Sepasang Rajah Naga Jilid 15

Cerita silat karya Kho Ping Hoo. Sepasang Rajah Naga Jilid 15
Sonny Ogawa
Cerita silat karya Kho Ping Hoo
Karya Kho Ping Hoo

Sepasang Rajah Naga Jilid 15 - IM YANG SIANSU bangkit berdiri dan berseru, “Sambut pedangku!” Dia menyerang dengan tusukan pedangnya ke arah dada. Gerakannya tampak lambat saja, namun serangan itu mengandung tenaga yang dahsyat dan pedang itu mampu menembus sebuah perisai baja yang kuat.

Tho-Te-Kong tidak berani memandang ringan serangan ini. Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang tangguh juga dan dia tahu bahwa memandang rendah berarti telah mengundang kelengahan dan bahaya. Maka, diapun menggerakkan kaki ke kiri sehingga tubuhnya miring dan tongkatnya menyambut pedang lawan dari samping untuk menangkisnya.

“Tranggg...!” Pedang itu terpental ketika tertangkis dari samping. Im Yang Siansu merasa betapa tangannya yang memegang pedang terguncang. Maklumlah dia bahwa lawannya adalah seorang ahli sinkang yang amat kuat.

Pedang yang terpental itu membuat gerakan berputar dan membalik, merupakan bacokan ke arah leher Tho-Te-Kong. Gerakan ini amat indah dan juga berbahaya sekali bagi lawan. Namun kakek itu merendahkan diri untuk mengelakkan serangan dan mengangkat tongkatnya ke atas. Kembali pedang itu tertangkis dan dengan putaran cepat ujung tongkat itu menotok ke arah ulu hati lm Yang Siansu.

Ketua Im Yang Kauw ini miringkan tubuh mengelak. Ketika tongkat itu menyambar ke arah kakinya, diapun melompat ke atas dan dari atas pedangnya menyambar, membacok kepala lawan. Tho-Te-Kong juga dapat mengelak dengan loncatan kecil ke kanan.

Demikianlah, kedua orang sakti ini sudah saling serang dengan dahsyatnya. Biarpun gerakan mereka tampak tidak secepat gerakan Cui-Beng Kui-Bo yang dikeroyok barisan lima pedang, namun baik gerakan tongkat bambu kuning maupun gerakan pedang di tangan Im Yang Siansu mengandung tenaga sinkang kuat sekali, sehingga kedua senjata itu mengeluarkan bunyi bercuitan ketika menyambar.

Beberapa kali Im Yang Siansu menggerak-gerakkan pedangnya. Pedang itu memang dapat memantulkan sinar matahari seperti sebuah cermin. Pantulan sinar itu menyambar ke arah muka Tho-Te-Kong sehingga kakek ini menjadi silau dan dalam keadaan silau itu tiba-tiba Im Yang Siansu menyerang.

Karena menggunakan kelebihan Jit-Kong-Kiam ini, Im Yang Siansu masih dapat mengimbangi desakan Tho-Te-Kong sehingga mereka bertanding dengan seru sekali. Sebentar saja lima puluh jurus lewat dan keduanya saling desak dengan hebat.

Sementara itu, Cui-Beng Kui-Bo yang dikeroyok lima semakin mendesak barisan lima pedang itu dan suatu saat, pedang kirinya dapat melukai pundak seorang pengeroyok. Sute dari Thian Im Cu ini mengeluh dan terpaksa dia melompat keluar dari barisan. Akan tetapi seorang sute lain telah melompat masuk ke dalam barisan untuk menggantikannya!

Hal ini membuat Cui-Beng Kui-Bo menjadi marah dan sebuah gerakan yang luar biasa cepatnya kembali melukai paha seorang sute. Terpaksa yang terluka pahanya ini melompat keluar dan digantikan oleh seorang sute lainnya. Biarpun demikian, kecepatan gerakan Cui-Beng Kui-Bo membuat barisan lima pedang itu kewalahan dan mereka terdesak hebat dan barisan itupun mulai menjadi kacau gerakannya.

Awan yang besar dan tebal menutupi matahari sehingga Im Yang Siansu tidak lagi dapat mempergunakan pedangnya untuk mernantulkan sinar matahari dan dalam keadaan demikian maka mulailah dia terdesak hebat oleh tongkat bambu kuning di tangan lawannya. Tho-Te-Kong memang sakti dan ilmu silatnya hebat bukan main.

Tongkatnya itu walaupun hanya terbuat dari bambu kuning, namun karena dimainkan dengan pengerahan sinkang sehingga tenaga sakti itu tersalur lewat tongkat bambu, menjadi sebuah senjata yang ampuh sekali. Tongkat bambu itu berani beradu dengan pedang pusaka Jit-Kong-Kiam tanpa menjadi patah atau rusak. Kini sinar kuning dari tongkat itu semakin luas, bergulung-gulung mendesak sinar pedang bahkan beberapa kali nyaris melukai tubuh Im Ya Siansu.

“Hossshhh...” Tiba-tiba Tho-Te-Kong mendengus dan sinar kuning tongkatnya menyambar dahsyat sekali, amat cepat dan kuat ke arah kepala Im Yang Siansu, Ketua Im Yang Kauw ini terkejut melihat datangnya serangan yang amat hebat itu. Dia tidak sempat lagi mengelak. Terpaksa dia menggerakkan pedangnya ke atas untuk menangkis.

“Trangggg...” Demikian kuat dan berat datangnya pukulan itu sehingga biarpun Im Yang Siansu berhasil menangkis, tetap saja dia terhuyung. Dalam keadaan terhuyung ini, Tho-Te-Kong mengejar dengan tendangan berantai.

“Wuuuttt... Dukkk..!” Tendangan pertama dapat dielakkan Im Yang Siansu, tendangan ke dua dapat ditangkis lengan kirinya, akan tetapi tendangan ke tiga datang menyusul dengan kuatnya.

“Desss...!!” Ketua Im Yang Kauw itu terkena tendangan. Biarpun telah mengerahkan sinkangnya melindungi dada sehingga tubuhnya tidak sampai mengalami luka dalam yang parah, namun tetap saja tubuhnya terjengkang dan roboh bergulingan. Tho-Te-Kong mengejar dan melompat ke depan, tongkat bambu kuningnya diangkat menghantam ke arah kepala Im Yang Siansu yang masih bergulingan.

“Wuuutt...!” Tongkat itu menyambar dahsyat ke arah kepala ketua Im Yang Kauw itu dan dia tidak akan mampu menghindarkan diri lagi. “Plakkk...!” tongkat itu terpental bertemu dengan benda lunak yang amat lembut.

Tho-Te-Kong terkejut dan melompat ke belakang. Di depannya telah berdiri orang yang tadi menangkis tongkatnya dengan telapak tangan. Seorang kakek yang usianya hampir tujuh puluh tahun, berpakaian kain kuning yang hanya dilibat-libatkan ditubuhnya seperti seorang pertapa. Rambutnya panjang berwarna putih digelung ke atas dan diikat dengan kain kepala berwarna putih.

Wajah itu masih tampak muda dan segar sehat, selalu dihiasi senyum sehingga wajah itu tampak cerah dan membayangkan kesabaran yang mendalam. Namun sepasang matanya yang sudah dihias alis berwarna putih itu mencorong penuh daya yang amat kuat. Melihat kakek yang amat sederhana ini, Tho-Te-Kong terbelalak dan dia mengetukkan tongkatnya ke atas tanah.

“Demi segala iblis di neraka! Bukankah engkau Bu Beng Siauwjin si manusia hina? Dunia kangouw mengabarkan bahwa engkau telah mampus!”

Kakek itu memang benar Bu Beng Siauwjin. Perlu diketahui bahwa Bu Beng Siauwjin adalah seorang tokoh besar dari Im Yang Kauw. Dia masih terhitung paman seperguruan dari Im Yang Siansu yang kini menjadi ketua Im Yang Kauw. Akan tetapi Bu Beng Siauwjin adalah seorang yang suka merantau, bertapa di pegunungan dan meluaskan pengetahuan dan memperdalam ilmu dalam perantauannya sehingga tidaklah aktip dalam perkumpulan agama Im Yang Kauw.

“Tho-Te-Kong!” kata Bu Beng Siauwjin sambil tersenyum. “Andaikata aku sudah mati sekalipun, agaknya kalau melihat engkau bertindak sewenang-wenang di Im Yang Kauw, tentu aku akan bangkit dari kuburan untuk mencegah kejahatanmu.”

“Sombong! Apa kau kira aku takut padamu?” bentak Tho-Te-Kong sambil melintangkan tongkat bambu kuningnya.

“Heh-heh-heh, memang tidak semestinya orang takut kepada orang lain, akan tetapi dia harus takut kepada Yang Maha Kuasa dan selalu waspada terhadap sepak terjangnya sendiri dalam kehidupan ini. Sampai sekarang aku melihat engkau masih menjadi hamba dari pada nafsu-nafsumu sendiri, Tho-Te-Kong. Usia kita sudah lanjut. Tak lama lagi kita hidup di dunia ini. Apakah engkau masih juga belum insaf dan menyadari bahwa jalan yang kau tempuh adalah jalan sesat?”

“Bu Beng Siauwjin, aku tidak butuh khotbahmu!” Setelah berkata demikian, Tho-Te-Kong lalu menggerakkan tongkatnya dan menyerang dengan dahsyat.

Dengan tenang Bu Beng Siauwjin mengelak dan ketika tangan kirinya bergerak, ujung kain yang melibat tubuhnya menyambar ke depan, menotok ke arah pundak lawan. Tho-Te-Kong juga cepat mengelak dan balas menyerang. Kedua orang tua itu sudah saling serang dengan dahsyatnya. Biarpun Bu Beng Siauwjin menghadapi tongkat Tho-Te-Kong hanya dengan tangan kosong, namun kakek ini sama sekali tidak terdesak.

Sementara itu, hati Im Yang Siansu merasa lega melihat munculnya paman gurunya yang tidak disangka sangkanya itu. Dia merasa yakin bahwa paman gurunya yang dia tahu amat sakti itu pasti akan mampu menandingi Tho-Te-Kong yang lihai. Dia sendiri lalu melihat ke arah Barisan Lima Pedang yang dipimpin Thian Im Cu. Sudah ada dua orang sutenya yang terluka dan digantikan orang lain. Sekarangpun lima orang sutenya itu terdesak oleh sepasang pedang di tangan Cui-Beng Kui-Bo yang memiliki gerakan cepat itu.

Dia lalu melompat masuk ke dalam barisan itu menyerukan seorang sutenya yang muda untuk keluar dari barisan. Kini barisan itu dipimpin sendiri oleh Im Yang Siansu, dibantu oleh Thian Im Cu. Tentu saja barisan itu menjadi lain sama sekali. Kini menjadi kuat bukan main, dan segera Cui-Beng Kui-Bo terdesak hebat.

Melihat betapa dua orang andalannya, yaitu Tho-Te-Kong dan Cui-Beng Kui-Bo telah bertemu dengan lawan yang amat tangguh, Ouw Yang Lee memberi aba-aba kepada kawan-kawannya untuk menyerbu. Ouw Yang Lee mencabut pedangnya, diikuti Im Yang Tojin yang juga mencabut pedangnya dan Hek Moko bersama Pek Moko yang juga masing-masing menggunakan sebatang pedang. Juga Giam-Ciangkun mencabut pedangnya dan berseru kepada pasukannya. untuk bergerak maju.

“Maju... Serbuuuuu...!” pasukan itupun bergerak maju.

Melihat ini, Thian Yang Cu juga memberi isyarat kepada para sutenya. Terdengar teriakan-teriakan memberi aba-aba dan seluruh murid Im Yang Kauw yang sejak tadi memang sudah siap, otomatis membentuk barisan-barisan Im Yang Ngo Kiam-Tin sehingga terbentuklah seluruhnya dua puluh empat barisan Lima Pedang yang menyambut serbuan Ouw Yang Lee, kawan-kawannya dan pasukan kerajaan!

Terjadilah pertempuran yang hebat didepan perkampungan Im Yang Kauw. akan tetapi ternyata bahwa barisan-barisan lima pedang itu memang tangguh sekali. Biarpun masing-masing barisan yang hanya terdiri dari lima orang ini harus menghadapi pengeroyokan sepuluh orang perajurit, namun kerja-sama mereka begitu rapi dan kompak sehirngga para prajurit menjadi kewalahan. Bahkan Ouw Yang Lee, Im Yang Tojin, Hek Moko dan Pek Moko yang dihadapi oleh sembilan orang sute dari Im Yang Siansu merasa kewalahan sekali.

Pertandingan antara Tho-Te-Kong melawan Bu Beng Siauwjin berlangsung dengan serunya. Namun setelah lewat lima puluh jurus, Tho-Te-Kong mulai terdesak hebat. Tamparan-tamparan telapak tangan Bu Beng Siauwjin yang bermain silat Thai-Yang Sin-Ciang membuat Tho-Te-Kong terpaksa main mundur. Pada suatu saat Tho-Te-Kong mendapatkan kesempatan dan dia menggerakkan tongkat bambu kuningnya menusuk sekuat tenaga ke arah ulu hati Bu Beng Siauwjin.

Kakek ini tidak lagi mengelak melainkan menyambut tusukan tongkat itu dengan kekerasan pula. Dia menyambut dengan telapak tangan terbuka mempergunakan dan mendorong ke depan dengan pengerahan sinkang sekuatnya karena dia maklum bahwa serangan lawannya itu kuat sekali.

“Wuuuuttt.. blaarr... !” Tongkat bambu kuning yang dipenuhi penyaluran tenaga sinkang itu patah-patah menjadi empat potong dan tubuh Tho-Te-Kong terdorong ke belakang sampai tujuh langkah. Biarpun dia tidak roboh, namun ternyata dia telah terluka di bagian dalam dadanya karena benturan tenaga sakti tadi membuat tangannya sendiri terpental membalik dan melukai tubuhnya sendiri. Hal ini dapat dilihat dari mukanya yang berubah pucat sekali dan dia mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah.

Pada saat itu tampak sesosok bayangan berkelebat dan Cui-Beng Kui-Bo telah berada di dekat Tho-Te-Kong dalam keadaan agak terhuyung dan baju di pundaknya terobek dan berlepotan darah yang keluar dari luka di pundaknya. Nenek ini ternyata telah terluka oleh pedang di tangan Im Yang Siansu dan ia terpaksa meninggalkan Im Yang Ngo Kiam-Tin yang amat tangguh itu dengan melompat jauh dan tiba di depan Tho te-kong.

Melihat keadaan masing-masing, tahulah mereka bahwa mereka berdua telah menderita kekalahan. “Kawan-kawan, kita pergi!” Tho-Te-Kong berseru dengan pengerahan khikang sehingga terdengar oleh semua orang karena suaranya mengandung getaran kuat.

Seruan ini terdengar oleh Ouw Yang Lee, Im Yang Tojin dan Hek Pek Moko. Karena mereka berempat itu juga sedang terdesak hebat, maka seruan itu tentu saja mereka terima dengan hati lega. Mereka lalu melompat jauh ke belakang dan mengejar Tho-Te-Kong dan Cui-Beng Kui-Bo yang sudah melarikan diri terlebih dulu.

Ditinggalkan enam orang jagoan yang diandalkan itu, tentu saja Giam Ciangkun menjadi gentar untuk menghadapi sendiri bersama pasukannya yang kewalahan menghadapi para barisan Lima Pedang yang tangguh itu. Maka diapun mengeluarkan aba-aba dengan nyaring memerintahkan pasukannya untuk mundur. Mendengar perintah ini pasukannya lalu keluar dari medan pertempuran sambil membawa teman-teman terluka dan yang tewas dalam pertempuran itu.

“Biarkan mereka pergi! Jangan kejar dan jangan serang” Teriak Im Yang Siansu kepada para muridnya.

Mendengar perintah ini, para anggota Im Yang Kauw itupun tidak ada yang bergerak dan membiarkan saja pasukan kerajaan itu melarikan diri dengan menunggang kuda dan ada pula yang berlari karena ada sebagian kuda yang kabur ketika terjadi keributan pertempuran tadi. Para anggauta Im Yang Kauw segera menolong saudara-saudara mereka yang terluka dan ada lima orang di antara mereka yang tewas.

Im Yang Siansu dan sebelas orang sutenya yang tidak cedera, di antara mereka hanya ada ermpat orang yang cedera ringan, maju menghampiri Bu Beng Siauwjin dan mereka memberi hormat dengan membungkuk dan mengangkat kedua tangan depan dada.

“Supek, teecu (murid) bersama para sute menghaturkan selamat datang dan terima kasih kepada Supek karena tanpa bantuan Supek, teecu sekalian tentu akan tewas di tangan mereka.”

“Siancai (damai)...! Kalau yang maha kuasa belum menghendaki kalian mati, siapa yang akan sanggup membunuh kalian? Mari kita bicara di dalam saja,” kata Bu Beng Siauwjin dan setelah memesan para murid agar mengurus mereka yang terluka dan yang tewas, Im Yang Siansu dan para sutenya lalu mengikuti Bu Beng Siauwjin memasuki perkampungan dan Im Yang Siansu lalu mempersilakan paman gurunya untuk masuk ke rumah induk perkumpulan Im Yang Kauw.

Setelah semua orang duduk mengelilingi meja besar, Bu Beng Siauwjin menyapu kedua belas orang murid keponakan itu dengan pandang matanya dan diapun bertanya. “Sudah belasan tahun aku tidak pernah berkunjung ke perkampungan ini, akan tetapi aku mendengar dari luaran bahwa selama ini Im Yang Kauw dapat menjaga nama baiknya. Bagaimana asal mulanya sehingga hari ini Im Yang Kauw diserbu oleh pasukan kerajaan?”

Im Yang Siansu menghela napas panjang. “Semua ini timbul karena ulah orang dalam kami sendiri, Supek. Beberapa tahun yang lalu, seorang dari kami melakukan penyelewengan, menjinai seorang wanita isteri penduduk dusun di bawah bukit. Teecu mengusirnya. Orang itu agaknya lari ke kota raja dan entah bagaimana dia dapat menjadi seorang pembantu Thaikam Liu Cin. Agaknya dialah yang menghasut dan melapor bahwa Im Yang Kauw bermaksud memberontak terhadap kerajaan. Tahu-tahu hari ini datang pasukan kerajaan itu yang dipimpin oleh enam orang jagoan pembantu Thaikam Liu Cin, dan di antara mereka adalah Im Yang Tojin, murid yang telah teecu usir itu.”

Bu Beng Siauwjin mengangguk-angguk. “Tidak aneh. Hal seperti itu memang sudah sewajarnya, dapat menimpa siapapun juga.”

“Akan tetapi, Supek. Mengapa hal itu dapat terjadi menimpa kita? Mereka itu adalah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi. Mereka itu menjadi kaki tangan Thaikam Liu Cin dan menjadi jahat. Mengapa mereka mau saja diperalat Thaikam Liu Cin yang lalim?”

“Siancai...! Apakah kalian lupa akan kebenaran dalam pelajaran Im Yang Kauw? Di dalam dunia ini, bahkan di alam semesta, unsur dua kekuatan mujijat yang saling berlawanan itu, Im dan Yang, selalu bekerja tiada hentinya. Tanpa ada yang satu, bagaimana dapat muncul yang lain? Tanpa adanya yang jahat, bagaimana kita dapat mengenal yang baik? Ahli-ahli pengobatan dapat menciptakan obat-obat yang manjur karena adanya penyakit-penyakit berat yang bermunculan.

"Agama-agama berkembang biak karena adanya dosa-dosa yang makin banyak dilakukan manusia. Bagaimana para pendekar dan patriot dapat bermunculan tanpa adanya para penjahat dan pejabat korup yang lalim? Di dunia ini ada dua unsur kekuatan yang saling bertentangan dan saling mengimbangi.

"Semua itu sudah wajar dan sudah dikehendaki Yang Maha Kuasa Hanya tinggal kita manusia yang dikaruniai akal budi untuk memilih, hendak menghamba kepada unsur kekuatan yang baik atau kepada unsur kekuatan yang jahat.! Mengabdi kepada unsur yang baik berarti mengabdi kepada Kekuasaan Tuhan, sebaliknya mengabdi kepada unsur yang jahat berarti mengabdi kepada kekuasaan Iblis!”

“Supek, tentu saja kita akan mengabdi kepada yang baik dan menumpas kepada yang jahat!” kata Thian Im Cu.

“Akan tetapi ingat, setiap tindakan kita tidak boleh sekali-kali didasari dendam atau kebencian. Semua perbuatan baik orang lain harus kita sambut dengan kebaikan pula, sedangkan perbuatan jahat orang lain tidak boleh kita sambut dengan kejahatan pula, melainkan kita sambut dengan rasa keadilan dan siap untuk memaafkan.”

“Bagaimana kita dapat memaafkan perbuatan jahat, Supek?” tanya Thian Yang Cu.

“Siapakah di antara kita yang tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan? Melakukan kejahatan adalah suatu penyakit dan penyakit itu dapat sembuh, sedangkan yang sehat saja sewaktu-waktu jatuh sakit. Karena kita semua tidak dapat terbebas dari pada dosa, maka inilah yang menjadi bekal kita untuk mudah memaafkan dosa orang lain. Ingat akan peran Im Yang dalam diri kita. Dua unsur yang berlawanan, kebaikan dan kejahatan, berlomba untuk menguasai kita.

"Manusia dipengaruhi kedua unsur baik dan jahat ini. Justeru karena kita mengandung unsur baik dan jahat inilah maka kita disebut manusia. Kalau hanya ada baik saja dalam diri kita, maka kita ini bukan manusia, melainkan malaikat. Sebaliknya kalau yang ada pada kita hanya jahat saja, maka kitapun bukan manusia melainkan iblis.

"Terserah kepada kita untuk memilih karena kita sudah dianugerahi akal budi sehingga dapat melakukan pilihan, tinggal memilih untuk menurut yang baik atau yang jahat. Terserah kepada kita untuk menanam benih pohon buah anggur atau pohon buah beracun. Karena tidak dapat dihindarkan lagi, kita sendirilah yang kelak akan memetik dan memakan buah hasil tanaman kita sendiri.”

Suasana menjadi hening setelah semua tokoh Im Yang Kauw mendengarkan ucapan sesepuh Im Yang Kauw yang sudah tidak aktip lagi itu. Semua yang diucapkan kakek itu adalah inti pelajaran agama mereka, dan ucapan itu hanya mengingatkan mereka saja agar semua pelajaran dalam agama bukan hanya merupakan teori belaka, melainkan dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

Semua pelajaran agama merupakan anugerah dari Tuhan. Tuhan menurunkan wahyu berupa ajaran-ajaran agama untuk mengingatkan manusia, untuk membimbing manusia ke arah jalan kebenaran dan menjauhi kejahatan. Akan tetapi kalau semua ajaran itu menjadi teori belaka untuk dihafalkan dan tidak dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, maka ajaran itu akan membuat kita menjadi munafik.

Ajaran-ajaran itu hanya akan kita jadikan topeng belaka. Kita kenakan sebagai pakaian yang indah dan bersih untuk menutupi badan kita yang kotor. Jauh lebih baik mengenal hanya satu saja namun dihayati dalam kehidupan sehari-hari, misalnya “Kasihilah sesamamu!” dari pada mengenal ribuan ayat akan tetapi sama sekali tidak dilaksanakan dalam kehidupan.

“Supek, teecu mohon petunjuk. Apa yang harus teecu sekalian lakukan setelah terjadi penyerbuan pasukan kerajaan tadi?” tanya Im Yang Siansu dan semua sutenya mengangguk setuju dengan pertanyaan Itu. Semua mata ditujukan kepada Bu Beng Siauwjin dengan penuh perhatian.

“Semua tindakan pasti berakibat. Tindakan kita yang keras tadipun pasti berakibat dan akibat itu tidak jauh berbeda sifatnya dengan sebab yang kita timbulkan. Andaikata kalian tadi tidak melakukan perlawanan dengan kekerasan, andaikata kalian melarikan diri saja dan tidak melayani mereka bertempur, tentu akan lain akibatnya, Akan tetapi hal itu sudah kita lakukan. Mereka pasti tidak akan mau sudah begitu saja. Apa lagi Thaikam Liu Cin yang mengirim pasukan itu. Dia tentu akan mengirim pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya dan menumpas Im Yang Kauw dengan tuduhan pemberontakan.” Kakek tua renta itu menghela napas panjang.

“Maafkan kami yang telah melibatkan Supek dalam pertempuran tadi. Akan tetapi, apakah yang harus kami lakukan sekarang, Supek?” tanya Im Yang Siansu.

“Tidak ada jalan lain. Kalian harus membubarkan diri, meninggalkan perkampungan ini karena tidak lama lagi pasukan besar tentu akan datang menyerang. Kalian tidak mungkin dapat hidup aman lagi sebagai anggota Im Yang Kauw yahg tentu menjadi buronan pemerintah."

"Akan tetapi bagaimana teecu sekalian dapat bertugas sebagai pendekar pembela kebenaran dan keadilan kalau tidak menjadi anggauta Im Yang Kauw?” bantah Thian Im Cu.

“Untuk berjuang tidak hanya menjadi anggauta Im Yang Kauw secara terang-terangan,” kata Bu Beng Siauwjin. “Kalian dapat menyamar sebagai penduduk biasa dan di mana kalian dapat membela kebenaran dan keadilan. Bahkan kalau ada yang mau, kalian dapat menyamar dan memasuki kota raja. Di sana kalian dapat bersiap menanti kesempatan untuk membantu Kaisar dan menentang kekuasaan Thaikam Liu Cin dan kawan-kawannya.”

Tentu saja hati para murid kepala yang menjadi pimpinan Im Yang Kauw itu merasa sedih sekali. Akan tetapi merekapun maklum bahwa apa yang dikemukakan Siauwjin itu memang merupakan satu-satunya jalan bagi mereka untuk menyelamatkan diri. Kalau mereka bersikukuh mempertahankan Im Yang Kauw, sudah dapat dipastikan bahwa mereka semua pasti akan binasa. Bagaimana mungkin mereka dapat melawan pasukan kerajaan yang ribuan, bahkan laksaan orang jumlahnya.

“Apa yang Supek katakan memang benar sekali dan itu merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri. Baiklah Supek, teecu sekalian akan menaati nasihat Supek dan hari ini juga kami semua akan meninggalkan perkampungan ini.” kata Im Yang Siansu.

Bu Beng Siauwjin menghela napas panjang. “Melihat keadaan dan tahu akan bahaya lalu menyelamatkan diri merupakan sebuah kebijaksanaan. Sebaliknya kalau nekat tanpa perhitungan, sehingga mati konyol merupakan kebodohan. Baiklah, sekarang aku harus pergi. Mudah-mudahan kebenaran akan selalu menerangi jalan hidup kalian.” Bu Beng Siauwjin lalu bangkit berdiri dan melangkah keluar dari perkampungan diikuti dan diantar oleh para pimpinan Im Yang Kauw sampai diluar pintu gerbang.

Setelah kakek itu pergi, Im Yang Siansu dan para sutenya lalu memanggil dan mengumpulkan anggota Im Yang Kauw dan mengumumkan bahwa hari itu juga mereka semua harus pergi dan mengosongkan perkampungan Im Yang Kauw. Mereka diperkenankan mengambil jalan sendiri-sendiri dan dianjurkan untuk tidak mengenakan pakaian yang ada tanda anggauta Im Yang Kauw demi keselamatan mereka sendiri.

“Sebagai anggauta perkumpulan yang dimusuhi pasukan kerajaan kita harus menyamar, namun kita tetap berjuang untuk membela rakyat dan Sribaginda Kaisar, menentang para pembesar lalim yang dipimpin oleh Thaikam Liu Cin. Kita tidak akan berhenti berjuang sampai Sribaginda Kaisar menyadari bahwa beliau dipermainkan oleh Thaikam Liu Cin dan sampai pembesar laknat itu jatuh!”

Demikian pesan Im Yang Siansu. Biarpun dengan hati sedih, semua anggauta Im Yang Kauw itu menaati perintah ketua mereka karena merekapun maklum bahwa setelah terjadi pertempuran hari itu, tentu Im Yang Kauw tidak aman lagi dan tempat itu pasti akan diserbu lagi oleh pasukan yang lebih besar jumlahnya. Im Yang Siansu Juga Menyamar dan berpisah dari para sutenya. Mereka mengambil jalan sendiri-sendiri dan menyembunyikan tanda Im Yang Kauw di balik baju penduduk biasa.

* * *

Anak perempuan itu memiliki gerakan lincah sekali ketika ia bermain silat dibawah pohon Siong yang besar itu Mula-mula ia bersilat tangan kosong dengan jurus-jurus dari ilmu silat Bi-Jin Kun-Hoat (Ilmu Silat Wanita Cantik) yang memiliki gerakan lemah gemulai dan indah. Sehingga bagi yang tidak mengerti ilmu silat, gerakan-gerakan itu seperti sebuah tarian yang indah. Padahal dalam gerakan-gerakan indah itu tersembunyi daya serangan yang amat berbahaya.

Gerakan anak perempuan berusia kurang lebih sembilan tahun itu memang lincah sekali. Kedua kakinya bergerak dalam langkah atau geseran yang kokoh kuat la seorang anak perempuan yang biarpun baru berusia sembilan tahun sudah tampak cantik mungil. Rambutnya, yang hitam panjang dikepang dua, ujungnya diikat pita sutera merah dan ketika ia bersilat, kedua kepangan rambut itupun bergerak ke kanan kiri dengan lucunya.

Wajahnya berbentuk bulat telur. Sepasang matanyą dengan kedua ujung di kanan kiri agak menjungat ke atas. Hidungnya kecil mancung dan mulutnya manis sekali. Dagunya meruncing dan biarpun tubuhnya masih kekanakan, namun sudah membayangkan bahwa setelah dewasa ia akan menjadi seorang gadis yang bertubuh ramping dengan pinggang yang kecil dan berkulit putih kuning.

Setelah selesai memainkan ilmu silat tangan kosong Bi-Jin Kun-Hoat, Ia lalu mengambil sebatang pedang yang tadi diletakkannya di atas bangku yang berada di bawah pohon dan mulailah ia bersilat pedang. Seperti juga permainan silat tangan kosong tadi, silat pedangnya juga indah seperti menari-nari akan tetapi mengandung dasar yang kokoh kuat.

Tak jauh dari tempat di mana anak perempuan itu berlatih silat, yaitu dalam sebuah kebun di mana tumbuh banyak pohon buah dan tanaman bunga, terdapat sebuah rumah yang cukup besar. Anak perempuan itu demikian asyiknya berlatih silat pedang sehingga ia tidak tahu bahwa ada seorang laki-laki berusia kurang lima puluh tahun keluar dari pintu belakang rumah itu yang menembus ke kebun.

Laki-laki itu tampak gagah dan tampan, dengan jenggot pendek yang terpelihara rapi, tubuhnya sedang namun tinggi tegap dan sepasang matanya bersinar tajam. Laki-laki itu menghampiri anak perempuan yang sedang bersilat pedang dan berdiri di bawah pohon sambil menonton dengan penuh perhatian.

Akhirnya anak perempuan itu berhenti bersilat. Napasnya agak memburu dan ia menyeka keringat di leher dan mukanya dengan sehelai saputangan dan ia meletakkan pedangnya di atas bangku. Pada saat itulah ia melihat laki-laki yang berdiri di situ dan wajahnya cerah oleh senyum manisnya. “lh, ayah berada di sini? Sudah lamakah, ayah?”

“Sudah sejak tadi aku menonton gerakan silat pedangmu.”

“Bagaimana, ayah? apanya yang kurang?”

“Sudah cukup baik, hanya saja pedangmu itu belum menyatu dengan tangan kananmu itu. Ingat, Li Hong, kalau engkau bersilat pedang, yang kau gerakkan itu bukanlah pedang lagi, melainkan anggaplah sebagai sebagian dari pada lenganmu seolah pedang itu bukan merupakan benda di luar tubuhmu melainkan menyatu dengan tanganmu. Mengerti?”

Anak perempuan itu mengangguk. “Mengerti, ayah!"

Pria yang gagah perkasa itu adalah Gan Hok San, seorang pendekar besar Siauw-Lim-Pai yang tinggal di dusun Sia-Bun dilereng pegunungan Beng-San. Seperti telah diceritakan di bagian depan, pendekar Gan Hok San inilah yang telah menolong Sim Kui Hwa, istri ke dua dari Ouw Yang lee atau ibu Ouw Yang Hui dari tangan penculiknya. Setelah Gan Hok San mengalahkan Tok-Gan-Houw Lo Cit si penculik, dia lalu mengantar Sim Kui Hwa kembali ke Pulau Naga. Pendekar itu bermaksud untuk mengantar Sim Kui Hwa pulang.

Akan tetapi Ouw Yang Lee tidak mau menerima kembali istri ke duanya, bahkan karena cemburu hendak membunuh Sim Kui Hwa. Gan Hok San mencegahnya sehingga timbul perkelahian di antara dia dan Ouw Yang Lee. Dalam sebuah perkelahian yang seru, akhirnya Gan Hok San dapat mengalahkan Ouw Yang Lee.

Majikan Pulau Naga ini lalu mengusir isterinya dan terpaksa Sim Kui Hwa pergi dari Pulau Naga, ditemani Gan Hok San. Pendekar ini merasa kasihan kepada Sim Kui Hwa bahkan jatuh cinta. setelah mengantar Sim Kui Hwa mencari Ouw Yang Hui tanpa hasil, akhirnya Gan Hok San mengajak wanita itu pulang ke rumahnya di lereng Beng-San.

Akhirnya Sim Kui Hwa yang sudah tidak memiliki siapa siapa lagi di dunia ini menyerahkan diri kepada penolongnya dan mereka menjadi suami isteri. Setahun setelah menikah, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang mereka beri nama Gan Li Hong. Sekarang anak itu sudah berusia sembilan tahun dan sejak berusia lima tahun, Li Hong telah digembleng ilmu silat oleh ayahnya.

Pada pagi hari itu, Li Hong yang suka akan ilmu silat dan selalu tekun berlatih, sudah berlatih silat seorang diri di kebun belakang rumahhya. Ketika ayahnya datang dan memberi petunjuk, iapun mendengarkan, dengan penuh perhatian. Ayah dan anak itu duduk di atas bangku panjang di bawah pohon Siong dan bercakap cakap. Hubungan mereka akrab penuh kasih sayang.

Dapat dimaklumi bahwa Gan Hok San amat menyayang puteri tunggalnya ini. Dia baru menikah setelah berusia empat puluh tahun dan setahun kemudian isterinya melahirkan Li Hong. Tentu saja dia amat menyayang anak yang semata wayang ini. Li Hong juga amat sayang kepada ayahnya yang selalu bersikap penuh kasih kepadanya.

Selagi ayah dan anak ini bercakap-cakap tentang pelajaran ilmu silat, muncullah seorang wanita dari pintu belakang rumah itu. la adalah Sim Kui Hwa. Dalam usianya yang sudah empat puluh tahun, wanita ini masih tampak cantik jelita bertubuh ramping dan bersikap lembut dan anggun. Kulitnya masih putih mulus seperti ketika mudanya dulu, Sim Kui Hwa memang tergolong wanita cantik yang awet muda.

Melihat suami dan anaknya bercakap-cakap di dalam kebun itu, ia segera menghampiri dan mendengarkan mereka berbicara tentang ilmu silat iapun menegur puterinya. “Li Hong, boleh saja engkau tekun berlatih silat, akan tetapi jangen lupakan pelajaranmu membaca dan menulis..." katanya lembut lalu iapun ikut duduk di atas bangku panjang itu.

Gan Hok San hanya tersenyum mendengar teguran isterinya kepada anaknya. Dalam mendidik anak tunggal mereka, suami isteri ini memang kompak sekali. Mereka tidak mau saling mencela di depan anak mereka sehingga bagi anak mereka apa yang diajarkan oleh seorang merupakan ajaran berdua pula.

“lbu, aku lebih suka berlatih silat dari pada berlatih membaca dan menulis.”

“Ah, tidak boleh begitu, Li Hong. Pelajaran kesusasteraan juga teramat penting bagimu sebagai bekal menempuh hidup kelak,” kata Sim Kui Hwa.

“Aku kelak ingin menjadi seorang pendekar yang tinggi ilmu silatnya, ibu. Dengan ilmu silat kelak aku dapat membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan,” kata Li Hong dengan sikap gagah sehingga tampak lucu. la seorang anak perempuan yang mungil dan cantik, lebih pantas bersikap lembut dari pada gagah-gagahan.

“Itu memang benar, anakku. Akan tetapi apa artinya jadi pendekar kalau buta huruf? Apa artinya menjadi pendekar kalau engkau tidak tahu tentang agama dan budi pekerti? Engkau akan mudah tersesat, mudah terseret pengaruh buruk. Ilmu silat berguna untuk kekuatan jasmani, dan agama dan kesusasteraan berguna untuk kekuatan rohani. Engkau harus maju dan kuat dalam jasmani dan rohani untuk dapat menjadi seorang pendekar wanita yang budiman dan bijaksana.”

Li Hong memandang kepada ayahnya seolah minta tanggapannya atas nasihat ibunya itu. Gan Hok San mengangguk-angguk dan berkata dengan tegas. “Ibumu bijaksana sekali, Li Hong. Apa yang dikatakannya itu semua benar belaka. Orang harus kuat jasmani dan rohaninya. Kalau kuat jasmaninya saja akan tetapi rohaninya lemah, ia akan mudah tersesat. Sebaliknya kalau kuat rohaninya akan tetapi jasmaninya lemah, ia akan mudah terserang penyakit dan ancaman dari luar. Karena itu, Bun (Kesusasteraan) dan Bu (Olahraga) keduanya sama pentingnya kalau engkau ingin menjadi seorang pendekar wanita yang sehat lahir batin.”

Li Hong tampak lega dan girang mendengar pendapat ayahnya dan ia tersenyum kepada ibunya. “Baiklah, ibu. Aku akan membaca kitab-kitab itu sekarang.”

“Lihat itu, engkau masih berkeringat. Keringkan keringatmu lalu mandilah dulu. Setelah itu kita sarapan pagi, baru nanti engkau membaca kitab pelajaranmu,” kata Sim Kui Hwa. Ibu ini yang mendidik puterinya sendiri dalam ilmu membaca dan menulis.

Mereka bertiga bergandeng tangan meninggalkan kebun dan kembali ke dalam rumah mereka. Li Hong membawa pedangnya yang tadi ia pergunakan untuk berlatih. Li Hong segera pergi mandi dan Sim Kui Hwa dibantu oleh seorang pelayan wanita sibuk di dapur mempersiapkan sarapan pagi untuk mereka sekeluarga. Gan Hok San duduk di ruangan depan, siap untuk berangkat ke ladang setelah makan pagi nanti.

Gan Hok San hidup sebagai petani. Dia memiliki ladang yang cukup luas dan menggarap sawah ladang itu dibantu beberapa orang buruh tani. Penghasilan sawah ladangnya cukup untuk membiayai kehidupan keluarganya, bahkan membuat dia merupakan seorang yang berkeadaan cukup di dusun Sia-Bun itu. Sebagai seorang pendekar Gan Hok San dikenal dan dihormati di dusun itu karena dengan adanya pendekar ini, tidak ada penjahat yang berani mengganggu ketenteraman dusun Sia-Bun.

Munculnya dua orang di pintu pagar pekarangannya menarik perhatian Gan Hok San. Jarang dia kedatangan tamu dari jauh atau yang tidak dikenalnya. Biasanya hanya para petani penduduk dusun Sia-Bun saja yang datang berkunjung untuk berbagai keperluan. Akan tetapi dia merasa tidak mengenal dua orang itu dan melihat keadaan dua orang yang memasuki pekarangannya itu, jelas bahwa mereka bukan penduduk dusun.

Mereka adalah dua, orang pemuda yang tampan dan langkahnya halus, yang seorang lebih tinggi, tubuhnya sedang dan mukanya berbentuk bulat telur dengan rambut hitam gemuk. Alis matanya tebal berbentuk golok, matanya lembut namun mengandung kekuatan dan tajam. Hidungnya mancung dan mulutnya kecil tersenyum manis. Kulit muka, leher dan tangannya bersih.

Pemuda yang ke dua, yang lebih kecil, amat tampan dan usianya masih tampak muda sekali, masih remaja. Akan tetapi sikapnya yang lembut dan wajahnya yang manis dan tampan sekali amat menarik perhatian. Pakaian mereka sederhana saja, namun sikap dan pembawaan mereka jelas menunjukkan bahwa mereka berdua bukan dua pemuda petani atau dusun yang sederhana. Dua orang “Pemuda” itu adalah Wong Sin Cu dan Ouw Yang Hui yang menyamar sebagai seorang pria.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Wong Sin Cu membantu Ouw Yang Hui untuk mencari ibu kandungnya yang diketahui pergi dengan seorang pendekar Siauw-Lim-Pai bernama Gan Hok San. Mereka berdua merantau ke selatan sampai jauh dan Sin Cu bertanya-tanya kepada banyak tokoh kangouw di mana adanya pendekar Gan Hok San.

Akan tetapi walaupun nama pendekar ini pernah terkenal, tidak ada yang dapat memberi keterangen kepadanya di mana kini pendekar itu tinggal. Sampai hampir enam bulan mereka berdua melakukan perjalanan. Hubungan antara mereka menjadi semakin akrab dan di sepanjang perjalanan, Ouw Yang Hui mengaku bernama Wong Hui, adik dari Wong Sin Cu.

Ouw Yang Hui semakin kagum dan hormat kepada pemuda itu yang ternyata seorang pemuda yang selalu bersikap sopan dan lembut kepadanya. Di lain fihak, Sin Cu juga semakin terpikat dan jatuh hati kepada gadis yang selain cantik jelita, juga memiliki kebijaksanaan dan baik budi, sikapnya lembut. Akan tetapi keduanya menyimpan perasaan hati mereka dan biarpun mereka bersikap akrab namun tetap saja membatasi diri dengan kesopanan.

Dalam perantauan yang berbulan-bulan itu, tentu seringkali mereka menghadapi gangguan dari orang-orang jahat, akan tetapi dengan ilmu silatnya yang tinggi, semua gangguan itu dapat ditanggulangi oleh Sin Cu. Melihat betapa gadis itu pernah mempelajari ilmu silat, yaitu dasar-dasarnya dan memiliki kegesitan, Sin Cu lalu mengajarkan ilmu langkah ajaib Chit-Seng Sin-Po (Langkah Sakti Tujuh Bintang) kepada Ouw Yang Hui.

Gadis ini memang pada dasarnya memiliki kelemasan dan keluwesan, pandai pula menari sehingga ketika diajari ilmu langkah itu, ia dapat menguasainya tanpa banyak kesukaran. Lewat beberapa bulan kemudian setelah mereka melakukan perjalanan dan setiap ada kesempatan berlatih ilmu langkah, akhirnya Ouw yang Hui mahir ilmu Chit-Seng Sin-Po.

Kini jangan harap seorang jagoan yang jahat dapat menangkap atau memukulnya dengan mudah karena ilmu langkah yang dikuasainya itu dapat membuat ia bergerak dengan gesit dan menghindarkan segala macam serangan kasar.

Akhirnya Sin Cu mengambil keputusan untuk mengajak Ouw Yang Hui pergi ke pegunungan Sung-San di Propinsi Honan dan berkunjung ke kuil Siauw-Lim-Si di pegunungan itu. Mereka berkunjung dan kepada para Hwesio yang berjaga di pintu gerbang mereka minta untuk diperkenankan menghadap ketua kuil.

Mereka diperkenankan melewati pintu gerbang, akan tetapi ketika tiba di bangunan di mana ketua Siauw-Lim-Pai tinggal, mereka dihadang oleh seorang Hwesio penjaga. Hwesio penjaga yang sudah setengah tua itu ternyata waspada sekali. Setelah melihat Ouw Yang Hui, dia berkata dengan suara tegas.

“Omitohud.! Kalian tidak boleh masuk. Nona ini menyamar pria, dan di sini tidak boleh ada wanita masuk!”

Sin Cu terkejut dan cepat memberi hormat. “Suhu memang benar. Adik saya ini memang seorang wanita dan ia terpaksa menyamar sebagai pria agar tidak mendapat banyak gangguan dalam perjalanan. Kami datang jauh dari kota raja dan mohon bertemu dengan yang terhormat ketua Siauw-Lim-Pai untuk keperluan yang amat penting, Mohon diperkenankan menghadap.”

“Omitohud, kedatanganmu membawa seorang wanita yang menyamar sudah mencurigakan, orang muda. Karena itu sebelum Pinceng (aku) dapat memperkenankanmu masuk menghadap ketua, katakanlah dulu siapa namamu dan apa keperluanmu minta menghadap ketua agar Pinceng dapat melapor ke dalam dan menanti keputusan ketua, apakah engkau diperkenankan menghadap atau tidak.”

Sin Cu kini maklum bahwa peraturan di Siauw-Lim-Pai amat ketat. Dia teringat akan gurunya yang pernah mengatakan bahwa gurunya merupakan sahabat baik dari para tokoh Siauw-Lim-Pai. Maka diapun lalu menjawab. “Terima kasih, Suhu. Nama saya Wong Sin Cu dan saya adalah murid dari Suhu Bu Beng Siauwjin. Saya mohon berjumpa dengan ketua Siauw-Lim-Pai untuk bertanya dimana saya dapat bertemu dengan seorang tokoh Siauw-Lim-Pai bernama Gan Hok San.”

Mendengar disebutnya nama Bu Beng Siauwjin dan juga Gan Hok San, Hwesio itu mengangguk-angguk dan wajahnya menjadi cerah. “Omitohud! Begitukah? Baik, silakan sicu menanti sebentar, akan Pinceng laporkan ke dalam.”

Sin Cu dan Ouw Yang Hui duduk di atas bangku yang terdapat di luar bangunan itu. Tak lama kemudian Hwesio itu muncul kembali dan berkata, “Silakan Wong-sicu (orang gagah Wong) masuk, Lo-Suhu sudah menanti di ruangan depan. Akan tetapi nona ini harap menunggu saja di sini.”

Sin Cu bangkit dan memandang kepada Ouw Yang Hui. “Engkau tunggulah di sini sebentar.”

Ouw Yang Hui yang tahu aturan itupun mengangguk dan tersenyum. Sin Cu melangkah masuk. Setelah tiba di ruangan depan, dia melihat seorang Hwesio tua, berusia kurang lebih tujuh puluh tahun, kepalanya yang gundul memakai topi pendeta, jubahnya kuning dan dia memelihara jenggot panjang yang sudah putih semua.

Hwesio tua itu duduk bersila di atas dipan dan biarpun sudah tua renta, namun sepasang matanya bersinar kilat ketika dia menatap ke arah wajah Sin Cu. Berhadapan dengan orang tua ini, Sin Cu merasa seperti berhadapan dengan gurunya. Hwesio tua ini mempunyai wibawa yang luar biasa, yang membuat dia tanpa disengaja bertekuk lutut.

“Lo-Cianpwe, teecu Wong Sin Cu mengaturkan hormat,” katanya dengan sikap hormat.

“Omitohud! Angkat mukamu dan jawablah, orang muda. Benarkah engkau murid Bu Beng Siauwjin?” suara Hwesio itu lembut sekali dan terdengar ramah.

Sin Cu menurut. Dia mengangkat mukanya memandang wajah Hwesio itu dan menjawab, “Benar, Lo-Cianpwe. Suhu Bu Beng Siauwjin adalah guru teecu.”

Tiba-tiba Hwesio tua itu menggerakkan tangan kirinya dan telunjuknya menuding kearah Sin Cu. Suara bercicit terdengar dan serangkum hawa menyambar ke arah Sin Cu. pemuda itu terkejut bukan main, mengenal itu sebagai serangan It-Yang-Ci yang sudah tinggi sekali tingkatnya, mampu menyerang dari jarak jauh mengandalkan tenaga sakti.

Karena maklum betapa hebatnya tenaga sakti It-Yang-Ci itu, Sin Cu tidak berani menyambut secara langsung. Dia menggulingkan tubuhnya ke atas lantai dan ketika bergulingan itu dia mengerahkan tenaga dan menggunakan It-Yang-Ci pula untuk menangkis dari samping.

“Pyarrr...” Dua tenaga sakti bertemu dan serangan Hwesio itu ditangkis dari samping oleh tenaga Sin Cu.

“Omitohuud... bagus sekali, kiranya It-Yang-Ci yang kutukar dengan Thai-yang Sin-ciang dari Bu Beng Siauwjin itu tidak sia-sia, bahkan sudah diturunkan kepada muridnya dengan baik sekali. Majulah, Sin Cu dan mari kita bicara. Pinceng yakin bahwa engkau memang benar murid Bu Beng Siauwjin,” kata Hwesio tua itu. “Pinceng adalah Hui Sian Hwesio, sahabat baik Suhumu.”

Sin Cu merangkak dan duduk berlutut kembali seperti tadi. “Terima kasih, Lo-Cianpwe.”

“Sudahlah, engkau bukan murid Siauw-Lim-Pai. Jangan berlutut terus. Bangkit dan duduklah di atas kursi itu agar lebih enak kita bicara.”

Sin Cu bangkit dan memberi hormat lagi dengan membungkuk sebelum duduk di atas sebuah kursi yang menghadap ke dipan yang diduduki Hwesio itu.

“Nah, sekarang ceritakan kepada Pinceng, mengapa engkau mencari Gan Hok San? Dia adalah sute (adik seperguruan) Pinceng yang termuda, akan tetapi dia tidak mau menjadi seorang Hwesio. Bagaimanapun juga, dia tidak mengecewakan menjadi murid Siauw-Lim-Pai karena di dunia kang-ouw sepak terjangnya menjunjung nama baik dan kehormatan Siauw-Lim-Pai. Sekarang engkau mencarinya. Katakanlah, engkau mencarinya sebagai kawan atau lawan?”

“Mana berani teecu memusuhi Gan-Taihiap, Lo-Cianpwe? Biarpun belum mengenalnya, teecu juga sudah mendengar bahwa beliau seorang pendekar yang budiman dan gagah perkasa. Tidak, Lo-Cianpwe, teecu mencarinya bukan sebagai lawan, melainkan sebagai kawan. Sebelas tahun kurang lebih yang lalu, seorang ibu muda dan puterinya telah diculik penjahat dan mereka berpisah. Ibu muda itu ditolong oleh Gan-Taihiap dan kini puterinya mencari ibunya yang terpisah darinya itu. Sahabat teecu yang menunggu di luar itulah puteri si ibu muda yang ditolong Gan-Taihiap. Karena kami tidak tahu di mana kini ibu muda itu, maka kami tidak mempunyai petunjuk lain kecuali menemui Gan-Taihiap dan bertanya kepadanya tentang ibu sahabat teecu itu."

“Omitohuud...! Jadi begitukah persoalannya? Wong-sicu, kalau begitu sudah sepatutnya kalau Pinceng memberi tahu kepadamu di mana sute Gan Hok San kini berada. Kalau dia belum pindah lagi, dia tinggal disebuah dusun yang disebut Sia-Bun, dan dusun itu berada di lereng pegunungan Beng-San. Nah, engkau carilah ke sana dan mudah-mudahan engkau dapat berjumpa dengannya."

Dengan hati girang Sin Cu lalu menghaturkan terima kasih dan mohon pamit. Bersama Ouw Yang Hui dia lalu melakukan perjalanan langsung ke Beng-San dan pada pagi hari itu mereka berdua berhasil menemukan rumah Gan Hok San di dusun Sia-Bun, di lereng pegunungan Beng-San.

Gan Hok San dapat menduga bahwa dua orang pemuda asing itu tentu mempunyai keperluan penting maka memasuki pekarangan rumahnya. Dia sebagai tuan rumah yang biasanya memang ramah, segera bangkit berdiri dan melangkah maju menyambut. Melihat seorang pria berusia lima puluhan tahun menyambut kedatangan mereka. Sin Cu dan Ouw Yang Hui memandang penuh perhatian.

Melihat sikap pria yang berpakaian sebagai petani itu demikian gagah, Sin Cu menduga bahwa tentu dia inilah pendekar Gan Hok San. Maka dia lalu melangkah maju menghampiri dan mengangkat kedua tangan di depan dada, diturut oleh Ouw Yang Hui.

“Maafkan kami berdua kalau kedatangan kami mengganggu, paman. Apakah ini rumah kediaman Taihiap Gan Hok San?” tanya Sin Cu dengan sikap hormat.

Gan Hok San senang dengan sikap kedua orang pemuda itu. Tepat seperti yang dia duga. Dua orang pemuda ini jelas bukan pemuda dusun yang sederhana, melainkan dua orang pemuda terpelajar yang bersusila. “Benar sekali, orang muda,” jawabnya.

Dengan wajah girang Sin Cu lalu berkata, “Kalau begitu, bolehkah kami berdua menghadap Taihiap Gan Hok San? Kami berdua mempunyai keperluan yang penting sekali untuk bicara dengan beliau.” Gan Hok San tersenyum.

“Akulah Gan Hok San dan jangan sebut aku dengan Taihiap-Taihiap segala. Engkau tadi telah menyebut paman dan itu baik sekali, orang muda. Siapakah kalian berdua, Ah, mari, mari masuk dan duduklah agar lebih leluasa kita bicara!” katanya ramah.

Sin Cu dan Ouw Yang Hui mengikuti pendekar itu memasuki ruangan depan dan mereka dipersilakan duduk berhadapan dengan dia, terhalang sebuah meja.

“Nah, sekarang katakan siapa engkau, orang muda, dan siapa pula eh..., nona ini.”

Sin Cu dan Ouw Yang Hui terkejut. Pandang mata pendekar ini sungguh tajam. Sekali pandang saja sudah tahu bahwa Ouw Yang Hui adalah seorang wanita!

“Maafkan kami, paman. Saya bernama Wong Sin Cu dan ia ini memang seorang gadis yang menyamar pria agar tidak terganggu dalam perjalanan. Namanya... Siang Bi Hwa,” kata Sin Cu yang sengaja menyebut nama baru Ouw Yang Hui seperti yang sudah mereka sepakati berdua untuk sementara merahasiakan nama aselinya.

Dalam perjalanan, Ouw Yang Hui yang menyamar pria itu diaku sebagai adiknya bernama Won Hui. Akan tetapi di depan Gan Hok San yang seketika telah mengetahui bahwa Ouw yang Hui adalah seorang gadis yang menyamar pria, dia tidak merasa perlu untuk memperkenalkan nama samaran pria itu.

“Lalu, apakah yang dapat kulakukan untuk kalian? Keperluan apakah yang membawa kalian datang berkunjung ke rumah kami.”

“Maafkan kami, paman,” kata pula Sin Cu dengan lembut. “Sesungguhnya kami mencari seorang wanita bernama Sim Kui Hwa. Apakah ia berada di sini?”

Mendengar pertanyaan ini, alis pendekar itu berkerut. Bermacam dugaan dan kecurigaan mengganggu hatinya. “Kalau ia berada di sini, apa kehendak kalian?” Dia bertanya agak ketus karena bagaimanapun juga hatinya merasa tidak senang mendengar isterinya ditanyakan seorang laki-laki muda.

“Ah... tidak ada apa apa paman, kami hanya ingin berjumpa dan bicara dengannya...!” kata sin cu agak gugup melihat tuan rumah tampaknya tidak senang.

“Hemm.., begitukah? Baik, akan kupanggil ia ke sini.” Setelah berkata demikian, dia meninggalkan tamunya dan masuk ke ruangan dalam.

Baru saja dia pergi, muncul seorang anak perempuan berusia sembilan tahun. Anak itu adalah Gan Li Hong yang sebetulnya sudah sejak tadi berada di luar ruangan tamu itu dan mendengarkan percakapan tadi. la melihat ayahnya keluar, lalu ia masuk kedalam ruangan itu dengan sikap lincah dan marah. la tidak ikut mendengarkan percakapan pertama sehingga tidak tahu bahwa pemuda tampan yang tampak masih remaja itu adalah seorang wanita.

la melangkah maju menghadapi dua orang “Pemuda” itu dan bertolak pinggang, mengedikkan kepalanya. “Hei, kalian ini adalah pemuda-pemuda yang kurang sopan dan kurang ajar, ya?”

Sin Cu dan Ouw Yang Hui saling pandang dengan membelalakkan mata, lalu keduanya tersenyum merasakan benar betapa lucunya keadaan itu. Mereka ditegur seorang bocah yang menganggap mereka kurang sopan dan kurang ajar sehingga mereka menjadi bingung siapakah diantara mereka dan bocah itu yang dewasa dan siapa pula yang kanak-kanak!

Mereka melihat betapa anak kecil berusia sembilan tahun itu memiliki sepasang mata yang mencorong penuh keberanian dan sikapnya gagah seperti seorang pendekar sungguhan, wajahnya mungil dan manis sekali sehingga sikap yang gagah-gagahan itu tidak menyeramkan melainkan lucu sekali.

“Eh, anak yang manis, kenapa engkau marah-marah kepada kami? Mari sini kita berkenalan. Siapakah namamu, adik manis?” kata Ouw Yang Hui sambil tersenyum ramah dan menghampiri anak perempuan itu.

“Nah-nah! Engkau merayuku, ya? Aku masih kanak-kanakpun engkau sudah merayu! Benar-benar yang dinamakan pemuda berandalan tak tahu malu adalah yang seperti kalian ini!”

“Hemm, adik yang manis. Apa sebabnya engkau mengatakan kami pemuda berandalan yang tidak sopan dan kurang ajar?” tanya Ouw Yang Hui dengan heran.

“Pernah kubaca dalam kitab bahwa kalau laki-laki minta bertemu dan bicara dengan wanita, itu namanya tidak sopan dan kurang ajar. Kalian ini dua orang pemuda, tidak bicara dengan ayah malah mencari ibu. Bukankah itu tidak sopan? Kalian memang patut dihajar!” Tiba-tiba saja Gan Li Hong yang galak itu melayangkan tinjunya menyerang ke arah perut Ouw Yang Hui.

Sekarang Ouw Yang Hui bukan gadis lemah seperti ketika ia masih menjadi Siang Bi Hwa di rumah Cia-Ma. la telah berlatih ilmu langkah Chit-Seng Sin-Po. Sekalipun seorang ahli silat kalau tidak yang pandai sekali jangan harap akan dapat memukulnya, apalagi seorang gadis cilik seperti Li Hong. Dengan mudah saja Ouw Yang Hui mengelak dengan geseran kakinya.

Melihat pukulan pertamanya luput, Li Hong menjadi semakin marah dan iapun sudah menyerang bertubi-tubi dengan kedua tangannya. Namun, sambil tersenyum Ouw Yang Hui melangkah ke sana-sini dan semua pukulan itu luput!

“Li Hong, hentikan!” tiba-tiba terdengar bentakan dan Gan Hok San telah muncul dari pintu yang menembus ke dalam.

Mendengar bentakan itu Li Hong menghentikan serangannya dan mundur mendekati ayahnya. Gan Hok San tadi telah menemui Sim Kui Hwa, isterinya. Ketika dia menceritakan kepada isterinya bahwa ada dua orang pemuda yang datang mencarinya, Sim Ku Hwa mengerutkan alisnya dan merasa heran,

“Dua orang pemuda? Aku tidak mengenal pemuda manapun. Apa maksudnya hendak bertemu denganku?”

“Aku tidak tahu. Mereka tidak memberi tahukan keperluan mereka, hanya menyatakan ingin berjumpa dan bicara denganmu!"

“Ah, ini mencurigakan,” kata Sim Kui Hwa. “Siapa tahu mereka berniat buruk.”

“Hemm, siapakah yang akan berniat buruk terhadapmu?” kata Hok San.

“Ih, lupakah engkau akan sikap Ouw Yang Lee kepadaku? Tidak, aku tidak mau bertemu dengan mereka sebelum tahu lebih dulu apa yang mereka inginkan. Siapa nama mereka?"

“Pemuda itu bernama Wong Sin Cu sedangkan gadis yang menyamar pemuda itu bernama Siang Bi Hwa.”

“Hemm, ada gadis menyamar pemuda lagi. Mereka itu mencurigakan, sebaiknya engkau selidiki lebih dulu dan tanyakan apa kehendak mereka yang sebenarnya.”

Mendengar penolakan isterinya, Gan Hok San merasa bahwa isterinya benar juga. Maka diapun kembali ke ruangan tamu di mana dia melihat Li Hong sedang kalang kabut menyerang gadis yang menyamar sebagai pria itu. Maka dia membentak Li Hong untuk menghentikan serangan-serangannya dan diapun melihat bahwa gadis berpakaian pria itu memiliki gerak langkah yang aneh sekali ketika menghindarkan diri dari serangan bertubi puterinya. Mengertilah dia bahwa gadis itu seorang yang memiliki ilmu silat yang aneh dan kecurigaannya yang bangkit setelah dia bicara dengan isterinya itu semakin membesar.

“Li Hong, kenapa engkau menyerang orang?” bentak Gan Hok San kepada puterinya.

“Mereka adalah pemuda-pemuda kurang ajar dan berandalan, patut dihajar, ayah!” kata Li Hong.

“Tidak mengapalah, paman. Saya yang bersalah. Saya memuji-mujinya sebagai anak yang cantik manis dan ia marah, menganggap saya seorang pemuda kurang ajar dan ia menyerang saya. Adik ini sudah lincah dan gagah sekali, paman,” kata Ouw Yang Hui.

“Bagaimana, paman? Apakah kami dapat bertemu dan bicara dengan Bibi Sim Kui Hwa?” tanya Sin Cu ketika melihat pendekar itu muncul seorang diri saja.

“Nanti dulu. Kalian ceritakan dulu apa keperluan kalian hendak bertemu dan bicara dengan Sim Kui Hwa. Sebelum kalian menceritakan apa keperluan kalian, ia tidak mau bertemu dengan kalian yang tidak dikenalnya.” Gan Hok San adalah seorang laki-laki gagah yang jujur, maka diapun mengatakan apa adanya.

Ouw Yang Hui menoleh dan memandang kepada Sin Cu. Pemuda ini mengangguk dan berkata lirih, “Sebaiknya engkau ceritakan sajalah dengan terus terang.”

“Silakan duduk dan bicaralah terus terang apa kehendak kalian,” kata Gan Hok San. Mereka duduk kembali. Li Hong juga dekat duduk dengan ayahnya, mendengarkan penuh perhatian.

“Paman Gan Hok San,” kata Ouw Yang Hui dengan lembut, “saya mendengar bahwa paman telah menyelamatkan seorang wanita bernama Sim Kui Hwa dari tangan penjahat yang menculiknya. Kemudian paman menyelamatkannya dari ancaman majikan Pulau Naga dan paman membawnya pergi dari Pulau Naga. Sekarang kami datang untuk bertanya kepada paman dimana adanya Sim Kui Hwa itu? Kalau ia berada di sini, saya ingin bertemu dan bicara dengannya.”

Gan Hok San mengerutkan alisnya, memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik, lalu perlahan-lahan dia bangkit berdiri. “Apakah engkau datang dari Pulau Naga?” tanyanya penuh kecurigaan.

“Saya memang berasal dari Pulau Naga, paman.”

“Dan kalian datang sebagai utusan Ouw Yang Lee untuk membunuh aku dan Sim Kui Hwa?” desak Gan Hok San.

“Ayah, hajar saja mereka yang jahat ini!” Li Hong juga bangkit berdiri dan memasang kuda-kuda untuk siap menyerang. Sikapnya seperti seekor anak harimau yang siap mencakar dan menggigit, akan tetapi tidak berbahaya. Lucu sekali!

Ouw Yang Hui Juga bangkit berdiri. “Ah, tidak sama sekali, paman! Saya saya...” Ouw Yang Hui tidak melanjutkan ucapannya melainkan terbelalak memandang kepada seorang wanita cantik yang muncul di pintu tembusan ke ruangan dalam itu. Wanita itu adalah Sim Kui Hwa.

Dua orang wanita itu bertemu pandang, saling memperhatikan. Biarpun kini Ouw Yang Hui bukan anak perempuan berusia tujuh tahun lagi, melainkan seorang gadis berusia delapan belas tahun dan menyamar sebagai pria lagi, namun Sim Kui Hwa tidak pangling. Juga Ouw Yang Hui segera dapat mengenal ibunya yang baginya tampak masih seperti dulu, cantik dan anggun. Bagaikan tertarik oleh kekuatan magnit kedua wanita itu melangkah maju saling menghampiri, bibir mereka bergerak gemetar menahan jerit tangis, seperti bendungan lemah menahan tekanan air bah.

“ Ibuuuuu...!”

“Hui-ji (anak Hui)... ah... Ouw Yang Hui...”

Bendungan itu pecah diterjang banjir. Kedua orang itu lari saling mengharmpiri dan di lain saat mereka telah berhadapan. Ouw Yang Hui menjatuhkan diri berlutut dan merangkul kedua kaki ibunya sambil menangis tersedu-sedu.

“Ibuuu... ahh ibuuu...!” Sim Kui Hwa menjatuhkan diri berlutut pula dan merangkul puterinya, mendekap kepala itu pada dadanya, menciuminya diantara banjir air mata.

“Hui-ji , terima kasih Tuhan... Hui-ji anakku...!” gelora perasaan yang amat hebat, bahagia, terharu, dan iba menjadi satu, tidak tertahan oleh wanita yang berperasaan lembut itu. Sim Kui Hwa terkulai pingsan dalam rangkulan Ouw Yang Hui.

“Ibuuu!” Ouw Yang Hui memeluk ibunya yang terkulai lemas.

Melihat ini, Gan Hok San menghampiri dan menekan tengkuk isterinya beberapa kali. Sim Kui Hwa siuman kembali lalu merangkul puterinya dan kedua orang wanita itu menangis. Sin Cu memandang dengan mata basah. Dia merasa terharu sekali, teringat akan dirinya sendiri yang sudah tidak berayah-ibu. Dia memandang kepada Gan Hok San yang juga tampak terharu, dan memandang kepada Li Hong. Anak itu kelihatan terheran-heran dan bingung.

Baik Sin Cu maupun Gan Hok San hanya memandang dan membiarkan ibu dan anak itu bertangis-tangisan karena hal itu memang perlu sekali bagi kedua orang wanita itu untuk melampiaskan segala gejolak perasan mereka. Setelah tangis mereka mereda, Gan Hok San berkata kepada mereka.

“Sudahlah, sekarang kita masuk dan bicara di dalam.” Sim Kui Hwa bangkit dan merangkul anaknya. lbu yang berbahagia itu kini tersenyum dengan muka masih basah air mata sambil memandang wajah Ouw Yang Hui.

“Ah, aku ingin melihat wajahmu yang sebenarnya, Hui-ji. Hayo kita masuk dan engkau berganti pakaian dulu. Engkau anak nakal, kenapa harus menyamar menjadi laki-laki segala?”

la merangkul dan membawa Ouw Yang Hui masuk ke dalam, dikuti oleh Gan Hok San yang mengajak Sin Cu masuk. Li Hong yang tampaknya masih bingung itu mengikuti pula. Sin Cu dipersilakan duduk di ruangan dalam itu oleh Gan Hok San. Li Hong juga duduk di situ, memandang kepada Sin Cu.

Anak ini masih kaget dan heran melihat pertemuan antara ibunya dan “Pemuda” yang sebenarnya seorang gadis yang menyamar. Semua peristiwa ini tidak dimengertinya. Mengapa pemuda yang palsu itu menyebut ibu kepada ibunya? Siapakah ia? Dan siapa pula pemuda yang kini duduk berhadapan dengan ayahnya?

“Sungguh aku tidak mengira sama sekali bahwa ia itu Ouw Yang Hui. Kalau dari tadi mengakui namanya, tentu aku tahu dan dapat memberitahukan ibunya.”

“Maaf, paman. Memang telah kami sepakati bersama untuk menyembunyikan namanya sebelum ia bertemu dengan ibunya. Dan memang selama ini ia mempergunakan nama sebutan Siang Bi Hwa dan di waktu menyamar menggunakan nama pria Wong Hui sebagai adik saya.”

Gan Hok San, menghela napas panjang. “Sungguh kami merasa berbahagia sekali akan pertemuan ini. Sudah bertahun-tahun aku mencoba untuk mencari jejaknya namun selalu tanpa hasil. Ibunya sampai hampir putus asa untuk dapat bertemu kembali dengannya....”

Selanjutnya,
SEPASANG RAJAH NAGA JILID 16