Sepasang Rajah Naga Jilid 27

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Sepasang Rajah Naga Jilid 27
Sonny Ogawa
Cerita silat karya Kho Ping Hoo
Karya Kho Ping Hoo

Sepasang Rajah Naga Jilid 27 - OUW YANG HUI menghela napas panjang, “Aku tidak khawatirkan diriku sendiri. Aku menangis karena merasa sedih Kongcu. Kenyataannya bahwa diriku hanya mendatangkan malapetaka bagi orang lain. Aku telah membuat tunanganku terjebak dan nyaris tewas, semua itu terjadi hanya karena dia hendak membelaku. Sekarang engkaupun sampai dimusuhi bahkan hampir dibunuh oleh Ayah kandungmu sendiri karena aku pula. Ah sungguh buruk sekali nasibku, hanya membikin celaka orang lain.”

“Ah... engkau mengkhawatirkan aku, Hui-moi? Benarkah... benarkah engkau mengkhawatirkan diriku?”

Ouw Yang Hui memandang wajah itu. Memang tidak ada perasaan cinta di hatinya terhadap pria ini, akan tetapi bagaimanapun juga, harus ia akui bahwa Bhong Lam amat menyayanginya, bahkan rela mengorbankan nyawa untuk melindunginya, telah berkorban membiarkan dirinya dimusuhi bahkan akan dibunuh Ayahnya, juga perkumpulannya sendiri. Bagaimanapun juga, pengorbanan Bhong Lam besar sekali demi cintanya kepadanya.

“Tentu saja aku mengkhatirkan dirimu, Kongcu demi akulah maka engkau mengalami malapetaka ini.”

“Ah. terima kasih, Hui-moi terima kasih! Pengorbanan ini tidak ada artinya bagiku! Aku cinta padamu, Hui-moi dan untuk belamu, aku siap untuk mati seribu kali.”

Ouw Yang Hui merasa tidak enak sekali. Pemuda itu mencinta dengan mati-matian, padahal ia sendiri sama sekali tidak mempunyai perasaan cinta kasih kepadanya. Segera ia mengalihkan percakapan dan perhatian Bhong-Kongcu, “Sekarang kita akan pergi ke mana?”

Bhong Lam bangkit berdiri dan memandang ke bawah lereng bukit itu. “Lihatlah Hui-moi, di lereng paling bawah itu terdapat sebuah rumah terpencil. Kalau aku tidak salah ingat, rumah itu milik seorang kaya dari kota yang menjadikannya sebagai tempat peristirahatan di bukit ini. Kita dapat tinggal di sana untuk sementara waktu, Mari kita ke sana, Hui-moi!”

Ouw Yang Hui tidak membantah atau bertanya lagi, lalu keduanya berjalan menuruni lereng menuju ke rumah yang dari atas tampak gentengnya yang kemerahan itu. Setelah mereka tiba di depan rumah itu, hari telah sore. Matahari sudah turun ke barat dan cahayanya sudah lemah kemerahan. Bhong Lam dan Ouw Yang Hui memasuki halaman rumah itu. Rumah itu temboknya putih dan tampaknya terawat dengan baik.

Bermacam tanaman bunga tumbuh subur di pekakarangan depan, menjadi semacam taman kecil. Beberapa batang pohon jeruk penuh dengan jeruk-jeruk yang sudah mennguning. Seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun yang sedang bekerja di pekarangan itu, menyirami bunga, melihat mereka, ia segera maju menghampiri. Dia seorang dusun yang bekerja sebagai tukang kebun rumah itu.

“Selamat sore, Kongcu (Tuan Muda) dan Siocia (Nona), apakah yang dapat saya bantu untük ji-wi (anda berdua)?” tegur tukang kebun itu yang agaknya sudah terbiasa bersikap sopan terhadap orang-orang yang pakaiannya bukan seperti orang dusun.

Dengan sikap halus seperti biasa, Bhong Lam mengangguk kepada orang itu dan bertanya, “Paman yang baik, bukankah ini rumah peristirahatan seorang hartawan dari kota See-kang?”

“Benar sekali, Kongcu. Lai-Wangwe (Hartawan Lai) dari kota See-kang yang memiliki rumah peristirahatan ini dan kebetulan sekali, pada saat ini Lai-Wangwe sedang berada di sini sejak kemarin, bersama seorang isterinya. Mereka datang dengan kereta kemarin pagi.” Tukang kebun itu agaknya bangga akan majikannya dan suka bercerita.

“Apakah hanya mereka berdua dan Paman saja yang berada di rumah ini?” tanya Bhong Lam.

“Benar, Kongcu. Lai-Wangwe tidak mau diganggu kalau berada di sini. Kusir dan keretanya sudah disuruh pulang dan minta dijemput besok pagi. Saya memang selalu berada disini untuk mengurus dan menjaga rumah kalau sedang kosong."

Pada saat itu, dua orang muncul di pintu depan yang terbuka. seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun berpakaian mewah dan seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun yang juga berpakaian mewah dan masih tampak cantik.

“A-sam, siapakah yang datang?” tanya laki-laki itu kepada tukang kebun.

Melihat dua orang itu, Bhong Lam lalu menggandeng tangan Ouw Yang Hui, diajak menghampiri dua orang yang muncul di pintu depan rumah itu. Setelah berhadapan dengan mereka, Bhong Lam menjura dengan sikap hormat dan Ouw Yang Hui hanya meniru yang dilakukan pemuda itu.

“Harap Paman dan Bibi sudi memaafkan kami berdua. Saya bernama Bhong Lam dan ini adalah isteri saya. Kami berdua melakukan perjalanan dan sampai di sini hari telah senja. Kami khawatir kemalaman di tengah perjalanan, maka kalau sekiranya Paman dan Bibi tidak berkeberatan kami mohon diperkenankan melewatkan malam di sini.”

Sikap Bhong Lam demikian lembut dan kata-katanya juga menunjukan bahwa dia seorang terpelajar, wajahnya tampan dan pakaiannya mewah. Jelas bahwa dia seorang pemuda terpelajar dan hartawan, bahkan pantas menjadi seorang bangsawan, maka tentu saja amat menarik hati Lai-Wangwe dan isterinya. Apa lagi Ouw Yang Hui juga amat menarik hati. Seorang gadis yang amat cantik.

“Ah... boleh sekali. Kami tidak keberatan dan memiliki beberapa buah kamar yang malam ini kosong tidak dipakai. Silakan masuk, orang-orang muda. Kalian masih begini muda, tentu kalian pengantin baru, bukan?” kata Lai-Wangwe sambil mempersilakan kedua orang pendatang itu masuk.

“Benar sekali, Paman. Kami memang belum lama menikah,” kata Bhong Lam.

“Mari, silakan duduk!” kata Lai-Wangwe setelah mereka tiba di ruangan dalam. “Kalian tentu belum makan malam! Kebetulan kami juga sedang hendak makan malam, kami sedia banyak makanan dan baru saja tadi A-Sam membantu isterinya memanaskan masakan.”

Hartawan itu beserta isterinya lalu mengajak dua orang tamunya memasuki ruangan makan di bagian belakang rumah. Sebuah meja penuh hidangan yang masih mengepulkan uap telah tersedia di atas meja. Bhong Lam dan Ouw Yang Hui tentu saja merasa sungkan akan tetapi diam-diam mereka juga girang sekali karena perut mereka terasa lapar sekali dan tubuh lelah. Empat orang itu lalu makan minum dan dengan ramahnya Lai-Wangwe menjamu mereka.

“Rumah Paman begini indah dan banyak kamarnya, kenapa hanya Paman dan Bibi berdua saja yang tinggal di sini?” Bhong Lam bertanya sedangkan Ouw Yang Hui sejak tadi tidak ikut bicara, hanya tersenyum ramah kalau suami isteri tuan rumah itu kebetulan memandang kepadanya.

“Ah, rumah ini memang merupakan rumah peristirahatan keluarga kami Bhong-hiante. Aku bernama Lai Sin dan tinggal di kota See-kang, berdagang di kota itu. Kalau ingin mengaso, kami sekeluarga tinggal di tempat sunyi dan sejuk ini untuk beberapa hari lamanya dan kebetulan kali ini hanya aku dan Sam-hujin (Nyonya ketiga) berdua saja yang ingin beristirahat di sini selama dua malam, dan besok kami akan di jemput kereta kami dan kembali ke See-Kang."

“Akan tetapi tadi kami bertemu dengan orang diluar.” kata Bhong Lam.

“Oh... itu A-Sam tukang kebun dan penjaga rumah kami ini. Hanya dialah yang menemani kami berdua di sini dan dia yang kami suruh kalau kami membutuhkan apa-apa.”

Setelah selesai makan, Bhong Lam berkata, “Banyak terina kasih atas keramahan dan kebaikan hati Paman dan Bibi yang sudah menerima dan menjamu kami. Sekarang kami mohon maaf, Paman dan bibi. Kami telah melakukan perjalanan jauh dan kami merasa lelah sekali. Kami ingin membersihkan diri lalu mengaso. Besok pagi saja kita dapat bicara lebih lama.”

“Tentu saja. Silakan, di sana ada kamar mandi dan kalian boleh bermalam di kamar yang berada di sudut itu,” kata Lai-Wangwe dengan ramah.

Bhong Lam dan Ouw Yang Hui mengucapkan terima kasih. Mereka lalu membersihkan badan di kamar mandi, kemudian memasuki kamar yang diperuntukkan untuk mereka. Kamar itu cukup bersih dan indah. Saking lelahnya, begitu tubuhnya rebah dia atas pembaringan, Ouw Yang Hui langsung pulas.

Bhong Lam duduk di tepi pembaringan, memandang wajah isterinya sambil tersenyum. Hatinya terasa berbahagia sekali memandang wajah wanita yang amat disayangnya itu. Sinar lampu gantung yang redup membuat wajah itu tampak semakin jelita. Dia membungkuk dan mencium dahi Ouw Yang Hui dengan hati-hati dan penuh rasa kasih sayang. Dia tidak mau mengganggunya, akan tetapi dia juga belum ingin tidur.

Masih ada pekerjaan penting yang harus diselesaikannya. Dia duduk bersila diatas pembaringan untuk memulihkan tenaganya karena diapun merasa lelah sekali setelah tadi bertanding melawan Ayahnya sendiri kemudian harus melarikan diri sambil memondong tubuh Ouw Yang Hui sampai setengah hari lamanya. Malam itu hawa udara amat dingin.

Setelah keadaan sunyi dan pernapasan Ouw Yang Hui menunjukkan bahwa gadis itu sudah pulas sekali, Bhong Lam lalu turun dari atas pembaringan, Ia membetulkan letak selimut yang menutupi tubuh wanita yang dicintanya itu, kemudian berindap-indap dia meninggalkan kamar, membuka pintu lalu menutupkan lagi daun pintu kamar dari luar. Tak lama kemudian tubuhnya berkelebat dan dia sudah berada di luar kamar hartawan Lai dan isterinya. Dia menempelkan daun telinganya pada jendela tidur kamar itu.

Pada saat itu, sinar lampu gantung diluar kamar menyoroti mukanya dan wajah pemuda itu sungguh berbeda jauh dari biasanya. Garis-garis yang menunjukkan kelembutan pada wajah itu lenyap terganti garis-garis yang keras dan mulutnya tampak membayangkan kekejaman, sepasang matanya mencorong seperti mata sepasang binatang buas.

Pada saat seperti itu, seluruh pikiran dalam benaknya hanya tertuju sepenuhnya kepada kepentingan diri sendiri, keuntungan diri sendiri. Setiap apa saja yang dianggapnya sebagai penghalang pemenuhan keinginannya, harus disingkirkan dengan cara apapun juga.

Dia melihat rumah itu sebagai tempat tinggal sementara yang amat baik bagi dia dan Ouw Yang Hui. Cukup tersembunyi, terpencil, juga cukup menyenangkan. Dia harus memilikinya, untuk menjadi tempat tinggal mereka berdua. Setidaknya untuk sementara. Dan semua penghalang harus disingkirkan!

Pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara dengkur Hartawan Lai. Jelas, suami isteri itu sudah tidur nyenyak, pikirnya. Dia lalu menggunakan tenaganya untuk mendorong daun jendela sehingga terbuka dengan paksa. Dengan ringan dia melompat ke dalam kamar yang remang-remang karena hanya diterangi sebuah lampu meja yang kecil. Dalam keremangan, dia melihat tubuh dua orang suami isteri itu menggeletak di atas pembaringan.

Karena cuaca remang-remang, ketika tangannya menyentuh meja, tanpa sengaja dia menggulingkan sebuah cawan. Cawan itu terguling dan jatuh dari atas meja tanpa dapat dicegah Bhong Lam karena tidak kelihatan. Terdengar bunyi berkerontangan dan suara ini cukup nyaring sehingga membangunkan Hartawan Lai dan isterinya.

“Eh, apa itu...” tanya Hartawan Lai sambil menyingkap selimutnya. Isterinya sudah bangkit duduk dan melihat bayangan Bhong Lam di dekat pembaringan.

“Heii, siapa engkau..?” jeritnya.

Tubuh Bhong Lam bergerak cepat sekali ke arah pembaringan, dua kali tangan kanannya bergerak ke depan dan suami lsteri itu roboh kembali dan tidak mampu bergerak kembali karena pemuda itu dengan kejam sekali telah menurunkan tangan maut. Dia sengaja mempergunakan Tok-Ci (Jari Beracun), menotok dada suami isteri itu. Hawa beracun yang terkandung dalam jari telunjuknya menyerang jantung dan orang yang ditotoknya langsung tewas seketika.

Tanpa melihat lagi Bhong Lam sudah yakin bahwa dua orang itu tentu telah tewas. Dengan tenang sekali dia membuka Palang daun pintu dan keluar dari dalam kamar itu, menutup kembali daun pintu dan daun jendela kamar, kemudian pergi ke bagian belakang rumah itu. Mudah saja dia mendapatkan kamar A-sam di bagian belakang. Dia mengetuk daun pintu kamar itu. “Tuk-tuk-tuk!” A-sam terbangun. “Siapa itu?” terdengar suaranya.

“Aku, Paman A-sam, bukalah pintunya. Aku mau bicara, penting sekali!” kata Bhong Lam.

Tadinya A-sam merasa heran dan bingung karena suara itu suara seorang laki-laki akan tetapi bukan majikannya. Akan tetapi dia segera teringat bahwa majikannya menerima dua orang tamu pria dan wanita. Dia segera turun dari pembaringan dan membuka daun pintu. Di bawah sinar lampu gantung di luar kamarnya dia mengenal pemuda yang menjadi tamu itu. “Ah, Kongcu. Ada apakah, Kongcu?”

“Tidak usah banyak tanya, A-sam, cepat arnbil cangkul dan lakukan perintahku!” kata Bhong Lam, suaranya berubah menjadi dingin penuh ancaman.

A-Sam mengerutkan aiisnya. “Ada apa ini? Malam-malam disuruh mencangkul? Mencangkul apa?”

“Sudahlah, cepat bawa cangkul dan lakukan apa saja yang kuperintahkan.”

A-sam mengerutkan alisnya. “Kongcu bersikap tidak pantas Kongcu hanya seorang tamu dan aku tidak mau melakukan perintahmu. Aku hanya menaati perintah majikanku” katanya dengan nada penasaran.

Bhong Lam menggerakkan tangannya, tampaknya hanya menyentuh pundak tukang kebun itu, akan tetapi A-sam mengeluh dan dia terkulai roboh. A-sam adalah seorang yang biasa bekerja kasar, tubuhnya kuat dan tentu saja menjadi marah. Ditahannya rasa nyeri di pundak kirinya dan dia lalu menyerang Bhong Lam dengan tangan kanannya.

Akan tetapi sekali lagi pemuda itu menggerakan lagi tangannya dan sekali kini pundak kanan A-san yang, disentuhnya dan untuk kedua kalinya tubuh A-sam terkulai roboh dan karena mengaduh-aduh, kedua pundaknya terasa nyeri bukan main.

“Nah, apakah engkau membantah? Ataukah harus kupukul Sampai mati...?!?” bentak Bhong Lam.

Kini mengertilah A-sam bahwa ia berhadapan dengan orang yang amat lihai. “Aku... aku menurut.” katanya sambil mengaduh.

Bhong Lam menggerakkan tangannya, dua kali ia menepuk kedua pundak A-sam dan orang ini merasa betapa pundaknya tidak nyeri lagi. Makin yakinlah dia bahwa pemuda itu benar-benar memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka diapun segera mengambil sebuah cangkul dari sudut kamarnya. Bhong Lam mengambil lampu yang tergantung di situ, lalu mengajak A-Sam menuju ke kebun belakang.

Setelah tiba di tempat terbuka dalam kebun itu, dia menuding ke arah sepetak rumput dan berkata kepada A-sam. “Cepat gali lubang yang besar, Cepat kataku!”

A-sam tidak berani membantah atau bertanya walaupun dia merasa bingung dan heran sekali, mengira bahwa pemuda itu tentu gila. Akan tetapi karena ketakutan, diapun menggali dengan cepat mengerahkan seluruh tenaganya.

“Kurang panjang, dua kali itu panjangnya” perintah Bhong Lam.

A-sam menggali terus, keringat mulai membasahi tubuhnya, dia merasa semakin heran. Untuk apa menggali lubang sepanjang itu!

“Kurang dalam!” kata Bhong Lam. “Sepinggang lebih dalamnya dan lebarnya juga dua kali itu!”

Diam-diam A-sam mengutuk. Orang ini tentu gila, pikirnya. Kalau menggali tanah saja untuk menanam pohon, untuk apa demkian panjang, demikian lebar dan dalam. Akan tetapi dia tidak berani bertanya dan menggali terus. Mencangkul adalah pekerjaannya sejak muda, maka dia dapat mengali dengan cepat dan kuat. Malam telah larut, mendekati fajar ketika galian lubang sudah di anggap cukup sudah lebar dan dalam oieh Bhong Lam.

“Cukup, hentikan penggalian itu,” kata Bhong Lam.

A-sam menghentikan galiannya, membawa cangkulnya merangkak keluar dari lubang. Dia memberanikan dirinya bertanya lirih, “Kongcu, untuk apakah lubang ini?"

“Untuk menguburmu!” kata Bhong Lam. Dan sekali tangannya bergerak menyambar ke arah pelipis A-sam tukang Kebun itu terpelanting roboh masuk lubang galian dan tidak mampu bergerak lagi, karena pukulan itu telah menewaskannya seketika!

Setelah menjenguk ke dalam lubang dan melihat A-sam menelungkup di dalamnya. Bhong Lam lalu, berlari menuju rumah dan masuk dari pintu belakang yang sudah terbuka ketika dia keluar ke kebun bersama A-sam tadi. Dia langsung berlari ke kamar Hartawan Lai, sama sekali tidak pernah menduga bahwa Ouw Yang Hui sudah terbangun dari tidurnya.

Ketika gadis itu terbangun ia merasa heran karena tidak melihat Bhong Lam di dalam kamar. la lalu turun dari pembaringan dan menghampiri jendela, menguak tirai dan melihat bahwa di luar masih gelap. Akan tetapi mendengar suara ayam jantan berkeruyuk dari arah belakang rumah, Agaknya A-Sam memelihara ayan jantan, pikirnya dan keruyuk ayam jantan itu menandakan bahwa saat itu malam telah beralih dan fajar mulai menyingsing.

Tiba-tiba ia terkejut melihat bayangan Bhong Lam yang bergerak cepat menuju kamar induk. Kamar tuan rumah. Jantungnya berdebar karena heran dan ia tertegun, hanya berdiri di belakang jendela kamarnya. lampu diatas meja dalam kamarnya sudah padam sehingga dalam kamar itu gelap sekali. la dapat melihat keluar jendela melalui kaca jendela, akan tetapi ia tidak tampak dari luar.

Tak lama kemudian ia melihat Bhong Lam datang dari kamar induk dan ia terbelalak karena pria yang telah menjadi suaminya itu memanggul dua tubuh manusia di kedua pundaknya. Bhong Lam berjalan cepat sekali, setengah berlari mamanggul dua tubuh manusia itu ke arah kebun belakang.

Jantung Ouw Yang Hui berdebar keras, wajahnya pucat sekali. Ia masih dapat mengenal bentuk tubuh dan pakaian kedua orang yang dipanggul Bhong Lam itu. Mereka adalah Hartawan Lai dan isterinya yang tadi menjamu mereka!

“Ya Tuhan! Mereka kenapa? Dan apa yang dilakukan oleh Bhong Lam itu!” tanyanya dalam hati dan ia merasa khawatir bukan main, rasa khawatir yang bercampur dengan perasaan ngeri. la mengingat-ingat Pemuda itu adalah putera ketua bahkan cabang Pek-Lian-Kauw yang kejam bahkan yang hendak membunuh anak sendiri.

Bhong Lam juga sudah memaksa ia menjadi isterinya dengan cara memaksanya berjanji dengan imbalan memberi pertolongannya membebaskankan Sin Cu. Bhong Lam sudah mengkhianati perkumpulannya sendiri. Orang seperti itu biasanya tentu akan dapat melakukan apa saja, demi kepentingan dirinya!

“Jangan-jangan...!” Ouw Yang Hu bergidik. Bukankah tadi Bhong Lam mengatakan bahwa tempat itu amat indah menyenangkan? apa mungkin dia ingin miliki tempat itu dan... kedua orang pemiliki rumah itu telah mati? Dibunuhnya? Ouw Yang Hui bergidik dan kedua kakinya menjadi lemas. la terhuyung dan menghempaskan tubuhnya ke pembaringan tak dapat menahan tangisnya.

Kalau benar dugaannya bahwa Bhong Lam membunuh suami isteri itu, ia menjadi muak dan benci sekali. Ingin rasanya la mengakhiri hidupnya daripada menjadi istri seorang manusia iblis seperti itu. Ia tidak mungkin dapat melakukan bunuh diri sekarang, tidak mungkin hal itu ia lakukan. la berani membunuh diri sendiri, akan tetapi ia tidak tega untuk membunuh anak yang berada dalam kandungannya!

la telah menjadi isteri Bhong Lam sudah hampir dua bulan dan ia tahu benar bahwa ia telah mengandung walaupun hal itu belum ia beritahukan kepada Bhong Lam. Demi anak itulah ia harus bertahan untuk hidup, betapapun sengsara lahir batinnya. Matahari sudah mulai menerangi bumi, sinarnya sudah mencapai jendela kamar itu. Ouw Yang Hui sejak tadi sudah duduk di atas kursi dalam kamarnya, ia menanti dengan hati gelisah.

Akan tetapi Bhong Lam tidak pernah muncul dan suasana yang sunyi sekali di rumah itu membuatnya bergidik ngeri. Tidak ada suara orang, dan suara di bagian belakang. Di mana adanya A-sam? Ouw Yang Hui lalu keluar dari kamarnya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian ia memasuki rumah, mencari-cari. Akan tetapi ia tidak menemukan siapapun.

Hartawan Lai dan isterinya tidak tampak demikian pula A-Sam tidak tampak batang hidungnya. Ia sudah mencari sampai pekarangan depan, namun tidak ada seorangpun di sana. Sunyi sekali di situ, kesunyian yang mengerikan hatinya Karena ia teringat akan apa yang dililihatnya pagi-pagi sekali tadi.

Apakah yang di pondong di atas kedua pundak Bhong Lam adalah mayat-mayat Hartawan Lai dan isterinya? Ia bergidik. la membayangkan lagi apa yang dilihatnya melalui jendela pagi tadi. Bhong Lam memanggul tubuh Lai-Wangwe dan isterinya, dan membawanya ke kebun belakang!

Teringat akan ini, Ouw Yang Hui keluar dari pintu belakang dan pergi ke kebun yang cukup luas itu. Kebun yang penuh dengan pohon-pohon buah. Di sinipun sunyi, tak tampak seorang pun manusia. Ia melangkah perlahan-lahan matanya meneliti dan mencari-cari. Tiba-tiba ia memandang ke kiri. sebatang cangkul berdiri dengan gagangnya yang membungkuk. Cangkul itu seperti menceritakan sesuatu. Ouw Yang Hui tertarik dan segera menghampir.

la berdiri terbelalak dan mukanya menjadi pucat sekali, kedua kakinya gemetar, jantungnya berdebar, matanya yang terbelalak memandang ke bawah, ke arah tanah urukan di depannya. Jelas sekali tampak tanah yang baru dicangkul. Tentu ada sesuatu yang berada di bawah tanah itu. Tiba-tiba Ouw Yang Hui merasa mual dan tak dapat ditahannya lagi ia muntah-muntah.

“Hui-moi!” tiba-tiba terdengar panggilan dan Bhong Lam sudah berada di dekat Ouw Yang Hui, memegang kedua pundak dan merangkulnya. Ada apakah denganmu Hui-moi? Engkau sakit...?” pemuda tu bertanya dengan khawatir.

Ouw Yang Hui mengusap bibirnya, berdiri tegak kembali sambil menatap wajah Bhong Lam, kemudian terdengar suaranya bertanya, gemetar. “Bhong-Kongcu, dimanakah Lai-Wangwe, isterinya, dan A-sam? Aku mencari mereka di mana, akan tetapi tidak dapat menemukan mereka.”

Bhong Lam tersenyum. Hatinya tenang saja menghadapi pertanyaan Ouw Yang Hui itu. Baginya, apa yang dilakukannya semalam merupakan peristiwa biasa saja. Akan tetapi dia ingin menyembunyikannya dari Ouw Yang Hui agar isterinya yang tidak biasa dengan hal-hal seperti itu tidak akan menjadi kaget.

“Ah, pagi-pagi sekali tadi mereka telah pergi dari sini dijemput dengan kereta. Mereka tidak sempat pamit padamu, akan tetapi mereka meninggalkan pesan padaku agar kita mendiami rumah ini sementara waktu.”

Sepasang mata yang jeli itu menatap tajam penuh selidik. Perlahan-lahan wajah yang tadinya pucat itu berubah menjadi merah ketika api kemarahan mulai berkobar dalam hati Ouw Yang Hui. Ia mengambil cangkul dan menyerahkannya kepada Bhong Lam. “Engkau bohong! Hayo gali timbunan tanah ini, galii...!”

Bhong Lam menerima cangkul itu akan tetapi tentu saja dia tidak menggalinya melainkan melempar cangkul itu ke samping, “Hui-moi, tenanglah. Engkau kenapakah...?” Bhong Lam hendak memeluk, akan tetapi Ouw Yang Hui mendorongnya dengan tangannya.

“Engkau membunuh mereka! Aku tahu, aku lihat engkau memanggul mayat mereka. Engkau membunuh suami isteri itu, juga A-sam! Engkau kejam, jahat... engkau manusia iblis” Ouw Yang Hui terkulai lemas dan ia tentu akan roboh kalau Bhong Lam tidak dengan cepat merangkulnya. Wanita itu pingsan karena guncangan hebat pada batinnya.

Bhong Lam lalu memondongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Ketika siuman dari pingsannya dan mendapatkan dirinya rebah diatas pembaringan Bong Lam duduk di tepi pembaringan, Ouw Yang Hui segera bangkit duduk,

“Engkau... engkau... iblis terkutuk... aku benci kamu... benci kamu ah, terkutuk kamu!”

“Hui-moi, ah, Hui-moi, semua ini kulakukan untuk menyenangkan hatimu Hui-moi, aku terusir dari rumah. Kita tidak punya rumah, tidak punya pakaian, tidak punya apa apa maka kuambil rumah ini untukmu, Hui-moi, karena aku cinta padamu, aku ingin menyenangkan hatimu Hui-moi...”

“Tidak! Tidak sudi aku. Aku benci kamu. Engkau manusia berwatak iblis! Engkau membunuh orang-orang yang baik kepada kita, engkau terkutuk, aku benci kamu...!” Ouw Yang Hui menutupi mukanya dan menangis.

“Ampunkan aku Hui-moi... maafkan aku..., akan tetapi jangan benci aku, Hui-moi, jangan benci aku” Bhong Lam menelungkup dan membenamkan mukanya di atas pangkuan Ouw Yang Hui dan diapun menangis! Dia takut sekali kehilangan wanita yang dicintanya ini. Memang aneh sekali melihat seorang yang dengan darah dingin membunuh tiga orang tanpa berkedip itu sekarang menangis seperti anak kecil diatas pangkuan Ouw Yang Hui.

Ouw Yang Hui menggunakan kedua tangannya mendorong kepala Bhong Lam dari atas pangkuarnya dan iapun turun dari pembaringan, menghapus air matanya menggigıt bibirnya menahan tangis. “Aku tidak sudi lagi ikut denganmu biar engkau membunuhku, aku tidak mau dekat denganmu. Aku akan pergi!” katanya.

“Hui-moi...!” Bhong Lam rnenghadang di depannya kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Ouw Yang Hui, kedua tangannya merangkul kaki wanita itu. “Jangan... Hui-moi, ahh... Jangan tinggalkan aku... aku lebih baik mati dari pada hidup tanpa engkau, jangan pergi,”

Pada saat itu terdengar suara wanita berteriak dari luar rumah itu. “Pengkhianat Bhong Lam. Keluar dan menyerahlah!”

Bhong Lam terkejut dan bangkit berdiri. ia amat mengenal suara itu, Itu Suara Ang Hwa, pemimpin pasukan Hek I Kiam-Tin. Tahulah ia bahwa pasukan pengawal Kim Niocu telah berhasil menemukannya. “Mari kita pergi.” katanya dan dia sudah memondong tubuh Ouw Yang Hui. Lalu melompat dengan cepatnya, berlari ke pintu dengan maksud untuk melarikan diri dari belakang karena suara tadi terdengar dari depan rumah.

Dia membuka pintu belakang melompat ke dalam kebun dan... sembilan bayangan hitam berkelebatan dan paşukan Hek I Kiam-Tin telah mengepungnya. Sembilan orang gadis berpakaian serba hitan dengan pedang di tangan telah mengepung dan siap menerjang, Tahulah Bhong Lam bahwa dia tidak dapat meloloskan diri lagi.

Kiranya dia sudah dikepung. Hek I Kiam-Tin menjaga di belakang dan Ang I Tok-Tin berada di pekarangan depan. Tidak ada jalan lain. Dia harus melawan mati-matian Dia menurunkan Ouw Yang Hui dan mencabut pedangnya.

“Pengkhianat Bhong Lam! Menyerahlah kalian berdua untuk kami hadapkan kepada Niocu!” Hek Hwa berseru sambil menudingkan pedangnya ke arah Bhong Lam.

“Hek Hwa, aku bersedia untuk menyerahkan diri dan menerima hukuman apapun yang akan dijatuhkan kepada diriku, akan tetapi hanya dengan satu syarat, yaitu bebaskan isteriku Ouw Yang Hui ini dan biarkan ia pergi tanpa diganggu!”

Terharu juga hati Ouw Yang Hui mendengar ucapan ini. Berkali-kali pria ini membuktikan cinta kasihnya yang amat besar kepadanya, rela berkorban apapun juga, bahkan nyawanya, untuk menyelamatkannya. la amat membenci Bhong karena kekejamannya, membunuh orang-orang yang tidak berdosa seperti membunuh semut saja, akan tetapi iapun terharu melihat bukti kasih sayang pria itu kepadanya.

“Tidak bisa, Bhong Lam! Menurut perintah Kim Niocu, kalian harus menyerah dan kami bawa menghadap Niocu, kalau engkau melawan, terpaksa kami akan membunuhmu” kata Ang Hwa Ternyata pasukan baju merah yang dipimpin Ang Hwa sudah tiba di situ. Tadi mereka menjaga di bagian depan. Setelah mendengar bahwa Bhong Lam keluar dari rumah melalui pintu belakang, merekapun cepat menuju ke belakang bergabung dengan pasukan baju hitam.

“Kalau begitu, terpaksa aku akan melawan kalian! Hui-moi, cepat lari!” Bhong Lam maklum bahwa sekali terjatuh ketangan Kim Niocu, tentu Ouw Yang Hui akan dipaksa menyerahkan diri kepada seorang pejabat menurut pilihan Kim Niocu. Dia tidak rela wanita yang dikasihinya itu dipaksa melayani laki-laki lain.

Kalau mereka berdua menyerahkan diri, dia pasti tidak akan mampu melindungi Ouw Yang Hui karena sedikit sekali harapan dia akan mendapat pengampunan dari kim Niocu. Maka dia nekat hendak melawan sampai mati asalkan Ouw Yang Hui dapat terbebas dari tangan mereka. Akan tetapi lalu bagaimana Ouw Yang Hui akan dapat melarikan diri? la pun di kepung.

Dengan marah sekali Bhong Lam lalu mengamuk, menyerang mereka yang mengepung Ouw Yang Hui untuk memberi kesempatan kepada isterinya itu untuk melarikan diri. Akan tetapi diapun segera dikeroyok belasan orang anggauta Ang I Tok-Tin dan Hek I Kiam-Tin yang lihai itu.

Ouw Yang Hui yang tidak mungkin dapat melarikan diri itu hanya berdiri menonton perkelahian itu dengan jantung berdebar penuh ketegangan dan kekhawatiran. Tentu saja mengkhawatirkan Bhong Lam karena bagaimanapun juga, laki-laki itu kini bertanding mati-matian untuk membelanya!

Biarpun, bukan ahli silat yang pandai, namun Ouw Yang Hiu dapat melihat bahwa betapapun lihainya Bhong Lam, tetap saja dia kewalahan menghadapi pengeroyokan regu yang dapat bekerja sama dengan amat baiknya itu.

Masih untung baginya bahwa dalam pengeroyokan seperti itu, regu Ang I Tok-Tin tidak dapat mempergunakan bubuk atau asap beracun karena khawatir mengenai rekan-rekan sendiri, yaitu regu Hek I Kiam-Tin. Maka regu berpakaian merah itu hanya mempergunakan masing-masing sepasang pisau belati berwarna hitam kehijauan yang menganndung racun berbahaya sekali.

Bhong Lam mengeluarkan seluruh kemampuannya dan mengerahkan seluruh tenaganya karena dia bertekad untuk dapat membebaskan Ouw Yang Hui. Akan tetapi dipihak lawan terlalu banyak. Dia memutar pedangnya dan menyerang dengan amat nekat sehingga akhirnya dia dapat melukai dua orang pengeroyok yaitu anggauta Hek I Kiam-Tin dan anggauta Ang I Tok-Tin.

Akan tetapi dia sendiri terkena sabetan pedang di pundak kirinya sehingga bajunya di bagian pundak terobek berikut kulit dan daging pangkal lengan kirinya. Darah membasahi baju bagian dadanya. Akan tetapi Bhong Lam seperti tidak menperdulikan dan merasakan luka ini. Pedangnya berkelebat dan kembali dia melukai dan merobohkan seorang pengeroyok. Pada saat pedangnya menangkis tiga batang pedang sekaligus, tiba-tiba saja kaki Ang Hwa mencuat dan tepat mengenai perutnya.

“Dessss...!” Tubuh Bhong Lam terjengkang dan dia roboh bergulingan dan agaknya dia sengaja bergulingan ke dekat Ouw Yang Hui. Gadis ini memandang dengan wajah pucat dan membayangkan kengerian.

Bhong Lam telah merangkul kedua kakinya dan mengangkat muka yang terkena percikan darah itu memandang kepadanya. “Hui-moi..., ampunkan aku, Hui-moi...!” katanya.

Sepasang mata itu meneteskan air mata. “Mintalah ampun kepada Tuhan, Kongcu!” katanya lirih.

Pada saat itu, beberapa batang pedang menyambar ke arah tubuh Bhong Lam. Dia memutar tubuh dan bergulingan sambil menggerakkan pedangnya dengan dahsyat. Para penyerangnya mundur dan diapun melompat bangkit lalu mengamuk lagi. Dia tau bahwa dirinya tidak akan lolos dari kepungan, bahwa dia menghadapi ancaman maut. Akan tetapi hal ini tidaklah menggetarkan hatinya.

Yang amat memedihkan hatinya adalah bahwa Ouw Yang Hui tidak mau mengampuninya, bahkan nyuruh dia minta ampun kepada Tuhan. Hal ini membuat dia penasaran dan sakit sekali hatinya. Dia tidak akan dapat mati dengan mata terpejam sebelum Ouw Yang Hui dapat memaafkannya, matinya akan penasaran kalau isterinya membencinya!

Hati yang sakit ini menambah kekuatan ketika dia menghadapi pengeroyokan. Dia mengamuk dan kembali pedangnya dapat merobohkan dua orang pengeroyoknya. Akan tetapi sebatang pisau beracun di tangan kanan Ang Hwa menyambar paha kirinya. Bhong Lam terhuyung, merasa kaki kirinya seperti terbakar. Pada saat dia terhuyung, ujung pedang di tangan Hek Hwa menyerempet dadanya. Baju dan kulit dadanya robek dan darah bercucuran.

Bhong Lam terhuyung dan roboh di kaki Ouw Yang Hui. “Hui-moi... kau maafkan aku... jangan membenciku, Hui-moi...” pemuda itu mengeluh. Air mata bercucuran dari sepasang mata Ouw Yang Hui, melihat keadaan laki-laki itu. Kini pakaiannya penuh darah, juga mukanya berlepotan darah. Bhong Lam kelihatan mengerikan sekali.

“Aku maafkan engkau... Bhong-Ko (Kakak Bhong)... aku tidak membencimu...” kata Ouw Yang Hui terisak.

Bhong Lam meloncat bangkit dan membalikkan tubuhnya, menyambut serangan para pengeroyoknya. Wajahnya berseri, matanya bersinar-Sinar. Ucapan Ouw Yang Hui itu seolah memberi semangat baru kepadanya, membuatnya kuat dan tidak lagi merasakan kepedihan luka-lukanya, walaupun kaki kirinya seperti kaku dan terbakar karena keracunan.

Kembali amukannya merobohkan dua orang pengeroyok. Akan tetapi pada saat yang sama, tusukan pedang Hek Hwa memasuki lambungnya. Ketika pedang tercabut dia roboh bergulingan kembali ke kaki Ouw Yang Hui. Dia merangkul kaki isterinya itu.

Melihat keadaan Bhong Lam yang mandi darahnya sendiri Ouw Yang Hui tidak dapat menahan keharuan hatinya dan iapun menekuk kedua lututnya dan duduk bersimpuh. Dengan air mata berucuran ia mengangkat kepala Bhong Lam dan memangku kepala itu. Bhong Lam memandangnya dengan sinar mata yang penuh kasih sayang dan mulut yang berdarah itu tersenyum!

“Hui-moi... katakan... engkau cinta padaku...?” katanya berbisik.

Ouw Yang Hui menangis, mulutnya ingin membuat pengakuan itu akan tetapi hatinya menyangkal. Tidak, ia tidak mau membohongi orang yang sudah sekarat menghadapi maut. “Bhong-Ko... aku tidak bisa mencintamu, akan tetapi, Koko... aku... aku telah mengandung anakmu.” la lalu menangis tersedu-sedu.

Mendengar ini, seperti ada kekuatan baru memasuki tubuh Bhong Lam. Dia bangkit duduk, matanya terbelalak. “Kau mengandung anakku...?” Terima kasih, Tuhan...! Hui-moi, isteriku sayang... didiklah baik baik anak kita... jangan menjadi seorang jahat seperti Ayahnya...”

Bhong Lam melompat berdiri, la tertawa seperti setan tertawa, muka dan pakaiannya penuh darah. Dia mengangkat pedang tinggi-tinggi dan sambil tertawa gembira, dia menyerbu para pengeroyoknya. Banyak pedang dan pisau beracun menyambutnya. Tubuhnya menerima banyak tusukan dan ketika pedang dan pisau itu dicabut, darah bercucuran dari tubuhnya melalui banyak lubang. Tubuh itu terhuyung.

“Hui-moi... jaga Eng-ji (Anak Eng) baik-baik!” Tubuh yang bermandi darah itu setelah meninggalkan pesan dengan teriakan nyaring itu, roboh dan tewas seketika.

Ouw Yang Hui yang masih duduk bersimpuh tidak tahan melihatnya. Ia menutupi mukanya dengan kedua tangannya yang juga berlepotan darah, darah Bhong Lam ketika ia memangku kepalanya tadi dan menangis tersedu-sedu.

Ang Hwa lalu menghampirinya dan memegang lengannya, menariknya bangun. “Nona, engkau ikut dengan kami menghadap Kim Niocu!” katanya.

Ouw Yang Hui menyerah saja, akan tetapi ia tidak berani memandang ke arah Bhong Lam yang telah menjadi mayat yang bersimbah darah. Ang Hwa yang kedudukannya sebagai orang ke dua sesudah Pek Hwa dalam deretan pembantu Kim Niocu, lalu berkata kepada Hek Hwa.

“Hek Hwa, kau rawat teman-teman yang terluka dan bawa jenazah Bhong-Kongcu itu, serahkan kepada Bhong-pangcu dan buat laporan. Aku bersama sisa anak buahku akan mengantarkan Nona Ouw Yang Hui menyusul Niocu.”

“Baiklah, enci Ang Hwa,” kata Hek Hwa. Empat orang anak buah Hek I Kiam-Tin dan tiga orang anak buah Ang I Tok-Tin roboh oleh pedang Bhong Lam tadi.

Hek Hwa lalu mengerahkan anak buahnya untuk mengobati teman-teman yang terluka kemudian mereka membawa jenazah Bhong Lam untuk dikembalikan kepada Ayahnya. Sedangkan Ang Hwa yang kehilangan tiga orang anak buah, bersama sisa anak buahnya yang tinggal lima orang mengawal Ouw Yang Hui meninggalkan tempat itu menuju ke kota raja.

Di sepanjang perjalanan, Ouw Yang Hui seperti patung. Pikirannya masih penuh oleh kenangan yang mengerikan tentang kematian Bhong Lam. Hatinya terasa kosong. Kematian Bhong Lam yang amat mengerikan itu amat memberatkan hatinya. Merasa telah menanggung banyak sekali dosa.

Pertama-tama, ia yang membuat tunangan atau kekasihnya, Wong Sin Cu tertawan dan disiksa, nyaris dibunuh. Kalau tidak ada dia, kiranya Sin Cu tidak akan mengalami semua itu. la dapat membayangkan bahwa keputusannya untuk menebus nyawa Sin Cu dengan dirinya, dengan cara menyerahkan dirinya menjadi isteri Bhong Lam, tentu akan mendatangkan kehancuran bagi hati Sin Cu.

Akan tetapi tidak ada waktu, baginya tidak ada pilihan lain atau kalau ia tidak mau menyerahkan diri kepada Bhong Lam, tentu Sin Cu akan dibunuh setelah disiksa hebat, setelah kedua matanya dibutakan. la rela berkorban apa saja demi keselamatan Sin Cu. la merasa berdosa kepada pria yang dikasihinya. Kemudia sekarang, kembali ia menjadi sebab kematian Bhong Lam secara demikian mengerikan!

la tahu dan merasa benar betapa pemuda Pek-Lian-Kauw itu amat mencintanya, bukan sekedar cinta nafsu. Dan kini terbukti murninya cinta kasih Bhong Lam kepadanya. Kalau Bhong Lam mau menyerahkannya kepada Kim Niocu, besar kemungkinan dia akan dimaafkan. Akan tetapi tidak. Bhong Lam tidak mau menyerahkannya dan membelanya sampai titik darah terakhir.

Pemuda itu mengorbankan nyawa untuknya! Bagaimanapun juga Bhong Lam adalah Ayah dari anak yang ia kandung. Walaupun ia tidak pernah dapat mencinta pria itu, namun pria itu telah mati untuknya, Ia merasa berdosa kepada Bhong Lam. Dosanya yang kedua kalinya. la merasa nelangsa sekali Ingin rasanya ia mengakhiri hidupnya.

Akan tetapi tidak mau membunuh anak dalam kandungannya. Anak itu tidak berdosa dan Tuhan telah memberikan anak itu kepadanya. Tidak... ia tidak akan mengakhiri hidupnya. la akan melahirkan dan merawat anak itu, seperti yang telah dipesankan Ayah kandungnya itu.

Akan merawat dan mendidik Eng-Ji (Anak Eng) baik-baik. Bhong Lam telah memberi nama kepada anaknya, nama yang dapat dipergunakan untuk anak laki-laki maupun perempuan. la akan mendidik agar anak itu tidak menjadi sekejam dan sejahat Ayah kandungnya, demikian pesan terakhir Bhong Lam.

Ang Hwa dan lima orang anak buahnya menungang kuda. Ang Hwa berboncengan dengan Ouw Yang Hui. Wanita ini menurut saja dibawa pergi karena ia memang tidak berdaya, maklum bahwa tidak mungkin dapat melepaskan diri dari enam orang wanita itu. la berserah diri kepada Tuhan, menyerahkan diri kepada nasib karena memang, sudah tidak berdaya sama sekalí.

Hidupnya kini hanya untuk anak yang dikandungnya, la tidak memperdulikan lagi apa yang akan terjadi dengan dirinya. Ia sudah pasrah. la tidak khawatir lagi, tidak menangis lagi. Semua perasaan duka telah habis tercurahkan keluar melalui ratap tangis hatinya, melalui air mata semenjak ia harus mengikuti Bhong Lam, sejak harus berpisah dari Wong Sin Cu.

Ang Hwa meninggalkan tiga orang anak buahnya yang terluka oleh amukan Bhong Lam. Mereka membutuhkan rawatan dan tidak mungkin ikut melakukan perjalanan bersamanya. Akan tetapi dengan adanya lima orang anak buahnya, mereka berenam masih cukup tangguh untuk mengajak Ouw Yang Hui ke kota raja, menyusul Kim Niocu.

Setelah melakukan perjalanan cepat dengan berkuda selama beberapa hari, pada suatu pagi mereka tiba di sebuah padang rumput. Kota raja sudah tidak begitu jauh lagi. Sore nantipun mereka sudah akan tiba di kota raja. Ang Hwa merasa Senang sekali. Sampai hari itu, tidak pernah rombongannya mengalami gangguan.

Setiap kali ada gerombolan orang yang mencurigakan dan agaknya mau mengganggu, ia cukup mengeluarkan sebuah bendera kecil bergambar bunga teratai putih di atas dasar biru. Gerombolan itu melarikan diri dengan ketakutan. Tidak ada gerombolan penjahat yang berani dengan rombongan Pek-Lian-Kauw!

Selagi Ang Hwa melamun dengan hati senang, tiba-tiba ia yang melarikan kudanya paling depan melihat seorang pemuda berdiri di tengah jalan. Ang Hwa cepat memberi isyarat kepada lima orang anak buah yang menunggang kuda di belakangnya. Lima orang itu lalu melajukan kuda mereka melampaui Ang Hwa sehingga kini Ang Hwa yang memboncengkan Ouw Yang Hui berada di belakang. Lima orang anak buahnya berada di depan dan dari jauh mereka berseru kepada pemuda yang berdiri menghadang di tengat jalan itu.

“Hei kau yang berada di sana, minggirlah kalau tidak mau tertabrak!”

Ouw Yang Hui tadi sudah melihat pemuda itu dan ia merasa girang sekali ketika mengenal pemuda itu. “Kakak Song Bu...” la berseru nyaring.

Pemuda itu memang Tan Song Bu. Seperti kita ketahui, Song Bu berpencar dari Ouw Yang Lan dan kekebetulan dia bertemu dengan Ouw Yang Hui yang dilarikan Pangeran Yorgi. Dia bertanding dengan Pangeran Yorgi, mampu mendesaknya sehingga Pangeran Yorgi melarikan diri, akan tetap selagi dia bertanding dengan penculik itu, Ouw Yang Hui dilarikan orang lain.

Song Bu menjadi penasaran sekali karena kehilangan jejak penculik baru itu. Dia lalu mencari terus. Dia merasa telah jatuh hati kepada Ouw Yang Hui yang lembut dan cantik jelita. Maka dia berjanji dalam hatinya bahwa dia tidak akan berhenti mencari sebelum dia bisa menemukan kembali Ouw Yang Hui yang diculik. Dia harus menyelamatkan gadis yang dulu menjadi sumoinya (adik seperguruannya) dan yang sekarang telah menjatuhkan hatinya itu.

Secara kebetulan ketika dia sudah tiba di tempat yang tidak begitu jauh lagi dari kota raja, dia melihat rombongan wanita berpakaian merah yang menunggang kuda itu. Dia menjadi Curiga dan sengaja menghadang di tengah jalan untuk meneliti siapa adanya rombongan itu. Ketika para anak buah Ang I Tok-Tin itu berseru agar dia minggir agar tidak tertabrak, Song Bu sudah bergerak ke pinggir.

Akan tetapi pada saat itu dia mendengar seruan Ouw Yang Hui yang memanggil namanya. Ia mengenal suara itu dan dia melihat bahwa Ouw Yang Hui berada di atas kuda yang terakhir diboncengkan seorang wanita. Dia menjadi marah dan menduga bahwa enam orang wanita berpakaian merah ini tentu penculik gadis itu.

Maka sambil bergerak ke pinggir, kedua tangannya didorongkan ke arah dua orang penunggang kuda terdepan. Dua orang wanita baju merah terkejut dan berseru sambil melompat dan berjungkir balik dari atas kuda. Kalau mereka tidak melakukan gerakan ini tentu mereka akan terjungkal dari atas kuda karena dorongan tangan itu mengandung hawa pukulan yang amat kuat!

Melihat ini, Ang Hwa terkejut sekali. Apa lagi ia melihat pemuda itu mencabut sebatang pedang yang mengeluarkan sinar biru. Ang Hwa menghentikan kudanya, demikian pula tiga orang anak buahnya yang masih menunggang kuda. Seperti biasa, Ang Hwa hendak menggunakan nama Pek-Lian-Kauw untuk menghindari dari perkelahian. la mengeluarkan bendera kecil bergambar teratai putih itu dan memperlihatkan kepada Song Bu.

“Sobat, kami tidak mencari permusuhan. Harap minggir dan biarkan kami lewat!” katanya. Biasanya, orang yang berniat buruk setelah melihat bendera itu tentu akan mundur karena jerih untuk bermusuhan dengan Pek-Lian-Kauw.

Akan tetapi, begitu melihat bendera itu makin yakinlah hati Song Bu bahwa orang-orang ini memang telah menculik Ouw Yang Hui. Bukankah menurut cerita Ibu Ouw Yang Hui, bahwa yang menculik gadis itu mengenakan baju yang ada tanda gambar teratai putih?

“Bagus! Kalian orang-orang Pek-Lian-Kauw telah menculik orang! Hayo bebaskan adikku Ouw Yang Hui itu atau terpaksa aku tidak akan bersikap sungkan lagi terhadap wanita-wanita jahat macam kalian!” bentak Song Bu sambil mengelebatkan pedangnya.

Mendengar ini, Ang Hwa terkejut dan maklum bahwa perkelahian melawan orang itu tidak akan dapat dihindarkan lagi. Maka ia lalu menotok pundak Ouw Yang Hui sehingga tubuh wanita itu menjadi lemas tidak mampu bergerak. Setelah menurunkan Ouw Yang Hui dan membiarkan tubuhnya terkulai roboh, ia lalu memberi isyarat kepada lima orang anak buahnya dan mereka semua berloncatan dan mengepung Song Bu dengan sepasang pisau belati beracun di tangan masing-masing.

“Agaknya engkau sudah bosan hidup!” kata Ang Hwa yang memindahkan pisau di tangan kirinya ke tangan kanan sehingga tangan kanan itu memegang dua batang pisau sedangkan tangan kirinya mengambil sesuatu dari kantung di pinggangnya.

“Hemm, kalau kalian tidak mau membebaskan gadis itu, kalianlah yang bosan hidup!”

“Katakan siapa namamu agar jangan mati tanpa nama dan kami dapat melaporkan ke atasan kami!” kata pula Ang Hwa, tangan kirinya telah membawa segenggam paku kecil beracun.

“Memang sebaliknya kalian ketahui siapa yang telah mengalahkan dan membunuh kalian. Namaku Tan Song Bu dan orang-orang menyebut aku Hek-Liong Tahiap (Pendekar Besar Naga Hitam)!”

Baru saja Song Bu berhenti bicara, Ang Hwa sudah menggerakkan tangan kirinya dan serangkum sinar hitam menyambar kearah tubuhnya. Paku-paku kecil beracun itu menyambar ke arah muka, leher dada dan perut! Sungguh berbahaya sekali serangan ini. Paku-paku meluncur cepat sekali karena digerakkan tenaga Sinkang yang kuat dan sebatang paku saja sudah cukup untuk mencabut nyawa karena mengandung racun yang amat berbahaya!

Akan tetapi sejak Ang Hwa mengambil senggaman paku dalam tangan dari dalam saku kirinya tadi, Song Bu telah mengetahuinya dan dia telah waspada. Maka ketika Ang Hwa menggerakkan tangan dan Sinar sinar hitam menyambar, tubuhnya telah meloncat ke atas, melalui atas kepala para pengepungnya dan dia turun di dekat Ouw Yang Hui. Cepat dia membebaskan totokan gadis itu hingga dapat bergerak lagi.

“Bu-Ko, hati-hatilah.” Ouw Yang Hui memperingatkan. “Mereka berbahaya sekali.”

“Tenangkan hatimu, Hui-moi, berdirilah didekat batang pohon besar itu. Aku akan melindungimu dan akan kubasmi perempuan perempuan iblis ini.” kata Song Bu sambil mendorong pundak Ouw Yang Hui dengan lembut ke arah sebatang pohon besar yang tumbuh di tepi jalan. Gadis itupun segera berlindung di bawah pohon. Song Bu memutar tubuhnya menghadapi enam orang anak buah Ang I Tok-Tin dengan pedang di tangan.

“Serbuuu...!” Ang Hwa memberi aba-aba dan enam orang gadis berpakaian merah itu menggerakkan tangan kiri mereka. Banyak sinar hitam lembut menyambar kearah Song Bu. Itu adalah senjata rahasia berupa jarum dan paku yang kesemuanya mengandung racun.

Akan tetapi dengan tenang Song Bu memutar pedangnya, Pedang itu lenyap bentuknya dan berubah menjadi gulungan sinar yang menjadi perisai, menjadi benteng sinar yang melindungi tubuhnya. Semua senjata rahasia itu terpental dan runtuh ketika bertemu dengan gulungan sinar itu. Melihat betapa serangan mereka gagal, Ang Hwa lalu memberi isarat dan enam orang itu serentak menyerang dengan sepasang pisau belati mereka.

Gerakan enam orang itu, terutama sekali Ang Hwa, amat cekatan dan setiap serangan pisau mereka didorong oieh tenaga yang cukup kuat. Akan tetapi, keistimewaan dan andalan regu pengawal Kim Niocu itu adalah penggunaan racun, maka mereka disebut Ang I Tok-Tin (Barisan Racun Berbaju Merah). IImu silat mereka tidak sehebat Hek I Kiam-Tin (Barisan Pedang Berbaju Hitam) yang memang memiliki keistimewaan bermain silat pedang.

Maka, pengeroyokan mereka itu tidak ada artinya bagi Song Bu. Ilmu pedang Coat-Beng Tok-Kiam (ilmu Pedang Racun Pencabut Nyawa) yang dimainkan amat hebat, pula ujung pedangnya juga mengandung racun yang ampuh. Gerakan pedang di tangan kanannya sudah lihai sekali, apa lagi dia masih menyelingi dengan pukulan tangan kirinya yang menggunakan Ang-Tok-Ciang (Tangan Racun Merah).

Ang Hwa terkejut bukan main ketika mengenal pukulan ampuh dari telapak tangan yang berubah merah itu. Maklumlah ia bahwa keadaan mereka terancam maut. Kalau masih lengkap sembilan orang sekalipun, rasanya tidak akan mungkin menandingi pemuda lihai ini. la teringat akan Wong Sin Cu, pemuda yang juga amat lihai itu. Pemuda yang dikeroyok bersama lima orang kawannya inipun tidak kalah tangguhnya.

“Wirrrr... singggg...” Angin menyambar-nyambar ketika gulungan sinar pedang Song Bu bergerak semakin cepat, dan seorang pengeroyok menjerit karena pahanya tergores ujung pedang. Dari luka paha itu menjalar rasa gatal dan ngilu ke tubuh dan anggauta Ang I Tok-Tin itu terjungkal roboh!

Melihat ini, Ang Hwa cepat membanting sesuatu ke atas tanah. Terdengar suara ledakan keras dan asap hitam tebal mengepul. Song Bu cepat melompat ke dekat pohon, menarik tangan Ouw Yang Hui dan mengajaknya menjauhi asap tebal karena dia khawatir kalau asap itu mengandung racun. Terdengar derap kaki kuda dan enam orang anggauta Ang I Tok-Tin itu sudah melarikan diri dengan menunggang kuda mereka, tersembunyi oleh asap hitam tebal.

“Bu Ko...!” Ouw Yang Hui terisak.

Song Bu cepat memeluknya. Ouw Yang Hui menangis sambil bersandar di dada yang bidang itu dan Song Bu merasa berbahagia sekali. Dia membiarkan gadis itu menangis di atas dadanya. Air mata yang hangat itu menembus baju dan membasahi dadanya. Terasa olehnya seolah air mata itu meresap ke dalam dada membasahi dan menghangatkan jantungnya. Tanpa disadarinya, dia menggunakan lengannya untuk mendekap kepala gadis itu dengan perasaan kasih sayang yang berkembang.

“Hui-moi! Jangan menangis lagi, jangan takut, bahaya telah lewat dan aku akan melindungimu.”

Ouw Yang Hui menahan tangisnya dan ia merasa betapa kuat dan mesranya rangkulan Song Bu kepadanya, betapa lembut dan hangatnya kata-kata yang keluar dari mulut pemuda itu. Perlahan-lahan ia melepaskan diri dari rangkulan Song Bu. Mereka berdiri berhadapan, saling pandang.

“Bu-Ko, aku bersyukur sekali dapat bertemu denganmu di sini sehingga engkau dapat membebaskan aku dari tangan orang-orang Pek-Lian-Kauw. Akan tetapi bagaimana engkau dapat begini kebetulan muncul di sini?”

“Bukan kebetulan, Hui-moi. Setelah kau diculik orang ketika aku bertanding melawan orang bergigi emas itu, aku terus mencarimu. Hampir aku putus asa karena hampir dua bulan sudah aku mencari-cari tanpa hasil. Syukur saat ini aku dapat menolongmu dan engkau berada dalam keadaan sehat.”

Ouw Yang Hui merasa hatinya perih. Rasanya baru kemarin ketika Song Bu menolongnya dari tangan Pangeran Yorgi dan pada waktu itu ia masih seorang gadis yang belum ternoda. Akan tetapi sekarang, Ia telah diperisteri Bhong Lam, bahkan ia telah mengandung anak keturunan Bhong Lam yang kini telah tewas secara mengerikan. la menuding ke arah batu-batu yang berada di bawah pohon itu.

“Mari kita duduk dan bicara, Bu-Ko, Kita belum sempat bicara ketika engkau menemukan aku lalu bertanding melawan penculikku dulu. Ceritakanlah semua pengalamanmu, Bu-Ko. Aku ingin sekali mendengarnya.”

“Baik, akan kuceritakan. Akan tetapi setelah aku bercerita, engkaupun harus menceritakan pengalamanmu, Hui-moi.” Setelah gadis itu mengangguk, Song Bu melanjutkan.

“Aku merasa menyesal sekali bahwa setelah pertemuan antara kita di Nam-Po dahulu, aku memberitahu kepada Suhu tentang dirimu sehingga Suhu bertindak kejam, membunuh Cia-Ma dan berusaha keras untuk membunuhmu pula. Setelah aku mendengar bahwa Suhu membunuh Cia-Ma dan mencari hendak membunuhmu, aku bercerita tentang dirimu dan tentang kebaikan Cia-Ma yang telah membesarkanmu, menyayangmu, sebagai anak sendiri. Suhu menyadari kesalahan dan kekeliruannya, lalu menyuruh aku untuk pergi mencarimu sampai dapat dan membawamu ke kota raja.”

“Aku tidak mau ikut Ayah. Dia seorang yang berhati kejam, hendak membunuh Ibu ketika dulu Ibu kembali ke Pulau Naga diantar oleh pendekar Gan Hok San yang kini menjadi Ayah tiriku. Padahal Ibu tidak bersalah apa-apa.”

“Aku tidak akan membawamu kepada Suhu, Hui-moi.”

“Terima kasih, Bu-Ko. Sekarang lanjutkan ceritamu.”

“Ketika aku menerima perintah Suhu itu, aku merasa girang sekali. Hal itu amat kebetulan bagiku karena aku merasa tidak suka akan sikap Suhu terhadap dirimu. Juga aku tidak suka melihat kenyataan bahwa dia membawa aku mengabdi kepada Thaikam Liu Cin yang jahat. Aku tidak suka pula melihat rekan-rekan sekerja yang terdiri dari orang-orang kang-ouw golongan sesat walaupun dari mereka aku banyak menerima petunjuk tambahan ilmu. Maka, aku lalu cepat berangkat meninggalkan mereka untuk memenuhi perintah Suhu. Akan tetapi sampai lama aku mencari, tak juga aku menemukanmu, bahkan bertemu dengan adik Ouw Yang Lan.”

“Ahh, enci Lan...!” Ouw Yang Hui berseru girang. “Bagaimana dengan ia, Bu-Ko?”

“Nasibnya tidaklah seburuk nasibmu Hui-moi. Lan-moi dan Ibunya, Bibi Lai Kim, dibawa penculiknya, yaitu Thai-Lek-Kui Ciang Sek. Akhirnya, Bibi Lai Kim menjadi isteri Ciang Sek yang duda dan yang bersikap baik sekali terhadap Ibu dan anak itu. Lan-moi dilatih ilmu silat sehingga kini ia menjadi seorang gadis yang lihai sekali.”

“Sukurlah kalau begitu. Biarlah aku saja yang menderita kesengsaraan ini,” kata Ouw Yang Hui. “Lalu bagaimana, Bu-Ko?”

“Lan-moi dan aku membantu Ciang Sek ketika Suhu Ouw Yang Lee dan kawannya yang sakti bernama Tho-Te-Kong hendak membunuh Paman Ciang Sek dan Bibi Lai Kim. Setelah berhasil mengusir mereka, aku dan Lan-moi lalu pergi untuk mencari engkau dan Ibumu. Kami berhasil mengetahui bahwa Ibumu ditolong oleh Pendekar Siauw-Lim-Pai bernama Gan Hok San, maka kami lalu pergi ke Siauw-Lim-Si untuk mencari keterangan di mana tempat tinggal pendekar itu. Dan ketika kami tiba di sana, kami bertemu dengan bibi Sim Kui Hwa.”

“Memang benar, aku telah bertemu dengan Ibuku dan Ayah tiriku, dan karena terancam oleh Ayah yang hendak membunuh mereka, kami melakukan perjalanan ke Siauw-Lim-Si dan Ayah Ibu bermaksud pindah ke dekat Siauw-Lim-Si agar terlindung. Akan tetapi baru saja kami tiba di depan Kuil, aku sudah diculik orang.”

“Aku mendengar dari Ibumu akan hal itu. Maka, aku dan Lan-moi lalu melakukan pengejaran dan pencarian dengan berpencar. Akhirnya aku dapat bertemu dengan engkau yang diculik si gigi emas itu. Akan tetapi ketika kami sedang bertanding engkau lenyap dilarikan orang lain. Aku berhasil mengusir si gigi emas dan mencarimu tanpa hasil. Akhirnya aku dapat bertemu dengan engkau di sini dan berhasil membebaskanmu dari tangan wanita-wanita Pek-Lian-Kauw itu. Aku merasa beruntung sekali Hui-moi. Nah... sekarang giliranmu untuk bercerita tentang apa yang kau alami.”

Mendengar pertanyaan Song Bu, Ouw Yang Hui terkenang akan pengalamannya yang telah menghancurkan kebahagiaannya dan tak dapat ditahan lagi ia menangis tersedu-sedu. la berusaha untuk menahan tangis dan menutupi mukanya dengan kedua tangan, akan tetapi air matanya membanjir keluar melalui celah-celah jari tangannya. Pundaknya bergoyang-goyang dan tangis yang ditahan-tahannya itu mengguguk.

Song Bu terkejut sekali dan dia mengerutkan alisnya. Timbul perasaan iba besar terhadap gadis itu dan saat itu juga Ia merasa bahwa dia telah jatuh cinta kepada Ouw Yang Hui. Sebetulnya perasaan ini telah dirasakannya ketika untuk pertama kali dia bertemu dengan Ouw Yang Hui di Nam-Po, di rumah Cia-Ma.

Akan tetapi pada saat ini perasaan cinta itu terasa benar olehnya. Melihat gadis yang ketika kecil dianggapnya seperti seorang adiknya itu menangis sesenggukan, begitu menyedihkan, Song Bu tidak dapat menahan keharuan hatinya dan diapun merangkul gadis itu.

Ouw Yang Hui yang sedang hancur hatinya itu, ketika dirangkul, tangisnya semakin sedih dan sejenak ia menyandarkan mukanya di dada Song Bu seolah menemukan sandaran dan perlindungan. Beberapa saat lamanya mereka berada dalam keadaan seperti itu. Ouw Yang Hui berada dalam pelukan Song Bu dan menangis terisak-isak.

Setelah membiarkan gadis itu menangis dan tangisnya agak mereda, Song Bu menggunakan tangan kirinya mengelus rambut kepala Ouw Yang Hui penuh kasih sayang dan berkata dengan lembut, suaranya menggetar penuh perasaan.

“Hui-moi..., sudahlah, jangan menangis. Semua itu sudah lewat, kini tidak ada bahaya lagi yang mengancammu. Ada aku di sini, Hui-moi dan aku akan melindungimu, akan membelamu dengan taruhan nyawaku. Aku mencintamu Hui-moi, aku ingin engkau menjadi isteriku agar selamanya aku dapat melindungi dan membelamu...”

Mendengar ucapan yang penuh getaran kasih sayang ini, Ouw Yang Hui terkejut. Dengan lembut ia melepaskan dirinya dari pelukan Song Bu, mundur dua langkah dan tangisnya mendadak berhenti karena pernyataan cinta pemuda itu benar-benar mengejutkan hatinya. Setelah melepaskan diri dari pelukan dan melangkah mundur, Ouw Yang Hui memandang wajah Song Bu dengan wajah pucat dan kedua pipi masih basah air mata, akan tetapi ia tidak terisak lagi. la menggeleng kepala.

“Tidak... tidak, jangan... jangan mencinta aku, Bu-Ko. Jangan mencintai diriku...!”

Song Bu memandang heran dan perasaannya terpukul. “Akan tetapi, kenapa, Hui-moi? Kenapa engkau melarang aku mencintamu? Aku sungguh cinta padamu, Hui-moi!”

“Tidak! Jangan, Bu-Ko. Maafkan, aku tidak dapat menerima cintamu.” Ouw Yang Hui menundukkan mukanya dan dia menjadi sedih sekali.

“Akan tetapi kenapa, Hui-moi? Apakah engkau... hendak mengatakan bahwa engkau tidak cinta padaku?”

“Bukan begitu, Bu-Ko, akan tetapi ketahuilah bahwa aku... aku sudah bertunangan dengan Koko Sin Cu...”

Song Bu merasa seolah dadanya terpukul. Wajahnya berubah pucat dan suaranya terdengar lirih tak bersemangat, “Sin Cu... Siapa dia?”

“Cu-Ko adalah seorang pemuda yang telah menolongku ketika aku hendak dibunuh Ayah Ouw Yang Lee dahulu setelah ia membunuh Cia-Ma, Bu-Ko. Koko Sin Cu pula yang mengantarkan aku mencari Ibuku dan akhirnya aku dapat bertemu dengan Ibu dan Ayah tiriku Gan Hok San. Dia juga membantu kami ketika Ayah Ouw Yang Lee bersama seorang wanita jahat bernama Cui-Beng Kui-Bo datang menyerang kami. Karena merasa terancam, Ayah tiriku lalu mengajak kami pindah ke dekat Kuil Siauw-Lim-Si. Cu-Ko juga ikut mengantar setelah kami merayakan pertunangan kami, akan tetapi di depan Kuil itu, aku diculik orang bergigi emas itu.”

Hati Song Bu merasa terpukul dan kecewa sekali mendengar gadis yang cintanya ini ternyata telah bertunangan dengan laki-laki lain. Akan tetapi dia menekan perasaan kecewanya. Dia harus dapat melihat kenyataan itu, kenyataan yang tidak mungkin diubah pula.

“Engkau bertunangan dengan Sin Cu itu karena suka rela dan tidak dipaksa, Hui-moi?”

Ouw Yang Hui mengangguk, maklum akan kekecewaan hati bekas suhengnya itu.

“Dan engkau dengan dia? Engkau saling mencinta?”

Kembali Ouw Yang Hui mengangguk.

“Hemm, kalau begitu aku hanya mendoakan semoga engkau hidup berbahagia dengan tunanganmu itu kelak, Hui-moi. Selanjutnya bagaimana ceritamu? Ketika aku berkelahi dengan si gigi emas, engkau dilarikan orang lain dan bagaimana akhirnya dapat terjatuh ketangan enam orang wanita itu...?”

Selanjutnya,
SEPASANG RAJAH NAGA JILID 28