Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 04, karya Kho Ping Hoo - "MISALNYA.... ke istanaku, yakni kalau tidak ada orang yang akan menghalangi." Kata-kata ini dibarengi kerlingan tajam menyambar wajah Jarot yang tiba-tiba membungkuk dan mencambuk Nagapertala hingga kuda itu lari cepat dan Pangeran Amangkuratpun cepat mengejar. Mereka berendeng lagi.
"Hamba rasa..... hal itu tergantung...." kata Jarot.
"Tergantung apa, Jarot?"
"Tergantung keadaan."
"Apa maksudmu?"
"Orang bukan benda mati, gusti, ia mempunyai akal budi dan pertimbangan. Maka, untuk dipindahkan harus ada persetujuan yang bersangkutan. Kalau yang akan dipindahkan mau, siapakah pula yang berani menghalangi kehendak paduka?"
Amangkurat mengangguk-angguk. "Kalau.... kalau misalnya ia tidak mau?"
“Tidak baik untuk memaksakan sesuatu yang tidak disetujui kepada seseorang, gusti, biarpun orang itu hanya orang kecil dan perempuan pula. Lebih-lebih tidak baik kalau yang dipaksa itu seorang yang dekat dengan hamba."
Bukan main marah hati Amangkurat mendengar sindiran ini, tapi ia cukup cerdik untuk menutupi napsu marah, terutama kepada seorang muda gagah perkasa seperti Jarot ini. Maka ia hanya tersenyum dan berkata perlahan, namun cukup tajam dan mengiris perasaan Jarot. "Hm, sama-sama kita lihat saja nanti."
Pangeran Amangkurat segera balapkan kudanya dan masuk ke gapura keraton tanpa menoleh kepada Jarot lagi, dan pemuda inipun lalu putar kudanya dan membalap menuju ke rumah Ki Galur.
Pada masa itu, terdengar berita angin sejumlah besar pasukan dari Surabaya tengah dalam perjalanan untuk menyerang Mataram. Ketika itu jatuh pada permulaan tahun 1614 dan hujan mulai banyak turun, sungguhpun bulan yang lalu sudah berkurang turun hujan.
Mendengar berita itu, Sultan Agung mengadakan persidangan dari diambil keputusan untuk mengirim seorang penyelidik kearah timur. Tiga orang pahlawan muda yang gagah dipilih untuk berangkat melakukan tugas penting ini. Biarpun tersiar berita akan kedatangan musuh negaranya, Amangkurat bersikap tak perduli, bahkan ia membuat gara-gara dengan Jarot.
Seminggu setelah bertemu dengan Sekarsari, ia mengutus enam orang pahlawannya mendatangi rumah Ki Galur. Pada waktu itu, Ki Galur sedang memperbaiki jalanya yang banyak putus. Ia terkejut melihat datangnya enam orang pahlawan yang bersikap galak dan gagah.
"Kaukah yang bernama Ki Galur?" seorang di antara mereka bertanya sambil bertolak pinggang.
"Betul, raden. Apakah yang hendak diperintahkan kepada hamba?" jawab Ki Galur.
"Kami datang atas perintah Pangeran Amangkurat untuk memboyong anakmu si Sekarsari, dan inilah hadiahnya untukmu." Pahlawan itu mengeluarkan sekantung perak yang dilempar ke atas bangku dimana KI Galur tadi duduk.
"Ampun, raden. Bukannya hamba membantah, tapi hal ini harus hamba tanyakan dulu kepada Sekarsari."
"Panggil saja anakmu ke sini."
Ki Galur lalu berteriak memanggil nama anaknya. Sekarsari keluar dari belakang dan ia merasa sangat heran dan terkejut melihat kehadiran enam orang pahlawan yang bersikap sombong itu. Ia tundukkan kepala ketika melihat betapa keenam orang itu memandangnya dengan kagum dan tersenyum simpul.
"Ada apa, bapak?" tanya Sekarsari kepada ayahnya.
"Sari..... ini..... para raden ini diutus oleh gusti pangeran, maksudnya... maksudnya hendak memboyong kau ke keraton, Sari....."
Wajah gadis itu seketika menjadi pucat dan tubuhnya menggigil, la memandang kepada enam orang pahlawan itu dengan mata terbelalak, lalu berkata marah, "Tidak mau..... aku tidak mau, bapak...."
''Eh, Sekarsari, kau tidak boleh membantah kehendak gusti pangeran! Pula, seharusnya kau bergembira terpilih menjadi selir beliau."
"Tidak, tidak sudi!!" jawab Sekarsari yang lari ke dalam pondoknya. Seorang pahlawan hendak lari mengejar, tapi Ki Galur lebih cepat. Orang tua ini meloncat dan sudah berdiri di ambang pintu pondoknya, menghalangi pengejar tadi.
"Nelayan busuk! Menghindar kau!" pahlawan itu mendorong dada Ki Galur hingga orang tua itu terhuyung-huyung.
Tapi Ki Galur cepat menubruk lagi dan dari belakang memegang kain pengawal yang hendak mengejar Sekarsari itu. "Breett!!" dan robeklah kain pengawal keraton hingga ia menjadi marah sekali.
"Orang tua edan! Kau cari mampus?!" Dan kakinya terayun ke arah lambung Ki Galur. Serangan ini sangat kejam dan sekiranya tendangan itu mengenai sasarannya, maka dapat dipastikan orang tua lemah itu takkan kuat menahannya dan mungkin jiwanya akan melayang!
Tapi pada saat itu terjadi keanehan. Ketika kaki pengawal itu tampaknya telah "makan" lambung Ki Galur, bukan orang tua itu yang roboh, sebaliknya si pengawallah yang menjerit kesakitan dan jatuh terjengkang ke belakang! Betis kaki yang menendang tadi mengeluarkan darah bercucuran karena sebilah pisau belati telah menancap di daging betis itu!
Kelima pengawal keraton yang lain terkejut sekali melihat hal ini. Mereka tidak tahu bagaimana belati itu dapat tertancap di betis kawan mereka. Mereka sangka bahwa Ki Galur tentu mempergunakan ilmu gaib, maka sambil mencabut keris mereka maju berbareng dan mengancam Ki Galur dengan hebat!
Orang tua yang lemah itu ternyata tidak gentar menghadapi kelima lawannya yang muda dan gagah, bahkan ia bermaksud untuk nekat dan melawan sampai titik darah terakhir untuk membela puterinya! Ia cabut sebilah arit yang terselip di bilik, lalu menanti serbuan lawan-lawannya dengan mata terbelalak merah.
Pada saat itu, sebelum lima orang pengawal itu sempat menyerang Ki Galur, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat dari dalam dan Jarot telah berdiri menghalang di depan orang tua itu, menghadapi kelima pengawal dengan senyum sindir dan tolak pinggang.
"Sungguh tak tahu malu! Beginikah kegagahan pahlawan-pahlawan keraton yang menghadapi seorang tua lemah saja harus mengeroyoknya? Hm, kalian tak pantas menjadi pengawal keraton dan terkenal dengan sebutan pahlawan-pahlawan!"
Kelima orang itu biarpun sudah tahu akan kegagahan Jarot, namun mengandalkan jumlah banyak dan nama Pangeran Amangkurat yang mengutus mereka, mereka tidak takut. "Den-mas jangan ikut-ikut! Kami harus tangkap orang tua yang berani membangkang terhadap perintah gusti pangeran."
"Jangan banyak cakap! Mundur dan pergi dari sini!” Jarot mengancam, tapi hal ini membuat mereka marah.
"Eh-eh, kaupun hendak memberontak? Berani melawan utusan pangeran? Jarot, jangan kau sombong. Kau kira kegagahanmu itu cukup untuk menjagoi di Mataram? Minggir kau!!"
Mereka berlima menyerang dengan keris terhunus. Jarot menjadi marah dan menerjang ke kanan kiri. Gerakan kedua kaki dan sepasang kepalan tangan Jarot luar biasa cepatnya, hingga kelima lawannya hanya melihat berkelebatnya tangan atau kaki dan tahu-tahu senjata mereka telah terpental entah ke mana kemudian sebelum mereka dapat melihat jelas, masing-masing telah menerima pukulan atau tendangan yang membuat mereka jatuh bangun, kepala benjol dan tulang patah!
Mendapat hajaran keras ini mereka, termasuk juga orang pertama yang terluka oleh belati yang dilepas Jarot, meninggalkan tempat itu sambil mengaduh-aduh dan terhuyung-huyung. Orang-orang kampung melihat perkelahian itu merasa khawatir akan keselamatan Jarot dan Ki Galur karena telah berani menentang Pangeran Amangkurat yang disegani. Namun Jarot tetap tenang dan tabah.
"Lebih baik kalian lekas lari saja," seorang tetangga memberi nasihat, "Pangeran Amangkurat tentu akan segera datang. Dan kalau beliau sendiri yang datang membalas dendam, celakalah kampung ini! Kenapa tidak kau berikan saja Sekarsari untuk menjadi selirnya?"
Hampir saja Ki Galur memukul mulut orang itu kalau tidak cepat-cepat dicegah oleh Sekarsari yang memeluk ayahnya sambil menangis. "Ayah, biarlah aku terjun ke bengawan saja daripada diselir pangeran..." ratapnya kemudian sambil memandang Jarot ia berkata lagi, "Lebih baik mati daripada dipaksa menjadi selirnya, tapi kalau aku menolak, kau dan mas Jarot tentu akan mendapat bencana... ah, lebih baik aku mati saja…”
Jarot segera menghibur semua orang dengan kata-katanya yang tenang. "Janganlah kalian khawatir dan bersedih. Aku yang tanggung jika Pangeran Amangkurat marah dan datang ke sini. Biarlah aku yang menghadapinya. Kalau ada apa-apa, aku seoranglah yang akan memikul tanggung jawabdan akibatnya!"
Ucapan yang gagah berani ini membuat orang-orang merasa kagum dan berterima kasih, tapi Sekarsari mendengarkan dengan air mata mengalir. Tapi sungguh mengherankan mereka karena sampai malam tiba, tidak juga ada berita sesuatu dari Pangeran Amangkurat. Hal ini melegakan dada orang-orang kampung.
Sebaliknya, Jarot merasa tak enak hati. Ia akan lebih senang kalau urusan itu lekas-lekas selesai. Maka, malam hari itu tanpa diketahui seorangpun, ia berjalan cepat dibawah sinar bulan purnama menuju ke keraton. Ia bermaksud menyelidiki keadaan pangeran yang telah dikenal banyak akalnya itu.
Jarot ambil jalan memutar dan masuk ke tamansari dengan jalan meloncati tembok yang mengelilinginya. Ia belum pernah melihat taman bunga keraton itu, hingga ia tercengang dan kagum melihat keindahan tamansari dimana beraneka macam bunga sedang mekar dan tertimpa cahaya bulan yang gilang-gemilang. Juga harum bunga yang sedap menyambut hidungnya.
Dengan hati-hati dan perlahan Jarot memasuki tamansari. Taman itu luas sekali. Tiba-tiba Jarot mendengar suara tangis yang sedih, tangis seorang wanita yang terisak-isak. Suara itu datang dari sebuah bangunan kecil di tengah tamansari. Ia merasa tertarik dan ingin tahu, maka segera ia lari menghampiri dan bersembunyi di belakang pintu ruang di mana suara itu berada, lalu mendengarkan.
"Sudahlah, gusti ayu, jangan terlalu bersedih. Hal itu sudah lalu belasan tahun lamanya dan percayalah, Yang Maha Kuasa akan memberkahi mereka yang benar dan baik," terdengar suara seorang wanita tua menghibur.
"Kau benar, biung emban, tapi betapa hatiku takkan sedih dan sakit. Aku yakin betul bahwa ini tentu perbuatan yayi Maduningrum dan ayahnya, Tumenggung Suryawidura, tapi karena tiada bukti, aku harus menerima nasib dan menyimpan sakit hati. Betapa hatiku takkan sakit, melihat orang membawa pergi anakku yang hingga kini tak kuketahui hidup matinya, sedangkan terhadap orang-orang jahat itu aku tak berdaya menuntut balas sama sekali?" Kembali terdengar isak tangis.
"Sudahlah, gusti Bratadewi, marilah kita berdoa saja kepada Yang Maha Agung. Sekarang sudah jauh malam, lebih baik gusti mengaso di peraduan, kalau nanti gusti Sultan datang dan paduka tidak ada, tentu beliau akan marah."
Jarot loncat bersembunyi dibelakang pohon mawar dan melati ketika mendengar suara kaki mereka menuju keluar. Tak lama kemudian tampak olehnya wanita yang menangis dan bernama Bratadewi itu berjalan perlahan, diiringi oleh biung emban. Ketika cahaya bulan tepat menimpa wajah puteri itu. hampir saja Jarot berseru karena terkejut dan heran. Bukankah wanita yang sedang berjalan itu Sekarsari?
Tubuhnya, lenggangnya, raut wajahnya, mata hidung mulut itu... Jarot menggosok-gosok matanya dan memandang lagi. Bukan, bukan Sekarsari, tapi seorang wanita setengah tua yang serupa benar dengan Sekarsari!
Otak Jarot yang cerdas dengan cepat merangkai segala hal yang didengarnya tadi, Puteri Bratadewi kehilangan anaknya, yang menurut sangkaan puteri itu telah dibawa pergi oleh Tumenggung Suryawidura dan anak perempuannya bernama Maduningrum. Dan puteri Bratadewi ini serupa benar dengan Sekarsari!
Kalau demikian, mungkinkah Sekarsari puteri yang hilang dicuri itu? Dan Ki Galur? Apakah hubungan Ki Galur dengan peristiwa ini, kalau memang benar demikian halnya? Ah, ia harus minta keterangan dari Ki Galur! Hatinya berdebar, mungkinkah ia akan membongkar sebuah rahasia keraton yang terpendam?
Ia tidak merasa bahwa telah lama juga ia termenung di situ dan ketika ia berdiri lagi, ditamansaritelah sunyi. Ketika ia hendak mulai penyelidikannya ke kamar Pangeran Amangkurat yang berada disebelah barat keraton, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan ribut diluar keraton. Jarot segera meloncat ke atas tembok dan keluar dari tamansari itu untuk melihat apakah yang telah terjadi.
Ternyata seorang diantara tiga utusan penyelidik telah kembali dengan tubuh penuh luka. Di bawah penerangan bulan dan obor, penyelidik yang mandi darah itu dengan terengah-engah menutur betapa ia dan dua orang kawannya telah bertemu dengan barisan pelopor musuh di luar kota dan terbukalah rahasia penyelidikan mereka hingga terjadi perang tanding. Jumlah musuh terlalu banyak hingga dua orang kawannya gugur dan ia sendiri berhasil menerobos kepungan dan melarikan diri pulang ke dalam kota.
Setelah habis ceritanya, penyelidik yang telah terlampau banyak mengeluarkan darah itu menjadi lemas dan jatuh pingsan. Orang-orang berusaha menolongnya namun sia-sia, karena di sepanjang jalan setengah bagian darahnya mengalir keluar dari tubuh melalui lukalukanya. Tak lama kemudian ia menghembuskan napas terakhir.
Mendengar cerita itu, eorang pengawal pribadi Sultan segera masuk kedalam dan minta seorang pengawal dalam membangunkan Sultan. Tapi pada saat itu tampak dua orang maju mencegahnya, seorang keluar dari dalam dan yang lain masuk dari luar. Mereka adalah Pangeran Amangkurat dan Jarot.
"Tidak usah mengganggu ramanda Sultan karena urusan kecil ini. Musuh masih jauh, biar kita perkuat penjagaan di luar kota," kata Amangkurat.
"Itu benar. Keadaan tidak sangat berbahaya, tidak perlu mengganggu gusti Sultan dari tidurnya. Biarlah aku sendiri pergi melihat-lihat keadaan musuh, menggantikan tugas tiga orang penyelidik yang gugur," kata Jarot sambil memandang kepada Amangkurat yang kebetulan sedang menatapnya dengan pandang tajam.
Dua pasang mata bertemu dan Amangkurat tersenyum lebih dulu lalu anggukkan kepala. "Baik, Jarot. Aku setuju. Pergilah kau melakukan penyelidikan sementara aku berunding dengan para senapati."
Jarot lalu meloncat keluar dan berlari cepat ke pondoknya untuk berkemas dan mengambil Nagapertala. Maksudnya hendak pergi diam-diam dan tidak akan mengganggu Ki Galur dan Sekarsari yang masih tidur. Tapi ketika la telah selesai berkemas dan sedang menuntun Nagapertala keluar dari kandang, tiba-tiba terdengar suara halus menegurnya,
"Mas Jarot, ke mana kau pergi tadi dan sekarang ke mana pula kau hendak pergi dengan Nagapertala?"
Jarot terkejut dan gugup. Tak disangka-sangkanya bahwa Sekarsari tahu akan kepergiannya tadi. "Aku... aku hendak menyelidik keadaan musuh, Sari."
"Apakah yang telah terjadi?" tanya Sekarsari.
Jarot lalu menuturkan dengan ringkas tentang kembali dan gugurnya penyelidik. Namun Sekarsari tidak tampak takut mendengar bahwa musuh hendak menyerang Mataram.
"Biar mereka datang! Kita pasti akan dapat memukul mundur dan menghancurkan mereka! Panglima-panglima kita gagah perkasa, apalagi sekarang ada kau di sini mas Jarot......" katanya dengan gagah.
Jarot tersenyum. "Sari, kau seperti Srikandi...." tiba-tiba ia teringat akan puteri dalam tamansari tadi. "Sari, pernahkah... pernahkah kau melihat ibumu?"
Sekarsari memandangnya heran, lalu melihat ke arah bulan purnama yang telah menurun kebarat. "Menurut kata ayah, ibu telah meninggal dunia semenjak aku masih bayi," jawabnya perlahan, "Mengapa kau tanyakan hal ini, mas?" tiba-tiba ia bertanya sambil putar tubuh menatap wajah Jarot.
“Tidak apa-apa, Sari. Nah, jaga diri baik-baik. Aku berangkat sekarang." Jarot meloncat ke atas punggung Nagapertala dengan sigapnya.
"Mas Jarot......!"
"Ya?" Jarot tahan kendali kudanya.
Sekarsari ragu-ragu. "Mas... kalau kau pergi..... bagaimana kalau pangeran datang mengganggu kami.....?"
Hati Jarot berdebar. Hampir ia lupa akan hal itu. Tapi ia teringat akan keberanian Ki Galur membela anaknya. Pula, perginya takkan lama. "Jangan takut, Sari. Paman Galur akan menjagamu. Juga, aku takkan pergi lama. Besok siang aku tentu sudah kembali, laginya, dalam keadaan seperti sekarang, kurasa Pangeran Amangkurat takkan mengganggumu."
Sekarsari mendengar dengan bimbang tapi tiba-tiba ia kedikkan kepala dan berkata tetap, "Pergilah, mas. Pergilah lakukan tugasmu. Aku tidak takut kepada pangeran!"
Mendengar kata-kata dan melihat sikap ini Jarot tersenyum girang lalu membungkuk diatas kudanya dan mencubit dagu yang manis dari gadis itu. Kemudian ia kaburkan kudanya ke arah timur. Setelah keluar kota, Jarot bertemu dengan rombongan-rombongan pengungsi dari kampung kampung sebelah timur. Menurut penuturan mereka, barisan yang besar dari Surabaya telah bergerak menuju ke kota raja.
Tiba-tiba seorang kakek-kakek menghampiri Jarot dan berkata, "Raden, tolonglah. Di kampung sana itu terdapat musuh yang mengganas dan merampok."
Jarot segera melarikan kudanya. Benar saja, terdengar teriakan minta tolong seorang wanita. Ia balapkan Nagapertala memasuki kampung dan meloncat turun. Dalam sebuah pondok ia melihat seorang gadis muda meronta-ronta dalam pelukan seorang laki-laki brewokan. Jarot marah sekali dan sekali loncat ia telah berada dibelakang laki-laki itu dan tangan kanannya bekerja!
Laki-laki itu merasa pundaknya terkait dan ia tak dapat mempertahankan tubuhnya ketika ditarik kebelakang oleh sebuah tenaga yang kuat sekali. Dengan marah la melepaskan korbannya dan putar tubuhnya. Tapi sebelum ia jelas benar melihat pemuda yang berani mengganggunya, tinju kiri Jarot sudah mampir kepangkal telinganya, membuat kepalanya pening dan segala apa di depannya tampak berputar-putar!
Sekali lagi Jarot ayun tangannya kali ini menumbuk dada, maka laki-laki biadab itu terpental jauh dan tubuhnya menabrak dinding hingga dinding bambu itu menjadi jebol. Dengan dua kali pukulan saja Jarot membuat lawannya rebah dengan napas empas-empis. Ia lalu meloncat keluar.
Ternyata kampung itu dimasuki belasan perajurit musuh, yang bertugas sebagai pelopor penyelidik. Karena agaknya terpimpin oleh seorang yang berwatak rendah, maka regu musuh ini menyeleweng dari tugasnya dan mengacau kampung. Mereka inilah pula yang membunuh tiga orang penyelidik Mataram.
Melihat seorang pemuda keluar dari pondok segera lima orang perajurit mengepungnya. Jarot bersikap tenang dan menanti serbuan musuh. Tanpa bertanya sesuatu kelima orang itu terus saja menghantam. Tapi alangkah terkejut mereka ketika kepalan mereka beradu dengan tubuh yang keras bagaikan waja hingga tangan mereka terasa sakit sekali.
Sebelum mereka dapat tenangkan pikiran dari rasa heran dan bingung, Jarot sudah bergerak cepat. Kaki dan tangannya bekerja bagaikan empat daun kitiran angin dan kelima lawannya hanya dapat mengaduh kesakitan; dan rebah, tak dapat bangun lagi!
Teriakan teriakan ini terdengar oleh perajurit-perajurit lain. Seorang perajurit memberi tanda dan berkumpullah tujuh orang perajurit dengan tombak di tangan. Mereka membuat gerakan dan sebentar saja Jarot terkurung di tengah-tengah.
Pemuda itu dengan mata tajam bergerak perlahan memutar-mutar tubuh ke kanan kiri dengan waspada, seakan-akan seekor harimau jantan yang dikurung. Ia tahu bahwa kali ini ia menghadapi tujuh perajurit yang bersenjata tajam sedangkan ia sendiri bertangan kosong, maka ia harus berkelahi mati-matian.
Sementara itu, cahaya matahari telah mulai menggantikan kedudukan sang ratu malam yang turun tahta hingga cuaca menjadi remang-remang menyeramkan.
"He, siapakah kau berani melukai kawan-kawan kami?" pemimpin regu itu membentak dengan suara galak.
Jarot tersenyum, karena dari irama ucapan itu tahulah dia bahwa para lawannya ialah orang-orang dari Jawa Timur. "Kita satu asal, tapi berlainan paham," katanya tenang.
Ketujuh orang lawannya saling pandang, “Kamu juga orang wetan? Mengapa berani melawan kami?”
"Aku bukan anak buahmu. Aku membela Mataram!"
"Setan alas engkau! Beritahukan namamu sebelum putus lehermu!"
"Namaku? Akulah Jarot anak Tengger, pembela keadilan dan kebenaran, sekarang bertugas sebagai penyelidik dari Mataram."
Maka setelah mendengar keterangan ini marahlah ketujuh orang itu dan menyerbulah mereka dengan tombak mereka. Jarot menggerakkan tubuhnya dan sekali berkelebat ia telah menyerang ke depan, miringkan tubuh hindarkan tusukan tombak dari depan dan cepat bagaikan kilat kempit tombak itu di bawah lengan terus gerakkan kaki menendang.
Terdengar jeritan ngeri dan lawannya itu terlempar jauh dengan tombak tertinggal dalam tangan Jarot. Terjadilah kini perang tanding antara enam orang melawan seorang.
Permainan tombak enam orang perajurit itu cukup kuat dan cepat, tapi menghadapi Jarot mereka itu bagaikan kanak-kanak yang baru belajar jalan! Kalau dibicarakan memang aneh dan tak masuk diakal tapi benar-benar tombak di tangan Jarot yang hanya sebatang itu telah membuat enam batang tombak lawan-lawannya hanya mampu menangkis saja tanpa kuasa menyerang sedikitpun!
Jarot percepat gerakannya dan seorang demi seorang para lawannya berteriak dan roboh karena tendangan atau sabetan gagang tombak. Kepala regu melihat semua perajuritnya roboh, menjadi takut dan timbul watak pengecutnya. Ia lempar tombaknya dan berlutut menyembah meminta ampun.
Jarot tersenyum menghina dan seret orang itu pada rambutnya. Dengan ringan ia kempit tawanannya dan meloncat ke atas punggung Nagapertala dan kaburkan kudanya kembali ke kota raja.
Ternyata di alun-alun telah disiapkan perajurit-perajurit Mataram di bawah pimpinan para senapati. Pada saat itu Senapati Ki Ageng Baurekso sedang mengadakan rapat dengan para senapati lain untuk merundingkan cara yang sebaiknya untuk menahan serangan musuh dari Surabaya.
Semua panglima dan senapati maju menyambut Jarot yarig datang dengan seorang perajurit musuh sebagai tawanan. Jarot melemparkan kepala regu musuh itu ke atas tanah dan berkata kepada Ki Ageng Baurekso,
"Paman senapati, tawanan ini adalah seorang kepala regu musuh yang sengaja kutawan untuk ditanyai keterangan tentang keadaan barisan musuh."
Ki Ageng Baurekso mengangguk-angguk senang dan ia merasa kagum ketika Jarot dengan ringkas menuturkan pengalamannya. Kemudian dibawah ancaman ujung keris, tawanan itu mengaku dan membuka rahasia kesatuannya yang sedang bergerak dalam penyerangan ke Mataram. Ternyata bahwa barisan dari Kadipaten Surabaya itu menggunakan siasat menyerang dari dua pihak!
Sebagian barisan akan menyerang dari timur dan sebagian pula menyerang dari utara. Penyerangan dari timur merupakan serangan pancingan atau serangan palsu sedangkan sebenarnya tenaga terkuat dikerahkan dalam barisan yang menyerang dari utara.
Ki Ageng Baurekso girang sekali mendengar pembukaan rahasia ini, dan setelah tawanan itu habis bicara, senapati yang terkenal gagah berani itu menggerakkan tangannya yang memegang keris, maka tawanan itu tak sempat berteriak dan matilah dia!
Hal ini tak mengherankan para pahlawan lain karena mereka semua sudah kenal akan watak Ki Ageng Baurekso yang sangat benci akan segala macam pengkhianatan. Sekali waktu pernah tertangkap seorang penyelidik musuh yang bersikap gagah dan rela dibunuh daripada harus membongkar rahasia barisannya. Ki Ageng Baurekso tidak membunuh tawanan yang setia itu, bahkan memberinya seekor kuda dan membebaskannya!
Tapi jika ada tawanan yang bersikap pengecut seperti tawanan dari Surabaya ini, biarpun keterangan-keterangannya menguntungkan Mataram, namun sikap tawanan itu demikian menjijikkan hati senapati hingga selalu dia sendiri yang turun tangan menghabisi nyawanya. Sikap ini sungguh cocok dengan sikap Sultan Agung yang menghargai kegagahandan kesetiaan.
Dengan cepat Ki Ageng Baurekso memberi perintah kepada para panglima untuk menjaga kedatangan musuh. Kemudian ia beri tanda kepada Jarot untuk mendekat. Setelah pemuda itu menghampirinya, senapati itu berbisik, "Nak Jarot, kau cepatlah pulang dan tengok Ki Galur serta anaknya. Kalau semua dalam keadaan baik, barulah kau bantu kami, gusti pangeran baru saja menuju ke kampungmu!"
Mendengar bisikan ini, tanpa pamit lagi Jarot terus cemplak kudanya dan membalap ke arah kampung Ki Galur dengan hati tidak enak. Benar saja, ketika kudanya memasuki gerbang kampung, ia mendengar jeritan-jeritan ngeri dan melihat orang-orang kampung lari ke sana ke mari dalam keadaan kacau. Ia pegang seorang kampung yang lari di dekatnya lalu bertanya keras. "Apa yang telah terjadi?"
Orang itu terkejut dan pucat ketika merasa lengannya ada yang memegang, tapi setelah dilihatnya bahwa yang memegangnya Jarot, ia jatuh berlutut dan, "Den Jarot, celaka..... celaka..... gusti pangeran mengamuk.... dia dan beberapa orang pengawalnya..... marah-marah mencari Sekarsari, kami diamuknya, dikira menyembunyikan Sekarsari, bahkan ada beberapa orang kawan yang terbunuh. Tolong, den Jarot, tolonglah.....”
Jarot tak sempat menjawab, segera berlari ke arah pondok Ki Galur. Ia melihat segala barang isi pondok telah mawut dan rusak, pintu-pintu terbuka dan pondok itu kosong! Timbul kemarahan hebat di hati Jarot. Ia lari keluar dan melihat betapa seorang pengawal pangeran sedang menyeret seorang laki-laki dan membentak bentak. "Hayo mengaku, dimana mereka?"
Orang kampung itu menyembah-nyembah minta ampun, tapi pengawal itu menendangnya hingga ia roboh terjengkang.
Jarot membentak. "Manusia rendah!"
Pengawal itu cepat membalik sambil mencabut kerisnya, tapi Jarot yang sedang marah tak memberi waktu padanya, sekali serang saja pengawal itu terpukul roboh dan kerisnya terampas! Karena sedang bingung, maka Jarot menjadi kejam. Keris yang terampas itu diayun ke arah tubuh lawannya yang rendah. Keris menancap jitu didada kiri dan pengawal pangeran itu menjerit, berkelojotan dan diam, tak berkutik lagi!
Jarot lalu lari pula ke arah di mana terdengar jerit wanita meminta tolong. Dilihatnya Pangeran Amangkurat memimpin enam orang pengawalnya menyeret-nyeret Sulastri kawan Sekarsari yang meronta-ronta dan berteriak-teriak minta tolong!
“Jahanam kalian!" Jarot memaki keras. Suaranya demikian keras mengguntur hingga para pengawal terkejut.
Ketika mereka menengok dan melihat wajah Jarot, mereka kaget sekali. Wajah pemuda yang biasanya tampan dan sabar itu kini sangat menakutkan. Sepasang matanya memancarkan cahaya ganas dan tajam hingga dengan rasa takut keenam pengawal itu mencabut keris masing-masing dan tak terasa pula mereka melepaskan Sulastri yang hendak dipaksa diboyong ke keraton untuk dijadikan selir Amangkurat!
Kemudian, sambil mengeluarkan suara geraman hebat, Jarot menerjang. Enam orang pengawal itu mengangkat senjata menyerang dan berbareng menghadapi terjangan Jarot, tapi mereka sendiri tak tahu entah bagaimana, tahu-tahu senjata mereka telah terlepas dari tangan dan cepat bagaikan kilat menyambar pukulan Jarot menimpa tubuh mereka.
Pukulan-pukulan yang dilakukan dengan tenaga penuh dengan hawa marah ini hebat sekali. Enam orang pengawal pangeran itu rebah tak dapat bergerak lagi dan empat orang diantara keenamnya mati disaat itu juga!
Keder juga hati Amangkurat melihat kehebatan sepak terjang Jarot, tapi la tak dapat menghindari pemuda yang sedang kalap itu. Terpaksa ia cabut kerisnya dan menghadapi Jarot dengan hati berdebar.
Jarot melangkah mundur dua tindak ketika melihat, keris itu. Ternyata keris itu adalah keris pusaka Margapati! Sinar kilat berapi keluar dari mata keris itu, hingga Jarot merasa bulu tengkuknya berdiri. Tapi hawa marah yang memenuhi dadanya lebih kuat lagi menguasai dirinya hingga tanpa memperdulikan bahaya ia loncat menerjang.
Amangkurat mengangkat keris pusaka dan mengirim tusukan maut. Tapi Jarot gunakan kelincahannya berkelit cepat menghindari tusukan. Ia sama sekali tidak berani menangkis atau merampas keris itu karena ia maklum betapa ampuh dan jahat keris itu. Karena Amangkurat juga pandai sekali mainkan senjata keris, Jarot terdesak juga. Tiba-tiba Jarot mendapat akal...