang kagetnya, Lian Eng telah kirim tendangan kilat yang berbahaya sekali ke arah perutnya!
Tidak ada jalan lain bagi Siauw Liong untuk menyelamatkan diri selain harus menjatuhkan diri ke belakang dengan berjumpalitan. Tapi karena tadi ia telah memutar tubuh ketika menghadapi Lian Eng sehingga kini kolam itu berada di belakangnya, maka tidak ampun lagi ia jatuh ke dalam air hingga air kolam yang jernih itu muncrat ke atas!
Lian Eng tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan lari sambil membawa patung Dewi Kwan-im, setelah memasukkan patung itu ke dalam kantung sutera itu!
Siauw Liong marah sekali. Ia segera berenang ke pinggir dan cepat mengejar. Dengan menggunakan lwee-kangnya yang terlatih, ia berteriak keras memberitahukan suhunya. “Suhu! Patung itu telah dibawa lari gadis cilik bertangan api!” setelah berteriak begini ia cepat mengejar Lian Eng yang turun gunung dengan cepat.
Siauw Liong cukup cerdik. Tadi suhunya telah memberi tahu bahwa penyerang-penyerang yang datang adalah imam-imam dari Kwan-im-pai dan di antara mereka terdapat seorang wanita lihai bernama Huo Mo-li yang mempunyai tangan api! Maka ketika ia merasa betapa pukulan lengan Lian Eng panas dan lihai, ia dapat menduga bahwa gadis ini tentu murid dari wanita bertangan api itu. Oleh karena itu, maka dalam pemberitahuannya ia sengaja menyebut demikian agar suhunya dapat mengerti.
Mendengar teriakan muridnya, Tok-kak-coa terkejut sekali. Tapi cepat otaknya yang tajam mencari akal. Ia segera loncat mundur dan menuding ke arah Huo Mo-li. “Ha, ha! Setan Api Wanita, kau ternyata licin sekali! Sementara menyerang aku di sini, diam-diam kau suruh muridmu mencuri patung itu!”
Kemudian si jahat dari timur itu memandang kepada para imam Kwan-im-kauw dan tertawa besar. “Kalian imam Kwan-im-kauw memang benar-benar tolol! Kalian datang mencari patung atau hendak memusuhi aku? Patungmu telah dicolong oleh murid Huo Mo-li, dan kalian masih saja berdiri seperti patung mati!”
Kim Bok Sianjin segera berkata kepada Huo Mo-li, “Huo Pouwsat. Lekas kau panggil kembali muridmu itu.”
Tapi Huo Mo-li hanya menjawab singkat, “Yang dapat merampas berhak memilikinya!”
“Hm, begitukah kelakuan seorang tokoh dari Thang-la yang gagah perkasa?” Cin Hwa Sianli menyindir.
“Patung sudah terjatuh dalam tanganku, kalau kau mau ambil kembali, kau harus dapat menjatuhkan aku!” Huo Mo-li menantang.
“Hm, tidak sangka tabiatmu seperti ini! Pinni selalu mendengar bahwa Thang-la Sam-sian, ketiga tokoh Thang-la itu adalah pendekar-pendekar gagah perkasa yang jarang bandingannya di dunia ini!” Kim Hwa Sianli turun menegur.
“Siapa bilang gagah perkasa?” Kim Bok Sianjin mencela. “Ke tiga setan dari Thang-la itu kesemuanya orang-orang tidak baik dan tak dapat dipercaya. Ke tiganya pembohong besar dan palsu!”
Panas hati Huo Mo-li mendengar ini. “Jangan kau sebut-sebut Thang-la Sam-sian sesuka hatimu!” bentaknya keras.
Tok-kak-coa tertawa bergelak. Ia senang sekali bahwa muslihatnya berhasil dan imam-imam Kwan-im-pai itu telah mulai ribut dengan Huo Mo-li. “Ya, ya! Kim Bok Sianjin jangan berani-berani sebut Thang-la Sam-sian sesuka hati. Siapa orangnya yang berani mempermainkan mereka? Apa lagi kalian imam-imam dari Kwan-im-pai, lebih baik pulang saja dan terima nasib, jangan berani main-main di depan Thang-la Sam-sian! Ha, ha!”
Diobor macam ini, ketua Kwan-im-pai menjadi berkobar dan dengan teriakan keras mereka segera terjang Huo Mo-li. Tapi pada saat itu dari kanan kiri keluarlah Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu dengan berbareng. Setelah loncat keluar barulah mereka saling lihat dan tertawa besar.
“Ha, ha! Sungguh tak nyana nama kita diinjak-injak orang di sini!” kata Beng Beng Hoatsu.
“Huo Mo-li! Kau teruskan memberi hajaran kepada si jahat dari timur itu, biarlah kami berdua mencoba kelihaian imam-imam dari Kwan-im-pai yang berani memandang rendah Thang-la Sam-sian!”
Huo Mo-li girang sekali melihat munculnya dua orang itu, maka dengan gemas ia lalu maju menyerang pula kepada Tok-kak-coa yang merasa terkejut dan cepat-cepat membela diri.
Sedangkan ke enam imam Kwan-im-pai itu karena sudah terlanjur dan menganggap bahwa kedua jago tua dari Thang-la itu hendak membela Huo Mo-li yang ternyata bersalah dan melarikan patung mereka, lalu dengan nekat maju mengeroyok Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu. Ketiga murid kepala Kwan-im-pai membantu Kim Bok Sianjin mengeroyok Beng Beng Hoatsu, sedangkan Kim Hwa Sianli berdua dengan Cin Hwa Sianli menerjang Hwat Kong Tosu.
Tak perlu dijelaskan lagi betapa lihainya kedua Sianli dari Kwan-im-kauw itu yang memiliki kepandaian tinggi. Apa lagi dengan maju berbareng, maka Hwat Kong Tosu tidak berani berlaku sembarangan. Ia berseru keras dan tongkat bambunya dikerjakan dengan cepat sambil mengeluarkan tipu-tipu mujijat dari Ouw-coa-tung-hwat guna melindungi diri dan balas menyerang.
Kedua Sianli itu dengan tangan kanan putar pedang dan tangan kiri ayun kebutan, menyerang dengan teratur dan bergantian maka sebentar saja sepasang pedang dan sepasang kebutan telah merupakan sinar bergulung-gulung menjadi satu dengan sinar tongkat bambu yang hitam bagaikan ular hidup menyambar-nyambar.
Juga ketiga murid kepala dari Kwan-im-kauw bukanlah lawan ringan karena kepandaian mereka sedikitnya sudah mencapai dua pertiga bagian dari ilmu pedang Kwan-im-pai. Maka dengan kekuatan mereka disatukan lalu ditambah lagi dengan Kim Bok Sianjin, mereka berempat ini merupakan lawan tangguh bagi Beng Beng Hoatsu yang tertawa bergelak-gelak dan putar po-kiamnya terus saja keluarkan ilmu pedangnya Sin-liong-kiam-sut yang lihai!
Sinar pedangnya yang panjang dan meluncur ke sana ke mari melayani keempat pedang lawannya bagaikan seekor naga sakti sedang berlaga hingga keempat lawannya berlaku hati-hati sekali dan mengeluarkan seluruh kepandaian mereka.
Sungguh hebat petempuran di atas Gunung Hek-coa-san pada waktu fajar tengah menyingsing itu. Kekuatan kedua pihak berimbang dan tadinya mereka saling hantam hanya lebih condong kepada saling mencoba kepandaian dan mengukur ketinggian ilmu belaka, tapi setelah bertanding ratusan jurus belum juga dapat mendesak lawan, kedua pihak mulai bersungguh-sungguh, kalau perlu membinasakan lawan di depannya!
Huo Mo-li yang bertempur melawan Tok-kak-coa mengerahkan tenaga dan ilmu untuk menjatuhkan si jahat dari timur itu. Tapi Tok-kak-coa adalah seorang tokoh kang-ouw yang sudah berpengalaman, pula ilmu silatnya sangat curang dan banyak akal muslihat hingga Huo Mo-li beberapa kali hampir tertipu maka Dewi Api itu bersilat lebih hati-hati.
Apa lagi karena beberapa kali Tok-kak-coa mengeluarkan senjata beracun yang menyambar ke arah Huo Mo-li dan hampir saja berhasil melukai Huo Mo-li, maka wanita perkasa itu makin berlaku waspada. Kehati-hatiannya ini menguntungkan Tok-kak-coa karena ia memang sudah payah menahan pukulan-pukulan Huo Mo-li yang dilancarkan dengan tenaga Huo-mo-kang yang lihai sekali!
Mari kita tengok kembali para taruna remaja yang ribut memperebutkan patung di lereng gunung! Lian Eng si gadis gagu dengan mengempit patung Dewi Kwan-im terus saja lari di sepanjang lereng bukit dengan cepatnya. Ia merasa khawatir kalau-kalau ada yang mengejarnya, maka ia makin mempercepat larinya. Maksudnya hendak mencari jalan pulang ke Thang-la, tapi karena memang belum pernah melalui gunung itu, ia sesat jalan dan menjadi bingung harus mengambil jalan mana!
Tiba-tiba dari jurusan depan tampak seorang pemuda tanggung lari cepat ke arahnya. Lian Eng terkejut, tapi ia sudah tak ada kesempatan bersembunyi lagi. Ia berlaku nekat dan bahkan memapaki. Setelah mereka bertemu, Lian Eng segera kenali pemuda itu yang bukan lain ialah Tiong Li, murid Si Tabib Dewa yang dulu pernah bertemu dengannya di puncak tempat tinggal suhunya.
Kebaikan hati Tiong Li yang dulu ingin sekali melihat ia disembuhkan, masih berkesan dalam hati gadis gagu itu. Maka kini setelah bertemu dengan Tiong Li, ia tersenyum manis dan mengangkat tangan tanda memberi salam.
Untuk sejenak Tiong Li ragu-ragu dan heran melihat gadis cantik itu, tapi setelah Lian Eng tersenyum dan tampak lesung pipit manis di pipi kirinya ingatlah Tiong Li akan gadis gagu murid Huo Mo-li. Wajahnya lalu menunjukkan muka girang dan Tiong Li segera menggerak-gerakkan tangan yang maksudnya bertanya dari mana gadis itu datang.
Karena sudah lelah sekali dan girang hati bertemu dengan pemuda yang sangat dipercayanya itu, Lian Eng segera membuka kantung sutera dan keluarkan patung Dewi Kwan-im, lalu dengan sibuk kedua tangan berikut sepuluh jarinya bergerak-gerak menceritakan betapa ia berhasil merampas patung itu dari murid Tok-kak-coa dan betapa kini subonya sekarang bertempur di atas puncak bukit. Dalam bercerita ini selain menggunakan gerak tangan. Lian Eng juga membuat corat-coret di atas tanah dengan telunjuknya yang lancip untuk membuat gambar atau menulis huruf.
Tiong Li melihat gerak-gerik gadis ini merasa terharu sekali dan tiba-tiba teringatlah ia bahwa menurut kata suhunya, di dalam patung itu tersimpan semacam obat yang demikian mujijat hingga mungkin sekali dapat sembuhkan Lian Eng dari sakitnya! Maka ia segera menunjuk ke arah leher dan mulut Lian Eng, lalu sedapat-dapatnya menceritakan maksudnya, tapi ia lalu teringat lagi bahwa Lian Eng dapat mendengar dan mengerti omongan orang! Demikianlah, dengan serba kaku dan kikuk, Tiong Li lalu tersenyum dan mengulangi maksudnya, kini dengan berkata.
“Nona, dalam patung ini terdapat semacam obat. Jika kita bisa membuka lubang rahasia dan mendapatkan obat itu, maka akan terdapat kemungkinan untuk menyembuhkan penyakitmu.”
Mendengar ini, wajah Lian Eng menjadi pucat dan sebentar pula berwarna merah. Ternyata ia menjadi sangat terharu dan dadanya berdebar keras. Ia hampir tak percaya akan kata-kata pemuda itu, maka untuk menjelaskannya, ia menunjuk ke arah leher dan mulutnya. Maksudnya hendak bertanya apakah yang dikatakan penyakit oleh pemuda itu ialah penyakit gagu yang dideritanya?
Tiong Li dapat menangkap maksud ini, maka dengan wajah berseri ia berkata dengan tetap. “Betul, nona! Menurut suhuku, obat di dalam patung ini sangat mujijat dan barangkali dapat mengobati gagumu, karena sesungguhnya kau gagu karena semacam penyakit di tenggorokanmu.”
Mendengar ini, dengan wajah berseri Lian Eng serahkah patung itu kepada Tiong Li dengan kedua tangannya. Tiong Li lalu memeriksa patung itu dan mencari-cari barangkali ada semacam pintu kecil. Tapi usahanya sia-sia. Ia pencet sana-sini, dibantu pula oleh Lian Eng yang sudah tidak sabar dan ikut meraba-raba dan memencet di seluruh tubuh patung, tapi lubang rahasia itu tidak juga dapat ditemukan.
Ketika kedua muda-mudi itu sedang bingung dan tidak sabar meraba-raba patung Dewi Kwan-im hingga asyiknya Tiong Li sampai lupa kepada suhunya, tiba-tiba Kiang Cu Liong si Tabib Dewa tiba di situ. Ia heran melihat kedua anak muda itu memegang patung Dewi Kwan-im yang banyak menimbulkan ribut itu, maka cepat ia menegur muridnya.
Barulah Tiong Li teringat dan ia berdiri dengan muka merah sambil menceritakan kepada suhunya bahwa Lian Eng murid Huo Mo-li berhasil mendapatkan patung. “Suhu, kami sedang bingung dan tak sabar mencari lubang yang suhu katakan dulu, tapi ternyata sia-sia!”
Kiang Cu Liong tertawa. “Biarlah saja, nanti aku yang mengambil. Tapi coba ceritakan, bagaimana nona ini bisa mendapatkan patung ini?”
Dengan singkat Tiong Li menuturkan kembali cerita yang diketahuinya dari Lian Eng tadi. Ia menuturkan betapa Huo Mo-li sekarang sedang berkelahi dengan Tok-kak-coa di atas puncak, dan bahwa imam-imam dari Kwan-im-pai juga berada di sana.
Mendengar ini, berubahlah wajah Kiang Cu Liong. “Aah, tentu terjadi keributan hebat di sana!” Ia memandang ke arah puncak. Kemudian dengan cepat ia mengambil patung itu lalu menggunakan tenaga lwee-kang yang tinggi menepuk-nepuk kaki patung sebelah kanan.
Ternyata bahwa lubang rahasia itu berada di punggung patung dan pintu kecil lubang itu jika ditutup dapat mengunci sendiri, sedangkan pencetannya berada di sebelah dalam hingga untuk membukanya hanya dapat dilakukan dengan menggunakan tenaga lwee-kang yang sangat tinggi untuk menepuk dengan tangan hingga tenaga itu menembus ke dalam dan menggencet per yang dapat membuka pintu itu! Sambungan pintu dibuat sedemikian halusnya hingga jika sudah tertutup tak tampak bekas dan sambungannya.
Setelah ditepuk beberapa kali oleh Kiang Cu Liong, maka terbukalah pintu di punggung patung. Tabib Dewa itu lalu merogoh ke dalam dan mengeluarkan sebuah bungkusan kain sutera warna merah. Ia lalu menutup kembali pintu rahasia itu dan membuka bungkusan sutera merah. Ternyata di dalamnya terdapat akar semacam jinsom, yakni akar yang bentuknya seperti orok kecil, berkaki dan bertangan. Tapi anehnya, kalau jinsom biasanya berwarna putih dan kuning maka jinsom ini berwarna merah darah!
“Nona, kau bersiaplah! Aku akan mencoba menyembuhkan kau, kalau Yang Maha Berkuasa menghendaki, kau akan sembuh.”
Lian Eng tanpa menjawab lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kiang Cu Liong. Tabib Dewa ini mengeluarkan sebuah jarum perak dari keranjang obatnya. Kemudian ia menotok pundak Lian Eng hingga gadis itu menjadi lemas tak berdaya. Dengan mata tajam dan jari-jari tetap, Tabib Dewa itu lalu menancapkan jarumnya ke arah leher Lian Eng sampai tujuh kali.
Kemudian ia mengeluarkan sebungkus obat, mencampur itu dengan sedikit air dan ditempelkan di sekujur leher gadis itu. Ia lalu menggunakan ujung pisau memotong sedikit jinsom merah yang diambilnya dari dalam patung. Sungguh aneh, getah jinsom itu pun berwarna merah, mengalir seperti darah manusia!
“Tiong Li, kau boleh mencampur jinsom ini dengan arak putih, dan dicampur semangkok air. Masaklah obat ini sampai tinggal setengahnya dan minumkan airnya. Kemudian ampasnya boleh suruh nona ini makan dan telan habis. Mengerti?”
Tiong Li mengangguk. Kiang Cu Liong lalu tepuk gadis itu hingga terbebas dari totokan. Lian Eng merasa lehernya sakit sekali, perih dan panas. Namun gadis ini tahan-tahan rasa sakitnya dan pejamkan mata.
“Nah, kalian tinggallah di sini, dan kau nona, kau turutlah saja kata-kata muridku. Kalian boleh beristirahat di dekat telaga itu dan tunggu kedatanganku. Aku perlu melihat pertempuran di atas dan kalau bisa hendak mencegahnya. Patung ini kubawa, nona!”
Lian Eng yang merasa kesakitan, tapi yang telah menyerahkan nasibnya kepada guru dan murid itu dengan setulus hatinya dan penuh kepercayaan, hanya mengangguk lemah. Kiang Cu Liong kempit patung itu dan sekali berkelebat lenyaplah ia dan dengan cepatnya naik ke atas puncak.
Tiong Li segera ajak Lian Eng ke telaga yang tak jauh dari situ letaknya. Mereka dapatkan tempat di bawah sebuah pohon yang besar dan tua. Tiong Li masak obat itu sebagaimana yang diajarkan oleh suhunya.
Sementara itu, Lian Eng masih saja menahan sakitnya dan rasa perih telah memaksa air mata keluar mengalir di atas kedua pipinya. Namun sedikitpun gadis itu tidak mengeluh. Hal ini sungguh membuat kagum hati Tiong Li dan diam-diam ia berdoa semoga pengobatan itu berhasil baik.
Tak lama kemudian obat itupun mengebulkan uap dan mendidih. Setelah airnya tinggal setengahnya. Tiong Li lalu tuangkan obat itu ke dalam mangkok. Lian Eng pandang obat dalam mangkok itu dengan mata penuh harapan, tapi ketika ia hendak meminumnya, Tiong Li mencegahnya.
“Sabar, nona. Obat ini masih panas sekali.”
Ia lalu pegang mangkok itu dan menggunakan mulutnya meniup ke dalam agar obat itu lekas dingin. Setelah dingin, Tiong Li lalu angsurkan mangkok itu “Minumlah dan semoga sembuhlah kau!”
Lian Eng terima mangkok itu dengan kedua tangan yang gemetar karena keharuan hatinya, lalu dengan mata terbelalak lebar ia minum obat itu. Ketika obat melalui lehernya, maka terasalah hawa dingin mengusir semua rasa perih dan panas di lehernya, tapi ketika obat itu masuk ke perutnya, ia merasa betapa hawa panas dari dalam perut naik ke atas dan memenuhi dadanya.
“Sekarang kau tidurlah, nona, agar obat itu dapat bekerja dengan baik,” kata Tiong Li dengan suara gemetar, karena iapun merasa terharu dan penuh harap akan berhasilnya pengobatan ini.
Lian Eng menurut dan gadis itu berbaring miring di atas daun-daun kering yang banyak bertumpuk di bawah pohon. Angin telaga bertiup perlahan hingga sebentar saja gadis yang telah letih dan semalam penuh tidak tidur itu jatuh pulas.
Tiong Li duduk termenung di pinggir telaga dan melihat ikan-ikan berenang ke sana ke mari. Ia mencabut beberapa rumput dan melempar-lemparkan akar rumput ke dalam air. Puluhan ikan menyerbu akar rumput itu menimbulkan pemandangan di dalam air yang menarik hati. Tiong Li sangat gembira dan berkali-kali ia melempar-lemparkan akar rumput ke arah ikan-ikan itu.
Tiba-tiba terdengar suara merdu menegurnya, “Hei, kau baru melamun apa?”
Tiong Li terkejut dan menengok. Ternyata dengan rambutnya awut-awutan tapi yang menambah keaslian dan kejelitaan wajah manis yang memandang dengan senyum, Hong Cu telah berdiri di belakangnya.
“Hong Cu!” kata Tiong Li dengan girang sekali seakan-akan baru bertemu dengan seorang yang telah dirindukan bertahun-tahun padahal baru sebulan mereka berpisah. “Kau dari mana dan hendak ke mana?”
“Aku sedang mengejar gadis gagu yang mencuri patung Kwan-im Pouwsat. Ia lari ke jurusan ini, apakah kau tidak melihatnya?”
“Kau maksudkan nona Lian Eng?” tanya Tiong Li.
“Entah siapa namanya. Ia seorang gadis sebaya dengan aku, gagu dan jahat sekali, katanya ia murid Huo Mo-li.”
Kemudian dengan lincah Hong Cu tuturkan pengalamannya dengan ringkas, dan Tiong Li pandang gerak-gerik gadis itu dengan kagum dan senang.
“Hei, jangan kau pandang orang saja!” tegur Hong Cu setelah habis tuturkan pengalamannya dan melihat pemuda itu masih bengong menatap wajahnya. “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apakah kau melihat setan kecil itu lari lewat sini?”
Tiong Li tersenyum. “Jangan khawatir. Patung itu telah diantar kembali ke puncak oleh suhu. Adapun tentang nona Lian Eng, ia berada di sana.”
Ia putar tubuh dan menunjuk ke arah di mana gadis gagu tadi berbaring. Tapi alangkah terkejut dan herannya ketika melihat betapa Lian Eng telah berdiri di belakang mereka dengan muka merah.
Agaknya gadis itu telah semenjak tadi berada di situ dan mendengarkan percakapan mereka yang gembira. Tentu gadis itu mendengar pula betapa ia dimaki oleh Hong Cu. Maka kinibdengan mata marah sekali ia tatap wajah Hong Cu.
Sebaliknya Hong Cu ketika melihat Lian Eng berdiri di situ segera loncat menyerbu dengan tongkat bambu di tangannya! Lian Eng berkelit gesit dan balas menyerang dengan tidak kalah hebatnya.
Karena sekarang ia tidak membawa patung maka dapat bergerak lebih lincah. Memang mengenai kepandaian, Lian Eng masih menang setingkat jika dibandingkan dengan Hong Cu, maka kini terdorong oleh perasaan marahnya, cepat sekali ia dapat mendesak Hong Cu dengan pukulan-pukulan Huo-mo-kang yang lihai.
Hong Cu gesit sekali dan ia seorang pemberani. Biarpun sudah tahu akan kehebatan Huo-mo-kang, namun ketika ia dipukul, ia berani menangkis dengan tongkatnya. Tongkatnya meluncur cepat memapaki lengan Lian Eng dan “Krak!!” tongkat itu hancur berkeping-keping! Lian Eng tidak sia-siakan kesempatan itu lalu melancarkan serangan maut.
Tapi pada saat itu Tiong Li loncat dan sampok siku tangan Lian Eng yang memukul, hingga Lian Eng terpaksa batalkan pukulannya untuk kelit sampokan ini. Ia pandang wajah Tiong Li dengan sayu dan sedih, dan untuk sesaat ia berdiri diam tak bergerak!
“Nona Lian Eng, kau belum sembuh benar, tak boleh banyak bergerak,” tegur Tiong Li.
“Coba lihat, alangkah jahatnya dia ini!” Hong Cu berkata.
Lian Eng pandang mereka berdua, lalu terdengar isak tangis tersembul dari kerongkongannya dan berhenti di dalam mulut, lalu dengan cepat sekali ia balikkan tubuh terus loncat pergi dan lari secepatnya!
Tiong Li tidak mengejar, ia hanya geleng-geleng kepala dan berkata kepada Hong Cu sambil tersenyum, “Ah, ia memang gadis aneh, tapi ilmu silatnya tinggi sekali.”
“Hayo kita menyusul suhu-suhu kita kepuncak. Untuk apa berdiam di tempat ini?”
“Jangan, Hong Cu. Suhu telah pesan agar aku menanti di sini. Di puncak sedang terjadi keributan antara tokoh-tokoh besar. Berbahaya bagi kita kalau ke sana.”
“Aaah, kau penakut sekali!” Hong Cu mencela. “Apakah kita sebagai murid mau enak-enak saja menanti di sini sedangkan guru kita sedang bertempur mati-matian? Apakah ini boleh disebut murid-murid yang setia kepada guru?”
Tiong Li bersangsi, tapi karena Hong Cu terus mengajaknya, terpaksa ia pun mengikuti gadis itu lari ke puncak. Karena Tiong Li masih ragu-ragu, maka Hong Cu tidak perdulikan dia lagi dan lari secepatnya ke atas, diikuti oleh pemuda itu dari belakang. Tiong Li adalah seorang murid yang taat sekali kepada suhunya, tapi kali ini ia tidak berani membantah kehendak Hong Cu, takut kalau-kalau gadis itu marah kepadanya!
Pada saat itu, dari atas tampak seorang turun sambil berlari cepat. Dari jauh saja Hong Cu telah kenal siapa adanya orang itu, maka ia segera berteriak memanggil. “Siauw Ma!!” dan ia lalu lari keras menghampiri pemuda itu.
Siauw Ma sedang lari mencari-cari Lian Eng, maka mendengar panggilan ini iapun turun. Begitu bertemu dengan Hong Cu, ia segera bertanya, “Hong Cu, di manakah Lian Eng?” Pertanyaannya mengandung kecemasan dan kekhawatiran akan nasib gadis itu.
Sebenarnya biarpun tadinya Hong Cu merasa marah kepada Siauw Ma karena pemuda itu tidak mau membantunya ketika ia berusaha merebut patung dari Lian Eng, kini setelah bertemu dengan pemuda itu ia sudah melupakan marahnya dan memanggil dengan gembira. Tapi, untuk kedua kalinya ia merasa mendongkol sekali karena begitu berjumpa, yang pertama kali ditanya oleh pemuda itu ialah Lian Eng!
“Gadis gagu yang jahat itu? Ia ia telah pergi!” Kemudian Hong Cu bertanya tentang perkelahiannya dengan Siauw Liong.
Ketika Tiong Li yang menyusul tiba di situ, Siauw Ma dengan Hong Cu sedang bercakap-cakap asyik sekali. Melihat Tiong Li, Siauw Ma sangat gembira, demikianpun Tiong Li. Kedua pemuda ini saling peluk dengan mesra, karena memang keduanya merasa suka kepada masing-masing. Maka ramailah saling menceritakan pengalaman. Diam-diam Tiong Li memperhatikan betapa sikap dan pandang mata Hong Cu terhadap Siauw Ma sangat manis sekali.
Siauw Ma datang menyusul ke lereng gunung adalah atas petunjuk Kiang Cu Liong Si Tabib Dewa. Orang tua ini ketika dengan cepatnya naik ke puncak sambil mengempit patung, di tengah jalan melihat betapa Siauw Ma dan Siauw Liong saling serang dengan mati-matian.
Ia segera gunakan kepandaiannya tangkap Siauw Liong dan memberi tahu kepada Siauw Ma supaya turun dan berkumpul dengan Tiong Li di dekat telaga serta menanti di situ. Kemudian sambil memanggul Siauw Liong, Tabib Dewa itu terus lari dengan cepat ke puncak.
Ketika ia tiba di puncak, pertempuran masih berjalan seru dan hebat sekali. Hwat Kong Tosu masih saling gempur dalam perlawanannya terhadap keroyokan kedua Sianli dari Kwan-im-kauw, sedangkan Beng Beng Hoatsu sambil perdengarkan suara ketawanya yang menggema di seluruh puncak, menggerakkan Pedang Naga Saktinya menahan serangan keempat pengeroyoknya. Para pengeroyok ke dua tokoh Thang-la itu sudah tampak lelah dan sebentar lagi tentu Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu dapat merobohkan mereka.
Pada saat itu Huo Mo-li sudah mendesak Tok-kak-coa dengan hebatnya. Wanita gagah perkasa ini melancarkan serangan-serangan dengan tenaga Huo-mo-kang yang luar biasa lihainya dan telah beberapa kali Tok-kak-coa terkena pukulan itu hingga mendapat luka dalam.
Pada suatu ketika Tok-kak-coa dalam keadaan terdesak sekali berlaku nekat dan menggunakan tongkatnya menghantam ke arah dada Huo Mo-li tanpa memperdulikan pukulan Huo Mo-li yang mengarah lambungnya. Huo Mo-li menarik kepalan tangannya dan dengan tenaga penuh ia menggempur ujung tongkat itu.
Tongkat hancur beterbangan dan dari dalam tongkat melayang keluar jarum-jarum halus penuh bisa ke arah Huo Mo-li! Huo Mo-li terkejut sekali dan cepat berkelit, tapi ia merasa pundaknya sakit dan panas. Ia tahu telah terluka jarum, maka dengan teriakan keras ia menubruk maju dan mengirim serangan ke iga lawannya. Tok-kak-coa berteriak ngeri dan terpental beberapa kaki lalu roboh tak bergerak lagi! Juga Huo Mo-li terhuyung-huyung dan roboh pingsan.
“Cu-wi sekalian, tahan!” tiba-tiba Kiang Cu Liong berteriak keras dan meloncat ke tengah lapangan pertempuran.
Semua orang mendengar teriakan ini segera menahan serangan masing-masing dan memandang Si Tabib Dewa dengan heran, karena patung yang diperebutkan itu ternyata telah berada di tangan tabib aneh itu.
“Cu-wi, tak perlu kalian ribut-ribut mengadu jiwa di sini hanya untuk sebuah patung ini! Para ketua Kwan-im-kauw! Kalian juga salah sekali menyerang Thang-la Sam-sian sedangkan yang bersalah dalam hal lenyapnya patung ini adalah Tok-kak-coa seorang! Ini, terimalah patungmu dan bawalah kembali ke kelentengmu, tapi berhati-hatilah menjaga patung itu agar jangan sampai lenyap pula dan menimbulkan geger yang bukan-bukan!” Ia lalu melemparkan patung itu ke arah Kim Hwa Sianli yang menerima dengan kedua tangan.
“Patung sudah kembali, tidak lekas pulang tunggu apa lagi?” Kim Hwa Sianli berteriak nyaring kepada kawan-kawannya dengan suara girang kemudian setelah mengangguk ke arah Si Tabib Dewa tanda terima kasih ia lalu loncat turun dari puncak, diikuti oleh kedua adik seperguruannya dan ketiga murid-muridnya.
Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu hendak mengejar, tapi Kiang Cu Liong angkat tangan mencegah. “Kalian orang-orang tua apakah masih ingin memiliki emas tak berharga itu? Sungguh lucu!”
“Kau tahu, bukan emas yang diperebutkan di sini!” Beng Beng Hoatsu membentak.
“Bukankah kita semua sedang berlumba mendapatkan patung itu?” Hwat Kong Tosu bertanya dengan heran kepada Si Tabib Dewa.
Kiang Cu Liong menghela napas. “Aku pun mengerti, bahkan aku sendiripun ikut berlumba. Tadi patung telah berada di tanganku, kalau aku berpendirian sebodoh kalian, apakah dengan mudah begitu saja patung kukembalikan kepada pemiliknya?”
Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu saling pandang dengan tak mengerti.
“Dengarlah kau berdua orang-orang tua bodoh dari Thang-la! Urusan patung itu telah banyak mendatangkan ribut dan permusuhan. Perlu apa kita harus memperebutkan patung yang bukan menjadi hak milik kita? Kalau hendak mengukur kepandaian masing-masing, biarlah murid-murid kita kelak yang menentukan, tak perlu kita orang-orang tua bangka harus bertindak sendiri! Yang bersalah dalam pencurian patung ini hanya Tok-kak-coa dan lihatlah, ia telah mendapat hukuman! Tapi Huo Mo-li harus dikasihani, iapun mendapat luka berat hanya karena memperebutkan patung tak berharga itu!”
Karena omongan Si Tabib Dewa yang pandai bicara itu dianggap betul juga, mereka lalu menghampiri Huo Mo-li yang masih menggeletak tak jauh dari Tok-kak-coa. Ternyata jarum halus yang melukai pundak Huo Mo-li sangat berbahaya racunnya hingga sebentar saja tubuh Huo Mo-li telah berwarna hitam!
Melihat keadaan ini, Kiang Cu Liong geleng-geleng kepala. “Sungguh berbahaya... sungguh jahat…!”
Tapi dengan cepat dan tak ragu-ragu lagi ia keluarkan mutiara salju yang dulu diambil dari puncak Gunung Dewi Api. Ia gunakan mutiara salju itu untuk menyedot keluar darah yang terkena bisa dan dengan besi semberani ia sedot keluar jarum itu dari pundak Huo Mo-li. Kemudian ia potong jinsom merah yang didapatnya dari dalam patung Dewi Kwan-im, lalu peras jinsom itu yang mengeluarkan getah merah seperti darah ke dalam mulut Huo Mo-li.
Sungguh mujijat obat itu. Sebentar saja terdengar Huo Mo-li mengeluh dan siuman kembali. Biarpun tubuhnya masih lemas, namun racun yang mengalir di tubuhnya telah dapat dibersihkan dan jiwanya tertolong. Setelah ia sadar dan membuka matanya, maka ia tahu bahwa jiwanya telah ditolong oleh Si Tabib Dewa. Maka ia berdiri dan menjura sambil berkata.
“Aku Huo Mo-li sungguh malu. Telah dua kali kau orang tua menolong aku, dan yang kedua kalinya ini kau telah menghidupkan aku kembali. Biarlah, kalau di waktu hidupku sekarang aku tak kuasa membalas budi, kelak di penjelmaan lain pasti akan kubalas!”
Kiang Cu Liong tertawa terbahak-bahak. “Huo Mo-li, Huo Mo-li! Kau gagah perkasa, mungkin lebih gagah dari padaku, tapi jalan pikiranmu tetap seperti seorang wanita yang berperasaan halus! Siapa hendak bicara tentang balas membalas budi? Aku menolong kau karena memang aku adalah seorang tabib, dan sudah menjadi kewajibanku menolong siapa saja yang perlu ditolong! Tentang membalas, mungkin sekarang ini akulah yang membalas budimu yang telah kau tanam pada penjelmaan kita yang lalu, siapa tahu?”
Beng Beng Hoatsu tertawa keras. “Bicaramu betul sekali, orang she Kiang! Dari kata-katamu itu saja, pantas kalau kau ikut berlumba mengadu ilmu dengan kami Thang-la Sam-sian! Ha, ha!”
Huo Mo-li agaknya baru teringat akan imam-imam dari Kwan-im-kauw maka ia bertanya, “Di manakah imam-imam Kwan-im-kauw yang nekat itu?”
“Mereka sudah pulang sambil membawa patung mereka.”
Huo Mo-li terkejut. “Patung? Bagaimanakah...?”
Hwat Kong Tosu lalu memberi tahu kepada Huo Mo-li akan peristiwa yang terjadi tadi. “Aku setuju dengan tindakan Kiang-sianseng. Memang patung itu harus dikembalikan kepada yang berhak. Kita berempat tidak membutuhkan emas itu.”
“Tapi untuk mengukur kepandaian….?” tanya Huo Mo-li.
“Ini mudah dilakukan tanpa mengganggu barang lain orang,” kata Kiang Cu Liong. “Marilah kita gembleng murid kita masing-masing dan kita tentukan pada lima tahun yang akan datang dengan mengadakan pertemuan di puncak Thang-la. Di sanalah kita nanti uji kepandaian murid-murid kita, siapa di antara mereka yang lebih unggul, karena dari murid dapat diukur pula ketinggian ilmu gurunya!”
Semua orang setuju dan menentukan untuk saling berjumpa di puncak Thang-la pada permulaan musim chun lima tahun yang akan datang..Ketika Kiang Cu Liong memberi tahu kepada Huo Mo-li bahwa ia telah mengambil obat dari dalam patung dan telah menyuruh muridnya mengobati Lian Eng, Huo Mo-li menjadi girang sekali.
“Di manakah mereka itu?” tanyanya. Juga Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu menanyakan murid masing-masing....