Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 03

Cerita silat Indonesia karya Kho Ping Hoo. Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 03
Sonny Ogawa
Cerita silat Indonesia karya Kho Ping Hoo

Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 03, karya Kho Ping Hoo - TERKEJUTLAH semua orang mendengar bahwa lawan Jarot yang tangguh itu bukan lain adalah Pangeran Pekik, putera Adipati Surabaya yang menjadi musuh besar Sultan Agung! Mendengar seruan Ki Ageng Baurekso, semua pahlawan datang dengan sikap mengancam.

"Dia musuh besar, dia bermaksud jahat! Bunuh... bunuh...!" demikian beberapa orang berteriak dan berbareng mereka maju mengeroyok.

Demikian pula Pangeran Amangkurat, Suro Agul-agul, Uposonto dan Madurorejo juga ikut mengeroyok, karena sebagai orang-orang Mataram, mereka benci sekali kepada Adipati Surabaya yang memang telah lama menjadi musuh besar Mataram.

Melihat lawannya yang dikagumi dan yang ilmu tombaknya secabang dengan ilmunya sendiri itu kini dikeroyok oleh para pahlawan Mataram, Jarot merasa kasihan dan penasaran sekali. Ia putar tombaknya menangkis serangan-serangan itu dan berseru,

"Biarpun kau Pangeran Pekik atau siapa saja, jangan takut, aku Jarot membantumu!" Dan kedua orang yang baru saja saling serang itu kini berkelahi bahu-membahu melawan puluhan pahlawan yang menyerang dengan marah!

Tiba-tiba terdengar teriakan Sri Sultan Agung, "Berhenti semua!" Dan memang suara Sri Sultan berpengaruh besar dan berprabawa luar biasa. Serentak orang-orang yang berkelahi menahan tombak masing-masing dan berlutut menyembah.

"Para pahlawanku, tidak malukah kalian? Coba pikir, para pahlawan Mataram yang terkenal jagoan dan gagah perwira sakti mandraguna ternyata kini mengandalkan jumlah besar untuk menghina dan mengeroyok seorang musuh! Coba tengok anak muda desa ini. Dia lebih gagah dari pada kalian. Dia tidak tahu-menahu duduknya perkara, tapi dia serta merta membela yang pantas dibela. Memang, sekiranya aku menjadi dia, akupun akan membela Pangeran Pekik! Jadikanlah perbuatannya itu sebagai contoh, hai para pahlawanku!"

Mendengar sabda raja bijaksana ini, semua pahlawan menundukkan kepala dengan wajah merah. Tapi Tumenggung Suryawidura dan Pangeran Amangkurat merasa penasaran dan diam-diam mereka menaruh dendam kepada Jarot anak gunung yang dipuji-puji oleh Sultan itu, namun mereka tidak berani membantah.

Sultan Agung lalu berkata kepada para hulubalang, "Bubarkan semua penonton dan umumkan bahwa sayembara sudah berakhir dengan terpilihnya empat orang calon pahlawan baru. Kemudian adakan perjamuan untuk menghormat empat orang gagah ini didalam keraton. Dan engkau, hai Pangeran Pekik, aku hargai keberanianmu dan kegagahanmu. Biarpun ayahmu berkeras kepala dan membangkang padaku, namun belum tentu engkau sekhilaf dia. Aku bebaskan kau, pulanglah kau dan ceritakan pada ayah dan rakyatmu betapa gagah perkasa para pahlawan Mataram dan betapa kuat pertahanan Mataram!"

Pangeran Pekik menyembah hormat dan pamit undur. Perlombaan dibubarkan karena pahlawan-pahlawan telah terpilih dan Sultan Agung memasuki keraton, diiringkan para hulubalang. Keempat pahlawan yang terpilih, yakni: Jarot, Suro Agul-agul, Uposonto, dan Madurorejo, dijamu oleh para dayang keraton atas perintah Sri Sultan. Hidangan-hidangan lezat belaka yang disuguhkan untuk dinikmati oleh keempat orang gagah itu.

Setelah makan dan beristirahat, pada sore harinya Sri Sultan bersiniwaka, membuka persidangan dan panggil menghadap keempat calon pahlawan yang terpilih itu. Juga Pangeran Amangkurat yang tadi mengikuti sayembara hanya untuk berlatih dan mencoba kesaktian saja, kini hadir pula di situ. Para hulubalang dan senapati pun sudah lengkap duduk bersila di hadapanyang dipertuan. Kemudian dengan resmi Sri Sultan mengangkat keempat orang gagah itu sebagal pahlawan dan diperbantukan kepada Ki Ageng Baurekso.

Tapi dengan sangat hormat Jarot menyembah dan berkata, "Mohon beribu ampun, gusti junjungan hamba. Bukan sekali-kali hamba berani membantah dan bukan sekali-kali hamba tidak berterima kasih atas kurnia paduka yang mulia ini, tapi perkenankanlah kiranya hamba mengajukan sebuah permohonan dan sebuah hadiah."

Semua orang terheran mendengar keberanian anak muda ini. Dan Sultan Agung yang juga merasa heran menahan perasaannya lalu tersenyum ramah. Ia angkat tangan kanannya dan bersabda, "Boleh sekali. Coba engkau katakan dua macam permintaanmu itu untuk kami pertimbangkan."

Jarot menyembah lagi. "Ampunkan hamba yang lancang, gusti. Sebenarnya bukanlah hamba tak suka menerima kurnia paduka dengan pemberian pangkat sebagai pahlawan keraton, hanya karena hamba telah berjanji tak akan memegang jabatan maka hati hamba menjadi bingung. Hamba menyediakan jiwa raga untuk mengabdi dan membela paduka dan Kerajaan Mataram, tapi tidak sebagai seorang berpangkat, hanya sebagai rakyat biasa, gusti. Maka perkenankanlah hamba menghaturkan permohonan hamba pertama, yaitu: Hamba tidak menjadi pahlawan keraton tapi sebagai penduduk biasa dan tinggal dikampung, namun setiap saat hamba bersedia untuk menjalankan segala titah tuanku."

Sultan Agung memandangnya tajam lalu tiba-tiba bertanya, "Engkau putera pendeta?"

Jarot menyembah. "Tidak salah, gusti. Ayah hamba ialah Panembahan Cakrawala di bukit Tengger."

Sultan Agung mengangguk-angguk. "Boleh, kuterima permintaanmu ini, tapi janganlah engkau tinggalkan Mataram tanpa memberi tahu, hingga jika sewaktu-waktu engkau dibutuhkan, engkau tak berada jauh dari keraton."

"Hamba akan tinggal di rumah Ki Galur yang berada dekat, gusti."

Semua orang yang mendengar permintaan ini merasa heran. Gilakah pemuda ini? Mengapa ia menolak pangkat dan menolak tinggal dalam sebuah istana tersendiri, tapi sebaliknya memilih tinggal di pondok seorang miskin?

Tapi Sultan Agung tidak merasa heran, hanya berkata ramah, "Baiklah kalau demikian. Dan apakah adanya permintaanmu kedua?"

Jarot melirik ke arah gagang keris yang menonjol dari ikat pinggang Sultan Agung. Lalu dengan tenang ia berkata, 'Tak lain hamba mohon sudilah kiranya gusti memberikan keris Margapati sebagai hadiah untuk hamba."

Semua hadirin memandangnya dengan terkejut dan khawatir. Ini adalah permintaan yang gila dan mustahil! Juga Sultan Agung merasa curiga dan agak tak senang, tap iwajahnya tetap sabar, tenang dan ramah.

"Beritahukanlah dulu padaku mengapa engkau minta hadiah keris pusaka baru ini?" tanyanya halus.

"Hamba tak bermaksud buruk, gusti. Semata-mata demi keselamatan padukalah maka hamba berani mengajukan permintaan ganjil dan kurang ajar ini. Keris Margapati tidak cocok untuk paduka, keris itu mengandung hawa maut dan dapat menimbulkan malapetaka. Maka hamba mohon supaya diberikan kepada hamba agar hamba dapat mengekang pengaruh jahat yang keluar darinya."

Diam-diam Sultan Agung menggunakan jari tangannya meraba-raba gagang Margapati dan jari-jarinya agak gemetar. Melihat bahwa Sultan Agung agaknya hendak memenuhi pula permintaan Jarot, Tumenggung Suryawidura segera memperingatkan junjungannya.

"Maaf, gusti. Hamba rasa tidak semestinya kalau Kyai Margapati diberikan kepada Jarot. Hal ini seakan-akan menyatakan bahwa paduka takut akan keris pusaka itu. Kalau kiranya memang betul bahwa paduka tidak suka dan tidak cocok memakai Margapati, lebih baik pusaka itu disimpan saja dalam kamar pusaka. Hamba rasa, keangkeran Mataram akan berkurang bila pusaka Mataram ada yang terjatuh kedalam tangan orang lain."

Jarot mengerling ke arah tumenggung tua yang tinggi kurus itu. Ia melihat betapa Sultan Agung menjadi ragu-ragu, maka segera ia berkata, "Hamba rasa usul tumenggung sepuh ini baik juga, karena memang sedikitpun hamba tak bermaksud hendak memiliki keris itu dan semata-mata hamba tujukan semuaini guna kepentingan dan keselamatan paduka, gusti."

Sri Sultan Agung menghela napas panjang. Ia merasa lega bahwa Jarot dapat menyatakan kebersihannya dalam hal ini dan tidak bermaksud minta keris Margapati untuk kepentingan sendiri. Maka berkatalah Sultan Agung dengan ramah. "Aku menurut nasihatmu, Jarot. Keris takkan kupakai lagi dan akan kusimpan dalam kamar pusaka dengan pusaka-pusaka yang lain. Adapun permintaanmu akan kuganti dengan sebuah hadiah lain, yaiitu kuda si Naga pertala kuberikan kepadamu."

Jarot merasa girang sekali karena memang ia sangat kagum dan suka melihat kuda liar yang bagus dan kuat itu. Persidangan dibubarkan dan Jarot meninggalkan keraton dengan menuntun Nagapertala. Di luar keraton telah menanti Ki Galur yang dengan wajah girang menyambutnya.

"Bagaimana, raden? Kau diberi pangkat apa? Senapati, bupati, atau adipati dan akan tinggal di gedung mana? Ah, kau sungguh gagah, Raden Jarot. Aku tadi lihat betapa mudahkau kalahkan mereka semua.Lihat, telapak tanganku masih merah dan pedas karena bertepuk tangan terus, dan suaraku masih parau karena bersorak-sorak!" Orang tua itu dengan wajah berseri dan mata bersinar memandang Jarot dengan kagum.

Tapi Jarot hanya tersenyum sederhana. "Paman Galur, jangan kau kecewa, paman. Pertama, aku tidak menjadi senapati, bupati atau adipati sekalipun. Aku tetap menjadi rakyat biasa. Kedua, aku tidak akan tinggal di gedung atau istana, aku akan tinggal mondok dirumahmu, yakni jika kau sudi menerimaku. Dan ketiga, jangan paman panggil raden padaku. Aku anak gunung biasa, putera pendeta melarat, bukan ningrat, sebut saja namaku seperti biasa, yaitu Jarot tak kurang tak lebih, paman."

Sukar untuk melukiskan perasaan yang membayang di wajah tua keriputan itu. Heran, tak percaya, kecewa, girang dan menyesal silih berganti menguasai kulit mukanya. "Tidak menjadi senapati? Tapi... tapi kau tadi menang.....!"

"Aku sengaja tidak mau menerima pangkat, paman." Lalu dengan singkat, Jarot menceritakan pengalamannya.

Ki Galur mengangguk-angguk. "Sayang, raden,...” akhirnya ia berkata sambil menarik napas panjang.

"Jangan sebut raden padaku, paman.”

"O ya, ya..... aku kata sayang, gus Jarot. Sayang kau tidak mau menjadi senapati. Tapi aku girang bahwa kau sudi mondok digubukku yang bobrok."

Demikianlah, sambil bercakap-cakap mereka berjalan pulang. Nagapertala dituntun oleh Ki Galur. Tadinya kuda itu hendak membangkang, tapi mendengar suara Jarot, Ia tunduk dan takut, lalu mandah saja digiring oleh Ki Galur.

Kedatangan mereka disambut oleh Sekarsari. Gadis itu baru saja pulang dari bengawan. Rambutnya yang masih basah terurai ke belakang menutup punggung, memanjang sampai ke pangkal paha, kainnya tapih pinjung sebatas dada, tak cukup rapat untuk menyembunyikan tanda kewanitaannya yang menonjol di dadanya. Tubuhnya yang sempurna lekuk lengkungnya dan yang berkulit putih kuning dan bersih itu sungguh sedap dipandang dan menimbulkan dendam berahi dan kasih.

Ketika Jarot menatap wajah gadis itu, ia merasa seakan-akan sedang berhadapan dengan seorang dewi yang baru saja turun dari kahyangan. Betari Komaratih yang disohorkan sebagai Dewi Asmara yang cantik jelita itu agaknya seperti inilah manisnya. Ah, tak mungkin, bantah hati Jarot. Tak mungkin begini ayu dan luwes, tak mungkin begini manis merak ati. Bibir gadis yang sedang cemberut itu tak mengurangi keayuannya, bahkan membuat ia lebih manis dan jelita sekali.

"Wah, gus Jarot hebat sekali, Sari! Semua pahlawan dikalahkannya!" Datang-datang Ki Galur berkata kepada anaknya, kemudian ia mulai bercerita.

Tapi wajah yang tadinya cemberut karena masih marah tak diajak nonton sayembara tadi, kini tidak menjadi gembira mendengar kemenangan Jarot, bahkan kulit dahinya yang halus licin itu dikerutkan. "Kalau begitu, Raden Jarot sekarang tentu menjadi priyayi besar, menjadi senapati?" tanyanya sambil memandang Jarot.

"O, tidak... tidak, gus Jarot tidak gila pangkat..." Dan Ki Galur ceritakan kepada anaknya akan segala pengalaman pemuda itu.

Mendengar bahwa Jarot masih menjadi orang biasa dan tinggal mondok di rumahnya, wajah Sekarsari berobah girang. Ia tersenyum manis dan mukanya merah. Kemudian ia lari kebelakang sambil berkata, "Aku mau berkenalan dengan Nagapertala dan memberinya makan rumput!"

Jarot layangkan pandangnya ke arah tubuh gadis yang berlari-lari itu. Ki Galur tertawa girang melihat kenakalan dan kegembiraan puterinya yang tercinta. "Aku terlalu memanjakan si Sari." katanya perlahan.

Pangeran Amangkurat yang tadinya merasa iri hati kepada Jarot dan khawatir kalau-kalau pemuda itu terlalu mendesak dan menjadi kesayangan ayahnya, merasa lega dan berbalik suka kepada Jarot ketika pemuda itu ternyata tidak mau menerima pangkat. Ia juga diam-diam merasa kagum akan kegagahan pemuda itu dan mendengar keterangan Jarot tentang keris pusaka Margapati, timbullah hati ingin memiliki keris ampuh itu.

Berbeda dengan ayahnya yang bijaksana dan adil. Pangeran Amangkurat adalah seorang pemuda yang bersikap berandalan dan lalim. Satu di antara sifat-sifatnya yang kurang baik ialah sifat mata keranjang. Semenjak masih muda ia telah mempunyai banyak selir. Pada waktu itu ia telah mempunyai lima belas orang selir, namun ia masih belum puas dan sering keluar dari keraton untuk mencari mangsa di desa-desa.

Amangkurat suka pula akan berburu di hutan. Ia memang pemuda cekatan, kuat dan gagah perwira. Telah dua kali ia membunuh harimau dengan tombaknya. Berbeda dengan pangeran-pangeran lain, ia tak suka membawa pengiring diwaktu berburu maupun bermain ke desa-desa daerah kerajaan ayahnya.

Semenjak kenal kepada Jarot, beberapa kali Amangkurat mengajak Jarot menemaninya berburu dihutan. Pangeran itu makin suka kepada pemuda yang sederhana dan pandai membawa diri itu. Ketika diminta, Jarotpun dengan senang hati memberi pelajaran memanah dan mainkan tombak hingga Amangkurat makin maju dalam ilmu kedigdayaannya.

Pada suatu senja ketika mereka berdua sedang berkuda di dalam hutan, Jarot duduk diatas punggung Nagapertala, dan Amangkurat di atas punggung kuda putihnya, tiba-tiba terdengar geraman harimau dari dalam alang-alang yang tinggi di dekat jurang.

Jarot siap dengan tombaknya, tapi Amangkurat mencegah dan berbisik, "Biarkan dia keluar, aku hendak mencoba lawan dia dengan tangan kosong."

"Tapi itu berbahaya sekali," cegah Jarot yang merasa khawatir akan kesembronoan pangeran yang jumawa itu.

"Tidak sama sekali, kau lihat saja." Amangkurat lalu turun dari kuda dan memberikan kendali kudanya kepada Jarot yang ikut turun dari punggung Nagapertala yang meringkik keras sambil gerak-gerakan ujung hidungnya dan perlihatkan giginya.

Tapi Jarot membentaknya, "Sstt Diam, Naga!" Kuda itu lalu diam dengan tenang dan Jarot bawa kedua kuda itu ke bawah pohon jati lalu menambatkan kendalinya disitu.

Sementara itu Amangkurat telah mempererat ikatan kainnya dan menanggalkan baju pangerannya. Pangeran muda dan pemberani itu telah berdiri memasang kuda-kuda dengan sikap gagah dan mata tajam menentang tengah alang-alang yang mulai bergerak perlahan.

Melihat sikap Amangkurat ini, mau tak mau Jarot tersenyum. Ia cukup tahu akan kedigdayaan pangeran itu, dan ia percaya bahwa jika Amangkurat tidak menjadi lalai karena kejumawaannya, pasti ia akan dapat mengalahkan harimau itu.

Terdengar geraman keras dantiba-tiba kepala seekor harimau yang besar tersembul keluar dari alang-alang, sepasang matanya yang bundar memandang pemuda yang berdiri tenang menghadapinya.

"Hati-hati, gusti pangeran. Berlakulah tenang tapi cepat!" Jarot memberi nasihat.

Pada saat itu tubuh harimau telah keluar semua dari alang-alang dan mulai mengambil sikap untuk menyerang..Kemudian, tiba-tiba binatang buas itu menggereng dan loncat menerkam. Loncatannya tinggi dan kedua kaki depannya terulur dengan kuku mencakar kearah kepala Amangkurat!

Tapi pangeran muda itu dengan sigapnya meloncat ke samping dan mengirim sebuah tendangan ke arah lambung tubuh harimau yang meluncur lewat di dekatnya. Harimau itu menggereng keras karena tendangan itu tiba dengan kerasnya di lambung hingga la terpental hampir setombak jauhnya. Cepat binatang itu berbalik dan menubruk kembali, kini langsung kedepan, sambil perlihatkan cakar dan caling yang menyeramkan.

Amangkurat meloncat ke atas melampaui tubuh harimau dan ketika kakinya turun di belakang harimau, secepat kilat tangan kanannya menyambar ekor harimau yang panjang itu. Maka terjadilah pergulatan seru. Binatang itu sambil menggereng-gereng berusaha melepaskan ekor yang dipegang oleh tangan yang sangat kuat itu, tapi Amangkurat mempertahankannya dengan keras sambil tertawa-tawa.

"Awas, gusti pangeran! Tendang pantatnya sebelum ia berbalik!" Jarot memperingatkan dengan khawatir melihat betapa pangeran itu dengan sembrono mempermainkan harimau.

Tapi Amangkurat ternyata terlalu jumawa dan tetap membetot-betot ekor harimau seakan-akan harimau itu hanya seekor kambing belaka! Binatang itu yang merasa betapa sukar dan sia-sianya untuk membetot dan melepaskan ekornya dari pegangan lawan, tiba-tiba gulingkan tubuhnya ke tanah.

Karena bergulingan itu, maka ekornya seperti dipuntir dan cepat sekali ia bisa balikkan tubuh dan kaki depannya berhasil mencakar lengan Amangkurat. Pangeran itu berteriak kesakitan dan terpaksa melepaskan ekor harimau. Dari lengan tangan kanannya mengucur darah. Sedangkan harimau itu sudah siap untuk menubruknya pula!

Jarot melihat keadaan berbahaya ini cepat pungut sebutir batu yang tajam ujungnya dan ayun tangannya. Batu meluncur cepat dan tepat mengenai mata kanan harimau itu yang menggerung-gerung sambil gunakan kaki depan menggaruk-garuk mata kanan yang berlumuran darah!

Amangkurat maju dan ayun kakinya menendang kearah perut harimau sekuat tenaga. Harimau mengerang lalu lari terbirit-birit memasuki alang-alang. Suara aumannya masih terdengar jauh, bergema didalam hutan.

Jarot cepat lari menghampiri pangeran itu. Baiknya luka itu tidak sangat parah, tapi darah terus keluar. Jarot melepaskan ikat kepalanya dan menggunakan kain itu untuk mengikat lengan yang terluka dalam balutan yang kuat hingga darah berhenti mengalir.

Amangkurat sedikitpun tidak memperlihatkan rasa sakit, bahkan ia masih dapat tertawa sambil berkata, "Sayang aku tidak keburu membantingnya hancur! Lain kali aku takkan buang-buang waktu dengan betot-betot ekornya, begitu ekor terpegang ia akan segera kuangkat dan kubanting di atas batu!"

Jarot kagum melihat ketabahan pangeran itu. "Kau sungguh tangkas dan kuat, gusti pangeran," pujinya dengan jujur.

"Dan lemparanmu tadi jitu benar, tepat menghancurkan mata kanannya." Amangkurat balas memuji. Keduanya lalu pungut tombak masing-masing dan naik kuda menuju ke kota raja.

"Jarot, mari kita singgah dipondokmu. Aku ingin sekali melihat tempat tinggalmu."

”Ah, tempat tinggal hamba kotor dan buruk, gusti. Paduka membuat hamba merasa malu saja," jawab Jarot.

"Jangan berkata demikian. Bukankah kita sudah menjadi kawan baik? Hayo, tunjukkan jalan kepondokmu."

Terpaksa Jarot membawa pangeran itu menuju ke rumah Ki Galur dengan hati tak sedap, sungguhpun ia tak mengerti mengapa ia harus merasa tak enak hati membawa Amangkurat ke pondoknya. Ia seperti mendapat firasat tidak baik.

Ketika mereka berdua memasuki kampung Ki Galur, dari jauh mereka mendengar suara orang menumbuk padi. Sudah menjadi kebiasaan para wanita disitu, apabila mereka sedang menumbuk padi, mereka menumbuk dengan berirama hingga suara alu yang memukul lesung terdengar bagaikan iringan gamelan yang berirama riang gembira. Di antara semua penduduk kampung, Sekarsari dan kawan-kawannya terkenal ahli dan pandai sekali menciptakan irama-irama gembira yang mengiring nyanyian mereka.

Pada saat Jarot dan Amangkurat tiba didepan rumah Ki Galur yang menyambut pangeran itu dengan sembah sujud penuh hormat, terdengar penyanyi tunggal yang diiringi irama Kodok Ngorek. Jarot segera kenal suara itu, dan Amangkurat memandang Jarot dengan penuh pertanyaan, karena pangeran itupun merasa kagum sekali mendengar suara yang merdu dan sedap itu.

"Bagus benar irama mereka, hayo kita nonton," ajak Amangkurat kepada Jarot.

Jarot merasa ragu-ragu tapi tak berani membantah, maka mereka lalu pergi kebelakang rumah dimana Sekarsari dan empat orang kawannya sedang menumbuk padi yang baru saja dikeluarkan dari lumbung. Melihat kedatangan Jarot, kelima gadis itu tertawa-tawa karena mereka sudah mengenalnya, tapi ketika melihat seorang pemuda asing yang berwajah tampan dan berpakaian indah, mereka merasa heran lalu menunda pekerjaan mereka, siap untuk lari.

Tapi tiba-tiba Sekarsari berbisik, "Ah, dia adalah Gusti Pangeran Pati!"

Tergopoh-gopoh kelima orang gadis itu berjongkok dan menyembah. Amangkurat mengangkat tangannya dengan tersenyum ramah. "Jangan merasa terganggu, lanjutkanlah permainan kalian. Siapakah yang bernyanyi tadi?"

"Hamba, gusti," jawab Sekarsarl tanpa berani mengangkat muka.

Amangkurat merasa betapa jantungnya berdenyut ketika ia melihat wajah gadis jelita itu. Matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum, hatinya tertarik sekali. "Kau? Siapakah namamu dan kau anak siapa?"

Terkejut hati Sekarsari mendengar suara yang manis dibuat-buat ini. Hatinya tercekat karena ia teringat akan suara Bahar yang selalu berkata manis kepadanya. Ia merasa tak senang dan ketakutan, maka hatinya berdebar-debar dan ia menjadi gagap ketika menjawab, "Hamba... hamba..." Ia lalu diam dan tundukkan kepala!

Terdengar suara ketawa dibelakang Sekarsari. Amangkurat layangkan pandangannya ke arah gadis yang tertawa itu dan melihat seorang gadis hitam manis yang tak kalah menariknya. Gadis itu adalah sahabat baik Sekarsari dan bernama Sulastri, anak Mbok Rondo Gendingan, seorang janda yang keadaannya cukup karena mempunyai sawah beberapa bau.

"Eh, kau, hitam manis. Coba katakan siapa nama dewi ini dan siapa namamu sendiri," Amangkurat bertanya genit.

Sulastri memang berwatak gembira dan pemberani. Ia tersenyum dengan manis dan berkata dengan lagak kenes, "Dia ini bernama Sekarsari dan terkenal sebagai sekar kampung ini, gusti pangeran. Sedangkan hamba, nama hamba Sulastri. Sari adalah puteri tunggal Ki Galur, sedangkan hamba adalah puteri tunggal Mbok Rondo Gendingan, jadi sebenarnya dia dan hamba ada persamaan."

Amangkurat merasa gembira mendengar dan melihat gadis yang jenaka itu. "Apa persamaannya?" tanyanya.

"Persamaannya ialah bahwa Sari puteri seorang duda sedangkan hamba puteri seorang janda!"

Amangkurat tertawa dan Jarot pun ikut tersenyum walaupun hatinya tetap merasa tak sedap melihat lagak pangeran mata keranjang ini.

"Sekarsari, cobalah kau bernyanyi lagi,” Amangkurat berkata.

"Hamba tak dapat bernyanyi, gusti,” Sekarsari menjawab.

"Bukankah tadi kau yang bernyanyi? Hayo, nyanyikanlah sebuah lagu saja untuk kudengar, yang lain mengiringi dengan klotekan." Suara Amangkurat mengandung perintah.

Sekarsari mengerling ke arah Jarot dan pemuda itu mengangguk sebagai tanda bahwa gadis itu lebih baik menurut saja. Maka segera terdengar suara klotekan yang riang dan Sekarsari sambil duduk menyanyikan sebuah lagu dengan muka tunduk.

Amangkurat mendengarkan sambil duduk di atas sebuah bangku kayu, sedangkan Jarot berdiri di sebelahnya dan Ki Galur duduk bersila di atas tanah di belakang pangeran itu. Sambil bernyanyi, beberapa kali Sekarsari melirik kearah Pangeran Amangkurat dan ia makin bingung dan takut melihat betapa pangeran itu memandangnya dengan kagum dan mesra. Maka, setelah lagu yang dinyanyikan selesai, ia cepat menyembah, berdiri dan lari meninggalkan tempat itu!

Jarot melihat betapa Sekarsari berlari sambil menangis, segera lari mengejar sambil memanggil-manggil namanya. Amangkurat tak senang melihat hal ini, lalu katanya kepada Ki Galur, "Hei pak Galur, anakmukah Sekarsari itu?"

Ki Galur menyembah hormat. "Betul, gusti. Sekarsari adalah anak hamba."

"Berapa usianya sekarang?"

"Usianya enam belas tahun, gusti pangeran."

Amangkurat mengangguk-angguk sambil menanti orang tua itu membuka mulut menawarkan anak perempuannya seperti yang sering dilakukan oleh banyak orang-orang tua yang menginginkan puterinya jadi selir pangeran. Tapi Ki Galur tak bergerak dan diam saja.

"Adakah ia sudah dijodohkan dengan orang lain, pak?"

"Belum, gusti."

"Tapi kulihat hubungannya dengan Jarot baik sekali."

"Benar, gusti. Agaknya mereka saling mengasihi."

"Apa?" Amangkurat memandang marah, tapi segera ia menahan gelorahatinya.

Sementara itu, Jarot yang tahu kemana Sekarsari pergi, telah dapat menyusul gadis itu dan mereka berdua duduk di tepi bengawan. Sekarsari masih terisak dan Jarot menghiburnya.

"Mas Jarot, aku takut kepadanya."

"Mengapa mesti takut, Sari?"

"Matanya, mas..... ia mengingatkan daku akan Denmas Bahar yang kurang ajar itu."

"Jangan pikir yang bukan-bukan, Sari. Bukankah aku berada di sini dan aku selalu akan membelamu."

Sekarsari memandang wajah pemuda itu dengan penuh pernyataan terimakasih. "Mas, bagaimana kalau aku.... aku diboyong ke keraton untuk dipaksa menjadi selirnya? Banyak orang bilang bahwa Pangeran Amangkurat suka memaksa gadis menjadi selirnya."

Hati Jarot terkejut, karena sebelum mendengar ucapan ini ia sama sekali tidak mempunyai sangkaan demikian. Kini ia merasa curiga dan khawatir juga namun dengan tenang ia berkata, "Jangan khawatir. Aku kenal baik padanya dan aku akan mencegahnya."

"Kau berani, mas? Berani kepada Pangeran Amangkurat?"

"Kalau terpaksa, mengapa tidak berani? Jangankan Pangeran Amangkurat, biarpun siapa juga jika berani mengganggu kau, tentu akan kulawan dan kuhajar!"

Mereka saling pandang dan warna merah menjalar di wajah Sekarsari yang tundukkan pelupuk mata dan tersenyum malu. "Ah, kau..... kau baik sekali, mas Jarot."

Jarot sentuh tangan Sekarsari dengan mesra dan tiba-tiba berkata, "Hayo kita kembali, Sari. Mungkin pangeran telah menanti-nanti aku. Jangan takut, ia bukan harimau yang makan orang, Sari."

Gadis itu tersenyum dan lenyaplah rasa takutnya.

Wajah Amangkurat menjadi masam melihat betapa Jarot datang berdua dengan gadis jelita itu. Tanpa banyak kata ia memberi tanda kepada Jarot untuk naik kuda dan mengantar ia pulang kekeraton seperti biasa. Sambil jalankan kuda perlahan Amangkurat bertanya kepada Jarot yang jalankan kudanya di sebelahnya, "Apamukah Sekarsari tadi, Jarot?"

Jarot mengangkat pundak perlahan. "Dia anak paman Galur dan hamba mondok di rumah mereka. Kami hanya sahabat, gusti."

"Dia cantik benar, ya?" kata Amangkurat lagi. Jarot hanya mengangguk.

"Dan suaranya merdu pula, bukan?"

Sekali lagi Jarot mengangguk, kini wajahnya agak merah.

"Sayang gadis secantik itu tinggal digubuk."

"Habis, memang rumah ayahnya gubuk, gusti!"

"Kan bisa dipindahkan?" kata Amangkurat sambil mencambuk kudanya yang lalu jalan congklang dan Jarotpun menyusul.

"Dipindahkan? Ke mana; gusti...?"

Selanjutnya,
KERIS PUSAKA DAN KUDA IBLIS JILID 04