|
| Karya Kho Ping Hoo |
Sepasang Rajah Naga Jilid 26 - PADA saat itu, lima orang anak buah bajak berenang cepat sekali ke arah mereka. Para bajak sungai itu tentu saja mahir berenang. Melihat ini, Sin Cu mendorong pundak Ouw Yang Lan sehingga tubuh gadis itu meluncur ke samping.
“Lan-moi, cepat berenang ke tepi!” kata Sin Cu dan dia sendiri lalu berenang menyambut lima orang bajak itu.
Ouw Yang Lan terkejut dan kagum. Kiranya Sin Cu pandai sekali bermain di air, dapat berenang seperti ikan cepatnya. la maklum bahwa di dalam air, ia tidak berdaya melawan para bajak, maka ia menurut desakan Sin Cu tadi, berenang secepatnya ke arah tepi sungai. Setelah ia melompat ke darat, ia cepat memandang ke tengah sungai. Dan ia menjadi semakin kagum.
Sin Cu menerjang lima orang bajak itu bagaikan seekor ikan hiu menyergap sekelompok ikan yang menjadi mangsanya. Lima orang bajak itu berusaha untuk menyerang Sin Cu, akan tetapi Sin Cu dapat bergerak dengan tangkas dan cepat sekali. Tubuhnya menyelam dengan cepat lalu muncul dipermukaan sebelah belakang lima orang itu. Ketika bajak-bajak itu membalikan tubuh, Sin Cu membagi-bagi tamparan.
Para bajak itu mengaduh-aduh dan berenang menjauh, takut melawan karena tamparan satu kali itu saja sudah cukup membuat mereka hampir pingsan, Mendadak ada serangan yang amat dahsyat dari arah kanan Sin Cu. Sin Cu yang pernah digembleng oleh Can Kui dalam ilmu bermain dalan air, tahu bahwa serangan yang hebat mengancamnya dari arah kanan bawah permukaan air.
Cepat ia berusaha untuk membuang tubuhnya ke kiri dan berjungir balik menyelam, Sebatang tombak muncul keluar dari permukaan air setelah luput mengenai tubuh Sin Cu. Penyerang itu bukan lain adalah Ho-Coa-Ong Ci Song (Raja Ular Sungai)! Tentu saja sebagai kepala bajak sungai dan sesuai dengan julukannya “Raja Ular Sungai” Ci Song adalah seorang ahli bermain dalam air.
Dia bersenjata tombak pula. Dengan tombaknya itu, Ci Song dapat menangkap ikan dalam air. Akan tetapi kini dia bertemu tanding yang berat. Gerakan Sin Cu demikian lincah dan cepat sehingga serangan tusukan tombaknya yang bertubi-tubi itu tak pernah mampu menyentuh tubuh Sin Cu. Pemuda itu bergerak cepat bukan main, Tiada ubahnya seperti seekor ikan hiu!
Ouw Yang Lan berdiri di tepi sungai dan menonton dengan mata terbelalak, kagum dan juga khawatir. Dia melihat betapa Sin Cu dihujani serangan oleh kepala bajak sungai yang berkepala botak itu. Tubuh si botak yang tinggi kurus itu bergerak lincah seperti seekor ular sungai, kadang menyelam, kadang meluncur di permukaan air. Akan tetapi Ouw Yang Lan melihat betapa gerakan Sin Cu lebih hebat lagi. Pemuda itu kadang menghilang dan tahu-tahu muncul di belakang lawan.
“Mampus kau...!” Ci Song yang sudah menjadi penasaran dan marah sekali membalikkan tubuh menusuk dengan tombaknya ke arah dada Sin Cu yang muncul di permukaan air.
Sin Cu sekali ini tidak mengelak jauh atau menyelam. Ketika tombak mendekati dadanya, dia hanya miringkan tubuh dan membuka lengan kanannya. Tombak meluncur dekat dengan dada kanan dan lengan kanan Sin Cu turun menjepit tombak itu dengan dadanya. Ci Song terkejut, berusaha menarik tombanya, akan tetapi tombak tidak dapat terlepas dari jepitan lengan Sin Cu.
Selagi mereka bersitegang, tiba-tiba kaki kiri Sin Cu mencuat dan menendang perut lawan. Tubuh Ho-Coa-Ong Ci Song terpental dan tombaknya terlepas dari jepitan dan dia terengah-engah, agaknya kesakitan oleh tendangan yang mengenai perutnya tadi. Sin Cu juga melihat dan mengenal Ouw Yang Lee dan Im Yang Tojin yang berada diatas sebuah perahu. Dia mengkhawatirkan keselamatan Ciang Lan karena maklum betapa lihainya Ouw Yang Lee dan Im Yan Tojin.
Maka dia tidak memperdulikan lagi kepada Ci Song yang marah sekali dan yang mulai berenang mengejarnya. Namun, dalam lumba renang menuju tepi sungai inipun Ci Song masih kalah jauh dan Sin Cu lebih dulu tiba di darat. Pemuda ini kagum melihat Ciang Lan berdiri di tepi sungai dengan pedang di tangan, siap menghadapi lawan. Rambutnya basah, pakaiannya basah kuyup, sehingga pakaian itu menempel ketat di tubuhnya, membuat lekuk lengkung tubuh itu tampak menonjol jelas.
Gadis itu memandang kepadanya dengan kagum. “Ilmu renangmu hebat sekali, Cu-Ko!” katanya dan ketika melihat kepala bajak yang membawa tombak itupun sudah mendekati tepi sungai, ia berkata lagi. “Jangan khawatir, Cu-Ko. Kalau di darat, akulah yang akan menghajar mereka. Biar aku hadapi anjing ini!”
Ho-Coa-Ong Ci Song sudah melompat ke darat. Dia seorang yang bertubuh tinggi kurus, berwajah tikus dengan kepala botak, kesannya tidak menyeramkan sebagai kepala bajak, melainkan lucu sehingga tidak aneh kalau Ouw Yang Lan yang berwatak lincah gembira itu tertawa geli melihatnya.
“Hi-hi-hik, lucunya! Cu-Ko, kau lihat, dia ini seperti seekor tikus botak tercebur minyak. Bawa-bawa tombak lagi, hi... hik, lucu sekali!” kata Ouw Yang Lan sambil terkekeh geli.Sin Cu mau tidak mau tersenyum. Gadis ini sungguh tabah luar biasa, padahal ada bahaya besar mengancamnya.
Ci Song menjadi marah bukan main. Dia meloncat-loncat dan mencak-mencak. “Keparat! Aku adalah Ho-Coa-Ong Ci Song yang merajai daerah sungai ini dan kalian berani menghinaku? Nyawa kalian telah berada di ujung tombakku! Hayo kalian berlutut dan menyerah sebelum aku menjadi marah dan mata gelap lalu membunuhmu!”
“Hi-hik, tikus comberan! Engkaulah yang akan mampus, karena engkau menjemukan!” kata Ouw Yang Lan dan ia sudah menerjang ke depan, mengelebatkan pedangnya sambil membentak, “Lihat pedangku!”
Ci Song melihat teman-temannya juga sudah mulai mendarat dan dia hendak berlagak gagah. Dia melompat ke belakang menghindarkan diri dari serangan pedang Ouw Yang Lan. Lalu berkata dengan sikap dan suara dibikin gagah.
“Nona, aku Ho-Coa-Ong Ci Song adalah seorang laki-laki sejati, seorang jantan yang gagah perkasa dan tidak ingin menghina seorang wanita muda! Aku ingin bertanding dengan pemuda itu yang sudah berani menghinaku!”
Dia menudingkan tombaknya ke arah Sin Cu. Biarpun dia harus mengakui bahwa tadi ketika bertanding di air dia tidak mampu mengalahkan pemuda itu, namun dia yakin bahwa hal itu karena pemuda itu lihai bukan main ilmunya dalam air. Akan tetapi dia memiliki ilmu tombak yang lihai, dan kalau bertanding di darat dia yakin akan mampu mengalahkan pemuda itu.
Akan tetapi Ouw Yang Lan menudingkan pedangnya ke arah hidung orang itu. “Jangan banyak alasan kosong. Kalau engkau tidak berani melawan aku, hayo berlutut delapan kali minta ampun dan benturkan kepala botakmu ke atas tanah sampai berdarah, baru aku mau mengampunimu!”
Sepasang mata yang sipit itu dibelalakkan, muka yang tadinya agak pucat itu menjadi merah sekali. Kemarahan sudah menjalar naik ke kepala Ho-Coa-Ong Ci Song dan sambil berteriak nyaring dia sudah berlari maju sambil menggerakkan tombaknya, langsung saja menyerang Ouw Yang Lan dengan. tusukan kuat ke arah dadanya. “Haaiiiittt...!” Tombak meluncur dengan cepat sekali.
Ouw Yang Lan dapat melihat bahwa gerakan orang itu cukup gesit dan ujung tombak yang bergetar itu menunjukkan bahwa tenaga si botak itupun cukup kuat. “Eiittt...” Ouw Yang Lan mengelak dan tombak itu meluncur di samping tubuhnya. Akan tetapi dengan cepat sekali Ci Song sudah memutar tombaknya dan kini tombak itu menghantam ke arah kepala gadis itu. Ouw Yang Lan menggerakkan pedangnya menangkis.
“Tranggg...!” Bunga api berpijar ketika mata tombak bertemu pedang dan keduanya terdorong ke belakang. Ouw Yang Lan mundur dua langkah dan Ci Song mundur tiga langkah, membuktikan bahwa bagaimanapun juga, Ouw Yang Lan masih menang kuat.
Akan tetapi gadis ini berhati-hati karena harus diakui bahwa kepala bajak ini memiliki ilmu silat yang cukup lihai. Tentu saja Ci Song merasa malu kalau sampai kalah oleh seorang gadis muda, lagi di depan banyak orang, di depan anak buahnya dan terutama sekali di depan Tung-Hai-Tok Ouw Yang Lee dan Im Yang Tojin. Maka dia segera memutar tombaknya dan menyerang dengan dahsyat, mengeluarkan semua ilmu tombaknya yang paling lihai dan mengerahkan seluruh tenaganya.
Akan tetapi yang dihadapinya bukan gadis sembarangan. Sejak kecil Ouw Yang Lan telah digembleng ilmu silat oleh datuk-datuk yang lihai. Pertama, sebagai dasar, dara ini dilatih oleh Ouw Yang Lee, kemudian sejak berusia delapan tahun sampai dewasa ia digembleng oleh Ayah tirinya, Thai-Lek-Kui Ciang Sek yang menyayangnya. Maka ia telah menguasai ilmu silat yang tinggi dan memiliki tenaga sinkang yang amat kuat.
Kini ia memainkan pedangnya dengan ilmu pedang Lo-Thian Kiam-Sut yang merupakan ilmu pedang andalan Ayah tirinya. Pedangnya lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar bergulung-gulung sehingga Ci Song merasa terkejut sekali. Dia berusaha mempertahankan diri sekuat tenaga, akan tetapi lewat tiga puluh jurus, pandang matanya mulai bekunang-kunang.
Gerakan pedang itu sedemikian cepatnya sehingga Ci Song kini hanya mampu melindungi dirinya saja dengan cara memutar tombaknya, hanya dapat menangkis tanpa dapat membalas serangan Ouw Yang Lan. Akan tetapi pertahanannya masih cukup kuat dan rapat sehingga pedang dara perkasa itu belum dapat melukainya.
Ouw Yang Lan menjadi penasaran sekali. “Hyaaaaaattt...!” Pedangnya meluncur, menusuk ke arah leher lawan. Ci Song menggerakkan tombaknya menangkis.
“Takkk...!” Ouw Yang Lan menggunakan sinkang sehingga timbul tenaga yang menempel melalui pedangnya. Tombak itu melekat pada pedang dan selagi Ci Song yang terkejut itu berusaha untuk melepaskan tombaknya dari lekatan pedang, kaki Ouw Yang Lan sudah mencuat dengan kecepatan kilat. Itulah satu jurus dari ilmu tendangan Soan-Hong-Twi. Kaki kiri yang yang kecil itu mencuat ke atas.
“Bukkk...!” Dada Ci Song disambar kaki dengan kuat sekali. Tubuh si botak tinggi kurus itu terpental sampai tiga meter dan jatuh terbanting dengan keras. Karena jatuhnya menelungkup, maka muka dan perutnya menimpa tanah dengan keras dan dia tak mampu bangkit lagi, setengah pingsan dan harus ditolong bangkit dan dipapah anak buahnya.
Kini Ouw Yang Lee dan Im Yang Tojin yang tadi hanya menonton saja pertandingan antara Ouw Yang Lan dan Ho-coa ong Ci Song itu melangkah maju mengdapi Ouw Yang Lan. “Lan-ji (Anak Lan), sudahlah jangan menentang kami. Mengingat bahwa bagaimanapun engkau adalah anak kandungku, biarlah kumaafkan engkau dan mulai sekarang engkau berdiri dipihakku, membantu Ayahmu sebagai seorang anak yang berbakti dan baik.”
Ucapan Ouw Yang lee ini tentu saja amat mengejutkan hati Sin Cu. Gadis yang bernama Ciang Lan itu anak kandung Ouw Yang Lee? Jadi kalau begitu ia saudara Ouw Yang Hui? Pantas saja ada kemiripan dengan tunangannya itu. Akan tetapi Ouw Yang Lan menghadapi Ayah kandungnya dengan tangan kiri bertolak pinggang, pedang di depan dada dan matanya mencorong penuh kemarahan.
“Ouw Yang Lee! Jangan sebut aku anak Lan. Aku bukan anakmu lagi dan engkau bukan Ayahku!” kata Ouw Yang Lan galak.
“Hemm, namamu Ouw Yang Lan. Siapa lagi Ayah kandungmu kalau bukan aku Ouw Yang Lee? Engkau hendak menyangkal Ayah kandungmu sendiri?” kata Ouw Yang Lee marah.
Ouw Yang Lan menudingkan pedangnya ke arah muka Ayah kandungnya itu. “Tidak sudi aku mempunyai seorang Ayah yang amat jahat! Engkau hendak membunuh isteri-isterimu sendiri, hendak membunuh anak-anakmu! Engkau hendak membunuh Ayah Ciang Sek yang begitu baik telah menolong aku dan Ibu. Engkau bahkan merendahkan diri menjadi antek Thaikam Liu Cin yang jahat. Aku akan membunuhmu!”
“Siancai... Ouw Yang Sicu, kenapa anak begini dikasih hati? Anak yang durhaka kepada Ayahnya lebih jahat daripada seorang musuh yang kejam!” kata Im Yang To-jin. “Biar pinto yang menghajarnya untukmu...!”
“Totiang, jangan ikut campur! Kalau dia harus mati, biar aku sendiri yang akan membunuhnya!” bentak Ouw Yang Lee yang sudah menjadi marah sekali mendengar ucapan anaknya yang amat menghinanya tadi.
“Bagus! Engkau atau aku yang akan mati! Lebih baik mati daripada menjadi anak manusia iblis seperti engkau dan nama ikut tercemar menjadi busuk!”
“Anak durhaka!” Ouw Yang Lee marah sekali. Semenjak mengabdikan diri kepada Thaikam Liu Cin di kota raja, datuk ini tidak pernah lagi membawa senjatanya yang terkenal, yaitu sebatang dayung baja. Kini dia mencabut pedangnya karena dia sudah tahu bahwa puterinya ini telah digembleng oleh Thai-Lek-Kui Ciang Sek yang menjadi Ayah tiri anak itu dan telah menjadi seorang gadis yang lihai.
Bahkan dia pernah bertanding melawan Ouw Yang Lan, akan tetapi ketika itu gadis ini dibantu oleh Gu Tian, sute dari Ciang Sek, sehingga dia kalah dan terpaksa melarikan diri. Kini gadis itu maju seorang diri melawannya dan dia merasa yakin akan dapat membunuh anak ini.
Akan tetapi Ouw Yang Lan juga sudah marah sekali. la membenci Ayah kandung ini setelah mendengar dari Song Bu tentang Ayahnya itu. Ayahnya itu jahat sekali, berusaha membunuh Ouw Yang Hui kemudian berusaha pula membunuh Ibu Sim Kui Hwa dan juga hendak membunuh Ibunya dan Ayah tirinya yang baik. Dan Ayahnya juga menjadi kaki tangan Thaikam Liu Cin untuk membunuh orang-orang yang tidak berdosa di kota raja. Kini, tanpa banyak cakap lagi ia mendahului, menerjang Ayahnya dan mengirim serangan maut dengan pedangnya.
“Singgg... tranggg...!” Ouw Yang Lee menangkis dan dua batang pedang bertemu mengakibatkan gadis itu terhuyung ke belakang, akan tetapi Ouw Yang Lee juga merasa lengannya tergetar dan dia mundur dua langkah.
Namun Ouw Yang Lan tidak menjadi jerih bahkan dengan semangat berkobar ia menerjang lagi dan mengirim serangan bertubi-tubi. Serangan gadis itu cukup berbahaya, maka Ouw Yang Lee lalu menggerakkan pedangnya, menangkis dan balas menyerang. Terjadilah perkelahian yang sengit dan mati-matian antara Ayah dan anak kandung itu.
Im Yang Tojin tidak mau mencampuri perkelahian antara Ayah dan anak itu karena sudah dilarang Ouw Yang Lee. Melihat seorang pemuda yang tadi menyelamatkan gadis itu dari air dan pemuda itu kini berdiri diam saja, dia lalu menghampiri. Im Yang Tojin pernah bertemu dan bertanding melawan Sin Cu, bahkan pernah dikalahkan pemuda itu ketika dia berusaha membunuh Pangeran Ceng Sin sekeluarga akan tetapi Sin Cu muncul dan melindungi keluarga itu.
Akan tetapi sekarang dia tidak mengenal Sin Cu. Juga tadi Ouw Yang Lee tidak mengenalnya. Padahal datuk inipun pernah dikalahkan Sin Cu ketika pemuda itu membela Ouw Yang Hui yang hendak dibunuh olehnya. Hal ini adalah karena tadi ketika masih berada di perahu dengan Ouw Yang Lan, jarak antara mereka masih cukup jauh, dan sekarang keadaan Sin Cu memang membuat dia sukar dikenali. Pakaiannya basah kuyup, rambutnya juga basah dan awut-awutan, sebagian rambut basah itu menutupi mukanya.
Karena melihat betapa pemuda itu tadi dalam air sanggup mengalahkan Ho-Coa-Ong Ci Song, Im Yang Tojin dapat menduga bahwa pemuda ini tentu memiliki ilmu kepandaian yang lumayan dan sebagai kawan Ouw Yang Lan tentu harus ditangkap pula. Im Yang Tojin memang rnemiliki watak tinggi hati dan mengagulkan kepandaian sendiri.
Dia memandang rendah kepada Sin Cu. Setelah berhadapan dia berkata, “Orang muda, berlututlah sebagai tanda menyerah agar pinto tidak perlu harus menggunakan kekerasan merobohkanmu.”
Sin Cu menatap wajah Tosu itu dan berkata, “Im Yang Tojin, sungguh menyedihkan sekali melihat seorang murid Im-Yang-Kauw merendahkan diri menjadi antek Thaikam Liu Cin dan melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Engkau mencemarkan nama besar Im-Yang-Kauw dengan semua sepak terjangrnu ini!”
Im Yang Tojin terkejut dan merasa heran, akan tetapi perasaan marahnya lebih besar. “Keparat! Berani engkau bicara seperti itu kepada pinto? Engkau bosan hidup!” Setelah berkata demikian, Im Yang Tojin menekuk lutut kirinya, tangan kiri menyentuh tanah dan tangan kanan menuding ke atas. Inilah pembukaan Im-Yang Sin-Ciang (Tangan Sakti Im Yang) yaitu ilmu yang amat dahsyat dan terkenal dari Im-Yang-Kauw.
Sin Cu sebagai murid Bu Beng Siauwjin, seorang datuk besar Im-Yang-Kauw, tentu saja mengenal pembukaan Im-Yang Sin-Ciang ini. Dia siap dengan waspada. Ketika Im Yang Tojin melakukan serangan, meloncat dan kedua tangannya menyerang ke arah kepala dan perut, Sin Cu menggerakkan tubuhnya dengan Chit-Seng Sin-Po sehingga serangan pertama Tosu itu luput.
Im Yang Tojin menjadi penasaran dan menyusulkan serangan bertubi-tubi. Akan tetapi karena Sin Cu sudah hafal akan jurus-jurus Im-Yang Sin-Ciang, dan dia mempergunakan langkah-langkah ajaib Chit-Seng Sin-Po, maka dengan mudah dia dapat menghindarkan diri dari semua serangan itu. Bahkan dia sempat pula memecah perhatiannya dan melihat ke arah perkelahian antara Ouw Yang Lan dan Ouw Yang Lee.
Dia melihat betapa Ayah itu berkelahi dengan sungguh-sungguh dan mendesak puterinya dengan serangan-serangan maut yang amat membahayakan sehingga gadis itu mulai terdesak. Biarpun Ouw Yang Lan telah mewarisi ilmu-ilmu yang tangguh dari Ciang Sek, namun menghadapi Ouw Yang Lee ia masih kalah pengalaman dan kalah matang.
Tingkat ilmu silat mereka memang seimbang, akan tetapi karena kalah pengalaman dan juga sedikit kalah kuat dalam tenaga sakti, Ouw Yang Lan mulai terdesak. Melihat ini, Sin Cu merasa khawatir. Dia lalu mengubah gerakannya, tubuhnya bergerak cepat sekali karena dia mengerahkan ginkang sehingga tubuhnya tak tampak, yang tampak hanya bayangan yang berkelebatan.
Im Yang Tojin terkejut bukan main melihat bayangan yang berkelebatan di sekeliling dirinya itu. Dia menyerang dengan ngawur, memukul atau menendang kearah bayangan yang berkelebatan, akan tetapi semua serangannya gagal. Sin Cu membalas serangannya dengan It-Yang-Ci. Saking cepatnya dia bergerak, lawannya tidak dapat menghindar lagi dan sebuah totokan mengenai dada kanan Im Yang Tojin.
Dia mengeluh dan rubuh terguling. Biarpun dia tidak sampai menjadi lumpuh, namun seluruh tubuh terasa lemah dan panas dingin. Jalan darahnya menjadi kacau dan Im Yang Tojin cepat menggulingkan tubuhnya menjauh, kemudian dia duduk bersila dan mengatur pernapasan untuk memulihkan keadaan dirinya.
Pada saat itu, Ouw Yang Lee yang sudah berbalik menjadi marah sekali kepada Ouw Yang Lan sehingga timbul kekejamannya dan dia seperti lupa bahwa yang diserang adalah anak kandungnya sendiri, sudah memainkan pedang sampai ke puncaknya. Pedangnya menyambar-nyambar dengan ganas dan kuat sekali.
Ouw Yang Lan berusaha melindungi dirinya dengan putaran pedangnya, namun setiap kali kedua pedang bertemu dia terhuyung dan Ayah kandungnya mulai mendesaknya dengan hebat, mengirim serangan-serangan maut tanpa mengenal ampun lagi. Ketika Ouw Yang Lan terdesak sampai terhuyung ke belakang, Ouw Yang Lee mengirim tusukan maut ke arah dada anaknya. Dalam keadaan gawat itu Ouw Yang Lan yang terhuyung tidak mungkin dapat menghindarkan diri dengan elakan, maka diapun cepat menangkis dengan pedangnya.
“Criing...!” Pedang Ouw Yang Lee yang ditangkis meleset dan masih mengenai pundak kiri gadis itu. Ujung pedang itu merobek baju bagian pundak itu dan merobek pula kulit pundaknya. Ouw Yang Lan melompat ke belakang, pundak kirinya berdarah. Sesosok bayangan berkelebat dan sudah berdiri di depannya, menghadapi Ouw Yang Lee yang hendak menyusulkan serangan berikutnya.
Ouw Yang Lan melihat bahwa orang itu adalah Sin Cu! la merasa heran dan menengok ke belakang, mencari-cari dengan pandang matanya karena tadi ia melihat Sin Cu bertanding melawan seorang Tosu. Ternyata Tosu itu kini duduk bersila sambil mengatur pernapasan, tanda bahwa Tosu itu terluka dan sedang menghimpun hawa murni untuk memulihkan kesehatannya. Hal ini hanya berarti bahwa Sin Cu telah mengalahkan Tosu itu. la menjadi heran dan juga kagum. Cepat ia memandang ke arah pemuda itu yang kini menghadapi Ayahnya dengan tangan kosong saja.
Ouw Yang Lee marah sekali melihat pemuda yang tadi seperahu dengan puterinya itu tiba-tiba menghadapinya. Saking marahnya, dia lupa akan harga dirinya sebagai seorang datuk persilatan dan tanpa mengeluarkan kata apapun dia langsung menerjang dan menyerang pemuda yang sama sekali tidak membawa membawa senjata itu! Perbuatan seperti ini sebetulnya melanggar kesopanan orang-orang yang menganggap dirinya gagah perkasa, apalagi bagi seorang datuk besar seperti Ouw Yang Lee.
Akan tetapi agaknya rasa penasaran karena tidak mampu merobohkan puterinya sendiri, kemarahan yang menyesak dada karena puterinya itu menentang bahkan menghinanya, membuat dia mata gelap dan tidak menghiraukan lagi segala macam aturan. Pedangnya menyambar ganas, membacok kearah leher Sin Cu dengan kuat sekali sehingga berdesing nyaring.
Melihat itu, Ouw Yang Lan terbelalak, jantungnya seperti berhenti berdetak karena ia khawatir sekali akan keselamatan Sin Cu. Akan tetapi ia terpukau kagum ketika melihat pemuda itu melangkah secara aneh dan pedang itupun luput. Bahkan ketika dengan amat cepatnya Ouw Yang Lee menyusulkan bacokan dan tusukan secara bertubi-tubi.
Pedang Ayahnya itu sama sekali tidak mampu menyentuh tubuh Sin Cu yang menghindarkan diri hanya dengan langkah-langkah yang aneh, Sin Cu memang mempergunakan Chit-Seng Sin-Po (Langkah Sakti Tujuh Bintang) untuk menghindarkan diri dari semua serangan Ouw Yang Lee.
Ketika langkahnya mundur, membuat dia mendekati Ouw Yang Lan, gadis itu berseru, “Cu-Ko, pakai pedangku!”
Sin Cu menoleh dan menyambut pedang yang dilemparkan ke arahnya. Ouw Yang Lee semakin marah melihat puterinya menyerahkan pedangnya kepada pemuda itu. Tadinya dia mengira bahwa pemuda itu tentu gentar padanya maka hanya mengelak saja. Dia masih belum mengenali pemuda itu dan kini dia menyerang lagi, mengerahkan tenaga dan membacokkan pedangnya dari atas, mengarah kepala pemuda itu, Sin Cu menangkis dan mengerahkan tenaga sakti pada tangan kanan yang memegang pedang.
“Haiiiitttt... tranggg...!” Hebat sekali pertemuan kedua pedang itu, sampai bunga api berpijar. Ouw Yang Lan sampai kagum melihat betapa pertemuan pedang itu membuat Ouw Yang Lee terhuyung-huyung ke belakang sedangkan Sin Cu tetap berdiri tegak. Ini membuktikan bahwa pemuda itu memiliki tenaga sinkang yang jauh lebih kuat dibandingkan Ayahnya.
Dan selama ini ia telah memandang rendah pemuda itu. la selalu bersikap dan bertindak melindungi! Padahal, Sin Cu ternyata seorang pemuda yang teramat lihai, baik di air maupun di darat. Bahkan tadi telah menyelamatkannya di air, dan kini membelanya di darat. Pemuda itu jauh lebih lihai daripada dia sendiri.
Teringat akan sikapnya yang selalu melindungi pemuda itu, wajah Ouw Yang Lan berubah merah sekali. la merasa amat malu kepada diri sendiri, kepada Sin Cu. Dan hatinya yang memang sudah amat tertarik kepada Sin Cu sejak pertemuan pertama, kini ditambah kekaguman yang mendalam sehingga perasaan kagum dan cinta dalam hatinya semakin berkembang.
Akan tetapi pada saat itu, Ho-Coa-Ong Ci Song memerintahkan anak buahnya untuk maju mengeroyok Ouw Yang Lan. Masih ada sepuluh orang anak buahnya yang belum terluka dan mereka ini, dengan golok di tangan, seperti berlumba, lari menghampiri Ouw Yang Lan dan menyerangnya.
Gadis itu mengerahkan ginkangnya. Akan tetapi begitu ia bergerak menghindarkan diri dari serbuan mereka dengan berloncatan, terasa olehnya betapa pundak kirinya perih dan panas. Baru ia teringat bahwa pundaknya telah terluka oleh ujung pedang Ayahnya dan baru ia teringat bahwa pedang Ayahnya itu tentu mengandung racun. Akan tetapi terlambat karena sepuluh orang anak buah bajak itu telah mengeroyok dan mendesaknya. Ouw Yang Lan menjadi marah sekali.
Kaki kanannya mencuat, tepat mengenai pergelangan tangan kanan seorang bajak. Golok orang yang tertendang pergelangan tangannya itu terlepas dan terlempar ke atas. Ouw Yang Lan cepat melompat dan menyambar golok itu. Setelah mendapatkan sebatang golok di tangan, gadis itu mengamuk! la tidak memperdulikan lagi luka di pundaknya, tidak perduli apakah luka itu berbahaya atau tidak. la memutar goloknya dengan cepat dan kuat.
Terdengar teriakan-teriakan kesakitan. Empat orang anak buah bajak terpelanting roboh dan terluka parah. Ketika yang enam orang lagi masih nekat menyerbu, mereka disambut gulungan sinar golok dan dua orang lagi roboh terluka, sedang yang seorang terlempar oleh tendangan kaki gadis perkasa itu.
Sisanya, tiga orang lagi, tentu saja menjadi jerih dan tanpa dikomando lagi, mereka melarikan diri. Mereka yang lukapun merangkak-rangkak melarikan diri ketakutan. Bahkan Ho-Coa-Ong Ci Song sendiri juga melompat ke sebuah perahu dan melarikan diri.
Dengan golok yang berlumuran darah di tangan, Ouw Yang Lan memutar tubuhnya memandang ke arah Sin Cu yang sedang bertanding melawan Ouw Yang Lee. Sin Cu kini sudah mendesak lawannya dengan permainan pedangnya yang bagi Ouw Yang Lee amat aneh dan tangguh. Ilmu pedang Pek-Liong Kiam-Sut (IImu Pedang Naga Putih) memang secara khusus dirangkai oleh Bu Beng Siauwjin.
Sebetulnya kalau Sin Cu memainkan ilmu pedang itu dengan menggunakan pedang Pek-Liong-Kiam, tentu akan lebih hebat lagi. Akan tetapi kini menggunakan pedang lainpun cukup kuat bagi Ouw Yang Lee yang kini hanya mampu bertahan sambil terdesak mundur.
Tiba-tiba Sin Cu yang sudah mendesak itu menggetarkan pedangnya. Ujung tergetar, tampak menjadi banyak dan dia membentak, “Kena...!!!”
Ouw Yang Lee masih berusaha untuk menangkis, akan tetapi dia bingung melihat ujung pedang di tangan sin cu berubah menjadi banyak. Tiba-tiba dia berseru kesakitan, pedang di tangannya terlepas dan dia terhuyung ke belakang, memegangi tangan kanan dengan tangan kiri. Tangan kanan itu terluka dan mengeluarkan banyak darah.
Melihat kadaan Ouw Yang Lee yang sudah terluka dan terhuyung ke belakang, Ouw Yang Lan cepat melompat dan membacokkan golok rampasannya ke arah kepala Ayah kandungnya itu, mengerahkan seluruh tenaganya.
“Singggg... trakkk...!!!”
Ouw Yang Lan terkejut sekali. Tangannya tergetar dan golok rampasannya patah menjadi dua potong. la memandang kepada Sin Cu dengan mata terbelalak karena ternyata pemuda itulah yang tadi menangkis goloknya sehingga ga goloknya patah. “Cu-Ko... kenapa engkau melindungi dia...?"
“Lan-moi, aku tidak melindungi dia, melainkan melindungimu agar engkau tidak melakukan perbuatan yang amat keji dan jahat, yaitu membunuh Ayah kandung sendri.”
“Tapi... tapi dia... oouuughh...!” Gadis itu terkulai dan Sin Cu cepat merangkulnya sehingga Ouw Yang Lan tidak sampai terjatuh.
Sin Cu melihat betapa Ouw Yang Lee dan Im Yang Tojin meninggalkan tempat itu. Juga para bajak laut sudah pergi semua. Dia tidak perduli lagi akan mereka. Dia memondong tubuh Ouw Yang Lan dibawanya ke bawah sebatang pohon yang rindang dan merebahkan tubuh gadis itu diatas rumput. Kemudian dia memeriksanya. Gadis itu pingsan dan dia melihat pundak kirinya berdarah.
“Biarkan dia pingsan agar aku dapat memeriksanya dan mengobatinya dengan leluasa,” pikirnya. Dengan hati-hati dirobeknya sedikit kain bagian pundak yang sudah berlubang itu dan dia melihat bahwa pundak itu terluka, kulitnya pecah dan luka itu mengeluarkan darah. Akan tetapi dia mengerutkan alisnya melihat betapa kulit yang putih kuning di sekitar luka itu berwarna hitam.
“Luka beracun! Kejam sekali Ayah itu,” gumamnya dan dia cepat menotok sekitar luka yang belum menghitam untuk mencegah racun tersebar makin luas. Setelah itu, dia menempelkan mulutnya pada luka di pundak dan mengerahkan tenaga mengecup untuk menyedot darah yang keracunan keluar dari luka.
Dia muntahkan darah berwarna hitam yang tersedot olehnya, kemudian mengecup lagi, dimuntahkan lagi. Pekerjaan ini diulang-ulangnya sampai perlahan-lahan warna menghitam di sekitar luka menghilang. Ketika Sin Cu mengecup lagi untuk yang terakhir kalinya, Ouw Yang Lan siuman dan mengeluh. la terkejut melihat muka Sin Cu begitu dekat dengan dadanya dan merasa betapa mulut yang panas itu mengecup pundaknya.
Hampir saja ia memukul, akan tetapi segera ia teringat bahwa pundaknya terluka keracunan dan tahulah ia bahwa pemuda itu sedang menyedot racun dari lukanya dengan mulut. Rasa haru, terima kasih, dan gembira memenuhi hatinya dan tanpa di sadarinya lagi kedua lengannya merangkul leher pemuda itu dan mulutnya mendesah lirih. “Cu-Ko...!”
Sin Cu terkejut. Sama sekali tidak mengira bahwa gadis itu akan siuman dari pingsannya sebelum dia selesai menyedot darah beracun. Akan tetapi racun itu telah bersih. Dia cepat melepaskan kecupannya, meludahkan darah terakhir yang sudah tidak berwarna hitam lagi. Kemudian dengan lengan bajunya yang masih setengah basah dia membersihkan biblrnya. “Luka di pundakmu sudah bersih dari racun, Lan-moi,” katanya.
Ouw Yang Lan bangkit duduk dan menatap wajah pemuda itu dengan mata bersinar-sinar, kedua pipinya kemerahan teringat betapa tadi tanpa disadarinya, terdorong oleh perasaan hatinya, ia telah merangkul leher pemuda itu dengan kedua lengannya. “Cu ko... terima kasih...”
“Tidak perlu berterima kasih, Lan-moi. lni pedangmu.” Dia menyerahkan pedang gadis itu. Setelah pedang diterima, Sin Cu mengumpulkan kayu dan daun kering untuk membuat api unggun.
“Untuk apa... siang-siang membuat api unggun Cu-Ko?”
“Pakaianmu basah kuyup. biar cepat kering, agar engkau tidak masuk angin. Mataharinya kurang panas siang ini, tertutup banyak awan tipis. Duduklah dekat api unggun Lan-moi, biar cepat kering pakaianmu.”
Ouw Yang Lan bangkit dan menghampiri lalu duduk dekat api unggun. Mereka duduk berdekatan dekat api unggun. Ouw Yang Lan menoleh ke arah sungai dan menghela napas panjang. “Sayang buntalan pakanan kita hilang sehingga kita tidak dapat berganti pakaian.”
“Lebih sayang lagi bekal obat luka yang berada dalam buntalanmu itu. Tentu akan banyak menolong untuk mengobati luka & pundakmu, Lan-moi.”
Ouw Yang Lan meraba pundak kirinya dan menutupkan kain baju yang robek. “Tidak apa, sekarang tidak terasa nyeri lagi, tinggal perih sedikit. Nanti juga mengering dan sembuh...“ Lalu matanya menatap wajah pemuda itu. “Cu-Ko... kalau tidak ada engkau yang menolongku, tentu aku akan tertangkap atau mati di tangan mereka. Aku berhutang nyawa kepadamu, Cu-Ko. Entah bagamana aku dapat membalas budimu.”
Sin Cu tersenyum. “Aih, kenapa kau sebut-sebut soal pertolongan, Lan-moi? Kalau mau bicara tentang balas budi, akulah yang harus membalas budimu. Engkaulah yang pertama-tama menolongku. Apa akan jadinya dengan diriku kalau engkau tidak menolongku ketika aku menggeletak hampir mati dalam hutan itu? Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling bantu, bukankah begitu?”
Ouw Yang Lan juga tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, kita sudah impas sekarang, kita sama-sama...”
“Sama-sama kehabisan segalanya. Sama sama bangkrut, bahkan sepotong bajupun tidak punya lagi,” kata Sin Cu.
Ouw Yang Lan meraba anting-anting di telinganya dan kalung di lehernya. “Tidak bangkrut, Cu-Ko. Aku masih mempunyai kalung dan anting-anting. Ini cukup mahal, kita tukarkan beberapa potong pakaian dan uang untuk bekal di perjalanan.”
Hening sejenak. Keduanya menundukkan muka seperti tenggelam dalam lamunan masing-masing, saling memikirkan keadaan masing-masing karena mereka menemukan kenyataan baru dalam diri sahabat baru itu.
“Lan-moi...” akhirnya suara Sin Cu memecah kesunyian.
Ouw Yang Lan mengangkat mukanya memandang. “Ya, ada apa, Cu-Ko?”
“Ternyata engkau ini puteri kandung Tung-Hai-Tok Ouw Yang Lee, majikan Pulau Naga”
Ouw Yang Lan mengangguk dengan alis berkerut. “Itu dulu dan namaku dulu Ouw Yang Lan. Akan tetapi jangan sebut lagi soal itu. Aku sekarang bernama Ciang Lan dan Ayahku adalah Thai-Lek-Kui Ciang Sek majikan Bukit Awan Putih di Thai-San.”
Sin Cu kini yakin bahwa Ouw Yang Lan adalah Kakak Ouw Yang Hui. Ia Pernah mendengar Cerita tunangannya itu tentang keadaan keluarganya. Betapa ketika Ouw Yang Hui masih kecil berusia tujuh tahun, Pulau Naga diserbu musuh yang akhirnya dapat menculik dan melarikan Ouw Yang Hui dan Ibunya, juga Ouw Yang Lan dan Ibunya. Akhirnya kedua orang wanita dan masing-masing puterinya itu dipisahkan oleh para penculik mereka. la sudah mendengar dari tunangannya tentang apa yang terjadi dengan Ouw Yang Hui semenjak diculik dari Pulau Naga.
Akan tetapi dia belum tahu apa yang terjadi dengan Ouw Yang Lan dan Ibunya karena tunangannya itupun tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Ibu tiri dan Kakak tirinya. Dia tertarik sekali dan dapat membayangkan betapa akan bahagianya hati Ouw Yang Hui kalau ia dapat bertemu dengan Kakak tirinya ini.
“Lan-moi, aku tertarik sekali untuk mendengar riwayatmu yang aneh. Bagaimana engkau sampai bermusuhan dengan Ayah kandungmu sendiri? Maukah engkau menceritakan kepadaku, Lan-moi?”
“Nanti dulu, Cu-Ko. Engkaulah yang harus lebih dulu menceritakan riwayatmu sampai aku menemukan engkau menggeletak di hutan itu. Engkau harus menceritakannya dulu kepadaku sebagai hukuman karena engkau telah mempermainkan aku sesuka hatimu sehingga aku menanggung rasa malu.”
Sin Cu menatap wajah gadis itu dengan pandang mata heran. “Mempermainkan? Aku? Mempermainkanmu? Apa maksudmu, Lan-moi?”
“Engkau telah berpura-pura, berlagak bodoh dan lemah sehingga aku selalu ingin menjaga dan melindungimu dari bahaya...!”
“Engkau memang baik budi, Lan-moi!”
“Bukan itu! Akan tetapi sesungguhnya engkau amat lihai, jauh lebih lihai daripada aku! Kenapa engkau tidak mengaku terus terang sehingga aku tidak bersikap seperti itu? Aku jadi malu sekali, aku tentu kelihatan seperti orang sombong dan tolol!”
“Maafkan aku, Lan-moi. Bukan maksudku memperolokmu. Ketika itu aku memang lemah sekali dan membutuhkan pertolonganmu. Dan engkau sama sekalı tidak sombong apalagi tolol. Engkau seorang dara yang gagah perkasa dan berbudi baik, seorang Lihiap (Pendekar Wanita) sejati.”
“Benarkah kata-kata dan pendapatmu itu? Berani sumpah engkau tidak membohongiku?”
Sin Cu tersenyum mengangguk. “Aku bersumpah tidak bohong.”
Wajah gadis itu menjadi cerah kembali penuh senyum yang manis sekali. la lalu membantu Sin Cu menambah kayu pada api Unggun dan tubuhnya terasa hangat. Pakaian yang melekat di tubuhnya mulai agak kering. “Baiklah, aku percaya padamu, Cu-Ko Sekarang ceritakan riwayatmu lebih dulu, baru nanti aku akan menceritakan riwayatku.”
Sin Cu mengangguk. “Biarpun riwayatnya biasa dan bahkan menyedihkan, akan tetapi aku ada membawa berita yang tentu akan mengagetkan dan juga menyenangkan hatimu Lan-moi. Aku adalah seorang yang hidup sebatangkara di dunia ini. Sejak berusia tiga tahun, aku sudah kehilangan Ayah Bundaku.”
“Ah, kasihan sekali engkau, Cu-Ko? Apakah mereka meninggal dunia.”
Sin Cu geleng kepalanya. “Itulah yang sampai sekarang amat mengganggu hatiku. Ayah Ibuku lenyap dan aku tidak tahu mereka berada, tidak tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati.”
“Aduh kasihan! Aku akan membantumu mencari Ayah Ibumu, Cu-Ko. Sekarang lanjutkan ceritamu.”
“Sejak berpisah dari Ayah Ibuku, dalam usia tiga tahun, aku diambil murid oleh Suhu Bu Beng Siauwjin...”
“Ah! Aku pernah mendengar nama Bu Beng Siauwjin disebut Ayah tiriku. Katanya dia itu adalah seorang manusia dewa yang sakti sekali!”
Sin Cu tersenyum, “Dia itu biasa saja Lan-moi. Setelah dewasa, Suhu menyuruh aku turun gunung untuk mencari kedua orang tuaku dan juga untuk mengabdi kepada kemanusiaan, membela mereka yang lemah dan menentang mereka yang jahat dan sewenang-wenang. Banyak sudah pengalaman yang ku jumpai dalam waktu dua tahun ini, dan akhir-akhir ini aku bertemu dengan seorang yang engkau tentu tidak akan dapat menduganya siapa, akan tetapi engkau tentu gembira sekali mendengarnya.”
“Siapa Cu-Ko? Katakan jangan bikin teka-teki dan membuat aku penasaran!” desak Ouw Yang Lan, atau sebaiknya kita menyebutnya Ciang Lan saja seperti yang dikehendakinya karena ia tidak suka dengan marga Ayah kandungnya.
“Aku bertemu dengan adik Ouw Yang Hui dan Bibi Sim Kui Hwa atau Nyonya Gan Hok San.”
Ouw Yang Lan terkejut dan terbelalak memandang pemuda itu. “Ehh... Benarkah..? Di mana dan bagaimana? Ceritakanlah Cu-Ko. Mereka itulah Ibu tiri dan adik tiriku!”
“Aku tahu setelah aku mendengar bahwa engkau puteri kandung Ouw Yang Lee. Mula-mula aku bertemu Hui-moi ketika ia hendak dibunuh Ouw Yang Lee. Aku menyelamatkannya dan berhasil mengusir Ouw Yang Lee. Kemudian aku mengantarkan Hui-moi mencari Ibunya dan kami menemukan Ibunya yang telah menjadi istri Pendekar Gan Hok San.”
Sin Cu berhenti dan meragu. Dia merasa tidak enak untuk berterus terang menceritakan bahwa dia dan Ouw Yang Hui telah bertunangan. Perasaan tidak enak ini timbul karena melihat sikap Ciang Lan kepadanya yang jelas membayangkan kasih sayang.
“Aku sudah mendengar akan hal itu dari Ibunya Hui-moi, tetapi aku sama sekali tidak pernah mengira bahwa engkaulah penolongnya itu. Lalu bagaimana Cu-Ko?” Tanya Ciang Lan dengan nada gembira.
“Ketika itu, keluarga Hu-moi diserbu oleh Ouw Yang Lee dan seorang datuk wanita berjuluk Cui-Beng Kui-Bo, Ouw Yang Lee bermaksud membunuh Paman Gan Hok San dan Bibi Sim Kui Hwa, dan membawa pergi Hui-moi. Paman Gan Hok San dan aku menghadapi mereka dan mereka dapat kami usir. Setelah terjadi peristiwa itu, Keluarga Paman Gan Hok San mengambil keputusan untuk pindah ke dekat Siauw-Lim-Si agar dapat hidup aman dari gangguan Ouw Yang Lee. Akan tetapi ketika kami tiba di depan Kuil, aku juga mengantar perpindahan mereka, terjadilah malapetaka.”
“Aku sudah tahu, Cu-Ko. Hui-Moi diculik orang, bukan?”
“Benar, Hui-moi diculik orang. Kami menduga dia tentu orang Pek-Lian-Kauw dan tentu penculikan itu ada hubungannya dengan Ouw Yang Lee yang bermaksud merampas Hui-moi. Karena itu, Paman Gan Hok San dan aku lalu pergi mencari Hui-moi dan Kami berpencar, Paman Gan Hok San hendak mencari ke Pek-Lian-Kauw dan aku sendiri hendak mencari ke kota raja. karena aku menduga bahwa Hui-moi tentu diculik oleh kaki tangan Ouw Yang Lee. Dan engkau, bagaimana engkau mengetahui bahwa Hui moi diculik orang, Lan-moi?”
“Panjang ceritanya, akan tetapi sebaiknya kusingkat saja riwayatku, Cu-Ko. Biarpun aku masih lebih beruntung dari pada engkau yang kehilangan Ayah Ibu, dan aku masih dapat berkumpul dengan Ibuku, namun hidupku juga penuh dengan pengalaman pahit. Engkau tentu sudah mendengar dari Hui-moi bahwa kami diculik orang dari Pulau Naga. Ketika itu aku berusia delapan tahun.
"Yang membawa pergi Ibuku dan aku adalah Thai-Lek-Kui Ciang Sek yang membantu Tok-Gan-Houw Lo Cit menyerbu Pulau Naga karena Lo Cit bermusuhan dengan Ouw Yang Lee. Thai-Lek-Kui Ciang Sek bersikap baik sekali kepada Ibu dan aku, bahkan melindungi kami ketika kami hendak diganggu orang-orang jahat. Karena sikapnya yang baik sekali itulah akhirnya Ibuku menjadi isterinya.
"Dia menganggap aku seperti anak kandung sendiri dan dia menurunkan semua ilmu kepandaiannya kepadaku. Setelah dewasa aku lalu pergi untuk berkunjung ke Pulau Naga. Di sana aku tidak dapat bertemu dengan Ouw Yang Lee yang telah pergi ke kota raja dan aku lalu mencari Tok-Gan-Houw Lo Cit yang dulu menculik Ibu Sim Kui Hwa dan adik Ouw Yang Hui. Dalam perkelahian, aku berhasil membunuh Lo Cit.
"Karena tidak berhasil menemukan Ibu Sim Kui Hwa dan Hui-moi, aku pulang dan mendapatkan Ayah tiriku Ciang Sek terluka karena diserang oleh Ouw Yang Lee. Ayah kandung jahat itu hendak membunuh Ibuku maka bertanding melawan Ayah tiriku dan Ayah tiriku terluka. Mulai saat itulah aku membenci Ouw Yang Lee dan menganggapnya sebagai musuh karena hendak membunuh Ibuku dan Ayah tiriku.”
Sin Cu mendengarkan dengan penuh perhatian. Diam-diam dia membandingkan Ouw Yang Lan ini dengan Ouw Yang Hui. Dua orang anak perempuan yang diculik dan kemudian terpisah itu kini telah menjadi dua orang gadis yang sama sekali berbeda keadaan dan wataknya. Ouw Yang Hui menjadi seorang gadis yang halus dan lemah lembut, seorang seniwati yang lembut, penuh kewanitaan dan keibuan.
Sebaliknya, Ouw Yang Lan yang kini bernama Ciang Lan ini menjadi seorang gadis yang lincah, lihai ilmu silatnya, pemberani dan berwatak keras. Keduaya mempunyai sifat-sifat yang berlainan, bahkan bertentangan, akan tetapi keduanya membuat dia kagum.
“Ceritamu menarik sekali, Lan-moi. Lalu bagaimana selanjutnya?”
“Ouw Yang Lee tidak dapat membunuh Ayah tiriku karena di sana ada Susiok (Paman Guru) Gu Tian yang membantu Ayah Ciang Sek. Akan tetapi Ouw Yang Lee mengancam akan datang lagi. Pada waktu itu muncul Bu-Suheng yang memang mencari Ibu dan aku...”
“BU-Suheng?” tanya Sin Cu. “Murid Ayah tirimu?”
“Bukan. Dia murid Ouw Yang Lee. Dia berada di Pulau Naga ketika kami diculik. Setelah dewasa dia mencari kami dan pada hari itu dia muncul di Pek-In-San. Akan tetapi biarpun dia tadinya ikut Ouw Yang Lee ke kota raja, Suhengku itu tidak senang dan tidak setuju melihat Ouw Yang Lee mengabdi kepada Thaikam Liu Cin yang menyuruh mereka untuk melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang dimusuhinya.
"Maka dia meningnggalkan Ouw Yang Lee dan ketika dia mendengar bahwa Ouw Yang Lee hendak membunuh Ibu dan Ayah tiriku, dia membantu kami. Kemudian Ouw Yang Lee yang jahat itu datang juga bersama seorang kawannya berjuluk Tho-Te-Kong yang sangat lihai. Terjadi perkelahian. Aku dan Gu Tian Susiok mengeroyok Ouw Yang Lee, sedangkan Tho-Te-Kong yang amat lihai itu dihadapi Bu-Suheng dan Ayah tiriku Ciang sek.
Akhirnya kami dapat mengusir dan mengalahkan dua orang jahat itu. setelah itu, aku dan Bu-Suheng pergi untuk mencari lbu Sim Kui Hwa dan adik Ouw Yang Hui. Kami hanya tahu bahwa Ibu Sim Kui Hwa ditolong oleh seorang pendekar Siauw-Lim-Pai bernama Gan Hok San. Maka kami berdua lalu hendak mencari keterangan ke Siauw-Lim-Si dan di depan Kuil itu kami bertemu dengan Ibu Sim Kui Hwa.
"Nah, darinyalah aku mendengar tentang Hui-moi yang diculik orang. Aku dan Bu-Ko lalu pergi mencari dan kami berpencar. Bu-Ko hendak mencari si penculik yang bergigi emas dan aku sendiri juga hendak mencari ke kota raja seperti juga engkau, aku menduga bahwa semua ini tentu ada hubungannya dengan Ouw Yang Lee. Kemudian aku melihat engkau pingsan di hutan itu, Cu-Ko.”
“Dan engkau menolongku, Lan-moi. Sungguh kebetulan sekali. Agaknya Tuhan telah menghendaki pertemuan kita ini...”
“Memang, agaknya kita memang berjodoh. Hemmn... maksudku... telah dipertemukan untuk bersama-sama mencari adik Ouw Yang Hui. Sekarang kita sudah tahu bahwa Hui-moi terjatuh ke tangan iblis betina Kim Niocu itu. Mari kita lanjutkan perjalanan kita ke kota raja, Cu-Ko. Pakaian kita sudah kering sekarang.”
“Sayang semua bekal pakaian kita lenyap, Lan-moi.”
“Jangan khawatir. Mari kita mencari dusun atau kota di mana aku dapat menukarkan perhiasanku ini dengan uang dan pakaian untuk bekal kita. Juga sebaiknya kita membeli lagi sebuah perahu karena perahu kita sudah hanyut dan hilang. Dengan perahu kita akan lebih cepat tıba di kota raja.”
Sin Cu menurut saja dan mereka lalu meninggaikan tempat itu, berjalan menyusuri tepi sungai ke arah hilir. Akan tetapi kata-kata Ciang Lan tentang jodoh tadi tetap bergema di telinganya dan hatinya merasa tidak enak. Sebetulnya dia ingin mengaku terus terang kepada gadis ini bahwa dia sudah bertunangan dengan Ouw Yang Hui, akan tetapi entah mengapa, dia merasa tidak tega dan juga tidak ingin melihat sikap Ciang Lan berubah terhadap dirinya.
Bhong Ki atau Bhong-Pangcu (Ketua Bhong), ketua cabang Pek-Lian-Kauw yang berusia lima puluh tahun itu, memandang kepada Bhong Lam dan Ouw Yang Hui dengan alis berkerut dan mata mencorong marah. Pemuda itu mengajak Ouw Yang Hui yang telah menjadi isterinya menghadap Ayahnya.
Mereka diterima dalam ruangan tertutup itu dan ketika Bhong Lam atau Bhong-Kongcu menceritakan kepada Ayahnya bahwa dia telah memperistri Ouw Yang Hui dan melarikan gadis itu dari tangan Kim Niocu, ketua cabang Pek-Lian-Kauw ini marah sekali.
“Apa...? Engkau melarikan gadis yang menjadi tawanan Kim Niocu dan membebaskan seorang tawanannya?” Bentaknya sambil memandang pemuda dan gadis yang duduk di atas kursi itu sambil menundukkan kepala mereka. “Dengan begitu sebagai seorang anggauta Pek-Lian-Kauw engkau telah berkhianat! Bukan itu saja, engkau juga telah menyeret aku sebagai seorang Pek-Lian-Kauw yang tidak setia! Lupakah engkau bahwa aku adalah seorang ketua cabang Pek-Lian-Kauw? Perbuatanmu ini menempatkan aku menjadi seorang pengkhianat yang memusuhi puteri ketua umum! Sekarang, enyah kau dari sini! Pergi bersama perempuan ini.”
“Ayah...” Bhong-Kongcu memohon.
“Aku bukan Ayahmu dan engkau bukan anakku lagi! Pergi sekarang juga sebelum aku berubah pikiran dan membunuh kalian berdua!” bentak Bhong Khi dengan muka merah dan mata melotot.
“Akan tetapi Ayah...”
“Cukup!” Tangan ketua cabang Pek-Lian-Kauw itu bergerak. Tampak sinar berkelebat dan sebatang pedang telah menancap di depan Bhong Lam, menancap di lantai dan gagangnya bergoyang-goyang.
Wajah Bhong Lam menjadi pucat. Lemparan pedang itu membuktikan bahwa Ayahnya sudah marah sekali dan tidak mau memberi hati sedikitpun. Dia lalu menggandeng tangan Ouw Yang Hui, bagkit dan setelah sekali lagi memandang wajah Ayahnya, Bong Lam menarik Ouw Yang Hui pergi meninggalkan ruangan dan rumah itu, lalu keluar dari perkampungan Pek-Lian-Kauw.
Ouw Yang Hui berjalan di samping Bhong Lam yang telah menjadi suaminya selama kurang lebih satu bulan. la melangkah dengan kepala ditundukkan. Gadis ini merasa betapa jantungnya seperti diremas-remas. Harus diakuinya bahwa Bhong Lam bersikap baik sekali kepadanya, penuh kasih sayang, juga amat lembut dan menghormatinya. la merasakan benar bahwa pemuda ini memang sungguh mencintanya.
Akan tetapi, kalau ia teringat kepada Wong Sin Cu, hatinya menjerit. Cintanya hanya untuk Sin Cu. Tak mungkin ia mencinta pria lain. Terhadap Bhong Lam yang amat mencintanya pun, ia tidak mempunyai perasaan cinta, ia terpaksa menyerahkan dirinya kepada Bhong Lam. Tidak, Bhong Lam sama sekali tidak memperkosanya, tidak menggunakan kekerasan untuk memilikinya.
Akan tetapi ia terpaksa harus menyerahkan diri dengan rela untuk memenuhi janjinya. Bhong Lam telah membebaskan Sin Cu, telah menyelamatkan Sin Cu dari ancaman maut dan rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan pria yang dikasihinya itu. la rela berkorban nyawa sekalipun demi cintanya terhadap Sin Cu. Akan tetapi, biarpun ia rela menyerahkan diri kepada Bhong Lam, namun pemuda Pek-Lian-Kauw itu benar-benar amat mencintanya, namun setiap kali ia teringat kepada Sin Cu, jantungnya terasa seperti ditusuk-tusuk.
Ia telah menjadi isteri Bhong Lam, biarpun tidak sah karena Ibu kandungnya tidak pernah merestuinya bahkan tidak tahu akan pernikahan terpaksa itu, Ibu kandungnya yang hanya tahu bahwa ia adalah tunangan atau calon isteri Wong Sin Cu dan pertunangan itu bahkan telah diresmikan dan disaksikan oleh para tetangga bahkan orang tua Bhong Lam sendiri juga tidak memberi restu, bahkan menentangnya. Betapa hatinya tidak akan hancur menghadapi nasibnya ini.
Tiba-tiba terdengar seruan nyaring sekali. “Bhong Lam, berhenti kau...!”
Bhong Lam dan Ouw Yang Hui terkejut, menghentikan langkah mereka dan membalikkan tubuh. Sesosok bayangan berlari cepat sekali ke arah mereka. Bhong Lam yang lebih dulu mengenal bayangan itu.
“Ayah datang! Hui-moi, berlindunglah di belakangku.”
Ouw Yang Hui mengerutkan alisnya. Mau apa orang tua yang sudah tidak merestui perjodohan mereka itu kini datang. la pun melangkah dan berdiri di belakang Bhong Lam yang menanti Ayahnya dengan alis berkerut. Cepat sekali Bhong Khi atau atau Bhong Pangcu, ketua cabang Pek-Lian-Kauw itu berlari dan sebentar saja dia sudah berdiri di depan Bhong Lam. Wajah ketua cabang Pek-Lian-Kauw itu merah sekali dan matanya bersinar mencorong.
Dia baru saja menerima utusan Kim Niocu yang menyampaikan perintah puteri ketua umum Pek-Lian-Kauw itu agar dia segera menangkap Bhong Lam dan Ouw Yang Hui hidup atau mati. Hidup atau mati Ini berarti bahwa dia harus memaksa puteranya dan gadis yang dipilihnya sebagai isteri itu untuk menyerahkan diri dan kalau puteranya membangkang, dia harus membunuh mereka. Dan kalau dia tidak melaksanakan perintah ini, pasti dia akan dianggap memberontak dan akan dijatuhi hukuman mati.
Kini Ayah dan anak itu saling berhadapan. Bhong Lam berdiri dengan sikap melindungi Ouw Yang Hui. Dan memang pemuda ini bertekad untuk melindungi wanita yang dicintanya dan yang sudah menjadi isterinya itu dari ancaman siapapun juga. Bahkan Ayah kandungnya sendiri akan ditentangnya kalau hendak mengganggu Ouw Yang Hui.
“Bhong Lam, berlututlah engkau dan dengarkan perintah dari Kim Niocu!” Dalam suara Bhong Khi itu terkandung wibawa yang amat kuat karena dia mengerahkan kekuatan sihirnya.
Kalau Bhong Lam menghendaki, tentu dia dapat melawan perintah ini karena diapun sudah mempelajari ilmu sihir. Akan tetapi dia tidak berani dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Ayahnya. Perintah Kim Niocu sebagai puteri ketua Umum Pek-Lian-Kauw memang perlu disambut dengan segala kehormatan. karena gadis itu adalah orang kedua setelah Ayahnya. Melihat Bhong Lam menjatuhkan diri berlutut, Ouw Yang Hui juga berlutut di belakang pemuda itu sambil menundukkan mukanya, mendengarkan.
“Bhong Lam, atas perintah dari Kim Niocu, cepat kau bunuh perempuan itu kemudian ikut aku menghadap Kim Niocu. Mungkin dengan begitu engkau akan dapat diampuni!” kata ketua cabang Pek-Lian-Kauw itu.
Mendengar ucapan Ayahnya ini, Bhong Lam terkejut dan diapun melompat berdiri, lalu berkata kepada Ouw Yang Hui yang masih berlutut, “Hui-Moi, menjauhlah ke sana!”
Ouw Yang Hui menurut. la bangkit berdiri lalu mundur sampai agak jauh. Setelah itu Bhong Lam menghadapi Ayahnya dan berkata, “Ayah, aku akan melaksanakan dan menurut semua perintah Ayah kecuali yang Ayah katakan tadi. Ouw Yang Hui adalah isteriku yang kucinta dengan segenap jiwa ragaku dan akan kubela dengan taruhan nyawaku. Karena itulah maka aku tidak akan menghadap Kim Niocu yang berniat buruk terhadap kami,”
Kalau tadi ketika mendengar perintah Ayahnya, muka Bhong Lam berubah pucat sekali, kini muka itu menjadi merah kembali, bahkan sangat merah karena hatinya dibakar kemarahan.
“Bhong Lam, engkau tahu apa hukumannya seorang anggauta Pek-Lian-Kauw kalau menentang perintah pimpinan?” bentak Bhong Khi.
“Aku tahu, Ayah. Hukumannya adalah mati, akan tetapi aku rela mati untuk melindungi dan membela Ouw Yang Hui.” kata Bhong Lam dengan sikap gagah dan mendengar ini.
Ouw Yang Hui merasa terharu juga. walaupun tidak ada rasa cinta dalam hatinya terhadap pemuda itu. Dengan sikap menentang Ayah kandungnya dan juga perkumpulannya itu, Bhong Lam membuktikan Cinta kasihnya kepadanya. Pemuda itu siap mengorbankan nyawanya untuk melindungi dan membelanya, seperti juga cintanya terhadap Sin Cu membuat ia dengan rela mengorbankan segalanya. Cinta kasih memang baru terbukti mutunya dengan mengorbankan diri.
“Kalau engkau tidak mau membunuhnya, akulah yang akan membunuhnya karena ia yang menjadi biang keladi sehingga keluarga kita akan dianggap mengkhianati Pek-Lian-Kauw!” kata Bhong Khi dan ketua cabang Pek-Lian-Kauw ini sudah mencabut pedangnya, sebatang pedang panjang yang berkilauan saking tajamnya.
“Singgg...” Bhong Lam juga sudah mencabut pedangnya dan menghadang di depan Ayahnya dengan pedang di tangan kanan bersilang di depan dada.
Melihat puteranya berdiri menghadang dengan pedang terhunus di tangan, Bhong Khi memandang dengan mata terbelalak. “Apa...?!? Engkau... engkau berani melawanku...!” dia membentak penasaran. Pemuda itu putera kandungnya, juga muridnya, berdiri dengan pedang telanjang menghadapi dan menentangnya.
Dengan sikap serius dan tegas Bhong Lam berkata, “Ayah, aku akan melawan siapa saja yang akan mengganggu Hui-moi.”
“Keparat...! Anak durhaka...! Kalau begitu engkau juga akan kubunuh dan kepalarmu akan kuperlihatkan kepada pimpinan tertinggi Pek-Lian-Kauw sebagai bukti kesetiaanku!” Setelah berkata demikian, Bhong Khi menggerakkan pedangnya menyerang dengan dahsyat.
Bhong Lam juga menggerakkan tubuh dan pedangnya. Mula-mula dia mengelak, akan tetapi pedang Bhong Khi terus mengejar dan menyambar dengan serangan bertubi-tubi yang ganas. Setelah mengelak dan melompat ke sana sini untuk menghindarkan diri dari serangan yang menggunakan jurus-jurus yang telah dikenalnya, akhirnya Bhong Lam terpaksa menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
“Singgg... tranggggg...!”
Dua batang pedang bertemu dan Bhong Lam terhuyung ke belakang. Bagaimanapun juga, tenaga sinkangnya masih kalah kuat dibandingkan Ayahnya. Akan tetapi Bhong Lam sudah nekad. Dia akan melawan terus untuk melindungi isterinya, kalau perlu dia akan melawan Ayahnya sampai titik darah terakhir. Siapa saja baru boleh mengganggu Ouw Yang Hui setelah melangkahi mayatnya. Dia mengeluarkan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk melawan Ayahnya.
Perkelahian antara Ayah dan anak itu terjadi amat serunya karena keduanya maklum bahwa masing-masing tidak akan mau mengalah. Bhong Lam juga tidak sungkan-sungkan untuk membalas dengan serangan-serangan maut karena pada saat itu dia sudah tidak melihat Ayahnya sebagai Ayah, melainkan sebagai musuh yang harus dibunuh karena hendak mengganggu Ouw Yang Hui.
Namun, setelah dapat bertahan sampai lima puluh jurus, akhirnya Bhong Lam terdesak juga. Dia kalah matang dalam latihan dan juga kalah kuat tenaganya. Dia mulai terdesak dan Bhong Khi tidak mau mengalah sedikitpun juga, bahkan mendesak untuk membunuh! Ketika Bhong Lam terhuyung, sebuah sapuan kakinya membuat pemuda itu terpelanting. Bhong Khi menyusulkan bacokan dengan pedangnya ke arah leher Bhong Lam yang sudah roboh.
“Singgg... tranggg...!”
Bhong Ki terkejut dan melompat ke belakang. Ternyata yang menangkis bacokan tadi adalah seorang wanita berusia empat lima puluh tahun, masih tampak cantik, berpakaian mewah dan ia memegang sebatang pedang di tangannya, pedang yang tadi dipergunakan menangkis bacokan Bhong Khi ke arah leher puteranya. Bukan main marahnya hati Bhong Khi ketika mengenal wanita itu yang bukan lain adalah isterinya sendiri! Bhong Khi menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka isterinya dan berkata lantang,
“Mau apa engkau kesini dan mengapa engkau mencegah aku membunuh anak durhaka yang telah mengkhianati Pek-Lian-Kauw ini?”
Dengan alis berkerut Nyonya Bhong Khi menjawab dan suaranya juga penuh kemarahan. “Apakah engkau sudah menjadi gila? Seekor harimau pun tidak akan membunuh anaknya sendiri.”
“Kau tahu apa? Dia sudah mengkhianati Pek-Lian-Kauw, menentang Kim Niocu. Kalau sekarang aku tidak membunuhnya, kita sekeluarga tentu akan dihukum mati oleh Pimpinan tertinggi!” bantah Bhong Khi.
“Lebih baik aku dihukum mati daripada harus membunuh anakku...!” teriak Nyonya Bhong Khi marah, “Tidak, tidak ada yang boleh membunuh Bhong Lam! Aku yang akan menghalangi...! Lam-ji (anak Lam), cepat pergi engkau menyelamatkan diri, biar aku yang akan mencegah Ayahmu yang telah menjadi gila ini mengejarmu!”
Bhong Lam tahu bahwa Ayahnya amat mencinta Ibunya, akan tetapi diapun maklum bahwa ilmu silat Ibunya tidak akan mampu menandingi ilmu kepandaian Ayahnya, bahkan tingkat kepandaian Ibunya itu masih berada di bawah tingkatnya sendiri. Dia tahu bahwa bahaya yang mengancam keselamatan Ouw Yang Hui masih ada, maka tanpa berkata apapun dia lalu menghampiri Ouw Yang Hui dan mengajak gadis itu berlari meninggalkan tempat itu. Bahkan dia lalu memondong tubuh isterinya itu dan membawa berlari cepat memasuki sebuah hutan lebat.
Melihat ini, Bhong Khi menjadi semakin marah. “Perempuan bodoh! Apa engkau ingin melihat kita sekeluarga dihukum mati semua, Minggir kau! Aku harus dapat menangkap mereka!”
“Tidak, selama masih ada aku di sini, engkau tidak boleh membunuh Lam-ji!” teriak isterinya sambil melintangkan pedangnya menghadang.
“Keparat! Daripada kita semua yang binasa, lebih baik engkau sendiri mampus!” bentak Bhong Ki dan diapun sudah menyerang dengan tusukan pedang ke arah dada isterinya sendiri.
Nyonya Bhong Khi cepat mengelak dan membalas. Terjadilah perkelahian dengan pedang antara suami isteri ini. Perkelahian sungguh-sungguh, setiap serangan merupakan cengkeraman maut. Mereka bersungguh untuk saling membunuh. Biarpun tingkat kepandaiannya sebenarnyä kalah jauh, akan tetapi wanita yang sudah nekat untuk melindungi puteranya itu mengamuk dengar hebat sehingga Bhong Khi agak kewalahan juga untuk menundukannya.
Akan tetapi setelah ketua cabang Pek-Lian-Kauw ini mencurahkan perhatiannya, dia mulai dapat mendesak dan dengan gerakan yang amat cepat sambil membentak keras pedangnya berhasil menembus dada Isterinya. Wanita itu roboh mandi darah dan tewas seketika. Bhong Khi tidak memperdulikan lagi isterinya dan cepat melakukan pengejaran.
Akan tetapi Bhong Lam sudah lenyap ke dalam hutan dan Bhong Khi tidak tahu ke arah mana puteranya itu melarikan diri. Sementara itu bermunculan para anggauta Pek-Lian-Kauw. Beberapa orang wanita pembantu Nyonya Bhong Khi menangisi mayat majikan mereka. Ketika Bhong Khi kembali ke tempat tadi, dia menegur mereka yang menangisi mayat isterinya.
“Sudah, kalian jangan menangis. la mati karena membela seorang pengkhianat. Sekarang angkut jenazah itu pulang!”
Biarpun dalam hatinya Bhong Khi berduka dan menyesal sekali telah membunuh isterinya sendiri yang sesungguhnya dia cinta, namun diapun merasa lega karena kematian isterinya di tangannya itu dapat di jadikan bukti bahwa dia setia kepada Pek-Lian-Kauw sehingga menegakan putera dan isteri sendiri. Bukti kesetiaannya ini tentu akan dapat membebaskan dia dari hukuman yang biasa dijatuhkan terhadap anggauta yang berkhianat atau memberontak.
Mereka berhenti di lereng sebuah bukit. Bhong Lam menyeka keringatnya yang membasahi muka dan lehernya. Dia telah berlari jauh sambil memondong Ouw Yang Hui sehingga merasa kelelahan dan juga berkeringat. Setelah tiba di lereng bukit itu, yang sudah jauh sekali dari tempat Ayahnya, dia berhenti.
Mereka duduk di bawah pohon besar dan Ouw Yang Hui menangis tanpa suara, hanya mengusap air matanya yang menetes-netes di atas kedua pipinya. Bhong Lam duduk di dekatnya dan dengan lembut dan penuh kasih sayang menyentuh pundaknya.
“Hui-moi sayang, kenapa engkau menangis? Bahaya sudah lewat, engkau tidak perlu takut dan khawatir, Hui-moi,” katanya dengan halus.
Ouw Yang Hui menahan isaknya dan mengusap kering air matanya, kemudian sambil menundukkan mukanya ia berkata. “Bhong-Kongcu...”
“Aih, Hui-moi, kenapa engkau masih saja menyebut aku Kongcu (Tuan Muda)? Bukankah engkau ini isteriku” Bhong Lam menegur lembut.
“Maafkan aku, Kongcu. Aku masih belum dapat mengubah sebutan itu.”
“Sudahlah, akan tetapi kenapa engkau menangis? Sudah kukatakan bahwa engkau tidak perlu khawatir karena aku akan melindungi dan membelamu dengan taruhan nyawaku...”