|
| Karya Kho Ping Hoo |
Sepasang Rajah Naga Jilid 29 - “KAKEK yang baik..., jadi... jadi engkaukah tukang perahu yang dulu merajah dadaku...? Kalau begitu... engkau tentu tahu bagaimana keadaan Ayah Ibuku, di mana mereka kini berada...”
“Wong Sin Cu, pertemuan ini merupakan peristiwa yang luar biasa dan agaknya sudah diatur oleh Tuhan. Mari, mari kita duduk dan bicara. Banyak yang perlu kita bicarakan.” Mereka bertiga lalu duduk di atas batu-batu di tepi sungai dan Kakek itu mengamati Sin Cu yang mengancingkan kembali bajunya, lalu berkata,
“Baik sekali kalau engkau masih ingat, orang muda. Memang aku adalah tukang perahu yang dulu merajah dadamu dan dada anak yang bernama Tan Song Bu itu. Ketika itu orang tua kalian mengenalku sebagai Aming. Akan tetapi, sebaiknya engkau lebih dulu menceritakan apa yang terjadi dengan dirimu yang kutinggalkan di perahu bersama Tan Song Bu. Aku terkena anak panah di pundakku dan jatuh ke laut, sedangkan engkau bersama Tan Song Bu hanyut dalam perahu kecil. Lalu bagaimana kalian dapat selamat? Ketika itu, usia kalian baru tiga tahun lebih.”
Sin Cu menghela napas panjang. Dia sudah tak dapat mengingat secara rinci peristiwa itu, hanya ingat sedikit-sedikit seperti bayangan sebuah mimpi saja. “Semua itu terjadi seperti dalam mimpi. Aku tidak ingat lagi bagaimana terjadinya, akan tetapi aku masih ingat bahwa aku digondol seekor burung rajawali besar dibawa terbang tinggi ke sarangnya. Tentu aku akan menjadi makanan anak-anaknya kalau saja tidak datang Suhu yang menyelamatkan aku. Aku lalu menjadi murid Suhu.”
“Siapakah Suhumu yang menyelamatkanmu itu, Sin Cu?” tanya Kakek itu dan mendengar dia begitu ringan menyebut nama Sin Cu, menunjukkan bahwa agaknya selama ini dia tidak pernah melupakan dua orang anak yang telah dirajah dadanya itu.
Sin Cu juga dapat merasakan betapa dekat hatinya dengan Kakek yang sudah dia lupakan namanya itu. “Suhu tak mempunyai nama dan hanya disebut Bu Beng Siauwjin.”
Kakek itu mengangguk-angguk. “Bu Beng Siauwjin (Manusia Rendah Tanpa Nama). Hemm, orang yang merasa dirinya rendah sesungguhnya adalah manusia yang luhur, dan orang yang merasa tidak mempunyai nama bahkan menjadi manusia yang terkenal. Aku percaya Suhumu pasti seorang tokoh sakti yang bijaksana. Dan bagaimana dengan anak yang seorang lagi, yang bernama Tan Song Bu. Bagaimana dia dapat diselamatkan?”
Sin Cu menggeleng kepala. “Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan dia. Aku bahkan sudah lupa kepadanya, akan tetapi tadi Lan-moi menyebutkan namanya...” Dia menoleh kepada Ciang Lan.
Kakek itupun memandang gadis itu. “Nona, apakah engkau mengenal Tan Song Bu yang pada dadanya ada rajah naga hitam?” tanyanya sambil menatap wajah gadis itu.
“Aku mengenalnya dengan baik, bahkan aku berangkat besar bersamanya sejak saat berusia setahun dan dia tiga tahun. Menurut apa yang kudengar, ketika ia terombang-ambing di atas perahu kecil seorang diri di lautan, dia ditolong oleh Ouw Yang Lee dan dibawa ke Pulau Naga. Kemudian dia menjadi murid Ouw Yang Lee di Pula Naga.” Jawab Ciang Lan dengan singkat karena ia agak merasa enggan untuk bercerita tentang Ouw Yang Lee yang sudah tidak diakuinya lagi sebagai Ayahnya.
“Sukurlah! Ternyata dua orang anak kecil yang tidak berdosa itu mendapatkan pertolongan dari Tuhan dan dapat di selamatkan. Selama ini kalian berdua tak pernah lepas dari ingatanku dan aku selalu dikejar bayangan yang mengerikan tentang kalian berdua yang berada di dalam perahu kecil di atas lautan bebas yang ganas itu.”
“Kakek yang baik, sekarang kuharap engkau suka menceritakan kepadaku siapakah sebetulnya orang tuaku dan di mana dia sekarang?” Sin Cu bertanya dengan hati ingin tahu sekali. Dia hanya ingat bahwa Ayahnya bernama Wong Cin, akan tetapi selanjutnya dia tidak tahu apa-apa tentang orang tuanya.“Ketika itu, aku adalah seorang guru silat yang menjadi pelarian karena aku telah membunuh seorang pejabat yang sewenang-wenang, seorang pejabat yang menjadi antek para Thaikam yang menguasai Kaisar. Aku bernama Siauw Ming dan dalam pelarian itu aku bekerja sebagai tukang perahu di Laut Timur. Kebetulan bertemu dengan dua orang pejabat dari Kotaraja yang juga melarikan diri karena bentrok dengan Thaikam Liu Cin. Mereka seorang perwira tinggi di Kotaraja bernama Tan Hok yang dikuti seorang istrinya dan seorang anak laki-laki bernama Tan Song Bu. Adapun yang kedua seorang jaksa di Kotaraja bernama Wong Cin yang diikuti isterinya dan anak laki-laki bernama Wong Sin Cu.”
“Dia Ayahku.” Kata Sin Cu terharu.
“Benar, Sin Cu. Wong-Taijin (Pembesar Wong) itu adalah Ayahmu. Karena kami sama-sama orang pelarian yang diburu kaki tangan Thaikam Liu Cin, maka hubungan kami menjadi akrab. Dalam pelayaran itu aku yang memang ahli merajah kulit diminta merajah gambar naga pada dada Wong Sin Cu dan Tan Song Bu. Aku merajah naga putih di dada Wong Sin Cu dan naga hitam di dada Tan Song Bu. Kemudian, tiba-tiba kami diserang badai angin taufan...!”
Sin Cu memejamkan matanya dan samar-samar teringatlah dia akan peristiwa itu. Dengan kedua mata masih terpejam, dia berkata, “Aku dan Ibuku... anak yang lain itu dan Ibunya kami berempat diikat pada tihang layar agar tidak terlempar ke laut yang amat ganas...”
“Benar,” kata Kakek itu, “Perahu dipermainkan gelombang besar tanpa kami ketahui dibawa ke mana. Tiba-tiba perahu dihantamkan batu karang dan pecah berantakan! Aku terlempar ke laut dan tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan sepasang suami isteri dan anak mereka itu. Aku berhasil meraih sepotong kayu pecahan perahu dan terombang-ambing dalam kegelapan. Semalam suntuk aku dipermainkan air tanpa daya... tak tahu apa yang terjadi dengan mereka.”
Sin Cu masih memejamkan matanya, “Kami berdua bersama Ibu-ibu kami terdampar di atas batu-batu karang itu, lalu... dua orang laki-laki jahat itu mereka hendak membunuh kami lalu... Ayah dan temannya itu mereka berdua berkelahi dengan dua orang penjahat, berhasil mengusir mereka...”
“Bagus, Sin Cu, bagus kalau engkau masih dapat mengingat semua itu. lalu bagaimana?” tanya Kakek Siauw Ming.
Sin Cu masih memejamkan mata, alisnya berkerut dan dia mengerahkan seluruh tenaga pikirannya untuk mengingat-ingat, lalu berkata lirih, “Kami bersembunyi dalam guha dan tidur di guha ketika kami keluar ke pantai muncul banyak orang dan Ayah bersama paman itu berkelelahi lagi, selanjutnya ah,... aku tidak ingat apa-apa lagi. Oh ya, aku bertemu denganmu lagi, Kakek yang baik.”
Kakek itu mengangguk-angguk. “Benar sekali, Sin Cu. Ketika terjadi pengeroyokan itu, aku baru saja mendarat di Pulau Ular itu. Setelah semalam terombang-ambing dilautan, akhirnya aku terdampar dan mendarat. Aku mencari kalian dan melihat dua pasang suami isteri itu dikeroyok. Aku menyelamatkan engkau dan Song Bu ke dalam perahu. Aku berhasil mengusir kedua orang kepala bajak yang dikenal dengan julukan Hai-Coa-Ong (Raja Ular Lautan) itu dan tiga orang anak buahnya.
"Aku lalu membawa kalian dua orang anak berlayar akan tetapi bertemu dengan para bajak laut itu yang rupanya hendak membalas kekalahan mereka. Perahuku terbakar. Aku memasukkan kalian berdua ke dalam sebuah perahu kecil, aku sendiri terkena anak panah dan terjungkal ke laut. Akhirnya aku dapat menyelamatkan diri akan tetapi aku kehilangan kalian berdua. Kukira kalian mati, akan tetapi sukur kepada Tuhan, kalian berdua selamat dan kini telah menjadi pemuda-pemuda dewasa!”
“Akan tetapi, Kek. Apa yang terjadi dengan Ayah Ibuku? Bagaimana keadaan mereka dan di mana mereka sekarang berada?” tanya Sin Cu dengan alis berkerut dan suaranya mengandung kecemasan.
“Bersiaplah engkau untuk menerima pukulan gelombang kenyataan hidup, Sin Cu. Ayah Ibumu, juga Ayah Ibu Tan Song Bu, mereka berempat telah menjadi korban keganasan para bajak laut, mereka berempat telah tewas dan akulah yang menguburkan jenazah mereka di pantai Pulau Ular itu.”
Wajah Sin Cu menjadi pucat dan jantungnya serasa ditusuk pedang. “Ohhh...!” Dia menutupi mukanya dengan kedua tangan. Tidak, dia tidak menangis walaupun isi dadanya terguncang dan tertekan perasaan duka. Selama ini dia memang tidak merasa dekat dengan Ayah Ibunya. Dia masih terlalu kecil ketika terpisah dari mereka. Bahkan wajah merekapun dia sudah tidak dapat ingat lagi.
Akan tetapi ada rasa sakit dalam hatinya mendengar Ayah Bundanya dibunuh orang-orang jahat yang kejam. Ciang Lan memandang Sin Cu dengan terharu. Ketika ia bergerak hendak menghampiri, Kakek Siauw Ming memberi isarat mencegah dengan goyangan tangannya. Ciang Lan menahan diri dan setelah agak lama, barulah ia menghampiri dan menaruh tangannya di pundak pemuda itu.
“Cu-Ko, kuatkan hatimu, Cu-Ko. Peristiwa itu telah terjadi belasan tahun yang lalu,” kata Ciang Lan dengan nada menghibur.
Sin Cu menurunkan kedua tangannya, Kedua pipinya basah, akan tetapi sinar matanya tampak tenang. “Terima kasih, Lan-moi. Aku hanya terkejut karena tidak pernah mengira bahwa Ayah Ibuku telah tiada. Kakek Siauw Ming, aku ingin pergi ke Pulau Ular untuk menyembahyangi kuburan orang tuaku dan mencari Hai-Coa-Ong untuk membalas kematian Ayah Ibu!”
“Kelak aku akan mengantarmu ke sana Sin Cu. Akan tetapi semua ini adalah akibat dari kelaliman Thaikam Liu Cin. Dialah yang bertanggung jawab dan dia yang memaksa orang tuamu melarikan diri. Dialah orang pertama yang harus kita tentang.”
“Memang benar, Kek!” kata Ciang Lan. “Ketahuilah bahwa kami berdua juga sedang menuju ke Kotaraja untuk membantu para bangsawan yang hendak menyadarkan Kaisar dan menggulingkan kekuasaan Thaikam Liu Cin.”
“Ah, benarkah itu? Ada bangsawan yang demikian beraninya?” tanya Kakek Siauw Ming heran dan juga gembira.
“Benar, Kek. Para bangsawan itu dipimpin oleh Pangeran Ceng Sin, sekarang mereka sedang hendak pergi menghadap Sribaginda Kaisar, menyadarkan Kaisar akan kejahatan Thaikam Liu Cin. Kami berdua sudah bersepakat untuk membantu gerakan mereka menentang Thaikam Liu Cin.”
Sin Cu lalu menceritakan semua pengalamannya, tentang persekutuan yang dia ketahui antara Pek-Lian-Kauw, orang Mancu, dan Thaikam Liu Cin. Juga tentang pertemuannya dengan para bangsawan yang dipimpin oleh Pangeran Ceng Sin, dan betapa dia dan Ciang Lan mencari Ouw Yang Hui yang diculik oleh Kim Niocu, puteri Ketua Umum Pek-Lian-Kauw.
“Pedang pusakaku peninggalan Kwee-Ciangkun juga dirampas oleh Kim Niocu. Maka kami hendak mencarinya di Kotaraja, menyelamatkan Hui-moi dan merampas kembali pedang pusakaku, juga membantu menghadapi Thaikam Liu Cin yang mempunyai banyak jagoan tangguh, membantu usaha para bangsawan yang hendak menggulingkannya.” Sin Cu mengakhiri ceritanya.
Kakek Siauw Ming mengangguk-angguk dan tampak gembira sekali. “Ah, betapa bertahun-tahun aku seperti ini! Aku menanti kesempatan seperti ini sambil memancing, memancing kesempatan baik ini! Akhirnya kesempatan untuk membasmi Thaikam Liu Cin tiba. Terima kasih kepada Tuhan yang telah mempertemukan aku dengan kalian!
"Nah kalau begitu mari sekarang kita ke Kotaraja. Kita bantu Pangeran Ceng Sin dan aku tidak akan dikenal anak buah Thaikam Liu Cin. Akan tetapi aku mempunyai banyak bekas murid di Kotaraja, mereka tentu akan membantu kita. Setelah tugas mulia menyelamatkan negara dan bangsa ini selesai, baru aku akan mengantarmu mengunjungi kuburan orang tuamu, Sin Cu,” kata Kakek itu.
“Akan tetapi, bagaimana dengan perahu ini, kek?” tanya Ciang Lan.
“Aku tidak membutuhkan perahu, kita ke Kotaraja melalui jalan darat saja tunggu sebentar, perahu ini akan kuberikan kepada seorang nelayan muda yang juga miskin dan dia harus merawat Ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Kalian tunggu sebentar di sini.”
Setelah berkata demikian, Kakek Siauw Ming lalu pergi ke arah pantai yang ramai dengan para nelayan yang sibuk bekerja. Tak lama kemudian dia datang lagi bersama seorang pemuda nelayan. Nelayan muda itu gembira bukan main ketika dia diberi sebuah perahu. Berulang-ulang dia membungkuk dan mengangkat kedua tangan mengucapkan terima kasihnya kepada Kakek Siauw Ming, Sin Cu dan Ciang Lan atas pemberian perahu yang akan menolongnya meningkatkan hasil pendapatannya itu.
Berangkatlah tiga orang itu menuju ke Kotaraja dan di sepanjang perjalanan Kakek Siauw Ming banyak bertanya kepada Sin Cu dan Ciang Lan tentang keadaan Sin Cu dan Song Bu lebih rinci lagi. Dia sungguh merasa berbahagia sekali mendengar bahwa dua orang anak yang selama bertahun-tahun ini menjadi bahan kenangan dan pemikiran yang mengganggu hatinya, ternyata kini masih hidup dan menjadi pemuda-pemuda yang lihai.
Terutama sekali mendengar bahwa dua orang pemuda itu tumbuh menjadi pendekar-pendekar yang menentang Thaikam Liu Cin. Tanpa disadari kedua orang anak kecil yang dirajah dadanya itu kini berusaha untuk membalaskan dendam sakit hati orang tua mereka terhadap Thaikam Liu Cin.
Untuk menghadap Kaisar Ceng Tek pada waktu itu, adalah hal yang amat sulit sekali. Kekuasaan Thaikam Liu Cin amat besarnya, dan pengaruhnya hampir menyelubungi seluruh Istana. Hampir semua kesibukan dalam Istana berada di bawah pengawasannya, oleh karena itu, amat sukarlah untuk dapat menghadap Kaisar tanpa persetujuan dari Thaikam Liu Cin, Bahkan pasukan pengawal Istana kini berada di bawah pimpinan Panglima Liu Kui, adik dari Thaikam Liu Cin.
Dahulu, Song Bu dapat dekat dengan Kaisar Ceng Tek, bahkan oleh Kaisar kadang dijadikan pengawal pribadi kalau Kaisar itu keluar dari Istana dengan menyamar. Hal itu mungkin terjadi karena ketika itu Song Bu merupakan pembantu Thaikam Liu Cin, dia dapat leluasa memasuki Istana, tidak dilarang oleh pasukan pengawal yang mengenalnya.
Akan tetapi sekarang, jangan harap dia akan dapat memasuki Istana. Apa lagi karena dia sudah dianggap musuh semenjak dia membantu Ciang Sek melawan Ouw Yang Lee dan Tho-Te-Kong. Ouw Yang Lee menceritakan tentang pengkhianatan Song Bu itu kepada Thaikam Liu Cin dan semenjak itu Song Bu dianggap sebagai musuh.
Hal ini dapat diduga oleh Tan Song Bu yang pada malam hari itu memasuki pintu gerbang Kotaraja, bersama Ouw Yang Hui. Karena itu, dia memasuki pintu gerbang bersama Ouw Yang Hui dengan menyamar sebagai sepasang suami isteri petani berpakaian kotor dan kulit juga kotor berdebu. Dia memikul dua keranjang sayur dan Ouw Yang Hui menjinjing keranjang pula. Mereka seperti petani-petani yang hendak menjual sayur hasil ladangnya ke Kotaraja sehingga tidak menarik perhatian para perajurit penjaga pintu gerbang.
Apalagi malam hampir gelap sehingga wajah mereka tidak tampak jelas. Akan tetapi Song Bu lengah atau memandang rendah Kim Niocu yang amat cerdik. Ketika Ang Hwa dan lima orang anak buahnya dikalahkan Song Bu, Ang Hwa dan anak buahnya dapat meloloskan diri dengan melemparkan senjata peledak dan mereka kabur dengan kuda mereka.
Ang Hwa cepat pergi ke Kotaraja, menyusul Kim Niocu di rumah Su Kian atau Hartawan Su yang menjadi mata-mata Pek-Lian-Kauw di Kotaraja. Mendengar laporan Ang Hwa bahwa Ouw Yang Hui dirampas oleh Tan Song Bu, Kim Niocu marah sekali dan cepat mengutus Ang Hwa untuk mencari Song Bu dan Ouw yang Hui dan membayangi mereka.
Setelah Ang Hwa pergi, Kim Niocu menghubungi Ouw Yang Lee dan menceritakan tentang Ouw Yang Hui yang kini dibawa oleh Song Bu agar datuk Pulau Naga ini mempersiapkan diri untuk dapat merampas kembali puterinya. Demikianlah, di luar dugaannya sama sekali, Song Bu dan Ouw Yang Hui selalu dibayangi oleh Ang Hwa dari jauh sehingga pemimpin pasukan Ang-Hwa Tok-Tin ini ikut pula memasuki Kotaraja ketika dua orang muda itu masuk melalui pintu gerbang Kotaraja.
“Hui-moi, kita terpaksa harus melewatkan malam ini dan bersembunyi. Besok baru kita dapat mencoba untuk menghadap Sribaginda Kaisar. Aku tahu sebuah rumah penginapan yang kecil sederhana. Biasanya hanya pendatang dari dusun dan pedagang kecil yang bermalam di sana. Mari!” kata Song Bu.
Mereka berdua lalu memasuki sebuah lorong kecil dan akhirnya memasuki sebuah rumah penginapan kecil sederhana. Seorang pelayan tua menyambut mereka dan pelayan yang sudah biasa menerima tamu-tamu yang terdiri dari orang-orang dusun miskin itu menyambut dengan sikap dingin. Kamar rumah penginapan ini murah dan sederhana sekali, maka yang menginap di situ hanyalah para pendatang yang kantongnya tipis.
“Kalian mencari kamar? Kebetulan tinggal sebuah kamar yang kosong di bagian belakang,” kata pelayan tua itu.
Song Bu berkedip memberi isarat kepada Ouw Yang Hui. “Baiklah, kami sewa kamar itu untuk semalam ini.”
Pelayan itu menyerahkan anak kunci kamar dan mengantar mereka sampai ke kamar di bagian paling belakang. Song Bu dan Ouw Yang Hui memasuki kamar setelah Song Bu membayar sewa kamar karena pelayan itu tidak pernah percaya kepada para tamunya dan diharuskan membayar lebih dulu. Setelah pelayan pergi, Ouw Yang Hui yang memasuki kamar bersama Song Bu mengerutkan alisnya dan mengernyitkan hidung. Kamar itu berbau apak dan keadaanya sama sekali tidak bersih.
Hanya ada dua buah bangku butut dan sebuah tempat tidur yang kasur dan bantalnya tampak kotor dan kusut. Jelas bahwa tempat tidur itu sering ditiduri orang dan alasnya tidak pernah diganti! Melihat di situ hanya terdapat sebuah tempat tidur, Ouw Yang Hui merasa tidak enak dan iapun duduk di atas sebuah bangku dengan lemas.
“Hui-moi, maafkan aku. Terpaksa kita harus menggunakan sebuah kamar saja. Selain di sini hanya tinggal sebuah kamar, juga aku tidak ingin berpisah darimu, takut kalau kalau ada bahaya mengancam dirimu. Di Kotaraja ini kita harus berhati-hati sekali. Ku harap engkau tidak salah sangka terhadap aku, Hui-moi.”
“Aku dapat mengerti, Bu-Ko, dan aku tidak menyalahkanmu. Hanya tempat ini begini kotor.”
“Terpaksa, Hui-moi. Justeru tempat ini tersembunyi dan paling aman untuk kita. Pula, kita hanya menginap satu malam saja, besok tempat ini sudah kita tinggalkan.” Song Bu lalu membuka buntalan pakaiannya dan menggunakan kain buntalan yang cukup lebar untuk menutupi kasur yang tampak kotor itu.
“Engkau tidurlah di atas pembaringan ini, Hui-moi. Aku dapat menyambung dua buah bangku ini dan tidur di atas bangku. Yang penting kita dapat melewatkan malam ini dengan selamat.”
“Baiklah, Bu-Ko. Sungguh tidak enak sekali, aku telah banyak menyusahkanmu.”
“Ahh, kenapa engkau berkata begitu, Hui-moi? Engkau tentu tahu bahwa aku siap melakukan apa saja untuk membela dan melindungimu, kalau perlu aku akan mempertaruhkan nyawaku.”
Ucapan yang penuh semangat ini jelas menunjukkan betapa pemuda itu amat mencintanya. Ouw Yang Hui merasa hatinya sedih sekali, teringat akan keadaan dirinya. Tak terasa lagi kedua matanya menjadi basah. “Terima kasih Bu-Ko, engkau... baik sekali, dan aku sama sekali tidak pantas menerimanya... aku... tidak berharga.”
Melihat gadis itu tenggelam ke dalam kesedihan lagi, Song Bu cepat mengalihkan percakapan. “Hui-moi, kita makan malam dulu, ya? Biar kupanggil pelayan tadi dan ku suruh membeli makanan.”
Ouw Yang Hui menyusut air matanya, merasa lega karena pemuda itu mengalikan perhatian dari percakapan yang membuatnya sedih tadi. Cepat ia mencegah. “Tidak usah, Bu-Ko. Aku tidak lapar dan sama sekali tidak ada nafsu makan malam ini. Kalau engkau lapar, engkau makanlah, Bu-Ko. Aku ingin mengaso.” Ouw Yang Hui menghampiri pembaringan dan duduk di tepi pembaringan.
Song Bu menghela napas. Dia sendiri juga tidak merasa lapar. Kalau tadi dia mengusulkan membeli makanan adalah demi gadis itu. “Akupun tidak lapar, Hui-moi. Mengasolah, aku akan menjaga di sini,” katanya dan dia duduk di atas bangku membelakangi pembaringan.
Melihat pemuda itu duduk di atas bangku membelakanginya, Ouw Yang Hui memandang dengan terharu. Bekas Suhengnya ini amat baik kepadanya, amat mencintanya. la membandingkan kebaikan Song Bu dengan tunangannya. Banyak kemiripan antara kedua orang pemuda itu. Keduanya gagah perkasa, berilmu tinggi. Hanya bedanya, kalau Sin Cu tunangannya itu bersıkap lemah lembut dan tenang, maka Song Bu ini wataknya keras.
Akan tetapi ia teringat akan keadaan dirinya. la tidak berharga lagi, baik bagi Song Bu dan terutama sekali bagi Sin Cu. Bukan saja ia telah ternoda, bahkan ia telah mengandung anak keturunan laki-laki lain! Ouw Yang Hui merebahkan dirinya di atas pembaringan tanpa kelambu itu. la telentang. Kedua matanya terbuka, berlinang air mata dan ia menatap langit-langit kamar itu yang ternoda bercak-bercak hitam. Agaknya banyak genteng rumah itu yang bocor. Akhirnya Ouw Yang Hui dapat pulas juga.
Sejak tadi Song Bu duduk di atas bangku. Dia memejamkan kedua matanya, akan tetapi tidak tidur, melainkan dalam keadaan bersamadhi. Dia mendengar pernapasan yang lembut dan panjang dari Ouw Yang Hui, tahu bahwa gadis itu telah tidur pulas. Dia merasa iba sekali kepada gadis yang dicintanya itu. Dia akan membelanya, dia harus dapat membuat gadis itu hidup berbahagia. Dia harus membuat gadis itu mendapatkan kembali kebahagiaannya, memulihkan lagi kehormatannya yang ternoda dengan menjadikan ia isteri laki-laki tunangannya itu.
la harus menjadi isteri yang sah dan terhormat dari laki-laki bernama Wong Sin Cu itu. Kalau pemuda itu menolak, akan dipaksanya. Kalau tetap menolak akan dibunuhnya karena bagaimanapun juga, Ouw Yang Hui menderita kehilangan kehormatannya karena membela dan menyelamatkan pemuda itu! Song Bu bangkit perlahan-lahan lalu menghampiri pembaringan itu.
Dilihatnya wajah yang masih tampak cantik jelita walaupun wajah itu dilumuri tanah dan arang dalam penyamaran tadi dan rambutnya kusut. Sepasang mata itu terpejam dan di bawah mata itu terdapat air mata. Hati Song Bu merasa terharu sekali. Ingin sekali hatinya untuk menyentuh wajah itu, membelai dan menghiburnya. Akan tetapi dia menahan hatinya dan melepaskan baju luarnya lalu menyelimutkan baju itu ke atas tubuh Ouw Yang Hui.
Kemudian dia kembali ke tengah kamar menjajarkan kedua buah bangku dan merebahkan tubuhnya di atas kedua bangku itu. Biarpun dalam keadaan tidur, namun seluruh anggauta tubuh Song Bu berada dalam keadaan waspada dan peka. Tubuh yang terlatih itu dalam keadaan berjaga-jaga sehingga ketika ada sedikit angin bersilir memasuki kamar, Song Bu segera terbangun dari tidurnya.
Begitu dia membuka kedua matanya, dia melihat ketidak wajaran itu. Lilin yang bernyala di atas meja itu bergoyang-goyang menimbulkan bayang-bayang yang menari-nari di atas dinding kamar. Dia juga merasakan hembusan angin dari arah jendela. Ketika dia cepat menengok dan memandang ke arah jendela, dia melihat betapa daun jendela telah terbuka sedikit.
Dari situlah angin dari luar berhembus masuk kamar. Dia segera menyadari bahwa hal ini tidak wajar karena tadi dia sendiri yang menutupkan daun jendela. Dia menoleh ke arah pembaringan dan melihat betapa Ouw Yang Hui masih tidur pulas, akan tetapi sekarang tubuh gadis itu menghadap ketembok, membelakanginya.
Melihat gadis itu masih berada di atas pembaringan, hatinya menjadi lega. Dia maklum bahwa tentu ada orang yang membuka daun jendela itu dari luar. Cepat dia menyambar Coat-Beng Tok-Kiam (Pedang Beracun Pencabut Nyawa) yang tadi dia letakkan di atas meja, mencabut dari sarungnya dan sekali meloncat dia sudah berada di dekat jendela. Jendela itu cukup besar dan dia segera mendorong daun jendela sehingga terbuka sama sekali.
Dia melihat dua sosok bayangan orang di luar jendela. Dari tempat dia berdiri, Song Bu mengebutkan tangan kirinya dan angin menyambar ke arah meja. Lilin yang bernyala itu tertiup padam sehingga kamar menjadi gelap. Bagaikan seekor burung tubuh Song Bu melompat keluar melalui jendela dan kini dia tiba di luar kamar yang merupakan tempat terbuka dengan taman yang tidak terpelihara. Dua buah lampu gantung menerangi tempat itu. Dua sosok bayangan itu berloncatan memasuki taman yang berada di belakang rumah.
“Keparat, hendak lari ke mana kalian?” Song Bu membentak lalu dia melompat untuk melakukan pengejaran. Dua sosok bayangan itu berhenti, membalik dan tangan mereka bergerak. Di bawah sinar bulan dan bintang, Song Bu, melihat sinar lembut meluncur dari tangan kedua orang itu. Dia maklum bahwa dua orang itu menyerangnya dengan senjata rahasia yang kecil, mungkin jarum atau paku.
Cepat dia memutar pedangnya dan tidak berhenti mengejar. Terdengar suara berkentingan dan belasan jarum lembut itu terpukul runtuh. Dua orang itu lari lagi dan Song Bu yang merasa penasaran cepat mengejar. Setelah tiba di tengah taman, tiba-tiba muncul tiga sosok bayangan lain dan lima orang itu lalu mengepung dan mengeroyoknya. Mereka mempergunakan sepasang belati yang berwarna hitam dan berbau amis, menunjukkan bahwa pisau mereka itu mengandung racun yang berbahaya.
Begitu lima orang yang mengenakan pakaian serba hitam dan mukanya ditutupi kain hitam itu bergerak menyerang, Song Bu segera mengenal gerakan mereka! Mereka itu bukan lain adalah wanita-wanita Pek-Lian-Kauw yang dulu menawan Ouw Yang Hui dan yang telah dia kalahkan ketika dia membebaskan gadis itu! Bukan main marahnya hati Song Bu.
“Kalian iblis-iblis betina Pek-Lian-Kauw!” bentaknya dan diapun mengamuk dengan pedangnya. Pedangnya adalah sebatang pedang pemberian Ouw Yang Lee, merupakan sebatang pedang yang ampuh dan mengandung racun dahsyat sekali. Karena marah, Song Bu bukan hanya menyerang dengan pedangnya, melainkan juga tangan kirinya melakukan serangan selingan dengan pukulan Ang-Tok-Ciang (Tangan Racun Merah) yang amat dahsyat.
Lima orang pengeroyoknya segera terdesak hebat. Mereka berusaha untuk menggunakan jarum-jarum beracun, akan tetapi semua serangan jarun itu dapat diruntuhkan pedang di tangan Song Bu. Bahkan pedang Song Bu yang berubah menjadi sinar bergulung-gulung itu mendesak para pengeroyok.
“Heiiiiittt...!” tiba tiba Song Bu membentak dan dua kali tangan kirinya menyambar. Dua orang pengeroyok menjerit, jerit wanita, dan roboh terkena pukulan Ang-Tok-Ciang! Tiga orang pengeroyok lain segera membanting sesuatu. Terdengar ledakan dan asap hitam mengepul tebal.
Song Bu melompat ke belakang. Ketika asap membumbung dan lenyap tiga orang itu tidak tampak lagi, bahkan dua orang yang roboh oleh pukulannya tadipun lenyap. Agaknya sempat dibawa pergi kawan-kawan mereka. Tiba-tiba Song Bu teringat. Dia berseru khawatir dan wajahnya berubah pucat. Cepat sekali dia membalikkan tubuh dan berlari seperti terbang, kembali ke kamar penginapan yang berada di ujung belakang itu.
Bagaikan seorang maling dia memasuki kamar itu melalui jendela yang terbuka. Keadaan dalam kamar remang-remang karena hanya mendapatkan sedikit sinar lampu yang tergantung di depan kamar dan di lorong yang menyambung ke taman itu. Dia cepat menghampiri pembaringan dan berdiri di depan pembaringan, tertegun. Seperti yang dikhawatirkan tadi, Ouw Yang Hui tidak berada di kamar itu!
Seolah tidak percaya kepada pandang matanya di dalam kamar yang remang-remang itu, kedua tangannya meraba-raba, mencari-cari di atas pembaringan. Maka, yakinlah dia bahwa gadis itu benar-benar telah lenyap dari kamar! Dia lari menuju pintu kamar dan mendapat kenyataan bahwa daun pintu kamar itu sudah tidak terkunci lagi. Ada orang yang telah membuka daun pintu dan membawa Ouw Yang Hui pergi. Ataukah, gadis itu sendiri yang membuka pintu dan pergi tanpa pamit kepadanya.
“Ah, tidak mungkin!” Dia membantah dugaannya tadi. Tidak mungkin Ouw Yang Hui pergi begitu saja meninggalkannya tanpa pamit. Tidak ada alasan bagi gadis itu untuk melarikan diri darinya. la tentu mengerti bahwa pergi begitu saja di Kotaraja akan membahayakan dirinya dan memungkinkan dirinya akan tertangkap oleh Ouw Yang lee? Atau oleh Kim Niocu?
“Kim Niocu!” Dia mengepal tinjunya. Tak salah lagi. Ouw Yang Hui pasti ditangkap oleh iblis betina dari Pek-Lian-Kauw itu! Wanita-wanita bertopeng yang tadi menyerangnya, tak salah lagi tentu orang-orang Pek-Lian-Kauw. Tadi mereka sengaja memancingnya keluar dari kamar sehingga Ouw Yang Hui berada dalam kamar seorang diri!
Dan ketika dia bertanding dengan para wanita itu di taman, Ouw Yang Hui lalu diculik! Dia teringat bahwa ketika para wanita itu dulu membawa Ouw Yang Hui dan berkelahi dengannya, mereka berjumlah enam orang. Akan tetapi yang mengeroyoknya tadi hanya lima orang. Tentu yang seorang bertugas menculik Ouw Yang Hui yang sedang tidur!
Song Bu cepat melompat keluar dan dia mencoba untuk melakukan pengejaran dan pencarian sampai di luar rumah penginapan. Akan tetapi dia tidak menemukan jejak dan karena dia tidak tahu harus mengejar ke arah mana, maka dengan lemas dan gelisah dia kembali ke kamarnya. Dia menyalakan kembali lilin di atas meja, menutupkan daun pintu dan jendela. Dengan perasaan menyesal mengapa begitu mudah dia dipancing dengan tipu daya “Memancing harimau meninggalkan sarang” dia menoleh ke arah pembaringan.
Dan di lantai dekat pembaringan itu dia menemukan baju luarnya yang tadi dia pergunakan untuk menyelimuti tubuh Ouw Yang Hui. Dia menghampiri dan memungut baju itu dan... seperti dengan sendirinya, dia mendekap baju itu di dadanya dan membenamkan mukanya di baju yang tadi menyelimuti tubuh Ouw yang Hui! Hatinya penuh kemarahan, penyesalan, dan kerinduan. Kemudian ia memakai baju itu, menggendong buntalan pakaiannya, menyembunyikan pedang dalam buntalan seperti ketika dia memasuki Kotaraja semalam. Dia menoleh lagi ke arah pembaringan dan berbisik,
“Hui-moi, aku bersumpah untuk menemukan dan menyelamatkanmu dan akan kubunuh orang yang mengganggumu!” Setelah berbisik demikian, dia keluar dari kamar memasuki taman dan meninggalkan tempat itu.
Sebagai seorang yang pernah dekat dengan Kaisar dan sudah sering memasuki Istana dengan bebas sebagai pengawal pribadi Kaisar jika melakukan perjalanan rahasia, Song Bu mengenal keadaan Istana dan tahu pula akan kebiasaan Kaisar. Dia tahu bahwa penjagaan di Istana oleh pasukan pengawal Istana amat ketat, terutama di siang hari.
Kalau malam hari, ada bagian-bagian yang dia tahu dapat diterobos. Akan tetapi karena sekarang dia sudah dianggap musuh oleh Thaikam Liu Cin dan pasukan pengawal Istana itu sebagian besar adalah anak buah Panglima Liu Kui adik Thaikam Liu Cin, maka tidak mungkin baginya memasuki Istana begitu saja.
Dia harus dapat menyelinap masuk tanpa diketahui orang dan hal ini baru mungkin dia lakukan di waktu malam. Hal inipun harus dia lakukan dengan hati-hati sekali karena kalau sampai ketahuan, dia pasti akan dibunuh oleh kaki tangan Thaikam Liu Cin sebelum diketahui Kaisar. Dalam kompleks Istana itu, yang berada paling belakang dekat dinding tinggi yang mengelilingi Istana seperti benteng adalah bangunan tempat menyimpan kereta dan istal kuda.
Song Bu sudah sering memasuki bagian ini untuk mengambil kuda seperti diperintahkan Kaisar. Dia tahu benar bahwa dinding di belakang bangunan istal kuda ini yang tidak terjaga perajurit pengawal. Bagian dinding ini hanya kadang-kadang saja dilewati perajurit yang meronda. Selain dindingnya cukup tinggi dan di luar dinding terdapat sungai buatan, juga bagian ini dihuni oleh para petugas, pemelihara kuda dan perawat kereta-kereta dan perlengkapannya.
Song Bu tahu benar akan hal ini. Lewat tengah malam. Keadaan dibangunan tempat kereta dan kuda itu sunyi sekali. Semua orang sudah tidur. Lima orang perajurit dengan tombak di tangan kanan dan lentera di tangan kiri melakukan perondaan. Malam itu bulan cukup terang, akan tetapi terkadang ada awan tebal lewat dan menutupi sinarnya.
Sesosok bayangan mempergunakan tali bergantungan pada dinding dan cepat sekali merayap naik. Bayangan itu adalah Song Bu. Tidak mungkin melompati tembok itu begitu saja. Selain terlalu tinggi, juga di luar tembok itu terdapat sungai buatan, dan di atas tembok berjajar ujung tombak yang runcing.
Karena itu, dia menyeberangi sungai buatan itu dengan berenang sambil membawa segulung tali yang ujungnya dipasangi besi kaitan, Pedangnya dia ikatkan di punggung. Setelah berhasil menyeberangi sungai buatan, dia lalu menggunakan tali panjang dengan ujung besi kaitan untuk memanjat tembok. Bagaikan seekor kera dia memanjat tembok. Ketika tiba di atas tembok dia mendekam dan memperhatikan sebelah dalam tembok.
Seperti telah diketahuinya, tidak tampak penjaga. Dia tidak berani melompat turun karena cuaca tidak cukup terang. Dia lalu menarik tali yang tadi dipakai untuk memanjat lalu menurunkan tali ke sebelah dalam tembok Istana. Kemudian, kembali dia bergantungan pada tali dan merayap turun. Dia kini telah berada di dalam kompleks Istana dengan selamat. Tak lama kemudian, dengan jalan menyusup dan menyelinap, Song Bu berhasil memasuki taman Istana.
Dia tahu bahwa sudah menjadi kebiasaan Kaisar, untuk makan pagi di dalam taman ini, dilayani para dayang Istana. Dan dia juga amat mengenal taman ini, tahu di mana tempat persembunyian yang baik. Dia lalu bersembunyi di dalam rumpun bambu hias yang rimbun, duduk bersila dan tertutup sama sekali oleh rumpun bambu itu. Di situ dia menanti.
Tepat seperti yang diduganya, setelah malam terganti pagi dan matahari mulai cerah, sinarnya sudah dapat menembus celah-celah daun bambu, dari tempat bersembunyi dia melihat rombongan Kaisar memasuki taman menuju ke sebuah bangunan tanpa dinding yang berdiri dikolam ikan emas.
Seperti biasa, Kaisar dikawal oleh lima orang Thaikam (sida-sida) pengawal yang berpakaian gemerlapan dan yang menggantungkan pedang di pinggang, tampak gagah akan tetapi lucu karena gerakan mereka kewanıtaan. Selain lima orang pengawal yang bertugas mengiringkan Kaisar, terdapat juga tujuh orang dayang muda remaja dan rata-rata berwajah cantik dan bertubuh menggairahkan.
Tujuh orang gadis yang menjadi dayang ini membawa hidangan makan pagi untuk Kaisar yang masih mengepul panas. Song Bu menahan diri untuk bersabar. Dia tidak ingin mengejutkan Kaisar sebelum Kaisar sarapan, karena hal itu mungkin saja akan mengganggu kenyamanan Kaisar makan pagi. Dia hanya mengintai dari tempat persembunyiannya.
Karena semalam dia tidak makan, maka pagi ini melihat Kaisar sarapan dengan makanan yang mengepul dan dari tempat persembunyiannya saja sudah dapat tertangkap oleh hidungnya aroma yang amat sedap, dia sampai menelan ludah.
Seorang dayang memainkan yang-kim (semacam gitar) mengiringi seorang dayang lain yang bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Dia pernah diajak Kaisar menemaninya sarapan pagi masakan lezat dan diiringi nyanyian seperti itu dan terkenanglah dia akan kelezatannya, membuatnya merasa semakin lapar lagi.
Akhirnya, yang dinanti-nantikan selesai juga. Kaisar selesai sarapan dan sedang menikmati hidangan buah dan minun anggur sambil mendengarkan nyanyian dan suara yang-kim. Saat itulah yang dinanti-nantikan oleh Song Bu. Dia keluar dari tempat sembunyinya, dengan cepat lari menuju ke bangunan itu. Ketika para pengawal, para dayang dan Kaisar sendiri melihat kemunculannya yang tiba-tiba dengan kaget, Song Bu segera menjatuhkan diri berlutut di bawah anak tangga bangunan pondok itu.
“Sribaginda Kaisar Yang Mulia, hamba Tan Song Bu mohon ampun kalau hamba mengganggu dan mengejutkan Paduka..” kata Song Bu dengan suara lantang agar dikenali Kaisar.
Lima orang pengawal itu sudah berloncatan ke depan sambil mencabut pedang mereka dan mereka sudah mengepung Song Bu yang berlutut. Mereka menodongkan pedang ke arah tubuh pemuda itu.
Kaisar Ceng Tek segera mengenal pemuda itu. “Hei, bukankah engkau Song Bu? Bagaimana engkau dapat muncul disini?”
“Yang Mulia, hamba Tan Song Bu. Mohon ampun kalau hamba menghadap Paduka tanpa diperintahkan seperti ini. hamba mempunyai urusan yang teramat penting yang harus hamba haturkan kepada Paduka,” kata Song Bu yang masih berlutut.
“Yang Mulia, orang ini mencurigakan dan mungkin berbahaya bagi Paduka. Perkenankan hamba berlima menangkap dan menghukum dia!” kata kepala pengawal sambil menempelkan pedangnya di leher Song Bu.
Pemuda itu maklum akan bahaya karena dia tahu bahwa lima orang pengawal itu tentu merupakan anak buah Thaikam Liu Cin. Dia sudah waspada dan siap. Akan tetapi Kaisar Ceng Tek menggerakkan tangan dengan tidak sabar.
“Kalian berlima kuperkenankan mundur. Mundurlah dan kalian berjaga saja di luar pondok!”
Mendengar ini, lima orang pengawal itu saling pandang, akan tetapi mereka tidak berani membantah perintah Kaisar dan mereka segera keluar dari bangunan itu, lalu berdiri di luar. Agaknya Kaisar merasa yakin akan kesetiaan Song Bu yang pernah mengawalnya berdua saja ketika dia keluar dengan menyamar.
“Cepat bersihkan meja dan kalian juga segera meninggalkan tempat ini!” kata Kaisar kepada tujuh orang gadis dayang.
Para gadis itu bekerja dengan cepat, membersihkan meja lalu mereka pun keluar meninggalkan tempat itu sehingga kini Kaisar Ceng Tek tinggal berdua saja dengan Song Bu.
“Ha, Song Bu, dari mana saja engkau, Sudah lama kami tidak melihatmu dan menurut Liu Thaikam, engkau melaksanakan tugas. Dan bagaimana sekarang engkau tiba-tiba muncul di sini dan eh, kenapa pakaianmu seperti itu? Pakaian jelek, kotor dan basah semua? Apa yang terjadi?”
“Ampun, Yang Mulia. Terpaksa hamba masuk melewati dinding belakang Istana dan menyeberangi sungai buatan karena hanya secara inilah hamba dapat menghadap Paduka. Tidak mungkin bagi hamba untuk menghadap Paduka secara berterang seperti biasa.”
“Ehh? Kenapa begitu? Mari, ke sini dan duduklah di atas kursi itu agar lebih enak kita bicara,” kata Kaisar sambil menunju sebuah kursi yang berada tak jauh didepannya.
“Terima kasih, Yang Mulia.” Song Bu memberi hormat, lalu bangkit dan menghampiri kursi, duduk berhadapan dengan Kaisar Ceng Tek.
“Nah, sekarang ceritakanlah, kenapa engkau bersikap begini aneh dan penuh rahasia! Apakah yang telah terjadi, Song Bu?” tanya Kaisar sambil memandang pemuda itu dengan heran.
“Yang Mulia, banyak hal yang amat penting terjadi di luar Istana. Hal-hal itu sudah semestinya. Paduka ketahui karena menyangkut keselamatan Paduka, Kerajaan, dan rakyat.”
Mendengar ucapan ini dan melihat sikap Song Bu yang demikian serius, Kaisar Ceng Tek tertarik sekali. “Hemm, ada kejadian apakah, Song Bu? Cepat ceritakan kepada kami.”
“Ampunkan hamba, Yang Mulia. Sebelum hamba melaporkan, hamba mohon lebih dulu agar Paduka percaya kepada hamba, karena hamba kira sudah banyak pejabat setia yang pernah melapor kepada Paduka namun Paduka tidak mempercayai mereka.”
“Hemm, ceritakan saja, Song Bu. Soal percaya atau tidak kepadamu akan kami pertimbangkan nanti kalau sudah mendengar ceritamu. Apakah yang telah terjadi?”
“Paduka Yang Mulia mungkin masih ingat kepada Siang Bi Hwa, gadis di Nam-Po yang pandai bernyanyi dan main musik itu?”
Kaisar Ceng Tek mengangguk-angguk, “Haya, kami masih ingat. Gadis yang pandai dan cantik. Ada apakah dengan gadis itu?”
“Gadis itulah yang menjadi saksi hidup tentang kebenaran laporan hamba ini, akan tetapi sungguh sayang, gadis yang hendak hamba hadapkan Paduka sebagai saksi itu semalam telah diculik orang-orang yang menjadi musuh besar Kerajaan Paduka.”
“Eh? Siapakah mereka?”
“Mereka yang menculik Siang Bi Hwa itu adalah orang-orang Pek-Lian-Kauw, Yang Mulia.”
Kaisar Ceng Tek terbelalak dan dia terkejut sekali mendengar disebutnya nama perkumpulan rahasia yang terkenal sebagai pemberontak itu. “Ahh! Bagaimana mungkin orang-orang Pek-Lian-Kauw dapat berada di Kotaraja?” dia berseru ragu, belum percaya.
“Tentu saja tidak akan mungkin kalau tidak ada orang yang memegang kekuasaan di Kotaraja dan yang bersekongkol dengan orang Pek-Lian-Kauw, Yang Mulia. Hamba mohon Paduka menyadari keadaan yang amat berbahaya, Yang Mulia. Saat ini ada seorang pejabat tinggi yang bersekongkol dengan Pek-Lian-Kauw, bahkan dengan orang Mancu, dan saat ini bahkan ada orang penting Pek-Lian-Kauw menjadi tamunya dan mereka tentu merencanakan siasat yang amat berbahaya terhadap Paduka. karena ingin menyelamatkan Paduka maka hamba nekat menempuh jalan seperti sekarang ini untuk menghadap Paduka dan memberi laporan.”
“Song Bu! Katakan, siapa pejabat tinggi yang kau maksudkan telah berkomplot dengan Pek-Lian-Kauw dan orang Mancu Itu?”
“Yang Mulia, Kam-Sin (Menteri pengkhianat) itu bukan lain adalah Thaikam Liu Cin!”
Kaisar Ceng Tek bangkit dari kursinya, alisnya berkerut dan pandang matanya kepada Song Bu penuh kemarahan. “Song Bu! Engkau juga hendak menjatuhkan fitnah kepada Paman Liu Cin yang amat setia itu? Aneh sekali! Begitu tidak tahu budikah engkau? Bukankah selama ini engkau diterima oleh Paman Liu Cin sebagai seorang kepercayaannya, bahkan dia mempercayai engkau untuk menjadi pengawal pribadiku? Bagaimana sekarang engkau membalas budi kebaikannya kepadamu itu dengan fitnah keji seperti ini?”
“Ampun, Yang Mulia. Hamba sama sekali tidak melakukan fitnah. Hamba bersedia dihukum seberat-beratnya kalau hamba melakukan fitnah. Apa yang hamba ceritakan ini adalah hal yang sesungguhnya,” kata Song Bu yang tidak merasa heran akan sikap Kaisar. Dia sudah siap akan sikap Kaisar ini yang dia tahu memang sudah dipengaruhi oleh Thaikam Liu Cin dan sudah percaya sepenuhnya kepada perdana menteri yang pandai menjilat itu.
“Justeru karena hamba pernah mergabdi kepadanya, maka mengetahui semua rahasianya dan hamba meninggalkannya karena hamba tidak setuju dengan semua perbuatannya membunuhi para bangsawan yang setia kepada Paduka dan yang menentangnya.”
“Song Bu, apa yang kau katakan kepada kami ini adalah urusan yang gawat sekali dan engkau tidak bisa mengharapkan kami mempercayaimu begitu saja. Akan tetap karena kita berdua sedang bicara empat mata, boleh kau memberi keterangan sejelasnya, akan tetapi ingat, kalau ceritamu ini fitnah, terpaksa kami akan melupakan semua jasamu dan akan menjatuhkan hukuman berat kepadamu!”
“Paduka menjatuhkan hukuman mati sekalipun hamba siap kalau ternyata hamba melakukan fitnah, Yang Mulia.”
“Nah, sekarang ceritakan!”
“Ketika kurang lebih setahun yang lalu hamba diajak guru hamba bekerja mengabdi kepada Thaikam Liu Cin, hamba masih belum mengetahui keadaannya. Akan tetapi setelah dia percaya kepada hamba, hamba mendapat tugas yang mengejutkan hamba, dan sekaligus membuat hamba merasa tidak suka kepadanya karena hamba tahu orang macam apa adanya pembesar itu.”
“Hemm, engkau disuruh apakah?”
“Hamba dan semua orang ahli silat yang menjadi pembantunya disuruh membunuh orang-orang yang sama sekali tidak berdosa. Hamba disuruh membunuh Pangeran Ceng Sin yang hamba tahu tidak berdosa.”
“Hemm, Pangeran Ceng Sin adalah seorang pengkhianat yang diam-diam mencanakan pemberontakan. Paman Liu Cin yang mengetahui niat busuknya dan hendak menangkapnya, akan tetapi sayang, Pangeran pengkhianat itu keburu meloloskan diri dari Kotaraja,” kata Kaisar.
“Memang begitulah pekerjaan Thaikam Liu Cin, Yang Mulia. Pangeran Ceng Sin adalah seorang yang sama sekali tidak berdosa, akan tetapi beliau menentang Thaikam Liu Cin yang menguasai Istana dan yang telah membunuh banyak pejabat setia yang menentangnya. Melihat kenyataan ini, hamba tidak membunuh Pangeran Ceng Sin, bahkan membantu beliau sekeluarga menyelamatkan diri dari pengejaran orang-orangnya Thaikam Liu Cin. Yang Mulia, banyak sudah para pejabat tinggi dan bangsawan yang menjadi korban kejahatan Thaikam Liu Cin. Karena mereka itu menentangnya, maka dia melaporkan berkhianat, padahal sesungguhnya dia sendiri yang jahat dan berkhianat.”
Kaisar Ceng Tek duduk kembali di atas kursinya, memandang kepada Song Bu dengan sinar mata penuh selidik dan alisnya berkerut. “Song Bu, kalau bukan engkau yang berani bicara memburukan Paman Liu Cin di depanku, tentu engkau sudah kusuruh tangkap dan hukum berat! Paman Liu Cin adalah seorang pembantu kami yang tua, jujur dan setia, dan sudah banyak sekali jasanya terhadap Kerajaan. Ceritamu tentang Pangeran Ceng Sin itu berlawanan dengan cerita Paman Liu Cin. Bagaimana kami bisa yakin bahwa ceritamu yang benar?”
“Memang hal itu perlu dibuktikan, Yang Mulia. Akan tetapi masih banyak hal lain yang perlu hamba laporkan kepada Paduka mengapa hamba meninggalkan Thaikam Liu cin. Selain urusan mengenai keluarga Pangeran Ceng Sin, juga hamba melihat bahwa dia mengumpulkan para datuk jahat untuk membantunya. Di antara mereka adalah Tho-Te-Kong, Cui-Beng Kui-Bo yang kejam dan Im Yang Tojin yang menyeleweng dan mengkhianati Im-Yang-Pai. Mereka bertiga itu adalah orang-orang jahat. Juga Ouw Yang Lee, Suhu yang membawa hamba mengabdi kepada Thaikam Liu Cin, telah melakukan kejahatan dan kekejaman.”
“Hemm, Paman Liu Cin tentu saja boleh menggunakan tenaga orang-orang pandai yang manapun. Hal itu belum membuktikan bahwa dia seorang pejabat yang khianat!”
“Bukan hanya itu, Yang Mulia. Thaikam Liu Cin bersekutu dengan pihak Pek-Lian-Kauw, bahkan sekarang puteri Ketua umum Pek-Lian-Kauw yang disebut Kim Niocu membawa beberapa orang gadis tawanan untuk dipersembahkan kepada para pembesar yang menjadi kaki tangan dan sekutunya.”
“Song Bu, semua ucapanmu tadi belum bisa kupercaya. Mana bukti dan saksinya?"
“Seperti sudah hamba beritahukan tadi Yang Mulia. Ada seorang saksi, yaitu Siang Bi Hwa yang nama sesungguhnya adalah Ouw Yang Hui. la ditawan oleh puteri ketua Pek-Lian-Kauw dan ia yang menjadi saksi bahwa Pek-Lian-Kauw bersekutu dengan Thaikam Liu Cin. Akan tetapi semalam ia diculik oleh orang-orang Pek-Lian-Kauw.”
Song Bu lalu menceritakan semua yang diketahuinya tentang pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan para datuk atas perintah Thaikam Liu Cin terhadap para bangsawan yang menentang Thaikam itu. Juga dia bercerita tentang pengadu dombaan antara partai-partai, persilatan besar yang dilakukan orang-orang Pek-Lian-Kauw untuk melemahkan partai-partai itu yang menentang kekuasaan Thaikam Liu Cin pula.
“Demikianlah, Yang Mulia. Maka hamba memberanikan diri menyusup ke Istana untuk menghadap Paduka, karena tidak mungkin menghadap Paduka secara berterang setelah hamba dimusuhi Thaikam Liu Cin. Hamba melapor agar Paduka waspada terhadap bahaya ini dan menangkap Thaikam Liu Cin yang berkhianat itu sebelum dia melakukan hal-hal yang lebih merusak lagi.”
Kaisar Ceng Tek bangkit lagi dari tempat duduknya. Alisnya berkerut. Laporan Song Bu itu benar-benar mengacaukan pikirannya dan mengganggu ketenangan hatinya. “Song Bu, laporanmu ini gawat sekali. Kalau tidak benar, berarti engkau menyebar fitnah dan dosamu besar sekali. Karena itu, engkau kusuruh tahan dulu sampai kami selesai menyelidiki kebenaran laporanmu. Kalau ternyata bohong, engkau akan kami jatuhi hukuman berat!”
“Silakan, Yang Mulia. Hamba rela dan siap menerima hukuman apapun kalau keterangan hamba itu tidak benar. Hamba hanya mohon agar Paduka dapat menggulung komplotan itu dan dapat menyelamatkan Siang Bi Hwa atau Ouw Yang Hui dari tangan orang-orang Pek-Lian-Kauw yang sekarang berada di Kotaraja.”
Kaisar Ceng Tek bertepuk tangan dan lima orang pengawal itu berlompatan masuk. “Kalian bawa Tan Song Bu ini dan masukkan dalam tahanan. Akan tetapi jangan ganggu atau siksa dia. Tunggu keputusan kami!”
Lima orang pengawal itu memberi hormat kepada Kaisar lalu mereka menggiring Song Bu keluar dari bangunan. Begitu keluar, kepala pengawal itu dengan kasar mengambil pedang dari punggung Song Bu, Pemuda ini terkejut, mengelak dan menangkap tangan pengawal itu.
“Kalau engkau melawan akan kupukul” hardik kepala pengawal.
Pada saat itu, Kaisar Ceng Tek sudah berdiri di atas anak tangga dan dia membentak, “Pengawal, jangan bertindak kasar!”
Kepala pengawal itu terkejut, cepat memberi hormat. “Ampunkan hamba, Yang Mulia.”
“Lupakah kamu? Tadi sudah kupesan jangan ganggu apa lagi siksa Song Bu! Kalau sekali lagi kamu melanggar, akan kujatuhi hukuman mati kamu!”
Tubuh pengawal itu menggigil. “Ampunkan hamba...!”
“Song Bu, lepaskan pedangmu itu berikan kepada kami. Untuk sementara pedang itu kami simpan,” kata Kaisar Ceng Tek.
“Baik, Yang Mulia.” Song Bu melepaskan tali yang menggantung pedang di punggungnya, lalu menyerahkannya kepada Kaisar dengan sikap hormat. Kaisar menerima pedang itu lalu berkata kepada para pengawal.
“Antar dia ke kamar tahanan dan jaga baik-baik, jangan sampai ada yang mengganggunya! Awas, keselamatannya berada di tangan kalian yang harus bertanggung jawab!”
Dengan takut lima orang pengawal itu lalu mengantar Song Bu ke tempat tahanan yang memang terdapat di kompleks Istana itu. Pada saat itu, seorang pengawal lain datang tergopoh-gopoh dan berlutut di depan Kaisar.
“Sribaginda Yang Mulia, hamba melapor bahwa di ruangan persidangan telah berkumpul dua puluh orang pejabat tinggi, setingkat menteri dan Pangeran, mohon perkenan Paduka untuk menghadap.”
Kaisar Ceng Tek mengerutkan alisnya. “Kami tidak mengadakan persidangan hari ini dan tidak memanggil, mengapa mereka datang menghadap? Apakah Thaikam Liu Cin yang memimpin para pejabat itu. Biasanya, hanya Thaikam Liu Cin yang suka mohon menghadap dengan tiba-tiba untuk melaporkan sesuatu yang penting.”
“Bukan, Yang Mulia. Liu-Taijin tidak di antara mereka dan hamba melihat bahwa yang memimpin mereka adalah Pangeran Ceng Sin!”
“Pangeran Ceng Sin...?” Kaisar terbelalak. “Dan siapa saja para pejabat yang datang menghadap?”
Pengawal itu menyebutkan nama nama mereka yang datang bersama Pangeran Ceng Sin, yaitu para menteri dan Panglima tua yang terkenal setia sejak Kaisar Hung Chi yang berkuasa sebelum Kaisar Ceng Tek. Mendengar disebutnya nama-nama ini, sederetan nama menteri dan Panglima tua yang tidak diragukan kesetiannya, Kaisar Ceng Tek tidak merasa curiga lagi dan diapun memasuki Istana berganti pakaian kebesaran lalu keluar ke ruangan persidangan.
Melihat Kaisar muncul diringi para pelayan dan pengawal pribadi, dua puluh pejabat tinggi dan bangsawan itu segera menjatuhkan diri berlutut Sambil berseru serempak, “Ban-Swe, Ban-Ban Swe... (Panjang Usia...)”
Kaisar memberi isarat dengan tangannya menerima penghormatan itu dan memperbolehkan mereka bangkit berdiri sambil menduduki kursi kebesarannya. Kaisar memandang kepada Pangeran Ceng Sin. Pangeran ini adalah kakak tirinya sendiri, se Ayah berlainan Ibu. Kalau Kaisar Ceng Tek beribu Permaisuri, Pangeran Ceng sin beribu seorang selir.
Hubungan keduanya semula akrab sampai datang fitnah dari Thaikam Liu Cin yang memberi tahukan Kaisar bahwa Pangeran Ceng Sin berniat memberontak dan melarikan diri ketika hendak ditangkap. Kaisar teringat akan cerita Song Bu tentang kakak tirinya ini, akan tetapi dia masih belum yakin akan kebenaran cerita itu. Setelah memandang Pangeran itu, Kaisar berkata lantang.
“Bukankah engkau Kakanda Pangeran Ceng Sin? Engkau telah berkhianat dan berniat memberontak, kemudian melarikan diri ketika hendak ditangkap. Apakah engkau sekarang datang untuk menyerahkan diri dan menerima hukuman?”
Pangeran Ceng Sin melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut lalu berkata, “Adinda Kaisar Yang Mulia, hamba siap menerima hukuman apa saja yang Paduka jatuhkan kepada hamba kalau memang hamba melakukan kesalahan. Akan tetapi sebelum Paduka menjatuhkan keputusan hukuman, hamba mohon agar Paduka lebih dulu sudi mendengarkan laporan hamba tentang keadaan yang sesungguhnya dan tentang bahaya besar yang mengancam Kerajaan, tentang seorang pengkhianat yang sesungguhnya, yaitu Thaikam Liu Cin.”
“Hemm, mendengarkan laporan apa lagi? Engkau sekeluarga telah melarikan diri dari Kotaraja. Hal ini saja sudah merupakan bukti bahwa engkau mempunyai kesalahan dan melarikan diri karena takut setelah ketahuan. Engkau harus diberi hukuman berat untuk menjadi contoh bagi semua pejabat!” Kaisar sudah menggerakan tangan hendak memerintahkan perajurit pengawal untuk menangkap Pangeran Ceng Sin.
Akan tetapi pada saat itu, sembilan belas orang pejabat tua yang berada di situ serentak menjatuhkan diri berlutut. “Hamba sekalian merasa penasaran mohon kebijaksanaan Yang Mulia seadil-adilnya!”
Kaisar Ceng Tek mengerutkan alisnya. “Kalian ini mau apa? Kami hendak menjatuhkan hukuman kepada orang yang bersalah, kenapa kalian merasa penasaran? Apakah kalian juga hendak menentang kami?”
Kui-Ciangkun, Panglima tertua di antara mereka, mewakili rekan-rekannya berkata lantang. “Hamba sekalian sama sekali tidak hendak menentang Paduka Yang Mulia, bahkan hendak menyelamatkan Kerajaan. Hamba semua hanya mohon agar Paduka sudi mendengarkan laporan hamba sebelum menjatuhkan keputusan hukuman. Kalau Paduka tidak sudi mendengarkan laporan hamba sekalian dan hendak menjatuhkan hukuman kepada Pangeran Ceng Sin, biarlah hamba semua juga Paduka jatuhi hukuman mati!”
Diam-diam Kaisar Ceng Tek terkejut juga menyaksikan sikap mereka semua. Tidak mungkin dia menghukum mereka semua tanpa alasan! Mereka adalah pejabat-pejabat penting. Tentu akan terjadi kekacauan hebat kalau mereka dihukum tanpa kesalahan yang pasti. “Baiklah, sampaikan laporan kalian untuk kami pertimbangkan!” katanya.
Dua puluh orang pejabat dan bangsawan itu menjadi gembira sekali mendengar ucapan Kaisar yang mengijinkan mereka menyampaikan laporan mereka. Dengan penuh semangat mereka lalu membuat laporan panjang. Pertama-tama Pangeran Ceng Sin yang melaporkan tentang dirinya yang hendak dibunuh oleh Thaikam Liu Cin karena dia berani menentang kekuasaannya. Apa yang diceritakan Pangeran ini sama benar dengan cerita yang didengar Kaisar dari mulut Song Bu.
Setelah Pangeran itu selesai melapor, para menteri dan Panglima lalu membuat laporan masing-masing, semua laporan mengenai tindakan sewenang-wenang yang dilakukan Thaikam Liu Cin. Panglima Kui menyampaikan daftar sederetan bangsawan yang telah menjadi korban, terbunuh oleh kaki tangan Thaikam Liu Cin.
Deretan panjang dari nama para pejabat tinggi yang tadinya terkenal setia, baik kepada Kaisar Tua maupun Kaisar yang sekarang berkuasa. Ada pula pejabat yang melaporkan tentang tindakan sewenang-wenang dari Jaksa Agung Liu Wang dan Panglima Liu Kui, dua orang adik Thaikam Liu Cin yang diangkat oleh Thaikam itu.
Ada juga yang melaporkan tentang korupsi yang dilakukan Thaikam Liu Cin, yang melalui para pejabat yang menjadi kaki tangannya, memungut pajak paksa dan memeras para pedagang. Setelah semua orang menyampaikan laporannya, Kaisar Ceng Tek menjadi terkejut bukan main. Kiranya tidak mungkin kalau dua puluh orang pejabat tua yang, setia ini semua berbohong dan melakukan fitnah terhadap Thaikam Liu Cin!
Mulailah dia merasa curiga terhadap Thaikam Liu Cin. Selama bertahun-tahun ini sikap Thaikam itu selalu manis, menjilat-jilat dan semua laporannya menyenangkan hati, tampaknya dia seorang yang amat setia lahir batin. Akan tetapi siapa tahu, dia memang terkecoh oleh semua sikap manis menjilat itu, dan di balik semua itu tersembunyi hal-hal yang berlawanan.
“Mohon ampun, Adinda Kaisar Yang Mulia. Semua laporan hamba sekalian ini benar belaka dan hamba semua sanggup mempertanggung-jawabkannya. Bahkan, kalau Paduka menghendaki hamba dapat menghadirkan seorang pendekar sebagai saksi. Dia pernah ditawan oleh Kim Niocu, puteri Ketua Umum Pek-Lian-Kauw dan pendekar itu mengetahui bahwa Pek-Lian-Kauw berhubungan erat dengan Thaikam Liu Cin,” kata Pangeran Ceng Sin.
Kaisar Ceng Tek mengerutkan alisnya Tuduhan bahwa Thaikam Liu Cin bersekongkol dengan Pek-Lian-Kauw itu cocok dengan yang diceritakan Song Bu. Dan hal ini yang amat menggelisahkan hatinya. Kalau tuduhan itu benar, sungguh berbahaya sekali. Dia teringat akan cerita Song Bu tadi bahwa pemuda itu tadinya diutus Thaikam Liu Cin untuk membunuh Pangeran Ceng Sin dan kemudian pemuda itu tidak membunuhnya bahkan menolongnya lolos dari Kotaraja.
Dia ingin mempertemukan antara mereka untuk melihat kebenaran cerita Song Bu tadi. Digapainya seorang pengawal dan diperintahkannya untuk menjemput tawanan itu dari kamar tahanan dan membawanya ke ruangan itu. Pengawal memberi hormat lalu pergi. Tak lama kemudian dia kembali bersama Song Bu.
Pemuda itu sudah berganti pakaian, diberi oleh pengawal yang ingin memperlakukan Song Bu dengan baik sesuai dengan perintah Kaisar. Pengawal itu memberi makan malam kepada Song Bu dan melihat pakaian pemuda itu basah dan kotor, dia lalu memberinya pengganti pakaian yang bersih dan pantas. Setelah tiba di ruangan itu, Song Bu lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap Kaisar.
“Kakanda Pangeran, lihatlah, apakah engkau mengenal pemuda ini?” tanya Kaisar kepada Pangeran Ceng Sin.
Pangeran itu memandang kepada Song Bu dan wajahnya menjadi berseri gembira. Dia tampak kaget dan heran namun girang lalu berseru menegur. “Pendekar Tan Song Bu! Engkau berada di sini?”
Song Bu mengangkat muka memandang. “Yang Mulia Pangeran Ceng Sin, selamat berjumpa!” katanya, juga merasa heran karena tidak mengira bahwa Pangeran yang sudah melarikan diri dari Kotaraja tahu-tahu kini berada di Istana, di depan Kaisar.
“Kakanda Pangeran, bagaimana engkau mengenal Tan Song Bu ini? Apa hubunganmu dengan dia?” tanya Kaisar.
“Yang Mulia, hamba mengenal baik pemuda ini karena pendekar inilah yang telah menyelamatkan hamba sekeluarga. Dia inilah yang tadinya diutus Thaikam Liu Cin untuk membunuh hamba, akan tetapi dia tidak melakukan pembunuhan itu, bahkan membantu hamba sekeluarga lolos dari kekejaman Thaikam Liu Cin dan melarikan diri keluar Kotaraja. Seandainya bukan Tan-Taihiap ini yang diutus Thaikam Liu Cin untuk membunuh hamba, tentu sekarang hamba sekeluarga telah tewas seperti halnya demikian banyaknya pejabat tinggi dan anggauta keluarga Kerajaan."
Kaisar Ceng Tek memandang kepada Song Bu dan mengangguk-angguk. “Tan Song Bu, sekarang kami mulai percaya akan keteranganmu. Akan tetapi mengenai pengkhianatan Thaikam Liu Cin, kami harus mendapatkan buktinya lebih dulu!”
Dia lalu memberi isarat kepada seorang pengawal yang membawa pedang milik Song Bu dan menyerahkan pedang itu kepada Song Bu. “Kami kembalikan pedangmu.”
Song Bu menerima pedangnya kembali dari tangan pengawal itu dan berkata dengan hormat kepada Kaisar. “Banyak terima kasih atas kepercayaan Paduka Yang Mulia.”
Pada saat itu, tampak lima orang perajurit penjaga keamanan Istana memasuki ruangan dan mereka tampak bingung dan gugup sekali. Mereka segera menjatuhkan diri berlutut ke arah Kaisar yang menjadi marah dan menegur mereka.
“Apa artinya kelancangan kalian ini? Tidak tahukah kalian bahwa kalian melakukan kesalahan besar dan mengganggu persidangan ini?”
“Mohon beribu ampun, Paduka... Paduka Yang mulia. Hamba hendak melaporkan bahwa Istana telah dikepung pasukan yang dipimpin oleh Panglima Liu Kui!”
Tentu saja Kaisar terkejut bukan main dan juga merasa heran. Panglima Liu Kui justeru merupakan Panglima komandan pasukan pengawal Istana. bagaimana sekarang dikatakan mengepung Istana. “Hei, apa maksud kalian? Apa artinya semua ini?” Kaisar membentak.
“Hamba dipaksa untuk melapor kepada Paduka bahwa Istana telah dikepung dan Panglima Liu Kui minta agar dua puluh orang pejabat tinggi yang dipimpin Pangeran Ceng Sin menyerahkan diri dengan baik-baik karena mereka dianggap memberontak,” kata pula kepala pengawal itu dengan takut-takut...