Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 01

Cerita silat Indonesia karya Kho Ping Hoo. Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 01
Sonny Ogawa
Cerita silat Indonesia karya Kho Ping Hoo

Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 01, karya Kho Ping Hoo - TAPI PADA saat itu, dari jurusan timur, seorang pemuda berjalan memasuki pintu gerbang ibu kota dengan langkah tenang. Hujan telah agak reda tapi masih cukup besar untuk membuat pemuda itu menjadi basah kuyup. Pengikat kepala warna putih itu basah dan air telah menembusinya, membuat rambut yang panjang hitam itu basah pula. Butir-butiran air saling udak di sepanjang hidungnya yang mancung, terus ke bibir dan dagu yang berbentuk tampan dan keras.

Dari pinggang ke atas ia telanjang. Bidangnya lebar, pinggang kecil dan buah dadanya membusung, tanda bahwa tubuh itu didiami tenaga yang kuat sekali. Ia memakai celana hitam sebatas betis dan sehelai kain keabu-abuan diikatkan di pinggang.

Perhatian anak muda itu seluruhnya tertarik oleh pemandangan di sebelah dalam pintu gerbang hingga ia tidak melihat betapa dua orang penjaga yang berlindung dari hujan di bawah gapura sedang memandang padanya dengan mata curiga.

"Hordah! Siapa di situ?" Tiba-tiba seorang penjaga menegurnya dengan suara keras dan ujung sebuah tombak yang runcing mengkilap muncul dari balik dinding gapura.

Biarpun pakaiannya menunjukkan bahwa ia adalah seorang kampung, namun pemuda itu ternyata tabah dan sikapnya tenang sekali. Bentakan suara keras dan tajamnya mata tombak tak membuatnya gentar atau gugup. Dengan senyum di bibir ia menengok ke arah penegurnya lalu berkata tenang,

"Maaf, kawan-kawan, aku tidak melihat kalian tadi hingga tidak memberi salam. Aku seorang pengembara dari tempat jauh yang telah lama mengagumi nama dan kebesaran Gusti Sultan dan yang sekarang datang hendak menyaksikan keindahan dan keagungan ibu kota Mataram yang jaya ini."

"Bohong kamu! Masak seorang pelancong datang pada waktu hujan besar begini? Kamu tentu mempunyai maksud jahat. Hayo ke sini, kami akan geledah dulu."

Pemuda itu tersenyum manis. "Mau geledah sih boleh saja, tapi kalian harus ke sini, bukan aku yang harus ke situ."

"Eh-eh, banyak tingkah! Hayo kesini kamu!" teriak penjaga sambil mengamang-amangkan tinjunya.

"Kau saja ke sini!" pemuda itu tetap berkeras tapi mulutnya selalu tersenyum.

"Tidak kau lihat air hujan masih turun? Kami tak sudi kehujanan," jawab penjaga.

"Akupun kehujanan dari tadi. Lagi pula, siapakah yang butuh akan penggeledahan ini? Kalian atau aku? Kalau aku yang butuh digeledah, tentu aku akan ke situ. Tapi sekarang kalianlah yang butuh menggeledahku, maka kalianlah yang harus ke sini."

"Jangan banyak cakap. Lekas kau kesini, kalau bandel, jangan menyesal nanti jika kami gunakan kekerasan." Penjaga kedua yang lebih tua dan sabar memberi peringatan.

"Aha, kalian berani gunakan kekerasan? Aku tidak percaya, sedangkan terhadap air hujan saja kalian sudah takut," Pemuda itu terus saja berjenaka, tapi suaranya sekali-kali tidak mengandung maksud menghina, bahkan ia seakan-akan ingin bersendau-gurau dengan kedua penjaga itu.

"Bangsat kecil jangan lari!" Penjaga pertama berseru marah dan meloncat keluar dari tempat meneduhnya dan mengulur tangannya untuk menjambak rambut pemuda itu.

Tapi dengan tenang pemuda itu miringkan kepala hingga si penjaga menjambak angin! Penjaga yang bertubuh tinggi besar itu marah sekali. Kini ia menyerang dengan pukulan ke arah dada lawannya yang kembaliberkelit tenang.

Demikianlah, penjaga itu dipermainkan dengan kelitan dan gerakan lincah hingga ia menjadi pusing. Ketika ia ayun kepalan tangannya untuk kesekian kalinya dengan sepenuh tenaga, pemuda itu berkelit sambil menyindir,

"Sayang, pukul angin lagi!" Pukulan itu keras sekali dan dilakukan dengan sepenuh tenaga, maka ketika dikelit, tak ampun lagi tubuh si penjaga menjadi limbung dan kakinya terpeleset hingga tubuhnya jatuh berdebuk di atas tanah yang basah dan licin!

"Eh, hati-hati kawan, tanah licin kau nanti jatuh!" kata pemuda itu dengan suara demikian jenaka dan lucu hingga penjaga kedua mau tak mau ikut tertawa juga.

Penjaga yang jatuh melihat dirinya dipermainkan dan ditertawakan pula oleh kawannya, menjadi marah sekali. Dengan cepat ia meloncat bangun dan lari ke dalam tempat penjagaan dan mengambil tombaknya.

"Bangsat rendah, jangan lari, lihat tombakku!" katanya dan cepat ia menyerang lambung lawandengan tombaknya.

"Hai, jangan main-main dengan senjata tajam." Pemuda itu masih saja berjenaka sambil loncat berkelit.

"Awas, kutarik keluar ususmu yang jahat!" Penjaga itu makin marah.

Melihat lawannya sudah berlaku nekat dan marah, pemuda itu agaknya kasihan juga. Ketika ujung tombak menyerang ke arah perutnya ia tidak berkelit, tapi gunakan tangannya memapaki senjata itu. Ia gunakan pinggir telapak tangannya menebas bagaikan sebilah parang dan "krakk!!" gagang tombak terbuat dari kayu asam yang keras dan ulet itu patah menjadi dua!

Sementara itu, si penjaga melepaskan gagang tombak yang telah patah karena tenaga sabetan itu membuat telapak tangannya terasa sakit sekali dan ketika dilihatnya, ternyata telapak tangannya luka kulitnya dan berdarah, rasanya perih dan sakit sekali.

Penjaga kedua telah keluar dari tempat penjagaan dan memandang pemuda itu dengan bimbang dan kagum. "Hai, pemuda yang gagah. Raden ini siapa dan dari mana. Menurut aturan yang telah ditentukan, kami para penjaga harus mengetahui keadaan setiap orang asing yang memasuki kota ini."

Mendengar ucapan penjaga tua yang halus ini, pemuda itu berlaku hormat. "Maafkan aku, paman. Bukan maksudku mencari keributan. Tadi aku hanya melayani kawan yang suka main-main ini. Aku bernama Jarot dari desa Wangkal di Tengger Utara. Aku seorang pengembara dan ingin sekali melihat Kerajaan Mataram yang telah mashur ini dari dekat. Harap paman penjaga sudi memaafkanku."

Sikap dan tutur katanya sopan dan menarik hingga penjaga itu hilang kecurigaannya. "Kalau begitu silakan, anak muda. Hanya saja janganlah kau berjalan seorang diri dalam hari hujan seperti ini, karena hal ini dapat menimbulkan kecurigaan penduduk padamu. Meneduhlah dimana saja, penduduk kota kita akan menerimamu dengan baik."

Jarot mengucap terima kasih dan setelah minta maaf kepada penjaga yang tadi dipermainkannya itu, ia lanjutkan perjalanannya memasuki kota. Dua orang penjaga itu memandangnya dari belakang dengan heran dan kagum.

"Kalau ia ikut memasuki sayembara di alun-alun, pasti ia akan menang," kata penjaga tua itu.

Pemuda itu membelok kekiri memasuki sebuah perkampungan yang banyak ditumbuhi pohon pisang. Sebenarnya ia masuk ke kampung itu karena tertarik oleh bunyi irama besi tertempa, menandakan bahwa di kampung situ terdapat seorang pandai besi. Dan pandai besi pada masa itu terpandang tinggi sebagai seorang berkepandaian tinggi, barangkali sama halnya dengan orang sekarang memandang seorang guru ahli.

Pandai besi, terutama yang khusus membuat senjata tajam, dianggap berjasa sekali, dan biasanya seorang pembuat keris dianggap seorang suci yang berderajat penembahan atau pertapa sakti dan disebut empu.

Dengan perlahan dan hati-hati Jarot mengetuk daun pintu rumah pandai besi itu. Suara tang-ting-tong berhenti sejenak dan terdengarlah suara orang dari dalam,

"Anak muda yang di luar masuklah saja, pintu pondokku tak pernah diganjal atau dipalang. Buka saja!" Suara ini halus dan besar.

Jarot mendorong daun pintu dengan perasaan heran mengapa orang di dalam tahu bahwa ia adalah seorang pemuda. Ternyata isi gubuk itu melarat sekali. Selain tungku api dan besi landasan serta perabot pandai sederhana, di sudut terdapat sebuah bale-bale bambu.

Seorang orang tua berpakaian jubah putih yang panjang dan tergulung lengan bajunya, tidak bersorban hingga rambutnya yang panjang dan putih yang hanya diikat dengan lawe terurai di atas bahunya, dan bertelanjang kaki sedang berdiri membelakanginya, tangan kiri memegang sebilah keris luk tiga dan tangan kanan memegang sebuah besi pemukul. Ketika mendengar Jarot memasuki pondoknya, orang tua itu balikkan tubuh menghadapinya.

Dan sekali pandang saja tahulah Jarot bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang tua ahli tapa yang suci. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia bersila dan menyembah. "Mohon kemurahan hati eyang untuk mengampuni saya yang lancang dan berani memasuki pondok eyang."

Orang tua itu menggunakan lengan kanannya untuk melindungi matanya dari sinar api tungku yang terang dan sepasang matanya yang dilindungi alis putih menatap wajah anak muda yang bersila dengan kepala tunduk didepannya. "Angger, siapakah kau dan ada apa kau masuk ke dalam gubukku yang miskin dan kotor ini?"

"Saya bernama Jarot dari Pegunungan Tengger, eyang. Saya seorang perantau yang tak mempunyai tujuan tertentu, hanya ingin menikmati tamasya alam dengan segala pemberian alam yang pengasih, sambil meluaskan pengetahuan yang dangkal. Mohon ampun jika saya mengganggu kepada eyang. Suara besi landasan terpukul menimbulkan bunyi nyaring dan merdu hingga membetot perasaan saya dan membuat kedua kaki saya dengan tak terasa bergerak ke arah suara. Ampunkan saya, eyang."

"Hm, agaknya kau juga tergolong manusia pengolah baja?"

"Saya tak berani mengaku seperti itu, eyang, hanya saya pernah melihat dan membantu paman Empu Jayagung sebagai penggerak puputan selama beberapa tahun."

"Begitu? Pantas saja kau tertarik oleh suara dentingan landasan. Eh, Jarot, jika kau pernah membantu Empu Jayagung, coba terangkan, dengan apakah orang dapat menguasai kekerasan?"

"Kekerasan hanya dapat ditundukkan dengan kehalusan."

"Syarat apakah untuk dapat menjadi penempa keris?"

"Kekerasan baja hanya dapat dibentuk dan dikalahkan dengan ketekunan, kesabaran, dan kekuatan."

"Bagus, angger. Mari, mari duduk disana denganku."

Jarot menyatakan terima kasih dan mereka menuju ke bale-bale lalu duduk berhadapan. Sebenarnya Jarot merasa berat untuk duduk bersanding, dan hendak duduk bersila di bawah, tapi hal ini dicegah oleh orang tua itu yang berkata,

"Angger Jarot, jangan kau rendahkan diri didepanku secara berlebih-lebihan. Kau masuk ke rumahku sebagai tamu, dan sebagai orang segolongan, tak perlu kita sungkan-sungkan. Kau lihat dan periksalah keris ini dan coba nyatakan pendapatmu."

Jarot menerima keris luk tiga yang semenjak tadi dipegang oleh orang tua itu. Keris itu sudah hampir selesai dibuat, tinggal menghaluskan saja. Pamornya berkembang bagaikan kulit ular Sanca, warnanya hitam kehijau-hijauan, dan matanya tajam sekali. Jarot kagum melihat keris itu dan diam-diam ia akui bahwa orang tua di hadapannya itu setingkat kepandaiannya dalam pembuatan keris jika dibanding dengan Empu Jayagung, paman gurunya.

Satu hal yang membuat ia heran dan tercengang ialah logam yang dijadikan keris itu. Belum pernah ia melihat logam dengan warna seperti itu dan yang mengeluarkan cahaya seakan-akan logam itu menyemburkan bunga api.

"Pusaka ampuh, eyang... sungguh saya tidak pernah melihat waja seganjil ini, seakan-akan mengandung hawa..... hawa....” ia ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

"Teruskan, angger."

"Maaf, eyang, keris ini seakan-akan mengandung hawa maut!"

"Kau betul, angger, kau benar. Biarlah sekarang aku perkenalkan diri. Aku adalah Empu Madrim, masih seperguruan dengan Kiai Gede Pemanahan dan ketika Raden Sutawijaya menjadi bupati dengan gelar Senapati Ing Alaga Saidin Panatagama sampai pada waktu satria yang gagah perwira itu membangun Kerajaan Mataram, aku sudah menjadi empunya. Semenjak Raden Sutawijaya tewas dan puteranya, yakni Mas Jolang atau ramanda Sri Sunan yang sekarang menjadi penggantinya, aku merasa sudah bosan berurusan dengan dunia ramai, maka aku mengasingkan diri di puncak Gunung Sumbing. Dan sebulan yang lalu, tibatiba saja Sri Sultan memanggil aku dan aku diserahi tugas yang berat ini, bukan berat untuk dikerjakan, tapi berat menekan batin."

Jarot mengangguk-angguk. Ia pernah mendengar nama Empu Madrim ini dari gurunya, tapi ia tak menyatakan ini, hanya bertanya, "Tugas berat apakah itu, eyang?"

"Begini, angger. Beberapa bulan yang lalu, pada suatu malam Jum'at Kliwon, penduduk kampung Dadapan menjadi geger karena dengan tiba-tiba saja rumah seorang petani terbakar. Petani itu dengan isteri dan lima orang anaknya, semua binasa termakan api. Hanya bujangnya yang selamat dan menurut keterangan bujangnya itu, pada kira-kira tengah malam tepat, terdengar suara mengaung dari atas. Ia lari keluar dan melihat bintang jatuh.

"Tapi bintang itu tidak lenyap seperti biasa, bahkan makin hebat cahayanya yang merah bagaikan darah. Dan benda yang bernyala-nyala itu tepat jatuh di rumah itu, menembus atap dan segera rumah itu terbakar habis! Setelah api padam, rumah dan tujuh orang penghuninya telah menjadi abu, orang kampung Dadapan ketemukan sebuah logam yang hitam kehijau-hijauan sebesar tangan orang.

"Mereka ambil benda itu dan menyerahkan ke hadapan Sri Sultan. Melihat logam yang ganjil itu, Sri Sultan berhasrat keras untuk membuat keris pusaka, tapi tak seorangpun empu yang berada di Mataram ini kuasa melebur logam itu. Karena itulah maka aku dicari dan diutus ke sini membuatnya."

"Memang tepat, eyang, karena selain eyang, siapa pulakah yang sanggup?” Jarot memuji.

"Tapi aku tak rela, angger, aku tak rela. Tanganku menjadi kotor karenanya, angger. Logam ini pertama kali terjelma telah makan tujuh jiwa dan aku tahu... aku tahu... masih banyak darah yang akan diminumnya... dan... aku... tangankulah yang membentuknya menjadi keris...."

"Eyang hanya menjalankan titah sri baginda." Jarot menghibur.

"Karena itulah, angger. Sri Sultan Agung adalah seorang raja yang bijaksana dan luhur budinya. Tidak pantas beliau memelihara keris Margapati ini. Siapa memegang keris ini, ia akan terlibat dalam soal pembunuhan terus-menerus, dan aku tidak rela kalau Sri Sultan sampai terkena malapetaka ini. Maka, memang Dewata adil, angger. Tanpa dipanggil angger datang. Kaulah orangnya yang sanggup menghindarkan raja dari kutukan keris ini. Jarot, akuilah, bukankah kau ini putera Panembahan Cakrawala dan pernah berguru kepada Kyai Ageng Sapujagat?"

Terkejutlah Jarot mendengar ini. Bagaimana orang tua ini bisa tahu? Ia hanya memandang dengan tercengang dan mengangguk perlahan.

"Tak usah heran, angger. Akupun pernah diberi berkah oleh Kyai Ageng Sapujagat yang tuturkan padaku akan halmu. Kita bukanlah orang luar, angger."

Jarot rangkapkan tangan menyembah. "Maaf, eyang, saya tadinya tidak tahu bahwa eyang mempunyai hubungan dengan eyang guru, maka saya tidak berterus terang. Sekarang terserahlah kepada eyang, saya hanya menurut saja segala petunjuk eyang."

"Begini, angger. Kau tundalah perantauanmu dan hentikanlah dulu darma-brata-mu. Kini telah tiba saatnya bagimu untuk mengabdi kepada Sri Sultan yang mulia hingga dengan demikian akan lebih luaslah darma baktimu kepada Ibu Pertiwi. Kerajaan Mataram menghadapi bermacam-macam percobaan Yang Kuasa, angger, dan yang dapat menolong hanya kau dan si Margapati ini."

"Apa yang harus saya lakukan, eyang?"

"Besok adalah hari sayembara perang-perangan yang diadakan tiap pekan sekali oleh Sri Sultan. Sayembara ini selalu diadakan oleh Sri Sultan yang memang suka akan olah keprawiraan, dan dengan demikian maka dapat dikumpul dan dipilih satria-satria yang gagah perkasa. Kau masukilah sayembara itu, angger. Setelah kau mengabdi raja, maka lindungilah raja dari keris maut ini, buktikanlah hawa maut yang dikandungnya hingga raja percaya akan pengaruh jahat keris ini dan suka menjauhinya."

Jarot menyatakan kesanggupannya hingga Empu Madrim menjadi demikian girang dan lega hingga ia berkenan memberi wejangan-wejangan ilmu dan aji kesaktian kepada Jarot dan semalam suntuk mereka berdua tidak tidur sama sekali. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Empu Madrim membawa keris Margapati ke keraton. Sebelum berpisah ia pesan kepada Jarot supaya berhati-hati danwaspada dalam segala sepak terjangnya.

Seperti biasapada tiap hari Sabtu, pagi-pagi sekali Sri Sultan Agung telah turun dari tempat peraduannya dan bersiap-siap pergi ke alun-alun menyaksikan pertandingan-pertandingan adu kegagahan. Teristimewa pagi ini, karena di alun-alun akan lebih ramai daripada hari-hari Sabtu biasa dengan adanya pengumuman bahwa hari ini akan diadakan sayembara pemilihan seorang kepala pahlawan keraton, yakni para perajurit gagah perkasa yang bertugas menjaga dan melindungi keselamatan raja dan seisi keraton.

Sambil mengenakan busana yang indah dan istimewa, Sri Sultan Agung tersenyum gembira memandang bayangannya di dalam sebuah cermin besar. Sri Sultan Agung pada waktu itu telah berusia empat puluh tahun, tapi masih tampak gagah dan tampan bagaikan seorang jejaka teruna. Tiba-tiba ia melihat dari bayangan cermin betapa Gombak, abdi pelayannya yang setia, menolak daun pintu dan memasuki kamar dengan jalan berjongkok, lalu berhenti di belakangnya dan menyembah.

"Ampunkan hamba berani menghadap tanpa dipanggil," kata Gombak.

"Ada apa, Gombak?" tanya Sang Sultan Agung dari bayangan cermin.

"Diluar Empu Madrim mohon menghadap, gusti."

"Persilakan dia menanti sebentar, aku akan menerimanya di ruang luar," jawab Sri Sultan dengan sabar.

Ketika Sri Sultan keluar, Empu Madrim berdiri dari kursi yang didudukinya dan membungkukkan badan sebagai tanda menghormat. Sebagai seorang pertapa golongan tua, ia tak perlu bersila dan menyembah kepada raja muda ini.

Dengan wajah berseri-seri dan suara halus, Sri Sultan Agung mempersilakan Empu Madrim duduk dan ia sendiri duduk di atas kursi gading terukir.

"Angger Sultan, sekarang adalah saatnya hamba menghaturkan keris yang paduka kehendaki. Inilah keris Margapati, angger."

Dengan gembira Sultan Agung menerima keris Margapati dan dalam hatinya ia terkejut melihat betapa keris luk tiga itu bercahaya bagaikan mengeluarkan api. "Ah, benar-benar senjata pusaka keramat," katanya perlahan.

"Tapi keampuhannya mendatangkan kebinasaan, angger Sultan. Yakni kalau terjatuh ke dalam tangan seorang tak berbudi. Maka, mohon angger berlaku waspada terhadap keris ini. Kuberi nama keris ini Margapati, karena memang dia telah menjadi sebab kebinasaan dan jika tidak terjaga baik-baik, di kemudian hari dia masih akan menimbulkan maut dan malapetaka."

Tapi Sri Sultan Agung terlampau tertarik dan suka kepada keris pusaka yang betul-betul indah itu hingga pesan dan peringatan Empu Madrim seakan-akan tak terdengar olehnya. Berkali-kali Sri Sultan memuji-muji keahlian Empu Madrim dan tak lupa menyatakan terima kasihnya, bahkan sebagal hadiah, ia perintahkan pelayan untuk mengambil pakaian indah serta barang-barang berharga lain untuk diberikan kepada pertapa itu.

Tapi Empu Madrim menolaknya dengan halus dan tersenyum lebar. "O, angger Sultan, hamba seorang tua tiada guna yang hanya menanti datangnya saat pembebasan dari raga yang sudah lapuk ini. Untuk apa semua barang-barang yang hanya indah bagi raga itu? Sedangkan ragaku sudah lemah dan rusak. Kalau hendak memberi anugerah, janganlah memberi benda, ya angger junjunganku, berilah saja sebuah janji."

Sri Sultan tertawa heran. "Janji? Boleh, paman Empu, janji apakah itu? Tentu akan kuberi janji itu asalkan pantas dan dapat kulaksanakan."

"Janji yang sederhana saja, angger. Berjanjilah kepadaku bahwa angger seterusnya akan melindungi rakyat jelata, akan memerintah dengan adil dan bijaksana dan akan menggunakan keris Margapati hanya untuk membela keadilan belaka."

Tentu saja Sri Sultan Agung yang terkenal arif bijaksana itu merasa girang sekali mendengar permintaan ini dan tanpa ragu-ragu ia berikan janji itu kepada Empu Madrim.

Empu Madrim mengelus-elus jenggotnya yang putih dan panjang lalu mengangguk-angguk senang. "Semoga Yang Maha Kuasa selalu melindungi Paduka Sultan dan Kerajaan Mataram serta sekalian rakyatnya."

Kemudian Empu Madrim bermohon diri dan kembali ke tempat pertapaannya, yakni di puncak Gunung Sumbing. Sri Sultan Agung lalu kembali memasuki kamarnya, menanti datangnya para punggawa yang akan datang menyongsong dan mengantarkannya ke alun-alun tepat pada waktunya.

Sementara itu, Jarot yang ditinggalkan Empu Madrim, merasa perutnya lapar sekali. Semenjak kemarin ia belum makan. Selain lapar, iapun ingin sekali mandi karena sudah menjadi kebiasaannya semenjak kecil untuk mandi air dingin di waktu pagi. Ia ingat bahwaketikakemarin memasuki kota ini, ia melihat kali bengawan yang jernih airnya. Maka ia segera meninggalkan pondok kecil itu dan pergi mencari sungai untuk mandi.

Agak jauh dari kampung itu ia dapatkan sungai yang besar dengan airnya yang bening, maka ia merasagirang sekali. Pada saat ia hendak membuka pakaian dan mandi, tiba-tiba terdengar suara merdu beberapa orang wanita yang bercakap-cakap sambil tertawa. Cepat ia meloncat menyingkir dan bersembunyi di balik serumpun alang-alang. Ternyata yang datang adalah tiga orang gadis yang membawa pakaian untuk dicuci dan agaknya mereka hendak mandi pula.

Jarot biasanya tidak tertarik hatinya melihat wanita muda, tapi kali ini melihat gadis yang berjalan di tengah, tiba-tiba hatinya berdebar. Wajah gadis sederhana dengan mulutnya yang tersenyum-senyum itu seakan mempunyai daya tarik yang luar biasa hingga ia menatap gadis itu bagaikan kehilangan semangat! Pula, di dasar hatinya ia merasa seakan-akan gadis itu tidak asing baginya, dan timbullah perasaan yang mesra sekali terhadap anak gadis itu.

Ketiga orang gadis itu sambil tertawa-tawa masuk ke dalam air sungai yang hanya sampai sebataspaha dalamnya dan mereka menaruh pakaian yang dibawa keatas batu-batu hitam yang banyak terdapat di situ.

"Sari, cucianmu paling banyak, kami akan membantumu agar lebih cepat selesainya, tapi kau harus menembang untuk kami," kata seorang di antara mereka kepada gadis yang menarik hati Jarot.

Gadis itu tersenyum. "Kau ini aneh, pagi-pagi orang disuruh menembang. Kan malu kalau terdengar orang lain."

"Ah, sepagi ini takkan ada orang di sini. Kami suka sekali mendengar suaramu yang merdu, Sari. Nyanyikanlah lagu Asmaradana!" Gadis kedua ikut mendesak.

Setelah melihat ke kanan kiri dan jelas bahwa di situ tidak ada orang lain, gadis itu mengangkat mukanya yang ayu memandang ke atas mengingat-ingat, lalu ia bernyanyi tembang Asmaradana. Kata-kata tembangnya melukiskan keadaan Dewi Sinta yang sedang menangis dalam taman Kerajaan Ngalengkadiraja, yakni kerajaan raja raksasa Dasamuka atau Rahwana raja yang menculiknya dari suaminya yang tercinta, Prabu Ramawijaya.

Dewi Sinta menangis meratap-ratap merindukan suaminya yang tak kunjung tiba untuk menolongnya dan membebaskannya dari cengkeraman Dasamuka, si durjana. Suara gadis itu merayu-rayu dan Jarot merasa sangat terharu mendengar tembang itu yang maksudnya demikian :

Wahai murai, angin, dan surya... sampaikanlah sembah rinduku kepadanya duh, suamiku, pujaan kalbu... lihatlah betapa isterimu merindu.

Raden Rama... satria kekasih hati, bilakah kau datang menolong rayi...? Tubuhku kurus, hatiku hancur jiwaku sengsara hanya wajahmu yang selalu terbayang depan mata. Duh Raden Rama... suamiku..... kekasihku !


Setelah tembang itu habis dinyanyikankedua kawan gadis itu tak tahan untuk menahan air matanya, mereka merangkul gadis itu dan seorang di antara mereka berbisik terharu, "Sinta... Sinta... jangan berduka, Rama tentu akan segera datang....."

Beberapa lama mereka berpelukan, kemudian gadis yang menembang tadimemecahkan hikmat tembangnya dengan tertawa nyaring dan merdu.

"Eh-eh, kalian ini bagaimana sih? Mau mandi dan mencuci pakaian, atau mau menangis?"

Mereka tertawa-tawa lagi dan mencuci pakaian sambil bersendau gurau, saling menyiram dengan air dan busa buah lerak yang mereka gunakan untuk mencuci pakaian. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa dari balik semak-semak ada dua pasang mata laki-laki yang mengintai dengan pandangan kagum. Mengapa dua pasang?

Ya, karena dari belakang semak-semak tak jauh dari tempat Jarot bersembunyi, terdapat pula seorang pemuda hitam tinggi besar yang berwajah menyeramkan. Matanya bulat besar dan kulit mukanya habis dimakan cacar. Ia adalah Raden Mas Bahar, putera tunggal Tumenggung Suryawidura yang sudah tua tapi cukup terkenal karena kekayaannya dan karena anak perempuannya menjadi selir Sri Sultan.

Telah lama Bahar rindu dan tergila-gila akan Sekarsari, gadis yang sedang bersenda gurau dengan kedua kawannya di sungai itu. Berkali-kali Bahar membujuk rayu menggoda Sekarsari, tapi gadis itu tidak menghiraukannya, bahkan memperlihatkan muka membenci dan sebal. Kini, melihat gadis kenangannya itu berada di sungai dengan dua orang gadis lain, serta mendengar tembangnya yang merdu merayu, Bahar tak dapat menahan gelora hatinya lagi. la keluar dari tempat persembunyiannya dan dengan langkah lebar ia menghampiri mereka.

Alangkah terkejutnya Sekarsari dan kawan-kawannya. Mereka cepat membereskan kain yang diangkat dan diikatkan di dada setinggi mungkin, lalu mengambil pakaian yang mereka cuci dan siap hendak lari. Tapi Bahar sengaja berdiri mencegat di jalan kecil yang menurun ke sungai itu hingga ketiga orang gadis itu tak berdaya, karena selain melalui jalan kecil itu, sukar juga untuk naik ketebing.

"Den-mas, berilah kami jalan.” Seorang kawan Sekarsari berkata dengan sikap menghormat.

Bahar geleng-geleng kepala dan menyeringai. "Tidak, sebelum Sekarsari menembang sebuah lagu untukku!"

Tentu saja Sekarsari tidak sudi melakukan permintaan ini, tapi ia tak berani menjawab, hanya palingkan mukanya yang menjadi merah ke arah lain.

"Den-mas, jangan ganggu kami, biarkan kami pulang," kedua gadis kawan Sekarsari mendesak.

Bahar memberi jalan, kepada mereka, tapi ketika Sekarsari hendak maju, ia mencegat pula dan mengulurkan tangan hendak menangkap. Terpaksa gadis itu mundur dan turun kembali ke sungai. Sedangkan kedua kawannya lari keras sambil angkat kain sebatas lutut. Sekarsari yang ditinggal berdua dengan Bahar menjadi takut dan cemas.Ia memandang kearah pemuda hitam itu dengan mata terbelalak.

Bahar tertawa bergelak. "Ha-ha, Sekarsari, juwitaku, sekarang kau hendak lari ke mana? Hayo bernyanyilah barang selagu untuk kangmasmu." Sambil berkata begini Bahar melangkah turun ke atas batu kali yang besar, mendekati gadis itu. Sekarsari makin takut dan cepat maju ke tengah sungai di mana air lebih dalam hingga mencapai dadanya.

“Eh, jangan terlalu jauh, Sari, kau nanti terbawa air," Bahar berkata sambil tertawa.

Tapi Sekarsari tak takut akan air karena ia pandai berenang.

“Sari, kemarilah mari kita bercakap-cakap.” Segala bujuk dan rayu keluar dari mulutnya, namun gadis itu tetap tidak sudi menghiraukannya, bahkan berenang makin ke tengah.

"Sari! Awas, ada buaya di sana!” Tiba-tiba Bahar berteriak.

Gadis itu terkejut sekali. Tanpa menengok lagi ia berenang ke tepi dan tubuhnya menggigil takut ketika tangan Bahar memegang lengannya dan membantunya naik ke atas batu. Sekarsari menengok ke arah sungai untuk melihat buaya yang mengancamnya, tapi ia tidak melihat apa-apa di air yang mengalir perlahan itu, kecuali beberapa potong ranting kayu yang hanyut perlahan. "Mana buayanya?" Ia bertanya.

"Ha-ha! buayanya berada di kedung, Sari. Di sini tidak ada buaya, di sungai ini paling ada juga ikan lele!"

"Kau.... kau.... kurang ajar! Lepaskan aku!" Sekarsari berontak dan berusaha melepaskan lengan kirinya yang dipegang Bahar. Tapi ia kalah tenaga dan Bahar menariknya ke tepi. Ia melawan dengan menyepak, memukul, mencakar, dan menjerit-jerit.

Jarot melihat peristiwa itu dengan mata bernyala dan ia sudah siap bertindak. Tapi ditahannya napsu marahnya karena pada saat itu datanglah seorang tua berlari-larike tempat itu. Ia adalah Ki Galur, ayah Sekarsari yang diberi tahu oleh kedua gadis kawan Sekarsari yang lari pulang tadi.

"Ayah.....!” Sekarsari berteriak dan Bahar terpaksa melepaskan pegangannya. Gadis itu lari menubruk ayahnya sambil menangis.

"Raden Mas Bahar, mengapa kau selalu mengganggu anakku?" Orang tua itu menegur. Suaranya penuh penyesalan tapi sikapnya tetap menghormat karena ia tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan putera Tumenggung Suryawidura.

"Kau perduli apa?” teriak Bahar yang merasa malu dan penasaran atas teguran itu. "Aku suka pada anakmu, besok kau harus antar ia ke Tumenggungan!"

"Ampun, den-mas, jangan den-mas memaksa.....”

"Apa katamu? Aku cinta pada Sekarsari dan ingin mengambil dia sebagai selir, kau berani menampik aku? Kau orang tua jangan banyak cakap!"

"Ayah... aku tak sudi, ayah. Lebih baik mati...”

Selanjutnya,