Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 09 karya Kho Ping Hoo - SULTAN AGUNG kagum mendengar ucapan selirnya itu dan menyetujui pendapatnya. Maka berdatanganlah para selir dan pembesar memberi selamat kepada orang tua dan anak yang telah bertemu kembali itu. Di antara sekalian pemberi selamat, Tumenggung Suryawidura dan anaknya yang juga menjadi selir Sri Sultan yaitu Maduningrum, memberi selamat dengan mesra dan terharu sekali.
Bahkan Maduningrum memeluk dan menciumi ibu dan anak itu. Ketika memeluk Bratadewi, Maduningrum berbisik ditelinganya, "Terimakasih, Dewi."
Hanya tiga orang saja yang tahu atau sedikitnya dapat menduga bahwa Maduningrum dan ayahnyalah yang dulu menculik Susilawati yang sekarang bernama Sekarsari. Ketika itu Sultan Agung belum menjadi raja, tapi sudah mempunyai beberapa orang selir. Diantaranya yang paling dicinta adalah Bratadewi dan Maduningrum. Tapi selir kedua ini terdesak ke pinggir oleh Bratadewi karena terlahirnya seorang puteri.
Maduningrum merasa iri hati karena ia sendiri tidak mempunyai anak. Ia khawatir kalau-kalau cinta suaminya akan dicurahkan seluruhnya kepada Bratadewi dan ia dilupakan. Maka timbullah niat buruk di hatinya. Dan dalam hal ini dibantu oleh ayahnya yang gila kedudukan.
Kebetulan pada waktu itu di situ terdapat seorang perampok jahat bernama Surobalelo yang terkenal karena perampok yang berani ini seringkali membawa anak buahnya untuk mengacau di kota raja! Kesempatan dengan adanya perampok ini digunakan oleh Maduningrum dan Tumenggung Suryawidura untuk menyuruh kaki tangannya menyerang biung emban yang mengasuh Susilawati dan menculik anak itu.
Tentu saja hal ini lalu dihubungkan dengan perampok Surobalelo dan semua orang, termasuk Sultan Agung sendiri, menyangka bahwa penculikan itu adalah perbuatan anak buah perampok itu. Baiknya kaki tangan Suryawidura yang disuruh menculik anak itu masih menaruh belas kasihan dan tidak melempar tenggelam anak itu begitu saja ke dalam bengawan tapi memasukkan anak itu ke dalam sampan kecil dan melepaskan sampan bergerak mengikuti aliran air. Akhirnya Ki Galur lah yang menemukan dan memelihara anak itu.
Kemudian Sultan Agung berkata kepada Jarot, "Jarot, semenjak kau datang banyak hal telah kau lakukan, sayang sekali tidak semua hal itu baik. Kau telah membela Mataram, kau telah berjasa dengan mempertemukan kembali kami dengan Susilawati, tapi ada juga hal-hal kurang baik yang kau perbuat. Misalnya perkelahian-perkelahianmu itu sungguh menggelisahkan kami. Paman tumenggung telah melaporkan kepadaku akan hal perkelahianmu dengan Bahar hingga menewaskan jiwa Bahar. Namun, mengingat bahwa Bahar tewas di ujung pusakanya sendiri, kami berpendapat bahwa kau hanya membela diri, dan hal inipun diperkuat pula oleh keterangan Maduraras adik Bahar yang menjadi saksi perkelahian itu. Maka, melihat sikap Maduraras yang membelamu dan atas persetujuan paman tumenggung, kami bermaksud memberikan Maduraras untuk menjadi kawan hidupmu. Bagaimana pendapatmu, Jarot?"
Jarot menggigit bibirnya dengan bingung dan diam-diam ia mengerling ke arah Sekarsari yang memandangnya tak acuh.
"Kau boleh menerima usul ini dengan gembira, Jarot," kata Bratadewi dengan ramah. "Aku dapat meyakinkan kau bahwa Maduraras adalah seorang gadis yang baik, biarpun aku baru sekali bertemu dengan dia. Juga, untuk jasamu mempertemukan aku dengan anakku, katakan saja apa yang hendak kau minta, tentu akan kuberikan padamu!"
Untuk sesaat Jarot tak dapat menjawab, hanya menundukkan muka dengan hati sedih. Kemudian ia menyembah dengan hormatnya dan berkata perlahan, "Hamba menghaturkan beribu terima kasih atas perhatian dan budi kecintaan gusti sultan dan gusti ayu. Sesungguhnya seorang gunung yang bodoh dan tak berharga seperti hamba ini sekali-kali tidak pantas mendapat kurnia paduka."Bukanlah hamba menampik kurnia paduka yang hendak menjodohkan hamba dengan puteri yang terhormat dari gusti Tumenggung, tapi sesungguhnya hamba tidak ada keinginan untuk beristeri. Juga kepada gusti ayu yang hendak memberi hadiah kepada hamba, bukan hamba tidak menghargai maksud yang mulia itu.
"Tapi hamba tidak berani meminta sesuatu karena sebenarnya jasa apakah yang telah hamba lakukan? Sebaliknya hamba telah berdosa dan menghalangi dan mengacaukan kebahagiaan puteri paduka, Gusti Roro Sekar..... eh, Susilawati. Jika diperkenankan, hanya satu hal yang hendak hamba ajukan sebagai permohonan."
"Apakah permintaanmu itu? Katakanlah,” Sultan Agung bertanya.
“Tak lain yang hamba mohon ialah keris pusaka Margapati."
Sultan Agung terheran, "Jarot, mengapa kau suka sekali akan keris itu? Mengapa kau tidak memilih lain pusaka? Disini banyak sekali pusaka-pusaka ampuh yang lebih baik daripada keris Margapati itu."
"Memang tidak keliru sabda paduka, gusti. Tapi, hamba berada di Mataram ini sebenarnya ada hubungannya dengan keris itu. Hamba telah menerima tugas untuk menjaga agar keris itu tidak menimbulkan bencana di kerajaan paduka. Kini, karena hamba hendak pergi, akan amanlah hati hamba jika keris maut itu hamba bawa serta."
Mendengar kata-kata terakhir ini, Sekarsari memandang wajah Jarot dan pada matanya terbayang kekecewaan besar.
"Pergi? Jadi kau hendak pergi meninggalkan Mataram, Jarot?"
"Betul, gusti. Besok pagi hamba hendak meninggalkan Mataram dan pulang ke tempat asal hamba, jika paduka perkenankan."
Sultan Agung menghela napas. "Aku tak dapat menghalangi kehendakmu, Jarot, sungguhpun kusayangkan sekali kamu ini. Baiklah, besok pagi-pagi akan kukirim keris Margapati padamu."
Setelah menyembah dan menghaturkan terima kasih, Jarot pamit undur. Sekarsari memandang kepergian pemuda itu dengan mata mengembeng air mata. Hal ini tidak terlepas dari pandangan mata Sultan Agung yang waspada dan Bratadewi yang memperhatikan puterinya. Keduanya bertukar pandang dengan penuh pengertian.
Pada saat itu, Ki Galur maju menyembah pula dan mohon diri dengan kata-kata terharu, "Hamba..... hamba juga mohon diperkenankan pulang, gusti, karena..... karena hamba tidak..... tidak diperlukan lagi kiranya dan..... dan hamba ingin berkumpul dengan gus Jarot untuk saat terakhir ini....."
Orang tua itu tak berani memandang ke arah Sekarsari karena ia yakin bahwa sekali pandang saja akan hancurlah hatinya dan ia takut kalau-kalau ia takkan dapat mengendalikan perasaannya.
Sultan Agung berkata ramah, "Baiklah kalau kau hendak pulang dulu, tapi kau takkan kulepas begitu saja, paman. Mulai besok, setelah Jarot berangkat, kau tinggal saja di sini menjadi juru taman hingga kau akan selalu dekat dengan Susilawati."
Mata orang tua itu bersinar dan ia memandang kepada Sultan Agung dengan penuh rasa terimakasih. Ketika Ki Galur menyembah lagi dan hendak mundur, tiba-tiba Sekarsari memburu dan memeluknya, "Ayah... ayah..." bisiknya.
Ki Galur kebingungan. Ia ingin sekali memangku dan memeluk gadis yang sejak kecil menjadi buah hatinya itu, tapi tidak berani. Ia hanya berkata gagap, "Sudahlah, den roro..... sudahlah.... biarkan hamba pergi....." Dan dengan cepat ia melepaskan diri lalu mundur.
Setibanya di luar istana, orang tua ini tak dapat menahan lagi gelora hatinya dan la berjalan pulang sambil menangis! Ia merasa hancur hatinya karena mulai sekarang ia sudah bukan ayah Sekarsari lagi! Buah hatinya itu telah menjadi sekar kedaton, menjadi puteri sultan yang berkedudukan tinggi, dan ia yang sudah tua menjadi sebatangkara.
Kesedihannya bertambah karena Jarot pun hendak pergi meninggalkannya, sedangkan sejak pertemuannya pertama kali dengan pemuda itu, ia sudah mengharap-harapkan untuk memungut mantu pemuda itu.
Kini semuanya gagal, Sekarsari masuk keraton, Jarot pulang ke gunungnya dan ia... ia hanya akan menyapu dan mencangkul di tamansari dan harus cukup puas dengan kadang-kadang melihat bayangan Sekarsari sebagai gusti sekar kedaton, Den Roro Susilawati!
Ketika tiba di pondoknya, ia mendapatkan Jarot tengah berdiri termenung sambil memeluk leher Nagapertala yang menggunakan lidahnya menjilat-jilat tangan pemuda itu. Hati Ki Galur makin terharu karena ia tahu betapa hebat penderitaan batin pemuda itu.
"Gus Jarot...." Jarot sadar dari lamunannya dan ia berpaling. "Gus Jarot, percayalah, aku menyesal sekali hal ini telah terjadi padamu, gus...”
Jarot memandang muka tua keriputan yang memandangnya dengan penuh bayangan iba hati itu, dan tak terasa ia tersenyum getir. "Paman, kau sungguh seorang mulia. Mengapa kau malahan kasihan padaku? Oh, paman, bukankah aku yang telah menghancurkan hatimu? Bukankah kau yang kehilangan anakmu? Aku telah berdosa padamu, paman. Tapi, aku yakin kau akan dapat mengampuni aku, karena sungguh paman, sampai matipun aku takkan membongkar rahasia Sekarsari seandainya tak terjadi hal perkawinan itu. Betapapun juga, aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan Sekarsari kawin dengan kakak sendiri!"
Kembali ada dua butir air mata mengalir turun dari mata Ki Galur ketika ia mengangguk-angguk. "Kau benar, gus Jarot. Aku sendiri takkan tinggal diam kalau kuketahui sebelumnya bahwa Sekarsari adalah puteri Sri Sultan."
"Tapi.... tapi aku penasaran dan heran, paman. Bagaimanakah asal mulanya maka Sekarsari sampai hendak kawin dengan pangeran? Dilamarkah ia? Dan mengapa Sekarsari mau? Dipaksakah kalian oleh pangeran?" Suara Jarot terdengar mengandung ancaman.
Ki Galur menggeleng-geleng kepala. "Semua karena salah paham, gus. Karena salah paham, dan sebagian besar karena... salahmu."
"Salahku? Apa maksudmu, paman? Dalam hal apakah aku bersalah?" Jarot bertanya penuh penasaran.
"Kalau saja dari dulu kau kawini Sekarsari. Kalau saja dari dulu kau nyatakan perasaan hatimu terhadapnya... ah, takkan begini jadinya...." orang tua itu menghela napas kecewa.
"Tapi... tapi aku pernah mengutarakan perasaan hatiku padanya, paman dan dia... dia bahkan lari pergi meninggalkan aku, dia... dia menolak cintaku, paman."
Kembali Ki Galur menggeleng-geleng kepala dan menghela napas. "Itulah kalau seorang muda seperti kau tak mengenal hati wanita. Sekarsari telah mengaku terus terang kepadaku dan ia ceritakan segala hal padaku. Pernyataanmu padanya itu terlambat datangnya, gus Jarot, ia sudah terlampau terluka hatinya, terlampau sakit perasaannya."
"Terluka? Sakit? Mengapa?"
“Inilah pokok permasalahannya dan inilah biang keladi segala perkara ini. Mengapa ia takkan terluka hatinya melihat hubunganmu dengan Maduraras? Ia menganggap kau telah lupa padanya dan bahwa kau cinta kepada Maduraras!"
"Ooo..... demikiankah? Mengapa ia menyangka demikian?"
Ki Galur dengan suara yang menyatakan penyesalannya lalu menceritakan betapa Sekarsari melihat Jarot berkuda dengan Maduraras di depannya dan melihat pula betapa Jarot membela Maduraras dari tangan penjahat-penjahat yang dikepalai oleh Bahar.
Kini Jarot yang merasa kecewa dan penasaran. "Tapi.... semua itu terjadi bukan karena aku mencinta Maduraras, paman."
Lalu ia menceritakan kepada orang tua itu betapa Maduraras terluka hingga terpaksa diboncengnya di atas kuda, dan bahwa ketika ia berkelahi dengan Bahar dan kaki tangannya, bukanlah karena menolong dan membantu Maduraras. Ia ceritakan pula bahwa Maduraras adalah adik Raden Mas Bahar. Maka jelaslah bagi mereka berdua duduknya persoalan dan mereka hanya dapat menghela napas menyatakan sayang dan sesal.
"Tapi, kalau hanya karena salah sangka, mengapa Sekarsari tidak menyatakan dengan terus terang padaku? Mengapa ia bahkan menerima lamaran pangeran?"
"Kau agaknya belum mengenal betul watak Sekarsari, gus Jarot. Ia memang seorang anak yang menurut dan berbudi halus selama hatinya senang. Tapi, sekali saja tersinggung perasaannya, maka timbullah keangkuhannya yang membuatnya keras kepala. Ini rupanya adalah pembawaan darah ningratnya.
"Ketika ia merasa bahwa kau sudah tidak suka padanya, ia menjadi angkuh dan sama sekali tidak suka memperlihatkan perasaan hatinya itu kepadamu walaupun di belakangmu ia selalu menangis dengan hati hancur. Semua ini ia ceritakan padaku dengan pesan agar aku tidak menyampaikan hal itu padamu. Ia tidak mau mengalah, lebih baik ia menderita daripada harus memperlihatkan kelemahannya padamu.
"Melihat kau berkelahi yang disangkanya membela Maduraras itu merupakan pukulan terhebat baginya dan menghancurkan seluruh pengharapannya. Timbullah sakit hati dan bencinya padamu dan ia menaruh dendam, ingin membalas dan membikin sakit hati padamu seperti yang telah kau lakukan padanya."
Jarot mengangguk maklum, hatinya sedih bukan main. "Tapi, kalau hendak membalas.... mengapa justru menerima pangeran yang dibencinya itu?"
"Itulah! Ketika kau pergi, agaknya pangeran menggunakan kesempatan untuk minta bantuan ramanya. Aku dipanggil oleh Gusti Sultan dan Sekarsari dipinang dengan resmi. Tentu saja hal ini merupakan kehormatan besar sekali terhadap aku, namun demikian, hatiku sedih karena sesungguhnya kaulah orang yang kuharap-harapkan untuk menjadi suami Sekarsari."
"Dan Sekarsari menerima pinangan itu?"
Ki Galur mengangguk. "Ya, dia menerima pinangan itu dengan menangis sehari semalam tanpa berhenti. Aku katakan bahwa jika ia tidak mau, aku takkan memaksanya dan tak seorangpun di dunia ini, biar Gusti Sultan sekalipun, akan dapat memaksanya selama aku masih hidup, tapi ia menerimanya! Ia berkata bahwa setelah kau tidak menghendakinya lagi, baginya tiada bedanya dikawin oleh laki-laki yang mana saja, dan ia tambahkan bahwa demi kebaikanku, lebih baik berbesan dengan Gusti Sultan daripada dengan orang lain."
Kembali Jarot mengangguk-angguk dan di dalam hatinya yang tadinya marah dan sakit hati sekali kepada Sekarsari, kini timbullah penyesalan kepada diri sendiri. Marahnya terhadap gadis itu lenyap, terganti oleh rasa sayang dan iba yang besar. Tapi apa yang dapat ia lakukan? Kini Sekarsari sudah tidak ada lagi di dunia ini, Sekarsari telah lenyap. Yang ada hanya Raden Roro Susilawati, sekar kedaton Mataram yang agung, mulia dan tak mudah didekati sembarang orang!
Demikianlah, hari itu Jarot duduk bercakap-cakap dengan Ki Galur, hatinya pilu dan sedih, lupa makan dan lupa mandi. Sampai hari telah menjadi gelap mereka masih saja bercakap-cakap tentang Sekarsari.
Semenjak kembali ke gedung tumenggungan, Maduraras tinggal bersama ayahnya. Sebenarnya, Maduraras adalah anak dari isteri pertama Tumenggung Suryawidura, seorang gadis kampung dari Sukowati. Setelah mempunyai dua orang anak yakni Bahar dan Maduraras, Suryawidura menceraikan isterinya itu dan meninggalkan di Sukowati berdua dengan anaknya.
Tumenggung itu kawin lagi dan ia mendapat kedudukan baik ketika Sultan Agung yang ketika itu belum menjadi Sultan mengambil Maduningrum sebagai selir. Maduningrum ini adalah anak angkat Suryawidura yang tadinya hendak diambil selir sendiri, tapi ia rela memberikan gadis cantik itu kepada Sultan Agung, karena ia mengharap kelak mendapat kedudukan yang baik apabila Pangeran Mas Rangsang telah diangkat menjadi sultan.
Namun seringkali Suryawidura datang menengok kedua anaknya di desa Sukowati karena dari selir-selir lain ia tidak mendapat anak. Setelah agak besar, Bahar dibawa ke tumenggungan, tapi Maduraras tidak mau ikut kakaknya, ia lebih suka tinggal dengan ibunya. Karena Sukowati terpisah hanya dekat dari Karta, maka Bahar seringkali datang mengunjungi ibu dan adiknya, hingga hubungan kakak beradik itu erat sekali.
Lebih-lebih Maduraras, ia mencinta kakaknya hingga ketika ibunya meninggal, ia menganggap Bahar sebagai orang tua pula yang selalu ditaatinya. Namun ia tetap tidak mau ikut ke tumenggungan karena isteri tumenggung sering menyakiti hatinya. Ia tetap tinggal di Sukowati. Ketika Bahar datang minta pertolongannya untuk menggoda Jarot, ia tak dapat menolak, walaupun dalam hati ia tidak setuju akan perbuatan itu.
Setelah Bahar tewas dalam perkelahiannya dengan Jarot, Maduraras diharuskan tinggal di tumenggungan oleh ayahnya. Ketika dalam percakapan tentang Jarot yang hendak diadukan kepada raja oleh tumenggung terlihat betapa Maduraras membela pemuda itu, tahulah Tumenggung Suryawidura apa yang terpendam dalam hati anak gadisnya.
Ketika didesak, mengakulah Maduraras bahwa ia mencinta Jarot. Kenyataan inilah yang mendorong Tumenggung Suryawidura untuk meminjam tangan Sultan Agung menjodohkan anaknya kepada Jarot, tapi sungguh di luar persangkaannya, usul ini ditolak mentah-mentah oleh Jarot. Maka ia pulang dengan wajah muram.
Kedatangannya disambut oleh Maduraras yang telah mendengar tentang perkawinan Sekarsari. "Kanjeng rama, bagaimana dengan perkawinan Sekarsari dan gusti pangeran Ramai dan indahkah?"
Tumenggung Suryawidura hanya menggeleng-geleng kepala, wajahnya makin muram.
"Apakah yang terjadi, kanjeng rama? Mengapa rama bermuram durja?" Dengan cekatan dan manis Maduraras menyiapkan minuman ayahnya.
Tumenggung Suryawidura menghela napas. "Tidak ada perkawinan...."
"Apa..... apa maksudmu, rama?"
"Gadis yang kau sangka Sekarsari itu, sebenarnya ialah gusti sekar kedaton, Den Roro Susilawati!"
Maduraras terkejut dan memandang ayahnya dengan matanya yang lebar itu terbelalak. "Sekar kedaton? Bagaimana maksudmu, rama?"
"Jarot yang merusak segalanya. Perkawinan sedang berlangsung, tiba-tiba saja dia datang mengacaukan segala hal!" berkata tumenggung Itu dengan sebal.
"Kangmas Jarot?? Ia sudah kembali? Dan ia datang ke pesta perkawinan Sekarsari? Ya, Gusti! Lalu apakah yang terjadi, rama?"
"Jarot membongkar rahasia....eh, rahasia Sekarsari yang ternyata puteri dari Bratadewi, jadi puteri Gusti Sultan sendiri dan masih adik sendiri dari pangeran. Tentu saja perkawinan dibatalkan."
"Ya Jagat Dewa Batara! Jadi Sekarsari itu puteri Gusti Sultan malah... dan kangmas Jarot yang membongkar rahasia itu? Bagaimana ceritanya, rama?" Maduraras sangat ingin tahu.
"Dulu, ketika masih berusia satu tahun lebih, puteri Susilawati diculik berandal pengacau dan... dan dihanyutkan di bengawan dalam sebuah sampan. Sampan itu ditemukan oleh Ki Galur yang lalu memelihara anak itu dan diberi nama Sekarsari. Entah bagaimana, Jarot dapat membongkar rahasia ini hingga ia membatalkan perkawinan pangeran."
"Dan... dan di mana Sekarsari kini berada dan dimana pula adanya kangmas Jarot?"
"Jangan kau sebut-sebut Sekarsari lagi, Raras. Dia adalah Gusti Den Roro Susilawati. Tentu saja ia tinggal di keraton dan Jarot...."
"Bagaimana kangmas Jarot, rama? Dimana dia??"
"Ah, anak kurang ajar itu! Ia.... ia menolak ketika hendak dijodohkan dengan kau... dan ia bahkan hendak pergi meninggalkan Mataram besok!"
Wajah Maduraras memucat. "Apa? Ia hendak meninggalkan Mataram? Meninggalkan Sekarsari?" Dan gadis itu lari ke dalam kamarnya, diikuti pandang mata heran dan kasihan dari ayahnya.
Di dalam kamarnya Maduraras menangis sedih. Ia meratap menyebut nama ibu dan dewa. "Ampunkan hamba, dewa yang agung, apakah yang telah hamba perbuat??" Ia memukul-mukul dada sendiri dengan menyesal.
"Aku telah mencelakakan kehidupan dua orang manusia. Mas Jarot, kau benar-benar seorang, jujur. Kau laki-laki setia dan jantan. Cintamu terhadap Sekarsari suci dan mulia. Sekarang kau pergi membawa luka di hati yang mungkin akan mengantarmu ke lubang kubur! Ah, semua ini karena aku, karena aku....."
Demikianlah, sampai haritelah gelap Maduraras tidak keluar darikamarnya, menangis dan menyesali perbuatan sendiri. Ketika ayahnya mengetuk pintu kamarnya dan menyuruh ia makan malam, ia jawab bahwa ia tidak mau makan dan mohon jangan diganggu malam itu.
Setelah hari menjadi gelap, Maduraras bangun dari pembaringan, mengambil pusaka ibunya yang menewaskan Bahar dulu lalu menyelipkan keris itu di sabuknya, lalu dengan hati-hati ia keluar dari jendela kamarnya, lari ke dalam gelap! Gadis yang terdidik baik dalam hal keperajuritan oleh Ki Ageng Bendomiring di Sukowati itu lari di dalam gelap menuju ke alun-alun!
Setelah tiba dialun-alun dan hendak memasuki pintu gerbang keraton, ia melihat dua orang penjaga di situ. Dengan hati-hati Maduraras memutari tembok yang mengelilingi keraton dan setibanya di belakang ia mengeluarkan tali yang telah tersedia dan yang tadi dibawanya. Ujung tali itu ia pasangi kayu bercabang yang kuat kemudian ia ayun kayu itu ke atas tembok.
Beberapa kali kayu itu jatuh kembali hingga Maduraras gemas dan menggigit bibirnya. Ia ulangi dan ulangi lagi usahanya. Akhirnya ia berhasil dan kayu bercabang itu dapat terkait di atas tembok. Ia tarik-tarik tambang yang menggantung ke bawah dan mendapat kenyataan bahwa kaitan itu kuat, ia lalu merayap naik dengan menggunakan tambang itu! Hal ini mudah saja ia lakukan karena ketika kecil ia bersama Bahar sering sekali berlomba menaikipohon melalui tambang, Dengan cara demikian pula ia menuruni tembok itu dan kakinya menginjak taman sari.
Sementara itu, seperti halnya Jarot dan Maduraras, Sekarsari juga merasa sedih dan menyesal. Seperginya Jarot, pesta dilangsungkan, hanya saja sifat pesta itu berobah, dari pesta perkawinan menjadi pesta penyambutan untuknya. Para ledek yang terpandai didatangkan untuk mengadakan pertunjukan dan Sekarsari dihujani makanan-makanan lezat yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya, apa pula dirasainya.
Setelah pesta berakhir, ibunya mengajak ia mengaso di tamansari. Bratadewi meminta anaknya menceritakan segala pengalamannya dan Sekarsari walaupun merasa sayang dan bahagia mempunyai ibu yang demikian cantik dan bijaksana serta halus tutur katanya, tetapi masih merasa canggung dan kaku dan sikapnya terlalu menghormat hingga beberapa kali ditegur oleh Bratadewi.
"Susilawati, ingatlah, aku ini ibumu, ibu kandung yang selalu merindukan kau, nak. Jangan anggap aku seorang priyayi agung yang harus kau hormati sedemikian itu, Wati. Aku ibumu.... ibumu sejati....."
Dan untuk kesekian kalinya Bratadewi memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang hingga Sekarsari merasa sangat terharu. Dengan sikap yang halus Bratadewi bertanya, "Wati, karena kau anakku dan aku ibumu, janganlah ada rahasia di antara kita, nak. Katakan saja terus terang padaku dengan hati yang berani dan yakin bahwa aku selalu tentu akan membela dan menolongmu. Coba katakan, nak, adakah, adakah kau mempunyai hubungan sesuatu dengan Jarot?"
Tiba-tiba tubuh Sekarsari menggigil dan wajahnya pucat. "Tidak, kanjeng ibu!" jawabnya tegas, lalu mengatupkan bibirnya erat-erat.
Bratadewi menatap wajah anaknya dengan pandangan tajam. "Betul-betulkah, anakku? Ingat, dalam hal ini, mata orang tua lebih tajam daripada mata anak muda, Wati. Tidakkah kau menaruh cinta kepadanya?"
Biarpun dengan bibir gemetar, dapat juga Sekarsari menjawab tegas, "Tidak, ibu! Kalau benar saya mencintanya, mengapa saya mau menerima pinangan Pangeran Amangkurat?"
Ibunya mengangguk-angguk, tapi keningnya dikerutkan. "Aku lihat tadi bahwa kau sama sekali tidak merasa bahagia ketika hendak dilakukan upacara perkawinan," katanya perlahan.
Sekarsari tak menjawab, hanya menundukkan mukanya karena tanpa dapat ditahan lagi dua butir air mata turut mengalir di kedua pipinya dan ia hendak menyembunyikan air mata itu dari pandangan ibunya. Biarpun cuaca telah mulai gelap, Bratadewi masih dapat melihat keadaan puterinya, maka ia berdiri dan untuk sesaat mengusap-usap rambut kepala Sekarsari, lalu berkata,
"Susilawati, anakku. Sudahlah kau mengaso. Kau tentu lelah, kamarmu berada disebelah kiri kamarku, nak, itu yang dipasangi janur dan kembang di pintunya. Aku sebagai ibumu hanya berdoa siang malam semoga kau selalu berbahagia, nak."
Bukan main terharu hati Sekarsari mendengar kata-kata ini yang belum pernah didengarnya dari mulut seorang ibu, maka ia menubruk ibunya dan memeluknya sambil menyembunyikan mukanya didada ibunya.
"Wati, jangan khawatir, anakku, apapun yang terjadi, ibumu selalu berada dipihakmu. Nah, tidurlah, nak, besok saja kita bercakap-cakap lagi."
Dan Sekarsari memasuki kamarnya yang serba indah dengan sebuah pembaringan yang mewah dan empuk, dihias alas yang indah danditaburi bunga-bunga harum. Namun semua itu tak dapat melenyapkan kesedihan dan keharuan yang memenuhi dadanya dan membuat ia membanting diridi atas pembaringan sambil menangis tersedu-sedu!
Pada menjelang tengah malam belum juga ia dapat tidur. Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya berbunyi dan dengan perlahan daun pintu itu terbuka. Sekarsari menyangka bahwa yang datang tentu ibunya, maka ia pura-pura meramkan mata dan tidur. Tapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa tangannya dipegang orang dengan kuat-kuat dan orang itu memanggil dengan perlahan tapi dengan tegas, "Sari, bangunlah!"
Ketika ia membuka matanya hampir saja ia berteriak karena heran dan kaget. Yang berdiri disitu dengan tangan kanan memegang keris dan tangan kiri memegang tangannya dan dengan wajah keren serta mata berapi bukan lain adalah Maduraras! "Kau... kau... Maduraras??"
Mulut Maduraras menyeringai dengan mengandung hinaan. "Hm, kau masih mengenal aku? Hayo bangun dan ikut dengan aku ke taman!" Sambil berkata demikian Maduraras menarik tangan Sekarsari dan memaksanya keluar memasuki taman. Hawa pada malam itu dingin dan bulan bersinar terang.
Setelah berada jauh dari kamar, Sekarsari bertanya, "Maduraras, apa yang kau kehendaki?"
"Aku? Hm, aku datang hendak mengambil nyawamu!"
Tiba-tiba Sekarsari tertawa dengan suara tawa yang membuat bulu tengkuk Maduraras berdiri. "Kau hendak membunuhku? Mari, cepat-cepat, Maduraras, ini dadaku, tusuklah dengan kerismu itu supaya cepat mengenai jantungku. Kau yang telah merusak hidupku, yang telah merampas kebahagiaan hidupku, yang telah membuat aku bosan hidup, kau kira kau akan dapat menyiksa dan menakuti aku dengan kematian? Ini, Maduraras, bunuhlah aku, aku akan berterimakasih padamu!"
Sekarsari mengangkat-angkat dadanya dan mendekati Maduraras yang bertindak mundur dengan heran dan bingung. "Kau... kau... apa maksudmu, Sari?? Masih cintakah kau kepada kangmas Jarot??"
"Jangan sebut-sebut nama Jarot lagi! Kau telah merampasnya dariku! Kau telah memisahkan kami dan kau telah berhasil menggagalkan cita-cita kami. Ha, sekarang aku tahu, kau datang karena kau ditampik oleh mas Jarot? Ha-ha-ha! Sungguh lucu! Kau memikat Jarot, kau memisahkannya dariku, setelah kau berhasil, kini kau sendiri ditampik olehnya! Ha-ha! Alangkah lucunya, aku mendengar penampikan Jarot dengan telingaku sendiri!"
"Sari, jawablah terus terang! Kenapa kau menerima pinangan Pangeran Amangkurat? Kalau kau benar masih cinta kepada Jarot, mengapa kau terima pinangannya?? Butakah matamu bahwa Jarot tidak cinta padaku, bahwa ia hanya mencinta kau seorang? Gilakah kamu maka kau mau menerima pinangan orang lain? Tidak tahukah kau bahwa hal itu menghancurkan hati mas Jarot? Ah, Sari, di manakah kecerdasan otakmu?"
"Apa.... apa katamu?? Mas Jarot tidak mencintamu?"
Tiba-tiba Maduraras melempar kerisnya ke tanah dan ia menangis. "Aku..... akulah yang tak tahu diri, Sari. Aku telah berdosa. Berdosa karena cintaku padanya. Aku..... aku cinta padanya, Sari. Maka aku tidak tahan melihat ia sengsara, melihat dia hancur hatinya. Aku rela mengorbankan kebahagiaanku sendiri asalkan dia bahagia, Sari. Kau tahu, aku telah kehilangan kakakku yang kucinta, tapi kematiannya di tangan mas Jarot tak dapat menghapus cintaku kepadanya. Aku telah mengorbankan kakakku, tapi ternyata mas Jarot tak dapat membalas cintaku, buktinya dia telah menolakku. Kau... kau seorang yang dicintanya, tapi kau bahkan menyakiti hatinya. Ah, mengapa hatimu sekejam itu, Sari?"
"Aku..... aku masih tidak percaya, Raras."
Tiba-tiba Maduraras meloncat bangun dan memungut kerisnya, sikapnya menjadi keras dan beringas lagi. "Sari, mudah saja bagiku untuk membunuhmu lalu membunuh diriku sendiri di sini. Tapi apa gunanya? Mas Jarot takkan bahagia karenanya. Bahkan mungkin ia akan makin bersedih. Kau tidak percaya bahwa ia cinta padamu? Ah, kau orang bodoh dan buta! Dia besok pagi-pagi hendak pergi, Sari. Pergi dengan membawa luka di hati. Ayoh, ikutlah aku. Kau harus tolong padanya!"
"Ikut padamu? Di tengah malam begini? Kemana?"
"Kerumah Jarot!"
“Ah, aku tidak sudi merendahkan diri macam itu!"
Maduraras memutar tubuh dan tangannya melayang. Sebuah tamparan keras memukul pipi Sekarsari. "Aduh sombongnya. Sikapmu yang buruk macam inilah yang menyakiti hati mas Jarot. Pendeknya, mau atau tidak, kau harus ikut, biarpun aku harus menyeretmu seperti domba!"
Akhirnya dengan cemberut Sekarsari menurut juga. Dengan susah payah Sekarsari merayap di tambang dengan bantuan Maduraras dan mereka lalu berjalan menuju ke kampung Ki Galur. Setelah tiba di dekat pondok Ki Galur, tiba-tiba Sekarsari berhenti.
"Jalan terus, Sari." Maduraras mendesak.
"Tidak, Raras. Kau harus terangkan dulu padaku. Apa maksudmu membawaku ke sini? Apa yang harus kulakukan di hadapan mas Jarot?"
"Kau harus mencegah kepergian mas Jarot. Kau harus menyatakan cintamu kepadanya dan kau harus menerangkan alasanmu mengapa kau menerima pinangan pangeran. Kau harus mengobati luka dihatinya karenamu. Dan kalau dia berkeras hendak pergi, kau harus menyatakan hendak ikut padanya ke mana ia pergi!"
"Tapi, Raras...."
"Tidak ada tapi! Aku telah berdosa. Berdosa kepada mas Jarot dan kepadamu. Aku telah memisahkan kalian, maka sekarang aku harus memaksa kau untuk memperbaiki hubungan kalian kembali. Siksaan hatiku baru lenyap kalau kalian sudah bersatu kembali, Sari. Turutilah permintaanku kali ini, Sari, demi kebaikanmu sendiri, kebaikan mas Jarot, dan juga kebaikanku!"
Sekarsari berjebi dengan pandang menghina. "Hm, kau hendak menebus dosa dengan jasa baik? Tapi ketahuilah, Raras, usaha yang dipaksakan bukanlah jasa baik lagi, dan dosamu takkan tertebus demikian mudah."
Maduraras menundukkan muka karena kata-kata itu menikam jantungnya, kemudian ia menghela napas. "Sari, kau benar. Aku memang ingin menebus dosa, ingin melihat mas Jarot bahagia dan juga ingin melihat kau.... bahagia pula, Sari. Tapi, agaknya kau tidak suka, Sari. Salahkah dugaanku bahwa kau mencintai mas Jarot? Benar-benarkah kau begitu rendah budi dan lebih memberatkan kedudukanmu sebagai sekar kedaton daripada pertalian kasihmu dengan mas Jarot...?"