Sepasang Rajah Naga Jilid 31

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Sepasang Rajah Naga Jilid 31
Sonny Ogawa
Cerita silat karya Kho Ping Hoo
Karya Kho Ping Hoo

Sepasang Rajah Naga Jilid 31 - CUI-BENG KUI-BO menerima sepasang pedang itu, akan tetapi bukan disimpan melainkan dipatahkannya dengan kedua tangan, kemudian dibuangnya sepasang pedang yang telah patah itu.

“Aku mengaku kalah dan akan meninggalkan dunia kang-ouw, Hui Sian Hwesio.” Setelah berkata demikian, nenek itu lalu melompat dan pergi dari gedung itu. Dengan mudah ia menerobos keluar, merobohkan siapa saja yang berani menghadangnya dan tak lama kemudian dia sudah jauh meninggalkan Kotaraja!

“Omitohud, mudah-mudahan ia dapat menjadi orang yang kembali ke jalan benar dan berguna bagi manusia dan dunia,” kata Hui Sian Hwesio. Kakek ini lalu berdiri menonton mereka yang sedang bertanding. Biarpun dia tidak berusaha membantu namun dia waspada dan siap untuk melindungi pihaknya kalau sampai terancam bahaya.

Ouw Yang Lee merasa penasaran dan marah sekali melihat kenyataan bahwa dia tidak mampu mendesak Ciang Lan. Ternyata tingkat kepandaian silat puterinya ini mampu menandinginya, bahkan kini gulungan sinar pedang gadis itu makin menekan dan mendesaknya sehingga dialah yang kini terancam. Ouw Yang Lee menjadi panik.

Bukan saja dia tidak akan menang melawan puterinya sendiri, akan tetapi dia melihat betapa Cui-Beng Kui-Bo sudah melarikan diri dan kini Hui Sian Hwesio yang sakti itu berdiri menganggur. Kalau ketua Siauw-Lim-Pai itu turun tangan membantu Ouw Yang Lan, akan celakalah dia.

Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri hanyalah lari. Akan tetapi belum tentu dia akan dapat meloloskan diri. Dia teringat akan Ouw Yang Hui yang oleh Kim Niocu telah diserahkan kepadanya dan kini puterinya itu dia tahan dalam sebuah kamar. Dia mendapat akal.

“Hyaaatttt...!” Dia melakukan serangan yang dahsyat, pedangnya menyambar disusul pukulan tangan yang berubah merah karena dia telah mengerahkan ilmu Ang-Tok-Ciang (Tangan Beracun Merah).

Maklum akan hebatnya serangan itu, Ciang Lan melompat mundur dan kesempatan itu di pergunakan oleh Ouw Yang Lee untuk lari ke sebelah dalam. “Keparat, hendak lari ke mana kau” bentak Ciang Lan dan diapun mengejar ke dalam.

Akan tetapi Ouw Yang Lee tak tampak lagi. Selagi gadis itu mencari-cari, muncullah Ouw Yang Lee dari dalam sebuah kamar. Akan tetapi Ciang Lan tidak dapat menyerang dan ia berdiri tertegun melihat betapa Kakek itu dengan tangan kiri memegang lengan Ouw Yang Hui dan pedangnya menempel di leher adik tirinya itu.

“Hui-moi...” Ciang Lan berseru, merasa tidak berdaya. la mengangkat pedangnya akan tetapi tidak berani mendekat.

“Jangan bergerak atau aku akan menggorok lehernya lebih dulu!” bentak Ouw Yang Lee.

“Manusia biadab! Iblis kejam” Ciang Lan memaki akan tetapi tidak berani bergerak.

“Enci Lan, jangan begitu. Bagaimanapun juga, dia adalah Ayah kandung kita.” Kata Ouw Yang Hui dan ia menurut saja ketika didorong Ayahnya keluar dari ruangan itu dan meninggalkan gedung lewat lorong rahasia di belakang gedung.

Ciang Lan hanya membanting-banting kaki, tidak berani bergerak mengejar karena ia tahu benar bahwa Ayahnya yang kejam seperti iblis itu bukan hanya menggertak kosong belaka. Mungkin saja iblis itu membunuh Ouw Yang Hui kalau ia mengejarnya, membunuh anak kandung sendiri.

Sementara itu, pertempuran antara pasukan yang dikirim Kui-Ciangkun melawan para perajurit pengawal gedung sudah berhenti. Semua perajurit pengawal Liu Cin telah dikalahkan dan sisanya menyerah. Atas perintah Kui-Ciangkun. semua anggauta keluarga Thaikam Liu Cin juga ditawan.

Pertandingan di ruangan dalam yang luas antara para pimpinan partai besar dan Sin Cu melawan para datuk masih berlangsung dengan seru. Hui Sian Hwesio yang sudah ditinggal lari lawannya, hanya menonton dan tidak membantu karena semua kawannya tidak tampak terdesak. Cang Su Cinjin ketua Bu-Tong-Pai yang bertanding dengan Pek Moko bahkan telah mendesak hebat lawannya. Ilmu pedang Bu-Tong-Pai memang indah dan tangguh sekali.

Dalam hal permainan pedang, Pek Moko masih kalah jauh. Pek Moko berusaha untuk mengimbangi kekalahan ilmu pedang dengan pukulan maut Pek-Tong-Ciang. Tangan kirinya berubah putih seperti kapur ketika dia menggunakan ilmu pukulan maut itu. Akan tetapi, Ketua Bu-Tong-Pai itu menyambutnya dengan ilmu totok Tiam-Hiat-Hoat yang berbahaya sekali. Pek Moko mulai menjadi panik dan mulai melihat ke kanan-kiri untuk mencari jalan keluar melarikan diri.

Namun tempat itu telah terkepung perajurit sehingga dia tidak melihat jalan keluar lagi. Apa pula lawannya yang lihai itu sudah mendesaknya terus, tidak memberi kesempatan kepadanya untuk meloloskan diri. Dalam keadaan terhimpit itu Pek Moko menjadi nekat. Pada saat pedangnya bertemu pedang lawan, dia mengerahkan seluruh tenaganya melalui pedang itu.

Cang Su Cinjin merasakan adanya saluran tenaga dahsyat lawan. Maklumlah dia bahwa lawan hendak mengadu tenaga, maka diapun mengerahkan tenaga sinkang. Dua tenaga yang amat kuat bertemu melalui pedang sehingga kedua pedang itu seperti melekat. Pada saat itu, Pek Moko menggerakkan tangan kirinya yang berubah putih itu dari dekat pinggang, dengan tangan terbuka menghantam ke arah perut lawan.

Akan tetapi Ketua Bu-Tong-Pai itu sudah siap siaga. Melihat gerakan tangan kiri lawan, cepat dia menotok dengan ilmu totok Tiam-Hiat-Hoat. Cepat sekali jari tangannya menotok siku kiri lawan sehingga lengan Pek Moko seketika lumpuh. Secepat kilat jari tangan kiri Cang Su Cinjin menotok lagi mengenai ulu hati dan Pek Moko mengeluarkan seruan lirih dan tubuhnya roboh terjengkang. Datuk ini tewas seketika!

“Siancai...! Engkau mencari kematianmu sendiri, Pek Moko!” kata Ketua Bu-Tong-Pai itu. Cang Su Cinjin lalu mundur dan berdiri di sebelah Hui Sian Hwesio menonton perkelahian yang masih berlangsung antara Sin Cu melawan Tho-Te-Kong dan Lui Kai It melawan Hek Moko.

Pertandingan antara Hek Moko melawan Wakil Ketua Kong-Thong-Pai itu berjalan seimbang. Seperti yang lain, Hek Moko juga mengeluarkan seluruh kemampuannya dan mengerahkan seluruh tenaganya, karena dia melihat bahwa tidak ada jalan keluar untuk melarikan diri baginya. Apa lagi dia melihat Pek Moko sudah tewas.

Ouw Yang Lee dan Cui-Beng Kui-Bo juga tidak tampak berada di mana. Mungkin sekali kedua orang itu telah tertawan, pikirnya. Karena itu, Hek Moko mengamuk. Akan tetapi, lawannya amat lihai sehingga semua usahanya untuk menyerang seperti bertemu dinding baja yang kuat. Berulang kali pedang mereka bertemu dan masing-masing merasa betapa tangan yang memegang pedang tergetar hebat.

Pada saat itu, Ciang Lan kembali ke ruangan itu. Hatinya masih dipenuhi kemarahan dan penyesalan melihat Ouw Yang Lee telah menawan Ouw Yang Hui dan menyanderanya sehingga dia dapat melarikan diri tanpa ia dapat berbuat apa-apa. Karena kemarahan ini, melihat Lui Kai It masih bertanding melawan Hek Moko dan berada dekat dengannya ketika ia memasuki ruangan itu, Ciang Lan segera menggerakkan pedangnya menyerang si muka hitam itu.

“Haaaiiittt...!!” la membentak dan pedang Lo-Thian-Kam menyambar dahsyat ke arah leher Hek Moko. Hek Moko terkejut bukan main. Serangan itu benar-benar cepat dan berbahaya sekali. Dia menggerakkan pedangnya menangkis.

“Tranggg...!” Bunga api berpijar dan Hek Moko terhuyung, dan pada saat itu, pedang Lui Kai It sudah menusuk lambungnya dari kanan. Hek Moko berteriak dan roboh terguling, lambungnya ditembusi pedang dan dia tewas seketika.

Pertandingan antara Sin Cu yang melawan Tho-Te-Kong berlangsung seru dan sengit. Sejak tadi Hui Sian Hwesio dan Cang Su Cinjin menonton pertandingan antara pemuda dan datuk besar itu dan mereka berdua saling membicarakan dengan penuh rasa kagum. Diam-diam Hui Sian Hwesio sendiri harus mengakui dalam hati bahwa datuk besar itu berbahaya sekali. Dia sendiripun belum tentu dapat mengalahkan Tho-Te-Kong dengan mudah. Akan tetapl pemuda itu, mampu menandinginya dalam pertandingan yang ramai dan seimbang.

“Hebat sekali pemuda itu,” kata Cang Su Cinjin. “Murid siapakah dia?” tanya Hui Sian Hwesio kepada Ketua Bu-Tong-Pai itu.

“Omitohud, apakah engkau tidak dapat mengenal dasar ilmu pedangnya, Toyu?”

Cang Su Cinjin mengamati penuh perhatian. Dia adalah seorang yang berpengetahuan luas. Sebentar saja dia sudah melihat dasar-dasar ilmu pedang Pek-Liong Kiam-Sut yang dimainkan Sin Cu. “Hemm, dasar-dasar gerakan kaki dan pedang itu mirip ilmu pedang Im-Yang Kiam-Sut dari partai Im-Yang-Pai. Akan tetapi tangan kirinya yang menyelingi serangan pedang dengan totokan-totokan jari telunjuk itu, bukankah itu It-Yang-Ci dari Siauw-Lim-Pai? Bagaimana mungkin kedua ilmu itu digabung menjadi satu. Apakah dia murid Im-Yang-Pai? Ataukah murid Siauw-Lim-Pai?”

“Omitohud! Penglihatanmu tajam sekali dan pengetahuanmu tentang ilmu silat luas Cang Su Cinjin. Dugaanmu tadi memang tepat dan pinceng tahu, hanya ada satu orang saja di dunia ini yang ahli dalam dua macam ilmu itu dan hanya dia yang dapat menggabungkannya menjadi ilmu pedang yang lihai itu.”

“Siapa dia, Lo-Suhu?”

“Seorang sahabat pinceng yang sudah hampir dua puluh tahun tidak pernah pinceng jumpai dan dia tidak ingat akan namanya sendiri dan kalau ditanya mengaku bernama Bu Beng Siauwjin!”

“Siancai Bu Beng Siauwjin (Manusia Rendah Tak Bernama)? Benar-benar adakah tokoh aneh itu? Dan pemuda itu muridnya?” kata Ketua Bu-Tong-Pai dengan heran dan kagum.

Perkelahian antara Tho-Tek-Kong melawan Wong Sin Cu memang hebat sekali. Pedang Pek-Liong-Kiam di tangan sin Cu berubah menjadi sinar putih bergulung gulung bagaikan seekor naga putih mengamuk di angkasa. Adapun tongkat bambu kuning di tangan Tho-Te-Kong juga berubah menjadi gulungan sinar kuning yang menyambar-nyambar.

Kadang-kadang kedua gulungan sinar itu saling dorong, saling tekan, dan ada kalanya saling belit. Hanya tinggal dua orang ini yang bertanding karena semua pertandingan sudah selesai. Para perajurit juga ikut tertarik dan menonton pertandingan yang seru dan dahsyat ini.

Pimpinan ketiga partai persilatan hanya menonton dan tidak membantu Sin Cu. Hal ini pertama adalah karena mereka melihat Sin Cu tidak dalam keadaan terdesak dan kedua karena bagi seorang gagah merupakan hal yang memalukan, untuk melakukan pengeroyokan, apa lagi dalam keadaan tidak terancam bahaya.

Akan tetapi Ciang Lan tidak perduli akan semua aturan dan sopan santun ini. Hal itu sudah dibuktikannya tadi ketika ia begitu saja membantu Wakil Ketua Kong-Thong-Pai sehingga Hek Moko dapat dirobohkan dengan mudah.

Kini, melihat betapa Sin Cu belum juga dapat mengalahkan lawannya, Ciang Lan tidak perduli biarpun ia maklum betapa lihainya Kakek yang bertanding melawan Sin Cu itu. Ia pernah melihat Kakek itu ketika Tho-Tek-Kong bersama Ouw Yang Lee menyerang Pek-In-San.

“Cu-Ko, mari kita bunuh tua bangka keparat ini!” bentak Ciang Lan dan ia lalu menyerang dengan pedang Lo-Thian-Kam secara ganas sekali. Biarpun dibandingkan Tho-Te-Kong, tingkat kepandaian Ciang Lan masih kalah jauh, namun ilmu pedang Lo-Thian Kiam-Sut (Ilmu Pedang Pengacau Langit) yang dimainkan gadis itu merupakakan Kiam-Sut yang hebat.

Tho-Te-Kong yang belum juga mampu mendesak Sin Cu dan keadaan keduanya masih seimbang, ketika mendapat penyerangan Ciang Lan, menjadi terkejut bukan main. Serangan gadis itu cukup hebat dan mengubah keseimbangan itu. Dia mulai terdesak hebat ketika mengelak dari serangan pedang Ciang Lan. Dia berusaha untuk merobohkan gadis itu lebih dulu, hal yang dianggapnya tidak sukar mengingat bahwa tingkat kepandaian gadis itu belum cukup tinggi untuk mengimbanginya.

Akan tetapi, agaknya pemuda itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencegah dia mencelakai gadis itu, begitu dia hendak mengirim serangan maut kepada Ciang Lan, Sin Cu sudah mendesaknya dengan serangan berbahaya sehingga terpaksa Tho-Te-Kong membatalkan serangan kepada Ciang Lan. Dengan demikian, terpaksa Tho-Te-Kong harus menghadapi semua serangan Ciang Lan tanpa dapat membalas.

Sin Cu sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menyerang gadis itu. Seluruh perhatiannya harus dia curahkan untuk melayani semua desakan Sin Cu. Celakanya, penyerangan gadis itu makin lama semakin dahsyat dan berbahaya! Sin Cu sebagai seorang yang mengutamakan kegagahan, tentu saja tidak ingin dibantu dalam menandingi Tho-Te-Kong, akan tetapi dia mengenal siapa Ciang Lan dan bagaimana watak gadis yang keras hati itu.

Kalau bantuan Ciang Lan ini dia tolak, hal itu tentu akan membuat gadis itu marah dan sama sekali tidak alasan menghalangi bantuannya, bahkan akan menjadi semakin nekat. Karena itu, Sin Cu diam saja dan dia malah memperhebat serangannya untuk menghalangi Kakek itu agar tidak dapat balas menyerang Ciang Lan.

Tho-Te-Kong mulai bingung dan panik. Menghadapi ancaman maut yang membayang di depan matanya, Kakek yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih itu menjadi takut! Segala perbuatannya yang lalu, semua kejahatannya, membunuhi orang, memaksakan kehendaknya kepada orang lain, semua itu terbayang bagaikan kilat dan mendatangkan perasaan ngeri kepadanya. Biasanya, dia amat mengandalkan kekuatannya.

Akan tetapi membayangkan betapa semua kekuatan sudah meninggalkannya, betapa dia tidak berdaya, tidak tahu apa yang akan menimpanya dan bayangan-bayangan mengerikan mengancamnya, Kakek itu menjadi panik dan takut. Perasaan takut ini tentu saja mempengaruhi perhatian dan kewaspadaanya, membuatnya lemah dan gerakannya menjadi ragu-ragu dan lambat.

“Hyaattt...!” Pedang di tangan Ciang Lan menusuk.

Kakek itu miringkan tubuh, akan tetapi pedang yang menusuk dada itu masih menyerempet pangkal lengan kanannya. Lengan baju dan kulit pangkal lengan itu robek. Rasa perih membuat Kakek itu terhuyung dan tendangan kaki kiri Sin Cu tepat menghantam lambungnya. Tubuh tinggi kurus itu terpelanting dan sebelum dia sempat menguasai dirinya, pedang di tangan Ciang Lan sudah menusuk dadanya. Tho-Te-Kong mengeluarkan teriakan dan dia tidak dapat bangkit lagi, tewas dan mandi darahnya sendiri.

“Cu-Ko, Hui-moi dilarikan dan disandera Ouw Yang Lee, dilarikan keluar gedung!” kata Ciang Lan kepada Sin Cu.

Pada saat itu, seorang laki-laki tua berusia hampir tujuh puluh tahun, bertubuh kurus jangkung dengan muka keriputan berlari masuk. Melihat Sin Cu dan Ciang Lan, dia berkata, “Aku melihat gadis yang disandera dan dilarikan itu keluar pintu gerbang selatan Kotaraja!”

Orang itu bukan lain adalah Siauw Ming yang ditinggalkan di rumah Kui-Ciangkun. Karena Sin Cu menganggap Siauw Ming sudah tua dan dia bersama Ciang Lan akan menghadapi datuk-datuk yang sakti, maka dia minta agar Siauw Ming tinggal saja di gedung Kui-Ciangkun. Siauw Ming yang melihat semua orang pergi melaksanakan tugas, merasa tidak enak harus berdiam diri. Walaupun sudah tua, namun dia merasa dirinya masih kuat.

Maka akhirnya dia tidak dapat bertahan duduk diam di rumah dan segera keluar. Dia melihat betapa penduduk Kotaraja panik dan banyak yang berlarian mengungsi. Dia mendengar tentang keributan di luar Istana dan tahu bahwa Pangeran Ceng Sin, Kui-Ciangkun dan para bangsawan itu sudah mulai bergerak.

Ketika dia sedang berjalan-jalan melihat keadaan dan tiba di dekat pintu gerbang selatan, tiba-tiba dia melihat seorang Kakek tinggi besar gagah perkasa berusia hampir enam puluh tahun sedang mendorong dan memegangi lengan seorang gadis cantik. Kakek itu memegang sebatang pedang telanjang dan dari sikapnya jelas bahwa dia mengancam untuk membunuh gadis itu.

Siauw Ming adalah seorang yang sejak menjadi buron dari Kotaraja, telah banyak berkelana dan biarpun dia belum pernah bertemu dengan Ouw Yang Lee, ketika melihat laki-laki tinggi besar itu dia teringat akan cerita Sin Cu dan Ciang Lan. Gadis itukah yang dicari kedua orang muda itu? Dan apakah Kakek gagah perkasa itu yang bernama Tung-Hai-Tok (Racun Laut Timur) Ouw Yang Lee, majikan Pulau Naga? Karena ingin tahu, dia lalu mengejar dan setelah dekat bertanya. “Nona, apakah engkau yang bernama Ouw Yang Hui?”

Gadis itu memang Ouw Yang Hui. Ketika Ayahnya sendiri menjadikannya sebagai sandera, ia tidak melawan. la sudah pasrah dan ia tidak perduli lagi apa yang akan terjadi dengan dirinya. Ketika Ouw Yang Lee dengan menggunakan ia sebagai sandera membawanya lari keluar dari gedung Thaikam Liu Cin, ia menurut saja, bahkan ia sempat menegur Ouw Yang Lan, la hanya bertanya kepada Ayah kandungnya itu kemana ia akan dibawa dan Ouw Yang Lee mengatakan bahwa mereka akan kembali ke Pulau Naga.

Kini, tiba-tiba ada seorang laki-laki tua yang menegurnya. la menoleh dan melihat laki-laki itu, ia teringat kepada mereka yang dekat dengannya. Teringat kepada Sin Cu, teringat kepada Song Bu, dan kepada Ouw Yang Lan juga teringat kepada Ibunya dan Ayah tirinya. la percaya bahwa mungkin orang yang menegurnya ini mempunyai hubungan dengan seorang di antara mereka, maka iapun lalu menjawab,

“Benar, paman. Aku Ouw Yang Hui. Sampaikan ucapanku selamat tinggal kepada mereka semua, aku kembali ke Pulau Naga...!”

Ouw Yang Lee mengerutkan alisnya dan memutar tubuhnya dengan marah, memandang kepada Siauw Ming dan membentak, “Siapa engkau? Pergi atau kubunuh kau!” Tangan kirinya mendorong dan serangkum angin pukulan menyambar ke arah Siauw Ming.

Biarpun jarak di antara mereka tidak kurang dari lima tombak jauhnya, namun angin pukulan itu masih menyambar keras. Siauw Ming maklum betapa hebatnya pukulan jarak jauh itu, maka diapun melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan menjauh sehingga terhindar dari hantaman hawa pukulan dahsyat itu. Ketika Siauw Ming bangkit, Ouw Yang Lee dan Ouw Yang Hui telah keluar dari pintu gapura selatan.

Siauw Ming tentu saja tidak berani mengejar, maklum bahwa kepandaiannya masih kalah jauh dibandingkan penyerangnya tadi. Maka dia lalu kembali ke tengah kota dan langsung pergi ke gedung Liu Cin karena dia tahu bahwa Sin Cu dan Ciang Lan menurut rencana akan menyerbu ke sana. Para perwira yang memimpin pasukan mengenalnya sebagai tamu Kui-Ciangkun, maka mereka tidak menghalanginya ketika, Siaw Ming masuk mencari Sin Cu dan Ciang Lan.

Kebetulan sekali, ketika Siauw Ming memasuki ruangan dalam, semua pertempuran telah berhenti. Banyak lawan telah tewas, lainnya ditangkap dan pada saat Siauw Ming datang, dia mendengar teriakan Ciang Lan yang berkata kepada Sin Cu bahwa Ouw Yang Hui disandera dan dilarikan Ouw Yang Lee. Maka diapun cepat berkata kepada mereka.

“Aku melihat gadis yang disandera dan dilarikan itu keluar pintu gerbang selatan Kotaraja!”

Mendengar ucapan Siauw Ming ini, Sin Cu dan Ciang Lan melompat keluar gedung itu dan mempergunakan ilmu berlari cepat seperti terbang, mereka melakukan pengejaran ke pintu gerbang selatan. Siauw Ming juga melakukan pengejaran, akan tetapi ia tertinggal jauh walaupun dia juga mempergunakan ilmu berlari cepat.

Setelah tiba di luar pintu gapura sebelah selatan, Sin Cu dan Ciang Lan berhenti berlari, bingung karena tidak tahu ke arah mana perginya orang yang mereka kejar. Terdapat dua jalur jalan raya dari luar pintu gerbang itu, yang satu lurus ke depan, yang lain ke arah kiri.

“Kita berpencar di sini!” kata Sin Cu dan ia lalu mengambil jalan kiri yang lebih kecil.

Ciang Lan maklum apa yang dimaksudkan Sin Cu. Dengan berpencar mereka akan dapat mengejar melalui dua arah dan seorang di antara mereka tentu akan dapat mengejar Ouw Yang Lee. Maka iapun cepat berlari mengambil jalan yang besar lurus.

* * *

Setelah melindungi Kaisar Ceng Tek dan membantu Pangeran Ceng Sin dan para bangsawan yang menentang Thaikam Liu Cin sehingga akhirnya Liu Cin dapat ditangkap dalam Istana, Song Bu teringat akan Ouw Yang Hui. Dia merasa yakin bahwa gadis itu tentu dibawa oleh Kim Niocu ke Kotaraja dan mungkin telah diserahkan kepada Liu Cin.

Kalau demikian halnya, tentu Ouw Yang Hui terjatuh kembali ke dalam tangan Ouw Yang Lee yang jahat. Hatinya menjadi khawatir sekali dan setelah Kaisar berada dalam keadaan aman sedangkan para pengacau telah berhasil dilumpuhkan dan ditangkap, Song Bu mohon diri dari Kaisar untuk mencari dan menyelamatkan Ouw Yang Hui. Setelah mendapat ijin dari Kaisar, Song Bu berlari keluar dari Istana.

Bagaikan dikejar setan Song Bu berlari secepatnya menuju gedung Liu Cin. Dia melihat pertempuran di luar Istana akan tetapi tidak memperdulikan, apa lagi melihat betapa pasukan yang pro Liu Cin tampak terdesak dan banyak yang roboh dan menyerah. Akan tetapi setelah dia tiba di situ pertempuran sudah selesai bahkan tiga orang pimpinan partai-partai persilatan besar telah pergi meninggalkan Kotaraja.

Dia mendapat keterangan bahwa Hek Moko dan Pek Moko, juga Tho-Te-Kong telah tewas dalam pertempuran, seluruh anggauta keluarga Liu Cin telah ditangkap. Akan tetapi dia mendengar juga bahwa Cui-Beng Kui-Bo telah melarikan diri, juga Ouw Yang Lee melarikan diri dengan menyandera Ouw Yang Hui!

Mendengar keterangan ini, Song Bu tidak memperdulikan yang lain lagi dan cepat dia melakukan pengejaran sambil bertanya-tanya di sepanjang jalan dalam kota. Akhirnya dari keterangan-keterangan orang yang melihat, dia tahu bahwa Ouw Yang Hui dibawa Ayah kandungnya keluar dari Kotaraja melalui pintu gerbang sebelah selatan. Maka diapun cepat melakukan pengejaran keluar dari pintu gerbang itu.

Hati Ouw Yang Lee merasa lega ketika dia sudah berhasil membawa Ouw Yang Hui keluar dari Kotaraja dan mereka kini sedang berjalan mendaki sebuah bukit di Sebelah selatan Kotaraja. Kini dia tidak lagi memegang lengan gadis itu dan sudah menyarungkan pedangnya.

Sejak tadi Ouw Yang Hui berjalan di samping Ayahnya, tidak banyak bertanya atau bicara. Kedua kakinya terasa lelah sekali, akan tetapi dipaksanya kedua kakinya untuk melangkah. Setelah beberapa lamanya berjalan di jalan pendakian itu, Ouw Yang Hui merasa tidak kuat lagi menahan rasa lelahnya. Ia berhenti melangkah.

“Kenapa berhenti? Hayo jalan terus perjalanan masih jauh” Kata Ouw Yang Lee.

“Kakiku lelah sekali, Ayah. Aku tidak kuat lagi, aku harus beristirahat dulu.” Kata Ouw Yang Hui lirih.

Ouw Yang Lee mengerutkan alisnya dan menoleh ke kanan-kiri. Di kanan-kiri jalan yang sunyi itu hanya hutan. “Mari jalan sedikit lagi sampai kita keluar dari hutan dan tiba di sebuah dusun. Nanti kucarikan kuda agar kita dapat melanjutkan perjalanan menunggang kuda, Hayo jalan lagi.”

Ouw Yang Hui tetap mogok jalan. “Ayah, kalau Ayah sudah tidak sayang lagi kepadaku, mengapa Ayah hendak memaksa aku pulang ke Pulau Naga? Aku benar-benar lelah sekali akan tetapi Ayah memaksaku berjalan terus. Itu berarti Ayah tidak sayang lagi kepadaku. Ayah, kalau memang Ayah membenci aku, bunuh saja aku, Ayah. Di sini tidak ada orang lain yang melihatnya atau yang menghalangimu.”

“Jangan banyak cakap! Engkau anakku dan engkau harus menaati semua kehendakku. Hayo jalan!”

Pada saat itu terdengar suara lantang. “Seekor binatang buas sekalipun tidak akan menyiksa anaknya sendiri, akan tetapi engkau seorang manusia berhati kejam bahkan ingin membunuh anak sendiri! Engkau benar-benar jahat sekali Ouw Yang Lee!”

Ouw Yang Lee terkejut dan cepat memutar tubuhnya sambil mencabut pedangnya. Dia terbelalak dan semakin terkejut melihat orang yang menegurnya itu ternyata adalah Wong Sin Cu, pemuda yang dia tahu amat lihai dan yang pernah mengalahkannya itu.

“Bocah lancang...! Aku berurusan dengan anakku sendiri..! Mau apa kau mencampuri? Tidak tahu malu!” bentak Ouw Yang Lee.

Sin Cu memandang kepada Ouw Yang Hui yang berdiri di bawah sebatang pohon. Dia merasa heran sekali melihat wajah tunangannya yang lesu dan sedih itu. Aneh sekali. Mengapa Ouw Yang Hui tidak kelihatan girang melihat dia datang hendak menolongnya? Gadis itu bahkan mengerutkan alisnya dan menundukkan muka, sama sekali tidak melihatnya! Akan tetapi dalam keheranannya itu, Sin Cu merasa lega melihat kekasih atau tunangannya itu berada dalam keadaan selamat.

“Ouw Yang Lee, engkau berurusan dengan anakmu sendiri atau dengan orang lain, kalau engkau melakukan kejahatan, terpaksa aku harus mencampuri dan menentangmu! Engkau menghambakan diri kepada pengkhianat Liu Cin, bersekutu dengan Pek-Lian-Kauw dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa! Tentu saja aku menentangmu, di mana dan kapan saja!”

“Jahanam, mampuslah!” Ouw Yang Lee tidak dapat menahan kemarahannya dan dia sudah menerjang dan menyerangkan pedangnya dengan dahsyat sekali.

Akan tetapi Sin Cu sudah waspada sejak tadi, maklum bahwa datuk yang kejam ini juga dapat bertindak licik dan curang. Diserang secara tiba-tiba itu dia tidak menjadi gugup. Dia melompat ke belakang sambil mencabut Pek-Liong-Kiam. Ouw Yang lee menyerang lagi dengan sabetan pedang ke arah leher Sin Cu. Pemuda itu menangkis dari samping.

“Cringgg...!” Dua batang pedang bertemu dan benturan tenaga sakti melalui pedang itu membuat Ouw Yang Lee terdorong ke belakang. Baru pertemuan tenaga sakti ini saja sudah menunjukkan bahwa pemuda itu lebih kuat. Akan tetapi kemarahan membuat Ouw Yang Lee menjadi nekat. Dia sudah mengalami pukulan batin dan kekecewaan yang besar sekali. Jatuhnya Thaikam Liu Cin meruntuhkan semua cita-cita dan harapannya. Keinginannya untuk menjadi seorang bangsawan yang berkedudukan tinggi hancur sudah.

Kemudian dia masih mempunyai harapan dengan adanya puterinya, Ouw Yang Hui yang cantik, Bukankah Tan Song Bu pernah bercerita bahwa Kaisar sendiri juga tertarik dan kagum kepada puterinya itu? Siapa tahu, kelak dia akan dapat mengatur agar Ouw Yang Hui dapat ditarik ke dalam Istana. Kalau Kaisar tergila-gila kepada puterinya itu, bukan tidak mungkin impiannya untuk menjadi orang besar terkabul. Maka, dia lalu memaksa Ouw Yang Hui untuk ikut pulang ke Pulau Naga agar dia di sana dapat mengatur rencana dan siasat baru.

Akan tetapi, kembali dia dihalangi oleh pemuda yang dibencinya itu! Maka, kekecewaan membuat dia marah sekali dan dia menyerang dengan nekat! Akan tetapi, pada waktu itu, tingkat kepandaian Sin Cu jauh lebih tinggi sehingga semua serangannya dapat dipatahkan dan balasan serangan Sin Cu beberapa kali membuat dia terhuyung ke belakang.

“Cu-Ko, jangan bunuh dia..!” terdengar Ouw Yang Hui berseru, suaranya lemah dan mengandung isak.

Mendengar ini, luluh hati Sin Cu dan dia sengaja memberi kelonggaran, tidak mendesak lagi dan berkata dengan nyaring. “Ouw Yang Lee, puterimu yang menyelamatkan nyawamu. Hayo pergi dan tinggalkan kami!”

Ouw Yang Lee tentu saja merasa terhina sekali. Akan tetapi diapun bukan seorang bodoh. Kalau Ouw Yang Hui tidak mencegah, besar kemungkinan dia akan roboh dan tewas di tangan pemuda ini. Maka, diapun mengeluarkan teriakan panjang untuk melampiaskan kedongkolan hatinya dan dia melompat dan lenyap ke dalam hutan di sebelah kiri jalan.

Sin Cu tidak mengejar lalu melompat menghampiri Ouw Yang Hui yang menangis tersedu-sedu sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan. Sin Cu hendak merangkul dan menghibur kekasihnya, akan tetapi baru saja tangannya menyentuh pundak, Ouw Yang Hui sudah mundur melepaskan diri dan berkata sambil menangis,

“... Jangan sentuh aku demi Tuhan... jangan... sentuh aku...!”

Tentu saja Sin Cu merasa terkejut dan heran sekali. Dia memandang gadis yang masih menangis sambil menutupkan kedua tangan di depan wajahnya, terisak-isak dan pundaknya bergoyang-goyang.

“Hui-moi, kenapakah, Hui-moi? Jangan takut dan jangan bersedih lagi. Ouw Yang Lee telah pergi dari sini, bahaya telah lewat, Hui-moi.” Kembali tangannya menyentuh pundak.

Akan tetapi sentuhan jari tangan itu seolah-olah api yang membakar bagi Ouw Yang Hui. la mengelak mundur. “Jangan sentuh aku... ah, jangan sentuh...”

“Akan tetapi kenapa, Hui-moi? Aku adalah tunanganmu, calon suamimu!”

Mendengar ucapan ini, lemas kedua kaki Ouw Yang Hui dan ia menjatuhkan diri berlutut di atas tanah tanpa melepaskan kedua tangan dari depan mukanya dan tangisnya semakin menguguk. Melihat ini, Sin Cu menjadí semakin khawatir. Jelas bahwa kekasihnya itu berada dalam kedukaan yang hebat. “Hui-moi, katakanlah. Apa yang telah terjadi? Kenapa engkau bersikap seperti ini?”

“Cu-Ko... jangan dekati aku... menjauhlah... aku... aku kotor tidak berharga untukmu...” Ouw Yang Hui berkata diantara isak tangisnya.

Sin Cu terkejut, akan tetapi menjadi semakin bingung. “Hui-moi, katakanlah dengan sebenarnya, apa yang telah terjadi? Engkau akan tetap berharga untukku, apapun yang telah terjadi! Katakanlah, ada apa, Hui-moi?” Sin Cu hendak merangkul, akan tetapi ditahannya karena tadi Ouw Yang Hui selalu menghindar kalau hendak dirangkulnya. “Ingat, kita adalah calon suami isteri, tidak perlu merahasiakan sesuatu. Engkau adalah tunanganku, calon isteriku tercinta...”

“Tidak...! Aku tidak mungkin dapat menjadi isterimu...” gadis itu tersedu.

“Akan tetapi kenapa? Kenapa...?” Sin Cu mendesak.

“Aku... aku sudah ternoda... aku... aku... bahkan sudah... hamil... Uu-Hu-Huuuhh...!” Ouw Yang Hui bangkit lalu melarikan diri ke dalam hutan yang berada di sisi jalan.

Mendengar itu, Sin Cu terbelalak, wajahnya pucat dan sejenak dia seperti kehilangan semangat, hanya berdiri terbelalak memandang ke arah larinya Ouw Yang Hui, tidak dapat mengeluarkan suara dan tidak tahu harus berbuat apa. Pengakuan Ouw Yang Hui itu bagaikan halilintar menyambarnya, membuatnya terkejut, penasaran, marah, kecewa dan berbagai macam perasaan yang tidak baik lagi. Juga api cemburu mulai membakar hatinya.

Setelah bayangan Ouw Yang Hui hilang ditelan pohon-pohon besar barulah Sin Cu bagaikan sadar dari mimpi. “Hui-moi... tunggu..!”

Dia melompat dan mengejar. Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depannya telah berdiri menghadang seorang pemuda yang bertubuh tinggi kokoh dan sikapnya gagah sekali. Sin Cu tidak mengenal siapa pemuda itu dan pada saat itu hatinya sedang tertekan dan sakit sekali mendengar pengakuan Ouw Yang Hui tadi.

Masih terngiang dalam telinganya bahwa tunangannya, calon isterinya itu, telah ternoda dan bahkan sedang hamil! Bagaimana mungkin ini! Hatinya seperti dibakar dan pada saat itu kemarahan menguasai hatinya. Melihat ada orang menghadang di depannya, Sin Cu membentak.

“Keparat! Siapa kau dan mau apa menghadangku? Minggir atau akan kuhajar kau!” Sin Cu yang biasanya berwatak tenang, lembut dan sabar itu kini dalam keadaan hatinya hancur dan sakit menjadi orang yang kasar dan galak!

Pemuda gagah itu adalah Tan Song Bu Pemuda yang keras hati ini tadi melihat Ouw Yang Hui yang menangis dan melarikan diri dari pemuda ini. Hatinya sudah merasa curiga dan marah, menyangka bahwa pemuda ini tentu bukan seorang baik-baik sehingga Ouw Yang Hui melarikan diri sambil menangis.

Maka dia yang memang sedang melakukan pengejaran dan pencarian terhadap Ouw Yang Hui yang kabarnya dilarikan oleh Ouw Yang Lee, menjadi marah mendengar ucapan Sin Cu yang nadanya keras itu. Karena menduga bahwa pemuda yang tadi mengejar Ouw Yang Hui ini tentu seorang jahat, maka watak Song Bu yang keras timbul dan dia marah sekali.

“Engkaulah yang harus dihajar!” Bentaknya dan dia sudah menerjang sambil mengayun tangan kanan memukul ke arah kepala Sin Cu! Pukulannya mendatangkan angin yang kuat sehingga mengejutkan Sin Cu. Dia segera maklum bahwa lawannya ini ternyata seorang yang lihai, maka cepat Sin Cu mengangkat lengan kiri untuk menangkis.

“Dukk...!” Dua lengan bertemu dan keduanya terdorong ke belakang beberapa langkah. Dua-duanya terkejut dan karena maklum bahwa lawan mereka bukan orang lemah, keduanya lalu mengerahkan tenaga dan saling serang dengan seru. Juga kemarahan makin memenuhi hati masing-masing. Beberapa kali lengan mereka beradu dan keduanya terpental. Setelah saling serang selama belasan jurus dan selalu lawannya mampu menggagalkan serangannya, Song Bu menjadi penasaran sekali.

“Haiiiiittt...!” Dia berseru keras dan mengerahkan ilmu Ang-Tok-Ciang (Tangan Racun Merah) sehingga kedua telapak tangannya berubah merah dan dia lalu menyerang dengan dahsyat. Sin Cu terkejut dan cepat menggunakan Chit-Seng Sin-Po untuk mengelak.

Dia mengenal telapak tangan merah itu. Pernah Ouw Yang Lee mempergunakan ilmu serupa ketika bertanding dengannya. kemarahan Sin Cu memuncak karena dia menganggap bahwa lawannya ini tentu mempunyai hubungan baik dengan Ouw Yang Lee. Atau jangan-jangan orang ini datang untuk membantu Ouw Yang Lee melawannya sehingga datuk itu akan dapat merebut Ouw Yang Hui kembali.

Teringat akan ini Sin Cu menjadi marah sekali, dan khawatir kalau-kalau gadis itu kini terjatuh lagi ke tangan Ouw Yang Lee. Song Bu semakin penasaran ketika beberapa kali pukulan Ang-Tok-Ciang yang dipergunakan menyerang Sin Cu selalu gagal dan luput. Dia mengganti dengan Pek-Tong-Ciang (Tangan Racun Putih) yang ia pelajari dari Pek Moko, kemudian mengganti lagi dengan Hek-Tok-Ciang yang dia pelajari dari Hek Moko.

Bagi Sin Cu, melihat perubahan warna pada telapak tangan lawannya itu, menambah keyakinan hatinya bahwa yang dilawannya adalah musuh besar yang ada hubungan dekat dengan Ouw Yang Lee dan Hek Pek Moko! Maka Sin Cu juga segera mengeluarkan ilmu silat tangan kosongnya yang ampuh, yaitu Im-Yang Sin-Ciang. Kini tiba giliran Song Bu yang mengerutkan alisnya dan kemarahannya semakin berkobar.

Tentu saja dia mengenal ilmu silat Im-Yang Sin-Ciang yang pernah dia pelajari dari Im Yang Tojin, bahkan baru saja tadi pagi dia telah membunuh Im Yang Tojin di Istana. Walaupun Im-Yang Sin-Ciang yang dimainkan lawannya ini hebat bukan main, jauh lebih hebat daripada kalau dimainkan Im Yang Tojin sendiri, namun hatinya yakin bahwa pemuda ini tentulah orang dari persekutuan para datuk yang mengabdi kepada Liu Cin.

“Bagus..! Kiranya engkau jahanam keparat yang harus dibasmi dari muka bumi ini!” bentak Song Bu setelah dia melompat ke belakang menghindarkan serangan Sin Cu dan dia mencabut Coat-Beng Tok-Kiam yang bersinar biru. Begitu dia menggerakkan pedang, lenyaplah bentuk pedangnya dan berubah menjadi gulungan sinar biru.

Melihat ini, Sin Cu maklum bahwa pedang lawannya itu berbahaya sekali. Maka diapun melompat ke belakang dan mencabut Pek-Liong-Kiam. Dia menggerakkan pedangnya dan tampaklah sinar putih bergulung-gulung. Tanpa bicara, kedua orang muda ini sudah saling terjang kembali. Mereka kini saling serang dengan pedang, lebih seru daripada tadi. Akan tetapi Song Bu harus mengakui bahwa dia mulai terdesak oleh ilmu pedang yang luar biasa dari lawannya itu.

Pada saat kedua orang muda itu bertanding mati-matian dengan usaha sungguh-sungguh untuk membunuh lawan, tiba muncul Ciang Lan dan Siauw Ming. Dua orang ini sama-sama melakukan pengejaran. Karena tadinya Ciang Lan mengejar melalui jalan yang salah dan setelah mengejar jauh tidak menemukan jejak, lalu ia kembali dan mengambil jalan ke dua yang dipergunakan Sin Cu, maka ia baru tiba di situ.

Di tengah jalan ia bertemu dengan Siauw Ming maka dapat melakukan pengejaran bersama. Alangkah girang akan tetapi juga kaget hati Ciang Lan melihat Sin Cu sedang bertanding pedang mati-matian melawan Song Bu.

“Eh, itu Kakak Tan Song Bu!” katanya kepada Siauw Ming dan ia cepat melompat dekat mereka yang sedang bertanding dan berseru dengan suara lantang.

“Kak Wong Sin Cu...! Kak Tan Song Bu...! Hentikan perkelahian itu. Kalian berkelahi melawan orang sendiri, Hentikan!” Dengan beraninya Ciang Lan melompat ke tengah di antara mereka sehingga dua orang pemuda itu terkejut dan cepat menarik pedang masing dan melompat ke belakang, takut kalau-kalau sinar pedang mereka melukai gadis itu.

Siauw Ming sudah menghampiri Song Bu dan memandang tajam dengan mata terbelalak. “Engkau... engkau tentu putera Panglima Tan Hok itu! Engkau tentu Tan Song Bu, Si Naga Hitam!”

Song Bu memandang Kakek itu dan mengerutkan alisnya. Dia merasa heran. Semua terjadi begitu tiba-tiba dan tidak tersangka-sangka. Mengapa Ouw Yang Lan melerai perkelahiannya melawan pemuda itu? Dan sekarang Kakek ini! Apa maksudnya? “Siapa engkau?” tanyanya sambil memandang Kakek itu penuh selidik.

“Tan Song Bu, kuminta kepadamu, bukalah bajumu dan perlihatkan rajah naga di dadamu agar aku menjadi yakin!” kata Siauw Ming dengan hati tegang.

Song Bu masih meragu, akan tetapi Ciang Lan berkata kepadanya, “Bu-Ko, penuhilah permintaannya. Nanti engkau akan mengetahui segalanya!”

Biarpun merasa heran, Song Bu melepas kancing bajunya dan memperlihatkan dadanya yang bidang. Tampaklah rajah gambar naga hitam di dadanya itu. Sin Cu memandang dengan mata terbelalak. Gambar rajah naga itu sama benar dengan gambar di dadanya, hanya bedanya kalau naga di dadanya berwarna putih, naga di dada pemuda itu berwarna hitam.

Dia mengingat-ingat dan samar-samar terbayanglah dia akan peristiwa di atas perahu itu, ketika dia sebagai seorang anak yang masih kecil sekali bersama seorang anak laki-laki lain yang sudah tidak dia ingat lagi namanya, dirajah oleh seorang laki-laki yang menjadi tukang perahu. Jadi pemuda inikah anak laki-laki yang lain itu.

“Benar, engkaulah anak itu! Ya Tuhan... terima kasih...! Terima kasih bahwa sebelum mati aku dapat bertemu dengan dua orang anak ini!” kata Siauw Ming sambil memegang tangan Sin Cu dengan tangan kanannya, lalu dibawanya Sin Cu mendekati Song Bu dan dia memegang tangan Song Bu dengan tangan kirinya.

“Tan Song Bu, aku adalah Siauw Ming, tukang perahu yang dulu merajah dadamu,”

Song Bu juga samar-samar teringat, lalu memandang Sin Cu. Mereka saling pandang dan Song Bu berkata. “Jadi engkau anak yang seperahu denganku itu? Dan engkau Paman yang dulu membela kami dari serangan orang jahat, kemudian engkau terlempar ke lautan?”

“Nanti dulu!” kata Sin Cu. “Kita lanjutkan pembicaraan nanti saja. Yang penting sekarang harus mengejar Hui-moi!”

Diingatkan begitu, Song Bu juga terkejut, demikian pula Ciang Lan. “Cu-Ko, apakah engkau sudah menemukannya?”

“la tadi di sini!” kata Song Bu. “Mari kita kejar!”

Tiga orang muda itu, Sin Cu, Song Bu, dan Ciang Lan seperti berlumba melompat ke dalam hutan melakukan pengejaran. Siauw Ming ikut mengejar, walaupun dia tertinggal jauh. Akan tetapi, biarpun telah mencari di seluruh hutan itu, mereka tidak menemukan Ouw Yang Hui. Bahkan tidak menemukan jejaknya.

Sampai menjelang senja, barulah mereka bertiga bertemu di luar hutan dalam keadaan lelah dan gelisah. Siauw Ming juga tampak lelah sekali. Mereka duduk di atas batu-batu di tepi jalan dan mengusap keringat yang membasahi leher dan muka.

“Cu-Ko, sekarang ceritakan bagaimana engkau tadi bertemu dengan Hui-moi,” kata Ciang Lan sambil memandang wajah Sin Cu yang agak pucat dan matanya tampak lesu dan wajah yang muram penuh kedukaan.

“Ya, engkau harus menceritakan pula mengapa tadi aku melihat Hui-moi menangis sedih dan melarikan diri darimu, Sin Cu!” kata Song Bu dengan suara yang masih agak kaku karena kecurigaannya terhadap Sin Cu masih belum hilang sama sekali. Setidaknya dia menganggap bahwa agaknya Ouw Yang Hui berduka dan menangis karena ulah Sin Cu.

Sin Cu menghela napas panjang. “Maafkan aku, Song Bu. Karena tidak tahu urusannya, mungkin engkau menjadi salah paham. Akupun tadi salah paham kepadamu, apalagi melihat engkau mengeluarkan ilmu-ilmu yang kukenal sebagai ilmu Ouw Yang Lee, Hek Moko dan Pek Moko.”

“Aku juga melihat engkau menggunakan ilmu yang sama dengan ilmu Im Yang Tojin yang pagi tadi kutewaskan ketika dia membantu Liu Cin membuat kacau di Istana,” kata Song Bu.

Kembali Sin Cu menghela napas panjang. “Agaknya terpaksa aku harus menceritakan segala yang terjadi dengan sejujurnya untuk menghilangkan kesalah-pahaman ini.” Dia menoleh kepada Siauw Ming dan berkata dengan lembut.

“Paman Siauw Ming, kuharap Paman suka memaafkan kami bertiga. Paman yang sudah demikian besar jasanya kepada kami bertiga, terutama kepada Sog Bu dan aku, terpaksa sekarang kuminta dengan hormat untuk menjauh sebentar karena kami akan membicarakan hal yang merupakan rahasia kami bertiga. Sekali lagi maafkan aku, Paman Siauw Ming.”

Karena ucapan Sin Cu itu dilakukan dengan nada suara penuh permintaan maaf, maka Siauw Ming tidak merasa tersinggung. Dia adalah seorang tua yang berpengetahuan luas. Dia mengangguk dan berkata, “Aku mengerti, Sin Cu. Semua orang memang mempunyai rahasia pribadi yang tidak ingin didengar orang lain. Bicaralah kalian bertiga, aku akan beristirahat di bawah pohon besar di sana itu.”

Dia lalu bangkit dan berjalan pergi ke sebuah pohon besar yang tampak dari situ akan tetapi jaraknya cukup jauh sehingga suara mereka bertiga tidak,akan dapat didengar dari sana.

“Cu-Ko, rahasia apakah yang akan kau bicarakan sehingga engkau terpaksa minta agar Paman Siauw Ming pergi?”

“Bukan rahasia kita, Lan-moi, melainkan rahasia Hui-moi. Karena aku tahu bahwa engkau adalah enci dari Hui-moi dan Song Bu ini adalah suhengnya, maka aku akan membuka rahasia ini kepada kalian agar kalian mengetahui duduknya perkara. Ketika tadi engkau dan aku berpencar untuk melakukan pengejaran terhadap Ouw Yang Lee yang menyandera dan melarikan Hui-moi, aku berhasil menyusul mereka dan segera terjadi perkelahian antara aku dan Ouw Yang Lee. Aku berhasil mendesak Ouw Yang Lee akan tetapi Hui-moi berseru kepadaku agar aku tidak membunuh Ouw Yang Lee. Terpaksa aku melepaskannya dan membiarkannya pergi."

“Hemm, adik Ouw Yang Hui terlalu baik dan lemah. Tadipun ia menegur aku ketika aku memaki Ouw Yang Lee!” kata Ciang Lan.

“Teruskan ceritamu, Sin Cu!” kata Song Bu.

“Setelah Ouw Yang Lee melarikan diri, aku menghampiri Hui-moi. Kalian tahu bahwa aku dan Hui-moi, kami telah bertunangan, kami dijodohkan oleh Paman Gan Hok San dan bibi Sim Kui Hwa...”

Song Bu diam saja, agak cemberut. Dia sudah tahu akan hal itu. Akan tetapi Ouw Yang Lan baru mendengarnya sekarang dan gadis itu memandang Sin Cu dengan mata terbelalak dan mukanya menjadi agak pucat. Hatinya terpukul dan ia merasa jantungnya seperti ditusuk. la mati-matian jatuh cinta kepada Sin Cu dan sekarang pemuda itu mengaku telah bertunangan. Tunangannya malah Ouw Yang Hui adiknya sendiri!

“Ahh...!” Ia berseru, “Kau... kau... bertunangan dengan adik Ouw Yang Hui...! kenapa... kenapa dulu engkau tidak menceritakan hal ini...?”

Sin Cu memandang wajah Ciang Lan dan dia menghela napas panjang. Dia memaklumi perasaan gadis itu. Dia tahu benar bahwa Ciang Lan atau Ouw Yang Lan ini jatuh cinta kepadanya. Karena itulah dia dahulu tidak menceritakan tentang pertunangannya, tidak ingin dia membuat gadis itu kecewa. “Memang aku belum menceritakannya kepadamu, Lan-moi.”

“Sin Cu, teruskan ceritamu!” kata pula Song Bu.

“Ketika aku menghampiri Hui-moi yang menangis dan hendak menyentuh pundaknya dan menghiburnya, ia menjauhkan diri dan menangis semakin keras. Ketika aku bertanya dan mendesaknya, akhirnya ia mengaku bahwa Ia... ia... telah ternoda dan...!”

“Jahanam busuk Iblis laknat! Siapa laki-laki yang telah memperkosa adikku Ouw Yang Hui? Akan aku hancurkan kepalanya akan kurobek dadanya!” Ouw Yang Lan atau Ciang Lan melompat berdiri dan wajahnya menjadi merah, kedua tangannya dikepal dan ia tampak marah sekali.

Sin Cu menundukkan mukanya dengan sedih. “Aku tidak tahu, ia tidak memberitahuku Lan-moi. la hanya bilang bahwa ia tidak mungkin lagi menjadi isteriku karena ia telah ternoda... dan... dan telah hamil...!”

“Hamil...!?! Jahanam keparat! Mana laki-laki iblis itu?”

Song Bu berkata, suaranya dalam dan keras. “Hui-moi tidak diperkosa, Lan-moi. Yang menodainya adalah Bhong Lam, putera Ketua Cabang Pek-Lian-Kauw. la menceritakannya kepadaku, akan tetapi ia tidak bilang bahwa ia telah hamil. Sekarang, jahanam Bhong Lam itu telah mati terbunuh orang-orang Pek-Lian-Kauw sendiri karena dia telah mengkhianati mereka. Dan sekarang yang bertanggung jawab adalah Wong Sin Cu ini! Wong Sin Cu, engkau harus mengawini Hui-moi, kalau engkau tidak mau bertanggung jawab, demi Tuhan, aku akan menantangmu mengadu nyawa! Aku harus membela Kehormatan Hui-moi!”

Sin Cu mengerutkan alisnya dan menentang pandang mata Song Bu. Dua orang pemuda itu saling pandang dengan alis berkerut. “Tan Song Bu, urusan pernikahanku dengan Hui-moi adalah urusan kami berdua. Engkau tidak ada hak untuk mencampurinya! Bagaimana engkau berani hendak memaksaku dalam hal ini? Dan apa maksudmu bahwa aku harus bertanggung jawab? Engkau sendiri tadi menceritakan bahwa yang menodainya adalah Bhong Lam yang sekarang sudah mati, bagaimana engkau bisa bilang bahwa aku yang harus bertanggang jawab?”

Dengan penasaran Sin Cu bangkit berdiri dan Song Bu juga bangkit berdiri. Keduanya sudah berdiri dan bagaikan dua ekor ayam jantan yang siap untuk bertanding. Melihat ini, Ouw Yang Lan juga bangkit berdiri, siap untuk melerai.

“Bu-Ko, kurasa engkau kurang adil kalau hendak memaksa Cu-Ko mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak dia lakukan melainkan dilakukan orang lain” Cing Lan berkata. la membela Sin Cu karena demi sebuah keadilan, juga karena muncul harapun dalam hatinya bahwa melihat keadaan Ouw Yang Hui, akhirnya Sin Cu akan berpaling ke padanya.

Song Bu memandang kepada Ouw Yang Lan, lalu kepada Sin Cu kembali dan dia berkata, “Aku bukan orang sesat yang suka memaksakan kehendakku sendiri dengan tidak adil. Sikapku ini memiliki dasar dan alasan yang kuat. Agaknya Hui-moi belum menceritakan hal ini kepada Sin Cu. Nah, dengarlah. Hui-moi tidak diperkosa oleh Bhong Lam. la menyerahkan diri memenuhi janjinya.

"Ketika itu Hui-moi melihat Wong Sin Cu ini tertawan oleh Kim Niocu dan disiksa. Hui-moi tidak tahan melihat penyiksaan itu dan Bhong Lam mempergunakan kesempatan itu untuk membujuk Hui-moi. Dia mau menolong dan membebaskan Sin Cu kalau Hui-moi berjanji mau menjadi isterinya. Hui-moi tak berdaya dan dia memberikan janjinya. Nah, dia menyerahkan diri kepada Bhong Lam.

"Ini menghancurkan kebahagiaan hidupnya, Ia mengorbankan kehormatannya untuk membela Sin Cu. Untuk membebaskannya dari siksaan dan kematian. Sekarang katakanlah, apakah aku tidak adil kalau aku memaksa Sin Cu untuk bertanggung jawab untuk mengawini Hui-moi, untuk membersihkan ia daripada aib, malu dan kehinaan?”

Sebelum Song Bu mengakhiri ceritanya, Sin Cu sudah tidak kuat menahan air matanya yang bercucuran. Dia menutupi mukanya dengan kedua tangan, menahan sedu sedannya. “...Hui moi... ah Hui moi... aku... aku yang bersalah...!”

Song Bu mengerutkan alisnya. “Sudah, tak perlu menangis seperti anak kecil! Yang penting sekarang, maukah engkau bertanggung jawab dan mengawini Hui-moi, atau aku harus memaksamu dan kita mengadu nyawa di sini?”

Sin Cu mengusap air matanya dan menekan perasaannya. Dia memandang Song Bu dengan mata merah, “Song Bu, terima kasih bahwa engkau menceritakan semua ini kepadaku. Aku akan tetap menikah dengan Hu-moi. Tidak perlu engkau menaksaku! Aku pasti akan mengawininya, aku pasti akan bertanggung jawab. Aku akan membela dan melindungi Hui-moi sampai aku mati!”

“Ah... kasihan sekali Hui-moi...!” Ciang Lan mengeluh, lalu memandang ke dua pemuda itu dan menegur. “Kalian ini omongannya saja hendak membela Hui-moi sampai mati, akan tetapi yang kalian lakukan hanya omong kosong dan ribut-ribut di sini sedangkan Hui-moi dibawa pergi orang entah ke mana kalian tidak perduli.”

Dua orang pemuda itu terkejut mendengar teguran Ciang Lan. Gadis itu tidak memperdulikan mereka lagi dan pergi menghampiri Siauw Ming yang masih duduk di bawah pohon, Sin Cu dan Song Bu saling pandang lalu mengikuti gadis itu. Setelah berhadapan dengan Siauw Ming Ciang Lan berkata,

“Paman Siauw Ming, adikku dilarikan orang. Dapatkan Paman membantu memikirkan, ke mana kiranya ia dibawa pergi?”

“Tadi aku belum sempat memberitahu kalian saking girangnya hatiku bertemu dengan Tan Song Bu,” kata Siauw Ming. “Sebelum aku bertemu denganmu tadi, nona, aku melihat bayangan orang tinggi besar menyelinap di antara pohon-pohon. Tidak salah lagi, orang itu adalah Tung-Hai-Tok Ouw Yang Lee.”

“Ah, kalau begitu tidak salah lagi. Selagi Cu-Ko dan Bu-Ko bertanding dan Hui moi melarikan diri, tentu Ouw Yang Lee telah menemukannya dan membawanya lari, Cu-Ko dan Bu-Ko, ini gara-gara kalian ribut dan berkelahi sendiri sehingga Hui-moi kembali tertawan oleh Ouw Yang Lee. Ke mana sekarang kita harus mencarinya!” Ciang Lan tampak marah dan cemberut memandang kedua orang pemuda itu.

“Nona, kalau benar Tung-Hai-Tok yang melarikan gadis itu, kurasa dia akan membawanya ke Pulau Naga. Dia tentu merasa tidak aman lagi berada di daerah ini setelah gagal membantu Thaikam Liu Cin. Tempat yang paling aman baginya adalah Pulau Naga, maka aku berpendapat bahwa dia tentu melarikan diri ke Pulau Naga.”

“Tepat sekali!” tiba-tiba Song Bu berseru. “Kita kejar ke Pulau Naga! Akan tetapi... pelayaran kesana sungguh tidak mudah, bahkan sulit sekali untuk dapat menemukan pulau itu!”

“Aku dapat mengantar kalian sampai ke Pulau Naga,” kata Siauw Ming.

“Bagus, mari kita cepat mengejar ke sana!” kata Ciang Lan.

Empat orang itu segera berangkat melakukan pengejaran. Perahu yang cukup besar itu meluncur dengan cepat di atas air lautan, menerjang ombak. Layar terkembang dan perahu itu di kemudikan oleh tangan trampil Siauw Ming. Cang Lan, Sin Cu, dan Song Bu duduk dekat Kakek itu.

Setelah berada di atas lautan yang amat luas, tiga orang ini merasa diri mereka tidak berdaya sama sekali. Mereka merasa kecil dan lemah, dan merasa keselamatan mereka berada di tangan Kakek Siauw Ming! Di darat, mereka dapat mengandalkan kepandaian mereka untuk melindungi diri sendiri, menentang segala bahaya yang mengancam diri mereka.

Akan tetapi, terombang-ambing di atas lautan luas itu, mereka merasa seperti anak kecil yang tidak berdaya. Ngeri mereka membayangkan perahu itu tenggelam. Apalagi terkadang mereka melihat ikan-ikan besar meluncur dalam air. Mereka akan menjadi makanan ikan tanpa mampu membela diri.

Song Bu sejak tadi diam termenung. Dia teringat akan Ouw Yang Hui gadis yang dicintanya yang ternyata telah bertunangan dengan Sin Cu bahkan kini telah hamil dengan pria lain. Dia merasa nelangsa sekali dan duduk di atas perahu itu mengingatkan dia akan kenangan masa lalu ketika dia masih kecil dulu.

Dia teringat akan Ayah Ibunya yang sudah sukar diingatnya bagaimana wajah mereka. Baru sekarang, dalam keadaan menganggur dan merasa tidak berdaya, dia ingat bahwa ketika itu Siauw Ming berada bersama dia dan orang tuanya. “Paman Siauw Ming...?”

Siauw Ming menoleh kepadanya. “Ada apakah, Song Bu?”

“Dulu ketika aku masih kecil, aku bersama Ayah dan Ibu, dan Sin Cu ini bersama Ayah Ibunya juga berlayar dan Paman ada bersama kami.” Song Bu memejamkan matanya, membayangkan semua peristiwa yang samar-samar teringat olehnya itu.

“...lalu air laut mengamuk, gelombang besar... dan orang-orang jahat menyerang Ayah dan Ibu... ah, apa sebetulnya yang terjadi. Paman Siauw Ming? Ceritakanlah, dan tahukah Paman di mana sekarang Ayah Ibuku itu?”

Sin Cu yang duduk dekat Song Bu mengulurkan tangannya dan memegang lengan pemuda itu. Dia merasa terharu mengenangkan peristiwa waktu kanak-kanak itu. Ketika itu, dia dan Song Bu boleh dibilang senasib sependeritaan, sehidup semati. “Song Bu, aku kasihan kepadamu. Nasib kita berdua sama buruknya, Song Bu.”

Mendengar ini, Song Bu mengerutkan alisnya, hatinya merasa tidak enak. Dia memandang kepada Siauw Ming dan bertanya, “Paman Siauw Ming, ceritakanlah tentang orang tuaku, aku mohon padamu.”

Siauw Ming menghela napas panjang. “Hemm, aku memang belum menceritakan kepadamu, Song Bu. Kepada Sin Cu aku sudah bercerita. Baiklah, kesempatan ini akan kupergunakan untuk menceritakan semuanya. Dahulu aku adaah seorang Guru silat yang tinggal di Kotaraja. Pada suatu hari terpaksa membunuh seorang pembesar yang kejam dan sewenang-wenang sehingga aku menjadi buronan dan melarikan diri. Selama dua tahun aku hidup sebagai tukang perahu di lautan sehingga tidak tertangkap oleh pasukan yang mencariku.

"Pada suatu hari, perahuku disewa dua pasang suami isteri. Mereka juga merupakan pelarian dari Kotaraja, orang-orang yang dikejar-kejar kaki tangan Thaikam Liu Cin. Mereka itu masing-masing membawa seorang anak laki-laki berusia tiga tahun, yaitu engkau, Song Bu, dan Sin Cu. Ayahmu bernama Tan Hok, seorang bekas perwira dan Ayah Sin Cu bernama Wong Cin, seorang bekas jaksa. Mereka berdua bentrok dengan Liu Cin dan, dituduh memberontak dan dikejar-kejar.”

“Hemm! Lagi-lagi si jahanam Liu Cin! Aku girang sekali telah dapat membantu Kaisar untuk menjatuhkannya!” kata Song Bu.

“Karena nasib kami sama, kami menjadi akrab dan dalam kesempatan itu aku merajah gambar naga hitam di dadamu dan naga putih di dada Sin Cu. Kemudian badai datang mengamuk. Perahu kita terobang, ambing dipermainkan gelombang, membentur karang dan pecah. Kukira kalian semua telah tewas. Akan tetapi ketika aku berhasil mendarat di pulau itu, aku melihat kawanan bajak menyerang orang tua kalian. Aku berhasil mengusir gerombolan penjahat, akan tetapi terlambat untuk menyelamatkan orang tua kalian berdua.” Siauw Ming berhenti dan menarik napas panjang.

“Mereka... Ayah Ibuku... bagaimana dengan mereka, Paman?” Song Bu mendesak.

“Mereka telah tewas, terbunuh dalam perkelahian itu.”

Song Bu bangkit berdiri, mukanya pucat matanya mencorong, kedua tangannya dikepal. “Mati? Mereka, Ayah Ibuku, mati terbunuh bajak?!?”

Sin Cu juga bangkit dan memegang kedua tangan Song Bu. “Tenanglah, Song Bu. Nasib kita sama. Ayah Ibuku juga terbunuh oleh para penjahat itu. Duduklah dan tenangkan hatimu. Bagaimanapun juga, orang tua kita mati sebagai orang-orang gagah yang tidak sudi menjadi antek Liu Cin.”

Song Bu duduk kernbali, dia menggunakan punggung tangan kanannya yang masih dikepal untuk menghapus matanya yang basah. “Engkau benar, Sin Cu. Akan tetapi aku akan mencari bajak itu, aku akan membasmi mereka!”

“Aku tahu siapa mereka. Dua orang pimpinan bajak itu adalah dua bersaudara yang berjuluk Hai-Coa-Ong (Raja Ular Laut), masing-masing disebut Toa Ong dan Siauw Ong. Kelak kalian dapat mencari mereka mungkin di Pantai Laut Timur.”

“Lalu bagaimana dengan jenazah orang tuaku, Paman Siauw Ming?” tanya Song Bu yang sudah dapat menenangkan hatinya.

“Aku mengubur jenazah dua pasang suami isteri itu di pulau itu. Pulau Ular, tak jauh dari Pulau Naga. Kemudian aku membawa kalian berdua pergi meninggalkan pulau naik perahu. Akan tetapi aku bertemu dengan para bajak. Aku terkena anak panah dan jatuh ke laut. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan kalian sampai kini aku bertemu dengan kalian yang sudah menjadi pemuda-pemuda dewasa.”

Song Bu memejamkan matanya, mengingat-ingat, lalu tiba-tiba dia membuka matanya dan terbelalak memandang kepada Sin Cu. “Sin Cu, engkau dibawa terbang burung besar! Ya, aku ingat sekarang... disambar burung besar dari perahu... digondol pergi!”

Sin Cu mengangguk-angguk. “Engkau benar, Song Bu. Aku digondol seekor burung rajawali hitam dan nyaris aku menjadi mangsa burung itu dan anak-anaknya. Untung aku ditolong dan diselamatkan oleh Bu Beng Siauwjin yang kemudian merawat dan mendidikku. Dia nenjadi Guruku. Dan bagaimana dengan engkau, Song Bu?”

“Aku terkatung-katung seorang diri di perahu itu, kebingungan, ketakutan dan kelaparan. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Ketika sadar aku telah berada di dalam perahu...!”

Dia memandang kepada Ciang Lan, lalu melanjutkan, “Dalam perahu Suhu Ouw Yang Lee. Dia menolongku dan mengambil aku sebagai muridnya. Ketika itu, Lan-moi ini baru berusia setahun dan Hui-moi baru beberapa bulan. Aku menjadi muridnya, bahkan diaku sebagai anak angkatnya. Aku dibawa ke Kotaraja, mengabdi kepada Liu Cin. Setelah melihat betapa jahatnya mereka, dan betapa jahatnya Guruku itu, aku lalu memberontak, bahkan menentangnya.”

Song Bu menghela napas panjang. Kembali Ia memandang kepada Ciang Lan atau Ouw Yang Lan dan berkata lirih, nadanya sedih, “Aku memang seorang yang tidak mengenal budi kebaikan Suhu, aku seorang murid yang durhaka...”

“Tidak, Bu-Ko, sama sekali tidak! Aku ini bahkan puteri kandungnya, namun aku tetap menentangnya! Dia itu orang jahat dan kejam, Bu-Ko. Dia ingin membunuh isteri-isteri dan anak-anaknya sendiri! Dia hanya mementingkan diri sendiri dan untuk memuaskan hatinya, dia tega untuk membunuh anak isterinya.”

Keadaan menjadi hening. Percakapan berhenti dan empat orang itu seperti tenggelam ke dalam lamunan masing-masing. Kemudian Sin Cu menghela napas panjang dan berkata, suaranya lembut.

“Kalian berdua memang berada dalam keadaan yang sulit, Song Bu dan Lan-moi. Di satu pihak menghadapi Ayah dan Guru sendiri yang patut dihormati, akan tetapi di lain pihak menghadapi seorang jahat yang patut ditentang. Yang penting, kalian harap ingat bahwa kewajiban kita adalah menentang kejahatan, bukan membenci orangnya.”

“Akan tetapi, Cu-Ko. Andaikata engkau menjadi aku, menghadapi Ayah sendiri yang begitu jahat, apa yang akan kau lakukan ? membantunya atau menentangnya?” tanya Ciang Lan.

“Ya, apa yang akan kau lakukan seandainya Gurumu sendiri yang sejahat itu?” tanya pula Song Bu.

Siauw Ming ikut mendengarkan dengan penuh perhatian. Ingin dia mendengar jawaban murid orang yang sakti dan bijaksana seperti Bu Beng Siauwjin.

“Kalau aku yang menghadapi Ayah atau Guru seperti itu, aku akan menentangnya dan juga membantunya,” kata Sin Cu tenang.

“Ihh! Jangan plin-plan, Cu-Ko. Pilih saja salah satu, menentang atau membantu...?” seru Ciang Lan memprotes.

“Sin Cu, jawabanmu ini membingungkan. Bagaimana mungkin engkau menentang dan sekaligus membantunya?” tanya pula Song penasaran.

“Sudah kukatakan tadi, yang harus ditentang adalah kejahatannya. Kalau dia melakukan kejahatan dan kita melihat itu, kita harus menentang dan mencegah dia melakukan kejahatan itu, sementara itu kita harus membantunya dengan jalan berusaha sekuat tenaga kita untuk menyadarkannya dari kesesatannya agar dia kembali ke jalan benar. Kita tidak boleh membencinya, apalagi kalau dia itu orang tua atau Guru sendiri. Andaikata kita membunuh Ayah kita yang jahat, bukankah kita ini lebih jahat daripada dia? Dia seorang penjahat, benar... akan tetapi kita ini siapa? Kita ini pembunuh sekaligus anak durhaka, jauh lebih jahat daripada dia yang kita bunuh...!”

Selanjutnya,
SEPASANG RAJAH NAGA JILID 32