|
| Karya Kho Ping Hoo |
Sepasang Rajah Naga Jilid 32 - MENDENGAR ucapan itu, Siauw Ming mengangguk-angguk dengan hati kagum. Sementara itu, Song Bu dan Ouw Yang Lan merasa terpukul hati mereka. Mereka menundukkan muka dan mengerutkan alis. Ucapan Sin Cu masih terngiang-ngiang di dalam telinga mereka. Mengenang kejahatan orang terhadap kita melahirkan kebencian dan dendam yang menjadi racun dalam batin kita yang kemudian mendorong ke arah perbuatan kejam.
“Mengapa tidak menggunakan pikiran untuk hal yang lebih sehat, misalnya mengenangkan kebaikan orang kepada kita? Mengenang kebaikan seorang Ayah di waktu kita masih kecil, betapa dia memondong, memangku dan menimang-nimang kita dengan pelukan dan ciuman penuh kasih sayang, betapa dia menjaga, membela dan melindungi kita? Mengenang kebaikan seorang Guru yang dengan tekun dan tidak mengenal lelah mengajarkan ilmu-ilmunya kepada kita, agar kita menjadi seorang yang berguna dan menggunakan ilmu-ilmu yang kita pelajari dari dia untuk kelak melawan bahkan membunuhnya? Cobalah kalian renungkan.”
Suasana semakin hening setelah Sin Cu berhenti bicara. Hanya terdengar air yang pecah diterjang ujung perahu dan angin yang mengibarkan layar. Terdengar isak perlahan. Ternyata Ouw Yang Lan yang terisak. la teringat akan semua kebaikan dan kecintaan Ayahnya kepadanya ketika masih kecil. Hatinya yang keras mencair menjadi air mata yang mengalir keluar dari kedua matanya.
Song Bu sendiri termenung seperti patung. Dia teringat betapa Ouw Yang Lee telah menyelamatkannya ketika dia menggeletak pingsan terancam maut di atas perahu kecil. Terbayang ketika Ouw Yang Lee menggemblengnya dengan ilmu-ilmu, kemudian mengangkatnya sebagai puteranya.
Melihat ini, Siauw Ming menghela napas panjang. Kembali terdengar suara Sin Cu, lirih dan lembut, namun meresap ke dalam hati para pendengarnya, terutama Ciang Lan dan Song Bu.
“Kalau kita membenci Ayah dan Guru lalu membunuhnya, kita menjadi orang berdosa besar, menjadi alat setan yang selalu menyebar dosa dalam hati manusia. Sebaliknya, kalau kita berhasil menyadarkan Ayah atau Guru dari kesesatannya sehingga dia bertaubat dan kembali ke jalan benar, kita berjasa besar sekali bagi dia pribadi, bagi manusia, dan terutama bagi Tuhan karena kita telah menjadi alatNya yang baik dan bermanfaat. Tuhan Maha Pengampun dan Maha Kasih.”
Kembali suasana menjadi hening. Song Bu dan Ciang Lan tidak mampu membantah lagi. Tiba-tiba Siauw Ming berseru. “Nah, itu dia Pulau Naga! Sudah tampak dari sini!”
Tiga orang muda itu menoleh dan memandang. Benar saja, di sebelah selatan tampak sebuah pulau. Bentuknyą memanjang seperti seekor naga. Ciang Lan dan Song Bu memandang dan merasa terharu, apalagi Song Bu yang tinggal di pulau itu dari kecil sampai dewasa. Melihat pulau itu, bermacam kenangan muncul dalam ingatan kedua orang muda itu.“Nah, di balik sana itu, yang kecil panjang, adalah Pulau Ular,” kata Siauw Ming.
“Sin Cu dan Song Bu, setelah urusan kalian di Pulau Naga selesai, aku akan mengantar kalian ke Pulau Ular untuk melihat kuburan orang tua kalian.”
Perahu itu meluncur kencang menuju ke Pulau Naga dan setelah dekat, Song Bu memberi petunjuk kepada Siauw Ming di bagian mana harus mendarat. Dia sudah hafal benar akan keadaan pulau ini dan hanya ada satu tepi tempat pendaratan yang aman dari batu-batu karang dan ikan-ikan hiu. Pantai tempat pendaratan itu landai dan berpasir.
Ketika mereka sudah mendarat dan Siauw Ming mengikatkan tali perahu kepada sebuah batu karang besar, terdengar suara gemuruh dan sekitar lima puluh orang laki-laki yang bersenjata golok dan pedang datang berlarian ke pantai itu.
Song Bu dan Ciang Lan melompat ke depan, berdiri tegak menghadapi mereka dengan sikap garang. Mereka tertegun karena mereka masih mengenal Song Bu dan juga mengenal Ouw Yang Lan yang pernah datang berkunjung ke Pulau Naga kurang lebih setahun yang lalu.
“Kalian tidak mengenal aku? Paman Thio Sam, mau apa kalian?” tegur Ouw Yang Lan.
“Nona Ouw Yang Lan” terdengar Thio Sam dan beberapa orang lain berseru.
“Dan apakah kalian juga tidak mengenal aku?” tanya pula Song Bu.
“Ouw Yang Kongcu (Tuan muda Ouw Yang)!” seru mereka. Mereka menganggap pemuda itu sebagai putera Ouw Yang Lee seperti sudah diumumkan oleh majikan mereka itu.
Pada saat itu, datang pula belasan orang, dipimpin oleh dua orang Kakek berusia hampir enam puluh tahun. Yang seorang bertubuh tinggi besar berkumis panjang dan yang seorang lagi bertubuh juga tinggi besar dengan muka hitam seperti arang. Belasan orang yang berdiri di belakang mereka rata-rata berwajah bengis dan mereka semua memegang sebatang golok.
“Mereka berdua itulah Hai-Coa-Ong!” kata Siauw Ming.
Mendengar ini, Song Bu melompat dan telah berhadapan dengan dua orang kepala bajak itu. Mereka dan anak buah mereka berada di Pulau Naga atas undangan Ouw Yang Lee yang minta bantuan mereka untuk memperkuat kedudukan di Pulau Naga kalau-kalau ada orang dari kota raja yang mengejarnya. Dengan muka merah dan mata mencorong Song Bu menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka dua orang itu. “Kalian yang berjuluk Toa Ong dan Siauw Ong?”
Siauw Ong yang bermuka hitam menyeringai. “Engkau sudah mengenal kami. Siapakah engkau?”
“Delapan belas tahun yang lalu kalian di Pulau Ular membunuh dua pasang suami isteri yang tidak berdosa! Aku anak sepasang dari mereka. Bersiaplah kalian untuk menghadap arwah Ayah Ibuku dan minta ampun kepada mereka!”
Toa Ong dan Siauw Ong saling pandang, kemudian Toa Ong yang berkumis panjang tertawa. “Ha-ha-ha, kalau begitu mari kuantar engkau menyusul orang tuamu!” Golok besar di tangan dua orang kepala bajak itu sudah menyambar dengan ganas ke arah leher dan pinggang Song Bu.
Akan tetapi tingkat kepandaian dua orang kepala bajak itu masih jauh di bawah tingkat kepandaian Song Bu. Pemuda ini menyambut serangan yang baginya lambat dan lemah itu dengan gerakan kedua kakinya. Kedua kaki itu mencuat dengan cepat dan kuatnya, dengan tepat menendang ke arah tangan dua orang yang menyerang dengan golok.
Dua orang itu berteriak kaget, golok mereka terlepas dari tangan dan sebelum mereka menyadari apa yang terjadi dua tangan Song Bu sudah mencengkeram punggung baju mereka. Tubuh mereka terangkat dan sekali pemuda itu mengerahkan tenaga, kepala dua orang itu telah diadukan dengan amat kerasnya.
“Prakk!” Dua tubuh itu terkulai dan Song Bu mendorongnya ke kanan kiri. Dua orang itu roboh dan tewas seketika. Belasan orang anak buah bajak menjadi marah dan menyerbu maju hendak mengeroyok Song Bu.
Akan tetapi Ouw Yang Lan dan Sin Cu sudah menerjang ke depan dan membuat mereka kocar kacir dan jatuh bangun dengan tamparan dan tendangan. Belasan orang itu maklum bahwa mereka menghadapi bahaya. Kedua orang pimpinan mereka telah tewas dan agaknya puluhan orang anak buah Pulau Naga tidak mau membantu mereka.
Maka mereka lalu melarikan diri ke perahu-perahu mereka dan meninggalkan Pulau Naga, membawa teman-teman yang terluka. Ouw Yang Lan menoleh kepada dua orang pemuda yang berdiri mendekati dua mayat kepala bajak itu dan memandang dengan muka tunduk.
“Aku merasa girang telah dapat membalaskan kematian orang tua kita, Sin Cu,” kata Song Bu lirih.
Sin Cu menghela napas panjang. “Yah, agaknya dosa mereka ini sudah melewati ukuran sehingga hari ini mereka harus mati seperti ini di tanganmu, Song Bu.”
Ouw Yang Lan kini menghampiri Thio Sam yang masih berdiri dengan sikap menanti. Juga puluhan orang anak buah Pulau Naga yang tadi menonton perkelahian itu tidak ada yang berani bergerak. Sebagian besar dari mereka itu memang merasa takut dan tidak setuju dengan sikap dan tindakan Ouw Yang Lee yang bersikap kejam terhadap anak isteri sendiri, kemudian merendahkan diri mengabdi kepada Thaikam Liu Cin yang terkenal jahat.
Maka, biarpun mereka diperintahkan menjaga keamanan dan menghalau setiap orang musuh yang datang mengacau Pulau Naga, mereka tidak mau bergerak ketika mengenal Song Bu dan Ouw Yang Lan.
“Paman Thio Sam, apakah To-Cu (Majikan Pulau) sudah pulang?” tanyanya.
Tanpa menyebut namanyapun semua orang sudah tahu bahwa majikan Pulau Naga adalah Ouw Yang Lee. “Sudah, nona.”
“Dan apakah nona Ouw Yang Hui juga datang bersamanya?”
“Benar, nona.”
“Apakah yang dia perintahkan kepada kalian?”
“To-Cu menyuruh kami semua melakukan penjagaan di pantai dan agar kami menghalangi kalau ada musuh menyerbu pulau. Akan tetapi ternyata yang muncul adalah Nona Ouw Yang Lan dan Tuan muda Ouw Yang Song Bu.”
“Dan kenapa kalian tidak menurut perintahnya dan tidak menyerang kami?”
“Mana kami berani, nona! Andaikata To-Cu memerintahkan juga, tetap saja kami tidak akan berani.”
Ouw Yang Lan maklum bahwa dalam hati pembantu lama ini sudah mulai tidak suka kepada Ouw Yang Lee setelah Ayahnya itu bersikap kejam terhadap dua orang isterinya dan anak-anaknya. “Di mana sekarang dia?”
“Tadi berada di dalam rumah induk, nona.”
“Mari kita ke sana!” kata gadis itu kepada Sin Cu, Song Bu dan Siauw Ming.
Mereka lalu berlari menuju ke tengah pulau di mana terdapat perkampungan para penghuni Pulau Naga. Perkampungan itu sunyi. Agaknya para keluarga anak buah Pulau Naga sudah tahu bahwa pulau itu mungkin kedatangan musuh, maka para wanita dan kanak-kanak sudah bersembunyi di dalam rumah masing-masing sehingga perkampungan itu tampak sepi.
Rumah induk yang besar itupun kelihatan sunyi tidak ada penjaganya karena semua anak buah dikerahkan ke pantai. Song Bu dan Ouw Yang Lan menjadi penunjuk jalan ketika memasuki rumah induk berupa gedung yang cukup megah dan mewah itu. Gedung itu besar dan kokoh. Sin Cu dan Siauw Ming mengikuti dari belakang.
Ketika mereka tiba di ruangan tengah yang luas, ternyata ruangan itupun kosong dan di tengah-tengah ruangan yang luas itu duduk seorang laki-laki tinggi besar dan berwajah gagah perkasa, mukanya kemerahan dan jenggotnya panjang. Laki-laki itu mirip tokoh Kwan Kong dalam cerita dongeng Sam Kok. Dia bukan lain adalah Ouw Yang Lee yang berjuluk Tung-Hai-Tok (Racun Laut Timur), majikan Pulau Naga! Dia duduk di atas sebuah kursi berukir seperti seorang Raja!
Dia memandang dengan mata terbelalak tajam penuh wibawa kepada tiga orang muda yang memasuki ruangan itu. Siauw Ming yang tidak ikut masuk karena Ouw Yang Lan memberi isarat kepadanya agar tinggal di luar pintu ruangan, Setelah tiba di depan Ouw Yang lee dalam jarak dua tombak, Ouw Yang Lan berhenti melangkah, Song Bu dan Sin Cu ikut pula berhenti. Mereka bertiga beradu pandang mata dengan Ouw Yang Lee.
Setelah beradu pandang sesaat lamanya dan menjadikan suasana tanpa suara itu terasa amat menegangkan, Ouw Yang lee tiba-tiba membuka mulutnya dan tertawa bergelak, suara tawanya menggetarkan ruangan itu. “Ha-ha-ha-ha! Kalian datang untuk membunuh aku?” Matanya berapi-api penuh kemarahan, namun dalam suaranya itu terkandung kepahitan.
Ouw Yang Lan yang masih terkesan oleh teguran dan nasihat Sin Cu yang mengingatkan ia akan kasih sayang yang pernah diterimanya dari Ayah kandungnya ketika ia masih kecil, kini memandang laki-laki itu dan timbul rasa iba dalam hatinya.
“Tidak Ayah. Aku datang untuk mengingatkan Ayah akan kesalahan-kesalahan yang telah Ayah lakukan. Aku minta Ayah membebaskan Hui-moi dan selanjutnya mengubah jalan hidup yang selama ini Ayah tempuh. Pergunakanlah kepandaian Ayah untuk menolong orang dan menentang kejahatan.”
“Teecu (murid) juga mengharapkan begitu, Suhu. Sadarlah akan semua kekeliruan yang selama ini Suhu lakukan.” Kata Song Bu, suaranya tegas namun sikapnya menghormat.
Alis yang tebal itu berkerut dan Ouw Yang Lee kini memandang kepada Sin Cu. “Orang muda, mau apa engkau datang ke sini?”
Sin Cu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat. Bagaimanapun juga, orang ini adalah Ayah kandung Ouw Yang Hui, berarti dia adalah calon Ayah mertuanya! “Lo-Cianpwe, saya adalah tunangan dan calon suami adik Ouw Yang Hui. Karena itu saya datang untuk mohon kepada Lo-Cianpwe untuk membebaskan adik Ouw Yang Hui.”
“Ha-ha-ha-ha!” kembali Ouw Yang Lee tertawa bergelak dan pada saat itu Ouw Yang Hui memasuki ruangan dari pintu sebelah dalam dan berhenti di ambang pintu.
“Kalian bertiga berani menasihati aku Ha-ha-ha! Aku akan pertimbangkan nasihat kalian kalau kalian masing-masing mampu menyambut satu kali seranganku!” Kakek itu lalu turun dari atas kursinya.
“Ayah, jangan serang mereka!” tiba-tiba Ouw Yang Hui berseru. “Kalau Ayah hendak melampiaskan kemarahan dan kebencian Ayah, lakukanlah kepadaku. Bunuhlah aku lebih dulu, Ayah!”
“Hui-moi.” Tiga suara itu terdengar hampir berbareng, keluar dari mulut Sin Cu, Song Bu, dan Ouw Yang Lan.
Akan tetapi Ouw Yang Lee tidak perduli. Dia melangkah maju menghampiri Ouw Yang Lan. Mereka berhadapan dalam jarak tiga meter. “Bagaimana, beranikah engkau menyambut pukulanku?”
Ouw Yang Lan mengerutkan alisnya. Hatinya kecewa melihat kekerasan hati orang tua itu yang agaknya tidak mau mendengarkan ucapan mereka. “Silakan!” Katanya tegas.
Ouw Yang Lee menggerak-gerakkan kedua tangannya dan perlahan-lahan kedua telapak tangannya berubah menjadi merah, semerah darah. Kemudian dia menekuk kedua lututnya dan berseru nyaring, “Sambutlah...!” Kedua tangan merah itu didorongkan ke depan, ke arah dada Ouw Yang Lan. Itulah pukulan Ang-Tok-Ciang (Tangan Racun Merah) yang amat ampuh.
Ouw Yang Lan sudah siap siaga. la tahu bahwa Ayahnya itu menyerangnya dengan ilmu pukulan andalan Ayahnya dan iapun tahu betapa bahayanya pukulan itu. Maka iapun cepat mengerahkan tenaga sinkang dan mengeluarkan ilmu pukulan andalan dari Ayah tirinya, yaitu Pek-In-Ciang (Tangan Awan Putih). la mendorongkan kedua telapak tangan ke depan untuk menyambut pukulan jarak jauh Ayahnya. Ada uap putih keluar dari kedua telapak tangannya.
“Wuuuttt... Desssss...!” Dua tenaga sakti bertemu di udara dan akibatnya Ouw Yang Lee melangkah mundur tiga kali, akan tetapi Ouw Yang Lan juga mundur tiga langkah. Mereka merasa tergetar akan tetapi tidak terluka dan mereka maklum bahwa tenaga sakti mereka berimbang.
Ouw Yang Lee mengangguk-angguk. kini dia menghampiri Song Bu, berdiri dalam jarak tiga meter. “Engkau murid murtad, beranikah engkau menerima pukulanku?”
Song Bu juga menjawab dengan tegas. “Silakan...”
Seperti tadi Ouw Yang Lee mengumpulkan tenaganya dan menyerang dengan pukulan Ang-Tok-Ciang. Tentu saja Song Bu mengenal baik pukulan ini, bahkan diapun sudah menguasainya, bahkan sudah menggabungkannya dengan pukulan yang dia pelajari dari Hek Moko dan Pek Moko yaitu Hek-Tok-Ciang dan Pek-Tok-Ciang.
“Haaiiiittt...!” Ouw Yang Lee memukul dengan dorongan dua telapak tangannya yang berwarna merah darah. Song Bu menyambut dengan tangan kiri yang kini berwarna hitam dan telapak tangan kanan yang berwarna putih.
“Wuuuttt... desss...!”
Hebat sekali pertemuan kedua pukulan yang mengandung hawa sakti amat kuat itu. Akibatnya, Ouw Yang Lee mundur lima langkah dan Song Bu mundur tiga langkah. Keduanya tergetar hebat akan tetapi sekali ini Ouw Yang Lee merasa agak nyeri di dalam dadanya, membuktikan bahwa dia kalah kuat dan menderita luka dalam karena tenaganya yang membalik. Kini Ouw Yang Lee menghampiri Sin Cu.
Pemuda itu melihat betapa langkah kaki Kakek itu sudah tidak tetap, agak goyah dan wajahnya agak pucat, napasnya agak terengah. “Lo-Cianpwe menderita luka, harap mengaso dan menghentikan semua pertentangan ini,” kata Sin Cu.
“Ayah, jangan pukul dia, Ayah. Pukullah aku saja...!” terdengar Ouw Yang Hui berkata.
Akan tetapi Ouw Yang Lee tidak memperdulikan semua suara itu. Dia bertanya dengan suara parau, “Orang muda, beranikah engkau menerima pukulanku?”
“Lo-Cianpwe sudah terluka, saya harap...” Baru sampai di situ Sin Cu berkata, Kakek itu sudah menyerangnya dengan pukulan Ang-Tok-Ciang, mengerahkan seluruh sisa tenaganya.
“Hyaaaaattt...!” Dahsyat sekali pukulan ini karena Ouw Yang Lee mengerahkan semua tenaga yang ada. Dia mengerti bahwa pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang paling tinggi, maka diapun mengerahkan seluruh tenaganya.
Sin Cu tidak tega untuk melukai calon mertuanya itu. Dia mengerahkan tenaga Thai-Yang Sinkang (Tenaga Inti Matahari) menjadi tenaga lunak, menyambut kedua telapak tangan merah itu dengan kedua telapak tangannya.
“Wuuutt... plakk!”
Dua pasang telapak tangan itu bertemu dan melekat! Ouw Yang Lee merasa terkejut sekali ketika kedua telapak tangannya bertemu dengan tangan yang lunak dan hangat lalu melekat. Dia mengerahkan tenaga agar hawa beracun dari kedua tangannya menjalar dan menyerang lawan, akan tetapi dia merasakan tenaganya tenggelam.
“Lo-Cianpwe, silakan duduk mengaso!” kata Sin Cu dan sekali dia menggunakan tenaga mendorong, tubuh Kakek itu melayang dan tepat jatuh terduduk di atas kursinya yang tadi!
Dia terhenyak dan tertegun sejenak lalu menyadari bahwa tidak mungkin dia mengalahkan tiga orang muda itu. Tiba-tiba dia tertawa lagi. Tawanya memanjang terbahak, akan tetapi terdengar seperti setengah tangis.
“Ha-ha-ha-ha-ha... Dua orang isteri dirampas laki-laki lain, dua orang anak durhaka terhadap Ayah mereka, seorang murid murtad kepada Gurunya. Ditambah lagi semua cita-cita hancur lebur! Haii, Ouw Yang Lee, apa gunanya lagi engkau hidup di dunia ini?” Setelah berkata demikian, tangan kanan kanannya bergerak ke arah ubun-ubun kepala sendiri.
“Ayah...!” Ouw Yang Lan berseru.
“Suhu...!” Song Bu juga berteriak.
Sin Cu juga terkejut, Dia melompat namun terlambat. Tubuh Ouw Yang Lee sudah terkulai tak bernyawa. Pukulan Ang-Tok-Ciang yang dahsyat itu menghancurkan isi kepalanya!
“Ayahhhh...” Ouw Yang Hui menjerit dan ia lari menghampiri Ayahnya, berlutut dan menangis.
Ouw Yang Lan juga berlutut di dekat Ouw Yang Hui sambil menangis. Dua orang gadis Kakak beradik ini lalu saling rangkul dan bertangisan. Saat itu mereka berdua merasa betapa dulu Ayah mereka amat menyayang mereka dan betapa kebahagiaan Ayah ini hancur semenjak terjadi penyerbuan dan penculikan atas diri Ibu mereka.
Song Bu juga berlutut dan menundukkan muka dengan sedih. Dia merasa menyesal sekali mengapa dia sampai memusuhi Gurunya sendiri yang demikian baik kepadanya dan bahkan mengakuinya sebagai anak sendiri. Akan tetapi dia lebih menyesal mengapa Gurunya itu melakukan hal-hal yang buruk itu, sehingga terpaksa dia memusuhinya.
Sin Cu juga berlutut untuk menghormati jenazah laki-laki yang menjadi Ayah mertuanya. Agaknya mendengar keributan dan tangis kedua orang gadis di ruangan itu, bermunculanlah dua orang isteri Ouw Yang Lee dan beberapa orang pelayan keluarga itu.
Setelah menyadari bahwa Ouw Yang Lee yang tampak duduk terkulai di atas kursinya itu telah meninggal dunia, pecahlah tangis mereka sehingga ruangan itu menjadi riuh-rendah oleh tangis.
Siauw Ming memasuki ruangan itu dan dia berdiri termenung, berulang kali menggeleng kepalanya dan menarik napas panjang. Dia melihat betapa kesengsaraan melanda manusia yang sesungguhnya disebabkan oleh ulah dan tindakan mereka sendiri yang dikuasai nafsu-nafsu daya rendah pribadi. Seluruh anggauta Pulau Naga dan keluarga mereka berkabung. Upacara pemakaman dilakukan dengan sederhana namun penuh khidmat.
Setelah penguburan selesai, Sin Cu mendapat kesempatan untuk bicara berdua saja dengan Ouw Yang Hui di bagian belakang gedung milik keluarga Ouw Yang itu, di mana terdapat sebuah taman. Mereka duduk berdampingan di atas sebuah bangku batu panjang. “Hui-moi, sekarang semuanya telah selesai. Tidak ada lagi bahaya mengancam dirimu. Juga bahaya yang mengancam keselamatan Ibumu dan Paman Gan Hok San telah lenyap. Marilah kita kembali menjemput mereka di Siauw-Lim-Si, mengajak mereka kembali lagi ke dusun Sia-Bun di lereng Beng-San, dan kita merayakan pernikahan kita di sana.”
Ouw Yang Hui mengangkat muka, menatap wajah Sin Cu dan memandang dengan mata terbelalak. Matanya yang jeli dan indah seperti mata burung Hong itu sayu dan membayangkan kesedihan yang amat mendalam.
“Menikah...? tidak... tidak...! Cu-Ko, bukankah sudah kukatakan bahwa aku sama sekali tidak berharga lagi bagimu? aku telah ternoda dan...”
“Dan hamil, begitukah maksudmu? Aku tahu, Hui-moi, dan aku tahu pula dari Song Bu bahwa engkau tidak ternoda. Engkau mengorbankan dirimu, mengorbankan kehormatanmu dan mengorbankan kebahagiaan hidupmu untuk menyelamatkan aku! Aku tahu semua itu, Hui-moi. Aku telah berhutang nyawa kepadamu dan aku mau bertanggung jawab untuk semua itu. Aku tetap ingin mengawinimu!”
Kepala itu menunduk dan bibir itu digigit menahan isak, akan tetapi air matanya tetap jatuh bertitik. la menggeleng kepalanya kuat-kuat dan memaksa diri untuk bicara. “Cu-Ko, jangan memaksa diri karena engkau kasihan kepadaku. Aku tidak mau dinikahi hanya karena iba...!”
“Tidak, Hui-moi. Aku bukan hanya kasihan kepadamu. Aku tetap mencintamu, Hui-moi. Tetap mencintamu seperti dulu!” Kata Sin Cu dengan sungguh-sungguh.
“Pengakuanmu ini hanya terdorong perasaan ibamu saja, Cu-Ko. Aku bukan lagi gadis Ouw Yang Hui yang kau cinta dulu. Aku bukan gadis lagi, Cu-Ko. Aku seorang janda! Kau dengar? Aku seorang janda yang ditingal mati suamiku yang meninggalkan seorang anak dalam kandunganku! Tidak, aku tidak berharga lagi untuk kau cinta... aku.... aku... telah kotor ternoda!”
“Tidak, Hui-moi! Bagiku engkau tetap bersih dan murni. Aku tetap cinta padamu. Aku ingin membahagiakanmu, membahagiakan anak dalam kandunganmu, aku ingin membela dan melindungi kalian, seumur hidupku...”
Air mata semakin deras bercucuran dari kedua mata Ouw Yang Hui. la menggeleng kepala keras-keras seperti hendak membantah suara hati sendiri. “Tidak! Semua ucapanmu itu terdorong oleh kebaikan hatimu, Cu-Ko. Aku tahu engkau seorang yang berhati mulia. Akan tetapi aku tidak ingin melihat kelak engkau akan kecewa dan menyesal, bahkan bukan mustahil kelak engkau akan membenci aku dan anak dalam kandunganku ini. Tidak, Cu-Ko, lebih baik aku mati... ah, lebih baik aku mati daripada menjadi isterimu setelah aku begini...!”
Ouw Yang Hui menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menahan tangisnya agar tidak bersuara. Hanya pundaknya yang bergoyang-goyang dan dari celah-celah jari tangannya mengalir air mata.
Sin Cu memandang dengan wajah pucat. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri, bertindak beberapa langkah menjauhi Ouw Yang Hui dan berdiri diam seperti telah berubah menjadi arca. Pandang matanya kosong.
Ouw Yang Hui menurunkan kedua tangannya ketika merasa bahwa ia ditinggal seorang diri. la mengusap air matanya sehingga pandangannya tidak kabur dan ketika mengangkat muka, ia melihat Sin Cu berdiri sekitar lima meter dari situ, membelakanginya. Pemuda itu berdiri diam, sama sekali tidak bergerak seperti sebuah arca. Ada perasaan aneh, khawatir dan ngeri, menyelinap di hati gadis itu.
“Cu-Ko...” ia memanggil lirih, biarpun lirih, jarak itu tidak jauh dan pasti terdengar oleh yang dipanggilnya. Akan tetapi pemuda itu tidak bergerak sama sekali. Ouw Yang Hui bangkit perlahan. la merasa kedua kakinya gemetar dan jantungnya berdebar ketika melangkah menghampiri pemuda itu.
“Cu-Ko...” ia memanggil lagi setelah berada dekat di belakang pemuda itu. Sin Cu tetap diam saja, sama sekali tidak bergerak untuk menengok dan tidak pula menjawab.
Ouw Yang Hui sudah berhenti menangis sama sekali. Hilang sudah semua kesedihan karena pada saat itu ingatan dan pikirannya sama sekali tidak ingat akan keadaan dirinya, melainkan dipenuhi kekhawatiran tentang keadaan Sin Cu yang diam seperti arca dan tidak menjawab setelah dipanggil dua kali. Ouw Yang Hui melangkah ke depan pemuda itu dan memutar tubuhnya, kini berhadapan dengan Sin Cu, berhadapan dekat sekali.
la terbelalak melihat pemuda itu benar-benar seperti telah berubah menjadi arca. Mata itu terbuka akan tetapi tidak ada sinarnya, seperti mata yang dilihat pada mayat Ayahnya kemarin. Mulut itu setengah terbuka seperti orang hendak bicara akan tetapi tiada suara. Wajah itu pucat dan garis-garisnya menunjukkan seperti orang yang sedang menderita kesakitan hebat. Ouw Yang Hui menatap wajah itu, matanya terbelalak, dan sekali lagi ia memanggil, kini agak kuat.
“Kak Sin Cu...!” Namun yang dipanggil tidak menjawab, tidak bergerak, bahkan mata yang kosong menerawang itu sama sekali tidak melirik ke arahnya. Ouw Yang Hui merasa seperti jantungnya ditusuk pedang. Perih dan nyeri sekali, merasa bahwa ialah yang membuat Sin Cu seperti itu. Kedua kakinya menggigil dan ia tidak mampu bertahan untuk berdiri lagi. la menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sin Cu, merangkul kedua kaki itu dan menangis tersedu-sedu.
“Cu-Ko... maafkanlah aku...! Akulah yang membuat engkau begini... aku berdosa besar... aku telah merusak kebahagiaan hidupmu... menghancurkan hidupmu... uu... hu... huu... Cu Ko, bunuh saja aku...!!”
Tangisnya mengguguk membuat ia megap-megap, terengah-engah seolah kerongkongannya tersumbat. Air matanya bercucuran seperti mencuci kaki Sin Cu.
Tiba-tiba tubuh Sin Cu bergerak. Dia seperti tersentak kaget, seperti baru terbangun dari tidur. Kesadarannya kembali. Tadi, kekecewaan dan penyesalan mendatangkan kedukaan hebat yang menghimpit batinnya, membuat dia seperti ditinggalkan sukmanya. Dia menunduk dan melihat Ouw Yang Hui menangis sambil merangkul kedua kakinya, mendengar gadis itu berulang kali mengeluarkan ucapan permintaan maaf dan pengakuan dosa, hatinya menjadi terharu sekali.
Dia cepat membungkuk, memegang kedua pundak gadis itu dan mengangkatnya untuk berdiri. “Hui-moi... tidak, Hui-moi. Bukan engkau yang harus minta maaf, melainkan akulah yang minta maaf padamu. Akulah yang menyebabkan semua ini, aku yang menghancurkan kebahagiaanmu. Aku tahu bahwa keadaanmu ini adalah karena engkau berkorban untuk menyelamatkan aku. Aih, Hui-moi, aku ingin menebus dosaku itu, aku ingin membahagiakanmu, aku ingin bertanggung jawab, aku ingin tetap memperisterimu, ingin membela dan melindungimu selama hidupku, kenapa engkau menolak? Berikanlah kesempatan kepadaku yang telah menjadi penyebab kesengsaraanmu untuk menebus semua itu dan membahagiakanmu, Hui-moi.”
Ouw Yang Hui menggeleng kepala dan memandang wajah pemuda itu melalui genangan air matanya. “Maafkan aku, Cu-Ko. Akan tetapi aku tidak mungkin dapat menjadi isterimu. Aku akan lebih tersiksa lagi, aku akan selalu merasa kotor, merasa rendah, merasa mencemarimu dengan noda. Tidak, tidak! Biarlah aku saja yang menderita, aku tidak ingin menyeretmu ke dalam kehinaan ini...”
“Hui-moi, kalau begitu kehendakmu, aku hanya dapat menghormati pendirianmu. itu. Akan tetapi setidaknya, berilah kesempatan padaku untuk melindungi engkau dan... Anak dalam kandunganmu itu. Kalau engkau tidak suka menjadi isteriku, apakah engkau juga menolak untuk menjadi adik angkatku? Aku ingin melindungimu, akan tetapi tanpa ada hubungan antara kita, bagaimana mungkin hal itu kulakukan? Akan tetapi kalau engkau menjadi adikku, dan anakmu menjadi keponakanku, tak seorangpun akan mencelamu, karena sebagai Kakakmu aku berhak dan berkewajiban untuk melindungimu. Bagaimana, Hui-moi, maukah engkau menjadi adikku? Adikku tersayang?”
Hati Ouw Yang Hui merasa amat terharu. Rasa haru, sedih, juga bahagia bercampur menjadi satu. la menengadah, menatap wajah pemuda itu dan melihat sinar mata penuh kasih dan kejujuran. la mengangguk sambil menangis. “Terima kasih, Cu-Ko... engkau... engkau Kakakku...!”
“Adikku Hui-moi...!” Ouw Yang Hui tenggelam ke dalam pelukan Sin Cu. Sin Cu merangkul, mendekap kepala itu seperti hendak memasukkannya ke dalam dadanya, menyimpannya di dalam agar tidak hilang lagi.
Dia mengusap rambut kepala wanita itu dengan jari-jari tangannya yang mengandung getaran Kasih sayang. Akan tetapi anggapan bahwa gadis itu adiknya, anggapan yang langsung keluar dari hati sanubarinya, seketika telah mengubah sifat kasih sayangnya. Sekali ini getaran itu bersih dari getaran cinta berahi, menjadi kasih sayang seorang Kakak kepada adiknya.
Cinta merupakan Sesuatu yang amat suci. Hidup tanpa cinta seperti tanah gersang, tidak menumbuhkan apapun. Seperti pohon yang layu, tidak membuahkan apapun. Cinta kasih memperkuat gairah hidup, memberi isi pada kehidupan. Tanpa cinta, kehidupan tidak ada lagi artinya, kosong dan tidak ada gunanya. Kalau ada Cinta-Kasih dalam hati, maka apapun yang kita lakukan pasti baik, pasti benar. Cinta kasih mengalahkan segala macam nafsu godaan setan, menghilangkan kebencian, dengki, iri hati, kemarahan dan dendam.
Kalau pohon Cinta-kasih tumbuh dengan suburnya dalam hati sanubari kita, maka buahnya adalah segala kebaikan. Cinta kasih menumbuhkan perasaan iba terhadap sesama manusia, bahkan sesama hidup, menumbuhkan simpati, mendorong keinginan hati untuk menolong, membangun, memperbaiki. Menimbulkan keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain, siapapun adanya dia.
Cinta kasih memperkuat hati untuk memaafkan, kesalahan orang lain kepada kita, karena itu cinta kasih menumbuhkan kesabaran, keikhlasan untuk berkorban. Cinta kasih memperkecil, bahkan akhirnya meniadakan si-aku, tidak mementingkan diri sendiri. Cinta kasih mengusir pengaruh iblis karena Kekuasaan Tuhan akan bekerja dalam diri dan sinarNya adalah Cinta kasih itu sendiri.
Sesuai dengan hukum kemanusiaan, cinta kasih memang bermacam-macam, cinta kasih memang berbeda-beda sifat pelaksanaannya. Cinta kasih antara suami isteri mengandung berahi. Cinta kasih orang tua kepada anak mengandung bimbingan dan perlindungan. Cinta kasih anak terhadap orang tuanya mengandung kebaktian dan ketaatan. Namun pada dasarnya Cinta kasih itu selalu didasari perasaan iba dan ingin menolong, ingin menyenangkan.
Sin Cu adalah seorang pemuda yang sejak kecil bukan saja digembleng norma-norma kesusilaan dan budi pekerti yang luhur oleh Bu Beng Siauwjin. Dia juga manusia lemah yang mudah diperhamba oleh nalsu-nafsunya sendiri. Cinta kasihnya terhadap Ouw Yang Hui murni.
Cinta berahi hanya menjadi bagian saja dari cinta kasihnya, bukan menjadi majikan yang mengendalikan. Karena itu, tidak sukar baginya mengubah sifat cinta kasihnya itu dari cinta seorang kekasih dan calon suami kepada calon isterinya, menjadi cinta seorang Kakak terhadap adiknya yang bersih dari berahi.
Ouw Yang Hui merasa terharu sekali. Terharu dan bahagia. la amat mencinta Sin Cu, ia siap berkorban diri, bahkan berkorban nyawa untuk Sin Cu. Tadinya ia berduka karena keadaan dirinya mengancam ia harus berpisah dari Sin Cu. Akan tetapi kini pemuda itu memberi jalan keluar, mendatangkan harapan baru, memberi kesempatan kepadanya untuk dapat terus berdekatan dengan Sin Cu.
Memungkinkan ia untuk terus mencinta dan menyatakan cintanya terhadap pemuda itu. Sebagai adiknya! Sebagai seorang adikpun ia mendapat kesempatan dengan sikap dan perbuatan untuk membahagiakan hati Sin Cu. Ia mencurahkan seluruh perasaannya dan menyalurkannya, melampiaskannya melalu air matanya yang membasahi baju dan dada Sin Cu.
Pemuda itu merasakan betapa air mata gadis itu membasahi dadanya, seperti embun yang dingin sejuk menyusup ke dalam dadanya dan mendatangkan kesegaran, membangun semangatnya. Ada rasa bahagia yang sukar dilukiskan berkembang dalam hatinya. Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti itu, Sin Cu merasa berbahagia, kuat dan bangga mendekap adik yang dikasihinya dan harus dilindunginya.
Sebaliknya, Ouw Yang Hui merasa begitu aman sentausa berada dalam pelukan Sin Cu yang menjadi Kakaknya. Hatinya menjadi tenteram dan rasa bahagia mulai berkembang dalam hatinya yang tadinya hampir layu oleh duka. Akhirnya ia merenggangkan mukanya dan berdiri berhadapan dengan Sin Cu.
Mereka saling pandang dan Sin Cu merasa betapa hatinya mekar dalam kebahagiaan ketika dia melihat wajah yang jelita itu kini walaupun masih pucat tampak berseri, matanya bersinar-sinar dan terutama sepasang bibir itu mengembangkan senyum manis. Sepasang mata yang masıh basah itu memandang kepadanya bagaikan mata anak kelinci yang tadinya ketakutan kini bertemu induknya.
Ouw Yang Hui menjulurkan kedua tangannya dan memegang kedua tangan Sin Cu. “Cu-Ko, terima kasih!”
Sin Cu menggenggam sepasang tangan yang kecil mungil, halus dan lembut itu dan berkata dengan suara menggetar terharu namun mengandung kebahagiaan. “Aku berterima kasih karena engkau suka menjadi adikku, Hui-moi!”
“Anak dalam kandunganku inipun bernasib baik sekali, Cu-Ko, menemukan seorang Paman yang bijaksana dan berbudi luhur seperti engkau.”
“Ah, sudahlah, Hui-moi. Jangan banyak memujiku. Lebih baik sekarang kita masuk ke rumah. Angin di sini agak besar, aku khawatir engkau akan masuk angin. Mulai saat ini engkau harus menaati kata-kataku, engkau harus menjaga kesehatanmu baik-baik,” Sin Cu menggandeng tangan Ouw Yang Hui dan mengajaknya meninggalkan taman itu.
Pada saat itu, dari rumah itu muncul dua orang yang bukan lain adalah Song Bu dan Ouw Yang Lan. Mereka berdua melihat betapa Sin Cu dan Ouw Yang Hui bergandeng tangan dan sama sekali tidak rikuh bertemu mereka, gandengan tangan itu tidak dilepaskan. Muka Ouw Yang Lan menjadi agak merah dan ia merasa hatinya tertusuk cemburu.
Akan tetapi segera di tekannya dengan kesadaran bahwa adiknya itu telah bertunangan dengan Sin Cu dan ia sama sekali tidak boleh mengganggu hubungan antara mereka. la harus mengalah. Cintanya jatuh kepada pria yang salah. Sin Cu amat mencinta Ouw Yang Hui dan ia tahu akan hal itu.
Juga Song Bu merasa tak nyaman hatinya. la jatuh cinta kepada Ouw Yang Hui akan tetapi kenyataannya, Ouw Yang Hui sudah bertunangan dengan Sin Cu bahkan gadis itu amat mencinta Sin Cu sehingga rela mengorbankan dirinya demi keselamatan Sin Cu. Dia sudah merasa lega dan bersukur kalau Sin Cu mau mengawini gadis itu sehingga Ouw Yang Hui akan terbebas dari aib dan dapat hidup berbahagia di samping pria yang dicintanya.
Kini melihat mereka bergandeng tangan, dia ikut merasa gembira. Ouw Yang Hui melepaskan tangan Sin Cu dan menyambut encinya. Mereka saling berangkulan dan Ouw Yang Lan merasa heran akan tetapi senang melihat betapa wajah Ouw Yang Hui tidak tampak sedih lagi, bahkan walaupun masih pucat dan bekas tangis mernbuat sepasang mata itu kemerahan, namun wajah itu berseri dan sepasang mata itu bersinar-sinar, bibir itu penuh senyum.
“Enci Lan.!” Ouw Yang Hui menegur.
“Adik Hui, ketahuilah bahwa semua anak buah Pulau Naga mendesak dan memohon kepada aku, dan Bu-Ko untuk menggantikan Ayah memimpin mereka membangun Pulau Naga.”
“Itu bagus sekali, enci Lan!”
“Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan pimpinan itu kepada Kakak Tan Song Bu. Biarlah dia yang menggantikan Ayah memimpin mereka dan mengangkat serta memperbaiki nama Pulau Naga sebagai tempat tinggal orang-orang gagah. Aku sendiri akan pulang kepada Ibuku dan Ayah tiriku.”
“Sin Cu, Paman Siauw Ming mengajak kita untuk pergi ke Pulau Ular, mengunjungi kuburan orang tua kita.”
“Wah, itu bagus sekali, Song Bu. Aku memang sudah ingin sekali pergi ke sana. Kapan kita berangkat?” kata Sin Cu. Pemuda itu kini juga bersikap riang karena tidak ada lagi sesuatu yang mengganjal hatinya.
Ouw Yang Hui sudah mau menjadi adiknya. Hal ini berarti bahwa dia akan selalu berdekatan dan dapat melindungi gadis itu. “Aku ikut, Cu-Ko.” Kata Ouw Yang Hui.
“Tentu saja, aku juga ikut.” Kata Ouw Yang Lan.
“Mari kita pergi berempat, maksudku, berlima dengan Paman Siauw Ming. Perahu dan bekal sudah dipersiapkan dan Paman Siauw Ming sudah menunggu di pantai.”
Mereka lalu pergi ke pantai dan tak lama kemudian mereka sudah berlayar mempergunakan dua buah perahu, yaitu bersama Siauw Ming berkunjung ke Pulau Naga, dan sebuah perahu lebih kecil milik Pulau Naga. Perahu besar itu nanti setelah mereka mengunjungi Pulau Ular, akan dipergunakan oleh Siauw Ming untuk kembali ke daratan bersama Sin Cu, Ouw Yang Hui dan Ouw Yang Lan.
Sedangkan perahu kecil akan dibawa Song Bu kembali ke Pulau Naga karena dia sudah ditunjuk oleh Ouw Yang Lan dan para anggauta Pulau Naga untuk menggantikan Ouw Yang Lee memimpin Pulau Naga. Dua perahu itu beriringan menuju ke Pulau Ular yang tidak begitu jauh letaknya dari Pulau Naga.
Dengan hati yang amat terharu, Sin Cu berlutut di depan gundukan tanah di mana ada batu nisannya yang terukir kata-kata “Makam Wong Cin dan isteri”. Song Bu juga berlutut di depan gundukan tanah yang batu nisannya tertulis “Makam Tan Hok dan isteri”. Keduanya bersembahyang dan mencoba untuk membayangkan wajah Ayah Ibu mereka. Namun mereka hanya dapat mengingat samar-samar saja.
Ouw Yang Hui dan Ouw Yang Lan juga ikut bersembahyang memberi hormat kepada makam dua pasang suami isteri itu. Mereka berempat, dibantu Siauw Ming, lalu membersihkan dua makam sederhana itu. Sampai beberapa lamanya mereka duduk tepekur di depan kedua makam itu. Matahari telah naik tinggi dan akhirnya Siauw Ming bangkit berdiri dan berkata kepada mereka,
“Kukira sudah tiba saatnya bagiku untuk kembali ke daratan. Mari, siapa yang jadi ikut bersamaku ke daratan besar?”
Sin Cu bangkit berdiri dan dia tersenyurm kepada Ouw Yang Hui. “Marilah Hui-moi, kita berangkat.”
Ouw Yang Hui juga bangkit dan ia menoleh kepada Ouw Yang Lan. “Mari enci Lan. Bukankah engkau juga hendak kembali kepada Ibu Kim dan Ayah tirimu di Pek-In-San?”
Ouw Yang Lan dan Song Bu juga bangkit berdiri Ouw Yang Lan menoleh dan memandang kepada Song Bu. “Bu-Ko, aku-pergi. Kuharap engkau akan dapat membimbing para anak buah dengan baik dan dapat membangun Pulau Naga sehingga nama Pulau Naga kita menjadi harum dan terpuji.”
“Akan tetapi, sesungguhnya aku amat membutuhkan bantuanmu, Lan-moi. Bantulah aku untuk mulai mempersiapkan bimbingan dan pembangunan itu. Kelak aku akan mengantar engkau ke Pek-In-San,” kata Song Bu dan dalam pandang mata dan suaranya terkandung permohonan dan harapan besar.
Ouw Yang Lan tampak meragu dan ia menoleh dan memandang kepada Ouw Yang Hui dan Sin Cu. “Akan tetapi aku... aku ingin hadir dan ikut dalam kesibukan persiapan pesta perayaan pernikahan adik Ouw Yang Hui dan Kakak Wong Sin Cu.”
“Ah, enci Lan. Aku dan Cu-Ko tidak akan menikah!” kata Ouw Yang Hui.
Ouw Yang Lan terkejut, demikian pula Song Bu, mendengar ucapan itu. Mereka memandang kepada Ouw Yang Hui dan Sin Cu dan sepasang orang muda itu sama sekali tidak tampak bersedih. Sebaliknya, mereka berdua tersenyum dan wajah mereka berseri. “Ehh? Adik Hui, bukankah kalian saling mencinta? Kalian tampak begitu mesra...”
“Tentu saja kami saling mencinta, enci Lan! Akan tetapi kami tidak akan menikah.”
“Sin Cu! Bagaimana ini? Apakah engkau hendak mengingkari janjimu?” Song Bu berkata dengan suara keras dan alisnya berkerut, matanya mencorong memandang kepada Sin Cu.
“Song Bu, tenanglah. Aku sama sekali tidak hendak mengingkarí janji. Aku tetap akan membela dan melindungi Hui-moi selama hidupku.” Kata Sin Cu sambil menggandeng tangan Ouw Yang Hui.
“Akan tetapi apa artinya ini? Kalian tidak akan menikah dan...”
“Maaf, Kak Song Bu. Urusanku dengan Cu-Ko adalah urusan kami berdua pribadi. Engkau sama sekali tidak berhak mencampuri. Marilah, enci Lan. Kita berangkat!” Ouw Yang Hui menarik tangan Sin Cu untuk menyusul Siauw Ming yang sudah masuk ke dalam perahunya.
Ouw Yang Lan menggeleng, kepala setelah ia termenung sebentar. “Tidak, Hui-moi. Pergilah engkau dulu bersama Cu-Ko. Aku akan tinggal di sini dulu membantu Bu-Ko membuat persiapan untuk mengatur Pulau Naga.”
“Kalau begitu, selamat tinggal dan sampai berjumpa kembali, Lan-Ci dan Bu-Ko” Kata Ouw Yang Hui dan bersama Sin Cu lalu memasuki perahu itu.
“Selamat jalan. Hui-moi dan Cu-Ko! Jagalah diri kalian baik-baik!” kata Ouw Yang Lan.
Perahu meluncur, layar dikembangkan dan perahu itu makin ke tengah. Sin Cu dan Ouw Yang Hui berdiri melambaikan tangan, dibalas oleh Ouw Yang Lan dan Song Bu yang berdiri memandang mereka sampai perahu itu tampak kecil dan orang-orang yang berada di perahu itu tidak tampak lagi. Mereka berdua masih berdiri memandang ke laut. Perahu yang membawa pergi Ouw Yang Hui dan Sin Cu itu sudah jauh sekali, hanya merupakan titik hitam.
Tak lama kemudian terdengar Song Bu berkata lirih, masih memandang ke laut dan tidak menengok kepada Ouw Yang Lan. “Lan-moi, engkau mencinta Sin Cu?”
Hening sejenak. Ouw Yang Lan tidak menjawab dan ketika Song Bu melirik kepadanya, pemuda itu hanya melihat gadis itu mengangguk perlahan. “Dan engkau tentu mencinta Hui-moi, bukan, Bu-Ko?” balas tanya gadis itu.
Juga Song Bu tidak menjawab, akan tetapi ketika Ouw Yang Lan mengerling kepadanya, gadis itu melihat dia mengangguk. “Akan tetapi mereka berdua saling mencinta, kita tidak dapat dan tidak boleh mengganggu mereka,”
“Lan-moi. Kini mereka sudah pergi dan yang tinggal di sini hanya kita berdua.”
Hening lagi sampai lama. “Ya, engkau benar. Mereka sudah pergi dan yang tinggal di sini hanya kita berdua.” Gadis itu mengulang lirih.
“Kalau begitu kita pulang, Lan-moi.”
“Pulang?” Ouw Yang Lan mengulang tertegun heran.
“Ya, pulang ke Pulau Naga. Bukankah Pulau Naga sekarang menjadi tinggal kita berdua, untuk sementara atau tempat... mungkin... mudah-mudahan, untuk selamanya?”
Sesaat kemudian Ouw Yang Lan menggangguk. “Ya, mudah-mudahan. Mari kita pulang, Bu-Ko.”
Keduanya lalu memasuki perahu kecil mereka dan tak lama kemudian mereka berdua mendayung perahu itu menuju ke Pulau Naga. Kegagalan cinta mereka bahkan membuat benih cinta kasih yang memang pernah membuat mereka saling tertarik pada pertemuan pertama, kini mungkin tumbuh subur.
Mereka saling merasa iba dan ingin saling menghibur dan saling membahagiakan. Sementara itu, menurut catatan dalam sejarah, Liu Cin yang jatuh dan ditangkap dalam tahun 1510 itu diadili dan dihukum mati dengan tuduhan mengkhianati dan memberontak terhadap Kerajaan. Harta bendanya disita dan setelah harta bendanya dihitung.
Kaisar sendiri sampai menggeleng-geleng kepala karena heran melihat betapa Thaikam Liu Cin telah berhasil mengumpulkan kekayaan yang luar biasa besar jumlahnya. Setelah dihitung, ditemukan harta benda Liu Cin sebagai berikut. Uang emas dan perak sebanyak dua ratus lima puluh satu juta tail lebih!
Dua belas kilogram batu-batu intan berlian, dua perangkat pakaian dari emas murni, lima ratus piring emas, tiga ribu cincin dan perhiasan emas, empat ribu enam puluh buah sabuk bertabur batu mulia. Istananya di Peking dikabarkan lebih mewah dari pada Istana Kaisar Ceng Tek sendiri! Yang terakhir ini mungkin agak dilebih-lebihkan. Namun harus diakui bahwa kekayaan yang berhasil dikumpulkan Liu Cin itu luar biasa besarnya.
Tidak mengherankan apa bila hampir seluruh manusia di dunia ini, di negara manapun juga, orang-orang saling memperebutkan kekuasaan! Saling memperebutkan kedudukan! Bahkan saling bunuh, perang, semua itu untuk memperebutkan kedudukan!
Bukan kedudukan itu sendiri yang diperebutkan, melainkan karena kedudukan mendatangkan kekuasaan dan kekuasaan mendatangkan apa saja yang diinginkannya dengan mudah! Dengan kekuasaan orang dapat mengumpulkan harta kekayaan, mendapatkan apa saja yang diinginkannya, dapat memenuhi dorongan semua nafsunya.
Pendeknya, segala macam kesenangan akan dapat diraihnya melalui kekuasaan yang didapatkan dari kedudukannya. Ya, kesenangan itulah yang diperebutkan manusia, dimanapun juga dan jalan paling mudah untuk mendapatkan kesenangan adalah kalau dia memiliki kekuasaan, kedudukan tinggi!
Karena itu, dunia ini akan menjadi suatu tempat yang indah, aman dan sejahtera bagi semua manusia kalau negara-negaranya memiliki pemimpin-pemimpin yang benar-benar bersih dan jujur, yang sama sekali tidak ingin mempergunakan kekuasaannya untuk mengumpulkan harta kekayaan, tidak ingin mempergunakan kedudukannya untuk mengejar dan mengumbar kesenangan, baik bagi dirinya pribadi maupun bagi sanak keluarganya. Mudah-mudahan kita semua masih akan mengalami keadaan dunia seperti itu.
Sampai di sini pengarang mengakhiri kisah ini dengan harapan semoga ada manfaatnya bagi para pembaca. Sampai jumpa di lain kisah.