Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 10 karya Kho Ping Hoo - SEKARSARI menarik napas dalam. "Biarlah aku turuti kehendakmu, Raras. Tapi aku akan malu sekali kalau sampai mas Jarot tidak mau menerimaku dan kalau demikian halnya, maka semua ini salahmu, Raras. Percayalah, kalau sampai aku terhina, kau akan lihat bahwa Sekarsari bukanlah seorang gadis lemah sebagaimana kau sangka, pembalasanku akan lebih hebat dari segala pembalasan yang kau harapkan!"
Maka mereka berjalan lagi menuju ke pondok Ki Galur. Dari jauh terlihat oleh mereka bahwa Jarot sedang duduk seorang diri di atas bangku bambu di luar rumah, duduk termenung sambil menopang dagu.
“Kebetulan dia duduk seorang diri, mungkin sedang memikirkan kau, Sari. Pergilah kau menemuinya, aku hendak bersembunyi!" kata Maduraras.
Sekarsari merasakan betapa dadanya berdebar keras. Ketika ia melangkah maju, ia merasa kedua kakinya gemetar. Jarot agaknya tak tahu akan kedatangannya dan pemuda itu tetap duduk tak bergerak bagaikan patung batu.
"Mas Jarot...!" bibir Sekarsari menggigil ketika menyerukan panggilan ini.
Jarot tersentak kaget lalu menengok. Matanya terbelalak heran, lalu dengan kedua tangannya ia kucek matanya karena ia tak percaya bahwa yang berdiri di hadapannya itu benar-benar Sekarsari. Kemudian ia berdiri dan sambil membungkuk hormat ia berkata, "Oh, Den-roro Susilawati! Mengapa paduka datang pada waktu begini?"
Pertanyaan ini diucapkan dengan suara yang sangat menghormat hingga Sekarsari meramkan mata karena.kata-kata itu bagaikan keris karatan menusuk hatinya, lebih-lebih sebutan Den-roro itu! Ketika ia membuka kembali matanya, pandangan matanya menjadi suram karena mata itu penuh dengan air mata.
"Mas Jarot.... jangan sebut aku seperti itu…aku.... aku tetap Sekarsari, mas...."Jarot tersenyum pahit. "Hamba tidak berani berlaku kurang ajar. Paduka adalah sekar-kedaton dan puteri Gusti Sultan. Sedangkan hamba.... hamba... hanya seorang gunung."
"Mas Jarot, mengapa kau begitu kejam? Kau menyakiti hatiku..."
"Hamba hanya berkata sebenarnya."
"Mas, kudengar kau hendak pergi? Pergi meninggalkan Mataram, meninggalkan aku?" Dari tadi Sekarsari menahan-nahan air mata yang hendak turun, kini titik-titik air mata itu tak dapat tertahan lagi, menuruni kedua pipinya yang halus.
Jarot menelan ludah melihat gadis pujaan hatinya itu menangis di hadapannya tapi ia menahan perasaan hatinya sedapat mungkin. "Ya, hamba hendak pulang ke gunung tempat asal hamba."
"Mas Jarot, jangan kau pergi, mas. Jangan kau tinggalkan Sekarsari..... aku....”
Jarot tak dapat menahan gelora hatinya lebih lama lagi. Ia maju selangkah dan berkata terharu, "Sari... benarkah kata-katamu ini? Benarkah kau masih tetap Sekarsari bagiku? Benarkah kau menghendaki agar aku tidak pergi meninggalkanmu?"
"Benar, mas,... aku.... takkan bahagia jika kau pergi, mas..."
Jarot maju dan memegang tangan Sekarsari. "Sari, bilanglah terus terang. Cintakah kau padaku, Sari?"
Sekarsari menundukkan muka dengan wajah merah. "Mas, belum pernah aku mencinta orang seperti aku mencintamu. Aku.... aku terima pinangan pangeran karena kukira.., karena...."
Jarot menggunakan telunjuknya menyentuh bibir Sekarsari. "Diam, Sari. Aku sudah tahu semua itu. Tak perlu kau ulangi lagi."
Untuk sejenak mereka diam, kemudian Sekarsari berkata, "Mas Jarot, berjanjilah bahwa kau takkan pergi meninggalkan aku."
Jarot menghela napas. "Menyesal sekali hal ini tak dapat kubatalkan, Sari. Aku telah mengajukan permohonan kepada Gusti Sultan untuk pergi dan telah mendapat perkenan. Pula, untuk apa aku tinggal terus di Mataram dan menyiksa hatiku dengan melihat kau sebagai puteri sekar-kedaton dan aku seorang kawula biasa?"
Sekarsari melepaskan diri dari pelukan Jarot. "Tapi, bukankah kita saling mencinta, mas? Aku akan minta kepada kanjeng rama untuk menahanmu, di kota raja. Apa salahnya kalau aku menjadi sekar-kedaton, mas?"
Jarot tersenyum pahit. "Lupakah kau bahwa di antara kita ada dinding tebal dan tinggi yang menghalang, Sari? Sebagai rakyat biasa, tak mungkin aku dapat mendekatimu, dan hal ini hanya akan merupakan derita dan siksa bagiku. Lebih baik aku pergi, Sari, pergi dari sini dan tidak mengganggu penghidupanmu yang mulai menanjak tinggi. Kau lupakanlah saja Jarot orang gunung yang miskin itu."
"Tidak, mas, tidak! Kalau kau tetap hendak pergi, aku akan ikut, mas. Bawalah aku serta ke gunungmu!"
Jarot menggeleng-geleng kepala. "Tak mungkin, Sari."
Tiba-tiba dari dalam gelap meloncat bayangan seorang wanita dan wanita itu berkata keras, "Mengapa tidak mungkin?"
Jarot heran dan terkejut melihat Maduraras. "Mengapa tidak mungkin?" sekali lagi Maduraras mengulangi pertanyaannya. "Mas Jarot, mengapa kau demikian pengecut? Sekarsari telah menyatakan cinta sucinya kepadamu, bahkan ia bersedia mengikutimu ke mana saja kau pergi. Mengapa kau tidak mau membawanya? Takutkah kau? Demikian tipiskah rasa cintamu kepada Sekarsari?"
Jarot terbelalak heran. Serasa mimpilah ia mendengar kata-kata Maduraras ini. Mulai mengertilah ia mengapa Sekarsari dapat keluar dari keraton pada tengah malam itu. Tak tahunya semua ini adalah Maduraras yang mendalangi di belakang! Tapi, mengapa Maduraras membela mati-matian kepada Sekarsari? Inilah yang membuat ia tak mengerti sedikitpun. "Kau, Maduraras? Kau datang bersama Sekarsari?"
"Ya, aku yang meminta Sekarsari menemuimu. Karena aku tahu bahwa kau hanya mencinta Sekarsari dan bahwa Sekarsari hanya mencinta padamu seorang! Aku telah berbuat salah, aku telah berbuat dosa. Kini bersihkanlah dosaku itu dan bawalah Sekarsari untuk menjadi isterimu!"
Jarot mengangguk-angguk kagum. "Jadi kau.... kau menculik Sekarsari dari dalam keraton? Kau lakukan itu hanya untuk mempertemukan kembali Sari dengan aku?"
"Ya, dan sudahlah jangan banyak rewel lagi, kau bawalah Sekarsari pergi ke tempat asalmu dan hiduplah beruntung dengan dia disana. Tentang keributan di sini, biarlah aku yang menanggung. Akan kuakui bahwa aku yang melarikan Sekarsari.”
"Dan kalau mereka menanyakan dimana aku berada?" Sekarsari bertanya heran.
Bibir Maduraras yang manis tersenyum mengejek. "Apa susahnya? Aku bisa bilang bahwa aku telah membunuhmu, telah membuang mayatmu di bengawan! Apa sukarnya? Mereka takkan menyangka bahwa kau ikut pergi dengan mas Jarot!"
"Tapi Raras! Mereka akan menghukummu! Mereka akan membunuhmu untuk itu!"
Maduraras tersenyum, kini senyum getir. "Apa salahnya? Aku.... aku hidup sebatangkara, biar aku dihukum mati sekalipun, takkan ada orang yang menangisiku, takkan ada orang yang kehilangan, bahkan... bahkan aku akan lebih cepat berjumpa dengan ibu dan mas Bahar...." tiba-tiba dibawah mata gadis pemberani itu tampak air mata menitik turun.
"Raras... Raras...!" tiba-tiba Sekarsari menubruk dan memeluknya dengan mesra. Kedua orang gadis itu berpelukan dan lenyaplah segala ganjalan hati.
"Lihatlah, mas Jarot. Tidak kasihankah kau kepadanya? Kalau kau meninggalkan dia, ah..... aku tak tahu apa yang akan terjadi padanya. Bawalah dia serta, mas Jarot....." Maduraras berkata dengan suara penuh permohonan.
Jarot menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang. "Raras, Sari, dengarlah baik-baik. Aku sangat beruntung mendengar pernyataan Sari tentang kasihnya kepadaku, dan aku sangat terharu dan berterimakasih atas pembelaanmu yang mulia, Raras. Tapi, untuk membawa lari Sekarsari, ah, ini tak mungkin kulakukan. Pertama kau akan terhukum dan tertimpa bencana karenanya. Kedua, Gusti Ayu Bratadewi akan sangat kehilangan dan hatinya akan hancur jika Sekarsari lenyap. Ketiga, aku tak dapat melakukan hal ini karena perbuatan melarikan Sekarsari ini sangat rendah dan tidak menaruh hormat kepada Gusti Sultan. Padahal Gusti Sultan sangat kupandang tinggi dan kuhormati karena kebijaksanaannya. Tidak, tidak! Aku tak sampai hati melukai perasaan dan menyinggung kehormatannya."
"Kalau begitu pendapatmu, bagaimana baiknya, mas? Lebih baik kau jangan pergi dan kau kawin dengan Sekarsari disini," kata Maduraras.
Jarot mengerutkan keningnya. "Kawin? Mudah saja kau bicara. Kau tahu siapa Sekarsari dan siapa aku! Kalau saja Sekarsari bukan sekar-kedaton dan aku bukan orang gunung!"
"Biar aku akan membantu mengusahakan dan kalau perlu, Sari bisa membujuk ibunya atau ramanya sekalipun!" Maduraras mendesak.
"Tak mungkin demikian, Raras."
Kedua gadis itu menjadi gelisah dan putus asa, mereka tak tahu harus berbuat dan berkata apa, maka hanya isak mereka saja yang terdengar.
"Sudahlah, jangan kalian menangis dan bersedih. Percayalah, Sari, kalau memang Dewa menghendaki dan kalau memang kita berjodoh, pasti kelak kita bertemu kembali. Sekarang kalian kembalilah, jangan sampai di dalam keraton kehilangan kau, Sari. Jangan kau gelisah, Sari, aku bersumpah bahwa selama hidup aku takkan kawin dengan orang lain dan bahwa aku takkan melupakan kau, Raras. Ketahuilah, aku besok berangkat pulang ke tempat asalku, ialah di desa Wangkai, di Tengger utara. Di sana pasti aku dapat ditemukan. Nah, selamat berpisah sampai jumpa kembali, Sekarang kalian kembalilah!"
Karena malam telah hampir berganti fajar, terpaksa Sari dan Maduraras kembali, setelah memandang kepada Jarot dengan sayu. Jarot mengikuti kedua gadis yang berjalan dengan lemah itu dengan pandangan matanya. Hatinya bagaikan disayat pisau ketika terdengar betapa kedua orang gadis itu berjalan sambil menangis.
Pada malam hari itu tidak hanya terjadi hal-hal ganjil seperti yang telah diceritakan di atas, tapi ada pula terjadi hal-hal lain yang tak kurang ganjilnya. Di dalam kesunyian malam, tampak bayangan seorang laki-laki berjalan dengan hati-hati dan dengan gerakan-gerakan bagaikan seorang pencuri, memasuki kamar pusaka dimana tersimpan kumpulan senjata dan pusaka Sri Sultan. Bayangan itu ternyata adalah Pangeran Amangkurat.
Pangeran itu mengeluarkan sebilah keris yang dicabutnya dari sarung keris, kemudian ia menurunkan keris pusaka Margapati dari tempatnya dan mencabut keris pusaka itu. Ternyata keris pusaka itu bentuk dan warnanya sama benar dengan keris yang dibawanya tadi.
Dengan cepat ia menukar kedua keris itu, keris pusaka Margapati ia masukkan ke dalam sarung kerisnya sendiri yang terselip di pinggang, sedangkan keris yang lain ia masukkan ke dalam sarung Margapati! Setelah melakukan hal yang ganjil itu, Pangeran Amangkurat segera meninggalkan kamar itu dengan senyum iblis menghias di mulutnya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, delapan orang penunggang kuda datang mengunjungi pondok Jarot. Mereka itu bukan lain ialah Senopati Ki Ageng Baurekso, Tumenggung Suro Agul Agul, Adipati Mandurorejo, Adipati Uposonto, dan beberapa panglima lain.
Mereka datang untuk menghaturkan selamat jalan kepada Jarot, pahlawan muda yang telah bertempur membela Mataram dan yang telah berjuang bahu-membahu dengan mereka. Hampir semua panglima Mataram merasa suka kepada Jarot. Selain hendak memberi selamat jalan, juga Ki Ageng Baurekso sengaja diutus oleh Sultan Agung untuk mengantarkan keris pusaka Margapati kepada Jarot.
Kemudian Jarot menaiki kudanya, Naga pertala, dan setelah sekali lagi menyatakan terima kasihnya kepada mereka yang datang mengantar, ia membedal kudanya menuju ke timur. Keris pusaka Margapati terselip di pinggangnya. Berbeda dengan ketika datang, kali ini Jarot pergi dengan berkuda dan berpakaian gagah. Juga di dalam dadanya telah terjadi perubahan hebat. Kalau dulu ketika datang ia merupakan seorang pemuda yang jenaka dan bahagia, adalah sekarang ia pulang membawa hati yang luka.
Ketika ia melalui sepanjang tepi bengawan, ia berhenti karena ia berniat untuk membuang keris pusaka maut itu ke dalam kedung bengawan yang dalam dan angker agar keris itu terbenam dan tiada kesempatan untuk memuaskan hausnya akan darah manusia. Ia turun dari kudanya dan mendekati kedung yang curam di mana airnya tampak berputaran merupakan ulekan yang dalam mengerikan. Ia mencabut keris pusaka Margapati dari sarungnya.
Tiba-tiba ia menjadi pucat dan menahan napas. Ia pandang keris itu dengan tajam dan penuh perhatian. Memang, keris itu sama benar dengan keris Margapati, baik warna maupun bentuk dan pamornya tapi dari mata keris itu tiada sinar kematian yang bercahaya bagaikan api. "Celaka, ini bukan Margapati!"
Jarot merasa penasaran dan marah. Ia lari dan mencemplak kudanya, tapi sebelum kudanya bergerak, ia meloncat turun lagi. Ia meremkan mata dan bibirnya berkemak-kemik, pikirannya menimbang-nimbang. Kemudian ia tersenyum dan menarik napas panjang.
"Ah, memang sudah kehendak Dewata. Mataram masih akan mengalami banyak malapetaka. Tapi aku yakin bahwa Gusti Sultan Agung akan dapat menguasai dan memusnahkan pengaruh jahat keris itu dengan kebijaksanaan dan kesaktiannya. Hanya aku khawatirkan kalau-kalau keris itu terjatuh ke tangan Pangeran Amangkurat!"
Demikian ia termenung dan memikir seorang diri. Kemudian ia menaiki kudanya kembali dan membalap menuju ke arah timur dari mana sang surya mulai menampakkan dirinya. Ia berlomba dengan air bengawan yang juga mengalir ke timur tiada hentinya.
Pada malam hari itu, setelah meninggalkan Jarot, Sekarsari dan Maduraras kembali ke keraton. Kali ini mereka melalui gerbang depan. Dua orang penjaga mencegat mereka dengan bentakan, tapi ketika melihat Sekarsari, segera mereka memberi hormat.
"Paman penjaga, biarkan kawanku ini masuk bersamaku," kata Sekarsari.
Kedua penjaga itu hanya dapat memberi hormat dan tak berani bertanya, sungguhpun mereka merasa heran sekali karena mereka tak pernah melihat puteri itu keluar. Bilakah sekar kedaton itu keluar dan mengapa pada lewat tengah malam baru kembali, dari mana dan ke mana? Tapi mereka tahu akan diri dan kedudukan hingga mereka tak berani meributkan persoalan yang menyangkut diri sekar kedaton yang baru saja diterima oleh Sri Sultan itu.
Pada keesokan harinya, Sekarsari minta kepada ibunya agar Maduraras diperkenankan tinggal bersama ia sebagai kawan bermain. Tentu saja Bratadewi tidak menaruh keberatan karena menurut pandangannya, Maduraras adalah seorang gadis yang cukup baik dan pandai membawa diri.
Baiknya Maduraras tinggal bersama Sekarsari, kalau tidak, mungkin Sekarsari takkan dapat menahan kesedihan hatinya. Demikianpun Maduraras. Dalam diri Sekarsari ia mendapatkan seorang kawan yang agaknya lebih mesra daripada seorang kakak sendiri. Diam-diam mereka mempertebal perasaan kasih mereka satu kepada yang lain dan mereka menganggap masing-masing bagaikan saudara sendiri.
Lambat laun berkuranglah luka hati dan kesedihan mereka. Namun sedikitpun mereka tak dapat melupakan Jarot dan boleh dikata seharipun belum pernah mereka lupa untuk membicarakan soal pemuda itu. Mereka gali semua pengalaman ketika Jarot masih berada di situ dan semua itu merupakan kenangan-kenangan indah dan bahan godaan bagi Maduraras yang jenaka untuk menggoda Sekarsari, seakan-akan Jarot masih berada di tempat itu dan seakan-akan di situ masih terdapat banyak harapan bagi Sekarsari untuk bertemu kembali dengan Jarot.
Tapi bilamana teringat bahwa Jarot telah pergi jauh dan belum tentu mereka dapat bertemu kembali, menangislah Sekarsari, dibantu oleh Maduraras yang tidakkalah sedihnya. Hampir dua tahunkedua orang gadis itu hidup dalam keraton dengan aman, di bawah lindungan Bratadewi. Tapi keadaan segala apa di dunia ini tidak langgeng dan selalu ada perubahan yang tak tersangka-sangka.
Selama itu, bala tentara Mataram terus melanjutkan penjelajahan ke timur, menaklukkan Pasuruan dan lain-lain adipati atau bupati yang membangkang dan tidak mau tunduk kepada Sultan Agung. Maka makin banyaklah kini para adipati dan bupati yang mengunjungi Mataram untuk menyatakan sembah sujud dan hormatnya kepada Sultan Agung, raja sekalian raja yang bijaksana itu.
Di antara para adipati, bupati, dan lain panglima yang mengunjungi Mataram, terdapat Raden Panjibagus, keponakan adipati di Pasuruan yang menjadi panglima. Ia adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah perwira. Dalam pertempuran melawan tentara Mataram, ia hanya dikalahkan oleh Senopati Ki Ageng Baurekso.
Raden Panjibagus ketika menghadap Sri Sultan, dengan tak terduga dapat melihat sekar-kedaton, dan pada saat itu juga jatuhlah hati terhadap Raden Roro Susilawati yang cantik jelita itu. Ia menjadi gandrung-gandrung, makan tak sedap tidur tak nyenyak, rindu dan birahi kepada gadis juwita yang selalu terbayang di bulu matanya.
Maka pulanglah ia dengan menanggung sakit rindu asmara yang berat hingga Adipati Pasuruan, pamannya yang sayang kepadanya, menanyakan sebab-sebabnya. Setelah mendengar akan hal kerinduan Panjibagus, Adipati Pasuruan segera mengirim utusan dan mengajukan pinangan.
Sultan Agung sedang menjalankan siasat mempersatukan semua adipati dengan Mataram, maka pinangan itu diterimanya dengan senang hati. Apalagi karena iapun suka akan pemuda yang tampan dan perwira sebagai Panjibagus itu.
Bratadewi tak berani membantah kehendak Sultan Agung dan dengan halus ia membujuk Susilawati. Tapi puterinya itu menolak dengan keras dan menangis sedih. "Wati, anakku. Percayalah akan pandangan tajam dan kebijaksanaan ramamu. Ia cukup waspada dan dapat memilih, hingga tak mungkin pilihannya ini keliru. Aku pun mendengar bahwa Raden Panjibagus adalah seorang pemuda yang baik, tampan dan gagah. Wati, turutilah kehendak ayahmu, karena akupun ingin sekali melihat kau kawin dan berbahagia."
Susilawati makin sedih dan tak dapat menjawab, hanya menangis saja. "Wati, katakanlah terus terang, apakah... apakah kau berat karena teringat kepada Jarot?"
Tanpa mengangkat mukanya, Susilawati menjawab, "Ibu.... ampun, ibu.... anakmu tak dapat kawin dengan lain orang.... aku... aku telah saling berjanji dengan mas Jarot untuk bersetia dan tidak kawin dengan orang lain."
Ibunya menghela napas dalam. "Aeh, mengapa begitu, nak? Bukankah Jarot sudah kembali ke negerinya?"
"Tapi.... tapi kami masih mengharap untuk saling bertemu pada suatu waktu, ibu."
"Susilawati, ingatlah baik-baik. Janjimu dengan Jarot itu hanyalah janji anak-anak yang dilakukan sewaktu kau terharu atau dibuai perasaan. Pinangan Raden Panjibagus telah diterima ayahmu, maka hal ini tak dapat dibatalkan lagi, nak. janganlah membikin ibu dan ramamu bersedih, Wati, menurutlah saja. Ibumu yang akan tanggung bahwa kau tentu akan hidup bahagia di samping Panjibagus."
Namun Susilawati hanya menangis dengan sangat sedihnya hingga ibunya berkali-kali menghela napas dengan putus asa dan kehabisan akal. Susilawati lari keluar dan masukke kamar sendiri di mana Maduraras telah menantinya. Maduraras melihat betapa Sekarsari masuk kamar sambil menangis segera memeluknya.
"Sst, Sari. mengapa kau menangis seperti anak kecil?" Maduraras yang biasa berjenaka itu mencoba menghiburnya dengan berkelakar, dan jika berada berdua ia memang selalu menyebut Sekarsari.
Tapi Sekarsari tetap menangis sedih.."Eh. eh, Sari, apakah yang telah terjadi? Percayalah, betapapun sulit persoalan yang kau hadapi, selama Maduraras masih dapat bernapas, tentu kesulitan itu dapat dipecahkan!"
Terhibur juga hati Sekarsari. Dengan mata basah ia pandang wajah kawannya, lalu memeluknya sambil mengeluh, "Ah, Raras.... celaka nasibku, aku.... aku dipaksa kawin!"
"Apa? Kawin? Dengan siapa?"
"Dengan putera Kadipaten Pasuruan, namanya Panjibagus."
Maduraras mengangguk-angguk. "Dan kau tidak suka?"
Sekarsari mengangkat mukanya dan memandang Maduraras dengant ajam. "Kau kira demikian mudah aku berubah?"
"Maaf, Sari, aku hanya menggoda. Memang sudah sepantasnya kau bersetia kepada mas Jarot, karena betapa gagah dan tampan pun Panjibagus seperti yang kudengar orang berkata, bila dibandingkan dengan Jarot, ia masih tidak nempil!"
"Raras, jangan berkelakar saja, pikirlah keadaanku, Raras. Apa yang harus kuperbuat? Aku tidak berani membantah kanjeng rama, sedangkan ibupun telah setuju dan memaksaku. Bagaimanakah, Raras? Aku lebih baik mati daripada harus dikawinkan dengan orang lain."
Maduraras mengerutkan keningnya yang halus, memutar otaknya yang cerdik. Sepasang mata bintangnya mengerling ke sana ke mari dengan gesit dan bibirnya ditajamkan. Beberapa lama kemudian ia melonjak dan tersenyum puas.
"Bagaimana, Raras? Dapatkah kau menolongku?"
"Sari, jalan satu-satunya bagimu tak lain ialah... lari minggat!"
"Tak mungkin!" Sekarsari mundur dua tindak dengan kaget mendengar usul berbahaya ini. "Kaukira mudah saja melarikan diri? Kanjeng rama tentu marah sekali dan mengerahkan semua perajurit untuk mencariku. Dan jika aku tertangkap kembali, selain mendapat marah dan merasa malu, akupun tetap harus menjadi isteri putera Pasuruan itu. Sia-sia, Raras."
Maduraras tersenyum. "Kalau aku yang minggat dan lenyap, tentu takkan ada yang mencariku, bukan?"
"Bisa jadi, karena bukan kau yang akan dikawinkan!" jawab Sekarsari marah karena dianggapnya kawan itu menggodanya.
"Nah, kalau begitu, kita bertukar tempat, Sari. Aku menjadi engkau dan pergi mewakilimu diboyong ke Pasuruan, sedangkan kau menjadi aku, lari minggat dan takkan ada yang mencari dan mengejarmu. Bukankah jalan ini baik sekali?"
"Habis, kemana aku harus lari? Dan bagaimana selanjutnya?" tanya Sekarsari yang masihkhawatir dan bingung.
"Begini, Sari. Kau minggat dan bersembunyi di Sukowati. Nanti kalau aku sudah diboyong ke Pasuruan dan berhasil lari dari sana, aku akan mencarimu, dan kita sama-sama minggat dari tempat ini."
"Kau? Pasuruan bukan dekat dari sini, Raras. Kau seorang perempuan, mana kau dapat melakukan semua itu?"
"Sari, kau kira semua perempuan selemah engkau?" Maduraras berkata tertawa dan bangga. "Lupakah kau bahwa ada seorang wanita bernama Srikandi?"
"Kau mau menjadi Srikandi kedua?" tanya Sekarsari yang terpengaruh kejenakaan kawannya.
"Kalau Srikandi dapat berlaku gagah berani, mengapa aku Maduraras tidak?"
"Hm, kalau kau Srikandi, habis aku siapa, Raras?"
"Kau..... kau Subadra, ya..... ya.... kau Subadra!" Maduraras begitu gembira dengan sebutan ini hingga ia bertepuk tangan.
"Hush, jangan keras-keras, Raras, Jadi, kau Srikandi dan aku Subadra, ya? Ingatkah kau bahwa Srikandi adalah madu Subadra?"
Merahlah wajah Maduraras mendengar ini. "Sari..... bukankah kita juga seakan-akan..... madu, yakni dalam kenangan?"
Sekarsari tiba-tiba melihat wajah Maduraras menjadi muram dan bersedih. Segera dipeluknya gadis itu dan dengan suara sungguh-sungguh Sekarsari berkata, "Raras, percayalah, aku akan merasa berbahagia sekali jika seandainya kau bisa menjadi maduku, seperti Srikandi dan Subadra!"
Sejenak kemudian, setelah keharuan agak reda, Maduraras berkata, "Bagaimana, Sari. Setujukah kau akan rencanaku?"
"Terserah kepadamu saja, Raras. Aku bingung dan takut. Tapi, kalau aku minggat, bagaimana dengan kanjeng ibu? Tentu beliau akan sedih sekali, dan beliau sudah tua, Raras. Aku tidak tega..."
Maduraras menarik napas dalam. "Memang, sifat Subadra juga sangat jujur dan berbakti, sama seperti kau. Beginilah, Sari, hal ini terpaksa harus kuserahkan kepadamu untuk mengaturnya, yaitu, kau harus dapat membujuk ibumu hingga beliau itu suka membantu kita, demi cintanya padamu."
"Akan kucoba, Raras."
Karena selalu dibujuk rayu oleh anaknya yang terkasih dan yang menyatakan bahwa jika dipaksa kawin tentu akan bunuh diri, akhirnya Bratadewi menyerah kepada kehendak Sekarsari. Maka mereka bertiga, Bratadewi, Maduraras, dan Sekarsari mengatur rencana.
Hari perkawinan tiba. Keraton dipajang indah. Sejak tiga hari sebelumnya, gamelan berbunyi terus siang malam, Pada malam hari kawin, yaitu malam sebelumnya yang disebut malam midodaren, pengantin perempuan mulai dirias. Dan pada malam hari itulah terjadi hal yang ganjil. Di lain bilik, Maduraras dirias pula oleh Bratadewi. Bratadewi demikian pandainya dalam hal ini hingga wajah Maduraras hampir sama benar dengan Sekarsari.
Pada waktu tengah malam, Maduraras memasuki kamar Sekarsari, sedangkan Sekarsari sudah menanggalkan pakaian pengantin, lalu keluar dari kamar itu. Ia berpelukan sebentar dengan Maduraras dan dengan Bratadewi, kemudian dengan isak tertahan Sekarsari keluar dari pintu belakang. Di tamansari telah menanti Ki Galur, ayah angkatnya yang diberi tahu akan hal ini dan yang bersedia membantunya biarpun dengan taruhan jiwa demi kebahagiaan anaknya yang tercinta.
Ki Galur dan Sekarsari tidak lari menuju Sukowati sebagaimana yang direncanakan semula, karena menurut perhitungan Ki Galur, Sukowati terlalu dekat dengan kota raja hingga sangat berbahaya bila Sekarsari bersembunyi disitu. Maka oleh Ki Galur, Sekarsari dibawa lari ke arah timur.
Semalam itu mereka berjalan terus keluar masuk hutan dan baru beristirahat setelah malam berganti pagi. Demikianlah mereka berjalan terus, sungguhpun perjalanan mereka tak dapat maju pesat karena Sekarsari sering minta berhenti mengaso.
Setelah berjalan terus ke timur selama lima hari, mereka tiba didalam sebuah hutan yang besar dan liar. Pohon-pohon tinggi besar yang sudah berusia ratusan tahun memenuhi hutan itu dan suara segala macam binatang liar memenuhi udara dan membuat Sekarsari gemetar ketakutan. Tapi Ki Galur dengan sebatang tombak di tangan menghiburnya.
"Jangan takut, Sari. Selama ayahmu ini masih ada di sampingmu, kau takkan terganggu kecuali kalau dadaku sudah pecah!" ucapan yang gagah ini sedikitnya membuat Sekarsari merasa agak tenang.
Tapi pada saat itu terdengar teriakan dan suitan nyaring. Sebelum rasa kaget mereka lenyap, dari semak-semak keluarlah belasan orang tinggi besar yang berwajah buas dan bersenjata ruyung, dikepalai oleh seorang pemuda tinggi besar yang bermata kejam.
"He, paman tua, berhentilah!" teriak pemuda yang menjadi kepala rampok itu.
Ki Galur menenangkan hatinya yang berdebar-debar dan bertanya, "Saudara-saudara yang gagah, apakah maksud dan kehendak kalian menghentikan dan mencegat kami? Kami anak dan ayah hanya orang-orang melarat yang sedang merantau mencari hidup dilain tempat."
"Ha-ha-ha! Paman, kami takkan mengganggumu. Kami orang-orang baik, bukan demikian, kawan-kawan?"
Empat belas orang anak buahnya tertawa dan menyeringai sambil menggemakan pernyataan "Betul..... betul..."
Ki Galur menarik napas lega. "Kami juga tahu bahwa kalian orang-orang gagah dan baik. Nah, selamat berpisah dan kami hendak melanjutkan perjalanan sebelum malam tiba."
"Nanti dulu, paman," kepala rampok itu mencegah. "Perkenalkan dulu, aku si Klabangkoro dan mereka semua ini saudara-saudaraku, juga pembantu-pembantuku. Kau dan anakmu sudah lewat di wilayahku, maka aku tak mau berlaku kurang hormat, paman. Kami persilakan paman dan anak paman yang cantik molek ini untuk mampir di pondok kami."
"Sungguh cantik, sungguh jelita, sungguh manis."
Para anggauta rampok itu berkata campur aduk, membuat Sekarsari makin takut dan Ki Galur makin gelisah. "Terima kasih, saudara. Tapi kami sangat tergesa-gesa, biarlah lain kali saja kami mampir."
Tiba-tiba senyum di bibir pemimpin rampok itu menghilang. "Apa? Paman berani menolak undangan kami? Kalau begitu, biarlah kau tinggalkan saja anakmu ini. Kau sendiri boleh segera pergi!"
Ki Galur mempererat pegangannya pada tombaknya. "Saudara, janganlah kau berlaku demikian. Kasihanilah kami yang tak berdosa dan janganganggu anakku."
"Siapa yang mau mengganggu anakmu? Aku hendak memuliakannya, hendak mengangkat ia menjadi ratu di rimba ini, menjadi permaisuriku, bukan begitu, kawan-kawan?" Semua kawannya membetulkan sambil tertawa riuh-rendah.
Ki Galur timbul nekatnya. "Tidak bisa, saudara. Terpaksa aku tidak mau memberikan anakku padamu."
"Apa katamu?" teriak kepala rampok itu. "Kawan-kawan, hayo serbu dan bunuh monyet tua ini!"
Tiga orang meloncat menerkam dengan ruyung di tangan. Tapi Ki Galur meloncat ke kiri dan tombaknya menyerang lambung seorang perampok. Namun perampok-perampok itu adalah orang-orang kasar yang sudah biasa berkelahi, maka perlawanan Ki Galur itu tak berarti. Melawan perampok-perampok itu, ia bagaikan seorang kanak-kanak melawan orang-orang dewasa.
Pada saat itu terdengar suara gerutuan, "Tidak adil.... tidak adil..." dan dari belakang sebatang pohon besar muncullah seorang kakek berbaju putih yang bercambang bauk berwarna putih pula....