Sepasang Rajah Naga Jilid 30

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Sepasang Rajah Naga Jilid 30
Sonny Ogawa
Cerita silat karya Kho Ping Hoo
Karya Kho Ping Hoo

Sepasang Rajah Naga Jilid 30 - “HARAP PADUKA jangan khawatir!” tiba-tiba Kui-Ciangkun yang tua itu berkata. “Ini hanya membuktikan bahwa Thaikum Liu Cin telah mengetahui akan laporan hamba sekalian kepada paduka dan dia lalu mengerahkan pasukan yang dipimpin oleh Panglima Liu Kui untuk mengepung Istana, hendak menangkap hamba sekalian dan mengancam paduka. Perbuatan ini sudah jelas membuktikan bahwa semua laporan hamba sekalian mengenai pengkhianatan Thaikam Liu Cin memang benar adanya.”

“Ah, lalu bagaimana baiknya? Apakah ini berarti bahwa dia hendak memberontak?” tanya Kaisar dengan wajah berubah.

“Hamba kira begitu, Yang Mulia. Akan tetapi hamba kira paduka tidak perlu khawatir karena hamba sekalian sudah menduga akan hal ini dan sudah membuat persiapan sebelum hamba menghadap paduka. Bahkan para pengawal Istanapun saat ini sudah hamba ganti dengan pasukan pengawal dari pasukan hamba yang dapat di percaya sepenuhnya.”

Kaisar Ceng Tek memandang ke kanan-kiri dan baru sekarang menyadari bahwa para perajurit pengawal memang berbeda dari biasanya. Para perajurit pengawal yang biasa adalah anak buah Panglima Liu Kui dan sudah dilucuti oleh pasukan pengawal yang baru. Hal inilah yang kemudian disusul menghadapnya dua puluh orang pejabat tinggi itu kepada Kaisar yang membuat Liu Cin curiga dan mengetahui bahwa ada kelompok pejabat yang menentangnya dan melapor kepada Kaisar. Oleh karena itu dia lalu menghubungi adiknya Panglima Liu Kui, dan mengerahkan pasukan untuk mengepung Istana.

“Adinda Kaisar Yang Mulia, tentang pasukan pimpinan Liu Kui yang mengepung Istana, harap paduka tidak khawatir. Para Panglima yang setia kepada paduka sudah menduga dan memperhitungkan hal itu dan kini mereka sudah siap untuk mengepung pasukan itu dan melucuti mereka.”

Pada saat itu, tampak seorang laki-laki tua yang berpakaian mewah dan gemerlapan memasuki ruangan itu dengan tergopoh-gopoh, dikawal selusin orang perajurit. Semua orang menoleh dan melihat bahwa orang itu bukan lain adalah Thaikam Liu Cin sendiri! Dia memasuki ruangan, berhenti di depan Kaisar dan berkata lantang sambil menuding ke arah dua puluh orang pejabat tinggi itu.

“Yang Mulia, berhati-hatilah. Mereka ini adalah pengkhianat-penghianat yang amat jahat dan merencanakan pemberontakan! Jangan paduka khawatir, hamba datang untuk menyelamatkan paduka dan menangkap para pemberontak ini!”

Setelah berkata demikian, Thaikam Liu Cin memerintahkan selusin orang pengawalnya sambil menudingkan telunjuknya ke arah dua puluh orang pejabat tinggi yang duduk menghadap Kaisar. “Tangkap mereka itu, kalau melawan bunuh saja pengkhianat pemberontak laknat itu!”

Selusin perajurit pengawal itu adalah orang-orang kepercayaan Thaikam Liu Cin. Mendengar perinptah itu, serentak mereka mencabut pedang hendak melaksanakan perintah itu, Akan tetapi, belasan orang perajurit pengawal Istana berlompatan ke depan melindungi para pejabat itu dan mencabut pedung mereka. Melihat para pengawal Istana itu hendak menentangnya, Thaikam Liu Cin terkejut, heran dan marah sekali.

“Heiii...! Apakah kalian sudah buta dan tidak melihat siapa aku? Berani kalian hendak menentang perintahku? Adikku, Panglima Lau Kui akan menghukum berat kalian! Hayo mundur!”

Tiba-tiba Kui-Ciangkun, Panglima tua itu tertawa, “Ha-ha-ha. Liu Cin, percuma saja engkau menjadi maling berteriak maling. Engkau sendiri yang hendak menjadi pengkhianat. Kedokmu sudah terbuka dan engkau masih berani hendak mengelabuhi Yang Mulia Kaisar? Pandanglah baik-baik. Para perajurit pengawal itu bukan lagi anak buah Panglima Liu Kui yang sudah disingkirkan. Mereka ini adalah anak buah pasukanku yang setia pada Sribaginda dan Kerajaan!”

Liu Cin terkejut bukan main dan tahulah dia bahwa pihak musuhnya telah mempersiapkan segalanya, bukan hanya mempengaruhi Kaisar dan membeberkan semua rahasianya, bahkan telah menggantikan pasukan pengawal Istana. Akan tetapi, Kakek yang berjenggot pendek itu menyeringai.

“Panglima Kui, kau kira engkau akan menang dengan tipu muslihatmu ini? Menyerah sajalah karena Istana ini telah dikepung pasukan besar yang mendukung aku!” Liu Cin lalu tertawa bergelak, yakin akan kemenangannya.

“Jangan tertawa dulu, Liu Cin! Kita lihat saja nanti siapa yang benar dan siapa yang akan menerima hukuman berat...!” kata Panglima Kui yang sudah bekerja sama dengan para Panglima setia lainnya dan dia tahu bahwa saat itu, pasukan besar gabungan dari para Panglima itu tentu sudah bergerak mengepung pasukan pendukung Liu Cin yang mengepung Istana itu. Liu Cin menjadi senakin marah.

“Bunuh mereka?” perintahnya kepada selusin orang pengawalnya. Akan tetapi belasan orang pengawal Istana anak buah Kui-Ciangkun juga bergerak maju.

Tiba-tiba dari pasukan pengawal Liu Cin itu melompat scorang perajurit dan dengan gerakan yang amat cepat menerjang ke arah pengawal Istana yang menghadang di depan. Para pengawal Istana itu cepat menggerakkan pedang mereka menyambut. Akan tetapi perajurit itu bergerak dengan kecepatan luar biasa dan empat orang pengawal Istana roboh terkena sambaran sinar pedang yang bergulung-gulung.

Melihat ini, Song Bu cepat melompat dari lantai di mana tadi dia berlutut sambil mencabut Coat-Beng Tok-Kiam yang baru saja dia terima kembali dari Kaisar. Dia segera mengenal siapa yang menyamar sebagai perajurit pengawal Liu Cin itu. Perajurit itu masih menggerakkan pedangnya hendak menerjang lagi. Pedangnya berkelebat dan berubah menjadi sinar bergulung-gulung. Song Bu cepat menyambutnya sebelum ada korban jatuh lagi di antara para perajurit pengawal Istana.

“Singg... tranggg...!” Bunga api berpijar dan dua batang pedang yang bertemu di udara itu tergetar.

Perajurit yang amat lihai pengawal Liu Cin itu memandang dengan kaget. Akan tetapi diapun segera mengenal Song Bu. Perajurit ini adalah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun dan dia menatap wajah Song dengan alis berkerut.

“Song Bu, pengkhianat yang tidak mengenal budi! Lupakah engkau bahwa engkau pernah diterima menjadi pembantu Liu-Taijin dan pernah belajar silat dariku? Sekarang engkau bahkan berani menentang kami?” bentak perajurit itu sambil menudingkan pedangnya yang masih berlumur darah.

Song Bu tersenyum, sikapnya tenang. “Memang dulu aku bekerja pada Thaikam Liu Cin karena aku tidak tahu orang macam apa adanya dia. Setelah aku tahu bahwa dia jahat dan para pembantunya juga bukan orang baik-baik, termasuk engkau Tosu Im-Yang-Kauw yang mengkhianati perkumpulanmu sendiri, Im Yang Tojin.”

“Totiang, cepat bunuh pengkhianat itu!” Liu Cin berseru marah.

Im Yang Tojin cepat menggerakkan pedangnya menyerang. Song Bu menyambut dengan pedangnya dan mereka sudah saling serang dengan seru. Sebelas orang pengawal Liu Cin juga sudah bertanding dengan pengawal Istana sehingga ruangan persidangan Istana itu menjadi medan pertempuran.

Pangeran Ceng Sin dan para pejabat segera mengamankan Kaisar Ceng Tek meninggalkan ruangan itu memasuki ruangan lain. Liu Cin yang yakin bahwa pasukan pendukungnya yang telah mengepung Istana sebentar lagi tentu akan menyerbu masuk berdiri dengan sikap angkuh.

Pertandingan antara Song Bu melawan Im Yang Tojin berlangsung seru. Akan tetapi tak lama kemudian Im Yang Tojin mulai terdesak hebat. Tokoh Im-Yang-Kauw ini tidak dapat mengandalkan pukulan tangan kirinya dengan ilmu Im-Yang Sin-Ciang karena Song Bu sudah mempelajari ilmu itu darinya dan sudah mengenal dengan baik sehingga mudah menandinginya.

Sebaliknya, ilmu pedang pemuda itu didukung ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat sehingga gerakan Song Bu cepat bukan main. Tubuhnya tiada ubahnya sebuah bayangan yang berkelebatan dan pedang Coat-Beng Tok-Kiam menjadi gulungan sinar biru yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Im Yang Tojin mahir memainkan ilmu pedang Im-Yang Kiam-Sut karena dia juga anggauta Im-Yang Ngo-Kiam-Tin (Barisan Lima Pedang Im Yang).

Akan tetapi ilmu ini baru ampuh sekali kalau dipergunakan dalam barisan lima orang. Biarpun ilmu pedang perorangan dari Tosu Im-Yang-Kauw itu juga kuat, apalagi ditambah dengan tenaga saktinya yang sudah mencapai tingkat tinggi, namun berhadapan dengan Song Bu dia masih kalah jauh. Pemuda ini selain telah mewarisi ilmu-ilmu dari Tung-Hai-Tok Ouw Yang Lee datuk yang menjadi majikan Pulau Naga, juga menerima pelajaran ilmu-ilmu andalan dari Hek Moko, Pek Moko, bahkan dari Im Yang Tojin sendiri!

Sebelas orang perajurit lain yang mengawal Thaikam Liu Cin sudah bertempur seru melawan para perajurit pengawal Istana. Karena jumlah para pengawal Istana jauh lebih banyak dan disitu terdapat pula beberapa orang Panglima tua yang lihai dan yang membantu para pengawal Istana. Maka sebelas orang pengawal Thaikam Liu Cin itu satu demi satu roboh mandi darah.

Im Yang Tosu mengamuk karena dia melihat para pengawal roboh dan belum juga muncul pasukan yang menurut Thaikam Liu Cin sudah mengepung Istana dan akan menyerbu masuk. Hatinya mulai khawatir, akan tetapi dia tidak melihat jalan untuk melarikan diri. Maka, diapun mengamuk dan mati-matian menyerang Song Bu yang sejak tadi sudah mendesaknya.

Song Bu mempercepat gerakan tubuhnya, dia memang memiliki keistimewaan dalam hal ginkang (ilmu meringankan tubuh) sehingga pernah di juluki Bu-Eng-Kui (Setan Tanpa Bayangan). Tubuhnya berkelebatan terbungkus gulungan sinar pedangnya yang berwarna biru. Im Yang Tojin mengerahkan segala kemampuannya.

“Cringgg...!!” Dua pedang bertemu dan karena Song Bu tadi mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, maka tangan Im Yang Tojin yang memegang pedang tergetar hebat dan pedangnya terlepas dari tangannya.

“Haiiit...! Cappp...!” Song Bu membentak dan pedangnya memasuki dada Im Yang Tojin. Tokoh Im-Yang-Kauw yang menyeleweng ini mengeluarkan teriakan dan roboh mandi darah, tewas seketika karena selain luka di dadanya amat parah, juga pedang di tangan Song Bu itu adalah Coat-Beng Tok-Kiam (Pedang Racun Pencabut Nyawa).

Ketika melihat para pengawalnya roboh, Thaikam Liu Cin terbelalak dan berkali-kali dia menoleh ke arah pintu depan. Akan tetapi belum juga pasukan yang mendukungnya menyerbu ke dalam dan melihat Im Yang Tojin roboh, dia segera menggerakkan kedua kakinya dan melarikan diri dari ruangan itu. Akan tetapi Kui-Ciangkun yang sejak tadi mengamati gerak-gerik Thaikam Liu Cin, sudah menghadang di depannya.

“Liu Cin, pengkhianat hina, engkau hendak lari ke mana?” bentaknya sambil mencabut pedang.

Melihat ini, Thaikaim Liu Cin yang sudah tersudut itu menjadi nekat. Diapun mencabut pedangnya, sebatang pedang yang gagangnya terbuat daripada emas bertabur intan, sebatang pedang yang indah dan mewah sekali, dan tanpa mengeluarkan kata-kata diapun menyerang Kui-Ciangkun (Panglima Kui) dengan tusukan pedang mewah itu.

Kui-Ciangkun menangkis dengan pedangnya dan balas menyerang. Serang menyerang terjadi, akan tetapi biarpun Liu Cin pernah belajar silat, namun selama ini dia hanya hidup bersenang-senang, tak pernah berlatih olah raga, maka dalam beberapa jurus saja napasnya sudah terengah-engah. Ketika kaki kiri Kui-Ciangkun menendang dan mengenai tangan kanannya, pedang yang dipegangnya terpental dan terlepas dari tangannya.

Kui-Ciangkun menodongkan pedangnya pada leher Thaikam itu dan Thaikam Liu Cin tak berdaya. Dia hanya menunduk pasrah ketika Panglima Kui menelikung dan mengikat kedua lengannya ke belakang tubuhnya.

Sementara itu, di luar Istana juga terjadi pertempuran kecil. Pasukan yang mengepung Istana dipimpin oleh Panglima Kui, disergap oleh pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya, yang dipimpin oleh para Panglima yang mendukung para bangsawan yang menentang Liu Cin. Karena kekuatan mereka tidak seimbang, pasukan Liu Kui itu menyerah ketika dilucuti.

Liu Kui yang menjadi Panglima dan Liu Wan yang menjadi jaksa, ditangkap. Demikian pula banyak pembesar yang dikenal sebagai sekutu atau anak buah Thaikam Liu Cin. Pembersihan besar-besaran dilakukan di Kotaraja. Jatuhnya Thaikam Liu Cin ini terjadi dalam tahun 1510.

Sementara itu, beberapa pekan yang lalu, terjadi keributan di Kuil Siauw-Lim-Si. Peristiwa itu terjadi di suatu malam terang bulan. Kuil Siauw-Lim sudah sepi, yang terdengar hanya suara yang tenang dan merdu membaca kitab suci, yang ber-Liam-Keng (membaca kitab suci) ini adalah Cu Sian Hwesio, wakil ketua Siauw-Lim-Pai.

Dia memang dikenal sebagai seorang Hwesio yang pandai membaca kitab suci dan dia memiliki suara yang merdu. Suaranya yang diiringi bunyi tok-tok-tok kentungan kayu yang dipukul berirama itu menembus kesunyian malam, mendatangkan suasana damai dan hening.

Tiba-tiba tampak sesosok bayangan orang berkelebat di atas atap Kuil itu. Bayangan yang bergerak ringan dan cepat. Kedua kakinya tidak bersuara seperti kaki kucing ketika bayangan itu berkelebatan di atas atap Kuil yang bergenteng tebal itu. Orang ini memakai pakaian ringkas serba hitam dan mukanya juga ditutup dari hidung ke bawah dengan kain hitam. Kepalanya juga dibungkus kain hitam sehingga yang tampak hanya sepasang matanya yang mencorong seperti mata kucing. Akhirnya bayangan itu tiba di atas atap ruangan di mana Cu Sian Hwesio membaca Liam-Keng.

Tingkat kepandaian Cu Sian Hwesio ini sudah tinggi sehingga kalau saja dia tidak sedang ber Liam-Keng yang diiringi suara tok-tok-tok itu, mungkin dia dapat mengetahui bahwa di atas atap ada orang mengintai. Akan tetapi dia sedang asyik ber Liam-Keng sehingga dia tidak mendengar apa-apa. Akan tetapi tiba-tiba pada saat itu sesosok bayangan lain melompat naik atap ruangan lain. Bayangan ini adalah seorang Hwesio yang bertugas sebagai kepala jaga di malam hari itu.

Agaknya dia hendak mengadakan pemeriksaan dari atap untuk mengetahui apakah keadaan aman saja. Tanpa disengaja, dia melihat bayangan yang berkelebat itu. Gerakan bayangan yang amat cepat itu mengejutkannya dan sekaligus membuat dia maklum bahwa bayangan itu adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Maka, diapun melayang turun dan tiba di luar ruangan di mana Cu Sian Hwesio ber Liam-Keng.

Maksud hendak melapor kepada wakil ketua yang belum tidur bahwa ada bayangan mencurigakan yang berada di atas atas dan gerakannya menunjukkan bahwa orang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi baru saja dia menghampiri pintu dan hendak mengetuknya, tiba-tiba bayangan yang berkelebatan dan sekarang sudah melompat turun sekitar lima meter di belakangnya itu menggerakkan tangan.

Tiga sinar meluncur kearah punggung Hwesio itu. Dia mendengar suara angin senjata rahasia ini dan berusaha mengelak, akan tetapi tiga batang senjata rahasia itu terbang dengan amat cepatnya dan tahu-tahu sudah menancap di punggungnya. Hwesio itu mengaduh dan roboh terjungkal, menelungkup dan tidak bergerak lagi.

Suara Liam-Keng itu tiba-tiba berhenti. Cu Sian Hwesio mendengar suara gedebukan jatuh di luar ruangan. “Siapa di luar?” tanyanya. Akan tetapi tidak ada jawaban. Dia lalu melangkah dan membuka daun pintu, lalu keluar dan melihat Hwesio yang rebah menelungkup di atas lantai. Tempat itu cukup terang, mendapat penerangan lampu gantung ditambah lagi sinar bulan purnama.

Cu Sian Hwesio cepat menghampiri, berlutut dan alangkah kagetnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa orang itu adalah seorang murid tingkat pertama dan dia sudah tewas dengan tiga batang pisau terbang menancap di punggungnya. Melihat senjata rahasia itu, dia berseru lirih. “Omitohud... Khong-Thong-Pai...!”

Dia segera mengenal senjata rahasia dari aliran Khong-Thong-Pai yang terkenal ampuh itu. Pada saat itu, dia mendengar suara angin dan ada hawa pukulan dahsyat menyambar ke arah tengkuknya. Cu Sian Hwesio adalah wakil ketua Siauw-Lim-Pai, tentu saja ilmu kepandaiannya sudah tinggi. Cepat dia menggulingkan tubuhnya ke atas lantai dan bergulingan sampai beberapa meter jauhnya lalu melompat berdiri dan memutar tubuhnya. Ternyata di depannya telah berdiri seorang yang memakai pakaian serba hitam, kepala dan mukanya juga ditutupi kain hitam.

“Omitohud! Siapakah engkau dan mengapa engkau membunuh seorang murid kami?” Cu Sian Hwesio bertanya sambil melangkah menghampiri orang itu.

Akan tetapi orang itu tidak menjawab melainkan menggerakkan tubuhnya dan menyerang dengan dahsyat sekali. Dia menyerang dengan gerakan lincah dan mempergunakan jari-jari tangan untuk menotok ke arah jalan-jalan darah mematikan. Dan Cu Sian Hwesio yang mengenal ilmu totokan seperti ini, terkejut bukan main. Dia mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatan tubuhnya untuk mengelak dan menangkis.

“Engkau... engkau orang Bu-Tong-Pai?” dia bertanya heran. Akan tetapi penyerangnya tidak menjawab bahkan menyerang semakin gencar. Cu Sian Hwesio terdesak dan diapun cepat membalas sehingga kedua orang itu bertanding dengan seru.

Agaknya penyerang itu terkejut juga, tidak menyangka bahwa yang diserangnya sekali ini adalah seorang Hwesio yang demikian lihainya. Dia tidak mengira bahwa dia berhadapan dengan wakil ketua Siauw-Lim-Pai sendiri! Tadinya dia menyangka bahwa Hwesio inipun seorang murid biasa seperti yang telah dia robohkan dengan senjata rahasia tadi.

Penyerang itu menjadi panik ketika mendapat kenyataan betapa lihai lawannya. Akan tetapi dia tidak mendapat kesempatan untuk melarikan diri karena Cu Sian Hwesio yang agaknya mengerti bahwa penjahat itu hendak kabur, sudah mengurungnya dengan serangan-serangannya.

Tiba-tiba muncul Hui Sian Hwesio! Pendeta berusia tujuh puluh tahun lebih yang gemuk tinggi itu merasa tidak enak hatinya dan dia keluar dari kamarnya. Hal ini adalah karena dia mendengar suara Liam-Keng dari Cu Sian Hwesio terhenti secara mendadak. Setelah tiba di luar dia melihat Sutenya itu sedang bertanding seru melawan seorang berpakaian hitam dan mukanya ditutup topeng hitam pula.

Dan diapun terheran-heran melihat gerakan dari topeng hitam itu yang mempergunakan ilmu serangan totokan Tiam-Hiat-Hoat dari Bu-Tong-Pai! Melihat Sutenya bertanding seimbang, dia khawatir kalau Sutenya mempergunakan jurus maut dan menewaskan orang itu. Orang bertopeng hitam itu harus ditangkap hidup-hidup karena dia masih ragu-ragu dan curiga apakah benar orang itu tokoh Bu-Tong-Pai yang hendak membunuh Sutenya.

“Omitohud, jangan bunuh, Sute, biarkan Pinceng (aku) menangkapnya!” kata Hui Sian Hwesio dan Hwesio tua ini segera bergerak ke depan dan menyerang orang bertopeng itu dengan ilmu totok It-Yang-Ci (Totok Satu jari).

Orang bertopeng itu berseru kaget bukan main. Ketika itu kedua tangannya bertemu dengan tangan Cu Sian Hwesio, maka mana mungkin dia menghindarkan diri dari totokan dahsyat itu? Bahkan andaikata kedua tangannya bebas sekalipun belum tentu dia mampu menghindarkan diri. “Tukk...!” Tubuh orang bertopeng itu menjadi lemas dan diapun terkulai roboh dan tidak mampu bergerak lagi.

“Omitohud…! Pinceng melihat orang ini mempergunakan ilmu totok Tiam-Hiat-Hoat dari Bu-Tong-Pai, Sute!” kata Hui Sian Hwesio.

“Bukan itu saja, Suheng, akan tetapi dia telah membunuh murid Kim Ceng dengan pisau-pisau terbang dari Kong-Thong-Pai. Lihatlah itu!” Cu Sian Hwesio menunjuk ke arah mayat Hwesio yang rebah menelungkup.

Hui Sian Hwesio menghampiri mayat itu dan memeriksa tiga pisau yang masih menancap di punggung mayat itu. “Omitohud...! Benar-benar pisau terbang Kong-Thong-Pai! Sute, coba ambil lampu itu dan dekatkan di sini. Pinceng hendak melihat siapa orang ini” kata Hui Sian Hwesio dan pada saat itu, beberapa orang Hwesio berdatangan.

Mereka terkejut oleh suara perkelahian tadi dan mendatangi, ada yang membawa lampu Teng. Dengan lampu itu mereka menerangi orang bertopeng yang rebah telentang tak mampu bergerak. Cu Sian Hwesio merenggut topeng itu dan semua orang tertegun karena mereka tidak mengenal orang itu. Sama sekali bukan seorang di antara tokoh-tokoh besar Kong-Thong-Pai atau Bu-Tong-Pai.

Padahal kalau melihat tingkat kepandaiannya yang mampu menandingi seimbang dengan Cu Sian Hwesio, dia tentu seorang tokoh yang cukup terkenal baik di Kong-Thong-Pai maupun Bu-Tong-Pai. Akan tetapi kenyataannya, tidak seorangpun Hwesio Siauw-Lim-Pai mengenalnya. Kini semua penghuni Kuil Siau-Lim-Si sudah berkumpul di tempat itu. Ruangan depan kamar untuk Liam-Keng menjadi terang oleh banyak lampu yang dibawa para murid.

“Bawa dia ke dalam ruangan sidang. Cu Sian Sute (adik seperguruan Cu Sian), mari kita berdua memeriksa dan menanyainya.”

Orang itu diseret ke dalam ruangan sidang dan para murid di suruh keluar. Hanya Hui Sian Hwesio dan Cu Sian Hwesio berdua yang akan memeriksa pembunuh itu. Orang itu direbahkan di atas lantai. Wajahnya diterangi lampu besar yang tergantung di ruangan itu. Dua orang pimpinan Siauw-Lim-Pai mengamati wajah itu dengan penuh perhatian. Orang itu laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh tinggi kurus, wajahnya tampan. Akan tetapi dua orang pimpinan Siauw-Lim-Pai itu tidak mengenalnya.

“Katakan, siapa engkau dan kenapa engkau membunuh dan mengacau Siauw-Lim-Si?” tanya Cu Sian Hwesio dengan garang.

Orang itu tertotok lemas akan tetapi tidak menghilangkan kemampuannya berbicara. Orang itu tersenyum, senyumnya mengejek. “Tidak perduli siapa aku. Aku adalah utusan Kong-Thong-Pai dan Bu-Tong-Pai dan kalian tentu tahu mengapa aku membunuh orang Siauw-Lim-Pai dan mengacau di sini!”

Dua orang Hwesio itu saling pandang dengan alis berkerut. Ketika bicara, orang itu tersenyum-senyum aneh dan suaranya kecil tinggi seperti suara wanita. Senyum dan pandang matanya genit.

“Katakan yang sebenarnya, jangan membohong!” Cu Sian Hwesio menghardik. “Kami tidak percaya omonganmu tadi!”

“Hi-hi-hik!” Orang itu tertawa. “Apa kalian sudah buta dan tidak melihat bahwa aku menggunakan ilmu Kong-Thong-Pai dan Bu-Tong-Pai? Kedua partai persilatan itu yang mengutus aku untuk membalas kematian rnurid-murid mereka yang kalian bunuh. Sekarang aku telah tertangkap. Kalau kalian hendak membunuhku, lakukanlah dan jangan banyak bicara lagi!”

Cu Sian Hwesio yang mewakili Siauw-Lim-Pai untuk urusan luar mempunyai banyak pengalaman dan lebih mengenal tokoh-tokoh dunia persilatan dibandingkan Suhengnya, tiba-tiba berseru heran, “Ah... engkau bergigi emas! Engkau tentu yang berjuluk Si Banci Bergigi Emas, Pangeran Yorgi dari Mancu. Pinceng pernah mendengar namamu.”

Laki-laki itu memang Pangeran Yorgi. Seperti kita ketahui, dia mendapat tugas dari Kim Niocu untuk mengacau Siauw-Lim-Si dan membunuh orang Siauw-Lim-Pai mempergunakan senjata rahasia Kong-Thong-Pai dan, ilmu totok Bu-Tong-Pai yang diajarkan oleh Kim Niocu kepadanya. Tentu saja ini dalam rangka siasat Pek-Lian-Kauw untuk mengadu domba antar partai persilatan besar itu. Sebagai seorang tokoh mancu yang mewakili bangsanya untuk bergabung dengan Pek-Lian-Kauw dan memusuhi Kerajaan Beng, Pangeran Yorgi siap untuk mati demi negaranya. Dia tidak takut mati.

“Hi-hi-hik! Sudah kukatakan, siapa adanya aku bukan soal dan aku tidak perduli. Aku adalah utusan Kong-Thong-Pai dan Bu-Tong-Pai!”

“Jangan melakukan fitnah! Mengaku sajalah, atau kami akan menggunakan kekerasan!” bentak pula Cu Sian Hwesio.

Mendengarkan ucapan Sutenya ini, Hui Sian Hwe-sio mengerutkan alisnya yang putih. Dia seorang pendeta yang alim, tentu saja tidak enak perasaannya mendengar ucapan Sutenya yang hendak menggunakan kekerasan.

“Menggunakan kekerasan? Ha-ha-hi-hik..., apa kau kira aku takut mati? Sudahlah biar engkau akan mencincang tubuhku sampai mati, aku tidak akan sudi bicara lagi!” kata Pangeran Yorgi dengan sikap angkuh.

Cu Sian Hwesio tersenyum. “Banyak orang tidak takut mati, akan tetapi Pinceng ingin melihat apakah engkau juga tidak takut sakit!” Setelah berkata demikian, cepat jari telunjuk kanannya bergerak menotok tiga kali ke arah kedua pundak dan dada Pangeran Yorgi.

“Sute...! Omitohud... apa yang kau lakukan itu?” seru Hui Sian Hwesio kaget.

“Dia harus mengaku agar persoalannya menjadi terang, Suheng. Kalau tidak, kita akan terus dipermainkannyal” jawab Cu Sian Hwesio dengan sikap tenang.

Mula-mula Pangeran Yorgi masih tersenyum mengejek, seolah menertawakan ancaman kematian baginya. Akan tetapi perlahan-lahan senyumnya berubah menjadi seringai, wajahnya menjadi kerut merut, giginya menggigit bibir dan matanya terpejam. Dia menderita rasa nyeri yang teramat hebat. Seperti ada ujung pedang yang menusuk-nusuk isi dadanya dan rasa gatal, panas dan perih menjalar ke sekujur tubuhnya seolah-olah ada ribuan semut merubung dan menggigitnya.

Dia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya dan rasa nyeri itu menggigit, menghentak, menusuk-nusuk, kiut-miut rasanya sampai menembus ke tulang sumsum. Rasa nyeri menjalar ke otak kepalanya berdenyut-denyut seperti akan pecah! Rasa nyeri yang membuatnya ingin cepat mati saja, akan tetapi rasa nyeri yang menyiksa itu tidak sampai membuat dia pingsan.

Dia mulai merintih, mengaduh, mengerang, dan air matanya mulai menetes-netes membasahi mukanya. Dia berusaha untuk bertahan dan mengatupkan mulutnva erat-erat agar jangan meluarkan kata-kata. Akan tetapi setelah kurang lebih lima menit, dia tidak tahan lagi. Dengan mulut megap-megap seperti ikan dilempar ke daratan, dia berkata.

“Aduh... aduh... hentikan... hentikan!” Dia meratap.

Hui Sian Hwesio sudah duduk bersila dan memejamkan kedua matanya. Dia tidak ingin melihat lebih lama lagi penderitaan orang di depannya.

“Katakan dulu, benarkah engkau Pangeran Yorgi, Si Banci Bergigi Emas?”

“Benar... benar... ahhh!!”

“Katakan, siapa yang menyuruh engkau melakukan pembunuhan dan mengacau Siauw-Lim-Pai?”

“Yang me... menyuruh... Kim Niocu, dia puteri ketua umum Pek-Lian-Kauw...! Ah... hentikan ini...!”

“Katakan di mana Kim Niocu sekarang dan mengapa ia melakukan ini! Cepat katakan!” Cu Sian Hwesio menghardik.

“Ia... bersekutu dengan Thaikam Liu Cin... ia sekarang berada di Kotaraja... mereka... ingin mengadu domba antara Siauw-Lim-Pai dan Bu-Tong-Pai! Aduh... bebaskan aku...!”

“Sekali lagi! Katakan, siapa yang membunuhi orang-orang Kong-Thong-Pai dan Bu-Tong-Pai?”

“Bukan aku...! Orang orangnya Thaikam Liu cin... Hek Pek Moko... ahhh!”

Tiba-tiba Hui Sian Hwesio yang tadinya bersila dan memejamkan matanya, mengerakkan tangannya. Cepat sekali jari-jari tangannya menotok dan Pangeran yorgi tidak mengeluh lagi. Rasa nyeri yang amat hebat itu sudah meninggalkan badannya yang masih belum mampu menggerakkan kaki tangannya. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

“Cu Sian Sute, maafkan dan bebaskan dia...” kata Hui Sian Hwesio dengan suara lemah. Luluh hati yang penuh belas kasihan itu mendengar penderitaan tadi.

“Tidak Suheng. Ini menyangkut nama dan kehormatan Siauw-Lim-Pai. Orang ini harus kita jadikan saksi dan bukti agar pihak Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai mendengar dan menyaksikan sendiri. Dengan demikian nama kita dapat dibersihkan. Tentang orang ini, kita serahkan saja kepada pihak Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai.”

Tanpa menanti jawaban, Cu Sian Hwesio lalu mengempit tubuh yang masih lunglai itu dan membawanya ke bagian belakang Kuil. Dia memasukkan Pangeran Yorgi ke dalam sebuah kamar, membelenggu kaki tangannya dengan tali sutera yang amat kuat, lalu menyuruh belasan orang murid untuk menjaga orang itu jangan sampai lolos dari kamar.

Kemudian dia mengutus dua orang murid kepala agar besok pagi-pagi berangkat meninggalkan Siauw-Lim-Si untuk memberi kabar dan mengundang pimpinan Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai untuk berkunjung ke Siauw-Lim-Si. Akan tetapi, sungguh suatu kebetulan, pada keesokan harinya ketika dua orang murid Siauw-Lim-Pai itu berangkat, di depan Kuil mereka melihat rombongan Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai sedang bercakap cakap dengan Gan Hok San, pendekar murid Siauw-Lim-Pai yang banyak dikenal itu!

Seperti kita ketahui, Gan Hok San mengunjungi cabang Pek-Lian-Kauw dalam usahanya mencari Ouw Yang Hui dan menyelidiki tentang pembunuhan terhadap para murid Kong-Thong-Pai dan Bu-Tong-Pai, akan tetapi dia tidak berhasil menemukan sesuatu. Karena dia mengkhawatirkan keadaan isterinya yang ditinggalkan di depan Kuil Siauw lim-pai, dia mengambil keputusan untuk kembali saja ke depan Kuil itu.

Pagi itu, ketika Gan Hok San hendak menghadap para pimpinan Siauw-Lim-Pai, dia melihat rombongan pimpinan Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai yang dipimpin sendiri oleh Cang Su Cinjin sebagai Ketua Bu-Tong-Pai dan Lui Kai It sebagai Wakil Ketua Kong-Thong-Pai. Karena sudah mengenal mereka, Gan Hok San menyambut mereka dan mereka bercakap-cakap di depan Kuil.

Dua orang murid Siauw-Lim-Pai itu girang melihat mereka dan menyampaikan undangan Ketua Siauw-Lim-Pai. Sungguh kebetulan sekali karena dua orang pimpinan Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai itupun hendak bertemu dengan pimpinan Siauw-Lim-Pai untuk menanyakan tentang hasil penyelidikan mengenai pembunuhan terhadap murid-murid mereka.

Ketika diadakan pertemuan dan perundingan, yang dipersilakan masuk hanya Cang Su Cinjin Ketua Bu-Tong-Pai dan Lui Kai It Wakil Ketua Kong-Thong-Pai saja sedangkan anggauta rombongan lain dipersilakan menanti di ruangan depan.

“Omitohud, sungguh kebetulan sekali kedatangan ji-wi (kalian berdua) berkunjung ke Kuil kami,” kata Hui San Hwesio. “Sesungguhnya kamipun bermaksud untuk mengundang ji-wi ke sini. Ketahuilah, secara tak terduga-duga kami telah mendapat keterangan tentang pembunuhan-pembunuhan yang terjadi pada murid-murid perguruan Ji-wi. Bahkan semalam seorang murid kami juga terbunuh. Akan tetapi kami berhasil menangkap pembunuhnya dan terbongkarlah semua rahasia pembunuhan itu.”

“Siapa pembunuhnya, Lo-Suhu?” tanya Cang Su Cinjin.

“Ya, siapa pembunuh keparat itu?” tanya Lui Kai It galak. “Kami harus menghukumnya!”

Hui Sian Hwesio yang menyambut dua orang tamunya itu bersama Cu Sian Hwe sio, menoleh kepada Sutenya dan berkata. “Sute, ceritakanlah sejelasnya kepada mereka.”

“Cang Su Totiang dan Lui Kai It Taihiap, semalam terjadi hal yang sama sekali di luar persangkaan kami. Seorang murid kami terbunuh dan Lui-Taihiap, coba lihat ini, alat yang dipergunakan pembunuh untuk membunuh murid kami itu.” Cu Sian Hwesio membuka buntalan kain kuning dan mengeluarkan tiga batang pisau yang semalam dipergunakan untuk membunuh murid Siauw-Lim-Pai itu, diperlihatkan kepada Wakil Ketua Kong-Thong-Pai itu.

Lui Kai It terbelalak lalu mengerutkan alisnya. “Apa artinya ini? Ini merupakan senjata rahasia partai kami!”

“Itulah, Lui-Taihiap! Dan Totiang, tahukah Totiang apa yang terjadi selanjutnya?”

“Pinceng (aku) keluar dari ruangan Liam-Keng dan berhadapan dengan pembunuh yang bertopeng itu. Dia lalu menyerang Pinceng, menggunakan ilmu totok Tiam-Hiat-Hoat dari Bu-Tong-Pai!”

“Siancaai... tidak mungkin murid kami.” Seru Cang Su Cinjin terkejut dan heran, juga penasaran.

“Tenanglah, Toyu dan Taihiap. Pinceng semula juga merasa heran. Akan tetapi untung bahwa kami telah dapat menangkap pembunuh itu. Dia itu bukan lain adalah Pangeran Yorgi dari Mancu yang berjuluk Si Banci Bergigi Emas,”

“Siancai! Aneh sekali, mengapa orang Mancu membunuh murid kami?” kata Cang Su Cinjin. Apa artinya ini? Dan bagaimana jahanam itu bisa mempergunakan pisau terbang kami?” Lui Kai It juga berkata penasaran.

“Dia sudah membuat pengakuan dan ternyata tidak ada keanehan dalam rahasia ini. Dia menjadi utusan dari Pek-Lian-Kauw yang dipimpin oleh Kim Niocu, puteri Ketua Umum Pek-Lian-Kauw untuk membunuh murid-murid kami dengan mempergunakan ilmu-ilmu Kong-Thong-Pai dan Bu-Tong-Pai yang sudah dipelajarinya. Adapun yang membunuh murid-murid Kong-Thong-Pai dan Bu-Tong-Pai adalah Hek Pek Moko yang menjadi orang-orangnya Thaikam Liu Cin.

"Ternyata Thaikam Liu Cin dan Pek-Lian-Kauw mengadakan persekutuan dan semua pembunuhan itu dimaksudkan untuk mengadu domba antara kita yang tidak suka dan menentang Thaikam Liu Cin. Pangeran Yorgi telah mengakui semua ini. Untung kami dapat menangkapnya sehingga kita semua mengetahui akan rencana jahat mereka untuk mengadu domba di antara kita.”

“Di mana Pangeran Yorgi itu sekarang? Ingin aku melihat mukanya!” teriak Lui Kai It marah.

“Pinto (aku) juga ingin mendengar pengakuannya sendiri,” kata Cang Su Cinjin.

“Harap ji-wi tunggu sebentar. Pinceng akan membawanya ke sini,” kata Cu kian Hwesio dan dia lalu meninggalkan ruangan itu. Dia menotok tubuh Pangeran yorgi sehingga tidak mampu menggerakkan kaki tangan, lalu melepaskan ikatannya dan mengempitnya, membawanya keluar ke dalam ruangan di mana dua orang pimpinan dua parti persilatan besar itu sudah menunggu. Cu Sian Hwesio melepaskan tubuh Pangeran Yorgi ke atas lantai di mana orang Mancu itu rebah telentang.

Dua orang pimpinan partai itupun belum pernah bertemu dengan Pangeran Yorgi, akan tetapi mereka berdua sudah pernah mendengar nama Si Banci Bergigi Emas. Cang Su Cinjin memandang wajah orang Mancu itu lalu bertanya,

“Benarkah engkau mengaku bahwa semua pembunuhan itu direncanakan oleh persekutuan antara Pek-Lian-Kauw dan Thaikam Liu Cin?”

Pangeran Yorgi tertawa mengejek dan menjawab, “Semua itu betul dan kalian mau apa? Kalian ini pemimpin-pemimpin partai persilatan besar hanyalah orang-orang penakut besar. Memeriksa orang dan menanyainya dalam keadaan tertotok seperti ini. Apakah kalian berempat ini takut kalau aku dalam keadaan bebas lalu akan membunuh kalian? Ha-ha-hi-hi-hik!” Kemudian, disambungnya dengan kata-kata yang nadanya mengejek, “Lihat, kalian bermuka merah karena marah. Hayo bunuh saja aku, karena kalau tidak, aku yang nanti akan membunuh kalian!”

Lui Kai It, Wakil Ketua Kong-thong paí itu adalah seorang yang berwatak keras dan galak, amat memegang teguh kegagahan dan kehormatan. Dihina seperti itu, dia membentak kepada Cu Sian Hwesio, “Cu Sian Lo-Suhu, engkau yang menotoknya, maka harap engkau pula yang membebaskannya. Hendak kulihat jahanam keparat ini dapat berbuat apa? Hendak kulihat apakah dia akan mampu melarikan diri dari hadapanku!”

“Siancai, Pinto juga ingin melihat dia dibebaskan dari totokan. Memang tidak enak memeriksa orang dalam keadaan seperti ini. Pinto tanggung bahwa dia tidak akan mampu lari dari Pinto.” Kata Cang Su Cinjin yang juga merasa tersindir dan malu.

“Sute, bebaskan dia!” kata Hui Sian Hwesio kepada Sutenya.

Cu Sian Hiwesio lalu menghampiri Pangeran Yorgi yang rebah telentang di atas lantai. Tangannya bergerak cepat dan dengan ilmu It-Yang-Ci, dia menotok tiga kali dan Pangeran Yorgi mengeluh lalu dapat menggerakkan kaki tangannya. Dia bangkit, duduk bersila dan mengatur pernapasan, menghimpun tenaga, duduk diam beberapa saat lamanya. Empat orang itu menandang dengan penuh perhatian dan waspada.

Setelah Pangeran Yorgi menggerakan tubuh dan membuka matanya yang tadinya terpejam, Lui Kai It lalu berkata, “Orang Mancu, kami sudah mendengar akan semua pengakuanmu kepada para pemimpin Siauw-Lim-Pai, akan tetapi kami dari Kong-Thong-Pai ingin mendengar keterangan ini dari mulutmu sendiri. Hayo Ceritakan kepada kami tentang pembunuhan atas murid kami!”

Perlahan-lahan Pangeran Yorgi bangkit berdiri, menggerak-gerakkan kaki tangannya yang tadinya terasa kaku sehingga menjadi lemas kembali. Empat orang pemimpin itu memandangnya dengan penuh kewaspadaan, maklum bahwa orang ini berbahaya dan cukup lihai. Tiba-tiba Pangeran Yorgi tertawa bergelak.

“Ha-ha-hi-hi-hik! Setelah aku bebas, jangan harap kalian akan dapat mendengar keterangan dariku sepatah katapun. Mampuslah kau!” Dia bergerak ke kiri lalu menyerang ke arah Lui Kai dengan cepat dan tiba-tiba. Dia menyerang dengan ilmu totok Tiam-Hiat-Hoat dari Bu-Tong-Pai yang sudah dipelajarinya dari Kim Niocu!

“Heiiitt...!” Lui Kai It yang sejak tadi selalu waspada, tentu saja tidak terkejut oleh serangan tiba-tiba ini. Dia cepat mengelak ke belakang dan membalas dengan pukulan tangan dengan ilmu Pek-Lui-Ciang (Tangan Geledek). Pangeran Yorgi dapat menangkis dengan baik dan kembali menyerang dengan totokan Tian-Hiat-Hoat. Sekali ini Lui Kai It tidak mengelak, melainkan menangkis sambil mengerahkan tenaga.

“Dukkk...!” Tubuh Pangeran Yorgi terhuyung ke belakang dan dia melompat ke kanan untuk melarikan diri. Akan tetapi di sebelah kanan Cang Su Cinjin menyambutnya dengan totokan Tiam-Hiat-Hoat. Karena yang melakukan totokan ini ketua Bu-Tong-Pai, maka tentu saja hebat sekali. Pangeran Yorgi terkejut dan mencoba untuk menangkis.

“Dess...!” Pertemuan kedua tangan membuat Pangeran Yorgi yang belum pulih seluruh tenaganya itu, terhuyung-huyung. Akan tetapi melihat dirinya terkepung, dia menjadi nekat dan kembali dia menyerang Lui Kai It, kini menggunakan kedua tangan yang membentuk cakar untuk mencengkeram. Dia mempergunakan ilmu gulat dari Mancu yang tentu asing bagi orang yang diserang.

Namun yang diserangnya adalah Wakil Ketua Kong-Thong-Pai yang sudah memiliki tingkat kepandaian silat tinggi dan mempunyai banyak pengalaman pula. Maka Lui Kai It bahkan membiarkan pundaknya di cengkeram tangan Pangeran Yorgi dan pada saat yang sama tangan kanannya yang terbuka menghantam ke dada lawan.

“Hyaatttt...! Dukkk...!” Tubuh Pangeran Yorgi terpental lalu roboh terjengkang dan dia tewas seketika.

“Omitohud...!” Hui Sian Hwesio berseru. “Kiranya dia sengaja mengejek kita agar dibebaskan sehingga dia dapat bertindak nekat dengan dua pilihan, berhasil lolos atau menemui kematiannya.

Cu Sian Hwesio memanggil dua orang murid dan memerintahkan agar dua orang murid itu membawa jenazah Pangeran Yorgi keluar ruangan dan mengurusnya sebagaimana mestinya. Setelah jenazah dibawa pergi, Cu Sian Hwesio berkata kepada Cang Su Cinjin dan Lui Kai It.

“Dari Pangeran Yorgi kami mendapat keterangan bahwa Kim Niocu sekarang berada di Kotaraja. Kami khawatir mendengar akan persekutuan antara Pek-Lian-Kauw dan Thaikam Liu Cin. Karena itu, kiranya sudah menjadi kewajiban kita untuk membongkar rahasia kepada Kaisar, agar Kaisar mengetahui akan pengkhianatan Thaikam Liu Cin dan dapat cepat bertindak sebelum terjadi malapetaka dı Istana.”

“Tepat sekali!” kata Lui Kai It. “Kita harus pergi ke sana sekarang juga dan membantu Kaisar untuk menangkap Kim Niocu, juga Hek Pek Moko yang telah membunuh murid-murid kita.”

“Omitohud... Memang sudah menjadi kewajiban kita untuk mengingatkan dan menyadarkan Kaisar. Akan tetapi tidak perlu terlalu banyak orang menghadap ke Istana, cukup kalau setiap partai persilatan diwakili seorang saja,” kata Hui San Hwesio.

“Pendapat Hui Sian Lo-Suhu benar dan Pinto setuju. Biarlah Pinto sendiri yang mewakili Bu-Tong-Pai,” kata Cang Su Cinjin.

“Dan aku mewakili Kong-Thong-Pai karena ketua kami sedang tidak sehat badannya,” kata Lui Kai It.

“Pinto harap agar Hui Sian Lo-Suhu sendiri yang mewakili Siauw-Lim-Pai dan meminpin rombongan yang pergi ke Kotaraja, karena bagaimanapun juga, Kaisar akan lebih memperhatikan kalau Lo-Suhu memimpin rombongan menghadap beliau.”

“Benar sekali apa yang dikatakan Cang Su Cinjin!” kata Lui Kai It. “Demi keselamatan Kerajaan dan demi membasmi komplotan jahat yang hendak mengadu domba kita, akupun mengharap agar Hui Sian Lo-Suhu suka pergi sendiri bersama kami ke Kotaraja!”

Kata-kata kedua orang pimpinan Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai ini diterima Hui Sian Hwesio dengan senyum dan dia menghela napas panjang. “Omitohud...! Agaknya Pinceng akan pergi bersama ji-wi ke Kotaraja.”

Hui Sian Hwesio lalu memanggil Gan Hok San yang tinggal di luar Kuil bersama isterinya. Setelah pendekar ini menghadap, Hui Sian Hwesio minta agar Gan Hok San membantu Cu Sian Hwesio menjaga Kuil Siauw-Lim-Si kalau-kalau akan ada kawan-kawan Pangeran Yorgi yang datang menyerbu. Gan Hok San menyanggupi. Walaupun hati pendekar ini juga ingin sekali pergi ke Kotaraja untuk mencari Ouw Yang Hui, akan tetapi dia harus menjaga keselamatan isterinya.

Apalagi kini mendapat tugas untuk ikut menjaga keselamatan Kuil Siauw-Lim-Si, maka dia terpaksa menaati perintah Ketua Siauw-Lim-Pai itu. Demikianlah, tiga orang tokoh besar tiga partai persilatan itu, Hui Sian Hwesio, Cang Su Cinjin, dan Lui Kai It pada hari itu juga berangkat menuju Kotaraja. Para anggauta rombongan Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai mereka perintahkan untuk pulang lebih dulu.

Ketika pada suatu pagi tiga orang tokoh besar ini memasuki Kotaraja, mereka sama sekali tidak tahu bahwa saat itu terjadi keributan dalam Istana, yaitu rombongan para bangsawan yang dipimpin oleh pangeran Ceng Sin menghadap Kaisar Ceng Tek dan berakhir dengan tertawannya Thaikam Liu Cin. Juga bahwa pasukan yang dipimpin oleh adik Thaikam Liu Cin, yaitu Panglima Liu Kui, telah dilucuti oleh pasukan besar yang dipimpin para Panglima yang menentang kekuasaan Thaikam Liu Cin.

Sementara itu, Sin Cu dan Ciang Lan (Ouw Yang Lan) ditemani Siauw Ming memasuki Kotaraja. Mereka mencari rumah Kui-Ciangkun dan di rumah besar ini bertemu dengan para bangsawan yang dipimpin oleh Pangeran Ceng Sin. Mereka lalu mengadakan perundingan.

“Besok kami akan pergi menghadap Kaisar,” kata Pangeran Ceng Sin kepada Sin Cu dan Ciang Lan.

“Untuk itu kami telah mempersiapkan dukungan. Para pengawal Istana telah kami ganti dan pasukan para Panglima akan menghadapi pasukan pimpinan Panglima Liu Kui yang mendukung Liu Cin. Kelak kalau diperlukan sebagai saksi, Wong-Taihiap dan Ciang-Lihiap akan kami hadapkan Kaisar. Akan tetapi sekarang lebih baik kita membagi tugas. Ada tugas yang lebih penting bagi ji-wi, yaitu menyerbu ke sarang mata-mata Pek-Lian-Kauw, yaitu rumah hartawan Su Kian. Dia membuka toko rempa-rempa di sebelah timur Jembatan Rembulan.

"Besok pagi-pagi kita bergerak, kami ke Istana dan ji-wi, diantar oleh beberapa orang perajurit menyerbu rumah mata-mata Su Kian itu. Menurut laporan yang telah kami terima, wanita yang namanya Kim Niocu, puteri Ketua Umum Pek-Lian-Kauw yang memimpin persekutuan dengan Thaikam Liu Cin berada pula di sana. Siapa tahu, mungkin Nona Ouw Yang Hui yang ji-wi cari itu dibawa pula ke sana.”

“Baik, Pangeran. Kami berdua akan menyerbu ke sana!” Kata Sin Cu dan Ciang Lan juga mengangguk.

Hati gadis ini panas dan marah sekali kepada wanita yang namanya Kim Lian atau yang disebut Kim Niocu itu. Bukan saja karena wanita Pek-Lian-Kauw itu menculik adiknya, Ouw Yang Hui, akan tetapi terutama sekali setelah mendengar cerita Sin Cu betapa wanita itu hendak memaksa Sin Cu menjadi kekasihnya! la telah jatuh cinta kepada Sin Cu dan membayangkan perlakuan Kim Niocu kepada Sin Cu, hatinya panas oleh cemburu.

Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka semua berangkat melaksanakan tugas masing-masing. Sin Cu dan Ciang Lan, diiringkan selusin perajurit, berangkat ke rumah Su Kian yang di Kotaraja dikenal dengan sebutan Su Wangwe (Hartawan Su).

Ketika Sin Cu mengetuk daun pintu gapura rumah besar yang masih tertutup itu, terdengar langkah orang dan pintu gapura terbuka dari dalam. Sin Cu dan Ciang Lan, diikuti selusin perajurit masuk halaman depan rumah yang luas itu. Lima orang laki-laki yang tampak galak segera menghadang di depan mereka. “Siapa kalian dan mau apa...?”

Ciang Lan sudah melompat ke depan dan membentak, “Di mana orang yang namanya Su Kian? Kami mau bertemu dengan dia!”

Lima orang itu mengerutkan alisnya. Mereka adalah jagoan-jagoan tukang pukul yang bertugas menjaga keamanan di situ. Tentu saja mereka marah dan munculnya selusin perajurit itupun tidak membuat mereka takut. Mereka maklum bahwa majikan mereka, Su Wangwe adalah seorang hartawan yang mempunyai hubungan baik sekali dengan para pembesar tinggi di Kotaraja. Bahkan menjadi sahabat dari Thaikam Liu Cin! Siapa berani mengganggunya?

“Hei! Jangan kurang ajar kalian! Kalau ada kepentingan, tunggu di luar pintu gerbang, sebutkan nama dan keperluan, baru akan kami laporkan kepada Su Wangwe apakah beliau mau menerima kalian ataukah tidak. Hayo keluar! Keluar!” Kepala penjaga itu hendak mendorong kearah dada Ciang Lan secara kurang ajar sekali. Akan tetapi, Ciang Lan mengelak ke kiri lalu kaki kanannya mencuat ke depan dengan cepat sekali.

“Bukk!!” Orang itu mengaduh, tubuhnya terpental dan terbanting ke belakang. Empat orang temannya marah sekali. Mereka bergerak maju untuk menyerang. Akan tetapi Sin Cu dan Ciang Lan bergerak cepat, dengan beberapa tamparan dan tendangan saja empat orang tukang pukul itupun roboh dan tidak mampu bangkit lagi!

Sin Cu dan Ciang Lan tidak memperdulikan mereka. Diikuti oleh selusin orang perajurit itu, mereka memasuki beranda rumah besar. Toko di sebelah rumah itu belum buka. Ketika mereka tiba di ruangan depan, daun pintu depan rumah itu terbuka lebar dan belasan orang berserabutan keluar, membawa golok atau pedang.

Agaknya mereka telah melihat betapa lima orang penjaga di depan telah dirobohkan para pendatang itu, maka tanpa banyak cakap lagi mereka sudah menerjang dan menyerang Sin Cu, Ciang Lan dan seregu perajurit itu.

Pertempuran terjadi di ruangan depan yang luas itu. Akan tetapi, kembali Sin Cu dan terutama Ciang Lan, mengamuk dan bagaikan dua ekor naga mereka menerjang dan belasan orang lawan itu menjadi kocar-kacir. Para perajurit juga menyerang dan dengan cepat perlawanan para anak buah Su Kian itu dapat dilumpuhkan.

“Di mana Su Kian!” bentak Ciang Lan kepada seorang yang dirobohkannya. Ia mencengkeram lengan orang itu yang menyeringai kesakitan karena tangan yang berkulit lembut hangat itu seolah telah berubah menjadi jepitan baja.

“Di... di ruangan sebelah kanan itu...” dia menuding. Ciang Lan menamparnya dan dia roboh pingsan. Gadis itu lalu meloncat ke arah ruangan yang ditunjuk tadi.

Sin Cu juga menangkap seorang penjaga. “Hayo katakan di mana Kim Niocu?” Rumah itu terlalu besar sehingga kalau harus mencari sendiri, selain sukar juga memberi kesempatan kepada musuh untuk melarikan diri.

Orang itupun tidak berani membantah. “Kim Niocu berada di ruangan belakang..., ampunkan saya...!”

Sin Cu melompat dan meninggalkan orang itu setelah berkata kepada pimpinan regu agar menangkapi orang-orang itu. Dia berlari cepat memasuki rumah itu dan langsung menuju ke ruangan belakang. Begitu dia memasuki sebuah ruangan di belakang, tampak sinar Putih menyambar dan sebatang pedang sudah menusuknya dengan luncuran kilat dari kanan.

Kiranya yang menyerangnya adalah Kim Niocu dan wanita itu menyerang dengan Pek-Liong-Kiam, pedangnya yang dirampas wanita itu ketika dia ditawan. Biarpun Sin Cu telah dapat menyingkirkan dendam kebencian dari lubuk hatinya sesuai dengan apa yang diajarkan gurunya, namun melihat Kim Nocu dia menjadi marah juga. Wanita yang kejam dan jahat sekali ini bukan hanya membuat dia marah benar.

Akan tetapi terutama sekali karena Kim Niocu telah menculik Ouw Yang Hui, kekasih dan tunangannya. Menghadapi serangan yang dilakukan secara curang dan tiba-tiba itu, Sin Cu cepat mengelak dengan loncatan ke samping memasuki ruangan yang luas itu.

“Kim Niocu, di mana Ouw Yang Hui? Cepat kau bebaskan ia!” bentak Sin Cu sambil memandang kepada wanita itu dengan sinar mata mencorong.

“Heh-heh-hi-hik! Kau mencari gadis itu? la sudah mampus! Ya, ia sudah mampus. Akan tetapi di sini ada aku yang menggantikannya. Marilah engkau ikut dengan aku dan hidup bersenang-senang...!”

Dengan marah Sin Cu lalu menerjang dan menyerang wanita itu dengan It-Yang-Ci! Kedua jari telunjuknya menotok-notok dan gerakan kedua jari tangan itu mengeluarkan bunyi mencicit mengerikan karena Sin Cu mengerahkan tenaga saktinya. Kim Niocu terkejut, la maklum akan kelihaian pemuda itu, maka cepat ia menghindar dan membalas dengan serangan pedangnya secara bertubi-tubi.

Akan tetapi dengan langkah-langkah ajaib Chit-Seng Sin-Po tubuh Sin Cu bergerak ke sana-sini dan semua serangan pedang itu tak pernah dapat menyentuhnya. Karena sudah marah sekali, tiba tiba Sin Cu berlutut dengan kaki kirinya, tangan kiri menyentuh tanah, tangan kanan diangkat lurus ke atas dan tiba-tiba kedua tangan itu bergerak dari atas dan bawah mendorong dengan telapak tangan ke depan. Angin pukulan yang dahsyat sekali menyambar. Itulah ilmu Im-Yang Sin-Ciang yang sudah mencapai puncaknya.

Tubuh Kim Niocu terdorong ke belakang dan ia terhuyung. Akan tetapi wanita ini memang lihai sekali. Biarpun ia merasa dadanya sesak dan terhuyung, ia masih dapat melontarkan pedang itu dengan sekuat tenaga ke arah Sin Cu. Pedang berubah menjadi sinar putih yang meluncur dengan cepatnya ke depan. Sin Cu mengelak dan pedang itu terus meluncur.

“Cappp...!” Pedang itu menancap di dinding. Gagangnya bergoyang-goyang saking kuatnya senjata itu menancap sampai setengahnya di dinding. Sin Cu cepat melompat mendekati dinding dan menggunakan tangan kanan mencabut pedangnya. Pada saat dia sudah berhasil mencabut pedang, terdengar ledakan keras dan ruangan itu penuh asap hitam. Sin Cu cepat melompat keluar dari ruangan melalui pintu karena khawatir kalau-kalau asap itu beracun.

Akan tetapi dia tidak melihat lagi bayangan Kim Niocu. Dia tidak perduli. Yang penting sekarang mencari Ouw Yang Hui. Sin Cu memasuki lorong dan ruangan dalam rumah itu. Di sebuah ruangan Sin Cu melihat Ciang Lan memimpin dua belas orang perajurit pengikut mereka sedang menangkapi orang-orang dan menggiring mereka setelah membelenggu mereka.

“Engkau berhasil?” tanya Ciang Lan melihat Sin Cu memegang sebatang pedang berbentuk naga putih.

“lblis betina itu dapat melarikan diri. Engkau melihat Ouw Yang Hui?” balas tanya Sin Cu.

Ciang Lan menggeleng kepala. “Akan tetapi día ini tentu dapat memberi keterangan!” la menuding kepada seorang tawanan, seorang yang bertubuh kurus dan bermulut lebar.

“Siapa dia” tanya Sin Cu.

“Dia inilah yang bernama Su Kian atau Su Wangwe, mata-mata Pek-Lian-Kauw itu.” Kata Ciang Lan dan gadis ini tiba tiba mencabut pedangnya dan menodongkan pedangnya ke leher Su Kian. Ujung pedang menempel pada kulit leher sehingga terasa pedih.

“Hayo katakan di mana adanya Ouw Yang Hui ?” bentak Ciang Lan.

Su Kian Ketakutan. Tadi dia sudah merasakan kelihaian gadis cantik itu yang mengamuk dan merobohkan dia dan para pembantunya. Dia sendiri sudah dihajar babak belur oleh gadis itu dan dia tahu bahwa gadis itu bukan sekedar membentak ketika pedangnya itu menodong lehernya.

“Saya... saya tidak mengenal nama itu...!” katanya.

Sin Cu menghardiknya. “Katakan, dimana para gadis yang ditawan Kim Niocu itu?”

“Mereka... mereka telah dibawa ke gedung Thaikam Liu Cin.”

Ciang Lan menekan pedangnya. “Engkau tidak bohong?”

“Tidak, tidak! Saya tidak berani bohong. Begitu tiba di sini, gadis-gadis itu dibawa kepada Thaikam Liu Cin untuk dibagi-bagikan kepada para pembesar.”

Sin Cu lalu berkata kepada pemimpin regu. “Bawa semua tangkapan ini dan serahkan kepada Kui-Ciangkun. Kami berdua akan pergi! Hayo, Lan-moi, kita cari Hui-moi!” Sin Cu mengajak Ciang Lan berlari keluar untuk pergi ke gedung Thaikam Liu Cin karena dia yakin bahwa Ouw Yang Hui tentu berada di sana.

Ketika dua orang muda itu berlari-lari mereka melihat bahwa agaknya telah terjadi sesuatu yang menggemparkan. Mereka melihat penduduk bergegas pula dan tampak tegang dan ketakutan. Sin Cu dapat menduga bahwa hal ini tentu ada hubungannya dengan gerakan para bangsawan yang dipimpin oleh Pangeran Ceng Sin. Dia tidak memperdulikan dan mengajak Ciang Lan untuk berlari cepat menuju gedung Thaikam Liu Cin.

Setelah dekat dengan gedung itu, tiba-tiba Sin Cu melihat tiga orang yang segera dikenalnya dengan baik karena mereka itu bukan lain adalah Hui Sian Hwesio ketua Siauw-Lim-Pai, Ceng Su Cinjin ketua Bu-Tong-Pai dan Lui Kai It wakil ketua Kong-Thong-Pai! Sin Cu berhenti, menghadapi mereka dan segera memberi hormat, diturut oleh Ciang Lan. “Sam-wi Lo-Cianpwe (tiga orang tua perkasa) berada di sini?”

“Omitohud...! Kiranya engkau, Wong Sin Cu! Kami bertiga sudah berhasil menangkap orang yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Dia anak buah Pek-Lian-Kauw yang bersekutu dengan Thaikam Liu Cin. Kami akan melaporkannya kepada Kaisar!” kata hui Sian Hwesio.

“Benar dugaanmu dulu, Wong Sin Cu. Yang membunuh murid Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai adalah Hek Pek Moko! Kami akan mencarinya!” kata Cang Su Cinjin.

“Benar! Kami harus membunuh Hek Pek Moko, iblis jahat itu” kata Lui Kai dengan marah.

“Kalau begitu kebetulan sekali, sam-wi Lo-Cianpwe! Saya kira mereka itu berada di gedung Thaikam Liu Cin. Kami berdua sedang hendak pergi ke sana. Semua kaki tangan Liu Cin berada di sana!”

“Omitohud..., kalau begitu kita kesana!” kata Hui Sian Hwesio.

Bergegaslah lima orang itu menuju ke rumah gedung Thaikam Liu Cin. Ketika mereka tiba di depan gedung, ternyata Kui-Ciangkun telah mengatur gerakan yang cepat. Sudah ada pasukan yang menyerbu gedung dan sedang bertempur, melawan para pengawal penjaga gedung.

“Kita menyerbu ke dalam!” kata Sin Cu dan lima orang itu segera menerjang masuk, merobohkan para pengawal yang berani menghadang.

Setelah tiba di ruangan dalam, bertemulah mereka dengan para jagoan kaki tangan Thaikam Liu Cin. Mereka agaknya sudah siap untuk melarikan diri. Tentu saja mereka terkejut bukan main ketika tiba-tiba pintu depan ditendang jebol dan masuklah lima orang yang tidak mereka sangka-sangka itu. Mereka saling pandang dan kebetulan sekali jumlah para datuk yang menjadi jagoan Liu Cin juga berjumlah lima orang. Mereka adalah Tho-Te-Kong, Cu-Beng Kui-Bo, Hek Moko, Pek Moko, dan Ouw Yang Lee. Ouw Yang Lee marah sekali melihat Ciang Lan yang memegang pedang Lo-Thian-Kam.

“Ouw Yang Lan! Apakah engkau hendak menjadi anak durhaka yang melawan Ayah kandung sendiri?” bentaknya.

Ouw Yang Lan memandang dengan mata mencorong. “Ouw Yang Lee, aku adalah Ciang Lan dan aku tidak sudi mempunyai Ayah kandung seorang iblis keji macam engkau!”

“Anak setan!” Ouw Yang Lee membentak dan dia sudah menyambar sebatang tongkat baja yang sudah dipersiapkan sebelumnya sebagai pengganti dayung baja yang biasa menjadi senjatanya yang ampuh. Dengan tongkat baja yang berat itu dia menyerang dengan pukulan maut ke arah kepala puteri Kandungnya.

Ouw Yang Lan atau Ciang Lan sudah siap siaga. Dengan sigap ia mengelak dan membalas dengan serangan yang tidak kalah hebatnya. Ayah dan anak ini sudah saling serang mati-matian. Lui Kai It wakil ketua Kong-Thong-Pai ketika melihat Hek Moko yang mukanya hitam, bangkit kemarahannya karena dia tahu bahwa murid Kong-Thong-Pai terbunuh oleh telapak tangan hitam.

“Kamu tentu iblis Hek Moko yang telah membunuh murid Kong-Thong-Pai!” bentaknya sambil menggerakkan pedangnya, langsung menyerang Hek Moko yang sudah menyambut dengan pedangnya.

“Siancai! Engkau tentu Pek Moko yang telah membunuh murid Bu-Tong-Pai!” kata pula Cang Su Cinjin yang juga sudah mencabut pedangnya.

“Engkaupun datang mengantar nyawa!” bentak Pek Moko yang sudah menyerang pula dengan pedangnya.

Dua orang inipun sudah bertanding dengan seru. Sin Cu menghadapi Tho-Te-Kong. “Tho-Te-Kong, engkau orang tua renta yang tidak mencari jalan terang! Engkau bahkan membantu pembesar lalim untuk mengacaukan negara. Akulah lawanmu!”

Kakek tinggi kurus yang rambut, kumis dan jenggotnya sudah putih semua itu tertawa. Sambil mengamangkan tongkat bambu kuning di tangan kanannya, dia berkata, “Orang muda, sekali ini aku tidak akan memberi ampun padamu!”

Kakek yang sudah tua ini agaknya salah mengenal orang. Dia mengira bahwa Sin Cu adalah Tan Song Bu yang pernah melawannya ketika pemuda itu bersama Ouw Yang Lan, Ciang Sek dan Gu Tian melawan dia dan Ouw Yang Lee sehingga terpaksa dia dan Ouw Yang Lee melarikan diri. Dia dikalahkan karena dikeroyok. Sekarang berhadapan satu lawan satu, dia merasa yakin bahwa dia akan dapat mengalahkan dan merobohkan pemuda itu, sama sekali dia tidak tahu bahwa yang dihadapinya adalah seorang pemuda lain.

Sin Cu sendiri belum pernah bertemu dengan Tho-Te-Kong, akan tetapi dia sudah mendengar akan nama dan kelihaian kakek ini. Maka tadi sengaja dia memilih Tho-Te-Kong untuk melawannya. Dia juga heran mendengar ucapan kakek itu seolah Kakek itu pernah bertemu dengannya. Dia tidak memperdulikan ucapan itu lalu mencabut Pek-Liong-Kiam dan menghadapinya.

“Haiiiitt...!” Tho-Te-Kong sudah membuka serangan. Tongkat Bambu Kuning yang tampaknya biasa saja dan tidak berbahaya itu merupakan senjata yang teramat ampuh di tangan Kakek ini. Ketika tongkat itu menyerang, terdengar suara bercuitan dan sinar kuning menyambar ke arah tubuh Sin Cu dan ujung tongkat itu seperti berubah menjadi tujuh dan menyerang ke arah tujuh jalan darah yang berbahaya dari tubuh depan pemuda itu!

Sin Cu cepat memutar Pek-Liong-Kiam sehingga tampak sinar putih bergulung-gulung membentuk perisai yang menangkis atau menghalau tusukan bertubi-tubi itu. Segera mereka saling serang dengan seru.

“Omitohud, bukankah yang berhadapan dengan Pinceng ini datuk wanita yang disebut Cui-Beng Kui-Bo? Kui-bo, sungguh memalukan kalau orang-orang tua seperti kita masih harus bertanding. Mengapa engkau tidak menyadari akan kesalahanmu, lalu bertaubat dan berjanji tidak akan mengulang kesalahanmu membantu pembesar lalim mengacau negara? Kalau engkau mau berjanji dan bertaubat, Pinceng tentu mau melepas engkau pergi.”

Cui-Beng Kui-Bo tersenyum genit seperti kebiasaannya. “Hui Sian Hwesio, aku tahu siapa engkau dan aku tahu pula akan kesaktianmu. Aku mengerti bahwa aku tidak akan mampu mengalahkanmu. Akan tetapi untuk mengaku kalah sebelum bertanding, pantang bagiku. Kalau engkau mampu mengalahkan Siang-Kiam (Sepasang Pedang) ini, baru aku mengaku kalah dan akan bertaubat!” Wanita berusia enam puluh lima tahun yang masih cantik dan genit itu mencabut sepasang pedang dari punggungnya, memasang kuda-kuda dan menyilangkan pedangnya.

“Omitohud, setua ini engkau masih menjaga keangkuhanmu, Kui-Bo!”

“Sambutlah!” Cui-Beng Kui-Bo berseru dan ia sudah menerjang ke depan, menggerakkan sepasang pedangnya dan menyerang dengan dahsyat.

Hui Sian Hwesio menggerakkan kedua lengannya dan ujung lengan bajunya yang panjang menyambar-nyambar, menjadi dua gulung sinar kuning dan membawa angin bersiutan kuat sekali. Hui Sian Hwesio ingin cepat-cepat menundukkan datuk wanita itu, sebaliknya Cui-Beng Kui-Bo yang maklum bahwa ia bukanlah lawan ketua Siauw-Lim-Pai, agaknya juga tidak ingin berlama-lama melakukan perlawanan.

Maka, baru kurang lebih sepuluh jurus, sepasang pedangnya sudah terbelit kedua ujung lengan baju Hui Sian Hwesio dan begitu Kakek itu mengerahkan tenaga dalam untuk menarik dengan sentakan, sepasang pedang itu terlepas dari kedua tangan Cui-Beng Kui-Bo.! Hui Sian Hwesio mengambil sepasang pedang itu dan menyerahkannya kepada pemiliknya.

“Omitohud, Kui-Bo. Engkau telah banyak mengalah...!”

Selanjutnya,
SEPASANG RAJAH NAGA JILID 31