|
| Karya Kho Ping Hoo |
Sepasang Rajah Naga Jilid 17 - “LANCANG, akan tetapi benar kan tidak apa-apa, Ibu?” anak itu membela diri.
“Sekarang Ayahmu dan aku tidak mau mendahuluimu mengambil keputusan, Hui-ji. Aku ingin mendengar tanggapanmu akan hal ini.”
“Ibu, yang penting adalah bagaimana tanggapan Kak Sin Cu,” kata Ouw Yang Hui lirih.
“Pemuda itu dengan sejujurnya telah mengakui bahwa dia mencintamu dan dengan senang hati akan menerima usul itu asalkan engkaupun menyetujuinya. Bagaimana pendapatmu, Hui-ji?”
Ouw Yang Hui menundukkan mukanya yang berubah kemerahan dan jantungnya berdebar penuh kebahagiaan. Sesungguhnya berita itu tidak mengherankan hatinya karena dari sikap dan pandang mata serta tutur sapa Sin Cu terhadapnya selama ini sudah cukup jelas baginya bahwa pemuda itu amat mencintanya. Akan tetapi setelah hal itu dinyatakan secara berterang, ia menjadi tersipu malu juga.
Melihat puterinya hanya menundukan muka sambil tersenyum simpul dan mukanya kemerahan, tidak menjawab, Sim Hwa mendesak. “Bagaimana, Hui-ji? Setujukah engkau atau tidak kalau kami jodohkan dengan Sin Cu...?”
Ouw Yang Hui masih diam saja. “Ibu... Enci Hui setuju! Setuju seratus prosen, Ia telah mengaku kepadaku bahwa ia mencinta Kak Sin Cu, Ibu.” tiba-tiba Li Hong berteriak.
“Hong-moi!” Ouw Yang Hui berseru lirih sambil mencubit paha adiknya. Li Hong mengaduh, menggosok-gosok pahanya yang tercubit sambil menertawai Encinya.
“Bagaimana, Hui-ji? Katakanlah bagaimana tanggapanmu? Atau benarkah kata Li Hong tadi bahwa engkau juga cinta Sin Cu?”
Sambil menundukkan mukanya menjadi semakin merah Ouw Yang menjawab lirih, “Aku... aku menyerahkan saja kepada keputusan Ibu dan Ayah...”
Sim Kui Hwa mengangguk maklum. Jaman itu, kalau seorang gadis menyetujui sebuah pinangan, ia akan tersenyum dan menjawab malu-malu bahwa ia menurut saja keputusan orang tuanya, sebaliknya kalau ia menolak, ia akan menangis dan menyatakan masih belum ingin menikah dan berbagai alasan lain untuk menolak. Maka, sikap Ouw Yang Hui sudah jelas.
“Hui-ji, urusan ini merupakan hal yang teramat penting. Karena itu, tahanlah rasa rikuh dan malumu dan mari kita semua keluar untuk mengadakan perundingan dengan Ayahmu dan Sin Cu bagaimana sebaiknya yang harus kita lakukan menghadapi ancaman Ouw Yang Lee.”
Ouw Yang Hui agak ragu karena malu, akan tetapi Li Hong lalu memegang tangannya dan menarik-narik Encinya sehingga akhirnya gadis itu mau melangkah keluar kamar menuju ke ruangan dalam bersama Ibunya. Ketika memasuki ruangan itu, Ouw Yang Hui tidak berani mengangkat mukanya. la melangkah maju dituntun Li Hong sambil menundukkan mukanya. Sebetulnya, setelah seringkali memperlihatkan kepandaian bermain musik dan bernyanyi ditonton oleh para pemuda bangsawan dan hartawan, Ouw Yang Hui bukan seorang gadis pemalu lagi.
Akan tetapi sekali ini, menghadapi Sin Cu pemuda yang dikaguminya dan yang kelak diusulkan menjadi calon suaminya, Ia merasa malu sekali untuk bertemu pandang dengan pemuda itu. Kalau saja ia tahu bahwa pada saat ia memasuki ruangan itu Sin Cu juga selalu menundukkan mukanya.Dengan dituntun Li Hong, akhirnya Ouw Yang Hui duduk dan dengan nakal Li Hong sengaja menuntunnya sehingga tanpa disadarinya Ouw Yang Hui menduduki kursi yang tepat berada di sebelah kanan kursi yang di duduki Sin Cu!
la baru tahu ketika sudut matanya melirik ke kiri dan mendapat kenyataan bahwa ia duduk berdampingan dengan pemuda itu. Akan tetapi ia telah terlambat untuk berpindah tempat duduk karena ia sudah duduk di atas kursi dan rasanya tidak pantas kalau berpindah.
“Heii, Enci Hui dan Kak Sin Cu! Kenapa kalian berdua hanya menundukkan muka saja? Apakah kalian berdua tidak berani mengangkat muka dan saling memandang?”
Tentu saja kedua orang muda yang tanpa sengaja duduk saling berdampingan itu menjadi semakin tersipu dan dengan senyum-senyum malu mereka saling lirik, hanya sekali kerling saja lalu mata mereka menunduk kembali.
“Li Hong, jangan nakal dan menggoda mereka! Duduk diam dan dengarkan saja seperti seorang anak yang baik!” bentak Gan Hok San.
“Baik, Ayah. Aku selalu menjadi anak yang baik, Ayah,” kata Li Hong dengan sikap nakal yang lucu.
“Bagaimana, Hwa-moi?” tanya Gan Hok San kepada isterinya.
Isterinya mengangguk. “Hui-ji tidak berkeberatan dan tidak menentang ikatan perjodohan itu,” jawabnya, tanpa mengatakan bahwa Ouw Yang Hui menerima atau menyetujui karena kata-kata itu tentu akan membuat gadis itu merasa lebih malu lagi.
“Bagus kalau begitu. Nah, Sin Cu dan Hui-Ji, agaknya Tuhan telah menjodohkan kalian berdua. Kami telah mengambil keputusan untuk menjodohkan kalian dan kalian berdua juga tidak berkeberatan yang berarti kalian menerima dengan baik ikatan perjodohan antara kalian ini. Sin Cu... sekarang kita tinggal membicarakan ketetapan hari pernikahan kalian berdua. Kami tidak perlu tergesa-gesa pindah dari dusun ini. Dengan adanya engkau di sini, kita tidak perlu takut lagi akan ancaman bahaya. Kita berdua akan dapat menghalau ancaman orang-orang jahat itu!”
“Maafkan saya, Parnan Gan Hok San dan Bibi, juga engkau, Hui-moi. Akan tetapi, terus terang saja saya belum dapat menentukan hari pernikahan saya sekarang.”
“Akan tetapi kenapa, Sin Cu? Setelah kalian berdua menikah, baru kami bertiga akan pindah. Kami tidak mengkhawatirkan keselamatan Hui-ji lagi karena ada engkau yang akan melindunginya.”
“Maafkan saya, Paman. Seperti telah saya ceritakan, kepada Paman tadi, saya harus lebih dulu mencari Ayah Ibu saya. Saya akan menjadi seorang anak yang tidak berbakti kalau saya menikah tanpa restu dan tanpa diketahui orang tua. Oleh karena itulah, Paman dan Bibi, saya terpaksa harus menangguhkan hari pernikahan saya sampai dapat menemukan Ayah dan Ibu saya. Kalau tidak begitu saya akan selalu dihantui rasa bersalah dan tidak berbakti terhadap mereka.”
“Akan tetapi...” Gan Hok San berkata penuh keraguan. “Sin Cu, kalau begitu berarti engkau akan meninggalkan kami untuk pergi mencari kedua orang tuamu. Engkau akan membiarkan kami semua terancam bahaya maut di tangan Ouw Yang Lee dan kawan-kawannya?” tanya Sim Kui Hwa dengan hati sedih.
Melihat pemuda yang menjadi dambaan hatinya itu terdesak, tiba-tiba timbul semangat dan keberanian Ouw Yang Hui yang muncul dari kebijaksanaannya. “Ayah dan Ibu, apa yang dikemukakan Kak Sin Cu tadi memang benar sekali. Kita harus menghargai perasaan baktinya terhadap Ayah bundanya. Adapun mengenai ancaman Ayah Ouw Yang Lee dan kawan-kawannya itu, bukankah Ayah dan Ibu sudah mengambil keputusan untuk pindah dari sini ke lain tempat yang aman?”
“Itulah yang menjadi pemikiranku, Hui-ji. Manakah ada tempat yang aman bagi kita? Ke manapun kita pergi, tentu Ouw Yang Lee akhirnya akan dapat menemukan kita.”
“Ayah, aku pernah pergi, berkunjung ke kuil Siauw-Lim-Si di pegunungan Sung-San propinsi Honan. Ayah adalah murid Siauw-Lim-Pai dan di sana terdapat banyak pendeta yang berilmu tinggi. Kalau kita pindah ke perkampungan atau dusun di lereng Sung-San, dekat kuil Siauw-Lim-Si, pasti ayah Ouw Yang Lee tidak akan berani mengganggu Ayah.”
Gan Hok San menepuk pahanya. “Ah, benar sekali! Bagaimana aku tidak berpikir sejauh itu? Engkau benar, Hui-ji. Selain kita dapat aman di sana, kita juga dapat berkebun dan bertani di tanah pegunungan yang subur itu dan aku bahkan dapat memperdalam ilmuku di sana. Engkau dan Li Hong juga harus belajar ilmu silat dengan tekun sehingga kalian dapat melindungi diri sendiri dari ancaman orang-orang jahat.”
“Aku, sudah berlatih ilmu langkah dari Kak Sin Cu,” kata Ouw Yang Hui malu-malu.
“Benarkah, Enci? Ah, engkau tentu hebat. Lain kali ajari aku, ya?” Li Hong berseru gembira.
“Sudah, diamlah, Li Hong. Aku ingin bicara dengan Sin Cu, jangan ganggu dan dengarkan saja,” kata Gan Hok San kepada Li Hong, kemudian dia menoleh kepada Sin Cu dan berkata,
“Baiklah, Sin Cu. Kami dapat menghargai niatmu menunda pernikahan sampai engkau berhasil menemukan orang tuamu. Akan tetapi kami menghendaki agar engkau dan Hui-ji lebih dulu terikat tali pertunangan sebelum kita berpisah agar perjodohan kalian sudah dipastikan. Engkau tidak keberatan, bukan?”
Sin Cu merasa tidak enak untuk menolak. Dia memang jatuh cinta kepada Ouw Yang Hui sejak pertama kali bertemu dan tentu saja dia menginginkan gadis itu menjadi jodohnya. Kalau hanya baru bertunangan saja, tentu Ayah Ibunya kelak tidak akan tersinggung dan dia percaya bahwa Ayah Ibunya adalah orang-orang bijaksana sehingga tidak akan melarang dia berjodoh dengan seorang gadis seperti Ouw Yang Hui.
“Baiklah, kalau hanya untuk ikatan pertunangan, saya menurut kehendak Paman dan Bibi dan sebelumnya saya juga menghaturkan banyak terima kasih atas kebaikan dan budi kecintaan Paman sekeluarga terhadap diri saya yang sebatang kara ini.”
“Bagus! Kita rayakan dulu pertunangan ini, baru kami pergi ke Sung-San!” seru Gan Hok San dengan gembira.
Pertunangan itu dirayakan dengan pesta. Semua penduduk dusun Sia-Bun yang jumlahnya sekitar tiga ratus jiwa diundang. Karena keluarga itu memang hendak pindah, maka Gan Hok San menyembelih semua hewan ternak berupa sapi, ayam yang ada untuk berpesta bersama semua penghuni dusun itu. Maka upacara pertunangan itupun diadakan dan sepasang orang muda yang bertunangan itu melakukan sembahyang kepada Tuhan. Bersumpah untuk saling setia, disaksikan Bumi Langit.
Pada keesokan paginya, Gan Hok San sekeluarga membagi-bagikan barang barang mereka yang tidak dapat mereka bawa kepada penduduk dusun Sia-Bun yang kurang mampu, bahkan membagi-bagikan pula tanah ladang mereka kepada penduduk yang membutuhkan, memberikan rumahnya kepada pelayan wanita tua yang sudah bertahun-tahun melayani mereka. Para penduduk menjadi terheran-heran dan bertanya-tanya.
Gan Hok San memberitahu mereka bahwa dia sekeluarga akan pindah ke kota raja di mana dia mendapatkan pekerjaan. Keterangan palsu itu dia berikan untuk menghilangkan jejak dan agar tidak ada seorangpun tahu bahwa dia sekeluarga akan pergi ke Sung-San dan Ouw Yang Lee dan kawan-kawannya tidak akan dapat melacak jejak keluarganya.
Setelah selesai membagi-bagikan semua harta kekayaan mereka yang tidak dapat mereka bawa serta, Gan Hok San sekeluarga meninggalkan dusun Sia-Bun dengan sebuah kereta. Barang-barang berharga yang dapat mereka bawa memenuhi kereta itu. Gan Hok San sendiri yang mengusiri kereta yang ditarik dua ekor kuda.
Sim Kui Hwa, Ouw Yang Hui dan Gan Li Hong duduk di dalam kereta, sedangkan Sin Cu mengikuti dengan mengerahkan ginkang sehingga dia tidak tertinggal oleh larinya dua ekor kuda penarik kereta itu. Sin Cu mengambil keputusan untuk mengawal keluarga menuju Sung-San. Hatinya tidak akan merasa tenang sebelum keluarga itu tiba di Sung-San dengan selamat dan hidup aman disana, dekat dengan kuil Siauw-Lim-Si.
Di pesisir Laut Timur terdapat sebuah pegunungan memanjang dari utara ke selatan. Pegunungan di sepanjang pantai lautan ini merupakan bukit-bukit karang yang berkapur sehingga sebagian besar bukit-bukit di situ tanahnya tandus dan hanya ditumbuhi pohon-pohonan tertentu yang biasa tumbuh di tanah berbatu karang itu.
Akan tetapi ada sebuah bukit dari pegunungan itu yang agaknya memiliki tanah yang lumayan subur sehingga bukit itu penuh dengan pohon dan tanaman lainya. Bukit yang cukup besar dan dipenuhi hutan belantara ini dikenal sebagai Houw-San (Bukit Harimau). Mungkin nama ini disebut orang karena pada waktu dahulu di bukit ini banyak harimaunya.
Akan tetapi sekarang sudah tidak ada lagi sisa harimau di situ. Namun, tetap saja tidak ada pedusunan dibukit itu, bahkan tidak ada orang atau pemburu berani memasuki hutan-hutan pegunungan itu karena kini tempat itu dikenal sebagai tempat tinggal orang-orang yang lebih ganas dan berbahaya dari pada segerombolan harimau! Pedagang atau pelancong tidak ada yang berani lewat dekat bukit itu.
Semua orang sudah tahu bahwa bukit itu dihuni oleh segerombolan orang yang amat berbahaya dan jahat, orang-orang yang pekerjaannya hanya merampok atau membajak di laut. Karena tidak ada orang yang berani tinggal di daerah Bukit Harimau itu, maka Houw-San seolah-olah menjadi milik gerombolan yang tinggal di lereng Houw-San, di antara hutan lebat. Gerombolan itu membuka hutan dan membangun sebuah perkampungan di lereng Houw-San.
Sudah lebih dari dua puluh lima tahun mereka tinggal di perkampungan itu, dan kini perkampungan itu telah menjadi sebuah perkampungan yang cukup besar karena para anggauta gerombolan itu banyak yang telah beranak isteri. Jumlah para anggauta gerombolan itu kurang lebih lima puluh orang dan bersama anak isteri mereka, perkampungan itu dihuni oleh tidak kurang dari dua ratus jiwa.
Keadaan kehidupan mereka di perkampungan itu tampak biasa saja, seperti kampung kampung lain. Rata-rata mereka berkeadaan cukup. Hasil rampokan dan bajakan cukup besar untuk membiayai kebutuhan mereka. Akan tetapi kalau mereka berada di luar perkampungan mereka sendiri, apalagi kalau sedang bertugas merampok atau membajak, mereka merupakan orang orang yang amat kejam dan ganas melebihi harimau-harimau.
Dengan mudah saja mereka membunuh korban mereka, menculik wanita untuk dipaksa menjadi isteri mereka, dan merampas harta milik orang sesuka hati mereka. Gerombolan yang sudah lama terbentuk ini rata-rata berusia empat puluh tahun lebih. Hanya ada beberapa orang saja yang masih muda, yaitu para anggauta baru. pemimpin mereka tinggal di sebuah rumah terbesar di perkampungan itu, rumah yang cukup mewah.
Dia bernama Lo Cit dan berjuluk Tok-Gan-Houw (Harimau Mata satu), seorang laki-laki bertubuh tinggi besar yang mukanya penuh brewok yang sudah berwarna dua. Usia Tok-Gan-Houw Lo Cit sudah mendekati enam puluh tahun, namun tubuhnya masih tampak kekar dan kokoh kuat. Dia terkenal lihai dengan senjatanya yang menyeramkan, yaitu sebatang golok yang besar dan berat lagi tajam.
Setelah usianya semakin tua, Lo Cit tidak memimpin sendiri kalau anak buahnya melakukan perampokan. Akan tetapi kalau mereka menyerang sebuah perahu besar berisi banyak harta di Laut Timur, dia sendiri yang memimpin anak buahnya. Hasil bajakan ini biasanya besar sekali dan satu kali membajak, hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sampai berbulan-bulan.
Untuk mengisi kekosongan di waktu menganggur, yaitu di waktu mereka tidak melakukan perampokan atau pembajakan, para anggauta gerombolan itu menggarap sawah ladang di sekitar lereng itu yang tanahnya cukup subur. Mereka menanam sayur dan pohon-pohon buah. Bahkan ada pula beberapa puluh ekor sapi dan domba mereka ternakkan. Tok-Gan-Houw Lo Cit tidak mempunyai anak, juga tidak mempunyai isteri yang tetap.
Setiap kali gerombolannya menangkap dan menculik wanita-wanita, dia memilih beberapa orang yang paling cantik. Akan tetapi dia seorang pembosan dan menganggap para wanita itu sebagai hiburan dan kesenangan belaka. Setelah merasa bosan, dia menyerahkan para wanita itu kepada anak buahnya.
Pada waktu itu, dalam rumah Tok-Gan-Houw Lo Cit tidak ada wanitanya. Wanita terakhir baru saja dia berikan kepada seorang anak buah yang dianggapnya berjasa, setelah dia mengeram wanita itu dalam rumahnya selama beberapa bulan.
Pagi itu cuaca cerah dan suasana amat indahnya. Matahari pagi memandikan permukaan burni dengan cahayanya yang hangat menyehatkan dan menghidupkan. Burung-burung berkicau riang di pepohonan, seolah hari itu tidak akan terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.
Sebagian anggauta gerombolan itu sudah meninggalkan perkampungan dan bekerja di ladang yang berada di sekitar perkampungan itu. Para anggauta yang tinggal di perkampungan tinggal kurang lebih lima belas orang. Para isteri para anggauta gerombolan sibuk bekerja di dapur masing-masing atau sedang mencuci pakaian. Anak-anak bermain-main di pelataran rumah masing-masing.
Teriakan dan tawa mereka menghidupkan suasana di perkampungan itu, seolah perkampungan itu adalah perkampungan biasa yang dihuni para petani dusun yang hidup penuh damai. Akan tetapi keadaan di pintu gerbang perkampungan itulah yang membedakan perkampungan ini dengan perkampungan dusun para petani biasa.
Di dekat pintu gerbang itu terdapat sebuah gardu penjagaan dan di situ ada enam orang anggauta gerombolan yang melakukan penjagaan secara bergiliran. Siang malam gardu itu dipergunakan oleh enam orang anggauta yang bertugas jaga.
Gadis yang berjalan di atas jalan kasar yang dibuat gerombolan menuju ke perkampungan itu amat cantik dan tampak gagah. Langkahnya tegap seperti langkah seorang perajurit yang terlatih baik. Usianya sekitar sembilan belas tahun. Wajahnya berbentuk bulat dan berkulit putih sekali. Putih halus dan kemerahan menunjukkan tubuh yang sehat. Sepasang matanya lebar dan mempunyai sinar yang tajam dan penuh keberanian.
Hidungnya mancung dan bentuk mulutnya manis sekali, dengan sepasang Bibir yang menggairahkan. Sebintik tahi lalat di dagunya menambah kemanisan wajah itu. Tubuhnya yang sedang mekar itu ramping agak montok. Pakaiannya berwarna merah muda, tidak mewah namun rapi ringkas bersih. Di punggungnya tampak sebatang pedang bersarung indah dan beronce kuning.
Gadis ini bukan lain adalah Ouw Yang Lan. Seperti kita ketahui, Ouw Yang Lan telah berkunjung ke Pulau Naga, akan tetapi Ouw Yang Lee, Ayah kandungnya dan Tan Song Bu yang kini telah diangkat anak oleh Ouw Yang Lee dan menjadi Ouw Yang Song Bu tidak berada di pulau karena telah pergi ke kota raja.
Setelah gagal bertemu Ayahnya di Pulau Naga dan mendengar bahwa Ibu tirinya, Sim Kui Hwa diusir oleh Ayahnya dari Pulau Naga, Ouw Yang Lan lalu meninggalkan pulau itu dan kini tujuannya adalah mencari Tok-Gan-Houw Lo Cit, orang yang menjadi biang keladi penyerbuan ke Pulau Naga sehingga mengakibatkan ia dan Ouw Yang Hui beserta Ibu-ibu mereka tersingkir dari Pulau Naga.
Dan pada pagi hari yang cerah itu iapun tiba di lereng Houw-San, memasuki hutan yang menjadi sarang gerormbolan yang dipimpin oleh Tok-Gan-Houw Lo Cit. la dapat menemukan sarang musuh besarnya ini setelah bertanya-tanya pada orang-orang dusun yang berada di kaki pegunungan Houw-San. Dari Ayah tirinya, Thai-Lek-Kui Ciang Sek, ia hanya mendengar bahwa sarang Tok Han-houw Lo Cit berada di lereng bukit. Akhirnya sampailah ia di depan pintu gapura perkampungan gerombolan itu.
Tentu saja ia segera menarik perhatian orang-orang yang tinggal di perkampungan itu. Perkampungan itu merupakan tempat terasing. Tidak ada orang luar pernah datang berkunjung. Tidak ada yang berani menkati perkampungan itu, bahkan memasuki hutan itupun tidak'ada yang berani. Maka kemunculan seorang gadis yang amat cantik di depan pintu perkampungan itu sungguh membuat orang merasa terheran heran.
Enam orang anak buah gerombolan yang pada saat itu bertugas menjaga keamanan kampung dan berada di dalam gardu penjagaan, segera keluar dari gardu dan, mereka menghadang di depan pintu gapura ketika melihat gadis asing itu berjalan menghampiri pintu. Akan tetapi mereka tersenyum dan bersikap ramah, tidak seperti biasa kalau mereka menghadapi orang asing.
Para anggauta itu terkenal sadis dan galak kalau menghadapi orang asing di luar penghuni perkampungan mereka sendiri. Akan tetapi kini mereka tersenyum ramah kepada Ouw Yang Lan karena gadis itu luar biasa cantiknya. Seorang di antara mereka yang hidungnya pesek hampir rata dengan pipinya mempergunakan kekuasaannya sebagai pemimpin penjaga untuk menghampiri Ouw Yang Lan dan berkata,
“Hei, nona manis berhenti dulu....! Siapakah nona dan datang dari mana. Apa keperluan nona datang di perkampungan kami?”
“Twako, barangkali ia datang untuk mencari jodoh!” kelakar seorang anggauta regunya.
Si hidung pesek tertawa. “Ha-ha, benarkah demikian? Kalau begitu kebetulan sekali karena baru saja aku menceraikan isteriku dan sudah kuserahkan kepada seorang rekan. Bagaimana kalau aku saja yang menjadi suamimu, nona?”
“Kau harus bertindak cepat, Twako. Kalau sampai dilihat Pangcu (Ketua), engkau tentu tidak akan kebagian...!” kata pula seorang anak buah yang lain.
Ouw Yang Lan sudah mengerutkan sepasang alisnya, akan tetapi ia masih dapat menahan kesabarannya karena ia tidak ingin berurusan dengan orang-orang kasar ini. “Katakanlah, apakah ini perkampungan gerombolan yang dipimpin oleh Tok-Gan-Houw Lo Cit?” tanyanya.
“Wah, celaka, Twako! la sudah mengenal Pangcu, pasti engkau tidak akan kebagian!” kata seorang anąk buah.
Akan tetapi si hidung pesek tidak melayani kelakar rekan-rekannya. Dia merasa heran bahwa seorang gadis asing mengenal Pangcunya dan timbul kecurigaannya, apa lagi melihat bahwa gadis ini tidak seperti gadis-gadis biasa. Gadis ini membawa pedang di punggungnya dan sedikitpun tidak tampak ketakutan menghadapi mereka berenam. “Nona, engkau siapa dan dari mana?”
“Tidak penting aku siapa dan dari mana. Jawab dulu, apakah Tok-Gan-Houw tinggal di perkampungan ini?”
“Tidak salah, ini perkampungan para pendekar yang dipimpin ketua kami, Tok-Gan-Houw Lo Cit,” kata si hidung.pesek dengan bangga dan tanpa malu-malu menyebut perkampungan mereka sebagai perkampungan para pendekar.
“Hemm, begitukah? Kalau begitu, biarkan aku lewat dan memasuki perkampungan. Aku ingin bertemu dan bicara dengan Tok-Gan-Houw Lo Cit!” kata Ouw Yang Lan dengan tegas.
Karena menduga bahwa gadis itu mungkin seorang kenalan ketua mereka enam orang penjaga itu tidak berani bersikap sembarangan lagi. Sementara itu, munculnya seorang gadis asing di pintu perkampungan menjadi bahan pembicaraan orang-orang yang berada di perkampungan dan tak lama kemudian belasan orang anggauta lain telah berkumpul di pintu perkampungan.
“Nona, tidak mudah begitu saja untuk bertemu dengan ketua kami! Nona harus mengatakan dulu kepada kami siapa nama nona, datang dari mana dan apa keperluarnya nona ingin bertemu dengan Pangcu,” kata si hidung pesek dengan penuh gaya karena dia menjadi pusat perhatian para rekannya dan dialah yang berkuasa dalam penjagaan di situ.
“Tidak perlu kalian tahu siapa aku dan apa keperluanku!”
“Nona harus mengaku!”
“Kalau aku tidak mau, kalian mau apa?” tanya Ouw Yang Lan.
Si hidung pesek berseru kepada lima orang regu penjaga itu. “Kawan-kawan, nona ini mengacau, kita tangkap ia dan hadapkan kepada pancu!”
Lima orang anak buahnya gembira mendengar perintah ini. Mereka semua, berenam, lalu menerjang ke depan untuk menyergap dan meringkus gadis cantik itu. Gatal-gatal hati dan tangan mereka untuk dapat menangkap dan mendekap, meringkus Ouw Yang Lan, merasakan kelembutan tubuh yang denok montok itu dengan tangan mereka.
Akan tetapi, tiba-tiba tubuh gadis itu bergerak cepat sekali, kedua tangan dan kakinya sudah membagi-bagi tamparan dan tendangan bagaikan kilat menyambar dan berturut-turut enam orang itu berpelantingan dan roboh dengan dada sesak, perut mulas atau muka bengkak!
Sebelum si hidung pesek yang ditampar mukanya sehingga pipi kirinya membengkak dan hidungnya semakin tidak tampak lagi, itu sempat bangkit, ujung pedang di tangan Ouw Yang Lan sudah menempel di lehernya. Dia dapat merasakan ujung pedang yang runcing itu menodong kulit lehernya sehingga dia tidak berani bergerak lagi.
“Kalau kalian maju mengeroyok, leher dia akan kupenggal lebih dulu!” bentak gadis itu kepada para anggauta gerombolan yang tampaknya hendak turun tangan ngeroyoknya. Lalu sambil menekan pedangnya ke leher si hidung pesek, ia berseru, “Ayo suruh seorang kawanmu pergi melapor pada Tok-Gan-Houw Lo Cit agar dia kesini menemuiku di sini!”
Si hidung pesek yang ketakutan segera berkata kepada teman-temannya, “Cepat kalian lapor kepada Pangcu. Cepat...!”
Beberapa orang penjaga yang tadi terpelanting roboh dan menjadi jerih segera berlompatan lari memasuki perkampungan. Mereka langsung lari ke rumah induk yang menjadi tempat tinggal ketua mereka. Tok-Gan-Houw Lo Cit sedang duduk menghadapi meja yang dipenuhi makanan kecil dan air teh, dihidangkan oleh isterinya yang baru dua bulan tinggal di rumah itu.
Isterinya itu seorang gadis manis yang diculiknya dari dusun yang jauh letaknya dari pegunungan itu dan dipaksa menjadi isterinya yang baru. Karena ancaman disiksa dan dibunuh, gadis dusun yang tak berdaya itu menerima nasib. Air matanya sudah habis terkuras dan pagi itu melayani “Suaminya” dengan wajah dingin tanpa perasaan apapun, seperti mayat hidup saja tanpa semangat dan perasaan lagi.
Ketika Lo Cit yang sedang minum air teh hangat itu melihat tiga orang anggautanya datang berlari-lari, dia mengerutkan alisnya dan membentak. “Hei, ada apa kalian berlari-lari seperti dikejar setan? Kalian tidak melihat aku sedang santai? Apakah kalian tidak menghormati aku lagi?”
Tiga orang itu menjadi ketakutan dan serentak mereka menjatuhkan diri berlutut menghadap sang ketua yang terkenal galak dan kalau sudah marah dapat menurunkan tangan kejam itu..“Ampunkan kami, Pangcu. Kami hendak melapor bahwa di luar pintu perkampungan muncul seorang gadis yang mengamuk merobohkan kami enam orang penjaga dan kini mengancam akan membunuh kepala jaga. la menuntut agar Pangcu keluar menemuinya.”
Tok-Gan-Houw Lo Cit memang memiliki watak yang keras dan galak sekali terhadap anak buahnya. Dan memang orang-orang kasar seperti anak buahnya itu baru menjadi taat kalau diperlakukan dengan keras. Mendengar laporan itu, dia menjadi marah dan membanting cangkir teh sehingga hancur berkeping-keping. “Tolol! Menghadapi seorang gadis saja kalian tidak becus, tidak mampu menang darinya?”
“la... ia lihai sekali, Pangcu. Kami berenam sudah mencoba untuk menangkapnya, akan tetapi kami berenam roboh dalam segebrakan saja.”
“Ilmu silatnya tinggi, Pangcu.”
“Goblok kalian! Orang macam apa gerangan gadis itu?”
“la cantik jelita akan tetapi ilmu silatnya tinggi Pangcu.”
“Hemm, cantik jelita dan lihai?” Si mata satu Lo Cit menggumam, matanya yang tinggal sebelah kanan itu termenung. Belum pernah dia mendapatkan seorang gadis yang cantik dan lihai pula. Agaknya wanita seperti itulah yang patut menjadi isterinya, bukan gadis-gadis dusun yang lemah bodoh seperti selama ini. “Siapa namanya? Dari mana ia datang?”
“la tidak mau mengakui namanya. Hanya minta agar Pangcu sendiri yang keluar menemuinya.”
Tok-Gan-Houw Lo Cit menoleh kepada isterinya yang sejak tadi hanya menundukkan, mukanya..“Pergi kau ke kamar dan ambilkan golok besarku. Cepat!”
Isteri yang usianya paling banyak delapan belas tahun itu berlari-lari kecil untuk ke dalam dan tak lama kemudian ia sudah kembali sambil membawa sebatang golok besar dengan kedua tangannya. la nampak sukar dan berat sekali membawa golok besar itu.
Lo Cit bangkit berdiri, menyambar golok itu dari tangan isterinya, kemudian melompat keluar dan dengan langkah besar dia menuju ke pintu gerbang perkampungan. Ketika dia tiba di pintu gerbang dan keluar, dia melihat para anak buahnya yang belasan orang banyaknya berkumpul di dekat pintu gerbang seolah bingung dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Maka melihat munculnya Lo Cit, belasan orang anak buah itu lalu menyingkir ke kanan kiri membuka jalan membiarkan sang ketua lewat.
Lo Cit keluar dari pintu gerbang dan dia melihat seorang gadis yang amat cantik manis berdiri dengan kaki kiri menginjak punggung seorang anak buahnya yang berhidung pesek dan menjadi kepala jaga pada pagi hari itu dan gadis itu menodongkan pedangnya ke tengkuk orang yang diinjak punggungnya. Lo Cit terbelalak kagum, matanya yang tinggal sebuah itu bersinar-sinar.
“Nona, siapakah engkau dan apa kehendakmu berkunjung ke perkampungan kami? Harap lepaskan dia,” kata Lo Cit dengan suara dan sikap yang bagi anak buahnya terasa aneh karena suara itu halus dan sikapnya ramah sekali. Padahal biasanya Lo Cit bersikap galak dan bersuara kasar terhadap siapapun.
Ouw Yang Lan mengangkat muka menatap wajah Lo Cit. Melihat orang brewok tinggi besar itu bermata tunggal, ia lalu bertanya, “Engkaukah yang bernama Tok gan-houw Lo Cit?” la masih menginjakkan kaki kirinya pada punggung si hidung pesek.
Lo Cit tersenyum lebar. “Benar sekali nona. Nona mencariku?”
Mendengar jawaban ini, Ouw Yang Lan menggerakkan kakinya menendang si hidung pesek yang tadi diinjaknya sehingga tubuh orang itu terlempar bergulingan. la lalu melompat ke depan Lo Cit. Pedang Lo-Thian-Kiam (Pedang Pengacau Langit) tersembunyi di bawah lengannya dan telunjuk tangan kirinya menuding ke arah muka Lo Cit.
“Engkaukah yang sebelas tahun yang lalu menyerbu Pulau Naga, menculik dua orang wanita dan dua orang puterinya?”
Wajah Lo Cit menjadi agak pucat mendengar ini. Akan tetapi dia segera dapat menekan perasaan hatinya yang terguncang, wajahnya menjadi merah kembali dan dia tersenyum. “Peristiwa itu terjadi sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu dan aku sudah hampir lupa lagi. Kenapa engkau menanyakan hal itu? Siapakah engkau, nona manis?”
“Tidak penting aku siapa, akan tetapi engkau boleh mengetahui bahwa aku datang untuk membunuhmu, mengenyahkan engkau dari permukaan bumi ini karena engkau hanya mengotori dunia dengan kejahatanmu yang bertumpuk-tumpuk!” Setelah berkata demikian, Ouw Yang Lan mengelebatkan pedangnya dan memegang pedang itu di depan dada, lurus menunjuk ke atas.
Tok-Gan-Houw Lo Cit tertawa bergelak sampai mukanya berdongak dan perutnya terguncang. “Ha-ha-ha-ha! Lucu sekali! Engkau, seorang gadis muda yang cantik jelita ini hendak membunuh aku? Ha-ha-ha, hentikan niatmu yang buruk itu, nona. Sayang kalau sampai kulitmu yang putih mulus dan halus lunak itu lecet, lebih sayang lagi kalau sampai engkau tewas bertanding melawan aku.
"Dari pada begitu, sayang, lebih baik engkau menjadi isteriku saja. Kita cocok sekali untuk menjadi suami isteri. Aku akan mengadakan pesta besar untuk merayakan pernikahan kita. Bukankah itu baik sekali? Ha-ha-ha-ha!” Suara tawa itu seperti bergema karena diikuti oleh para anak buahnya yang juga tertawa untuk menyenangkan hati ketua mereka.
Ouw Yang Lan memandang dengan mata penuh kebencian. “Lo Cit, tua bangka jahat, manusia berwatak iblis! Jangan banyak mulut, cabut golokmu itu dan lawan aku kalau engkau memang seorang laki-laki, bukan banci pengecut!”
Merah juga muka Lo Cit mendengar tantangan yang disertai caci maki yang amat menghinanya itu. “Bocah sombong, engkau akan menjadi isteriku, mau atau tidak! Untuk menangkapmu, tidak perlu aku mempergunakan golok besarku!” Setelah berkata demikian, tiba-tiba dia melakukan gerakan menubruk ke arah Ouw Yang Lan, seperti seekor harimau menerkam kelinci.
Akan tetapi tubrukannya mengenai tempat kosong karena dengan lincah dan cepat sekali Ouw Yang Lan telah mengelak. Gadis ini telah menguasai hampir seluruh ilmu kepandaian Ayah tirinya. Thai-Lek-Kui Ciang Sek sehingga Lo Cit bukan merupakan lawan yang terlalu tangguh baginya. Akan tetapi karena ia memang ingin membunuh kepala gerombolan yang menjadi biang keladi, Ia dan Ouw Yang Hui bersama kedua ibu mereka harus meninggalkan Pulau Naga.
Maka, biarpun lawannya tidak mempergunakan senjata golok besarnya, ia tetap menyerang dengan pedangnya secara hebat sekali. Pedang yang dimainkan dengan ilmu pedang Lo-Thian Kiam-Sut (ilmu Pedang Pengacau Langit) itu lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung dan kadang mengeluarkan kilat yang menyambar-nyambar. “Mampuslah!”
Tiba-tiba sinar berkelebat menyambar ke arah leher Lo Cit. Serangan itu demikian kuat dan cepat sehingga Lo Cit terkejut bukan main. “Celaka...!” Teriaknya dan ia melemparkan tubuh ke samping untuk menghindarkan diri dari cengkeraman tangan maut itu. Akan tetapi ujung pedang masih sempat menggores pundak kirinya sehingga baju dan pundaknya robek.
“Aduh!” Lo Cit bergulingan menjauh, sambil bergulingan itu dia mencabut golok besarnya. Dia melompat bangun dan berdiri sambil memutar golok. Dia melihat gadis itu berdiri dalam jarak tiga meter di depannya dengan pedang melintang depan dada dan mulut yang manis sekali itu tersenyum mengejek.
“Lo Cit, bersiaplah engkau untuk mampus dan masuk ke dalam kerajaan iblis neraka jahanam.”
Lo Cit marah bukan main. Pundaknya terluka dan rasa takut membuat dia menjadi marah sekali. Selama ini belum pernah dia merasa takut. Kemarahannya memuncak dan dia tidak ingin lagi merangkul dan mendekap gadis cantik itu, melainkan hanya satu keinginannya, yaitu membunuh gadis yang amat berbahaya itu.
“Perempuan setan! Engkaulah yang akan mampus, kucincang tubuhmu!” Sambil berkata demikian dia menggerakkan tangan kirinya memberi isyarat kepada belasan orang anak buahnya untuk maju mengeroyok. Kemudian dia sendiri sudah menggerakkan golok besarnya dan menyerang kalang kabut!
“Traang... criing...!” dua kali golok besar bertemu pedang dan dua kali Lo Cit merasa betapa goloknya terpental dan tangan kanannya tergetar hebat.
Belasan anak buahnya sudah mengeroyok Ouw Yang Lan dengan senjata golok mereka. Akan tetapi begitu Ouw Yang Lan memutar pedangnya, empat orang roboh dan golok mereka terpental ke sana sini. Mereka telah terluka walaupun tidak sangat parah.
Memang Ouw Yang Lan tidak ingin membunuh para anak buah gerombolan itu. la hanya ingin membunuh Lo Cit. Melihat empat orang anak buahnya roboh, Lo Cit yang menjadi semakin gentar itu lalu mengamuk. Goloknya menyambar-nyambar ke arah tubuh Ouw Yang Lan, namun gadis ini mengelak dan menangki, kakinya menendang dua kali dan robohlah dua orang pengeroyok lain. Kemudian ia menggerakkan pedangnya yang menyambar nyambar di antara para anak buah gerombolan.
Satu demi satu robohlah belasan orang anak buah gerombolan yang mengeroyoknya! Dan dengan langkah perlahan dan satu-satu kini Ouw Yang Lan menghampiri Lo Cit yang mundur dengan muka pucat dan matanya yang tinggal satu itu terbelalak ketakutan. Baginya, gadis cantik jelita itu kini bagaikan hantu yang mengancamnya. Hampir dia terjengkang ketika mundur-mundur dan kakinya menginjak tubuh seorang anak buah yang terluka.
Yang terinjak itu otomatis mendorong dengan tangan sehingga kaki Lo Cit terjegal. Akan tetapi Lo Cit masih dapat melompat ke belakang. Kemudian, saking takutnya, dia lalu lari tunggang langgang. Ketika dia tiba di sebuah tikungan bukit keluar dari hutan, tiba-tiba ada bayangan merah muda berkelebat dan tahu-tahu Ouw Yang Lan sudah berdiri di depannya sambil tersenyum mengejek.
“Kau.... kau...!” dia menyerang dengan goloknya sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
“Trangg....!” Golok itu terlepas dari pegangannya dan terlempar jauh. Lo Cit menggigil ketakutan dan dengan lemas diapun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gadis itu. “Ampunkan saya nona... ampunkan saya, jangan bunuh saya.”
“Hayo katakan apa yang telah kau lakukan terhadap Ouw Yang Hui dan Ibu Sim Kui Hwa! Dimana mereka sekarang? Hayo katakan!” bentak Ouw Yang Lan sambil menodongkan pedangnya. Ujung pedang itu menembus kain baju dan menyentuh kulit dada Lo Cit.
Kepala penjahat ini menjadi semakin ketakutan. Biasanya, dia berwatak kejam dan tidak mengenal kasihan kepada para korbannya, menyiksa dan membunuh orang sesuka hatinya. Akan tetapi setelah kini dia tidak berdaya dan terancam maut, dia menjadi begitu ketakutan sampai celananya menjadi basah! Mungkin sifat pengecut dan penakut itulah yang justeru membuat dia kejam dan dengan mudah membunuh orang orang yang dianggap sebagai musuh dan yang mungkin membahayakan dirinya.
“Siapakah mereka itu, nona? Saya... saya tidak mengenal nama-nama itu,” ratapnya. Dia memang sudah melupakan nama nama itu.
“Jahanam...! Jangan pura-pura tidak tahu. Engkau yang dulu, sebelas tahun yang lalu menyerbu Pulau Naga dan menculik dua orang wanita bersama anak-anak perempuan mereka! Engkau melarikan anak perempuan bernama Ouw Yang Hui dan ibunya! Hayo cepat katakan di mana mereka kini berada atau akan kubuntungi kaki tanganmu!”
Kini Tok-Gan-Houw Lo Cit teringat dan dia menjadi semakin ketakutan. Tahulah dia bahwa saat ini Pulau Naga membuat perhitungan, membalas dendam. Dia menjadi nekat. “Aku... aku... tidak tahu...!”
Tiba-tiba dia melompat berdiri dan menyerang dengan cengkeraman tangan kanan ke arah muka dan tangan kirinya mencengkeram kearah perut. Serangan ini berbahaya sekali karena dilakukan dalam jarak dekat sekali.
Namun, sejak tadi Ouw Yang Lan selalu waspada karena dia maklum betapa jahat dan curangnya Harimau Mata Satu itu. la melangkah mundur menghindarkan mukanya dari cengkeraman tangan kanan lawan, dan ketika tangan kiri Lo Cit mengejar ke arah perutnya, dia mengelebatkan pedangnya.
“Crokk!” Lengan kiri Lo Cit sebatas siku terbabat pedang dan putus! “Aduh...” Lo Cit merintih sambil memegangi lengan yang buntung itu dengan tangan kirinya. Darah bercucuran dari lengan yang buntung itu.
“Jahanam busuk! Hayo cepat katakan di mana ibu dan anak itu atau aku akan membuntungi semua anggauta tubuhmu, menyiksamu sebelum membunuhmu!” Ouw Yang Lan menghardik.
Rasa nyeri dan takut membuat Lo Cit menangis seperti seorang anak kecil, akan tetapi dia tidak berani lagi menyangkal, “Saya... saya... saya benar-benar tidak tahu mereka sekarang berada di mana....” katanya diantara ratap tangisnya. “Ketika itu, muncul seorang laki-laki yang merampas wanita itu dari tanganku... hanya itu yang kutahu...”
“Hemm, dan di mana anak perempuan itu?” Ouw Yang Lan mendesak.
“la... ia... dibawa pergi seorang pembantuku bernama Ji Tong dan... saya juga tidak tahu di mana mereka sekarang berada.”
Ouw Yang Lan yakin bahwa penjahat itu tidak berbohong. la lalu menggerakkan pedangnya. Sinar berkelebat dan Tok-Gan-Houw Lo Cit roboh dengan kepala hampir putus dan tewas seketika. Para anak buah Lo Cit yang melihat betapa Lo Cit tewas dan para anak buah yang tadi berani maju mengeroyok juga sudah roboh semua, menjadi ketakutan dan tidak ada seorangpun berani mencoba untuk melawan.
Mereka bahkan melarikan diri memasuki perkampungan mereka dan bersembunyi dalam pondok-pondok mereka. Ouw Yang Lan tidak memperdulikan lagi kepada mereka dan ia lalu meninggalkan perkampungan gerombolan di Houw San itu, lalu menuju ke barat untuk pulang ke Pek-In-San (Bukit Awan Putih) di pegunungan Thai-san.
Para anak buah Tok-Gan-Houw Lo Cit berkabung. Jenazah ketua mereka itu sudah dimasukkan sebuah peti kayu tebal dan ditaruh di ruangan depan, semua anak buah mengadakan sembahyangan. Mereka seperti sekumpulan anak ayam kehilangan induk mereka, tampak gelisah dan bingung. Akan tetapi diam-diam mulai terjadi persaingan dalam hati mereka yang merasa memiliki ilmu silat tertinggi dan merasa berkuasa.
Sudah terasa suasana persaingan itu di antara para anak buah sehingga suasananya menegangkan. Mereka semua dapat merasakan bahwa setelah jenazah ketua mereka itu dikubur, tentu akan terjadi perebutan dan perkelahian. Akan tetapi selama peti mati itu belum dikubur, agaknya para pembantu utama Lo Cit itu masih menahan diri dan merasa rikuh kalau harus ribut di depan peti mati ketua mereka. Mereka itu biasanya amat takut kepada Lo Cit sehingga biarpun ketua itu telah tewas, melihat peti matinya saja sudah menimbulkan perasaan takut di dalam hati mereka!
Pagi itu, dua hari kemudian, semua orang sudah siap untuk membawa ke tanah pekuburan untuk mengubur jenazah Lo Cit. Sebuah lubang besar telah digali di tanah kuburan yang berada di luar perkampungan gerombolan yang berada di lereng Hou San (Bukit Harimau) itu. Sembahyangan terakhir dilakukan. Para pelayat, selain para anak buah, yang datang dari pedusunan di sekitar Bukit Harimau, satu demi satu juga sudah memberi penghormatan terakhir.
Diantara mereka terdapat beberapa orang jagoan dan kepala gerombolan yang pernah menjadi kawan mendiang Tok-Gan-Houw Lo Cit. Di antara mereka terdapat dua orang kepala penjahat yang sebenarnya bukan semua datang melayat, melainkan hendak melihat keadaan dan melihat siapa yang akan menggantikan Lo Cit menjadi ketua gerombolan itu.
Di balik pelayatan ini sebetulnya mereka menginginkan kedudukan ketua dari gerombolan yang cukup kuat itu. Apa lagi Lo Cit yang tidak mempunyai anak itu meninggalkan rumah dan harta benda yang cukup banyak di samping beberapa orang pelayan wanita dan isteri yang muda-muda dan cantik-cantik.
Dua orang itu yang seorang bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan terkenal dengan nama Hek-Kang-Jiu (Tangan Baja Hitam) Co Tek dan yang seorang lagi bertubuh kecil pendek membawa golok besar di punggungnya yang terkenal dengan nama Toat-Beng-To (Golok Pencabut Nyawa) Tung Kok.
Setelah memberi hormat kepada peti jenazah, kedua orang ini dipersilakan duduk oleh para tokoh gerombolan yang mengenal dan menghormati mereka. Akhirnya para tamu yang datang melayat tidak ada lagi dan orang-orang sudah bersiap-siap untuk mengangkat peti jenazah dan mengangkutnya ke tanah kuburan. Tiba-tiba muncul seorang tamu lagi sehingga pengangkatan peti jenazah ditangguhkan.
Tamu ini adalah seorang pemuda tampan gagah. Akan tetapi semua orang memandang heran karena pemuda itu tidak segera memberi hormat kepada peti jenazah melainkan melayangkan pandang matanya kepada orang-orang yang berada di situ. Semua orang tentu saja merasa heran dan mengamati pemuda itu.
Dia berusia kurang lebih dua puluh satu tahun. Tubuhnya tinggi kokoh. Mukanya bulat dan sepasang matanya yang lebar itu bersinar tajam seperti mata harimau. Hidungnya mancung dan mulutnya membayangkan senyum mengejek. Alisnya hitam tebal dan rambutnya juga hitam panjang, disanggul dan dihias tusuk sanggul burung merak. Di punggungnya tergendong sebuah buntalan kain biru dan di bawah buntalan terdapat sebatang pedang beronce kuning.
Pemuda ini bukan lain adalah Tan Song Bu yang sudah berganti marga menjadi Ouw Yang Song Bu. Seperti diketahui, pemuda ini merasa tidak suka kepada Im Yang Tojin yang dianggapnya seorang pengkhianat partainya sendiri, juga tidak suka kepada To Te Kong dan Cui-Beng Kui-Bo yang dinilainya sombong. Maka dia gembira mendapat tugas dari Ayah angkatnya pergi mencari Ouw Yang Hui dan tidak ikut rombongan jagoan Liu Thaikam itu yang hendak menyerbu dan membasmi Im-Yang-Kauw di Kim-San.
Dia tidak tahu kemana harus mencari Ouw Yang Hui. Karena dia lebih dulu hendak mencari Tok-Gan-Houw Lo Cit yang dahulu menyerbu Pulau Naga dan yang menjadi biang keladi perginya Ouw Yang Lan dan Ouw Yang Hui bersama ibu mereka dari Pulau Naga. Juga dia hendak bertanya kepada Lo Cit di mana adanya Sim Kui Hwa, ibu Ouw Yang Hui dan dimana pula adanya Ouw Yang Lan dan ibunya, yaitu Lai Kim.
Demikianlah, pada pagi itu dia menemukan perkampungan gerombolan yang dipimpin Lo Cit, tidak tahu bahwa orang yang dicarinya telah tewas dua hari yang lalu. Seorang tokoh gerombolan yang bertugas menerima tamu mewakili keluarga Lo Cit, segera maju menghampiri Song Bu dan bertanya dengan suara bernada tidak senang melihat pemuda itu datang tidak memberi hormat kepada peti jenazah.
“Orang muda, engkau agaknya tidak datang untuk melayat. Siapakah engkau dan mau apa engkau datang ke sini?”
Song Bu menyapu ke sekelilingnya, mencari-cari orang yang bermata satu. Yang dia ketahui tentang Tok-Gan-Houw (Harimau Mata Satu) Lo Cit hanyalah bahwa musuh besar itu hanya memiliki mata sebelah karena yang satu lagi telah buta. Hanya sekilas saja dia memandang orang yang menegurnya, lalu dia menjawab, “Aku datang mencari Tok-Gan-Houw Lo Cit. Dimana dia?”
Tentu saja semua orang menjadi heran dan tertarik. Pemuda itu mencari orang yang sudah mati dan yang kini berada di dalam peti mati! “Mau apa engkau mencari Tok-Gan-Houw Lo Cit?” tanya anggauta gerombolan itu, kini nada suaranya marah.
Song Bu memandang wajah orang itu. “Mau apa? Mau kucongkel keluar matanya yang tinggal satu itu!”
Semua orang terbelalak mendengar ucapan yang lantang ini. Betapa beraninya pemuda itu! Tokoh gerombolan yang mewakili keluarga Lo Cit itu juga terbelalak dan dia sudah marah bukan main.
“Jahanam, engkau sudah bosan hidup!” Dia mencabut goloknya dan menyerang Song Bu dengan bacokan ke arah kepala pemuda itu.
Song Bu miringkan tubuhnya dan ketika golok dan tangan itu lewat, dia menangkap pergelangan tangan yang memegang golok. Sekali tekan golok itu terlepas dari pegangan dan orang itu berteriak kesakitan karena tulang pergelangan tangannya remuk ketika dijepit jari-jarí tangan Song Bu.
“Engkau yang bosan hidup” kata Song Bu dan sekali tangannya menampar kepala orang itu, terdengar suara “Prakk!” dan tubuh orang itu terpelanting dan dia roboh tak berkutik lagi karena kepalanya pecah ditampar tangan Song Bu!
Empat orang rekan tokoh yang tewas itu marah dan sambil berteriak mereka berempat sudah berlompatan dan menyerang Song Bu dengan golok mereka. Song Bu menyambar golok yang terlepas dari tangan orang pertama tadi. Sekali dia memutar golok itu, tampak sinar bergulung-gulung disusul teriakan-teriakan lalu robohlah empat orang tadi dengan leher yang nyaris terpenggal!
Empat orang lagi sudah menyerangnya. Namun mereka inipun hanya mengantar nyawa karena begitu golok di tangan Song Bu berkelebat dan berubah menjadi sinar bergulung, empat orang itupun roboh dan tewas! Keadaan menjadi sunyi dan mencekam. Tidak ada lagi anak buah gerombolan yang berani bergerak setelah melihat betapa delapan orang itu tewas dalam segebrakan saja.
Melihat tidak ada lagi orang yang maju menyerangnya, Song Bu membuang goloknya yang berlepotan darah lalu menyapu sekelilingnya dengan pandang matanya yang kini mencorong. “Katakan di mana adanya si jahanam Lo Cit!” suaranya terdengar tenang dan lembut namun terasa oleh semua orang seperti ujung pedang ditodongkan ke depan ulu hati mereka.
Keadaan menjadi semakin sunyi dan menegangkan. Hek-Kang-Jiu Co Tek dan Toat-Beng-To Tung Kok yang sejak tadi menonton peristiwa itu, tak dapat menahan diri lagi. Dua orang yang berambisi menjadi ketua gerombolan yang baru melihat kesempatan baik untuk membuat jasa agar terpilih menjadi ketua baru. Serentak mereka mengenjot kaki, mereka sudah melayang, dan tiba di depan Song Bu. Gerakan mereka itu bagi para tamu dan anggauta gerombolan mendatangkan kagum karena menunjukkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi. Namun bagi Song Bu gerakan mereka bangkit dari kursi itu tampak masih lambat dan berat.
“Orang muda, siapakah engkau yang sombong ini?” bentak Cong Tek.
“Agaknya engkau belum mengenal aku!” bentak pula Tung Kok.
Song Bu memandang kedua orang itu dengan sikap seperti seorang dewasa menghadapi dua orang anak nakal. “Hemm, kalian berdua ini siapa sih?” tanyanya dengan nada suara ringan.
“Aku Hek-Kang-Jiu Co Tek!” jawab Co Tek sambil mengamangkan kedua tinjunya yang berwarna hitam legam, sesuai dengan nama julukannya seolah kedua tangannya itu terbuat dari baja hitam, bukan kulit daging dan tulang.
“Aku Toat-Beng-To Tung Kok” kata Tung Kok sambil mencabut goloknya yang terlalu besar dan berat tampaknya itu jika dibandingkan dengan tubuhnya yang kecil pendek. Akan tetapi tangan kanannya itu menggerak-gerakan golok itu dan tampaknya ringan sekali.
“Kalian berdua ini apanya Lo cit.” tanya pula Song Bu.
“Aku tamu, juga calon Ketua perkampungan ini!” jawab Co Tek San sehingga terdengar oleh semua orang.
“Aku juga tamu dan calon ketua perkampungan ini!” kata Tung Kok pula tidak kalah lantangnya.
Semua anak buah gerombolan memandang heran dan saling toleh. Akan tetapi mereka hanya menonton, ingin melihat apakah dua orang tamu yang mengaku calon ketua itu akan mampu merobohkan atau rnengusir pemuda yang menghina ketua mereka yang sudah mati.
“Ah, kiranya begitu? Kalau begitu, hayo katakan di mana ketua lama Tok-Gan-Houw Lo Cit!” Song Bu membentak.
“Sebentar lagi engkau mati, perlu apa bertanya-tanya lagi!” seru Co Tek San sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya sehingga dua tangannya menjadi semakin hitam legam.
“Mampuslah!” bentak Toat-Beng-To Tung Kok dan si pendek kecil ini telah menerjang dengan goloknya.
Di luar dugaan orang, si pendek kecil ini dapat menggerakkan golok besar yang tebal dan berat itu dengan cepat sekali. Golok itu lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar putih yang bergulung-gulung menyerang ke arah Song Bu. Hek-Kang-Jiu Co Tek tidak mau kalah atau kedahuluan saingannya, Dia juga sudah berseru nyaring dan menerjang dengan kedua tangannya yang kini membentuk cakar mencengkeram ke arah muka dan dada Song Bu.
Menghadapi serangan maut kedua orang pengeroyoknya, Song Bu bersikap tenang saja. Dengan mudah dia menggerakkan tubuhnya mengelak dari sambaran golok dan ketika cengkeraman kedua tangan Co Tek menyambar, dia menangkis lengan lawan ini dengan kibasan kedua tangannya.
“Dukk-dukk!” Tubuh Co Tek terdorong ke belakang dan terhuyung ketika lengannya bertermu dengan tangan Song Bu. Dia terkejut sekali. Kedua lengannya itu sudah terisi tenaga sakti yang membuat kedua tangannya sekeras dan sekuat baja. Akan tetapi sekali tangkis saja pemuda itu dapat membuat dia terhuyung dan kedua lengannya tergetar hebat! Serangan golok pertama yarng dielakan dengan mudah oleh pemuda itu membuat Tung Kok menjadi penasaran sekali. Ia memutar goloknya dan menyerang lagi lebih ganas.
Namun kembali Song Bu mengambil langkah dan semua sambaran sinar golok yang bergulung-gulung itu tidak ada yang mampu menyentuh baju Song Bu, apalagi tubuhnya. Song Bu maklum bahwa dua orang lawannya ini cukup lihai. Dia tidak ingin memperpanjang perkelahian. Tiba-tiba dia melompat ke belakang, sengaja memancing agar dua orang lawannya mengejarnya.
Ketika melihat mereka menerjangnya, dia mengerahkan tenaga saktinya seperti yang pernah dipelajarinya dari Hek Pek Moko yaitu tangan kirinya menggunakan pukulan Hek-Tok-Ciang (Tangan Racun Hitam), sedangkan tangan kanannya menggunakan Pek-Tok-Ciang (Tangan Racun Putih). Dengan menekuk kedua lututnya, dia mendorongkan kedua tangannya yang dibuka ke arah dua orang lawan yang maju menerjangnya itu.
“Wuuuttt... dess!... Dess!” Dua tubuh yang sedang menerjang maju itu tiba-tiba tersentak dan terjengkang kebelakang lalu roboh dan tewas seketika. Co Tek Te-Kong tewas dengan muka berubah menjadi kehitaman dan Tung Kok tewas dengan muka berubah putih seperti dilumuri kapur!
Semua orang terbelalak ngeri melihat mereka itu, para anggauta gerombolan itu adalah orang-orang yang biasa melakukan kejaman dan kekerasan. Namun melihat sepak terjang pemuda itu mereka merasa ngeri dan ketakutan.
Song Bu menyapu wajah orang-orang itu. Suasana menjadi sunyi sekali seolah-olah orang-orang itu tidak membuat suara dan menahan napas. Dia melihat seorang laki-laki tua, berusia sekitar lima puluh tahun berjongkok di dekat peti jenazah. Dia menggapai. “Engkau Paman tua, ke sinilah!”
Orang itu menjadi pucat dan menggigil. “Jangan takut. Aku tidak akan membunuhmu, asalkan engkau membuat pengakuan sejujurnya.” kata pula Song Bu.
Orang itu bangkit berdiri dan perlahan-lahan menghampiri Song Bu, diikuti dengan pandang mata oleh para anggauta gerombolan dan para pelayat. Dasar mereka adalah orang-orang jahat yang sudah biasa berbuat curang dan jahat, diam-diam ada lima orang anggauta gerombolan ahli panah yang menghampiri Song Bu dari arah belakang.
Lima orang itu masing-masing memegang busur yang sudah dipasangi anak panah beracun. Dengan isyarat tangan, seorang dari mereka yang menjadi pimpinan memberi tanda dan berbareng mereka menarik tali busur dan melepaskan panah ke arah sasarannya, yaitu tubuh belakang Song Bu!
“Wirrr...” Lima batang anak panah tampak menjadi lima sinar meluncur cepat ke arah tubuh belakang Song Bu. Namun pemuda ini telah mendapatkan gemblengarn para datuk yang berilmu tinggi. Biarpun matanya tidak melihat serangan anak panah dari belakang, namun pendengarannya amat tajam dan peka.
Dia dapat menangkap suara angin yang diakibatkan luncuran lima batang anak panah itu. Dengan tenang namun sigap, dia melangkah ke samping dan memutar tubuh. Lima batang anak panah yang menyambar di sampingnya itu dia tangkap dengan menggerakkan tangan kanannya. Kemudian sekali tangan kanannya bergerak, lima batang anak panah itu menyambar ke arah lima orang yang melepaskan serangan tadi.
Terdengar lima orang itu menjerit lalu roboh terjengkang dengan masing-masing tertusuk anak panah pada tenggorokan mereka. Tubuh mereka berkelojotan dan mereka tewas tak lama kemudian. Peristiwa ini membuat para anggauta gerombolan menjadi semakin takut.
Song Bu bersikap seolah tidak terjadi sesuatu. Dia memandang kepada anggauta gerombolan yang tadi dipanggilnya dan yang kini sudah berdiri di depannya. “Paman, sudah berapa lama engkau menjadi anggauta gerombolan yang dipimpin oleh Lo Cit?”
“Sudah lama, Taihiap, ada sekitar dua puluh tahun.”
“Hemm, kalau begitu engkau tentu telah mengikuti semua sepak terjang Lo Cit. Terus terang, di mana adanya Lo Cit?”
Orang itu memandang ke arah peti jenazah dan menjawab dengan gagap, “Di... di situ...” Dia menuding ke arah peti mati.
Song Bu terkejut dan mengerutkan alisnya. Hatinya kecewa. Tentu saja dia tidak perduli akan kematian penjahat itu. Akan tetapi dia mencari Lo Cit untuk memaksa penjahat itu mengaku di mana adanya Ouw Yang Lan bersama ibunya sekarang dan mungkin kepala gerombolan itu tahu di mana adanya Ouw Yang Hui dan ibunya. Ternyata orang yang hendak dimintai keterangan itu telah mati. Dia memandang ke arah peti mati dan tiba-tiba ia melangkah maju menghampiri peti jenazah yang amat tebal itu.
“Braakkk...!” Tutup peti jenazah itu jebol terbuka dan terlempar ke bawah. Kini peti jenazah terbuka dan tampak jenazah Lo Cit rebah telentang di dalam peti. Lehernya hampir putus dan matanya yang tinggal sebelah kanan itu terbuka.
Setelah melihat bahwa mayat itu bermata satu, percayalah Song Bu bahwa benar Lo Cit telah tewas dan jelaslah karena lehernya luka menganga. Karena jenazah itu mengeluarkan bau tidak sedap Song Bu mengajak anggota gerombolan tadi. “Hayo ikut denganku”
Laki laki itu menurut dan Song Bu melangkah keluar menjauhi rumah itu, setelah jauh sehingga dapat bernafas udara bersih, Song Bu berhenti, laki laki itu berhenti didepannya. “Paman... engkau sebagai anggota tentu mengetahui ketika pada kurang lebih sebelas tahun yang lalu Lo Cit melakukan penyerbuan ke pulau naga dan Lo Cit membawa dua orang anak perempuan bersama dua orang ibu mereka?”
“Benar Taihiap, ketika itu saya juga ikut menyerbu ke pulau naga bersama teman-teman lainnya, karena yang ikut menyerbu ke pulau dengan Lo-Twako akhirnya tewas semua kecuali saya yang berada di pantai seberang pulau bersama teman-teman lainnya yang menunggu kereta dan kudanya di pantai daratan.”
“Nah, yang ingin kuketahui, setelah Lo Cit mendarat bersama dua orang anak perempuan dan dua orang wanita itu, apa yang telah terjadi? Dengan siapa Lo Cit melakukan penyerbuan ke pulau naga sehingga berhasil menculik mereka?.”
“Lo-Twako menyerbu dengan bantuan Thai Lek Kui Ciang Sek majikan Pek-In-San (Bukit Awan Putih) di pegunungan Thai-San, yang kembali dari pulau naga hanya mereka berdua, sedangkan anak buah yang lainnya tidak kembali, mungkin mereka tewas semua di pulau itu. Mereka berdua membawa dua orang wanita cantik dan dua orang anak perempuan. Setelah mendarat mereka berbagi tawanan itu, Lo-Twako membawa seorang wanita dengan anak perempuannya, sedangkan wanita yang satunya lagi bersama anak perempuannya dibawa pergi oleh Thai Lek Kui Ciang Sek.”
“Dibawa kemana?”
“Entahlah Taihiap, kami tidak ada yang tahu, mungkin ke tempat tinggalnya, dia majikan Pek-In-San di pegunungan Thai-San.”
“Dan wanita beserta anak perempuannya yang dibawa pergi Lo Cit?”
“Lo-Twako menyerahkan anak perempuan itu kepada seorang anak buahnya yang bernama Ji Tong yang kemudian diketahui terbunuh di tengah jalan dan anak perempuan itu hilang tidak diketahui ke mana perginya. Adapun wanita cantik itu dibawa pergi Lo-Twako, akan tetapi di tengah perjalanan wanita itu dirampas oleh seorang pendekar Siauw-Lim-Pai, kalau tidak salah bernama Gan Hok San. Nah, hanya itu yang saya ketahui, Taihiap. Selanjutnya saya sama sekali tidak pernah mendengar berita tentang dua orang wanita dan dua orang anak perempuannya itu.”
“Engkau tidak pernah mendengar tentang mereka itu sama sekali? Engkau benar-benar tidak tahu di mana dua orang wanita itu dan anak-anak perempuan mereka kini berada?”
“Sungguh mati, Taihiap. Saya tidak tahu. Andaikata saya tahu, mengapa tidak saya beritahukan kepada Taihiap?”
“Baik, engkau boleh pergi dan katakan kepada semua anggauta gerombolan itu untuk membubarkan gerombolan mereka. Jangan ada yang berani melakukan kejahatan mengganggu penduduk dusun lagi, kalau tidak, kelak aku akan datang membunuh kalian semua.”
“Terima kasih, Taihiap. Akan tetapi bolehkah saya mengetahui nama Taihiap agar dapat saya katakan kepada para teman sehingga mereka semua akan mentaati perintah Taihiap?”
Song Bu enggan untuk memperkenalkan nama. Ouw Yang Lee, Ayah angkatnya yang pernah melihat rajah naga hitam didadanya, pernah mengusulkan agar dia mempergunakan nama julukan yang sesuai dengan rajah naga di dadanya itu. Biarlah orang-orang itu yang akan memberinya nama julukan, pikirnya. Dia lalu membuka kancing bajunya dan membuka baju bagian depan memperlihatkan dadanya.
Anggauta gerombolan itu terbelalak melihat rajah naga hitam yang seperti gerak-gerak hidup ketika dada yang besar dan bidang itu bergerak dalam pernapasan, seolah naga hitam itu melayang di angkasa.
“Hek-Liong Taihiap!” serunya perlahan, lalu dia berlari kembali ke gedung induk di perkampungan itu.
Song Bu mengancingkan kembali bajunya dan dia dapat menangkap dengan pendengarannya yang tajam suara mereka yang berada di rumah kematian itu.
“Hek-Liong Taihiap (Pendekar Besar Naga Hitam)...!