|
| Karya Kho Ping Hoo |
Sepasang Rajah Naga Jilid 28 - MENDENGAR ucapan Song Bu itu, Ouw Yang Hui teringat akan semua pengalamannya selama ia menjadi tawanan Kim Niocu sehingga ia menjadi seorang gadis yang ternoda dan kini bahkan mengandung, maka tak dapat ia menahan kesedihannya dan ia menangis lagi dengan hati terasa diremas-remas.
Song Bu memandang dengan iba dan haru, akan tetapi kini dia tidak berani menyentuh Ouw Yang Hi setelah ia mendengar bahwa Ouw Yang Hui mencinta pria yang bernama Sin Cu, bahkan menjadi tunangannya, calon isterinya. Dia hanya dapat menghibur dengan kata-kata.
“Sudahlah, Hui-moi tenangkan hatimu. Semua itu telah berlalu, dan kalau ada yang merisaukan hatimu dan membuatmu penasaran, aku yang akan membantumu mengatasi persoalan yang kau hadapi.”
Ouw Yang Hui berusaha sekuatnya untuk menahan tangisnya. “Bu-Ko, aku... aku... orang yang paling sengsara di dunia ini. Aku mengalami hal yang telah menghancurkan kebahagiaanku.”
Song Bu mengerutkan alisnya. “Apa yang telah terjadi, Hui-moi? Ceritakanlah! Aku orangnya yang akan membelamu kalau ada hal penasaran menimpa dirimu. Aku yang akan membalas dendam kalau ada orang yang membuatmu sengsara!”
Setelah menenteramkan hatinya yang penuh kesedihan, Ouw Yang Hui dapat melanjutkan ceritanya. “Yang melarikan aku ketika engkau bertanding dengan Pangeran Yorgi itu adalah seorang pemuda bernama Bhong Lam atau panggilannya Bhong-Kongcu. Dia adalah putera Bhong Pangcu, ketua cabang Pek-Lian-Kauw. Oleh Bhong Lam itu aku diserahkan kepada Kim Niocu, puteri Ketua Umum Pek-Lian-Kauw yang mempunyai kekuasaan besar.
"Juga Pangeran Yorgi itu ternyata bersekutu pula dengan Pek-Lian-Kauw. Kim Niocu itu mewakili Pek-Lian-Kauw mengadakan hubungan dengan Thaikam Liu Cin di kota raja. la hendak membawa aku dan beberapa orang gadis tawanan lain ke kota raja, dengan maksud menyerahkan kami kepada Thaikam Liu Cin untuk dibagi-bagikan kepada para pembesar yang menjadi sekutunya.
"Aku sendiri tentu saja akan diserahkan kepada Ayah Ouw Yang Lee. Kemudian muncullah Cu-Ko! Aku tahu bahwa sejak aku diculik oleh Pangeran Yorgi yang bergigi emas itu, tentu Ayah tiriku Gan Hok San dan Koko Wong Sin Cu akan berusaha untuk mencariku. Akan tetapi dia dijebak dan tertawan pula...”
Song Bu tertarik sekali. “Lalu, apa yang terjadi dengan tunanganmu itu, Hui-Moi...?"
Ouw Yang Hui menghela napas dan memejamkan matanya seolah ingin menghapus pemandangan yang selalu mengganggunya kalau diingatnya tentang Sin Cu. “Dia disiksa, disiksa dengan kejam sekali oleh Kim Niocu dan aku dibawa Bhong-Kongcu untuk menyaksikannya dengan bersembunyi. Dapat kau bayangkan betapa hancur dan sakitnya rasa hatiku menyaksikan Cu-Ko disiksa seperti itu. Aku tidak tahan lagi untuk melihatnya. Pada saat itulah Bhong-Kongcu berjanji kepadaku untuk menolong dan membebaskan Cu-Ko dengan syarat bahwa aku harus mnau menjadi isterinya..."
“Si keparat!” Song Bu mengepal tinju dan mukanya berubah merah karena marah.
“Pada saat itu aku hanya memikirkan keselamatan Cu-Ko. Aku yakin bahwa tanpa pertolongan Bhong-Kongcu, Cu-Ko tentu akan disiksa sampai mati oleh Kim Niocu. Aku bersedia berkorban apa saja, bahkan kalau perlu nyawaku, untuk menolong Cu-Ko!”
“Hemm, Sin Cu itu beruntung sekali mendapatkan cintamu, Hui-moi. Kemudian, apa yang terjadi?”
“Malam itu, Bhong-Kongcu benar-benar berhasil membebaskan Cu-Ko dengan berkorban menjadi musuh Kim Niocu. Aku melihat Cu-Ko dibebaskan, maka akupun tidak dapat menolak ketika Bhong-Kongcu mengajak aku minggat dari tempat tinggal Kim Niocu karena kalau puteri Pek-Lian-Kauw itu mengetahui bahwa Cu-Ko telah dibebaskan Bhong-Kongcu, pemuda itu tentu akan dibunuh. Kami berdua melarikan diri dan dan ketika dia menagih janji, aku... aku... tak dapat berbuat lain kecuali menyerahkan diri sebagai pengorbananku untuk keselamatan Koko Sin Cu...”
Sampai di sini kembali Ouw Yang Hui menangis. Song Bu membelalakkan matanya dan melihat pohon di dekatnya seolah merupakan laki-laki yang telah memaksa Ouw Yang Hui menyerahkan diri.“Jahanam kamu! Mampus kamu!” Bentaknya dan sekali dia mengayun tangan kanannya ke arah pohon itu, terdengar bunyi keras dan pohon itupun tumbang. “Hui-moi, katakan, di mana jahanam she Bhong itu sekarang! Aku akan menghancurkan kepalanya! Akan kupecahkan dadanya!” teriak Song Bu marah.
“Bu-Ko, dia dia telah tewas...”
“Apa? Dia telah mati?”
“Kami berdua dapat ditemukan para anak buah Kim Niocu. Bhong-Kongcu dikeroyok dan tewas. Aku lalu dibawa para wanita anak buah Kim Niocu itu sampai bertemu denganmu.”
Song Bu mengerutkan alisnya, hatinya kecewa karena dia ingin sekali membunuh pria yang telah menodai Ouw Yang Hui itu dengan kedua tangannya sendiri. Akan tetapi dia lalu teringat akan tunangan Ouw Yang Hui yang bernama Wong Sin Cu itu. Ouw Yang Hui celaka dan ternoda karena melindungi Sin Cu! Pemuda tunangannya itulah yang sesungguhnya menjadi penyebab terjadinya malapetaka yang menimpa diri Ouw Yang Hui!
“Kalau begitu, mari kubantu engkau mencari Wong Sin Cu! Dia harus bertanggung jawab karena engkau sampai ternoda gara-gara dia! Kalau dia tidak tertawan dan engkau tidak mengorbankan diri untuknya, tentu engkau tidak akan ternoda. Maka, sekarang dia harus secepatnya menikahimu!”
Ouw Yang Hui yang teringat bahwa ia tidak hanya sudah ternoda, bahkan ia telah mengandung anak dari mendiang Bhong Lam! “Aku tidak berharga lagi, Bu-Ko. Aku tidak dapat menjadi isterinya, bahkan aku tidak mau lagi bertemu dengan dia!” Gadis yang malang itu menangis lagi.
Song Bu mengerutkan alisnya. “Akan tetapi, dia harus bertanggung jawab, Hui-moi! Engkau menjadi begini karena dia! Dia harus bertanggung jawab dan aku yang akan memaksanya untuk menikahimu dan kalau dia menolak aku akan membunuhnya!”
Sambil menangis Ouw Yang Hui berlutut di depan kaki Song Bu. “Tidak...! Bu-Ko... demi Tuhan, jangan lakukan itu...! Aku tidak mau bertemu lagi dengan Wong Sin Cu! Bu-Ko, kasihanilah aku jangan ganggu dia, dia sama sekali tidak bersalah. Jangan pertemukan aku lagi dengan dia...!”
“Akan tetapi, mengapa, Hui-moi? Sudah sepatutnya kalau dia bertanggung jawab bahkan berterima kasih kepadamu. Engkau yang menyelamatkan nyawanya dengan mengorbankan dirimu!”
“Bu-Ko... kalau engkau kasihan kepadaku.., bawalah aku pergi ke mana saja, asal jangan pertemukan aku dengan Cu-Ko. Kalau engkau tidak mau, biarlah aku pergi dan kita berpisah di sini saja...!” Sambil menangis Ouw Yang Hui lalu bangkit berdiri dan melangkah pergi.
Song Bu menggeleng-geleng kepalanya. Lalu sekali melompat dia sudah berada di depan gadis itu menghadang. “Baiklah, Hui-moi, baiklah. Aku tidak akan memaksamu bertemu dengan Sin Cu. Akan tetapi, engkau selalu akan terancam oleh Ouw Yang Lee dan kawan-kawannya. Apa lagi Sekarang sudah terbukti bahwa Thaikam Liu Cin dan para jagoannya itu bersekutu dengan Pek-Lian-Kauw. Engkau membutuhkan tempat yang aman agar terlindung dan hanyá ada satu tempat di mana engkau akan terlindung dan terlepas dari ancaman mereka. Aku akan membawamu ke sana.”
Lega rasa hati Ouw Yang Hui. la tidak ingin Song Bu memusuhi Sin Cu yang tidak bersalah apa-apa. la sendiri tidak berani bertemu lagi dengan tunangannya itu. la bukan hanya telah ternoda, bahkan sudah mengandung. Bagaimana ia dapat bertemu muka dengan pemuda itù? Apa lagi minta dinikahi? Sungguh tidak mungkin dan hanya akan mendatangkan aib dan malu saja. Bahkan kepada Song Bu saja ia merasa malu untuk mengaku bahwa ia telah mengandung. Kini mendengar Song Bu menawarkan kemungkinan lain, ia merasa lega dan tertarik. “Di manakah tempat itu, Bu-Ko?”
“Di istana, Hui-moi. Engkau masih ingat kepada Sribaginda Kaisar yang dulu pernah datang berkunjung dan menonton engkau bermain musik? Nah, engkau akan kuajak menghadap Sribaginda Kaisar dan tentu beliau akan suka menerimamu tinggal untuk sementara di istana agar terlindung dari pengejaran Ouw Yang Lee dan kawan-kawannya.”
“Istana Kaisar?” Ouw Yang Hui lupa akan tangisnya dan memandang pemuda itu dengan mata terbelalak, mata yang masih basah air mata dan agak merah karena tangis. la terkejut mendengar usul Song Bu tadi. “Akan tetapi, bagaimana mungkin Sribaginda Kaisar sudi menerimaku dalam istana?”
“Aku yakin beliau akan menerima dengan senang hati, Hui-moi. Pertama, aku pernah beliau anggap sebagai seorang pengawal pribadi ketika aku masih berada di kota raja. Beliau percaya sepenuhnya kepadaku. Dan kedua, beliau juga kagum kepadamu, Hui-moi. Apalagi kalau nanti aku menghadap dan memperkenalkan engkau sebagai adik seperguruanku, tentu beliau akan menerimamu dengan senang hati.”
“Akan tetapi, Bu-Ko. Aku khawatir Sekali. Sudah banyak aku mendengar tentang kehidupan para wanita dalam istana, mereka hanya menjadi permainan para Pangeran dan pembesar yang berkuasa di istana. Aku takut mendapat gangguan di sana...”
“Jangan takut! Kalau mereka mengetahui bahwa engkau adalah adik seperguruanku dan dilindungi oleh Sribaginda Kaisar, siapa yang akan berani mengganggumu? Orang yang berani mengganggu selembar rambutmu akan berhadapan dengan aku!”
Song Bu mengepal tinju. Pada saat itu hati Ouw Yang Hui merasa perih dan terasa sekali olehnya betapa pemuda bekas kakak seperguruannya ini amat mencintanya. Wong Sin Cu sudah menjadi korban karena mencintanya, demikian pula Bhong Lam dan kini agaknya Tan Song Bu akan menjadi korban ke tiga karena mencintanya. Pada hal ia sudah tidak berharga lagi, baik bagi Sin Cu maupun bagi Song Bu.
Akan tetapi ia tidak melihat jalan lain. Bahkan untuk kembali kepada Ibunya dan Ayah tirinya di Siauw-Lim-Si pun ia tidak berani dan malu. la sudah ternoda, bahkan mengandung. la tidak ingin Ibunya ikut terpercik noda, ikut mendapat aib dan malu. Agaknya Song Bu dapat melihat keraguannya.
“Atau engkau lebih senang untuk pulang saja ke Siauw-Lim-Si, ke tempat Ibumu?” Dia memandang penuh selidik dan menyambung, “Aku akan mengantarmu ke sana kalau engkau menghendaki begitu.”
Ouw Yang Hui menggeleng kepalanya dengan sedih. “Tidak, Bu-Ko, aku tidak mau pulang kepada Ibuku. Aku malu dan aku tidak ingin membuat Ibu ikut menderita malu. Baiklah, aku ikut denganmu ke kota raja kalau engkau memang hendak ke sana.”
“Aku harus ke kota raja, Hui-moi. Aku sudah muak melihat sepak terjang Suhu Ouw Yang Lee yang membantu Thaikam Liu Cin menguasai istana dan mempengaruhi Sribaginda Kaisar. Padahal Thaikam Liu Cin itu mempunyai niat yang jahat, tega membunuhi para pejabat dan bangsawan yang menentangnya dan yang hendak menyadarkan Sribaginda Kaisar. Bahkan sekarang lebih gila lagi, Thaikam Liu Cin berani bersekongkol dengan pihak Pek-Lian-Kauw yang jelas memusuhi Kerajaan. Aku harus membongkar persekutuan itu dan mengingatkan Sribaginda Kaisar akan bahaya besar yang mengancam Kerajaan ini.”
“Baıklah, kalau begitu aku ikut denganmu, Bu-Ko.” Sepasang orang muda itu lalu berjalan menuju kota raja yang sudah tidak jauh lagi dari situ.
Sepasang orang muda itu berjalan mendaki bukit itu, mereka merupakan pasangan yang serasi. Si pemuda yang berusia sekitar dua puluh satu tahun itu bertubuh sedang, mukanya bulat telur, rambutnya hitam, alisnya berbentuk golok, matanya mencorong namun lembut, hidungnya mancung dan mulutnya yang agak kecil itu terhias senyum, kulitnya putih.
Sedangkan gadis itu cantik jelita. Mukanya bulat seperti bulan purnama, kulitnya putih kemerahan, matanya lebar dan jeli mengandung sinar yang tajam, hidungnya kecil mancung, mulutnya manis menggairahkan dan ada tahi lalat kecil di dagunya menambah manis.
Tubuhnya agak montok. Gadis berusia sekitar sembilan belas tahun itu memang cantik menarik dan juga sikapnya tampak gagah perkasa. Ia adalah Ouw Yang Lan atau kini berganti nama marga menjadi Ciang Lan menurut marga Ayah tirinya seperti yang diceritakan di bagian depan. Maka, selanjutnya lebih baik kita menyebutnya Ciang Lan seperti yang dikehendakinya sendiri.
Adapun pemuda itu adalah Wong Sin Cu. Seperti kita ketahui, sepasang orang muda ini saling bertemu dan berkenalan. Sin Cu akhirnya mengetahui bahwa gadis yang telah menolongnya ketika dia terluka parah akibat penyiksaan Kim Niocu ini adalah puteri Ouw Yang Lee dan kakak tiri Ouw Yang Hui.
Akan tetapi dia tidak menceritakan bahwa Ouw Yang Hui adalah tunangannya. Sebaliknya Ciang Lan mengetahui bahwa Sin Cu adalah seorang pemuda yang telah membantu Ouw Yang Hui dan Ibu serta Ayah tirinya ketika diserang oleh Ouw Yang Lee dan kawan-kawannya. Mereka berdua melakukan perjalanan bersama menuju ke kota raja dalam usaha mereka mencari Ouw Yang Hui.
Dan selama dalam perjalanan ini, sikap yang lembut dan sopan dari Sin Cu semakin menarik hati Ciang Lan yang memang sudah jatuh hati ke pada pemuda ini. Mereka berjalan menyusuri sungai menuju ke hilir dan pada saat itu mereka mendaki bukit yang berada di tepi sungai. Dari atas bukit itu mereka memandang ke bawah.
“Lihat di sana ada dusun yang cukup besar, Cu-Ko!” kata Ciang Lan sambil menunjuk ke bawah.
Sin Cu memandang dan benar saja. Di kaki bukit sebelah depan tampak banyak rumah orang. Dusun itu agaknya cukup besar melihat banyaknya rumah dan di sungai dekat dusun itu tampak banyak perahu. “Bagus! Kita dapat membeli perahu di sana, Lan-moi,” kata Sin Cu girang.
“Ya, aku akan menjual perhiasanku dan Kita dapat membeli bekal pakaian dan juga sebuah perahu. Dengan perahu kita akan dapat lebih cepat tiba di kota raja.”
Mereka cepat menuruni bukit itu menuju ke dusun yang sudah kelihatan dari situ dan harus berlumba dengan matahari. Mereka harus dapat lebih dulu tiba di dusun itu sebelum matahari yang sudah condong ke barat itu menghilang di kaki langit. Karena keduanya merupakan orang-orang muda yang berkepandaian tinggi, maka dengan menggunakan ilmu berlari cepat mereka meluncur menuruni bukit dan tak lama kemudian mereka sudah masuk ke dalam sebuah dusun di tepi sungai yang cukup ramai itu.
Ciang Lan menjual perhiasannya, dan dari pedagang yang banyak terdapat di dusun yang merupakan pasar bagi dusun-dusun di sekitarnya, ia dan Sin Cu dapat membeli beberapa potong pakaian baru. Juga mereka membeli sebuah perahu nelayan, sebuah perahu yang kecil saja namun cukup kokoh.
Mereka juga melewatkan malam itu di rumah suami isteri nelayan tua yang menjual perahunya kepada mereka. Ciang Lan membeli makanan, nasi dan masakan, dan makan malam bersama suami isteri nelayan. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berdua sudah meninggalkan rumah nelayan dan melanjutkan perjalanan mereka dengan perahu kecil. Karena mereka menuju ke hilir, maka perahu yang terbawa arus air ditambah gerakan dayung yang kuat dari Sin Cu, perahu meluncur cepat.
Ciang Lan merasa gembira, Mereka dapat melakukan perjalanan cepat tanpa terlalu lelah, dan pemandangan di sepanjang perjalanan itu indah sekali. Mereka berdua sama sekali tidak pernah mengira bahwa orang yang mereka sedang cari, yaitu Ouw Yang Hui, pada saat yang sama juga sedang melakukan perjalanan ke kota raja melalui darat, bersama Tan Song Bu.
Para bajak sungai yang biasanya merajalela di daerah itu telah mendapatkan pelajaran dari dua orang muda ini. Karena itu, ketua mereka, Ho-Coa-Ong Ci Song tidak berani lagi mengganggu. Perjalanan Sin Cu dan Ciang Lan lancar dan tidak menemukan halangan sehingga mereka tiba di luar kota raja yang tinggal kurang lebih tiga puluh mil lagi jauhnya. Pagi itu perahu mereka meluncur tenang, setelah malam tadi terpaksa melewatkan malam di tepi sungai karena tidak melewati dusun.
Mereka membuat api unggun, makan bekal makanan yang mereka bawa dan melakukan penjagaan secara bergantian. Sin Cu tidur lebih dulu dan setelah tengah malam, dia bangun dan berganti jaga, sedangkan Ciang Lan tidur sampai pagi. Setelah membersihkan badan, mereka melanjutkan perjalanan dan perahu mereka meluncur tenang di tengah sungai. Tiba-tiba terdengar bentakan dari arah belakang. “Minggir! Perahu kecil yang di depan minggir!”
Sin Cu dan Ciang Lan cepat menengok dan mereka melihat sebuah perahu besar meluncur dari belakang. Orang-orang yang mengemudikan perahu besar itu berteriak memperingatkan agar tidak sampai menabrak perahu kecil. Sin Cu cepat mendayung perahunya minggir. Baginya kejadian itu biasa saja dan dia tidak mengatakan apa-apa, akan tetapi tidak demikian dengan Ciang Lan.
Gadis ini mengerutkan alisnya dan menjadi marah. Apa lagi ketika perahu besar itu meluncur lewat dan ia melihat belasan orang yang berpakaian seperti kaum bangsawan berada di atas perahu itu. la berdiri di atas perahunya dan mengamang-amangkan tinju ke arah orang-orang yang berada di atas perahu besar itu.
“Heii..., orang-orang sombong! Mentang-mentang kalian bangsawan dan kaya raya, kalian sewenang-wenang hendak menabrak perahu kami!”
Di pinggir perahu besar itu muncul dua orang laki-laki yang usianya sekitar lima puluh tahun. Melihat sikap Ciang Lan yang marah-marah, dua orang itu tersenyum. Mereka mengeluarkan masing-masing segulung tali yang ujungnya ada kaitannya seperti mata kail yang besar.
Tanpa berkata apapun dua orang itu menggerakkan tangan mereka. Dua gulung tali itu menyambar dan tahu-tahu dua buah mata kail menancap di bagian depan dan belakang perahu kecil Yang ditumpangi Sin Cu dan Ciang Lan dan sebelum dua orang muda itu berbuat sesuatu, tiba-tiba perahu mereka terangkat ke atas!
Kiranya dua onang laki-laki yang melepas mata kail itu mengangkat perahu itu seolah mereka mendapatkan seekor ikan besar pada mata kail mereka! Dan melihat cara mereka menarik tali itu sehingga perahu terangkat ke atas, menunjukkan bahwa dua orang itu memiliki tenaga yang kuat sekali!
Perahu kecil itu terangkat dan jatuh ke atas dek perahu besar. Sin Cu dan Ciang Lan cepat melompat keluar dari perahu kecil dan berdiri di atas dek perahu besar, berhadapan dengan dua orang laki-laki setengah tua yang tadi menarik perahu mereka ke atas perahu besar. Setelah berhadapan, Sin Cu dan Ciang Lan melihat bahwa dua orang laki-laki itu bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka adalah dua orang perwira pasukan Kerajaan.
Kalau Sin Cu masih bersikap tenang dan sabar karena belum tahu apa maksud kedua orang itu menarik perahunya ke atas perahu besar, Ciang Lan sebaliknya menjadi marah sekali dan ia melangkah maju sampai dekat menghadapi dua orang perwira itu. Tangan kirinya bertolak pinggang dan telunjuk kanannya menuding ke arah muka kedua orang perwira yang tinggi besar itu sambil membentak marah.
“Hei, kalian ini dua ekor monyet besar bercelana! Mau apa kalian menarik perahu kami ke atas perahu ini?”
Dua orang perwira tinggi besar itu saling pandang. Seorang diantara mereka, yang matanya lebar, tersenyum berkata kepada orang kedua yang jenggotnya tebal. “Gak-Ciangkun, benar-benar galak sekali wanita ini!” Si Jenggot tebal juga tersenyum dan berkata, “Wanita seperti ini tentu anggauta gerombolan bajak sungai!”
Sepasang mata yang indah itu terbelalak. Kulit pipi yang putih kemerahan itu kini menjadi merah sekali karena marahnya. la dikatakan wanita galak dan anggauta bajak sungai! Ciang Lan tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
“Kalau aku bajak sungai, engkau buayanya!” bentaknya dan ia langsung saja menerjang dengan pukulan tangan kirinya, menampar ke arah muka si jenggot tebal. Karena Ciang Lan sudah marah dan ia mengerahkan tenaga, maka tamparan itu datangnya cepat dan kuat sekali sehingga angin pukulannya saja menyambar dahsyat.
Si jenggot tebal terkejut bukan main. Sebagai seorang ahli silat yang pandai dan berpengalaman, dia mengenal pukulan yang mengandung tenaga sakti itu. Cepat dia mengangkat tangan kanan untuk menangkis sambil mengerahkan tenaganya pula.
“Wuuuuuttt... dukkkk!!”
Dua lengan bertemu, sebatang lengan kecil mungil berkulit lembut dan sebatang lengan yang besar berotot. Akan tetapi akibatnya, perwira berjenggot tebal itu terdorong mundur tiga langkah. Dia terbelalak heran dan penasaran. Bagaimana mungkin seorang gadis muda seperti itu mampu membuat dia terdorong ke belakang seperti itu?
“Bagus! Engkau hendak berkelahi melawan aku? Nah, sambutlah!” Perwira itu lalu menyerang dengan dahsyat sekali.
Pukulannya cepat dan kuat, namun tiga kali pukulannya beruntun dapat dielakkan dengan mudah oleh Ciang Lan, bahkan gadis itu tidak mau bertahan saja, melainkan segera membalas dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya. Kedua orang ini segera terlibat dalam pertandingan silat yang seru dan menegangkan.
Belasan orang yang tadinya duduk mengitari meja besar dan yang berpakaian seperti pejabat atau bangsawan, tertarik dan semua berdiri menonton. Para anak buah perahu yang berpakaian seperti perajurit-perajurit masih tetap di tempat masing masing. Mereka tidak berani mencampuri karena yang bertanding adalah perwira yang menjadi komandan mereka. Tanpa diperintah, mereka tidak berani mencampuri.
Perwira ke dua yang bermata lebar berberdiri sambil bertolak pinggang dan menonton perkelahian itu dengan mulut tersenyum karena dia yakin bahwa rekannya pasti akan mampu menundukkan wanita yang dianggap liar itu. Sementara itu, Sin Cu jugą hanya berdiri menonton, tidak mau turun tangan karena sejak awal pertandingan, dia sudah dapat mengetahui bahwa Ciang Lan tidak membutuhkan bantuan dan gadis itu akan mampu keluar sebagai pemenang.
Demikianlah, pertandingan antara perwira jenggot tebal melawan gadis cantik itu menjadi semacam tontonan yang menarik di atas perahu besar itu. Ternyata perwira itu lihai juga. Dia memiliki ilmu silat yang bersumber dari ilmu silat Siauw-Lim-Pai. Gerakannya mantap dan teguh, pertahanannya rapat dan kokoh sehingga sampai hampir tiga puluh jurus dia masih mampu bertahan terhadap serangan serangan Ciang Lan.
Hal ini adalah karena Ciang Lan mendengar bisikan Sin Cu yang dilakukan pemuda itu dengan pengerahan tenaga khikang sehingga bisikan itu hanya terdengar oleh Ciang Lan seorang. Bisikan yang menyuruh ia agar jangan bertindak kejam terhadap lawannya itu. Hal ini membuat Ciang Lan membatasi tenaganya sehingga lawannya mampu menangkis semua serangannya.
Akan tetapi perwira itu diam-diam mengakui bahwa gadis muda yang menjadi lawannya itu bukan main lihainya dan dia selalu terdesak hebat. Akan tetapi, biarpun ia mematuhi nasihat Sin Cu agar tidak berbuat kejam terhadap lawannya, berarti ia tidak boleh membunuh atau membuat lawan terluka berat, Ciang Lan merasa jengkel juga karena sampai hampir tiga puluh jurus lamanya ia belum juga mampu mengalahkan lawannya.
Karena itu, tiba-tiba ia mengubah gerakannya dan kini ia menyerang dengan kedua kakinya. Kedua kaki itu secara bergantian dan bertubi-tubi mencuat dengan tendangan Soan-Hong-Tui yang cepat sekali. Menghadapi serangkaian tendangan itu, si perwira menjadi kewalahan dan bingung sehingga akhirnya sebuah tendangan kaki kanan Ciang Lan mengenai dadanya dan dia terjengkang dan terbanting roboh.
Masih untung baginya bahwa Ciang Lan membatasi tenaganya sehingga dia hanya terbanting keras saja, tidak sampai patah-patah tulang iganya! Perwira itu mengeluh dan merangkak bangun.
Perwira kedua yang matanya lebar melompat ke depan Ciang Lan dan sekali tangan kanannya bergerak dia telah mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya. Dari cara dia mencabut pedang saja tahulah Sin Cu bahwa perwira ini agaknya lebih lihai daripada perwira yang dikalahkan Ciang Lan tadi.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar tepuk tangan dan ketika dia memandang, kiranya yang bertepuk tangan adalah belasan orang yang berpakaian seperti bangsawan itu. Agaknya mereka gembira menyaksikan pertandingan tadi dan kini mereka bertepuk tangan memuji gadis cantik yang dapat merobohkan perwira tinggi besar dan kuat itu.
“Nona, kiranya engkau seorang yang memiliki ilmu kepandaian silat yang tangguh! Karena itu, aku menantangmu untuk bertanding ilmu silat dengan mempergunakan pedang. Kulihat engkau memiliki pedang pula. Nah, perlihatkanlah ilmu pedangmu!”
Sebelum Ciang Lan menjawab, Sin Cu sudah lebih dulu berseru, “Lan-moi, mundur dan mengasolah. Biarkan aku yang menghadapinya!”
Mendengar ucapan Sin Cu, Ciang Lan terpaksa mundur, walaupun hatinya belum merasa puas. Sin Cu tidak khawatir kalau gadis itu akan kalah, melainkarn khawatir kalau-kalau gadis yang dia tahu berwatak, keras itu akan melukai atau bahkan membunuh orang dengan pedangnya. Setelah Ciang Lan mundur, Sin Cu berhadapan dengan perwira bermata lebar itu dan dia mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan lalu berkata dengan tenang dan lembut.
“Ciangkun, di antara kita tidak pernah ada permusuhan, Karena itu kami harap Ciangkun suka mengembalikan perahu kami dan membiarkan kami melanjutkan perjalan kami tanpa diganggu!”
“Hemm, temanmu telah mengalahkan rekanku. Karena itu, mari layani aku bermain pedang sebentar untuk melihat apakah benar-benar kalian ini orang-orang muda yang lihai,” kata perwira bermata lebar itu dengan penasaran.
Sin Cu melirik ke arah belasan orang bangsawan itu. Mereka itu menonton dengan wajah berseri, mulut tersenyum dan mata bersinar gembira, agaknya mereka ingin sekali menonton bertandingan selanjutnya. Sin Cu dapat menilai dari sikap mereka bahwa mereka itu bukanlah orang-orang jahat. Juga perwira di depannya bukan macam orang yang biasa mengandalkan kepandaian untuk menekan orang lain. Mungkin mereka hanya ingin menguji saja, pikirnya.
“Baiklah, Ciangkun. Kalau begitu, biarkan aku yang akan melayanimu bermain-main sebentar,” kata Sin Cu.
“Bagus, cabut pedangmu orang muda,” perwira itu menantang.
“Sudah kukatakan bahwa di antara kita tidak ada permusuhan. Karena itu aku akan menghadapi pedangmu dengan tangan kosong. Kalau keselamatanku terancam, baru aku akan mempergunakan pedang, Ciangkun.” Ucapan Sin Cu ini bernada lembut dan tidak mendatangkan kesan sombong atau memandang ringan.
Akan tetapi tetap saja membuat perwira itu mengerutkan alisnya. “Orang muda, pedang tidak mempunyai mata. Kalau sampai engkau terluka oleh pedangku, jangan salahkan aku!” katanya.
“Terluka atau mati sekalipun dalam pertandingan adalah hal biasa, Ciangkun. Tidak ada yang akan dipersalahkan. Mulailah, aku telah siap!”
“Baik kalau begitu. Lihat pedangku!” Perwira itu menggerakkan pedangnya membacok ke arah leher Sin Cu.
Akan tetapi dengan sedikit menundukkan kepala dan merendahkan tubuh, pedang yang menyambar itu lewat di atas kepalanya. Secepat kilat tangan kiri Sin Cu bergerak menotok dengan It-Yang-Ci ke arah siku kanan lawan dan tangan kanannya menyambar ke arah tangan yang memegang pedang. Perwira itu mengeluarkan seruan kaget. Tangan kanannya lumpuh sehingga pedangnya mudah sekali dirampas. Di lain saat pedangnya telah berada dalam tangan Sin Cu!
“Ohhhh...!” belasan bangsawan itu mengeluarkan seruan kagum dan heran. Bagaimana mungkin dalam segebrakan saja, perwira bermata lebar yang mereka tahu seorang yang lihai sekali, kini telah kehilangan pedangnya yang berpindah ke tangan pemuda yang diserangnya.
“Maafkan aku, Ciangkun!” kata Sin Cu sambil mengembalikan pedang itu, dipegang pada ujungnya dan menyodorkan gagang pedang kepada pemiliknya.
Perwira itu menerima pedangnya dan sejenak mengamati pedangnya seolah tidak dapat percaya akan apa yang baru saja terjadi. “Engkau menggunakan ilmu siluman, orang muda! Aku masih belum puas. Lawanlah dengan ilmu silat!” katanya.
“Ciangkun, aku sama sekali tidak paham ilmu siluman. Tadi aku menggunakan ilmu totok It-Yang-Ci untuk merampas pedangmu.”
“Hemm, aku masih belum puas karena aku hampir tidak merasakan akibat totokan itu. Mari kau sambut lagi serangan pedangku, orang muda!”
“Baiklah, Ciangkun. Akan kuperlihatkan kepadamu. Seranglah” kata Sin Cu sambil berdiri santai saja, tidak memasang kuda-kuda.
“Lihat pedang!” bentak perwira itu dan kini dia menusukkan pedangnya, akan tetapi waspada menjaga agar lengannya tidak sampai tertotok dan siap membalikkan pedangnya kalau pemuda itu hendak menotoknya. Pedang meluncur ke arah dada Sin Cu.
Pemuda itu cepat menggunakan ilmu langkah Chit-Seng Sin-Po. Tubuhnya melangkah ke sana sini dengan aneh, akan tetapi hebatnya, diserang dari manapun, dengan tusukan atau bacokan pedang, selalu luput. Gerakan langkah itu seolah mendahului gerakan pedang sehingga pada saat pedang menyambar, tubuh pemuda itu telah lebih dulu mengelak! Perwira itu penasaran sekali dan dia mengamuk dengan pedangnya.
Setelah lewat belasan jurus, Sin Cu merasa sudah cukup. “Ciangkun, sambutlah serangan It-Yang-Ci ini!” Secepat kilat tubuhnya bergerak sehingga bagi lawannya, dia seperti berubah menjadi bayangan yang sukar sekali diikuti oleh pandang mata.
Karena itu, perwira itu tidak dapat menjaga diri karena tidak tahu dari arah mana Sin Cu melakukan penyerangan. Tahu-tahu ia merasa kedua pundak dan dadanya tertotok dan seketika dia tidak mampu bergerak. Dia berdiri dengan sikap hendak menyerang, pedangnya diangkat ke atas, seperti sebuah patung yang indah sekali ukirannya Sin Cu mengambil pedang dari tangan kanan perwira itu, kemudian dia membebaskan totokan sambil berkata,
“Maafkan aku, Ciangkun!” Perwira itu dapat bergerak kembali dan Sin Cu, seperti tadi, mengembalikan pedangnya.
Perwira itu kini menjura kepada Sin Cu dan berkata kagum, “Orang muda, aku kagum dan mengaku kalah!”
Kembali terdengar tepuk tangan dari belasan orang bangsawan itu dan pada saat itu terdengar seruan nyaring, “Hai...! Bukankah engkau ini Taihiap (Pendekar Besar) Wong Sin Cu yang pernah menyelamatkan keluarga kami?”
Sin Cu terkejut dan memandang ke arah rombongan orang bangsawan itu. Dia melihat seorang laki-laki berpakaian bangsawan, wajahnya tampan perawakannya sedang dan sikapnya lemah lembut, usianya sekitar tiga puluh lima tahun atau tiga puluh enam tahun. Sin Cu tidak mengenalnya walaupun wajah itu serasa tidak asing baginya.
Gurunya seringkali menasihatinya bahwa dia harus melupakan atau tidak mengingat-ingat lagi apa yang telah dia lakukan untuk membantu orang lain. Karena itu, biarpun laki-laki itu mengatakan bahwa dia pernah menyelamatkan keluarganya, dia tidak mengenalnya karena sudah lupa.
“Maaf, saya lupa lagi, rasanya saya tidak mengenal Taijin (Pembesar),” kata Sin Cu sambil memberi hormat.
“Ah, apakah engkau sudah lupa akan peristiwa Bukit Teratai? Lupakah engkau kepada anak kami Ceng Loan Cin? la sangat kagum kepadamu dan seringkali menanyakanmu.”
Sin Cu segera teringat. Dia kagum dan suka sekali kepada gadis kecil Ceng Loan Cin yang berwatak pemberani dan gagah itu. Tentu saja dia ingat kepada Loan Cin yang kini menjadi murid Thian Li Nikouw kepala Kuil Kwan-Im-Bio di Bukit Teratai dekat dusun Kui-Chung itu.
Dan sekarang diapun teringat kepada pria yang berdiri di depannya. Ayah gadis itu. Pangeran Ceng Sin, Kakak dari Sribaginda Kaisar Ceng Tek yang dimusuhi Thaikam Liu Cin, bahkan hampir saja dibunuh oleh kaki tangan pembesar lalim itu yang dipimpin oleh Im Yang Tojin.
“Ah, Paduka tentu Pangeran Ceng Sin!” kata Sin Cu dan Pangeran itu tersenyum girang. Dia merasa girang bukan main setelah mengenal Sin Cu karena dia tahu bahwa Sin Cu tentu akan berdiri di pihaknya.
“Sungguh, Thian (Tuhan) agaknya telah mempertemukan kita di sini sehingga akan tercapailah rencana Yang kita cita-citakan untuk menyelamatkan Kerajaan! Tetapi sebelum kita bicara, perkenalkan kami dengan nona yang lihai sekali ini, Wong-Taihiap!”
Sin Cu menoleh kepada Ciang Lan. “Pangeran, nona ini adalah seorang pendekar wanita, sahabat saya yang bernama Ciang Lan. Lan-moi, aku pernah bercerita kepadamu tentang Pangeran Ceng Sin dan keluarganya yang dimusuhi Thaikam Liu Cin. Inilah dia Pangeran Ceng Sin!” Sin Cu memperkenalkan.
Ciang Lan memberi hormat kepada Pangeran Ceng Sin..“Terimalah hormat saya, Pangeran,” kata gadis itu dengan sikap biasa karena ia memang tidak mau merendahkan diri terhadap siapapun juga.
“Ciang-Lihiap, kami merasa beruntung sekali dapat berkenalan dengan Lihiap yang gagah perkasa. Mari, Wong-Taihiap dan Ciang-Lihiap, mari silakan duduk dan kami perkenalkan dengan para sahabat dan rekan ini.”
Sin Cu dan Ciang Lan lalu duduk di atas kursi menghadapi meja yang besar itu. Para bangsawan itu duduk mengelilingi meja dan jumlah mereka termasuk Pangeran Ceng Sin adalah empat belas orang. Pangeran Ceng Sin memperkenalkan mereka seorang-seorang. Ternyata mereka merupakan orang-orang yang berkedudukan tinggi. Selain Pangeran Ceng Sin, terdapat pula dua orang Pangeran lain yang menjadi Kakak-Kakaknya.
Ada pula tiga orang Pangeran tua, yaitu Paman-Paman dari Kaisar Ceng Tek. Selebihnya adalah pejabat-pejabat tinggi, ada dua orang Panglima dan enam orang pejabat sipil yang berkedudukan tinggi setingkat Menteri dan kepala bagian. Setelah saling diperkenalkan, Ciang Lan berkata dengan suara tegas.
“Pangeran, sebelum kita bicara, biarpun Cu-Ko telah lama mengenal Paduka, akan tetapi saya ingin sekali mendapat penjelasan lebih dahulu mengapa kami berdua dipaksa naik ke perahu ini seperti yang dilakukan dua orang Perwira tadi. Kalau rnemang berniat baik, mengapa kami diperlakukan seperti itu?”
Sin Cu terkejut mendengar ucapan yang berani dan lancang itu, akan tetapi ucapan itu sudah dikeluarkan, maka dia tidak dapat mencegahnya dan pada saat itu diapun ingin sekali tau bagaimana jawaban Pangeran Ceng Sin. karena sebenarnya diapun merasa heran mengapa tadi perahunya ditarik secara paksa oleh dua orang perwira tinggi besar itu.
Mendengar pertanyaan Ciang Lan ini Pangeran Ceng Sin tersenyum dan dia menggapai tangan memberi isyarat kepada dua orang perwira yang telah dikalahkan Ciang Lan dan Sin Cu tadi untuk datang mendekat. Dua orang perwira itu melangkah maju menghadap sang Pangeran.
“Wong-Taihiap dan Ciang-Lihiap, perkenalkan. Mereka berdua ini adalah pimpinan pengawal yang mengawal kami di perahu ini. Yang seorang ini adalah Gak-Ciangkun (Perwira Gak) dan yang itu adalah Su-Ciangkun. Nah, kalian sekarang boleh minta maaf dan jelaskan kepada dua orang pendekar muda ini mengapa tadi kalian menarik perahu mereka ke atas perahu dan menantang mereka untuk mengadu kepandaian.”
Su-Ciangkun dan bermata lebar mewakili temannya dan dia menjura kepada dua orang muda itu, diikuti oleh Gak-Ciangkun yang berjenggot tebal.
“Taihiap dan Lihiap, kami berdua mohon maaf yang sebesarnya. Perbuatan kami tadi adalah karena salah sangka. Ketahuilah bahwa kami bertugas menjaga keselamatan para Taijin di perahu ini dan sungai ini terkenal sering diganggu bajak sungai yang membajak para penumpang perahu. Karena itu, ketika perahu kami hendak menabrak perahu kecil ji-wi (anda berdua), kemudian kami mendengar kemarahan Ciang-Lihiap, kami mengira bahwa ji-wi adalah golongan mereka.
"Karena itulah kami berdua berani lancang tangan menarik perahu ji-wi naik ke atas perahu ini dan kami sengaja menantang ji-wi. Sekali lagi kami mohon maaf. Andaikata kami mengetahui bahwa ji-wi mengenal Yang Mulia Pangeran Ceng Sin, sampai matipun kami tidak akan berani bersikap seperti itu.”
“Wah! Kalian mengira aku ini seorang bajak sungai? Sialan!” Ciang Lan membentak dan melotot, matanya galak memandang kepada dua orang perwira itu sehingga mereka menundukkan muka mereka yang berubah kemerahan.
“Sudahlah, semua ini hanya merupakan kesalah pahaman saja. Kami berdua sudah melupakan peristiwa tadi,” kata Sin Cu.
“Biarlah kami yang memintakan maaf untuk mereka berdua, Ciang-Lihiap,” kata Pangeran Ceng Sin.
“Kalau saja tadi aku segera mengenal Wong-Taihiap, tentu tidak akan terjadi kesalah-pahaman itu.” Pangeran itu memandang kepada dua orang perwira dan memberi isyarat dengan tangannya membolehkan mereka mengundurkan diri. Dua orang perwira itu mundur dengan hati lega karena mereka merasa rikuh sekali harus berhadapan dengan dua orang muda itu.
“Nah, sekarang kita membicarakan masalah yang kita hadapi. Akan tetapi sebelum kami memberi penjelasan, kami ingin mengetahui lebih dahulu apakah Taihiap dan Lihiap bersedia untuk membantu apa yang sedang kami perjuangkan ini?”
Kembali Ciang Lan yang mendahului Sin Cu bertanya, “Pangeran, bagaimana kami dapat menjawab sebelum kami mengetahu dalam urusan apakah kami harus membantu Paduka?”
Pangeran Ceng Sin tersenyum dan mengangguk. “Kami tidak heran kalau engkau bertanya begitu, Ciang-Lihiap Kalau Wong-Taihiap kami kira sudah dapat menduganya. Begini, Lihiap. Kami sekumpulan orang ini adalah orang-orang yang setia kepada Kerajaan dan kami melihat betapa Kerajaan terancam bahaya dalam tangan Thaikam Liu Cin yang jahat dan yang telah mempengaruhi Sribaginda Kaisar sedemikian rupa. Kami sedang berusaha untuk membebaskan Sribaginda dari kekuasaan orang jahat itu. Kami sekarang ingin mendapat kepastian dari ji-wi, apakah jiwi suka membantu kami menentang Thaikam Liu Cin dan membela Sribaginda Kaisar?”
Sin Cu menoleh kepada Ciang Lan dan dia melihat gadis itu tersenyum dan mengangguk kepadanya. Tahulah pemuda itu bahwa kini hati Ciang Lan tidak ragu lagi, maka diapun menjawab pertanyaan Pangeran itu dengan tegas.
“Tentu saja kami berdua siap untuk membantu, Pangeran. Kami berdua memang sedang menuju ke kota raja untuk menentang Thaikam Liu Chіп dan kaki tangannya karena kami mempunyai permusuhan pribadi dengan kaki tangan dan sekutu Thaikam Liu Cin bahkan kami mengetahui banyak tentang rahasia persekutuan antara Thaikam Liu Cin dan orang-orang Pek-Lian-Kauw.”
Empat belas orang bangsawan itu terkejut dan girang sekali. “Ah, sungguh kebetulan sekali. Wong-Taihiap, rahasia persekutuan itu benarkah dan bagaimana kalian berdua dapat mengetahuinya? Kami juga sudah curiga akan hal itu, akan tetapi kami belum mendapat bukti sehingga kami tidak dapat melapor kepada Sribaginda Kaisar. Kalau ada buktinya dan Sribaginda Kaisar mengetahui, maka akan lebih mudah lagi menyingkirkan Thaikam Liu Cin yang jahat itu!” kata Pangeran Ceng Sin.
“Bahkan kami kira bukan hanya dengan Pek-Lian-Kauw saja Thaikam Liu Cin bersekutu, melainkan juga mungkin ada persekongkolan antara dia dan orang Mancu.”
“Ahh! Penting sekali kabar ini! Coba ceritakan, Wong-Taihiap, apa yang ji-wi (kalian berdua) ketahui tentang semua persekutuan itu?” tanya Pangeran Ceng Sin.
Sin Cu, dibantu kadang-kadang oleh Ciang Lan, lalu menceritakan semua kejadian yang di alami dan diketahuinya. Tentang penyerangan dan pembunuhan yang sifatnya mengadu domba antara Siauw-Lim-Pai dan dua partai persilatan besar, yaitu Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai yang diduga dilakukan oleh orang-orang Pek-Lian-Kauw.
Juga tentang penculikan atas diri Ouw Yang Hui yang dilakukan tokoh Mancu, Pangeran Yorgi yang bekerja sama dengan Pek-Lian-Kauw. Kemudian diceritakan pula bahwa puteri Ketua Pek-Lian-Kauw, Kim Niocu, menawan gadis-gadis cantik untuk dibawa ke kota raja dan diserahkan kepada para pembesar yang menjadi antek Thaikam Liu Cin.
“Kami sedang melakukan pengejaran dan mencari adik Ouw Yang Hui yang dilarikan Kim Niocu dan mungkin sekali dibawa ke kota raja. Kalau kami dapat membebaskan adik Ouw Yang Hui, tentu ia dapat menjadi saksi dan dapat bercerita lebih jelas dan banyak tentang persengkokolan antara Thaikam Liu Cin dan Pek-Lian-Kauw itu.” Sin Cu mengakhiri ceritanya.
Para bangsawan itu mengangguk-angguk. “Hemm, sekarang makin jelaslah bahwa Thaikam Liu Cin mempunyai niat buruk sekali. Bersekutu dengan pemberontak Pek-Lian-Kauw, bahkan mengadakan hubungan dengan orang Mancu. Kalau tidak cepat diberantas, dapat membahayakan Kerajaan,” kata Pangeran Ceng Sin.
“Benar, jahanam itu berbahaya sekali, agaknya dia hendak menjual negara kepada bangsa Mancu!” kata seorang di antara dua orang Panglima tua yang hadir.
Pangeran Ceng Sin memandang kepada Sin Cu dan Ciang Lan. “Terima kasih, Wong-Taihiap dan Ciang-Lihiap. Keteranganmu ini sungguh amat berharga sekali, dan kesanggupan ji-wi untuk membantu kami lebih kami hargai lagi. Mari kita bersama berusaha untuk menghancurkan kekuatan jahat yang merongrong kewibawaan pemerintah. Sekarang ketahuilah apa yang menjadi rencana kami,” kata Pangeran Ceng Sin yang lalu menceritakan rencana mereka yang hendak menggulingkan Thaikam Liu Cin.
Kiranya setelah berhasil meloloskan diri dari kejaran kaki tangan Thaikam Liu Cin yang hendak membunuhnya, pertama kali ditolong oleh Tan Song Bu, kemudian yang kedua kalinya diselamatkan oleh Wong Sin Cu, Pangeran Ceng Sin tinggal di Lian-San (Bukit Teratai) dekat Kuil Kwan-Im-Bio dan terlindung karena dekat dengan Thian Li Nikouw ketua Kuil itu. Setelah keluarganya selamat, Pangeran Ceng Sin merasa prihatin melihat kekuasaan Thaikam Liu Cin yang membahayakan Kerajaan yang dipimpin Kaisar Ceng Tek, adik tirinya.
Maka diapun mengambil keputusan untuk berusaha menentang dan menjatuhkan Thaikam Liu Cin. Diam-diam Pangeran Ceng Sin mengadakan hubungan dengan para pejabat lain yang sehaluan dengan dia dan menyusun kekuatan. Ada empat belas orang bangsawan yang berkedudukan tinggi termasuk dia, yang akhirnya bersatu dalam usaha mereka menyelamatkan Kaisar.
Dua orang Panglima yang bergabung telah mempersiapkan pasukan kalau-kalau pertentangan itu akan menimbulkan pertempuran dengan pasukan yang mendukung Thaikam Liu Cin. Mereka juga telah mengadakan kontak dengan semua pejabat yang setia kepada Kaisar dan yang diam-diam tidak suka kepada Thaikam Liu Cin, akan tetapi tidak berani terang-terang menentangnya.
“Tindakan apakah yang akan Paduka lakukan?” tanya Sin Cu.
“Kami telah merencanakan semuanya. Pada kesempatan pertama, kami bersama para pembesar yang mendukung gerakan kami, beramai-ramai akan menghadap Sribaginda Kaisar. Kami akan menceritakan semua kejahatan yang dilakukan Thaikam Liu Cin, pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan terhadap para bangsawan yang setia, termasuk usaha pembunuhan terhadap aku sekeluarga.
"Dan sekarang ditambah lagi dengan ceritamu tentang persekutuannya dengan Pek-Lian-Kauw dan orang-orang Mancu akan menguatkan laporan kami. Dan kami juga sudah siap menghadapi akibat dari laporan kami kepada Sribaginda Kaisar itu. Kalau Thaikam Liu Cin mengadakan gerakan, kami sudah mempersiapkan pasukan untuk menentangnya. Selain dukungan para anteknya, Liu Cin mempunyai pendukung yang kuat dan harus kami lumpuhkan lebih dulu, yaitu pertama Panglima Liu Kui yang menjadi Panglima pasukan pengawal Istana.
"Kedua adalah Jaksa Agung Liu Wang. Mereka adalah adik-adik dari Thaikam Liu Cin sendiri. Akan tetapi yang terpenting adalah sikap Sribaginda Kaisar. Kalau beliau dapat menerima laporan kami, menyadari akan kejahatan Liu Cin dan memerintahkan penangkapan, maka pengkhianat itu pasti tidak akan mampu mengadakan perlawanan. Bagaimanapun juga, sebagian besar Panglima berikut pasukan mereka masih setia kepada Sribaginda Kaisar.”
“Lalu apa yang dapat kami lakukan untuk membantu Paduka, Pangeran?” Ciang Lan bertanya.
Semua bangsawan memandang kepada gadis itu dan mereka semua merasa kagum. Gadis yang cantik jelita dan gagah perkasa ini, selain tadi dapat mengalahkan perwira kepala pengawal dengan mudah, juga gadis muda ini bersikap pemberani, tidak malu-malu seperti gadis lain. Sikap seorang pendekar wanita sejati.
“Ciang-Lihiap, ji-wi dapat membantu banyak sekali kepada kami. Ji-wi akan dapat menjadi saksi untuk memperkuat laporan kami kepada Sribaginda Kaisar, kalau hal itu diperlukan. Selain itu, kalau sampai terjadi bentrokan, dengan kepandaian jiwi, maka jiwi dapat membantu kami. Terutama sekali untuk melawan para jagoan anak buah Thaikam Liu Cin. Ji-wi sendiri sudah mengetahui bahwa dia mempunyai banyak jagoan yang tangguh dan berbahaya.”
“Kami siap membantu Paduka, Pangeran Ceng Sin. Akan tetapi, kami ingin mencari adik Ouw Yang Hui yang ditawan Kim Niocu dan mungkin dibawa ke kota raja dan sudah diserahkan kepada seorang diantara para jagoan antek Thaikam Liu Cin,” kata Sin Cu yang mengkhawatirkan nasib tunangannya.
“Benar, Pangeran. Kami harus lebih dulu menyelamatkan adik saya, barulah kami akan membantu Paduka,” kata Ciang Lan.
“Tentu saja,” kata Pangeran Ceng Sin, “Menolong adikmu itu berarti juga menentang Thaikam Liu Cin, karena bukankah menurut cerita kalian tadi, adikmu akan diserahkan kepada jagoan antek Liu Cin? Akan tetapi sebaiknya kalau kita dapat saling berhubungan di kota raja. Kami dapat saling bantu. Maka, akan lebih baik sekali kalau di kota raja kalian menghubungi kami. Wong-Taihiap, simpanlah kartu ini. Dengan kartu ini kalian dapat memasuki rumah yang menjadi pusat pertemuan kami itu dengan mudah dan kalian dapat tinggal di sana untuk sementara.”
Sin Cu menerima sebuah kartu yang diberikan Pangeran Ceng Sin kepadanya. “Kami akan mengingat pesan Paduka itu Pangeran,” Katanya sambil menyimpan kartu itu.
“Wong-Taihiap, kami akan memasuki kota raja dengan berpencar agar jangan sampai menarik perhatian dan ketahuan anak buah Liu Cin. Untuk itu, sudah ada hubungan kami dengan para perwira penjaga pintu gerbang kota raja. Sebaiknya kalau jiwi juga berpisah dari kami di sini sehingga tidak ada yang tahu bahwa ji-wi mempunyai hubungan dengan kami.”
Sin Cu dan Ciang Lan mengangguk dan mereka berdua lalu bangkit berdiri. Pangeran Ceng Sin memberi isarat kepada anak buah perahu untuk menghentikan perahu dan menurunkan perahu kecil milik Sin Cu dan Ciang Lan. Pada saat itu, Sin Cu yang baru saja menggendong buntalan pakaiannya, teringat akan pedangnya dan teringat pula akan Kwee Liang, Panglima yang pedangnya terjatuh ke tangannya akan tetapi yang kini terampas oleh Kim Niocu itu. Mungkin para bangsawan yang menentang Thaikam Liu Cin ini mengenalnya, pikirnya.
“Pangeran, apakah Paduka mengenal seorang Panglima yang bernama Kwee Liang?”
Mendengar pertanyaan ini, seorang Panglima tua yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, cepat bertanya, “Wong-Taihiap, bagaimana Taihiap dapat mengenal rekan baikku Kwee-Ciangkun itu?” Para bangsawan lain juga memandang Sin Cu dengan sinar mata bertanya.
“Kurang lebih empat tahun yang lalu, Panglima Kwee Liang dan seluruh keluarganya yang melarikan diri dengan perahu dilaut timur, dibunuh oleh jagoan kaki tangan Liu Cin bernama Hek Moko dan Pek Moko, Perahu mereka ditenggelamkan dan pedang miliknya yang disebut Pek-Liong Po-Kiam ikut tenggelam. Guruku ke dua, Suhu Can Kui yang ahli penyelam mengambil pedang itu dan memberikannya kepada saya.
"Pada pedang itu dahulu terdapat kotak berisi surat peninggalan Kwee-Ciangkun yang menyatakan bahwa dia mohon ampun kepada Kaisar Tua karena tidak dapat menyadarkan Kaisar Muda dari pengaruh Thaikam Liu Cin, dan memesan agar pewaris pedang itu dapat mempergunakannya untuk menentang kekuasaan Liu Cin.”
“Aahhh...! Kwee-Ciangkun adalah rekan terbaik dariku, Kasihan sekali dia juga menjadi korban kejahatan Liu Cin, terbasmi bersama keluarganya. Di mana pedang itu sekarang, Taihiap?” Kata Kui-Ciangkun.
“Pedang itu dirampas Kim Niocu ketika saya tertawan. Akan tetapi, saya akan mengejarnya ke kota raja dan saya pasti akan dapat merebutnya kembali,” kata Sin Cu.
“Itu harus kau lakukan, Taihiap! Pedang pusaka itu pemberian Kaisar, harus diselamatkan dari tangan tokoh Pek-Lian-Kauw itu!” Kata Kui-Ciangkun penuh semangat.
“Wong-Taihiap, sungguh kebetulan sekali pedang itu terjatuh ke tanganmu. Dengan dernikian, sudah cocok sekali kalau Taihiap bekerja sama dengan kami untuk menentang Liu Cin dan menyelamatkan negara dan bangsa dari kehancuran!” kata Pangeran Ceng Sin dengan gembira.
Sementara itu, para anak buah perahu telah selesai menurunkan perahu kecil dan Sin Cu bersama Ciang Lan lalu berpamit dan keduanya meloncat keluar dari perahu besar ke atas perahu kecil yang telah berada di atas air dan talinya dipegang oleh dua orang perwira Gak dan Su yang tadi menarik perahu kecil itu naik ke atas perahu besar. Sin Cu lalu mendayung perahu itu, melambaikan tangan kepada empat belas orang bangsawan yang berdiri di atas perahu besar. Sin Cu mendayung perahunya dengan cepat meninggalkan perahu besar.
“Lan-moi, kita mendarat di sini saja. Kalau terlalu dekat dengan kota raja, aku khawatir kałau menimbulkan kecurigaan,” kata Sin Cu setelah mereka tiba di tempat yang ramai dengan banyaknya perahu nelayan. Tempat itu tidak terlalu jauh dengan kota raja lagi.
“Baiklah, Cu-Ko. Engkau lebih berpengalaman karena engkau pernah ke kota raja.”
“Aku juga belum pernah masuk kota raja, hanya sampai di kota Nam-Po saja.”
“Perahu ini sebaiknya kita jual saja. Itu ada dusun di depan. Tampaknya cukup ramai di sini, dan banyak nelayan. Tentu ada yang mau membeli perahu ini.”
“Ah, perahu kecil dan butut ini siapa mau membelinya, Cu-Ko? Kalaupun ada yang mau beli, harganya tentu murah sekali. Lebih baik diberikan saja kepada seorang nelayan miskin yang tidak mempunyai perahu agar dapat dia pergunakan untuk mencari nafkah.”
“Akan tetapi bagaimana kita dapat mengetahui mana nelayan yang miskin dan yang membutuhkan perahu dan mana yang tidak?” tanya Sin Cu, girang hatinya melihat sikap dermawan dari gadis itu.
“Aih, mudah saja, Cu-Ko, Yang mencari ikan dengan perahu, jelas nelayan yang mempunyai perahu. Kalau kita bertemu dengan seorang nelayan yang mencari ikan di tepi sungai dengan memancing, tentu dia nelayan miskin, karena tidak mempunyai perahu dan tidak mempunyai jaring untuk menjala ikan.”
Tiba-tiba Sin Cu melihat seorang Kakek tua duduk di tepi sungai itu sambil memancing. “Itu ada orang yang kau maksudkan, Lan-moi,” katanya.
Ciang Lan memandang dan ia tersenyum. “Hemm, dia sudah tua dan mencari ikan dengan memancing dari tepi sungai. Pasti dia nelayan miskin yang kumaksudkan. Mari kita ke tepi, Cu-Ko dan kita menggembirakan hatinya dengan kejutan, memberikan perahu ini kepadanya.”
Sin Cu mendayung perahu itu ke tepi dan mendarat dekat Kakek itu yang duduk memancing ikan. Tentu saja kedatangan perahu itu mengganggu orang yang sedang memancing ikan, karena gerakan perahu itu tentu menakutkan ikan-ikan yang berkeliaran di dekat tempat itu.
Memang Sin Cu sengaja mendaratkan perahunya dekat Kakek itu untuk melihat bagaimana sikap Kakek yang hendak diberi perahu itu kalau terganggu. Mungkin kalau Kakek itu marah-marah dan bersikap kasar, hal itu akan mengubah niat Ciang Lan memberikan perahu kepadanya dan akan mencari orang lain.
Maka begitu mendarat dan mengikatkan tali perahu pada sebatang pohon, Sin Cu memandang kepada Kakek itu. Dia seorang Kakek yang sudah tua, tentu sudah hampir tujuh puluh tahun usianya, tubuhnya kurus jangkung, muka dan leher serta kedua tangannya tampak coklat kehitaman karena terbakar sinar matahari. Muka yang kurus itu berkeriput, namun tubuhnya masih tegak dan tampak cukup kokoh. Kakek itu memandang kepada mereka dan dia tersenyum. Sama sekali tidak menjadi marah.
“Aih, kalian ini orang-orang muda! Kenapa menepi di sini? Ikan-ikan itu akan berenang menjauh dan umpan pancingku akan menganggur!” Ucapannya itupun tidak bernada teguran, bahkan seperti hendak melucu.
“Kek, sudah mendapatkan ikan banyak hari ini?” tanya Ciang Lan sambil menghampiri Kakek itu.
“Ah, dalam bulan ini agaknya ikan-ikan itu berpuasa, nona. Setiap hari aku hanya mendapatkan beberapa ekor saja. Lihat ini, sejak pagi aku baru memperoleh empat ekor,” katanya memperlihatkan kepis tempat ikan.
“Kenapa engkau tidak menggunakan jaring saja untuk menjala ikan, Kek? Kalau engkau menggunakan perahu dan jaring, tentu akan memperoleh banyak ikan!” kata Sin Cu.
Kakek itu memandang kepada Sin Cu dan kembali Sin Cu merasa betapa sepasang mata Kakek itu mengamatinya penuh perhatian, seolah mata itu pernah mengenalnya. Sampai lama Kakek itu hanya mengamati wajah Sin Cu dan tidak menjawab pertanyaan itu.
“Kenapa, Kek?” Sin Cu mengulang.
“Eh..., maaf aku melamun. Apa katamu tadi? Menggunakan perahu dan jaring? Hemm, aku seorang miskin yang tidak mampu membeli perahu dan jaring. Pula, untuk apa aku murka? Aku hidup seorang diri, hanya melayani satu mulut dan perut saja, mengapa harus bersusah payah? Dengan setangkai pancing inipun aku sudah dapat hidup,” kata Kakek itu akan tetapi matanya masih terus mengamati wajah Sin Cu.
“Kek, mulai sekarang kau pakailah perahu ini untuk mencari ikan agar penghasilanmu lebih banyak,” kata Ciang Lan, nadanya gembira karena seperti yang biasanya dirasakan oleh setiap orang yang menolong orang lain, Ciang Lan juga merasakan hatinya gembira sekali pada saat itu.
Kakek itu menoleh kepadanya dengan mata terbelalak heran, lalu memandang lagi kepada Sin Cu. “Ehh? Apa maksudmu, nona? Apa artinya ini?”
Sin Cu tersenyum kepadanya. Diapun merasakan kegembiraan itu. “Begini, kek. Kami tidak membutuhkan lagi perahu ini, maka melihat engkau membutuhkannya, kami memberikan perahu ini kepadamu. Ambil dan pakailah, Kek. Kami mermberikannya dengan rela kepadamu.”
“Ahh! Akan tetapi, kalian tidak kenal denganku...” kata Kakek itu terheran-heran.
“Kek, apakah kalau orang hendak menolong orang lain, dia harus lebih dulu mengenal orang itu? Engkau membutuhkan perahu ini dan kami tidak, maka kami memberikannya kepadamu.”
Kakek itu menaruh tangkai pancingnya ke atas tanah dan dia menghampiri Sin Cu, matanya terus mengamati penuh perhatian. “Engkau tidak mengenal aku, orang muda, akan tetapi rasanya aku mengenalmu. Wajahmu, suaramu, aku mengenalnya dengan baik. Orang muda, maukah engkau mengatakan kepadaku, siapa namamu?”
Tentu saja melihat sikap Kakek itu, Sin Cu merasa heran. Dia sama sekali tidak pernah mengenal Kakek ini! Sambil tersenyum sabar terhadap Kakek yang dianggapnya sudah pikun itu dia berkata, “Tentu saja, Kek. Namaku Wong Sin Cu.”
Kakek itu terbelalak, mulutnya terbuka dan dia tertawa, tampaknya girang sekali. “Ha-ha-ha, benar sekali! Engkau putera Jaksa Wong Cin itu! Tak salah lagi, engkaulah anak itu!”
Ciang Lan dan Sin Cu merasa heran sekali. “Kek, apa maksudmu? Apakah engkau... mengenal Ayahku Wong Cin?”
“Jangan bicara dulu! Bukalah bajumu, perlihatkan dadamu agar aku yakin!” kata Kakek itu dengan suara bernada memerintah.
Sin Cu mengerutkan alisnya. “Kek, apa maksudmu? Ada apakah dengan dadaku?” tanyanya untuk menguji apakah Kakek ini benar-benar tahu akan tanda pada dadanya.
“Orang muda, aku baru akan yakin bahwa engkau Wong Sin Cu putera Wong Cin kalau pada dadamu terdapat rajah lukisan seekor naga putih. Bukalah bajumu dan perlihatkan dadamu!”
Berdebar keras jantung Sin Cu mendengar ucapan itu. Kini diapun yakin bahwa Kakek itu benar maka tanpa ragu lagi dia membuka kancing bajunya dan memperlihatkan dadanya. Dada yang berkulit putih dan bidang itu terbuka dan tampaklah rajah naga putih itu melingkar-lingkar, seolah dapat bergerak dan hidup ketika dada itu kembang kempis bernapas.
Terdengar jerit tertahan keluar dari mulut Ciang Lan dan gadis itu berdiri terbelalak memandang ke arah dada Sin Cu. Sementara itu Kakek tadi maju dan merangkul Sin Cu, tertawa gembira.
“Ha-ha-ha, terima kasih kepada Tuhan. Ternyata engkau masih hidup dan sudah menjadi seorang pemuda dewasa, Wong Sin Cu!” Dia melepaskan rangkulannya, memegang kedua pundak Sin Cu dan memandang wajah pemuda itu dengan wajah berseri dan sepasang mata tuanya bersinar-sinar.
Akan tetapi Sin Cu menoleh ke kiri, memandang Ciang Lan yang masih terbelalak karena dia tadi terkejut mendengar jerit tertahan dari gadis itu. “Ada apakah, Lan-moi?” tanyanya khawatir.
Ciang Lan menudingkan telunjuknya ke arah dada Sin Cu yang telanjang. “Itu... dadamu itu... gambarnya persis sama!” Katanya, wajahnya membayangkan kekagetan dan keheranan.
“Sama? Sama dengan apa, Lan-moi?”
“Sama dengan gambar naga yang berada di dada Bu-Ko! Hanya bedanya, naga di dadamu itu putih, kalau yang berada di dada Bu-Ko hitam. Akan tetapi sama benar!”
Kakek itu melangkah maju menghampiri Ciang Lan. “Nanti dulu, nona. Siapakah yang kau sebut Bu-Ko itu? Apakah dia itu seorang pemuda bernama Tan Song Bu dan di dadanya ada rajah gambar naga hitam yang sama dengan gambar rajah di dada Wong Sin Cu ini?”
Ciang Lan menatap wajah Kakek itu dengan heran. “Benar sekali, Kek. Bagaimana engkau dapat mengetahuinya?”
“Aku mengetahuinya?" Kakek itu tertawa bergelak, tampaknya girang sekali. "Ha-ha-ha-ha! Akulah yang membuat rajah itu di dada mereka! Terima kasih, Tuhan. Aku bersyukur bahwa kedua orang anak itu ternyata masih hidup!”
Mendengar pengakuan Kakek itu bahwa dia yang membuat rajah di dadanya, Sin Cu merasa seperti berada dalam mimpi. Mimpi yang seringkali dialaminya dahulu, tentang pengalaman dahsyat ketika dia masih kecil sekali. Teringat dia tentang dia dan seorang anak laki-laki lain yang dia tidak ingat lagi siapa namanya.
Tentang mereka berdua yang dirajah di dada mereka dengan gambar naga oleh tukang perahu. Tentang perahu mereka yang diserang badai, tentang orang-orang jahat yang menyerang mereka, tentang burung raksasa yang membawanya terbang. Dia memandang wajah Kakek itu seperti dalam mimpi....