Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 02, karya Kho Ping Hoo - "Den-Mas bagus, ampunkan kami ayah dan anak. Biar kami tinggalkan tempat ini dan pergi, selanjutnya kami tak berani mengganggu den-mas pula. Tapi jangan.... jangan kau paksa anakku.....”
"Diam!" bentak Bahar yang maju dua langkah dan ia ayun tangannya menampar kepala Ki Galur. Orang tua yang lemah itu kena tampar terhuyung-huyung ke belakang.
"Kau pengecut.... jahanam!" Sekarsari berteriak dan meloncat menghadang didepan ayahnya ketika Bahar hendak memukul pula.
"Orang tua sombong, banyak cerewet. Biar kuhajar dia!"
"Jangan..... jangan den-mas....." akhirnya Sekarsari berkata lemah, penuh kecemasan ketika Bahar melangkah perlahan ke depan hingga iapun melangkah mundur dengan wajah pucat.
Pada saat itu Bahar merasa bahunya ditepuk orang dengan cara yang berani dan kurang ajar. Ia cepat memutar tubuhnya dan berhadapan dengan seorang pemuda tampan yang berkulit halus bersih. Jarot memandang Bahar dengan mata menghina dan mulut tersenyum.
"Siapa kau? Mengapa berani pegang-pegang pundakku?" bentaknya.
"Mengapa tidak berani? Kau juga berani menghina orang tua dan anak gadisnya," Jarot balas mengejek.
"Bangsat! Tak tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa?"
"Tentu tahu! Aku sedang berhadapan dengan seorang pemuda tidak sopan, seorang yang sombong dan mengandalkan pangkat dan kedudukan untuk menghina orang-orang lemah."
"Anjing keparat! Aku adalah Raden Mas Bahar, putera Tumenggung Suryawidura, kau tidak lekas menyembah?""Hm, tak pantas... sungguh tak patut....."
"Apa yang tak patut, keparat?"
"Tak pantas kalau kau putera tumenggung, pantasnya kau ini seorang perampok hina!"
"Keparat jahanam!" Dan kepalan Bahar melayang ke arah dada Jarot. Putera tumenggung ini sebenarnya bukanlah seorang pemuda lemah. Ia pernah belajar pencak silat dan ilmu aji kesaktian, bahkan hari inipun ia berrnaksud memasuki sayembara yuda lumba dialun-alun.
Maka Jarot pun segera merasa betapa pukulan itu berat dan mendatangkan angin. Tapi dengan gesit Jarot miringkan tubuh dan tangan kirinya membabat dalam tangkisan kuat. Lengan kanan Bahar terpental dan ia merasa kulit dan tulang lengannya sakit sekali. Ia terkejut karena sama sekali tak disangkanya pemuda yang tampaknya seperti petani desa ini memiliki tenaga sebesar itu.
Namun, ia merasa malu untuk mundur, maka segera ia menyerang lagi dengan ganas. Tangan kanan memukul lambung dan tangan kiri menempiling kepala. Dua macam pukulan yang dilakukan dengan sekali gerak dan cepat sekali datangnya itu membuat Jarot diam-diam merasa kagum, tapi dengan mudah dan tak gentar sedikitpun Jarot menundukkan kepala berkelit dari serangan tangan kiri. Sedangkan serangan ke arah lambungnya ia tangkis dengan kepretan tangan.
Ia tidak berhenti sampai sekian saja, karena secepat kilat kaki kanannya bergerak menyapu pergelangan kaki lawan hingga tak ampun lagi Bahar berseru kaget dan tahu-tahu tubuhnya terpelanting dan jatuh berdebuk ke atas tanah! Sungguh malang baginya, tanah di situ basah dan penuh lumpur hingga ketika ia merayap bangun, mukanya penuh tanah lumpur dan menjadi makin buruk!
Terdengar suara tertawa nyaring dan merdu. Ternyata Sekarsari tak dapat menahan tawanya karena geli hati melihat keadaan lucu itu dan karena gembiranya melihat orang yang dibencinya mendapat hajaran. Juga Ki Galur tersenyum puas, sungguhpun matanya masih membayangkan kecemasan.
Bahar makin marah dan panas hati. Sekali tangannya bergerak maka gagang kerisnya telah tergenggam erat. Napasnya terengah-engah, hidungnya kembang-kempis, matanya merah setengah dikatupkan, giginya dikertakkan dan mulutnya mengeluarkan suara berdesis. Sikapnya merupakan ancaman maut.
"Beri tahu namamu, keparat. Jangan mati tak bernama!" geramnya. Suaranya parau menyeramkan.
Tapi Jarot hanya tersenyum dan memandang rendah. Sikapnya ini membuat Ki Galur dan terutama Sekarsari, khawatir sekali. Dengan melupakan bahaya, gadisnitu lari menghampiri Jarot. "Raden.... larilah..... kau tentu akan dibunuhnya... lari... lari, raden!" teriak gadis itu.
"Terima kasih, jangan kau khawatir. Keras bunyi tak berisi. Laki-laki ceriwis ini hanya gayanya saja hebat, tapi ia tak berbahaya sama sekali. Kau lihatlah saja dari sana."
Dengan perlahan ia dorong bahu gadis itu, tapi sungguhpun hanya perlahan saja, cukup membuat Sekarsari merasa terdorong oleh tenaga yang kuat sekali hingga terpaksa ia lari kembali kepada ayahnya.
Jarot bertolak pinggang dan memandang lawannya dengan tenang. "Bahar, kau betul-betul hendak berkelahi? Aku bernama Jarot dan sebelum terlambat, kunasihatkan kau lebih baik pulang saja agar takkan menderita lebih hebat lagi!"
"Sombong, rasakan tajamnya kerisku!" Bahar membentak keras dan ia meloncat menerjang dengan kerisnya yang besar dan hebat.
Sekarsari menjerit lirih dan menggunakan kedua tangan menutupi matanya, tapi Jarot dengan cekatan dapat kelit serangan itu mudah sekali. Lebih lima kali Bahar menerjang, tapi selalu dapat dikelit oleh Jarot. Serangan berikutnya dilakukan dengan gerakan nekat. Kerisnya menusuk ke kanan kiri, ke atas bawah, hingga tak dapat diduga sebelumnya hendak menyerang bagian mana. Kalau lawannya bukan Jarot, tentu ia akan gugup dan bingung karenanya.
Tapi dengan masih tenang Jarot gerakkan tangan kanannya mendahului dan menangkap pergelangan tangan Bahar yang memegang keris. Sekali ia kerahkan tenaga, genggaman tangan Bahar terbuka dan kerisnya jatuh ke tanah. Pada saat itu, dengan jari terbuka tangan kiri Jarot melayang dan sebuah tamparan keras sekali tiba di pangkal telinga Bahar!
Bahar menjerit. "Aduh!!" dan merasa semrepet, matanya berkunang-kunang, kepalanya berdenyut-denyut, dan ketika ia buka matanya segala apa dikelilingnya berputar dan bergelombang, tubuhnya terhuyung-huyung dan ia tak dapat menahan diri lagi ketika tubuhnya terguling dengan lemas!
Inilah tamparan tangan Bayusakti yang hebat dan luar biasa! Jangankan sampai tertampar, baru terkena angin tamparan itu saja, kulit terasa pedas dan sakit. Masih untung bagi Bahar bahwa ia telah mempelajari ilmu kekuatan tubuh, dan Jarot tidak menggunakan seluruh tenaganya, kalau tidak demikian halnya, pasti Bahar akan rebah untuk tak bangun kembali!
Setelah mengeluh kesakitan, Bahar merayap bangun lalu menjumput kerisnya, tapi sebelum ia sempat berdiri, Jarot ulur tangannya memegang bahunya. Bahar merasa seakan-akan bahunya terjepit dua batu karang yang kuat hingga kerisnya terlepas lagi. Ia masih membungkuk dan tubuhnya menggigil menahan sakit karena tulang bahunya seakan-akan terasa remuk.
"Hayo kau minta maaf kepada paman ini dan puterinya." Jarot memerintah sambil mendorong Bahar ke tempat Ki Galur.
Karena tak tertahan sakitnya, Bahar terpaksa berkata gemetar, "Paman... Sari... maafkan aku....."
"Dan berjanjilah bahwa kau tak akan mengganggu mereka lagi."
"Aku.... aku berjanji takkan..... mengganggu mereka."
Jarot melepaskan pegangannya dan dengan terhuyung-huyung Bahar meninggalkan tempat itu..Ki Galur dan anak gadisnya memandang Jarot dengan kagum dan berterima kasih.
"Raden, terima kasih atas pertolonganmu. Tapi saya harap Raden lekas-lekas pergi dari sini, kalau tidak, saya khawatir Raden akan menemui bencana. Saya yakin Den-mas Bahar tentu akan menuntut balas."
"Biarlah, paman. Biar aku yang akan bertanggung jawab. Apapun yang akan menimpaku, akan kuhadapi sendiri."
"Kau..... kau gagah sekali, Raden. Apakah yang harus kami lakukan sebagai.... pembalas budi?" kata Sekarsari dengan kerling kagum.
Jarot pandang wajah yang ayu jelita itu dengan senyum gembira, lalu ia menjawab, "Pembalas budi? Aku..... aku tak ingin dibalas..... tapi....." ia teringat akan perutnya yang lapar, "aku..... lapar.....!" wajahnya memerah malu.
Ki Galur tertawa dan mulut yang tak bergigi lagi itu terbuka, lekas-lekas ia tutup mulut dengan tangannya. Sebaliknya Sekarsari tertawa memperlihatkan dua deret gigi yang indah bagaikan mutiara tersusun rapi.
"Lapar?.Kau suka akan ketan, Raden?" tanya Sekarsari.
"Ketan......?"
"Ya, ketan putih, dan kelapa, dan juruh.."
"Ketan kelapa dengan juruh?" Mulut Jarot membasah. "Ah, enak sekali."
"Kalau kau suka, mari kita pulang...."
"Pulang.....?"
Ulangan kata-kata ini diucapkan demikian mesra hingga si gadis bermerah durja. Ia telah lupa sama sekali bahwa orang yang diajak pulang adalah seorang pemuda yang sama sekali asing baginya! Maka teringat akan hal ini, ia tertawa perlahan dan mengambil cuciannya terus lari!
"Mari, raden." ajak Ki Galur.
"Tunggu sebentar, paman, aku hendak mandi dulu."
Tanpa malu-malu di depan orang tua itu, Jarot menanggalkan pakaiannya dan terjunke air. Ia berenang ke sana ke mari, diikuti pandangan mata Ki Galur yang kagum sekali melihat kebagusan tubuh yang bersih halus dan membayangkan tenaga hebat itu. Kemudian, bersama-sama mereka menuju ke sebuah rumah bilik dekat sungai. Sebuah sampan terikat di pinggir bengawan dan selembar jala ikanterjemur di depan rumah.
Sekarsari telah bersalin baju dan wajahnya berseri ketika ia mengeluarkan hidangan ketan dengan kelapa dan juruh yang terbuat dari gula kelapa. Sambil makan ketan Jarot tuturkan dengan singkat kepada Ki Galur bahwa ia adalah seorang perantau yang menjalankan darma brata dan mencari pengalaman di kota praja. Ia memberi tahu bahwa tempat tinggalnya adalah jauh di timur.
Dari kakek ini ia mendengar bahwa Ki Galur hanya hidup berdua dengan anaknya, Sekarsari, dan bahwa sumber hasilnya ialah mencari ikan di sepanjang bengawan dan hidup sebagai nelayan. Tiba-tiba terdengar bunyi gong dipukul nyaring berkal-ikali.
Ki Galur meloncat bangun. "Aduh, hampir aku lupa. Hari ini di alun-alun ada sayembara perang tanding, ramai sekali! Hayo, Raden, kita nonton yuda lumba! Lihat betapa satria-satria dan pahlawan-pahlawan gagah perkasa berlaga di alun-alun!"
Dan Jarot pun teringat akan pesan Empu Madrim, maka iapun menjawab, "Baik, paman."
"Ayah, aku ikut!" tiba-tiba Sekarsari berkata.
"Huss! Tidak boleh. Masak seorang gadis ikut nonton sayembara perang!"
Sekarsari cemberut, tapi ia tak berani membantah ayahnya. "Sayang aku tidak dilahirkan sebagai laki-laki." Terdengar gerutunya yang membuat Ki Galur dan Jarot tersenyum geli.
Alun-alun yang lebar terpajang indah. Janur kuningdan kembang dipasang orang di pintu gerbang. Tanah telah disiram air hingga tidak ada debu dan tanah yang basah menghitam itu menimbulkan hawa sejuk menyenangkan. Orang-orang telah berkumpul mengelilingi tempat yang khusus disediakan untuk mengadu kegagahan, yakni ditengah-tengah.
Penjaga-penjaga dengan tombak panjang menjaga disekeliling tempat itu dan bambu-bambu panjang dipasang melintang sebagai pencegah penonton mendesak ke depan. Sebuah setinggilyang dihias indah didirikan orang dekat tempat perlombaan dan sebuah kursi terbuat darikayu cendana yang harum danterukir halus berdiri di situ. Ini adalah tempat yang disediakan untuk Sri Sultan.
Tak lama kemudian. Sri Sultan keluar dari keraton menujuke alun-alun dengan diiring para hulubalang. Lagu Kebogiro dimainkan oleh para yogo untuk menyambut rajanya. Para penonton jongkok menyembah di kala Sri Sultan lewat dengan tindakan agung. Tiada suara orang berbisik ketika Sri Sultan menuju ke setinggil, kecuali suara gamelan yang riang gembira itu.
Setelah Sri Sultan duduk diatas kursi cendana, maka ramailah kembali suara para penonton. Di sudut alun-alun berkumpul para muda dan satria yang berpakaian indah. Mereka inilah yang hendak memasuki sayembara. Kurang lebih ada tiga puluh orang yang hendak ikut dan mereka semua tampak gagah dan kuat. Menurut acara, pertandingan itu diadakan dalam lima babak.
Pertama, Tiap pengikut sayembara harus dapat mengangkat sebuah besi yang terdapat di bawah pohon waringin di alun-alun itu. Besi itu adalah sebuah jangkar kapal yang besar dan berat, hingga untuk membawanya ke tempat itu dibutuhkan tenaga empat orang laki-laki kuat yang menggotongnya! Besi jangkar itu harus diangkat di atas kepala dan dibawa berjalan mengelilingi pohon waringin yang besar itu. Inilah syarat pertama bagi yang hendak mengikuti sayembara. Siapa yang tidak dapat memenuhi syarat pertama ini berarti gagal dan harus mengundurkan diri.
Syarat kedua tidak kalah sukarnya, yakni, para pengikut sayembara, sesudah dapat memenuhi syarat pertama, harus dapat menaiki kuda liar Nagapertala dan bertahan duduk di punggung kuda itu sampai lagu Kebogiro selesai dimainkan oleh para pemain gamelan yang sudah siap. Syarat ini bukannya mudah, karena kalau untuk menempuh syarat pertama orang hanya membutuhkan tenaga besar, syarat kedua ini membutuhkan kekuatan, kesigapan, keuletan, dan kepandaian menunggang kuda.
Sedangkan kuda liar yang diberi nama Nagapertala ini sudah terkenal sebagai kuda iblis berbulu hitam yang ganas dan liar, hingga belum pernah ada pahlawan yang sanggup bertahan lama duduk di atasnya, kecuali Senapati Ki Ageng Baurekso dan beberapa senapati lain yang terkenal akan kesaktian mereka. Babak sayembara selanjutnya ialah berlomba memanah, bermain tombak, dan bermain keris dan tameng.
Orang-orang yang datang menonton telah mengelilingi pohon waringin sejauh sepuluh tombak lebih. Mereka berjongkok untuk menyatakan hormat mereka kepada Sri Sultan Agung. Wajah semua orang tampak gembira. Tiba-tiba gong berbunyi dan kurang lebih tiga puluh orang muda yang gagah-gagah itu memasuki kalangan, lalu berjalan jongkok dan duduk bersila dalam tiga jajar di depan Sri Sultan Agung, setelah menyembah tanda hormat.
Sri Sultan Agung menggerakkan tangan kanan ke atas sebagai tanda bahwa sayembara dapat segera dimulai. Maka bertalu-talu bunyi gong tiga kali, disambut pekik sorak dan tepuk tangan penonton. Ksatria yang duduk terdepan menyembah kepada Sri Sultan, lalu pergi menuju kebawah waringin di mana telah menanti besi jangkar pengukur tenaganya.
Dengan lagak gagah ksatria muda itu membungkuk, pegang-pegang dan timang-timang gagang jangkar dengan kedua tangannya, lalu kerahkan tenaga mengangkatnya. Besi jangkar yang berat itu terangkat ke atas, diikuti sorak-sorai penonton, tapi ternyata hanya sampai di atas pundak pemuda itu!
Karena tidak kuasa mengangkatnya lebih tinggi, ia lepaskan besi sambil meloncat mundur hingga jangkar itu jatuh berdebuk ke atas tanah! Pemuda pertama telah gagal. Dengan keoewa ia menyembah kearah Sri Sultan Agung yang memandangnya dengan senyum menghibur dan pemuda itu lalu keluar dari kalangan, kini bercampur dengan orang-orang, menjadi penonton.
Pengikut kedua adalah seorang yang brewok dan bertubuh tinggi besar. Ia membuka bajunya hingga tampak urat-urat seperti tambang membelit tubuhnya yang besar. Kemudian dengan berseru keras ia angkat besi itu dengan kedua tangan, terus diangkat ke atas kepala! Penonton berteriak-teriak memuji dan si brewok melangkah maju untuk mengelilingi waringin.
Tapi baru saja bertindak lima langkah, kedua kakinya gemetar dan terpaksa ia lepaskan besi itu yang jatuh di atas tanah dengan suara keras. Penonton berseru kecewa dan si brewok setelah menyembah raja lalu cepat-cepat pergi menghilang di antara ribuan penonton.
Demikianlah, berganti-ganti mereka menempuh syarat pertama, dan setelah semua calon mencoba tenaga mereka, ternyata bahwa yang lulus dalam syarat pertama ini hanya lima belas orang saja. Penonton menyambut kelima belas pemuda kuat itu dengan tepuk-sorak gemuruh; termasuk Jarot yang merasa gembira sekali hingga timbul keinginan hatinya untuk mencoba berat besi yang menggagalkan banyak pemuda gagah itu.
Karena tempat berdirinya tidak jauh dari pohon itu, maka dengan beberapa kali loncat ia sudah tiba di bawah pohon. Ia tadi melihat betapa sukar mereka mengangkat besi itu dan hanya dua orang saja kuat mengangkat dengan tangan kanan, sedangkan yang lain mengangkatnya dengan kedua tangan. Ia membungkuk dan menggunakan tangan kanan memegang gagang jangkar dan terus mengangkatnya ke atas.
Ia merasa bahwa besi Itu ternyata tak berapa berat, maka ia pindahkan besi itu di tangan kirinya lalu diangkat pulake atas kepala. Tentu saja gerakan ini menimbulkan sambutan yang hebat. Tadinya orang-orang melihat seorang pemuda sederhana mendekati besi itu, menjadi heran dan khawatir bahwa Sri Sultan akan menjadi marah kepada pemuda sembrono itu.
Tapi setelah melihat betapa Jarot permainkan besi ditangan kiri dengan ringannya, mereka merasa kagum sekali karena sepanjang pengetahuan mereka, yang dapat mengangkat besi itu dengan tangan kiri seringan itu hanya Sri Sultan Agung sendiri dan Senapati Ki Ageng Baurekso saja. Dari mana datangnya pemuda tampan sederhana yang luar biasa ini?
Juga Sri Sultan Agung bertanya kepada para hulubalang yang berada di situ, "Dari mana datangnya pemuda itu?"
Beberapa orang pahlawan menyangka raja marah dan bersiap menangkap pemuda lancang itu, tapi Sultan Agung bersabda, "Jangan ganggu dia, biarkan dia ikut dalam sayembara ini."
Sementara itu, seperti seorang anak kecil, Jarot bawa lari besi itu memutari waringin, tidak sekali, tapi tiga kali! Tepuk-sorak ramai menyambutnya. Setelah menaruh besi itu ke tanah kembali tanpa memperlihatkan sedikitpun kelelahan Jarot menengok kekanan kiri dengan bingung, tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Baiknya seorang hulubalang menghampirinya dan berbisik, "Raden, kau diperkenankan mengikuti sayembara, maka lekas-lekaslah duduk berkumpul dengan lima belas orang yang lulus dan menyembah menghaturkan terimakasih kepada Gusti Sultan.”
Jarot menurut nasihat ini. Gong dipukul lagi dan seekor kuda bulu hitam dituntun masuk ke dalam kalangan. Melihat kuda yang besar itu meronta-ronta, maka penonton mundur setombak lebih dengan takut kalau-kalau kuda iblis itu mengamuk.
Benar saja, mendengar suara orang banyak, kuda Nagapertala memberontak dan berhasil melepaskan diri dengan merenggut kendali dari tangan penjaganya yang tak berdaya. Kuda itu lari mengitari kalangan dengan mendengus-dengus dan meringkik-ringkik marah.
Sultan Agung melihat lagak kuda itu tersenyum geli lalu berbisik memerintah kepada Ki Ageng Baurekso yang berdiri di dekatnya. Ki Ageng Baurekso yang bertubuh tinggi besar dan bermata bundar berkulit hitam itu meloncat ke dalam kalangan. Ketika kuda Nagapertala lari lewat dekatnya, ia bergerak menyambar kendali dan sekali sentak saja leher Nagapertala tertahan ke belakang hingga kuda itu berdiri dikedua kaki belakangnya!
Kuda itu meronta-ronta sebentar tapi ia tidak berdaya melawan tenaga tangan Ki Ageng Baurekso yang kuat. Nagapertala maklum akan tangguhnya lawan, maka ia-pun tunduk tak melawan lagi. Semua penonton kagum akan kehebatan senapati tua ini.
Setelah Sri Sultan Agung memberi tanda, maka mulailah diuji ketangkasan para muda yang lulus dalam syarat pertama tadi. Karena Jarot duduk terbelakang, maka gilirannya pun terakhir pula. Dari lima belas orang calon, hanya lima orang yang lulus, sedangkan yang sepuluh terpaksa keluar dari kalangan dan dinyatakan gagal.
Ketika tiba giliran Jarot, pemuda ini menghampiri Nagapertala dengan khawatir karena sesungguhnya ia belum pernah belajar ilmu naik kuda. Nagapertala yang sudah lelah menjadi pemarah sekali. Begitu ia merasa ada orang mendekatinya dari belakang, ia angkat kedua kaki belakang dan menyepak ke arah dada Jarot!
Baiknya pemuda itu selalu waspada dan gesit sekali, maka dengan mudah ia loncat berkelit. Namun kejadian ini membuat hatinya makin khawatir. "Aduh galaknya!" diam-diam ia mengeluh. Nagapertala menoleh dan membuka mulutnya hendak menggigit! Tapi Jarot tak membuang waktu lagi, cepat dan sigap ia meloncat ke atas punggung Nagapertala tanpa memegang kendali yang masih tergantung dan berada di atas tanah!
Orang-orang terkejut melihat hal ini juga Sri Sultan dan Senapati Baurekso cemas juga. Tak mungkin orang dapat tetap duduk di atas punggung Nagapertala tanpa pegang kendali untuk menguasai kuda liar itu! Seperti yang sudah-sudah, begitu merasa punggungnya diduduki orang. Nagapertala segera meringkik marah dan berdiri di atas kaki belakang. Hampir saja Jarot terlempar ke belakang kalau ia tidak cepat-cepat peluk leher kuda yang kuat itu. Tapi Nagapertala goyang-goyang tubuhnya dan geleng-gelengkan kepala.
Para penonton, termasuk raja dan hulubalang semua, melihat perjuangan hebat itu dengan hati berdebar dan perasaan tegang. Sementara itu gamelan mainkan lagu Kebogiro yang gagah dan bersemangat. Jarot mengeluh dan merasa bahwa tak mungkin ia dapat bertahan. Maka diam-diam ia kerahkan ilmunya Gelap Seyuto dan tiba-tiba para penonton merasa bulu tengkuknya berdiri ketika terdengar Jarot menggeram keras dan menyeramkan.
Geraman ini lebih hebat daripada auman harimau dan mengatasi ringkik si Nagapertala. Mendengar geraman itu dan merasa betapa kedua tangan yang memeluk lehernya menekan dengan tenaga yang luar biasa hebatnya, Nagapertala gemetar seluruh tubuhnya dan kuda liar itu berdiri diam dengan keempat kaki menggigil, seakan-akan ia sedang menahan muatan yang berat sekali!
Jarot duduk dengan tenang di atas punggung Nagapertala yang berdiri tak bergerak, sedangkan lagu Kebogiro terus dimainkan sampai habis. Setelah lagu habis dimainkan, Jarot meloncat turun, sedangkan Nagapertala tampak lemas tak bertenaga lagi hingga mudah saja dituntun keluar, lebih jinak dari pada kuda-kuda biasa!
Melihat kesaktian pemuda itu, diam-diam Sri Sultan merasa kagum, sedangkan Ki Ageng Baurekso terkejut dan menduga-duga siapakah gerangan pemuda aneh itu dan siapa gurunya?
Kelima orang lain yang lulus menghadapi syarat kedua ini ialah : Pangeran Pati Amangkurat, putera Sri Sultan sendiri, Suro Agul-agul, Uposonto, Madurorejo, dan yang kelima adalah seorang berusia kurang lebih empat puluh tahun dan mengaku berasal dari Jawa Timur dan bernama Priolelono.
Kemudian perlombaan memanah dimulai. Pangeran Amangkurat memanah lebih dulu dan bidikannya tepat mengenai sasaran dan tertancap di tengah-tengah. Juga keempat calon lain dapat menancapkan anak panah mereka disekitar anak panah Pangeran Amangkurat, tapi tidak diluar garis sasaran!
Ketika tiba giliran Jarot, pemuda ini merasa tenang sekali, berbeda dengan tadi ketika menghadapi Nagapertala. Ini disebabkan karena ia memang telah terlatih dan digembleng dalam hal ilmu memanah oleh guru dan ayahnya. Ia melihat betapa tempat sasaran itu telah penuh oleh lima batang anak panah hingga tiada tempat lagi agaknya bagi anak panah yang akan dilepasnya.
Ia berpikir sebentar, lalu ia ambil lima batang anak panah. Beruntun-runtun lima batang anak panah terlepas dari gendewa yang dipegangnya dengan cepat sekali. Demikian cepat lajunya anak-anak panah ini hingga orang-orang hanya melihat lima kali sinar berkelebat dan tahu-tahu kelima batang anak panah itu telah menancap di belakang kelima anak panah yang sudah tertancap lebih dulu di atas sasaran!
Kejadian ini membuat semua penonton bengong terheran hingga untuk sesaat keadaan menjadi sunyi seakan-akan di tempat itu tak terdapat seorangpun..Kemudian riuh-rendah dan bergemuruhlah sorak-sorai yang memuji kepandaian Jarot. Sri Sultan Agung bertukar pandang dengan Ki Ageng Baurekso dan Jarot segera dipanggil menghadap. Pangeran Amangkurat dan lain-lain calon merasa tak senang sekali.
Sri Sultan Agung bertanya dengan suara halus, "Hai anak muda! Apa maksudmu melepas anak panah di belakang anak-anak panah yang telah menancap di sasaran?"
Jarot menyembah khidmat. "Ampunkan hamba, gusti. Karena hamba lihat bahwa semua anak panah mengenai sasaran dengan tepat, maka adalah kewajiban hamba untuk mendorong mereka itu dari belakang agar semua anak panah tidak menancap diluar garis sasaran. Andaikata ada anak panah yang menancap di luar garis yang ditentukan, tentu anak panah hamba takkan mengenainya, gusti."
Kembali Sri Sultan mengerling dan bertukar pandang dengan Ki Ageng Baurekso. Raja yang arif bijaksana ini maklum akan maksud Jarot yang hendak menyatakan bahwa sebagai seorang calon senapati dalam perlombaan itu, ia berjanji hendak setia dan mengerahkan tenaga membantu tindakan yang tepat dan benar, seperti tepatnya ujung anak panah mengenai sasaran, dan bahwa ia takkan membantu usaha-usaha yang keliru dan salah.
Tapi Amangkurat tetap merasa penasaran karena pangeran ini tidak mengerti maksud Jarot. Ia menganggap pemuda itu sombong dan menghinanya. Sementara itu, Tumenggung Suryawidura yang sudah diberitahu oleh anaknya betapa Jarot telah menghinanya, segera menyembah dan berkata,
"Gusti, betapapun juga, pemuda ini ternyata terlalu memandang rendah para calon lain, terutama kepada gusti pangeran! Maka, untuk mencoba apakah benar-benar ia sakti, hamba usulkan agar dalam perlombaan main tombak dan keris, ia dihadapkan dengan kelima calon lain. Hamba rasa ia tentu berani seperti halnya dengan anak panah tadi. Kecuali kalau ia tidak berani, boleh digunakan cara lain." Sambil berkata demikian, Tumenggung yang tua ini mengerling kepada Jarot.
Pemuda ini heran sekali mengapa priyayi tua ini seperti membencinya! Mendengar usul hulubalang tua yang juga menjadi mertuanya ini, Sultan Agung tersenyum. Ia merasa tidak setuju, tapi ingin pula ia mendengar jawab dan pendapat Jarot. lalu tanyanya. "Bagaimana pendapatmu dengan usul paman Suryawidura tadi?"
Mendengar nama ini, tahulah Jarot bahwa Raden Mas Bahar telah menggunakan tangan ayahnya untuk membalas dendam.nMaka ia merasa malu kalau mundur terhadap usul ini. Sembahnya. "Kalau memang demikian yang dikehendaki, tentu hamba akan mentaati semua, gusti."
Diam-diam Sultan Agung juga merasa betapa sombong pemuda ini. Akan melawan kelima pahlawan gagah perkasa itu? Ah, tak mungkin ia menang. Juga Pangeran Amangkurat merasa panas sekali, teriaknya, "Kalau begitu, mari kita keluar dan mulai bertanding!"
Sultan Agung melepas kerling tajam kepada puteranya untuk menegur dan persiapan lalu diadakan. Orang-orang yang mendengar bahwa pemuda aneh tadi hendak bertanding dikeroyok lima menjadi berdebar-debar dan perasaan mereka tegang sekali.
Sementara itu, ketika bertanya dan dijawab bahwa pemuda itu bernama Jarot dan datang dari Gunung Tengger, Sultan Agung dan Ki Ageng Baurekso mengangguk-angguk dan menduga-duga. Biarpun Jarot sudah sanggup untuk menghadapi mereka berlima, namun Pangeran Amangkurat tidak sudi untuk mengeroyoknya. Pangeran yang masih muda dan berdarah panas ini merasa terlalu rendah untuk mengeroyok. Ia hanya berdiri di pinggir dengan tombak di tangan kanan dan tameng di tangan kiri.
Demikianpun Priolelono, orang gagah ini merasa malu untuk mengeroyok seorang pemuda yang jauh lebih muda darinya. Maka mereka berlima bermufakat untuk maju seorang demi seorang. Jarot dengan tombak di tangan kanan berdiri menanti tenang. Ia sengaja melepas tamengnya diatas tanah dan berdiri tanpa tameng!
Orang-orang perdengarkan seruan tertahan dan menganggap dia benar-benar sombong dan bodoh. Sebenarnya tidak sekali-kali Jarot hendak menyombong. Kalau dia melempar tamengnya adalah karena dia tidak biasa menggunakan perisai dan dilatih bermain tombak dengan kedua tangan tanpa tameng.
Madurorejo mendapat giliran pertama. Dengan berseru keras ia menyerang Jarot. Tombaknya meluncur ke arah dada Jarot yang telanjang. Jarot hanya miringkan tubuh dan tiba-tiba tombak ditangan Jarot bergerak demikian cepat hingga Madurorejo terkejut sekali lalu menangkis dengan tamengnya. Tapi Jarot putar-putar tombak di kedua tangannya hingga lawannya sama sekali tiada kesempatan untuk balas menyerang, hanya repot menangkis saja sambil mundur.
Riuh-rendah suara orang memuji-muji Jarot. Uposonto melihat kawannya terdesak demikian rupa, segera maju membantu. Ia tidak merasa malu untuk melakukan pengeroyokan, karena memang Jarot telah menyetujuinya, pula ia tahu bahwa Madurorejo bukanlah lawan pemuda yang hebat itu.
Jarot berlaku tenang dan kedua tangannya seakan-akan memegang dua tombak yang dapat melayani kedua lawan itu. Suro Agul-agul marah sekali melihat kedua kawannya tetap tak berdaya terhadap Jarot, maka sambil berseru keras ia loncat menerjang.
Pertempuran ramai sekali dan Jarot terpaksa gunakan kelincahannya. Ia meloncat kesana kemari seakan-akan seekor tupai meloncat-loncat dan bermain-main di antara daun-daun kelapa. Tombak ketiga lawannya sedikitpun tak dapat melukainya, bahkan tak lama kemudian, sontekan tombaknya membuat tameng Madurorejo terlepas dari pegangan tangan kiri dan sebuah tendangan kearah pergelangan tangan kanan membuat tombak di tangan Uposono terlempar pula!
Pada saat itu ujung tombak Suro Agul-agul menusuk cepat. Jarot putar tombak dan gunakan gagang tombak menangkis keras hingga terdengar suara "krak!" dan tombak Suro Agul-agul patah di tengah-tengah! Tentu saja para penonton heran dan kagum melihat betapa dalam beberapa gebrakan saja Jarot telah membuat tak berdaya ketiga lawannya!
Juga Ki Ageng Baurekso terkejut dan kagum. Bukan kagum karena Jarot dapat mengalahkan ketiga lawan yang belum tinggi ilmu kepandaiannya itu, tapi kagum betapa Jarot dapat mengalahkan mereka tanpa melukai sedikitpun! Diam-diam ia puji sifat welas asih pemuda itu.
Tapi Pangeran Amangkurat merasa marah sekali. Ia berteriak kepada ketiga orang itu, "Minggir!" dan ia sendiri maju menerjang dengan tombak dan perisai di tangan. Ilmu tombak pangeran ini memang cukup tinggi dan tenaganya juga besar, tapi menghadapi Jarot la bertemu dengan tandingan yang kuat.
Jarot juga merasa betapa tangguh pangeran ini, maka ia putar tombaknya dalam gerakan "Payung Waja” hingga tubuhnya terlindung kuat oleh ujung tombak yang berputar cepat! Pangeran Amangkurat merasa betapa tangannya tergetar dan panas kulit telapak tangannya pada tiap kali ujung tombaknya kena tertangkis. Jarot memang telah mengalah padanya, karena kalau ia mau, Jarot dapat menggunakan serangan mematikan.
Cuma saja, pemuda ini tidak begitu bodoh untuk melukai Pangeran Amangkurat didepan Sri Sultan, maka ia hanya berdaya untuk membuat pangeran itu tak berdaya tanpa melukainya. Tapi untuk dapat berbuat demikian, sungguh tidak mudah. Pangeran yang berdarah panas itu berkelahi dengan nekat, walaupun ia telah lelah sekali dan napasnya sudah terengah-engah.
Melihat keadaan itu, Sri Sultan Agung berseru keras, "Berhenti!" Suaranya keras dan berpengaruh sekali hingga Jarot menjadi kaget dan meloncat mundur dengan gerakan Kidang Melompat, Sri Sultan Agung memerintahkan puteranya mundur dan minta supaya Priolelono maju melawan Jarot.
Pendekar setengah tua itu memandang Jarot dengan tersenyum kagum, lalu ia lempar pula tamengnya ke tanah sambil berkata, "Anak muda, mari kita main-main sebentar dengan tombak." Maka setelah berkata demikian, menyeranglah ia dengan hebatnya.
Para penonton sampai lupa bersorak melihat pertandingan kali ini. Mereka sama-sama kuat, sama-sama lincah dan cekatan, dan sama-sama pandai mainkan tombak! Jarot merasa terkejut melihat betapa ilmu permainan tombak lawannya ini sama gerakannya dengan ilmu tombaknya sendiri!
Ia merasa heran sekali dan putar tombaknya lebih cepat, tapi lawannyapun dapat mengimbangi permainannya. Diam-diam Jarot mengakui kegagahan lawannya dan ia mengandalkan kekuatannya yang ternyata leblh besar daripada lawannya.
Demikianlah tiap serangan dan tangkisan dilakukan dengan tenaga kuat hingga beberapa kail ujung tombak lawannya terpental dan Priolelono berseru memuji, "Sungguh digdaya kau!"
Pada saat mereka sedang bertempur ramai tiba-tiba Senapati Ki Ageng Baurekso meloncat dan gunakan tombaknya memisah mereka. Gerakannya kuat dan cepat hingga mendatangkan angin dan memaksa kedua orang yang sedang bertempur itu mundur.
Ki Ageng Baurekso memandang Priolelono dengan mata terbelalak marah dan mukanya merah padam. "Bukankah kau Pangeran Pekik? Apa maksudmu datang ke Mataram...?"