|
| Karya Kho Ping Hoo |
Sepasang Rajah Naga Jilid 16 - “AYAH...” suara Li Hong melengking terbawa oleh rasa penasaran di hatinya.
Gan Hok San memandang wajah Li Hong. “Ada apakah, Li Hong?”
“Ayah, sebetulnya siapakah Enci yang menyamar sebagai pemuda tadi? Kukira ia pemuda betulan, tidak tahunya seorang wanita. Aku menjadi malu sendiri atas sikapku tadi, Ayah.”
“Nanti saja kau tanya sendiri kepadanya, Li Hong, atau engkau boleh tanyakan kepada Ibumu,” kata Gan Hok San dan pada saat itu dia menoleh ke arah pintu dan memandang terbelalak kepada seorang gadis cantik jelita yang muncul di pintu bersama isterinya. Ouw Yang Hui sudah berdandan sebagai seorang gadis yang cantik jelita bagaikan bidadari dari kahyangan!
Bahkan Li Hong terlonjak dan berseru dengan kagum. “Wah...! Engkau cantik sekali...! Ibu, siapakah Enci ini sebetulnya?” Li Hong berlari dan menggandeng tangan Ibunya.
Sim Kui Hwa tersenyum dan menuntun kedua orang puterinya itu dan mengajak mereka duduk mengelilingi meja besar. “Li Hong, ini adalah Encimu, namanya Ouw Yang Hui. Hui-ji, ini adalah adikmu yang nakal bernama Gan Li Hong.”
“Enciku? Wah, aku bangga mempunyai Enci yang secantik ini!” kata Li Hong sambil berdiri lalu menghampiri Ouw Yang Hui.
Ouw Yang Hui merangkulnya. “Hong-moi (adik Hong), apakah engkau masih marah dan hendak memberi hajaran kepadaku?” tanyanya menggoda.
“lhh, Hui-ci (Enci Hui), siapa marah kepadamu? Aku hanya marah kepada pemuda-pemuda yang berandalan. Aku malah minta maaf kepadamu, Enci.”
Ouw Yang Hui mencium pipi adiknya. “Tidak perlu minta maaf karena engkau tidak bersalah apapun kepadaku. Duduklah.” la menarik Li Hong duduk di atas kursi di sebelahnya.
“Hui-ji, ini adalah Ayahmu. Aku telah menikah dengan penolongku ini sejak diusir dari Pulau Naga dan kami mempunyai seorang anak, ialah adikmu Li Hong ini.”
Sebagai seorang gadis yang terpelajar dan berkelakuan baik berprIbudi tinggi, Ouw Yang Hui cepat bangkit dan memberi hormat kepada Gan Hok San. “Terimalah hormat saya, Ayah.”
Gan Hok San memandang dengan wajah berseri-seri. “Waduh, tahu-tahu aku mempunyai seorang anak gadis yang sudah dewasa dan cantik jelita! Sungguh aku merasa berbahagia sekali dan engkau tentu akan dapat menjadi pembimbing yang baik bagi Li Hong adikmu, Hui-ji.”
Ouw Yang Hui tersenyum dan hatinya girang bukan main. la memaklumi mengapa Ibunya kini menjadi isteri pendekar ini setelah diusir bahkan akan dIbunuh Ouw Yang Lee. Gan Hok San ini memang seorang pendekar yang budiman dan baik budi, sikapnya juga amat ramah dan baik, menerimanya seperti anak sendiri.
Sim Kui Hwa memandang kepada Sin Cu yang sejak tadi hanya duduk diam saja dan yang ikut berseri wajahnya menyaksikan pertemuan yang penuh kegembiraan dari keluarga itu. “Hui-ji, siapakah pemuda yang menemanimu ini?” tanya nyonya itu.
“Ah, maaf, hampir aku lupa, Ibu. Dia itu adalah penolongku yang menyelamatkan aku dari bahaya maut dan yang begitu berbaik hati untuk mengantar aku mencarikan Ibu sampai dapat. Tanpa bantuannya, tidak mungkin kita akan dapat saling bertemu, Ibu.”
Sim Kui Hwa yang juga berwatak lembut itu lalu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat kepada Sin Cu. “Sicu (orang gagah), terimalah ucapan terima kasihku yang tak terhingga atas semua pertolonganmu terhadap anak kami Ouw Yang Hui.”
Sin Cu cepat bangkit berdiri dan membalas penghormatan itu. “Ah, bibi yang baik, harap jangan bersikap sungkan. Apa yang saya lakukan sama sekali bukan pertolongan, melainkan sudah sewajarnya bagi saya untuk melakukan kewajiban. Hal seperti ini tentu telah dimaklumi benar oleh seorang pendekar besar seperti Paman Gan Hok San.”“Ha-ha-ha, engkau tentu seorang pendekar muda yang gagah dan budiman, Wong Sin Cu.”
“Oh ya, aku malah lupa memperkenalkan namanya kepadamu, Ibu. Namanya Wong Sin Cu. Ayah malah sudah mengetahuinya ketika kami tadi memperkenalkan diri kepada Ayah,” kata Ouw Yang Hui sambil tertawa. Kini wajah Ibu dan anak itu dipenuhi tawa ria dan wajah mereka berseri penuh kebahagiaan.
“Nah, sekarang tiba saatnya Enci Hui dan Ibu menceritakan semua ini kepadaku. Sejak tadi aku merasa heran dan bingung setengah mati,” kata Li Hong yang lincah.
“Adikmu benar, Hui-ji. Kami semua juga ingin sekali mendengar apa yang telah kau alami selama ini. Bertahun-tahun aku setiap hari memikirkanmu, dan Ayahrnu ini juga sudah berusaha sekuat tenaga mencari jejakmu, namun tak berhasil,” kata Sim Kui Hwa.
“Nanti dulu!” tiba-tiba Gan Hok San berseru sambil mengangkat tangannya dan menoleh kepada isterinya. “Apakah tidak sebaiknya kalau kita lebih dulu makan pagi? Sin Cu dan Hui-ji tentu lelah dan lapar setelah melakukan perjalanan jauh.”
“Ah, ya... Sampai lupa aku saking gembiranya. Hayo, Hui-ji dan Li Hong, kalian membantu aku di dapur,” kata Sim Kui Hwa.
Dua orang anak perempuannya itu sambil tersenyum berdiri dan mengikutinya. Tak lama kemudian keluarga itu sudah duduk menghadapi meja makan dan mereka makan pagi dalam suasana gembira. Bahkan Sin Cu terbawa merasa gembira sekali melihat betapa wajah Ouw Yang Hui yang cantik jelita itu tampak merah semringah, cerah berseri-seri dan sepasang mata yang indah lembut seperti mata burung Hong itu bercahaya.
Setelah makan pagi mereka duduk kembali ke ruangan dalam dan seorang pembantu wanita menyingkirkan bekas makan pagi dan membersihkan meja. Dengan suasana santai Ouw Yang Hui yang diharuskan menceritakan pengalamannya itu mulai bercerita.
la menceritakan betapa ketika dalam usia tujuh tahun ia dipisahkan dari Ibunya dan dilarikan oleh seorang anak buah penculik, orang yang melarikannya itu di tengah jalan dihadang lalu dIbunuh oleh dua orang laki-laki jahat lainnya. Kemudian ia dibawa oleh dua orang laki-laki itu ke kota Nam-Po dan di sana ia dijual, kepada seorang wanita bernama Cia-Ma, seorang mucikari.
“Seorang mucikari??” pertanyaan dengan suara kaget ini keluar dari mulut Sim Kui Hwa dan Gan Hok San hampir berbareng. Terkejut dan ngeri rasa hati mereka mendengar bahwa Ouw Yang Hui terjatuh ke tangan seorang mucikari dan mereka tentu saja otomatis membayangkan yang bukan-bukan menimpa diri Ouw Yang Hui.
Sebelum Ouw Yang Hui sempat menjawab, Li Hong memandang kepada Ibunya dan bertanya, “Ibu, mucikari itu apakah?”
Pertanyaan ini terasa seperti todongan pedang di depan dada Sim Kui Hwa. la menjadi terkesiap, bingung dan iapun memandang kepada suaminya. Akan tetapi dari pandang mata suaminya ia tahu bahwa suaminya itu menjadi lebih bingung dari padanya. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan anak perempuannya yang baru berusia sembilan tahun tentang mucikari? Akan tetapi setelah mempertimbangkan sebentar, Sim Kui Hwa menjawab dengan lembut.
“Mucikari adalah seorang wanita yang... tidak baik.”
“Maksud Ibu, seorang wanita jahat?” Li Hong mengejar.
“Begitulah,” jawab Ibunya singkat.
“Jahat bagaimana, Ibu? Suka mencurikah?”
“Tidak, Li Hong,” jawab Ibunya lembut.
“Kalau begitu, suka menipu?”
“Ya, begitulah. Suka menipu orang,” jawab Sim Kui Hwa.
“Sekarang diamlah, biar Encimu melanjutkan ceritanya.
Ouw Yang Hui memaklumi kekagetan Ibu dan Ayah tirinya mendengar bahwa ia dijual kepada seorang mucikari, maka iapun lalu menerangkan dengan sejujurnya. “Cia-Ma itu baik sekali kepadaku, Ibu. Sejak aku tinggal bersamanya, ia menganggapku sebagai anaknya sendiri. la mengundang guru-guru sastra dan kesenian untuk mengajarku. Aku menjadi dewasa dan menguasai kesusasteraan dan kesenian, telah membaca kitab-kitab agama dan budi pekerti.
"Cia-Ma mengaturnya sehingga aku berada di tempat terhormat, bahkan dihormati semua Kongcu dari Nam-Po dan dari kota raja. Mereka tidak berani menggangguku dan hanya ingin mendengar aku bermain yang-kim, meniup suling, dan bernyanyi. Bahkan Sribaginda Kaisar dengan menyamar pernah berkunjung untuk mendengarkan aku bermain musik dan bernyanyi.”
“Ahhhh...!” Sim Kui Hwa takjub akan tetapi di lubuk hatinya masih merasa khawatir. Anak gadisnya hidup di rumah seorang mucikari, di antara para gadis pelacur! Tentu saja ia khawatir bahwa puterinya itu tentu telah dijual oleh sang mucikari kepada para pria hidung belang.
“Sesungguhnya, Ibu, harus kuakui bahwa Cia-Ma amat menyayangku, bahkan ia menjaga diriku mati-matian agar tidak sampai tergoda dan terganggu oleh para Kongcu yang menjadi langganannya. la mencita-citakan agar aku kelak dapat berjodoh dengan seorang pemuda bangsawan yang baik dan mulia agar hidupku dapat menjadi terhormat dan mulia. Ketika aku hendak diganggu oleh seorang pemuda bangsawan yang berandalan, diam-diam kakak Wong Sin Cu ini membela dan menyelamatkanku. Itulah pertemuan dan perkenalan pertama dengan dia.” Ouw-ya Hui menoleh kepada Sin Cu yang menundukan muka.
“Wong-sicu telah berbaik hati menolong anakku, sungguh aku berterima kasih sekali,” kata Sim Kui Hwa sambil memandang kepada pemuda itu.
“Ah, bibi, semua yang saya lakukan itu sudah menjadi kewajiban saya dan tidak ada artinya,” kata Sin Cu.
“Kata-katamu itu menunjukkan kerendahan hatimu, sicu.”
“Bibi, harap bibi tidak menyebut sicu kepada saya. Sebut saja nama saya seperti yang dilakukan oleh Paman Gan Hok San.”
Sim Kui Hwa mengangguk. “Baiklah Sin Cu. Engkau adalah penolong dan sahabat baik Hui-ji, berarti merupakan orang dari kalangan kami sendiri. Lanjutkan ceritamu, Hui-ji.”
“Seperti kukatakan tadi, Ibu, Sribaginda Kaisar dengan menyamar datang berkunjung untuk mendengarkan aku bermain musik dan bernyanyi. Ibu tentu tidak dapat menduga dengan siapa beliau itu datang berkunjung.”
Sim Kui Hwa menggeleng kepalanya. “Bagaimana aku dapat menduganya? Dengan siapakah beliau datang berkunjung, Hui-ji?”
“Bayangkan kekagetan dan kegirangan hatiku, Ibu. Beliau datang bersama Suheng!”
“Ahh! Suhengmu di sana bersama Sribaginda Kaisar?” seru Sim Kui Hwa heran.
“Benar, Ibu. Akan tetapi ternyata kemudian bahwa munculnya Suheng yang mengenalku itu mendatangkan melapetaka bagiku.”
“Mengapa begitu?”
“Ternyata dia berada di kota raja bersama Ayah Ouw Yang Lee dan dia bercerita kepada Ayah tentang diriku. Pada suatu hari Ayah Ouw Yang Lee datang dan mengamuk di rumah Cia-Ma. Dia membunuh Cia-Ma yang tidak berdosa dan merobohkan para penjaga keamanan. Aku melarikan diri ke arah kota raja, maksudku untuk mohon pertolongan Sribaginda Kaisar. Akan tetapi Ayah dapat mengejarku dan dia bermaksud membunuhku, Ibu.”
“Manusia berwatak iblis!” Sim Kui Hwa menyumpah. “Dulu dia hendak membunuh aku, kini hendak membunuh puterinya sendiri pula.”
“Hui-ji, bagaimana engkau dapat lolos dari tangan Ayahmu?” tanya Gan Hok San yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
“Cu-ko inilah yang muncul dan menolongku, dan Cu-ko membawaku merantau untuk mencari Ibu. Berbulan-bulan kami merantau dan akhirnya dapat menemukan alamat Ibu disini maka hari ini kami dapat datang. Sekarang giliran Ibu untuk menceritakan pengalaman Ibu.”
Sim Kui Hwa menghela napas panjang. “Tidak banyak yang dapat kuceritakan, semua sudah kau dengar dari Suhengmu. Aku ditolong dari tangan penculik oleh Ayah tirimu ini, kemudian kami berdua pergi ke Pulau Naga. Ayah tirimu ini mengantarkan aku pulang ke sana. Akan tetapi Ouw Yang Lee tidak mau menerimaku bahkan ingin membunuhku. Ayah tirimu ini mencegah sehingga terjadi perkelahian. Ayah tirimu menang dan membawaku keluar dari Pulau naga. Karena di dunia ini aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, akhirnya aku menikah dengan penolongku dan lahirlah Li Hong."
“Wah,... kalau begitu aku dan Enci Hui satu Ibu berlainan Ayah! Aku pernah baca dalam buku dongeng bahwa kakak tiri itu jahat dan Hui-ci adalah kakak tiriku!” kata Li Hong.
Ouw Yang Hui merangkul anak perempuan yang lincah dan manja itu. “Tidak semua kakak tiri, Ibu tiri atau Ayah tiri itu jahat, adikku. Buktinya, Ayah tiriku ini tidak jahat dan akupun tidak akan jahat terhadapmu.”
Pada saat itu terdengar suara nyaring dari luar rumah. “Gan Hok San, keluarlah. Akhirnya aku bisa mendapatkan tempat tinggalmu dan aku datang untuk menebus kekalahanku dahulu!”
Wajah Sim Kui Hwa berubah! “Itu... dia...! Dia Ouw Yang Lee.”
Gan Hok San melompat berdiri dan berkata kepada mereka yang berada di situ, “Kalian semua berdiam di sini dan jangan keluar, berbahaya. Biar aku sendiri yang menghadapi dia!”
Mendengar ucapan suaminya, Sim Kui Hwa lalu menghampiri Ouw Yang Hui dan merangkul anaknya itu. Mereka tahu bahwa mereka berdualah yang diancam untuk dIbunuh oleh Ouw Yang Lee yang kini berada di luar rumah mereka.
Melihat Ibu dan Encinya saling rangkul dan tampak ketakutan, Li Hong berkata marah. “Biar aku membantu Ayah menghajar orang jahat yang datang!”
“Hong-moi, jangan” Ouw Yang Hui melompat dan merangkul anak itu yang lalu didekapnya dan tidak dilepaskannya. “Dia itu berbahaya sekali, engkau dapat dIbunuhnya!"
“Aku tidak takut! Aku akan melawan dia!” Li Hong meronta.
“Li Hong, jangan begitu. Diam kau dan tinggal saja di sini bersama kami!” Sim Kui Hwa membentak. Biarpun bentakan Ibu itu lembut saja, namun seketika Li liong menjadi lemas. Anak ini biarpun galak dan keras hati, namun selalu tunduk dan taat kepada Ibunya.
“Cu-ko... tolonglah....!” kata Ouw Yang Hui lirih sambil memandang kepada Sin Cu.
Pemuda itu mengangguk dan berkata kepada Sim Kui Hwa, “Bibi, jangan khawatir, saya akan membantu.” Setelah berkata demikian, Sin Cu melangkah keluar dari ruangan itu.
Ketika Gan Hok San meninggalkan ruangan dalam, dia masuk ke kamarnya dan menyambar pedangnya yang digantungkan di punggung. Setelah itu baru dia keluar dari rumah. Di pekarangan rumah itu telah berdiri Ouw Yang Lee bersama seorang wanita yang tampaknya baru berusia empat puluh tahun, pesolek dan pakaiannya mewah, di punggungnya tergantung siang-kiam (sepasang pedang).
Wanita itu adalah Cui-Beng Kui-Bo yang sebetulnya sudah berusia enam puluh tahun. Ouw Yang Lee hendak membalas kekalahannya terhadap Gan Hok San, akan tetapi karena maklum bahwa musuhnya itu lihai sekali, maka dia minta bantuan nenek itu untuk menemaninya. Ouw Yang Lee bukan hanya datang untuk menebus kekalahannya di Pulau Naga dahulu, akan tetapi juga untuk mencari Ouw Yang Hui yang mungkin saja telah menemukan Ibunya di tempat ini.
Ouw Yang Lee memandang kepada Gan Hok San yang keluar dari pintu depan dengan mata mencorong karena marah. Dia bukan saja membenci Gan Hok San yang pernah mengalahkannya, akan tetapi terutama sekali karena dia menganggap pendekar itu telah berjina dengan isterinya ketika Gan Hok San menolong isterinya Sim Kui Hwa itu.
“Ah, kiranya engkau yang datang, Ouw Yang Lee” kata Gan Hok San dengan sikap tenang dan dia memandang kepada Cui-Beng Kui-Bo dengan penuh perhatian dan diam-diam diapun terkejut sekali. Pernah satu kali dia melihat nenek ini ketika belasan tahun yang lalu para datuk dunia kangouw mengadakan pertemuan di puncak Thai-San. “Hemm, kiranya Cui-Beng Kui-Bo juga datang bersamamu. Tidak tahu ada urusan apakah kalian berdua datang berkunjung?”
“Gan Hok San! Aku datang untuk membuat perhitungan denganmu. Aku akan, menebus kekalahanku dahulu!” Ouw Yang Lee membentak marah.
“Ouw Yang Lee, sebetulnya diantara kita tidak ada permusuhan apapun, kenapa engkau mendesakku?”
Akan tetapi tiba-tiba Ouw Yang Lee mengalihkan perhatiannya ke arah pintu karena pada saat itu di ambang pintu muncul Sim Kui Hwa dan Ouw Yang Hui! “Ha, bagus sekali, kalian ternyata berada di sini!” teriak Ouw Yang Lee. “Gan Hok San, kedatanganku ini hendak membunuh perempuan tak tahu malu Sim Kui Hwa dan untuk mengajak, pergi anakku Ouw Yang Hui!”
“Ouw Yang Lee, engkau sungguh seorang laki-laki yang tidak tahu malu!” tiba-tiba Sim Kui Hwa berkata dan suaranya yang biasanya lembut itu kini terdengar penuh nada teguran. “Dahulu engkau sudah mengusirku dan tidak mau menerima aku sebagai isterimu, kenapa sekarang engkau malah mencariku?”
“Ayah! Sungguh aku merasa malu mempunyai Ayah sepertimu!” kata pula Ouw Yang Hui. “Engkau hendak mencelakai kami Ibu dan anak. Aku tidak sudi ikut bersamamu!”
“Ouw Yang Lee, engkau sudah mendengar sendiri ucapan Ibu dan anak itu? Mereka sekarang bukan isteri dan anakmu lagi, melainkan isteri dan anakku. Aku akan melindungi mereka dengan taruhan nyawaku kalau engkau hendak mengganggu mereka, engkau harus melangkahi mayatku lebih dulu!” kata Gan Hok San dengan gagah, berdiri membelakangi dua orang wanita itu untuk melindungi mereka.
“Bagus, kalau begitu kami akan membunuhmu dulu sebelum aku membunuh Sim Kui Hwa dan membawa pergi Ouw Yang Hui. Kui-Bo, hajar dan bunuh manusia sombong ini!” kata Ouw Yang Lee.
Cui beng Kui-Bo yang memang sudah tahu bahwa ia diminta untuk menandingi Gan Hok San, sambil tersenyum genit menggerakkan kakinya dan tubuhnya berkelebat kedepan Gan Hok San. Gerakannya cepat sekali bagaikan seekor burung terbang saja.
Gan Hok San yang melihat ini terkejut dan maklum bahwa wanita ini adalah seorang ahli ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang amat tangguh. Hatinya menjadi khawatir sekali, bukan khawatir akan keselamatan diri sendiri, melainkan khawatir akan keselamatan isterinya dan kedua orang anaknya, Ouw Yang Hui dan Gan Li Hong.
Pada saat itu terdengar teriakan nyaring. “Tunggu dulu! Nenek jahat jangan ganggu Ayahku. Aku yang akan melawanmu!” Li Hong meloncat dari belakang Ibunya, tangan kanannya membawa sebatang pedang kecil yang biasa ia pakai berlatih silat!
Melihat kenekatan anak perempuannya yang hendak langsung menyerang Cui-Beng Kui-Bo, Gan Hok San terkejut dan cepat dia menangkap anaknya dan ditariknya mendekati isterinya. “Li Hong, jangan lancang! Berdiamlah di sini dan jaga Ibumu!”
“Hi-hi-hik! Bagus sekali, singa betina kecil! Mau aku mengambilnya sebagai muridku!”
Akan tetapi pada saat itu, Sin Cu keluar dari pintu dan menghadapi Gan Hok San sambil berkata. “Paman Gan Hok San, perkenankan saya mewakili Paman menandingi nenek itu.”
Gan Hok San memandang kepada Sin Cu dan tampak ragu dan khawatir. Tentu saja dia tidak menghendaki orang lain menjadi korban untuk membelanya. Dia tahu bahwa tingkat kepandaian Cui-Beng Kui-Bo jauh lebih tinggi dari tingkat kepandaian Ouw Yang Lee dan bahkan dia sendiri rasanya akan sukar mengalahkan nenek itu. Pemuda ini tentu akan tewas kalau berani menghadapi nenek itu.
Melihat keraguan Ayah tirinya, Ouw Yang Hui berkata, “Ayah, Cu-ko memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia pasti akan mampu mengalahkan lawannya. Aku percaya kepadanya, Ayah.”
Mendengar ucapan Ouw Yang Hui, biar pun hatinya masih merasa ragu dan khawatir, dia memandang pemuda itu. Pandang mata mereka bertemu dan, Gan Hok San melihat sinar mata pemuda itu mencorong seperti mata naga! Dia lalu mengangguk. “Berhati-hatilah, Sin Cu,” katanya.
Sementara itu, ketika Ouw Yang Lee melihat Sin Cu, dia menjadi terkejut bukan main. Dia mengenal pemuda itu sebagai seorang yang pernah menolong Ouw Yang hui ketika dia hendak membunuh gadis itu dan dia telah merasakan sendiri betapa lihainya pemuda itu.
Cui-Beng Kui-Bo tentu saja memandang rendah pemuda itu dan iapun tersenyum gembira melihat bahwa yang maju menandinginya adalah seorang pernuda yang tampan sekali. Wanita ini memang mata keranjang dan paling suka melihat pemuda-pemuda yang ganteng. lapun tidak ingin menggunakan sepasang pedangnya karena dengan tangan kosong akan lebih mudah baginya untuk mempermainkan pemuda tampan itu.
Mereka berdiri saling berhadapan. Cui-beng Kui-Bo tersenyum-senyum mengamati wajah pemuda itu dan Sin Cu juga memandang dengan penuh kewaspadaan karena dia dapat menduga bahwa orang yang diajak Ouw Yang Lee untuk menandingi Gan Hok San tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
“Hi-hih, orang muda yang ganteng! Siapa namamu? Aku selalu harus mengetahui siapakah nama orang yang bertanding dengan aku Cui-Beng Kui-Bo.”
“Nama ku Wong Sin Cu.”
“Wong Sin Cu, orang muda yang tampan. Aku merasa sayang sekali kalau wajahmu yang tampan itu menjadi cacad kalau engkau bertanding melawanku. Karena itu, sudahlah, tidak perlu engkau membela Gan Hok San. Engkau jadilah saja muridku yang tersayang. Maukah engkau, Wong Sin Cu?”
“Hei, nenek gila” Tiba-tiba Li Hong berteriak dari samping Ibunya yang memegangi tangannya. “Kakak Wong Sin Cu adalah seorang pemuda gagah perkasa, seorang pendekar. Tidak perlu engkau membujuk rayu dengan omonganmu yang jahat. Kalau memang engkau memiliki nyali, maju dan lawanlah dia!”
Mendengar ucapan yang lantang itu, wajah Cui-Beng Kui-Bo menjadi merah dan ia memandang ke arah Li Hong dengan mata melotot. “Anak setan! Tunggu saja nanti, akan kucabut keluar lidahmu dari mulutmu yang lancang itu!” teriaknya marah sekali.
“Cui-Beng Kui-Bo, tidak perlu engkau marah-marah kepada seorang anak kecil. Kalau engkau tetap hendak membantu Ouw Yang Lee memusuhi Paman Gan Hok San yang tidak bersalah, marilah tandingi aku!” kata Sin Cu dengan sikap tenang.
Untuk mengubah sikapnya yang tadi marah-marah tidak karuan seperti bukan sikap seorang datuk yang tenang, Cui-Beng Kui-Bo memandang kepada Sin Cu dan tersenyum, dIbuat semanis mungkin. “Wong Sin Cu, sebelum kita bertanding akan kuberitahukan kepadamu bahwa kalau engkau kalah dalam pertandingan ini, aku akan memaksamu ikut denganku untuk menjadi muridku.”
“Bagaimana kalau engkau yang, kalah, nenek busuk?” kembali Li Hong berteriak. Sim Kui Hwa mendekap mulut anak itu dengan tangannya, akan tetapi pertanyaan itu sudah keluar. Untuk membela pertanyaan Li Hong tadi, Sin Cu membenarkan.
“Benar sekali pertanyaan itu, bagaimana kalau engkau yang kalah, Kui-Bo?”
“Heh-heh,... mana mungkin aku kalah? Kalau aku kalah olehmu, aku akan pergi dan tidak akan datang mengganggumu lagi.”
“Bagus, kalau begitu mari kita mulai,” kata Sin Cu yang sudah siap, walaupun, dia tidak memasang kuda-kuda khusus, hanya berdiri dengan sikap santai saja.
Melihat pemuda itu tidak memasang kuda-kuda, Cui-Beng Kui-Bo mengerutkan alisnya. Sikap seperti itu, menghadapi pertandingarn dengan santai, merupakan sikap seseorang yang sudah yakin akan kemampuannya sendiri, seorang yang telah memiliki tingkat kepandaian tinggi sehingga dalam keadaan sikap tubuh bagaimanapun dia sudah menyembunyikan kewaspadaan dan ketahanan yang sempurna.
Seperti biasa kalau menghadapi lawan yang memiliki kepandaian tinggi, Cui-Beng Kui-Bo mengandalkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah amat tinggi tingkatnya. Dengan keringanan tubuhnya yang membuat ia dapat bergerak cepat sekali, ia mampu mengatasi dan mengalahkan banyak lawan.
“Sambut seranganku!” teriaknya dan tiba-tiba saja tubuhnya bergerak dan berkelebat dengan cepat, kedua tangannya sudah melakukan serangan bertubi dan silih berganti. Serangan ini hebat bukan main karena cepatnya sehingga sukar dielakkan atau ditangkis. Kedua tangan nenek itu seolah telah berubah menjadi banyak.
Akan tetapi Sin Cu menghadapinya dengan tenang sekali. Dia menggunakan ilmu langkah ajaib Chit-Seng Sin-Po dan tubuhnya bergeser ke sana sini dan sungguh luar biasa, semua serangan yang datangnya seperti banjir itu tidak satupun yang mengenai tubuhnya! Sin Cu merasa heran sekali ketika mendapat kenyataan betapa serangan yang gencar itu sama sekali tidak berbahaya karena kedua tangan yang menyerang bertubi-tubi itu hanya membuat gerakan mengusap, mengelus, menyentuh, bahkan mencubit!
Menyadari bahwa wanita itu hendak mempermainkannya dan membelainya, wajah Sin Cu berubah kemerahan. Di lain pihak, Cui-Beng Kui-Bo yang tadinya hendak main-main, juga merasa heran bukan main. Biarpun ia bukan menyerang dengan pukulan berbahaya, namun usapan, sentuhan dan cubitan tangannya itu amat cepat dan akan sukar untuk dielakkan. Akan tetapi tidak satu kalipun kedua tangannya mengenai sasaran.
Semua serangannya itu luput dan tubuh pemuda itu bergerak cepat dengan geseran-geseran kaki secara aneh! Karena merasa dipandang ringan, Sin Cu merasa panas juga hatinya. Dia mencari kesempatan dan setelah mendapatkan lowongan, dia menangkis tangan kanan nenek itu dengan kuat, mengerahkan tenaga saktinya.
“Dukkk...!” Cui-Beng Kui-Bo mengeluarkan seruan kaget dan tubuhnya terdorong mundur, lengannya terpental ketika bertemu dengan lengan Sin Cu dan merasa betapa kulit lengannya itu panas bukan main. Kenyataan ini membuka mata nenek itu bahwa lawannya bukan hanya pandai mengelak secara aneh, akan tetapi juga memiliki tenaga sakti yang amat kuat. la merasa kecelik dan baru menyadari bahwa ia terlalu memandang ringan kepada seorang lawan yang sebetulnya tangguh sekali.
“Bocah, kau tidak boleh diberi hati...!” bentak Cui-Beng Kui-Bo dan sekarang barulah ia menyerang dengan sungguh-sungguh. Kedua telapak tangannya menyambar-nyambar ganas dengan pukulan dan tamparan tangan terbuka.
Sin Cu terkejut sekali ketika penciumannya menangkap bau harum yang kuat keluar dari kedua telapak tangan itu. Maklumlah dia bahwa lawannya mempunyai tamparan yang mengandung hawa beracun yang berbahaya sekali. Dugaannya memang tepat karena pada saat itu, Cu-beng Kui-Bo sudah tidak mau main-main lagi dan ia telah menyerang dengan ilmu andalannya, yaitu Hwa-Tok-Ciang (Tangan Racun Bunga) yang amat berbahaya.
Sekali saja terkena tamparan telapak tangan yang mengandung hawa beracun itu, cukup untuk mencabut nyawa seseorang. Namun Sin Cu adalah seorang pemuda yang sudah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dari Bu Beng Siauwjin. Maklum bahwa lawannya mempunyai kedua tangan yang mengandung racun berbahaya.
Diapun lalu mengerahkan Thai-Yang Sin-Ciang dan bersilat dengan aturan langkah Chit-Seng Sin-Po. Dengan begini dia mampu menghindarkan setiap serangan lawan dan membalas dengan tamparan dan pukulan tangan yang mengandung hawa panas!
Melihat Cui-Beng Kui-Bo sudah ditandingi oleh pemuda yang ternyata mampu mengimbangi nenek lihai itu, Gan Hok San merasa heran, kagum dan lega. Tidak disangkanya bahwa pemuda yang datang mengantar Ouw Yang Hui itu ternyata seorang pemuda sakti! Dia lalu melangkah maju menghadapi Ouw Yang lee.
“Ouw Yang Lee, temanmu Cui-Beng Kui-Bo sudah menemukan lawan. Sekarang apa yang hendak kau lakukan? Ku nasihatkan engkau agar kembali saja ke tempat asalmu dan jangan ganggu kami sekeluarga lagi. Atau apakah engkau ingin mengulangi lagi kekalahanmu dariku?”
“Manusia sombong! Sekarang aku akan membunuhmu!” bentak Ouw Yang Lee yang sudah mencabut pedangnya. Dia menerjang maju, mendorongkan tangan kirinya dan memukul dengan ilmu Ang-Tok-Ciang (Tangan Racun Merah). Telapak tangan kirinya berubah merah dan pukulan ini dahsyat bukan main.
Namun dengan gesitnya Gan Hok San sudah menggerakkan tubuh ke kiri untuk mengelak sambil terus berputar dan mencabut pedangnya. Melihat pukulan tangan kirinya luput, Ouw Yang Lee sudah menyambung serangannya itu dengan serangan pedang yang menyambar ganas ke arah leher Gan Hok San. Pendekar ini mengayun pedangnya menyambut.
“Trang.......!” pedang bertemu dan bunga api berpijar menyilaukan mata. Kedua orang ini mundur dua langkah, kemudian mereka bergerak maju lagi saling serang dengan serunya.
Sementara itu, Cui-Beng Kui-Bo menjadi semakin penasaran. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa pemuda tampan yang masih amat muda itu mampu menandinginya. Semua serangannya dapat dielakkan atau ditangkis oleh pemuda itu, bahkan kalau pemuda itu membalas, kadang ia merasa terdesak! Apa lagi kalau pemuda itu menyerangnya dengan totokan satu jari yang ia tahu adalah ilmu totok It-Yang-Ci yang amat dahsyat dari Siauw-Lim-Pai!
Pemuda itu bukan hanya mampu menandinginya, bahkan merupakan lawan berat yang amat berbahaya baginya. Kenyataan pahit ini hampir tak dapat ia mempercayainya kalau tidak mengalaminya sendiri. la yang selama puluhan tahun sudah terkenal sebagai datuk dari selatan yang jarang bertemu tandingan, kini terdesak oleh seorang pria yang masih amat muda dan sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw!
“Sratttt... Cringgg” Kedua tangan Cui-Beng Kui-Bo bergerak ke punggung, tampak sinar berkelebat ketika kedua tangannya mencabut sepasang pedangnya dan ia lalu mengadukan sepasang pedang itu sehingga terdengar bunyi nyaring dan tampak api berpijar. Akan tetapi ia masih ingat akan kedudukannya sebagai seorang datuk besar, maka ia tidak mau menyerang lawan yang masih bertangan kosong karena itu ia berseru, “Orang muda, keluarkanlah senjatamu dan lawanlah siang-kiam ku ini!"
Sin Cu telah merasakan kelihaian nenek itu. Dia tahu bahwa Cui-Beng Kui-Bo adalah seorang lawan yang tangguh sekali. Tadipun dia hanya baru dapat kadang-kadang mendesak dan kalau pertandingan tangan kosong itu dilanjutkan, dia tidak tahu entah dia akan dapat keluar sebagai pemenang atau tidak, dan andaikata dia dapat menang, hal itu akan makan waktu lama. Kini nenek itu membawa dua batang pedang, tentu ilmu silat sepasang pedangnya berbahaya sekali. Maka diapun tidak ragu-ragu lagi dan mencabut pedang yang tergantung di punggungnya.
“Singgg...!” Tampak sinar putih berkelebat dan pedang Pek-Liong-Kiam (Pedang Naga Putih) peninggalan mendiang Panglima Kwee Liang telah berada ditangan kanannya.
Melihat betapa pemuda itu telah mencabut sebatang pedang berbentuk naga putih, Cui-Beng Kui-Bo segera menggerakkan sepasang pedangnya dan membentak, “Lihat pedang” la sudah menyerang dengan dahsyat, sepasang pedangnya dengan cepat sekali berkelebat menyambar dari kanan kiri bagaikan kilat. Jurus menggunting dengan sepasang pedang itu telah menutup jalan keluar dari kanan dan kiri.
Akan tetapi Sin Cu tidak menjadi gugup, dengan langkahnya yang aneh tubuhnya sudah mundur ke belakang dan sekali memutar pedangnya, gulungan sinar putih menjadi perisai dirinya.
“Trang..., Cringgg...!” Sepasang pedang itu bertemu dengan Pedang Naga Putih dan Cui-Beng Kui-Bo merasa betapa kedua tangannya tergetar. Akan tetapi Sin Cu juga merasa tangannya tergetar. Nenek itu menjadi marah dan sambil berteriak melengking ia sudah menerjang lagi, kini sepasang pedangnya yang digerakkan dengan amat cepat telah membentuk dua gulungan sinar yang bagaikan gelombang samudera bergulung-gulung menerjang ke arah Sin Cu.
Sin Cu membuat pertahanan yang kokoh kuat dengan pedangnya, bagaikan sebuah batu karang yang tidak bergeming diterjang ombak. Dia memainkan ilmu pedang rangkaian Bu Beng Siauwjin, ilmu pedang yang disesuaikan dengan pedang itu dan oleh kakek sakti itu diberi nama Pek-Liong Kiam-Sut (Ilmu Pedang Naga Putih).
Ketika Sin Cu memainkan ilmu pedang ini, pedangnya lenyap berubah menjadi gulungan sinar putih yang tebal, melayang-layang bagaikan seekor naga putih bermain-main di angkasa. Kadang-kadang terdengar bunyi denting nyaring kalau pedang kedua orang yang bertanding itu bertemu, disusul percikan bunga api. Terjadi pertandingan pedang yang amat seru.
Akan tetapi pertandingan antara Ouw Yang Lee melawan Gan Hok San tidak berjalan seimbang. Setelah lewat seratus jurus, mulailah Ouw Yang Lee terdesak hebat. Tadinya, Tung-Hai-Tok Ouw Yang Lee majikan Pulau Naga ini mengira bahwa dia akan mampu menebus kekalahannya dahulu dari Gan Hok San karena selama ini dia telah berlatih setiap hari memperdalam ilmu silatnya.
Tidak tahunya Gan Hok San juga berbuat serupa sehingga pendekar Siauw-Lim-Pai inipun rnengalami kemajuan, sehingga ketika kini bertanding lagi, tentu saja Gan Hok San lebih unggul setingkat dibandingkan Ouw Yang Lee. Setelah saling serang selama seratus jurus, Ouw Yang Lee kini terdesak hebat oleh permainan pedang Gan Hok San yang mantap dan kokoh.
Ouw Yang Lee hanya dapat menangkis sambil main mundur, tidak mendapat kesempatan lagi untuk membalas. Pada suatu saat, pedang di tangan Gan Hok San menyambar ganas ke arah leher Ouw Yang Lee dalam jurus pedang Petir menyambar Lonceng Emas.
“Singgg....!” Pedang itu membentuk sinar yang menyambar cepat dan kuat sekali. Ouw Yang Lee yang sudah terdesak, terkejut dan cepat dia menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaganya, menangkis pedang, akan tetapi tubuhnya terhuyung dan kesempatan itu dipergunakan Gan Hok San untuk mengejar tiga langkah dan mengayun kakinya menendang.
“Wuuuttt... Desss!!” Lambung Ouw Yang Lee terkena tendangan. Tubuhnya terpelanting dan dia roboh bergulingan. Untung baginya Gan Hok San tidak bermaksud membunuhnya sehingga dia membatasi tenaga ketika menendang. Ouw Yang Lee tidak terluka parah namun dia cukup maklum bahwa kalau pertandingan dilanjutkan, akhirhya dia akan kalah dan mungkin tewas di tangan lawannya.
Dia menoleh ke arah Cui-Beng Kui-Bo yang juga belum mampu merobohkan Sin Cu. Dia menjadi putus asa dan menyesal mengapa dia tidak mengajak Tho-Te-Kong ketika mendatangi Gan Hok San. Kalau kakek sakti itu ikut, tentu dia telah berhasil membunuh Gan Hok San sekarang dan Sim Kui Hwa, dan dapat memboyong Ouw Yang Hui ke kota raja dijadikan sarana mendapatkan kedudukan tinggi!
“Kui-bo, mari kita pergi!” teriaknya kepada Cui-Beng Kui-Bo sambil melompat jauh dan melarikan diri.
Mendengar seruan ini dan melihat betapa rekannya yang mengajaknya ke tempat itu telah melarikan diri, tentu saja Cui-Beng Kui-Bo yang tidak mempunyai urusan pribadi dengan keluarga Gan, tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan pertandingan. Selain lawan mudanya ternyata lihai bukan main, juga kawannya yang menjadi biang keladi perkelahian itu tidak ada lagi dan kalau sampai Gan Hok San mengeroyoknya, tentu ia akan celaka. Maka iapun melompat jauh ke belakang lalu melarikan diri mengejar Ouw Yang Lee.
Sin Cu hanya berdiri memandang lalu menyarungkan kembali pedangnya, tidak berusaha mengejar. Gan Hok San mengharmpiri Sin Cu. Juga Sim Kui Hwa dan kedua orang anaknya menghampiri pemuda itu.
“Ah, ternyata engkau hebat sekali, Sin Cu. llmu silatmu begitu tinggi sehingga engkau mampu menandingi iblis betina yang amat lihai itu. Kalau tidak ada engkau yang membela, tentu kami semua akan celaka di tangan kedua orang jahat itu...”
“Sungguh kami berterima kasih sekali kepadamu, Sin Cu. Kami telah berhutang budi, berhutang nyawa kepadamu,” sambung Sim Kui Hwa.
“Aku bahkan telah berhutang nyawa dan budi berulang kali, Ibu. Dia juga pernah mencegah Ayah Ouw Yang Lee membunuhku dan dia telah mengalahkannya,” kata Ouw Yang Hui sambil memandang kepada Sin Cu dengan perasaan bangga sekali karena pemuda itu adalah sahabatnya dan ia yang telah membawa pemuda itu ke situ sehingga dapat menolong mereka.
“Harap Paman sekalian tidak bersikap sungkan. Perbuatanku tadi hanya sewajarnya saja. Bukankah kita harus saling menolong kalau yang satu terancam bahaya?”
“Akan tetapi aku merasa khawatir sekali!” kata Sim Kui Hwa kepada suaminya. “Ouw Yang Lee itu seorang yang amat keras hati. Dia selalu menganggap diri sendiri yang paling tangguh dan dia tidak dapat menerima kekalahan. Kekalahannya yang kedua kalinya ini tentu tidak membuat dia jera. Pasti dia akan datang lagi, membawa teman-temannya yang lebih lihai.”
Mendengar ini, Gan Hok Sam berkata,.“Marilah kita masuk dan bicara di dalam untuk mempertimbangkan bagaimana baiknya” Mereka semua masuk ke ruangan dalam dan duduk mengelilingi meja. Mereka semua tampak gelisah oleh ucapan Sim Kui Hwa tadi.
“Ayah,” kata Ouw Yang Hui kepada Gan Hok San. “Apa yang dikatakan Ibu tadi memang benar sekali. Bagaimana kalau mereka datang lagi dan menyerang kita?”
“Hemm, takut apa? Bukankah di sini ada Ayah, dan terutama ada pula kakak Wong Sin Cu? Kalau ada kakak Sin Cu, biar mereka datang bersama beberapa orang jahatpun, pasti dia akan mampu menghajar mereka!” kata Li Hong dengan suaranya yang nyaring dan merdu.
“Ah, Li Hong. Bagaimana Sin Cu dapat lama tinggal di sini? Tak lama lagi tentu dia telah pergi meninggalkan rumah kita,” kata Sim Kui Hwa.
“Akan tetapi kenapa? Kenapa dia tidak tinggal saja di sini selamanya?” tanya pula anak itu sambil menoleh dan memandang kepada Sin Cu.
“Hush, Li long, jangan bicara ngawur! Kakakmu Sin Cu bukan anggauta keluarga kita, bagaimana bisa tinggal di sini selamanya?” bentak Gan Hok San kepada anak perempuannya yang centil dan pandai berbantahan itu.
Akan tetapi dibentak demikian itu, Li Hong tidak jadi mundur, bahkan ia lalu berkata kepada Ayahnya dengan suara lantang. “Kenapa Kak Sin Cu tidak menjadi anggauta keluarga kita, Ayah? Kalau dia menjadi suami Enci Hui, tentu dia menjadi anggauta keluarga kita, menjadi kakak iparku! Kurasa mereka berdua setuju. Engkau setuju kalau menikah dengan Kak Sin Cu, bukan, Enci Hui?”
Semua orang terkejut mendengar ucapan yang lancang ini dan seketika wajah Ouw Yang Hui menjadi merah sekali. Apalagi kalimat Li Hong terakhir yang bertanya kepadanya itu. Sejenak ia bingung, kemudian ia lari meninggalkan ruangan itu menuju ke ruangan belakang. la belum mengenal keadaan dalam rumah itu, maka ia tidak tahu di mana kamar Ibunya. la lari asal keluar saja dari ruangan itu, saking rikuh dan malunya!
“Kak Sin Cu, engkau tentu mau menikah dengan Enci Hui, bukan?” Li Hong agaknya tidak melihat betapa Ayah Ibunya melotot kepadanya dan ia mengajukan pertanyaan itu kepada Sin Cu.
Pemuda ini akan menghadapi serangan pedang yang berbahaya dengan lebih tenang dari pada menghadapi pertanyaan Li Hong itu. Diapun kebingungan, tidak tahu harus menjawab bagaimana, hanya menentang pandang mata Li Hong yang demikian terbuka dan jujur, sepasang mata kanak-kanak yang bening dan tajam, yang seolah mampu menjenguk ke dalam dadanya. Diapun memilih diam tidak menjawab, hanya menundukkan mukanya, tersipu.
“Li Hong! Terlalu lancang mulutmu Hayo engkau masuk, cari Encimu dan minta maaf kepadanya!” Gan Hok San membentak dengan suara mengandung kemarahan.
Sekali ini Li Hong menurut. la turun dari kursi, memandang Ayahnya, lalu membalikan tubuh dan bersungut-sungut meninggalkan ruangan itu, mencari Encinya di dalam.
Suasuna menjadi hening di dalam ruangan itu. Sin Cu masih duduk menundukkan mukanya. Gan Hok San dan isterinya kadang-kadang saling pandang dan mereka pun merasa rikuh sekali kepada pemuda yang sudah berjasa besar menyelamatkan mereka semua itu. Kemudian Sim Kui Hwa teringat lagi akan kekhawatirannya dan memandang kepada Sin Cu yang masih menunduk.
“Sin Cu, bantulah kami memikirkan apa yang terbaik yang dapat kami lakukan menghadapi ancaman mereka itu?” Ketika mengajukan pertanyaan ini Sim Kui Hwa sudah tidak ingat lagi akan usul yang keluar dari mulut kecil puterinya yang lancang tadi.
Mendapat pertanyaan itu, Sin Cu mengangkat muka memandang kepada Sim Kui Hwa, kemudian kepada Gan Hok San. Setelah menghela napas panjang menenangkan kembali perasaannya yang tadi terguncang oleh ulah Li Hong, Sin Cu berkata dengan suara tenang.
“Apa yang dikhawatirkan bibi memang beralasan. Agaknya Ouw Yang Lee adalah seorang yang pendendam dan tidak dapat menerima kekalahan. Mungkin saja dia datang kembali dan membawa teman-teman yang lihai. Oleh karena itu menurut pendapat saya, jalan satu-satunya yang terbaik bagi Paman adalah meninggalkan tempat ini, pindah ke tempat lain agar jangan sampai dapat ditemukan Ouw Yang Lee.”
Gan Hok San mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya. “Melarikan diri dengan ketakutan? Menjadi pelarian? Tidak, Sin Cu, itu bukan sikap seorang pendekar! Selama hidupku aku belum pernah melarikan diri dan bersembunyi ketakutan dari seseorang!”
“Saya percaya itu, Paman. Saya sendiri juga tidak akan lari bersembunyi kalau menghadapi ancaman siapa saja, tetapi lupakah Paman bahwa ada suatu pendapat di antara para budiman bahwa keberanian tanpa perhitungan dan ngawur merupakan suatu kenekatan yang menjurus kepada kebodohan.
"Seorang bertangan kosong yang dikepung lima ekor harimau besar yang mengancamnya seyogianya melarikan diri memanjat pohon menyelamatkan diri, akan tetapi kalau dia nekat melawan sampai mati dengan tubuh terkoyak-koyak, apakah dia dapat dinamakan gagah perkasa? Apakah hal itu hanya membuktikan kebodohannya sehingga dia mati konyol?
"Orang-orang yang tadi menyerang ke sini adalah orang-orang yang kejam dan buas melebihi harimau. Pula mereka yang terancam keselamatannya bukan hanya Paman, melainkan isteri dan anak-anak Paman. Apakah Paman hendak mempertaruhkan nyawa mereka, siap mengorbankan mereka demi berkukuh mempertahankan kegagahan yang sesungguhnya hanya merupakan kenekatan yang mengandung kebodohan?”
Gan Hok San tertegun dan sampai lama tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Apa yang diucapkan pemuda itu tidak dapat di bantah kebenarannya. Akan tetapi, dia telah diakui sebagai seorang pendekar sakti dari Siauw-Lim-Pai sejak dia muda dan selama ini dia mempertahankan gelar pendekar Siauw-Lim-Pai itu. Bagaimana mungkin kini dia harus bersembunyi, lari terbirit-birit dan ketakutan karena ancaman seorang seperti Ouw Yang Lee? Dia menghela napas panjang dan berkata,
“Sin Cu, aku mengerti apa yang kau maksudkan. Akan tetapi tahukah engkau bahwa bagi seorang pendekar, nama dan kehormatan lebih berharga dari pada nyawa? Sejak muda aku dikenal sebagai seorang pendekar Siauw-Lim-Pai. Kalau sekarang aku melarian diri dari Ouw Yang Lee, dia pasti akan menyebarkan berita bahwa aku lari ketakutan. Hal itu bukan hanya akan menghancurkan nama dan kehormatanku, bahkan juga mencemarkan nama besar Siauw-Lim-Pai. Bayangkan, seorang pendekar Siauw-Lim-Pai lari ketakutan menghadapi ancaman seorang musuh!”
“Saya kira bayangan Paman itu berlebihan. Paman bukan melarikan diri karena takut, melainkan melarikan dan menyembunyikan keluarga Paman agar mereka terbebas dari ancaman maut. Pula, rasanya tidak mungkin Ouw Yang Lee berani menyebarkan kabar bohong itu. Dialah yang bertindak pengecut, bukan menghadapi Paman seorang diri satu lawan satu melainkan mengajak datuk-datuk sesat untuk menyerang Paman. Nama besar Siauw-Lim-Pai tidak akan tercemar karena Paman tidak melakukan hal yang tidak patut atau tercela. Paman hanya menyelamatkan keluarga Paman dari ancaman orang yang licik dan curang.”
Gan Hok San menoleh kepada isterinya yang masih duduk sambil menundukkan mukanya. Dia tidak tahu bahwa sejak tadi Sim Kui Hwa merasa sedih dan menahan-nahan tangisnya dengan menundukkan mukanya. “Hwa-moi, bagaimana pendapatmu?” pendekar itu bertanya kepada isterinya.
Pertanyaan suaminya itu menjebol pertahanan wanita itu dan iapun menangis tersedu-sedu, menutupi mukanya dengan kedua tangan. Melihat hal ini, Gan Hok San terkejut bukan main dan dia memandangi isterinya dengan mata terbelalak keheranan. Akan tetapi Sin Cu tenang saja melihat nyonya itu menangis karena dia sudah dapat menduga apa yang terkandung dalam hati nyonya itu ketika mendengar percakapan dia dan Gan Hok San.
“Isteriku! Kenapa engkau menangis? Kenapa kau begini bersedih? Katakanlah, mengapa?” Gan Hok San bertanya sambil memegang dan mengusap pundak isterinya penuh kasih sayang. Biarpun dia mengenal isterinya sebagai seorang wanita yang sangat lembut dan peka rasa, namun belum pernah ia menangis sesedih ini.
Sim Kui Hwa menggunakan saputangan untuk mengusap air matanya dan ia menahan tangisnya. Setelah agak reda isaknya, ia lalu memandang suaminya dengan mata merah dan berkata lembut..“Suamiku, engkau lakukanlah apa yang kau rasa baik..., kami bertiga siap kehilangan nyawa kami yang tidak berharga untuk menjaga nama dan kehormatanmu...”
Suara yang lembut penuh kepasrahan itu dirasakan oleh Gan Hok San bagaikan sebatang pedang yang menusuk ulu hatinya. Wajahnya menjadi pucat sekali, lalu berubah merah dan dia mendekati dan memegang kedua tangan isterinya.
“Aih, betapa bodoh aku! Betapa mementingkan nama dan kehormatan diri yang kosong sampai mengabaikan keselamatan isteri dan anak-anak tercinta! Kui Hwa, maafkan aku. Sekarang aku menyadari bahwa sikapku tadi sungguh bebal dan hanya ingat diri sendiri. Engkau benar, Sin Cu. Aku harus menyelamatkan anak isteriku dari ancaman bahaya orang-orang yang kejam dan buas. Hentikan tangismu, isteriku. Mari kita berkemas. Sekarang juga kita akan pergi meninggalkan rumah ini!”
Sim Kui Hwa sudah berhenti menangis dan ia memandang.kepada Sin Cu dengan sinar mata berterima kasih. la merasa dirinya dan kedua orang anaknya dipentingkan dan disayang suaminya. “Baik, mari kita berkemas,” katanya dan ia sudah bangkit berdiri.
“Nanti dulu, Hwa-moi. Duduklah dulu karena aku hendak membicarakan sebuah urusan yang amat penting dengan engkau dan Sin Cu,” kata Gan Hok San.
Isterinya duduk kembali mendengar ucapan ini dan Sin Cu memandang pendekar itu dengan sinar mata bertanya. Ada hal penting apakah yang akan dibicarakan, pendekar itu dengannya? Karena merasa heran, maka diapun bertanya,.“Paman, urusan penting apakah yang hendak Paman bicarakan dengan saya?”
“Sin Cu, kuharap engkau suka menjawab pertanyaanku dengan sejujur-jujurnya karena biarpun kita baru saja saling bertemu, namun kami sudah menganggap engkau sebagai seorang penolong dan sahabat yang amat baik. Sin Cu, berapakah usiamu sekarang?”
Tentu saja Sin Cu merasa heran dengan pertanyaan tentang usia ini. “Usia, Paman? Eh, usia saya kalau tidak salah tahun ini saya berusia dua puluh satu tahun.”
“Dan apakah engkau sudah beristeri, Sin Cu?”
Sin Cu tersenyum akan tetapi wajahnya menjadi kemerahan. Dia menggeleng kepala dan menjawab singkat. “Belum, Paman.”
“Dan apakah engkau sudah ditunangkan oleh orang tuamu kepada seorang gadis?” Gan Hok San mengejar.
Sin Cu masih belum mengerti ke arah mana pertanyaan bertubi itu dan menjawab sejujurnya, “Belum, Paman.”
Kui Hwa kini mendengarkan dengan penuh perhatian karena ia sudah dapat menduga ke arah mana pertanyaan suaminya kepada pemuda itu. Mendengar jawaban itu, wajah Gan Hok San berseri.
“Dan siapakah orang tuamu. Apa pekerjaan Ayahmu dan di mana tempat tinggalnya?”
Ditanya tentang orang tuanya, tiba tiba awan gelap menyelimuti wajah Sin Cu yang biasanya cerah itu. Pandang matanya redup dan dia menghela napas dalam untuk menenangkan hatinya sebelum menjawab. “Paman dan bibi, saya tidak tahu di mana adanya Ayah dan Ibu saya sekarang, Bahkan wajah merekapun saya tidak ingat lagi. Saya berpisah dari mereka sejak saya berusia tiga tahun dan yang saya ingat adalah bahwa Ayah saya bernama Wong Cin.”
Gan Hok San saling bertukar pandang dengan isterinya. Mereka berdua terkejut sekali mendengar ini dan Gan Hok San cepat berkata. “Ah, maafkanlah aku, Sin Cu. Aku tidak tahu akan hal itu. Maafkan aku kalau pertanyaanku tadi membuatmu bersedih.”
“Tidak mengapa, Paman. Akan tetapi... mengapa Paman menanyakan tentang semua itu kepada saya?”
Kembali suami isteri itu saling pandang dan dari pandang mata isterinya, Gan Hok San tahu bahwa isterinya telah mengerti ke mana tujuan pembicaraannya tadi. “Sin Cu, kita adalah orang-orang yang menghargai kejujuran, maka kami akan berterus terang saja, mudah-mudahan apa yang akan kami katakan ini tidak akan menyinggung perasaanmu.
"Ketahuilah, ucapan yang dikeluarkan secara lancang oleh anak kami Li Hong tadi berkesan mendalam di hati kami dan merupakan dorongan yang kuat menimbulkan keinginan hati kami untuk membuat usul Li Hong tadi menjadi kenyataan!
"Engkau belum terikat dengan wanita lain, oleh karena itu, jika.engkau tidak berkeberatan dan dapat menyetujui, kami akan merasa berbahagia sekali untuk menjodohkan anak kami Ouw Yang Hui denganmu. Bagaimana pendapmu, Hwa-moi, engkau juga tentu setuju bukan?”
Sim Kui Hwa mengangguk dengan tersenyum. “Tentu saja aku setuju sekali dan akan merasa berbahagia kalau Sin Cu menjadi menantuku.”
Sin Cu menunduk dan wajahnya berubah merah sekali. Jantungnya berdebar, tegang dan girang. Dia harus mengakui bahwa semenjak pertama kali bertemu Ouw Yang Hui, hatinya telah terpikat dan setelah mereka melakukan perjalanan bersama selama beberapa bulan sehingga dia mendapat kesempatan untuk mengenal gadis itu dari dekat, melihat sikap dan wataknya langsung dia jatuh cinta!
"Walaupun selama beberapa bulan itu dia tidak pernah menyatakan cintanya melalui kata-kata, namun melihat sikap gadis itu kepadanya, dia hampir yakin bahwa Ouw Yang Hui agaknya tidak akan menolak cintanya. Betapapun juga, dia masih ragu dan harus memperoleh kepastian dulu dari mulut gadis itu apakah suka berjodoh dengannya.
“Paman Gan Hok San, tadí Paman mengatakan bahwa Paman menghargai kejujuran. Baiklah, saya akan menjawab dengan sejujurnya kepada Paman dan bibi. Terus terang saja, saya merasa amat iba dan sayang kepada Hui-moi dan saya akan merasa berbahagia sekali untuk dapat hidup berdua dengan Hui-moi sebagai suami isteri dan melindunginya selama hidup saya.
"Akan tetapi, Paman dan bibi. Bagaimana mungkin kita membicarakan soal perjodohan Hui moi di luar sepengetahuannya? Saya kira yang terpenting adalah bagaimana tanggapan Hui-moi mengenai usul perjodohan ini. Saya baru berani menyatakan kesanggupan saya hanya suka apabila Hui-moi sendiri suka menerimanya.”
Suami, isteri itu saling pandang dan keduanya mengangguk-angguk, kagum akan pendirian pemuda itu yang tidak mementingkan kesenangan sendiri. Pemuda lain yang jatuh cinta kepada Ouw Yang Hui tentu akan menerima usul itu dengan gembira tanpa memperdulikan lagi Ouw Yang Hui suka atau tidak dengan ikatan jodoh itu!
“Bagaimana pendapatmu, Hwa-moi?” tanya Gan Hok San kepada isterinya.
Sim Kui Hwa tersenyum. “Sebelum aku menyatakan persetujuanku, aku sudah mempertimbangkannya dengan melihat sikap Hui-ji. Biarpun kami saling berpisah sejak ia berusia tujuh tahun dan baru hari ini saling bertemu kembali, akan tetapi aku belum melupakan wataknya yang pemalu. Ketika tadi Li Hong dengan lancang mengusulkan perjodohannya dengan Sin Cu, ia melarikan diri keluar dari ruangan ini, akan tetapi aku melihat ia tersenyum malu-malu. Kurasa ia tidak akan keberatan bahkan senang dengan ikatan jodoh ini. Betapapun juga, biarlah aku minta kepastian darinya sekarang juga.” Setelah berkata demikian Sim Kui Hwa meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang lembut.
Setelah ditinggal berdua saja, Gan Hok San lalu berkata kepada Sin Cu. “Sin Cu, aku melihat gerakanmu ketika melawan Cui-Beng Kui-Bo dengan tangan kosong tadi, sebelum aku bertanding derngan Ouw Yang Lee. Gerakanmu demikian aneh dengan langkah-langkah aneh, engkau selalu dapat menghindarkan diri dari serangan nenek iblis itu. Kemudian, pernah aku melihat engkau mempergunakan serangan seperti gerakan It-Yang-Ci. Benarkah engkau mermpergunakan It-Yang-Ci?”
“Pandang mata Paman tajam sekali. Memang sebenarnyalah, saya pernah menyerang balik dengan It-Yang-Ci.”
“Tidak aneh kalau aku mengenal jurus itu. Aku adalah murid Siauw-Lim-Pai! Akan tetapi, bagaimana engkau dapat menguasai It-Yang-Ci? Siapakah gurumu, Sin Cu?”
“Guru saya adalah Bu Beng Siauwjin...”
Gan Hok San terbelalak.n“Ahh...! Kakek aneh yang luar biasa itu? Aku pernah melihatnya satu kali ketika beliau datang berkunjung ke kuil Siauw-Lim-Si.”
“Memang menurut pengakuan Lo-Cianpwe Hui Sian Hwesio ketua Siauw-Lim-Pai, Suhu adalah sahabat baik beliau.”
“Pantas engkau memiliki ilmu yang demikian tinggi, Sin Cu. Dan engkau sudah mengenal Suheng Hui Sian Hwesio pula?”
“Benar, Paman. Saya dan Hui-moi mencari Paman sampai berbulan-bulan tanpa hasil. Agaknya sudah lama Paman tidak berkecimpung di dunia kang-ouw sehingga para tokoh kang-ouw yang Saya tanya tidak tahu di mana Paman berada, kemudian saya pergi ke Siauw-Lim-Si dan bertanya kepada Lo-Cianpwe Hui Sian Hwesio. Dari beliau itulah saya mendapatkan alamat Paman di sini.”
“Ah, pantas kalau begitu. Jasamu besar sekali terhadap Hui-ji dan kami!” Gan Hok San menjadi semakin ramah dan mereka lalu bercakap-cakap tentang bermacam hal, terutama tentang dunia kangouw dan tentang keadaan kota raja dimana kekuasaan para menteri korup yang dikepalai oleh Thaikam Liu Cin merajalela.
Sementara itu, Li Hong yang keluar dari ruangan mendapatkan Ouw Yang Hui duduk seorang diri di ruangan belakang. Anak itu menghampiri Encinya, memegang tangan gadis itu.
“Engkau, Hong-moi?” Ouw Yang Hui merangkulnya.
“Ah, Enci, Ayah dan Ibu menyuruh aku minta maaf kepadamu. Apakah aku bersalah kepadamu, Enci? Dan kalau aku bersalah, maukah engkau memaafkan aku?”
Ouw Yang Hui merangkul dan mencium pipi yang kemerahan itu. “Ah, engkau tidak bersalah apa-apa, Li Hong. Tentu saja kalau engkau bersalah aku mau memaafkanmu, akan tetapi engkau tidak bersalah apa-apa.”
“Ayah dan Ibu bilang aku lancang sekali ketika bicara tentang perjodohanmu dengan Kak Sin Cu.”
Ouw Yang Hui tersenyum. “Tidak, engkau tidak lancang.”
“Enci, mari kita bicara di kamarku.” Anak itu menarik tangan Ouw Yang Hui dan mereka lalu masuk ke dalam kamar anak perempuan itu. Mereka duduk di tepi pembaringan dan Li Hong lalu berkata manja.
“Enci Hui, Kak Sin Cu itu orangnya baik sekali, ya? Gagah perkasa pula. Engkau tentu mau menjadi isterinya, bukan? Kalau aku sudah dewasa seperti Enci, tentu aku mau menikah dengannya!”
Ouw Yang Hui tertawa. “Kenapa engkau tidak menikah saja dengan dia, Hong-moi?”
“Ih, aku masih anak kecil, Enci. Mana bisa? Kalau aku sudah dewasa nanti, tentu Kak sin Cu sudah tua. Engkau yang lebih pantas menjadi isterinya, Hui-ci. Apakah engkau tidak suka kepadanya, Enci?”
Melihat adik tirinya yang baru dijumpainya itu demikian terbuka dan jujur, Ouw Yang Hui merasa tidak enak kalau harus pura-pura lagi. la mengangguk dan berkata, “Aku suka sekali padanya, Hong-moi.”
“Nah, kalau begitu engkau tentu mau menjadi isterinya, bukan?”
“Tentu saja aku suka, akan tetapi hal itu tidak semudah itu, Hong-moi. Tergantung juga kepada Kak Sin Cu apakah dia suka berjodoh dengan aku.”
“Wah, aku akan benci dia kalau dia tidak suka! Engkau begini cantik jelita seperti bidadari, bagaimana mungkin Kak Sin Cu tidak suka padamu? Pula, bukankah Kak Sin Cu sudah mengantarmu mencari Ayah dan Ibu sampai dapat ditemukan? Dan dia sudah membela kita mati-matian. Aku berani memastikan bahwa dia tentu suka sekali kepadamu dan suka menjadi suamimu!”
“Ah, engkau ini ada-ada saja, Hong moi. Orangnya belum menyatakan apa-apa engkau sudah berani memastikan!” kata Ouw Yang Hui sambil merangkul adiknya itu. Hatinya senang sekali dapat mengeluarkan isi hatinya kepada orang lain, biarpun orang lain itu hanya seorang anak perempuan. la senang sekali mempunyai seorang adik selincah itu, yang usul dan bicaranya sungguh sesuai dengan apa yang berada dalam hatinya!
Daun pintu terbuka dari luar dan muncullah Sim Kui Hwa. Melihat kakak adik itu saling rangkul duduk di tepi pembaringan, hatinya merasa senang sekali. Hati Ibu mana yang tidak senang melihat kerukunan kakak beradik tiri ini? Tadinya ada sedikit was-was dalam hatinya bahwa tidak akan terdapat kecocokan dan kerukunan pada hati kedua orang bersaudara tiri itu.
“Wah, kiranya kalian berada di sini! Hui-ji, aku mencarimu sampai di belakang tadi, tidak tahunya engkau berada di kamar adikmu,” kata Sim Kui Hwa sambil masuk ke dalam kamar dan duduk di atas kursi dekat pembaringan.
“lbu, Enci Hui biar tidur saja disini bersamaku. Kamar ini untuk kami berdua.” kata Li Hong.
“Baiklah, kamar untuk Encimu harus dipersiapkan lebih dulu,” jawab Ibunya.
“Ibu mencari aku?” tanya Ouw Yang Hui melihat pandang mata Ibunya kepada seperti mengandung sesuatu yang penting.
“Ya, aku mencarimu, Hui-ji. Aku ingin membicarakan hal yang amat penting denganmu. Li Hong, engkau keluarlah biarkan aku bicara berdua dengan Encimu.”
“lbu, biarlah adik Hong berada di sini, tidak apa ia ikut mendengarkan,” kata Ouw Yang Hui melihat adiknya cemberut mendengar Ibunya menyuruh ia ke kamar.
“la masih kanak-kanak, Hui-ji,” bantah Sim Kui Hwa.
“Aku bukan kanak-kanak lagi, Usiaku sudah sembilan tahun Ibu!” kata Li Hong.
“Biarlah, Ibu. Tidak ada rahasia antara aku dan Hong-moi. la kuanggap bukan kanak-kanak lagi. Kalau Ibu hendak bicara, harap bicara saja. Segala tentang diriku boleh diketahui Hong-moi.” Ouw Yang Hui membela adiknya dan gadis cilik itu merasa girang sekali, lalu memegang tangan Encinya dan memandang kepada Ibunya dengan sinar mata penuh kemenangan!
“Ya sudahlah, akan tetapi engkau diam saja mendengarkan dan tutup mulut, Li Hong, jangan lancang,” Ibunya memperingatkan. Li Hong hanya mengangguk sambil tersenyum manis.
“Nah, katakanlah, Ibu. Kepentingan apakah itu yang hendak Ibu bicarakan dengan aku?”
“Begini, nak. Pertama-tama, dan hal ini Li Hong juga perlu mengetahui, bahwa kita semua harus cepat-cepat meninggalkan rumah dan dusun ini, pergi pindah ke tempat yang lebih aman."
“Akan tetapi kenapa, Ibu?” tanya Ouw Yang Hui dan Li Hong hampir berbareng.
“Seperti kita bicarakan tadi, kita khawatir kalau-kalau Ouw Yang Lee membawa kawan-kawannya datang menyerbu kita lagi. Atas nasihat dari Sin Cu, akhirnya Ayah menyetujui untuk meninggalkan dusun ini dan pindah ke tempat lain. Akan tetapi kemudian Ayah kalian dan aku mempunyai keinginan untuk menjodohkan engkau dengan Sin Cu, Hui-ji.”
“Nah, apa kataku tadi? Memang paling tepat sekali kalau Enci Hui menikah dengan Kak Sin Cu” sorak Li Hong gembira sambil mengguncang-guncang tangan Ouw Yang Hui yang masih dipegangnya.
Sim Kui Hwa tersenyum. Anaknya yang satu ini memang lincah, nakal dan bandel, akan tetapi memiliki sifat gagah seperti Ayahnya. “Memang, Ayah kalian mendapatkan pikiran itu setelah tadi mendengar usul lancang Li Hong.” la mengaku...